Risale-i Nur Külliyatı [email protected]

Risalah Ketujuh

1 dilihat
275

Bunga Taman Alquran Yang Penuh Hikmah

{(Catatan-156): Risalah ini dicetak pertama kali di percetakan Najm Istiqbal, Istambul pada tahun 1341 H (1923 M). Kemudian ia diterjemahkan oleh Ustadz Nursi ke dalam bahasa Turki dengan ditambah sedikit penjelasan dan kemudian dijadikan sebagai cahaya ketujuh belas berisi lima belas memoar. Kami telah menunjukkan letak dari setiap bahasan dari cahaya tersebut. Siapa yang mau bisa merujuk kepadanya.}

Setiap makhluk yang berada di dunia ini seperti prajurit yang sedang bertugas. Ia bekerja atas nama Raja. Karena itu, siapa yang mengaku sebagai raja, maka ia binasa.

Tatanan dan timbangan yang terlihat ini merupakan perlambang dari dua genggaman Tuhan dan dua bab dari kitabul mubin dan kitab alam. Alquran merupakan penjelas dari kedua kitab tersebut sekaligus sebagai daftar isi dan ikhtisarnya.

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji milik Allah, Penguasa Yang Mahabijak yang telah menata alam dengan rambu-rambu kebiasaan dan sunnah-Nya, menentukannya dengan hukum qadha dan qadar-Nya, mendirikan bangunannya dengan pilar-pilar kehendak dan hikmah-Nya, menghiasnya dengan aturan perhatian dan rahmat-

276

Nya, serta menyinarinya dengan manifestasi nama-nama dan sifat-Nya. Dia Yang Mahakuasa dan Kekal abadi yang seluruh alam berikut esensi, substansi, karakter, hiasan, neraca, dan keindahannya merupakan goresan pena qadha dan qadar-Nya, tulisan pengetahuan dan hikmah-Nya, hiasan tangan putih kreasi dan perhatian-Nya, bung ataman kelembutan dan kemurahan-Nya, buah karunia rahmat dan nikmat-Nya, kilau manifestasi keindahan dan kesempurnaan-Nya. Wahai yang dengan kilau cahaya sinar semburat nama-Nya, berbagai keajaiban makhluk demikian jelas. Wahai yang sama saja bagi kekuasaan-Nya antara partikel dan planet. Wahai Zat yang menuliskan alam yang indah di atas garis kitabul mubin sebagai sumber pengaturan dan keseimbangan.

Kupersembahkan untuk-Mu di hadapan semua yang diam dan bergerak yang dengannya partikel alam dan sturukturnya bergerak seraya bersaksi:

Kami bersaksi tiada Tuhan selain Engkau; tidak ada sekutu bagi-Mu dan Kami bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Mu yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam. Ya Allah sampaikan salawat dan salam kepada beliau dan keluarga serta para sahabatnya sebanyak huruf yang berbentuk kata-kata yang dengan ijin-Mu terwujud dalam cermin gelombang udara di saat membaca setiap kata dalam Alquran dari setiap pembaca dari semenjak turun hingga hari kemudian.

Ketahuilah

{(Catatan-157): Bahasan keempat dari memoar ketiga belas dari cahaya ketujuh belas menjelaskan persoalan ini. }

bahwa berbagai perantara yang secara lahiriah menjadi pengantar nikmat untukmu entah ia memiliki kehendak (manusia) atau tidak (binatang atau tumbuhan), sebenarnya ia memberi kepadamu atas nama Allah. Karena itu, ambil dan makanlah dengan nama Allah dan hadapkan wajah kepada-Nya dengan penuh rasa syukur. Jika sarana atau perantara tersebut memiki kehendak (berupa manusia) janganlah kau ambil dan kau makan darinya sebelum disebut dan diingat nama Allah. Yakni, sebelum engkau mengingat Pemiliknya yang

277

hakiki dan dengan mengarahkan pandangan-Mu kepadanya sebagaimana disebutkan dalam ayat,

Janganlah engkau memakan sesuatu yang nama Allah tidak disebutkan padanya.

{(Catatan-158): Q.S. al-An'am: 121.}

Jika ia tidak ingat, engkau yang harus mengingat-Nya. Arahkan pandanganmu darinya menuju Zat yang memberikan nikmat kepadamu dan kepadanya. Lihatlah pemberian nikmat pada nikmat tersebut. Lalu, dari sana lihatlah Sang Pemberi nikmat hakiki. Bersyukurlah kepada-Nya dengan cara pandang tersebut. Sebab, ia merupakan bentuk rasa syukur. Kemudian, engkau bisa kembali melihat perantara tadi seraya mendoakannya lantaran telah menjadi sebab sampainya nikmat. Jangan sampai yang pertama kali engkau lihat wahai kalbuku pemberi nikmat lahiri.

Kesimpulannya, bismillāh harus dua kali diingat pada perantara yang memiliki kehendak (manusia) dan satu kali pada perantara yang lain. Wahai diri, jangan engkau mengira keterkaitan sebab-akibat membuatmu mengaitkan antara sampainya nikmat dengan perbuatan seseorang sehingga orang yang mempunyai pandangan terbatas melihat perbuatan itulah yang menjadi sebabnya. Itu sama sekali tidak benar. Juga jangan sampai ketiadaan nikmat di saat tidak ada sesuatu dijadikan dalil bahwa keberadaan sesuatu tersebut adalah sebab bagi keberadaannya. Pasalnya, sebuah hasil atau akibat bisa jadi terkait dengan ribuan faktor. Sesuai sunnatullah, nikmat tersebut mungkin tidak ada lantaran ketiadaan satu bagian meski merupakan faktor yang paling lemah atau sepele. Bolehkah orang yang membuka pipa air sehingga air mengalir ke benih yang kemudian benih itu menjadi pohon dan bulir, mengaku bahwa pohon tadi merupakan kreasi, kekuasaan, dan aset miliknya?! Persoalan ini merupakan neraca untuk mengukur sejauh mana tingkat kemusyrikan yang tersembunyi.

278

Wahai kalbu, jangan sampai anugerah yang tercurah kepada jamaah atau yang tampak padanya serta terwujud dari berbagai upayanya engkau nisbatkan pada dirimu atau kepada wakil, ustadz, dan kepada mursyid jamaah. Sebab, di samping hal itu merupakan bentuk kezaliman besar, orang yang dinisbatkan akan jatuh ke dalam sikap lupa diri dan egoisme, sementara yang menisbatkan akan terperangkap dalam satu bentuk syirik yang samar. Pasalnya, perantara mengambil alih posisi tujuan, serta sang penjaga pintu memakai pakaian penguasa.

Jangan sampai ketika ada karunia yang sampai kepadamu lewat seseorang engkau merasa bahwa ia bersumber darinya. Namun, ia hanya bayangan dan pantulannya. Bahkan, bisa jadi ia bukan sumber dan bukan pula bayangannya. Lebih dari itu, karena engkau memusatkan perhatian padanya, engkau membayangkan anugerah yang tercurah kepadamu dari Tuhan ke dalam kalbu seolah-olah pertama-tama terwujud pada mursyidmu (pembimbingmu) lalu baru memantul kepadamu. Ini seperti orang yang memusatkan perhatian pada satu kaca sehingga pikirannya berada di alam idealita. Ia menyaksikan berbagai hal menakjubkan lalu mengira hal itu terwujud pada kaca. Hal tersebut tidak benar.

{(Catatan-159): Persoalan kelima dari memoar ketujuh.}

Ketahuilah

{(Catatan-160): Lihat petunjuk pertama dari memoar keempat belas.}

wahai yang bersandar kepada sebab, engkau telah berbuat sia-sia. Sebagai contoh, apabila engkau melihat istana menakjubkan yang terbuat dari permata indah yang ketika dibangun sebagiannya hanya terdapat di Cina, sebagian lagi di Andalusia, sebagian terdapat di Yaman, dan sebagian di Siberia, dan seterusnya, bukankah engkau menyaksikan bahwa istana tersebut adalah bangunan yang dibangun oleh pihak yang menguasai dunia yang dapat mengambil dari berbagai penjurunya apa saja yang ia kehendaki dalam waktu sangat cepat?!

Demikianlah setiap makhluk pada hakikatnya adalah bangunan. Setiap hewan adalah istana ilahi; terutama manusia.

279

Ia merupakan istana yang paling indah sekaligus paling menakjubkan. Pasalnya, kebutuhannya terbentang abadi, harapannya tersebar di berbagai penjuru langit dan bumi, serta ikatannya terbentuk di antara berbagai fase kehidupan dunia dan akhirat. Maka, wahai manusia, engkau tidak layak berdoa dan menyembah kecuali Zat yang mengontrol bumi dan langit sekaligus menguasai kendali dunia dan akhirat.

Ketahuilah

{(Catatan-161): Petunjuk kedua dari memoar yang sama}

wahai kalbu bahwa orang yang dungu yang tidak mengenal mentari, ketika melihat bayangan mentari di cermin ia menyukai cermin tersebut dan berusaha sekuat tenaga agar mentari itu tetap ada di dalamnya. Apabila ia berpikir bahwa mentari tidak akan lenyap seiring dengan kepergian cermin serta tidak akan hilang ketika cermin itu rusak, tentu ia akan menghadapkan wajah ke mentari dengan penuh cinta. Pasalnya, yang tampak di cermin tidak kekal. Yang kekal adalah aslinya. Sementara kekekalannya tidak bergantung dengan cermin tadi; namun dengan dirinya sendiri. Sebaliknya, kehidupan dan kilau cermin tetap terpelihara dengan keberadaan pantulan mentari. Mentari itulah yang membuat pantulan tadi ada. Wahai diri, kalbu dan dirimu berupa cermin. Kecintaan pada hidup yang terdapat dalam fitrahmu bukan untuknya; tetapi untuk sesuatu yang terdapat di dalamnya. Karena itu, ucapkanlah, "Wahai Yang Mahakekal, Engkau Mahakekal. Selama engkau kekal kefanaan boleh berbuat apa saja kami tidak peduli dengan apa yang terjadi."

Ketahuilah

{(Catatan-162): Petunjuk ketiga darinya.}

wahai manusia, di antara hal menakjubkan yang Allah tanamkan dalam dirimu adalah bahwa dunia tidak bisa menampungmu sehingga engkau berkata, "Uh" seperti tahanan yang tersudut. Padahal, di sisi lain atom, sel, lintasan pikiran, dan satu menit bisa menampungmu sehingga engkau larat di dalamnya sekaligus memergunakan daya rasamu yang paling kuat untuknya. Dia juga memberimu sejumlah perangkat halus yang sebagiannya bisa menelan dunia tanpa pernah

280

kenyang, sementara sebagian lagi merasa sempit oleh partikel kecil, tak bisa memikul satu helai rambut, sebagaimana mata tidak kuat menahan sehelai rambut yang masuk.

Karena itu, berhati-hatilah dan ringankan pijakan. Jangan sampai engkau dan perangkatmu yang paling halus tenggelam dalam satu santapan, kata, kilau, isyarat, dan ciuman. Jangan membuat tenggelam perasaannmu yang menelan dunia. Lihatlah cermin dirimu bagaimana langit berikut bintang-gemintangnya bisa masuk ke dalamnya. Juga kepada ingatanmu bagaimana ia bisa menulis kebenaran di dalamnya dalam jumlah yang lebih banyak daripada yang terdapat dalam lembar tugasmu dan daripada yang terdapat dalam lembaran usiamu. Mahasuci Allah Yang Mahakuat dan kekal.

Ketahuilah

{(Catatan-163): Lihat petunjuk keempat dari memoar keempat belas.}

bahwa duniamu ibarat rumah sempit laksana kuburan. Namun, karena dinding-dindingnya terbuat dari kaca, ia saling memantulkan sehingga tampak lapang sejauh mata memandang. Masa lalu dunia yang telah tiada dan masa depan yang belum ada merupakan dua cermin yang saling berhadapan yang bersambung dengan saya kondisimu dan zamanmu. Karena itu, engkau tidak bisa membedakan antara hakikat dan alam hayalan. Garis keadaanmu sekarang berupa permukaan sehingga apabila engkau bergerak dan terguncang oleh sejumlah musibah, dinding itupun membentur kepalamu sehingga hayalanmu sirna dan engkaupun menjadi siuman dari tidur panjang. Kau lihat dunia lebih sempit daripada kubur dan jembatan, serta zamanmu lebih cepat daripada kilat dan aliran sungai.

Ketahuilah

{(Catatan-164): Persoalan pertama dari memoar kelima belas.}

wahai yang ingin melihat bukti-bukti manifestasi nama al-Hāfizh (Yang Maha memelihara) sebagaimana ditunjukkan oleh ayat,

Siapa yang mengerjakan amal kebaikan meski seberat biji atom ia akan melihat balasannya. Serta siapa yang mengerjakan kejahatan meski sebarat biji atom ia akan melihat balasannya.

