Terutama
(Bagian berbahasa Arab kedua dari dari kalimat kedua puluh delapan)
(Landasan bagi kalimat kesepuluh)
{(Catatan-36): Risalah ini penjelasan dari ringkasan risalah al-hasyr (kebangkitan makhluk di hari kiamat) yang sangat penting. Ia merupakan kalimat kesepuluh yang di dalamnya dibahas berbagai persoalan yang terkait dengan risalah ini dengan banyak perumpamaan serta dengan kordinasi yang apik sesuai dengan manifestasi nama-nama-Nya yang mulia. Sebelumnya terdapat pengantar untuk akal lewat sebuah dialog kecil dan penjelasan mengenai gambaran kebangkitan makhluk di hari kiamat.}
Bismillāhirrahmānirrahīm
Segala puji bagi Allah yang wujud dan keesaan-Nya disaksikan oleh seluruh partikel dan komposisi alam lewat lisan ketidakberdayaan dan kepapahannya.
Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi-Nya, penyingkap misteri alam dan kunci bagi tanda-tandanya, serta kepada keluarga, sahabat, dan saudaranya dari para nabi dan rasul. Demikian pula kepada para malaikat dan hamba Allah yang saleh baik di langit maupun di bumi.
Ketahuilah wahai yang alam materi dan sebab-akibat telah menutup pintu syukur dan membuka pintu syirik baginya. Syirik dan kufur merupakan dua bentuk kekufuran yang terbangun di
atas berbagai kemustahilan tak terhingga. Di antara kemustahilan tersebut adalah sebagai berikut.
Apabila seorang kafir sadar lalu menatap kekufurannya dengan penglihatan ilmu, untuk mengikuti kekufurannya ia terpaksa harus memikulkan kepada setiap partikel beban seberat seribu kuintal sekaligus mengakui bahwa pada setiap partikel terdapat jutaan percetakan untuk alam serta pengetahuan terhadap seluruh detil penciptaan pada semua ciptaan. Pasalnya, setiap partikel udara misalnya, ia bisa melewati semua tumbuhan, bunga, pohon, dan buah serta bisa bekerja pada bangunannya. Karena itu, jika tidak diperintah dan tidak bekerja atas nama Zat Penggenggam segala sesuatu, berarti partikel dan kekuatan kecil yang tersembunyi di dalamnya harus mengetahui cara kerja dari perangkat seluruh bangunan yang dimasuki oleh partikel tadi serta cara pembentukannya. Padahal satu buah misalnya mengandung miniatur pohonnya dan benih atau tunasnya ibarat lembaran kerja pohon yang memuat sejarah perjalanan hidupnya. Buah melihat kepada keseluruhan pohon; serta kepada spesiesnya, bahkan juga kepada bumi. Dari sini, dengan melihat keagungan penciptaan dan substansinya di dalam bingkai besarnya penciptaan bumi, maka siapa yang membangunnya dengan keagungan maknawiyah dan penciptaannya haruslah mampu memikul dan membangun bumi.
Karena itu, sungguh aneh orang kafir yang ingkar. Bagaimana mungkin ia mengaku cerdas dan berakal, sementara dengan kekufuran yang ia miliki di dalam hatinya terdapat cara berpikir yang dungu dan bodoh semacam itu.
Ketahuilah bahwa segala sesuatu memiliki dua bentuk:
Pertama, materi yang bisa terindera seperti baju yang dipotong sesuai dengan ukuran fisik secara sangat rapi.
Kedua, sesuatu yang rasional yang tersusun dari banyak potongan dalam gerakannya sepanjang lautan waktu atau aliran sungai zaman. Misalnya gambar lingkaran bercahaya yang bersifat imajinatif yang dihasilkan dari putaran nyala api. Gambaran maknawiyah atau immateri dari sesuatu tersebut merupakan sejarah kehidupannya. Ia merupakan garis edar
ketentuan yang dikenal dengan nama 'takdir sesuatu'. Sebagaimana sesuatu-seperti pohon misalnya-dalam bentuk materi memiliki titik akhir yang rapi dan berbuah serta tujuan yang seimbang dan berisi kebaikan, maka dalam bentuk immaterinya ia juga memiliki titik akhir yang rapi yang mengandung berbagai kebaikan serta batas-batas tertentu yang mencakup sejumlah hikmah tersembunyi. Seolah-olah kekuatan yang terdapat pada gambaran pertama ibarat pembangun dan ketentuannya ibarat rancang arsitektur, sementara pada yang kedua ia ibarat sumber dan ketentuannya ibarat penggaris. Kekuatan tersebut menulis kitab makna pada gambar ukuran takdir.
Wahai orang kafir, dengan sikap kufur dan ingkarmu, ketika kembali kepada ilmu dan hakikat, engkau terpaksa harus menerima bahwa pada setiap partikel dan kekuatannya yang kecil terdapat pengetahuan penciptaan sampai ke tingkat di mana partikel tadi mampu memotong dan menggunting pakaian dan baju yang beragam sebanyak jumlah sesuatu di samping juga mampu mermperbaharui berbagai bentuk yang rusak akibat duri sejumlah kejadian di sepanjang zaman. Padahal, manusia sebagai buah pohon penciptaan, sebab yang paling memiliki kemampuan, serta paling bisa memilih, andaikan semua potensi penciptaannya dikumpulkan lalu ia ingin membuat sebuah baju bagi pohon berduri sesuai dengan kadar bagian-bagiannya, tentu ia tidak akan mampu melakukannya. Sementara, di lain sisi Penciptanya terus memakaikan kepadanya dalam pertumbuhannya berbagai baju yang terus baru, secara teratur, segar; tanpa menjadi kering oleh sinar mentari, berbalut warna hijau yang indah dan seimbang, dengan sangat mudah dan cepat tanpa susah payah. Mahasuci Zat yang,
Sesungguhnya keadaan-Nya apabila menghendaki sesuatu, Dia hanyalah berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka terjadilah ia. Mahasuci (Allah) yang di tangan-Nya tergenggam kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kalian dikembalikan.
{(Catatan-37): Q.S. Yasin: 82-83.}
Ketahuilah bahwa Zat Yang Mahaesa dan Kekal memiliki segel, stempel, dan tanda pada segala sesuatu. Bahkan, Dia memiliki sejumlah tanda yang membuktikan bahwa semua merupakan milik dan ciptaan-Nya. Di antara segel keesaan dan stempel keabadian-Nya yang tak terhingga engkau bisa melihat segel yang terdapat di lembar permukaan bumi di musim semi dengan teropong sejumlah alinea berikut yang bersambung dan saling terkait. Dari sana engkau dapat melihat segel tersebut laksana mentari di tengah siang. Yaitu:
Kita menyaksikan di permukaan bumi proses penciptaan yang menakjubkan dan penuh hikmah. Yaitu pada kemurahan yang demikian luas dan agung, pada kedermawanan mutlak yang terwujud secara rapi, dalam kemudahan yang terwujud dengan sangat teratur, pada kecepatan mutlak yang terwujud secara sangat seimbang, pada keluasan mutlak yang terwujud dalam bagusnya penciptaan, pada nilainya yang murah yang terwujud dalam sesuatu yang sangat mahal, pada percampuran mutlak yang terwujud secara sangat istimewa, pada kejauhan mutlak yang terwujud sangat apik, serta pada jumlahnya yang banyak yang terwujud dalam penciptaan terbaik.
