Risale-i Nur Külliyatı [email protected]

Kehidupan Said Nursi di Emirdağ

2 dilihat

BAGIAN KEENAM

KEHIDUPAN SAID NURSI DI EMIRDAĞ

Mukadimah

Setelah dikeluarkannya keputusan bebas dari Pengadilan Pidana Denizli, selama dua bulan Ustadz Said Nursi tinggal di kota Denizli. Kemudian keluar keputusan yang mengubah statusnya menjadi tahanan rumah di Emirdağ. Meskipun demikian, Risalah Nur telah menyaksikan banyak perkembangan baru karena cakupan penyebarannya menjadi lebih luas hingga sampai ke kota-kota, desa dan pelosok. Jumlah muridnya bertambah dalam waktu yang tidak lama sehingga mencapai ratusan ribu dan publikasinya dimulai dengan menggunakan alat pengganda.

Ustadz Said Nursi menjalani tahanan rumah selama tiga tahun, kemudian beliau dan sejumlah muridnya ditangkap dan dimasukkan ke penjara lagi untuk ketiga kalinya di Afyon pada awal tahun 1948. Beliau mendekam di penjara selama hampir dua tahun. Kemudian dibebaskan dan kembali ke Emirdağ untuk kedua kalianya. Di tempat ini beliau tinggal selama tiga tahun, kemudian menetap di Isparta dan beliau masih sering mengunjungi Emirdağ dengan menjadikan Madrasah Nuriyahnya sebagai tempat tinggalnya karena sekarang beliau sangat memerlukan istirahat dan suasana baru setelah usianya mendekati sembilan puluh tahun(*1) .

Oleh karena itu, kami akan membatasi pembahasan dalam bagian ini pada periode tinggalnya yang pertama di Emirdağ, yaitu sebagai tahanan rumah yang berlangsung hingga dipenjarakan kembali di Afyon, kemudian ditambahkan masa tinggalnya di Emirdağ dengan pengabdian Risalah Nurnya setelah keluar dari penjara Afyon.Kehidupan Ustadz Said Nursi di Emirdağ dibandingkan dengan kehidupan sebelumnya tergolong lebih menarik perhatian, di samping kondisinya yang berada dalam pengawasan terus menerus, beliau lebih sering menjadi sasaran tuduhan dan cobaan sampai-sampai ada upaya untuk menghabisi beliau. Sejalan dengan hal itu, Risalah Nur mengalami perkembangan yang luas karena dibaca di tengah-tengah para akademisi, para pegawai negeri sipil dan para politikus.

Sehubungan dengan tuduhan-tuduhan batil dan fitnah yang dilancarkan terhadap Ustadz Said Nursi serta penyebaran Risalah Nur yang luar biasa setelah beliau diasingkan di Emirdağ, kami merasa perlu menjelaskan sebuah hakikat penting dalam mukadimah ini, maka kami katakan:

Tujuan kami menyebutkan hal-hal yang menakjubkan yang dapat disaksikan benar-benar terjadi dan dengan mata kepala berkenaan dengan kondisi, aktivitas dan pengabdian Ustadz Said Nursi, bukan untuk mengundang rasa takjub orang-orang agar mengagumi dan memuji pribadinya yang fana.

Sama sekali bukan itu tujuannya. Kami menyebutkan sejumlah karamah yang beliau terima dengan anggapan bahwa beliau adalah salah satu hamba Allah, salah satu umat Nabi Muhammad dan murid al-Qur’an al-Karim, untuk kami jelaskan pengabdian Risalah Nur yang dampaknya sangat kuat dalam menyebarkan kebahagiaan dan cahaya, dan merespon mereka yang ingin mencemarkan nama baiknya dengan menyebarkan berbagai fitnah dengan maksud untuk memalingkan orang-orang dari pengabdian iman yang dilaksanakan oleh Risalah Nur.

Dengan pekerjaan ini kami menghadang serangan musuh-musuh agama yang zalim dan gangguan-gangguan mereka yang batil serta menjelaskan bahwa Ustadz Said Nursi tidak bersalah sehingga kami dapat mengatakan bahwa dalam sejarah kami sedikit sekali menemukan seorang tokoh yang menjadi sasaran tuduhan dan fitnah yang benar-benar bertentangan dengan pemikiran, prinsip, pengabdian dan tujuannya seperti yang dialami oleh Badiuzzaman Said Nursi ini.Sungguh merupakan kondisi yang sangat disesalkan yang mengundang ratapan dan hati orang-orang penyinta keadilan akan terkoyak ketika mengetahui seseorang yang memfokuskan aktivitas dan semangatnya untuk menyelamatkan anak bangsa dan generasi mendatang dari cengkraman cakar kekacauan destruktif, kegelapan ateisme, dan kebobrokan moral. Lalu orang itu malah dituduh mengkhianati tanah air, meracuni pemikiran para pemuda dan menggiring mereka ke arah konservatif. Ini tidak lain dari gilanya kesesatan yang tumbuh dari kekafiran semata.Ya, ia adalah seorang yang tidak bersalah, mendapat cobaan dengan tuduhan-tuduhan yang jauh dari kenyataan yang sebenarnya.

Ia bukan hanya sekali dua kali menjadi korban tuduhan seperti ini, tetapi ribuan kali, hanya saja sebagaimana ia merupakan satusatunya model dalam pengabdiannya, demikian pula dalam akhlak dan kondisi khususnya karena ia hidup sebagai contoh yang sangat luar biasa dalam masalah akhlak terpuji. Dari dirinya muncul contoh keluhuran dan kesucian yang paling luhur sehingga ia menjadi tanda dalam integritas dan akhlak yang baik. Kami sebagai muridnya yang senantiasa mendampinginya, mengabdi padanya, mengetahui hal ihwal hidupnya dari dekat, baik yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus menyatakan dengan suara kami yang paling lantang bahwasanya keustadzannya tampak dalam ilmu-ilmu keimanan yang bersumberkan dari alQur’an dan ia kemukakan untuk kepentingan orang-orang yang beriman dan umat manusia, keustadzannya juga tampak dalam bermasyarakat, kondisi dan kehidupan khususnya yang paling rinci yang selalu diselimuti suasana damai yang bersumber dari kewalian tingkat tinggi dan akhlak baik yang digambarkan al-Qur’an al-Karim.

Orang-orang yang memiliki hati nurani sejati dan keutamaan yang mengkaji keadaan Ustadz Said Nursi dengan pandangan yang cermat dan dengan firasat, mereka melihat dalam hatinya yang bersinar terdapat matahari hakikat dan makrifat yang memancarkan sinar, laut yang senantiasa bergelombang, maka mereka menyatakan bahwa buah matang yang bercahaya ini yang dihasilkan oleh pohon Islam semata-mata merupakan sumber kebanggaan bagi manusia dan zaman.

Wahai orang-orang malang yang mencaci maki seseorang yang memiliki akhlak, budi pekerti, iman, makrifat dan hakikat dengan membandingkan diri mereka yang memiliki niat busuk dan ruh jahat, berusaha berbohong tentang Said Nursi sebagai suri tauladan yang mulia dan berusaha melenyapkannya dengan berbagai fitnah yang setanpun malu mendengarnya! Semua fitnah dan racun yang kalian sebarluaskan tentang orang ini, semuanya hilang sia-sia. Cahaya kebenaran telah bersinar sehingga menerangi dunia, sementara kalian hina dina dan dibenci oleh kemanusiaan secara maknawi. Celakalah kalian! Selendang kemanusiaan yang kalian kenakan pun sangat menyedihkan dan pedih bagi kalian.

Tetapi masih ada satu pintu untuk menyelamatkan diri, mudah-mudahan ketika kalian mengetuknya, pintu itu terbuka untuk kalian. Said Nursi telah berjanji untuk dirinya seraya berkata, “Saksikanlah saudara-saudaraku bahwa saya memaafkan mereka yang berusaha untuk menghukum mati saya dengan syarat mereka menyelamatkan iman mereka dengan Risalah Nur dan berpegang teguh padanya.”Ya, sebagaimana mayoritas yang memeranginya dan berusaha menghukumnya kemarin, hari ini mereka menjadi para penolong dan sahabatnya, demikian pula kalian orang-orang yang menebar fitnah terhadapnya. Jika kalian menyesalkan perbuatan kalian dan mendengarkan baik-baik pelajaran Risalah Nur, semoga pahlawan kasih sayang itu mendoakan untuk pengampunan kalian.

Ya, Said Nursi adalah pahlawan yang sulit ditemukan bandingannya. Ia perlihatkan kepahlawanannya di medan perang dan di ruang pengadilan ketika melawan para tiran, namun terlepas dari perilaku kalian yang sangat menyakitkan dirinya, terlepas dari usaha kalian untuk menghancurkannya, mari perhatikan bagaimana ia mengangkat kedua tangannya dengan khusyuk dan dengan mata berlinang memohon untuk keselamatan kalian. Pahamilah bagaimana ia memperlakukan setiap lapisan bangsa dengan belas kasih dan sifat tawaduk yang paripurna. Saksikanlah tingkat kemanusiaan yang luhur tampak dalam pribadi yang luhur ini.

Pujian dan apresiasi yang disampaikan tentang Ustadz Said Nursi bukanlah semacam tepuk tangan yang dikenal para ahli dunia, tetapi ia merupakan partisipasi dalam penyampaian ucapan selamat dan apresiasi yang disampaikan oleh segenap makhluk kepada manusia yang sempurna ini dan sosok maknawinya yang mewakili nilai luhur manusia dan penampakan hakiki bagi Islam.

Ya, dari sisi cahaya hakikat yang direpresentasikan dan disenandungkan Said Nursi, tidak hanya manusia, tetapi juga alam beserta semua macam dan jenisnya turut mengapresiasinya. Kita dapatkan masa lalu dan masa mendatang mengapresiasi pengabdian imannya. Ustadz Said Nursi paling unggul dan sempurna dalam berbagai kesempurnaan yang tidak terbatas yang Allah I tanamkan dalam esensi kemanusiaan. Terkadang Anda temukan dirinya berjalan sendirian di antara bebatuan di atas puncak gunung tinggi, berkeliling di sana dalam keheningan. Terkadang Anda akan menemuinya ia sedang merenung di kebun, di antara pepohonan dan hewan, kemudian kembali ke kota membawa kondisi rohani yang siap untuk menyampaikan pelajaran tentang akhlak dan orasi rasional dalam pertemuan-pertemuan politik penting.

Kehidupannya di timur sebelum dan sesudah era kemerdekaan, juga kehidupannya yang keras di Istanbul memberi kesaksian terhadap hal ini dengan nyata. Ketika Anda pada suatu ketika mendapatkan dirinya berada di Timur Anatolia berkeliling di antara suku-suku, menyampaikan pelajaran iman dan nasihat moral, Anda temukan pada kesempatan lain berada di Damaskus di tengah-tengah para ulama dan tokohnya, memberi dukungan kebangkitan kaum muslimin dan meletakkan dasar-dasar kebangkitan mereka dari sisi politik Islam. Ia jelaskan dengan pandangan yang tajam dan dengan diagnosa yang cermat, memberitahukan akan tibanya fajar sidik kebahagiaan tiga ratus lima puluh juta muslim(*2)Kemudian pada era “parlementer”, ia menyeru umat Islam dengan suaranya yang sangat lantang, ia sampaikan orasinya dalam Majelis Dewan Perwakilan Rakyat dan melalui artikel-artikelnya di berbagai surat kabar, ia sampaikan bahwa mengakui undang-undang al-Qur’an yang suci dan mengamalkannya akan menjamin kebahagian dunia dan akhirat bangsa Islam serta akan menjadi titik tolak kebangkitan dan kemajuannya. Kemudian ia mempertahankan pemikirannya ini dengan segenap kepahlawannya di pengadilan militer(*3)

Tulisan singkat yang kami sampaikan tentang kondisi pribadi yang unik ini dan pengabdian yang dilakukannya menjelaskan bahwa ia seolah-olah menjadi satu komunitas yang terdiri beragam kemampuan dan kecerdasan. Di dalam dirinya terdapat kesempurnaan dan kebaikan yang kita lihat pada orang-orang yang memiliki iman yang teguh dan akal yang kuat yang menghiasi tiga belas abad sebagai buah pohon cahaya Islam dan bunganya sehingga seakan-akan ilmu dan pengetahuan Islam setelah punah di belahan bumi ini kembali hidup melalui tangannya.

Ya, selama beberapa abad para ulama, mujtahid dan para ustadz datang silih berganti, menyampaikan hakikat yang bersumberkan dari pelajaran dan petunjuk Nabi Muhammad x. Mereka sampai pada jenjang kesempurnaan. Mereka diikuti sekelompok kaum muslimin dalam lingkaran petunjuk dan pencerahannya. Badiuzzaman Said Nursi datang seakan-akan pewaris para ulama terhormat itu dalam cara dan perbuatannya. Ia muncul pada masa kita ini dengan segala kebaikan dan kelebihannya. Ia melakukan pengabdian agama dan jihad maknawi melalui Risalah Nur di bawah panji al-Qur’an. Berkat karunia Allah Ta`ala dan taufik-Nya, ia melaksanakan seluruh tugasnya dan pengabdiannya yang universal yang tidak akan mampu dilakukan oleh satu kelompok secara keseluruhan, oleh sebuah instansi tinggi atau pasukan tentara sekalipun.Sosok maknawi Tullabunnur yang dibentuk Badiuzzaman dengan kekuatan cahaya Islam dan ikatan persaudaraan iman telah mampu menangkal serangan kaum sesat yang dilakukan secara teroganisir dan membentuk titik sandaran yang kuat dan kokoh untuk orang-orang yang beriman serta mendirikan bendungan Qurani yang menghalangi bahaya merah komunis yang mengancam negara dan bangsa, di samping membentangkan jembatan persaudaraan, kasih sayang dan harmoni antara dunia Islam dan bangsa Turki yang nenek moyangnya adalah para pahlawan Islam pada masa silam.

Badiuzzaman Said Nursi adalah seorang yang memiliki kesiapan komprehensif. Ia memiliki berbagai keunggulan dan pijakan yang kokoh. Anda melihat dirinya sebagai contoh dalam melihat yang universal dan parsial dalam lingkaran cakrawala dan diri yang paling luas, melihat atom dan galaksi dalam waktu yang bersamaan dengan cermat sehingga ia menyaksikan, memerlihatkan dan membuktikan cahaya tauhid. Pada waktu lain Anda temukan ia sibuk melakukan pengabdian iman yang universal yang terbentang di seluruh pelosok dunia Islam dan umat manusia. Pada waktu lain Anda temukan dirinya duduk menyendiri menelaah buku alam semesta yang besar, merenungkan mukjizat ciptaan Ilahi, merenungkan jejak ciptaan Rabbani yang luar biasa yang merupakan buah tulisan pena qudrah Ilahi. Dengan tugas luhur yang dia kerjakan setiap hari membuat dirinya selalu naik dalam cahaya dan zauq makrifat serta kehadiran Ilahi.

Sebagaimana Anda menyaksikan kondisi rohani dan kondisi suci ini dalam setiap lembar kehidupan Ustadz Said Nursi, kehidupannya yang ia lalui di Emirdağ penuh dengan makna-makna tersebut. Meski sebagiannya telah disebutkan dalam buku “al-Malâhik”, tetap akan dirasakan kurang. karena pada biografi ini hanya dituliskan setetes air dari lautan kehidupannya.

* * *

==PEMBEBASAN SAID NURSI DARI PENJARA DENIZLI DAN PENGASINGANNYA KE EMIRDAĞ==

Setelah dikeluarkannya keputusan bebas dari pengadilan pidana Denizli pada bulan Juni 1944 M, para Tullabunnur dibebaskan dan masing-masing kembali ke tempat asalnya, sementara Ustadz Said Nursi dipindahkan untuk tinggal sementara di sebuah hotel di tengah-tengah kota Denizli sambil menunggu keluarnya perintah dari Ankara. Sehubungan dengan ditangkapnya para Tullabunnur beserta pengadilannya, penduduk Denizli memberikan perhatian kepada Risalah Nur. Selain itu, sejumlah pegawai pengadilan juga menyatakan sikap berpihak pada Risalah Nur di tengah-tengah berjalannya sidang. Mereka menyebarkannya di Denizli. Ketua pengadilan—yang dalam lingkaran Risalah Nur selalu dikenal sebagai hakim yang adil—dan anggota pengadilan serta orang-orang yang memiliki kemauan tinggi yang melayani perkara, semuanya menjadi sumber kebahagiaan bagi seluruh orang-orang yang beriman. Mereka menempati kedudukan spiritual yang bersinar selamanya.

* * *

Setelah Ustadz Said Nursi tinggal di Denizli selama dua bulan, pemerintah menetapkan ia sebagai tahanan kota di Emidag Provinsi Afyon pada bulan Agustus 1944 M. Pertama-tama Ia tinggal di sebuah hotel selama lima belas hari, kemudian tinggal di sebuah rumah sewaan. Ia membayar uang sewa dari uangnya sendiri.

Terkait kehidupan Ustadz Said Nursi di Emirdağ dapat disimpulkan bahwa kehidupannya berada dalam pengawasan yang terus menerus.

Meskipun dirinya mendapatkan status tidak bersalah secara hukum dan meskipun karangannya yang disita dikembalikan, Ustadz Said Nursi belum mendapatkan kebebasan penuh, bahkan sebaliknya, keputusan untuk mengawasi dirinya dikeluarkan. Rumah sewanya selalu berada dalam pengawasan sangat ketat dibanding masa-masa sebelumnya. Sebagaimana Ia jelaskan dalam surat-suratnya bahwa penderitaan yang dirasakan satu hari di Emirdağ kadang kadang setara dengan penderitaan satu bulan penuh di penjara Denizli. Perlakuan buruk dan kondisi sulit yang diterima Ustadz Said Nursi sudah diketahui oleh masyarakat Emirdağ. Tentunya ini merupakan salah satu perencanaan organisasi ateisme rahasia yang tidak dapat mencegah penyebaran Risalah Nur dan pengabdian imannya setelah dikeluarkannya keputusan bebas. Oleh karena itu, mereka menempuh jalan lain dengan memprovokasi sebagian pejabat untuk mengintimidasi Ustadz Said Nursi dalam upaya untuk menghabisinya.

Para penjaga selalu berada di depan pintu rumah sewanya. Untuk bertemu dengan Ustadz Said Nursi merupakan hal yang penuh risiko. Sementara keluarga besar Çalışkan pertama kali memperhatikan Ustadz Said Nursi di Emirdağ. Anggota keluarga ini telah memperlihatkan kecintaan dan apresiasinya terhadap orang tua mulia dan ulama terhormat yang diasingkan ke daerah mereka. Segera mereka memberikan pelayanan terhadapnya dan mengukuhkan hubungan dengannya semata-mata untuk mengharapkan keridaan Allah, tanpa memperdulikan perkataan orang-orang yang berprasangka buruk. Di Emirdağ terbentuk kelompok Tullabunnur yang terdiri dari anggota keluarga Çalışkan dan sejumlah orang-orang beriman yang setia. Mereka turut melakukan pengabdian iman yang dipelopori Ustadz Said Nursi. Mereka mulai membaca, menyalin dan menyebarkan Risalah Nur di lingkungan dekatnya(*4)Setelah Ustadz Said Nursi tinggal di Emirdağ dan Risalah Nur tersebar di kota ini, tampak kemajuan dalam ilmu, iman, akhlak dan keutamaan di kalangan penduduknya. Hal ini yang diketahui oleh orang-orang yang bekerja di instansi-instansi resmi(*5)

* * *

Para Tullabunnur di Emirdağ berbicara tentang kehidupan ustadz:

“Ustadz Said Nursi berada dalam pengawasan yang terus menerus. Salah satu kebiasaannya adalah keluar rumah untuk berkeliling menghirup udara segar, utamanya pada musim semi dan musim panas. Beliau keluar sendirian beberapa jam kemudian kembali ke rumah. Ketika beliau keluar sering kali ada orang yang mengikutinya. Kadang-kadang salah seorang pengawas atau seorang polisi militer menguntitnya. Pada suatu ketika pernah beliau ditembak dari belakang, tetapi pelurunya tidak mengenai tubuhnya. Pada suatu ketika ia mendapat perlakuan tidak senonoh dari salah seorang pega wai instansi resmi yang berbicara kepada beliau dengan sangat kasar, “Tidak boleh keluar. Anda tidak boleh mengenakan peci atau serban”. Ustadz Said Nursi pun akhirnya kembali ke tempatnya. Dan masih banyak lagi perlakuan kasar seperti ini.

Sebagaimana keadaan Ustadz Said Nursi di tempat lain, pengabdian iman di Emirdağ tidak terbatas pada satu tugas saja. Dari surat-suratnya dalam buku “al-Malâhik”, dari berita para sahabat lamanya dan para ilmuwan yang mengunjungi beliau, dari penglihatan penduduk, tetangga dan murid yang selalu berada bersamanya terbukti bahwa Ustadz Said Nursi memiliki banyak tugas yang bersumber dari hakikat dan dilaksanakan demi Yang Maha Benar.

Setiap hari beliau berusaha keras melaksanakannya, di samping kesibukannya mengarang buku, mengoreksi dan mempublikasikannya seperti “al-Kalimât” dan “al-Lama`ât” yang merupakan cahaya hakikat al-Qur’an. Beliau sangat antusias menelaah kitab alam semesta dan mengkaji ciptaan Allah yang merupakan kalimat qudrah-Nya. Beliau sangat tertarik membaca lembaran hikmah, rahmat mukjizat yang tergores di atas permukaan bumi, yang tersebar dalam lembaran musim semi, merenungkan keajaiban ciptaan Ilahi yang tersebar dalam pepohonan, tumbuhan dan hewan, mengungkap tanda-tanda keesaan Allah yang jelas dan menyeluruh.

Beliau berkelana dalam cakrawala hakikat iman dan makrifat Rabbani yang tidak bertepi guna mencapai tingkatan haqqul yakin.Hal itu tidak aneh karena tafakur adalah salah satu landasan metodenya yang diperoleh dari al-Qur’an al-Karim. Dalam semua karangannya, beliau tidak luput mengajak umat manusia untuk bertafakur dan mendapatkan pelajarannya. Ia bergerak dari titik tolak prinsipnya bahwa bertafakur satu jam lebih baik daripada ibadah satu tahun(*6). Ia membaca bait syair:Dalam segala sesuatu terdapat tanda Yang menunjukkan bahwa Dia Maha Esa Di samping itu, beliau berkeyakinan bahwa makrifat Ilahiyah yang diperoleh dengan ilmu dan tafakur akan memberikan kelapa�ngan seluas alam semesta terhadap ruh.

* * *

PERISTIWA PERACUNAN USTADZ SAID NURSI DI EMIRDAĞ

Peristiwa peracunan terjadi di tangan kepala pengawas yang mengawasi Ustadz Said Nursi. Ia dibujuk oleh salah seorang politikus dengan mengatakan kepadanya, “Kami telah mendapat perintah dari instansi tinggi untuk menghabisi lelaki itu”. Pengawas itu lalu dalam kegelapan naik ke jendela rumah Ustadz Said Nursi melalui tangga. Ia memasukkan racun ke dalam makanan Ustadz Said Nursi. Pada pagi harinya, Ustadz Said Nursi berguling-guling kesakitan akibat pengaruh racun yang sudah menyebar dalam tubuhnya. Kendati kerasnya racun itu ia mengatakan, “Saya telah dijaga dari kematian dengan bantuan wirid suci seperti al-Jawsyan al-Kabir, tetapi penyakit dan rasa sakit memang sangat pedih”. Satu minggu penuh Ustadz Said Nursi berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Ia tidak makan dan minum kecuali sangat sedikit sekali. Setelah pulih, ia kembali melakukan tugas Risalah Nur dengan melakukan pemeriksaan dan pengoreksian. Kendati ia dalam kondisi sakit keras, sekali pun ia tidak pernah meninggalkan salat, hanya saja peracunan pada kali kedua dan ketiga begitu kerasnya di luar batas kemampuannya untuk bertahan(*7), maka ketika itu ia hanya mampu melaksanakan salat fardu sambil berbaring di atas tempat tidurnya.

Dua orang murid Ustadz Said Nursi yang bertugas menjaganya pada suatu malam, keduanya begadang menjaga gurunya dengan berlinang air mata hingga pagi pada hari-hari yang sangat kritis, mereka berkata, “Beliau bangkit dari tidurnya menjelang subuh, duduk dengan mata terpejam, kedua tangannya beliau angkat dan dengan suara perlahan beliau mengucapkan beberapa kata mendoakan khidmah Risalah Nur agar berkembang. Juga mendoakan agar murid-muridnya selalu mendapat perlindungan dan keselamatan, kemudian beliau terjatuh ke tempat tidurnya dan pingsan”.

Selama tinggal di Emirdağ, dua atau tiga orang muridnya secara bergantian mendampingi Ustadz Said Nursi. Kendati mereka dilarang untuk bertemu dengan gurunya selama beberapa lama, mereka tetap berupaya mengabdi dan melakukan pengorbanan untuk sang guru.

Salah seorang petinggi di Emirdağ menyampaikan rahasia kepada rekannya yang kelak menjadi salah seorang pahlawan Risalah Nur. Ia ungkapkan adanya perencanaan rahasia yang bertujuan untuk membunuh Ustadz Said Nursi secara sembunyi-sembunyi. Hal ini berarti bahwa seluruh perlakuan buruk terhadap Ustadz Said Nursi tidak lain dari hasil perencanaan jahat tersebut.

Pengawasan dan intimidasi yang diterima Ustadz Said Nursi sangat menyakitkan dan keterlaluan, karena bukan sekadar mengusik haknya satu atau dua kali, tetapi terjadi selama bertahun-tahun.

Di Emirdağ Ustadz Said Nursi salat berjamaah di masjid. Sering kali salat Asar di masjid pasar dekat pusat kota. Setelah salat, beliau tetap berada di dalam masjid sampai salat Isya dan setelah itu kembali ke rumah. Ini adalah kebiasaannya dua tahun pertama selama tinggal di Emirdağ. Kemudian walikota melarang dirinya untuk pergi ke masjid dengan alasan ia bertemu orang banyak.Risalah Nur pada periode ini masih disalin dengan tulisan tangan di banyak tempat, terutama di Isparta. Banyak orang yang pernah membaca dan mengambil manfaat dari Risalah Nur datang untuk mengunjungi Ustadz Said Nursi, hanya saja tidak semuanya berhasil bertemu dengannya. Hanya sedikit dari mereka yang berhasil bertemu. Hal itu karena kesempatan bertemu dengan beliau hanya diberikan kepada mereka yang dalam dirinya terdapat rasa persaudaraan dan kecintaan yang tulus semata-mata mengharap rida Allah Ta`ala. Meskipun demikian, mereka bertambah siap untuk melakukan pengabdian Risalah Nur dengan sepenuh ketulusan dan kesetiaan. Orangorang itu duduk di sekitar Ustadz Said Nursi mendengarkan pelajarannya.

Kebiasaan Ustadz Said Nursi adalah memperhatikan tingkat pemahaman orang-orang yang berkunjung kepadanya sesuai dengan kesiapan mereka yang berbeda-beda. Ia berbicara kepada mereka sesuai dengan daya tangkap mereka. Ia mengarahkan pandangan mereka kepada Risalah Nur dan pengabdian iman. Ia jelaskan bahwa melakukan pengabdian iman melalui Risalah Nur akan mendatangkan manfaat material dan spiritual untuk umat manusia. Perlu disampaikan bahwa para pengunjung Ustadz Said Nursi berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Di antara mereka banyak pemuda dan ilmuwan. Tentunya keputusan bebas yang dikeluarkan pengadilan Denizli telah memunculkan perhatian di tengah para pegawai negeri dan jumlah Tullabunnur pun semakin bertambah.

* * *

PEMBICARAAN USTADZ SAID NURSI DENGAN PARA PENGUNJUNGNYA

Pembicaran Ustadz Said Nursi dengan para pengunjungnya berkisar pada Risalah Nur dan pengabdian iman. Ia jelaskan kepada mereka bahwa memperkuat iman adalah satu-satunya tujuan pengabdian Risalah Nur dan ini yang akan mencegah bahaya komunisme dan ateisme yang mengancam negara dan bangsa. Tugas yang paling wajib di atas pundak individu dan masyarakat adalah menyelamatkan dan memperkuat iman. Dakwah terbesar pada masa sekarang ini adalah berpegang teguh dengan al-Qur’an. Risalah Nur diserang semata-mata karena memfokuskan upayanya dengan segala kekuatan terhadap dakwah ini. Oleh karena itu, para musuh negara dan bangsa serta kaum ateis menyerangnya diam-diam. Mereka memprovokasi orang-orang dengan berbagai argumentasi dan alasan. Kemudian ia katakan, “Tidak ada jalan di hadapan kita selain tindakan positif-konstruktif. Yang kita genggam adalah cahaya, bukan gada politik. Kalau pun kita memiliki seratus tangan, hanya cukup menggenggam cahaya ini saja”. Ia jelaskan kepada mereka bahwa tindakan positif-konstruktif ini dampaknya lebih kuat dari bom atom dan ia yang akan menghancurkan musuh agama. Dijelaskan juga bahwa tidak ada kaitan antara Risalah Nur dengan politik karena dasar yang paling penting dalam jalan kami adalah keikhlasan sehingga yang dicari hanyalah keridaan Allah Ta`ala dan inilah rahasia kekuatan cahaya. Dengan keikhlasan dan tindakan positif-konstruktif, kasih sayang dan perhatian Ilahi tercurahkan kepada Risalah Nur dengan penjagaan dan pemeliharaan-Nya.

Berdasarkan apa yang disampaikan orang-orang yang mengikuti pengajian Ustadz Said Nursi dapat dikatakan bahwa

sebagaimana salah satu pelajaran yang disampaikannya merupakan sarana keselamatan banyak pemuda, ia juga merupakan titik tolak untuk melakukan pengabdian Risalah Nur dengan tekad bulat dan pengorbanan. Inilah yang terjadi terhadap mayoritas Tullabunnur yang mengikuti pengajian Ustadz Said Nursi.Pada suatu ketika salah seorang Tullabunnur yang diutus Ustadz Said Nursi untuk melakukan pengabdian Risalah Nur di Ankara dihinggapi rasa putus asa setelah melihat kondisi dunia. Ia bertanya-tanya pada dirinya dengan sedih, “Kapan orang-orang itu akan mendengarkan hakikat-hakikat Risalah Nur? Kapan tirai yang hitam kelam akan tersingkap? Bagaimana kegelapan maknawi ini akan sirna?”. Setelah beberapa lama kembali ke Emirdağ dan bertemu dengan Ustadz Said Nursi, sang guru yang mulia ini berkata kepadanya, “Tugas kita adalah melakukan pengabdian sedangkan taufik dan bagaimana orang-orang menerimanya, itu adalah urusan Allah I. Kewajiban kita hanyalah menunaikan tugas, maka janganlah Anda gelisah dan jangan pula berputus asa lalu Anda berkata “Kapan orang-orang akan mendengarkan Risalah Nur”, tetapi ketahuilah dengan yakin bahwa penduduk langit yang tidak terhitung jumlahnya mengapresiasi Risalah Nur. Oleh sebab itu, jumlah yang banyak menjadi tidak penting. Nilai itu terletak pada kualitas, bukan pada kuantitas. Seorang murid yang tulus yang memiliki jiwa pengorbanan nilainya sama dengan seribu orang”.

Mendengar nasihat sang guru, orang itu langsung terbebaskan dari rasa putus asanya.Pada awalnya Ustadz Said Nursi suka keluar berjalan kaki ke pinggiran kota, kemudian naik dokar. Setiap kali naik dokar ia selalu membayar ongkos. Beliau biasa bertanya kepada kami tentang harga barang yang hendak beliau beli, lalu kami beritahukan harga pokoknya tanpa keuntungan. Beliau malah memberi kami lebih banyak dari harga yang kami beritahukan dan berkata, “Saya tidak menerima jika tidak membayar sesuai dengan harga yang semestinya. Makanan yang dihadiahkan kepada saya akan membuat saya sakit jika saya tidak membalasnya dengan yang setara dan ini juga, saya harus membayar sesuai dengan harganya”.

Pada musim dingin Ustadz Said Nursi jarang berjalan-jalan ke pinggiran kota dan berekreasi di tengah-tengah ladangnya dan yang sering beliau lakukan adalah pada musim-musim lainnya. Kota terbentang dari keempat arahnya. Ada banyak tempat yang beliau jadikan madrasah Nur(*8). Beliau tinggal di tempat tersebut untuk mengoreksi Risalah Nur karena beliau berada dalam pengawasan terus menerus dan selalu diintai oleh aparat kepolisian dan pengawas, maka hingga tahun 1947 M ia selalu berkeliling dan duduk sendirian, sibuk dengan Risalah Nur sendirian. Hanya satu atau dua orang muridnya yang menemaninya untuk memandu dokar hingga sampai ke tempat yang dituju, beliau turun dan tinggal di tempat itu sendirian. Kesibukan yang seringkali dilakukan Ustadz Said Nursi ketika keluar ke pinggiran kota adalah mengoreksi Risalah Nur yang ditulis tangan.

Kemudian setelah beberapa lama, para murid yang mengabdikan diri untuk berkhidmat pada Risalah Nur di Isparta dan di Inebolu dapat memperoleh alat pengganda. Maka segera mereka menggandakan sejumlah risalah dengan menggunakan alat tersebut dan Ustadz Said Nursi mengoreksinya.Ustadz Said Nursi menaruh perhatian yang sangat besar dalam penulisan Risalah Nur dengan tangan dan menggandakannya dengan alat. Ia menganggap mengabdikan diri terhadap Risalah Nur ini sebagai persoalan yang paling penting pada masa sekarang dan bertindak berdasarkan landasan ini.