{(Catatan-165): Q.S. al-Zilzalah: 7-8.}

281

Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar atom di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

{(Catatan-166): Q.S. Yunus: 61}

Lihatlah sejumput benih yang kau ambil dari beragam benih bunga dan pohon. Benih yang beraneka macam jenis dan mempunyai bentuk serupa itu bercampur di mana sangat sulit untuk dibedakan. Kemudian, tanamlah semua secara bersamaan dalam gelapnya tanah. Lalu siram dengan air tanpa diukur dan dibeda-bedakan. Setelah itu, perhatikan bagaimana kondisinya pada musim semi tahunan. Lewat tiupan malaikat terhadap sangkakala mereka bermunculan di musim semi sehingga benih yang telah bercampur dan serupa itu tanpa keliru sedikitpun tampil sesuai dengan perintah penciptaan yang berasal dari Tuhan Yang Mahabijak. Ia tampil dalam bentuk yang memperlihatkan kesempurnaan hikmah, pengetahuan, kehendak, tujuan, dan perasaan. Tidakkah engkau melihat perbedaan pada benih-benih yang tadinya serupa itu?! Ada yang menjadi pohon tin yang menyebar dan tumbuh di atas kepalamu sebagai nikmat Tuhan. Lalu yang lain tumbuh sebagai bunga yang berhias untukmu serta tersenyum dan menunjukkan cintanya padamu. Sebagian lagi menjadi buah-buahan yang kau sukai dimana ia mengundangmu dan mempersembahkan diri untukmu. Akhirnya, dengan ijin Allah, sejumput benih tadi berubah menjadi taman yang dipenuhi beraneka ragam bunga dan pohon. Perhatikan, adakah kekeliruan dan cacat padanya? Lihatlah kembali, adakah yang tidak seimbang padanya?

{(Catatan-167): Q.S. al-Mulk: 3.}

Bahkan, Zat Yang Maha Memelihara telah memberikan kepada masing-masingnya warisan orang tua mereka tanpa kurang dan keliru sedikitpun. Yang bisa melakukan ini hanyalah Zat yang berkuasa menegakkan kiamat. Yang melakukan hal tersebut di sini, akan melakukan nanti di sana. Penampakan

282

kesempurnaan pemeliharaan di dunia terhadap sejumlah hal yang sepele merupakan bukti yang kuat atas adanya pemeliharaan sesuatu yang lebih penting dan memiliki pengaruh abadi. Misalnya amal perbuatan para khalifah di muka bumi (manusia), perilaku dan ucapan para pemikul amanah, serta kebaikan dan keburukan hamba Allah. Apakah manusia mengira bahwa dirinya akan ditinggalkan begitu saja?

{(Catatan-168): Q.S. al-Qiyāmah: 36.}

Tentu ia akan dibangkitkan menuju keabadian dan semua amalnya akan dihisab. Contoh tersebut bukan hanya segenggam dari seonggok makanan, satu celuk dari lautan. Tetapi, ia adalah satu butir dari padang pasir yang luas dan satu tetes dari hujan yang deras. Mahasuci Zat Yang Maha Memelihara, Maha Mengawasi, Maha Menyaksikan, dan Maha Menghitung.

Ketahuilah wahai Said yang lalai bahwa sesuatu yang tidak akan menyertaimu sesudah alam ini fana; tetapi akan berpisah denganmu seiring dengan kehancuran dunia, tidak layak untuk menjadi pautan hatimu. Apalagi dengan sesuatu yang akan meninggalkanmu seiring dengan habisnya usiamu. Apalagi dengan sesuatu yang tidak akan menemanimu dalam perjalanan barzakh. Apalagi dengan sesuatu yang yang tidak akan ikut bersamamu menuju pintu kubur. Apalagi dengan sesuatu yang akan berpisah selama-lamanya denganmu setahun atau dua tahun kemudian seraya mewariskan dosa di pundakmu. Apalagi dengan sesuatu yang meninggalkanmu di saat engkau gembira lantaran mendapatkannya.

Jika engkau berakal, jangan bersedih dan murung. Tinggalkan sesuatu yang tidak akan menyertaimu dalam perjalanan abadi; di mana ia akan lenyap dan fana sejalan dengan berbagai perubahan dunia, perkembangan menuju barzakh, dan kedatangan alam ukhrawi. Bukankah engkau merasa dalam dirimu terdapat sesuatu yang hanya senang dengan keabadian. Itulah penguasa jiwamu. Karena itu, taatilah ia yang juga taat kepada perintah Penciptanya Yang Maha Bijaksana.

283

{(Catatan-169): Dalam cetakan pertama, disebutkan, "Ketahuilah! Dalam tidur aku bermimpi berkata kepada orang-orang, 'Wahai manusia, di antara rambu-rambu Alquran adalah, "Janganlah engkau menganggap sesuatu selain-Nya lebih agung darimu selama engkau beribadah kepada-Nya. Sebaliknya jangan engkau merasa lebih agung dari sesuatu apapun selama engkau sombong kepada-Nya. Sebab, semua makhluk berkedudukan sama ketika jauh dari-Nya.}

Ketahuilah

{(Catatan-170): Lihat memoar ketiga.}

wahai Said yang lalai. Engkau melihat sekitarmu secara umum tampak tetap tak berubah sehingga engkau mengira dirimu juga demikian sehingga engkau baru terkejut ketika kiamat tiba. Seolah-olah engkau abadi hingga ia datang. Hal itu tidak benar. Engkau dan duniamu akan segera lenyap setiap saat. Cara pandangmu yang keliru itu seperti orang yang memegang cermin menghadap ke sebuah rumah, negeri, atau taman. Rumah, negeri, atau taman tersebut tergambar di dalamnya. Namun, ketika cermin tersebut digerakkan sedikit saja dan posisinya dirubah, maka ketiga bayangan tadi akan berubah drastis. Yang tetap adalah dirinya sendiri. Yang kau dapat hanyalah apa yang diberikan oleh cerminmu tadi sesuai dengan ukurannya. Karena itu, perhatikan cerminmu baik-baik dan kemungkinan ia pergi berikut isinya setiap waktu. Jangan kau bebani ia dengan sesuatu yang tak mampu dipikulnya.

Ketahuilah

{(Catatan-171): Lihat memoar keempat.}

bahwa di antara ketentuan Sang Pencipta Yang Mahabijak yang berlaku pada sebagian besar makhluk adalah pengembalian sesuatu yang penting, bernilai, dan berharga dalam bentuk aslinya; bukan perumpamaannya. Hal itu terjadi pada sejumlah fase dan musim yang terus berulang seiring dengan kemunculan kembali makhluk sejenis pada sebagian besarnya. Lihatlah mahsyar musiman, tahunan, dan harian. Engkau bisa menyaksikan satu kaidah yang baku dan permanen. Ilmu pengetahuan sepakat dan mengakui bahwa manusia merupakan buah pohon penciptaan yang paling sempurna, sekaligus sangat penting, bernilai, dan berharga. Karena itu, setiap orang pada hari kebangkitan nanti akan

284

dikembalikan dalam bentuk aslinya dengan fisik, nama, dan bentuk rupanya.

{(Catatan-172): Dalam cetakan pertama, "Ketahuilah wahai diriku yang bodoh dan lalai. Setiap tingkatan dan kedudukan memiliki bayangan, bahkan memiliki sejumlah bayangan yang berbeda-beda. Tentu saja bayangan tersebut berbeda dengan aslinya. Layakkah orang yang melihat bayangan tempat tidur raja yang berada di air di bawahnya atau di saat tidur di mana ia duduk di atasnya mengira bahwa dirinya adalah seorang raja atau menyamai raja?! Atau, ia menyaksikan bintang di telaga lalu mengira bahwa dirinya sedang berada di langit seolah sedang berada di antara bintang-gemintang. Orang yang diberi ilmu dan akal tersebut dalam perjalanan malakutnya berada dalam bahaya besar akibat tertipu. Karena mengambil salah satu bayangan yang ada ia mengukur dirinya dengan pemilik bayangan tadi. Ia juga berada dalam kondisi bahaya akibat rasa ujubnya. Ia mengucap ungkapan kufur nikmat dengan berkata, "Aku mendapatkannya lantaran ilmuku." Itulah ujian yang diberikan.}

Ketahuilah! Terkait dengan ikhtisar yang disebutkan pada akhir-akhir ayat, jangan engkau hanya melihat pada ayatnya semata. Namun harus melihat pada keseluruhan cerita secara utuh; bahkan kepada keseluruhan suratnya, atau keseluruhan Alquran. Pasalnya, ayat-ayat tersebut saling terkait dan menyatu. Jangan mengukur isi ikhtisar yang ada dengan timbangan maksud ayatnya semata. Keagungannya tidak bisa dinilai dengan sesuatu yang bersifat parsial. Jika tidak berarti engkau mengurangi haknya. Misalnya ayat-ayat yang berbunyi,

Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu.

{(Catatan-173): Q.S. al-A'raf: 174.}

Sesungguhnya dalam Alquran ini Kami telah mengulang-ulang.

{(Catatan-174): Q.S. al-Isra: 41.}

Sesungguhnya telah Kami buat dalam Alquran ini segala macam perumpamaan untuk manusia.

{(Catatan-175): Q.S. ar-Rum: 58.}

Allah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.

{(Catatan-176): Q.S. at-Taubah: 71.}

Allah Maha Mengetahui dan Mahakuasa.

{(Catatan-177): Q.S. an-Nahl: 70.}

Semoga kalian bisa mengambil pelajaran.

{(Catatan-178): Q.S. adz-Dzariyat: 49.}

285

Semoga kalian bertakwa.

{(Catatan-179): Q.S. al-Baqarah: 183.}

Dan masih banyak lagi ayat sejenis yang memiliki sumber mata air yang mengarah kepada sebagian besar ayat-ayat Alquran, sebagian besar ayat-ayat penciptaan, dan sebagian besar kondisi manusia.

Penghujung ayat-ayat Alquran yang menjadi penutup tersebut berikut penguatannya terhadap ayat-ayat yang ada membuat kepala manusia terangkat dari yang tadinya tercerai berai menuju satu totalitas, dari penjelasan rinci menuju keseluruhan yang bersifat global. Ia juga mengarahkan perhatian kepada tujuan utama, serta rahasia retorika lainnya.

Ketahuilah

{(Catatan-180): Dalam lanjutan benih terdapat penjelasan umum tentang persoalan ini.}

wahai kalbu, setan mungkin telah mengacaukan pikiranmu dengan memperlihatkan sesuatu yang tak terhingga. Hal itu agar muncul sikap meremehkan nikmat yang datang padamu. Maka, dalam kondisi demikian, hendaknya engkau memperhatikan kebutuhanmu, jiwamu, kelemahanmu, hikmah di balik nikmat dan pemberian nikmat, manifestasi qudrat, pengetahuan, dan kehendak-Nya yang tak terbatas, tujuan keberadaanmu berikut hasilnya yang kembali kepada Pemiliknya yang hakiki yang mempunyai nama-nama mulia. Setan pembisik juga mengganggumu dengan mempergunakan ego dirimu dan sifat firaunisme jiwa dengan cara memperlihatkan binatang dan serangga kecil seraya berkata padamu, "Apa manfaat menciptakan binatang yang cepat mati ini?" Ia mencekoki dirimu dengan konsep kesia-siaan setelah sebelumnya mencekoki dengan satu pandangan bahwa tujuan hidup adalah kehidupan itu sendiri, serta bahwa hidup baru bernilai dengan kekal di dalamnya. Semua ini dilakukan oleh setan agar rahmat, nikmat, dan kreasi yang demikian indah ini menjadi tak bermakna di samping agar engkau lupa kepadanya. Karena itu, hadapilah ia dengan cara memperlihatkan langit berikut bintang-gemintangnya, serta bumi berikut binatangnya. Ini jika engkau melihatnya dengan memposisikan diri sebagai dirimu sendiri.

286

Adapun jika engkau melihat makhluk yang lebih kecil daripada dirimu, lihatlah wahai sel besar kehidupan sel-sel tubuhmu yang mengagumkan, tugas butir-butir darah merah dan putih dalam darahmu yang terus mengalir selama engkau berada di dunia, serta halusnya perangkat yang mengelilingi kalbumu.

Ketahuilah wahai Barat!

{(Catatan-181): Barat ada dua: pertama yang bermanfaat bagi manusia karena mengambil manfaat dari agama Nasrani dan peradaban Islam. Berkat karunia Allah ia menampilkan sesuatu yang memberikan kelapangan hidup bagi manusia. Sementara Barat yang kedua adalah yang bertentangan dengan agama samawi lalu bersandar kepada filsafat alam yang materialistik di mana kebobrokannya lebih dominan dibandingkan dengan kebaikannya. Ini menjadi sebab}

Tangan kananmu memegang filsafat yang menyesatkan dan sakit. Sementara tangan kirimu memegang peradaban yang berbahaya dan bodoh. Engkau menyatakan bahwa kebahagiaan manusia terletak pada keduanya. Tanganmu cacat dan persembahanmu sangat buruk.

Wahai penyebar kekufuran dan kekafiran, mungkinkah orang yang kalbu, akal, perasaan, dan jiwanya ditimpa berbagai musibah besar dapat menggapai kebahagiaan meski ia berada di puncak kemewahan dan tubuhnya penuh dengan perhiasan?! Bukankah orang yang hayalannya telah rusak, kehilangan harapan, dan putus asa terhadap urusan yang sederhana tidak mungkin bisa merasa bahagia, sementara nikmat terasa sebagai siksa dan dunia terasa sempit baginya?! Apalagi orang yang kalbu dan jiwanya sudah ditimpa oleh kekeringan spiritual dan kesesatan yang bisa memutuskan semua harapan dan menjadi sebab datangnya derita. Apakah orang yang jiwa dan kalbunya berada dalam neraka, sementara fisiknya berada sorga fiktif dan sementara bisa disebut bahagia?!

