Risale-i Nur Külliyatı [email protected]

Kalimat Kedua Puluh Empat

5 dilihat


(Kalimat ini merupakan penjelasan tentang lima dahan. Perhatikan dengan cermat dahan keempat, berpeganglah pada dahan kelima, dan naiklah untuk memetik buahnya)

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ

“Allah, tiada Tuhan selain Dia. Dia memiliki nama-nama yang mulia”(QS. Thâha [20]: 8).

Kami akan menjelaskan lima dahan dari salah satu hakikat besar yang berasal dari pohon bercahaya yang terkandung dalam ayat di atas:

DAHAN PERTAMA

Raja memiliki beragam gelar dalam wilayah kekuasaannya, beragam sifat dalam sejumlah strata rakyatnya, serta beragam nama dalam berbagai tingkatan kerajaannya. Misalnya, ia memiliki nama “Penguasa yang adil” dalam wilayah keadilan, gelar “Raja (Sultan)” dalam wilayah kerajaan, sementara ia juga memiliki nama “Panglima Tertinggi” dalam wilayah kemiliteran dan gelar “Khalifah” dalam wilayah kekhalifahan. Demikianlah ia memiliki seluruh nama dan gelar.Pada setiap wilayah kekuasaannya ia memiliki kedudukan dan singgasana laksana arasy maknawi baginya. Bisa saja raja tersebut memiliki seribu satu nama dalam berbagai wilayah kekuasaan dan dalam sejumlah tingkat pemerintahan. Dengan kata lain, ia bisa memililiki seribu satu arasy atau singgasana yang saling berbaur sehingga seolah-olah sang penguasa itu hadir dalam setiap wilayah daulahnya sekaligus mengetahui apa yang terjadi di dalamnya lewat sosok maknawinya. Ia menyaksikan dan menjadi saksi pada setiap tingkatan hukum dan pemerintahannya. Dari balik tabir ia mengawasi dan memimpin semua tingkatan lewat hikmah, pengetahuan, dan kekuatannya.

Masing-masing wilayah memiliki markas dan tempat khusus untuknya di mana hukum dan kedudukannya berbeda-beda. Demikianlah, Tuhan Pemelihara semesta alam yang merupakan Raja azali dan abadi memiliki berbagai sifat dan gelar yang berbeda-beda dalam seluruh tingkatan rububiyah-Nya, namun saling mengawasi. Dia memiliki beragam simbol dan nama dalam wilayah uluhiyah-Nya, namun semuanya saling menguatkan. Dia memiliki berbagai manifestasi dalam semua perbuatan dan aktivitas-Nya, namun semua saling menyerupai. Dia memiliki beragam simbol dalam wilayah tindakan qudrah-Nya, namun semua saling menopang. Dia memiliki berbagai tampilan suci dalam wilayah wujud sifat-Nya, namun semua saling mendukung. Dia memiliki beragam tindakan dalam manifestasi perbuatan-Nya, namun yang satu dengan yang lain saling menyempurnakan. Serta Dia memiliki berbagai rububiyah yang menakjubkan dalam kreasi dan ciptaan-Nya, namun yang satu dengan yang lain saling menguatkan.

Meski begitu, salah satu simbol nama Asmaul Husna terwujud dalam setiap alam dari seluruh kerajaan dan pada setiap kelompoknya. Nama tersebut berkuasa di wilayah tersebut, sementara nama-nama yang lain mengikutinya dan bahkan menjadi bagian darinya.

Kemudian nama itu memiliki manifestasi dan rububiyah khusus pada seluruh tingkatan makhluk, baik yang kecil maupun yang besar, sedikit maupun banyak, khusus maupun umum. Artinya, meski nama tersebut meliputi segala sesuatu dan bersifat umum, hanya saja perhatiannya juga tertuju kepada hal tertentu sehingga seolah-olah ia hanya mengarah padanya dan khusus untuknya.

Selain itu, Sang Pencipta Yang Mahaagung sangat dekat dengan segala sesuatu meskipun memiliki tujuh puluh ribu tabir gaib. Engkau bisa menganalogikan, misalnya, dengan sejumlah tabir yang terdapat dalam nama al-Khâliq (Sang Pencipta), mulai dari manifestasi nama al-Khâliq sebagai Penciptamu yang bersifat parsial dan terkait dengan posisi makhluk di dalamnya hingga posisi-Nya sebagai Pencipta semesta alam di mana ia merupakan lambang yang paling agung. Artinya, engkau bisa mencapai puncak manifestasi nama al-Khâliq dan masuk ke dalamnya lewat pintu keberadaan diri sebagai makhluk. Syaratnya, engkau harus membelakangi seluruh entitas. Pada saat itulah engkau mendekat kepada wilayah sifat-sifat-Nya.

Keberadaan sejumlah celah pada tabir, kemiripan pada sifat, pantulan pada nama, percampuran pada sejumlah kesamaan, perpaduan pada lambang, kesamaan pada tampilan, serta kondisi saling menopang pada perbuatan dan rububiyah-Nya, semua itu mengharuskan orang yang mengenal-Nya pada salah satu nama, lambang, dan rububiyah tersebut untuk tidak mengingkari seluruh nama dan sifat-Nya. Bahkan jika ia tidak dapat berpindah dari manifestasi satu nama kepada yang lain, maka ia akan merugi.Misalnya jika seseorang melihat jejak nama al-Khâliq al-Qadir (Pencipta Yanag Mahakuasa) sementara ia tidak melihat jejak nama al-‘Alîm (Yang Maha Mengetahui), maka ia bisa jatuh ke dalam kesesatan alam materi. Karena itu, ia harus mengarahkan pandangan ke sekitarnya, dan melihat bahwa Allah adalah Pencipta segalanya, menyaksikan manifestasi-Nya dalam segala sesuatu, serta telinganya selalu mendengar dari segala sesuatu ungkapan qul huwa Allâh ahad. Lisannya mengucap bersama seluruh alam lâ ilâha illa huwa seraya berikrar bahwa tiada Tuhan selain Dia.

Demikianlah melalui ayat di atas (اَللّٰهُ لَٓا اِلٰهَ اِلَّا هُوَ لَهُ ال۟اَس۟مَٓاءُ ال۟حُس۟نٰى) ‘Allah, tiada Tuhan selain Dia. Dia memiliki nama-nama yang mulia’ (QS. Thâha [20]: 8), al-Qur’an dengan ayatnya menjelaskan berbagai hakikat yang telah kami sebutkan.

Jika engkau ingin menyaksikan berbagai hakikat mulia itu dari dekat, pergilah ke laut yang berombak dan ke tanah yang bergetar oleh gempa. Tanyakan pada mereka, “Apa yang kalian katakan?” Engkau akan mendengar mereka berucap, ‘Wahai Yang Mahaagung, wahai Yang Mahaagung, wahai Yang Maha Perkasa, wahai Yang Mahagagah’. Kemudian pergilah ke anak binatang yang hidup di lautan atau di muka bumi yang dibesarkan dalam kasih sayang. Tanyakan pada mereka, “Apa yang kalian katakan?” Pasti mereka berucap,‘Wahai Yang Mahaindah, wahai Yang Mahaindah, wahai Yang Maha Penyayang, wahai Yang Maha Penyayang’.(*1)Kemudian aku memperhatikan langit bagaimana ia menyeru ‘Yang Mahaindah Pemilik keindahan’. Dengarlah bumi bagaimana ia mengucap ‘Yang Mahaindah Pemilik keindahan’. Lalu aku diam untuk menyimak ucapan hewan yang berkata ‘Wahai Yang Maha Pengasih, wahai Maha Pemberi rezeki’. Kemudian tanyalah musim semi, ia pasti mengucap dan nama-nama serupa lainnya.Tanyakan pula pada manusia yang benar-benar manusia. Perhatikan bagaimana ia membaca seluruh Asmaul Husna yang tertulis dalam dahinya sehingga ketika kau perhatikan engkau akan bisa membacanya.Alam laksana musik yang mendendangkan zikir agung. Perpaduan antara suara yang paling lemah dengan suara yang paling keras melahirkan sebuah alunan lagu yang indah.

Hanya saja betapapun manusia memperlihatkan seluruh Asmaul Husna, namun keragamannya sampai batas tertentu menjadi sebab keragaman manusia sebagaimana keragaman entitas dan perbedaan ibadah malaikat. Bahkan dari keragaman tersebut lahir sejumlah syariat nabi yang berbeda-beda, jalan wali yang beragaman, dan aliran sejumlah kalangan yang beraneka macam. Misalnya yang dominan pada nabi Isa adalah manifestasi nama al-Qadîr (Mahakuasa) di samping nama-nama lainnya. Yang dominan pada kaum pecinta adalah nama al-Wadûd. Serta yang dominan pada ahli tafakkur adalah nama al-Hakîm.

Jika sekiranya ada seorang alim sekaligus sebagai pemimpin, penegak keadilan, dan pengawas di sejumlah wilayah pemerintahan, maka pada setiap wilayah ia memiliki relasi, keterpautan, tugas, dan pekerjaan serta memiliki upah dan tanggung jawab padanya. Selain itu, ia memiliki kedudukan yang tinggi di samping para musuh yang dengki yang berusaha menghalangi pekerjaannya. Sebagaimana keadaan orang tersebut tampil di hadapan raja dengan sejumlah simbol yang sangat banyak di mana lewat berbagai simbol itu ia meminta pertolongan dan bantuan padanya dengan beragam lisan, ia juga meminta perlindungan padanya dalam bentuk yang beragam agar selamat dari musuh, demikian pula dengan manusia yang memeroleh banyak manifestasi nama-Nya, yang diberi banyak tugas, dan diuji dengan banyak musuh. Ia selalu berzikir mengingat nama-nama Allah dalam munajat dan pemintaan perlindungan yang ia ajukan.

Ini seperti yang dilakukan oleh poros kebanggaan umat manusia, sang insan sempurna dan sejati, Muhammad x. Beliau senantiasa berdoa dan berlindung kepada Allah dari api neraka lewat seribu satu nama-Nya dalam doanya yang disebut al-Jawsyan al-Kabîr. Dari rahasia ini kita temukan al-Qur’an memberi perintah untuk meminta perlindungan dengan tiga simbol atau lambang. Hal itu terdapat dalam surah an-Nâs: “Katakanlah, ‘Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia, Dzat yang disembah manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi’.” (QS. an-Nâs [114]: 1-4). Demikian pula pada ‘Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang’. Ia menjelaskan permintaan pertolongan dengan tiga nama-Nya yang mulia.

DAHAN KEDUA

Dahan ini menjelaskan dua rahasia yang berisi kunci banyak rahasia

Rahasia Pertama Mengapa para wali sering berbeda terkait dengan objek penyaksian dan kasyaf yang mereka alami, padahal mereka memiliki kesamaan dalam landasan iman di mana kasyaf mereka yang berada dalam tingkatan penyaksian kadangkala tampak berbeda dengan kenyataan dan bertentangan dengan kebenaran?Mengapa kalangan cendekia melihat dan menjelaskan hakikat dalam bentuk yang kontradiktif, padahal mereka menjelaskan kebenaran yang ada lewat dalil yang kuat menurut pandangan masing-masing? Mengapa hakikat yang satu tampak dalam bentuk yang beragam?

Rahasia Kedua Pertanyaan: Mengapa para nabi terdahulu hanya menjelaskan sebagian rukun iman seperti pengumpulan jasad makhluk di hari kiamat secara global di mana mereka tidak menjelaskannya secara detail sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an sehingga sebagian umat mereka pada akhirnya mengingkari rukun tersebut? Kemudian mengapa sebagian wali yang tergolong ahli makrifat dan hakikat hanya maju di bidang tauhid hingga mencapai tingkatan haqqul yaqin, sementara sebagian dari rukun iman yang lain tampak demikian umum dan jarang mereka bahas. Karena itu, para pengikut mereka pada masa selanjutnya tidak memberikan perhatian yang seharusnya terhadap hal tersebut. Bahkan ada yang menyimpang dan tersesat.Selama kesempurnaan hakiki bisa digapai lewat ketersingkapan seluruh rukun iman, mengapa para ahli hakikat hanya membahas sebagiannya dan meninggalkan sisanya. Padahal Rasulullah x yang merupakan imam seluruh rasul dan telah mencapai tingkatan tertinggi dari seluruh Asmaul Husna, demikian pula al-Qur’an al-Hakim yang merupakan induk seluruh kitab samawi menjelaskan seluruh rukun iman secara rinci dan jelas dalam bentuk yang serius dan sungguhsungguh.

Jawaban: Ya, sebab kesempurnaan hakiki sebenarnya memang seperti itu.

Hikmah dari berbagai rahasia di atas adalah sebagai berikut:Meskipun manusia memiliki potensi untuk mencapai seluruh kesempurnaan dan menggapai cahaya seluruh Asmaul Husna, ia berusaha meraih hakikat lewat ribuan tabir dan dinding pembatas. Sebab, kemampuan dan upayanya terbatas. Kesiapan dan kecenderungannya juga beragam.Oleh sebab itu, penyaksian hakikat dan kebenaran dipisah oleh sejumlah tabir dan dinding pembatas. Sebagian mereka tidak dapat menembus dinding tersebut. Karena kemampuan yang ada berbeda-beda, sebagian tak dapat menyingkap sebagian rukun iman. Kemudian bentuk manifestasi nama-Nya juga beragam sesuai dengan tampilan yang ada. Sebagian orang yang meraih salah satu wujud tampilan nama-Nya tak bisa meraih manifetasinya secara sempurna, apalagi manifestasi nama-nama-Nya terwujud dalam bentuk yang berbeda-beda dilihat dari kondisinya yang bersifat universal dan parsial serta bersifat bayangan dan asli. Sebagian potensi yang ada tak mampu menembus hal yang bersifat parsial dan keluar dari bayangan. Bisa jadi salah satu nama-Nya demikian dominan sehingga hanya hukum-Nya yang berlaku dan sekaligus mengendalikan potensi tadi.Demikianlah, rahasia yang tersembunyi dan mendalam serta hikmah yang luas ini akan kami jelaskan lewat sejumlah petunjuk dalam bentuk perumpamaan yang sampai pada tingkat tertentu bercampur dengan hakikat.

Anggaplah “bunga” yang memilik sejumlah goresan, “tetesan” yang memiliki kehidupan yang merindukan bulan, serta “percikan” yang memiliki kebeningan yang mengarah kepada matahari, masing-masing memiliki perasaan, bentuk kesempurnaan, serta kerinduan menuju kesempurnaan tadi. Ketiga hal tersebut menjelaskan banyak hakikat di samping menunjukkan perilaku jiwa, akal dan hati. Ia menjadi contoh bagi tiga tingkatan ahli hakikat:(*2)

Pertama: kalangan pemikir, kalangan wali, dan kalangan nabi.Semuanya mengarah kepada mereka.

Kedua: para peniti hakikat yang berusaha mencapai kesempurnaan dengan sejumlah perangkat fisik (yakni lewat jalan indra).

Mereka yang berjalan menuju hakikat dengan upaya pembersihan diri dan nalar, serta kalangan yang mendekati hakikat lewat pembersihan kalbu,

iman dan sikap taat, semua ini adalah contoh bagi mereka.

Ketiga: orang-orang yang menuju hakikat lewat argumen murni disertai perasaan ego,

sikap bangga dan tenggelam dengan dunia, lalu mereka yang mencari hakikat dengan ilmu, hikmah,

dan makrifat, serta mereka yang mencapai hakikat secara cepat dengan iman, al-Qur’an, kefakiran, dan penghambaan, ketiga hal itu menjadi contoh yang menunjukkan hikmah perbedaan di ketiga kelompok yang berbeda potensi tersebut.

Rahasia yang cermat dan hikmah yang luas yang menjadi landasan naiknya ketiga kelompok itu akan kita bahas dalam sebuah perumpamaan di bawah tema “bunga”, “tetesan” dan “percikan”.

Misalnya: dengan izin dan perintah Tuhan, matahari memiliki tiga bentuk manifestasi, pantulan dan limpahan yang berbeda.Salah satunya pada bunga, yang kedua pada bulan dan planet, serta ketiga pada sejumlah benda berkilau seperti kaca dan air.

Pertama, darinya manifestasi, limpahan dan pantulan terwujud dalam tiga bentuk:

Manifestasi dan pantulan yang bersifat umum. Yaitu sinarnya yang menerpa seluruh bunga.

Manifestasi dan pantulan khusus sesuai dengan setiap jenisnya.

