Risale-i Nur Külliyatı [email protected]

MUKJIZAT NABI MUHAMMAD

16 dilihat

(1)

Dari Koleksi Risalah Nur Kumpulan Mukjizat Nabi Muhammad (saw) Badiuzzaman Said Nursi

* * *

MUKADIMAH RISALAH MUKJIZAT NABI MUHAMMAD (saw)

Risalah ini menjelaskan lebih dari 300 mukjizat Rasul (saw) yang menjadi indikator benarnya kerasulan beliau. Pada saat menjelaskan mukjizat tersebut, risalah ini juga sebenarnya sedang mengungkapkan jati dirinya sebagai salah satu karamah dan persembahan dari mukjizat tadi. Maka risalah ini pun menjadi luar biasa dilihat dari tiga aspek:

Pertama: Penulisannya sudah pasti merupakan sebuah peristiwa luar biasa. Sebab, ia ditulis tanpa merujuk kepada satu pun buku referensi; dengan mengandalkan ingatan semata, padahal ia memuat sejumlah riwayat hadis Nabi (saw) dan isinya lebih dari 100 halaman. Lebih dari itu, ia ditulis di atas gunung serta di lembah dan taman dalam kurun waktu sekitar 4 hari; dengan rata-rata 3 jam sehari. Dengan kata lain, ia ditulis hanya dalam 12 jam.

Kedua: Para penyalinnya tidak merasa bosan dalam melakukan proses penyalinan betapa pun adanya. Membacanya secara terus-menerus juga tidak membuat kenikmatannya pudar meskipun cukup panjang. Oleh karena itu, risalah

(2)

ini menggerakkan semangat para penyalin yang malas sehingga mampu menulis sekitar 70 salinan selama setahun dalam waktu yang sulit. Ini semua membuat mereka yang melihat kondisi kami yakin bahwa risalah ini termasuk salah satu karamah dari mukjizat di atas.

Ketiga: Kata “Rasul (saw)” yang terdapat dalam seluruh risalah ini, serta kata “al-Qur’an al-Karim” yang terdapat dalam ‘Bagian Kelima’ darinya dituliskan secara selaras (tawâfuq) oleh salah satu penyalin, meskipun ia tidak memiliki pengetahuan tentang ilmu tersebut. Hal yang sama juga dilakukan delapan penyalin lainnya, padahal mereka tidak pernah bertemu. Bahkan sebelumnya kami pun tidak mengetahui adanya keselarasan itu. Tentu saja, orang yang objektif tidak akan menganggapnya sebagai sebuah kebetulan. Namun, setiap orang yang melihatnya akan menilainya sebagai salah satu rahasia gaib dan bahwa risalah ini merupakan salah satu karamah dari mukjizat Nabi Muhammad (saw).

Demikianlah, dasar-dasar yang ada di pangkal risalah ini sangat penting. Sejumlah hadis yang terdapat di dalamnya, di samping sahih dan diterima oleh para imam hadis, juga menjelaskan berbagai riwayat yang paling valid dan kuat. Jika ingin menjelaskan berbagai keistimewaan dari risalah ini, tentu kita membutuhkan risalah lain yang sepertinya. Oleh karena itu, kami mengajak kalangan yang merindukannya untuk membacanya walau hanya satu kali agar dapat merasakan berbagai keistimewaan tersebut.

Said Nursi

(3)

Catatan

Dalam risalah ini aku telah menyebutkan banyak hadis Nabi (saw), sementara tidak ada satu pun kitab hadis yang bersamaku. Oleh karena itu, jika ada kekeliruan dalam redaksi hadis, mohon dikoreksi atau diambil makna riwayatnya. Sebab, menurut pendapat yang kuat boleh meriwayatkan hadis lewat maknanya. Maksudnya, perawi menyebutkan makna hadis dengan lafalnya sendiri. Jadi, apabila dalam risalah ini terdapat sejumlah kekeliruan yang bersifat redaksional, maka posisikanlah ia sebagai periwayatan yang berdasarkan maknanya.

Said Nursi

* * *

(4)

(5)

RISALAH MUKJIZAT NABI MUHAMMAD (saw)

بِاسْمِهٖ سُبْحَانَهُ

وَ اِنْ مِنْ شَىْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحٖيمِ

هُوَ الَّذٖٓى اَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدٰى وَدٖينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدّٖينِ كُلِّهٖ وَ كَفٰى بِاللّٰهِ شَهٖيدًا ۝ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللّٰهِ وَالَّذٖينَ مَعَهُٓ اَشِدَّٓاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَٓاءُ بَيْنَهُمْ تَرٰيهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللّٰهِ وَ رِضْوَانًا سٖيمَاهُمْ فٖى وُجُوهِهِمْ مِنْ اَثَرِ السُّجُودِ ذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرٰيةِ وَ مَثَلُهُمْ فِى الْاِنْجٖيلِ كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْئَهُ فَاٰزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوٰى عَلٰى سُوقِهٖ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغٖيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللّٰهُ الَّذٖينَ اٰمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَ اَجْرًا عَظٖيمًا @

(6)

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Cukuplah Allah sebagai saksi. Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kalian lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil. Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati para penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. al-Fath [48]: 28-29).

[Oleh karena “Kalimat Kesembilan Belas” dan “Tiga Puluh Satu” secara khusus berbicara tentang kerasulan Muhammad lewat pembuktian kenabiannya melalui berbagai dalil yang kuat, maka terkait dengan masalah pembuktian itu bisa merujuk kepada keduanya. Di sini—sebagai penyempurna dari keduanya—kami akan menjelaskan sejumlah kilau dari hakikat agung tersebut dalam sembilan belas petunjuk yang signifikan].

(7)

PETUNJUK PERTAMA

Tidak ada keraguan bahwa Pemilik dan Pemelihara alam ini menciptakan seluruh makhluk berdasarkan pengetahuan dan berbuat dengan penuh hikmah. Dia menata seluruh sisi dengan penuh perhatian dan penyaksian, memelihara segala sesuatu berdasarkan pengetahuan dan bashirah, serta mengatur urusan guna memperlihatkan berbagai hikmah, tujuan dan kemaslahatan yang tampak dari segala sesuatu.

Selama Sang Pencipta mengetahui apa yang Dia perbuat, maka tentu Dia berbicara. Selama Dia berbicara, tentu pembicaraan-Nya diarahkan kepada makhluk yang dapat memahaminya; yaitu yang memiliki perasaan, kesadaran, dan akal pikiran. Selama Dia berbicara dengan makhluk yang memiliki akal pikiran, tentu berbicara dengan manusia yang merupakan makhluk terbaik yang memiliki perasaan dan pemahaman serta paling menghimpun sifat-sifat tersebut. Nah, selama pembicaraan-Nya akan mengarah kepada manusia, maka sudah pasti Dia akan berbicara dengan mereka yang layak menjadi mitra bicara dari kalangan manusia sempurna yang

(8)

memiliki potensi paling agung dan akhlak paling mulia, serta dengan mereka yang pantas menjadi suri teladan bagi umat manusia. Tentu tidak ada keraguan bahwa Dia akan berbicara dengan Muhammad (saw) yang kapasitasnya diakui oleh baik kawan maupun lawan bahwa beliau merupakan sosok pemilik akhlak paling mulia dan potensi paling baik di mana beliau menjadi teladan bagi seperlima penduduk dunia. Setengah bumi bergabung di bawah panji maknawinya. Masa depan menjadi bersinar oleh cahaya yang telah dibawanya sepanjang tiga belas abad. Beliaulah sosok yang dikirimi salawat oleh kaum beriman serta didoakan mendapatkan rahmat, kebahagiaan, pujian, dan cinta. Lima kali dalam sehari mereka memperbaharui sumpah setia kepada beliau. Allah sudah pasti berbicara dengan beliau sekaligus menjadikannya sebagai rasul utusan dan hal itu benar-benar dilakukan. Dia juga sudah pasti menjadikan beliau sebagai teladan serta imam bagi seluruh manusia, dan hal itu benar-benar terbukti.

(9)

PETUNJUK KEDUA

Rasul (saw) telah mendeklarasikan kenabian serta mengetengahkan argumen atasnya berupa al-Qur’an al-Karim. Beliau memperlihatkan sekitar seribu mukjizat yang cemerlang sebagaimana diakui oleh para ulama ahli peneliti. Seluruh mukjizat tersebut adalah benar dan pasti sebagaimana pastinya pengakuan kenabian. Bahkan upaya penisbatan berbagai mukjizat tersebut kepada perbuatan sihir seperti yang disebutkan oleh al-Qur’an dalam banyak ayat lewat ucapan orang-orang kafir menunjukkan bahwa mereka tidak mengingkari keberadaan mukjizatnya. Hanya saja, mereka menisbatkannya kepada sihir guna menipu diri mereka sendiri dan memperdaya para pengikut mereka.

Ya, kepastian mukjizat Muhammad (saw) sangat kuat mencapai kekuatan seratus riwayat mutawatir. Sama sekali tidak ada alasan untuk mengingkarinya.

Pada dasarnya, mukjizat merupakan bentuk pembenaran Tuhan semesta alam terhadap pernyataan Rasul-Nya yang

(10)

mulia. Dengan kata lain, mukjizat berposisi seperti perkataan Allah yang berbunyi, “Hamba-Ku benar, maka ikutilah ia!”

Sebagai contoh, seandainya engkau berada di dekat sultan atau di majelisnya lalu engkau berkata kepada orang yang berada di dekatmu, “Sultan menunjukku untuk menangani tugas ini.” Ketika mereka meminta bukti atas pernyataanmu, sang sultan sendiri yang menjawab, “Ya, aku telah menugaskannya untuk melakukan tugas tersebut.” Bukankah ia merupakan bentuk kesaksian atas kebenaran pernyataanmu?! Apalagi jika sultan memberimu kemampuan luar biasa serta mengganti sejumlah hukumnya untukmu?! Bukankah hal itu merupakan bentuk pembenaran yang lebih kuat atas pernyataanmu daripada sekadar mengatakan, “Ya”?

Demikian halnya dengan pernyataan Rasul (saw) di mana Beliau berkata, “Aku adalah utusan Tuhan Penguasa alam semesta. Buktinya, Dia telah mengubah sejumlah hukum yang biasa berlaku lewat munajat dan doaku kepada-Nya. Kalian bisa melihat bagaimana Dia membuat jari-jemariku memancarkan air seperti air yang memancar dari lima mata air. Lihatlah bagaimana Dia membuat bulan terbelah dua hanya lewat isyarat tanganku. Lihatlah pohon itu, bagaimana ia datang membenarkan dan menjadi saksi untukku. Lihat pula sedikit makanan ini, bagaimana ia bisa membuat kenyang dua ratus atau tiga ratus orang.” Demikianlah beliau memperlihatkan ratusan mukjizat semacam itu.

Ketahuilah bahwa dalil kebenaran Rasul (saw) dan bukti kenabiannya tidak terbatas pada mukjizat yang dimilikinya. Namun, para ulama ahli peneliti melihat bahwa seluruh gerak, perbuatan, kondisi, ucapan, akhlak, perjalanan hidup,

(11)

dan fisiknya, semuanya membuktikan ketulusan dan kebenarannya. Bahkan banyak ulama Bani israil yang langsung beriman hanya dengan sekadar melihat paras beliau. Misalnya Abdullah ibn Salam yang berkata, “Ketika melihat wajahnya, aku langsung mengetahui bahwa wajahnya bukan wajah pendusta.”

Meskipun para ulama peneliti telah menyebutkan sekitar seribu dalil kenabian dan mukjizatnya, namun masih terdapat ribuan atau bahkan ratusan ribu mukjizat lainnya. Ratusan ribu manusia yang berbeda pandangan membenarkan kenabian beliau lewat ratusan ribu pendekatan. Al-Qur’an al-Karim saja memperlihatkan seribu bukti kenabiannya di samping kemukjizatannya yang mencapai 40 aspek.

Karena kenabian telah terbukti nyata di kalangan umat manusia dan bahwa ratusan ribu manusia datang memproklamirkan kenabian serta mempersembahkan berbagai mukjizat sebagai bukti dan penguatnya, maka sudah pasti kenabian Muhammad (saw) jauh lebih kuat dan lebih meyakinkan daripada yang lain. Pasalnya, poros kenabian para nabi, cara muamalah mereka dengan umat, serta berbagai bukti dan keistimewaan yang menunjukkan kenabian seluruh rasul secara umum seperti Musa dan Isa , terwujud dalam bentuk yang paling sempurna dan makna yang paling utama pada

(12)

diri Rasulullah (saw). Lalu, karena ilat dan sebab hukum kenabian dalam wujud yang paling sempurna terdapat pada diri beliau, maka hukum kenabian beliau sangat jelas dan pasti, jauh lebih pasti daripada seluruh nabi yang lain.

(13)

PETUNJUK KETIGA

Mukjizat Rasul (saw) sangat banyak dan beragam. Hal itu karena kerasulan beliau bersifat universal dan komprehensif, mencakup seluruh alam. Karenanya, mukjizat yang menjadi saksi atas beliau tampak pada sebagian besar jenis makhluk. Hal itu akan kami jelaskan lewat perumpamaan berikut ini:

Misalkan seorang duta istimewa yang diutus penguasa besar datang untuk mengunjungi sebuah kota yang dihuni oleh banyak kaum dengan membawa berbagai macam hadiah berharga untuk mereka, sudah pasti setiap kelompok dari mereka akan mengirim utusan untuk menyambutnya atas nama kelompok mereka.

Demikian pula ketika duta agung Allah Yang Maha abadi (Muhammad (saw)) membuat alam ini mulia dan bercahaya lewat kedatangan beliau di mana beliau diutus oleh Tuhan semesta alam ke seluruh penduduk bumi dengan membawa berbagai macam hadiah maknawi dan hakikat yang cemerlang terkait dengan seluruh hakikat alam, tentu setiap kelompok mengirim utusan untuk menyambut kedatangan beliau ser

(14)

ta mengucapkan selamat lewat lisannya masing-masing. Ia mempersembahkan mukjizat kelompoknya ke hadapan beliau sebagai bentuk pembenaran dan sambutan atas kenabian beliau, mulai dari batu, air, pohon, manusia, hingga bulan, matahari, dan bintang-gemintang. Seolah-olah lewat kondisinya masing-masing berkata, “Selamat datang kami ucapkan kepada Anda!”

Pembahasan tentang seluruh mukjizat tersebut membutuhkan berjilid-jilid buku karena sangat banyak dan beragam. Sejumlah ulama telah menuliskan beberapa jilid besar tentang rincian bukti kenabian dan mukjizat Nabi (saw). Oleh karena itu, di sini kami hanya ingin memberikan sejumlah petunjuk global tentang seluruh jenis mukjizat yang kejadiannya bersifat pasti dan mutawatir secara maknawi.

Bukti-bukti kenabian Rasul (saw) terbagi dua:

Pertama: Sejumlah kondisi yang disebut dengan istilah irhâsât. Yaitu berbagai kondisi luar biasa yang terjadi sebelum kenabian dan saat beliau lahir.

Kedua: Berbagai bukti kenabian lain di mana hal ini terbagi dua jenis:

1.Peristiwa luar biasa yang terjadi sesudahnya sebagai pembenaran atas kenabian beliau.

2.Peristiwa luar biasa yang terlihat di masa kehidupan beliau yang penuh berkah. Ini juga terbagi dua:

a.Sejumlah bukti kenabian yang tampak pada pribadinya, sejarah hidupnya, fisiknya, akhlaknya, dan kesempurnaan akalnya.

(15)

b.Sejumlah hal yang tampak di luar diri beliau, yakni yang terdapat di alam dan cakrawala. Ini juga terbagi dua:

Yaitu yang bersifat maknawi dan berkaitan dengan al-Qur’an, serta yang bersifat materiil dan berkaitan dengan alam. Jenis terakhir ini terbagi dua pula:

Jenis pertama, mukjizat yang terlihat selama fase dakwah beliau. Tujuannya; entah untuk mematahkan sikap keras kepala kaum kafir, atau untuk menguatkan keimanan kaum beriman. Misalnya, peristiwa terbelahnya bulan, keluarnya air dari jari-jemari beliau, makanan sedikit yang bisa mengenyangkan banyak orang, kemampuan berbicara dengan hewan, pohon, dan batu, serta berbagai mukjizat semisal yang mencapai dua puluh jenis. Masing-masing berada pada tingkat mutawatir maknawi dan masing-masing memiliki banyak contoh yang berulang.

Jenis kedua, berbagai peristiwa yang diinformasikan Rasul (saw) sebelum terjadi melalui pemberitaan dari Allah (swt). Lalu ia tampak dan terwujud persis seperti yang beliau informasikan.

Sekarang kita memulai dengan jenis yang terakhir ini untuk sampai kepada daftar yang terangkai dan bersifat umum.

(*) Sayang sekali aku tidak dapat menuliskannya seperti niatku semula. Aku menuliskannya seperti yang terlintas dalam hati tanpa disengaja. Selain itu, aku tidak dapat menjaga rangkaian yang terdapat dalam pembagian di atas―Penulis.

(16)

(17)

PETUNJUK KEEMPAT

Berbagai berita gaib yang diinformasikan oleh Rasulullah (saw) lewat pengetahuan yang Allah berikan, jumlahnya sangat banyak, tak terhingga. Kami telah menyebutkan sejumlah jenisnya dalam “Kalimat Kedua Puluh Lima” yang secara khusus berbicara tentang kemukjizatan al-Qur’an. Di sana kami telah mengungkapkan berbagai bukti tentangnya. Oleh karena itu, berbagai informasi gaib yang terkait dengan masa lalu dan para nabi terdahulu berikut sejumlah hakikat uluhiyah, hakikat alam, dan hakikat akhirat bisa merujuk kepada “Kalimat” tersebut.

Adapun di sini, kami akan mengetengahkan sejumlah contoh informasi gaib yang benar terkait dengan berbagai peristiwa yang akan menimpa keluarga Nabi (saw) dan para sahabat f di kemudian hari berikut apa yang akan dialami umat nantinya. Untuk memahami hakikat di atas dengan sempurna, kami akan menerangkan terlebih dahulu enam prinsip sebagai pendahuluan atasnya.

(18)

Prinsip Pertama

Seluruh kondisi dan perilaku Rasul (saw) bisa menjadi dalil atas kebenaran beliau dan sebagai saksi atas kenabiannya. Tetapi, hal itu bukan berarti seluruh kondisi dan perbuatannya luar biasa. Sebab, Allah (swt) mengutus beliau sebagai manusia sekaligus Rasul agar dengan berbagai aktivitas dan perilakunya, beliau menjadi pemimpin dan pembimbing bagi seluruh manusia dalam semua keadaan mereka. Dengan demikian, hal itu bisa mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat untuk mereka sekaligus menjelaskan berbagai kreasi ilahi yang luar biasa, berikut perbuatan qudrah-Nya dalam sejumlah urusan yang biasa yang sebetulnya juga merupakan mukjizat.

Andaikan seluruh kondisi Nabi (saw) luar biasa, berada di luar dimensi manusia, tentu beliau tidak bisa menjadi teladan yang dicontoh serta tidak bisa menjadi panutan bagi yang lain lewat perbuatan dan kondisinya. Oleh karena itu, penampakan mukjizat hanya terjadi sewaktu-waktu, saat dibutuhkan, guna menegaskan kenabiannya di hadapan orang-orang kafir yang keras kepala. Nah, karena ujian merupakan tuntutan taklif ilahi, maka keberadaan mukjizat tidak memaksa manusia untuk percaya. Artinya, tidak membuat manusia mau tak mau harus percaya. Pasalnya, rahasia ujian dan hikmah taklif menuntut pemberian ruang bagi akal untuk memilih. Andaikan mukjizat tampak dalam bentuk aksioma sehingga memaksa akal untuk percaya sebagaimana kondisi aksioma lainnya, tentu ia tidak lagi bisa memilih; tentu Abu Jahal akan segera percaya sebagaimana sikap Abu Bakar (ra) sehingga manfaat dari taklif dan tujuan dari ujian menjadi sirna; serta arang yang hina akan sama dengan berlian yang berharga.

(19)

Hanya saja, yang membuat heran dan takjub adalah ketika ribuan manusia percaya kepada mukjizat Nabi (saw), atau dengan ucapannya dan melihat wajahnya, atau dengan berbagai bukti benarnya kenabian beliau yang lain, serta ketika ribuan ulama dan pemikir percaya kepada beliau lewat informasi yang mereka terima tentang benarnya berita yang beliau sampaikan dan keindahan riwayatnya yang dinukil secara sahih dan mutawatir, bukankah aneh jika orang-orang malang pada masa sekarang melihat seluruh dalil yang jelas tersebut seolah-olah masih tidak cukup untuk membuat mereka beriman dan percaya sehingga mereka terjerumus ke dalam lembah kesesatan?

Prinsip Kedua

Rasul (saw) merupakan sosok manusia. Beliau berinteraksi dengan manusia beranjak dari posisinya sebagai manusia. Pada waktu yang sama, beliau adalah seorang rasul. Dengan kedudukannya sebagai rasul, beliau menjadi juru bicara yang amanah atas nama Allah serta sebagai penyampai yang jujur atas seluruh perintah-Nya. Risalah yang beliau bawa bersandar pada wahyu. Wahyu itu sendiri terbagi dua:

Pertama, wahyu yang bersifat eksplisit, seperti al-Qur’an al-Karim dan sejumlah hadis qudsi. Dalam hal ini, Rasul (saw) hanya sebagai penyampai; tanpa ikut campur sedikitpun.

Kedua, wahyu yang bersifat implisit. Yaitu inti sari dan kesimpulannya mengacu kepada wahyu dan ilham. Namun rincian dan deskripsinya kembali kepada Rasul (saw). Rincian peristiwa yang datang secara global dari wahyu jenis ini, beliau kadang menjelaskannya dengan merujuk kepada ilham dan

(20)

wahyu, atau beliau menjelaskannya berdasarkan firasat pribadi. Penjelasan yang diberikan Rasul (saw) lewat ijtihad beliau ini; entah beliau menyampaikannya lewat kekuatan suci dan mulia yang beliau miliki sesuai dengan posisi beliau sebagai rasul, atau beliau menjelaskannya lewat sifat-sifat kemanusiaan beliau sesuai dengan adat, tradisi, dan persepsi manusia.

Demikianlah. Seluruh hadis Nabi (saw) tidak selamanya harus dilihat dalam perspektif wahyu. Juga, tidak perlu mencari jejak kerasulan dalam muamalah dan pemikiran beliau yang berjalan sesuai dengan sifat-sifat manusia.

Karena sejumlah kejadian, beliau terima dalam bentuk wahyu secara global dan mutlak, maka beliau mendeskripsikannya lewat firasat pribadi atau sesuai dengan pandangan umum. Jadi, kadang kala diperlukan penafsiran atau bahkan penjelasan atas berbagai perkara samar dan persoalan sulit yang terkandung dalam deskripsi tersebut. Pasalnya, sejumlah hakikat, baru bisa dipahami lewat penjelasan dan perumpamaan.

Contoh:

Suatu ketika, saat sedang duduk bersama Rasul (saw), orang-orang mendengar suara yang sangat keras. Maka, Rasul (saw) menjelaskan kejadian itu dengan berkata, “Ini adalah batu yang dilemparkan di neraka sejak tujuh puluh tahun yang lalu. Sekarang ia sudah sampai ke dasar neraka.” Tidak lama sesudahnya, jawabannya pun datang. Yaitu ketika seseorang datang dan berkata, “Seorang munafik terkenal yang usianya mendekati 70 tahun telah meninggal dunia dan masuk ke ne

(21)

raka. Ini merupakan penjelasan dari perumpamaan (tasybîh) yang disebutkan Rasul (saw).

Prinsip Ketiga

Berbagai riwayat yang disampaikan jika bersifat mutawatir berarti kedudukannya kuat dan meyakinkan. Kemutawatiran terbagi dua:

Pertama, mutawatir yang jelas atau mutawatir lafzhî.

Kedua, mutawatir maknawî. Ini pun terbagi dua:

Pertama, bersifat sukûtî. Yaitu menunjukkan sikap menerima dengan cara tidak dibahas dan dipersoalkan. Misalnya, andaikan seseorang menceritakan kepada komunitasnya tentang sebuah peristiwa yang terjadi di hadapannya secara langsung, sementara mereka tidak mengingkari cerita tersebut. Namun mereka menyikapinya dengan cara diam. Ini berarti mereka menerima kejadian tadi. Apalagi jika kejadian itu memiliki kaitan dengan komunitas tersebut di mana mereka siap untuk mengkritik dan membantah, di dalamnya terdapat orang-orang yang tidak akan mungkin menerima kesalahan, bahkan memandang dusta sebagai keburukan, maka diamnya mereka menunjukkan bahwa kejadian yang mereka dengar memang benar adanya.

Kedua, kesepakatan mereka secara bersama-sama terkait dengan informasi yang ada meskipun riwayatnya beragam.

Misalnya: Apabila disebutkan bahwa satu ons makanan bisa mengenyangkan dua ratus orang, maka orang-orang yang menginformasikan hal tersebut meriwayatkannya dalam beragam bentuk dan ungkapan. Ada yang meriwayatkan “se

(22)

ratus orang”, yang lain mengatakan “tiga ratus”, dan ada pula yang menyebutkan bahwa makanan itu “dua ons” bukan satu ons, demikian seterusnya. Jadi, semuanya sepakat atas kejadian tersebut, yaitu bahwa makanan yang sedikit bisa membuat kenyang banyak orang. Dengan demikian, secara umum kejadian tersebut bersifat mutawatir dilihat dari segi maknanya. Ia melahirkan keyakinan. Perbedaan bentuk riwayatnya tidak berpengaruh. Kadang kala riwayat yang disampaikan secara âhâd (perseorangan) ketika memenuhi sejumlah syarat bisa bersifat qath’i (pasti) sebagaimana riwayat yang mutawatir. Sifat qath’i tersebut kadang kala juga ditunjukkan oleh tanda-tanda eksternal.

Demikianlah, sebagian besar dalil kenabian dan mukjizat Rasul (saw) yang kita terima bersifat mutawatir yang jelas (sharîh), maknawî atau sukûtî. Sebagian darinya terwujud lewat berita âhâd. Hanya saja, berdasarkan sejumlah syarat tertentu ia dapat diterima dari para imam ahli hadis yang membidangi Jarh wa Ta’dîl (kritik hadis) sehingga petunjuknya juga bersifat qath’i sebagaimana riwayat yang mutawatir. Tentu saja apabila para muhaddis penulis enam kitab hadis, terutama Imam Bukhârî dan Muslim, di mana mereka merupakan para tokoh besar yang hafal tidak kurang dari seratus ribu hadis, juga apabila ribuan tokoh ulama bertakwa yang melakukan shalat subuh dengan wudhu shalat isya selama lima puluh tahun dari usia mereka menerima keabsahan riwayat âhâd, maka sudah pasti riwayat tersebut valid dan kedudukannya tidak kalah dengan riwayat mutawatir.

(23)

Ya, para ulama ahli hadis dan para pengkritiknya secara khusus menekuni ilmu tersebut sampai ke tingkat di mana mereka secara alamiah dapat mengetahui keluhuran ucapan Rasul (saw), retorika ungkapan beliau, serta maknanya. Mereka mampu memilah mana hadis Nabi (saw) dan mana yang bukan. Ketika melihat sebuah hadis palsu di antara seratus hadis yang ada, mereka segera menolaknya dengan berkata, “Ini palsu! Ini bukan hadis!” Mereka laksana pedagang valuta asing yang mahir (mampu membedakan uang asli dan uang palsu—peny). Demikian halnya dengan para ahli hadis, mereka mampu mengetahui hadis asli dan riwayat palsu yang dimasukkan ke dalamnya.

Hanya saja, sebagian ulama telah berlebihan dalam mengkritik hadis. Misalnya Ibnu al-Jauzi yang menilai sejumlah hadis sahih sebagai hadis maudhu. Perlu diketahui, yang dimaksud dengan maudhu adalah bahwa ia bukan merupakan perkataan Rasul (saw); tidak berarti ia batil atau rusak.

Pertanyaan: Apa manfaat dari rangkaian sanad (periwayatan) yang panjang di mana ia tidak penting untuk disebutkan dalam sebuah kejadian yang sudah diketahui bersama?

Jawaban: Manfaatnya banyak. Sebab, penyebutan sanad yang panjang menjelaskan satu bentuk kesepakatan di antara kalangan perawi terpercaya, jujur, dan diakui. Hal itu men

(24)

jelaskan adanya semacam relasi dan kesepakatan para ulama di dalam sanad tersebut. Seolah-olah setiap imam yang terdapat di dalamnya ikut menandatangani penilaian atas hadis Nabi (saw) itu sekaligus memberikan label keabsahan atasnya.

Pertanyaan: Mengapa berbagai mukjizat Nabi (saw) tidak mendapatkan perhatian serius dalam periwayatannya, berbeda dengan riwayat tentang hukum syariat lain yang diriwayatkan secara mutawatir dan dengan jalur yang beragam?

Jawaban: Sebab, sebagian besar manusia sangat membutuhkan hukum-hukum syariat. Ia merupakan fardhu ‘ain bagi mereka karena memiliki hubungan dengan setiap pribadi. Sementara mukjizat tidak dibutuhkan setiap orang pada setiap waktu. Bahkan seandainya dibutuhkan, maka cukup didengar satu kali saja. Ia merupakan fardhu kifayah sehingga biasanya cukup diketahui oleh sekelompok orang.

Oleh sebab itulah kadang kala kita melihat salah satu mukjizat diriwayatkan secara qath’i jauh melebihi hukum syariat, namun perawinya hanya satu atau dua orang. Sebaliknya, perawi hukum syariat tersebut berjumlah sepuluh atau dua puluh orang.

Prinsip Keempat

Sebagian dari peristiwa masa mendatang yang diberitakan Rasul (saw) merupakan peristiwa yang bersifat universal di mana ia terjadi berulang kali dalam waktu yang berbeda-beda. Ia tidak hanya berupa sebuah peristiwa yang bersifat parsial. Rasul (saw) kadang memberitakan peristiwa universal tersebut dalam gambaran parsial dengan menjelaskan sejumlah

(25)

kondisinya di mana peristiwa universal semacam itu memiliki banyak aspek. Nah setiap kali menyampaikan, beliau hanya menyebutkan satu aspek darinya. Namun ketika semua aspek ini disatukan oleh perawi hadis, ia tampak tidak sesuai dengan realita.

Misalnya:

Terdapat beberapa riwayat yang berbeda tentang al-Mahdi. Uraian dan penjelasan tentangnya berbeda-beda. Rasul (saw) menginformasikan kemunculan al-Mahdi berdasarkan wahyu guna menjaga kekuatan moral orang-orang beriman di setiap masa, agar mereka tidak jatuh kepada sikap putus asa dalam melihat berbagai kejadian besar, serta untuk mengikat umat dalam sebuah ikatan maknawi lewat silsilah ahlul bait yang bercahaya. Hal itu telah kami tegaskan dalam salah satu ‘dahan’ pada “Kalimat Kedua Puluh Empat”. Dari sini engkau bisa melihat bahwa pada setiap masa terdapat sejenis al-Mahdi dari keturunan ahlul bait sebagaimana yang akan muncul di akhir zaman. Bahkan terdapat sejumlah al-Mahdi. Pada masa al-Mahdi al-Abbasi yang masih termasuk ahlul bait terdapat banyak orang yang tergolong memiliki sifat al-Mahdi besar itu.

Demikianlah, sejumlah sifat yang mendahului kemunculan al-Mahdi besar di antara mereka yang memerankannya di setiap masa—seperti para khalifah dan pemimpin yang mendapat petunjuk—berbaur dengan karakter al-Mahdi yang sebenarnya. Maka, terjadilah berbagai perbedaan dalam periwayatannya.

(26)

Prinsip Kelima

Rasul (saw) tidak mengetahui masalah gaib selama Allah (swt) tidak memberitahukannya. Sebab, yang mengetahui hal gaib hanya Allah (swt). Beliau hanya menyampaikan kepada manusia apa yang Allah ajarkan kepadanya. Karena Allah bersifat Maha Bijaksana (Hakîm) dan Maha Pengasih (Rahîm), maka hikmah dan rahmat-Nya menghendaki sebagian besar persoalan gaib tetap terbungkus dalam kesamaran. Pasalnya, peristiwa yang tidak menyenangkan bagi manusia di dunia ini lebih banyak daripada yang menyenangkan. Sementara pengetahuan manusia tentang peristiwa tersebut sebelum ia terjadi hanya melahirkan kepedihan.

Oleh karena itulah, kematian dan ajal tetap samar dan terselubung; tidak diketahui oleh manusia. Sejumlah musibah dan bencana yang akan menimpa manusia juga terbungkus dalam bingkai kegaiban. Maka, di antara hikmah dan rahmat ilahi, Dia tidak memberitahukan secara utuh dan rinci kepada Nabi-Nya terkait peristiwa dan musibah menyedihkan yang akan dialami oleh keluarga, sahabat, dan umat beliau setelah beliau wafat. Dia hanya memberitakan sejumlah peristiwa penting—sesuai dengan hikmah tertentu—sebagai bentuk informasi yang tidak meresahkan. Hal ini sejalan dengan rahmat dan kasih sayang agung yang beliau curahkan kepada umatnya serta kepada keluarga dan para sahabatnya. Sebagaimana Allah (swt) juga memberikan kabar gembira tentang sejumlah peristiwa menyenangkan di mana sebagiannya bersifat umum dan sebagian lagi bersifat rinci.

(*) Bukti bahwa Allah tidak memberitahukan secara utuh kepada Rasul (saw) bahwa Aisyah g akan terlibat dalam perang Jamal adalah bahwa beliau berkata kepada para isterinya, “Salah seorang di antara kalian akan digonggong oleh anjing galak.” Artinya, “Salah seorang di antara kalian akan ikut serta dalam perang tersebut.” Hal itu dimaksudkan agar tidak menodai dan merusak cinta Rasul (saw) yang demikian besar kepada Aisyah g. Namun setelah itu, Allah (swt) memberitahukan peristiwa itu secara umum di mana beliau berkata kepada Ali (ra), “Tunjukkan sikap yang baik dan berikanlah tempat yang aman untuknya (Aisyah g).” (Penulis).

Maka, beliau

(27)

memberitakan kepada umatnya apa yang Tuhan informasikan kepadanya. Lalu para ahli hadis yang jujur meriwayatkan sejumlah riwayat yang sahih kepada kita. Mereka adalah orang-orang yang sangat bertakwa dan takut terkena ancaman Nabi (saw):

مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, bersiaplah ia mengambil tempat di neraka.” Mereka juga sangat takut terkena ancaman ayat Allah yang berbunyi:

فَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَبَ عَلَى اللّٰهِ

“Adakah yang lebih zalim daripada orang yang berdusta atas nama Allah.” (QS. az-Zumar [39]: 32).

Prinsip Keenam

Berbagai kondisi dan sifat Rasul (saw) memang telah dijelaskan dalam bentuk biografi dan sejarah. Akan tetapi, sebagian besar kondisi dan sifat tersebut hanya memantulkan sisi kemanusiaan beliau semata. Padahal, sosok maknawi dari pribadi Nabi (saw) yang penuh berkah sangat tinggi. Esensi beliau

(28)

yang mulia demikian bercahaya. Berbagai kondisi dan sifat yang disebutkan dalam biografi dan sejarah tidak bisa mencapai kedudukan yang tinggi itu. Sebab, sebagaimana kaidah yang berbunyi:

اَلسَّبَبُ كَالْفَاعِلِ @

“Perantara sama seperti pelaku,”

maka setiap hari sampai saat ini pahala ibadah yang mulia terus ditambahkan ke dalam lembaran amal beliau sebanyak ibadah umatnya. Sebagaimana lewat potensi tak terbatas, beliau memperoleh curahan rahmat ilahi yang tak terhingga dalam bentuk tak terkira, beliau juga setiap hari memperoleh lantunan doa yang tak terhitung dari umatnya yang tak terbilang.

Nabi yang penuh berkah ini yang merupakan buah entitas yang paling sempurna, sosok penyampai informasi tentang Tuhan Pencipta jagat raya, serta sang kekasih Pemelihara alam semesta, kondisi dan sifat kemanusiaannya yang disebutkan oleh kitab sirah dan sejarah tidak mampu mencakup esensi beliau yang sempurna serta tidak mampu mencapai hakikat kesempurnaan beliau. Bagaimana mungkin sosok penuh berkah ini, yang dalam perang badar beliau didampingi dengan setia oleh malaikat Jibril dan Mikail , dibatasi oleh kondisi lahiriah atau dijelaskan oleh kejadian manusiawi seperti yang pernah terjadi dengan pemilik kuda di mana Rasul (saw) pernah

(29)

membeli kuda tersebut darinya, namun ia mengingkari seraya meminta beliau untuk mendatangkan saksi. Lalu seorang sahabat mulia, Khuzaimah (ra), datang menjadi saksi untuk beliau.”

Agar tak seorang pun jatuh dalam kesalahan, maka siapapun yang mendengar berbagai sifat manusiawi Nabi (saw) hendaknya selalu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi untuk melihat hakikat beliau yang sebenarnya dan melihat sosok pribadi maknawi beliau yang bercahaya dalam puncak tingkat kerasulan. Jika tidak, ia akan bersikap lancang serta jatuh ke dalam syubhat dan ilusi.

Untuk menjelaskan persoalan ini, perhatikan contoh berikut:

Sebiji benih kurma ditanam di tanah. Lalu ia terbelah memunculkan sebatang pohon kurma yang berbuah dan tinggi.

(30)

Ia pun terus tumbuh dan besar. Contoh lain adalah sebutir telur burung merak di mana darinya keluar sang anak setelah berada dalam kadar panas tertentu. Semakin besar, ia terlihat semakin indah lewat goresan qudrah Tuhan pada seluruh bagiannya dalam bentuk yang menakjubkan.

Selain itu, terdapat sejumlah kondisi dan karakter khusus yang melekat pada benih dan telur tersebut. Keduanya menyimpan berbagai materi dan unsur yang sangat halus. Pohon kurma dan burung merak juga memiliki sifat-sifat istimewa dan kondisi yang lebih indah lagi jika dibandingkan dengan sifat-sifat ketika masih berupa benih dan telur. Manakala sifat-sifat benih dan telur dikaitkan dengan sifat-sifat pohon kurma dan burung merak lalu keduanya diingat secara bersamaan, akal manusia harus mengalihkan perhatiannya dari benih kepada pohon kurma; dan dari telur kepada burung merak. Hal itu agar akal dapat menerima sejumlah sifat yang ia dengar. Jika tidak, ia tidak akan percaya kalau ada yang berkata, “Aku telah mendapatkan satu ton kurma dari sekepal benih.” Atau, “Telur ini merupakan pimpinan burung.”

Demikianlah, sisi kemanusiaan Rasul (saw) yang mulia menyerupai benih atau telur dalam perumpamaan di atas. Perumpamaan esensi beliau yang bersinar lewat misi kerasulan sama seperti ketinggian dan kemuliaan pohon Tuba dan burung surga.

Oleh karena itu, di saat kita merenungkan konflik yang terjadi di pasar dengan Arab Badui tadi, kita harus melupakan renungan tersebut lalu membayangkan sosok pribadi beliau yang bercahaya yang bertolak menuju ke jarak antara dua busur (Qâba Qausayni) atau lebih dekat lagi, dengan meninggalkan

(31)

Jibril di belakangnya. Jika tidak, bisa jadi nafsu ammârah menunjukkan sikap lancang dan kurang etis, atau terjerumus ke dalam sikap ingkar.

(32)

(33)

PETUNJUK KELIMA

Bagian ini membahas berbagai peristiwa yang terkait dengan perkara gaib. Kami akan menyebutkan sebagian contoh darinya:

Contoh Pertama:

Ketika berkhutbah di hadapan para sahabat yang mulia di mana hal ini diriwayatkan dalam hadis yang sahih dan mutawatir, Rasul (saw) berkata:

إنَّ ابني هذا سَيّدٌ ولَعلَّ الله أنْ يُصلحَ به بين فِئَتين من المسلمين وفي رواية عظيمتين

Anakku ini adalah pemimpin. Semoga dengannya Allah mendamaikan dua kelompok umat Islam.” Dalam riwayat lain berbunyi, “Dua kelompok besar”.

Ternyata empat puluh tahun kemudian, dua pasukan besar umat Islam bertemu. Ketika itu Hasan (ra) berdamai dengan

(34)

Muawiyah (ra). Dengan demikian, perdamaiaan tersebut membuktikan mukjizat gaib sang kakek yang mulia, Muhammad (saw).

Contoh Kedua:

Dalam riwayat sahih disebutkan bahwa Nabi (saw) pernah berkata kepada Ali (ra):

سَتُقَاتِلُ النَّاكِثٖينَ وَالْقَاسِطٖينَ وَالْمَارِقٖينَ

Engkau akan memerangi kaum pengkhianat, kaum khawarij, dan kaum pembangkang.

Jadi, beliau menginformasikan tentang perang Jamal, perang Shiffin, dan pemberontakan khawarij.

Lalu saat Rasul (saw) melihat Zubair (ra) dan Ali (ra) saling mencintai, beliau berkata kepada Zubair:

لتقاتلنه وأنت ظالم له

Engkau akan memeranginya dalam kondisi zalim kepadanya.

Nabi (saw) berkata kepada para isterinya yang mulia:

كيف بإحداكُن تنبح عليها كلابُ الحَوأب

Suatu saat nanti, salah seorang dari kalian akan disalak oleh anjing Haw’ab.

(35)

يُقتَل عن يمينها وعن يسارها قتلى كثيرة

Sementara di sisi kanan dan kirinya begitu banyak orang terbunuh.

Ternyata tiga puluh tahun kemudian sabda-sabda Nabi (saw) tersebut terwujud. Tepatnya pada perang Jamal antara pasukan Ali (ra) dan pasukan Aisyah g disertai Thalhah (ra) dan Zubair (ra). Ia juga terwujud dalam perang Shiffin antara pasukan Ali (ra) dan pasukan Muawiyah (ra). Serta terwujud dalam perang Harwara’ dan Nahrawan antara pasukan Ali (ra) dan kaum Khawarij.

Nabi (saw) menginformasikan kepada Ali (ra) tentang siapa yang akan membunuhnya. Beliau (saw) bersabda:

الذي يضربك يا عليّ على هذه حتى تبلّ منها هذه

Wahai Ali, orang yang akan menebasmu di atas ini sehingga bagian ini basah olehnya.

Yakni, janggutnya basah oleh darah kepalanya. Dalam hal ini Ali (ra) mengetahui orangnya. Yaitu Abdurrahman ibn Muljam, seorang khawarij.

Selanjutnya, beliau menginformasikan tentang Dzû Tsadyah (lelaki yang memiliki tanda seperti payudara wanita) di mana ia akan berada di antara kaum Khawarij yang ter

(36)

bunuh. Ternyata ia memang terbunuh di antara mereka. Ia adalah seorang lelaki berkulit hitam yang salah satu lengan atasnya seperti payudara wanita. Nah, Ali (ra) menjadikannya sebagai bukti bahwa dirinyalah yang berada pada pihak yang benar. Hal itu mengungkap mukjizat Rasul yang mulia.

Dalam riwayat sahih yang berasal dari Ummu Salamah dan yang lain,

Nabi (saw) bersabda:

أن الحسين يُقتَل بالطَّف (كربلاء)

Husein akan terbunuh di Thaf (Karbala).

Lima puluh tahun kemudian peristiwa memilukan itu pun terjadi sehingga membenarkan informasi gaib yang beliau sampaikan.

Selain itu, Nabi (saw) sering menyatakan:

إن أهلَ بيتي سيَلقون بعدي من أمتي قتلاً وتشريداً

Keluargaku akan mengalami pembunuhan dan pengusiran dari umatku.

Apa yang beliau sampaikan benar adanya.

(37)

Sebuah Pertanyaan Penting:

Ali (ra) sangat layak dan sangat tepat untuk menjadi khalifah. Ia memiliki kekerabatan dengan Nabi (saw), memiliki keberanian yang luar biasa, serta memiliki ilmu yang sangat luas. Namun, mengapa bukan dia yang dinobatkan menjadi khalifah pertama? Mengapa kondisi kaum muslimin pada masanya sangat labil?

Jawaban:

Seorang wali qutub dari kalangan ahlul bait berkata, “Rasul (saw) sebetulnya ingin kalau Ali yang menjadi khalifah (pertama). Namun beliau mengetahui bahwa Allah menghendaki yang lain. Oleh karena itu, beliau mengurungkan keinginannya demi mengikuti kehendak Allah (swt).

Berikut ini adalah salah satu hikmah yang terkandung dalam kehendak Allah (swt) di atas:

Para sahabat sangat membutuhkan kesepakatan dan persatuan sepeninggal Nabi (saw). Seandainya Ali (ra) menjadi khalifah (pertama), kemungkinan besar kondisinya yang tidak sejalan dengan yang lain serta kemandirian pendapatnya, sikap zuhudnya yang hebat, kegagahannya yang langka, dan sikapnya yang tidak membutuhkan yang lain, di samping keberaniannya yang luar biasa, bisa memicu munculnya semangat persaingan antar banyak tokoh dan kabilah sehingga menimbulkan perpecahan di antara barisan umat Islam seperti sejumlah fitnah yang terjadi pada masa kekhalifahannya.

(38)

Adapun sebab penundaan kekhalifahan Ali (ra), salah satunya adalah sebagai berikut:

Badai fitnah telah berhembus di tengah-tengah umat Islam yang terdiri dari sejumlah kaum yang memiliki pemikiran yang beragam di mana masing-masing membawa benih perpecahan hingga menjadi 73 kelompok seperti yang diberitakan Rasul (saw). Maka, harus ada satu sosok karismatik, memiliki kekuatan yang tak tertandingi, keberanian yang luar biasa dan firasat yang tajam, serta berasal dari keturunan mulia, yakni dari keluarga ahlul bait dan Bani Hasyim agar mampu bertahan dalam menghadapi fitnah yang ada. Sosok luar biasa tersebut terwujud dalam pribadi Ali (ra). Dan terbukti dia mampu bertahan dalam menghadapi badai fitnah itu. Nabi (saw) telah menginformasikan bahwa ia akan berperang demi membela penakwilan al-Qur’an, sebagaimana Nabi (saw) berperang demi membela penurunannya.

Kalau bukan karena Ali (ra), bisa jadi kekuasaan dunia akan memusnahkan dan membinasakan kalangan Umawiyyin serta membuat mereka menyimpang dari jalan yang lurus. Akan tetapi, karena mereka melihat bahwa di hadapan mereka ada Ali dan ahlul bait, mereka berusaha mencapai dan menyaingi kedudukan ahlul bait agar tidak kehilangan martabat dalam pandangan umat. Maka sebagian besar pimpinan Daulah Umawiyah mau tak mau harus mengajak para pengikut mereka untuk menjaga hakikat iman dan menyebarkannya, serta memelihara hukum-hukum al-Qur’an dan Islam

(39)

meskipun mereka sendiri tidak berbuat apa-apa. Oleh karena itu, pada masa kekuasaan mereka terdapat ratusan ribu ulama mahir dan mujtahid, imam hadis, wali salih, serta orang-orang mulia. Andaikan bukan karena sejumlah kemuliaan, kesalihan, dan kewalian yang dimiliki oleh ahlul bait, tentu kalangan Umawiyyin telah tergelincir dan menyimpang dari jalan kebenaran sebagaimana hal itu terjadi di akhir kekuasaan mereka serta sebagaimana juga terjadi pada akhir kekuasaan Abbasiyah.

Barangkali ada yang bertanya: Mengapa kekhalifahan tidak bertahan di lingkungan ahlul bait, padahal mereka yang paling berhak atasnya?

Jawaban: Kekuasaan dunia bersifat menipu. Sementara ahlul bait bertugas menjaga berbagai hakikat Islam dan hukum-hukum al-Qur’an. Maka, siapa yang memegang kendali kekhalifahan tidak boleh tertipu oleh dunia. Ia harus ma’shûm (terpelihara dari dosa dan kesalahan) seperti Nabi (saw) atau harus orang yang sangat bertakwa dan sangat zuhud seperti khulafa ar-Rasyidin, Umar ibn Abdul Aziz, dan al-Mahdi pada masa kekuasaan Abbasiyah. Hal itu agar khalifah tidak terlena dan tertipu. Karenanya, kekuasaan dunia tidak cocok untuk ahlul bait. Sebab, bisa membuat mereka lupa kepada tugas utamanya, yaitu menjaga agama dan berkhidmat untuk Islam. Kekhalifahan Daulah Fatimiyah yang tegak atas nama ahlul bait di Mesir, pemerintahan kaum Muwahhidin di Afrika, Daulah Shafawiyah di Iran, semuanya menjadi bukti bahwa kekuasaan dunia tidak cocok berada di tangan ahlul bait. Sementara ketika meninggalkan kekuasaan dunia tersebut, mereka dengan sangat gigih mengerahkan upaya luar biasa

(40)

dalam berkhidmat untuk Islam dan mengibarkan panji al-Qur’an.

Engkau bisa melihat para wali qutub yang berasal dari keturunan Hasan (ra); terutama wali qutub yang empat; khususnya Syekh Abdul Qadir al-Jailani . Engkau juga bisa melihat para imam yang berasal dari keturunan Husein (ra); terutama Zainal Abidin, Ja’far ash-Shâdiq dan seterusnya. Masing-masing mereka laksana Mahdi maknawi. Mereka melenyapkan kezaliman dan kegelapan maknawi dengan menebarkan cahaya al-Qur’an dan hakikat iman. Mereka benar-benar membuktikan bahwa mereka merupakan pewaris sang kakek yang paling mulia, Nabi (saw).

Barangkali ada yang bertanya: Apa hikmah dari adanya fitnah berdarah yang menakutkan yang dialami umat Islam di masa khulafa ar-Rasyidin dan generasi terbaik, padahal musibah itu tidak layak bagi mereka. Di manakah wujud rahmat ilahi di dalamnya?

Jawaban: Sebagaimana hujan deras yang disertai angin kencang di musim semi menggerakkan dan menyingkap potensi tersembunyi setiap spesies tumbuhan sehingga menebarkan benih-benih yang ada di mana ia membuat bunga-bunganya mekar dan masing-masing menerima tugas fitrinya, demikian pula dengan fitnah yang dialami oleh para sahabat dan tabi’in. Fitnah tersebut membangkitkan bakat mereka yang berbeda-beda dan menggerakkan benih potensi mereka yang beragam. Fitnah tersebut mengingatkan setiap kelompok dari mereka bahwa Islam sedang terancam dan bahwa api

(41)

(fitnah) akan menyala di tengah-tengah barisan umat Islam. Hal ini membuat setiap kelompok berupaya menjaga ajaran Islam dan membela kehormatan iman. Masing-masing mereka memiliki misi pemeliharaan iman dan persatuan Islam. Masing-masing sesuai dengan kadar kemampuannya. Untuk itu, mereka bergerak dengan penuh semangat dan keikhlasan dalam mengemban misi tersebut. Di antara mereka ada yang menjaga (menghafal) hadis Nabi (saw). Di antara mereka ada yang menjaga pemahaman syariat yang mulia. Di antara mereka ada yang menjaga akidah dan hakikat iman. Serta di antara mereka ada yang menjaga al-Qur’an al-Karim.

Demikianlah setiap kelompok memiliki tugas dan kewajiban yang menjadi tuntutan misi pemeliharaan iman dan penjagaan Islam. Masing-masing berusaha keras dalam menjalankan tugas mereka. Maka benih yang ditaburkan oleh “angin kencang” di setiap sudut menjadi bunga-bunga indah yang tumbuh mekar dengan aneka warna di dunia Islam. Sehingga dunia Islam menjadi taman yang penuh dengan mawar dan bunga semerbak lainnya. Namun sangat disayangkan, di tengah-tengah taman indah tersebut muncul pula sejumlah “duri” ahli bid’ah. Seolah-olah tangan qudrah ilahi telah menggoncang era tersebut dengan penuh kehormatan serta menatanya dengan keras sehingga membangkitkan semangat dan mengobarkan perasaan di kalangan kaum yang memiliki semangat keislaman. Gerakan yang bertolak dari pusat itu mendorong banyak para imam mujtahid, muhaddis, hafidz, orang-orang salih, dan wali qutub untuk melanglang buana ke seluruh penjuru dunia Islam dan menggerakkan mereka untuk berhijrah. Ia juga menggerakkan kaum muslim yang

(42)

berada di Timur dan Barat serta membuka bashirah mereka untuk meraih perbendaharaan dan khazanah al-Qur’an.

Mari kita kembali kepada pembahasan semula.

Berbagai persoalan gaib yang disampaikan oleh Rasul (saw) di mana ia terjadi secara nyata mencapai ribuan bahkan lebih. Namun, kami hanya mengemukakan sebagian contoh yang kesahihannya telah disepakati oleh para penulis kitab hadis yang enam (kutub as-sittah); terutama Imam Bukhari dan Muslim. Bahkan sebagian besar darinya diriwayatkan secara mutawatir dari sisi makna. Para ulama dan peneliti sepakat bahwa kesahihan sebagiannya laksana riwayat yang benar-benar mutawatir.

Perawi hadis sahih dan para imam meriwayatkan sejumlah hal yang disampaikan oleh Nabi (saw) kepada para sahabatnya yang didalamnya Nabi (saw) menjanjikan kemenangan atas musuh, Fathu Mekkah, penaklukan Baitul Maqdis, Yaman, Syam, Irak, dan Khaibar. Beliau juga menginformasikan bahwa mereka akan membagi-bagikan harta kekayaan kerajaan Persia dan kekaisaran Romawi; dua imperium paling besar di dunia ketika itu. Selanjutnya, ketika Nabi (saw) memberikan informasi gaib tersebut, beliau tidak mengatakan, “Aku mengira, Aku menyangka, barangkali, dan seterusnya.”

(43)

Namun beliau menginformasikan berdasarkan pengetahuan yang pasti, seolah-olah ia melihatnya secara langsung. Dan apa yang terjadi persis seperti yang beliau katakan. Padahal, ketika memberikan informasi tersebut, beliau sedang diperintah berhijrah, jumlah sahabat juga sedikit, dan seluruh dunia serta orang-orang yang berada di sekitar Madinah adalah musuh yang terus mengintai dari berbagai sisi.

Dalam sebuah riwayat sahih, Rasul (saw) seringkali menyampaikan:

اقتدوا باللذَين من بعدي أبي بكر وعمر

Ikutilah dua orang sesudahku; Abu Bakar dan Umar.

Dengan sabda di atas, Nabi (saw) menyampaikan bahwa Abu Bakar dan Umar akan memimpin sesudah beliau dan akan menjadi khalifah. Keduanya akan menunaikan tugas kekhalifahan dengan benar dan sempurna sesuai dengan ridha Allah dan Rasul-Nya. Kemudian Abu Bakar akan memimpin kekhalifahan dalam masa yang singkat, sementara Umar akan menggantikannya dalam masa yang lebih lama, di mana ia juga akan melakukan banyak penaklukan atas sejumlah wilayah.

Rasul (saw) bersabda:

إن الله زَوى ليَ الأرضَ فرأيتُ مشارقها ومغاربها وأن أمتي سيبلُغ مُلكها ما زُوي لي منها

(44)

Allah telah melipat bumi untukku. Aku telah melihat penjuru Timur dan Baratnya serta kekuasaan umatku mencapai apa yang terlipat untukku darinya.

Ternyata apa yang beliau katakan benar adanya.

Dalam sebuah riwayat sahih, sebelum terjadi perang Badar, Nabi (saw) memberitakan tentang kekalahan kaum kafir dalam perang Badar. Bahkan beliau menunjukkan tempat terbunuhnya para pembesar mereka:

هٰذَا مَصْرَعُ اَبٖى جَهْلٍ، هٰذَا مَصْرَعُ عُتْبَةَ، هٰذَا مَصْرَعُ اُمَيَّةَ، هٰذَا مَصْرَعُ فُلَانٍ وَ فُلَانٍ

Abu Jahal (akan) terbunuh di sini, Utbah di sini, Umayyah di sini, si fulan di sini dan seterusnya.

Beliau juga berkata, “Aku sendiri yang akan membunuh Ubay ibn Khalaf.” Ternyata yang terjadi seperti yang beliau informasikan.

Dalam riwayat sahih disebutkan bahwa beliau bertutur seperti orang yang menyaksikan para sahabat dan melihat mereka dalam perang Mu’tah, padahal ketika itu keberadaan beliau sejauh perjalanan satu bulan dari perbatasan Syam. Beliau berkata:

(45)

اَخَذَ الرَّايَةَ زَيْدٌ فَاُصٖيبَ، ثُمَّ اَخَذَهَا اِبْنُ رَوَاحَةَ فَاُصٖيبَ، ثُمَّ اَخَذَهَا جَعْفَرُ فَاُصٖيبَ، ثُمَّ اَخَذَهَا سَيْفٌ مِنْ سُيُوفِ اللّٰهِ

Yang memegang bendera adalah Zaid. Namun ia terluka sehingga berpindah kepada Ja’far. Akan tetapi ia juga terluka lalu berpindah kepada Ibnu Rawâhah. Namun ia juga terluka seraya meneteskan air mata. Akhirnya, yang mengambil bendera adalah salah satu pedang Allah (Khalid ibn al-Walid) hingga Allah memenangkan mereka.

Beberapa pekan kemudian Ya’lâ ibn Munabbih kembali dari medan peperangan dan sebelum ia menginformasikan apa yang telah terjadi di sana, Rasulullah (saw) menjelaskan peristiwa yang berlangsung dalam perang itu secara rinci. Mendengar hal tersebut, Ya’lâ bersumpah seraya berkata, “Demi Allah, tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi pada mereka yang tidak kau sebutkan.”

