Risale-i Nur Külliyatı [email protected]

Kehidupan Said Nursi di Barla

2 dilihat

BAGIAN KEDUA

KEHIDUPAN SAID NURSI DI BARLA

Risalah Nur menyinari

Kami telah mengemukakan kehidupan Ustadz Badiuzzaman Said Nursi, kami sampaikan periode demi periode mulai dari kelahirannya di Timur Anatolia hingga periode ini. Sekarang kita memasuki dunia dakwah yang luas yang sangat langka dalam catatan sejarah. Ia adalah buah empat puluh atau lima puluh tahun dari hidupnya, di mana Risalah Nur menyinari alam dan dengan sinarnya itu kegelapan material dan spiritual menjadi sirna. Telah terbit matahari di Turki dan sinarnya menyebar ke medan ilmu pengetahuan ke seantero bumi.

* * *

PENGASINGAN BADIUZZAMAN DARI WILAYAH TIMUR KE WILAYAH BARAT ANATOLIA

Di tengah-tengah Ustadz Badiuzzaman mengasingkan diri di dalam gua yang tadi disebutkan, gerakan revolusi dan pembangkangan meletus di Timur. Salah seorang tokoh terkemuka(*1)mengirim surat kepada Ustadz Badiuzzaman yang meminta dirinya memberikan dukungan dengan mengatakan, “Tuan memiliki pengaruh yang kuat”. Ustadz Badiuzzaman mengirim surat balasan yang isinya, “Bangsa Turki telah mengabdi pada Islam selama beberapa abad dan melahirkan banyak wali, maka tidak patut untuk menghunuskan pedang kepada para cucunya, dan kalian juga jangan melakukan perbuatan serupa. Batalkan keputusan kalian. Bangsa ini sangat memerlukan bimbingan dan pencerahan”. Meskipun Ustadz Badiuzzaman Said Nursi bersikap seperti itu, pemerintah tetap mengambil keputusan dengan mengasingkan dirinya ke Barat Anatolia. Pemerintah mengirim pasukan polisi militer ke gua dan mengeluarkan Ustadz Badiuzzaman untuk dikirim ke pengasingan.

Ketika mereka hampir berangkat, tiba-tiba sejumlah besar warga dan tokoh masyarakat serta beberapa kelompok lainnya sambil membawa senjata memohon kepadanya, “Tuan, janganlah Tuan pergi dan meninggalkan kami. Izinkan kami untuk mencegah mereka membawa Tuan. Jika Tuan mau, kami akan membawa Tuan ke negeri Arab”. Namun Ustadz Badiuzzaman menenangkan mereka sambil berkata, “Saya akan pergi ke Anatolia. Saya menginginkan wilayah itu”.

Ustadz Badiuzzaman Said Nursi pertama kali diasingkan ke wilayah Burdur(*2)di bawah pengawasan militer. Ia jalani kehidupan sebagai tahanan di bawah perlakuan sewenang-wenang dan penjagaan yang sangat ketat. Meskipun demikian ia tidak ingin hanya tinggal berpangku tangan. Ia mulai mengajarkan hakikat kepada sebagian tahanan yang beriman. Dari situ ia mengarang sebuah buku yang terdiri dari tiga belas pelajaran yang diberi nama “Pintu Pertama Nur”. Kendati buku itu dikarangnya secara sembunyi-sembunyi dan beredar di kalangan terbatas, orang-orang yang beriman mengetahui nilai mutiara hikmah yang ada di dalamnya. Mereka memang sangat memerlukannya. Maka mereka menyalinnya dan berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya sehingga musuh agama yang bekerja secara rahasia akhirnya mengetahui masalah ini. Mereka membuat laporan yang isinya menyatakan bahwa Said Nursi tidak bisa diam di wilayah itu, bahkan ia melakukan aktivitas dan memberikan pelajaran agama. Setelah itu, keluar keputusan agar dirinya diasingkan ke suatu daerah terpencil di antara pegunungan yang disebut Barla, bagian dari Isparta(*3)dengan harapan ia hidup sendiri dan lama kelamaan akan dilupakan orang.

Ketika Ustadz Badiuzzaman berada di Burdur, pada suatu hari didatangi Kepala Staf Angkatan Darat Marsekal Fauzi Cakmak. Gubernur wilayah mengadu kepada sang marsekal bahwa Nursi tidak menaati perintah pemerintah, bahwa dirinya mengajarkan agama kepada siapa saja yang datang kepadanya, tetapi Marsekal ini mengetahui dengan baik siapa itu Badiuzzaman, bagaimana kedudukan, konsistensi dan keunggulan akalnya sehingga ia berkata kepada sang gubernur, “Hormatilah ia dan jangan mengusiknya. Ia tidak membahayakan sedikitpun”.

Ketika Ustadz Badiuzzaman diasingkan, pihak berwenang melancarkan propaganda dengan tujuan menjauhkan orang-orang yang beriman dari dirinya dan melarang mereka belajar agama darinya, tetapi pengaruh ajaran iman dan nilainya memasuki hati penduduk secara estafet sebagaimana karangannya telah menjadi bacaan favorit banyak orang.

BARLA

Barla adalah tempat pertama di mana Ustadz Badiuzzaman menulis koleksi Risalah Nur yang merupakan penyelamat spiritual bagi orang-orang yang beriman. Barla adalah sebuah desa yang menjadi tempat terbit “matahari kebahagiaan” dan tempat yang meman carkan “cahaya petunjuk al-Qur’an” di hadapan arus kekufuran dan kesesatan yang menyerbu umat Islam khususnya penduduk Anatolia. Desa itu adalah tempat yang sangat beruntung karena darinya buah karya Ustadz Badiuzzaman terbit sebagai bekal kebahagiaan dunia dan akhirat yang ditulis berkat bantuan kelembutan Ilahi, kebaikan Rabbani dan kasih sayang Allah terhadap penduduk Anatolia, anakanak bangsa muslim yang gagah berani dan dunia Islam pada umumnya.

Ustadz Badiuzzaman hidup di bawah perlakuan sewenangwenang dan pengawasan ketat secara terus menerus di Barla. Ia diasingkan ke daerah terpencil itu dengan tujuan untuk menjauhkan dirinya dari masyarakat luas dan agar semangat perjuangannya padam. Juga bertujuan untuk membuat dirinya diam dan mencegahnya berkomunikasi dengan orang lain, membuat karangan-karangannya tentang iman dan Islam serta aktivitasnya dalam melawan orang orang kafir terhenti, dan mencegahnya mengabdi pada al-Qur’an.

Namun, ia berhasil dalam usahanya, tidak sebagaimana yang direncanakan pemerintah. Ia sedetikpun tidak tinggal berpangku tangan. Di tempat terpencil seperti Barla ini ia mengarang koleksi Risalah Nur yang menyajikan pelajaran hakikat iman dan al-Qur’an serta secara diam-diam menyebarluaskannya. Keberhasilan dan kemenangan ini merupakan prestasi yang luar biasa bagi Ustadz Badiuzzaman. Hal itu karena pada zaman yang sarat dengan kekufuran dan ateisme, tidak diperbolehkan menerbitkan karangan agama walaupun satu eksemplar, bahkan yang dilakukan pemerintah adalah membungkam para ulama, tetapi para musuh agama tidak mampu membungkam Ustadz Badiuzaman, tidak mampu mencegah tersebarnya karangannya tentang iman dan Islam yang membangkitkan akal dan hati yang lengah.

Ya, mereka telah berusaha dan benar-benar berhasil dalam memutus setiap ikatan bangsa Turki dengan Islam. Mereka dengan sekuat tenaga dan sepenuh upaya menjauhkan bangsa muslim ini dari Islamnya, bangsa di mana nenek moyangnya telah mengibarkan panji al-Qur’an dan memimpin dunia selama enam ratus tahun, bahkan seribu tahun jika dilihat dari masa pemerintahan Daulah Abbasiyah.Upaya pemerintah ini tidak dilakukan secara parsial dan terbatas, tetapi merupakan operasi menyeluruh, luas dan dampaknya sampai pada keimanan dan akidah jutaan orang yang tidak berdosa, terutama anak-anak muda dan pelajar yang berakibat pada kehancuran kehidupan dunia dan akhirat mereka. Usaha busuk tersebut menargetkan kehidupan abadi penduduk Anatolia dan generasi penerusnya hingga akhir zaman.

Mereka telah berusaha keras pada periode gelap itu untuk menghapus jejak-jejak Islam, menghapus al-Qur’an dari kehidupan bangsa yang dikenal sebagai pahlawan yang telah menduduki tempat tertinggi berkat keberhasilannya mengibarkan panji al-Qur’an selama seribu tahun dengan kesaksian masa lalunya yang cemerlang. Mereka terus berusaha melahirkan generasi baru dan para pemegang ijazah yang terputus dari masa lalunya, tidak mengetahui sedikitpun tentang nenek moyangnya yang luar biasa, tidak ingat sedikitpun tentang sejarah mereka yang cemerlang yang penuh dengan jihad selama sepuluh abad. Pemerintah membohongi mereka dengan menyebarkan angin sorgawi, seperti pembicaraan tentang perlunya mengikuti peradaban kontemporer agar mereka menyiapkan landasan yang kondusif untuk rezim komunis.

Hakikat Islam dengan tiang pancang peradaban dan pondasi kemajuan material dan spiritual yang terkandung dalam hakikat itu dihilangkan dan diganti dengan prinsip-prinsip gelap yang berada di kubangan filsafat ateis, pemikiran dan ideologi para sastrawan dan filsuf yang tidak beradab. Semuanya itu diajarkan dan disebarluaskan seluas-luasnya oleh mitra komunis, freemason dan ateis. Musuh Islam, khususnya Inggris dan Prancis, mempunyai rencana yang bertujuan menghancurkan dunia Islam secara material dan spiritual. Usahanya yang paling utama adalah memutus hubungan bangsa Turki yang gagah berani dengan adat istiadatnya dan dengan nilai-nilai Islamnya agar berubah 360 derajat. Sangat disayangkan memang, pada periode ini rencana busuk mereka itu benar-benar terlaksana.

Periode di mana Ustadz Badiuzzaman melakukan pengabdian terhadap Islam dan al-Qur’an di Anatolia melalui karangannya, Risalah Nur, berjuang dengan mempertaruhkan nyawa demi kehormatan Islam, periode ini sezaman dengan berawalnya periode ateisme yang luar biasa yang belum pernah terjadi sebelumnya di permukaan bumi. Oleh karena itu, orang yang mempelajari pengabdian yang dilakukan Ustadz Badiuzzaman ketika itu melalui Risalah Nur, ia pasti akan memperhatikan kondisi masa itu yang begitu sulit. Dalam kondisi sulit seperti itu yang belum terjadi sebelumnya, pengabdian sekecil biji atom mungkin akan dapat penghargaan sebesar gunung, pengabdian sederhana akan mendapatkan hasil dan nilai yang besar.

