Risalah Berharga
Titik Cahaya Makrifatullah
{(Catatan-364): Risalah ini pertama kali dicetak dalam Bahasa Turki di Penerbitan Awqaf, Istambul, tahun 1337 H (1918 M) dalam tiga bab. Di sini Ustadz hanya memasukkan bab pertama darinya yang kami terjemahkan secara lengkap.}
Penjelasan
Ketika memasuki sebuah kebun, yang kupetik hanyalah buah yang paling bagus. Kemudian ketika sudah penat memetiknya, ada kenikmatan yang kurasa. Kalau pandanganku tertuju kepada buah yang rusak, kutinggalkan ia. Hal ini sesuai dengan kaidah yang berbunyi, "Ambil yang bersih dan tinggalkan yang kotor." Demikianlah diriku. Kuharap pembaca budiman juga bersikap sama.
Ada yang berkata, "Perkataanmu sulit dimengerti."
Ya, tapi apa dayaku?! Begitulah lintasan pikiran ini datang kepada kalbu. Manakala aku merasa berbicara di atas menara tinggi, tiba-tiba pada kesempatan yang lain aku menyeru dari dasar sumur yang dalam.
Wahai pembaca budiman, kuharap engkau memperhatikan hal-hal sebagai berikut dalam risalahku:
Yang berbicara adalah kalbuku yang lemah.
Sementara mitra bicaranya adalah diriku yang penuh dosa.
Lalu pendengarnya adalah manusia pencari hakikat.
Nah, dalam risalah ini aku mengarah kepada sesuatu yang kita tuju, yaitu tauhid, dalam empat petunjuk besar di antara sekian petunjuknya yang tak terhingga.
Said Nursi.
Aku beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab suci-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan kepada qadar entah yang baik ataupun yang buruk yang berasal dari Allah. Kebangkitan sesudah mati adalah sesuatu pasti. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.
Bismillāhirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah, Tuhan pemelihara semesta alam. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Muhammad saw, penutup para nabi, serta kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.
Maksud dan tujuan kami adalah, "Allah. Tiada Tuhan selain Dia Yang Mahahidup dan Maha Berdiri sendiri."
{(Catatan-365): Q.S. al-Baqarah: 255.}
Di antara petunjuknya yang tak terhingga kami ingin menjelaskan empat darinya:
Petunjuk pertama: Muhammad saw. (Kami telah menjelaskan petunjuk ini dalam risalah Syu'ā'āt (kilau)
{(Catatan-366): Kilau Makrifat Nabi saw. Ia adalah sebuah risalah singkat dari sejumlah tulisan "Said Masa Lalu".}
Petunjuk kedua: alam dan manusia besar ini; sebuah kita besar yang terlihat.
Petunjuk ketiga: Alquran al-Karim; sebuah kitab yang tidak diragukan di mana ia merupakan kalam suci.
Petunjuk keempat: nurani yang hidup atau fitrah yang sensitif yang bisa menggambarkan barzakh, serta merupakan titik temu antara alam gaib dan alam nyata. Fitrah yang sensitif dan nurani tersebut merupakan celah menuju akal yang dari sana kilau tauhid memancar.
Petunjuk Pertama: Hakikat Muhammad saw.
Itulah hakikat yang berlandaskan risalah dan Islam. Dilihat dari sisi risalah, ia mengandung kesaksian ijma paling agung dan riwayat mutawatir yang paling luas yang diungkapkan seluruh nabi as. Sementara, dari sisi Islam, ia mengemban spirit semua agama samawi sekaligus pembenarannya yang bersandar kepada wahyu.
Rasul yang mulia, Muhammad saw, menjelaskan kepada umat manusia eksistensi dan keesaan Allah dalam seluruh ucapannya yang benar dan dibenarkan lewat sejumlah mukjizatnya yang terang, lewat kesaksian para nabi, serta pembenaran semua agama. Nabi saw. memperlihatkan cahaya tersebut lewat nama orang-orang mulia yang bersatu dalam dakwah ini.
Mungkinkah kebatilan masuk ke dalam hakikat cemerlang ini yang memperoleh pengakuan semacam itu di mana ia diperkuat oleh sejumlah mata yang menembus hakikat, yang melihatnya secara sangat jelas tanpa ada kekaburan sedikitpun. Tentu saja hal tersebut tidak mungkin.
Petunjuk kedua: Kitab Alam
Ya. Huruf-huruf dan titik demi titik dari kitab ini, baik secara terpisah maupun secara kesatuan, setiap lisannya mengucap, "Segala sesuatu bertasbih memuji-Nya."
