Risale-i Nur Külliyatı [email protected]

Kehidupan Said Nursi di Isparta

2 dilihat

BAGIAN KEDELAPAN

KEHIDUPAN SAID NURSI DI ISPARTA

(Setelah Tahun 1950 M)

Ustadz Said Nursi dibebaskan dari penjara Afyon pada pagi hari bulan September tahun 1949 M. Dengan kereta kuda, beliau pergi ke sebuah rumah yang disewakan oleh muridnya, Zubeir, ditemani dua orang petugas kepolisian dan bersamanya beberapa muridnya seperti Ziya dan Sungur yang bertugas untuk membantunya.

Setelah penjara Afyon, kehidupan Ustadz Said Nursi dan pengabdiannya dengan Risalah Nur mengalami perkembangan.

Dulu, hingga menjelang masuk penjara, tidak seorangpun dibolehkan tinggal bersamanya. Beliau sendiri yang mengunci pintu rumah setelah Isya hingga waktu Duha pada hari berikutnya.

Adapun setelah penjara Afyon, beberapa murid khususnya yang setia dibolehkan untuk menemaninya, hanya saja beliau tinggal dalam ruangan yang terpisah dengan mereka, tetapi mereka dapat menemuinya pada waktu yang diperlukan.

Setelah penjara Afyon, muncul figur yang dapat disebut “Said Ketiga”(*1)seperti yang diungkapkan Ustadz Said Nursi sendiri, karena pengabdian Risalah Nur berkembang di berbagai aspek. Orang yang bersedia membantu Ustadz Said Nursi dan bergabung dalam pengabdian Risalah Nur adalah para pemuda yang berasal dari golongan terpelajar. Tentunya, rahmat Ilahi telah menjadikan musibah penjara Afyon berubah menjadi rahmat dilihat dari banyak sisi.

Salah satu sisi rahmat ini adalah bahwa para Tullabunnur yang diminta untuk hadir di pengadilan adalah berasal dari berbagai wilayah dan daerah. Ini menjadi sebab mereka saling mengenal, saling menukar informasi dan berita yang berkaitan dengan Ustadz Said Nursi, Risalah Nur, dan pengabdiannya. Hal itu membuahkan kekuatan spiritual berdasarkan persaudaraan iman dan ukhrawi yang sejati yang ikatannya terjalin di bawah naungan Risalah Nur yang bertujuan memperoleh keridaan Allah .Ustadz Said Nursi dan para muridnya datang ke pengadilan secara berkelompok, seakan-akan mereka rombongan para pahlawan. Pemandangan ini membangkitkan kecintaan dan kasih sayang yang tulus dalam hati orang-orang yang beriman.

Persidangan di pengadilan ini menjadi pemicu yang kuat terhadap kebangkitan pengabdian dakwah iman dan Islam. Para Tullabunnur yang terdiri dari generasi baru terpelajar telah muncul ke medan juang. Musibah penjara ini melahirkan orang orang pemberani yang siap berkorban, di atas pundaknya memikul kewajiban pengabdian iman dengan Risalah Nur, menjadikannya tujuan hidup mereka tanpa memedulikan apa yang dilakukan oleh musuh-musuh agama.

Rumah yang ditempati Ustadz Said Nursi setelah dibebaskan dari penjara diawasi oleh dua orang polisi yang selalu menjaga pintunya tanpa henti. Tidak seorangpun dibolehkan untuk masuk. Propaganda tendensius selama dalam penjara menimbulkan ketakutan pada hati banyak orang dan rumor beredar di masyarakat bahwa Badiuzzaman Ustadz Said Nursi akan dilenyapkan.

Ustadz Said Nursi tinggal di rumah ini di Afyon selama dua bulan. Kemudian setelah itu ia pergi ke Emirdağ, di mana di tempat ini terdapat banyak Tullabunnur yang melaksanakan pengabdian Risalah Nur secara sempurna.

PENGABDIAN RISALAH NUR SETELAH PENJARA AFYON

Koleksi Risalah Nur disebarluaskan melalui alat pengganda di Isparta, sementara Ustadz Said Nursi sebagaimana biasanya melakukan verifikasi dan koreksi naskah Risalah Nur. Hanya saja setelah dipenjara, pengabdian Risalah Nur terbagi menjadi beberapa bagian sehingga tidak terbatas pada sekadar penyebarluasan dalam bentuk tulisan tangan atau alat pengganda, tetapi dapat dikatakan bahwa pengabdian pada periode ini sebagai berikut:

1-Para Tullabunnur di berbagai wilayah, daerah, dan desa berusaha keras membaca, menulis, membacakan Risalah Nur untuk orang lain serta menyebarluaskannya ke masing-masing daerahnya.

2-Risalah Nur tampil dalam buku berjilid yang digandakan melalui alat pengganda di Isparta dan Inebolu serta disebar luaskan di berbagai wilayah

3-Risalah Nur tersebar luas di Ankara dan Istanbul, dibaca oleh berbagai lapisan masyarakat, terutama golongan terpelajar, mahasiswa, kaum muda, ibu-ibu dan pegawai negeri. Banyak orang mempunyai keterikatan dengan dakwah Risalah Nur dengan ikatan yang sangat erat. Dari mereka, secara berbon dong-bondong lahir para pengabdi iman yang siap berkorban dengan tulus. Cahaya iman terbit di dua kota pusat ini.

4-Semua naskah yang disita dikembalikan. Saluran komunikasi antara instansi-instansi resmi dengan Risalah Nur dan para muridnya dibuka. Dalam laporan resmi diumumkan bahwa Risalah Nur bekerja guna merealisasikan kebahagiaan tanah air, bangsa dan generasi mendatang.Pemerintah Turki yang baru mengapresiasi Risalah Nur sebagai salah satu cahaya luhur al-Qur’an pada masa sekarang. Penyebarluasannya terjadi di Turki, dunia Islam dan seluruh dunia pada umumnya melalui media komunikasi paling modern.

5-Risalah Nur tersebarluas di wilayah Timur.

Demikianlah kondisi pengabdian Risalah Nur dalam pandangan Said Nursi ketika ia datang ke Emirdağ setelah dibebaskan dari penjara Afyon dan ia memiliki hubungan dengan pemerintah pusat dari sisi pengabdian Risalah Nur. Sampai waktu itu, pengabdian Risalah Nur terbatas pada penulisan dan penggandaannya. Beliau juga bertemu dengan para murid khusus Risalah Nur dan orang-orang yang menyebarluaskan Risalah Nur mulai ketika berada di Barla. Beliau mengapresiasi dan mendorong pengabdian yang telah mereka lakukan. Setelah itu, Risalah Nur mulai mendapat perhatian dari lapisan kaum terpelajar dan para pegawai yang bekerja di instansi pemerintahan. Generasi dari murid-murid Risalah Nur muncul ke medan juang, menjadikan pengabdian Risalah Nur sebagai tujuan hidupnya. Dengan pengabdiannya ini, mereka mempersembahkan manfaat yang terbesar bagi tanah air, bangsa dan agama.

* * *

Pengadilan kasasi telah menganulir keputusan pengadilan Afyon yang menjatuhkan keputusan penyitaan Risalah Nur. Salah satu faktor penyebab penganuliran keputusan itu adalah Risalah Nur yang disampaikan dalam daftar keputusan yang dianggap sebagai unsur dakwaan, tidak dijelaskan apakah Risalah Nur itu sendiri yang dibebaskan oleh pengadilan Denizli atau yang lainnya. Jika yang dimaksud adalah Risalah Nur yang sama di mana keputusan menyatakan kumpulan risalah itu tidak bersalah dan harus dikembalikan kepada pemiliknya, maka keputusan pengadilan Afyon dianggap tidak sah. Kemudian melakukan peninjauan kembali terhadap dakwaan yang pernah disebut sebagai “perkara yang tertutup rapat” dengan legitimasi dari pengadilan kasasi merupakan perbuatan yang bertentangan dengan undang-undang.

Hanya saja, kendati adanya keputusan penganuliran yang dikeluarkan pengadilan kasasi, persidangan pengadilan di Afyon terus berlangsung dan baru berhenti setelah Partai Demokrat berkuasa di mana partai ini mengeluarkan pengampunan umum mencakupi keputusan pengadilan Afyon dan perkarapun ditutup(*2)

* * *

Sebelum peristiwa penjara Afyon terjadi, Kepala Urusan Agama, Ahmad Hamdi, meminta dua naskah koleksi Risalah Nur dari Ustadz Said Nursi, salah satunya untuk perpustakaan pimpinan urusan agama, dan yang lainnya untuk pribadinya. Hanya saja, karena adanya peristiwa ditahannya Ustadz Said Nursi, kedua naskah yang diminta itu urung dikirim. Setelah Ustadz Said Nursi dibebaskan dan beliau datang ke Emirdağ, beliau mengoreksi kedua naskah koleksi Risalah Nur yang sebelumnya telah disiapkan dan keduanya dikirim dengan dilampirkan surat berikut:

Yang terhormat Tuan Ahmad Hamdi!

Saya sampaikan kepada Tuan sebuah peristiwa spiritual yang terjadi pada saya, yaitu bahwa sejak lama pemikiran saya tidak pernah sejalan dengan pemikiran Tuan dan pemikiran para syekh yang meninggalkan azimah dan mengambil rukhsah berdasarkan darurat. Maka ketika itu saya marah terhadap Tuan dan kepada mereka dengan mengatakan, “Mengapa mereka meninggalkan azimah dan mengikuti rukhsah? Oleh sebab itu, saya enggan mengirim Risalah Nur kepada Tuan-tuan secara langsung. Kemudian beberapa tahun yang lalu, sebuah perasaan menyesal terhadap Tuan-tuan terlintas dalam hati.

Sebuah kritikan dala hati mengatakan bahwa saudara-saudaramu, orang-orang terhormat yang dulu sama-sama mencari ilmu di Madrasah, terutama Ahmad Hamdi, telah menghadapi perusakan hebat sambil mengamalkan kaidah memilih bahaya yang paling ringan. Mereka mengalihkan sebagian tugas ilmiahnya guna menjaga hal-hal yang suci sehingga mereka meringankan bahaya yang besar menjadi seperempatnya. Hal ini diharapkan menjadi penghapus kesalahan yang terjadi dari mereka dan mengambil rukhsah karena darurat. Ya, inilah yang terlintas dalam hati.

Sejak itu, saya mulai melihat Tuan-tuan dan semisal dengan pandangan persaudaraan hakiki dengan anggapan Tuan-tuan adalah saudara-saudara lamaku dalam menuntut ilmu dan rekan-rekanku dalam belajar. Oleh karena itu, saya berniat untuk memberikan satu naskah Risalah Nur kepada Tuan berdasarkan permintaan yang terus menerus, dengan harapan mudah-mudahan Tuan menjadi pemiliknya yang sejati setelah saya, menjadi penjaga yang dapat memeliharanya ketika saya mengalami keracunan parah yang nyaris menewaskanku tiga tahun yang lalu. Sekarang ada sebuah koleksi yang ditulis oleh tiga orang Tullabunnur lima belas tahun yang lalu, tetapi tidak lengkap dan belum diperiksa. Sebagian sudah saya koreksi demi Tuan, sementara saya ketika itu sedang sakit.

Naskah yang ditulis dengan pena tiga murid terhormat itu bagi saya setara dengan sepuluh naskah lainnya. Saya tidak akan memberikan koleksi ini kepada siapapun selain kepada Tuan. Harga maknawi yang diperoleh sebagai imbalannya ada tiga:

Pertama:Berusaha keras sebisa mungkin untuk menggandakan dua atau tiga puluh naskah dari naskah itu dan menyebarluaskannya ke dinas urusan agama di seluruh negeri, karena menyebarluaskan karangan seperti ini dalam menghadapi arus ateisme luar merupakan tugas pimpinan urusan agama. Saya minta pekerjaan ini ditulis dengan huruf al-Qur’an. Jika tidak memungkinkan, dengan huruf Latin dengan syarat ada seorang dari saudara-saudaraku yang khusus yang membantu memeriksanya dengan teliti.

Kedua:karena Risalah Nur adalah milik Madrasah, sementara Tuan adalah murid Madrasah tersebut dan dalam waktu yang sama sebagai penanggungjawabnya, maka Risalah Nur juga milik Tuan.

Ketiga:jika memungkinkan, saya memohon agar Mushaf Tawafuq dicetak sehingga cahaya kemukjizatannya tampak.

Said Nursî

* * *

SEBAGIAN KORESPONDENSI ANTARA BADIUZZAMAN SAID NURSI DENGAN PARA MURIDNYA SETELAH TAHUN 1950 M

Ucapan Selamat atas Kebijakan Partai Demokrat Membolehkan Azan Dikumandangkan dalam Bahasa Arab(*3)

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Kami sampaikan ucapan selamat dengan penuh kebahagiaan atas dikumandangkannya azan dari puluhan ribu menara dan kami anggap ini adalah pembuka hari raya kalian, untuk negeri ini dan dunia Islam. Ini adalah kabar gembira munculnya syiar-syiar Islam di negeri ini. Kita memohon kepada Allah Ta`ala agar Dia menerima ibadah dan doa kalian pada bulan suci Ramadan ini yang membuat seseorang memperoleh usia beribadah lebih dari delapan puluh tahun. Kita memohon kepada Allah agar setiap malam dari malam-malam bulan suci ini menjadi lailatul qadar dan memberi kalian kesempatan untuk mendapatkan pahalanya.Saya memohon bantuan maknawi kalian karena saya tidak mampu menyelesaikan pekerjaan dalam bulan suci ini melihat kondisi saya yang lemah dan sakit.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Kepada saudara-saudaraku kaum Muslimin yang terhormat di pusat-pusat dunia Islam!

Dengan senang hati kami sampaikan ucapan selamat yang paling hangat dan kami beritahukan bahwa surat yang sampai kepada kami melalui kalian dari seorang ulama mujahid yang mulia dan penuh berkah telah kami sampaikan kepada ulama mulia, seorang penafsir dan pengarang banyak karangan berharga, yaitu Badiuzzaman Said Nursi.

Dalam surat balasannya, Ustadz Said Nursi memuji setinggitingginya usaha kalian dan memberitahu bahwa para pengikut Risalah Nur yang merupakan penerus para pahlawan al-Qur’an dan iman di negeri Anatolia, bersama saudara-saudaranya kaum Muslimin yang berorientasi ke hakikat al-Qur’an di negeri-negeri Arab, mereka membentuk dua barisan bersaudara yang seia-sekata di antara banyak barisan yang bergabung dalam lingkaran Hizbu al-Qur’an. Beliau juga menyampaikan kebahagiannya yang luar biasa karena kemauan kuat kalian untuk menerjemahkan sebagian Risalah Nur ke dalam bahasa Arab dan menyebarluaskannya, di samping hubungan erat kalian dengan koleksi risalah tersebut. Kami berkewajiban untuk memberitahu kalian pentingnya kelompok-kelompok Islam untuk mengadopsi Risalah Nur dan menjalin komunikasi dengan para Tullabunnur yang berada di Urfa(*4)

Wahai saudara-saudara yang mendapat pencerahan, bangsa Arab yang mulia! tentara kafir yang tidak henti-hentinya menyerang nenek moyang kita sejak seribu empat ratus tahun yang lalu untuk mengoyak-ngoyak umat Islam tidak berhasil dalam merealisasikan tujuannya kecuali setelah Perang Dunia Pertama. Para musuh telah berusaha dengan segala cara untuk menghancurkan ikatan kasih sayang yang menggabungkan antara bangsa Turki dan bangsa Arab dalam persaudaraan Islam yang hakiki selama seribu tahun. Mereka sangat tidak suka melihat bangsa ini merindukan Raudah suci yang berada di samping makam Nabi Muhammad, kebanggaan umat

Islam dan umat manusia, poros alam semesta, tempat manifestasi karunia Allah Yang Maha Penyayang. Mereka rela berdesak-desakan untuk dapat duduk di tempat suci itu demi mendapatkan keberkahan dari Nabi Muhammad . Para musuh telah berusaha keras untuk menghapus kebanggaan seribu empat ratus tahun dari ingatan kaum Muslimin, kebanggaan yang ditulis oleh nenek moyang mereka yang mujahid dan syuhada dengan pena pedang mereka yang kemilau, dengan tinta darah mereka yang suci, mengabadikannya dalam bumi dan lembaran masa, mengalungkannya sebagai amanah pada leher sejarah.

Risalah Nur adalah karangan berharga yang membuktikan keesaan Allah, risalah Nabi Muhammas, dan hakikat-hakikat akhirat dengan bukti-bukti yang kuat, dengan bentuk yang sangat jelas, di mana tak seorang cendekiawan atau filsuf pun yang mampu menghadapinya atau membantahnya.Kami bangsa Turki, menyimpan rasa cinta yang dalam dan penghormatan kepada kalian bangsa Arab yang mulia, sumber keluarga Nabi yang suci, juga kepada nenek moyang kalian para sahabat yang suci. Kecintaan dan penghormatan kami kepada mereka tidak pernah pudar. Kecintaan dan penghormatan ini dipersembahkan untuk Allah dan Nabi Muhammad. Untuk Nabi yang mulia dan agama yang lurus ini, kami siap untuk mengorbankan jiwa dan raga kami.

Kami memohon kepada Allah Ta`ala, berharap dalam kelembutan dan kemahapemurahan-Nya agar pada masa yang tidak lama lagi, apa yang diberitahukan ustadz kami tercinta bahwa bangsa Turki dan bangsa Arab akan kembali bersatu sebagai saudara sejati benar-benar terwujud. Ketika itu, benih-benih kejahatan dan kerusakan yang ditebarkan musuh-musuh umat Islam akan kembali tertabur di wajah mereka. Belenggu yang mengikat empat ratus juta umat Islam akan hancur. Mereka akan kembali membawa kehidupan Islam yang suci di depan barisan kemanusiaan, menyebarkan keamanan dan kedamaian di seluruh dunia dengan izin Allah Ta`ala.

Hamba yang sangat memerlukan pertolongan Allah,Salah seorang Tullabunnur

Khusrev

* * *

SURAT YANG DITULIS SAID NURSI UNTUK PERDANA MENTERI “ADNAN MENDERES” YANG MENGAKUI DAN MENGAPRESIASI PENGABDIAN AGUNG RISALAH NUR BAGI TANAH AIR, BANGSA DAN AGAMA (*5)

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Kendati sakit parah dan tidak ada hubungan dengan politik, saya ingin bertemu dengan salah seorang pahlawan Islam seperti Adnan Menderes, tetapi karena kondisi tidak memungkinkan, saya tulis surat ini sebagai pengganti pertemuan. Biarkan surat ini berbicara sebagai pengganti diri saya.

Saya sampaikan penjelasan beberapa asas secara sangat ringkas kepada orang-orang religius seperti Adnan Menderes, salah seorang pahlawan Islam.

Pertama:Salah satu prinsip Islam yang banyak itu adalah apa yang diungkapkan oleh ayat al-Qur’an yang mulia “Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain”. (QS. al-Isrâ [17]: 15).

Sesuai dengan prinsip ini, seseorang tidak dapat disalahkan karena kejahatan yang dilakukan oleh orang lain, kendati kerabat atau sahabatnya. Namun kenyataannya, politik sekarang, termasuk di dalamnya logika loyalitas partai, menerima penghukuman orangorang yang tidak bersalah disebabkan oleh kejahatan yang dilakukan oleh satu orang, sementara kejahatan dilakukan oleh satu orang kriminalis, fitnah dan celaan melebar hingga mencakupi keluarga dan sahabatnya. Satu kejahatan menjadi seakan seratus kejahatan dan ini memicu kecenderungan timbulnya kedengkian dan permusuhan yang menakutkan, memandang seseorang dengan perasaan dengki dan keinginan untuk melakukan balas dendam.Tentunya ini merupakan racun yang mematikan yang dapat menghancurkan kehidupan masyarakat secara keseluruhan, dan membuka pintu lebar-lebar kepada musuh luar untuk melakukan interferensi. Telah terbukti bahwa krisis dan peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini masing-masing di Mesir dan di Iran adalah disebabkan hal seperti ini. Hanya saja, jika dibandingkan dengan kondisi negeri kita, tetap ringan, tidak melebihi satu per seratus. Jika tidak, seandainya peristiwa seperti ini menimpa kita—semoga Allah melindungi kita—niscaya akan menghancurkan segalanya.

Untuk menghadapi bahaya yang mengancam ini hanya ada satu solusi yaitu meletakkan batu pondasi persaudaraan Islam, membatasi kejahatan hanya pada pelakunya saja demi menjaga hak orang-orang yang tidak bersalah.

Kemudian batu pondasi keamanan dan kestabilan hanya dapat bertahan kokoh juga dengan prinsip ini.

Seandainya di rumah atau di kapal ada satu orang yang tidak bersalah berbanding sepuluh orang kriminalis, misalnya, maka keadilan yang sebenarnya, prinsip keamanan dan kestabilan mengharuskan agar rumah atau kapal ini tidak diusik sampai orang yang tidak bersalah keluar meninggalkannya. Hal itu demi memelihara keselamatan orang yang tidak bersalah itu dan meninggalkan kemungkinan mencederainya.

Bertitik tolak dari prinsip al-Qur’an ini, mengancam keamanan dan kestabilan internal dengan mengekspos sembilan puluh orang yang tidak bersalah terhadap bahaya karena kejahatan yang dilakukan sepuluh orang kriminalis—sebagaimana keadaannya pada masa lalu—merupakan masalah yang mengundang kemurkaan Allah.

Karena Allah Ta`ala telah menguatkan kelompok religius yang sebenarnya pada masa sulit ini, maka ini merupakan pemberitahuan kepada mereka tentang keharusan menjadikan prinsip al-Qur’an ini sebagai pelindung dan titik sandar bagi mereka dan dengannya mereka menghadapi orang-orang yang kemarin memperlakukan mereka dengan kedengkian.

Prinsip kedua dari prinsip-prinsip Islam

adalah hadis mulia yang berbunyi

‘Tuan suatu kaum (bangsa) itu adalah pelayannya(*6) .Hadis ini menegaskan bahwa jabatan adalah untuk melayani orang banyak, bukannya alat kontrol untuk menjalankan kekuasaan dan egoisme terhadap mereka. Hanya saja karena kurangnya pendidikan Islam pada masa sekarang ini, lemahnya ibadah kepada Allah Ta`ala, egoisme menjadi kuat sehingga jabatan tidak lagi sebagai pengabdian tetapi menjadi kekuasaan, kontrol tirani dan kedudukan untuk menyombongkan diri, maka keadilan hilang dan tercerabut dari akarnya. Hak-hak manusia hilang. Penerapan hukum hanya formalitas seperti menjalankan salat tanpa berwudu dan menghadap kiblat. Maka bagaimana pula dengan orang yang tidak mengenal hakhak Allah, ia dapat mengenal hak-hak manusia?

Sekarang terdapat dua arus besar yang merintangi dua prinsip ini dan menghalangi orang seperti Adnan Menderes yang berkata, “Kami akan mengamalkan apa yang diwajibkan agama Islam terhadap kita”, dan ada kemungkinan besar serangan mereka akan dilancarkan kepada kita melalui penipuan rakyat dengan sogokan yang sangat besar dan melalui pembukaan kesempatan yang seluas-luasnya kepada intervensi asing.

Arus pertama telah menumpahkan darah empat puluh orang yang tidak bersalah bahkan satu desa seluruhnya karena kejahatan satu orang kriminalis, bertentangan dengan prinsip pertama yang baru kita sebutkan. Arus tirani absolut yang sangat besar menyuap orang-orang sekarang dengan gambaran kedudukan sebagai kekuasaan yang didambakan oleh setiap orang. Dengan ini serangan dilancarkan kepada para pengusung kebebasan yang religius.

Arus yang lain siap melepaskan diri dari berafiliasi kepada Islam dan mengunyah hak-hak seratus orang yang tidak bersalah karena kejahatan satu orang kriminalis sebagaimana halnya arus pertama. Kendati ia pada lahirnya tampak seperti simbol nasionalisme, pada hakikatnya adalah cenderung rasial, membenci para demokrat yang religius yang mendukung kebebasan, membenci seluruh elemen negeri ini yang berjumlah tujuh puluh persen dari mereka, bahkan hingga membenci bangsa Turki yang malang, pemerintah, politik yang dianut Partai Demokrat, mendirikan persaudaraan rasial antara orang-orang yang memiliki egoisme yang bebas dari segala ikatan. Maka dengan persaudaraan yang memenuhi keinginan nafsu ini, arus ini menyuap bangsa dan membius perasaan mereka sehingga tidak menyadari bahaya besar yang seribu kali lebih besar dari manfaatnya yang di antaranya mengubah persaudaraan sejati menjadi permusuhan.

