Cahaya Bintang Alquran
Bismillāhirrahmānirrahīm
Risalah ini ditemukan oleh peneliti yang tekun, saudara kita, Najmuddin Syahin Ur. Hal itu terjadi ketika ia mencari dan meneliti sejumlah peninggalan dan karya Ustadz Nursi. Risalah ini ia temukan dalam kumpulan kertas-kertas yang berserakan yang tertimbun di bawah podium masjid Jami yang berdekatan dengan rumah Ustadz Nursi di tempat pembuangannya di Barla. Ketika risalah ini ditulis dalam bahasa Arab dan diserahkan kepadaku, aku menerjemahkannya ke dalam bahasa Turki sekaligus mengumpulkannya dengan terjemahan al-Matsnawi al-Arabiy lainnya.
Naskah ini ditulis dengan baik oleh al-Hafidz Taufik asy-Syami yang secara sekilas kemudian dikoreksi oleh Ustadz. Risalah ini sebenarnya merupakan prinsip-prinsip singkat dan ringkasan dari berbagai risalah an-Nur. Karena itu, ia memiliki sejumlah urgensi istimewa.
Akupun menyerahkan naskah ini kepada saudara Ihsan Qasim ash-Shalihiy. Semoga Allah memberkahi upayanya dalam meneliti dan menyebarkannya serta memberikan taufik kepadanya.
Abdul Qadir Badilali
Urfah
Bismillāhirrahmānirrahīm
Kami memohon pertolongan-Nya.
Segala puji bagi Allah yang telah membimbing kita kepada ini. Kita tidak mungkin mendapat petunjuk kalau saja Allah tidak memberikan petunjuk kepada kita. Para utusan Tuhan telah datang dengan membawa kebenaran.
{(Catatan-373): Q.S. al-A'raf: 43.}
Salawat dan salam semoga tercurah kepada hujjah Allah atas makhluk, pemimpin para nabi, petunjuk para wali, kekasih Tuhan semesta alam, berikut keluarga dan sahabat untuk selamanya.
Ketahuilah!
{(Catatan-375): Uraian tentang bahasan ini terdapat dalam "kata kedua puluh dua", terutama di cahaya keenam dan kedelapan darinya.}
Turunan, gunung, lembah, pedalaman, lautan, daratan, dan semua pelosok bumi dipenuhi oleh berbagai jenis stempel keesaan-Nya. Sehingga gunung misalnya seolah-olah dikenal sebagai budaknya sebanyak budak lain seperti aneka hewan dan pohon yang tinggal di dalamnya. Di samping itu ia diketahui sebagai ciptaan-Nya sebanyak kesaksian segel bersinar yang dilekatkan di atasnya yang berupa berbagai jenis tumbuhan dan burung. Ia juga dipahami sebagai tulisan-Nya sebanyak stempel Tuhan yang dilekatkan padanya yang berupa bunga dan buah yang indah. Jika engkau mengetahui bahwa lebah atau pohon kurma misalnya merupakan aset dan ciptaan-Nya engkau akan mengetahui bahwa semua yang berisi lebah atau kurma juga merupakan kerajaan-Nya. Jadi, keseluruhan menjadi saksi bagi keseluruhan. Masing-masing menjadi dalil bagi masing-masing.
Dalil bahwa segel dan stempel yang terdapat di semua penjuru merupakan milik Zat Yang Mahaesa dan Penguasa abadi adalah kesatuan waktu yang Dia bentangkan. Pada waktu bersamaan di seluruh penjuru telah terdapat berbagai jenis sesuatu yang jumlahnya tak terhingga.
Keselarasan dalam wujud, penciptaan, bentuk, pemunculan, dan waktu dapat terjadi karena Penciptanya satu dan esa. Satu perbuatan tidak melalaikan-Nya
dari perbuatan lain, satu kondisi tidak membuat-Nya lupa kepada kondisi lain, satu ucapan tidak melalaikan-Nya dari ucapan lain, serta tidak ada permintaan, entah berbentuk perkataan, kebutuhan, dan kecenderungan, yang bercampur dengan permintaan lain. Tiada Tuhan selain Dia.
Ketahuilah!
{(Catatan-376): Penjelasan tentang hal ini terdapat dalam "Kata Kedua puluh dua" terutama cahaya keempat dan kedelapan. Demikian pula dalam risalah "alam".}
Jika mau engkau bisa mereguk kemukjizatan yang terlimpah ke dalam kalbuku dari Alquran. Perhatikanlah bisikan yang tertuju ke dalam jiwaku dengan kalbu yang menyaksikan:
Wahai Said yang lalai bahkan terhadap diri dan kealpaannya!
Kelalaian, kekufuran, dan pengingkaran tumbuh di atas berbagai kemustahilan yang berantai tanpa batas. Pasalnya, apabila engkau melihat apapun, terutama makhluk hidup, kemudian engkau lalai lantaran tidak menisbatkannya kepada Allah Swt, berarti kemustahilan yang mengherankan ini telah memaksamu untuk menerima beragam tuhan sebanyak bagian-bagian tanah, udara, dan air. Bahkan sebanyak partikel dan susunannya. Lebih itu, sebanyak wujud manifestasi Allah. Andaikan ketiadaan penisbatan bisa dilakukan tentu asumsi keberadaannya tidak mustahil. Pasalnya, jika ia mustahil berarti tidak mungkin terjadi. Padahal, ia tidak hanya sebuah kemustahilan, namun merupakan bentuk kemustahilan yang tak terbatas.
Adanya keharusan akan keberadaan tuhan sebanyak bagian tanah adalah karena engkau mengetahui bahwa bagian tanah manapun yang kau lihat bisa ditempati untuk tumbuhan, pohon, bunga dan buah. Jika engkau menghendaki 'aynul yaqin penuhi potmu ini dengan tanah. Lalu, timbun di dalamnya benih pohon tin sampai tumbuh besar sebagai pohon yang berbuah. Setelah itu, cabutlah dan ganti dengan benih pohon delima. Lalu, ganti dengan benih pohon apel. Selanjutnya dengan pohon yang lain sampai akhirnya engkau bisa mendapatkan semua pohon dan buah. Engkau bisa melihat perbedaan antara masing-masing
dalam hal perangkatnya yang tertata dan bentuknya yang seimbang.
Misalnya andaikan mesin ketentuan yang menyatu dalam benih pohon tin laksana pabrik yang membuat gula dari sejumlah tumbuhan, tentu mekanisme qudrat-Nya yang terdapat dalam benih delima seperti mesin yang merangkai sutera. Demikian pula dengan yang lain. Lalu, ganti benih buah dengan benih bunga secara satu persatu hingga engkau bisa mengetahui bagaimana benih mati tadi keluar menjadi sesuatu yang hidup, mengeluarkan bulir dan bunga.
Wahai pemilik pot, jika engkau lalai oleh aliran materialis sudah tentu untuk melestarikan kelalaianmu engkau harus menerima keberadaan pabrik maknawiyah sebanyak pohon dan mesin sebanyak jumlah bunga di potmu tersebut. Kalau rujukannya adalah alam materi berarti pada setiap bagian tanah bahkan pada setiap partikel alam materi itu harus memiliki percetakan yang tak terhingga. Benih dan partikel dari sisi materi dan bentuk serupa. Ia seberat kapas. Namun demikian dari sana terurai berlembar-lembar pakaian sutera, wol, dan sebagainya. Ayat yang berbunyi, "Dia menciptakan kalian dari satu jiwa,"
{(Catatan-377): Q.S. an-Nisa: 1.}
dan "Dia menciptakan semua binatang melata dari air,"
{(Catatan-378): Q.S. an-Nur: 45.}
menunjukkan bahwa materi asal penciptaan kalian ketika hanya satu; tidak kompleks seperti kalian atau lebih kecil, tidak mungkin menjadi sumber pembuatan kalian karena bahan dasar ciptaan harus lebih besar dan sama dengan ciptaannya. Sementara penciptaan partikel dan benih yang meskipun masing-masing sangatlah sederhana seperti garisan di mana benang-benang kreasi ketentuan-Nya digariskan serta meskipun kecil ia seperti pangkal yang berisi keseluruhan rambu wujud, semua itu menjadi bukti paling jujur bahwa penciptaannya yang demikian tidak lain berasal dari Zat yang menciptakan langit dan bumi yang bagi kekuasaan-Nya sama saja antara partikel dan mentari.
Jika kelalaianmu bersumber dari pemahaman materialis tadi berarti untuk memelihara kelalaian tersebut engkau harus meyakini bahwa dalam potmu terdapat qudrat yang melihat dan luar biasa di mana ia mampu membentuk semua buah dan bunga sekaligus mengembangkannya. Juga di dalamnya terdapat pengetahuan yang mencakup semua detil karakternya. Engkaupun harus meyakini bahwa di dalamnya terdapat kehendak ilmiah terkait dengan perbedaan ukuran dan kebutuhannya. Selain itu, di dalamnya harus terdapat seluruh nama-Nya yang bersifat mutlak dan integral yang substansinya berupa Zat yang melipat langit seperti melipat lembaran buku.
{(Catatan-379): Q.S. al-Anbiya: 104.}
Sebagaimana bumi berada dalam genggaman-Nya di mana Dia memperlakukannya sesuai kehendak-Nya, demikian pula dengan kalbu. Kalbu berada di antara jari-jemari-Nya yang dibolak-balik seperti yang Dia kehendaki. Dia tidak disibukkan oleh yang besar dari yang kecil. Dia tidak dilenakan oleh yang penting dari yang remeh.
Dia adalah Zat yang qudrat-Nya terwujud pada arasy, mentari, dan partikel dengan sangat mudah dan sama. Seperti pantulan mentari pada laut, cermin, dan tetes air dengan sangat mudah dan sama dilihat dari limpahannya meski caranya berbeda.
Bukti dari rahasia ini adalah kemurahan-Nya yang terlihat di musim semi. Serta pada kecermatan-Nya yang sempurna, pada kemudahan yang bersifat mutlak, serta pada kecepatan yang luar biasa dalam menciptakan berbagai makhluk yang tak terhingga berupa aneka bunga dan buah yang tersebar di sebagian besar permukaan bumi pada waktu yang sama.
Kemudian ganti potmu di tanah ini dan isi dengan setumpuk tanah. Tunjukan perlakuan yang sama kepadanya seperti pada saudaranya yang pertama. Ulangi timbangan dan perlakuan yang ada hingga engkau menakar semua tanah tersebut.
Perlakuan yang sama pada setiap timbangan dapat disaksikan pada kondisi sebagian besar tanah yang mengeluarkan beraneka macam spesies pada setiap bagian tanah yang kau lewati dalam perjalananmu di muka bumi.
Kemudian arahkah wajahmu ke udara, air, dan cahaya. Timbang dan ukur dengan skala wadahmu, tentu hasilnya akan sama. Hal ini dengan melihat kepada semua bagian seluruh spesies. Kenyataannya, setiap bagian dari buah, bunga, dan hewan laksana perasan seluruh alam dan terambil dari semua bagiannya dengan timbangan yang cermat dan sensitif serta dengan sangat teratur. Tidak ada yang bisa menciptakannya demikian kecuali Zat yang menguasai seluruh alam. Tetesan tadi diperas dari sejumlah entitas dengan timbangan dan ukuran ketentuan-Nya jika Dia menghendaki tumbuh. Dia juga menciptakan contoh miniatur yang dalam salinannya ditulis berbagai harapan yang terdapat pada entitas jika Dia memang menghendaki yang ada dari tiada sebagaimana Dia Mahabenar atau yang paling mutlak.
Adapun keterkaitan orang kafir dengan sejumlah tuhan sebanyak partikel alam telah dijelaskan dalam "benih" dan "tetesan" serta yang lain. Sementara yang sebanyak manifestasi Allah intisarinya telah dikemukakan dalam lanjutan "obor".
Selanjutnya pantulan bayangan mentari yang terwujud dalam kepingan dan tetesan, jika tidak dinisbatkan kepada satu mentari lewat manifestasi yang mudah, berarti keberadaan sejumlah mentari asli pada setiap kepingan, tetesan, dan partikel harus diterima.
Jika engkau memahami apa yang kukatakan kepada diriku, engkau akan dapat menangkap kilau cahaya kemukjizatan penjelasan Alquran yang cemerlang.
Ketahuilah!
{(Catatan-380): Kata Kedua puluh tiga menjelaskan hal ini.}
Iman merupakan obat mujarab yang bisa mengubah arang materi yang fana menjadi intan berkilau dan abadi ketika bernisbat kepada Sang Pencipta Yang Mahakekal. Sebaliknya, dengan kekufuran manusia menjadi terbalik dan jatuh. Pasalnya, sebagaimana dalam ciptaan manusia terdapat sesuatu yang nilai materinya sekitar lima dirham, sementara nilai kreasinya adalah ribuan dinar, bahkan bisa lebih seiring dengan keberadaan tokoh pembuatnya yang sangat terkenal, demikian pula dengan kreasi Sang Pencipta Yang Maha tak bermula.
"Dia yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari."
{(Catatan-381): Q.S. al-A'raf: 54.}
Dia menghias langit dengan sejumlah lentera dan bumi dengan berbagai bunga. Bahkan, di antara ciptaan-Nya yang paling menakjubkan adalah manusia yang materinya berupa tanah kering seperti tembikar di mana ia pecah dan cepat musnah. Nilainya benar-benar kecil. Namun kreasi yang terdapat di dalamnya merupakan sesuatu yang agung yang nilainya jauh lebih tinggi dengan hitungan tak terhingga daripada nilai materinya. Hal itu karena dengan ukiran kreas-Nya manusia merupakan untaian rapi dari halusnya jejak manifestasi nama-nama-Nya yang mulia. Ia merupakan cermin wujud kilau mentari azali dan abadi.
Iman merupakan relasi yang menghubungan manusia dengan Pemiliknya. Sisi relasi tersebut mengarah kepada kreasi sehingga wilayah pandangan tertuju kepada ciptaan dan kreasi yang ada. Dengan iman, nilai manusia demikian naik sampai seharga sorga, lalu kedudukannya sebagai khalifah, dan membuatnya mampu memikul amanah. Adapun kekufuran ia adalah pemutus relasi dan hubungan tersebut. Ketika hubungan telah terputus, kreasi menjadi terhalang dan manifestasinya menjadi tersembunyi. Yang terlihat hanya materi. Cermin pun terbalik dan nilainya jatuh hingga ke jenjang di mana orang kafir ingin dirinya tiada atau berubah menjadi tanah.
Kesimpulannya, manusia ibarat mesin yang terdiri dari jutaan alat timbangan dan neraca pemahaman. Dengannya simpanan kekayaan Tuhan serta permata hazanah-Nya yang tersembunyi ditimbang. Bahkan di lisan saja terdapat sejumlah perangkat pengukur sebanyak jumlah makanan sehingga pemiliknya bisa merasakan aneka macam nikmat Tuhan.
Apabila yang mempergunakan mesin itu adalah orang yang amanah yang memiliki iman tentu ia akan menghasilkan sejumlah buah dan melahirkan sejumlah jejak di sisi Zat yang tidak linglung dan lupa.
