Cahaya Mentari Tauhid
(Teks Berbahasa Arab dari kata kedua puluh dua)
{(Catatan-6): Risalah ini berikut dua risalah berjudul "Percikan" dan "Terutama" merupakan satu risalah dalam edisi kedua. Namun, keduanya merupakan risalah terpisah dalam naskah dan dalam terjemahan Turki. karena itu, kami memilih untuk memisahkannya menjadi risalah yang berbeda. Jadi, ketiga risalah ini ditulis oleh "Said Baru" dengan bahasa Arab. Ia menuliskannya di Barla sesudah dibuang ke sana pada tahun 1927.}
Bismillahirrahmanirrahim
Mahasuci Engkau wahai Zat yang seluruh alam yang beredar ini bertasbih memuji-Mu dengan tasbih lisan Muhammad saw. Gema tasbihnya yang mengiang-ngiang untuk-Mu secara turun-menurun dari generasi ke generasi dan dari masa ke masa seiring dengan perjalanan waktu. Ya Allah, abadikanlah gema tasbih Nabi saw di atas lembaran alam dan daun peredaran waktu hingga hari kiamat dan hari kemudian.
Mahasuci Engkau wahai Zat yang bumi bertasbih memuji-Mu dengan bersujud di bawah arasy keagungan qudrat-Mu dengan lisan Muhammad saw. Pasalnya, beliaulah penutur dan penafsir dari tasbih bumi untuk-Mu dengan sikap dan perbuatannya. Dengan risalah beliau, bumi secara stabil bergerak di porosnya.
Ya Allah, buatlah bumi berikut seluruh wilayahnya mengucap tasbih lisan Muhammad saw.
Mahasuci Engkau wahai Zat yang seluruh mukmin dan mukminah bertasbih memuji-Mu di seluruh tempat dan waktu dengan lisan Muhammad saw. Pasalnya, beliau yang cahaya tasbihnya keluar untukmu dari mulut kaum beriman.
Ya Allah, buatlah anak keturunan Adam hingga akhir umur manusia mengucap tasbih Muhammad untuk-Mu sesuai dengan kehormatan beliau dan rahmat-Mu. Kasihi kami dan umatnya. Amin!
Bismillahirrahmanirrahim
Penjelasan tentang Permata Kandungan Ayat Berikut:
{(Catatan-7): Pelajaran keempat belas dari buku al-Madkhal ilā an-Nūr (Pengantar Menuju Cahaya) yang dianggap sebagai tulisan pertama "Said Baru" dengan bahasa Turki.}
Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Kepunyaan-Nya kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi (QS az-Zumar: 62-63)
Mahasuci Zat yang di tangan-Nya tergenggam kerajaan segala sesuatu (QS Yasin: 83)
Perbendaharaan segala sesuatu terdapat pada Kami (QS al-Hijr: 21)
Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia yang memegang ubun-ubunnya (QS Hud: 56)
Wahai yang lalai dan tenggelam dalam dunia sebab-akibat. Sebab-akibat merupakan hijab yang menutupi gerak kekuasaan Allah. Pasalnya, kemuliaan dan keagungan-Nya mengharuskan adanya hijab. Hanya saja, Zat yang Maha berbuat itulah yang merupakan kekuatan abadi yang sebenarnya. Tauhid dan kemuliaan Allah mengharuskan demikian. Penguasa azali memiliki para pesuruh. Namun, mereka bukan perantara pelaksanaan sehingga menjadi sekutu bagi kekuasaan Tuhan.
Mereka hanyalah penunjuk yang memproklamirkan berbagai prosedur Tuhan sekaligus sebagai saksi baginya. Ketika tunduk pada perintah Tuhan mereka sebenarnya melakukan sejumlah ibadah yang sesuai dengan kapasitas mereka. Mereka adalah perantara yang memperlihatkan kemuliaan qudrat-Nya dan keagungan rububiyah-Nya.
Adapun manusia, kelemahan dan kondisi butuhnya memerlukan sarana dan pesuruh yang ikut serta dalam kekuasaanannya. Karena itu, terdapat perbedaan antara pesuruh ilahi dan pesuruh manusia.
Ya, penglihatan sebagian besar orang yang lalai tidak memahami kebaikan dan hikmah di balik berbagai kejadian. Ia mengeluhkan masa depan dan berpaling secara bodoh. Sebab-akibat dijadikan sebagai sasaran keluhan. Apabila seseorang diberi taufik untuk menggapai hikmah dan kebenaran, sebab-akibat itu akan hilang dari pandangannya.