Beliau pernah berkata bahwa Risalah Nur itu adalah mukjizat al-Qur’an yang akan menerangi masa sekarang dan masa-masa mendatang. Pengabdian Risalah Nur yang penuh berkah dan bercahaya ini dilakukan setiap hari. Tulisan tangan Ustadz Said Nursi tidak bagus dan tidak dapat menulis dengan cepat. Dalam pengabdian ini, beliau turut serta dalam mengoreksi Risalah Nur. Pekerjaannya dalam mengoreksi berlangsung berjam-jam tanpa mengenal lelah. Pengab diannya terhadap Risalah Nur baginya merupakan nutrisi spiritual sehingga beliau tidak pernah meninggalkannya sampai-sampai ketika beliau dalam kondisi sakit keras. Semua orang mengetahui bahwa Ustadz Said Nursi telah menarik diri dari kehidupan sosial. Ia dilarang berkomunikasi dengan orang lain. Beliau tidak pernah bertemu dengan siapa pun. Ia tidak lagi mendapat hiburan yang biasa diperoleh orang ketika bermasyarakat. Hanya saja, dalam kondisi seperti ini beliau dapatkan harta karun yang tidak pernah habis. Rahmat Ilahi telah memberinya Risalah Nur. Beliau tidak memiliki anak dan keluarga. Tidak memiliki sedikit pun kesenangan dunia.

Sejengkal tanah pun beliau tidak miliki. Yang beliau miliki hanyalah Risalah Nur, maka kumpulan risalah ini merupakan segalanya bagi dirinya. Ia merupakan sumber kebahagiaan dan hiburan. Beliau memfokuskan diri pada Risalah Nur dengan segenap kemampuannya. Beliau menyadari bahwa tugas alamiahnya adalah mempelajari Risalah Nur, mengajarkannya dan menyebarluaskannya kepada orang banyak. Dalam hidupnya, Ustadz Said Nursi bertemu dengan banyak orang dalam berbagai lapisan, di samping bertemu dengan banyak orang yang berprofesi sebagai petani dan pedagang. Beliau berbicara kepada mereka di ladang, di gunung atau di hutan. Kelembutan dan gaya berbicara beliau sulit untuk dideskripsikan oleh kata-kata. Terlepas dari pengabdian al-Qur’an yang univesal dan luas yang beliau lakukan, seandainya pekerjaan dan pengabdiannya itu hanya mengajar dan memberi petunjuk kepada orang-orang, maka pekerjaan ini saja adalah pengabdian tersendiri yang mulia dan dampaknya sangat signifikan. Ya, pekerjaan yang beliau lakukan dalam bidang ini sangat agung. Selama tinggal di Barla, Ustadz Said Nursi mengganggap penduduknya, baik kaum lelakinya maupun kaum perempuannya, adalah sebagai Tullabunnur dan sebagai saudara kelak di akhirat. Demikian halnya di Emirdağ dan desa-desa sekitarnya di mana terdapat banyak Tullabunnur dan saudara akhirat. Khususnya beliau sering memberikan perhatian terhadap anak-anak.

Kewibawaan dan istikamah Ustadz Said Nursi sudah menjadi rahasia umum. Sifat ini diketahui banyak orang dan dibuktikan dengan kesaksian. Sebagian risalahnya menjelaskan bahwa beliau tidak berbicara dengan kaum wanita dan tidak melihat mereka sekalipun ketika beliau berusia muda. Ini ditegaskan oleh siapa pun yang selalu menyertainya dan mengenalnya dari dekat.

Masyarakat melihat keutamaan dalam dirinya. Mereka menjalin hubungan spiritual dan ukhrawi. Beliau sering mendoakan kaum ibu yang mulia dan para gadis yang konsisten mengerjakan salat dan beliau anggap sebagai saudara akhirat. Juga mendoakan anak-anak kecil yang dianggapnya sebagai murid dan anak maknawi.Ustadz Said Nursi secara ringkas mengatakan tentang kaum perempuan bahwa wanita adalah simbol kasih sayang. Kesibukan kaum perempuan kita dengan pendidikan dan pembinaan Islam adalah kewajiban yang paling utama pada masa sekarang. Mereka bertanggung jawab terhadap kehidupan akhirat anak-anaknya. Mendidik mereka berdasarkan agama dan keutamaan menjadikan mereka akan turut serta mendapatkan pahala dalam setiap perbuatan amal saleh yang mereka kerjakan. Ketika Ustadz Said Nursi sakit keras, beliau meminta kepada kaum ibu ini untuk mendoakannya kendati beliau jarang berbicara dengan mereka. Kaum ibu ini dengan kemurnian hati merasakan bahwa Ustadz Said Nursi adalah seorang pejuang kebenaran dan hakikat yang sangat terhormat.

Sementara perbincangan Ustadz Said Nursi dengan anak-anak kecil adalah membangkitkan kebahagiaan dan berkisar pada banyak pelajaran. Anak-anak kecil di Emirdağ dan di desa sekitarnya setiap melihat Ustadz Said Nursi segera menghampirinya dan beliau memberikan perhatian penuh seakan-akan mereka orang dewasa. Menerima mereka dengan segenap hatinya dan berkata kepada mereka, “Anak-anakku, kalian adalah orang-orang yang tidak berdosa dan saya sedang sakit. Doakanlah saya karena doa kalian pasti dikabulkan. Saya telah mendoakan kalian karena kalian adalah murid dan anak-anak maknawi saya”.Anak-anak kecil menyalami Ustadz Said Nursi dengan cahaya cinta yang tampak pada mata mereka. Ustadz Said Nursi bertegur sapa dengan tulus dan penuh penghormatan lebih dari yang beliau lakukan terhadap orang-orang dewasa yang lalai. Beliau berkata, “Mereka adalah Tullabunnur pada masa mendatang. Alasan mereka menerima saya dan menjalin hubungan dengan saya adalah karena ruh suci mereka merasakan bahwa Risalah Nur telah datang memberikan bantuan dan menyelamatkan mereka. Maka mereka mem perlihatkan hubungan dan kecintaan mereka terhadap saya secara spontan dengan anggapan saya adalah sebagai penyambung lidah dan penjelas Risalah Nur itu”.

Ustadz Said Nursi mengingatkan para pemuda yang datang kepadanya agar selalu mengerjakan salat secara konsisten. Beliau tegaskan kepada mereka bahwa selalu membaca pelajaran Risalah Nur dan menghindari tindakan tidak bermoral yang melanda zaman ini sehingga hal tersebut dengan sendirinya akan memberikan manfaat yang besar dan kebahagiaan. Para pemuda terbangun dari kelalaian berkat Pelajaran Ustadz Said Nursi.

Ustadz Said Nursi juga mengingatkan setiap pegawai atau pekerja yang beliau temui di jalan atau di lapangan dengan nasihat yang sesuai dengan kondisi mereka. Beliau tegaskan kepada mereka tentang pentingnya salat. Beliau jelaskan bahwa perkerjaan dan tugas dunia yang mereka lakukan dapat menjadi sebuah ibadah dengan niat mengerjakan amal saleh. Beliau jelaskan dengan bentuk tersendiri bahwa dugaan orang-orang yang mengatakan bahwa agama menjadi penghalang kemajuan adalah ocehan orang-orang yang mengalami gangguan mental. Yang benar adalah sebaliknya. Jika manusia, masyarakat dan negara berpedoman dengan cahaya iman, maka kabahagiaan dan kebangkitan materi maupun maknawi akan dicapa

Ya, jika manusia konsisten mengerjakan salat, melakukannya dengan istikamah, pekerjaan dan aktivitas dunianya akan menjadi sebuah ibadah yang akan mendapat pahala di akhirat kelak dan akan memberinya cahaya dan kebahagiaan abadi. Tentunya prinsip ini dengan sendirinya akan mendorong untuk bekerja dan berusaha dengan kemauan yang keras dan penuh semangat. Sepatutnya hakikat seperti ini diajarkan kepada manusia seluruhnya. Para pegawai dan kaum profesional menjadikannya sebagai petunjuk bagi mereka(*9).Yang kami sampaikan ini tidak lebih dari setetes air di lautan, hanya sebagian kecil dari pengabdian mulia yang dilakukan Ustadz Said Nursi. Maka celakalah orang yang menganggap Islam sebagai ajaran konservatif dan umat Islam sebagai bangsa konservatif.

* * *

SEBAGIAN KORESPONDENSI ANTARA SAID NURSI DENGAN MURIDNYA SELAMA TINGGAL DI EMIRDAĞ

Saudara-saudaraku di Emirdağ!

Katakanlah kepada orang-orang yang dihantui kekhawatiran dan kecurigaan terhadap saya bahwa orang yang kami abdikan diri padanya, setelah pemeriksaan yang ketat terhadap seluruh bukunya, rahasianya dan korespondensinya yang khusus dan yang bukan khusus selama dua puluh tahun, lembaga pengadilan di Isparta, Denizli dan Ankara selama sembilan bulan juga telah melakukan penyidikan terhadap karya tulisanya, terbukti bahwa dalam buku dan lembaran kertas yang memenuhi lima kotak tidak ditemukan satu materi pun yang mengharuskan dirinya mendapat hukuman atau hukuman terhadap salah seorang muridnya kendati dengan penjara satu hari.

Maka keputusan bebas dikeluarkan oleh pengadilan Denizli dan Komisi Para Pakar di Ankara.Kemudian orang yang kami layani urusan yang diperlukannya sebagai penghormatan terhadap usia tuanya, di hadapan pengadilan telah mengaku dan memberikan kesaksian terhadap pengakuannya itu kepada semua sahabatnya yang hadir di pengadilan.

Mereka membenarkan bahwa ia tidak pernah membaca surat kabar sejak dua puluh tahun yang lalu, tidak pula membaca buku politik, tidak pernah bertanya dan berbicara tentang politik sedikitpun. Sejak sepuluh tahun yang lalu ia tidak mengenal tokoh negara dan pejabat tinggi selain kepala pemerintahan, walikota dan anggota parlemen dan ia merasa tidak mempunyai kepentingan untuk mengenal mereka.Sejak tiga tahun yang lalu ia tidak pernah bertanya tentang Perang Dunia Kedua dan tidak mengetahui tentang hal itu sedikitpun dan ia memang tidak memperdulikannya. Ia juga tidak pernah mendengar siaran radio.Karangannya yang tersebar yang mencapai seratus tiga puluh telah dibaca dengan seksama oleh seratus ribu orang selama dua puluh tahun. Meski demikan, pemerintah tidak melihat dari fenomena ini adanya gangguan terhadap pengelolaan negara, membahayakan keamanaan dan mengganggu stabilitas tanah air dan bangsa.

Karangan-karangan ini telah sampai ke instansi keamanan dan para pemeriksa di lima wilayah dan diserahkan ke empat pengadilan pidana di empat wilayah di antaranya yang berada di ibukota, namun semua instansi tersebut tidak menemukan sedikit pun adanya kejahatan yang mengharuskan larangan terhadap karangan tersebut harus dicabut, dan pengarang serta para muridnya dibebaskan.

Jika orang ini memiliki keinginan atau kecenderungan terhadap politik, mestinya ada benih dan pertanda yang menunjukkan hal itu. Sementara itu, mereka tidak dapat menemukan dalam pengadilannya sesuatu yang menunjukkan hal itu yang mendorong seorang jaksa penuntut umum yang keras kepala menggunakan ungkapan “kemungkinan terjadi”, bukannya “terjadi” sehingga dalam daftar dakwaannya berulang kali ia mengatakan, “Ia dapat melakukan ini”, dan tidak pernah mengatakan, “telah melakukan ini”. Tentunya kedua ungkapan ini sangat berbeda maknanya sehingga pada saat sidang Ustadz Said Nursi berkata, “Setiap orang dapat membunuh. Maka berdasarkan pada dakwaan Anda, setiap orang—Anda sekalipun—dapat diajukan ke pengadilan”

Walhasil, apakah orang ini(*10)gila sampai-sampai tidak mem�perdulikan kondisi dunia yang menakutkan, atau tidak memberikan perhatian terhadap sesuatu agar bekerja dengan ikhlas guna merea�lisasikan kebahagiaan yang paling besar untuk negara dan bangsan�ya. Jika masalahnya demikian, perbuatan yang menyebabkan dirinya tidak merasa nyaman tidak lain dari pengkhianatan terhadap negara, bangsa, keamanan dan stabilitas. Kekhawatiran dan kecurigaan ter�hadap dirinya tidak lebih dari sikap orang gila

* * *

BERBINCANG DENGAN DIRI SENDIRI

[Saya serahkan kepada kalian naskah perbincangan yang saya sampaikan kepada lembaga tertinggi di Ankara, setelahkalian perbaiki, jika kalian menganggap itu sesuai].

Jika hakim itu sendiri adalah jaksa, maka orang malang seperti saya hanya dapat berkata “Saya mengadukan siapa kepada siapa? Saya bingung”.Ya, kondisi saya sekarang lebih buruk daripada ketika di penjara, bahkan satu hari dari kondisiku sekarang yang penuh dengan penderitaan dan kesedihan sama dengan satu bulan dalam ruang isolasi di penjara. Selain sepi, masa tua, penyakit, kemiskinan, dan kelemahan, saya terhalang dari segala sesuatu pada musim dingin yang berat dan tidak dapat bertemu selain dengan dua orang, salah satunya anak kecil dan yang lainnya orang yang sedang sakit. Saya sudah terbiasa merasakan siksaan dalam ruang isolasi penjara sejak dua puluh tahun lalu. Dikhawatirkan jika intimidasi terhadap saya dengan diberlakukannya pengawasan dan pencegahan terus dilakukan akan mengundang murka Allah sehingga menjadi sebab turunnya malapetaka. Saya pernah berkata di pengadilan bahwa peristiwa empat kali gempa bumi yang sangat menakutkan bertepatan dengan waktu kami mendapat perlakuan zalim. Banyak peristiwa seperti ini yang terjadi sehingga saya menduga bahwa kebakaran yang terjadi di pengadilan Afyon juga termasuk jenis malapetaka ini.

Saya telah memberikan kepercayaan kepada pengadilan untuk melindungi saya dan menjaga hak-hak saya, tetapi ternyata mengabaikan urusan saya yang saya sampaikan di pengadilan Denizli terkait dengan Risalah Nur sehingga saya merasa sangat kecewa. Barangkali inilah yang menyebabkan kebakaran tersebut.Saya katakan bahwa perlindungan saya secara sempurna adalah tugas yang paling penting di pundak pemerintahan daerah, aparat kepolisian dan para hakim yang memiliki rasa kemanusiaan yang adil karena pemerintah pusat beserta tiga pengadilan setelah meneliti karangan dan korespondesi yang saya tulis selama dua puluh tahun yang dilakukan selama sembilan bulan, mengeluarkan keputusannya yang menyatakan kebebasan kami. Hanya saja, organisasi rahasia bekerja untuk kepentingan pihak asing dan mengundang bahaya yang besar untuk negara dan bangsa, anggotanya berusaha dengan segala cara untuk merusak keputusan bebas ini. Mereka menghasut sebagian pejabat untuk memprovokasi saya dengan menjadikan sesuatu yang sepele menjadi sesuatu yang sangat besar. Tujuan mereka adalah agar kesabaran saya habis dan mengatakan, “Cukup... Cukup”. Di antara sebab mereka merasa terganggu oleh saya pada saat sekarang ini adalah sikap diam diri saya dan tidak turut campur dalam urusan dunia mereka. Seakan-akan mereka mengatakan,

“Mengapa ia tidak turut campur? Mestinya ia turut campur sehingga tujuan kami tercapai”.

Saya jelaskan kepada kalian sebagian taktik yang mereka gunakan untuk menghasut sebagian pejabat pemerintah tentang diri saya dengan mengatakan bahwa Said memiliki pengaruh dan karangannya banyak serta memiliki pengaruh yang sangat kuat. Setiap orang yang berhubungan dengannya akan menjadi pengikut setianya. Selama masalahnya seperti itu, maka pengaruhnya harus dihancurkan dengan melucutinya dari segala sesuatu, dengan mencemarkan nama baiknya, menjadikan orang-orang menjauhinya, meneror orang-orang yang setia kepadanya. Dengan demikian, trik mereka dapat diterima oleh pemerintah dan intimidasi terhadap diri saya semakin kuat.

Saya katakan, “Wahai saudara-saudara yang mencintai negara dan bangsa ini. Ya, memang ada pengaruh seperti yang dikatakan kaum munafik itu, tetapi bukan pengaruh saya, melainkan pengaruh Risalah Nur. Pengaruh ini tidak dapat dihancurkan, tetapi akan semakin kuat setiap kali mendapat rintangan, yaitu pengaruh yang tidak pernah digunakan melawan negara dan bangsa bahkan tidak boleh digunakan untuk itu dan tidak mungkin dapat digunakan.Dua pengadilan telah memeriksa dengan teliti semua kertas yang saya tulis selama dua puluh tahun. Antara penelitian salah satunya dengan yang lainnya berjarak sepuluh tahun. Dari kedua kali penelitian itu tidak ditemukan satu pun sebab sebenarnya yang mengharuskan dijatuhkannya hukuman. Hal ini menjadi saksi yang tak terelakkan untuk dakwah ini.

Juga saya katakan, “Ya, karangan-karangan saya mempunyai pengaruh yang sangat kuat, tetapi pengaruh yang dituangkan dalam kepentingan bangsa dan negara, demi kebahagiaan dan kehidupan abadi untuk seratus ribu jiwa karena karangan-karangan ini mengajarkan iman tahkiki yang kuat tanpa menimbulkan bahaya. Kondisi ratusan tahanan di penjara Denizli yang sebagaian dari mereka mendapat hukuman yang paling berat telah berubah dan insaf dengan hanya membaca “Risalah Buah Keimanan”, bahkan di antara mereka ada yang pernah membunuh dua atau tiga orang. Berkat pelajaran iman, ada yang begitu berhati-hati untuk membunuh seekor nyamuk sekalipun, sampai-sampai direktur penjara mengakui bahwa penjara telah berubah menjadi Madrasah. Ini adalah dukungan untuk pengakuan kami dan argumentasi yang tidak dapat ditolak.

Saya katakan juga, “Ya, kondisi saya yang diisolasi dari segala sesuatu merupakan siksaan pedih, perbuatan zalim yang sangat buruk dan pengkhianatan bagi anak bangsa ini. Bangsa yang beragama yang tidak menemukan sesuatu yang mengganggu mereka kendati saya hidup di tengah-tengah mereka selama tiga atau empat puluh tahun, mereka sangat memerlukan kekuatan iman, kekuatan spiritual dan pelipur lara. Bukti kuat terhadap hal ini adalah mereka sangat antusias menerima Risalah Nur tanpa memperdulikan propaganda intensif yang menyudutkan saya sehingga saya mengakui bahwa mereka memberikan penghormatan dan apresiasi terhadap saya lebih dari seratus kali lipat, dimana saya tidak berhak menerimanya.

Saya telah mendengar bahwa pemerintah wilayah telah menghubungi pemerintah pusat tentang masalah belanja dan tempat tinggal saya. Pemerintah menyetujui permohonan pemerintah wilayah.

Saya berterima kasih atas rasa kemanusiaan mereka dan saya katakan kepada mereka bahwa yang paling saya perlukan adalah kebebasan yang merupakan prinsip dasar dalam hidup saya. Membelenggu kebebasan saya dengan berbagai ikatan dan tirani yang belum pernah terjadi sebelumnya berdasarkan kecurigaan dan dugaan yang tidak berdasar membosankan hidup itu sendiri. Jangankan penjara, kuburanpun lebih baik bagi saya daripada kondisi seperti ini, hanya saja kesabaran dan ketabahan mengajari saya bahwa kesulitan yang bertambah dalam melakukan pengabdian iman merupakan sebab bertambahnya pahala.

Selama para pejabat yang memiiki rasa kemanusiaan tidak ingin berbuat aniaya terhadap diri saya, maka pertama-tama hendaknya mereka tidak merenggut kebebasan saya dalam lingkaran yang diperbolehkan. Saya dapat hidup tanpa roti (nasi), tetapi tidak dapat hidup tanpa kebebasan.

Ya, seseorang yang selama sembilan belas tahun dalam pengasingan, semua keperluan hidupnya dapat diselesaikan hanya dengan dua ratus Lira, hidup dengan sangat hemat dan tirakat yang kuat serta tidak pernah memperlihatkan keperluannya kepada siapa pun, tidak menerima pemberian, sedekah, zakat, gaji ataupun hadiah dari siapapun. Ia tentunya orang yang lebih memerlukan kebebasan dalam naungan keadilan daripada uang belanja. Ya, saya menderita tekanan yang tidak ada bandingannya. Saya sebutkan dua contoh sederhana:

Pertama: “Risalah Buah Keimanan” yang oleh pemerintah dianggap sebagai pembelaan ilmiah terhadap Risalah Nur dan bersama pembelaaan saya dikirim kepada presiden dan tujuh pejabat tinggi di Ankara dan menjadi salah satu sebab kebebasan kami berkat penilaian Komisi Para Pakar di Ankara. Sahabat-sahabat saya di penjara membuat salinan dengan tulisan tangan mereka yang indah sebagai kenang-kenangan untuk mereka dan salinan itu saya simpan. Polisi Denizli telah melihatnya dan tidak memedulikannya sehingga tetap dapat dibaca pada malam harinya oleh kepolisian Afyon dan pada malam lainnya oleh kepolisian di sini. Risalah yang saya jelaskan ini dan daftar pembelaan saya dulunya saya sembunyikan setiap hari karena khawatir para pemeriksa tiba-tiba mendatangi saya dan mengambil risalah tersebut. Lebih dari itu, waktu itu saya sangat sedih karena saya tidak dapat meminta seseorang yang tidak saya kenal dalam masa pengasingan seperti itu untuk menyembunyikan risalah tersebut.

Kedua: “Risalah bagi Lansia” tidak pernah disentuh pengadilan Denizli sedikitpun tetapi dipermasalahkan oleh pengadilan Eskisehir karena satu kata di dalamnya. Itupun dijawab hanya dengan satu huruf saja. Ada seseorang dari Istanbul mengambil satu naskah risalah tersebut dari seseorang di sini dan membawanya ke Istanbul. Entah bagaimana caranya, risalah tersebut sampai ke tangan seorang ateis yang merupakan oposisi kami. Masalahnya dibesar-besarkan dan memprovokasi kepolisian wilayah dengan mengatakan, “Siapa yang ditemui orang ini? Siapa orang yang mereka datangi?” sehingga akhirnya kepolisian mengintimidasi saya. Bagaimanapun, banyak sekali contoh peristiwa yang menyakitkan seperti ini, hanya saja yang paling aneh adalah mereka menakut-nakuti semua orang dari saya selain dua orang yang berkhidmat kepada saya.

Salah satunya anak kecil dan yang lainnya orang yang sedang sakit. Tujuan mereka dari ini semua adalah agar saya tidak berbicara dengan orang lain. Saya katakan, “Jika ada sepuluh orang menghindar untuk tidak berbicara dengan saya, maka ada puluhan ribu bahkan ratusan ribu orang Islam yang selalu mengikuti pelajaran Risalah Nur tanpa memedulikan larangan. Kemudian, Risalah Nur itu sendiri telah tersebar dengan sangat pesat, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, di berbagai pelosok dunia Islam karena ia mengandung hakikat-hakikat yang kokoh dan manfaat yang berharga. Setiap naskah dari ribuan naskah yang ada mewakili saya bahkan berbicara lebih baik dari saya sendiri. Semua risalah itu tidak berdiam diri dengan berdiam dirinya saya dan tidak mungkin dapat dibuatnya membungkam.

Kemudian, selama telah terbukti di pengadilan bahwa saya telah memutuskan hubungan dengan politik sejak dua puluh tahun yang lalu dan tidak pernah ditemukan indikasi apa pun yang membuktikan kebalikannya, tentunya mengkhawatirkan orang-orang yang berkomunikasi dengan saya adalah sesuatu yang sia-sia.

* * *

PERBINCANGAN BERSAMA MENTERI HUKUM DAN PARA HAKIM PENGADILAN YANG MENANGANI RISALAH NUR

Tuan-tuan! Mengapa kalian menyibukkan diri dengan kami dan Risalah Nur tanpa alasan? Ketahuilah dengan yakin bahwa kami dan Risalah Nur tidak bermusuhan dengan kalian, bahkan memikirkan kalianpun di luar cakupan tugas kami. Karena Risalah Nur dan murid-murid yang sebenarnya bekerja untuk mempersembahkan pengabdian yang paling agung bagi generasi lima puluh tahun mendatang, menyelamatkan mereka dari malapetaka yang sangat besar, dan menyelamatkan negara dan bangsa dari bahaya yang mengepung. Orang-orang yang sibuk menangani kami sekarang ini tentu akan busuk dan hancur dalam kuburan. Seandainya pekerjaan untuk mewujudkan keselamatan dan kebahagiaan ini mendapat tantangan, maka sepatutnya tidak ada hubungannya dengan orang yang kelak menjadi tanah dalam kuburan itu.

Dengan sikap kelalaian para aktivis kebebasan(*11)dalam bidang moral sosial, agama, dan karakter nasional dua puluh atau tiga puluh tahun kemudian menyebabkan kondisi sekarang dalam hal agama, moral, dan kehormatan, tentu kalian menyadari apa yang akan menimpa generasi mendatang pada masa lima puluh tahun kemudian, generasi penerus umat pahlawan yang mulia dan berpegang teguh pada agama dan apa yang akan terjadi dengan agama dan moral sosialnya.

Umat ini memiliki pengorbanan agung yang telah memperlihatkan kepahlawanan yang luar biasa dalam melakukan pengabdian terhadap al-Qur’an yang bersumber dari lubuk hatinya yang paling dalam dan dengan segenap jiwanya selama seribu tahun,(*12) tetapi meskipun demikian lima puluh tahun kemudian dari generasi kita akan muncul kelompok yang mencoreng masa lalunya yang cemerlang itu atau bahkan menghapusnya dan kita menyadari bahwa membekali generasi ini dengan hakikat-hakikat seperti Risalah Nur dan menyelamatkan mereka dari keterpurukan yang mengenaskan merupakan tugas nasional dan kebangsaan yang paling penting. Karenanya kita memikirkan generasi mendatang, bukannya generasi sekarang.

Ya, tuan-tuan, benar bahwa Risalah Nur semata-mata mengarah ke akhirat dan tujuannya adalah menyelamatkan iman serta mendapatkan keridaan Allah ta`ala. Tujuan segenap muridnya adalah bekerja untuk menyelamatkan diri mereka dan menyelamatkan saudara setanah airnya dari kebinasaan abadi dan penjara abadi dalam ruang isolasi, hanya saja ia pada tingkatan kedua memiliki pengabdian agung yang manfaatnya dapat dirasakan dalam kehidupan dun ia, dapat menyelamatkan negeri dan bangsa ini dari bahaya anarkisme yang destruktif, menyelamatkan generasi mendatang yang malang dari jurang kesesatan mutlak. Hal itu karena seorang muslim tidak serupa dengan yang lain. Jika ia menanggalkan agamanya, keluar dari nilai-nilai Islam, maka ia akan terjerumus ke jurang kesesatan mutlak dan dirinya akan menjadi anarkis yang tidak mungkin dapat diatur.

Ya, ketika lima puluh persen umat manusia telah memperoleh pendidikan Islam, lima puluh persen sisanya memperlihatkan sikap meremehkan nilai-nilai Islam dan tradisi bangsa, maka saya berpikir tentang kemungkinan sembilan puluh persen manusia akan berubah menjadi pengikut nafsu ammârah pada masa lima puluh tahun mendatang. Mereka akan membawa negara dan bangsa ini ke anarkisme destruktif. Saya mencari solusi untuk menghadapi musibah ini. Oleh karena itu, hal tersebut melarang saya dari kancah politik dan menyibukkan diri dengan generasi sekarang sejak dua puluh tahun yang lalu. Sebagaimana kondisi saya seperti ini, demikian pula halnya dengan kondisi Risalah Nur dan para muridnya. Mereka telah memutuskan hubungannya dengan generasi masa kini. Mereka tidak menghadapinya dan sama sekali tidak menyibukkan diri dengan urusan mereka.

Selama hakikatnya adalah seperti ini, maka tugas utama instansi pengadilan adalah hendaknya ia melindungi Risalah Nur dan segenap muridnya, bukannya menuduh saya atau menuduh mereka. Jika hal itu dilakukan berarti mereka melindungi salah satu hak negara dan bangsa yang terpenting. Karena alasan inilah mereka berhadapan dengan musuh-musuh negara dan bangsa yang sebenarnya lalu mereka menyerang Risalah Nur, menyesatkan instansi-instansi pengadilan dan mendorongnya agar melakukan perbuatan kriminal yang paling sadis. Sebagai contoh, saya kemukakan dua contoh sederhana:

Contoh pertama: Saya mengirim sepucuk surat kepada salah seorang saudara yang pernah hidup sepenjara, yang isinya menanyakan tentang keadaannya. Dalam surat itu saya sertakan sepuluh Lira sebagai ongkos untuk mencetak salah satu karangan saya yang berbahasa Arab, agar dibayarkan kepada seseorang yang menanggung pembayaran pencetakannya di Isparta. Saya kirim surat dan uang tersebut melalui salah seorang saudara yang berdomisili di sini. Tidak lama setelah itu, instansi pengadilan dan pemerintah langsung menekan saya dan menggeledah rumah orang yang sekadar menjadi perantara.Jelas, membesar-besarkan perkara sepucuk surat biasa yang tidak penting dan membesar-besarkan masalah korespondensi selama enam bulan merupakan perkara yang tidak layak dengan kedudukan dan kehormatan sebuah instansi pengadilan.

Contoh kedua: menakut-nakuti setiap orang dari saya sebagai seorang tamu asing yang lemah dan tua renta dan telah terbukti tidak bersalah, bahkan menakut-nakuti orang yang mengabdi kepada saya, menakut-nakuti orang melalui propaganda resmi yang tendensius, melakukan berbagai penindasan terhadap saya dalam kondisi yang memilukan, ini semua adalah perlakuan yang bertentangan dengan semangat nasionalisme pemerintah wilayah ini. Membesar-besarkan hal yang sepele bahkan palsu, berlebih-lebihan dalam membesar-besarkannya, melancarkan propaganda resmi yang tendensius untuk menyerang saya, menebar keresahan pada setiap orang dengan bertanya tentang diri saya, “Siapa yang kamu temui? Siapa yang kamu kunjungi?”. Ini adalah masalah yang mengherankan yang tidak sesuai dengan sikap bijak pemerintah dan kekuasaannya. Bagaimanapun juga, masih banyak contoh seperti ini yang akan membuat orang mengerutkan keningnya.

Tuan-tuan, jika kesesatan dan kejahatan muncul dari kebodohan, maka menolaknya mudah, tetapi jika muncul dari ilmu atau dari pengetahuan modern, menghilangkannya sangat susah. Karena kesesatan pada masa kini berasal dari ilmu pengetahuan modern, maka karangan lengkap dari segala sisi seperti Risalah Nur, harus menghilangkan kesesatan ini dan menyelamatkan generasi mendatang yang terjerumus ke jurangnya.

Bukti bahwa Risalah Nur memiliki nilai ini adalah bahwa sejak dua puluh tahun yang lalu, tidak pernah ada bantahan, baik dari para filsuf, kelompok yang mendapatkan tamparan keras dari Risalah Nur, maupun dari penentangnya yang jumlahnya tak terhingga, tidak seorang pun dari mereka mencelanya bahkan mereka memang tidak akan mampu melakukannya. Tiga instansi pengadilan dan komisi pakar di pusat pemerintahan setelah melakukan penelitian terhadap bagian-bagian Risalah Nur yang mencapai seratus buku selama sembilan bulan, semuanya tidak mendapatkan di dalamnya satu materi pun yang membuat kami harus bertanggung jawab. Isyarat-isyarat alQur’an dan berita-berita gaib `alawiyyah dan ghawtsiyyah(*13)

mengesahkan pentingnya dan diterimanya Risalah Nur pada masa kini. Isyarat dan berita ini telah memberikan dampak kepuasan mutlak terhadap para Tullabunnur.

Ya, meskipun tugas instansi pengadilan adalah menjaga hak dan memberhentikan orang-orang yang melampaui batas pada batas mereka, meskipun Pengadilan Denizli selama sembilan bulan melakukan penelitian terhadap Risalah Nur, terhadap lembaran-lembaran kami yang khusus dan yang bukan khusus, penelitian yang dilakukan dua pengadilan lain, pusat pemerintahan dan kepolisian di beberapa wilayah sejak sepuluh tahun yang lalu, tidak ditemukan adanya satu materi yang membahayakan negara dan bangsa atau kesalahan yang mengharuskan dijatuhkannya hukuman, di samping telah terbukti bahwa Risalah Nur yang berjumlah seratus risalah telah memberikan kebahagiaan kepada seratus ribu orang selama dua puluh tahun. Maka jelaslah bahwa Risalah Nur mempunyai hak universal yang besar di negeri ini. Kami mengingatkan kalian semua bahwa menyepelekan hak yang sangat penting ini, sementara hak-hak parsial manusia biasa diperhatikan, Risalah Nur disita seakan-akan lembaran kertas biasa, berlagak bodoh bahwa ini merupakan kezaliman nyata terhadap negara dan orang-orang malang yang memerlukan penguatan iman, ini jelas merupakan perkara yang tidak sesuai dengan substansi pengadilan dan hakikat keadilan dalam bentuk apapun.

Saya khawatir mempermasalahkan Risalah Nur dan mengabaikan karangan-karangan Dr. Duzi dan segenap kaum zindik lainnya akan mengundang turunnya murka Allah. Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada kalian dengan berlaku adil dan memiliki sikap kasih sayang dan melakukan kebaikan terhadap kami sehingga kami tabah dan sabar. Amin!

