BAGIAN KETUJUH
KEHIDUPAN SAID NURSI DI AFYON
(*1)
PENANGKAPAN BADIUZZAMAN
Pada akhir tahun 1947 M, tiga orang polisi datang ke Emirdağ dari Afyon dengan tujuan untuk mengetahui aktivitas organisasi keagamaan rahasia yang tersebar di berbagai penjuru negeri. Mereka mulai memeriksa para Tullabunnur, utamanya Ustadz Said Nursi. Mereka lakukan itu dengan berbagai dalih palsu. Dari situ, salah seorang dari mereka menulis semacam laporan bahwa pembantu Ustadz Said Nursi membelikan minuman beralkohol dari salah satu warung.
Oknum polisi ini meminta dari seseorang yang sedang mabuk yang berada di warung itu untuk menandatangani dakwaan tersebut. Lelaki yang sedang mabuk itu menganggap permintaan oknum polisi tersebut bukan masalah kecil, “Siapa yang mau menandatangani fitnah seperti ini”, kata lelaki mabuk itu.Oknum polisi itu alih-alih berhasil dalam usaha memfitnah Ustadz Said Nursi, malah ia mendapatkan balasan terhadap perbuatannya itu. Hal itu terjadi dalam sebuah peristiwa aneh yang terjadi pada malam yang sama.
Ketika ia bersama rekan-rekan minumnya tengah asyik minum minuman keras di samping parit, tiba-tiba terjadi perkelahian. Orang-orang yang sedang minum memukulinya dan melucuti senjatanya.
* * *
Ketika Ustadz Said Nursi keluar rumah menunggang dokar menuju pinggiran Emirdağ, lima buah pesawat terbang rendah di atasnya. Ketika beliau kembali ke rumah, kelima pesawat itu pun terbang menjauh. Pemandangan seperti ini berulang beberapa hari dalam usaha untuk meneror. Di sisi lain, propaganda untuk menjatuhkan beliau juga terus dilakukan dari hari ke hari, propaganda yang mendistorsikan gambaran pengabdian keimanan, pengabdian ukhrawi dan pengabdian terhadap alQur’an yang tulus. Apa yang dilakukannya ini disampaikan kepada instansi tertinggi dengan gambaran yang diputarbalikkan.
Ketika Risalah Nur tersebar berkat alat penyalinan dan kajian Risalah Nur berkembang pesat di berbagai pelosok Anatolia, beberapa organisasi yang memerangi agama secara sembunyi-sembunyi berupaya menghentikan pengabdian iman ini dengan memprovokasi pemerintah sehingga keluarlah surat perintah untuk menggeledah rumah para Tullabunnur di banyak tempat seperti di Emirdağ, Isparta, Kastamonu, Konya, Inebolu, Safranbolu, dan di Aydin(*2). Akhirnya Ustadz Said Nursi beserta lima belas muridnya ditangkap pada 23 januari 1948 M. Dari Emirdağ mereka dipindahkan ke Afyon untuk diinterogasi dan ditahan. Demikian juga dengan para Tullabunnur di wilayah lain. Mereka tiba-tiba ditangkap dan dibawa ke Afyon. Sejarah “Madrasah Yusufiyah Ketiga” pun dimulai.
PENGADILAN BADIUZZAMAN DI AFYON
Kebiasaan Badiuzzaman di dalam setiap penjara yang ia masuki adalah memberikan pelajaran dan bimbingan kepada setiap narapidana. Di antara hasilnya adalah sebagian penjahat berubah menjadi orang yang sangat baik, kendati Ustadz tersebut berada dalam sel soliter, hanya saja penjara berubah menjadi madrasah Nur. Oleh karena itu, para tahanan mengatakan bahwa penjara yang mereka masuki adalah “Madrasah Yusufiyah”, sampai-sampai sebagian pemuda yang pernah menghuni Penjara Denizli mengutarakan bahwa mereka enggan meninggalkan “Madrasah Yusufiyah” ini dengan dalih “Jika Badiuzzaman tetap berada dalam “Madrasah Yusufiyah” itu, maka kami akan mengenalkan diri sebagai penjahat dan akan tetap berada dalam penjara. Kami sama sekali tidak akan meninggalkan ustadz dan kami akan terus mengkaji pelajaran Risalah Nur”.
Di sisi lain, tampak terlihat perbaikan yang nyata dalam kondisi para tahanan setelah dikarangnya dan tersebarnya sebuah risalah yang berjudul “Risalah Buah Keimanan” di penjara Denizli yang memperoleh apresiasi bahkan dari para musuh sekalipun.
Para Tullabunnur yang tulus yang memperoleh iman yang hakiki lewat membaca Risalah Nur dengan seksama, mereka tidak takut mati, tidak gentar menghadapi penjara dan tidak pernah takut terhadap kejahatan manusia. Hal itu karena mereka berkeyakinan bahwa selama mereka bekerja untuk keselamatan negara, bangsa dan dunia Islam serta umat manusia, keselamatan abadi melalui pengabdian alQur’an dan iman yang suci, mereka tidak pernah kenal lelah dan putus asa kendati mereka menghadapi berbagai perbuatan aniaya dari para musuh agama, bahkan mereka masuk penjara dengan lapang dada dan bangga. Satu-satunya titik sandaran mereka yang tidak ada duanya adalah pengabdian al-Qur’an dan iman dengan tulus demi mengharapkan keridaan Allah semata. Cukuplah Allah sebagai pelindung dan penolong bagi orang-orang yang tidak berdosa yang teraniaya. Mereka bekerja dengan penuh pengorbanan seperti guru mereka yang pemberani dalam menyebarluaskan dan membaca Risalah Nur tanpa mempedulikan berbagai rintangan yang dihadapinya.
Karena itu, mereka tidak pernah goyah dalam menjalankan pengabdian iman dan Islam yang dapat bangkit berkat Risalah Nur di bawah tekanan tirani absolut yang menakutkan selama dua puluh lima tahun. Mereka telah yakin bahwa apa yang tampak secara lahir sebagai sebuah keburukan sebenarnya adalah kenikmatan, dalam kesulitan itu terdapat karunia, apa saja yang menimpa kami dalam rangka pengabdian iman adalah baik, kami tidak dibebani untuk memikirkan apa yang akan menimpa kami kelak, tetapi kami dibebani untuk melakukan pengabdian al-Qur’an. Maka kami selamanya berada dalam petolongan Tuhan kami yang Maha Pengasih. Jika kami mati, kami mati sebagai syuhada. Jika kami hidup, kami hidup sebagai pelayan al-Qur’an. Kami tetap melakukan pengabdian suci ini kendati para musuh Islam menjatuhkan hukuman seumur hidup kepada kami. Segenap Tullabunnur meyakini hal ini dengan keyakinan yang teguh dalam hati mereka. Keyakinannya itu mereka benarkan dengan perbuatan mereka dan itu tampak jelas terlihat oleh siapapun yang melihatnya.
Penduduk negeri ini yang taat agama dan setia mengetahui kebenaran, keagungan dan kepahlawanan Badiuzzaman. Meyakininya dengan teguh tanpa bisa dipengaruhi oleh fitnah yang selalu dilancarkan kepadanya. Semakin gencar kezaliman dan penistaan yang diterima orang ini, semakin bertambah kecintaan para murid kepadanya. Mereka telah menjadi musuh nyata bagi kezaliman dan penistaan yang biasa dilakukan oleh kaum komunis dan ateis. Mereka tidak ragu mengatakan bahwa memenjarakan orang yang memiliki keutamaan, keberkahan dan terhormat yang berasal dari tokoh agama seperti Badiuzzaman, melarang buku-bukunya untuk dibaca secara bebas, artinya adalah upaya untuk menghancurkan Islam dan menghapus agama dari tanah Anatolia. Untuk itu, yang paling pertama harus dilakukan pemerintah adalah membebaskan Badiuzzaman agar rencana yang dibuat untuk menjatuhkannya gagal. Jika tidak, maka semakin kencang cekikan terhadap orang ini, semakin besar pula perlawanan rakyat terhadap pemerintah(*3). Adalah kewajiban kita untuk menyampaikan kenyataan ini demi keselamatan agama, negara dan bangsa.
Ya, meskipun tahun 1944 M pengadilan Denizli telah menyatakan Badiuzzaman tidak bersalah, namun beliau ditempatkan dalam tahanan rumah di kecamatan Emirdağ, provinsi Afyon. Ketika beliau sibuk dengan urusan akhirat dan Risalah Nur, tiba-tiba para musuh agama yang bekerja sembunyi-sembunyi pada tahun 1948 M kembali berulah dengan cara yang sama dengan sebelumnya, seakan-akan kezaliman yang mereka lakukan itu belum cukup. Mereka kembali menyebarkan fitnah, misalnya tuduhan bahwa Ustadz Said Nursi mendirikan sebuah organisasi rahasia, memprovokasi orang-orang untuk melawan pemerintah, berusaha untuk menggulingkan pemerintah dengan segala kekuatan dan semangatnya yang semakin bertambah bersamaan dengan bertambahnya usia. Mereka memfitnah bahwa Ustadz Said Nursi mengatakan bahwa Mustafa Kamal adalah Dajjal Islam yang dikenal dengan sebutan Sufyani, dan fitnah lainnya yang mereka jadikan dalih untuk menangkap dirinya dan lima puluh orang Tullabunnur.Ustadz Said Nursi dan para muridnya itu dibawa ke Pengadilan Pidana Afyon dan berakhir dengan penahanan mereka dalam penjara.
Kendati penyelidikan yang lama dan mendetail yang dilakukan terhadap mereka tidak berhasil menemukan satu petunjukpun untuk sebuah kejahatan, hanya saja setelah apa yang terjadi itu, berdasarkan keyakinan individu, hukuman penjara selama dua puluh bulan dijatuhkan kepada Badiuzzaman, delapan belas bulan kepada seorang ulama terkemuka, dan enam bulan kepada dua puluh dua orang lainnya. Mereka dikenai tuduhan “membantu Badiuzzaman dalam mendirikan sebuah organisasi rahasia”. Hukuman itu langsung dieksekusi begitu keputusannya dikeluarkan, sementara yang lainnya diputuskan tidak bersalah karena mereka “menganggap Badiuzzaman sebagai mursyid agung”, dan karena mereka “membaca Risalah Nur guna mengisi kekosongan yang sangat dalam yang merek rasakan”.(*4)
Setelah pengadilan kasasi mempertimbangkan tuduhan seperti biasanya, penyidikannya diselesaikan dalam waktu singkat dan menganulir keputusannya dari dasar dengan mengatakan, “Karena Badiuzzaman Said Nursi telah dinyatakan bebas dari tuduhan yang sama di pengadilan Denizli dan dibenarkan oleh pengadilan kasasi dalam waktu yang sama, maka pengadilannya tidak mungkin diulang dalam dakwaan yang telah dibenarkan oleh pengadilan kasasi sekalipun seandainya keputusan pengadilan Denizli itu salah”.Berdasarkan hal ini, sidang pengadilan dimulai lagi. Para tersangka ditanya tentang tuntutannya. Para Tullabunnur yang tidak bersalah itu menjawab bahwa mereka menuntut untuk komitmen dengan keputusan pengadilan kasasi. Pengadilan Afyon mempelajari masalah komitmen ini dan mengulur-ulur waktu dalam masalah ini sampai keputusannya dilaksanakan, setelah itu proses penyempurnaan kekurangan yang panjang segera dimulai, sidang ditunda dari waktu ke waktu. Badiuzzaman dan segenap muridnya ditahan dalam penjara selama hukuman yang sama sekali bukan merupakan keputusan pasti, agar mereka dibebaskan setelah itu dan proses mengulur-ulur waktu dengan semua kelompoknya memakan waktu tiga tahun.(*5)
Benar-benar sangat disesalkan, kita melihat seorang ulama yang berpengaruh yang melakukan pengabdian iman paling suci untuk negara, bangsa, pemuda dan dunia Islam secara keseluruhan, yang telah mempersembahkan karangannya yang luar biasa dan agung untuk memenuhi kebutuhan spiritual umat manusia, kita lihat diseret dari satu pengadilan ke pengadilan lainnya dan mendekam dalam penjara sekian lama.
Jika Badiuzzaman telah menerima tindakan kekerasan selama dua puluh tahun, tahun-tahun penjara Afyon ini hanyalah perpanjangan penderitaan tersebut dengan tambahan intensitas kekerasan yang mengingatkan penderitaan para ulama umat sepanjang sejarahnya sampai-sampai penyiksaan yang dideritanya dalam satu hari di Afyon setara dengan penderitaan selama satu bulan dalam penjara Denizli. Beliau diperlakukan dengan perlakuan yang sama sekali bertentangan dengan hukum. Beliau selama dua puluh bulan dibiarkan berbaring di atas tampat tidur yang sangat dingin pada musim dingin dengan harapan kematian menjemputnya. Pada cuaca musim dingin yang sangat dingin, beliau diracun ketika salju menutupi jendela. Sosok yang sudah berumur ini mengalami penderitaan berbulan-bulan dalam keadaan sakit. Tidak seorang pun dari para muridnya diperbolehkan untuk merawatnya sampai-sampai ketika beliau sudah tidak mampu bergerak lagi di atas tempat tidurnya. Yang mereka harapkan adalah beliau meninggal dalam kondisi sulit seperti ini. Keracunan ini menyebabkan beliau tidak dapat makan selama beberapa hari sehingga tubuhnya tinggal tulang dan kulit saja.Meskipun Ustadz Said Nursi berada dalam pengawasan dan intimidasi yang sangat keras, beliau tidak berhenti mengarang Risalah Nur. Sebagian risalahnya disusun secara sembunyi-sembunyi seperti biasanya dalam penjara yang beliau huni. Para tahanan dapat menyalin dengan tangan mereka sendiri dan membawanya keluar penjara.
Penyebaran Risalah Nur tidak pernah berhenti kendati Badiuzzaman berada dalam penjara. Para Tullabunnur—seperti pahlawan “Khusrev”—berhasil menyebarkan ratusan naskah secara sembunyi-sembunyi yang ditulis tangan dan dengan aksara Arab.Ketika Ustadz Said Nursi dalam kondisi hanya dapat berbaring di atas tempat tidur dalam penjara yang diharapkan oleh para musuhnya agar beliau meninggal karena pengaruh racun, ia berkesempatan berkata kepada seorang muridnya, “Mungkin saya akan segera meninggalkan hidup ini dalam waktu dekat.
Jika saya mati, sahabat-sahabat saya jangan ada yang melakukan balas dendam. Biarlah saya dengan seluruh entitas saya menjadi penebusan kebahagiaan dan kesejahteraan abadi bagi negara, bangsa, pemuda, dunia Islam dan umat manusia.”
Pada suatu hari salah seorang narapidana yang mendapatkan faidah atas kehadiran Ustadz Said Nursi di penjara datang menyampaikan salam kepada beliau melalui jendela. Para penjaga menghardiknya dengan berkata, “Mengapa kamu mengucapkan sal kepadanya? Mengapa kamu melihat jendelanya?”, dan orang itupun mereka pukuli. Demikian pula halnya dengan para Tullabunnur. Mereka mencoba memanfaatkan kesempatan untuk bertemu dengan gurunya secara sembunyi-sembunyi ketika beliau sedang menderita sakit. Ketika salah seorang dari mereka diketahui penjaga, ia ditangkap dan dipukuli. Perlakuan kasar seperti ini tidak menyurutkan tekad mereka, bahkan setiap kali ada yang tertangkap dan dipukuli, mereka seakan mendengar teriakan yang bersumber dari iman dan kemuliaan Islam, “Pukullah...pukullah”. Mereka dalam hal ini semata-mata mengikuti jejak gurunya yang telah menjelaskan dalam berbagai karangannya bahwa jika musuh mencekik lehermu, ludahilah mukanya. Selamatkan nyawamu kendati tubuhmu hancur.
Orang-orang zalim itu telah berusaha melakukan berbagai penyiksaan dan intimidasi guna menghalang-halangi Ustadz Said Nursi melakukan pengabdian imannya, baik dalam penjara maupun di luar penjara, tetapi pada akhirnya, setelah Badiuzzaman mengalami berbagai penyiksaan, pada tanggal 20 September 1949 M, beliau dibebaskan, menyempurnakan masa hukuman yang tidak sah, dan kendati pembebasan para tahanan dilakukan dalam waktu kerja resmi, dan di Afyon waktu yang berlaku adalah pada jam sepuluh pagi seperti biasanya, hanya saja Badiuzzaman dibebaskan pada waktu Subuh guna menghindari kerumunan massa yang menyambutnya dengan suka cita karena beliau keluar dari penjara.
* * *
Setelah dibebaskan, Ustadz Said Nursi tinggal beberapa waktu di Afyon. Selama tinggal di sana, meskipun pengadilan kasasi telah menganulir keputusan tuduhannya dari dasar, namun tiga orang polisi ditunjuk mengawasi beliau secara bergantian selama pagi dan petang.Kendati orang-orang zalim itu membebaskannya dari penjara, mereka tetap saja berlaku aniaya terhadap Ustadz Said Nursi yang membuat beliau menyesal keluar dari penjara. Kendati penjara membuat dirinya sakit dan kurus kering selama dua tahun, tidak seorang pun diperbolehkan menjenguknya. Jika pemimpin Rusia memberi Badiuzzaman—ketika itu beliau menjadi tawanan di Rusia—sedikit kebebasan, maka para pejabat di tanah airnya sendiri justru melarang orang-orang untuk sekadar berkunjung bahkan pada kesempatan hari raya sekalipun, padahal beliau adalah orang yang telah mengorbankan segala yang dimilikinya demi umat Islam yang mulia, sampai-sampai ketika mereka melihat seseorang berbicara dengan pelayan Said Nursi, mereka mencatat data orang itu dan mengintimidasinya dengan tuduhan telah berkomunikasi dengan para pelayan Badiuzzaman, padahal semua prosedur sewenang-wenang ini bukannya membuat orang-orang menjauhinya, tetapi malah semakin dekat dengannya dan semakin mencari buah karangannya.
Sementara orang-orang yang menyebarkan propaganda negatif terhadap Badiuzzaman semakin dijauhi rakyat. Semakin tinggi intensitas upaya untuk menjauhkan masyarakat dari Badiuzzaman, semakin bertambah pula penghormatan mereka terhadap ulama ini, terutama para pemuda terpelajar. Semakin kuat provokasi untuk menjauhi ulama ini, semakin kuat pula hubungan batin mereka terhadapnya.
