Penjelasan
Sejak tiga belas tahun yang lalu kalbuku telah menyatu dengan akal dalam menjalani proses tafakkur seperti yang diperintahkan oleh al-Qur’an. Misalnya firman Allah yang berbunyi:“Mudah-mudahan kalian mau berpikir... Mudah-mudahan mereka mau berpikir... Apakah mereka tidak merenungkan langit dan bumi yang Allah ciptakan... Tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang mau berpikir”.Semua ayat di atas dan ayat-ayat lain yang serupa mendorong kita untuk melakukan sebuah proses perenungan atau tafakkur. Hal ini juga dinyatakan secara tegas oleh hadis Nabi :“Tafakkur sejenak lebih baik daripada ibadah satu tahun”.(*1) Dalam tiga puluh tahun ini, berbagai cahaya agung dan hakikat yang berantai masuk ke dalam akal dan kalbu di saat melakukan proses tafakkur. Karena itu, segera kutuliskan beberapa kalimat yang bukan untuk menegaskan makna dari cahaya itu. Tetapi untuk menjelaskan keberadaan cahaya tersebut sekaligus untuk memudahkan proses tafakkur di dalamnya serta untuk memelihara keteraturannya.Kalimat itu terus kubaca dalam diri dan jiwaku secara lisan lewat ungkapan bahasa Arab yang sangat beragam.
Meskipun aku mengulang-ulangnya sebanyak ribuan kali dalam kurun waktu yang lama, proses tafakkur tersebut tidak pernah membuatku bosan dan tetap terasa nikmat. Jiwaku selalu membutuhkannya. Sebab, tafakkur merupakan cahaya yang bersinar dari ayat-ayat al-Qur’an hingga segala keistimewaan ayat-ayat tersebut tampak dengan jelas. Itulah yang membuatku tidak pernah merasa bosan seraya terus menjaga kenikmatan dan kelembutannya.
Akhir-akhir ini, aku menemukan ikatan kehidupan yang sangat kuat dan cahaya cemerlang yang ditampung oleh berbagai bagian dari Risalah Nur. Semua itu tidak lain merupakan cahaya dari rangkaian proses tafakkur. Maka aku pun berniat menuliskan keseluruhannya di akhir-akhir hidupku dengan harapan bisa memberikan pengaruh mendalam kepada orang lain sebagaimana pengaruh yang kudapat. Selain itu, seluruh rangkaian tafakkur tersebut akan memiliki kekuatan dan nilai lain jika bagian terpenting darinya dimasukkan ke dalam Risalah Nur.
Karena akhir perjalanan hidup ini tidak menentu dan karena kondisiku di penjara Eskisyehir telah sampai pada keadaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian itu sendiri, maka kutulislah rangkaian tafakkur tersebut tanpa menunggu waktu lagi dan tanpa melakukan perubahan terhadapnya. Selain itu, ia juga ditulis atas keinginan para murid Nur yang hendak mengambil manfaat darinya. Lalu kubuatlah ia dalam tujuh bab.
Bab ketiga mengenai Allahu akbar. Bab keempat mengenai la ilaha illallah.
Catatan Kaki
- *Lihat: al-‘Âjlûni, Kasyf al-Khafâ, 1/371. ↑