Karena itu, wahai jiwa yang rusak perhatikan ayat-ayat yang dibacakan kepadamu. Aku akan menyebutkan satu saja di antara ribuan hal yang bisa menjerumuskan manusia. Akan memberikan sebuah contoh agar lebih jelas.

287

Di sini terdapat dua jalan. Kita berjalan melalui jalan ini. Lalu dalam perjalanan sepanjang mata memandang kita melihat pada setiap langkah seorang lelaki yang lemah tak berdaya diserang oleh sejumlah orang. Mereka merampas harta dan kendaraanya, serta merusak rumahnya. Mereka juga melukainya sehingga langit ikut menangisinya. Kemana saja kita mengarahkan pandangan kondisinya sama. Yang terdengar hanya teriakan orang zalim dan rintihan orang yang teraniaya. Duka menyelimuti mereka semua. Maka, karena "manusia ikut merasa sakit dengan derita yang dialami oleh orang lain" sementara jiwa ini tidak mampu menahan sakit sehebat itu, orang yang melihat terpaksa melepas rasa kemanusiaanya dan terus melihat kekejian tadi tanpa peduli dengan penderitaan orang selama dirinya selamat.

Wahai Barat, dengan kecerdikanmu yang picak, engkau telah mempersembahkan bencana kepada manusia. Lalu kau berikan untuk penyakit kronis ini sebuah obat untuk menghilangkan rasa sakit berupa sejumlah hiburan menarik dan berbagai kegilaan lainnya. Sungguh dirimu dan obatmu merupakan bencana.

Kemudian kita pergi menyusuri jalan lain. Pada setiap rumah, setiap tempat, dan setiap negeri terdapat beberapa pasukan yang sedang bertugas. Mereka menyebar di berbagai penjuru wilayah. Lalu sejumlah pesuruh datang untuk membebaskan sebagian mereka dari tugas yang ada. Pesuruh tadi mengambil senjata, kendaraan, dan segala peralatan mereka serta memberi sebuah kartu bebas tugas. Tentu saja mereka gembira lantaran telah bebas dan kembali kepada raja meski secara lahiriah pasukan tersebut tampak sedih karena meninggalkan sesuatu yang biasa bersamanya. Kita melihat kadangkala pesuruh tadi berhadapan dengan pasukan yang tidak mengenali mereka. Pasukan itupun berkata, "Aku adalah pasukan raja. Aku mengabdi kepada-Nya dan kembali kepada-Nya. Jika engkau datang dengan ijin dan rida-Nya maka aku tunduk. Namun, jika tidak, menyingkirlah diriku. Sebab aku akan memerangimu walaupun sendirian, sementara jumlahmu ribuan. Hal itu bukan

288

untuk kepentingan diriku; tetapi untuk menjaga amanah raja serta untuk memelihara kemuliaanya. Demikianlah, kita melihat di sepanjang jalan dan perjalanan misi pengiriman pasukan dalam suasana gembira dan bahagia yang disebut dengan "kelahiran" dan pembebastugasan yang diiringi takbir dan suka cita yang disebut dengan "kematian". Alquran mempersembahkan kepada manusia satu hadiah yang andaikan mereka berpegang padanya tentu mereka akan meniti jalan seperti jalan yang terakhir ini. Mereka tidak khawatir dan tidak juga bersedih.

{(Catatan-182): Q.S. Yunus: 62.}

Wahai Barat, engkau mengira s

emua makhluk dari ikan yang paling kecil hingga malaikat yang paling besar memiliki dirinya sendiri serta bekerja untuk diri sendiri. Ia berusaha mendapatkan kenikmatannya. Ia memiliki hak hidup. Sementara, yang menjadi perhatian utamanya adalah bagaimana ia bisa eksis. Adapun kerjasama yang terlihat di antara mereka yang merupakan perintah Tuhan di mana tumbuhan memberi kepada hewan dan hewan memberi kepada manusia kau anggap sebagai "pertarungan". Sampai-sampai engkau menilai kehidupan ini sebagai pertarungan.

{(Catatan-183): Yakni hidup ini tidak lain merupakan pertarungan di mana yang bisa bertahan adalah yang paling kuat.}

Mahasuci Allah, bagaimana mungkin pemberian makanan oleh partikel-partikel makanan yang dilakukan dengan penuh cinta untuk memenuhi nutrisi sel badan disebut sebagai pertarungan dan permusuhan?! Justru ia merupakan bentuk kerjasama sesuai perintah Tuhan Yang Maha Pemurah. Dalil bahwa makhluk hidup tidak memiliki dirinya sendiri adalah sebab yang paling mulia dan yang memiliki kehendak paling luas, yaitu manusia. Kenyataannya perbuatan-perbuatan yang paling memperlihatkan kehendak manusia seperti makan, berbicara, dan berpikir, tidak berada dalam wilayah kekuasaannya melainkan hanya satu dari seratus bagian yang ada. Apabila makhluk yang paling mulia dan memiliki kehendak luas tak bisa berbuat banyak untuk melakukan sesuatu secara hakiki, apalagi dengan seluruh binatang dan tumbuhan.

289

Yang membuatmu terjatuh ke dalam pandangan keliru semacam itu adalah kecerdasanmu yang cacat. Pasalnya ia lupa kepada Tuhan Pencipta segala sesuatu dan bersandar kepada alam ilusi dengan menisbatkan makhluk kepada sebab. Ia membagi harta milik Allah kepada para toghut.

Dalam kondisi demikian, manusia dan setiap makhluk dipaksa untuk bertarung dengan musuh yang jumlahnya tak terhingga untuk mendapatkan kebutuhannya yang tak terkira dengan bekal kekuatan yang minim, kehendak yang tak bernilai, perasaan yang segera lenyap, kehidupan yang cepat padam, dan usia yang hanya sesaat. Padahal, semua yang ia miliki tak cukup untuk memenuhi satu kebutuhannya. Jika mendapat musibah ia meminta bantuan kepada sebab-sebab yang tuli dan buta. Permintaan orang-orang kafir berada dalam kesesatan.

{(Catatan-184): Q.S. ar-Ra'ad: 14.}

Kecerdasanmu yang pekat itu telah membalik siang manusia menjadi malam yang disinari oleh cahaya palsu. Ia merubah seluruh makhluk dalam pandangan para muridnya ibarat orang miskin yang diuji dengan orang-orang kejam sebagaimana yang kita saksikan pada jalan pertama. Dunia diliputi oleh duka massal, ucapan belasungkawa, dan rintihan anak yatim.

Ia merubah murid istimewanya menjadi firaun yang menyembah sesuatu yang paling hina. Ia memandang semua yang memberi manfaat sebagai tuhannya yang hidup dalam kehinaan lantaran kenikmatan yang diinginkan. Ia juga memeluk kaki setan hanya karena kepentingan yang rendah. Ia merubahnya muridnya menjadi tiran, namun karena tidak mempunyai pilar penopang akhirnya menjadi sangat lemah dan tak berdaya.

Yang menjadi perhatian utama muridmu adalah perut, kemaluan, dan kepentingan kelompok. Itupun bukan benar-benar untuk kepentingan kelompoknya; namun untuk kepentingan diri, atau untuk memuaskan rasa tamak dan keangkuhannya. Yang ia cintai hanya dirinya. Ia rela mengorbankan segala sesuatu untuknya.

290

Adapun murid Alquran yang tulus, ia adalah hamba. Namun, ia tidak mau diperbudak oleh makhluk paling agung sekalipun atau oleh manfaat paling besar, meski berupa sorga. Ia sederhana dan lembut, namun tidak mau mau tunduk kepada selain Penciptanya kecuali dengan ijin-Nya.

Ia juga fakir, namun merasa cukup dengan apa yang diberikan oleh Pemiliknya yang Maha Pemurah. Ia lemah, namun bersandar kepada kekuatan Tuannya yang memiliki kekuatan tak terbatas. Murid Alquran yang hakiki tidak menginginkan meski sorga yang abadi sebagai maksud dan tujuannya. Apalagi dunia yang bersifat sementara. Maka, perhatikanlah perbedaan yang sangat jauh antara dua murid di atas.

Murid Alquran melihat sesuatu yang paling besar, misalnya arasy dan mentari, sebagai makhluk yang lemah, tunduk, dan mendapat perintah. Dalam jiwanya terdapat hubungan yang sangat kuat dengan semua orang saleh entah yang tinggal di langit ataupun di bumi. Ia mendoakan mereka dari lubuk hatinya sebagaimana seseorang mendoakan keluarganya.

Perhatikan perbedaan antara dua sifat murid tersebut. Yang pertama menjauhi saudaranya untuk kepentingan dirinya, sementara yang kedua melihat seluruh hamba sebagai saudara. Sebagai ganti dari tasbih yang dikenal, Alquran memberikan kepada para muridnya bilangan partikel alam sebagai sarana bagi mereka untuk bertasbih menyucikan Allah. Sebagai ganti dari tasbih yang berjumlah sembilan puluh sembilan, di tangan mereka terdapat rangkaian seluruh partikel alam. Mereka membaca wirid dengan tasbih yang menakjubkan itu. Mereka juga berzikir mengingat Tuhan sebanyak jumlah tersebut bahkan lebih. Perhatikan murid-murid Alquran yang terdiri dari para wali semacam Abdul Qadir al-Jilani, ar-Rifā''i,

{(Catatan-185): Ar-Rifa'I (512-578) adalah Ahmad bin Ali bin yahya bin ar-Rifa'I, Abul Abbas. Ia seorang imam yang zuhud dan pendiri tarekat Rifaiyyah. Ia lahir di kampung Hasan di Wasith, Irak pada tahun 512 H. Ia belajar dan menuntut ilmu di sana. Lalu tinggal di kampung Ummu Ubaydah di Batha'ih (antara Wasith dan Bashrah). Ia wafat di sana pada tahun 578 H. Lihat Wafayātul A'yān 1/55, ath-Thabaqātul Kubra 1/140, Nurul Abshar 220, al-A'lām 1/174, Jāmi Karamātil Awliya' 1/490.}

dan asy-Syadzili.

291

Bagaimana mereka menjadikan rangkaian partikel, tetesan, serta seluruh makhluk sebagai tasbih untuk mengingat Allah. Bahkan mereka memandang hal itu sedikit sehingga masih mengulurkan tangan menuju bilangan informasi Tuhan yang tak terhingga. Lihatlah manusia yang mudah jatuh hanya oleh mikroba paling kecil dan bencana yang paling ringan, bagaimana jiwanya menjadi mulia berkat tuntunan Alquran sehingga memandang dunia demikian rendah untuk menjadi tasbih bagi wiridnya dan enggan menjadikan sorga sebagai objek zikirnya. Meski demikian, ia tidak melihat dirinya memiliki kemuliaan atas makhluk yang paling rendah sekalipun.

Petunjuk Alquran berbunyi: Wahai manusia, apa yang berada di tanganmu adalah amanah. Ia milik Tuhan Yang Mahakuasa atas segala sesuatu, mengetahui segala sesuatu, dan penyayang kepada-Mu. Ia Maha pemurah dengan membeli darimu milik-Nya sendiri yang berada di tangan-Mu guna Dia pelihara untukmu agar tidak lenyap. Dia memberikan harga yang besar untukmu padahal engkau adalah pesuruh dan pegawai seperti pasukan. Karena itu, bekerjalah atas nama-Nya. Dia yang memberikan kebutuhanmu sekaligus memeliharamu dari sesuatu yang tidak mampu kau hadapi.

Tujuan hidupmu adalah menjadi manifestasi nama-nama dan sifat-Nya. Apabila terkena musibah, ucapkan, "Innā lillāh (Kami adalah milik Allah) dan mengabdi kepada-Nya. Jika engkau wahai musibah datang dengan ijin dan rida-Nya, maka selamat datang bagimu. Innā ilayhi rāji'ūn (kami juga kembali kepada-Nya). Kami rindu ingin melihat-Nya. Suatu saat Dia akan membebaskan kami dari beban kehidupan. Karena itu, jika engkau datang dengan kehendak dan perintah-Nya semata tanpa ijin dan rida-Nya, sekuat tenaga aku tidak akan menyerahkan amanah ini kepada yang tidak amanah."

Pada hakikatnya demikianlah kondisi yang ada. Namun, derajat manusia terkait dengan petunjuk dan kesesatan berbeda-beda. Tingkat kelalaian manusia juga berbeda. Hanya saja, kelalaian bisa membuat manusia kehilangan kesadaran sampai pada tingkat di mana para materialis tidak merasakan sakit yang

292

diderita. Namun, seiring dengan semakin bertambahnya kepekaan ilmiah dan peringatan akan kematian, kelalaian tadi mulai terbelah. Sungguh celaka orang yang tersesat oleh toghut asing.

