Risale-i Nur Külliyatı [email protected]

Risalah Kesebelas

1 dilihat
451

Obor Cahaya Mentari Alquran

{(Catatan-334): Risalah ini dicetak pertama kali di percetakan Najm Istiqbal, Istambul, tahun 1342 H (1923 M)}

Ketahuilah bahwa Sang Pencipta Yang Mahabijak memasang indera, daya rasa, dan sejumlah perangkat dalam wujudmu agar bisa merasakan berbagai nikmat-Nya serta agar bisa mereguk beragam manifestasi nama-Nya.

Tujuan hidupmu dan hak-haknya tidak lain adalah untuk memperlihatkan jejak manifestasi nama-nama-Nya, serta untuk mengungkap berbagai keajaibannya ke hadapan makhluk.

Kemanusiaanmu tidak lain adalah ketika engkau memahami tugas tersebut.

Keislamanmu tidak lain adalah ketika engkau tunduk dalam bentuk demikian.

Bismillāhirrahmānirrahīm

Segala puji dari dari Allah, dengan Allah, dan atas Allah milik Allah sebagaimana sesuai dengan Allah. Segala puji milik Allah atas al-hamdulillāh lewat sejumlah lingkaran yang berputar melalui pipa-pipa dalam sebuah rangkaian dan lewat untaian berantai di berbagai wilayah yang terus berputar.

452

Ya Allah, kami persembahkan untuk-Mu di hadapan semua nikmat dan rahmat, di hadapan semua perhatian dan hikmah, di hadapan semua kehidupan dan kematian, di hadapan semua hewan dan tumbuhan, di hadapan semua bunga dan buah, di hadapan semua ciptaan dan celupan, di hadapan semua tatanan dan timbangan, di hadapan semua yang bergerak dan diam dalam partikel alam dan susunan-Nya, sebuah kesaksian di mana kami bersaksi tiada Tuhan selain Allah semata tanpa ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kekuasaan dan pujian. Dia yang menghidupkan dan mematikan. Di tangan-Nya tergenggam segala kebaikan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Kami juga bersaksi bahwa Muhammad saw. adalah hamba, nabi, dan rasul-Nya yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam.

Ya Allah, limpahkan salawat kepada Muhammad saw. lewat hangat cahaya-Mu, sumber rahasia-Mu, mentari petunjuk-Mu, mata air perhatian-Mu, lisan argumen-Mu, contoh cinta-Mu, perumpamaan rahmat-Mu, makhluk-Mu tercinta, serta kepada semua nabi dan rasul. Juga, kepada keluarga masing-masing dan sahabat masing-masing, kepada malaikat yang dekat dengan-Nya, hamba-Mu yang saleh dari penghuni langit dan bumi, dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Penyayang.

Mahasuci Engkau wahai Zat yang alam bertasbih memuji-Mu dengan lisan Muhammad, semoga salawat dan salam terbaik tercurah kepadanya.

Mahasuci Engkau wahai Zat yang dunia berikut semua jejak Muhammad bertasbih memuji-Mu. Semoga keberkahan yang paling besar tercurah kepadanya.

Mahasuci Engkau wahai Zat yang bumi bertasbih memuji-Mu dengan bersujud di bawah arasy keagungan-Mu lewat lisan Muhammadnya. Semoga pengormatan paling suci tercurah kepadanya.

Mahasuci Engkau wahai Zat yang mukmin dan mukminah bertasbih memuji-Mu dengan lisan Muhammad mereka. Semoga salawat-Mu tercurah kepadanya untuk selamanya.

Mahasuci Engkau. Aku bertasbih kepada-Mu dengan lisan kekasih-Mu, Muhammad; semoga salawat paling sempurna dan

453

salam paling indah tercurah kepadanya. Maka, terimalah dariku lewat rahmat-Mu sebagaimana Engkau menerimanya darinya.

Ketahuilah! Keagungan luasnya keumuman ayat, "Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya,"

{(Catatan-335): Q.S. al-Isra: 44.}

menuntut sebuah penjelasan. Kemudian aku memperhatikannya. Tiba-tiba keluar darinya dalam kalbuku sejumlah kata yang menerangkannya di mana ia menjadi tangga untuk menaikinya. Ia berasal darinya dan kembali kepadanya. Jika engkau ingin tetesan penjelasan itu menyerap ke dalam dirimu dan turun dari langit keagungannya, mari kita perhatikan dengan kalbu yang menyaksikan, uraian berikut ini:

Mahasuci Engkau. Kami-manusia--tidak mengenal-Mu dengan pengenalan yang hakiki wahai Zat Yang Maha Dikenal lewat mukjizat semua ciptaan-Mu, gambaran seluruh makhluk-Mu, dan pengenalan semua entitas-Mu.

Mahasuci Engkau, betapa agung kekuasaan-Mu dan betapa jelas petunjuk-Mu!

Mahasuci Engkau! Kami tidak mengingat-Mu sebagaimana yang seharusnya wahai Zat Yang Maha Diingat lewat lisan semua makhluk-Mu, zat seluruh ciptaan-Mu, dan lewat jiwa semua kata dalam kitab entitas-Mu.

Mahasuci Engkau! Betapa agung zikir kepada-Mu!

Mahasuci Engkau. Kami tidak bersyukur kepada-Mu sebagaimana mestinya wahai Zat Yang Maha Mendapat syukur lewat pujian semua kebaikan-Mu di hadapan seluruh yang memiliki bashirah, lewat penampakan semua nikmat-Mu di pasar alam di hadapan para saksi, lewat kesaksian alunan seluruh buah rahmat-Mu yang dibentuk dalam cetakan tertata dan terukur.

Mahasuci Engkau! Betapa luas rahmat-Mu!

Mahasuci Engkau! Kami tidak menyembah-Mu dengan penyembahan yang semestinya wahai Zat yang disembah semua malaikat dan semua makhluk lewat seluruh bentuk ibadah dan pengagungan.

454

Mahasuci Engkau. Kami tidak bertasbih menyucikan-Mu dengan tasbih yang semestinya wahai Zat yang, "langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada-Nya. Tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya." Kami beriman.

Mahasuci Engkau wahai yang malaikat dengan beragam jenisnya lewat aneka lisannya bertasbih kepada-Mu melalui zikir-Nya yang bermacam-macam.

Mahasuci Engkau wahai Zat yang semua entitas dengan mulut alamnya, pilar dunianya, anggota pilarnya, bagian-bagian anggotanya, serpihan jenisnya, sel-sel partikelnya, mulut dan eter partikelnya bertasbih melalui lisan tatanannya yang penuh hikmah, neracanya yang mulia, kondisinya yang rapi, serta teknisnya yang seimbang dengan kreasi-Mu yang penuh hikmah.

Mahasuci Engkau wahai Zat yang sorga berikut mulut tamannya bertasbih memuji-Mu dengan sejumlah alunan yang berupa bidadarinya, untaian istananya, tatanan pohonnya, serta buahnya yang serupa sebagaimana di sini buah yang serupa dalam hal kecemerlangannya bertasbih kepada-Mu.

Mahasuci Engkau wahai Zat yang membolak-balik siang dan malam, menundukkan mentari dan bulan. Langit ini berikut gugusan planetnya bertasbih kepada-Mu lewat mulut mentarinya dengan untaian kata bintangnya melalui lisan tatanannya dalam neracanya, keteraturannya dalam perhiasannya, kilaunya dalam keindahannya, ketundukannya dalam keterhamparannya, diamnya dalam ketidakbergemingannya, serta hikmahnya dalam gerakannya.

Mahasuci Engkau wahai zat yang semua lapisan udara bertasbih kepada-Mu lewat mulut kilat, petir, angin, awan, mendung, dan hujannya melalui untaian kata kilau dan tetesannya, dengan lisan tatanannya pada neracanya dalam puncak dan buahnya.

Mahasuci Engkau wahai Zat yang bumi bertasbih kepada-Mu dengan bersujud pada keagungan qudrat-Mu melalui Muhammad saw. dan Alqurannya dengan lisan lautan, gunung, sungai, dan pepohonannya, lewat suara dan gelombang suara yang berupa hewan dan tumbuhannya dengan untaian kata dan

455

huruf bercahaya yang berupa para nabi dan walinya, melalui lisan tatanan dan neracanya, kehidupan dan kematiannya, miskin dan keringnya, hiasan dan keindahannya, lewat pendengaran-Mu yang mulia dan ciptaan-Mu yang penuh hikmah.

Mahasuci Engkau wahai Zat yang lautan bertasbih kepada-Mu dengan untaian kata yang berupa keajaiban makhluknya dan tatanan melodinya melalui lisan keteraturan, timbangan, hikmah, dan tujuannya.

Mahasuci Engkau wahai Zat yang menjadikan bumi sebagai hamparan dan gunung sebagai pasak. Gunung dengan mulut mata airnya, sungainya, dan pepohonannya bertasbih kepadamu melalui lisan tatanan, neraca, tujuan dan simpanan kekayaannya.

Mahasuci Engkau wahai Zat yang membuat segala sesuatu dari air menjadi hidup. Wahai Zat yang hewan berikut mulut indera, perasaan, perangkat, organ, ciptaan, celupan, akal, dan kalbunya bertasbih kepada-Mu lewat lisan tatanan dan timbangannya, serta lewat permohonan keinginan dan kebutuhannya di seluruh fase perkembangannya, kehidupannya, dan kematiannya.

Mahasuci Engkau wahai Zat yang kutu di udara bertasbih memuji-Mu di saat terbang dengan gemuruhnya yang bersyukur kepada-Mu. Demikian pula dengan burung dalam sangkarnya bersama anak-anaknya lewat kicaunya yang mengungkapkan rasa syukur kepada-Mu melalui lisan tatanan dan timbangannya, kreasi, tulisan, serta hiasannya. Mereka juga mengungkapkan kebaikan-Mu dan menyuarakan nikmat-Mu dengan syukur yang paling nyata di saat menikmati buah nikmat-Mu dan jejak rahmat-Mu. Selain itu bertasbih memuji-Mu serangga yang berada di tempatnya lewat suaranya, binatang buas yang berada di sarangnya aumannya melalui lisan tatanannya, timbangannya, bentuknya, serta pergerakannya yang penuh hikmah.

Mahasuci Engkau! Betapa lembut ciptaan-Mu dan betapa hukum-Mu berlaku!

Mahasuci Engkau wahai Zat yang pepohonan secara sangat jelas bertasbih kepada-Mu di saat kelopaknya mekar, buahnya sempurna, dan tunas-tunasnya menari di sejumlah rantingnya

456

melalui mulut daunnya yang hijau, bunganya yang tersenyum, buahnya yang tertawa dengan lisan tatanan, timbangan, dan rasanya yang lezat, warnanya yang indah, aromanya yang lembut, ukirannya yang indah, hiasannya yang menarik. Ia juga mengagungkan-Mu dan menyuarakan kesempurnaan kasih-Mu, menggambarkan manifestasi sifat-Mu, memperkenalkan pantulan nama-Mu, menafsirkan cinta dan pengaturan-Mu kepada ciptaan-Mu lewat tetesan kilau manifestasi kasih dan perhatian-Mu kepada makhluk yang tersirat dari bibir buahnya.

Mahasuci Engkau. Betapa lembut petunjuk-Mu dalam kebaikan-Mu dan betapa indah kelembutan-Mu dalam cinta-Mu.

Mahasuci Engkau wahai Zat yang tumbuhan bertasbih kepada-Mu secara sangat sempurna saat bunganya bersinar, tunasnya tersenyum, kelopaknya mekar, benihnya mengeras melalui mulut bunga dan bulirnya lewat untaian kata benihnya yang tersusun dan benihnya yang terukur dengan lisan tatanannya yang halus dan neracanya yang cermat. Ia juga mengagungkan-Mu, memperkenalkan-Mu, menyingkap wajah cinta-Mu, menggambarkan sifat-sifat-Mu, menyebut nama-nama-Mu, menerangkan kasih-Mu, serta mengenalkan-Mu kepada hamba lewat sesuatu yang muncul dari mata bunganya dan gigi bulirnya melalui pancaran manifestasi kasih-Mu dan pengenalan-Mu kepada makhluk.

