Risale-i Nur Külliyatı [email protected]

Kehidupan Said Nursi di Deni̇zli̇

2 dilihat

BAGIAN KELIMA

KEHIDUPAN SAID NURSI DI DENİZLİ

Ruang lingkup penyebaran Risalah Nur dan ekspansinya semakian meluas. Pembacanya yang kehausan bertambah dari hari ke hari. Ketika para musuh Islam menyaksikan secara sembunyi-sembunyi kekuatan yang luar biasa dan pengaruhnya yang mendalam yang dihasilkan Risalah Nur, mereka kembali mulai melakukan konspirasi terhadap Risalah Nur dan pengarangnya. Sejumlah tuduhan palsu diarahkan kepadanya. Ia dituduh melakukan sejumlah rencana tendensius, di antaranya bahwa Ustadz Badiuzzaman mendirikan sebuah organisasi rahasia, memprovokasi orangorang untuk melawan pemerintah, merusak prestasi revolusi(*1)dari dasarnya, dan Ustadz Badiuzzaman mengatakan bahwa Mustafa Kamal adalah seorang Dajjal, sufyani, perusak agama, dan hal itu dibuktikan dengan sejumlah teks yang berasal dari hadis. Berdasarkan hal ini, Ustadz Badiuzzaman ditangkap dari tempat tinggalnya di Kastamonu beserta seratus dua puluh enam muridnya dari berbagai wilayah. Semuanya dipindahkan ke Pengadilan Pidana Denizli. Hal ini terjadi pada tahun 1943 M(*2).

Sebuah komisi yang terdiri dari beberapa pegawai yang disebut Komisi Para Pakar dibentuk dan diberi tugas untuk mengkaji Risalah Nur dan korespondensi Ustadz Badiuzzaman. Mereka diperintahkan untuk menyelidiki apakah Risalah Nur mengandung tema-tema politik. Begitu komisi ini memulai pekerjaannya, Ustadz Badiuzzaman langsung menyambutnya dengan berkata, “Komisi Para Pakar yang yang tidak ahli tidak memiliki kemampuan untuk menyelidiki Risalah Nur.

Silahkan bentuk komisi ilmiah yang terdiri dari para pakar tingkat tinggi di Ankara, dan datangkanlah para filsuf dari Eropa. Jika mereka menemukan sebuah kejahatan dalam Risalah Nur, saya rela menerima hukuman yang paling berat”.Berdasarkan permintaan Ustadz Badiuzzaman ini, koleksi Risalah Nur dan korespondensi Ustadz Badiuzzaman diserahkan kepada Komisi Para Pakar yang terdiri dari tokoh ulama dan guru besar di Ankara.

Mereka menelitinya baris demi baris, kemudian mereka mengeluarkan laporannya yang berbunyi, “Ustadz Badiuzzaman tidak memiliki aktivitas politik, tidak terdapat apa yang disebut tarekat sufi atau organisasi dalam metode dakwahnya, semua karangannya adalah buku-buku ilmiah dan tentang keimanan serta semata-mata merupakan penafsiran terhadap al-Qur’an”. Terbuktilah bahwa tuduhan yang diajukan ke pengadilan tidak lain dari rekayasa dan alasan palsu yang tidak didukung bukti.

Hasilnya, Ustadz Badiuzzaman menyampaikan pembelaan yang cemerlang dan akhirnya pengadilan mengeluarkan keputusan bahwa dirinya bebas dengan kesepakatan nomor 136/199 tanggal 16/6/1944 M, dan diputuskan dicabutnya larangan terhadap Risalah Nur dengan bagian-bagiannya yang berjumlah seratus tiga puluh, semua naskah yang disita dikembalikan kepada pemiliknya. Departemen Kasasi Pidana Pertama melegalisasi keputusan besar dengan kesepakatan tanggal 30/12/1944 M. Hukum gugatan Risalah Nur mendapatkan status diselesaikan.

Berdasarkan keputusan bebas ini, Ustadz Badiuzzaman bersama sejumlah muridnya dibebaskan setelah mendekam dalam penjaran selama sembilan bulan, hanya saja Ustadz Said Nursi ini ketika berada dalam penjara telah diracun hingga nyaris tewas seandainya bukan karena pertolongan Allah. Selama dalam penjara, Ustadz Said Nursi mendapat perlakuan kasar yang tidak pernah diterima orang sebelumnya. Semua siksaan ini tidak membuat Ustadz Said Nursi berhenti mempertahankan kebenaran dan hakikat tanpa sedikit pun dihinggapi rasa takut terhadap ajal, hingga dalam pengadilan ini yang menyeretnya untuk dijatuhi hukuman mati. Demikianlah keadaan Ustadz Said Nursi dalam semua pengadilan yang merupakan konspirasi orang-orang munafik, orang-orang kafir yang bekerja secara sembunyi-sembunyi.

Dalam penjara Denizli, Ustadz Said Nursi mengarang “Risalah Buah Keimanan” yang kemudian diterbitkan dalam bagian pertama pada buku “Tongkat Nabi Musa n”. Beliau mengarangnya dalam satu pekan yang dimulai dari hari Jumat hingga hari Jumat berikutnya. Para Tullabunnur beserta para tahanan lainnya yang dipenjara menyalinnya. Mereka dengan senang hati melakukan pekerjaan itu padahal kondisinya waktu itu sangat sulit. Memasukan kertas ke dalam penjara dilarang. Maka mereka menulisnya secara sembunyi-sembunyi sampai-sampai ada yang menulisnya pada bungkus korek api.(*3)

* * *

Sebuah risalah dengan tulisan tangan Ustadz Said Nursi untuk para muridnya.

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Telah terbukti dari daftar penuntutan ini bahwa rencana yang dibuat orang-orang zindik terhadap kita secara sembunyi-sembunyi yang membuat lalai sebagian orang-orang pemerintahan agar mereka menyerang kita, telah terbukti gagal dan dusta mereka terbongkar. Mereka sekarang berusaha menutupi kebohongan mereka dengan melempar tuduhan bahwa kita mendirikan organisasi dan melarang siapa pun untuk berhubungan dengan saya. Orang yang berkomunikasi dengan kita langsung dianggap sebagai bagian dari kita.Sampai-sampai ada pejabat tinggi sering menghindar untuk berkomunikasi dengan saya, dan membujuk pemimpin mereka untuk menekan saya, khususnya yang berinisial (حا ص م د بر).Sebetulnya saya ingin menyebutkan paragraf berikut dalam bagian akhir daftar sanggahan, tetapi suatu hal telah menghalangi saya untuk melakukan hal itu. Paragraf yang dimaksud adalah:Ya, kami memang organisasi. Sebuah organisasi yang setiap abadnya terdapat tiga ratus lima puluh juta individu bergabung di bawah panjinya. Dengan salat lima waktu dalam sehari mereka menyatakan hubungannya dengan organisasi ini dan pengabdiannya terhadapnya dengan penghormatan penuh terhadap prinsip-prinsipnya. Mereka dengan sigap segera untuk saling membantu dengan doa dan upaya maknawi sebagai pengamalan program suci “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara”. (QS. alHujurât [49]:10)

BEBERAPA BAGIAN DARI PEMBELAAN SAID NURSI DI PENGADILAN DENIZLI

Ya, kami memang organisasi. Sebuah organisasi yang setiap abadnya terdapat tiga ratus lima puluh juta individu bergabung di bawah panjinya. Dengan salat lima waktu dalam sehari mereka menyatakan hubungannya dengan organisasi ini dan pengabdiannya terhadapnya dengan penghormatan penuh terhadap prinsip-prinsipnya. Mereka dengan sigap segera untuk saling membantu dengan doa dan upaya maknawi sebagai pengamalan program suci “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara”. (QS. alHujurât [49]:10)Kami adalah anggota organisasi suci lagi agung ini. Tugas khusus kami adalah menyampaikan hakikat al-Qur’an dan keimanan kepada orang-orang beriman secara benar sehingga kami menyelamatkan mereka dan diri kami dari kemusnahan abadi dan dari penjara individual alam barzakh abadi. Kami tidak mempunyai hubungan apa pun dengan organisasi rahasia batil seperti yang kalian tuduhkan, tidak pula dengan organisasi dan perkumpulan politik dunia yang biasa melancarkan konspirasi dan tipu daya, bahkan pada prinsipnya kami sama sekali tidak sudi untuk mencampuri urusan seperti ini.

...

Seandainya kami berkeinginan untuk mencampuri urusan dunia, maka pasti akan terdengar gaungnya seperti letusan meriam, bukannya seperti dengungan lalat.

Orang yang menuduh seseorang yang membela diri di Pengadilan Militer dengan melakukan pembelaan yang sangat keras, menghadapi kerasnya Mustafa Kamal di kantor kepresidenannya secara tegas, menuduh orang seperti ini melakukan konspirasi dan intrik sejak delapan belas tahun yang lalu tanpa membuat seorang pun merasakannya, orang yang menuduh itu pasti orang dengki yang sangat tendensius. Adalah sangat tidak layak Risalah Nur diserang semata-mata karena terdapat kesalahan yang dilakukan oleh diri saya atau sebagian saudara saya. Risalah Nur berkaitan dengan al-Qur’an langsung dan al-Qur’an berkaitan dengan `Arsy Yang Agung. Lalu siapa yang dapat mengulurkan tangannya ke ikatan yang kuat itu untuk menguraikannya?

Kemudian, Risalah Nur telah terbukti pengabdiannya yang cemerlang dan keberkahan material dan maknawinya di negeri ini dengan isyarat tiga puluh tiga ayat al-Qur’an, dengan tiga karamah gaib Imam Ali d, dengan pemberitahuan pasti dari al-Ghawth al-A`dzam Syekh al-Jilani—quddisa sirruhu—sehingga tidak benar dan tidak mungkin bertanggung jawab dengan kesalahan individual kami yang sepele. Jika tidak, negeri ini sudah pasti mengalami kerugian material dan maknawi yang tidak dapat dihindari(*4)

Serangan dan rencana yang dilancarkan sebagian kaum zindik dengan kekejian ala setan terhadap Risalah Nur, dengan izin Allah akan gagal. Para Tullabunnur tidak dapat dibandingkan dengan yang lainnya. Barisan mereka tidak akan dapat dibubarkan. Mereka tidak akan sudi melepaskan tugas dakwahnya. Berkat pertolongan Allah, mereka tidak akan terkalahkan. Mereka ada di setiap tempat. Mereka mendapat kepercayaan dan penghormatan di kalangan masyarakat banyak, bahkan mereka merupakan nadi kehidupan untuk bangsa ini. Seandainya al-Qur’an tidak mencegah mereka dari meniti jalan pembelaan material, niscaya kalian tidak akan menemukan dari mereka peristiwa parsial yang tidak berguna seperti Peristiwa Syekh Said dan Peristiwa Menemen(*5). Jika kezaliman menimpa mereka dan Risalah Nur diserang—semoga Allah tidak menakdirkannya—maka secara terpaksa mereka akan melakukan pembelaan diri. Kaum zindik dan munafik yang menyesatkan itu akan sangat menyesali perbuatanya.

Walhasil, selama kita tidak mencampuri dunia para ahli dunia, maka hendaknya mereka juga tidak menghalang-halangi kita dalam urusan akhirat dan urusan pengabdian kita terhadap iman.

Tahanan

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saya sampaikan berita pasti kepada tuan-tuan bahwa saya memiliki banyak saudara yang jujur dan sahabat yang tulus yang berjalan di atas jalan kebenaran, di samping orang-orang yang terhormat yang berada di sini yang tidak ada kaitannya dengan kami dan dengan Risalah Nur, atau orang yang memiliki ikatan terbatas. Kami semua meyakini dengan temuan-temuan Risalah Nur yang pasti, yaitu bahwa kematian yang niscaya itu, bagi kami berkat rahasia al-Qur’an telah berubah dari kemusnahan abadi menjadi nota pembebasan, sementara ia bagi para penentang kami dan orang-orang yang meniti jalan sesat adalah kemusnahan abadi bagi orang yang tidak mengimani akhirat, penjara pribadi yang gelap dan abadi bagi mereka yang tenggelam dalam kesesatan, dosa dan kekejian kendati mengimani akhirat.

Apakah di dunia ini terdapat masalah kemanusiaan lain yang lebih besar dan lebih penting daripada masalah kematian sehingga menjadi sarana untuknya? Selama jawabannya adalah “tidak ada” dan tergolong tidak masuk akal ada masalah yang lebih penting dari masalah kematian, maka saya bertanya kepada tuan-tuan, “Mengapa kalian menyibukan diri mengurusi kami?”.

Kami anggap hukuman yang paling berat yang kami rasakan adalah sebagai nota pembebasan dan surat jalan menuju dunia cahaya. Oleh karena itu, kami menantinya dengan penuh ketabahan, hanya saja kami mengetahui bahwa orang-orang yang menolak kami dan mengutuk kami sebagai pengabdian terhadap kepentingan kesesatan, mereka akan dijatuhi hukuman kemusnahan abadi dan penjara pribadi, dan dalam waktu dekat akan mendapatkan balasan yang mengerikan. Kami mengetahui hal ini secara ilmul yaqin, bahkan kami melihatnya sebagaimana kami melihat tuan-tuan sekarang dalam majelis ini dan kami sangat kasihan terhadap mereka.

Saya siap membuktikan hakikat pasti yang penting ini dan membungkam para penentang yang paling keras kepala. Saya berjanji untuk membuktikannya di hadapan komisi para pakar yang pendengki dan tidak memiliki pengalaman yang tidak berhak untuk berhubungan dengan masalah spiritual, bahkan saya siap membuktikannya di hadapan para tokoh ulama dan filsuf tuan-tuan.

Jika saya tidak dapat membuktikannya seperti matahari di siang bolong, saya rela mendapatkan hukuman apapun. Saya persembahkan kepada tuan-tuan “Risalah buah keimanan” yang kami susun untuk para tahanan dalam sepekan. Kami kerjakan dalam kondisi yang sangat sulit karena kami menulisnya dengan huruf-huruf Latin yang baru agar risalah ini sampai ke instansi resmi di Ankara. Risalah ini merupakan daftar pembelaan terhadap Risalah Nur dengan penjelasan tentang pilar, dasar dan intisarinya. Silahkan tuan-tuan ambil risalah ini sebagai contoh. Bacalah dan simaklah secara mendalam. Jika hati tuan-tuan—saya tidak mengatakan diri tuan-tuan—tidak membenarkan perkataan saya ini, maka ketika itu saya akan berdiam diri kendati kalian nanti akan menjatuhkan berbagai penyiksaan terhadap diri saya dalam ruang isolasi.

