Risale-i Nur Külliyatı [email protected]

Risalah Kelima

1 dilihat
171

Butir Lautan Alquran Yang Penuh Hikmah

Allah Yang Maha Pemurah membeli milik-Nya darimu sekaligus menjaganya untukmu.

Ia telah diberi harga yang mahal.

{(Catatan-82): Risalah ini dicetak pertama kali di percetakan Ali Syukri, Ankara tahun 1341 H (1923 M).}

Bismillāhirrahmānirrahīm

Salawat dan salam semoga tercurah kepada pemimpin para rasul, serta kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.

Ketahuilah wahai mukmin yang melaksanakan salat dan berzikir. Apabila engkau mengucap, "Asyhadu allā ilāha illallāh (aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah)" atau "Muhammadur Rasūlullāh (Muhammad adalah utusan Allah)" atau "Al-hamdu lillāh (segala puji milik Allah)" berarti engkau telah menetapkan dengan satu ketentuan, menyatakan satu pengakuan, serta memproklamirkan sebuah keyakinan di mana semua itu ketika kau ucapkan disaksikan oleh jutaan makhluk. Sebelummu juga terdapat milyaran mukmin yang mengucapkan hal sama seolah-olah membenarkanmu. Pengakuan dan kesaksianmu itu juga

172

diperkuat, ditetapkan, dan disucikan oleh setiap yang tegak di atas kebenaran Islam, serta oleh semua yang menguatkan ketentuannya, dan setiap petunjuk, argumen, dan dalil yang menjadi sandaran istana Islam.

Telah bercampur dan terkumpul dalam ucapanmu persoalan agung, kebaikan berlimpah yang bersumber dari anugerah dan keberkahan suci mulia. Ucapanmu bersambung dengan makna dan ruh yang bersumber dari percikan ketaatan sebagian besar mukmin serta percikan sesapan kalbu ahli tauhid yang meminum air kehidupan dari sumber kata-kata yang penuh berkah.

Ketahuilah bahwa dalam ushul terdapat kaidah yang berbunyi, "Sesuatu yang ditetapkan lebih didahulukan daripada yang menafikan." Sebabnya adalah karena penafian terbatas pada tempatnya, sementara penetapan lebih luas. Andai seribu dinafikan dan seribu lagi ditetapkan, maka masing-masing dari yang telah ditetapkan senilai seribu. Alasannya, kalau seseorang melihat matahari dari lampion, sementara yang lain melihat dari media yang lain. Demikian seterusnya. Masing-masing menguatkan yang lain karena kesamaan objek yang dilihat, sedangkan alat untuk melihatnya banyak. Apabila seseorang tidak bisa melihat karena tidak ada lampu atau lentera, yang lain karena matanya lemah, serta lain lagi karena memang tidak melihat, dan demikian seterusnya, maka kekuatan masing-masing hanya terdapat dalam dirinya. Adapun peniadaan tidak menunjukkan peniadaan pada urusan yang sama. Yang satu tidak menguatkan yang lain lantaran perbedaan sebab disertai keragaman pengakuan. Peniadaan bagi orang yang menafikannya terikat dengan "menurut pandanganku" misalnya.

Jika engkau memahami alasan di atas, ketahuilah bahwa kesepakatan golongan sesat dan kafir dalam menafikan salah satu persoalan iman sangat tidak berpengaruh. Namun, ia dianggap satu. Selain itu, argumennya lemah terbatas pada yang menafikan saja. Adapun kesepakatan kelompok yang mendapat petunjuk dalam sejumlah persoalan iman, masing-masing saling menguatkan seolah-olah semuanya menjadi saksi bagi masing-masing.

173

Ketahuilah bahwa sebagaimana sejumlah bagian dan bebatuan dalam bangunan yang kokoh masing-masing bersandar kepada kekuatan keseluruhan sehingga kelemahan seluruhnya lenyap karena semuanya saling menopang. Seakan-akan semua merupakan penolong bagi setiap bagian. Di samping itu, sebagaimana ranting dan buah yang terdapat di pohon pengenalan sifat masing-masingnya bersandar kepada keseluruhannya, maka keseluruhan tadi memperkenalkan kepada semua. Setiap bagian ibarat teropong bagi yang lain. Terdapat standar untuk mengenalinya. Rincian kilau iman dan Islam berikut permasalahan keduanya masing-masing juga bersandar kepada kekuatan keseluruhan. Dengan bertambahnya rincian dan bagian, pemahaman setiap bagian, kuatnya pengenalan setiap bagian, ketundukan terhadap semua ketentuan, serta keyakinan terhadap setiap masalah menjadi semakin jelas. Namun demikian, nafsu setani memantul dan terpantul. Ia menyangka lemahnya satu bagian menjadi sebab bagi lemahnya keseluruhan.

Ketahuilah bahwa setiap bagian dari keseluruhan alam adalah satu jika diukur dengan berbagai kemungkinan yang terdapat pada seluruh bagian. Sebaliknya, seluruh bagian dari entitas alam merupakan standar bagi berbagai kemungkinan di mana kesemuanya menjelaskan untuk keseluruhan.

Ketahuilah bahwa bagian terkecil dari sesuatu yang paling besar membutuhkan apa yang dibutuhkan oleh sesuatu yang besar tadi. Buah membutuhkan apa yang dibutuhkan oleh pohon. Pencipta buah; bahkan sel-selnya, tentu merupakan Pencipta pohon itu pula. Bahkan, Dia adalah Pencipta bumi dan Pencipta pohon penciptaan.

Ketahuilah bahwa persoalan yang kedua sisinya demikian jauh, di mana setiap sisinya ibarat benih yang mengeluarkan bulir, pohon, dan cabang, maka ia tidak boleh diragukan. Ketidakjelasan satu benih dengan benih yang lain menjadi wajar jika benih tersebut masih berupa benih yang terbungkus. Namun, kalau ia sudah menjadi pohon dan mengeluarkan buah lalu engkau meragukan jenis benihnya, buah itulah menjadi saksi atasnya. Andaikan engkau menganggap itu sebagai benih lain,

174

buah tadi menyanggah anggapanmu.

Misalnya, bagaimana mungkin engkau bisa menerima benih yang berubah menjadi pohon apel dianggap sebagai benih labu kecuali hal itu hanya anggapan kosong belaka. Atau, semua unsur untuk menghasilkan buah apel diganti dengan labu. Ini tentu saja mustahil.

Kenabian merupakan benih yang menumbuhkan pohon Islam lewat bunga dan buahnya. Alquran merupakan mentari yang membuahkan rukun-rukun Islam yang berjumlah sebelas.

{(Catatan-83): Maksudnya lima rukun Islam dan enam rukun iman. Apa benih tadi masih diragukan setelah ia menjadi buah yang matang?! Tentu saja tidak.}

Ketahuilah bahwa orang yang melihat telur yang mengeluarkan burung yang tumbuh sempurna dan terbang di udara, kalau ia mencari sejumlah kehebatan burung yang sedang terbang di angkasa seperti yang ia dengar lewat kulit kering tadi, tentu ia sulit menerima dan tidak percaya. Demikian pula kalau ia melihat terbelahnya benih yang kemudian mengeluarkan pohon yang tumbuh sempurna, berbuah, dan mengeluarkan cabang hingga tinggi ke atas. Kalau ia mencari keagungan pohon berikut buah dan bunganya seperti yang ia dengar lewat kulit yang terhampat di tanah tentu ia tidak percaya.

Hal yang sama berlaku pada orang yang melihat gambaran sejarah dari kemunculan pertama Nabi Muhammad saw secara materil dan artifisial. Ia akan sulit menerima, memberikan penilaian padanya, serta mengenali kepribadiannya. Namun, ia harus melihat pada riwayat sejarah dan sejarah perjalanan beliau seperti melihat kulit halus yang mengeluarkan sosok seperti bulan di angkasa. Ia juga harus melihat berbagai sifat manusia dan gambaran fisik yang melekat pada beliau sebagaimana benih yang mengeluarkan pohon Muhammad yang disiram dengan air curahan ilahi. Pohon tersebut tumbuh dengan karunia Tuhan sepanjang masa. Setiap kali ada salah satu keadaan dan gambaran awal yang ia dengar, pikirannya tak boleh terkungkung oleh gambaran tersebut. Namun, ia harus segera mengangkat kepala menuju sesuatu yang ujungnya tak diketahui.

175

Selanjutnya di antara yang menyimpangkan pandangan, terutama pandangan orang yang ragu dan bimbang, adalah bahwa ia tidak membedakan antara sumber dan penampakan, antara rujukan dan pantulan, antara makna dan bentuk formal, antara bentuk hakiki dan manifestasi. Kondisi Nabi saw. sebagai hamba dan makhluk Allah yang paling tunduk kepada-Nya, beliau harus dilihat sebagai bentuk lahir dan pantulan dari manifestasi Allah Swt. Berbagai kesempurnaan yang beliau miliki berasal dari curahan karunia Allah Swt.

Ya, kami telah berkali-kali menyebutkan bahwa partikel tidak bisa menampung sumber meski hanya kepala seekor lalat. Namun, ia bisa menampung wujud lahiriah meski berupa bintang di langit. Pandangan yang lalai pertama-tama dan dengan substansinya melihat kepada Zat yang paling mulia yang menjadi sumber segala sesuatu. Maka, ia menganggap ciptaan ilahi sebagai karakter taghut.

Ketahuilah bahwa doa merupakan contoh rahasia tauhid dan ibadah. Pasalnya orang yang berdoa dengan suara pelan pasti yakin bahwa Zat yang dipinta mendengar bisikan jiwanya dan berkuasa mengabulkan permintaannya. Sebagai implikasinya terdapat keyakinan bahwa Zat yang dipinta Maha Mengetahui segala sesuatu dan Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ketahuilah bahwa matahari sebagai lentera alam bisa masuk ke dalam penglihatan lalat lewat manifestasi-Nya sehingga bersinar. Sementara percikan api tidak bisa masuk ke dalam matanya. Kalaupun masuk tentu mata akan langsung padam. Jadi, wujud lahiri setiap partikel bisa bahkan wajib menjadi manifestasi dari nama-nama mentari azali. Partikel tersebut tidak mungkin menjadi sumber stimulus yang sebenarnya meski lebih kecil daripada atom.

Ketahuilah wahai "aku" yang keras kepala dan sombong! Perhatikan tingkat kelemahan, ketidakberdayaan, dan kepapahanmu. Virus yang hanya bisa dilihat kalau diperbesar beberapa kali bisa membuatmu jatuh tersungkur.

Ketahuilah bahwa di antara tanda kecilnya manusia adalah bagaimana ia berputar di dalam atom memorinya. Sementara

176

atom tersebut ibarat padang luas yang tak mampu ia lewati. Ukurlah tingkat kelemahan makhluk yang terus berjalan tapi tak mampu melewati putaran atom itu. Padahal atom memori tadi ibarat padang luas di atas akal manusia. Sementara akal tersebut seperti laut yang menelan dunia. Mahasuci yang menjadikan atom pada akal manusia seperti dunia, serta menjadikan dunia seperti atom.

Ketahuilah bahwa di antara bentuk kezaliman manusia yang paling hebat adalah memberikan hasil usaha satu komunitas kepada seseorang karena menyangka bersumber darinya. Akhirnya kezaliman ini melahirkan syirik yang samar. Sebab, anggapan bahwa hasil upaya kolektif tersebut berasal dari pribadi hanya terwujud dengan adanya anggapan bahwa pribadi tadi memiliki kemampuan luar biasa hingga bisa mencipta. Tuhan-tuhan bangsa Yunani dan paganis lahir dari berbagai konsep setan yang gelap semacam itu.

Ketahuilah bahwa manusia ibarat sejumlah lingkaran yang saling menyatu dalam satu titik. Dalam satu lingkaran terdapat pakaiannya yang berupa fisiknya. Pada lingkaran lain terdapat negerinya. Pada lingkaran lain terdapat permukaan bumi. Pada wilayah lain terdapat alam yang tampak ini. Dan demikian seterusnya. Akan tetapi, yang memberikan pengaruh kepadanya hanya lingkaran yang kecil, sementara yang lain sangat lemah dan hanya bisa menerima limpahan karunia saja. Kalaupun ia berusaha melakukan sesuatu, maka hanya sebatas merubah bentuk anugerah tadi dengan cara yang tidak sempurna yang merupakan bentuk ketiadaan.

Ketahuilah bahwa Allah menciptakan manusia dalam susunan yang menakjubkan. Ia satu dalam banyak, sederhana tetapi kompleks, tunggal tetapi berupa komunitas. Ia memiliki organ, indera, dan perangkat halus. Masing-masing memiliki rasa sakit dan nikmat sebagai respon dari keseluruhan dan pengaruh saudara-saudaranya. Hal itu dibuktikan dengan cepatnya kerjasama di antara mereka. Di antara hikmah penciptaan tersebut, Dia menjadikan manusia sebagai makhluk yang memperlihatkan berbagai bentuk kenikmatan, karunia, dan kesempurnaan;

177

terutama di akhirat, jika menempuh jalan penghambaan. Dia juga menjadikannya sebagai tempat bagi berbagai jenis derita, siksa, dan bencana jika tersesat di jalan egosime. Sakit yang diderita gigi berbeda dengan sakit yang diderita telinga. Kenikmatan mata berbeda dengan kenikmatan lisan. Demikian pula dengan sentuhan, khayalan, akal, dan kalbu.