Dalam sebuah riwayat sahih beliau bersabda:

أن الخلافةَ بعده ثلاثون عاماً ثم تصيرُ مُلكاً عَضوضاً

Kekhalifahan sesudahku akan berlangsung selama 30 tahun. Lalu setelah itu, akan berubah menjadi monarki yang kejam.

(46)

وأن هذا الأمر بدأ نبوةً ورحمةً، ثم يكون رحمةً وخلافةً، ثم يكون ملكاً عضوضاً، ثم يكون عتواً وجبروتاً وفساداً في الأمة

Urusan ini berawal dengan kenabian dan rahmat. Lalu rahmat dan kekhalifahan. Setelah itu, berupa monarki yang kejam. Lalu berupa despotisme dan kezaliman serta kerusakan pada umat.

Nabi (saw) memberitakan jangka waktu tegaknya kekhalifahan ar-Râsyidah; yaitu selama 30 tahun. Kemudian jangka waktu tersebut dilengkapi dengan enam bulan kekhalifahan Hasan (ra). Setelah itu, yang terjadi secara bergantian adalah kesultanan, kezaliman, dan kerusakan umat.

Dan terbukti bahwa apa yang beliau sabdakan menjadi kenyataan.

Dalam riwayat sahih, Rasul (saw) bersabda:

يُقْتَلُ عُثْمَانُ وَهُوَ يَقْرَأُ الْمُصْحَفَ

Utsman (akan) dibunuh saat membaca Mushaf (al-Qur’an).

اِنَّ اللّٰهَ عَسٰى اَنْ يُلْبِسَهُ قَمٖيصًا وَاِنَّهُمْ يُرٖيدُونَ خَلْعَهُ

Allah hendak memakaikan gamis kepadanya, namun mereka malah ingin melepaskannya.

(47)

Dan terbukti bahwa apa yang beliau sabdakan menjadi kenyataan.

Dalam riwayat sahih yang lain disebutkan bahwa ketika Rasul (saw) berbekam, Abdullah ibn Zubair tidak membuang darah beliau yang mulia, namun ia meminumnya untuk mendapatkan keberkahan darinya. Maka, beliau berkata kepada Abdullah ibn Zubair:

وَيْلٌ لِلنَّاسِ مِنْكَ وَ وَيْلٌ لَكَ مِنَ النَّاسِ

Orang-orang akan celaka olehmu dan engkau juga akan celaka oleh mereka.

Beliau menginformasikan bahwa Abdullah akan menjadi pemimpin dengan keberanian luar biasa dan juga akan menjadi target serangan yang hebat. Oleh karenanya, banyak musibah dan bencana yang terjadi pada mereka. Dan terbukti bahwa apa yang beliau sabdakan menjadi kenyataan di mana Abdullah ibn Zubair mendeklarasikan diri sebagai khalifah di mekkah di masa pemerintahan Umawiyyin, lalu di dikepung oleh al-Hajjaj ibn Yusuf yang zalim dengan pasukan besar di Mekkah. Setelah melalui pertempuran yang sengit, keberanian yang luar biasa, dan peperangan berdarah. Akhirnya ia tewas; mati syahid.

Nabi (saw) juga menginformasikan “kerajaan Bani Umayyah.” Yakni, kemunculan Daulah Umawiyyah dan kekua

(48)

saan Muawiyah sekaligus memberikan wasiat kepadanya ketika bersabda, “Jika engkau berkuasa, maka tunjukkan kelembutan dan ketulusanmu.” Dan mereka akan dipimpin oleh para tiran. Serta akan muncul dari mereka orang-orang seperti Yazîd dan al-Walîd.

Nabi (saw) juga menginformasikan “keluarnya keturunan al-Abbas dengan panji hitam berikut kerajaan mereka yang jauh lebih luas dari kerajaan sebelumnya.” Yaitu bahwa Daulah Abbasiyah akan muncul setelah Daulah Umayyah. Mereka akan terus berkuasa dalam waktu yang lama. Seluruh yang dinyatakan oleh Rasul (saw) menjadi kenyataan.

Dalam riwayat sahih disebutkan pula bahwa beliau bersabda:

وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ

Celaka bagi bangsa Arab akibat keburukan yang sudah dekat.

Beliau menginformasikan bencana Jengis Khan dan Hulagu Khan, berikut penghancuran mereka atas Daulah Abba

(49)

siyah. Dan terbukti bahwa apa yang beliau sabdakan menjadi kenyataan.

Dalam sebuah riwayat yang sahih beliau berkata kepada Sa’ad ibn Abi Waqqâs yang ketika itu sedang sakit parah:

لَعَلَّكَ تُخَلَّفُ حَتّٰى يَنْتَفِعَ بِكَ اَقْوَامٌ وَيَسْتَضِرَّ بِكَ اٰخَرُونَ

Semoga engkau tetap hidup setelahku sehingga sejumlah kaum mendapat manfaat darimu, sementara yang lain mendapat bencana.

Beliau menginformasikan bahwa ia akan menjadi pemimpin besar di mana lewat dirinya Allah akan menaklukkan sejumlah negeri dan banyak kaum yang mendapat manfaat dengan masuk ke dalam agama Islam. Sementara yang lain akan mendapat bencana di mana negeri mereka akan hancur. Ternyata pernyataan Rasul (saw) menjadi kenyataan. Pasalnya, Sa’ad menjadi pemimpin pasukan Islam dan berhasil menghancurkan Daulah Persia. Ia juga menjadi sebab masuknya banyak kaum dan golongan ke dalam pelukan Islam.

Disebutkan pula bahwa Nabi (saw) memberikan kabar duka tentang Najasyi pada hari ia meninggal dunia. Yaitu di tahun ke-7 hijriyah. Ketika itu beliau menyalatkannya. Ternyata, sepekan kemudian datang berita bahwa Najasyi wafat pada hari yang diberitakan Rasul (saw).

Nabi (saw) bersabda:

اُثْبُتْ فَاِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِىٌّ وَ صِدّٖيقٌ وَ شَهٖيدٌ

(50)

Tenanglah, sebab di atasmu terdapat seorang nabi, shiddîq, dan syahîd.

Hal itu beliau nyatakan ketika bersama para sahabat mulia di atas gunung Uhud atau di atas Hira yang kala itu bergetar. Beliau menginformasikan bahwa Umar, Utsman, dan Ali nantinya akan mati syahid. Kenyataannya seperti yang beliau katakan.

Wahai yang papa, wahai yang hatinya mati, wahai yang malang!

Barangkali engkau menyangka bahwa Muhammad (saw) merupakan sosok jenius sehingga dengan kejeniusannya beliau mengetahui semua persoalan gaib di atas, lalu engkau menutup mata terhadap hakikat kenabian yang cemerlang laksana mentari.

Wahai orang malang! Yang kau dengar baru satu bagian dari lima belas macam jenis mukjizatnya yang bersifat universal. Engkau mengetahui bahwa semuanya terdapat dalam sejumlah riwayat sahih dan mutawatir secara maknawi. Yang kau dengar hanya sebagian kecil dari sesuatu yang terkait dengan persoalan gaib. Apakah sesudah manusia mendengar mukjizat ini, ia akan berkata kepada pemiliknya, “Ia adalah sosok jenius yang mampu menyingkap masa depan lewat firasatnya”?!

Anggaplah kami mengikuti pendapatmu bahwa ia adalah seorang jenius. Tetapi, mungkinkah orang yang memiliki ra

(51)

tusan kali lipat kecerdasan dan kejeniusan luar biasa, pandangannya menjadi rancu? Mungkinkah sosok hebat semacam itu, kemuliaannya menjadi runtuh dengan memberitakan sesuatu yang tidak benar? Bukankah sangat bodoh mengingkari informasi yang disampaikan oleh sosok jenius luar biasa semacam itu terkait dengan kebahagiaan dunia dan akhirat?!

(52)

(53)

PETUNJUK KEENAM

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Nabi (saw) memberitahu putrinya, Fatimah g:

اَنْتِ اَوَّلُ اَهْلِ بَيْتٖى لُحُوقًا بٖى

Engkau adalah orang pertama dari keluargaku yang akan menyusulku.

Maksudnya, ia akan menjadi orang pertama yang meninggal dan menyusul beliau dari kalangan ahlul bait. Enam bulan kemudian apa yang beliau katakan menjadi kenyataan.

Disebutkan pula bahwa “Beliau memberitahu Abu Dzar (ra) tentang pengusirannya” dari kota Madinah, serta bagaimana “ia hidup seorang diri, dan meninggal dunia dalam kondisi sendirian.” Dua puluh tahun kemudian kondisinya seperti yang beliau katakan.

Dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi (saw) bangun dari

(54)

tidur di rumah Ummu Haram (bibi Anas ibn Malik). Lalu beliau tersenyum seraya berkata:

ناسٌ من أمتي عرضوا عليّ غزاةً في سبيل الله يركبون ثَبجَ هذا البحر ملوكاً على الأسرَّة، فقالت: ادع يا رسول الله أنْ أكون معهم، فدعا لها

Ada sejumlah orang dari umatku diperlihatkan kepadaku sebagai pejuang di jalan Allah. Mereka mengarungi lautan laksana raja di atas dipan-dipan. (Mendengar hal itu) Ummu Haram berkata, “Ya Rasulullah, doakanlah agar aku termasuk di antara mereka. Maka, Nabi (saw) berdoa untuknya.

Empat puluh tahun kemudian, ia menyertai suaminya, Ubadah ibn Shamit, untuk membebaskan Cyprus (Siprus) dan meninggal di sana. Saat ini kuburnya di sana, sangat dikenal dan sering diziarahi.

Beliau (saw) juga bersabda:

إن في ثقيف كذّاباً ومُبيراً

Di tengah-tengah Tsaqif ada pendusta dan pembuat kerusakan.

(55)

Beliau memberitahukan tentang al-Mukhtar yang dikenal mengaku sebagai nabi dan al-Hajjaj, si penumpah darah yang zalim di mana ia telah membunuh seratus ribu jiwa.

Dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi (saw) bersabda:

لتُفْتَحَنَّ القسطنطينية، فَلَنِعْمَ الأميرُ أميرُها ولنعمَ الجيشُ ذلك الجيش

Konstantinopel akan ditaklukkan. Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya.

Dengan hadis ini, Nabi (saw) memberitahukan bahwa Istanbul akan ditaklukkan oleh kaum muslimin dan Sultan Muhammad al-Fatih akan memperoleh kedudukan tinggi sebagai “Sebaik-baik pemimpin.” Ternyata hal itu menjadi kenyataan.

Dalam riwayat lain Nabi (saw) bersabda:

اِنَّ الدّٖينَ لَوْ كَانَ مَنُوطًا بِالثُّرَيَّا لَنَالَهُ رِجَالٌ مِنْ اَبْنَاءِ فَارِسَ

Andaikan agama ini bergantung pada bintang, tentu ia akan diraih oleh orang-orang dari keturunan Persia.

Hadis ini mengarah kepada para ulama dan wali yang berasal dari Persia seperti Imam Abu Hanifah an-Nu’man.

Beliau (saw) juga bersabda:

(56)

عَالِمُ قُرَيْشٍ يَمْلَءُ طِبَاقَ الْاَرْضِ عِلْمًا

Seorang alim Quraisy memenuhi permukaan bumi dengan ilmu.

Hadis ini mengarah kepada Imam asy-Syafi’i .

Beliau (saw) bersabda:

أن الأمة ستفترق إلى ثلاثٍ وسبعين فرقة وأن الناجية منها أهلُ السنة والجماعة

Umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. Golongan yang selamat adalah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.

Beliau bersabda:

اَلْقَدَرِيَّةُ مَجُوسُ هٰذِهِ الْاُمَّةِ

Qadariyah adalah Majusi umat ini.

Yang beliau maksud adalah golongan Qadariyah yang mengingkari takdir. Beliau menginformasikan tentang kalangan Râfidhah yang terbagi atas banyak cabang dan golongan.

Dalam sebuah riwayat, beliau berkata kepada Ali (ra) yang maknanya, “Engkau seperti Isa (as). Engkau akan men

(57)

jadi sebab binasanya dua kelompok manusia: kelompok yang pertama karena terlalu cinta dan yang kedua karena terlalu memusuhi.” Dalam hal ini kalangan Nasrani terlalu berlebihan dalam mencintai Isa (as) sehingga mereka binasa, bahkan melampaui batas yang dibenarkan di mana mereka berkata, “Isa adalah anak Tuhan,” Hasya lillâh. Sebaliknya, Bangsa Yahudi berlebihan dalam memusuhi Isa (as) sehingga mereka mengingkari kenabian dan kedudukannya yang mulia. Demikian pula sekelompok manusia nantinya akan berlebihan dan melampaui batas dalam mencintai Ali (ra) sehingga mereka binasa di mana Nabi (saw) bersabda tentang mereka:

لَهُمْ نَبْزٌ يُقَالُ لَهُمُ الرَّافِضِيَّةُ

Mereka memiliki gelar yang dilekatkan kepada mereka, yaitu Râfidhah.

Sementara kelompok yang lain berlebihan dalam memusuhi Ali (ra). Mereka adalah kalangan Khawarij serta sebagian kalangan yang berlebihan dalam memberikan loyalitas kepada kaum Umawiyyîn; yaitu Nâshibah.

Barangkali ada yang bertanya: Al-Qur’an al-Karim menyuruh untuk mencintai ahlul bait. Nabi (saw) juga menganjurkan hal tersebut. Barangkali cinta tersebut bisa menjadi dalih bagi kalangan syiah. Nah, mengapa kalangan syiah, terutama kaum Rafidhah tidak bisa mendapat manfaat dari

(58)

cinta mereka itu dan tidak menolong mereka dari siksa? Namun sebaliknya, mereka justru mendapat siksa lantaran cinta yang berlebihan seperti yang disebutkan dalam hadis Nabi (saw) di atas.

Jawabannya: Cinta terbagi dua:

Pertama, cinta dalam pengertian harfi. Yaitu mencintai Ali, Hasan, Husein, dan ahlul bait karena kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Kecintaan ini menambah kecintaan kepada Rasul (saw) dan bisa menjadi sarana untuk mencintai Allah (swt). Cinta seperti ini dibenarkan dalam syariat. Bahkan meskipun berlebihan, ia tidak menimbulkan bahaya. Sebab, ia tidak melampaui batas dan tidak melahirkan sikap mencela dan memusuhi pihak lain.

Kedua, cinta dalam pengertian ismi. Yaitu mencintai ahlul bait karena sosok mereka. Yakni, mencintai Ali karena keberanian dan kesempurnaannya, serta mencintai Hasan dan Husein semata-mata karena melihat keutamaan dan fadhilah yang mereka miliki tanpa ingat kepada Nabi (saw). Bahkan, ada di antara mereka yang mencintai ahlul bait padahal tidak mengenal Allah dan Rasul-Nya. Cinta seperti ini tidak menjadi sarana untuk dapat mencintai Allah dan Rasul-Nya. Karena cinta seperti ini berlebihan, maka ia bisa mengantar kepada sikap mencela dan memusuhi yang lain.

Demikianlah, sebagaimana telah disebutkan dalam hadis di atas, sebagian mereka berlebihan dalam mencintai Ali (ra) dan berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar . Akhirnya mereka jatuh pada kerugian besar. Cinta negatif yang semacam ini menjadi sebab yang mendatangkan kerugian bagi mereka.

(59)

Dalam riwayat yang sahih, Rasul (saw) mengingatkan umat ini dengan sabdanya:

اِذَا مَشَوُا الْمُطَيْطَاءَ وَخَدَمَتْهُمْ بَنَاتُ فَارِسَ وَالرُّومِ، رَدَّ اللّٰهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ وَ سَلَّطَ شِرَارَهُمْ عَلٰى خِيَارِهِمْ

Manakala umatku berjalan seperti orang sombong dan mereka dilayani oleh puteri Persia dan Romawi, Allah akan mengembalikan derita yang ada kepada mereka lalu kalangan yang jahat dari mereka menguasai kalangan yang baik.

Tiga puluh tahun kemudian kondisinya seperti yang beliau sabdakan.

Dalam riwayat disebutkan bahwa Rasul (saw) menginformasikan kepada para sahabatnya:

وَتُفْتَحُ خَيْبَرُ عَلٰى يَدَىْ عَلِىٍّ

Khaibar akan ditaklukkan oleh Ali (ra).

Keesokan harinya, mukjizat Nabi itu pun menjadi kenyataan di luar dugaan. Ali mengambil pintu benteng dan menjadikannya sebagai tameng. Ketika Khaibar berhasil dikuasai, ia melemparkannya ke tanah padahal sangat besar. Bahkan ia tidak bisa diangkat oleh delapan orang atau—dalam riwayat lain—oleh empat puluh orang.

(60)

Nabi (saw) bersabda:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتّٰى تَقْتَتِلَ فِئَتَانِ دَعْوَاهُمَا وَاحِدَةٌ

Kiamat tidak akan tegak sebelum dua kelompok besar bertempur, sementara klaim mereka sama.

Beliau memberitahukan tentang perang yang terjadi di Shiffin antara kelompok Ali (ra) dan kelompok Muawiyah (ra).

Di antara informasi yang Rasul (saw) sampaikan:

اِنَّ عَمَّارًا تَقْتُلُهُ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ

Ammar akan dibunuh oleh kelompok pembangkang.

Setelah itu benar bahwa ia dibunuh di perang Shiffin. Hadis ini, oleh Ali dijadikan dalil atau bukti bahwa kaum yang loyal kepada Muawiyah merupakan kaum pembangkang. Akan tetapi, Muawiyah menakwilkan atau mempelesetkan makna hadis tersebut. Amr ibn al-Ash berkata bahwa pembangkang itu adalah mereka yang membunuhnya saja; tidak semua dari kami pembangkang.

Nabi (saw) bersabda:

اِنَّ الْفِتَنَ لَا تَظْهَرُ مَا دَامَ عُمَرُ حَيًّا

Fitnah tidak akan terjadi selama Umar masih hidup.

Ternyata keadaannya seperti yang beliau katakan.

(61)

Ketika Suhail ibn Amr—sebelum masuk Islam—ditawan dalam perang Badar, Umar berkata, “Wahai Rasulullah, ia adalah orang yang pandai bicara. Biarkan aku mencabut dua giginya yang bagian bawah sehingga ia tidak bisa lagi berbicara buruk tentangmu.” Rasulullah (saw) menjawab:

وَعَسٰى اَنْ يَقُومَ مَقَامًا يَسُرُّكَ يَا عُمَرُ

Mudah-mudahan ia nantinya berada dalam posisi yang membuatmu senang wahai Umar.

Ternyata demikian adanya di mana ketika Nabi (saw) wafat, saat peristiwa besar yang membuat kesabaran hilang itu terjadi, Abu Bakar (ra) berdiri untuk menghibur kaum muslimin di Madinah. Abu Bakar (ra) meneguhkan hati para sahabat dengan memberikan khutbah yang sangat berkesan. Sementara di Mekkah, Suhail juga berdiri seraya memberikan khutbah seperti Abu Bakar (ra) sehingga kedua khutbah tersebut terekam dalam makna yang sama.

Rasul (saw) berkata kepada Suraqah:

كَيْفَ بِكَ اِذَا اُلْبِسْتَ سُوَارَىْ كِسْرٰى

Engkau akan dipakaikan gelang (perhiasan) Kisra.

Pada masa Umar (ra) kerajaan Kisra runtuh. Perhiasan miliknya pun tiba dan Umar memakaikan kepada Suraqah seraya berkata:

(62)

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذٖى سَلَبَهُمَا كِسْرٰى وَاَلْبَسَهُمَا سُرَاقَةَ

Segala puji bagi Allah yang telah mengambilnya dari Kisra dan memakaikannya pada Suraqah.

Hal ini membenarkan apa yang dikatakan oleh Nabi (saw).

Nabi (saw) juga bersabda:

اِذَا ذَهَبَ كِسْرٰى فَلَا كِسْرٰى بَعْدَهُ

Jika Kisra binasa, maka tidak akan ada lagi Kisra sesudahnya.

Ternyata sabda beliau benar.

Nabi (saw) menginformasikan kepada utusan Kisra bahwa, “Kisra akan dibunuh oleh anaknya, Syahrawaih.” Ketika utusan tersebut menyelidiki waktu terbunuhnya Kisra, ia yakin bahwa waktu terbunuhnya adalah pada saat yang diberitakan oleh Nabi (saw). Oleh karena itulah ia kemudian masuk Islam. Sebagaimana disebutkan dalam sejumlah riwayat, nama utusan tersebut adalah Fairuz.

Beliau memberitakan tentang surat Hatib ibn Abi Balta’ah yang mengirim surat secara rahasia kepada kaum kafir Quraisy. Maka, beliau mengutus Ali dan al-Miqdad  ke suatu tempat di mana terdapat seorang wanita yang membawa surat.

(63)

Beliau menyuruh mereka berdua untuk membawa wanita tersebut ke hadapannya. Ali dan Miqdad pergi dan membawa surat dari tempat yang disebutkan oleh Rasul (saw). Beliau kemudian memanggil Hatib seraya berkata, “Mengapa engkau melakukan ini?” Hatib memberikan alasan dan meminta maaf. Dia dimaafkan oleh Rasulullah (saw). Ini adalah riwayat yang sahih dan kuat.

Disebutkan pula bahwa Nabi (saw) bersabda tentang Utbah ibn Abi Lahab:

يَأْكُلُهُ كَلْبُ اللّٰهِ

Ia akan dimakan oleh anjing Allah.

Yakni beliau menginformasikan kesudahannya yang sangat buruk. Tidak lama sesudah itu, Utbah pergi menuju Yaman. Lalu datanglah binatang buas dan menerkamnya. Ini membenarkan kutukan Rasul (saw) kepadanya.

Dalam riwayat yang sahih disebutkan bahwa, “Ketika fathu Mekkah, Rasul (saw) menyuruh Bilal (ra) untuk naik ke atas Ka’bah dan mengumandangkan adzan. Abu Sufyan ibn Harb, Attâb ibn Usaid, dan al-Harits ibn Hisyam yang merupakan tokoh pimpinan Qurays sedang duduk di halaman Ka’bah. Attâb berkata, “ Bapakku, Usaid, sangat beruntung karena tidak melihat apa yang terjadi hari ini.” Sementara al-Harits berkata, “Apakah Muhammad tidak menemukan seorang muazzin selain orang hitam ini?” Mendengar hal itu Abu Sufyan berko-

(64)

mentar, “Aku tidak akan berkata apa-apa. Sebab, andaikan aku berkata sesuatu, tentu kerikil ini memberitahukan padanya (Nabi (saw)).” Tidak lama kemudian Nabi (saw) mendatangi mereka seraya berkata, “Aku mengetahui apa yang kalian katakan.” Beliau menyebutkan perkataan mereka. Setelah itu, al-Harits dan Attâb berkata, “Kami bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah. Tidak ada seorang pun yang mengetahui hal ini selain kami sehingga aku mengatakannya padamu.”

Wahai yang tidak percaya kepada Nabi yang mulia ini! Wahai yang masih ingkar!

Perhatikan kedua pimpinan Quraisy yang keras kepala ini, bagaimana keduanya langsung beriman karena mendengar satu informasi gaib yang beliau sampaikan. Betapa buruk kalbumu! Engkau mendengar ribuan mukjizat semacamnya dan seluruhnya sangat kuat lewat berbagai jalur yang mutawatir maknawi, namun engkau masih tetap tidak percaya.

Mari kita kembali kepada pokok pembahasan.

Diriwayatkan bahwa Nabi (saw) “Menginformasikan tentang harta pamannya, Abbas, yang disimpan pada istrinya, Ummu al-Fadhl. Nah, ketika ditawan dalam perang Badar, ia diminta untuk membayar tebusan, sang paman berkata, “Aku tidak memiliki harta.” Maka, Nabi (saw) menjawab, “Lalu bagaimana dengan harta yang kau simpan pada Ummu al-Fadhl?” Mendengar hal itu al-Abbas berujar, “Yang tahu hanya aku dan isteriku.” Akhirnya ia masuk Islam.

(65)

Diriwayatkan bahwa seorang tukang sihir yahudi, Labîd, menyihir Nabi (saw). Ia mengikat rambut pada sisir, lalu memasukkan ke sebuah sumur. Maka, Rasul (saw) menyuruh Ali dan para sahabat untuk pergi ke sumur tersebut dan membawa sejumlah perangkat sihir tadi. Mereka pun pergi dan membawanya. Setiap kali satu ikatan lepas, Rasul (saw) merasa ringan.

Diriwayatkan bahwa Rasul (saw) berkata kepada sejumlah sahabat yang di dalamnya terdapat Abu Hurairah dan Huzaifah :

ضِرْسُ اَحَدِكُمْ فِى النَّارِ مثلُ اُحُدٍ

Ada di antara kalian yang gerahamnya di neraka seperti gunung Uhud.

Beliau menginformasikan murtadnya salah satu dari mereka serta menerangkan kesudahannya yang buruk. Abu Hurairah (ra) berkata, “Mereka itu pun pergi—yakni meninggal dunia—dan yang masih hidup hanya aku dan seorang laki-laki. Aku menjadi khawatir. Lalu ia meninggal dalam kondisi murtad pada perang Yamamah.” Dengan demikian, informasi Nabi (saw) terwujud.

Terdapat pula riwayat lain tentang “kasus Umair dan Shafwan ketika memberikan kabar dan pesan rahasia padanya untuk membunuh Nabi (saw)” dengan imbalan uang yang

(66)

banyak. Ketika Umair mendatangi Nabi (saw) dengan maksud membunuhnya, Rasul (saw) mengungkap rahasia tersebut—seraya meletakkan tangan di atas dadanya, ia pun masuk Islam.

Demikianlah, informasi gaib yang benar semacam itu sering terjadi. Enam kitab hadis yang terkenal berikut sanadnya menyebutkan hal tersebut. Sebagian besar peristiwa yang disebutkan dalam risalah ini adalah yang bersifat mutawatir maknawi. Keberadaannya pasti dan kuat. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitab sahih mereka yang merupakan kitab paling valid setelah al-Qur’an al-Karim seperti pandangan para ulama dan peneliti. Di samping itu, ia juga dijelaskan dalam berbagai kitab hadis sahih lainnya seperti Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasai, Sunan Abu Daud, Mustadrak al-Hakim, Musnad Ahmad ibn Hambal, dan Dalâil al-Baihaqi berikut sanadnya.

Wahai yang masih ingkar dan lalai! Jangan asal bicara dengan berkata, “Muhammad (saw) adalah orang yang pintar dan cerdas!” lalu setelah itu engkau pergi begitu saja. Informasi yang benar yang terkait dengan masalah gaib ini tidak terlepas dari dua hal:

Engkau bisa jadi berkata bahwa beliau memiliki pandangan yang tajam dan sangat jenius. Dengan kata lain, beliau memiliki mata batin (bashirah) yang bisa melihat masa lalu dan masa depan secara bersamaan berikut seluruh alam. Dengan itu, beliau bisa melihat segala hal dan segala peristiwa. Seluruh penjuru bumi dan seluruh alam baik di Timur maupun di Barat berada dalam jangkauan penglihatannya.

(67)

Beliau memiliki kecerdasan luar biasa sehingga bisa menyingkap semua peristiwa masa lalu dan masa depan. Kondisi ini sebagaimana yang kau ketahui tidak mungkin dimiliki manusia. Jika ia terdapat pada seseorang, berarti orang tersebut luar biasa dan memiliki kemampuan hebat yang diberikan oleh Tuhan semesta alam. Itulah sebenarnya mukjizat.

Atau engkau harus percaya bahwa sosok mulia tersebut merupakan pesuruh dan murid yang menerima petunjuk dan taklimat dari Dzat yang bisa melihat segala sesuatu di mana Dia memiliki qudrah untuk bertindak apa saja di alam ini di sepanjang zaman. Segala sesuatu tertulis dalam lauhil mahfudz-Nya. Dari sana Dia mengajari “murid-Nya” tentang apa yang Dia kehendaki dan kapan Dia kehendaki. Dengan demikian, Muhammad (saw) menerima pelajaran dari guru azalinya, Allah (swt), sekaligus menyampaikannya.

Dalam riwayat disebutkan pula bahwa saat Nabi (saw) mengirim Khalid ibn al-Walid untuk memerangi Ukaidir, pemimpin Daumah al-Jandal, beliau berkata kepadanya:

اِنَّكَ تَجِدُهُ يَصٖيدُ الْبَقَرَ (الوحشي)

Engkau akan mendapatinya sedang memburu sapi (liar).

Beliau juga memberitahu bahwa ia akan membawanya sebagai tawanan tanpa ada perlawanan. Khalid pergi dan ia melihatnya dalam kondisi seperti yang dikatakan oleh Rasul (saw). Ia pun membawanya sebagai tawanan.

(68)

Dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi (saw) memberitahu “Kaum Quraiys bahwa rayap memakan sahifah mereka yang menjadi kebanggaan mereka atas Bani Hasyim dan menjadi sebab putusnya silaturahim di mana rayap tersebut hanya menyisakan setiap nama milik Allah. Ternyata mereka melihat sendiri bahwa apa yang disampaikan Rasul (saw) benar adanya.” Sahifah atau lembaran tersebut digantung di Ka’bah.

Dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi (saw) memberitahukan tentang munculnya wabah di saat penaklukan Baitul Maqdis. Pada masa Umar (ra) wabah penyakit menyebar secara luas di mana jumlah mereka yang meninggal dunia akibat sakit mencapai 70 ribu orang selama tiga hari.

Dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi (saw) menginformasikan keberadaan Bashrah dan Bagdad sebelum keduanya dibangun. Beliau juga menginformasikan pengumpulan harta kekayaan yang ada di bumi menuju kota Bagdad. Nabi (saw) memberitahukan tentang “peperangan mereka dengan Turki” dan sejumlah umat di sekitar laut Hazar di mana ses

(69)

udah itu sebagian besar mereka masuk Islam. Serta beliau menginformasikan bahwa nantinya mereka akan menguasai Arab di mana beliau berkata:

يُوشِكُ اَنْ يَكْثُرَ فٖيكُمُ الْعَجَمُ يَأْكُلُونَ فَيْئَكُمْ وَيَضْرِبُونَ رِقَابَكُمْ

Sebentar lagi bangsa asing (di luar Arab) memiliki jumlah yang besar di tengah-tengah kalian. Mereka akan mengambil upeti kalian dan memenggal leher kalian.

Beliau bersabda:

هَلَاكُ اُمَّتٖى عَلٰى يَدِ اُغَيْلِمَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ

Binasanya umatku di tangan kura-kura Quraisy.

Yang beliau maksud adalah Yazid, al-Walid, dan sejumlah pimpinan jahat dari Umawiyyin yang seperti mereka. Beliau juga menginformasikan sikap murtad sejumlah orang di sejumlah tempat sebagaimana yang terjadi di Yamamah.

Saat perang Khandaq Rasul (saw) bersabda:

اِنَّ قُرَيْشًا وَالْاَحْزَابَ لَا يَغْزُونٖى اَبَدًا وَاَنَا اَغْزُوهُمْ

Bangsa Quraisy dan sejumlah pasukan koalisi tidak akan pernah menyerangku. Akulah yang menyerang mereka.

(70)

Kenyataannya demikian.

Disebutkan pula bahwa dua bulan sebelum meninggal dunia, Nabi (saw) bersabda:

اِنَّ عَبْدًا خُيِّرَ فَاخْتَارَ مَا عِنْدَ اللّٰهِ

Seorang hamba diberi pilihan. Lalu ia memilih apa yang berada di sisi Allah.

Beliau memberitahukan tentang kabar kematiannya.

Terkait dengan Zaid ibn Shauhan beliau bersabda:

يَسبقُهُ عضوٌ إلى الجنة، فقُطعتْ يدُهُ في الجهاد

Ada anggota badan yang mendahuluinya menuju surga. Tangannya terputus dalam jihad.

Ternyata tangan tersebut menjadi syahid dalam perang Nahawand dan mendahuluinya masuk surga.

Demikianlah, seluruh informasi gaib yang telah kami ketengahkan baru satu jenis saja dari sepuluh jenis mukjizat Nabi (saw). Dari jenis itu pun kami hanya menyebutkan sebagian kecilnya saja. Kami telah menjelaskan secara global empat jenis informasi gaib ini dalam “Kalimat Kedua Puluh Lima” yang secara khusus berbicara tentang kemukjizatan al-Qur’an.

(71)

Sekarang perhatikanlah jenis informasi di atas. Lalu gabungkan dengan keempat jenis lain yang beliau sampaikan lewat lisan al-Qur’an. Perhatikan dan lihat bagaimana ia membentuk satu argumen dan bukti yang kuat dan bersinar terhadap ar-Risâlah (kerasulan Muhammad (saw)) di mana orang yang akal dan kalbunya masih sehat akan memahami dan membenarkan bahwa Nabi yang mulia tersebut adalah utusan yang menginformasikan hal gaib dari sisi Pencipta segala sesuatu dan dari Dzat Yang Maha Mengetahui seluruh perkara gaib.

(72)

(73)

PETUNJUK KETUJUH

Kami akan menunjukkan sejumlah contoh dari mukjizat Nabi (saw) yang terkait dengan keberkahan makanan yang diriwayatkan secara sahih dan kuat serta mutawatir secara maknawi. Menurut kami sangat tepat kalau sebelum masuk ke dalam pembahasan diawali dengan sebuah pendahuluan.

Pendahuluan

Berbagai contoh yang akan diberikan seputar mukjizat keberkahan makanan, semuanya telah diriwayatkan lewat banyak jalur. Bahkan sebagiannya diriwayatkan lewat enam belas jalur periwayatan. Sebagian besar contoh tersebut terjadi di hadapan banyak sahabat yang mulia yang tidak mungkin berdusta di mana mereka memiliki tingkat kejujuran dan amanah yang sangat tinggi.

Sebagai contoh, dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ada tujuh puluh orang yang makan dari satu shâ’ dan s

(74)

emuanya merasa kenyang. Ketujuh puluh orang sahabat tersebut mendengar riwayat yang disebutkan oleh salah seorang dari mereka dan mereka tidak menentang atau mengingkarinya. Dengan kata lain, mereka semua membenarkan lewat sikap diam mereka.

Para sahabat yang mulia berada pada puncak kejujuran dan kebenaran karena mereka hidup di masa terbaik dan mereka terjaga dari hal yang batil. Andaikan salah satu dari mereka melihat kebohongan walau sedikit saja dalam pembicaraan yang ada, tentu mereka tidak akan tinggal diam; mereka pasti akan menolak.

Oleh karena itu, riwayat yang akan kami sebutkan, di samping diriwayatkan lewat banyak jalur, para sahabat yang lain bersikap diam sebagai tanda pembenaran. Seolah-olah banyak sahabat yang meriwayatkan. Mereka yang diam sama seperti mereka yang meriwayatkan. Dengan begitu, riwayat tersebut menjadi kuat seperti riwayat yang mutawatir secara maknawi.

Sejarah—khususnya riwayat hidup—menjadi saksi betapa para sahabat yang mulia setelah menghafal al-Qur’an, mereka menghafal hadis, yakni kondisi, perbuatan, dan ucapan Nabi (saw), baik yang terkait dengan hukum syariat ataupun mukjizat. Mereka tidak mengabaikan sekecil apa pun gerak dari sejarah perjalanan hidup beliau yang penuh berkah. Mereka sangat perhatian dengan riwayat tentangnya serta mencatatkannya dalam lembaran catatan yang mereka miliki; terutama tujuh sahabat yang bernama Abdullah; khususnya penafsir al-Qur’an, Abdullah ibn Abbas, dan Abdullah ibn Amr ibn Ash.

(75)

Demikianlah hadis terpelihara pada masa sahabat yang mulia hingga datang masa tokoh tabi`in 30 atau 40 tahun sesudahnya. Para tabi`in menerima hadis-hadis tersebut dalam kondisi segar serta menjaganya dengan penuh amanah dan ketulusan. Setelah itu, para imam mujtahid serta ribuan ahli hadis mencatat dan meriwayatkannya dari mereka. Mereka menjaganya lewat penulisan dan pembukuan. Lalu dua ratus tahun kemudian para penulis enam kitab hadis sahih yang terkenal itu—terutama al-Bukhari dan Muslim—menerimanya. Selanjutnya, tiba tugas dari para pengkritik hadis dan peneliti kehidupan perawi (Ahlu al-Jarh wa at-Ta’dîl). Di antara mereka ada yang sangat tegas dan ketat seperti Ibnu al-Jawzi di mana mereka memisahkan hadis-hadis palsu yang dibuat-buat oleh kaum fasik dan bodoh dari hadis yang sahih. Sesudah mereka, menyusul para ulama mulia yang bertakwa dan warak seperti Jalaluddin as-Suyuthi, seorang ulama brilian dan imam yang mendapat kehormatan berdialog dengan Rasul (saw) dan berhadapan dengan beliau dalam kondisi terjaga sebanyak tujuh puluh kali sebagaimana hal itu dibenarkan oleh para wali ahli kasyaf. Para ulama yang bertakwa dan warak itu membedakan antara nash-nash hadis sahih dari seluruh hadis yang palsu dan ucapan lain.

Begitulah hadis dan sejumlah mukjizat yang akan kita bahas, sampai pada kita dalam kondisi valid dan benar setelah diterima oleh tangan-tangan amanah yang jumlahnya tak terhingga.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبّٖى

Segala puji bagi Allah. Ini adalah karunia Tuhan.

(76)

Oleh karena itu, tidak boleh terlintas dalam hati, “Bagaimana kita tahu bahwa berbagai peristiwa yang telah terjadi sejak lama tetap terpelihara dari penyimpangan?”

Sejumlah Contoh Seputar Keberkahan Makanan

Contoh Pertama:

Enam penulis kitab hadis sahih, terutama al-Bukhari dan Muslim, sepakat dengan kesahihan hadis Anas (ra) yang berbunyi, “Nabi (saw) menjadi pengantin baru dengan Zaenab. Maka ibuku, Ummu Sulaim, mengambil kurma, minyak samin, dan keju. Kemudian ia membuat haisah (semacam bubur) dan meletakkannya di periuk. Lalu ia berkata, ‘Wahai Anas, bawalah makanan ini kepada Rasulullah! Katakan, “Ibuku sengaja membuatnya untukmu. Dia juga mengirim salam dan meminta maaf karena makanannya hanya sedikit.” Aku pun pergi dan menyampaikan pesan ibuku. Nabi (saw) bersabda, ‘Letakkanlah! Lalu undang fulan, fulan, dan fulan.’ Beliau menyebut sejumlah orang. ‘Undanglah siapa saja yang kau jumpai!’ ujar beliau. Maka, aku segera mengundang nama-nama yang beliau sebut berikut setiap orang yang kujumpai. Ketika kembali, rumah itu sudah penuh.” Ada yang bertanya kepada Anas, “Berapa jumlah kalian ketika itu?” Anas menjawab, “Sekitar 300 orang.” “Aku melihat Nabi (saw) meletakkan tangannya pada bubur tadi dan mengucap sesuatu seperti yang Allah kehendaki. Setelah itu, beliau memanggil sepuluh orang sepuluh orang untuk makan darinya. Beliau berkata kepada mereka, ‘Sebutlah nama Allah dan hendaknya setiap orang memakan yang dekat dengannya.’ Mereka pun makan sampai kenyang. Sekelompok orang keluar dan sekelompok

(77)

lainnya masuk sampai semuanya makan. Sesudah itu, Rasulullah berkata kepadaku, ‘Wahai Anas, angkatlah!’ Saat kuangkat, aku tidak mengetahui apakah lebih banyak ketika kuletakkan atau ketika kuangkat.”

Contoh Kedua:

Nabi (saw) bertamu ke rumah Abu Ayyub al-Anshari. Suatu hari “Abu Ayyub membuat makanan secukupnya untuk Rasul (saw) dan Abu Bakar (ra). Lalu Nabi (saw) berkata kepadanya, “Panggillah 30 orang pembesar kaum Anshar!” Ia pun memanggil mereka. Maka, mereka makan sampai selesai. Setelah itu, Nabi (saw) bersabda, “Panggillah 60 orang!” Kondisinya sama seperti sebelumnya. Beliau kembali bersabda, “Panggillah 70 orang!” Maka mereka makan sampai selesai. Begitu keluar, setiap orang dari mereka masuk Islam dan berbaiat. Abu Ayyub berkata, “Yang memakan makananku sekitar 180 orang.”

Contoh Ketiga:

Hadis yang diriwayatkan oleh Salamah ibn al-Akwa’, Abu Hurairah, Umar ibn al-Khattab, dan Abu Amrah al-Anshari f. Mereka menyebutkan bahwa pasukan Islam kelaparan dalam suatu peperangan. Beberapa orang di antarannya mendatangi Rasulullah (saw). Ketika itu Nabi (saw) meminta sisa perbekalan yang ada. Kemudian seseorang datang dengan membawa dua genggam makanan atau lebih, dan yang paling

(78)

banyak membawa satu gantang kurma. Semuanya dikumpulkan di atas tikar kulit. Salamah berkata, “Aku menaksir banyaknya. Ia hanya seperti kambing yang sedang duduk. Lalu Nabi memanggil orang untuk membawa wadah mereka. Tidak ada satu pun pasukan kecuali wadahnya terisi penuh. Sisanya sebanyak yang pertama atau lebih.” Dalam riwayat lain disebutkan bahwa, “Andaikan penduduk bumi datang, pasti masih cukup untuk mereka.”

Contoh Keempat:

Dalam sejumlah kitab hadis sahih, terutama sahih Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa Abdurrahman ibn Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Kami berjumlah 130 orang sedang bersama Nabi (saw) dalam sebuah perjalanan.” Dalam hadis disebutkan bahwa ada satu gantang gandum yang dibuat adonan serta seekor kambing yang hatinya dipanggang. Abdurrahman ibn Abu Bakar berkata, “Demi Allah, seluruh orang yang berjumlah 130 itu mendapatkan potongan hati kambing tadi. Makanan tersebut dibagi dalam dua talam. Lalu kami semua memakannya. Sementara sisa yang terdapat pada dua talam itu kubawa di atas unta.”

Contoh Kelima:

Dalam sejumlah kitab sahih terdapat hadis yang diriwayatkan oleh Jabir terkait saat Rasul (saw) memberikan

(79)

makanan pada perang Khandak kepada seribu orang hanya dari satu gantang gandum dan kambing muda. Jabir (ra) berkata, “Demi Allah, mereka semua makan sampai kenyang dan pergi. Periuk kami mendidih seperti biasa dan adonan kami pun menjadi roti.” Rasul (saw) telah meletakkan ke dalam adonan tadi air seraya mendoakan keberkahan untuknya. Dengan bersumpah, Jabir mengumumkan mukjizat keberkahan yang ada di tengah-tengah seribu sahabat seraya memperlihatkan keterkaitan mereka dengannya. Riwayat ini sangat kuat seolah-olah seribu orang yang meriwayatkannya.

Contoh Keenam:

Dalam kitab sahih disebutkan bahwa Abu Thalhah, paman dari pelayan Nabi (saw) (Anas (ra)), berkata, “Rasul (saw) telah memberi makan berupa roti yang sedikit kepada sekitar 80 orang sampai mereka kenyang. Beliau menyuruh untuk memotong-motong roti tadi seraya berdoa meminta keberkahan. Karena rumahnya sempit bagi mereka, akhirnya mereka makan sepuluh orang-sepuluh orang. Kemudian mereka semua pulang dalam kondisi kenyang.”

Contoh Ketujuh:

Dalam Sahih Muslim dan kitab asy-Syifâ serta yang lain disebutkan bahwa Jabir al-Anshari berkata, “Seorang lelaki mendatangi Nabi (saw) untuk meminta makan kepada beliau. Maka, beliau memberinya setengah pikul gandum. Ia pun me

(80)

makannya bersama isteri dan tamunya. Kemudian ia menakarnya” untuk mengetahui yang berkurang darinya. Ternyata keberkahannya hilang. Ia sedikit demi sedikit berkurang. Maka, orang itu pun mendatangi Nabi (saw) dan memberitahukan apa yang terjadi. Nabi (saw) bersabda, “Andaikan engkau tidak menakarnya, tentu engkau akan tetap bisa makan darinya dan bisa menopang hidupmu.”

Contoh Kedelapan:

Sejumlah kitab sahih seperti Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa’i, Dalâil al-Baihaqi dan kitab asy-Syifâ menjelaskan, “dari Samurah ibn Jundab bahwa Nabi (saw) membawa satu talam berisi daging. Maka para sahabat datang secara bergiliran dari pagi hingga malam. Rombongan demi rombongan bergantian.

Seperti yang telah dijelaskan dalam pendahuluan, peristiwa seputar keberkahan makanan di atas tidak hanya riwayat Samurah. Namun seakan-akan ia mewakili sejumlah sahabat yang memakan makanan tersebut. Ia menyampaikan riwayat tentangnya sebagai wakil dari mereka.

Contoh Kesembilan:

Para perawi terpercaya seperti penulis asy-Syifâ (al-Qâdhî `Iyâdh), Ibnu Abi Syaibah, dan al-Thabrani dengan sanad yang baik, demikian pula para tokoh ulama meriwayatkan

(81)

bahwa Abu Hurairah (ra) berkata, “Nabi (saw) menyuruhku untuk memanggil Ahlu Suffah (kalangan fakir miskin dari para muhajirin yang berjumlah sekitar 100 orang) di mana mereka menjadikan suffah (teras) masjid sebagai tempat tinggal. Aku pun memanggil dan mengumpulkan mereka. Lalu sebuah wadah diletakkan di hadapan kami. Maka, kami memakannya sesuka kami hingga selesai. Namun ia masih tersisa sebanyak ketika diletakkan. Hanya saja, terdapat bekas jari padanya.”

Abu Hurairah mengetengahkan riwayat tersebut atas nama seluruh Ahlu Suffah (para sahabat yang tinggal di teras masjid) dengan bersandar pada pembenaran mereka. Jadi, ia adalah riwayat yang sangat kuat. Seolah-olah semua Ahlu Suffah meriwayatkannya. Mungkinkah berita tersebut tidak benar lalu didiamkan oleh orang-orang yang sangat jujur itu, tanpa ada yang menyangkalnya?!

Contoh Kesepuluh:

Dalam riwayat sahih disebutkan bahwa Imam Ali (ra) berkata, “Pada suatu hari Rasulullah (saw) mengumpulkan Bani (anak cucu) Abdul Muttalib yang berjumlah 40 orang. Di antara mereka ada yang bisa makan daging seekor anak unta dan meminum 4 kg susu. Lalu beliau membuatkan satu mud makanan. Mereka semua memakannya hingga kenyang. Ternyata ia masih tersisa seperti sediakala. Kemudian beliau menghadirkan satu wadah susu yang mestinya hanya cukup untuk 3 atau empat orang. Namun mereka semua meminum

(82)

nya hingga kenyang. Itu pun masih tersisa seperti semula seakan-akan belum diminum.”

Ini adalah sebuah contoh mukjizat keberkahan makanan seperti kepastian keberanian dan kejujuran Ali (ra).

Contoh Kesebelas:

Dalam riwayat yang sahih, ketika Nabi (saw) menikahkan Ali (ra) dengan Fatimah, disebutkan bahwa beliau menyuruh Bilal untuk menghadirkan satu nampan (makanan) seukuran 4 atau lima mud, lalu menyembelih seekor anak unta untuk resepsinya. Bilal berkata, “Aku pun datang dengan membawa apa yang beliau minta. Ia menancap kepala unta yang sudah dipotong tersebut lalu menyuruh mereka untuk makan secara bergiliran sampai selesai. Kemudian sisanya beliau bacakan doa dan beliau minta untuk dikirim kepada para isterinya. Beliau berkata, “Makanlah dan beri makan pula orang yang bersama kalian!” Benar! Pernikahan di atas layak untuk mendapatkan keberkahan menakjubkan semacam itu.

Contoh Kedua Belas:

Ja’far ash-Shâdiq meriwayatkan dari ayahnya, Muhammad al-Bâqir, dari kakeknya, Zaenal Abidin, dari Ali (ra) bahwa “Fatimah memasak satu periuk untuk mereka berdua. Kemudian Fatimah menyuruh Ali untuk menemui Nabi (saw) agar ikut makan bersama mereka. Maka, Nabi (saw) menyuruh

(83)

Fatimah untuk memberikan pula kepada semua isterinya masing-masing satu piring. Lalu untuk beliau sendiri, untuk Ali (ra) dan untuk Fatimah. Ketika periuk tadi diangkat ternyata masih banyak. Fatimah berkata, “Kami pun memakannya mâsyâ Allâh.”

Oleh karena itu, sungguh aneh jika engkau wahai manusia masih tidak mempercayai mukjizat cemerlang tersebut padahal engkau telah mendengar bahwa para perawi hadis di atas berasal dari silsilah yang suci. Bahkan setan sekalipun tidak menemukan celah untuk mendustakannya.

Contoh Ketiga Belas:

Para tokoh perawi seperti Abu Daud, Ahmad ibn Hambal, dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Dukain al-Ahmasi ibn Sa’ad al-Muzayyin serta dari sahabat yang mendapatkan kehormatan bersama enam saudaranya dengan menjadi sahabat Nabi (saw), yaitu Nu’man ibn Muqarin al-Ahmasi al-Muzayyin, juga dari riwayat Jarir dan dari sejumlah jalur periwayatan, bahwa “Rasul (saw) menyuruh Umar ibn al-Khattab untuk membekali 400 ratus penunggang kuda dari Ahmas. Lalu Umar berkata, “Wahai Rasulullah, yang tersisa hanya beberapa gantang.” Pergi! Ujar Rasul (saw). Umar pun pergi dan memberikan makanan tersebut kepada mereka. Makanan tersebut berupa kurma seukuran anak unta yang sedang duduk. Setelah makan, keadaannya tetap seperti sediakala.”

(84)

Demikianlah proses terjadinya mukjizat keberkahan makanan. Ia terkait dengan empat ratus orang, terutama Umar (ra). Mereka semua adalah perawi. Sebab, sikap diam mereka menunjukkan bahwa mereka membenarkan riwayat tersebut. Jangan engkau menyebutnya sebagai riwayat âhâd lalu selesai. Pasalnya, peristiwa semacam itu meskipun berupa riwayat âhâd, namun melahirkan rasa yakin dalam hati karena seperti riwayat yang mutawatir secara maknawi.

Contoh Keempat Belas:

Dalam sejumlah kitab hadis sahih, terutama sahih Bukhari dan Muslim, terdapat hadis Jabir (ra) yang berisi tentang hutang ayahnya. Ia telah memberikan harta pokok ayahnya kepada para kreditor untuk mereka terima. Namun buah yang tumbuh selama dua tahun tidak cukup untuk membayar hutang mereka. Maka, Nabi (saw) mendatangi Jabir (ra) setelah menyuruhnya untuk memetik buahnya dan meletakkannya di pangkalnya. Lalu beliau berjalan di sekitarnya seraya berdoa. Dari buah tersebut ia bisa melunasi hutang ayahnya. Buah yang tersisa masih ada seperti yang mereka petik setiap tahun. Dalam riwayat lain, seperti yang mereka berikan. Jabir berujar, “Para kreditor itu adalah orang yahudi. Mereka terkesima dengan kejadian itu.”

Demikianlah mukjizat cemerlang seputar keberkahan makanan ini tidak hanya riwayat yang disampaikan oleh Jabir dan sejumlah orang. Namun ia bersifat mutawatir dari segi makna. Seluruh perawi meriwayatkannya sebagai wakil dari

(85)

setiap pihak yang terkait dengan riwayat tersebut.

Contoh Kelima Belas:

Para ulama menyampaikan riwayat yang sahih, terutama at-Tirmidzi dan al-Baihaqi, dari Abu Hurairah (ra) yang berkata, “Dalam sebuah peperangan—dalam sebuah riwayat pada perang Tabuk—pasukan mengalami kelaparan. Ketika itu Rasulullah (saw) bertanya kepadaku, ‘Punya sesuatu?’ ‘Ya, sedikit kurma yang berada di tempat perbekalan,’ jawabku. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa jumlahnya lima belas kurma. Beliau berkata, ‘Berikan padaku!’ lalu beliau memasukkan tangannya dan mengeluarkan satu genggam kurma. Kemudian membentangkan tangannya seraya berdoa meminta keberkahan. Setelah itu beliau berkata, ‘Panggil sepuluh orang!’ Mereka semua makan sampai kenyang. Lalu sepuluh berikutnya hingga semua pasukan makan dan merasa kenyang. Selanjutnya beliau berkata, ‘Ambil yang tadi kau bawa, masukkan tanganmu serta genggam dan jangan dibalik! Aku pun menggenggam lebih banyak daripada yang kubawa. Semasa Rasul (saw), Abu Bakar dan Umar masih hidup aku makan darinya serta memberikannya pada orang. Ketika Utsman (ra) terbunuh, kurma tersebut dirampas dan akhirnya hilang dariku. Dalam riwayat lain Abu Hurairah berkata, “Aku telah membawa sekian banyak dari kurma tersebut dalam jihad fî sabilillah.”

Demikianlah, mukjizat berkahnya makanan yang diin

(86)

formasikan oleh Abu Hurairah d—sahabat yang belajar kepada guru dan pemimpin semesta alam, Muhammad (saw). Ia termasuk murid madrasah Suffah dan memiliki hafalan kuat berkat doa Nabi (saw). Sosok sahabat mulia ini menyampaikan riwayat di atas dalam kumpulan banyak orang, seperti dalam perang Tabuk—sudah pasti riwayat tersebut mutawatir dari segi makna dan sangat kuat sekuat seluruh pasukan; yakni sebagaimana jika ia diriwayatkan oleh seluruh pasukan.

Contoh Keenam Belas:

Dalam sahih Bukhari dan kitab sahih lainnya disebutkan bahwa rasa lapar dialami oleh Abu Hurairah. Kemudian Nabi (saw) memintanya untuk mengikuti beliau. Tidak lama kemudian terdapat satu mangkok susu yang diberikan padanya. Lalu Nabi (saw) menyuruh Abu Hurairah untuk memanggil Ahlu Suffah (sahabat yang tinggal di teras masjid). Abu Hurairah berbisik dalam hati, “Susu ini akan diberikan kepada mereka padahal aku yang lebih butuh untuk meminumnya agar kuat kembali. Namun tidak ada pilihan lain kecuali memanggil mereka.” Jumlah mereka hampir seratus orang. Nabi (saw) menyuruhku untuk memberikannya pada mereka. Maka aku pun memberikan kepada setiap orang dari mereka hingga kenyang. Begitu seterusnya sampai seluruh mereka merasa kenyang. Selanjutnya Nabi (saw) memegang mangkok itu seraya berkata, ‘Tinggal aku dan engkau. Duduk dan minumlah!’ Maka, aku pun meminumnya. ‘Minumlah!’ ujar beliau lagi. Beliau terus mengatakan hal tersebut sampai akhirnya aku berkata, ‘Tidak, demi Allah, aku sudah kenyang.’ Nabi mengambil mangkok itu, kemudian membaca hamdalah dan

(87)

basmalah, lalu meminumnya.” Kita ucapkan seratus ribu kali ‘selamat menikmati’ wahai Rasulullah!

Mukjizat yang bersih dari noda syubhat dan murni seperti susu itu telah diriwayatkan oleh sejumlah kitab sahih, terutama Sahih Imam Bukhari yang hafal 500 ribu hadis. Dengan demikian, ia merupakan riwayat yang sama sekali tak diragukan kebenarannya dan sangat kuat seolah-olah disaksikan langsung oleh mata kepala. Sebagaimana ia juga diriwayatkan oleh sang murid madrasah Muhammad (saw), madrasah Suffah, di mana ia merupakan murid terpercaya, Abu Hurairah (ra). Ia meriwayatkannya atas nama seluruh Ahlu Suffah. Orang yang tidak mau menerimanya secara langsung, bisa jadi hatinya sedang sakit atau hilang akal.

Pasalnya, apakah mungkin seorang sahabat agung seperti Abu Hurairah yang jujur, yang telah mencurahkan hidupnya untuk menghafal hadis Nabi (saw), akan menurunkan derajat hadis-hadis Nabi (saw) yang telah beliau hafal dengan meriwayatkan sesuatu yang menimbulkan keraguan serta mengucapkan sesuatu yang berlawanan dengan realitas, sementara ia mendengar sabda Nabi (saw) yang berbunyi, “Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, bersiaplah ia mengambil tempat di neraka.” Sungguh hal itu tidak mungkin.

Wahai Tuhan, dengan keberkahan Rasul (saw) yang mulia, curahkanlah keberkahan atas seluruh rezeki materiil dan maknawi yang Kau berikan pada kami.

(88)

Catatan Penting

Sangat jelas bahwa ketika sejumlah hal yang lemah berkumpul, ia menjadi kuat. Ketika benang-benang yang halus dipintal dan disatukan, ia menjadi kokoh dan kuat. Di sini telah kami kemukakan enam belas contoh untuk satu bagian dari lima belas bagian jenis mukjizat keberkahan yang ada. Setiap contoh yang kami berikan sangat kuat dan cukup untuk membuktikan kenabian. Andai saja sebagian riwayatnya lemah, ia tidak bisa dikatakan bahwa contoh tersebut tidak bisa menjadi dalil atas kebenaran mukjizat tersebut, sebab ia menjadi kuat ketika sejalan dengan riwayat yang kuat lainnya.