Berdasarkan hal ini, maka Risalah Nur sebagai hasil dari periode sulit yang menakutkan itu dan pengarangnya adalah pahlawan yang dikenal di medan jihad, pada zaman sulit, di mana orang orang pemerintahan terus berusaha untuk menghancurkan agama selama dua puluh lima tahun, ia adalah orang yang menyeru umat Nabi Muhammad menuju Negeri Kedamaian, dan pembimbing yang menunjukkan jalan kepada umat manusia. Risalah Nur adalah salah satu pedang permata al-Qur’an yang dibuktikan oleh realita dan waktu, disaksikan oleh berbagai peristiwa yang dapat dilihat jelas oleh pandangan mata.

Koleksi Risalah Nur yang ditulis oleh Badiuzzaman dengan pertolongan Ilahi dalam kondisi dimana para ateis menghasilkan satu periode yang menyedihkan, kejam, dan menakutkan membangun benteng kokoh dan besar yang tidak mungkin dirobohkan oleh siapapun terhadap penyebaran ateisme.Risalah Nur dengan bukti-buktinya yang pasti, dengan dalil akal dan logikanya yang sempurna, telah membuktikan ketidakbenaran filsafat materialisme dan naturalisme yang bertentangan dengan agama. Risalah Nur telah membuktikan kesesatan filsafat tersebut, telah membungkam filsuf yang paling kafir, menghancurkan kekuatan ateis dan mengalahkan kekafiran mutlak.

Ya, kendati Ustadz Badiuzzaman hidup di bawah kesewenang-wenangan, penderitaan yang berkepanjangan dan tekanan yang belum pernah dirasakan sebelumnya, Risalah Nur telah muncul dan bersinar serta akan menjadi salah satu pedang Islam pada masa sekarang dan masa mendatang, insya Allah.Risalah Nur telah dicintai oleh ruh manusia, disukai hati banyak orang, dan menjadi belahan jiwa banyak manusia sampai-sampai ada banyak orang berani berkorban untuknya. Ia adalah mahkota yang tidak lepas dari kepala manusia dan menjadi penyelamat bagi umat manusia dengan pengabdian iman yang sangat berharga yang diberikan dalam karangannya itu. Risalah Nur muncul sebagai mukjizat spiritual yang bersumber dari al-Qur’an al-Karim pada abad ini. Jutaan orang berkumpul di sekitar hakikat al-Qur’an ini dan yang berada di barisan pertama adalah pengarangnya sendiri, Ustadz Badiuzzaman Said Nursi, seperti laron yang berkumpul di sekitar cahaya. Mereka memanfaatkan cahayanya, menyerap hakikat iman dan al-Qur’an sehingga iman mereka menjadi kuat dan bertekad untuk menyatakan hakikat besar ini ke seluruh dunia dan menjadikannya sebagai bacaan serta mengabdi padanya sebagai tujuan hidup.

Ya, Risalah Nur merupakan sumber kebanggaan bangsa Turki dan dunia Islam, merasa bangga dengannya sepanjang masa. Lembaran sejarah mereka akan ditulis dengan tinta emas sebagaimana sejarah masa lalu mereka. Risalah Nur akan menjadi pemimpin tertinggi dan terkemuka dalam mengabdi pada al-Qur’an dan Islam di dunia Islam.Buah karya Ustadz Badiuzzaman yang tersebar luas ke seantero dunia ini dan selalu mendapat sambutan positif sepeti yang terjadi di Anatolia dan dunia Islam lainnya sebetulnya ia adalah salah satu harta kekayaan al-Qur’an, milik dunia Islam dan orang-orang beriman, sumber kebanggaan Islam bagi anak bangsa ini, juga titik sandaran bagi pemerintah yang mengelola negeri ini. Juga ia merupakan untaian hakikat agung yang perkataannya akan selalu terngiang-ngiang dalam pendengaran seluruh dunia insya Allah, ketika suatu masa tiba di mana Risalah Nur diajarkan dan disiarkan melalui berbagai radio di seluruh pelosok bumi(*4).

Ya, matahari telah terbit dari Turki menyinari padang ilmu pengetahuan di dunia, yaitu merupakan salah satu terbitnya matahari spiritual yang muncul di dunia umat manusia sejak seribu tiga ratus tahun yang lalu, salah satu sinar yang cemerlang pada setiap masa, dan salah satu mukjizat spiritual yang ditunggutunggu di kemudian hari. Jejaknya yang nyata telah tampak bukan sekadar pada ranah spiritual saja, tetapi juga pada ranah material.

Ya, Risalah Nur dampaknya melebihi senjata dan bom nuklir yang menjadi andalan berbagai negara dan bangsa untuk menjaga diri dan mempertahankan eksistensinya. Orang yang mencermati Risalah Nur, walaupun sekilas, dengan pandangan ilmu pengetahuan dan pandangan hati, mencermati pengabdian yang dilakukan Ustadz Badiuzzaman selama tiga puluh tahun di Anatolia melalui Risalah Nurnya, akan mendapatkan pengaruhnya. Hasil yang dibuahkan oleh pengabdian yang dilakukan Risalah Nur sejak terbitnya hingga sekarang benar-benar sangat mengagumkan sehingga patut diapresiasi yang tidak terhingga oleh mereka yang teguh meniti jalan hakikat.

Risalah Nur berjasa dalam menguatkan iman di negeri ini dengan ajarannya yang mengajarkan iman tahkiki. Risalah Nur mempunyai metode tersendiri dalam menghadapi kekufuran, ateisme, kesesatan dan kehinaan di negeri ini, di mana Risalah Nur menghadapinya dengan cara tindakan positif-konstruktif, sehingga memperoleh kemenangan dalam jihad agama spiritual yang agung ini. Kelompok mujahid yang terdiri dari para Tullabunnur ini menjadi media untuk mendapatkan perhatian dan rahmat Allah dengan sebuah rahasia yang besar, maknawi, dan makbul yang berasal dari loyalitas yang sangat besar dan persatuan. Sebagaimana terdapat esensi pohon tuba yang dapat menguasai alam pada benih itu ketika kelompok mujahidin yang tulus berada pada sebuah wilayah sempit seperti sebutir benih, begitu pula Risalah Nur akan tersebar dan meluas ke dunia Islam dan umat manusia dengan kelahiran dan penyebaran Risalah Nur yang bersumber dari al-Qur’an pada abad ke-14 H di Anatolia.

Risalah Nur diterima di mana-mana sebagai hasil ketulusannya yang tiada duanya serta karena menjadikan pengabdian pada iman dan tauhid yang murni sebagai jalan utama baginya. Ia menjadi cahaya hakiki yang menyinari setiap tempat karena ia mengandung hakikat iman dan al-Qur’an, maka rahmat Ilahi menjadikannya sebagai benteng al-Qur’an dan cahaya iman yang menjaga umat Islam dari keterpurukan dan malapetaka material maupun spiritual.

Dalam menghadapi para penentang al-Qur’an dan iman, Risalah Nur menggunakan metode argumentasi dan persuasi, bukannya pemaksaan dan pertarungan. Risalah Nur memperlihatkan sisi bening hakikat secara langsung dengan sangat terang dan jelas melalui seratus tiga puluh risalah.

Ia membuktikan kepada dunia dalam berbagai bidang pemikiran dan filsafat akan kebenaran agama Islam dan kemukjizatan al-Qur’an yang merupakan matahari petunjuk bagi dunia umat manusia. Dalam hal ini, Risalah Nur membuktikannya dengan argumentasi yang jelas dan dalil yang kuat. Ia mengemukakan dalil logis bahwa agama dan kenabian merupakan landasan kesempurnaan, kemajuan dan peradaban yang paling kuat di muka bumi, dan khususnya umat manusia dapat selamat dari gelap gulitanya kebodohan dengan munculnya Islam dan di bawah kepemimpinan dunia Islam, dan itu yang akan terjadi pada masa mendatang, insya Allah.

Sementara landasan yang dibuat manusia, seperti keutamaan dan kepentingan umum yang bisa dilihat dalam filsafat, tidak lain dari refleksi matahari kenabian yang terbit di dunia umat manusia. Cahayanya bersinar dalam pemikiran dan hati manusia, persis seperti matahari terbit dan dengan sinarnya kegelapan malam menjadi sirna. Cahaya yang tampak dari filsafat, ilmu pengetahuan dan kesenian tidak lain dari refleksi sinar matahari al-Qur’an dan pelita kenabian yang keduanya menerangi dunia umat manusia.

Wahai Dunia Islam, bangunlah dan berpegangteguhlah pada al-Qur’an! Arahkan langkahmu menuju Islam dengan seluruh keberadaanmu!

Wahai para cucu keturunan orang-orang terpuji yang tercatat dalam sejarah sebagai para pengabdi al-Qur’an selama seribu tahun dan menyebarluaskan cahaya Islam ke seluruh pelosok dunia! Bersungguh-sungguhlah dan berusaha keraslah dalam memahami Risalah Nur yang membuat manusia membaca, memahami dan menjelaskan al-Qur’an. Ketika lidah kalian mengulang-ulang membaca ayat-ayat alQur’an, perilaku dan akhlak kalian menyebarluaskan makna-maknanya. Bacalah ia dengan lisan hal. Jika kalian lakukan itu, kalian akan menjadi pemimpin dunia dan sarana tercapainya kebahagiaan umat manusia.

Wahai para cucu orang-orang yang mencapai kedudukan tertinggi, teragung dan tersuci di dunia dengan mengemban tugas suci meninggikan panji al-Qur’an sepanjang masa! Bangunlah! Tidak masuk akal jika kelalaian ada pada fajar sidik dunia Islam! Yang paling pantas kalian lakukan adalah bersinar dengan sinar iman dan alQur’an, menjadi sempurna dengan pendidikan Islam, menjadikannya petunjuk kalian dalam semua urusan, dan berpegangteguhlah dengan peradabannya yang merupakan peradaban kemanusiaan yang sebenarnya agar kalian menjadi mitra dan petunjuk dalam ke�bangkitan dunia Islam.

Ilmu pengetahuan dan teknologi yang datang dari Amerika dan Eropa, hanya dilihat dengan pandangan untuk merenungkan alQur’an yang dipadukan dengan cahaya tauhid, karena ia pada asalnya adalah harta kekayaan Islam. Maksudnya, ilmu pengetahuan dan teknologi itu sepatutnya dipandang atas nama penciptanya dan yang lainnya hendaknya mengatakan, “Maju ke depan, bergerak menuju Risalah Nur yang merupakan kumpulan hakikat iman dan al-Qur’an yang menjelaskan kebahagiaan abadi.