Tujuan propaganda tendensius ini adalah menjauhkan orangorang dari Ustadz Said Nursi, menjatuhkan nama baiknya, dan menghentikan penyebaran Risalah Nur. Padahal Risalah Nur ini tidak terikat dengan pribadi pengarangnya, tetapi milik al-Qur’an, tidak seperti karangan lain. Risalah Nur adalah khazanah argumentasi dan bukti. Pembacanya tidak melihat pribadi pengarangnya, tetapi mengarahkan pandangannya langsung ke hakikat, bukti dan petunjuk yang terkandung di dalamnya. Karena hakikat ini dan banyak hakikat lainnya, banyak propaganda resmi dan besar yang ditujukan untuk menjatuhkan Badiuzzaman gagal dan akan tetap gagal selamanya.
Ya, umat Islam sangat menyayangkan ulama dan pemikir mulia yang telah memberikan banyak manfaat kepada negara, bangsa dan umat Islam, telah melakukan pengabdian terhadap iman dan alQur’an dengan pengorbanan luar biasa yang tidak ada bandingannya diseret dari satu pengadilan ke pengadilan lainnya. Kami memberitahukan atas nama kepentingan negara dan bangsa bahwa prosedur ini harus diselesaikan, pengadilan-pengadilan ini harus segera dihentikan. Karena pengabdian kepada al-Qur’an yang dilakukan Badiuzzaman tidak terbatas untuk kepentingan negara ini, tetapi naungannya meluas mencakupi seluruh pelosok dunia Islam bahkan seluruh pelosok dunia. Hakikat dan nilai luhur Badiuzzaman yang kami sampaikan ini bukan ungkapan yang mengada-ada tanpa bukti. Orang-orang yang dalam dirinya terdapat keraguan akan menyadari bahwa ungkapkan kami di atas sangat redup terkait hakikat yang kami sampaikan dari biografinya ketika mereka mengenal beliau dari dekat dan membaca Risalah Nur dengan sabar, istikamah dan niat tulus. Ketika itu, mereka akan mendapatkan keyakinan tulus yang melebihi keyakinan kami yang akan mendorong mereka untuk menyebarkan hakikat ini ke seluruh dunia.
Seandainya seluruh pengadilan dunia berupaya melancarkan tuduhan kepada Badiuzzaman seperti yang dituduhkan para musuh agama yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, pengadilanpengadilan itu tidak akan dapat menghukumnya selama mereka bersandar pada dalil dalam keputusannya.
Badiuzzaman Said Nursi menghabiskan hidupnya berbaring di atas tempat tidurnya disebabkan sakit karena diracuni para musuh agama. Ia seringkali mengatakan, “Saya sudah berada di depan pintu kubur”, hanya saja kami berdoa kepada Allah, memohon dari lubuk hati kami yang paling dalam agar pahlawan agama ini dipanjangkan usianya karena dunia Islam dan umat manusia pada masa sekarang ini sangat memerlukan orang seperti beliau dalam berkhidmat kepada al-Qur’an dengan tulus dan penuh pengorbanan, sebagai salah seorang pahlawan kebenaran, seorang genius yang berpengaruh, pemikir agung, dan seorang bijaksana di antara orang-orang bijak Islam.
* * *
Berikut kami ketengahkan “Harapan Kelima Belas” yang dikutip dari buku “al-Lama`ât”. Di dalamnya Ustadz Said Nursi berbicara langsung tentang kehidupannya di Emirdağ dan di Afyon.
HARAPAN KELIMA BELAS
* * *
KUTIPAN DARI PEMBELAAN BESAR
Saya terpaksa menyampaikan kembali surat keberatan sebagai jawaban terhadap surat tuduhan dan saya telah menyampaikannya di pengadilan dan salinannya saya serahkan kepada instansi-instansi resmi di Ankara setelah saya tidak bersuara selama delapan belas bulan.
Agar diketahui bahwa ucapan yang hendak saya sampaikan sekarang ini adalah intinya hakikat dan intisari pembelaan ringkas yang pernah saya sampaikan sebanyak tiga kali di Kastamonu ketika rumah saya digeledah, sekali untuk penuntut umum dan penyidik yang datang untuk menggeladah rumah saya, dan sekali lagi untuk jaksa dan penyidik yang lainnya, dan yang ketiga untuk kepala kepolisian dan sejumlah petugas dan polisi. Juga saya sampaikan di Isparta sebagai jawaban terhadap pertanyaan penuntut umum. Juga saya sampaikan di Denizli dan Afyon sebagai jawaban terhadap pengadilannya. Ringkasnya adalah sebagai berikut:
Saya katakan kepada mereka, “Saya hidup menyendiri sejak sekitar dua puluh tahun yang lalu dan selama kurun waktu ini saya selalu berada dalam pengawasan, baik ketika berada di Kastamonu di mana saya tinggal selama delapan tahun dalam sebuah rumah di depan kantor polisi, maupun di tempat lainnya. Selain itu, rumah saya beberapa kali digeledah. Meskipun demikian mereka tidak menemukan satu tanda pun kalau saya mempunyai keterikatan dengan dunia atau politik. Jika terdapat sesuatu yang mengindikasikan hal itu, kemudian instansi kepolisian dan pengadilan tidak mengetahuinya atau mengetahuinya tetapi pura-pura tidak mengetahuinya, maka hal itu tentunya merupakan tanggung jawab mereka sendiri.
Jika saya tidak memiliki sedikitpun indikasi itu, mengapa mereka mempermasalahkan saya tanpa sebab. Konon saya membahayakan negara dan bangsa padahal di seluruh dunia orang-orang yang hidup terpencil dan sibuk dengan kehidupan akhiratnya tidak pernah diusik! Kami para Tullabunnur tidak mungkin menjadikan Risalah Nur sebagai alat untuk kepentingan arus duniawi, bahkan tidak untuk semesta alam, kemudian bahwa al-Qur’an telah melarang kami dengan keras dari urusan politik. Ya, tugas Risalah Nur adalah mengabdi pada al-Qur’an dengan hakikat iman dalam menghadapi kekufuran mutlak yang menghancurkan kehidupan abadi, dan mengubah kehidupan dunia menjadi racun yang mematikan dan bukti-bukti kuat yang pasti yang berhasil membuat para filsuf dan kaum zindik yang paling sombong beriman. Oleh karena itu, kami tidak mungkin menjadikan Risalah Nur sebagai alat untuk apa pun.
Pertama: Tidak menghianati dan merendahkan hakikat alQur’an yang laksana intan permata sebagai serpihan kaca dengan ilusi propaganda politik dalam pandangan orang-orang yang lalai.
Kedua: Rasa kasih sayang, kebenaran, hakikat dan hati nurani yang merupakan substansi manhaj Risalah Nur melarang kami dengan keras dari politik dan mengganggu keamanan. Karena ada tujuh atau delapan anak-anak kecil, orang sakit, orang tua dan orang tak bersalah yang terkait satu atau dua orang ateis yang jatuh dalam kekufuran mutlak dan berhak mendapatkan tamparan dan musibah. Jika malapetaka dan musibah menimpa, orang-orang malang ini juga tidak luput dari hantamannya. Oleh sebab itu, kami dilarang keras untuk turut campur dalam kehidupan sosial yang membahayakan keamanan dan pengaturan Negara, padahal hasil dari usaha itu diragukan.
Ketiga: Ada lima landasan yang dianggap penting dan harus ada agar kehidupan sosial bangsa dan negara ini selamat dari anarkisme pada masa yang aneh ini, yaitu: sikap saling menghormati, saling menyayangi, menghindari yang haram, menjaga keamanan, dan berkomitmen terhadap peraturan. Ketika Risalah Nur memandang kehidupan sosial, ia mengokohkan lima landasan ini dalam bentuk kuat dan suci, sehingga dengan demikian mampu memelihara pilar keamanan dan stabilitas. Buktinya adalah bahwa selama dua puluh tahun, Risalah Nur berhasil menjadikan seratus ribu orang sebagai individu-individu yang berguna untuk negara dan bangsa dan sama sekali tidak membahayakan siapapun. Kedua wilayah, Isparta dan Kastamonu, merupakan saksi yang paling baik untuk hal ini.
Berdasarkan hal ini orang-orang yang menghalang-halangi sebagian besar Risalah Nur—sadar atau tidak sadar—mereka sebetulnya telah berkhianat kepada negara, bangsa dan kekuasaan Islam sebagai pengabdian terhadap kepentingan anarkisme.Risalah Nur dengan bagian-bagiannya yang mencapai seratus tiga puluh telah merealisasikan seratus tiga puluh manfaat dan satu kebaikan yang besar untuk negara ini. Tidak mungkin di dalamnya dari dua atau tiga risalah ada sesuatu yang membahayakan seperti yang diduga oleh orang-orang lalai dengan pandangan dangkal mereka bahwa dalam Risalah Nur terdapat banyak kesalahan. Orang yang mengkritisi Risalah Nur berdasarkan dua atau tiga risalah, semata-mata ia telah berlaku zalim karena telah melontarkan tuduhan yang sama sekali tidak berdasar.
Jika kalian menduga bahwa ateisme adalah bagian dari politik dan kalian katakan seperti yang dikatakan sebagian mereka tentang hal ini bahwa, “Dengan risalah-risalahmu ini, Anda mengganggu kesenangan kami dan merusak peradaban kami”, maka saya katakan kepada kalian, “Bangsa manapun tidak mungkin hidup tanpa agama.
Ini adalah kaidah umum yang berlaku di seluruh dunia, terutama jika kekufuran itu bersifat mutlak, maka akan mendatangkan siksa di dunia yang lebih pedih dari siksa neraka Jahanam. Masalah ini telah dibuktikan secara pasti dalam salah satu risalah dari koleksi Risalah Nur, yaitu “Tuntunan generasi muda” yang dicetak belakangan dengan izin resmi.Jika seorang muslim murtad—semoga Allah melindungi kita—ia jatuh ke dalam kekufuran mutlak, karena ia tidak bisa berada dalam kekufuran yang diragukan yang memberi kehidupan sampai tingkat tertentu, dan tidak seperti orang-orang kafir asing, sementara dari sisi kenikmatan hidup, ia seratus derajat lebih rendah dari binatang yang tidak mengenal masa lalu dan masa depan, karena kematian segenap makhluk yang ada—baik yang lalu maupun yang akan datang—selamanya menimpakan kepedihan dan perpisahan yang tidak ada batasnya sebagai hasil dari kesesatannya, tetapi jika iman datang dan hati disinarinya, kehidupan pun tiba-tiba berjalan tanpa batas dari para sahabat ini(*6). Dengan lisan hal-nya, mereka berkata, “Kami tidak mati dan tidak fana”. Ketika itu kondisi Jahanam berubah menjadi salah satu kenikmatan surga.
Selama hakikatnya demikian, maka saya peringatkan kalian, “Janganlah kalian memusuhi Risalah Nur yang bersandarkan pada al-Qur’an. Risalah Nur tidak akan terkalahkan. Jika kalian memusuhinya, ia akan pergi ke tempat lain dan ia akan meneranginya, dan ketika itu akan ada yang mengatakan, “Kasihan betul negeri ini”.(*7)Ketahuilah, seandainya saya memiliki kepala sebanyak rambut kepala saya, lalu setiap hari satu kepala dipenggal, kepala ini yang saya nazarkan untuk hakikat al-Qur’an tidak akan saya tundukkan di hadapan kaum zindik dan kafir mutlak dan saya tidak akan meninggalkan pengabdian al-Qur’an dan Risalah Nur ini, bahkan saya tidak akan bisa meninggalkannya.
Walhasil, Risalah Nur yang bersandar pada hakikat arsy alQur’an al-Karim, yang sejak tiga puluh tahun selalu mencabut kekufuran mutlak dari akarnya—yaitu kekufuran yang menghancurkan kehidupan abadi dan mengubah kehidupan dunia menjadi racun yang mematikan dan merusak kenikmatannya—yang berhasil menghancurkan pemikiran kufur kaum naturalis(*8)
yang menakutkan, yang membuktikan prinsip kebahagiaan dua kehidupan bangsa ini dengan argumentasi-argumentasinya yang sangat jelas dan dengan gambaran yang nyata, mengakui—sementara kami bersedia untuk membuktikan apa yang kami akui—bahwa jika di dalam Risalah Nur itu terdapat seribu kesalahan, bukan hanya satu atau dua dalam sebuah risalah kecil, maka kebaikannya yang besar yang berjumlah ribuan sudah cukup untuk memaafkan kesalahan tersebut.
Selama prinsip-prinsip republik tidak mengusik kaum ateis sebagai penerapan undang-undang kebebasan hati nurani, maka mestinya tidak mengusik orang-orang yang taat beragama yang tidak mencampuri urusan dunia, tidak menentang ahli dunia, berusaha keras sekuat tenaga bekerja untuk kehidupan akhirat, keimanan dan negaranya dengan cara yang berguna. Kami mengetahui tentang orang-orang yang bergelut dalam dunia politik yang menguasai Asia, tempat turunnya para nabi bahwa mereka tidak menghalangi dan tidak dapat menghalangi ketakwaan dan kebaikan yang merupakan keperluan penting bangsa ini sejak seribu tahun yang lalu. Bagi bangsa ini, ketakwaan dan kebaikan itu sama dengan nutrisi dan obat.Di antara hal yang tidak dapat dielakkan dalam kemanusiaan adalah menutupi kesalahan yang ada dalam berbagai masalah yang dihadapi seseorang yang hidup menyendiri sejak dua puluh tahun silam, dan didiskusikan sebelum hidup menyendiri dua puluh tahun lalu sesuai dengan mentalitas “Said Lama”, dan tidak lagi sesuai dengan gaya hidup para penerima pada masa sekarang ini, sementara kewajiban nasional saya adalah saya harus mengingatkan kalian terhadap hal-hal berikut demi menjaga kepentingan negara, bangsa dan stabilitas. Saya katakan:
Penangkapan kami, pencemaran nama baik kami, penyitaan Risalah Nur karena sebab yang sepele, semestinya tidak merefleksikan banyak orang yang memberikan banyak manfaat agama terhadap negara ini dan terhadap stabilitasnya sehingga mendorong mereka untuk melakukan perlawanan terhadap orang-orang yang mengelola negara dan membuka pintu lebar-lebar bagi anarkisme. Orang-orang yang menyelamatkan iman mereka berkat Risalah Nur dan menjadi individu-individu yang bermanfaat bagi bangsa ini serta mereka tidak membahayakan sama sekali, jumlah mereka lebih dari seratus ribu orang dan mereka berafiliasi dengan setiap lapisan bangsa, hampir ada dalam setiap bagian pemerintahan republik, dan mereka adalah individu-individu yang berguna, mempunyai sifat istikamah dan bersih, maka sepatutnya mereka mendapatkan perlindungan, bukannya celaan dan pencemaran nama baiknya.
Apa yang dilakukan oleh sekelompok pejabat resmi yang tidak mendengarkan keluhan kami dan melarang kami untuk berbicara, mengintimidasi kami dengan berbagai cara, perbuatan mereka itu menyulut perasaan kuat pada diri kami bahwa mereka membuka lebar peluang bagi anarkisme agar menyebarkan kerusakan di negara ini.
Kemudian saya katakan atas nama kepentingan pemerintah, “Selama ‘Sinar Kelima’ telah diperiksa oleh pengadilan Denizli dan Ankara, kemudian dikembalikan kepada kami tanpa ada penentangan, maka sangat perlu bagi mereka yang mengelola urusan negara untuk tidak memeriksanya lagi secara resmi dan tidak lagi membuka pintu gosip, sebagaimana kami menyembunyikan risalah ini sebelum jatuh ke tangan pengadilan dan menjadi populer. Maka pemerintah wilayah Afyon dan pengadilannya sepatutnya tidak menjadikan Risalah Nur sebagai objek perdebatan karena ia merupakan risalah yang kuat yang tidak terbantahkan dan telah diberitahukan tentang hal itu sebelum terjadi dan ternyata benar-benar terjadi, di samping tujuannya itu bukanlah kepentingan dunia(*9) , hanya saja salah satu dari maknanya yang banyak—dalam satu bentuk atau dengan bentuk lain—terefleksikan dalam diri seseorang yang sudah meninggal dunia.
Hati nurani saya mendorong saya untuk mengingatkan kalian—demi menjaga kepentingan negara dan bangsa serta pengelolaan dan stabilitas negara—bahwa pemberitahuan dan makna gaib ini tidak sepatutnya diproses secara resmi dan kami tidak didakwa karenanya agar risalah ini tidak tersebar luas. Ya, ini tidak patut terjadi karena semata-mata fanatik buta terhadap orang itu. Ketahuilah, tidak sepatutnya Risalah Nur diserang karena suatu kesalahan yang saya lakukan atau dilakukan sebagian sahabat saya karena Risalah Nur berhubungan dengan al-Qur’an secara langsung dan al-Qur’an berhubungan dengan Arsy yang agung, maka siapakah yang dapat memutus ikatan yang kuat ini?Kemudian, Risalah Nur telah merealisasikan pengabdiannya yang cemerlang dan keberkahan material-maknawinya di negeri ini lewat isyarat tiga puluh tiga ayat al-Qur’an, tiga karamah gaib Ali d, dan pemberitahuan pasti dari Syekh Abdul Qadir al-Jailani r. Selama masalahnya seperti ini, maka Risalah Nur tidak bertanggung jawab atas kesalahan sepele kami, bahkan tidak mungkin dan tidak patut ia bertanggung jawab. Jika tidak, negeri ini akan ditimpa bahaya material dan maknawi yang tidak mungkin terhindarkan.