Mahasuci Engkau! Betapa halus petunjuk-Mu, betapa bercahaya, betapa manis, dan betapa indah!

Mahasuci Engkau wahai Zat yang menurunkan besi yang berisi kekuatan dan manfaat bagi manusia. Berbagai tambang dengan seluruh jenis, bentuk, karakter, manfaat, ukiran, dan hiasannya, bertasbih kepada-Mu lewat lisan tatanannya yang kokoh dan neracanya yang khusus.

Mahasuci Engkau wahai Zat yang seluruh unsur bertasbih kepadamu dengan persatuannya yang rapi sesuai perintah dan qudrat-Mu dan susunannya yang seimbang sesuai ijin dan kreasi-Mu yang penuh hikmah.

Mahasuci Engkau wahai Zat yang semua partikel bertasbih kepada-Mu lewat tugas-tugasnya dengan lisan tatanan dan

457

neracanya serta ketidakberdayaannya yang bersifat mutlak di mana dengan kekuatan-Mu ia mampu berbagai tugas besar. Setiap atom dan partikel juga bersaksi akan wujud-Mu yang wajib ada lewat lisan kelemahannya memikul sejumlah tugas mulia dan menakjubkan yang tak mampu dipikul di detil-detil tatanan alam sehingga masing-masing darinya ibarat lebah kurus yang memikul pohon kurma yang panjang. Setiap partikel juga menunjukkan keesaan-Mu dengan melihat tugasnya dan arah gerakannya menuju tatanan umum yang integral yang menjadi bukti nyata keesaan Zat yang menata. Pada setiap partikel terdapat dua saksi untuk-Mu yang menegaskan bahwa Engkau Zat Yang Wajib ada dan Esa. Pada setiap kondisi terdapat dua ayat bagi-Mu yang menegaskan bahwa Engkau satu dan tempat bersandar. Bahkan pada setiap sesuatu terdapat banyak bukti dan tanda yang menunjukkan bahwa Engkau Wajib ada, satu dan esa. Tiada Tuhan selain-Mu semata. Tiada sekutu bagi-Mu.

Ketahuilah! Wujud, indera, dan anggota badanmu pertama-tema melihat kepada Penciptanya yang telah menumbuhkan dan mengaturnya. Wajahnya juga menghadap kepada Allah Swt. Ia tidak menatap kepadamu kecuali dalam rangka tugas dan sesuai kadar kepemilikanmu yang bersifat ilusi.

Lantaran hubungan baikmu dengannya, berbagai petunjuk yang mengarah kepada kilau perasaanmu terkait dengan tata cara yang terwujud lewat usahamu jelas-jelas memperlihatkan pengetahuan Tuhan lewat tatanannya yang teratur dan kondisinya yang rapi. Ia juga menegaskan semua nama dan sifat-Nya yang terwujud padanya.

Jika pada satu susu dan satu saat ia mengabdi padamu, sebetulnya ia mengabdi kepada Tuhannya lewat semua aspek pada setiap waktu. Di antara bentuk pengabdiannya adalah menjelaskan berbagai jejak kreasi Tuhan Yang Maha Bijaksana. Pengabdian tersebut juga terwujud dalam bentuk pelaksanaan tugas-tugas fitri dengan sangat seimbang dalam bingkai kerjasama materil pada sejumlah rahmat-Nya dan balutan hikmah-Nya. Ia juga terwujud melalui lisan indeksnya lewat pengungkapan kreasi menakjubkan dari indahnya manifestasi

458

Tuhan Yang Maha Bijaksana.

Jika ia menatapmu dalam tingkatan yang tak mampu dijangkau oleh penglihatan lahirmu serta dalam kadar yang tak bisa ditangkap oleh pengetahuanmu yang bersifat global, sebetulnya ia mengarah kepada Penciptanya dengan seluruh partikelnya, susunannya, teknisnya, dan kondisinya. Neraca kepemilikan ilusimu hanyalah sebatas penglihatan dan pengaturanmu terhadapnya. Dan hal itu hanya laksana sesetes air di lautan. Karena itu, kenalilah batas kemampuanmu dan jangan melampaui kedudukanmu.

Wujudmu berikut perangkatnya memiliki dua sisi:

Dengan sisi yang mengarah kepada Allah Swt. ia memiliki nilai tinggi dan berharga.

Dengan sisi yang mengarah kepada makhluk ia tidak memiliki nilai karena bersifat fana dan lenyap.

Sisi pertama berkata kepadamu dan kepada yang melihatnya: engkau adalah kreasi halus dan jejak yang bersih dari Zat yang mencipta langit dan bumi. Cukuplah untukmu dari wujud, kesempurnaan, kenikmatan, dan nilainya pengetahuanmu bahwa engkau adalah kreasi Tuhan yang menghias langit dengan bintang dan mentari sehingga engkau menjadi saudara mulia dan muda dari alam ini di mana saudara tuamu itu mengabdi kepadamu.

Sisi kedua berkata kepadamu seraya memberitahukan kabar duka: Engkau adalah kumpulan unsur yang berkumpul dengan kesepakatan buta dan sebentar lagi ia akan mengalami perpisahan yang menyedihkan dan memilukan.

Jangan kau zalimi wujudmu dengan mengaku sebagai pemiliknya dan jangan kau cederai haknya dengan memutusnya dari Allah di mana hal itu akan menjatuhkan nilainya. Kalau itu terjadi, maka engkau menjadi tidak bernilai. Pasalnya, nilai jutaan tahun dan ribuan jembatan wujud yang terputus dan gelap ini tidak bisa menyamai nilai partikel yang mengalir menuju wujud yang menampakkan dan menyucikan. Bukankah Tuhan tidak pernah mengambilmu begitu saja dari bahan-bahan yang ada, menjumputmu dari tumpukan alam, atau memungutmu dari lautan wujud secara sembarangan?! Adakah di pasar alam ini

459

toko tempat membeli mata atau simpanan berisi otak dan lisan, atau mesin untuk membuat kalbu dan merajut kulit?! Tidak ada. Namun, Tuhan yang menumbuhkanmu serta menciptamu dalam bentuk yang indah dan komprehensif. Dia menciptamu dari sesuatu atau segala sesuatu agar tidak ada sesuatupun meski makhluk terbesar yang ingin menciptakan sesuatu meski makhlul terkecil. Juga agar makhluk yang tidak mampu menciptakan langit tidak mengaku menciptakan lalat misalnya. Yang tidak mampu menciptakan segala sesuatu, tidak mampu pula menciptakan bagian tertentu dari segala sesuatu.

Ketahuilah! Materi tempat Pencipta Yang Mahir berbuat sehingga Dia memperlihatkan kreasi menakjubkan kadangkala nilai materi tersebut tidak sampai seperseratus nilai "kreasi". Misalnya kaca sebagai bahan untuk membuat cermin Iskandariyah. Kadangkala pula nilai materi dan kreasinya sama. Misalnya kue enak yang dibuat oleh koki hebat. Atau kadangkala pula nilai materinya lebih tinggi daripada kreasi yang ada. Masing-masing materi berikut kreasi yang terdapat di dalamnya memiliki tujuan dan buah berbeda-beda.

Adapun ciptaan Sang Pencipta azali sebagian besarnya, bahkan seluruhnya bersumber dari jenis pertama. Sehingga seolah-olah ciptaan merupakan kreasi konkret; terutama makhluk hidup, apalagi yang kecil di mana materi lenyap ditelan oleh halusnya kreasi yang ada. Bisa jadi sesuatu yang satu menjadi tujuan bagi keduanya. Namun hal itu terwujud lewat dua sisi seperti rezeki.

Dari sisi materi dan kehidupan ia merupakan asupan yang bersifat sementara untuk memelihara kehidupan.

Namun, dari sisi kreasi yang memperlihatkan jejak manifestasi Sang Pencipta, rezeki adalah perbendaharaan yang menakjubkan dan halus serta simpanan yang memikat dan bersih. Pasalnya dalam rezeki terdapat sensitivitas untuk bisa merasakan semua nikmat serta saat mengecap berbagai bagian manifestasi nama Zat Yang Maha Memberi rezeki dan Maha Pemurah. Engkau bisa melihat lisanmu yang merupakan salah satu dari ribuan perangkat untuk mengecap rezeki fisik dan maknawi.

460

Perhatikan bagaimana benda kecil ini berisi sejumlah alat pengecap sebanyak rasa bahan yang dikecap. Jika si pemilik lisan tersebut sadar, tentu ia akan bersyukur lewat lisan yang sangat cermat dalam organnya terkait dengan karunia Zat yang membuatnya bisa mengecap berbagai nikmat yang lezat berkat rahmat-Nya.

Ya, di antara bentuk syukur nikmat, bahkan ia lebih lezat dari nikmat itu sendiri adalah kesadaran akan adanya pemberian nikmat dan perhatian Tuhan Sang Pemberi nikmat.

Ketahuilah! Tidak ada satupun ciptaan kecuali tertata secara rapi. Tidak ada satupun makhluk kecuali telah terukur. Allah menciptakannya dalam kondisi sehat dan terang. Dia menumbuhkannya secara jelas. Pengaturan, pengukuran, dan keseimbangan yang tampak di dalam berbagai entitas dunia berikut yang terdapat di landasan rumah yang fana ini menunjukkan keagungan hisab di mahsyar nanti berikut realitas wujudnya, serta keagungan neraca di hari kiamat berikut ketetapannya. Pasalnya, apa yang terlihat di sini tidak lain merupakan benih, pilar, dasar, kabar gembira, bukti, dan petunjuk mengenai apa yang akan terdapat di akhirat nanti.

Seluruh yang kita saksikan di alam ini tidak lain adalah ciptaan dan jejak kreasi-Nya yang sangat jelas yang nyaris bisa bertutur kata. Anggapan bahwa makhluk menciptakan sesuatu betul-betul sangat lemah; mustahil merupakan pencipta sebenarnya. Pasalnya, untuk menciptakan segala sesuatu dan memunculkannya; terutama tumbuhan dan hewan diperlukan berbagai perangkat, aneka perlengkapan, serta timbangan yang cermat laksana neraca yang dipergunakan dalam meramu obat dan ramuan. Sementara, ciptaan tidak memiliki itu semua. Karena itu, ia tidak bisa menciptakan apa-apa. Di samping itu, semua yang dibutuhkan oleh ciptaan untuk tetap eksis dan bertahan hidup tidak lain merupakan kilau dan manifestasi cahaya qudrat yang bersumber dari perbendaharaan-Nya antara kāf dan nūn.

Hanya saja, di antara nama-nama Allah ada yang menerima keberadaan perantara lahiriah. Nama tersebut terwujud dari balik hijab. Misalnya Yang Yang Maha Berbicara, Maha Memberi

461

rezeki, Maha Memberi anugerah, dan sejenisnya. Sementara, sebagiannya lagi tidak menerima keberadaan perantara meski bersifat lahiriah. Misalnya Yang Maha Mencipta, Yang Maha menghadirkan, Yang Maha Menghidupkan, dan seterusnya. Hal ini seperti raja dan pasukan. Terkait dengan pemberian rezeki, senjata, dan pakaiannya tidak ada perantara. Namun, untuk menggerakkannya, mengajarkannya, dan menugaskannya dibutuhkan perantara, namun tetap dengan ijin raja. Hanya saja, perantara di sini ada karena lemahnya raja dari kalangan manusia. Adapun di sana, keberadaan perantara justri lantara kemuliaan dan keagungan Penguasa azali.