Ketahuilah bahwa banyaknya manfaat dari tidak ditentukannya ajal merupakan bukti yang sangat jelas bahwa ia sudah ditentukan dalam pengetahuan Tuhan. Andaikan sudah ditentukan, pasti akan muncul anggapan bahwa penentuannya telah diserahkan kepada hukum alamiah. Namun, karena tidak demikian maka anggapan bahwa ia tidak ditentukan oleh Tuhan tidaklah benar.

Ketahuilah bahwa zikir termasuk di antara syiar. Sementara syiar tidak boleh bercampur dengan riya.

Ketahuilah bahwa pengulangan kalimat tauhid adalah untuk memurnikan kalbu dari berbagai sangkutan dan berbagai sesembahan batil. Pasalnya dalam diri orang yang berzikir terdapat perangkat halus dan tingkatan indera. Masing-masing memiliki tauhid dan bentuk pemurnian dari syirik yang sesuai dengannya.

Ketahuilah bahwa surat al-fatihah yang dibaca misalnya tidak berbeda antara pemberian pahalanya kepada satu orang, kepada ribuan orang, dan kepada jutaan orang. Ia seperti kata yang terucap, sama saja apakah didengar oleh satu atau ribuan orang. Hal ini lantaran rahasia halus yang terdapat dalam proses kloning yang demikian cepat sama seperti lentera yang bisa diterima oleh satu cermin atau ribuan cermin.

Ketahuilah bahwa salawat dan salam kepada Nabi saw. merupakan respon dari seruan Tuhan yang telah mencurahkan nikmat-Nya dan menghamparkan hidangan karunia-Nya atas kedudukan sosok yang dimikrajkan itu. Apabila orang yang bersalawat membayangkan satu sifat Nabi, ia harus memperhatikan kondisi sifat tersebut agar muncul kerinduan untuk kembali bersalawat kepada beliau.

Ketahuilah wahai ulama, janganlah bersedih dengan

178

keengganan dalam melaksanakan dan sedikitnya upah yang didapat. Pasalnya, ganjaran ukhrawi tidak boleh ditukar dengan kenikmatan menipu yang sangat murah.

{(Catatan-84): Simpanlah milikmu yang istimewa untuk mendapat pahala ukhrawi. Jangan kau pergunakan ia untuk kenikmatan dunia yang tidak berarti apa-apa.}

Ketahuilah wahai penulis dan penceramah yang berdakwah lewat koran, engkau harus bersikap rendah hati serta melihat kekurangan yang ada. Engkau tidak boleh menyimpang dan menulis sesuatu yang bertentangan syiar Islam. Dari mana engkau mendapat ijin dan dengan hak apa engkau memperlihatkan kekurangan agama,

{(Catatan-85): Yakni dengan menyebarkan berbagai syubhat dan keragu-raguan yang tidak benar tentang agama.}

bahkan propaganda sesat yang merugikan agama dan umat. Engkau mengira umat tersesat seperti dirimu?! Siapapun tidak boleh berbuat zalim kepada orang lain bahkan kepada saudaranya. Dari mana engkau mendapat ijin untuk memanipulasi sebagian besar umat Islam dengan berburuk sangka kepada mereka dengan memalingkan mereka dari syiar Islam. Tentu saja menyebarkan hal-hal baru di koran yang tidak bisa diterima oleh sebagian besar mukmin merupakan bentuk seruan kepada kesesatan. Orang yang menyebarkannya berarti mengajak kepada kesesatan. Ia tidak hanya harus ditutup mulutnya; bahkan tangannya harus diikat kuat.

Ketahuilah bahwa orang-orang kafir; apalagi orang Eropa; terutama setan-setan yang berada di Inggris dan Iblis yang berada di Perancis merupakan musuh penentang abadi bagi kaum muslimin dan ahlul quran. Alquran telah menetapkan orang yang mengingkari Alquran dan Islam serta para orang tua dan nenek moyang mereka untuk dibinasakan selamanya. Mereka harus dibinasakan selamanya serta ditahan di neraka jahannam sesuai dengan bunyi nash Alquran. Karena itu, wahai kaum penggenggam Alquran, mengapa kalian memberikan loyalitas kepada orang yang yang tidak mungkin loyal dan berbuat baik kepada kalian?! Ucapkanlah,

179

Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung.

{(Catatan-86): Q.S. Ali Imran: 173.}

Dia adalah Sebaik-baik pelindung dan Sebaik-baik penolong.

{(Catatan-87):Q.S.al-Anfal:40}

Ketahuilah, perbedaan antara peradaban kafir dan peradaban mukmin adalah bahwa yang pertama berisi keterasingan yang secara lahiriah indah namun isinya buruk. Bentuknya menarik, tetapi bagian dalamnya menakutkan. Adapun peradaban mukmin bagian dalamnya lebih indah daripada bagian luarnya. Substansinya lebih sempurna daripada tampilannya. Ia berisi sesuatu yang damai, cinta, dan tolong-menolong. Sebabnya adalah karena orang mukmin dengan rahasia iman dan tauhid melihat adanya persaudaraan antara entitas alam serta kecintaan antar bagiannya; terutama antar manusia; khususnya antar orang beriman. Persaudaraan tersebut terwujud pada pondasi, permulaan, dan masa lalu di mana terus berlangsung sampai akhir dan hasilnya terlihat di masa mendatang. Sementara orang kafir dengan kekufurannya merasa terasing, terkucil, bahkan memusuhi semua yang dianggap tidak bermanfaat baginya; bahkan dengan saudaranya. Ia tidak melihat adanya persaudaraan kecuali sebagai titik sambung antara perpisahan azali dan perpisahan abadi. Namun dalam bentuk fanatisme suku dan kelompok persaudaraan tersebut untuk sementara waktu demikian kuat. Itupun, saat mencintai saudaranya yang ia cintai sebetulnya adalah dirinya sendiri. Berbagai kebaikan manusiawi dan ketinggian spiritualisme yang terlihat pada peradaban kafir merupakan resapan dari peradaban Islam, pantulan dari petunjuk Alquran, dan sisa-sisa dari kilau agama samawi.

Engkau bisa memperhatikan majelis Sayda

{(Catatan-88): Gelar yang diberikan utnuk saudara tua. Maksudnya adalah wali terkenal yang berada di tenggara Turki.}

-semoga Allah membersihkan jiwanya-di daerah Nursyin berikut peradaban Islam yang terlihat lewat persahabatannya yang mulia.

180

Engkau akan melihat di dalamnya sejumlah raja yang berpakaian seperti orang miskin dan malaikat berpakaian seperti manusia. Kemudian pergilah ke Paris. Masuklah ke lembaga yang diisi oleh orang-orang ternama di sana. Engkau akan melihat sejumlah kalajengking yang berpenampilan seperti insan serta jin ifrit yang tampil dalam bentuk manusia. Aku telah menjelaskan sejumlah perbedaan antara peradaban Alquran dan peradaban modern dalam al-lawāmi' (kilau cahaya) dan as-sānihāt (kesempatan). Merujukan ke sana pasti akan ditemukan sebuah persoalan penting yang sering diabaikan manusia.

Ketahuilah wahai yang berusaha berijtihad dalam berbagai persoalan agama di masa kini, pintu ijtihad selalu terbuka. Hanya saja engkau tak bisa memasukinya lantaran enam hal:

Pertama, hembusan angin kencang di musim dingin membuat seluruh jendela tertutup. Karena itu, bagaimana ia bisa terbuka? Ketika berbagai kemungkaran dan bid'ah sudah mengepung, lalu sejumlah faktor yang merusak senantiasa menyerang, tembok-tembok tidak bisa dibuka.

Kedua, berbagai kewajiban agama yang tidak boleh menjadi objek ijtihad di mana ia ibarat nutrisi dan makanan kaum muslim telah banyak diabaikan. Karena itu, hendaknya seluruh tekad yang ada diarahkan untuk menegakkan, melaksanakan, dan menghidupkannya. Kemudian sesudah terjadi bencana baik sakala besar maupun kecil, terasa ada kebutuhan untuk berijtihad dalam berbagai pandangan yang berkembang lewat ijtihad para salaf sesuai dengan kebutuhan setiap masa.

Ketiga, setiap masa memiliki kesenangan yang diminati. Berbagai kecenderungan serta pemikiran diarahkan kepadanya. Misalnya di masa kini adalah persoalan politik dan jaminan kehidupan dunia, sementara di masa lalu adalah pengambilan kesimpulan hukum tentang hal-hal yang disenangi oleh Tuhan lewat firman-Nya dan jaminan kebahagiaan abadi. Karena pikiran, kalbu, dan jiwa pada sebagian besar masyarakat di masa lalu mengarah kepada bagaimana mengenali sesuatu yang Allah ridhai, maka setiap orang yang memiliki potensi bagus kalbu dan fitrahnya terus belajar dari semua kondisi dan peristiwa yang

181

terjadi di waktu itu seolah-olah semuanya mengajarkan fitrahnya untuk memiliki kesiapan untuk berijtihad. Sehingga seolah-olah minyak otaknya sudah terang meski tidak tersentuh dengan api usaha. Jika bergegeas melakukan ijtihad ia menjadi cahaya di atas cahaya. Adapun pada saat ini karena pikiran dan kalbu sudah tercerai-berai, juga perhatian dan orientasi sudah terbagi, lalu masalah politik dan filsafat sudah menguasai otak, maka orang yang kecerdasannya seperti Sufyan ibn Uyaynah

{(Catatan-89): Lahir di Kufah tahun 107 H dan meninggal tahun 198 H di Mekkah al-Mukarramah. Ia merupakan imam, ulama, hujjah, yang zuhud dan wara'. Hadist dan riwayat yang berasal darinya dianggap sahih. Ia berhaji sebanyak tujuh puluh kali. Pernah berjumlah dengan delapan puluh sekian tabiin. Ia mengambil riwayat dari az-Zuhri, as-Sab'iy, Ibn al-Munkadir, Abi az-Zinad, Ashim al-Muqrini, al-A'masy, Abdul Malik ibn Umayr dan tokoh ulama lainnya. Tokoh yang mengambil riwayat darinya adalah Imam Syafii, Syu'bah, Muhammad ibn Ishaq, Ibn Juraij, Ibn Bakkar berikut pamannya, Mush'ab, ash-Shan'ani, Yahya ibn Aktsam, serta masih banyak lagi tokoh yang lain. (Ringkasan dari Wafayāt al-A'yān karya Ibnu Khalikan 2/391-393). }

misalnya baru bisa menghasilkan ijtihad dengan membutuhkan sepuluh kali lipat waktu yang dihasilkan oleh ijtihadnya Sufyan. Pasalnya Sufyan sudah mulai melakukan hal tersebut sejak awal sehingga memiliki kesiapan seperti korek api. Adapun yang lain karena berbagai hal yang telah disebutkan kesiapannya terpecah lantaran bergelut dengan banyak disiplin ilmu modern sehingga sulit untuk berijtihad.

Keempat, kecenderungan untuk memperluas dan berijtihad jika memang dilakukan dengan benar dalam ruang lingkup kesempurnaan Islam yang disertai sikap takwa sempurna dan pengamalan berbagai kewajiban, maka kecenderungan tersebut sempurna dan menyempurnakan. Adapun jika ia dilakukan oleh orang yang mengabaikan kewajiban serta lebih mengutamakan kehidupan dunia daripada akhirat, maka kecenderungan tersebut akan merusak dan menjadi sarana untuk melepas beban dari pundaknya.

Kelima, kemaslahatan adalah hikmah pilihan, bukan lantaran sebab untuk penentuan hukum. Sementara, pandangan masa kini merubah maslahat menjadi sebab penetapan hukum.

182

Jadi, pandangan masa kini pertama-tama mengarah kepada kebahagiaan dunia, padahal pandangan syariat pertama-tama mengarah kepada kebahagiaan akhirat. Baru sesudah itu kepada dunia sebagai sarana menuju akhirat. Demikianlah, sebagian besar persoalan yang dihadapi manusia dan menjadi persoalan umum sehingga termasuk dalam kebutuhan dasar muncul dari pilihan yang keliru dan berasal dari kecenderungan yang tidak benar. Sama halnya dengan orang yang mabuk karena meminum khamar, tindakannya di saat mabuk tidak bisa dimaafkan. Nah, ijtihad dalam cara pandang semacam ini menjadi bersifat duniawi, bukan samawi. Memasuki wilayah hukum Tuhan Pencipta langit dan bumi serta hamba-Nya tanpa ijin-Nya merupakan tindakan terlarang.