Berbagai serangan dan perencanaan yang dibuat oleh sebagian musuh kami, kaum zindik yang bekerja secara sembunyi-sembunyi yang dikelola secara busuk seperti perbuatan setan untuk menjatuhkan Risalah Nur, dengan izin Allah akan gagal. Para Tullabunnur tidak dapat dibandingkan dengan yang lainnya. Mereka bukanlah golongan yang barisannya bisa bercerai-berai atau ada kemungkinan untuk meninggalkan dakwahnya. Berkat pertolongan Allah, mereka tidak akan terkalahkan. Seandainya bukan al-Qur’an yang melarang mereka untuk melakukan pembelaan secara fisik, pasti kalian tidak akan menemukan peristiwa-peristiwa tertentu yang tidak berguna dari mereka seperti peristiwa “Syekh Said” dan peristiwa “Menemen”. Mereka ada di setiap tempat, mendapatkan kepercayaan dan penghargaan dari masyarakat luas. Mereka tak ubahnya seperti saraf kehidupan bagi bangsa ini. Seandainya—semoga Allah tidak menakdirkan hal ini—mereka mendapatkan perlakukan zalim yang menjadikan mereka berada dalam keadaan benar-benar terpaksa untuk membela diri, kaum zindik dan munafik yang tersembunyi pasti akan sangat menyesal.
Walhasil, selama kami tidak mengusik kehidupan para ahli dunia, maka hendaknya mereka juga tidak mengusik urusan akhirat kami dan tidak pula menghalang-halangi pengabdian iman kami.
Ya, kami adalah sebuah jama’ah. Tujuan dan program kami adalah menyelamatkan diri kami terlebih dahulu, kemudian bangsa kami dari kebinasaan abadi dan kurungan soliter alam barzakh yang kekal, menjaga mereka dari anarkisme dan makar, membentengi diri kami dengan hakikat-hakikat baja Risalah Nur dalam menghadapi kekufuran yang menghancurkan kehidupan dunia dan akhirat.
Hukuman yang paling keras yang hendak kalian timpakan tidak penting bagi saya. Karena saya sudah berada di depan pintu kubur. Usia saya sudah mencapai tujuh puluh lima tahun. Adalah kebahagiaan besar ketika saya nanti mendapatkan predikat mati syahid sebagai ganti dari hidup sederhana teraniaya selama satu atau dua tahun! Saya sangat percaya disertai ribuan argumentasi Risalah Nur bahwa kematian bagi kami tidak lebih dari surat pembebasan. Jika kematian laksana kebinasaan seperti yang tampak secara lahir, maka bagi kami kesulitan sesaat itu adalah kunci kebahagiaan dan rahmat kasih sayang abadi. Sedangkan kalian, para musuh yang bekerja secara sembunyi-sembunyi, orang-orang zalim yang menyesatkan pengadilan demi kepentingan kaum zindik, menjadikan pemerintah sibuk mengurusi kami tanpa alasan, kalian akan mengetahui dengan yakin dan akan gemetar ketakutan karena kalian akan dijatuhi hukuman mati dan penjara soliter abadi. Kami melihat bagaimana balas dendam akan dilakukan terhadap kalian berlipat ganda sampai-sampai kami merasa iba.
Ya, hakikat kematian, yang mengosongkan kota ini, di dalam kuburan ratusan kali, tentu ia menuntut sesuatu lebih dari kehidupan itu sendiri. Kebutuhan terhadap solusi untuk membebaskan diri dari hukuman mati adalah keperluan yang sangat mendesak dan pasti,lebih besar, lebih penting dan lebih wajib dari seluruh masalah umat manusia. Para Tullabunnur telah mendapatkan solusi ini. Risalah Nur mengupasnya dengan ribuan argumentasi. Apakah orang-orang yang menuduh Risalah Nur dan murid-muridnya dengan alasan palsu mengetahui bahwa sebetulnya mereka sendirilah yang tertuduh dilihat dari sisi hakikat dan keadilan? Masalah seperti ini diketahui orang banyak, bahkan oleh orang-orang gila sekalipun.
Orang yang tiga puluh tahun yang lalu menyadari besarnya bahaya yang terdapat dalam popularitas dunia, berbangga diri dan suka pamer yang penuh dengan egoisme menyadari betapa tidak berharganya hal itu semua. Ya, ia menyadarinya berkat karunia al-Qur’an, alhamdulillah. Maka sejak itu ia berusaha keras mengekang nafsu ammârah-nya dengan segala kekuatan yang ada, berusaha keras untuk menghindari sikap dibuat-buat dan riya serta menghancurkan egoisme dengan tidak mementingkan diri sendiri, yaitu hal yang diketahui dan disaksikan secara pasti oleh orang-orang yang selalu bersamanya atau menemaninya. Sejak dua puluh tahun yang lalu ia sangat menjauhi sikap berbaik sangka, penerimaan dan pujian orang lain, suatu hal biasanya disukai banyak orang. Ia juga menghindari sikap menganggap dirinya pemilik kedudukan spiritual, berbeda dengan yang dilakukan oleh setiap orang. Ia menolak sikap berbaik sangka yang diberikan oleh teman dan murid khususnya. Dengan demikian, ia telah mengubah sikap mental mereka. Ia juga menolak pujian dan sikap berbaik sangka itu dalam berbagai suratnya sebagai jawaban terhadap mereka. Ia membersihkan diri dari pengakuan tentang keutamaan-keutamaan dengan mengatakan bahwa semua keutamaan ini kembali kepada Risalah Nur sebagai tafsir al-Qur’an dan selanjutnya kembali kepada sosok maknawi Tullabunnur. Ia menganggap dirinya hanya sebagai pelayan Risalah Nur.
Ya, orang yang seperti ini keadaannya semata-mata secara tegas membuktikan bahwa ia tidak pernah membuat seorang pun untuk mengagumi dirinya, tidak pernah berusaha dan meminta hal itu, bahkan ia menolaknya. Maka dengan undang-undang apa, tanggung jawab dibebankan kepada orang malang yang sakit, tua dimakan usia, hidup terasing menyendiri, para penyidik menggeledah kamarnya, merusak gembok pintunya, seakan-akan ia telah melakukan kriminal besar, hany semata-mata karena sebagian sahabatnya yang tinggal di tempat yang jauh berbaik sangka kepadanya melebihi batasannya sehingga mereka memujinya dan memberinya kedudukan yang ia sendiri tidak menyukainya?
Terbukti bahwa para penyidik tidak menemukan argumentasi yang melegitimasi perbuatan mereka selain catatan wiridan lelaki ini dan dua lembar kaligrafi. Lalu, undang-undang apa dan politik apa di dunia ini yang membolehkan penyalahgunaan wewenang ini? Kemudian berdasarkan undang-undang kebebasan, publikasi buku-buku orang kafir dan selebaran kaum komunis tidak pernah diusik kendati bahayanya yang besar bagi negara, bangsa dan akhlak, sementara Risalah Nur yang tiga pengadilan tidak menemukan sebuah materi pun yang harus dipertanggungjawabkan dan sejak dua puluh tahun bekerja merealisasikan keamanan dan stabilitas, menjamin akhlak dan kehidupan sosial bagi negara dan bangsa serta berusaha keras secara efektif untuk mengembalikan persaudaraan dan persahabatan antara bangsa ini dan dunia Islam serta memperkuatnya yang merepresentasikan titik sandaran yang sebenarnya bagi bangsa ini, dan yang diberikan kepada pimpinan urusan agama dengan perintah dari Kementerian Dalam Negeri dengan tujuan agar para ulama mengkritisinya, kemudian malah kumpulan risalah ini mendapat apresisasi yang sempurna tanpa ada kritikan setelah dilakukan penelitian selama tiga bulan. Sejumlah bagiannya—seperti risalah “Tongkat Musa” dan “Dzulfiqar”—disimpan di perpustakaan kementrian agama karena dianggap sebagai karangan yang bermutu. Selain itu, jamaah haji menyaksikan kumpulan risalah “Tongkat Musa” di Raudah asy-Syarifah sebagai tanda risalah itu diterima. Beberapa bagiannya disita dan diserahkan ke pengadilan dengan anggapan sebagai selebaran berbahaya! Undang-undang apa, hati nurani apa, dan rasa keadilan apa yang membolehkan hal ini terjadi?
* * *
Saya Mempunyai Beberapa Poin yang Saya Kemukakan kepada Pemerintah Provinsi Afyon, Kepolisian dan Pengadilan
Pertama: Munculnya mayoritas nabi di Timur dan Asia, datangnya mayoritas filsuf di Barat dan Eropa semata-mata merupakan indi kator dari ketentuan Allah yang azali bahwa agamalah yang berkuasa di Asia dan filsafat menduduki peringkat kedua. Berdasarkan pada simbol ketentuan ini, para penguasa Asia—kendati mereka bukan kaum beragama—sepatutnya tidak mengusik orang yang berkhidmat pada agama, tetapi sebaliknya hendaknya mereka mendukungnya.
Kedua: Al-Qur’an al-Karim adalah akal dan daya berpikirnya bola bumi ini. Jika kitab suci ini tidak ada, bola bumi ini akan kacau, semoga Allah melindungi kita. Ketika itu, tidak mustahil kepala yang kosong dari akal ini akan bertabrakan dengan planet lain sehingga kiamatpun terjadi.
Ya, al-Qur’an adalah tali Allah. Ia adalah rantai yang mengikat Arsy dengan bumi. Ia yang menjaga bumi lebih dari yang dijaga oleh gravitasi. Berdasarkan hal ini, Risalah Nur yang merupakan tafsir alQur’an al-`Adzîm yang hakiki dan kuat adalah mukjizat al-Qur’an yang tidak pernah padam, sebuah nikmat Ilahiyah yang besar pada masa sekarang. Pengaruhnya tampak jelas pada negara dan bangsa sejak dua puluh tahun yang lalu. Pemerintah sepatutnya melindunginya dan menghimbau masyarakat membacanya, bukannya mempermasalahkannya, menghalang-halangi para muridnya darinya dan memprovokasi mereka untuk meninggalkannya.
“Dengan apa tuan-tuan akan menjawab milyaran penuntut dari orang-orang yang beriman di “Mahkamah Agung” akhirat jika mereka bertanya kepada tuan-tuan dan bertanya kepada orang-orang yang berusaha menuduh dan menyakiti para Tullabunnur yang mengabdikan diri pada hakikat al-Quran:“Mengapa kalian menutup mata terhadap selebaran kaum kafir dan kaum komunis, terhadap organisasi dan perkumpulannya yang mengeluarkan anarkisme? Tuan-tuan tidak mengusiknya atas dasar undang-undang kebebasan, sementara tuan-tuan mempermasalahkan para Tullabunnur, menjebloskannya ke penjara dan mengintimidasi mereka padahal mereka adalah orang-orang yang berusaha menyelamatkan negara dan bangsa dari anarkisme, kekufuran dan dekadensi moral, berusaha menyelamatkan penduduk negeri ini dari kebinasaan abadi? Ya, mengapa tuan-tuan melakukan hal ini? Kami juga melontarkan pertanyaan yang serupa.Saya katakan ini kepada mereka, maka lembaga pengadilan yang bersikap adil itu mengeluarkan keputusan tidak bersalah terhadap kami dan memperlihatkan keadilan pengadilan.
Keempat: Pada saat dilakukan interogasi, baik di Ankara maupun di Afyon, saya menunggu dimintai pendapat tentang sebuah perkara yang besar, tentang sejauh mana pengabdian Risalah Nur terhadap perkara ini, yaitu mengadakan solusi yang dapat mengembalikan persaudaraan penduduk negara ini yang lalu dengan tiga ratus lima puluh juta umat Islam, mengembalikan kecintaan, baik sangka dan bantuan maknawi mereka sebagaimana yang pernah ada pada masa lalu, yaitu hal yang diberikan Risalah Nur sebagai solusi yang paling manjur dan sarana yang paling kuat dengan bukti bahwa seorang ulama besar dari Makkah al-Mukarramah pada tahun ini telah
menerjemahkan bagian-bagian penting Risalah Nur ke dalam bahasa India dan Arab dan mengirimkannya ke India dan ke sebagian negara Arab. Mereka menjelaskan bahwa Risalah Nur bekerja untuk merealisasikan persaudaraan dan kesatuan Islam yang merupakan titik sandaran yang paling kuat, dan menjelaskan bahwa bangsa Turki selamanya menempati posisinya yang tinggi dalam bidang agama dan iman.
Demikian juga saya menanti untuk ditanya tentang peranan Risalah Nur dalam menghadapi bahaya komunisme yang berubah menjadi anarkisme di negara kita dan bagaimana negara yang penuh berkah ini dijaga dari arus berbahaya ini.Ya, ketika seharusnya saya ditanya tentang masalah seperti ini yang merupakan masalah yang sangat penting dan besar seperti gunung, mereka malah melontarkan pertanyaan sepele yang tidak sebanding dengan sayap nyamuk dan bukan masalah hukum sama sekali, tetapi masalah pribadi sepele yang dibesar-besarkan dengan fitnah para provokator yang menjadikan sesuatu yang kecil menjadi sangat besar dan menjadikannya sebagai sarana untuk menimpakan penderitaan kepada saya, penderitaan yang tidak pernah saya hadapi seperti ini dalam kondisi sulit seperti ini sepanjang hidup saya.Saya ditanya tentang masalah yang pernah ditanyakan sebelumnya oleh tiga pengadilan dan setelah itu saya dinyatakan tidak bersalah. Juga ditanya tentang pertanyaan sepele sekitar masalah-masalah pribadi yang sama sekali tidak penting.
Kelima: Risalah Nur tidak dapat dibantah dan tidak dapat dikalahkan. Sejak dua puluh tahun yang lalu, ia berhasil membungkam para filsuf yang paling keras kepala, menjelaskan hakikat-hakikat iman sejelas matahari sehingga orang yang memerintah negeri ini sepatutnya memanfaatkan kekuatannya.
Keenam: Mencemarkan nama baik saya melalui aib pribadi saya, menjatuhkan nama baik saya dalam pandangan masyarakat umum dengan mencela dan menodai nama baik saya, sama sekali tidak akan membahayakan Risalah Nur sedikitpun, tetapi mungkin akan memperkuatnya dari sisi lain, karena di antara naskahnya itu terdapat seratus ribu lidah yang kekal, bukan lidah saya sendiri yang fana dan hanya satu-satunya. Lidah-lidah itu akan menyuarakan Risalah Nur, tidak akan tinggal diam. Risalah Nur memiliki murid setia—dengan ribuan lidah mereka yang fasih—akan menunaikan tugas pencerahan suci dan universal ini hingga hari kiamat sebagaimana yang mereka lakukan hingga hari ini.
Ketujuh: Dalam pengadilan-pengadilan terdahulu saya pernah mengklaim disertai argumentasi-argumentasi bahwa musuh-musuh kami yang bekerja secara sembunyi-sembunyi dan para penentang kami, baik yang resmi maupun yang tidak resmi, yang menyesatkan pemerintah, menebarkan rasa takut kepada sekelompok pejabat tinggi, memprovokasi lembaga pengadilan untuk melawan kami, mereka adalah orang-orang yang berkhayal dan ketakutan dalam bentuk meremehkan, orang-orang yang tertipu, para pembuat makar yang bekerja demi kepentingan anarkisme. Dalam hati mereka tidak ada kasih sayang sedikitpun, atau mereka itu adalah kaum zindik pelaku makar yang memerangi Islam dan hakikat al-Qur’an yang memerangi orang-orang murtad. Agar mereka dapat menyerang kami, mereka menamakan kediktatoran absolut sebagai “republik”, menamakan kemurtadan mutlak sebagai “sistem”, menamakan kebebasan dan kebobrokan sebagai “peradaban”, dan menamakan arus kekufuran yang sewenang-wenang sebagai “undang-undang”, sehingga mereka menyesatkan pemerintah, membuat lembaga pengadilan sibuk mengurusi kami tanpa ada hasilnya sehingga kami menderita. Kami mengadukan perbuatan mereka kepada Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Agung, sambil melindungi diri kami dari kejahatan mereka dengan benteng “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS. Ali `Imrân [3]: 173).
Kedelapan: Tahun lalu Rusia mengirim jamaah haji dalam jumlah yang besar. Dengan perbuatan ini mereka melancarkan propaganda yang tujuannya adalah bahwa Rusia menghormati al-Qur’an lebih dari bangsa lain, dan dengan perbuatannya itu mereka berupaya memprovokasi dunia Islam tentang penduduk negara ini yang taat beragama dalam masalah yang berkaitan dengan urusan agama, hanya saja seiring dengan berjalannya waktu, Risalah Nur tersebar sedikit demi sedikit di Makkah al-Mukarramah, di Madinah Munawwarah, di Mesir, di Damaskus dan di Aleppo, mendapat apresiasi dari para ulamanya, maka propaganda komunisme itu dapat dipatahkan, dan memperlihatkan kepada umat Islam bahwa saudara mereka, bangsa Turki berpegang teguh dengan agamanya dan dengan al-Qur’an sebagaimana keadaannya pada masa lalu dan dalam kaitannya dengan seluruh umat Islam adalah seperti kakak yang berpegang teguh dengan agamanya dan ia adalah komandan pahlawan dalam pengabdian al-Qur’an.Ya, Risalah Nur telah memperlihatkan hakikat ini di tempat-tempat penting dan suci itu. Jika pengabdian nasional yang besar ini direspon dengan tindakan kekerasan dan hal-hal yang menyakitkan, apakah hal itu tidak akan menimbulkan kemarahan hingga bumi juga ikut murka?
Kesembilan: ringkasan masalah yang pernah ditetapkan dan dijelaskan dalam pembelaan Denizli: seorang komandan yang hebat dengan kecerdasannya mampu mengaitkan kebaikan pasukan tentaranya dengan dirinya dan menghubungkan kejahatan dirinya dengan pasukan tentaranya, sehingga banyak kebaikan dan kepahlawanan yang jumlahnya sebanyak pasukan tentara itu menjadi lemah karena berubah menjadi satu, sementara kejahatan sang komandan yang dikaitkan dengan pasukan tentaranya menjadi berlipat ganda sehingga berjumlah sebanyak jumlah pasukan tentara itu! Ini adalah kezaliman yang sangat jahat dan bertentangan dengan hakikat yang terang benderang. Untuk hal seperti ini, seorang jaksa penuntut umum di beberapa pengadilan yang lalu telah menyerang saya. Tamparan keras yang diarahkan kepada komandan ini berasal dari sebuah hadis Nabi yang pernah saya jelaskan empat puluh tahun yang lalu. Saya katakan kepada jaksa penuntut umum ini,
“Benar, saya mencela komandan ini berdasarkan pada hadis-hadis Nabi, hanya saja saya menjaga kehormatan pasukan tentara dan kesalahan fatal itu, sementara tuan mencela kemuliaan pasukan tentara ini yang membawa panji al-Qur’an dan komandan pahlawan dunia Islam, menghapus kebaikan-kebaikannya demi menjaga perasaan satu orang teman tuan, yaitu komandan tersebut.Semoga jaksa penuntut umum itu telah kembali bersikap adil dan meninggalkan kesalahannya.