Manifestasi parsial yang sesuai dengan keunikan masing-masing bunga.Demikianlah, perumpamaan tersebut berlandaskan pandangan yang mengatakan bahwa warna bunga yang cemerlang bersumber dari pantulan tujuh warna cahaya matahari. Atas dasar itu, bunga juga merupakan satu bentuk cermin yang memantulkan cahaya matahari.

Kedua, ia adalah limpahan dan cahaya yang diberikan matahari kepada bulan dan planet dengan izin Sang Pencipta Yang Mahabijak. Bulan mengambil manfaat dari cahaya yang merupakan bayangan cahaya matahari secara utuh setelah pantulan umum dan cahaya luas dilimpahkan kepadanya. Setelah itu, bulan dengan cahaya dalam bentuknya yang khusus memberikan manfaat kepada laut, udara, dan tanah yang berkilau. Lewat bentuk parsial ia mencurahkan cahaya kepada butiran air, tanah dan udara.

Ketiga, pantulan matahari dengan perintah ilahi secara total tanpa bayangan di mana ia menjadikan seluruh angkasa dan permukaan lautan menjadi cerminnya. Kemudian matahari tersebut memberikan bentuk dan contoh miniaturnya pada setiap butiran laut, tetesan air, gelembung udara, dan kristal es.

Demikianlah keadaan matahari dilihat dari ketiga sisi yang telah disebutkan. Ia memiliki curahan kepada setiap bunga, setiap tetes yang mengarah ke bulan, dan setiap percikan lewat dua jalan:

Jalan pertama: limpahan dan curahan secara langsung tanpa harus melewati dinding pembatas dan tanpa tabir. Ini adalah jalan yang mencerminkan kenabian.

Jalan kedua: dinding pembatas menjadi penengah. Sebab, potensi dan kapasitas cermin memberikan warna bagi berbagai menifestasi matahari. Cara ini mencerminkan jalan kewalian.

Begitulah, bunga, tetesan, dan percikan, masing-masing dapat berkata pada jalan yang pertama, “Aku adalah cermin matahari alam semesta.” Namun pada jalan yang kedua ia tidak bisa mengatakan semacam itu. Namun ia berkata, “Aku adalah cermin matahariku” atau “Aku adalah cermin matahari yang terwujud pada spesiesku.” Pasalnya, ia mengenali matahari dalam kondisi demikian. Ia tidak bisa melihat matahari yang mengarah ke seluruh alam, sebab matahari sosok tersebut dan spesiesnya tampak dalam dinding pemisah yang sempit dan di bawah ikatan yang terbatas. Matahari terbatas itu tak mampu memberikan pengaruh sebagaimana matahari asli yang tak terhijab dinding. Ia tak mampu memberikan kehangatan kepada seluruh permukaan bumi, menyinarinya, menggerakkan kehidupan seluruh hewan dan tumbuhan, menjadikan planet berputar di sekelilingnya, serta memberikan berbagai pengaruh luar biasa lainnya.Bahkan seandainya ketiga hal di atas bisa memberikan kepada matahari berbagai pengaruh menakjubkan yang signifikan di bawah keterbatasan yang ada, maka ia hanya bisa terwujud dalam benak dan iman saja disertai sikap percaya bahwa matahari yang terbatas itu bersifat mutlak.Mengaitkan berbagai pengaruh besar dari bunga, tetesan air, dan percikan yang kita anggap menyerupai manusia berakal kepada mataharinya hanya terdapat dalam benak dan tidak bisa disaksikan. Bahkan hukum-hukum keimanan padanya bisa berbenturan dengan apa yang terlihat di alam.

Pembenarannya sangat sulit. Karena itu, kita bertiga harus masuk ke dalam perumpamaan yang bercampur dengan hakikat ini di mana ia sangat sempit yang pada sebagian sisinya terdapat sejumlah hakikat.Anggaplah kita bertiga adalah bunga, tetesan, dan percikan. Karena anggapan dan bayangan saja tidak cukup, maka akal perlu diikutsertakan padanya. Dengan kata lain, kita memahami bahwa ketiga unsur itu, selain mendapat curahan dari matahari materi, ia juga mendapat curahan dari matahari maknawi.

Wahai teman yang tidak pernah melupakan dunia, tenggelam dalam materi, dan memiliki jiwa yang kesat! Jadilah bunga, sebab potensimu serupa dengannya. Pasalnya, bunga tersebut menyerap warna dari cahaya matahari, yang mencampur bayangan matahari dengan warna itu, serta menghias diri dengannya dalam bentuk yang berkilau.

Adapun filsuf yang belajar di sekolah-sekolah modern, yang bersandar kepada sebab, di mana ia menyerupai “Said lama”, hendaknya dirimu menjadi “tetesan air” yang merindukan bulan yang mendapat bayangan cahaya matahari sehingga matanya bersinar. Hanya saja, dengan sinar itu tetesan air tadi hanya bisa melihat bulan. Ia tidak bisa melihat matahari. Ia hanya bisa melihat matahari dengan pandangan iman.

Kemudian sang fakir yang meyakini bahwa segala sesuatu langsung berasal dari Allah dan menganggap sebab sebagai tabir, hendaknya menjadi percikan. Ia merupakan percikan atom yang fakir. Ia tidak memiliki sandaran dan pegangan seperti bunga. Ia juga tidak memiliki warna yang bisa dilihat. Ia tidak melihat sejumlah hal yang lain sebagai tempat menghadap. Ia memiliki kebeningan murni yang menyembunyikan bayangan matahari di pelupuk matanya.Sekarang, sepanjang kita menempati ketiga tempat tersebut, kita harus melihat kepada diri sendiri untuk melihat apa yang ada pada kita dan apa yang kita lakukan.

Kita melihat Dzat Yang Maha Pemurah mencurahkan berbagai nikmat dan anugerah-Nya kepada kita. Dia menerangi, membesarkan, dan menghias kita. Manusia adalah abdi kebajikan. Ia ingin dekat dengan Dzat yang layak disembah dan dicinta. Ia ingin melihat-Nya. Karena itu, masing-masing kita berjalan sesuai dengan potensi dan tarikan cinta tersebut.

Wahai yang menyerupai bunga. Engkau berlalu dalam perjalananmu. Berjalanlah sebagai bunga. Engkau telah berlalu dan sedikit demi sedikit naik hingga mencapai tingkatan universal sehingga engkau laksana seluruh bunga. Karena bunga merupakan cermin yang bersifat padat, maka tujuh warna cahaya terurai di dalamnya. Maka gambar pantulan matahari menjadi samar sehingga engkau tidak bisa melihat wajah kekasihmu, yakni matahari. Sebab, warna-warna yang terbatas serta seluruh karakternya membuat cahaya matahari terurai dan terhijab.

Dalam kondisi demikian, engkau tidak akan selamat dari berbagai perpisahan yang bersumber dari adanya sejumlah gambar dan dinding pembatas. Hanya saja, ada satu syarat untuk selamat. Yaitu engkau harus mengangkat kepalamu yang mencintai diri dan menghentikan pandangan yang menikmati berbagai keindahan diri serta tertipu dengannya. Lalu kau cermati wajah matahari yang terdapat di langit. Kemudian kau arahkan wajahmu yang tadinya tertunduk ke tanah—mencari rezeki—menuju matahari di atas sana. Sebab, engkau adalah cermin bagi matahari tersebut. Tugasmu adalah menjadi cermin dan memperlihatkan manifestasinya. Adapun rezekimu akan menghampirimu dari pintu khazanah rahmat-Nya, yaitu tanah, baik disadari atau tidak.Sebagaimana bunga merupakan cermin kecil dari matahari, maka matahari besar tersebut juga merupakan cermin yang laksana satu tetes di tengah lautan langit di mana ia memantulkan kilau manifestasi nama Allah, an-Nûr. Wahai kalbu manusia, dari sini pahamilah betapa agung matahari di mana engkau menjadi cerminnya.

Setelah engkau menunaikan syarat di atas, engkau akan mendapatkan kesempurnaanmu. Namun engkau tidak bisa serta-merta melihat matahari itu. Bahkan engkau tidak bisa memahami hakikat tersebut karena sifat-sifatmu memberinya sebuah warna, teropong kotormu memberinya sebuah gambaran, serta potensimu yang terbatas membuatnya terikat.

Sekarang wahai filsuf yang masuk ke dalam “tetesan”, lewat teropong tetesan pikiranmu dan lewat tangga filsafat engkau naik hingga mencapai bulan. Engkau masuk ke dalam bulan. Lihatlah! Bulan tersebut demikian tebal dan gelap; tidak memiliki cahaya dan kehidupan. Usahamu menjadi sia-sia dan pengetahuanmu tidak berguna.

Engkau bisa selamat dari gelapnya keputusasaan, kondisi nestapa, dan gangguan ruh jahat lewat syarat berikut: Jika engkau meninggalkan malam “alam” dan menghadap ke matahari hakikat, engkau akan meyakini bahwa cahaya malam ini merupakan bayangan cahaya matahari siang.

Jika engkau memenuhi syarat tersebut, engkau akan menemukan kesempurnaanmu. Engkau akan mendapati matahari yang besar itu sebagai ganti dari bulan yang fakir dan gelap. Hanya saja, engkau juga seperti temanmu yang sebelumnya.Engkau tidak akan melihat matahari secara murni. Engkau hanya bisa melihatnya terbungkus tirai yang sudah dikenal oleh akal dan filsafatmu. Engkau melihatnya berada di balik hijab pengetahuan dan hikmahmu. Ia berada dalam celupan yang diberikan oleh potensi dirimu.

Temanmu yang ketiga yang menyerupai “percikan” miskin tak berwarna dengan cepat menguap oleh panas matahari. Ia meninggalkan egonya dan menguap hingga naik ke angkasa. Materi padat yang berada di dalamnya berkobar oleh panas rasa rindu. Lewat sinar ia berubah menjadi cahaya. Ia menggenggam kilau yang bersumber dari manifestasi sinar tersebut dan sekaligus dekat dengannya.

Wahai yang seperti percikan, selama engkau menunaikan tugas cermin bagi matahari, maka engkau bisa menemukan jendela bening yang melihat matahari secara ainul yaqin di sejumlah tingkatan di mana engkau berada. Engkau tidak merasa sulit dalam menyandarkan berbagai pengaruh matahari yang menakjubkan kepadanya. Pasalnya, engkau bisa menisbatkan sifat-sifat luar biasa kepadanya tanpa ragu sedikitpun. Tidak ada sesuatu yang dapat mencegahmu untuk menisbatkan pengaruh tersebut kepada kekuasaannya. Sempitnya dinding pembatas, keterbatasan kemampuan, dan kecilnya cermin tidak akan membuatmu bingung. Ia tidak akan menggiringmu untuk mengingkari hakikatnya karena engkau bening dan bersih sehingga dapat melihatnya secara langsung. Karena itu, engkau sadar bahwa pentas dan objek yang terlihat di cermin bukanlah matahari. Ia hanyalah satu bentuk manifestasinya dan bagian dari pantulannya. Sementara pantulan itu adalah bukti dan tanda darinya semata sehingga tidak bisa memberikan seluruh pengaruhnya yang luar biasa.

Pada perumpamaan yang bercampur dengan hakikat ini, kesempurnaan ditempuh melalui tiga cara yang berbeda. Ciri kesempurnaan dan detail tingkat penyaksian mereka berbeda-beda. Hanya saja dalam hasil, dalam mengikuti kebenaran, serta dalam membenarkan hakikat, mereka adalah sama.

Demikianlah, sebagaimana manusia yang berada di malam hari tak dapat melihat matahari di mana ia hanya melihat bayangannya pada cermin bulan, ia juga tidak dapat menanamkan dalam akalnya serta tidak dalam menyerap hebatnya cahaya matahari dan gravitasinya yang besar. Ia hanya bisa mengekor pada orang yang melihatnya.

Begitu pula orang yang tidak mencapai kedudukan tinggi dari nama al-Qadîr (Mahakuasa) dan al-Muhyî (Maha Menghidupkan) serta nama-nama lainnya lewat warisan kenabian. Ia hanya bisa melihat pengumpulan di hari akhir dan kiamat lewat sikap taklid dengan berkata, “Ia bukan wilayah akal.” Sebab hakikat kebangkitan dan kiamat merupakan fenomena manifestasi nama-Nya yang paling agung dan kedudukan tertinggi dari sebagian nama-Nya yang lain. Siapa yang pandangannya tidak bisa naik ke kedudukan tersebut ia hanya bisa mengikut dan bertaklid.

Sementara yang pandangannya bisa tembus menuju ke sana, ia akan melihat kebangkitan dan kiamat dengan mudah sebagaimana mudahnya pergantian siang dan malam, musim dingin dan musim panas. Dengan itu, kalbunya menjadi rida dan lapang.Demikianlah. Dari rahasia ini al-Qur’an al-Karim menyebutkan kebangkitan dan kiamat dalam kedudukan tertinggi dan dalam penjelasan yang paling sempurna. Rasul x yang memeroleh cahaya nama-Nya yang paling agung juga menjelaskannya. Adapun para nabi terdahulu tidak menjelaskan masalah kebangkitan secara detail, tetapi hanya secara global, karena hal tersebut sesuai dengan tuntutan hikmah dalam berdakwah (menyampikan petunjuk) di mana umat mereka masih dalam kondisi sangat sederhana dan primitif.

Dari rahasia ini pula sebagian wali tidak bisa melihat sejumlah rukun iman dalam kedudukannya yang paling agung atau mereka tak mampu menerangkannya seperti itu. Dari rahasia di atas juga dapat dipahami mengapa derajat kaum arif dalam mengenal Allah sangat berbeda. Begitulah hakikat banyak rahasia semacamnya menjadi jelas. Sekarang, kita cukupkan dengan perumpamaan di atas karena ia relatif bisa memberikan kesadaran tentang hakikat yang ada. Pasalnya, hakikatnya sangat luas dan mendalam. Kita tidak akan masuk ke wilayah sejumlah rahasia yang berada di luar kemampuan kita.

DAHAN KETIGA

Adanya absurditas dalam memahami sejumlah hadis Nabi x yang berbicara tentang “tanda-tanda dan peristiwa hari kiamat” serta tentang “keutamaan dan pahala amal”, hal itu membuat sejumlah pemikir yang bersandar pada logika mendaifkannya, sebagian lain menganggapnya sebagai hadis maudhu (palsu), bahkan sebagian lainnya yang lemah iman dan tertipu oleh akal mereka bersikap ekstrim dengan langsung mengingkarinya.Di sini kita tidak ingin mendebat mereka secara detil. Namun kita hanya ingin menegaskan “dua belas” prinsip dan kaidah umum yang bisa dijadikan pegangan dalam memahami hadis-hadis Nabi yang menjadi topik bahasan kita saat ini.

Prinsip Pertama Yaitu persoalan yang telah kami jelaskan saat menjawab pertanyaan yang terdapat pada akhir “Kalimat Kedua Puluh”. Ringkasnya adalah sebagai berikut:

Agama adalah ujian dan cobaan. Dengan ujian, jiwa yang mulia akan dibedakan dengan jiwa yang hina. Karena itu, ia membahas sejumlah kejadian yang akan disaksikan oleh manusia di masa depan dengan cara yang tidak kabur yang sulit dipahami, dan juga tidak jelas sekali yang membuatnya segera dipercaya. Namun, ia menyajikannya secara terbuka dan tidak sulit dipahami akal, serta membuka ruang untuk memilih.Andaikan tanda-tanda hari kiamat demikian jelas seperti sebuah aksioma sehingga manusia mau tidak mau harus membenarkannya, maka dalam kondisi demikian potensi fitri yang buruk seperti arang akan sama dengan potensi fitri yang berharga yang laksana berlian. Rahasia pemberian tugas oleh Tuhan dan hasil ujiannya menjadi sia-sia.Karena itu, ada banyak perbedaan dalam sejumlah persoalan.Misalnya dalam persoalan Imam (*3)dan Sufyânî.(*4)Begitu banyak penilaian yang berseberangan lantaran keragaman riwayat yang ada.

Prinsip Kedua Berbagai persoalan Islam memiliki sejumlah tingkatan dan kedudukan. Ketika salah satunya membutuhkan dalil yang kuat—seperti dalam masalah akidah—maka yang lain cukup dengan dugaan kuat, serta yang lain dengan sikap taat, menerima, tanpa penolakan.Karena itu, tidak dibutuhkan dalil yang kuat pada setiap persoalan cabang atau pada berbagai peristiwa zaman yang tidak termasuk pondasi iman. Ia cukup dengan sikap taat dan tidak menolak.