Lewat sebuah perumpamaan disebutkan bahwa malaikat Izrail as. mengeluh kepada Allah Swt., "Hamba-Mu mengeluh karena aku merenggut nyawa mereka." Maka, Allah menjawab, "Akan Kuletakkan antara dirimu dan mereka perantara berupa musibah sehingga keluhan mereka tertuju kepadanya; bukan kepadamu."
Kesimpulannya, bahwa kekuasaan dan keagungan Allah mengharuskan adanya sebab-akibat yang terlihat secara lahiriah agar akal bisa melihat sentuhan tangan kekuasaan-Nya terhadap berbagai persoalan. Namun, tauhid dan kemuliaan-Nya tak bisa dipengaruhi oleh sebab-akibat.
Catatan:
Tauhid terbagi dua:
Pertama, tauhid yang bersifat umum yaitu dengan berkata, "Tiada sekutu bagi-Nya. Alam ini bukan milik selain-Nya." Dalam hal ini kelalaian dan kesesatan masih bisa bercampur ke dalam pemilik tauhid tersebut.
Kedua, tauhid hakiki yaitu dengan berkata, "Dia adalah Allah semata. Kerajaan, alam, dan segala sesuatu adalah milk-
Nya." Ia melihat tanda kekuasaan-Nya pada segala sesuatu serta membaca stempel-Nya pada segala sesuatu. Ia menetapkan untuk-Nya dengan penuh kesadaran. Tauhid ini tidak bisa dimasuki oleh kesesatan dan ilusi. Di sini kami akan menjelaskan kepadamu sejumlah cahaya tauhid ini yang kami ambil dari Alquran.
Cahaya Pertama
Pada setiap ciptaan terdapat tanda yang secara khusus menunjuk kepada Zat Pencipta segala sesuatu. Pada setiap makhluk terdapat stempel yang secara khusus menunjuk kepada Zat Pembuat segala sesuatu. Pada setiap lembar tulisan kekuasaan-Nya terdapat petunjuk menakjubkan yang tak bisa ditiru yang secara khusus menunjuk kepada Sang Penguasa azali dan abadi.
Misalnya lihat pada tanda kekuasaan-Nya yang tak terhingga yang Allah letakkan pada kehidupan. Lihatlah kehidupan, bagaimana sesuatu menjadi segala sesuatu dan segala sesuatu menjadi sesuatu.
Ya, air yang diminum dengan ijin Allah berubah menjadi organ dan perangkat makhluk hidup sehingga dengan perintah Allah sesuatu berubah menjadi segala sesuatu. Demikian pula dengan berbagai jenis makanan. Dengan ijin Allah, ia berubah menjadi tubuh, daging, dan organ lainnya. Dengan demikian, segala sesuatu berubah menjadi sesuatu dengan perintah Allah. Orang yang memiliki akal, perasaan, dan kalbu akan memahami bahwa proses membuat sesuatu menjadi segala sesuatu dan sebaliknya merupakan tanda khusus Zat Pencipta segala sesuatu, Allah Swt.
Cahaya Kedua
Lihatlah satu stempel dari sekian stempel yang tak terhingga yang terdapat pada makhluk hidup. Yaitu bahwa makhluk hidup seperti miniatur seluruh entitas, buah yang menerangi pohon alam, serta benih yang menyinari dunia. Sang Pencipta menanamkan di dalamnya model dari sebagian besar spesies alam. Seolah-olah makhluk hidup merupakan tetesan
yang diperas dari seluruh alam dengan sistem yang cermat dan jelas. Ia ibarat satu titik komprehensif yang terambil dari seluruh neraca yang sensitif dan ilmiah. Tidak mungkin makhluk paling rendah sekalipun dicipta kecuali oleh Zat yang menggenggam kekuasaan seluruh entitas. Orang yang memiliki akal sehat pasti memahami bahwa Zat yang menciptakan lebah misalnya sebagai spesies indeks bagi sebagian besar sesuatu, Zat yang menuliskan dalam substansi manusia sebagian besar persoalan buku alam, Zat yang menanamkan dalam benih tin rancangan pertumbuhan pohon tin, Zat yang menjadikan kalbu manusia sebagai model dan teropong bagi ribuan makhluk, serta Zat yang menuliskan dalam ingatan manusia detil sejarah kehidupannya, tidak lain adalah Pencipta segala sesuatu. Semua kreasi dan perbuatan-Nya merupakan stempel khusus milik Tuhan Pemelihara semesta alam.