Masing-masing bagian sebenarnya sudah cukup untuk memperlihatkan segel atau stempel Allah. Pasalnya,
Puncak kedermawanan di samping kerapian dan penciptaan yang sangat indah pada setiap bagian hanya dapat diwujudkan oleh Zat yang tidak disibukkan oleh sesuatu dari sesuatu di mana Dia memiliki kemampuan tak terbatas.
Puncak kemudahan di samping puncak keteraturan hanya bisa diwujudkan oleh Zat yang tidak dikalahkan oleh apapun di mana Dia memiliki pengetahuan tak terbatas.
Puncak kecepatan di samping puncak keseimbangan hanya bisa diwujudkan oleh Zat yang segala sesuatu tunduk padanya karena kekuasaan dan perintah-Nya.
Puncak keluasaan perbuatan-seiring dengan tersebarnya spesies-di samping puncak penciptaan makhluk yang demikian baik hanya bisa diwujudkan oleh Zat yang tidak terdapat pada sesuatu, sementara Dia bersama segala sesuatu dengan kekuasaan
dan pengetahuan-Nya.
Puncak kemurahan dan pengorbanan di samping mahalnya nilai makhluk dilihat dari sisi penciptaan hanya bisa diwujudkan oleh Zat Pemilik kekayaan tak terhingga dan perbendaharaan tak terkira.
Puncak percampuran dan pembauran-antar beragam spesies-disertai keberadaan karakter istimewa dan ciri pada masing-masingnya hanya bisa dilakukan oleh Zat Yang Maha Melihat dan Menyaksikan segala sesuatu; tanpa terhalang oleh apapun.
Aktivitas yang disertai perbedaan antar entitas yang tersebar di berbagai penjuru bumi dengan keselarasannya dalam sisi bentuk dan penciptaan sehingga seolah-olah seluruh entitas spesies menantikan perintah khusus dari Zat yang mengaturnya, hal itu hanya bisa dilakukan oleh Zat yang seluruh bumi berada dalam genggaman perbuatan, pengetahuan, otoritas, dan kebijaksanaan-Nya.
Varietas dan spesies yang demikian banyak disertai kesempurnaan penciptaan setiap entitas yang sangat sempurna hanya bisa diwujudkan oleh Zat Yang Mahakuasa yang bagi-Nya tidak ada perbedaan antara partikel dan bintang serta antara yang sedikit dan yang banyak.
Pada setiap bagian terdapat tanda lain yang menunjukkan kreasi Zat Yang Mahakuasa. Yaitu kondisi kontras antara kedermawanan dan akurasi yang ekonomis, antara kecepatan dan keseimbangan, antara murah dan mahal, antara pembauran dan keunikan, dan seterusnya. Apabila setiap bagian sudah cukup untuk memperlihatkan stempel keesaan, bagaimana jika semuanya saling berkumpul dan menopang dalam satu aktivitas? Dari sana engkau bisa mengetahui rahasia dari firman Allah yang berbunyi,
Jika engkau tanyakan pada mereka, siapa yang menciptakan langit dan bumi, tentu mereka akan menjawab, "Allah."
{(Catatan-38): Q.S. al-Zumar: 38.}
Maknanya, orang yang ingkar dan membangkang, jika ditanya mau tidak mau ia akan menjawab, "Allah."
Ketahuilah bahwa antara iman kepada Allah, iman kepada nabi, kepada hari akhir, dan percaya kepada eksistensi alam merupakan sesautu yang yang saling terkait secara sangat kuat karena ada keterpautan antara kepastian adanya Tuhan, rasul, dan hari akhir dengan kesaksian alam.
Pasalnya, tidak mungkin sebuah kitab ada, terutama jika setiap kata darinya memuat satu kitab dan setiap huruf berisi sebuah kumpulan syair, tanpa ada yang menulis. Demikian pula tidak mungkin kitab alam menjadi bukti tanpa diikuti dengan keimanan terhadap keberadaan Penciptanya yang azali.
Tidak mungkin ada sebuah rumah, apalagi jika ia memiliki bentuk yang sangat indah, ukiran yang menakjubkan, dan hiasan luar biasa, tanpa ada yang membangunnya. Demikian pula tidak mungkin mempercayai keberadaan alam tanpa mempercayai Zat yang menciptakannya.
Tidak mungkin penyaksian kilau butiran air di permukaan laut, cahaya tetesan air, dan kilau pecahan salju di siang hari disertai dengan sikap mengingkari keberadaan mentari. Karena jika tidak, berarti harus mengakui adanya banyak matahari sebanyak butiran, tetesan, dan pecahan salju tersebut. Selain itu, bagi orang yang berakal sehat, kondisi entitas alam yang terus berubah secara sangat teratur, tidak mungkin disertai sikap mengingkari keberadaan Penciptanya yang telah membangun "rumah indah dan pohon besar itu" lewat kehendak dan kebijaksanaan-Nya, mengurai dengan hukum qada dan qadar-Nya, mengatur dengan kaidah sunnah dan hukum-Nya, menghias dengan rambu perhatian dan rahmat-Nya, serta menerangi dengan manifestasi nama dan sifat-Nya.
Ya. Tanpa mengakui keberadaan Sang Pencipta Yang Mahaesa, berarti harus mengakui keberadaan tuhan-tuhan yang jumlahnya tak terhingga sebanyak partikel dan bangunan alam di mana setiap tuhan tadi mampu menciptakan keseluruhan. Pasalnya, setiap bagian yang hidup adalah prototipe bagi keseluruhan. Jadi, penciptanya harus mampu mencipta keseluruhan.
Selanjutnya, keberadaan matahari tidak mungkin tanpa disertai penyebaran cahaya. Demikian pula ketuhanan (uluhiyah) tidak mungkin ada tanpa disertai penampakan manifestasinya dengan cara mengirim para rasul. Keindahan yang sangat sempurna tidak mungkin ada tanpa disertai penampakan dan pengenalan terhadapnya lewat utusan yang bisa memperkenalkan. Kesempurnaan kreasi yang sangat indah tak mungkin ada tanpa disertai publikasi lewat pihak yang bisa menunjukkan padanya.
Kekuasaan rububiyah Tuhan yang bersifat menyeluruh tak mungkin tanpa penghambaan total melalui ikrar keesaan-Nya dalam tingkatan yang demikian banyak lewat utusan yang memiliki dua sayap.