Saudara-saudaraku seagama yang terhormat, yang merupakan para cucu keturunan pahlawan Asia yang dulu memegang kendali dunia!

Cukuplah kalian tidur selama lima ratus tahun. Bangunlah pada cerahnya pagi al-Qur’an. Jika tidak, memejamkan mata di depan matahari al-Qur’an dan tidur di gurun kelengahan akan menjadikan kalian terbelakang dan rugi.

Janganlah kalian tinggalkan sungai al-Qur’an agar kalian tidak berjatuhan seperti tetesan air yang tersebar di atas “tanah gersang syahwat peradaban” dan kebusukannya. Tetapi bersatulah kalian seperti air bah di sungai keselamatan dan kebahagiaan al-Qur’an. Tinggalkanlah semua kebusukan peradaban.

Jadilah kalian parit-parit hakikat Islam yang mengalir di negeri ini sebagai air kehidupan agar di atas tanahnya bunga ilmu pengetahuan peradaban yang hakiki dan semua disiplin ilmunya berkembang berkat air Islam dan sinar iman dan menjadi taman rimbun yang dipayungi kebahagiaan material dan spiritual, insya Allah.

Kita kembali ke topik utama. Tahun-tahun di mana Ustadz Badiuzzaman menulis Risalah Nur selama berada di pengasingan Barla adalah waktu yang sangat penting karena setiap detiknya bernilai satu abad. Sebagaimana satu jam melakukan penjagaan pada kondisi sulit seperti pada musim dingin dengan suhunya yang sangat dingin, dengan salju dan suasananya yang menyusahkan adalah lebih baik dari ibadah selama setahun, maka demikian pula dengan masa yang dilalui Ustadz Badiuzzaman waktu itu. Jangankan seratus tiga puluh risalah, menulis sebuah risalah yang sebenarnya yang membahas hakikat iman dan Islam setara dengan ribuan risalah dari segi nilai dan kepentingannya.

Ya, orang-orang beragama mengalami berbagai penghinaan dari ateisme pada masa yang sulit dan tertekan. Para penguasa masa itu sampai-sampai berkeinginan untuk menghilangkan al-Qur’an dan mencabut keyakinan agama dari akarnya sebagaimana yang dilakukan di Rusia, hanya saja mereka merasa khawatir jangan-jangan hasilnya malah sebaliknya. Mereka akhirnya tidak melaksanakan rencana busuknya dan sebagai penggantinya mengambil keputusan yang isinya bahwa para pemuda yang akan lulus sekolah sesuai dengan kurikulum baru yang akan diterapkan di semua sekolah, mereka sendirilah nanti yang akan menghilangkan al-Qur’an. Dengan cara seperti itu, hubungan generasi muda itu dengan Islam akan terputus. Para pelaksana rencana dahsyat ini dan para pembuat kekacauan yang menakutkan ini adalah para pemimpin aliran ateisme di luar dan para pendukungnya di dalam, dan mereka sekarang adalah musuh agama yang menolak kembalinya agama dan kejayaannya.

Dari wajah buruk itu kita singkapkan kondisi yang menakutkan yang membuat bangsa Turki menderita dan kita jelaskan kepada para pakar sejarah yang adil di kemudian hari dan kepada para penulis dan editor Turki yang muslim agar mereka semua menyebarluaskan hakikat ini dalam suasana kebebasan yang dibangun oleh Partai Demokrat yang memegang kendali pemerintahan sekarang. Satu-satunya tugas kita hanya bergelut dengan hakikat iman dan al-Qur’an.

Kita hanya berada pada arus Islam dan iman saja.

Ya, pada masa ateisme dan kesesatan yang liar ini Ustadz Badiuzzaman berada di bawah pengawasan yang ketat, selalu mengalami perlakuan sewenang-wenang yang tidak pernah dilakukan oleh Namrud, Firaun, Syaddat, dan Yazid. Keadaan seperti ini berlangsung selama dua puluh tahun, sementara dunia Islam ketika itu berada dalam kondisi kefakiran yang sangat menyengsarakan di bawah rezim penjajahan bangsa asing. Sementara itu berbagai organisasi rahasia yang ateis dan pengacau melaksanakan aktivitasnya yang luar biasa di Turki dan dunia Islam dengan memperoleh dukungan dari sekutunya. Semuanya bersekongkol untuk memerangi Islam.

Dengan demikian, sebagaimana Perang Badar dan Perang Uhud adalah pembuka kemenangan di dunia Islam, maka Risalah Nur juga memiliki kepentingan yang seperti itu, karena ia merupakan sarana untuk melakukan pengabdian iman dan jihad spiritual agama yang tidak ada bandingannya dalam sejarah selain era kebahagiaan yaitu era nabi.

Meskipun Ustadz Badiuzzaman berada di Barla seperti seorang tahanan dengan kedua tangan terikat, namun berkat Risalah Nurnya yang ditulis dan disebarluaskan di pengasingan yang sangat terpencil itu, seakan-akan ia berdiri menyampaikan orasi yang luar biasa di masjid Anatolia dan masjid dunia Islam, secara berulang-ulang menyampaikan pelajaran yang bersumberkan al-Qur’an kepada orang-orang beriman. Ia seakan-akan berdiri di atas puncak menara abad ke-14 H dan abad 20 M, menyampaikan orasi kepada umat Islam dan umat manusia yang sezaman dengannya, menyapa generasi mendatang yang berbaris di belakang zaman ini dalam barisan masa depan(*5). Ia berbicara kepada mereka sebagai seorang guru yang mulia dan mujaddid agung.

PENULISAN DAN PENYEBARAN RISALAH NUR

Ustadz Badiuzzaman menulis risalah-risalah yang terhimpun dalam koleksi Risalah Nur dalam kondisi yang sangat sulit yang belum pernah dialami oleh para ulama terkemuka terdahulu. Ustadz Badiuzzaman memiliki kemauan keras yang tidak pernah melemah dan kecintaan untuk mengabdi yang tidak pernah redup, sehingga ia mulai menuangkan buah pikirannya dengan segenap kekuatan dan kesabarannya tanpa mengenal lelah dan bosan sehingga berhasil menghasilkan Risalah Nur dan dijadikan sebagai petunjuk agung yang mampu menjalankan fungsi sebagai pencerah dan petunjuk bagi umat Islam dan segenap manusia, menjaga negeri dan penduduknya dari ular-ular komunis, malapetaka freemason dan kekufuran, serta mencegah kejahatannya pada masa mendatang.

Karena koleksi Risalah Nur ditulis pada masa yang sangat dibutuhkan, setiap risalah yang ditulis menjadi obat dan balsam yang sangat mujarab serta mampu mengobati penyakit-penyakit maknawi banyak orang. Pembaca Risalah Nur—siapa pun dia—merasakan kondisi spiritual seakan-akan buah pikiran Ustadz Said Nursi itu ditulis khusus untuk dirinya sehingga ia membacanya dengan rasa rindu yang membara dan kebutuhan yang sangat mendesak. Bagaimana tidak, Risalah Nur yang dipersembahkan bagi manusia yang hidup pada masa sekarang dan masa mendatang mampu memenuhi kebutuhan mereka dari sisi keimanan, keislaman, pemikiran, spiritual, hati dan akal.

Risalah Nur merupakan tafsir al-Qur’an al-Hakim yang hakiki. Ia menafsirkan ayat-ayatnya bukan menurut urutannya, tetapi menurut penjelasannya terhadap hakikat iman yang memenuhi kebutuhan masa sekarang.

Tafsir ada dua macam: Satu bagian menafsirkan perkataan dan ungkapan ayat (Tafsir lafzhi), dan satu bagian lainnya menjelaskan makna dan hakikatnya serta menyajikan bukti terhadap kebenarannya (Tafsir maknawi). Risalah Nur dianggap sebagai salah satu tafsir bagian kedua yang terpenting, yang paling luas, paling kuat dan paling cemerlang. Ini dibuktikan oleh kesaksian ribuan para peneliti.

Risalah Nur ditulis dan dipublikasikan dengan gaya bahasa tersendiri yang tidak pernah ada bandingannya hingga sekarang. Ustadz Badiuzzaman Said Nursi semi buta huruf. Ia tidak mempunyai kemampuan untuk menulis dengan baik yang memungkinkannya dapat menulis sekian banyak risalah dengan tangannya. Karena alasan inilah ia mendiktekannya kepada para penulis dengan cepat. Semua yang didiktekan langsung ditulis. Meskipun penulisan Risalah Nur dilakukan dengan cara seperti ini yang setiap harinya menghabiskan waktu satu atau dua jam, terdapat risalah-risalah yang ditulis dalam waktu sepuluh jam, dua belas jam dan sebagiannya lagi ditulis dalam satu atau dua jam.

Risalah Nur yang sudah selesai ditulis berpindah dari tangan satu murid ke tangan murid lainnya untuk disalin. Dari satu naskah akhirnya muncul beberapa naskah yang kemudian dibawa kepada Ustadz Said Nursi untuk diperiksa dan dikoreksi.Di antara kebiasaan Ustadz Said Nursi ketika memeriksa, ia mencermati naskah yang ada di hadapannya dengan sangat teliti tanpa membandingkannya dengan naskah aslinya. Hingga sekarang,(*6)ia masih mengoreksi Risalah Nur yang dikarangnya dua puluh lima atau tiga puluh tahun yang lalu tanpa perlu merujuk ke naskah aslinya.

Banyak murid datang dari berbagai desa tetangga mengambil naskah Risalah Nur dengan penuh antusias kemudian mereka menyalin dan menyebarkannya.

Ustadz Badiuzzaman Said Nursi menulis Risalah Nur tanpa menggunakan referensi selain dari al-Qur’an karena ketika itu tidak ada satu buku pun berada di sisinya.

Hal itu seperti diungkapkan oleh penyair Muhammad Akif: Menyampaikan pesan Islam kepada kesadaran Dengan inspirasi yang langsung dari al-Qur’an Ustadz Badiuzzaman telah dengan mudah merealisasikan makna bait puisi di atas.