Walhasil, hanya ada dua pilihan di hadapan tuan-tuan: memberikan kebebasan penuh kepada Risalah Nur atau menghancurkan hakikat-hakikatnya yang kuat, jika tuan-tuan mampu melakukannya. Saya tidak pernah memperdulikan tuan-tuan dan tidak pula urusan dunia tuan-tuan sampai hari ini, bahkan tidak akan pernah berkeinginan untuk melakukan hal itu sejak awal, tetapi tuan-tuan telah memaksa saya untuk melakukan hal itu. Barangkali memang tuan-tuan perlu diberi peringatan bahwa takdir Ilahi yang menggiring kami ke jalan ini, sementara kami berpedoman dengan prinsip suci مَن۟ اٰمَنَ بِال۟قَدَرِ اَمِنَ مِنَ ال۟كَدَرِ “Siapa yang mengimani takdir, ia akan aman dari kesedihan”. Kami telah bertekad bulat untuk menghadapi berbagai kekerasan tuan-tuan dengan sabar.

Tahanan

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Kami telah menjadikan ratusan ayat al-Qu’ran yang populer sebagai “Hizb al-Qur’ani” yang merupakan sumber khusus Risalah Nur seperti kumpulan doa. Hal ini sebagai tradisi Islam yang berlaku sejak zaman Nabi, lalu kami dianggap melakukan penyimpangan da�lam agama

Kemudian mereka beralih pada “Risalah Hijab” yang menjadikan saya ditahan selama satu tahun. Risalah ini tetap menjadi risalah rahasia dan tidak beredar sampai akhirnya ditemukan dan dikeluarkan dari tumpukan kayu bakar sebagaimana dijelaskan dalam rekam bukti. Mereka ingin melancarkan tuduhan berdasarkan risalah itu yang seakan-akan ditulis dan dipublikasikan tahun ini!

Kemudian jika saya dulu pernah menjelaskan hakikat hadis mulia dan saya tulis dalam risalah rahasia yang tidak dipublikasikan, kemudian beberapa lama kemudian saya bertemu dengan orang (Mustafa Kamal) yang memegang kekuasaan di Ankara. Saya menghadapinya dengan nada keberatan dan dengan gaya bahasa yang keras. Orang itu terdiam dan tidak memberikan respon. Kemudian, risalah ini telah mencakupi kritikan asli yang bersifat umum yang menyingkap kesalahan orang ini setelah ia meninggal dunia, lalu mereka membebankan tanggung jawab ke atas pundak saya. Apa kepentingannya memperhatikan perasaan orang yang sudah meninggal dunia dan hubungannya dengan pemerintah telah terputus dibandingkan dengan memperhatikan perasaan pemerintah dan bangsa, yaitu memperhatikan undang-undang dan rasa keadilan yang merupakan salah satu penampakkan kekuasaan Allah Yang Maha Agung?

Demikian halnya dengan prinsip kebebasan nurani dan pendapat yang merupakan salah satu dasar pemerintahan republik yang menjadi sandaran kami dan dengannya kami membela diri. Mereka telah menjadikannya alasan untuk menuduh kami dan membebankan tanggung jawab kepada kami, seakan-akan kami menentang prinsip ini.Kemudian mereka dalam laporan menuduhkan kepada saya hal-hal yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam hati, tidak pula dalam khayalan, semata-mata karena saya mengkritisi keburukan dan cacat peradaban masa kini.

Mereka menuduh saya memumusuhi apa yang dihasilkan oleh kemajuan modern, seakan-akan saya menolak untuk menggunakan radio, pesawat terbang dan kereta api(*6)

Dari sini, pengadilan Denizli dan jaksa penuntut umumnya yang adil dengan izin Allah—menganalogikan dengan contoh-contoh ini—akan memperlihatkan bahwa perlakuan ini sangat bertentangan dengan keadilan dan sama sekali tidak akan mengubah spekulasi aneh yang terdapat dalam laporan itu menjadi sesuatu yang penting.

Yang lebih mengherankan dari itu adalah bahwa jaksa penuntut umum di pengadilan lain bertanya kepada saya, “Anda katakan dalam “Sinar Kelima”—yaitu risalah rahasia pribadi—bahwa kendali tentara akan terlepas dari orang yang menakutkan itu. Apakah dengan ucapan Anda ini dimaksudkan memprovokasi tentara untuk membangkang terhadap pemerintah?”.

Saya jawab, “Maksud saya, pemimpin ini berada dalam dua kemungkinan: meninggal atau diganti. Ini berarti tentara yang terlepas dari tiraninya”. Bagaimana mungkin sebuah risalah rahasia pribadi saya yang berada di tangan kami hanya dua kali selama delapan tahun kemudian menghilang dari penglihatan, risalah yang sekadar menjelaskan makna salah satu hadis akhir zaman dengan penjelasan yang bersifat menyeluruh, yang awalnya telah dikarang sejak lama dan seorang pun dari tentara belum ada yang sempat membacanya, bagaimana mungkin risalah seperti ini dijadikan alasan untuk menuduh saya? Sayang sekali, orang-orang yang diskriminatif itu telah menyantumkan tuduhan aneh ini dalam daftar dakwaan.

Yang lebih aneh dari itu adalah bahwa saya telah katakan dalam suatu kesempatan, “Manusia seharusnya menerima nikmat-nikmat Allah yang besar—seperti pesawat terbang, kereta api dan radio—dengan rasa syukur yang besar. Karena mereka tidak melakukan hal itu, maka pesawat-pesawat terbang itu akhirnya menghujani mereka dengan bom”. Dan saya katakan, “Radio adalah salah satu nikmat Ilahi yang luar biasa. Cara mensyukurinya adalah menjadikan radio ini menjadi qari internasional yang membaca al-Qur’an dengan jutaan bahasa, memperdengarkan ayat-ayatnya ke setiap manusia di permukaan bumi”. Dalam “Kalimat Kedua Puluh”, ketika menjelaskan pemberitaan gaib al-Qur’an tentang keajaiban peradaban modern, saya sebutkan salah satu isyarat al-Qur’an bahwa orang kafir akan mengalahkan dunia Islam dengan perantaraan kereta api(*7). Kendati saya telah membangkitkan gairah umat Islam terhadap keajaiban ini, seorang jaksa penuntut umum di pengadilan tersebut telah menjadikan hal ini salah satu sebab tuduhan terhadap saya karena dengki. Dalam bagian akhir daftar dakwaannya ia menuduh bahwa saya memusuhi produk peradaban modern seperti pesawat terbang, kereta api dan radio.

Kemudian salah seorang dalam acara berbincang-bincang tentang masalah yang tidak ada kaitannya dengan perkara kami ini, ia berbicara tentang ungkapan Risalatunnur, nama lain dari Risalah Nur, bahwa ia adalah risalah dan ilham dari cahaya al-Qur’an”. Perkataannya itu ditafsirkan dalam daftar dakwaan dengan pengertian yang sama sekali salah dan dijadikan sebagai salah satu sebab tuduhan terhadap saya, sehingga seakan-akan ungkapannya itu berbunyi bahwa Risalah Nur itu adalah seorang Rasul.

Kemudian, saya telah membuktikan dengan sejumlah argumentasi yang kuat dalam dua puluh tempat dari pembelaan kami bahwa al-Qur’an, agama dan Risalah Nur tidak dijadikan alat untuk apa pun dan kami tidak mungkin menjadikannya sarana untuk memperoleh keuntungan apa pun sehingga untuk dunia dengan seisinya. Kami juga tidak akan mengganti salah satu hakikatnya dengan kerajaan dunia seisinya. Kami memang benar-benar bersikap seperti ini. Petunjuk kami terhadap pengakuan ini mencapai ribuan selama dua puluh tahun. Maka, selama masalahnya seperti ini, saya dan orang yang bersama saya berkata dengan semua kekuatan kami

“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS. Ali `Imrân [3]: 173).

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

LAMPIRAN SANGGAHAN TERHADAP DAFTAR DAKWAAN

Sanggahan ini saya tujukan bukan kepada Pengadilan Denizli dan jaksa penuntut umumnya, tetapi kepada para pegawai yang jiwanya dipenuhi kedengkian sehingga mereka mengarahkan daftar tuduhan aneh ini terhadap kami dengan bersandarkan pada kertas laporan mereka yang keliru dan kurang, terutama kedua jaksa penuntut umum masing-masing di Isparta dan Inebolu.

Pertama: Mendeskripsikan para Tullabunnur yang tidak berdosa dengan deskripsi yang palsu dan tidak berdasar sebagai anggota sebuah organisasi politik. Padahal mereka sama sekali tidak berafiliasi kepada partai politik apa pun. Orang-orang malang yang masuk dalam lingkaran Risalah Nur yang tujuannya hanyalah iman dan akhirat, mereka dituduh sebagai pelaku kriminal, kemudian menyeret Tullabunnur ke pengadilan dengan tuduhan mempropagandakan pemikiran organisasi tersebut atau sebagai pegiat atau anggotanya, atau dengan tuduhan bahwa mereka telah membaca Risalah Nur, membuat orang lain membacanya atau menyalinnya.

Saya katakan, “Tuduhan ini adalah suatu hal yang sangat jauh dari hakikat keadilan”. Ya, argumentasi kuat kami terhadap hal ini adalah bahwa para pembaca karangan Dr. Duzi(*8)dan kaum zindik lainnya tidak dikriminalisasi padahal karangannya itu menistakan al-Qur’an, yaitu dengan argumentasi prinsip “kebebasan berpikir dan kebebasan ilmiah”, sementara para pembaca dan para penyalin Risalah Nur dikriminalisasi padahal Risalah Nur itu menjelaskan hakikat iman dan al-Qur’an untuk orang-orang yang kehausan terhadap kebenaran dan menampakkannya kepada mereka sejelas matahari.Kemudian mereka mengambil tiga risalah dari seratus risalah yang ada. Dari ketiga risalah itu mereka mengeluarkan beberapa kalimat yang dijadikan alasan untuk mengeluarkan tuduhan kepada kami, padahal sebelumnya kami telah menyimpan risalah ini sebagai karya pribadi yang tidak dipublikasikan untuk umum. Kami tidak mengizinkan untuk mempublikasikan dan peredarannya agar tidak menimbulkan salah paham, di samping Pengadilan Eskişehir telah meneliti dua risalah dari ketiga risalah itu dan telah melakukan yang diperlukan untuk masalah ini. Risalah ketiga telah dijawab dengan jawaban yang jelas baik dalam pembelaan maupun dalam daftar sanggahan dan dengan kuat kami telah membuktikan dengan dua puluh aspek di Pengadilan Eskişehir bahwa kami memegang cahaya bukannya gada politik. Namun, tanpa mengindahkan ini semua, para penuduh gila itu, dengan mengutip beberapa kalimat dari risalah rahasia pribadi yang tidak dipublikasikan itu, mereka menggeneralisir putusan terhadap semua Risalah Nur. Mereka juga mengkriminalisasi setiap orang yang membaca dan menyalinnya. Mereka menuduh bahwa saya melawan pemerintah.

Saya bersaksi dan mempersaksikan para sahabat dekat saya yang sering bertemu serta saya tegaskan dengan sumpah bahwa lebih dari sepuluh tahun ini saya tidak kenal orang-orang pemerintahan, menteri, pemimpin, pegawai dan anggota parlemen selain dua pemimpin, seorang anggota parlemen dan wali kota Kastamonu. Saya tidak merasa adanya kepentingan untuk mengenal mereka. Apakah mungkin seseorang tidak mengenal orang yang menentangnya dan tidak merasa berkepentingan dengan mengenal mereka? Tidak menjadikannya sebagai suatu keperluan lantas dia menjelaskan mana musuhnya dan mana sahabatnya? Dari paparan ini jelas bahwa mereka mengada-ada alasan untuk melancarkan tuduhan kepada kami dengan segala cara.

Selama masalahnya seperti ini, maka saya tujukan surat ini bukan ke pengadilan ini, tetapi kepada orang-orang yang tidak adil yang melancarkan tuduhan palsu itu. Saya katakan kepada mereka:Hukuman yang paling berat yang akan ditimpakan kepada saya, bagi saya tidak penting. Karena saya berada di pintu kubur. Usia saya telah mencapai tujuh puluh tahun. Betapa bahagianya saya akan memperoleh tingkatan mati syahid alih-alih dari kehidupan sederhana dalam keadaan teraniaya selama satu atau dua tahun. Saya berada dalam keimanan yang pasti, didukung oleh ribuan argumentasi dalam Risalah Nur bahwa kematian bagi kami tidak lain dari nota pembebasan. Jika ketentuannya adalah eksekusi mati, bagi kami hanya merupakan penderitaan sesaat sebagai kunci kebahagiaan dan rahmat yang abadi.

Sementara tuan-tuan, para tiran yang telah menyesatkan pengadilan demi kepentingan kaum zindik, telah membuat pemerintah sibuk mengurusi kami tanpa alasan! ketahuilah dengan yakin dan hendaklah tuan-tuan menggigil ketakutan bahwa tuan-tuan akan mendapatkan hukuman kemusnahan abadi dan dijebloskan dalam penjara abadi. Kami melihat bagaimana tuan-tuan akan mendapatkan balas dendam berlipat ganda sehingga kami merasa kasihan terhadap kondisi tuan-tuan.

Ya, hakikat kematian yang telah mengosongkan kota ini dalam kuburan ratusan kali pasti mengajukan tuntutan di balik kehidupan ini. Keperluan terhadap solusi yang menyelamatkan dari kemusnahan abadi adalah keperluan penting dan pasti yang lebih besar dan lebih penting dari semua urusan manusia. Para Tullabunnur telah menemukan solusi ini dan Risalah Nur mempersembahkannya dengan ribuan argumentasi. Apakah orang-orang yang menuduh Risalah Nur dan murid-muridnya dengan alasan palsu bahwa mereka dituduh dengan pandangan hakikat dan keadilan? Ia adalah masalah yang sangat jelas yang diketahui sekalipun oleh orang gila.

Ada tiga poin yang tampaknya tidak jelas bagi orang-orang yang melancarkan tuduhan tidak berdasar itu yang menduga ter�dapat organisasi politik:

Pertama: hubungan erat antara saya dengan murid-murid saya, yaitu hubungan yang terjalin sejak lama dalam bentuk persaudaraan dan mereka menduganya sebagai sebuah organisasi.

Kedua: Tersebar luasnya para Tullabunnur di setiap tempat, undang-undang republik mengizinkan mereka tanpa ada halangan, tindak-tanduk sebagian mereka seakan-akan kelompok Islam, menimbulkan dugaan bahwa mereka adalah anggota organisasi padahal tiga orang atau empat orang dari para murid itu tidak memiliki niat ten�tang organisasi dan tidak pula yang sejenisnya. Kelompok para murid ini hanyalah persaudaraan tulus yang saling mendukung dalam masalah ukhrawi dalam melakukan pengabdian iman yang murni.

Ketiga: Orang-orang yang melancarkan tuduhan palsu itu berkata bahwa Said dan saudara-saudaranya bagaimana pun juga menentang mereka dan menentang undang-undang pemerintahan mereka yang membolehkan mereka melakukan apa saja yang mereka inginkan kendati bertentangan dengan syariah atas nama peradaban. Berdasarkan hal ini, maka mereka pasti merupakan organisasi politik yang menentang. Mereka sampaikan perkataan ini dalam benak mereka setelah mereka mengetahui kesesatan di dunia dari diri mereka sendiri.