Kemudian manakala keenam belas contoh di atas yang berada pada tingkatan mutawatir maknawi berkumpul, maka hal itu menunjukkan sebuah mukjizat yang besar dan kuat. Ketika ia disatukan dengan empat belas jenis mukjizat beliau seputar keberkahan yang tidak disebutkan di sini, tentu ia akan menjadi sebuah mukjizat yang sangat agung laksana gunung-gunung yang bersatu yang tak bisa dipisahkan. Lalu jika engkau menambahkan mukjizat agung dan kuat ini kepada keempat belas jenis mukjizat itu, engkau akan melihat sebuah argumen yang kokoh yang tak goyah sedikitpun. Yaitu sebuah argumen cemerlang yang menunjukkan kenabian yang benar.Demikianlah pilar-pilar kenabian Muhammad laksana gunung tinggi yang terbentuk dari sekumpulan mukjizat.

Tentu sekarang engkau memahami betapa bodoh dan dungu orang yang melihat “bangunan kenabian” yang tinggi dan kokoh ini lalu mengira bahwa ia bisa runtuh lantaran syubhat yang lemah yang masuk ke dalam benaknya lewat bagian-bagian kecil dari contoh di atas.

(89)

Ya, berbagai mukjizat yang menunjukkan keberkahan makanan tersebut secara tegas menunjukkan kenabian Muhammad (saw) dan bahwa beliau merupakan pesuruh dan kekasih Tuhan Yang Maha Pengasih dan Pemurah yang memberi dan menciptakan rezeki. Beliau adalah sosok hamba yang mulia di hadapan-Nya di mana Dia memberinya limpahan karunia yang penuh dengan berbagai jenis rezeki—secara luar biasa—dari sesuatu yang tiada dan dari khazanah tersembunyi yang tak pernah habis.

Seperti diketahui, jazirah Arab adalah daerah yang kering dan tandus. Penduduknya, terutama di masa awal Islam, berada dalam kesulitan hidup, kesulitan air, dan sering mengalami kehausan. Atas dasar itu, mukjizat Muhammad (saw) yang paling penting tampak dengan sangat jelas dalam hal makanan dan minuman.

Mukjizat tersebut laksana karunia Rabbani, ihsan Ilahi, dan jamuan Rahmani Tuhan untuk Rasulullah (saw) yang mulia. Dia memberi sesuai dengan kebutuhan. Ia lebih merupakan karunia daripada sekadar petunjuk atas kenabian. Pasalnya, orang-orang yang melihat mukjizat tersebut adalah kaum yang sangat percaya kepada kenabian. Setiap kali mukjizat tersebut terlihat, iman semakin bertambah dan menguat. Begitulah mukjizat beliau membuat cahaya iman mereka semakin bertambah.

(90)

(91)

PETUNJUK KEDELAPAN

(Petunjuk ini menjelaskan satu bagian mukjizat yang terkait dengan air)

Pendahuluan

Berbagai peristiwa yang terjadi di hadapan banyak orang ketika diriwayatkan lewat jalur perseorangan (âhâd) dan tidak diingkari, maka ia menunjukkan kebenarannya. Sebab, fitrah manusia selalu ingin mengungkap serta menolak kebohongan yang ada. Terlebih lagi orang-orang yang tidak pernah mendiamkan kebohongan, yaitu para sahabat yang mulia. Khususnya, jika peristiwanya terkait dengan Rasul (saw). Lebih khusus lagi para perawinya merupakan tokoh sahabat ternama. Maka, perawi riwayat perseorangan tadi seakan-akan mewakili banyak sahabat yang menyaksikan secara langsung. Apalagi setiap contoh dari mukjizat yang terkait dengan air yang akan kita bahas ini diriwayatkan lewat banyak jalur, dari banyak sahabat mulia, diterima oleh para tokoh dan ulama generasi tabi`in, di mana mereka menyampaikan setiap riwayat dengan sangat amanah kepada generasi yang datang

(92)

sesudah mereka. Kemudian generasi sesudah mereka menerimanya dengan penuh amanah dan menyampaikannya kembali kepada ulama pada masa berikutnya.

Demikianlah, ribuan ulama mulia di setiap masa dan tingkatan saling bergantian hingga masa sekarang. Belum lagi, buku-buku hadis yang disusun pada masa kenabian dan diserahkan dari tangan ke tangan hingga sampai ke tangan para imam hadis semacam imam Bukhari dan Muslim. Mereka menyerapnya secara sempurna dan memilah berbagai riwayat sesuai dengan tingkatannya. Mereka mengumpulkan seluruh riwayat yang sahih yang bersih dari noda syubhat dalam kitab sahih mereka. Dengan begitu, mereka mengantarkan kita kepada jalan kebenaran. Semoga Allah memberikan balasan terbaik untuk mereka!

Misalnya:

Air yang memancar dari jari-jemari Rasul (saw) serta bagaimana beliau bisa memberi minum kepada banyak orang merupakan sebuah riwayat yang mutawatir. Riwayat tersebut disampaikan oleh banyak orang yang tidak mungkin sepakat berdusta. Bahkan mustahil mereka berdusta. Jadi, mukjizat di atas merupakan suatu hal yang pasti dan valid. Apalagi ia terulang tiga kali di hadapan tiga komunitas yang cukup besar. Kejadian tersebut diriwayatkan secara sahih oleh para tokoh sahabat, terutama Anas selaku pelayan Rasul (saw), Jabir dan Ibnu Mas`ud. Ia disampaikan kepada kita lewat rangkaian sanad oleh para imam hadis seperti al-Bukhari, Muslim, Imam Malik, Ibnu Syu’aib, dan Qatadah f.

(93)

Contoh Pertama:

Dalam Sahih Bukhari dan Muslim, serta yang lain disebutkan bahwa Anas ibn Malik berkata, “Aku melihat Rasulullah (saw) saat waktu shalat asar tiba. Ketika itu orang-orang mencari air untuk berwudhu, namun mereka tidak mendapatkannya. Lalu, Nabi (saw) yang berada di Zawra diberi sebuah wadah. Beliau memasukkan tangannya ke dalam wadah itu. Tiba-tiba air memancar dari jari-jemari beliau. Maka, orang-orang berwudhu darinya.” Qatadah bertanya kepada Anas, “Berapa jumlah kalian saat itu?” Ia menjawab, “Tiga ratus atau sekitar tiga ratus.”

Engkau bisa melihat bagaimana Anas (ra) menginformasikan peristiwa tersebut sebagai wakil dari 300 orang yang ada. Mungkinkah ketiga ratus orang itu secara maknawi tidak terlibat dalam informasi ini. Mungkinkah mereka tidak mengingkarinya jika memang peristiwa ini tidak benar-benar terjadi?

Contoh Kedua:

Dalam sejumlah kitab sahih, terutama sahih Bukhari dan Muslim, terdapat riwayat yang berasal dari Salim ibn Abi al-Ju’d, dari Jabir ibn Abdillah al-Anshari (ra) yang berkata, “Pada saat melakukan perjalanan Hudaibiyah, para sahabat mengalami kehausan. Sementara di hadapan Nabi (saw) terdapat kantong air dari kulit. Kemudian beliau berwudhu. Melihat

(94)

hal itu, mereka segera menghampiri beliau. ‘Ada apa dengan kalian?’ tanya Nabi (saw). Mereka menjawab, ‘Kami tidak memiliki air untuk berwudhu dan untuk minum kecuali yang ada di depanmu ini.’ Lalu Nabi (saw) memasukkan tangannya ke dalam kantong air itu. Seketika air memancar dari jari-jemarinya seperti sumber mata air. Kami pun minum dan berwudhu darinya.” Salim berujar, “Aku bertanya kepada Jabir, ‘Berapa jumlah kalian waktu itu?’” “Andaikan jumlah kami 100 ribu tentu masih cukup. Namun ketika itu jumlah kami hanya seribu lima ratus orang,” jawab Jabir.

Dengan demikian, secara maknawi jumlah perawi riwayat di atas mencapai seribu lima ratus orang. Sebab, manusia memiliki tabiat suka mengungkap kebohongan dengan berkata, “Ini bohong.” Apalagi yang meriwayatkan kisah di atas adalah para sahabat yang mulia yang rela mengorbankan jiwa, harta, orang tua, anak, kaum, dan kabilahnya demi membela kebenaran dan kejujuran. Di samping itu, mustahil mereka mendiamkan kebohongan yang ada setelah mendengar ancaman Rasul (saw) yang mengerikan, “Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, bersiaplah ia mengambil tempat di neraka.” Maka, selama mereka tidak menentang riwayat yang ada; namun menerima dan ridha dengannya, berarti mereka juga ikut serta dalam riwayat tersebut dan secara tidak langsung membenarkannya.

(95)

Contoh Ketiga:

Sejumlah kitab hadis Sahih seperti sahih Bukhari dan Muslim dalam menceritakan perang Buwâth meriwayatkan bahwa Jabir (ra) berkata, “Rasulullah (saw) bersabda kepadaku, ‘Wahai Jabir tolong ambilkan air!’ ‘Kami tidak memiliki air.’ Ujarku. Nabi lalu meminta sedikit air. Tidak lama kemudian beliau diberi air. Lalu beliau memasukkan tangan ke dalamnya sambil membaca sesuatu yang tidak kuketahui. ‘Tolong ambilkan sebuah wadah!’ pinta beliau. Aku pun segera membawakannya ke hadapan beliau. Selanjutnya, Nabi (saw) mengulurkan tangannya ke dalam wadah tadi lalu merenggangkan jari-jemarinya. Kemudian Jabir menuangkannya untuk beliau. Lalu beliau membaca ‘Bismillah!’. Aku melihat air keluar dari jari-jemarinya sehingga wadah tersebut penuh dengan air. Beliau menyuruh orang-orang untuk mengambilnya hingga puas. ‘Ada yang masih butuh?’ tanyaku. Lalu Rasulullah (saw) mengangkat tangannya dari wadah tersebut yang penuh dengan air.”

Mukjizat di atas secara maknawi bersifat mutawatir.Pasalnya, Jabir merupakan saksi terdepan. Sangat wajar kalau ia meriwayatkannya serta berbicara mewakili mereka. Sebab, saat itu posisi Jabir sebagai pelayan Rasul (saw).

Dalam riwayat sahih yang lain Ibnu Mas`ud menyebutkan, “Aku melihar air memancar dari jari-jemari Rasulullah (saw).”

(96)

Jika yang meriwayatkannya para sahabat yang terpercaya dan mulia seperti Anas, Jabir, dan Ibnu Mas`ud f, di mana masing-masing mereka berkata, “Aku telah melihat”, kira-kira mungkinkah mereka sebenarnya tidak melihatnya?!

Selanjutnya, satukanlah tiga contoh di atas untuk melihat sejauh mana kekuatan mukjizat yang cemerlang itu. Sebab, manakala ketiga jalur tersebut bersatu, maka riwayat yang itu menjadi kuat secara mutawatir maknawi sekaligus menjadi bukti bahwa air memang memancar dari jari-jemari beliau. Mukjizat ini lebih hebat dan lebih agung daripada dua belas mata air yang dipancarkan Musa (as) dari batu. Pasalnya, keluarnya air dari batu merupakan suatu hal yang sangat mungkin terjadi. Sementara, keluarnya air dari daging dan tulang laksana telaga al-Kautsar tidak pernah ada sebelumnya.

Contoh Keempat:

Dalam kitabnya, al-Muwaththa, Imam Malik  meriwayatkan dari sejumlah sahabat ternama, dari Muadz ibn Jabal, tentang kisah perang Tabuk bahwa mereka singgah di sumber mata air yang hanya mengeluarkan sedikit air. Maka, Rasulullah (saw) memerintahkan mereka mengumpulkan air tersebut. Mereka pun menimbanya dengan tangan hingga terkumpul di sebuah wadah. Setelah itu, Rasulullah (saw) membasuh wajah dan tangannya di wadah tadi. Kemudian beliau menuangkan kembali ke sumber mata air tersebut hingga akhirnya memancarkan air dalam jumlah yang banyak. Maka, mereka pun bisa mengambil air. Bahkan dalam hadis Ibnu Ishaq disebutkan bagaimana air tersebut menembus tanah

(97)

hingga bersuara seperti gemuruh kilat. Lalu Nabi (saw) berkata:

يُوشِكُ يَا مُعَاذُ اِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ اَنْ تَرٰى مَا هٰهُنَا قَدْ مُلِئَ جِنَانًا

Wahai Muadz, jika engkau berumur panjang, engkau akan melihat bagaimana tempat ini dipenuhi oleh taman.”

Dan ternyata hal itu benar adanya.

Contoh Kelima:

Al-Bukhari meriwayatkan dari al-Barra, Muslim meriwayatkan dari Salamah ibn al-Akwa’, serta dari berbagai jalur lain dalam kitab hadis sahih, “Dalam perjalanan Hudaibiyah jumlah kami 1400 orang. Kami menemukan sebuah sumur. Kemudian kami mengambil airnya hingga tak tersisa satu tetes pun. Lalu Nabi (saw) duduk di pinggir sumur. Beliau meminta air dan dikumur-kumur. Setelah itu, dimuntahkan ke dalam sumur. Tidak lama kemudian kami bisa mengambil air darinya hingga puas. Demikian pula dengan tunggangan kami.” Al-Barra berkata, “Nabi (saw) meminta satu ember air darinya. Setelah air itu kami bawakan, beliau meludahkan air liur dari mulutnya yang penuh berkah seraya berdoa. Kemudian menuangkan air di ember tadi ke dalam sumur. Seketika sumur itu meluap sehingga bisa dikonsumsi oleh mereka dan tunggangan mereka.

Contoh Keenam:

(98)

Para imam perawi hadis seperti Muslim, Ibnu Jarir ath-Thabari dan yang lain meriwayatkan dari Abu Qatadah yang berkata, “Nabi (saw) pergi bersama dengan mereka untuk membantu penduduk Mu’tah saat mendengar berita pembunuhan terhadap para amir. Saat itu aku membawa mîdha’ah (wadah air untuk wudhu). Rasul (saw) berkata, ‘Jagalah wadah airmu. Sebab, suatu saat akan dibutuhkan.’ Setelah itu kami merasa sangat haus. Jumlah kami sekitar 72 orang. (Dalam riwayat ath-Thabari disebutkan bahwa jumlahnya hampir 300). Melihat hal tersebut Rasul (saw) bersabda, ‘Berikan wadah airmu!’ Maka, aku segera memberikan kepada beliau. Beliau mengambil dan memasukkan mulutnya ke tempat tersebut. Aku tidak tahu apakah di dalamnya beliau bernapas atau tidak. Kemudian ketujuh puluh dua orang itu datang dan minum darinya. Mereka juga mengisi wadah milik mereka. Selanjutnya aku mengambil wadah airku tersebut. Kondisinya tetap seperti semula.”

Perhatikanlah mukjizat yang cemerlang itu dan ucapkan:

(99)

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَيْهِ وَ عَلٰى اٰلِهٖ بِعَدَدِ قَطَرَاتِ الْمَاءِ

Ya Allah, limpahkan salawat dan salam atas junjungan kami (saw) serta atas keluarganya sebanyak tetesan air!

Contoh Ketujuh:

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Imran ibn Hushain saat Nabi (saw) dan para sahabat mengalami kehausan dalam suatu perjalanan. “Kami dalam perjalanan bersama Nabi (saw). Saat itu banyak orang yang mengeluh kehausan. Lalu beliau berhenti sejenak kemudian memanggilku dan memanggil Ali. Beliau berkata, “Pergilah mencari air!” Maka, keduanya pergi mencari air. Dalam perjalanan, keduanya bertemu dengan seorang wanita yang membawa bejana. Maka mereka membawa wanita tersebut ke hadapan Nabi (saw). Nabi (saw) meminta wadah lalu menuangkan air dari bejana tadi. Selanjutnya beliau menyuruh orang-orang untuk mengambil air. Mereka pun mengambilnya. Kami berpikir ia lebih penuh daripada sebelumnya.” Nabi (saw) berkata, “Berikan sesuatu untuk wanita ini!” Kami pun mengumpulkan makanan dan meletakkannya di dalam kain. Lalu ia membawa makanan tersebut di atas untanya. Beliau berkata kepadanya, “Kami tidak mengurangi air milikmu sedikitpun. Akan tetapi, Allah-lah yang memberi air kepada kami...”

(100)

Contoh Kedelapan:

Ibnu Khuzaimah meriwayatkan hadis Umar (ra) tentang pasukan yang berada dalam kesulitan. Disebutkan bahwa mereka mengalami kehausan yang luar biasa. Sampai-sampai ada yang menyembelih untanya untuk meminum air yang terdapat di dalamnya. Maka, Abu Bakar (ra) meminta Nabi (saw) untuk berdoa. Beliau pun terus mengangkat kedua tangannya hingga langit mendung dan turunlah hujan. Akhirnya, mereka bisa mengisi wadah milik mereka. Hujan tersebut hanya turun di sekitar mereka; tidak melampaui batas tempat mereka.

Ini bukan sebuah kebetulan; peristiwa itu sepenuhnya mukjizat Muhammad (saw).

Contoh Kesembilan:

Amr ibn Syu`aib (cucu Abdullah ibn Amr ibn al-Ash) yang dianggap tsiqah (bisa dipercaya) oleh keempat penulis Sunan dalam periwayatannya, menyatakan bahwa Abu Thalib berkata kepada Nabi (saw) yang sedang diboncengnya di Dzul- Majaz, “Aku merasa haus, sementara aku tidak memiliki air. Maka, Nabi (saw) turun dan menghentakkan kaki ke tanah. Seketika air keluar. ‘Minumlah!’ ujar beliau.”

Menurut salah seorang ulama peneliti, peristiwa ini terjadi sebelum beliau diangkat sebagai nabi. Oleh karena itu, ia termasuk jenis irhâsât. Selain itu, keluarnya mata air di Arafah

(101)

seribu tahun kemudian dianggap sebagai salah satu karunia ilahi kepada Rasul (saw).

Demikianlah, mukjizat yang terkait dengan air meski tidak mencapai 90 contoh seperti sembilan contoh di atas, namun ia diriwayatkan melalui 90 sisi.

Ketujuh contoh pertama sangat kuat dan pasti laksana riwayat yang mutawatir secara maknawi. Sementara dua contoh terakhir, meski jalurnya tidak kuat dan beragam serta perawinya tidak banyak, namun para penulis hadis seperti Imam al-Baihaqi dan al-Hakim meriwayatkan dari Umar (ra) mukjizat kedua seputar ‘awan atau mendung’ yang menjadi pendukung bagi mukjizat pada contoh kedelapan yang diriwayatkan oleh Umar.

Riwayatnya adalah sebagai berikut:

Dalam suatu peperangan yang diikuti Nabi (saw), para sahabat mengalami kehausan. Maka, Umar (ra) meminta beliau berdoa. Ketika beliau berdoa, awan pun datang dan turunlah hujan. Setelah kebutuhan mereka terpenuhi awan itu pun pergi. Seolah-olah awan tersebut diperintah untuk memberikan air kepada pasukan itu saja karena hujan yang turun sesuai kebutuhan. Di samping mendukung dan menguatkan contoh kedelapan di atas, ia juga menjelaskan bahwa riwayat tersebut kuat dan pasti. Ibnu al-Jauzi—yang dikenal sangat tegas, bahkan sampai menolak sejumlah hadis sahih dan menggolongkannya sebagai hadis maudhû—berkata, “Peristiwa di atas terjadi pada perang Badar dan merupakan sebab turunnya ayat berikut:

(102)

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَٓاءِ مَٓاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهٖ

“Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu” (QS. al-Anfâl [8]: 11).

Karena ayat tersebut turun lantaran peristiwa di atas seraya menerangkannya dengan jelas, berarti tidak diragukan lagi bahwa ia memang benar terjadi.

Proses datangnya hujan berkat doa Nabi (saw) sebelum beliau menurunkan kedua tangannya yang terangkat saat berdoa sering terjadi. Ia sebenarnya merupakan mukjizat tersendiri. Kadang kala Nabi (saw) meminta hujan saat berada di atas mimbar. Lalu hujan itu pun turun sebelum beliau menurunkan kedua tangannya. Hal ini diriwayatkan lewat jalur yang mutawatir.

(103)

PETUNJUK KESEMBILAN

Salah satu jenis mukjizat Rasul (saw) yang lain adalah pohon yang tunduk pada perintah beliau seperti manusia, lalu bagaimana ia meninggalkan tempatnya dan mendatangi beliau. Mukjizat yang terkait dengan pohon ini bersifat mutawatir dilihat dari segi maknanya sama seperti air yang keluar dari jari-jemari beliau yang penuh berkah. Bentuknya beragam dan diriwayatkan lewat banyak jalur.

Ya, bisa dikatakan bahwa berita tentang kondisi pohon yang meninggalkan tempatnya lalu datang memenuhi perintah Rasul (saw) bersifat mutawatir sharîh. Pasalnya, ia diriwayatkan oleh para sahabat yang mulia, jujur, dan ternama seperti Ali, Ibnu Abbas, Ibnu Mas`ud, Ibnu Umar, Ya’lâ ibn Murrah, Jabir, Anas ibn Malik, Buraidah, Usamah ibn Zaid, Ghailan ibn Salamah f, dan yang lainnya. Masing-masing mereka memberitakan mukjizat yang terkait dengan pohon ini secara kuat. Lalu riwayat mereka dinukil oleh ratusan tabi`in lewat banyak jalur. Di permulaan setiap jalurnya terdapat sosok sahabat yang mulia. Dengan kata lain, seolah-olah ia sampai ke kita dengan tingkat kemutawatiran ganda. Oleh karena itu,

(104)

tidak ada keraguan sedikitpun atasnya. Ia berposisi sebagai riwayat yang mutawatir secara maknawi.

Meskipun mukjizat ini terjadi berkali-kali, namun kami hanya akan menyebutkan beberapa saja dari sekian banyak bentuknya yang benar dan banyak tentangnya. Hal itu kami paparkan dalam beberapa contah:

Contoh pertama:

Ibnu Majah, ad-Dârimi, dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Anas ibn Malik dan Ali (ra), serta al-Bazzar dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Umar bahwa tiga orang sahabat mulia f berkata, “Rasul (saw) pernah sangat bersedih karena orang-orang kafir mendustakan beliau. Ketika itu beliau berkata:

يَا رَبِّ اَرِنٖى اٰيَةً لَا اُبَالٖى مَنْ كَذَّبَنٖى بَعْدَهَا

Ya Allah, perlihatkan padaku satu bukti yang sesudah itu aku tidak peduli jika masih ada yang mendustakanku.

Sementara dalam riwayat Anas berbunyi, “Jibril (as) berkata kepada Nabi (saw) yang terlihat sedih, “Maukah kutunjukkan satu bukti kepadamu.” “Ya,” jawab beliau. Maka, Rasulullah (saw) melihat kepada sebatang pohon yang berada di balik lembah. Lalu Jibril berkata, “Panggillah pohon itu!” Seketika pohon itu datang berjalan hingga berada di hadapan beliau. “Suruhlah ia kembali!” Pohon itu pun kembali ke tempatnya semula.

(105)

Contoh Kedua:

Al-Qâdhî `Iyâdh, seorang ulama besar asal Maroko, dalam kitabnya, asy-Syifâ, meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Abdullah ibn Umar (ra) yang berkata, “Kami bersama Rasulullah dalam sebuah perjalanan. Lalu ada seorang Arab badui yang berjalan mendekati beliau. ‘Wahai fulan, hendak ke mana?’ tanya beliau. ‘Hendak pulang ke rumah?’ jawabnya. ‘Maukah engkau menuju kepada kebaikan?’ tanya beliau lagi. ‘Apa itu?’ Jawabnya. ‘Yaitu engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah semata tanpa ada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.’ ‘Siapa yang menjadi saksi atas ucapan Anda ini?’ Beliau menjawab, ‘Pohon besar ini.’ Pohon tersebut berada di tepi lembah. Seketika ia tercabut lalu datang ke hadapan beliau. Beliau memintanya untuk memberi kesaksian sebanyak tiga kali. Maka pohon itu pun bersaksi seperti yang beliau katakan. Setelah itu ia kembali ke tempatnya.”

Diriwayatkan dari Buraidah lewat jalur Ibnu Shâhib al-Aslami secara sahih, “Seorang Arab badui meminta satu bukti kepada Nabi (saw). Maka, beliau berkata kepadanya, ‘Katakan kepada pohon tersebut, “Rasulullah memanggilmu.” Seketika pohon itu miring ke kanan, kiri, depan dan belakang. Lalu akarnya tercabut. Kemudian ia tercabut lalu datang dengan segera hingga berada di hadapan Rasulullah (saw). Pohon itu berujar, ‘Salam untukmu wahai Rasulullah.’ Setelah itu, Arab badui tadi meminta Nabi (saw) untuk menyuruhnya kembali

(106)

ke tempat semula. Maka, ia pun kembali seraya memasukkan akarnya ke dalam tanah seperti posisi semula. Lalu Arab badui tersebut berkata, ‘Izinkan aku bersujud kepadamu.’ Nabi (saw) menjawab, ‘Andaikan aku hendak memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, tentu aku telah memerintahkan wanita untuk bersujud kepada suaminya.’ ‘Kalau begitu, izinkan aku mencium tangan dan kakimu.’ Maka, beliau mengizinkan.”

Contoh Ketiga:

Imam Muslim dan penulis kitab sahih lainnya meriwayatkan dari Jabir (ra) yang berkata, “Kami dalam sebuah perjalanan bersama Rasulullah (saw). Lalu beliau pergi untuk buang hajat. Beliau tidak menemukan sesuatu untuk dijadikan pelindung. Sementara terdapat dua pohon yang terletak di tepi lembah. Beliau pergi mendatangi salah satunya, lalu mengambil salah satu dahannya. Kemudian Beliau berkata, ‘Patuhlah kepadaku dengan izin Allah!’ Pohon itu pun mengikuti beliau seperti unta yang dicocok hidungnya.” Disebutkan pula bahwa beliau melakukan hal yang sama pada pohon yang kedua. Ketika berada di antara keduanya, beliau berkata, “Tutupilah diriku dengan izin Allah.” Keduanya melakukan apa yang beliau perintahkan. Maka beliau duduk di belakangnya. Setelah selesai, beliau memerintahkan kedua pohon tadi untuk kembali ke tempatnya.

(107)

Dalam riwayat lain, beliau berkata, “Wahai Jabir, katakan pada pohon tersebut, ‘Rasulullah memerintahkanmu untuk merapat dengan sesamamu!’ agar Aku (Rasul) bisa duduk di belakang keduanya. Maka, pohon itu pun segera mendekati pohon yang pertama hingga Rasul (saw) bisa duduk di belakang keduanya. Aku pun segera pergi, kemudian duduk sambil merenung. Ketika menoleh, Rasulullah (saw) telah datang, sementara kedua pohon tadi sudah berpisah. Masing-masing berdiri sendiri. Rasulullah (saw) berdiri sejenak dan memberikan isyarat ke kanan dan ke kiri dengan kepalanya.

Contoh Keempat:

Usamah ibn Zaid, salah satu panglima Rasulullah sekaligus ‘tangan kanan’ beliau, meriwayatkan, “Kami dalam sebuah perjalanan bersama Rasulullah (saw). Ketika itu, tidak ada tempat kosong yang tersembunyi yang bisa beliau pakai untuk buang hajat. ‘Apakah engkau melihat pohon kurma atau batu?’ tanya beliau. ‘Ada sejumlah pohon kurma yang saling berdekatan,’ jawabku. ‘Kalau begitu, katakan padanya bahwa Rasulullah memerintahkanmu untuk datang menjadi pelindung tempat buang hajat beliau. Perintahkan pula kepada batu itu untuk melakukan hal yang sama.’ Aku pun melakukannya. Demi Allah, aku melihat pohon-pohon kurma itu saling berdekatan hingga menyatu dan begitu pula dengan batunya hingga membentuk tumpukan yang menutupi beliau. Ketika sudah selesai, beliau berkata, ‘Suruh mereka berpisah!’

(108)

Demi Dzat Yang menguasai jiwaku, aku melihat pohon dan batu itu berpisah kembali ke tempat mereka semula.”

Kedua peristiwa yang diriwayatkan oleh Jabir dan Usamah itu juga diriwayatkan oleh Ya’lâ ibn Murrah, Ghailan ibn Salamah ats-Tsaqafi, dan Ibnu Mas`ud dalam perang Hunain.

Contoh Kelima:

Seorang ulama besar, Imam Ibnu Faurak—yang dijuluki Syafii kedua karena melihat kemampuan ijtihad dan keutamaannya—menyebutkan bahwa saat perang Thaif, Nabi (saw) melakukan perjalanan pada waktu malam. Saat itu beliau mengantuk. Di hadapan beliau terdapat pohon Sudrah. Tiba-tiba pohon itu terbelah dua untuknya sehingga beliau bisa lewat di antara keduanya. Pohon tersebut tetap tegak di atas dua batang sampai sekarang.

Contoh Keenam:

Ya’lâ ibn Siyâbah menyebutkan bahwa suatu ketika pohon Thalhah atau Samurah datang mengitari beliau lalu kembali ke tempatnya. Melihat hal itu, Rasulullah (saw) bersabda, “Ia meminta izin untuk memberi salam kepadaku.” Maksudnya, minta izin kepada Tuhan semesta alam.

(109)

Contoh Ketujuh:

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Mas`ud (ra) yang berkata, “Sebatang pohon memberitahukan kepada Nabi (saw) keberadaan jin yang mendengarkan beliau pada suatu malam. Yaitu ketika jin Nushaibin di Bathn an-Nakhl (lembah kurma) datang kepada Nabi (saw) untuk masuk Islam. Pohon tersebut memberitahukan berita kedatangan mereka kepada Nabi (saw).”

Diriwayatkan oleh Mujahid dari Ibnu Mas`ud terkait dengan hadis di atas bahwa jin itu berkata, “Siapa yang menjadi saksi untukmu?” Beliau menjawab, “Pohon ini.” Beliau berkata padanya, “Wahai pohon kemarilah!” Pohon tersebut datang dengan membawa akarnya.

Demikianlah, satu mukjizat saja sudah cukup bagi rombongan jin itu. Lalu bukankah orang yang mendengar seribu satu mukjizat sepertinya kemudian masih bersikap sombong dan ingkar lebih sesat daripada setan yang dikatakan oleh al-Qur’an lewat lisan jin, “Yang kurang akal daripada kami selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah.” (QS. al-Jin [72]: 4).

Contoh Kedelapan:

At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi (saw) berkata kepada seorang Arab badui, “Jika aku dapat memanggil cabang pohon kurma ini, maukah engkau bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?!” “Ya,” jawabnya. Maka beliau memanggilnya. Seketika, pohon tadi melompat datang

(110)

kepada beliau. Lalu beliau berkata, “Kembalilah!” Pohon itu pun kembali ke tempatnya.

Demikianlah, begitu banyak contoh seperti yang telah kami sebutkan. Semuanya diriwayatkan lewat beragam jalur. Sebagaimana kita ketahui bahwa jika sejumlah benang menyatu, tentu ia akan menjadi tali yang kuat. Mukjizat yang terkait dengan pohon ini dan diriwayatkan lewat banyak jalur serta oleh para sahabat ternama, tentu sangat kuat sederajat dengan riwayat mutawatir maknawi. Bahkan sebenarnya ia memang mutawatir hakiki. Dan tentu tidak ada keraguan bahwa ketika diterima oleh tabi`in riwayatnya sudah mutawatir. Apalagi jalur periwayatannya berasal dari para pengumpul hadis sahih seperti al-Bukhari, Muslim, Ibnu Hibban, at-Tirmidzi, dan yang lain. Sudah pasti jalur periwayatannya sahih. Lebih dari itu, membaca satu hadis yang terdapat dalam sahih Bukhari seperti mendengar langsung dari para sahabat yang mulia.

Jadi, kalau pohon saja mengenal Rasulullah (saw) sekaligus memperkenalkan dan membenarkan risalah beliau, serta memberikan salam, mendatangi, dan taat kepada beliau seperti yang disebutkan dalam berbagai riwayat di atas, lalu bagaimana mungkin orang bodoh yang menganggap dirinya manusia itu masih tetap tidak mengenal dan tidak percaya kepada beliau?! Bukankah berarti ia tidak punya akal dan hati?

(111)

Bukankah ia lebih rendah daripada pohon kering serta lebih hina daripada kayu bakar yang hanya layak dilemparkan ke dalam api neraka?

(112)

(113)

PETUNJUK KESEPULUH

Mukjizat yang terkait dengan pohon di atas diperkuat oleh mukjizat rintihan batang pohon yang diriwayatkan secara mutawatir.

Ya, batang pohon kering di masjid Nabawi yang menangis karena berpisah dengan beliau untuk sementara waktu serta rintihannya yang terdengar oleh banyak sahabat menguatkan berbagai contoh yang telah kami sebutkan seputar mukjizat yang terkait dengan pohon. Pasalnya, batang tersebut juga berasal dari jenis pohon. Jenisnya sama. Hanya saja mukjizat ini benar-benar mutawatir, sementara yang lain mutawatir secara maknawi. Sebab, sebagian besar bagiannya tidak sampai ke tingkat mutawatir sharîh (jelas).

Tiang-tiang Masjid Nabawi sebelumnya terbuat dari batang kurma. Apabila berkhutbah, Nabi (saw) bersandar kepada salah satu batang kurma itu. Ketika beliau dibuatkan mimbar dan berdiri di atasnya, terdengar suara dari batang pohon itu seperti suara unta betina yang sedang hamil. Batang itu merintih dan menangis. Nabi (saw) kemudian mendatanginya dan meletakkan tangan beliau di atasnya. Beliau berbicara dan

(114)

menghiburnya. Seketika batang itu pun diam. Mukjizat ini diriwayatkan dari banyak jalur secara mutawatir.

Ya, mukjizat rintihan batang pohon tersebut sangat terkenal. Beritanya benar-benar mutawatir. Ia diriwayatkan oleh ratusan imam dari kalangan tabi`in lewat lima belas jalur dari sejumlah sahabat yang mulia. Begitulah mereka meriwayatkannya kepada generasi sesudah mereka. Di antara sahabat yang meriwayatkannya adalah Anas ibn Malik (pelayan Nabi (saw)), Jabir ibn Abdillah al-Anshari, Abdullah ibn Umar, Abdullah ibn Abbas, Sahl ibn Sa’ad, Abu Said al-Khudri, Ubay ibn Ka’ab, Buraidah, dan Ummul mukminin Ummu Salamah f. Masing-masing mereka menjadi pangkal dari berbagai jalur periwayatan hadis yang ada. Imam Bukhari dan Muslim serta imam hadis sahih yang lain meriwayatkan mukjizat yang agung dan mutawatir tersebut kepada kita.

Diriwayatkan dari Jabir (ra), ia berkata, “Sebelumnya tiang-tiang Masjid Nabawi terbuat dari batang kurma. Apabila berkhutbah, Nabi (saw) bersandar kepada salah satunya. Ketika beliau dibuatkan mimbar dan berada di atasnya, kami mendengar suara dari batang pohon itu seperti suara unta betina yang hamil. Manakala Nabi (saw) mendatangi dan meletakkan tangan beliau di atasnya, batang itu pun diam.” Batang tersebut tidak sanggup berpisah dengan beliau.

Menurut riwayat dari Anas (ra), “Sampai-sampai masjid bergetar oleh suaranya.”

(115)

Menurut riwayat Sahl ibn Sa’ad, “Saat batang pohon itu menangis, banyak orang yang ikut menangis.”

Menurut riwayat dari Ubay ibn Ka’ab, “Sampai-sampai pohon itu retak lantaran menangis dengan amat sangat”.

Yang lain menambahkan bahwa Nabi (saw) bersabda, “Ia menangis karena tidak lagi dibacakan kalimat zikir (di dekatnya).” Dalam riwayat lain disebutkan, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, andaikan aku tidak datang menghampiri dan menghiburnya tentu ia akan terus seperti itu hingga hari kiamat.” Yaitu karena sedih ditinggal Rasul (saw).

Dalam hadis Buraidah disebutkan, “Saat batang pohon itu menangis, Rasul (saw) meletakkan tangan beliau di atasnya seraya berkata, ‘Kalau mau, aku bisa mengembalikanmu ke kebun yang menjadi tempat asalmu sehingga bisa tumbuh besar serta memiliki daun dan buah. Atau, kutanam engkau di surga agar buahmu bisa dimakan oleh para wali Allah.’ Setelah itu beliau menyimak jawabannya. Ia berkata, ‘Tanamlah aku di surga agar bisa dimakan oleh para wali Allah dan aku tidak peduli di manapun aku berada.’ Hal itu didengar oleh mereka yang bersama beliau. Nabi (saw) kemudian bersabda, ‘Aku sudah

(116)

melakukannya.’ ‘Ia lebih memilih tempat yang abadi daripada tempat yang fana ini.’ Imam Abu Ishaq al-Isfara’ani—salah seorang tokoh ahli kalam—menyatakan bahwa Rasul (saw) tidak mendatangi batang pohon itu. Namun beliau menanggilnya sehingga batang itulah yang mendatangi beliau dengan menerobos tanah. Setelah itu, beliau memerintahkan batang pohon tersebut untuk kembali ke tempatnya.

Ubay ibn Ka’ab berkata, “Setelah mukjizat tersebut, Nabi (saw) menyuruh agar batang pohon itu dikubur di bawah mimbar.” Setiap kali melaksanakan shalat, beliau menghadap kepadanya. Lalu ketika Masjid Nabawi direnovasi, Ubay mengambil dan menyimpannya hingga batang pohon itu dimakan oleh tanah dan hancur.

Saat Hasan al-Bashri menceritakan hal ini kepada murid-muridnya, ia menangis seraya berkata, “Wahai para hamba Allah, kayu saja menangis karena rindu kepada Rasulullah (saw) mengingat kedudukan beliau. Nah, kalian lebih layak untuk rindu bertemu dengan beliau.”

(117)

Kami pun mengatakan, “Ya, rasa rindu dan cinta kepada beliau terwujud dalam sikap mengikuti sunnah dan syariatnya yang mulia.”

Catatan Penting

Barangkali ada yang bertanya: Mengapa berbagai mukjizat yang terkait dengan keberkahan makanan, di mana ia bisa membuat kenyang seribu orang dalam perang Khandak, hanya dengan satu shâ’ (2,04 kg), juga mukjizat air yang bisa memberi minum seribu orang lewat air yang memancar dari jari-jemari beliau yang penuh berkah, mengapa semua riwayat itu tidak terkenal? Mengapa ia tidak diriwayatkan lewat banyak jalur sebagaimana mukjizat rintihan batang pohon, padahal jumlah orang yang menyaksikan mukjizat tersebut lebih banyak daripada jumlah orang yang menyaksikan rintihan batang pohon?

Jawaban: Mukjizat yang terlihat terbagi dua:

Pertama, yang terlihat lewat tangan Nabi (saw) untuk membenarkan klaim kenabian beliau sehingga menjadi bukti atasnya di mana ia menguatkan keimanan kaum mukmin, mendorong kaum munafik untuk tulus dan percaya, sekaligus mengajak kaum kafir untuk beriman. Nah, mukjizat rintihan batang pohon termasuk dari jenis ini. Oleh karena itu, ia bisa dilihat baik oleh kalangan umum maupun kalangan khusus serta lebih mendapat perhatian daripada yang lain.

Adapun mukjizat makanan dan air, ia lebih merupakan karamah daripada mukjizat. Bahkan ia lebih merupakan karunia ilahi. Atau, ia lebih merupakan jamuan rahmani

(118)

sesuai kebutuhan. Oleh karena itu, meskipun keduanya menjadi bukti dan mukjizat atas kenabian, namun tujuan utamanya adalah bahwa pasukan yang berjumlah hampir seribu orang itu sangat membutuhkan makanan dan minuman. Maka lewat perbendaharaan gaib-Nya, Allah (swt) membantu mereka dengan membuat kenyang seribu orang lewat satu shâ’ sebagaimana Dia menciptakan sekian banyak kurma dari satu benih. Demikian pula ketika Dia memberi minum kepada seribu pejuang di jalan Allah saat mereka kehausan. Dia memberi mereka minum dari air penuh berkah laksana telaga al-Kautsar. Allah mengalirkannya lewat jari-jemari panglima tertinggi mereka, Nabi (saw). Oleh karena itu, tingkatan mukjizat makanan dan air tidak seperti rintihan batang pohon. Hanya saja, jenis kedua mukjizat tersebut secara umum sama seperti kemutawatiran riwayat rintihan batang pohon. Selain itu, setiap orang mungkin tidak melihat keberkahan makanan dan pancaran air dari jari-jemari beliau. Namun hanya melihat bekas dan jejaknya. Sementara semua orang yang berada di masjid Nabawi mendengar tangisan batang pohon itu. Inilah yang membuat riwayat tentangnya lebih tersebar.

Barangkali ada yang bertanya: Para sahabat yang mulia begitu perhatian kepada seluruh kondisi dan gerak Nabi (saw). Mereka meriwayatkannya dengan penuh amanah dan teliti. Lalu mengapa mukjizat agung semacam ini hanya diriwayatkan lewat dua puluh jalur; tidak diriwayatkan—minimal—lewat seratus jalur? Kemudian mengapa sebagian besar riwayatnya bersumber dari Anas, Jabir, dan Abu Hurairah f; bukan dari Abu Bakar dan Umar , kecuali hanya sedikit?

(119)

Jawaban: Bagian pertama dari pertanyaan di atas telah dijawab pada ‘prinsip ketiga dari petunjuk keempat’.

Adapun jawaban untuk bagian kedua adalah bahwa manusia jika ingin berobat, tentu akan pergi ke dokter. Sementara jika ingin membuat bangunan, tentu akan pergi ke arsitek. Demikian halnya jika ingin belajar syariat, tentu akan pergi kepada mufti dan meminta fatwa darinya. Begitulah, tugas sejumlah ulama dari kalangan sahabat terfokus pada menerima, menyebarkan, dan meriwayatkan hadis kepada generasi selanjutnya. Mereka mengoptimalkan potensi yang Allah berikan demi tugas tersebut. Abu Hurairah (ra) mengabdikan seluruh hidupnya untuk menghafal hadis Nabi (saw). Sementara pada saat yang sama Umar (ra) sibuk mengemban tugas kekhalifahan dan kebijakan negara. Oleh karena itu, beliau menyerahkan periwayatan hadis kepada sahabat Abu Hurairah, Anas, Jabir dan yang semacam mereka. Maka tidak aneh kalau riwayat dari Umar (ra) hanya sedikit. Di samping itu, perawi yang jujur dan dipercaya semua orang sudah cukup untuk menjadi rujukan sehingga tidak perlu lagi merujuk kepada riwayat lain. Karenanya, sejumlah peristiwa penting diinformasikan lewat dua atau tiga jalur.

(120)

(121)

PETUNJUK KESEBELAS

Petunjuk ini menjelaskan mukjizat Nabi yang terdapat pada benda tak bernyawa seperti batu dan gunung, sebagaimana ‘petunjuk kesepuluh’ menjelaskan mukjizat nabi pada pohon. Di antara sekian banyak contoh yang ada, kami akan menyebutkan delapan darinya:

Contoh Pertama:

Imam Bukhari dan ulama brilian asal Maroko, al-Qâdhî `Iyâdh, meriwayatkan dari Ibnu Mas`ud—pelayan Nabi (saw)—bahwa Nabi (saw) bersabda, “Kami mendengar tasbih makanan saat dimakan.”

Contoh Kedua:

Diriwayatkan dari Anas dan Abu Dzar di mana Anas berkata, “Nabi (saw) mengambil sekepal kerikil. Lalu kerikil tersebut bertasbih di tangan Rasulullah (saw) sehingga kami pun bisa mendengarnya. Setelah itu, beliau menuangnya ke tangan

(122)

Abu Bakar (ra), ia tetap dalam kondisi bertasbih. Kemudian ia diletakkan ke tangan kami, namun tidak lagi bertasbih.”

Hal yang sama juga diriwayatkan oleh Abu Dzar (ra). Ia menyebutkan bahwa kerikil tersebut bertasbih saat dipegang oleh Umar (ra). Namun ketika diletakkan di atas tanah, ia diam. Setelah itu, Umar mengambilnya dan meletakkan di tangan Utsman. Kerikil itu kembali bertasbih. Akan tetapi, saat diletakkan di tangan kami, ia tidak lagi bertasbih.”

Contoh Ketiga:

Dalam riwayat sahih yang berasal dari Ali, Jabir, dan Aisyah disebutkan bahwa setiap kali Nabi (saw) melewati gunung dan batu, semuanya selalu berkata:

اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللّٰهِ

Salam untukmu wahai Rasulullah.

Dalam riwayat Ali (ra) disebutkan, “Saat berada di Mekkah bersama Nabi (saw)—di awal masa kenabian—beliau pergi ke sejumlah sisinya. Setiap kali bertemu dengan pohon dan gunung, ia berkata kepada beliau, “Salam untukmu wahai Rasulullah.”

Dalam riwayat jabir (ra), ia berkata, “Setiap kali Nabi (saw) melewati batu atau pohon, ia bersujud kepada beliau.” Yakni

(123)

semua tunduk kepada beliau seraya mengucap, “Salam untukmu wahai Rasulullah”.

Dalam riwayat lain yang berasal dari Jabir ibn Samurah (ra) bahwa Nabi (saw) bersabda:

إني لأعرف حجراً بمكة كان يسلّم عليّ

Aku mengetahui di kota Mekkah ada batu yang selalu memberi salam untukku.

Yakni sebelum beliau diutus menjadi nabi. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah Hajar Aswad.

Diriwayatkan dari Aisyah g bahwa Nabi (saw) bersabda:

لَمَّا اسْتَقْبَلَنٖى جَبْرَائٖيلُ بِالرِّسَالَةِ جَعَلْتُ لَا اَمُرُّ بِحَجَرٍ وَلَا شَجَرٍ اِلَّا قَالَ اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللّٰهِ

Saat Jibril membawa risalah kepadaku, maka setiap kali melewati batu atau pohon, semuanya mengucap, "Salam untukmu wahai Rasulullah."

Contoh Keempat:

Dalam hadis al-Abbas (ra) disebutkan bahwa ketika Nabi (saw) menyelimuti dia dan anak-anaknya—yaitu Abdullah, Ubaidillah, al-Fadhl, dan Qutsam—dengan pakaian beliau seraya berdoa agar mereka diselamatkan dari api neraka, beliau berkata:

(124)

يَا رَبِّ هٰذَا عَمّٖى وَصِنْوُ اَبٖى وَ هٰؤُلَاءِ بَنُوهُ فَاسْتُرْهُمْ مِنَ النَّارِ كَسَتْرٖى اِيَّاهُمْ بِمُلَائَتٖى

Wahai Tuhan, ini adalah pamanku, saudara ayahku. Sementara mereka adalah anak-anaknya. Lindungilah mereka dari api neraka sebagaimana aku menutupi mereka dengan bajuku ini.

Mendengar doa tersebut, daun pintu dan tembok rumah ikut mengamini.

Contoh Kelima:

Sejumlah perawi hadis sahih, terutama al-Bukhari, Ibnu Hibban, Abu Daud, dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari Anas, Abu Hurairah, Utsman Dzun-Nurain, dan Said ibn Zaid sebagai salah seorang yang diberi kabar gembira masuk surga, meriwayatkan bahwa Nabi (saw), Abu Bakar, dan Utsman naik ke bukit Uhud. Tiba-tiba bukit tersebut bergetar karena senang dan gembira dengan keberadaan mereka. Beliau bersabda:

اُثْبُتْ اُحُدُ فَاِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِىٌّ وَ صِدّٖيقٌ وَ شَهٖيدَانِ

(125)

Tenanglah wahai Uhud! Yang berada di atasmu adalah seorang nabi, orang shiddiq, dan dua syahid.

Lewat hadis di atas, Nabi (saw) mengabarkan mati syahidnya Umar dan Utsman secara gaib.

Sebagai pelengkap dari contoh di atas, diriwayatkan bahwa ketika Rasul (saw) berhijrah dari Mekkah dan dicari-cari oleh kaum kafir Quraisy, beliau naik ke gunung Tsubair. Tiba-tiba gunung itu berkata, “Wahai Rasulullah, turunlah! Aku khawatir mereka membunuhmu di atas punggungku sehingga Allah mengazabku.” Mendengar hal itu, gua Hira memanggil, “Ke sinilah wahai Rasulullah!”

Dari sini sejumlah kalangan salih merasa takut ketika berada di Tsubair, namun merasa nyaman dan tenang saat berada di Hira.

Lewat berbagai contoh di atas dapat dipahami bahwa sejumlah gunung besar juga tunduk dan taat sama seperti manusia. Ia sebagaimana makhluk lain yang bertasbih kepada Allah dan memiliki tugas khusus. Ia juga mengenal dan mencintai Nabi (saw). Jadi, gunung tidak dicipta dengan sia-sia.

Contoh Keenam:

Ibnu Umar (ra) meriwayatkan bahwa saat berada di atas mimbar, Nabi (saw) membaca:

(126)

وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖ...

“Mereka tidak menghormati Allah dengan sebenar-benarnya penghormatan...” (QS. az-Zumar [39]: 67).

Kemudian beliau bersabda, “Tuhan Yang Mahagagah mengagungkan diri-Nya dengan berkata, ‘Aku adalah Dzat Yang Mahagagah. Aku Dzat Yang Mahagagah. Aku Mahabesar dan Mahatinggi.’ Seketika mimbar berguncang hingga kami khawatir beliau terjatuh.”

Contoh Ketujuh:

Diriwayatkan dari Habrul Ummah dan sang penafsir al-Qur’an, Ibnu Abbas (ra) serta Ibnu Mas`ud (ra) yang merupakan ulama dari kalangan sahabat, bahwa di sekitar Ka’bah terdapat 360 patung berhala yang kakinya di lekatkan ke batu dengan timah. Nah manakala Rasulullah (saw) masuk ke dalam Masjidil-Haram saat penaklukan kota Mekkah, beliau menunjuk berhala-berhala itu dengan tongkat tanpa menyentuhnya seraya membaca:

جَٓاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ اِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

(127)

“Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. al-Isrâ [17]: 81).

Setiap kali beliau menunjuk wajah berhala itu, ia pasti jatuh sehingga tidak ada berhala yang tersisa.

Contoh Kedelapan:

Kisah Bahira, sang rahib, yang terkenal. Sebelum diangkat sebagai nabi, Rasul (saw) pergi bersama pamannya, Abu Thalib, serta sejumlah kaum Quraisy menuju wilayah Syam. Ketika sampai ke dekat gereja sang rahib, mereka berhenti di sana. Biasanya sang rahib tidak keluar menemui orang. Namun ketika itu, ia keluar menerobos rombongan hingga kemudian memegang tangan Rasulullah (saw). Ia berkata, “Ini adalah pemimpin seluruh alam yang Allah utus sebagai rahmat bagi semesta alam.” Mendengar hal itu para tokoh Quraisy bertanya, “Dari mana engkau tahu?” Ia berkata, “Tidak ada satu pohon atau batu pun kecuali sujud kepadanya. Mereka tidak sujud kecuali kepada seorang nabi.” Ia melanjutkan, “Nabi (saw) datang dalam kondisi dinaungi oleh awan. Ketika dekat dengan mereka, awan itu mengikutinya hingga ke bawah pohon. Saat duduk, naungan pohon itu condong kepada beliau.”

Demikianlah, terdapat delapan puluh contoh seperti delapan contoh di atas. Bila disatukan, delapan contoh tersebut akan menjadi sangat kuat sehingga tidak diragukan sama sekali.

(128)

Jenis mukjizat di atas (benda tak bernyawa yang bisa berbicara) menjadi bukti nyata atas kenabian Muhammad (saw). Ia seperti riwayat mutawatir secara maknawi. Setiap contoh menguatkan yang lain sehingga melebihi kekuatan personalnya. Kondisinya seperti orang lemah yang berada dalam sebuah pasukan. Ia menjadi kuat hingga mampu menghadapi seribu orang. Atau seperti pilar yang lemah yang jika digabung dengan pilar-pilar lain menjadi sangat kuat. Apalagi jika seluruh riwayatnya sahih dan kuat.

(129)

PETUNJUK KEDUA BELAS

Berikut ini tiga contoh yang masih terkait dengan petunjuk kesebelas.

Contoh pertama:

Allah (swt) berfirman:

وَمَا رَمَيْتَ اِذْ رَمَيْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ رَمٰى

“Bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.” (QS. al-Anfâl [8]: 17).

Dengan redaksinya yang jelas serta sesuai dengan studi para mufassir dan ahli hadis, ayat di atas menerangkan bahwa Rasulullah (saw) dalam perang Badar mengambil segenggam tanah dan pasir, lalu melemparkannya ke wajah pasukan kafir seraya berkata:

شَاهَتِ الْوُجُوهُ

Semoga wajah kalian rusak!

(130)

Tanah itu pun masuk ke mata seluruh kaum musyrik sebagaimana ungkapan ‘Semoga wajah kalian rusak!’ masuk ke telinga mereka. Akibatnya, mereka sibuk membersihkan mata dari tanah lalu mundur, meskipun mereka sebenarnya berada dalam posisi menyerang.

Imam Muslim meriwayatkan bahwa dalam perang Hunain ketika kaum kafir menyerang umat Islam, Nabi (saw) mengambil segenggam tanah lalu melemparkannya ke wajah kaum musyrikin seraya berkata, “Semoga wajah kalian rusak!” Maka—dengan izin Allah—tanah tersebut masuk ke mata setiap orang dari mereka, sebagaimana ungkapan di atas masuk ke telinga mereka. Akhirnya mereka melarikan diri dari medan perang.

Peristiwa luar biasa itu telah terjadi pada perang Badar dan Hunain. Ia merupakan peristiwa yang berada di luar kemampuan manusia. Ia juga tidak bisa disandarkan pada sebab-sebab biasa. Oleh karena itu, Allah (swt) berfirman, “Bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.” (QS. al-Anfâl [8]: 17). Artinya, ia merupakan peristiwa yang sepenuhnya bersumber dari qudrah ilahi.

Contoh Kedua:

Sejumlah kitab ahli hadis, terutama sahih Bukhari dan Muslim, menyebutkan bahwa seorang wanita yahudi yang bernama Zainab binti al-Harts—di daerah Khaibar—memberikan kepada Nabi (saw) kambing panggang yang telah ia racuni.

(131)

Kemudian Rasul (saw) memakannya diikuti dengan sahabat yang lain. Tiba-tiba beliau berkata, “Angkat tangan kalian! Kambing ini memberitahukan kepadaku bahwa ia beracun.” Maka, semua mengangkat tangan mereka. Namun, Bisyr ibn al-Barrâ terlanjur memakannya. Ia akhirnya meninggal akibat racun tersebut. Nabi (saw) segera memanggil wanita yahudi itu. Beliau berkata kepadanya, “Mengapa engkau berbuat demikian?” Ia menjawab, “Jika engkau memang seorang nabi, pasti perbuatanku (racun itu) tidak akan membahayakanmu. Akan tetapi, jika engkau hanya seorang raja, berarti aku telah membuat orang-orang bebas darimu.” Akhirnya, Rasul (saw) memerintahkan agar ia dibunuh. Dalam sejumlah riwayat lain, ia tidak diperintahkan untuk dibunuh. Menurut para ulama, ia tidak diperintahkan untuk dibunuh. Namun diserahkan kepada keluarga Bisyr ibn al-Barrâ sehingga merekalah yang membunuhnya.

Sekarang mari kita perhatikan tiga hal berikut untuk menjelaskan sisi kemukjizatan peristiwa di atas:

Pertama, dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa sejumlah sahabat mendengar ucapan daging kambing tersebut saat ia memberitahu kalau ia beracun.

(132)

Kedua, dalam riwayat lain disebutkan bahwa setelah Rasul (saw) memberitahukan persoalan tersebut beliau berkata:

قولوا بسم الله ثم كلوا، فإنه لا يضر السم بعدَه

Bacalah bismillah kemudian makan! Racun itu tidak akan memberikan bahaya setelah membaca basmalah.

Meskipun riwayat ini tidak diterima oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, namun para ulama yang lain menerimanya.

Ketiga, setiap orang yang mendengar informasi Nabi (saw) bahwa ‘kambing tersebut beracun’ percaya seolah-olah ia mendengar langsung. Pasalnya, Nabi (saw) sama sekali tidak pernah memberi informasi yang bertentangan dengan fakta. Ini adalah salah satunya. Ketika orang yahudi merencanakan makar untuk membinasakan Rasul (saw) dan para sahabat, ternyata konspirasi itu tersingkap lewat informasi gaib sehingga rencana mereka gagal. Beritanya persis seperti yang beliau katakan.

Contoh Ketiga:

Mukjizat Rasul (saw) dalam tiga peristiwa yang menyerupai mukjizat ‘tangan putih’ dan ‘tongkat’ Musa (as).

Peristiwa pertama: Imam Ahmad meriwayatkan hadis sahih yang berasal dari Abu Said al-Khudri (ra) bahwa pada suatu malam yang gelap lagi hujan Rasulullah (saw) memberikan

(133)

sebuah tongkat kepada Qatadah ibn Nu’man. Beliau berkata, “Pergilah dengannya sebab ia akan menerangi sekelilingmu sejauh sepuluh (langkah). Jika engkau masuk ke dalam rumahmu, engkau akan melihat bayangan hitam. Pukullah dengannya hingga ia keluar sebab ia adalah setan.” Maka ia pun pergi dan ternyata tongkat itu meneranginya—seperti tangan putih Musa (as)—sampai ia tiba di rumah. Ketika masuk, ia melihat bayangan hitam itu, maka ia pun memukulnya hingga keluar.”