Kebaikan tak terhingga tak mungkin ada tanpa disertai permintaan dan keinginan dari Si Pemilik keindahan agar keindahan dan kelembutan-Nya disaksikan dalam sebuah cermin. Ia juga tak mungkin ada tanpa keberadaan kehendak untuk mempersaksikan ke hadapan orang-orang yang mampu mengapresiasinya lewat seorang hamba yang Dia cintai dan rasul yang Dia buat dicintai oleh manusia. Dengan kata lain, dengan penghambaannya, beliau menjadi cermin untuk menyaksikan Pemilik keindahan lewat keindahan pemeliharaan-Nya dan lewat risalah-Nya.
Keberadaan perbendaharaan yang berisi berbagai mukjizat dan hal luar biasa tidak mungkin terwujud tanpa keinginan dari Pemiliknya untuk menampilkan ke hadapan sejumlah mata dan memperlihatkannya kepada makhluk sehingga kesempurnaan-Nya yang tersembunyi bisa tampak lewat sosok yang memperkenalkan, menggambarkan, dan menampakkannya.
Jika demikian, bukankah di dunia ini sifat-sifat tersebut telah terdapat pada sosok junjungan kita, Nabi muhammad saw? Ya, bahkan beliau lebih komprehensif, lebih sempurna, lebih mulia, dan lebih utama. Beliau adalah pemimpin para rasul yang memperlihatkan, menyampaikan, memperkenalkan, dan menampakkan, yang menjadi abid yang membimbing dan menjadi saksi, yang dicintai, mencintai, dibuat dicintai, yang
memberi petunjuk, diberi petunjuk, dan mendapat petunjuk. Semoga sebaik-baik salawat dan salam tercurah kepada beliau dan kepada mereka semua sepanjang tegaknya langit dan bumi.
Lalu, perhatikan hakikat hari akhir yang demikian kuat. Yaitu bahwa seorang penguasa pasti memberikan ganjaran kepada orang yang taat dan hukuman bagi orang yang menantang. Apalagi jika Dia memiliki sifat yang amat pemurah dan mulia. Apalagi jika Dia memliki rahmat yang luas yang melahirkan perbuatan mulia sesuai dengan keluasan rahmatnya serta memiliki kedudukan yang agung. Apalagi jika Dia demikian bijaksana yang menjaga kekuasaannya dengan membuat orang-orang berlindung di bawah perlindungannya dan sangat adil yang penjagaan terhadap kerajaannya terwujud lewat cara menjaga hak-hak rakyat. Apalagi jika Dia memiliki kekayaan berlimpah disertai sikap dermawan yang hal itu menuntut keberadaan tempat baginya untuk memberikan jamuan serta keberadaan orang-orang yang membutuhkan. Dia juga memiliki kesempurnaan yang tersembunyi yang perlu ditampakkan ke hadapan khalayak yang mampu mengapresiasi. Dia juga memiliki keindahan immateril tak terkira dan kelembutan yang tak ada padanannya yang kebaikan tersebut harus disaksikan lewat sebuah cermin, diperlihatkan kepada yang lain, serta ditampakkan lewat keberadaan orang yang selalu mengapresiasi, suci, merindu, dan senantiasa mencinta. Pasalnya, keindahan abadi tidak menginginkan perindu sementara.
Apalagi jika Dia memiliki sifat kasih sayang dengan membantu orang yang membutuhkan dan mengabulkan orang yang meminta. Sampai-sampai Dia memperhatikan kebutuhan paling kecil dari rakyat paling jelata. Kalau demikian tentu Dia memenuhi kebutuhan paling utama dari orang kepercayaan-Nya. Terutama, jika kebutuhan tersebut bersifat umum di mana ia mudah bagi-Nya, dan dibutuhkan oleh semua.
Apalagi jika dari kreasi-Nya terlihat tanda-tanda kekuasaan-Nya secara sangat indah, padahal apa yang tampak dari rakyat-Nya adalah bagaimana mereka berkumpul di sebuah tempat untuk para musafir, yang setiap waktu diisi dan di-
kosongkan, lalu mereka hadir di medan ujian secara bergantian setiap waktu. Mereka berhenti sebentar di galeri untuk menampilkan berbagai model ciptaan-Nya yang menakjubkan di mana galeri tersebut terus berubah sepanjang masa. Kondisi ini sudah barang tentu mengharuskan keberadaan istana abadi, tempat tinggal permanen, dan perbendaharaan yang pintunya senantiasa terbuka di balik rumah, medan ujian, dan galeri di atas.
Apalagi jika Sang Raja sangat cermat dalam memerintah dengan mencatat kebutuhan terkecil, amal teringan, dan pengabdian yang paling remeh sekalipun. Lalu Dia mengambil gambar dari semua kejadian yang terjadi di kerajaan-Nya serta mencatat semua amal dan perbuatan. Hal ini tentu saja mengkonsekwensikan adanya perhitungan. Terutama, jika ia berupa amal besar yang dilakukan orang-orang besar.
Apalagi jika Sang Raja telah seringkali berjanji dan mengancam yang hal itu sangat mudah untuk diwujudkan oleh-Nya di mana keberadaannya sangat penting bagi rakyat, sementara jika tidak ditepati berarti berlawanan dengan kekuasaan-Nya.
Apalagi jika setiap orang yang pernah menghadap Raja menginformasikan bahwa Dia telah menyiapkan bagi orang yang taat dan maksiat sebuah tempat pemberian balasan dan ganjaran sekaligus memberikan ancaman yang kuat, sementara Dia tidak memiliki sifat ingkar janji. Di samping bahwa para informan tersebut sepakat bahwa pusat dari kekuasaan-Nya yang besar terletak pada kerajaan yang jauh dari kita itu. Sementara, tempat tinggal di medan ujian ini hanya bersifat sementara dan akan segera diganti dengan istana abadi. Kekuasaan-Nya yang abadi tersebut tidak mungkin tegak di atas kondisi yang bersifat sementara dan temporer.
Apalagi jika Sang Raja selalu dan terus-menerus memperlihatkan di medan ujian yang bersifat sementara ini begitu banyak perumpamaan tentangnya sehingga dari sana diketahui bahwa berbagai pertemuan dan perpisahan yang ada bukan merupakan tujuan akhir. Ia hanya contoh untuk agar aneka gambarannya bisa diambil, disusun, hasilnya dipelihara, serta dicatat agar kekal. Interaksi dan muamalah akan berlangsung di
tempat pertemuan terbesar sehingga tempat yang fana ini menghasilkan beragam gambaran yang permanen dan buah yang abadi.