Ketahuilah!aku melihat di pucuk pohon kecil yang tumbuh di padang pasir terdapat dua macam buah. Karenanya aku terperanjat dan bingung. Yang satu memang merupakan buahnya yang dalam bahasa Kurdi disebut kazwan, sementara yang satunya lagi sejenis tumbuhan yang sebesar jari, lebih kecil atau lebih besar, di mana ia berbentuk lengkung dan berongga seperti rumah yang dipersiapkan untuk para musafir. Aku mengambil satu kuntum dari buah yang kedua itu. Ketika dibuka ia langsung terbang di udara seperti partikel-partikel kecil. Ia tampak berbaris seperti semut dan lalat. Sebelum maghrib ia menari dalam cahaya yang terang dengan gaya yang menarik. Jangan dikira mereka sedang bermain-main. Namun, mereka sedang berzikir kepada Tuhan Yang Maha penyayang yang mengenggam mereka di udara. Benda ini, di samping tidak cocok dan serasi dengan pohon tadi karena berbeda jenis, namun ia berupa sangkar layaknya rahim yang halus dan kuat. Ia berisi sejumlah rezeki yang bersih dan nikmat.

Kondisi ini menegaskan bahwa interaksi tersebut bersumber dari satu perhatian dan pengaturan di luar perhatian benda mati dan binatang. Ketika keduanya tidak bisa melakukan penataan yang penuh hikmah tersebut, berarti ia dilakukan oleh pihak luar yang maha mengetahui. Tentu saja yang menanganinya sejak pertama haruslah pihak yang menjangkau semua bagian dari kedua jenis tadi di seluruh pelosok bumi. Demikian pula yang terkait dengan keduanya. Ini semua hanya terdapat

462

pada Zat Yang Maha Mengetahui sekaligus Mahakuasa atas segala sesuatu.

Aku bertanya kepadamu wahai yang membenarkan adanya pengaturan makhluk pada kerajaan Allah serta yang menerima proses kebetulan dalam sejumlah ciptaan Allah. Bagaimana pohon tadi mendengar, memahami, atau mengetahui lisan lalat yang bertelur di atas rantingnya di mana ia membiarkan telur tersebut berada di dalam pemeliharaannya sehingga pohon itu dengan penuh kasih mempergunakan sangkar yang aman laksana rahim ibu. Lalu pohon itu mengambil dari simpanan Tuhan rezeki yang mencukupi, yang nikmat, dan mulia untuk disimpan di sangkar tadi di jalan Allah guna diberikan kepada mahluk yang bukan merupakan anaknya. Namun bagi para musafir yang merupakan titipan Allah. Kerjasama antara ciptaan itu tentu merupakan tanda kekuasaan yang menunjukkan bahwa keduanya, bahkan seluruhnya, bahkan seluruh yang terdapat di alam merupakan pelayan dari satu majikan, di bawah penataan satu pemelihara, dan dalam pemeliharaan Zat Yang Mahaesa. Kami beriman.

Ketahuilah! Engkau bisa melihat kutu yang berzikir kepada Penciptanya di udara lewat lisan kondisi, perkembangan, dan ukirannya yang teratur, serta fisiknya yang seimbang yang tertulis laksana untaian kata termaktub. Ia mengingat Allah dan memberikan pemahaman akan zikirnya kepadamu, meski ia sendiri tidak memahaminya. Seolah-olah setiap burung memiliki kata yang terucap dengan lisannya seperti yang diucapkan oleh zatnya. Demikian pula engkau bisa melihat serangga bertasbih kepada Penciptanya lewat lisan ukirannya dan hiasannya yang tertulis dengan pena takdir. Ia bertasbih dengan ucapannya yang hanya menjadi miliknya. Semua ini memberikan empat pelajaran:

Pertama, tenangnya jiwa lantaran engkau berada dalam tempat penjagaan yang kokoh dan benteng yang aman yang semua sisinya dikelilingi oleh tunas-tunas yang baru lahir dan anak-anak yang dibesarkan oleh kasih sayang Zat Yang Maha Mengetahui, diatur oleh pemeliharaan Zat yang Maha Bijaksana, dihiasi oleh perhatian Zat Yang Maha Pemurah, serta dianugerahi

463

oleh rahmat Zat Yang Maha Penyayang. Jadi, engkau selalu berada di bawah pandangan Zat Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, Maha Pemurah, dan Maha Penyayang.

Kedua, pandangan tersebut menjadikanmu benar-benar merasa bahwa engkau tidak sia-sia. Engkau juga tidak diserahkan kepada dirimu yang tak mampu bahkan untuk memenuhi kebutuhanmu yang tak terhingga yang paling sederhana sehingga kamu menjadi tercela, menyesal, dan merana akibat ketidakberdayaanmu dan kebutuhanmu yang tak terbatas.

Wahai yang lalai, bukankah sejumlah catatan kaki dan buku tipis yang terdapat di beberapa huruf besar membacakan untukmu bahwa engkau salah satu makhluk yang terukur secara rapi. Karena itu, sadarlah dan tegakkan timbangan tersebut dengan adil. Sayangnya engkau justru bermain-main seperti orang gila sehingga bersikap bodoh dan mengurangi timbangan yang ada.

Ketiga, pandangan tersebut mengajarimu untuk bertawakkal dan bersandar karena Zat yang kau harap dan selalu kau cemaskan begitu dekat denganmu di saat engkau sangat jauh dari-Nya. Dia berbuat kepada dirimu dan apa-apa yang berada di sekitarmu dengan qudrat-Nya yang bagi-Nya sama saja antara yang paling kecil dan paling besar, antara yang paling sedikit dan paling banyak, antara yang paling dekat dan paling jauh. Tidak ada kesulitan sedikitpun serta tidak ada sentuhan secara langsung dalam berbagai perbuatan-Nya. Tidakkah engkau membaca hakikat berikut: "Jangan cemas, jangan bersedih, dan jangan merasa sendiri. Pasalnya, di manapun berada di sana terdapat kekuasaan-Nya. Ke mana saja engkau menghadap, di sana ada diri-Nya. Engkau berada dalam wilayah-Nya meski berada di perut bumi. Engkau berada dalam pengawasan-Nya meski berada dalam rongga ketiadaan. Tangan-tangan-Nya yang kasih, pemurah, dan bijaksana terus menyertaimu lewat perintah-perintah-Nya dalam setiap kondisi dan keadaan. Engkau tidak keluar dari satu tangan kecuali berada dalam jangkauan tangan yang lain secara teratur. Dalam perjalananmu engkau tidak pernah menemui sesuatu yang bersifat kebetulan. Engkau tidak

464

teraniaya oleh ketiadaan serta oleh kefanaan. Betapa banyak ketiadaan yang ternyata di baliknya, di bawahnya, atau di dalamnya terdapat simpanan kekayaan rahmat yang kekal dari sesuatu yang fana di alam ini.

Keempat, dengan melihat kutu yang kecil engkau bisa memahami jelasnya petunjuk kemakhlukan secara sempurna serta proses penciptaan yang utuh dalam segala sesuatu milik Sang Pencipta Yang Esa. Ia membuat petunjuk tadi demikian jelas meskipun kecil dan tampak dengan jelas meskipun samar. Sebab, sesuatu yang diliputi tidak mungkin keluar dari wilayah kekuasaan Pencipta Yang Maha Meliputi. Penciptanya tentu saja merupakan penciptanya. Hanya saja, kreasi tadi tertutup oleh materi dan keberlimpahannya; berbeda dengan makhluk yang besar.

Ketahuilah wahai yang lalai, sebagian besar bisikan yang muncul bersumber dari empat hal:

Pertama, sikap lupa diri sampai pada tingkat di mana satu helai ego berubah menjadi tali yang keras. Sebab, karena lupa kepada Allah akibat hawa nafsu, maka ia juga membuatmu lupa diri. Rasa ego semakin menguat dan terkelupas dari kulitnya lantaran semakin besar.

Kedua, mengukur makhluk dengan dirimu. Misalnya, apabila engkau melihat seekor hewan, maka jika pada dasarnya ia merupakan hewan yang terpelihara, terjaga, dan mendapat anugerah, kau asumsikan ia sebagai manusia yang berpikir, sedih, dan memiliki lintasan bercabang. Maka, engkau menyangka tarian kegembiraannya sebagai goncangan kesedihan.

Ketiga, pandanganmu yang hanya terbatas pada manifestasi nama azh-Zhahir semata sehingga engkau menduga bahwa yang berada di luar nama tersebut tidak kembali kepada wilayah susbtansi nama-Nya. Hal itu tidak benar sebab isi dari nama-nama-Nya di samping berada di atas segalanya juga berada di tempat yang paling dalam. Dia adalah Zat Yang Maha Pertama dan Terakhir, Yang Maha Terlihat dan Maha Tersembunyi.

Keempat, tuntunan manifestasi keesaan yang merupakan manifestasi paling tinggi, paling jauh, paling tersembunyi, dan paling terhampar dalam bentangan pluralitas yang paling luas,

465

paling banyak, dan paling halus. Pasalnya, ketika engkau melihat binatang misalnya engkau tenggelam dalam analogi diri sehingga masuk ke dalam berbagai perasaanmu. Sebagai contoh, engkau memosisikan binatang tadi sama seperti dirimu. Yakni ia bersedih ketika ditinggap sahabat dekatnya atau tanah airnya, serta risau dengan masa depan dan rezekinya. Maka engkau menjadi sakit karena perasaan kasihan terhadap deritanya yang bersifat ilusi. Padahal, kalau engkau masuk ke dalam dunianya secara benar, semua sangkaanmu tidak benar.

Di samping keliru dalam membuat analogi, engkau lebih keliru dalam analogi yang lain. Yaitu engkau melihat lebah misalnya sebagai ciptaan. Lalu secara tanpa sadar engkau menganalogikan Sang Pencipta Yang Wajib ada, Esa, dan bijaksana yang sama sekali tidak ada kesulitan, sentuhan, dan sifat memaksakan diri dalam perbuatan-Nya, dengan makhluk yang bersifat mungkin ada, papa, banyak, dan terbatas yang semua perbuatannya hanya bisa terwujud dengan sentuhan langsung, interaksi, dan kondisi sulit. Dari analogi inilah engkau mengasumsikan kedekatanmu dan kedekatan ciptaan yang berada dalam wilayah pena takdir dengan Penciptanya Yang Mahasuci dan Mulia. Memang benar, bahkan dilihat dari sisi-Nya, Allah Swt. sangat dekat tanpa ada yang lebih dekat dari-Nya. Dia lebih dekat dari semua yang dekat dan lebih dekat daripada urat nadi.

Namun dirimu dan ciptaan yang ada dilihat dari sisi kalian, sangat jauh tak terhingga. Sama seperti kaca yang menerima bayangan mentari lewat pantulannya sehingga berkilau oleh cahayanya dan tampak indah oleh pancaran tujuh warnanya. Dari kerajaan pusat kaca menuju mentari tersebut terbuka satu celah dan jalan sehingga dari lahiriah kerajaannya tampak pantulan mentari berikut semua perangkatnya di perut kaca tadi yang berada di dekat tanganmu. Namun, jika engkau mengulurkan tangan, engkau tidak akan meraih dan menyentuh apa-apa. Sehingga orang yang bodoh dan mencintai mentari, bisa jadi ingin sampai kepada mentari yang dicintainya itu pada setiap benda yang menerima kilaunya lantaran asumsi bodohnya dan penglihatan lahiriahnya.

466

Kadang ia juga mencari dari setiap benda yang menerima pantulan mentari berbagai sifat mentari yang ia dengar dan ia ketahui padahal semua itu hanya mungkin terdapat di alamnya. Maka, ketika sifat-sifat tersebut tidak ia temukan pada bayangannya tadi, iapun langsung mengingkari wujud mentari padanya; bahkan bisa jadi ia mengingkarinya secara total.

Kalbu adalah cermin keesaan-Nya. Hanya saja ia memiliki perasaan untuk bisa merasakan sesuatu yang ada padanya; berbeda dengan cermin yang lain. Hal ini seperti yang ditegaskan oleh al-Imam ar-Rabbani rh. Dengan karakter tersebut kalbu siap untuk menerima kebahagiaan yang tak terkira.

Barangkai engkau berkata, "Apa rahasia keterkaitan antara aktivitas luar biasa yang terdapat makhluk hidup dengan kondisi tenang yang ada di sekitarnya seolah tak terjadi apa-apa serta dengan tidak adanya pengaruh dari aktivitas menakjubkan tersebut lewat balutannya yang paling tipis menuju keluar meski hanya kecil?"