Saya katakan, “Wahai orang-orang yang malang! Jika dunia ini abadi dan manusia hidup selamanya di atasnya, sementara tugas manusia terbatas pada politik saja, maka tuduhan kalian ini baru akan berarti. Kemudian, jika saya berurusan dengan politik, maka tuan-tuan tidak akan menemukan sepuluh kalimat dalam seratus risalah, tetapi tuan-tuan akan menemukan ribuan kalimat politik oposan. Seandainya kami seperti tuan-tuan, bekerja dengan seluruh kekuatan kami demi dunia, kesenangan dan politiknya—yaitu sebuah andaian yang tidak mungkin diterima sekalipun oleh setan atau ia membujuk orang dengannya—selama tidak ada peristiwa yang terjadi oleh kami selama dua puluh tahun, maka pemerintah harus melihat apa yang ada di tangan, bukannya melihat apa yang ada dalam hati, karena dalam setiap pemerintahan pasti ada oposan. Oleh sebab itu, tuan-tuan tidak berhak membebankan tanggung jawab kepada kami. Perkataan terakhir saya adalah:

“Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanyakepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung”.(QS. at-Taubah [9] 129).

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saya sampaikan catatan lama dan fakta menarik sebagai pembelaan yang dirahasiakan di pengadilan Eskişehir, tidak dicantumkan secara resmi dalam laporan dan tidak dicatat dalam pembelaan saya.

Di sana orang-orang bertanya kepada saya,

“Apa pendapat Anda tentang sistem republik?”

Saya jawab, “Sejarah hidup saya yang berada di tangan tuan-tuan membuktikan bahwa saya adalah seorang republiken agamis sebelum tuan-tuan dilahirkan selain ketua pengadilan.

Ringkasnya, pada waktu itu saya menyendiri di bawah kubah kuburan yang kosong seperti halnya sekarang. Ada yang mengantarkan sup kepada saya dan saya tebarkan biji-bijinya untuk semut. Untuk saya cukup roti dan kuah. Orang-orang yang mendengar hal ini bertanya tentang alasannya dan saya jawab bahwa bangsa semut dan lebah ini adalah republiken dan saya tebarkan biji sup kepada mereka karena mereka mencintai sistem republik. Kemudian mereka berkata kepada saya, “Anda berbeda pandangan dengan kaum salaf saleh”. Saya katakan, “Masing-masing dari Khulafa Rasyidin adalah seorang khalifah dan presiden dalam waktu yang sama. Abu Bakar al-Shiddiq d jelas merupakan seorang presiden bagi para sahabat termasuk di dalamnya sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk surga. Hanya saja mereka tidak menjadi presiden secara formalitas semata, tetapi mereka adalah presiden agamis yang mengemban makna keadilan dan kebebasan yang sesuai dengan syariah yang sebenarnya.

Wahai jaksa penuntut umum dan para hakim...! Tuan-tuan menuduh saya bertentangan dengan keyakinan yang sudah saya anut sejak lima puluh tahun yang lalu. Jika tuan-tuan bertanya tentang republik sekuler, saya mengetahui bahwa sekularisme berarti keharusan adanya kenetralan. Jika sekularisme tidak bersinggungan dengan orang-orang kafir, orang-orang durhaka sesuai dengan tuntutan undang-undang kebebasan nurani, maka sekularisme juga tidak boleh bersinggungan dengan orang-orang yang agamis dan orang-orang yang bertakwa. Inilah yang saya anggap sebagai pemerintahan sekular. Saya telah menarik diri dari kehidupan politik dan sosial sejak sepuluh tahun yang lalu—dan sekarang telah mencapai dua puluh tahun—dan saya tidak mengetahui keadaan pemerintahan republik sekarang. Jika masalahnya menjadi begitu penting sehingga dibuat undang-undang yang meminta pertanggungjawaban para pekerja untuk masalah iman dan akhirat, atau mengambil undang-undang seperti ini untuk kepentingan kaum zindik—semoga Allah melindungi kita—maka saya nyatakan kepada tuan-tuan dan saya peringatkan tuan-tuan tanpa rasa takut dan ragu, bahwa jika saya memiliki seribu nyawa, saya tidak akan ragu untuk mengorbankannya dalam rangka mempertahankan iman dan akhirat.

Silahkan lakukan apa yang tuan-tuan inginkan. Saya katakan sebagai jawaban terhadap ketentuan zalim tuan-tuan yang dikenakan terhadap saya, ketentuan hukuman mati dan hukuman berat lainnya, bahwa saya sesuai dengan temuan Risalah Nur yang pasti, saya tidak akan dieksekusi mati, bahkan saya diberi nota pembebasan, saya akan pergi menuju dunia cahaya dan kebahagiaan, sedangkan tuan-tuan yang sengsara yang mengekang kami untuk kepentingan kesesatan, maka saya mengetahui bahwa tuan-tuan yang malang yang dijatuhi hukuman mati abadi dan penjara abadi sebagai balas dendam kami untuk tuan-tuan.

Saya mengetahui dan melihat hal itu. Oleh karena itu, maka saya siap untuk menyerahkan nyawa saya dengan hati yang tenang dan ucapan saya terakhir adalah: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS. Ali `Imrân [3]: 173).

Tahanan

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Tuan-tuan...!

Berdasarkan banyak pertanda, saya meyakini dengan pasti bahwa serangan yang dilancarkan kepada kami bukan berasal dari dakwaan mengganggu keamanan dalam negeri dengan eksploitasi perasaan keagamaan seperti yang diduga selama ini. Bukan itu sama sekali. Ini adalah tabir palsu. Serangan dilancarkan kepada kami semata-mata karena iman kami dan karena pengabdian kami terhadap keamanan dan keimanan, yaitu serangan dilancarkan untuk kepentingan kaum zindik dan bukannya untuk kepentingan pemerintah. Untuk masalah ini saya sampaikan satu argumentasi saja dari sekian banyak argumentasi, yaitu sebagai berikut:

Selama dua puluh tahun, dua puluh ribu orang membaca dua puluh ribu naskah dan bagian dari Risalah Nur, dan mereka menerimanya dengan lapang dada dan selama itu pula belum pernah terjadi peristiwa yang mengganggu keamanan yang dilakukan oleh para Tullabunnur. Pemerintah belum pernah mencatat adanya hal-hal yang tidak diinginkan dari mereka. Kedua pengadilan—yang dulu dan yang sekarang—tidak dapat menemukan peristiwa apa pun yang dapat digolongkan mengganggu keamanan, padahal propaganda tendensius yang dilakukan secara intensif ini seharusnya memperlihatkan kebenarannya dengan berbagai peristiwa dalam kurun waktu dua puluh hari, yang berarti bahwa pasal hukum longgar nomor 163(*9)yang mencakupi seluruh orang religius dan para pendakwah di mana bertentangan dengan prinsip kebebasan nurani, hanyalah topeng palsu yang dipakai kaum zindik untuk mengecoh sebagian orang-orang pemerintahan dan menyesatkan keadilan untuk menghancurkan kami.

Selama hakikatnya demikian, maka dengan segala kekuatan kami mengatakan, “Wahai orang-orang yang malang yang menjual agama dengan dunia dan tenggelam dalam jurang kekafiran mutlak...! Berbuatlah sesuka hati tuan-tuan... dunia tuan-tuan akan menjadi sumber malapetaka sekarang dan pada waktu mendatang. Kepala kami akan menjadi tebusan hakikat suci sebagaimana yang telah dilakukan ratusan juta pahlawan. Kami siap menerima hukuman dan hukuman mati dari tuan-tuan, sementara di luar pagar penjara keadaannya lebih buruk ratusan kali daripada keadaan di dalam penjara. Maka kebebasan itu tidak pernah ada di bawah bayangbayang tirani absolut. Kebebasan nurani, kebebasan beragama dan kebebasan ilmiah tidak pernah ada. Bagi orang-orang terhormat, orang-orang beragama dan para penolong kebebasan tidak ada jalan selain penjara atau kematian. Hanya kepada Tuhanlah kami bersandar dengan mengucap “Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nyalah kami kembali”. (QS. al-Baqarah [2]: 156).

Tahanan

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Tuan Ali Riza, Kepala Pengadilan...!

Saya punya permintaan dan permohonan penting untuk membela hak-hak saya, yaitu bahwa saya tidak mengetahui huruf Latin yang baru. Tulisan saya dengan huruf lama penuh dengan banyak kekurangan, di samping mereka tidak membolehkan saya berkomunikasi dengan orang lain, bahkan saya seakan-akan berada dalam ruang isolasi sampai-sampai daftar dakwaan ditarik dari saya lima belas menit setelah diserahkan kepada saya. Saya tidak mampu menyewa pengacara. Bahkan pembelaan yang saya sampaikan kepada tuan, saya tidak dapat mendapatkan salinannya dengan menggunakan huruf baru kecuali dengan kesulitan yang luar biasa.

Bagian darinya sampai kepada saya secara sembunyi-sembunyi.Saya meminta agar “Risalah buah keimanan” yang dianggap sebagai daftar pembelaan terhadap Risalah Nur dan ringkasan manhajnya ditulis agar salinannya diberikan kepada jaksa dan satu atau dua salinannya dikirim ke instansi resmi di Ankara, tetapi mereka malah menyitanya dan tidak mengembalikannya hingga sekarang, padahal kami ketika berada di pengadilan Eskişehir, bagian administrasinya mengirim mesin ketik ke penjara dan dengan mesin ketik itu kami membuat dua salinan pembelaan kami. Pengadilan juga membuat salinan yang lain. Dari sini, permintaan penting saya adalah agar tuan-tuan menyediakan mesin ketik atau membolehkan kami untuk mendatangkannya, agar kami dapat menulis pembelaan kami dengan huruf baru. Juga agar kami dapat menulis risalah baru yang merupakan daftar pembelaan bagi Risalah Nur, kemudian kami akan mengirimkan satu salinan ke Kementerian Hukum, kabinet, Parlemen, dan Dewan Syura Negara. Karena Risalah Nur merupakan dasar daftar dakwaan seluruhnya, sedangkan dakwaan atau bantahan yang diarahkan kepadanya bukanlah peristiwa parsial atau masalah pribadi sehingga tidak dianggap penting, bahkan ia merupakan masalah umum yang merupakan peristiwa universal yang memiliki hubungan yang erat dengan negeri ini, dengan bangsa dan dengan pemerintahannya. Maka ia dengan sendirinya akan menarik perhatian dunia Islam karena merupakan masalah yang sangat penting.

Ya, orang-orang yang menyerang Risalah Nur dari belakang layar, mereka itulah yang memperkokoh kekafiran mutlak dengan tameng politik sekular yang digerakkan oleh tangan-tangan asing dengan tujuan untuk menghancurkan kekuatan terbesar bangsa di negeri ini, yaitu kecintaan, penghormatan dan persaudaraan yang ditunjukkan dunia Islam terhadapnya, dan sebagai penggantinya mereka menghembuskan kebencian dan pemutusan hubungan dengan dunia Islam. Untuk itu, mereka mengecoh pemerintah dan mengacaukan hukum dua kali dan berkata bahwa para Tullabunnur menjadikan agama sebagai alat untuk berpolitik dan mereka membahayakan keamanan negara.

Wahai orang-orang yang malang! Betul bahwa Risalah Nur tidak ada hubungannya dengan politik, hanya saja ia dalam rangka menghancurkan kekafiran mutlak, ia menolak dan menghancurkan dasar anarkisme yang berposisi di bawah kekafiran mutlak dan tirani absolut yang berposisi di atas kekafiran mutlak. Salah satu bukti dari ratusan bukti Risalah Nur merealisasikan keamanan, kestabilan, kebebasan dan keadilan adalah “Risalah buah keimanan” yang merupakan daftar pembelaannya. Maka hendaknya lembaga ilmiah dan sosial yang berkedudukan tinggi menelitinya. Jika lembaga itu tidak membenarkan apa yang saya katakan ini, saya rela mendapatkan segala macam hukuman, bahkan hukuman mati sekalipun.

Tahanan

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Wahai tuan Ketua Pengadilan...

tiga poin telah dijadikan dasar dalam daftar keputusan:

Poin Pertama: Tuduhan organisasi. Saya mempersaksikan seluruh Tullabunnur yang berada di sini dan semua orang yang bertemu saya atau membaca atau menulis Risalah Nur, tanyakan kepada mereka apakah saya pernah berkata kepada salah seorang dari mereka bahwa kami akan membentuk organisasi politik atau kelompok Naqsyabandiyah?Yang selalu kami sebut-sebut adalah bahwa kami bekerja untuk menyelamatkan iman kami dan di antara kami tidak ada yang berafiliasi kepada organisasi.

Kami hanyalah bagian dari jama’ah Islam suci yang diikuti oleh orang-orang beriman pada umumnya. Jumlah pengikutnya lebih dari tiga ratus juta. Mengingat pengabdian kami terhadap al-Qur’an dan persaudaraan kami bersama orang-orang beriman pada umumnya yang menamakan al-Qur’an sebagai Hizbullah, kami dapatkan diri kami berada dalam lingkaran Pasukan Allah dan Pasukan al-Qur’an.Jika ini adalah yang dimaksud dalam daftar keputusan, maka kami mengakuinya dari lubuk hati kami yang paling dalam dan dengan segala kebanggaan. Adapun jika yang dimaksud adalah hal lain, maka kami tidak memiliki pengetahuan tentang hal itu.

Poin Kedua:Mereka ingin mengembalikan kami kepada kondisi kami sembilan tahun yang lalu dan membebani kami dengan tanggungjawab pidana yang hukumannya telah kami jalani, melalui penafsiran mereka yang salah terhadap beberapa kalimat yang muncul dalam sebagian buku, seperti “Risalah Hijab”, dan “Risalah al-Hujumât as-Sitt” beserta lampirannya, yaitu risalah yang pernah diteliti dan dikritisi Pengadilan Eskişehir sebagai akibatnya pengadilan mengeluarkan hukuman ringan. Keputusan pengadilan mengakui dan laporan polisi Kastamonu membenarkannya bahwa risalah-risalah itu adalah risalah pribadi yang tidak beredar dan ia diletakkan dalam kotak yang dipaku di bawah tumpukan arang dan kayu bakar dalam bentuk yang meyakinkan bahwa ia memang tidak disiapkan untuk dipublikasikan sama sekali.

Poin Ketiga:Dalam beberapa tempat dari daftar keputusan banyak digunakan ungkapan “kemungkinan terjadi” bukannya “terjadi”, seperti “kemungkinan dapat mengganggu keamanan negara”, “kemungkinan dapat melakukan ini...”. Ada kemungkinan setiap manusia dapat membunuh, apakah ia dimintai pertanggungjawaban?

Tahanan

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Wahai tuan Ketua Pengadilan!