Apalagi apabila Sang Raja memperlihatkan di tempat singgah sementara dan galeri yang akan ditinggalkan ini sejumlah tanda yang menunjukkan keberadaan hikmah yang cemerlang, perhatian yang jelas, keadilan yang mulia, dan kasih sayang yang luas sehingga orang yang memiliki mata hati akan mengetahui dengan penuh keyakinan bahwa tidak ada yang lebih sempurna daripada hikmah-Nya, lebih indah daripada perhatian-Nya, lebih komprehensif daripada kasih sayangnya, dan lebih agung daripada keadilan-Nya. Andaikan di wilayah kerajaan-Nya terdapat sejumlah tempat yang tinggi, rumah yang berharga, kediaman yang kekal abadi sehingga menjadi manifestasi hakikat hikmah, perhatian, kasih sayang, dan keadilan-Nya, maka sikap mengingkari hikmah-Nya yang nampak jelas, sikap mengingkari perhatian-Nya yang terlihat, sikap mengingkari kasih-sayang-Nya yang nyata, serta sikap mengingkari keadilan-Nya yang terindera, mengharuskan adanya pengakuan bahwa Pelaku dari semua perbuatan penuh hikmah dan mulia tersebut adalah seorang yang bodoh, main-main, zalim, dan curang. Hakikat tadi harus berubah menjadi sebaliknya dan ini bagi orang yang berakal merupakan sesuatu yang mustahil.
Masih terdapat berbagai bukti lain yang jumlahnya tak terhingga yang menunjukkan bahwa Dia akan memindahkan rakyat-Nya dari tempat sementara ini menuju markas kekuasaan-Nya yang abadi. Ada begitu banyak tanda yang menunjukkan bahwa Dia akan mengganti kerajaan fana ini dengan kerajaan permanen.
Di samping itu tidak mungkin sama sekali alam ini ada, sementara alam tersebut tidak ada. Tidak mungkin Sang Pencipta menciptakan entitas ini, tanpa menciptakan entitas tersebut. Tidak mungkin Tuhan menciptakan dunia tanpa menciptakan akhirat. Sebab, kekuasaan rububiyah-Nya mengharuskan adanya pemberian balasan dan upah.
Apalagi diketahui lewat berbagai bukti yang ada bahwa
Pemilik tempat ini memiliki sifat pemurah. Sifat pemurah tersebut mengkonsekwensikan adanya kebaikan yang sempurna dan pemberian balasan. Dia juga Mahamulia yang mengkonsekwensikan adanya pemberian ganjaran dengan sempurna dan tegas. Sementara, dunia sedikitpun tidak bisa menampung kemurahan dan kemuliaan-Nya.
Apalagi pemilik alam ini memiliki rahmat yang mencakup segala sesuatu. Di antara tandanya adalah rasa kasih sayang yang dimiliki oleh ibu, bahkan tumbuhan, terhadap anaknya, serta datangnya rezeki anak hewan dengan sangat mudah. Rahmat tersebut melahirkan perbuatan mulia dan baik yang sesuai dengannya. Lihatlah konsekwensi dari rahmat tersebut. Kemudian bandingkan dengan nikmat yang bersifat sementara di dunia fana ini dalam usia yang sangat pendek yang tak sampai satu tetes dari lautan rahmat-Nya. Ia hilang tanpa pernah kembali. Ia membuat nikmat menjadi bencana; kasih sayang menjadi musibah; cinta menjadi nestapa; akal menjadi hukuman; kelezatan menjadi penderitaan. Hakikat rahmat menjadi berubah. Maka, sifat sombong dengan mengingkari rahmat yang nampak sama seperti mengingkari mentari padahal cahayanya demikian terang di siang bolong. Dari kreasi Pemilik alam ini diketahui pula bahwa Dia Mahaagung dan perkasa. Sebagai konsekwensi dari kedua sifat tersebut adalah Dia menghukum orang yang tidak menghormati-Nya serta menekan orang yang meremehkan-Nya. Sebagaimana hal itu dilakukan kepada generasi terdahulu. Semuanya menunjukkan bahwa Dia tidak pernah melupakan meski ditunda. Dari sunnah-Nya juga dapat dipahami bahwa Dia tidak menerima terhadap tindakan meremehkan perintah dan larangan-Nya.
Ya. Dia telah memperkenalkan diri kepada manusia dengan berbagai ciptaan dan tatanan tersebut, berbaik hati kepada mereka lewat sejumlah bunga yang seimbang, menampakkan cinta pada mereka dengan aneka buah yang terhias rapi. Namun, mereka tidak mengenal-Nya dengan iman, tidak mencintai-Nya dengan ibadah, serta tidak menghormati-Nya dengan rasa syukur kecuali sedikit dari mereka. Dengan demikian, sangat pantas kalau Dia
menyiapkan untuk mereka pada pusat rububiyah-Nya yang abadi sebuah tempat untuk memberikan balasan dan ganjaran.
Apalagi Pengatur alam ini memiliki hikmah yang bersifat umum dan mulia. Hal itu ditunjukkan oleh adanya perhatian terhadap sejumlah kemaslahatan dan manfaat dalam segala hal. Juga dibuktikan oleh sejumlah keteraturan, perhatian, indahnya kreasi pada semua makhluk. Implikasi dari sikap hikmah yang mengontrol kekuasaan Tuhan adalah lahirnya sikap yang lembut terhadap orang yang taat dan kembali kepada-Nya. Selain itu, keadilan hakiki Tuhan dapat disaksikan melalui perbuatan-Nya yang menempatkan segala sesuatu pada tempat yang sesuai, memberikan hak kepada pemiliknya, membantu orang yang membutuhkan sesuai dengan kebutuhannya, serta mengabulkan permintaan orang yang meminta kepada-Nya. Terutama, apabila diminta dengan lisan kebutuhan fitri atau kebutuhan yang sangat mendesak. Konsekwensi dari keadilan-Nya berupa adanya penjagaan terhadap kekuasaan dan rububiyah-Nya, serta pemeliharaan hak-hak hamba di pengadilan terbesar. Di samping itu, negeri yang fana ini tak mampu menjadi tempat manifestasi hakikat keadilan di atas. Karenanya, Raja yang adil, serta Tuhan Yang Maha Bijaksana, Mahaindah, Mahamulia, dan Mahaagung, pasti memiliki sorga dan neraka yang kekal abadi.
Apalagi Pemilik alam ini dan Pelaku dari semua aktivitas di atas memiliki sifat sangat pemurah dan dermawan, serta memiliki kekayaan yang tersembunyi. Di antara kekayaan tersebut adalah mentari yang memancarkan cahaya dan pohon-pohon yang menghasilkan buah. Kedermawanan abadi berikut kekayaan yang kekal itu mengonsekwensikan keberadaan tempat jamuan abadi dan orang-orang yang membutuhkan. Pasalnya, sifat pemurah yang tak terhingga itu melahirkan pemberian nikmat yang tak terkira pula. Sebagai akibatnya nikmat dan karunia yang datang menjadi tak terbatas. Konsekwensinya, senantiasa ada orang yang mendapat anugerah agar ia bisa membalasnya dengan sikap syukur atas karunia abadi itu. Jika tidak, tentu syukur tadi hanya ditunjukkan di sepanjang usianya yang singkat. Di samping bahwa ia tidak akan mengacuhkan
sesuatu yang akan lenyap. Lebih dari itu, kenikmatan yang dirasakan menjadi kurang sempurna.
