“Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat baik.”(QS. an-Nahl [16]: 128).
Jika engkau ingin mengetahui bahwa mendirikan salat serta menjauhi dosa-dosa besar merupakan tugas hakiki yang layak bagi manusia dan hasil fitri yang sesuai dengan penciptaannya, maka perhatikan cerita imajiner yang singkat berikut ini:
Pada saat terjadi perang, di salah satu batalion terdapat dua orang prajurit: yang pertama terlatih dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya; sementara yang lain tidak mengetahui tugasnya dan mengikuti hawa nafsunya. Orang yang melaksanakan tugasnya dengan baik sangat perhatian dengan latihan dan urusan jihad. Ia tidak pernah memikirkan urusan kebutuhan hidup dan persoalan rezekinya. Sebab, ia sadar dan sangat yakin bahwa penghidupannya, perhatian terhadap urusannya, pemberian bekal untuknya, serta pengobatannya ketika sakit, bahkan—bila perlu—penyuapan (ketika makan) adalah kewajiban negara. Kewajiban utamanya hanya berlatih dan berjuang. Meskipun demikian, ia sadar kalau kewajiban tersebut tidak menghalanginya untuk menyiapkan bekal dan mengerjakan sejumlah hal seperti memasak dan mencuci perabotan.
Bahkan di saat mengerjakannya jika ditanya, “Apa yang sedang kau kerjakan?”
Ia tentu menjawab, “Aku sedang melaksanakan sebagian kewajiban negara secara sukarela.” Ia tidak menjawab, “Aku bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.”
Adapun prajurit yang lain, yang tidak mengetahui kewajibannya, malas berlatih dan tidak memiliki perhatian dengan urusan perang. Ia berkata, “Itu urusan negara. Apa urusannya denganku?” Karena itu, ia sibuk dengan urusan nafkahnya dan terus menumpuk harta sehingga ia meninggalkan batalion untuk segera melakukan transaksi jual beli di pasar.
Pada suatu hari temannya yang terlatih berkata,
Wahai saudaraku, tugas utamamu adalah berlatih dan berperang. Engkau didatangkan ke sini untuk melaksanakan tugas tersebut. Adapun urusan hidup, serahkan kepada penguasa negara. Ia tidak akan membiarkanmu kelaparan. Sebab, itu adalah tugas dan kewajibannya. Di samping itu, engkau tidak berdaya dan fakir. Engkau tidak bisa memenuhi kebutuhanmu seorang diri. Lebih dari itu, kita sedang berada dalam kondisi jihad dan di pentas perang dunia yang besar. Aku khawatir mereka menganggapmu sebagai pembangkang sehingga engkau mendapatkan hukuman.Ya, ada dua tugas yang tampak di hadapan kita. Pertama tugas penguasa, yaitu memenuhi kebutuhan kita. Kita kadang dipekerjakan secara cuma-cuma untuk menunaikan tugas tersebut. Yang kedua adalah tugas kita, yaitu berlatih dan menyiapkan diri untuk berperang. Dalam hal ini, penguasa memberikan kepada kita sejumlah bantuan dan fasilitas yang diperlukan.
Wahai saudaraku! Bayangkan seandainya si prajurit tersebut tidak memperhatikan ucapan pejuang yang terlatih tadi, betapa ia sangat merugi dan terancam bahaya!