Peristiwa kedua: Pedang Ukasyah ibn Muhsan al-Asadi yang berperang dalam perang Badar—perang yang berisi sejumlah keajaiban—tiba-tiba patah. Maka Rasul (saw) memberinya satu batang kayu yang keras. Beliau berkata, “Pukulkanlah!” Seketika ia berubah menjadi pedang yang tajam dan panjang berwarna putih cemerlang sehingga Ukasyah kembali berperang dengan menggunakan pedang tersebut. Pedang tersebut terus bersamanya dalam sejumlah peperangan hingga akhirnya tewas sebagai syahid saat memerangi kaum yang murtad di Yamamah. Peristiwa ini sangat valid. Ukasyah begitu bangga dengan pedang tersebut sepanjang hidupnya. Pedang itu diberi nama al-`Aun (bantuan). Kemasyhuran pedang tersebut dengan nama al-`Aun serta rasa bangga Ukasyah terhadap pedang tersebut menjadi bukti atas benarnya peristiwa di atas.

(134)

Peristiwa ketiga: Ibnu Abdil Barr yang termasuk salah satu tokoh ulama pada masanya meriwayatkan bahwa Abdullah ibn Jahsy, sepupu Rasulullah (saw), kehilangan pedangnya dalam perang Uhud saat berperang. Maka, Rasulullah (saw) memberinya dahan kurma yang kemudian di tangannya berubah menjadi pedang.

Ibnu Sayyid an-Nas dalam buku sirah-nya menyebutkan bahwa pedang tersebut selama bertahun-tahun tetap utuh dan terus berpindah-tangan sampai akhirnya pedang itu dijual kepada orang yang bernama Bugha Turki seharga 200 dinar.

Kedua pedang di atas merupakan dua mukjizat yang menyerupai mukjizat tongkat Musa (as). Bedanya, tongkat Nabi Musa (as) tidak lagi menjadi mukjizat setelah beliau wafat. Sementara, kedua pedang di atas tetap menjadi mukjizat meski Nabi (saw) telah wafat.

(135)

PETUNJUK KETIGA BELAS

Di antara mukjizat Nabi (saw) adalah sembuhnya orang-orang yang sakit dan terluka lewat ludah beliau. Jenis mukjizat ini bersifat mutawatir maknawi. Namun dilihat dari bagian-bagiannya, ada yang hukumnya mutawatir maknawi dan ada pula yang merupakan hadis ahad. Hanya saja, secara ilmiah ia bisa diterima dan dipercaya. Pasalnya, riwayat tersebut mendapatkan legitimasi para ulama dan dianggap sahih oleh pada ahli hadis.

Dari sekian banyak contoh jenis mukjizat ini, kami hanya akan menyebutkan sebagiannya sebagai berikut:

Contoh pertama:

Al-Qâdhî `Iyâdh meriwayatkan dari Sa’ad ibn Abi Waqqas yang termasuk salah seorang sahabat yang dijamin masuk surga sekaligus menjadi pelayan Nabi (saw) dan merupakan salah satu panglima beliau. Sa’ad ibn Abi Waqqas memimpin pasukan Islam pada masa Umar ibn al-Khattab (ra). Ia berkata, “Rasulullah (saw) memberiku anak panah yang tidak memiliki mata atau tidak ada ujungnya. ‘Panahlah dengannya!’ ujar beliau.

(136)

Rasulullah (saw) sendiri yang telah memanahkannya hingga patah, yaitu pada perang Uhud. Anak panah yang tidak memiliki ujung itu laksana anak panah yang runcing menembus tubuh orang-orang kafir.”

Ia juga berkata, “Ketika itu mata Qatadah ibn Nu’man terkena serangan hingga menonjol keluar. Maka, Nabi (saw) mengembalikannya lagi lewat tangan beliau yang penuh berkah sehingga mata Qatadah termasuk yang paling indah. Peristiwa ini menjadi terkenal sehingga salah seorang cucu Qatadah, saat mendatangi Umar ibn Abdul Aziz, memperkenalkan dirinya lewat lantunan bait berikut:

اَنَا ابْنُ الَّذٖى سَالَتْ عَلَى الْخَدِّ عَيْنُهُ

فَرُدَّتْ بِكَفِّ الْمُصْطَفٰى اَحْسَنَ الرَّدِّ

فَعَادَتْ كَمَا كَانَتْ لِاَوَّلِ اَمْرِهَا

فَيَا حُسْنَ مَا عَيْنٍ وَيَا حُسْنَ مَا رَدٍّ

Aku adalah anak orang yang matanya telah keluar ke pipi

Namun lewat tangan Mustafa (saw) ia dikembalikan lagi

Mata itu pun kembali seperti kondisinya semula

Sungguh indah mata itu dan sungguh indah pengembaliannya

Disebutkan pula bahwa beliau mengusapkan ludahnya ke sebuah luka bekas panah yang terdapat di wajah Abu Qatadah saat perang Dzî Qurad. Abu Qatadah berkata, “Hal itu sama

(137)

sekali tidak membuatku sakit dan tidak menimbulkan nanah.” Pasalnya, Rasulullah (saw) mengusapnya dengan tangan beliau yang penuh berkah.

Contoh Kedua:

Imam Bukhari dan Muslim serta yang lain meriwayatkan bahwa pada perang Khaibar, Rasulullah (saw) memberikan bendera kepada Ali yang ketika itu sedang sakit mata. Tatkala Rasulullah (saw) meludahi matanya, dengan izin Allah ia menjadi obat penyembuh bagi matanya.

Keesokan harinya Ali dapat mengambil pintu benteng yang terbuat dari besi di mana ia laksana perisai yang berada di tangannya. Kemudian ia berhasil menguasainya.

Pada perang Khaibar, beliau meludahi betis Salamah ibn al-Akwa’ yang terluka. Seketika ia sembuh.

Contoh Ketiga:

An-Nasa’i meriwayatkan dari Utsman ibn Hunaif bahwa seorang lelaki buta datang kepada Rasulullah (saw). Ia berkata, “Wahai Rasulullah (saw) tolong mintakan kepada Allah agar Allah menyembuhkan butaku.” “Mengapa?” tanya beliau. “Kebutaan ini telah menyulitkan diriku.” Lalu beliau bersabda:

فَانْطَلِقْ وَتَوَضَّأْ ثُمَّ صَلِّ رَكْعَتَيْنِ وَقُلِ اللّٰهُمَّ اِنّٖى اَسْئَلُكَ وَاَتَوَجَّهُ اِلَيْكَ بِنَبِىِّ مُحَمَّدٍ نَبِىِّ الرَّحْمَةِ يَا مُحَمَّدُ اِنّٖى اَتَوَجَّهُ بِكَ اِلٰى رَبِّكَ اَنْ يَكْشِفَ عَنْ بَصَرٖى اَللّٰهُمَّ شَفِّعْهُ فِىَّ

(138)

Kalau begitu pergilah berwudhu. Lalu shalatlah dua rakaat dan kemudian berdoalah, “Ya Allah aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu lewat perantaraan nabiku Muhammad, nabi pembawa rahmat. Ya Muhammad aku meminta Tuhan lewat dirimu agar Dia menyingkap penglihatanku. Ya Allah, jadikan beliau sebagai penolong untukku dan jadikan aku sebagai penolong untuk diriku.”

Setelah itu, ia kembali dalam keadaan mata yang sudah sembuh.”

Contoh Keempat:

Pada perang Badar, Abu Jahal berhasil menebas salah satu tangan Mua`awwadz ibn `Afrâ—salah seorang dari 14 orang yang mati syahid dalam perang Badar—hingga putus. Maka, ia datang membawa tangannya. Melihat hal itu, Rasulullah (saw) meludahi tangan tersebut dan melekatkannya kembali. Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Wahab, salah seorang imam ahli hadis. Setelah itu, Mu`awwadz kembali ke medan peperangan dan berperang sampai ia mati syahid.

Riwayat yang lain menyebutkan bahwa Khubaib ibn Yusâf pada saat perang Badar terkena pukulan di pundaknya

(139)

sehingga tubuhnya doyong. Maka, Rasulullah (saw) memulihkan dan meludahinya hingga sehat kembali.”

Kedua hadis di atas meskipun bersifat âhâd (perorangan) namun karena ia dianggap sahih oleh Imam Ibnu Wahab; karena terjadi dalam perang Badar yang merupakan peristiwa yang memperlihatkan banyak mukjizat; serta karena didukung oleh banyak bukti lain yang selaras, hal itu menjadikan peristiwa yang terjadi pada keduanya tidak diragukan oleh siapapun.

Demikianlah, terdapat seribu satu contoh yang disebutkan dalam hadis-hadis sahih bahwa tangan Rasul (saw) yang agung menjadi obat bagi mereka yang cacat dan sakit.

(140)

£Tulisan yang Pantas Diabadikan dengan Tinta Emas dan Untaian Berlian

Ya, seperti telah disebutkan:

-Bertasbihnya kerikil saat berada di tangan Nabi (saw);

-Berubahnya tanah dan pasir menjadi peluru yang menghantam wajah musuh hingga mereka lari terbirit-birit sesuai dengan firman-Nya, “Bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar” (QS. al-Anfâl [8]: 17);

-Terbelahnya bulan menjadi dua lewat isyarat jari telunjuk beliau seperti yang disebutkan al-Qur’an, “dan bulan pun terbelah” (QS. al-Qamar [54]: 1);

-Memancarnya air dari sepuluh jari beliau dan kondisi pasukan yang segar kembali setelah meminumnya;

-Dan bagaimana tangan beliau menjadi balsam penyembuh bagi mereka yang terluka dan obat bagi mereka yang sakit.

(141)

Semua itu menjelaskan tingkat keberkahan yang terdapat pada tangan beliau tersebut dan keberadaannya sebagai mukjizat qudrah ilahi yang agung. Seolah-olah telapak tangan beliau merupakan “tempat zikir yang kecil” di tengah-tengah para kekasih yang andaikan pasir masuk ke dalamnya, tentu ia bertasbih dan berzikir. Ia juga laksana “gudang senjata ilahi” untuk melawan musuh yang andaikan tanah masuk ke dalamnya, tentu akan terbang seperti meriam. Ia juga seperti “apotek ilahi yang kecil” bagi mereka yang sakit dan terluka yang ketika menyentuh penyakit, seketika menjadi obat. Saat tangan itu terangkat dengan segala keagungan, ia bisa membelah bulan menjadi dua lewat jari-jemarinya. Manakala berbalik dengan sangat indah, ia memancarkan sumber rahmat yang mengalir lewat sepuluh mata air laksana telaga Kautsar.

Jika tangan Nabi (saw) yang mulia menjadi mukjizat yang cemerlang semacam itu, bukankah dapat dipahami dengan jelas kedudukan beliau di sisi Tuhan, kebenaran dakwahnya, serta tingkat kebahagiaan mereka yang berbaiat pada tangan penuh berkah tersebut?!

(142)

Pertanyaan: Banyak riwayat yang kau katakan mutawatir, padahal kami baru mendengarnya sekarang. Mungkinkah riwayat yang mutawatir tidak diketahui sejauh ini?

Jawaban: Banyak hal yang bersifat mutawatir bagi para ulama syariat, namun tidak diketahui oleh yang lain. Banyak hadis mutawatir di kalangan ulama ahli hadis di mana ia tidak diketahui kecuali oleh segelintir orang di luar mereka. Demikianlah, terdapat sejumlah aksioma dan teori pada setiap disiplin ilmu yang hanya bisa dijelaskan sesuai dengan batasan yang dimiliki oleh kalangan yang memiliki spesialisasi di bidang tersebut. Sementara yang lain cukup merujuk kepada mereka di dalamnya. Entah dengan mematuhi ucapan mereka atau ikut mempelajarinya hingga sampai pada pengetahuan seperti yang mereka capai.

Riwayat mutawatir hakiki dan maknawi yang kami sebutkan atau sejumlah peristiwa yang dinilai mutawatir, hukumnya telah dijelaskan oleh para ulama ahli hadis, ulama syariat, ulama ushul, dan sebagian besar ulama yang lain. Nah, kalau kemudian masyarakat umum yang alpa tidak mengetahuinya atau kalau kalangan yang bodoh menutup mata darinya, maka yang salah adalah mereka sendiri.

Contoh Kelima:

Imam al-Baghawi meriwayatkan bahwa pada perang Khandak, betis Ali ibn al-Hakam terkena pukulan dan patah. Lalu Rasulullah (saw) mengusapnya hingga sembuh seketika tanpa perlu turun dari kudanya.

(143)

Contoh Keenam:

Al-Baihaqi dan yang lain meriwayatkan bahwa Ali ibn Abi Thalib mengeluh karena sakit dan ia pun mulai berdoa. Maka, Nabi (saw) berdoa:

اللهم اشفِه أو عافه ثم ضربَه برِجله، فما اشتكى ذلك الوجَع بعدُ

Ya Allah, berikan kesembuhan padanya. Lalu beliau memukulnya dengan kaki beliau. Setelah itu Ali (ra) tidak lagi merasa sakit.

Contoh Ketujuh:

Di telapak tangan Syarahbil al-Ju’fi terdapat daging tumbuh yang membuatnya tidak bisa memegang pedang dan mengendalikan tunggangan. Ia pun mengadukan hal itu kepada Nabi (saw). Maka, beliau menggilas daging tumbuh itu dengan tangannya hingga terangkat dan tidak meninggalkan bekas.

Contoh Kedelapan:

Enam anak kecil mendapatkan bagian dari mukjizat Rasul (saw).

Pertama: Ibnu Abi Syaibah—salah satu imam ahli hadis—meriwayatkan bahwa seorang wanita dari Khats’am datang

(144)

kepada Nabi (saw). Ia membawa seorang anak kecil yang mendapat cobaan tidak bisa berbicara. Maka, Nabi (saw) dibawakan air, lalu beliau berkumur-kumur, dan membasuh kedua tangannya. Kemudian air tersebut diberikan kepada orang tadi seraya menyuruhnya untuk meminumkan kepada si anak tadi. Seketika anak tersebut sembuh dan memiliki kecerdasan yang melebihi orang lain.

Kedua: Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa seorang wanita datang dengan membawa anaknya yang kurang waras. Maka, Nabi (saw) mengusap dadanya. Seketika si anak muntah dan mengeluarkan sesuatu seperti anak anjing hitam. Yaitu sesuatu yang hitam seperti mentimun. Akhirnya anak itu pun sembuh.

Ketiga: Imam al-Baihaqi dan an-Nasa’i meriwayatkan bahwa sebuah periuk terbalik dan menimpa lengan Muhammad ibn Hâtib yang masih kecil. Maka, Nabi (saw) mengusap dan mendoakannya. Beliau meniup dan memberikan ludahnya yang mulia. Seketika anak itu sembuh.

Keempat: Seorang anak yang sudah beranjak dewasa didatangkan kepada Nabi (saw). Ia tidak bisa berbicara sama sekali. Beliaupun bertanya padanya, “Siapa aku?” Anak itu menjawab, “Rasulullah.” Allah membuatnya dapat berbicara.

(145)

Kelima: Sosok ulama brilian, Imam Jalaluddin as-Suyuthi, yang telah mendapat kehormatan bisa melihat Nabi (saw) berkali-kali dalam keadaan terjaga, meriwayatkan bahwa seorang lelaki dari penduduk Yamamah datang kepada Nabi (saw) dengan membawa seorang anak saat baru lahir. Maka, Rasulullah (saw) berkata kepadanya, “Wahai anak, siapa aku?” Ia pun menjawab, “Engkau adalah utusan Allah.” “Benar. Semoga Allah memberkahimu,” ujar Nabi (saw). Setelah itu, anak itu tidak bisa bicara sampai besar. Ia diberi nama “Mubarak Yamamah” lantaran doa keberkahan yang Nabi (saw) berikan untuknya.

Keenam: Nabi (saw) mendoakan keburukan untuk seorang anak yang memiliki watak yang buruk. Ia lewat di hadapan Nabi (saw) yang sedang shalat. Maka, Nabi berdoa agar Allah menghentikan langkahnya hingga lumpuh. Dengan demikian, anak tersebut mendapatkan balasan dari perbuatan buruknya.

Ketujuh: Seorang wanita meminta makanan saat beliau sedang makan. Maka, Nabi (saw) segera memberinya dari makanan yang ada di depannya. Wanita itu tidak memiliki rasa malu. Ia berkata, “Aku ingin makanan yang terdapat di mulutmu.” Nabi pun memberikan apa yang terdapat di mulut beliau. Jika diminta sesuatu, beliau memang tidak pernah menolak.

(146)

Ketika sudah berada di dalam perutnya, wanita itu pun berubah menjadi sangat pemalu. Tidak ada seorang wanita pun di Madinah yang lebih pemalu darinya.

Demikianlah, terdapat begitu banyak contoh yang jumlahnya lebih dari 800 seperti yang telah kami sebutkan. Kitab-kitab hadis dan sirah (riwayat hidup) telah menceritakan sebagian besarnya.

Ya, ketika tangan Rasul (saw) yang penuh berkah itu laksana apotek Lukman al-Hakim, ludah beliau laksana mata air kehidupan milik Khidir (as), serta tiupan beliau seperti tiupan Isa (as) yang bisa menyembuhkan, sementara manusia selalu mendapatkan musibah dan cobaan, sudah pasti banyak orang sakit, anak-anak, dan orang kurang waras yang dibawa kepada beliau. Mereka semua sembuh dari penyakit dan cacat mereka. Bahkan Thâwus al-Yamani yang termasuk imam dari kalangan tabi`in yang terkenal dengan kezuhudan dan ketakwaannya di mana ia telah berhaji sebanyak 40 kali, melaksanakan shalat subuh dengan wudhu shalat isya selama 40 tahun, serta menjumpai banyak sahabat. Sang ulama tersebut menginformasikan dengan sangat valid bahwa tidak ada seorang gila pun yang datang kepada Nabi (saw) lalu beliau meletakkan tangannya di atas dada orang tersebut, kecuali ia sembuh dari gilanya.

Jika imam seperti ath-Thâwus al-Yamani yang pernah berjumpa dengan para sahabat menginformasikan berita yang valid semacam ini, tentu tidak ada keraguan bahwa memang banyak orang sakit yang mendatangi Nabi (saw). Barangkali jumlahnya mencapai ribuan yang semuanya sembuh.

(147)

PETUNJUK KEEMPAT BELAS

Di antara salah satu jenis mukjizat beliau adalah sesuatu yang sangat hebat. Yaitu sejumlah peristiwa luar biasa yang terjadi berkat doa beliau. Jenis ini tidak ada keraguan di dalamnya dan bersifat mutawatir hakiki. Contoh dan bagian-bagiannya tidak terhitung. Banyak di antara contohnya yang mencapai tingkat mutawatir. Bahkan ia begitu masyhur dan dekat dengan tingkat mutawatir. Dan ada pula yang diriwayatkan oleh para imam besar yang bernilai sangat valid seperti riwayat mutawatir yang masyhur.

Sebagai contoh, di sini kami ingin menyebutkan sebagian dari sekian banyak riwayat seputar hal tersebut di mana ia mendekati mutawatir, atau mencapai tingkat masyhur. Kami juga akan menyebutkan sejumlah bagian dari setiap contoh:

Contoh Pertama:

Para imam hadis, terutama imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa doa Nabi (saw) yang meminta hujan langsung terkabul seketika. Hal itu sering terjadi. Bahkan pernah beliau mengangkat tangan untuk meminta hujan saat di

(148)

atas mimbar, ternyata doanya terkabul sebelum tangan beliau turun. Riwayat ini sangat kuat sampai mencapai tingkat mutawatir. Sebelumnya kami telah menyebutkan bahwa sejumlah orang mengalami kehausan saat berada di perjalanan. Namun awan selalu berkumpul setiap kali mereka butuh air sehingga menghadirkan air untuk mereka lalu pergi lagi.

Bahkan sebelum diutus sebagai Nabi, doa beliau sudah mustajab. Abdul Muttalib, kakek Nabi (saw), pernah meminta hujan lewat perantaraan beliau saat masih kecil. Seketika hujan turun. Peristiwa ini sangat terkenal hingga disebutkan oleh Abdul Muttalib dalam sejumlah syairnya.

Umar ibn al-Khattab pernah meminta hujan lewat al-Abbas, paman Nabi (saw), sesudah Nabi (saw) wafat. Ia berdoa:

اللّهم إنّا كنّا نتوسل إليك بنبينا فتسقينا وإنّا نتوسل إليك بعَمِّ نبينا فاسقِنا، قال فيُسقَون

Ya Allah, sebelumnya kami meminta kepada-Mu lewat Nabi kami dan Engkau menurunkan hujan untuk kami. Sekarang kami meminta kepada-Mu lewat paman Nabi kami, maka turunkan hujan untuk kami. Disebutkan bahwa hujan diturunkan kepada mereka.

(149)

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasul (saw) pernah diminta berdoa agar Allah menurunkan hujan untuk mereka. Maka, beliau berdoa dengan doa istisqa. Seketika mereka mendapatkan hujan. Lalu mereka mengadukan hujan yang demikian besar sehingga beliau berdoa dan hujan itu pun berhenti.

Contoh Kedua:

Terdapat riwayat terkenal yang mendekati mutawatir bahwa saat jumlah kaum beriman masih sedikit dan menyembunyikan keimanan dan ibadah mereka, Nabi (saw) berdoa agar Allah memuliakan Islam lewat Umar (ra) atau Abu Jahal. Ternyata doa beliau dikabulkan dengan keislaman Umar. Ketika itu, beliau berdoa:

اَللّٰهُمَّ اَعِزَّ الْاِسْلَامَ بِعُمَرِ بْنِ الْخَطَّابِ اَوْ بِعَمْرِ بْنِ الْهِشَامِ

Ya Allah, muliakan Islam dengan Abu Jahal (Amr) ibn Hisyam atau dengan Umar ibn al-Khattab.

Ternyata keesokan harinya Umar datang kepada Rasulullah (saw) dan masuk Islam. Ia menjadi sebab bagi kemuliaan Islam. Oleh karena itu, ia dijuluki al-Fârûq.

(150)

Contoh Ketiga:

Nabi (saw) pernah mendoakan sejumlah sahabat untuk berbagai tujuan. Doa beliau langsung dikabulkan secara luar biasa sampai-sampai karamah dari doa tersebut mencapai tingkatan mukjizat.

Di antaranya riwayat al-Bukhari dan Muslim serta yang lain bahwa beliau pernah berdoa untuk Ibnu Abbas:

اَللّٰهُمَّ فَقِّهْهُ فِى الدّٖينِ وَعَلِّمْهُ التَّاْوٖيلَ

Ya Allah, berikan pemahaman dalam hal agama kepadanya, serta ajarkan takwil untuknya.

Sesudah itu ia disebut sebagai “Habrul Ummah” dan “Penafsir al-Qur’an.” Bahkan Umar (ra) memberikan izin kepada Ibnu Abbas d—meskipun masih muda—untuk ikut duduk dalam majelis para tokoh sahabat.

Al-Bukhari dan yang lain meriwayatkan dari Anas (ra) bahwa ibunya berkata, “Wahai Rasulullah, tolong doakan untuk pelayanmu, Anas!” Maka, Rasul (saw) berdoa:

اَللّٰهُمَّ اَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فٖيمَا اَعْطَيْتَهُ

Ya Allah, perbanyak harta dan anaknya, serta berkahi apa yang Kau telah berikan padanya. Dalam riwayat Ikrimah,

(151)

Anas (ra) berkata, “Demi Allah, hartaku sangat banyak. Anakku dan cucuku sekarang ini mencapai seratus.” Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ia berkata, “Aku tidak tahu apa ada orang yang lebih lapang hidupnya daripada diriku. Aku telah mengubur dengan kedua tangan ini seratus anakku; bukan yang keguguran atau cucu.” Semua itu berkat doa Nabi (saw).

Imam al-Baihaqi dan imam hadis yang lain meriwayatkan bahwa Nabi (saw) pernah mendoakan keberkahan untuk Abdurrahman ibn Auf. Ia termasuk salah seorang yang diberi kabar gembira masuk surga. Berkat doa beliau, ia mendapatkan harta berlimpah sampai-sampai ia pernah menyedekahkan 700 unta beserta bawaannya. Jadi, ia menyedekahkan unta berikut barang yang dibawanya. Sungguh Allah memberikan keberkahan yang menakjubkan padanya.

Al-Bukhari dan yang lain meriwayatkan bahwa Nabi (saw) mendoakan keberkahan untuk Urwah ibn Abi al-Ja’ad dalam perdagangannya. Ia pun berkata, “Ketika pergi ke pasar Kinasah, aku pulang dengan membawa keuntungan sebesar 40 ribu.” Al-Bukhari dalam hadisnya menegaskan bahwa sekalipun yang ia beli itu tanah, ia akan tetap mendapatkan keuntungan darinya.”

(152)

Nabi (saw) pernah mendoakan keberkahan untuk Abdullah ibn Ja’far. Tidaklah ia membeli sesuatu kecuali pasti mendapatkan keuntungan darinya. Pada masanya ia dikenal sebagai orang kaya dan orang yang sangat pemurah.

Jenis semacam ini sangat banyak. Kami ketengahkan empat saja sebagai contoh.

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Nabi (saw) berdoa untuk Sa’ad ibn Abi Waqqas:

اللهم استجب لسعد إذا دعاك

Ya Allah, kabulkan untuk Sa’ad manakala ia berdoa.

Maka, Sa’ad menjadi orang yang doanya mustajab. Orang-orang pun takut didoakan keburukan olehnya.

Beliau berkata kepada Abu Qatadah:

اَفْلَحَ اللّٰهُ وَجْهَكَ اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَهُ فٖى شَعْرِهٖ وَ بَشَرِهٖ

Semoga engkau beruntung. Ya Allah, berkahilah rambut dan kulitnya.

Maka, Abu Qatadah meninggal dunia dalam usia 70 tahun, namun seakan-akan ia masih berusia 15 tahun.” Riwayat ini cukup terkenal.

(153)

Ketika Nâbighah, seorang penyair ternama melantunkan syair di hadapan Rasulullah (saw) yang berbunyi:

Kemuliaan dan kehormatan kami sudah mencapai langit

Namun lebih dari itu yang kami inginkan

Rasul (saw) berkata kepadanya, “Hendak ke mana wahai Abu Laila?” “Ke surga wahai Rasulullah,” ujarnya.

Lalu ia mendendangkan syair lain yang maknanya indah. Rasul pun bersabda:

لَا يَفْضُضِ اللّٰهُ فَاكَ

Semoga Allah memelihara mulutmu.

Maka, tidak ada satu pun giginya yang tanggal. Ia memiliki gigi paling indah. Kalaupun ada yang tanggal, segera tumbuh gigi yang lain. Ia hidup selama 120 tahun. Bahkan ada yang mengatakan lebih dari itu.

Dalam riwayat yang sahih disebutkan bahwa Nabi (saw) mendoakan Ali (ra) dengan berkata:

اَللّٰهُمَّ اكْفِهِ الْحَرَّ وَالْقَرَّ

Ya Allah, lindungi ia dari panas dan hawa dingin.

Berkat doa tersebut, saat musim dingin Ali (ra) memakai baju musim panas dan pada saat musim panas ia memakai baju musim dingin. Ia tidak merasa panas atau dingin.

Rasul (saw) juga berdoa untuk putrinya, Fatimah g:

(154)

اَللّٰهُمَّ لَا تُجِعْهَا

Ya Allah, jangan Kau buat ia lapar.

Maka, Fatimah berkata, “Sesudah itu aku tidak pernah merasa lapar.”

Ath-Thufail ibn Amr pernah meminta sebuah bukti untuk kaumnya. Maka, beliau bersabda, “Ya Allah, berikan cahaya kepadanya.” Seketika cahaya memancar di antara kedua matanya. Namun kemudian Rasul (saw) berdoa, “Ya Tuhan, aku khawatir mereka menganggapnya sebagai penyakit”. Cahaya itu kemudian berpindah ke ujung tongkatnya. Ia terang di malam yang gelap. Sehingga disebut Dzun-Nûr (pemilik cahaya).”

Semua peristiwa di atas riwayatnya sama sekali tidak diragukan.

Abu Hurairah g berkata, “Wahai Rasulullah, aku mendengar banyak hadis darimu yang kulupa.” Kemudian beliau bersabda, “Hamparkan selendangmu!” “Aku pun menghamparkan selendangku. Beliau menceduk dengan kedua tangannya (seperti mengambil sesuatu) lalu bersabda, ‘Pakailah!’” Aku pun segera memakainya. Sejak saat itu aku tak pernah lupa.

Sejumlah peristiwa di atas bersumber dari hadis-hadis yang masyhur.

(155)

Contoh Keempat:

Kami ingin menjelaskan beberapa contoh terkait pengabulan ‘doa keburukan’ yang dipanjatkan oleh Nabi (saw) untuk sejumlah orang.

Pertama: Nabi (saw) mendengar berita tentang raja Persia bernama Parwez yang merobek surat beliau. Maka beliau berdoa:

اَللّٰهُمَّ مَزِّقْهُ

Ya Allah, binasakan ia!

Ternyata ia memang hancur binasa karena dibunuh oleh putranya yang bernama Syarweh dengan belati. Sa’ad ibn Abi Waqqas juga menghancurkan kerajaannya sehingga tidak ada lagi kekuasaan yang tersisa bagi bangsa Persia di penjuru dunia. Sementara kerajaan Kaisar dan yang lain tetap eksis karena menghormati surat yang Rasul (saw) kirimkan kepada mereka.

Kedua: Dalam hadis masyhur yang mendekati tingkat mutawatir—serta seperti yang ditunjukkan oleh ayat al-Qur’an—disebutkan bahwa para pembesar Quraisy berkumpul di masjidil-Haram. Mereka memperlakukan Nabi (saw) dengan cara yang kurang baik. Maka, Nabi (saw) mendoakan keburukan untuk mereka. Ibnu Mas`ud berkata, “Kulihat mereka semua terbunuh dalam perang Badar.”

(156)

Ketiga: Beliau mendoakan keburukan untuk suku Mudhar, sebuah kabilah besar, karena telah mendustakannya. Maka, mereka ditimpa oleh kekeringan sampai kaum Quraisy merasa iba. Oleh karenanya, beliau mendoakan kebaikan untuk mereka hingga mendapatkan hujan. Riwayat ini mendekati tingkat mutawatir.

Contoh Kelima:

Mengenai terkabulnya doa Nabi (saw) yang beliau panjatkan agar sejumlah orang tertentu ditimpa keburukan. Kami akan menyebutkan tiga di antaranya dari sekian banyak contoh yang ada.

1.Nabi (saw) mendoakan keburukan untuk Utbah ibn Abi Lahab. Beliau berkata:

اَللّٰهُمَّ سَلِّطْ عَلَيْهِ كَلْبًا مِنْ كِلَابِكَ

Ya Allah, jadikan ia dilumat oleh salah satu dari anjing-Mu.

Sesudah itu Utbah bepergian. Lalu seekor singa mencarinya. Singa itu merenggutnya dari rombongan serta memakannya. Peristiwa ini sangat terkenal. Para imam hadis meriwayatkan dan mensahihkannya.

2.Rasul (saw) mengutus pasukan perang yang dipimpin oleh Amir ibn al-Adbath. Di dalam pasukan terdapat Muhallim ibn Jatstsâmah. Lalu dengan berkhianat, Muhallim membunuh Amir. Ketika berita tersebut sampai kepada

(157)

Rasulullah (saw), beliau murka seraya berkata:

اَللّٰهُمَّ لَا تَغْفِرْ لِمُحَلِّمِ

Ya Allah, jangan Kau ampuni Muhallim.

Tujuh hari sesudah itu Muhallim meninggal dunia. Namun bumi menolaknya. Lalu ketika dikebumikan ia kembali ditolak oleh bumi. Akhirnya, ia diletakkan di antara dua celah dengan ditutup oleh batu. Ia terdapat di sisi lembah.

3.Beliau (saw) berkata kepada seseorang yang makan dengan tangan kiri:

كُلْ بيمينك، قال: لا أستطيع، فقال: لا استطعتَ

Makanlah dengan tangan kanan! Namun ia menjawab, “Tidak bisa.” Akhirnya beliau mendoakan, “Semoga engkau benar-benar tidak bisa!”

Ternyata ia tidak lagi bisa mengangkat tangan kanannya ke mulut.

Contoh Keenam:

Kami akan menyebutkan sejumlah kejadian luar biasa yang benar-benar valid di mana ia terjadi berkat doa dan sentuhan Nabi (saw):

1.Nabi (saw) pernah memberi beberapa helai rambutnya kepada Khalid ibn al-Walid (si pedang Allah). Beliau juga

(158)

berdoa agar ia mendapatkan kemenangan. Khalid pun meletakkan rambut tadi di sorbannya. Akhirnya, tidaklah ia pergi ke medan tempur kecuali selalu mendapatkan kemenangan.

2.Sebelumnya Salman al-Farisi menjadi budak orang Yahudi. Mereka memberikan syarat kepada Salman jika ingin merdeka dengan membayar tebusan sebanyak 300 pohon kurma sampai berbuah disertai 40 ons emas. Maka, Nabi (saw) menanamkan semua untuknya kecuali satu yang ditanamkan oleh orang lain. Seluruh pohon yang ditanam oleh beliau berbuah kecuali satu pohon yang ditanam orang lain tadi. Maka, Nabi (saw) mencabutnya dan menanamnya kembali hingga berbuah. Dalam kitab al-Bazzar disebutkan bahwa semua pohon kurma itu berbuah kecuali satu. Maka, Nabi (saw) mencabutnya dan menanamnya kembali. Akhirnya pohon itu berbuah. Beliau juga memberinya emas sebesar telur ayam setelah dibacakan doa berkah. Lalu emas itu ditimbang. 40 ons diberikan kepada majikannya. Sementara masih tersisa padanya emas seberat yang ia berikan pada mereka. Peristiwa ini termasuk hal luar biasa yang pernah terjadi dalam kehidupan Salman (ra). Ia diriwayatkan oleh para imam yang terpercaya.

(159)

3.Ummu Malik (ibu dari Malik) memiliki sebuah kantong dari kulit yang ia isi dengan mentega. Ia memberikannya kepada Nabi (saw). Lalu Nabi (saw) memerintahkan Ummu Malik untuk tidak memeras kantong tersebut seraya menyerahkannya padanya. Ternyata ia penuh dengan mentega. Setiap kali anak-anak Ummu Malik tidak memiliki sesuatu, mereka datang kepada sang ibu dan mendapati mentega berada di dalam kantong tersebut. Hal itu berlangsung terus sampai akhirnya Ummu Malik memerasnya. Sejak itu mereka tidak lagi menemukan sesuatu di dalamnya.

Contoh Ketujuh:

Air yang tadinya pahit berubah menjadi manis dan segar serta menghembuskan aroma harum berkat doa dan sentuhan Nabi (saw). Berikut adalah sebagian contohnya:

1.Al-Baihaqi dan para imam hadis meriwayatkan bahwa sumur Quba kadang kala kering. Lalu beliau menuang bekas sisa wudhunya di sumur Quba. Setelah itu, sumur tersebut tidak pernah kering.

2.Abu Nu`aim dalam Dalâ’il an-Nubuwwah dan para perawi hadis meriwayatkan bahwa di dalam rumah Anas terdapat sebuah sumur. Kemudian Nabi (saw) meludah di dalamnya seraya berdoa. Sesudah itu, tidak ada di kota Madinah sumur yang lebih segar daripada sumur tersebut.

(160)

3.Ibnu Majah meriwayatkan bahwa Nabi (saw) diberi satu ember air zam-zam. Beliau meludahi air tersebut sehingga ia menjadi lebih harum daripada minyak kesturi.

4.Imam Ahmad ibn Hambal meriwayatkan bahwa Nabi (saw) diberi satu ember air dari sumur. Lalu beliau meniupnya kemudian menuang ke dalam sumur tadi. Seketika sumur tersebut lebih harum daripada minyak kesturi.

5.Hammâd ibn Salamah, salah seorang tokoh terpercaya yang Imam Muslim mengambil riwayat darinya, menceritakan bahwa Nabi (saw) mengisi sebuah wadah air setelah berdoa padanya. Kemudian beliau memberikan wadah tersebut kepada para sahabat mulia serta menyuruh mereka untuk membukanya hanya untuk berwudhu. Saat waktu shalat tiba, mereka membukanya, ternyata ia berisi susu segar berikut krim di atasnya.

Kelima contoh di atas sebagiannya sangat terkenal dan diriwayatkan oleh para imam terkemuka. Sejumlah riwayat tersebut berikut yang belum kami sebutkan, semuanya dalam bentuk mutawatir maknawi menegaskan mukjizat beliau secara sempurna.

(161)

Contoh Kedelapan:

Kambing yang susunya berlimpah berkat doa dan sentuhan Nabi (saw), padahal sebelumnya ia kering. Contohnya sangat banyak. Namun di sini kami hanya akan menyebutkan tiga riwayat saja yang cukup terkenal dan kuat.

1.Seluruh kitab sirah (riwayat hidup) yang bisa dipercaya menceritakan bahwa saat melakukan hijrah bersama Abu Bakar (ra), Rasul (saw) melewati tenda Âtikah binti Khalid al-Khuzâ`i yang dikenal dengan Ummu Ma’bad. Beliau pun singgah padanya. Ummu Ma’bad memiliki sejumlah kambing yang kurus kering tidak memiliki air susu. Kemudian Nabi (saw) bertanya, “Kambing ini tidak ada air susunya?” Ummu Ma’bad menjawab, “Darahnya saja tidak ada, apalagi air susunya.” Maka, Nabi (saw) mengusap punggungnya dan menyentuh susunya. Setelah itu beliau berkata, “Tolong ambil wadah dan perahlah!” Ketika diperah, ternyata ia mengeluarkan air susu. Nabi (saw) dan Abu Bakar (ra) meminum air susu tersebut. Sisanya yang terdapat di wadah diminum oleh mereka yang tinggal di kemah hingga semuanya kenyang. Begitulah kambing tersebut menjadi penuh berkah dan kuat.

2.Kisah kambing milik Ibnu Mas`ud (ra):

Ibnu Mas`ud (ra) meriwayatkan, “Aku mengembalakan kambing milik Uqbah ibn Abi Mu`ith. Tiba-tiba Rasulullah (saw) dan Abu Bakar (ra) lewat. Beliau bertanya, ‘Wahai fulan, apakah ada air susunya?’ ‘Ya, akan tetapi aku hanya pesuruh yang diberi amanah’, jawabku.

(162)

Beliau kembali bertanya, ‘Apakah ada kambing yang belum dikawini?’ Maka, aku pun membawa kambing yang dimaksud. Beliau mengusap susunya. Seketika air susunya keluar. Lalu susu tersebut diperah di sebuah tempat. Beliau meminumnya serta memberi sebagiannya kepada Abu Bakar...” Inilah yang menjadi sebab Ibnu Mas`ud (ra) masuk Islam.

3.Kisah kambing milik Halimah as-Sa’diyyah, ibu susu Nabi (saw). Kisahnya sangat terkenal. Ketika itu musim paceklik menimpa kampungnya sehingga semua kambing dalam kondisi kurus dan susunya kering. Sebab, kambing tersebut tidak mendapat makanan yang cukup. Ketika Rasul (saw) dibawa ke tempat Halimah as-Sa’diyyah, kambing Halimah mendapatkan makanan yang cukup sehingga air susunya banyak. Sementara kambing yang lain dalam kondisi sebaliknya. Hal itu tidak lain dan tidak bukan ialah keberkahan Rasulullah (saw).

Masih terdapat banyak contoh lain dalam kitab sirah, namun kami mencukupkan sampai di sini.

Contoh Kesembilan:

Kami akan menyebutkan sebagian dari sekian banyak contoh peristiwa luar biasa yang terjadi saat Rasul (saw) mengusap kepala dan wajah sebagian mereka dengan tangan beliau

(163)

serta doa yang beliau panjatkan untuk mereka:

1.Beliau mengusap kepala Umair ibn Sa’ad dan mendoakan keberkahan untuknya. Sebagai akibatnya, Umair meninggal dunia dalam usia 80 tahun tanpa beruban.

2.Beliau mengusap kepala Qais ibn Zaid al-Jadzâmi seraya mendoakan kebaikan untuknya. Hasilnya, Qais meninggal dunia dalam usia seratus tahun dan kepalanya memutih. Sementara tempat yang dipegang oleh Nabi (saw) dan rambut yang disentuh oleh beliau tetap hitam. Oleh karena itu, ia disebut “si belang.”

3.Beliau mengusap kepala Abdurrahman ibn Zaid ibn al-Khattab yang masih kecil dan jelek seraya mendoakan keberkahan untuknya. Maka, Abdurrahman bisa mengalahkan orang lain dari segi tinggi dan kesempurnaan fisik.

4.Beliau mengusap darah di wajah `Âidz ibn Amr yang terluka dalam perang Hunain. Nabi pun berdoa untuknya. Maka ia memiliki belang seperti belang kuda.

5.Beliau mengusap wajah Qatadah ibn Milhan. Maka wajahnya berkilau hingga terlihat seperti cermin.

6.Beliau memercikkan air wudhunya ke wajah Zainab binti Ummu Salamah yang masih kecil. Maka, tidak ada wanita yang wajahnya secantik Zainab.

(164)

Masih banyak lagi contoh seperti di atas yang diriwayatkan oleh para imam hadis. Secara keseluruhan, riwayat tersebut dianggap sebagai mutawatir maknawi serta menegaskan adanya mukjizat Muhammad (saw) secara mutlak. Bahkan, andaikan setiap hadis tersebut bersifat âhâd (perorangan) dan lemah, namun keseluruhannya menjadi seperti mutawatir maknawi. Sebab, seandainya sebuah kejadian atau peristiwa dinukil dalam beragam bentuk dan riwayat berbeda, ini berarti peristiwa tersebut pasti terjadi. Hanya saja, riwayat dan bentuknya beragam atau lemah.

Sebagai contoh:

Jika dalam sebuah pertemuan terdengar suara gemuruh, lalu ada yang berkata, “Rumah Fulan runtuh,” sementara yang lain berkata, “Rumah orang lain yang runtuh,” yang lain juga berkata, “Bukan, rumah fulan,” dan seterusnya. Setiap riwayat darinya meskipun bersifat ahad, lemah, atau bertentangan dengan fakta, namun kejadian aslinya tidak diragukan. Yaitu bahwa memang ada rumah yang runtuh. Dengan demikian, seluruh riwayat yang berasal dari Nabi (saw) menegaskan kepastian kejadiannya. Asal dan pokok peristiwanya disepakati. Sementara sejumlah kejadian parsial yang telah kami sebutkan merupakan riwayat sahih. Bahkan sebagian darinya mencapai derajat masyhur. Kalaupun kita anggap masing-masingnya lemah, namun keseluruhannya menunjukkan kepastian adanya mukjizat Muhammad (saw) itu sebagaimana riwayat dalam contoh di atas menunjukkan kepastian runtuhnya sebuah rumah.

Begitulah, setiap jenis mukjizat Muhammad (saw) yang cemerlang tidak diragukan keberadaannya. Sementara

(165)

pernik-perniknya hanyalah contoh dan gambaran yang beragam dari mukjizat yang bersifat mutlak tersebut.

Sebagaimana tangan, jari-jemari, liur, ludah, ucapan, dan doa beliau menjadi sumber bagi banyak mukjizat, maka seluruh perangkat halus, indra, dan organ tubuh beliau menjadi orbit dari berbagai kejadian menakjubkan. Sejumlah kitab sirah dan sejarah menerangkan berbagai kejadian tersebut serta menjelaskan banyak dalil kenabian yang terdapat dalam perilaku, fisik, organ tubuh, dan perasaan beliau (saw).

(166)

(167)

PETUNJUK KELIMA BELAS

Binatang, makhluk yang sudah mati, jin, dan malaikat mengenal sosok Nabi (saw) yang mulia. Masing-masing mereka memperlihatkan sebagian mukjizatnya sebagai bentuk pembenaran dan deklarasi terhadap kenabian beliau. Hal ini seperti yang diperlihatkan oleh batu, pohon, bulan, dan matahari. Mereka semua mengenal dan membenarkan kenabian beliau.

Petunjuk kelima belas ini meliputi tiga cabang:

Cabang Pertama:

Spesies binatang mengenal Nabi (saw) dan memperlihatkan mukjizatnya. Cabang ini memiliki banyak contoh. Di sini kami hanya akan menyebutkan sebagian riwayat yang terkenal dan dianggap mutawatir maknawi. Atau, dapat diterima oleh para ulama dan umat.

1.Peristiwa di gua yang dikenal luas sampai pada tingkat mutawatir maknawi. Yaitu bahwa saat Rasul (saw) berlindung di gua bersama Abu Bakar (ra) untuk menghindari kejaran orang-orang Quraisy, Allah menyuruh dua burung

(168)

merpati untuk bertengger di atas mulut gua. Dalam riwayat yang lain, laba-laba membuat jaring (sarang) menutupi pintu gua. Sehingga ketika Ubay ibn Khalaf—salah seorang tokoh Quraisy yang tewas di tangan Rasul (saw) di perang Badar—diminta oleh orang-orang Quraisy untuk masuk ke dalam gua, ia berkata, “Untuk apa? Di pintu gua terdapat sarang laba-laba. Kupikir ia sudah ada sebelum Muhammad (saw) dilahirkan.” Lalu dua burung merpati bertengger di atas mulut gua. Orang-orang Quraisy berkata, “Andaikan di dalam gua ada orang, tentu dua burung merpati ini tidak akan berada di depan pintunya.” Nabi (saw) mendengar pembicaraan mereka. Tidak lama sesudah itu mereka pergi.

Ibnu Wahab meriwayatkan bahwa burung merpati Mekkah menaungi Nabi (saw) saat Fathu Mekkah. Maka, Nabi (saw) mendoakan keberkahan untuk mereka.”

Aisyah g meriwayatkan, “Kami memiliki burung yang sering datang ke rumah. Kalau Rasulullah (saw) sedang di rumah, burung itu diam di tempatnya dan tidak kemana-mana. Namun apabila Rasulullah (saw) keluar rumah,

(169)

ia datang dan pergi.” Artinya, burung merpati tersebut menghormati Nabi (saw) sehingga bersikap tenang saat beliau ada.

2.Kisah serigala yang terkenal. Kisah ini diriwayatkan melalui banyak jalur sehingga dianggap mutawatir maknawi. Selain itu, kisah menakjubkan ini diceritakan dari sejumlah sahabat terkemuka, di antaranya Abu Said al-Khudri, Salamah ibn al-Akwa’, Ibnu Abi Wahab, Abu Hurairah, serta pemilik kisahnya, sang pengembala, Uhban. Mereka semua meriwayatkan lewat beragam jalur, yaitu bahwa saat seorang pengembala sedang mengembalakan kambingnya, tiba-tiba datanglah serigala menghadang salah seekor kambing darinya. Segera saja si pengembala mengambil kambing tadi darinya. Serigala itu pun jongkok dan berkata kepada si pengembala, “Tidakkah engkau takut kepada Allah. Engkau telah menghalangiku untuk mendapatkan rezekiku.” Sang pengembala terkejut seraya berkata, “Sungguh aneh, serigala bisa berbicara seperti manusia! Serigala tersebut kembali berkata, “Maukah aku tunjukkan yang lebih aneh dari itu?” Rasulullah (saw) di Madinah menjelaskan berita tentang masa lalu kepada manusia. Pintu-pintu surga telah dibuka untuknya. Beliau mengajak kalian kepadanya.”

(170)

Meskipun semua jalur sepakat mengakui kemampuan berbicara serigala tersebut, namun jalur yang paling kuat adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah (ra). Di dalamnya disebutkan bahwa si pengembala bertanya, “Aku mau pergi ke Madinah, tetapi siapa yang mau mengembala kambingku?” “Aku yang akan mengembalakannya sampai engkau pulang,” ujar serigala tadi. Maka, orang itu pun menyerahkan kambing gembalaannya kepada serigala. Ia pun pergi. Lalu ia bertemu Rasul (saw), dan beriman. Pengembala tersebut kemudian pulang. Ternyata serigala tadi benar-benar menjadi pengembala yang amanah. Kambingnya tidak berkurang. Maka, si pengembala menyembelih seekor kambing untuknya sebagai imbalan atas petunjuk yang diberikannya.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abu Sufyan ibn Harb dan Shafwan ibn Umayyah menemukan serigala yang memburu kijang. Namun kijang itu masuk ke tanah Haram sehingga serigala tadi pergi. Keduanya takjub melihat hal tersebut. Lalu serigala itu berkata, “Yang lebih menakjubkan adalah Muhammad ibn Abdullah di Madinah. Beliau mengajak kalian masuk surga.” Saat itu Abu Sufyan berkata, “Demi Lata dan Uzza, jika engkau menceritakan kepada penduduk Mekkah, tentu ia akan kosong (karena masuk Islam).”

(171)

Dapat disimpulkan bahwa kisah serigala tersebut meyakinkan dan dapat dipercaya seperti riwayat yang mutawatir maknawi.

3.Kisah Unta yang diriwayatkan lewat lima atau enam jalur dari sejumlah sahabat terkemuka: Abu Hurairah, Tsa’labah ibn Malik, Jabir ibn Abdullah, Abdullah ibn Ja’far, Abdullah ibn Abi Awfâ, serta yang lainnya. Mereka semua menyatakan bahwa seekor unta mendatangi Nabi (saw) lalu melakukan sujud penghormatan di hadapan beliau dan berbicara dengan beliau. Dalam sejumlah riwayat lain, mereka menceritakan bahwa unta tersebut mengamuk di sebuah kebun. Tidak ada seorangpun yang masuk ke dalamnya kecuali membuatnya marah. Namun ketika Rasul (saw) datang, ia meletakkan bibirnya di tanah, lalu berlutut. Maka, beliau memasang tali kendali di kepalanya.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi (saw) bertanya kepada mereka tentang unta tersebut. Mereka mengatakan ingin menyembelihnya.”

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi (saw) bersabda, “Unta itu mengadu kepadaku bahwa kalian hendak menyembelihnya setelah kalian mempekerjakan ia untuk melakukan pekerjaan berat sejak kecil.” “Ya benar,” jawab mereka.

Selain itu, unta Nabi (saw) yang bernama “al-Adhbâ” tidak mau makan dan minum setelah Nabi (saw) meninggal

(172)

dunia hingga ia mati. Abu Ishaq al-Asfarâ’iny menceritakan kisah al-Adhbâ serta bagaimana ia berbicara dengan Nabi (saw) dalam sebuah persoalan penting.

Dalam hadis sahih disebutkan bahwa unta Jabir ibn Abdullah al-Ansari mengalami kepayahan sehingga tidak mampu melanjutkan perjalanan. Lalu Nabi (saw) menyentuh punggungnya dengan pelan. Seketika unta itu pun kembali bersemangat seolah tak bisa ditahan.” Hal itu lantaran sikap lembut beliau kepadanya.

4.Al-Bukhari dan para imam hadis lain meriwayatkan, “Pada suatu malam penduduk Madinah dikejutkan dengan sebuah suara. Maka, mereka pergi menuju sumber suara itu. Namun di jalan mereka bertemu dengan Rasul (saw) yang baru kembali. Beliau sudah lebih dulu menuju suara tersebut. “Tidak apa-apa,” ujar beliau. Beliau menceritakan kuda milik Abu Thalhah. Beliau berkata kepada Abu Thalhah, “Kudamu sangat hebat.” Tadinya ia berjalan lambat. Namun sejak malam itu kuda tersebut tidak terkejar.

Dalam riwayat sahih disebutkan pula bahwa dalam sebuah perjalanan saat hendak shalat, Rasul (saw) berkata kepada kudanya, “Bârakallah. Jangan pergi kemana-mana sampai kami selesai shalat!” Beliau menempatkan kuda tersebut di depannya. Maka, kuda itu pun tidak

(173)

menggerakkan anggota badannya sampai beliau selesai shalat.

5.Singa yang dibuat jinak saat berhadapan dengan Safinah (ra), pelayan Rasulullah (saw). Tepatnya ketika Safinah ditugaskan menemui Muadz di Yaman. Di tengah jalan ia bertemu dengan seekor singa. Ia pun memperkenalkan diri sebagai pelayan Rasulullah (saw) yang sedang membawa surat dari beliau. Mendengar hal itu, singa tadi menderum lalu pergi. Di sebutkan bahwa pada saat pulang ia mengalami hal yang sama. Dalam riwayat lain, saat pulang Safinah tersesat jalan dan melihat singa. Ia berkata, “Singa itu memberi isyarat kepadaku dengan bahunya sehingga mengembalikanku ke jalan semula.”

Diriwayatkan dari Umar (ra) bahwa Rasulullah (saw) sedang berkumpul bersama para sahabat. Tiba-tiba seorang Arab Badui datang. Orang itu bertanya, “Siapa dia?” “Nabi Allah,” jawab mereka. Arab Badui itu kembali bertanya, “Demi Lata dan Uzza, aku tidak akan beriman kepadamu kecuali biawak ini beriman.” Ia kemudian melempar biawak tadi ke hadapan Nabi (saw). Maka Nabi (saw) berkata, “Wahai biawak!” Biawak tersebut menjawab dengan jelas sehingga bisa didengar oleh semua orang. Ia berkata, “Kusambut panggilanmu...” Seketika itu orang Arab Badui itu pun beriman.

(174)

Ummu Salamah g meriwayatkan, “Suatu ketika Nabi (saw) berada di padang pasir. Lalu seekor kijang memanggil beliau, “Wahai Rasulullah! (sampai akhir hadis).” Maka, kijang itu pun pergi seraya mengucap dua kalimat syahadat.”

Begitulah. Terdapat sangat banyak contoh seperti di atas. Kami hanya menyebutkan yang sudah dikenal saja.

Oleh karena itu, wahai manusia! Wahai yang tidak mengenal dan menaati Rasul (saw)! Ambillah pelajaran! Serigala dan singa mengenal dan menaati Rasul (saw), maka berusahalah agar engkau tidak jatuh ke dalam posisi yang lebih rendah daripada serigala dan singa.

Cabang Kedua:

Kondisi orang yang sudah mati, jin, dan malaikat yang mengenal Rasul (saw). Hal ini sering terjadi. Kami akan menyebutkan sebagiannya seperti yang disebutkan oleh para imam yang terpercaya sebagai contoh. Pertama-tama, kami akan menyebutkan contoh orang yang sudah mati. Adapun jin dan malaikat contohnya mutawatir dan sangat banyak.

1.Imam Hasan al-Bashri—penghulu para ulama zahir dan batin dan salah seorang murid kepercayaan Imam Ali di masa tabi`in—meriwayatkan, “Seorang lelaki mendatangi Nabi (saw) dalam keadaan menangis. Orang tersebut mengatakan bahwa ia telah membuang anak perempuannya yang mati di sebuah lembah.” Mendengar hal itu, Nabi (saw) merasa iba. Maka, beliau pergi bersamanya menuju lembah yang dimaksud. Rasul (saw) memanggil mayat tersebut

(175)

dengan namanya, “Wahai Fulanah, jawablah dengan izin Allah!” Tiba-tiba ia keluar seraya berkata, “Ya aku datang.” Nabi (saw) berujar kepadanya, “Kedua orang tuamu telah masuk Islam. Jika engkau mau, aku akan mengembalikanmu kepada mereka.” Namun ia menjawab, “Aku tidak butuh mereka. Bersama Allah lebih baik bagiku daripada bersama mereka.”

2.Imam al-Baihaqi dan Imam Ibnu `Adiy meriwayatkan dari Anas bahwa seorang pemuda dari kalangan Anshar meninggal dunia. Ia memiliki seorang ibu yang sudah tua dan buta. Sementara ia adalah anak satu-satunya. Maka, kami pun menghiburnya. Sang ibu berkata, “Wahai anakku!” “Ya,” jawab kami. Ibu itu melanjutkan, “Ya Allah, aku berhijrah ke Madinah demi ridha-Mu dan mengabdi serta berbaiat kepada Nabi-Mu. Aku mohon Engkau bisa menolong kesulitanku, maka jangan bebani diriku dengan musibah ini.” Seketika pemuda itu hidup lagi dan makan bersama kami.”

Peristiwa menakjubkan ini telah disebutkan oleh Imam al-Bushayri dalam qasidahnya:

Kalau bukti-buktinya yang agung sejalan dengan takdir-Nya

Cukuplah tulang yang hancur dihidupkan

dengan menyebut namanya

3.Imam al-Baihaqi dan yang lain meriwayatkan dari Abdullah ibn Ubaidillah al-Anshari yang berkata, “Aku termasuk yang ikut menguburkan Tsabit ibn Qays yang terbunuh

(176)

di Yamamah. Ketika dimasukkan ke dalam kubur, kami mendengarnya berkata, ‘Muhammad Rasulullah, Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar asy-Syahîd, Utsman yang berbakti dan penyayang.’ Kami melihatnya, ternyata ia tetap dalam kondisi mati.” Ia memberitahukan tentang mati syahidnya Umar sebelum menjadi khalifah.

4.Imam ath-Thabrani dan Abu Nu`aim dalam kitab Dalâ’il an-Nubuwwah meriwayatkan dari Nu’man ibn Basyîr bahwa Zaid ibn Kharijah jatuh dan mati di salah satu gang di kota Madinah. Maka ia segera diangkat dan dikafani. Namun antara maghrib dan isya manakala para wanita bersuara keras di sekitarnya ia berkata, “Diamlah! Diamlah!” Ia membuka wajah seraya berujar, “Muhammad adalah utusan Allah...” Selanjutnya ia berkata, “Salam untukmu wahai Rasulullah.” Setelah itu, ia kembali mati seperti semula.