Misalnya sebagian orang yang lalai memandang bagus khutbah dengan bahasa Turki untuk memberikan pemahaman politik modern kepada sebagian besar kaum muslimin. Orang yang lalai dan malang ini tidak menyadari bahwa politik modern dengan begitu banyak kebohongan, manipulasi, dan perilaku setani di dalamya telah menjadi seperti bisikan setan. Karena itu, ia tidak layak naik ke posisi penyampaian wahyu. Selain itu, orang bodoh ini juga tidak mengetahui bahwa sebagian besar umat perlu disadarkan pada berbagai kewajiban, perlu diingatkan kepada hal-hal aksiomatik, dan dimotivasi untuk melaksanakan berbagai hakikat yang telah dikenal di antara kaum mukmin, seperti rukun iman, rukun Islam, serta tingkatan ikhlas dan ihsan. Dengan banyak mendengar maka kalangan awam dan ulama sama-sama ingat dan perhatian dalam mendengar Alquran. Pasalnya, mereka memahami maksudnya secara umum, meski tidak mengetahui maknanya. Selanjutnya, orang yang lalai itu juga tidak memahami kalau khutbah dengan bahasa Arab merupakan stempel langit yang dipasang dan dihiaskan di langit persatuan Islam. Namun, dengan dirubah ia akan menjadi tato yang memecah belah dan merusak.

{(Catatan-90): Alasan keenam ini disebutkan secara implisit di sini, namun dijelaskan secara panjang lebar dalam kalimat kedua puluh tujuh}

183

Ketahuilah wahai yang dikepung oleh kelalaian dan gelapnya alam materi sehingga menjadi buta dan tuli dengan menyembah sebab dalam kegelapan alam ilusi! Aku akan menerjemahkan untukmu salah satu dari lima puluh lima lisan yang diungkap oleh setiap konstruksi alam dan partikelnya sebagai saksi atas keberadaan Allah Swt dan keesaan-Nya dalam uluhiyah dan rububiyah-Nya.

{(Catatan-91): Aku telah menyebutkan seluruh lisan tersebut secara global dalam qatharah (tetesan). Adapun di sini hanya penjelasan mengenai satu lisan saja. Penulis.}

Yakni bahwa keguncangan jiwa dan akal pikiran yang bersumber dari kesesatannya yang diakibatkan oleh pengingkarannya karena rasa ragu dan tidak percaya terletak pada sikap menisbatkan sesuatu kepada dirinya serta kepada berbagai sebab lain. Hal ini membuat jiwa dan akal akhirnya berlari menuju Tuhan Yang wajib ada dan esa yang dengan kekuasaan-Nya muncul penjelasan tentang semua persoalan rumit, dengan kehendak-Nya terbukalah semua yang tadinya terkunci, dan dengan berzikir mengingat-Nya hati menjadi tenang.

Jika engkau membuktikannya, lihat kepada keseimbangan berikut. Yaitu bahwa seluruh entitas pelakunya bisa sesuatu yang mungkin dan banyak, atau Zat Yang wajib ada dan esa. Anggapan berat, aneh, dan mustahil yang muncul akibat keterbatasaan pandangan ketika menisbatkan sesuatu kepada Wajibul wujud justru menjadi benar ketika menisbatkannya kepada sesuatu yang banyak. Sesuatu yang disangka di sana justru terwujud di sini. Kemudian kondisi berat, aneh, dan mustahil tersebut ikut bertambah dengan semakin bertambahnya jumlah bagian entitas padahal. Sementara ketika semua dinisbatkan kepada Allah, berarti menisbatkan sesuatu yang banyak tak terhingga kepada Zat yang satu yang substansinya berbeda. Sebaliknya, menisbatkan kepada yang banyak berarti menisbatkan sesuatu yang satu kepada banyak tak terhingga yang substansinya sama. Sebagai contoh lebah. Kalau ia dinisbatkan kepada Tuhan, tentu langit dan bumi juga ikut serta menghadirkannya karena ia terkait dengan pilar-pilar alam. Kemunculan sesuatu yang banyak dari sesuatu yang satu jauh lebih mudah ketimbang jika

184

sesuatu yang satu berasal dari sesuatu yang banyak yang sama-sama buta dan tuli yang berbaurnya mereka hanya menambah buta dan tuli. Selain itu, jika beban yang ada dalam penisbatan pertama itu hanya seberat atom, maka dalam penisbatan yang kedua bisa seberat gunung. Pasalnya, Zat yang esa dengan satu perbuatan menghasilkan banyak, sementara jika penisbatan dialihkan kepada sesuatu yang banyak, maka hasil tadi sulit terwujud. Ia baru tercapai dengan begitu banyak proses dan beban yang berat. Sama seperti pimpinan bersama pasukannya, mata air dan tetesannya, sentral dan titik wilayahnya.

Di samping itu, sikap menganggap aneh dan mustahil pada penisbatan yang pertama akan berbalik pada penisbatan yang kedua menuju kemustahilan berantai.

Di antara bentuk kemustahilan tersebut adalah anggapan adanya sifat-sifat Tuhan pada setiap partikel. Sebab, kesempurnaan penciptaan mengharuskan adanya pengetahuan yang komprehensif, penglihatan yang mutlak, kekuasaan yang sempurna, dan kehendak yang menyeluruh.

Di antaranya pula hayalan adanya sejumlah sekutu yang jumlahnya tak terhingga dalam hal uluhiyah yang sama sekali tidak menerima persekutuan. Pasalnya, jika sesuatu tidak dinisbatkan kepada Zat yang wajib ada, berarti setiap sesuatu harus memiliki banyak tuhan.

Lalu asumsi bahwa setiap partikel mengontrol keseluruhan sekaligus dikontrol oleh keseluruhan. Sama seperti batu dalam bangunan yang rumit. Andaikata keberadaan pembangunnya disanggah, berarti setiap batu ibarat pembangun yang memiliki pengetahuan dan mengerti arsitektur. Pasalnya, tatanan, keteraturan, kerapian, dan keberadaan sejumlah hikmah tidak menerima adanya proses kebetulan.

Di antara bentuk kemustahilan lainnya adalah asumsi adanya perasaan yang menyeluruh, pengetahuan sempurna, penglihatan utuh pada setiap partikel dan sebab. Pasalnya, keseimbangan, keselarasan, dan kerjasama yang ada mengharuskan adanya perasaan yang komprehensif, penglihatan yang utuh serta berbagai sifat Tuhan lainnya. Andaikan sesuatu dinisbatkan

185

kepada dirinya berarti sifat-sifat itu harus dibayangkan terdapat padanya. Kalau ia dinisbatkan kepada sebab, berarti sifat-sifat tadi harus terdapat pada sebab tersebut, bahkan harus ada pada setiap partikelnya. Demikianlah rangkaian kemustahilan dan kebatilan yang dimunculkan oleh ilusi dan hayalan.

Adapun jika ia disnibatkan kepada Pemiliknya yang hakiki, Pemilik tingkatan Wajibul wujud yang Mahaesa, yang harus dilakukan sekedar memposisikan partikel dan konstruksinya-seperti tetesan hujan yang membawa prototipe matahari lewat pantulan-sebagai wujud yang menampakkan kilau kekuasaan Tuhan yang bersifat mutlak, komprehensif, azali dan tak terhingga di mana ia menunjukkan atau bahkan berisi pengetahuan dan kehendak azali yang tak terbatas. Itulah kekuasaan yang mukjizat dan seluruh makhluk menjadi saksi atasnya. Partikel kekuasaan Tuhan tersebut lebih agung daripada gunung sebab. Sebab, bagian dari penampakan Tuhan memiliki karakter keseluruhan. Seolah-olah semuanya bersifat keseluruhan. Sehingga engkau melihat mentari yang sempurna terdapat dalam partikel kaca. Jika demikian apalagi dengan cahaya dari semua cahaya yang terlihat dari sisi Zat Yang wajib ada dan esa.

Perbedaan antara penisbatan pertama dan kedua sama seperti perbedaan antara manifestasi matahari lewat karakteristiknya yang terdapat dalam satu tetes dan anggapan adanya mentari asli pada satu tetes tersebut. Kemustahilan klaim ini tampak dengan sangat jelas.

Di samping itu, tidak ada beban kesulitan dalam melaksanakan qudrat azali tersebut. Namun, bagi qudrat Tuhan semuanya sama entah atom dan bintang, partikel dan keseluruhan, individu dan spesies, sedikit dan banyak, kecil dan besar, engkau dan alam, serta benih dan pohon. Sebab, qudrat Tuhan tersebut melekat pada diri-Nya yang azali yang tak mungkin disusupi oleh sesuatu yang bertentangan. Apabila tidak ada kekurangan pada-Nya maka tidak ada perbedaan tingkatan bagi-Nya. Jika demikian, sama saja di sisi Allah antara yang paling kecil dan yang paling besar.

Agar hakikat di atas lebih bisa dipahami, ada sejumlah

186

contoh. Perhatikan misalnya, (Allah memiliki perumpamaan yang paling mulia):

Manifestasi matahari sama-sama bisa diterima oleh kaca, lautan, dan planet karena sifatnya yang "bening atau transparan". Lampu sentral sama-sama diterima, baik oleh kaca yang paling kecil maupun kaca yang paling besar karena kondisinya "yang saling berhadapan". Cahaya dilihat dari penerangannya sama-sama bisa diterima oleh satu atau ribuan karena "sifat sinarnya". Ucapan sama-sama bisa didengar baik oleh satu orang maupun ribuan orang. Contioh lain, neraca yang peka yang bisa mengukur atom, andaikan pada dua sisinya terdapat dua mentari atau dua biji pala, maka tidak ada perbedaan antara jika satu sisinya diangkat ke atas dan satu lagi ke bawah dengan meletakkan biji lain di satu sisi lewat "rahasia keseimbangan". Contoh lain adalah kapal paling besar yang seorang anak kecil tidak sulit untuk mengemudikannya sebagaimana ia juga tidak sulit untuk menggerakkan kapal mainan yang ada di tangannya atau jam arlojinya lewat "rahasia keteraturan". Juga, seorang komandan tidak ada perbedaan dalam memberikan perintah antara kepada satu pasukan dan satu batalion karena "rahasia ketaatan". Contoh lain adalah substansi asli pada spesies di mana baginya sama saja antara individu yang paling kecil dan yang paling besar, serta seluruh individu yang jumlahnya tak terhingga lewat "rahasia kemurnian". Masih banyak lagi contoh yang menunjukkan tidak adanya perbedaan antara yang sedikit dan yang banyak, serta antara yang kecil dan yang besar bagi sesuatu.

{(Catatan-92): Pada kalimat kesepuluh dan dua puluh sembilan terdapat penjelasan yang cukup komprehensif mengenai enam rahasia di atas.}

Lewat rahasia transparansi kerajaan-Nya pada segala sesuatu, lewat kondisi segala sesuatu yang berada di hadapan qudrat-Nya, lewat rahasia cahaya qudrat tersebut, lewat keseimbangan makhluk, lewat keteraturan rambu-rambu qadha dan qadar, lewat rahasia ketaatan setiap partikel alam yang disertai rasa rindu yang sempurna kepada perintah penciptaan yang menyatu dalam perintah kun, serta lewat rahasia kemurnian atau

187

tidak bercampurnya Tuhan dengan materi. Dengan enam rahasia di atas, sama saja bagi qudrat-Nya antara menghidupkan lalat dan menghidupkan bumi, antara menciptakan lebah dan menciptakan langit dan bumi, serta antara menghadirkan partikel dan mentari. Bahkan, kesamaan dan tidak adanya perbedaan tersebut merupakan keniscayaan berdasarkan intuisi yang tegas dan penyaksian. Kekuasaan yang esensinya tidak diketahui itu namun dikenali lewat mukjizatnya bekerja terhadap tangkai yang halus seperti sekuntum kurma, anggur dan yang lain. Itulah kekuasaan luar biasa yang jika dinisbatkan kepada sebab tentu akan membutuhkan kesulitan yang tak terhingga.

Sebagai kesimpulan: penciptaan qudrat atau kemampuan pada sejumlah makhluk menunjukkan tiga hal:

Pertama, sarana dan sebab lahiri merupakan hijab yang lemah yang sengaja diletakkan untuk menjaga kemuliaan qudrat tersebut dalam aktivitas lahiri di permukaan kerajaan yang tebal dan hina ini semata.

Kedua, karena kondisi kerajaan dan alam malakut dari kehidupan, wujud, dan cahaya bersifat transparan, maka hijab tebal itu tidak di diletakkan di atas tangan qudrat. Namun sejumlah sarana mengalir di dalamnya.

Ketiga, pengaruh dari qudrat tersebut tidak dibuat-buat dan dipaksakan. Pasalnya Zat yang mencipta pohon tin yang besar lewat benihnya lalu mengeluarkan sekuntum buah dari benih anggur dengan segala isinya tidak sulit melakukan itu semua. Tentu, kehadiran Pemilik qudrat azali tersebut jauh lebih kokoh dari kehadiran alam. Sebab, setiap ciptaan menunjukkan keberadaan dirinya dengan sejumlah aspek visual yang jumlahnya sedikit. Sementara, ia menunjukkan keberadaan Penciptanya dengan sejumlah aspek yang terlihat, rasional, dan lainnya. Ciptaan manapun kalau dinisbatkan kepada sebab lalu seluruh sebab yang di langit dan di bumi bersatu, mereka semua tetap tidak akan bisa menciptakan makhluk yang sama dengannya meskipun yang satu dengan yang lain saling bekerja sama. Pasalnya, benih yang terdapat dalam biji buah tin tidak kalah rumit dengan pohon tin itu sendiri. Penciptaan manusia tidak

188

kalah rumit dengan penciptaan bumi. Qudrat yang menghadirkan benih dan manusia tidak sulit untuk memunculkan pohon dan alam.