Wahai diri yang malas! Medan yang bergejolak dengan perang adalah kehidupan dunia ini. Pasukan yang terbagi kepada sejumlah batalion adalah umat manusia. Batalion itu sendiri adalah komunitas muslim saat ini. Lalu kedua prajurit tersebut, yang pertama adalah orang yang mengenal Allah , melaksanakan berbagai kewajiban,dan meninggalkan dosa besar. Ia adalah muslim bertakwa yang berjuang melawan nafsu dan setan agar tidak terjatuh ke dalam dosa dan kesalahan. Sementara yang kedua adalah orang fasik yang merugi dan sibuk mencari nafkah sampai pada tingkat seakan tidak percaya kepada Pemberi Rezeki hakiki. Demi mendapatkan sesuap nasi, ia berani meninggalkan kewajibannya dan mengerjakan maksiat.Selanjutnya, berbagai latihan yang ada berupa ibadah, khususnya salat. Perang adalah perjuangan manusia dalam melawan diri dan hawa nafsunya, menghindarkan diri dari dosa dan akhlak tercela, serta melawan setan dari kalangan jin dan manusia guna menyelamatkan kalbu dan ruhnya dari kebinasaan abadi dan kerugian yang nyata. Kemudian kedua tugas di atas, yang pertama pemberian kehidupan dan pemeliharaannya. Sementara yang kedua adalah beribadah dan memohon kepada Sang Pemberi dan Pemelihara kehidupan, serta bertawakkal dan percaya kepada-Nya.
Ya, Dzat yang memberikan kehidupan, yang menciptakannya sebagai kreasi menakjubkan yang paling bersinar serta menjadikannya sebagai hikmah rabbani yang cemerlang adalah Dzat yang memeliharanya. Hanya Dia yang menjaga dan terus menyuplai rezeki untuknya. Engkau ingin mengetahui buktinya? Hewan yang paling lemah dan paling bodoh mendapatkan rezeki yang paling baik dan paling bagus (misalnya ikan dan ulat). Makhluk yang paling lemah dan paling halus bisa mendapatkan makanan yang paling nikmat dan paling baik (misalnya bayi dan anak-anak binatang).
Agar engkau dapat memahami bahwa sarana untuk mendapatkan rezeki yang halal bukan berupa kekuatan dan ikhtiar, melainkan kelemahan dan ketidakberdayaan, cukuplah engkau membandingkan antara ikan yang bodoh dan serigala, antara anak-anak binatang yang tidak memiliki kekuatan dan binatang buas pemangsa, serta antara pohon yang tegak berdiri dan hewan yang terengah-engah.
Orang yang meninggalkan salatnya lantaran sibuk mencari nafkah sama seperti prajurit yang meninggalkan latihan dan paritnya kemudian meminta-minta di pasar. Orang yang menunaikan salat tanpa melupakan bagian dari rezekinya serta mencarinya di dapur rahmat Tuhan Pemberi Rezeki Yang Maha Pemurah agar tidak menjadi beban bagi yang lain adalah baik dan memiliki wibawa. Hal itu pun bagian dari ibadah.
Selanjutnya, fitrah manusia berikut sejumlah perangkat maknawi yang Allah tanamkan padanya menjadi bukti bahwa ia tercipta untuk beribadah. Sebab, mengenai kekuatan dan aktivitas yang diperlukan untuk kehidupan dunia, manusia tidak akan mencapai tingkatan burung pipit yang paling rendah sekalipun. Namun dilihat dari sisi kehidupan maknawi dan ukhrawinya, manusia menjadi pemimpin seluruh makhluk lewat ilmu, rasa butuh, dan ibadah kepada Allah yang Dia tanamkan dalam diri mereka.
Wahai diri! Jika engkau menjadikan kehidupan dunia sebagai tujuan, lalu mengerahkan seluruh potensimu untuknya, maka engkau tak ubahnya seperti burung yang paling hina. Adapun jika engkau menjadikan kehidupan akhirat sebagai akhir impian serta menggunakan kehidupan dunia sebagai sarana dan ladang untuk meraih akhirat, lalu engkau berusaha untuknya, maka engkau seperti pemimpin seluruh makhluk hidup dan hamba yang mulia di sisi Pencipta Yang Maha Pemurah. Engkau juga akan menjadi tamu yang terhormat di dunia ini.
Di hadapanmu terdapat dua jalan, pilihlah mana yang kau suka, serta mintalah petunjuk dan taufik kepada Tuhan Yang Maha Penyayang.