Misalnya, ada empat ratus juta saudara sejati yang disatukan oleh persaudaraan Islam, mereka saling membantu secara spiritual setiap hari dengan doa umum yang mereka ucapkan ‘Ya Allah, ampunilah orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan’, hanya saja rasisme yang baru kita sebut di atas menjadikan penganutnya meninggalkan empat ratus juta saudara yang penuh berkah ini demi empat ratus orang yang keluar dari persaudaraan Islam ini semata-mata untuk kepentingan dunia yang parsial. Ini sangat berbahaya bagi negara, pemerintah, para demokrat religius dan bangsa Turki, bahkan orang Turki yang sebenarnya tidak akan melakukannya, karena orang Turki sejati tidak akan rela melakukan kesalahan seperti ini.

Kedua arus ini bekerja untuk menjatuhkan para demokrat religius, bahkan mendorong orang lain untuk melakukan perbuatan yang sama dengan memanfaatkan segala sesuatu yang ada. Ini adalah masalah yang sangat jelas dan tidak diragukan. Menghadapi perbuatan destruktif ini, menghadapi dua kekuatan yang merintangi kalian ini, menghadapi para musuh di dalam dan di luar, di hadapan kalian hanya terdapat satu solusi yang paling harus kalian lakukan, yaitu berpegang teguh pada hakikat al-Qur’an yang kuat yang dengan empat puluh orang sahabat Nabi menantang empat puluh negara dan mereka mengalahkannya, yang setiap abadnya memiliki empat ratus juta murid selama seribu empat ratus tahun. Ya, berpegang teguh pada hakikat al-Qur’an ini dan dengan manfaat kebahagiaan abadi di dunia dan akhirat yang terkandung di dalamnya dan menjadikannya titik sandaran bagi kalian dalam menghadapi mereka. Jika tidak, maka musuh-musuh kalian yang senantiasa memantau kalian di dalam dan di luar akan mengubah satu kejahatan yang kalian lakukan menjadi seribu kejahatan, kemudian menambahkannya ke kejahatan orang-orang terdahulu sehingga semua kejahatan itu akan dipikulkan ke pundak kalian sebagaimana mereka memikulkannya kepada orang lain. Ketika itu bahaya akan mengancam kalian, mengancam negara dan bangsa serta bahaya itu sulit untuk dihindari.

Saya dan saudara-saudaraku pengikut Risalah Nur akan berdoa untuk kalian sebagai balasan terhadap pengabdian yang akan kalian kerjakan, terhadap dua prinsip yang hendak kalian amalkan dengan mengucapkan, “Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada kalian dalam pengabdian kalian bagi agama Islam. Semoga Allah melindungi kalian dari semua bahaya itu”

Prinsip ketiga adalah hadis mulia yang merupakan salah satu prinsip kehidupan sosial dalam Islam ‘Orang beriman bagi orang beriman yang lain seperti bangunan yang saling menguatkan satu sama lain’(*7)

Maksudnya, untuk menghadapi musuh-musuh di luar harus melupakan permusuhan dan harus saling mendukung secara sempurna di dalam. Banyak kelompok menyadari manfaat prinsip ini sehingga menjadi hal yang diketahuinya secara spontan sehingga kita melihat anggota kelompok ini ketika mereka diserang musuh luar, mereka melupakan permusuhan yang ada di antara mereka padahal di antara mereka ada yang pernah membunuh ayah atau saudaranya. Mereka saling membahu untuk menghalangi musuh dari luar.Namun sangat disayangkan, kita lihat di dalam ada orang yang dikuasai pemikiran keberpihakan yang lahir dari egoisme, kesombongan, dan politik kejam sehingga kita melihat orang itu mencurahkan kasih sayang kepada yang loyal terhadap dirinya meskipun loyalis itu adalah setan dan mengutuk para penentangnya kendati mereka adalah malaikat.

Sampai-sampai saya melihat seorang ulama saleh menggunjing ulama saleh dan mulia yang berbeda politiknya dan mengkritisinya hingga mengkafirkannya sementara dia memuji setinggi langit seorang zindik yang memerangi Islam semata-mata karena orang zindik itu pemikirannya sama dan mendukung pemikiran ulama ini. Maka sejak itulah saya meninggalkan politik dan menjauhinya sejak tiga puluh lima tahun yang lalu sebagaimana saya menjauhi setan.

Ketika salah seorang dari mereka menistakan bulan suci Ramadan, menistakan syiar-syiar Islam, dan bangsa yang religius, kita lihat para penentangnya bersuka cita dan menerima apa yang dilakukannya. Padahal sebagaimana rida terhadap kekufuran adalah sebuah kekufuran, demikian juga rida terhadap kesesatan, kefasikan dan kezaliman. Kita lihat bahwa rahasia sikap aneh ini adalah para penentang ingin melegitimasi kejahatan yang mereka lakukan dalam pandangan orang banyak, mereka ingin memperlihatkan bahwa kejahatan orang lain lebih amoral dan lebih jahat dari mereka.

Akibat dari kezaliman ini bukan hanya parah, tetapi juga menghancurkan moral masyarakat dan merupakan pembunuhan mengerikan terhadap negeri,

bangsa dan kekuasaan Islam Sebetulnya saya ingin menulis lebih banyak, tetapi saya cukupkan dalam menjelaskan tiga masalah mendasar ini bagi para pendukung kebebasan yang religius.

Said Nursî

* * *

Kami sampaikan di sini anotasi terhadap surat yang pernah kami sampaikan kepada Adnan Menderes yang bersumber dari hakikat yang berkaitan dengan kehidupan sosial kami.

Anotasi:Tentang masalah Tijaniyyah(*8)yang terjadi sebagai akibat dari undang-undang rezim terdahulu yang sewenang-wenang dan tidak memiliki dasar, serta sebagai akibat dari pelaksanaannya yang tidak benar, bahkan mungkin hal itu terjadi dengan provokasi para tokoh rezim tersebut sehingga saya melihat ada satu solusi yang menjauhkan pelimpahan masalah sebagai tanggung jawab para demokrat yang religius dan menjaga nama baik serta kedudukan mereka dalam pandangan dunia Islam,

yaitu sebagaimana menyebarluaskan azan yang membuat para demokrat mendapatkan kekuatan sepuluh kali lipat, begitu pula mengembalikan kedudukan suci Masjid Hagia Sophia yang disandangnya selama lima abad(*9). Mereka seharusnya secara resmi membatalkan pelarangan terhadap Risalah Nur yang memberikan dampak positif bagi dunia Islam, membuat penduduk negeri ini merasakan manfaat dengan adanya perhatian dari bangsa-bangsa muslim, pengadilan tidak berhasil menemukan kandungan berbahaya selama dua puluh delapan tahun dan Lima pengadilan memutuskan bahwa Risalah Nur tidak bersalah. Dengan ini, kaum demokrat menghindari kecenderungan buruk terhadap masalah ini dan saya yakin manakala mereka melakukan hal ini, mereka akan mendapat apresiasi dari dunia Islam dari satu sisi dan akan membuat pihak lain tidak akan mampu menimpakan dosa padanya di sisi lain.Kendati saya telah meninggalkan dunia politik sejak tiga puluh tahun yang lalu, saya kembali memperhatikannya selama dua jam saja dan saya tulis ucapan ini demi menjaga perasaan kaum demokrat yang religius terutama Adnan Menderes.

Said Nursî

* * *

SURAT DARI TULLABUNNUR DI ANKARA

Sudara-saudara kami yang mulia dan setia!

Kami telah mendapatkan seberkas sinar matahari Islam dari surat Anda. Dari surat itu kami mengetahui bagaimana Risalah Nur—yang memperbaiki kerusakan yang dilakukan orang-orang kafir secara terus menerus sejak ratusan tahun dan menyebarluaskan pemikirannya yang bertujuan menghancurkan kemanusiaan dan Islam—tersebar luas di antara generasi muda.Para pecinta kebenaran yang meniti jalan kehidupan abadi telah meninggalkan ucapan-ucapan yang sia-sia dan mencabut kekufuran dari akarnya bersama Risalah Nur. Para Tullabunnur adalah saudara sejati bagi mereka yang memiliki hati nurani dan iman.Surat Anda benar-benar membangkitkan kemauan keras dan semangat kami.

Risalah Nur yang merupakan tafsir al-Qur’an telah mengajarkan kepada kami bahwa merupakan kedunguan besar pada zaman ini jika seseorang tetap berkubang dalam kesesatan dan tidak melawan kekufuran. Tugas paling penting yang harus dilakukan pada zaman di mana kekuatan destruktif komunisme, freemasonri dan anarkisme adalah melakukan pengabdian dengan Risalah Nur, mempersembahkannya kepada orang yang membutuhkannya semata-mata demi mencari keridaan Allah Ta`ala. Serangan paling sengit yang diupayakan guna menghalangi tugas mulia, bernilai dan penuh berkah ini, sama sekali tidak akan membuat kita surut, malah akan menjadikan kita bertambah semangat dan tabah.

Risalah Nur telah mengajari kita dan membuktikan kepada kita bahwa dunia ini tidak lain merupakan persinggahan sementara. Orang yang mencari kehidupan abadi akan mendapatkan kesenangan sesuai dengan perhatian mereka terhadap tugas-tugas yang ada di persinggahan ini. Dengan demikian, tugas kita yang paling penting adalah segera menyelamatkan kaum beragama dari kubangan, memberikan bantuan kepada hati yang telah jenuh dengan kegelapan dan kekurangan nutrisi serta menjadi penyeru Risalah Nur mulai dari kita sendiri.

Yang paling harus dilakukan pada masa sekarang ini adalah selalu membaca Risalah Nur dengan seksama dan penuh perenungan, melengkapi diri dengan hakikat-hakikat al-Qur’an dan iman yang terkandung di dalam koleksi Risalah Nur yang berharga ini dan segera menyempurnakan bacaan koleksi yang luar biasa ini. Orang yang beruntung mendapatkan nikmat ini patut menjadi individu yang berguna untuk dirinya sendiri, tanah airnya dan bangsanya. Dalam kekuatan dan kemanfaatannya setara dengan seratus, bahkan seribu orang biasa. Ketika itu, ia dapat melakukan pengabdian yang mencakup seluruh negara dan bangsa, para pemuda dan seluruh dunia Islam.

Berkaitan dengan masalah ini, kami mohon agar Ustadz Badiuzzaman mendoakan kami, juga memohon agar kalian mendoakan kami karena kalian telah mendapat kehormatan menjadi para muridnya yang sejati dan tulus. Karena ada banyak bukti bahwa Risalah Nur telah diterima pada masa sekarang ini, maka wajar setiap orang beriman yang memiliki objektifitas menjadi pendukung Risalah Nur.

Kemudian, selama Risalah Nur memiliki karakteristik masa kini dan diapresiasi para ulama, selama Ustadz Said Nursi yang pemberani bekerja sebagai penyeru al-Qur’an telah mewakafkan dirinya untuk iman dan Islam, meniti jalan hidupnya dengan langkah-langkah pasti, dengan prinsip-prinsip kuat dan sempurna yang tidak ada bandinganya, bekerja semata-mata demi mengharapkan keridaan Allah,

sama sekali tidak mencari keuntungan duniawi, selama para murid Risalah Nur telah menghibahkan hidupnya juga untuk mengabdi pada Islam dan iman dalam lingkaran ahlussunah, bukannya untuk mencari keuntungan dunia sedikitpun, selama ribuan dari mereka telah membuktikan hakikat ini dengan perbuatannya tanpa memerdulikan intimidasi dan ancaman, selama setiap Tullabunnur siap menjawab kebatilan pemikiran filasafat masa kini dengan jawaban yang benar dan tepat, selama al-Qur’an memenuhi kebutuhan kita dan di dalamnya kita mendapatkan hakikat-hakikat yang nyata dan jelas, selama kitab suci merupakan hadiah, cahaya dan rahmat Allah Ta`ala yang memberikan pelajaran dalam bentuk terbaik,

maka memanfaatkan waktu untuk membaca dan menyalin Risalah Nur yang mengajarkan khazanah rahmat dan sumber hakikat itu serta memberitahukannya kepada generasi muda dan masyarakat awam dalam bentuk yang mudah mereka pahami adalah sebuah ibadah agung dan sumber kenikmatan. Risalah Nur adalah penyelamat maknawi, obat dan penawar yang besar manfaatnya, sangat efektif dan dikonsumsinya dengan penuh kenikmatan bagi masa kini, masa yang akan datang dan para remaja sekarang. Ketika hakikat yang pasti ini berada di tengah-tengah kita tidak berpegang teguh pada Risalah Nur, tidak membacanya dengan seksama dan tidak mempunyai keterkaitan dengannya, maka hal itu merupakan tanda kelalaian.

Setiap orang yang mencari hakikat, sepatutnya belajar dari Risalah Nur. Kami para Tullabunnur di Universitas Ankara sepakat bahwa setiap orang terpelajar yang meniti jalan Risalah Nur, pasti akan mencapai kebahagiaan hakiki dan memahami hakikat dunia. Akan tiba saatnya, Risalah Nur yang merupakan cahaya al-Qur’an yang bijaksana yang menyingkap perbendaharaan kehidupan abadi dengan nyata akan menggemakan suaranya dengan nyaring di dunia Islam.

Para ulama yang membersihkan dirinya dari hawa nafsu dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan adalah para pewaris para nabi sebagaimana diberitakan oleh hadis mulia, “Para ulama itu adalah para pewaris nabi”(*10). Dengan pengertian ini, kita menganggap bahwa Risalah Nur termasuk golongan mereka para pewaris nabi itu. Sosok maknawi Risalah Nur telah menjalankan asas pewaris hakiki. Orang-orang lalai yang bisu, tuli dan buta yang menentang Risalah Nur akan mengalami kehinaan. Risalah Nur yang telah mendapat kedudukan tinggi akan menarik perhatian para filsuf dan para pencari kebenaran. Pelajarannya akan sampai kepada setiap orang yang berakal dan berhati sehat. Waktunya tidak akan lama lagi sehingga dengan mata kepala sendiri kita akan menyaksikan peristiwa ini, dengan izin Allah. Dunia ini akan mengalami perubahan baru sebagaimana dinyatakan oleh para filsuf dan ulama. Dunia baru itu akan mencari cahayanya sebagaimana dikatakan oleh penyair sejati, Muhammad Akif:

Wahai Tuhan…Kirimlah cahaya itu, Cukuplah berabad-abad menunggu

Cakrawala bangsa gelap gulita,Membutuhkan pagi hari tiba

Cahaya yang diisyaratkan penyair kita telah menjadi nyata bagi kita sekarang ini.

Saudara-saudara kami yang mulia!

Kami mohon doa Anda agar kami dapat bersungguh-sungguh dan berusaha keras dalam bentuk yang sesuai dengan Risalah Nur agar kami tidak terkalahkan oleh suasana Ankara. Cahaya, kendati ia dapat mengusir kegelapan, ia tetap memerlukan mata yang dapat melihatnya dan akal yang dapat menyadari keberadaannya. Oleh karena itu, doakan kami, saudara-saudara Anda yang sedang membutuhkan agar mata kami tidak tertutup dalam suasana ini. Semoga Allah memberi kita semua taufik sehingga dapat berpegang teguh pada Risalah Nur demi mengabdi pada agama yang mulia ini. Amin.

Salah seorang saudara kami berkata bahwa saya mendapatkan inspirasi untuk menulis bait di bawah sesudah salat subuh, kami ingin memberitahukan kepada saudara-saudara kami.

Agamaku Islam, kitabku al-Qur’an, imanku Haq,

Mengorbankan nyawa untuknya adalah hidup selamanya.

Teriring dengan cinta yang tulus

Para Tullabunnur di Universitas Ankara

* * *

ANALISIS TERHADAP SAID NURSI DAN RISALAH NUR

Telah lama berpisah,

barangkali sudah dua puluh tujuh atau dua puluh delapan tahun saya tidak bertemu dengan Ustadz Said Nursi...Begitu lama saya menyimpan keinginan untuk mengunjungi beliau, untuk memanjakan pandangan dengan menatap wajahnya yang penuh berkah, tetapi karena kesibukan yang begitu banyak, saya tidak berkesempatan untuk melaksanakan keinginan ini. Meskipun demikian, Ustadz Said Nursi selamanya berada bersama kami dengan kehadirannya secara maknawi di hati kami. Namun, apakah ini cukup untuk memadamkan gelora kerinduan? Tentunya tidak. Kegembiraan kami belum sempurna sebelum kami dapat bertemu, memeluk dan menatap wajahnya. Baru ketika itu kerinduan kami akan terobati.

Sejak empat puluh tahun kami mengenal Ustadz Said Nursi. Ketika itu beliau sering datang ke ruang administrasi(*11).Kami menghabiskan waktu duduk bersamanya dalam perbincangan yang menyenangkan yang dapat berlangsung selama berjam-jam dengan ditemani orang-orang terhormat Muhammad Akif, Na`im, dan Farid Ismail Haqqi al-Izmiri. Beliau berbicara tentang masalah-masalah ilmiah yang mendalam dengan menggunakan dialeknya yang memikat. Kekuatan dan kemuliaan yang menjadi karakteristik pembicaraannya menggairahkan perasaan kami. Kecerdasan instingtifnya yang luar biasa dan talentanya yang merupakan karunia Ilahi sangat jelas terlihat ketika beliau membahas masalah-masalah yang sangat penting.Ustadz Said Nursi memiliki akal yang selalu berpikir dan aktif serta tidak banyak disibukkan dengan penukilan. Pembimbingnya hanyalah al-Qur’an. Semua sumber kecerdasan dan limpahan karunianya berasal dari al-Qur’an. Semua cahayanya bersumber dari al-Qur’an. Beliau juga memiliki pendapat yang mencapai tingkatan seorang imam mujtahid. Beliau memiliki hati yang penuh iman seperti seorang sahabat Nabi. Jiwanya penuh dengan kepahlawanan seperti Umar d. Dia seorang beriman yang menghayati era keba hagiaan Nabi Muhammad dalam dirinya pada abad kedua puluh. Tujuannya hanyalah iman dan al-Qur’an.

Dasar pemikiran Ustadz Said Nursi dan Risalah Nur adalah tauhid dan beriman kepada Allah yang merupakan inti tujuan Islam. Beliau begitu memusuhi kemusyrikan dan penyembahan berhala. Seandainya beliau ditakdirkan hidup pada masa awal munculnya Islam, mungkin beliau akan diberi tugas oleh Rasulullah untuk menghancurkan berhala pada masa itu.

Beliau hidup hampir mencapai satu abad untuk berjihad mengokohkan hakikat iman dan al-Qur’an dalam hati. Hidupnya adalah kehidupan yang penuh keutamaan dan kepahlawanan. Dia adalah seorang pahlawan yang tegak berdiri di hadapan musuh di medan perang dengan memegang pedang sambil memimpin para pejuang. Beliau juga seorang pahlawan yang melawan komandan musuh ketika berada di tawanan. Ia juga seorang pahlawan yang membuat komandan musuh berpikir dan tersadar ketika menghadapi tiang gantungan.

Beliau mempertaruhkan nyawanya secara sukarela, tidak pernah ragu untuk mengorbankan nyawanya demi bangsa dan negara. Beliau adalah musuh bebuyutan kekacauan, perusakan dan fitnah. Beliau rela menerima berbagai kezaliman dan kejahatan demi kepentingan bangsa. Beliau enggan mendoakan yang buruk kepada orang yang pernah berbuat zalim terhadap dirinya, bahkan sebaliknya beliau mengharapkan kebaikan dan iman bagi orang-orang yang telah menjebloskannya ke dalam penjara. Kematian bagi beliau adalah sesuatu yang ringan dalam rangka mencapai tujuan sucinya.

Makanan Ustadz Said Nursi adalah semangkuk sup, segelas air dan beberapa potong roti. Pakaiannya sangat sederhana: kain katun putih. Meskipun demikian beliau sangat memperhatikan kebersihan dengan mengganti pakaiannya dan mencucinya sebelum kotor. Beliau tidak pernah membawa uang kertas dan tidak pernah menyentuhnya, tidak memiliki kesenangan dunia sedikitpun. Beliau hidup untuk umatnya, bukan untuk dirinya.

Perawakannya kurus, tidak tinggi tetapi mengesankan dan berwibawa. Tatapannya tajam dan memancarkan kilauan yang mengagumkan. Boleh jadi beliau adalah orang yang paling miskin di dunia dilihat dari sisi materi, tetapi beliau adalah seorang sultan di dunia spiritual.

Penderitaan selama bertahun-tahun dalam usianya yang mencapai delapan puluh tahunan tidak membuat wajahnya berkeriput, hanya membuat rambutnya beruban. Warna kulitnya putih kemerah-merahan. Beliau tidak berjanggut laksana seorang pemuda yang segar. Belau berpenampilan tenang dan lembut, tetapi ketika sedang menghadapi masalah penting, beliau tegak dalam duduknya seakanakan seekor singa, berbicara dengan perkataan lantang seakan-akan seorang sultan di atas singgasananya.

Yang paling tidak ia sukai adalah politik. Beliau telah melarang dirinya sendiri dan segenap muridnya untuk terjun dalam dunia politik. Sejak tiga puluh tahun yang lalu hingga sekarang beliau tidak pernah membaca satupun surat kabar. Ia memutus hubungannya dengan urusan dunia. Beliau menyibukkan diri dengan ibadah. Usai salat Magrib hingga siang hari berikutnya, beliau tidak pernah menerima siapapun. Beliau menghidupkan malam dan tidurnya hanya sebentar.

Murid-muridnya tersebar luas di seantero negeri. Jumlah mereka mencapai enam ratus ribu orang, bahkan mungkin mencapai satu juta. Mereka adalah putra-putri bangsa yang mulia. Di antara mereka ratusan bahkan ribuan merupakan mahasiswa yang mempelajari ilmu sains di berbagai fakultas pada beragam universitas. Semua Tullabunnur menjadi orang yang paling mulia dan rajin di kelasnya. Dengan tersebar luasnya Tullabunnur yang berjumlah ratusan ribu di berbagai pelosok negeri, tidak seorangpun di antara mereka yang mengganggu keamanan, bahkan setiap orang dari mereka merupakan penjaga maknawi yang memelihara keamanan dan kestabilan negara.

Saya bertanya, apakah ada sesuatu yang membuat Anda menderita saat melakukan perjalanan menuju Istanbul?

Beliau menjawab:Yang membuat saya menderita adalah bahaya yang mengancam dunia Islam. Dulu, bahaya itu datang dari luar dan melawannya mudah, sementara sekarang bahaya itu datang dari dalam ibarat musuh dalam selimut, sehingga tidak mudah untuk menghadapinya, bahkan saya khawatir masyarakat kita tidak akan mampu melakukannya. Kerena mereka tidak menyadari keberadaan musuhnya. Masyarakat melihat musuh yang paling berbahaya yang memotong pembuluh darahnya dan menghisap darahnya sebagai kawan akrabnya. Jika mata hati masyarakat telah rusak seperti ini, maka keimanan sedang berada dalam ancaman serius. Inilah yang membuat saya menderita, tidak ada yang lain. Jika tidak, tidak ada waktu untuk memikirkan kesulitan dan penderitaan pribadi. Seandainya kesulitan ini sepuluh kali lipat, masa depan benteng iman tetap akan selamat.

Tidakkah ribuan Tullabunnur memberimu pelipur lara dan harapan pada masa mendatang?

Ya. Saya tidak pesimis.

...

Sekarang dunia sedang menderita krisis maknawi yang besar. Dari hari ke hari tersebar wabah penyakit yang dulu muncul dalam masyarakat Barat yang memiliki pondasi maknawi yang sudah goyah. Maka dengan solusi apa dunia Islam akan menghadapi penyakit yang mematikan ini? Apakah mereka akan menghadapinya dengan solusi ciptaan Barat yang busuk dan batil? Ataukah akan menghadapinya dengan dasar-dasar iman yang segar? Saya melihat para “pemilik akal” yang besar itu tengah terlelap dalam kelalaian. Dasar-dasar kekafiran yang rapuh tidak mungkin dijadikan pilar benteng iman.

Oleh karena itu, saya fokuskan diri untuk masalah iman, tidak yang lainnya.Mereka tidak memahami Risalah Nur atau tidak ingin memahaminya. Mereka mengira saya seorang guru madrasah yang tenggelam dalam sistem pendidikan lama. Padahal saya telah menyibukkan diri dengan ilmu-ilmu kekinian, ilmu pengetahuan dan filsafat produk masa kini sampai saya menganalisis masalah yang paling dalam secara khusus. Dalam hal ini saya susun banyak karangan, tetapi saya tidak mengenal permainan logika dan meniru-niru kecurangan para filsuf. Yang menjadi perhatian saya terhadap bangsa ini adalah kehidupan internalnya, keberadaan spiritualnya, hati sanubarinya, dan keimanannya. Saya tidak memiliki kesibukan selain dengan dua dasar yaitu tauhid dan iman yang diperkokoh oleh alQur’an. Keduanya merupakan penopang berdirinya umat Islam. Jika penopang ini goyah, keberadaan umat dalam bahaya besar.