{(Catatan-367): Q.S. al-Isrā: 44.}
Ia menerangkan keberadaan Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana. Ketika ia beredar di antara sejumlah kemungkinan yang tak terhingga terkait dengan sifat, zat, kondisi, dan wujudnya, ia masuk ke dalam jalan tertentu, memiliki sifat tertentu, beradaptasi dengan kondisi yang teratur, berjalan sesuai rambu yang digariskan, serta mengarah kepada tujuan yang jelas. Dari sana ia menghasilkan sejumlah hikmah dan kemaslahatan yang mencengangkan akal. Maka, kilau keimanan kepada Allah semakin kuat dalam perangkat halus Rabbani yang mencerminkan model sejumlah alam gaib dalam diri manusia. Bukankah partikel dengan lisannya yang murni menyuarakan tujuan Penciptanya yang esa, sifat-
sifat-Nya yang istimewa, berikut berbagai kondisi-Nya. Petunjuk tersebut semakin kuat dengan melihat keberadaan partikel sebagai salah satu bagian dari berbagai konstruksi yang saling menyatu dan dilihat dari sejumlah kemungkinan yang dilaluinya. Pasalnya, pada setiap konstruksi ia memiliki kedudukan khusus, pada setiap kedudukan terdapat hubungan dan keterkaitan tertentu, pada setiap hubungan ia memiliki tugas tertentu, pada setiap posisi ia menjaga keseimbangan yang bersifat umum, dan pada setiap tugas ia menghasilkan berbagai kemaslahatan dan hikmah. Jadi, pada setiap fase, dengan lisannya yang khusus, partikel menyuarakan berbagai bukti wajibnya keberadaan Sang Pencipta yang agung sekaligus memperlihatkan tujuan Penciptanya Yang Maha Bijaksana. Seolah-olah ia sedang membacakan ayat-ayat mulia yang menunjukkan keesaan-Nya. Kondisinya sama seperti parjurit yang memiliki tugas dan keterkaitan khusus dengan setiap regu, kelompok, dan semua tentara. Dengan demikian, berbagai petunjuk yang menunjukkan kepada Allah Swt. jauh lebih banyak dari jumlah partikel alam. Ungkapan yang berbunyi, "Jalan-jalan menuju Allah sebanyak tarikan nafas makhluk," merupakan hakikat yang benar dan tidak berlebihan. Bahkan itupun mungkin masih kurang.
Muncul sebuah pertanyaan, "Mengapa semua makhluk tidak bisa melihat Sang Pencipta Yang Mahagagung dengan akal mereka?"
Sebagai jawaban, hal itu lantaran keberadaan-Nya yang sangat sempurna dan lantaran ketiadaan lawan:
Perhatikan baris-baris alam
Ia adalah pesan untukmu dari Tuhan
Kitab alam yang agung ini memperlihatkan adanya keteraturan dengan sangat jelas di mana ia menampakkan keteraturan tersebut ibarat mentari di terik siang. Ia memperlihatkan mukjizat qudrat-Nya dalam setiap kata atau huruf darinya. Penyusunan kitab indah ini merupakan mukjizat cemerlang yang kalau kita umpamakan-meski mustahil adanya-bahwa setiap
sebab alam merupakan pelaku yang memiliki kehendak, tentu semua sebab tersebut dengan penuh ketidakberdayaan bersujud di hadapan mukjizat tadi seraya mengucap, "Mahasuci Engkau! Kami tidak memiliki kekuatan. Engkau Maha Perkasa dan Maha Bijaksana." Pasalnya, engkau melihat dalam kitab ini keteraturan yang rapi yang saling menopang di mana untuk menghadirkan titik di tempatnya yang tepat harus terdapat kekuasaan mutlak yang dapat menciptakan seluruh alam. Hal itu lantaran setiap hurufnya-terutama makhluk hidup-memiliki sisi yang mengarah kepada salah satu kata dari kitab tadi sekaligus memiliki mata yang menatap kepadanya. Bahkan, setiap kata yang terdapat di dalamnya memiliki kaitan kuat dengan semua kata yang terdapat di dalamnya. Zat yang menciptakan mata nyamuk juga merupakan Pencipta mentari. Zat yang menata perut kutu juga merupakan Zat yang menata tata surya. Engkau bisa meruju kitab as-Sānihāt untuk melihat hakikat ayat Alquran yang berbunyi, "Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) melainkan seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja."
{(Catatan-368): Q.S. Luqman: 28.}
Juga agar engkau bisa melihat bagaimana saksi yang mengikrarkan syahadat secara benar dari lisan mukjizat qudrat-Nya mengeluarkan lebah yang mencerminkan "kata kecil" dari kitab tersebut. Atau, engkau bisa memperhatikan titik dalam kitab tersebut pada hewan yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop guna melihat bagaimana ia mencerminkan satu miniatur entitas. Zat yang menuliskannya dalam bentuk mukjizat semacam itu adalah Zat yang menulis seluruh alam. Jika engkau memperhatikannya engkau akan bisa melihat bagaimana ia berisi sebagai mesin kecil dan perangkat menakjubkan yang menegaskan untukmu bahwa tidak mungkin urusannya diserahkan kepada sebab yang mati dan alami yang tidak bisa membedakan antara berbagai kemungkinan. Kecuali jika engkau membayangkan bahwa pada setiap partikel terdapat perasaan ahli hikmah, hikmah para dokter, dan kecerdasan pemimpin di mana mereka semua saling
berdialog tanpa perantara. Tentu saja, semua ini merupakan khurafat yang malu untuk dikatakan oleh ahli khufarat sekalipun. Tidak mungkin mesin hidup yang kecil itu terwujud kecuali sebagai mukjizat qudrat ilahi. Bukankah engkau melihat bagaimana akal terbelalak di hadapannya?! Jadi, ia bukan merupakan kreasi sebab-sebab alam. Namun, ia merupakan kreasi Zat yang mampu menciptakan seluruh entitas. Mustahil semua sebab materi itu berkumpul sementara ia merupakan pada waktu bersamaan ia adalah kekuatan yang menarik dan kekuatan yang menolak pada bagian yang tak terpisahkan untuk melakukan kreasi penuh hikmah di atas.