Wahai para pemuda Turki, apakah setelah melihat kezaliman dan permusuhan Barat terhadap kalian , kalian masih akan mengikuti kebodohan dan pandangan mereka? Atau, secara tanpa sadar kalian ikut serta dalam barisan mereka?! Kalau begitu berarti kalian berdusta kalau mengaku merasa mulia. Sebab, sikap mengekor semacam itu merupakan bentuk pelecehan terhadap agama. Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita semua menuju jalan yang lurus.

Ketahuilah

{(Catatan-186): Lihat memoar keenam.}

wahai yang menganggap banyak jumlah kaum kafir dan risau dengan kesepakatan mereka dalam mengingkari sejumlah hakikat iman.

Pertama, yang dinilai bukan kuantitasnya. Sebab, manusia jika tidak menjadi manusia sejati berarti berbalik menjadi hewan dan setan. Pasalnya, apabila manusia demikian tamak seperti orang-orang yang mengingkari agama, ia menjadi lebih seperti hewan. Engkau bisa melihat jumlah hewan yang tak terhingga dan sedikitnya jumlah manusia, padahal ia merupakan khalifah.

Kedua, sikap ingkar merupakan bentuk penafian, sementara seribu penafian tidak bisa mengalahkan dua orang yang menetapkan.

Barangkali engkau bertanya, apa itu kafir? Jawabannya, orang kafir adalah yang tidak memiliki agama. Ia sejenis binatang ciptaan Allah yang rendah yang diciptakan untuk memakmurkan dunia dan neraka. Mereka semua adalah satu jika diukur dengan tingkatan nikmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya yang beriman.

Selanjutnya kesepakatan mereka dalam mengingkari dan menafikan kebenaran sama sekali tidak kuat jika melihat kepada rahasia penafian. Dalam hal ini kekufuran merupakan bentuk penafian, pengingkaran, kebodohan, dan ketiadaan meski dalam

293

bentuk penetapan. Misalnya jika seluruh penduduk Istambul mengaku tidak melihat hilal lalu ada dua orang saksi yang melihatnya, maka kedua orang itu lebih kuat ketimbang kesepakatan mereka lantaran penetapan tadi saling menguatkan di samping penetapan tersebut merujuk kepada persoalan yang sama sementara penafian merujuk kepada diri pihak yang menafikan. Contoh lain, andaikan awan menutupi permukaan langit lalu kita mengangkat kepala ke atas, maka yang bisa melihat mentari hanya sebagian kecil saja. Dalam kondisi demikian, apakah bisa diterima jika ada yang berkata bahwa pihak yang menafikan sangat banyak, sementara yang melihat hanya sedikit sehingga mengikuti yang lebih banyak lebih utama?! Tentu saja tidak bisa diterima. Pasalnya, orang yang tidak melihat berkata, "Menurutku dan dalam pandanganku, tidak ada matahari." Artinya, bukan tidak ada matahari dalam kondisi yang sebenarnya di langit.

Jadi banyaknya orang yang membuat pengakuan dengan ungkapan semacam itu di antara mereka yang menafikan tidaklah saling menguatkan. Kesepakatan mereka senilai dengan satu orang ibarat berkumpul untuk memecahkan satu persoalan atau melewati satu celah yang sempit. Hal itu sangat berbeda dengan pihak-pihak yang menetapkan keberadaannya di mana mereka melihat satu hal yang sama karena objeknya satu dan saling menguatkan. Sama seperti kerjasama untuk mengangkat batu yang besar.

Ketahuilah

{(Catatan-187): Lihat memoar ketujuh.}

wahai yang mendorong kaum muslimin untuk mencintai dunia serta mengajak mereka kepada kreasi dan kemajuannya. Perhatikanlah secara cermat sejumlah tali mereka yang bersambung dengan agama dan jangan sampai ada bagiannya yang terputus sebab bisa membahayakan kehidupan masyarakat. Sebab, seorang murtad tidak berhak hidup karena secara total sudah mengalami kerusakan berbeda dengan orang kafir. Syariah memberikan hak hidup kepada mereka. Orang fasik adalah pengkhianat dan tertolak kesaksiannya lantaran

294

perasaannya telah rusak berbeda dengan kafir dzimmi menurut pandangan madzhab Hanafi.

Karena itu, perhatikan baik-baik! Jangan sampai engkau tertipu dengan banyaknya orang fasik. Orang fasik juga tidak rela dengan kefasikan; dan tidak sengaja terjerumus kepadanya. Setiap fasik selalu berharap bisa menjadi orang yang bertakwa serta ingin kalau pemimpinnya taat dan saleh. Kecuali kalau ia sudah murtad, naudzubillah. Apakah engkau mengira bahwa kaum muslimin tidak mencintai dunia serta harus diingatkan kepada bagian mereka dari dunia?! Tidak. Bahkan mereka tamak kepadanya. Rasa tamak itulah yang menjadi sebab kegagalan mukmin. Faktor yang mengajak seseorang kepada dunia sangat banyak. Misalnya jiwanya, kebutuhannya, inderanya, hawa nafsunya, setannya, sahabat yang buruk, serta manisnya dunia. Sebaliknya, yang mengajak kepada akhirat sangat sedikit. Misalnya semangat dan tekad. Apakah engkau mengira bahwa kita fakir karena sikap zuhud kita? Tidak. Tidakkah engkau melihat kaum majusi dan brahma serta orang-orang yang dikuasai oleh Barat lebih miskin daripada kita?! Atau, engkau buta sehingga tidak melihat bahwa sebagian besar kaum muslimin tidak lagi memiliki aset yang lebih dari kebutuhan primernya. Ia sudah dirampas oleh kaum kafir dengan segala tipu daya mereka. Jika dari peradaban mereka engkau mengharap adanya kemudahan dalam mengelola negara serta munculnya rasa aman, berarti engkau telah keliru jalan. Pasalnya, memimpin seratus orang fasik yang moral dan keyakinannya telah rusak jauh lebih sulit daripada memimpin ribuan orang taat. Orang-orang islam tidak perlu didorong untuk tamak kepada dunia. Namun, yang mereka butuhkan adalah adanya penataan usaha, kerjasama, dan saling percaya di antara mereka. Semua itu hanya bisa diraih dengan takwa.

Ketahuilah

{(Catatan-188): Lihat memoar kedelapan.}

bahwa Allah Swt. dengan segala kemurahan-Nya telah menyelipkan ganjaran atas sebuah pengabdian pada pengabdian itu sendiri. Dia memasukkan upah amal ke dalam

295

amal itu sendiri. Sehingga seluruh entitas bahkan benda mati sekalipun melaksanakan perintah penciptaan-Nya dengan penuh kerinduan dan kenikmatan. Dengan itu mereka menjadi pantulan manifestasi nama-nama Cahaya segala cahaya. Misalnya butiran yang sepele dan gelap yang dengan kalbunya yang tulus menghadap kepada mentari. Ia menjumpaimu dengan wajah bersinar tersipu-sipu lantaran kalbunya sudah menjadi wadah bagi mentari. Bagaimana partikel dan seluruh susunannya tidak merasa senang menjadi wujud manifestasi nama Allah Yang Mahaagung dan Mahaindah di mana melaksanakan perintah-Nya kedudukannya menjadi naik seperti butiran yang tadinya kelam dan gelap berubah menjadi sangat jelas dan bersinar.

Perhatikanlah indera dan organ tubuhmu berikut sejumlah perangkatnya yang dipergunakan untuk memelihara eksistensi individu atau satu kelompok. Dengan pengabdian dan tugas yang dikerjakannya ia merasa senang sehingga ketika ditinggalkan justru tersiksa.

Lalu perhatikan kondisi binatang bagaimana mereka merasa senang dengan tugas-tugasnya. Engkau bisa melihat bagaimana ayam jantan misalnya lebih mengutamakan ayam betina ketimbang dirinya sendiri dengan mengajaknya untuk memakan makanan yang ia lihat; sementara ia sendiri tidak memakannya. Ia melakukan hal tersebut dengan penuh kecintaan, kenikmatan, dan kebanggaan. Demikian pula dengan ayam betina yang melindungi anak-anaknya yang masih kecil di mana ketika sudah besar mereka baru ditinggalkan. Hal ini sama seperti induk tumbuhan dan hewan lainnya. Dari sini jelas bahwa makhluk tidak bekerja untuk kepentingan dan kesempurnaan dirinya; tetapi untuk Zat yang menugaskannya serta memberikan rahmat kepadanya dengan menanamkan perasaan nikmat dalam melaksanakan tugas.

Kemudian perhatikan bagaimana tumbuhan dan pohon melaksanakan perintah Sang Pencipta dengan cara yang menunjukkan kecintaan dan kenikmatan. Tampilannya yang indah serta harumnya yang semerbak memperlihatkan rasa rindu. Kerelaan diri untuk berkorban bagi bulir dan buahnya

296

memperlihatkan bahwa kenikmatannya terwujud di saat melaksanakan perintah. Dengan kondisi mengalir dari pintu rahmat, ia menyediakan dan menghadirkan nutrisi yang paling baik. Ia memberikan buahnya dengan ijin Tuhan. Tidakkah engkau melihat bagaimana pohon tin memberikan susu murni yang terambil dari perbendaharaan rahmat-Nya sementara ia sendiri memberikan makan dirinya dengan tanah. Pohon delima juga mengeluarkan minuman yang murni yang diberikan oleh Tuhan sementara ia sendiri hanya minum air biasa. Begitulah seterusnya.

Kemudian perhatikan kondisi sejumlah benih. Ia tampak segera ingin keluar dalam bentuk bulir sebagaimana tahanan yang berada di tempat sempit ingin keluar menuju taman. Dari rahasia yang berlaku di alam lewat sunnatullah ini, maka yang tidak bekerja dan santai-santai saja lebih menderita daripada yang terus berusaha. Pasalnya, ia mengeluhkan usianya sementara yang lain bersyukur. Istirahat terwujud dalam kepadatan dan kepadatan terwujud dalam istirahat.

{(Catatan-189): Maksudnya, istirahat dan kesenangan terwujud dalam kepenatan, sementara kesempitan dan kepenatan terwujud dalam istirahat.}

Lalu perhatikan benda mati. Tampak padanya bahwa sesuatu yang memiliki potensi berusaha menuju kepada fase aksi. Dengan sunnatullah ia berusaha dengan cara yang menunjukkan bahwa padanya terdapat kerinduan dan kenikmatan. Engkau bisa melihat tetesan air bagaimana kalbunya berisi rasa rindu untuk melaksanakan perintah Tuhan. Yaitu dengan rasa rindu yang amat kuat, meski kondisinya lembut dan lemah, ia mampu membelah besi yang kuat saat mendengar perintah, "Mengembanglah wahai air dengan ijin Tuhan!" lewat lisan titik bekunya.

Bahkan semua usaha dan gerakan yang terdapat di alam, mulai dari goncangan atom hingga perputaran matahari, berjalan di atas ketentuan qadar. Ia bersumber dari tangan kekuasaan-Nya dan tampak lewat perintah penciptaan-Nya yang berisi pengetahuan, perintah, dan kehendak-Nya, serta qudrat-Nya pula. Lebih dari itu, setiap partikel, susunan, dan makhluk hidup

297

laksana sejumlah pasukan yang mempunyai kaitan di wilayah masing-masing serta memiliki sejumlah tugas untuk sejumlah manfaat sebanyak ikatan di dalamnya. Misalnya partikel mata yang terdapat di sel matamu, di dalam matamu, di dalam syaraf wajahmu, dan urat-urat nadi di tubuhmu. Pada setiap ikatan dan tugas ia memiliki manfaat. Semuanya menjadi bukti keberadaan Tuhan Yang Mahakuasa dan azali lewat lisan ketidakberdayaannya dalam memikul sesuatu yang berada di luar kemampuannya. Yaitu berupa tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dalam sistem alam pemeliharaan keseimbangan hukumnya. Pasalnya, keteraturan dan keseimbangan tersebut merupakan dua bab penting dari kitabul mubin. Misalnya, bagaimana mungkin partikel dan lebah bisa membaca kitab tersebut yang berada di tangan Zat yang melipat langit seperti melipat lembaran-lembaran buku. Demikian pula segala sesuatu menjadi saksi atas keesaan Wajibul wujud lewat hubungan-Nya sebagai zat yang esa dengan semua susunan alam yang saling berbaur serta lewat tugas-Nya dalam berbagai kedudukan mereka, dan posisi-Nya terhadap makhluk. Selanjutnya, Sang Pencipta Yang Mahabijak merangkum hukum-hukum dua bab kitabul mubin untuk segala sesuatu dalam bingkai kenikmatan dan kebutuhan yang terkait dengannya. Ketika sesuatu bekerja sesuai dengannya, secara tidak disadari berarti telah melaksanakan hukum yang terdapat dalam kitab tersebut. Misalnya, ketika nyamuk datang ke dunia, ia keluar dari rumahnya tanpa pernah berhenti. Ia menyerang wajah manusia dan memukulkan tongkatnya padanya hingga air kehidupan memancar dari wajah tadi. Siapa gerangan yang mengajarkannya untuk menyerang dan lari? Aku mengakui andaikan berada dalam posisinya aku baru bisa mempelajarinya lewat sebuah studi dan latihan yang lama. Engkau bisa membandingkan semua makhluk dan tumbuhan dengan nyamuk, lebah, dan laba-laba yang mendapat ilham. Allah Swt memberikan kepada setiap individu sebuah kartu yang ditulis dengan tinta kenikmatan dan kebutuhan. Mahasuci Dia. Bagaimana Dia memasukkan berbagai rahasia yang terdapat dalam baris-baris dua bab kitabul mubin dalam kartu yang tertulis di kepala lebah misalnya di mana

298

kuncinya berupa kenikmatan yang khusus menjadi milik lebah itu?