Cahaya Ketiga
Lihatlah ukiran monogram yang tertulis pada proses penciptaan dan pemberian kehidupan. Kita bisa mengatakan bahwa sebagaimana mentari pada setiap lempengan mulai dari planet hingga serpihan kaca dan es memiliki cetakan dari manifestasinya dan ukiran yang khusus menjadi miliknya.
Demikian pula dengan mentari keesaan dan keabadian Tuhan yang terdapat pada setiap makhluk dilihat dari proses penciptaan dan pemberian kehidupan. Padanya terdapat cetakan dari manifestasi keesaan-Nya. Andaikata seluruh sebab-suka atau tidak suka-berkumpul untuk meniru dan membuat sejenisnya, tentu mereka tidak akan mampu. "Meski sebagian mereka dengan sebagian yang lain saling membantu" (QS al-Isra:88).
Jika engkau tidak menisbatkan bayangan mentari yang bersinar pada setiap benda kepada manifestasi mentari yang sebenarnya, berarti terdapat mentari-mentari kecil pada setiap benda yang disinari oleh mentari tadi. Pada setiap kaca sinarnya terdapat mentari; bahkan pada setiap serpihan yang transparan terdapat mentari. Tentu saja ini merupakan puncak kebodohan.
Demikian pula jika engkau tidak menisbatkan setiap
makhluk kepada manifestasi keesaan-Nya yang mencakup di mana kehidupan ini merupakan titik sentral dari manifestasi nama-nama-Nya yang merupakan sinar mentari keabadian. Berarti engkau berpandangan bahwa pada setiap makhluk-bahkan pada lalat dan bunga sekalipun-terdapat kekuasaan mencipta yang tak terhingga, pengetahuan yang mencakup, dan kehendak yang bersifat mutlak; serta bahwa pada benda-benda tersebut terdapat sifat-sifat yang hanya mungkin terdapat pada Zat Wajibul wujud. Akhirnya jika engkau menisbatkan sesuatu kepada dirinya sendiri, engkau terpaksa melekatkan sifat uluhiyah kepada setiap benih dan partikel. Atau, jika menisbatkan sesuatu kepada sebab, engkau juga harus meyakini bahwa setiap sebab yang tak terhingga memiliki sifat-sifat uluhiyah. Engkau juga harus menerima adanya sekutu Tuhan yang tak terhingga yang mestinya berdiri sendiri.
Pasalnya, setiap partikel-terutama jika ia berasal dari biji atau benih-memiliki kondisi yang rapi dan menakjubkan, serta sejalan dengan seluruh bagian makhluk yang merupakan bagian darinya. Bahkan, ia sejalan dengan spesiesnya; bahkan dengan seluruh entitas. Ia juga memiliki tugas dalam kelompoknya sebagaimana keberadaan prajurit dalam instansi kemiliteran. Jika engkau memutuskan hubungan benih tadi dari Tuhan Yang Mahakuasa, berarti engkau harus mengakui bahwa dalam benih tersebut terdapat mata yang dapat melihat segala sesuatu serta perasaan yang meliputi segala sesuatu.
Kesimpulannya, jika engkau tidak menisbatkan mentari-mentari kecil yang terdapat dalam tetesan air itu kepada manifestasi cahaya mentari, berarti engkau mengakui keberadaan mentari yang jumlahnya tak terhingga dalam benda-benda kecil seperti kunang-kunang yang terbang di waktu malam.
Demikian pula jika engkau tidak menisbatkan segala sesuatu kepada Zat Yang Mahakuasa secara mutlak yang semua makhluk baik atom maupun mentari, yang kecil maupun yang besar, bernisbat kepadanya. Berarti engkau mengakui keberadaan tuhan yang jumlahnya tak terhingga sehingga engkau terjatuh dalam puncak kebodohan.
Cahaya Keempat
Jika sebuah buku ditulis tangan, cukuplah ia ditulis oleh sebuah pena milik seseorang. Namun, jika buku tersebut dicetak, maka diperlukan sejumlah pena cetak sebanyak hurufnya dengan keikutsertaan banyak orang untuk mencetak huruf-huruf tersebut. Jika sebagian besar isinya ditulis dengan bentuk tulisan yang sangat kecil dalam sejumlah kata-misalnya surat yasin ditulis dalam kata yasin-maka, untuk mencetak satu kata itu saja diperlukan pena-pena cetak sebanyak huruf tersebut.