Adapun ketika berada di tangan orang kafir ia seperti mesin
mahal yang tak ada bandingannya yang dipakai oleh makhluk buas yang tidak mengenalnya. Ia mempergunakannya untuk melayani api hingga terbakar olehnya.
Wahai Zat yang di tangan-Nya tergenggam kerajaan segala sesuatu dan kunci perbendaharaan segala sesuatu, wahai Zat yang memegang ubun-ubun semua makhluk, wahai Zat yang di sisi-Nya terdapat kekayaan segala sesuatu, jangan engkau serahkan kami kepada diri kami. Kasihi kami dan terangi hati kami dengan cahaya iman dan Alquran.
Janji Allah adalah benar. Jangan engkau tertipu oleh kehidupan dunia serta jangan tertipu oleh makhluk penipu (setan).
{(Catatan-382): Q.S. Luqman: 33.}
Ketahuilah
{(Catatan-383): Kata kedelapan menjelaskan persoalan ini dengan perumpamaan yang tepat.}
wahai yang mabuk, bodoh, lalai, dan sesat. Engkau terjerumus dalam sampah dunia serta ingin menyesatkan manusia dengan menggambarkan sampah tadi sebagai sumber kebahagiaan agar terasa ringan bagimu. Jika engkau bisa membalik empat hakikat berikut, maka berbuatlah sesukamu:
Pertama, kematian. Alih-alih bisa membaliknya, engkau malah menukar kematian yang bagi orang beriman sebagai bentuk perpindahan tempat menjadi peniadaan abadi.
Kedua, ketidakmampuan dalam memenuhi berbagai kebutuhan dan musuh yang tak terhingga. Engkau merubah ketidakberdayaan yang mengantarkan kepada sikap bersandar kepada Zat Yang Mahakuasa menjadi ketidakberdayaan mutlak dalam kondisi sendiri tanpa mau bersandar kepada-Nya.
Ketiga, kefakiran. Engkau merubah kefakiran yang merupakan sarana untuk mengarah kepada hazanah kekayaan Zat Yang Mahakaya di mana kefakiran tadi laksana kartu undangan menjadi kefakiran yang gelap dan menyakitkan di mana ia semakin bertambah dengan semakin banyaknya noda peradaban materialis.
Keempat, kelenyapan. Sebab, lenyapnya kenikmatan merupakan derita. Tidak ada kebaikan dalam kenikmatan yang
tak bertahan lama. Engkau merubah kelenyapan yang merupakan sarana untuk sampai kepada kenikmatan abadi jika disertai niat mulia menjadi sebuah kepedihan yang melahirkan derita dan dosa.
Orang yang senantiasa menantikan kematian, yang diliputi oleh ketidakberdayaan, dikuasai oleh kefakiran, dan sedang menempuh perjalanan, sesungguhnya hanya tertipu manakala ia sedang mabuk, sementara kondisi mabuk tersebut tidak abadi. Yang menyebutnya sebagai kebahagiaan hidup pada hakikatnya merupakan penderitaan. Ia menjadi kebahagiaan lahiri dengan syarat menolak atau melupakan kematian secara total, melenyapkan ketidakberdayaan, serta menghilangkan kefakiran.
Semoga Allah menyadarkan kita semua dari tidur kelalaian yang kalian duga sebagai kebangkitan dusta. Semoga Allah mengingatkan kita semua dari kegilaan mutlak yang kalian kira sebagai kecerdasaran cemerlang.
Ketahuilah! Lihat bagaimana Sang Pencipta Yang Mahakuasa memasukkan jutaan alam yang berasal dari berbagai jenis hewan dan tumbuhan ke permukaan bumi. Setiap alam ibarat lautan yang menjadi tetesan air yang siap bertugas. Misalnya tugas semut untuk membersihkan permukaan bumi dari jenazah hewan-hewan kecil. Tetesan tersebut menyelimuti permukaan bumi.
Di samping itu, air, udara, dan tanah terutama es ibarat tetesan yang menjadi lautan karena adanya kesamaan tugas, kesatuan urusan, dan penerimaan perintah yang tunggal. Keempat bagian itu seperti keseluruhan. Ia bisa dirasa, diketahui, dan memiliki tugas.
Berbagai alam yang tak terhingga itu bercampur dan semuanya menyatu. Padahal Sang Pencipta Yang Mahabijak membedakan masing-masing dari yang lain dengan karakteristik dan sifat-sifatnya yang khusus. Dia menampakkan puncak perbedaan tersebut pada puncak percampuran. Misalnya Dia meletakkan dunia semut atau lalat di antara bagian-bagian alam makhluk hidup dengan proses penghadiran yang khusus lalu mengangkatnya dengan proses kematian yang khusus pula. Seolah-olah permukaan bumi merupakan tanah airnya saja.
Kehidupan dan kematiannya yang khusus tidaklah rancu. Hubungan sebuah alam dengan seluruh alam di sekitarnya seperti bagusnya keteraturan pemeliharaan satu makhluk dengan pengurusan satu spesies. Sang Pencipta tidak disibukkan oleh yang satu dari yang lain.
Wahai yang matanya tertutup oleh alam materi dan kalbunya telah terkunci, jika engkau membayangkan alam materi sebagai mesin yang mencetak berarti alam materi tersebut pada setiap bagian tanah harus memiliki percetakan sempurna yang jumlahnya melebihi semua percetakan manusia.
Ketahuilah wahai hewan. Jangan engkau merasa lebih hebat daripada tumbuhan. Pasalnya, seni kreasi yang terdapat pada saudaramu lebih sempurna daripada yang terdapat pada dirimu. Tidakkah engkau melihat bagaimana jenis-jenis hewan berdekatan dan serupa dilihat dari daging mereka, sementara daging jenis buah dan ragamnya berbeda-beda. Ini pertanda bahwa pena qudrat demikian cermat. Di samping itu, apabila keturunan hewan atau manusia hanya tujuh, maka pada tumbuhan dan pohon bisa tujuh puluh, tujuh ratus, atau tujuh ribu. Terkecuali ikan yang karena sensitivitasnya lemah maka dalam hal ini ia sama dengan tumbuhan. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberadaannya untuk dimakan sama seperti benih. Ini merupakan perlambang bahwa ia demikian baik dan penting.
Di samping itu, tumbuhan dan pohon mendapatkan pelayanan dan bertawakkal bulat. Rezekinya berikut rezeki anak-anaknya yang banyak datang sendiri. Seolah-olah pangkal setiap pohon bersambung dengan perbendaharaan rahmat Tuhan. Ia memiliki celah yang menuju kepadanya. Rahmat tersebut dibagikan padanya sesuai dengan kebutuhan. Kedua orang tua memberikan susu khusus. Lalu anak-anak delima diberikan minuman yang suci serta anak-anak zaytun diberi minyak yang penuh berkah. Ini merupakan tanda penghormatan dan kemuliaan.
Karena itu, wahai hewan yang sombong, yang membuat makhluk lain tiga tingkat lebih tinggi darimu adalah rasa egomu, penyakitmu, dan pilihanmu. Maka, berserah dirilah, pasti engkau selamat.
Manusia dicipta dalam kondisi lemah.
{(Catatan-384): Q.S. an-Nisa: 28.}
Ketahuilah!
{(Catatan-385): Kata kedua puluh tiga menjelaskan tentang persoalan ini secara rinci.}
Wahai manusia, jangan bersikap sombong terhadap hewan. Faktor yang membuatmu lebih mulia daripada seluruh hewan adalah kelemahan dan ketidakberdayaanmu. Hal ini sama seperti bayi yang bisa menundukkan kedua orang tua dan saudara-saudaranya lewat qudrat kelemahan dan kepapahannya. Adakah di antara hewan yang lebih lemah daripada dirimu dalam memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan, berbagai kebutuhan hidup yang kau dapat lewat pengalaman dan belajar selama dua puluh tahun didapat oleh hewan hanya dalam dua puluh hari. Sebagian lagi bisa mendapatkan hanya dalam dua puluh jam, dan sebagian lagi dalam dua puluh menit. Lebih dari itu, satu dari mereka dalam menjaga kehidupannya menyamai komunitas yang saling bekerja sama di antara kalian. Sementara, seorang dari kalian menyamai sejumlah spesies dari mereka dilihat dari kesempurnaan manusia yang terbatas pada keislaman dan ubudiyahnya.
Wahai engkau dan wahai diriku, engkau bisa menjadi hewan yang paling rendah, hina, dan lemah atau menjadi yang paling mulia dan sempurna di antara spesiesnya. Pilihlah sesukamu. Apabila demikian adanya, kenali kelemahan dan kepapahanmu. Ketahuilah bahwa qudrat dan kekuasaanmu dalam berdoa dan menangis berada pada Pemilikmu.
Selanjutnya ciptaan manusia yang kau banggakan berasal dari jejak ilham, kreasi, dan anugerah-Nya agar denganmu terkumpul sejumlah spesies yang berbeda-beda guna memperlihatkan keindahan yang asing, menghadirkan tulisan menakjubkan, menampilkan sejumlah ciptaannya yang beragam, dan membuatnya bisa merasakan tingkatan nikmat-Nya yang berasal dari pencampuran berbagai nikmat lewat rekayasa manusia.
Ketahuilah!
{(Catatan-386): Engkau bisa melihat penjelasan mengenai bahasan ini pada kata kedua puluh empat, dahan ketiga.}
Wahai yang bingung menerima berbagai riwayat berbeda di sekitar permasalahan seperti al-Mahdi,
kedekatan kiamat, dan sejumlah peristiwa masa depan. Apakah engkau menghendaki keimanan yang mantap pada setiap persoalan? Bahkan dalam berbagai persoalan cabang yang bukan termasuk pokok keyakinan, di mana semestinya ia cukup dengan penerimaan biasa tanpa ada penolakan.
Tidakkah engkau mengetahui bahwa sejumlah informasi yang masih abu-abu dalam Alquran di samping membutuhkan takwil juga perlu ditafsirkan?! Jika sebuah riwayat berbeda dengan realitas-menurut pandangan lahiriahmu-bisa jadi ia termasuk israiliyyat, termasuk ucapan para perawi, termasuk kesimpulan pihak yang menyampaikannya, termasuk penyingkapan makna oleh para wali ahli hadits yang butuh penjelasan, atau termasuk informasi yang sudah sama-sama pernah didengar di antara manusia di mana Nabi saw menyebutkannya bukan untuk disampaikan tetapi untuk menyertai tradisi yang ada. Yang harus dilakukan oleh pembaca adalah tidak membatasi pandangan pada sisi lahiriah. Namun, ia harus ditakwil dengan ilustrasi kiasan yang dimaksudkan untuk memberikan petunjuk. Atau, ditafsirkan dengan satu uraian seperti penjelasan orang tidur di saat tidur mengenai apa yang disaksikan oleh orang yang terjaga di saat terjaga. Sebagaimana engkau wahai orang yang terjaga mengungkapkan mimpi orang yang tidur, jika mampu ungkapkan pula wahai yang sedang tidur dalam kelalaian hidup ini apa yang dilihat oleh orang yang sedang terjaga di mana kalbunya tidak tidur sebagai wujud dari firman-Nya, "Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihat dan tidak (pula) melampauinya."
Kemudian hikmah tidak disebutkannya secara jelas ajal dan kematian seseorang agar ia selalu menantikannya dan bersia-siap untuk akhirat. Inilah mengapa pula kiamat yang merupakan kematian dunia disembunyikan agar seluruh manusia menantikannya.
Dari rahasia ini generasi setiap masa dari masa kebahagiaan telah menantikannya hingga sekarang. Di sisi lain, ia menjadi hikmah yang mengantar kepada kelalaian secara umum. Penantian tersebut terhadap hikmah ini tidak berasal dari petunjuk kenabian. Penetapannya adalah dengan menantikan apa
yang akan terjadi. Bahkan dengan penantian yang mengharuskan ketidakjelasan guna melenyapkan kelalaian. Sungguh telah alpa orang yang tidak bisa membedakan antara hikmah dan sebab.
Terkait dengan al-Mahdi, maka ia adalah untuk menguatkan kekuatan maknawi, untuk menghilangkan rasa putus asa ketika kesesatan merajalela, serta untuk memotivasi para pemilik tekad dan pembaharu dalam meniti jalan terang yang dipimpin olehnya. Hikmah ini menuntut ketidakjelasan agar senantiasa dinantikan di setiap masa.
Ketahuilah!
{(Catatan-387): Persoalan ketiga dari risalah buah-kilau kesebelas-menjelaskan hal tersebut.}
Wahai muslim baik tampilan maupun namanya, perumpamaanmu dalam mengikuti sikap orang kafir yang bodoh dan menentang hukum Islam seperti seseorang dari satu keluarga yang melihat musuh dari keluarga lain. Musuh ini mencela keluarga pertama serta menipu pemimpinnya dan menghinakan kebiasaan-kebiasaannya dengan bersandar kepada keluarganya sekaligus memuji berbagai kehebatannya. Orang malang tadi mengira kalau ia mencela keluarganya sendiri dan menghinakan berbagai kebiasaannya ia akan menjadi seperti musuh tadi. Ia tidak sadar bahwa dengan membalasnya ia akan menjadi gila dan berani atau hina di mana ia mematahkan punggungnya sehingga menjadi yatim yang terusir.
Tidakkah engkau melihat bagaimana orang Eropa mengingkari Muhammad saw, namun menghibur diri dengan agama Nasrani yang banyak dimanipulasi dan dengan peradaban mereka yang telah bercampur dengan tradisi mereka. Dengan demikian, dalam jiwanya masih terdapat sejumlah perilaku baik dari sisi duniawi dan sejumlah tekad yang kuat untuk kehidupan dunianya. Dengan sikapnya itu ia tidak melihat kegelapan jiwanya dan keyatiman kalbunya.
Sementara engkau wahai orang murtad. Jika engkau mengingkari Muhammad saw dan peninggalannya engkau tidak akan bisa menerima seorang nabipun. Bahkan, engkah tidak dapat menerima Tuhan dan sedikitpun dari kesempurnaan hakiki-Nya. Lihatlah hebatnya penghancuran dalam jiwamu. Perhatikan
pekatnya kegelapan dalam hatimu serta keyatiman dan rasa putus asa dalam kalbumu. Sebentar lagi buruknya batinmu akan meresap masuk ke dalam lahiriahmu sehingga kebaikan dan keindahan murtadmu akan menjadi lebih buruk dari orang kafir yang paling buruk. Orang murtad terhalang dari dua kehidupan; tidak seperti orang kafir. Pasalnya, orang kafir memiliki hak hidup selama tidak memerangi.
Ketahuilah!
{(Catatan-388): Engkau bisa melihat penjelasannya pada kata keempat belas.}
Wahai yang dadanya sempit dan akal pikirnya tidak bisa menjangkau keagungan sejumlah persoalan hakikat Alquran seperti:
Dia menciptakan langit dan bumi dalam enam hari.
{(Catatan-389): Q.S. Yunus: 3.}
Kejadian kiamat itu hanyalah seperti sekejap mata.
{(Catatan-390): Q.S. an-Nahl: 77.}
Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja.
{(Catatan-391): Q.S. Luqman: 28.}
Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusan masing-masing).
{(Catatan-392): Q.S. az-Zumar: 68.}
Pada hari ketika Kami melipat langit sebagaimana melipat lembaran buku.