Demikianlah dari semua uraian di atas lewat intuisi keimanan salah satu dari rahasia berikut dapat dipahami dengan jelas:

Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.

{(Catatan-190): Q.S. al-A'rāf: 156.}

Segala sesuatu bertasbih memuji-Nya. Hanya saja, kalian tidak memahami tasbih mereka.

{(Cacatan-191): Q.S. al-Isrā: 44.}

Jika Allah menghendaki sesuatu, Dia cukup berkata, "Kun!" maka jadilah apa yang dikehendaki-Nya itu. Mahasuci Zat yang ditangan-Nya tergenggam kerajaan segala sesuatu dan kepada-Nya kalian dikembalikan.

{(Catatan-192): Q.S. Yasin: 82-83.}

Ketahuilah! Wahai yang mengajak kaum muslimin kepada dunia, engkau telah keliru. Apakah engkau wahai yang lalai mengira kalau yang dituntut dari manusia adalah memakmurkan dunia, menciptakan berbagai produk, dan menghasilkan rezeki, serta berbagai hal yang sifatnya duniawi? Yang benar, Pemilik kerajaan yang perintah-Nya berada di antara kaf dan nun mengungkapkan perkataan yang dibenarkan oleh alam, realitas, dan perangkat fitrah manusia.

Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.

{(Catatan-193): Q.S. adz-Dzāriyāt: 56.}

Berapa banyak makhluk melata yang tidak membawa rezekinya. Allah yang membawa rezekinya dan rezeki kalian.

{(Catatan-194): Q.S. al-Ankabūt: 60.}

Atau, apakah engkau mengira bahwa Zat yang senantiasa menciptakanmu dengan memperbaharui wujudmu pada setiap masa membutuhkan sesuatu yang kau ciptakan di alam-Nya serta membutuhkan perantaraanmu dalam tindakan-Nya? Apakah semua produk manusia bisa menyamai penciptaan pohon kurma,

299

lebah, mata, atau lisan?

Ketahuilah wahai yang lalai! Di antara kemustahilan yang paling jauh adalah bahwa Dia tidak mengetahui apa yang datang padamu di mana kondisi sosial dan kemajuan duniwamu berkutat padanya. Engkau boleh memiliki keyakinan dan pemikiran apa saja meski dengan mengingkari keberadaan Allah serta menjadi materialis, namun sudah pasti engkau akan melihat dalam nuthfah, telur, benih, biji adanya aktivitas perbuatan, penciptaan, dan kreasi. Mungkinkah akalmu bisa menerima bahwa Zat yang melakukan aktivitas dalam benih secara sangat jelas, bijak, dan melihat kepada berbagai korelasi antara berbagai benih alam berikut pemanfaatnya adalah Zat yang tidak mengetahui dunia pohon berikut kondisi dan keterkaitannya dengan seluruh alam?! Juga, bahwa Zat yang membelah dan mengeluarkan bulirnya tidak melihat dan menyaksikan siapa yang menanamnya, mengapa ia menanamnya, serta hasil berikut keterkaitannya dengan dunia hewan dan lingkungannya?! Apakah menurutmu Zat yang membentuk telur menjadi anak burung yang diberi perangkat sesuai dengan alam burung tidak mengetahui berbagai kondisi alam burung dan perkembangan spesies lain di sekitarnya?! Atau menurutmu Zat yang menciptakan nuthfah menjadi segumpal darah, segumpal darah menjadi segumpal daging, segumpal daging menjadi tulang, lalu membalut tulang dengan daging sehingga menjadi makhluk lain yang hidup di mana Dia membentuk-Nya dengan bentuk yang memperlihatkan jejak kreasi Zat yang mengetahui, melihat, dan bijak, serta melengkapinya dengan perangkat yang dengannya manusia bisa berbuat banyak hal, tidak melihat?! Atau, Sang Pencipta tidak mengetahui dunia manusia berikut kondisi serta yang terjadi padanya?! Artinya, Dia tidak mengetahui perkembangan manusia serta sejumlah alam yang dilalui manusia dengan fisik, indera, jiwa, akal, dan hayalannya serta teropong atas berbagai alam dan hakikat yang tertanam dalam substansi manusia.

Wahai yang lalai, apakah engkau mengira bahwa engkau bebas dan aman dari intervensi Zat yang memberimu buah

300

delima dan semangka yang memang tercipta untukmu?! Karena lalai, engkau mengira kalau Pencipta semangka tersebut lalai terhadap orang yang memakannya. Karena buta engkau menganggap Pencipta delima itu berupa satu kekuatan yang tak mengetahui apa yang dikerjakan untuk para pemakan delima; yang takjub terhadap kreasinya yang berujar, "Mahasuci Zat yang menciptaku dalam bentuk terbaik,"; yang merenungkan kelembutannya yang mengucap "Mahamulia Allah Sebaik-baik Pencipta,"

{(Catatan-195): Q.S. al-Mu'minūn: 14.}

; yang memikirkan keteraturannya di mana ia berkata dengan suara nyaring, "Apakah Zat yang mencipta tidak mengetahui. Dia Mahalembut dan Maha mengetahui."

{(Catatan-196): Q.S. al-Mulk: 14.}

Wahai orang bodoh, apakah engkau mengira bahwa Zat yang mengirimkan berbagai buah untuk kebutuhan kita ini tidak melihat dan mengenal kita?! Atau, Zat yang menebarkan ke tengah-tengah kita berbagai binatang ternak dan seluruh hewan lainnya tidak menyaksikan kita?!

Ketahuilah wahai Yang bersandar kepada diri, kepada sebab, dan kepada dunia! Kalau engkau demikian berarti sama seperti kunang-kunang. Ia meninggalkan siang dengan mentarinya lalu bergantung kepada cahayanya sendiri di waktu malam. Engkau seperti pasukan yang beranggapan bahwa kebaikan dan nafkah raja mencakup semua, bahkan binatang yang paling rendah sekalipun. Hanya saja kemudian berkata, "Sementara aku sendiri bagaimana?! Di mana pandangan dan perhatian-Nya di antara sekian makhluk yang diberi karunia padahal kalbuku membutuhkan Kekasih yang membantu dan menyertaiku. Karena itu, tidak aneh kalau kemudian ia mencari Pelindung selain-Nya. Ia mencari relasi dan hubungan di luar sistem militer sehingga akhirnya membangkang. Maka, iapun dikejar dan ditahan sebagai orang yang fasik. Ia ditanya, "Tidakkah engkau mengetahui wahai orang yang malang bahwa perbendaharaan Raja cukup untuk memenuhi semua kebutuhanmu dan kebutuhan yang lain?!

301

Sementara yang berada di tanganmu dan di tangan tuhan-tuhanmu tidak bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan yang paling kecil sekalipun. Pasalnya, engkau berada di antara musuh dan harapan yang tak terkira. Hukum dan ketentuan raja yang bersih dari wilayah materi tetap memperhatikan individu demi individu. Bahkan, Dia menghadap secara sempurna kepada setiap individu, siapapun adanya. Andaikan engkau seorang diri berada wilayah kemiliteran tentu hubungan tetap terjaga. Seolah-olah raja melihat kepada secara khusus dalam kacamata hukumnya. Dia akan melihatmu sebagai orang yang setia dengan hukumnya. Dia tidak pernah melupakanmu meski sesaat. Dalam tatapannya secara umum terdapat pandangan khususnya yang tertuju kepadamu. Hal itu terlihat dari keselarasan antara kebaikan-Nya dan semua kebutuhanmu, baik zatnya maupun caranya. Kunci dari ini semua adalah bahwa keesaan bersinar lewat sifat-Nya yang tunggal sama seperti kilau sinar mentari pada cahaya yang terdapat pada semua partikel yang disentuh oleh cahaya tersebut atau seperti kilau sistem yang sempurna pada yang tampak dari percampuran serpihan segala sesuatu.

Kesimpulannya, Pencipta dan Pemilikmu lebih kasih, lebih pemurah, lebih lembut, dan lebih sayang kepadamu dari semua kerabat, kekasih, sahabat, dan saudara kandung. Dia juga Maha mengetahui dirimu dan segala rahasiamu. Dia Mahakuasa memenuhi permintaanmu yang paling besar dan yang paling samar. Karena itu, tinggalkan semua dan bertawakkallah kepada-Nya.

Ketahuilah! Bahwa kitab alam merupakan kitab qudrat tertulis di atas garisan kitabul mubin yang merupakan kitab ilmu. Hal ini lewat kesaksian bahwa sistem dan timbangan yang tampak dan mencakup merupakan dua bab dari dua kitab tersebut, sebagai penghubung antara keduanya, pemisah antara keduanya, dan tanda genggaman Tuhan. Tidak ada yang basah dan yang kering kecuali keduanya termasuk ke dalam kedua bab kitabul mubin. Karena tidak ada sesuatupun di alam wujud yang keluar dari kedua bab tersebut, maka segala sesuatu termasuk ke dalam kitab tadi.

Adapun Alquran yang merupakan kitab sifat kalam,

302

merupakan penafsir kitab yang tersembunyi dan yang tampak sekaligus merupakan indeks kedua babnya dan ikhtisar dari dua genggaman-Nya.

Di antara rambu tiga kitab yang bersumber dari tiga sifat-Nya: ilmu, qudrat, dan kalam, semua makhluk hidup, bahkan segala sesuatu ibarat pasukan yang sedang bertugas dan hamba yang mendapat perintah. Ia bekerja untuk Raja yang memilikinya; bukan untuk dirinya dan bukan pula untuk kesenangan pribadi. Namun, kesenangannya terletak pada tugas yang dilaksanakan. Siapa yang menganggap dirinya adalah pemilik, ia binasa.

Ketahuilah bahwa langit tercipta tanpa ada cacat. Penciptanya Mahamulia, Mahaagung, dan Mahabesar sehingga tidak sulit bagi-Nya menghadirkan setiap partikel yang berada di dalamnya serta mengeluarkan dari kerajaan-Nya. Karena adanya interaksi yang sempurna antar bagian spesies, maka Pencipta spesies seperti ikan dan lalat misalnya sudah pasti juga merupakan Pencipta spesies lainnya. Dia Pemilik kerajaan dan semua pujian. Dia yang mencipta dan memerintah. Tiada Tuhan selain Dia.

Ketahuilah!

{(Catatan-197): Lihat memoar kesembilan.}

Nabi saw dan kenabian beliau merupakan rangkuman kesempurnaan dan kebaikan. Jalan dan agamanya merupakan indeks kebahagiaan dan keindahan. Kita bisa melihat di alam ini kesempurnaan puncak, kebenaran yang berucap, kebaikan yang mulia, dan keindahan yang bersinar. Yang pasti kebenaran dan hakikat ada bersama Nabi saw, sementara kesesatan, ilusi, dan ketiadaan berada di seberangnya. Engkau bisa melihat beribu-ribu indahnya pengabdian yang dibawa oleh Nabi saw kepada Zat Yang Mahaesa. Yaitu bagaimana beliau menyatukan hati para ahli tauhid dan mengumpulkan bahasa mereka dalam aktivitas seperti salat hari raya, salat jumat, dan salat berjamaah. Beliau menerima agungnya seruan Tuhan lewat semua suara kalbu, berikut doa dan zikirnya dalam kondisi yang saling menguatkan dan bersaut-sautan seolah-olah bumi itu sendiri yang bersuara, ia dan seluruh penjurunya melaksanakan salat dan perintah yang berbunyi, "Dirikanlah salat!" Perintah

303

tersebut turun dari kemuliaan dan keagungan-Nya dari atas langit yang tujuh.

Dengan itu, manusia sebagai makhluk yang lemah meski kecil dan sama seperti partikel lain yang terdapat di alam, namun ia menjadi hamba yang dicinta oleh Pencipta langit dan bumi, pemimpin seluruh hewan, dan tujuan penciptaan alam. Tidakkah engkau melihat andaikan semua suara makhluk yang bertakbir yang berjumlah ratusan juta dalam waktu bersamaan dengan mengucap, Allahu Akbar, pada salat hari raya dan setelah salat-salat berjamaah, hal itu menyamai takbir bola bumi kalau saja ia bertakbir. Seakan-akan bumi pada hari raya berguncang hebat lalu mengagungkan Allah lewat seluruh penjurunya. Dari lubuk kalbu kiblatnya dan dengan suara Mekkahnya ia mengucap Allahu Akbar. Kata tersebut keluar dengan terwujud dalam rongga mulut kaum beriman yang menyebar di seluruh penjuru dunia. Juga, di tepi barzakh dan langit. Mahamulia Zat yang telah menciptakan, membentangkan, dan menjadikannya sebagai masjid bagi hamba-Nya.