Ya, apa yang mereka sangka sebagai landasan daya tarik, tolak, gerakan, kekuatan, dan sebagainya bagi segala sesuatu merupakan rambu-rambu ilahi yang mencerminkan ketetapan kebiasaan Allah. Rambu tersebut dapat diterima dengan syarat tidak berpindah dari posisinya sebagai kaidah menuju alam yang bekerja, dari sesuatu yang terdapat di pikiran menuju hakikat nyata, dari sesuatu yang bersifat maknawi menuju hakikat yang nampak, serta dari perangkat ukur menuju penentu hakiki.
Ada sebuah pertanyaan: meskipun kesaksian atau syahadat yang ada telah jelas, mengapa sebagian orang masih meyakini keabadian materi serta menganggap gerakan partikel dan sejenisnya sebagai sebuah proses kebetulan?
Jawabannya, hal itu hanya karena diri manusia meyakini hal lain di luar keimanan kepada Allah. Mereka tidak memahami rusaknya konsep pemikiran tersebut dengan satu pandangan artifisial dan bersifat taklid. Dari sinilah kemungkinan di atas muncul. Namun, jika manusia sadar, ia akan mengetahui kalau dirinya berada dalam satu pandangan yang mustahil dan sangat tidak rasional. Kalaupun ia meyakininya, hal itu dilakukan karena lalai terhadap Sang Pencipta. Sungguh sebuah kesesatan yang nyata. Orang yang akalnya tidak memahami keabadian Allah serta bagaimana Dia mencipta segala sesuatu-padahal hal itu merupakan sifat yang harus melekat kepada Tuhan-bagaimana mungkin ia memberikan keabadian dan proses penciptaan segala
sesuatu kepada sesuatu yang lemah? Ada satu peristiwa terkenal. Yakni ketika orang-orang ingin melakukan rukyat hilal hari raya tak ada satupun yang bisa melihat. Tiba-tiba ada seorang syeikh tua yang bersumpah bahwa ia telah melihat hilal. Kemudian diketahui bahwa apa yang ia lihat ternyata bukan hilal; tetapi uban cekung yang jatuh dari alisnya. Tentu saja sangat jauh perbedaan antara uban dan hilal. Mana mungkin gerakan partikel bisa membentuk spesies.
Sebagai makhluk mulia secara fitrah, manusia selalu mencari kebenaran. Di tengah-tengah pencariannya kadangkala ia menemukan sesuatu yang salah. Iapun menyembunyikan hal tersebut di dadanya dan ia jaga. Bisa jadi ketika menelusuri hakikat kebenaran tanpa disengaja kesesatan jatuh ke kepalanya. Lalu ia menganggapnya sebagai sebuah kebenaran sehingga dibungkus dengan penutup seperti peci.
Ada sebuah pertanyaan, "Apa itu alam (thobi'ah), hukum, dan kekuatan yang menjadi alat mereka menghibur diri?"
Jawabannya, alam merupakan syariat ilahi terbesar yang menetapkan tatanan yang cermat antara sejumlah perbuatan, unsur, dan organ tubuh makhluk yang disebut dengan dunia nyata. Syariat fitri inilah yang disebut dengan sunnatullah. "Alam" merupakan abtraksi dan intisari dari sejumlah hukum yang berlaku di dunia.
Adapun yang disebut dengan kekuatan, ia adalah hukum syariat.
Sementara, rambu atau hukum adalah penjelasan dari salah satu persoalannya.
Hanya saja, karena hukum-hukum syariat dan berbagai persoalannya terwujud secara terus-menerus, ia dilekatkan dengan "alam" dan dipandang sebagai entitas lahiriah yang memberikan pengaruh serta hakikat nyata yang bekerja. Padahal, ia hanya ada dalam benak manusia. Karena itu, jiwa yang melihat hayalan sebagai hakikat memosisikan alam sebagai faktor penentu hakiki. Sementara dalam kenyataan, kalbu tidak bisa menerima alasan apapun dan akal juga tak bisa mengakui kalau alam yang bodoh ini menjadi sumber bagi segala sesuatu. Yang
mendorong mereka mengeluarkan pandangan irrasional ini adalah sikap mengingkari Sang Pencipta Yang Mahaagung. Hal itu lantaran ketidakmampuan mereka menangkap jejak qudrat-Nya yang mencengangkan akal.
"Alam" merupakan percetakan imajiner namun bukan pencetak, ukiran bukan pengukir, dapat merespon tetapi bukan penentu, garisan tetapi bukan sumber, tatanan tetapi bukan penata, aturan bukan qudrat, syariat kehendak bukan hakikat eksternal.