Mereka bertanya kepada saya, “Mengapa Anda mengusik orang ini dan itu?”Saya jawab, “Saya tidak sadar. Sementara di hadapan saya terjadi kebakaran besar yang kobarannya menjulang ke langit, kebakaran itu melalap anak-anak saya, dan lidah apinya sampai ke tubuh saya, maka dengan segera saya berusaha memadamkan kobaran api itu dan menyelamatkan iman saya. Tiba-tiba seseorang berdiri menghalangi jalan dengan maksud untuk merintangi perjalanan saya, lalu kaki saya menabraknya. Apa pentingnya hal itu? Apa nilai peristiwa sepele seperti ini dibanding kebakaran besar itu? Pemikiran sempit dan pandangan pendek.

Apakah mereka mengira saya adalah seorang yang egois yang hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri? Saya telah mengorbankan seluruh apa yang saya miliki dalam rangka menyelamatkan keimanan masyarakat, bahkan sampai-sampai saya mengorbankan akhirat saya. Selama hidup hampir delapan puluh tahun, saya belum pernah mengenal sedikitpun kenikmatan dan kesenangan dunia. Umur saya habis di medan perang, di kamp tawanan, di dalam penjara negaraku atau dalam pengadilan. Semua kekerasan dan penderitaan pernah saya alami. Dalam pengadilan militer, saya diperlakukan seperti seorang kriminalis. Dari satu pengasingan saya dipindahkan ke pengasingan yang lain layaknya seorang preman. Dalam semua penjara di negaraku, saya dilarang untuk melakukan komunikasi dengan orang lain selama beberapa bulan. Berkali-kali saya diracun. Berbagai penghinaan dilancarkan kepada saya, sampai-sampai terkadang saya lebih suka mati daripada hidup. Seandainya agama saya tidak melarang untuk melakukan bunuh diri, Said sudah lama berada di dalam kubur.

Saya memiliki fitrah yang tidak menerima kehinaan. Kemuliaan dan kegagahan Islam sangat melarang kehinaan. Siapapun yang menjadi musuh, saya tidak akan pernah menghinakan dirinya walaupun dia seorang tiran yang kejam atau musuh bebuyutan penumpah darah. Saya balas kezaliman dan kebengisannya meskipun untuk itu saya harus rela dijebloskan ke dalam penjara atau diseret ke tiang gantungan. Saya tidak memperdulikan hal itu jika hal itu terjadi, bahkan benar-benar pernah terjadi dan saya saksikan sendiri seandainya hati nurani pemimpin berdarah di kamp penahanan itu tunduk pada kezaliman, niscaya Said sekarang termasuk mereka yang mati di atas tiang gantungan dan tergabung dengan mereka yang teraniaya.

Demikianlah hidup saya berlalu dengan kesulitan dan musibah. Saya korbankan diri dan dunia demi iman, keselamatan dan kebahagiaan masyarakat. Saya tidak mendoakan keburukan kepada orang yang telah berbuat aniaya terhadap saya karena berkat kesulitan dan ujian ini Risalah Nur menjadi wasilah untuk menyelamatkan iman ratusan ribu orang, bahkan hingga jutaan. Saya tidak mengetahui jumlah mereka secara pasti. Begitulah yang mereka katakan. Jaksa penuntut umum Afyon berkata bahwa jumlahnya lima ratus ribu. Alhamdulillah dengan tetap hidup sambil menanggung kesulitan dan musibah, saya telah melakukan pengabdian bagi mereka dengan menyelamatkan imannya. Tetapi jika saya mati, saya hanya menyelamatkan diri saya sendiri. Ribuan syukur saya ucapkan pada Allah.

Saya juga telah mengorbankan akhirat saya demi iman dan keselamatan masyarakat ini, bukan karena mendambakan surga atau takut neraka. Jika iman masyarakat Turki yang berjumlah dua puluh lima juta selamat, bahkan iman masyarakat Islam yang berjumlah ratusan juta, maka jangankan satu orang Said, seribu satu Saidpun akan dikorbankan.Seandainya di muka bumi ini al-Qur’an tidak memiliki pengikut, maka saya tidak menginginkan surga, bahkan surga itu sendiri akan menjadi penjara bagi saya. Saya rela dibakar neraka Jahanam demi menyelamatkan iman penduduk negeri ini karena ketika tubuh saya dibakar, hati saya akan menjadi taman bunga.

Ustadz Said Nursi sedang berada dalam kondisi semangat, seperti gunung berapi yang memuntahkan lava atau seperti badai yang berhembus di atas lautan hati sehingga menimbulkan gelombang ombak tinggi, atau seperti air terjun deras menakutkan yang tercurah ke kedalaman jiwa. Beliau terus berbicara seperti seorang orator yang lantang di tengah kerumunan orang, tidak ingin seorang pun memotong pembicaraannya.Saya rasa beliau telah lelah. Saya ingin mengubah tema pembicaraan.

Saya bertanya:“Apakah Anda sudah merasa bosan dengan tuntutan pidana di pengadilan?”.

Saya bertanya kepada para guru besar hukum dan para cendekiawan, apakah ada dalam undang-undang satu pasal yang mengkriminalisasikan orang yang mendukung pengajaran agama atau mendukung menjaga kesopanan dan kehormatan istri, anak perempuan dan negeri kita dengan mendidik mereka dengan pendidikan Islam? Atau apakah ada dalam ucapan saya, “Sebuah kenyataan terlintas dalam hati....” atau ungkapan sejenis yang menunjukkan bahwa saya dengan ucapan itu merealisasikan kekuasaan pribadi saya?

Pertemuan kami dengan Ustadz Said Nursi telah berlangsung lama. Waktu begitu cepat berlalu. Kami pun pamit untuk undur diri.

1952

Asyraf Adib

* * *

SAID NUR DAN MURID-MURIDNYA

Ada seorang lansia yang bahagia. Beliau selalu dikerumuni pengikut dari usia delapan hingga usia delapan puluh tahun, dengan perbedaan pemikiran dan pekerjaannya, tetapi meskipun demikian tidak ada perbedaan di antara mereka. Iman kepada Allah Rabb Semesta alam, kepada rasul-Nya yang terpercaya dan kepada kitab-Nya yang mulia telah menyatukan mereka. Keadaan mereka menyuarakan bahwa mereka adalah orang-orang yang telah menemukan sesuatu yang selama ini mereka cari. Mereka mendapatkan al-Qur’an secara segar seakan-akan baru diturunkan hari ini.Ketika seseorang merenungkan kondisi Said Nur dan segenap muridnya ia akan merasakan seakan-akan berpindah ke era kebahagiaan, era generasi pertama, melihat sinar terpancar dari wajahnya, tampak jelas dalam lahir dan batinya. Kedamaian menyelimuti mereka. Betapa bahagianya ketika seseorang mempunyai ikatan dengan sesuatu yang suci, luhur dan abadi, ikatan dengan Allah Pencipta Alam Semesta, Yang Maha Dekat lagi Maha Mengawasi di setiap tempat. Ya, betapa bahagianya seseorang ketika meniti jalan ini dan menjadi orang yang sangat mencintainya!

Said Nur adalah seorang yang sudah banyak makan asam garam. Selama usianya yang panjang, beliau telah melalui tiga periode: periode “parlementer”, periode persatuan dan pembangunan, kemudian periode republik. Setiap periode ini penuh dengan perubahan, kemerosotan dan kehancuran. Semuanya runtuh selain satu orang yang tetap tegar tidak tergoyahkan, seorang yang datang dari puncak Timur, tempat di mana matahari terbit, datang ke Istanbul membawa iman seperti gunung yang kokoh yang dijadikan tamengnya dalam menghadapi kejahatan tiga periode ini.Beliau hanya berkata Allah dan rasul-Nya, tidak ada ucapan lain. Berdiri tegak seperti gunung yang menjulang tinggi. Tidak seorang tiran pun yang mampu menundukkannya dan tidak seorangpun cendekiawan yang menandingi ilmunya. Kemauan keras seperti batu. Kecerdasan tajam seperti kilat. Itulah dia Said Nur... Tokoh spiritual yang mencengangkan yang pengadilan militer, revolusi dan kudeta tidak mampu menjadikan dirinya surut ke belakang, yang tempat pengasingan dan tiang gantungan tidak mampu membelokkan dari jalan hidupnya. Beliau tegar di hadapan semua penderitaan dan tantangan ini dengan penuh kekuatan dan keberanian yang bersumber dari keimanannya, seakan-akan dalam dirinya itu firman Allah Ta`ala terlihat jelas “...padahal kamulah orangorang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”. (QS. Ali `Imran [3]: 139).

Kami telah membaca pembelaannya yang disampaikan di pengadilan. Pembelaan itu bukan pembelaan untuk dirinya sendiri, tetapi pembelaan untuk dakwah agung. Ia adalah simbol keberanian, ketabahan dan kegeniusan.

Mengapa dulu Socrates menjadi orang besar sedemikian rupa? Bukankah karena dia rela mengorbankan hidupnya demi suatu pemikiran? Gambaran yang paling sederhana tentang diri Said Nur adalah bahwa beliau seperti Socrates, tetapi musuh-musuh Islam menggambarkannya sebagai orang kolot dan terbelakang. Dalam pandangan mereka, keagungan hanya untuk orang asing.

Ia digiring dari satu pengadilan ke pengadilan lain. Ia selalu berkuasa walaupun berada di dalam tahanan. Ia dijebloskan dari satu penjara ke penjara lain. Berkat beliau, penjara berubah menjadi Madrasah Yusufiyah. Ustadz Said Nursi telah menerangi penjara dan hati. Berapa banyak pembunuh kelas kakap, pelanggar asusila dan keamanan berubah menjadi insaf dengan iman ini dan seolah-olah mereka dilahirkan kembali. Mereka menjadi orang beriman dan warganegara yang baik. Sekolah apa dan sistem pendidikan apa yang dapat melakukan hal seperti ini?

Sekian lama ia diasingkan dari satu tempat ke tempat lainnya. Setiap tempat pengasingannya menjadi tanah airnya. Begitu beliau bertempat tinggal di suatu tempat, orang-orang beriman yang suci berkumpul di sekitarnya. Undang-undang, larangan, aparat keamanan, kepolisian, atau dinding penjara yang bisu tidak mampu memisahkannya dari saudara-saudara seimannya walau sekejap. Bahkan penghalang tebal yang memisahkan antara murid-murid dengan gurunya yang mulia menjadi tabir halus berkat agama, iman dan cinta.Belenggu materi yang bisu dan ancaman kekuatan yang buta ini membuat ombak laut yang menggelora di laut alam ruh. Ombak ini segera bergerak dari balai desa terpencil dan mengepung segala sisi hingga sampai ke pintu universitas.

Putra-putri bangsa yang diinjak kehormatannya bertahun-tahun, para generasi yang dirusak dan orang-orang yang haus terhadap keimanan meniti jalannya dan menuju pada cahayanya. Risalah Nur berpindah dari satu tangan ke tangan lain, dari satu lidah ke lidah lain, dan dari satu kota ke kota lain. Pemuda maupun orang tua, orang buta huruf maupun kaum terpelajar, anak-anak maupun orang dewasa, setiap orang mengambil bagian darinya, menerangi diri dengan sinarnya. Setiap murid Risalah Nur menjadi alat pengganda atau percetakan. Iman telah menantang teknologi. Risalah Nur disalin dengan tulisan tangan dan digandakan dengan alat pengganda.

Ya, ketakutan telah menyelimuti orang-orang buta yang kehilangan cahaya hatinya, padam sinar batinnya dan hancur tak bermakna sehingga mereka takut terhadap sinar ini. Mereka berulangkali mempidanakan Said Nur dan memenjarakannya dengan tuduhan “bertindak berseberangan dengan Revolusi dan Sekularisme” yang mereka suarakan secara berulang-ulang. Berkali-kali mereka meracuninya, namun racun itu malah menjadi penawar dan penjara menjadi madrasah. Cahaya beliau, cahaya al-Qur’an dan cahaya Allah menembus batas-batas negara dan menyebar ke seluruh pelosok dunia Islam.

Sekarang di Turki terdapat sebuah kekuatan di mana setiap organisasi dan setiap individu yang mencintai tanah airnya harus menghormatinya. Kekuatan itu adalah Ustadz Said Nur dan segenap muridnya. Mereka tidak memiliki organisasi, kantor pusat atau bangunan. Mereka tidak memiliki partai, festival orasi atau massa pendukung. Mereka semuanya adalah kelompok orang-orang yang beriman yang memiliki kesadaran yang tidak suka pamer, bertakwa yang tidak segan mengorbankan segala yang mahal dan berharga demi satu dakwah yang agung.

O. Yüksel Serdengeçti

* * *

MEREKA TELAH MERACUNI USTADZ BADIUZZAMAN

Tujuh tahun yang lalu, dalam lembaran hitam sejarah negara di mana hukum dilanggar, hak asasi manusia dirampas, kebebasan dikebiri, kepentingan dan tujuan individual mengungguli hukum, seorang ulama mulia yang usianya mencapai delapan puluh tahun diasingkan ke Emirdağ di wilayah Afyon. Secara resmi dicatat dalam catatan sipil dan dirinya dipaksa tinggal sebagai tahanan rumah.Ya, seorang pemikir yang menyampaikan hukum-hukum alQur’an yang mulia, membimbing orang-orang kepada kebenaran, kebaikan dan keutamaan sebagai tujuan hidupnya diasingkan. Di tanah airnya—yang dia perjuangkan di barisan terdepan dan persembahkan darah untuknya—dia mendapat perlakuan zalim yang mengingatkan kita pengadilan inkuisisi(*12). Orang-orang zalim itu tidak pernah membiarkan urusan apapun melainkan mereka selalu mengusik dan mengintimidasinya, termasuk yang berkaitan dengan kondisi dan pakaiannya. Beliau digiring ke kematian di bawah moncong senapan.

Selama dalam pengasingan, beliau tidak pernah merasakan kenyamanan hidup. Untungnya penduduk Emirdağ ini seperti halnya setiap orang Turki yang mewarisi sifat-sifat terpuji dari leluhur mereka: menghormati tamu, membantu orang yang kesusahan, menolong orang tua dan orang yang dalam perjalanan, maka merekapun memberi pertolongan kepada ulama mulia ini dan mereka menganggapnya sebagai suatu kewajiban yang diperintahkan oleh hati nurani dan akhlak mereka.

Ulama ini tidak ada kaitannya dengan partai atau organisasi politik apapun. Beliau adalah seorang ulama yang memelihara kemulian Islam, menjaga kehormatan dan wibawa ilmu, menjaga diri untuk tidak berhutang budi pada orang lain demi mendapatkan manfaat atau kesenangan dunia yang fana.

Sebagaimana setiap pemikir yang memiliki iman dan karakter di Turki diperlakukan buruk, begitu pula beliau pernah mendapatkan perlakuan seperti beberapa kali rumahnya digeledah, semua buku dan karangannya bahkan korespondesi pribadinya disita, diseret ke pengadilan dan dijebloskan ke dalam penjara tanpa ada kejahatan yang beliau lakukan.

Ya, kita katakan “tanpa kejahatan yang beliau lakukan”, karena mengaitkan kejahatan dengan Ustadz Said Nursi dan mencemarkan nama baiknya merupakan kebanggaan dari semua, mulai dari gubernur, bupati hingga aparat rendah di kepolisian. Demikian pula cara mereka untuk mendekatkan diri kepada para pemimpinnya dan kesempatan yang tidak dapat diganti agar pangkat mereka naik.

Kezaliman, kejahatan, melawan agama dan pemeluknya, mengintimidasi kebebasan berpikir dan menjalankan syiar-syiar agama yang terjadi pada masa kelam itu merupakan masalah yang pantas dikaji dan dicari penyebab dan motivasinya. Jika kita sekarang menolak dan mengecamnya, pada masa itu masalah ini merupakan hal yang biasa yang tidak dianggap aneh dan perlu ditolak. Ya, ketika pada periode itu untuk negara ini dikehendaki tumbuhnya generasi materialis yang lepas dari agamanya, hidup dengan semangat budak yang hanya memperturutkan hawa nafsu kebinatangan, tiba-tiba ulama ini bangkit menghadapi bahaya tanpa memerdulikan hidupnya, berusaha keras mencetak generasi yang kaya dengan iman, akhlak dan kebebasan serta tidak diperbudak oleh nafsu syahwat. Jelas hal ini sama sekali tidak akan menyenangkan orang-orang zalim yang bertengger di atas dada bangsa yang bergelayutan di lehernya seperti gurita, melanggar hak-haknya, merampas kebebasannya, bahkan

menebarkan teror kepada mereka.Tekanan dan pengawasan ini berlangsung bertahun-tahun. Setiap orang yang pernah berbicara dengan Ustadz Said Nursi, berkorespondensi atau membantunya, rumahnya pasti digeledah, dijebloskan ke dalam penjara, hubungannya dengan keluarganya diputus dan nasibnya berakhir tidak menentu.

Orang-orang zalim itu menyita al-Qur’an tulisan tangan, juga tafsir al-Qur’an yang disebut Risalah Nur. Mereka menyerahkannya kepada jaksa penuntut umum dengan tuduhan sebagai selebaran pengkhianatan nasional. Mereka berkilah bahwa penahanan dilakukan untuk dibawa ke pengadilan. Mereka membiarkan Ustadz Said Nursi mendekam dalam penjara selama dua puluh bulan tanpa kesalahan apapun.

Penangkapan demi penangkapan seperti ini terus berlangsung sampai-sampai penjara Afyon dipenuhi warga yang tidak berdosa dan kalaupun dianggap bersalah, kesalahannya hanyalah karena mereka beriman kepada Allah dan senantiasa mematuhi perintah-Nya. Mereka mengalami intimidasi dan perlakuan jahat di mana setan itu sendiri tidak akan tahan menerimanya. Jika kota Yerussalem dalam sejarahnya dikenal dengan kejahatan dan perbuatan aniaya Yahudi terhadap penduduk kota itu, maka kota Afyon pada masa itu menjadi kota yang banyak melanggar hak.

Pemilihan umum terjadi pada bulan Mei 1950 M guna mengakhiri kediktatoran yang telah berlangsung selama seperempat abad.

...

Orang-orang sangat berbahagia seperti halnya ketika pada hari raya karena mereka merasakan bahwa merekalah yang memutuskan dan mengontrol nasib mereka.

Pada saat orang-orang mengharapkan segala sesuatu berubah, tiba-tiba kita lihat gubernur Afyon dan bupati Emirdağ masih belum beranjak dari lembaran hidupnya yang terdahulu. Aparat inteligennya membuntuti setiap perkumpulan kendati hanya terdiri dari dua atau tiga orang. Rumah Ustadz Said Nursi pun tidak luput dari pengawasan. Aparat kepolisian yang berpangkat paling rendah sekalipun dengan leluasanya dapat menggledah rumah beliau tanpa harus ada izin resmi, bertentangan dengan undang-undang Republik Turki yang menetapkan kehormatan rumah harus dijaga. Kemudian aparat yang sembrono ini tidak mendapat hukuman apapun dari perbuatan kejinya itu. Maka orang-orangpun kembali mengusik pakaian dan keadaan Ustadz Said Nursi, mencatat nama orang-orang yang berkunjung kepadanya, memanggil mereka ke kantor polisi seperti yang pernah terjadi sebelumnya.

...

Sebetulnya yang mereka inginkan adalah “menghabisi” ulama agung yang sudah lanjut usia ini yang telah mewakafkan dirinya guna mengabdi pada bangsa selama delapan puluh tahun. Kapan eksekusi tugas hina ini diputuskan? Pada bulan suci Ramadan, malam Idul Fitri melalui racun yang dibubuhkan ke dalam makanan buka puasanya.

Ya, itulah kebiadaban yang tidak dapat diterima oleh moral dan kemanusiaan. Tidak cukup sampai di sini. Pintu rumahnya yang menyerupai penjara soliter dijaga aparat yang melarang siapapun untuk masuk. Ustadz Said Nursi dibiarkan sendirian melawan kematian.

Sungguh kasihan. Setiap orang yang dalam hatinya terdapat iman dan Islam, akan menangis begitu mengetahui hal ini. Namun demikian, untuk menghadapi kesedihan ini bukanlah dengan berlinang air mata dan meratap, tetapi dengan bersungguh-sungguh bekerja di jalan Allah.

Nihat Yazar

* * *

BADIUZZAMAN SAID NUR

Sebagai sebuah negeri yang dianggap sebagai tempat bagi orang orang besar dan istimewa, sepanjang sejarah yang panjang Turki telah menyaksikan para mujahid yang gagah berani, para mujaddid yang hebat dan sejumlah orang besar. Semuanya hidup di Turki dengan kehidupan yang terhormat dengan penuh penghormatan, penghargaan dan pengagungan. Mereka mendapatkan semua dukungan dan kemudahan untuk terus berjalan di atas jalan kebenaran yang mereka lalui, meskipun dua puluh lima tahun terakhir keadaannya sama sekali berbalik.

Keadaanya berubah menjadi kelam di mana terdapat banyak kezaliman yang sangat hebat. Untungnya terdapat seorang tokoh yang sangat genius, memiliki keutamaan yang langka dan cahaya yang bersinar terang, telah kenyang dengan asam garam kehidupan. Beliau terkenal karena keagungan imannya. Karena kebesaran dakwahnya dan seluruh pelosok dunia mengenalnya. Cahayanya telah menerangi hati yang gelap gulita.

Kekuatannya menginspirasi keberanian banyak orang beriman yang lemah. Kegeniusannya telah banyak menginspirasi ruh manusia yang malang. Tidak diragukan lagi bahwa orang besar ini adalah Badiuzzaman Said Nur.

Orang-orang yang mendapatkan pelajaran keutamaan dan pengorbanan langsung dari beliau, setelah sebelumnya tersesat di jalan, mereka mendapatkan dirinya berada dalam oasis cahaya dan kebahagiaan.

Ulama yang berwibawa yang memiliki keimanan yang kuat sekuat kegeniusan dan ketabahannya adalah satu-satunya orang yang berani menghalangi kezaliman dan tirani yang berlangsung selama dua puluh lima tahun tanpa gentar sedikitpun berkat keberanian imannya.

Dunia Islam tidak mampu melawan daya tarik kutub ini. Pemilik cahaya yang dilahirkan di sebuah desa terpencil di bagian Timur Turki, cahayanya telah bersinar hingga sampai Pakistan dan Indonesia. Cahayanya semakin bersinar dan kitapun semakin mendapat penerangan.

Sayangnya, ulama penuh berkah yang hidup di antara kita, yang telah membuat kita mulia, telah menerangi hati kita yang gelap, telah mengembalikan orang-orang yang tersesat ke jalannya yang benar, yang beliau dapatkan dari para pejabat negeri ini hanyalah kezaliman dan kejahatan.

Meskipun demikian, beliau tidak pernah jera dan pantang mundur bahkan beliau merupakan orang yang paling mengetahui bahwa dakwah apa pun tidak akan kuat selama tidak disiapkan dengan perjuangan, ujian dan pengorbanan.

Ketahuilah, meskipun berbagai upaya dilakukan, mereka tidak akan berhasil memadamkan sinar matahari ini. Sinarnya telah disebarkan oleh jutaan obor yang tidak akan pernah padam, bahkan terus menerangi hati dan pikiran. Itulah buah dakwah dan jihadnya. Selamat untuk Ustadz Said Nursi.

Cevat Rifat Atilhan

* * *

BADIUZZAMAN SAID NUR

Beliau adalah tokoh genius, guru yang mulia dan manusia sempurna. Beliau tumbuh di tanah Turki yang baik yang mempersembahkannya sebagai contoh bagi umat manusia. Setiap hari—pada usianya yang hampir memasuki sembilan puluh tahun—beliau memancarkan sinar keutamaan, sinar keteguhan dan iman serta menembus hati dan akal para pemuda Turki. Dengan sinar ini, ruh mereka yang gelap gulita menjadi terang. Mereka dibimbing ke jalan yang lurus dan jelas.

Pertolongan dan kemurahan Allah telah mengaruniakan kecerdasan yang luar biasa kepada Badiuzzaman Said Nur. Dengan tekad bulat dan ketabahan seorang yang beriman, Allah mengarahkan kecerdasan ini kepada kebaikan dan kemajuan penduduk negeri ini. Cahaya beliau tidak terbatas menerangi negeri ini, tetapi melampaui batas geografis sehingga mencapai Pakistan dan Indonesia.

Cahaya yang dikeluarkan Ustadz Said Nursi, pelita akhlak dan keutamaan yang ditebarkan kepada umat manusia tidak mungkin dinilai oleh kriteria kita yang terbatas.

Kebulatan tekad, keyakinan yang kokoh dan akhlak mulia yang dimiliki Ustadz Said Nursi merupakan contoh yang harus diikuti, bukan oleh kita bangsa Turki saja, tetapi oleh penduduk dunia Islam dan umat manusia pada umumnya.

Penduduk negeri ini sepatutnya merasa bangga bahwa tanah air mereka menjadi tempat buaian seorang yang bertakwa, suci, memiliki kecerdasan Rabbani yang langka dan kepribadian yang tidak ada duanya. Kemarin sebuah pengadilan berlangsung untuk orang ini.

Pengadilan menyingkap dua hal untuk kita.