Sejarah tidak pernah mengenal sebuah cara bagaimana karangan ditulis dan dipublikasikan seperti yang dilakukan terhadap Risalah Nur dan hal itu dijelaskan sebagai berikut:

Risalah Nur yang mendapat tugas pengabdian untuk menjaga tulisan al-Qur’an harus disebarkan dengan tulisan al-Qur’an. Ketika itu penulisan buku dengan menggunakan huruf Arab dilarang dan percetakannya ditutup, sementara Ustadz Badiuzzaman tidak memiliki harta sedikitpun. Para penulis dan penyalin Risalah Nur hanya bisa memenuhi kebutuhan pokok mereka. Orang-orang yang menyalin Risalah Nur dibawa ke kantor polisi, disiksa, dan dijebloskan ke penjara. Propaganda dengan imbalan yang menggiurkan untuk melawan Ustadz Badiuzzaman tentunya menimbulkan rasa takut di semua tempat sehingga orang-orang takut untuk dekat-dekat dengan Ustadz Badiuzzaman Said Nursi, apalagi belajar kepadanya. Ketika itu hukuman mati yang dijatuhkan kepada para ulama dan pencinta kebenaran, dengan cara digantung di tiang gantungan hanya sekadar karena mereka mempertahankan ketulusannya terhadap agama, telah membuat suasana mencekam. Pemerintahan tiran telah menerapkan kebijakan yang membuat para ulama dan cendekiawan tutup mulut. Semua karya atau tulisan yang menjelaskan hakikat dan pokok-pokok Islam dilarang keras untuk diajarkan. Mempublikasikan satu risalah yang membahas hakikat agama juga dilarang sehingga rakyat tidak mampu mendapatkan pelajaran tentang kebenaran agamanya. Pemerintah secara aktif berupaya mengubah Islam menjadi sebuah tubuh tanpa nyawa.(*7)

Demikianlah perang terhadap agama dilancarkan pada waktu itu dengan semena-mena yang dibarengi pemerintahan tiran yang membelenggu kehidupan orang-orang beriman secara material dan spiritual. Risalah Nur hadir untuk membentengi serangan ini dan menghancurkan rantai yang membelenggu mereka terutama dari sisi spiritualnya. Risalah Nur berhasil menghancurkan masa kekufuran dan ateisme.

Ya, Risalah Nur berkilau seperti kilat di antara gelap-gulitanya kekufuran, ia terbit sebagai cahaya yang menembus semua tirai, sebagai salah satu cahaya al-Qur’an al-Hakim yang bersinar dengan kemegahan dan keagungannya.

Keimanan para murid Risalah Nur pun meningkat setelah mereka memperoleh pelajaran tentang keimanan tahkiki. Mereka kemudian menjadi orang-orang yang memiliki semangat yang berlandaskan iman, dan keberanian yang berlandaskan Islam. Jumlah mereka setiap hari terus bertambah. Sebagaimana seorang komandan yang pemberani mampu membangkitkan keberanian pada diri ratusan prajurit dengan tindakan nyatanya sehingga dirinya menjadi titik sandaran mereka, maka demikian pula dengan sosok maknawi Risalah Nur yang termanifestasikan dalam ratusan ribu bahkan jutaan Tullabunnur yang imannya menjadi lebih kuat setelah mereka memperoleh pelajaran iman tahkiki dan utamanya adalah Ustadz Badiuzzaman Said Nursi itu sendiri. Mereka menjadi suri teladan dan titik sandaran orang-orang beriman. Kekuatan iman dan kepahlawanan mereka dalam menghadapi kekufuran dampaknya sangat besar dalam munculnya kebangkitan dan kesadaran beragama di kalangan banyak orang sehingga rasa takut dan ragu pun sirna dari diri mereka. Orang-orang Islam pun terselamatkan dari rasa putus asa.

Rasa berani, bahagia dan harapan kini memenuhi jiwa rakyat di seluruh pelosok negeri. Suatu kenyataan yang tak terbantahkan bagi pencari kebenaran, seorang saja dari sekian banyak Tullabunnur yang menjadikan risalah itu sebagai tujuan hidupnya, kekuatan satu orang murid ini sebanding dengan kekuatan seratus orang. Pengabdiannya terhadap iman dan Islam sebanding dengan pengabdian seratus orang pemberi nasihat.Para Tullabunnur tanpa ragu telah mengorbankan harta, anakanak dan keluarga mereka, bahkan mereka rela mengorbankan nyawa jika kondisi memerlukannya dalam rangka berkhidmat pada iman dan Islam melalui Risalah Nur. Mereka meneledani keberanian guru mereka tanpa rasa takut sedikit pun dan tanpa memerdulikan kezaliman penguasa tiran, ancaman penjara, dan tidak pula menghiraukan penindasan dan propaganda mereka yang menggoda. Mereka hanya memfokuskan satu tujuan: Membaca Risalah Nur, mengkajinya untuk menyelamatkan iman mereka, mencari rida Allah dengan cara berkhidmat pada iman dan Islam melalui Risalah Nur. Maka agar mereka dapat melakukan khidmat ini dan mencapai tujuan mulia ini, mereka berupaya sekuat tenaga.

Ya, mereka telah meyakini bahwa Tullabunnur adalah para awak perahu Rabbani yang akan membawa umat Nabi Muhammad ke pantai keselamatan. Tujuan utama mereka dalam hidup ini—dengan berkhidmat pada al-Qur’an dan iman—adalah menjadi sarana bagi umat Nabi Muhammad dalam menggapai kehidupan yang sejahtera dan bahagia. Pada mulanya Risalah Nur dipublikasikan dalam bentuk naskah tulisan tangan. Ketika itu ribuan Tullabunnur di Isparta dan sekitarnya melakukan tugas mulia ini dengan penuh semangat, baik kaum lelaki maupun perempuan, para pemuda atau orang tua, bahkan pada waktu itu ada Tullabunnur yang menyalin dan mempublikasikan Risalah Nur tanpa meninggalkan rumah mereka masing-masing selama tujuh atau delapan tahun. Di desa “Sav” yang kemudian menjadi salah satu lokasi madrasah Risalah Nur ribuan pena tak henti menyalin dan mempublikasikan Risalah Nur.Dua puluh tahun setelah Risalah Nur ditulis, kumpulan risalah ini baru dipublikasikan dengan mesin. Tiga puluh lima tahun kemudian dicetak di berbagai percetakan, dan dengan izin Allah Risalah Nur akan ditulis dengan tinta emas, dibaca di berbagai siaran radio dengan berbagai bahasa sehingga permukaan bumi ini akan menjadi madrasah nur yang besar.

Para wanita yang penuh berkah tidak ketinggalan dalam menggapai keutamaan dengan jerih payahnya dan pengorbanannya yang luar biasa dalam menyebarkan Risalah Nur, sehingga ada yang datang menghadap Ustadz Said Nursi dan berkata, “Tuan... saya akan memenuhi kebutuhan dunia suami saya agar ia dapat fokus berkhidmat kepada Tuan dan pada Risalah Nur”. Para wanita mulia ini memikul beban suaminya agar para suami mengabdikan seluruh waktunya pada Risalah Nur. Di antara mereka ada yang memegangi pelita pada malam hari ketika suaminya tengah menyalin Risalah Nur secara diam-diam. Dengan demikian para wanita tersebut telah berpartisipasi dalam berkhidmat pada agama dan iman dengan segala kemampuan mereka. Di antara mereka, wanita dewasa dan para gadis ada yang menyalin Risalah Nur dengan tangan mereka. Mereka juga berkhidmat pada iman sebagai penulis yang penuh berkah.

Di antara para Tullabunnur wanita ada yang membaca Risalah Nur—yang menjadi penyebab untuk husnul khatimah melalui iman pada nafas terakhirnya—dengan sangat antusias. mereka memperkenalkan Risalah Nur dengan membacakan kepada wanita lain yang seagama. Mereka telah melakukan pengabdian yang besar dengan menyebarluaskan Risalah Nur di kalangan kaum wanita sehingga mereka tercerahkan dengan cahaya al-Qur’an dan iman. Mereka meningkatkan derajat iman mereka dengan membaca Risalah Nur dan menjadikan yang lainnya dapat membacanya sendiri sehingga seolah-olah mereka menjadi seorang mursyid.

Kaum wanita terikat dengan cahaya al-Qur’an yang bersinar dan penuh karunia yang terdapt dalam Risalah Nur dengan tulus dan ikhlas semata-mata untuk mendapatkan rida Allah I. Mereka juga memperoleh kondisi yang membahagiakan dunia dan akhirat dengan menyimpan rasa cinta yang tidak padam pada hati mereka.

Risalah Nur dengan nilai-nilainya yang luhur dan keagungannya telah bersemayam di hati suci para wanita itu sehingga ketika mereka membaca dan mengkajinya, mereka merasa dipenuhi cahaya dan karunia, mereka berlinang air mata cahaya, mereka mencapai batas ketenangan dan kenyamanan. Betapa bahagianya para wanita ini. Pengabdian suci mereka terhadap iman akan selalu dikenang, kuburan mereka dengan izin Allah akan terus bercahaya seperti taman-taman di surga dan di akhirat kelak derajat mereka akan ditinggikan, insya Allah. Para wanita tersebut telah mendapatkan semua keuntungan spiritual dan kedudukan luhur sebagai imbalan membaca dan mengajarkan Risalah Nur. Maka di samping mereka tercakup dalam semua doa gurunya, Ustadz Said Nursi, mereka juga didoakan jutaan Tullabunnur. Pahala amal saleh mereka dicatat dalam catatan amal saleh mereka, insya Allah, berkat partisipasi maknawi para Tullabunnur. Kita berharap agar kondisi mayoritas kaum wanita juga seperti itu, insya Allah.

Tullabunnur yang memiliki bashirah telah melihat hakikat luhur yang terdapat dalam Risalah Nur tiga puluh lima tahun yang lalu. Mereka telah menerima pelajaran-pelajarannya yang berharga dan menghadapi musuh-musuh agama yang bekerja secara sembunyi-sembunyi dengan tulus dan setia sejak zaman itu. Meski rumah-rumah para pahlawan Risalah Nur berulang kali digeledah dan disiksa dengan keji melalui penjeblosan mereka ke penjara berkali-kali, namun mereka menyebarluaskan Risalah Nur dengan ‘pena emas’ mereka sepanjang masa. Meskipun mereka mampu mendapatkan kenikmatan dunia kapanpun mereka mau, namun mereka telah mewakafkan hidup mereka untuk berkhidmat pada Risalah Nur dengan mengorbankan semua kedudukan dunia dan kekayaan pribadinya.

Mungkin ada orang yang bertanya, “Apa rahasia di balik tekad, kekuatan, pengorbanan, keteguhan dan kesetiaan yang dimiliki para Tullabunnur ini?” Jawabannya, “Rahasia di balik itu semua adalah hakikat-hakikat luhur yang terkandung dalam risalah itu yang tidak diragukan kebenarannya dan pengabdian iman yang dilakukan semata-mata demi mendapatkan rida Allah, serta ketulusan yang agung yang telah direalisasikan oleh Ustadz Badiuzzaman sendiri.