Andaikan seseorang yang masih muda datang ke alam yang indah ini lalu masuk ke dalam istana besar yang dihiasi berbagai dekorasi menakjubkan, kemudian beranggapan bahwa tidak ada seorangpun di luar bangunan yang menguatkan dan menghiasnya, sehingga ia mulai mencari sebab yang bekerja di sekitar istana dan matanya tertuju kepada satu buku yang berisi semua struktur dan peta bangunan, maka karena saking bodohnya ia berasumsi bahwa buku itulah yang mengerjakan semuanya. Hal itu lantaran upayanya mencari sebab hakiki gagal sehingga terpaksa mengarah kepada sebab yang dimunculkan oleh ilusi. Demikianlah, sebagian orang menghibur diri dengan "alam" lantaran lalai dari Pencipta Yang Mahaagung. Ia terpaksa menipu diri dan tersesat dalam berbagai persoalan yang tidak logis.
Syariat ilahi ada dua:
Pertama, syariat yang datang dari sifat kalam yang mengatur perbuatan hamba.
Kedua, syariat yang datang dari sifat kehendak yang disebut dengan perintah penciptaan dan syariat fitri. Ia merupakan abtraksi rambu-rambu aturan Allah yang berlaku di dunia ini.
Kalau syariat yang pertama merupakan ekspresi dari rambu-rambu yang rasional, maka syariat yang kedua merupakan ekspresi dari sejumlah rambu-rambu maknawi yang secara keliru disebut sebagai "alam". Rambu ini tidak bisa memberikan pengaruh hakiki dan tidak bisa mencipta. Pasalnya kedua sifat tersebut khusus milik qudrat ilahi.
Saat membahas tentang tauhid, kami telah menjelaskan bahwa segala sesuatu terkait dengan semua. Tidak ada sesuatu-
pun yang terjadi di luar semuanya. Yang menciptakan sesuatu adalah Zat yang menciptakan semua. Karena itu, Pencipta sesuatu Mahaesa, tunggal, dan kekal. Sementara, sebab-sebab alam yang dikemukakan oleh kaum yang sesat demikian beragam. Di samping itu, ia bodoh tak saling mengenal. Lebih dari itu, ia buta di mana yang berada di hadapannya hanyalah proses kebetulan. Maka, "Katakanlah, 'Allah', kemudian biarkan mereka bermain-main dalam kesesatannya."
{(Catatan-369): Q.S. al-An'ām: 91.}
Kesimpulannya, mukjizat ilahi yang cemerlang dan jelas dalam sebuah keteraturan dan keterpaduan yang tampak dalam kitab alam besar ini-di mana ia merupakan petunjuk tauhid yang kedua-memperlihatkan dengan sangat terang seperti mentari bahwa alam berikut isinya merupakan jejak kekuasaan Allah yang bersifat mutlak, pengetahuan-Nya yang tak terbatas, dan kehendak-Nya yang azali.
Lalu, bagaimana tatanan, keteraturan, dan keterpaduan itu terwujud?
Jawabannya: ilmu-ilmu alam yang menjadi sarana manusia ibarat indera dan mata-mata yang menyingkap segala hal yang tidak diketahui. Dengan penelaahan yang sempurna ia dapat menyingkap tatanan yang ada lewat indera dan mata-mata tersebut. Setiap spesies alam telah diberi pengetahuan khusus atau diberi jalan menuju kepadanya. Karena itu, setiap pengetahuan memperlihatkan keteraturan dan tatanan lewat kaidah-kidah utamanya. Pasalnya, setiap ilmu atau pengetahuan sebenarnya merupakan penjelasan mengenai rambu-rambu dan kaidah yang bersifat integral. Integralitas kaidah tersebut menunjukkan bagusnya tatanan yang ada. Sebab, yang tidak tertata tidak memiliki integralitas. Nah, meski manusia bisa jadi tidak mengetahui semua tatanan yang ada, namun ia bisa menjangkaunya dengan mata-mata pengetahuan tadi. Dari sana ia mengetahui bahwa "manusia terbesar"-yaitu alam-demikian teratur seperti "manusia yang paling kecil". Segala sesuatu dibangun di atas landasan yang penuh hikmah. Tidak ada yang
sia-sia dan percuma.
Petunjuk dan bukti kita ini tidak terbatas pada pilar-pilar dan organ alam. Akan tetapi, ia mencakup seluruh sel dan semua makhluk hidup. Lebih dari itu, ia mencakup seluruh partikel. Semuanya merupakan lisan yang berzikir yang menyuarakan tauhid. Semuanya sama-sama mengucap, "Tiada Tuhan selain Allah."
Petunjuk Ketiga: Alquran yang Penuh Hikmah
Ketika telingamu menyimak pusat petunjuk yang bertutur ini, engkau akan mendengarnya terus-menerus mengucap, "Tiada Tuhan selain Allah."
Petunjuk kita ini mencerminkan sebuah pohon besar dengan dahan dan ranting yang bercabang ke mana-mana. Darinya muncul buah kebenaran dan hakikat pada berbagai sisinya dengan sangat lebat dan segar. Tidak seorangpun yang ragu bahwa benih aslinya-tauhid-demikian kuat, benar, dan hidup. Jelas sekali bagaimana benih yang rusak tidak akan menghasilkan buah yang segar setiap waktu.
Dahan pohon yang membentang hingga ke alam nyata ini memikul berbagai buah hukum yang tepat dan haq. Sama seperti dahan agung yang membentang ke alam gaib di mana ia kaya dengan buah tauhid dan iman yang segar dan benar.