Dalam penjara isolasi secara ilegal

Said Nursî

* * *

PERMOHONAN YANG PERNAH DISAMPAIKAN KE TIGA INSTANSI RESMI DENGAN TUJUAN AGAR DIJADIKAN RUJUKAN BAGI SAUDARA-SAUDARAKU DI ISPARTA

Saya ingin kalian mendengarkan baik-baik pengaduan seseorang yang teraniaya yang selama ini bersabar dan berdiam diri selama dua puluh tahun.

Kondisi saya, di samping mendapat pelarangan dari semua kebebasan pada rezim pemerintahan Republik yang memberi kebebasan dalam bentuknya yang paling luas, musuh-musuh saya mengekang saya dari segala arah dengan leluasa. Yang harus dilakukan pemerintah Republik yang menjamin kebebasan hati nurani dan kebebasan pemikiran ilmiah adalah memberi saya perlindungan yang sempurna yang dapat membungkam musuh-musuh saya yang tendensius yang memiliki prasangka tidak berdasar dan memberi saya kebebasan menulis sebagaimana yang diberikan kepada mereka sehingga saya dapat membela diri, karena sebuah perintah resmi rahasia telah dikeluarkan ke kantor pos yang melarang saya melakukan korespondensi dalam bentuk apa pun.

Ketika dikeluarkannya peringatan yang melarang siapa pun untuk bertemu dengan saya kecuali anak kecil yang datang membawa air dan roti, ketika saya menunggu dikembalikannya karangan saya yang mendapat pujian dari Komite Para Pakar setelah Pengadilan Kasasi membenarkan bahwa kami sama sekali tidak bersalah, musuh-musuh saya memanfaatkan kesempatan dengan menyerahkan dua risalah dari sejumlah risalah pribadi saya—yang sebetulnya dilarang untuk disebarluaskan—kepada dua orang anggota Komite Para Pakar yang bertolak belakang dengan jalan yang kami biasatempuh. Saya telah mendengar bahwa kedua orang itu menyiapkan laporan buruk yang akan merugikan saya. Saya hanya dapat bersabar dan bertahan. Saya mengumumkannya secara terang-terangan kepada seluruh orang yang berada dalam rezim pemerintahan Republik, bahkan kepada seluruh dunia bahwa:

Program saya dan program Risalah Nur—dengan rahasia alQur’an al-Hakim dan kemukjizatannya—serta metode kami, buah ilmiahnya yang kami harapkan dan kami bekerja untuknya, tujuan kami, tujuan perbuatan kami adalah menyelamatkan orang-orang malang dari kebinasaan abadi melalui iman hakiki, melindungi bangsa yang penuh berkah ini dari anarkisme dalam berbagai bentuknya.

Berdasarkan hal ini, dua puluh tahun dari hidup saya dan seratus tiga puluh risalah adalah argumentasi yang tidak ada cacatnya, membuktikan bahwa Risalah Nur yang telah diteliti oleh tiga pengadilan dan tiga lembaga para pakar, di balik kedua tugas suci ini tidak terdapat tujuan yang dengan sengaja menyentuh urusan dunia, pengelolaan negara, keamanan dan kestabilannya.

Ya, inilah Said yang teraniaya yang tidak memiliki daya upaya, yang tidak pernah berhubungan dengan pemerintah sejak dua puluh tahun yang lalu, tidak mengenal orang-orangnya dan para petingginya seorang pun sejak dua puluh tahun yang lalu kecuali beberapa orang saja, tidak mengetahui Perang Dunia atau peristiwa dunia sedikitpun sejak empat tahun yang lalu dan memang tidak memedulikannya. Hal itu telah ia umumkan di hadapan pengadilan dan dibenarkan oleh seluruh sahabatnya yang masih berhubungan dengan dirinya. Apakah orang yang kondisinya seperti ini dapat menyibukkan diri dengan para politikus? Atau turut campur dalam urusan pengelolaan negara? Atau memiliki kecenderungan untuk mengganggu keamanan? Seandainya ia memiliki niat sebesar biji sawi untuk melakukan hal itu, dia akan bertanya dengan penuh penasaran, “Siapakah orang orang yang akan berhadapan dengan saya?” Apa yang terjadi di dunia? Siapa yang akan menolong saya?” Niscaya dirinya akan memperhatikan, turut campur dan menggunakan trik agar dapat menempati posisi di antara para petinggi. Saya sampaikan kepada kalian sebuah peristiwa sederhana yang sangat menyakitkan. Saya telah menulis kepada beberapa sahabat sebuah surat yang saya serahkan secara langsung dan saya katakan kepada mereka,

“Carikanlah alasan agar saya dapat masuk penjara agar saya dapat melepaskan diri dari kondisi seperti ini di mana saya dilarang untuk melakukan segala bentuk komunikasi seakan-akan saya berada dalam ruang isolasi penjara. Hendaknya mereka menjebloskan saya ke dalam penjara agar saya bebas dari siksaan ini”. Ya, saya sampaikan hal ini agar saya dapat berada dekat dengan buku buku saya di Pengadilan Denizli, dekat dengan Risalah Nur yang merupakan modal hidup saya dan buahnya sehingga saya berusaha untuk mengembalikannya. Di antara Komite Para Pakar yang bekerja untuk menjatuhkan saya terdapat satu orang yang membela saya. Ia telah membaca surat ini. Ia terpaksa mengikuti kemauan komite dan mengeluarkan putusan yang merugikan saya agar saya masuk penjara. Suatu hal yang cukup disesalkan.

Salah satu alasan yang dimanfaatkan musuh-musuh saya yang menjebloskan saya ke penjara yang karenanya juga saya memperoleh pembebasan dari pengadilan adalah tarekat, padahal saya tidak henti-hentinya mengumumkan dalam Risalah Nur bahwa zaman sekarang bukanlah zaman tarekat, tetapi zaman menyelamatkan iman. Orang-orang yang masuk surga tanpa tarekat, jumlahnya banyak, tetapi tidak seorang pun akan masuk surga tanpa iman. Oleh karena itu, kami bekerja dengan seluruh kekuatan kami untuk memperjuangkan iman ini. Saya adalah seorang alim, bukannya seorang Syekh tarekat. Sejak dulu saya tidak memiliki rumah di dunia ini apalagi memiliki zâwiyah, tidak seorangpun selama dua puluh tahun terakhir ini yang mengatakan bahwa saya telah mengajarkan tarekat kepadanya. Pengadilan dan kepolisian tidak menemukan sesuatu yang mengarah kepada hal itu. Ya, memang tidak ada selain dari “Risalah at-Talwâhât”(*14)yang saya tulis dulu, yang menjelaskan hakikat dari tarekat secara ilmiah dan itu tidak lain dari pelajaran ilmiah tingkat tinggi, pelajaran hakikat, bukannya pelajaran tarekat.

Ada tugas penting yang seharusnya dipikul oleh pemerintahan Republik, yaitu melindungi karya yang meneguhkan iman hakiki, mengungguli filsafat, meneguhkan hakikat yang berkaitan dengan arwah milyaran leluhur bangsa ini dan dengannya menantang seluruh dunia. Maka melindungi karya ini dan melindungi orang-orang yang melakukan pengabdian terhadapnya merupakan tugas paling penting pemerintah ini yang menjadikan kebebasan hati nurani sebagai landasan baginya. Jika pemerintah enggan melakukan, undang-undang republik ini tidak boleh mengikat pelayan lemah itu dan menjadikannya sasaran empuk bagi serangan ribuan musuh. Saya tulis aduan saya ini dengan keyakinan bahwa pemerintah Republik akan mendengar keluhan saya. Ya, dan saya katakan:حَس۟بُنَا اللّٰهُ وَ نِع۟مَ ال۟وَكٖيلُ

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ
اَلسَّلَامُ عَلَي۟كُم۟ وَ رَح۟مَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia,

ini adalah jawaban terpaksa terhadap pertanyaan yang dilontarkan melalui tindakan dan ucapan.

Pertanyaan:Mengapa Anda tidak berkomunikasi dengan kelompok yang berada di dalam dan luar negeri terutama dengan kelompok-kelompok politik? Mengapa Anda melarang Risalah Nur dan segenap muridnya untuk berhubungan dengannya dalam bentuk apapun yang dapat dilakukan? Padahal jika Anda melakukan komunikasi dengan mereka dan mempunyai hubungan dengan mereka, niscaya ribuan orang akan masuk ke dalam lingkaran Risalah Nur, niscaya mereka akan menyebarluaskan hakikat-hakikatnya yang cemerlang, dan tentunya Anda tidak akan menjadi target intimidasi yang tidak beralasan.

Jawaban:Alasan utama kami menjauhi ini semua dan tidak melakukan komunikasi dengan mereka adalah keikhlasan yang merupakan landasan manhaj kami. Keikhlasan inilah yang melarang kami untuk melakukan itu semua karena manusia pada masa lalai seperti ini—terutama mereka yang menganut pemikiran keberpi-hakan—telah menjadikan segala sesuatu sebagai alat untuk manhajmereka, sehingga mereka menjadikan perbuatan keagamaan dan akhirat mereka sebagai alat untuk menempuh manhaj duniawinya. Padahal hakikat-hakikat iman dan khidmah nuriyah yang suci tidak dapat dijadikan alat untuk apa pun dalam dunia ini dan tidak mungkin memiliki tujuan selain menggapai keridaan Allah Ta`ala.Sebetulnya, menjaga rahasia keikhlasan ini dan tidak menjadikan agama sebagai alat untuk tujuan duniawi telah menjadi sesuatu yang sulit dilakukan pada masa seperti sekarang ini di mana berbagai kelompok masa kini saling bertarung dengan keberpihakan yang sangat kuat. Solusi terbaik untuk menghadapi masalah ini adalah dengan bersandarkan pada inayah dan taufik Allah, bukan bersandarkan pada kekuatan berbagai kelompok.

Ada sebab lain dari sekian banyak sebab mengapa kami menjauhi arus politik yaitu rasa belas kasih, menjauhi kezaliman dan sikap membahayakan orang lain. Ini merupakan salah satu dari empat landasan Risalah Nur(*15) . Kezaliman yang sangat kuat telah merajalela pada masa sekarang ini, seakan membenarkan firman Allah Ta`ala “Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” (QS. al-Ahzab [33]: 72), dan kezaliman ini terus mendominasi alih-alih kaidah kehendak Ilahi yang mengatakan “Dan seseorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain.” (QS. al-Isrâ [17]: 15). Maksudnya, seseorang tidak dapat disalahkan dan tidak dapat dihukum karena kesalahan yang dilakukan orang lain atau kerabatnya.Orang yang melakukan sesuatu sesuai dengan yang didiktekan perasaan keberpihakan, dengan kesalahan pelaku kriminalnya, tidak hanya bertentangan dengan kerabatnya saja, tetapi juga bertentangan dengan seluruh kelompoknya. Seandainya ia mampu menganiaya mereka, ia pasti akan melakukannya. Seandainya kekuasaan berada pada genggamannya, niscaya ia akan mengebom satu kampung dengan kesalahan satu orang, padahal tidak boleh mengorbankan hak seseorang yang tidak berdosa atau berbuat aniaya kendati disebabkan oleh seratus pelaku kriminal, sementara kondisi sekarang ini, seratus orang yang tidak berdosa bisa dijerumuskan ke dalam kehancuran karena beberapa pelaku kriminal. Misalnya, menganiaya dan memusuhi kedua orang tuanya yang sudah renta dan anak-anaknya yang tak berdosa karena kesalahan seseorang itu bertentangan dengan prinsip belas kasih. Orang-orang yang tidak berdosa itu tidak mungkin lolos dari kezaliman dengan keberadaan arus-arus yang berpihak di antara kaum muslimin, terutama ketika kondisi yang menyebabkan meletusnya revolusi dan kerusuhan menyebarkan kezaliman dan memperluas lingkarannya.

Jika hal itu terjadi dalam jihad agama, maka keadaan anakanak orang kafir seperti keadaan para orang tuanya. Mereka dapat saja menjadi rampasan perang atau masuk dalam kepemilikan kaum muslimin. Adapun jika terdapat seorang kafir di kalangan kaum muslimin, dengan cara apapun, anak-anaknya tidak boleh dijadikan budak atau haknya dilanggar karena mereka terikat dengan ikatan Islam dan kelompok kaum muslimin, bukannya dengan ikatan orang tuanya yang kafir. Sementara anak-anak orang kafir, kendati mereka termasuk orang yang selamat, hanya saja karena mereka merupakan pengikut orang tuanya dan memiliki keterikatan dengannya dalam hak dan dalam kehidupan, dalam jihad, mereka dapat dijadikan tawanan perang dan dijadikan sebagai budak.

Salam sejahtera kepada semua saudaraku, satu per satu. Saya ucapkan selamat pada malam Mi’raj yang memiliki ribuan kebaikan. Sampaikan belasungkawa saya kepada Tuan Ra’fat atas meninggalnya Haji Ibrahim. Katakan kepadanya dan kepada kaum kerabat almarhum bahwa beliau—rahimahullah—adalah salah seorang Tullabunnur. Ia selamanya akan didoakan oleh para Tullabunnur. Saya juga mendoakannya dengan doa yang khusus.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ
اَلسَّلَامُ عَلَي۟كُم۟ وَ رَح۟مَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ

LANJUTAN JAWABAN TERPAKSA YANG LALU

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Musim panas ini adalah saat lalai dan sibuk dengan penghidupan, waktu ibadah yang berpahala banyak pada tiga bulan yang penuh berkah, masa pertarungan sengit yang disaksikan dunia secara diplomatik, bukan secara militer. Jika tidak ada keteguhan dan ketabahan dalam menunaikan tugas Risalah Nur yang suci, maka rasa malas, patah semangat dan stagnasi akan datang sehingga akan membahayakan pengabdian Risalah Nur

Saudara-saudaraku yang mulia! Ketahuilah dengan yakin bahwa tugas yang dipikul Risalah Nur dan yang dilakukan oleh para muridnya adalah lebih besar dari semua masalah yang terdapat di muka bumi, maka janganlah kalian abaikan tugas-tugas itu dengan rasa ingin tahu kalian tentang masalah-masalah duniawi di atas. Perbanyaklah membaca persoalan Keempat dari “Risalah buah keimanan” agar kekuatan spiritual kalian tidak menjadi lemah.

Ya, semua masalah besar yang terdapat pada ahli dunia dituangkan pada kehidupan fana ini dan berputar di sekitar prinsip “Konflik” yang zalim, mengorbankan simbol-simbol suci agama dengan kejam dan brutal dalam rangka mencapai kesenangan duniawi. Oleh karena itu, qadar Ilahi membuat mereka merasakan azab Jahanam secara maknawi dalam tindakan kriminal yang mereka lakukan.Pada saat mereka sibuk dengan kehidupan dunia, Risalah Nur dan Tullabunnur justru mengemban tugas yang membuktikan secara pasti bahwa kematian hanyalah tirai bagi kehidupan abadi, dan si algojo ajal yang sangat ditakuti oleh para pecinta dunia tidak lain adalah sarana untuk menggapai kebahagiaan abadi bagi orang-orang beriman. Ya, kita masih tetap memperlihatkan hakikat ini.

Walhasil, orang-orang sesat berjuang untuk mendapatkan kehidupan sementara, sedangkan kami menghadapi masalah kematian dengan cahaya al-Qur’an. Masalah mereka yang paling besar tidak sebanding dengan masalah kami yang paling kecil, karena masalah mereka sementara, sedangkan masalah kami mengarah ke keabadian. Selama mereka dengan kedunguannya merasa bahwa masalahnya lebih besar dari masalah kami sehingga mereka enggan untuk turut campur memikirkannya, maka mengapa kami harus mengikuti dan memperhatikan masalah dunia mereka, yang justru dapat membahayakan tugas suci kami?

Ayat suci al-Qur’an mengatakan “Orang yang sesat tidak akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk”. (QS. al-Mâidah [5]:105). Maksudnya, jika kalian tidak menyibukkan diri dengan kesesatan orang lain tanpa ada alasan atau keperluan, kesesatan mereka tidak akan membahayakan petunjuk kalian. Salah satu kaidah pokok Islam yang penting mengatakan “Orang yang rela menerima kemudaratan, tidak perlu dipedulikan”. Maksudnya, orang yang rela tertimpa bahaya, tidak perlu dikasihani.

Selama ayat suci al-Qur’an dan kaidah ini melarang kita merasa iba terhadap orang yang membahayakan dirinya sendiri secara sadar, maka kita harus memfokuskan seluruh kekuatan, perhatian dan waktu kita guna menunaikan tugas suci kita dan menganggap selain dari itu semua sebagai hal yang tidak penting sehingga kita tidak membuang-buang waktu karena yang kita “genggam” ini adalah cahaya, bukannya gada sehingga kita tidak akan mampu untuk melakukan tindakan agresif, dan kalaupun orang lain melakukannya kepada kita, yang dapat kita lakukan hanyalah memperlihatkan cahaya. Kondisi kita adalah pembelaan secara nurani.

Salah satu alasan penulisan kelanjutan ini adalah bahwa saya

telah menguji salah seorang Tullabunnur. Lalu saya ajukan satu atau dua pertanyaan untuk mengetahui pendapatnya terhadap kondisi politik waktu itu ketika ia banyak berbicara tentang kasus selat(*16). Saya dapatkan ia memberi jawaban seorang yang mengetahui masalah dan berhubungan erat dengannya. Saya berkata dalam hati, “Kasihan”. Masalah ini akan membahayakan tugasnya dengan Risalah Nur. Kemudian saya mengingatkannya dengan keras seraya berkata, “Kita punya prinsip yang berbunyi ‘Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan dan politik’.” Jika Anda mempunyai rasa belas kasih terhadap orang-orang, prinsip yang lalu(*17)akan merampas rasa belas kasih terhadap mereka, karena surga mendambakan orang-orang sebagaimana neraka Jahanam.

Sebagian berita yang disampaikan “Sinar Kelima” kembali tampak

Said Nursî

* * *

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

...

Kemudian saya umumkan dengan tegas bahwa Risalah Nur adalah milik al-Qur’an. Bagaimana mungkin saya menjadi pemiliknya sementara kekurangan saya akan mencemarinya? Saya tidak lain hanyalah pelayan baginya yang memiliki kekurangan. Saya tidak lain sebagai sales di toko permata dan berlian. Kondisi saya yang tidak stabil tidak mungkin menyentuhnya atau mempengaruhinya.

Pelajaran yang diajarkan Risalah Nur kepada kami adalah hakikat keikhlasan, selalu melihat diri serba kekurangan, meninggalkan egoisme, dan tidak riya. Kita tidak memperlihatkan diri kita kepada orang-orang beriman, tetapi kita perlihatkan sosok maknawi Risalah Nur.

Kita berharap setiap orang memperlihatkan kekurangan kita dengan syarat kekurangan itu memang benar-benar ada dan kita akan mengatakan kepadanya, “Semoga Allah membalas dengan balasan yang lebih baik”. Kita akan berterima kasih kepada orang yang menemukan seekor kalajengking di pundak kita lalu ia menjauhkannya sebelum menyengat kita, demikian pula kita akan mengakui kekurangan kita dan berterima kasih kepada orang yang memperlihatkannya kepada kita, dengan syarat bukan karena dendam, keras kepala atau upaya membantu bid`ah dan kesesatan.

Saudara-saudaraku yang mulia!

Dalam pembelaan, saya pernah mengatakan sebagai jawaban terhadap mereka bahwa karamah itu bukan milik saya dan saya merasa tidak berhak memilikinya. Hal itu hanya sekadar pancaran dan sinar mukjizat maknawi al-Qur’an, muncul dalam bentuk karamah dalam Risalah Nur yang merupakan tafsir hakiki al-Qur’an alHakim. Ia juga merupakan karunia Ilahi yang turun memperkuat kekuatan maknawi para Tullabunnur. Memperlihatkan karunia adalah bentuk rasa syukur dan perkara yang dibenarkan.

Saya akan menjelaskan satu bagian dari jawaban ini karena alasan penting. Saya ditanya, “Mengapa Anda memperlihatkan karunia ini? Mengapa Anda menceritakan secara berulang-ulang seputar masalah ini?

Jawabannya: Sudah sepatutnya ada ratusan ribu pembangun yang bekerja dalam pengabdian iman Risalah Nur di hadapan ribuan para perusak pada masa ini; adanya minimal seratus penulis dan orang yang membantu saya; Pengelola negara dan bangsa meneguhkan hubungannya dengan pengabdian ini sebagai bentuk dukungan terhadapnya dengan memberikan apresiasi dan dorongan, bukan menjauhinya; dan adanya orang-orang beriman yang lebih mengutamakan pengabdian ini daripada menyibukkan diri dengan kehidupan dan keuntungan duniawi yang fana karena ia merupakan pengabdian yang berkaitan dengan kehidupan abadi.Namun saya—dan saya menjadikan diri saya sebagai contoh—dilarang dari segala sesuatu,

dilarang untuk berkomunikasi dengan orang-orang, dilarang mendapatkan bantuan dari siapa pun, bahkan orang-orang berusaha keras melemahkan kekuatan maknawi saudara-saudara saya, menjauhkan mereka dari saya dan Risalah Nur, agar tugas besar yang hanya dapat dipikul oleh ribuan orang itu dibebankan kepada seorang tua yang sakit-sakitan, lemah, asing, seorang diri yang tidak memiliki daya seperti saya. Saya terpaksa menjauhkan diri dari pergaulan masyarakat dan tidak berkomunikasi dengan mereka sebagai jenis penyakit yang muncul dari intimidasi dan penjara soliter, di samping menakut-nakuti orang dari saya dengan cara mempengaruhi mereka sehingga sebagian sahabat dekat saya takut untuk mengucapkan salam kepada saya, bahkan sebagian mereka enggan untuk melaksanakan salat. Ini semua merupakan alasan yang mendorong saya untuk menjelaskan karunia Ilahi yang turun untuk meneguhkan kekuatan maknawi para Tullabunnur dalam menghadapi rintangan tersebut. Saya terpaksa menulis karunia ini sebagai bentuk dukungan moral di sekitar Risalah Nur, untuk menunjukkan bahwasanya ia adalah kuat sekuat balatentara itu sendiri yang tidak memerlukan siapa pun.

Ya, tujuan kami bukanlah untuk pamer diri, mengharap dikagumi orang, ingin dipuji atau membanggakan diri, karena semua itu akan merusak keikhlasan yang merupakan salah satu landasan agung Risalah Nur. Sebagaimana Risalah Nur membela dirinya sendiri dan memperlihatkan nilai-nilainya yang cemerlang, demikian pula ia dengan izin Allah menjadi sarana untuk memberikan pembelaan moral terhadap kami dan pengampunan terhadap kesalahan kami.

Saudara-saudaraku yang mulia!

Berdasarkan pemberitahuan spiritual, saya meyakini bahwa Risalah Nur telah muncul dalam diri saya, di desa kita dan di sekitar kita secara menakjubkan sebelum hal itu terjadi, yaitu sebelum Risalah Nur muncul empat puluh tahun yang lalu. Dulu saya ingin memberitahukan rahasia ini kepada murid-murid saya yang lama seperti Syafiq dan saudara kandung saya, Abdul Majid, hanya saja sekarang saya akan memaparkannya kepada kalian. Berkat kalian, Allah mengaruniai saya banyak sahabat seperti Abdul Majid dan Abdurrahman.

Ketika saya berusia sepuluh tahun, saya mempunyai perasaan bangga yang sangat membara sehingga terkadang muncul dalam bentuk perasaan ingin dipuji. Ketika itu, saya meniru perangai orang-orang yang mempunyai karya agung dan kepahlawanan yang luar biasa, padahal hal itu bukan kemauan saya. Ketika itu, saya berkata pada diri sendiri, “Atas dasar apa Anda pura-pura ingin dipuji, terutama membanggakan keberanian sementara Anda nyaris sama dengan orang yang tidak memiliki apa-apa? Ketika itu, saya bingung tidak mengetahui rahasia hal itu.

Jawaban kebingungan ini muncul dua bulan yang lalu yaitu bahwa Risalah Nur terlebih dahulu memberitahukan dirinya sendiri bahwa Anda hanya sebuah benih yang serupa dengan sepotong kayu bakar yang tidak berguna, Anda merasakan sebelum terjadi seakanakan Anda benar-benar memiliki tangkai di surga Firdaus lalu Anda bangga.

Desa kami, Nurs, penduduk daerah itu mengatahui sebagaima�na halnya murid-murid lama saya bahwa penduduk kami suka dipuji, merasa bangga dengan memperlihatkan keunggulannya dalam keberanian. Mereka suka mengikuti peran para pahlawan, seakan-akan mereka menaklukkan sebuah negeri besar.

Saya bingung terhadap diri saya sendiri dan terhadap mereka. Sekarang saya sudah mengetahui berkat pemberitahuan sebenarnya bahwa penduduk desa ini yang baik-baik itu merasakan sebelum terjadi bahwa desa mereka akan memperoleh kebanggaan besar berkat sinar Risalah Nur, dan orang-orang yang belum mendengar wilayah dan daerah ini akan mengetahui desa ini dengan perhatian yang sangat besar. Penduduk Nurs mengutarakan rasa terima kasihnya atas nikmat Ilahi ini dalam bentuk pujian.

...

Saya utarakan rahasia ini kepada kalian karena saya anggap kalian seperti murid-murid saya dan sahabat lama saya, seperti saudara saya Abdul Majid, dan keponakan saya Abdurrahman.

Sebagaimana saya merasakan hujan dua puluh empat jam sebelum turun, yaitu dengan sensitivitas saya dan pengaruh kelembaban dalam saraf saya, demikian pula saya merasakan dan dirasakan juga oleh penduduk desa dan orang-orang yang ada di sekitarnya sejak empat puluh empat tahun yang lalu melalui firasat sebelum turunnya hujan rahmat yang dibawa oleh Risalah Nur.

Kami sampaikan salam kami ke seluruh saudara kami, baik yang lelaki maupun yang perempuan. Kami doakan mereka dan kami mengarapkan kalian juga mendoakan kami.

Said Nursî

* * *

JAWABAN TERPAKSA TERHADAP SURAT PENTING DARI SEORANG PERWIRA BERPANGKAT TINGGI

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ اَلسَّلَامُ عَلَي۟كُم۟ وَ رَح۟مَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ

Saudaraku yang mulia dan setia!

Saya juga mengucapkan selamat untuk kalian dengan tibanya bulan suci Ramadhan. Mimpi yang kalian alami benar-benar penuh berkah. Ia merupakan isyarat bahwa Allah Yang Maha Benar membuat kalian mendapatkan kebaikan yang agung, insya Allah.

Menurut saya, kebaikan dan tugas yang paling agung pada masa sekarang ini adalah menyelamatkan iman dan berusaha untuk memperkuat iman orang lain. Waspadalah dan jauhilah segala sesuatu yang dapat menimbulkan egoisme dan kesombongan. Tawaduk dan meninggalkan egoisme adalah sesuatu yang sangat diperlukan pada masa sekarang bagi ahli hakikat, bahkan merupakan suatu keharusan yang sangat penting. Hal itu karena bahaya terbesar pada masa sekarang muncul dari egoisme dan kesombongan sehingga ahli haq dan hakikat selalu memperhatikan kekurangan mereka dan menyalahkan diri mereka sendiri. Menjaga iman dan ubudiyah dengan sikap pahlawan seperti kalian dalam kondisi sulit merupakan kedudukan agung. Salah satu tabir mimpimu adalah kabar gembira bagimu dari sudut pandang ini. Dapatkanlah salah satu risalah dari Risalah Nur yang berjudul “At-Talwîhât at-Tis`ah”, yaitu sebuah risalah yang membahas masalah esensi tarekat.

Masuklah ke lingkaran Risalah Nur seperti masuknya orang-orang yang memiliki kekuatan, iman dan hakikat seperti anda. Risalah Nur sama sekali tidak terkalahkan di hadapan serangan masa kini, bahkan musuh-musuhnya terpaksa membolehkan peredarannya secara resmi, sampai-sampai instansi resmi dan pengadilan tinggi, setelah melakukan penyelidikan dan pengkajian dua tahun yang lalu, mengesahkan dibolehkannya peredaran Risalah Nur dan mengeluarkan keputusan yang memerintahkan agar seluruh bagian Risalah Nur dan bagian-bagiannya, baik yang bersifat pribadi maupun yang bukan sifat pribadi, yang pernah disita dikembalikan kepada pemiliknya.

Manhaj Risalah Nur tidak akan terkalahkan sebagaimana yang dialami oleh seluruh manhaj tarekat, bahkan manhaj Risalah Nur inilah yang unggul dan membawa para penentangnya kepada iman. Dengan testimoni berbagai peristiwa membuktikan bahwa Risalah Nur adalah sebuah mukjizat maknawi al-Qur’an pada masa sekarang.

Peristiwa-peristiwa itu telah memberikan keterangan bahwa pengabdian agama yang dapat dilakukan di negeri ini di luar lingkaran Risalah Nur pada umumnya merupakan pengabdian khusus, parsial dan bersifat pribadi yang terbatas pada pelakunya, merupakan pengabdian yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dalam kondisi terkalahkan atau bentuk toleransi terhadap bid`ah, atau termasuk jenis penyimpangan sebagai akibat dari pentakwilan.Maka selama kalian mempunyai semangat yang tinggi dan iman yang kuat, jadilah seorang murid Risalah Nur dengan ikhlas dan tawaduk yang sempurna serta penuh ketabahan, sehingga kalian turut menyertai ribuan bahkan ratusan ribu murid dalam partisipasi amal ukhrawi. Perbuatan baik yang ada pada kalian akan keluar dari lingkaran parsial ke lingkaran universal. Dengan demikian, hal itu akan menjadi perniagaan yang benar-benar menguntungkan di akhirat.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ وَ اِن۟ مِن۟ شَى۟ءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَم۟دِهٖ
اَلسَّلَامُ عَلَي۟كُم۟ وَ رَح۟مَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ

Yang terhormat guru kami yang mulia, diberkahi, dan dicintai!

Alhamdulillah kesibukan duniawi tidak menyebabkan murid-murid Anda di Isparta terperosok dalam kelalaian pada tahun ini. Usaha kami dalam khidmah Risalah Nur masih terus berlangsung secara sungguh-sungguh. Kerinduan terhadap cahaya yang terpendam dalam hati kami, tanda-tandanya tampak pada setiap wajah masing masing sehingga seakan-akan hati para muridmu penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan.

Ya, guru kami yang tercinta! Semua muridmu berkata, “Allah telah melimpahkan nikmat kepada kami dengan pemberian dan kebaikan yang lebih baik dari dunia seisinya. Dia telah menugaskan kami dalam khidmah Risalah Nur ini secara tulus, sementara kami sendiri sebetulnya tidak layak untuk itu dan sama sekali kami ini bukan apa-apa. Dia telah menjadikan kami menjadi murid Ustadz Badiuzzaman, menjadi penulis dan orang-orang yang diajak berbicara. Allah I telah menuntun kami berada di jalan-Nya sebagai para mujahid, untuk menyebarluaskan kebaikan, memberi nasihat kepada umat manusia, dan beribadah kepada-Nya yang Maha Haq. Kendati kami telah bersyukur kepada Allah I, tetap saja rasa syukur kami itu sedikit, bahkan rasa syukur yang sepatutnya dipanjatkan itu pada hakikatnya adalah kebaikan dari Allah I. Setiap kali kami merasakan hal itu, hati kami penuh dengan rasa senang dan bahagia. Kehidupan dalam bentuk bersyukur yang dialami penduduk Nurs yang tak berdosa seperti yang dilalui oleh masa kecil guru kami tergambar dalam kondisi dan tindakan kami. Kami ucapkan alhamdulillah, pujian yang tidak terbatas dan tidak berkesudahan karena Dia telah menyelamatkan kami dengan kelembutan dan kepemurahan-Nya dari lembah kebodohan mutlak, lumpur kekufuran dan kedurhakaan serta menjadikan kami sebagai murid Nur yang paling cemerlang dan yang sangat mengagumkan.

Seandainya guru kami yang tercinta tidak pernah menjelaskan kepada kami tentang kemungkinan berkumpulnya dua nikmat dalam satu kesempatan (al-Iqtirân), niscaya ia membaca dari tulisan kami yang menerjemahkan perasaan hati kami tentang rasa syukur yang sangat besar bagi setiap nikmat yang ada.

Ya, guru kami yang tercinta! Kami melihat diri kami bahwa kami tidak layak menjadi mitra bicara bagi Risalah Nur, namun demikian kami menyaksikan manifestasi rahmat Allah Yang Maha Pencipta lagi Maha Penyayang hadir setiap kali keperluan mendesak.

Hati Ustadz adalah cermin yang bersinar terang, penampakan yang cemerlang, dan pantulan yang penuh cahaya. Lisannya merupakan mubalig, pengajar, dan mursyid yang luhur. Sedangkan tindakannya merupakan tauladan terbaik.Kebutuhan berbagai golongan umat manusia sekarang ditulis dan diperlihatkan.

Kondisi orang-orang zalim yang menyulut api perang sejak tujuh tahun yang lalu(*18)telah menjadi sangat menyedihkan. Setiap orang yang memiliki kesadaran mendengarkan radio sambil bertanya-tanya penuh kebingungan, “Apa yang akan terjadi esok hari?”. Ketika keamanan, kedamaian ditunggu-tunggu di dunia dengan kalahnya bangsa Jepang di Timur, tiba-tiba muncul gerakan yang besar dan hebat di Utara. Kondisi ini meresahkan setiap orang, membuat dirinya segera mendengarkan radio dengan penuh kecemasan dan perhatian seraya mengira bahwa masa mendatang sedang menuju kegelapan.