Wahai yang tersesat dengan cara menganggap aneh dan mengingkari kebenaran, engkau telah mendengar lewat sejumlah pembuktian di atas bahwa semua sikap ingkar tadi tidak berujung dan sangat mustahil terjadi. Engkau telah mendengarnya pada sisi kebatilanmu yang telah menisbatkan sesuatu kepada dirinya dan kepada sebab. Keguncangan jiwa dan akal yang bersumber dari kesesatan di atas membuat hati ini menerima keberadaan Zat Yang Wajib ada dan Mahaesa. Penjelasan tentang segala sesuatu hanya bisa terwujud dengan menisbatkannya kepada kekuasaan Allah. Sesuatu yang tertutup hanya bisa dibuka dengan menghubungkannya dengan kehendak Allah. Kalbu baru merasa tenteram dan keyakinan baru menjadi tenang jika semua persoalan diikat dengan zikir mengingat nama-Nya.

Ketahuilah bahwa wilayah kesibukan manusia, serta daerah perjalanan perhatiannya tidak terbatas. Manusia bisa berkutat di dalam atom, berenang dalam satu tetesan, tertahan dalam satu titik, padahal alam berada di hadapan matanya. Manusia juga bisa memasukkan alam ke dalam akalnya hingga akhirnya berusaha melihat Allah. Manusia bisa lebih kecil dari atom dan bisa pula lebih besar daripada langit.

Ketahuilah bahwa segala sesuatu yang Allah anugerahkan pada manusia memiliki sejumlah kunci pembuka. Sebagian kunci tersebut berada di luar diri manusia, sementara sebagian lagi berada dalam dirinya. Contohnya Allah menganugerahkan cahaya, udara, nutrisi, dan gema. Namun pemanfaatannya bergantung pada terbukanya mata, telinga, hidung, mulut, dan pendengaran. Demikian seterusnya. Meskipun proses pembukaan seluruh indera tadi termasuk bagian dari upaya kita, namun ia tidak akan terwujud kecuali dengan penciptaan dan kerasi-Nya. Karena itu, janganlah engkau wahai orang yang lalai membayangkan seluruh nikmat yang ada sia-sia dan akan dibiarkan begitu saja tanpa ada hisab. Sama sekali tidak demikian. Namun, ia diberikan kepadamu sesuai dengan maksud Tuhan yang telah

189

memberikannya.

Ketahuilah bahwa akhir dan sasaran dari segala sesuatu tidak kalah teratur dan tertata daripada awalnya. Penciptaan dan hikmah dari bentuk lahiriah dan gambarannya tidaklah lebih baik daripada bagian batinnya. Jangan kau kira akhir dan batin sesuatu kurang penting dan sia-sia di mana ia terwujud secara kebetulan. Lihatlah buah bersama bunganya. Ia merupakan hikmah yang paling jelas dari pohon yang tumbuh dari benih. Tuhan Pencipta merupakan Zat Yang Maha Pertama dan Maha Terakhir, Mata Tampak dan Maha Tersembunyi. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Ketahuilah bahwa kemukjizatan Alquran di antaranya dalam bentuk penjagaan Alquran dari segala bentuk perubahan. Karena itu, tidaklah mudah ucapan seorang ahli tafsir, penulis, penerjemah, atau yang lainnya tidak bisa gampang bercampur dengan ayat-ayatnya sebagaimana buku-buku yang lain sehingga menjadi berubah.

Ketahuilah bahwa pengulangan ayat yang berbunyi, "Maka, nikmat Tuhan yang mana yang kau dustakan?!" di pertengahan sejumlah ayat yang menjelaskan tentang ayat-ayat penciptaan yang beragam yang terdapat dalam surat ar-Rahman merupakan dalil bahwa sebagian besar pembangkangan jin dan manusia lahir dari sikap tidak mau melihat pemberian Allah dalam nikmat yang ada, sikap lalai terhadap Zat yang telah memberikannya, serta sikap menyandarkan nikmat kepada sebab atau proses kebetulan. Sebagai akibatnya, keduanya mendustakan nikmat-nikmat Allah. Karena itu, seorang mukmin harus membaca basmalah setiap kali akan mengonsumsi nikmat dengan maksud bahwa ia berasal dari-Nya. Aku mengambil nikmat tersebut dengan nama dan berkat anugerah-Nya; bukan karena perantara. Syukur dan pujian layak tertuju untuk-Nya.

Ketahuilah wahai yang sedang was-was oleh bisikan setan, penyakit kalbu dan hayalan, bisikan jiwa, serta beragam lintasan yang terdapat dalam akal pikiran saat melihat sejumlah hakikat ilahi, jangan putus asa, jangan terpengaruh, dan jangan biarkan dirimu berada dalam kelalaian agar cepat keluar dari kondisi

190

yang ada dan selamat darinya. Bahaya yang ada hanyalah dalam ilusi belaka. Tidakkah ketika engkau melihat mentari dan cahayanya, langit berikut bintang, taman berikut bunga-bunganya lewat celah-celah pakaian yang kotor oleh berbagai hiasan, ia tidak akan mengotori keindahannya. Bahkan dirimu tidak akan memerhatikan pakaian tadi sehingga gambarannya hilang begitu saja. Pasalnya ia hanya ilusi seperti kutu atau lebah yang kalau diusir malah bisa menyerangmu. Namun, jika dibiarkan ia akan pergi dengan sendirinya.

Ketahuilah wahai orang yang berfilsafat yang lebih mengutamakan akal ketimbang nas sehingga nas yang ada ditakwilkan dan disimpangkan lantaran tidak bisa diterima oleh akalmu yang telah tertipu dalam dunia filsafat. Dulunya aku seperti dirimu. Kemudian aku menyaksikan sebuah istana megah yang atapnya bersambung dengan langit.

{(Catatan-93): Penjelasan tentang masalah ini telah disebutkan dalam keterangan mengenai tiga jalan di akhir surat al-fatihah pada risalah "aku" (kalimat ketiga puluh). Juga dalam al-lawāmi (kilau cahaya) pada wisata fantasi di akhir kalimat. Maksud dari keranjang yang diturunkan adalah Alquran.}

Lewat celah-celahnya yang tinggi terdapat sejumlah keranjang yang diturunkan. Tali-talinya terdapat di pangkal dan ujung. Sebagiannya dekat dengan bumi sehingga manusia yang mendapat taufik melemparkan dirinya ke keranjang tersebut agar terangkat menuju tempat yang lebih tinggi. Kemudian aku melihat sebagian orang yang rugi dan tertipu tidak peduli dengan keranjang tersebut. Mereka berusaha naik dengan mengumpukan batu dan segala sesuatu. Mereka meletakkannya di bawah kaki. Setelah itu, mereka naik sedikit namun setelah itu terjatuh. Mereka tidak pernah bisa naik ke atas. Aku melihat sejumlah orang yang bersandar pada jiwa firauniyah mereka. Mereka memasukkan paku ke dinding istana lalu menginjaknya untuk naik. Akan tetapi mereka langsung jatuh tersungkur. Aku melihat bahwa upaya dan perangkat yang diberikan kepada mereka adalah untuk dipergunakan sesuai taufik untuk bisa naik ke keranjang; bukan ke kedudukan yang tinggi itu. Akalmu adalah tali kekangmu.

191

Dengan nas ia bisa menaikkanmu. Siapa yang bersandar kepada Allah, maka Dia akan mencukupinya.

Ketahuilah wahai yang bingung melihat dominannya jumlah orang jahat dibanding orang baik serta keunggulan mereka atas orang saleh dalam kehidupan dunia. Dalam satu insiden aku melihat sejumlah istana. Setiap istana memiliki paviliun yang berdampingan dan meninggi ke atas. Kenikmatan, posisi, dan cahaya yang di dapat penghuni setiap tingkatnya berbeda-beda. Orang yang berada di pusat tertinggi seperti raja. Sementara, di bawahnya terdapat sejumlah tempat yang kedudukan dan cahaya penghuninya berbeda-beda. Demikian seterusnya sampai ke pintu. Tepat di sisi pintu terdapat pelayan yang tegas dan besar. Sementara di depan pintu terdapat anjing yang sedang menjulurkan lidah. Lalu aku melihat sebagian istana yang terus pintunya demikian terang. Setelah diperhatikan ternyata di dalamnya sang raja sedang bermain-main dengan anjing yang berada di depan pintu. Sementara, para wanita yang tak memakai tutup kepala bersenda gurau dengan sejumlah anak. Karenanya berbagai tugas suci yang terdapat di dalamnya terabaikan, sementara sejumlah tugas anjing, anak-anak kecil, dan pelayan tampak terang. Ia membuat istana tersebut sangat terang dari luar, sementara di dalamnya gelap gulita.

Aku sadar bahwa istana tersebut adalah manusia. Dalam pandanganmu setiap manusia adalah istana. Diriku yang bermaksiat juga merupakan istana. Jatuhnya para penghuni istana berbeda-beda. Menurutku apa yang oleh pemilik peradaban saat ini dianggap sebagai kemajuan sebetulnya merupakan kemerosotan. Apa yang dianggap sebagai kemuliaan sebenarnya merupakan kehinaan. Apa yang dimaksud sebagai kesadaran sebetulnya tenggelam dalam kelalaian. Apa yang disebut sebagai kebaikan sebetulnya merupakan riya yang munafik. Apa yang disebut sebagai kecerdasan sebetulnya merupakan tipuan setan. Apa yang disebut sebagai kemanusiaan sebetulnya merupakan kondisi hewani. Hanya saja, di atas sosok yang telah terjatuh dan berbuat maksiat ini bendera kebaikan berkibar lantaran jiwanya yang bercahaya bercampur dengan dirinya yang gelap gulita. Hal

192

ini berbeda dengan orang taat yang hanya di depan pintu dirinya tampak kotor. Namun, ia turun bukan karena selera rendahnnya; akan tetapi untuk memberikan petunjuk kepada mereka yang telah keluar batas serta mengembalikan mereka kepada tujuan penciptaannya. Jika Allah mencintai seseorang, ia tidak dibuat mencintai dunia; tetapi membencinya lewat sejumlah musibah.

Sungguh malang! Peradaban bodoh ini telah memperlihatkan berbagai hal luar biasa dan sejumlah permainan yang menarik. Banyak penduduk istana berikut para wanitanya yang terperosok sebagaimana kupu-kupu jatuh ke cahaya yang terang yang sebenarnya berupa api yang membakar.

Ketahuilah wahai Said yang malang, mengapa engkau tertipu, lalai, dan, merasa kaya? Tidakkah engkau sadar bahwa ikhtiarmu hanya sebatas satu helai dan kekuasaanmu hanya satu butir partikel. Sementara kehidupan ini hanyalah satu nyala yang sebentar kemudian padam. Umur ini hanya sebentar ibarat menit berlalu. Perasaan yang ada ibarat kilau yang kemudian menghilang. Perjalanan waktu datang dan pergi. Dan tempat yang dimiliki hanyalah sebatas kubur. Kelemahanmu tidak terhingga, kebutuhanmu tidak terkira, kepapahanmu tidak terhitung, harapanmu tidak berujung, demikian seterusnya. Sosok yang demikian lemah dan demikian membutuhkan apakah pantas bersandar kepada apa yang terdapat dalam genggamannya dan bergantung kepada dirinya?! Atau, ia harus bersandar kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang di antara bentuk perbendaharaan rahmat dan nikmat-Nya adalah mentari dan pohon yang dipenuhi oleh cahaya dan buah. Serta di antara saluran anugerah dan rahmat-Nya adalah air dan cahaya.

Ketahuilah wahai yang membesar-besarkan hasil dan meremehkan dalil, tidak ada dalil yang menjadi saksi atas hakikat iman kecuali ia disucikan, didukung, diperkuat, dan dikokohkan oleh rambu-rambu Islam yang tegak di atas kebenaran. Seolah-olah semua bukti, argumen, dan tanda yang jumlahnya tak terhingga memberikan penerangan kepada semua saudaranya. Masing-masing memberikan stempel pembenaran atas semua yang tersebar lewat rahasia yang telah disebutkan di awal risalah.

193

Ketahuilah bahwa kecintaan yang terlalu kepada sesuatu bisa menjadi sebab untuk mengingkarinya. Demikian pula jika terlalu takut, jika berada dalam puncak keagungan, serta jika akal tidak mampu menjangkaunya.

Ketahuilah! Aku yakin seolah-olah aku melihat dengan intuisi yang pasti bahwa jahannam telah menyatu dengan benih kekufuran sama seperti pohon hanzhalah yang menyatu dengan benihnya. Sorga juga menyatu dalam biji keimanan seperti pohon kurma yang menyatu dalam benihnya. Sebagaimana tidak mustahil kedua benih tadi menjadi pohon hanzhalah atau pohon kurma demikian pula tidak aneh kalau substansi kesesatan terwujud dalam bentuk jahannam yang menyiksa serta cahaya hidayah terwujud menjadi sorga yang nikmat. Dalam al-Lawāmi' terdapat terdapat ringkasan penjelasan darinya di alam ini.