Apabila petunjuk agung ini terlihat dari seluruh sisinya sudah pasti Zat yang memperlihatkannya sangat percaya dengan hasilnya yang berupa tauhid serta sangat yakin. Pasalnya Dia membangun semua persoalan di atas landasan hasil yang kokoh tadi. Bahkan, ia menjadikannya sebagai batu pertama bagi segala sesuatu yang terdapat di alam wujud. Pondasi kokoh semacam ini tidak mungkin terasa berat dan dibuat-buat. Akan tetapi, ia menjadikan kemukjizatan yang cemerlang atas petunjuk ini tidak lagi membutuhkan pembenaran pihak-pihak lain. Semua informasinya benar, kuat, haq, dan merupakan hakikat.
Ya, enam arah petunjuk yang bersinar ini demikian terang dan mulia. Di atasnya terdapat kemukjizatan yang sangat jelas, di bawahnya terdapat logika dan dalil, di sisi kananya terdapat
pengujian akal, di sisi kirinya terdapat pembuktian naluri, di depannya dan yang menjadi tujuannya adalah kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Titik sandarannya adalah wahyu semata. Akankah ilusi berani masuk ke dalam benteng kokoh tersebut?
Terdapat empat landasan untuk bisa naik menuju Arasy kesempurnaan; yaitu makrifatullah. Ia adalah:
Pertama, metode tasawwuf yang berlandaskan penyucian jiwa dan akhlak.
Kedua, metode ulama ahli kalam yang menjadikan sifat makhluk yang "baru" dan "bersifat mungkin" sebagai dasar untuk membuktikan eksistensi Wajibul wujud (Allah).
Meski kedua landasan di atas bersumber dari Alquran, namun manusia telah mengemasnya dalam beragam bentuk. Karena itu, keduanya menjadi metode yang panjang dan memiliki sejumlah persoalan yang tidak bersih dari ilusi dan sejumlah keraguan.
Ketiga, jalan para filosof yang bercampur dengan berbagai keraguan, syubhat, dan ilusi.
Keempat dan inilah yang paling utama, jalan Alquran Al-karim yang memperlihatkannya lewat retorikanya yang menakjubkan dan kefasihannya yang cemerlang sehingga tidak ada jalan lain yang selurus dan seintegral Alquran. Ia merupakan jalan tersingkat menuju Allah, sekaligus terdekat, dan paling komprehensif bagi manusia.
Untuk mencapai arasy landasan ini terdapat empat sarana: ilham, pengajaran, penyucian, dan tadabbur.
Demikianlah, terkait dengan makrifatullah dan dalam menetapkan keesaan-Nya Alquran memiliki dua jalan:
Pertama: bukti perhatian dan tujuan.
Semua ayat Alquran yang menyebutkan berbagai manfaat sesuatu serta menjelaskan hikmahnya merupakan jalinan bukti tersebut serta wujud manifestasi petunjuk ini.
Inti darinya adalah kreasi yang yang demikian cermat dalam satu tatanan yang paling sempurna di alam berikut perhatian terhadap maslahat dan hikmah yang ada. Pasalnya,
Tatanan yang bercampur dengan alam berikut perhatian terhadap sejumlah maslahat dan hikmah menunjukkan maksud Pencipta Yang Mahabijak dan hikmah-Nya yang merupakan mukjizat. Ia menafikan anggapan adanya unsur kebetulan dan kerapian yang buta. Pasalnya, kerapian dan kecermatan tak mungkin terwujud tanpa adanya kehendak. Setiap disiplin ilmu alam menjadi saksi yang jujur atas keteraturan tersebut. Ia menjelaskan sejumlah maslahat dan buah yang bermunculan laksana kuntum yang berada di dahan entitas yang pada waktu bersamaan menerangkan berbagai hikmah dan manfaat tersembunyi pada celah-celah perubahan kondisi dan zaman.
Engkau bisa melihat kepada ilmu biologi. Di dalamnya disebutkan bahwa berbagai spesies yang jumlahnya lebih dari dua ratus ribu masing-masing memiliki pangkal tertentu atau nenek moyang terbesar. Hal sama berlaku pada manusia yang memiliki pangkal berupa Nabi Adam as. Setiap bagian dari spesies yang banyak ini ibarat mesin menakjubkan yang mencengangkan akal. Rambu-rambu ilusi dan sebab-sebab alami yang bodoh tidak mungkin menjadi faktor yang menghadirkan rangkaian entitas dan spesies menakjubkan tersebut. Dengan kata lain, setiap entitas dan spesies memperlihatkan bahwa ia langsung bersumber dari kekuasaan ilahi yang penuh hikmah.
Alquran mengingatkan kita dengan berkata, "Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang?"
{(Catatan-370): Q.S. al-Mulk: 3.}
Bahkan, Alquran menjelaskan dalam bentuk yang paling mulia dan sempurna. Di samping menyuruh untuk merenungkan makhluk, ia juga menegaskan dalil ini-dalil adanya perhatian Allah-dalam benak manusia dengan menyebutkan sejumlah manfaat dan nikmat yang diturunkan. Setelah itu, di penutup atau sambungan ayat ia mengembalikan kepada akal. Ia menggugah akal dan menyentuh nurani pada ayat-ayat seperti berikut,
Tidakkah mereka mengetahui...