Pelaku perbuatan yang penuh hikmah dan mulia itu juga memiliki kesempurnaan tersembunyi. Lewat kesempurnaan yang tampak melalui berbagai mukjizat indah itu dapat dipahami bahwa Dia ingin memperlihatkan kesempurnaan tersebut kepada semua pihak yang bisa merasakan dan mengapresiasi.
Ya. Di antara sifat kesempurnaan abadi adalah penampakannya yang terus-menerus berikut keberadaan pandangan yang senantiasa melihatnya. Orang yang tidak melihat secara permanen membuat nilai kesempurnaan tadi berkurang.
Di samping itu, Pencipta semua entitas yang indah, menarik, dan bersinar ini memiliki keindahan murni yang tak tertandingi. Dia memiliki sejumlah kelembutan tersembunyi yang sesuai yang tidak ada bandingannya. Bahkan, pada setiap nama-Nya terdapat kekayaan tersembunyi yang merupakan manifestasi dari keindahan tersebut.
Ya, bagaimana mungkin akal kita tidak memahami keindahan Zat yang di antara cerminnya adalah permukaan bumi yang terus berubah pada setiap masa; bahkan pada setiap musim, dan setiap saat, di bawah naungan manifestasi keindahan-Nya yang abadi bersamaan meski cerminnya lenyap dan hilang. Dalam hal ini di antara contoh bunga dan ukirannya adalah musim semi.
Selanjutnya, di antara hakikat yang abadi dan permanen adalah bahwa setiap Pemilik keindahan menginginkan keindahannya terlihat baik oleh dirinya maupun oleh orang lain, baik secara langsung maupun lewat perantara. Ia juga menginginkan keberadaan sebuah cermin yang bisa memantulkan keindahannya sekaligus orang yang merindukannya. Keindahan tersebut mengonsekwensikan keberadaan saksi dan penyaksian. Kedua hal tersebut menuntut keberadaan orang yang bisa mengapresiasi dan merindukan kelembutannya. Keindahan abadi menuntut adanya orang yang bisa mengapresiasi dan merindukan. Ia tidak rela dengan perindu yang bersifat sementara. Di sisi lain orang yang terikat dengan dirinya kerapkali memusuhi
sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh pemahaman dan tangannya sehingga membalas, dengan cinta dan penghargaan tak terhingga orang tersebut malah membalas keindahan tadi dengan semacam permusuhan, kedengkian, dan pengingkaran.
Kesimpulannya, sebagaimana alam ini mengharuskan keberadaan Penciptanya, Penciptanya juga mengharuskan keberadaan akhirat. Apalagi Pemilik alam ini memiliki sifat kasih sayang dengan segera menolong orang yang membutuhkan dan mengabulkan doa yang meminta pertolongan. Dia memperhatikan kebutuhan terkecil makhluk-Nya yang paling sederhana. Buktinya adalah pemenuhan atas kebutuhan pada saat dibutuhkan dari arah yang tak disangka-sangka. Dia mendengar suara yang paling pelan dari makhluk yang paling samar. Buktinya Dia memberikan apa yang diminta meski tanpa harus diucap.
Lihatlah pemeliharaan Allah yang demikian baik terhadap anak-anak makhluk hidup dan yang lemah di antara mereka. Kasih sayang tersebut sama seperti mentari yang bersinar. Kasih sayang yang mulia itu tentu saja memenuhi kebutuhan yang lebih besar dan lebih utama yang berasal dari hamba-Nya yang paling agung dan makhluk-Nya yang paling Dia cintai.
Terutama, apabila kebutuhan tersebut bersifat menyeluruh di mana doa orang yang dikasihi tersebut diamini oleh semua makhluk, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Terutama, apabila ia demikian penting karena menjadi faktor yang membuat sesuatu naik kepada tingkatan paling tinggi, sementara tanpa itu nilainya akan jatuh ke tingkat yang paling rendah. Di sini seluruh entitas bergabung bersama doa yang dipanjatkan oleh sang kekasih lewat lisan kesiapan mereka.
Terutama, apabila kebutuhan tersebut diperlukan untuk setiap nama yang termanifestasikan pada seluruh entitas alam. Ya. Kebutuhan tersebut ibarat lemari tujuan bagi berbagai nama dan kesempurnaannya di mana ia tampak lewat pemberlakuan hukum-hukumnya. Dalam kondisi demikian, seluruh nama membantu memenuhi kebutuhan sang kekasih.
Terutama, apabila kebutuhannya sekejap mata, mudah, dan gampang bagi Tuhan.
Terutama, jika sang kekasih berdoa lewat berbagai macam doa yang menyentuh, bersimpuh dengan segala bentuk kepapahan, menunjukkan cinta lewat beragam ibadah yang diterima. Sementara, seluruh nabi, wali, dan orang-orang mulia yang merupakan buah pohon penciptaan terbaik berbaris di belakangnya mengamini doanya. Beliau meminta sorga, kekekalan, kebahagiaan abadi, dan rida kepada Tuhan Yang Mahamulia.
Indahnya kasih sayang Tuhan yang komprehensif dan terlihat lewat berbagai jejaknya sama sekali tidak bisa menerima sikap buruk dan khianat dengan mengingkari permintaan logis dan kekasih di atas. Ya. Sebagaimana kekasih tersebut yang merupakan poros kesaksian dan persaksian bagi bukti azali adalah seorang rasul yang dengan risalahnya beliau menyingkap misteri alam, menunjukkan keesaan, serta menjadi sebab untuk menggapai kebahagiaan di sorga, beliau juga seorang hamba. Dengan ibadahnya beliau menjadi penyingkap perbendaharaan rahmat Tuhan, cermin keindahan rububiyah-Nya, sarana untuk mendapat sumber kebahagiaan, serta sebab bagi keberadaan sorga. Andaikan semua sebab yang jumlahnya tak terhingga yang mengantar kepada sorga tidak ada kecuali permintaan dari kekasih seperti beliau, tentu hal itu sudah cukup menjadi alasan bagi penciptaan sorga oleh Zat Yang Maha Pemurah yang menciptakan berbagai kebun indah di setiap musim semi sebagai prototipe darinya. Menciptakan kebun tidaklah lebih mudah daripada sorga. Sebaliknya, penciptaan sorga tidak lebih sulit daripadanya. Sebagaimana benar dan tepat ucapan yang berbunyi, "Andaikan bukan karenamu, tentu cakrawala itu takkan tercipta," demikian pula dengan ucapan yang berbunyi, "Andaikan yang ada hanya doamu, tentu sorga diciptakan karena dirimu."
Ya Allah limpahkan salawat dan salam kepada sang kekasih yang merupakan pemimpin jin dan manusia, kebanggaan alam, sarana kebahagiaan dunia dan akhirat, pemilik dua sayap, dan utusan bagi kalangan jin dan manusia. Juga kepada keluarga, sahabat, serta seluruh saudaranya yang terdiri dari para nabi dan
rasul. Amin.