{(Catatan-393): Q.S. al-Anbiya: 104.}
Kitab alam yang terlihat lewat tanda0tanda kebesaran-Nya menjelaskan ayat-ayat Alquran di atas. Ia mendekatkan kepada pemahamanmu dengan memperlihatkan banyak hal yang serupa dengannya yang terlihat oleh mata dalam silih bergantinya siang dan malam serta dalam peralihan musim dan masa.
Jika engkau menginginkan buktinya, bukalah perbendaharaan ayat yang berbunyi, "Lihatlah jejak rahmat Allah bagaimana Dia menghidupkan bumi setelah sebelumnya mati. Sesungguhnya Dia Maha Menghidupkan yang mati."
{(Catatan-394): Q.S. ar-Rum: 50.}
Dari sana engkau bisa melihat dengan matamu
berbagai persoalan besar yang tak terhingga sebagai bandingan dari apa yang sulit kau pahami.
Misalnya, pada kebangkitan musim semi engkau bisa menyaksikan proses menghidupkan ribuan alam dari berbagai jenis spesies tumbuhan dan hewan yang telah mati di kiamat musim gugur. Engkau bisa menciptakan proses penghadiran masing-masingnya dengan tatanan khusus dan neraca tertentu selama beberapa hari. Masing-masing dari sebagian besar alam tersebut memiliki ukuran di mana sebagian besar permukaan bumi dihias seperti hijab mini. Demikianlah sejumlah bukti yang tak terhingga yang terlihat dan benar.
Di antara alam yang tak terhingga itu, perhatikan dunia pohon. Di antara jenisnya yang tak terhingga perhatikan pohon apel. Di antara bagian-bagiannya yang tak terhingga perhatikan pohon ini agar engkau bisa melihat tiga mahsyar dan kebangkitan yang saling bergantian. Yaitu dengan penyebaran daun-daunnya yang tertata, pengumpulan bunga-bunganya yang indah dan rapi, serta proses menghidupkan buahnya yang nikmat. Siapa yang melakukan semua perbuatan ini di permukaan bumi dan menuliskan lewat pembalikan musim dingin ribuan halaman seperti luasnya halaman bumi. Dia menginformasikan tentang dirinya bahwa Dia menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan seterusnya.
Ketahuilah!
{(Catatan-395): Persoalan kedelapan dari risalah buah memuat penjelasan penting tentang hal ini.}
Setiap orang memiliki hubungan cinta dan kasih sayang dengan para kerabatnya. Selanjutnya dengan anggota keluarganya, dengan orang-orang yang seagama, dengan orang-orang yang sekelompok, dengan sesama manusia, serta dengan sejumlah entitas. Ia bisa merasa sakit dengan musibah yang menimpa mereka dan merasa senang dengan kebahagiaan mereka meski tidak disadari. Terutama dengan orang yang ia cintai lantaran kesempurnaanya di antara para nabi, wali, dan orang-orang bertakwa. Banyak orang, terutama seorang ibu rela berkorban dan rela menaggalkan kesenangannya hanya untuk
menjaga satu hubungan dan untuk seseorang di antara sekian banyak yang ia cintai. Orang lalai yang mengendalikan diri dan orang-orang yang ia cintai, di saat lalai, diuji dengan memikul sejumlah penderitaan yang tak terkira dari mereka di samping penderitaannya sendiri meski dirinya yang sedang mabuk ini tidak merasakan ketersiksaan kalbu dan jiwanya. Andaikan orang lalai ini mendapatkan kesenangan misalnya, ia laksana kunang-kunang yang terang di waktu malam di mana ia memiliki sekilas cahaya, namun tetap saja kegelapan menyelimuti seluruh sisi dan apa yang dicintainya. Namun, ketika kelalaian tadi lenyap lalu kerajaan ini dikembalikan kepada Pemiliknya hakiki, hatinya terbuka dan tembus menuju kilau mentari abadi. Ia melihat bahwa rasa cinta yang tersebar pada banyak hal yang ia cinta adalah miliki Zat Yang Mahaesa yang mencukupi dari semua, melupakan terhadap semua, di mana semuanya tidak cukup untuk menggantikan-Nya. Andaikan mukmin yang yakin ini masuk ke dalam kondisi sulit misalnya, dengan ijin Allah ia bisa mendapatkan sorga ruhani dengan tetap merasa senang lewat kesadaran bahwa semua yang ia cinta tak akan berpisah dan mendapatkan kebahagiaan abadi.
Wahai Said yang lalai, tinggalkan dirimu dan ilusi kepemilikanmu, pasti engkau menggapai keselamatan dan kebahagiaan yang didapatkan oleh semua kekasihmu ketika kau serahkan mereka kepada Pemilik mereka Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.
Ketahuilah!
{(Catatan-396): Risalah takdir (kata kedua puluh satu) memuat penjelasan yang memadai tentangnya.}
Segala sesuatu dicipta oleh-Nya. Hanya saja, kejahatan, keburukan, kekurangan, dan aib adalah akibat dari sejumlah faktor dan potensi makhluk. Sang Pencipta Yang Maha Dermawan mengabulkan semua permintaan makhluk yang terucap dengan lisan kecenderungannya. Kebaikan kembali kepada-Nya lewat dua sisi: dengan penciptaan dan tuntutan. Adapun keburukan dan kekurangan kembali kepada makluk
3529
tanpa diminta. Maka, segala puji senantiasa melekat pada-Nya. Pasalnya, permintaan dalam hal kebaikan sebagai jawaban dari-Nya dan dari nama-Nya. Semua tasbih adalah milik-Nya. Sebab, permintaan keburukan dan kejahatan berasal dari makhluk, sementara jawabannya yang berisi banyak kebaikan sebagai akibat dari wujud keburukan tadi berasal dari-Nya. "Kebaikan yang kau dapat berasal dari Allah, sementara keburukan yang kau dapat berasal dari dirimu."
{(Catatan-397): Q.S. an-Nisa: 79.}
Ketahuilah! Berbagai jenis ciptaan di alam, terutama aneka tumbuhan dan hewan yang terdapat di muka bumi ibarat lapisan yang terhampar di mana ia saling bertumpuk antara yang satu dengan yang lain. Ia juga ibarat sejumlah baju yang saling tersusun dan bercampur yang dipakai oleh bumi atau alam, Namun, di antaranya ada yang lebih tipis, lebih pendek, ada yang terpotong, ada yang rusak di musim gugur, serta ada yang baru di musim semi. Semuanya menjadi satu untaian yang tersusun rapi. Keterpaduan spesies, kerjasama di antara mereka, dan keterkaitan antar bagiannya dengan sangat baik menunjukkan bahwa:
Semua merupakan untaian Zat Yang Mahaesa dan pelayan Tuan yang satu. Untaian setiap bagian darinya dengan satu rangkaian khusus tanpa berbaur, dengan lekukan istimewa tanpa ada cacat, dengan satu penyatuan tertentu dalam sejumlah lapisan yang saling berpadu tanpa ada kerancuan menjadi saksi yang meyakinkan bahwa ia merupakan kreasi zat yang qudrat dan hikmah-Nya tidak terhingga.
Kerapian dekorasi yang terlihat pada semua hal yang berbeda menjadi saksi bahwa Zat yang menghias istana alam dengan hiasan ragam spesies adalah Zat yang menciptakan semua kebutuhan, landasan, dan bagian-bagian-Nya.
Penghiasan dalam kreasi Tuhan termasuk maksud terpenting yang memperkenalkan kepada Sang Pencipta. Ia termasuk cermin kasih dan pengenalan yang paling jelas dan tanda cinta yang paling lembut.
Engkau bisa melihat di antara contoh-contoh yang tak terhingga kepada kesatuan berikut: yaitu bunga
matahari yang tertutup di waktu malam dan tersenyum di siang hari, yang demikian segar di awal musim semi hingga penghujung musim gugur. Sang Pencipta menjadikannya sebagai tempat yang halus dan bersih bagi sejumlah hewan kecil yang berkeliling bertasbih laksana satu taman, istana, atau negeri baginya.
Mahasuci Zat yang kelembutan-Nya terlihat pada segala sesuatu, memperlihatkan qudrat-Nya kepada semua makhluk, memperkenalkan diri kepada hamba-Nya lewat penghiasan ciptaan-Nya. Allah Swt, tiada Tuhan selain Dia.
Ucapan-Nya benar dan seluruh kerajaan ini adalah milik-Nya.
{(Catatan-398): Q.S. al-An'ām: 73.}
Dia tidak ditanya mengenai apa yang Dia perbuat.
{(Catatan-399): Q.S. al-Anbiya: 23.}
Ketahuilah!
{(Catatan-400): Kata ketujuh belas menjelaskan sisi rahmat Tuhan terkait dengan kematian yang akan dialami seluruh entitas.}
Dia tidak ditanya mengenai apa yang Dia perbuat. Tidak ada hak bagi sesuatu, bagi pengetahuan, dan bagi hikmah apapun untuk mempertanyakan perbuatan-Nya. Pasalnya, Dia berbuat dalam kerajaan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Dia Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Dia mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Ketidaktahuan kita tentang hikmah sesuatu tidak menunjukkan ketiadaannya. Sebab, berbagai bukti hikmah pada sebagian besar menjadi saksi atas keberadaan hikmah yang tidak kita ketahui.
Misalnya, kita merasa sakit dengan kematian makhluk dan kita tidak melihat adanya kebaikan pada usia sejumlah hewan kecil yang demikian singkat. Kita tidak memahami sisi rahmat-Nya terkait dengan kepergian sejumlah makhluk hidup yang ingin hidup di musim dingin. Namun faktanya kepedihan dan keberatan tersebut hanya bersumber dari kebodohan kita terhadap hakikat yang sebenarnya. Pasalnya, makhluk hidup manapun iabarat sekelompok pegawai dan hamba yang diperintah
untuk memenuhi sejumlah tugas dan kewajiban hidup di mana sejumlah tugas tersebut menuliskan tasbih dan tahmid sesuai dengan perhitungan Sang Pencipta kematian dan kehidupan dan sesuai dengan nama-Nya. Hak-hak dan tujuan hidup kembali kepada Allah Swt. Cukup satu waktu untuk menyaksikannya. Bahkan hal itu cukup dengan satu niat yang ada sebagaimana yang terdapat pada niat benih dan biji. Kematian tidak lain merupakan bentuk pembebasan, ijin, dan undangan kehadiran. Hal ini sebagaimana firman Allah, "Kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan."
{(Catatan-401): Q.S. al-An'am: 38.}
Di antara bentuk kesempurnaan rahmat-Nya, Dia tidak membiarkan makhluk hidup terus bertahan hingga usia rentanya. Dia tidak membiarkan mereka berada dalam usia yang sulit. Sama seperti membebaskan para pecinta bunga dan para penikmat sayuran dari tugas yang menjadi berat setelah sebelumnya nikmat. Sang Pencipta mempergunakan mereka dan Sang Majikan mempekerjakan mereka pada rentang waktu kerinduan mereka sesuai dengan garis-garis kehidupan dan kemudahan dalam memikul beban hidup. Ketika garis-garis kehidupan sudah mulai gelap pada wajah mereka lantaran masa tua dan musim dingin serta kondisinya yang mulai dominan seiring perubahan kondisi dan padamnya rasa rindu, maka rahmat Tuhan menganugerahkan pembebasan tugas kepada mereka. Lalu didatangkanlah makhluk seperti mereka yang dirangkai dengan cetakan mereka guna bertasbih kepada-Nya. Mereka mulai melaksanakan tugas ketika para pendahulu mereka telah selesai bertugas.
Wahai yang lalai, yang berkelakuan seperti firaun, yang menduga bahwa engkau pemilik diri dan hidupmu serta mengira bahwa kebahagiaanmu terletak pada keabadian hidup yang dihiasi dengan kesenangan. Engkau keliru, salah, rancu, dan berdosa. Engkau menganalogikan hewan yang diberi anugerah, diperintah, dan senang dengan dirimu yang lupa kepada Pemiliknya. Karenanya tampak olehmu ratapan wujud kasih sayang yang bersifat umum dalam berbagai urusan serta ungkapan duka cita.
Janganlah engkau merasa sakit karena derita mereka agar rasa sakit tersebut menjadi satu bentuk kasih sayang yang terpuji. Namun, hendaknya engkau merasa sakit atas dirimu yang diasumsikan dalam posisi mereka.
Lalu, penguasaan
{(Catatan-402): Bagian kedua dari kata kedelapan belas menjelaskan hikmah di baliknya.}
sebagian hewan atas sebagian yang lain dimaksudkan agar yang lemah selalu berjaga-jaga, waspada, mempergunakan semua perangkatnya, serta mengeluarkan semua potensi kekuatannya, dan seterusnya.
Karena itu, timbanglah antara kemampuan dan kebuasaan yang ada, pasti engkau dapat melihat hikmahnya secara jelas dan terang.
Ketahuilah!
{(Catatan-403): Engkau bisa merujuk ke kata kedua puluh empat, dahan kedua.}
Rahasia perbedaan hukum para wali terkait dengan apa yang mereka saksikan di mana dalam hal prinsip mereka sejalan, serta rahasia mengapa para nabi terdahulu mengemukakan secara umum lalu para wali yang arif memberikan penjelasan yang tidak detil mengenai berbagai persoalan rukun iman di luar tauhid, di mana sebagian mereka mengetengahkan masalah kebangkitan dan yang lainnya secara global, serta sebagian lagi menguraikan hal-hal di luar makrifatullah secara tidak jelas, padahal Alquran dan Nabi saw menerangkan setiap tujuan keimanan dengan keterangan yang sangat jelas, hikmah dari semua itu adalah, keberadaan hijab sebagai perantara, perbedaan potensi, dan keragaman wujud manifestasi nama-Nya dalam hal-hal yang bersifat keseluruhan, parsial, bayangan, dan asal.
Sebagai contoh, mentari memiliki manifestasi yang bersifat komprehensif dengan ijin Penciptanya pada sejumlah bunga. Kemudian ia memiliki manifestasi yang lebih khusus pada bagian demi bagian darinya. Lalu, ia memiliki manifestasi parsial pada bunga demi bunganya.
Dengan ijin Penciptanya, ia juga memiliki penyinaran dan limpahan yang bersifat komprehensif kepada sejumlah planet dan bulan, sementara bulan itu sendiri melimpahkan cahaya bayangan yang berasal darinya kepada lautan, butir, dan tetesannya, serta kepada tanah, udara, dan partikel-partikelnya.
Selain itu, ia memiliki pantulan yang bersih yang bersifat integral sesuai dengan ijin-Nya pada berbagai cermin dan permukaan laut. Ia juga memiliki pantulan parsial dan contoh kecilnya pada butir-butir permukaan laut, tetesan air, resapan udara, dan butiran es.
Kepada setiap bunga, tetes, dan resapan, dalam tiga bentuknya mentari memiliki dua cara:
Pertama, dengan keasliannya tanpa pembatas dan tanpa hijab yang direpsentasikan untuk limpahan kenabian.
Kedua ditengahi oleh pembatas. Berbagai manifestasi dicelup dengan potensi cermin dan tampilan. Hal ini dipresentasikan untuk jalan kewalian.