Pertama, rasa hormat dan hubungan erat generasi Turki yang mulia dan muda kepada keutamaan, menghargai akhlak, iman dan kehendak yang luhur.

Kedua, pengadilan itu menyingkap hakikat kelompok hina yang tidak diketahui asal-usulnya itu, yang mencari kekayaan, kesejahteraan dan kedudukan dengan menghinakan bangsa Turki dan membiarkannya terbelakang. Kelompok ini mendapat petunjuk, pengarahan dan dukungan dari organisasi rahasia destruktif internasional yang memusuhi bangsa ini.

Kelompok ini telah merasakan ketakutan dan ancaman bahaya pada dirinya dari seluruh pemuda Turki yang terpelajar, lalu mereka menyerang dengan tulisan-tulisan keji dengan tujuan menjatuhkan nama baik mereka dengan cara-cara licik yang memperlihatkan dusta mereka.

Kita dapat membandingkan antara Ustadz Said Nursi yang mulia ini dengan tokoh seangkatannya, Mahatma Ghandi, tokoh agung yang memimpin kemerdekaan India. Ghandi telah melakukan perlawanan terhadap diktator Inggris yang telah merampas negerinya dan menghinakan bangsanya. Ghandi tetap tegar memperjuangkan masalahnya dari hari ke hari dan tidak pernah surut sedikitpun sampai akhirnya Inggris tunduk dalam keadaan terhina kepada kehendaknya yang agung, berkat keagungan diri dan kehebatan jiwanya.Anak negeri kita ini, yaitu Ustadz Said Nursi, serupa dengan Mahatma Ghandi dalam perjuangan dan gaya hidupnya, tetapi ia lebih unggul dengan Islam dan iman di mana Allah memuliakan beliau dengan keduanya dan menerangi ruhnya seperti matahari sehingga dengannya beliau berkeliling di seluruh pelosok dunia Islam,

hanya saja antara kedua tokoh ini terdapat perbedaan besar yang mengundang keprihatinan.

Mahatma Ghandi mendapat dukungan, kepercayaan dan penghormatan dari empat ratus juta orang dari masyarakat India, sementara tokoh kita yang satu ini malah diremehkan oleh sekelompok orang hina yang tidak diketahui asal-usulnya.

Ya Rabb! Bagaimana kami sampai terjatuh dalam jurang yang menjadikan kami menganggap hina sesuatu yang paling berharga yang ada pada kami dan menganggapnya sepele? Kami mengetahui bahwa dosa kami terhadap-Mu amat banyak. Cukuplah kejatuhan ini bagi kami. Cukuplah.

Cevat Rifat Atilhan

* * *

SIAPAKAH BADIUZZAMAN ITU?

Beliau adalah seorang yang berusaha keras menjamin keselamatan hidup sosial kita yang penuh dengan bahaya dan menjaganya secara maknawi dengan cahaya iman dan bimbingan, memberi contoh konkret yang menjelaskan kepada orang bagaimana ilmu menjadikan seseorang menjadi tuan bagi dirinya sendiri dan bagaimana kebodohan menjadikan dirinya makhluk yang dapat dikendalikan dengan cara taklid buta.

Ustadz Said Nursi telah membuktikan sebuah hakikat pasti yang diperlihatkan kepada orang-orang dapat dilihat dengan mata kepala. Esensinya adalah bahwa ilmu pengetahuan modern harus seiring sejalan dengan nilai-nilai akhlak dan semangat nasionalisme, dan pemuda yang tumbuh di luar dasar ini akan hidup hampa dan gersang seakan-akan ruhnya itu adalah padang pasir yang kering kerontang. Pemuda seperti itu pada masa mendatang akan menjadi sumber bahaya besar yang akan menjadikan cakrawala negerinya hitam kelam.

Badiuzzaman adalah seorang ulama yang melihat bahwa perbedaan besar antara Timur dan Barat semata-mata tergantung pada pemahaman pribadi dan beliau menyaksikan bagaimana kepribadian yang mengikuti Barat pada masa sekarang ini lenyap sehingga seperti kera, maka beliau menanamkan dalam hati contoh ideal kepribadian Rabbani yang luhur dan merdeka.Badiuzzaman juga merupakan ulama yang mulia.

Dalam hati dan akal, beliau mengukirkan bagaimana negeri orang yang beriman yang merdeka dibangun oleh tangan penduduknya yang merdeka.

Penduduk negeri yang murah hati ini begitu sangat memerlukan seorang yang mampu menghancurkan berhala kepentingan pribadi dalam dirinya seperti yang dilakukan oleh Badiuzzaman.

Salah seorang mahasiswa Fakultas Hukum

Ziya Nur

* * *

SEBUAH HAKIKAT PENTING DAN DIALOG ANTARA TULLABUNNUR (MAHASISWA) DENGAN ORANG-ORANG PARTAI DEMOKRAT

Satu-satunya cara untuk membuat tanah air dan bangsa ini senang serta menjaga kedudukan Partai Demokrat yang menjadi wasilah kebebasan syiar Islam sesuai dengan keinginan masyarakat adalah menjadikan persatuan Islam sebagai sandarannya. Pada zaman dahulu, Politik dan manfaat Inggris, Prancis dan Amerika menghalangi persatuan Islam dengan menjadi penentangnya. Tetapi sekarang manfaat dan politik mereka bukan lagi menentang, melainkan membutuhkannya. Karena Komunisme, Freemansonry dan Ateisme secara langsung menyebabkan anarki. Persatuan Islam yang mengelilingi hakikat Quraniyah-lah yang mampu menghadapi para perusak yang dahsyat itu. Persatuan Islam tidak hanya menjadi wasilah menyelamatkan umat manusia dari bahaya ini, tetapi juga menyelamatkan tanah air ini dari invansi asing dan bangsa ini dari anarkisme. Berdasarkan hakikat ini para anggota Demokrat dengan sega�la kakuatan bersandar pada hakikat ini dan harus menjadi penentang gerakan komunisme dan Freemasonry

Para anggota Demokrat mendapatkan kekuatan dua puluh kali lipat sebelumnya dengan membolehkan adzan berbahasa arab, sehingga membuat rakyat merasa dekat dan berhutang budi kepada mereka.

Sebagaimana mereka bersatu dengan ratusan ribu Tullabunnur yang merupakan bagian dari organisasi Ittihad Muhammadi secara maknawi dalam menghadapi anggota Freemasonry dari kalangan Ittihad wa At-Taraqqi, sekarangpun para Tullabunnur yang merupakan bagian dari persatuan Islam berjumlah banyak. Mereka menjadi sandaran bagi orang-orang Demokrat.

Tetapi kalangan yang mewakili pemikiran ekstrim Freemasonry atau komunis dari partai lama (Partai Rakyat Republik) menyiapkan dua pukulan yang dahsyat kepada Partai Demokrat. Meskipun dahulu para penyeru kebebasan dua kali berkuasa, namun mereka digulingkan dalam waktu yang singkat. Kebanyakan dari anggota organisasi Ittihad Muhammadi yang berkoalisi dengan mereka dihukum gantung. Kalangan ekstrim Freemasonry ingin memperlihatkan orang-orang Demokrat yang merupakan “Penyeru Kebebasan” lebih ateis daripada diri mereka sendiri.

Demikian pula secara jelas mereka ingin menggiring orang-orang Demokrat menjadi anti agama dengan cara seolah-olah mereka taat beragama, atau mereka ingin menggiring orang-orang Demokrat untuk merusak agama sebagaimana yang mereka lakukan. Bahkan mereka mendekati para ulama yang bestatus PNS seraya berusaha menjadikan mereka sebagai oposisi orang-orang Demokrat dan melenyapkan para Tullabunnur yang bisa melawan mereka yang berada di pihak Demokrat agar para ulama tidak berlindung kepada Demokrat melalui Tullabunnur. Karena di pihak manapun para Tullabunnur cenderung, para ulamapun menjadi pendukungnya, hal itu disebabkan tidak ada satu gerakan yang lebih kuat dibanding mereka.

Selama hakikatnya demikian, maka orang-orang Demokrat harus menyenangkan hati para Tullabunnur, ulama, dan bangsa agar kalangan ekstrim, Freemasonry dan komunis dari partai lama (partai Rakyat Republik) yang menzalimi para ulama dan ahli tasawuf serta memaksa mereka menjadi penjilat bagi mereka sejak dua puluh lima tahun tidak menggulingkan pemerintahan Demokrat. Mereka juga harus berusaha semampu mungkin memperbaiki syiar-syiar Islam seperti persoalan adzan dengan segala upaya agar tidak kehilangan dukungan Amerika dan sekutunya. Sangat disayangkan, sebagian orang-orang ekstrim, Freemasonry dan komunis memperlihatkan dirinya sebagai orang Demokrat, meski mereka anti Demokrat agar menggiring orang-orang Demokrat melakukan perusakan dan memperlihatkan mereka anti agama, sehingga Demokrat dapat digulingkan.

Atas nama tullabunnur dan para mahasiswa nur di Universitas.

Sadık, Sungur, Ziya

BADIUZZAMAN

Bergson dalam salah satu buku terakhirnya yang berjudul “Sumber Agama dan Moral” menyebutkan bahwa moral masyarakat manusia tidak mungkin akan berubah dari tingkatannya yang paling rendah dan mencapai tingkatan yang tinggi, kecuali melalui pribadi yang memiliki integritas agama yang kuat dan suci.

Kita temukan bukti pemikiran ini dalam setiap masa dengan banyak contoh yang tidak terhitung jumlahnya dalam setiap sejarah manusia dan Islam. Ilmu Pendidikan yang pada mulanya bersumber pada Ilmu Jiwa, dulu telah mampu melahirkan generasi yang kondisinya lebih baik daripada kita.

Hal itu sesuai dengan sejauh mana berpedoman pada prinsip ini dan sejauh mana generasi yang konsisten mengikuti contoh dan teladan yang luhur. Tentunya Badiuzzaman adalah salah seorang tokoh istimewa yang suci yang mampu memelihara sifat-sifat teladan tersebut di atas bagaimanapun kondisi masyarakat dan waktu ketika beliau hidup.Sekelompok musuh bangsa dan pengkhianat negara secara sembunyi-sembunyi telah berupaya menghancurkan bangsa ini dengan menipu dan menyesatkannya dengan dusta dan tipu muslihat. Maka, selama beberapa tahun pribadi suci ini hidup tertindas.

Kami bertanya, “Kenapa para Uskup agung yang memperlihatkan permusuhan dalam bentuk yang paling dahsyat sepanjang sejarah dalam setiap kesempatannya dapat hidup dalam istana mewah, sementara seorang seperti Badiuzzaman, putera bangsa yang baik dan mulia ini, dalam akal dan hatinya terukir kecintaan terhadap tanah airnya dan kedudukannya, beliau tidak dapat menggunakan hak hidupnya sebagaimana penjaga pintu istana yang penuh dengan kerusakan itu. Ya, kita bertanya, tetapi kepada siapa pertanyaan ini ditujukan? Apa gunanya pertanyaan ini?

Siapakah di antara kita yang bisa menahan diri ketika kehormatan rumahnya yang terpelihara dirusak, kamar pribadinya digeledah tanpa diduga, buku-bukunya yang merupakan hasil pemikiran dan pengalaman rohani disita dari tangannya? Perlakuan seperti ini tidak terjadi pada masyarakat berperadaban modern yang ditiru hingga di Spanyol sekalipun, yang dianggap sebagai negara yang paling terbelakang. Bahkan kalaupun terjadi, peristiwa seperti itu mustahil terjadi berulang kali.

Dalam masalah ini kami benci dengan perlakuan keji yang dilakukan kepada kepribadian Badiuzzaman yang suci, dan bermartabat, serta pribadi yang memiliki ilmu, akhlak dan keutamaan, terutama perlakuan yang dikenakan terhadap dirinya pada masa-masa terakhir.

Pada masa-masa kelam yang menyelimuti bangsa Turki ini, ketika keterpurukan akhlak menyerang dari berbagai penjuru seperti badai yang siap melahap semua kebaikan, kami melihat limpahan kebaikan Badiuzzaman berpindah dari satu hati ke hati yang lain secara terus menerus dan tidak dapat dilawan sehingga kami mendapatkan pelipur lara yang luar biasa.Malam-malam kita menjadi gelap gulita. Ketika kegelapan malam itu semakin pekat, itu pertanda bahwa fajar segera menyingsing. Allah menyertai orang-orang yang bersabar.

اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصَّابِرٖينَ

Cevdet Sezer

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Yang terhormat ustadz kami yang tercinta, mulia, penuh berkah, dan kasih sayang!

Setiap kali kami membaca Risalah Nur dengan seksama dan perenungan berkat doa dan dukungan anda, tampak jelas bagi kami bahwa kumpulan tulisan berharga ini merupakan penyingkap teka-teki dan misteri alam semesta. Kumpulan risalah ini juga merupakan pembimbing agung dan petunjuk terpercaya bagi masa sekarang dan masa mendatang.

Memang, guru kami yang mulia ini tampak jelas bagi setiap orang yang berakal sehat yang membaca Risalah Nur bahwa kumpulan risalah ini mencerahkan, membimbing dan menyelamatkan manusia dari kegelapan pemikiran, baik pada masa sekarang maupun pada masa-masa mendatang.

Risalah Nur ini tidak dikarang hanya sekadar memenuhi kebutuhan negeri ini dan penduduknya saja, tetapi juga guna memenuhi kebutuhan dunia Islam dan umat manusia seluruhnya. Ya, umat manusia sekarang hidup dalam keterpurukan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka akan selamat dari krisis ini dengan berpegang teguh pada solusi Qur’ani yang dijelaskan secara lengkap oleh Risalah Nur. Ini adalah kenyataan yang telah dan selalu diketahui oleh setiap orang yang membaca Risalah Nur. Jika kami mampu, kami pasti umumkan kenyataan ini dengan suara yang paling lantang kepada seluruh dunia.

Tetapi, karena kami tidak bisa melakukannya maka kami, orang-orang yang mengetahui nilai dan urgensi Risalah Nur bagi umat manusia, harus memanfaatkan setiap menit dari waktu kami untuk menyelami sumber kesempurnaan dan pengetahuan ini, menggunakan usia kami untuk mencari bekal dari perbendaharaan nurani yang berlimpah ini insya Allah. Berkat doa dan dukungan dari ustadz kami yang agung.

Ada sebuah kenyataan yang jelas bahwa seseorang walaupun ilmunya setinggi langit, ia tetap perlu membaca Risalah Nur dan belajar dari pengarangnya. Jika tidak, ketika dirinya lalai, cenderung pada egoisme dan ia tidak membaca Risalah Nur, maka ia akan luput untuk mendapatkan kebaikan yang besar.Tetapi, ketika kami menyadari hakikat yang agung ini, kami tidak bisa menggambarkan betapa hutang budi yang kami miliki kepada petugas rabbani yang telah menyelamatkan umat manusia dan lebih unggul dari pada milyaran orang.

Ya, guru kami yang mulia, bahkan kami tidak akan mampu memenuhi satu barispun dari Risalah Nur, karena bagaimana kami dapat memenuhi haknya sementara Risalah Nur yang luar biasa itu sendiri merupakan salah satu mukjizat maknawi al-Qur’an yang mulia.Oleh karena itu, kami menghadap Allah Ta`ala dengan bersimpuh seraya berdoa

” Ya rabb! Jagalah guru kami tercinta dari kejahatan orang-orang zalim dan tipu muslihat orang-orang makar. Dialah yang memberikan kunci perbendaharaan hakikat yang menyelamatkan kami dari penjara abadi dan menjadi perantara untuk mendapatkan kebahagian abadi. Kami memohon agar memberikan taufik kepadanya dalam pengabdian al-Qur’an dan iman, serta karuniakanlah usia yang panjang penuh berkah disertai kondisi sehat walafiat”.

Guru kami yang mulia! Kami sekelompok pemuda yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi, Allah telah memuliakan kami dengan nikmat agung yaitu membaca Risalah Nur dengan seksama dan perenungan. Kami percaya dengan keimanan yang teguh tanpa dipengaruhi keraguan sedikitpun bahwa perhatian dan bantuan Allah akan membuat Badiuzzaman mampu menghancurkan kekufuran dan ateisme yang menjadi sumber kekerasan dan kekejaman di dunia yang tidak pernah ada sebelumnya.

Kepercayaan kami ini bukanlah sebuah berprasangka baik atau kecenderungan pada dugaan dan tebakan, tetapi merupakan sebuah kepuasan yang bersandarkan pada ilmu dan bukti, dan dikuatkan dengan penelitian. Oleh karena itu, kami melihat bahwa para penentang pun menerima kenyataan ini dengan hati mereka.

Kami memohon Anda mendoakan kami. Kami memohon kepada Allah Ta`ala agar kami dijadikan sebagai orang-orang yang memiliki tekad yang kuat dan pengorbanan dalam rangka pengabdian alQur’an dan iman, agar kami dalam setiap menit mampu membaca dan menyalin Risalah Nur serta agar kami sepenuhnya ikhlas dalam pengabdian kami.

Atas nama Tullabunnur di Universitas

Abdülmuhsin

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Yang terhormat ustadz kami yang diberkahi!

Pertama-tama kami sampaikan kabar gembira bahwa seluruh naskah yang dikirim belakangan ini telah selesai didistribusikan. Saudara-saudara yang merindukan cahaya telah menerimanya dengan sangat suka cita. Mereka sekarang menjadi pembawa cahaya bergegas untuk bergabung dengan barisannya dengan hati yang bersemangat sebagai pembenaran terhadap kenyataan yang mengatakan bahwa ‘Siapa yang mencari dan bersungguh-sungguh, ia pasti akan mendapatkanya’.Kemarin saudara kami, Ziya’ membawa tiga puluh empat eksemplar buku al-Kalimât. Begitu sampai, saudara-saudara kita berlomba untuk mendapatkannya sehingga tidak tersisa satupun, sementara buku Risalah “Tongkat Musa”, didistribusikan secara teratur di Ankara dan di berbagai pelosok Anatolia.

...

Bahkan orang-orang yang belum melihat sinar terang yang terkandung di dalam Risalah Nur, mereka tetap menjadi pendukung setianya. Kelak dengan izin Allah, Madrasah al-Zahra Risalah Nur akan tersebar luas di berbagai pelosok Anatolia dan dunia Islam. Ini dapat kita prediksikan dari hakikat luhur yang terkandung di dalam Risalah Nur dari satu sisi dan dari persaudaraan erat yang terjalin antara para penuntut ilmu dan orang-orang beriman yang telah membaca Risalah Nur dengan perenungan dan seksama dari sisi lain.

Saya tidak menemukan perumpamaan untuk mendeskripsikan aktivitas Madrasah al-Zahra pada saat sekarang ini yang lebih mendekati dari perumpamaannya dengan tersebarnya tumbuhan hijau yang luar biasa yang dilakukan oleh kekuasaan Allah pada musim semi yang mengagumkan ini. Inilah kondisi aktivitas Madrasah al-Zahra dan alhamdulillah berjalan dengan baik tanpa hiruk pikuk. Ya, manusia yang diciptakan bersifat tergesa-gesa menuntut segala sesuatu dalam waktu yang diinginkannya dia sendiri tanpa melihat sunnatullah yang mengendalikan seluruh alam semesta ini sehingga ia berpaling dari tugasnya yang berkaitan dengan dirinya dalam lingkarannya yang kecil dan dekat dan beralih ke lingkaran-lingkaran besar yang jauh.

Tumbuhan yang ditanam Risalah Nur kemarin dari orang-orang terhormat yang memiliki keimanan yang hakiki, sekarang buahnya sudah matang dan sudah dapat dipanen. Dalam waktu dekat dunia Islam akan menyaksikan model yang dapat diikuti dan obor cahaya yang dapat menerangi, Insya Allah.

Atas nama Tullabunnur di Universitas Ankara

Abdullah

* * *

SURAT DARI SEORANG ULAMA TERHORMAT DAN AHLU AL-QALB YANG DIBERIKAN NIKMAT BERUPA PENYEBARAN RISALAH NUR DI ANKARA

Kepada yang terhormat pemilik keikhlasan, cahaya, kesempurnaan dan bimbingan, mujahid besar Badiuzzaman!

Saya bersaksi untuk Anda dengan kesaksian abadi demi Allah, kesaksian yang sama yang dilakukan oleh umat Islam, manusia dan jin, bumi dan langit, semua benda yang ada di bumi dan langit, singgasana, al-Kursi, al-Lauh dan al-Qalam, bahwa sejak Anda memasuki gelanggang ujian dan menyelami kedalamannya di jalan Allah dan untuk Allah, Anda membela hak-hak Allah, hak-hak manusia dan Anda menjaga hak-hak tersebut dan untuk ini Anda berusaha siangmalam dengan segala tekad dan kemauan dalam situasi dan kondisi yang sangat keras, dalam membela kebenaran dan menyebarkan petunjuk kepada semua makhluk, Anda korbankan semua kemampuan ilmu, kesempurnaan, cahaya, dan bimbingan yang Allah karuniakan kepada Anda.

Badiuzzaman (Keagungan zaman) kami, pemilik cahaya! Saya adalah sahabat lama Anda yang serba kekurangan. Persahabatan ini bukanlah jenis persahabatan sepintas yang dapat sirna, tetapi persahabatan yang menghunjam ke lubuk hati yang paling dalam. Sejak awal persahabatan ini telah terjalin di alam makna sejak masa “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” (QS. al-A`raf [7]: 172). Ikatannya semakin menguat dari hari ke hari di dunia nyata dengan pelajaran yang saya peroleh dari ucapan, keadaan, gerakan bahkan diamnya Anda selama setengah abad. Pelajaran juga saya peroleh dari ujian dan kesulitan yang Anda hadapi pada rentang waktu ini, sejak era despotisme, kemudian era “Parlementer” hingga era republik, dari pengadilan militer dan pengadilan sipil yang Anda masuki di berbagai masa dan kondisi yang sangat sulit, dari sikap Anda dalam berbagai pergolakan dan di medan perang, dari diskusi dan pembahasan ilmiah Anda yang unggul antara rekan-rekan, dari karangan-karangan Anda yang luar biasa, dari amal perbuatan Anda yang baik dan tulus, dari pemikiran Anda yang cemerlang, dari jihad kecil dan jihad besar yang saya saksikan dan saya pelajari. Persahabatan seperti ini selayaknya mencapai tingkat kekuatan yang paling tinggi, bahkan mencapai tingkat kecintaan.

Berdasarkan dari cinta dan semangat ini, demi memenuhi kewajiban material dan spiritual sebagai konsekuensi dari persahabatan ini, sejak Sultan Abdul Hamid II, saya telah dan masih terus memelihara hak-hak Anda dan hak-hak para Tullabunnur yang khusus maupun yang umum, memelihara dan membelanya dan akan terus saya lakukan sesuai dengan kemampuan saya. Hal ini diketahui oleh Allah, masyarakat, dan sebagian besar Tullabunnur.

Insya Allah, dalam waktu dekat, kebenaran akan menang, kebatilan akan kalah berkat bantuan Allah Ta`ala, bantuan Nabi Muhammad, dan keikhlasanmu yang tiada tandingannya dalam jihad besar dan kecil pada masa sekarang. Orang-orang akan masuk agama Allah secara berbondong-bondong, matahari peradaban ala Nabi Muhammad akan kembali muncul, kita beserta seluruh alam semesta akan merayakan perayaan besar ini. Kita memohon Allah Ta`ala memberi karunia dengan menyaksikan perayaan yang akan mencakupi seluruh dunia, sementara Anda berada dalam kondisi sehat walafiat. Kita memohon kepada-Nya agar mengabulkan doa kami dengan kehormatan Nabi Muhammad. Amin!

Sahabatku yang mulia dan diberkahi! Saya tidak tahu apakah Anda masih ingat saudara Anda hamba yang lemah ini, tetapi bagaimanapun juga, biarkanlah saya mengingatkan Anda. Saya adalah sahabat lama Anda dari Ankara, Usman Nuri. Ketika berada di tempat kediaman Anda di Istanbul, pada hari yang ditentukan, kita pernah bermusyawarah tentang memenuhi undangan yang disampaikan kepada Anda dan kepada delapan belas tokoh lembaga yang memimpin perang kemerdekaan dari Ankara. Undangan itu meminta Anda bergabung dengan lembaga ini dalam perang kemerdekaan yang komponen penggeraknya tersebar di seluruh penjuru negeri. Ketika itu, saya menjadi mufti kelompok secara sukarela, kemudian setelah itu diangkat menjadi mufti di Kementerian Pertahanan. Selama hampir dua puluh lima tahun saya menduduki jabatan ini. Tiga tahun yang lalu saya pensiun.Sekarang saya tinggal di Ankara. Saya manfaatkan waktu-waktu hidup saya dengan mendoakan Anda, umat Islam dan umat manusia. Harapan saya yang paling besar sebelum maut menjemput adalah berkesempatan mengunjungi Anda, melihat Anda dan duduk bersama Anda karena Allah, bukan untuk lainnya.