Syukur alhamdulilah Risalah Nur dengan penjelasannya yang luhur berhasil menenangkan ruh kami dan pelajaran-pelajarannya yang hakiki telah menenangkan hati kami.

Ada pertanda yang menunjukkan bahwa aliran pemikiran yang hebat ini tidak akan dapat dikalahkan kecuali dengan kekuatan samawi yang muncul dari kerja sama antara dunia Islam dan dunia Kristen, pengikut Injil bahu membahu dengan pengikut al-Qur’an, dan Injil menjadi pengikut al-Qur’an. Hal ini memberitahukan—dengan makna isyari—dekatnya masa yang ditunggu-tunggu, yaitu datangnya Nabi Isa n.Sesuai dengan apa yang saya dengar bahwa Amerika Serikat telah memerintahkan sebuah tim peneliti dari keempat tim yang diutus ke seluruh dunia dengan tujuan penyelidikan untuk mencari sebuah agama yang benar yang dapat merealisasikan kebahagiaan umat manusia. Selama masalahnya adalah seperti itu, kita percaya sepenuhnya bahwa Risalah Nur yang pembaruannya diakui oleh pengadilan akan menjadi sumber kebahagiaan umat manusia yang telah dilanda keresahan ini.

Selama guru kami yang tercinta memimpin kami, selama kita berpegang teguh dengan Risalah Nur yang mengandung hakikat yang paling luhur, menafsirkan Kitabullah dengan penafsiran yang paling tinggi dan paling bermanfaat, maka kebahagiaan kami tidak akan ada batasnya.

Jika setiap bagian dari seluruh bagian hakikat ini tampak, muncul ke dunia nyata, ia pasti akan menarik perhatian segenap pihak untuk membacanya dengan penuh antusias. Ada banyak petunjuk jelas tentang hal ini, terutama “Kalimat Kesepuluh” yang mengalahkan ide penolakan hari kebangkitan di akhirat (al-Hasyr), dan risalah “Ayatul Kubra” yang mendorong orang lain untuk membacanya secara terang-terangan kendati risalah ini dicetak secara sembunyi-sembunyi, yaitu risalah yang mengandung masalah-masalah besar dalam memperkuat iman, dan bagian Risalah Nur yang lain menghancurkan ide penolakan uluhiyah dari akarnya, seperti risalah “Buah Keimanan” dan risalah “al-Hujjah al-Bâlighah”.Risalah Nur, dengan izin Allah akan membongkar dinding ateisme dari akarnya yang sedang didirikan di sekitar al-Qur’an alKarim. Risalah Nur akan memadamkan api kekufuran yang jahat, akan mempersembahkan rasa aman dan iman ke seluruh dunia sehingga ia akan mengalirkan minuman surga kautsarnya yang melimpah dengan air kehidupan.

Yang kekal hanyalah Dzat Yang Mahakekal

Muridmu

Husrev

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ
اَلسَّلَامُ عَلَي۟كُم۟ وَ رَح۟مَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ اَبَدًا دَائِمًا

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Saya ulang kembali ucapan selamat saya dalam kesempatan Hari Raya. Saya akan berbicara kepada kalian tentang dua masalah yang sangat penting dengan sangat ringkas, karena saya meyakini kecerdasan kalian, di samping itu kedua masalah yang sangat penting ini terdapat dalam beberapa bagian terpisah dari Risalah Nur.

Masalah Pertama:Pada kali ini salah seorang Tullabunnur yang hakiki, berpegang teguh pada hakikat, dan salah seorang penyalin al-Qur’an al-Mu’jizul bayan menulis sebuah surat kepada saya yang menjelaskan sikap berbaik sangkanya yang berlebihan terhadap saya dan melampaui batasan saya seribu kali lipat. Ia menanyakan tentang sebuah hakikat. Karena Ia melihat dalam kepribadian saya yang lemah ini salah satu tugas suci yang agung bagi sosok maknawi Risalah Nur dan tugas mulia dari sisi pewaris kenabian dengan memandang saya sebagai gurunya, maka ia ingin melihat saya sebagai pemilik tugas pewaris kenabian itu.

Pertama: Hakikat yang abadi tidak bisa dibangun di atas pribadi-pribadi yang bersifat fana. Jika hakikat-hakikat itu dibangun di atas mereka, itu merupakan tindakan zalim terhadap hakikat-hakikat itu. Tugas abadi yang terus berlangsung secara sempurna dari segala sisi tidak terikat dengan orang yang fana dan mudah dilemahkan. Jika hal itu dilakukan, bahaya besar akan mengancam.

Kedua: Munculnya Risalah Nur yang bersumberkan pada alQur’an al-Karim bukan sekadar limpahan karunia yang muncul dari ide penafsirnya atau dari kebutuhan spiritualnya saja, dan tidak berkaitan dengan kesiapannya saja, tetapi sumber pencetus cahaya ini juga adalah permintaan, penerimaan, pembenaran dan penerapan limpahan karunia itu secara ruhiyah dari orang-orang yang tulus, tabah dan jujur yang menjadi mitra bicara penafsir itu dan teman dalam mempelajari al-Qur’an. Semua orang ini membentuk hakikat sosok maknawi Risalah Nur dan segenap muridnya. Penafsir juga mendapatkan bagian dari sosok maknawi ini dan memperoleh ke�hormatan sebagai “orang yang terlebih dahulu” selama tidak dirusak dengan ketidak-ikhlasan.

Ketiga: Zaman sekarang adalah zamannya berjama’ah. Bagaimanapun unggulnya kehebatan seseorang secara individual, ia dapat dikalahkan oleh kehebatan sosok maknawi jama’ah. Oleh karena itu, tugas keimanan yang merupakan cahaya kehebatan suci akan menerangi dunia Islam seperti yang disebutkan saudara yang terhormat dalam suratnya. Tugas ini tidak layak dibebankan ke atas pundak seorang yang lemah dan mudah kalah yang dikelilingi para musuhnya yang tidak terbatas, para musuh yang selalu berusaha un�tuk menghancurkannya melalui fitnah dan pencemaran nama baiknya. Jika tugas ini dibebankan kepada orang yang memiliki banyak kekurangan seperti itu, yang dapat goyah di bawah serangan pencemaran nama baik yang dilancarkan para musuhnya, maka tugas itu akan jatuh berantakan.

Keempat: sejak dulu banyak orang berbaik sangka kepada guru, mursyid, ustadz dan pimpinannya yang melebihi nilai pribadinya. Berbaik sangka yang berlebihan ini dalam batas tertentu dapat diterima sebagai wasilah untuk mendapatkan pelajaran dari para guru itu dan tidak pernah dikritisi sebagai sesuatu yang bertentangan dengan kenyataan. Adapun sekarang, para Tullabunnur dengan sangat antusias mengetahui, karena mereka melihat dalam kepribadian saya yang lemah dan banyak kekurangan, adanya tingkatan dan keutamaan mulia yang sesuai dengan seorang guru yang cocok untuk mereka. Ini adalah masalah yang dapat dianggap sebagai berbaik sangka yang melampaui batas saya, tetapi harus diketahui bahwa apa yang ada pada saya tidak lain milik sosok maknawi Risalah Nur.

Hanya saja, orang-orang zindik, orang-orang sesat, para politikus, orang-orang lalai hingga orang beragama yang sangat awam keliru dalam memberikan perhatian yang lebih kepada seseorang. Para musuh itu, terutama kaum zindik, dengan semua kekuatan yang mereka miliki berusaha keras untuk menjatuhkan saya, memadamkan Risalah Nur dan membuat orang awam percaya kepada mereka dengan dugaan bahwa orang malang seperti saya merupakan sumber cahaya itu dan dengan merendahkan orang ini mereka melancarkan serangan terhadap hakikat-hakikat yang ada.Dalam Masalah Kedua ada sebuah peristiwa yang memperlihatkan hakikat ini.

Masalah Kedua: Ketika saya keluar untuk jalan-jalan di padang rumput pada hari kedua Hari Raya, seorang pejabat penting menyerang saya dengan sikap yang bertentangan dengan undang undang dilihat dari lima sisi, hanya saja Allah I dengan rahmat dan kemurahan-Nya telah melimpahkan kebaikan kepada saya dengan kesabaran dan ketabahan yang luar biasa, demi menjaga kemuliaan Risalah Nur yang dibebankan kepada saya dengan segenap kemampuan yang ada, demi memelihara kedudukan dan kenyamanan para muridnya yang telah mendapat tempat dalam hati dan jiwa saya. Jika tidak demikian, jelas orang itu hendak memprovokasi saya sesuai dengan rencananya, agar Risalah Nur tidak lagi mengalami kejayaan khususnya risalah “al-Ayatul Kubra”. Jangan sampai kalian cemas atau bersedih hati. Jangan seka�li-kali kalian menderita karena saya. Kita berharap Allah memberikan inayah-Nya untuk melindungi kita dari balik tirai dengan perlindungan yang tidak diragukan lagi, agar kita menjadi manifestasi ayat suci al-Qur’an “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,..” (QS. al-Baqarah [2]: 216).

Rencana mereka telah gagal, tetapi di wilayah ini terdapat orang-orang yang mendapatkan dukungan langsung dari salah seorang pejabat tinggi yang selalu berusaha keras untuk mengintimidasi saya. Jika bisa, perlu diadakan mediasi di Pengadilan Denizli dan di Pengadilan Kasasi di Ankara agar saya dipindahkan ke tempat yang sesuai karena suasana di sini tidak kondusif. Meskipun hal itu tidak dapat saya lakukan sendiri, jika para sahabat kita di Denizli berusaha melakukan hal itu karena mereka mempunyai hubungan dengan masalah yang lebih dari hubungan saya, maka hal itu akan menjadi lebih baik. Jika hal itu tidak memungkinkan, mudah-mudahan ada alasan yang membuat saya dapat dijebloskan ke penjara Denizli.

Said Nursî

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saudara-saudaraku yang mulia, setia dan tulus!

Sebuah pertanyaan yang sangat penting diajukan kepada saya oleh orang yang mempunyai hubungan dengan saya sebagaimana yang diajukan oleh diri saya sendiri. Pertanyaan ini bersifat material dan spiritual: Pertanyaan: Mengapa Anda berbeda dengan semua orang dengan bersikap acuh kepada sebuah kekuatan yang sangat penting padahal dapat menolongmu? Mengapa Anda menolak kedudukan tinggi yang didambakan dan dicari oleh seluruh penganut hakikat, bahkan Anda sangat menjauhinya padahal telah terbukti dan disepakati oleh para Tullabunnur yang khawas bahwa kedudukan itu milik Anda dan itu akan memuluskan jalan bagi penyebarluasan dan kejayaan Risalah Nur itu sendiri?

Jawaban: Orang-orang beriman pada masa sekarang ini memerlukan hakikat yang agung yang keagungan dan keluhurannya itu menjadikan hakikat-hakikat iman dapat diajarkan dengan pengajaran yang tidak menjadikan hakikat-hakikat ini sebagai alat atau sarana untuk apa pun di alam semesta ini, tidak dicampur dengan tujuan atau maksud tertentu, serta keraguan dan filsafat tidak mampu mengalahkannya. Dengan hal itu, keimanan orang-orang yang beriman dapat terjaga dalam menghadapi serangan kesesatan yang bertumpuk sejak seribu tahun yang lalu.

Demi poin penting ini, Risalah Nur tidak mempedulikan pihak-pihak yang memberi pertolongan, baik yang berada di dalam negeri maupun yang berada di luar negeri, tidak tertarik dengan kekuatan mereka meskipun memang dianggap penting, bahkan tidak pernah mencari mereka dan menjadi pengikut mereka. Hal itu agar dalam pandangan orang-orang beriman yang awam tidak menjadi sarana untuk mencapai sebagian tujuan kehidupan duniawi. Karena hakikat Risalah Nur tidak bisa dijadikan alat secara langsung untuk mendapatkan sesuatu selain kehidupan abadi, maka seluruh keraguanpun akan segera sirna.

Adapun pertanyaan, mengapa Anda menjauhi kedudukan bercahaya dan ukhrawi yang dipercayakan saudara-saudara terbaik anda yang ditetapkan berdasarkan sikap berbaik sangka mereka? Dengan pertimbangan bahwa kedudukan itu adalah kedudukan spiritual yang dapat diterima dan tidak membahayakan, bahkan dicari oleh seluruh pengikut hakikat dan telah terbukti bagi saudara-sauda�ra Anda dengan berbagai argumentasi dan dalil yang tidak dapat dibantah. Padahal jika Anda menerimanya, tidak akan mengganggu keikhlasan anda, tetapi meskipun demikian Anda menghindarinya dengan sikap tawaduk dan mengabaikan kepentingan diri sendiri, bahkan dengan keras dan tegas Anda menolak keududukan yang diberikan oleh saudara-saudara Anda itu.

Jawaban: Sebagaimana seorang kesatria mengorbankan hidupnya demi menyelamatkan hidup rekan-rekannya, maka jika diperlukan—dan memang benar-benar diperlukan—saya siap untuk berkorban, bukan hanya dengan kedudukan yang tidak berhak saya terima saja, tetapi bahkan dengan kedudukan kehidupan abadi yang sebenarnya juga. Hal itu demi menjaga kehidupan abadi orang-orang yang beriman dari serangan musuh-musuh yang mengepung dan ini sesuai dengan tuntutan pelajaran belas kasih yang dipelajari dari Ri�salah Nur.

Ya, ada masalah yang dominan pada setiap masa, apalagi pada masa kita sekarang ini, khususnya pada masa yang penuh dengan egoisme dan popularitas, di mana kelalaian yang merata akibat dari kesesatan merajalela, politik dan filsafat menjadi unggul, di mana orang-orang yang berpangkat dan mempunyai kedudukan tinggi menjadikan segala sesuatu alat dan batu loncatan, sampai-sampai mereka menjadikan ajaran sucinya sebagai alat untuk memperoleh kedudukan duniawi. Mereka dituduh dengan menjadikan sebagian pengabdian sucinya dan hakikat sebagai wasilah dan tangga untuk menjaga pandangan umum terhadapnya dan mempertahankan dirinya pada kedudukan tersebut, sehingga hakikat-hakikat yang mereka sebarkan pun ternodai popularitasnya dengan keraguan. Jika manfaatnya satu bagi pribadi dan kedudukan, maka kerugianya seribu bagi masyarakat umum dengan redupnya popularitas.

Walhasil, hakikat keikhlasan mencegah saya dari segala sesuatu yang akan menjadikan sarana untuk memperoleh kedudukan, nama baik, kedudukan material atau spiritual. Ya, benar ini akan mengundang bahaya besar bagi pengabdian Risalah Nur dilihat dari sisi kualitas, tetapi kuantitas tidak penting dibandingkan kualitas, bahkan saya melihat bahwa mengajari sepuluh orang tentang hakikat iman yang merupakan sesuatu yang paling luhur, mengajari mereka sungguh-sungguh dengan tulus yang keluar dari lubuk hati seorang pengabdi yang tulus adalah lebih penting daripada mengajari ribuan orang sebagai seorang wali qutub yang agung, karena sepuluh orang itu melihat hakikat-hakikat tersebut lebih luhur dari segala sesuatu sehingga mereka menjadi tegar dan ketika itu hati mereka yang merupakan benih dapat tumbuh, membesar dan menjadi pohon. Sedangkan ribuan orang memandang pelajaran wali qutub tersebut sebagai pelajaran yang datang dari kedudukannya dan maqamnya yang khas dengan keraguan dan godaan yang datang dari dunia dan filsafat, sehingga mereka dapat terkalahkan dan terpecah-belah. Oleh karena itu, saya lebih mengutamakan berkhidmat pada hakikat daripada pada kedudukan.

Saya sekarang merasa khawatir kalau musibah menimpa orang yang berbuat jahat kepada saya pada saat hari raya tanpa alasan yang benar dan sesuai dengan rencana yang dibuat oleh musuh-musuh saya, karena masalahnya telah menjadi perhatian masyarakat luas di mana mereka telah memberikan saya sebuah kedudukan dan menganggapnya sebagai karamah luar biasa, maka saya berdoa kepada Tuhan seraya berkata, “Ya Allah, perbaikilah keadaan orang ini, atau berilah balasan yang sesuai tanpa terlihat bahwa balasan itu sebagai karamah saya”.

Berkenaan dengan hal ini, saya akan menjelaskan sebuah masalah,

yaitu bahwa saya telah melihat sebuah surat yang di dalamnya terdapat banyak tanda tangan di antara surat Tullabunnur yang diserahkan kepada saya dari pengadilan. Barangkali dicantumkan di dalam buku “al-Malâhiq”, yaitu risalah yang berbicara tentang keberkahan hidup yang terjadi pada Tullabunnur dan “tamparan” yang menimpa sebagian mereka. Ada lima orang yang mendapat tamparan seperti yang dialami oleh sebagian lain dari Kastamonu.

Said Nursî

PARAGRAF DARI SURAT TULLABUNNUR YANG MENYAKSIKAN PERISTIWA YANG MELAWAN KOMUNISME DI ISTANBUL

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saudara-saudaraku yang mulia!

Semalam di Istanbul telah terjadi salah satu penaklukan maknawi Risalah Nur dengan sangat gemilang dan menakjubkan, alhamdulillah. Sebuah kantor pusat organisasi yang bekerja menanamkan kekafiran mutlak di dunia secara keseluruhan dan khususnya di dunia Islam, telah diserang. Isi perpustakaan dan percetakan surat kabar yang mempublikasikan pemikiran dan mempropagandakan karyanya, berserakan. Para pemuda dan mahasiswa yang meyakini bahwa organisasi itu telah menjadikan mereka sebagai komunis ka�fir, berkerumun dan melakukan demonstrasi menentang mereka dan dengan suara lantang mereka berteriak, “Runtuhlah komunisme”. Organisasi ini telah mengalami kerugian materi diperkirakan mencapai ribuan lira, sedangkan kerugian maknawinya diperkirakan mencapai jutaan.

Wahai Tullabunnur! Janganlah kalian bersedih karena tidak tersedianya kecukupan hidup. Penaklukan Risalah Nur terus belanjut dalam wilayah yang luas dan mendapatkan keberhasilan yang menyeluruh, dan “ini adalah karunia Tuhanku”.

هٰذَا مِن۟ فَض۟لِ رَبّٖى

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saudara-saudaraku yang mulia lagi setia!

Intrik yang mereka rencanakan terhadap saya sejak berbulan-bulan yang lalu telah tersingkap. Allah dengan perlindungan-Nya, telah meringankan beban musibah yang menimpa saya, dari dua puluh menjadi satu.

Pada masa-masa luang, saya pergi ke masjid. Murid-murid saya telah membuatkan untuk saya sebuah ruangan kecil yang terbuat dari kayu tanpa memberitahu saya. Mereka membuatnya di sudut masjid untuk melindungi saya dari cuaca yang sangat dingin, hanya saja empat atau lima hari sebelumnya saya telah memutuskan untuk tidak pergi ke masjid lagi dan ruangan kecil itu telah dibongkar karena adanya turut campur petugas yang dikenal itu dan secara resmi saya yang dilarang untuk pergi lagi ke masjid. Mereka telah membesar-besarkan masalah yang sebetulnya sangat sepele sehingga akhirnya menghebohkan.Jangan risau, masalah itu tidak penting.

Saya menduga, mereka mengkhianati saya dengan berasalan seperti itu dengan tujuan untuk mencegah perhatian orang-orang terhadap saya yang di luar batasan saya. Mereka memandang saya dengan gambaran ketika saya berada dalam kondisi dulu. Mereka menduga bahwa saya tidak akan tahan menghadapi apa yang terjadi, padahal kalaupun setiap hari seribu celaan dan pelecehan dilancarkan kepada saya dengan syarat tidak mengganggu Risalah Nur dan publikasinya, saya tetap bersyukur kepada Allah Ta`ala. Saya sama sekali tidak memberikan perhatian terhadapnya. Demikian juga dengan para Tullabunnur di sini, mereka tidak goyah. Peristiwa yang kami perkirakan sejak dulu telah berlalu dan terasa ringan berkat inayah Allah.

Kami mengucapkan salam kepada saudara-saudaraku dan mendoakan mereka.

Said Nursî

* * *

SURAT RINGKAS DARI SAID NURSI YANG MENJELASKAN INTRIK ORANG ORANG YANG INGIN MENJAUHKAN TULLABUNNUR DARI RISALAH NUR, DAN JAWABANNYA

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saudara-saudaraku yang mulia lagi setia!

Saya mendapatkan pemberitahuan maknawi yang kuat agar saya kembali berbicara kepada kalian tentang masalah yang sangat penting, yaitu masalah yang sama dengan yang lalu yang pernah saya jelaskan kepada kalian secara ringkas.

Isinya adalah bahwa musuh-musuh kita yang munafik yang bekerja secara sembunyi-sembunyi, ketika gagal dalam melancarkan serangannya kepada kita dengan menggunakan pengadilan, politik dan lembaga negara sebagai alat di tangan kekufuran sebagaimana tampak jelas hingga sekarang, maka mereka meninggalkan rencana lamanya yang justru mendatangkan manfaat pada penaklukan Risalah Nur dan mereka membuat perencanaan berdasarkan kemunafikan yang setan sendiri merasa bingung dibuatnya, dan di sini saya paparkan beberapa indikatornya.

Salah satu dasar terpenting perencanaan mereka adalah melemahkan semangat saudara-saudara khusus kita yang selama ini kokoh dan berupaya membuat Tullabunnur meninggalkan Risalah Nur jika memungkinkan. Dalam masalah ini mereka menggunakan dusta dan konspirasi yang luar biasa di mana untuk menghadapinya diperlukan sikap yang tegar, loyalitas dan keras seperti baja sebagaimana sikap para pahlawan Tullabunnur di “Pabrik nur dan mawar”(*19)

Sebagian orang menyusup di tengah-tengah barisan Tullabunnur dengan memperlihatkan diri sebagai kawan yang setia sampai ketika telah ada kesempatan, mereka mulai menebarkan teror, membesar-besarkan masalah, menebarkan keresahan, dan berusaha keras memalingkan dan mengabaikan orang-orang lemah dengan mengatakan, “Janganlah kalian sekali-kali mendekati Said karena pemerin tah mengawasinya”. Sampai-sampai mereka menggunakan para gadis untuk menggoda para Tullabunnur yang muda. Mereka mendatangi orang yang menjadi tokoh sentral Risalah Nur dan memperlihatkan aib serta kekurangan saya kemudian memperkenalkan beberapa tokoh populer yang secara lahiriah tampak sebagai orang-orang yang taat beragama padahal mereka sebetulnya berasal dari kaum bid`ah. Mereka berkata, “Kami juga orang Islam. Agama tidak terbatas pada manhaj Said saja”. Mereka juga mendatangi para guru dan Ustadz yang polos dan menjadikan mereka sebagai alat untuk menyerang kami demi kepentingan kaum zindik dan anarkis yang menyerang kami dari belakang layar. Dengan seizin Allah, perencanaan mereka ini juga mengalami kegagalan. Katakanlah kepada orang-orang malang ini,

“Kami dan Said adalah sama-sama Tullabunnur. Sumber, pokok dan dasar Risalah Nur adalah al-Qur’an al-Karim. Nilai-nilainya telah terbukti dan penaklukannya telah tercatat bahkan terhadap musuh-musuhnya yang paling garang meskipun selama dua puluh tahun telah dilakukan penelitian dan pengawasan yang tidak ada bandingannya, meskipun kondisi Said yang tidak lebih dari seorang penafsir, penyampai dan pengabdi Risalah Nur, bahkan seandainya Said berpaling dari Risalah Nur—semoga Allah melindunginya—maka hubungan dan kesetiaan kami dengan Risalah Nur tidak akan goyah, dengan seizin Allah. Ya, sampaikanlah ucapan ini dan tutuplah pembahasan ini.

Sibukkanlah diri kalian dengan Risalah Nur semampu mungkin, menyalinnya jika dapat dilakukan, tidak mempedulikan kepentingan apa pun terhadap propaganda yang sangat menggoda dan tetap waspada sebagaimana halnya dulu.

Kami sampaikan salam untuk seluruh saudara dan kami doakan satu persatu.

Said Nursî

* * *

Orang-orang yang menjadikan politik sebagai alat untuk kekufuran dan ateisme, bekerja sembunyi-sembunyi untuk mengokohkan kekafiran mutlak, untuk menghancurkan kekuatan yang sangat besar yang dimiliki penduduk negara ini dengan berafiliasi kepada dunia Islam, menjalin persaudaraan dengan penduduknya, kepercayaan yang diberikan kepada mereka, bahkan mereka menebarkan kebencian dan permusuhan di antara mereka.

Mereka telah membuat pemerintah lalai, menyesatkan pengadilan dua kali dan mereka katakan bahwa para Tullabunnur menjadikan agama sebagai alat politik dan diduga akan mengganggu keamanan dan stabilitas. Padahal Risalah Nur merupakan keberkahan bagi negeri ini secara materi maupun maknawi. Ia memiliki pengabdian agung yang unggul. Ia adalah kumpulan ajaran komprehensif terhadap hakikat-hakikat yang berkaitan dengan dunia Islam secara umum dan ini adalah masalah yang telah terbukti dan nyata dengan isyarat tiga puluh tiga ayat al-Qur’an, tiga karamah gaib Sayidina Ali d, pemberitahuan gaib dari al-Ghauth al-A`dzam Syekh al-Jailani quddisa sirruhu.

Ketahuilah, Risalah Nur tidak mempunyai hubungan dengan politik, hanya saja karena ia menghancurkan kekafiran mutlak, maka dengan sendirinya ia menolak dan membatalkan anarkisme yang ada di bawahnya, menolak dan menghancurkan tirani mutlak yang berada di atasnya, merealisasikan keamanan, stabilitas, kebebasan dan keadilan. Oleh karena itu, ia tidak boleh diserang dengan alasan mengganggu keamanan dan pengelolaan negara, bahkan mereka tidak bisa lagi menjadikan seseorang membenarkan dakwaan palsu ini, hanya saja orang-orang munafik akan mengubah strategi penyerangannya. Mereka akan menghadapi Risalah Nur dengan cara busuk dan makar di bawah syiar agama itu sendiri. Untuk tujuan ini, mereka memanfaatkan sebagian Ustadz yang polos, ahli bid`ah atau orang-orang egois yang berasal dari pengikut aliran sufi. Hal seperti ini telah terjadi dua tahun yang lalu di Istanbul dan di sekitar Denizli, tetapi dengan seizin Allah, upaya mereka tidak berhasil.

* * *

Saya kira sudah tiba saatnya—atau hampir tiba—untuk mengajarkan Risalah Nur dan mencetaknya guna menolak dua malapetaka maknawi yang sangat menakutkan karena ia merupakan penyelamat makanawi untuk negeri yang penuh berkah ini.

Salah satu dari dua malapetaka ini adalah ateisme yang menakutkan yang muncul di Utara281 dan mengalahkan Nasrani, telah menimbulkan anarkisme dan kekacauan dan mulai menyerang negeri ini secara maknawi, maka Risalah Nur dapat menunaikan tugas sebagai dinding pembatas Qurani yang sama dengan dinding yang dibuat Zulkarnain dalam menghadapi serangan arus yang mengerikan ini.

Yang kedua adalah tuduhan dan keberatan yang sangat keras yang ditujukan kepada penduduk negeri yang penuh berkah ini dari penduduk dunia Islam. Maka sudah seharusnya berbicara kepada mereka melalui tulisan guna menghilangkan tuduhan dan keberatan mereka. Inilah yang terlintas dalam hati saya(*20)

Saya tidak mengetahui kondisi dunia sekarang, tetapi saya mengetahui bahwa hakikat Risalah Nur sebagai benteng pertahanan dalam menghadapi arus yang menakutkan ini yang melanda Eropa dan tidak berlandaskan pada agama samawi, maka ia juga merupakan mukjizat al-Qur’an dan akan menjadi sarana untuk menghilangkan tuduhan dan keberatan yang sekarang mendominasi penduduk dunia Islam dan benua Asia dan persaudaraan serta kecintaan akan kembali sebagaimana pada masa lalu. Para politikus yang mencintai negeri ini dan penduduknya, hendaknya mereka segera mencetak dan mempublikasikan Risalah Nur secara resmi agar menjadi benteng pertahanan dalam menghadapi dua malapetaka ini(*21)

Said Nursî

* * *

TERLINTAS SECARA TIBA-TIBA, MAKA TERPAKSA SAYA MENULISNYA

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saudara-saudaraku!

Jelas dan tanpa diragukan lagi bahwa terdapat banyak prosedur yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi guna mengkhianati dan menghina saya secara resmi. Hal tersebut bertujuan menghalangi perhatian masyarakat umum kepada saya. Mereka bekerja dari balik layar untuk menebarkan teror di tengah para sahabat saya dan menghancurkan keberanian mereka, padahal “Sikkah at-Tashdîq al-Ghaibî”(*22)menjungkirbalikkan seluruh propaganda tendensius mereka.Kendati berbagai prosedur yang dilakukan untuk kepentingan kekufuran itu bagaimanapun juga mengintimidasi saya dan membangkitkan kecenderungan Said Lama yang tersisa, hanya saja penaklukan Risalah Nur yang gemilang, kehormatan dan kasih sayang yang diterima para muridnya dalam pandangan ahli hakikat, para malaikat dan rûhâniyyûn, menjadikan pengkhianatan dan penghinaan yang dilancarkan terhadap pribadi saya lebih sepele dibandingkan sayap lalat. Orang-orang malang yang menghianati para ulama dan ahli agama karena keberagamaan mereka melancarkan penghinaan terhadap agama itu sendiri. Oleh karena itu, mereka terkutuk dalam pandangan para malaikat, rûhâniyyûn, orang-orang beriman dan ahli hakikat. Yang menganggap baik perbuatan mereka hanyalah kaum zindik dan orang-orang bodoh yang hina yang jumlahnya tidak mencapai satu atau dua orang dari seribu.Mereka menyerang saya dengan dugaan dungu bahwa mereka akan mencemarkan nama baik saya dan menghancurkan wibawa Risalah Nur dengan harapan Risalah Nur akan jatuh dengan menghancurkan pribadi saya yang mereka duga sebagai sumber risalah ini. Saya katakan kepada mereka:

“Wahai orang-orang malang yang menghianati dan menghina saya demi kepentingan kekufuran! Dengan tegas saya beritahukan bahwa kalian—selama tidak bertaubat dalam waktu dekat—tidak akan selamat, bahkan kalian akan digantung di atas tiang gantungan kematian, akan mengalami kematian abadi di tangan algojo ajal. Ruh jahat kalian akan divonis hukum penjara soliter abadi, akan mendapat kutukan dan kemurkaan dari orang-orang beriman dan rûhâniyyûn. Saya tidak marah kepada kalian, tetapi saya merasa kasihan dengan kondisi kalian karena saya mengetahui bahwa dendam saya akan terbalaskan pada kalian berlipat ganda selama kalian tidak bertaubat.

Upaya orang yang lebih tidak berharga dari lalat seperti kalian dalam rangka menghalangi Risalah Nur tidak akan mengurangi pengaruhnya. Ia memiliki ratusan ribu orang yang memberikan penghormatan dan pengagungan yang berasal dari lubuk hatinya yang paling dalam karena risalah ini telah menyelamatkan iman mereka.

Perasaan saya secara pribadi, dengan tegas saya katakan bahwa saya memang merasa tidak nyaman tetapi hanya berlangsung tidak lebih dari satu atau dua menit dan setelah itu langsung saya sangat terhibur di mana jika kalian semakin banyak melakukan pengkhianatan dan penghinaan beribu lipat ganda, rasa terhibur saya tidak akan berkurang sedikitpun. Karena telah kami jelaskan dengan temuan Risalah Nur secara pasti, bahwa orang-orang yang menyerang kami untuk kepentingan kekufuran, mereka akan memperoleh kehinaan dengan kematian abadi dalam kurungan soliter dan siksaan abadi, sedangkan para Tullabunnur yang telah menyelamatkan iman mereka dengan Risalah Nur akan mendapatkan surat pembebasan tugas dan kupon kebahagiaan abadi lewat kematian dan mereka akan mendapatkan kehormatan, kasih sayang dan kemuliaan abadi dengan diperkuat oleh ribuan argumentasi yang membungkam para filsuf.

Kemudian, Said Baru ini berada dalam posisi yang bertentangan dengan kondisi Said Lama dalam mendapatkan popularitas, kehormatan dan sambutan masyarakat, bahkan sama sekali menolak itu semua. Untuk itu, ia memilih menyendiri sejak dua puluh tahun yang lalu.

Jika kalian berusaha menghancurkan wibawa saya dalam pandangan masyarakat luas dengan alasan untuk menjaga keamanan dan stabilitas, maka sebetulnya kalian melakukan kesalahan besar. Karena ada tiga pengadilan selama bertahun-tahun telah meneliti karangan saya yang mencapai seratus dua puluh buah yang saya susun selama dua puluh tahun dan memantau kondisi para Tullabunnur yang jumlahnya mencapai seratus dua puluh ribu orang, ketiga pengadilan itu tidak dapat menemukan sesuatu pun yang dapat dijadikan petunjuk bahwa Risalah Nur dan para murid saya itu merupakan ancaman terhadap keamanan dan kestabilan, atau menjadi sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan atau bertentangan dengan kepentingan bangsa dan negara. Maka keputusan dikeluarkan bahwa kami tidak bersalah dan seluruh bagian Risalah Nur yang disita dikembalikan. Berdasarkan hal ini, saya sampaikan kepada kalian yang menekan kami demi kepentingan ateisme dan kekufuran, “Kalian mengintimidasi saya demi kepentingan anarkisme destruktif, demi memelihara kepentingan pihak asing yang berbahaya, mengancam kepentingan negara, bangsa, keamanan dan stabilitas, menimbulkan kegelisahan dan kekacauan dengan harapan aliran asing itu dapat masuk ke negeri kita. Untuk itu, seluruh pengkhianatan dan penghinaan kalian tidak sebanding dengan satu sen pun bagi saya dan saya telah putuskan untuk bersabar agar keamanan dan stabilitas berkelanjutan.”