Demikian pula dengan buku alam ini. Apabila menurutmu ia ditulis dengan pena Zat Yang Mahaesa berarti engkau meniti jalan yang sangat mudah dan rasional di mana ia memang harus begitu adanya. Namun, apabila ia dinisbatkan kepada alam dan sebab, engkau akan melewati jalan yang sangat sukar yang tidak bisa diterima, tidak rasional, dan mustahil. Pasalnya, untuk mencetak setiap makhluk, alam harus menghadirkan semua perangkat yang dibutuhkan untuk sebagian besar entitas. Ini adalah khurafat yang bercampur dengan ilusi. Bahkan, dalam setiap bagian tanah, air, dan udara ia harus menghadirkan jutaan alat cetak dan mesin yang tersimpan di dalamnya sebanyak bunga dan buah guna membentuk berbagai bunga dan buah yang perangkat dan substansinya beraneka ragam. Atau, jika tidak terdapat satu kekuasaan yang mampu mencetak semua jenis tumbuhan, ilmu yang luar biasa yang mencakup seluruh detil seluruh pohon dan taman berikut perangkat dan neracanya pada setiap bagian tanah, air, dan udara karena setiap bagiannya bisa menjadi tempat tumbuh semua tumbuhan.
Misalkan ada satu bidang tanah ditanami oleh berbagai benih dan biji secara bergantian. Lalu sebidang tanah tadi dikosongkan dan diganti dengan setumpuk tanah, ternyata hasilnya sama. Apa yang kau saksikan sudah cukup menjadi bukti. Engkau bisa menyaksikan dalam perjalanan di dunia ini bahwa sebagian besar tanah bisa menjadi tempat tumbuh sebagian besar tanaman padahal bentuk setiap tumbuhan yang berkembang dan berbuah berbeda-beda. Keteraturan, keseimbangan, dan keunikan yang dimiliki oleh setiap tumbuhan
merupakan model khusus dan spesifik yang mengharuskan keberadaan perangkat, mesin, dan alat cetak spesifik pula. Bahkan, ia mengharuskan adanya semua perangkat yang membentuk pohon dan tanaman pada setiap benihnya meski sangat kecil dan serupa. Alam harus menghadirkan semua perangkat, mesin, dan alat untuk membentuk segala sesuatu. Ini adalah omong-kosong yang orang ahli debat pun tidak mempercayainya. Ia adalah khurafat di mana pelawak yang senang mengutarakan khurafat sekalipun merasa malu dengannya.
Cahaya Kelima
Lihatlah! Di samping setiap huruf dari sebuah buku menunjukkan dirinya seukuran satu huruf dengan satu cara, namun ia menunjukkan eksistensi penulisnya dengan beragam cara serta memperkenalkan pembuatnya seukuran satu baris.
Demikian pula dengan setiap huruf yang terpampang dalam buku alam ini. Ia menunjukkan dirinya seukuran bentuknya sekaligus memperlihatkan eksistensinya sesuai wujudnya. Namun, pada saat yang sama ia menunjukkan keberadaan Penciptanya dengan beragam cara. Ia juga menunjukkan nama-nama Pembuatnya serta menjelaskannya seukuran kumpulan bait syair yang panjang. Karena itu, kalau ada orang yang demikian dungu dengan mengingkari eksistensi dirinya dan alam, hendaknya ia berhenti memperlihatkan puncak kebodohannya yang mengingkari eksistensi Sang Pencipta.
Cahaya Keenam
Lihatlah! Sang Pencipta telah menuliskan pada setiap benda dan entitas segel khusus untuknya sebagaimana telah dijelaskan. Demikian juga Dia menuliskan pada setiap spesies dan entitas stempel yang khusus untuknya. Dia menyetempel seluruh penjuru langit dan bumi dengan stempel keesaan-Nya serta menuliskan pada seluruh alam tanda keesaan-Nya dengan bentuk yang sangat jelas dan terang. Lihatlah stempel yang ditunjukkan oleh ayat berikut:
Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Tuhan yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS ar-Rum: 50).
Pasalnya, proses menghidupkan bumi merupakan bentuk kebangkitan dan pengumpulan seluruh manusia yang sangat menakjubkan. Dalam menghidupkannya dikumpulkan lebih dari 300 ribu spesies yang setiap bagian dari banyak spesies tersebut dalam setahun menyamai total keseluruhan manusia di dunia. Karena hikmah yang tersembunyi bukan entitas tersebut yang dihidupkan kembali, namun yang serupa dengannya. Bagaimanapun adanya hal itu menunjukkan mudahnya mengumpulkan semua manusia dan merupakan contoh dari kebangkitan dan pengumpulan manusia.