Inilah yang saya harapkan dari lubuk hati yang paling dalam.Saya sampaikan kepada Anda yang paling mulia, kepada segenap Tullabunnur, salam hormat saya yang paling hangat disertai penghormatan dan pengagungan. Saya memohon kepada Allah Ta`ala semoga kalian semua mulia di dunia dan di akhirat. Saya cium tangan Anda yang mulia dan diberkahi dengan kerindungan yang dalam. Saya memohon doa sambil menunggu surat balasan dari Anda.Tuan pemilik cahaya, tekad, kehendak dan petunjuk. Saya serahkan Anda dalam perlindungan Allah.

Yang kekal hanyalah Dzat Yang Maha Kekal

Sahabat Anda, teriring kecintaan yang tulus

Osman Nuri

* * *

USTADZ SAID NURSI PERGI KE EMIRDAĞ

Setelah Ustadz Said Nursi dibebaskan dari penjara Afyon, beliau dan sejumlah murid dekatnya pergi ke Emirdağ dan di tempat itu tinggal selama dua tahun. Lalu pada bulan Muharam tahun 1371 H, bertepatan dengan bulan Oktober tahun 1951 M, beliau datang ke Eskişehir dan tinggal di tempat ini hampir sebulan setengah di hotel Yıldız.Kedatangan Ustadz Said Nursi ke Eskişehir mempunyai tujuan penting karena hingga tahun 1950 M, beliau tidak pernah meninggalkan tempat di mana beliau diasingkan, bahkan sama sekali beliau tidak diperkenankan untuk melakukan hal itu. Lama sekali beliau tidak dapat pergi ke desa yang paling dekat dengan tempat pengasi�ngannya.

Di Eskişehir, Ustadz Said Nursi bertemu dengan para muridnya yang sangat merindukannya. Beliau berkomunikasi dengan para muridnya yang berusia remaja yang merupakan buah segar Risalah Nur. Beliau tetap berhubungan dengan kehidupan sosial ala kadarnya. Penyebaran Risalah Nur di Eskişehir tidak terbatas pada satu kelompok tertentu. Kumpulan risalah ini memiliki banyak pengikut di berbagai lapisan masyarakat. Risalah Nur tersebar luas di kalangan tentara terutama di kalangan Angkatan Udara(*13). Di kesatuan ini, Risalah Nur memiliki pengikut yang berjumlah banyak. Setiap individu dalam kesatuan ini memiliki keimanan yang luhur dan akhlak yang mulia. Mereka memiliki keberanian yang berlandaskan nasionalisme dan Islam. Hati mereka penuh dengan kecintaan kepada Nabi yang tulus disertai pengorbanan dalam mengabdi pada agama dan tanah air.

* * *

Setelah beberapa lama, Ustadz Said Nursi meninggalkan Eskişehir, menuju Isparta. Di tempat ini beliau tinggal selama hampir tujuh puluh hari. Ketika itu, murid-murid Risalah Nur di Istanbul yang memiliki tekad dan gairah mencetak buku Tuntunan Generasi Muda. Akibatnya, Ustadz Said Nursi dikenai dakwaan dan dipanggil ke pengadilan di Istanbul.

Selama keberadaannya di Isparta dan Istanbul, Ustadz Said Nursi menulis sejumlah risalah tentang tauhid dan mengirimkannya ke murid-muridnya. Kelak, risalah ini dipublikasikan dengan judul “Kunci Alam Cahaya” dan setiap risalahnya merupakan perbendaharaan tauhid yang sangat berharga

* * *

PENGADILAN ISTANBUL

Beberapa orang mahasiswa mencetak buku “Tuntunan Generasi Muda” di Istanbul dengan tujuan memberikan pengabdian bagi generasi muda guna meningkatkan tingkat keimanan dan akhlak, namun berdasarkan hal ini, Ustadz Said Nursi diseret ke Pengadilan Pidana Pertama di Istanbul oleh jaksa penuntut umum berdasarkan Pasal 163 Undang-undang Turki yaitu dengan dakwaan bahwa buku tersebut bertentangan dengan sekularisme dan menimbulkan propaganda yang bertujuan menjadikan undang-undang dasar negara berasaskan pada dasar-dasar agama.

Pada hari yang telah ditentukan untuk pengadilan, bertepatan dengan tanggal 22 Januari 1952 M, Ustadz Said Nursi tiba di Istanbul dari Isparta. Beliau tiba di pengadilan yang sudah penuh sesak oleh mahasiswa yang menjadi murid beliau.Pada permulaan, daftar tuntutan dibacakan, kemudian laporan komite para pakar, lalu Ustadz Said Nursi diinterogasi.

Laporan komite para pakar sangat rinci. Di antara isinya adalah bahwa pengarang dalam buku ini berusaha untuk menyebarluaskan pemikiran agama, memberikan pemikiran-pemikiran yang menjadi pentunjuk bagi para pemuda. Menyerukan agar para wanita mengenakan hijab, menjelaskan bahwa wanita keluar dengan berpakaian tetapi pada hakikatnya mereka telanjang adalah masalah yang bertentangan dengan Islam dan bertentangan dengan naluri wanita itu sendiri. Pengarang juga menjelaskan bahwa yang menjadikan wanita itu cantik hanyalah pendidikan Islam dan yang menghiasinya hanyalah adab yang bersumber pada al-Qur’an. Pengarang juga menjelaskan bahwa dirinya mendukung pengajaran ilmu-ilmu agama. Berdasarkan hal ini, pengarang menuntut agar sistem dan undang-undang negara seiring-sejalan dengan ajaran pokok agama.

Sekelompok pengacara Istanbul memberikan pembelaan terhadap Ustadz Badiuzzaman. Mereka adalah Saniyuddin Basyak, Mihri Helaw, dan Abdurrahman Syaraf Laj.

Ustadz Said Nursi menyampaikan sanggahan terhadap isi daftar

dakwaan dan laporan komite para pakar dengan menjelaskan bahwa dirinya tidak memiliki hubungan dengan politik atau dengan aliran dunia atau aliran destruktif selama tiga puluh tahun dari hidupnya. Yang beliau lakukan adalah meniti jalan guna menyelamatkan iman dengan segala kekuatannya. Yang beliau lakukan dan yang menjadi pusat perhatiannya hanya satu, yaitu hakikat iman dan pengabdian al-Qur’an. Beliau mengingatkan tentang keputusan pengadilan yang menyatakan dirinya tidak bersalah dan semua buku yang disita oleh berbagai pengadilan telah dikembalikan.Beliau juga menjelaskan pencetakan bukunya yang berjudul “Tuntunan Generasi Muda” oleh mahasiswa selayaknya mendapat apresiasi dan ucapan terima kasih, bukannya ditolak dan dipermasalahkan. Mempublikasikan sebagian dari Risalah Nur, seperti “Tuntunan Generasi Muda” dan membiarkannya dibaca oleh para pemuda, remaja lelaki dan remaja perempuan secara umum adalah sesuatu yang paling harus dilakukan guna merealisasikan kebahagiaan negeri ini dan penduduknya karena risalah ini membendung aliran aliran destruktif pada masa sekarang ini, terutama aliran-aliran yang menyebarluaskan ateisme dan akhlak tercela yang mengancam kehancuran tatanan sosial kita. Pada bagian akhir, Ustadz Said Nursi menjelaskan bahwa para mahasiswa mencetak buku “Tuntunan Generasi Muda” itu tanpa sepengetahuan dirinya.

Sidang pertama selesai. Sidang berikutnya ditentukan pada tanggal 19/2/1952 M.

Pada hari yang sudah ditentukan itu, kerumunan massa para murid Risalah Nur dari para mahasiswa, para intelektual sejak dini telah datang untuk menyaksikan sidang. Mereka memenuhi ruang sidang pengadilan. Ustadz Said Nursi memasuki ruang sidang diiringi gemuruh tepuk tangan para pemuda Tullabunnur. Ustadz Said Nursi duduk di atas kursi terdakwa. Para pengacara tiba dan mengambil posisi masing-masing.Kondisi ruang sidang pengadilan yang penuh sesak itu sulit untuk dijelaskan. Ribuan orang melimpah ruah dari pintu seperti gelombang manusia. Mereka ingin mendengarkan jalannya persidangan. Pemandangan ini memberikan dampak yang sangat menggetarkan, di mana para pemuda yang tumbuh tidak mendapatkan peradaban agama, dalam pemandangan seperti ini mereka mengungkapkan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Ustadz Said Nursi yang merupakan model konkret cahaya Islam. Keadaan mereka seakan-akan mengatakan:

“Wahai mujahid besar! Wahai orang yang mengoyak kegelapan abad kedua puluh dengan cahaya al-Qur’an! Wahai orang yang menampakkan cakrawala cahaya dan kabar gembira kepada umat Islam! Wahai orang yang menyeru umat manusia menuju kebahagiaan abadi yang tinggi yang sesuai dengan fitrahnya! Engkau telah melakukan pengabdian agung, khususnya untuk negeri ini dan penduduknya. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya atas kebaikan ini. Masa depan tetap akan memberikan penghargaan dan terima kasih kepadamu. Engkau adalah dokter yang mendapatkan sebuah generasi yang nyaris mati, lalu engkau menyelamatkannya dengan air kehidupan spiritualitas. engkau mempersembahkan pengabdian yang mulia dan berharga kepada mereka. Engkau berjuang dan mengorbankan hidup demi menyelamatkan umat dan generasi yang nyaris tercampakkan dalam ketiadaan dan kesengsaraan abadi, lalu engkau datang menyelamatkan mereka dengan cahaya al-Qur’an. Engkau raih tangan mereka menuju jalan kebahagiaan abadi dan jalan Allah.

Generasi yang beriman akan mengikutimu Sepanjang masa mereka meneladanimu

Pengadilan tidak kuasa melanjutkan sidang karena kerumunan massa yang luar biasa. Aparat kepolisian yang bertugas menjaga tata tertib juga tidak mampu menahan kerumunan massa yang melebihi kapasitas ruangan, sehingga ketua hakim berbicara kepada seluruh hadirin,

“Jika kalian mencintai Ustadz Said Nursi, saya harap kalian memberi kesempatan agar pengadilan menyelesaikan sidangnya”. Tidak lama, hadirin memenuhi keinginan ketua hakim dan sidangpun dilanjutkan.

Pertama adalah memperdengarkan keterangan pemilik percetakan yang mencetak buku “Tuntunan Generasi Muda” dan para polisi. Kemudian Ustadz Said Nursi maju mengajukan sanggahan terhadap laporan komite para pakar. Kemudian beliau meminta izin untuk melaksanakan salat Asar karena waktu menjelang magrib. Ketua hakim memberikan beliau izin dan sidangpun selesai.

Ketika Ustadz Said Nursi melewati koridor gedung pengadilan yang telah dipenuhi para pencinta dan murid-muridnya yang berusia remaja, ribuan tangan bertepuk gegap gempita sementara Ustadz Said Nursi mengangkat kedua tangannya, memberi salam kepada para muridnya yang tercinta. Di pintu pengadilan, sekitar empat ribu orang berkerumun, menunggu untuk melihat orang yang mereka cintai. Ustadz Said Nursi menuruni anak tangga gedung diiringi gemuruh tepuk tangan. Sebagian mereka menangis terharu. Ustadz Said Nursi tidak mungkin dapat melanjutkan langkahnya sehingga akhirnya para Tullabunnur membawa beliau dengan kendaraan menuju Masjid Biru untuk salat berjamaah. Kemudian mereka membawa beliau kembali ke tempat tinggalnya.

* * *

Sidang terakhir pengadilan pada hari Kamis bulan Maret 1952 M. Ketika Ustadz Said Nursi memasuki ruang sidang, kerumunan pencinta dan murid-muridnya yang terdiri dari anak-anak muda menyambutnya dengan gegap gempita. Pengadilan telah mengambil langkah-langkah untuk mencegah kerumunan massa yang dapat mengganggu jalannya sidang seperti yang terjadi sebelumnya. Jumlah personil kepolisian ditambah dan ditempatkan di sejumlah pintu, koridor dan tangga, namun demikian ruang sidang tetap saja penuh sesak oleh hadirin.

Sidang dimulai dengan memperdengarkan keterangan mahasiswa yang mencetak buku “Tuntunan Generasi Muda”. Ia diajukan sebagai saksi perkara. Dalam keterangannya, ia menjelaskan bahwa dirinya telah membaca banyak buku yang berafiliasi ke kebudayaan Timur dan Barat, hanya saja ketika mendapatkan Risalah Nur, ia memperoleh manfaat yang besar dari kumpulan risalah itu untuk akal, pemikiran, hati dan ruhnya. Bacaan terhadap Risalah Nur meninggalkan dampak yang sangat penting dalam akhlak dan kehendaknya. Dalam buku “Tuntunan Generasi Muda”, ia temukan pengaruh yang sangat kuat dalam merealisasikan dan menjaga iman generasi muda serta memperkuat akhlaknya, maka ia mencetaknya dengan harapan agar dapat memberikan pengabdian yang berguna untuk tanah airnya. Oleh karena itu, ia tidak melihat sesuatu yang dapat dikatakan sebagai kejahatan atau sesuatu yang bertentangan dengan undang-undang.

* * *

PEMBELAAN USTADZ SAID NURSI

Saya berharap tuan-tuan mendengar apa yang akan saya sampaikan secara ringkas tentang kezaliman yang berlangsung dalam waktu yang sangat lama selama hidup saya.

(Pengadilan memberi kesempatan kepada Ustadz Said Nursi untuk berbicara dengan bebas dan nyaman. Beliaupun mulai menyampaikan pembelaannya secara rinci).

Tuan-tuan hakim yang terhormat! Selama dua puluh tahun, saya telah mengalami berbagai penghianatan, kejahatan, pengawasan dan penjara yang tidak ada bandingannya. Semua fitnah dan tuduhan palsu dilakukan berdasarkan beberapa tuduhan:

Tuduhan pertama, mereka menganggap saya menentang rezim.

Kita ketahui bahwa setiap pemerintahan pasti ada opisisinya. Tidak seorangpun dapat disalahkan karena pemikiran dan metode yang dianutnya dengan hati nuraninya selama tidak mengganggu keamanan dan stabilitas. Ini adalah kebenaran yang diketahui dalam hukum.

Lihat bangsa Inggris yang dikenal fanatik dengan agamanya dan kekuasaannya dalam pemerintahan. Lebih dari seratus juta orang Islam hidup di bawah pemerintahannya sejak seratus tahun yang lalu(*14)dan mereka menolak sistem pemerintahan kafirnya, menolaknya sesuai ajaran al-Qur’an, namun demikian pengadilan Inggris tidak pernah mengusik mereka berkenaan dengan masalah ini.

Lihat juga kaum Yahudi dan Nasrani yang dalam kurun waktu yang lama hidup di bawah pemerintahan Islam, baik di sini maupun di tempat lain. Mereka menentang agama negara yang mereka ikuti, menentang sistem pemerintahannya yang suci, namun demikian pemerintah tidak pernah mengusik mereka sekalipun.

Undang-undang tidak pernah mempermasalahkan mereka sedikitpun.Pada masa kekhalifahan Umar bin al-Khattab, ia diadili bersama seorang Nasrani dari kalangan awam di pengadilan. Kendati orang itu menentang sistem pemerintahan Islam, hal-hal suci, agama dan undang-undangnya, pengadilan tidak memperhatikan hal itu sama sekali, hal yang menjelaskan secara nyata bahwa lembaga pengadilan tidak tunduk pada arus manapun dan tidak berpihak kepada kekuatan apapun.Kebebasan beragama dan hati nurani ini merupakan dasar yang tidak diperselisihkan oleh siapapun, bahkan lembaga pengadilan di seluruh dunia, mulai dari Timur hingga Barat, kecuali negara-negara komunis menjalankan fungsi pengadilannya berdasarkan ajaran agama.

Apakah jika saya menolak sisi rusak dalam peradaban Barat, kediktatoran mutlak yang berlindung di balik tirai kebebasan, berbagai intimidasi yang dikenakan terhadap agama dan pemeluknya di balik topeng sekularisme, saya lawan hal itu dengan keyakinan dari saya terhadap dasar kebebasan beragama dan hati nurani, berdasarkan ratusan ayat al-Qur’an, apakah dengan ini saya dianggap keluar dari undang-undang? Ataukah saya dianggap membela undang-undang dasar negara dengan pembelaan yang sebenarnya dan secara jujur?

Menentang kebatilan, kezaliman dan segala sesuatu yang bertentangan dengan hukum tidak mungkin dianggap sebagai kejahatan di mata pemerintah manapun, bahkan sebaliknya penentangan legal yang jujur merupakan unsur yang menjaga keseimbangan keadilan.

Tuduhan kedua yang dilontarkan oleh rezim era sebelumnya yang menzalimi dan membuat saya sengsara adalah mengganggu keamanan dan stabilitas. Akibat tuduhan palsu dan kekhawatiran ini, mereka menghukum saya selama dua puluh delapan tahun. Mereka mengasingkan saya dari satu desa ke desa yang lain, menyeret saya dari satu pengadilan ke pengadilan yang lain, menjebloskan saya dari satu penjara ke penjara yang lain. Mereka mengisolasikan saya dari dunia luar, meracuni saya, dan melakukan ragam penghinaan terhadap saya.

Padahal kami para Tullabunur yang jumlahnya mencapai lima ratus ribu orang yang rela berkorban melakukan penjagaan spiritual secara suka rela terhadap keamanan dan stabilitas di negeri ini. Dosa yang paling besar adalah melontarkan tuduhan seperti ini kepada kami, padahal kami kendati mendapat perlakuan zalim, kami menjauhi rasa permusuhan dan keinginan untuk balas dendam. Kami sehari pun tidak pernah meninggalkan tugas dalam rangka menanamkan keamanan dan stabilitas di dalam hati, melakukan pengabdian iman dan al-Qur’an, serta menyelamatkan mereka yang terjerumus ke dalam kubangan anarkisme yang berbau busuk karena lalai.

Tuan-tuan hakim yang terhormat! Saya sampaikan kepada tuan-tuan informasi akurat yang pasti, bukan sekadar pengakuan tanpa bukti, yaitu bahwa telah dilakukan penelitian secara rinci dan berkepanjangan oleh enam pengadilan di enam wilayah di mana kami mendapat perlakuan zalim dan pengasingan, terbukti bahwa tidak pernah satu peristiwa pun yang dianggap mengganggu keamanan dan stabilitas. Ini membuktikan bahwa para murid Madrasah an-Nur—yaitu madrasah ilmu dan pengetahuan—bekerja pada ranah hati, dan menempatkan pengawas keamanan dan stabilitas pada akal dan hati manusia.Pelajaran-pelaran keimanan kami menentang perusakan, anarkisme, Freemansonry dan komunisme. Silakan bertanya kepada semua instansi keamanan dan kepolisian di negeri ini, apakah pernah terjadi sebuah peristiwa yang mengganggu keamanan dan disiplin yang dilakukan oleh seorang murid Madrasah Nur yang jumlahnya mencapai lima ratus ribu orang? Tentu tidak pernah ada karena dalam hati setiap orang dari mereka terdapat pengawas iman yang jauh lebih baik daripada orang yang menjaga keamanan dan disiplin.

Saya telah jelaskan kenyataan ini secara rinci dalam makalah saya yang berjudul “Hakikat yang Berbicara” yang dipublikasikan oleh Majalah Sabil al-Rasyad Edisi Seratus Enam Belas.Sungguh merupakan kezaliman dan ketidakadilan yang sangat keji yang jauh dari kebenaran sejauh bumi dari langit jika seseorang dituduh menjadikan agama sebagai alat politik. Padahal dia sepanjang usianya telah mengorbankan dunianya, bahkan dunia dan akhiratnya jika diperlukan sebagai penebus agamanya, meninggalkan politik sejak tiga puluh lima tahun yang lalu, berbagai pengadilan tidak berhasil menemukan bukti yang memperkuat tuduhan kendati telah dilakukan penelitian dan penyidikan, seseorang yang telah mencapai usia delapan puluh tahun, telah berada di ambang pintu kuburan, tidak memiliki sedikitpun kesenangan dunia.

Pelajaran hakikat yang diperoleh dari al-Qur’an al-Hakim oleh para murid Madrasah Nur adalah bahwa jika dalam rumah atau kendaraan terdapat seorang yang tidak bersalah dan sepuluh orang penjahat, keadilan menurut ajaran al-Qur’an melarang menghancurkan rumah atau kendaraan itu demi menjaga hak orang yang tidak bersalah itu dari bahaya, maka bagaimana jika yang ada itu adalah sepuluh orang yang tidak bersalah dan seorang penjahat, apakah boleh rumah atau kendaraan itu dihancurkan karena seorang penjahat itu? Jika hal seperti ini benar-benar terjadi, bukankah hal itu merupakan kezaliman yang sangat keterlaluan, pengkhianatan besar dan kekejaman yang serius? Oleh karena itu, keadilan Ilahi dan hakikat al-Qur’an sangat melarang membuat sembilan puluh persen orang yang tidak bersalah terpapar pada bahaya karena kejahatan sepuluh persen penjahat yang mengganggu keamanan dan stabilitas sebagai penerapan ajaran alQur’an ini. Berdasarkan pelajaran al-Qur’an ini, kami harus menjaga keamanan dalam perspektif agama Islam.

Dari sini, tentunya musuh-musuh kita yang bekerja secara sembunyi-sembunyi pada era yang lalu yang melancarkan tuduhan palsu ini kepada kita, motifnya boleh jadi karena mereka ingin menjadikan politik sebagai alat di tangan ateisme atau mereka bekerja dengan sekuat tenaga—mereka mengetahuinya atau tidak—untuk mengokohkan ideologi destruktif di negara kita. Telah terbukti bahwa ternyata merekalah yang merusak tatanan, mengganggu keamanan negara, stabilitas material dan spiritual.

Seorang muslim yang sebenarnya dan seorang mukmin yang tulus, seharipun tidak mungkin mendukung anarkisme, kerusakan dan kekacauan. Sesuatu yang sangat dilarang adalah fitnah dan anarkisme karena anarkisme tidak mengenal hak siapapun. Tetapi justru ia mengubah sifat-sifat manusia dan nilai-nilai peradaban menjadi karakter binatang seperti yang dimiliki binatang buas sehingga al-Qur’an telah mengisyaratkan bahwa yang memiliki karakter seperti itu adalah kelompok Ya’juj dan Ma’juj yang akan muncul di akhir zaman.

Para hakim yang terhormat!Orang-orang telah menghukum saya dan murid-murid saya selama dua puluh delapan tahun. Para jaksa penuntut umum tidak ragu-ragu lagi mencemarkan nama baik kami dan memfitnah kami di pengadilan, tetapi kami bersabar dan terus melanjutkan perjalanan kami dalam jalan pengabdian iman dan al-Qur’an. Kami maafkan kezaliman yang ditimpakan orang-orang era yang lalu terhadap kami. Mereka telah mendapatkan balasan yang setimpal dan kami telah mendapatkan hak dan kebebasan kami. Kami bersyukur kepada Allah yang telah memudahkan kami mendapatkan kesempatan berbicara di hadapan para hakim yang adil dan beriman seperti tuan-tuan. Dan tentunya ini semua adalah karunia dari Tuhanku.

هٰذَا مِن۟ فَض۟لِ رَبّٖى

Said Nursî

* * *

KUTIPAN PEMBELAAN PENGACARA MIHRI HALAW

Pengarang Risalah Nur adalah seorang yang paling rendah hati di antara para penulis dan pengarang. Ia musuh bebuyutan popularitas dan kesombongan. Ia telah berpaling dari kenikmatan dunia. Harta, popularitas dan karisma tidak mampu menggodanya. Ia seorang yang tidak ada bandingannya dalam bidang ini, bahkan sampai “Ghandi” itu sendiri tidak mampu meninggalkan dunia seperti yang ia lakukan.Tokoh besar yang makanan pokoknya cukup dengan sepotong roti dan semangkok sup ini hidupnya semata-mata hanya untuk melakukan pengabdian pada al-Qur’an dan iman. Tidak ada yang bernilai dan penting bagi dirinya selain pengabdian ini.Terlepas dari itu semua, beliau tak henti-hentinya dikriminalisasi dan dikenakan Pasal 163 semata-mata karena beliau memuji karangannya dengan lantang. Apakah ini sesuai dengan kebenaran dan keadilan? Atau sejalan dengan ilmu dan pemikiran? Atau sesuai dengan undang-undang, akal dan logika?Masalah ini saya serahkan kepada tuan-tuan hakim yang terhormat.

...

Saya ingin mengakhiri pembelaan saya dengan perkataan tentang masalah perlawanannya terhadap pemerintah. Saya katakan, “Lelaki terhormat ini yang menunggu keputusan adil tuan-tuan adalah orang berhati bersih dan berkata jujur, telah banyak makan asam garam. Dalam hidupnya, beliau tidak pernah mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan. Pada permulaan sidang, beliau telah mengungkapkan apresiasi terhadap pemerintah sekarang dan mendoakan agar pemerintah sekarang ini dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Dengan terus terang beliau menyatakan bahwa yang beliau kritik adalah pemerintah yang dulu.Sebetulnya klien saya bersama penduduk negeri ini telah berjuang melawan kediktatoran, telah berusaha mendirikan kebebasan dan demokrasi dan sekarang beliau merasa bahagia dan bersyukur karena keberhasilan yang telah dicapai dalam bidang ini.