Maka, bunga, tetesan, dan resapan bisa berkata kepada cara pertama, "Aku adalah cermin mentari alam," sementara kepada cara yang kedua ia berkata, "Aku adalah cermin mentariku atau mentari jenisku," meski mentari dirinya atau jenisnya tidak memadai. Ia berada dalam sempitnya sejumlah dinding pembatas. Seluruh kebutuhan mentari yang mutlak seperti proses mengaitkan planet dengannya, memanaskan bumi, menyinarinya, menggerakkan kehidupan tumbuhan dan yang lain, semua itu dinisbatkan kepada sesuatu yang terikat dan terlihat dari sisi bahwa yang terikat tadi bersifat mutlak. Hanya saja, ketentuan ini hanya bisa dinalar, bukan bukti yang bisa dilihat.
Wahai temanku, anggaplah diri berada dalam posisinya. Jadilah engkau wahai pemilik diri yang berasal dari tanah sebagai bunga yang warnanya mengandung cahaya berisi bayangan mentari. Lalu filosof yang tenggelam dalam dunia sebab menjadi tetes yang mengambil bayangan cahaya mentari dari bulan. Lalu, aku yang berkata, "Tidak ada yang berkuasa di alam kecuali Allah," sebagai embun miskin yang kosong dari semua warna.
Kemudian daya tarik cinta Zat yang dengan kebaikan-Nya kita mendapat cahaya dan menjadi indah, menggerakkan kita untuk berusaha mendekat dan menyaksikan-Nya. Maka, engkau wahai bunga berjalan hingga sampai kepada tingkatan menyeluruh dari jenis bunga-yaitu cermin tebal berisi sejumlah warna bayangan mentari. Engkau tidak terlepas dari adanya perbedaan di antara karakteristik sejumlah warna yang saling
terikat. Ia tidak bebas dari perpecahan lewat tertutupnya mata mentari oleh hijab pembatas dan berbagai gambaran. Terkecuali, jika engkau mengangkat kepala dari kondisi mencintai diri secara berlebih, lalu megalihkan pandangan dari yang tadinya tertipu, bersenang-senang, dan berbangga dengan kebaikan diri menuju mentari di langit. Lalu dengan batin wajahmu yang mengarah ke tanah dengan mengais rezeki yang dikirim dengan cepat kepadamu meski engkau tidak menghadap kepadanya dan tidak mengetahuinya, menghadaplah ke mentari tersebut. Pasalnya, engkau adalah cerminnya. Di samping merupakan tetesan yang berkilau di laut langit, ia juga menjadi cermin bagi kilau dari sinar qudrat "Cahaya hakiki". Meski demikian, engkau tidak bisa melihatnya sebagaimana adanya pada dirinya. Akan tetapi, ia terwarnai oleh warna sifat-sifatmu serta terikat dengan ikatan kecenderunganmu.
Pergilah engkau wahai percikan yang miskin dan lemah dengan menguap menuju udara. Kemudian berubahlah menjadi api. Setelah itu, jadilah cahaya. Naiklah ke salah satu kilau manifestasi cahaya. Di mana saja engkau berada di antara kedudukan tersebut, engkau memiliki celah murni menuju mentari yang dapat dilihat secara meyakinkan meski tidak dengan mata. Engkau juga bisa melihat keterkaitan seluruh kebutuhannya dengannya.
Jika engkau mengerti apa yang terlihat dalam wujud lahiriah adalah manifestasinya bukan aslinya. Karena itu, orang yang sampai dari ketiga jalan di atas berbeda-beda dalam detil-detil penyaksian meski mereka sepakat membenarkan-Nya.
Ketahuilah!
{(Catatan-404): Penjelasan tentang hal ini terdapat dalam kilau ketiga puluh (nama Allah al-Qayyum) dan jendela ketiga puluh satu dari kata ketiga puluh tiga.}
Wahai manusia engkau adalah satu standar dilihat dari lima sisi:
Engkau merupakan indeks menyeluruh bagi berbagai keajaiban jejak manifestasi nama-nama-Nya.
Lewat bagian-bagian sifatmu engkau adalah standar untuk mengenali sifat-sifat-Nya yang komprehensif sekaligus mema-
haminya dengan gambaran mengenai batas-batas yang bersifat ilusi.
Engkau menjadi neraca bagi tingkat peniadaan sekutu di jagad raya di mana jika engkau menerima bahwa totalitas dirimu merupakan milik-Nya, pastilah engkau beriman bahwa tiada sekutu bagi-Nya di alam ini. Apabila engkau memberikan seperti dirimu kepada-Nya, lalu sepertiga lagi untuk sebab, dan sepertiga sisanya kepada dirimu, berarti pembagian tersebut berlaku pada seluruh entitas. Jika engkau memberikan kepelilikan satu dirham dari kerajaan-Nya kepada egomu berarti engkau harus membenarkan kepemilikan setiap entitas dan setiap sebab terhadap satu dirham sehingga engkau membagi harta milik Allah kepada selain-Nya.
Engkau juga merupakan peta bagi ilmu alam dan pengetahuan tentang jagad raya. Jika egomu terbuka, tersingkaplah bagimu alam ini. Namun, jika engkau dibuat lupa kepada dirimu maka tertutuplah pengetahuan tersebut bagimu. Ia berbalik menjadi kebodohan komplek dan ocehan tak bermakna.
Selanjutnya engkau adalah hazanah kunci misteri kekayaan yang tersimpan pada nama-nama ilahi. Jika engkau melihat kelemahan tak terhingga pada dirimu engkau akan menyaksikan qudrat tak terkita milik Penciptamu. Apabila engkau menyaksikan kepapahan tak terhingga pada dirimu, engkau bisa melihat kekayaan tak berujung milik Pemberi rezeki padamu. Demikianlah, seakan-akan manifestasi nama-Nya merupakan rangkaian huruf bercahaya yang tertulis dalam gelapnya kondisimu. Maka, seberapa besar tingkat kegelapan itu terlihat, sebesar itu pula cahaya penulisan tampak.
Pada sisi pertama engkau adalah pemikul, penerima, dan wujud lahiri. Engkau tidak memiliki bagian apapun dari dirimu. Namun, engkau adalah untaian bait yang tertata untuk lisan kun fayakun.
Adapun pada sisi yang kelima engkau alah pekerja, pelaku, dan pemantul-lewat ikatan kebalikan-serta pemohon lewat berbagai lisan kecenderungan, kebutuhan, perbuatan, dan ucapan. Bagimu segala dosa, kekurangan, kegelapan, dan kepapahan yang berasal dari dirimu. Sementara, bagi Tuhan semua
kebaikan, kesempurnaan, cahaya, dan limpahan anugerah. Jadi, yang pertama memperlihatkan asal, sementara yang kelima memperlihatkan tingkatan nama yang tampak. Di samping itu, kebaikan tanpa campuran keburukan hanya satu. Dengannya, sejumlah tingkat dan derajat kebaikan berbeda-beda.
Allah telah membeli dari orang-orang beriman diri dan harta mereka untuk ditukar dengan sorga.
{(Catatan-405): Q.S. at-Taubah: 111.}
Ketahuilah wahai manusia, "Apa yang menyebabkanmu teperdaya sehingga berbuat durhaka kepada Tuhanmu Yang Maha Pemurah."
{(Catatan-406): Q.S. al-Infithar: 6.}
Yaitu Zat yang telah membeli darimu milik-Nya yang berada padamu sebagai amanah guna Dia pelihara untukmu agar tidak hilang. Juga agar nilainya naik dari satu derajat hingga mencapai ribuan. Sebagai gantinya Dia berikan padamu harga yang sangat besar. Lalu, Dia biarkan ia berada di tanganmu agar bisa kau manfaatkan. Dia pula yang menggantikanmu dalam memikul beban yang ada.
Engkau wahai yang lalai tidak boleh menjualnya. Jika tidak, berarti engkau telah berkhianat terhadap amanah-Nya, menjatuhkan nilainya dari bintang sampai ke tanah, lalu ia lenyap tanpa guna. Dengan begitu, engkau tidak mendapat harga yang sangat besar sementara beban serta dosanya berada dalam tanggunganmu. Akhirnya, punggungmu berat oleh beban dan derita dalam menjaganya. Maka, ini merupakan bentuk kerugian dalam kerugian, dalam kerugian, dan dalam kerugian.
Dalam hal ini engkau seperti orang malang yang berada di puncak gunung. Gempa menimpa gunung tersebut hingga membuat orang-orang yang sepertinya jatuh ke dalam lembah sehingga semua yang berada di tangan mereka rusak. Ia menyaksikan kondisi ini dalam kondisi ia sendiri berada di tepi jurang yang runtuh yang nyaris roboh bersamanya. Sementara, di tangannya masih ada amanah berupa mesin yang melekat dan menakjubkan. Ia berisi neraca, perangkat, dan buah yang jumlahnya tak terhingga.
Maka, dengan murah hati dan kasih sayang Pemilik mesin tersebut berkata, "Aku ingin membeli harta-Ku yang berada di tanganmu di mana sudah seperti hartamu sendiri agar tidak hancur sia-sia ketika engkau jatuh. Aku akan menjaga dan menyerahkannya kepadamu ketika engkau keluar dari lembah dalam wujud yang kekal, tanpa pernah binasa selamanya. Di sana engkau bisa mempergunakan perangkatnya dan mempergunakan timbangannya dalam kebunku yang luas dan simpanan kekayaanku. Dengan demikian, nilainya meningkat dan engkau dapat mengambil berbagai imbalan dan buahnya. Jika tidak, ia akan seperti perangkat biasa yang nilainya jatuh dan terpakai dalam rongga perutmu yang sempit. Mana bisa perut dan syahwatmu diukur dengan kebun dan perbendaharaan kekayaan ilahi. Bagaimana mungkin ronggamu memadai bagi penggunaan mesin yang dunia saja tidak mampu menampungnya. Karena itu, ini Kuberikan harga yang tinggi s ebagai gantinya. Aku tidak akan mengeluarkannya dari genggamanmu selama engkau berada di gunung tersebut. Namun, Aku akan mengambil rangkaiannya yang paling tinggi agar terasa ringan bebannya olehmu dan agar engkau mampu memikulnya. Jika engkau mau menjualnya, pergunakanlah ia dengan nama-Ku dan untuk-Ku sebagai pasukan yang melakukan apa yang berada di tangan-Nya atas demi untuk Tuhan tanpa takut kepada apa yang akan datang dan sedih dengan masa lalu. Namun, jika engkau tidak mau menjual sesuatu yang memberikan laba dilihat dari lima sisi, maka engkau akan merugi dari lima sisi. Berarti engkau telah mengkhianati amanah yang ada serta bertanggung jawab atas kehilangannya.
Pelajaran dan pengajaran Alquran untuk manusia adalah "jual-beli". Dia berkata, "Juallah, pasti engkau beruntung!" "Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya."
{(Catatan-407): Q.S. al-Ankabut: 64.}
Sementara pelajaran filsafat peradaban materialis berkata, "Milikilah!, "Yang ada hanyalah kehidupan dunia."
{(Catatan-408): Q.S. al-An'ām: 29.}
Perhatikan perbedaan antara petunjuk yang bersinar dan kecerdasan yang menipu
Ketahuilah!
{(Catatan-409): Berbagai pembahasan yang terdapat di sini tersebar dalam sejumlah risalah yang berbeda-beda dari al-Matsnawi al-Arabi an-Nuri.}
Allah Swt. sangat dekat, sementara engkau sangat jauh. Sebagaimana bersama-Mu, Dia juga bersama seluruh orang dari spesiesmu. Sebagaimana bersama spesiesmu, Dia juga bersama semua orang dari jenismu. Sebagaimana bersama jenismu, Dia juga bersama seluruh bagian makhluk hidup. Sebagaimana bersama seluruh makhluk hidup, Dia juga bersama seluruh tingkatan dan wilayah entitas. Yakni dari satu tingkatan menuju tingkatan seluruh entitas, menuju tingkatan partikel, eter, ruhaniyat, maknawiyat, hingga kepada sesuatu yang tak dapat dijangkau oleh ilusi.
Jika engkau ingin mendekat dari sisimu, engkau harus berjalan dari dirimu dari sisi parsial menuju tingkat keseluruhan spesies. Lalu naik dengan totalitas ruh menuju tingkatan jenis. Demikianlah hingga menempuh sekitar tujuh puluh ribu hijab. Pasalnya, sebagaimana berada di sisi-Mu, Dia juga berada di sisi segala sesuatu. Engkau hanya bisa bersama-Nya-dilihat dari sisi-Mu-jika Engkau berada di sisi segala sesuatu. Kemudian setelah itu engkau dihadapkan pada jarak tak terhingga antara yang bersifat mungkin dan wajib.
Bagaimana sampai kepada Zat yang jauh dalam kedekatan-Nya yang dibatasi oleh ribuan paviliun? Lalu ia juga dipisah oleh sejumlah kematian. Jika demikian, buatlah jauhmu menjadi fana agar engkau tetap bersama-Nya dan dekat dengan kedekatan-Nya.
Ketahuilah!
{(Catatan-410): Bahasan dari halaman ini diterbitkan dalam al-Matsnawi al-Arabiy an-Nuriy.}
Ketahuilah! Allah lebih dekat daripada kita dari diri kita, sementara kita sangat jauh tak terhingga. Di antara bukti kedekatan-Nya adalah tindakan dan kekuasaan-Nya. Jika kita mencari-Nya ketika Dia bertindak kita tidak menemukan-Nya kecuali pada segala sesuatu. Apabila dengan naik kita sampai kepada segala sesuatu dengan menjangkau wilayah makhluk yang bersifat mungkin, kita juga tidak menemukan-Nya kecuali dari balik hijab cahaya dalam wilayah wujub yang berupa paviliun
nama, sifat, dan kondisi-Nya yang mulia, agung, dan besar. Adapun jika kita mendekati-Nya lewat sisi kedekatan-Nya dengan meninggalkan diri kita, maka urusannya insya Allah menjadi mudah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
Ketahuilah!
{(Catatan-411): Engkau bisa merujuk ke kata kedua belas (landasan pertama, kedua, dan ketiga).}
Wahai yang ingin mengetahui perbedaan antara hikmah Alquran dan hikmah filsafat. Keduanya seperti Alquran yang ditulis pada huruf-hurufnya dengan berbagai sepuhan dan ukiran yang indah. Sebagiannya dengan emas, sebagian lagi dengan perak, sebagian lagi dengan berlian dan zamrud, lalu sebagian lagi dengan permata dan batu akik. Demikian seterusnya. Dua orang membacanya seraya memberikan pujian. Kemudian mereka berkata, "Marilah kita menulis sebuah buku atas tulisan indah ini." Lalu, masing-masing menuliskan sebuah buku.
Yang pertama adalah orang asing yang tidak memahami satu hurufpun tentang bahasa Arab. Bahkan ia tidak memahami kalau yang dihadapannya merupakan sebuah kitab. Namun, ia memiliki kemampuan arsitektur, seni rupa, pengetahuan tentang permata berikut karakteristiknya. Ia menulis sebuah buku besar yang membahas tentang ukiran huruf berikut kesesuaiannya, permatanya, karakteristiknya, serta posisi dan pengenalan tentangnya.