Ustadz Badiuzzaman menetap di Barla selama delapan tahun. Sebagian besar waktunya digunakan di lembah, kebun, dan taman. Ia menyendiri di pegunungan yang sunyi atau di kebun yang terletak sejauh dua jam atau tiga jam perjalanan. Dalam sehari ia berjalan kaki pergi dan pulang ke tempat-tempat itu menghabiskan waktu hampir lima jam, Ia menyusun Risalah Nur, mengalokasikan waktu tiga atau empat jam sehari untuk mengoreksi sejumlah risalah yang pernah ia tulis tangan di Isparta dan sekitarnya. Ia sering menyediakan makanannya sendiri.

Ketika itu Risalah Nur disalin di empat puluh tempat yang dilakukan oleh Tullabunnur generasi pertama, kemudian tulisan mereka itu dikirim kepada sang guru. Naskah-naskah tersebut ia bawa sendiri di atas pundaknya, dibawanya ke pegunungan atau lembah untuk dikoreksi, kemudian kembali ke rumah. Ustadz Said Nursi pernah diasingkan dan mendapat berbagai perbuatan sewenang-wenang ketika itu, tidak diperkenankan menemui seorang manusia pun, namun demikian ia memperoleh kekayaan spiritual yang tidak terkira karena ia berhasil mengarang dan mempublikasikan hakikat iman yang bersumberkan al-Qur’an yang membawa cahaya dan petunjuk bagi dunia Islam dan umat manusia. Seluruh waktunya ia gunakan untuk menuangkan buah pikirannya dalam bentuk tulisan.

Suatu saat nanti karangannya itu akan tersebar luas di seluruh Anatolia, akan sampai ke seluruh pusat dunia Islam, akan menjadi pusat perhatian para politikus, dan ketika itu ideologi kekufuran dan ateis yang hendak dipaksakan pada bangsa pemegang panji Islam selama beberapa abad akan terkoyak-koyak, ia akan membendung aliran kekufuran, kesesatan dan kehinaan yang merepresentasikan sosok maknawi para tiran sesat pada masa-masa terakhir, mencegah mereka menyebarkan pengaruhnya di negeri ini dan generasi mendatang akan memiliki sumber keselamatan dan kebahagiaan yang abadi.

Ustadz Said Nursi adalah orang yang paling berbahagia di dunia, karena ia merupakan pelaku dakwah suci dan bermakna agung. Dengan izin Allah dan pengaturan Rabbani, ia menghadirkan awal transformasi sejarah yang besar. Ia tidak pernah goyah, pantang mundur dari maksud dan tujuannya, dan tidak pernah mengubah penampilan dan pakaiannya(*8). Sebaliknya ia tetap membawa cahaya petunjuk guna menyingkap kegelapan dan memperbaiki keyakinan. Ia memiliki kesungguhan dan tekad yang sangat kuat karena tugas dan pengabdiannya menjamin kebahagian dan kesejahteraan umat manusia di dunia dan akhirat.

* * *

Tempat yang dihuni Ustadz Said Nursi di Barla adalah sebuah rumah yang terdiri dari dua kamar. Pada hakikatnya ia tidak memiliki sebuah rumahpun, bahkan ia tidak memiliki sejengkal pun tanah. Rumah yang ia huni di Barla selama delapan tahun tidak lain dari dershane Nur pertama, dershane yang dianggap sebagai pusat tiga ratus lima puluh juta umat Islam. Di bawah dershane ini terdapat mata air yang mengalir. Di depannya terdapat sebatang pohon plane menjulang tinggi ke langit dengan tiga cabangnya yang besar-besar. Di antara dahan-dahannya dibangun gubuk kecil yang digunakan Ustadz Said Nursi untuk beristirahat, bertafakur dan beribadah pada musim semi dan musim panas.

Orang-orang yang melayani Ustadz Said Nursi dengan setia, murid-muridnya, serta penduduk Barla berkisah, “Kami melihat Ustadz pada malam hari berada dalam gubuk yang terdapat di antara dahan pohon plane yang penuh berkah. Ia bertasbih dan membaca wirid sampai pagi, utamanya pada musim semi dan musim panas. Kami melihatnya bersamaan dengan datangnya pagi hari di antara burung-burung yang beterbangan di antara dahan-dahan yang lebat seakan-akan ia merindukan sesuatu. Kami tidak tahu kapan ia tidur dan kapan ia bangun”.

Ustadz Said Nursi sering sakit, dan waktunya nyaris tidak pernah lepas dari penderitaan, namun demikian ia sedikit makan, cukup dengan makanan ala kadarnya seperti sup. Pada malam hari Ustadz Said Nursi selalu membaca wirid yang merupakan kumpulan surahsurah al-Qur’an, disusul munajat yang disebut “Al-Jawsyan al-Kabir”,yaitu munajat ma’tsurah yang terkenal, kemudian ia membaca munajat dan hizb para wali, seperti Syekh al-Jailani(*9), Syekh al-Naqsyabandi(*10), kemudian salawat nuriyyah, terutama “Hizb Nuri” yan merupakan sumber Risalah Nur, dan munajat serta hizb lainnya yang merupakan cahaya ayat-ayat al-Qur’an dan rangkaian tafakur iman yang terkumpul dalam “Cahaya Kedua Puluh Sembilan”. Selesai membaca wirid dan hizb, ia kembali menulis Risalah Nur. Pada siang hari, ia selalu menelaah kembali dan mengoreksi buah karyanya itu dan melakukan pengabdian lainnya. Jika terdapat suatu masalah mendesak yang terkait dengan Risalah Nur, semua pekerjaannya ia tinggalkan guna menyelesaikan masalah tersebut.

Pada musim semi, ia naik menuju gubuknya yang terletak di antara dahan pohon plane yang besar. Ia menyelesaikan pekerjaannya di sana: menelaah, bertafakur dan mencari inspirasi hakikat Risalah Nur dari sumbernya yang asli dan hakiki. Adakah kata dan ungkapan yang mampu mendeskripsikan aktivitas Ustadz Said Nursi di atas pegunungan dan pepohonan yang selalu ditempatinya baik di gunung Çam atau di atas pohon plane yang kemudian menjadi pembenaran rahasia ayat al-Qur’an ‘pohon yang banyak berkahnya’, (QS. an-Nur [24]: 35)? Ucapan tidak mampu mendeskripsikan hakikat tersebut.

Allah dengan rahmat-Nya yang sempurna telah menciptakan individu yang tiada duanya ini dengan kesiapan yang menyeluruh yang mencakup berbagai kesempurnaan manusia, dan Allah berkehendak untuk memperlihatkan seluruh kesiapan ini dalam bentuknya yang paling agung, maka Dia menciptakan pribadi istimewa ini sebagai guru universal dalam semua hakikat yang dianggap sebagai sosok maknawi bagi Risalah Nur yang membentangkan pohoh Islam dan menyebarkan dahan dan rantingnya pada masa-masa mendatang, menjadikan para pencari hakikat dan kesempurnaan melihat sosok maknawi Risalah Nur ini dengan penuh kekaguman karena pada pribadi tersebut terdapat cahaya hakikat Islam yang terang benderang(*11)

Demikianlah Ustadz Said Nursi lebur dalam Risalah Nur yang merupakan cerminan menyeluruh dari risalah dan hakikat ajaran Nabi Muhammad. Ustadz Said Nursi lebur di dalamnya dengan kepribadiannya, tetapi ia dilahirkan dan kekal dengan maknanya di dunia Islam. Dengan izin Allah Risalah Nur akan terus kekal dan berkembang sampai hari kiamat. Apakah mungkin bagi Allah Yang Maha Agung yang tidak menganggap remeh penciptaan sayap lalat sehingga di balik itu terdapat banyak hikmah dan kepentingan, tidak menjadikan adanya keterkaitan antara rahmat kasih sayang-Nya dengan tempat-tempat di mana Risalah Nur ini dikarang, tempat-tempat di mana pengarangnya menunaikan tugas-tugas sucinya, atau pohon yang penuh berkah, tempat-tempat dan dershane nur yang telah mempersembahkan pengabdian suci itu di luar rahmat Ilahiyah yang khusus?

Itu sama sekali tidak mungkin. Ketika Ustadz Said Nursi tinggal di Barla, terkadang pada musim panas ia pergi menuju gunung Çam. Selama beberapa waktu ia menyepi di sana. Di puncak gunung tinggi tersebut tedapat dua pohon besar yang selalu dijadikan tempat berlindung karena kedua pohon tersebut dianggap sebagai dershane nur seperti halnya gubuk kecil yang terdapat di antara dahan pohon plane. Ia pun di tempat ini sibuk dengan Risalah Nur. Ia berkata, “Tempat-tempat ini tidak akan saya tukar dengan Istana Yildiz”.

Pembahasan kita cukupkan sampai di sini agar kita dapat mengetengahkan sebagian risalah dan korespondensi yang khusus berkenaan dengan kehidupan Ustadz Said Nursi di Barla dan gunung Çam serta menjelaskan hakikat Risalah Nur.

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ وَ اِن۟ مِن۟ شَى۟ءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَم۟دِهٖ

Semoga kesejahteraan, rahmat dan berkah-Nya dilimpahkan kepada kalian dan kepada saudara-saudara kalian, terutama..... dst.

Saudara-saudaraku yang mulia!

Sekarang saya sedang duduk di atas pohon pinus besar di puncak gunung Çam(*12)yang tinggi. Saya sudah terbiasa hidup menyendiri jauh dari orang lain dan akrab dengan kehidupan liar. Setiap kali timbul keinginan untuk bertemu dengan orang-orang, saya membayangkan kalian berada di dekatku sehingga rasa rindu itu pun terobati dan diri saya terhibur. Saya ingin tinggal di tempat ini sendirian selama sebulan atau dua bulan jika tidak ada halangan. Kalian meminta saya bertemu dan duduk bersama, sementara saya pun merindukan hal itu, lebih dari apa yang kalian rasakan. Maka ketika saya kembali ke Barla, kita mencari jalan untuk bertemu dan duduk bersama sebagaimana yang kalian minta.Sekarang saya tulis untuk kalian semua yang terbetik dalam hati saya, di atas pohon pinus ini:

Pertama:sebuah rahasia khusus, tetapi bagi kalian tidak ada yang ku rahasiakan, yaitu:

Sebagaimana sebagian para ahli hakikat merupakan cerminan dari nama Allah “al-Wadûd” (Yang Maha Mencintai), melihat Allah Yang bersifat “Wajib al-Wujud” melalui jendela makhluk ciptaan-Nya dan bertajalinya nama ini pada peringkat agung. Saudara kalian yang bukan siapa-siapa ini, telah diberi karunia kondisi di mana dua nama Allah “ar-Rahîm” (Yang Maha Penyayang) dan “al-Hakîm” (Yang Maha Bijaksana) bertajali. Hal itu semata-mata terjadi ketika saudaramu ini berkhidmat terhadap al-Qur’an, menjadi penyeru kepada khazanahnya yang tidak akan pernah habis. Maka semua “al-Kalimât”(*13)semata-mata merupakan cerminan dari karunia tersebut dan dengan seizin Allah juga merupakan penampakan dari rahasia firman Nya:“Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.” (QS. al-Baqarah [2]: 269)

Kedua: Tiba-tiba terlintas dalam hati satu paragraf dari kaidah tarekat Naqsyabandiyah yang mengatakan:

Dalam tarekat Naqsyabandiyah harus meninggalkan empat hal:

Meninggalkan dunia, meninggalkan akhirat, meninggalkan diri

dan meninggalkan pikiran untuk meninggalkannya.