Saya sampaikan kepada tuan daftar pembelaan saya yang saya kirim sebagai permohonan terhadap presiden dan instansi resmi di Ankara. Saya lampirkan surat balasan yang diterima dari perdana menteri yang menjelaskan perhatian dan penerimaannya terhadap daftar pembelaan ini. Pembelaan ini berisi bantahan keras terhadap obsesi dan delusi yang dijadikan bahan tuduhan terhadap kami sebagaimana laporan Komisi Para Pakar dibuat berdasarkan catatan laporan yang dangkal, tendensius dan diangkat dari tempat lain, mengandung banyak perkataan yang keliru yang bertentangan dengan kenyataan.

Pembelaan saya ini pernah disampaikan sebagai daftar bantahan terhadap komisi tersebut dan berikut saya sampai beberapa di antaranya: Saya pernah sampaikan kepada tuan-tuan bahwa ketika mereka hendak menuduh saya dengan pasal nomor 163 di Pengadilan Eskişehir, saya katakan kepada mereka:“Persetujuan anggota parlemen jumlahnya sama dengan nomor pasal tersebut. Maksudnya, persetujuan seratus enam puluh tiga anggota parlemen dari dua ratus anggota parlemen dalam pemerintahan republik terhadap pengalokasian dana seratus lima puluh ribu Lira Turki untuk membangun Universitas saya di kota Van”. Saya katakan bahwa persetujuan sejumlah anggota parlemen ini terhadap proyek saya ini dan sambutan yang saya terima dari pemerintah republik terhadap proyek ini menjatuhkan ketentuan pasal nomor 163 dari saya. Hanya saja, komisi para pakar mengubah perkataan saya menjadi “seratus tiga puluh enam anggota parlemen menuntut untuk menyelidiki Said”.

Jaksa menuntut kami memikul tanggungjawab berdasarkan tuduhan palsu yang dibuat oleh komisi para pakar. Padahal lembaga ilmiah yang berkedudukan tinggi yang dibentuk melalui keputusan dari majelis tuan-tuan meneliti semua bagian Risalah Nur dan mengeluarkan keputusannya secara sepakat yang isinya “Telah terbukti bahwa dalam tulisan Said dan para Tullabunnur tidak terdapat halhal yang menunjukkan niat menjadikan agama atau kesuciannya, baik secara eksplisit maupun secara implisit, sebagai alat memprovokasi untuk mengganggu keamanan, mendirikan organisasi, dan merencanakan konspirasi melawan pemerintah. Juga terbukti melalui korespondensi para murid Said bahwa mereka sama sekali tidak memiliki niat buruk terhadap pemerintah, tidak bermaksud mendirikan organisasi atau mengikuti metode tarekat sufi”.

Para pakar itu juga memutuskan secara sepakat bahwa sembilan puluh persen risalah Said Nursi tidak bertentangan dengan pokok-pokok ilmu pengetahuan, hakikat dan agama dalam hal apa pun, di samping tulisannya itu ditulis dengan tulus dan jauh dari tujuan duniawi. Semua tulisannya itu secara jelas tidak bertujuan mengganggu keamanan, baik dengan membentuk sebuah organisasi maupun dengan menjadikan agama sebagai alat untuk mencapai tujuan tersebut. Korespondensi para Tullabunnur sesama mereka dan dengan Said Nursi berada dalam bingkai ini. Setiap risalah ditulis untuk menafsirkan ayat al-Qur’an atau menjelaskan makna hadis Nabi kecuali lima sampai sepuluh risalah lainnya adalah risalah pribadi yang isinya semacam keluhan dan tidak memiliki karakteristik ilmiah. Disampaikan di dalamnya beberapa contoh guna menjelaskan akidah yang berkaitan dengan agama, iman, ketuhanan, kenabian dan akhirat. Ia merupakan risalah yang sembilan puluh persen di antaranya berisi pendapat ilmiah, nasihat moral untuk orang tua dan kaum muda, sifat-sifat terpuji dan peristiwa-peristiwa yang berisikan pelajaran yang diambil dari pengalaman hidup. Di dalamnya tidak terdapat sesuatu yang dianggap melanggar pemerintah, pengelolaan negara atau stabilitasnya.

Dari sini, kami sangat menyayangkan dakwaan dilancarkan tanpa mengindahkan keputusan yang dikeluarkan oleh komisi para pakar. Tuduhan dilancarkan kepada kami dalam bentuk yang menimbulkan keanehan, berdasarkan laporan Komisi Para Pakar lama yang kurang dan kacau. Tentunya kami melihat masalah ini tidak sesuai dengan rasa keadilan yang menjadi ciri khas pengadilan yang adil ini.Perbuatan mereka terhadap Risalah Nur serupa—jika boleh diserupakan—dengan perbuatan Bektasyi(*10)ketika dikatakan kepadanya, “Mengapa Anda tidak salat?”. Ia menjawab,” al-Qur’an mengatakan “Janganlah kalian mendekati salat”. Lalu dikatakan kepadanya, “Sempurnakan bacaan ayatnya, yaitu “Sedang kamu dalam keadaan mabuk” (QS. an-Nisâ [4]: 43), orang itu berkata, “Saya tidak hafal”. Demikian juga halnya mereka terhadap Risalah Nur. Mereka hanya memotong beberapa kalimat dan meninggalkan bagian yang melengkapinya dan menjelaskan hasilnya. Dalam daftar pembelaan saya yang akan saya sampaikan—jika dibandingkan dengan daftar dakwaan—akan dapat dilihat tiga atau empat puluh contohnya dan saya akan jelaskan sebuah peristiwa penting dari contoh-contoh ini:

Dalam dakwaan di Pengadilan Eskişehir—karena lupa—terucap ungkapan yang mengatakan tentang pelajaran iman Risalah Nur bahwasanya pelajaran tersebut merusak manusia. Kemudian ungkapan ini ditarik pada saat dakwaan. Setahun setelah peristiwa ini, salah seorang Tullabunnur, bernama Abdurrazzaq, berbicara kepada orang yang mengucapkan perkataan itu,

“Wahai orang yang malang! Anda mengatakan bimbingan Risalah Nur sebagai perusak, padahal ia mendapatkan apresiasi dengan isyarat tiga puluh tiga ayat al-Qur’an, nilai agamanya terwujud dengan berita gaib tiga karamah dari sejumlah karamah Sayidina Ali d, dengan berita kuat Syekh Abdul Qadir al-Jilani—quddisa sirruhu—yang tidak pernah membahayakan negara dan bangsa selama dua puluh tahun ini, bahkan memberi petunjuk kepada ribuan anak bangsa ini, mengajari mereka, menguatkan iman mereka, dan meluruskan akhlak mereka. Apakah Anda tidak takut kepada Allah? Semoga mulutmu membisu”

Dakwaan dalam pengadilan ini akhirnya berpedoman kepada perkataan Tullabunnur yang benar ini yang membantah perkataan orang yang mengatakan bahwa Said Nursi menyebarkan kerusakan kepada orang yang berada di sekitarnya. Ungkapan ini kemudian tidak terdengar lagi. Saya serahkan hal ini kepada keadilan dan hati nurani tuan-tuan.

Kemudian dakwaan ingin memfitnah pelajaran Risalah Nur yang memiliki dimensi sosial dengan mengatakan bahwa tempat dan kedudukan agama itu berada di hati nurani dan tidak terikat pada hukum dan undang-undang, bahkan ketika agama berkaitan dengan keduanya pada masa lalu, kekacauan sosial terjadi. Saya katakan bahwa agama bukan sekadar iman saja, tetapi amal saleh merupakan bagiannya.

Apakah tuan-tuan mengira bahwa rasa takut kepada penjara atau kepada para informan pemerintah cukup membuat jera para pelaku kriminal yang telah meracuni kehidupan sosial dengan pembunuhan, perzinaan, pencurian, minuman keras, dan perjudian yang mereka lakukan? Jika masalahnya seperti itu, maka harus diangkat seorang polisi dan seorang informan di setiap rumah di samping setiap orang harus mencegah orang-orang sesat dari perbuatan destruktif ini. Dari sini, Risalah Nur bersama setiap orang dan pada setiap waktu mengadakan pengawasan spiritual dari sisi iman dan dari sisi amal saleh, mengingatkan setiap orang tentang penjara neraka Jahanam dan murka Allah, sehingga dengan demikian melindungi dirinya dari perbuatan jahat dengan mudah.

Kemudian dakwaan menemukan tanda tangan pada tawafuq(*11)sebuah risalah yang indah dan memiliki karamah mengagumkan.

Dalam dakwaan itu disebutkan bahwa orang-orang yang membubuhkan tanda tangan itu adalah anggota organisasi atau perkumpulan. Apakah tuan-tuan melihat tanda tangan yang terdapat dalam buku para pedagang, apakah tanda tangan yang terdapat dalam buku itu juga menunjukkan adanya organisasi? Hal seperti ini terjadi di pengadilan Eskişehir. Setelah saya sampaikan jawaban tentang hal itu dan saya perlihatkan “Risalah Mukjizat Nabi Muhammad” kepada mereka, maka merekapun merasa heran. Jika kami memiliki organisasi dunia, orang-orang yang merasa dirugikan oleh diri saya, tentunya mereka akan menjauhkan diri dan tentunya akan timbul permusuhan di antara kami. Maka, sebagaimana saya dan orang yang menyertai saya memiliki hubungan dengan Imam al-Ghazali, hubungan yang tidak pernah putus, karena merupakan hubungan ukhrawi, tidak berorientasi pada dunia, demikian pula halnya dengan orang-orang beragama yang bertakwa dan suci serta tulus itu. Mereka telah menjalin hubungan yang erat dengan orang malang seperti saya ini, semata-mata untuk mendapatkan pelajaran tentang iman. Inilah yang menimbulkan dugaan tentang adanya organisasi politik.Saya akhiri perkataan saya dengan “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS. Ali `Imrân [3]: 173).

Tahanan di Ruang Isolasi

Said Nursî

* * *

BAGIAN INI SANGAT PENTING

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Bagian Penting dari Kalimat Terakhir

Wahai tuan ketua pengadilan! Tuan-tuan sekalian! Waspadalah! Karena menghukum Risalah Nur dan para muridnya merupakan hukuman terhadap hakikat al-Qur’an dan hakikat iman atas nama kekufuran mutlak, dan selanjutnya hukuman itu akan menjadi upaya untuk menutup jalan besar yang dibangun sejak seribu tiga ratus tahun yang setiap abadnya dilalui tiga ratus juta muslim, yaitu jalan yang membawa kepada hakikat dan kepada kebahagiaan dunia-akhirat bagi tiga ratus milyar muslim. Hukuman itu juga merupakan perbuatan yang mengundang murka dan bantahan mereka. Karena orang-orang yang meniti jalan ini membantu para pendahulunya dengan kebajikan dan doa mereka. Di samping itu, perbuatan tuan-tuan ini akan menimbulkan bencana bagi negeri yang penuh berkah ini.

Apa jawaban tuan-tuan ketika dalam “Mahkamah Akhirat” kelak ditanya di hadapan tiga ratus milyar penuntut, “Mengapa tuan-tuan tidak mempermasalahkan buku Dr. Duzi yang berjudul “Sejarah Islam”, yang dari pertama hingga akhir isinya merupakan serangan terhadap agama dan negara? Mengapa tuan-tuan membolehkan orang-orang membaca karangan kaum zindik di perpustakaan tuan-tuan? Mengapa tuan-tuan tidak mempermasalahkan murid-muridnya padahal mereka membentuk organisasi sesuai dengan undang-undang tuan-tuan? Bahkan mengapa tuan-tuan tidak mempermasalahkan organisasi yang beroposisi dengan politik tuan-tuan seperti organisasi ateis, organisasi komunis, organisasi revolusi kaotis dan organisasi-organisasi tua yang dikenal dengan tindakan destruktifnya? Kemudian mengapa tuan-tuan malah mempermasalahkan orang-orang yang tidak ada kaitannya sedikit pun dengan politik yang membaca karangan yang isinya tentang kebenaran dan hakikat seperti Risalah Nur yang tidak lain dari penafsiran hakikat al-Qur’an, mereka membacanya agar mereka meniti jalan iman dan al-Qur’an, agar mereka menyelamatkan diri mereka dan saudara-saudaranya di negeri ini dari kebinasaan abadi dan penjara pribadi? Mengapa persaudaraan dan persahabatan ukhrawi yang terjalin di antara orangorang yang beragama dengan tulus itu tuan-tuan sebut sebagai organisasi padahal mereka tidak memiliki hubungan dengan organisasi politik apa pun? Mengapa tuan-tuan menuduh mereka dan bersikukuh menuduh mereka dengan undang-undang yang sangat aneh? Kami juga melontarkan pertanyaan yang sama kepada tuan-tuan.

Kaum zindik dan munafik musuh kami yang telah menyesatkan tuan-tuan dan menyesatkan pengadilan, memperdayakan pemerintah untuk menindas kami yang dapat membahayakan negara dan bangsa menyebut tirani absolut yang mereka jalankan itu sebagai “sistem republik”. Mereka sebut kemurtadan mutlak dari agama dengan nama “Sistem Pemerintahan”. Mereka sebut kebejatan moral sebagai “peradaban”. Mereka sebut perintah sewenang-wenang yang berdasarkan kekufuran sebagai “undang-undang”. Dengan demikian mereka menyesatkan tuan-tuan, memperdayakan pemerintah dan menimpakan bencana kepada kami. Mereka menyerang negara dan bangsa serta wewenang Islam sebagai pengabdian untuk kepentingan bangsa asing.

Wahai tuan-tuan! Terjadinya empat kali gempa bumi yang sangat menakutkan dalam empat tahun yang terjadi pada waktu yang sama bersamaan dengan berhadapannya para Tullabunnur dengan perbuatan aniaya dan penindasan. Gempa bumi berhenti bersamaan dengan berhentinya serangan terhadap mereka. Ini menunjukkan bahwa tuan-tuan bertanggung jawab terhadap terjadinya bencana langit dan bumi yang akan muncul dari keputusan hukuman yang akan tuan-tuan keluarkan terhadap kami sekarang”

Tahanan dalam Ruang Isolasi dan sel pribadi di Penjara Denizli

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

BAGIAN DARI KALIMAT TERAKHIR

Tuan-tuan..! Ketika saya merasa sangat heran dan bingung terhadap desakan tuan-tuan terhadap tuduhan organisasi, yaitu tuduhan yang telah kami bantah dengan tegas yang dibenarkan oleh komisi para pakar di Ankara secara sepakat, ketika tuan-tuan mendesak agar mereka menyalahkan kami agar dijadikan alasan untuk menuduh kami dalam dakwaan, saya sampaikan perasaan kami ini sementara saya dalam kondisi yang tidak memungkinkan mengetahui situasi kehidupan sosial pada masa sekarang ini.