Sementara, yang satunya lagi ketika melihatnya ia mengetahui kalau hal itu merupakan sebuah kitab yang jelas dan Alquran yang penuh hikmah. Karena itu, ia tidak sibuk dengan ukiran huruf-hurufnya yang indah. Namun, ia sibuk dengan sesuatu yang lebih tinggi, lebih berharga, lebih halus, lebih mulia, lebih indah, dan jauh lebih baik daripada apa yang menjadi fokus perhatian temannya. Yaitu penjelasan mengenai permata maknanya serta cahaya rahasianya. Iapun menulis tafsir mengenai hakikat ayat-ayatnya.
Wahai yang memiliki akal, mana di antara dua buku tersebut yang disebut sebagai kitab hikmah Alquran? Jika engkau
memahami perumpamaan yang ada, perhatikan sisi hakikatnya sebagai berikut: Alquran adalah alam ini. Adapun kedua orang di atas adalah buku filsafat berikut para ahli hikmah dan Alquran berikut murid-muridnya.
Siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Dia cukup baginya.
{(Catatan-412): Q.S. ath-Thalaq: 3.}
Ketahuilah wahai Said,
{(Catatan-413): Kata kedua puluh tiga berisi penjelasan yang memadai.}
kebahagiaan terletak pada sikap tawakkal. Karena itu, bertawakkallah kepada Allah agar engkau bisa beristirahat di dunia dan mendapatkan manfaat di akhirat.
Orang yang bertawakkal dan tidak bertawakkal seperti dua orang yang memikul beban berat di atas punggung dan kepala mereka. Keduanya masuk ke dalam sebuah kapal laut. Yang satu meletakkan bebannya di kapal tadi lalu duduk di atas barangnya seraya beristirahat.
Sementara yang lain karena sangat bodoh tidak meletakkan beban yang dipikulnya. Ketika ada yang menegur orang tersebut, "Letakkan bebanmu yang berat di atas kapal!" ia menjawab, "Saya kuat." "Kapal yang mengangkutmu lebih kuat dan lebih aman. Di samping itu, punggung dan kepalamu-yang sangat lemah-tak mampu memikul beban yang sangat berat. Bahkan, engkau akan selamat jika meletakkan beban tersebut. Jika pemilik kapal melihatmu dalam kondisi demikian, bisa jadi ia berkata, 'Ia orang gila. Usirlah!' atau 'Ia tidak percaya dengan kapal kita dan meremehkan kita. Karena itu, tahanlah!' Bahkan, engkau akan menjadi bahan ejekan orang. Ketika kekuatanmu tidak cukup untuk terus memikul, engkau terpaksa bermanis muka yang mengarah kepada sikap riya, sombong yang mengarah kepada kelemahan, lupa diri yang mengarah kepada ketidakberdayaan, sehingga menjadi kondisimu ditertawakan orang-orang." Orang itupun memahami kekeliruannya. Lalu meletakkan bebannya dan duduk di atasnya. Ia bernafas dan beristirahat seraya berkata, "Semoga Allah memberikan balasan kebaikan. Engkau telah menunjukkan diriku kepada kelapangan, keselamatan, dan ketenangan.
Catatan Kelima
Ketahuilah, penutup sebagian besar ayat biasanya berupa intisari yang berisi nama-nama-Nya, berisi perintah untuk berpikir dan merenungkan, berisi maksud-maksud Alquran yang bersifat komprehensif, yang merupakan percikan cahaya hikmah-Nya yang tinggi atau percikan petunjuk ilahi. Pasalnya, Alquran yang penuh hikmah dengan gaya tuturnya yang merupakan mukjizat menjelaskan berbagai jejak dan perbuatan Sang Pencipta untuk direnungkan. Lalu dari sana disebutkan nama-nama-Nya, penetapan tentang pengumpulan manusia, atau persoalan tauhid. Misalnya:
Dia menciptakan untuk kalian semua yang terdapat di bumi. Lalu Dia menuju ke langit dan menciptakannya dalam tujuh lapis. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
{(Catatan-414): Q.S. al-Baqarah: 29.}
Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan? Gunung-gunung sebagai pasak? Kami jadikan kamu berpasang-pasangan. Kami jadikan tidurmu untuk istirahat. Kami jadikan malam sebagai pakaian. Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan. Kami bangun di atasmu tujuh buah (langit) yang kokoh. Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari) . Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, serta kebun-kebun yang lebat. Sesungguhnya hari keputusan adalah satu waktu yang ditetapkan.
{(Catatan-415): Q.S. an-Naba: 6-17.}
Dia juga menyebarkan untuk manusia berbagai rangkaian kreasi-Nya. Lalu hal tersebut ditutup dengan nama-nama-Nya atau arahan untuk berpikir. Misalnya:
Katakanlah, "Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi?! Atau, siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan?! Siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup?! Siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka,
mereka akan menjawab: "Allah". Katakanlah, "Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?" (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya.
{(Catatan-416): Q.S. Yunus: 31-32.}
Dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya, lalu Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, serta pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh semua tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.
{(Catatan-417): Q.S. al-Baqarah: 164.}
Dia menjelaskan berbagai perbuatan-Nya lalu merangkumnya dengan nama dan sifat-sifat-Nya. Misalnya:
Demikianlah Tuhanmu memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebagian dari ta'bir mimpi-mimpi. Lalu Dia sempurnakan nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya'qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Tuhanmu Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.
{(Catatan-418): Q.S. Yusuf: 6.}
Katakanlah, "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tanganmulah segala kebajikan. Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
{(Catatan-419): Q.S. Ali Imran: 26.}
Dia menyusun makhluk dan memperlihatkan tatanan, neraca, dan buahnya. Setelah itu Dia menampakkan padamu nama-nama-Nya yang terwujud padanya seolah-olah makhluk
tersebut merupakan lafal kata-kata serta nama-nama-Nya merupakan maknanya, airnya, benihnya, atau ringkasannya. Sebagai contoh:
Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (yang berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah. Selanjutnya segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging. Segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka, Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.
{(Catatan-420): Q.S. al-Mukminun: 12-14.}
Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Lalu Dia bersemayam di atas 'Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Diciptakan-Nya pula) matahari, bulan, dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, mencipta dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam.
{(Catatan-421): Q.S. al-A'raf: 54.}
Dia menyebutkan bagian-bagian materi yang beradaptasi dan berubah, kemudian merangkumnya dengan nama-nama yang bersifat integral, bercahaya, dan permanen serta dengan kesimpulan yang mendorong untuk berpikir dan mengambil pelajaran. Misalnya:
Dia mengajarkan kepada Adam mama-nama (benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat. Dia berfirman, "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!" Mereka menjawab, "Mahasuci Engkau. Tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Engkaulah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana."
{(Catatan-422): Q.S. al-Baqarah: 31-32.}
Sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari sesuatu yang berada dalam perutnya (yang berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. Dari buah korma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan. Tuhanmu mewahyukan kepada lebah,
"Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia manusia!" Kemudian makanlah dari tiap-tiap buah dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya. Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.
{(Catatan-423): Q.S. an-Nahl: 66-69.}
Dia membentangkan sesuatu yang banyak dan luas lalu meletakkan di atasnya berbagai manifestasi keesaan yang Dia bungkus dengan kaidah umum. Misalnya:
Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. Allah Mahatinggi dan Mahabesar.
{(Catatan-424): Q.S. al-Baqarah: 255.}
Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit. Kemudian dengan air hujan itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan yang menjadi rezki untukmu. Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya. Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dia telah menundukkan bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya). Dia menundukkan bagimu malam dan siang. Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Jika kamu menghitung nikmat Allah, kamu tidak dapat
menghitungnya. Manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).
{(Catatan-425): Q.S. Ibrahim: 32-34.}
Apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata! Lalu ia membuat perumpamaan bagi Kami dengan lupa kepada kejadiannya. Ia berkata, "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?" Katakanlah, "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali pertama. Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk. Yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu." Tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta dan Maha Mengetahui.
{(Catatan-426): Q.S. Yasin: 77-81.}
Apabila matahari digulung.
{(Catatan-427): Q.S. at-Takwir: 1.}
Apabila langit terbelah.
{(Catatan-428): Q.S. al-Infithār: 1.}
Apabila langit pecah.
{(Catatan-429): Q.S. al-Insyiqāq: 1.}
Dalam mashyar musim semi, kita melihat begitu banyak contoh kebangkitan di hari akhir. Misalnya, "Ketika lembaran catatan amal dihamparkan."
{(Catatan-430): Q.S. at-Takwir: 10.}
Kita melihat padanannya. Bahkan padanannya pada penyebaran benih dan biji merupakan lembaran amal induk dan asalnya berikut kronologisnya dalam kebangkitan musim semi.
Dia menyebutkan sejumkah maksud parsial yang kemudian ditegaskan dan direalisasikan dengan nama-nama-Nya sebagai kaidah umum. Misalnya:
Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya dan mengadukan (perihalnya) kepada Allah. Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.
{(Catatan-431): Q.S. al-Mujadilah: 1.}
Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
{(Catatan-432): Q.S. al-Isrā: 1.}
Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan Malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap; masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
{(Catatan-433): Q.S. Fāthir: 1.}
Dia juga kadangkala menyebutkan sejumlah perbuatan makhluk lalu mengancam dan menghibur dengan nama-nama yang mengarah kepada kasih sayang-Nya. Misalnya,
Katakanlah, "Jikalau ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai 'Arasy" Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya. Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya. Tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Dia adalah Maha Penyantun dan Maha Pengampun.
{(Catatan-434): Q.S. al-Isrā: 42-44.}
Bahasan Penting
{(Catatan-435): Landasan keempat dari kata kedua belas dan kata kedua puluh lima (al-Mu'jizat al-Qur'aniyyah) menjelaskan hal ini. Engkau juga bisa melihat al-Mi'raj an-Nabawi.}
Barangkali engkau bertanya-tanya, "Apa sisi keunggulan Alquran atas yang lain, sementara Alquran sendiri berkata, "Katakanlah, 'Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).'"
{(Catatan-436): Q.S. al-kahfi: 109.}
Sebagai jawabannya: Alquran merupakan kalam Allah sebagai Zat Pemelihara semesta alam, dengan perlambang Tuhan semesta alam, dengan nama Pemelihara langit dan bumi, dari sisi rububiyah-Nya yang bersifat mutlak, sisi kasih sayang-Nya yang luas, dari keagungan uluhiyah-Nya, dan dari jangkauan nama-Nya yang paling agung hingga wilayah Arasy-Nya yang paling agung.
Adapun seluruh kalimat ilahi, ada yang dengan kedudukan khusus, alamat khusus, nama parsial, manifestasi parsial, dari sisi rububiyah-Nya yang khusus, kekuasaan-Nya yang spesifik, serta rahmat-Nya yang khusus sebagaimana sebagian besar ilham. Dari rahasia ini, seorang wali bisa berkata, "Kalbuku memberikan informasi dari Tuhanku." Ia tidak berkata, "Dari Tuhan Pemelihara semesta alam."
Ya, Mana mungkin limpahan anugerah yang kau dapat sesuai potensimu dari manifestasi Tuhan pada cermin kalbumu wahai wali bisa dibandingkan dengan limpahan anugerah yang diterima Nabi dari manifestasi Tuhan Pemelihara semesta alam lewat nama-Nya yang agung dalam cermin Arasy yang paling agung yang menjadi induk bagi semua arasy dengan melihat nama-nama-Nya berikut wujud manifestasinya. Juga, mana mungkin limpahan yang kau terima dari mentarimu yang terdapat dalam cerminmu yang kecil dan keruh bisa dibandingkan dengan limpahan yang berasal dari mentari alam pada atap langit? Mana mungkin ucapan raja kepada salah seorang rakyatnya terkait dengan urusan pribadi karena kebutuhan tertentu
lewat teleponnya yang khusus bisa dibandingkan dengan ucapan raja tersebut dengan simbol kekuasaan agung, atas nama khilafah utama, dari sisi kepemilikannya yang tinggi, dengan tujuan memperlihatkan berbagai perintahnya di pojok-pojok kerajaannya dengan perantaraan duta dan orang kepercayaannya?
Dari rahasia agung ini, dapat dipahami mengapa sebagian besar wahyu disampaikan dengan perantaraan malaikat, sementara ilham ilahi tidak dengannya. Juga dari sini dapat dipahami mengapa wali yang paling tinggi tidak bisa mencapai derajat nabi. Dari sini dapat dipahami pula keagungan Alquran berikut kemuliaan kesuciannya dan ketinggian mukjizatnya. Serta dari sini dapat dipahami mengapa harus ada mikraj menuju langit hingga Sidratul Muntaha sampai ke jarak seukuran dua busur guna bermunajat dengan Zat yang lebih dekat kepadanya dari urat nadi, kemudian sesudah itu kembali sekejap mata. Dan masih banyak lagi rahasia lain yang bisa dipahami darinya.
Selanjutnya perkataan ibarat pengetahuan dan kehendak. Ia merupakan sifat azali yang sederhana, yang wujud dan keberadaannya diketahui, namun hakikat dan teknisnya tidak bisa ditangkap. Untaian kata tersebut tidak memiliki ujung.
Mahasuci Engkau. Kami tidak memiliki pengetahuan kecuali yang Kau ajarkan kepada kami. Engkau Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.
{(Catatan-437): Q.S. al-Baqarah: 32.}
Wahai pembaca, bahasan penting ini adalah pelengkap dari tetes keempat dari percikan keempat belas.
Bismillāhirrahmānirrahim
Kepada-Nya kita memohon pertolongan
Bismillah. Ketahuilah!
{(Catatan-438): Kata pertama menjelaskan persoalan ini.}
Segala sesuatu berucap bismillah. Entah dengan lisan ucapannya, keadaannya, atau kecenderungannya. Segala sesuatu, mulai dari partikel hingga mentari, semua dengan kelemahannya memikul tugas menakjubkan yang kekuatannya sendiri tak mampu membawa seperseratus dari tugas tadi. Maka secara aksiomatik dapat dipahami bahwa ia hanya bisa dipikul dengan kekuatan Zat Yang Mahakuat dan Maha Perkasa. Ia hanya dapat dijalankan dengan nama Yang Mahakuasa dan Maha Bijaksana.
Selain itu, dengan bodoh, punggung dan kepalanya memikul berbagai tujuan yang seimbang dan buah yang tertata yang memberikan manfaat secara umum. Padahal, yang kembali kepada dirinya hanya sepersekian saja. Karena itu, dari sini dapat dipahami bahwa berbagai tujuan penuh hikmah itu hanya bisa dipikul dengan nama Yang Mahaagung dan Maha Bijaksana. Ia diantarkan kepada makhluk hidup dengan nama Yang Maha Pengasih dan Penyayang serta sesuai perhitungan Zat Yang Maha Mengetahui dan Maha Pemurah.