Proses menghidupkan beragam spesies yang sudah saling bercampur dan berbaur serta bagaimana mereka dihidupkan kembali dengan cara yang sangat istimewa tanpa ada kesalahan sedikitpun merupakan wujud adanya stempel khusus milik Zat Yang Mahakuasa dan Maha Mengetahui. Demikian pula dengan penulisan 300 ribu buku yang beragam bahkan lebih dalam satu lembar permukaan bumi secara bercampur namun dengan sangat teratur tanpa terlewat dan tanpa ada cacat sedikitpun. Semua itu merupakan tanda khusus milik Zat yang di tangan-Nya tergenggam kerajaan dan perbendaharaan segala sesuatu; tanpa terlalaikan oleh apapun.
Wahai orang yang mengingkari pengumpulan semua makhluk, lihatlah bagaimana proses menghidupkan bumi dengan seratus ribu contoh dan petunjuknya dalam enam pekan. Sikap ingkarmu sama seperti orang yang melihat Zat pemilik berbagai mukjizat yang dalam satu waktu dan satu lembar bisa menuliskan
banyak buku yang telah punah dalam ingatan-Nya. Atau, Dia mampu menuliskannya kembali seperti buku-buku yang telah punah itu. Lalu ada yang berkata kepada orang tadi, "Penulis ini akan menuliskan bukumu yang Dia susun namun telah terhapus oleh air dalam satu halaman dengan sekejap." Orang tadi menjawab, "Tidak mungkin. Bagaimana Dia akan bisa menuliskan semua huruf yang telah lenyap dalam sekejap?!" Ia mengukur Penulis Yang Memiliki ingatan kuat dan Mahakuasa dengan dirinya yang bodoh dan lemah.
Kalau ada yang mampu mengangkat gunung-dengan isyarat-untuk menampakkan kehebatannya, lalu seseorang berkata bahwa ia tidak akan mampu menangkat batu besar yang menutupi jalan pelalu lalang yang diundang menuju kebun karunianya, berarti orang tersebut tidak waras dan bodoh.
Ya. Pemeliharaan Allah dalam kreasi agung-Nya di musim semi memiliki stempel yang agung dan cermat. Ia benar-benar sangat rapi dan teratur dalam alam yang demikian luas secara sangat cepat dan mudah serta sangat istimewa. Stempel tersebut khusus milik Zat yang tidak terhalang oleh sebuah perbuatan dan tidak tertutup dan terberatkan oleh sesuatu.
Ya. kita bisa menyaksikan pada permukaan bumi di musim semi aktivitas yang penuh hikmah, terarah dan mulia serta sebuah kreasi luar biasa dalam satu waktu dengan satu model pada setiap bagian dalam bentuk yang sangat rapi dan cepat. Ia memperlihatkan berbagai hal luar biasa secara teratur, sangat mudah, dan merata. Aktivitas dan kreasi ini tentu merupakan stempel milik Zat yang tidak berada di sebuah tempat karena berada di semua tempat, yang hadir dan menatap dengan kekuasaan dan pengetahuan-Nya; tanpa butuh pertolongan.
Cahaya Ketujuh
Lihatlah! Sebagaimana di permukaan bumi serta di penjuru langit dan bumi stempel keesaan-Nya terlihat, demikian pula di seluruh alam ini stempel tauhid terlihat dengan sangat jelas. Pasalnya, alam seperti istana kecil, seperti pabrik yang tertata rapi dan seperti negeri yang dikelola secara sempurna. Di antara
setiap komponen dan bagiannya terdapat kerjasama yang sangat baik. Sebagian membantu yang lain dalam sebuah perjalanan panjang dengan rapi tanpa pernah menyimpang pada saat yang dibutuhkan dan dengan cara yang tak terduga. Lihatlah bagaimana sebagian memberikan bantuan untuk kebutuhan yang lainnya. Dalam kerjasama ini terdapat upaya untuk saling merespon dengan berkata, "Aku segera datang!" lewat aksi nyata ketika ada yang meminta. Mereka saling mengulurkan tangan bantuan dan bekerja secara rapi. Mereka membantu setiap makhluk untuk menuju sebuah tujuan. Mereka taat dan tunduk kepada Zat Yang Maha Mengatur.
Lihatlah bagaimana hukum kerjasama tersebut berjalan mulai dari matahari dan bulan, malam dan siang, musim panas dan dingin, sampai kepada upaya tanaman untuk terus memenuhi kebutuhan hewan dengan menyediakan rezekinya serta mengambilnya dari perbendaharaan rahmat Tuhan. Demikian pula dengan hewan yang memberikan bantuan kepada manusia. Lebah dan cacing mengambil madu dan sutera dari perbendaharaan Zat Yang Maha Penyayang guna diantarkan kepada manusia. Bahan-bahan nutrisi memberi kepada buah dengan beragam jenisnya. Serta partikel-partikel makanan membantu mengisi sel-sel tubuh dengan sangat sempurna, cermat, dan penuh hikmah.