Kemudian untaian kalimat berikut datang sesudah kalimat di atas.

Saudaraku, jalan ketidakberdayaan mengharuskan adanya empat hal: kefakiran mutlak, ketidakberdayaan mutlak, rasa syukur mutlak dan rasa rindu mutlak.

Kemudian terlintas dalam hatiku puisimu yang kaya makna dan beragam ekspresi yang mengatakan, “Lihatlah lembaran buku alam semesta yang berwarna-warni....dst”. Dengan puisi ini saya melihat bintang-bintang di langit lalu saya katakan, “Seandainya saya ini seorang penyair, saya lengkapi puisi ini! Kendati saya tidak berbakat dalam membuat puisi, saya tetap dapat merasakannya, tetapi saya tidak dapat menyusunnya dalam sebuah bait-bait puisi, maka saya tulis saja sebagaimana yang terlintas dalam hati. Jika mau, silakan Anda—sebagai pewarisku—menyusunnya menjadi puisi.Lintasan pikiran yang muncul dalam benak secara seketika adalah sebagai berikut:

Perhatikan bintang-gemintang yang ada, juga manis tuturnya

yang baik dan nikmat guna melihat ketetapan stempel hikmah yang bersinar di alam wujud.

Semuanya bersama-sama menyeru dan berkata dengan lisan kebenaran:

“Kami adalah bukti cemerlang yang menunjukkan keagungan Sang Mahakuasa Yang Mahaagung.

Kami saksi jujur atas eksistensi Sang Pencipta Yang Mahaagung

serta atas keesaan dan kekuasaan-Nya.

Kami berwisata, seperti malaikat,

di atas berbagai mukjizat indah tersebut yang menghias wajah bumi.

Kami ribuan mata yang menatap

dari langit ke bumi dan mendekati surga.(*14)

Kami ribuan buah indah dari pohon penciptaan yang

digantung oleh tangan hikmah

Tuhan Yang Mahaindah dan

Mahaagung di tepi langit dan di dahan galaksi bima sakti.

Kami masjid berjalan, kediaman yang berputar, sangkar yang tinggi, lentera yang bersinar,

serta perahu dan pesawat yang besar bagi penduduk langit.

Kami mukjizat qudrat Dzat Yang Mahakuasa Pemilik kesempurnaan,

dan kreasi luar biasa Dzat Yang Mahabijak Pemilik keagungan.

Hasil hikmah yang langka, hasil ciptaan yang cerdas,

dan alam cahaya.

Demikianlah, Kami menjelaskan seratus ribu satu bukti lewat seratus

ribu satu lisan serta memperdengarkannya kepada mereka yang benar-benar manusia.

Mata orang kafir buta;

tidak bisa melihat wajah kami yang

bersinar dan tidak bisa mendengar perkataan kami yang jelas.

Kami adalah tanda kekuasaan yang menuturkan kebenaran.

Stempel kami sama, wajah kami sama. Kami semua bertasbih dan beribadah kepada Rabb kami serta tunduk pada perintah-Nya.

Kami berzikir mengingat Allah dan kami ditarik oleh cinta kepada-Nya. Kami terpaut dengan halaqah zikir galaksi bima sakti.

Yang kekal hanyalah Dzat Yang Mahakekal.

Said Nursî

SURAT KEENAM

SURAT KETIGA BELAS

CAHAYA KEDUA PULUH DUA

Harapan Keenam

PERSOALAN KETUJUH (Risalah Ketujuh)

JAWABAN ATAS SEBUAH PERTANYAAN KHUSUS

Penutup Persoalan Ketujuh

Saudara-saudaraku! Saya akan jelaskan sebuah pemikiran yang akan berguna di antara ustadz, para murid, dan teman belajar.

Dari satu sisi kalian adalah murid saya, dan ini di luar batasan saya. Kalian juga teman belajar saya dari sisi lain serta penolong dan penasihat saya di sisi ketiga.

Saudara-saudaraku yang mulia... ustadz kalian bukanlah orang yang terpelihara dari kesalahan, bahkan merupakan suatu kekeliruan jika kalian mengira bahwa ia hidup tanpa kesalahan. Maka jik terdapat apel busuk di kebun, keberadaannya itu tidak akan membahayakan kebun tersebut. Demikian juga jika ada uang palsu dalam sebuah peti, keberadaan uang palsu tersebut tidak menjatuhkan nilai peti tersebut.

Dengan rahasia kebajikan dibalas sepuluh kali lipat sedangkan kejahatan hanya dibalas sekali, sikap adil memerlukan sikap menerima bahwa perbuatan salah apapun yang dilakukan tidak akan mengganggu hati dan tidak patut mempertahankan diri untuk menolak kebajikan lain karena masalah yang berkaitan dengan hakikat itu bersifat pasti dan jelas, tidak ada keraguan sedikitpun karena keuniversalannya dan sebagian rinciannya merupakan salah satu yang terlintas dalam pikiran sebagai inspirasi.

Ketahuilah saudara-saudaraku, rekan-rekan belajarku, bahwa jika kalian melihat kesalahan pada diri saya, beritahu saya segera dan tidak boleh merasa sungkan. Saya akan merasa senang dengan sikap kalian seperti itu, bahkan jika kalian mengkritisi saya sekalipun, saya pasti akan mengatakan kepada kalian, “Jazâkumullâhu khayran” (Semoga Allah membalas kalian dengan balasan yang lebih baik). Dalam rangka mengindahkan dan memelihara kebenaran, keberadaan kepentingan tidak boleh dijadikan penghalang. Kita tidak boleh menolak kebenaran dengan alasan menyenangkan egoisme nafsu ammârah. Kebenaran itu harus diterima dengan lapang dada kendati kita tidak mengetahui substansinya. Ini demi menghormati kedudukan kebenaran.

Kalian tahu bahwa tugas yang berkenaan dengan iman ini merupakan tugas yang sangat penting pada masa sekarang ini. Karenanya tidak patut dibebankan pada pundak orang lemah seperti saya yang pemikirannya sudah bercabang kemana-mana. Orang lemah seperti saya ini harus dibantu sebisa mungkin.

Dalam kesibukan kami dengan hakikat-hakikat agung sejak dua tahun lalu, Allah telah melimpahkan karunia-Nya dari sifat kasih sayang-Nya yang sempurna yang berupa tawâfuqât (kesesuaian-kesesuaian) lembut yang mirip dengan buah-buahan. Berkat karunia-Nya itu, pemikiran kami pun menjadi lembut dan diarahkan-Nya menuju hakikat al-Qur’an yang agung. Buah-buahan ini menjadi nutrisi penuh gizi bagi ruh kami sehingga dalam waktu yang sama menjadi buah dan makanan seperti halnya buah kurma dan hakikat, perhiasan serta keistimewaan itupun menyatu.

Saudara-saudaraku, pada masa sekarang ini kita memerlukan kekuatan spiritual yang besar untuk menghadapi kesesatan dan kelalaian. Tetapi sayang sekali saya harus mengatakan bahwa dari sisi pribadi saya adalah orang yang tidak memiliki apa-apa dan sangat lemah. Saya tidak memiliki karamah luar biasa yang dapat dijadikan bukti adanya hakikat-hakikat ini. Saya juga tidak memiliki kemauan kuat yang suci yang dapat menarik hati orang. Saya tidak memiliki bakat tinggi yang dapat menundukkan pemikiran orang, tetapi saya adalah seorang pelayan yang memohon bantuan di hadapan alQur’an al-Karim. Kadang kala saya meminta bantuan dari sebagian rahasianya untuk menundukkan pembangkangan orang-orang sesat yang sombong dan memaksa mereka agar menggunakan akal pikirannya secara berimbang. Saya sudah merasakan karunia Allah I dalam berbagai tawâfuqât (kesesuaian-kesesuaian) sebagai kara�mah al-Qur’an, maka saya berpegang kuat dengannya.

Ya, saya telah merasakan isyarat pasti dalam buku tafsir “Isyarât al-I`jâz” dan dalam buku “Risalah Kebangkitan” yang bersumberkan pada al-Qur’an. Kedua buku ini bagi saya merupakan karamah alQur’an, baik ada buku lain yang sebanding maupun tidak ada.

* * *

Saudaraku yang mulia, setia dan gigih!

Tugasmu mengabdi pada al-Qur’an yang Anda jalankan, semuanya penuh berkah. Semoga Allah melimpahkan taufik dan menjauhkan sifat malas darimu serta menjadikan dirimu bertambah semangat.

Saya akan menjelaskan salah satu prinsip persaudaraan yang harus mendapat perhatian. Hidup ini tidak lain dari hasil kesatuan dan persatuan. Ketika persatuan yang terpadu hilang, maka kehidupan spiritual itupun akan hilang. Demikian pula jika sikap solidaritas hilang, maka kehidupan berjama’ah akan kehilangan maknanya.

Sebagaimana hal itu diisyaratkan oleh firman Allah I:“Janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.” (QS. al-Anfâl [8]: 46).

Sebagaimana yang kalian ketahui, jika tiga huruf alif ditulis secara tersendiri, nilainya adalah tiga, tetapi jika ditulis dengan berdampingan maka nilainya adalah seratus sebelas. Demikian juga dengan kalian. Tiga atau empat orang pengabdi kebenaran seperti kalian, jika bergerak sendiri-sendiri tanpa ada pembagian tugas, maka kekuatan mereka adalah kekuatan tiga atau empat orang saja. Lain halnya jika mereka bergerak dengan persaudaraan yang hakiki, solidaritas yang melahirkan rasa bangga dengan kelebihan yang lainnya, dan rahasia “meleburkan diri pada saudara yang lain” yang menjadikan semua saudara memiliki derajat yang sama, maka empat orang tersebut setara dengan empat ratus orang dari segi kekuatan dan nilainya.