Prinsip Ketiga Banyak ulama dari kalangan Bani Israil dan Nasrani pada masa sahabat yang masuk Islam. Mereka masuk Islam dengan membawa sejumlah informasi yang dimiliki sebelumnya. Tidak sedikit dari informasi yang bertentangan dengan kenyataan yang kemudian dianggap sebagai bagian dari Islam.

Prinsip Keempat Terdapat pernyataan para perawi atau makna yang mereka ambil dari matan hadis yang dimasukkan ke dalam hadis. Nah, karena manusia tidak terlepas dari kekeliruan, ada dari perkataan atau kesimpulan tersebut yang bertentangan dengan realitas sehingga melemahkan kedudukan hadisnya.

Prinsip Kelima Sejumlah makna yang terilhami bagi para ahli hadis dari kalangan wali dan ahli kasyaf dianggap sebagai hadis. Hal itu dikarenakan adanya riwayat bahwa di kalangan umat ada yang berposisi sebagai orang-orang yang mendapat ilham.(*5)Seperti diketahui bahwa ilham para wali bisa keliru karena sejumlah hal. Maka, bisa saja muncul sesuatu yang bertentangan dengan kenyataan pada jenis riwayat seperti itu.

Prinsip Keenam Terdapat sejumlah cerita yang dikenal di tengah-tengah masyarakat. Cerita tersebut menjadi semacam perumpamaan. Sementara yang dilihat pada perumpamaan bukan makna yang sebenarnya, namun tujuan yang ada di baliknya. Karena itu, pada sejumlah hadis terdapat penyebutan sejumlah kisah dan cerita yang telah dikenal luas dalam bentuk majas dan perumpamaan sebagai bimbingan dan pengarahan. Jika ada kekurangan pada makna hakikinya dalam persoalan tersebut, maka dikembalikan kepada urf dan kebiasaan yang ada serta dikembalikan pada cerita yang berkembang luas di tengah-tengah mereka.

Prinsip Ketujuh Banyak tasybih dan perumpamaan retoris yang diposisikan sebagai hakikat yang rill. Hal itu terjadi entah karena perjalanan waktu atau karena berpindah dari orang yang berilmu ke orang yang bodoh sehingga mengasumsikan perumpamaan tersebut sebagai sebuah kenyataan yang sebenarnya.

Misalnya, dua malaikat yang disebut “banteng” dan “ikan” yang terwujud dalam bentuk mereka di alam mitsâl di mana keduanya termasuk malaikat Allah yang mengawasi hewan darat dan laut. Mereka berubah menjadi lembu besar dan ikan raksasa dalam sangkaan dan persepsi keliru manusia. Hal itulah yang menjadi sebab lahirnya sikap penentangan terhadap hadis.Contoh lain, dalam majelis bersama Rasulullah x terdengar sebuah suara. Lalu beliau bersabda, “Ini adalah suara batu yang jatuh ke neraka Jahanam sejak tujuh puluh tahun yang lalu. Sekarang ia telah sampai ke dasarnya(*6)

Orang yang mendengar hadis ini tanpa mengetahui hakikatnya akan bersikap ingkar sehingga tersesat. Akan tetapi, jika ia mengetahui sebuah fakta nyata bahwa tidak lama kemudian salah seorang dari mereka datang memberitakan kepada Nabi x bahwa seorang munafik yang terkenal baru saja meninggal dunia. Ketika itu, dapat diketahui bahwa lewat retorika yang luar biasa, Rasul x menggambarkan sosok munafik yang telah berusia tujuh puluh tahun itu ibarat batu yang bergelinding menuju dasar neraka di mana seluruh kehidupannya merupakan bentuk kejatuhan dalam kekafiran dan kerendahan menuju tingkatan yang paling bawah. Allah memperdengarkan suara itu persis di saat kematian sang munafik sekaligus menjadikan hal itu sebagai tanda atasnya.

Prinsip Kedelapan Dzat Yang Mahabijak dan Maha mengetahui menyembunyikan di negeri ujian ini sejumlah persoalan yang sangat penting di antara begitu banyak persoalan yang ada. Penyembunyian tersebut terkait dengan sejumlah hikmah dan maslahat.Misalnya, Allah menyembunyikan Lailatul qadar di bulan Ramadhan, waktu mustajab di hari jumat, para wali saleh di antara seluruh manusia, ajal dalam usia manusia, serta kiamat pada umur dunia. Demikian seterusnya.Andaikata ajal manusia sudah ditentukan dan diketahui waktunya, tentu manusia yang malang ini akan menghabiskan setengah usianya dalam kelalaian, dan setengahnya lagi dalam ketakutan seperti orang yang digiring selangkah demi selangkah menuju tiang gantungan. Nah, untuk memelihara keseimbangan antara dunia dan akhirat serta untuk menjaga kemaslahatan abadi manusia di mana kalbunya berada di antara rasa harap dan takut, maka setiap saat manusia dihadapkan pada kemungkinan mati atau tetap hidup. Dengan demikian, dua puluh tahun dari usia yang ajalnya tidak diketahui lebih utama daripada usia seribu tahun yang ajalnya diketahui.

Demikian pula dengan kedatangan kiamat. Ia merupakan ajal kehidupan dunia yang laksana manusia besar. Andaikata waktunya sudah ditentukan, maka abad-abad pertama dan pertengahan akan dilalui dalam tidur kelalaian. Sementara abad-abad terakhir dilalui dalam ketakutan. Hal itu karena sesuai dengan kehidupan sosialnya, manusia memiliki ikatan yang kuat dengan tempat tinggal dan negerinya yang terbesar—yaitu dunia—sebagaimana sesuai dengan kehidupan pribadinya ia juga memiliki hubungan dengan rumah dan kampung halamannya. Dari sini kita memahami bahwa kedekatan yang disebutkan dalam ayat al-Qur’an: (kiamat sudah dekat) tidak bertentangan dengan waktu seribu lima ratus tahun yang telah berlalu. Sebab, kiamat adalah ajal dunia. Sementara waktu seribu atau dua ribu tahun jika diukur dengan usia dunia hanyalah seperti satu dua hari atau satu dan dua menit dari tahunan usia yang ada. Selain itu, kita tidak boleh lupa bahwa hari kiamat bukan hanya ajal umat manusia sehingga jauh dan dekatnya diukur dengan usianya. Namun ia merupakan ajal seluruh entitas, langit dan bumi yang memiliki usia panjang yang sulit untuk dihitung.

Karena itu, Allah Yang Mahabijak dan Maha mengetahui sengaja menyembunyikan saat kedatangan kiamat dalam pengetahuan-Nya di antara lima hal gaib bagi manusia. Di antara hikmahnya adalah agar manusia pada seluruh generasinya selalu takut terhadap datangnya kiamat. Bahkan, para sahabat yang mulia sangat khawatir kiamat akan datang pada masa mereka, padahal mereka hidup pada era generasi terbaik; era kebahagiaan dan ketersingkapan berbagai hakikat. Lebih dari itu, sebagian mereka berkata bahwa kiamat dan tanda-tandanya telah terwujud.

Orang-orang yang tidak memahami hikmah dan hakikat penyembunyian di saat ini berkata, “Mengapa para sahabat yang mulia itu menduga kedatangan “hakikat besar” yang akan terjadi seribu empat ratus tahun kemudian sebagai sesuatu yang dekat dengan masa mereka padahal mereka adalah muslim yang paling mengetahui makna akhirat, mukmin yang memiliki basirah paling tajam, serta memiliki perasaan paling sensitif terkait dengan sejumlah informasi yang akan datang? Seakan-akan pikiran mereka telah menyimpang dari hakikat kebenaran selama seribu tahun.

Jawaban: Karena para sahabat yang mulia adalah orang-orang yang paling banyak merenungkan akhirat, paling meyakini kefanaan dunia, serta paling memahami hikmah penyembunyian waktu terjadinya kiamat karena mendapatkan limpahan dan cahaya persahabatan dengan Nabi x, maka mereka selalu menantikan ajal dan kematian dunia seperti menantikan ajalnya sendiri. Dengan upaya keras, mereka pun bekerja untuk akhirat. Kemudian, ketika Rasulullah x berulangkali berkata, “Nantikanlah hari kiamat!”(*7)

hal itu bersumber dari hikmah ini, yaitu hikmah penyembunyian. Di dalamnya terdapat petunjuk kenabian yang sangat mendalam. Ia tidak berarti menentukan saat kiamat lewat wahyu sehingga dianggap jauh dari kenyataan. Sebab, hikmah berbeda dengan illat.

Begitulah, sejumlah hadis Nabi x yang sejenis bersumber dari hikmah penyembunyian.

Atas dasar hikmah tersebut, manusia sejak zaman dahulu bahkan sejak zaman tabi`in, menantikan kemunculan Imam Mahdi dan Dajjâl as-Sufyânî dengan harapan bisa menyusul mereka. Bahkan, sebagian wali menganggap waktunya telah lewat.Hikmah tidak disebutkannya waktu kemunculan mereka secara pasti, sama seperti hikmah tidak ditetapkannya waktu kejadian kiamat. Kesimpulannya sebagai berikut:Setiap waktu dan setiap masa membutuhkan esensi keberadaan “Mahdi” yang menjadi landasan kekuatan maknawi dan agar terlepas dari sikap putus asa.

Karena itu, setiap masa memiliki bagian atas esensi tersebut. Demikianlah, setiap saat manusia juga harus senantiasa berjaga-jaga dan waspada dari sosok-sosok jahat yang menjadi pimpinan kemunafikan serta mengendalikan gelombang kejahatan. Hal itu supaya kendali jiwa tidak menjadi longgar lantaran sikap acuh tak acuh dan kurang peduli. Andaikan waktu kemunculan Imam Mahdi, Dajjal, dan sosok sejenis telah pasti, tentu maslahat dalam memberikan petunjuk dan arahan menjadi sia-sia.

Adapun rahasia perbedaan riwayat yang terkait dengan keduanya adalah sebagai berikut:

Orang-orang yang menafsirkan sejumlah hadis Nabi x mencampur konklusi dan ijtihad pribadi mereka dengan bunyi teks hadis. Misalnya, mereka menafsirkan bahwa berbagai peristiwa yang terkait dengan Imam Mahdi dan Dajjal berlangsung di sekitar Syam, Bashrah, dan Kufah sesuai dengan persepsi mereka. Sebab, kota-kota itu terletak di sekitar pusat kekhalifahan ketika itu, yaitu Madinah dan Syam.Atau, mereka menafsirkan berbagai peristiwa di dalamnya dengan anggapan bahwa sejumlah dampak yang sangat besar yang mencerminkan kepribadian maknawi sosok-sosok itu bersumber dari pribadi mereka secara individual. Hal itu memberikan pemahaman bahwa sosok-sosok itu akan datang dalam kondisi yang luar biasa sehingga dikenal oleh seluruh manusia. Padahal sebenarnya seperti yang telah kami sebutkan bahwa dunia merupakan negeri ujian dan cobaan. Allah ﷻ ketika menguji manusia, tetap memberikan pilihan dan kehendak padanya, serta memberi ruang bagi akal untuk memilih.

Karena itu, sosok-sosok tersebut—yakni Dajjal dan Imam Mahdi—tidak dikenal oleh orang banyak di saat kemunculannya. Bahkan, Dajjal itu sendiri pada mulanya juga tidak mengetahui jikalau dirinya adalah Dajjal. Ia hanya dikenal oleh orang yang melihat dengan cahaya iman yang sangat tajam.Dajjal yang merupakan salah satu tanda kiamat telah ditegaskan oleh Rasulullah x bahwa satu hari dari hari-hari yang dilewatkannya sama seperti satu tahun. Ada pula satu hari yang laksana satu bulan, satu hari yang laksana satu pekan, serta keseluruhan harinya seperti hari yang kalian jalani.(*8)Dunia mendengar suaranya dan ia mengelilingi bumi dalam empat puluh hari.Orang-orang tidak objektif berkata, “Riwayat tersebut mustahil.” Mereka pun mengingkarinya. Hal itu sama sekali tidak benar. Hakikatnya—wallahu a’lam—adalah sebagai berikut:

Dalam hadis Nabi tersebut terdapat petunjuk akan kemunculan satu sosok dari arah utara yang merupakan wilayah kekufuran yang paling pekat. Ia memimpin aliran materialisme yang sangat besar seraya menyerukan kekufuran dan mengingkari keberadaan Sang Pencipta. Jadi, makna hadis itu berisi petunjuk tentang kemunculan sosok Dajjal dari arah utara. Petunjuk ini mengandung satu isyarat yang memiliki hikmah. Yaitu bahwa daerah yang dekat dengan kutub utara hitungan tahunnya berupa satu hari dan satu malam. Pasalnya, enam bulan darinya berupa malam, sementara enam bulan lainnya berupa siang. Dengan kata lain, hari yang dilewati Dajjal adalah satu tahun sebagaimana bunyi hadis tadi, “satu hari seperti satu tahun.” Ini adalah petunjuk kemunculannya yang dekat dari wilayah tersebut.Adapun yang dimaksud dengan “satu hari seperti satu bulan” adalah bahwa setiap kali kita datang dari arah utara menuju wilayah kita ini (Turki), maka siangnya kadangkala laksana sebulan penuh di mana matahari tidak terbenam dalam satu bulan di musim panas. Ini juga menjadi petunjuk bahwa Dajjal menjelajahi dunia peradaban setelah kemunculannya di utara. Petunjuk ini lahir ketika menisbatkan hari ke Dajjal.Demikianlah, semakin menjauh dari utara menuju selatan, matahari tidak terbenam selama sepekan. Hingga akhirnya perbedaannya terbit dan terbenamnya matahari hanya tiga jam. Yakni seperti hari-hari yang biasa kita lewati. Aku pernah berada di tempat semacam itu saat menjadi tawanan di Rusia. Matahari tidak terbenam selama sepekan di tempat yang dekat dengan kami sehingga orang-orang keluar untuk menyaksikan fenomena unik itu.Selanjutnya, terdengarnya suara Dajjal hingga ke seluruh pelosok dunia dan bagaimana ia berkeliling di bumi dalam empat puluh hari telah dibuktikan oleh perangkat radio dan alat telekomunikasi serta sarana transportasi modern seperti kereta dan pesawat. Nah, kaum ateis yang kemarin mengingkari dua keadaan di atas di mana mereka menganggapnya sebagai sebuah kemustahilan, maka pada hari ini mereka menganggapnya sebagai suatu hal yang biasa.

Lalu Ya`juj dan Ma`juj serta Tembok yang menjadi salah satu tanda kiamat telah kubahas secara detail dalam risalah lain. Anda bisa merujuk kepadanya. Di sini aku hanya ingin menegaskan bahwa:Sebagaimana kabilah Manchuria dan Mongolia beberapa waktu lalu menghancurkan sejumlah komunitas dan mereka menjadi sebab pembangunan tembok Cina, terdapat sejumlah riwayat yang menunjukkan bahwa dengan semakin dekatnya kiamat peradaban baru juga akan jatuh karena pandangan mereka yang anarki.

Di sini sejumlah orang ateis bertanya-tanya, “Di mana keberadaan kelompok manusia yang telah dan akan melakukan hal-hal seperti itu?”

Jawabannya:sebagaimana belalang menjadi hama pertanian yang bisa merusak area tertentu di musim tertentu, kemudian ia menghilang seiring pergantian musim, maka pembesar spesies tersebut yang membinasakan area tadi tersembunyi di sejumlah individu yang terbatas. Dengan kehendak Tuhan, hama tersebut muncul di musim tertentu dalam jumlah yang banyak. Yakni hakikat spesiesnya menepi, namun tidak punah. Ia akan muncul kembali di musim tertentu.Jika demikian kondisi yang terjadi pada belalang, maka beberapa kaum yang menebarkan kerusakan di dunia pada waktu tertentu juga akan muncul pada waktu yang telah ditentukan guna membinasakan umat manusia dengan izin dan kehendak-Nya. Mereka kembali menghancurkan peradaban umat manusia. Hanya saja, agitasi dan pergerakan mereka muncul dalam bentuk lain.

Perkara gaib hanya diketahui oleh Allah.

Prinsip Kesembilan Hasil dari sebagian persoalan iman mengarah kepada sejumlah hal yang terkait dengan alam yang sempit dan terbatas ini. Sementara yang lainnya mengarah kepada alam ukhrawi yang luas dan tak terbatas. Karena sebagian dari hadis Nabi yang terkait dengan fadilah amal dideskripsikan oleh Rasul dengan gaya bahasa retoris sebagai bentuk motivasi dan ancaman, maka orang yang kurang cermat mengira bahwa sejumlah hadis Nabi itu berlebihan. Sebenarnya tidak demikian. Semuanya benar dan merupakan sebuah hakikat. Tidak ada sesuatu yang berlebihan di dalamnya.