Saya katakan bahwa persahabatan, kelompok yang bersaudara, perkumpulan persaudaraan, perkumpulan ukhrawi yang tulus, adalah pondasi dalam kehidupan sosial, kebutuhan pokok bagi naluri manusia, dan salah satu ikatan terpenting dan terkuat dalam kehidupan manusia, dimulai dari keluarga dan suku hingga bangsa, dunia Islam dan dunia umat manusia, dan titik sandaran bagi setiap manusia dalam menghadapi rintangan material dan spiritual yang merintanginya dari melakukan tugas kemanusiaan dan keislaman, juga sebagai pembangkit gairah dalam menghadapi segala yang membahayakan dan yang tidak mampu untuk dicegahnya. Selama persahabatan dan pertemuan ini bebas dari tujuan politik, terutama pertemuan-pertemuan para Tullabunnur untuk mempelajari iman yang layak untuk diapresiasi, yaitu pertemuan-pertemuan yang berisikan persaudaraan dalam jalan kebenaran, saling menopang dalam menghadapi bahaya yang mengancam negara dan bangsa. Persahabatan tulus dalam pelajaran iman dan al-Qur’an merupakan sarana pasti untuk memperoleh kebahagiaan agama, dunia dan akhirat. Orang yang menyebut persaudaraan seperti ini sebagai “organisasi politik” adalah orang dungu, orang yang sangat tertipu. Orang seperti itu boleh jadi ia seorang kaostik jahat yang memusuhi kemanusiaan, memusuhi Islam secara sewenang-wenang, memusuhi kehidupan sosial dengan kekacauan destruktif yang paling merusak, memerangi negara, bangsa, wewenang Islam dan kesucian agama dengan kemurtadan, pembangkangan dan permusuhan, atau boleh jadi ia adalah setan zindik yang bekerja merusak bangsa ini dan memutus urat nadi hidupnya sebagai pengabdian kepada bangsa asing, maka ia memperdayakan pemerintah dan menyesatkan keadilan dengan tujuan agar sampai pada senjata spiritual kita yang masih kita gunakan dalam melawan setan, fir’aun dan para pengacau itu untuk diarahkan kepada negara dan saudara-saudara kita atau dihancurkan.

Tahanan

Said Nursî

* * *

Tuan-tuan..! Izinkan saya berbicara di hadapan tuan-tuan tentang sesuatu yang secara lahir adalah pembicaraan dengan tuan-tuan, tetapi sebetulnya ucapan yang saya tujukan kepada organisasi perusak rahasia yang bentuknya bermacam-macam, yang menye hakikat al-Qur’an dan hakikat iman dengan berbagai media sejak tiga atau empat puluh tahun yang lalu. Tujuannya adalah merusak bangsa dan mencabik-cabik negara sebagai pengabdian untuk kepentingan bangsa asing yang kafir. Ucapan ini juga saya tujukan kepada para pejabat sepihak yang berpikiran dangkal dan lembaga-lembaga yang menyesatkan pemerintah ini dan mempropagandakan organisasi dengan baju Islam.

(Pembicaan penting ini dibatalkan bersamaan dengan dikeluarkannya keputusan bebas pada hari berikutnya)

Tahanan di Ruang Isolasi dan Sel Pribadi

Said Nursî

* * *

JAWABAN TEPAT TENTANG PERTANYAAN PENTING

Sejumlah tokoh dari pejabat tinggi bertanya kepada saya, “Mengapa Anda tidak menerima tawaran Mustafa Kamal untuk menjadi penceramah umum di Kurdistan dan wilayah Timur sebagai pengganti Syekh Sanusi(*12) , dan Anda akan mendapatkan gaji sebesar tiga ratus Lira? Jika Anda menerima tawaran itu ketika itu maka Anda akan menjadi sebab diselematakannya ratusan ribu nyawa orangorang yang menjadi korban revolusi di sana?(*13)

Saya jawab, “Memang saya tidak menyelamatkan kehidupan dunia mereka yang berkisar dua atau tiga puluh tahun, namun sebagai gantinya Risalah Nur telah memberikan ganti rugi tersebut ribuan kali lipat karena risalah-risalah ini menjadi sarana ribuan anak bangsa mendapatkan kehidupan ukhrawi yang berlangsung jutaan tahun.

Jika saya menerima tawaran itu, Risalah Nur—yang mengemban rahasia keikhlasan, serta tidak mungkin menjadi alat dan pengikut bagi segala sesuatu—tidak akan terwujud.Bahkan saya telah berkata kepada saudara-saudaraku yang terhormat di penjara bahwa jika orang-orang yang menjatuhkan hukuman mati terhadap saya akibat tamparan keras dari Risalah Nur yang dikirim ke Ankara, maka saksikanlah jika mereka menyelamatkan imannya dengan Risalah Nur dan selamat dari kebinasaan abadi, saya memaafkan mereka dari lubuk hati yang paling dalam.

Setelah keputusan bebas kami keluar, saya katakan kepada orang-orang yang pernah mengganggu saya dengan pengawasannya yang ketat di kota Denizli, kepada ketua, komandan polisi dan kepada para penyidik: “Di antara karamah Risalah Nur yang tidak dapat dibantah adalah bahwa setelah sembilan bulan dari penyelidikan dan pemeriksaan selama dua puluh tahun dari usia saya yang saya jalani dalam keadaan teraniaya, terhadap ratusan risalah dan korespondensi saya, terhadap keadaan ribuan Tullabunur, tidak ditemukan sebuah dokumen pun yang menunjukkan adanya organisasi, tidak pula yang menunjukkan adanya hubungan dengan organisasi internal atau eksternal, di mana kondisi aneh seperti ini tidak mungkin merupakan produk pemikiran dan perencanaan. Hal itu karena jika seseorang didatangkan lalu rahasia dan urusan pribadinya diungkap selama beberapa tahun, pasti akan terungkap dua puluh pasal yang membuat dirinya malu atau menjadikan dirinya tertuduh.Jika demikian kenyataannya, maka tuan-tuan dihadapkan pada dua pilihan, yaitu mengatakan bahwa ini adalah perbuatan yang direncanakan dan di belakangnya kelicikan besar yang tak tertandingi, atau mengatakan bahwa ia merupakan perlindungan Ilahi yang sangat kuat. Jika itu merupakan kelicikan, tentunya menghadapi kelicikan seperti ini adalah sebuah kesalahan nyata yang akan membahayakan negara dan bangsa. Jika hal itu merupakan perlindungan Ilahi, maka menentang perlindungan Ilahi dan perhatian Rabbani seperti ini tidak lain dari pembangkangan ala Fir’aun.

Jika tuan-tuan mengatakan, “Jika kami membiarkan Anda dengan urusan Anda tanpa pengawasan, bisa jadi Anda akan mengganggu kehidupan sosial kami dengan pelajaran-pelajaran dan rahasia-rahasia Anda yang tersembunyi”.

Saya katakan kepada tuan-tuan, “Semua pelajaran saya tanpa kecuali telah berada di pengadilan dan para hakim. Tidak ditemukan satu materi pun yang mengharuskan hukuman penjara sehari pun. Kemudian, risalah saya yang mencapai seratus tiga puluh ini, empat puluh atau lima puluh ribu naskah di antaranya beredar di kalangan masyarakat dengan penuh perhatian dan yang mereka peroleh adalah manfaat. Dua pengadilan dulu dan sekarang telah mempelajari semua risalah tersebut dan mereka tidak menemukan sebuah materi pun yang menuntut tanggungjawab. Pengadilan sekarang mengeluarkan putusan bebas, sementara pengadilan terdahulu mengeluarkan putusan penjara enam bulan terhadap lima beras orang di antara saudara-saudara saya yang berjumlah seratus dua puluh tahanan. Putusan ini bukan keluar dari peraturan undang-undang, tetapi berasal dari keputusan pribadi dengan berkilah adanya beberapa kalimat dalam seratus tiga puluh risalah yang menyinggung perasaan seorang tokoh populer yang mempunyai kedudukan duniawi. Ini tidak lain menjadi bukti pasti bahwa sikap tuan-tuan mempermasalahkan diri saya dan Risalah Nur adalah kezaliman yang menjijikkan yang dasarnya berasal dari dugaan yang tidak benar. Hanya saja, saya tidak memiliki pelajaran baru. Saya tidak lagi memiliki rahasia tersembunyi agar tuan-tuan melakukan perubahan dan evaluasi melalui pengawasan.

Sekarang saya sangat memerlukan kebebasan. Selama dua puluh tahun rasanya sudah cukup saya teraniaya dengan pengawasan yang sebetulnya tidak diperlukan. Kesabaran saya sudah habis. Bisa jadi saya akan mendoakan keburukan untuk tuan-tuan dengan doa yang belum pernah saya panjatkan sebelumnya karena kelemahan dan kondisi tua saya. Tentunya doa orang yang teraniaya itu pasti dikabulkan karena doanya itu sampai ke Arsy(*14)

Kemudian orang-orang zalim dan malang yang menduduki jabatan duniawi penting berkata kepada saya, “Sejak dua puluh tahun, Anda belum pernah mengenakan topi yang biasa kami pakai walau sekali pun dan tidak pernah membuka penutup kepala Anda, baik di pengadilan terdahulu maupun di pengadilan sekarang. Anda tetap mengenakan pakaian tradisional, padahal tujuh belas juta orang telah mengenakan pakaian modern”

Saya katakan kepada mereka, “Saya lebih mengutamakan berpegang pada ketakwaan dan keputusan syariah, maka saya mengenakan pakaian yang biasa digunakan tujuh milyar orang terpuji daripada mengenakan pakaian berdasarkan paksaan peraturan dan keringanan syariah, pakaian yang digunakan bukan oleh tujuh belas juta, bahkan bukan oleh tujuh juta, tetapi hanya oleh tujuh ribu orang yang terpedaya oleh budaya Eropa dan hanya mereka itulah yang mengenakannya dengan suka rela. Tidak patut dikatakan tentang seseorang seperti saya yang meninggalkan kehidupan sosial sejak dua puluh lima tahun lalu, “Orang itu memusuhi dan menentang kami”, bahkan sekalipun masalahnya adalah sikap keras kepala. Selama Mustafa Kamal itu sendiri tidak mampu melunakkannya, dua pengadilan tidak mampu menghadapinya, orang-orang pemerintahan di tiga provinsi tidak mampu membujuknya, maka tuan-tuan ini siapa sehingga berusaha dengan sia-sia untuk mengubah sikap keras kepalanya? Usaha tuan-tuan hanya akan membahayakan pemerintah dan bangsa.Anggap saja saya adalah seorang penentang politik, namun tidak akan tergambarkan dari seorang yang telah memutuskan hubungannya dengan dunia dan secara maknawi telah mati sejak dua puluh tahun—dengan keputusan tuan-tuan—akan dibangkitkan kembali untuk menghadapi tuan-tuan dalam kehidupan politik yang akan membahayakannya dan tidak akan berguna bagi dirinya. Dugaan adanya oposisi politik dari orang seperti ini tidak lain dari sikap orang gila. Karena berbicara dengan orang-orang gila adalah gila, maka saya tidak ingin berbicara dengan orang-orang seperti tuan-tuan ini. Saya katakan kepada mereka, “Berbuatlah sesuka hati tuan-tuan. Apa pun yang tuan-tuan akan lakukan, tidak akan berpengaruh pada saya”. Perkataan saya ini membuat mereka marah dan dalam waktu yang sama membuat mereka membisu seribu bahasa.

“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”(QS. Ali `Imrân [3]: 173). “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanyakepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung”.(QS. al-Taubah [9] 129).

* * *

Ketika Badiuzzaman Said Nursi dan para muridnya dibawa ke pengadilan, musuh-musuh Islam menebarkan suasana yang menakutkan dan mendorong lembaga-lembaga resmi agar menyebarluaskan informasi yang isinya adalah kebohongan. Mereka berupaya menjauhkan masyarakat dari dirinya dan dari Risalah Nur. Mereka merekayasa tipu muslihat untuk memecah belah kesatuan para Tullabunnur.

Pada umumnya, prosedur yang dilakukan terhadap Ustadz Said Nursi di setiap penjara yang beliau masuki adalah beliau dimasukkan ke ruang isolasi dan tidak dibolehkan bertemu dengan siapa pun. Oleh karena itu, seperti biasanya beliau menulis risalah kepada para muridnya yang bersamanya dalam penjara Denizli, mengingatkan mereka agar tidak terpedaya oleh propaganda tendensius, memenuhi kebutuhan rohani mereka jika mereka sangat merindukan guru mereka tercinta. Sebaliknya, para Tullabunnur itu berupaya untuk memperoleh risalah dan karangan gurunya yang ditulis dalam penjara. Berikut kami kutip beberapa risalah.

* * *

[Paragraf ini dimasukkan dalam “Lampiran” karena jatuh ke tangan para pejabat resmi melalui salah seorang mata-mata].

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ
وَ اِن۟ مِن۟ شَى۟ءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَم۟دِهٖ

Satu hari sebelum bulan suci Ramadan tiba(*15), suhu tubuh saya telah melampaui empat puluh derajat akibat keracunan sebagaimana yang disampaikan oleh dokter. Kuat dugaan bahwa hal itu ulah musuh kami, kaum zindik yang bekerja secara sembunyi-sembunyi. Ketika itu jaksa penuntut umum dan para pemeriksa dari kepolisian datang ke rumah untuk memeriksa saya. Setelah itu, saya merasakan bakal terjadi bencana besar terhadap diri saya dan keracunan yang parah ini akan mengakibatkan kematian. Maka saya memohon dari lubuk hati yang paling dalam agar nyawa saya dicabut dalam pangkuan saudara-saudaraku yang setia di wilayah Isparta dan dikuburkan di tanahnya yang penuh berkah.

Saya bukan hizbul akbar al-Qur’an, yang tampak adalah ayat mulia berikut ini: “Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami.” (QS. ath-Thûr [52]: 48). Ayat itu berkata kepada saya, “Cermatilah aku”. Saya cermati dan ternyata makna indikatifnya memberi hiburan untuk saya dan kita dengan tiga pertanda kuat dan untuk musibah saya ini sehingga seolah-olah tidak pernah ada. Pengasingan saya untuk kali kelima ke Isparta menjadi pe�tunjuk bahwa doa saya dikabulkan.

Pertanda pertama: Huruf-hurufnya dengan hitungan abjad (termasuk tasydid) sama dengan seribu tiga ratus enam puluh dua, yaitu sesuai dengan tanggal tahun sekarang menurut penanggalan hijriyah yang maknanya, “Bersabarlah. Terimalah ketentuan Rabbani terhadapmu. Anda berada dalam pengawasan Tuhan, maka jangan risau. Bertasbih dan bertahmidlah selalu di keheningan malam”.

Analisis:Jumlahnya adalah seribu tiga ratus enam puluh dua. Angka ini sesuai dengan penanggalan tahun ini ketika saya mendapatkan musibah ini sehingga dianggap sebagai pertanda kuat.

...