{(Catatan-94): Al-Lawāmi', semua derita terdapat dalam kesesatan dan semua nikmat terdapat dalam iman, hal 890 dari al-Kalimat.}

Ketahuilah bahwa sebagaimana biji dalam benih buah apabila berlubang tengahnya tidak membesar dengan cara tumbuh, demikian pula dengan benih "aku". Apabila ia dilubangi dengan cahaya zikir Allah... Allah, egonya tidak akan membesar dengan kelalaian dan muncul dengan sikap membangkang terhadap Tuhan langit dan bumi. Para wali dari Tariqat Naqsyabandiah mendapatkan taufik untuk bisa membuka benih hati dan menyingkap jalan singkat dengan menembus gunung "aku" dan menghancurkan puncak nafsu lewat zikir khafiy (samar). Di samping itu dengan zikir jahry (nyaring), toghut alam materi menjadi hancur berantakan.

Ketahuilah bahwa wilayah plural yang paling jauh, luas, dan paling tipis berikut sejumlah tingkatannya memperlihatkan jejak hikmah, kerapian, dan perhatian-Nya. Engkau bisa melihat kulit manusia dan bentuknya yang terbentang secara plural agar bisa memahami bagaimana pena qudrat mengisi lembaran dahi, wajah, dan tangannya lewat goresan dan perangkat yang menunjukkan sejumlah substansi dalam jiwa manusia serta amalnya yang bergantung pada lehernya yang menunjukkan takdir yang

194

digariskan pada fitrahnya. Sehingga pengisian dan penetapan tersebut tidak menyisakan adanya sesuatu bagi proses kebetulan yang buta.

Ketahuilah wahai yang diuji dengan rasa cinta terhadap kehidupan ini sehingga engkau mengira bahwa tujuan akhir dari kehidupan dan keabadiannya serta perangkat menakjubkan yang dilekatkan Tuhan pada manusia dan makhluk adalah untuk menjaga kehidupan yang fana ini serta hanya untuk abadi semata. Ini tentu saja sangat keliru. Pasalnya, kalau keabadian hidup menjadi tujuan dari kitab kehidupan, maka dalil hikmah, perhatian, keteraturan, ketidaksia-siaan yang paling jelas, terang, dan bercahaya akan berubah menjadi contoh kesia-siaan, ketidakteraturan, dan ketiadaan hikmah yang paling menakjubkan. Hal itu seperti pepohonan yang hanya memiliki satu buah kecil. Namun, buah dan tujuan hidup ini kembali kepada Zat Yang Mahahidup sesuai dengan tingkat kepemilikan-Nya terhadap kehidupan. Selanjutnya seluruh buah dan tujuan kembali kepada Zat Yang Menghidupkan lewat manifestasi nama-nama-Nya dan penampakan berbagai jenis penampakan rahmat-Nya dalam sorga pada kehidupan ukhrawi yang merupakan buah dari benih kehidupan dunia.

Ketahuilah wahai kalbuku bahwa seluruh kenikmatan dan perhiasan dunia tanpa mengenal Pencipta, Pemilik, dan Tuannya meski berupa sorga sebenarnya ia adalah neraka jahannam. Begitulah yang kurasakan dan kusaksikan. Bahkan dalam nikmat kasih sayang yang terdapat dalam "setetes" dan pengetahuannya hal itu sudah mencukupi dari semua yang terdapat di dunia, bahkan dari sorga sekalipun.

Ketahuilah bahwa semua yang terjadi di dunia memiliki dua sisi: sisi yang mengarah kepada dunia, diri, dan hawa nafsu, serta sisi yang mengarah kepada akhirat. Adapun sisi yang mengarah kepada dunia yang paling besar, berat, dan kokoh sama-sama hina, ringan, dan cepat berubah. Karenanya tidak layak kalbu manusia merasa resah, sakit, dan terus memikirkannya.

Ketahuilah wahai kalbuku! adakah yang lebih bodoh dan

195

dungu daripada orang yang melihat pantulan wujud matahari dalam satu benda atau manifestasinya pada celupan bunga lalu mencari semua hal yang dibutuhkan mentari yang bersinar di atap alam pada pantulan mentari dan warna bunga tadi berikut gaya gravitasinya terhadap sejumlah planet dan titik sentralnya di alam. Kemudian ketika pantulan dan manifestasi matahari tersebut lenyap, dengan keterbatasan pandangannya iapun mengingkari keberadaan matahari di tengah siang padahal seluruh partikel, embun, percikan, benih, telaga, lautan, dan planet menjadi saksi atasnya di terik siang.

Selanjutnya orang bodoh itu tidak bisa membedakan antara wujud bayangannya yang telah digariskan dengan wujud aslinya. Maka, apabila melihat matahari pada benda transparan ia berkata, "Mana keagungan matahari? Mana panasnya? Bagaimana dan Bagaimana?" begitulah sampai ke tingkat akhir dari kebodohannya.

Bisa jadi ia ingin menjangkau panasnya atau menyentuh dengan tangannya tanpa menyadari bahwa kedekatan dengannya lewat pengaruh yang diterima tidak mengharuskan adanya kedekatan jarak. Lalu ia melihat pada sesuatu yang kecil dan remeh sebuah kerapian yang menakjubkan, kreasi yang istimewa, dan hikmah yang mulia. Namun, dengan analogi yang keliru ia menganggap bahwa Penciptanya telah memaksakan diri dan mengada-ada. Ia berkata misalnya, "Apa nilai lalat hingga mendapatkan perlakuan semacam itu dari Pencipta Yang Mahabijak?" Akhirnya orang malang itupun tersesat.

Wahai fulan, "Milik Allah perumpamaan yang paling mulia."

{(Catatan-95): Q.S. an-Nahl: 60.}

"Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu."

{(Catatan-96): Q.S. az-Zumar: 62.}

Engkau harus mengetahui empat hal yang dengannya persoalan menjadi terpecahkan:

Pertama, segala sesuatu mulai dari atom hingga mentari digambarkan oleh Allah dengan sifat-sifat-Nya yang mulia dalam koridor kesempurnaan rububiyah-Nya. Ia tidak digambarkan

196

hanya semata-mata untuk wujud manifestasi-Nya.

Kedua, ada sebuah pintu yang terbuka bagi masuknya segala sesuatu menuju cahaya-Nya. Namun dengan tertutupnya satu pintu dalam pandangan orang yang memiliki pandangan terbatas, tidak berarti tertutup pula pintu-pintu lain yang tak terhingga jumlahnya meski keseluruhannya bisa dibuka dengan satu kali secara sekaligus.

Ketiga, ketentuan yang bersumber dari pengetahuan komprehensif Tuhan telah membatasi dan menggariskan bagian dari segala sesuatu sesuai dengan limpahan manifestasi nama-nama-Nya yang bersifat mutlak dan bercahaya.

Keempat, "Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu cukup berkata kepadanya, 'Jadilah!' Maka, terjadilah ia."

{(Catatan-97): Q.S. yasin: 82.}

"Allah tidak menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanya seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja."

{(Catatan-98): Q.S. Luqman: 28.}

Adapun apabila segala sesuatu dinisbatkan kepada dirinya atau kepada sebab, maka semua orang berakal harus menerima berbagai kemustahilan yang muncul dari asumsi bodoh itu.

Ketahuilah bahwa Alquran yang gaya penjelasannya merupakan mukjizat banyak memberikan penjelasan tentang berbagai hakikat lewat perumpamaan. Pasalnya, berbagai hakikat ilahi terwujud dalam wilayah kemungkinan lewat bentuk-bentuk perumpamaan. Makhluk yang mungkin ada melihat sejumlah perumpamaan dalam wilayah yang bersifat mungkin. Lalu, ia melihat di balik itu semua kondisi dari wilayah Zat Yang bersifat wajib adanya. "Allah memiliki perumpamaan yang paling mulia."

Ketahuilah bahwa arasy bagaikan kalbu. Kalbu yang terdapat dalam dirimu ibarat kerajaan, sementara dirimu dalam kalbumu ibarat alam malakut. Maka, dalam wilayah nama azh-Zhāhir arasy-Nya yang agung meliputi segala sesuatu. Dalam wilayah nama al-Bāthin ia ibarat kalbu atau jantung bagi alam. Dalam wilayah nama al-Awwal ia diisyaratkan dengan, "Arasy-

197

Nya berada di atas air."

{(Catatan-99): Q.S. Hūd: 7.}

Sementara dalam wilayah nama al-ʿkhir ia digambarkan dengan "atap sorga merupakan arasy Tuhan Yang Maha Pengasih".

{(Catatan-100): Sorga, al-Hākim dari Ubādah ibn ash-Shāmit dan Abu Hurayrah, serta Ibnu Asakir dari Abu Ubaydah al-Jarrah. memiliki seratus tingkatan. Jarak antara dua tingkatan sama seperti antara langit dan bumi. Firdaus adalah sorga yang paling tinggi dan paling tengah. Di atasnya terdapat arasy Tuhan Yang Maha Pengasih". Hadis shahih riwayat Ibnu Majah dari Mu'ādz}

Pasalnya, arasy "Zat Yang Maha Pertama, Maha Terakhir, Maha Tampak dan Maha Tersembunyi," memiliki wilayah awal, akhir, lahiri, dan batini.

Ketahuilah bahwa kelemahan merupakan sumber seruan dan kebutuhan merupakan sumber doa.

Wahai Tuhanku, wahai Penciptaku, wahai Pemilik diriku! Hujjahku dalam seruanku berupa kebutuhanku. Bekalku dalam doaku adalah kepapahanku. Saranaku berupa lemahnya strategiku. Perbendaharaanku berupa kelemahanku. Modalku berupa harapan dan deritaku. Penolongku berupa kekasih dan rahmat-Mu. Maafkanlah daku, ampuni diriku, kasihi diriku ya Allah; Zat Yang Maha Pengasih dan Zat Yang Maha Penyayang.

199

Terjemahan Munajat

{(Catatan-101): Terima kasih kepada saudara Faruk Rasul Yahya yang telah menerjemahkan teks munajat ini. Terjemahan lengkapnya terdapat dalam kalimat ketujuh belas dan pada harapan ketujuh dari cahaya kedua puluh enam (Risalah untuk Lansia).}

Yang terlintas dalam kalbu dalam bahasa Persia

Wahai Tuhan, aku telah mencari pada seluruh arah (enam arah), namun belum juga menemukan obat bagi penyakitku.

Aku melihat ke sisi kanan, ternyata berisi kuburan ayahku di masa lalu.

Kuarahkan pandanganku ke sisi kiri, ternyata berisi kuburan di masa mendatang.

Hari ini merupakan peti mati yang akan membawa jasadku

Jenazahku terbujur di hadapan di atas kepala usiaku.

Di bawah kaki terdapat air penciptaan dan tulang belulang yang sudah hancur berantakan.

Setiap kali melihat ke belakang, kusaksikan dunia ini ibarat fatamorgana

Apabila menatap ke depan, kubur itu terbuka dan jalan keabadian tampak dari kejauhan.

Yang kumiliki hanya bagian usahaku yang sangat lemah, terbatas, dan tidak banyak bermakna.

200

Sebab ia tidak bisa menembus masa lalu atau menyeberang ke masa depan.

Wilayah perjalananya hanya masa sekarang dan satu waktu yang sedang berputar.

Meski sangat papa dan lemah pena qudrat-Mu telah menuliskan di dalam fitrah adanya kecenderungan pada alam keabadian dan harapan untuk kekal.

Wilayah kebutuhan demikian luas seluas mata memandang.

Sementara wilayah kekuasaanku sangat terbatas seperti tangan.

Kepapahan dan kebutuhanku dengan demikian seluas dunia.

Modalku seperti partikel yang tidak tidak bisa dibagi. Lalu mana mungkin ia bisa memenuhi kebutuhan seluas alam ini?!

Namun, aku berjalan menyusuri jalan-Mu dari bagian yang kecil ini guna menggapai pertolongan-Mu.

Rahmat-Mu yang mutlak merupakan sandaranku.

Orang yang menemukan limpahan rahmat, tidak akan bersandar kepada upayanya yang hanya sebutir fatamorgana.

Wahai Tuhan, dunia ibarat tidur dan usia yang ada akan pergi seperti hembusan angin.

Manusia akan lenyap sejalan dengan lenyapnya dunia sementara harapan yang fana merupakan derita di alam baka.

Marilah wahai jiwa yang tidak bertepi, korbankan wujudmu yang fana

Penciptamu yang menggenggam wujud bersifat maujud (ada).

Kerajaan ini adalah milik-Nya di mana Dia yang memberi. Karena itu, fanakan dirimu agar bisa kekal abadi.

Yaitu dengan rahasia bahwa menafikan penafian merupakan sebuah ketetapan.

Wahai ilahi, Zat Yang Maha Pemurah dan Mulia, berikan untukku kerajaan dari sisi-Mu.

Berikan padaku nilai yang tak terhingga. Engkau adalah Zat Yang Maha Menjaga.

201

Surat Untuk Dewan Perwakilan Rakyat

{(Catatan-102): Pesan ini disampaikan dalam Dewan perwakilan Rakyat Turki pada tanggal 19 Januari 1923 (1339 H). Ia tersimpan dalam arsip Dewan. Ketika itu negara sedang berada di persimpangan jalan. Pesan ini memberikan pengaruh yang besar sehingga banyak di antara wakil rakyat yang melaksanakan kewajiban agama. Semuanya disebarkan dalam bahasa Turki dalam satu buku. Kemudian kami terjemahkan ia secara lengkap.}

Bismillāhirrahmānirrahīm

Sesungguhnya salat merupakan kewajiban yang waktunya telah ditetapkan

Wahai para utusan rakyat, kalian akan dibangkitkan pada hari yang agung.