Sebagai contoh adalah hadis berikut yang menyulitkan dan menyindir para pembangkang:

“Andaikan dunia di sisi Allah setara dengan sayap nyamuk, maka orang kafir tidak akan bisa minum darinya meski hanya seteguk.”(*9)

Hakikatnya adalah: Kata “di sisi Allah” menggambarkan alam baka (akhirat). Cahaya yang terbersit dari alam baka meski seukuran sayap nyamuk lebih luas dan lebih komprehensif, sebab bersifat abadi, daripada cahaya yang bersifat sementara meski sepenuh bumi. Dengan kata lain, hadis di atas tidak sedang memberikan perbandingan antara sayap nyamuk dan alam yang besar ini. Namun perbandingannya antara dunia setiap individu—yang terbatas pada usianya yang singkat—dan cahaya abadi yang bersumber dari limpahan dan kebaikan ilahi yang bersifat komprehensif meski seukuran sayap nyamuk.

Selanjutnya, dunia memiliki dua sisi, bahkan tiga sisi: Pertama, sisi seperti cermin. Ia memantulkan manifestasi Asmaul Husna.Kedua, sisi yang menatap kepada akhirat. Artinya, dunia menjadi ladang akhirat.Ketiga, sisi yang mengarah pada ketiadaan dan kefanaan. Sisi terakhir ini adalah dunia yang tidak diridai di sisi Allah. Ia dikenal sebagai dunia kaum sesat.Dengan demikian, dunia yang disebutkan pada hadis Nabi di atas bukan dunia besar yang laksana cermin Asmaul Husna dan risalah shamdaniyah. Ia juga bukan dunia yang menjadi ladang akhirat. Namun ia adalah dunia yang menjadi lawan akhirat, sarang berbagai dosa dan kesalahan, serta sumber semua bencana dan musibah.Ia merupakan dunia para hamba dunia di mana tidak bisa menyamai satu atom pun dari alam akhirat yang abadi yang Allah berikan kepada kaum beriman. Jadi, hakikat yang lurus ini sangat berbeda dengan pemahaman kaum ateis yang zalim ketika menganggap hadis tersebut berlebihan.

Contoh lain adalah pandangan kaum ateis dan pembangkang yang beranggapan bahwa riwayat tentang pahala amal dan fadilah berbagai surah dalam al-Qur’an sangat berlebihan; tidak logis.

Bahkan, mereka menyebutnya mustahil. Misalnya, diriwayatkan bahwa surah al-Fatihah mendatangkan pahala senilai al-Qur’an,(*10)

surah al-Ikhlas menyamai sepertiga al-Qur’an,(*11)surah az-Zalzalah seperempat al- Qur’an,(*12)surah al-Kâfirun seperempat al-Qur’an,(*13)surah Yâsîn memiliki pahala sebanyak sepuluh kali al-Qur’an.(*14)

Nah orang-orang yang tidak cermat dan tidak objektif menganggap semua riwayat tadi mustahil. Mereka berkata, “Bagaimana mungkin surah Yâsîn memiliki fadilah semacam itu, sementara ia hanyalah sebuah surah dari al-Qur’an dan masih banyak surah lain yang juga memiliki keutamaan?”

Hakikat dari riwayat tersebut adalah sebagai berikut: Setiap huruf al-Qur’an memiliki pahala. Ia berupa satu kebaikan.(*15)Hanya saja dengan karunia dan kemurahan Allah, pahala dari huruf-huruf itu menjadi berlipat ganda. Kadangkala ia membuahkan sepuluh kebaikan, kadangkala tujuh puluh kebaikan, kadangkala tujuh ratus kebaikan (sebagaimana huruf-huruf ayat al-Kursi), seribu lima ratus kebaikan (sebagaimana pada huruf-huruf surah al-Ikhlas), sepuluh ribu kebaikan (seperti ketika sejumlah ayat dibaca pada waktu-waktu utama dan malam Nisfu sya’ban), serta tiga puluh ribu kebaikan (seperti ketika dibaca pada malam Lailatul qadar) sehingga kebaikan itu berlipat ganda demikian banyak laksana benih apiun. Keberlipatan pahala hingga mencapai tiga puluh ribu bisa dipahami lewat ayat yang berbunyi ‘Ia lebih baik daripada seribu bulan’. (QS. al-Qadr [97]: 3).Demikianlah, jadi tidak mungkin menganalogikan dan membandingkan al-Qur’an dengan pelipatgandaan bilangan kumulatif dari pahala yang disebutkan. Ia hanya bisa dilakukan terhadap pahala asli dari sejumlah surah.

Kami akan menjelaskannya dengan sebuah contoh berikut: Misalnya ada sepetak sawah yang ditanami seribu benih jagung. Andaikan sebagian benihnya menumbuhkan tujuh bulir, lalu pada setiap bulir terdapat seratus biji, maka satu benih jagung saja sudah menyamai dua pertiga dari yang terdapat di sawah.Andaikan—misalnya—benih lain menumbuhkan sepuluh bulir, lalu pada setiap bulirnya terdapat seratus biji, maka satu benih itu saja sudah dua kali lipat benih yang ditanam. Demikian seterusnya.

Sekarang kita anggap al-Qur’an sebagai ladang samawi yang suci. Setiap huruf berikut pahala aslinya—tanpa melihat bulirnya—laksana satu benih. Jika engkau menerapkan contoh di atas padanya, engkau bisa mengetahui fadilah berbagai surah yang disebutkan dalam hadis-hadis tersebut, yaitu dengan membandingkannya dengan huruf al-Qur’an aslinya.

Misalnya: huruf-huruf al-Qur’an berjumlah tiga ratus ribu enam ratus dua puluh huruf. Huruf surah al-Ikhlas disertai basmalah adalah enam puluh sembilan huruf. Maka, tiga kali lipat dari enam puluh sembilan sama dengan dua ratus tujuh huruf. Artinya, kebaikan dari setiap huruf surah al-Ikhlas berjumlah sekitar seribu lima ratus.(*16)Demikian pula jika engkau menghitung huruf-huruf surah Yâsîn, lalu membandingkannya dengan keseluruhan huruf al-Qur’an.

Kalau pelipatgandaannya hingga sepuluh kali, maka setiap huruf yang terdapat di dalamnya berjumlah sekitar lima ratus kebaikan.

Jika fadilah surah-surah yang lain dihitung dengan cara demikian, engkau akan memahami keberadaannya sebagai sesuatu yang benar dan tepat serta sama sekali tidak berlebihan.

Prinsip Kesepuluh Kadangkala sejumlah individu memiliki kemampuan luar biasa seperti yang terjadi pada sebagian besar kelompok makhluk. Jika sosok luar biasa itu mengungguli yang lain dalam hal kebaikan dan kesalehan, ia akan menjadi kebanggan bagi kalangannya. Jika tidak, ia akan menjadi peringatan yang menginformasikan bencana dan kesialan atas mereka. Masing-masing individu yang istimewa itu tumbuh sebagai sosok maknawi di setiap tempat di masyarakat. Yang lain berusaha meniru sikap dan perbuatannya seraya berusaha untuk mencapai tujuannya. Bisa jadi ada di antara mereka yang berhasil meniru satu amal perbuatannya. Jadi, persoalannya dari sisi logika adalah persoalan adanya “kemungkinan” bagi adanya sosok luar biasa semacam itu di setiap tempat secara tersembunyi. Artinya, dengan amalnya ini ia menjadi sosok universal. Yakni, amal semacam ini bisa dan mungkin menghasilkan buah seperti itu.

Dengan contoh di atas, perhatikan sejumlah hadis Nabi yang maknanya kurang lebih seperti ini, “Siapa yang salat dua rakaat ini, ia akan mendapatkan pahala haji.”(*17)Yakni, pahala salat dua rakaat di waktu tertentu bisa menyerupai pahala haji. Ini adalah hakikat yang pasti. Jadi, bisa saja salat dua rakaat itu mengandung makna di atas.Hanya saja, ia tidak selalu demikian dan tidak berlaku secara umum. Pasalnya, agar diterima ada sejumlah syarat tertentu yang harus dipenuhi. Karena itu, riwayat semacam di atas tidak berlaku umum. Ia bisa bersifat sementara atau bisa pula hanya bersifat mungkin. Keumuman pada hadis semacam itu hanya dilihat dari sisi kemungkinannya.

Misalnya dalam riwayat disebutkan: “Gibah seperti membunuh”.(*18)Yakni, dengan perbuatan gibah seseorang bisa menjadi racun yang mematikan. Contoh lainnya adalah: “Ungkapan yang baik adalah sedekah seperti membebaskan budak.”(*19)

Hikmah penyebutan hadis-hadis dalam bentuk seperti itu adalah untuk mengungkapkan kemungkinan terjadinya sifat maknawi yang sempurna pada setiap tempat dan dalam bentuknya yang bersifat mutlak. Sebab, ia sangat ampuh dalam memberikan motivasi dan ancaman, serta lebih mendorong jiwa untuk mau melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan.

Kemudian urusan alam abadi tidak bisa diukur dengan ukuran alam kita saat ini. Sebab, milik kita yang paling besar bisa jadi adalah sesuatu yang paling kecil di sana. Nah, karena pahala amal saleh mengarah kepada alam abadi tersebut, maka pandangan duniawi kita yang sempit tidak mampu menjangkaunya. Kita tidak mampu memahaminya dengan akal kita yang terbatas. Misalnya, terdapat riwayat yang menjadi perhatian orang-orang yang tidak cermat dan tidak objektif dalam memberikan penilaian. Riwayat tersebut berbunyi, “Siapa yang membaca ini ia akan mendapat pahala seperti pahala nabi Musa dan nabi Harun .” Yaitu:مَن۟ قَرَاَ هٰذَا اُع۟طِىَ لَهُ مِث۟لُ ثَوَابِ مُوسٰى وَ هَارُونَ اَل۟حَم۟دُ لِلّٰهِ رَبِّ السَّمٰوَاتِ وَ رَبِّ ال۟اَرَضٖينَ رَبِّ ال۟عَالَمٖينَ، وَلَهُ ال۟كِب۟رِيَاءُ فِى السَّمٰوَاتِ وَال۟اَر۟ضِ وَ هُوَ ال۟عَزٖيزُ ال۟حَكٖيمُ ۝ اَل۟حَم۟دُ لِلّٰهِ رَبِّ السَّمٰوَاتِ وَ رَبِّ ال۟اَرَضٖينَ رَبِّ ال۟عَالَمٖينَ، وَلَهُ ال۟عَظَمَةُ فِى السَّمٰوَاتِ وَال۟اَر۟ضِ وَ هُوَ ال۟عَزٖيزُ ال۟حَكٖيمُ ۝ وَلَهُ ال۟مُل۟كُ رَبُّ السَّمٰوَاتِ وَ هُوَ ال۟عَزٖيزُ ال۟حَكٖيمُ

Hakikat dari hadis-hadis yang menggugah pikiran tersebut dan yang sejenisnya adalah sebagai berikut: Kita tidak memahami sejauh mana pahala yang didapat oleh Nabi Musa dan Nabi Harun kecuali sesuai dengan persespsi kita, sesuai dengan paradigma kita yang sempit, serta sesuai pandangan kita yang terbatas. Karena itu, hakikat pahala yang diraih oleh hamba yang sangat lemah dari Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Pemberi rahmat lewat membaca wirid di atas pada kehidupan yang kekal abadi bisa sesuai dengan pahala kedua nabi agung itu yang kita asumsikan dengan akal kita yang terbatas. Hal itu sesuai dengan wilayah pengetahuan dan cakrawala berpikir yang kita miliki.

Dalam hal ini, kita seperti orang badui yang belum pernah melihat raja dan tidak memahami keagungannya. Dalam pandangan dan pikirannya yang sempit, raja adalah sosok seperti syekh yang ada di kampung atau sedikit lebih tua darinya. Bahkan di bagian Timur Anatolia terdapat orang-orang kampung yang polos yang berkata, “Raja duduk di dekat tungku dan mengawasi masakannya sendiri.” Artinya, asumsi orang badui tentang keagungan raja tidak lebih dari sosok pemimpin batalion tentara. Jika dikatakan kepada mereka, “Apabila engkau melakukan pekerjaan ini untukku, aku akan menjadikanmu sebagai raja,” yaitu laksana pemimpin batalion, maka perkataan ini benar. Sebab, raja dalam pandangan dan pikiran si pendengar hanya laksana pemimpin batalion.

Demikianlah, kita nyaris tidak memahami berbagai hakikat yang terkait dengan pahala amal yang mengarah pada akhirat dengan akal kita yang sempit dan pandangan kita yang terbatas seperti orang badui tadi. Pasalnya, kandungan hadis Nabi tersebut bukan dalam rangka membuat perbandingan antara pahala hakiki yang didapatkan Musa dan Harun yang tidak kita ketahui, dengan pahala yang didapat oleh hamba yang membaca wirid di atas. Sebab, kaidah tasybih adalah menganalogikan yang tak diketahui dengan sesuatu yang diketahui. Yakni, membandingkan antara pahala keduanya “yang kita ketahui” sesuai dengan persepsi kita, dengan pahala hakiki sang hamba pembaca wirid di atas “yang tidak kita ketahui”.

Kemudian, bayangan matahari yang terpantul dari permukaan laut dan tetesan air adalah sama. Perbedaannya terletak pada kualitasnya saja. Keduanya memantulkan bayangan dan cahaya matahari. Karena itu, ruh Musa dan Harun yang merupakan cermin bening laksana lautan memantulkan esensi pahala seperti pantulan ruh hamba pezikir tadi yang laksana tetesan air. Pahala keduanya sama dilihat dari sisi esensi dan kuantitas.

Namun berbeda dari sisi kualitas. Sebab, masingmasing sesuai dengan potensinya.Selanjutnya, pengulangan zikir dan tasbih tertentu atau pembacaan sebuah ayat bisa membuka pintu rahmat dan kebahagiaan di mana ia tidak bisa dibuka oleh ibadah selama enam puluh tahun. Artinya, terdapat sejumlah kondisi di mana satu ayat di dalamnya memberikan sejumlah manfaat seperti yang dimiliki keseluruhan al-Qur’an.

Lalu, limpahan karunia ilahi yang tampak pada Rasul x dengan membaca satu ayat bisa menyamai limpahan karunia ilahi yang sempurna yang diberikan pada nabi lain. Sebab, Nabi x adalah tempat menifestasi Ismul a’zham (nama Allah yang paling agung). Jika ada yang berkata bahwa hamba yang berzikir bisa mendapatkan hembusan naungan Ismul a’zham berkat pewarisan kenabian dan memperoleh pahala sesuai dengan potensi penerimaannya seperti karunia yang diberikan pada nabi yang lain, maka hal ini sama sekali tidak berseberangan dengan hakikat yang ada.

Kemudian, pahala dan upah berasal dari alam cahaya yang kekal di mana satu alam darinya bisa terhimpun pada satu benih, sama seperti bayangan matahari dengan semua bintangnya terhimpun dan terlihat pada satu potong kaca kecil. Demikianlah, membaca satu ayat atau zikir tertentu dengan niat yang ikhlas bisa melahirkan kebeningan di dalam jiwa—laksana kaca—di mana ia dapat menyerap pahala berkilau seperti langit yang luas.

Kesimpulan: Wahai yang mengkritik dan mencela segala sesuatu secara gegabah, wahai pemilik iman yang rapuh dan pemikir yang dipenuhi oleh filsafat materialisme, sadarlah! Perhatikan kesepuluh prinsip di atas. Jangan engkau menunjukkan keberatanmu terhadap sejumlah hadis Nabi di mana hal itu berarti mencederai kemaksuman beliau dengan dalih adanya sesuatu yang tidak realistis dalam satu riwayat.Kesepuluh prinsip di atas berikut ranah penerapannya paling tidak membuatmu tidak lagi bersikap ingkar dan menolak. Selanjutnya ia menegaskan bahwa kalaupun ada ketimpangan atau kekurangan, maka hal itu kembali pada diri kita (kepada prinsip yang ada); bukan kepada hadisnya. Jika ia sulit dipahami, maka hal itu karena pemahamanmu yang keliru.