Kalian adalah seperti operator mesin pembangkit listrik yang akan menerangi bukan hanya Isparta saja, tetapi juga sebuah negara besar. Gerigi-gerigi mesin harus saling bekerja sama satu dengan yang lainnya sehingga tidak ada tempat untuk hasad dan cemburu di antara mereka, bahkan sebaliknya, yang ada adalah rasa bahagia dan bersyukur dengan adanya tambahan kekuatan gerigi yang lain. Jika satu gerigi mesin memiliki perasaan dan melihat gerigi lain memiliki kekuatan yang lebih besar daripadanya, ia akan merasa bersyukur dan bahagia melihatnya karena dengan demikian akan meringankan beban kerjanya.Orang-orang yang memikul khazanah agung yang berupa pengabdian kebenaran, hakikat, al-Qur’an, dan keimanan, mereka akan bersyukur dan merasa bangga setiap kali banyak orang yang ikut memikul khazanah agung ini.

Hati-hati jangan sampai membuka pintu kritik di antara kalian. Banyak orang di luar lingkaran saudara-saudara kalian yang lebih berhak untuk dikritik. Saya bangga dengan kelebihan kalian dan bahagia melihat kelebihan ketika saya tidak milikinya, saya anggap sebagai kelebihan saya. Maka kalian juga hendaknya seperti itu, melihat sebagian saudara kalian sebagaimana ustadz kalian melihat diri kalian. Masing-masing hendaknya menjadi penyebarluas keutamaan orang lain.

Said Nursî

* * *

Ustadzku yang tercinta dan terhormat!

Setiap kata dalam “al-Kalimât”, maksudnya setiap risalah dari sejumlah risalah Anda masing-masing merupakan obat agung. Saya mendapatkan limpahan karunia yang banyak darinya, sehingga saya ingin membacanya berulang kali. Kemudian saya tidak mampu mengungkapkan kenikmatan spiritual yang luhur yang saya rasakan ketika saya berulang kali membacanya. Saya optimistis dan tidak ragu bahwa orang yang membacanya dengan adil kendati hanya sebagian risalah, ia akan tunduk pada kebenaran dan akan meninggalkan jalan yang ia lalui jika ia seorang pengingkar serta terpaksa akan bertaubat jika ia seorang fasik.

Hüsrev

* * *

SURAT KEPADA DOKTER YANG SANGAT MERINDUKAN RISALAH NUR KARENA MERASAKAN ADANYA KESADARAN SPIRITUAL SETELAH MEMBACA RISALAH TERSEBUT

Selamat datang wahai sahabatku yang tulus dan mulia; seorang dokter yang mau mendiagnosa penyakitnya sendiri!

Kesadaran spiritual seperti yang Anda jelaskan penuh semangat dalam surat Anda sangat patut mendapat sambutan yang hangat.

Saudaraku! Ketahuilah bahwa kehidupan merupakan hal yang paling berharga di alam ini; melayani kehidupan merupakan kewajiban yang paling mulia di antara seluruh kewajiban yang ada; serta upaya untuk mengubah kehidupan fana menjadi kehidupan abadi merupakan tugas yang paling utama dalam hidup.Ketahui pula bahwa nilai dan urgensi utama kehidupan adalah keberadaanya sebagai benih dan pangkal bagi kehidupan yang kekal. Karena itu, membatasi perhatian pada kehidupan yang fana ini dengan cara yang meracuni dan merusak kehidupan yang abadi merupakan kedunguan seperti orang yang menukar mentari abadi dengan kilat selintas.

Dalam pandangan hakikat, para dokter materialis yang lalai adalah orang yang paling menderita penyakit. Namun jika mereka berhasil memperoleh obat penawar iman dari apotek al-Qur’an yang suci, maka mereka tidak hanya mengobati penyakit mereka saja, tetapi juga bisa menjadi sebab kesembuhan luka seluruh umat manusia. Semoga kesadaran spiritual yang terjadi pada diri Anda menjadi balsam penyembuh bagi lukamu, serta engkau menjadi teladan sekaligus obat bagi penyakit para dokter yang lain.

Engkau mengetahui bahwa secercah harapan yang kau tanamkan ke dalam kalbu seorang pasien yang putus asa adalah hal yang sangat penting. Bisa jadi ia lebih mujarab daripada seribu obat. Sebaliknya, dokter yang tenggelam dalam kubangan alam dan materi hanya akan membuat orang-orang malang itu semakin menderita setelah ditimpa rasa putus asa. Nah, kesadaran spiritual Anda ini insya Allah menjadi pelipur lara dan pemberi sugesti bagi mereka, serta bisa menjadikan Anda sebagai sosok dokter psikoterapis.

Seperti diketahui bahwa usia ini sangat singkat, sementara tugas yang harus dikerjakan sangat banyak. Kewajiban lebih banyak daripada waktu yang ada. Jika engkau memerikasa berbagai informasi yang terdapat dalam benakmu, seperti yang pernah saya lakukan, Anda akan menemukan sejumlah informasi yang tidak bermanfaat dan tidak penting laksana tumpukan kayu bakar. Saya telah melakukan pemeriksaan semacam itu dan saya menemukan banyak sekali hal yang tidak berguna dan tidak penting.Ya, harus ada usaha mencari obat dan sarana guna membuat berbagai informasi ilmiah dan pengetahuan filosofis itu bermanfaat, bersinar, hidup dan memiliki denyut kehidupan.Hendaknya Anda juga bersimpuh wahai saudaraku. Mintalah kepada Dzat Yang Mahabijak dan Mahaagung agar Dia memberikan kepadamu kesadaran spiritual yang dapat membersihkan dan menjernihkan pikiran Anda sekaligus menyalakan api di tumpukan sisa kayu bakar tadi. Hal itu agar berbagai pengetahuan yang tak bermanfaat tersebut bersinar dan berubah menjadi pengetahuan Ilahi yang mulia dan berharga.

Sahabatku yang bijaksana! Hati ini sangat menginginkan kemunculan orang-orang semacam “Khulûsi” dari kalangan ilmuwan, serta sangat merindukan cahaya iman dan berbagai rahasia al-Quran. Ketika “al-Kalimât” mampu berbicara dengan nurani Anda, maka janganlah Anda menganggapnya semata-mata sebagai surat saya yang tertuju kepada Anda. Namun posisikan setiap kata darinya sebagai surat dan pesan yang berasal dari Penyeru dan Dalal al-Qur’an. Jadikan ia sebagai resep yang bersumber dari apotek al-Qur’an. Dengan ini, engkau akan membuka—secara tidak langsung—sebuah majelis yang luas dan mulia serta pertemuan yang penuh berkah.Demikianlah, Anda bebas mengirim surat untuk saya kapan saja Anda mau. Hanya saja, saya berharap agar Anda tidak berkecil hati apabila saya tidak membalasnya. Sebab, sejak dulu saya memang jarang menulis surat. Bahkan, sejak tiga tahun yang lalu saya tidak pernah menulis untuk adik kandung saya kecuali sekadar sebagai jawaban, padahal ia telah banyak menulis surat untuk saya.

Said Nursî

* * *

==SURAT HAFIDZ KHALID YANG BERHATI BERSIH, TULUS, YANG BANYAK MENGABDI DALAM MENYALIN RISALAH NUR, SERTA SEORANG GURU YANG TELITI==

Saya tuangkan salah satu perasaan dari ribuan perasaan yang saya simpan terhadap pengarang Risalah Nur, Badiuzzaman yang langka pada zamannya, pengabdi al-Qur’an. Saya katakan:

Ustadzku merupakan manifestasi dari nama mulia “al-Jalîl”. Nama yang mulia ini merupakan nama yang paling mulia untuk dirinya. Nama desanya “Nurs”, nama ibunya “Nuriyah”, nama guru tarekat Qadariyahnya “Nuruddin”, nama guru tarekat Naqsyabandiyahnya “Sayyid Nur Muhammad”. Di antara guru al-Qur’annya “al-Hafidz Nuri”, imamnya yang khusus dalam pengabdiannya terhadap al-Qur’an “Dzu al-Nurain”, semoga Allah meridainya. Hal itu sebagaimana ayat al-Nur yang telah menyinari pemikiran dan hatinya, perumpamaan-perumpamaan cahaya yang luhur yang menjadi media untuk menjelaskan masalah-masalah pelik, dan menamakan kumpulan risalahnya dengan nama “Risalah Nur”. Semua ini menguatkan bahwa nama “an-Nur” adalah nama yang paling agung untuk dirinya.

Karangan-karangannya yang mengagumkan yang disebut “Risalah Nur” dengan sebagiannya yang dikarang dalam bahasa Arab, bagian-bagiannya hingga sekarang telah mencapai seratus sembilan belas risalah(*15). Setiap risalah memiliki keistimewaan luar biasa dalam pembahasannya.“Risalah kebangkitan” yang dikenal dengan nama “Kalimat Kesepuluh” merupakan risalah yang luar biasa dan menyeluruh. Risalah ini telah membuktikan peristiwa kebangkitan itu dengan dalil-dalil aqli yang sangat kuat dan pasti kendati dalil para ulama tentang kebangkitan itu merupakan dalil naqli saja. Banyak orang menyelamatkan imannya dengan risalah tersebut.

Berkat rahasia ayat “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya”, (QS. Yunus [10]: 5), saya dapat mengatakan bahwa Risalah Nur merupakan “bulan makrifat” yang cahayanya diambil dari “matahari hakikat” alQur’an al-mu’jizul-bayân. Sehingga menjadi pembenar masalah astronomi yang mengatakan bahwa cahaya bulan bersumber pada matahari”. Saya juga dapat mengatakan bahwa ustadz saya dalam kaitannya dengan al-Qur’an telah menjadi seperti bulan baginya. Ia mengambil sinar dari matahari langit risalah, yaitu Rasulullah, dan bulan ini telah muncul dalam bentuk “Risalah Nur”.

Dalam diri ustadz saya tampak dengan jelas sifat-sifat terpuji yang jarang dimiliki orang lain. Jika Anda melihat penampilan lahirnya, Anda akan mengiranya seperti orang yang tidak memiliki pengetahuan apa-apa, hingga hukum-hukum ibadah sekalipun, tetapi masalahnya akan berubah tiba-tiba dan Anda akan mendapatkannya dirinya sebagai lautan ilmu. Ia akan mengatakan sesuatu sesuai yang ia peroleh dari Rasulullah x. Ketika ia tidak mendapatkan apa-apa dari Rasulullah x, ia akan mengumumkan kefanaan dari dirinya sehingga tampak seakan-akan ia adalah benda yang sedang memudar sambil berkata, “Saya tidak memiliki cahaya dan tidak berharga”. Sifat ini merupakan sikap rendah hati yang sempurna dan pengamalan hadis, “Siapa yang berendah hati, Allah akan mengangkatnya”(*16)

Di antara pengaruh sifat ini, jika ada perbedaan pendapat dari muridnya— seperti kami—dalam beberapa masalah ilmiah, ia meneliti pendapat mereka. Jika ia dapatkan pendapat muridnya itu benar, ia menerimanya dengan segala kerendahan hati dan bahagia seraya berkata, “Masya Allah. Kalian telah mengetahui yang lebih baik daripada saya. Semoga Allah meridhai kalian”. Ia selalu mengunggulkan kebenaran dan hakikat daripada tipuan hawa nafsu dan egoisme, bahkan saya pernah berbeda pendapat dengannya dalam beberapa masalah. Ia tampak senang dan memuji saya. Jika saya salah, ia mengingatkan saya dengan cara yang baik tanpa merasa sungkan. Jika saya benar, ia tampak lebih senang.