Wahai para pejuang, wahai anggota majelis permusyawaratan!

Kuharap kalian memperhatikan persoalan yang hendak kami sampaikan kepada kalian dalam sejumlah nasihat dan sepuluh kalimat:

Pertama, nikmat ilahi yang sangat besar dengan memberikan kemenangan kepada kalian patut dibalas dengan rasa syukur agar ia tetap terpelihara dan bertambah. Pasalnya, jika nikmat tersebut tidak disambut dengan rasa syukur ia pasti segera lenyap dan terputus. Kalian telah membela Alquran dari serangan

202

musuh dengan ijin Allah, maka kalian harus melaksanakan perintah-Nya yang sangat tegas; yaitu salat lima waktu. Hal itu agar karunia dan cahaya-Nya terus bersama kalian dalam bentuk yang luar biasa semacam ini.

Kedua, kalian telah membuat dunia islam gembira dengan kemenangan ini. Kalian juga mendapat simpati dan sambutan dari mereka. Namun simpati ini akan terus terpelihara kalau kalian tetap melaksanakan syiar-syiar Islam. Pasalnya, umat islam mencintai dan memberikan simpatinya kepada kalian karena Islam.

Ketiga, kalian telah memimpin para pejuang dan syuhada di dunia ini di mana mereka berposisi sebagai wali yang saleh. Karena itu, sudah sepantasnya orang seperti kalian berusaha dan berupaya keras untuk melaksanakan semua perintah Alquran agar bisa bersama orang-orang mulia itu dan menyertai mereka di alam tersebut. Jika tidak, kalian terpaksa harus meminta bantuan dari prajurit yang paling rendah di sana, padahal di sini kalian merupakan pimpinan. Dunia ini berikut popularitas dan kemuliaan yang terdapat di dalamnya tidak layak menjadi kesenangan yang membuat orang-orang semacam kalian menjadi puas; apalagi menjadi tujuan akhir dan titik pencapaian ilmu.

Keempat, umat islam meskipun sebagiannya tidak melaksanakan salat, namun mereka ingin kalau para pemimpin mereka adalah orang-orang saleh yang bertakwa, bahkan walaupun mereka fasik. Lebih dari itu, yang pertama kali ditanyakan oleh penduduk Kurdistan yang berada di wilayah timur adalah perihal salat mereka. Jika para pemimpinnya termasuk yang menegakkan salat, mereka senang dan menjadi percaya. Jika tidak, pejabat berwenang akan terus diragukan meski mampu melaksanakan berbagai kewajibannya. Mereka berkata, "Jika pemimpin kami tidak menegakkan salat dan meminum khamar, bagaimana kami bisa memenuhi perintah orang-orang seperti mereka yang tidak agamis?" Perlu diketahui bahwa yang mengucapkan perkataan semacam ini adalah mereka yang tidak menunaikan salat, bahkan para pencoleng.

Kelima, kemunculan sebagian besar nabi di wilayah Timur

203

dan sebagian besar filosof di wilayah Barat merupakan perlambang ilahi bahwa yang membangkitkan dan meluruskan dunia Timur adalah agama dan kalbu; bukan akal dan filsafat. Maka, selama kalian ingin membangunkan dan menyadarkan Timur, berikan satu jalan yang sesuai dengan fitrah mereka. Jika tidak, segala upaya kalian akan menjadi sia-sia atau bersifat artifisial dan sementara.

Keenam, musuh kalian dan musuh Islam yang berasal dari bangsa perancis-apalagi Inggris-telah memanfaatkan sikap kalian yang mengabaikan agama. Bahkan bisa dikatakan bahwa mereka yang memanfaatkan sikap mengabaikan agama kalian itu telah menimpakan bahaya kepada Islam sebanyak musuh kalian. Karena itu, demi kemaslahatan Islam dan keselamatan umat kalian harus merubah sikap mengabaikan kepada amal-amal nyata. Kalian telah mengetahui bagaimana para pemimpin komite persatuan dan kemajuan telah dicemooh oleh umat secara internal meski mereka telah memberikan pengorbanan dan mempersembahkan tekad serta keberanian sehingga pada titik tertentu menjadi sebab kebangkitan Islam. Hal itu lantaran ada sebagian dari mereka yang tidak memperhatikan agama dan syiar-syiarnya. Sementara, umat Islam di luar memberikan penghargaan dan penghormatan lantaran tidak melihat sikap mengabaikan agama yang ditunjukkan oleh para pemimpin tersebut.

Ketujuh, meski dunia kafir bisa menyerang dunia Islam sejak beberapa waktu yang lalu, namun mereka tidak mampu mengalahkan secara agama meski memiliki berbagai potensi, kemampuan, dan sarana peradaban, filsafat, pengetahuan, berikut para propagandisnya. Sehingga kelompok sesat yang berada di dalam tetaplah minoritas. Karena itu, di saat Islam masih menjaga soliditas dan imunitasnya lewat kalangan ahlu sunnah wal jamaah, aliran baru yang datang dari sisi buruk peradaban Eropa tidak mendapatkan jalan untuk masuk ke pusat dunia Islam. Dengan kata lain, gerakan revolusi baru bisa terwujud dengan tunduk pada rambu-rambu Islam. Jika tidak, takkan mungkin terwujud. Apalagi gerakan semacam ini tidak

204

pernah terjadi sebelumnya. Andaipun pernah terjadi, ia cepat pudar dan menghilang.

Kedelapan, aktivitas yang positif dan konstruktif tidak bisa dilakukan dengan sikap mengabaikan agama di mana peradaban Qurani sebentar lagi muncul, sementara peradaban Eropa yang sesat yang bertanggung jawab atas lemahnya agama nyaris runtuh. Aktivitas yang negatif tidak dibutuhkan oleh islam. Berbagai bencana dan musibah sudah cukup menjadi pelajaran.

Kesembilan, orang-orang yang memberikan cintanya kepada kalian baik yang keluar dari hati maupun lisan serta menghargai pelayanan dan perjuangan kalian dalam perang kemerdekaan adalah mayoritas kaum mukmin; terutama masyarakat umum yang muslim dan tulus. Mereka benar-benar mencintai kalian, merasa bangga dengan kalian, menyokong kalian dengan ikhlas, menghormati pengorbanan kalian, serta membantu kalian dengan kekuatan yang mereka miliki. Adalah tugas kalian untuk melakukan komunikasi dan hubungan dengan mereka untuk mengikuti perintah Alquran dan untuk kemaslahatan Islam. Jika tidak, sikap mengutamakan pihak-pihak yang meninggalkan Islam dan terpisah dari umat yang ditunjukkan oleh para pengekor Eropa berarti menafikan kemaslahatan Islam secara total. Dunia Islam akan mengarahkan pandangannya ke sisi lain untuk meminta bantuan dan pertolongan.

Kesepuluh, jika di sebuah jalan terdapat sembilan kemungkinan untuk binasa dan satu kemungkinan saja untuk selamat, maka jalan tersebut tidak akan dilalui kecuali oleh orang gila yang tidak peduli lagi dengan hidupnya. Dalam menjalan kewajiban agama seperti sholat terdapat keselamatan sebesar sembilan puluh sembilan persen. Apalagi pelaksanaan kewajiban itu hanya memakan waktu tidak lebih dari satu jam sehari. Ia berbanding satu kemungkinan bahaya yang menimpa dunia lantaran lalai dan malas. Adapun sikap meninggalkan kewajiban mengandung kemungkinan bahaya sebesar sembilan puluh sembilan persen berbanding satu persen kemungkinan selamat lantaran lalai dan tersesat. Maka, apa pasal dan alasan meninggalkan kewajiban yang bisa membahayakan agama dan dunia sekaligus?! Bagai

205

mana semangat mengizinkan hal itu?

Sikap dan perilaku para pejuang yang duduk dalam Dewan Perwakilan ini sangat penting karena akan diikuti. Umat bisa mengikuti kekeliruan mereka atau mengkritik mereka. Keduanya penuh dengan bahaya. Artinya, ketika mereka menjaga hak-hak Allah dan menunaikan berbagai kewajiban, berarti mereka juga menjaga hak-hak hamba. Upaya optimal tidak akan berhasil apabila mereka senang menerima bisikan jiwa dan gangguan setan sementara tidak mau mendengar penjelasan gamblang dan petunjuk cemerlang (Alquran). Pondasi pertama bagi revolusi besar harus kuat dan kokoh.

Susbtansi Dewan Perwakilan ini sebenarnya mewakili makna kesultanan dengan kekuatan yang dimilikinya. Jika parlemen ini tidak mewakili makna khilafah dengan melaksanakan syiar-syiar Islam, serta tidak menyuruh pihak lain untuk menunaikannya; atau dengan kata lain jika ia tidak mampu mempersembahkan substansi khilafah dan tidak memenuhi kebutuhan agama umat-di mana sekarang berada dalam kondisi fitrah yang rusak dan sangat membutuhkan agama melebihi kebutuhan terhadap fasilitas dunia-maka ia harus memberikan substansi khilafah sesuai namanya. Kekuatan juga harus dimunculkan untuk menjaga substansi tersebut. Kenyataannya apabila kekuatan itu tidak berada di tangan Parlemen dan tidak datang darinya, ia menimbulkan perpecahan. Tongkat ketaatan menjadi terbelah sehingga bertentangan dengan perintah Alquran yang berkata, "Berpeganglah kalian semua kepada tali Allah dan jangan berpecah belah!"

{(Catatan-103): Q.S. Ali Imran: 103.}

Masa kini adalah masa berjamaah. Sosok maknawiyah yang merupakan ruh jamaah lebih luat dan lebih kokoh daripada sosok pribadi. Ia lebih mampu menerapkan hukum-hukum syariat. Sosok khalifah dapat menunaikan tugasnya dengan bersandar kepada ruh maknawiyah tadi. Sosok maknawiyah memantulkan ruh bersama. Jika ia lurus, sinarnya akan lebih terang dan lebih cemerlang daripada sosok pribadi. Namun, jika rusak, keru-

206

sakannya akan menyebar lebih dari itu. Kebaikan dan keburukan hanya terbatas pada pribadi, sementara dalam jamaah ia tidak terbatas. Karena itu, janganlah kalian menghancurkan kebaikan yang dimenangkan terhadap luar dengan berbagai keburukan internal.

Kalian lebih mengetahui bahwa musuh abadi kalian senantiasa berusaha menghancurkan syiar-syiar Islam sehingga kalian harus menghidupkan syiar ini sekaligus menjaganya. Jika tidak, berarti secara tanpa sadar kalian membantu musuh yang memang sedang bersiap-siap menghabisi kalian. Sikap mengabaikan terhadap syiar agama menunjukkan kelemahan umat. Kelemahan ini mendorong musuh untuk menyerang kalian.

Cukuplah Allah bagi kami. Dia Sebaik-baik Pelindung, Sebaik-baik Pemelihara, dan Sebaik-baik Penolong.

207

Lanjutan Butir Lautan Alquran

Siapa yang hidupnya untuk Allah, segala sesuatu akan baik untuknya

Siapa yang hidupnya bukan untuk Allah, segala sesuatu akan berbahaya untuknya

Alam baru bermanfaat dengan meninggalkan segalanya serta dengan memperhatikan bahwa segala sesuatu berasal dari-Nya dan kembali kepada-Nya.

Penjelasan Tujuan

Wahai yang membaca delapan risalahku yang berbahasa Arab!

{(Catatan-104): Yaitu tetes, lanjutannya, benih, aroma, benih, dan lanjutannya, butir, dan lanjutannya, serta sejumlah tulisan tambahan seperti: titik, kilau, dan cahaya.}

Ketika pertama kali menuliskannya, ia kutujukan untuk diriku. Kemudian terlintas dalam benak ini bahwa di antara bentuk syukur terhadap nikmat ini adalah menyebarkannya. Semoga banyak orang yang mendapatkan manfaat darinya. Kemudian setelah menelaahnya kembali, aku mendapati rahasia yang semula agak ragu untuk diungkapkan. Namun, saat ini akan keinginan dalam hati untuk mengungkapkannya. Yaitu:

208

Aku melihat persoalan dari sejumlah risalah tersebut terkait dengan keberadaan sarana dan tangga menuju keranjang cahaya yang turun dari arasy Tuhan di mana ia merupakan ayat-ayat petunjuk-Nya. Pangkal dari setiap persoalan darinya mendapatkan pijakan ayat Alquran. Meski setiap persoalannya kudapat lewat penyaksian, intuisi dan rasa, namun karena aku masuk ke dalam padang kegilaan disertai akal yang terbuka di mana ia bisa menyimpan apa yang dilihat oleh kalbu dalam standarnya, menimbang dengan neracanya, dan berpegang kepada petunjuknya, maka seluruh persoalan dalam risalah ini seolah-olah memiliki dalil dan bukti yang jelas.

Karena itu, orang yang tersesat dari sisi pemikiran dan ilmu pengetahuan, bisa mengambil darinya sesuatu yang bisa menyelamatkan dari pemikiran-pemikiran filsafat.

Bahkan, ia bisa mengeluarkan darinya secara teratur dan jelas sejumlah akidah keimanan dan ilmu kalam baru yang sangat kuat dan kokoh guna membantah kesesatan pandangan yang terdapat di masa kini.