Engkau bisa melihat benih dan biji berikut pohon dan bulir yang ia pikul. Perhatikan pula pohon dan buah, hewan dan binatang-binatang kecil berikut tugas mereka yang menakjubkan. Orang yang memiliki daya rasa sekecil apapun akan memahami bahwa jika seseorang menggiring semua penduduk negeri kepada tempat yang jauh tanpa rida mereka, serta kepada berbagai tugas dan berbagai pengabdian, tentu semua itu hanya bisa terwujud dengan kekuataan rajanya. Ia hanya bisa bekerja atas namanya. Maka, dapat dipahami pula bahwa seluruh entitas yang
lemah dan bodoh tidak mungkin bisa memikul berbagai tugas besar yang begitu rapi kecuali dengan nama Zat Yang Mahakuasa dan Maha Mengetahui, serta sesuai dengan kehendak Zat Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. Buah ini kita dapat dari kalimat bismillāhirrahmānirrahīm. Yang menjadi tugas dan tujuannya adalah kenikmatan khusus yang diberikan oleh rahmat Tuhan yang menyeluruh kepada setiap individu dalam pengabdian yang bersifat khusus pula. Hal ini sama seperti nikmatnya cinta dalam kasih sayang orang tua, manisnya aktivitas dalam kesiapan lebah melaksanakan wahyu, rasa nikmat di saat makan, serta kelapangan ketika keluar dari kekuatan menuju aksi. Apa yang terdapat pada kekuatan laksana kondisi terkekang dan terikat, sementara apa yang keluar menuju aksi dan perbuatan ibarat bernafas dengan lega.
Sang Pencipta Yang Mahabijak dan Raja Yang Maha Pemurah menjadi kenikmatan parsial tadi sebagai upah dari pengabdiannya, serta indek bagi teknis pelaksanaan tugasnya, dan sumber dari gerakannya.
Wahai manusia yang memikul amanah besar!
Bagaimana mungkin engkau tidak mematuhi aturan yang menjangkau segala sesuatu mulai dari arasy sampai bumi. Bagaimana engkau terus membangkang dalam menghadapi ketentuan Zat yang menundukkan mentari dan bulan serta mempekerjakan bintang dan partikel.
Ketahuilah bahwa perbedaan antara jalan tauhid dan atheis sama seperti perbedaan antara sorga dan neraka, serta antara yang pasti dan mustahil. Engkau bisa melihat kepada perbandingan antara dua jalan tersebut sebagai berikut:
Dalam tauhid, segala sesuatu yang tak terbatas dinisbatkan kepada Yang Mahaesa sehingga menjadi ringan beban dan biayanya sampai-sampai menjadi sama antara mentarid an partikel, yang sedikit dan banyak bagi qudrat-Nya.
Dalam segala sesuatu tauhid memperlihatkan berbagai tujuan penting dilihat dari sudut pandangnya kepada Sang Pencipta. Di antara tujuan tersebut adalah bagaimana sesuatu memperlihatkan nama-nama Penciptanya seolah-olah ia merupakan satu kata yang mencakup
seluruh rumus nama-Nya sehingga menunjukkan kepadanya.
Adapun tujuan yang diketahui di kalangan orang-orang yang lalai dilihat dari sisi manfaat yang didapat berupa makan dan yang lain. Karena itu, ia demikian sedikit, terbatas, hina, dan kecil sehingga tidak bisa menjadi tujuan sempurna bagi penciptaan sesuatu. Namun, ia menjadi media bagi salah satu tujuannya.
Pandangan atheis menisbatkan yang satu kepada banyak tak terhingga. Dengan kata lain, ia menyandarkan segala sesuatu kepada berbagai unsur dan alam yang lemah dan mati serta kepada kekuatan dan hukum yang buta dan tuli. Karenanya, beban yang ada menjadi berkali-kali lipat lebih berat di mana beban individu menyamai beban keseluruhan spesies. Bahkan, beban satu entitas menyamai beban semuanya.
Atheis tidak melihat tujuan sesuatu kecuali sebatas yang kembali kepada manusia yang terkait dengan bagian nafsu hewaninya atau kepada hal sama yang terkait dengan bagian kehidupan duniawinya.
Kondisi ahli tauhid dan atheis sama seperti dua orang yang melihat benih kurma lalu memberikan pengenalan tentangnya.
Yang pertama berkata, "Ia merupakan sebuah indeks dari berbagai indeks tak terhingga yang disebut dengan benih. Di antara tujuan benih tersebut adalah identifikasi maknawi terhadap sebuah pohon, pengenalan tentang sejarah hidupnya, dan peta eksistensinya agar ia menjadi mesin yang merangkai pohon kurma seperti aslinya."
Selanjutnya, yang kedua berkata, "Tidak. Pohon ini dengan seluruh bagian dan daunnya berkumpul pada benih tersebut. Lalu benih tersebut menghadirkannya. Ia mengumpulkan semua perangkat kurma yang kuat dan menyiapkannya. Tidak ada tujuan dari pohon tersebut kecuali benih tadi.
Wahai yang memiliki perasaan, mungkinkah dalam menyaksikan kemudahan mutlak, dalam kedermawanan mutlak, dalam kemurahan mutlak berikut hikmah umum dalam keteraturan mutlak ini, penciptaan sesuatu seperti delima misalnya dinisbatkan kepada sebab-sebab yang mati, namun bisa menghasilkan perangkat berbagai hal untuk membuat sesuatu yang
menjadi miniatur dari banyak hal? Lalu, mungkinkah delima tadi hanya untuk dimakan dalam bebarapa menit kenikmatan.
Ya, bagaimana hikmah yang menugaskan sejumlah indera pada kepala manusia dengan berbagai tugas bisa membantu, sementara kalau setiap tugas darinya yang terdapat di kepala diberi kadar sebesar biji sawi, tentu kepala manusia akan menjadi sebesar gunung Thursina.
Lihatlah lisanmu berikut tugas-tugasnya. Di antara tugasnya adalah mengukur simpanan kekayaan rahmat Tuhan.
Bagaimana hikmah tersebut sepakat agar buah seperti delima luar biasa tadi tujuannya hanya untuk dimakan seketika dalam kondisi lalai. Tentu sangat mustahil kepalamu akan membuahkan gunung buah dan yang seperti gunung tadi tidak membuahkan apa-apa kecuali buah seperti kepalamu. Sebab, dalam kondisi demikian puncak hikmah harus menyatu dengan puncak kesia-siaan. Ini betul-betul sangat mustahil. Namun, pohon delima itu sama seperti yang lain. Ia berisi untaian penjelasan nama-nama-Nya. Ia menyampaikan sejumlah maknanya dengan sempurna lalu selesai dan dikubur dalam mulutmu.
Mahasuci Zat yang semua akal terheran-heran dengan kreasi-Nya.
Ini adalah cahaya dari pohon ayat yang berbunyi,
Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatupun melainkan bertasbih memuji-Nya.
{(Catatan-439): Q.S. al-Isra: 44.}
Aku melihatnya saat bunga dari pohon tumbuh mekar di musim semi. Ia demikian menarik perhatian dan akupun merenungkan tasbihnya. Aku berbicara dengan diri sendiri dengan tasbih yang ada dalam alam pikir. Pada sebagiannya terdapat tarian menarik yang menyerupai syair, padahal bukan merupakan syair. Namun, ia adalah rima zikir dalam tarikan pikiran.
Bismillāhirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah yang segala sesuatu bertasbih untuk-Nya dengan untaian kata khusus yang terlihat seperti yang terdengar. Misalnya,
Sinar, sungai, dan hembusan merupakan kosakata cahaya, air, dan udara. Demikian seterusnya.
Mahasuci Zat yang dipuji oleh:
Cahaya lewat sinarnya, air dan udara lewat sungai dan hembusannya;
Tanah dan tumbuhan lewat batu dan bunga'
Angkasa dan pepohonan lewat burung dan buah;
Awan dan langit lewat hujan dan bulan;
Kilau cahaya lewat penyinaran-Nya sebagai bentuk penampakan-Nya
Gelombang udara lewat hembusan-Nya sebagai bentuk penugasan-Nya.
Pancaran air lewat penghamparan-Nya sebagai bentuk penundukan-Nya. Sanjungan yang indah dan jelas bagi Yang Mahakuasa.
Dekorasi bebatuan lewat pengaturan-Nya sebagai bentuk lukisan-Nya
Senyuman bunga lewat hiasan-Nya sebagai bentuk penataan-Nya yang indah
Kemunculan buah lewat anugerah-Nya sebagai bentuk kemurahan-Nya. Pujian yang indah dan terang untuk Sang Pencipta.
Kicau burung lewat kemampuan yang diberikan-Nya sebagai bentuk kasih-Nya.
Derasnya hujan lewat penurunannya sebagai bentuk karunia-Nya.
Gerakan bulan lewat ketentuan-Nya sebagai bentuk pemutaran-Nya. Sungguh sebuah tasbih yang fasih bagi Zat Yang Mahakuasa; bahkan merupakan ayat Tuhan yang bersinar.
Mahasuci Zat yang dipuji oleh:
Langit lewat gugusan bintang dan cahaya
Cakrawala lewat mentari, bintang dan bulan.
Angkasa lewat kilat, petir, dan hujan
Bumi lewat hewan, tumbuhan, dan pohon.
Pepohonan memuji lewat dedaunan dan bunga dengan buahnya tertata rapi.
Bunga berhenti berdendang digantikan oleh buah sebagai bentuk pujian mendalam yang menebarkan cahaya.
Benih bernyanyi dalam kalbunya sebagai bentuk zikir samar yang mengumpulkan segala rahasia.
Dalam rahasianya tertulis dan terlipat sejumlah kertas kerja pohon.
Lisannya memperlihatkan butir-butir pujian bagi Sang Pembelah dan Pencipta
Semua tumbuhan memuji, beribadah, bertasbih, dan bersujud kepada Yang Mahakuasa.
Senyum tumbuhan terdapat dalam sinar bunga sebagai pujian yang tampak bagi yang melihatnya.
Mulut-mulutnya berupa bulir dan kelopak, redaksinya berupa biji dan benih di tepi yang syair-syairnya tersusun rapi.
Lisannya berupa keteraturannya dan neracanya terdapat pada ukirannya yang terang.
Kreasi dan celupannya berupa hiasan yang cemerlang.
Lewat rasa, warna, dan aromanya ia mendeskripsikan dan memuji Sang Pencipta
Pasalnya, ia menggambarkan sejumlah sifat-Nya, memperkenalkan nama-nama-Nya, serta menerangkan dengan penuh cinta kepada Yang Mahakuasa.
Gigi berupa bulir dan mata yang berupa bunga meneteskan tetesan percikan manifestasi Sang Pencipta.
Hal itu sebagai bentuk kasih kepada hamba dan perkenalan kepada makhluk, dari kegaiban-Nya dalam wujud yang jelas.
Sehingga pohon tersebut seakan bersinar.
Laksana untaian syair yang rapi dan indah.
Ia membuka lewat banyak matanya yang melihat.
Atau menghias bagian-bagiannya yang hijau.
Agar Penguasanya mempersaksikan jejaknya yang bersinar
Serta memperlihatkan permatanya yang berkilau
Guna membentangkan kepada penglihatan ibarat pasukan yang meraih kemenangan.
Juga untuk memproklamirkan kepada manusia hikmah penciptaan pohon.
Lewat kekayaannya yang tersimpan dari kemurahan Tuhan Pemelihara buah.
Mahasuci Dia. Betapa baik sikap ihsan-Nya! betapa indah petunjuk-Nya! betapa jelas keterangan-Nya!
Dari sang Pencipta yang menggambar, dari Pencipta yang berkuasa, dan dari Pencipta yang memberi sinar.
Lihatlah kepada rahmat-Nya dalam musim semi-Nya untuk memperlihatkan kreasi-Nya.
Musim semi tampak menjadi hari raya bagi hamba-Nya.
Hari ketika makhluk berhias: dari pohon dari tumbuhnya.
Setiap tumbuhan muncul sesuai dengan kedudukannya.
Sebagai wujud kekuasaan Penguasanya, hadiah Pemiliknya, penantian atas perintah-Nya, yang mengabdi dengan nama-Nya, yang berbunga dan berbuah dengan ijin-Nya, ibarat hidangan yang bersih untuk tamu-Nya.
Cahaya, udara, dan tanah beserta air:
Merupakan utusan perintah-Nya dan pemikul arasy-Nya.
Dalam menyebarkan kreasi-Nya dan menyampaikan hikmah-Nya.
Arasy Ilmu dan hikmah terdapat pada cahaya
Arasy karunia dan rahmat terdapat pada air.
Arasy memelihara dan menghidupkan terdapat pada tanah.
Arasy perintah dan kehendak terdapat pada udara.
Ketahuilah bahwa semuanya-dalam perbuatannya-merupakan wujud penampakan dengan nama-Nya, penggaris bukan sumber, penerima bukan pelaku, pemikul dengan kekuatan-Nya.
Semuanya memikul apa yang dipikul dengan ijin-Nya dengan nama-Nya. Semua berbuat apa yang diperbuat dengan bantuan dan kekuatan-Nya.
Andai semua ini tidak demikian, berarti tanah, udara, dan cahaya beserta air pada setiap bagian partikel dan tetes darinya
harus berisi pengetahuan, qudrat, dan kreasi tak terhingga.
Udara misalnya, ia berhembus di angkasa. Dengan setiap partikelnya, ia mengunjungi semua tumbuhan yang berkembang.
Hembusannya memperlihatkan sesuatu yang luar biasa dalam untaian mukjizat kreasi milik Zat Yang Mencipta langit.
Jika partikel yang sederhana, satu, mati, dan bodoh itu bisa menumbuhkan pepohonan, memunculkan buah, dan membentuk bunga-bunga, bahkan keseluruhan semua itu;
Lalu ia mampu memikul bumi dan dunia ini, dalam kondisi demikian Anda boleh ragu akan keesaaan-Nya yang tanpa sekutu.
Namun, jika tidak demikian, tentu kerajaan ini milik Zat yang seluruh penciptaan berada dalam genggaman qudrat-Nya, dalam genggaman hikmah-Nya.
Sebab setiap benih, tetes, dan partikel bisa menjadi hijau, buah, dan bunga. Maka, satu partikel, benih, dan tetes, jika tidak mendapat perintah Tuhan Pemelihara semesta alam yang berupa kreasi, hikmah, dan qudrat-Nya, berarti setiap ciptaan bisa memikul seluruh entitas.
Mahasuci Zat yang dipuji oleh pepohonan lewat daun, bunga, dan buahnya.
Bunga tersingkap dalam bertambahnya daun dan sempurnanya buah
Dalam tarian anak-anaknya pada dahannya yang hijau.
Sebuah tutur yang luas dan jelas bagi yang melihat, dalam memuji Zat yang menumbuhkannya di mana ia berdendang untuk Yang Mahaesa dan Maha Memaksa.
Mulut, huruf, dan redaksinya berupa daun, bunga, dan buah.
Pasalnya, dedaunan menari karena gembira dalam zikirnya terhadap Tuhan Pencipta.
Bunga tersenyum lewat keindahannya sebagai bentuk syukur kepada Yang Mahakuasa.
Buah tertawa dengan kasih sayang-Nya. Lisannya memiliki sepuluh irama bagi yang melihat.
Keteraturannya yang seimbang neracanya yang tertata terdapat pada warnanya yang bersinar.
Kreasinya yang terukir, ukirannya yang terbentuk, dalam wujudnya yang tergambar.
Celupannya yang indah, hiasannya yang dicelup, terdapat dalam rasanya yang memancarkan
kegembiraan.
Keajaiban penciptaannya, keragaman jenisnya, perbedaan dagingnya, semuanya memuji Sang Pencipta dan menggambarkan Zat Yang Mahakuasa.