Kesepuluh: Sayidina Ali d ketika berselisih dengan seorang Yahudi mengadukan masalahnya ke pengadilan bertitik tolak dari keyakinan bahwa yang berkuasa dalam pengadilan adalah menerapkan kebenaran, tidak lebih dari itu, guna menjaga hakikat keadilan dan memelihara hak seluruh warga yang berurusan tanpa diskriminasi.Pada suatu ketika, salah seorang hakim memerintahkan pegawainya untuk memotong tangan seorang pencuri yang diberi hukuman potong tangan. Hakim itu melihat pegawainya hendak memotong tangan pencuri itu dengan penuh amarah sehingga seketika itu juga pegawainya itu dicopot dari jabatannya. Dengan sangat menyesal ia berkata, “Orang yang melibatkan perasaannya seperti ini atas nama keadilan merupakan pelaku zalim dengan kezaliman yang sangat nyata”.
Ya, ketika menegakkan keputusan undang-undang, seseorang tidak berhak melampiaskan amarahnya kepada orang yang dihukum kendati ia tidak merasa iba terhadapnya. Jika ia melampiaskan amarahnya, ia telah berlaku zalim, bahkan ketika hukuman itu berupa qisas. Setidaknya telah berubah menjadi seorang pembunuh seperti yang diberitahukan oleh hakim yang adil itu.Berdasarkan hal ini, selama hakikat yang murni dan bebas dari tujuan yang mendominasi pengadilan, maka bagaimana dengan orang-orang yang menghina para Tullabunnur, memperlakukan mereka dengan kasar sedangkan mereka adalah orang-orang yang tidak bersalah, memerlukan pelipur lara dan belas kasih keadilan. Mereka telah dinyatakan tidak bersalah oleh tiga pengadilan dan diberi kesaksian oleh sembilan puluh persen bangsa ini dengan banyak pertanda bahwa mereka adalah orang-orang yang berguna bagi negara dan bangsa serta tidak ada perbuatan yang membahayakan dari mereka.Karena kami telah memutuskan untuk menghadapi setiap musibah dan penghinaan dengan sabar dan tabah, maka kami diam dengan menyerahkan masalah ini kepada Allah I, dan kami katakan, “Semoga dalam masalah ini terdapat kebaikan”, hanya saja saya mengkhawatirkan perlakuan buruk ini yang dilakukan terhadap orang-orang malang yang tidak bersalah itu berdasarkan keputusan tendensius yang menyulut kekhawatiran; khawatir menjadi penyebab turunnya malapetaka sehingga saya akhirnya terpaksa menulis pembelaan ini.Sebetulnya, jika dalam perkara ini terdapat kesalahan, maka itu adalah tanggung jawab saya, sedangkan para murid malang itu, mereka membantu saya demi mengharapkan keridaan Allah guna mencapai keimanan dan kehidupan akhirat mereka, tidak lebih dari itu. Mereka, jika berhak mendapatkan sesuatu, maka yang paling berhak mereka dapatkan adalah apresiasi yang tinggi, hanya saja mereka mendapatkan perlakuan buruk yang mengundang kemarahan sampai-sampai musim dingin itupun turut marah.(*10)
Kemudian, suatu hal yang mengherankan adalah mereka kembali menyangka adanya organisasi, padahal selain adanya tiga pengadilan yang telah meneliti dugaan ini dan menyatakan kami tidak bersalah, tidak satupun pengadilan, kepolisian, atau komite para pakar yang berhasil menemukan tanda apapun yang menunjukkan adanya organisasi di antara kami yang menjadi bahan tuduhan apapun. Yang ada adalah bahwa di antara para Tullabunnur itu persaudaraan ukhrawi seperti halnya persaudaraan yang terjadi antara murid, atau ikatan antara mahasiswa, atau antara para penghafal al-Qur’an yang menyetor hafalannya. Orang yang mengatakan bahwa mereka adalah organisasi dan menuduh mereka memiliki organisasi, mereka harus memandang kaum profesional, alumni perguruan tinggi dan para penceramah bahwa mereka adalah organisasi politik juga.
Oleh karena itu, saya tidak merasa perlu membela mereka yang dipenjara di sini yang disebabkan oleh tuduhan sepele seperti ini yang tidak berdasar, hanya saja kami sebagaimana telah mengajukan pembelaan sebanyak tiga kali, pembelaan terhadap Risalah Nur yang mempunyai ikatan erat dengan negeri ini dan dunia Islam, yang manfaat dan keberkahannya yang banyak telah dirasakan oleh negara dan bangsa ini secara materi dan maknawi, maka tidak ada yang dapat menghalangi saya untuk melakukan pembelaan terhadapnya dengan alasan yang sama, dan tidak ada undang-undang, juga politik yang melarang hal itu, bahkan di luar kemampuan keduanya.
Ya, kami adalah organisasi. Kami memiliki organiasi besar yang memiliki tiga ratus lima puluh juta anggota dalam setiap abadnya. Dengan salat setiap hari, mereka memperlihatkan hubungan dan pengabdiannya terhadap prinsip-prinsip organisasi ini dengan penuh penghormatan. Mereka bergegas saling membantu melalui doa dan keuntungan maknawi sebagai pengamalan progam suci “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara”. (QS. al-Hujurât [49]: 10).
Kami adalah anggota organisasi suci yang besar ini. Tugas khusus kami adalah menyampaikan hakikat iman yang berasal dari alQur’an kepada orang-orang beriman dalam bentuk yang sebenarnya, sehingga menyelamatkan mereka dan diri kami sendiri dari kebinasaan abadi dan penjara soliter alam barzakh yang kekal. Kami tidak memiliki hubungan apapun dengan organisasi rahasia yang kalian tuduhkan kepada kami, tidak juga dengan perkumpulan dan organisasi politik duniawi yang melakukan konspirasi dan persekongkolan,bahkan sejak awal kami tidak pernah berhubungan dengan hal seperti ini. Ini adalah masalah yang telah diteliti dengan cermat oleh empat pengadilan dan dikeluarkan keputusan bahwa kami tidak bersalah.
Ya, para Tullabunnur mengetahui dan saya telah menjelaskan argumentasinya di pengadilan bahwa saya berusaha keras untuk tidak mencari kedudukan, popularitas, prestise dan reputasi, tidak pula kedudukan akhirat atau spiritual. Yang saya lakukan hanyalah pengabdian iman untuk kaum mukmin dengan segala pemikiran dan kekuatan. Saya siap berkorban bukan hanya dengan kehidupan dunia dan kedudukan saya yang fana ini, tetapi dengan kehidupan akhirat saya jika memang diperlukan, dan dengan kedudukan akhirat yang kekal yang dicari oleh setiap orang. Bahkan—jika diperlukan—saya menerima untuk meninggalkan surga dan masuk neraka Jahanam sebagai sarana untuk menyelamatkan sebagian orang-orang yang beriman yang malang dari siksa neraka.Kendati ini adalah masalah yang diketahui oleh sahabat-sahabat saya yang hakiki dan telah saya buktikan di berbagai pengadilan, hanya saja orang-orang tetap melancarkan tuduhan ini kepada saya(*11), bahwa saya tidak tulus dalam berkhidmah pada Risalah Nur dan iman dengan tujuan merendahkan nilai Risalah Nur agar dapat menghalangi penduduk negeri ini dari hakikat-hakikat agung yang terdapat dalam Risalah Nur.
Sungguh mengherankan orang-orang malang yang mengira bahwa dunia ini abadi, menduga bahwa setiap orang seperti mereka, menjadikan agama dan iman sebagai alat untuk dunia! Bagaimana bisa mereka mengkriminalisasi seseorang yang menantang para pengikut kesesatan di dunia, dalam rangka pengabdian iman, ia mengorbankan kehidupan dunia dan kehidupan akhiratnya jika memang diperlukan, ia tidak akan mengganti satu pun hakikat iman dengan kekuasaan dunia sebagaimana yang ia nyatakan di hadapan pengadilan, dengan segala kekuatannya ia menjauhi politik dan kedudukan material dan spiritual yang beraroma politik, semata-mata untuk menjaga rahasia keikhlasan, menjauhi politik sebagai tuntutan manhaj imani dengan menanggung berbagai penderitaan yang tiada taranya selama dua puluh tahun, orang yang menganggap diri nya—dilihat dari sisi jiwanya—jauh berada di bawah para muridnya, ia tidak segan selalu meminta bantuan dan doa kepada mereka, ia melihat dirinya malang dan tidak berdaya. Ya, bagaimana mungkin orang-orang itu mengkriminalisasi seseorang yang seperti ini kondisinya, semata-mata karena sebagian murid setianya dalam korespondensi khususnya mengaitkan sebagian keutamaan Risalah Nur dengan dirinya di balik kekuatan iman yang kokoh yang mereka peroleh, padahal ia tidak lebih dari penerjemah dan penyampai yang tidak memiliki keistimewaan apa-apa. Berbekal sikap berbaik sangka, mereka memberikan atribut kepadanya yang seribu derajat di atas batasannya, memberinya kedudukan tinggi sejenis yang biasa dilakukan banyak orang seperti perkataan mereka kepada orang yang mereka cintai, “Tuanku, mahkota hidupku”, tanpa dimaksudkan makna politis dari sebutan itu. Mereka memuji dan menyanjungnya dalam rangka berterima kasih antara para guru dan murid sebagaimana biasanya sejak dulu tanpa ada bantahan. Mereka menulis pujian yang ditempatkan di bagian akhir buku-bukunya yang merupakan kebiasaan yang berlaku sejak dulu dalam bukubuku yang diterima masyarakat luas. Kendati ia hidup sendiri dan terasing, ia mempunyai banyak musuh, banyak sebab yang menjadikan orang-orang tidak menolongnya, hanya saja agar ia dapat mengokohkan kekuatan maknawi di kalangan para sahabatnya yang membantunya dalam menghadapi para penentangnya yang menjadi musuh bebuyutan dan jumlahnya cukup banyak itu, agar mereka tidak menjauh, agar tekad orang-orang yang memuji dirinya secara berlebihan tidak melemah, ia tidak menolak pujian dan sanjungan itu sama sekali, tetapi sebagiannya ia alihkan kepada Risalah Nur, bukan yang lainnya.
Namun, terlepas dari ini semua, sebagian pejabat resmi mengusik pengabdian iman orang tua yang sudah berada di depan pintu kubur, mereka mengalihkan tugas mulianya ini ke arah dunia. Sungguh jauh dari kebenaran, undang-undang dan rasa keadilan.Ucapan saya yang terakhir, “Untuk setiap musibah, saya siapkan:
* * *
Saya jelaskan kepada pengadilan Afyon dan kepala pengadilan
pidana bahwa saya telah memutuskan hubungan saya dengan dunia sejak dulu karena secara naluri saya tidak dapat menanggung tekanan dari seseorang. Hidup saya sekarang berada di bawah bayang-bayang tekanan ini yang tidak berarti dan tidak perlu, tetapi telah berlangsung sedemikian menyakitkannya. Saya tidak dapat hidup seperti ini. Saya tidak mampu menanggung penderitaan akibat tekanan dari ratusan pejabat resmi di luar penjara. Saya telah bosan dengan model hidup seperti ini. Saya memohon kepada tuan-tuan dengan sungguh-sungguh agar menjatuhkan hukuman penjara kepada saya, karena selama kuburan belum siap menerima saya, hidup dalam penjara lebih baik bagi saya.Tuan-tuan mengetahui juga bahwa tuduhan-tuduhan palsu yang dilancarkan jaksa penuntut umum, tidak pernah ada dan tidak ada yang dapat menjatuhkan hukuman kepada saya. Tetapi saya memiliki kekurangan besar terhadap tugas hakiki yang menjatuhkan hukuman maknawi bagi saya. Jika memang pantas tuan-tuan bertanya kepada saya, silakan tuan-tuan bertanya kepada saya dan saya akan menjawabnya.
Ya, kekurangan besar ini adalah karena saya tidak menunaikan tugas besar yang dibebankan kepada saya atas nama agama, negara dan bangsa. Saya tidak menunaikannya karena saya tidak memberikan perhatian terhadap dunia dan ini adalah kejahatan yang tidak dapat diampuni dengan pandangan hakikat dan saya tidak dapat diampuni karena ketidaktahuan. Inilah keyakinan yang akhir-akhir ini muncul ketika berada di penjara Afyon.
Orang-orang yang menyebut hubungan ukhrawi yang tulus yang mengikat para Tullabunnur dengan Risalah Nur dan penerjemahnya sebagai organisasi duniawi dan politis, lalu mereka berusaha menjauhkan mereka dari hakikat dan keadilan, dan ini yang telah saya jelaskan kepada tiga pengadilan yang mengeluarkan keputusannya bahwa kami tidak bersalah, hanya saja kami tetap mengatakan
“Landasan utama dalam kehidupan sosial manusia, terutama kaum muslimin, adalah jalinan cinta yang tulus antara keluarga dan kaum kerabat, hubungan yang erat antara kabilah dan golongan, dan ikatan maknawi berdasarkan pengorbanan antara saudara seiman dalam umat Islam. Para Tullabunnur tidak dapat dikatakan bahwa mereka merupakan organisasi politik kecuali dengan dua hal. Pertama, mengingkari ikatan ini yang menjadi landasan kehidupan sosial yang merupakan ikatan, komitmen dan hubungan erat yang mengikat seseorang dengan hakikat al-Qur’an dan para penyebarnya serta menyelamatkan kehidupannya yang abadi. Yang kedua, mengamati “bahaya merah” yang datang dari Utara, yaitu bahaya yang menebarkan benih anarkisme yang menakutkan, merusak generasi dan bangsa, menjauhkan anak-anak dari para orang tuanya sehingga tidak ada ikatan kekeluargaan lagi, membuka jalan untuk merusak peradaban manusia dan kehidupan sosial serusak-rusaknya.Oleh karena itu, para Tullabunnur yang hakiki menyatakan hubungannya yang suci dengan hakikat al-Qur’an dan hubungannya yang erat dengan saudara-saudara ukhrawi, dengan pernyataan yang tidak mengandung keraguan, menerima setiap hukuman yang ditimpakan kepada mereka berkat persaudaraan ini. Untuk itu, di hada�pan pengadilan dengan lantang mereka menyuarakan kebenaran apa adanya, menjauhi cara-cara menipu, menjilat dan berbohong untuk membela diri.
* * *
CATATAN TAMBAHAN PELENGKAP DAFTAR BANTAHAN YANG DIAJUKAN KE PENGADILAN AFYON SEBAGAI JABAWAN TERHADAP DAFTAR TUNTUTAN
Pertama: Saya jelaskan kepada pengadilan bahwa daftar tuduhan ini telah disusun berdasarkan dua hal. Pertama, daftar tuduhan yang lalu di pengadilan Eskişehir dan pengadilan Denizli. Yang lainnya, penyidikan dangkal yang dilakukan komite para pakar terhadap kami. Oleh karena itu, di hadapan pengadilan, saya nyatakan bahwa jika saya tidak membuktikan adanya seratus kesalahan dalam daftar tuntutan ini, saya rela dipenjara selama seratus tahun dan saya telah membuktikan pengakuan saya ini. Jika tuan-tuan mau, saya sampaikan daftar yang berisi lebih dari seratus kesalahan
Kedua: ketika prosedur pengadilan Denizli tengah berlangsung bersamaan dengan dikirimnya buku dan surat-surat kami ke Ankara, kepada saudara-saudara saya, saya tulis sebuah surat ketika saya sedang gelisah dan kecewa dengan dugaan keputusan yang tidak berpihak kepada kami dikeluarkan.
Satu bagian dari risalah ini ada di bagian akhir sebagian pembelaan saya. Di dalamnya tertulis, “Persaksikanlah bahwa para pegawai pengadilan yang meneliti Risalah Nur dengan tujuan untuk mengkritisinya, jika mereka menguatkan imannya atau mereka menyelamatkan imannya dengan Risalah Nur, kemudian mereka mengeluarkan keputusan hukuman mati untuk saya, maka saya memaafkan mereka dan mereka bebas, karena tugas Risalah Nur adalah menguatkan dan menyelamatkan iman dan kami tidak lain merupakan para pelayan yang berkewajiban menunaikan pengabdian iman tanpa membedakan antara musuh dan sahabat dan tidak berpihak ke kelompok manapun”.
Wahai dewan hakim! Berdasarkan pada kenyataan ini, tentunya argumentasi kuat yang tak terkalahkan milik Risalah Nur telah menarik perhatian sebagian orang-orang pengadilan. Apapun yang telah tuan-tuan lakukan terhadap saya, saya memaafkan tuan-tuan dan saya tidak akan membalas dendam. Untuk itu, saya akan menanggung serangan pencemaran nama baik yang diarahkan kepada saya yang belum pernah saya lihat sebelumnya selama hidup saya dalam suasana kezaliman dan kediktatoran yang paling kejam. Ya, saya menanggungnya kendati menyulut amarah saya sehingga saya tidak mendoakan yang tidak baik untuk orang-orang yang melakukannya. Risalah Nur yang berada di tangan tuan-tuan merupakan daftar pembelaan saya yang tidak terbantahkan, daftar bantahan saya yang tidak ada celahnya, sebagai jawaban terhadap seluruh tuduhan yang diarahkan kepada kami dan terhadap kejahatan yang dialamatkan kepada kami.