Orang yang akal dan kalbunya bercampur atau kalbunya mengikuti akalnya yang tercerai-berai dalam cakrawala pluralitas bisa mengambil darinya sebuah jalan seperti rel yang kokoh dan amal yang bisa dilewati di bawah petunjuk Alquran. Bagaimana tidak, semua kebaikan yang terdapat dalam risalahku bersumber dari curahan Alquran.

Segala puji milik Allah. Alquran menjadi pembimbing dan guruku di jalan ini.

Ya, siapa yang berpegang kepadanya berarti ia berpegang kepada tali yang kokoh yang tak akan pernah putus.

Bismillāhirrahmānirrahīm

Segala puji milik Allah yang Zat-Nya suci dari segala sesuatu yang menyerupai, sifat-Nya bersih dari penyerupaan dengan makhluk; Tuhan Pencipta yang alam besar ini merupakan kreasi-Nya, alam kecil ini (manusia) merupakan hasil penciptaan-Nya, serta segala sesuatu merupakan bangunan, ciptaan, celupan,

209

lukisan, perhiasan, rahmat, nikmat, qudrat, hikmah, keagungan, pemeliharaan, makhluk, milik, masjid, dan hamba-Nya. Di sekitar celah-celahnya bahkan di setiap bagiannya terdapat tanda yang menuturkan bahwa segala sesuatu merupakan milik-Nya.

Ya Allah, Penegak langit dan bumi, kami mempersaksikan kepada-Mu serta kepada pembawa arasy-Mu dan malaikat-Mu lewat kesaksian semua nabi, wali, ayat-ayat-Mu, lewat semua ciptaan dan makhluk-Mu bahwa Engkau adalah Allah; tiada Tuhan selain-Mu semata tanpa ada sekutu bagi-Mu. Kami meminta ampunan dan bertobat kepada-Mu. Kami bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu yang Kau utus sebagai rahmat bagi semesta alam.

Ya Allah limpahkan salawat kepada beliau sesuai dengan kemuliaannya dan sesuai dengan rahmat-Mu. Juga kepada keluarga, dan seluruh sahabatnya.

Ketahuilah bahwa wujudmu berikut perlengkapannya yang Allah anugerahkan padamu tidak lain merupakan bentuk amanah; bukan pengalihan kepemilikan. Engkau bisa mempergunakan semua yang Dia berikan sesuai dengan keinginan Zat yang memberi; bukan sesuai keinginanmu. Sama seperti orang yang menjamu tamunya. Si tamu tidak boleh bersikap atau melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki oleh tuan rumah.

Ketahuilah wahai yang tidak mempercayai adanya pengumpulan makhluk di mahsyar, tidakkah engkau melihat berbagai bentuk mahsyar, kebangkitan, dan kiamat kecil di hadapanmu yang jumlahnya tak terhingga. Mengapa engkau mengingkari kiamat besar padahal telah menyaksikan begitu banyak kiamat pada setiap tahun bahkan pada setiap pohon yang berbuah dan berbunga. Jika ingin benar-benar yakin, bawalah akalmu pada akhir musim semi dan panas menuju bawah pohon beri dan aprikot. Lalu lihat bagaimana buah-buahan yang manis dan segar itu dikeluarkan dan dibangkitkan. Ia seperti buah yang telah mati pada tahun sebelumnya. Buah yang bertebaran dan tersenyum di hadapanmu itu merupakan saudara dari buah yang telah mati serta yang sejenisnya seolah-olah sama. Kemudian perhatikan pohon berikut sifatnya yang kering, keras, dan kecil

210

serta saluran pembawa rezeki bagi bunga dan buahnya yang sempit, bagaimana pohon tersebut berubah menjadi alam yang menakjubkan. Ia memberikan gambaran kepada orang yang memerhatikannya, "Ketika kubur-kubur dibongkar (dibangkitkan)."

{(Catatan-105): Q.S. al-Infithār: 4.}

Jadi, tidak ada yang sulit bagi kekuasaan yang dari pohon kering ini menyebarkan berbagai ciptaan halus. "Kami beriman".

Ketahuilah bahwa kandungan setiap surat Alquran yang berisi keterangan global mengenai tujuan dan kisah terpenting yang terdapat pada keseluruhan Alquran adalah agar orang yang membaca satu surat juga bisa memahami tujuan penurunannya. Sebab di antara kaum muslimin yang mendapat beban terdapat orang yang buta huruf, tidak mengerti, atau hanya bisa membaca satu surat pendek. Dari cahaya kemukjizatan ini surat Alquran menjadi seperti Alquran yang utuh bagi yang membacanya.

Ketahuilah bahwa Zat Yang Mahaesa yang berbuat pada banyak makhluk tidak harus bersentuhan dan berbaur bersama mereka; apalagi ada perbedaan substansi. Zat yang berbuat pada banyak makhluk sama seperti pimpinan yang berbuat kepada pasukan. Dengan satu kehendak dan satu perintah apa yang dilakukan bisa terwujud tanpa ada percampuran. Andaikan tugas-tugas kepemimpinan itu diserahkan kepada pasukan, tentu harus dengan cara turun ke lapangan atau merubah diri kepada substansi pimpinan. Dengan kedudukan-Nya yang Mahasuci, bersih, tinggi, dan agung Dia berbuat kepada kita seperti yang Dia kehendaki. Dia seperti mentari yang dekat dengan kita, namun kita jauh dari-Nya.

Ketahuilah wahai yang merasa nyaman dan puas dengan dunia, engkau seperti orang yang turun menggelinding dari atas istana. Lalu istana itupun runtuh terbawa bah. Sementara, air bah tersebut mengalir deras dari atas gunung. Gunung itupun jatuh akibat gempa hingga ke dalam bumi. Walhasil istana kehidupan runtuh. Usia bergerak cepat bagaikan kilat nyaris mengantarmu ke liang lahat. Perjalanan waktu begitu cepat berlalu sehingga mencengangkan akal. Perahu bumi berjalan

211

bagaikan awan. Siapa yang berada di dalam kereta, bergerak dengan cepat sembari mengulurkan tangannya di tengah jalan kepada bunga-bunga berduri yang berada di pinggir jalan hingga duri itu mengoyak tangannya. Maka, tidak ada yang perlu dicela kecuali dirinya. Jika demikian kondisinya jangan kau arahkan pandangan dan tanganmu kepada bunga kehidupan dunia. Sebab, duri-duri derita perpisahan akan mengoyak hati di saat bersua; apalagi di saat benar-benar berpisah.

Wahai jiwa yang memerintahkan kepada keburukan, sembahlah dan mintalah kepada siapa yang kau kehendaki. Adapun diriku hanya akan menyembah Zat yang telah menciptakanku dan menundukkan mentari, bulan, langit, dan pohon untukku. Aku hanya meminta pertolongan kepada Zat yang mengangkutku pada kapal usia yang berenang di angkasa takdir sekaligus menundukkan kapal yang terbang di antara bintang-gemintang. Dia menaikkanku ke kereta waktu yang berjalan secepat kilat di muka bumi di bawah gunung kehidupan menuju pintu kubur di jalan keabadian. Dengan ijin-Nya aku duduk dan mengenang gerbong hari ini yang ujungnya bersambung dengan rangkaian masa lalu dan masa mendatang. Aku hanya berdoa dan meminta perlindungan kepada Zat yang menetapkan berbagai ketentuan yang menggerakkan kapal bumi, yang menghentikan putaran zaman dengan mengumpulkan mentari dan bulan, yang mengokohkan dunia yang cepat berubah dan runtuh dari ketinggian wujud menuju kedalaman lembah alam fana dengan mengganti bumi dengan selainnya. Pasalnya aku memiliki sejumlah harapan dan tujuan yang terkait dengan segala sesuatu. Harapanku terus menempel di atas sesuatu yang dilalui oleh perjalanan waktu dan ditinggalkan oleh dunia. Aku memiliki hubungan dan kenikmatan dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh penduduk langit dan bumi yang saleh. Aku hanya beribadah kepada Zat yang sebagaimana mendengar bisikan paling halus serta meluruskan harapan dan kecenderungan kalbuku yang paling samar, Dia juga menetapkan kebahagiaan abadi manusia yang diinginkan oleh akal dan hayalan dengan menegakkan kiamat dan mengganti dunia

212

dengan akhirat. Tangan-Nya menggapai atom dan mentari. Atom tersebut tidaklah menjadi remeh sehingga lepas dari pantauan-Nya, sementara mentari itupun bukan sesuatu yang besar bagi kekuasaan-Nya.

Apabila engkau telah mengenal-Nya, tentu segala derita akan berubah menjadi nikmat. Sebaliknya, tanpa Dia pengetahuan hanya menghasilkan ilusi dan hikmah membuahkan sakit. Ya, tanpa cahaya-Nya semua wujud akan menangisimu, cahaya menjadi gelap, yang hidup menjadi mati, nikmat menjadi derita. Orang-orang yang dikasihi akan berubah pula menjadi musuh, keabadiaan berubah menjadi bencana, kesempurnaan akan sia-sia, usia hilang begitu saja, kehidupan menjadi siksa, akal menjadi hukuman, serta harapan akan meratap karena lara.

Siapa yang hidupnya untuk Allah, segala sesuatu akan berpihak padanya. Siapa yang hidupnya bukan untuk Allah, segala sesuatu akan berbahaya baginya. Alam baru bermanfaat dengan meninggalkan segalanya serta dengan memperhatikan bahwa segala sesuatu adalah milik-Nya. Dia yang menciptamu dengan bentuk yang berbagai lingkaran kebutuhan saling menyatu mengelilingimu. Dia menyiapkanmu dalam memenuhi kebutuhan terkecil yang setengahnya berupa juluran tanganmu dan menyiapkanmu dalam memenuhi sebagian yang lainnya sejarak antara azali dan abadi serta bumi dan arasy cukup dengan doa. "Andai tidak ada doa darimu, Tuhan tidak akan memedulikanmu".

{(Catatan-106): Q.S. al-Furqān: 77.}

Anak kecil memanggil kedua orang tuanya terkait dengan sesuatu yang tak bisa dijangkau tangannya. Nah, seorang hamba menyeru Tuhannya terkait sesuatu yang tak mampu ia raih.

Ketahuilah bahwa kesempurnaan kreasi segala sesuatu merupakan rahasia keesaan. Kalau bukan karena keesaan yang tak disertai distribusi dan keterpilahan tentu kondisi ciptaan akan sangat berbeda-beda. Hal itu sama seperti satu mentari dan keberadaannya lewat manifestasinya pada setiap yang terkena cahayanya, mulai dari partikel yang bening hingga lautan.

213

Rahasia ini bisa dilihat pada mentari yang tenang, terikat, terbatas, dan mati yang merupakan satu tetes bercahaya lewat manifestasi nyala nama an-Nur (Maha bercahaya). Apalagi Mentari azali, Raja abadi, Zat yang Maha Berdiri sendiri, Yang Kekal, serta Wajib ada dan esa, Yang Mahahidup dan Mahakuasa. Allah memiliki perumpamaan yang paling mulia. Kesatuan cahaya yang menyeluruh menunjukkan keesaan-Nya, serta keberadaan mentari berikut manifestasi cahayanya pada setiap partikel dan atom menunjukkan keesaan-Nya perhatikanlah baik-baik!

Ketahuilah! Di antara bukti keesaan yang paling benar adalah:

Keesaan dalam segala hal" mulai dari atom-atom sel di matamu hingga keesaan alam.

Kerapian yang paling sempurna dalam segala hal berikut potensinya yang ditanamkan lewat pena qadha dan cetakan qadar.

Kemudahan mutlak dalam mencipta segala sesuatu. Kemudahan tersebut menunjukkan bahwa wujud Pencipta bukan berasal dari jenis wujud ciptaan; tetapi pasti jauh lebih kokoh.

Ketahuilah bahwa bumi telah memberimu kenikmatan dan harta yang berada di tangannya dengan sangat murah. Andaikan kenikmatan merupakan harta milik dunia yang berharga, tentu engkau tidak bisa membeli satu delima meski dengan seluruh yang kau miliki sebab ia berasal dari seluruh bumi lewat beragam pohon dan ladangnya. Pada setiap benih Penciptanya tampak memberikan perhatian kepadanya sekaligus menghiasnya dengan sangat rapi. Dia kumpulkan di dalamnya semua yang terkumpul dengan perasaan yang sempurna dan kemahiran yang penuh hikmah. Dia memperlihatkannya dengan sejumlah warna, rasa, dan aroma guna menarik perhatian pembeli. Andaikan ia bukan ciptaan Zat yang sama sekali tidak berat dan sulit dalam menciptakannya di mana sama saja bagi-Nya antara benih dan taman, serta atom dan mentari, tentu tidak akan menjadi demikian. Sebab, Pencipta benih anggur dan delima yang dicipta-

214

kan untuk memenuhi selera sementara sejumlah serangga dan binatang, tak memiliki perasaan, kehendak, pengetahuan, pilihan, dan kesempurnaan sehingga ia demikian murah-namun kreasi yang sangat rapi dan penuh hikmah menyanggah asumsi tersebut. Atau, Penciptanya adalah Zat yang wajib ada, Mahakuasa, Maha mengetahui, Maha Bijaksana, yang di tangan-Nya tergenggam kerajaan segala sesuatu.