Jelas bahwa salah satu tujuan Risalah Nur adalah menanamkan kesadaran dalam hati untuk menjaga tatanan sosial. Jika para politisi dalam kancah politik berusaha merealisasikan tujuan ini dan menjamin hak dan kebebasan bangsa ini, pengarang Risalah Nur melakukan hal yang sama, tetapi dalam kancah spiritual. Maka tujuannya sebetulnya sama.Pengarang Risalah Nur dan murid-muridnya—Risalah Nur ini merupakan Madrasah Pengetahuan—adalah para penjaga spiritual suka rela bagi keamanan, tatanan dan stabilitas. Mereka bekerja pada ranah spiritual guna menyingkirkan kerusakan dan anarkisme destruktif dari hati dan pikiran. Mereka melakukan tugas mulia ini dengan sepenuh ketulusan dan pengorbanan tanpa berharap imbalan, ganti rugi atau tujuan. Yang mereka cari dari semua ini hanyalah keridaan Allah Ta`ala, berguna untuk negara dan penduduknya. Dalam hal ini, tidak ada sesuatu yang dapat dikatakan sebagai suatu kejahatan, tetapi justru sebuah pengabdian untuk tanah air dan bangsa yang patut mendapatkan penghargaan, bukan dipermasalahkan. Memohon keputusan tidak bersalah adalah hak kami. Kami serahkan keputusan kepada dewan hakim yang terhormat.

* * *

PEMBELAAN PENGACARA SANIYYUDDIN BASYAK

Setelah itu, kuasa hukum kedua, pengacara Saniyyuddin Basyak berdiri dan menyampaikan pembelaannya secara singkat. Di antaranya ia berkata:

“Masalahnya telah menjadi jelas. Kebenaran terlihat seperti matahari. Dewan hakim yang terhormat telah mengetahui segala yang berkaitan dengan perkara sehingga saya tidak akan menambahkan sesuatu lagi. Sebetulnya saya ingin berbicara tentang mentalitas instansi yang menghadirkan tokoh mulia ini ke tempat ini dan menempatkannya dalam kursi tertuduh. Cukuplah tuan-tuan mengetahui bahwa lelaki ini memiliki nilai, keutamaan, pengorbanan dan pengabdian terhadap negara dan penduduknya tanpa balasan dan imbalan. Yang beliau harapkan hanyalah keridaan Allah Ta`ala. Ya, tadinya saya ingin memberitahu tuan-tuan tentang mentalitas orang-orang itu, tetapi tempatnya bukan di sini karena hal itu mengharuskan saya menulis sebuah buku tersendiri. Melawan mentalitas ini merupakan kewajiban setiap individu.Karena dewan hakim terhormat ini memiliki hati nurani yang bersih, saya merasa tenang sehingga tidak perlu melakukan pembelaan. Merupakan kehormatan bagi saya untuk meminta klien saya dinyatakan tidak bersalah.

* * *

PEMBELAAN PENGACARA ABDURRAHMAN SYARAF LAJ

Setelah itu pengacara terkenal, Abdurrahman Syaraf Laj maju untuk melakukan pembelaan. Ia adalah seorang pengacara yang berkualitas dan berpengalaman yang seperti pengacara terhormat lainnya secara sukarela melakukan pembelaan terhadap Ustadz Said Nursi. Pembelaannya dimulai dengan mukadimah berikut:

“Benar-benar terbukti bahwa tuan penuh berkah yang usianya telah melebihi delapan puluh tahun yang hadir di pengadilan tidak memiliki keterkaitan atau hubungan dengan kejahatan apapun. Saya berharap dewan hakim yakin dengan hal ini sehingga menyatakan bahwa orang mulia ini tidak bersalah. Adapun jika ada kemungkinan meskipun satu dari seribu untuk mengeluarkan putusan selain itu, maka saya anggap diri saya lalai jika saya meremehkan pembelaan terhadap klien saya yang tidak bersalah ini.Sudut pandang Pengadilan Kasasi dan keputusan yang dicapainya perlu kita pertimbangkan demi menjaga pokok-pokok perjalanan pengadilan dan demi menghindari terjadinya kekurangan atau cacat dalam prosesnya. Dari sini saya memohon dewan hakim terhormat mengizinkan saya menyampaikan pembelaan”.Dewan hakim berkata,

“Baik, Tuan Abdurrahman.

...

Silakan menyampaikan pembelaan terakhir, kami akan mendengarkan”.Pengacara Syaraf Laj berkata, “Karena buku yang berjudul “Tuntunan Generasi Muda” adalah penafsiran terhadap al-Qur’an al-Karim dan perintah-perintahnya, karena buku itu mengandung perintah dan nasihat agama yang diambil dari ajaran Islam, karena Pasal Tujuh Puluh Undang-undang dasar menyatakan bahwa kekebalan pribadi, kebebasan berpikir dan hati nurani, hak mengungkapkan dan publikasi adalah hak alami warga Turki, karena Pasal Tujuh Puluh Lima Undang-undang dasar menyatakan bahwa tidak boleh meminta pertanggung jawaban seseorang karena agama atau mazhab yang dianutnya, maka pengekangan klien saya dari kebebasan beragama dan publikasi yang dijamin oleh undang-undang dan membiarkannya terus menerus di bawah penuntutan hukum merupakan perkara yang bertentangan dengan undang-undang dasar.

...

Andaikan tak satupun dari sisi undang-undang yang baru saja kami paparkan di atas tidak diperhatikan, maka penuntutan klien saya boleh dilakukan sesuai dengan Pasal 163 KUHP Turki yang anti demokrasi. Kamipun menganalisa kejahatan yang ditujukan kepadanya dan kami berkata:

“Ada seorang muslim yang telah lanjut usia dan beruban. Seorang muslim yang membuat rambut kepala dan usianya bercahaya selama hidupnya. Rambut, kepala, usia dan tubuhnya disucikan dengan cahaya Allah. Ia mewakafkan hidupnya yang Allah karuniakan dengan tulus demi kebaikan dan kebahagiaan hakiki bangsa Turki. Ia bertekad bulat berjalan di atas jalan yang telah ia pilih sehingga tidak berbelok daripadanya hingga ia menyerahkan ruh kepada Penciptanya. Ia seorang muslim yang menggunakan tubuhnya di jalan Allah. Ketika pada suatu hari yaitu yang disebut Hari Demokrasi ia berdakwah, mengajak umat manusia ke jalan Allah... Ya, ia mengajak umat manusia menuju Allah Yang Maha Esa dan mengikuti Rasul-Nya Nabi Muhammad , menyampaikan ajaran kitab suci-Nya, memperingatkan para pemuda negaranya, ia melakukan itu semua sampai jaksa penuntut umum menuntutnya dengan berkata,

“Mari kesini, mari kesini, Anda telah melakukan kejahatan”.

Cakrawala pun diselimuti kegelapan yang sangat pekat.

Tetapi, perhatikanlah seorang muslim sejati yang sudah lanjut usia ini, bagaimana ia begitu tenang. Hal itu karena ia tidak berada di pluralitas makhluk, tetapi ia menuju kepada yang Esa. Ia tidak patah semangat akibat kegelapan malam dan warna-warni siang hari.Ia menyaksikan karunia dari tengah-tengah musibah, menyaksikan kebaikan dari tengah-tengah keburukan. Ia telah mengetahui hakikat segala sesuatu sehingga tembus dari kepadatan ke kelembutan. Limpahan karunia dan cahaya Allah mengalir dalam pembuluh darahnya sebagai ganti dari darahnya. Itulah seorang muslim yang dituntut oleh jaksa penuntut umum, kedua tangannya diborgol dan dijebloskan ke dalam penjara.

Mengapa? Apa yang telah dilakukan seorang tua yang telah lanjut usia ini?

Kejahatan apa yang telah ia lakukan? Menurut jaksa penuntut umum, orang tua ini telah melakukan banyak hal.

Pertama:Ia telah mengarang sebuah buku yang berjudul “Tuntunan Generasi Muda”.

Kedua:Ia telah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan sekularisme.

Apakah Allah, agama dan iman adalah perkara yang bertentangan dengan sekularisme? Mungkin saja, lalu apa setelahnya?

Ketiga:Ia telah berusaha mendirikan pondasi sosial, ekonomi, politik dan hak negara berdasarkan agama.

Bagaimana? Mengapa ia melakukan hal itu?

jawaban: ia berusaha merealisasikan pengaruh individual.

Baik, apakah di balik itu semua ada keinginan untuk mencapai kepentingan politik? Jawaban: Sama sekali tidak. Komite para pakar tidak menemukan sedikitpun yang mengindikasikan hal itu. Komite itu tidak mengatakannya, bahkan jaksa penuntut umum sekalipun.Maka, karena tidak terdapat kepentingan politik, lalu apa yang dinanti-nantikan orang tua yang telah lanjut usia ini dari dunia hingga ia memperoleh pengaruh individual?

Jaksa penuntut umum menjawab bahwa ini adalah perkataan yang tidak penting dan orang tua ini bagaimanapun juga berusaha mendapatkan pengaruh politik. Hal yang serupa disampaikan oleh komite para pakar.

Baik, mari kita tanyakan bagaimana orang tua muslim ini melakukan perbuatan-perbuatan ini?

Orang-orang mengatakan bahwa orang tua itu menjadikan agama, syiar-syiar dan sakralitas agama sebagai alat untuk tujuan lain.Apakah itu sakralitas agama?

Islam... syiar-syiar Islam... perasaan takut kepada Allah yang tempatnya adalah hati... al-Qur’an dan tafsir...? Ini adalah masalah yang diketahui oleh jaksa penuntut umum itu sendiri dan diyakininya bahwasanya semua itu adalah hal yang sakral dalam agama.

Baik, apakah mengetahui hal-hal ini dan meyakininya kemudian menyampaikannya dianggap perbuatan menjadikannya alat untuk tujuan lain?Ya, memang demikian menurut jaksa penuntut umum yang memperkarakan masalah ini. Jika masalahnya demikian, maka jaksa penuntut umum itu sendiri yang menjadikan sakralitas agama sebagai alat untuk undang-undang politik? Memfungsikannya untuk menuntut seorang muslim yang mengimani sakralitas itu! Dengan demikian, tidakkah jaksa penuntut umum itu sendiri telah melakukan kejahatan sesuai dengan Pasal 163?!

Jaksa penuntut umum membantah hal ini dan berkata, “Sama sekali tidak... saya tidak melakukan propaganda...sedangkan orang tua itu melakukan propaganda.

Apa yang dikatakan orang tua itu? Inilah bunyi perkataan yang ia sampaikan:

“Kelompok yang paling berbahaya yang dimobilisasi orangorang zindik dan sesat dalam rangka memerangi Islam pada masa sekarang ini adalah kelompok wanita yang berpakaian tetapi sesungguhnya mereka telanjang yang digoda oleh nafsu ammârah-nya untuk menyerahkan pengendalian dirinya kepada setan. Lalu mereka menggoda orang-orang yang beriman dengan senjata kecantikannya. Mereka mempersempit jalan untuk menjaga diri dan menikah. Mempermudah jalan untuk berzina agar banyak orang terperangkap menjadi budak hawa nafsunya. Melakukan dosa besar yang akibatnya adalah kebinasaan—mungkin juga kematian—dalam hati dan ruhnya”.Apakah dalam ucapan ini terdapat dusta? Sama sekali tidak.Apakah keberadaan para pelacur yang memerangi kesopanan dan mendorong perzinahan dapat dibantah?

Sama sekali tidak.Tidakkah negara memerangi pelacuran terselubung dan yang terang-terangan? Mengapa KUHP dan kepolisian moral tidak memberantas fenomena siang malam ini?Jaksa penuntut umum berkata, “Tentu saja, tetapi kamilah yang memberantasnya itu, bukannya Allah”.

Baik, silakan dia mengatakan demikian, tetapi undang-undang, kepolisian dan jaksa penuntut umum melakukan penangkapan terhadap pelaku kejahatan dan terhadap orang yang memprovokasinya setelah korbannya itu melakukan kejahatan, yaitu setelah selesai melakukan kejahatan, setelah kehormatan dirusak dan setelah korbannya meninggal. Undang-undang tidak dapat melakukan tindakan sebelum suatu perbuatan dilakukan, tetapi bagi agama, itu memungkinkan, yaitu dengan adanya agama dan rasa takut kepada Allah. Dengan rasa takut ini, orang dapat menjaga dirinya dari perbuatan keji dengan segala macamnya. Islam memerintahkan hal ini dan menyerukan untuk melakukan tindakan pencegahan.

Bagaimana?Dengan nasihat, diperingatkan, memperkenalkan Allah, menanamkan rasa cinta dan takut kepada Allah dalam hati manusia, membuat orang takut kepada neraka dan siksa abadi, membuat orang menyukai surga dan kenikmatan abadi sehingga orang itu menjauhkan diri dari hal-hal yang buruk dan menyelamatkan dirinya, sehingga masyarakat, negara, bangsa, pemerintah bahkan jaksa penuntut umum itu sendiri dalam kedamaian dan ketenangan. Untuk ini tanamkanlah rasa cinta dan takut kepada Allah dalam hati umat manusia.

Bagaimana kita melakukan hal itu? Sampaikanlah, tulislah dan ajarkanlah...!Baik, ketika itu orang-orang akan mengatakan, “Ini adalah propaganda”.Katakanlah itu memang propaganda, tetapi bukankah isinya adalah perintah Allah dan ajaran al-Qur’an? Bukankah agama salah satu hak alami kalian yang paling penting? Siapa yang menghalangi kalian dari hal ini? Tentang hal ini mereka mengatakan, “Itu adalah kejahatan, benar kah?”. Silakan baca perintah Allah Ta`ala:

اِنَّ الَّذٖينَ كَفَرُوا وَ صَدُّوا عَن۟ سَبٖيلِ اللّٰهِ وَ شَٓاقُّوا الرَّسُولَ مِن۟ بَع۟دِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ ال۟هُدٰى لَن۟ يَضُرُّوا اللّٰهَ شَي۟ئًا وَ سَيُح۟بِطُ اَع۟مَالَهُم۟

“Sesungguhnya orang-orang kafir dan (yang) menghalangi manusia dari jalan Allah serta memusuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad [47]: 32).

Baik, jika mereka tidak mendengarnya baik-baik?Bacakan kembali ke pendengaran orang yang mau mendengarkannya, pendengaran orang-orang yang beriman karena apa yang kalian lakukan itu adalah amal saleh yang bermanfaat yang akan mendatangkan kebaikan kepada individu, masyarakat, bangsa, pemerintah dan negara, melindungi mereka dari kejahatan dan malapetaka.Katakanlah kepada orang-orang yang beriman:

يَآ اَيُّهَا الَّذٖينَ اٰمَنُٓوا اَطٖيعُوا اللّٰهَ وَ اَطٖيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُب۟طِلُٓوا اَع۟مَالَكُم۟

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.” (QS. Muhammad [47]: 33).

Katakanlah kepada orang-orang yang tidak mau percaya dengan hal ini, “Bahaya sebentar lagi melanda semua orang, melanda negara dan bangsa kalian. Bahaya bukan berada dalam agama dan bukan pula dalam mendakwahkannya, tetapi ada dalam ateisme. Perdana Menteri telah menjelaskan bahwa “Arus Kanan” tidak berbahaya bagi negara dan sekarang tidak ada yang menghalangi untuk mendakwahkan agama atau sesuatu yang mengharuskan diambil langkah-langkah untuk menghentikannya.

Tuan-tuan hakim yang terhormat! Saya mohon tuan-tuan melontarkan pertanyaan kepada jaksa penuntut umum yang mengajukan perkara ini di mana tuan-tuan lebih mengetahui jawabannya, tetapi silakan tuan-tuan ajukan pertanyaan kepadanya agar kita mengetahui apakah dia dapat membantahnya? Pertanyaannya adalah, “Bagaimana pendapat Anda jika perintah-perintah Allah tidak disampaikan dan ajaran-ajaran al-Qur’an tidak dijelaskan kepada para pemuda, malah dilarang karena dianggap sebagai kejahatan dakwah dan pengarahan, apakah ketika itu dengan hanya menggunakan KUHP dapat mencegah terjadinya akhlak tercela, maksiat, kejahatan zina dan pembunuhan? Dengan apa kita dapat menghadapi penghancuran sistematis yang dilakukan dengan kokoh, baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan, melalui berbagai malapetaka yang mengancam seluruh alam semesta seperti komunisme?

Tuan-tuan hakim, putra-putra sejati yang mencintai tanah airnya, yang beriman kepada Allah dan kepada agamanya! Perhatikanlah propaganda hebat yang disebarluaskan oleh kekufuran! Perhatikanlah racun yang ditiupkan musuh-musuh agama dalam hati dan otak generasi muda yang suci, bangsa Turki! Perhatikanlah bagaimana musuh-musuh agama ini menghancurkan generasi penerus kita? Sungguh suatu kehidupan kontrakditif yang nyata! Ancaman sebenarnya yang kita hadapi bersama!Sayangnya, jaksa penuntut umum yang mengajukan perkara ini tidak sedikitpun melihat hal ini dan tidak memedulikan serangan dan penghinaan yang dihadapi Islam dan seluruh agama samawi, bahkan ia menangkap orang yang memberi nasihat, petunjuk kepada para pemuda dan melindunginya dari serangan ini.

Tuan-tuan hakim yang terhormat! Para hakim Turki yang muslim! Tuan-tuan tidak mungkin melontarkan tuduhan kepada klien saya dengan menuduh salah satu risalah dari Risalah Nur yang berjudul “Tuntunan Generasi Muda” yang berisikan banyak cahaya alQur’an dan memberikan pencerahan kepada umat manusia.

Para hakim yang terhormat! Para hakim Turki sejati yang muslim! Tuan-tuan mengetahui dengan baik bahwa ulama adalah pewaris para nabi! Tuan-tuan, ulama yang terhormat itu mendapat tugas untuk menyebarluaskan dan menyampaikan apa yang diwariskan para nabi itu dengan memberikan nasihat dan petunjuk sebagaimana yang diperintahkan oleh al-Qur’an. Dalam menjalankan tugasnya ini, mereka tidak mencari balasan dan upah. Mereka melakukannya dengan tulus karena Allah. Yang mereka cari hanyalah keridaan Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus menunaikan tugas sucinya dengan cara seperti itu hingga akhir hayatnya karena tugas ini adalah amanat dari Allah dan dari Rasul-Nya yang harus mereka pikul. Maka bagaimana mungkin klien saya menjadi seorang yang tertuduh hanya karena ia menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya? Sungguh tidak masuk akal seorang yang sudah lanjut usia, lemah dan kurus dijebloskan ke dalam penjara?

Ini adalah kezaliman yang sangat keterlaluan.

Mencegah kezaliman ini adalah amanat yang harus tuan-tuan pikul.

Hanya cahaya yang dapat menghapus keburukan, dosa, kehinaan, kerusakan dan malapetaka.

...

يُرٖيدُونَ اَن۟ يُط۟فِئُوا نُورَ اللّٰهِ بِاَف۟وَاهِهِم۟ وَ يَا۟بَى اللّٰهُ اِلَّا اَن۟ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَو۟ كَرِهَ ال۟كَافِرُونَ

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS. at-Taubah [9]:32).

Pengacara

Abdurrahman Syaraf Laj

Setelah pembelaan ini selesai dibacakan, ketua sidang bertanya kepada Ustadz Said Nursi tentang apakah beliau ingin menyampaikan sesuatu atau tidak. Ustadz Said Nursi berdiri lalu berkata:

“Izinkan saya untuk menyampaikan beberapa kata, tidak ada yang lainnya”.

“Silakan”.

“Saya bukanlah orang yang pantas menerima pujian seperti yang disampaikan oleh pengacara saya yang terhormat. Saya hanyalah seorang yang lemah, bekerja untuk mengabdi pada al-Qur’an dan iman. Saya tidak memiliki kata-kata lain selain ini”.

PENGUMUMAN KEPUTUSAN TIDAK BERSALAH

Setelah ini, sidang berakhir. Majelis hakim melakukan rapat untuk bermusyawarah, kemudian secara sepakat, keputusan tidak bersalah dikeluarkan. Keputusan ini mendapat sambutan yang luar biasa dari hadirin yang berada di dalam ruangan. Keputusan bersifat pasti karena jaksa penuntut umum tidak membawanya ke Pengadilan Kasasi.

SURAT YANG DITULIS SALAH SEORANG MAHASISWA YANG MENJADI TULLABUNNUR KEPADA TEMANNYA BERKENAAN DENGAN KEDATANGAN USTADZ SAID NURSI DI ISTANBUL

Saya sampaikan terima kasih atas ucapan selamat yang Anda kirim kepada kami dan ke Istanbul berkaitan dengan kedatangan Ustadz kita tercinta. Kota agung ini telah berhias diri untuk menyambut kedatangannya dalam rangka peristiwa langka yang luar biasa ini seakan-akan hari raya. Penduduknya, baik itu orang berilmu maupun orang bodoh, orang kaya dan orang miskin, orang tua dan pemuda, semuanya bergegas menuju gedung pengadilan dan menuju hotel guna melihat dan mendengar beliau.

Kami semua sangat berbahagia sampai-sampai kebahagiaan itu memenuhi mimpi kami, sedangkan musuh-musuh kami, wajah mereka tampak kusam. Tampak jelas, kemunafikan mereka itulah yang membuat mereka menjadi kusam karena mereka telah menodai lembaran demi lembaran amal perbuatan mereka yang ternyata sama sekali tidak mendatangkan manfaat bagi mereka sedikitpun. Ustadz kami telah mengembalikan kehidupan kepada setiap tonggak sejarah Istanbul yang megah sehingga penampilan kami berubah di mata saudara-saudara kami. Segala sesuatu berubah dalam sekejap. Wajah Hagia Sophia bersinar terang.

Kumandang azan kembali terdengar bersahutan. Dari masjid-masjid terdengar bacaan para qari penghafal al-Qur’an yang membaca ayat-ayat al-Qur’an dengan suara yang merdu, seakan-akan saya melihat Sultan Muhammad al-Fatih bangkit dari kuburannya setiap hari, menyambut setiap orang yang datang ke kotanya sebagai tamu yang terhormat dan diberkahi. Kami seakan-akan sejak sekarang dapat melihat badai cahaya yang terpancar dari serambi Masjid Yeni Jami sampai ke ujung distrik Beyoglu dan tembus ke sudut-sudutnya yang paling gelap. Dengan kehadiran Ustadz Said Nursi yang diberkahi, tirai yang selama ini menutup wajah Istanbul yang muslim dan masjid-masjidnya yang megah kini sirna: Masjid Hagia Sophia, Masjid Al-Fatih, Masjid Sultan Ahmad Ayub dan Masjid Sulaimaniyyah. Masjid-masjid ini sekarang tampak semakin megah dan indah. Ustadz Said Nursi telah menjadi matahari kota ini. Jika beliau pergi, matahari cakrawala mengikutinya sehingga seluruh pelosok kota kembali menjadi gelap gulita. Tidak ada yang dapat menghibur kami kecuali harapan agar kota Muhammad al-Fatih ini dapat memperoleh penerangan dan bersinar dengan Risalah Nur.

Ketika saya mendapat berita melalui telepon tentang kedatangan Ustadz Said Nursi, beberapa saat saya merasa seakan-akan arus listrik mengalir dalam tubuh saya, bukan arus yang mematikan dan bukan pula yang mengejutkan, tetapi arus yang memberi kehidupan dan nyawa. Tiba-tiba saya merasakan kekuatan menjalar dalam tubuh material dan spiritual saya, kekuatan magnetis kuat yang menarik saya. Ketika saya sampai di pengadilan, terbukti bahwa perasaan yang saya alami ternyata dirasakan oleh semua orang.Gedung pengadilan penuh sesak oleh hadirin, baik di dalam maupun di luar. Ketika saya berusaha untuk masuk di antara kerumunan orang, saya lihat Ustadz Said Nursi berjalan di antara dua orang muridnya yang berstatus mahasiswa. Beliau tampak benar-benar sangat istimewa dalam penampilan, pakaian dan perawakannya sebagaimana halnya beliau istimewa dalam tempat kerja, substansi dan maknanya. Orang istimewa ini yang menjadi pusat perhatian jutaan orang tampak seakan-akan tidak memiliki beban dan tidak memperdulikan apapun.

...

Saya sekarang berada dalam ruang pengadilan. Ketika namanya yang tercinta dibaca, tokoh agung ini masuk mewakili bangsa yang mulia, agama yang agung dan sejarah yang terpuji. Beberapa saat ruangan menjadi sunyi. Seluruh hadirin seakan terkesima dengan penampilan beliau yang sangat berwibawa.