Apalagi, dalam peredaran alam ini tampak berbagai jejak kekuasaan-Nya dalam menundukkan matahari, bulan, pohon, dan sungai. Dari sana diketahui bahwa Zat yang melakukan semua itu memiliki kekuasaan dalam rububiyah-Nya yang agung. Sementara di sisi lain, dengan perubahan dan pergantiannya yang demikian cepat, dunia ini ibarat tempat tinggal di penginapan yang disiapkan bagi para musafir yang setiap hari diisi dan dikosongkan. Ia juga merupakan medan ujian yang terus berganti setiap waktu, serta galeri yang dihadirkan untuk memperlihatkan segala model kreasi dan kemurahan Pemilik alam. Galeri tersebut selalu berubah setiap waktu. Adapun makhluk dan hamba sebagai rakyat dan objek kekuasaan yang berkumpul di tempat tersebut sebagai musafir yang datang dan pergi. Mereka mendatangi medan ujian dengan penuh perhatian sesuai dengan kadar pertanyaan dan jawaban yang ada. Setiap saat mereka selalu berniat untuk keluar. Mereka juga berhenti sebentar di galeri itu guna kemudian berpisah.
Karena itu dengan kondisi tersebut, di balik tempat yang fana, medan ujian yang bersifat sementara, dan galeri yang temporer ini, harus ada istana kekal, rumah abadi, dan kekayaan yang pintu-pintunya selalu terbuka yang berisi sumber asli dari berbagai prototipe di atas agar kekuasaan yang tampak padanya tegak. Sebab, rububiyah Tuhan mustahil berdiri dengan barang-barang fana seperti itu.
Hal ini seperti yang dipahami oleh orang yang memiliki kesadaran manakala di jalan bertemu dengan sebuah tempat singgah yang secara khusus disediakan oleh raja yang baik untuk para musafir yang ingin berkunjung kepadanya. Sang Raja rela mengeluarkan jutaan dinar guna menghias tempat singgah tersebut hanya untuk kunjungan satu malam. Sebagian besar hiasan yang ada hanya berupa contoh dan model. Lalu, para musafir mengecap berbagai makanan hanya untuk sekedar mencicipi; bukan untuk kenyang. Karena itu, mereka tidak akan pernah puas. Kemudian setiap orang dengan tustel photonya mengambil berbagai gambar yang terdapat di tempat singgah
tadi. Para pelayan raja juga mengambil berbagai bentuk muamalah yang mereka lakukan dengan sangat cermat. Setiap hari Sang Raja menghancurkan sebagian besar hiasan yang mahal dan bernilai, untuk digantikan dengan hiasan lain guna diberikan kepada tamu yang baru datang. Dari sini dapat dipahami bahwa Pemilik tempat sementara tersebut tentu memiliki tempat yang mahal dan permanen, kekayaan yang bernilai dan tersimpan, serta kedermawanan yang agung. Dia ingin membuat mereka merindukan sesuatu yang telah dipersiapkan dan disimpan untuk mereka.
Selain itu, manusia juga dapat memahami bahwa dunia bukan tercipta dengan sendirinya dan untuk dirinya sendiri. Tetapi, ia merupakan tempat tinggal yang selalu diisi dan dikosongkan dengan datang dan pergi. Yang menempatinya adalah para musafir. Tuhan Yang Mahamulia mengajak mereka menuju negeri yang penuh kedamaian. Hiasan yang ada bukanlah untuk dinikmati dengan cara dikunjungi semata karena ia hanya bisa dinikmati sementara waktu yang ketika lenyap menghasilkan derita. Hiasan tadi juga mendatangkan selera, namun ia tidak pernah bisa memuaskan karena usianya dan usiamu yang sama-sama singkat. Namun, ia dicipta untuk dijadikan pelajaran, untuk disyukuri, dan untuk membuat manusia merindukan barang orisinalnya yang abadi dan mahal. Adapun hiasan di sini merupakan gambaran dan contoh dari apa yang Tuhan simpan di sorga bagi orang beriman. Semua ciptaan yang fana ini bukan untuk hilang begitu saja. Namun, ia berkumpul dalam waktu singkat untuk diambil gambar, contoh, dan substansinya sehingga terbentuk bayangan tentang pemandangan abadi untuk mereka yang layak kekal.
Di antara dalil yang menunjukkan bahwa sesuatu diciptakan untuk menjadi kekal; bukan fana, adalah bahwa sesuatu yang fana dilihat dari satu sisi memang lenyap; tetapi dari berbagai sisi yang tak terhitung banyaknya tetap kekal. Misalnya lihatlah bunga yang menatap kita dalam waktu singkat kemudian menghilang. Ia tampak ibarat kata yang hilang, namun dengan ijin Allah meninggalkan ribuan contoh serupa dalam sejumlah
pendengaran berikut maknanya di dalam akal manusia. Pasalnya, saat selesai bertugas, dalam memori kita, dalam memori setiap orang yang melihatnya, serta dalam benihnya di alam gaib ia meninggalkan berbagai gambaran dan maknanya. Sehingga seolah-olah memori setiap orang yang melihatnya merupakan kamera photo yang bisa merekam hiasan bentuknya dan tempat untuk kediaman abadinya. Demikian pula yang terjadi dengan pemilik ruh abadi lainnya yang jauh lebih mulia.
Manusia tidaklah tercipta dengan sia-sia yang boleh melakukan apa saja. Akan tetapi, seluruh gambaran amal perbuatannya direkam, ditulis, dan hasilnya diingat untuk kemudian dihisab. Musim gugur yang melenyapkan ornamen musim semi yang indah tidak lain merupakan tanda selesainya tugas, proses pengosongan untuk menerima utusan makhluk yang baru, sekaligus sebagai peringatan bagi yang lalai dan alpa. Pencipta alam ini memiliki alam lain yang abadi. Para hamba digiring dan dibuat merindukannya. Dia telah menyiapkan untuk mereka sesuatu yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak terdengar oleh telinga, serta tidak pernah terlintas oleh benak manusia.
{(Catatan-39): Abu Hurayrah r.a. meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa Allah berkata, "Aku telah menyiapkan untuk hamba-Ku yang salih sesuatu yang tak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia. Disebutkan, 'Manusia tidak mengetahui kenikmatan yang telah disediakan untuk mereka' (QS as-Sajadah: 17)," (HR Bukhari dan Muslim no. 2824).}
Apalagi Pengatur alam ini memiliki memori dan rekaman sempurna di mana baik yang kecil maupun yang besar dicatat semuanya dalam kitab yang jelas. Di antara kandungan isi kitab tersebut adalah aturan dan timbangan yang tampak. Kita bisa menyaksikan bahwa setiap yang usianya selesai seiring dengan berakhirnya tugas serta menghilang dari alam nyata ini, sejumlah gambarannya direkam oleh Sang Pencipta di lembaran catatan amal. Dia menuliskan sebagian besar sejarah kehidupannya dalam benih dan hasilnya. Dia menjaganya dalam beragam cermin, baik yang tersembunyi maupun yang tampak. Seolaholah
sebagian besar entitas ditugaskan untuk mengambil gambar berlangsungnya transaksi antar berbagai hal yang berada di sekitarnya.