Kendati para ulama yang terhormat yang berasal dari Mesir, Damaskus, Aleppo, Madinah al-Munawwarah dan Makkah al-Mukarramah telah membaca Risalah Nur, dan para ulama peneliti telah memeriksanya dalam pimpinan urusan agama di negeri ini lalu mereka mengapresiasinya tanpa sedikitpun mengkritisinya, hanya saja yang benar-benar mengherankan adalah seorang yang memiliki kecerdasan yang luar biasa yang menyusun daftar tuntutan terhadap kami menyebutkan bahwa al-Qur’an terdiri dari seratus empat puluh surah. Cukuplah kesalahan besar ini sebagai petunjuk, betapa dangkalnya pandangan orang ini.Di samping itu, kendati kondisi sulit yang dihadapi Risalah Nur, kendati serangan brutal yang saya hadapi dalam suasana terasing sendirian dan kondisi yang sangat sulit, Risalah Nur memperoleh pembenaran dari ratusan ribu ahli hakikat, namun penuntut yang tidak berpengetahuan sampai-sampai tidak mengetahui jumlah surah al-Qur’an itu mengkritisi Risalah Nur seraya berkata, “Kendati Risalah Nur berusaha menafsirkan al-Qur’an dan mentakwilkan hadis, tetapi melihat apa yang diajarkannya kepada pembaca tampak bahwa beberapa bagiannya tidak mengandung nilai ilmiah”. Pernyataan ini cukup menjadi petunjuk betapa tidak sukanya orang ini terhadap undang-undang, kebenaran, hakikat dan keadilan.
Kemudian saya mengadu kepada tuan-tuan bahwa tuan-tuan telah memaksa kami selama dua jam untuk mendengarkan daftar tuntutan yang terdiri dari empat puluh lembar penuh dengan ratusan kesalahan yang terdapat di dalamnya, dengan kandungannya yang melukai perasaan, sementara tuan-tuan tidak memperkenankan kami membacakan bantahannya yang hanya terdiri dari satu lembar setengah halaman, yang mengandung kebenaran dan jika dibaca tidak lebih dari dua menit, sementara kami berulang kali memohon dengan sangat untuk membacanya. Untuk itu, saya memohon kepada tuan-tuan atas nama keadilan untuk membaca daftar bantahan semuanya sebagai jawaban terhadap daftar tuntutan.
Ketiga: setiap pemerintah memiliki oposisi. Undang-undang tidak boleh menghalang-halangi mereka selama tidak mengganggu keamanan dan stabilitas. Apakah saya dan orang seperti saya yang meninggalkan dunia dan bekerja untuk urusan akhirat, meninggalkan pekerjaan demi kehidupan kami yang kekal sesuai dengan metode yang dipakai leluhur kami selama seribu tiga ratus lima puluh tahun, dalam lingkaran pendidikan al-Qur’an, dengan cara yang dibolehkan oleh prinsip-prinsip yang disucikan oleh tiga ratus lima puluh juta orang beriman di setiap zaman agar kami mengadopsi undang-undang yang sudah hancur sebagai produk peradaban Barat, dan undang-undang liar berdarah seperti yang ada di tangan Bolshevik dan kami jadikan jalan hidup dengan tekanan dan kelicikan musuh-musuh kami yang bekerja secara sembunyi-sembunyi sekadar untuk kehidupan dunia yang singkat dan fana? Ketahuilah bahwa di dunia ini tidak ada undang-undang dan tidak pula seorang manusia pun yang memiliki rasa keadilan sekecil apapun yang dapat memaksa kita menerima jalan hidup seperti ini. Hanya saja kami katakan kepada mereka, “Kami tidak mengusik tuan-tuan, maka janganlah tuan-tuan mengusik kami”.
Berdasarkan pada kenyataan ini, maka dengan tegas saya menyatakan bahwa kami—secara pemikiran dan pengetahuan—tidak mendukung perintah-perintah yang sewenang-wenang yang dikeluarkan atas nama undang-undang, pemimpin mengubah Masjid Hagia Sophia menjadi rumah berhala, mengubah Dâr al-Masyikhah al-Islamiyyah menjadi SMA Perempuan. Ya, kami tidak mendukung perintah-perintah temperamental dan saya sendiri tidak mematuhi perintah-perintah seperti ini.
Kemudian, terlepas dari kezaliman luar biasa yang saya terima dalam pengasingan yang penuh dengan penderitaan selama dua puluh tahun ini, kami tidak pernah turut campur dalam urusan politik, belum pernah mengusik urusan hukum dan administrasi, belum pernah mengganggu keamanan dan stabilitas, bahkan tidak ada satu peristiwa pun yang tercatat yang mengganggu keamanan dan stabilitas yang dilakukan oleh kami padahal para pengikut Risalah Nur itu jumlahnya mencapai ratusan ribu.
Saya pribadi telah bosan hidup karena perlakuan sewenangwenang yang menyulut kemarahan saya ini, karena perlakuan buruk, fitnah dan pencemaran nama baik yang belum pernah saya alami sebelumnya selama hidup saya yang saya peroleh dalam pengasingan ini. Saya juga tidak suka dibebaskan tetapi tetap di bawah pengawasan.Saya pernah menulis kepada tuan-tuan sebuah petisi di dalamnya saya tidak menuntut agar saya dinyatakan tidak bersalah seperti orang pada umumnya, tetapi saya menuntut agar saya dipenjara. Saya meminta tuan-tuan menjatuhkan hukuman yang seberat-beratnya bukannya yang serendah-rendahnya karena tidak ada jalan untuk menyelamatkan diri dari perlakuan yang luar biasa yang tidak ada duanya ini kecuali dengan salah satu dari dua hal: kuburan atau penjara. Untuk kuburan, sekarang belum saatnya, karena bunuh diri haram sedangkan ajal adalah masalah gaib. Oleh karena itu, saya menerima untuk dipenjara di mana saya menjadi penghuni sel soliternya sejak enam bulan yang lalu, hanya saja saya belum mengajukan petisi ini kepada tuan-tuan demi menjaga perasaan saudara-saudara saya yang tidak bersalah.
Keempat: saya mengklaim dengan pembenaran seluruh tulisan saya dalam Risalah Nur selama tiga puluh tahun dari hidup saya yang disebut “Said Baru”, juga dibenarkan oleh semua hakikat yang berkaitan dengan pribadi saya yang terdapat dalam Risalah Nur, juga disaksikan oleh orang-orang yang bersikap adil yang ada ikatan dengan “Said Baru” dengan ikatan yang erat. Saya berusaha keras sesuai dengan kemampuan yang ada untuk mencegah nafsu ammârah saya dari sikap riya, membanggakan diri dan suka popularitas. Saya seringkali melukai perasaan para Tullabunnur yang bersikap berbaik sangka terhadap saya secara berlebihan. Saya nyatakan kepada mereka bahwa saya tidak memiliki apa-apa dan sekadar dalal (sales) di toko perhiasan al-Qur’an. Dengan pembenaran rekan-rekan dekat saya dan pertanda yang mereka saksikan saya telah menentukan untuk berkorban demi pengabdian iman saya, bukannya untuk mencari kedudukan tinggi, popularitas dan kedudukan dunia saja, tetapi juga kedudukan spiritual agung jika saya diberi, khawatir hal itu akan mencemari keikhlasan dalam pengabdian iman saya dan saya benar-benar melakukan hal ini berdasarkan landasan ini, tetapi tuan-tuan terlepas dari kenyataan ini semua dalam pengadilan yang terhormat memberi saya penghormatan seperti yang diberikan oleh sebagian saudara saya, penghormatan yang melampaui penghormatan mereka kepada orang tuanya dan menerima saya dengan penghormatan itu sebagai ungkapan rasa terima kasih dari mereka terhadap manfaat yang mereka dapatkan dari Risalah Nur, lalu tuan-tuan menjadikannya bahan interogasi seakan-akan hal itu kasus politik yang besar. Tuan-tuan menolak sebagiannya untuk diingkari dan membiarkan kami mendengar sesuatu yang mengherankan!Apakah orang malang yang tidak pernah menerima kedudukan dan sikap berbaik sangka, yang melihat bahwa dirinya tidak pantas memperoleh kedudukan dan sikap berbaik sangka, apakah mungkin orang ini dikatakan telah melakukan kejahatan semata-mata karena orang lain memujinya?
Kelima: Terus terang saya katakan kepada tuan-tuan bahwa menuduh para Tullabunnur yang tidak memiliki hubungan sedikitpun dengan berbagai organisasi, perkumpulan atau arus politik sebagai pendiri organisasi dan terlibat dengan politik adalah sebuah perang yang dilancarkan kepada kami—sadar atau tidak sadar—atas nama organisasi kaum zindik rahasia yang memerangi Islam dan iman sejak empat puluh tahun lalu, dan atas nama Bolshevik yang menjadi sponsor anarkisme di negeri ini. Tiga pengadilan telah memutuskan para Tullabunnur dan Risalah Nur tidak bersalah dalam hal pendirian organisasi
Terlepas dari pengadilan Eskişehir menjatuhkan hukuman penjara kepada saya selama satu tahun penuh, menjatuhkan hukuman penjara selama enam bulan kepada lima belas orang dari asalnya seratus dua puluh orang karena satu masalah yang tertulis dalam sebuah risalah kecil yang berbicara tentang hijab perempuan dan masalah itu merupakan satu kalimat yang ditulis sejak dulu yang berbunyi, “Peristiwa tukang semir sepatu yang menggoda seorang isteri pejabat tinggi yang keluar rumah dengan berpakaian tetapi seperti telanjang di pasar di jantung ibukota adalah tamparan keras ke wajah setiap orang yang kurang ajar yang memerangi hijab”. Tuduhan terhadap Risalah Nur dan kepada para muridnya sekarang semata-mata merupakan tuduhan dan pelecehan terhadap ketiga pengadilan itu.
Keenam: Risalah Nur tidak dapat terkalahkan. Setiap ulama yang telah membacanya mengakui bahwa Risalah Nur adalah tafsir al-Qur’an yang penuh dengan hakikat, berfungsi sebagai bendungan penghalang yang melindungi negara dan bangsa dari bahaya yang datang dari Utara. Oleh karena itu, kami menganggap bahwa salah satu tugas tuan-tuan terhadap kebenaran umum terwujud dalam memberi semangat para Tullabunnur, bukannya menakut-nakuti mereka. Inilah yang kami tunggu dari tuan-tuan. Jika buku-buku kaum ateis dan selebaran sebagian politikus zindik boleh disebarluaskan dengan alasan kebebasan ilmiah, padahal tulisan-tulisan itu membahayakan negara dan bangsa, mengancam keamanan dan stabilitas, maka pemuda yang tidak berdosa yan memerlukan pencerahan, ketika ia masuk ke dalam lingkaran murid Risalah Nur guna menyelamatkan imannya dan membebaskan diri dari akhlak tercela adalah sangat wajar. Seharusnya pemerintah dan kementerian pendidikan memberi semangat dan apresiasi, bukan mengkriminalisasi.
Terakhir saya ucapan, “Semoga Allah memberi taufik kepada para hakim untuk bersikap adil yang sebenarnya. Amin”
* * *
PERKATAAN SAYA YANG TERAKHIR
Saya jelaskan kepada majelis hakim sebagai berikut:
Dari daftar tuntutan dan dari kondisi saya dalam penjara soliter dalam waktu yang lama tampak bahwa pribadi saya sering menjadi sasaran, mencela pribadi saya, menjatuhkan martabat saya adalah yang lebih berguna dalam perkara ini, seakan-akan saya membahayakan negara, stabilitas dan pengelolaannya, seakan-akan saya mencari tujuan duniawi berkedok agama, dan berusaha terlibat dalam kancah politik.
Sebagai bantahan terhadap dugaan ini, saya jelaskan dengan tegas sebagai berikut:
“Jika tuan-tuan menjatuhkan martabat saya disebabkan karena kekhawatiran ini, maka janganlah tuan-tuan mengusik Risalah Nur dan segenap muridnya yang memberikan pengorbanan kepada negara dan bangsa ini serta memberinya nilai yang besar. Jika tidak, negara dan bangsa ini akan tertimpa bahaya maknawi yang besar. Saya jelaskan dengan tegas bahwa sekarang saya putuskan—sebagai manhaj saya—bahwa saya menerima setiap upaya untuk menjatuhkan nama baik saya, menghina diri saya, menyakiti saya dan menimpakan hukuman terhadap diri saya dengan syarat tidak mengusik Risalah Nur dan segenap muridnya disebabkan diri saya. Mudah-mudahan dalam putusan saya ini saya akan memperoleh pahala di akhirat kelak dan saya terbebas dari kejahatan nafsu ammârah. Dengan demikian, di satu sisi, saya senang ketika saya menangis.
Seandainya orang-orang yang tidak bersalah dan bernasib malang itu tidak dipenjara bersama saya dalam perkara ini, maka dalam pengadilan ini saya akan berbicara dengan nada keras.Tuan-tuan telah melihat apa yang dilakukan orang yang menyusun daftar tuntutan terhadap saya. Ia berupaya menjatuhkan nama baik saya dengan tipu muslihat. Apa yang dilakukannya itu seperti orang yang mengumpulkan air dari seribu lembah. Ia memanfaatkan semua tulisan saya, baik yang berbentuk buku maupun surat yang bersifat pribadi dan bukan pribadi, yang saya tulis selama hampir tiga puluh tahun dari hidup saya. Ia menambahkan pada tulisan saya itu makna yang salah. Dalam kata pengantarnya, ia membuat pernyataan palsu seakan-akan semua tulisan saya itu ditulis pada tahun ini, bahkan dibuat terkesan bahwa tulisan saya itu belum diperiksa oleh pengadilan, belum mendapatkan pengampunan dan belum mengalami kadaluwarsa tuntutan hukum!Kendati saya sering merendahkan kedudukan saya dan musuh-musuh saya selalu menggunakan media yang tersedia untuk menjatuhkan nama baik saya, namun hal itu tidak berguna dalam upaya menjauhkan masyarakat dari saya sehingga hal itu menimbulkan keresahan para politikus. Penyebabnya adalah bahwa kebutuhan yang mendesak untuk memperkuat iman pada masa sekarang ini dan di negeri ini menuntut adanya orang-orang yang tidak menjadikan hakikat sebagai alat untuk apapun, tidak memberi keuntungan untuk apa pun sehingga dari pelajaran-pelajaran tentang iman dapat diambil manfaat dan seseorang mencapai tingkat keyakinan yang pasti.
Ya, negeri ini belum pernah berada dalam kondisi yang sangat membutuhkan seperti halnya sekarang, karena kita telah diserang bahaya dari luar. Saya telah menyatakan pengakuan bahwa saya pribadi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan ini, hanya saja masyarakat menduga bahwa sayalah orang yang dapat memenuhi kebutuhan ini. Dugaan mereka itu bukan karena saya memiliki keistimewaan, tetapi karena adanya kebutuhan yang sangat mendesak dari satu sisi dan karena sedikitnya da’i yang mengambil peran ini di sisi lain.
Padahal saya memikirkan hal ini dengan kebingungan dan keheranan sejak dulu. Saya baru mengetahui akhir-akhir ini hikmah dari besarnya perhatian masyarakat terhadap saya terlepas dari aib saya yang banyak dan ketidaklayakan saya dilihat dari sisi manapun, yaitu bahwa hakikat Risalah Nur dan sosok maknawi para muridnya telah menarik perhatian kebutuhan itu sehingga masyarakat datang kepada saya dengan dugaan bahwa saya merepresentrasikan hakikat luar biasa itu dan kepribadian sejati yang tulus, padahal bagian saya dari hal tersebut hanyalah sebagai pengabdi iman yang tidak mencapai satu per seribu.Kendati antusias masyarakat itu bukan hak saya, bahkan dapat membahayakan saya dan menyulitkan saya, hanya saja saya menerima bahaya maknawi ini dan lebih memilih diam guna memelihara hakikat Risalah Nur dan sosok maknawinya. Bahkan ketika Imam Ali d dan Syekh al-Jailani quddisa sirruhu dan para wali lainnya—dengan ilham Ilahi dan isyarat gaib—memberitahukan tentang Risalah Nur yang merefleksikan mukjizat maknawi al-Qur’an al-Hakim pada masa sekarang, dan sosok maknawi pada muridnya yang tulus, mempercayai pribadi saya sebagai pengabdi Risalah Nur.
Hanya saja, saya keliru karena tidak menafsirkan pujian mereka dalam sebagian tempat dan tidak mengalamatkannya ke Risalah Nur. Penyebab kekeliruan saya ini adalah kelemahan saya dan keinginan mendapatkan kepercayaan dengan perkataan saya, tidak memperbanyak penyebab yang mendorong pembubaran para pembantu dari sekitar saya, maka saya menerima sebagian pujian mereka terhadap saya secara lahir, tidak lebih dari itu.
Saya ingatkan tuan-tuan bahwasanya tidak perlu untuk mencela pribadi saya. Saya yang bersifat fana yang sedang berdiri di depan pintu kubur, tidak perlu banyak memberikan perhatian kepada saya. Tetapi jangan sampai tuan-tuan menentang Risalah Nur karena tuan-tuan tidak akan mampu melakukannya, dan tidak akan mampu mengalahkannya. Jika tuan-tuan menentangnya, itu berarti tuan-tuan akan membahayakan bangsa dan negara, tetapi tuan-tuan tidak akan mampu membubarkan para muridnya. Leluhur kami terdahulu di negeri ini telah mempersembahkan hampir lima puluh juta orang yang mati syahid dalam rangka menjaga hakikat al-Qur’an. Tuan-tuan sama sekali tidak akan mampu membawa cucu-cucunya agar meninggalkan hakikat al-Qur’an pada masa sekarang ini atau meninggalkan sikap kepahlawanan agama yang agung dalam pandangan dunia Islam. Bahkan jika mereka meninggalkannya secara lahir, para Tullabunnur yang tulus akan tetap terikat dengan hakikat itu dengan hati dan ruh, dan sama sekali mereka tidak akan meninggalkan Risalah Nur yang merefleksikan hakikat agung itu. Jika mereka meninggalkannya, sikap mereka ini akan membahayakan negara, bangsa, keamanan dan stabilitas.
Ucapan terakhir saya:
“Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia.Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memilikiArasy yang agung”. (QS. al-Taubah [9]: 129).
* * *
PETISI YANG DISAMPAIKAN KEPADA PARA MENTERI, PIMPINAN URUSAN AGAMA DAN PIMPINAN PENGADILAN KASASI
Sebuah pengaduan di hadapan “Mahkamah Agung” Hari Kebangkitan Manusia dan sebuah pengaduan diajukan ke hadapan Ilahi. Mohon kiranya Pengadilan Kasasi pada masa sekarang ini mendengarkan pengaduan itu, demikian juga halnya generasi mendatang, para dosen perguruan tinggi dan para mahasiswanya di masa mendatang.