Tidakkah kalian merenung...
Ambillah pelajaran...
Kedua, dalil penciptaan
Kesimpulannya adalah:
Allah memberikan kepada setiap entitas dan setiap spesies wujud spesifik. Ia merupakan tampat tumbuh jejak-Nya yang khusus dan sumber kesempurnaan-Nya yang sesuai. Pasalnya, tidak ada spesies yang terangkai dari keabadian. Sebab ia termasuk sesuatu yang bersifat mungkin, sementara rangkaian yang dimaksud tidak ada. Hakikat tidaklah berubah; namun tetap. Adapun perubahan jenis bukan merukapan perubahan hakikat. Yang disebut sebagai perubahan bentuk materi tidak lain merupakan sesuatu yang baru muncul. Kemunculan sebagiannya bisa disaksikan secara nyata dan sebagiannya lagi bisa dibuktikan dengan nalar. Berbagai kekuatan dan bentuk dilihat dari wujudnya yang bersifat insidentil tidak membentuk perbedaan substantif pada spesies. Sesuatu yang bersifat insidentil bukanlah substansi. Jadi, sejumlah spesies dan karakter keseluruhan makhluk telah dicipta dari tiada. Sementara, proses berketurunan dalam rantai kehidupan merupakan salah satu untaian kebiasaan. Karena itu sungguh aneh bagaimana akal yang sesat menerima keabadian materi-padahal ia justru menentang paham keazalian secara total. Di sisi lain, akal manusia tidak mampu menangkap keazalian Sang Pencipta Yang Mahaagung yang merupakan sifat utama-Nya. Bagaimana mungkin partikel-partikel yang kecil memiliki kekuatan untuk melawan berbagai perintah ilahi, sementara alam dengan keagungannya tunduk kepada perintah-Nya secara total. Bagaimana mungkin proses penciptaan dan penghadiran yang merupakan karakter qudrat ilahi dinisbatkan kepada sebab yang paling lemah dan hina?!
Alquran al-Karim mengokohkan dalil ini dalam ayat-ayatnya yang membahas tentang penciptaan. Ia menegaskan bahwa tidak ada yang memberikan pengaruh hakiki kecuali Allah. Sebab tidak bisa memberikan pengaruh hakiki. Ia hanyalah hijab di hadapan kemuliaan dan keagungan qudrat-Nya agar akal tidak melihat tangan qudrat tersebut secara langsung lewat penglihatan lahiriahnya. Pasalnya, segala sesuatu memiliki dua sisi:
Pertama, sisi kerajaan. Ia seperti sisi cermin yang berwarna. Pada sisi ini, sebab ada untuk memperlihatkan keagungan dan kemuliaan-Nya.
Kedua, sisi alam malakut. Ia seperti sisi cermin yang bening dan transparan. Sisi ini sangat indah karena "sebab" sama sekali tidak memiliki pengaruh. Keesaan-Nya mengharuskan demikian. Karena kehidupan, ruh, cahaya dan alam wujud bersumber dari tangan kekuasaan ilahi tanpa perantara, maka kedua sisi tersebut demikian bening dan indah; entah kerajaan ataupun alam malakut-Nya.
Petunjuk Keempat, Nurani Manusia yang Disebut Fitrah Perasa
Pertama, fitrah tidak berdusta. Pada benih terdapat kecenderungan untuk tumbuh. Ia berkata, "Saya akan tumbuh dan akan berbuah." Dalam hal ini ia jujur. Pada telur juga terdapat kecenderungan untuk hidup. Ia berkata, "Aku akan menjadi anak." Maka hal itu terwujud dengan ijin Allah dan ia benar. Ketika kecenderungan membeku dalam tetesan air berkata, "Aku akan menempati satu tempat yang lebih luas," maka besi yang keras sekalipun tidak mampu mengingkarinya. Bahkan di antara kebenaran ucapannya, ia bisa menembus merusak besi. Kecenderungan tersebut merupakan manifestasi perintah penciptaan yang bersumber dari kehendak ilahi.
Kedua, indera lahiri dan batini manusia tidak terbatas pada lima indera yang dikenal: indera pendengaran, pengecap, penglihatan, dst. Namun, ia memiliki banyak celah yang bersambung kepada alam gaib. Karena itu ada banyak indera pada manusia yang tak diketahui.
Ketiga, sesuatu yang bersifat ilusi tidak bisa menjadi pijakan bagi hakikat lahiriah. Titik kebersandaraan dan keterpautan merupakan dua hakikat penting yang tertanam dalam fitrah dan nurani. Dari sini manusia adalah makhluk yang dimuliakan dan merupakan makhluk pilihan. Kalaulah bukan karena keduanya tentu ia akan turun derajat ke tingkatan yang paling rendah. Sementara, hikmah, keteraturan, dan kesempurnaan yang terdapat di alam menolak kemungkinan tersebut.