Pertanda ketiga tidak ditulis sekarang karena dirasa tidak perlu.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Akibat peristiwa ini, saya membaca salah satu doa Sayidina Ali d, yaitu kasidah Jaljalûiyah ketika saya bertekad bulat untuk mengorbankan diri saya dalam rangka membela saudara-saudara saya yang tidak berdosa. Saya mulai mencari caranya. Tiba-tiba terlintas dalam hati bahwa Sayidina Ali d sendiri berdoa seraya berkata, “Tuhanku, amankanlah saya”, dan kalian akan keluar dengan selamat berkat rahasia doa ini, insya Allah”

Ya, sebagaimana Sayidina Ali d dalam doanya memberitahukan tentang Risalah Nur dalam dua bentuk, begitu pula beliau mengisyaratkan risalah “al-Ayat al-Kubra” dengan ucapannya ‘Dengan al-ayat al-kubra, amankanlah saya dari malapetaka’. Doa ini mengisyaratkan bahwa para Tullabunnur akan mengalami musibah besar disebabkan “Risalah al-Ayat alKubra”, kemudian memohon agar para Tullabunnur ini diselamatkan dari musibah tersebut demi kebenaran “al-Ayat al-Kubra” sehingga risalah dan sumbernya menjadi pemberi syafaat. Ya, musibah yang terjadi akibat dicetaknya “Risalah al-Ayat al-Kubra” telah membenarkan rumus gaib tersebut.

Dalam kasidah tersebut disebutkan pada halaman yang berhadapan dengan penutup isyarat yang menunjukkan bagian Risalah Nur yang penting secara berurutan:

Kumpulkan karakteristik huruf-huruf nur itu dan wujudkan maknanya. Dengan itu, kebaikan dan kebahagiaan akan tercapai.”

Seruan “wujudkan makna huruf ” tidak bermaksud huruf hijaiyah yang tidak memiliki makna melainkan bermaksud menyelidiki risalah-risalah yang disebut “sozler” yang artinya kalimat.

Tidak ada yang mengetahui hal gaib selain Allah.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah”

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ وَ اِن۟ مِن۟ شَى۟ءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَم۟دِهٖ

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Saya ucapkan selamat kepada kalian dengan sepenuh jiwa dan raga atas lailatul qadar yang telah berlalu dan saya juga ucapkan selamat atas Idul Fitri yang akan datang. Saya titipkan kalian semua kepada Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Meskipun saya lihat kalian tidak memerlukan pelipur lara dengan rahasia ‘Orang yang beriman kepada takdir, akan aman dari kekeruhan hidup’, hanya saja saya ingin mengatakan kepada kalian, “Saya telah melihat pelipur lara sempurna yang ditiupkan ayat mulia berikut dengan makna ‘isyarinya “Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami.” (QS. ath-Thûr [52]: 48).

Penjelasannya adalah bahwa ketika saya berencana melupakan dunia dan bersiap menyambut bulan suci Ramadan dalam keadaan tenang dan hati tenteram, tiba-tiba peristiwa yang tidak pernah terlintas dalam hati dan di luar batas kemampuan itupun terjadi. Saya melihat peristiwa itu merupakan bentuk perhatian Allah bagi diri saya, bagi kalian, bagi persaudaraan kita, bagi Risalah Nur dan bagi bulan Ramadan(*16) . Apa yang berkaitan dengan diri saya, saya akan jelaskan dua atau tiga manfaatnya dari sekian banyak manfaat yang ada.

Pertama: Peristiwa ini mendorong saya untuk berusaha keras melakukan aktivitas dengan penuh semangat, bersungguh-sungguh, dan mengharapkan perlindungan dari Allah dengan mengalahkan penyakit keras yang sedang saya derita pada bulan Ramadan.

Kedua: Saya memiliki kemauan keras—sebagaimana terjadi pada setiap tahun—untuk bertemu dengan kalian dan berada dekat dengan kalian. Saya rela menanggung penderitaan ini dengan harapan dapat hadir di Isparta dan bertemu walaupun dengan seorang di antara kalian(*17) .

Ketiga: Semua kondisi yang menyakitkan, baik yang terjadi di Kastamonu maupun di jalan atau di sini, tiba-tiba berubah dengan bentuk yang luar biasa. Perhatian Allah tampak dalam setiap masalah yang berbeda dengan yang saya harapkan yang membuat orang mengatakan ‘Yang terbaik adalah pilihan Allah’. Yang paling sering mempengaruhi pemikiran saya adalah bahwa peristiwa ini telah mendorong orang yang paling terjerumus dalam kelalaian—yaitu mereka yang menempati kedudukan duniawi yang tinggi—untuk membaca Risalah Nur dengan sangat teliti.

Dengan demikian, jalan terbentang untuk berbagai penaklukan dan kemenangan dalam banyak lapangan baru. Terlepas dari penderitaan dan kerugian yang datang silih berganti menimpa diri saya akibat perlakuan buruk, dan ini yang sering kali membuat saya terluka dalam hati di samping penderitaan yang sudah ada, hanya saja terjadinya peristiwa ini pada bulan Ramadan yang penuh berkah di mana ibadah pahalanya berlipat ganda dan musibah juga pahalanya puluhan lipat ganda, pahala kalian juga dilipat gandakan ribuan kali. Terjadinya peristiwa seperti ini bersama orang-orang ikhlas seperti kalian yang telah memperoleh pelajaran secara sempur na dari Risalah Nur dan telah mengetahui bahwa dunia ini fana, bahwasanya ia tidak lain dari tempat berniaga, mereka mengorbankan segala sesuatu dalam rangka memperjuangan iman dan akhirat, percaya bahwa semua penderitaan di madrasah Yusufiyah yang sementara ini akan mendatangkan sejumlah faedah dan kesenangan abadi. Saya katakan, “Terjadinya peristiwa seperti ini bagi orang-orang seperti kalian akan mengubah kondisi kalian yang mengundang belas kasih dan belasungkawa menjadi kondisi yang mengundang ucapan selamat dan penghargaan karena kesabaran dan ketabahan kalian. Saya katakan juga ‘Segala puji hanya bagi Allah terhadap semua keadaan, kecuali kekufuran dan kesesatan’.

Selain faedah yang saya peroleh, peristiwa ini juga memberi banyak faedah bagi kalian, bagi persaudaraan kita, bagi Risalah Nur, dan bagi bulan suci Ramadan ini, di mana saya yakin bahwa seandainya tabir disingkap kalian pasti mengatakan, “Hanya kepada-Mulah kami panjatkan rasa syukur, wahai Tuhan kami. Qadha dan takdir Ilahi ini merupakan perhatian Ilahi bagi kami”.

Maka janganlah kalian mengecam orang yang menjadi penyebab terjadinya peristiwa ini. Rencana luar biasa yang menyeluruh untuk musibah ini telah digariskan sejak lama, tetapi terjadi dengan ringan secara maknawi dan dengan izin Allah akan segera berakhir, maka janganlah kalian buka peluang bagi rasa putus asa untuk menghinggapi jiwa kalian, karena “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,” (QS. al-Baqarah [2]: 216).

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ وَ اِن۟ مِن۟ شَى۟ءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَم۟دِهٖ

Saudara-saudaraku yang mulia!

عَسٰٓى اَن۟ تَك۟رَهُوا شَي۟ئًا وَهُوَ خَي۟رٌ لَكُم۟

Saya sangat bahagia dengan keberadaan saya dekat kalian. Saya berbicara dengan imajinasi kalian dari waktu ke waktu sehingga saya merasa terhibur. Ketahuilah, seandainya saya dapat menanggung penderitaan yang kalian rasakan, niscaya saya akan menanggungnya dengan senang hati dan bangga. Saya mencintai Isparta dan sekitarnya beserta bebatuan dan tanahnya demi kalian, sampai-sampai saya mengatakan—dan saya akan mengatakannya secara resmi—“Seandainya pemerintah wilayah Isparta menjatuhkan hukuman terhadap saya dan pemerintah wilayah lain menyatakan saya bebas, saya akan tetap memilih yang pertama daripada yang kedua.

Ya, dari tiga aspek saya merasa berasal dari Isparta. kendati saya tidak dapat membuktikannya secara historis tetapi saya berpendapat bahwa Said yang lahir di kecamatan Isbarit(*18)berasal dari sini. Kemudian wilayah Isparta telah memberi saya saudara-saudara hakiki, sampai-sampai saya siap mengorbankan Abdul Majid dan Abdurrahman(*19)bahkan diri saya sendiri dengan suka rela demi setiap orang dari mereka.

Saya anggap bahwa Tullabunnur adalah orang yang paling ringan penderitaannya dari segi hati, ruh dan pikiran di muka bumi ini sekarang. Karena hati, ruh dan akal mereka yang telah dipenuhi sinar iman yang hakiki tidak merasakan penderitaan.

Kesulitan material, mereka hadapi dengan rasa syukur dan sabar karena mereka telah mendapat pelajaran dari Risalah Nur bahwa kesulitan tersebut adalah kesulitan sesaat yang akan segera hilang dan tidak berharga, sementara orang yang menghadapinya mendapat pahala. Kesulitan itu juga menjadi sarana untuk membuka ladang baru dalam pengabdian terhadap iman. Oleh karena itu, dengan tindakan nyata mereka membuktikan bahwa iman hakiki adalah sumber kebahagiaan hingga di dunia sekalipun.Ya, mereka berupaya dengan sungguh-sungguh mengubah kesulitan fana ini menjadi rahmat abadi dengan seraya berkata, “Mari kita melihat apa yang Tuhan lakukan, yang Dia lakukan pastilah yang paling indah”

Semoga Allah memperbanyak orang seperti kalian dan menjadikan mereka sebagai wasilah kehormatan dan kebahagiaan untuk negara ini dan mereka memperoleh kebahagiaan abadi di surga Firdaus. Amin

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Bersamaan dengan ucapan selamat idul fitri bagi kalian, saya katakan, “Janganlah kalian merasa sedih dengan tidak bertemunya kita secara fisik. Kita selamanya dalam kebersamaan yang hakiki. Kebersamaan ini akan berlangsung abadi dengan izin Allah di jalan keabadiaan. Saya berpendapat bahwa pahala abadi, keutamaan rohani dan kesenangan hati yang kalian peroleh dalam pengabdian terhadap iman membuat kesedihan dan kesusahan sementara yang kalian derita sekarang ini menjadi seperti tidak pernah ada.

Belum pernah ada hingga hari ini orang yang menderita kesusahan paling ringan dalam pengabdian terbesar yang suci seperti yang dialami oleh para Tullabunnur. Ya, surga itu tidak murah.

Menyelamatkan manusia dari kekafiran mutlak yang menghancurkan kehidupan dunia akhirat adalah perbuatan yang sangat penting pada masa sekarang ini, sampai-sampai jika dalam pekerjaan ini terdapat kesulitan parsial, pekerjaan ini harus dihadapi dengan semangat tinggi, rasa syukur dan sabar. Selama Allah Pencipta kita yang mendukung kita dalam pekerjaan ini Maha Penyayang dan Maha Bijaksana, maka kita harus menerima apa yang kita derita itu dengan ridha dan gembira dengan bersandarkan pada rahmat dan hikmah Allah I.

Said Nursî

* * *

Dalam pembelaan ringkas kali ini saya katakan,

“Belas kasih, kebenaran dan hakikat yang terdapat dalam Risalah Nur telah mencegah kita untuk menyibukkan diri dengan politik. Sebab, menyibukkan diri dengan politik akan membuat orang-orang awam yang tidak berdosa jatuh dalam kehancuran sehingga dengan demikian kita telah berbuat aniaya terhadap mereka. Beberapa orang telah meminta kepada saya untuk menjelaskan hal ini, maka saya katakan,

“Egoisme dan fanatisme rasis yang muncul dari peradaban zalim, tirani militer yang ditimbulkan Perang Dunia Kedua, kekejaman dan penindasan yang diwariskan kesesatan, jenis kezaliman dan tirani yang paling buruk telah begitu dominan pada masa yang penuh gejolak ini, di mana orang-orang benar, ketika mempertahankan kebenaran dengan kekuatan materi, mereka dihadapkan pada dua masalah:Pertama: orang-orang malang akan teraniaya dengan kezaliman yang keji atau alasan keberpihakan dan dalam kondisi tersebut orang benar akan menjadi zalim atau dianggap kalah. Kedua: Mereka tetap sebagai pecundang karena kaum zalim yang berurusan dengan mereka dengan motivasi dan perasaan yang disebutkan barusan, mereka tidak peduli menanggung dosa satu, dua, dua puluh, atau tiga puluh orang, dan menindas mereka dengan berlindung pada argumentasi yang paling lemah. Jika para pejuang kebenaran konsisten pada jalan kebenaran dan keadilan dalam memberikan bantahan, hanya menindas orang yang menindas mereka, maka keuntungan yang diperoleh hanya satu, sementara kerugian yang diderita tiga puluh. Dengan demikian mereka dalam posisi sebagai pihak yang kalah. Jika mereka menghukum berat dua atau tiga puluh orang-orang awam yang malang karena satu atau dua kesalahan, sebagai penerapan kaidah yang berbeda dengan peribahasa, mereka melakukan kezaliman busuk atas nama kebenaran.

Inilah hikmah dan sebab yang sebenarnya di balik sikap kami menjauh dari politik dan turut campur dalam hiruk pikuknya, sikap menjauh yang tidak kenal kompromi. Hal itu semata-mata karena perintah al-Qur’an al-Karim. Jika tidak, kami mempunyai kekuatan kebenaran yang dengannya kami dapat mempertahankan hak kami secara sempurna.Kemudian, selama segala sesuatu itu bersifat sementara dan fana, selama kematian itu tetap ada, pintu kuburan tidak tertutup, selama kesulitan akan berubah menjadi rahmat, maka kita harus diam sambil bertawakal, bersabar dan bersyukur. Upaya mengeluarkan kami dari sikap diam kami dengan kekuatan dan paksaan adalah bertentangan secara menyeluruh dengan rasa keadilan, semangat patriotisme dan fanatisme kebangsaan.

Singkat kata, kami tidak memiliki perbuatan apa pun yang mendorong orang-orang pemerintahan, para politikus, para pejabat negara, orang-orang pengadilan, kepolisian dan aparat keamanan untuk menyibukkan diri dengan urusan kami, bahkan jika terdapat sesuatu yang benar-benar perlu dilacak, maka ada kelompok zindik yang bekerja secara sembunyi-sembunyi, membawa wabah manusia yang sangat menakutkan dan mereka mempropagandakan kekufuran mutlak yang tidak diterima pemerintah mana pun di dunia dan tidak diterima orang yang berakal sehat, diikat oleh fanatisme terhadap kezindikan mereka yang muncul dari filsafat materialisme, maka dengan metode ala setan mereka, mereka menyesatkan sebagian para pejabat resmi dan menyulut keraguan dan kekhawatiran terhadap kami. Kami katakan, “Jika mereka memprovokasi dunia seisinya, bukan memprovokasi segelintir orang yang merasa ketakutan seperti mereka, kami tidak akan berpaling menghadapi mereka dengan kekuatan al-Qur’an dan pertolongan Allah Yang Maha Pengasih, dan tidak akan bertekuk lutut di hadapan kaum zindik, kafir mutlak dan murtad.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia...