Jadi, orang yang terus bersikap ingkar dan menolak, ia harus menyanggah kesepuluh prinsip di atas. Jika tidak, maka ia tidak bisa mengingkari.Jika engkau benar-benar jujur dan objektif, cermati kesepuluh prinsip tersebut. Setelah itu, jangan mengingkari hadis Nabi yang menurut akalmu tidak realistis. Namun katakan, “Barangkali ada penjelasan, interpretasi, dan keterangan tentangnya.” Lalu jangan engkau keberatan dalam menerimanya.

Prinsip Kesebelas Sebagaimana dalam al-Qur’an terdapat sejumlah ayat mutasyabihat yang membutuhkan takwil atau menuntut sikap menerima secara mutlak, demikian pula dalam hadis Nabi x terdapat sejumlah persoalan yang juga membutuhkan penafsiran dan keterangan yang cermat. Berbagai contoh di atas sudah cukup untukmu.

Ya, orang yang terjaga dapat menjelaskan mimpi orang yang tidur, sementara orang tidur yang mendengar orang-orang yang terjaga di sekitarnya kadang mewujudkan perkataan mereka lewat satu bentuk dalam tidurnya sehingga menjelaskan sesuai dengan kondisinya di saat tidur.Wahai yang ditidurkan oleh kelalaian dan filsafat materialisme, wahai yang tidak objektif, sosok yang Allah katakan:“Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihat dan tidak (pula) melampauinya” (QS. an-Najm [53]: 17), dan yang bercerita tentang dirinya: “Kedua mataku tidur; namun kalbuku tidak tidur”(*20)benar-benar dalam kondisi terjaga. Jangan mengingkari apa yang beliau lihat. Namun terangkanlah ia, temukan penjelasannya dalam tidurmu, dan carilah tafsirannya. Sebab, andaikan seekor nyamuk menggigit orang yang tidur, maka pengaruhnya tampak padanya seolah-olah ia terluka dalam perang. Ketika diminta penjelasan setelah ia bangun, tentu ia akan berkata, “Ya, aku terlibat dalam perang berdarah. Senjata itu telah mengenai diriku.” Sementara orang-orang yang terjaga di sekitarnya menjadikan hal itu sebagai bahan ejekan. Jadi, pandangan orang lalai yang sedang tidur dan pemikiran filsafat materialisme sama sekali tidak mungkin menjadi tolok ukur untuk menilai hakikat kenabian.

Prinsip Kedua Belas Pandangan kenabian, tauhid, dan iman melihat berbagai hakikat dalam cahaya uluhiyah, akhirat, dan kesatuan alam. Pasalnya, ia mengarah kepadanya. Adapun ilmu empiris dan filsafat modern melihat segala sesuatu dari sisi sebab-sebab materi yang demikian banyak karena mengarah kepadanya. Nah, jarak antara kedua sudut pandang itu sangat jauh. Bisa jadi tujuan yang sangat besar dan tinggi bagi ahli filsafat, ternyata sangat remeh dan nyaris tak terlihat jika diukur dengan berbagai tujuan para ulama ushul dan ilmu kalam.

Karena itu, ilmuwan empiris telah mendapatkan banyak kemajuan dalam mengenali sejumlah detail entitas, namun sangat tertinggal bahkan dari kaum beriman yang sangat sederhana dan paling sedikit ilmunya dalam masalah ilmu hakiki, yaitu teologi dan pengetahuan tentang akhirat.Orang-orang yang tidak memahami rahasia ini mengira bahwa para ulama Islam tertinggal dari ilmuwan alam dan filsuf. Padahal, orang yang akalnya turun ke mata, lalu hanya memikirkan apa yang mereka lihat, serta tenggelam dalam pluralitas makhluk, sedikit pun tidak mendekati derajat pewaris para nabi yang telah mencapai berbagai tujuan ilahi yang mulia dan tinggi.

Selanjutnya, jika melihat dari dua sudut pandang yang berbeda, tentu melahirkan dua hakikat yang juga berbeda. Bisa jadi keduanya sama-sama benar. Dan yang pasti, hakikat ilmiah yang benar tidak akan bertentangan dengan hakikat nas al-Qur’an yang suci. Pasalnya,tangan ilmu empiris yang terbatas tak mampu mencapai tepi berbagai hakikat al-Qur’an yang mulia. Kami akan memberikan contoh sebagai berikut:

Menurut para ilmuwan, bola bumi merupakan salah satu planet yang memiliki ukuran sedang yang berputar mengitari matahari. Namun jika dibandingkan dengan planet dan bintang lain yang jumlahnya tak terhingga, ukuran bumi sangat kecil.Adapun jika kita melihat bola bumi dengan perspektif al-Qur’an, hakikatnya sebagaimana dijelaskan dalam “Kalimat Kelima Belas”, yaitu sebagai berikut:Manusia yang merupakan buah alam yang paling halus, salah satu mukjizat komprehensif milik Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahabijak, serta makhluk yang paling menakjubkan dan paling mulia meskipun sangat lemah dan papa. Manusia tersebut hidup di atas bumi ini. Jadi, bumi merupakan buaian dan tempat tinggal manusia. Meskipun kecil dan remeh jika dibandingkan dengan berbagai lapisan langit, namun demikian agung dan mulia dilihat dari sisi makna, substansi, dan kreasinya. Sehingga dengan perspektif al-Qur’an, bumi merupakan jantung dan pusat alam dilihat dari sisi nilai. Ia merupakan galeri seluruh ciptaan yang menakjubkan; tempat manifestasi seluruh Asmaul Husna sehingga ia laksana titik pusat seluruh cahaya; tempat dan cermin berkumpulnya seluruh perbuatan ilahi; serta pasar luas yang memperlihatkan kreasi ilahi yang bersifat mutlak, terutama penciptaan tumbuhan dan hewan yang sangat cermat dalam jumlah yang banyak dengan segala kemurahan. Ia juga merupakan miniatur dari ciptaan alam akhirat yang luas; pabrik yang bekerja dengan sangat cepat untuk memproduksi berbagai produk yang kekal; tempat pertunjukan seluruh model pemandangan abadi yang senantiasa berganti dengan sangat cepat; serta ladang sempit dan temporer untuk menumbuhkan benih-benih kecil yang cepat besar untuk kebun abadi yang indah.

Karena semua itu, al-Qur’an memosisikan bumi sebagai saudara kandung langit dilihat dari esensinya yang agung dan kreasinya yang urgen. Ia laksana buah kecil dari sebuah pohon besar. Ia juga laksana jantung kecil dari tubuh yang besar. Maka, al-Qur’an selalu menyebutnya bergandengan dengan langit. Bumi di satu sisi dan seluruh langit di sisi yang lain. Berulang-ulang al-Qur’an menegaskan:“Tuhan Pemelihara langit dan bumi.”

Demikianlah, Anda bisa menganalogikan seluruh persoalan dengan cara yang sama. Lalu pahamilah bahwa berbagai hakikat filsafat yang tak bernyawa dan pudar tidak mungkin berbenturan dengan hakikat al-Qur’an yang hidup dan bersinar. Keduanya merupakan hakikat. Hanya saja, perbedaan terletak pada sudut pandang sehingga hakikat yang tampak menjadi sangat berbeda.

DAHAN KEEMPAT

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia. Lalu banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Barangsiapa yang dihinakan Allah tidak seorangpun yang memuliakannya. Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. al-Hajj: 18).

Kami akan menjelaskan satu permata saja dari khazanah ayat di atas yang sangat besar dan luas,

yaitu bahwa al-Qur’an al-Hakim menegaskan bahwa segala sesuatu mulai dari arasy hingga alas, dari malaikat hingga ikan, dari galaksi hingga serangga, dari planet hingga atom, semuanya bersujud kepada Allah. Mereka beribadah, memuji,dan menyucikan-Nya. Hanya saja, ibadah makhluk-makhluk tersebut berbeda dan beragam. Masing-masing sesuai dengan potensi dan kemampuannya dalam menerima manifestasi Asmaul Husna. Di sini kami ingin menjelaskan keragaman ibadah makhluk dengan sebuah perumpamaan:

Misalnya seorang raja agung dan penguasa besar mempekerjakan empat jenis pekerja dalam membangun sebuah istana atau kota.

Jenis pertama adalah para budaknya. Jenis ini tidak dibayar dan tidak diberi upah, tetapi mereka mendapatkan satu sentuhan kelembutan. Mereka merasakan puncak kerinduan pada setiap pekerjaan yang mereka tunaikan lewat perintah sang majikan. Lebih dari itu, mereka semakin senang dan rindu ketika mendengar pujian terhadap tuan mereka. Mereka sudah cukup merasa bangga dengan menisbatkan diri kepada tuan mereka. Selain itu, terdapat kenikmatan maknawi saat amal yang mereka lakukan atas nama raja diawasi. Mereka tidak membutuhkan upah, pangkat dan gaji.

Jenis kedua adalah para pelayan biasa. Mereka tidak tahu mengapa harus bekerja. Yang jelas sang raja yang mempekerjakan mereka dan mengarahkan mereka untuk bekerja dengan pikiran dan pengetahuannya. Lalu raja memberi mereka upah kecil yang sesuai dengan kondisi mereka. Para pelayan itu tidak mengetahui tujuan komprehensif dan kemaslahatan besar yang bisa dihasilkan dari pekerjaan mereka, sehingga sebagian orang mengira bahwa mereka bekerja hanya untuk mendapatkan upah semata.

Jenis ketiga adalah hewan yang dimiliki oleh sang raja agung itu. Ia mempekerjakannya dalam membangun istana dan kota. Sang raja tidak memberinya apa-apa kecuali hanya makanannya saja. Hewan tersebut merasa nikmat dalam melaksanakan tugas yang sesuai dengan potensinya, sebab ketika potensi yang ada di pergunakan secara maksimal, yang terasa adalah kelapangan dan ia melahirkan kenikmatan. Kenikmatan yang terdapat dalam berbagai aktivitas bersumber dari rahasia ini. Maka, upah untuk kelompok pelayan ini berupa makanan mereka berikut kenikmatan maknawi yang mereka rasakan. Keduanya sudah cukup bagi mereka.

Jenis keempat adalah pekerja yang mengetahui apa yang mereka kerjakan, mengapa mereka mengerjakannya, dan untuk siapa mereka bekerja. Di samping itu, mereka juga mengetahui mengapa yang lain ikut bekerja, apa tujuan sang raja, serta mengapa ia mendorong semuanya untuk bekerja. Jenis pekerja ini memimpin dan mengawasi para pekerja yang lain. Mereka mendapatkan gaji dan upah sesuai dengan tingkatan dan jenjang karir mereka.

Sama seperti perumpamaan di atas, Pemilik langit dan bumi yang Mahaagung, Pembangun dunia dan akhirat yang Mahaindah di mana Dia merupakan Tuhan semesta alam mempekerjakan malaikat, hewan, benda mati, tumbuhan, serta manusia di istana alam ini dalam wilayah sebab-akibat. Dia mendorong mereka untuk beribadah bukan untuk kebutuhan-Nya karena Dia adalah Sang Pencipta, namun untuk memperlihatkan kemuliaan, keagungan, rububiyah-Nya serta berbagai hikmah sejenis.

Demikianlah Dia menugaskan keempat jenis makhluk dengan empat model ibadah yang berbeda-beda.

Jenis pertama: mereka yang berposisi sebagai budak atau hamba. Mereka adalah para malaikat. Mereka tidak memiliki tingkatan dalam mujahadah. Pasalnya, setiap mereka memiliki kedudukan dan tingkatan tertentu yang tetap. Namun mereka memiliki cita rasa khusus dalam melakukan pekerjaan. Mereka menyambut limpahan karunia ilahi sesuai dengan derajat mereka dalam ibadah yang mereka lakukan.Artinya upah pelayanan mereka terdapat dalam pekerjaan yang mereka lakukan. Sebagaimana manusia menikmati air, udara, cahaya, dan makanan, malaikat juga mengonsumsi dan menikmati cahaya zikir, tasbih, pujian, ibadah, makrifat, dan cinta karena mereka tercipta dari cahaya. Jadi, cahaya sudah cukup menjadi nutrisi mereka. Bahkan berbagai aroma yang baik dan dekat dengan cahaya merupakan jenis nutrisi lain yang membuat mereka senang.Ya, ruh-ruh yang baik menyenangi aroma yang baik.

Selanjutnya malaikat memiliki kebahagiaan yang besar, bahkan ke tingkat yang tak mampu dijangkau oleh akal manusia dan tidak bisa diketahui kecuali oleh malaikat itu sendiri. Hal itu terdapat pada amal yang mereka kerjakan dengan perintah Tuhan, berbagai pekerjaan yang mereka lakukan di jalan-Nya, pelayanan yang mereka tunaikan atas nama-Nya, pengawasan yang mereka lakukan dengan tatapan- Nya, kemuliaan yang mereka raih dengan menisbatkan diri pada-Nya, kesucian yang mereka peroleh dengan menelaah kerajaan dan malakut-Nya, serta kenikmatan yang mereka dapatkan dengan menyaksikan manifestasi keindahan dan keagungan-Nya.

Sebagian malaikat adalah para abid, sementara yang lain menunaikan ibadah mereka dalam pekerjaan yang ditunaikan. Kelompok malaikat bumi yang bekerja bisa dikatakan menyerupai manusia. Di antara mereka ada yang menunaikan tugas menggembala hewan. Mereka adalah para penggembala. Yang lain mengawasi berbagai tumbuhan bumi. Mereka adalah para petani. Artinya permukaan bumi merupakan ladang umum yang diawasi oleh malaikat yang dipercayakan atasnya. Ia mengawasi seluruh jenis hewan yang melata di muka bumi lewat perintah, izin, rida, dan kekuatan Sang Pencipta Yang Mahaagung. Terdapat pula malaikat yang lebih kecil yang ditugaskan mengembala setiap jenis hewan secara khusus.

Karena muka bumi merupakan ladang; tempat menanam berbagai jenis tanaman, maka terdapat malaikat yang ditugaskan mengawasi seluruh tanaman tersebut dengan nama Allah dan dengan kekuatan-Nya. Lalu terdapat malaikat yang mengawasi seluruh kelompok tumbuhan. Demikianlah, terdapat sejumlah malaikat pengawas. Malaikat Mikail yang merupakan pemikul arasy ar-Razzâqiyah merupakan pengawas tertinggi atas seluruh malaikat yang telah disebutkan di atas.

Para malaikat yang berkedudukan seperti pengembala dan petani berbeda dengan manusia. Sebab, pengawasan mereka atas berbagai urusan merupakan amal yang dilakukan secara tulus di jalan Allah, atas nama-Nya, dengan kekuatan-Nya dan berdasarkan perintah-Nya. Bahkan pengawasan mereka adalah berupa menyaksikan sejumlah manifestasi rububiyah pada jenis yang pengawasannya diserahkan kepada mereka, menelaah manifestasi qudrah dan rahmat-Nya, menunaikan ilham perintah ilahi yang diberikan padanya, melaksanakan aktivitas yang menyerupai penataan pada sejumlah perbuatannya yang bersifat ikhtiyariyah.

Terutama pengawasan atas berbagai tanaman yang terdapat di ladang bumi, mewujudkan tasbih maknawinya, mengungkapkan penghormatan terhadap Penciptanya yang mulia dengan lisan malaikat, di samping mempergunakan semua perangkat yang diberikan padanya dengan baik sekaligus mengarahkannya pada berbagai tujuan tertentu seraya melakukan semacam penataan di dalamnya.

Berbagai pelayanan yang ditunaikan malaikat dianggap sebagai bentuk bagian kehendaknya. Bahkan ia merupakan bentuk ibadah dan ubudiyahnya. Sebab, mereka tidak memiliki kemampuan hakiki karena segala sesuatu memiliki stempel khusus milik Tuhan Pencipta segala sesuatu. Tidak mungkin selain-Nya bisa ikut campur dalam penciptaan.Artinya, bentuk amal perbuatan malaikat ini merupakan ibadah mereka. Ia bukan tradisi dan kebiasaan seperti yang dilakukan manusia.

Jenis kedua: para pekerja di istana alam, yaitu hewan atau binatang.Karena hewan memiliki selera dan kehendak yang bersifat parsi-al, maka amal perbuatan mereka tidak murni untuk Allah, tetapi mereka juga mengambil bagian dan memperhatikan kecenderungannya dari amal yang dilakukan. Karena itu, Sang penguasa kerajaan Yang Mahaagung dan Pemurah memberikan upah dan gaji kepada hewan sebagai balasan atas perbuatannya. Hal itu untuk menenangkan dan memuaskan jiwa mereka.Misalnya burung bulbul yang dikenal menyukai mawar dan bunga.(*21) Sang Pencipta Yang Maha Mulia mempekerjakan burung kecil itu untuk lima tujuan:

Pertama, ia diberi perintah dan tugas atas nama rombongan hewan untuk memperlihatkan kuatnya hubungan dengan berbagai jenis tumbuhan.