Fenomena ini semua, terutama bagaimana mereka bekerjasama dengan rapi dan sempurna, merupakan petunjuk yang sangat jelas dan terang bahwa mereka merupakan pelayan dari Pemelihara yang Maha Bijaksana serta pesuruh dari Pengatur Yang Mahamulia. Mereka bergerak sesuai dengan perintah, ijin, kekuatan, dan kebijaksanaan-Nya.
Cahaya Kedelapan
Lihatlah bahwa rezeki yang didistribusikan kepada makhluk sejalan dengan kadar kebutuhan mereka dalam bentuk yang sesuai dengan masing-masing mereka. Rezeki menyeluruh yang terdapat dalam rahmat-Nya yang luas yang berisi kasih sayang, rahmat-Nya yang luas yang terdapat dalam perhatian
-Nya yang sempurna yang berbalut kelembutan dan kemurahan, perhatian-Nya yang tampak dalam hikmah-Nya yang mencakup yang mengandung tujuan, hikmah-Nya yang terlihat dalam keteraturan yang ada, keteraturan yang terhampar secara nyata, keterhamparan dalam bingkai kerjasama dan tolong-menolong, serta kerjasama di antara partikel dan bagiannya itu, semuanya merupakan stempel khusus Tuhan Pemelihara dan Pengatur segala sesuatu. Ia menunjukkan keberadaan Zat yang matahari, bulan, dan bintang berjalan sesuai dengan perintah-Nya.
Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya (QS as-Sajadah: 7)
Jika menghendaki sesuatu, Dia berkata, "Jadilah!" Maka jadilah ia dengan seketika (QS Yasin: 82)
Cahaya Kesembilan
Sebagaimana stempel keesaan-Nya terdapat pada partikel, bumi, dan alam, ia juga terdapat pada semua spesies yang bertebaran dan berbagai unsur.
Sebagaimana proses penanaman benih di ladang menunjukkan bahwa ladang tersebut dikelola oleh pemilik benih dan benih tadi merupakan milik pengelola sawah, demikian pula dengan berbagai unsur di alam ini. Unsur tersebut yang merupakan ladang bagi entitas lewat keterhamparannya dalam ukuran tertentu dan bentuknya yang rapi, makhluk yang merupakan buah kasih sayang dan mukjizat kekuasaan-Nya lewat kondisinya yang bertebaran dengan penuh hikmah dan mirip serta lewat keberadaannya di berbagai penjuru dalam satu distribusi yang menakjubkan, semua itu menunjukkan bahwa area berikut unsurnya dan ladang berikut benihnya berada dalam genggaman Sang Pencipta yang esa. Setiap spesies dan unsur menjadi saksi bagi masing-masing dan semuanya bahwa "Kalian adalah milik Zat yang memiliku." Jadi, setiap bunga, setiap buah, dan setiap hewan merupakan stempel dan segel yang menyatakan dengan lisan keteraturannya bahwa tempat ini adalah "Milik Zat yang memiliku, ciptaan Zat yang menciptakanku, tulisan Zat yang
aku menjadi hurufnya, dan kreasi Zat yang aku merupakan ukirannya."
Karena itu, sebagaimana pengaturan hakiki terhadap makhluk yang paling kecil sekalipun, dan pemeliharaan terhadap entitas yang paling lemah sekalipun dilakukan oleh Zat yang semua unsur berada dalam genggaman-Nya, demikian pula dengan pengelolaan dan pengoperasian semua unsur dan elemen. Ia dilakukan oleh Zat mengatur dan mengendalikan semua hewan dan tumbuhan dalam genggaman pemeliharaan-Nya. Ini merupakan stempel tauhid yang dapat dilihat oleh orang yang matanya sehat dan kalbunya tidak tertutupi karat.
Wahai orang yang sombong, cobalah apakah dirimu mampu menguasai sesuatu di alam ini? Pergilah dan dengarkan ucapan setiap makhluk yang berucap, "Zat yang menguasai keseluruhan spesiesku dapat mengaku memilikiku. Jika tidak begitu, ia tidak bisa mengaku." Kemudian pergilah menuju spesies yang ada, masing-masing berkata dengan lisan ketersebarannya, "Siapa yang dapat menguasai bumi entah bagian luar ataupun bagian dalamnya bisa mengaku menguasaiku. Jika tidak, pengakuannya dusta." Lalu, pergilah kepada bumi, maka lewat lisan kerjasama antara dirinya dan langit ia berucap, "Siapa yang dapat menguasai seluruh entitas, ia boleh mengaku menguasai diriku. Jika tidak, maka pengakuannya palsu."