Jika orang mati saja membenarkan kerasulan Muhammad (saw), lalu bagaimana kondisi orang yang hidup jika tidak membenarkan beliau? Bukankah orang-orang yang hidup dan malang itu lebih mati daripada orang mati di atas?!

Selanjutnya, kondisi malaikat yang melayani dan menampakkan diri kepada Nabi (saw), serta keimanan dan kepatuhan jin kepada beliau merupakan sesuatu yang valid dalam bentuk

(177)

mutawatir. Al-Qur’an al-Karim menegaskan hal itu dalam banyak ayatnya. Terdapat lima ribu malaikat yang taat kepada perintah beliau sama seperti para sahabat yang mulia dalam perang Badar sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an. Bahkan para malaikat itu mendapatkan kehormatan untuk ikut serta dalam perang seperti para sahabat yang berjuang dalam perang Badar.

Dalam persoalan ini terdapat dua aspek:

Pertama, keberadaan jin dan malaikat berikut hubungan mereka dengan kita. Hal ini benar-benar nyata sebagaimana keberadaan binatang dan manusia yang tidak diragukan. Kami telah menegaskan hal ini dengan sangat meyakinkan dalam ‘Kalimat Kedua Puluh Sembilan’. Para pembaca bisa merujuk kepadanya.

Kedua, adanya sejumlah orang yang melihat dan berbicara dengan malaikat dan jin lewat kehormatan berafiliasi dengan Rasulullah (saw) dan sebagai bentuk penampakan terhadap salah satu bukti mukjizat beliau.

Al-Bukhari dan Muslim serta para imam hadis meriwayatkan:

عن عمر رضي الله عنه قال: بينما نحن جلوسٌ عند رسول الله ﷺ ذات يوم إذ طلع علينا رجلٌ شديدُ بياض الثياب شديد سواد الشعر لا يُرى عليه أثرُ السفر ولا يعرفه منا أحدٌ حتى جلس إلى النبي ﷺ

(178)

فسأله عن الإسلام والإيمان والإحسان وقد عرّف له الرسول ﷺ كلاً مما سأل. «ثم قال: يا عمر أتدري مَن السائل، قلتُ: الله ورسوله أعلم، قال: فإنه جبريل أتاكم يعلّمكم دينَكم

Dari Umar (ra), ia berkata, “Pada suatu hari ketika kami sedang duduk dengan Rasulullah (saw), tiba-tiba datanglah seseorang yang berpakaian sangat putih dan berambut sangat hitam. Tidak ada tanda bahwa ia datang dari perjalanan jauh dan tidak ada pula di antara kami yang mengenalnya. Kemudian orang itu duduk di dekat Nabi (saw)...” Ia bertanya tentang Islam, iman, dan ihsan. Rasul (saw) menjelaskan setiap persoalan yang ia tanyakan. Setelah itu beliau berkata, “Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya tadi?” “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui,” jawab Umar. Beliau bersabda, “Ia adalah Jibril. Ia datang untuk mengajarkan agama kepada kalian.”

Diriwayatkan secara sahih dan mutawatir maknawi seperti yang disebutkan oleh para imam hadis bahwa para sahabat sering melihat Jibril (as) di dekat Nabi (saw) dalam wujud Dihyah al-Kalbi (ra), sahabat yang berparas tampan. Di antaranya adalah Umar, Ibnu Abbas, Usamah, Harits, Aisyah, dan Ummu Salamah f. Mereka berkata, “Kami sering melihat Jibril di dekat Nabi (saw) dalam wujud Dihyah al-Kalbi.

(179)

Mungkinkah mereka mengaku melihat sesuatu, kalau sebenarnya mereka tidak melihatnya?!

Diriwayatkan dengan sanad sahih dari Sa’ad ibn Abi Waqqas—salah seorang sahabat yang diberi kabar gembira masuk surga sekaligus Penakluk Persia—yang berkata, “Dalam perang Uhud kami melihat Rasul (saw) didampingi oleh Jibril di sisi kanan dan Mikail di sisi kiri dalam sosok dua orang berpakaian putih. Mereka laksana pengawal yang menjaga beliau.” Jika salah seorang pahlawan Islam seperti Sa’ad mengaku melihat, mungkinkah yang terjadi malah sebaliknya?

Kemudian Abu Sufyan ibn al-Harits ibn Abdul Muttalib—sepupu Rasulullah (saw)—pada saat perang Badar melihat sejumlah lelaki berseragam putih yang sedang menunggang kuda belang berada di antara langit dan bumi.

Nabi (saw) pernah memperlihatkan Jibril (as) kepada Hamzah di Ka’bah. Seketika ia jatuh pingsan.

Contoh peristiwa terlihatnya malaikat sangat banyak. Seluruh kejadiannya memperlihatkan satu jenis kemukjizatan Muhammad (saw) sekaligus menunjukkan bahwa malaikat terbang seperti laron mengitari cahaya kenabian beliau.

Kemudian peristiwa bertemu dan melihat jin sangat sering terjadi. Kondisi ini dialami oleh masyarakat secara

(180)

umum, apalagi para sahabat. Hanya saja, para imam hadis menukil sejumlah riwayat yang paling sahih dan paling kuat kepada kita.

Abdullah ibn Mas`ud melihat jin serta mendengar pembicaraan mereka pada malam ketika para jin mendapatkan hidayah di Batn an-Nakhl (lembah kurma). Ia menyerupakan mereka dengan suku bangsa Zuth. Yaitu orang-orang tinggi yang berasal dari Sudan.

Kemudian peristiwa terkenal yang dinukil dan diriwayatkan oleh para imam hadis. Yaitu saat menebang pohon al-Uzza, Khalid ibn al-Walid membunuh wanita hitam yang keluar menemuinya dengan mengurai rambutnya dalam kondisi telanjang. Dengan pedangnya, Khalid membelahnya menjadi dua lalu memberitahukan kepada Nabi (saw). Beliau berkata, “Ia adalah al-Uzza.” Sebelumnya orang-orang menyembahnya sedang ia berada di dalam patung al-Uzza. Sejak itu ia tidak akan disembah lagi.

Umar ibn al-Khattab (ra) berkata, “Ketika sedang duduk bersama Nabi (saw), tiba-tiba seorang tua yang membawa tongkat datang. Ia memberi salam kepada Nabi (saw). Nabi (saw) pun menjawabnya. Beliau berkata, “Wahai Jin, engkau siapa?” “Hâmah,” jawabnya. Dalam hadis yang panjang, Nabi (saw) mengajarinya sejumlah surah al-Qur’an. Peristiwa ini meskipun

(181)

banyak dikritik oleh para ahli hadis, hanya saja para imam lain menyatakan sahih. Sepertinya kita tidak perlu berpanjang lebar dalam hal ini. Contohnya sangat banyak.

Kami juga ingin menegaskan bahwa mereka yang mendapat cahaya Nabi (saw), dididik dengan tarbiyah beliau, serta mengikuti jejak beliau di mana jumlah mereka lebih dari ribuan, seperti Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dari kalangan para wali, demikian pula para ulama telah berjumpa dengan malaikat dan jin serta berbicara dengan mereka. Riwayat tentang ini mutawatir, banyak, dan valid.

Ya, pertemuan umat Muhammad (saw) dengan malaikat dan jin serta kemampuan berbicara dengan mereka merupakan salah satu bukti tarbiyah kenabian sekaligus petunjuknya yang luar biasa.

(182)

Cabang Ketiga:

Perlindungan dan penjagaan yang Allah berikan kepada Nabi (saw) dari gangguan manusia merupakan mukjizat cemerlang dan hakikat nyata yang disebutkan oleh al-Qur’an dalam firman-Nya:

وَاللّٰهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ

“Allah melindungi kamu dari (gangguan) manusia.” (QS. al-Mâidah [5]: 67).

Pada ayat di atas terdapat banyak mukjizat. Sebab, ketika Rasul (saw) mendeklarasikan kenabiannya, beliau tidak hanya menghadapi satu kelompok, satu kaum, satu komunitas, dan sejumlah penguasa tertentu. Namun, beliau menghadapi seluruh penguasa dan seluruh pemeluk agama. Beliau menghadapi semua, sementara tidak ada yang menjaga beliau kecuali Allah. Bahkan, paman beliau juga menunjukkan permusuhan. Kaum dan kabilahnya juga menjadi musuh bagi beliau. Namun demikian, selama 23 tahun beliau berjalan tanpa pengawal dan penjaga meskipun menghadapi banyak bahaya dan resiko. Allah telah menjaga dan melindunginya dari (gangguan) manusia sampai beliau meninggal dunia dengan sangat tenang. Semua ini menunjukkan kepada kita—dengan terang seterang mentari di siang bolong—sejauh mana kebenaran yang terkandung dalam ayat di atas, “Allah melindungi kamu dari (gangguan) manusia” serta sejauh mana ia menjadi titik sandaran beliau.

Kami akan menyebutkan sejumlah peristiwa yang sangat valid dan kami ketengahkan ia sebagai contoh:

(183)

1.Para penulis sirah (riwayat hidup) dan hadis menyebutkan bahwa ketika kaum Quraisy sepakat membunuh Nabi (saw), Iblis datang dalam bentuk orang tua lanjut usia yang memberikan petunjuk kepada mereka agar diambil seorang pemuda dari setiap kabilah (untuk membunuh beliau) sehingga tidak terjadi konflik di antara mereka. Akhirnya, terkumpul sekitar dua ratus orang dipimpin Abu Jahal dan Abu Lahab untuk pergi menuju rumah Nabi (saw). Ketika itu, beliau bersama Ali (ra). Beliau menyuruhnya untuk tidur di tempat tidur beliau. Rasul (saw) menunggu mereka hingga kaum Quraisy datang dan mengepung rumah beliau. Kemudian Rasul (saw) keluar dari rumahnya dan menaburkan tanah di kepala mereka, sehingga kaum Quraisy tidak melihatnya dan beliau pun selamat dari kejahatan mereka.

Demikian pula perlindungan yang Allah berikan di gua sehingga mereka tidak melihat beliau lewat sejumlah tanda kekuasaan, laba-laba yang membuat sarang atau jaring di mulut gua, serta dua burung merpati bertengger di depan gua.

2.Kisah Suraqah ibn Malik saat hijrah. Quraisy menjanjikan hadiah bagi siapa saja yang dapat menangkap Rasul (saw) dan Abu Bakar (ra). Ia menunggang kudanya dan mengikuti beliau. Ketika sudah dekat, Nabi (saw) berdoa sehingga

(184)

kaki kuda yang ia tunggangi goyah dan ia pun terjatuh darinya. Lalu ia naik lagi dan mendekat hingga mendengar bacaan al-Quran Nabi (saw) yang tidak menoleh. Hanya Abu Bakar yang menoleh. Abu Bakar (ra) berkata kepada Nabi (saw), “Kita dikejar.” “Jangan khawatir, Allah bersama kita,” ujar Nabi (saw) seperti yang beliau katakan saat berada di dalam gua. Untuk kedua kalinya kuda Suraqah jatuh sehingga ia terpental darinya. Kemudian kudanya bangkit dan kakinya seperti berasap. Akhirnya ia memanggil mereka dengan sikap damai. Nabi pun membiarkannya pergi seraya menyuruhnya agar jangan sampai ada lagi yang mengikuti mereka. Setelah itu ia kembali.

Dalam riwayat lain disebutkan adanya seorang pengembala yang mengetahui keberadaan mereka berdua. Ia pun pergi untuk memberitahu bangsa Quraisy. Namun ketika memasuki Mekkah, ia dibuat lupa. Ia pun menjadi tidak tahu apa yang harus diperbuat dan lupa kepada tujuan kepergiannya hingga kembali ke tempat semula. Setelah di sana barulah ia sadar kalau dirinya dibuat lupa.

3.Para imam ahli hadis meriwayatkan lewat banyak jalur bahwa dalam perang Ghathfan dan Anmâr, pemimpin kabilahnya, Ghaurats ibn al-Harits al-Muhâribi, ingin membunuh Nabi (saw). Sementara beliau tidak menyadari hal tersebut. Tiba-tiba Ghaurats berada di hadapan beliau seraya menghunus pedang. Seketika beliau berdoa, “Ya Allah lindungi aku darinya dengan cara yang Kau kehendaki.”

(185)

Seketika ia terjatuh akibat sakit di punggung dan pedang itu pun jatuh dari tangannya.”

Diriwayatkan pula bahwa Nabi (saw) pernah didatangi seorang Arab Badui. Tiba-tiba Arab Badui itu mengambil pedangnya seraya berkata, “Siapa yang dapat melindungimu dariku?” “Allah,” ujar Nabi (saw). Seketika tangannya gemetar dan pedang itu pun jatuh. Lalu Nabi (saw) mengambil pedang tersebut dan berkata, “Sekarang siapa yang bisa melindungimu?” Beliau memaafkannya sehingga bisa kembali kepada kaumnya. Setiba di sana ia berkata, “Aku baru saja bertemu dengan manusia terbaik.” Cerita seperti itu juga pernah terjadi pada beliau di perang Badar. Ketika itu beliau sedang memisahkan diri dari para sahabat untuk buang hajat. Lalu salah seorang munafik mengikuti beliau. Dalam peristiwa tersebut disebutkan bahwa orang munafik itu sudah mengangkat pedangnya untuk membunuh Rasulullah (saw). Namun saat ditatap oleh beliau, orang itu gemetar dan pedangnya pun jatuh.

4.Para imam ahli hadis menceritakan dalam riwayat yang terkenal dan nyaris mutawatir di mana ia juga disebutkan oleh sebagian besar ulama ahli tafsir bahwa sebab turunnya ayat yang berbunyi:

اِنَّا جَعَلْنَا فٖٓى اَعْنَاقِهِمْ اَغْلَالًا فَهِىَ اِلَى الْاَذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ ۝ وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ اَيْدٖيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَاَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ

(186)

Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu dileher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (QS. Yâsîn [36]: 8-9)

adalah ketika Abu Jahal bersumpah bahwa jika ia melihat Muhammad (saw) sedang sujud, ia akan memukulnya dengan batu. Maka ia pun datang membawa sebuah batu saat Nabi (saw) sedang sujud. Kaum Quraisy yang lain melihat peristiwa itu. Namun ketika ingin melemparkan batu itu kepada beliau, batu itu menempel di tangannya dan kedua tangannya pun kaku dengan berada di leher. Setelah menyelesaikan shalatnya, Rasul (saw) pergi. Tangan Abu Jahal juga kembali seperti semula. Hal ini entah berkat izin Nabi (saw) atau karena tidak diperlukan lagi.

Al-Walid ibn al-Mughirah pernah mendatangi Nabi (saw) untuk membunuhnya dengan sebuah batu besar. Namun Allah menutup penglihatannya sehingga tidak bisa melihat beliau dan hanya mendengar suaranya. Lalu ia kembali kepada para sahabatnya. Namun ia tidak bisa

(187)

melihat mereka sehingga mereka pun memanggilnya. Setelah Rasul (saw) keluar dari masjid, penglihatannya kembali pulih karena tidak diperlukan lagi.

Diriwayatkan dari Abu Bakar (ra) bahwa ketika turun surah al-Lahab:

تَبَّتْ يَدَٓا اَبٖى لَهَبٍ

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab...”

Ummu Jamil, isteri Abu Lahab, yang diberi julukan “si pembawa kayu bakar” datang menemui Rasulullah (saw) yang sedang duduk di masjid. Ketika itu beliau bersama Abu Bakar. Ummu Jamil datang sambil membawa sekepal batu. Ketika berdiri di hadapan keduanya yang ia lihat hanya Abu Bakar. Allah membuatnya tak bisa melihat Nabi (saw). Seketika ia berkata, “Wahai Abu Bakar, mana sahabatmu? Aku mendengar ia mengejekku. Demi Allah, andai kutemukan, pasti kulempar mulutnya dengan batu ini.”

Ya, pembawa kayu bakar jahannam itu sudah pasti tidak bisa melihat penguasa agung seperti itu di mana secara khusus Allah berikan kepada beliau kedudukan yang mulia.

5.Lewat riwayat sahih terdapat hadis bahwa Amir ibn Thufail dan Arbad ibn Qays datang menemui Nabi (saw) untuk mencelakai beliau. Ketika itu Amir berkata kepada

(188)

Arbad, “Aku akan membuatnya sibuk. Nah, ketika itu engkau bisa memukulnya.” Namun, Amir tidak melihat Arbad melakukan sesuatu. Ketika ditanya mengapa demikian, ia menjawab, “Demi Allah, ketika aku hendak memukulnya kulihat engkau berada di hadapanku. Apa engkau mau aku memukulmu?”

6.Dalam riwayat sahih disebutkan bahwa Syaibah ibn Utsman al-Hajbi mendapati Nabi (saw) pada perang Hunain atau Uhud. Ayah dan pamannya telah dibunuh oleh Hamzah (ra). Ia berkata, “Sekarang aku bisa melakukan balas dendam kepada Muhammad.” Ketika kedua pasukan sudah mulai beraduk, ia mendatangi Nabi (saw) dari belakang lalu mengangkat pedang untuk menghantam beliau. Namun ia berkata, “Nabi (saw) menyadari hal tersebut. Ia malah memanggilku dan meletakkan tangannya di dadaku. Beliaulah orang yang paling kubenci ketika itu. Namun saat mengangkat tangannya, beliau menjadi orang yang paling kucintai. Beliau berkata, ‘Mendekatlah dan berperanglah!’ Maka aku pun berada di hadapan beliau. Dengan pedang ini, aku menebas musuh dan melindungi beliau. Andaikan pada saat itu aku bertemu dengan ayahku, tentu aku juga akan menghabisinya demi membela beliau.”

Fudhalah ibn Amr berkata,” Aku pernah hendak membunuh Nabi (saw) pada saat Fathu Mekkah ketika beliau

(189)

bertawaf di Ka’bah. Saat aku mendekatinya, beliau malah bertanya, “Engkau Fudhalah?” “Ya,” jawabku. “Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya beliau. “Tidak ada,” ujarku lagi. Seketika beliau tertawa dan meletakkan tangannya di dadaku. Hatiku menjadi demikian tenteram. Demi Allah, ketika beliau mengangkat tangannya, tidak ada makhluk Allah yang lebih kucintai daripada diri beliau.”

7.Dalam riwayat sahih disebutkan bahwa orang-orang Yahudi bersekongkol untuk membunuh beliau saat beliau duduk bersandar ke sebuah tembok. Salah seorang dari mereka bangkit untuk menjatuhkan sebuah batu ke atas kepala beliau. Namun tiba-tiba Nabi (saw) bangkit dan pergi. Rencana mereka pun gagal dengan pengawasan Allah terhadap beliau.

Ada banyak peristiwa lainnya yang serupa dengan peristiwa di atas. Imam Bukhari, Muslim, dan para imam lain meriwayatkan dari Aisyah g yang berkata, “Nabi (saw) dikawal hingga turun ayat yang berbunyi:fdff

وَاللّٰهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ

“Allah melindungi kamu dari (gangguan) manusia.” (QS. al-Mâidah [5]: 67).

Ketika itu, Rasulullah (saw) mengeluarkan kepalanya dari kemah seraya berkata, ‘Wahai para pengawal, pergilah. Tuhanku telah melindungiku.’”

(190)

Risalah ini dari awal hingga akhir menjelaskan bahwa setiap spesies makhluk dan setiap alamnya mengenali Nabi (saw) serta memiliki relasi dengan beliau. Semuanya memperlihatkan mukjizat beliau lewat setiap spesies yang ada. Dengan kata lain, Nabi (saw) merupakan utusan Allah sebagai Tuhan semesta alam.

Ya, seorang pegawai penting dan inspektur yang memiliki kedudukan tinggi di sisi penguasa, pasti dikenali oleh setiap jajaran negara. Ketika mendatangi setiap bagiannya, ia akan mendapatkan sambutan hangat. Pasalnya, ia adalah staf dari pemimpin tertinggi. Andaikan menjadi inspektur pengadilan semata, maka ia hanya mendapat sambutan di jajaran pengadilan; sementara yang lain tidak mengenalinya dengan baik. Andaikan ia inspektur umum pasukan, tentu jajaran lain tidak mengenalnya. Sementara dari berbagai contoh di atas dapat dipahami bahwa seluruh jajaran kekuasaan ilahi mengenali Nabi (saw) dengan baik. Atau, Allah memperkenalkan beliau kepada mereka, mulai dari malaikat hingga lalat dan laba-laba. Dengan demikian, sudah pasti beliau adalah penutup para nabi dan utusan Tuhan semesta alam. Serta sudah pasti risalah beliau berlaku umum untuk seluruh alam; tidak hanya khusus untuk satu umat seperti nabi dan rasul yang lain.

(191)

PETUNJUK KEENAM BELAS

£(Irhâsât)

rhâsât adalah sejumlah peristiwa luar biasa yang terjadi sebelum beliau diutus sebagai nabi. Ia termasuk di antara bukti kenabian karena terkait dengannya. Irhâsât ini terdiri dari tiga jenis:

Jenis Pertama:

Informasi Taurat, Injil, Zabur, dan suhuf para nabi (saw) tentang kenabian Muhammad (saw) seperti yang disebutkan oleh teks al-Qur’an.

Ya, selama kitab-kitab tersebut merupakan kitab suci (samawi) dan pemiliknya adalah para nabi yang mulia, tentu informasinya tentang sosok yang lewat cahaya yang ia bawa akan menerangi separuh dunia, akan menghapus berbagai agama, dan akan mengubah peradaban umat manusia, maka informasi tentang sosok penuh berkah yang disebutkan oleh kitab-kitab itu sangat penting dan valid. Mungkinkah kitab yang menceritakan hal-hal detail itu tidak menyebutkan kejadian terpenting dalam sejarah umat manusia? Yaitu pengangkatan

(192)

Muhammad (saw) sebagai nabi?! Kalau kitab-kitab suci itu membahasnya, bisa saja ia mendustakan kenabian Muhammad guna menjaga agama dan kitab sucinya sendiri agar tidak diganti, atau justru dipercaya. Yakni dengan mempercayai Nabi yang benar itu guna menjaga agama dan kitab sucinya dari infiltrasi khurafat dan berbagai pemalsuan. Dalam hal ini—baik kawan maupun lawan—semuanya tidak menemukan satu pun petunjuk dalam kitab suci itu yang mendustakannya. Dengan demikian, yang ada hanyalah petunjuk yang membenarkannya. Nah, selama pembenaran atasnya bersifat mutlak, lalu di sisi lain terdapat alasan kuat dan sebab fundamental yang mengharuskan adanya pembenaran ini, maka tugas kami adalah menguatkan pembenaran tersebut dengan tiga argumen yang meyakinkan:

Argumen Pertama

Rasul (saw) membacakan kepada mereka sejumlah ayat untuk menantang mereka. Seolah-olah lewat lisan al-Qur’an beliau berkata, “Kitab suci kalian membenarkan karakter dan sifat-sifat yang kumiliki serta mengakui informasi yang kusampaikan kepada seluruh alam.”

قُلْ فَاْتُوا بِالتَّوْرٰيةِ فَاتْلُوهَٓا اِنْ كُنْتُمْ صَادِقٖينَ

“Katakanlah (Muhammad), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah ia jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Âli Imrân [3]: 93).

(193)

قُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ اَبْنَٓاءَنَا وَاَبْنَٓاءَكُمْ وَنِسَٓاءَنَا وَنِسَٓاءَكُمْ وَاَنْفُسَنَا وَاَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَةَ اللّٰهِ عَلَى الْكَاذِبٖينَ

“Maka katakanlah (kepadanya), ‘Marilah memanggil anak-anak kami dan anak-anak kalian, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kalian, diri kami dan diri kalian; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (QS. Âli Imrân [3]: 61).

Meskipun tantangannya demikian jelas, tidak ada satu pun rahib Yahudi ataupun pendeta Nasrani yang membantah pernyataan Nabi (saw). Seandainya ada sesuatu yang bertentangan dengan pernyataan Nabi (saw), meskipun kecil, tentu kaum kafir dan munafik dari kalangan Yahudi yang keras kepala dan dengki itu akan mengungkapnya. Jumlah mereka cukup banyak di setiap tempat dan waktu.

Jadi, terkait dengan tantangan di atas, entah mereka menemukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah yang Nabi sampaikan, atau mereka akan menghadapinya dengan jihad yang tak mengenal kasih. Nah karena tak mampu mendatangkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang beliau sampaikan, akhirnya mereka memilih untuk melakukan peperangan, perusakan, dan hijrah. Dengan kata lain, mereka tidak menemukan sesuatu yang bisa dijadikan sebagai pegangan. Andaikan mereka menemukan sesuatu yang berlawanan dengan pernyataan beliau, tentu mengungkapnya lebih

(194)

mudah bagi mereka daripada harus mengorbankan jiwa, harta, dan menghancurkan negeri.

Argumen Kedua

Ayat-ayat dalam Taurat, Injil, dan Zabur, telah bercampur dengan sejumlah kalimat asing karena terus-menerus diterjemahkan, serta karena komentar dan interpretasi para mufassirnya yang keliru telah berbaur di dalamnya. Karena ayat-ayatnya tidak mengandung aspek kemukjizatan seperti yang terdapat dalam al-Qur’an, di samping berbagai penyimpangan yang dilakukan kalangan bodoh dan orang-orang yang memiliki tujuan buruk, maka perubahan yang terjadi padanya semakin bertambah. Bahkan seorang ulama yang terkenal, Rahmatullah al-Hindi, membungkam ulama Yahudi dan Nasrani dengan memperlihatkan ribuan perubahan yang terdapat pada kitab-kitab suci tersebut.

Meskipun sudah terdapat perubahan dan distorsi padanya, sekarang ini, seorang ulama terkenal, Husein al-Jisr, telah mengetengahkan seratus sepuluh dalil yang menunjukkan kenabian Muhammad (saw) lewat kitab-kitab suci tersebut. Semua itu tercantum dalam bukunya yang berjudul ar-Risalah al-Hamidiyyah. Almarhum Ismail Haqqi al-Manastri telah menerjemahkan buku tersebut ke dalam bahasa Turki. Para pembaca bisa mempelajarinya.

Selanjutnya, banyak pula ulama Yahudi dan Nasrani yang mengakui bahwa dalam kitab suci mereka terdapat penyebutan sifat-sifat Nabi Muhammad (saw). Di antaranya Heraklius, salah seorang raja Romawi yang mengakui seraya berkata, “Isa (as) telah memberikan kabar gembira akan kedatangan

(195)

Muhammad (saw).” Sebagaimana Muqauqis, Ibnu Surya, Ibnu Akhtab, dan saudaranya Ka’ab ibn Asad, Zubair ibn Bâthiya, serta para ulama dan pembesar Yahudi lainnya—meskipun mereka tetap non-muslim—mengakui seraya berkata, “Ya, sifat-sifatnya terdapat dalam kitab suci kami dan disebutkan di dalamnya.”

Selain itu, banyak tokoh ulama Yahudi dan Nasrani yang menghapus permusuhan dan sikap keras kepala dengan mempercayai Islam setelah mereka membaca sifat-sifat Nabi (saw) dalam kitab suci mereka. Mereka menjelaskan hal tersebut kepada para ulama lainnya disertai dengan bukti yang ada. Di antara mereka adalah Abdullah ibn Salâm, Wahab ibn Munabbih, Abu Yasir, Syâmul—rekan raja Tubba’—sebagaimana Tubba’ sendiri beriman secara rahasia sebelum masa kenabian, kedua putera Sa’yah: Usaid dan Tsa’labah yang menghimbau kabilah Bani Nadhir saat mereka memerangi Rasul (saw) dengan berkata, “Demi Allah, inilah yang dijanjikan oleh Ibnu Haiban kepada kalian.” Ibnu Haiban adalah orang yang

(196)

mengenal Allah di mana ia pernah singgah di Bani Nadhir sebelum masa kenabian. Ia berkata kepada mereka, “Sebentar lagi akan muncul seorang nabi. Ini adalah negeri tempat hijrahnya.” Ia wafat di sana. Namun kabilah Bani Nadhir tidak peduli dengan himbauan Usaid dan Tsa’labah sehingga mereka mendapatkan akibatnya.

Selain itu, sejumlah ulama Yahudi yang melihat sifat-sifat Nabi (saw) dalam kitab suci mereka, seperti: Ibnu Yâmîn, Mukhairiq, Ka’ab al-Ahbâr dan yang lainnya beriman serta membungkam mereka yang tidak beriman.

Di antara ulama Nasrani yang beriman adalah Bahîra sang rahib seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Yaitu ketika berusia 12 tahun, Nabi (saw) pergi bersama pamannya, Abu Thalib, ke wilayah Syam. Bahîra membuat makanan untuk rombongan Quraisy sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi (saw). Lalu ia melihat awan yang menanungi rombongan tersebut tetap di tempatnya. Ia berkata, “Jadi orang yang kumaksud masih tetap di sana.” Maka, ia mengirim orang untuk mendatangkan beliau. Lalu ia berkata kepada paman beliau, “Bawalah ia kembali ke Mekkah. Orang-orang Yahudi pendengki. Mereka pasti akan membuat makar kepadanya. Kami

(197)

menemukan sifat-sifat beliau dalam Taurat.

Nestor Habasyah dan Raja Habasyah (an-Najasyi) beriman tatkala melihat sejumlah sifat Nabi (saw) dalam kitab suci mereka. Seorang ulama Nasrani yang terkenal, Dhaghâtir juga melihat sifat-sifat beliau dalam kitab sucinya dan kemudian beriman. Setelah itu, ia menyampaikan kepada orang-orang Romawi, hingga ia dihukum mati (mati syahid). Harits ibn Abu Syamr al-Ghassâni—tokoh ulama Nasrani—juga beriman. Begitu pula dengan para pimpinan Uskup di Syam dan rajanya seperti penguasa Iliya, Heraklius, Ibnu Nathur, Jarud, dan yang lain beriman saat menemukan sifat-sifat beliau dalam kitab suci mereka. Hanya saja, Heraklius menyembunyikan keimanannya karena ingin menjaga pemerintahan dan kekuasaannya.

(198)

Orang-orang seperti mereka sangat banyak. Misalnya Salman al-Farisi yang sebelumnya beragama Nasrani. Ketika melihat sifat-sifat beliau, ia langsung masuk Islam. Begitu pula dengan Tamim, seorang ulama besar, an-Najasyi, Raja habasyah yang terkenal, kalangan Nasrani di Habasyah, serta para uskup dari Najran. Mereka semua menyatakan, “Kami beriman ketika menemukan sifat-sifat beliau dalam kitab suci kami.”

Argumen Ketiga

Sekadar contoh, kami akan menyebutkan sejumlah ayat dalam Taurat, Injil, dan Zabur yang memberikan kabar gembira tentang Rasul (saw).

Dalam Zabur terdapat ayat yang maknanya:

Ya Allah, utuslah kepada kami penegak sunnah setelah masa fatrah.

(199)

Penegak sunnah merupakan salah satu nama Nabi (saw).

Dalam ayat Injil disebutkan:

Almasih berkata, “Aku akan pergi ke bapakku dan bapak kalian agar Dia mengutus Paraklit ke tengah-tengah kalian.”

Maksudnya agar Dia mengutus Ahmad ke tengah-tengah kalian.

Ayat lain dalam Injil berbunyi:

Aku memohon kepada Tuhanku agar memberikan kepada kalian Paraklit yang akan bersama kalian selamanya.

Paraklit (Paraclete) adalah orang yang membedakan antara yang hak dan batil. Ia merupakan nama Nabi (saw) dalam kitab suci tersebut.

Dalam ayat Taurat disebutkan:

Allah berkata kepada Ibrahim, “Hajar akan melahirkan. Dan dari anaknya itu ada yang tangannya berada di atas seluruh manusia. Sebaliknya, tangan semua manusia terulur kepadanya dengan penuh ketaatan.”

Ayat lain dalam Taurat berbunyi:

Dia berkata, “Wahai Musa, Aku menghadirkan kepada mereka seorang nabi yang berasal dari anak keturunan saudara mereka sepertimu. Kualirkan ucapan-Ku lewat mulutnya.

(200)

Orang yang tidak mau menerima ucapan Nabi yang berbicara atas nama-Ku itu akan Kuhukum.”

Ayat ketiga dalam Taurat berbunyi:

Musa berkata, “Wahai Tuhan, dalam Taurat kudapati satu umat di mana mereka merupakan umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia. Mereka menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar serta beriman kepada Allah. Jadikan mereka sebagai umatku.’ Tuhan menjawab, ‘Mereka adalah umat Muhammad.”

Catatan:

Sejumlah kitab suci di atas menyebut nama Muhammad (saw) dengan sejumlah nama dalam bahasa Suryani yang masih bagian dari nama Ibrani. Misalnya Musyaffah, Munhamanna, Himyatha, dan nama lain yang bermakna Muhammad dalam bahasa Arab. Adapun penyebutan nama Muhammad secara jelas hanya sedikit. Hal ini karena perubahan yang dilakukan oleh bangsa Yahudi akibat dengki dan keras kepala. Di antaranya:

Ayat Zabur yang berbunyi:

Wahai Daud, akan datang sesudahmu seorang nabi yang bernama Ahmad, Muhammad, sebagai pemimpin yang jujur. Umatnya mendapatkan kasih sayang.

(201)

Ayat Taurat berikut mengacu kepada Nabi Musa (as) kemudian kepada Nabi yang akan datang:

Wahai Nabi, Kami mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira, pemberi peringatan, dan sandaran kaum yang buta huruf. Engkau adalah hamba-Ku. Kunamai engkau dengan al-Mutawakkil. Engkau tidak kasar dan keras; tidak berteriak di pasar; tidak membalas keburukan dengan keburukan. Namun engkau memaafkan dan memberikan ampunan. Allah tidak mewafatkannya sampai ia meluruskan ajaran yang bengkok sehingga mereka mengucap Lâ Ilâha Illallâh.

Keberadaan ayat yang terdapat dalam Taurat di atas telah disebutkan—sebelum mengalami banyak perubahan dan infiltrasi—oleh Abdullah ibn Amr ibn al-Ash, salah seorang dari tujuh tokoh sahabat yang bernama Abdullah di mana mereka memiliki pengetahuan luas tentang kitab-kitab suci terdahulu. Juga oleh Abdullah ibn Salam, salah seorang tokoh ulama Yahudi, yang paling pertama masuk Islam di antara rekan-rekannya. Lalu oleh Ka’ab al-Ahbar, salah seorang ulama Yahudi.

Ayat Taurat yang lain berbunyi:

Muhammad adalah utusan Allah. Tempat lahirnya Mekkah. Tempat hijrahnya Thaibah (Madinah). Kerajaannya di Syam. Umatnya adalah mereka yang memberikan pujian.”

Istilah ‘Muhammad’ dalam ayat di atas disebutkan dalam bahasa Suryani yang bermakna Muhammad.

(202)

Selain itu, terdapat ayat Taurat lainnya yang berbunyi:

Engkau adalah hamba dan utusanku. Kunamai engkau dengan al-Mutawakkil.

Ayat ini berbicara kepada sosok yang akan diutus setelah Musa (as) dari anak keturunan Ismail yang merupakan saudara keturunan Ishaq.

Ayat Taurat yang lain berbunyi:

Hamba pilihan-Ku; ia tidak kasar dan keras.”

Yang dimaksud “Hamba Pilihan” adalah al-Mustafa; salah satu nama Nabi (saw).

Terdapat beragam penjelasan terkait dengan “Pemimpin alam” yang diinformasikan akan datang sesudah Isa (as) dalam kitab Injil. Di antaranya, “Ia membawa sebatang besi yang akan digunakan untuk berperang, begitu pula umatnya.” Yang dimaksud dengan ‘sebatang besi’ adalah pedang. Artinya, akan datang nabi yang membawa pedang di mana umatnya diperintah untuk berjihad. Ini sebagaimana gambaran yang diberikan oleh al-Qur’an di akhir surah al-Fath:

وَ مَثَلُهُمْ فِى الْاِنْجٖيلِ كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْئَهُ فَاٰزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوٰى عَلٰى سُوقِهٖ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغٖيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ

“Dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah ia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir.” (QS. al-Fath [48]: 29).

(203)

Terdapat banyak ayat lain yang serupa dengannya dalam Injil.

Dalam bab ke-33 dari kitab ke-5 dari Taurat terdapat ayat yang berbunyi:

“Ia berkata, ‘Tuhan datang dari Sinai, menyinari kami dari Sa`îr, akan mendekralasikan dari gunung Faran. Dia bersama ribuan panji suci di sisi kanannya.’”

Ayat di atas, di samping memberitakan tentang kenabian Musa (as) lewat datangnya al-Haq dari bukit “Sinai”, ia juga memberitakan kenabian Isa (as) yang menyinari kami dari “Sa`îr”. Pada saat yang sama ia pun memberitakan kenabian Muhammad (saw) lewat kemunculan al-Haq dari “Faran” yang merupakan pegunungan Hijaz. Jadi, ayat tersebut dengan jelas menginformasikan kenabian Muhammad (saw). Adapun “bersamanya ribuan panji suci di sisi kanannya” ini membenarkan ayat al-Qur’an yang terdapat dalam surah al-Fath, “Itulah gambaran mereka dalam Taurat.” Pasalnya, ia menggambarkan para sahabat sebagai orang-orang suci. Mereka memang para wali Allah yang saleh.

Pada bab ke-42 dalam kitab Yesaya disebutkan:

“Allah (swt) akan mengutus hamba pilihan-Nya di akhir zaman. Dan Dia mengirimkan kepada beliau ar-Ruh al-Amin; yaitu Jibril yang memberikan pengajaran kepadanya. Kemudian

(204)

beliau mengajarkan kepada manusia apa yang diajarkan oleh Jibril kepadanya. Dia memutuskan di antara manusia dengan haq. Beliau adalah cahaya yang akan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang. Tuhan mengajariku apa yang akan terjadi. Lalu aku pun menyampaikannya kepada kalian.” Ayat ini menerangkan secara sangat jelas sejumlah sifat Nabi (saw).

Pada bab ke-4 dari kitab Mikha terdapat ayat yang berbunyi:

“Di akhir zaman akan ada umat yang dikasihi. Mereka menyembah Allah dan menginjak gunung suci. Banyak orang berkumpul di atasnya. Dari setiap wilayah terdapat orang yang menyembah Tuhan tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.”

Ayat di atas menerangkan keberadaan Arafah dan kumpulan orang dalam jumlah besar. Yaitu jamaah haji yang menuju gunung suci tersebut dan beribadah kepada Allah. Umat yang dikasihi maksudnya adalah umat Muhammad (saw). Sifat ini merupakan perlambang mereka.

Pada bab ke-72 dari Zabur disebutkan:

“Ia berkuasa dari laut sampai ke laut, dari sungai sampai ke penjuru bumi. Ia mendapat hadiah dari Yaman dan Aljazair. Para penguasa bersujud dan tunduk kepadanya. Setiap waktu ia mendapatkan salawat dan setiap hari didoakan berkah. Cahayanya memancar dari Madinah. Sebutan tentangnya akan terus berkumandang. Namanya sudah ada sebelum mentari

(205)

dicipta. Dan namanya akan terus kekal sepanjang mentari bersinar.”

Ayat di atas dengan sangat jelas menerangkan sifat Nabi (saw). Adakah seorang nabi sesudah Daud (as) selain Nabi Muhammad (saw) yang menyiarkan agamanya di Timur dan di Barat di mana para penguasa memberikan jizyah (upeti) kepadanya dengan penuh kerendahan. Para pemimpin tunduk dengan penuh ketaatan. Lalu setiap hari beliau mendapat salawat dan doa dari seperlima umat manusia, serta cahayanya memancar dari Madinah? Adakah yang demikian selain beliau?

Ayat ke-20 dari bab ke-14 di dalam Injil Yohanes berbunyi:

“Aku juga tidak berbicara banyak kepada kalian karena pemimpin alam ini akan datang. Aku tidak seberapa dibandingkan dirinya. Atau tidak ada sesuatu padaku yang sama dengannya.”

Istilah “pemimpin alam” merupakan kebanggan alam. Ia adalah julukan Rasul (saw) yang terkenal.

Ayat ke-7 dari bab ke-16 dalam Injil Yohanes berbunyi:

“Namun aku ingin menyatakan yang benar kepada kalian: bahwa lebih baik bagi kalian jika aku pergi. Sebab, jika aku tidak pergi, sang pelipur lara tidak datang.”

Adakah pelipur lara sesudah Isa (as) selain Muhammad (saw)?! Beliaulah yang menyelamatkan umat manusia dari

(206)

kepunahan dan kebinasaan abadi. Beliaulah yang menjadi pelipur lara dan pemimpin seluruh alam.

Ayat ke-8 dari bab ke-16 dalam Injil Yohanes berbunyi:

Ketika datang, ia akan memberikan balasan atas kesalahan, kebaikan, dan ketaatan.

Nah, siapa lagi yang mengganti kerusakan alam dengan kebaikan, yang menyelamatkan manusia dari dosa dan syirik, serta mengubah dasar-dasar politik dan kekuasaan di dunia selain Muhammad (saw)?!

Ayat ke-11 dari bab ke-16 dalam Injil Yohanes berbunyi:

Telah tiba masa kedatangan pemimpin alam.

Tentu saja yang dimaksud dengan pemimpin alam di sini adalah pemimpin umat manusia, Muhammad (saw).

Ayat ke-13 dari bab ke-2 dalam Injil Yohanes berbunyi:

“Ketika ruh al-Haq datang, maka dialah yang membimbing kalian kepada seluruh kebenaran. Sebab, ia tidak berbicara atas kemauan sendiri. Namun ia berbicara sesuai dengan apa yang ia dengar sekaligus menginformasikan sejumlah hal yang akan terjadi.”

Ayat ini jelas terkait dengan sosok Rasul (saw). Siapa lagi selain beliau yang menyeru seluruh manusia kepada kebenaran? Siapa lagi selain beliau yang hanya berbicara berdasarkan wahyu serta menyampaikan apa yang ia dengar dari Jibril (as)? Siapa lagi selain beliau yang menginformasikan berbagai kejadian kiamat dan akhirat secara detail?!

(207)

Lalu dalam suhuf para nabi terdapat nama-nama milik Rasul (saw) yang mengandung arti Muhammad, Ahmad, al-Mukhtar, atau Mustafa. Semuanya dimuat dalam bahasa Suryani dan Ibrani:

Dalam suhuf nabi Syuaib (as) terdapat nama Musyaffah yang artinya “Muhammad”. Dalam Taurat terdapat nama Munhamanna yang artinya “Muhammad”. Dalam Zabur terdapat nama Himyâtha yang bermakna nabi tanah haram. Di dalamnya juga terdapat kata al-Mukhtar. Dalam Taurat terdapat nama al-Hatim dan al-Khatim (penutup) dan kata Muqimus-Sunnah (penegak sunnah) dalam Taurat dan Zabur. Sementara dalam suhuf nabi Ibrahim dan Taurat terdapat kata Maz-maz, serta dalam Taurat terdapat kata Ahyad.

Rasul (saw) bersabda, “Namaku dalam al-Qur’an adalah Muhammad, dalam Injil Ahmad, dan dalam Taurat Ahyad. Disebut Ahyad (penyelamat) karena aku menyelematkan umat dari neraka jahannam. Di antara nama Nabi (saw) yang terdapat dalam Injil adalah “Shâhibul-Qadhîb wal-Hirâwah (pemilik tongkat).” Tentu saja beliau merupakan nabi paling agung lewat jihadnya dan jihad umatnya. Selain itu, beliau merupakan Shâhibut-Tâj (pemilik mahkota). Ini merupakan sifat yang secara khusus dimiliki beliau. Sebab, bangsa Arab dikenal sebagai kaum yang terbiasa memakai sorban dan ikat kepala. Sementara mahkota dan sorban maknanya

(208)

sama. Pemilik mahkota yang disebutkan dalam Injil tidak lain adalah Rasul (saw). Di dalamnya juga disebutkan Paraklit. Maknanya seperti yang disebutkan dalam Injil adalah pembeda antara yang hak dan yang batil. Ia merupakan nama Nabi (saw) yang mengajak manusia kepada kebenaran.

Dalam kitab Injil, Isa (as) berkata, “Aku akan pergi agar sang pemimpin alam datang.” Adakah selain Muhammad (saw) yang datang sesudah Isa (as) di mana beliau memimpin alam, memisahkan atau membedakan antara yang hak dan yang batil, serta membimbing manusia kepada kebaikan. Artinya, Isa (as) selalu memberikan kabar gembira bahwa salah seorang dari mereka akan datang sesudahku sehingga aku tidak lagi dibutuhkan. Aku hanya mendahului kedatangannya. Hal ini seperti ditegaskan oleh al-Qur’an:

وَاِذْ قَالَ عٖيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنٖٓى اِسْرَٓائٖيلَ اِنّٖى رَسُولُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَىَّ مِنَ التَّوْرٰيةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتٖى مِنْ بَعْدِى اسْمُهُٓ اَحْمَدُ

“Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang bernama Ahmad (Muhammad).” (QS. ash-Shâff [31]: 6).

Ya, Isa (as) memberikan kabar gembira kepada umatnya bahwa pemimpin alam akan datang. Ia menyebutkan beliau dengan nama yang berbeda-beda, baik dalam bahasa Suryani maupun Ibrani. Menurut para ulama dan ilmuwan, seluruh

(209)

nama tersebut bermakna Ahmad, Muhammad, serta Pembeda antara yang hak dan yang batil.

Pertanyaan: Mengapa Isa (as) lebih banyak memberikan kabar gembira tentang kedatangan Nabi (saw) dibanding nabi-nabi yang lain, sementara yang lain sekadar menginformasikan tentang beliau saja?

Jawaban: Karena, Rasul (saw) telah menyelamatkan Isa (as) dari pendustaan dan pemalsuan keji kaum Yahudi. Beliau juga menyelamatkan agamanya dari berbagai upaya penyimpangan yang melampaui batas. Di samping itu, beliau datang dengan membawa syariat yang toleran sebagai ganti dari syariat yang telah membebani Bani Israil yang tidak beriman kepada Isa (as). Syariat mulia ini bersifat universal dan menyempurnakan apa yang belum terdapat dalam syariat Isa (as). Dari sinilah dapat dipahami mengapa Isa (as) memberikan kabar gembira tentang Rasul (saw) bahwa ia akan datang sebagai pemimpin alam.

Demikianlah, kita melihat bagaimana Taurat, Injil, Zabur, dan seluruh suhuf para nabi memberikan perhatian terhadap nabi akhir zaman dan banyak ayat di dalamnya yang berisi sifat-sifat tentang beliau, sebagaimana telah kami jelaskan sejumlah contoh darinya. Dalam sejumlah kitab suci tersebut, beliau disebutkan dengan beragam nama dan sifat. Kira-kira, siapa sosok nabi akhir zaman yang disebutkan oleh semua kitab suci para nabi sampai sedemikian rupa di dalam banyak ayatnya, selain Muhammad (saw)?!

(210)

Jenis Kedua:

Di antara irhâsât dan bukti kenabian adalah informasi para peramal dan wali Allah pada masa fatrah (sebelum masa kenabian) tentang kedatangan Muhammad (saw). Mereka menginformasikan hal tersebut di hadapan banyak orang. Mereka meninggalkan berbagai informasi tersebut untuk kita dalam syair-syair mereka. Informasi seperti itu sangat banyak. Kami hanya akan menyebutkan apa yang tersebar luas, yang sudah dikenal dan diakui oleh para sejarawan.

Pertama: sifat-sifat Rasul (saw) yang dilihat oleh Raja Tubba’—salah seorang raja Yaman—dalam kitab terdahulu yang kemudian ia beriman. Hal itu ia ungkap dalam sebuah syair:

شَهِدْتُ عَلٰى اَحْمَدَ اَنَّهُ رَسُولٌ مِنَ اللّٰهِ بَارِى النَّسَمِ

فَلَوْ مُدَّ عُمْرٖى اِلٰى عُمْرِهٖ لَكُنْتُ وَزٖيرًا لَهُ وَابْنَ عَمٍّ

Aku menyaksikan Ahmad bahwa ia

Adalah utusan Allah; Sang Pencipta manusia

Andaikan usiaku sampai kepada usianya

Aku akan menjadi pembantu dan sepupunya.

Yakni, aku akan menjadi seperti Ali (ra).

Kedua: informasi Qis ibn Sâ`idah—yang dikenal sebagai orator Arab yang paling ulung—tentang risalah Muhammad (saw) dalam sebuah syair sebelum beliau diutus:

(211)

اَرْسَلَ فٖينَا اَحْمَدَ خَيْرَ نَبِىٍّ قَدْ بُعِثَ

صَلّٰى عَلَيْهِ اللّٰهُ مَا عَجَّ لَهُ رَكْبٌ وَ حُثَّ

Diutus kepada kita Ahmad

Sebaik-baik nabi yang diutus

Semoga Allah melimpahkan salawat untuknya

Di mana banyak rombongan yang berkumpul disekitarnya.

Ketiga: ucapan Ka’ab ibn Luay, salah seorang nenek moyang Nabi (saw). Lewat ilham, ia lantunkan bait berikut yang terkait dengan risalah Muhammad (saw):

عَلٰى غَفْلَةٍ يَأْتِى النَّبِىُّ مُحَمَّدٌ

فَيُخْبِرُ اَخْبَارًا صَدُوقًا خَبٖيرُهَا

Saat kondisi alpa Nabi Muhammad tiba

Ia memberitakan sejumlah berita yang jujur pemberitanya.

Keempat: kesaksian Saif ibn Dzi Yazin—salah seorang raja Yaman—tentang sifat-sifat Rasul (saw) yang terdapat dalam kitab terdahulu. Ia pun beriman dan merindukan beliau. Saat kakek Nabi (saw) pergi ke Yaman bersama rombongan Quraisy, sang raja mengundang mereka seraya berkata, “Jika di Hijaz lahir seorang anak yang di antara kedua bahunya terdapat tanda, maka ia akan menjadi pemimpin dan engkau wahai Abdul Muttalib adalah kakeknya.”

(212)

Kelima: saat wahyu turun untuk pertama kalinya kepada Rasul (saw), rasa takut dan cemas menyelimuti beliau. Maka Khadijah menemani beliau untuk menemui Waraqah ibn Naufal (sepupu Khadijah) dan menceritakan kepadannya. Waraqah bertanya kepada beliau, “Apa yang engkau lihat?” Maka, rasul (saw) menceritakan semuanya kepada Waraqah. Kemudian Waraqah berkata, “Ini adalah Namus (wahyu) yang Allah turunkan kepada Musa. Andai saja ketika itu aku masih muda. Andai saja aku masih hidup saat kaummu mengusirmu...” Di antara yang dikatakan oleh Waraqah saat itu, “Wahai Muhammad, bergembiralah! Aku bersaksi bahwa Engkau adalah nabi yang ditunggu-tunggu. Isa (as) telah memberikan kabar gembira tentang dirimu.”

Keenam: ketika Atskalân al-Himyari, sang Ârif billah, bertemu kaum Quraisy sebelum Nabi (saw) diutus, ia berkata kepada mereka, “Adakah di antara kalian orang yang mengaku sebagai nabi?” Mereka menjawab, “Tidak ada.” Lalu ketika beliau sudah diutus, ia kembali menanyakan hal yang sama. Mereka menjawab, “Ya, di antara kami ada yang mengaku sebagai nabi.” Ia pun berkata, “Dunia sedang menantikannya.”

Ketujuh: salah seorang ulama Nasrani, Ibnu al-`Alâ, memberitahukan tentang Nabi (saw) sebelum masa bi’tsah (masa setelah Rasulullah diutus). Lalu setelah masa bi’tsah, ia melihat Nabi (saw) seraya berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran. Aku telah menemukan sifat-sifatmu dalam Injil, dan kabar gembira akan kedatanganmu telah

(213)

diberitakan oleh Ibnu al-Batûl (Isa (as)).”

Kedelapan: an-Najasyi, Raja Habasyah, yang telah disebutkan sebelumnya, berkata, “Andai saja aku menjadi pembantunya sebagai ganti dari kekuasaan ini.”

Setelah menyebutkan sejumlah informasi kedatangan Rasul (saw) yang disampaikan oleh mereka lewat ilham dari Allah (swt), kami ingin mengetengahkan ucapan para peramal dan sejumlah informasi gaib yang mereka sampaikan lewat perantaraan roh dan jin. Mereka menerangkan kedatangan Nabi (saw) dan mengabarkan kenabiannya. Jumlah mereka cukup banyak. Namun kami hanya akan menyebutkan yang mutawatir saja dan yang tertulis dalam kitab sirah dan sejarah. Kisah dan cerita mereka yang panjang bisa dirujuk ke sejumlah kitab sirah. Di sini kami hanya akan menyebutkan ringkasannya.

Pertama: Peramal yang dikenal dengan nama Syiq yang tampak seperti setengah manusia lantaran hanya mempunyai satu tangan, satu kaki, dan satu mata. Peramal ini sering memberi informasi tentang Nabi (saw) sehingga informasinya mencapai tingkatan mutawatir.

(214)

Kedua: Peramal dari Syam yang bernama Sathîh. Ia merupakan salah satu keajaiban dunia di mana tubuhnya tidak memiliki anggota badan dan tulang. Yang ada hanya kepala, dan wajahnya terdapat di dada. Ia hidup dengan usia yang cukup panjang. Berbagai informasi gaibnya yang benar sudah terkenal. Sehingga Kisra Persia ketika mengalami mimpi aneh yang mencemaskannya—di masa kelahiran Rasul (saw)—karena melihat 14 tiang istananya retak dan roboh, ia mengutus seorang alim bernama Muwaizan untuk bertanya kepada Sathîh tentang hikmah di balik mimpi tersebut.

Maka, Sathîh memberikan jawaban yang maknanya, “Terdapat 14 raja yang akan berkuasa di kerajaan kalian. Lalu kekuasaan kalian akan punah dan negara kalian akan musnah. Akan datang orang yang membawa agama baru. Orang itulah yang akan menjadi sebab musnahnya agama dan kekuasaan kalian.” Begitulah Sathîh memberikan informasi yang tegas akan kedatangan nabi akhir zaman.

Sawâd ibn Qârib ad-Dawsi, Khanâfir, dan Af`â Najran, Jadzal ibn Jadzal al-Kindi, Ibnu Khullashah ad-Dausi, Fatimah binti an-Nu’man an-Najjariyyah, serta

(215)

para peramal terkenal lainnya, semuanya memberikan informasi tentang kedatangan nabi akhir zaman dan orang tersebut adalah Muhammad (saw) seperti yang disebutkan dalam sejumlah kitab sirah dan sejarah secara detail.

Sa’ad ibn Kuraiz, salah seorang kerabat Utsman (ra) telah menerima berita kenabian Muhammad (saw) secara gaib lewat sarana peramalan. Ia mengisyaratkan keimanannya kepada Utsman (ra) pada awal kemunculan Islam dengan berkata, “Pergilah kepada Muhammad dan berimanlah!” Maka, Utsman pun beriman. Lalu Sa’ad menggubah syair untuknya:

هَدَى اللّٰهُ عُثْمَانًا بِقَوْلٖى اِلَى الَّتٖى

بِهَا رُشْدُهُ وَ اللّٰهُ يَهْدٖى اِلَى الْحَقِّ

Berkat ucapanku, Allah memberi hidayah kepada Utsman yang dengannya ia mendapat petunjuk. Sungguh Allah membimbing kepada kebenaran.

* * *

Sebagaimana para peramal, sejumlah Hâtif (suara gaib) juga mengabarkan kedatangan Rasul (saw). Hâtif adalah suara yang jelas terdengar, namun orangnya tidak terlihat.

Di antaranya: Dziyab ibn al-Harits mendengar suara gaib dari kalangan jin. Hal itu menjadi sebab yang membuat dirinya dan yang lain masuk Islam:

يَا ذَيَابُ يَا ذَيَابُ اِسْمَعِ الْعَجَبَ الْعُجَابَ

بُعِثَ مُحَمَّدٌ بِالْكِتَابِ يَدْعُو بِمَكَّةَ فَلَا يُجَابُ

(216)

Wahai Dziyab wahai Dziyab

Dengarkan hal yang sangat ajaib

Muhammad diutus dengan membawa kitab

Berdakwah di Mekkah namun tak dijawab

Juga, Ibnu Qurrah al-Ghatfani mendengar suara gaib yang berkata:

جَاءَ الْحَقُّ فَسَطَعَ وَ دُمِّرَ بَاطِلٌ فَانْقَمَعَ

Kebenaran telah datang sehingga menjadi terang

Kebatilan pun hancur sehingga menjadi kelam.

Hal itu menjadi sebab yang membuat sebagian orang beriman.

Demikianlah, kabar gembira yang datang dari peramal dan suara gaib sangat terkenal dan banyak.

Selain itu, dari dalam patung dan sembelihan untuk berhala terdengar pula informasi kedatangan Nabi (saw).

Di antaranya: Patung kabilah Mazin memberitakan tentang kerasulan Muhammad saat ia berkata, “Ini nabi yang diutus. Ia datang membawa kebenaran yang diturunkan.”

(217)

Demikian pula, sebab masuknya Islam Abbas ibn Mirdas karena peristiwa yang terkenal, yaitu ia memiliki sebuah patung bernama “dhimar”. Lalu si patung tersebut pada suatu hari berkata:

اَوْدٰى ضِمَارُ وَكَانَ يُعْبَدُ مُدَّةً قَبْلَ الْبَيَانِ مِنَ النَّبِىِّ مُحَمَّدٍ

Dhimar telah binasa. Ia sebelumnya disembah

Sebelum datang penjelasan dari Nabi Muhammad.