Saya ajukan pengaduan ke hadirat keadilan Allah Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana Pemilik Keagungan, melaporkan sepuluh kezaliman saja dari seratus kezaliman yang pedih yang saya hadapi selama dua puluh tiga tahun yang lalu.
Pertama:Terlepas dari kekurangan dan aib yang ada, saya wakafkan hidup saya untuk kebahagiaan penduduk negeri ini dan untuk menyelamatkan iman mereka. Untuk tujuan ini saya bekerja dengan seluruh kekuatan yang ada melalui Risalah Nur seraya berkata, “Kepala saya menjadi tebusan untuk hakikat al-Qur’an yang sebelumnya ditebus oleh kepala jutaan pahlawan. Berkat taufik Allah, saya mampu bersikap tegar dalam menghadapi perlakuan kasar dan zalim sehingga saya tidak mundur selangkah pun.
Misalnya, sebagian perlakuan zalim yang diterapkan di sini dalam penjara “Afyon” dan di pengadilannya. Di antaranya sebanyak tiga kali mereka memaksa kami dan para Tullabunnur yang tidak bersalah yang mendambakan pelipur lara dari keadilan, mendengarkan daftar tuduhan yang penuh dengan kedengkian dan fitnah. Setiap tuduhan memakan waktu hingga nyaris dua jam. Kemudian ketika saya sangat memohon mereka agar membolehkan saya selama lima atau sepuluh menit untuk melakukan pembelaan terhadap hak-hak saya, mereka hanya memberi waktu tidak lebih dari dua menit!
...
Saya dijebloskan ke dalam penjara soliter selama dua puluh bulan. Saya tidak dibolehkan menemui siapa pun selain dua orang sahabat saya selama tiga atau empat jam. Mereka berdua membantu saya sebentar dalam menulis pembelaan saya, kemudian mereka dilarang, dihukum dan diperlakukan dengan perlakuan yang kejam. Kemudian mereka datang membawa daftar tuduhan yang dikemas jaksa penuntut umum dengan cara seperti mengumpulkan air dari seribu lembah. Ia memenuhinya dengan kedengkian, fitnah, makna-makna yang keliru dan tuduhan dusta. Saya telah menghitungnya dalam lima belas lembar saja lebih dari delapan puluh satu kesalahan. Mereka memaksa kami mendengarkan tuduhan dusta ini dan melarang kami untuk berbicara. Jika mereka membolehkan, niscaya akan saya katakan kepada mereka:
“Selama tuan-tuan—dengan berdalih kebebasan berpikir dan hati nurani—tidak mengusik orang-orang yang mengingkari agama tuan-tuan, menghina leluhur tuan-tuan dan menuduh mereka sesat, menolak nabi tuan-tuan dan undang-undang al-Qur’an dan tidak menerimanya, umat Yahudi, Nasrani dan Majusi, dan secara sangat khusus adalah kaum munafik, murtad dan kaum anarkis yang sekarang bekerja di balik tirai Bolshevik(*12)Selama pemerintahan Inggris yang otoriter dan fanatik terhadap agama Nasrani tidak pernah mengusik jutaan kaum muslimin yang berada di wilayah kerajaannya dan di bawah kekuasaannya serta tidak pernah mengambil tindakan hukum melawan mereka padahal mereka—dengan pelajaran-pelajaran al-Qur’an yang terus menerus di setiap saat—menolak keyakinan Inggris yang tidak benar dan prinsip kekufurannya; Selama pemerintahan tidak mengusik penyebaran pemikirian para penentangnya secara terus terang; Selama peristiwa-peristiwa empat puluh tahun dari hidup saya, seratus tiga puluh buku dari buku-buku saya, khususnya risalah-risalah dan korespondensi saya yang telah diteliti oleh pemerintah wilayah Isparta, pengadilan Denizli, pengadilan pidana Ankara, dan pimpinan urusan aga�ma. Juga telah diteliti oleh pengadilan kasasi sebanyak dua atau tiga kali, Risalah Nur selama dua atau tiga tahun berada di tangan mereka dan di dalamnya terdapat risalah-risalah yang bersifat pribadi dan tidak pribadi, mereka tidak berhasil memerlihatkan satu materi pun yang mengharuskan dijatuhkannya hukuman; Selama pembelaan kami yang mencapai empat ratus lembar telah membuktikan bahwa kami tidak bersalah, Risalah Nur—kendati kondisi saya yang lemah, tertindas, dan tertekan—mengungkapkan dirinya sebagai pembimbing hakiki yang kuat dan tidak goyah, memberi petunjuk kepada dua ratus ribu murid hakiki yang berani berkorban, merealisasikan manfaat, keamanan dan stabilitas bagi negara dan bangsa. Maka dengan undang-undang apa, dengan hati nurani yang mana, dengan kepentingan mana, dan dengan kriminalitas kami yang mana, tuan-tuan menghukum kami dengan hukuman yang paling berat, menghina kami dengan penghinaan yang paling keji, lalu menjebloskan kami ke dalam penjara? Tuan-tuan tentu akan dimintai pertanggung jawaban di “Mahkamah Agung” pada saat manusia dikumpulkan kelak.
Kedua:Salah satu alasan yang mereka gunakan untuk menghukum saya adalah penafsiran saya terhadap ayat-ayat al-Qur’an secara gamblang tentang hijab, warisan, berzikir kepada Allah dan poligami, yaitu penafsiran kuat dan meyakinkan yang membantah kritikan peradaban Barat.
Berikut saya ulang bagian yang pernah saya tulis lima belas tahun yang lalu dan saya sampaikan ke pengadilan Eskişehir, pengadilan kasasi di Ankara, yaitu bagian yang sama dengan yang mereka tulis dalam daftar keputusan yang melawan saya. Saya ulang sebagai aduan yang diajukan ke “Mahkamah Agung” Hari Dikumpulkannya Makhluk, dan sebagai peringatan yang diajukan kepada ahli pengetahuan dan peradaban pada masa mendatang, sebagai daftar kasasi yang dilengkapi dengan risalah “al-Hujjah al-Zahra”, diajukan ke pengadilan kasasi yang mendengar aduan kami dengan adil dan menyatakan kami tidak bersalah sebanyak dua kali. Saya membacakan teksnya di hadapan majelis yang melarang saya untuk berbicara dan menjatuhkan vonis kepada saya dengan penjara soliter dua tahun dan pengasingan dua tahun dengan tetap di bawah pengawasan terus menerus, berdasarkan daftar tuduhan penuh dengki yang kami buktikan di dalamnya terdapat delapan puluh kesalahan. Saya katakan kepada pengadilan dengan suara yang paling lantang agar telinga yang tuli pada masa sekarang ini bisa mendengarkannya:
“Jika keadilan itu ada di muka bumi, maka pasti ia akan dikembalikan dan akan membatalkan keputusan zalim yang dikenakan terhadap seseorang yang menafsirkan konstitusi Ilahi yang suci dan hakiki yang diikuti selama seribu tiga ratus lima puluh tahun, yang diterapkan dalam kehidupan sosial oleh tiga ratus lima puluh juta muslim di setiap abad, ia menafsirkannya dengan bersandarkan pada kesepakatan dan pembenaran tiga ratus lima puluh ribu tafsir, dengan mengikuti akidah para pendahulu kami selama seribu tiga ratus tahun.”
Bukankah merupakan sebuah pengingkaran terhadap Islam, pengkhianatan kepada satu milyar leluhur kami yang taat beragama dan pahlawan serta tuduhan terhadap jutaan tafsir dengan kriminaliasasi orang yang tidak pernah menerima—baik secara pemikiran maupun ilmiah—sebagian undang-undang asing yang diterapkan secara sementara untuk sebagian hal-hal yang mendesak pada masa sekarang, meninggalkan politik, dan menarik diri dari kehidupan sosial?
Ketiga:salah satu sebab yang dijadikan dalih untuk memenjarakan saya adalah mengganggu keamanan dan merusak stabilitas. Padahal sebetulnya mereka memalsukan kenyataan dengan yang sangat jauh dari kemungkinan sehingga mereka menjadikannya seolah-olah fakta. Mereka menggunakan risalah-risalah, korespondensi pribadi saya dan Risalah Nur seluruhnya. Mereka memaknai dengan makna yang keliru empat puluh atau lima puluh kata dari seribu satu kalimat untuk dijadikan sandaran dalam menuduh dan menjatuhkan hukuman kepada kami.
Saya katakan dengan kesaksian orang-orang yang mengenal hidup saya selama empat puluh tahun yang lalu, dengan kesaksian ribuan murid-murid khusus saya:
“Orang yang menggagalkan rencana busuk yang diatur oleh Panglima Tertinggi Tentara Inggris yang menduduki Istanbul, yaitu rencana yang bertujuan menyebarkan perpecahan antara kaum muslimin, sampai-sampai panglima ini mengadu domba antara Syekh al-Islam dan sebagian syekh, memprovokasi sebagian mereka untuk menyerang sebagian yang lain, membuat kelompok Ittihad dan I’tilaf yang saling menyerang dan menjatuhkan antara mereka(*13) , dengan demikian mereka membuka jalan lebar-lebar bagi kemenangan orang-orang Yunani dan kekalahan gerakan nasional; Orang yang menggagalkan rencana Panglima tersebut dengan bukunya—berju dul “al-Khuthuwât as-Sitt” (Enam Langkah) yang dicetak dan dipublikasikan oleh Asyraf Adib(*14) —yang melawan Inggris dan Yunani; Orang yang tidak mundur terhadap ancaman hukuman matinya, tidak kabur ke Ankara kendati ada undangan dari para pemimpinnya sebagai apresiasi atas upayanya dalam melakukan perlawanan; Orang yang tidak mempedulikan keputusan hukuman mati yang dikeluarkan oleh Panglima Tertinggi Rusia ketika ia berada dalam tawanan; Orang yang dengan pidatonya menundukkan delapan batalion tentara dan mengembalikannya menjadi patuh dalam Peristiwa 31 Maret; Orang yang diinterogasi oleh petugas Pengadilan Militer dengan mengatakan, “Anda juga seorang konservatif, menuntut syariah?”, tanpa memerdulikan hukuman mati, ia menjawab, “Jika ‘parlementer’ merupakan kediktatoran sebuah golongan, maka hendaknya manusia dan jin menjadi saksi bahwa saya adalah seorang konservatif. Saya siap untuk mengorbankan nyawa saya sebagai tebusan untuk salah satu masalah syariah”; Orang yang dengan sikapnya memicu kekaguman dan apresiasi pegawai pengadilan. Ketika ia menunggu keluarnya keputusan hukuman mati, tiba-tiba keputusan yang keluar adalah pernyataan tidak bersalah dan pembebasannya. Ia meninggalkan pengadilan tanpa berterima kasih kepada para petugasnya dan di jalan ia berteriak, “Hiduplah neraka Jahanam untuk para pelaku zalim”; Orang yang diajak bicara oleh Mustafa Kamal dengan nada marah di Kantor Kepresidenan, “Kami mengundang Anda ke sini agar Anda menjelaskan pemikiran luhur Anda, lalu Anda malah menulis hal-hal yang berkenaan dengan salat dan menanamkan perselisihan di antara kami!”, lalu dengan nada marah dan disaksikan oleh lima puluh anggota parlemen ia berkata, “Hal yang paling tinggi setelah iman adalah salat. Orang yang tidak salat adalah pengkhianat, sementara ketetapan seorang pengkhianat adalah tertolak”, Presiden Mustafa Kamal membujuknya sehingga marahnya reda; Orang yang tidak pernah tercatat satu materipun berkaitan dengan gangguan keamanan, baik dari kepolisian enam wilayah maupun dari instansi resmi umum, tidak pernah dari ratusan ribu Tullabunnur satu peristiwa pun yang berindikasi pada gangguan keamanan, tidak pernah terdengar dari seorang pun dari mereka terjadi kejahatan selain peristiwa kecil yang terjadi bersama salah seorang dari mereka dalam hal pembelaan diri; Orang yang tidak memasuki penjara kecuali ia memperbaiki kondisi para tahanannya; Orang yang membuktikan secara ucapan dan tindakan bahwa Risalah Nur yang tersebar di negeri ini berjumlah ratusan ribu eksemplar, tidak ada yang ditimbulkannya selain manfaat tanpa ada bahaya sedikitpun. Hal ini disaksikan dan dibenarkan selama dua puluh tiga tahun dari hidupnya, dan disaksikan serta dibenarkan oleh keputusan tidak bersalah yang dikeluarkan oleh tiga pengadilan, beberapa pemerintahan wilayah, dan oleh ratusan ribu murid yang mengetahui nilai Risalah Nur; Orang yang menyendiri, terasing, miskin, renta dimakan usia, dan telah dekat dengan pintu kubur; Orang yang dengan segala kekuatan dan pemikirannya telah meninggalkan segala sesuatu yang fana dan berusaha mencari segala sesuatu yang abadi, mencari penebus segala kekurangan masa lalunya; Orang yang tidak mempedulikan berbagai kedudukan duniawi; Orang yang karena kasih sayangnya yang sangat besar tidak pernah mendoakan yang tidak baik bagi orang yang telah berbuat aniaya kepadanya, karena khawatir hal itu akan membahayakan orang-orang yang tidak berdosa dan para orang tua; Apakah orang yang kondisinya seperti telah dijelaskan di atas layak dikatakan bahwa seorang tua renta yang hidup menyendiri mengganggu keamanan dan merusak stabilitas, tujuan hidupnya adalah intrik duniawi, tujuan korespondensi dan pertemuannya adalah dunia sehingga dengan demikian ia adalah seorang penjahat?!Tentunya orang-orang yang mengatakan hal ini tentang orang tua ini, memenjarakannya dalam kondisi yang sangat keras, mereka telah melakukan sebuah kejahatan besar. Mereka akan mendapat perhitungan di “Mahkamah Agung” Akhirat.
Apakah tuan-tuan melihat seorang yang dengan satu pidatonya dapat menundukkan delapan batalion dan mengembalikannya menjadi patuh, empat puluh tahun yang lalu menjadikan ribuan orang bergabung ke dalam barisannya hanya karena satu makalah yang dipublikasikannya dan ia tidak pernah gentar terhadap seorangpun dari tiga pemimpin yang baru disebut tadi. Dalam kertas pengadilan, ia menyatakan, “Seandainya saya memiliki kepala sebanyak rambuat kepala saya, setiap hari satu kepala dipenggal, saya tidak akan menundukkan kepala yang saya nazarkan untuk hakikat al-Qur’an ini kepada para pelaku zalim, saya tidak akan menyerah kepada para zindik dan para pengikut kesesatan sehingga saya mengkhianati negara, bangsa dan Islam”. Di Emirdağ, ia tidak memiliki hubungan kecuali dengan lima atau sepuluh orang dari para pencari kehidupan akhirat, serta tiga atau empat orang yang bertugas melayaninya.Bagaimana mungkin dalam daftar tuduhan dikatakan tentang diri orang ini, “Di Emirdağ Said ini telah melakukan perbuatan secara sembunyi-sembunyi, mencuci otak sebagian orang di sana dengan tujuan mengganggu keamanan dan stabilitas. Di sekitarnya ada dua puluh orang yang memberikan pujian dan sanjungan baginya. Dari korespondensi khususnya di antara mereka diketahui bahwa orang ini mengatur politik rahasia yang melawan pemerintah dan revolusi?”.Bagaimana ia mengalami intimidasi dan penyiksaan sedemikian rupa, dipenjara dalam sel soliter selama dua tahun disertai dengan penghinaan dan permusuhan yang tiada tara, serta dilarang untuk menyampaikan pendapatnya di pengadilan? Saya mengetuk hati nurani dan perasaan orang-orang itu agar menyadari sejauh mana mereka telah berpaling dari kebenaran dan keadilan!
Apakah mungkin seseorang yang mendapat perhatian umum yang berlipat ganda melampui batasannya, dengan sebuah pidatonya ia mengembalikan ribuan orang kepada kepatuhan, menjadikan ribuan orang masuk dalam organisasi kesatuan umat Nabi Muhammad, hanya dengan satu makalah yang ia tulis, menjadikan lima puluh ribu orang di masjid Hagia Sophia mendengarkan pidatonya dengan penuh apresiasi, orang seperti ini bekerja selama tiga tahun di Emirdağ seperti yang tuan-tuan duga, hasil usahanya itu hanya menyesatkan lima atau sepuluh orang saja? Apakah dapat diterima akal sehat bahwa ia meninggalkan perbuatan akhirat untuk menyibukkan diri dengan urusan politik, memenuhi kuburannya yang sudah dekat dengan kegelapan, bukannya cahaya? Ketahuilah bahwa setan pun tidak mampu membuat seseorang menerima hal ini.
Keempat: mereka menjadikan sikap saya tidak mengenakan topi Eropa sebagai alasan untuk memenjarakan saya dan melarang saya menyampaikan pendapat. Jika diizinkan, saya ingin mengatakan kepada orang-orang yang mengkriminalisasi saya:“Selama tiga bulan saya tinggal di pos polisi Kastamonu sebagai tamu polisi dan para petugas. Mereka tidak pernah meminta saya untuk memakai topi Eropa. Saya masuk tiga pengadilan tanpa memakai topi Eropa atau melepas tutup kepala, mereka tidak mempermasalahkan saya...”.Kendati sebagian para pelaku zalim kafir menyakiti saya—dengan dalih ini—sebagai hukuman tidak resmi yang sangat keras dan kejam selama dua puluh tiga tahun; Kendati anak-anak dan para wanita tidak dipaksa memakai topi Eropa itu, tidak juga mayoritas penduduk kampung, para pegawai kantor dan lainnya yang mengenakan topi selain topi Eropa; Kendati dengan memakai topi Eropa itu tidak ada satupun manfaat material; Kendati saya—seorang yang terasing—selama dua puluh tahun menjalani hukuman dengan dalih tidak memakai topi Eropa yang seluruh mujtahid dan mayoritas yang menduduki jabatan Syekh Islam telah sepakat melarangnya. Saya mengalami hukuman akibat dari alasan palsu ini; Ya, kendati ini semua, mereka berusaha keras untuk kembali mengkriminalisasikan saya berdasarkan pada kebiasaan sepele yang berkaitan dengan pakaian, pada saat yang sama mereka tidak mengusik orang-orang yang meninggalkan salat dan minum minuman yang memabukkan secara terang-terangan pada siang hari bulan Ramadan dengan dalih kebebasan pribadi! Ketahuilah bahwa setelah mendapat kebinasaan abadi, kurungan soliter abadi dalam kubur, mau tidak mau mereka akan ditanya di “Mahkamah Agung” Akhirat tentang kesalahan ini.