Cahaya Kesepuluh
Apabila engkau melihat sejumlah stempel tauhid yang telah kami singgung yang terdapat pada partikel, entitas, seluruh alam, kehidupan dan makhluk hidup, maka lihatlah segel tunggal dari begitu banyak segel keesaan yang terhampar pada semua spesies dan seluruh alam.
Ya, beban untuk menumbuhkan sebuah pohon yang memiliki buah sama mudahnya dengan beban untuk menumbuhkan satu buah karena sumber yang mengaturnya sama. Sumber yang sama, hukum yang sama, serta pengelolaan yang sama membuat beban, kesulitan, dan biayanya ringan. Ia sangat mudah sehingga tidak berbeda antara pohon yang memiliki buah tak terhitung
yang berada di satu tangan dengan satu buah yang berada di banyak tangan. Untuk memelihara satu buah saja, pengelola yang berjumlah banyak membutuhkan sesuatu yang bisa menumbuhkan pohon dengan sempurna berikut buahnya dilihat dari jumlah perangkat yang diperlukan. Tidak ada perbedaan antara keduanya kecuali dari segi cara. Sama halnya dengan pabrik dan mesin yang bekerja memproduksi perangkat militer untuk satu pasukan besar. Ia membutuhkan alat-alat yang juga diperlukan untuk memproduksi perangkat untuk satu orang. Perbedaan hanya terletak pada hal teknisnya saja.
Contoh lain adalah ongkos untuk mencetak ribuan copy di percetakan sama bahkan lebih murah jika dibandingkan dengan ongkos untuk mencetak satu copy saja. Jika engkau meninggalkan percetakan yang satu itu untuk pergi kepada banyak percetakan, tentu engkau harus membayar ribuan kali lipat.
Kesimpulannya, jika engkau tidak menisbatkan sesuatu yang banyak kepada yang satu-di mana engkau terpaksa menisbatkan yang satu kepada yang banyak-tentu beban dan biayanya bertambah sebanyak jumlah yang ada. Penciptaan semua spesies yang bertebaran dengan mudah dan luar biasa merupakan bentuk kemudahan dari tauhid dan keesaan.
Cahaya Kesebelas
Kesamaan antar semua entitas sejenis dan kemiripan antara spesies yang sama dalam beberapa organ utama menunjukkan stempel dan pena yang satu yang menjadi bukti bahwa semua kesamaan dan kemiripan tersebut merupakan kreasi tunggal. Demikian pula dengan kemudahan yang terlihat dan ringannya beban. Kedua hal tersebut menunjukkan bahwa semuanya merupakan tanda kreasi Pencipta Yang Mahaesa. Jika tidak, tentu yang muncul adalah kesulitan sampai pada tingkat di mana jenis dan spesies itu tidak mungkin terwujud. Karena itu, tidak mungkin Allah Swt memiliki sekutu. Jika tidak, tentu alam akan menjadi tidak beraturan. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam berbuat sesuatu. Jika tidak, tentu alam ini tidak ada.
Cahaya Keduabelas
Lihatlah! Jika di satu sisi kehidupan merupakan petunjuk keesan-Nya dan dalil kemestian eksistensi-Nya, di sisi lain kematian merupakan bukti keabadiaan dan kekekalan-Nya. Jika tetesan sungai yang mengalir, buih yang bergelombang di lautan, serta benda di muka bumi menjadi saksi atas keberadaan matahari lewat cahaya yang dipantulkannya, maka hilang dan sirnanya tetesan, buih, dan benda tersebut padahal pantulan cahaya tadi masih terus tampak pada benda sejenis yang datang sesudahnya menjadi bukti akan eksistensi matahari yang terus ada dalam bentuk manifestasinya. Sementara, pantulan cahaya tadi hanya merupakan tanda keberadaan sebuah mentari. Ia menampakkan keberadaan matahari lewati wujudnya serta keabadian matahari lewat ketiadaannya.