Jawabannya sebagaimana yang diterangkan kepadaku dalam kalbu. Yakni andaikan aktivitas tersebut terwujud karena sebab-sebab yang bersifat mungkin dan dari sesuatu yang paling mulia, tentu pada setiap hewan terdapat pelaku mandiri yang memiliki pengetahuan komprehensif. Juga tentu pada setiap buah terdapat pencipta yang memiliki kemampuan mutlak dan sempurna di mana tidak sulit baginya untuk menciptakan bumi berikut isinya. Dalam kondisi demikian, percikan, cipratan, dan ketersebaran merupakan sesuatu yang sangat penting. Namun, kondisi tenang dan aman yang tampak di alam, kestabilan dan kondisi diam yang terlihat di luar alam manusia, ketundukan, kedamaian, dan keselamatan di alam ini pada setiap waktu, semuanya terjadi karena kreasi yang seimbang dan celupan yang tertata ini merupakan kreasi dan celupan Zat yang,

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya cukup berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka terjadilah ia.

{(Catatan-336): Q.S. Yasin: 82.}

467

Tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya. Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.

{(Catatan-337): Q.S. al-Hijr: 21.}

Perbandingan antara perbuatan yang kau lakukan dengan kekuatanmu dan perbuatan yang terwujud lewat imajinasi yang paling cepat sebagaimana perbandingan antara perbuatan yang terwujud lewat imajinasi dengan perbuatan qudrat Sang Pencipta; bahkan lebih dari itu.

Ketahuilah wahai Said yang malang dan tertipu. Di antara ribuan kebutuhanmu yang kembali kepadamu hanya satu atau kurang dari itu. Sementara, sisanya diserahkan kepada Tuhan yang telah menciptakanmu pertama-tama seperti adonan. Kemudian Dia membuka bentukmu dalam air dengan kreasinya yang lembut guna menjadi cermin bagi nama-nama-Nya. Dia mengeluarkan pendengaran dan penglihatanmu dengan rahmat-Nya agar engkau bisa mendengar kebenaran dan memperhatikan makhluk sehingga mengenal Sang Pencipta, Dia menggantungkan di goa wajahmu lewat perhatian-Nya sebuah lisan untuk berzikir mengingat-Nya. Lalu Dia memasukkan ke dalam akalmu akal untuk mengenal-Nya. Dia tanamkan dalam dadamu sejumlah taman agar engkau mencintai-Nya. Dia memperlakukanmu secara halus dalam gelapnya rongga serta mengaturmu dengan rububiyah-Nya seperti yang Dia kehendaki. Dia pasang dalam wujudmu dengan hikmah-Nya sejumlah indera yang beragam dan organ berikut semua bagiannya. Semua itu agar engkau bisa merasakan seluruh jenis buah nikmat-Nya serta agar bisa menangkap manifestasi nama-nama-Nya.

Wahai yang lalai dan tertipu! Sampai kapan engkau menyudutkan-Nya! Padahal Dia telah berbuat baik sedemikian rupa padamu. Engkau bergantung kepada kemampuan parsialmu. Pada saat demikian, Dia biarkan engkau pada dirimu lantaran pilhan kelirumu sehingga engkau menjadi zalim terhadap diri sendiri dengan memikulkan padanya sesuatu yang tak mampu

468

ia pikul. Mengapa engkau tidak mau bertawakkal kepada Zat yang menggenggam ubun-ubunmu?! Seluruh kebutuhanmu kembali kepada-Nya sehingga engkau menyerahkan semua kepada-Nya. Dengan bertawakkal kepada-Nya kau campakkan dirimu dalam perahu-Nya yang berjalan di antara badai berbagai urusan sehingga engkau berkata, "Dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya."

{(Catatan-338): Q.S. Hūd: 41.}

Akhirnya engkau berlabuh dalam kebaikan Islam dan beristirahat di pantai keselamatan. Bukankah mentari kehidupan hampir terbenam. Bulan kehidupan juga telah tertutupi oleh masa tua dan serta diselimuti oleh putihnya masa renta. Tidak ada manfaat pada selain Allah Swt. Di samping itu, jika Dia tidak mengijinkan maka pasti akan menimbulkan bahaya besar. Sesuatu yang tanpa ijin-Nya pasti akan menghasilkan bahaya dan permusuhan. Namun apabila dengan-Nya pasti akan mencukupi. Tindakan meninggalkan sesuatu harus karena dua hal:

Pertama, karena keberadaannya yang berbahaya.

Kedua, karena tujuan dari segala tujuan menjadi tidak tercapai.

Ya, tanpa Dia penderitaan lebih dominan dibandingkan dengan kenikmatan pada setiap kenikmatan. Bahkan, kenikmatan tanpa-Nya merupakan derita tersembunyi. "Karena itu, berlarilah kepada Allah!"

{(Catatan-339): Q.S. adz-Dzariyāt: 50.}

Dari segala sesuatu yang fana terdapat sesuatu yang kekal di sisi-Nya. Yang lenyap di sini dan tidak abadi tanpa-Nya akan abadi di sana. Sementara waktu yang ada sangat sempit. Bukankah engkau melihat bahwa dirimu berada dalam kondisi sakarat. Pasalnya, kesempurnaan usiamu berupa mabuk dalam sakarat dan berjalan dalam sejumlah kesalahan. Karena itu, angkat kepalamu dari dunia agar bisa melihat nikmat abadi, kasih sayang yang kekal, dan cinta azali yang ada di sisi Tuhan.

Ketahuilah wahai yang sedang berpikir dan merenung, jika pengetahuanmu sampai kepada sesuatu atau melihat sisi ketidakterhinggaan pada sesuatu, maka bertasbihlah memuji

469

Allah lantaran dekatnya dirimu dengan kebenaran. Pasalnya, ketidaktahuan dan ketakterhinggaan merupakan dua petunjuk dan alamat yang tegak di atas pilar-pilar kekuasaan rububiyah-Nya yang mutlak.

Ketahuilah wahai yang sedang berilusi! Jika engkau dihadapkan pada berbagai ilusi, lihatlah ke sisi kanan untuk melihat wilayah kekuasaan penciptaan yang serupa dari mulai wilayah galaksi dan orbit planet yang terus berantai hingga wilayah individu dan orbit partikel; dari penciptaan langit hingga penciptaan buah; dari pemunculan bumi hingga penghadiran rayap pemakan pohon dalam bentuk mirip dan serupa. Semua itu menunjukkan kesatuan pena dan tanda. Sementara engkau berdiri di tengah alam seraya mengemban amanah dan tugas khilafah.

Kemudian lihatlah ke kiri untuk melihat tatanan yang berlaku umum di mana ia memerintahkan keadilan pada segala sesuatu. Engkau juga bisa melihat neraca sempurna yang mencegah adanya penyimpangan dalam segala hal. Di sana terdapat sesuatu seperti kilat yang menerbangkan semua ilusi, sementara di sini terdapat sesuatu seperti guntur yang melenyapkan mimpi dan angan-angan.

Kemudian lihatlah dirimu agar bisa melihat bagaimana diri dan tubuhmu merupakan ciptaan-Nya, mulai dari kepala hingga kaki, dari sel terkecil hingga keseluruhan tubuhmu yang juga merupakan sel besar. Setelah itu lihatlah pada kalbumu di atasmu agar dengan imanmu engkau bisa melihat cahaya segala cahaya, Zat yang telah mencipta cahaya, menerangi cahaya, membentuk cahaya, serta memasukkan cahaya manifestasi-Nya dalam segala sesuatu.

Ketahuilah! Penggunnaan bentuk superlatif pada sejumlah nama, sifat, dan perbuatan Allah seperti "Yang Maha Penyayang dari seluruh yang penyayang, Pencipta terbaik, Allah Mahabesar," tidak menafikan kemurnian tauhid. Pasalnya, maksud dari itu adalah melebihkan Zat yang memiliki sifat hakiki dan dzati atas makhluk yang memiliki sifat ilusi dan lahiri. Ia juga tidak menafikan kemuliaan Zat Yang Mahaesa dan Maha Memaksa. Pasalnya, ia tidak dimaksudkan untuk membandingkan sifat-Nya

470

dan perbuatannya dengan sifat dan perbuatan makhluk sebab semua kesmepurnaan yang terdapat dalam ciptaan hanyalah bayangan dan pantulan saja jika dibandingkan dengan kesempurnaan-Nya. Karena itu, ia tidak layak dibandingkan dengan-Nya.

Namun maksud dari pemakaian bentuk superlatif adalah membandingkan antara jejak khusus-Nya dan objek khusus berikut keterpengaruhan objek oleh pengaruh-Nya yang hakiki sesuai dengan potensinya. Serta antara pengaruh sarana lahiri pada sesuatu yang khusus tersebut dan keterpengaruhannya darinya. Ini seperti ucapan kepada prajurit yang hanya menghormati kopralnya, "Wahai fulan, raja lebih agung dan lebih kasih daripada kopralmu." Ucapan ini tidak dimaksudkan untuk memberikan perbandingan antara kopral dan raja. Ia hanyalah gurauan; bukan sesuatu yang serius. Namun, maksudnya adalah perbandingan sesuai dengan pandangan prajurit tadi dengan melihat tingkat keterikatannya dengan raja secara hakiki dan dengan kopral sebagai lanjutan dengan ijin raja.

Adapun kondisi-Nya yang lebih kasih dari semua yang memiliki sifat kasih, lebih pemurah daripada semua pemurah, lebih mulia daripada semua yang mulia, serta sejenisnya, maka semua itu dimaksudkan bahwa andaikan semua kasih dan kemurahan menyatu pada diri seseorang, hal itu takkan bisa menyamai lautan rahmat-Nya yang tak terhingga.

Ia menunjukkan makna "lebih dari yang lain" dari empat sisi: (1) al-mufadhadhal (Allah) bersifat hakiki; (2) esa; (3) dalam keesaan; (4) dengan keesaan. Sebaliknya, al-mufadhdhal alayh (makhluk) bersifat majazi, banyak, bersama seluruh yang di tangan mereka, tidak sampai senilai satu bagian dari limpahan Zat Yang Mahaesa. Allah befirman,

Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka

471

bersatu menciptakannya.

{(Catatan-340): Q.S. al-Hajj: 73.}

Ketahuilah! Lafal Allah secara pasti menunjukkan sejumlah makna nama-mana-Nya dan seluruh sifat-Nya yang sempurna. Hal ini berbeda dengan simbol-simbol lain yang hanya menunjukkan zat yang disebut. Pasalnya, sifat seluruh zat tidak mesti melekat pada dirinya. Karena itu, nama zat tidak menunjukkan sifatnya, entah secara identifikasi, implisit, ataupun sebagai sebuah keharusan. Adapun zat Allah Yang Mahasuci, karena terdapat keterkaitan yang jelas antara Dia dan sifat berikut nama-Nya serta karena adanya korelasi dengan uluhiyah, maka nama Allah menunjukkan semua sifat-Nya sebagai sebuah keniscayaan. Demikian pula dengan kata "ilah" dalam redaksi lā ilāha illallāh.

Jika hal ini telah dipahami, ketahuilah bahwa lā ilāha illallāh berisi tauhid serta hukum-hukum tauhid sebanyak nama-nama-Nya. Satu kalimat ini mencakup ribuan kalimat. Setiap kalimat sebagaimana kalimat tersebut yang tersusun dari penafian dan penetapan. Karena penafian mengarah pada setiap bagian secara keseluruhan, maka dalam penetapan terdapat penegasan terhadap semua yang dinafikan dari selain-Nya lewat sebuah kaidah yang permanen. Seolah-olah ia berbunyi, "Tiada Pencipta, tiada Pemberi rezeki, tiada Yang Berdiri sendiri, tiada Pemilik, tiada Pembentuk, tiada Zat Yang Memaksa, kecuali Allah." Demikian seterusnya. Kalimat ini bisa disebutkan oleh pezikir yang sedang menaiki sejumlah kedudukan sesuai dengan tingkatan dan kondisinya. Pengulangan ibarat penegasan dan penguatan.