Ia menggambarkan sifat-sifat-Nya, memperkenalkan nama-Nya, serta menjelaskan dengan penuh cinta terhadap Sang Pencipta kepada siapapun yang melihat.
Buah memercikkan dari mulutnya tetesan manifestasi Sang Pencipta.
Hal itu sebagai bentuk cinta dan pengenalan diri kepada hamba serta sebagai bentuk kasih sayang kepada makhluk-Nya yang papa.
Mahasuci Dia. Betapa hujjah-Nya sangat bersinar! Betaba rahmat-Nya demikian terang! Ia berasal dari Zat yang mencumbuhkan, membentuk, berdendang, dan menata, serta menyebarkan dan memberi kabar gembira.
Mahasuci Dia. Betapa indah keagungan-Nya!
Betapa agung keindahan-Nya!
Betapa besar kekuasaan-Nya!
Lihatlah bumimu dan ucapkan, "Allahu Akbar!" Lihatlah kepada entitas dan ucapkan, "Allāhu Akbar!" Dia adalah Sang Pencipta Yang Maha Berbuat. Dia Maha Membuka dan Maha Mengetahui. Dia Maha Memberi dan Maha Menganugerahi. Dia Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. Dia Maha Pemurah dan Maha Penyayang.
Jika engkau ingin mengetahui makna Allahu Akbar lihatlah entitas, semua merupakan bayangan cahaya-Nya, jejak perbuatan-Nya, goresan qada dan qadarnya, ukiran nama-Nya, serta cermin dari sifat-Nya.
Ketahuilah! Ucapkan Allāhu Akbar lalu lihatlah alam. Semuanya terambil dalam genggaman ilmu-Nya, dalam genggaman qudrat-Nya, dalam genggaman keadilan-Nya, di mana ukurannya tertata dan tatanannya terukur.
Penataan dengan sistem dan penyeimbangan dengan timbangan merupakan dua genggaman Tuhan dan alamat bagi dua bab: lauhil mahfudz dan kitab catatan amal. Keduanya merupakan tanda yang jelas. Ilmu dan qudrat milik Yang Mahakuasa dan Maha Mengetahui, serta milik Zat Yang Mahaadil dan Maha Bijaksana. Karena itu, tidak ada yang keluar dari aturan sistem tersebut serta dari timbangan neraca itu. Siapa yang memper-
hatikan dan memiliki mata akan bisa menyaksikannya. Dengan intuisi bahkan dengan penyaksian langsung, tidak ada sesuatupun di alam dan perjalanan waktu yang keluar dari genggaman kekuasaan Tuhan Yang Maha Penyayang.
Lihatlah dan ucapkan Allahu Akbar! Dia Mahaadil dan Berkuasa. Dia Hakim yang esa. Dia Mahaadil dan Bijaksana. Dialah yang membangun bangunan alam dengan garisan kehendak-Nya lewat hikmah yang mengaturnya. Landasan hikmah-Nya merupakan pengikat semua entitas. Dia mengurai semua entitas dengan hukum qada dan aturan qadar-Nya. Rambu-rambu qudrat merupakan pembuat bentuk bagi fisik entitas. Dia menata alam dengan ketentuan sunnah dan hukum kebiasaan. Dia berbuat apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia inginkan, baik di langit maupun di bumi, lewat kehalusan rahmat dan kemurahan perhatian-Nya. Dia menyinari alam dengan manifestasi nama dan sifat-Nya. Wujud nama dalam tampilan sifat-sifat-Nya merupakan penerang bagi seluruh entitas di langit dan bumi.
Pahamilah dan ucapkan Allahu Akbar. Dia Pencipta Yang Maha Mengetahui. Dia Maha Pembuat Yang Maha Bijaksana. Alam besar ini dan alam kecil ini merupakan kreasi qudrat-Nya dan tulisan qadar-Nya. Alam dicipta untuk dijadikan sebagai masjid. Manusia dicipta untuk dijadikan sebagai hamba. Alam dimunculkan untuk dijadikan sebagai kerajaan. Manusia dibentuk untuk dijadikan sebagai sahaya. Alam Dia bentuk hingga tampak sebagai kitab, sementara manusia Dia celup hingga tampak sebagai mitra bicara. Kekuasaan-Nya terhadap alam memperlihatkan keperkasaan-Nya, dan rahmat-Nya kepada manusia menata nikmat-Nya. Tanda-Nya pada alam adalah pada semua, dan pada setiap bagian, sementara stempel-Nya pada manusia pada tubuh dan anggota badan.
Lihatlah dan ucapkan Allahu Akbar. Dia Mahakuasa dan Mahakekal. Dia Maha Mencipta dan Maha mengetahui. Dia Mahalembut dan Maha Pemurah. Dia Mahakasih dan Maha Penyayang. Dia Mahaindah dan Mahaagung. Dia Pembentuk alam. Jika engkau ingin mengetahui hakikat alam ini baik
keseluruhan maupun bagian-bagiannya semuanya merupakan goresan ketentuan-Nya dan gambaran qadar-Nya dalam penataan partikel, penentuan tujuan, dan penetapan keadaan.
Setelah penggambaran tersebut guna menentukan batas dan kadar, qudrat-Nya untuk mengurai berbagai bentuk dengan pena qadar dalam hikmah makhluk. Perhatian terhadap sejumlah maslahat menjadi bukti bahwa penulisan telah dilakukan lewat pena yang mengetahui dan pengaturan yang bijaksana.
Setelah penguraian tersebut, datanglah perhatian-Nya untuk menghias berbagai bentuk lewat tangan putih-Nya, dengan kelembutan penciptaan-Nya. Dia menghias bentuk dengan seindah mungkin. Pemilik penglihatan bisa menyaksikan bahwa hiasan dan keindahan tersebut merupakan jejak kelembutan-Nya dan tanda kemurahan-Nya.
Setelah penghiasan tersebut datanglah kemurahan-Nya lewat cara yang halus dan indah untuk memperlihatkan kasih-Nya dalam menghias semua yang indah dan memperlihatkan bentuk pengenalan-Nya kepada jin dan manusia. Semua keindahan dan kelembutan itu merupakan bentuk kasih-Nya dan pengenalan-Nya. Kasih sang Pencipta tampak kepada yang melihat lewat penataan makhluk. Pengenalan Yang Mahakuasa terwujud lewat penghiasan makhluk. Ia terlihat oleh pandangan setelah kasih-Nya.
Setelah itu datanglah rahmat-Nya untuk memperlihatkan anugerah-Nya. Yaitu dalam bentuk penghamparan hidangan-Nya untuk dinikmati seluruh makhluk. Kasih sayang Sang Pencipta tepercik lewat makhluk dan cinta Zat pemberi rezeki terwujud lewat buah.
Kesimpulannya:
Alam ini merupakan goresan ketentuan-Nya, ukiran pena-Nya, hiasan kemurahan-Nya, bunga kelembutan-Nya, lewat intuisi dan penyaksian.
Buah rahmat-Nya merupakan kilau keindahan-Nya, manifestasi keagungan-Nya, cermin kesempurnaan-Nya dengan penuh keyakinan dan iman.
Keindahan yang dipersaksikan dan kesempurnaan yang diperlihatkan merupakan wujud limpahan karunia-Nya, bayangan cahaya-
Nya, dan tanda kesempurnaan-Nya. Hal ini dibuktikan dengan kesempurnaan makhluk-Nya.
Jejak yang sempurna mempersaksikan kepada yang berakal akan perbuatan yang sempurna pula. Lalu perbuatan yang sempurna menunjukkan kepada manusia yang paham akan nama dan pelaku yang sempurna. Nama yang sempurna secara jelas menunjukkan sifat yang sempurna. Sifat yang sempurna menunjukkan keadaan yang sempurna. Keadaan yang sempurna menunjukkan kesempurnaan zat yang layak atas-Nya. Dia adalah Yang Mahabenar, yang memiliki kedudukan tinggi, dan yang mencipta alam. Dia mempersaksikan kepada pemilik mata bahwa keindahan lahiri bukan milik wujud lahiri.
Ya. Lenyapnya cermin dan kepergian entitas di samping manifestasi yang kekal dan anugerah yang terus mengalir menjadi petunjuk yang paling jelas dan keterangan yang paling fasih bagi keindahan mutlak dan kebaikan Tuhan Yang wajib ada dan Kekal.
Kenalilah dan ucapkan Allāhu Akbar. Dia adalah Pencipta Yang Mahabesar. Dia Pelaku Yang Mahakuasa. Benda-benda dan hiasan bumi serta benda-benda langit berikut bintang yang bersinar di kebun alam adalah:
Mukjizat qudrat, bukti hikmah, dan petunjuk Yang Mahaesa, satu, Mahakuasa, dan Abadi.
Mahasuci Zat yang menjadikan taman buminya sebagai pameran kreasi-Nya, tempat munculnya bunga berbagai tumbuhan dan buah berbagai pohon, tempat hiasan sejumlah hewan dan burung, serta kreasi-Nya yang luar biasa, bukti pengetahuan-Nya, dan petunjuk kelembutan-Nya. Senyuman bunga dari hiasan buah di taman ini merupakan kasih Tuhan, rahmat Zat Yang Mahakasih, pengenalan Zat Yang Maha Memberi kepada jin dan manusia, ruh dan hewan.
Bunga dan buah, benih dan biji merupakan mukjizat hikmah, hadiah kasih sayang, petunjuk keesaan, kabar kelembutan-Nya di negeri akhirat. Ia merupakan bukti yang jujur bahwa Penciptanya Maha mengetahui segala sesuatu dan Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia mencakuup segala sesuatu dengan rahmat dan ilmu-Nya dan dengan kelembutan dan pengaturan-
Nya.Mentari laksana partikel, bintang laksana bunga, bumi laksana telur, tidak ada yang berat bagi-Nya dalam mencipta dan memutar, menjaga dan membentuk, membuat dan menyinari.
Pahami dan ucapkan Allāhu Akbar. Dia adalah Penguasa azali, Hakim yang abadi, Raja yang kekal.
Perhatikan permukaan langit bagaimana ia diam dengan tenang, bergerak penuh hikmah, bersinar secara menarik, tersenyum secara indah, dalam satu penciptaan yang rapi.
Kilau bintangnya memproklamirkan kepada yang berakal akan kekuasaan yang tak terhingga.
Semua yang bersinar dan yang beredar ini merupakan petunjuknya yang cemerlang, bukti yang terang yang mengungkapkan kemuliaan keagungan uluhiyah, memperlihatkan kekuasaan rububiyah, menjelaskan keagungan qudrat-Nya, serta menunjukkan luasnya jangkauan hikmah-Nya.
Berimanlah dan ucapkan Allahu Akbar. Dia Pemilik keagungan di langit dan di bumi. Dia Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.
Mahasuci Engkau wahai Zat yang pada segala sesuatu terdapat bukti bahwa Engkau Wajib ada dan satu.
Mahasuci Engkau wahai Zat yang pada segala makhluk hidup terdapat tanda bahwa Engkau Esa dan kekal.
Mahasuci Engkau wahai Zat yang segel-Nya melekat pada dahi makhluk di mana menjadi bukti yang jujur dan mengungkapkan kebenaran.
Lihatlah jejak-jejak-Nya, bagaimana engkau melihat seperti falak, sebuah kedermawanan mutlak di samping dalam keteraturan mutlak. Engkau bisa melihat keteraturan dalam kemudahan, dalam keseimbangan mutlak, dalam kecepatan mutlak, dalam keindahan mutlak, dalam keluasan mutlak dalam kerapian mutlak, dalam kemurahan mutlak di samping dalam kemahalan mutlak, dalam percampuran mutlak di samping dalam perbedaan mutlak, dalam kejauhan mutlak di samping dalam kecermatan mutlak, dalam keragaman mutlak di samping dalam kesempurnaan mutlak.
Semua yang tampak ini menjadi bukti bagi orang yang berakal dan cermat sekaligus memaksa orang bodoh dan munafik
untuk menerima keesaan dan kreasi Tuhan, Pemilik kekuasaan mutlak. Dia maha Mengetahui mutlak.
Perhatikan dan ucapkan, "Tiada Pencipta kecuali Dia. Tidak ada Pembuat kecuali Tuhan."
Bismillāhirrahmānirrahīm
Apakah kamu tidak mengetahui bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar manusia? Serta banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang bisa memuliakannya. Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.
{(Catatan-440): Q.S. al-Hajj: 18.}
Ketahuilah!
{(Catatan-441): Bahasan penting ini adalah rangkuman dahan keempat dari kata kedua puluh empat.}
Alquran menegaskan bahwa segala sesuatu mulai dari Arasy hingga tanah, dari bintang hingga kutu, dari cakrawala hingga ikan, dari planet hingga partikel semuanya menyembah Allah serta bersujud, bertahmid, dan bertasbih kepada-Nya. Hanya saja, cara ibadah mereka beragam. Kami akan menjelaskan salah satu sisi keragaman tersebut dengan permisalan.
Yaitu raja yang agung apabila membangun kota besar atau istana megah, tentu kerajaan tersebut harus mempekerjakan empat jenis pekerja:
Pertama, para budaknya tanpa ongkos dan upah. Mereka senang melakukan perintahnya. Mereka terus memujinya dan merasa cukup terhormat dengan adanya hubungan dengannya.
Kedua, para pelayan awam yang dipekerjakan sesuai pengetahuannya dengan upah sedikit sesuai dengan kondisi mereka. Mereka tidak mengetahui tujuan mulia dan menyeluruh yang akan dihasilkan darinya. Bahkan sebagian menilai bahwa
pekerjaannya tidak memiliki tujuan kecuali ongkos dan upah yang didapat.
Ketiga, sejumlah binatang miliknya. Mereka dipekerjakan dengan upah makanan dan menikmati pekerjaan yang ada. Sebab ketika potensi keluar menuju amal terdapat kenikmatan yang bersifat umum.
Keempat, pekerja yang memahami betul pekerjaan mereka. Mereka menyadari maksud raja. Dalam hal ini mereka berposisi sebagai pimpinan dan pengawas bagi seluruh pekerja lain. Upah mereka berbeda-beda sesuai dengan tingkatannya.
Demikian pula dengan Penguasa langit dan bumi. Dia mempekerjakan parea malaikat, lalu hewan, benda mati dan tumbuhan, serta manusia bukan karena butuh. Pasalnya, Dia adalah Pencipta mereka berikut perbuatan mereka. Namun, karena kemuliaan, keagungan, berbagai urusan rububiyah, dan seterusnya.
Malaikat tidak bisa naik tingkat lewat mujahadah (kesungguhan mereka dalam beribadah). Namun, setiap mereka memiliki kedudukan tertentu. Hanya saja ada cita rasa khusus dalam pekerjaan mereka dan limpahan anugerah sesuai dengan tingkatan mereka dalam beribadah. Balasan yang diberikan atas pengabdian mereka terdapat dalam pengabdian itu sendiri. Sebagaimana manusia mengonsumsi air, udara, cahaya, dan makanan serta menikmatinya, demikian pula dengan malaikat. Mereka mengonsumsi sekaligus menikmati cahaya zikir, tasbih, tahmid, ibadah, makrifat, dan kecintaan kepada Tuhan. Pasalnya, mereka berasal dari cahaya. Cukuplah cahaya menjadi nutrisi mereka sebagaimana aroma yang harum semerbak. Mereka menrasa sangat bahagia ketika melaksanakan perintah Tuhan, dalam bekerja untuk-Nya, dalam mengabdi atas nama-Nya, memandang dengan pandangan-Nya. Mereka juga merasa mendapatkan kehormatan dengan memiliki hubungan dengan-Nya, senang dengan bisa melihat kerajaan-Nya dan alam malakut-Nya, serta merasa nikmat dengan menyaksikan manifestasi keindahan dan keagungan-Nya.