Kedua, ia ditugaskan mengungkap rasa senang sekaligus menyambut hadiah yang diberikan oleh Sang Maha Pemberi rezeki Yang Maha Pemurah di mana ia menjadi mitra bicara Tuhan yang dengan kicauannya meminta rezeki untuk para hewan—tamu Tuhan—yang membutuhkannya.

Ketiga, memperlihatkan sambutan yang baik di hadapan seluruh tumbuhan sebagai ekspresi bahwa tumbuhan itu dikirim sebagai karunia bagi kalangan burung dan hewan sepertinya.

Keempat, menjelaskan betapa hewan sangat membutuhkan tumbuhan sampai pada tingkat di mana ia menyenangi wajah indahnya seraya menampakkan hal itu di hadapan para saksi.

Kelima, mempersembahkan tasbih terhangat ke hadirat rahmat Tuhan Penguasa kerajaan Yang Mahaagung dan Pemurah dalam nuansa kerinduan dan cinta yang paling halus serta pada wajah yang paling indah; berupa mawar.

Demikianlah, terdapat sejumlah makna lain yang serupa dengan lima tujuan di atas.Berbagai makna dan tujuan tersebut merupakan tujuan dari pekerjaan bulbul yang ditunaikan untuk Allah . Burung bulbul berkicau dengan bahasanya, sementara kita memahami makna-makna di atas lewat irama sedihnya seperti yang dipahami oleh malaikat dan makhluk ruhaniyyûn lainnya. Tidak adanya pemahaman yang sempurna dari bulbul terhadap iramanya sendiri tidak menjadi penghalang bagi kita untuk memahami hal tersebut. Ada satu ungkapan terkenal yang berbunyi, “Bisa jadi pendengar lebih paham daripada si pembicara.”Kemudian ketidaktahuan bulbul terhadap berbagai tujuan itu secara detail tidak menunjukkan ketiadaannya. Paling tidak ia seperti jam yang memberitahukan tentang waktu, padahal ia tidak mengetahui apa yang sedang ia lakukan. Maka, ketidaktahuannya tidak mempengaruhi pengetahuanmu.

Adapun upah dan balasan untuk bulbul berupa cita rasa yang ia dapatkan dari penyaksian terhadap senyum bunga yang indah dan kenikmatan yang ia peroleh dari berdialog dengannya.Artinya, irama sedih dan suara halusnya bukan merupakan keluhan yang bersumber dari kepedihan, tetapi ia merupakan bentuk syukur, pujian, dan sanjungan terhadap karunia Tuhan.

Hal yang sama berlaku pada lebah, laba-laba, semut, kutu dan hewan kecil lainnya. Masing-masing memiliki tujuan yang sangat banyak dalam pekerjaannya. Di dalam pekerjaan tersebut terdapat cita rasa dan kenikmatan khusus sebagai upah dan balasannya. Mereka melayani sejumlah tujuan mulia untuk kreasi ilahi lewat cita rasa tadi. Sebagaimana pekerja sederhana dalam sebuah kapal raja memperoleh upah, demikian pula hewan-hewan yang melakukan tugas ilahi. Mereka semua mendapatkan upahnya.

Pelengkap untuk Pembahasan Bulbul

Selanjutnya, jangan mengira bahwa tugas ilahi dalam mengungkap, menunjukkan, dan mendendangkan tasbih hanya milik bulbul. Akan tetapi, setiap spesies dari sebagian besar spesies makhluk serupa dengan bulbul. Mereka mengekspresikan perasaan paling halus spesiesnya serta berdendang dengan tasbih dan sajak yang paling lembut. Terutama berbagai jenis kutu dan serangga. Bulbul mereka sangat banyak dan beragam. Seluruh pemilik pendengaran yang memperhatikan hewan tersebut, mulai dari yang paling kecil sampai yang paling besar, bisa menikmatinya. Ditebarkan di hadapan mereka sejumlah tasbihnya dalam bentuk yang paling indah.

Sebagian dari hewan tersebut beraktivitas di waktu malam. Di malam yang tenang dan di tengah alam yang sepi mereka menjadi sahabat, kekasih, pembuat narasi bagi para hewan kecil yang sedang diam. Masing-masing bulbul itu laksana pemimpin di majelis zikir tersembunyi yang terdapat di tengah-tengah majelis di mana setiap anggotanya mulai terdiam dan tenang karena mendengar satu bentuk zikir dan tasbih dengan hati yang tenteram kepada Penciptanya.

Kelompok lain dari bulbul beraktivitas di siang hari. Di terik siang mereka memperlihatkan rahmat Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang di atas mimbar pohon dan di hadapan para makhluk. Mereka mendendangkannya. Terutama di musim panas dan musim semi. Dengan kicau yang lembut, nyanyian yang indah, dan tasbih bersajak mereka mengungkapkan rasa rindu dan cinta kepada setiap pendengarnya sehingga si pendengar segera berzikir menyebut Penciptanya lewat lisan khususnya.Artinya, setiap jenis entitas memiliki bulbul sendiri. Ia adalah pemimpin majelis zikir milik mereka. Bahkan bintang-gemintang di langit juga memiliki bulbul khusus yang dengan cahayanya bernyanyi dan berdendang.

Akan tetapi, bulbul yang paling baik, paling mulia, paling bersinar, paling agung, yang paling indah suaranya, paling sempurna zikirnya, paling komprehensif zikirnya, serta paling bagus bentuknya adalah yang memunculkan rasa cinta dan rindu di bumi dan langit yang tinggi di kebun alam yang besar ini lewat sajaknya yang lembut, sikap merendahnya yang nikmat, dan tasbihnya yang mulia. Ia merupakan bulbul agung jenis manusia di kebun alam.

Yaitu bulbul al-Qur’an milik umat manusia, Muhammad x sosok yang amanah ‘Baginya dan keluarganya, serta bagi para nabi salawat terbaik dan salam terindah!’

Kesimpulan: Hewan-hewan pengabdi di istana alam menunaikan perintah penciptaan secara sempurna. Mereka memperlihatkan berbagai tujuan yang terdapat dalam fitrahnya dalam bentuk yang paling indah dengan nama Allah. Tasbih mereka berupa penunaian sejumlah tugas kehidupan dalam bentuk yang paling menakjubkan dengan kekuatan dari Allah serta dalam mengerahkan upaya dalam beramal. Ibadah mereka berupa hadiah dan penghormatan yang mereka berikan kepada Sang Pencipta Yang Mahaagung Dzat yang telah memberi kehidupan.

Jenis ketiga adalah tumbuhan dan benda-benda tak bernyawa. Mereka adalah pekerja yang tak mendapat gaji dan upah karena bekerja tanpa kehendak dan keinginan sendiri. Amal perbuatan mereka tulus untuk Allah dan terwujud murni karena kehendak-Nya, dengan nama-Nya, di jalan-Nya, dan dengan kekuatan-Nya. Hanya saja, yang dapat dirasakan dari kondisi tumbuhan bahwa mereka memiliki satu bentuk kenikmatan dalam menunaikan tugas penyerbukan, menumbuhkan, dan menghasilkan buah. Namun, ia tidak pernah merasa sakit. Berbeda dengan hewan yang memiliki rasa sakit bercampur dengan kenikmatan yang ada karena memiliki kehendak. Nah, karena dalam pekerjaaan tumbuhan dan makhluk tak bernyawa tidak ada rasa sakit, maka jejak dan pengaruh keduanya lebih sempurna daripada hewan. Misalnya, pada lebah yang tersinari oleh wahyu dan ilham Tuhan. Pekerjaan yang mereka lakukan lebih rapi dan sempurna daripada hewan lain yang bersandar pada bagian dari kehendaknya.

Setiap kelompok tumbuhan di ladang bumi meminta dan menyeru Penciptanya Yang Mahabijak lewat lisan hal dan potensinya dengan berkata, “Wahai Tuhan kami, berikan kekuatan pada kami agar kami bisa menancapkan panji kelompok kami di seluruh muka bumi guna memperlihatkan keagungan rububiyah-Mu lewat lisan kami. Wahai Tuhan, beri kami taufik untuk beribadah kepada-Mu di setiap sudut masjid bumi ini. Beri kami kemampuan untuk bisa berjalan di setiap sisi galeri bumi guna menampakkan ukiran nama-nama-Mu yang mulia dan kreasi-Mu yang menakjubkan.”

Tuhan Pencipta Yang Mahabijak menjawab doa maknawi tumbuhan tersebut. Dia memberi kepada benih kelompoknya sejumlah sayap dahan yang halus agar bisa terbang ke setiap tempat sehingga orang yang melihatnya dapat membaca nama Allah yang mulia seperti yang terdapat pada sebagian besar tumbuhan berduri dan sebagian benih bunga yang berwarna kuning. Dia juga memberikan kepada yang lain satu untaian indah yang dibutuhkan dan disenangi oleh manusia sehingga membuat manusia menjadi pelayannya. Manusia menanamnya di setiap tempat. Selain itu, Dia memberi kepada kelompok yang lain sesuatu yang menyerupai tulang di mana ia dibungkus dengan sesuatu yang menyerupai daging yang disukai oleh hewan sehingga disebarkan ke seluruh pelosok bumi. Lalu Dia memberi kepada sebagian yang lain sejumlah duri halus yang bergantung pada sesuatu lewat sentuhan yang paling lembut. Dengan itu, tumbuhan bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain seraya menebarkan panji kelompoknya.Begitulah cara tumbuhan menyebarkan kreasi Allah yang menakjubkan. Dia juga memberikan kepada sebagian yang lain satu “kotak” yang penuh dengan benih yang ketika matang dilemparkan ke jarak sekian meter.

Dengan cara yang sama sejumlah tumbuhan menyuarakan beragam bahasa untuk menyebut dan menyucikan Sang Pencipta Yang Maha Mulia. Sang Pencipta Yang Mahabijak, Mahakuasa, dan Maha Mengetahui telah menciptakan segala sesuatu dalam bentuk terbaik dan dalam keteraturan yang paling sempurna. Dia membekalinya dengan perangkat terbaik, mengarahkannya kepada arah yang paling tepat, menugaskannya dengan tugas yang paling sesuai sehingga sesuatu menunaikan tasbih yang paling utama dan paling indah serta melaksanakan ibadah dalam bentuk yang paling baik.Wahai manusia, jika engkau manusia sejati, jangan memasukkan unsur alam, kebetulan, kesia-siaan, dan kesesatan dalam berbagai urusan indah tersebut. Jangan merusak keindahannya dengan perbuatan burukmu sehingga ia menjadi buruk pula.

Jenis keempat adalah manusia. Manusia yang merupakan salah satu jenis pelayan yang bekerja di istana ini, istana alam, menyerupai malaikat dari satu sisi, tetapi dari sisi lain ia menyerupai hewan. Ia menyerupai malaikat dalam hal ibadah, integralitas pengawasan dan pengetahuan, serta dalam kondisinya sebagai penyeru kepada rububiyah-Nya yang agung. Bahkan manusia lebih komprehensif daripada malaikat karena membawa jiwa yang jahat dan berisi syahwat; berbeda dengan malaikat. Di hadapannya juga terdapat dua jalan yang boleh ia pilih. Ia bisa naik ke tempat yang mulia atau bisa jatuh terpuruk. Sementara sisi manusia yang serupa dengan hewan adalah bahwa dalam bekerja manusia mengharap bagian untuk dirinya. Karena itu, manusia memiliki dua ganjaran dan upah: Pertama, seperti upah hewan yang bersifat parsial dan secara kontan.Kedua, seperti upah malaikat yang bersifat komprehensif dan tertunda.

Pada “Kalimat Dua Puluh Tiga” sebelumnya, kami telah menyebutkan sebagian dari upah dan ganjaran manusia berikut tugas, serta tingkatan naik dan turunnya. Terutama pada “Kalimat Kesebelas” dan “Kedua Puluh Tiga”. Pada keduanya terdapat penjelasan yang rinci, karenanya pembahasan tentang hal ini kami persingkat dan kami cukupkan seraya berdoa kepada Tuhan Yang Mahatinggi dan Mahakuasa agar Dia membukakan pintu-pintu rahmat-Nya kepada kita dan agar memberikan taufik untuk bisa menyempurnakan kalimat ini. Semoga Dia mengampuni dosa dan kesalahan kita.

DAHAN KELIMA

Dahan ini memiliki lima buah:

Buah pertama

Wahai jiwa yang mencintai dirinya sendiri! Wahai temanku yang mencintai dunia!Ketahuilah bahwa cinta adalah sebab keberadaan seluruh entitas dan pengikat seluruh bagiannya. Ia adalah cahaya dan kehidupan alam. Ketika manusia merupakan salah satu buah alam yang paling komprehensif, maka dalam kalbunya yang merupakan benih buah tersebut ditanamkan rasa cinta yang mampu melingkupi seluruh entitas.Karena itu, rasa cinta tak terhingga itu hanya layak dimiliki sosok pemilik kesempurnaan tak terhingga pula.

Wahai jiwa dan temanku! Allah telah menanamkan dua perangkat dalam fitrah manusia agar keduanya menjadi sarana lahirnya rasa takut dan cinta. Cinta dan takut itu bisa mengarah kepada makhluk dan bisa pula kepada sang Khalik. Namun perlu diketahui bahwa takut kepada makhluk merupakan bencana yang menyakitkan serta cinta yang mengarah kepada mereka merupakan musibah yang merusak. Sebab, wahai manusia engkau takut kepada sosok yang tidak mencintaimu dan tidak mau mendengar keinginanmu untuk dikasihani. Jadi, rasa takut dalam kondisi demikian merupakan bencana yang menyakitkan.

Sementara terkait dengan cinta, maka apa yang kau cintai bisa jadi tidak mengenalmu sehingga pergi meninggalkanmu tanpa pamit, sebagaimana masa muda dan hartamu. Atau, ia bisa juga ia menghinakanmu karenanya. Tidakkah engkau melihat pada cinta majasi 99% orang mengeluhkan orang yang mereka cintai. Hal itu karena mencintai hal-hal duniawi yang menyerupai berhala—jika melihat batasan ibadah yang dilakukan dengan batin kalbu yang merupakan cermin nama Tuhan as-Shamad—adalah sangat berat dalam pandangan para kekasih itu. Sebab, fitrah menolak semua hal yang tidak fitri baginya. (Cinta yang dilandasi syahwat tidak termasuk dalam pembicaraan kita).

Artinya, sesuatu yang kau cintai bisa jadi tidak mengenalmu, menghinakanmu, atau tidak menyertaimu. Sebaliknya, ia akan berpisah dan meninggalkanmu. Jika demikian, arahkan cinta dan takut tadi kepada Dzat yang menjadikan takutmu sebagai sebuah kenikmatan dan cintamu menjadi sebuah kebahagiaan tanpa disertai kehinaan.

Ya, takut kepada Pencipta Yang Maha Mulia berarti menemukan jalan untuk mendapat kasih sayang dan rahmat-Nya guna menjadi sandaran. Takut dengan kondisi seperti itu adalah cambuk kerinduan yang mendorong manusia menuju rengkuhan kasih sayang-Nya. Sebab, seperti diketahui seorang ibu kadang menakut-nakuti anaknya agar mau berada dalam pelukannya.

Takut semacam itu sangat nikmat bagi anak tadi. Pasalnya, ia menarik dan mendorong sang anak menuju pelukan yang penuh kasih. Nah, perlu diketahui bahwa kasih sayang ibu tidak lain merupakan salah satu kilau rahmat ilahi. Artinya, dalam rasa takut kepada Allah terdapat kenikmatan besar. Jika takut kepada Allah mendatangkan kenikmatan semacam itu apalagi dengan rasa cinta pada-Nya.