Ketahuilah! Jika engkau mengetahui bahwa semua berasal dari Allah Swt. engkau harus rela dengan semua yang mendatangkan suka cita atau musibah. Jika tidak, berarti engkau lalai. Di sini sebab-sebab lahiri ditegakkan dan penglihatan ditutupi oleh kelalaian. Bagi setiap orang apa yang bertentangan dengan kecenderungan, hawa nafsu, dan seleranya lebih banyak daripada apa yang sesuai dengannya. Pasalnya, alam tidak dibangun di atas konstruksi kecenderungan pemilik angan-angan. Tetapi,

472

angin bertiup tidak seperti yang diinginkan oleh kapal. Andaikan manusia yang memiliki hawa nafsu tidak melihat sebab-sebab ini serta tidak lalai terhadap Zat yang memunculkan sebab tentu keberatan batilnya, kebenciannya, dan murkanya tertuju kepada Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana dan Penguasa Yang Maha Pemurah. Jika orang yang lalai melempar panah keberatannya, ia akan menimpa takdir, setan, atau memantul kepada kepala dan dirinya sendiri.

Ketahuilah! Jika engkau terus memperhatikan, engkau akan memahami bahwa kemustahilan makhluk dalam mencipta sampai pada tingkatan yang tak terkira jika diukur dengan kadar yang terlihat pada ciptaan yang bernisbat kepada kekuasaan tak terhingga.

Ketahuilah! Doa terbagi tiga macam:

Pertama, doa manusia lewat lisan dan ucapannya. Begitu pula dengan hewan yang berteriak dengan lisan khususnya dalam meminta kebutuhan yang dirasakan.

Kedua, doa lewat lisan kebutuhan. Misalnya doa seluruh tumbuhan dan pohon; terutama di musim semi. Demikian pula dengan yang terdapat pada semua hewan ketika membutuhkan keperluan daruratnya yang tidak disadari.

Ketiga, doa lewat lisan kecenderungan alamiah. Misalnya doa semua yang bisa tumbuh, berkembang, berubah, dan sempurna. Sebagaimana, "segala sesuatu bertasbih memuji-Nya,"

{(Catatan-341): Q.S. al-Isrā: 44.}

demikian pula segala sesuatu berdoa dan bersyukur kepada-Nya lewat zat dan kondisinya seperti doa yang dipanjatkan dengan lisannya.

Ketahuilah, benih sebelum menjadi pohon, sperma sebelum menjadi manusia, telur sebelum menjadi burung, dan biji sebelum menjadi bulir, berada dalam pengaturan ilmu yang sempurna dan pemeliharaan. Ia tidak lain adalah ilmu Zat Yang Maha Mengetahui hal gaib yang membentuk di rahim apa yang Dia kehendaki. Mengetahui hal gaib maksudnya adalah yang tersembunyi di masa lalu, masa depan, dan sekarang. Seolah-olah

473

masing-masing benih, sperma, telur, dan biji merupakan kartu salinan dari kitabul mubin yang bersumber dari kitab kekuasaan-Nya. Atau ia merupakan daftar isi yang dikeluarkan dari kitab induk yang berasal dari kitab pengetahuan azali. Atau merupakan rambu-rambu yang muncul dari induk kitab yang berasal dari kitab ketentuan azali; terutama dari pintu neraca dan keteraturan. Atau, ia merupakan ikhtisar perintah yang tercermin, terpusat, dan tercampur yang turun dari rububiyah Zat Yang Mahakuasa atas segala sesuatu dan Maha Mengetahui segala sesuatu.

Ketahuilah! Penglihatan orang beriman kepada ciptaan bersifat simbolik. Ia melihatnya untuk menunjukkan substansi yang terdapat di luar itu. Adapun penglihatan orang kafir kepadanya bersifat hakiki guna menunjukkan substansi yang terdapat padanya.

Pada setiap ciptaan terdapat dua sisi: sisi yang mengarah kepada zat dan sifatnya sendiri, serta sisi yang mengarah kepada Penciptanya dan kepada nama-nama Pencipta yang terwujud padanya.

Sisi kedua jelas mempunyai wilayah yang lebih luas dan aset yang lebih sempurna. Pasalnya, sebagaimana setiap huruf dari sebuah buku menunjuk kepada dirinya senilai satu huruf dan lewat satu sisi, ia menunjukkan penulisnya lewat banyak sisi serta memperkenalkan kepada yang melihatnya senilai banyak kata. Demikian pula dengan setiap ciptaan yang merupakan huruf kitab qudrat-Nya. Ia menunjukkan keberadaan dan dirinya seukuran bentuknya dan lewat satu sisi; yakni wujud lahiriahnya. Namun, ia menunjukkan Pelukisanya yang azali lewat beragam sisi serta memperlihatkan nama-nama-Nya yang terwujud pada ciptaan tersebut seukuran kumpulan syair yang panjang.

Lalu sebagaimana diketahui bersama, makna simbolik tidak boleh diposisikan sebagai sesuatu yang dituju entah dalam bentuk pembenaran atau pengingkaran kecuali lewat pandangan sekunder. Karena itu, pikiran orang yang melihatnya tidak masuk ke dalam detil-detilnya kecuali jika dilihat sebagai tujuan. Dalam kondisi demikian, simbol tadi berubah menjadi substansi; berbeda

474

dengan makna hakiki.

{(Catatan-342): Yakni, menjadi objek pembenaran dan pengingkaran.}

Dari sini engkau melihat buku-buku filsafat yang membahas alam tampak sangat kuat dan kokoh, padahal sebenarnya ia lebih lemah daripada rumah laba-laba jika diukur dengan Penciptanya. Ucapan para ahli kalam misalnya tidak melihat berbagai persoalan filsafat dan ilmu alam kecuali dengan makna simbolik hanya sekedar untuk menunjukkan dalil. Sehingga cukup bagi mereka mentari sebagai lentera, bumi sebagai hamparan, malam sebagai baju, siang sebagai kehidupan, bulan sebagai cahaya, dan gunung sebagai pasak yang mengatur aliran udara, menyimpan air dan mineral, melindungi bumi agar tidak bergerak, dan meredakan murka bumi yang bergoncang lewat tarikan nafasnya.

Sebaliknya, filosof baru merasa cukup ketika mentari menjadi pusat tata surya dan api yang besar sampai pada tingkatan di mana planet-planet beterbangan bersama bumi kita di sekitarnya sebagaimana anai-anai yang bertebaran. Demikianlah, andaikan pandangan ahli kalam tidak sesuai dengan kenyataan selama sesuai dengan perasaan umum dan apa yang dikenal bersama, hal itu tidak mendatangkan kerugian serta tidak layak didustakan.

{(Catatan-343): Pasalnya mereka menyebutkan pandangan yang ada hanya sekedar untuk menunjukkan dalil.}

Karena itu, pandangan mereka sederhana, berada dalam tingkatan terendah dalam berbagai persoalan filsafat, sementara lebih kuat daripada besi dalam prinsip persoalan ilahiyah.

Dari sini pula kemenangan pada sebagian besarnya di awal-awal terwujud pada kaum yang sesat dalam hal yang terkait dengan dunia dan lahiriah kehidupan ini. Pasalnya, dengan seluruh kelompok mereka yang jatuh ke tingkatan diri serta mengarah kepada dunia, mereka berkata, "Ia tidak lain hanya kehidupan dunia kita."

{(Catatan-344): Q.S. al-An'am: 29.}

Namun pada akhirnya ia berpihak kepada orang-orang bertakwa yang diseru, "Kehidupan yang terakhir (akhirat) lebih baik bagimu daripada yang pertama (dunia)."

{(Catatan-345): Q.S. adh-Dhuha: 4.}

475

"Kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Sementara, negeri akhirat lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Apakah kalian tidak berpikir."

{(Catatan-346): Q.S. Q.S. al-An'am: 32.}

"Negeri akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya kalau kalian mengetahui."

{(Catatan-347): Q.S. al-Ankabut: 64.}

Karena itu, cukuplah Allah bagi kami. Dia Sebaik-baik tempat bersandar. Dia Sebaik-baik Pelindung dan Penolong.

Ketahuilah! Maaf Allah merupakan anugerah, sementara siksa-Nya merupakan keadilan. Hal ini sama seperti orang yang makan racun. Ia sangat wajar untuk menderita sakit sesuai dengan garis ketentuan Allah yang berlaku. Jika tidak sakit, maka itu merupakan anugerah dan kemurahan-Nya sebab berarti berada di luar kebiasaan yang ada.

Ya, kesesuaian maksiat dengan siksa yang didapat sangat kuat sehingga kaum Muktazilah tersesat di dalamnya dengan menisbatkan keburukan kepada selain-Nya serta mewajibkan pemberian ganjaran kepada-Nya. Wajibnya keburukan mendapat siksa sama sekali tidak bertentangan dengan kesempurnaan rahmat-Nya. Sebab, bahaya parsial ini berhubungan dengan pipa rangkaian tatanan yang komprehensif yang seperti tangkai di mana ia membuahkan banyak kebaikan. Sementara, membiarkan kebaikan yang banyak ini untuk menahan datangnya bahaya parsial dan keburukan yang sedikit merupakan satu bentuk bahaya yang menyeluruh dan keburukan yang banyak. Ia bertentangan dengan hikmah keadilan Zat Yang Mahaadil, Maha Bijaksana, dan Maha Pemurah.

Wahai manusia yang zalim dan bodoh. Jauhilah keburukan sebisa mungkin. Jika tidak, engkau layak mendapatkan balasan atas sikapmu yang meninggalkan kebaikan berikut balasan atas tindakanmu melenyapkan buah dari seluruh sebab yang sebelumnya telah datang kepadamu dalam rangkaian pilar-pilar keberadaan buah tadi. Pasalnya, keburukan merupakan ketiadaan. Dengan ketiadaan bagian lain dari sebab, maka buah atau akibatnya juga tidak ada. Karena itu, ia akan kembali kepada

476

bagian yang lain lagi. Setiap bahaya merupakan bentuk ketiadaan akibat atau buah. Hanya saja, buah wujud tidak kembali kepadanya kecuali sesuai dengan porsinya. Keberadaan bagian tadi bukan sebab dari wujud keseluruhan. Dari sini kesempurnaan ampunan dan karunia Allah demikian jelas. Dia memberikan balasan atas keburukan sesuai dengannya, namun memberikan balasan kebaikan dengan sepuluh kali lipatnya. Padahal yang semestinya terjadi adalah sebaliknya.

{(Catatan-348): Karena kebaikan merupakan sesuatu yang positif dan eksis, maka ia tidak plural dan tidak diwujudkan oleh hamba. Karena itu, seharusnya kebaikan ditulis satu, berbeda dengan keburukan yang begitu banyak dan melampaui batas. Semestinya ia ditulis seribu keburukan. Engkau bisa melihat risalah "Hikmah Isti'adzah" dalam Lama'at ketigabelas. Di dalamnya terdapat penjelasan yang luas. }

Demikianlah, kezaliman manusia tampak berlawanan dengan realitas yang ada.

Ketahuilah! Manusia diuji dengan sifat lupa. Dan lupa yang paling buruk adalah lupa kepada dirinya sendiri. Lupa terhadap diri jika terkait dengan mumalah, ibadah, usaha, dan tafakkur merupakan sebuah kesesatan meski dalam hasil dan buahnya berupa kesempurnaan. Kaum yang sesat dan kaum yang mendapat petunjuk saling berlawanan dalam hal lupa dan ingat. Orang yang sesat lupa kepada dirinya saat melihat amal dan mengaplikasikan rambu-rambu tugas. Ia mengarahkan pandangannya ke cakrawala untuk menyenangkan ego dan lupa dirinya. Akan tetapi, ia menjadi ingat kepada dirinya dalam segala hal yang terkait dengan tujuan. Sampai-sampai tidak ada tujuan baginya kecuali yang kembali kepadanya. Tujuan dalam pandangannya adalah mencintai diri.