Ketabahan dan ketegaran kalian telah menghancurkan semua perencaan kaum freemasonry dan kaum munafik.

Ya, saudara-saudaraku, tidak perlu ditutup-tutupi. Kaum zindik menganalogikan Risalah Nur dan para muridnya dengan tarekat sufi, khususnya tarekat Naqsyabandiyah, melancarkan serangan terhadap kita dengan perancaan yang sama dengan yang digunakan untuk mengalahkan kelompok tarekat itu dengan harapan mereka dapat memporakporandakan barisan kita.

Pertama: Menakuti orang dan menonjolkan penyalahgunaan yang terdapat di dalam jalan dakwah.

Kedua: Menyebarluaskan cacat para tokoh dan para pengikutnya.

Ketiga: Merusak solidaritas yang terjalin di antara para anggotanya dengan senjata filsafat materialisme serta kebusukan peradaban yang menggoda dan racunnya yang lezat tetapi membius. Juga dengan cara menjatuhkan martabat para Syekh dan ulama mereka dengan penghinaan dan pencemaran nama baiknya serta menjatuhkan manhaj mereka dengan prinsip ilmu pengetahuan dan filsafat dalam pandangan mereka.

Mereka telah menyerang kami dengan senjata yang sama dengan yang digunakan untuk menyerang Naqsyabandiyah dan ahli tarekat, tetapi mereka tertipu, karena jalan utama yang ditempuh Risalah Nur adalah keikhlasan sempurna, meninggalkan egoisme, menyadari adanya kasih sayang dalam kesulitan, mencari kenikmatan abadi dalam penderitaan, menampakkan penderitaan yang mengerikan yang terdapat di balik kenikmatan terlarang yang bersifat fana, menjelaskan bahwa iman adalah sumber kenikmatan yang tidak terbatas bahkan sampai di dunia sekalipun, mengajarkan hakikat-hakikat dan masalah-masalahnya yang tidak dapat dicapai filsafat apa pun. Inilah yang menggagalkan perencanaan mereka, dengan seizin Allah dan membuat mereka membisu seribu bahasa seraya berkata, “Jalan yang ditempuh Risalah Nur tidak dapat disamakan dengan tarekat sufi”

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saudara-saudaraku yang mulia!

Saya berpendapat bahwa orang-orang terpuji yang tegar dalam menghadapi ujian yang sulit di dalam dua madrasah Yusufiyah (penjara) ini—yang dahulu dan yang sekarang—tidak berhenti mengikuti pelajarannya, tidak berhenti berguru di dalamnya kendati mengalami berbagai penderitaan, kekuatan spiritual mereka tidak terpatahkan kendati berbagai serangan dilancarkan terhadap mereka, saya berkeyakinan bahwa mereka akan memperoleh penghargaan dari para pejuang kebenaran dan generasi mendatang seperti yang mereka peroleh sekarang dari para malaikat dan ruhaniyyîn.

Keberadaan orang-orang yang sakit, orang-orang lemah dan orang-orang fakir di antara kalian telah menambah kesulitan materi kalian. Masalah ini telah menjadi perhatian saya sehingga saya mendapatkan pelipur lara untuk mereka yang lebih saya cintai daripada nyawa saya sendiri, yaitu ketika masing-masing dari kalian menjadi pelipur lara bagi saudaranya, menjadi suri tauladan dalam bersabar dan akhlak, menjadi saudara yang penuh kasih sayang dalam sikap saling mendukung dan bersimpati, menjadi mitra bicara yang cerdas ketika belajar, dan menjadi cermin yang memantulkan sifat-sifat mulia. Ketika itu, kesulitan materi akan terasa ringan bahkan menjadi seakan-akan tidak ada.

Pada suatu kesempatan saya akan kirim untuk kalian jubah Maulana Khalid yang berusia seratus dua puluh tahun. Sebagaimana imam ini(*20)memakaikan jubah itu kepada saya, saya akan mengirimnya untuk kalian kapan saja kalian menghendakinya untuk saya pakaikan—mewakili dirinya—kepada setiap orang dari kalian sebagai bentuk tabarruk (ngalap berkah).

Said Nursî

* * *

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia...!

Salah satu hikmah mengapa keadilan takdir Ilahi membawa kami ke madrasah Yusufiyyah “Denizli” adalah kebutuhann para tahanan dan penghuninya, bahkan hingga para pegawai dan jajaran kehakimannya terhadap Risalah Nur dan para muridnya yang melebihi kebutuhan di tempat lain. Berdasarkan hal ini, kita memasuki ujian yang sulit ini untuk menunaikan tugas keimanan dan ukhrawi.

Ya, di antara dua atau tiga puluh tahanan, hanya satu atau dua orang saja yang mengerjakan salat sebagaimana mestinya, na�mun setelah empat atau lima puluh Tullabunnur masuk ke penjara, seluruh narapidana mampu mengerjakan salat secara sempurna, sehingga mereka memberikan pelajaran dan petunjuk tersendiri dan luar biasa melalui tindakan nyata sehingga penderitaan terasa berkurang, bahkan berubah menjadi rasa kasih sayang. Sebagaimana mereka memberikan pelajaran melalui tindakan mereka sendiri, kami mengharapkan kasih sayang dan perhatian Allah agar dengan iman hakiki yang kokoh terhunjam dalam hati mereka, mereka dijadikan benteng baja yang mampu melindungi orang-orang yang beriman di sini dari khayalan dan penipuan para pengikut kesesatan.

Apa yang dilakukan oleh para ahli dunia ketika melarang kami untuk berkomunikasi dengan orang lain, sama sekali tidak meng�ganggu kami, karena lisan hal lebih mengena dan lebih kuat daripada lisan maqâl (tutur kata). Jika tujuan dari penjara itu adalah pendidikan dan mereka benar-benar mencintai bangsa ini, maka mestinya mereka membolehkan adanya komunikasi antara para Tullabunnur dengan seluruh tahanan agar mereka memperoleh pendidikan dalam sebulan bahkan dalam sehari lebih banyak dari yang mereka peroleh dalam satu tahun dan menjadi individu-individu yang berguna untuk diri mereka sendiri pada masa depan mereka dan dalam kehidupan akhirat mereka kelak, juga berguna untuk bangsa dan tanah airnya. Jika “Tuntunan Generasi Muda” ada bersama kita, manfaatnya sangat besar. Mudah-mudahan pada suatu hari nanti risalah ini juga masuk ke sini, insya Allah.

Said Nursî

* * *

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Hari ini saya teringat dialog yang berlangsung antara saya dan kakak saya Mulla Abdullah tentang Syekh Ziyauddin sebagaimana yang kalian ketahui(*21), kemudian saya memikirkan kalian dan dalam hati saya berkata:

Jika tirai gaib disingkap dan orang-orang muslim yang taat dan benar-benar menjalankan agamanya dengan baik yang tidak goyah dalam kondisi yang sangat tidak kondusif terlihat sebagai wali bahkan wali qutub, maka kedudukan penting yang saya berikan kepada mereka dan hubungan saya tidak bertambah kecuali sedikit saja. Jika masing-masing dari mereka tampak sebagai manusia biasa layaknya orang awam, maka kedudukan penting mereka juga tidak berkurang bagi saya.

Demikianlah keputusan yang saya buat, karena pengabdian penyelamatan iman dalam kondisi yang sangat sulit seperti ini merupakan tugas yang paling luhur. Sementara maqam pribadi dan keistimewaan yang bersumber dari sangkaan baik dalam kondisi yang sulit ini dapat melenyapkan sangkaaan baik dan mengurangi kecintaan. Sehingga orang yang memiliki keutamaan itu sendiri terpaksa berpura-pura untuk mempertahankan kedudukannya di tengah-tengah para pengikutnya. Alhamdulillah, tanpa batas, kita tidak memerlukan sikap pura-pura seperti ini.

Said Nursî

* * *

...

Saudara-saudaraku!

Kendati kondisi kita ini telah menyebabkan munculnya rasa takut dan keengganan terhadap Risalah Nur di kalangan simpatisan dan sebagian pejabat, tetapi ia menarik perhatian orang-orang yang taat beragama, para pegawai yang menaruh perhatian dan orangorang yang memusuhi Risalah Nur. Maka kalian tidak usah khawatir. Cahaya Risalah Nur akan bersinar.

Said Nursî

* * *

Saudara-saudaraku yang mulia!

Saya mengira bahwa risalah kecil yang dihasilkan di penjara “Denizli” menjadi daftar pembelaan kita yang hakiki dan terakhir. Karena perencanaan yang dibuat untuk menghancurkan kita dalam cakupan yang sangat luas dan telah dilaksanakan sejak satu tahun yang lalu berdasarkan keraguan dan spekulasi terdahulu, dilancarkan untuk menyerang kita berdasarkan alasan palsu seperti tarekat, organisasi rahasia, mengeksploitasi sentimen agama untuk mencapai tujuan politik, melawan pemerintahan republik, ikut campur dalam urusan negara, mengganggu keamanan dan tuduhan lain yang dijadikan alasan untuk menyerang kita.

Rasa syukur tiada habis-habisnya kita panjatkan kepada Allah, semua perencanaan mereka itu gagal. Mereka telah memeriksa raturan risalah, menginterogasi ratusan murid yang tersebar di berbagai tempat, meneliti buku dan korenspondensi yang berlangsung selama delapan belas tahun. Mereka tidak menemukan sesuatu pun kecuali upaya untuk hakikat iman dan al-Qur’an, akhirat dan kebahagiaan abadi. Oleh karena itu, mereka mulai mencari argumentasi yang tidak berharga guna menyembunyikan perencaaan mereka.

Hanya saja, ada kemungkinan organisasi kaum zindik yang menakutkan itu menyerang kita dalam masa akhir-akhir ini secara sembunyi-sembunyi, melancarkan tipu muslihat terhadap kita, menyesatkan sebagian orang-orang pemerintahan dan secara langsung menjadikan kita sebagai target pengabdian mereka untuk kepentingan kekafiran mutlak. Menghadapi kemungkinan ini saya menduga bahwa “Risalah Buah Keimanan” ditulis agar menjadi pertahanan yang lebih kuat dalam menghadapi dan membungkam mereka, karena ia jelas seperti matahari tanpa meninggalkan keraguan sedikitpun dan kuat seperti gunung yang tidak bakal goyah sedikitpun.

Said Nursî

* * *

Saudara-saudaraku yang mulia!

Ketika saya membaca wirid agung pada hari Jumat ini, tiba-tiba saya teringat kalian dan kalian katakan dengan lisan hal, “Apa yang dapat kita lakukan untuk selamat dari musibah ini?”. Terlintas dalam hati saya hal berikut: Saling mendukunglah dan bersatulah seperti bangunan yang kokoh, karena orang-orang yang melakukan penyangkalan dari saya, menolak hubungan dengan Risalah Nur dan para muridnya, dan menjilat kekuatan yang bekerja secara sembunyi-sembunyi untuk menghancurkan kita, yang mereka dapatkan hanyalah kerugian. Saya tegaskan kepada kalian bahwa jika saya mengetahui keselamatan kalian bergantung pada penolakan dari diri saya, saya pasti perbolehkan kalian untuk mencela, menghina dan menggunjing saya dan saya pasti memaafkan kalian untuk perbuatan seperti itu, tetapi kekuatan tersembunyi yang ingin menghancurkan kita mengetahui kalian.

Mereka tidak tertipu dan makin berani dengan kelemahan dan penolakan kalian terhadap saya sehingga mereka semakin brutal. Kemudian, karena manhaj yang kita tempuh adalah persahabatan dan persaudaraan, maka di dalamnya tidak terdapat persaingan yang sarat dengan egoisme dan kepentingan pribadi. Hendaknya pandangan kalian diarahkan kepada kesempurnaan Risalah Nur, bukannya kepada kekurangan orang malang yang lemah dan banyak cela seperti diriku,

Said Nursî

* * *

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Bertemu dengan orang-orang tercinta dan saudara-saudara yang tulus merupakan sumber pelipur lara terhadap cepatnya pergantian dan hilangnya kehidupan dunia, kenikmatan hina dan fana, dan pedihnya berpisah dan perpisahan yang dihadapi manusia.

Ya, barangkali seseorang melakukan perjalanan selama dua puluh hari dan mengeluarkan banyak biaya agar dapat bertemu dengan sahabat karibnya dalam beberapa saat. Maka bagaimana bertemu dengan empat atau lima puluh sahabat karib dalam satu waktu pada masa yang mengagumkan ini yang sulit mencari sahabat, berhubungan dengan mereka karena Allah dan saling menukar pelipur lara yang hakiki selama satu atau dua bulan? Tentunya akan menjadikan kesulitan yang kita hadapi dan kerugian materi yang menimpa kita menjadi sesuatu yang ringan dan tidak penting. Saya sendiri menerima kesulitan ini demi bertemu dengan seorang dari saudara-saudaraku yang terdapat di sini setelah berpisah lebih dari sepuluh tahun(*22)

Mengeluh adalah mengkritik takdir, sedangkan bersyukur adalah menerima takdir itu.

Said Nursî

* * *

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Selama kalian terikat dengan Risalah Nur untuk kebaikan dan akhirat, untuk ibadah dan mendapatkan pahala, untuk iman dan alQur’an, tentunya kalian harus bersyukur kepada Allah karena dalam kondisi yang sulit kalian memperoleh pahala dua puluh jam dari satu jamnya, dua puluh jam itu pun seharga seratus jam dikarenakan mujahadah maknawi dalam pengabdian iman dan al-Qur’an. Kalian pun harus bersyukur atas kedatangan kalian ke penjara ini untuk bertemu, mempererat ikatan persaudaraan, saling memperkuat, saling memberikan pelipur lara dengan saudara-saudara pejuang kalian yang bernilai seratus orang, melanjutkan pengabdian suci dengan solidaritas sejati, mendapatkan manfaat dari akhlak baik saudara-saudara mu, mendapatkan nasibmu yang ditentukan oleh takdir, mendapatkan makananmu di madrasah yusufiyah ini yang merupakan majelis ujian untuk memperoleh kelayakan menjadi murid Madrasatu az-Zahra, mendapatkan rezeki yang ditentukan dan memperoleh pahala dari rezeki tersebut.

Maka sepatutnya kalian memikirkan manfaat ini dibandingkan dengan seluruh kesulitan sehingga kalian akan menerimanya dengan sabar dan tabah.

Said Nursî

* * *

Saudara-saudaraku yang mulia, setia dan tabah!

Saya jelaskan sebagian keadaan saya, bukan untuk membuat kalian bersedih hati atau mendorong kalian untuk melakukan rekayasa, tetapi untuk mendapatkan banyak faedah dari doa partisipasi maknawi kalian dan agar kalian tetap menjaga solidaritas dengan semakin bertambahnya sikap kehati-hatian, kepedulian, kesabaran, ketabahan dan ketegaran.