Sebelum masuk Islam, Umar (ra) telah mendengar suara dari anak sapi yang disembelih untuk dipersembahkan kepada berhala. Anak sapi itu berkata, “Wahai keluarga pengorban, terdapat urusan yang benar dan orang fasih yang berujar Lâ Ilâha Illallah (tiada Tuhan selain Allah).”

Demikianlah, terdapat banyak peristiwa lain yang sangat mirip dengan apa yang telah kami sebutkan. Berbagai kitab yang dapat dipercaya dalam masalah sirah dan sejarah telah memuatnya.

Sebagaimana para peramal, kaum arif, serta suara gaib, bahkan patung berhala dan sembelihan mengabarkan kerasulan Muhammad (saw) di mana setiap peristiwa menjadi sebab sebagian orang masuk Islam, demikian pula terdapat sejumlah bebatuan dan nisan yang di atasnya berisi tulisan dengan

(218)

aksara kuno. Bunyi tulisannya, Muhammad Mushlih Amîn (Muhammad seorang reformis yang amanah). Lantaran hal tersebut sejumlah orang menjadi beriman.

Ya, ungkapan “Muhammad seorang mushlih (reformis) yang amanah” sangat layak disandang Nabi (saw). Pasalnya, beliau memiliki sifat reformis dan amanah. Juga, karena sebelum itu tidak ada yang mempunyai nama Muhammad selain beberapa orang yang tidak layak menyandang nama tersebut.

Jenis Ketiga:

Sejumlah bukti dan peristiwa yang terjadi saat kelahiran Nabi (saw). Berbagai peristiwa yang kemunculannya terkait dengan kelahiran beliau di mana ia terjadi sebelum bi’tsah dianggap sebagai salah satu mukjizat beliau. Jumlahnya sangat banyak. Namun kami hanya akan menyebutkan beberapa contoh yang sudah dikenal dan diterima oleh para imam hadis serta dianggap sahih oleh mereka.

1.Cahaya yang keluar bersama beliau di saat beliau lahir. Hal tersebut dilihat oleh ibu beliau, serta oleh Ibu Utsman ibn al-Ash dan Ibu Abdurrahman ibn Auf yang menginap bersama Aminah di malam kelahiran beliau. Mereka semua berkata, “Kami melihat cahaya saat kelahiran beliau. Cahaya tersebut menerangi antara penjuru timur dan barat.”

(219)

2.Tumbangnya sebagian besar berhala yang terdapat di sekitar Ka’bah.

3.Hancurnya istana Kisra berikut 14 serambinya.

4.Surutnya danau Sawa yang dikultuskan. Serta, padamnya Api Persia yang selama seribu tahun tidak pernah padam. Api tersebut terdapat di Persepolis (kota Persia) dan disembah oleh kaum Majusi.

Keempat peristiwa di atas menjadi petunjuk bahwa sang anak yang baru lahir itu akan menghalau para penyembah berhala, akan menghancurkan kekuasaan Persia, dan mengharamkan pengkultusan terhadap sesuatu yang tidak Allah benarkan.

5.Peristiwa gajah. Meskipun tidak terjadi di malam tersebut, namun ia berdekatan dengan waktu kelahiran beliau. Oleh karena itu, ia juga termasuk dalam kategori irhasat. Al-Qur’an telah menjelaskan dalam firman-Nya di surah al-Fîl. Ringkasan kisahnya adalah bahwa Abrahah, Raja Habasyah, ingin menghancurkan Ka’bah. Ia menempatkan gajah besar bernama mahmud di depan pasukan. Ketika gajah itu sudah mendekati kota Mekkah, ia berhenti dan tidak mau melanjutkan perjalanan meski mereka berusaha sekuat tenaga. Karena tidak berhasil, akhirnya mereka kembali. Hanya saja, burung Ababil tidak membiarkan mereka pulang dengan selamat. Burung-burung

(220)

tersebut melempari mereka dengan batu dari sijjil. Burung itu membuat mereka betul-betul kalah secara hina. Kisah terkenal ini terdapat dalam sejumlah buku sejarah. Ia termasuk tanda kenabian, sebab kiblatnya dan tanah yang paling beliau cintai selamat dari perusakan Abrahah secara luar biasa.

6.Awan yang Allah buat menaungi beliau dalam perjalanan. Halimah as-Sa’diyyah melihat awan yang menaungi beliau saat bersamanya di mana hal itu juga disaksikan oleh suaminya. Ia pun memberitahukan kepada orang-orang sehingga menjadi peristiwa yang dikenal luas.

Saat masih berusia 12 tahun, beliau bersama pamannya pergi ke Syam. Dalam perjalanan, sang rahib Bahira melihat dan memperlihatkan kepada orang lain bahwa awan menaungi beliau dari terik matahari.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Khadijah dan para wanita yang lain melihat—saat beliau pulang dari perjalanan dari Syam—dua malaikat yang menaungi beliau laksana awan. Hal itu disampaikan oleh Khadijah kepada Maisarah, pelayannya. Maisarah memberitahukan bahwa ia sudah melihat sejak kepergiannya bersama beliau.

(221)

7.Dalam riwayat sahih disebutkan bahwa dalam sebuah perjalanan sebelum dilantik menjadi Rasul, beliau singgah di bawah pohon kering. Seketika pohon tersebut rindang, berbuah, dan tumbuh berkembang dengan ranting yang banyak.

8.Ketika makan bersama pamannya, Abu Thalib, dan keluarganya, saat masih kecil, semuanya merasa kenyang dan puas. Namun jika mereka tidak makan bersama beliau, mereka tidak merasa kenyang. Peristiwa ini cukup dikenal luas dan sahih.

Ummu Aiman, pelayan dan pengasuh Rasulullah (saw), berkata, “Aku tidak pernah melihat beliau mengeluh lapar atau haus, baik di saat masih kecil maupun ketika beliau sudah besar.”

9.Keberkahan yang tampak pada kambing dan unta milik ibu susu beliau, Halimah as-Sa’diyyah, di mana hal ini berbeda dengan kambing milik orang-orang di sekitarnya. Peristiwa ini juga terkenal dan tidak diragukan kesahihannya.

(222)

Selain itu, lalat tidak hinggap di tubuh ataupun baju beliau. Serta tidak mengganggu beliau. Syekh Abdul Qadir al-Jailani mewarisi hal ini dari sang kakek yang agung, Nabi (saw), di mana lalat juga tidak mau hinggap padanya.

10. Banyaknya lemparan meteor setelah kedatangan Nabi (saw) ke dunia; terutama di malam kelahiran beliau. Kami telah menyebutkan jatuhnya meteor dan lemparan terhadap setan dalam ‘Kalimat Kelima Belas’. Telah kami jelaskan bahwa maksud dari lemparan meteor itu adalah untuk menghalangi pengintaian setan dan jin serta mencegah usaha mereka untuk mencuri informasi langit. Ketika wahyu diturunkan ke dunia, maka ucapan para dukun dan mereka yang berbicara tentang hal gaib yang berasal dari jin yang penuh dusta dan bertentangan dengan realita harus dihentikan. Hal ini agar wahyu tidak bercampur dengan yang lain dan tidak diragukan orisinalitasnya. Sebelum Nabi (saw) diutus, praktek peramalan sangat banyak. Akan tetapi, setelah al-Qur’an turun, ia dilarang sama sekali sehingga banyak dari peramal yang akhirnya beriman. Pasalnya, informan mereka dari kalangan jin tidak lagi memberikan informasi gaib. Dalam hal ini, al-Qur’an menutup jalan bagi mereka. Saat ini terdapat sejenis peramalan masa lalu di Eropa di kalangan mereka yang ingin menghadirkan arwah.

(223)

Kesimpulan:

Banyak peristiwa dan orang yang muncul untuk menguatkan kenabian Muhammad (saw) sebelum dilantik menjadi Rasul.

Ya, sosok yang akan menjadi pemimpin dunia secara maknawi; yang akan mengganti tatanan spiritual dan moral; yang akan mengubah dunia menjadi ladang akhirat; yang akan mendeklarasikan tingginya kedudukan makhluk; yang akan membimbing jin dan manusia menuju jalan kebenaran dan kebahagiaan serta menyelamatkan mereka dari ketiadaan mutlak; yang akan menyingkap misteri penciptaan dan teka-teki alam yang membingungkan; yang akan mengetahui dan mengajari sejumlah maksud Tuhan; dan yang akan mengenal sekaligus memperkenalkan Sang Pencipta agung, pasti kedatangannya dinantikan oleh semua entitas, semua spesies, dan seluruh makhluk. Mereka tentu bersiap-siap menyambut kehadirannya. Bahkan sejumlah pihak memberikan kabar gembira atas kehadirannya—karena Sang Pencipta menginformasikan hal tersebut. Bukti dari semuanya telah kita lihat dalam sejumlah petunjuk dan contoh sebelumnya bahwa

(224)

semua spesies makhluk memperlihatkan mukjizatnya dalam bentuk yang menyerupai penyambutan terhadapnya. Seolah-olah masing-masing berkata lewat lisan mukjizat: “Engkau benar dalam dakwahmu.”

(225)

PETUNJUK KETUJUH BELAS

Mukjizat Rasul (saw) yang paling besar sesudah al-Qur’an adalah “pribadi mulia” beliau. Yakni, berbagai akhlak mulia dan perilaku terpuji yang terkumpul dalam diri beliau. Baik kawan maupun lawan, semuanya sepakat bahwa beliau merupakan manusia yang memiliki kedudukan paling mulia, paling agung, serta paling sempurna. Bahkan sang pahlawan yang gagah berani, Imam Ali (ra), berkata, “Jika kami sedang berada dalam kesulitan dan mata mulai memerah, kami berlindung di belakang Rasulullah (saw) ketika perang.” Demikianlah beliau berada pada puncak yang tak bisa ditandingi oleh siapapun dalam seluruh perilaku yang mulia, termasuk dalam hal keberanian. Mukjizat besar ini bisa dirujuk kepada kitab asy-Syifâ fî Huqûq al-Musthafâ karya al-Qâdhî Iyâdh al-Maghribi. Dengan sangat apik, ia menulis dan memberikan penjelasan di dalamnya.

(226)

Selanjutnya, “syariat mulia” yang belum dan tidak pernah ada padanannya merupakan mukjizat agung lain yang dimiliki oleh Rasul (saw). Baik kawan maupun lawan, semuanya sepakat atas hal tersebut.

Penjelasan dan keterangan tentang mukjizat ini dapat dilihat pada seluruh tulisan kami di Ketiga Puluh Tiga Kalimat, Ketiga Puluh Tiga Surat, Ketiga Puluh Satu Cahaya, dan Ketiga Belas Sinar.

Lalu mukjizat agung lainnya adalah mukjizat “terbelahnya bulan” yang diriwayatkan dalam sejumlah riwayat mutawatir. Ia sangat kuat sehingga tidak diragukan. Ia diriwayatkan lewat banyak jalur dan dalam bentuk mutawatir dari Ibnu Mas`ud, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Imam Ali, Anas, Hudzaifah f, dan banyak tokoh sahabat lainnya. Di samping itu, ia diperkuat oleh al-Qur’an yang menginformasikan keberadaannya, “Kiamat sudah dekat dan bulan telah terbelah.” (QS. al-Qamar [54]: 1). Bahkan kaum kafir Quraisy yang keras kepala tak mampu mengingkari mukjizat tersebut. Hanya saja, mereka berkata, “Itu adalah sihir.” Dengan demikian, terbelahnya bulan jelas ada dan diterima bahkan oleh kaum kafir sekalipun, hanya saja kemudian mereka menginterpretasikannya sebagai sihir. Risalah tentang terbelahnya bulan ini bisa dibaca pada lampiran “Risalah Mi’raj”.

Selanjutnya, Rasul (saw) memperlihatkan mukjizat agung berupa “Mi’raj” kepada penduduk langit sebagaimana beliau

(227)

telah memperlihatkan mukjizat “terbelahnya bulan” kepada penduduk bumi. Hal ini bisa dilihat pada risalah Mi’raj, yaitu Kalimat Ketiga Puluh Satu yang menegaskan kebenaran mukjizat tersebut serta memperlihatkannya dengan jelas. Namun di sini kami akan menyebutkan semacam pendahuluan dari mukjizat tersebut. Yaitu perjalanan beliau menuju Baitul Maqdis, permintaan kaum Quraisy kepada beliau untuk menggambarkan kondisi Baitul Maqdis di pagi hari setelah Mi’raj terjadi, serta mukjizat yang terjadi dalam perjalanan tersebut.

Ketika Rasul (saw) memberitakan perjalanannya pada pagi hari sesudah mi’raj, kaum Quraisy tidak percaya. Mereka berkata, “Jika engkau benar telah pergi ke Baitul Maqdis, coba gambarkan tentang sejumlah gerbang dan temboknya serta kondisinya kepada kami.”

Rasul (saw) berkata, “Aku sangat kebingungan. Aku tidak pernah sebingung saat itu. Namun Allah menyingkap untukku sehingga aku bisa melihatnya.” Maksudnya, beliau diperlihatkan Baitul Maqdis. Maka, beliau pun mulai menggambarkan kondisinya seraya melihat kepadanya. Kaum Quraisy percaya dengan informasi yang beliau berikan. Mereka berkata, “Kapan rombongan itu datang?” Yakni, rombongan yang Rasul (saw) lihat di jalan. Beliau menjawab, “Hari Rabu.” Pada hari rabu tersebut, Quraisy terus menunggu. Sementara siang mulai berlalu, namun mereka belum tiba. Maka, Rasul (saw) berdoa sehingga siang dipanjangkan; matahari ditahan.

(228)

Engkau dapat melihat bagaimana bumi tidak berotasi selama beberapa saat untuk membenarkan informasi yang beliau sampaikan. Mentari yang besar juga menjadi saksi atas kebenaran beliau. Sungguh malang orang yang tidak percaya kepada ucapan Nabi (saw) di mana bumi berhenti bekerja selama beberapa saat dan matahari menahan diri untuk membenarkan ucapan beliau. Sebaliknya, sungguh beruntung mereka yang dapat melaksanakan perintah beliau seraya berkata, “Kami mendengar dan kami taat.” Renungkan hal ini, lalu ucapkan, “Segala puji milik Allah atas nikmat iman dan Islam.”

(229)

PETUNJUK KEDELAPAN BELAS

Mukjizat terbesar di antara sekian mukjizat Rasul (saw) adalah al-Qur’an al-Karim yang memuat ratusan dalil kenabian. Kemukjizatannya ditegaskan lewat 40 aspek seperti yang terdapat dalam “Kalimat Kedua Puluh Lima”. Oleh karenanya, penjelasan tentang khazanah mukjizat agung itu bisa dilihat pada ‘kalimat’ tersebut. Di sini kami hanya menjelaskan tiga nuktah:

Nuktah Pertama:

Barangkali ada yang berkata bahwa rahasia kemukjizatan al-Qur’an terdapat dalam balagah-nya yang luar biasa, sementara yang dapat memahami rahasia tersebut hanya satu dari seribu ulama balagah. Padahal, setiap kalangan seharusnya memahami kemukjizatan itu.

Jawabannya:

Al-Qur’an al-Karim memiliki sisi kemukjizatan bagi setiap kalangan manusia. Namun, ia mengungkap kemukjizatannya lewat gaya dan cara tertentu yang bersifat khusus.

(230)

Misalnya: ia menerangkan kemukjizatannya yang cemerlang dalam aspek balagah kepada kalangan yang ahli dalam ilmu balagah (retorika). Ia menerangkan gaya bahasanya yang indah dan istimewa kepada kalangan yang mengerti syair dan ahli pidato. Meskipun gaya bahasa al-Qur’an disenangi oleh setiap orang, namun tidak ada yang berani menirunya. Ia tidak lapuk meski sering diulang dan tidak lekang ditelan zaman. Gaya bahasanya selalu terasa segar. Di dalamnya ada prosa yang tertata dan untaian kalimat yang membuatnya indah, nikmat, dan memikat.

Kemudian al-Qur’an mengungkap kemukjizatannya melalui sejumlah informasi gaib yang disampaikan. Dengannya, ia menantang kalangan peramal serta orang-orang yang mengaku mengetahui informasi gaib.

Al-Qur’an juga mengisahkan kepada para sejarawan serta para ulama―yang menjejaki berbagai peristiwa di dunia―cerita yang membuat mereka bisa merasakan kemukjizatannya. Yaitu dengan menyebutkan sejumlah kisah dan kondisi umat terdahulu serta berbagai peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang, baik dalam kehidupan dunia, di alam barzakh, ataupun di akhirat. Al-Qur’an menantang mereka lewat kemukjizatannya yang menakjubkan itu.

Selain itu, al-Qur’an memperlihatkan kemukjizatannya kepada sosiolog, politikus, dan ahli hukum. Yaitu dengan mengungkap kemukjizatan yang terdapat di dalam prinsip-prinsip al-Qur’an yang suci. Ya, syariat mulia yang bersumber dari al-Qur’an memperlihatkan secara sempurna rahasia kemukjizatan tersebut.

(231)

Al-Qur’an juga menerangkan kepada kalangan yang mendalami makrifat ilahi dan hakikat alam sebuah sisi kemukjizatan yang cemerlang dalam caranya menerangkan berbagai hakikat ilahi yang suci, atau al-Qur’an membuat mereka bisa merasakan kemukjizatan tersebut.

Kepada mereka yang meniti jalan kewalian dan tasawuf, al-Qur’an mengungkap kemukjizatannya kepada mereka lewat sejumlah rahasia yang terdapat dalam lautan ayat-ayatnya yang bersinar.

Demikianlah, di hadapan 40 kalangan dan tingkatan manusia, al-Qur’an membuka sebuah jendela yang mengarah kepada kemukjizatannya yang cemerlang. Bahkan, al-Qur’an juga menerangkan kemukjizatannya kepada kalangan awam yang hanya bisa mendengar; tanpa mampu memahaminya lebih dalam. Mereka membenarkan kemukjizatan al-Qur’an dan bisa merasakannya meski hanya dengan mendengar. Orang awam itu berbisik dalam hati, “Gaya bahasa al-Qur’an ini sangat berbeda dengan gaya bahasa kitab lain. Bisa jadi karena gaya bahasa al-Qur’an yang lebih rendah. Namun ini tidak mungkin dan bahkan belum pernah dikatakan oleh musuh sekalipun. Atau, mungkin karena gaya bahasanya lebih tinggi. Dengan kata lain ia merupakan mukjizat.”

Orang awam yang hanya mampu mendengar, dapat memahami kemukjizatan al-Qur’an dalam bentuk seperti itu. Guna sedikit membantunya untuk memahami, kami akan memberikan penjelasan sebagai berikut:

Sejak pertama kali memberikan tantangan, al-Qur’an memunculkan kepada manusia dua keinginan yang amat kuat:

(232)

Pertama: Keinginan untuk meniru di kalangan yang setia padanya. Yakni ada keinginan yang kuat untuk meniru gaya bahasanya yang istimewa dan keinginan mereka untuk berbicara seperti al-Qur’an.

Kedua: Keinginan untuk menentang dan mengkritik di kalangan musuh. Yaitu mereka berusaha membuat gaya bahasa yang serupa dengan al-Qur’an untuk melenyapkan klaim kemukjizatan di atas.

Dua keinginan kuat di atas menjadi sebab munculnya jutaan buku bahasa arab sebagaimana kita saksikan. Akan tetapi, kalau kita membandingkan buku yang paling fasih darinya dengan al-Qur’an; yakni kalau kita membandingkan keduanya secara bersamaan, tentu semua pendengar dan pembaca tanpa ragu-ragu akan berkata bahwa al-Qur’an tidak sama dengan seluruh gaya bahasa tersebut. Jadi, kedudukan al-Qur’an tidak sama dengan seluruh kitab itu. Bisa jadi gaya bahasa al-Qur’an lebih rendah. Namun ini tentu saja mustahil dan tak pernah dikatakan oleh seorangpun bahkan setan sekalipun tidak mampu mengatakannya. Dengan demikian, gaya bahasa al-Qur’an mengungguli semua lewat kemukjizatannya yang menakjubkan.

Lebih dari itu, orang awam yang bodoh yang tidak memahami sedikitpun makna al-Qur’an bisa merasakan kemukjizatannya, yaitu tidak bosan membacanya. Orang awam yang bodoh itu berkata, “Membaca al-Qur’an secara terus-menerus sama sekali tidak membuat jemu. Justru semakin terasa nikmat. Sementara kalau mendengar sejumlah untaian syair yang

(233)

indah selama beberapa kali, aku merasa jemu dan bosan.” Oleh karena itu, al-Qur’an sudah pasti bukan perkataan manusia.

Selanjutnya, al-Qur’an memperlihatkan kemukjizatannya kepada anak-anak yang ingin menghafal al-Qur’an. Hal itu tampak pada kemampuan mereka yang akalnya masih kecil dalam menghafal al-Qur’an. Meskipun terdapat sejumlah ayat yang serupa dan mirip, namun mereka dapat menghafal al-Qur’an dengan mudah. Sementara, menghafal satu halaman buku lain tidak mampu mereka lakukan.

Bahkan orang sakit dan orang yang sedang menghadapi sakarat pun di mana mereka mudah tersinggung dengan sebuah ucapan dan suara bising, namun ternyata mereka mampu menyimak bacaan al-Qur’an. Ayat-ayat al-Qur’an turun ke telinga mereka laksana mata air yang melimpah. Dengan itu, mereka merasakan kemukjizatannya.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa al-Qur’an tidak membiarkan seorang pun terhalang dari menikmati kemukjizatannya. Setiap lapisan dari 40 lapisan manusia memiliki bagian untuk bisa merasakan kemukjizatan al-Qur’an. Bahkan al-Qur’an menerangkan satu jenis kemukjizatannya kepada mereka yang hanya bisa melihat;

(*) Pembahasan aspek kemukjizatan al-Qur’an bagi kalangan yang tuli dan buta huruf, di mana mereka hanya mampu melihat, sangat ringkas dan kurang. Pada “Surat Kedua Puluh Sembilan” dan “Ketiga Puluh” ** dijelaskan secara gamblang jenis kemukjizatan al-Qur’an tersebut. Ia bisa diketahui bahkan oleh orang buta sekalipun. Kami telah mengetengahkan tulisan mushaf untuk memperlihatkan aspek kemukjizatan al-Qur’an yang indah ini dalam bentuk aplikatif. Semoga Allah memberikan taufik sehingga bisa segera dicetak―Penulis.

(**) Sebelumnya kami berniat menulis “Surat Ketiga Puluh” dalam bentuk terindah dan terbaik. Namun ia beralih kepada Isyarat al I’jaz (Petunjuk kemukjizatan al-Qur’an)―Penulis.

tanpa bisa

(234)

mendengar, memahami, atau menangkap maknanya. Konkretnya sebagai berikut:

Kosakata mushaf yang dicetak dengan tulisan al-Hafidz Utsman (utsmani) saling berkaitan dan memiliki relasi.

Misalnya, kata

وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ

“yang kedelapan adalah anjingnya” yang terdapat dalam surah al-Kahfi cocok dengan kata

قِطْمٖيرٍ

“Qitmir” yang terdapat dalam surah Fâthir. Kalau lembaran mushaf itu dilubangi dari kata pertama (dalam surah al-kahfi) itu, maka kurang lebih akan mengenai kata kedua dan dari sana akan diketahui nama anjing yang dimaksud.

Begitu pula dengan kata

مُحْضَرُونَ

yang terulang dua kali dalam surah Yâsîn. Salah satunya berada di atas yang lain. Kedua kata tersebut juga cocok dengan kata

مُحْضَرٖينَ

yang terdapat di surah ash-Shaffât. Kalau salah satunya dilubangi, dari lembarannya akan terlihat kata yang sama dengan sedikit perubahan.

Kata

مَثْنٰى

yang terdapat di akhir surah Saba’ mengarah kepada kata yang sama yang terdapat di awal surah Fâthir. Dalam al-Qur’an, kata

مَثْنٰى

terulang sebanyak tiga kali. Kesamaan letak keduanya tentu saja bukan merupakan kebetulan.

Kesamaan semacam ini sangat banyak terdapat dalam mushaf. Bahkan satu kata berulang pada sekitar enam tempat. Jika yang satu dilubangi, maka yang lain akan terlihat dengan sedikit perbedaan letak.

(235)

Aku pernah menyaksikan sebuah mushaf di mana sejumlah kalimat yang serupa ditulis pada setiap halamannya dengan warna merah. Ketika itu aku bergumam, “Posisi kalimat tersebut merupakan petunjuk dari kemukjizatan al-Qur’an.” Setelah itu, aku mulai melihat sejumlah kalimat al-Qur’an. Ternyata, banyak dari ungkapannya yang memiliki letak serupa dilihat dari halaman yang ada di mana hal itu menyiratkan makna yang mendalam.

Karena urutan susunan al-Qur’an berdasarkan petunjuk Rasul (saw), lalu ditulis oleh kaligrafer berdasarkan ilham ilahi, maka tulisannya yang menakjubkan dan indah menunjukkan salah satu tanda kemukjizatan. Pasalnya, posisi dan letak tersebut tidak mungkin bersifat kebetulan, dan tidak mungkin hasil dari pemikiran manusia. Andai bukan karena keterbatasan pencetakan, tentu kosakata yang serupa akan memiliki posisi yang sama persis.

Selanjutnya, kita melihat dalam surah-surah Madaniyah yang panjang dan sedang, terdapat pengulangan lafal “Allah” yang indah dan apik. Biasanya ia terulang dalam bilangan tertentu, entah lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, atau sebelas kali. Di samping itu, ia memperlihatkan keselarasan bilangan yang indah pada dua sisi lembar mushaf.

(*) Bagi kalangan ahli zikir dan munajat, lafal-lafal al-Qur’an yang indah dan berirama, gaya bahasanya yang fasih dan menakjubkan, serta keistimewan retorikanya yang menarik perhatian, meskipun jumlahnya sangat banyak, ia menghadirkan sesuatu yang istimewa, ketenangan yang sempurna, dan konsentrasi penuh. Padahal biasanya kefasihan yang istimewa, susunan redaksional, dan keterikatan dengan tatanan dan sajak tertentu semacam itu seringkali merusak kemurnian, ketenangan kalbu, serta membuyarkan konsentrasi pembacanya. Bahkan munajat yang paling halus, paling tulus, paling rapi, yaitu munajat Imam asy-Syafi`i yang terkenal, sekaligus yang menjadi penyebab turunnya harga dan lenyapnya masa paceklik di Mesir. Aku sering membacanya, meskipun susunannya bersajak dan berirama, ia tidak bisa menjaga kemurnian dari sebuah munajat. Juga meskipun ia merupakan wirid tetapku selama sekitar sembilan tahun, namun aku tetap tidak bisa menjaga keseriusan dan keikhlasan dalam membuat munajat dan untaian syair yang bersajak. Dari sana aku meyakini bahwa untaian katanya yang bersajak dan rangkaian kalimatnya yang berirama, yang khusus dimiliki al-Qur’an, merupakan salah satu bentuk mukjizat. Pasalnya, ia dapat menjaga kemurnian dan ketenangan kalbu tanpa dirusak oleh sesuatu pun dari susunan lafalnya. Demikianlah, meskipun kalangan ahli munajat dan ahli zikir tidak dapat menangkap bentuk mukjizat ini secara akal, namun mereka dapat menangkapnya dengan perasaan.

(*) Salah satu rahasia kemukjizatan maknawi al-Qur’an adalah bahwa al-Qur’an menjelaskan tingkat keimanan Rasul (saw) yang sangat agung dan cemerlang di mana beliau mendapat wujud manifestasi dari Ismul A’zham (nama Allah yang agung). Dengan gaya bahasa yang alami—laksana peta suci—al-Qur’an juga menerangkan dan memberitahukan ketinggian agama yang haq, agung, dan luas ini di mana ia menjelaskan berbagai hakikat alam akhirat dan alam rububiyah. Juga, al-Qur’an al-Karim mengungkapkan pesan Tuhan yang berada dalam ketinggian, keagungan, dan kekuasaan rububiyah-Nya yang mutlak. Karena itu, sudah pasti ungkapan al-Qur’an dan penjelasannya dalam bentuk seperti itu tidak mungkin dirangkai oleh seluruh akal umat manusia meskipun akal tersebut berkumpul menjadi satu sebagaimana yang al-Qur’an sebutkan, “Seandainya manusia dan jin berkumpul untuk menghadirkan yang semisal dengan al-Qur’an, tentu mereka tidak akan mampu melakukannya.” (QS. al-Isrâ [17]: 88). Sebab, dilihat dari tiga pilar ini, al-Qur’an tidak mungkin bisa ditiru oleh siapapun.

(*) Sejumlah ayat al-Qur’an pada akhir halaman ditutup dengan sajak yang indah. Hal itu karena ayat terpanjang dalam al-Qur’an, yaitu ayat mudâyanah (QS. Al-Baqarah [2]: 282), menjadi standar ukuran halaman mushaf, sementara surah al-Ikhlas dan al-kautsar menjadi standar ukuran panjang baris. Dari sini terlihat keistimewan yang halus dan petunjuk kemukjizatan al-Qur’an.

(236)

(*) Dalam bahasan tentang hal ini kuberikan sejumlah contoh sederhana dan singkat. Meski ia sangat penting dan luas, namun karena kondisi yang membuatku tergesa-gesa dalam menuliskannya, maka aku membatasinya pada sejumlah petunjuk yang sangat singkat. Pembahasan ini menjelaskan karamah yang halus dan indah, serta sangat penting dilihat dari sisi taufik ilahi yang mendukung Risalah Nur. Ya, karamah yang halus dan hakikat agung tersebut memperlihatkan rangkaian karamah Risalah Nur dalam hal tawâfuq (keselarasan) yang terwujud dalam lima atau enam bentuk. Ia juga menerangkan satu bentuk kemukjizatan al-Qur’an yang kasat mata dan membentuk sumber petunjuk rahasia. Di kemudian hari, hal ini benar-benar terjadi. Mushaf yang menerangkan tawâfuq (keselarasan) lafal jalalah (Allah) dalam setiap halaman telah ditulis. Delapan risalah berjudul ar-Rumûz ats-Tsamâniyah yang menerangkan kesesuaian indah dan petunjuk rahasia yang bersumber dari keselarasan huruf-huruf al-Qur’an telah hadir. Demikian pula, lima risalah yang membenarkan Risalah Nur dan memberikan penghargaan atasnya telah ditulis lantaran rahasia keselarasan di dalamnya. Ia adalah Karamah al-Ghautsiyyah, tiga risalah dari al-Karamah al-Alawiyah serta risalah al-Isyârât al-Qur’aniyyah.

Dalam penulisan ‘Risalah Mukjizat Muhammad’, hakikat agung tersebut telah dapat dirasakan. Namun penulis hanya melihat sebagain kecil darinya. Ia baru menjelaskan satu tetes dari lautannya, lalu selesai tanpa diteruskan―Penulis.

(237)

Nuktah Kedua

Sihir populer di masa Musa (as). Maka, mukjizat terbesar Musa (as) menyerupai sihir. Lalu ilmu kedokteran dan pengobatan populer di masa Isa (as). Maka, mukjizatnya yang paling utama juga dari jenis tersebut. Nah, di jazirah Arab pada masa diutusnya Nabi (saw) terdapat empat hal yang populer:

Pertama: Balagah dan kefasihan bahasa.

Kedua: Syair dan kemahiran berpidato.

Ketiga: Peramalan dan pemberitaan tentang hal gaib.

Keempat: Pengetahuan tentang kejadian masa lalu dan peristiwa alam.

Al-Qur’an datang dengan menantang para pemilik keempat pengetahuan di atas. Maka, para ahli balagah dan bahasa itu pun bertekuk lutut di hadapan kehebatan mukjizatnya. Mereka menyimak dengan penuh kekaguman dan ketakjuban.

(238)

Para penyair dan ahli pidato terkesima sehingga mereka menurunkan al-mu’allaqât as-sab`u (tujuh puisi) yang sebelumnya mereka banggakan di mana ia mewakili syair terbaik mereka. Bahkan mereka menulis untaian syair tersebut dengan tinta emas dan menggantungnya di dinding Ka’bah.

Al-Qur’an juga membuat para peramal lupa dan kehilangan informasi gaib yang dulunya mereka sampaikan. Al-Qur’an mengusir jin mereka dan menutup praktek peramalan itu untuk selamanya.

Al-Qur’an menyelamatkan para pembaca sejarah umat terdahulu dan berbagai peristiwa dunia yang berhias khurafat dan bualan dusta. Al-Qur’an menuntun mereka menuju sejumlah kejadian masa lalu dan rangkaian peristiwa alam yang benar dan bersinar.

Demikianlah keempat lapisan di atas bertekuk lutut di hadapan keagungan al-Qur’an dengan penuh ketakjuban dan penghormatan. Mereka segera berguru kepadanya serta menerima petunjuk dan bimbingannya. Tidak ada satupun dari mereka yang mampu menjawab tantangan al-Qur’an meski hanya dengan satu surah.

Barangkali ada yang bertanya: Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang berani menjawab tantangan al-Qur’an dan tidak ada yang bisa menghadirkan yang serupa dengannya. Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa menghadirkan sesuatu yang setara dengannya adalah mustahil?!

Jawaban: Seandainya upaya menjawab tantangan al-Qur’an bisa dilakukan, tentu mereka akan mencoba melakukannya dengan segera. Sebab, kebutuhan untuk menghadapinya

(239)

sangat mendesak agar terbebas dari tantangan yang ada sehingga agama, harta, diri, dan keluarga mereka bisa selamat. Oleh karena itu, seandainya usaha menjawab tantangan al-Qur’an dimungkinkan, tentu tidak ada satupun di antara mereka yang berdiam diri. Serta sudah pasti orang-orang kafir dan munafik—sebagai mayoritas—menyebarluaskan informasi tersebut ke berbagai kalangan sebagaimana mereka telah menyebarluaskan segala hal yang bersifat melawan Islam. Selanjutnya, kalaupun mereka menyebarkannya—jika penentangan itu bisa dilakukan—tentu para sejarawan telah mencatatnya dalam berbagai kitab tulisan mereka. Kita lihat sejarah dan buku-buku tentang sejarah tersebar luas dan mudah diakses. Namun tidak terdapat data adanya upaya menjawab tantangan al-Qur’an kecuali beberapa alinea yang dibuat-buat oleh Musailimah al-Kazzâb. Padahal, al-Qur’an al-Karim telah menantang mereka selama 23 tahun dan memperdengarkan ayat-ayatnya yang menakjubkan ke telinga mereka seraya memberikan tantangan sebagai berikut:

Al-Qur’an al-Karim berada di hadapan kalian. (1) Hendaklah orang yang “buta huruf” seperti Muhammad “al-Amin” membuat yang serupa dengannya.

Jika kalian tidak mampu, (2) hendaknya yang membuat adalah seorang tokoh berilmu; bukan orang yang buta huruf.

Jika kalian tidak mampu juga, (3) hendaknya kalian berkumpul untuk membuatnya; tidak hanya satu orang. (4) Hendaknya para orang-orang berilmu dan ahli retorika di antara kalian berkumpul untuk saling membantu. Bahkan panggillah para saksi selain Allah guna menghadirkan yang serupa dengan al-Qur’an.

(240)

Jika kalian tidak mampu melakukan semua itu, (5) hadirkan seluruh kitab terdahulu yang sangat fasih dan pergunakanlah untuk melakukan penentangan. Bahkan ajak pula sejumlah generasi masa mendatang.

Jika tidak mampu juga, (6) cukuplah membuat sepuluh surah yang serupa dengan al-Qur’an; tidak harus seluruhnya.

Jika masih tidak mampu, (7) cukuplah perkataan sefasih al-Qur’an meskipun ia berupa cerita yang dibuat-buat.

Jika tidak mampu, (8) buatlah satu surah saja, dan cukuplah yang pendek.

Jika itu pun tidak mampu kalian lakukan, berarti agama dan diri kalian terancam bahaya di dunia, terlebih-lebih di akhirat.

Begitulah, al-Qur’an al-Karim memberikan delapan tantangan kepada kalangan jin dan manusia. Tantangan tersebut tidak hanya berlaku selama 23 tahun. Namun terus berlangsung hingga 1300 tahun. Bahkan ia terus menantang dunia hingga kiamat tiba.

Oleh karena itu, andai upaya menjawab tantangan al-Qur’an bisa dilakukan, tentu kaum kafir tidak akan memilih jalan peperangan, tidak akan membiarkan diri, harta, dan keluarga mereka binasa, serta tidak akan meninggalkan jalan penentangan yang singkat dan mudah. Dengan demikian, upaya menjawab tantangan al-Qur’an tidak mungkin dilakukan. Ia berada di luar kemampuan manusia. Pasalnya, mungkinkah orang berakal yang cerdas—apalagi penduduk jazirah Arab, terutama bangsa Quraisy—membiarkan diri, harta, dan keluarganya terancam serta memilih jalan peperangan jika mampu

(241)

menjawab tantangan, meski hanya dengan satu surah yang dibuat oleh salah seorang sastrawan mereka?! Mungkinkah mereka tidak menyelamatkan diri dan harta mereka, andaikan mendatangkan yang serupa dengan al-Qur’an adalah hal yang mudah dan gampang?!

Kesimpulannya, seperti apa yang dikatakan oleh al-Jâhizh, “Karena menjawab tantangan al-Qur’an tidak bisa dengan merangkai kata, mereka terpaksa angkat senjata”.

Barangkali ada yang bertanya: Sejumlah ulama menegaskan, “Menandingi al-Qur’an dengan mendatangkan satu ayat, satu kalimat, atau satu kata saja tidak bisa dilakukan, apalagi dengan satu surah?’ Tidak ada satu pun yang berani tampil untuk menjawab tantangan al-Qur’an.” Perkataan ini berlebihan dan sulit diterima oleh akal. Sebab, banyak kalimat dalam ucapan manusia yang menyerupai kalimat dan ungkapan al-Qur’an. Lalu, apa makna dan hikmah dari ucapan mereka?

Jawaban: Terdapat dua pandangan dalam menjelaskan kemukjizatan al-Qur’an:

Pertama: Pandangan yang dominan dan kuat. Ia dianut oleh sebagian besar ulama. Yaitu bahwa sejumlah rahasia balagah al-Qur’an dan keistimewaan maknanya berada di luar kemampuan manusia.

Kedua: Pandangan yang lemah. Yaitu bahwa membuat sebuah surah yang serupa dengan al-Qur’an sebenarnya mampu dilakukan oleh manusia. Hanya saja, Allah mencegah manusia untuk membuatnya agar al-Qur’an menjadi mukjizat Rasul (saw). Ini bisa dijelaskan dengan sebuah contoh berikut:

(242)

Berdiri dan duduk berada dalam batas kemampuan manusia. Apabila seorang nabi yang mulia berkata kepada seseorang, “Engkau tidak akan bisa berdiri,” untuk menunjukkan mukjizatnya, dan orang itu pun benar-benar tidak bisa berdiri. Dengan demikian mukjizatnya terbukti. Pandangan yang lemah ini disebut sebagai mazhab ash-sharfah. Yaitu Allah-lah yang membuat jin dan manusia tak dapat menjawab tantangan al-Qur’an. Andaikan Allah membiarkan mereka, tentu jin dan manusia bisa mendatangkan yang serupa dengannya.

Begitulah para ulama yang berpegang pada mazhab ini menyatakan bahwa tidak mungkin menandingi al-Qur’an meski hanya dengan satu kata. Ini merupakan satu pernyataan yang benar, yang sama sekali tidak mengandung keraguan. Pasalnya, Allah (swt) menghalangi mereka untuk melakukannya guna memperlihatkan kemukjizatan al-Qur’an. Oleh karena itu, tidak ada yang dapat menjawab tantangan al-Qur’an. Andaikan mereka ingin mengatakan sesuatu guna menjawab tantangan al-Qur’an, maka mereka tidak akan pernah mampu melakukannya tanpa kehendak Allah.

Adapun dalam pandangan mazhab pertama yang lebih kuat dan yang dipilih oleh sebagian besar ulama, terdapat sebuah sudut pandang yang tepat dan cermat:

Kosakata al-Qur’an dan rangkaian kalimatnya saling terkait dan saling mendukung. Sebuah kata bisa mengarah kepada sepuluh titik. Di dalamnya engkau dapat menemukan sepuluh persoalan balagah dan sepuluh relasi yang diikat dengan sepuluh kata lain. Relasi dan hubungan ini telah kami

(243)

tegaskan dalam buku Isyârât al-I’jâz fî Mazhân al-Îjâz baik itu pada surah al-Fatihah atau pada awal surah al-Baqarah:

الٓمٓ ۝ ذٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فٖيهِ

Alif lââm mîîm. Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (QS. al-Baqarah [2]: 1-2).

Contohnya sebagai berikut:

Misalkan terdapat sebuah istana besar yang temboknya dihias dengan ukiran indah dan dekorasi yang menakjubkan, maka meletakkan sebuah batu yang menjadi landasan bagi seluruh dekorasi dan ukiran di mana seluruh bagiannya saling terkait membutuhkan pengetahuan yang komprehensif tentang seluruh ukiran dan dekorasi yang memenuhi dinding istana.

Contoh lain adalah tubuh manusia. Meletakkan pupil mata manusia di tempatnya yang sesuai membutuhkan pengetahuan tentang relasi mata dengan seluruh tubuh serta pengetahuan tentang sejauh mana hubungan antara pupil itu dengan seluruh bagian dan tugas tubuh.

Kedua contoh di atas dapat dijadikan standar untuk mengetahui bagaimana para ulama ahli hakikat generasi terdahulu menerangkan berbagai aspek, relasi, ikatan, dan keterpautan antara untaian kata dalam al-Qur’an yang mempunyai hubungan dengan seluruh kalimat dan ayatnya. Khususnya para ulama yang ahli dalam ilmu huruf al-Qur’an. Mereka telah mendalami bidang tersebut dan kemudian membuktikan dengan sejumlah dalil bahwa setiap huruf al-Qur’an memiliki

(244)

rahasia mendalam yang membutuhkan satu halaman penuh untuk menjelaskannya.

Ya, selama al-Qur’an merupakan firman Pencipta segala sesuatu, maka setiap kosakata al-Qur’an laksana benih atau kalbu. Dengan kata lain, kata tersebut bisa berposisi sebagai benih yang tumbuh menjadi pohon maknawi yang berisi sejumlah makna dan rahasia. Atau, laksana kalbu yang dibungkus oleh jasad yang berisi berbagai makna dan rahasia.

Oleh karena itu, kita bisa mengatakan, “Ya, benar bahwa dalam perkataan manusia terdapat sesuatu yang menyerupai untaian kata, kalimat, dan ayat al-Qur’an. Hanya saja, ayat, kata, dan kalimat al-Qur’an diletakkan pada tempat yang sesuai di mana dalam meletakkannya perlu memperhatikan banyaknya korelasi sehingga menuntut adanya pengetahuan yang integral dan universal agar diletakkan pada posisi yang tepat.”

Nuktah Ketiga

Pada suatu saat, Allah (swt) menganugerahkan kepadaku sebuah tafakkur hakiki tentang esensi al-Qur’an secara global. Tafakkur tersebut kucatat sebagaimana ia masuk ke dalam kalbu dengan bahasa Arab. Setelah itu kutuliskan maknanya:

سُبْحَانَ مَنْ شَهِدَ عَلٰى وَحْدَانِيَّتِهٖ وَصَرَّحَ بِاَوْصَافِ جَمَالِهٖ وَجَلَالِهٖ وَكَمَالِهٖ اَلْقُرْاٰنُ الْحَكٖيمُ الْمُنَوَّرُ جِهَاتُهُ السِّتُّ اَلْحَاوٖى لِسِرِّ اِجْمَاعِ كُلِّ كُتُبِ الْاَنْبِيَاءِ وَالْاَوْلِيَاءِ وَالْمُوَحِّدٖينَ الْمُخْتَلِفٖينَ فِى الْاَعْصَارِ وَالْمَشَارِبِ وَالْمَسَالِكِ الْمُتَّفِقٖينَ

(245)

بِقُلُوبِهِمْ وَعُقُولِهِمْ عَلٰى تَصْدٖيقِ اَسَاسَاتِ الْقُرْاٰنِ وَكُلِّيَّاتِ اَحْكَامِهٖ عَلٰى وَجْهِ الْاِجْمَالِ وَهُوَ مَحْضُ الْوَحْىِ بِاِجْمَاعِ الْمُنْزِلِ وَالْمُنْزَلِ وَالْمُنْزَلِ عَلَيْهِ وَعَيْنُ الْهِدَايَةِ بِالْبَدَاهَةِ وَمَعْدَنُ اَنْوَارِ الْاٖيمَانِ بِالضَّرُورَةِ وَمَجْمَعُ الْحَقَائِقِ بِالْيَقٖينِ وَمُوصِلٌ اِلَى السَّعَادَةِ بِالْعِيَانِ وَذُو الْاَثْمَارِ الْكَامِلٖينَ بِالْمُشَاهَدَةِ وَمَقْبُولُ الْمَلَكِ وَالْاِنْسِ وَالْجَانِّ بِالْحَدْسِ الصَّادِقِ مِنْ تَفَارٖيقِ الْاَمَارَاتِ وَالْمُؤَيَّدُ بِالدَّلَائِلِ الْعَقْلِيَّةِ بِاِتِّفَاقِ الْعُقَلَاءِ الْكَامِلٖينَ وَالْمُصَدَّقُ مِنْ جِهَةِ الْفِطْرَةِ السَّلٖيمَةِ بِشَهَادَةِ اِطْمِئْنَانِ الْوِجْدَانِ وَالْمُعْجِزَةُ الْاَبَدِيَّةُ الْبَاقٖى وَجْهُ اِعْجَازِهٖ عَلٰى مَرِّ الزَّمَانِ بِالْمُشَاهَدَةِ وَالْمُنْبَسِطُ دَائِرَةُ اِرْشَادِهٖ مِنَ الْمَلَأِ الْاَعْلٰى اِلٰى مَكْتَبِ الصِّبْيَانِ يَسْتَفٖيدُ مِنْ عَيْنِ دَرْسٍ اَلْمَلٰئِكَةُ مَعَ الصَّبِيّٖينَ وَ كَذَا هُوَ ذُو الْبَصَرِ الْمُطْلَقِ يَرَى الْاَشْيَاءَ بِكَمَالِ الْوُضُوحِ وَالظُّهُورِ وَيُحٖيطُ بِهَا وَيُقَلِّبُ الْعَالَمَ فٖى يَدِهٖ وَيُعَرِّفُهُ لَنَا كَمَا يُقَلِّبُ صَانِعُ السَّاعَةِ السَّاعَةَ فٖى كَفِّهٖ وَيُعَرِّفُهَا لِلنَّاسِ فَهٰذَا الْقُرْاٰنُ الْعَظٖيمُ الشَّانِ هُوَ الَّذٖى يَقُولُ مُكَرَّرًا

اَللّٰهُ لَٓا اِلٰهَ اِلَّا هُوَ * فَاعْلَمْ اَنَّهُ لَٓا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ

Mahasuci Dzat yang keesaan-Nya disaksikan; serta sifat-sifat keindahan, keagungan dan kesempurnaan-Nya dijelaskan oleh al-Qur’an al-Hakim; yang keenam sisinya bersinar dan berisi rahasia kesepakatan seluruh kitab para nabi, wali, dan ahli tauhid meski berbeda masa, aliran, dan mazhab di mana kalbu dan akal mereka sepakat membenarkan

(246)

prinsip-prinsip al-Qur’an dan universalitas hukumnya secara global. Al-Qur’an merupakan wahyu ilahi seperti yang disepakati oleh Dzat yang menurunkan, yang diturunkan, dan sosok yang menerimanya. Ia adalah petunjuk, sumber cahaya iman, tempat berkumpul berbagai hakikat, pengantar kebahagiaan, pemilik buah yang sempurna, yang diterima oleh malaikat, manusia, dan jin lewat intuisi yang benar dari beragam tanda. Al-Qur’an juga didukung oleh sejumlah dalil rasional seperti pernyataan para cendekiawan, dan dibenarkan oleh fitrah yang bersih lewat adanya ketenangan kalbu. Al-Qur’an merupakan mukjizat abadi yang kemukjizatannya kekal sepanjang masa; yang wilayah petunjuknya terbentang dari mulai alam yang paling tinggi hingga yang paling bawah. Baik malaikat maupun anak-anak bisa mengambil manfaat yang sama. Al-Qur’an juga pemilik pandangan sempurna yang melihat segala sesuatu dengan sangat jelas dan komprehensif. Ia menggenggam dunia serta memperkenalkannya kepada kita sebagaimana pembuat jam membolak-balik jam yang berada di tangan seraya memperkenalkannya kepada orang lain. Nah, al-Qur’an yang agung ini juga berkali-kali menegaskan, “Allah, tiada tuhan selain Dia”, “Ketahuilah bahwa tiada Tuhan selain Allah.”

Adapun makna dari tafakkur tersebut adalah sebagai berikut:

Keenam sisi al-Qur’an demikian bersinar dan terang tanpa ada syubhat dan keraguan sedikitpun. Pasalnya, di belakangnya terdapat Arasy yang agung yang menjadi sandaran. Di dalamnya terdapat cahaya wahyu.

Di hadapannya, terdapat kebahagiaan dunia dan akhirat yang menjadi tujuan. Korelasi dan hubungannya terpaut dengan

(247)

keabadian dan akhirat yang di dalamnya terdapat cahaya surga dan cahaya kebahagiaan.

Di atasnya, terdapat tanda kemukjizatannya yang bersinar dengan cemerlang.

Di bawahnya, terdapat pilar petunjuk dan dalil yang kokoh. Ia berisi hidayah yang tulus.

Di sebelah kanannya, terdapat pembenaran dan pembuktian oleh akal karena ia banyak berisi ungkapan:

اَفَلَا يَعْقِلُونَ

(Apakah mereka tidak berakal?)

Di sebelah kirinya, terdapat kesaksian jiwa sehingga karena kagum, maka ia pun mengucap, “Tabârakallah,” lewat hembusan ruhiyah ke dalam kalbu. Jika demikian, bagaimana mungkin syubhat dan keraguan bisa masuk ke dalamnya?

Al-Qur’an al-Hakim mengumpulkan rahasia kesepakatan semua kitab para nabi, wali dan ahli tauhid, meski masa, aliran, dan pendekatan mereka berbeda-beda. Dengan kata lain, seluruh pemilik akal yang bersih dan hati yang tenang membenarkan keseluruhan hukum-hukum al-Qur’an dan landasan dakwahnya. Mereka menyebutkan hal itu dalam kitab mereka. Jadi, mereka laksana pangkal dari pohon samawi al-Qur’an.

Selanjutnya, al-Qur’an al-Karim bersandar pada wahyu ilahi. Bahkan, ia adalah wahyu itu sendiri. Sebab, Allah—yang menurunkan al-Qur’an kepada kalbu Muhammad (saw)—menjelaskannya, lewat mukjizat Rasul-Nya yang mulia, sebagai wahyu yang murni. Lewat kemukjizatan lahiriahnya,

(248)

al-Qur’an yang turun dari sisi Allah menerangkan bahwa ia berasal dari Arasy yang agung dan bahwa fase-fase yang dialami oleh sosok yang menerimanya, yaitu Rasul (saw), serta kegundahan beliau saat wahyu pertama turun, berikut sikap ikhlas dan penghormatan beliau kepadanya yang lebih besar daripada yang lain, semua itu menjelaskan bahwa al-Qur’an merupakan wahyu murni yang diturunkan kepadanya sebagai tamu dari Raja Azali.

Lalu, secara spontan dapat dipahami bahwa al-Qur’an merupakan wahyu murni, karena yang menentangnya adalah kesesatan dan kekufuran.

Ia juga sumber cahaya iman. Tentu saja, yang menentang cahaya adalah kegelapan yang pekat. Hakikat ini telah kami jelaskan dalam banyak bagian dalam Risalah Nur.

Kemudian al-Qur’an adalah tempat berkumpulnya berbagai hakikat. Sementara ilusi dan khurafat tidak bisa masuk ke dalamnya. Dengan kesaksian dunia Islam yang dibentuk oleh al-Qur’an, syariat mendasar yang ditunjukkan oleh al-Qur’an, serta kesempurnaan mulia yang ia tampakkan, bahkan alam gaib yang dibahasnya—di samping pembahasannya tentang alam nyata—semuanya membuktikan hakikat kebenarannya. Tidak ada sedikitpun darinya yang bertentangan dengan hakikat kebenaran.

Sebagaimana faktanya, al-Qur’an juga mengantarkan kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Ia menggiring umat manusia untuk meraihnya. Siapa yang masih ragu, bisa menelaah dan menyimak al-Qur’an. Sesudah itu, hendaknya ia memahami apa yang dikatakan oleh al-Qur’an.

(249)

Buah yang dipetik manusia dari al-Qur’an adalah buah yang matang dan penuh vitalitas. Oleh sebab itu, akar pohon al-Qur’an tertanam kuat dalam sejumlah hakikat dan terbentang dalam kehidupan. Kehidupan buah menjadi bukti atas kehidupan pohon. Engkau bisa melihat betapa al-Qur’an telah membuahkan orang-orang pilihan yang bercahaya, para wali, serta generasi salih sepanjang masa.

Al-Qur’an al-Karim adalah wadah bagi sikap ridha manusia, jin, dan malaikat. Hal itu diketahui lewat intuisi yang lahir dari sejumlah tanda di mana semuanya berkumpul mengitarinya saat dibaca laksana laron yang terbang mengitari cahaya.

Di samping sebagai wahyu, al-Qur’an diperkuat oleh berbagai dalil rasional. Buktinya adalah kesepakatan para cendekiawan, terutama para ahli kalam dan tokoh filsafat seperti Ibnu Sina dan Ibnu Rusydi. Semuanya sama-sama menetapkan prinsip dasar al-Qur’an lewat sejumlah teori dan argumen mereka.

Lalu, al-Qur’an dibenarkan oleh fitrah yang sehat, di mana ketenteraman jiwa dan ketenangan hati bersumber dari cahayanya. Artinya, fitrah yang sehat membenarkan al-Qur’an lewat ketenangan yang dirasakan oleh jiwa. Lewat kondisinya, fitrah tersebut mengatakan kepada al-Qur’an, “Kesempurnaan kami tidak akan terwujud tanpamu.” Hakikat ini telah kami jelaskan dalam sejumlah risalah.

Selanjutnya, secara spontan al-Qur’an merupakan mukjizat yang kekal abadi. Ia menerangkan kemukjizatannya setiap saat. Cahayanya tidak pernah redup seperti mukjizat lainnya.

(250)

Masanya tidak pernah habis, namun ia terbentang untuk selamanya.

Selain itu, tingkatan petunjuk al-Qur’an sangat luas dan komprehensif, di mana sebuah pelajaran diterima oleh Jibril (as), juga diterima oleh seorang anak kecil secara berdampingan. Para tokoh filsuf—seperti Ibnu Sina—berlutut di hadapannya bersama orang yang paling awam. Kedua orang tersebut menerima pelajaran yang sama. Bisa jadi, dengan kekuatan iman dan kebersihan hati, orang yang awam tadi lebih banyak mendapatkan manfaat dari al-Qur’an ketimbang Ibnu Sina.

Al-Qur’an juga memiliki penglihatan tajam yang bisa melihat seluruh alam wujud dan menempatkan segala entitas di hadapannya laksana lembaran buku sehingga dapat menjelaskan tingkatan dan dunianya. Sebagaimana ketika seorang tukang jam menerima arloji kecil dengan tangannya, ia membolak-balik sekaligus memperkenalkan dan membukanya, demikian pula alam di hadapan al-Qur’an. Ia memperkenalkan dan menerangkan bagian-bagiannya.

Al-Qur’an menegaskan keesaan Allah (swt) lewat:

فَاعْلَمْ اَنَّهُ لَٓا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ

“Ketahuilah bahwa tiada Tuhan selain Allah.”

اَللّٰهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْاٰنَ لَنَا فِى الدُّنْيَا قَرٖينًا وَ فِى الْقَبْرِ مُونِسًا وَ فِى الْقِيَامَةِ شَفٖيعًا وَ عَلَى الصِّرَاطِ نُورًا وَ مِنَ النَّارِ سِتْرًا وَ حِجَابًا وَ فِى الْجَنَّةِ رَفٖيقًا وَ اِلَى الْخَيْرَاتِ كُلِّهَا دَلٖيلًا وَ اِمَامًا

اَللّٰهُمَّ نَوِّرْ قُلُوبَنَا وَ قُبُورَنَا بِنُورِ الْاٖيمَانِ وَ الْقُرْاٰنِ وَ نَوِّرْ بُرْهَانَ الْقُرْاٰنِ بِحَقِّ وَ بِحُرْمَةِ مَنْ اُنْزِلَ عَلَيْهِ الْقُرْاٰنُ عَلَيْهِ وَ عَلٰى اٰلِهِ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ مِنَ الرَّحْمٰنِ الْحَنَّانِ اٰمٖينَ

(251)

Ya Allah, jadikan al-Qur’an sebagai teman kami di dunia, penghibur kami di dalam kubur, penolong kami di hari kiamat nanti, cahaya di atas jembatan shirat, hijab dari neraka, pendamping di surga, serta sebagai petunjuk dan pembimbing kepada segala kebaikan. Ya Allah, terangi kalbu dan kubur kami dengan cahaya iman dan al-Qur’an. Terangi petunjuk al-Qur’an dengan kebenaran dan kemuliaan sosok yang Kau turunkan padanya al-Qur’an. Semoga salawat dan salam tercurah untuknya dan untuk keluarganya dari Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Amin.