Adapun yang menyucikan diri ia akan ingat pada dirinya sebelum yang lain di saat berusaha, bergerak, dan bertafakkur. Seolah-olah dirinya merupakan titik permulaan bagi setiap amal dan tafakkur. Namun, pada hasil, keuntungan, dan tujuan ia lupa kepada dirinya seolah-olah dirinya lenyap dan masuk ke dalam ketiadaan. Ia hamba yang mengabdi kepada Tuannya dengan kenikmatan ikhlas dalam suatu tugas yang kembali pada setiap sisi kepada Majikan. Ia merasa tidak berhak mendapatkan balasan. Sementara, apa yang diberikan oleh Tuhan kepadanya

477

dilihat sebagai anugerah-Nya semata.

Ketahuilah! Kondisi saling menopang antar kaum beriman dalam melaksanakan ibadah dan dakwah dalam kelompok mereka merupakan rahasia agung dan hal yang besar. Pasalnya, dengan itu setiap individu menjadi seperti batu keras dalam bangunan yang kokoh. Ia mendapat manfaat dari saudara-saudaranya dalam hal keimanan sebanyak jutaan kali lipat dari apa yang ia dapat lewat amal yang dilakukannya sendiri. Ketika rangkaian iman menata mereka maka masing-masing menjadi saling mengisi, memiliki pembela, penyeru, pengasih, pemuji, dan pemberi rekomendasi. Terutama kepada pemimpin mereka.

{(Catatan-349): Maksudnya Rasulullah saw.}

Setiap individu merasa senang dengan kebahagiaan semua saudaranya sebagaimana ibu yang sedang lapar tetap merasa nikmat dengan kenikmatan yang dirasakan oleh anaknya, serta saudara kandung senang dengan kebahagiaan saudaranya. Sehingga manusia malang dan fana ini siap untuk mengabdi kepada Sang Pencipta seluruh alam dan menerima kebahagiaan abadi.

Lihatlah kondisi Nabi saw bagaimana beliau berdoa dengan mengucap "Wahai Yang Maha Penyayang." Lalu engkau bisa melihat seluruh umat mengucap, "Ya Allah, limpahkan salawat dan salam kepada hamba dan kekasih-Mu, Muhammad, yang merupakan lautan cahaya-Mu, simpanan rahasia-Mu, penyebar zikir dan syukur terhadap-Mu, penunjuk keindahan kekuasaan rububiyah-Mu." Mereka menyucikan beliau di sisi Tuhan serta mendukung syafaatnya. Dengan lisan ketidakberdayaan dan kefakiran, mereka juga meminta kekayaan-Nya dalam ketidakbutuhan-Nya yang sempurna. Mereka meminta kemurahan-Nya dalam kemuliaan-Nya yang agung. Dengan lisan pengabdian mereka menyeru rububiyah-Nya yang bersifat mutlak. Dengan kerja sama yang mulia dan maknawi ini manusia naik dari tingkat kehinaan dan ketidakberdayaan yang paling rendah menuju khilafah yang paling tinggi. Ia menerima amanah serta mendapatkan kemuliaan di mana langit dan bumi ditundukkan untuknya.

478

Ketahuilah! Siapa yang jauh dari sesuatu, ia tidak melihat sebagaimana yang dilihat oleh pihak yang dekat meskipun yang jauh itu lebih cerdas dan memiliki penglihatan yang lebih tajam. Jika keduanya berlawanan, maka yang lebih kuat adalah yang dekat. Filsafat Eropa yang berkutat dalam materialisme betul-betul sangat jauh dan memiliki jarak yang sangat panjang dengan kedudukan Islam, iman, dan Alquran. Filosof terbesar mereka tidak bisa menyamai orang awam yang hanya memahami maksud Alquran secara umum.

Demikianlah yang kusaksikan dan begitulah kenyataannya. Jangan engkau berkata bahwa orang yang menyingkap kilat dan uap, bagaimana mungkin tidak bisa memahami rahasia kebenaran dan cahaya Alquran?! Demikianlah kenyataannya. Pasalnya, akalnya terdapat di matanya.

{(Catatan-350): Yakni, ia hanya memahami dan membenarkan apa yang dilihat.}

Sementara, mata tidak bisa melihat apa yang dilihat oleh kalbu dan ruh. Apalagi jika jaraknya jauh. Apalagi ketika kalbunya mati akibat kelalaian yang membawanya kepada alam materi.

Allah menutup kalbu, pendengaran, dan penglihatan mereka.

{(Catatan-351): Q.S. an-Nahl: 108.}

Ketahuilah! Di antara sikap kufur nikmat dan di antara bentuk pengingkaran terhadap nikmat yang paling hebat adalah tidak bersyukur terhadap apa yang diberikan kepadanya dan kepada yang lain seperti pendengaran dan penglihatan, atau yang permanen seperti cahaya dan api, atau yang bersifat komprehensif seperti udara dan air. Ia hanya bersyukur terhadap nikmat yang khusus diberikan kepadanya atau yang bersifat langka karena jarang dibutuhkan. Padahal, yang mencakup semua, yang bersifat permanen dan terus-menerus itulah nikmat yang paling besar dan paling sempurna. Yang bersifat umum menunjukkan urgensinya yang sempurna, sementara yang bersifat permanen menunjukkan nilainya yang berharga.

Ketahuilah! Di antara tanda bahwa "Dia menghitung segala sesuatu satu persatu"

{(Catatan-352): Q.S. al-Jin: 28.}

adalah adanya kesamaan, keseimbangan, dan keteraturan antara segala hal yang berdekatan, berhadapan,

479

dan serupa seperti jari-jari tangan, biji yang terdapat di bulir, benih yang terdapat di buah, serta dedaunan yang terdapat di bunga. Mahasuci Zat Yang menghitung segala sesuatu satu persatu serta pengetahuan-Nya mencakup segala hal.

Ketahuilah bahwa proses fertilisasi dan kelahiran yang disertai pemeliharan penuh kasih sayang merupakan dua tugas umum yang berlaku sampai kepada sesuatu yang paling kecil. Keduanya mendapatkan ganjaran tunai berupa kenikmatan yang terdapat di dalamnya. Kemurahan Zat yang berbuat baik dan mulia yang bersifat umum serta kerinduan segala hal yang berpasangan untuk menunaikan dua tugas tadi menunjukkan bahwa tumbuhan, pohon, tambang, bahkan benda-benda mati juga memiliki bagian nikmat tersebut sesuai dengan kondisinya. Adanya perhatian untuk memberikan balasan, serta keberadaan kasih sayang, keadilan, rahasia 'rahmat-Ku meliputi segala sesuatu",

{(Catatan-353): Q.S. al-A'raf: 156.}

serta banyaknya riwayat yang mendukung adanya pemberian ganjaran dan hukuman pada masa kebangkitan menunjukkan kekalnya ruh hewan berikut ganjaran atas tugas yang mereka kerjakan dengan penuh ketaatan dan ketundukan.

{(Catatan-354): Abu Hurayrah ra. Meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Semua hak akan dikembalikan kepada pemiliknya pada hari kiamat sehingga kambing yang tak bertanduk akan mendapat kesempatan menuntut balas dari kambing yang bertanduk." (HR Muslim no. 2582 dan at-Tirmidzi 2535 dalam Tuhfatul Ahwadzi.}

Ketahuilah wahai Said yang malang dan ingin kekal di dunia yang fana ini. Engkau akan fana kecuali yang Allah kekalkan. Wujudmu akan lenyap kecuali yang mengarah kepada-Nya. Hidupmu akan padam kecuali yang kau habiskan di jalan-Nya. Karena itu, ucapkanlah, "Cukuplah bagiku dari keabadian bahwa Allah merupakan Pemilik abadi. Cukuplah bagiku dari nikmatnya keabadian, pengetahuanku bahwa Dia merupakan Sembahanku yang abadi. Cukuplah bagiku dari tujuan keabadian, pengetahuanku bahwa Dia adalah Tuhanku yang abadi. Cukuplah bagiku dari keabadian dan kesempurnaan-Nya imanku bahwa Dia adalah Penciptaku yang abadi. Cukuplah bagiku dari wujud ini adalah keberadaanku sebagai jejak Zat yang Wajibul

480

wujud. Cukuplah bagiku dari nilai wujud bahwa aku merupakan kreasi Zat yang menciptakan langit dan bumi. Cukuplah bagiku dari tujuan wujud ini pengetahuanku bahwa diriku merupakan celupan Zat yang menghias langit dengan lentera dan bumi dengan bunga. Cukuplah bagiku dari kenikmatan wujud pengetahuanku bahwa diriku merupakan ciptaan dan makhluk-Nya, sementara Dia merupakan Tuhan dan Penciptaku. Cukuplah bagiku dari kehidupan ini keberadaanku sebagai cermin manifestasi nama-nama Sang Pencipta kematian dan kehidupan. Cukuplah bagiku dari kehidupan berikut hak dan tujuanya, penampakanku kepada semua saksi, pemunculanku di tengah-tengah saudaraku sesama entitas, pendeklarasian diriku di pasar alam lewat rahasia integralitas wujudku terhadap berbagai jejak manifestasi nama Pencipta langit dan bumi. Cukuplah bagiku dari tujuan hidup keberadaanku sebagai model dan indeks jejak manifestasi nama-nama-Nya yang mulia. Cukuplah bagiku dari kehidupan dan kesempurnaanya, posisiku yang lewat lisan keadaanku menampakkan manifestasi nama-nama Zat yang langit tegak dengan perintah-Nya dan bumi stabil dengan ijin-Nya.Cukuplah bagiku dari kenikmatan hidup pengetahuanku bahwa diriku merupakan milik, ciptaan, makhluk, dan hamba-Nya yang fakir, sementara Dia merupakan Penciptaku, Tuhanku, Pemeliharaku, Pemilikku, serta Yang Mengasihi dan memberikan nikmat padaku. Cukuplah dari kesempurnaan ini adalah keimanan kepada Allah. Cukuplah Allah bagiku dari segala sesuatu.

Ketahuilah! Dalam tauhid dan dalam menisbatkan ciptaan kepada sesuatu yang banyak adalah kesulitan tak terhingga sampai pada tingkat mustahil terjadi, serta kemerosotan nilai dan sebuah kehinaan tak terkira sebagaimana telah sering dikatakan. Bukankah sesuatu yang berada di tangan prajurit menjadi demikian penting ketika bersambung dengan raja. Ucapannya yang atas nama raja juga menjadi berharga dan penting. Semua kebutuhan hidup yang didapat dari kekayaan dan perangkat kerajaan sangat mudah dipenuhi. Namun, semua itu akan hancur menjadi debu yang beterbangan ketika tali hubungannya terputus

481

akibat sikap membangkang prajurit tadi.

Ketahuilah bahwa bahaya seperti manfaat yang berasal darinya dan keburukan seperti kebaikan yang berasal darinya. Kematian dan kehidupan berlangsung sesuai dengan kekuasaan dan ketentuan-Nya. Pasalnya, dalam kematian sesuatu terhadap kehidupan dan awal mula yang lainnya. Demikian pula dengan keburukan dan bahaya.

Ketahuilah bahwa dalam jiwa manusia terdapat potensi lewat dua sisinya: kenikmatan tak terhingga dan penderitaan tak terkira dari sisi integralitas substansinya dan jumlah perangkatnya yang tak terbatas serta dari sisi kenikmatan yang dirasakan akibat kesenangan yang didapat oleh anak-anak dan saudaranya di antara entitas yang ada sekaligus menderita dengan penderitaan mereka.

Ketahuilah aku telah menyaksikan bahwa melihat yang lain dalam kondisi lupa diri bisa membalikkan berbagai hakikat. Misalnya melihat kepada air bisa membuat segala sesuatu tampak terbalik. Karena bodoh, engkau yakin dirimu pintar.

Ketahuilah bahwa pengulangan sejumlah bagian Alquran sama seperti tuntutan pengulangan zikir dan doa. Pasalnya di samping merupakan kitab hakikat dan syariat serta kitab makrifat dan hikmah, Alquran juga merupakan kitab zikir, doa, dan dakwah. Zikir harus diulang-ulang, doa harus dipanjatkan berkali-kali, dan dakwah harus dipertegas.