Kelima: Risalah Nur telah mendapatkan isyarat dari tiga puluh tiga ayat al-Qur’an yang menunjukkan pujian padanya, memperoleh apresiasi dari Imam Ali karramallahu wajhah, dari Syekh Abdul Qadir al-Jailani quddisa sirruhu, dan dari para wali lainnya, memperoleh pembenaran dari ratusan ribu orang beriman, memberikan manfaat yang besar tanpa bahaya sedikitpun kepada negara dan bangsa selama dua puluh tahun, tetapi meskipun ini semua, orang-orang berusaha untuk menyitanya dengan dalih palsu yang dibuat-buat sampai-sampai mereka memanfaatkan kumpulan risalah yang disebut “Dzu alFiqar dan al-Mu’jizat al-Ahmadiyyah” yaitu kumpulan berharga yang besar manfaatnya, terdiri dari empat ratus lembar. Kumpulan tulisan ini berjasa dalam menyelamatkan dan memperkuat iman seratus ribu orang. Kumpulan tulisan ini telah ditulis sejak dulu dan telah melewati undang-undang pengampunan, namun mereka menyitanya dengan dalih kumpulan tulisan itu mengandung penafsiran yang salah terhadap dua ayat al-Qur’an dalam dua lembar saja!Sebagaimana menjadi sebab disitanya kumpulan tulisan kemarin yang berharga itu, sekarang mereka berusaha untuk menyita risalah-risalah yang sangat bermanfaat ini dengan menambah makna yang salah terhadap satu dua perkataan dalam setiap kata dan dijadikannya sebagai alasan. Setiap orang yang mendengarkan daftar tuntutan ketiga ini dan membaca daftar keputusan yang kami sebarluaskan akan mendukung hal tersebut. Kami katakan, “Untuk setiap musibah, kami telah menyiapkan:
Keenam: sebagian Tullabunnur telah mendapatkan manfaat yang besar dari argumentasi iman yang nyata yang mereka peroleh dari kumpulan risalah ini, di samping pengetahuan keimanan yang kokoh yang mencapai tingkatan aynul yaqin, sehingga mereka terlampau berbaik sangka terhadap hamba Allah yang miskin ini, berlebihan dalam memujinya dalam rangka menjadikan orang lain menyukainya, memberikan berkah, apresiasi dan terima kasih. Saya katakan kepada orang yang menjadikan pujian ini sebagai kejahatan yang menyebabkan saya disalahkan:
“Saya telah menemukan obat penawar untuk semua penyakit saya dari apotik al-Qur’an dan hakikat-hakikat iman yang suci dalam kondisi lemah dan terasing yang menyerupai orang setengah buta huruf yang menyebabkan orang-orang menjauh dari saya akibat propaganda tendensius. Ketika itu, saya merasa puas bahwa obat ini juga akan menjadi obat bagi bangsa dan penduduk negeri ini, maka saya menulis hakikat-hakikat berharga itu. Ketika saya sangat membutuhkan orang yang dapat membantu saya karena tulisan tangan saya sangat buruk, tiba-tiba pertolongan Ilahi memberikan para pembantu khusus yang memiliki sifat jujur dan tabah.
Tentunya penolakan saya terhadap sikap berbaik sangka mereka terhadap saya, pujian tulus mereka, dan menghancurkan perasaan mereka dengan membendung itu semua, akan menjadi penghinaan dan permusuhan terhadap Risalah Nur yang diambil dari perbendaharaan al-Qur’an dan orang-orang yang membantu, pemilik pena intan dan hati pahlawan akan bubar. Oleh karena itu, saya alihkan pujian dan sanjungan yang mereka arahkan kepada pribadi saya yang tidak memiliki apaapa ini ke pemiliknya yang sebenarnya, yaitu Risalah Nur yang merupakan mukjizat maknawi al-Qur’an dan saya alihkan kepada sosok maknawi para Tullabunnur yang khusus. Pada waktu yang sama saya mengingatkan mereka dengan berkata, “Kalian memberi saya sesuatu yang sangat melampui batasan saya”.
Apakah ada undang-undang yang mengkriminalisasi seseorang hanya karena orang lain memujinya kendati ia sendiri menolak untuk dipuji dan tidak menerimanya sampai-sampai pegawai resmi yang bertindak sesuai dengan undang-undang juga mengkriminalisasi saya?
Kemudian telah disebutkan dalam halaman kelima puluh empat dari daftar keputusan yang diterbitkan dan diarahkan kepada kami:“Tokoh akhir zaman akan datang dari keturunan keluarga Nabi dan kami para Tullabunnur berharap akan menjadi bagian keluarga Nabi secara maknawi”.Juga disebutkan:“Egoisme, mencari kedudukan personal, dan popularitas tidak mendapat tempat dalam manhaj Risalah Nur.
Bahkan sampai-sampai jika saya diberi kedudukan akhirat, terpaksa akan saya tinggalkan karena khawatir akan merusak keikhlasan dalam melakukan pengabdian Risalah Nur”.Dalam halaman kedua puluh dua dan kedua puluh tiga disebutkan:“Saya melihat diri saya lemah, malang, dan banyak kekurangan dibanding orang lain dari sisi mengetahui kekurangan diri, menyadari kefakiran dan ketidakberdayaan yang ada padanya, dan mencari perlindungan dengan memohon kepada Allah. Oleh karena itu, jika seluruh makhluk memuji saya, mereka tidak dapat menjadikan saya yakin bahwa saya seorang yang saleh yang memiliki kesempurnaan. Saya tidak memberitahu kalian tentang kepribadian ketiga saya yang sebenarnya(*15)yang tidak kalian ketahui dan kondisi buruk yang terdapat padanya, agar tidak menjauhkan kalian dari saya sepenuhnya. Dengan pertolongan Allah I, Dia menggunakan pribadi saya ini sebagai prajurit biasa untuk rahasia-rahasia al-Qur’an, maka segala puji hanyalah bagi Allah. Nafsu lebih rendah dari segalanya, sedangkan tugas lebih mulia dari segalanya”. Setelah itu, ada orang yang mengkriminalisasi saya berdasarkan pujian orang lain kepada saya dan deskripsi mereka tentang saya bahwa saya adalah seorang mursyid agung dengan makna Risalah Nur! Ketahuilah bahwa orang yang mengkriminalisasi saya pasti akan mendapat hukuman pedih sebagai balasan atas perbuatannya itu.
Ketujuh:kendati pengadilan pidana Denizli dan Ankara serta pengadilan kasasi, semuanya telah mengeluarkan putusan bahwa kami dan Risalah Nur tidak bersalah, semua risalah dan korespondensi dikembalikan kepada kami; Kendati pengadilan kasasi menyatakan dengan tegas ketika menganulir keputusan pengadilan Afyon bahwa seandainya terdapat kesalahan dalam keputusan tidak bersalah yang dikeluarkan pengadilan Denizli, keputusannya itu telah memiliki kepastian yang tidak mungkin untuk dilakukan gugatan kembali; Kendati saya tetap menyendiri di Emirdağ selama tiga tahun, tidak pernah berbicara kepada siapapun selain kepada dua atau tiga orang karyawan jahit yang bergantian membantu saya dan beberapa orang yang taat beragama, dalam keadaan mendesak dan hanya berlangsung lima atau sepuluh menit; Kendati tidak ada korespondensi selain satu surat mingguan yang saya kirim kepada satu instansi untuk mendukung Risalah Nur dan saya tidak pernah menulis untuk saudara kandung saya yang menduduki jabatan mufti selain tiga surat selama tiga tahun; Kendati saya telah meninggalkan kegiatan menulis yang berlangsung hampir dua puluh sampai tiga puluh tahun, sehingga saya tidak mengarang setelah itu selain dua buah catatan kecil yang berguna untuk para ahli Quran dan iman yang mencapai dua puluh halaman, salah satunya berbicara tentang hikmah pengulangan ayat dalam al-Quran, dan yang lainnya berbicara tentang masalah malaikat, selain itu saya mengumpulkan risalah yang dikembalikan oleh pengadilan untuk dijadikan kumpulan besar, juga memperbaiki naskah “al-Ayatul Kubra” yang dicetak dengan aksara Arab, saya telah mengizinkan sahabat-sahabat saya untuk mempublikasikannya agar dunia Islam dapat mengambil manfaat daripadanya setelah pengadilan menyerahkan lima ratus eksemplar kepada kami dan tidak ada larangan resmi untuk menggunakan alat cetak; Kendati saya tidak memiliki hubungan dengan politik sama sekali, menerima hidup terasing dengan segala kesulitan dan penderitaannya yang saya anggap lebih baik daripada kembali ke kampung halaman saya, berbeda dengan seluruh orang yang diasingkan, kendati secara resmi saya dibolehkan untuk kembali, hal itu tidak lain dari upaya menghindari turut campur dalam urusan politik dan urusan dunia; Ya, kendati semua itu, ada orang yang mengkriminalisasi saya dengan tuduhan dusta, dengan judul dan makna palsu yang ditulis dalam daftar tuduhan ketiga ini!
Orang ini didorong oleh dua hal yang sangat jahat yang tidak akan saya sebutkan sekarang, tetapi perlakuannya terhadap saya selama dua puluh bulan membuktikannya, hanya saja saya katakan, “Cukuplah kuburan dan neraka Saqar baginya. Saya alihkan masalah ini ke “Mahkamah Agung” Akhirat.
Kedelapan:Sinar Kelima ditempatkan di bagian akhir kumpulan “Sirâj an-Nur” dan bersamanya disertakan pembelaan saya yamenyebabkan saya dibebaskan tidak bersalah di pengadilan Denizli. Penempatan Sinar Kelima ini berdasarkan keadaan di pengadilan Denizli dan Ankara di mana risalah tersebut berada di kedua pengadilan tersebut selama dua tahun penuh, kemudian dikembalikan kepada kami.Dulu kami menganggapnya risalah khusus, bukan untuk konsumsi orang banyak, tetapi setelah kami mengetahui pengadilan telah mengumumkannya kepada khalayak ramai dan mengembalikannya kepada kami dengan keputusan tidak bersalah, hal itu menunjukkan bahwa risalah itu tidak berbahaya dan saya pun mengizinkan risalah itu digandakan. Sumber Sinar Kelima adalah hadis-hadis mutasyabihat yang saya kumpulkan hampir empat puluh tahun lalu yang tersebar luas di kalangan umat sejak lama, kendati ahli hadis menyatakan sebagian hadis tersebut dha’if, karena makna lahirnya dapat diperdebatkan, maka risalah ini kami tulis untuk menyelamatkan orang-orang beriman dari keraguan, hanya saja setelah beberapa lama, muncul pentakwilan yang luar biasa terhadap hadis-hadis ini secara terang benderang, sehingga kami simpan risalah ini sebagai tulisan khusus, bukan untuk konsumsi khalayak ramai agar orang tidak salah mengerti. Tidak lama setelah itu beberapa pengadilan menelitinya kemudian mengembalikannya kepada kami yang menyebabkan risalah itu tersebar luas dan menjadi populer.Terlepas dari ini semua, pada suatu hari ada orang yang datang untuk mengkriminalisasi saya kembali! Betapa jauhnya dari kebenaran dan keadilan!Kami serahkan orang-orang yang menistakan kami berdasarkan pendapat pribadi kepada hati nurani dan perasaannya, juga kami serahkan kepada “Mahkamah Agung” Akhirat seraya berucap:
Kesembilan:sangatlah penting, hanya saja saya tidak menuliskannya agar tidak memicu kemarahan mereka dan juga agar mereka membaca Risalah Nur.
Kesepuluh:sangat kuat dan penting, hanya saja saya juga tidak menuliskannya agar mereka tidak tersinggung(*16)
* * *
SEBAGIAN SURAT YANG DITULIS BADIUZZAMAN SAID NURSI UNTUK PARA MURIDNYA KETIKA BERADA DI PENJARA SOLITER AFYON (*17)
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!
Saya tulis surat ini untuk kalian dengan mengucapkan selamat, bukannya untuk berbelasungkawa. Selama takdir Ilahi telah membawa kita ke Madrasah Yusufiyah Ketiga ini untuk suatu hikmah dan Dia menakdirkan rezeki untuk kita di tempat ini yang mengajak kita untuk mengambilnya;Selama pertolongan Allah telah menjadikan kita cerminan dari firman-Nya “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,” (QS. al-Baqarah [2]: 216) sebagaimana terbukti lewat sejumlah pengalaman yang pasti hingga sekarang; Selama saudara-saudara kita di Madrasah Yusufiyah ini merupakan orang-orang yang paling memerlukan pelipur lara yang terkandung di dalam Risalah Nur; Selama orang-orang pengadilan adalah para pegawai yang paling memerlukan kaidah-kaidah dan undang-undang suci Risalah Nur; Selama banyak naskah Risalah Nur menunaikan tugas kalian di luar penjara dan melakukan penaklukannya tanpa henti; Selama setiap detik yang fana di sini menjadi seperti detik-detik abadi yang penuh dengan ibadah; Maka tentunya kita harus menerima musibah ini dengan kesabaran dan ketabahan yang sempurna seraya bersyukur dan berbahagia mengingat dalam musibah ini terdapat makna-makna tersebut di atas.Saya sampaikan kembali surat-surat pendek yang sama yang kami tulis di penjara Denizli sebagai pelipur lara bagi kalian. Semoga paragraf-paragraf tersebut yang mengandung hakikat akan menjadi sumber pelipur lara untuk kalian, insya Allah.
Said Nursî
* * *
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!
Pertama: jangan bersedih atas penganiayaan dan pengkhianatan terhadap diri saya, karena orang-orang itu tidak menemukan kekurangan pada Risalah Nur, sebagai gantinya mereka mengusik pribadi saya yang memiliki banyak kekurangan. Saya merasa mendapat karunia dengan adanya hal ini. Bahkan jika saya mendapat ribuan penderitaan, musibah dan penghinaan terhadap pribadi saya dalam rangka menyelamatkan Risalah Nur dan kedudukannya, maka pelajaran yang saya dapatkan dari hal ini mengharuskan saya menerima semua ini dengan rasa syukur dan bangga. Oleh karena itu, hendaknya kalian tidak perlu merasa iba kepada saya dalam masalah ini.
Kedua:serangan keras, brutal dan masif yang kita hadapi, sekarang sudah melemah dan intensitasnya menjadi ringan, dari dua puluh menjadi satu. Beberapa orang yang terhormat ditangkap, bukannya ribuan orang khusus, mereka juga menangkap segelintir saudara-saudara baru, bukannya ratusan ribu orang yang memiliki ikatan erat dengan Risalah Nur. Dengan demikian, serangan ini menjadi sangat ringan berkat pertolongan Allah.
Ketiga:ada kemungkinan kuat yang menafsirkan sebab ringannya serangan ini yaitu bahwa mantan gubernur yang melancarkan konspirasi selama dua tahun, berkat pertolongan Allah I telah pergi dan tidak pernah kembali. Kemudian Menteri Dalam Negeri yang diprovokasi untuk menyerang kita ternyata berasal dari sebuah keluarga yang leluhurnya dikenal sebagai orang-orang yang religius di samping beliau termasuk kenalan lama kita, maka janganlah kalian berputus asa dan jangan pula resah.
Keempat:banyak pengalaman dan peristiwa yang memberikan keyakinan yang pasti bahwa jika Risalah Nur menangis, bumi pasti terguncang atau langit ikut menangis. Sebagaimana hal ini selalu kita saksikan dengan mata kepala kita dan sebagian telah kita buktikan di pengadilan, senyuman musim dingin pada permulaan kedatangannya tahun ini sampai seakan-akan ia musim panas, telah seiring-sejalan dengan senyuman Risalah Nur dan penyebarannya secara sembunyi-sembunyi melalui alat penggandaan. Tangisan Risalah Nur sebagai akibat penyebarannya yang berhenti karena dikhawatirkan dikejar dan disita di setiap tempat, juga seiring-sejalan dengan tangisan musim dingin secara tiba-tiba dan berubah menjadi musim dingin yang mengaum menakutkan. Saya anggap hal ini adalah pertanda bahwa Risalah Nur merupakan salah satu mukjizat hakikat al-Qur’an terbesar yang tampak jelas pada masa sekarang ini, bumi dan seluruh makhluk mempunyai hubungan dengannya.
Said Nursî
* * *
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!
Saya harus menjelaskan suatu kondisi aneh yang terjadi pada diri saya.
Sebagian orang yang turut berjihad pada masa lalu telah menyaksikan seorang ulama yang terkenal di banyak medan perang. Ketika mereka kembali, mereka menceritakan kepada ulama itu apa yang telah mereka saksikan. Lalu ulama itu berkata kepada mereka, “Sebagian wali menjelma dengan wujudku, mereka menggantikanku dalam melakukan perbuatan agar saya tetap mendapatkan pahala dan agar orang-orang yang beriman tidak putus mendapatkan pela�jaran dariku”
Hal seperti ini juga terjadi di Denizli di mana orang-orang melihat saya di beberapa masjid sampai-sampai beritanya disampaikan ke instansi resmi dan diberitahukan juga kepada kepala penjara dan penjaga. Sebagian orang bertanya-tanya dengan resah dan gelisah, “Siapa yang membukakan pintu penjara untuknya?”.Hal serupa juga terjadi di sini padahal yang memperkuat kepercayaan terhadap Risalah Nur bukanlah keajaiban sederhana yang dikaitkan dengan pribadi saya yang tidak seberapa dan memiliki banyak aib ini, tetapi keajaiban Risalah Nur yang diperlihatkan dan dibuktikan oleh kumpulan risalah “Stempel Pembenaran Gaib”. Kumpulan ini memberikan kepercayaan kepada Risalah Nur dan menjadikannya sebagai sandaran, menjadikannya diterima seratus kali bahkan ribuan kali melebihi penerimaan diri saya pribadi. Khususnya para Tullabunnur yang memilki keberanian dan tekad membenarkannya dengan keadaan dan pena mereka secara nyata, bukan sekadar pengakuan.