(252)

(253)

PETUNJUK KESEMBILAN BELAS

Pada sejumlah petunjuk sebelumnya telah dibuktikan lewat berbagai dalil yang jelas dan pasti bahwa Rasul (saw)—yang kebenaran risalahnya dikuatkan oleh ribuan dalil meyakinkan—merupakan argumen yang menunjukkan keesaan ilahi serta dalil cemerlang yang menunjukkan adanya kebahagiaan abadi. Pada petunjuk ini kami akan menjelaskan secara global ringkasan argumen dan dalil cemerlang yang menunjukkan keesaan Allah (swt) tersebut. Pasalnya, selama ia merupakan dalil yang mengantar pada makrifat ilahi, maka kita harus mengenalnya sekaligus mengetahui dengan baik aspek petunjuknya.

Oleh karena itu, di sini kami akan menjelaskan secara singkat aspek petunjuk yang mengarah kepada tauhid serta tingkat kebenarannya. Kami ingin menegaskan bahwa sosok Rasul (saw) adalah petunjuk atas keberadaan dan keesaan Sang Pencipta Yang Mahaagung. Demikian pula dengan seluruh entitas alam. Nabi (saw) telah menjelaskan aspek petunjuk ini yang menjadi petunjuk tauhid dan wujud berikut petunjuk yang terdapat pada seluruh entitas. Keberadaan Nabi (saw)

(254)

sebagai bukti tauhid akan kami tunjukkan kebenaran dan argumentasinya dalam lima belas pilar:

Pilar Pertama

Dalil yang menunjukkan keberadaan Sang Pencipta alam lewat pribadinya, lisannya, serta lewat petunjuk berbagai kondisi dan perilakunya adalah sosok yang benar dan dibenarkan oleh seluruh hakikat alam. Pasalnya, petunjuk seluruh entitas tentang keesaan Tuhan laksana kesaksian yang membenarkan sosok yang menyuarakan keesaan Tuhan. Artinya, apa yang diserukan olehnya dibenarkan oleh seluruh alam. Keesaan yang beliau jelaskan yang merupakan kesempurnaan mutlak, serta kebahagiaan abadi yang beliau kabarkan yang merupakan kebaikan mutlak, keduanya selaras dengan kebaikan dan kesempurnaan yang terwujud dalam berbagai hakikat alam. Maka, beliau benar dalam seruan dan dakwahnya. Jadi, Rasul (saw) merupakan argumen yang benar dan dibenarkan yang menunjukkan keesaan ilahi dan kebahagiaan abadi.

Pilar Kedua

Dalil yang benar dan dibenarkan itu; yang memiliki ribuan mukjizat—lebih banyak daripada yang dimiliki para nabi sebelumnya—di mana beliau datang dengan membawa syariat yang toleran dan mulia, tanpa pernah terhapus dan tergantikan, serta membawa misi dakwah yang tertuju kepada seluruh jin dan manusia, tentu saja beliau merupakan pemimpin seluruh rasul. Jadi, beliau mengumpulkan seluruh hikmah dan rahasia yang terdapat pada mukjizat dan kesepakatan

(255)

para nabi. Artinya, kekuatan kesepakatan seluruh nabi serta kesaksian mukjizat mereka membentuk sebuah pilar atas kebenaran dakwahnya.

Tingkatan kesempurnaan yang telah dicapai oleh kalangan saleh dan para wali tidak lain adalah berkat tarbiyahnya dan bimbingan syariatnya. Rasul (saw) adalah pembimbing dan pemimpin mereka. Oleh karena itu, beliau menjadi pengumpul rahasia karamah, pembenaran, studi, dan pembuktian mereka. Karena mereka meniti jalan yang pintu-pintunya telah dibuka oleh sang guru dan dibiarkan terbuka. Maka, mereka pun menemukan hakikat kebenaran. Seluruh karamah, pembuktian ilmiah dan ijmak mereka menjadi pilar atas kebenaran sang guru mereka yang suci berikut kebenaran dakwahnya.

Selanjutnya, bukti keesaan yang cemerlang itu—seperti telah dijelaskan pada sejumlah petunjuk sebelumnya—memiliki berbagai mukjizat yang terang dan meyakinkan, serta sejumlah irhâsât luar biasa dan dalil kenabian yang tak diragukan. Semuanya membenarkan dengan cara yang agung di mana andaikan seluruh alam berkumpul untuk menolak pembenaran tersebut, tentu tidak akan mampu.

Pilar Ketiga

Rasul (saw) yang menyerukan keesaan dan memberikan kabar gembira tentang adanya kebahagiaan abadi di mana beliau memiliki sejumlah mukjizat cemerlang, berbagai akhlak mulia pada dirinya yang penuh berkah, karakter istimewa dalam misi risalah yang dibawanya, serta sifat terpuji dalam syariat dan agama yang disampaikannya. Hal ini memaksa

(256)

musuh yang paling keras kepala sekalipun untuk mengakui dan tidak menemukan celah untuk mengingkarinya.

Karena pada diri, tugas, dan agama yang dibawanya, beliau memiliki akhlak paling mulia dan indah, karakter yang paling sempurna dan berharga, serta sifat yang paling tinggi dan utama. Sudah pasti beliau merupakan contoh dari kesempurnaan entitas, cerminan dari sejumlah akhlak yang mulia sekaligus sebagai wujud konkretnya, serta teladan yang baik atasnya. Oleh sebab itu, berbagai kesempurnaan yang memancar dari diri, tugas, dan agama yang beliau bawa merupakan pilar yang kuat dan agung atas kebenaran beliau yang tidak bisa digoyahkan oleh apapun.

Pilar Keempat

Sang penyeru keesaan dan kebahagiaan abadi itu yang menjadi sumber berbagai kesempurnaan dan pengajar sejumlah akhlak mulia tidak berbicara berdasarkan hawa nafsunya. Akan tetapi, beliau berbicara berdasarkan wahyu ilahi. Beliau menerima wahyu dari Tuhan Yang Mahaagung lalu menyampaikannya kepada yang lain. Hal itu dikuatkan oleh ribuan dalil kenabian.

Sebagaimana telah disebutkan dan dijelaskan pada pilar-pilar sebelumnya bahwa:

-Tuhan semesta alam (Allah (swt)), yang telah menciptakan seluruh mukjizat dan mewujudkannya lewat diri Rasul-Nya, menerangkan bahwa Rasul-Nya yang mulia itu berbicara semata-mata untuk-Nya dan di jalan-Nya serta hanya menyampaikan kalam-Nya.

(257)

-Al-Qur’an al-Karim yang diturunkan kepada beliau, menerangkan lewat kemukjizatannya yang tampak dan tersembunyi bahwa beliau merupakan penyampai pesan Tuhan semesta alam.

-Sosok pribadi beliau yang mulia berikut ketulusan, ketakwaan, kesungguhan, dan kejujuran beliau dalam menyampaikan perintah Allah, semua itu—pada seluruh kondisi dan karakternya—menjelaskan bahwa beliau tidak berbicara atas nama pribadi dan bukan dari hasil pemikiran beliau sendiri. Tetapi, beliau berbicara atas nama Allah, Tuhan semesta alam.

-Seluruh ahli hakikat yang mau mendengarkan beliau, lewat kasyaf dan pembuktian ilmiah telah membenarkan dan sepenuhnya percaya bahwa beliau tidak berbicara atas dorongan hawa nafsu, melainkan firman yang diwahyukan kepadanya. Beliau adalah penyampai yang amanah dari pihak Pencipta alam semesta yang menyeru manusia kepada petunjuk lewat wahyu ilahi.

Demikianlah, kebenaran dalil ini (pribadi beliau) bersandar kepada empat pilar yang sangat kuat dan kokoh tersebut.

Pilar Kelima

Sang penyampai kalam azali Allah yang amanah itu dapat melihat arwah, berbicara dengan malaikat, serta membimbing jin dan manusia secara bersamaan. Beliau menerima ilmu dari alam yang lebih tinggi daripada alam malaikat, ruh, manusia dan jin. Bahkan beliau melihat sejumlah urusan ilahi yang berada di baliknya. Berbagai mukjizat yang telah disebutkan sebelumnya serta perjalanan hidup beliau yang mulia

(258)

yang sampai kepada kita secara mutawatir menegaskan hakikat ini. Oleh karena itu, tidak mungkin jin, ruh, dan malaikat melakukan intervensi dalam sejumlah persoalan yang beliau sampaikan. Bahkan malaikat yang dekat dengan Tuhan sekalipun tidak bisa mendekati proses penyampaian wahyu, terkecuali Jibril (as). Itu pun beliau masih terkadang mengungguli teman setianya itu, Jibril (as), yang hampir selalu menyertai beliau.

Pilar Keenam

Dalil tersebut (Nabi (saw)) yang merupakan pemimpin malaikat, jin, dan manusia, adalah buah alam yang paling bercahaya dan paling sempurna. Beliau adalah wujud rahmat ilahi, sampel cinta rabbani, bukti kebenaran yang bersinar, lentera hakikat yang terang, kunci teka-teki alam, penyingkap misteri penciptaan, penjelas hikmah alam, penyeru kekuasaan uluhiyah, serta pembimbing cemerlang yang menunjukkan berbagai keindahan kreasi Tuhan. Sosok penuh berkah itu, lewat berbagai sifat komprehensif yang beliau miliki, mencerminkan model kesempurnaan entitas yang paling utuh. Oleh karena itu, berbagai keistimewaan yang beliau miliki serta kepribadian maknawi beliau, memperlihatkan secara jelas bahwa Nabi mulia tersebut merupakan sebab utama penciptaan alam. Artinya, beliau menjadi objek penglihatan Pencipta alam. Allah melihat beliau lalu menciptakan alam. Dapat dikatakan bahwa andaikan Dia tidak menciptakan beliau, tentu Dia tidak menciptakan alam.

Ya, berbagai hakikat al-Qur’an dan cahaya iman yang beliau bawa untuk seluruh jin dan manusia, serta sejumlah akhlak

(259)

mulia dan kesempurnaan luar biasa yang terdapat pada diri beliau yang penuh berkah, menjadi bukti yang jujur dan kuat atas hakikat tersebut.

Pilar Ketujuh

Bukti kebenaran yang terang dan lentera hakikat yang bercahaya itu telah memperlihatkan agama yang lurus dan syariat yang komprehensif di mana ia berisi sejumlah hukum universal yang dapat mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Beliau juga memberikan penjelasan paling sempurna tentang hakikat alam dan fungsinya, berikut nama-nama Sang Pencipta yang Mahaagung dan sifat-sifat-Nya. Siapapun yang mencermati agama Islam yang lurus serta syariat mulia yang bersifat universal dalam penjelasannya terhadap alam, pasti akan percaya bahwa agama tersebut merupakan tatanan Sang Pencipta alam yang indah yang memperkenalkan penciptanya. Sebagaimana seorang arsitek yang ahli dari sebuah istana indah meletakkan sebuah tanda pengenal yang cocok untuk istana tersebut lalu menuliskan sebuah keterangan yang menjelaskan kemahirannya yang luar biasa, demikian pula agama yang agung dan syariat yang toleran ini berikut integralitas dan unversalitas yang terdapat di dalamnya memperlihatkan dengan jelas bahwa Dzat yang meletakkan gambaran indah ini adalah Pencipta dan Penata alam. Ya, Dzat yang mengatur alam indah ini dengan cara yang menakjubkan, pasti merupakan Dzat yang menata agama yang paling sempurna tersebut dengan aturan yang paling indah.

(260)

Pilar Kedelapan

Sosok yang memiliki sejumlah sifat indah tersebut di mana risalahnya merujuk kepada sejumlah dalil dan pilar yang kokoh, Rasul tercinta (saw), berbicara atas nama alam gaib mengarah kepada alam nyata seraya mendeklarasikan secara terbuka kepada kalangan jin dan manusia, sembari berbicara kepada semua kaum yang berjejer di balik masa mendatang. Beliau menyeru dan memperdengarkan kepada mereka semua sebuah seruan yang luhur dan mulia pada seluruh masa di mana saja mereka berada. Ya, kami mendengar.

Pilar Kesembilan

Pernyataan beliau sangat nyaring sehingga bisa didengar oleh seluruh generasi. Ya, setiap generasi mendengar gema ucapan beliau.

Pilar Kesepuluh

Dari berbagai kondisi dan perjalanan hidupnya yang suci, kita memahami bahwa beliau melihat kemudian menyampaikan sesuai dengan apa yang beliau lihat. Sebab, meski bahaya menghampiri, beliau tetap menyampaikan tanpa ragu ataupun bimbang. Beliau menyampaikan dengan sangat yakin dan tenang. Bahkan beliau seorang diri menantang seluruh alam.

Pilar Kesebelas

Beliau telah menyuarakan dakwahnya dengan segala kekuatan yang Allah berikan. Beliau menyuarakan dengan

(261)

terang-terangan sehingga separuh bumi dan seperlima umat manusia menerima perintah beliau dan menjawab setiap kata yang beliau ungkapkan dengan ucapan, “Kami dengar dan kami taat.”

Pilar Kedua belas

Beliau berdakwah dengan penuh ketulusan dan kesungguhan serta melakukan pembinaan dengan cara yang sangat kokoh di mana hukum-hukumnya tertulis pada kening setiap generasi, lembaran masa, dan wajah zaman.

Pilar Ketiga Belas

Beliau berbicara dengan sangat yakin dan tenang. Beliau menyampaikan sejumlah hukum dengan sangat meyakini kebenarannya. Beliau mengajak kepadanya secara sangat jelas tanpa dihiasi kerancuan. Andaikan seluruh alam berkumpul, hal itu tidak akan memalingkan beliau dari dakwah dan dari hukum yang beliau bawa. Biografi serta sejarah hidup beliau menjadi bukti paling valid atas hakikat tersebut.

Pilar Keempat Belas

Beliau berdakwah dengan penuh keyakinan dan ketenangan di mana beliau tidak pernah mundur sedikitpun dalam berdakwah serta tidak pernah ragu ketika menghadapi kesulitan betapapun adanya. Beliau tidak pernah takut dan cemas. Namun berdakwah dengan hati yang bersih dan tulus. Beliau menerapkan berbagai hukum yang beliau dakwahkan pada dirinya terlebih dahulu. Beliau taat dan kemudian

(262)

mengajarkannya kepada yang lain. Hal ini ditunjukkan oleh sikap zuhudnya yang luar biasa, rasa tidak butuhnya kepada manusia, serta sikapnya yang berpaling dari gemerlap dunia yang fana. Hal ini seperti diakui, baik oleh kawan maupun lawan.

Pilar Kelima Belas

Beliau adalah orang yang paling takut kepada Allah (swt), paling taat terhadap perintah-Nya, paling tekun beribadah kepada-Nya, serta paling menjaga diri dari larangan-Nya. Semua ini menunjukkan bahwa beliau merupakan penyampai amanah dari Penguasa azali dan abadi. Beliau sosok utusan-Nya yang dicinta, hamba-Nya yang paling setia, serta penyampai kalam-Nya.

Dari kelima belas pilar di atas, dapat disimpulkan bahwa Rasul (saw) yang memiliki sejumlah sifat di atas telah memproklamirkan keesaan Allah (swt). Dengan seluruh kekuatan yang Allah berikan dan sepanjang hidupnya yang penuh berkah, beliau menyerukan lâ ilâha illallâh.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَيْهِ وَ عَلٰى اٰلِهٖ عَدَدَ حَسَنَاتِ اُمَّتِهٖ

Ya Allah, limpahkan salawat dan salam untuknya dan untuk keluarganya sebanyak amal kebaikan umatnya.

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَٓا اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَلٖيمُ الْحَكٖيمُ

* * *

(263)

KARUNIA ILAHI DAN JEJAK PERTOLONGAN RABBANI

Dengan harapan bisa meraih rahasia ayat al-Qur’an yang berbunyi:

وَ اَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Adapun nikmat Tuhanmu, maka ungkapkanlah” (QS. adh-Dhuhâ [93]: 11)

kami menyatakan bahwa jejak pertolongan rabbani dan sentuhan rahmat ilahi tampak jelas dalam penulisan risalah ini. Aku ingin menyampaikan kepada para pembaca budiman agar mereka memberikan perhatian serius kepadanya:

Sebelumnya “Kalimat Ketiga Puluh Satu” dan “Kesembilan Belas” yang membahas risalah Muhammad (saw) sudah ditulis. Oleh karena itu, tidak ada sesuatu yang terlintas dalam kalbuku seputar penulisan risalah ini. Tiba-tiba datang lintasan pikiran ke dalam kalbu yang mendorongku untuk menulis risalah ini pada saat kekuatan hafalanku mulai berkurang karena rangkaian ujian dan musibah yang datang bertubi-tubi. Di samping itu, dalam menulis aku tidak biasa menukil dari buku (Fulan berkata...dan seterusnya). Lebih dari itu, aku tidak memegang satupun referensi hadis Nabi atau buku sirah beliau. Dalam kondisi demikian, aku bertawakkal kepada Allah. Aku pun mulai menulis risalah ini dengan bertawakkal kepada-Nya semata. Maka taufik ilahi itu pun datang sehingga ingatanku menjadi kuat. Ia benar-benar sangat membantu sehingga mengalahkan ingatan “Said Lama”. Sekitar empat puluh halaman ditulis dengan sangat cepat

(264)

selama kurang lebih empat jam. Bahkan, lima belas halaman dapat ditulis hanya dalam satu jam. Nukilan yang ada pada umumnya bersumber dari kitab al-Bukhari, Muslim, al-Baihaqi, at-Tirmidzi, asy-Syifâ karya al-Qadhî Iyâdh, Abu Nu`aim, ath-Thabari, dan yang lainnya. Saat itu, jantungku berdebar hebat. Sebab, kalau terdapat kesalahan pada nukilan tersebut tentu aku berdosa. Pasalnya, ia merupakan hadis Nabi (saw).

Akan tetapi, kami sangat yakin bahwa pertolongan ilahi bersama kami serta kebutuhan terhadap risalah ini sangat mendesak. Berkat karunia Allah, hadis-hadis tersebut ditulis secara benar dan valid. Namun demikian, jika dalam redaksi hadis atau dalam penulisan nama perawi terdapat kesalahan, aku berharap para pembaca budiman dapat mengoreksi dan memaafkan.

Said Nursi

Ya, Ustadz mendiktekan dan kami menulis draftnya. Ketika itu, tidak ada satupun referensi yang ada pada beliau. Beliau juga tidak menelaahnya kembali. Uraiannya sangat cepat. Kami menulis sekitar empat puluh halaman dalam dua atau tiga jam. Dari sana, kami juga yakin bahwa taufik yang Allah berikan dalam penulisan risalah ini merupakan salah satu karamah mukjizat Nabi (saw).

al-Hâfidz Taufik: Penulis draft dan salinannya.

al-Hâfidz Khâlid: Saudara seiman dan penulis draft.

Sulaiman Sâmi: Pelayan dan penulis draft.

Abdullah Cawusy : Pelayan tetap

* * *

(265)

LAMPIRAN PERTAMA

(Dari Risalah Mukjizat Muhammad (saw))

[Karena kesesuaian konteks, “Kalimat Kesembilan Belas” yang berbicara tentang risalah Muhammad (saw) berikut lampirannya yang membahas mukjizat terbelahnya bulan dimasukkan ke dalam risalah ini]

Kalimat Ke-19 ini (cahaya keempat belas) terdiri dari empat belas percikan:

Percikan Pertama

Yang memperkenalkan kita kepada Tuhan adalah tiga petunjuk besar:

Pertama: Kitab alam, yang sebagian dari kesaksiannya telah kita dengar pada tiga belas kilau (dari Kilau Mentari Tauhid dalam buku al-Matsnawi an-Nûri).

Kedua: Ayat terbesar dari kitab agung ini, yaitu penutup rangkaian kenabian, Muhammad (saw).

Ketiga: Al-Qur’an yang penuh hikmah.

(266)

Sekarang kita harus mengenal petunjuk kedua yang bisa bertutur, yaitu penutup para nabi dan para rasul, Muhammad (saw). Mari kita perhatikan beliau dengan seksama.

Ketahuilah bahwa petunjuk kedua ini memiliki kepribadian maknawi yang agung. Barangkali engkau bertanya, “Apa itu? Dan apa hakikat beliau?”

Jawabannya: Beliau adalah sosok yang dengan keagungannya, permukaan bumi menjadi masjidnya, Mekkah menjadi mihrabnya, dan Madinah menjadi mimbarnya. Beliau adalah imam bagi seluruh kaum beriman, khatib bagi seluruh umat manusia, pemimpin para nabi, dan penghulu semua wali. Beliau adalah poros di pusat lingkaran majelis zikir yang terdiri dari para nabi dan wali. Beliau pohon bercahaya di mana akarnya yang kokoh berupa para nabi berikut wahyu yang diterimanya, ranting hijaunya yang segar dan buahnya yang lembut bercahaya berupa para wali berikut ilham yang diperolehnya. Setiap pernyataan yang beliau lontarkan pasti diakui dan disaksikan oleh semua nabi dengan bersandar kepada mukjizat mereka, serta oleh para wali dengan bersandar kepada karamah mereka. Seolah-olah pada setiap pernyataan beliau terdapat stempel dari mereka semua. Pasalnya, ketika beliau mengucap lâ ilâha illallâh lalu menegaskan tauhid, dua barisan bercahaya—para nabi dan wali—yang berada di masa lalu dan masa mendatang mengulang-ulang perkataan yang sama dan mereka sepakat dengan hal itu meski aliran dan pendekatan mereka berbeda-beda. Seolah-olah mereka berkata secara ijmak, “Engkau benar. Kebenaranlah yang kau ucapkan.” Maka, tidak ada ilusi yang bisa menyangkal pernyataan yang telah didukung oleh kesaksian para saksi yang

(267)

tak terhitung banyaknya di mana mukjizat dan karamah mereka menjadi legitimasi.

Percikan Kedua

Ketahuilah bahwa bukti cemerlang ini yang menunjukkan kepada tauhid dan membimbing manusia kepadanya, di samping didukung oleh kekuatan yang terdapat pada kedua sayapnya yang berupa kenabian dan kewalian, beliau juga dibenarkan oleh ratusan isyarat kitab samawi, seperti kabar gembira dari Taurat, Injil, Zabur, serta kitab suci terdahulu.

(*) Husein al-Jisr telah mengungkap seratus empat belas kabar gembira dari kandungan kitab-kitab suci tersebut. Semuanya tertuang dalam bukunya, ar-Risâlah al-Hamîdiyyah. Jika kabar gembira sebanyak itu didapatkan setelah kitab-kitab tersebut mengalami banyak penyimpangan, maka tentu sebelumnya lebih banyak lagi–Penulis.

Selanjutnya, beliau dibenarkan pula oleh ribuan kejadian luar biasa yang disebut dengan irhâsât. Lalu beliau juga dibenarkan oleh kabar gembira yang diberikan oleh para peramal secara mutawatir. Kemudian beliau dibenarkan oleh sejumlah petunjuk mukjizatnya seperti terbelahnya bulan, keluarnya air dari jari-jemari beliau seperti telaga al-Kautsar, datangnya pohon lewat seruan beliau, turunnya hujan seketika lewat doa beliau, kenyangnya banyak orang lewat makanan beliau yang sedikit, kemampuan beliau berbicara dengan biawak, serigala, rusa, unta, dan batu, serta masih banyak lagi mukjizat beliau lainnya seperti yang disebutkan oleh para perawi dan ahli hadis. Selain itu, beliau dibenarkan oleh syariat yang berisi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Ketahuilah, di samping dibenarkan oleh berbagai dalil âfâqi (eksternal) seperti yang telah disebutkan di atas, beliau

(268)

juga seperti mentari yang menunjukkan keberadaan dirinya lewat pribadinya. Dengan kata lain, beliau juga dibenarkan oleh dalil-dalil anfusi (internal) yang melekat pada diri beliau. Pasalnya, berkumpulnya semua akhlak terpuji pada diri beliau; penyatuan berbagai karakter mulia dan perilaku bersih pada sosok maknawi beliau dalam menjalankan tugas; kekuatan iman beliau lewat bukti kekuatan zuhud, takwa, dan ubudiyahnya; keyakinan, kesungguhan, dan ketekunan beliau yang sempurna seperti yang ditunjukkan oleh sejarah hidupnya; serta kekuatan harapan beliau dalam geraknya seperti yang ditunjukkan oleh sikap tenangnya; semua itu ibarat mentari terang yang membenarkan beliau ketika mengaku berpegang pada kebenaran dan meniti jalan hakikat.

Percikan Ketiga

Ketahuilah bahwa ruang lingkup waktu dan tempat memberikan pengaruh yang besar kepada cara berpikir akal. Marilah kita pergi ke generasi terbaik dan era kebahagiaan nabawi guna mengunjungi beliau meski dalam khayalan, yaitu ketika beliau melakukan tugas utamanya. Bukalah matamu dan perhatikan! Yang pertama kali terlihat dari kerajaan tersebut adalah sosok luar biasa. Ia memiliki bentuk rupa yang istimewa dan akhlak terpuji. Tangannya menggenggam sebuah kitab yang mengandung mukjizat mulia. Lisannya mengucapkan perkataan yang penuh hikmah. Ia menyampaikan khutbah abadi yang dibacakan kepada seluruh golongan jin dan manusia, bahkan kepada seluruh entitas.

Sungguh menakjubkan! Apa yang beliau sampaikan? Beliau menyampaikan tentang persoalan besar dan membahas

(269)

tentang berita agung. Pasalnya, beliau menjelaskan dan memecahkan teka-teki tentang rahasia penciptaan alam. Beliau membuka dan menyingkap misteri tentang rahasia hikmah entitas. Beliau menjelaskan dan menerangkan tiga persoalan rumit yang membingungkan akal. Yaitu persoalan dan pertanyaan yang ditanyakan setiap makhluk: Siapa engkau? Dari mana? Dan hendak ke mana?

Percikan Keempat

Perhatikan bagaimana sosok bercahaya tersebut memancarkan sinar gemilang dari hakikat dan menyebarkan cahaya terang dari kebenaran. Hingga membuat malam manusia menjadi siang, musim dinginnya menjadi musim semi. Seolah-olah semua entitas berubah bentuk sehingga alam ini tampak tertawa dan gembira setelah sebelumnya cemberut dan lara. Apabila engkau melihat entitas di luar cahaya petunjuknya, engkau akan melihat sebuah tempat berkabung di dalamnya. Engkau juga akan melihat makhluk seperti orang asing dan musuh di mana yang satu dengan yang lain tidak saling mengenal. Bahkan mereka saling bermusuhan. Engkau akan melihat benda-benda matinya seperti jenazah besar. Hewan dan manusianya laksana anak-anak yatim yang sedang meratap sedih karena kepergian dan perpisahan.

Itulah hakikat entitas bagi orang yang tidak masuk ke dalam wilayah cahaya beliau. Sekarang perhatikan alam dengan cahaya beliau, lewat teropong agamanya dan dalam wilayah syariatnya. Apa yang engkau lihat? Perhatikan! Bentuk alam telah berubah. Tempat berkabung berubah menjadi masjid tempat zikir dan pikir, serta majelis tempat memuji dan mengungkap

(270)

rasa syukur. Musuh dan makhluk asing itu pun berubah menjadi kekasih dan saudara. Setiap benda mati yang diam berubah menjadi makhluk hidup yang bersahabat, tunduk, dan menuturkan tanda kekuasaan Penciptanya. Sementara makhluk hidup yang tadinya laksana anak-anak yatim yang sedang meratap berubah menjadi kaum yang sedang berzikir dalam tasbih mereka seraya bersyukur karena telah terbebas dari tugas.

Percikan Kelima

Dengan cahaya tersebut, gerakan, keragaman, dan berbagai perubahan entitas berganti dari kesia-siaan, kehampaan, dan proses kebetulan menjadi catatan Tuhan, lembaran ayat penciptaan, serta cermin nama-nama ilahi. Sehingga alam naik menjadi kitab hikmah-Nya yang abadi.

Lihatlah bagaimana manusia naik dari kubangan hewani yang menjadi tempatnya akibat kelemahan, kefakiran, dan akalnya yang mengangkut berbagai kepedihan masa lalu dan kecemasan masa mendatang. Dari sana ia naik menuju puncak kepemimpinan setelah akal, kelemahan, dan kefakiran tadi mendapat cahaya. Lihatlah bagaimana sebab-sebab kejatuhannya yang berupa kelemahan, kefakiran, dan akal, menjadi sebab ia kembali bisa naik karena ketiganya mendapat cahaya yang bersumber dari pribadi cemerlang ini.

Oleh karena itu, andaikan pribadi ini tidak ada tentu seluruh entitas dan manusia akan jatuh terpuruk. Segala sesuatu akan menuju ke lembah ketiadaan; tidak memiliki nilai dan makna. Maka, entitas yang menakjubkan dan indah ini sudah pasti terpaut dengan pribadi luar biasa yang bertugas memberikan

(271)

penerangan. Jika dia tidak ada, maka entitas tidak akan ada. Sebab, entitas tidak berarti bagi kita tanpanya.

Percikan Keenam

Barangkali engkau bertanya, “Siapa dan apa yang dikatakan sosok yang kita lihat telah menjadi mentari alam ini sekaligus dengan agamanya ia menyingkap berbagai kesempurnaan entitas?”

Jawabannya: Lihat dan perhatikan apa yang beliau katakan. Beliau menginformasikan dan memberikan kabar gembira tentang kebahagiaan abadi. Beliau menyingkap rahmat yang tak terhingga sekaligus mengumumkan dan menyerukannya kepada manusia. Beliau menjadi petunjuk tentang indahnya kekuasaan Tuhan serta penyingkap perbendaharaan nama-nama ilahi yang tersembunyi.

Perhatikanlah beliau dari sisi tugas (risalah) yang dibawanya. Engkau pasti melihatnya sebagai bukti kebenaran, lentera hakikat, mentari hidayah, dan sarana menuju kebahagiaan. Selanjutnya, perhatikan dari sisi pribadinya (ubudiyahnya). Engkau akan melihatnya sebagai perumpamaan cinta Tuhan, perwujudan kasih sayang ilahi, kehormatan hakikat kemanusiaan, serta buah pohon penciptaan yang paling bersinar.

Setelah itu, lihatlah bagaimana cahaya dan agamanya menjangkau Timur dan Barat secepat kilat. Sekitar separuh bumi dan seperlima umat manusia menerima dengan penuh ketundukan persembahan hidayahnya di mana mereka rela mengorbankan nyawa untuknya. Mungkinkah nafsu dan setan

(272)

bisa menyangkal pengakuan dan pernyataan yang dilontarkan oleh sosok seperti beliau, terutama yang terkait dengan pernyataan yang menjadi landasan bagi semua pernyataannya, yaitu lâ ilâha illallâh beserta seluruh tingkatannya?!

Percikan Ketujuh

Jika engkau ingin mengetahui bahwa yang menggerakkannya adalah sebuah kekuatan suci, maka perhatikan apa yang beliau lakukan di jazirah yang luas itu! Engkau bisa melihat beragam bangsa pedalaman di sahara luas yang demikian fanatik dengan tradisi mereka dan begitu hebat menunjukkan permusuhan. Lihatlah bagaimana sosok mulia tersebut melenyapkan semua akhlak buruk mereka hanya dalam waktu yang singkat. Lalu beliau menyediakan untuk mereka sejumlah akhlak terpuji dan mulia. Beliau berhasil menjadikan mereka sebagai guru umat manusia dan pengajar bangsa yang berperadaban.

Perhatikan! Kekuasaannya tidak hanya pada aspek lahiriah. Namun, beliau membuka kalbu dan akal, serta menundukkan nafsu dan jiwa. Sehingga beliau menjadi pujaan hati dan pembimbing akal, sekaligus menjadi pendidik nafsu dan penguasa jiwa.

Percikan Kedelapan

Seperti diketahui bersama bahwa melenyapkan tradisi yang kecil—seperti merokok misalnya—dari sebuah lingkungan kecil secara total kadangkala cukup sulit bagi seorang penguasa besar. Namun kita melihat bagaimana Nabi (saw)

(273)

berhasil melenyapkan secara total berbagai tradisi dari bangsa-bangsa besar yang fanatik terhadap tradisi mereka. Beliau melenyapkan tradisi tersebut dengan kekuatan yang kecil, tekad yang tidak besar, pada waktu yang singkat. Sebagai gantinya, beliau tanamkan secara sangat kokoh sejumlah akhlak mulia dalam karakter mereka.

Demikianlah, terdapat ribuan pencapaian luar biasa dari apa yang kita lihat. Siapa yang belum melihat era bahagia tersebut, perlu kita masukkan jazirah ini ke matanya sekaligus menantangnya. Hendaklah ia mencoba melakukan hal tersebut di sana. Hendaknya juga membawa seratus filsuf ke daerah tersebut dan bekerja di dalamnya selama seratus tahun. Dapatkah kiranya mereka melakukan satu saja dari seratus bagian yang dilakukan oleh Rasulullah dalam setahun diukur dengan kondisi ketika itu?!

Percikan Kesembilan

Ketahuilah bahwa tidaklah mudah bagi orang berakal untuk menyatakan sebuah kebohongan yang membuatnya malu kalau ketahuan. Apalagi diucapkan tanpa beban, tanpa ragu dan tanpa rasa bimbang yang menunjukkan tipu dayanya, serta tanpa dibuat-buat yang mengindikasikan kebohongannya, di hadapan para musuh yang siap mengkritik meski ia hanya orang kecil, dalam tugas yang sederhana, pada kedudukan yang rendah, di komunitas yang kecil, serta dalam persoalan sepele. Kalau demikian, bagaimana mungkin tipu daya dan dusta masuk dan bercampur ke dalam pernyataan dan pengakuan sosok yang merupakan petugas besar, dalam tugas penting, dan pada kedudukan yang tinggi—padahal beliau membutuhkan

(274)

perlindungan besar—lalu berada dalam komunitas yang besar, menghadapi permusuhan yang besar, dalam persoalan besar, dan dalam pengakuan yang besar pula?

Nah, kita melihat bagaimana beliau mengungkapkan semuanya tanpa peduli dengan adanya hambatan, tanpa ragu-ragu, tanpa beban, dan tanpa rasa takut. Beliau melakukannya dengan hati yang tegar, kesungguhan yang tulus, dan dengan cara yang mengundang amarah musuh, yaitu dengan menghinakan akal, merendahkan jiwa, dan menghancurkan kemuliaan mereka serta dengan nada yang tegas. Mungkinkah tipu muslihat masuk ke dalam pengakuan beliau dalam kondisi seperti di atas?! Tentu saja tidak mungkin. “Ia tidak lain merupakan wahyu yang disampaikan padanya.” (QS. an-Najm [53]: 4).

Ya, kebenaran tidak perlu menipu, dan pandangan hakikat tidak bisa ditipu. Ya, jalannya yang benar tidak membutuhkan penipuan, serta pandangannya yang tajam bisa membedakan antara hakikat dan khayalan.

Percikan Kesepuluh

Simak dan perhatikan apa yang beliau katakan! Beliau menerangkan tentang sejumlah hakikat menakjubkan, membahas tentang berbagai persoalan yang menarik bagi hati sekaligus mengundang akal untuk mencermatinya.

Seperti telah diketahui bersama, rasa penasaran akan hakikat sesuatu telah mendorong banyak orang yang memiliki kuriositas yang tinggi untuk melakukan pengorbanan. Nah, bagaimana seandainya ada yang berkata kepadamu, “Jika engkau

(275)

mengorbankan setengah usiamu atau separuh dari hartamu, maka akan datang seseorang dari bulan atau planet yang memberikan informasi kepadamu tentang hal-hal yang menakjubkan serta memberitahu tentang masa depanmu.” Kukira engkau akan mau berkorban untuknya.

Sungguh aneh! Engkau rela memenuhi rasa penasaranmu dengan mengorbankan setengah dari usia dan hartamu, sementara engkau tidak peduli dengan sabda Nabi (saw) yang dibenarkan oleh para spesialis dari kalangan nabi, kaum shiddiqin, wali, dan para ulama. Beliau (saw) menerangkan kondisi seorang penguasa, di mana bulan di dalam kerajaan-Nya hanyalah seperti lalat yang terbang di sekitar kupu-kupu. Kupu-kupu itu terbang di sekitar lentera. Lentera itu hanyalah salah satu dari ribuan lampu yang dinyalakan di sebuah rumah dari ribuan rumah yang disiapkan untuk para tamunya. Beliau juga memberitahukan tentang alam yang menjadi tempat kejadian berbagai hal luar biasa, serta menginformasikan perubahan yang sungguh menakjubkan, di mana kalaupun bumi terbelah dan gunung-gunungnya beterbangan seperti awan, hal itu masih belum seberapa.

Engkau bisa memperhatikan firman-firman Allah berikut ini:

اِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَت

“Apabila matahari digulung”. (QS. at-Takwîr [81]: 1).

اِذَا السَّمَٓاءُ انْفَطَرَتْ

“Apabila langit terbelah. (QS. al-Infithâr [82]: 1).

(276)

اِذَا زُلْزِلَتِ الْاَرْضُ زِلْزَالَهَاۙ

“Apabila bumi digoncang dengan segoncang-goncangnya.” (QS. az-Zalzalah [99]:1).

اَلْقَارِعَةُ

“Hari kiamat.” (QS. al-Qâri’ah [101: 1).

Beliau menceritakan tentang realitas masa depan; di mana masa depan dunia jika dibandingkan dengannya hanyalah satu tetes fatamorgana yang tidak berarti jika diukur dengan lautan yang tak bertepi. Beliau juga memberitahukan tentang kebahagiaan; di mana kebahagiaan dunia jika dibandingkan dengannya hanyalah kilat selintas jika diukur dengan mentari abadi.

Percikan Kesebelas

Ya, di balik tirai alam terdapat berbagai hal menakjubkan yang menantikan kita. Untuk memberitahukan semua itu harus ada sosok luar biasa yang dapat menyaksikan untuk kemudian bersaksi, melihat untuk kemudian memberitakan. Dalam hal ini, kita menyaksikan kondisi beliau bagaimana beliau menyaksikan dan kemudian bersaksi, lalu memberikan peringatan dan kabar gembira. Beliau juga memberitahukan tentang apa saja yang disukai dan dituntut oleh Tuhan Pemelihara alam semesta dari kita.

Sungguh malang orang yang lalai! Sungguh merugi orang yang tersesat! Sungguh aneh mengapa sebagian besar manusia demikian dungu! Bagaimana mereka buta terhadap kebenaran

(277)

dan tuli dengan hakikat yang ada; tidak peduli dengan berbagai hal menakjubkan yang terdapat pada sosok semacam beliau. Padahal, orang seperti beliau mestinya dibela dan segera dihampiri dengan membelakangi dunia dan isinya.

Percikan Kedua Belas

Ketahuilah bahwa sosok yang tampak dengan kepribadian maknawinya dan yang dikenal di dunia dengan ketinggian martabatnya, di samping merupakan petunjuk yang benar akan keesaan Tuhan dan dalil kebenaran tauhid, beliau juga merupakan petunjuk terang dan dalil cemerlang yang menjelaskan tentang kebahagiaan abadi. Lebih dari itu, sebagaimana lewat dakwah dan petunjuknya beliau menjadi sebab yang mengantarkan pada kebahagiaan abadi, begitu pula lewat doa dan pengabdiannya beliau juga menjadi sebab terwujudnya kebahagiaan tersebut. [Karena kesesuaian konteks, pembahasan yang terdapat dalam Risalah Kebangkitan, kami uraikan kembali di sini]

Engkau bisa melihatnya ketika berdoa dalam “shalat terbesar” yang dengan kekuasaannya ia mengubah jazirah Arab, bahkan seluruh dunia menjadi sosok yang melakukan shalat semacam itu. Kemudian perhatikan bagaimana beliau melaksanakan shalat tersebut dengan jamaah yang sangat banyak. Seolah-olah beliau menjadi imam di mihrab masanya diikuti oleh semua manusia yang mulia, dari sejak Adam (as) hingga saat ini, bahkan hingga akhir zaman nanti. Mereka berbaris dalam barisan semua generasi dengan bermakmum dan mengamini

(278)

doanya. Lalu, perhatikan apa yang beliau lakukan dalam shalat tersebut dengan jamaah yang ada. Beliau berdoa untuk satu kebutuhan yang sangat penting, besar, dan universal di mana bumi dan langit, bahkan seluruh entitas ikut berdoa bersamanya.

Lewat bahasa masing-masing, mereka berujar, “Ya, wahai Tuhan terimalah doanya! Kami juga—bersama seluruh manifestasi nama-nama-Mu—memohon agar bisa menggapai apa yang ia minta.” Lalu perhatikan bagaimana beliau bermunajat dengan segala kepapaan yang menyiratkan rasa rindu yang sangat kuat dan dengan kesedihan yang menyiratkan rasa cinta yang sangat mendalam, di mana hal itu membuat seluruh alam ikut menangis dan ikut berdoa bersamanya.

Kemudian perhatikan untuk tujuan apa beliau bermunajat? Beliau bermunajat dan berdoa untuk sebuah tujuan yang kalau tidak tercapai, tentu manusia dan alam, bahkan seluruh entitas, akan terjatuh ke dalam tingkatan yang paling rendah; tidak memiliki nilai. Namun dengan permintaan beliau, semua entitas naik menuju derajat kesempurnaannya.

Selain itu, perhatikan bagaimana beliau bermunajat secara terus-menerus dengan segala kesungguhan dan mengharap belas kasih. Doa beliau terdengar oleh arasy dan semua langit serta mengundang simpati mereka. Sehingga seolah-olah arasy dan langit berkata, “Ya Allah, kabulkan doanya!”

Perhatikan pula kepada siapa beliau meminta? Ya, beliau meminta kepada Dzat Yang Mahakuasa, Maha Mendengar, Mahamulia, Maha Mengetahui, Maha Melihat, dan Maha Mengasihi; Dzat yang mendengar seluruh doa yang paling samar dari makhluk yang paling kecil terkait dengan kebutuhan

(279)

yang paling sederhana. Dia mengabulkan dengan memenuhi kebutuhannya. Dia mengetahui harapan paling kecil pada makhluk yang paling rendah dalam tujuan yang paling dekat. Dia mengantarkan kepadanya dengan cara yang tidak disangka-sangka. Dia mengasihi dan mencintai dalam bentuk yang bijaksana dan sangat rapi. Tentu tidak ada keraguan bahwa pemeliharaan dan pengaturan tersebut berasal dari Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui serta Maha Melihat lagi Maha Bijaksana.

Percikan Ketiga Belas

Sungguh menakjubkan apa yang diminta oleh sosok yang tegak di atas bumi yang membuat seluruh nabi—yang merupakan manusia pilihan—berbaris di belakangnya. Beliau mengangkat tangan menghadap ke arasy yang agung lalu berdoa dengan diamini oleh jin dan manusia. Dari kondisinya dapat diketahui bahwa beliau adalah manusia yang paling mulia, makhluk yang paling istimewa, serta kebanggaan seluruh alam sepanjang zaman. Beliau meminta syafaat lewat seluruh nama Tuhan yang termanifestasi pada cermin entitas. Bahkan nama-nama tersebut memohon dan meminta hal yang sama seperti pinta beliau.

Perhatikan! Beliau meminta keabadian, pertemuan, surga, dan ridha-Nya. Andaikan rahmat, pertolongan, hikmah, dan keadilan yang merupakan sebab pengantar kepada kebahagiaan abadi tidak ada, maka doa beliau sudah cukup lantaran Tuhan membangun surga untuknya dan untuk umatnya, sebagaimana Dia mendatangkan sejumlah taman yang indah di setiap musim semi dengan berbagai ciptaan-Nya yang luar

(280)

biasa. Jika risalah beliau menjadi sebab dunia ini dijadikan sebagai tempat ujian dan penghambaan, maka doa beliau menjadi sebab akhirat dijadikan sebagai tempat pemberian balasan dan ganjaran.

Keteraturan yang luar biasa, rahmat-Nya yang demikian luas, ciptaan-Nya yang sangat sempurna tanpa cacat, serta keindahan yang tanpa cela sehingga orang semacam al-Ghazali berkata, “Tidak ada yang lebih indah dari ciptaan Dzat Yang Mahaindah” mungkinkah itu semua dihiasi dan digantikan oleh keburukan, kezaliman, dan kerancuan? Dengan kata lain, tidak diciptakannya surga? Pasalnya, mendengar dan memperhatikan seruan yang paling rendah dari makhluk yang paling hina, terkait dengan kebutuhan yang paling sederhana, sementara di sisi lain tidak mau mendengar dan mengabulkan seruan yang paling tinggi dari makhluk yang paling mulia, terkait dengan kebutuhan yang sangat mendesak, hal itu merupakan sesuatu yang paling buruk dan cacat. Hal itu tidak mungkin terjadi. Keindahan yang tanpa aib tersebut tidak mungkin menerima keburukan tadi.

Wahai sahabatku dalam petualangan yang menakjubkan ini, tidakkah cukup apa yang telah kau saksikan?! Jika engkau ingin menjangkau seluruhnya tidak akan mampu. Bahkan, andaikan kita masih tetap berada di jazirah ini selama seratus tahun, kita tidak akan mampu menjangkau semuanya serta tidak akan merasa bosan memandang satu bagian dari seratus bagian keajaiban tugas dan aksinya.

(281)

Marilah kita kembali dan melihat masa demi masa, bagaimana semuanya demikian hijau dan mendapat curahan karunia dari era pertama tadi. Ya, engkau akan melihat setiap masa yang engkau lalui bunganya mekar oleh mentari era kebahagiaan tersebut dan setiap masa menghasilkan ribuan “buah bersinar” berkat limpahan petunjuk beliau seperti Imam Abu Hanifah, Imam asy-Syâfi`i, Abu Yazid al-Bustami, al-Junaid al-Bagdadi, Syekh Abdul Qadir al-Jailani,

(282)

Imam al-Ghazali, Syah al-Naqsyaband, Imam al-Rabbani, dan yang lainnya.

Penjelasan rinci tentang apa yang kita saksikan, kita tunda pada waktu yang lain. Sekarang, mari kita bersama-sama mengirimkan salawat dan salam kepada sosok bersinar, penunjuk jalan kebenaran, dan sang pemilik mukjizat, Muhammad (saw):

(283)

Beribu-ribu salawat dan salam sebanyak kebaikan umatnya, semoga tercurah kepada sosok yang padanya diturunkan al-Qur’an oleh Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang dari arasy yang agung, junjungan kita Muhammad (saw).

Beribu-ribu salawat dan salam sebanyak tarikan napas umatnya, semoga tercurah kepada sosok yang kedatangan risalahnya telah diinformasikan oleh kitab Taurat, Injil, Zabur dan kitab suci lainnya; yang kenabiannya telah diberitakan oleh sejumlah kejadian luar biasa yang disebut “irhâsât” dan ditunjukkan oleh sejumlah keterangan yang berasal dari jin, para wali dan peramal; serta yang dengan isyaratnya bulan terbelah. Teladan kita, Muhammad (saw).

Beribu-ribu salawat dan salam sebanyak huruf yang terbentuk dalam kata-kata yang terwujud dengan izin Tuhan di cermin gelombang udara saat pembaca membacakan setiap kata dari al-Qur’an dari sejak awal turunnya hingga akhir zaman, semoga tercurah kepada sosok yang pepohonan datang menghampiri seruannya; hujan datang seketika berkat doanya; awan melindunginya dari terik matahari; ratusan manusia kenyang oleh makanan di nampannya; air memancar dari sela-sela jarinya seperti telaga al-kautsar; kerikil dan tanah bertasbih di kedua telapak tangannya; serta kadal, rusa, serigala, batang pohon, unta, gunung, batu, pepohonan dibuat bisa berbicara oleh Allah untuknya. Beliau adalah pribadi yang telah dimi’rajkan. Junjungan dan pemberi syafaat bagi kita, Muhammad (saw).

Wahai Tuhan kami, ampuni dan kasihi kami lewat setiap salawat darinya. Amin!

(284)

[Ketahuilah bahwa bukti kenabian Muhammad tidak terhingga banyaknya. Para ulama peneliti telah menulis tentangnya. Sementara aku sendiri dengan segela keterbatasan yang ada telah menjelaskan sebagian kilau dari mentari tersebut dalam risalah “Kilau Pengetahuan tentang Nabi (saw)”, dan dalam “Surat Kesembilan Belas.” Aku juga telah menjelaskan secara global berbagai aspek kemukjizatan dari mukjizat terbesarnya, yaitu al-Qur’an. Dengan pemahamanku yang terbatas, aku telah menerangkan sekitar empat puluh aspek kemukjizatan al-Qur’an dalam risalah al-Lawâmi’ (Kumpulan Cahaya). Salah satu dari aspek tersebut, yaitu retorika yang luar biasa, telah kujelaskan sebanyak empat puluh halaman dalam tafsir berbahasa Arab yang kutulis, yaitu “Isyârât al-I’jâz fî Mazhân al-ÎJâz”. Engkau bisa merujuk ke tiga buku di atas].

Percikan Keempat belas

Ketahuilah bahwa al-Qur’an yang merupakan lautan mukjizat dan mukjizat terbesar dengan sangat tegas menetapkan kenabian Muhammad (saw) serta keesaan ilahi. Ia mengetengahkan sejumlah argumen, memperlihatkan berbagai bukti, serta memberikan dalil-dalil yang sangat kuat. Di sini kami akan menerangkan definisinya. Setelah itu, kami akan menerangkan sejumlah kilau kemukjizatannya; sesuatu yang mengundang tanda tanya bagi sebagian orang.

(285)

Definisi Al-Qur’an

Al-Qur’an al-Hakim yang memperkenalkan Tuhan kepada kita adalah: Terjemahan azali bagi buku alam semesta; Penafsir abadi bagi ayat-ayat kauniyah; Penyingkap berbagai perbendaharaan nama-nama ilahi yang tersembunyi dalam lembaran langit dan bumi; Kunci berbagai hakikat yang terselubung dalam rangkaian peristiwa; Lisan gaib dalam dunia nyata; Khazanah pembicaraan ilahi yang abadi; Pilar dan mentari dunia Islam; serta Peta alam ukhrawi.

Al-Qur’an juga merupakan penjelasan yang gamblang, penafsiran yang cemerlang, terjemahan yang gemilang, dan bukti yang terang atas Dzat, sifat, nama, dan kondisi Allah; Pendidik dunia manusia; Penyegar (air) dan Penerang (cahaya) bagi tubuh Islam; Hikmah hakiki bagi umat manusia; serta penuntun ke tujuan penciptaan manusia.

Selain itu, bagi manusia di samping merupakan kitab syariat, al-Qur’an juga kitab hikmah. Di samping merupakan kitab doa dan ibadah, ia juga kitab perintah dan dakwah. Di samping merupakan kitab zikir, ia juga kitab pikir. Di samping merupakan sebuah kitab yang mencakup begitu banyak kitab yang sejalan dengan semua kebutuhan manusia, ia juga seperti rumah suci yang berisi sejumlah kitab dan risalah, bahkan ia memperlihatkan kepada setiap aliran dari berbagai kelompok yang berbeda-beda dari kalangan para wali dan kaum shiddiqin, serta kalangan arif dan para ulama, sebuah risalah yang sesuai dengan kebutuhan setiap aliran tersebut sehingga seolah-olah menjadi seperti kumpulan risalah.

(286)

Kilau Kemukjizatan di Balik Pengulangan Ayat-ayat al-Qur’an

Perhatikan penjelasan tentang kilau kemukjizatan di balik pengulangan ayat-ayat al-Qur’an yang dianggap cacat oleh mereka yang kurang memahami retorika.

Ketahuilah bahwa karena al-Qur’an merupakan kitab zikir, kitab doa, dan kitab dakwah, maka pengulangannya menjadi suatu hal yang tepat bahkan wajib. Pasalnya, zikir perlu diulang-ulang, doa perlu terus dipanjatkan, dan dakwah harus terus ditekankan. Dalam pengulangan zikir terdapat pencerahan, dalam pengulangan doa terdapat penetapan, dan dalam pengulangan dakwah terdapat penegasan.

Ketahuilah bahwa tidak mungkin semua orang, pada setiap saat, akan selalu bisa membaca keseluruhan al-Qur’an yang merupakan obat bagi setiap orang, pada setiap saat. Oleh karena itu, Dzat Yang Maha Bijaksana dan Penyayang memasukkan sebagian besar maksud al-Qur’an dalam sebagian besar surah. Terutama, surah-surah yang panjang sehingga setiap surah menjadi semacam al-Qur’an kecil. Dengan demikian, Allah memudahkan jalan bagi setiap orang sehingga tidak ada yang terhalang darinya. Maka dari itu, Dia mengulang-ulang persoalan tauhid, kebangkitan, dan kisah Musa (as).

Ketahuilah bahwa kebutuhan jasmani pada setiap waktu berbeda-beda. Demikian halnya dengan kebutuhan rohani. Maka dari itu, untuk sebagian orang di setiap waktu membutuhkan

هو الله

“Dia adalah Allah” bagi ruh seperti kebutuhan tubuh terhadap udara. Lalu untuk sebagian lain pada setiap waktu seperti

بِسْمِ اللّٰهِ

“dengan nama Allah”, demikian seterusnya. Jadi, pengulangan ayat dan kata adalah

(287)

untuk menunjukkan berulangnya kebutuhan sekaligus mengisyaratkan adanya kebutuhan manusia yang mendesak terhadapnya, serta untuk mendorong munculnya rasa butuh terhadap nutrisi spiritual tersebut.

Ketahuilah bahwa al-Qur’an merupakan peletak dasar agama yang agung dan kokoh (Islam). Ia adalah pilar dunia Islam; pengubah tatanan sosial manusia; serta jawaban terhadap berbagai pertanyaan dari beragam kelompok masyarakat lewat bahasa lisan ataupun keadaan. Karena merupakan peletak dasar, ia membutuhkan pengulangan untuk menegaskan, menguatkan, dan memantapkan.

Ketahuilah bahwa al-Qur’an membahas berbagai persoalan besar seraya mengajak kalbu untuk mengimaninya. Ia juga memuat sejumlah hakikat mendalam seraya mengajak akal untuk mengetahuinya. Oleh karena itu, untuk menanamkan di dalam kalbu dan untuk menguatkannya dalam opini umum diperlukan pengulangan dalam bentuk yang berbeda-beda dan gaya bahasa yang beragam.

Ketahuilah bahwa setiap ayat al-Qur’an memiliki aspek lahir dan batin, batas awal dan akhir. Serta setiap kisahnya memiliki sejumlah aspek, hukum, pelajaran, dan maksud. Di satu surah engkau mendapatkan sebuah tujuan, sementara di surah yang berbeda engkau mendapatkan tujuan lain. Demikian seterusnya. Jadi, sebenarnya pengulangan di dalam al-Qur’an hanyalah bentuk lahiriahnya saja.

(288)

Kemukjizatan al-Qur’an dalam Menjelaskan Sejumlah Fenomena Alam

Adapun penjelasan al-Qur’an yang bersifat global terhadap sejumlah fenomena alam, sementara bersifat samar di bagian lain merupakan kilau kemukjizatan yang demikian terang; bukan kekurangan dan objek kritikan sebagaimana anggapan kaum ateis.

Barangkali engkau bertanya: Mengapa al-Qur’an tidak membahas tentang alam sebagaimana pembahasan ilmu hikmah dan filsafat? Dia membiarkan sejumlah persoalan secara global, dan menyebutkan yang lainnya dengan cara yang sejalan dengan perasaan dan pemikiran kaum awam. Penjelasannya tidak membuat mereka kesulitan; namun secara lahiriah sangat sederhana. Mengapa demikian?

Jawaban: Karena filsafat menyimpang dari jalur hakikat yang sebenarnya. Dari sejumlah pelajaran dan pembahasan sebelumnya, engkau pasti memahami bahwa al-Qur’an membahas alam semesta hanyalah sebagai lanturan (digresi) untuk membuktikan Dzat, sifat, dan nama-nama Allah. Dengan kata lain, ia memberikan pemahaman tentang makna kitab alam yang besar ini untuk memperkenalkan Penciptanya kepada kita. Al-Qur’an mempergunakan berbagai entitas untuk Penciptanya bukan untuk entitas tersebut. Di samping itu, ia berbicara kepada sebagian besar manusia. Oleh karena itu, selama al-Qur’an mempergunakan entitas sebagai dalil, maka yang namanya dalil harus jelas bagi mereka.

Selanjutnya, karena al-Qur’an merupakan petunjuk, maka agar memberikan kesan yang kuat ia harus sejalan dengan nalar masyarakat umum, harus memperhatikan sensitivitas

(289)

mereka, dan harus melihat cara berpikir sebagian besar mereka. Hal itu agar tidak dianggap aneh oleh nalar dan pemikiran mereka. Nah, ucapan dan petunjuk yang paling berkesan bagi mereka adalah ketika jelas, sederhana, mudah, singkat, bersifat global terkait dengan hal yang tak perlu dirinci dan menggunakan perumpamaan untuk mendekatkan berbagai persoalan yang sulit mereka pahami.

Karena al-Qur’an merupakan petunjuk bagi semua strata manusia, maka secara retoris ia tidak boleh membuat sebagian besar manusia menyimpang dan mengingkari sejumlah aksioma yang terdapat dalam pandangan lahiriah mereka. Ia juga tidak boleh mengubah apa yang sudah dikenal oleh mereka tanpa ada keperluan mendesak. Ia juga harus mengabaikan dan menglobalkan sesuatu yang tidak harus bagi mereka dalam mengerjakan tugas.