Ketahuilah!

{(Catatan-198): Lihat memoar kesepuluh.}

Wahai yang ingin melihat dan mencapai cahaya makrifatullah lewat celah-celah dalil dan petunjuk serta lewat cermin ayat dan bukti kekuasaan-Nya. Jangan mengkritik sesuatu yang menimpamu, jangan bersikap ragu dan bimbang dengan sesuatu yang datang kepadamu, serta jangan mengulurkan tangan untuk mereguk cahaya yang menerangimu. Namun, sucikan diri, terima, dan hadapi ia. Aku telah menyaksikan tiga bentuk petunjuk yang ada:

Pertama, bagian yang seperti air di mana ia bisa dilihat dan dirasa. Hanya saja, ia tidak bisa dipegang dengan jari. Karena itu, murnikan hayalanmu, tenggelamnya di dalamnya secara total, serta jangan mengkritisi. Pasalnya, ia mengalir dan tidak rela bertempat di jari kritikan.

Kedua, bagian yang seperti udara di mana bisa dirasa tetapi tidak bisa dilihat dan dipegang. Maka, hadapi ia dengan wajah, mulut, dan jiwamu untuk menerima hembusan angin kasih

304

sayang Tuhan. Janganlah engkau menghadapinya dengan cara memegang, mengkritik, dan bersikap ragu. Namun, dengan cara bernafas dan melapangkan jiwa. Pasalnya ia akan segera lenyap. Ia akan pergi tanpa mau bertempat di tangan.

Ketiga, bagian yang seperti cahaya di mana bisa dilihat tetapi tidak bisa diraba dan diambil. Maka, hadapkan mata hatimu dan terima ia dengan kalbumu. Pasalnya cahaya tidak bisa diambil dan diburu kecuali dengan cahaya pula. Jangan engkau mengulurkan tangan materialis yang rakus. Jangan pula menimbangnya dengan timbangan materi sebab sangat samar; meski tidak padam. Ia tidak mau terikat dengan materi dan tidak rela dimiliki dan dikuasai oleh makhluk.

Ketahuilah!

{(Catatan-199): Lihat memoar kesebelas.}

Lihat tingkatan rahmat dan kasih sayang Alquran kepada sebagian besar kalangan awam serta lewat perhatiannya terhadap pemikiran mereka yang sederhana. Lihatlah bagaimana ia berulang kali menyebutkan ayat-ayat yang jelas dan tertulis di permukaan langit dan bumi. Ia membacakan kepada mereka sejumlah huruf yang besar dan terlihat nyata yang bisa dibaca dengan sangat mudah.

Misalnya penciptaan langit dan bumi, penurunan air hujan dari langit, proses menghidupkan bumi dan sejenisnya. Pandangan ini hendaknya tidak diarahkan kepada huruf-huruf kecil yang tertulis pada huruf-huruf besar kecuali sedikit darinya. Kemudian perhatikan kefasihan gaya bahasa Alquran, bagaimana ia membacakan kepada manusia tulisan qudrat ilahi yang terdapat di lembaran alam. Sehingga seolah-olah Alquran merupakan bacaan tentang alam dan sistemnya serta bacaan tentang urusan Penciptanya berikut perbuatan-perbuatan-Nya. Dengan kalbu yang menyaksikan Engkau bisa memperhatikan ayat-ayat seperti an-Naba dan ayat yang berbunyi, "Katakanlah, 'Ya Allah, Pemilik kerajaan,"

{(Cacatan-200): Q.S. Ali Imran: 26.}

serta sejenisnya.

Ketahuilah, aku telah menuliskan munajat kalbu kepada Tuhan meski semestinya disembunyikan dan dirahasiakan. Hal

305

itu lantaran aku mengharap rahmat-Nya agar Dia menerima tutur tulisanku sebagai ganti dari diriku manakala maut telah membekukan lisan. Munajat tersebut adalah sebagai berikut:

Wahai Tuhan Yang Maha Penyayang, wahai Tuhan Yang Maha Pemurah!

Lantaran buruknya pilihan, aku telah menyia-nyiakan usia dan masa mudaku. Buah yang tersisa darinya hanya derita yang menyakitkan, bencana yang merugikan dan menyesatkan, serta bisikan yang menggelisahkan dan melemahkan. Dengan beban yang berat, kalbu yang sakit, dan wajah malu aku mendekat sama seperti nenek moyang, kekasih, kerabat, dan kelogaku menuju pintu kubur. Sebuah rumah kesendirian di jalan keabadian untuk sebuah perpisahan dari negeri yang pasti fana, lenyap, dan berlalu, serta menipu orang sepertiku, pemilik nafsu ammarah.

Wahai Tuhan Yang Maha Penyayang dan Maha Pemurah!

Tampaknya sebentar lagi aku akan memakai kafan, mengendarai keranda, berpisah dengan orang-orang tercinta, dan menuju ke dalam pintu makam. Karena itu, aku menyeru di pintu rahmat-Mu:

Aku memohon keselamatan, aku memohon keselamatan. Wahai Yang Mahakasih dan Maha Memberi, selamatkan diriku dari malu akibat maksiat.

Oh, kafanku telah menutupi leher dan aku sudah berada di tepi kubur. Kuangkat kepala menuju pintu rahmat-Mu seraya menyeru:

Aku memohon keselamatan, aku memohon keselamatan. Wahai Yang Maha Pengasih dan Penyayang, lepaskan aku dari beratnya beban dosa.

Oh, aku telah dibungkus dengan kafan, menempati kuburan, dan ditinggalkan oleh para pelayat. Aku menantikan maaf dan rahmat-Mu. Aku bersaksi tiada tempat berlindung dan selamat kecuali dengan menuju kepada-Mu. Aku menyeru:

Aku memohon keselamatan, aku memohon keselamatan dari sempitnya tempat ini, dari kegalauan akibat maksiat, dan dari buruknya wajah dosa. Wahai Yang Maha Pengasih, Pemberi, dan Pemberi balasan, selamatkan diriku dari jerat dosa dan

306

kesalahan.

Wahai Tuhan, rahmat-Mu adalah tempatku berlindung dan wasilahku. Kuadukan pada-Mu duka dan laraku.

Wahai Penciptaku Yang Maha Pemurah, Wahai Tuhanku Yang Maha Penyayang, Wahai Tuan dan Majikanku,

Makhluk, ciptaan, dan hamba-Mu yang penuh dosa, lemah, lalai, bodoh, sakit, hina, bersalah, malang, dan celaka ini telah kembali setelah empat puluh tahun menuju pintu-Mu. Ia mengharap rahmat-Mu, mengakui dosa dan semua kesalahan, diuji dengan ilusi dan sakit, serta bersimpuh kepada-Mu. Jika engkau menerima, mengampuni, dan mengasihi, Engkau memang layak atasnya dan Engkau Maha Pengasih. Namun, jika tidak, pintu mana yang bisa dituju selain pintu-Mu, sementara Engkau adalah Tuhan dan Sesembahan yang benar. Tiada Tuhan selain Engkau semata, tiada sekutu bagi-Mu.

Akhirnya, aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allah.

307

Lanjutan Bunga

Bismillāhirrahmānirrahim

Segala puji bagi Allah atas nikmat-Nya dengan menurunkan Alquran serta atas rahmat-Nya dengan mengutus junjungan seluruh manusia, Nabi saw.

Ketahuilah! Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana menjadikan tumbuhan dan hewan-terutama yang kecil-sebagai wilayah kekuasaan qudrat-Nya yang paling luas, wujud manifestasi sifat-Nya yang paling banyak, serta cermin wujud nama-Nya yang paling dominan. Hal itu sesuai dengan sejumlah rahasia berharga dan hikmah-Nya yang mulia sebagai berikut:

Pertama, tumbuhan ibarat benih bumi sementara hewan ibarat buah alam. Benih merupakan miniatur pohon, sementara buah adalah contoh mini darinya. Semua yang tampak pada pohon juga tampak pada keduanya. Selama tujuan penciptaan dan kehidupan adalah untuk memperlihatkan manifestasi nama-nama Allah Yang Mahaagung, Mahaindah, dan Maha Sempurna, maka perhatian tertuju pada bagaimana memperbanyak bagian-bagian pohon dan hewan; terutama yang kecil darinya lantaran lebih sesuai dengan hikmah azali.

Musa as. pernah mengeluh kepada Allah terkait dengan banyaknya nyamuk yang menyerang. Ia bertanya, "Apa hikmah di balik jumlahnya yang banyak?" Maka, turunlah wahyu

308

kepadanya, "Nyamuk bertanya, 'Mengapa Engkau menciptakan manusia dalam bentuk seperti ini padahal ia lupa kepada-Mu?' Andaikan nyamuk yang Kau ciptakan tentu ada seratus ribu yang bertasbih memuji-Mu, berzikir mengingat-Mu di tengah-tengah saudara mereka, serta memperlihatkan manifestasi nama dan tulisan kreasi-Mu lewat lisan dan keadaan mereka.."

Ya, jika Alquran maknawi yang tertulis dengan tinta bintang-gemintang di atas lembaran langit dibaca ia berupa tanda-tanda keagungan penciptaan, sementara Alquran yang tertulis dengan tinta permata istimewa pada bagian yang tidak terpisah di sel matamu ia berupa ayat-ayat pengetahuan dan hikmah.

Apabila dari ayat yang satu engkau mendengar, "Mahasuci Dia! Betapa agung keadaan-Nya," maka dari ayat yang lain engkau mendengar, "Mahasuci Dia. Betapa cermat hikmah-Nya dan betapa halus kreasi-Nya." Apabila kedua Alquran itu sama dan terdapat tuntutan untuk memperbanyak salinan dari salah satunya-di mana memperbanyak yang besar tidak berguna bagi mereka yang melihatnya-maka sangat wajar kalau memperbanyak salinan makhluk yang kecil untuk mereka yang mau menelaah dan berpikir, mulai dari malaikat, jin, manusia hingga yang lainnya. Dalam proses memperbanyak salinan membuat kitab tersebut tidak lagi satu; tetapi beragam dengan manfaat dan pemahaman yang berbeda-beda. Maka, contohnya saling berkelanjutan dan membuat semakin indah. Andaikan sebagian besar surat-surat kitab yang kecil tidak dimasukkan dan disalin ke dalam sebagian huruf-huruf Alquran yang besar tentu yang kecil sedikit mengungguli yang besar.

Kedua, manifestasi yang paling sempurna adalah manifestasi keesan. Sementara, kreasi yang paling sempurna adalah proses memasukkan sesuatu yang paling besar ke dalam yang paling kecil. Buah dan benih bagi tumbuhan, tumbuhan dan hewan bagi bumi, manusia dan nabi bagi alam, serta kalbu dan jiwa bagi manusia merupakan contoh abtraksi yang mencakup dan sekaligus memperlihatkan seluruh nama yang terwujud pada bentuk asal dan keseluruhan.

309

Misalnya buah. Sebagaimana ia merupakan bagian dari pohon yang merupakan bentuk keseluruhannya di mana dari sisi ini ia menunjuk kepada keesaan-Nya, namun ia juga merupakan elemen kecil yang berisi pohon tersebut secara utuh yang menunjukkan ketunggalan-Nya. Ketunggalan Tuhan menjadi bukti atas keberadaan-Nya yang satu di saat keesaaan terwujud pada sejumlah cermin.

Sebagai contoh (Allah memiliki perumpamaan yang paling mulia) cahaya yang komperehensif di waktu siang merupakan perumpamaan ketunggalan-Nya. Pantulan mentari di setiap partikel, tetesan, telaga, lautan, dan bintang juga merupakan perumpamaan manifestasi keesaan-Nya.

Jika engkau melihat mentari pada cerminmu dengan warna cermin tersebut sesuai dengan posisinya lalu engkau melihatnya di cermin lain hal itu menjadi bukti keesaan untukmu. Subjek yang dimanifestasikan tidak banyak sebagaimana yang dibayangkan. Cermin tersebut berdendang,

Ungkapan kami beragam, sementara kebaikan-Mu satu

Semua menunjuk kepada keindahan itu

Dari rahasia tersebut dapat disimpulkan bahwa Sang Pencipta Yang Mahabijak memiliki hikmah yang mulia dan kreasi yang cermat. Dengan qudrat-Nya yang lembut, perhatian-Nya yang sempurna, rahmat-Nya yang paripurna, hikmah-Nya yang halus, Dia menghadap dari alam menuju bumi; dari bumi menuju makhluk hidup; dari makhluk hidup menuju manusia; dari individu manusia menuju kalbunya; lalu dari spesies manusia menuju kalbu spesies, serta kalbu alam dan benihnya yang menjadi landasan penciptaan alam, buahnya yang bersinar yang menjadi tujuan penciptaan makhluk, serta gambaran cinta Tuhan dan perumpamaan rahmat-Nya. Kalbu yang tinggi, berharga, suci dan bersih tersebut tidak lain adalah junjungan kita dan pemimpin seluruh manusia, Muhammad saw. Salawat dan salam semoga tercurah kepada beliau sebanyak buah pohon alam.