Sebagaimana dunia ini tidak abadi, maka demikian pula dengan berbagai peristiwanya yang terjadi, tentunya juga akan berubah. Seandainya kejahatan terjadi dalam beberapa saat, ia menimbulkan ribuan macam siksaan duniawi dan ukhrawi, dan ketika itu kalian akan sangat menyesal, tetapi penyesalan tidak akan lagi berguna.

Saya sampaikan juga kepada orang-orang malang seperti kalian seperti yang saya sampaikan kepada instansi resmi dan para pegawai yang memiliki hubungan dengan kami:“Melalui Risalah Nur, kami bekerja untuk mencegah dua bahaya paling besar yang mengancam negara dan masa depannya. Tanda-tandanya banyak, bahkan sebagiannya sudah kami buktikan di pengadilan.

Bahaya pertama adalah mendirikan benteng dalam menghadapi anarkisme yang datang dari luar dan berusaha keras menyerang negara ini.

Bahaya kedua adalah menjamin titik sandaran terbesar untuk negara ini dengan mengubah kebencian tiga ratus lima puluh juta muslim menjadi sebuah persaudaraan.”

Saya katakan kepada Kepala Keamanan Afyon: Yang terhormat Bapak pimpinan, mengapa Anda tidak mempedulikan serangan yang dilancarkan terhadap diri saya secara tidak benar dan tidak berguna dan tidak pernah terjadi yang seperti itu di dunia? Di antaranya:

Saya bertanya kepada anda, dengan undang-undang apa saya mendapat penghinaan sementara saya dalam pengasingan, dalam kondisi sakit, usia renta dan sangat miskin dan dengan resmi dikatakan kepada saya, “Setelah ini Anda tidak boleh pergi ke masjid”, padahal saya pergi ke masjid untuk memperoleh pahala berjamaah dan saya tidak menerima orang duduk bersama saya lebih dari satu atau dua orang saja. Kepentingan apa yang hendak dicapai dari penghinaan ini? Berdasarkan undang-undang apa rasa takut dan gelisah ditebarkan dan masalah dibesar-besarkan hanya karena seseorang yang memasang tirai di tempat kosong dalam masjid yang terbuat dari beberapa bilah kayu dan karpet yang hanya cukup untuk dua orang yang ia pasang tanpa sepengetahuan saya dan sekadar untuk melindungi saya dari cuaca dingin?

Kepentingan apa yang hendak diambil dari menebarkan ketakutan dan kegelisahan ini?Orang-orang yang berbuat jahat terhadap saya itu tidak punya alasan selain berdalih mengarahkan orang-orang dengan mengatakan kepada mereka, “Mengapa kalian menghormati orang yang diasingkan ini?”.

Saya katakan, Semua sahabat saya mengetahui bahwa saya tidak mencari-cari penghormatan dan perhatian publik terhadap pribadi saya, bahkan saya menolaknya. Jika saya tidak menerima sikap berbaik sangka orang lain terhadap saya, lalu dengan undang-undang apa saya ditanya dan dihinakan hanya sekadar karena mereka berbaik sangka terhadap saya dan saya sendiri tidak menerima dan menginginkannya. Seandainya perhatian publik ini nyata, tidak ada kerugian bagi bangsa dan negara, bahkan ada manfaatnya. Kemudian jika saya menerima sedikit perhatian ini, maka bahaya apa yang timbul dalam menerima persahabatan satu atau dua orang untuk menangani urusan penting saya dalam usia renta, kondisi sakit dan sangat miskin dalam kurungan soliter yang menakutkan dalam ruangan yang sangat dingin? Undang-undang apa yang melarang hal seperti ini? Undang-undang apa saya dipaksa untuk tidak berkomunikasi dengan seorang pun selain dengan satu atau dua orang pekerja ketika ia berhalangan hadir sehingga saya tidak dapat mengurus diri sendiri? Mempelajari kondisi saya yang malang ini dan mempertimbangkannya merupakan amanah yang berada di pundak orang-orang pemerintahan, administrasi dan keamanan di negeri ini. Saya tegaskan kepada kalian bahwa kalian sangat berkepentingan dengan masalah ini.

Dalam pengasingan di Emirdağ

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saudara-saudaraku yang mulia, setia dan bahagia!

Risalah Nur telah menghadapi kebakaran besar seperti komunisme, yaitu bencana besar yang menakutkan yang datang dari Rusia Merah, mengobarkan api merah dan percikan merahnya, melanda kota-kota dunia, melanda pelosok-pelosoknya satu per satu, menyalakan api di sebagian dan melahapnya dengan jilatan apinya di sebagian lain, menyalakan api permusuhan dan kemunafikan secara nyata di sebagian lain yang melahirkan sikap seseorang dapat membunuh saudaranya. Kemudian setelah membakar, menghancurkan dan meluluhlantahkan dunia Kristen, ideologi ini melanda seluruh pelosok dunia Islam dan percikan apinya beterbangan ke negara kita. Ya, Risalah Nur yang menghadapi “kebakaran besar” ini dan sekaligus memadamkannya merupakan perlindungan terbesar bagi kaum muslimin dan umat manusia. Ia merupakan satu-satunya benteng pelindung terhadap ideologi jahat ini.

Wahai orang-orang yang tersesat dari jalan yang benar, yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad! Wahai orang-orang yang terpedaya oleh perhiasan dunia yang fana! Wahai orang-orang yang menjauh dari cahaya al-Qur’an dengan alasan khawatir membahayakan kepentingan dunia, kalian tidak akan selamat—sementara api kekafiran mengepung kita dari segala arah—kecuali kalian berlindung di balik benteng cahaya Risalah Nur, masuk dalam lingkaran sucinya. Ia adalah benteng yang kokoh dan melindungi. Kalian akan mendapatkan kehidupan abadi sebagai pengganti kematian yang kalian anggap sebagai kebinasaan abadi.

Dengan selalu berdoa seperti yang biasa dibaca oleh pengarang Risalah Nur dan sosok maknawinya, seperti: Lindungilah kami, lindungilah kedua orang tua kami, lindungilah para murid Risalah Nur dan kedua orang tua mereka dari siksa api neraka, dengan mendekatkan diri kepada Allah Ta`ala dengan doa tersebut, dengan selalu membaca Risalah Nur dan masuk dalam lingkaran suci yang penuh berkah ini, kalian akan selamat dari api dan dari penyakit duniawi dan ukhrawi seperti halnya saya selamat dari berbagai penyakit spiritual berbahaya dan kalian menyelamatkan orang-orang tercinta yang kalian pelihara, yaitu anak-anak dan keluarga kalian, kalian akan memperoleh kebahagiaan dan keberuntungan material dan spiritual karena kalian menyebarluaskan Risalah Nur. Ini adalah kenyataan yang disaksikan oleh jutaan Tullabunnur.

Wahai Tullabunnur, janganlah kalian angkat kepala kalian dari sujud syukur kepada Allah Ta`ala atas kelembutan azali-Nya yang diberikan kepada kalian. Jangan peduli dengan gelap dan dinginnya malam. Tunaikan tugas syukur kepada Allah Yang Maha Penyayang yang selalu menyayangi kalian dalam setiap kesempatan dengan bangun pada saat malam-malam yang penuh berkah. Janganlah kalian terpengaruh oleh berbagai peristiwa yang menggoyahkan sebagian kalian karena mereka terlalu memikirkan masa depan dan mencurahkan perhatian kepadanya. Janganlah kalian takut, tetapi saksikanlah berbagai karamah suci dan pertolongan Risalah Nur.

Dunia ini bersifat fana. Bahkan seandainya ada orang yang hidup di dalamnya ribuan tahun, dunia ini tidak ada nilainya dibanding kehidupan akhirat yang abadi. Kendati dunia ini bersifat fana, ia merupakan ladang yang menghasilkan buah abadi untuk kehidupan kekal. Badai dan angin yang kuat jangan sampai membuat kalian goyah dan takut. Di ladang yang penuh berkah ini, tanamlah benihbenih cahaya yang baik, penuh berkah, dan subur sebagaimana yang dikatakan leluhur kita, “Orang yang menanam, pasti akan memanen.”

Wahai Tullabunnur, janganlah kalian sampai goyah dalam menghadapi serangan musuh agama! Janganlah kalian patah sema�ngat, tetap berusaha dan bersungguh-sungguh! Yakinlah bahwa doa, syafaat dan pertolongan Risalah Nur akan menyelamatkan kalian.

Saudara kalian

Mustafa Osman

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Perencanaan yang mereka buat untuk menghabiskan nyawa saya pada musim dingin yang lalu telah gagal berkat kesabaran dan ketabahan yang dikaruniakan Allah kepada saya dan berkat doa kalian dari kejauhan. Buktinya hal itu dipersiapkan dalam bentuk yang paling luas adalah presiden baru-baru ini di Afyon secara terus terang mengatakan, “Tadinya kami memperkirakan kerusuhan yang bermotif agama di wilayah ini terjadi”.

Jadi, komite rahasia telah menekan saya agar saya tergerak untuk melakukan pembalasan. Hanya saja, kejahatan mereka yang kasar, biadab dan bertentangan dengan undang-undang itu terjadi di tengah-tengah kaum muslimin dan penduduk negeri ini demi intervensi asing dan benar-benar akan berubah menjadi bahaya yang mengancam mereka di dunia serta menjadi azab neraka Jahanam dan Sakar di akhirat. Sementara kita akan memperoleh pahala yang besar dan kemenangan yang nyata di dunia dan akhirat nanti, dengan seizin Allah kita akan mendapatkan surga dan telaga kausar.

Jadi, parlemen dan kepala negara sebetulnya telah mengetahui perencanaan rahasia ini sehingga mayoritas pegawai di sini, bahkan hingga gubernur dan bupati takut dan sengaja menghindar untuk berbicara dengan saya. Waktu itu saya merasa bingung, tetapi setiap orang yang berakal sekecil apapun akalnya, mengetahui bahwa apa yang ada pada kami hanyalah cahaya, bukannya gada politik. Anehnya, sebagian pegawai yang sepatutnya bekerja untuk kepentingan saya, mereka dimanfaatkan untuk melawan saya.

Para Tullabunnur sepatutnya sangat berhati-hati karena ada badai maknawi, ada kaum munafik licik yang menyusup di setiap arah, masuk dalam barisan Partai Kebebasan(*23)padahal sebetulnya mereka penganut setia tirani mutlak seperti setianya orang-orang kafir. Tujuan mereka hanya ingin merusak kinerja partai, mengetahui rahasianya dan menghancurkannya.

Terkait dengan pemberian sebuah naskah berjudul “Tongkat Musa” oleh Salahuddin kepada orang Amerika itu, kami katakan,

“Para misionaris, para tokoh rohani Kristen, juga para Tullabunnur hendaknya mereka sangat waspada karena arus Utara(*24)akan bekerja dengan bersungguh-sungguh untuk menghancurkan keharmonisan antara kaum muslimin dan para misionaris guna mempertahankan diri dalam menghadapi Islam dan agama Nabi Isa. Barangkali sebagian umat Islam akan ada yang tertarik masuk ke dalam barisannya karena mereka diberi beberapa keistimewaan khusus yang sebetulnya mereka disesatkan dan ditipu ketika mereka menunaikan zakat, mengharamkan riba, membantu masyarakat awam dan ketika mereka mengajak kaum borjuis untuk membatu masyarakat menengah ke bawah agar terlepas dari kezaliman.” Pada kali ini saya melanggar kaidah saya dan memberi perhatian terhadap dunia, semata-mata untuk kepentingan kalian.

Said Nursî

* * *

Ketika nafsuku mengganggu saya dengan semakin menipisnya kesabaran pada masa sulit ini, beberapa pernyataan berikut telah menenangkannya dan mendorongnya untuk bersyukur. Pernyataan tersebut sudah digantung di dinding yang tepat di atas kepala saya.

Saya kirim pernyataan itu kepada kalian dengan harapan berguna untuk kalian juga.Wahai nafsuku! Engkau telah mengambil bagianmu dari kesenangan selama tujuh puluh tiga tahun lebih banyak daripada yang diambil sembilan puluh persen orang lain sehingga engkau tidak lagi memiliki hak di dalamnya.

Engkau menuntut keabadian dari kesenangan yang bersifat fana dan instan. Ketika meninggalkanmu, engkau langsung menangis. Engkau mendapatkan tamparan atas kesalahan yang engkau lakukan ini dengan perasaan buta. Menangis sepuluh jam sebagai balasan dari tawa yang berlangsung hanya satu menit.

Terdapat keadilan takdir di balik kezaliman dan malapetaka yang menimpamu. Orang-orang berbuat aniaya terhadapmu karena suatu masalah yang tidak engkau lakukan, tetapi takdir memperlakukanmu berdasarkan kesalahan-kesalahanmu yang tersembunyi, lalu ia mendidikmu lewat malapetaka itu, dan itu menjadi penebus atas kesalahan-kesalahanmu.

Wahai nafsuku yang tidak sabar! Dengan ratusan pengalamanmu engkau telah meyakini dengan pasti bahwa di balik malapetaka yang tampak itu terdapat buah perhatian Allah yang sangat manis. Ayat al-Qur’an, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,” (QS. al-Baqarah [2]: 216) memberimu pelajaran hakikat yang pasti, maka ingatlah ia selalu. Hanya saja, undang-undang Ilahi yang mengelola roda takdir—yaitu undang-undang takdir yang menyeluruh dan luas—tidak akan berubah semata-mata karena keinginanmu.

Jadikanlah kaidah suci, “Siapa yang mengimani takdir, ia akan aman dari kesedihan” sebagai peganganmu. Jangan kejar kesenangan sementara yang tidak berharga seperti anak-anak kecil yang dikuasai keinginannya. Pikirkanlah bahwa kesenangan yang fana itu akan meninggalkan kesedihan dan penderitaan maknawi, sementara kesedihan dan penderitaan itu akan membuahkan kesenangan maknawi dan pahala ukhrawi. Jika engkau cerdas, engkau dapat mencari kesenangan sementara hanya untuk bersyukur, karena memang kesenangan itu diberikan semata-semata untuk disyukuri.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saudaraku yang mulia dan terhormat!

Saya telah membaca suratmu dengan penuh perhatian, yaitu surat yang sangat lengkap yang ditulis dengan penuh perhatian dan ketelitian seakan-akan sebuah pembahasan tersendiri. Pertama-tama, saya jelaskan bahwa Ustadznya Risalah Nur dan orang yang memperlihatkan hubungan yang erat dengannya melalui isyarat gaib, dan orang yang merupakan guru khusus saya dalam hakikat iman adalah Imam Ali d. Juga saya jelaskan bahwa mencintai ahlul bait merupakan landasan dalam manhaj kita dan Risalah Nur sesuai dengan teks ayat al-Qur’an:“Katakanlah: «Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang kepada keluarga”, (QS. al-Syûrâ [42]: 23). Paham Wahabi tidak sepatutnya ada di kalangan Risalah Nur yang sejati dari segala aspek. Namun karena kaum sesat dan zindik pada masa sekarang ini memiliki arus yang kuat yang memanfaatkan perselisihan pendapat sehingga membingungkan orang-orang yang beriman, merusak berbagai syiar agama, memerangi al-Qur’an dan iman, maka musuh yang mengintai ini bagaimana pun harus dihadapi dengan menutup pintu perdebatan dalam masalah furu’iyah yang menjadi sumber perselisihan pendapat.

Kemudian, kita tidak perlu mencaci orang-orang yang sudah mati. Mereka telah pergi ke akhirat, tempat pembalasan. Ahlu sunnah waljama’ah telah melarang membuka pintu perdebatan tentang fitnah yang terjadi pada zaman sahabat radiyallahu `anhum, karena untuk mencintai ahlul bait kita tidak diminta untuk menyebutkan cela orang-orang yang sudah meninggal dunia. Hal ini sama sekali tidak perlu bahkan akan berbahaya.Ahlu sunnah waljama’ah telah memutuskan masalah yang berkaitan dengan perang Jamal di mana Talhah dan Zubair—di mana keduanya termasuk di antara sahabat yang telah mendapat jaminan masuk surga f—serta Siti Aisyah g ikut terlibat. Keputusan yang diambil oleh Ahlu sunnah waljama’ah adalah bahwa perang ini timbul sebagai hasil dari ijtihad, Sayyidina Ali d adalah benar dan pihak lain tidak benar, tetapi mereka diampuni karena masalahnya adalah hasil ijtihad.

Ahlu sunnah waljama’ah tidak membuka pintu pembicaraan tentang para pembangkang dalam Perang Shiffin agar paham Wahabi dan mazhab Rafidhah yang ekstrim tidak membahayakan Islam. Sa`duddin at-Taftazani, salah seorang ulama terkemuka pakar ilmu kalam berkata tentang orang-orang seperti Yazid, al-Walid(*25)dan al-Hajaj yang zalim, “Mengutuk Yazid, boleh”, dan ia tidak mengatakan wajib, lebih baik atau mendapat pahala. Hal itu karena orang yang mengingkari al-Qur’an, tidak mempercayai Nabi Muhammad, menolak kedudukan suci para sahabat yang mereka peroleh dan jumlahnya tidak terhitung, dan di antara mereka banyak mendapat serangan pada masa sekarang ini. Mengutuk mereka bukanlah perbuatan wajib, bukan pula perbuatan baik yang mendapatkan pahala. Secara syariah, jika seseorang tidak mengingat dan tidak mengutuk orang-orang terkutuk, ia tidak berdosa.

Kutukan dan kecaman tidak seperti pujian dan kecintaan, keduanya tidak dianggap sebagai amal saleh. Tetapi jika dari perbuatan itu muncul bahaya, maka akibatnya akan lebih buruk.Pada kenyataannya, kaum munafik masa kini yang bergerak secara sembunyi-sembunyi, menghancurkan Islam melalui sekelompok ulama yang seharusnya bertanggung jawab membela Islam dan hakikat al-Qur’an. Mereka memanfaatkan para ulama itu melalui paham Wahabi, menggunakan mereka dalam menuduh ahli haki kat sebagai orang Syiah, dan menjadikan mereka terbelah menjadi dua kelompok. Dalam masalah ini kaum munafik sangat berperan. Sebagiannya telah Anda sebutkan dalam surat anda, bahkan Anda mengetahui bahwa alat yang paling kuat yang mereka pakai untuk menyerang saya dan Risalah Nur adalah para ulama itu sendiri.

Gerakan wahabi yang berkuasa di Makkah dan Madinah serta karya-karya yang menarik dan menakjubkan milik Ibnu Taimiyah dan Ibnu al-Qayyum al-Jauziyah yang masyhur telah lama beredar di tangan para Ustadz. Oleh sebab itu, sebagian Ustadz yang terjerumus dalam bid’ah menjadikan manhaj mereka yang anti para wali dan mentolerir bid’ah sebagai topeng mereka untuk memukul Anda dan para Tullabunnur dengan alasan cinta kalian kepada ahlul bait dan ijtihad-ijtihadmu yang tak perlu diungkapkan sekarang.

Seandainya tidak ada masalah yang berkaitan dengan syariah untuk tidak mencela dan mengkafirkan, ada hukum syariah sebagai konsekuensi dari perbuatan tersebut. Mencela dan mengkafirkan, jika ternyata tidak benar alasannya, dosanya besar. Jika alasannya benar, perbuatan itu tetap tidak baik dan tidak ada pahalanya karena orang yang berhak untuk dicela dan dikafirkan tidak ada batasannya, sementara sikap tidak mencela dan tidak mengkafirkan, tidak ada hukum syariah yang berkaitan dengannya dan tidak pula merugikan.

Oleh karena itu, ahli hakikat berpedoman dengan undang-undang suci yang bersandarkan pada hakikat tersebut yang ditetapkan oleh ahlusunah, terutama keempat imam dan para imam keluarga Nabi Muhammad . Mereka tidak membolehkan membicarakan dan memperdebatkan fitnah yang terjadi antara umat Islam pada masa pertama itu. Mereka memutuskan bahwa hal itu merupakan perbuatan yang berbahaya dan tidak berguna.

Di kedua belah pihak yang terlibat dalam peperangan itu terdapat banyak sahabat mulia. Turut campur membicarakan dan memperdebatkan fitnah seputar peperangan ini akan mendatangkan sikap membantah yang bercampur dengan sikap tidak suka terhadap para sahabat mulia itu, bahkan sampai-sampai terhadap kesepuluh sahabat yang sudah mendapat jaminan masuk surga seperti Talhah dan Zubair f, kendatipun peperangan yang terjadi itu adalah sebuah kesalahan, tetapi kemunginan para sahabat untuk bertobat itu sangat besar. Seseorang yang beriman, memiliki keutamaan dan memiliki pandangan yang sangat dalam, dan mengemban tugas suci, tidak patut berpaling dari orang-orang yang benar-benar berhak mendapatkan ribuan kutukan dan kebencian, yaitu mereka yang melancarkan serangan terhadap Islam secara membabi-buta pada masa sekarang ini, dan pergi ke masa lampau, menceburkan diri dalam kondisinya padahal syariah tidak memerintahkannya, tidak ada yang mengharuskannya, bahkan berbahaya.

Saya mengetahui bahwa perdebatan Anda yang terbatas dengan Sabri telah sangat membahayakan Risalah Nur dan penyebaran hakikat-hakikat imannya. Pada waktu yang sama saya telah merasakan hal ini ketika saya berada di sini. Saya merasakan dampaknya dan cukup menderita.Saya mengharapkan dari orang berilmu yang teliti dan cermat seperti Anda dan dari Sabri yang datang kepada Anda agar menjadi sarana pengabdian penting untuk daerah itu, saya mengharapkan dari kalian berdua pengabdian Risalah Nur yang mulia, namun ternyata kebalikannya, saya rasakan bahkan saya lihat bagaimana Risalah Nur mendapat ancaman bahaya dari tiga sisi. Ketika saya bertanya kepada diri sendiri, “Dari mana datangnya bahaya itu?”. Beberapa hari kemudian saya memperoleh berita bahwa Sabri telah terlibat dalam perdebatan dengan Anda yang sebetulnya tidak perlu dan tidak ada gunanya, Anda pun menjadi marah. Saya menyayangkan hal ini dan berdoa, “Ya Allah, jadikan perdebatan kedua orang ini yang telah siap menolong saya dari Erzurum menjadi perdamaian”.

Yang harus dilakukan orang beriman sekarang—seperti telah dijelaskan dalam Risalah al-Ikhlas—menjalin persatuan bukan hanya dengan saudara-saudaranya sesama Muslim, tetapi juga dengan para tokoh rohaniawan Kristen. Hendaknya mereka meninggalkan pertikaian dan masalah-masalah khilafiyah, karena kekafiran mutlak tidak henti-hentinya melancarkan serangan. Saya mengharapkan Anda dengan semangat keagamaan dan pengalaman ilmiah dan hubungan dengan Risalah Nur, melupakan apa yang telah terjadi antara Anda dan Sabri, agar Anda memaafkannya karena ia tidak berbicara atas dasar keyakinannya, tetapi hanya menirukan apa yang ia dengar dari para gurunya terdahulu dalam bentuk perdebatan yang tidak perlu.Anda mengetahui bahwa satu kebaikan yang mulia dapat menghapus banyak keburukan. Ya, sebetulnya Sabri sebagai putera daerah kita telah berkhidmat kepada Risalah Nur dan terhadap iman melalui Risalah Nur dengan pengabdian mulia yang membuat ribuan kesalahan dirinya dimaafkan. Yang sepatutnya dilakukan berdasarkan kedudukan Anda yang tinggi adalah memelihara pengabdian terhadap Risalah Nurnya ini dan menganggapnya sebagai seorang sahabat yang berasal dari penduduk negeri dan saudara dalam pengabdian terhadap Risalah Nur.

Sebagian sahabat melihat peperangan itu dari sudut rukhsahsyariah dan keadilan relatif, lalu mereka meninggalkan jalan yang ditempuh oleh al-Imam Ali, yaitu jalan azimah syariah dan keadilan yang hakiki disertai zuhud, tidak bergantung pada orang dan hidup hemat. Konsekuensi ijtihadnya ini mereka bergabung dengan pihak oposan terhadap Ali d, bahkan dalam pihak ini—pada suatu ketika—terdapat saudara Ali, Aqîl ibn Abi Thalib dan Abdullah bin Abbas yang disebut “Habrul Ummah”. Maka ahlu sunnah wal jama’ah yang hakiki mengatakan ‘Allah telah menjaga tangan (diri) kita dari (peristiwa semacam itu), maka hendaknya kita menjaga lidah kita, berdasarkan undang-undang syariah yang murni yang mengatakan bahwa di antara kebaikan syariah adalah menutup pintu fitnah, sehingga mereka berpendapat bahwa membuka pintu fitnah dan membahasnya adalah tidak boleh. Karena kalau pun terdapat beberapa orang yang berhak dibantah, sikap keberpihakan akan selalu muncul sehingga mulai membantah para sahabat yang mulia, bahkan bantahan itu akan dialamatkan kepada sebagian anggota keluarga Nabi Muhammad yang terdapat dalam barisan oposan terhadap Ali, dialamatkan kepada sahabat senior seperti Thalhah dan Zubair yang termasuk sepuluh sahabat yang sudah mendapat jaminan masuk surga. Ketika itu yang muncul adalah pengecaman dan permusuhan.

Dari sini, ahlusunah lebih memilih untuk menutup pintu, sampai-sampai Sa`duddin al-Taftazani, salah seorang imam terkenal ahlusunah, ulama ilmu kalam terkemuka, ketika ia memutuskan bahwa mengutuk dan menganggap sesat Yazid dan al-Walid itu boleh, ia mendapat jawaban telak dari ulama ahlu sunnah waljama’ah yaitu al-Sayyid al-Syarif al-Jurjani yang mengatakan, “Benar bahwa Yazid dan al-Walid termasuk orang-orang zalim, orang-orang yang melampaui batas dan durhaka, hanya saja karena kematian dalam keadaan tidak beriman itu adalah masalah gaib, tidak ada cara untuk mengetahuinya secara pasti, tidak ada teks atau dalil pasti yang berkenaan dengan kepribadian mereka, maka mengutuk seseorang tertentu itu tidak boleh karena ada kemungkinan ia bertaubat dan mati dalam keadaan beriman. Mengutuk secara umum boleh seperti dengan mengatakan, “Kutukan Allah semoga diturunkan kepada orangorang zalim dan orang-orang munafik”. Jika tidak, tidak ada alasan yang mengharuskan hal itu dilakukan, bahkan berbahaya”. Saya tidak dapat menulis jawaban yang panjang lebar terhadap surat Anda yang ilmiah dan penting, disebabkan penyakit saya yang parah dan kesibukan yang tidak dapat dihindarkan. Hanya ini yang dapat saya lakukan dalam waktu singkat.

Saudaramu

Said Nursî

* * *

BAGIAN DARI KELUHAN YANG DISAMPAIKAN KEPADA MENTERI DALAM NEGERI

...

saya telah mengalami kezaliman yang belum pernah ada di muka bumi dan belum pernah terjadi dalam sejarah. Saya mendapatkan berbagai intimidasi dan tindakan kekerasan yang bertentangan dengan undang-undang dilihat dari sepuluh sisi. Saya jelaskan sebagai berikut

Said yang malang ini telah begitu menderita sakit karena diracuni dalam upaya pembunuhan berencana. Ia lemah dan tidak berdaya sama sekali. Usianya telah lanjut, mencapai tujuh puluh satu tahun. Sendirian dalam pengasingan yang membuat orang merasa iba. Hidup sangat miskin sehingga ia menjual pakaiannya untuk mempertahankan hidupnya. Terisolasi dari orang banyak selama dua puluh lima tahun sehingga dari seribu orang nyaris tidak ditemukan satu orang yang benar-benar setia. Meskipun demikian, ia adalah orang yang tidak bersalah, sesuai dengan keputusan Komisi Pakar Ankara, dan sebelumnya keputusan tiga pengadilan setelah mereka mempelajari kehidupannya dua puluh tahun dan meneliti karangannya secara mendalam, sehingga mereka akhirnya memutuskan bahwa dirinya tidak bersalah. Mereka sepakat bahwa karangannya berguna dan isinya tidak membahayakan negara dan bangsa. Ia adalah salah seorang penduduk negara ini yang sangat mencintai negaranya. Ia pernah melakukan pengabdian agung pada masa Perang Dunia Pertama. Sekarang ia dengan segala kekuatan dan melalui karangannya yang berpengaruh secara nyata, bekerja untuk membela negara dan bangsa dari ancaman anarkisme dan perusakan asing. Ia adalah seorang yang mencintai kedamaian dan tidak mempunyai niat untuk membahayakan Anda. Ia tidak pernah turut campur dalam urusan dunia, bahkan belum pernah membaca selembar pun surat kabar, tidak memperdulikan berita dan peristiwa sejak dua puluh lima tahun yang lalu sebagaimana hal itu terbukti di pengadilan dengan kesaksian tujuh puluh saksi. Ia tidak memperdulikan Perang Dunia Kedua selama terjadi dan tidak pernah mencari tahu tentang beritanya sama sekali. Dalam karangannya telah dibuktikan dengan dalil-dalil yang kuat bahwa dirinya memutuskan hubungan dengan politik secara total, sebagaimana hal itu diakui secara resmi oleh pengadilan. Ia sangat menjauhi perhatian orang-orang terhadapnya, menjaga diri dari pujian dan baik sangka rekan-rekannya dan ia sedikitpun tidak menyukai hal-hal seperti itu agar tidak membahayakan kehidupan akhirat dan keikhlasannya. Lalu, kepentingan apa yang mendorong anda, Menteri Dalam Negeri memerintahkan gubernur Afyon dan kepolisian Emirdağ untuk mengintimidasi dirinya setiap hari dalam sebulan di penjara soliter dan dipaksa mendekam sendirian dalam penjara soliter selamanya? Undang-undang apa yang membolehkan tindakan kekerasan yang menakutkan ini? Ini yang dapat saya jelaskan kepada Menteri Dalam Negeri melalui lembaga pengadilan tinggi yang menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Orang yang dilarang secara aniaya memperoleh hak hidup, hak sipil dan hak asasi manusia

Said Nursî

* * *

KEPADA YANG TERHORMAT TUAN HILMI, MANTAN MENTERI DALAM NEGERI DAN SEKRETARIS UMUM PARTAI SEKARANG (*26)

Pertama: Selama dua puluh tahun saya tidak pernah menulis selain satu aduan yang saya tulis ketika Anda sedang menjabat Menteri Dalam Negeri. Hanya saja, saya tidak beranjak dari prinsip hidup yang saya pegang selama ini(*27), sehingga saya tidak menyerahkannya. Saya akan berbicara dengan Anda sebagai mantan Menteri Dalam Negeri dan sebagai sekretaris sekarang.Orang yang berbicara sekali kepada salah seorang petinggi pemerintahan untuk kepentingan pemerintah setelah sebelumnya ia berdiam diri selama dua puluh tahun, jika ia berbicara sepuluh jam, akan dianggap sebentar. Oleh karena itu, izinkan saya berbicara satu atau dua jam.

Kedua: Saya terpaksa menjelaskan sebuah kenyataan kepada Anda yang sekarang menjabat sebagai sekretaris umum partai,

yaitu bahwa partai ini memiliki tugas yang sangat penting untuk bangsa.

Tugasnya adalah Bangsa Turki dan saudara seagama yang bergabung dengannya, sejak seribu tahun yang lalu telah berjasa bagi dunia Islam, dengan kepahlawanannya yang luar biasa, dan ini menjadi wasilah terbesar untuk menjaga kesatuan Islam, menyelamatkan umat manusia dari kesesatan dan kekufuran mutlak dengan cara yang cemerlang. Jika sekarang kalian jauh dari al-Qur’an dan hakikat iman, tidak segera menyebarkan hakikat al-Qur’an dan iman sebagaimana yang kalian lakukan pada masa lalu, maka saya sampaikan dengan tegas dan diperkuat oleh dalil-dalil yang pasti bahwa kalian akan menjadi sebab timbulnya permusuhan antara dunia Islam dan bangsa Turki yang merupakan pemimpin dan saudaranya, bukannya memperkuat persaudaraan dan kecintaan. Kalian akan menjadi sebab dalam kekalahan bangsa ini di hadapan anarkisme yang dibalut oleh kekufuran mutlak yang berusaha keras menghancurkan dunia Islam. Selanjutnya, kalian akan menjadi sebab tercabik-cabiknya bangsa Turki ini yang menjadi benteng Islam dan balatentaranya yang pemberani, dan menjadi mangsa monster menakutkan yang menjulurkan kepalanya dari Timur Laut.

Ya, bangsa pahlawan ini mampu bertahan dengan kokoh di hadapan dua arus kuat yang datang dari luar dengan kekuatan al-Qur’an. Jika tidak, arus komunisme yang bergerak sangat kuat, bersandarkan pada kekufuran mutlak, tirani mutlak, kekejian mutlak, dibolehkan�nya harta benda kaum borjuis untuk kaum proletar, ini semua tidak dapat dihentikan kecuali dengan kekuatan agama dan ikatan iman yang dimiliki oleh bangsa ini yang berpadu dengan hakikat Islam dan mereka mendapatkan sejarahnya yang cemerlang dalam hal ini. Ya, penduduk negeri ini yang memiliki kepedulian agama dan keikhlasan yang sangat tinggi, dengan izin Allah mereka akan menghentikan arus ini, yaitu dengan berpegang teguh pada hakikat alQur’an yang merupakan saraf kehidupan bagi bangsa yang bersatu ini. Mereka berpegang teguh padanya dan menjadikannya prinsip dalam bertindak sebagai ganti dari pendidikan peradaban Barat.