Misalnya, al-Qur’an membahas tentang matahari; bukan untuk matahari dan bukan dari sisi substansinya. Akan tetapi, ia membahasnya untuk Dzat yang telah membuatnya bersinar dan menjadikannya sebagai lentera. Ia juga membahas fungsinya sebagai sumber keteraturan penciptaan dan pusat tatanan makhluk. Tatanan dan keteraturan tersebut tidak lain merupakan cermin untuk mengenal Sang Pencipta Yang Mahaagung. Lewat tatanan keserasian makhluk, al-Qur’an memperlihatkan kesempurnaan Penciptanya Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui kepada kita.

Ayat al-Qur’an berbunyi:

اَلشَّمْسُ تَجْرٖى

“Matahari beredar.” (QS. Yâsîn [36]: 38).

(290)

Dengan ayat tersebut, al-Qur’an menjelaskan tindakan qudrah ilahi yang agung dalam silih-bergantinya siang dan malam serta dalam pergantian musim panas dan dingin. Dalam mengarahkan perhatian padanya terdapat sebuah peringatan yang menyadarkan pendengar akan kebesaran qudrah Sang Pencipta dan independensi-Nya dalam pengaturan alam ini. Bagaimanapun adanya dan dalam bentuk apapun, gerakan matahari yang sebenarnya tidak mempengaruhi tujuan al-Qur’an dalam memperlihatkan keteraturan yang terlihat dan tertata.

Ayat yang lain berbunyi:

وَجَعَلْ الشَّمْسَ سِرَاجًا

“Dia menjadikan matahari sebagai lentera.” (QS. Nûh [71]: 16).

Dalam penyebutan mentari sebagai lentera terdapat ilustrasi tentang alam dalam bentuk istana berikut gambaran tentang segala sesuatu yang terdapat di dalamnya di mana ia laksana perlengkapan, hiasan, dan makanannya yang diperuntukkan bagi penduduk dan pelancong di istana tersebut. Ia mengingatkan bahwa semua itu disediakan untuk para tamu dan pelayannya oleh Tangan Yang Mahamulia dan Maha Penyayang. Matahari hanyalah makhluk yang diperintah, ditundukkan, serta lentera yang bersinar. Dengan menyebutnya sebagai lentera, al-Qur’an mengingatkan rahmat Sang Pencipta dalam keagungan rububiyah-Nya, memperkenalkan

(291)

karunia-Nya dalam keluasan rahmat-Nya, serta mengingatkan kemurahan-Nya dalam keagungan kekuasaan-Nya.

Sekarang perhatikan ucapan filsuf terkait dengan matahari. Ia berkata:

Matahari adalah benda besar yang berasal dari cairan api. Ia berotasi pada porosnya. Percikan api, yaitu bumi dan sejumlah planet lain beterbangan darinya. Benda-benda angkasa yang berbeda-beda ukuran mengitarinya... besarnya sekian... dan substansinya adalah demikian...

Perhatikanlah! Tidak ada yang kau dapatkan dari pembahasan di atas kecuali kebingungan dan keterperanjatan yang luar biasa. Ia tidak memberimu kesempurnaan ilmiah, cita rasa spiritual, tujuan kemanusiaan, dan manfaat keagamaan. Itulah standar untuk menetapkan nilai berbagai persoalan filsafat yang secara lahir tampak indah, namun hakikatnya berisi kebodohan. Oleh karena itu, jangan engkau tertipu oleh kilau lahiriahnya lalu berpaling dari penjelasan al-Qur’an.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْاٰنَ شِفَاءً لَنَا وَ لِكَاتِبِهٖ وَ اَمْثَالِهٖ مِنْ كُلِّ دَاءٍ وَ مُونِسًا لَنَا وَ لَهُمْ فٖى حَيَاتِنَا وَ بَعْدَ مَمَاتِنَا وَ فِى الدُّنْيَا قَرٖينًا وَ فِى الْقَبْرِ مُونِسًا وَ فِى الْقِيَامَةِ شَفٖيعًا وَ عَلَى الصِّرَاطِ نُورًا وَ مِنَ النَّارِ سِتْرًا وَ حِجَابًا وَ فِى الْجَنَّةِ رَفٖيقًا وَ اِلَى الْخَيْرَاتِ كُلِّهَا دَلٖيلًا وَ اِمَامًا بِفَضْلِكَ وَ جُودِكَ وَ كَرَمِكَ وَ رَحْمَتِكَ يَا اَكْرَمَ الْاَكْرَمٖينَ وَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمٖينَ اٰمٖينَ

(292)

Ya Allah, jadikan al-Qur’an sebagai obat segala penyakit bagi kami dan pemberi ketenteraman di saat hidup dan mati. Jadikan ia sebagai teman kami di dunia, pemberi kedamaian di kubur, pemberi syafaat di hari kiamat, cahaya saat berada di atas jembatan shirat, tameng dan hijab dari neraka, pendamping di dalam surga, serta petunjuk dan penuntun ke jalan kebaikan, dengan karunia, pujian, kemurahan, kebaikan, dan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Amin!

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلٰى مَنْ اُنْزِلَ عَلَيْهِ الْفُرْقَانُ الْحَكٖيمُ وَ عَلٰى اٰلِهٖ وَ صَحْبِهٖ اَجْمَعٖينَ اٰمٖينَ اٰمٖينَ

Limpahkan salawat dan salam kepada sosok yang kepadanya Engkau turunkan al-Qur’an yang penuh hikmah. Juga, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya. Amin!

Catatan:

Dalam buku al-Matsnawi an-Nuri, kami telah menyebutkan lima belas dari empat puluh jenis kemukjizatan al-Qur’an. Hal itu terdapat dalam enam tetes dari percikan keempat belas. Terutama, dalam enam hal dari tetes keempat. Oleh karena itu, di sini kami menuliskannya secara global dengan mencukupkan pada apa yang telah ditulis di sana. Anda bisa merujuk kepadanya.

* * *

(293)

LAMPIRAN

KALIMAT KESEMBILAN BELAS DAN KETIGA PULUH SATU

Mukjizat Terbelahnya Bulan

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحٖيمِ

اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَ انْشَقَّ الْقَمَرُ ۝ وَاِنْ يَرَوْا اٰيَةً يُعْرِضُوا وَ يَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ

“Kiamat sudah dekat dan bulan telah terbelah. Jika mereka (orang-orang musyrik) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, “(Ini adalah) sihir

yang berkelanjutan.” (QS. Al-Qamar [54]: 1-2)

Para filsuf materialis serta orang-orang yang bertaklid buta kepada mereka hendak memadamkan dan melenyapkan mukjizat terbelahnya bulan yang demikian terang seperti purnama. Oleh karena itu, mereka memunculkan sejumlah ilusi yang merusak di seputarnya.

(294)

Mereka berkata, “Andaikan terbelahnya bulan benar-benar terjadi, pasti akan diketahui oleh seluruh dunia dan pasti tercatat dalam buku-buku sejarah.”

Sebagai jawaban:

Terbelahnya bulan merupakan sebuah mukjizat untuk menegaskan kenabian. Ia terjadi di hadapan orang-orang yang mendengar pernyataan kenabian, namun mereka mengingkarinya. Ia terjadi pada malam hari, di saat kelalaian demikian pekat, dan tampak hanya sekejap. Di samping itu, terdapat perbedaan kenampakan bulan, keberadaan awan, mendung, dan berbagai penghalang lainnya yang membuatnya tak terlihat. Apalagi teleskop dan sarana peradaban belum dikenal luas saat itu. Karenanya, proses terbelahnya bulan tidak harus dilihat oleh semua orang di semua tempat. Ia juga tidak harus masuk ke dalam buku-buku sejarah.

Sekarang perhatikan lima poin dari sekian banyak poin penting yang dengan izin Allah dapat menghapus awan ilusi yang menutupi wajah mukjizat yang terang ini:

Poin Pertama

Sikap keras kepala kaum kafir ketika itu sangat dikenal dalam sejarah. Ketika al-Qur’an menyatakan

وَ انْشَقَّ الْقَمَرُ

“bulan telah terbelah,” dan gemanya terdengar sampai cakrawala, tak ada satupun dari kaum kafir yang mengingkari ayat tersebut, yakni mengingkari kejadian itu. Sebab, andaikan kejadian tersebut tidak terjadi pada saat itu dan tidak ada menurut mereka, tentu mereka tergerak dengan hebat untuk mendustakan pengakuan kenabian dan mengingkari Rasul (saw).

(295)

Namun, tidak ada satupun buku sejarah yang menukil perkataan kaum kafir seputar pengingkaran mereka terhadap peristiwa terbelahnya bulan. Yang ada hanyalah penjelasan ayat al-Qur’an

وَ يَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ

“Mereka berkata, ‘Ini adalah sihir yang berkelanjutan.”

Maksudnya, orang-orang kafir yang menyaksikan mukjizat itu berkata, “Ini adalah sihir. Maka, utuslah orang ke sejumlah penjuru untuk menyaksikan apakah mereka melihat atau tidak?!” Keesokan harinya, sejumlah rombongan dari Yaman dan lainnya datang. Ketika ditanya, mereka menjawab bahwa mereka telah melihat hal yang sama. Maka, orang-orang kafir itu pun berkomentar, “Sihir anak yatim yang diasuh Abu Thalib telah sampai ke langit.”

Poin Kedua

Sebagian besar imam ilmu kalam seperti Sa’ad at-Taftazânî berkata, “Terbelahnya bulan merupakan riwayat yang mutawatir sama seperti memancarnya air dari jari-jemari beliau di mana pasukan bisa meminum darinya. Juga seperti rintihan batang pohon lantaran berpisah dengan beliau di mana sebelumnya ia menjadi sandaran beliau saat berkhutbah dan hal itu didengar oleh jamaah masjid. Dengan kata lain, peristiwa tersebut dinukil oleh banyak orang dari banyak orang sehingga mustahil mereka sepakat untuk berdusta. Peristiwa tersebut benar-benar mutawatir sama seperti kemunculan komet Haley seribu tahun yang lalu atau keberadaan pulau Sailan (sekarang: Sri Lanka) yang belum pernah kita lihat.”

(296)

Demikianlah memunculkan keraguan di seputar persoalan yang sangat pasti dan bisa disaksikan secara langsung ini merupakan bentuk kebodohan dan kedunguan. Cukuplah ia sebagai sesuatu yang mungkin, bukan mustahil. Apalagi terbelahnya bulan sangat mungkin terjadi sama seperti letusan gunung berapi (gempa vulkanik).

Poin Ketiga

Mukjizat (terbelahnya bulan) datang untuk membuktikan kenabian dan meyakinkan para pengingkar; bukan untuk memaksa mereka beriman. Oleh karena itu, ia ditampakkan kepada orang-orang yang mendengar dakwah nabi agar mereka mau menerima benarnya kenabian. Adapun memperlihatkannya pada semua tempat atau menampakkan secara jelas di mana manusia terpaksa menerima dan tunduk. Hal ini tentu saja bertentangan dengan hikmah Allah Yang Mahabijak dan Mahaagung. Juga bertentangan dengan rahasia taklif. Pasalnya, rahasia taklif menuntut terbukanya peluang bagi akal untuk bebas memilih.

Andaikan Tuhan Pencipta Yang Maha Pemurah membiarkan terbelahnya bulan itu berlangsung selama dua jam, lalu menampakkannya ke seluruh alam sehingga masuk ke dalam buku-buku sejarah seperti yang diinginkan oleh para filsuf, maka orang-orang kafir hanya akan menganggapnya sebagai fenomena astronomi yang biasa. Ia tidak lagi menjadi bukti atas benarnya kenabian serta tidak menjadi mukjizat Rasul (saw). Atau, ia bisa menjadi mukjizat aksiomatis yang memaksa akal untuk beriman kepada kenabian tanpa bisa memilih. Kalau hal itu terjadi, maka jiwa yang hina laksana arang seperti

(297)

Abu Jahal akan sama dengan jiwa yang mulia laksana berlian seperti Abu Bakar ash-Shiddiq (ra). Dengan kata lain, taklif ilahi akan sia-sia.

Oleh karena itu, mukjizat tersebut terjadi seketika, di waktu malam, di saat kelalaian begitu pekat, sementara perbedaan kenampakan bulan, mendung dan sejenisnya menjadi hijab yang membuat tidak seluruh manusia bisa melihatnya. Karenanya, ia tidak tercatat dalam buku-buku sejarah.

Poin Keempat

Karena mukjizat ini yang terjadi di waktu malam, dalam sekejap, dan secara tiba-tiba, tentu saja tidak terlihat oleh seluruh manusia di semua tempat. Bahkan, meski ia terlihat oleh sebagian orang, ia tetap tidak mempercayai matanya. Meski membenarkannya, peristiwa seperti ini yang diriwayatkan oleh satu orang tentu tidak memiliki nilai bagi sejarah.

Adapun tambahan yang diselipkan ke dalam riwayat bahwa “setelah bulan terbelah, ia jatuh ke bumi”, para ulama yang telah melakukan penelitian menolaknya. Menurut mereka, tambahan ini mungkin diselipkan oleh sebagian kaum munafik untuk menjatuhkan nilai riwayat tersebut.

Kemudian, pada waktu itu kabut kebodohan menutupi langit Inggris, sore hari di Spanyol, siang hari di Amerika, pagi hari di Cina dan Jepang, lalu di negara–negara lain terdapat penghalang lain untuk bisa melihatnya. Oleh karena itu, mukjizat besar ini tidak terlihat padanya.

(298)

Jika hal ini dipahami, renungkanlah ucapan orang yang berkata, “Sejarah Inggris, Cina, Jepang, Amerika, dan negara-negara lainnya tidak menyebutkan tentang peristiwa ini. Dengan demikian, ia tidak terjadi.” Sungguh sangat celaka mereka yang makan sisa-sisa orang Eropa!

Poin Kelima

Terbelahnya bulan bukan merupakan sebuah peristiwa yang terjadi dengan sendirinya lantaran sebab-sebab alami dan secara kebetulan. Akan tetapi, ia dihadirkan oleh Pencipta matahari dan bulan Yang Mahabijak sebagai peristiwa yang menyalahi hukum alam guna membenarkan kerasulan Nabi (saw) serta guna mendeklarasikan kebenaran dakwahnya. Maka dari itu, Allah menampakkan peristiwa tersebut sesuai dengan hikmah-Nya serta merupakan tuntutan dari rahasia pemberian petunjuk, taklif, dan hikmah penyampaian risalah. Juga, Dia menampakkannya sebagai bukti bagi mereka yang menyaksikannya. Sementara itu, sesuai dengan hikmah dan kehendak-Nya, Dia sengaja menyembunyikannya dari penduduk negeri lainnya yang belum menerima dakwah Nabi serta menghijabnya dari mereka entah dengan awan, mendung, perbedaan kenampakan bulan, terbitnya matahari di sejumlah negeri, teriknya siang di negeri lain, terbenamnya matahari dan berbagai sebab lain yang membuat peristiwa tersebut tidak terlihat.

Andaikan mukjizat ini diperlihatkan kepada semua manusia di dunia, maka akan ada dua kemungkinan: (1) Bisa jadi isyarat Rasul (saw) dan penampakan mukjizat kenabiannya demikian jelas bagi mereka yang dalam kondisi demikian, ia

(299)

sampai pada tingkat aksioma. Yakni, semua orang terpaksa membenarkan sehingga tidak ada pilihan lagi. Jika demikian, rahasia taklif akan percuma padahal iman menjaga kebebasan akal untuk memilih. (2) Atau bisa pula peristiwa tersebut tampak bagi mereka sebagai sebuah fenomena astronomi semata. Akhirnya, ia tidak ada kaitannya dengan kerasulan Muhammad dan tidak lagi memiliki keistimewaan.

Ringkasnya, peristiwa terbelahnya bulan tidak diragukan adanya dan telah dibuktikan secara pasti. Di sini kami akan menunjukkan kejadiannya lewat enam dalil yang valid

(*) Yakni terdapat enam argumen yang kuat tentang “terbelahnya bu-

lan” dalam enam jenis ijmak. Hanya saja, sayang sekali di sini ia hanya bisa

disebutkan secara ringkas―Penulis.

di antara banyak dalil yang ada. Di antaranya, (1) kesepakatan para sahabat yang merupakan orang-orang yang dapat dipercaya; (2) kesepakatan para ulama tafsir saat menafsirkan, “bulan telah berbelah”; (3) riwayat semua ahli hadis yang jujur yang menyebutkan kejadiannya lewat beragam sanad dan banyak jalur; (4) kesaksian semua wali dan orang-orang yang jujur yang mendapat kasyaf dan ilham; (5) pembenaran ulama ilmu kalam meski aliran dan pendekatan mereka berbeda-beda;

(300)

serta (6) penerimaan umat yang tidak mungkin sepakat atas kesesatan sebagaimana disebutkan dalam hadist Nabi (saw).

Semua itu secara pasti membuktikan peristiwa terbelahnya bulan seterang matahari.

Kesimpulan

Pembahasan sampai di sini atas nama telaah ilmiah guna membungkam para pengingkar. Setelah ini, pembicaraan atas nama hakikat dan iman. Demikianlah apa yang telah disebutkan oleh telaah ilmiah, sementara hakikat yang ada berbunyi:

Penutup rangkaian kenabian yang merupakan bulan yang menerangi langit kerasulan. Wilayah ubudiyahnya naik hingga mencapai kedudukan mahbûbiyyah (kekasih Ilahi). Ia memperlihatkan karamah yang agung dan mukjizat yang besar lewat mi’raj. Yakni dengan perjalanan fisik di cakrawala langit yang tinggi serta pengenalan penduduk langit dengannya. Dengan mukjizat tersebut, beliau menetapkan kewaliannya kepada Allah, posisinya sebagai kekasih Allah, serta keunggulannya atas penduduk langit. Demikian pula Allah telah membelah bulan yang bergantung di langit dan terpaut dengan bumi lewat isyarat seorang hamba-Nya yang berada di bumi. Dia memperlihatkan mukjizat ini sebagai penguat kerasulan sang kekasih. Sehingga beliau menjadi seperti dua orbit yang terang dari bulan. Beliau naik menuju puncak kesempurnaan dengan sayap kewalian dan kerasulan yang bersinar. Akhirnya beliau sampai ke jarak seukuran dua ujung busur

(301)

atau lebih dekat lagi. Beliau pun menjadi kebanggaan penduduk langit di samping kebanggaan penduduk bumi.

Semoga salawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga, dan sahabatnya sepenuh bumi dan langit!

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَٓا اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَلٖيمُ الْحَكٖيمُ

اَللّٰهُمَّ بِحَقِّ مَنِ انْشَقَّ الْقَمَرُ بِاِشَارَتِهِ اجْعَلْ قَلْبٖى وَ قُلُوبَ طَلَبَةِ رَسَائِلِ النُّورِ الصَّادِقٖينَ كَالْقَمَرِ فٖى مُقَابَلَةِ شَمْسِ الْقُرْاٰنِ اٰمٖينَ اٰمٖينَ

Ya Allah, dengan kebenaran sosok yang lewat isyaratnya bulan terbelah, jadikan kalbuku dan kalbu murid-murid Risalah Nur yang setia laksana bulan dalam memantulkan cahaya mentari al-Qur’an. Amin! Amin!

* * *

(302)

(303)

KUTIPAN DARI LAMPIRAN

RISALAH MUKJIZAT MUHAMMAD

[Bahasan ini masih terkait dengan kajian tentang dalil-dalil kenabian Muhammad (saw). Ia ditulis sebagai jawaban atas sebuah pertanyaan yang terdapat dalam permasalahan pertama dari tiga permasalahan penting yang termuat di akhir landasan ketiga dari Risalah Mi’raj. Ia laksana daftar singkat].

Pertanyaan: Mengapa mi’raj yang demikian agung tersebut dikhususkan kepada Muhammad (saw)?

Jawaban: Permasalahan pertamamu ini telah dibahas secara panjang lebar pada ketiga puluh tiga kalimat dalam buku al-Kalimât. Di sini kami hanya akan menerangkannya secara singkat dalam bentuk daftar ringkas dari kesempurnaan pribadi nabi (saw) berikut dalil kenabiannya dan mengapa beliau yang paling layak untuk mendapatkan mi’raj yang agung tersebut.

Pertama: Sejumlah kitab suci, Taurat, Injil, dan Zabur berisi sejumlah kabar gembira yang memberitakan kenabian

(304)

Rasul (saw) serta sejumlah keterangan tentangnya meski semua kitab suci tersebut mengalami perubahan sepanjang perjalanannya. Seorang ulama peneliti, Husein al-Jisr, saat ini telah menemukan seratus empat belas kabar gembira darinya. Semua itu ia tuliskan dalam bukunya yang berjudul ar-Risâlah al-Hamîdiyyah.

Kedua: Dalam sejarah dan dalam berbagai riwayat yang valid terdapat begitu banyak kabar gembira yang diberikan oleh sejumlah peramal terkenal seperti Syiq dan Sathîh sebelum kedatangan Nabi (saw) di mana mereka memberikan informasi bahwa beliau adalah nabi akhir zaman.

Ketiga: Robohnya sejumlah berhala di Ka’bah pada malam kelahiran beliau serta retaknya istana terkenal milik Kisra berikut ratusan kejadian luar biasa yang disebut irhâsât tertera dalam buku-buku sejarah.

Keempat: Memancarnya air dari jari-jemari beliau serta bagaimana beliau bisa memberikan air kepada pasukan dengannya; rintihan batang pohon yang ada di masjid nabawi (ketika itu) di hadapan jamaah besar lantaran ditinggal Rasul (saw); terbelahnya bulan sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an

وَ انْشَقَّ الْقَمَرُ

dan berbagai mukjizat sejenis yang dianggap valid oleh para ulama peneliti yang jumlahnya mencapai seribu di mana ia dibuktikan oleh sejumlah buku sirah dan sejarah.

Kelima: Baik kawan maupun lawan telah sepakat—tanpa keraguan sedikitpun—bahwa berbagai akhlak mulia yang dimiliki beliau berada dalam tingkatan yang paling tinggi serta berbagai tabiat terpuji yang melekat padanya dalam berdakwah

(305)

berada dalam tingkatan yang paling mulia. Hal itu ditunjukkan oleh sejumlah interaksi dan perilaku beliau dengan manusia. Syariat beliau yang mulia berisi berbagai perilaku baik yang sempurna yang dibuktikan oleh akhlak terpuji dalam agama Islam.

Keenam: Dalam isyarat kedua dari “Kalimat Kesepuluh”, kami telah menjelaskan bahwa Rasul (saw) adalah orang yang memperlihatkan tingkatan ubudiyah yang paling tinggi dan mulia lewat pengabdian agung dalam agamanya sebagai respon terhadap kehendak Allah (swt) dalam penampakan uluhiyah-Nya sesuai tuntutan hikmah.

Rasul (saw) adalah sosok terbaik yang memperlihatkan keindahan dalam kesempurnaan yang mutlak milik Sang Pencipta alam, serta orang terbaik yang telah memenuhi kehendak Allah dalam memperlihatkan keindahan tersebut lewat perantaraan seorang utusan, sebagaimana tuntutan hikmah dan hakikat.

Beliau adalah sosok terbaik yang menunjukkan kesempurnaan kreasi dalam keindahan mutlak milik Sang Pencipta alam, serta penyeru dengan suara yang paling tinggi. Dengan demikian, beliau telah mengabulkan kehendak Allah dalam mengarahkan perhatian makhluk kepada kesempurnaan kreasi-Nya.

Beliau adalah sosok paling sempurna yang menyuarakan seluruh tingkatan tauhid. Dengan demikian, beliau telah menuruti kehendak Tuhan semesta alam dalam mendeklarasikan keesaan-Nya kepada berbagai tingkatan makhluk.

(306)

Beliau adalah cermin paling bening yang memantulkan keindahan dan kehalusan estetika Sang pemilik alam seperti ditunjukkan oleh tanda-tanda kekuasaan-Nya, serta sosok terbaik yang mencintai dan membuat dirinya dicintai oleh-Nya. Dengan demikian, beliau telah memenuhi kehendak Ilahi dalam melihat sekaligus memperlihatkan keindahan suci tersebut sesuai tuntutan hikmah dan hakikat.

Beliau adalah sosok terbaik yang memperkenalkan dan memberitahukan khazanah gaib yang berisi mukjizat paling indah dan permata paling berharga milik Sang Pencipta alam. Dengan demikian, beliau telah mengabulkan kehendak Tuhan dalam memperlihatkan perbendaharaan gaib tersebut.

Beliau adalah sosok paling sempurna yang membimbing jin dan manusia, bahkan ruhâniyyîn (makhluk rohani) dan malaikat lewat al-Qur’an al-Karim, serta sosok paling agung yang menjelaskan makna kreasi Sang Pencipta semesta alam yang telah Dia hiasi dengan perhiasan yang paling indah sekaligus membuat para makhluknya yang memiliki kesadaran memperhatikan dan mengambil pelajaran darinya. Dengan demikian, beliau telah menuruti kehendak Ilahi dalam menjelaskan makna kreasi-Nya kepada makhluk yang berakal.

Beliau adalah sosok terbaik yang menyingkap maksud dan tujuan dari pergolakan alam lewat sejumlah hakikat al-Qur’an, serta sosok paling sempurna yang memecahkan tiga pertanyaan misterius yang terdapat di alam. Yaitu, siapa engkau? Dari mana engkau berasal? Dan hendak ke mana? Dengan demikian, beliau telah memenuhi kehendak Ilahi dalam menyingkap teka-teka misterius tersebut kepada makhluk yang memiliki kesadaran lewat seorang utusan.

(307)

Beliau sosok paling sempurna dalam menjelaskan berbagai maksud ilahi lewat al-Qur’an serta sosok terbaik dalam menerangkan jalan menuju keridhaan Tuhan semesta alam. Dengan demikian, Beliau telah memenuhi kehendak Ilahi dalam memperkenalkan apa yang Dia inginkan dari makhluk yang berakal dan apa yang Dia ridhai atas mereka lewat seorang utusan, setelah memperkenalkan diri-Nya sendiri kepada mereka lewat semua ciptaan-Nya yang menakjubkan sekaligus menanamkan kecintaan kepadanya lewat sejumlah nikmat-Nya yang berharga.

Beliau adalah sosok paling agung yang menyampaikan tugas kerasulan lewat al-Qur’an sekaligus menunaikannya dalam tingkatan paling tinggi dan dalam bentuk yang paling baik. Dengan demikian, beliau telah memenuhi kehendak Tuhan semesta alam dalam mengalihkan wajah manusia dari pluralitas makhluk kepada keesaan dan dari sesuatu yang fana menuju sesuatu yang abadi. Sosok manusia yang Allah ciptakan sebagai buah alam, lalu menganugerahkan padanya sejumlah potensi yang mampu menjangkau seluruh alam seraya menyiapkannya untuk melakukan pengabdian secara total serta mengujinya dengan berbagai perasaan yang mengarah kepada pluralitas makhluk dan kemegahan dunia.

Karena entitas terbaik adalah makhluk hidup, sementara makhluk hidup yang paling mulia adalah yang memiliki perasaan (kesadaran), lalu makhluk berperasaan yang paling utama adalah manusia yang hakiki. Oleh karena itu, sosok—di antara manusia yang paling mulia—yang menunaikan tugas tersebut lalu melaksanakannya dalam bentuk terbaik dan dalam tingkatan paling tinggi, tidak diragukan lagi akan mencapai

(308)

jarak seukuran dua busur atau lebih dekat lagi melalui mi’raj. Ia akan mengetuk pintu kebahagiaan abadi dan akan membuka perbendaharaan rahmat yang demikian luas, serta akan melihat berbagai hakikat iman secara langsung. Siapa gerangan sosok tersebut kalau bukan Nabi Muhammad (saw)?!

Ketujuh: Orang yang merenungkan berbagai ciptaan yang tersebar di alam akan menyadari bahwa di dalamnya terdapat proses penghiasan dalam bentuk yang paling indah dan menakjubkan. Tentu saja, proses tersebut menunjukkan keberadaan kehendak untuk memperindah dan mempercantik pada diri Pencipta alam. Kehendak kuat tersebut secara jelas membuktikan adanya keinginan kuat dan mulia serta cinta yang suci pada diri Pencipta terhadap ciptaan-Nya.

Oleh karena itu, tentu saja makhluk yang paling dicinta oleh Pencipta Yang Maha Pemurah yang mencintai ciptaan-Nya adalah sosok yang merangkum sejumlah sifat di atas, sosok yang menampakkan pada dirinya berbagai kelembutan kreasi (pencipta) secara sempurna, sosok yang mengenal dan memperkenalkan kreasi tersebut, sosok yang membuat dirinya dicintai, serta sosok yang dengan penuh penghargaan mengapresiasi keindahan berbagai ciptaan lainnya.

Siapakah yang membuat langit dan bumi mendendangkan kalimat subhânallâh, mâsyâ Allâh, Allâhu akbar, yang merupakan zikir penyucian, ketakjuban, dan pengagungan terkait dengan keistimewaan hiasan, tampilan keindahan, dan kesempurnaan kecerahan yang melekat pada makhluk? Siapa yang menghentak alam dengan lantunan al-Qur’an sehingga daratan dan lautan tertarik kepada-Nya dengan penuh kerinduan yang disertai penghargaan dan apresiasi saat melakukan

(309)

perenungan, pengungkapan, zikir, dan tahlil? Siapakah gerangan sosok penuh berkah itu kalau bukan Muhammad (saw) yang amanah?!

Nabi mulia semacam ini yang akan ditambahkan kepada timbangan kebaikannya pahala sebanyak kebaikan yang dilakukan oleh umatnya sesuai kaidah, “Perantara sama seperti pelaku”; sosok yang akan ditambahkan kepada kesempurnaan maknawinya limpahan salawat yang dicurahkan oleh seluruh umatnya; serta sosok yang diberi curahan rahmat dan cinta ilahi tak terhingga di samping buah dari tugas risalah yang berupa ganjaran maknawi yang agung. Ya, sudah pasti kepergian Nabi agung semacam ini menuju surga, Sidratul Muntaha, dan arasy yang paling agung hingga sejarak dua busur atau lebih dekat lagi melalui tangga miraj, merupakan kebenaran mutlak, sebuah hakikat, dan suatu hikmah.

(*) Sebuah harian islam yang perhatian terhadap kondisi umat Islam menyebutkan bahwa sejumlah politikus terkenal dan ahli hukum yang peduli dengan kehidupan sosial mengadakan sebuah konferensi di Eropa pada tahun 1927 M. Dalam konferensi tersebut, sejumlah filsuf asing berbicara tentang syariat Islam. Di bawah ini kami ketengahkan ucapan mereka yang kami terjemahkan. Dari sana kita mendapatkan kesaksian jujur tentang kebenaran syariat Islam. Ada sebuah ungkapan “Keutamaan yang sesungguhnya adalah keutamaan yang diakui oleh pihak musuh”: Para ilmuwan Barat sekalipun telah mengakui ketinggian prinsip Islam dan kesesuaiannya dengan dunia. Dekan Fakultas Hukum di Universitas Wina, Prof. Syabwel dalam konferensi tentang Hukum yang diselenggarakan pada tahun 1927 M, menyatakan, “Umat manusia layak bangga dengan penisbatan sosok seperti Muhammad kepada mereka. Sebab, meski buta huruf, belasan abad yang lalu beliau telah mampu menghadirkan aturan hukum di mana Sebuah harian islam yang perhatian terhadap kondisi umat Islam menyebutkan bahwa sejumlah politikus terkenal dan ahli hukum yang peduli dengan kehidupan sosial mengadakan sebuah konferensi di Eropa pada tahun 1927 M. Dalam konferensi tersebut, sejumlah filsuf asing berbicara tentang syariat Islam. Di bawah ini kami ketengahkan ucapan mereka yang kami terjemahkan. Dari sana kita mendapatkan kesaksian jujur tentang kebenaran syariat Islam. Ada sebuah ungkapan “Keutamaan yang sesungguhnya adalah keutamaan yang diakui oleh pihak musuh”: Para ilmuwan Barat sekalipun telah mengakui ketinggian prinsip Islam dan kesesuaiannya dengan dunia. Dekan Fakultas Hukum di Universitas Wina, Prof. Syabwel dalam konferensi tentang Hukum yang diselenggarakan pada tahun 1927 M, menyatakan, “Umat manusia layak bangga dengan penisbatan sosok seperti Muhammad kepada mereka. Sebab, meski buta huruf, belasan abad yang lalu beliau telah mampu menghadirkan aturan hukum di mana kami, bangsa Barat, sangat bahagia andaikan mampu mencapainya dua ribu tahun kemudian.”

Bernard Shaw juga berkata, “Agama Muhammad (saw) adalah sesuatu yang layak mendapat penghargaan tertinggi dariku karena sangat hidup. Bagiku ia adalah agama satu-satunya yang layak untuk berbagai fase kehidupan di mana ia mampu menarik setiap generasi kepadanya. Menurutku, Muhammad (saw) layak dianggap sebagai penyelamat umat manusia. Aku yakin bahwa orang sepertinya jika memegang kendali dunia modern akan sukses menyelesaikan banyak problem serta dapat memberikan kedamaian dan kebahagiaan kepada dunia. Itulah yang dibutuhkan oleh dunia saat ini.”

* * *

(310)

(311)

TINGKATAN KEENAM BELAS

DARI RISALAH “AL-AYAT AL-KUBRA”

Yang Membahas tentang Risalah Muhammad (saw)

[Karena kesesuaian konteks, tingkatan tersebut dimasukkan di sini]

Sang pengembara di dunia itu berbicara kepada akalnya, “Selama aku mencari Pemilik dan Tuhan Penciptaku dengan cara menginterogasi seluruh entitas alam, maka yang pertama kali harus kulakukan adalah mengunjungi sosok manusia paling sempurna, paling berpengaruh—bahkan lewat pengakuan para musuhnya—paling terkenal, paling jujur, paling tinggi derajatnya, dan paling bercahaya akalnya. Beliau tidak lain adalah Muhammad (saw) yang, dengan sejumlah keutamaan dan al-Qur’annya, menjadi penerang selama empat belas abad. Guna bisa mengunjungi beliau dan meminta penjelasan tentang apa yang sedang kucari, kita harus pergi bersama-sama menuju generasi terbaik; era kebahagiaan; era kenabian.” Maka dengan akalnya, ia masuk ke era tersebut. Di dalamnya ia melihat betapa era tersebut benar-benar merupakan era kebahagiaan bagi umat manusia. Pasalnya, dalam

(312)

waktu singkat lewat cahaya yang beliau bawa, beliau berhasil mengubah satu kaum yang sangat buta huruf dan primitif menjadi para guru dan pembesar dunia.

Sang pengembara itu juga berbicara kepada akalnya dengan berkata, “Sebelumnya kita harus lebih dulu mengetahui sekelumit tentang keagungan sosok yang menakjubkan itu, yaitu kebanaran ucapan dan informasinya. Kemudian kita meminta penjelasan darinya tentang Tuhan Pencipta kita.” Ia pun segera melakukan kajian. Maka, ia menemukan sejumlah bukti kuat yang tak terhingga atas kenabiannya, namun dia meringkasnya menjadi sembilan bukti:

Pertama: Sifat dan tabiat mulia yang beliau miliki yang diakui bahkan oleh para musuh; ratusan mukjizat beliau seperti terbelahnya bulan menjadi dua lewat isyarat telunjuk beliau sebagaimana yang disebutkan oleh al-Qur’an, “Dan bulan pun terbelah,” (QS. al-Qamar [54]: 1); kekalahan pasukan musuh di mana mata mereka dimasuki debu yang beliau lemparkan dengan kepalan tangannya seperti yang disebutkan al-Qur’an, “Bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, namun Allah yang melempar,” (QS. al-Anfâl [8]: 17); kesegaran yang dirasakan oleh para sahabat setelah meminum air yang bersumber dari jari-jemari beliau laksana telaga al-Kautsar saat mereka kehausan; serta ratusan mukjizat lainnya yang sampai kepada kita lewat riwayat yang valid atau mutawatir.

Berbagai mukjizat tersebut terangkum dalam “Surat Kesembilan Belas” pada buku al-Maktûbât. Ia adalah risalah “Mukjizat Muhammad (saw)” yang merupakan risalah luar biasa dan memiliki karamah. Ia memuat lebih dari 300 mukjizat disertai dengan dalil yang kuat dan sanad yang terpercaya.

(313)

Kemudian ia berbicara kepada dirinya sendiri, “Sosok yang memiliki akhlak baik semacam itu, keutamaan hingga pada tingkatan tersebut; serta mukjizat yang demikian banyak, sudah pasti merupakan pemilik ucapan yang paling jujur. Oleh karena itu, tidak mungkin dia mau merendahkan diri dengan menipu, berdusta, dan menyimpang yang merupakan kebiasaan orang-orang yang tidak bermoral.”

Kedua: Al-Qur’an—yang ada di tangan beliau—yang merupakan mukjizat dilihat dari tujuh aspek. Firman itu bersumber dari Pemilik alam. Firman tersebut diterima dan dipercaya oleh lebih dari tiga ratus juta orang di setiap masa. Karena “Kalimat Kedua Puluh Lima” (risalah Mukjizat al-Qur’an) yang merupakan mentari Risalah Nur—dengan berbagai dalil yang kuat—telah menegaskan bahwa al-Qur’an al-Karim merupakan mukjizat ditinjau dari empat puluh aspek dan merupakan kalam Tuhan semesta alam, maka sang pengembara tersebut mengalihkannya kepada risalah yang terkenal itu karena memuat penjelasan tentang mukjizat al-Qur’an secara detail. Kemudian ia berkata, “Sosok penerima amanah kalam Allah sekaligus penafsir aplikatif darinya, penyampai berita agung tersebut kepada seluruh manusia, serta merupakan kebenaran dan hakikat, sama sekali tidak mungkin berdusta dan tidak mungkin diragukan.

Ketiga: Beliau diutus dengan membawa syariat yang suci, agama fitrah (Islam), pengabdian yang tulus, doa yang khusyuk, dakwah yang komprehensif, serta iman yang kokoh; yang tidak ada dan tidak akan pernah ada padanannya. Tidak ada dan tidak akan pernah ada yang lebih sempurna darinya.

(314)

Pasalnya, “syariat” yang besumber dari seorang buta huruf (Nabi (saw)) di mana ia memimpin seperlima umat manusia yang beragam kondisinya sejak empat belas abad yang lalu lewat sebuah kepemimpinan yang hak dan adil melalui sejumlah hukumnya yang cermat dan banyak, tidak akan pernah ada bandingannya.

“Islam” yang juga bersumber dari perbuatan, perkataan, dan keadaan sosok buta huruf tersebut di mana ia memimpin tiga ratus juta manusia sekaligus menjadi rujukan mereka pada setiap masa; menjadi penuntun akal dan pencerah hati mereka, serta pendidik nafsu dan pembangkit jiwa mereka. Tentu tidak ada dan tidak akan pernah ada yang bisa menyamainya.

Demikian pula keunggulan beliau dalam seluruh jenis “ibadah” yang terdapat dalam agama yang dibawanya, ketakwaannya yang luar biasa yang melebihi siapapun, rasa takutnya kepada Allah yang amat sangat, perjuangannya yang berkesinambungan, perhatiannya yang sangat besar terhadap sejumlah rahasia ubudiyah, bahkan dalam kondisi yang paling sulit, pengamalannya terhadap ubudiyah yang murni tersebut tanpa meniru siapapun dengan menghayati segenap maknanya dalam bentuk yang paling sempurna seraya menyatukan awal dan akhir. Tentu saja, tidak terlihat dan tidak akan pernah terlihat orang yang sama dengannya.

Selanjutnya lewat “al-Jausyan al-Kabir” yang merupakan salah satu dari ribuan doa dan munajatnya. Beliau menyifati Tuhan dengan makrifat rabbani yang luhur yang tidak pernah dicapai oleh seluruh kalangan arif dan wali. Bahkan mereka tidak bisa mencapai satu derajatpun dari penyifatan tersebut

(315)

sejak dulu seiring dengan kontinuitas pemikiran. Ini memperlihatkan bahwa tidak ada yang menyamainya dalam hal doa. Siapa yang membaca penjelasan singkat satu saja dari sembilan puluh sembilan alinea al-Jausyan al-Kabir, yaitu pada awal Risalah Munajat, ia pasti akan mengakui bahwa tidak ada yang menyamai doa menakjubkan tersebut. Doa itu mencerminkan puncak makrifat rabbani.

Ketabahan, keteguhan, serta keberanian yang dia tunjukkan dalam menyampaikan risalahnya dan dalam menyeru umat manusia ke jalan yang benar. Meskipun berbagai negara dan sejumlah agama besar, bahkan kaum, suku, dan pamannya sendiri memusuhinya, namun sedikit pun tidak pernah ragu, khawatir ataupun cemas. Dia menantang seluruh dunia seorang diri. Allah pun menolong dan memuliakannya sehingga Islam bisa tersebar ke seluruh dunia. Siapakah yang mampu menandingi (keberhasilan) Muhammad (saw) dalam menyampaikan ajaran Allah? Kemudian keimanannya yang kokoh, keyakinannya yang teguh, penyingkapan fitrah yang luar biasa, dan akidahnya yang luhur memenuhi dunia dengan cahaya. Seluruh pemikiran, ideologi, ungkapan ahli hikmah, pengetahuan para rohaniawan yang terkenal di masa itu tidak bisa memberikan pengaruh kepadanya meski dengan sebuah syubhat, keraguan, kelemahan, dan bisikan. Ya, semua itu tidak bisa mempengaruhi keyakinan, akidah, dan kebergantungannya kepada Allah (swt). Belum lagi, inspirasi yang diberikan kepada para wali dan orang-orang saleh yang menapaki tangga spiritual dan tingkatan keimanan, terutama para sahabat. Serta bagaimana mereka terus mendapat limpahan karunia dari martabat keimanannya sekaligus melihatnya

(316)

berada dalam tingkat dan kedudukan yang paling tinggi. Semua itu memperlihatkan secara jelas bahwa iman beliau tidak tertandingi.

Dari sini sang pengembara memahami dan membenarkan akalnya bahwa sosok pemilik syariat lurus yang tiada tara ini, Islam yang tidak bisa diserupai, pengabdian tulus yang tidak tertandingi, doa yang indah dan menakjubkan, dakwah kepada alam secara komprehensif, serta keimanan yang luar biasa, tidak mungkin berdusta ataupun melakukan tipu daya sama sekali.

Keempat: Kesepakatan para nabi mengenai berbagai hakikat keimanan merupakan dalil kuat yang menunjukkan keberadaan dan keesaan Allah (swt). Ia juga merupakan saksi jujur atas kebenaran Nabi (saw) dan risalah beliau. Sebab, semua yang menunjukkan benarnya kenabian para nabi, seluruh karakter suci dan mukjizat yang menjadi orbit kenabian mereka, serta segala tugas yang mereka jalankan juga terdapat pada diri Nabi (saw) bahkan dalam bentuk yang lebih sempurna sebagaimana ditegaskan oleh sejarah. Lewat lisan kalam—yakni Taurat, Injil, Zabur dan Suhuf yang diturunkan kepada mereka—para nabi tersebut telah menginformasikan dan memberikan kabar gembira tentang kedatangan sosok penuh berkah ini. (Bahkan lebih dari dua puluh petunjuk yang jelas di antara sekian banyak petunjuk kabar gembira yang terdapat dalam kitab suci mereka telah dijelaskan dan ditegaskan secara gamblang dalam risalah Mukjizat Muhammad (saw)).

Di samping memberikan kabar gembira tentang kedatangan beliau, mereka juga membenarkannya lewat kenabian dan mukjizat mereka. Mereka memberikan dukungan atas kebenaran

(317)

dakwah beliau. Pasalnya, beliau adalah sosok paling sempurna dalam mengemban tugas kenabian dan dakwah ke jalan Allah. Maka, sang pengembara itu pun memahami bahwa sebagaimana para nabi tersebut menunjukkan keesaan Allah dengan ijmak dan ucapan, mereka juga bersaksi lewat lisanul hal atas kebenaran Nabi (saw).

Kelima: Sampainya ribuan wali kepada kebenaran dan hakikat, kesempurnaan dan karamah yang mereka dapatkan, serta kasyaf dan penyaksian yang mereka peroleh, semua itu tidak lain adalah berkat sikap mengikuti petunjuk, jejak dan tarbiyah Nabi (saw). Di samping menunjukkan keesaan Allah, mereka juga bersaksi atas kebenaran Nabi (saw)—guru dan pemimpin mereka—serta atas kebenaran risalahnya. Dari sini pengembara itu melihat bahwa penyaksian mereka atas sebagian informasi yang disampaikan Nabi (saw) dari alam gaib lewat cahaya kewalian serta keyakinan dan pembenaran mereka terhadap semua yang beliau sampaikan melalui cahaya iman—entah dengan ilmul yaqin, ainul yaqin, ataupun haqqul yaqin—hal itu memperlihatkan secara jelas sejelas mentari betapa sang pemimpin besar mereka tersebut sangat benar.

Keenam: Jutaan ulama peneliti, suci, dan jujur, serta para tokoh ahli hikmah yang telah mencapai tingkatan tertinggi berkat belajar dan menelaah sejumlah hakikat suci yang dibawa oleh Nabi (saw)—yang buta huruf—berbagai pengetahuan luhur yang bersumber darinya, dan makrifat ilahi yang tersingkap darinya, mereka semua di samping menetapkan dan membenarkan keesaan Allah yang menjadi dasar dakwah Nabi (saw) lewat sejumlah bukti yang kuat, mereka juga sama-sama bersaksi atas kejujuran sang guru besar mereka serta atas

(318)

kebenaran ucapannya. Kesaksian mereka itu merupakan argumen yang jelas sejelas siang yang menunjukkan kejujuran dan kebenaran risalah beliau. Risalah Nur berikut sejumlah bagiannya yang lebih dari seratus, misalnya, hanyalah satu petunjuk yang menegaskan kebenaran Nabi (saw) ini.

Ketujuh: Hasil penyelidikan dan pengamatan sekelompok orang yang disebut sebagai ahlul bait dan sahabat—di mana mereka merupakan umat manusia yang memiliki firasat paling halus dan pengetahuan paling banyak setelah nabi, yang memiliki kesempurnaan paling tinggi, kedudukan paling mulia, sifat-sifat paling luhur, komitmen terhadap agama yang paling kuat, dan pandangan yang paling tajam—terhadap seluruh kondisi Nabi (saw) yang tersembunyi dan yang tampak, pemikiran dan tindakannya dengan penuh antusias, cermat, dan sungguh-sungguh, begitu pula pembenaran mereka semua bahwa beliau adalah penduduk dunia yang ucapannya paling jujur, kedudukannya paling mulia, dan komitmennya terhadap kebenaran paling kuat. Semua itu menjadi bukti yang jelas (atas kebenaraan beliau berikut risalahnya) laksana siang yang menunjukkan keberadaan cahaya matahari.

Kedelapan: Sebagaimana alam menunjukkan keberadaan Pencipta, Penulis, dan Pelukis yang menghadirkan, menata, mengatur, dan mengendalikannya di mana ia seolah-olah sebuah istana yang megah, atau sebuah buku yang besar, atau sebuah galeri yang menakjubkan. Ia juga menuntut keberadaan sosok yang menjelaskan sejumlah makna yang terdapat di dalam kitab besar itu, yang mengetahui sekaligus memberitahukan berbagai tujuan ilahi di balik penciptaan alam ini, yang menerangkan sejumlah hikmah rabbani dalam

(319)

berbagai perubahan dan transformasinya, yang mengajarkan hasil-hasil gerak fungsionalnya, serta memperlihatkan nilai esensi dan kesempurnaan entitas yang terdapat di dalamnya. Dengan kata lain, ia menuntut keberadaan sosok da`i agung, penyeru yang jujur, ustadz yang teliti, dan guru yang andal. Dari sini pengembara tersebut memahami bahwa alam—dilihat dari tuntutan di atas—menjadi petunjuk dan saksi atas kebenaran Nabi (saw) yang merupakan sosok terbaik dalam menunaikan tugas-tugas di atas. Alam juga menjadi saksi atas keberadaannya sebagai utusan Tuhan Pencipta alam yang paling mulia dan paling benar.

Kesembilan: Di balik tirai terdapat Dzat yang memperlihatkan kesempurnaan-Nya sebagai Pencipta yang cermat lewat berbagai ciptaannya yang rapi dan penuh hikmah; Dzat yang memperkenalkan diri dan membuat yang lain mencintai-Nya lewat makhluk-Nya yang tak terhingga dan indah; Dzat yang mengharuskan rasa syukur dan pujian terhadap-Nya lewat berbagai nikmat-Nya yang tak terhitung dan sangat bernilai; Dzat yang menjadikan makhluk rindu untuk beribadah pada rububiyah-Nya lewat ubudiyah yang berhias cinta, ketenangan dan rasa syukur atas tarbiyah dan pemberian kehidupan yang komprehensif yang disertai kasih sayang dan perlindungan—bahkan Dia menyiapkan sejumlah makanan dan jamuan rabbani yang bisa memuaskan daya rasa yang paling halus dan semua jenis selera—; Dzat yang mengantar makhluk untuk beriman, tunduk, patuh, dan taat kepada uluhiyah-Nya yang Dia perlihatkan lewat pergantian musim, perputaran siang dan malam, serta sejumlah tindakan lainnya yang agung, perbuatan-Nya yang menakjubkan, serta

(320)

penciptaan yang penuh hikmah; dan Dzat yang memperlihatkan keadilan-Nya lewat perlindungan-Nya terhadap kebajikan dan orang-orang baik, penghapusan-Nya terhadap keburukan dan orang-orang jahat, serta kebinasaan yang ditimpakan oleh-Nya terhadap kaum zalim dan pendusta lewat sejumlah musibah dan bencana.

Selama kondisinya demikian, maka tidak aneh kalau makhluk yang paling dicintai oleh Dzat yang tersembunyi di balik tirai gaib itu serta hamba yang paling jujur bagi-Nya adalah sosok yang mengamalkan berbagai tujuan di atas dengan tulus; yang menyingkap rahasia teragung dari penciptaan alam dan memecahkan teka-tekinya; yang selalu bekerja atas nama Penciptanya serta meminta kekuatan dan pertolongan dari-Nya semata dalam segala hal sehingga memperoleh bantuan dan taufik-Nya. Siapa gerangan sosok tersebut selain Muhammad al-Qurasyi (saw)?

Kemudian sang pengembara itu berbicara kepada akalnya, “Ketika sembilan hakikat di atas menjadi saksi dan petunjuk yang menegaskan kebenaran Nabi (saw), tidak heran jika beliau menjadi poros kemuliaan umat manusia dan pusat kebanggaan alam, serta layak disebut sebagai kebanggaan manusia dan alam semesta. Kalam ar-Rahmân yang berada di tangan-Nya, yaitu al-Qur’an yang keagungan kekuasaan maknawinya menguasai setengah bumi berikut kesempurnaan pribadi dan karakternya yang mulia memperlihatkan bahwa manusia paling agung di alam ini adalah Nabi (saw). Jadi, keterangan yang paling tepat dan akurat tentang Sang Pencipta kita adalah keterangan beliau (saw).

(321)

Oleh karena itu, wahai akal mari perhatikan! Landasan seluruh pernyataan Nabi (saw) dan tujuan keseluruhan hidup beliau adalah menjadi saksi atas eksistensi Sang Wajibul Wujud dan menjadi petunjuk atas keesaan-Nya, serta untuk menjelaskan sifat-sifat-Nya yang agung dan untuk memperlihatkan (manifestasi) nama-nama-Nya yang mulia, sekaligus memberikan ketetapan atas semua itu dengan bersandar pada ribuan hakikat yang kokoh yang terdapat dalam agamanya serta pada kekuatan ratusan mukjizat yang jelas dan cemerlang yang Allah tampakkan lewat beliau.

Dengan kata lain, mentari maknawi yang menerangi alam ini serta bukti cemerlang yang menunjukkan keberadaan dan keesaan Pencipta kita adalah Nabi (saw) yang dijuluki Habîbullah (kekasih Allah).

Terdapat tiga jenis kesepakatan agung—yang tidak menipu ataupun tertipu—yang menguatkan dan membenarkan kesaksiannya.

Pertama, kesepakatan kalangan bersinar yang dikenal di dunia ini dengan nama “keluarga Muhammad (saw)”. Mereka adalah kalangan yang dipimpin Imam Ali (ra) yang berkata, “Meski tirai gaib tersingkap untukku, ia tidak akan menambah keyakinanku”, disusul oleh ribuan wali agung yang memiliki bashirah yang tajam dan penglihatan yang tembus ke alam gaib, semisal Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang dengan bashirahnya yang tajam pernah melihat arasy yang agung dan Israfil, padahal ia tetap berada di bumi.

Kedua, kesepakatan kalangan yang dikenal dengan nama “sahabat yang mulia” yang masyhur di dunia berikut pembenaran dan keimanan mereka yang kokoh terhadap Nabi (saw) sehingga

(322)

hal itu mengantar mereka untuk siap mengorbankan jiwa dan harta, serta rela meninggalkan keluarga dan kabilah. Mereka sebelumnya kaum badui yang buta huruf dan jauh dari kehidupan sosial dan pemikiran politik. Mereka hidup dalam kegelapan masa fatrah (transisi); tidak memiliki petunjuk ataupun kitab yang bisa mencerahkan mereka. Namun dalam waktu yang relatif singkat, mereka menjadi para guru, mursyid, ahli politik, dan hakim yang adil bagi bangsa yang lebih maju dari segi peradaban, ilmu pengetahuan, sosial dan politik. Mereka mampu menguasai dunia; Timur dan Barat serta berhasil mengibarkan panji keadalian di seluruh penjuru; Laut dan Darat.

Ketiga, pembenaran kalangan ulama agung yang jumlahnya tak terhingga, yang pengetahuan mereka sangat mendalam dan luas, yang tumbuh di tengah umat dan menempuh beragam jalan. Pada setiap masa terdapat ribuan dari mereka yang unggul dalam segala bidang ilmu. Pembenaran mereka semua terhadap beliau sampai pada derajat ilmul yaqin merupakan ijmak dan kesepakatan yang luar biasa.

Dari sini sang pengembara itu menetapkan bahwa kesaksian Nabi (saw) terhadap keesaan Allah bukan kesaksian yang bersifat pribadi dan parsial. Akan tetapi, ia adalah kesaksian yang bersifat umum dan universal. Ia sangat kokoh dimana sama sekali tidak bisa dilawan oleh seluruh setan sekalipun, meski mereka semua bersatu menyerangnya.

Berikut ini adalah petunjuk singkat terkait dengan apa yang diterima oleh sang pengembara tersebut yang merenungkan berbagai sisi kehidupan di era kebahagiaan di atas

(323)

dari madrasah bercahaya dalam tingkatan keenam belas dari bagian pertama:

لَٓا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الْوَاجِبُ الْوُجُودِ الْوَاحِدُ الْاَحَدُ الَّذٖى دَلَّ عَلٰى وُجُوبِ وُجُودِهٖ فٖى وَحْدَتِهٖ فَخْرُ الْعَالَمِ وَ شَرَفُ نَوْعِ بَنٖى اٰدَمَ بِعَظَمَةِ سَلْطَنَةِ قُرْاٰنِهٖ وَ حِشْمَةِ وُسْعَةِ دٖينِهٖ وَ كَثْرَةِ كَمَالَاتِهٖ وَ عُلْوِيَّةِ اَخْلَاقِهٖ حَتّٰى بِتَصْدٖيقِ اَعْدَائِهٖ وَ كَذَا شَهِدَ وَ بَرْهَنَ بِقُوَّةِ مِاٰتِ الْمُعْجِزَاتِ الظَّاهِرَاتِ الْبَاهِرَاتِ الْمُصَدِّقَةِ الْمُصَدَّقَةِ وَ بِقُوَّةِ اٰلَافِ حَقَائِقِ دٖينِهِ السَّاطِعَةِ الْقَاطِعَةِ بِاِجْمَاعِ اٰلِهٖ ذَوِى الْاَنْوَارِ وَ بِاِتِّفَاقِ اَصْحَابِهٖ ذَوِى الْاَبْصَارِ وَ بِتَوَافُقِ مُحَقِّقٖى اُمَّتِهٖ

ذَوِى الْبَرَاهٖينِ وَ الْبَصَائِرِ النَّوَّارَةِ

Tiada Tuhan selain Allah, yang eksistensi-Nya bersifat mutlak, Mahaesa dan Tunggal; yang kemutlakan eksistensi-Nya dalam keesaan-Nya ditunjukkan oleh sang kebanggaan alam dan kemuliaan umat manusia lewat keagungan kekuasaan Qur’annya, keluasaan agamanya, pluralitas kesempurnaannya, ketinggian akhlaknya, bahkan hal itu diakui oleh musuhnya. Ia juga menjadi saksi dan petunjuk lewat sejumlah mukjizatnya yang cemerlang dan terpercaya, serta lewat kekuatan ribuan hakikat agamanya yang bersinar dan kokoh yang dibuktikan oleh ijmak keluarganya yang memiliki cahaya, kesepakatan para sahabat yang memiliki bashirah, serta dukungan para ulama di kalangan umatnya yang memiliki argumen yang cemerlang.

* * *

⬇ Gulir Otomatis
📝 Catatan Saya 0 catatan

Pilih teks lalu tekan tombol "Catatan" untuk menambahkan catatan.

Pengaturan
Tema
Ukuran Font
Ketebalan Font
Ukuran Font Arab
Spasi Baris

Mode Fokus
Sembunyikan sidebar
Gulir Otomatis
Halaman bergulir sendiri
Kecepatan