Ketahuilah! Wahai yang menyangka terdapat kondisi boros sia-sia pada sejumlah entitas. Keteraturan dan keseimbangan

310

yang sempurna dalam menciptakan semua makhluk melenyapkan sangkaan tersebut. Pasalnya, keteraturan yang ada ibarat benang yang didalamnya sejumlah tujuan dari berbagai bagian dan cabang disusun. Karena itu, mustahil seseorang memperhatikan semua tujuan dari detil-detil istana lalu mengabaikan tujuan keseluruhannya di mana semua tujuan parsial tadi merujuk kepadanya.

Apabila engkau ingin membuktikan, perhatikan wahai yang memiliki kalbu yang melihat dan pendengaran yang tajam. Sesala sesuatu memiliki sejumlah tujuan kecil dan banyak yang mengacu kepada Zat Yang Mahahidup dan Memiliki sesuai dengan kapasitas kepemilikan dan kekuasaan-Nya lewat penampakan sesuatu terhadap manifestasi nama-Nya.

Segala sesuatu menjadi tujuan bersama di antara makhluk berakal. Karena itu ia tidak pernah sia-sia. Pasalnya, jika luput dari perhatian yang satu, ia tidak akan luput dari perhatian yang lain. Di samping aspek pemanfaatan setiap orang terhadap segala sesuatu sangat banyak, tentara Allah juga tidak terhingga, "Yang mengetahui tentara Tuhanmu hanya Dia."

{(Catatan-201): Q.S. al-Muddatstsir: 31.}

Karena itu, tidak ada sesuatupun di alam ini kecuali pasti menjadi objek pandangan banyak mata. Entah itu malaikat yang bertasbih dan menyucikan bersama kelompok dan spesies mereka yang memenuhi alam, jin yang takjub dan berpikir bersama golongan mereka, jiwa yang bertakbir dan bertahlil bersama kalangan mereka, serta makhluk lainnya yang kepadatannya tidak menjadi halangan untuk bisa melihat apa yang terdapat di dalam dirinya serta penyaksian yang satu tidak menyibukkan dari yang lain. Lebih dari itu semua, adalah tatapan Sang Pencipta terhadap ciptaan-Nya. Begitu pula, tatapan orang beriman yang sadar, bahkan hewan yang sensitif yang bisa merasa dengan indera mereka.

Barangkali engkau bertanya, "Tanda kitab alam yang mana yang menunjukkan keberadaan makhluk yang mengambil pelajaran, takjub, berpikir, dan bertasbih di luar manusia? Baris kitab yang mana yang menunjukkan hal tersebut?"

311

Jawabannya, "Tanda keteraturan yang terdapat dalam baris timbangan lembaran hikmah."

Tidakkah engkau menyadari manakala pergi ke teater misalnya, di dalamnya engkau bisa melihat berbagai hal yang menarik perhatian, sejumlah hiburan yang enak didengar, serta beberapa permainan yang dinikmati oleh akal dan hayalan. Demikian pula dengan apa yang dinikmati oleh jiwa, indera, dan cita rasa manusia. Lalu ketika melihat ke dalam, ternyata sebagian besarnya berupa anak-anak yang tuli, buta, dan cacat. Seperti biasa engkau merasa bahwa di balik hijab dan tirai yang terurai di depan dinding juga terdapat orang-orang berakal yang memiliki cita rasa berbeda dan memiliki indera sempurna yang datang untuk bersenang-senang. Mereka merindukan kreasi yang ditampilkan di tempat tersebut. Mereka melihatmu berikut akting yang dimainkan sementara engkau tidak melihat mereka.

Engkau telah memahami rahasia akting yang ada. Maka, arahkan perhatian dari dunia ini menuju semua ciptaan. Di antara mereka ada yang seperti permadani yang terhampar, kasur-kasur yang tebal, pakaian yang terpakai, perhiasan yang berserakan, dan lembaran yang tersebar. Di antaranya ada pula yang berupa bunga dan buah pilihan yang dengan warna, rasa, dan aromanya menarik perhatian makhluk dan mereka yang membutuhkan. Dengan tulisan, perhiasan, dan kreasinya ia memikat mereka yang berakal dan bisa mengambil pelajaran. Ada pula tumbuhan yang siap melaksanakan tugas penciptaannya, serta hewan yang tegak dan siap melakukan tugas pengabdiannya. Lalu sebagian besar lagi tidak menyadari sejumlah keindahan dan kelembutan yang terdapat dalam dirinya.

Sejumlah keindahan tersebut bukan untuk makhluk yang tak berakal. Namun, ia dipersembahkan untuk makhluk yang mendengar dan melihat. Di samping itu, masih ada dekorasi yang menarik, perhiasan yang memikat, sejumlah ungkapan kasih dan simpati, berbagai bentuk perkenalan, serta senyuman, isyarat, manifestasi, dan berbagai kondisi lain yang nyaris bisa bertutur meski tidak kita lihat secara jelas di pentas dunia dari kalangan yang melihat dan berakal. Terkecuali jin dan manusia yang

312

kelalaian telah membuat sebagian besar mereka seperti anak kecil yang buta yang berada dalam kegelapan materi.

Dengan intuisi yang benar, keniscayaan yang tak dapat dibantah, serta aksioma yang rasional, alam ini pasti dipenuhi oleh mereka yang bisa mengambil pelajaran dan bertasbih di luar jin dan manusia. Hal tersebut seperti yang ditegaskan oleh Allah,

Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.

{(Catatan-202): Q.S. al-Isrā: 44.}

Ketahuilah! Sesuai dengan kadar luasnya kekuasaan qudrat Allah pada setiap bagian dan bertambahnya cermin bayangan membuat perhatian kepada satu individu bertambah kuat. Jangan engkau berkata, "Aku hanya setetes air di lautan sehingga terlupakan." Tidak. Namun, laut menjadi saksi atasmu sesuai dengan keterliputanmu olehnya dalam satu keteraturan yang kokoh pada seluruh makhluk sepertimu. Bertambah kecil dan samar sesuatu bertambah pula perhatian terhadapnya. Ia tidak terabaikan serta tidak dibiarkan diintervensi pihak luar sehingga posisinya sebagai makhluk semakin terlihat.

Bukankah engkau melihat pusat lebih terlindung dari penguasaan pihak luar dan berbagai serangan, benih lebih terjaga dari proses kebetulan dan terpaan badai, serta perhatian terhadapnya lebih kuat?

Wahai manusia, engkau adalah benih bumi, sementara bumi adalah telur alam. Dari sini dapat dipahami mengapa Alquran sering menyebut penciptaan langit dan bumi sekaligus menjadikannya sebagai perlambang bagi penciptaan segala sesuatu.

Ketahuilah! Perhatikan kesempurnaan nikmat dalam kesempurnaan hikmah, kesempurnaan hikmah dalam kesempurnaan tatanan, serta kesempurnaan tatanan dalam kesempurnaan timbangan pada penciptaan panca indera manusia. Pasalnya,

313

Sang Pencipta menciptakannya dengan satu kondisi serta melengkapinya dengan sejumlah perangkat yang dengan itu manusia bisa merasa. Tuhan juga membuatnya bisa mengecap karakteristik semua jenis buah, bunga, suara, aroma, serta yang lainnya sehingga dalam indera pengecap terdapat daya rasa yang halus, cermat, dan teratur sebanyak rasa seluruh jenis buah. Demikian pula dengan indera pendengaran yang bisa mengetahui karakteristik dari suara yang tak terhingga banyaknya. Hal yang sama berlaku pada indera-indera yang lain; terutama indera batini yang lebih kaya dan lebih rumit.

Dari sini universalitas fitrah manusia sampai ke tingkat yang membuat manusia menjadi wujud dari nama-nama Penciptanya yang tak terhingga sekaligus mencicipi berbagai nikmat yang tak terkira.

Engkau wahai manusia seperti pusat jaringan telepon. Sebagaimana untuk berkomunikasi dengan setiap tempat di sebuah daerah diperlukan kode khusus, maka untuk bisa merasakan semua nikmat-Nya serta untuk menyadari nikmat keberadaanmu yang menampilkan berbagai manifestasi-Nya dalam dirimu terdapat kode khusus yang digantungkan di kepala dan jiwamu. Pergunakannya ia sesuai dengan keinginan Penciptanya dengan cara bergerak sesuai timbangan syariat-Nya.

Dari sini terdapat perbedaan yang tak terkira antara tingkat kenikmatan yang dirasakan oleh dua orang manusia meski berada di taman dan tempat yang sama. Kabar gembira dari Rasulullah saw, "Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai,"

{(Catatan-203): H.R. al-Bukhārī dalam al-Adab 96 dan Muslim no. 2640 dari Abu Musa asl-Asy'ari. Ia juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad 4/392, 395, 405 serta Ibnu Hibban 557. }

bisa menyatukan antara yang paling rendah dan yang paling mulia.

Ketahuilah! Percampuran antara berbagai serpihan dan bagian yang tampak tidak teratur dan seimbang bukan sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Tetapi ia bersumber dari bentuk keteraturan menuju tulisan kitab. Hanya saja, tulisan tersebut

314

tidak bisa dibaca dengan mudah oleh pandangan lahiri yang buta yang melihat pantulannya dalam cermin ilusi.

Bukankah engkau bisa melihat bahwa serpihan tersebut andai berupa benih jika sudah tumbuh akan memperlihatkan keteraturan yang sempurna. Ia merupakan tulisan aneh milik pena takdir.

Ketahuilah! Argumen yang pasti pada stempel kenabian Muhammad saw., mengantarkan batas-batas agama pada setiap kaidahnya kepada satu batas yang paling luas, paling sempurna, dan paripurna.

Misalnya dalam persoalan tauhid dan pemeliharaan Tuhan. Dia befirman,

Dalam genggaman-Nya terdapat kerajaan segala sesuatu.

{(Catatan-204): Q.S. Yasin: 83.}

Dia memegang ubun-ubun segala sesuatu.

{(Catatan-205): Q.S. Hūd: 56.}

Langit terlipat di tangan kanan-Nya.

{(Catatan-206): Q.S. az-Zumar: 67.}

Dialah yang membentuk rupa kalian dalam rahim seperti yang Dia kehendaki.

{(Catatan-207): Q.S. Ali Imran: 6.}

Dialah Yang Maha Pertama dan Maha Terakhir, Maha Tampak dan Maha Tersembunyi. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

{(Catatan-208): Q.S. al-Hadīd: 3.}

Kalian tidak bisa menghendaki sesuatu kecuali di kehendaki oleh Allah.

{(Catatan-209): Q.S. al-Insan: 30.}

Kami lebih dekat kepadanya daripda urat nadi.

{(Catatan-210): Q.S. Qāf: 16.}

Seluruh planet berkedudukan sama dalam melaksanakan perintah Tuhan yang suci dari sifat makhluk dan bersih dari seluruh perangkatnya. Dalam persoalan kebangkitan dan tauhid, ia sampai ke tingkat yang paling puncak.

315

Demikian pula dalam setiap persoalan. Ia tidak mungkin disempurnakan dan dilengkapi dengan yang lain. Haknya terus hidup hingga hari kiamat.

Ketahuilah! Kalbuku di saat merintih dengan bahasa Arab kadang ia menangis dengan bahasa Turki lewat ratapan kesedihan ala Turki. Karena itu, aku menuliskannya sebagai berikut,

Aku tidak menginginkan yang lenyap. Aku yang fana tidak menginginkan yang fana. Aku yang lemah tidak mengingkan makhluk yang lemah. Kuserahkan ruhku kepada Tuhan Yang Maha Pengasih; tidak kepada yang lain.

Yang kuinginkan Kekasih abadi.

Aku sebagai sebutir atom, yang kuinginkan mentari yang kekal.

Aku tidak berharga dan berasal dari tiada, yang kuinginkan seluruh entitas.

Jangan kau ajak aku kepada dunia sebab aku telah mendatanginya dan melihat kerusakan padanya.

Ketika kelalaian menutup cahaya kebenaran, kulihat segala sesuatu dan dunia sebagai musuh berbahaya.

Aku telah mencicipi berbagai kenikmatan, namun aku merasa sakit saat ia hilang.

Sementara, alam wujud telah kukenakan.

Oh, jangan bertanya betapa aku sangat menderita dalam ketiadaan.

Jika yang dimaksud adalah kehidupan, maka aku telah melihatnya sebagai siksa dalam siksa.

Ya, ketika cahaya kebenaran tertutup dariku

Tiba-tiba akal berubah menjadi siksa, keabadian berubah menjadi bencana, dan kesempurnaan menjadi sia-sia. Lalu usia berlalu bagaikan dihembus angin.

Ya, tanpa keberadaannya, ilmu berbalik menjadi ilusi.

Hikmah berubah menjadi derita, cahaya menjadi kegelapan, dan kehidupan menjadi mati, serta segala sesuatu menjadi

316

musuh.

Kurasakan bahaya pada segala sesuatu.

Harapan berubah menjadi penderitaan.

Wujud pun menjadi tiada serta hubungan menjadi lenyap

Derita menekanku dengan sesuatu yang tidak abadi.

Ya, selama engkau tidak menemukan Allah, segala sesuatu menjadi musuh.

Sakit dalam sakit, bahkan ia merupakan sakit itu sendiri.

Namun, jika engkau menemukan Allah, hal itu hanya terwujud dengan meninggalkan segalanya.