Engkau bisa melihat memori manusia, buah pohon, biji buah, dan benih bunga guna memahami keagungan jangkauan sistem memori yang ada, meski pada makhluk yang cepat fana. Lalu bandingkan ia dengan kekuatan memori terhadap berbagai hal yang penting yang akan mendatangkan buah di alam gaib dan ukhrawi. Dari rekaman yang demikian sempurna dapat diketahui bahwa Pemilik semua entitas memiliki perhatian besar untuk mencatat semua yang terjadi dalam kerajaan-Nya. Dia Maha Teliti dalam menjalankan kekuasaan-Nya dan sangat rapi dalam rububiyah-Nya. Dia menulis kejadian, perbuatan, dan pelayanan yang terkecil sekalipun sekaligus memerintahkan untuk merekam semua yang terjadi dalam kerajaan-Nya. Rekaman tersebut menyiratkan, menjelaskan, dan bahkan mewajibkan adanya perhitungan. Terutama terkait dengan amal-amal terbesar dan terpenting yang dilakukan makhluk terbaik dan termulia; yaitu manusia. Pasalnya, manusia adalah saksi bagi seluruh aktivitas rububiyah Tuhan, bukti keesaan-Nya dalam berbagai wilayah, serta pengamat dan pemimpin tasbih alam. Serta masih banyak lagi sebab mengapa manusia dimuliakan dengan diberi amanah dan diangkat sebagai khalifah.
Kalaui demikian, "Apakah manusia mengira dirinya akan dibiarkan begitu saja,"
{(Catatan-40): Q.S. al-Qiyamah: 36.}
tanpa ditanya di hari esok? Tentu ia akan dihisab atas seluruh amal yang dilakukan. Kemudian ia akan pergi menuju mahsyar dan alam keabadian. Mahsyar dan kiamat bagi Tuhan adalah seperti musim semi dan musim gugur. Semua peristiwa masa lalu adalah mukjizat qudrat-Nya yang menjadi bukti bahwa Dia Mahakuasa atas segala kemungkinan di masa mendatang.
Apalagi, Pemilik alam ini telah berkali-kali berjanji bahwa Dia bisa menghadirkan kiamat dengan sangat mudah dan ringan, serta keberadaannya untuk makhluk dan hamba sangat penting
dan berharga. Sebaliknya, mengingkari janji tersebut sangat berlawanan dengan qudrat dan rububiyah-Nya. Mengingkari janji juga merupakan dampak dari kebodohan di samping ketidakberdayaan. Karena itu, mengingkari janji mustahil bagi Zat Yang Maha Mengetahui dan Mahakuasa. Menghadirkan mahsyar dengan segala peristiwa dan sorganya tidaklah lebih sulit daripada menghadirkan musim semi dengan segala perubahan dan kebunnya. Janji Allah sesuatu yang pasti berlaku sesuai dengan informasi para nabi dan kesepakatan semua wali. Perhatikan kekuatan janji Allah dalam ayat berikut,
Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang terjadinya tidak diragukan lagi. Siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah ?
{(Catatan-41): Q.S. an-Nisa: 87.}
Sungguh celaka manusia. Betapa ia sangat kufur dengan tidak mempercayai ucapan Zat yang seluruh entitas alam merupakan kalimat-Nya yang benar dan merupakan tanda kekuasaan-Nya yang menuturkan kebenaran. Manusia justru berpegang kepada ilusi, kebodohan diri, dan kebatilan setan. Kita berlindung kepada Allah dari sikap durhaka, kejahatan diri, dan setan.
Apalagi kita menyaksikan di alam ini sejumlah fenomena rububiyah yang tertata rapi dan abadi serta tanda kekuasaan-Nya yang kekal. Bayangkanlah keagungan Pemelihara alam ini dilihat dari kondisi bumi berikut makhluk yang menempatinya seperti hewan yang tunduk di bawah perintah-Nya di mana Dia yang menghidupkan dan mematikan serta Dia pula yang menumbuhkan dan menata. Demikian pula dengan matahari berikut planet-planet di sekitarnya yang dihamparkan dan diatur lewat qudrat kekuasaan-Nya di mana Dia yang menetapkan dan memutar. Padahal, pemeliharaan Allah yang abadi serta kekuasaan-Nya yang permanen dan bersifat komprehensif lewat penataan-Nya yang agung yang mencengangkan akal, keduanya tidak tegak di atas pilar-pilar yang cepat lenyap, lemah, dan
sementara. Keduanya juga tidak dibangun di atas dunia yang fana. Namun, dunia hanyalah ibarat lahan tempat membangun rumah yang bersifat sementara untuk menguji dan memperlihatkan. Setelah itu, ia dihancurkan dan diganti dengan istana abadi yang seluruh makhluk digiring kepadanya.
Karena itu, Zat Pemelihara alam yang fana ini pasti memiliki alam lain yang abadi dan permanen. Hal ini juga telah diberitakan oleh para pemilik jiwa yang bersinar, kalbu yang bercahaya, dan akal yang terang yang telah pergi ke alam hakikat dan masuk ke hadirat-Nya. Dia telah menyiapkan untuk orang-orang yang taat dan bermaksiat negeri untuk memberikan balasan. Di samping itu, Dia juga memberikan janji yang tegas dan ancaman yang kuat, sementara Dia tidak mungkin melanggar janji dan mustahil tak mampu mewujudkan ancaman-Nya. Selanjutnya para informan yang terdiri dari para nabi, orang-orang pilihan, serta mereka yang membidangi persoalan ini-dari madzhab dan aliran apapun adanya-telah sepakat dengan kebenaran informasi tersebut yang didukung oleh entitas lewat sejumlah tandanya. Karena itu, apa ada wahai manusia perkataan yang lebih benar daripadanya?! Adakah informasi yang lebih benar dan lebih haq daripada informasi di atas?!
Apalagi Pengatur alam ini pada setiap waktu-setiap hari, tahun, abad, dan dekade-memperlihatkan di permukaan bumi yang bersifat sementara ini begitu banyak contoh dari alam yang lebih besar dan lebih luas semacam itu berikut isyarat tentangnya. Engkau bisa memperhatikan bagaimana Dia menghidupkan bumi pada musim semi agar engkau dapat melihat sekitar adanya 300 ribu proses pengumpulan dan kebangkitan dengan sangat rapi hanya dalam waktu enam hari serta dengan sangat sempurna dan cermat, disertai makhluk yang mati yang jumlahnya tak terhitung yang tersebar di permukaan bumi. Zat yang melakukan semua itu bagaimana mungkin terhalang oleh sesuatu?! Bagaimana mungkin Dia tidak mampu menciptakan langit dan bumi dalam enam hari?! Bagaimana mungkin pengumpulan manusia tidak terwujud hanya dalam sekejap mata bagi-Nya?!