Keempat, nurani tidak akan melupakan Sang Pencipta betapapun akal mencampakkan dirinya dan mengabaikan aktivitasnya. Bahkan meski ia mengingkari keberadaannya. Nurani melihat Sang Pencipta seraya merenungkan dan menghadap kepada-Nya. Sementara, intuisi menggerakkannya, ilham selalu meneranginya, dan cinta ilahi terus mendorongnya untuk mengenal Allah. Cinta tersebut bersumber dari limpahan kerinduan yang lahir dari besarnya keinginan yang bersumber dari kecenderungan yang tertanam dalam fitrah. Ketertarikan dan daya tarik yang tertanam dalam fitrah tidak lain berasal dari Penarik hakiki.
Setelah memahami sejumlah hal di atas, cermati nurani untuk melihat bagaimana ia menjadi petunjuk yang terdapat dalam setiap diri manusia di mana ia menetapkan tauhid. Juga agar engkau bisa menyaksikan bahwa kalau kalbu manusia menebarkan kehidupan ke seluruh sisi jasmani, inti kehidupan di dalamnya-yaitu makrifatullah-menyebarkan kehidupan ke seluruh harapan dan kecenderungan manusia yang demikian bercabang dalam potensinya yang tak terbatas. Masing-masing sesuai dengan kondisinya. Rasa senang dan gembira mengalir di dalamnya yang kemudian ditambah oleh nilai ilusi. Bahkan, ia membuatnya lapang dan terang. Inilah keterpautan.
Makrifat ilahi itu sendiri merupakan titik kebersandaran manusia di hadapan berbagai dinamika kehidupan, sejumlah musibah, dan ujian yang menimpanya. Pasalnya, jika manusia tidak meyakini Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana yang semua urusannya merupakan sebuah keteraturan dan penuh hikmah, ia menisbatkan berbagai urusan dan kejadian kepada unsur kebetulan serta condong kepada kekuatan remeh yang dimiliknya yang tak mampu menghadapi musibah sedikitpun. Lantaran cemas dan takut kepada berbagai ujian yang mengitarinya ia pasti akan jatuh dan akan merasa sangat sakit di mana hal itu akan membuatnya ingat terhadap siksa jahannam. Hal ini tidak sesuai dengan kesempurnaan ruh manusia yang mulia sebab membuatnya jatuh kepada kehinaan di mana ia bertentangan dengan sistem yang rapi yang tegak di seluruh
alam. Dengan kata lain, dua hal di atas: titik keterpautan dan kebersandaran merupakan dua hal penting bagi ruh manusia. Sang Pencipta Yang Mahamulia menyebarkan cahaya makrifat-Nya serta menghembuskannya dalam nurani setiap manhusia dari dua jendela tersebut. Betapapun akal menutup mata, penglihatan nurani senantiasa terbuka.
Demikianlah. Kesaksian keempat petunjuk agung dan kuat di atas menegaskan bahwa sebagaimana Sang Pencipta merupakan Zat yang wajib ada, azali, esa, tunggal, berkehendak, mendengar, melihat, berbicara, hidup, berdiri sendiri, Dia juga memiliki seluruh sifat mulia dan indah. Pasalnya, limpahan kesempurnaan yang terdapat pada makhluk terambil dari bayangan manifestasi kesempurnaan Penciptanya yang agung. Sudah pasti pada diri Sang pencipta terdapat kebaikan, keindahan, dan kesempurnaan yang jauh lebih tinggi dengan tingkatan tak terhingga dibandingkan kebaikan, kesempurnaan, dan keindahan yang terdapat pada keseluruhan entitas. Selanjutnya, Sang Pencipta bersih dari segala kekurangan karena kekurangan hanya berasal dari miskinnya potensi esensi materi. Allah bersih dari semua yang bersifat materi dan jauh dari sifat-sifat yang melekat pada makhluk.
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar dan Maha melihat.
{(Catatan-371): Q.S. asy-Syuūrā: 11.}
Mahasuci Zat yang tersembunyi lantaran sangat jelas.
Mahasuci Zat yang samar lantaran tidak ada kebalikan-Nya.
Mahasuci Zat yang terhijab oleh sebab lantaran kemuliaan-Nya.
Muncul sebuah pertanyaan, "Bagaimana menurutmu paham wihdatul wujud (pantheisme)?"
Sebagai jawabannya: ia adalah bentuk ketenggelaman dalam tauhid. Tauhid dzauqi tidak terbatas pada pandangan akal pikiran. Pasalnya, kondisi tenggelam dalam tauhid-setelah
tauhid rububiyah dan uluhiyah-mengantarkan kepada kesatuan qudrat-Nya. Dengan kata lain, tidak ada yang memberikan pengaruh terhadap alam kecuali Allah. Hal ini pada tahap selanjutnya mengarah kepada kesatuan kehendak. Ini mengantarkan kepada kesatuan kesaksian, lalu kepada kesatuan wujud (wihdatul wujud). Dari sana yang ada adalah penglihatan terhadap satu wujud dan satu maujud. Ungkapan-ungkapan ulama sufi yang membingungkan tidak bisa menjadi dalil atas aliran ini. Orang yang jiwanya tidak bersih dari pengaruh sebab serta tidak keluar dari wilayahnya ketika berbicara tentang wihdatul wujud bisa melampaui batas. Orang-orang yang berbicara tentangnya membatasi pandangan mereka pada Wajibul wujud (Tuhan) di mana mereka membebaskan diri dari makhluk sehingga yang mereka lihat hanya satu wujud. Ya, melihat hasil di dalam suatu dalil, atau melihat Sang Pencipta yang mulia di dalam entitas alam merupakan sesuatu yang bersifat perasaan. Ia hanya bisa digapai lewat cita rasa yang tinggi. Mengetahui hakikat perjalanan manifestasi ilahi dalam indeks alam, mengalirnya limpahan ilahi dalam alam malakut makhluk, dan penyaksian manifestasi nama serta sifat Tuhan dalam cermin makhluk, pengetahuan tentang semua hakikat itu merupakan persoalan rasa. Hanya saja, lantaran sulit mengungkap dengan kata-kata, penganut madzhab wihadatul wujud mengeskpresikan hakikat ini dengan sifat ketuhanan dan kehidupan yang mengalir pada seluruh makhluk. Ketika para pemikir dan cendekiawan membatasi berbagai hakikat yang bersifat perasaan ini pada standar logika dan rasio, mereka menjadikannya sebagai sumber dari banyak ilusi dan pemikiran batil.