Selanjutnya hewan karena memiliki nafsu syahwat dan
pilihan, maka amalnya tidak tulus untuk-Nya. Karena itu, Tuhan Yang Maha Pemurah memberinya upah dalam amal yang dilakukan untuk-Nya.
Misalnya burung bulbul yang dikenal menyenangi mawar. Tuhan Yang Maha Bijaksana mempekerjakannya untuk memperlihatkan korelasi yang sangat kuat antara sejumlah tumbuhan dan sekelompok hewan. Maka, burung bulbul tersebut merupakan penyampai pesan Tuhan dari sudut hewan yang merupakan tamu Tuhan sekaligus ditugaskan untuk mengungkapkan kegembiraan atas hadiah dari Tuhan yang memberikan rezeki padanya. Selain itu, ia bertugas memperlihatkan sambutan yang baik kepada tumbuhan yang dikirim untuk melanjutkan eksistensi jenisnya; untuk menjelaskan kebutuhan spesiesnya yang sampai pada tingkat rindu kepada berbagai tumbuhan yang indah; untuk mempersembahkan rasa syukur yang lembut dalam kerinduan yang paling halus dalam bentuk yang paling halus kepada Sang Penguasa kerajaan, Tuhan Yang Mahaagung, indah, dan pemurah. Itulah tujuan dari pekerjaannya yang dilakukan karena Allah. Ia berbicara dengan lisannya sehingga kita memahami semua pengertian tersebut meski ia sendiri tidak memahami makna iramanya dengan sempurna. Ketidaktahuan bulbul terhadap tujuan tersebut secara detil tidak berarti ia tidak ada. Ia seperti jam yang memberitahukan waktu kepadamu sementara ia sendiri tidak mengetahui apa yang dilakukan. Adapun upah untuk bulbul berupa kemampuan menyaksikan bunga yang tersenyum serta bagaimana ia merasa nikmat ketika bercengkerama dengannya. Kicau iramanya yang sedih bukan merupakan derita keluhan hewan. Tidak. Tetapi ia merupakan bentuk syukur atas pemberian kasih sayang Tuhan. Hal ini juga berlaku pada lebah, laba-laba, semut, kutu, dan sebagainya. Masing-masing mendapat upah dalam cita rasa khususnya di saat memberikan pengabdian untuk berbagai tujuan yang bersifat integral dan untuk kreasi tuhan sebagaimana pasukan yang ditugaskan di kapal kerajaan.
Dengan melaksanakan perintah penciptaan dengan penuh ketaatan serta dengan memperlihatkan sejumlah tujuan Pencipta-
nya dengan cara terbaik atas nama-Nya, serta kemunculan hidupnya yang melaksanakan sejumlah tugas dengan bentuk terbaik lewat kekuatan-Nya, demikian pula dengan seluruh tasbihnya, hewan mempersembahkan hadiah ibadahnya dan penghormatannya yang istimewa kepada Sang Pencipta.
Penghormatan tersebut berupa menifestasi hidup dengan mempersembahkan kehalusan jejaknya seperti yang diminta kepada Sang Pemberi kehidupan.
Adapun tumbuhan dan benda-benda mati, karena tidak memiliki pilihan dan upah maka pekerjaannya tulus untuk Allah serta dihasilkan semata-mata karena kehendak Allah, dengan nama-Nya dan dengan kekuatan-Nya. Hanya saja, dari keadaan tumbuhan terlihat bagaimana ia bisa merasa nikmat dengan sejumlah tugasnya tanpa ada rasa sakit; berbeda dengan hewan yang bisa memilih. Karena ketiadaan pilihan dalam pekerjaan benda-benda mati dan tumbuhan, maka hasil kerjanya lebih sempurna daripada makhluk yang memiliki pilihan. Kemudian pekerjaan makhluk yang memiliki pilihan yang disinari oleh wahyu dan ilham seperti lebah dan sejenisnya lebih indah daripada yang lain yang bersandar kepada pilihannya.
Sementara manusia ia seperti malaikat dalam hal ibadah, penyaksian, dan jangkauan makrifatnya terhadap Tuhan. Bahkan ia lebih mencakup. Hanya saja, manusia memiliki jiwa yang jahat yang dihiasi syahwat. Karena itu, manusia bisa naik dan bisa pula turun.
Manusia juga seperti hewan dalam memasukkan bagian dan porsi untuk dirinya ke dalam amalnya. Ia memiliki dua upah; yang bersifat segera dan parsial serta yang ditunda dan komprehensif. Perhatikan baik-baik pasti engkau mendapatkan.
Dalam berbagai pelajaran risalah an-Nur kami telah sering menyebutkan rahasia pengabdian manusia berikut tugasnya, serta bagian dari pengabdian tumbuhan berikut tasbih mereka. Karenanya, di sini tidak perlu diuraikan lagi. Engkau bisa mengkaji berbagai pelajaran tersebut untuk melihat rahasia surat at-Tin dan surat al-Ashr.
Lanjutan Bahasan tentang Bulbul
Jangan mengira bahwa tugas rabbani yang berfungsi untuk memproklamirkan, menunjukkan, serta berdendang kepada makhluk lewat untaian tasbih ini hanya dimiliki oleh burung bulbul. Namun, semua spesies seperti burung bulbul yang menggambarkan sensitivitas yang paling halus lewat tasbih paling lembut dalam sajak yang paling indah. Terutama pada jenis kutu dan serangga.
Di antaranya yang memiliki banyak bulbul di mana ia mendendangkan kepada berbagai kutu dan serangga kecil sejumlah sajak berupa tasbih yang semua makhluk yang memiliki pendengaran bisa menikmatinya.
Misalnya hewan malam yang bersuara khusus pada hewan-hewan kecil dari spesiesnya dan selain jenisnya di keheningan malam sehingga ia seperti halaqah zikir yang dibaca dengan suara pelan. Pasalnya, nyanyian seperti lisan bersama dan bersifat umum di mana ia bisa dipahami oleh semua yang memiliki pendengaran dan perasaan.
Demikian pula binatang siang yang bertasbih, bersajak, dan bersuara indah dan nyaring di mana pada musim panas ia berdendang di atas mimbar-mimbar pohon kepada semua makhluk hidup. Suaranya me;ampaui burung bulbul yang terkenal hingga seperti halaqah zikir yang bersuara nyaring yang menghentak perhatian pendengar dan mengajak semua bertutur dengan lisan-Nya.
Semua spesies yang paling utama, bulbul yang paling mulia, yang paling bercahaya, yang paling agung, yang paling tinggi suaranya, yang paling sempurna zikirnya, serta paling luas rasa syukurnya adalah bulbul jenis manusia dalam taman alam. Sehingga dengan sajaknya yang halus ia menjadi bulbul seluruh entitas di langit dan bumi.
Semoga Allah mencurahkan salawat dan salam kepada beliau, keluarga, dan seterusnya. Amin.
Ketahuilah!
{(Catatan-442): Kata Kedua puluh tiga menjelaskan persoalan ini.}
Dapat dipahami dari kesempurnaan kecerdasan hewan ketika muncul ke dunia dan kemampuannya dalam pengetahuan praktis yang terkait dengan hidupnya adalah bahwa ia diutus ke dunia untuk bekerja; bukan untuk terus belajar.
Dipahami pula dari kebodohan manusia dan kelemahannya saat keluar ke dunia dan kebutuhannya untuk belajar pada setiap tuntutannya dan semua rangkaian usianya adalah bahwa ia diutus ke dunia untuk terus belajar dan beribadah; bukan bekerja. Tugas yang diminta darinya adalah menata aktivitas tumbuhan dan hewan yang Allah tundukkan untuknya serta mengambil manfaat dari rambu-rambu rahmat-Nya. Lalu, berdoa, meminta, mendekat, dan beribadah kepada Zat yang telah menundukkan semua entitas untuknya yang sangat lemah, papa, dan miskin. Pengetahuannya yang diterima adalah mengenal Zat yang telah memuliakannya, yang menundukkan semua untuknya, serta menyiapkannya untuk beribadah dan bahagia dengan mempelajari hikmah alam dari sisi yang bisa melahirkan makrifat terhadap Penciptanya lewat nama-nama, sifat, keagungan, keindahan, dan kesempurnaan-Nya. Selain itu adalah sesuatu yang tidak berguna atau berupa kesesatan.
Ya Allah, jadikan kami sebagai hamba-Mu dalam setiap kedudukan dengan terus menyembah-Mu, bersimpuh di hadapan uluhiyah-Mu, sibuk dengan makrifat kepada-Mu.
Ketahuilah! Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana dengan kondisi-Nya yang jauh dari sifat lemah serta dengan kedermawan-Nya yang sempurna, Dia mencipta partikel sebagaimana mencipta mentari sekaligus memberinya wujud yang sama.
Sebagaimana mencipta partikel di samping mentari, Dia juga mencipta tumbuhan terkecil seperti pohon yang paling besar. Di samping mencipta malaikat yang mengatur mentari beserta malaikat yang mengatur tetesan, Dia juga mencipta hewan terkecil sebagaimana hewan terbesar di mana keduanya sama-sama menjadi hamba. Dia menghadirkan satu entitas dengan bentuk yang paling baik sebagaimana menghadirkan keseluruhan entitas yang tak terbatas. Semua entitas entah yang kecil ataupun yang besar, entah sedikit ataupun banyak, memiliki tugas yang sesuai, hikmah yang selaras, dan tujuan yang baik dari hazanah rahmat Zat yang,
Keadaan-Nya apabila menghendaki sesuatu cukup berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka, terjadilah ia. Maka, Mahasuci
(Allah) yang di tangan-Nya terdapat kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kamu dikembalikan.
{(Catatan-443): Q.S. Yasin: 82-83.}
Ketahuilah!
{(Catatan-444): Bagian pertama dari kilau kesebelas menjelaskan masalah ini.}
Wahai muslim, dalam melaksanakan tugas dan muamalahmu yang berdasarkan prinsip-prinsip syariat engkau mendapatkan simpanan ukhrawi yang demikian besar. Setiap usiamu berubah menjadi amal, setiap kebiasaanmu yang mubah berubah menjadi ibadah, serta kelalaiamu dengan berbagai kesibukan berubah dengan hadirnya hati.
Misalnya, jika engkau menjual atau membeli sesuatu lalu engkau mengamalkan apa yang dikatakan oleh syariat dalam muamalah tersebut, lalu menjaga hukumnya dalam ijab kabul yang terjadi, maka hal itu menjadi ibadah, ketaatan, dan amal ukhrawi. Jagalah baik-baik.
Berbahagialah orang yang menerangi semua gerakannya dengan adab-adab syariat. Sungguh bahagia yang diberi taufik oleh Allah untuk bisa mengikuti sunnah dalam aktivitas dan muamalahnya sehingga usianya yang fana menghasilkan buah yang abadi. Sebaliknya, sungguh merugi orang yang ditinggalkan oleh Allah dengan mengikuti dan mempertuhan hawa nafsunya sehingga usianya berlalu begitu saja dan amalnya menjadi sia-sia.
Ya Allah, beri kami taufik untuk meraih rida-Mu serta untuk bisa mengamalkan kitab suci dan sunnah Nabi-Mu. Amin.
Ketahuilah! Sebagaimana di antara manusia ada yang menjadi pengembala di mana mereka mengawasi gerak-gerik sekawanan hewan, juga sebagaimana di antara mereka ada yang menjadi petani yang mengawasi dan mengatur sejumlah benih, demikian pula dengan malaikat. Di antara mereka ada yang menjadi pengembala yang mengawasi makhluk hidup di muka bumi. Hanya saja, tidak seperti manusia, pengawasan malaikat adalah untuk Allah, dengan nama-Nya, dengan kekuatan-Nya, serta dengan perintah-Nya.
Yang diawasi oleh malaikat adalah bagaimana manusia menjadi manifestasi rububiyah Tuhan, wujud qudrat dan rahmat-
Nya, serta ilham perintah ilahi kepadanya untuk melaksanakan berbagai tugas yang bersifat pilihan.
Di antara mereka ada yang bertugas menyebarkan sejenis tumbuhan di ladang bumi dengan ijin Allah, dengan perintah-Nya, dengan nama-Nya, dan dengan kekuatan-Nya.
Yang diawasi oleh malaikat adalah bagaimana ia mengungkapkan tasbih dan penghormatan kepada-Nya berikut penataan dan perlindungan dengan menggunakan berbagai perangkat yang diberikan secara baik.
Pengabdian ini merupakan bentuk ubudiyah dan ibadah mereka; bukan kebiasaan seperti manusia. Malaikat Mikail as yang termasuk pemikul arasy Tuhan memiliki bentuk ibadah yang khusus dengan mengawasi jenis tumbuhan di ladang bumi. Di bawahnya ada yang mengawasi spesis demi spesies dengan kekuatan Allah, dengan perintah-Nya, dan dengan nama-Nya.
Jika engkau mengetahui makna darinya lihatlah bagaimana bumi dirubah oleh Tuhan Yang Maha Bijaksana sebagai ladang yang luas dan tempat gembala yang besar bagi semua tumbuhan dan hewan. Kemudian perhatikan berbagai jenis tumbuhan yang tersebar secara sangat teratur dalam mendistribusikan benihnya di seluruh pelosok lewat pembagian yang menakjubkan sesuai hikmah sang Penciptanya Yang Mahakuasa dan Maha Mengetahui. Juga lihatlah berbagai jenis tumbuhan yang tersebar secara sangat rapi lewat pembagian yang sangat menakjubkan di mana semua berjalan di tempat gembala bumi dengan teratur di mana mereka mendapat perhatian Penciptanya Yang Maha Bijaksana dan Maha Pemurah. Tiada Tuhan selain Dia.
Bismillāhirrahmanirrahim
Ya Allah, wahai Yang Maha Pengasih, wahai Yang Maha Penyayang, wahai Yang Mahahidup, wahai Yang Berdiri sendiri, wahai Yang Maha Bijaksana, wahai Yang Mahaadil, wahai Yang Mahasuci, dengan kehormatan nama yang paling agung, tempatkan para murid an-Nur yang telah menerbitkan al-Matsnawi an-Nuri ini dalam Firdaus sorga-Mu. Bahagiakan mereka di dalamnya. Berikan taufik selalu kepada mereka untuk bisa mengabdikan diri dalam keimanan dan Alquran. Ya Allah, tuliskan berbagai amal saleh yang banyak dalam lembaran catatan kebaikan mereka sebagai balasan atas setiap huruf dari kumpulan tulisan ini.
Kabulkan dengan rahmat-Mu wahai Zat Yang Maha Pengasih.
Said an-Nursi.
* * *