Ustadzku sangat luar biasa dalam ilmu hikmah hakiki dengan cara yang khas, yaitu dalam bidang hikmah syariah dan agama, bahkan ia unggul hingga dalam hikmah kemanusiaan sehingga saya dapat mengatakan bahwa ia lebih unggul dari Plato dan Ibnu Sina dalam ilmu tersebut.

Ketika ia menjadi salah seorang anggota di “Dârul Hikmah al-Islamiyah” tiga belas tahun yang lalu, ia membaca buku “Futûh al-Ghaib” karangan Abdul Qadir al-Jailani yang merupakan wali qutub Rabbani dan lentera Nurani d, yang dengan izin Allah I, ia menjadi penolong dan pelindungan baginya sejak kecil. Ustadzku membuka buku itu dengan secara acak, lalu muncul ungkapan اَن۟تَ فٖى دَارِ ال۟حِك۟مَةِ فَاط۟لُب۟ طَبٖيبًا يُدَاوٖى قَل۟بَكَ ‘Anda berada di Dâr al-Hikmah. Carilah dokter yang dapat mengobati hatimu’.

Ungkapan itu sangat membekas pada dirinya dan hal itu menjadi sebab berubahnya “Said Lama” menjadi “Said Baru”. “Said Lama” telah menjawab pertanyaan-pertanyaan agama yang diajukan Inggris dengan jawaban ringkas dan tepat. Dalam ilmu mantiq, ia menulis risalah yang luar biasa yang diberi nama “atTa`lîqât” yang lebih unggul dari karangan Ibnu Sina dalam bidang ini. Dalam analogi induktif, ia telah mengeluarkan problem logika hingga sepuluh ribu problem yang memperlihatkan tingkat penguasaan ilmunya yang tidak dimiliki cendekiawan lain.

Dalam salah satu karya yang berjudul “as-Sunûhât” saya dapatkan bahwa Ustadz saya itu bermimpi mendapatkan pelajaran langsung dari Rasulullah, di sebuah madrasah di alam makna, maka ia mengarang tafsirnya yang mengagumkan yang disebut “Isyârât al-I`jâz”berdasarkan pelajaran maknawi tersebut. Pada suatu hari beliau berkata kepada saya,

“Seandainya bukan karena Perang Dunia dengan segala akibat yang ditimbulkannya yang menjadi perintang bagi saya, maka saya pasti menulis “Isyârât al-I`jâz” sebanyak enam puluh jilid. Insya Allah Risalah Nur akan menggantikan tafsir yang menjadi dambaanku itu”.

Saya memiliki banyak kesaksian penting selama tujuh atau delapan tahun menemani ustadz saya, tetapi dengan berlandaskan pada kaidah yang mengatakan, “Setetes air menunjukkan laut”, saya dapatkan bahwa catatan singkat ini cukup sebagai petunjuk bagi laut itu. Saya telah menulisnya dengan tergesa-gesa karena waktu berpisah dengan beliau telah tiba dan saya yakin beliau akan memasukkan nama saya dalam doanya berkat rahasia ayat al-Qur’an ‘dan teman sejawat, (QS. an-Nisa [4]: 36), karena beliau sering kali mendapatkan saya benar-benar menemaninya.

Hâfız Hâlid (rh)

* * *

Catatan Kaki

  1. * Yaitu Syaikh Said Biran, ulama besar, salah satu syekh Tarekat Naqsyabandiyah, orang yang sangat berpengaruh di antara masyarakat Kurdi. Revolusi pembangkangan bersenjata meletus di tangannya di bagian tenggara Turki yang berakhir dengan ditumpas dan ia sendiri bersama sejumlah rekannya dihukum mati pada tahun 1925 M—Tim Penerjemah. ↑
  2. *Keputusan untuk diasingkan bukan khusus dikenakan pada diri Ustadz Badiuzzaman saja, tetapi juga kepada tokoh-tokoh berpengaruh dan mempunyai kedudukan sosial terhormat lainnya di Timur di samping para syekh tarekat sufi—Tim Penerjemah. ↑
  3. *Wilayah di Barat Daya Turki, bertetangga dengan Purdu dari sebelah Timur—Tim Penerjemah. ↑
  4. *Radio waktu itu merupakan media informasi yang paling berpengaruh—Tim Penerjemah. ↑
  5. *Orang yang sangat merindukan Risalah Nur adalah para pemuda dan anak�anak yang tidak berdosa, contohnya tidak terhitung. Hanya saja kita cukup dengan satu contoh saja. Pada suatu hari Ustaz Badiuzzaman berjalan melalui kecamatan Bolvadin. Ketika murid-murid SD dan SMP melihat dirinya, mereka keluar dari kelas masingmasing dan berkumpul di sekitar kendaraan yang membawanya untuk sekedar memberi salam, sebagai ungkapan penghargaan mereka seakan-akan anak-anak itu mengatakan kepadanya, “Selamat datang”. Kami pernah menanyakan hal ini kepada Ustaz Badiuzzaman ketika kami melihat anak-anak di jalan kecamatan Emirdag berlomba menghampirinya tanpa memperdulikan duri yang memenuhi jalan. Dengan bebasnya mereka berteriak, “Kakek Badiuzzaman...kakek Badiuzzaman”. Beliau berkata, “akal anak-anak yang tidak berdosa ini tidak sadar, tetapi ruh mereka merasakan sebelum terjadi, bahwa mereka akan menyelamatkan iman mereka, melindungi diri, negara, dan masa depan mereka dari bahaya yang sangat menakutkan dengan Risalah Nur. Mereka mengungkapkan rasa terima kasih mereka dan kecintaan mereka terhadap Risalah Nur. Ungkapannya itu mereka tujukan kepada saya dengan anggapan bahwa saya adalah penerjemahnya”. Beliau juga mengatakan bahwa dirinya mendoakan anak-anak tersebut.Ustadz Badiuzzaman sangat mencitai anak-anak dan memuji mereka dengan berkata “karena kalian anak-anak yang tak berdosa maka doa kalian dikabulkan. Tolong doakan saya. ↑
  6. *Perkataan ini ditulis sekitar tahun 1957 M—Tim Penerjemah. ↑
  7. *Semua orang kafir dan ateis yang melakukan kebijakan anti-Islam ini tidak menerima kebangkitan Islam sekarang (maksudnya pada era pemerintahan Partai Demokrat pada era lima puluhan)—Tim Penyusun. ↑
  8. *Ketika itu ada peraturan yang mengharuskan kaum lelaki mengenakan topi yang biasa dipakai orang-orang Eropa dan melarang mengenakan pakain yang lain seperti sorban, peci dan yang semacamnya—Tim Penerjemah. ↑
  9. *Telah dijelaskan pada bagian pertama buku ini. ↑
  10. *Yaitu Syekh Bahauddin, Muhammad bin Muhammad bin Muhammad, lahir tahun 717 H, di desa Qasr `Arifan, dekat Bukhara. Menuntut ilmu sejak kecil, kemudian belajar tarekat pada syekh tarekat terkemuka pada masanya hingga memperoleh kedudukan tinggi. Yang berguru padanya banyak murid dan tarekatnya dikenal dengan Tarekat Naqsyabandi untuk menegaskan zikirnya kepada Allah Ta`ala secara perlahan sampai terukir dalam hati. Meninggal tahun 791 H—Tim Penerjemah. ↑
  11. *Perkataan ini merupakan ungkapan tulus tentang rasa syukur dan terima kasih yang mendalam yang selama ini terpendam dalam sanubari orang-orang beriman di Turki atas upaya yang dilakukan Ustadz Said Nursi dalam menghadapi serangan kekufuran yang dilancarkan kepada bangsa negara Islam yang tua ini, yang jika bukan karena pengabdian Risalah Nur, niscaya negara tersebut telah menjadi negara yang tidak berbeda jauh dari negara-negara Eropa Timur yang telah kehilangan identias Islamnya di bawah kekuasaan komunis dan serangan kekufurannya, seperti Bulgaria dan Balqan— Tim Penerjemah. ↑
  12. *Nama gunung di Turki, artinya pinus—Tim Penerjemah. ↑
  13. *Ustadz Said Nursi di sini berbicara tentang “al-Kalimât” di mana kelak bagian Risalah Nur yang lain seperti “al-Lama`ât”, “asy-Syua’ât”, dan “al-Maktûbât” tidak disebutkan secara khusus, itu bukan berarti menafikan kepentingan yang lainnya—Tim Penerjemah. ↑
  14. *Maknanya, permukaan bumi merupakan persemaian dan ladang bunga-bunga surga. Padanya diperlihatkan mukjizat qudrat Ilahi yang tak terhingga. Sebagaiamana malaikat berwisata di alam samawi dan menyaksikan mukjizat tersebut, bintang yang merupakan mata dari benda langit yang bisa melihat juga demikian. Setiap kali melihat kepada berbagai ciptaan yang memenuhi permukaan bumi seperti malaikat, ia juga melihat alam surga. Ia menyaksikan berbagai hal luar biasa yang bersifat sementara dalam gambarannya yang kekal di sana. Yakni, ketika mengarahkan pandangan ke bumi, yang lain melihat kepada surga. Artinya, ia menatap kedua alam itu secara bersamaan―Said Nursi. ↑
  15. *Sekarang sudah mencapai seratus tiga puluh risalah—Tim penyusun. ↑
  16. * Dikeluarkan oleh at-Tirmidzi, nomor 2161 dengan redaksi, “Tidaklah seseorang berendah hati karena Allah, melainkan Allah akan mengangkatnya”, dan dikeluarkan oleh Ibnu Majah, nomor 4316 dengan redaksi, “Barangsiapa berendah hati karena Allah I satu derajat, maka Allah I akan mengangkatnya satu derajat”—Tim Penerjemah. ↑
⬇ Gulir Otomatis
📝 Catatan Saya 0 catatan

Pilih teks lalu tekan tombol "Catatan" untuk menambahkan catatan.

Pengaturan
Tema
Ukuran Font
Ketebalan Font
Ukuran Font Arab
Spasi Baris

Mode Fokus
Sembunyikan sidebar
Gulir Otomatis
Halaman bergulir sendiri
Kecepatan