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu cukup berkata kepadanya, 'Jadilah!' Maka, terjadilah ia.

{(Catatan-107): Q.S. yasin: 82.}

Allah tidak menciptakan dan membangkitkan kalian (dari dalam kubur) melainkan hanya seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja.

{(Catatan-108): Q.S. Luqman: 28.}

Setiap ciptaan memiliki hikmah dan tujuan yang mengarah kepada manifestasi nama-Nya dan rahasia perbuatan-Nya, di luar manfaat parsial yang didapat oleh manusia. Tidak mungkin sumber dari karunia ini adalah kekuatan yang buta yang menghasilkan berbagai buah secara kebetulan. Pasalnya, karakteristiknya yang teratur dan penuh hikmah, serta sifat-sifatnya yang rapi dan memiliki cita rasa menolak adanya proses kebetulan dengan keras. Segala kemurahan dan kemudahan, baik dari kuantitas maupun kualitas, berikut kerapian dan keseimbangannya baik secara individu maupun caranya membuktikan kedermawanan, kebijaksanaan, dan kemahakuasaan mutlak Allah yang nikmat-Nya mencakup segala sesuatu.

Mahasuci Zat yang telah mengumpulkan kedermawanan mutlak dan puncak kebijaksanaan, serta memasukkan karunia yang tak terbatas pada tatanan-Nya yang sangat, neraca yang cermat, dan keadilan yang tepat, berupa organ sensorik. Organ inilah yang membuat gajah menolak serangga yang menggigit bagian tubuhnya yang besar, serta membuat manusia yang sombong terganggu oleh gigitan nyamuk sehingga berusaha

215

membunuhnya di mana "Amat lemahlah yang menyembah dan Amat lemah (pulalah) yang disembah."

{(Catatan-109): Q.S. al-Hajj: 73.}

Murka laut, marah angin topan, dan hawa dingin yang menyengat hilang berkat doa lirih yang berasal dari kalbu pilu seorang anak yang selamat ketika berada di atas papan yang pecah di laut berombak, "Siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya."

{(Catatan-110): Q.S. an-Naml: 62.}

Doa itu didengar oleh Zat yang mendengar bisikan kalbu, serta mengendalikan gerakan matahari dan bulan.

Ketahuilah wahai yang tertipu dengan sebab, penciptaan sebab, penetapan hukum sebab-akibat, serta penyiapannya lewat perangkat penciptaan akibat, tidak lebih mudah, lebih utama, lebih sempurna, dan lebih mulia daripada penciptaan akibat di saat keberadaan sebab dengan kalimat kun (jadilah) oleh Zat yang atom dan mentari sama saja bagi-Nya.

Ketahuilah wahai kalbu, derita akibat berpisah yang tampak memenuhi dunia tidak lain merupakan kemunculan berulang dari contoh semisal. Dalam perpisahan jika disertai iman akan terdapat nikmat akibat kemunculan kembali; bukan derita akibat hilang. Karena itu, berimanlah, pasti engkau merasa aman. Berserah dirilah pasti engkau selamat.

Ketahuilah, fanatisme golongan tidak lain merupakan bentuk kelalaian bertumpuk, kesesatan, riya, dan kezaliman yang saling menopang. Akhirnya, makhluk berikut ajarannya menjadi sesembahan, naudzu billah. Adapun semangat keislaman merupakan cahaya yang bergerak dan terpantul dari cahaya iman.

Ketahuilah wahai yang sibuk berdebat dengan kaum atheis, kelompok yang ragu, dan pengekor Barat. Engkau sedang dalam bahaya besar jika jiwamu tidak bersih karena dirimu secara tidak sadar dan bertahap terbawa oleh para musuh. Debat yang jujur dan objektif sangat berbahaya bagi jiwa ammārah bis-su' (yang memerintahkan kepada keburukan). Pasalnya, dengan terus membiarkan diri jatuh ke dalam permusuhan, dalam benaknya

216

akan muncul musuh bayangan yang melahirkan lintasan kritikan yang menjadi wakil musuhnya dari dalam. Akhirnya, setan menetap dalam lintasan tersebut.

Namun, jangan putus asa jika niatmu memang tulus. Apabila engkau merasakan kondisi tersebut, arahkan jihad untuk melawan musuh terbesarmu yang berada di dalam diri. Engkau harus banyak bersimpuh dan meminta ampunan.

Ketahuilah bahwa semua perangkat, makhluk hidup, dan pekerja bodoh yang dipergunakan untuk membangun istana menakjubkan milik raja agung, setiap yang melihatnya akan mengetahui bahwa mereka tidak bekerja untuk dirinya; tetapi untuk orang yang mempekerjakannya sesuai dengan tujuannya yang tinggi, luas, dan halus yang tak mampu dijangkau oleh para kalangan berilmu sekalipun, apalagi oleh masyarakat awam, binatang, dan benda mati. Demikian pula orang yang melihat tampilan bunga yang menarik pandangan makhluk. Tentu mereka meyakini kalau bunga-bunga itu adalah petugas Zat Yang Maha Bijaksana dan Mahamulia. Mereka bertugas memberikan pelayanan dan keramahan kepada para tamu yang datang dengan ijin-Nya ke bumi-Nya.

Ya, cita rasa yang dimiliki oleh bunga dan binatang, apa gerangan tujuan dari goresan penuh hikmah dan halusnya kemurahan yang tertanam dalam tampilan bunga dan hiasannya serta dalam perkembangan binatang dan manfaatnya? Semua itu tidak lain merupakan bentuk pengenalan Tuhan Yang Maha Pemurah dan bentuk kebaikan-Nya kepada hamba dan tamu-Nya.

Ketahuilah wahai jiwa yang malang, engkau mencari semua kebutuhan seluruh tingkatan yang berbeda-beda, keperluan semua indera pada masing-masingnya, serta cita rasa perangkat halus pada tingkatan setiap perangkat, kilau setiap nama-Nya yang indah pada setiap nama, keagungan pemberi pengaruh di balik setiap ciptaan, serta karakteristik makna eksternal pada pengertian yang terlintas di benak. Maka, carilah dari setiap yang sesuai dengannya agar tidak dijerumuskan oleh ilusi.

Ketahuilah bahwa jika engkau melihat dirimu dengan

217

kebesarannya engkau harus melihat kepada sesuatu yang lebih besar daripada dirimu, entah langit dan yang lainnya. Apabila engkau melihat yang lebih kecil daripada dirimu entah kutu atau serangga, lihatlah sel-sel badanmu dan masuklah ke dalam salah satunya. Kemudian perhatikan ia hingga engkau melihat nyamuk dan yang lebih besar daripadanya agar tidak luput darimu urgensi hikmah, rahmat, nikmat, dan bagusnya kreasi yang terdapat pada dirimu. Jika engkau melihat nikmat tak terhingga yang diberikan padamu, lihatlah kebutuhanmu, kelemahanmu, dan hikmat di balik nikmat yang ada agar nikmat tersebut tidak diremehkan.

Ya. Apakah rasa butuhmu kepada mata berkurang lantaran adanya mata pada semua binatang? Tentu tidak. Justru rasa butuh tersebut semakin bertambah.

Ketahuilah bahwa kehidupan yang terdapat pada setiap makhluk memiliki tujuan yang tak terhingga, satu kembali kepada makhluk hidup dan yang lain kembali kepada Zat Yang Menghidupkan sebanyak kepemilikan-Nya yang tak terkira. Orang besar tidak boleh sombong kepada yang kecil. Tidak ada yang sia-sia dalam realitas hidup. Kesia-siaan hanya terdapat dalam pandangan manusia yang tertipu yang mengira bahwa segala sesuatu untuk kepentingan dan keinginannya. Ia menganggap tidak ada gunanya kecuali yang kembali kepadanya. Ya, jamuan yang terhidang di atas bumi merupakan bentuk kemurahan untuk manusia sesuai dengan rahasia pengangkatannya sebagai khalifah. Namun, hal itu dengan syarat harus sesuai dengan kemurahan tadi; bukan semata-mata untuknya dan untuk kepentingannya.

Ketahuilah barangkali ada yang berbisik kepadamu, "Engkau adalah salah satu di antara sekian banyak binatang yang jumlahnya tak terhingga. Semut adalah saudaramu. Lebah juga saudaramu. Engkau sangat jauh dari Zat yang melipat langit, "Sebagaimana menggulung lembaran - lembaran kertas."

{(Catatan-111): Q.S. al-Anbiyā: 104.}

"Padahal pada hari kiamat seluruh bumi berada dalam genggaman-Nya dan langit

218

digulung dengan tangan kanan-Nya."

{(Catatan-112): Q.S. az-Zumar: 67.}

Maka jawablah ia, "Kelemahanku, kefakiranku, dan kehinaanku yang tak terhingga disertai pengetahuanku tentang-Nya menjadi cermin bagi kekuasaan-Nya, kekayaan-Nya, dan kemuliaan-Nya yang tak terhingga. Inilah yang membuatku naik dari kedudukan hewani. Di antara tuntutan keagungan-Nya yang sempurna dan kekuasaan-Nya yang mencakup adalah ketika Dia mendengar seruanku, melihat kebutuhanku, di mana pengaturan langit dan bumi tak membuat-Nya lalai dari mengatur keadaanku yang hina.

Ketidakmampuan manusia menjangkau hal-hal kecil bukan bersumber dari keagungan-Nya; namun bersumber dari keterbatasan dan kelemahan manusia itu sendiri. Tidakkah engkau menyaksikan setiap benih; bahkan setiap tetesan dan partikel kaca berisi bayangan mentari. Andaikan mereka bisa berbicara, tentu masing-masing akan berkata, "Mentari tersebut adalah milikku, ada padaku, dan bersamaku." Tidak ada yang bersaing dan berlomba dengan partikel-partikel terkait hubungannya dengan mentari; entah itu planet atau lautan." Sesuai dengan tingkat pengetahuan kita tentang kefakiran dan kehinaan kita yang tak terbatas, sejauh itu pula kedekatan kita bertambah. Betapa indah kesesuaian antara makhluk yang kefakiran dan kelemahannya tak terhingga dan Zat yang kekuasaan, kemuliaan, dan keagungan-Nya tak terhingga.

Mahasuci Zat yang memasukkan puncak kelembutan dalam puncak keagungan, puncak kasih sayang dalam puncak kegagahan, mengumpulkan puncak kedekatan dengan puncak kejauhan, mempersaudarakan antara pertikel dan mentari, serta memperlihatkan kekuasaan-Nya dengan sejumlah kebalikannya.

Perhatikanlah bagaimana pengaturan langit dan bumi tidak melalaikan-Nya dari indahnya pemeliharaan terhadap kutu dan serangga. Pengaturan daratan dan lautan tidak melalaikan-Nya dari penciptaan lebah dan burung terkecil, serta dari burung, dari menghidupkan ikan-ikan kecil di dalam laut. Kerasnya terpaan

219

badai di daratan dan murka laut tidak menyibukkan-Nya dari berbuat baik secara sempurna kepada hewan yang paling samar, yang paling lemah, dan paling kecil yang tinggal di tempat paling tersembunyi di kedalaman lautan dan deras ombaknya, serta di gelap malam dan gelap awan-Nya.

Senyum kasih sayang terlihat di celah-celah murka lautan dan di balik wajahnya yang masam. Pasalnya, laut ini menyeru lewat seruannya yang luas, "Wahai Yang Mahaagung, wahai Yang Mahabesar, wahai Allah. Mahasuci Engkau. Betapa agung kebesaran-Mu." Binatang kecil tersebut menyertainya dengan ucapannya yang pelan, "Wahai Yang Mahalembut, Wahai Yang Maha Pemurah, wahai Yang Maha Pemberi rezeki, wahai Yang Maha Penyayang, wahai Allah, Mahasuci Engkau. Betapa lembut kebaikan-Mu." Dalam kedua zikir yang saling beriringan itu serta dua tasbih yang saling berpadu terdapat bentuk pengabdian yang halus dan ubudiyah yang mulia kepada Zat Yang Mahaesa.

Ketahuilah bahwa yang terpenting dan yang paling wajib setelah pengetahuan tentang iman adalah amal saleh. Pasalnya Alquran yang bijak selalu befirman, "Orang-orang yang beriman dan beramal saleh."

Ya. Usia yang singkat ini tidak cukup kecuali untuk sesuatu yang lebih penting. Adapun ilmu-ilmu alam yang bersumber dari negeri asing cukup berbahaya, kecuali kalau memang ada kebutuhan mendesak dan untuk keperluan kreasi.

Ya Allah yang Maha Pengasih dari seluruh yang pengasih

Kasihi umat Muhammad saw dan terangi hati umat Muhammad saw

Dengan cahaya iman dan Alquran

Pancarkan petunjuk Alquran

Agungkan syariat Islam

Amin!

⬇ Gulir Otomatis
📝 Catatan Saya 0 catatan

Pilih teks lalu tekan tombol "Catatan" untuk menambahkan catatan.

Pengaturan
Tema
Ukuran Font
Ketebalan Font
Ukuran Font Arab
Spasi Baris

Mode Fokus
Sembunyikan sidebar
Gulir Otomatis
Halaman bergulir sendiri
Kecepatan