Kendati Ustadz Said Nursi sakit, beliau tampil berani seperti petir. Membela diri dan menyanggah dengan gagah dan tabah yang membuat dewan hakim terperangah. Dalam sidang kedua, jumlah hadirin lebih banyak dari sebelumnya. Ustadz Said Nursi menyampaikan bantahannya sendiri terhadap laporan Komite Para Pakar yang tidak memiliki pengalaman itu. Beliau menyampaikan bantahan dengan jawaban-jabawan cerdas yang kuat.

Ketika diumumkan bahwa sidang dilanjutkan ke tanggal 5 Maret, saya menghampiri beliau dengan langkah ragu karena menyadari kelemahan dan kekurangan saya. Saya cium kedua tangannya yang diberkahi dengan kerinduan yang mendalam. Dalam beberapa saat, saya berusaha mengumpulkan seluruh kekuatan batin dan sayapun memandang kedua mata beliau. Detik-detik itu, pada hari ini, adalah peristiwa yang paling indah yang tercatat dalam ingatan saya. Mahasiswa lain telah mendapat kehormatan yang besar karena mereka dapat kesempatan untuk menyertai dan berkhidmat kepadanya. Saya memohon kepada Allah Ta`ala agar Ustadz Said Nursi dikaruniai balasan yang terbaik atas jasanya kepada kami, meridainya dengan keridaan yang tidak ada kemurkaan setelahnya, memberi murid-muridnya—terutama yang lemah seperti saya—pemahaman, kemauan keras dan ketulusan. Amin.

Ya, saudaraku, kita bersyukur kepada Allah sebesar-besarnya karena Dia telah menakdirkan mengirim Ustadz Said Nursi kepada kita, orang-orang yang memerlukan, yang dengan sikap dan buku-bukunya telah membuktikan bahwa beliau adalah penguasa spiritual abad ini, telah memudahkan Risalah Nur untuk kita yang menjadi obat yang sangat manjur dan sangat berguna pada zaman ini, menjadi cahaya yang paling bersinar yang menjadi senjata orang Islam dalam menghadapi kegelapan, petunjuk yang paling baik yang menuntut orang-orang yang sesat dalam jurang kesesatan. Kewajiban kita adalah untuk senantiasa membacanya dan menyebarluaskan selama kita masih hidup, dengan izin Allah.

Yang kekal hanyalah Dzat Yang Maha Kekal.

di Universitas Istanbul Salah seorang Tullabunnur

Kâmil

* * *

USTADZ SAID NURSI KEMBALI KE EMIRDAĞ

Setelah pengadilan Istanbul mengumumkan keputusan tidak bersalah, Ustadz Said Nursi kembali ke Emirdağ. Pada suatu hari seperti biasanya ketika jalan-jalan di antara ladang pada bulan Ramadhan, tiba-tiba tiga aparat kepolisian di bawah pimpinan seorang tentara berpangkat Sersan Satu mengikutinya. Mereka meminta Ustadz Said Nursi mengenakan topi Eropa dan beliau menolaknya. Aparat militer membawa Ustadz Said Nursi ke markas militer. Akibat peristiwa ini Ustadz Said Nursi menulis petisi dan dikirim ke Kementerian Hukum dan Kementerian Dalam Negeri. Juga beliau mengirim ke salah seorang muridnya di Ankara agar diberitahukan kepada para anggota parlemen yang mempunyai kepedulian dengan Risalah Nur, agar mereka mengetahui apa yang terjadi. Murid beliau mengirim satu naskah petisi ke surat kabar “Buyuk Cihad” yang terbit di kota Samsun(*15). Surat kabar itu menerbitkannya dengan judul “En buyuk Isbat” (Bukti Terbesar) dan disertai catatan kaki.

Setelah itu, Tullabunnur di Ankara dan Istanbul mengirim beberapa makalah ke surat kabar tersebut dan diterbitkannya. Pada saat yang sama, Peristiwa Malatya(*16)terjadi. Maka propaganda yang penuh dusta dan fitnah dilancarkan terhadap kaum religius. Pemimpin surat kabar dan Tullabunnur di Ankara ditangkap dan diajukan ke pengadilan karena telah menerbitkan artikel “En buyuk Isbat” dan artikel-artikel lainnya. Berbagai surat kabar segera menerbitkan artikel dan penjelasan yang menyerang Risalah Nur beserta kemajuan dan kejayaan yang telah dicapainya. Kampanye pencarian dan pemburuan disebarkan dalam dua puluh lima tempat di seluruh pelosok Turki. Yang menjadi target adalah menjatuhkan tuduhan kepada sekitar enam ratus Tullabunnur, hanya saja operasi tersebut tidak mengenai sasarannya, bahkan terbukti pada akhirnya bahwa dalam Risalah Nur juga pada murid-muridnya tidak ada sesuatu yang dapat dijadikan alasan dikenakannya tuduhan.

Meskipun pengadilan Samsun pada waktu sebelumnya telah mengeluarkan keputusan menuduh Risalah Nur dan pengarangnya, hanya saja Pengadilan Kasasi membatalkannya dari dasarnya dan diikuti dengan menelaah kandungan Risalah Nur dan membuktikan bahwa kumpulan risalah itu bebas dari tuduhan yang membuat pengadilan Samsun terpaksa mengadakan sidang baru yang menyatakan Risalah Nur dan pengarangnya tidak bersalah karena tidak terdapat unsur tuduhan dalam tulisannya yang dipublikasikan.

Di sisi lain sebuah dakwaan diajukan di pengadilan Samsun terhadap Ustadz Said Nursi disebabkan oleh tulisan yang berjudul “En Buyuk Isbat” dan pengadilan bersikukuh agar Ustadz Said Nursi datang di pengadilan dengan mengeluarkan surat panggilan tanpa memedulikan surat keterangan dokter yang menyatakan Ustadz Said Nursi berhalangan untuk hadir mengingat usianya yang sudah lanjut dan kondisi kesehatannya yang buruk. Namun demikian, Ustadz Said Nursi menetapkan untuk hadir di persidangan. Beliau meninggalkan Emirdağ, pergi menuju Istanbul yang kemudian dilanjutkan menuju Samsun, hanya saja beliau tidak dapat melanjutkan perjalanan karena sakitnya semakin parah dan fisiknya semakin lemah. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter terbukti bahwa mengingat kondisi kesehatannya itu beliau tidak mungkin melakukan perjalanan menuju Samsun, baik melalui darat, laut maupun udara. Surat keterangan dokter itu dikirim ke pengadilan Samsun di mana jaksa penuntut umumnya bersikukuh agar Ustadz Said Nursi datang sendiri. Majelis hakim memutuskan agar salah satu pengadilan Istanbul mengambil keterangan Ustadz Said Nursi. Apa yang diputuskan oleh majelis hakim Samsun itupun dilaksanakan dengan baik. Akhirnya, pengadilan Samsun mengeluarkan keputusan bahwa Ustadz Said Nursi tidak bersalah karena tidak ada alasan yang mengharuskan dirinya menjadi tertuduh dalam tulisan yang beliau tulis.

* * *

PEMBELAAN YANG DIBACAKAN SAID NURSI DI PENGADILAN ISTANBUL DAN SETELAH ITU PENGADILAN MENYATAKAN DIRINYA TIDAK BERSALAH

Musuh-musuh kami yang bekerja secara sembunyi-sembunyi telah memprovokasi pengadilan terhadap kami pada bulan suci Ramadhan ini. Ada sebuah organisasi rahasia komunis di balik masalah ini.

Pertama, dalam perbuatan yang secara menyeluruh bertentangan dengan undang-undang, mereka mengirim kepada saya sekelompok bersenjata yang terdiri dari seorang berpangkat sersan satu dan tiga aparat militer. Hal itu ketika saya sedang sendirian di antara ladang dan bukit. Mereka membawa paksa saya ke markas dengan dakwaan saya tidak mengenakan topi Eropa!!Saya katakan kepada seluruh pengadilan yang merindukan keadilan:

“Seharusnya tuduhan yang benar-benar melawan hukum itu diarahkan kepada mereka yang keluar dari undang-undang Islam dilihat dari lima sisi, melakukan kezaliman atas nama undang-undang dilihat dari lima sisi. Mereka adalah yang senantiasa menimpakan siksaan fisik kepada saya sejak dua tahun yang lalu dengan berdalih alasan-alasan palsu dan mempermainkan undang-undang. Tentunya mereka akan mendapatkan balasannya di “Mahkamah Agung” Akhirat kelak. Ya, kok mereka malah melancarkan tuduhan kepada orang tua yang selama tiga puluh lima tahun hidup sendiri. Selama waktu itu, beliau tidak pernah bergaul dengan orang-orang, baik di pasar maupun di tempat umum, lalu kepada orang tua itu dikatakan, “Anda tidak memakai topi Eropa?!”.

Peraturan apa di dunia ini yang membolehkan hal ini?Orang tua ini telah menghabiskan waktu selama dua puluh delapan tahun di lima wilayah dan di lima wilayah itu juga ia diajukan ke pengadilan. Tidak satupun kantor pemerintahan dan kepolisian di wilayah ini, tidak juga pengadilan yang mempermasalahkan apa yang dipakai di atas kepala orang tua ini. Lalu sekarang ia hadir di pengadilan Istanbul yang adil, di hadapan lebih dari lima aparat kepolisian. Sebelumnya ia pernah tinggal di kota ini dan berjalan-jalan di banyak tempat selama dua bulan. Tidak seorang pun polisi yang mempermasalahkan dirinya terkait masalah ini.Selain itu, Pengadilan Kasasi telah memutuskan bahwa topi wol tidak dilarang. Oleh karena itu, memakai topi Eropa tidak dipaksakan kepada siapapun, baik itu kepada wanita, tentara, pegawai negeri maupun kepada mereka yang membiarkan kepalanya tidak tertutup. Tidak ada kepentingan di balik pemakaian topi Eropa itu dan orang yang memakai topi selain topi Eropa tidak dipermasalahkan!! Kemudian orang tua ini tidak memiliki tugas resmi sehingga dirinya memiliki pakaian resmi, bahkan ia hidup terpencil, tidak bergaul dengan orang-orang, apalagi pada bulan suci Ramadhan karena ia dilarang untuk bertemu dengan sahabat khususnya sekalipun agar tidak memikirkan dunia dan ruhnya sibuk dengan masalah-masalah yang mengganggu yang dianggap bertentangan dengan undang-undang, sampai-sampai ketika sakit keras, ia tidak minum obat dan tidak pula minta dipanggilkan dokter agar hati dan ruhnya tidak sibuk dengan urusan tubuhnya!Hanya saja, meskipun seperti itu kondisinya, ia dituntut untuk memakai topi Eropa, menyerupai biarawan asing dan diancam akan dibawa ke pengadilan jika ia menentang! Perlakuan yang sungguh kejam yang membuat orang yang memiliki hati sanubari sebesar biji sawi akan merasa jijik mengetahuinya!

Yang berkaitan dengan perkara ini, orang yang menuntutnya untuk memakai topi Eropa berkata kepada orang tua ini, “Saya hanya seorang hamba yang diperintah”.Apakah dibolehkan seseorang diperintah untuk menaati peraturan yang sewenang-wenang dipaksakan sehingga seseorang berkata, “Saya hanya seorang hamba yang diperintah?”.Sama sekali tidak. Ketika al-Qur’an menyerukan untuk menaati pemerintah dalam firman-Nya “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu”, (QS. an-Nisâ [4]: 59), al-Qur’an juga menyerukan untuk tidak menyerupai Yahudi dan Nasrani. Al-Qur’an memerintahkan untuk menaati ulil amri (pemerintah) dengan syarat perintahnya itu tidak bertentangan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketika itu, seseorang dapat mengatakan, “Saya hanyalah seorang hamba yang diperintah”, padahal perkara kita ini mempunyai banyak sisi yang tidak terhitung yang bertentangan dengan undang-undang, ajaran dan syariat Islam, melanggar undang-undang suci untuk kepentingan perintah sewenang-wenang. Perintah itu melanggar ajaran Islam yang memerintahkan berbuat belas kasih terhadap orang sakit, menyantuni orang asing, tidak mengintimidasi orang yang menyerukan al-Qur’an dan iman di jalan Allah, dan di atas semua itu, perintah ini ditujukan kepada orang tua yang hidup terpencil dan telah meninggalkan kehidupan dunia lalu menyuruhnya memakai topi yang menyerupai topi biarawan asing! Melakukan perbuatan seperti ini terhadap seorang asing yang malang seperti saya, yang telah lanjut usia, menderita sakit keras, telah berada di depan pintu kuburan, hidup menyendiri dan meninggalkan kehidupan dunia sejak tiga puluh tahun yang lalu agar tidak bertentangan dengan sunnah Nabi yang suci, tentunya perlakuan seperti ini hanya terdapat di dalam area panggung komunisme, dilakukan guna menyerang negara, bangsa, Islam, dan agama demi kepentingan anarkisme yang destruktif dan dalam waktu yang sama mengarahkan bidikannya terhadap arus demokrasi dan anggota parlemen yang religius yang memikul tanggung jawab pengabdian terhadap agama dan negara dan membendung perencanaan perusakan dari luar. Dalam pembelaan ini saya menarik perhatian mereka agar mereka tidak membiarkan saya sendiri membendung perencanaan busuk ini”

Catatan kaki: Orang yang siap mengorbankan diri untuk Islam, mengabdi untuk berkhidmat pada al-Qur’an, menjaga kemuliaan Islam, tidak pernah berdiri menghormati komandan Rusia yang sengaja lewat di depannya beberapa kali; tidak pernah gentar dengan ancaman hukuman mati demi menjaga kemuliaan Islam ketika menghadapi komandan tentara Inggris yang menduduki Istanbul dan para syekh yang berpihak kepadanya; tidak bergeming dengan ancaman akan dibunuh, bahkan menghadapinya dengan bahasa tulisan yang berisi kalimat, “Ludahilah muka orang-orang zalim itu”; mengatakan “Orang yang meninggalkan salat itu adalah pengkhianat” kepada Mustafa Kemal di tengah-tengah kerumunan anggota parlemen yang berjumlah lima puluh orang tanpa memedulikan kemarahannya; menolak untuk mencari muka atau menjilat para petinggi pengadilan militer dengan berkata, “Saya siap mengorbankan nyawa saya untuk menebus salah satu masalah syariah” ketika mereka mengintrogasinya; memilih menyendiri selama dua puluh delapan tahun agar tidak menyerupai orang-orang kafir, dikatakan kepada Said Nursi secara ilegal

“Anda harus menyerupai biarawan Yahudi dan Nasrani dengan memakai topi Eropa seperti mereka, melawan kesepakatan ulama Islam, jika tidak Anda yang dihukum”. Maka tentunya orang yang mengorbankan segala sesuatunya demi membela hakikat al-Qur’an akan menolak untuk memakai topi ini bahkan kalaupun untuk itu ia harus mengorbankan bukan hanya nyawanya saja, tetapi seratus nyawanya, jika ada, walaupun ancaman itu bukan hanya dengan penjara dan penyiksaan, tetapi dengan dipotong tubuhnya berkeping-keping.

Cukuplah dengan sejarah hidup orang ini sebagai saksi terhadap pernyataan di atas.Rahasia apa yang membuat orang tua melakukan pengorbanan seperti ini yang memiliki kekuatan spiritual luar biasa ini,

bisa bertahan menghadapi kezaliman dan perbuatan sewenang-wenang yang dilakukan musuh-musuh agama dan negara yang bekerja secara sembunyi-sembunyi? Mengapa ia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan yang serupa dan tidak membalasnya dengan perilaku yang konkret?Biarkan saya memberitahukannya untuk kalian dan untuk setiap orang yang memiliki hati nurani dan perasaan bahwa rahasianya adalah rasa takutnya terhadap bahaya yang akan menimpa sembilan puluh persen orang-orang yang tidak bersalah karena kejahatan sepuluh persen orang-orang zindik kafir, komitmennya untuk menjaga keamanan dan stabilitas di negara ini, mengadakan pengawasan spiritual dalam hati setiap individu melalui pelajaran Risalah Nur. Inilah yang diajarkan al-Qur’an kepadanya. Jika tidak, dalam satu hari ia mampu melakukan balas dendam terhadap musuh-musuhnya yang telah berbuat aniaya terhadapnya selama dua puluh delapan tahun. Namun, demi menjaga keamanan, stabilitas dan hak orang orang yang tidak bersalah, ia tidak melakukan balas dendam terhadap orang-orang yang telah mencemarkan nama baiknya, bahkan ia mengatakan,

“Demi umat Islam, saya tidak hanya mengorbankan kehidupan dunia saya saja, tetapi kalau memang diperlukan saya akan mengorbankan kehidupan akhirat saya juga”

Said Nursî

* * *

Yang terhormat ustadz kami yang penuh berkah, kasih sayang, dan mulia!

Pandangan menjadi terbatas dan hati sanubari penuh dengan kejahatan dan dosa pada zaman ini yang tenggelam dalam kekufuran dan materialisme. Tidak ada yang dapat menerangi pandangan dan hati sanubari yang gelap gulita dan kesepian ini selain dari Risalah Nur yang merupakan ajaran yang hakiki yang bersumber dari al-Qur’an pada masa sekarang. Oleh karena itu, nama yang paling pantas untuk menyebut masa ini adalah “Masa Nur”.

...

Risalah Nur mengobati luka umat manusia yang selama ini tidak kunjung sembuh dengan obat ukhrawi yang manjur.

Risalah Nur dan anda sebagai pengarangnya yang luar biasa telah dan masih melaksanakan tugas penyelamatan ribuan pemuda terpelajar. Dan kami adalah testimoni hidup di antara mereka yang berhasil diselamatkan imannya oleh Risalah Nur.Risalah Nur muncul pada masa yang sulit ini lalu mencabut materialisme dari akarnya, menghadang kebatilan ideologi komunisme dan Freemasonry dengan ilmu dan kesadaran sehingga kebatilan itu menjadi sirna. Risalah Nur memberi para pembacanya—yaitu mereka yang sangat beruntung pada masa sekarang—air kehidupan yang tidak ternilai harganya di dunia, bahkan di alam semesta,

yaitu iman yang merupakan tiket perjalanan menuju alam abadi Ustadz kami yang mulia dan diberkahi! Anda telah memberi kami sebuah hadiah berharga yang tidak ternilai harganya. Kendati kami membalas kebaikan Anda dengan rasa cinta dan penghormatan, balasan itu tetap tidak sepadan. Ikatan yang mengikat kami dengan Anda adalah ikatan abadi yang tidak dapat dilepaskan oleh kekuatan apapun.Saya cium kedua tangan Anda yang diberkahi dan memohon doa Anda.

Atas nama mahasiswa Tullabunnur Dari Fakultas Ilmu Politik

Ahmed Atak

* * *

Surat Ini Dipublikasikan dalam Surat Kabar “Buyuk Cihad” di Samsun. Surat Ini Menyebabkan Perkara di Pengadilan dengan Provokasi Para Orang-Orang yang Memfitnah. Pada Akhirnya Pengadilan Mengeluarkan Putusan Tidak Bersalah

Kepada Ustadz kami Badiuzzaman Said Nursi, penyelamat umat Islam, Mahkota Orang-orang yang beriman dan Penyambung lidah Risalah Nur!

Beberapa tahun yang lalu Anda telah mengatakan, “Risalah Nur bukanlah milik saya, tetapi ia adalah milik al-Qur’an dan berasal dari limpahan karunianya. Kekuatan apapun sama sekali tidak akan dapat mencabutnya dari bumi Anatolia atau memutuskan hubungan dengannya karena Risalah Nur terhubung dengan al-Qur’an yang agung dan kitab suci ini tersambung dengan Arasy yang Maha Agung. Maka siapa yang berani berbuat lancang terhadap ikatan yang kuat untuk memisahkannya? Sekarang, apa yang Anda nyatakan dua tahun yang lalu itu telah terbukti. Pengadilan Afyon—pada era kaum demokrat yang religius kali ini—telah mengeluarkan putusan dibatalkannya larangan terhadap Risalah Nur, mengembalikan seluruh risalah, korespondensi dan buku-buku yang disita karena tidak ditemukan satu pun materi kejahatan.Kami menganggap keputusan tidak bersalah ini sebagai pembenaran yang sangat gamblang terhadap pernyataan Anda, petunjuk yang sangat jelas terhadap pengabdian luhur yang Anda lakukan semata-mata merupakan pengabdian terhadap al-Qur’an guna mendapatkan keridaan Allah semata. Kami juga menganggap keputusan ini sebagai pembuka kebaikan bagi kebahagiaan dunia Islam pada umumnya dan bagi bangsa muslim ini khususnya.Dalam kesempatan ini kami menyampaikan ucapan selamat kepada orang yang menantikan kemenangan seperti ini dengan penuh kerinduan, yaitu Ustadz kami tercinta pemimpin keluarga Risalah Nur, kapten bahtera hakikat, pembimbing umat manusia pada masa ketika kemanusiaan yang terbelenggu dalam cengkraman tirani. Kami juga menghaturkan terima kasih dan penghargaan kepada golongan demokrat yang religius dan anggota majelis hakim yang adil yang memenangkan orang-orang beriman dan mendukung mereka.

Guru kami yang mulia, Anda telah berjuang selama bertahun-tahun untuk meninggikan panji hakikat al-Qur’an dan dalam rangka menunaikan tugas ini Anda telah mengorbankan segala yang mahal dan berharga sehingga berkat karunia Allah kemenangan yang gemilang diperoleh di seluruh pelosok negeri ini, kebahagiaan dan ketenteraman memenuhi hati orang-orang yang beriman. Ini adalah bukti yang sangat jelas seperti matahari di siang hari tentang keluhuran dan keagungan dakwah suci yang Anda lakukan dengan berhasil.

Kesabaran dan ketabahan yang Anda miliki dalam menghadapi kesulitan dan rintangan selama tiga puluh tahun, perjuangan dan pengabdian yang tidak ada duanya yang Anda lakukan dalam rangka menyebarluaskan Risalah Nur sebagai karunia al-Qur’an yang dilimpahkan kepada hati Anda, akan menjadi contoh yang akan diikuti generasi mendatang dan para pejuang Islam yang gagah berani.Dengan cahaya Risalah Nur yang bersumberkan pada matahari al-Qur’an, Anda telah melenyapkan kegelapan, kebodohan dan kesesatan, menerangi hati jutaan orang sehingga Anda meninggalkan jasa abadi di antara orang-orang yang beriman. Pengabdian dan pengorbanan Anda akan tetap hadir sepanjang masa.

Tanah air, bangsa ini, sejarah, dan bumi Turki ini tidak akan melupakannya. Bahkan ketika Anda telah kembali ke alam abadi, pengabdian Anda ini akan menjadi benih yang akan menumbuhkan pohon cahaya yang tinggi dengan dahan-dahannya yang panjang dan daunnya yang rimbun. Para jamaah yang berkumpul di sekeliling pohon nur dan sinar yang berasal dari Risalah Nur melanjutkan pengabdian ini dengan lebih terang dan megah sepanjang masa.

Ustadz yang tercinta adalah pelopor petunjuk bagi abad ini berkat kedudukannya sebagai penyambung lidah Risalah Nur dan berkat pengabdiannya terhadap iman yang menyinari cakrawala dunia Islam.

Beliau adalah penyeru al-Qur’an di abad keempat belas hijriah, seorang pahlawan yang berkorban, yang dengan sinar al-Qur’an menyingkap kegelapan masa yang sulit ini. Beliau adalah orang yang berwibawa yang mempublikasikan ratusan ribu Risalah Nur dengan pena ratusan ribu muridnya yang setia. Dengan itu, beliau telah membangun benteng al-Qur’an yang kuat yang menghalangi ateisme dan kekufuran mutlak.

Kami ucapkan selamat dari lubuk hati kami yang paling dalam atas hari raya kemenangan Islam yang anda berikan kabar gembiranya seraya membuktikan kepada orang-orang beriman, terlihat tanda-tandanya dan meliputi seluruh belahan bumi melalui pengabdian suci ini yang membawa rahmat dan kebahagiaan bagi alam semesta, membawa keselamatan dan memberikan pelipur lara kepada umat manusia. Kami cium kedua tangan Anda yang mulia sambil memohon kepada Allah Ta`ala agar memanjangkan usia Anda yang diberkahi.

Para Tullabunnur di Universitas Ankara

Ismail, Salih, Atif, Ahmad, ziya, Mehmed, dan Abdullah

* * *

USTADZ SAID NURSI TINGGAL DI ISPARTA

Pada musim panas tahun 1953 M, Ustadz Said Nursi meninggalkan Emirdağ dan datang ke Isparta di mana terdapat banyak murid-muridnya yang tulus. Isparta adalah kota yang pernah dijelaskan dalam korespondensinya bahwa kota itu penuh berkah bahkan hingga tanah dan bebatuannya. Kota itu merupakan tumpuan yang paling kuat untuk kelanjutan hidup spiritualnya yang terealisasi dengan muncul dan tersebarluasnya Risalah NurSebetulnya Isparta telah membuktikan diri bahwa kota itu benar-benar layak dengan keistimewaan-keistimewaan yang dipuji oleh Ustadz Said Nursi. Selama beberapa tahun kota itu telah menyaksikan banyak peristiwa yang menunjukkan keistimewan-keistimewaan tersebut. Barla yang merupakan madrasah pertama Risalah Nur dan tempat penulisannya adalah salah satu desa dari Isparta. Di tempat ini juga jilid-jilid besar Risalah Nur dikarang.