Demikianlah kondisi seluruh entitas. Keberadaannya menunjukkan keberadaan Sang Wajibul wujud (Allah), sementara ketiadaannya seiring dengan kedatangan entitas sejenis sesudahnya menunjukkan keabadian-Nya. Pasalnya, kemunculan kembali sejumlah ciptaan yang indah, serta pergantian berbagai entitas, dan kelenyapannya setelah kemunculan entitas sejenisnya seiring dengan pergantian siang dan malam dan pergantian musim, semua itu menunjukkan dengan sangat jelas eksistensi Pemilik keindahan Yang Mahaesa, kekal, tinggi, dan abadi. Lenyapnya berbagai sebab dan akibat seiring dengan pergantian tahun dan masa, lalu kemunculan kembali akibat dan sebab sejenis menunjukkan secara tegas bahwa semuanya lemah dan makhluk Tuhan yang dirangkai dengan sebuah hikmah yang sangat halus. Lebih dari itu, ia menunjukkan bahwa semua ciptaan yang halus tersebut dan seluruh entitas yang indah yang terus berputar merupakan kreasi Zat Yang Mahaesa, Mahaagung, dan Pemurah; Zat yang seluruh nama-Nya suci dan indah. Ia juga merupakan hasil ukiran-Nya yang terus berubah, cermin-Nya yang terus bergerak, serta segel-Nya yang terus berganti.
Cahaya Ketiga belas
Lihatlah! Segala sesuatu--dari atom hingga planet, dari diri
hingga mentari--dengan lisan ketidakberdayaannya menunjukkan eksistensi Penciptanya dan dengan tugas-tugas menakjubkan yang dilakukannya secara teratur menunjukkan keesan-Nya.
Segala sesuatu memiliki dua saksi bahwa Dia ada dan esa.
Segala yang hidup memiliki dua tanda bahwa Dia esa dan abadi.
Dari kandungan Alquran aku memahami bahwa semua partikel alam menunjukkan eksistensi, keesaan, dan keabadian Allah lewat sekitar lima puluh lima lisan. Semuanya kujelaskan secara ringkas dalam risalah berbahasa Arab yang berjudul "tetesan". Anda bisa merujuk kepadanya.
Cahaya Keempat belas
Ketahuilah bahwa semua entitas di samping membuktikan eksistensi dan keesaan Allah juga membuktikan semua sifat-Nya yang agung, indah, dan sempurna, membuktikan kesempurnaan zat-Nya, tanpa ada kekurangan entah pada zat, kondisi, sifat, nama, dan perbuatan-Nya. Sebab, kesempurnaan makhluk menunjukkan kesempurnaan perbuatan-Nya, kesempurnaan perbuatan-Nya secara otomatis menunjukkan kesempurnaan nama-Nya, dan kesempurnaan nama-Nya sudah pasti menunjukkan kesempurnaan sifat-Nya, kesempurnaan sifat tidak diragukan lagi menunjukkan kesempurnaan kondisi-Nya, serta kesempurnaan kondisi-Nya secara haqqul yakin menunjukkan kesempurnaan Zat-Nya.
Jika kesempurnaan lukisan hiasan istana yang tanpa cacat memperlihatkan kesempurnaan perbuatan Sang Pencipta, maka kesempurnaan perbuatan-Nya menjelaskan kesempurnaan nama Pelakunya; yaitu Dia Pencipta yang mahir, Arsitek yang pandai, Pelukis yang bijak, dan seterusnya. Lalu, kesempurnaan nama-Nya menerangkan kesempurnaan sifat-Nya; yaitu berilmu, bijak, mencipta, dan merancang. Kesempurnaan sifat-Nya menunjukkan kesempurnaan kondisi-Nya; yaitu memiliki kemampuan unggul dan potensi yang baik. Sementara, kesempurnaan kondisi-Nya menyingkap sisi kesempurnaan Zat Sang Pelukis tersebut dalam bentuk yang layak dan sesuai dengan kedudukan-Nya.
Kesempurnaan makhluk yang tampak di alam ini tanpa ada cacat dan kekurangan membuktikan kesempurnaan perbuatan yang tersembunyi di baliknya. Kesempurnaan perbuatan menunjukkan secara jelas kesempurnaan nama Pelakunya. Kesempurnaan nama-Nya menunjukkan kesempurnaan sifat-Nya; sebab nama tersebut bersumber dari penisbatan sifat. Lalu kesempurnaan sifat secara tegas menyingkap kesempurnaan kondisi-Nya yang merupakan landasan dari sifat-Nya yang suci. Serta kesempurnaan kondisi-Nya secara haqqul yakin menunjukkan kesempurnaan Zat sesuai dengan keberadaan-Nya. Bahkan, semua kesempurnaan dan keindahan yang terdapat di alam merupakan bayangan kecil jika diukur dengan kesempurnaan dan keindahan Allah Swt.