Yang berkaitan dengan arus kedua(*28), jika orang-orang seperti kalian penduduk negeri yang peduli tetap memelihara prinsip-prinsip sekarang yang melanggar ajaran suci kita demi kepentingan peradaban Barat, mengabadikan prosedur yang dilaksanakan segelintir orang atas nama revolusi, dijadikannya sebagai landasan yang diandalkan, kebaikan sekarang dan kebaikan revolusi diserahkan kepada segelintir orang itu, dan keburukan sekarang diberikan kepada bangsa, maka ketika itu keburukan segelintir orang itu akan berubah menjadi jutaan keburukan dan menjadi pemberontakan terhadap bangsa Turki yang pemberani, religius, dan balatentara Islam, terhadap milyaran tentara terhormat yang dipersembahkannya selama beberapa abad, pemberontakan terhadap jutaan pahlawan yang mati syahid, penghinaan dan penyiksaan maknawi terhadap arwah mereka yang suci. Lebih dari itu, jika kebaikan sekarang yang terwujud dengan kemauan keras, kekuatan tentara dan bangsa, diserahkan kepada segelintir orang yang terlibat dalam revolusi yang patut mendapatkan bagian dari kebaikan itu, jutaan kebaikan akan menyusut menjadi hanya beberapa kebaikan dan akan terbatas pada kelompok minoritas ini. Tidak lagi mempunyai kekuatan untuk menebus keburukan-keburukan yang sangat besar itu.

Ketiga: Tentunya kalian memiliki kelompok oposan dalam dan luar yang beragam. Jika mereka menentang kalian dengan mengatasnamakan hakikat iman, mereka langsung akan mengalahkan kalian karena sembilan puluh persen dari penduduk negara ini secara hati dan ruh terhubung dengan adat kebiasaan dan nilai-nilai Islam sejak seribu tahun yang lalu. Jika mereka patuh terhadap sesuatu yang bertentangan dengan nalurinya dan secara lahir mereka tampak patuh dari sisi mematuhi perintah, hanya saja mereka secara hati tidak mempunyai keterikatan.

Seorang muslim tidak seperti penduduk bangsa lain. Ia, jika meninggalkan agamanya akan menjadi seorang anarkis dan tidak mempunyai keterikatan dengan apapun. Ketika itu, ia tidak dikendalikan oleh pendidikan dan pengaturan selain tirani dan suap mutlak. Ini adalah hakikat yang didukung oleh banyak argumentasi dan banyak contoh, tetapi saya akan membatasi diri dan menyerahkan masalahnya pada kecerdasan kalian.

Sepatutnya kalian tidak tertinggal dari Swedia, Norwegia dan Finlandia yang merasakan kebutuhannya yang kuat terhadap alQur’an, bahkan tugas kalian adalah menjadi guru baginya dan bagi negara semisal. Jika kalian berpaling ke keburukan sekarang yang diakibatkan revolusi dan kalian kembalikan kepada segelintir orang, berpaling ke kerusakan dan perusakan yang terjadi akibat kondisi perang dunia dan seluruh revolusi lainnya—khususnya yang berkaitan dengan adat kebiasaan dan nilai-nilai agama—lalu kalian berupaya memperbaikinya, niscaya kalian akan memperoleh kehormatan besar pada masa mendatang, dan dosa-dosa kalian akan diampuni di akhirat kelak, dan kalian layak menyandang nama warga negara pilihan karena telah melakukan pengabdian berguna untuk negara dan bangsa.

Keempat: selama kematian tidak dapat dibunuh, pintu kubur tidak ditutup, selama kalian akan menuju kuburan seperti halnya seluruh manusia, selama kematian yang pasti ini merupakan kebinasaan abadi bagi orang-orang sesat, maka tentu seratus ribu kegiatan partai, politik, atau dunia tidak mungkin menggantikannya.Lalu Risalah Nur berada di tangan kalian, risalah yang dengan jelas membuktikan sejelas matahari bahwa al-Qur’an mengubah kebinasaan abadi ini menjadi surat pembebasan bagi orang-orang yang beriman, risalah yang tidak dapat dihadapi oleh filsuf atau orang kafir sejak dua puluh tahun yang lalu, bahkan risalah ini mendorong para filsuf yang membacanya dengan seksama untuk beriman, risalah yang dipelajari oleh empat pengadilan besar selama dua belas tahun, dikaji dan diteliti oleh komite pakar kalian yang terdiri dari para filsuf dan ulama, lalu mereka memberikan apresiasi terhadapnya. Mereka tidak dapat membantah argumentasi-argumentasi iman yang terdapat dalam risalah tersebut karena tidak ada indikator yang membahayakan negara dan bangsa, bahkan sebaliknya risalah tersebut merupakan benteng al-Qur’an sebagaimana halnya benteng pemisah buatan Zulkarnain yang membentengi serangan arus yang menakutkan. Ini merupakan masalah yang dapat saya hadirkan seratus ribu saksi yang berasal dari warga Turki, terutama para pemudanya yang berpendidikan.

Selama Risalah Nur ini seperti yang telah dideskripsikan, maka salah satu tugas yang paling penting yang berada dalam pundak kalian adalah menerima pendapat yang telah saya ajukan dengan penuh pertimbangan.Setiap saat kalian mendengar banyak diplomat yang berbicara tentang dunia dan kalian harus mendengar sebentar seorang lelaki yang tidak memiliki daya dan upaya, yang tengah berdiri di hadapan pintu kuburan seperti saya, berbicara tentang akhirat dan menangisi kondisi penduduk negeri ini.

Kendati saya belum pernah berurusan dengan instansi-instansi resmi selama dua puluh tahun, hanya satu kali ini saja permohonan ini ditulis dalam kondisi marah. Permohonan ini ditujukan kepada Menteri Dalam Negeri, Hilmi yang menyiksa saya. Permohonan ini juga dikirim kepada kepala kepolisian Afyon agar dibaca. Mereka mengintimidasi saya berkali-kali tanpa sebab dan tiada guna. Secara resmi mereka mengundang saya ke markasnya lalu berkata, “Ini bukan tulisan tangan Anda. Siapa yang menuliskannya untuk Anda?”. Saya katakan dalam hati, “Tidak perlu berurusan dengan orang orang seperti mereka”. Sikap saya benar, berdiam diri selama dua puluh tahun.

Wahai pemerintah daerah dan kepolisian Emirdağ! Saya telah menulis permohonan ini setahun yang lalu, tetapi saya sengaja tidak mengajukannya. Saya simpan. Sekarang mereka memperlakukan saya dengan tirani absolut yang tidak ada bandingannya di dunia. Mereka melakukan intervensi sampai-sampai dalam tempat tinggal khusus saya, melarang orang membantu urusan saya, perbuatan yang bertentangan dengan undang-undang dilihat dari lima sisi. Saya ajukan permohoan ini dengan harapan orang-orang yang melanggar undang-undang atas nama undang-undang itu segera menyadari perbuatannya.

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saudaraku yang mulia lagi setia, sahabatku yang bersungguh-sungguh dan serius, dalam kehidupan fana ini..

Pertama: Saya sangat berterima kasih kepada para sahabat dan penduduk negeri ini, terutama kepada Anda dan sebagian orang orang terhormat dari Erzurum atas perhatian dan belas kasihan kalian terhadap kezaliman dan penderitaan yang saya alami dan atas kesigapan kalian membantu saya secara pemikiran. Selama hidup, hal ini tidak akan saya lupakan dan saya hanya mampu mengatakan berulang-ulang “MâsyâAllah, bârakallâh kepada kalian”

Kedua: Meskipun bertentangan dengan manhaj saya dan pelajaran yang saya dapatkan dari Risalah Nur, serta bertentangan dengan prinsip hidup saya yang saya pegang sejak sepuluh tahun yang lalu, yaitu tidak mempedulikan peristiwa dunia yang bersifat sementara, saya akan jelaskan kepada kalian beberapa poin berkaitan dengan kondisi saya dan perlakuan kejam para tiran terhadap saya demi keinginanmu dan suratmu yang panjang.

Poin Pertama: Ketika saya menjadi anggota di Darul Hikmah tiga puluh tahun yang lalu, pada suatu hari salah seorang sahabat saya berkata yang juga anggota di lembaga tersebut, yaitu sayyid Sa`duddin Pasya,

“Waspadalah! Seseorang yang terpercaya memberitahu saya bahwa sebuah organisasi yang berafiliasi ke negara asing menyebarluaskan orang-orang zindik di negeri kita dan telah mempelajari salah satu karangan Anda. Para anggota organisasi itu telah memutuskan untuk melenyapkan Anda dengan berkata, “Kita tidak akan dapat membawa bangsa ini untuk menerima manhaj kita—yaitu kezindikan dan kekufuran—selama pengarang buku ini masih hidup. Kita harus melenyapkannya”.

Saya jawab, “Saya bertawakal kepada Allah. Ajal hanya satu dan tidak berubah”.

Organisasi ini telah meluas sejak tiga bahkan empat puluh tahun yang lalu. Segala cara licik selalu digunakan untuk menyerang saya. Mereka telah berusaha dua kali membunuh saya di penjara dan meracuni saya sebanyak sebelas kali. Perencanaan mereka yang terakhir dan menakutkan adalah menggunakan wibawa pemerintah resmi untuk menyerang saya, yaitu dengan mengarahkan dan mendorong mantan Menteri Dalam Negeri, mantan gubernur Afyon, dan mantan wakil kepala daerah Emirdağ untuk menyerang saya.

Ketiga pejabat resmi ini melancarkan propaganda besar-besaran untuk menjatuhkan seorang lelaki yang tidak berdaya, lemah, lanjut usia, terasing dari masyarakat, sangat miskin, sendirian, sangat memerlukan bantuan orang lain seperti saya, sehingga orang-orang sangat takut dengan saya, sampai-sampai sebagian tetangga tidak lagi mengucapkan salam terhadap saya karena saking takutnya. Jika seorang pegawai mengucapkan salam kepada saya dan perbuatannya itu diketahui, maka ia akan dimutasi. Orang yang datang kepada saya hanya para informan. Walau demikian, perhatian dan penjagaan Allah telah menjadikan saya dapat bersabar dan bertahan. Intimidasi dan perlakuan buruk yang tidak pernah saya alami sebelumnya ini tidak membuat saya mengemis kepada mereka.

...

Poin Ketiga: Setelah dua pengadilan mengeluarkan keputusan bebas saya dan Risalah Nur berdasarkan hasil penyelidikan terhadap semua bagian Risalah Nur selama dua tahun penuh, dan tidak ditemukannya alasan hukum apapun(*29), organisasi kaum zindik membuat perencanaan secara resmi di ibukota dan dalam hal ini mereka meminta bantuan sebagian pejabat munafik. Maka mereka mengasingkan saya ke Emirdağ dengan alasan untuk pengasingan yang sebenarnya adalah penjara soliter dan pencabutan hak asasi secara absolut. Saya diasingkan dari semua sahabat dan murid saya. Saya ditempatkan di tempat yang sangat buruk yang tidak sesuai de�ngan kondisi kesehatan dan kehidupan saya, termasuk perlakuan yang bertentangan dengan undang-undang, dilihat dari semua sisi. Sekarang semakin jelas bahwa mereka memperlakukan saya seperti itu untuk dua tujuan:

Tujuan Pertama(*30): Karena mereka mengatahui bahwa saya tidak menerima penghinaan sejak dulu, mereka berusaha memprovokasi saya guna memancing kemarahan saya dan menimbulkan masalah sehingga mereka menemukan jalan untuk menghancurkan saya. Setelah usaha mereka tidak berhasil sedikit pun, mereka menggunakan cara lain yaitu dengan meracuni saya. Hanya saja, pertolongan Allah dan doa para Tullabunnur telah menjadi obat penawarnya. Kesabaran dan ketabahan saya juga menjadi obatnya. Bahaya racun materi dan maknawi itu pun hilang. Usaha mereka lagi-lagi gagal.

Meskipun kezaliman dan perlakuan buruk mereka yang dilancarkan atas nama undang-undang dan atas nama pemerintahan yang tidak pernah terjadi dalam sejarah dan dalam pemerintahan mana pun, hanya saja masalah yang membuat saya marah adalah pengawasan yang terus menerus dan menjadikan orang-orang takut terhadap saya dengan cara yang sangat mengganggu saya, tetapi terlintas dalam pikiran saya bahwa Anda sepatutnya merasa iba terhadap orang-orang zalim itu. Setiap orang dari mereka dalam waktu dekat akan merasakan siksaan secara materi dan maknawi dan merasakan siksaan abadi yang lebih keras seribu kali dari siksaan Anda yang sementara. Mereka akan mendapatkan balas dendam seribu kali. Sebagian mereka—jika berakal—akan merasakan kecaman hati nurani, siksaan rasa takut dari kebinasaan abadi dan mereka akan merasakan hal ini selama mereka hidup di dunia sampai mereka menemui ajal. Maka saya tidak lagi marah terhadap mereka, tetapi meras iba dan berkata, “Semoga Allah memperbaiki mereka”

Kemudian saya bersyukur kepada Allah I, bukan karena menerima pahala yang banyak sebagai imbalan dari penderitaan ini saja, tetapi saya bersyukur kepada-Nya karena kesibukan mereka membuat saya menderita sendirian tanpa melibatkan seluruh Tullabunnur sehingga mereka tetap selamat. Juga saya merasa bergembira karena intimidasi yang luar biasa ini hanya saya yang mengalaminya.

Poin Keempat: Dalam suratmu disebutkan masalah ketenangan dan kenyamanan saya dan kemungkinan berurusan dengan pemerintahan sekarang agar saya pindah ke Syam atau Hijaz, jika bisa.

Pertama: Kalau pun saya tinggal di Mekkah, saya tetap harus datang ke sini untuk menyelamatkan iman dan mengabdi pada al-Qur’an karena keperluan di sini lebih mendesak, sehingga kalau pun saya mimiliki ribuan nyawa dan saya diuji dengan ribuan penyakit, saya menderita berbagai kesulitan, keputusan yang saya dan kita ambil sesuai dengan pelajaran yang kita dapatkan dari al-Qur’an adalah tetap tinggal di sini demi mengabdi pada keimanan dan kebahagian bangsa ini.

Kedua: Kalian sebutkan dalam surat perlakuan buruk yang saya terima, bukannya penghormatan. Kalian katakan, “Seandainya anda berada di Mesir atau di Amerika, anda akan mendapat penghormatan dan pengagungan sepanjang sejarah”.

Saudaraku yang mulia lagi cerdas!

Sesuai dengan tuntutan manhaj Risalah Nur kita sangat menjauhi penghormatan orang, menjauhi baik sangka, kekaguman dan penghormatan mereka terhadap diri kita, apalagi kecintaan terhadap popularitas yang tidak lain dari sifat riya yang mengagumkan. Memasuki sejarah dengan keagungan dan kesilauan tidak lain dari kesombongan yang menarik dan ini bertentangan dengan keikhlasan yang merupakan manhaj dan salah satu landasan Risalah Nur. Saya sendiri sangat menjauhi hal-hal seperti ini, apalagi menginginkannya.

Risalah Nur yang bersumber dari karunia al-Qur’an al-Karim dan merupakan salah satu sinar kemukjizatan maknawinya, penafsiran bagi hakikat-hakikatnya, kunci rahasia-rahasianya, kami berharap agar dikenal banyak orang. Kami ingin setiap orang merasa memerlukannya, mengapresiasi nilainya yang tinggi, dan kita meminta agar karamah maknawinya yang nyata itu dikenal, agar kemenangan imannya terhadap kekufuran kaum zindik itu tampak ke permukaan. Inilah yang kami harapkan dari rahmat Allah.

Saya jelaskan poin parsial yang sederhana yang berkaitan dengan pribadi saya dan saya jadikan sebagai catatan kaki:

Selama Tuan Rajab(*31)dan Kara Kazim(*32)adalah dua sahabat Anda, dan menurut saya mereka berdua mempunyai hubungan dengan Said Lama, maka yang diminta bukanlah memberikan kebaikan bagi saya. Cukuplah keduanya untuk tidak melakukan seperti apa yang dilakukan para pendahulunya terhadap saya yang telah berbuat aniaya dan mengintimidasi saya yang tidak perlu dan tidak berguna. Sebetulnya saya tidak dapat beradaptasi dengan cuaca di sini secara materi maupun maknawi. Kegundahan saya banyak sekali. Saya kunci tempat tinggal saya dari dalam dan dari luar. Saya sendirian dari segala sisi dan dari sisi lain saya habiskan hidup saya dalam keadaan sakit. Saya hidup dalam ruangan yang menyedihkan tanpa tetangga. Satu hari di sini terkadang saya merasa lebih tertindas daripada satu bulan penuh dalam penjara Denizli. Selama dua puluh tahun saya sudah kenyang mendapatkan perlakuan zalim yang kejam yang merampas kebebasan saya. Dua tahun setelah penyelidikan pengadilan dan kegagalan perencanaan orang-orang munafik terhadap saya, terbukti dengan sangat jelas bahwa tipuan upaya menakuti-nakuti orang dari saya dan Risalah Nur dengan alasan membahayakan negara dan bangsa tidak mungkin dapat memperdayakan seorang pun.Jika saya mendapatkan kebebasan seperti orang lain atau ada pemberitahuan bahwa saya boleh pergi ke sebagian desa terdekat yang memiliki cuaca sedang guna mengganti suasana, maka hal itu sesuai dengan saya.Salam dan doa saya untuk kalian dan para sahabat Risalah Nur yang ada di sekitar kalian.

اَل۟بَاقٖى هُوَ ال۟بَاقٖى

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Yang kekal, hanyalah Dzat Yang Mahakekal.

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Ini adalah jawaban yang terlintas berkenaan dengan sebuah pertanyaan yang bersifat materi dan maknawi.

Dikatakan, “Mengapa Anda tidak menerima kedudukan dan keutamaan yang ditujukan kepada Anda oleh Tullabunnur? Padahal baik sangka mereka yang kuat dan keyakinan mereka yang pasti dapat meningkatkan semangat mereka terhadap Risalah Nur. Mengapa kedudukan dan keutamaan itu Anda sematkan kepada Risalah Nur dan Anda perlihatkan diri sebagai pengabdi yang banyak aib?

Jawaban: segala puji dan syukur hanyalah bagi Allah tanpa batas bahwa Risalah Nur memiliki titik sandaran yang sangat kuat dan kokoh, memiliki banyak argumentasi yang jelas sehingga tidak memerlukan keistimewaan dan kemampuan yang diduga berada dalam pribadi saya. Risalah Nur tidak seperti karangan lain yang mengandalkan kemampuan pengarang sehingga kekuatan dan penerimaannya bergantung pada kepribadian pengarang tersebut.Risalah Nur berada di tengah-tengah kalian, sejak dua puluh tahun yang lalu berjuang dengan argumentasi-argumentasinya yang kuat, dan memaksa para musuh material dan maknawi saya untuk bertekuk lutut.

Seandainya kepribadian saya adalah titik sandaran yang penting bagi Risalah Nur, para musuh saya orang-orang kafir dan para penentang saya kaum tiran tentunya dapat mengarahkan pukulan keras terhadap Risalah Nur dengan cara memfitnah saya yang memiliki banyak kekurangan dan aib. Padahal para musuh itu, walaupun berbagai upaya busuk yang mereka lancarkan—karena kedunguannya—untuk menjatuhkan nama saya dan menjauhkan orang-orang dari saya dan untuk itu mereka menggunakan berbagai cara, mereka tetap tidak dapat menghalangi kemenangan Risalah Nur dan tidak pula mampu menjatuhkan karismanya, bahkan walaupun mereka mampu mengganggu sebagian orang yang lemah dan Tullabunnur yang baru, mereka tetap tidak mampu menjadikan mereka meninggalkan Risalah Nur.

Karena kenyataan ini dan karena egoisme telah melampaui batas pada masa sekarang ini, saya tidak menerima sikap berbaik sangka mereka yang sangat melampaui batasan saya. Saya tidak berprasangka baik terhadap diri saya sebagaimana yang dilakukan oleh saudara-saudara saya. Sementara saya tidak menerima kedudukan yang bersifat ukhrawi dan agama sesuai dengan kaidah yang tercantum pada bagian akhir “Surat Kedua” dari buku “al-Maktûbat” yang menjelaskan bahwa “Kesempurnaan yang merupakan hadiah maknawi yang diberikan kepada pribadi saya, jika saya menganggap diri saya pemilik kesempurnaan—Hâsya lillâh—maka hal itu merupakan petunjuk bahwasanya yang sebenarnya bukanlah seperti itu. Jika saya tidak menganggapnya pemilik kesempurnaan, maka selayaknya tidak menerima hadiah mereka ini.” Egoisme terlibat dalam rasa memiliki kedudukan.

Tinggal satu masalah lagi, yaitu pernah dikatakan dari sisi duniawi bahwa orang yang melaksanakan tugas menyebarkan hakikat iman, jika ia adalah pemilik kedudukan maka ia memiliki pengaruh yang lebih baik. Di sini juga terdapat dua faktor yang menghalangi:

Faktor pertama: Seandainya kedudukan itu adalah kedudukan kewalian, maka seseorang yang menerima kedudukan ini dengan sepengetahuan dirinya dan dengan sengaja, hal itu bertentangan dengan keikhlasan dan sikap tidak mementingkan diri sendiri yang merupakan dua sikap yang terdapat dalam kewalian, sehingga kewalian tidak boleh diperlihatkan dan seseorang tidak boleh menga ku-aku bahwa dirinya wali seperti yang dilakukan oleh para sahabat yang merupakan para pewaris Nabi dan mereka tidak dapat dijadikan bahan bandingan.

Faktor Kedua: jika seseorang bersifat fana, parsial, memiliki banyak kekurangan dan aib, dan dapat dicela dari banyak sisi, maka hal itu akan membahayakan Risalah Nur dan kemenangan hakikat iman.

Hanya saja memang ada hal yang harus disyukuri yaitu bahwa musuh-musuh saya yang berasal dari para politikus tidak mengetahui hakikat-hakikat tersebut. Karenanya, mereka memperlakukan saya sebagai Said Lama yang memiliki kemuliaan dan kehormatan. Mereka sibuk menjelek-jelekkan pribadi saya, bukannya menjelek-jelekkan Risalah Nur. Mereka juga memprovokasi sebagian ustadz fanatik dan egois untuk menyerang saya. Mereka mengira apa yang dilakukannya itu akan memadamkan sinar Risalah Nur, padahal sebetulnya upaya mereka itu malah menjadi wasilah semakin bersinarnya Risalah Nur itu sendiri. Cahaya Risalah Nur tidak bersumberkan pada kepribadian saya yang sederhana, tetapi bersumberkan pada sumbernya yang sejati yaitu matahari al-Qur’an.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Saya berkeliling mengendarai kereta satu atau dua jam untuk menikmati keindahan bunga musim semi yang sangat indah. Rerumputan telah menghijau dan berbagai bunga mekar sangat menakjubkan, sebuah pemandangan yang sama sekali belum pernah saya lihat sebelumnya. Saya merasakan—dengan haqqul yaqin—seakan-akan bunga-bunga itu tersenyum dan bertasbih kepada Sang Pencipta Yang Maha Agung, memanjatkan puji kepada Sang Pencipta dengan lisanul hal.Ketika saya berada dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba perasaan rindu saya terhadap kehidupan dunia, jiwa saya yang lalai dan galau memanfaatkan kesempatan itu untuk mengajukan protes terhadap jiwa saya yang sudah jenuh dengan kehidupan yang sempit dan selalu dirundung penyakit. Perasaan dan jiwa itu menuntut kenyamanan dan kesenangan yang tersisa dalam dunia fana ini. Protes juga dialamatkan kepada hati saya yang menjauhi dunia dan telah memutuskan untuk pergi menuju alam barzakh karena rindu ingin melihat sembilan puluh persen sahabatnya di sana.

Tiba-tiba cahaya iman yang mengalir dalam perasaan dan urat nadi merespon protes itu dengan menjelaskan bahwa selama tanah itu merupakan tirai bagi rahmat yang tidak ada batasnya, karena ia dengan sisi materialnya merupakan penampakan bagi keindahan, kasih sayang, kehidupan dan perhiasan, selama yang masuk ke dalamnya tidak akan dibiarkan sia-sia, maka jelas bahwa pusat maknawi yang menjadi sumber perhiasan dan berbagai keindahan lahiriah yang bersifat materi ini juga kebaikan, keindahan, kasih sayang dan kehidupan, berada di belakang tirai tanah ini dan di bawahnya, sebagaimana halnya sebagian tempat kerja yang dihasilkannya.Jelas bahwa memasuki bawah lapisan tanah yang merupakan ibu kita yang penuh kasih sayang, berlindung pada haribaannya, menikmati pemandangan bunga yang sebenarnya, yang kekal dan bersifat maknawi, adalah lebih layak disukai dan lebih utama untuk dirindukan. Ketika itu, cahaya iman dan penjelasannya berhasil menjawab protes yang diajukan perasaan buta dan jiwa saya yang sangat menyukai dunia dan menjadikannya selalu mengucapkan ‘Segala puji bagi Allah atas cahaya iman dari semua sisi’.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Pertama: partisipasi maknawi Risalah Nur—dengan izin Allah—akan menjadi manifestasi kemenangan agung pada bulan Ramadan yang penuh berkah yang akan membuat orang-orang mendapatkan pahala delapan puluh tahun beribadah.Para Tullabunnur hendaknya saling mengaminkan doa dengan pengaminan maknawi secara tulus dan hal ini selalu dikerjakan sedapatnya sampai hari raya di mana jika salah seorang beruntung mendapatkan pahala ibadah delapan puluh tahun, maka yang lainnya akan mendapatkan bagian dari pahala ini sesuai dengan tingkatannya masing-masing. Sementara saudara kalian yang sedang sakit ini adalah orang yang paling lemah di antara kalian dan yang paling berat memikul beban sehingga tentu saja kalian akan memberikan pertolongan maknawi terhadapnya.

Kedua: Ada dua orang dokter dari tokoh Tullabunnur mengunjungi saya. Kendati saat itu saya sedang menderita sakit keras, saya menerima kedua orang terhormat yang tulus ini, tetapi saya tidak meminum obat yang diberikannya dan tidak pula berkonsultasi kepada kedua dokter ini kendati penyakit saya cukup parah. Saya tidak membicarakan penyakit saya meskipun sebetulnya saya sangat memerlukan pendapatnya. Kedua dokter ini tampak sangat cemas, maka saya terpaksa menjelaskan hakikat yang bersifat rahasia. Inilah yang saya tulis untuk kalian, semoga bermanfaat.

Saya katakan kepada kedua dokter itu bahwa musuh-musuh saya yang bekerja secara sembunyi-sembunyi, dengan bisikan setan, mereka mencari-cari titik kelemahan saya agar mereka dapat membinasakan saya, menghalangi saya dari berkhidmat pada Risalah Nur secara tulus. Penyakit merupakan titik yang paling lemah dan penghalang yang paling kuat. Semakin banyak memberikan perhatian pada penyakit, maka perasaan, nafsu, dan tubuh menjadi dominan, suaranya lantang menyerukan kepentingan dan keperluan yang mendesak sehingga membuat hati dan nyawa terdiam, menjadikan dokter seperti penguasa diktator, memaksa orang lain untuk mematuhi apa yang disampaikannya dan meminum obat yang diberikannya. Hal ini membahayakan pengabdian yang dilakukan dengan pengorbanan dan keikhlasan.

Kemudian, musuh-musuh saya yang bekerja secara sembunyi-sembunyi bekerja dan terus bekerja memanfaatkan kelemahan saya ini, juga memanfaatkan titik ketakutan, ketamakan, popularitas dan kehormatan, tetapi mereka tidak berhasil memanfaatkan titik ketakutan yang merupakan titik yang paling kuat bagi manusia. Telah terbukti bagi mereka bahwa hukuman mati bagi kami tidak setara dengan satu sen pun.

Kemudian mereka sering mencari dan memeriksa titik ketamakan dan kesulitan hidup—yaitu salah satu titik lemah manusia—tetapi mereka pada akhirnya juga tidak berhasil. Kemudian terbukti bagi mereka bahwa kesenangan hidup yang mereka kejar dengan mengorbankan hal-hal yang paling suci bagi mereka, ternyata tidak ada apa-apanya bagi kami. Hal ini terbukti kepada mereka melalui banyak peristiwa, sampai-sampai selama sepuluh tahun yang lalu mereka bertanya secara resmi kepada para pejabat lokal, “Dengan apa orang ini hidup?”.

Kemudian mereka beralih ke salah satu titik kelemahan yang paling kuat yang ada pada diri manusia, yaitu kehormatan, popularitas dan kedudukan. Mereka memanfaatkan titik ini melalui perintah yang harus dilaksanakan terhadap saya secara keji, seperti memfitnah, menghina, dan menyakiti perasaan, tetapi lagi-lagi mereka tidak berhasil dan terbukti kepada mereka secara nyata bahwa kehormatan dan popularitas yang bersifat duniawi itu bagi kami tidak lebih dari sifat riya dan kesombongan yang sangat berbahaya. Cinta kedudukan dan popularitas yang bersifat duniawi ini yang sangat dicari-cari orang, bagi kami tidak setara dengan satu sen pun bahkan kami menganggap mereka, dari sisi ini, sebagai orang-orang gila.Kemudian apa yang dianggap titik lemah bagi kami dengan pertimbangan pengabdian kami, padahal dari sisi hakikat diterima oleh semua orang,

setiap orang merindukan untuk mendapatkannya—yaitu bahwa seseorang menjadi pemilik kedudukan maknawi, naik ke derajat kewalian, dan merasakan nikmat Ilahi pada dirinyaadalah persoalan yang berguna untuk semua orang dan tidak membahayakan sedikitpun. Tetapi selama kita berada pada masa yang didominasi egoisme, kepentingan dan keselamatan individual, jelas bahwa pengabdian iman yang berlandaskan rahasia keikhlasan dan tidak menjadikannya sebagai alat untuk kepentingan apapun, mengharuskan tidak mencari kedudukan maknawi individual. Kedudukan seperti ini tidak boleh dicari, tetapi diperhatikan dalam tindak tanduk dan perangai seseorang agar rahasia keikhlasan yang sebenarnya tidak menjadi rusak.

Oleh karena itu, orang-orang yang bekerja untuk memanfaatkan titik kelemahan ini menyadari bahwa saya tidak mencari apa yang dicari oleh setiap orang, baik yang berupa kasyaf, karamah, maupun kesempurnaan ruhiah, selain pengabdian Risalah Nur. Dalam hal ini mereka juga telah dikalahkan.

Salam saya untuk seluruh saudaraku satu persatu. Saya memohon rahmat Allah, memohon syafaat dengan hakikat Lailatul qadar agar menjadikan Lailatul qadar mendatang merupakan usia yang penuh dengan ibadah delapan puluh tiga tahun bagi setiap Tullabunnur.

Saudara kalian

Said Nursî

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Saya akan kemukakan dengan sangat ringkas hakikat yang sa�ngat panjang lebar yang terlintas dalam hati pada malam lailatul qa�dar, yaitu:

Pertama: umat manusia sangat menderita akibat bencana Perang Dunia Kedua. Mereka merasakan berbagai bentuk kezaliman yang paling hebat dan beragam bentuk despotisme disertai kehancuran di seluruh penjuru bumi. Ratusan orang baik menjadi korban kejahatan satu orang. Pihak yang kalah berada dalam kondisi ber�duka dan putus asa, sementara pihak yang menang merasa tersiksa karena tidak mampu memperbaiki kehancuran yang demikian parah disertai perasaan khawatir tidak mampu menjaga kekuasaan mereka. Akhirnya, tampak dengan jelas di hadapan manusia bagaimana kehidupan dunia bersifat fana dan seluruh pernak-pernik peradaban hanya menipu. Umat manusia dilumuri oleh darah pengkhianatan yang menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan dan potensi mulia yang terdapat dalam fitrahnya. Tampak pula oleh mata hancurnya kelalaian, kesesatan, dan hukum kausalitas yang buta di bawah terjangan pedang al-Qur’an yang bersinar. Tersingkap pula wajah asli politik dunia yang cacat dan menipu di mana ia merupakan tirai paling tebal yang melenakan dan menyesatkan manusia. Tentu saja, setelah semuanya menjadi jelas, fitrah manusia akan mencari kehidupan abadi yang sangat disukai dan yang sebenarnya dicari oleh naluri manusia. Dengan segala potensi yang dimiliki, manusia berusaha untuk mendapatkannya.

Tanda-tandanya sudah mulai tampak di utara, barat, maupun di Amerika. Ia akan mengetahui bahwa kehidupan yang ia cintai merupakan kekasih “majasi” yang buruk dan fana.