Ketahuilah bahwa di antara keistimewaan ketinggian Alquran adalah bagaimana ia mengemukakan satu bentuk kesatuan sesudah pembahasan tentang banyak hal dan penjelasan global sesudah uraian yang bersifat detil; serta menyudahi bahasan tentang hal-hal parsial dengan rambu-rambu rububiyah yang bersifat mutlak dan hukum-hukum sifat Tuhan yang sempurna dengan menyebutkan sejumlah ikhtisar sebagai kesimpulan. Hal itu agar benak pembaca tidak tenggelam dalam bagian alam yang disebutkan sehingga lupa kepada agungnya kedudukan uluhiyah yang bersifat mutlak. Juga agar akalmu terhampar dari bagian kecil itu menuju sejumlah hal yang serupa dan semisal. Serta Alquran memperlihatkan kepadamu dengan

482

gaya bahasa semacam itu serta memberikan pemahaman kepadamu bahwa dalam setiap bagian meskipun kecil dan sementara terdapat jalan yang jelas, jalan yang lurus, dan argumen yang terang untuk mengetahui kekuasaan-Nya yang abadi dan untuk menyaksikan manifestasi nama-nama Tuhan Yang Mahaesa.

Gaya penuturan Alquran yang semacam itu seperti orang yang memperlihatkan setetes air yang didalamnya terdapat gambaran matahari atau bunga yang di dalamnya terwujud sejumlah warna cahaya mentari. Dengan demikian berarti ia memperlihatkanmu kepada mentari di siang bolong. Ia megarahkan kepalamu padanya agar tidak terlena oleh kondisi yang ada yang bisa membuatmu meremehkan mentari dan mengingkari keagungannya.

Misalnya dalam surat Yusuf Allah befirman,

Di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada Zat yang Maha mengetahui.

{(Catatan-355): Q.S. Yusuf: 76.}

Dalam surat al-Hajj,

Mereka tidak Mengenal Allah dengan sebenar-benarnya.

{(Catatan-356): Q.S. al-Hajj: 74.}

Apabila anak-anakmu telah sampai umur balig, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

{(Catatan-357): Q.S. an-Nur: 59.}

Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.

{(Catatan-358): Q.S. al-Ankabut: 41.}

Ketahuilah bahwa perhatian, bantuan, dan perbuatan para wali lewat sejumlah limpahan karunia-Nya merupakan sejenis doa entah terwujud dengan keadaan mereka atau perbuatan.

483

Yang memberikan petunjuk adalah Allah. Dialah yang menolong dan membantu. Ada sesuatu yang tampak kepadaku, hanya saja kurang begitu jelas. Yaitu bahwa dalam diri manusia terdapat perangkat halus dan kondisi yang apabila manusia berdoa dengan lisannya-meski ia fasik-pasti akan diterima. Ya, itulah perangkat halus yang apabila bersumpah atas nama Allah, pasti akan dibenarkan.

Ketahuilah wahai yang meyakini masa lalu dan meragukan masa depan. Bawalah dirimu kepada dua masa sebelumnya. Posisikan dirimu sebagai kakekmu yang berada di pertengahan pohon nasabmu. Lalu lihatlah nenek moyangmu yang merupakan entitas masa lalu. Setelah itu perhatikan anak-anakmu yang datang secara berurutan darimu menuju kepadamu di mana mereka merupakan entitas yang bersifat mungkin di masa sesudahnya. Apakah engkau melihat perbedaan antara dua sisi tersebut? Tentu saja tidak. Entah dilihat dari sisi keteraturannya, ataupun dilihat dari sisi yang dianggap sebagai kebetulan. Namun, sebagaimana yang pertama tercipta dengan pengetahuan dan kecermatan yang dilihat oleh Penciptanya demikian pula dengan yang kedua. Ia juga akan dibuat demikian dalam kondisi terlihat oleh Penciptanya sebelum keberadaannya. Karena itu, proses menghidupkan kembali nenek moyangmu tidak lebih aneh daripada menghadirkan anak-anakmu. Bahkan, hal itu lebih mudah darinya. Allah befirman, "Proses menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya."

{(Catatan-359): Q.S. ar-Rum: 27.}

Analogikanlah hal parsial tersebut dengan semua yang bersifat komprehensif agar engkau bisa melihat berbagai kejadian masa lalu sebagai mukjizat yang menjadi petunjuk bahwa Penciptanya Mahakuasa atas segala hal yang bersifat mungkin ada di masa mendatang, sekaligus Maha Mengetahui detil-detilnya, serta Maha Mencakup dan Melihatnya.

Ya. Sebagaimana berbagai entitas yang tampak dan benda-benda tinggi yang terdapat dalam kebun alam ini merupakan mukjizat yang bersaksi dan menyeru bahwa Penciptanya

484

Mahakuasa atasa segala sesuatu dan Maha Mengetahui segala sesuatu, demikian pula dengan tumbuhan yang berwarna-warni yang mekar dan bertebaran serta hewan yang beragam dan tersebar di taman bumi. Semuanya merupakan kreasi luar biasa yang menegaskan bahwa Penciptanya Mahakuasa dan Maha Mengetahui segala sesuatu. Bagi kekuasaan-Nya sama saja antara partikel dan mentari, antara menebarkan buah pohon dan membangkitkan anak-anak manusia. Ya, menumbuhkan bunga di pohon yang tersebar di rantingnya yang halus tidak lebih mudah daripada membangkitkan manusia di atas tulang-belulang mereka yang hancur dan berserakan.

Ketahuilah bahwa betapa banyak nikmat seperti tetes perasan yang terwujud dengan sangat rapi yang berasal dari seluruh alam laksana buah pohon. Jika ia merupakan hasil perasan hakikat padahal jaraknya sangat jauh, maka Pemberi anugerah tidak lain adalah Zat yang di tengan-Nya tergenggam seluruh alam di mana Dia memeras sesuai kehendak-Nya seperti yang terlihat. Pemberi anugerah tidak lain adalah Zat yang perbendaharaan-Nya antara kaf dan nun. Tidak ada satu nikmatpun kecuali berasal dari Zat yang menjadikan kun sebagai sumber wujud alam. Anugerah dan puji syukur hanyalah milik-Nya.

Ketahuilah di antara limpahan Alquran yang masuk ke dalam kalbu setelah banyak mengingatnya adalah proses menghidupkan bumi dan bagaimana perhatian manusia ditarik kepada tanah. Bumi adalah jantung alam, sementara tanah adalah jantung bumi. Jalan terdekat menuju tujuan adalah dengan pergi ke dalam tanah lewat pintu tawadhuk, lenyap, dan fana. Bahkan, ia lebih dekat daripada kepada Sang Pencipta daripada langit yang paling tinggi. Pasalnya, di alam ini tidak terdapat sesuatu yang bisa menyamai tanah dalam memantulkan rububiyah-Nya, efektivitas qudrat-Nya, penampakan penciptaan-Nya, serta keberadaannya sebagai manifestasi nama Zat Yang Mahahidup dan berdiri sendiri.

Demikianlah. Sebagaimana arasy rahmat-Nya berada di atas air, maka arasy kehidupan dan proses menghidupkan berada di atas tanah. Tanah merupakan cermin yang paling integral dan

485

sempurna. Pasalnya, cermin makhluk semakin tipis dan bening maka semakin bisa memperlihatkan gambar makhluk dengan lebih jelas, lebih tampak, dan lebih sempurna. Hal ini berbeda dengan cermin Allah yang bercahaya, di mana semakin tebal maka manifestasi nama-nama Allah padanya semakin terlihat sempurna. Tidakkah engkau melihat udara. Yang ia ambil dari limpahan mentari hanya cahaya yang lemah. Air meski memperlihatkan mentari lewat sinarnya, namun ia tidak mengurai warna-warninya. Sementara, tanah lewat berbagai bunganya memperlihatkan kepadamu hamparan tujuh warna berikut susunannya yang bercampur dalam cahayanya. Padahal, mentari tersebut merupakan tetesan yang berkilau dan tebal jika diukur dengan cahaya mentari azali. Hiasan yang terdapat pada tanah dan keindahannya pada musim semi berikut bunga-bunga halus yang jumlahnya tak terhingga dan aneka hewan indah yang menyerukan kesempurnaan rububiya-Nya tampak dengan jelas. Engkau bisa melihat kepada yang satu ini yang dalam bahasa Turki disebut dengan Harjai Mankasyah.

{(Catatan-360): Sejenis bunga Aster yang rindang.}

Lihatlah bagaimana tangan Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana dalam menggoreskan warna-warni dan hiasannya. Ia hadir menatap kepadamu dengan wajah tersenyum, tidak cemberut, dalam dua puluh rupa.

Mahasuci Zat yang berkenalan dengan kita lewat kreasi-Nya yang halus dan indah. Dia memperkenalkan seluruh makhluk dalam kekuasaan-Nya lewat berbagai sentuhan-Nya yang menakjubkan terhadap tanah. Di antara yang menjelaskan hal ini adalah hadits yang berbunyi, "Jarak terdekat seorang hamba dengan Tuhan adalah ketika bersujud."

{(Catatan-361): Lanjutan haditsnya berbunyi, "Karena itu, perbanyaklah berdoa!" (HR Muslim no. 482, Abu Daud no. 875, an-Nasai 2/226, dari Abu Hurayrah).}

Jika demikian kondisinya, jangan merasa asing dengan tanah serta jangan takut terhadap kubur dan tinggal di dalamnya.

Ketahuilah! Akalku kadang menyertai kalbuku dalam perjalanannya. Maka, kalbu memberikan apa yang ia saksikan

486

lewat cita rasanya kepada akal. Dari sini, seperti biasa akal memperlihatkannya sebagai sesuatu yang terbukti. Dari berbagai hakikat itu, Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana, di samping jauh tak terkira dalam waktu yang sama Dia juga Mahadekat. Di samping Maha Tersembunyi Dia juga berada di atas segala sesuatu. Di samping tidak berada di dalam, Dia juga tidak berada di luar. Engkau bisa melihat jejak-jejak rahmat-Nya yang bertebaran di atas permukaan bumi, serta berbagai hasil kreasi qudrat-Nya yang tersebar di muka bumi guna melihat rahasia tersebut dengan jelas dari baris-barisnya. Pasalnya, Pencipta dua partikel, dua bunga, dua buah, atau dua lebah berada di dua tempat dalam satu waktu dari kejauhan yang lebih jauh daripada jarak antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berada di bumi dan yang satunya lagi di porosnya maka sudah barang tentu terdapat pertemuan yang sempurna dalam bentuk yang sama dari kejauhan tak terhingga. Ini dilihat dari sisi lahiriah dan dilihat dari sisi kerajaan-Nya. Adapun dari sisi yang tersembunyi dan dari sisi malakut sudah tentu ada kesamaan pertemuan yang terlihat dalam mudah dan cepatnya penciptaan diiringi kemurahan mutlak dalam sebuah kecermatan mutlak dari kedekatan tak terkira. Hal ini tidak seperti kedekatan sentral dengan sejumlah titik lingkaran berbeda yang saling bercampur. Di samping bahwa tidak ada perbedaan bagi Zat yang menciptakan segala sesuatu dengan cermat dan baik.

Ya. Rahasia ini termasuk di antara keistimewaan wilayah-Nya dan ciri manifestasi keesaan-Nya dan di antara sifat yang membedakan hakikat Pelaku asli dengan jejak perbuatan-Nya.

Sebagai contoh-Allah memiliki perumpamaan yang paling tinggi: kenikmatan yang didapat dari mentari sangat dekat tak terkira lewat pantulanya pada berbagai cermin dan bunga. Pasalnya, substansi mentari merupakan sumber dari pantulan tersebut dan lebih dekat kepadanya daripada benda yang menerima pantulannya bahkan dari dirinya sendiri. Di sisi lain ia juga sangat jauh tak terhingga dari bayangan tersebut. Pasalnya, sulit bahkan mustahil menempuh jarak antara bayangan yang bisa terwujud dalam cerminmu dan sumber aslinya.