Bukankah dapat dipahami betapa kenikmatan tak terkira tersimpan di dalamnya.Selanjutnya, orang yang takut kepada Allah akan selamat dari rasa takut kepada selain-Nya; yaitu dari rasa takut yang dipenuhi kekesatan dan bencana. Kemudian cinta yang manusia berikan kepada makhluk jika berada di jalan Allah, tentu tidak akan disertai dengan pedihnya perpisahan. Ya, pertama-tama manusia mencintai dirinya, kemudian karib-kerabatnya, lalu bangsanya. Setelah itu, seluruh makhluk hidup. Selanjutnya entitas dan dunia. Ia memiliki kaitan dengan semua wilayah tersebut. Ia bisa merasa nikmat dengan kenikmatan yang mereka rasakan dan merasa pedih dengan sakit yang mereka rasakan. Padahal tidak ada sesuatupun yang tetap di alam yang penuh dengan fitnah dan kekacauan ini. Di dalamnya terdapat berbagai hal yang menghancurkan. Karena itu, engkau dapat melihat kalbu manusia yang malang selalu terluka.Segala sesuatu yang ia pegang erat itulah yang membuatnya terluka akibat kepergiannya. Bahkan tangannya bisa terputus. Karena itu, manusia tidak pernah terhindar dari rasa gelisah. Bisa jadi ia melemparkan diri dalam kelalaian dan kealpaan.

Wahai jiwa, jika engkau berakal, kumpulkan seluruh jenis cinta itu dan serahkan kepada Pemiliknya yang hakiki, sehingga engkau selamat dari bencana yang ada.Berbagai jenis cinta tak terhingga itu hanya khusus untuk Pemilik kesempurnaan dan keindahan tak terhingga. Ketika engkau menyerahkannya kepada Pemiliknya yang hakiki, engkau akan bisa mencintai segala sesuatu atas nama-Nya yang merupakan cermin-Nya tanpa disertai rasa gelisah.Artinya, engkau tidak boleh mengarahkan cinta tersebut secara langsung kepada makhluk. Sebab, dengan begitu cinta tadi akan berubah menjadi bencana yang menyakitkan setelah sebelumnya berupa nikmat.

Selanjutnya, terdapat masalah lain yang lebih penting. Yaitu wahai jiwa, engkau mengarahkan cintamu kepada dirimu sendiri dan menjadikan dirimu sebagai sesuatu yang dicintai bahkan disembah. Engkau rela mengorbankan segala sesuatu untuknya seolah-olah engkau telah memberikan padanya satu bentuk rububiyah. Padahal, sebab munculnya rasa cinta bisa karena kesempurnaan yang memang disukai atau karena adanya manfaat, kenikmatan, keutamaan, atau sebab serupa lainnya yang melahirkan rasa cinta.

Sekarang wahai jiwa, dalam sejumlah “kalimat”, kami telah menegaskan secara meyakinkan bahwa esensi aslimu adalah adonan yang tersusun dari berbagai kekurangan, cacat, kefakiran, dan kelemahan. Sesuai dengan “hukum kebalikan” engkau menunaikan tugas cermin. Dengan cacat, kekurangan, kefakiran, dan kelemahan yang terdapat dalam dirimu engkau menampilkan kesempurnaan Sang Pencipta Yang Maha Mulia berikut keindahan, qudrah, dan rahmat-Nya sebagaimana kegelapan yang pekat memperjelas terangnya cahaya.

Wahai jiwa, engkau tidak boleh mencintai dirimu. Namun yang lebih tepat adalah memusuhinya, mengasihani kondisinya, dan menyayanginya setelah ia mencapai derajat muthmainnah.Jika engkau mencintai dirimu karena keberadaannya sebagai tempat munculnya kenikmatan dan manfaat lalu engkau senang dengan rasa nikmat dan manfaat tersebut, maka jangan sampai engkau mengutamakan kenikmatan itu sedikitpun atas kenikmatan dan manfaat yang tak terhingga. Jangan seperti kunang-kunang yang menenggelamkan segala sesuatu dan semua yang dicintai dalam kegelapan lalu merasa cukup dengan seberkas cahaya kecil yang ada pada dirinya. Sebab, kenikmatan dan manfaat yang kau miliki, apa yang kau dapat di balik manfaat yang mereka peroleh, serta kebahagiaan yang kau dapat dari kebahagiaan mereka, semuanya bersumber dari kelembutan Sang Kekasih azali, Allah.

Jadi, engkau harus mencintai Kekasih azali tersebut sehingga dengan kebahagiaanmu dan kebahagiaan mereka engkau dapat menikmati kenikmatan tak terhingga dari rasa cinta terhadap kesempurnaan mutlak. Sebenarnya cintamu yang amat sangat terhadap dirimu dan yang tertanam dalam dirimu tidak lain merupakan cinta yang mengarah kepada dzat Allah ﷻ. Hanya saja, engkau keliru dalam mempergunakan cinta tersebut sehingga engkau arahkan pada dirimu. Maka, wahai jiwa hempaskan rasa ego yang terdapat dalam dirimu dan tampakkanlah “Dia”. Sebab, semua jenis cintamu yang terpencar pada berbagai entitas merupakan rasa cinta yang diberikan padamu terkait dengan nama-nama dan sifat-Nya yang mulia. Hanya saja, engkau salah dalam mempergunakannya sehingga engkau akan mendapatkan hukuman dari perbuatanmu. Sebab, balasan terhadap rasa cinta yang tidak syar’i dan tidak pada tempatnya adalah bencana yang tidak mengenal kasih sayang.Sang Kekasih azali—dengan nama-Nya Yang Maha Pengasih dan Penyayang—telah menyiapkan satu tempat komprehensif bagi semua keinginanmu yang bersifat materi, yaitu surga yang berhias bidadari. Dengan seluruh nama-Nya yang mulia, Dia menyiapkan berbagai karunia-Nya yang menyeluruh untuk memuaskan keinginan ruh, kalbu, akal, dan semua perangkat halusmu. Bahkan pada setiap nama-Nya Dia memiliki perbendaharaan kebaikan maknawi yang tidak pernah habis. Sudah pasti satu butir cinta-Nya sudah cukup menjadi ganti dari seluruh alam. Sementara seluruh alam tidak bisa menggantikan salah satu manifestasi cinta-Nya.Wahai jiwa, perhatikan dan cermati perjanjian azali di mana Sang kekasih azali telah menyuruh kekasih-Nya yang mulia untuk mengucap:

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku. Niscaya Allah mengasihimu.” (QS. Ali Imran [3]: 31).

Buah Kedua

Wahai diri! Taklif dan tugas ubudiyah bukanlah pendahuluan bagi pahala yang akan datang. Tetapi, ia adalah pembayaran atas nikmat yang telah berlalu. Ya, sebelumnya kita telah mengambil upah dan sesuai dengan upah yang diberikan itu, kita ditugaskan untuk melakukan pengabdian dan ubudiyah.

Hal itu karena Sang Pencipta Yang Mahaagung dan Pemurah yang memberi “wujud” yang merupakan kebaikan murni telah menganugerahimu atas nama-Nya ar-Razzâq (Maha Memberi rezeki) sebuah “perut” di mana engkau bisa merasakan dan menikmati semua hidangan makanan yang terhampar di hadapanmu.

Kemudian Dia memberimu “kehidupan” sensitif yang bisa merasa. Ia seperti perut yang menuntut rezeki untuknya. Maka, di hadapan indramu yang berupa mata dan telinga yang bagaikan tangan Dia letakkan sebuah hidangan nikmat yang luas seluas muka bumi.

Selanjutnya, Dia memberimu “kemanusiaan” yang menuntut rezeki maknawi yang banyak. Maka di hadapan perut kemanusiaan tadi Dia bukakan cakrawala kerajaan dan alam malakut seluas jangkauan akal.

Lewat “islam dan iman” yang diberikan kepadamu di mana ia merupakan bentuk kemanusiaan yang agung yang menuntut nikmat tak terhingga, yang mengonsumsi buah rahmat yang tak pernah habis, Dia bukakan untukmu hidangan nikmat, kebahagiaan, serta kenikmatan yang meliputi seluruh Asmaul Husna dan sifat-sifat rabbani yang suci dalam wilayah makhluk yang bersifat mungkin.

Setelah itu, Dia memberimu “cinta” yang merupakan salah satu cahaya iman. Allah berbaik hati dengan memberimu hidangan nikmat, kebahagiaan, dan kenikmatan yang tak bernah berakhir.

Artinya, dengan kemurahan-Nya sesuai dengan ukuran tubuhmu yang kecil, terbatas, terikat, hina, dan lemah engkau telah berpindah dari satu bagian parsial menuju sesuatu yang universal, lalu menuju hal universal yang bercahaya. Pasalnya, Dia telah mengangkatmu dari kondisi parsial menuju satu bentuk universal lewat “kehidupan” yang diberikan. Kemudian menuju kepada universalitas hakiki lewat “kemanusiaan” yang diberikan padamu. Setelah itu, menuju universalitas bercahaya yang mulia lewat “iman” yang Dia anugerahkan. Darinya, Dia mengangkatmu menuju cahaya yang komprehensif dan menyeluruh lewat “makrifat dan cinta” yang Dia karuniakan.

Wahai diri! Sebelumnya engkau telah menerima berbagai upah dan harga tersebut. Kemudian engkau ditugaskan untuk melaksanakan ubudiyah yang merupakan pengabdian dan ketaatan yang nikmat, bahkan ringan dan menyenangkan. Apakah setelah itu engkau masih bermalas-malasan dalam menunaikan pengabdian agung dan suci tersebut lalu berkata, “Mengapa doaku tidak diterima?” Selanjutnya, ketika engkau telah melakukan pengabdian dalam bentuk seadanya engkau menuntut upah besar yang lain seolah-olah engkau tidak puas dengan upah sebelumnya.Ya, engkau tidak layak merasa berjasa. Yang harus kau lakukan adalah bersimpuh dan berdoa. Allah ﷻ memberimu surga dan kebahagiaan abadi sebagai bentuk karunia dan kemurahan-Nya. Karena itu, pintalah rahmat-Nya, bersandarlah padanya, dan hendaknya engkau selalu berucap:

“Katakanlah: Hendaknya dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yûnus [10]: 58).

Jika engkau bertanya:Bagaimana mungkin aku membalas berbagai nikmat yang tak terhingga itu dengan syukurku yang terbatas dan parsial?

Jawaban:Dengan niat yang universal dan tekad yang tak terbatas.

Misalnya: seseorang masuk ke istana raja dengan membawa hadiah tak seberapa. Lalu di sana ia menyaksikan sejumlah hadiah mahal yang nilainya jutaan. Hadiah itu diberikan kepada raja oleh orang-orang penting. Ketika itu ia berbisik dalam hati, “Apa yang harus kulakukan? Hadiah yang akan kuberikan sangat sedikit; tidak berarti.” Namun seketika ia sadar dan berkata, “Wahai tuan, kupersembahkan padamu semua hadiah ini atas namaku. Anda layak atasnya. Wahai tuan besar, andaikan aku mampu memberi berkali-kali lipat lebih banyak dari hadiah berharga ini, tentu aku tidak akan ragu untuk melakukannya.” Begitulah, sang raja yang tidak membutuhkan siapapun dan yang secara simbolis menerima hadiah rakyatnya melihat betapa mereka sangat tulus dan menghormatinya. Ia menerima hadiah yang sangat sederhana dari orang miskin tadi sebagai hadiah paling besar.

Hal itu karena niat tulus, keinginan yang jujur, serta keyakinan kuat dan mulia darinya.Nah, ketika seorang hamba yang lemah berkata dalam salatnya at-Tahiyyâtu lillâh(*22)dengan niat, “Kupersembahkan untuk-Mu wahai Tuhan hadiah ubudiyah bagi seluruh makhluk di mana ia merupakan kehidupannya. Andaikan aku mampu mempersembahkan penghormatan kepada-Mu sebanyak jumlah mereka, tentu aku tidak akan ragu untuk melakukannya. Sebab, Engkau layak atasnya; bahkan lebih daripada itu.”Niat yang tulus dan tekad yang kuat tersebut adalah bentuk syukur universal dan komprehensif.

Kita ambil sebagai contoh tumbuhan di mana benih dan bijinya laksana niat. Semangka, misalnya, mengucap seperti niat ribuan biji yang terdapat di dalam tubuhnya, “Wahai Tuhan, aku sangat ingin mengungkapkan goresan nama-nama-Mu yang mulia pada seluruh bumi.” Karena Allah mengetahui apa yang terjadi dan bagaimana ia terjadi, Dia menerima niat yang tulus sebagai ibadah praktis. Yakni, seolah-olah ia telah terjadi. Dari sini engkau dapat mengetahui bahwa niat seorang mukmin lebih baik daripada amalnya.(*23)Engkau juga dapat memahami hikmah tasbih dengan jumlah bilangan tak terhingga dalam ungkapan seperti:Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu sebanyak jumlah makhluk-Mu, rida diri-Mu, berat arasy-Mu, dan tinta kalimat-Mu.(*24)Kami bertasbih kepadamu sebanyak tasbih para nabi, wali, dan malaikat-Mu.

Sebagaimana panglima yang bertanggungjawab terhadap pasukan mempersembahkan amal dan aktivitas mereka untuk raja atas namanya, demikian pula manusia yang menjadi pemimpin atas seluruh makhluk, pemimpin tumbuhan dan hewan, serta dipersiapkan untuk menjadi khalifah atas seluruh entitas dan menganggap dirinya bertanggungjawab dengan apa yang terjadi di dunianya. Dengan lisan seluruh makhluk ia berkata:“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta.” Ia persembahkan seluruh ibadah dan permintaan makhluk kepada Dzat Yang Disembah, Tuhan Yang Mahaagung. Ia juga menjadikan seluruh makhluk berbicara atas namanya. Yaitu saat berkata, “Mahasuci Engkau lewat seluruh tasbih makhluk-Mu dan lewat lisan semua ciptaan-Mu.”Kemudian ia mengucapkan salawat untuk Nabi x atas nama seluruh entitas di muka bumi:Ya Allah, limpahkan salawat untuk Muhammad sebanyak partikel dan konstruksi alam. Sebab, segala sesuatu di alam ini memiliki hubungan dengan cahaya Muhammad x. Dari sini, engkau dapat memahami rahasia di balik bilangan zikir dan salawat yang tak terhingga.

Buah Ketiga

Wahai diri! Jika engkau benar-benar ingin memperoleh amal ukhrawi yang kekal di usia yang singkat; jika engkau ingin melihat manfaat dari setiap detik umurmu yang berlalu sehingga seperti usia yang panjang; jika engkau ingin mengubah kebiasaan menjadi ibadah, mengganti kelalaian menjadi kondisi tenang dan tenteram, maka ikutilah sunnah Nabi x. Sebab, menerapkan sunnah dan syariat dalam setiap muamalah akan melahirkan ketenangan dan ketenteraman serta menjadi ibadah yang menghasilkan buah ukhrawi yang berlimpah.

Misalnya, jika engkau menjual sesuatu, maka pada saat menerapkan perintah syariat dalam ijab dan kabul (transaksi), seluruh jual beli tersebut bernilai ibadah karena mengingatkanmu kepada hukum syariat yang memberikan gambaran spiritualitas. Gambaran tersebut tentu mengingatkanmu pada Dzat Yang Membuat syariat, Allah ﷻ. Artinya, ia memberikan orientasi ilahiyah. Inilah yang menuangkan ketenangan dan ketenteraman ke dalam kalbu.

Dengan kata lain, menunaikan amal perbuatan sesuai dengan sunnah Nabi x menjadikan amal yang fana dan singkat menjadi poros bagi kehidupan abadi yang menghasilkan buah abadi. Karena itu, simaklah dengan baik firman Allah yang berbunyi:

“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Ikutilah ia supaya kamu mendapat petunjuk. (QS. al-A’râf [7]: 158) Berusahalah menjadi “cermin” universal dan komprehensif yang memantulkan limpahan manifestasi setiap nama-Nya yang mulia yang tersebar pada seluruh sunnah Nabi x.

Buah Keempat

Wahai diri, jangan meniru ahli dunia, terutama ahli maksiat dan kafir yang tertipu dengan perhiasan lahiriah dan artifisial mereka serta dengan kenikmatan tidak syar’i yang menipu. Sebab, dengan meniru mereka, engkau tidak akan pernah seperti mereka. Tetapi engkau akan sangat hina dan tidak akan pernah menjadi seperti hewan sekalipun. Sebab, akal yang terdapat di kepalamu menjadi perangkat yang menghancurkan kepalamu.

Sebab, jika terdapat sebuah istana besar yang berisi lampu listrik lalu dari sana ia bercabang ke sejumlah lampu listrik yang lebih kecil yang tersebar di beberapa rumah kecil yang terpaut dengan lampu utama, maka ketika ada yang memadamkan lampu utama itu, semua rumah yang lain akan menjadi gelap. Hanya saja, karena terdapat sejumlah lentera lain di istana lain yang tidak terpaut dengan lampu utama di istana yang besar tadi, maka jika pemilik istana memadamkan lampu utama, lampu-lampu kecil tetap bisa menerangi yang lain dan tetap bisa bekerja sehingga pencuri tidak bisa mengambil barang darinya.