Umat manusia pasti akan mencari al-Qur’an al-Karim yang pada setiap abad memiliki 350 juta para pengamal yang sudah menikmatinya sejak 1360 tahun yang lalu, di mana seluruh hukum dan pernyataannya dibenarkan oleh jutaan ahli hakikat, kedudukan sucinya pada setiap menit terpelihara dalam kalbu jutaan penghafal, serta membimbing umat manusia lewat lisan mereka dan memberikan kabar gembira lewat gaya bahasanya yang menakjubkan tentang kehidupan abadi dan kebahagiaan yang kekal. Al-Qur’an membalut luka umat manusia dengan cara yang tidak ada bandingannya dalam kitab suci apa pun. Hal ini diinformasikan lewat ribuan ayatnya yang sangat kuat dan berulang-ulang. Lebih dari itu, secara langsung ataupun tidak langsung ia disampaikan dengan puluhan ribu kali seraya diperkuat berbagai dalil yang tak terbantahkan dan argumentasi yang meyakinkan. Jika umat manusia tidak kehilangan kesadarannya secara menyeluruh, maka mereka, bahkan seluruh benua dan pemerintahan bumi akan merindukan al-Qur’an al-Mu’jizul bayân sebagaimana yang dilakukan banyak organisasi keagamaan terkemuka di Amerika yang mencari agama yang sebenarnya, dan sebagaimana yang dilakukan tokoh pemikiran di Swedia, Norwegia, Finlandia dan Inggris yang dengan sungguh-sungguh mereka mempelajari al-Qur’an al-Karim dan mereka akan berpegang teguh dengannya dari lubuk hatinya yang paling dalam setelah mereka menyadari kebenarannya karena memang tidak ada bandingannya dalam titik kebenarannya itu sendiri, bahkan memang tidak mungkin ada bandingannya. Tidak ada sesuatupun yang dapat menyamai kedudukan mukjizat terbesar ini.

Kedua: Risalah Nur telah memperlihatkan pengabdiannya laksana pedang berlian yang tajam di tangan mukjizat terbesar ini sehingga mampu membungkam musuh yang keras kepala dan membuat mereka bertekuk lutut. Ia menunaikan tugasnya sebagai mukjizat maknawi al-Qur’an di mana berhasil menyinari kalbu, roh, dan perasaan seraya mengobati semuanya dengan ampuh. Hal ini tidak aneh karena misi Risalah Nur mengajak kepada al-Qur’an, hanya bersumber dari limpahannya, serta hanya merujuk kepadanya.Karena telah menunaikan perannya dengan sangat baik, maka pada saat yang sama ia berhasil mengalahkan berbagai propaganda musuh yang tendensius dan zalim. Ia berhasil membungkam kaum zindik yang paling menentang. Ia berhasil menghancurkan benteng paling kuat yang melindungi kesesatan, yaitu “filsafat materialisme” lewat “Risalah Thabî’ah”. Ia juga menghapus kealpaan dan memperlihatkan cahaya tauhid di area sains modern yang paling luas dan kegelapan yang paling pekat lewat persoalan keenam dari risalah ats-Tsamarah (buah keimanan), serta lewat argumen pertama, kedua, ketiga, dan kedelapan dari risalah “Tongkat Musa”.Dari sini, sangat penting bagi kita, terutama bagi bangsa ini, agar para murid Nur—dalam batas kemampuan yang dimiliki—untuk membuka sejumlah dershane(*33)kecil di setiap tempat.

Apalagi saat ini negara memberikan izin untuk pendidikan agama.(*34) Benar bahwa setiap pembaca Risalah Nur bisa mendapatkan manfaat untuk dirinya. Hanya saja, ia tidak mampu menyerap setiap persoalan yang terdapat di dalamnya. Hal itu karena Risalah Nur merupakan penjelasan terhadap berbagai hakikat iman. Ia merupakan pelajaran ilmiah, makrifat ilahiah, sekaligus merupakan bentuk ibadah kepada Allah.(*35)

Berbagai hasil yang dapat dicapai di sekolah-sekolah agama selama lima atau sepuluh tahun, dengan izin Allah dapat dicapai di dershane selama lima atau sepuluh pekan. Bahkan, alhamdulillah, selama dua puluh tahun ini hasil tersebut telah terbukti.

Risalah Nur yang merupakan cahaya dan petunjuk al-Qur’an memiliki banyak manfaat untuk pemerintah, bangsa dan negara, baik dalam kehidupan dunia, politik, maupun kehidupan akhirat. Oleh karena itu, semestinya pemerintah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menyebarluaskannya seraya menghimbau masyarakat untuk membacanya, bukan menghalanginya sehingga menjadi penebus dosa besar yang telah dilakukan dan sebagai penangkal terhadap musibah besar dan anarkisme menakutkan yang mungkin akan terjadi.

Saudara-saudaraku, janganlah kalian risau. Yakinlah dengan kemenangan Risalah Nur yang cemerlang di balik tabir. Hingga saat ini, sejarah belum mengetahui sebuah buku yang tersebar di bawah tekanan kondisi sulit dan dengan pengaruh sedemikian rupa seperti halnya Risalah Nur.Kemudian, sebab di balik tidak diberikannya kebebasan penuh terhadap Risalah Nur adalah ketakutan mereka terhadap kekuatannya yang luar biasa. Kami telah mendengar dari hasil pertemuan antara Menteri Agama dan presiden bahwa kendati mereka menerima Risalah Nur dan memberikan apresisasi terhadapnya, mereka tetap merasa cemas dengan penyebarannya secara resmi pada masa sekarang ini karena dikhawatirkan akan menimbulkan kekacauan. Mereka memang tidak lagi melancarkan serangan seperti waktu lalu. Mereka sekarang mencari perdamaian, hanya saja arus kuat yang mendukung Risalah Nur akan mengubah kecemasan mereka itu menjadi semangat untuk menyebarluaskan Risalah Nur secara resmi. Kemudian banyak orang egois tidak mendukung munculnya Risalah Nur ke permukaan karena kecemburuan mereka dan keinginan mereka untuk menyebarluaskan karangannya sendiri.

Ketiga: Risalah Nur tersebar luas di dunia Islam melalui jamaah haji, hingga membuat dirinya sampai di tangan-tangan yang layak. Naskah risalah “Tongkat Musa” dan “Dzulfiqar” yang kami kirim ke Damaskus telah diperiksa oleh sebuah lembaga ilmiah selama lima belas hari dan memberikan apresisasi dengan keinginannya untuk mencetaknya per jilid, tetapi untuk mencetaknya diperlukan banyak dana.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Kini waktu yang tepat untuk menjelaskan kepada kalian sebuah peristiwa yang terjadi pada saya, yaitu sebuah peristiwa yang mengagumkan dan menyakitkan dalam waktu yang sama. Juga saya akan menjelaskan salah satu fitnah yang dibuat para musuh saya yaitu fitnah keji yang hingga setan pun tidak akan dapat menipu seseorang dengannya walaupun dengan satu kemungkinan dari seribu kemungkinan, hal yang menjelaskan bahwa mereka tidak lagi memiliki senjata yang dapat digunakan untuk melawan Risalah Nur. Kejadiannya adalah sebagai berikut:

Orang-orang yang mempelajari hidup saya mengetahui bahwa saya dulu ketika berusia dua puluhan, lima puluh lima tahun yang lalu, saya tinggal di Bitlis selama dua tahun, dalam sebuah rumah yang dikelola oleh almarhum Umar Pasya karena beliau sangat antusias dan sangat menghormati ilmu.Beliau memiliki enam anak perempuan, tiga masih kecil dan tiga lainnya sudah dewasa. Kendati kami hidup bersama dalam satu rumah selama dua tahun, saya tidak mengenal tiga anak perempuannya yang sudah dewasa itu dengan baik sehingga tidak dapat membedakan antara yang satu dengan yang lainnya. Saya tidak pernah mencari tahu untuk mengenalnya lebih dalam, sehingga salah seorang ulama mampir dan bertamu kepada saya. Hanya dalam tempo dua hari ulama ini dapat mengenal ketiga anak perempuan dewasa itu dan dapat membedakannya antara satu dengan yang lainnya. Ulama ini dan orang-orang di sekitar saya merasa heran dengan sikap saya dan bertanya, “Mengapa Anda tidak melihat mereka?”

Saya jawab, “Sikap menjaga kemuliaan ilmu menghalangi saya untuk melihat mereka”

Pada hari Festival Kaghad Khanah yang diadakan di Istanbul, empat puluh tahun yang lalu, ribuan perempuan dan gadis Istanbul, perempuan Romawi dan Armenia tersebar dengan berpakaian tetapi nyaris telanjang di dua tepi teluk sampai Kaghad Khanah. Pada saat itu kami, saya, almarhum Mulla Sayid Thaha, dan Haji Ilyas menaiki perahu, keduanya anggota parlemen ketika itu. Kami melintasi dekat para wanita itu. Kedua orang ini telah sepakat untuk menguji saya dan secara bergantian mengawasi saya tanpa saya sadari. Setelah jalan-jalan dengan perahu yang menghabiskan satu jam itu selesai, kedua orang itu memberikan pengakuan terhadap saya seraya berkata, “Kami heran dengan sikap Anda. Anda sama sekali tidak menoleh kepada para wanita itu”.

Saya katakan, “Saya tidak menginginkan kesenangan sementara yang hina dan bercampur dosa, karena ia akan melahirkan penderitaan dan berakhir dengan penyesalan”.

Kemudian semua orang yang menjalin persahabatan dengan saya mengetahui bahwa saya selama hidup menghindari untuk menerima hadiah, pemberian dan kebaikan orang lain. Demi menjaga kehormatan dan keselamatan Risalah Nur serta pengabdian iman dan al-Qur’an, saya tinggalkan seluruh kenikmatan dunia dan perhatian material, sosial dan politik. Saya tidak mempedulikan ancaman orang-orang dengki termasuk hukuman mati. Hal ini yang tampak jelas dalam persidangan yang saya masuki dan dalam dua penjara yang sangat menakutkan yang saya jalani selama dua puluh tahun yang sarat dengan tindak kekerasan dan penyiksaan.

Ketika prinsip hidup saya berjalan selama tujuh puluh lima tahun, tiba-tiba seseorang yang menduduki jabatan resmi, memfitnah saya dengan fitnah yang belum pernah terbersit dalam hati setan sekalipun dan tidak pula dalam khayalannya. Tujuannya adalah ingin menghancurkan nilai luhur Risalah Nur. Ia menuduh bahwa saya didatangi oleh para pelacur, dan orang-orang hina dengan membawa makanan-makanan lezat, padahal pintu rumah saya selalu dikunci dari dalam dan dari luar sepanjang malam. Seorang yang bertugas mengawasi saya selalu siaga hingga pagi. Tetangga dan semua sahabat saya, mengetahui bahwa saya tidak menerima tamu seorangpun setelah salat Isya hingga pagi.

Fitnah seperti ini tidak akan dilakukan oleh seorang bodoh dan dungu sekalipun, bahkan oleh keledai dan setan sekalipun, tetapi inilah kenyataannya yang dilakukan orang ini, namun akhirnya ia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya dari langkahnya ini bahkan ia menjadi terhina.Orang ini sebagai pejabat resmi telah melakukan perencanaannya bukan hanya sekadar untuk menjatuhkan nama baik saya saja, tetapi untuk menghancurkan nama baik para Tullabunnur. Ini yang diinginkan dari peristiwa baru ini, hanya saja perhatian, pemeliharaan dan penjagaan Allah telah membuat perencanaan ini gagal total.

Dengan penjelasan ini saya tidak bermaksud untuk menyatakan diri sebagai orang suci, tetapi saya ingin mengatakan bahwa pengabdian iman yang suci telah menjadikan jiwa bebas dari semua hawa nafsu, sehingga kenikmatan maknawi dalam pengabdian ini telah cukup, juga guna menjelaskan bahwa segenap Tullabunnur agar mereka selalu waspada dan berhati-hati.

Kedua: Saya akan mengirim kepada kalian seorang penulis khusus yang memiliki pengalaman dan keterampilan dalam membuat alat penyalin. Sejak sekarang kedepan saya akan menulis kepada kalian dengan ringkas karena saya menulis dengan susah payah, maka mohon kalian tidak tersinggung.

...

Keempat: Saya baru saja menerima sebuah risalah yang bagus dan bersinar yang berisi ucapan selamat dan kabar gembira tentang perkembangan Risalah Nur dari “Khusrev”nya Kastamonu, yaitu yang terhormat “Muhammad Feyzi(*36), yang kami beri selamat dan kami mengucapkan selamat kepada Hilmi, Amin dan kelima saudara kandung, juga para Tullabunnur dari kalangan wanita seperti Zahra, Lutfiyah dan Ulwiyah. Kami mengucapkan selamat dari lubuk hati yang paling dalam atas tibanya sepuluh malam dan Ied. Kami sampaikan kepada kalian dua surat, “Hulusi” dan “Feyzi”

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Pertama: Bersamaan dengan ucapan Selamat Ied yang penuh berkah untuk seluruh Tullabunnur, dan untuk segenap murid dan simpatisan Risalah Nur yang sedang melaksanakan Haji Akbar, perayaan ini memberikan kabar gembira akan datangnya Hari Raya dunia Islam, dengan bersatunya dunia Arab dan dunia Islam akan terwujud sebuah lembaga negara Islam yang mencakupi negara-negara Islam yang besar yang selama bertahun-tahun berada di bawah pendudukan bangsa lain dan kehilangan kemerdekaannya, di antaranya India dengan seratus juta penduduknya, Jawa(*37)dengan lebih lima puluh juta penduduknya, dan Uni Emirat Arab dengan empat atau lima negara bagiannya.

Kedua: Bangunan megah yang merupakan kantor Kementerian Perang dan Komando Umum Angkatan Darat(*38) , yang mengendalikan tentara Islam dalam waktu lama, kemudian berubah menjadi sebuah universitas, kemudian setelah di bagian depannya ditulis ayat al-Qur’an dengan kaligrafi al-Qur’an yang indah:“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata”. (QS. al-Fath [48]: 1).“dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak)”.(QS. al-Fath [48]: 3).karena ditutup dengan batu marmer sehingga ayat-ayat itu tertutup, batu marmer itu telah dilepas menurut keterangan Tuan Ra’fat dan Mustafa Uruj. Ini adalah isyarat dibolehkannya kembali kaligrafi al-Qur’an dan sarana yang menjadi tujuan Risalah Nur serta pertanda bahwa universitas-universitas itu akan menjadi madrasah Risalah Nur.Di sisi lain, Ahmad yang merupakan salah seorang Tullabunnur di Denizli telah mengutip sebuah alinea dari buku Bismarck(*39) , seorang ilmuwan genius yang terkenal, salah seorang filsuf sosial yang paling menonjol pada abad kesembilan belas yang di antara ucapannya adalah:

“Saya telah meneliti al-Qur’an dengan semua sisinya dan saya dapatkan dalam setiap perkataannya terdapat hikmah yang agung. Al-Qur’an adalah kitab yang tidak ada duanya dan tidak mungkin ada sebuah kitab suci yang dapat mengelola umat manusia sepertinya”.

Ia menulis curahan hatinya yang ditujukan kepada Nabi Muhammad yang diakhir dengan tanda tangannya,

“Wahai Muhammad, Saya merasa bersedih karena hidup bukan pada zaman Anda. Umat manusia belum pernah melihat sebuah kekuatan yang sangat istimewa seperti Anda, kecuali hanya sekali saja dan setelah itu mereka sama sekali tidak akan melihatnya lagi. Untuk itu, saya memberi penghormatan yang sebesar-besarnya kepada Anda.”

Bismark

Kutipan tulisan di atas tidak mungkin ditujukan kepada kitab-kitab suci yang sudah mengalami penyimpangan dan saya sudah menjelaskan hal ini.

Ada pertanda yang membuat kita optimistis, di antaranya adalah bahwa ilmuwan ini adalah salah seorang filsuf abad kesembilan belas yang paling besar dan paling cerdas serta salah seorang tokoh terpenting pada abad itu dilihat dari segi politik dan sosial. Pertanda baik lain adalah dunia Islam walau bagaimana pun telah memperoleh kemerdakaannya. Pertanda baik yang lain, pemerintahan asing telah mencari hakikat al-Qur’an, adanya arus besar di Barat dan Barat Laut yang mendukung al-Qur’an al-Karim, di antaranya keputusan yang dijelaskan oleh Thomas Carlyle(*40) , yaitu salah seorang filsuf Amerika yang paling populer dan paling tinggi di mana ia mengatakan seperti yang disampaikan Bismarck,

“Tidak mungkin kitab mana pun mencapai al-Qur’an dari sisi mana pun. Apa yang disampaikannya itu memang benar adanya. Kita harus mendengarnya baik-baik.” Di antara pertanda baik yang lain adalah perkembangan dan kemajuan Risalah Nur di setiap tempat. Rasa optimisme ini mendorong kita untuk mengatakan bahwa di antara orang asing ada yang akan muncul tokoh-tokoh seperti Bismarck dan Carlyle dan untuk itu banyak pertandanya.Hadiah Ied ini kami persembahkan untuk para Tullabunnur. Bersama risalah ini saya lampirkan tulisan Bismarck.

* * *

Kedua: karena keikhlasan merupakan kekuatan terbesar yang dimiliki Risalah Nur dalam menghadapi para penentangnya, maka Risalah Nur tidak mungkin berhubungan dengan arus-arus yang dibangun atas perasaan keberpihakan, khususnya politik, sebagaimana ia tidak menjadi alat untuk sesuatu yang bersifat duniawi. Sebab, kecenderungan keberpihakan dapat merusak keikhlasan dan mengubah hakikat.

Bahkan alasan saya meninggalkan politik sejak tiga puluh tahun yang lalu adalah bahwa seorang ulama yang penuh berkah yang memiliki kecenderungan keberpihakan terhadap arus yang diikutinya mengkritisi seorang ulama yang saleh dan mulia sampai-sampai ia mengafirkannya semata-mata karena ulama saleh ini berbeda dengan pemikirannya.

Sementara ia sangat memuji dan menyanjung seorang munafik terkenal karena sama dengan pemikirannya. Peristiwa ini telah membuat saya merinding. Dengan demikian, jika kecenderungan keberpihakan telah dimasuki politik akan mengakibatkan kesalahan besar seperti itu, sehingga saya mengatakan, “Aku berlindung kepada Allah dari setan dan politik”. Sejak saat itu, saya meninggalkan dunia politik.

Hasilnya, sebagaimana yang Anda dan saudara-saudaraku seperti Anda ketahui, saya tidak pernah membaca surat kabar sejak dua puluh lima tahun yang lalu, tidak pernah mendengar seseorang yang telah membacanya, dan memang saya sama sekali tidak mempedulikannya. Saya tidak mengikuti berita Perang Dunia Kedua selama sepuluh tahun. Saya tidak mengetahui sedikitpun tentangnya dan memang tidak mempedulikannya. Sebagaimana yang Anda ketahui, selama dua puluh dua tahun dalam tahanan yang penuh dengan tindak kekerasan, saya tidak pernah berurusan dengan instansi resmi untuk suatu urusan agar saya memperoleh kenyamanan selain memberikan pembelaan di pengadilan. Hal itu saya lakukan semata-mata untuk menghindari keberpihakan dan politik dan guna menjaga keikhlasan dari bahaya yang mengancam Risalah Nur.

Kemudian kalian mengetahui—seperti yang pernah saya sampaikan ketika saya berada dalam penjara—bahwa jika orang-orang yang hendak membunuh saya dan menyiksa saya dengan berbagai cara menyelamatkan imannya dengan perantaraan Risalah Nur, maka saya nyatakan bahwa saya memaafkan mereka. Sebagaimana yang kalian ketahui bahwa kita tidak berhubungan dengan arus manapun yang datang dari luar atau dari dalam, sejak dua atau tiga tahun yang lalu dan saya telah mengingatkan saudara-saudara saya dari hal itu. Hal itu agar tidak mengganggu keikhlasan karena kecenderungan keberpihakan.

Kalian juga mengetahui bahwa sebagaimana saya tidak menerima sedekah dan bantuan, juga saya tidak mungkin menjadi sarana untuk itu. Oleh karena itu, saya menjual pakaian dan barang saya yang penting dan dengan hasil penjualan itu saya membeli buku dari saudara-saudaraku yang mereka salin agar kepentingan dunia tidak mengganggu keikhlasan Risalah Nur sehingga tidak merugikannya dan membuat saudara-saudaraku mengambil pelajaran dari hal ini dengan tidak menjadikan Risalah Nur sebagai sarana untuk suatu kepentingan. Cahaya (Risalah Nur) sudah cukup untuk para Tullabunnur yang sejati, agar mereka merasa puas dengan cahaya itu dan tidak mengharapkan kemuliaan lain atau kepentingan material maupun maknawi.

Adalah suatu keharusan untuk menghindari perdebatan dan perseteruan, meninggalkan perbincangan tentang masalah agama dengan perdebatan yang tendensius yang memancing kemarahan. Hal itu agar para pendengki yang selama ini membenci Risalah Nur tidak menampakkan dirinya sehingga ketika terjadi perdebatan Mustafa Aruj dengan salah seorang tokoh dengan cara yang bertentangan dengan manhaj Risalah Nur—dengan seketika dan sudah terasa sebelum terjadi—kemarahan dan kejengkelan yang luar biasa timbul di hati saya sehingga keinginan untuk menurunkannya dari kedudukan tinggi yang ia peroleh dari Risalah Nur. Saya sangat menyayangkan hal itu dan saya berkata bahwa orang ini bagi saya adalah seperti Abdurrahman(*41). Mengapa saya sangat marah terhadapnya?Kemudian ia mendatangi saya pada suasana Ied ini, alhamdulillah ia mendengar sebuah pelajaran yang sangat penting dan menyadari kesalahan besar yang telah ia lakukan. Ia mengakui bahwa ia melakukan kesalahan pada saat yang sama ketika saya marah, sehingga itu merupakan tebusan untuk kesalahannya dan ia sudah bebas dari kesalahan itu dan sekarang telah menjadi bersih, dengan izin Allah.

Ada seorang yang mulia selalu mengirim surat kabar ke sini sejak sekitar lima bulan yang lalu, tetapi saya baru menyadarinya baru-baru ini. Sahabat-sahabat saya di sini mengetahui kebiasaan saya. Mereka mengetahui bahwa saya tidak menerima buku dan majalah—apalagi surat kabar—selain Risalah Nur, juga tidak mengetahui satu huruf pun dari tulisan Latin baru sehingga mereka tidak memberitahukan tentang kiriman surat kabar itu. Salah seorang tokoh pada suatu hari memperlihatkan saya sebuah surat dari wartawan yang dapat dipercaya di mana antara saya dengan dirinya terjalin persahabatan ketika kami berada di Istanbul. Satu lembar dari suratnya itu membicarakan tentang diri saya. Para sahabat saya berkata, “Orang itu mengirim surat kabar kepada Anda beberapa waktu yang lalu, tetapi kami merasa segan untuk memberitahu Anda”. Saya berkata kepada mereka, “Sampaikan salam hangat saya kepadanya. Beritahu bahwa Said Lama yang Anda kenal telah berubah. Ia telah memutuskan hubungannya dengan dunia, saya sakit dan tidak bisa menulis surat pribadi walaupun untuk saudara kandung, mohon agar ia tidak marah kepada saya.

Sampaikan salam kami kepada seluruh sahabat di sana, terutama saudara-saudara kami seperti al-Hafidz Amin dan al-Hafidz Fakhruddin. Sekali lagi kami sampaikan selamat Hari Raya Idul Fitri.

...

Alhamdulillah, tak henti-hentinya bersyukur kepada Allah bahwa Risalah Nur diterima di Dua Tanah Suci.

Tandanya adalah bahwa risalah “Tongkat Musa”, “Dzulfikar”, dan “Sirâj an-Nûr” yang dari Istanbul dibawa oleh pahlawan Denizli, al-Hafidz Mustafa untuk dikirim ke ulama India. Dalam perjalanan telah dibacakan kepada sebagian jamaah haji, kemudian sampai kota Madinah al-Munawwarah, diserahkan kepada seorang ulama terkenal yang berasal dari Kashmir yang menguasai bahasa Turki. Ia menerima Risalah Nur dengan apresiasi yang sangat tinggi dan ia menegaskan bahwa Risalah Nur akan dikirim ke pusat ulama India. Naskah lain yang dikhususkan untuk Madinah al-Munawwarah dan tempat lainnya telah sampai ke tempat yang dituju. Berita yang menggembirakan ini disampaikan oleh dua pemuda Tullabunnur, warga Afyon yang menemani al-Hafidz Mustafa. Mereka membaca Risalah Nur dalam perjalanan. Berita serupa juga disampaikan oleh jamaah haji yang lain. Mereka menyampaikan berita gembira bahwa Risalah Nur diterima dan tersebar di luar negeri.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Janganlah kalian risau. Hendaknya kita yakin bahwa perhatian Allah selama dua puluh tahun telah menyelamatkan dan melindungi kita dalam ratusan kesempatan. Perhatian Allah akan menyelamatkan kita dari kezaliman sekarang yang sangat keji dan tidak ada alasan secara hukum sama sekali.Jika kita tertimpa kesulitan dan bahaya, kita akan mendapatkan rahmat, ihsan Ilahi dan pahala lebih dari ribuan kali lipat dari ke�sulitan itu. Semoga kesulitan kita itu menjadi pengabdian suci yang istimewa terhadap iman orang-orang mukmin yang malang.

Saya jelaskan bahwa peristiwa ini(*42)tidak legal dilihat dari sepuluh aspek:

Aspek pertama:Betapa menjijikan perbuatan yang bertentangan dengan hukum yang kembali dilakukan terhadap Risalah Nur, yang diperlakukan seakan-akan ia selebaran berbahaya, setelah dua tahun penuh diteliti oleh tiga pengadilan dan tiga komisi pakar, instansi pengadilan dan tujuh instansi resmi di Ankara, dan setelah dikeluarkan keputusan secara tidak bersalah, disepakati tidak ada pelanggaran yang dilakukan oleh semua risalah, keputusan tidak bersalah Said dan tujuh puluh lima temannya, tidak ada keputusan penjatuhan hukuman apapun kendati penjara satu hari. Perbuatan yang tidak legal ini hanya dapat diketahui oleh orang yang memiliki kesadaran sekecil apapun.

Aspek kedua:Kalian(*43)mengatakan tentang saya bahwa saya orang yang–setelah adanya keputusan tidak bersalah–tetap memencilkan diri dan terasing di Emirdağ selama tiga tahun setengah. Pintu rumahnya digembok dari luar dan dipasangi palang dari dalam dan tidak menerima satu dari seratus orang kecuali untuk urusan yang sangat penting. Kegiatan menulis risalah yang ia geluti selama dua puluh tahun ditinggalkan. Ia tidak lagi menulis(*44). Kemudian, kendati kondisinya seperti ini, para penyidik mendatanginya untuk tujuan politik duniawi. Mereka menghancurkan gembok pintu rumahnya. Mereka hanya mendapatkan lembaran wirid yang ditulis dalam bahasa Arab dan dua lembar bingkai tentang iman yang digantung. Betapa busuknya perbuatan yang bertentangan dengan hukum ini. Perbuatan nista ini hanya dapat diketahui oleh orang yang memiliki akal sekecil apapun.

Aspe ketiga:Apakah kalian lihat orang yang selama tujuh tahun tetap tidak mengetahui apapun tentang Perang Dunia Kedua, tidak mempedulikannya dan tidak pernah menanyakannya sebagaimana hal ini dibenarkan oleh tujuh puluh orang saksi di pengadilan. Keadaan ini telah berlangsung selama sepuluh tahun. Ia tidak pernah membaca surat kabar, tidak pernah bertanya kepada orang yang telah membaca surat kabar. Ini berjalan sejak dua puluh lima tahun yang lalu. Tiga puluh tahun yang lalu ia menyampaikan ucapannya, “Aku berlindung kepada Allah dari setan dan politik”. Ia menjauhi politik dengan segala kekuatan yang dimilikinya. Ia tidak pernah berurusan dengan pemerintah sekali pun guna membebaskan diri dari penderitaan yang ia alami sejak dua puluh dua tahun yang lalu. Sikap seperti ini ia ambil agar ia tidak ikut campur dalam urusan politik atau menarik perhatian orang-orang yang bergelut dengan politik. Apakah sesuai dengan undang-undang, rumah dan tempat pengasingannya tiba-tiba digeledah seakan-akan dirinya adalah seorang politikus yang berbahaya yang menyiapkan konspirasi dan mendapatkan perlakuan buruk kendati dirinya sedang sakit? Hanya orang yang memiliki hati nurani yang merasa iba terhadap keadaan seperti ini.

Aspek keempat:Enam bulan setelah penyidikan di pengadilan Eskisehir yang disebabkan oleh kekhawatiran adanya organisasi politik atau tarekat sufi atau menjadikan keduanya sebagai alasan, kenda�ti seorang pemimpin besar menghasut sebagian instansi pengadilan untuk memperkarakan orang ini yang didorong kedengkian pribadi terhadapnya, lembaga pengadilan telah mengeluarkan keputusan bebas tidak bersalah dari tuduhan organisasi politik dan tarekat sufi. Juga keputusan tidak bersalahnya Risalah Nur, hanya saja bagian kecil dari Risalah Nur, yaitu “Risalah al-Hijab” diperkarakan sehingga hukuman penjara selama enam bulan dijatuhkan kepada lima belas murid dari keseluruhan seratus dua puluh orang. Hal itu berdasarkan pertimbangan pribadi yang mengandalkan perasaaan, bukannya mengandalkan peraturan. Mereka ditahan selama empat bulan—selama penyidikan—dan dipenjara selama satu bulan setengah.Kemudian setelah sepuluh tahun, pengadilan Denizli melakukan penyedikan yang lebih mendalam selama sembilan bulan. Penyi�dikan meliputi seluruh karangan dan korespondensi orang ini selama dua puluh tahun. Argumentasinya dalam hal ini adalah dalih adanya organisasi politik atau tarekat sufi. Pada waktu itu juga lima kotak ka�rangannya dikirim ke pengadilan pidana Ankara. Setelah penyidikan dan penelitian berlalu dua tahun, kedua pengadilan itu secara sepakat mengeluarkan keputusan tidak bersalah dari tuduhan organisasi, tarekat dan dari tuduhan lainnya, serta diputuskan agar seluruh buku dan risalah dikembalikan kepada pemiliknya, dan diputuskan juga bahwa Said dan segenap sahabatnya tidak bersalah.Betapa kejinya kezaliman seperti itu dengan menuduh orangorang tidak bersalah terlibat dalam sebuah organisasi, orang itu dituduh sebagai politikus yang merencanakan intrik, memprovokasi orang-orang pengadilan berdasarkan tuduhan ini? Hal seperti ini hanya dapat disadari oleh orang yang masih memiliki rasa kemanusiaan.

Aspek kelima:Peristiwa perlakuan sewenang-wenang yang tidak berdasarkan hukum yang dilakukan akhir-akhir ini merupakan sejenis tuduhan yang bertentangan dengan kondisi di mana orang itu menjadikannya prinsip hidup yang sebenarnya dan menganggapnya sebagai prinsip hidupnya selama hampir tiga puluh tahun. Substansi peristiwa ini adalah sebagai berikut:

Berdasarkan prinsip kasih sayang yang menjadi landasan manhaj Risalah Nur saya tidak mungkin membalas para penjahat yang berbuat aniaya terhadap saya, bahkan tidak mungkin saya mendoakan keburukan untuk mereka demi menghindari bahaya yang akan menimpa orang-orang tak bersalah. Bahkan ketika saya marah terhadap para pelaku zalim yang melakukan kezaliman yang sangat keji terhadap saya dengan kedengkian mereka—yaitu para ateis dan sebagian kaum fasik—rasa kasih sayang itu mencegah saya untuk membalas, bukan saja secara materi, bahkan untuk sekadar mendoakan keburukan untuk mereka. Hal itu karena saya tidak ingin musibah material atau spiritual menimpa orang-orang tua dan orang-orang malang seperti orang tua para pelaku zalim tersebut, tidak pula orang-orang yang tidak berdosa, seperti anak-anak mereka.

Maka demi sebagian orang-orang yang tidak bersalah seperti mereka, saya tidak membalas para pelaku zalim yang sombong dan melampaui batas itu sampai-sampai terkadang saya memaafkan mereka.Demi rahasia rasa kasih sayang ini, saya sama sekali tidak pernah mengganggu keamanan dan kestabilan. Saya berpesan kepada seluruh sahabat saya tentang hal ini, sehingga sebagian pejabat keamanan yang bersikap adil di tiga wilayah telah mengakui bahwa para Tullabunnur adalah orang-orang yang menjaga keamanan secara maknawi, mereka menjaga keamanan dan kestabilan”.Kenyataan ini disaksikan oleh ribuan saksi dan dibenarkan selama dua puluh tahun dari kehidupan orang ini, juga dibenarkan dan didukung oleh kenyataan tidak adanya peristiwa apapun yang mengganggu keamanan yang dilakukan oleh ribuan Tullabunnur. Maka undang-undang apa di dunia ini yang membolehkan— setelah paparan di atas ini—para pelaku zalim melakukan penggerebekan terhadap rumah orang malang ini seakan-akan ia tokoh revolusi dan pemilik organisasi perusak. Ia diperlakukan seakan-akan pelaku kriminal yang telah melakukan ratusan kejahatan, kendati mereka sendiri di rumahnya itu tidak menemukan apa-apa. Mereka menyita mushaf al-Qur’an dan dua lembar tulisan yang digantung, seakan-akan semua itu adalah selebaran yang berbahaya?