Ketika negara diselimuti rasa takut, para Tullabunnur di Isparta dan di sekitarnya menyalin dan mempublikasikan ribuan naskah Risalah Nur yang ditulis dengan pena mereka, misalnya di desa Sav. Ketika Ustadz Said Nursi menjalani tahanan rumah di Kastamonu, di desa ini saja seribu pena tidak henti menulis dan menyalin Risalah Nur.

Aktivitas ini berlangsung selama bertahun-tahun. Demikianlah kondisinya di setiap Markas Risalah Nur yang ada di wilayah Isparta dan sekitarnya. Setiap desa dan setiap dusun aktif mengurus dan mempublikasikan Risalah Nur yang mengungguli aktivitas satu Provinsi.

Selain itu, mayoritas Tullabunnur generasi pertama dan para senior lainnya yang masing-masing merupakan tokoh terkemuka dalam pengabdian al-Qur’an dan mereka menjadi sumber kebanggaan bagi para Tullabunnur, mereka semua adalah putera-putera kota ini dan sekitarnya.

Kemudian orang-orang pengadilan dan aparat kepolisian di kota ini sudah dikenal dengan perlakuannya yang adil secara keseluruhan terhadap Risalah Nur dan para muridnya. Ustadz Said Nursi sering berdoa untuk instansi pengadilan di kota ini dan ia menyampaikan bahwa dalam hal ini Isparta menjadi contoh bagi seluruh wilayah.

Karena pertimbangan ini dan yang sejenisnya, maka Ustadz Said Nursi datang ke kota ini dengan harapan dapat menghabiskan sisa usianya, menemui ajalnya di sana di antara saudara-saudaranya yang tulus dan diberkahi, serta dikebumikan di tanahnya baik itu di Isparta, Sav, atau Barla.Ustadz Said Nursi menyewa sebuah rumah di Isparta dan beliau tinggal di rumah itu. Bersamanya ada beberapa murid yang senantiasa menemaninya. Bersama mereka Ustadz Said Nursi merintis sistem “Madrasah an-Nuriyah” atau Dershane yang bersifat Pribadi.

* * *

BERBAGAI EPISODE KEHIDUPAN SAID NURSI DI ISPARTA

Pengadilan dan Dakwaan:

Sebelum dikeluarkannya keputusan pengadilan Afyon tentang dibatalkannya larangan terhadap Risalah Nur, peristiwa Malatya meletus seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Serangkaian investigasi dilakukan di sejumlah wilayah dan dakwaan terhadap Risalah Nur dan para muridnya di beberapa tempat seperti Mersin, Rize, dan Diyarbakir. Hasil akhirnya bebas.Dalam suasana yang membebani para pengikut Risalah Nur, jaksa penuntut umum di Isparta bergerak. Ia menyiapkan daftar dakwaan terhadap lebih dari delapan puluh Tullabunnur dan diajukan kepada hakim investigasi.

Di sisi lain, aparat keamanan mulai menyebarkan anggotanya di antara para Tullabunnur dan mengawasi gerak-gerik mereka. Investigasi dan interograsi dilakukan di banyak tempat seperti Ankara, Istanbul, Adapazari, Safranbolu, Karabuk, Dinar, Inebolu, dan Van, hanya saja instansi-instansi terkait itu, setelah melakukan investigasi, tidak menemukan perilaku yang mengganggu negara dan bangsa sama sekali,

bahkan terbukti sebaliknya bahwa para Tullabunnur adalah sumber kebanggaan bagi setiap individu penduduk negeri. Mereka adalah orang-orang yang melakukan pengabdian iman secara ilmiah dan sekaligus untuk negara. Mereka melakukan aktivitas yang berkaitan dengan akhlak. Tujuan mereka hanyalah membaca Risalah Nur bagi diri mereka sendiri dan bagi orang lain serta menyebarluaskannya. Berdasarkan hal ini, lembaga pengadilan sampai pada kesimpulan umum dengan mengatakan, “Kami tidak menemukan suatu kejahatan yang dilakukan para Tullabunnur.

Tidak ada satu kegiatan atau perilaku dari mereka yang harus dipertanggung jawabkan”.Sebenarnya, gelombang investigasi ini memberikan dampak positif terhadap Risalah Nur karena menjadi sarana untuk memunculkan kebenarannya kepada orang banyak karena pada akhirnya keputusan tidak bersalah dikeluarkan.Di sisi lain, para aktivis Tullabunnur di Urfa dan Diyarbakir mendirikan Madrasah Nuriyyah (Dershane). Mereka mulai menyampaikan pelajaran yang bersumber dari Risalah Nur bagi berbagai lapisan masyarakat, khususnya kelompok pemuda dan pelajar. Dengan demikian, mereka mengembalikan kedudukan tinggi kepada para penuntut ilmu di mana mereka sangat memerlukannya pada masa ini. Mereka menunaikan pengabdian iman yang agung di wilayah Timur. Dalam kesempatan yang sama, dakwaan diajukan terhadap salah seorang aktivis Tullabunnur yang melakukan pengabdian iman dan al-Qur’an di Diyarbakir. Perkaranya berakhir dengan dikeluarkannya putusan tidak bersalah. Hal ini membuat orang-orang beriman gembira.

Perkara yang diajukan menggugat Risalah Nur di pengadilan Afyon(*17), telah diputuskan pada tahun 1956 M. Setelah Badan Penasehat di Kementerian Agama melakukan penelitian terhadap Risalah Nur, dikeluarkan laporan yang menyatakan bahwa Risalah Nur adalah karangan yang berkhidmat untuk menyempurnakan iman dan akhlak.

Berdasarkan hal ini, pengadilan Afyon mengeluarkan keputusan pasti tentang bebasnya Risalah Nur, diikuti dengan keputusan yang dikeluarkan oleh hakim inverstigasi di Isparta yang isinya pelarangan melakukan gugatan hukum terhadap Risalah Nur. Dengan demikian, Risalah Nur telah lulus dari semua rintangan hukum yang dilaluinya sehingga memperoleh legitimasi secara menyeluruh dan memperoleh penerimaan yang baik dalam lingkup yang sangat luas.

Penyebaran Risalah Nur:

Bersamaan dengan pengabdian Risalah Nur yang dilakukan dengan segala kekuatan di banyak tempat di Anatolia, Madrasah Nuriyyah di Ankara, Istanbul, Diyarbakir dan Urfa memberikan pengabdian yang dampaknya tidak hanya terbatas pada daerah sekitarnya saja, tetapi mencakup hingga wilayah yang sangat luas. Karena pengabdian ini semata-mata pengabdian untuk al-Qur’an, tidak berafiliasi kepada seseorang, kelompok atau golongan, maka pengabdian ini dilakukan oleh banyak orang dari berbagai aspek. Para Tullabunnur yang tulus dan para mukmin yang jujur, yang namanya tidak dikenal, mereka berlomba melakukan pengabdian suci dan menyebarluaskan cahaya Nabi Muhammad, melalui Risalah Nur.

Di Ankara, para mahasiswa dan orang-orang yang memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi mencetak dan mempublikasikan Risalah Nur serta mengirimkannya ke berbagai kelompok, terutama kepada mereka yang hanya dapat membaca tulisan dengan huruf Latin dan mereka sangat memerlukannya. Para pemuda dan pelajar mengemban tugas mempublikasikan koleksi Risalah Nur secara utuh dan melakukan pengorbanan yang luar biasa. Hal itu menimbulkan kebahagiaan bagi negara dan penduduknya. Karena mereka melakukannya untuk mencari keridaan Allah Ta`ala tanpa ada kepentingan pribadi. Mereka telah memperlihatkan bahwa mereka memang anak cucu para pahlawan yang mulia.

USTADZ SAID NURSI PERGI KE BARLA

Ustadz Said Nursi meninggalkan Barla dua puluh tahun yang lalu dan sejak itu belum pernah datang berkunjung ke tempat itu lagi. Sebetulnya hubungan Ustadz Said Nursi dengan Barla lebih kuat daripada hubungannya dengan tempat kelahirannya sendiri, kampung Nurs.

Di Barla, beliau memulai mengarang Risalah Nur yang merupakan kehidupan maknawi. Dari Barla, kumpulan risalah dalam buku “al-Kalimât”, “al-Maktûbât”, dan “al-Lama`ât” yang merupakan cahaya petunjuk al-Qur’an al-Karim tersebar. Dengan pertimbangan ini, Barla dianggap pusat Madrasah Risalah Nur pertama.Kendati kehidupan Ustadz Said Nursi di Barla pahit, beliau melaluinya dalam suasana pengasingan dan pengawasan ketat, hanya saja dalam waktu yang sama dapat dianggap sebagai saat-saat hidup yang paling indah dan menyenangkan karena merupakan periode di mana beliau mengarang hakikat Risalah Nur.Kali ini Ustadz Said Nursi pergi ke Barla semata-mata karena keinginannya sendiri dalam kondisi bukan orang yang terasingkan dan bukan pula sebagai seorang terpidana. Beliau datang ke desa itu pada hari musim semi yang indah. Di sana beliau disambut oleh sejumlah murid setianya.

Ketika mendekati Madrasah Nuriyyah di mana beliau pernah tinggal selama delapan tahun, air matanya bercucuran dan beliau tidak kuat menahan rasa harunya. Tampak pohon planatus yang besar seakan-akan menyambut kedatangannya. Dahulu beliau dikeluarkan dengan paksa dari desa itu ke Isparta setelah tinggal di sana selama delapan tahun. Pada hari itu pohon planatus yang diberkahi itu berdiri dalam keadaan sedih, melepas kepergiannya dengan dahan-dahannya yang panjang dalam kondisi menyerupai beribadah kepada Allah. Sekarang pohon itu menyambutnya dengan perasaan gembira setelah lama ditinggal pergi. Pohon yang diberkahi ini tampak seakan-akan sedang melakukan sujud syukur kepada Penciptanya. Ustadz Said Nursi mendekati pohon itu dan memeluknya. Beliau tak kuasa menahan linangan air matanya. Beliau meminta para murid dan penduduk Barla agar meninggalkan dirinya sendirian. Setelah itu, beliau masuk ke ruangannya di Madrasah Nuriyyah. Selama hampir dua jam beliau berada dalam ruangan itu, sementara suara isak tangisnya terdengar dari luar.

Ya, orang tua ini merupakan tempat manifestasi rahmat Allah yang tiada habisnya. Pada suatu hari, beliau diasingkan dari bagian timur Anatolia ke Isparta. Lalu diasingkan lagi dari Isparta ke desa Barla yang terletak di tengah-tengah gunung. Beliau diasingkan ke tempat ini dengan tujuan agar tetap di sana sampai meninggal dunia dan dilupakan orang, tetapi sejarah hidup pahlawan gagah beraninya dan tahun-tahun kehidupannya yang lalu memberikan testimoni bahwa beliau adalah seorang yang memikul hakikat-hakikat al-Qur’an al-Hakim secara langsung. Beliau berkeyakinan bahwa kebahagiaan individu dan masyarakat dapat dicapai dengan hakikat-hakikat Islam. Maka beliau muncul menyerukan hakikat-hakikat itu, memperjuangkannya dalam bidang ilmu dan petunjuk akal.

Ustadz Said Nursi telah melewati tiga dekade dari sejarah negeri ini dan selama itu pula beliau tidak pernah menundukkan kepalanya kepada komandan bagaimanapun kejamnya komandan itu.

Beliau tidak pernah berhenti dalam berdakwah, kendati penuh luka dalam medan perang, makanannya diracun tetapi beliau tidak mati. Tekad bulatnya tidak tergoyahkan oleh berbagai kesulitan dan musibah yang menimpanya.Berbagai arus dan aliran menyerang masa kita sekarang, menyapu bersih berbagai bangsa, mengubah mentalitas dan konsepsi tetapi tidak berhasil memalingkan Ustadz Said Nursi dari jalan yang beliau lalui dan mendakwahkan iman dan al-Qur’an. Bahkan beliau sangat yakin dengan didorong keberanian yang bersumber pada iman yang memenuhi jiwanya, bahwa hari di mana bangsa mengikuti hakikat yang diserukannya itu akan tiba dan Said tidak lagi tinggal sendirian, tetapi esok hari akan ada seribu satu Said, bahkan puluhan ribu hingga ratusan ribu. Dakwah menyerukan hakikat iman yang disebarkan ke umat manusia akan mengalami kemenangan yang gemilang. Obor petunjuk yang bersumber dari al-Qur’an akan menyingkap tabir kegelapan yang menutupi cakrawala dunia Islam. Ruh iman yang dianggap hampir mati akan bangkit kembali penuh semangat. Ruh akan ditiupkan di banyak ruh lainnya, menghidupkan umat yang secara spiritual mengalami kematian. Islam akan kembali memimpin dunia.

Orang tua yang mulia yang mengemban dan menyerukan hakikat suci ini pernah diasingkan, orang tua yang sekarang menjadi sumber kebanggaan umat manusia, ketika itu diasingkan ke desa kecil yang terpencil ini oleh musuh-musuh agama karena dikhawatirkan turut campur secara praktis melawan sistem politik yang sedang berkuasa baru-baru ini di Anatolia, tetapi kondisi orang tua mulia ini sangat jauh dari apa yang dikhawatirkan orang. Beliau telah meninggalkan politik, tidak pernah turut campur dalam urusan dunia para ahli dunia. Beliau mendedikasikan hidupnya untuk mengarang dan menyebarluaskan hakikat yang akan menyinari masa depan. Tidak ada yang menolong dan membantunya selain dari Allah Penguasa alam semesta seisinya.

Sekarang, setelah tiga puluh tahun berlalu, beliau kembali lagi ke Barla. Dalam kepulangannya kali ini beliau merenungkan betapa agungnya anugerah dan pertolongan Allah kepadanya dalam pengabdian iman. Kedua matanya berlinang air mata bahagia dan beliaupun melakukan sujud syukur sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Allah.

Sekarang Ustadz Said Nursi tinggal di Isparta, kadang-kadang pergi ke Emirdağ dan Barla. Kedua tempat ini memiliki ikatan spiritual dengannya yang erat karena kedua tempat itu merupakan pusat penulisan dan publikasi Risalah Nur. Beliau sangat menderita karena fisiknya yang sudah lemah dan penyakit tuanya di mana usianya sudah mencapai delapan puluh tahun di samping karena pernah diracun beberapa kali. Walaupun demikian, beliau tetap sensitif dan dapat merasakan apa yang sedang dialami oleh dunia umat manusia pada umumnya dan dunia Islam pada khususnya, terutama wilayah Risalah Nur.Meskipun doa para muridnya dan tersebar luasnya Risalah Nur merupakan obat bagi sakitnya, terkadang beliau merasakan penderitaan disebabkan oleh sakit kerasnya karena rasa kasih sayangnya yang sangat luas, beliau tidak dapat tinggal berdiam diri, tetapi merasa perlu mengubah suasana untuk memperbarui semangat dan memulihkan kesehatannya.

Setelah Risalah Nur tersebar luas di berbagai tempat, jumlah muridnya bertambah dan tersebar di berbagai wilayah, Ustadz Said Nursi mengurangi jumlah orang yang berkunjung kepadanya, bahkan tidak lagi menerima pengunjung. Beliau seringkali berkata, “Membaca Risalah Nur lebih bermanfaat sepuluh kali lipat daripada duduk bersamaku”. Beliau jarang sekali berbicara kepada murid-muridnya yang selalu menemaninya kecuali pada saat-saat yang sangat diperlukan.

Berulang kali Ustadz Said Nursi mengatakan bahwa masa akhir hayatnya sudah dekat dan beliau tinggal menunggu ajal. Beliau tidak mengetahui apakah masih diberi kesempatan untuk hidup sebulan penuh ke depan atau tidak. Beliau menyampaikan rasa syukurnya karena Risalah Nur telah dipublikasikan. Beliau menghargai setiap langkah yang diambil negara atau anggota masyarakat dalam rangka berkhidmat pada Islam dan menyebarluaskan kebahagiaan. Beliau mendoakan setiap orang yang berjalan di atas jalan kebenaran, menghidupkan syiar Islam. Beliau mengharapkan keselamatan dan kebahagiaan material dan spiritual untuk dunia Islam. Beliau merasa sangat berterima kasih dan bahagia atas usaha keras yang dilakukan untuk merealisasikan harapannya ini, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Ustadz Said Nursi menganggap Risalah Nur sebagai salah satu mukjizat al-Qur’an pada masa sekarang. Beliau menegaskan bahwa hakikat-hakikat al-Qur’an yang terkandung dalam Risalah Nur itulah yang menjaga negeri ini dari bahaya komunisme dan akan menjadi pengikat persaudaraan dan persatuan antara penduduk negara ini dan penduduk dunia Islam. Beliau mengingatkan bahwa kebahagian dunia dan akhirat kita sangat bergantung pada sejauh mana kita berpegang teguh pada hakikat-hakikat ini.

Beliau juga sangat yakin akan pentingnya Risalah Nur tersebar luas di negara-negara Islam dan bukannya hanya terbatas di Anatolia. Beliau menegaskan bahwa menyebarluaskan Risalah Nur lebih bermanfaat daripada bergabung dalam aktivitas politik.

Catatan Kaki

  1. *Saya mengalami kondisi spiritual yang penting dalam beberapa kali. Kondisi tersebut mirip dengan kondisi perubahan spiritual saya tiga puluh tahun yang lalu yang membuat saya naik bukit Yusha seraya meninggalkan kehidupan sosial di Istanbul dan Darul Hikmah, tidak mengizinkan al-marhum Abdurrahman yang merupakan murid sekaligus pahlawan pertama Risalah Nur tinggal bersama saya dan menunjukkan hakikat Said Baru. Saya memprediksi sebuah isyarat kemunculan Said ketiga yang benar-benar meninggalkan dunia. Risalah Nur beserta murid-muridnya yang heroik menjalankan tugas saya sehingga keberadaan saya tidak dibutuhkan lagi. Memang setiap bagian yang lengkap dari Risalah Nur dan muridnya yang tak goyah serta tulus memberikan pelajaran yang lebih sempurna dari pada saya—Said Nursi. ↑
  2. *Tetapi lembaga pengadilan belum mengeluarkan keputusan tidak bersalahnya Risalah Nur. Keputusan yang dikeluarkan adalah penyitaan kumpulan risalah itu. Keputusan ini tetap berlaku sampai tahun 1956 M. Pengadilan mengeluarkan keputusan penyitaan sebanyak dua kali. Pengadilan kasasi selalu menganulir keputusan ini. Kemudian pengadilan Afyon tunduk kepada pengadilan kasasi dan mengeluarkan keputusan bebas, hanya saja pengadilan kasasi menganulilr keputusan kali ini karena secara mendasar terdapat kekurangan dan menuntut dikembalikannya Risalah Nur dari pimpinan urusan agama. Lembaga terakhir ini mengembalikan seluruh naskah Risalah Nur melalui komite pakar dan mengeluarkan keputusan yang memperkenalkan kedudukan Risalah Nur sedemikian rupa. Bersandar pada keputusan ini, pengadilan Afyon pada bulan Juni 1956 M mengeluarkan keputusan yang menyatakan bebasnya Risalah Nur dan pelarangan terhadapnya dibatalkan. Keputusan ini bersifat pasti. Sejak itu, buku Risalah Nur berjilid-jilid dicetak di berbagai percetakan termasuk di percetakan ibukota—Tim Penyusun. ↑
  3. *Pada tahun 1932 M sebuah keputusan resmi dikeluarkan yang melarang azan dan iqamah dan sebagai penggantinya adalah bentuk lain yang menggunakan bahasa Turki. Pelarangan berlanjut sampai tahun 1950 M di mana pelarangan itu dibatalkan oleh keputusan Partai Demokrat yang berkuasa pada waktu itu—Tim Penerjemah. ↑
  4. *Sebuah kota yang terletak di bagian selatan Turki, dekat perbatasan dengan Suriah—Tim Penerjemah. ↑
  5. *Adnan Menderes adalah pemimpin politik pertama yang dipilih secara demokrasi dalam sejarah modern Turki. Ia mengetuai Partai Demokrat di mana ia ikut mendirikannya. Ia mengikuti pemilu bebas pertama yang diselenggarakan Republik Turki dan partainya memperoleh kemenangan yang signifikan. Dengan Partai Demokrasinya ia dapat menjatuhkan pemerintahan yang berkuasa selama seperempat abad yang hanya memiliki satu partai. Menderes menduduki jabatan Perdana Menteri selama sepuluh tahun penuh antara tahun 1950 - 1960 M. Pada masa pemerintahannya, ia melakukan reformasi penting dalam banyak lapangan, membatalkan larangan azan yang diterapkan selama masa pemerintahan partai sebelumnya. Adnan Menderes dan pemerintahannya dijatuhkan melalui kudeta militer pada tahun 1960 M dan ia dihukum mati dengan tuduhan ingin menggulingkan rezim sekuler dan mendirikan negara agama—Tim Penerjemah. ↑
  6. *Dikeluarkan secara marfu` oleh al-Baihaqi dalam al-Syu`ab, Abu Nu`aim dalam al-Hilyah, al-Dailami dalam Musnadnya, al-Khatib dan Ibnu `Asakir dalam Tarikhnya, Abu Abdurrahman al-Sulami dalam Adab al-Suhbah, dan lainnya. Al-`Ajluni dalam Kasyf al-Khafa` memberitahukan bahwa hadis ini hasan li-ghairi karena jalan periwayatannya banyak—Tim Penerjemah. ↑
  7. *Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Sahihnya, Kitab al-Madzâlim, Bab Nashr al-Madzlûm. Muslim mengeluarkannya dalam Sahihnya, Kitab al-Birr wa al-Shilah, Bab Tarâhum al-Mu’minîn wa Ta`âthufuhum wa Ta`âdhuduhum—Tim Penerjemah. ↑
  8. *Masalah Tijaniyyah: sekumpulan peristiwa yang terjadi di Turki pada era Partai Demokrat tahun 1949 M, terjadi di tangan orang-orang yang berafiliasi ke tarekat Tijaniyyah. Dua orang di antara mereka mengumandangkan azan di bawah kubah gedung MPR dan yang lainnya menghancurkan patung-patung Mustafa Kamal Ataturk di Ankara dan di Rifha—Tim Penerjemah. ↑
  9. * Sejak Istanbul ditaklukan pada tahun 857 H/1453 M, Masjid Hagia Sophia selalu ramai digunakan untuk salat dan kegiatan ibadah sampai keputusan dikeluarkan dengan alasan perbaikan pada tahun 1932 M, kemudian berubah menjadi musium pada tahun 1934 M—Tim Penerjemah. ↑
  10. *Dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dalam Kitab al-`Ilm, Bab Fadl al-Fiqh `ala al-`Ibadah, dan oleh Abu Dawud dalam Kitab al-`Ilm, Bab Fadhl al-`Ilm. Ibnu Hibban menyatakan sebagai hadis sahih dengan nomor 88—Tim Penerjemah. ↑
  11. *Di Dâr al-Hikmah al-Islamiyyah di Istanbul—Tim Penerjemah. ↑
  12. *Pengadilan yang didirikan pada abad ke 16 dalam rangka memberikan hukuman kepada orang yang melawan Paus dan otoritas Gereja. Contohnya adalah manusia dilempar ke hadapan singa dalam kondisi hidup—Peny ↑
  13. * Di Eskisehir terdapat pangkalan udara yang penting milik tentara Turki dan di kota ini Komando Angkatan Udara berpusat—Tim Penerjemah. ↑
  14. *Di India—Tim Penerjemah. ↑
  15. *Sebuah kota yang terletak di bagian utara Turki, berada di tengah-tengah garis pantai yang menjorok ke Laut Hitam—Tim Penerjemah. ↑
  16. *Kota sejarah yang terletak di tengah-tengah Anatolia, dekat Sungai Efrat. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1952 M di mana murid-murid SMA menembak Pemimpin Redaksi Majalah al-Watan yang terkenal dengan artikel-artikelnya yang menghasut agama dan pemeluknya. Penembakan dilakukan pada saat dilakukan konferensi pers. Peristiwa ini dimanfaatkan oleh kekuatan sekuler sebagai sarana untuk menekan kepala pemerintahan agar mengambil langkah tegas terhadap arus agama di negara—Tim Penerjemah. ↑
  17. * Dakwaan diajukan pada akhir tahun 1947 M—Tim Penerjemah. ↑
⬇ Gulir Otomatis
📝 Catatan Saya 0 catatan

Pilih teks lalu tekan tombol "Catatan" untuk menambahkan catatan.

Pengaturan
Tema
Ukuran Font
Ketebalan Font
Ukuran Font Arab
Spasi Baris

Mode Fokus
Sembunyikan sidebar
Gulir Otomatis
Halaman bergulir sendiri
Kecepatan