Nah wahai diri, istana pertama tadi adalah sosok muslim dan lampu utama tersebut adalah Nabi x yang terdapat di kalbu muslim itu. Jika ia lupa dan mengeluarkan iman dari kalbunya—wal iyâzu billah—ia tidak akan lagi beriman dengan nabi yang lain, bahkan tidak ada lagi kesempurnaan yang tersisa dalam jiwanya. Lebih dari itu, ia akan lupa kepada Tuhannya. Akhirnya yang masuk ke dalam esensi dirinya adalah kegelapan dan kalbunya menjadi hancur diselimuti oleh nestapa dan kesepian. Jika demikian, adakah yang dapat menutupi kehancuran tersebut? Adakah manfaat yang dapat diraih agar ia dapat membangun puing-puing kehancuran yang ada?

Adapun orang-orang asing, mereka menyerupai istana kedua di mana meskipun mereka mengeluarkan cahaya Muhammad x dari kalbu mereka, mereka masih memiliki cahaya seperti yang mereka asumsikan. Mereka masih memiliki sedikit akidah kepada Allah dan keyakinan kepada Musa dan Isa عَلَيْهِمَا السَّلَامُ yang menjadi poros kesempurnaan akhlak mereka.

Wahai nafsu yang selalu memerintahkan keburukan! Barangkali engkau berkata, “Aku tidak ingin menjadi orang asing atau bahkan hewan.” Aku telah berkali-kali mengatakan: wahai jiwa, engkau tidak akan bisa menjadi seperti hewan sekalipun, sebab engkau memiliki akal. Akal yang menghimpun semua derita masa lalu dan rasa cemas terhadap masa depan akan memberikan pukulan menyakitkan ke kepala dan matamu sehingga engkau akan merasakan kepedihan di tengah-tengah sebuah kenikmatan yang ada. Sementara hewan bisa merasakan satu kenikmatan tanpa disertai penderitaaan. Karena itu, jika engkau ingin menjadi seperti hewan, lepaskan dulu akalmu dan buanglah jauh-jauh. Lalu siaplah untuk mendapat tamparan peringatan yang terdapat pada ayat al-Qur’an ( ) ‘Mereka seperti binatang, bahkan lebih sesat lagi.’ (QS. al-A’râf [7]: 179).

Buah Kelima

Wahai diri! Kami telah berkali-kali menegaskan bahwa manusia adalah buah pohon penciptaan. Ia seperti buah, sesuatu yang paling jauh dari benih dan paling komprehensif. Ia memiliki pandangan umum kepada semuanya. Ia makhluk yang memikul benih-benih kalbu. Wajahnya mengarah kepada banyak hal—dari makhluk—menuju alam fana dan dunia. Akan tetapi, ibadah yang merupakan tali hubungan atau titik koneksi antara awal dan akhir mengarahkan wajah manusia dari fana menuju keabadian, dari makhluk menuju al-Haq (Allah), dari banyak menuju keesaan, dan dari akhir menuju permulaan.

Andaikan buah bernilai dan berpengetahuan yang hendak membentuk benih itu bangga dengan keindahannya lalu melihat ke makhluk hidup di bawahnya serta mencampakkan diri di tengah-tengah mereka, atau ia lalai dan jatuh, tentu ia akan lenyap bersama mereka dan bernasib seperti buah yang lain. Akan tetapi, jika buah berpengetahuan itu menemukan titik sandarannya dan dapat berpikir bahwa ia akan menjadi perantara bagi kelanjutan kehidupan pohon serta menampakkan hakikatnya lewat sisi kesatuan pohon yang terdapat dalam dirinya, maka satu benih dari buah itu akan memperoleh hakikat komprehensif yang permanen dalam usia yang kekal abadi.

Manusia yang tersesat dalam banyaknya makhluk dan tenggelam di alam entitas, lalu mencintai dunia sepenuh hati hingga tertipu oleh senyuman benda-benda fana dan jatuh dalam pelukannya, sudah pasti ia akan mengalami kerugian nyata. Pasalnya, ia jatuh dalam kefanaan dan ketiadaan. Yakni, dengan mengajak ia melenyapkan dirinya.Akan tetapi, ketika ia mengangkat kepala dan mendengar berbagai pelajaran iman yang bersumber dari al-Qur’an dengan kalbu yang sadar, lalu mengarah kepada keesaan-Nya, maka ia dapat naik dengan mi’raj ibadah menuju arasy kesempurnaan dan keutamaan sehingga menjadi sosok manusia abadi.

Wahai diri, jika demikian keadaannya, sementara engkau bagian dari yang mengikuti ajaran Ibrahim, maka ucapkanlah “Aku tidak menyukai yang terbenam” seperti yang diucapkan oleh Ibrahim , lalu menghadaplah kepada Sang Kekasih abadi dan menangislah seperti diriku dengan berkata:

(Bait-bait berbahasa Persia tidak ditulis di sini karena telah dimasukkan ke dalam kedudukan kedua dari “Kalimat Ketujuh Belas”).

Catatan Kaki

  1. *Bahkan aku melihat dan memperhatikan sejumlah kucing, ketika selesai makan dan bermain iapun tidur. Maka yang terlintas dalam pikiran sebuah pertanyaan, “Mengapa hewan setengah buas ini disebut sebagai binatang yang baik dan penuh berkah?” Kemudian aku berbaring untuk tidur. Tiba-tiba salah satu anak kucing itu datang dan bersandar ke bantalku serta mendekatkan mulutnya ke telingaku. Lalu ia berzikir kepada Allah dengan menyebut, “Ya Rahîm, ya Rahîm (wahai Yang Maha Penyayang).” Seolah-olah ia menjawab penghinaan atas nama kelompoknya. Seketika aku berpikir, “Apakah zikir ini hanya diucapkan oleh kucing ini saja atau seluruh kucing? Lalu apakah yang mendengar hanya diriku dan orang yang bertanya-tanya sepertiku atau semua orang bisa mendengar jika mau menyimaknya.” Di waktu pagi akupun mendengarkan ucapan kucing-kucing yang lain. Ternyata mereka mengucap zikir yang sama dalam bentuk yang berbeda meskipun tidak sejelas yang pertama. Awalnya zikir tersebut tidak jelas namun kemudian menjadi jelas, “Ya Rahîm, ya Rahîm (wahai Yang Maha Penyayang).” Lalu suara geramnya berubah menjadi, “Ya Rahîm seutuhnya.” Mereka mengucap zikir yang sedih dan fasih tanpa mengeluarkan suara di mana mulutnya tertutup dan berzikir dengan suara yang halus, “Ya Rahîm.”Aku menceritakan peristiwa itu kepada mereka yang datang berkunjung. Mereka pun mulai menyimak. Mereka berkata, “Kami mendengar zikir itu dalam tingkat tertentu.” Kemudian terlintas dalam hati, “Mengapa yang disebut nama Rahîm?” Mengapa kucingkucing itu menyebut nama itu dengan suara seperti manusia; tidak dengan suara hewan.” Jawabannya, “Kucing adalah hewan yang halus dan lembut seperti anak kecil. Ia berbaur dengan manusia di setiap sudut rumahnya sehingga laksana teman baginya. Jadi, ia membutuhkan tambahan kasih sayang. Ketika ia diperlakukan dengan kasih sayang ia memuji-Nya dengan menanggalkan sebab—tidak seperti anjing. Ia memperlihatkan di alamnya rahmat Sang Pencipta Yang Maha Penyayang. Dengan zikir itu ia membangunkan manusia yang berada dalam tidur kelalaian dan dengan seruan ya Rahîm ia mengingatkan para penyembah sebab dengan berkata, “Dari mana datangnya semua karunia dan bantuan ini? Dari mana rahmat itu tiba?”—Penulis. ↑
  2. *Pada setiap tingkatan juga terdapat tiga kelompok. Ketiga contoh yang terdapat dalam perumpamaan mengarah kepada ketiga tingkatan yang terdapat pada setiap tingkatan. Bahkan kepada sembilan tingkatan yang terdapat di dalamnya; tidak hanya kepada tiga tingkatan—Penulis. ↑
  3. *Lihat: Muslim, al-Iman, h.247; at-Tirmidzi, al-Fitan, h.53; Abu Daud, al-Mahdi, h.4, 6, 7; Ibnu Majah, al-Fitan, h.25, 34; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad, j.1, h.99. Menurut asy-Syaukânî dalam al-Taudhîh, hadis-hadis yang terkait dengan Imam Mahdi yang berjumlah sekitar lima puluhan ada yang sahih, hasan, dan daif. Hadis-hadisnya mutawatir tanpa ada keraguan sedikitpun. Bahkan istilah mutawatir bisa dilekatkan pada yang kurang daripada itu menurut istilah yang disebutkan dalam ilmu ushul. Adapun atsar yang berasal dari sahabat yang menyebutkan tentang Imam Mahdi juga berjumlah banyak. Ia memiliki kedudukan marfu, sehingga tidak ada lagi peluang untuk berijtihad dalam persoalan semacam itu, dan seterusnya. (al-Idzâ’ah karya Muhammad Shiddîq Hasan Khân h.113-114). ↑
  4. *Lihat: al-Hakim, al-Mustadrak, j.4, h.520; as-Suyûthi, al-La’âlî, j.2, h.388; dan al-Isfarâyini, j.2, h.75. Lihat pula: al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibnu Katsîr, dan Kitab Tazkirah karya Imam al-Qurthubi. ↑
  5. *Abu Hurairah d meriwayatkan bahwa Rasulullah x bersabda, “Pada umat-umat sebelum kalian terdapat sejumlah orang yang mendapat ilham di mana mereka bukanlah nabi. Jikalau di kalangan umatku ada yang seperti itu, maka ia adalah Umar.” HR. Bukhârî dalam Fadhâ`il Ashâbi an-Nabiy, h.6; dan Muslim, Fadhâil ash-Shahâbah, h.23. ↑
  6. *Lihat: Muslim, bab tentang surga, h.31; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad, j.3, h.341 dan h.346. ↑
  7. *Lihat: al-Bukhari, bab tentang ilmu, h.2; bab tentang ar-Riqâq, h.35; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad, j.2, h.361. ↑
  8. *Hadis-hadis tentang hal ini sangat banyak. Di antaranya, riwayat Muslim yang berbunyi, “Kami bertanya, ‘Ya Rasulullah, berapa lama ia tinggal di bumi?’Beliau menjawab, ‘Empat puluh hari. Satu hari seperti satu tahun, satu hari seperti satu bulan, satu hari seperti satu pekan, serta keseluruhan harinya seperti hari-hari yang kalian jalani.” (Muslim, dalam bab al-Fitan, h.110; Abu Daud, al-Malâhim, h.14; at-Tirmidzi, dalam bab al-Fitan, h.59; Ibnu Majah, dalam bab al-Fitan, h.33; dan Ahmad ibn Hambal, al-Musnad, j.3, h.367; j.4, 181). ↑
  9. *Lihat: at-Tirmidzi, bab tentang zuhud, h.13; Ibnu Majah, bab tentang zuhud, h.3; dan al-Hakim, al-Mustadrak, j.4, h.341. ↑
  10. *Hadis, “Alhamdulillah Rabbil `alamin (al-Fatihah) merupakan tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan al-Qur’an al-Azhîm.” (Lihat: al-Bukhari, penafsiran surah al-Fatihah, h.1; fadhail al-Qur’an, h.9; at-Tirmidzi, Tsawâb al-Qur’an, h.1; dan Ahmad ibn Hambal, al-Musnad, j.4, h.221). ↑
  11. *Hadis, “Qul Huwa Allahu ahad (al-Ikhlas) menyamai sepertiga al-Qur’an.” (Lihat: al-Bukhari, Fadhâil al-Qur’an, h.13; at-Tirmidzi, Tsawâb al-Qur’an, h.10, h.11; Abu Daud, al-Witr, h.18; an-Nasai, al-Iftitâh, h.69; dan Ibnu Majah, al-Adab, h.52. ↑
  12. *Anas ibn Mâlik d meriwayatkan bahwa Rasulullah x bertanya kepada salah seorang sahabat, “Wahai Fulan, apakah engkau telah berkeluarga?” Ia menjawab, “Tidak, aku tidak memiliki modal untuk berkeluarga.” Beliau melanjutkan, “Bukankah engkau memiliki Qul Huwa Allahu ahad?” “Ya”. “Itu adalah sepertiga al-Qur’an,” ujar Nabi. Beliau kembali bertanya, “Apakah engkau memiliki idzâ jâ’a nashrullâh wal fath?” “Ya”. Beliau melanjutkan, “Ia adalah seperempat al-Qur’an.” Beliau kembali bertanya, “Bukankah engkau telah memiliki Qul yâ ayyuhal kâfirûn?” “Ya”. Beliau melanjutkan, “Ia adalah seperempat al-Qur’an.” Beliau kembali bertanya, “Bukankah engkau memiliki surat az-Zalzalah?” “Ya”. Beliau melanjutkan, “Ia setara dengan seperempat al-Qur’an. Maka menikahlah, menikahlah!” (Lihat: at-Tirmidzi, Tsawâb al-Qur’an, h.10; dan Ahmad ibn Hambal, al-Musnad, j.3, h.147, h.221). ↑
  13. *Hadis Ibnu Umar yang berbunyi, “Qul Huwa Allahu ahad menyamai sepertiga al-Qur’an, sementara Qul yâ ayyuhal kâfirûn menyamai seperempat al-Qur’an.” (Lihat: at-Tirmidzi, Tsawâb al-Qur’an, h.10; dan Ahmad ibn Hambal, al-Musnad, j.3, h.147, h.221). ↑
  14. *Diriwayatkan dari Anas ibn Mâlik bahwa Rasulullah x bersabda, “Segala sesuatu memiliki jantung, dan jantung al-Qur’an adalah surah Yâsîn. Siapa yang membaca Yâsîn, maka dengan bacaan tersebut Allah tuliskan untuknya pahala membaca al-Qur’an sebanyak sepuluh kali.” (Lihat: at-Tirmidzi, Tsawâb al-Qur’an, h.7). ↑
  15. *Lihat: at-Tirmidzi, Fadhâil al-Qur’an, h.16; dan Ad-Dârimi, Fadhâil al-Qur’an, h.1. ↑
  16. *Total huruf al-Qur’an (300.620). Sementara total huruf surah al-Ikhlas (69 x 3) = 207. Jadi, jumlah kesuruhan pahala surah al-Ikhlas (207 x 1.500) = 310.500. Jumlah tersebut mendekati total huruf keseluruhan al-Qur’an—Peny. ↑
  17. *Lihat: at-Tirmidzi, bab tentang al-Jumu’ah, h.59. ↑
  18. *Lihat: ad-Dailami, al-Musnad, j.3, h.116. ↑
  19. *Lihat: at-Tabrâni, al-Mu’jam al-Kabîr, j.7, h.230; dan al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, j.6, h.124. ↑
  20. *Lihat: al-Bukhari, dalam bab at-Tarâwîh, h.1; al-Manâqib, h.24; dan at-Tahajjud,h.16. Lihat pula Muslim, dalam bab al-Musâfirîn, h.125. ↑
  21. *Ketika burung bulbul berkicau dengan kicauan puitis, pembahasan ini juga bersifat puitis. Hanya saja ia bukan hayalan, tetapi kenyataan—Penulis. ↑
  22. *Lihat: al-Bukhari, bab tentang adzan, h.147; bab tentang amal dalam salat, h.4; dan bab tentang isti’dzân, h.28; Muslim, bab tentang salat, h.55, h.60, h.62. ↑
  23. *Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi x pernah bersabda:Niat orang mukmin lebih baik daripada amalnya. Sementara amal orang munafik lebih baik daripada niatnya. (HR. at-Thabrâni)—Peny. ↑
  24. *Lihat: Muslim, bab tentang zikir, h.79; at-Tirmidzi, bab tentang doa, h.103; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad, j.1, h.258. ↑
⬇ Gulir Otomatis
📝 Catatan Saya 0 catatan

Pilih teks lalu tekan tombol "Catatan" untuk menambahkan catatan.

Pengaturan
Tema
Ukuran Font
Ketebalan Font
Ukuran Font Arab
Spasi Baris

Mode Fokus
Sembunyikan sidebar
Gulir Otomatis
Halaman bergulir sendiri
Kecepatan