Aspek keenam:Orang yang sejak tiga puluh tahun yang lalu menyadari besarnya bahaya yang terkandung dalam popularitas dunia yang sementara, reputasi yang segera sirna, berbangga diri dan gila ketenaran yang penuh egoisme, menyadari bahwa itu semua tidak berguna. Ya, ia menyadari hal itu berkat inayah Allah dan karunia al-Qur’an, alhamdulillah, tanpa batas, maka sejak itu ia mulai melawan nafsu ammârah-nya dengan segala kekuatan yang dimilikinya, berusaha keras menghindari keberpura-puraan dan riya, mendobrak egoisme dan melenyapkan kepentingan diri sendiri, sesuatu yang diketahui dan disaksikan oleh orang yang selalu bersamanya.Sejak dua puluh tahun yang lalu ia sangat menjauhi sikap berbaik sangka, penerimaan dan pujian orang terhadapnya. Ia juga sangat menjauhi sikap menganggap dirinya pemilik kedudukan spiritual, berbeda dengan yang dilakukan setiap orang. Ia menolak sikap berbaik sangka yang diberikan para murid khususnya sehingga dengan demikian gagasan mereka itu terbungkam. Ia juga menolak pujian dan sikap berbaik sangka mereka terhadapnya dalam surat-surat balasannya terhadap mereka. Ia membersihkan diri dengan tidak mengakui keutamaan-keutamaan untuk diri pribadinya sendiri. Semua keutamaan yang ada, ia alamatkan kepara Risalah Nur sebagai tafsir al-Qur’an, kemudian dialamatkan kepada sosok maknawi Tullabunnur. Ia menganggap dirinya sekadar pelayan Risalah Nur yang sederhana.

Ya, orang yang kondisinya seperti ini benar-benar telah membuktikan bahwa dirinya memang tidak pernah berupaya berbuat agar orang lain mengaguminya. Ia tidak berusaha untuk itu dan memang tidak mengharapkannya, bahkan menolaknya.Maka berdasarkan undang-undang apa, orang malang, sakit, renta, terasing dan terpencil ini, kamarnya sampai digeledah penyidik, gembok pintunya dirusak, seakan-akan ia telah melakukan kejahatan besar, hanya karena sebagian sahabatnya yang tinggal di tempat yang jauh berbaik sangka terhadapnya secara berlebihan. Mereka memujinya dan memberinya kedudukan yang ia sendiri tidak menyukainya atau karena seorang ulama dari kota Kutahya(*45)yang tidak dikenalnya memujinya dengan beberapa perkataan?Para penyidik tersebut tidak menemukan argumentasi yang membenarkan apa yang mereka lakukan itu selain catatan wiridan orang ini dan dua tulisan dinding. Maka undang-undang dan politik apa di dunia ini yang membolehkan pelanggaran ini?

Aspek ketujuh: ketika negara sekarang ini tengah dipenuhi banyak kelompok partai yang panik, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar, sementara suasananya sangat kondusif jika orang ini ingin memanfaatkan kesempatan dengan menarik ribuan politikus ke barisannya alih-alih para sahabatnya yang jumlahnya sangat terbatas, ia malah menulis kepada para sahabatnya dengan mengatakan, “Awas, hati-hati... jangan sampai kalian terbawa arus. Janganlah kalian masuk dalam politik. Janganlah kalian menganggu keamanan dan stabilitas”. Ia berpesan seperti ini semata-mata untuk menghindarkan diri dari turut campur dalam urusan politik, guna menjaga keikhlasan agar tidak terganggu, menghindari perhatian pemerintah, dan menghindari kesibukan dunia. Karena sikapnya ini, ada dua arus yang mengganggu dan mengintimidasinya. Arus yang lama, melakukan teror terhadapnya, sedangkan arus yang baru beralasan bahwa orang ini tidak membantunya. Lalu, undang-undang apa yang membolehkan melakukan intervensi terhadap urusan akhirat orang malang yang menyibukkan dirinya dengan urusan akhirat yang sama sekali tidak mencampuri urusan dunia para ahli dunia?

Kemudian, berdasarkan undang-undang kebebasan, publikasi buku kaum ateis dan selebaran kaum komunis, kendati bahayanya begitu besar mengancam negara, bangsa, dan akhlak, tetapi dibiarkan sedemikian rupa, sementara Risalah Nur yang menurut tiga pengadilan tidak ditemukan satu bahan pun yang harus dipertanggungjawabkan, yang sejak dua puluh tahun yang lalu malah berhasil mewujudkan keamanan dan stabilitas, menjamin akhlak dan kehidupan sosial negara dan bangsa, berusaha keras secara aktif mengembalikan dan memperkuat persaudaraan dan persahabatan antara bangsa ini dan dunia Islam, yang merepresentasikan titik sandaran yang sebenarnya untuk bangsa ini, yang dikemukakan kepada pimpinan urusan agama dengan perintah dari Kementerian Dalam Negeri dengan tujuan agar para ulama mengkritisinya, lalu tiga bulan setelah dilakukan penelitian, malah mendapat penghargaan penuh dan tidak ada kritikan, sebagian bagiannya—seperti risalah “Tongkat Musa” dan “Dzulfikar”—dititipkan di perpustakaan pimpinan uru�san agama karena dianggap sebagai karangan yang sangat berharga. Ya, dengan semua penjelasan ini, sebagian dari Rialah Nur disita dan dibawa ke pengadilan dengan tuduhan sebagai selebaran berbahaya. Undang-undang apa, hati nurani apa dan kesadaran apa yang membolehkan hal ini?

Aspek kedelapan:Orang yang selama dua puluh tahun diasingkan secara semena-mena, kemudian setelah dibebaskan, ia lebih memilih hidup sendirian dalam pengasingan alih-alih kembali ke tanah kelahirannya di mana terdapat ribuan kerabat dan orang-orang yang dicintainya, sehingga guna menghindari kehidupan dunia, politik dan kehidupan sosial, ia lebih mengutamakan tinggal sendirian di kamarnya, meninggalkan kebaikan salat berjamaah di masjid dengan pahalanya yang berlimpah. Artinya, ia menanggung kondisi rohani semata-mata menghindari penghormatan orang-orang terhadapnya, yang lebih mengutamakan seorang warga Turki yang taat agama dan bertakwa terhadap banyak warga Kurdi tetapi tidak taat beragama, dan hal ini disaksikan selama dua puluh tahun dari hidupnya dan dibenarkan oleh ratusa ribu warga Turki yang terhormat sehingga di pengadilan, orang mengumumkan bahwa seorang saudaranya warga Turki yang memiliki iman yang kuat seperti al-Hafidz Ali tidak sebanding dengan seratus warga Kurdi, orang yang tidak pernah bertemu dengan orang lain dan tidak pergi ke masjid kecuali sangat terpaksa, semata-mata guna menghindari penghormatan orang yang berlebihan, orang yang berusaha keras dengan segala kekuatan yang dimilikinya dan mengungkapkan karangannya sejak empat puluh tahun guna memperkuat persaudaraan Islam dan memperkuat kecintaan di antara kaum muslimin, orang yang enggan membalas musuh bebuyutannya dengan tindakan negatif, bahkan tidak merasa terganggu oleh perbuatan mereka dan tidak mendoakan keburukan untuk mereka. Orang yang kondisinya seperti ini, apakah secara resmi dikatakan, dengan tujuan menjatuhkan namanya dan membuat para sahabatnya menjauhinya, bahwa dirinya warga Kurdi dan kalian adalah warga Turki, bahwa dia pengikut Imam Syafii dan kalian pengikut Imam Hanafi? Kepentingan apa dan undang-undang apa yang membolehkan menakut-nakuti orang dari dirinya dan menjadikan mereka men�jauhi dirinya?

Aspek kesembilan:Aspek ini sangat penting dan sangat kuat, tetapi saya tidak menjelaskannya karena berkaitan dengan politik.

Aspek kesepuluh:Aspek ini adalah sebuah serangan yang bertentangan dengan undang-undang apa pun akibat ilusi yang tak bermakna dan membesar-besarkan suatu yang kecil, padahal tidak ada undang-undang yang membolehkannya dan tidak mengandung maslahat. Di sini kami juga diam agar tidak menyentuh politik yang tidak boleh kami lirik menurut manhaj kami. Terhadap perlakuan yang bertentangan dengan undang-undang dari sepuluh sisi ini, kami hanya dapat mengatakan:

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Pertama:Kami ucapkan bârakallah, masyâallah, as’adakallah kepada saudara kita al-Hafidz Mustafa, salah seorang pahlawan Risalah Nur yang mulia yang telah membawa sejumlah koleksi penting Risalah Nur ke Makkah al-Mukarramah dan memberikannya kepada ulama yang mulia Ahmad Ali Syimsyiri, salah seorang ulama besar India. Ia mendapatkan dukungan dari beliau untuk diterjemahkannya ke dalam bahasa India dan dikirimkannya ke India. Maka Madrasah al-Zahrah menjalin hubungan dengan ulama yang berdomisili di Makkah al-Mukarramah.

Salah satu pertandanya adalah bahwa Gubernur Afyon datang ke sini pada malam hari dengan perintah dari Menteri Dalam Negeri, dikawal oleh komandan kepolisian.

Mereka ingin menggeledah rumah saya pada malam hari, tetapi mereka terpaksa harus menunggu hingga pagi hari karena tidak mendapatkan izin dari penuntut umum. Mereka menugaskan salah seorang musuh bebuyutan kami, merusak gembok pintu dan mereka menggeledah rumah secara tiba-tiba.Pada hari yang sama, ketika saya keluar menggunakan dokar(*46) , kami melihat lima buah pesawat terbang dengan ketinggian yang sangat rendah yang tidak pernah terjadi di daerah ini, berputar-putar di sekitar kami beberapa kali karena mereka mengetahui dokar yang saya tunggangi. Pada hari kedua, ketika kami mengendarai dokar menuju arah yang lain di mana terdapat sungai yang tidak dapat dilihat dengan mudah, tiba-tiba lima buah pesawat terbang dalam ketinggian yang sangat rendah, berputar-putar seakan-akan mencari sesuatu. Kami pun menyadari bahwa mereka memang sedang mencari kami.Apa yang mereka lakukan dalam dua hari itu, mengirim lima buah pesawat yang berputar-putar di atas kami di pinggiran desa, kemudian mereka pergi ketika kami memasuki kamar kami, hal itu semata-mata pertanda kuat bahwa mereka telah menjadikan sesuatu yang kecil menjadi sesuatu yang sangat besar.

Sampaikanlah kepada pemerintah daerah dan pengadilan di Isparta ucapan terima kasih saya dan pemaafan saya terhadap tindakan mereka terhadap saya. Tindakannya itu tidak mencapai satu dari sepuluh dari kejahatan yang telah menimpa saya dan menimpa para pahlawan Madrasah al-Zahrah di sini selama tiga tahun sebagai akibat dari ilusi tak bermakna.

Said Nursî

* * *

PETISI PENTING DIAJUKAN KEPADA DEWAN MENTERI DAN PIMPINAN MAJELIS RAKYAT

Pada kali ini saya jelaskan secara khusus masalah terkini yang berkaitan dengan negara, bangsa dan keamanan meskipun saya sudah menarik diri dari kehidupan politik sejak tiga puluh tahun yang lalu,

yaitu kami berpendapat berdasarkan banyak pertanda bahwa terdapat tujuan sistematis yang bekerja guna kepentingan anarkisme yang menjadikan saya dan Emirdağ sebagai targetnya, kemudian negara ini, di mana segala masalah dibesar-besarkan, masalah sepele yang tidak sebanding dengan sayap nyamuk digambarkan seperti gunung dan dijadikan alasan untuk menyerang kami, yaitu para tullabunnur yang berusaha menyelamatkan anak negeri ini yang malang dari kehancuran abadi dan ketidakpastian dalam kehidupan akhirat. Serangan yang mereka lakukan itu semata-mata serangan sewenang-wenang yang benar-benar bertentangan dengan undang-undang, dilakukan dengan perencanaan asing demi mengabdi pada anarkisme di negara yang memerlukan kestabilan ini. Saya telah dijadikan alasan untuk menjadikan negara dan kestabilan ini sebagai target dengan kedengkian yang nyata dan obsesi palsu dalam perbuatan yang diibaratkan “Menuangkan minyak tanah dalam api.”

Hal itu karena meskipun tiga pengadilan telah meneliti semua buku, korespondensi dan urusan saya selama dua puluh tahun, kemudian keputusan tidak bersalah dikeluarkan bahwa kami dan buku-buku kami tidak bersalah. Meskipun saya sudah meninggalkan kegiatan mengarang sejak tiga tahun yang lalu, nyaris tidak mampu membuat satu tulisan pun dalam seminggu, meskipun saya tidak menerima seseorang tanpa kepentingan yang mendesak selain beberapa orang penjahit dan secara bergantian membantu saya mengerjakan urusan yang sangat penting, meskipun saya tidak kembali ke desa saya setelah saya dibebaskan, mereka secara resmi dan dengan cara yang tidak pernah saya saksikan selama hidup saya, mereka membuat saya marah, sengaja memprovokasi untuk menghinakan saya agar mereka dapat menciptakan sebuah peristiwa yang dijadikan alasan untuk menggeledah rumah saya dengan kedengkian dan secara ilegal. Mereka merusak gembok pintu, mengambil mushaf al-Qur’an dan dua kaligrafi bahasa Arab, seakan-akan selebaran berbahaya. Selain itu, seorang pejabat penting dari pengadilan berbicara kepada para pegawai resminya di sini, berbicara dengan nada memerintah, “Mestinya kalian mengeluarkan Said dari rumahnya di hadapan orang banyak melalui dua polisi militer, memaksanya mengenakan topi Eropa, dan menghadirkannya untuk diinterogasi dalam bentuknya seperti itu. Mestinya kalian menangkap setiap orang yang mendekati Said Nursi”.

Ya, orang itu telah mengucapkan perkataan ini dalam rapat resmi ketika pernyataan saya yang merupakan inti kebenaran dibacakan.Setelah itu, tidak ada lagi keraguan bahwa memang terdapat perencanaan yang bertujuan merusak keamanan dan stabilitas melalui penghinaan dan provokasi terhadap saya.Rasa syukur yang tiada henti-hentinya dipanjatkan kepada Allah karena Dia telah berbuat baik kepada saya dengan kondisi rohani yang menjadikan saya mampu mengorbankan kedudukan dan kehormatan saya demi kenyamanan anak negeri yang malang dan mencegah malapetaka agar tidak menimpa mereka. Saya telah memutuskan untuk konsisten bersabar menghadapi penghinaan mereka, baik yang sudah dilakukan maupun yang baru direncanakan. Saya siap berkorban dengan semua kehidupan dan kedudukan demi keamanan dan stabilitas bangsa ini, terutama demi kenyamanan dunia dan kebahagiaan akhirat anak-anak yang tidak berdosa, orang-orang tua yang terhormat, orang-orang sakit dan fakir miskin yang malang.

Salah satu pertanda bahwa mereka membesar-besarkan sesuatu yang kecil sehingga mereka menjadikan sayap lalat seperti gunung, yang terjadi selama sepuluh hari saja terhadap seorang yang lemah, lanjut usia, sakit, hidup sendirian dalam pengasingan seperti saya, tiba-tiba gubernur Afyon dan komandan kepolisian mendatanginya sebanyak lima kali di sini, penuntut umum datang dua kali, lima buah pesawat mengawasi saya, berputar-putar di atas saya ketika saya keluar rumah dalam dua hari berturut-turut, lima polisi intelijen tambahan dari satuan keamanan ditugaskan mengawasi saya yang dulunya mendapat tugas memata-matai saya. Perintah resmi dikeluarkan ke seluruh kantor pos untuk menyita seluruh surat yang berkaitan dengan saya. Ini menjelaskan bahwa mereka merencanakan untuk menimbulkan sebuah peristiwa yang melebihi peristiwa “Syekh Said” atau peristiwa “Menemen” sepuluh kali lipat. Mereka membesar-besarkan masalah, menjadikan sesuatu yang sangat kecil menjadi sesuatu yang sangat besar, maka mereka mengambil prosedur yang terakhir ini.

Mereka menduga bahwa saya hidup dengan cara yang lama. Mereka berharap saya marah sebagai reaksi dari penghinaan mereka, tetapi mereka ternyata hanya berkhayal, karena kami dengan segala kekuatan yang ada bekerja membuat benteng al-Qur’an seperti bentengnya Zulkarnain dalam menghadapi anarkisme. Orang-orang yang merintangi kami, mereka semata-mata membuka jalan untuk anarkisme, bahkan untuk komunisme.

Ya, jika penolakan terhadap bentuk penghinaan apa pun terdapat dalam diri saya, sebagaimana pada masa lalu, demi menjaga kemuliaan ilmiah, seandainya tugas saya yang sebenarnya semata-mata bukan untuk akhirat dan menyelamatkan kaum muslimin dari hukuman mati kematian, seandainya tugas kami sekarang bekerja untuk dunia, untuk politik yang merusak sebagaimana yang dilakukan orang-orang yang merintangi kami, maka orang-orang yang bekerja demi kepentingan anarkisme akan menyebabkan timbulnya peristiwa yang sebanding dengan sepuluh kali lipat peristiwa “Syekh Said” dan peristiwa “Menemen”.

Dengan mempertimbangkan secara seksama bahwa tiga pengadilan dan kepolisian di banyak wilayah tidak mempermasalahkan pakaian saya dari sisi hukum selama dua puluh tahun, dan sama sekali saya belum pernah diberitahu agar mengganti pakaian saya demi menjaga keadaan dan pengasingan saya, maka upaya memaksa saya untuk mengenakan topi Eropa ini semata-mata perbuatan sewenang-wenang dan pemaksaan di hadapan pengikut saya yang akan mencetuskan kemarahan ratusan ribu penduduk negeri ini, terutama yang mempunyai ikatan persaudaraan dalam pelajaran iman hakiki sejak empat puluh tahun yang lalu, dan akan menimbulkan skandal dan tragedi yang sangat menyedihkan.

Berdasarkan banyak pertanda telah terbukti bahwa prosedur ilegal yang dilakuakan terhadap saya dan dilakukan berdasarkan kehendak unsur asing guna menjauhkan orang-orang dari saya, semata-mata dilakukan untuk tujuan tersebut di atas(*47).Namun, segala puji bagi Allah, tiada henti-hentinya bersyukur kepada-Nya bahwa tidak ada lagi kepentingan sedikitpun dari penghinaan ilegal mereka yang diterima oleh orang seperti saya yang tengah berdiri di depat pintu kuburan. Ia telah memutuskan semua hubungannya, sudah jemu dengan dunia, menjauhi penerimaan dan penghormatan orang, tidak lagi memiliki hasrat terhadap bentuk riya apapun seperti popularitas, kedudukan dan kesombongan. Perbuatan nista mereka itu, ia serahkan kepada Allah Ta`ala.Saya berpikir bahwa orang-orang yang memperlakukan saya dengan perlakuan buruk itu semata-mara karena perasaan yang tidak berdasar, mereka akan mengalami kebinasaan abadi sebentar lagi, maka saya berbelasungkawa terhadap mereka.

Ya Allah, selamatkanlah iman mereka dengan Risalah Nur. Dengan rahasia al-Qur’an, ubahlah kebinasaan abadi mereka menjadi catatan pembebasan dan saya juga memaafkan mereka.

Said Nursî

* * *

Catatan Kaki

  1. *Perkataan ini ditulis sekitar tahun 1957 M—Tim Penerjemah. ↑
  2. *Jumlah umat Islam di dunia waktu itu, yaitu pada awal abad kedua puluh—Tim Penerjemah. ↑
  3. *Untuk mengetahui kehidupan Ustadz Said Nursi secara rinci pada era “demokrasi” dan yang setelahnya dari pengadilan militer, silahkan merujuk Bagian Pertama yang disebut “Kehidupan Pertama Ustadz Said Nursi” dalam buku ini—Tim Penerjemah. ↑
  4. *Penduduk Emirdag sekarang pada umumnya adalah sahabat dan simpatisan Risalah Nur. Di antara mereka banyak yang menjadi Tullabunnur. Risalah Nur dipelajari di kota ini juga di desa-desa sekitarnya—Tim penyusun. ↑
  5. *Ustadz Said Nursi berkata, “Saya menganggap Emirdag sebagai Madrasah Nuriyah. Saya menyebut setiap desa dan dusun yang mayoritas penduduknya memberikan kontribusi dalam menyebarkan dan membaca Risalah Nur seperti Barla, Sav, Emirdag, Eflani, dan yang lainnya sebagai Madrasah Nuriyah. Saya mendoakan seluruh penduduknya, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, anak-anak kecil yang tidak berdosa dan para wanita yang penuh berkah, juga mendoakan desaku Nurs dan mengikutsertakan penduduknya dalam memperoleh keuntungan maknawi.”—Tim Penyusun. ↑
  6. *Ucapan yang dikutip dari al-Sarri al-Saqathi rahimahullah. Lihat Kasyf al-Khafa’, hadis nomor 1004—Tim Penerjemah. ↑
  7. *Ustadz Said Nursi beberapa kali mengalami peracunan. Di Emirdag saja beliau diracun sebanyak tiga kali. Pada akhir bagian ini akan diketengahkan berita tentang dirinya bahwa ia diracun sebanyak sebelas kali—Tim Penerjemah. ↑
  8. *Setiap tempat di mana Risalah Nur dibaca atau diajarkan dianggap sebagai Madrasah Nuriyah (Dershane)—Tim Penerjemah. ↑
  9. * Ini adalah contoh pelajaran yang disampaikan Ustadz Said Nursi kepada para pengunjungnya yang menegaskan bahwa melaksanakan kewajiban agama akan menjadikan pekerjaan dunianya menjadi sebuah ibadah: 1. Pada suatu ketika kami bersama Ustadz Said Nursi berada di Hotel Yıldız di Eskisehir. Beberapa orang yang bekerja di pabrik gula yang disertai mandornya datang menemui Ustadz Said Nursi. Beliau menemui mereka dan secara ringkas beliau berkata, “Jika kalian mengerjakan salat wajib, semua pekerjaan kalian akan menjadi ibadah karena kalian melakukan pengabdian yang penuh berkah, memenuhi kebutuhan banyak orang”. 2. Pada suatu ketika kami mampir di pinggir jalan Egirdir. Kami duduk membaca Buku Tuntunan Generasi Muda. Tiba-tiba seseorang yang bekerja di rel kereta datang menghampiri kami. Ustadz Said Nursi menjelaskan kepadanya bahwa jika dirinya melaksanakan kewajiban dan menghindarkan diri dari dosa besar, pekerjaan yang ia lakukan akan menjadi sebuah ibadah karena ia melakukan pengabdian kepada banyak orang dan kepada para hamba Allah dengan kereta api yang menjadikan perjalanan sepuluh jam menjadi satu jam. Pengabdian ini tidak akan sia-sia, bahkan akan menjadi penyebab kebahagiaannya dalam kehidupan abadi nanti. 3. Hal serupa juga disampiakan kepada para pilot, perwira dan prajurit yang bekerja di instansi militer di Eskisehir. Beliau berkata kepada mereka, “Kapal-kapal terbang ini pada satu saat akan melakukan pengabdian mulia untuk Islam. Jika kalian melaksanakan salat wajib, mengkada salat yang dulu tidak sempat kalian kerjakan, maka karena sedang bertugas sebagai tentara, setiap jam dari hari-hari kalian akan menjadi sebuah ibadah sepuluh jam, bahkan satu jamnya pilot militer akan mendapat pahala ibadah tiga puluh jam. Untuk ini cukup bagi dirinya untuk memiliki cahaya iman dalam hatinya dan menjalankan salat yang merupakan konsekuensi iman. 4. Kepada para penggembala yang beliau temui baik di Barla, Isparta dan Emirdag, beliau berkata, “Penggembalaan kalian terhadap hewan-hewan ini adalah ibadah yang besar sampai-sampai sebagian para nabi `alaihimussalam bekerja sebagai penggembala. Kalian tinggal melaksanakan salat wajib agar pengabdian kalian ini berada di jalan Allah”. 5. Pada suatu ketika beliau berkata kepada sekelompok pekerja yang sedang membangun pembangkit tenaga listrik dan di antara mereka ada ketuanya, “Listrik ini memiliki manfaat yang sangat besar untuk orang banyak. Jika kalian ingin mendapatkan bagian dari manfaat yang besar ini, tunaikanlah salat wajib, maka pekerjaan kalian akan menjadi ibadah dan perniagaan akhirat.Puluhan ribu nasihat dan arahan seperti ini telah disampaikan oleh Ustadz Said Nursi. Para murid yang selalu setia mengabdi Perlu diingat bahwa kebanyakan contoh yang disampaikan Tim Penyusun Biografi Ustadz Said Nursi ini terjadi pada tahun-tahun setelah pengasingan Emirdag yang kedua yaitu tahun 1952 M dan setelahnya di mana Ustadz Said Nursi dapat bergerak dan berpindah-pindah di berbagai pelosok negeri dengan sedikit kebebasan setelah Partai Demokrat memegang kendali pemerintahan pada awal lima puluhan abad yang lalu—Tim Penerjemah. ↑
  10. *Maksudnya Ustadz Said Nursi itu sendiri—Tim Penerjemah. ↑
  11. *Yang dimaksud adalah anggota Organisasi Persatuan dan Kemajuan dan para pendukungnya—Tim Penerjemah. ↑
  12. *Pembicaraan tentang umat di sini adalah bangsa Turki sejak mereka memeluk Islam seribu tahun yang lalu—Tim Penerjemah. ↑
  13. *Al-`Alawiyyah dinisbatkan kepada Sayyidina Ali d, sedangkan al-Ghawtsiyyah dinisbatkan kepada al-Ghawth al-A`dzam al-Syekh Abdul Qadir al-Jilani d. Untuk lebih rinci, silahkan simak mukadimah “al-Ayat al-Kubra” pada bagian Kastamonu dalam buku biografi ini—Tim Penerjemah. ↑
  14. *Yaitu Bagian Kesembilan dari “Surat Kedua Puluh Sembilan”, dalam buku al�Maktûbât—Tim Penerjemah. ↑
  15. *Landasan Risalah Nur ada empat yaitu: ketidakberdayaan, kefakiran, tafakur, dan belas kasih. Rinciannya silahkan simak dalam Lampiran “Kalimat Kedua Puluh Enam” dalam “Surat Kedua Puluh Sembilan”, dalam Lampiran Bagian Kesembilan—Tim Penerjemah. ↑
  16. *Yaitu Selat Bosporus dan Selat Dardanil—Tim Penerjemah. ↑
  17. *Yang dimaksud adalah kaidah: ( ) “Orang yang rela menerima kemudaratan, tidak perlu dipedulikan”—Tim Penerjemah. ↑
  18. *Yang dimaksud adalah Perang Dunia Kedua—Tim Penerjemah. ↑
  19. *Para Tullabunnur yang berada di Isparta dan sekitarnya—Peny ↑
  20. *Kenyataan ini terbukti setelah sepuluh tahun risalah ini ditulis di mana Risalah Nur dicetak di berbagai percetakan di Ankara—Tim Penyusun. ↑
  21. *Pemerintahan baru beruntung dengan kehormatan besar yang mencakup seluruh dunia dan pengabdian agung terhadap Islam. Kesadarannya yang mendalam dan jauhnya pandangan pemerintah ini tampak dari sikapnya dalam mengizinkan pencetakan Risalah Nur di percetakan pada tahun 1956 M. Dengan demikian, pemerintah mendapatkan apresiasi yang sangat tinggi dari umat Islam sehingga mereka semakin kuat dan kokoh—Tim Penyusun. ↑
  22. *Kumpulan tulisan yang dikutip dari Risalah Nur, berbicara tentang isyarat�isyarat gaib—Tim Penerjemah. ↑
  23. *Yang dimaksud adalah Partai Demokrat pada masa itu—Tim Penerjemah. ↑
  24. *Yang dimaksud adalah komunisme—Tim Penerjemah. ↑
  25. * Yazid adalah putra Mu`awiyah ibn Abu Sufyan, yaitu penguasa Bani Umayyah kedua, sementara al-Walid adalah al-Walid bin Yazid bin Abdul Malik bin Marwan bin al-Hakam al-Umawi, yaitu penguasa Bani Umayyah yang kesebelas—Tim Penerjemah. ↑
  26. *Yang dimaksud adalah Partai Rakyat Republik yaitu sebuah partai yang didirikan oleh Mustafa Kamal Ataturk ketika ia berkuasa setelah runtuhnya Daulah Usmaniyah. Partai ini satu-satunya partai yang berkuasa ketika itu hampir seperempat abad, kemudian pada masa pemilihan umum bebas, pada awal tahun lima puluhan partai ini kalah dan hingga sekarang masih eksis dengan mengibarkan sejumlah simbol dan yang terpenting adalah republik, sekularisme dan nasionalisme—Tim Penerjemah. ↑
  27. *Maksudnya, ia menulis aduan ini tetapi tidak dikirim kepadanya agar tidak membatalkan prinsip hidupnya yang selama ini ia pegang, yaitu tidak berurusan dengan berbagai instansi resmi—Tim Penerjemah. ↑
  28. * Yang dimaksud adalah arus westernisasi—Tim Penerjemah. ↑
  29. * Instansi mana pun dan undang-undang apa pun—bahkan sampai sebagian undang-undang mereka yang sewenang-wenang—tidak dapat menghalangi kami dan Risalah Nur, juga sebagian undang-undang sekarang dapat melakukan itu tetapi hukum yang disertai tiga pengadilan besar menjauhkan diri darinya karena demi menghindari kemarahan dan kutukan keras yang kelak menimpa mereka jika mereka melakukannya sehingga mereka tidak berani menyatakan saya dan Risalah Nur bersalah dan secara sepakat mereka memutuskan kami tidak bersalah dan mengembalikan semua risalah.Tentunya kezaliman yang dilakukan sebagian orang sombong yang menduduki jabatan sementara, sedangkan lembaga pengadilan tidak melakukannya, tegar seperti gunung, adalah perbuatan yang membuat langit dan bumi marah sehingga saya tidak perlu untuk marah—Said Nursi. ↑
  30. *Maksud yang lain tidak disebutkan—Tim Penerjemah. ↑
  31. *Yang dimaksud adalah Rajab Bekir, yaitu yang menjabat Menteri Dalam Negeri setelah Hilmi Uran yang telah disebutkan sebelum ini—Tim Penerjemah. ↑
  32. *Kazim karabekir, salah seorang tokoh militer pada masa akhir era Daulah Usmaniyah, salah seorang politikus Partai Rakyat Republik pada era republik, menjadi anggota parlemen selama beberapa periode dan menduduki kepemimpinannya pada masa di mana Ustadz Nursi menulis risalahnya ini—Tim Penerjemah. ↑
  33. *Dershane adalah pusat kajian Risalah Nur di Turki dan belahan dunia lainnya di mana biasanya dihuni oleh bebarapa mahasiswa dan seorang pembina. Mereka belajar agama di dershane dan berkuliah di masing-masing fakultas. Masyarakat sekitar juga menghadiri kajian Risalah Nur di tempat tersebut—Peny. ↑
  34. *Sekolah agama sebelumnya telah dihapus di Turki sejak 1924 hingga 1946 M. ↑
  35. *Bahkan, kalaupun salah seorang di antara mereka tidak butuh belajar, namun pasti merindukan ibadah, makrifat ilahiah, dan ketenangan kalbu. Karena itu, Risalah Nur merupakan pelajaran penting bagi setiap individu—Said Nursi. ↑
  36. *Maksudnya, kedudukan Muhammad Feyzi di Kastamonu adalah seperti kedudukan Husrev Altın Başak di Isparta—Tim Penerjemah. ↑
  37. *Sekarang dikenal dengan nama Indonesia—Tim Penerjemah. ↑
  38. *Pada masa pemerintahan Daulah Usmaniyyah—Tim Penerjemah. ↑
  39. *Otto von Bismarck politikus dan pemimpin Eropa terkemuka pada abad kesembilan belas. Dilahirkan di Jerman pada tahun 1815 M, wafat tahun 1898 M—Tim Penerjemah. ↑
  40. *Thomas Carlyle, penulis dan sejarawan terkenal. Dilahirkan di Skotlandia pada tahun 1795 M, wafat di London pada tahun 1881 M. Ia menulis buku sejarah dan sastra, di antaranya “Muhammad Rasulullah Sang Ideal”. Filsuf Amerika, Ralph Waldo Emerson mendapat pengaruh dalam pemikirannya. Thomas Carlyle mempublikasikan tulisannya di Amerika—Tim Penerjemah. ↑
  41. *Yaitu muridnya yang sangat cerdas dan keponakannya, Abdurrahman. Wafat ketika usia muda pada tahun 1928 M—Tim Penerjemah. ↑
  42. *Tentang peristiwa ini akan dijelaskan pada bagian kedua sebentar lagi—Tim Penerjemah. ↑
  43. *Perkataan ini berasal dari Ustadz Said Nursi, ditujukan kepada para muridnya, mengajari mereka tentang apa yang mereka katakan ketika melakukan pembelaan hukum—Tim Penerjemah. ↑
  44. *Perkataan ini ditulis pada akhir tahun empat puluhan dari abad miladiyah yang lalu, setelah Ustadz Said Nursi menulis mayoritas koleksi Risalah Nur: al-Kalimât, alMaktûbât, al-Lam`ât, dan asy-Syua`ât—Tim Penerjemah. ↑
  45. *Sebuah kota yang terletak di Barat Laut Anatolia, merupakan pusat wilayah pada masa Republik Turki—Tim Penerjemah. ↑
  46. *Ya, atas nama murid Risalah Nur yang berada di Emirdag, kami membenarkan adanya peristiwa ini— Al-Khayyâth Mustafa, Ismail Mustafa, al-Khadim Nuri, Khairi, dan Khalil. ↑
  47. *Yaitu membesar-besarkan masalah agar sebuah peristiwa pembangkangan terjadi seperti peristiwa Syekh Said Bairan atau peristiwa Menemen yang mengakibatkan kegiatan agama di seluruh pelosok negeri dilarang sepenuhnya—Tim Penerjemah. ↑
⬇ Gulir Otomatis
📝 Catatan Saya 0 catatan

Pilih teks lalu tekan tombol "Catatan" untuk menambahkan catatan.

Pengaturan
Tema
Ukuran Font
Ketebalan Font
Ukuran Font Arab
Spasi Baris

Mode Fokus
Sembunyikan sidebar
Gulir Otomatis
Halaman bergulir sendiri
Kecepatan