Kesulitan yang saya derita dalam satu hari di sini melebihi kesulitan yang saya alami selama satu bulan di penjara Eskişehir. Orang-orang Freemasonry yang kejam menyuruh seseorang yang tidak adil untuk mengganggu saya agar kesabaran saya habis dalam menghadapi penderitaan ini. Saya berkata dengan nada marah, “Cukuplah”. Ucapan ini mereka jadikan alasan untuk melancarkan kezaliman dan menutup perbuatan dustanya. Berkat karunia Allah, saya tetap bersabar sembari bersyukur dan akan tetap bersikap seperti itu.

Selama kita menerima takdir dan kita anggap penderitaan ini sebagai sebuah nikmat spiritual karena di dalamnya terdapat banyak pahala dengan rahasia ‘Sebaik-baik urusan adalah yang paling sulit”(*23)

Sebagian besar musibah dunia yang sementara itu berakhir dengan kebaikan dan kegembiraan, selama kita sangat puas dengan tingkat haqqul yaqin bahwa kita mewakafkan hidup kita demi sebuah hakikat yang lebih terang dari matahari, indah seperti surga, dan menyenangkan seperti kebahagiaan abadi, maka tentu kita hendaknya tidak berkeluh kesah dan dengan segala kebanggaan dan rasa syukur kita katakan terhadap penderitaan ini, “Kami dalam jihad maknawi”.

Saudara-saudaraku yang mulia!Wasiat pertama dan terakhir saya untuk kalian adalah hendaknya kalian tetap menjaga solidaritas, jauhilah sifat egoisme dan persaingan. Tetaplah waspada dan berdisiplin.

Said Nursî

* * *

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Dari daftar dakwaan jaksa penuntut umum dapat dipahami bahwa perencanaan rahasia kaum zindik yang menyesatkan sebagian orang-orang pemerintahan dan memprovokasi agar menyerang kami telah gagal dan dusta mereka terungkap. Sekarang mereka berusaha untuk menutupi dusta mereka dengan tuduhan organisasi politik dan organisasi rahasia. Hasilnya, mereka melarang siapa pun untuk berkomunikasi dengan saya. Jika seseorang berkomunikasi, seakan-akan langsung dianggap sebagai bagian dari kita, sampai-sampai pejabat tinggi seringkali menjauhkan diri dari saya bahkan membujuk para pemimpinnya agar lebih keras lagi mempersempit ruang gerak saya.

Said Nursî

* * *

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Meskipun saya tidak dapat bertemu dengan kalian, saya beruntung dan sangat berterima kasih dengan keberadaan saya bersama kalian dan dekat kalian dalam satu gedung. Terkadang terlintas dalam hati—tanpa disengaja—untuk melakukan perencanaan yang diperlukan.

Misalnya, orang-orang Freemasonry mengirim mata-mata ke sel sebelah dengan menyamar sebagai seorang tahanan. Karena orang itu, sering membuat diri saya merasa kesal dan merusak para pemuda, maka saya mengetahui bahwa orang itu menghalang-halangi upaya perbaikan dan bimbingan yang kalian lakukan dengan mengirim kaum zindik dan merusak akhlak.

Hal itu karena penghancuran itu mudah, terutama dengan pemuda nakal seperti mereka. Menghadapi kondisi seperti ini, kita harus waspada, sebisa mungkin tidak mengeluhkan dan mengganggu tahanan lama, tetap berdisiplin dan tabah, tidak membuka peluang untuk bercerai-berai. Saudara-saudara kita juga selayaknya memperkuat tali persaudaraan dan saling mendukung sedapat mungkin dengan sikap tawaduk, berkorban dan meninggalkan egoisme.

Menyibukkan diri dengan urusan dunia, menyakiti saya. Jika tidak diperlukan, saya tidak dapat memikirkannya dengan mengandalkan ketabahan kalian.

Said Nursî

* * *

Saudara-saudaraku!

Saya harus menjelaskan sebuah masalah yang terlintas dalam hati pagi ini sebagai jawaban terhadap kemungkinan apa pun yang mungkin terjadi. Sejak dua puluh tahun diri saya dan setan saya sering kali meneliti tentang hakikat-hakikat yang kita dapatkan dari alQur’an yang tidak dapat diragukan seperti matahari atau siang hari. Seringkali bertanya, “Apa yang dikatakan para filsuf yang zindik tentangnya? Apa sandaran mereka terhadap apa yang mereka katakan itu?”. Setelah mereka tidak menemukan celah apa pun, mereka berdiam diri. Saya yakin kebenaran yang membuat diri saya dan setan saya yang peduli dengan masalah yang sensitif ini diam akan membuat para pembangkang yang paling keras sekalipun.

Kemudian, selama kita bekerja demi hakikat yang kokoh, paling penting dan agung, tidak ternilai harganya, bahkan dunia dan nyawa layak dikorbankan untuknya, maka kita harus menghadapi seluruh kesulitan dan musuh dengan penuh ketabahan.Kemudian kita boleh jadi akan berhadapan dengan ustadz dan Syekh yang tertipu serta orang yang berpura-pura sebagai orang yang bertakwa.

Dalam kondisi seperti ini kita harus menjaga persatuan dan solidaritas kita serta menghindarkan diri dari berurusan dan berdebat dengan mereka.

Said Nursî

* * *

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Ketika saya berada di Kastamonu, seseorang dari orang-orang yang bertakwa dan mulia mengeluhkan kondisinya kepada saya seraya berkata, “Saya telah terperosok. Saya telah kehilangan keadaan yang dulu saya alami sehingga tidak ada lagi perasaan dan cahaya”.

Saya katakan kepadanya, “Bahkan Anda sekarang meningkat di mana Anda telah meninggalkan perasaan dan temuan yang menghibur hawa nafsu, merasakan buah akhirat di dunia serta menjadikan Anda merasakan takabur. Anda terbang ke maqam tertinggi dengan pengorbanan yang luar biasa, meninggalkan egoisme dan berpaling dari perasaan-perasaan fana”.Ya, merupakan ihsan Ilahi yang besar ketika seseorang yang tidak meninggalkan egoisme tidak dapat merasakan keberadaan ihsan tersebut, agar dirinya tidak terjerumus dalam sikap ujub dan takabur.

Berdasarkan kenyataan ini, saudara-saudara, orang yang berpikir seperti orang ini atau memperhatikan maqam-maqam cemerlang yang dapat diperoleh dari berbaik sangka manusia, ketika melihat kalian ia anggap kalian adalah muridnya, terutama sikap tawaduk, pengabdian dan pengorbanan, ia menduga kalian sebagai orang-orang biasa dari kalangan awam, maka ia berkata, “Apakah mereka itu pahlawan kebenaran? Apakah mereka itu orang-orang yang menantang dunia? Tidak mungkin. Di mana kedudukan mereka dibandingkan para mujahid yang melakukan pengabdian suci ini yang tidak dapat dilakukan hingga oleh para wali pada masa sekarang ini?! Jika orang itu sahabat kalian, ia akan kecewa dan orang yang bertentangan dengan kalian, akan berpendapat bahwa dirinya benar.

Said Nursî

* * *

Ketika Ustadz Badiuzzaman berada di penjara Denizli, beliau mengarang “Risalah Buah Keimanan” dalam satu pekan, yaitu sebuah risalah yang terdiri dari sembilan persoalan yang sangat penting. Ia menghimpun hakikat-hakiat Risalah Nur secara ringkas. Para Tullabunnur selama mereka berada dalam penjara telah menulis dan membacanya beberapa kali. Pada mulanya, risalah itu ditulis dan disebarkan di antara ruang tahanan secara sembunyi-sembunyi melalui bungkus korek api. Kemudian ditulis dengan bebas setelah terbukti bahwa ia adalah risalah yang sangat berguna dan sangat penting. Risalah itu berguna untuk orang yang sedang berada dalam penjara seakan-akan ia adalah obat mujarab. Risalah ini juga dikirim ke pengadilan Denizli, pengadilan kasasi dan instansi-instansi resmi di Ankara sebagai dokumen pembelaan yang sebenarnya terhadap Risalah Nur.

Mengingat pengaruh yang sangat nyata dari “Risalah Buah Keimanan” dalam penjara Denizli, menjadi sebab putusan bebas karena di dalamnya terdapat hakikat-hakikat iman, maka kami berpendapat untuk mengutip Persoalan Keenam dan Ketujuh dari risalah tersebut.

PERSOALAN KEENAM

* * *

PERSOALAN KETUJUH

* * *

Catatan Kaki

  1. *Yang dimaksud dengan prestasi revolusi di sini adalah prosedur yang diberlakukan setelah dibatalkannya sistem kekhalifahan dan diproklamasikannya sistem republik. Di antara isinya adalah penghapusan syiar dan syariah Islam—Tim Penerjemah. ↑
  2. * Satu-satunya penyebab penahanan dalam penjara Denizli adalah tersebarluasnya Risalah Nur di seluruh provinsi, mulai dari pusatnya di Isparta dan Kastamonu dan dampak yang diakibatkannya yaitu semakin banyak orang yang mencintai agama, sehingga Risalah al-Ayat al-Kubra—yaitu Sinar Ketujuh—telah dicetak secara rahasia menjelang peristiwa Denizli. Hal itu menimbulkan kekhawatiran kaum kafir dengan adanya pembuktian dan penjelasan hakikat iman dengan gaya bahasa yang mengagumkan. Maka ini diajukan sebagai salah satu sebab mengapa Ustadz Badiuzzaman dan sejumlah muridnya harus dipenjara—Tim penyusun. ↑
  3. *Risalah buah keimanan terdiri dari sepuluh persoalan. Kami sertakan pada akhir bagian ini persoalan keenam dan ketujuh sebagai contoh—Tim Penyusun. ↑
  4. *Pembelaan ini ditulis dua puluh hari sebelum terjadinya gempa bumi yang menimpa Kastamonu. Sebelumnya wilayah ini lebih terjaga dari berbagai bencana dibandingkan dengan wilayah lain berkat Risalah Nur. Bencana secara bergantian mulai menimpa wilayah ini dan membenarkan dakwah kami—Said Nursi. ↑
  5. *Yang dimaksud dengan peristiwa Syekh Said adalah revolusi Syekh Said Biran sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, sedangkan Peristiwa Menemen adalah gerakan pemberontakan yang terjadi pada tahun 1930 M di wilayah Izmir. Sebagian kelompok religius terlibat dalam aksi menentang pemerintahan yang berkuasa sebagai upaya membersihkan mereka dari berbagai penjuru negeri—Tim Penerjemah. ↑
  6. *Telah saya katakan ketika berbicara tentang menghadapi nikmat besar seperti radio yang harus diterima dengan rasa syukur yang besar, “Jadikan radio sebagai sarana untuk memperdengarkan al-Qur’an untuk semua orang yang ada di muka bumi. Biarkan partikel udara menjadi penghantar al-Qur’an”—Said Nursi. ↑
  7. *Kenyataan yang diberitahukan dan didambakan Ustadz kita telah terbukti di negeri kita. Al-Qur’an al-Karim telah dibacakan dalam siaran radio kita, alhamdulillah. Suatu hari pelajaran-pelajaran Risalah Nur yang mempersembahkan hakikat-hakikat al-Qur’an juga akan disiarkan melalui radio. Umat manusia akan memperoleh banyak manfaat dari siaran ini, dengan seizin Allah—Tim Penyusun. ↑
  8. *Reinhart Dozy, orientalis Belanda terkenal, banyak karangannya yang secara fanatik menyerang sejarah dan umat Islam—Tim Penerjemah. ↑
  9. * Isi pasal undang-undang ini mengkriminalisasi dan menghukum setiap orang yang bekerja dan mengajak mendirikan daulah, sebagian lembaganya, peraturan dan regulasinya yang berdasarkan agama, atau memfungsikan agama, sentimen atau kesucian agama untuk tujuan ini atau untuk tujuan politik lainnya—Tim Penerjemah. ↑
  10. *Bektasyi adalah orang yang mengikuti tarekat Haji wali Bektasy. Namun dalam peribahasa bektasyi identik dengan orang yang menipu untuk menghindari kewajiban dan beban syariah—Tim Penerjemah. ↑
  11. *Tawafuq adalah kesesuaian antar kata dalam sebuah buku, baik dalam satu lembar maupun antar lembar—Peny. ↑
  12. *Biodatanya telah disampaikan pada bagian akhir “Kehidupan Pertama Said Nursi—Tim Penerjemah. ↑
  13. *Yaitu revolusi Syekh Said Biran, tahun 1925 M—Tim Penerjemah. ↑
  14. *Isyarat terhadap hadis Nabi, “Berhati-hatilah dengan doa orang yang teraniaya, karena antara doanya itu dengan Allah tidak ada tirai”. Sahih menurut al-Bukhari dan Muslim—Tim Penerjemah. ↑
  15. *Tahun 1362 H / 1943 M—Tim Penerjemah. ↑
  16. *Peristiwa penjara terjadi pada tanggal 20 Ramadan 1362 H, bertepatan dengan 20 September 1943 M dan berlangsung hampir sembilan bulan—Tim Penerjemah ↑
  17. *Pertemuan dengan mereka berlangsung dengan mudah dalam penjara. Peristwa Penjara Denizli ini menjadi sebab bertemunya Ustadz Said Nursi dengan para muridnya setelah lama tidak bertemu—Tim Penerjemah. ↑
  18. *Bagian timur Turki di mana desa Nurs, tempat lahir Ustadz Nursi lahir, termasuk dalam wilayahnya—Tim Penerjemah. ↑
  19. *Abdul Majid adalah adik kandung Ustadz Said Nursi, dan Abdurrahman adalah anak Abdullah, kakak kandung Ustadz Said Nursi—Tim Penerjemah. ↑
  20. * Jubah ini sampai ke tangan Ustadz Said Nursi melalui Sayidah Asiyah, keturunan Maulana Khalid d. Tentang diri beliau telah dijelaskan secara rinci pada akhir bagian tentang Kastamonu—Tim Penerjemah. ↑
  21. *Secara lengkap dialog ini telah disebutkan pada bagian Kastamonu—Tim Penerjemah. ↑
  22. *Yang dimaksud adalah para Tullabunnur yang dipindahkan dari Isparta ke penjara Denizli—Tim Penerjemah. ↑
  23. * Ibnu al-Atsir dalam kitab an-Nihâyah mengatakan, makna kata اَح۟مَزُهَا adalah yang paling kuat dan paling keras”. Makna ucapan ini berasal hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari hadis Aisyah g bahwa pahala bergantung pada tingkat kelelahan. Lihat buku Kasyf al-Khafa’, hadis nomor 459—Tim Penerjemah. ↑
⬇ Gulir Otomatis
📝 Catatan Saya 0 catatan

Pilih teks lalu tekan tombol "Catatan" untuk menambahkan catatan.

Pengaturan
Tema
Ukuran Font
Ketebalan Font
Ukuran Font Arab
Spasi Baris

Mode Fokus
Sembunyikan sidebar
Gulir Otomatis
Halaman bergulir sendiri
Kecepatan