Ya. Zat yang menuliskan 300 ribu buku yang semua
hurufnya lenyap dalam lembar permukaan bumi dan bercampur dengan sangat sempurna, bagaimana mungkin Dia tak mampu menuliskan kembali lewat memori-Nya tulisan yang kedua, sementara Dia yang telah menulis pertama kali dan menghapusnya?! Dalam hal ini, Engkau bisa melihat ayat berikut,
Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Tuhan yang berkuasa seperti) demikian sangat (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
{(Catatan-42): Q.S. ar-Rūm: 50. }
Dari ayat di atas engkau bisa mengetahui hakikat dari perumpamaan ini. Dari semua itu dapat dipahami bahwa pertemuan dan perpisahan yang terlihat bukan merupakan tujuan karena tidak ada keselarasan antara seremoni penting itu dan buahnya yang fana di masa yang singkat. Akan tetapi, ia hanya merupakan perumpamaan agar berbagai gambarannya bisa direkam, disusun, dan hasilnya disimpan untuk kemudian berlanjut di tempat berkumpul yang lebih besar dan penyaksiannya terus berlangsung di galeri yang lebih jelas.
Dengan demikian, entitas yang fana tadi menghasilkan bentuk yang abadi, buah yang kekal, serta makna yang permanen. Dunia ini tidak lain merupakan ladang, tempat memanennya adalah mahsyar, serta tempat penyimpanannya adalah sorga dan neraka.
Apalagi, apabila Tuhan Yang Mahakekal dan Sang Penguasa Azali telah memperlihatkan di bumi yang fana ini tanda-tanda hikmah yang cemerlang, perhatian yang tampak jelas, keadilan yang yang sangat tinggi dan berharga, kasih sayang yang luas dan mencakup sehingga orang yang memiliki mata yang sehat dan kalbu yang sempurna akan mengetahui bahwa tidak mungkin ada yang lebih sempurna daripada hikmah-Nya, lebih indah daripada perhatian-Nya, lebih mencakup daripada kasih sayang-Nya, serta lebih agung daripada keadilan-Nya.
Andaikan di wilayah kerajaan-Nya tidak terdapat tempat yang abadi, kediaman yang berharga, asrama yang kekal guna menjadi bukti yang memperlihatkan hakikat hikmah, perhatian, kasih sayang, dan keadilan-Nya, tentu orang yang berakal akan mengingkari hikmah di atas, orang yang memiliki mata hati akan mengingkari perhatian-Nya, orang yang memiliki kalbu akan mengingkari kasih sayang-Nya, serta orang yang memiliki akal pikiran akan mengingkari keadilan-Nya. Sementara di sisi lain ia mengakui keberadaan Pemilik perbuatan yang penuh hikmah, kasih sayang, mulia, dan adil ini. Sungguh ini sangat tidak mungkin, sangat bodoh, main-main, zalim, dan penipu. Berbagai hakikat kebenaran akan berbalik. Ini tentu saja mustahil bagi semua orang berakal; bukan bagi orang tidak waras yang yang mengingkari keberadaan sesuatu; bahkan dirinya sendiri. Siapa yang tidak percaya berarti lebih dungu dari Habannaqa (si pandir) yang tidak mengenal kecuali dirinya dan itupun lewat topi miliknya; sehingga ketika topi tersebut dipakai orang ia mengira orang itu adalah dirinya. Pandangan orang yang ingkar sama seperti topi milik si pandir itu.
Wahai yang terus membaca permasalahan ini dari awal, jangan mengira bahwa dalilnya hanya terbatas pada apa yang telah disebutkan. Namun, Alquran Yang penuh hikmah telah menerangkan berbagai dalil yang tak terhitung banyaknya bahwa Sang Pencipta akan memindahkan kita dari negeri yang bersifat sementara ini menuju pusat kekuasaan rububiyah-Nya yang bersifat abadi. Alquran juga menjelaskan sejumlah petunjuk yang tak terhingga banyaknya bahwa Dia akan mengganti kerajaan ini dengan kerajaan yang kekal di sana.
Jangan mengira nama-nama Allah yang mengonsekwensikan keberadaan akhirat dan mahsyar hanya terbatas pada al-Hakīm (Yang Maha Bijaksana), al-Karīm (Yang Mahamulia), ar-Rahīm (Yang Maha Penyayang), dan al-Hafīzh (Yang Maha Menjaga). Akan tetapi, seluruh nama yang tampak dalan pengaturan alam memang mengonsekwensikan keberadaan akhirat.
Sebagai kesimpulan, permasalahan hari akhir merupakan permasalahan yang telah sama-sama ditegaskan oleh:
Zat Yang Mahabenar lewat keindahan, keagungan, dan seluruh nama-Nya;
Alquran yang terang yang mengandung kesepakatan semua kitab suci para nabi, wali, dan orang-orang suci;
Makhluk paling sempurna, Muhammad saw, yang tepercaya, penggenggam rahasia kesepakatan seluruh jiwa yang bersinar, yang suci, dan tinggi, dari kalangan rasul, nabi, ahli kasyaf, dan kalangan shiddiqin;
Alam berikut seluruh tanda dan alamatnya sehingga masing-masing entitas memiliki dua sisi: sisi yang menatap Penciptanya di mana ia memiliki banyak lisan yang mengakui dan memperlihatkan keesaan-Nya; serta sisi lain yang menatap tujuan dan hari akhir. Sisi ini juga memiliki banyak lisan yang menjelaskan dan memperlihatkan keberadaan negeri akhirat.
Contohnya, sebagaimana dirimu dengan keberadaanmu dalam bentuk terbaik menunjukkan eksistensi Penciptamu, ketiadaanmu dengan begitu cepat di samping keseluruhan potensimu untuk abadi juga menunjukkan eksistensi akhirat.
Kedua sisi tersebut kadangkala bertemu. Misalnya, sebagaimana hikmah yang demikian rapi, perhatian yang demikian indah, kasih sayang yang sangat lembut, keadilan yang begitu seimbang menunjukkan keberadaan Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana, Mahamulia, Maha Penyayang, Mahaadil, dan Maha Menjaga, ia juga menunjukkan kebenaran akhirat, dekatnya kiamat, dan realisasi kebahagiaan.
Ya Allah masukkan ke dalam golongan yang bahagia.
Kumpulkan kami dalam kelompok mereka yang bahagia.
Serta masukkan kami ke dalam sorga bersama mereka yang taat dengan syafaat nabi-Mu.
Limpahkanlah salawat dan salam kepada beliau dan keluarganya
sesuai dengan rahmat-Mu dan kehormatannya.
Selamatkan agama kami. Amin.