Kemudian paham wihdatul wujud yang dipahami oleh para filosof materialis dan para pemikir yang berakidah lemah dengan paham wihdatul wujud yang dipahami oleh para wali sangat jauh berbeda. Bahkan keduanya sangat bertentangan. Terdapat lima perbedaan antara keduanya. Yaitu:
Pertama, ulama sufi membatasi pandangan mereka pada "Wajibul wujud" dan terus merenungkannya dengan seluruh
potensi mereka sehingga mengingkari wujud makhluk dan tidak lagi melihat apa-apa di alam wujud ini kecuali Dia. Sementara, yang lain (kaum filosof materialis dan orang yang lemah iman) mempergunakan seluruh pemikiran dan pandangan mereka pada alam materi sehingga tidak mampu menangkap uluhiyah. Bahkan, mereka memberikan prioritas utama kepada materi hingga menjadikan mereka tidak lagi melihat wujud kecuali berupa materi. Lebih dari itu, mereka terus berada dalam kesesatannya dengan memasukkan uluhiyah ke dalam materi. Bahkan, mereka merasa tidak membutuhkannya karena hanya membatasi pandangan kepada entitas.
Kedua, wihdatul wujud yang dipahami oleh kalangan sufi berisi kesatuan penyaksian sementara bagi pihak lain ia berisi kesatuan makhluk.
Ketiga, jalan para wali merupakan jalan yang penuh cita rasa, sementara jalan pihak lain merupakan jalan rasional.
Keempat, para wali membatasi pandangan mereka pada Allah Swt., kemudian barulah mereka melihat kepada makhluk. Sebaliknya, yang lain membatasi pandangan mereka pertama-tama kepada makhluk.
Kelima, para wali merupakan hamba dan kekasih Allah, sementara para filosof menyembah diri dan hawa nafsu mereka. Dengan demikian perbedaan mereka sangat jauh. Cahaya yang terang sangat berbeda dengan kegelapan yang pekat.
Penerangan:
Andaikan misalnya bola bumi terbentuk dari potongan kaca yang sangat kecil dan berwarna-warni, tentu setiap potongan akan menerima cahaya mentari sesuai dengan susunan, ukuran, warna, dan bentuknya. Limpahan imajinatif tersebut bukanlah mentari itu sendiri serta bukan pula cahayanya.
Andaikan warna-warni bunga yang berkembang dan bermunculan itu dapat bertutur kata di mana ia merupakan manifestasi cahaya mentari dan pantulan tujuh warnanya, tentu setiap warnanya akan berucap, "Mentari tersebut seperti diriku. Atau mentari itu hanya khusus untukku."
Hayalan yang merupakan jaring para wali merupakan cermin
Yang memantulkan seluruh wajah bersinar di taman Allah.
Hanya saja, jalan peniti kesatuan penyaksian (widatusy syuhud) adalah kebangkitan, pemilahan, dan kesadaran. Sementara, jalan para peniti kesatuan wujud (wihdatul wujud) adalah kondisi fana dan ketidaksadaran. Jalan yang jernih adalah jalan yang dilewati dengan kesadaran dan kemampuan untuk memilah.
Renungkanlah karunia-karunia Allah dan jangan engkau merenungkan zat-Nya. Sebab kalian tidak akan mampu.
{(Catatan-372): Hadits hasan ditakhrij oleh ath-Thabrani dalam Mu'jamul Awsath 6456.}
Hakikat seseorang tidak mampu dipahami oleh seseorang
Apalagi keadaan Tuhan Yang Maha Tak bermula
Dia yang menciptakan dan menumbuhkan segalanya
Bagaimana mungkin makhluk yang baru dapat menjangkau-Nya
{(Catatan-373): Disnibatkan kepada al-Imam Ali r.a. Dīwān al-Imam Ali, hal. 185, Beirut.}
Demikianlah, di sini kami tidak memasukkan bagian kedua dari risalah "titik"-yang secara khusus membahas tentang keabadian ruh. Ia telah dijelaskan secara cukup luas oleh "kata kedua puluh sembilan dan kata kesepuluh "al-hasyr". Pembaca bisa melihat kepada keduanya. Adapun bagian ketiga yang menjelaskan empat belas pelajaran telah diterbitkan secara terpisah dengan judul "Pengantar Menuju Cahaya".
Said Nursi.