Lewat cahaya tersebut aku bisa melihat sorga di dunia.

Yang mati pun tampak seperti hidup.

Suara menjadi seperti zikir dan tasbih.

Semuanya menjadi teman dan kenikmatan terletak dalam penderitaan.

Kehidupan berubah menjadi cermin yang memantulkan cahaya kebenaran.

Keabadian kulihat terdapat dalam kefanaan.

Semua partikel mengucap zikir.

Ia keluar dari lisannya dan memancar dari matanya.

Ia menjadi bukti dan saksi kebenaran.

Pada segala sesuatu menjadi tanda bagi-Nya

Yang menunjukkan bahwa Dia esa

Ketahuilah!

{(Catatan-211): Penjelasan tentang perumpanaan ini terdapat dalam "Kalimat kedua puluh tiga".}

Wahai yang mengira kenikmatan dan kebahagiaan terdapat dalam kelalaian dan sikap meninggalkan agama!

Satu ketika aku pernah mendapatkan sebuah pengalaman. Kulihat diriku berada di atas jembatan yang membentang di antara dua puncak gunung yang tinggi. Di bawahnya terdapat lembah yang sangat dalam. Dunia berikut semua yang ada di dalamnya demikian gelap. Kemudian aku melihat ke sisi kanan masa laluku. Yang terlihat hanya gelapnya ketiadaan. Lalu menengok ke sisi kiri masa depanku, ia juga berupa kegelapan yang demikian mengerikan. Setelah itu aku melihat ke bawah. Kulihat sebuah kedalaman hingga ke tingkat yang paling bawah.

317

Kemudian, aku melihat ke atas, yang ada adalah gumpalan awan yang bisu dan tuli yang menurunkan kerisauan, kenestapaan, dan keputusasaan. Selanjutnya, di depanku terlihat dari celah-celah kegelapan yang ada sejumlah ifrit, kalajengking, singa, dan serigala dengan gigi yang siap memangsa. Lalu, di belakangku tidak ada bantuan, penolong, dan pelindung sama sekali.

Ketika berada dalam kondisi gelisah, putus asa, tiba-tiba hidayah Tuhan menyadarkanku. Kulihat bulan Islam dan mentari Alquran datang menyinari manusia. Kusaksikan jembatan kehidupan berupa jalan yang menyusuri taman-taman karunia Tuhan yang berujung ke sorga rahmat-Nya.

Sisi kanan masa laluku berupa kebun-kebun yang dihiasi oleh orang-orang saleh, diterangi oleh para nabi dan wali yang di bawah mereka mengalir sungai perjalanan waktu, sementara mereka kekal dalam keabadian. Di sisi kiriku terdapat sorga Firdaus yang memancarkan harapan dan angan-angan akan kasih sayang Tuhan.

Di atasku terdapat awan rahmat yang mengalirkan air kehidupan. Sementara di celah-celahnya mentari dengan sinar petunjuk dan kebahagiaan abadi sedang tersenyum. Lalu, sejumlah entitas yang terdapat di depanku adalah saudara-saudaraku, kekasihku, dan binatang yang bersahabat di mana gelapnya kesesatan menggambarkannya sebagai binatang buas yang menakutkan. Di saat itulah tergambar firman Allah yang berbunyi,

Allah adalah Pelindung bagi orang-orang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Adapun orang-orang kafir, pelindung mereka adalah toghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kelegelapan.

{(Catatan-212): Q.S. al-Baqarah: 257.}

318

Wahai Cahaya segala cahaya, dengan kebenaran nama-Mu, an-Nur, keluarkan kami dari kegelapan menuju cahaya. Amin.

Ketahuilah wahai Said yang gila dan sedih! Engkau seperti anak kecil yang bodoh yang duduk di atas tepi pantai. Ia terus menangis lantaran hilangnya butiran bayangan mentari. Setiap kali ada yang hilang ia menangisinya karena mengira mentari tadi lenyap. Iapun bisa menangis karena bayangan mentari tadi dikotori dan bercampur dengan berbagai benda padat. Ia baru mengangkat kepala ketika memahami bahwa zat aslinya tidak ikut lenyap seiring dengan lenyapnya cermin manifestasinya. Bahkan, pada apa yang kau lihat tidak ada kepergian dan perpisahan yang menyakitkan.

Adapun keindahan dengan segala manifestasinya terus ada dengan sempurna dalam berbagai bentuk dan beragam cerminnya. Cermin dan wujud manifestasi hanya muncul ketika bertugas di mana ia menari-nari. Namun, ketika tugasnya selesai, ia pun bersembunyi sambil tertawa.

Demikian pula dengan dirimu. Engkau diuduk di atas pantai dunia dalam kondisi sedih dan menangis karena kepergian sesuatu yang sempurna, indah, dan baik, juga karena lenyapnya buah nikmat di saat waktunya tiba. Engkau mengira bahwa keindahan tersebut adalah milik si pemiliknya dan buahnya merupakan aset milik pohon. Namun, badai kebetulan merampai keduanya dari pemiliknya hingga terlempar dalam gelapnya ketiadaan. Tidakkah engkau berpikir bahwa Zat yang menerangi sesuatu yang kau cintai dengan cahaya kebaikan adalah Zat yang menerangi semua bunga taman alam sekaligus membuat hati para pecinta merindukannya.

Sampai kapan wahai orang malang engkau meratapi kepergian buah yang berada di tanganmu? Perhatikanlah karunia Tuhan Pembelah biji dan benih yang terus-menerus dengan tetap mengekalkan pohon dari buah tersebut. Kemudian perhatikan cakupan nikmat-Nya berupa pohon semacam itu di seluruh penjuru bumi meski tidak berbuah. Lalu, perhatikan wilayah kebaikan-Nya yang terus datang lewat pergantian musim dan tahun. Kemudian perhatikan wilayah kebaikan-Nya di alam

319

barzakh lewat semacam yang kau saksikan di alam dunia. Selanjutnya perhatikan wilayah karunia-Nya yang luas dan abadi di alam akhirat lewat karunia seperti yang kau sukai di kebun bumi. Dan seterusnya. Janganlah engkau melihat kepada nikmat dengan melalaikan pemberian nikmat tadi hingga akhirnya perlu diobati dengan menangis. Tetapi, arahkan perhatianmu dari nikmat menuju pemberian nikmat, dan dari pemberian nikmat menuju Pemberi nikmat berikut keluasan pemberian-Nya dan kesempurnaan rahmat-Nya. Lalu, tersenyumlah seraya bersyukur kepada-Nya. Serta bergembiralah dengan karunia-Nya.

Sampai kapan matamu menangis dan kalbumu bersedih lantaran keindahan yang telah pergi. Perhatikan banyak dan luasnya berbagai wilayah yang saling mengelilingi sesuatu yang kau senangi, tentu hal itu akan membuatmu lupa dengan pedihnya perpisahan lantaran merasakan nikmatnya karunia sejenis yang datang secara terus-menerus. Berbagai wilayah yang berbeda kecil dan besarnya hingga lebih kecil daripada stempelmu dan lebih besar daripada puncak, yang lenyap seketika dan abadi hingga selamanya, semua itu merupakan wujud, cermin, dan pantulan manifestasi bayangan cahaya keindahan Tuhan Yang Mahagung, Pemurah, Azali, Abadi, Kekal, yang tidak lenyap serta tidak pernah berubah. Jangan engkau mengira bahwa apa yang terdapat dalam cermin merupakan milik cermin agar engkau tidak menangisi sesuatu yang terdapat dalam cermin akibat lenyap dan rusak. Angkat kepalamu dari dunia dengan mengarahkannya kepada teropong kalbumu guna melihat mentari keindahan. Dari sana engkau akan mengetahui bahwa semua yang kau lihat dan kau sukai adalah salah satu tanda kekuasaan-Nya yang berupa karunia-Nya. Di antara tanda keindahan-Nya Dia menghias langit dengan sejumlah lentera dan bumi dengan sejumlah bunga. Di antara tanda kebaikan-Nya Dia mencipta manusia dalam bentuk terbaik dan menulis alam dalam penandaan yang paling indah. Di antara tanda keagungan-Nya Dia menyinari ruh para nabi, menerangi jiwa para wali, dan menghias kalbu kaum arif dengan cahaya keindahan-Nya yang murni.

Ketahuilah wahai diri, tampaknya engkau tidak melihat

320

kesesuaian antara dirimu-yang lemah, miskin, serba terbatas dan terikat sehingga menjadi seperti partikel yang lenyap ditelan di tengah padang pasir serta seperti semut yang berada di pegunungan, atau seperti lebah yang diterpa badai-dan Zat Yang Mahakuasa dan kaya, yang manifestasi nama dan sifat-Nya tidak terbatas dan terkira, yang seluruh makhluk berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, yang langit terlipat di tangan kanan-Nya, di mana setiap partikel di alam bisa bergerak dengan ijin-Nya. Tiada sekutu bagi-Nya dalam hal kerajaan dan uluhiyah-Nya. Tidak ada yang bisa melawan-Nya dalam hal kekuasaan dan pemeliharaan-Nya. Tiada Tuhan selain Dia.

Ya, andaikan tugasmu di dunia ikut serta bersama Penciptamu dalam memelihara, tentu kesesuaian tersebut harus ada dalam interaksi dengan-Nya. Namun hal itu tidak mungkin. Mana mungkin tangan nyamuk bisa membuat baju yang rapi yang dipotong sesuai ukuran postur alam. Namun, tugasmu yang terdapat dalam fitrah dan tujuan kesempurnaanmu yang terdapat dalam potensi diri adalah untuk mengabdi di mana dari kehampaan muncul dan bermula lalu berakhir sebagai kekasih-Nya. Penghambaan adalah lawan dari pemeliharaan dan kepemilikan. Karena itu tidak adanya kesepadanan merupakan sebuah kesesuaian. Semakin engkau memahami jauhnya dirimu dari posisi Tuhan seiring dengan itu engkau menjadi hamba yang dikasihi dan dicinta. Penghambaan merupakan cermin rububiyah lewat kebalikannya sama seperti menulis huruf bercahaya pada lembaran yang gelap. Setiap kali hampir tiada, tampak darinya kedudukan manifestasi wujud Tuhan yang paling tinggi. Tiada Tuhan selain Dia.

Ketahuilah wahai yang menganggap bahwa sejumlah riwayat yang terkait dengan keutamaan amal sebagai sesuatu yang berlebihan.

Misalnya diriwayatkan siapa yang melakukan hal ini ia akan mendapatkan sebanyak pahala jin dan manusia. Bahkan sebagian berpendapat kalau maksudnya hanya sekedar memberi motivasi. Lalu, sebagian lagi berpendapat bahwa maksudnya benar-benar demikian. Sementara yang kupahami bahwa per

321

soalan di balik hal-hal yang masih syubhat ini bersifat mutlak dan temporal. Kebenarannya bisa terwujud pada sebagian orang. Ia bukan persoalan yang berlaku kepada semua orang. Pasalnya, keabsahannya harus memenuhi sejumlah syarat yang tidak disebutkan meski kalaupun bersifat menyeluruh juga dimungkinkan. Demikianlah, ia tidak bersifat permanen karena terkait dengan faktor keikhlasan dan penerimaan.

Saat ini aku memahami bahwa pahala merupakan karunia dan anugerah Allah. Pandangan hamba tidak bisa menjangkau sesuatu yang diberikan oleh Zat yang manifestasi anugerah-Nya kepada hamba tidak terhingga lantaran kebutuhannya terhadap negeri abadi yang juga tak terhingga.

Anugerah apapun selama berasal dari sisi Allah, pasti memiliki sisi tak terhingga. Andaikan ia timbang dengan semua yang diketahui oleh hamba tentu ia lebih daripada itu. Misalnya diriwayatkan bahwa siapa yang membaca amalan ini akan diberi ganjaran sebesar pahala Nabi Musa dan Nabi Harun.

Maksudnya adalah pahala keduanya yang kalian lihat dan kalian bayangkan dengan persepsi kalian yang terbatas di alam ini yang bersifat terbatas tidak lebih dari pahala membaca satu ayat dalam hal yang sama dengan melihat kepada Allah selama amal itu memang diterima dan dikerjakan secara ikhlas

Di samping itu, permisalan di atas adalah dalam hal kuantitas bukan kualitas. Butiran air yang terkena sinar mentari bisa berkata kepada laut, "Permukaanmu sama seperti diriku dalam menerima limpahan cahaya mentari."

Ya, pahala harus dikembalikan kepada alam mutlak. Sementara, satu partikel dari alam tersebut sudah bisa menampung satu alam di alam ini sebagaimana partikel kaca menampung alam langit berikut bintang-gemintangnya. Seseorang sangat mudah membuka perbendaharaan rahmat-Nya hanya dengan satu kata yang baik lewat hati yang bersih.

⬇ Gulir Otomatis
📝 Catatan Saya 0 catatan

Pilih teks lalu tekan tombol "Catatan" untuk menambahkan catatan.

Pengaturan
Tema
Ukuran Font
Ketebalan Font
Ukuran Font Arab
Spasi Baris

Mode Fokus
Sembunyikan sidebar
Gulir Otomatis
Halaman bergulir sendiri
Kecepatan