487

Mahasuci Allah Zat yang zat-Nya tidak serupa dengan apapun serta sifatnya tidak mirip dengan sesuatupun. Dialah Zat Yang Maha pertama, Maha Terakhir, Maha Tampak dan Maha Tersembunyi. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Wahai Allah, wahai Yang Mahadil, wahai Yang Maha mengetahui, wahai Yang Maha Bijaksana. Hembusan yang terdapat dalam angin, tetesan yang terdapat pada awan, geledek yang terdapat pada petir, kilau yang terdapat pada kilat, bunga yang terdapat di taman, buah yang terdapat kebun, lebah yang terdapat di udara, celupan yang terdapat pada tumbuhan, kreasi yang terdapat pada hewan, hiasan yang terdapat pada wujud, atom yang terdapat pada alam, tatanan yang terdapat pada makhluk, neraca yang terdapat pada fitrah, sesuatu yang terdapat pada arasy, kondisi yang terdapat pada singgasana-Nya, bintang yang terdapat pada langit, serta tanda kekuasaan yang terdapat di bumi, semuanya menjadi bukti dan ayat yang bersaksi bahwa Engkau Wajib ada, esa, dan tempat bersandar. Semua itu menjadi bukti yang terang yang bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, Maha mengetahui hal gaib, mengeluarkan benih, dan menundukkan kalbu. Semua makhluk tunduk di bawa kendali kekuasaan-Mu. Kalbu mereka berada dalam genggaman-Mu. Ubun-ubn mereka berada di tangan-Mu. Kunci perbendaharaan mereka berada di sisi-Mu. Tidak ada satu atompun yang bergerak kecuali dengan ijin-Mu.

Wahai Tuhan generasi terdahulu dan kemudian. Wahai Tuhan Muhammad saw, Ibrahim, Jibril, dan Mikail.

Aku memohon kepada-Mu dengan nama-Mu yang agung, cahaya wajah-Mu yang mulia, agama-Mu yang tegak sempurna, jalan-Mu yang lurus, as-Sab'ul Matsani, Alquran yang agung, beribu-ribu qul huwallāhu ahad, beribu-ribu al-fatihah, nama-nama-Mu yang mulia, nama-Mu yang paling agung, hajar aswad, nabi-Mu yang terhormat, malam al-qadr, ramadan yang besar, para nabi-Mu yang terhormat, dan dengan kekasih-Mu yang paling mulia saw, agar Engkau mengasihi umat Muhammad. Lapangkan dada mereka untuk bisa menerima iman dan islam. Selamatkan kami dari kejahatan kaum atheis dan selamatkan agama kami. Buatlah

488

petunjuk Alquran menjadi terang dan agungkan syiar Islam. Amin wahai Zat Yang Maha Penyayang.

{Semoga Allah memberikan beribu-ribu keberkahan untukmu dan memberikan taufik kepadamu}

{(Catatan-362): Ustadz Nursi menulis kalimat mulia ini dengan bahasa Turki dalam naskah yang ditulis dengan tangannya.}

489

Lanjutan Obor

Bismillāhirrahmānirrahīm

Segala puji bagi Allah. Salawat semoga tercurah kepada Nabi-Nya.

Ketahuilah! Tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dari cahaya murni yang komprehensif. Juga tidak ada satu persoalan pun yang keluar dari wilayah kekuasaan yang tak terhingga. Jika tidak, tentu keterhinggaan sesuatu yang tak terhingga menjadi terbatas. Ini tentu saja mustahil terjadi.

Demikian pula, hikmah memberikan segala sesuatu. Limpahan-Nya sesuai dengan qudrat-Nya sebagaimana bunyi ungkapan, "Segala sesuatu terwujud dengan qudrat-Nya." Zat Yang Maha Menetapkan, Yang Mahakuasa, dan Maha Bijaksana tidak disibukkan oleh yang kecil dari yang besar, oleh yang penting dari yang sepele. Sesuatu yang paling besar tidak sampai menutupi Zat Yang Maha mencakup, Mahatampak, Maha Tersembunyi, dan Mahabersih dari materi, dari yang paling kecil. Sesuatu yang kecil dilihat dari sisi materi bisa menjadi besar dilihat dari sisi kreasi. Spesies yang kecil adalah agung, banyak, dan besar. Keagungan mutlak tidak menerima adanya sekutu sama sekali.

Kemurahan mutlak yang tampak pada kemudahan mutlak dalam kecepatan mutlak, dalam kerapian mutlak, bersama

490

kehendak untuk berkenalan secara sempurna, keinginan Pemilik keindahan menyaksikan keindahan dan kesempurnaan-Nya yang bersifat mutlak, kasih sayang mutlak, dan kekayaan mutlak dengan kesaksian ayat-ayat penciptaan, serta bersama wujud makhluk yang melihat, berpikir, menyaksikan, dan mengambil pelajaran yang jumlahnya tak terhingga, semua ini menuntut keberadaan berbagai jenis hewan dan burung pula. Bahkan ia lebih utama. Pasalnya, sesuatu yang kecil dan lebih rumit lebih dekat kepada wujud dan kepada qudrat-Nya yang bercahaya.

Ketahuilah wahai ego! Jika dirimu lebih kau cintai lantaran ia lebih dekat kepadamu dari segala sesuatu, maka seharusnya Tuhan lebih kau cintai daripada dirimu. Pasalnya, Dia lebih dekat kepadamu. Tidakkah engkau melihat bahwa berbagai rahasia dalam dirimu yang tak terbayang olehmu hadir dan disaksikan oleh Tuhanmu.

Ketahuilah! Tidak ada unsur kebetulan. Perhatikan taman dan dengarkan bagaimana ia membacakan kepada pihak yang melihatnya dengan sangat teratur dalam bentuk yang menyatu, serta dengan sangat istimewa dalam percampuran bagian-bagiannya secara sempurna, berbagai tanda hikmah Sang Pencipta Yang Maha Mengetahui dan Maha Meliputi.

Ketahuilah! Jika engkau tidak mengesakan dengan cara menisbatkan segala sesuatu kepada Yang Esa, berarti engkau mengasumsikan keberadaan begitu banyak tuhan sebanyak jumlah manifestasi Allah pada semua makhluk yang terdapat di alam. Demikian pula jika engkau menutup mata terhadap matahari lalu mengabaikannya dengan memutuskan hubungannya dengan sejumlah bayangannya yang berkilau pada permukaan laut, berarti engkau harus menerima keberadaan banyak mentari di dalamnya sebanyak tetesan air yang ada. Padahal tetesan tersebut tidak bisa menampung lentera yang paling kecil, apalagi lampu alam.

Ketahuilah! Orang yang cermat akan bisa melihat bahwa berbagai kelompok makhluk dan berbagai jenis ciptaan saling berlomba mempercantik diri untuk bisa tampil agar dilihat oleh Zat yang menyaksikannya secara keseluruhan dan terus-menerus

491

serta mencakup semua sisi keindahannya. Pasalnya, makhluk memperlihatkan kondisi berisi halusnya kerapian kreasi yang menarik perhatian dan mendatangkan apresiasi. Kondisi untuk saling berlomba tampil dengan indah adalah agar terlihat oleh pandangan yang tak terhingga. Ia tidak lain adalah pandangan Tuhan yang azali yang menciptakan makhluk agar manifestasi cahaya keindahan, keagungan, dan kesempurnaan-Nya bisa disaksikan dalam cermin perkembangannya. Kemudian Dia meminta para saksi untuk menyaksikan sebagai bentuk perkenalan dengan mereka dengan cara memperlihatkan kekayaan tersembunyi tersebut.

Tujuan keberadaan sesuatu yang paling tinggi dan hak hidup makhluk yang paling berharga adalah posisinya sebagai objek yang disaksikan dan tampak dalam pandangan Penciptanya lewat wujudnya yang merupakan jejak nama-Nya. Kesenangan hidup yang paling nikmat adalah merasakan penyaksian tersebut.

Adapun tampil di hadapan saudara-saudaranya sesama makhluk memang merupakan tujuan pula. Hanya saja, jika diukur dengan tujuan utama di atas, ia seperti sesuatu yang terhingga dan sesuatu yang tak terhingga.

Adapun hak hidup yang sudah dikenal di tengah-tengah manusia adalah melestarikan kehidupan dengan suasana nyaman. Karena itu, ia demikian kecil, rendah, dan hina untuk menjadi bagian dari jutaan bagian hak hidup dari kehidupan di atas yang merupakan mukjizat qudrat Allah Yang Mahahidup dan Mahaesa di mana ia lebih tinggi, lebih berharga, lebih mengagumkan, lebih menarik, lebih indah, dan lebih mulia. Bahkan, ia hanyalah sarana. Ia menjadi mulia jika tetap sebagai sarana. Namun, jika naik menjadi tujuan, ia akan jatuh laksana debu yang beterbangan.

Wahai yang lalai, apakah engkau mengira bahwa tujuan penciptaan yang demikian menakjubkan misalnyaadalah untuk kau makan dan kau kunyah hanya dalam satu menit dengan kondisi lalai. Tidak. Tetapi, ia merupakan kata yang maknanya dipersembahkan untuk Tuhan yang telah membentuknya dan untuk alam. Ia memenuhi tugasnya dan mati lalu dikubur dalam

492

mulutmu.

Juga, ketahuilah bahwa pemilik keindahan sempurna benar-benar merasa senang jika keindahannya disaksikan dengan cara memperlihatkan ciptaan kepada makhluk. Sehingga mereka menyaksikannya di mana dalam waktu sama Dia juga ikut menyaksikan bersama penyaksian mereka.

Pemilik kesempurnaan dan keindahan hakiki yang esa dan kekal, serta dicinta, Dia telah memberitahukan kepada kita lewat lisan Rasul saw bahwa Dia menciptakan makhluk agar Dia dikenal.

{(Catatan-363): Ini senada dengan riwayat yang berbunyi, "Aku adalah perbendaharaan yang tak dikenal. Maka itu, aku ingin dikenal. Karenanya, Kuciptakan makhluk guna memperkenalkan diri kepada mereka sehingga mereka mengenal-Ku." Sanad riwayat ini tidak dikenal. Namun demikian, maknanya sahih sebagaimana hal ini bisa diambil dari firman Allah yang berbunyi, "Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar beribadah kepada-Ku." Yakni, agar mereka mengenal-Ku sebagaimana tafsiran Ibnu Abbas (Kasyful Khafa 2/132).}

Dengan kata lain, Dia membentuk sejumlah cermin agar berbagai manifestasi keindahan-Nya bisa disaksikan padanya.

Ketahuilah! Wahai yang fana, engkau cukup menjadi kekal dengan menjadi objek penyaksian-Nya dalam pengetahuan-Nya serta objek pengetahuan-Nya dalam penyaksian-Nya sesudah engkau lenyap dilihat dari sejumlah sisi. Berikanlah segala sesuatu kepada Pemiliknya yang hakiki serta nisbatkan ia pada-Nya. Ambil dengan nama-Nya lalu beristirahatlah! Jika tidak, berarti engkau harus menerima banyak tuhan sebanyak manifestasi Allah seperti telah disebutkan serta sebanyak bagian tanah. Pasalnya, bagian manapun dari tanah dapat mencapai ciptaan yang teratur dan beragam yang jumlahnya tak terhingga.

Karena itu, Mahasuci Tuhan yang zat-Nya tidak serupa dengan apapun

Yang sifat-Nya tidak mirip dengan sesuatupun

Yang ciptaan-Nya menunjukkan keesaan-Nya

Yang tanda-tanda kekuasaan-Nya bersaksi atas rububiyah-Nya

Yang pengetahuan dan qudrat-Nya mencakup segala sesuatu

Mahaagung Dia. Tiada Tuhan selain Dia.

⬇ Gulir Otomatis
📝 Catatan Saya 0 catatan

Pilih teks lalu tekan tombol "Catatan" untuk menambahkan catatan.

Pengaturan
Tema
Ukuran Font
Ketebalan Font
Ukuran Font Arab
Spasi Baris

Mode Fokus
Sembunyikan sidebar
Gulir Otomatis
Halaman bergulir sendiri
Kecepatan