Said Nursî
* * *
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!
Risalah Nur berkomunikasi dengan kalian sebagai ganti dari saya, mengajari saudara-saudara baru yang haus ilmu dengan pengajaran yang paling baik. Menyibukkan diri dengan Risalah Nur baik dengan membaca, membuat orang lain membacanya dan menulisnya dapat melahirkan kelapangan dalam hati, kenyamanan dalam jiwa, berkah dalam rezeki, dan kesehatan dalam tubuh, sebagaimana hal itu terbukti secara emperis.
Sekarang kalian dikaruniai pahlawan Risalah Nur seperti Khusrev. Madrasah Yusufiyah Ketiga ini, dengan izin Allah akan menjadi salah satu Madrasah yang penuh berkah dari Madrasah al-Zahra. Sampai sekarang saya masih merahasiakan keberadaan Khusrev dan tidak memperlihatkannya kepada ahli dunia, hanya saja bukubuku yang tersebar telah memperlihatkan sepenuhnya kepada para politikus sehingga hal itu tidak lagi menjadi rahasia. Oleh karena itu, baik saya maupun dia, tidak merahasiakan lagi hal di atas, melainkan mengungkapkan hal sebenarnya jika memang diperlukan.
Hanya saja, kita menghadapi dua orang yang keras kepala di antara orang-orang yang mendengar hakikat. Kedua orang itu adalah yang menentang dan masalahnya sudah diketahui, bekerja untuk kepentingan komunisme dan kaum zindik, salah satunya sudah diketahui di Emirdağ dan yang lainnya di sini. Keduanya berusaha menimbulkan ketakutan di kalangan para pejabat dengan memfitnah kami. Oleh karena itu, kita pada masa sekarang ini tidak perlu khawatir, serta harus lebih waspada dan bertawakal sambil menunggu pertolongan Allah .
Said Nursî
* * *
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!
Saya ucapkan selamat dan kabar gembira kepada Risalah Nur, kalian semua dan diriku sendiri dengan kabar gembira berharga yang disampaikan oleh Khusrev, Hifdzi, dan Sayid al-Bartini.Ya, saudara-saudara jamaah haji kita pada tahun ini telah menyaksikan upaya yang dilakukan para ulama besar di Mekkah al-Mukarramah untuk mempublikasikan bagian-bagian berharga dari Risalah Nur dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab dan bahasa India. Di Madinah al-Munawwarah juga mereka menyaksikan betapa besarnya sambuatan terhadap Risalah Nur di mana kumpulan risalah ini diletakkan di tempat tinggi di Raudah yang suci, bahkan Haji Sayyid melihat Risalah Nur berada di kuburan Rasulullah yang mulia. Hal itu menunjukkan bahwa Risalah Nur diterima oleh Nabi Muhammad dan mendapatkan ridanya. Risalah Nur telah mendatangi tempat-tempat suci itu sebagai pengganti kami sebagaimana niat kami dan apa yang kami sampaikan kepada jamaah haji.
Kami panjatkan puji dan rasa syukur tak terhingga kepada Allah atas banyak manfaat yang terealisasikan dengan tersebarnya pahlawan-pahlawan Risalah Nur yang melakukan perbaikan terhadap bagian-bagian kumpulan risalah ini. Di antara manfaat itu adalah para pahlawan Risalah Nur itu telah meringankan beban saya untuk mengoreksi.
Manfaat lainnya adalah bagian-bagian itu menjadi rujukan untuk perbaikan naskah-naskah yang ditulis tangan sehingga menjadi senilai ratusan orang pengoreksi. Saya memohon kepada Allah Ta`ala agar setiap huruf yang mereka tulis dalam bagian-bagian risalah itu dibalas dengan seribu kebaikan. Amin.
Said Nursî
* * *
Saudara-saudaraku yang mulia lagi setia dan sahabat-sahabatku dalam penjara!
Pertama:janganlah kalian terlalu merisaukan ketidakmampuan kita bertemu secara fisik karena kita selalu bertemu setiap saat secara maknawi. Alih-alih bertemu dengan pribadi saya yang tidak penting, kalian membaca atau mendengar risalah apapun dari Rislah Nur yang ada di tangan kalian. Dengan itu kalian duduk bersama saya, bukan dengan diri pribadi saya yang tidak ada apa-apanya ini tetapi dengan pribadi saya sebagai pelayan al-Qur’an. Dalam kondisi apapun, justru saya menemui kalian dalam doa, khayalan, tulisan dan dalam hubungan yang terjalin di antara kita. Karena kita berada dalam lingkaran yang sama, maka seolah-olah kita bertemu setiap saat.
Kedua:berdasarkan argumentasi yang kuat dan isyarat-isyarat al-Qur’an yang menundukkan komite para pakar, kami katakan kepada Tullabunnur yang baru di Madrasah Yusufiyah yang baru ini bahwa, “Para Tullabunnur yang setia masuk ke dalam kubur dengan iman. Kemudian berkat partisipasi maknawi Risalah Nur, setiap murid memiliki bagian dari keuntungan maknawi dan doa saudara-saudaranya secara umum sesuai dengan tingkatannya. Seakan-akan setiap orang dari mereka beribadah dan beristigfar dengan ribuan lidah.”
Kedua manfaat dan hasil ini melenyapkan setiap kesulitan yang dihadapi orang pada masa yang aneh ini. Demikianlah Risalah Nur memberikan para murid sejatinya dua keuntungan besar yang tidak ternilai harganya.
Said Nursî
* * *
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!
Daftar pembelaan kita yang disampaikan di Afyon mengandung hakikat-hakikat penting yang berkaitan dengan kita dan Risalah Nur, juga dengan negeri ini dan seluruh dunia Islam.
Daftar pembelaan itu harus dicetak lima atau sepuluh eksemplar dengan huruf Latin untuk dikirim ke lembaga-lembaga tinggi di Ankara. Akan dibebaskan atau dijatuhi hukuman, tidak penting bagi kita. Tugas kita sekarang adalah menyampaikan hakikat yang terdapat dalam daftar pembelaan ini kepada pemerintah dan lembaga pengadilan, juga kepada bangsa secara umum. Barangkali inilah salah satu hikmah takdir Allah yang telah membuat kita memasuki madrasah ini. Oleh karena itu, hendaknya daftar pembelaan ini segera ditulis dengan mesin tik secepatnya.Kendati kita dibebaskan sekarang, kita tetap harus menyerahkan daftar pembelaan ini ke lembaga dan instansi tersebut. Cukuplah! Jangan sampai kalian tertipu sehingga kalian menunda-nunda tugas tersebut. Pembelaan terakhir kita ini menjadi jawaban terhadap kezaliman, dalih palsu dan kejahatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam penjara selama tiga kali dalam rentang lima belas tahun karena perkara yang sama.Selama pengadilan-pengadilan terdahulu secara resmi memberi kita mesin tik untuk menulis pembelaan diri kita, maka secara hukum mereka tidak dapat menghalang-halangi hak kita ini di sini.
Jika secara resmi hal ini tidak diperbolehkan, maka pengacara kita hendaknya menulis di luar. Pertama-tama dan yang paling utama ia mengetik lima eksemplar dengan menggunakan mesin tik dan hendaknya pengacara itu menulisnya dengan memerhatikan kebenaran tulisannya sehingga bebas dari kesalahan.
Said Nursî
* * *
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!
Kendati mereka mempunyai argumentasi lain secara lahir, namun tujuan mereka memaku jendela-jendela saya sekarang dengan banyak paku adalah agar saya tidak dapat bertegur sapa dan berkenalan dengan para tahanan. Janganlah kalian mengkhawatirkan hal ini. Sebaliknya, saya merasa mendapat anugerah dengan hal ini karena mereka menjadi sibuk dengan diri saya yang sebetulnya tidak penting ini sehingga dengan demikian mereka tidak terlalu mengintimidasi Risalah Nur dan para muridnya. Saya juga merasa mendapat anugerah karena mereka tidak mengusik Risalah Nur. Mereka menyiksa diri saya dengan penganiayaan dan pengkhianatan sebagai ganti kalian dan Risalah Nur. Untuk itu, saya bersyukur sambil bersabar dan tidak merisaukan masalah ini, hendaknya kalian juga bersikap seperti saya.Saya berpendapat bahwa upaya menarik perhatian para pejabat terhadap diri pribadi saya yang dilakukan oleh musuh-musuh kita yang bekerja secara sembunyi-sembunyi itu telah mendatangkan kebaikan dan pertolongan dari sisi keselamatan dan maslahat bagi Risalah Nur dan para muridnya.
Sebagian saudara kita selayaknya tidak marah dan berkata dengan perkataan yang menyinggung perasaan. Hendaknya mereka berhati-hati, waspada dan tidak perlu khawatir serta tidak perlu membicarakan masalah ini dengan orang lain. Pasalnya, banyak mata-mata yang salah memaknai pembicaraan dari saudara-saudara kita yang mudah tertipu dan saudara-saudara kita yang baru yang belum terbiasa berhati-hati, sehingga mereka menjadikan sesuatu yang kecil menjadi besar dan bisa jadi memberitahukan kepada para petugas.
Kondisi kita sekarang ini sangat serius dan tidak boleh disepelekan. Meskipun demikian, kalian tidak perlu risau karena kita berada dalam perlindungan Allah I. Kita telah bertekad untuk menghadapi semua kesusahan dengan segenap kesabaran, bahkan dengan rasa syukur. Karena dalam setiap dirham kesulitan terdapat banyak pahala dan rahmat, maka kita diwajibkan untuk bersyukur.
Said Nursî
* * *
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!
Berdasarkan dua sebab penting dan firasat yang kuat, saya terpaksa meninggalkan tugas seluruh pembelaan dan menyerahkannya kepada para murid inti Risalah Nur yang dipenjara dan yang akan dipenjara di sini, terutama Khusrev, Ra’fat, Thahiri, Feyzi, dan Sabri.
Sebab pertama: saya mengetahui dengan pasti apa yang terjadi di bagian penyidikan dan berdasarkan banyak pertanda bahwa mereka dengan segala upaya berusaha untuk menimbulkan banyak masalah yang merugikan saya dan secara pemikiran mereka menghindar untuk bertemu dengan saya karena khawatir kalah.Mereka menghalangi saya untuk berbicara dengan alasan-alasan yang dibuat-buat. Jika saya berbicara seakan-akan saya memerlihatkan kemampuan ilmiah dan politik yang akan membungkam para diplomat dan mematahkan argumentasi-argumentasi pengadilan. Bahkan ketika saya diperiksa, salah seorang dari petugas mengajukan pertanyaan dan saya jawab, “Saya tidak ingat”, lalu dengan heran hakim berkata, “Bagaimana mungkin seorang yang berilmu dan cerdas luar biasa seperti Anda bisa lupa?”. Mereka menduga bahwa kedudukan tinggi yang diperoleh Risalah Nur dan investigasi ilmiah yang terkandung di dalamnya merupakan buah pemikiran saya sehingga mereka merasa takut terhadap saya dan tidak suka saya berbicara. Mereka juga menduga bahwa setiap orang yang bertemu dengan saya langsung menjadi Tullabunnur yang siap berkorban. Karenanya mereka melarang saya untuk bertemu dengan orang-orang, sampai-sampai kepala urusan agama pernah mengatakan, “Ia memiliki daya tarik yang kuat.
Setiap kali berbicara dengan seseorang, ia langsung merebut hatinya”Maka, demi kebaikan kita, masalah ini saya serahkan kepada kalian. Ini mengingat pembelaan saya terdahulu dan yang sekarang yang berada di tangan kalian sama-sama berada dalam pertimbangan kalian untuk dimusyawarahkan di antara kalian sebagai pengganti saya. Itu sudah cukup bagi saya.
...
* * *
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!
Hari ini saya merasa gelisah dan sedih demi kalian karena adanya peringatan maknawi. Ketika saudara-saudara saya yang ingin segera keluar dari penjara dan merisaukan kesulitan hidup benar-benar telah membuat saya menderita dan sedih, namun pada waktu yang sama terlintas sebuah hakikat dan kabar gembira dalam hati.
Yaitu lima hari lagi tiga bulan yang penuh berkah akan tiba dengan ibadah-ibadahnya yang berpahala banyak. Jika satu kebajikan dibalas dengan sepuluh pahala dalam waktu yang lain, maka kebajikan itu pada bulan Rajab yang mulia akan diberi balasan lebih dari seratus, pada bulan Sya’ban yang agung lebih dari tiga ratus, pada bulan Ramadan yang penuh berkah mencapai seribu, pada malam Jumat mencapai ribuan, dan pada lailatul qadar mencapai tiga puluh ribu. Ya, tiga bulan tersebut merupakan pasar suci untuk melakukan perniagaan akhirat yang akan memberikan banyak manfaat, pameran istimewa bagi para ahli hakikat dan ahli ibadah, masa di mana orang-orang yang beriman dalam tiga bulan ini dapat mendapatkan usia sepanjang delapan puluh tahun. Menghabiskan masa tiga bulan ini di Madrasah Yusufiyah yang memberikan sepuluh kali lipat keuntungan, tentu merupakan keuntungan yang sangat besar. Maka kendati seseorang menghadapi kesulitan ketika itu, kesulitan tersebut pada hakikatnya adalah rahmat.
Sebagaimana masalah ini dilihat dari sisi ibadah, demikian pula jika dilihat dari sisi pengabdian Risalah Nur. Pahalanya akan dilipatgandakan lima kali dari sisi kualitas bukan dari sisi kuantitas. Hal itu karena orang-orang yang datang dan pergi dari persinggahan ini menjadi perantara tersebarnya pelajaran Risalah Nur. Terkadang, ketulusan satu orang membuahkan manfaat yang setara dengan memberi manfaat dua puluh orang. Kemudian, kesulitan parsial menjadi tidak ada apa-apanya dalam rangka tersebarnya rahasia keikhlasan Risalah Nur di antara para tahanan yang malang yang sangat memerlukan pelipur lara, terutama bagi mereka yang memiliki keberanian dan tekad yang sudah terkontaminasi politik.
Tentang kesulitan hidup, karena tiga bulan penuh berkah ini merupakan pasar akhirat, maka setiap orang dari kalian telah memasuki penjara ini sebagai ganti banyak murid, bahkan sebagian kalian yang memasukinya sebagai ganti seribu orang, tentunya urusan kalian yang di luar akan dibantu oleh mereka yang tidak masuk penjara. Inilah yang membuat saya sangat berbahagia dan saya anggap tinggal di tempat ini sampai Idul Fitri merupakan nikmat yang besar.
Said Nursî
* * *
...
Dari sebagian pertanda saya mengetahui bahwa musuh-musuh kita yang bekerja secara sembunyi-sembunyi mencari argumentasi yang tidak valid untuk menjatuhkan Risalah Nur, yaitu dengan menyatakan dugaan “kemahdian” yang mengisyaratkan makna politik, seakan-akan Risalah Nur itu sekadar alat untuk mengklaim hal ini. Kejahatan yang saya hadapi seakan-akan berasal dari kekhawatiran mereka ini dan saya katakan kepada musuh-musuh zalim ini dan orang-orang yang mengikuti mereka:
Tidak, sama sekali tidak... saya sehari pun tidak pernah melampaui batas, lalu menjadikan hakikat iman sebagai alat untuk mencari kedudukan dan nama baik pribadi diri saya. Hal ini disaksikan selama tujuh puluh lima tahun dari hidup saya, terutama pada tiga puluh tahun terakhir. Juga disaksikan oleh Risalah Nur yang terdiri dari seratus tiga puluh risalah dan oleh ribuan orang terhormat yang memiliki hubungan persahabatan yang erat dengan saya.
Ya, para Tullabunnur mengetahui dan sudah pernah saya jelaskan di beberapa pengadilan bahwa saya tidak mencari kedudukan, popularitas, reputasi, dan mendapatkan kedudukan ukhrawi atau maknawi untuk pribadiku. Saya lakukan ini semua untuk menunaikan pengabdian iman bagi orang-orang yang beriman. Dalam rangka menunaikan pengabdian ini saya siap dengan segala keyakinan dan kekuatan saya untuk mengorbankan bukan hanya kehidupan dunia dan kedudukan fana tetapi juga mengorbankan kehidupan akhirat dan kedudukan akhirat saya yang abadi yang dicari oleh setiap orang jika memang diperlukan. Bahkan jika memang diperlukan saya rela meninggalkan surga dan masuk neraka Jahanam agar menjadi perantara untuk menyelamatkan sebagian orang-orang malang di dalamnya.Meskipun ini adalah masalah yang diketahui oleh saudara-saudaraku yang sejati dan saya sudah pernah membuktikannya di pengadilan, hanya saja orang-orang itu tetap saja melancarkan tuduhan itu kepada saya, melontarkan fitnah yang bertentangan dengan keikhlasan ketika saya mengabdikan diri untuk Risalah Nur dan iman. Mereka menjatuhkan nama baik Risalah Nur agar penduduk negeri ini tidak dapat memperoleh hakikat-hakikatnya yang banyak.
Sungguh aneh orang-orang malang yang menduga bahwa dunia ini abadi. Mereka mengira bahwa semua orang seperti mereka, menjadikan agama dan iman alat untuk dunia. Bisa-bisanya mereka mengkriminalisasikan seseorang yang menantang kaum sesat di dunia, mengorbankan kehidupan dunia dan akhiratnya, jika diperlukan, dalam rangka pengabdian terhadap iman, tidak akan menukar satu hakikat iman dengan kerajaan dunia beserta seisinya sebagaimana yang ia nyatakan di depan pengadilan, yang dengan segala kekuatannya menjauhi ranah politik dan berbagai kedudukan material dan spiritual yang beraroma politik demi menjaga rahasia ikhlas, yang menjauhi politik dengan segala konsekuensinya kendati ia harus menanggung berbagai kezaliman yang tidak ada bandingannya selama dua puluh tahun, yang menganggap dirinya—dilihat dari sisi diri pribadi—jauh berada di bawah kedudukan muridnya sehingga ia selalu meminta bantuan dan doa mereka, yang melihat dirinya lemah, tidak memiliki daya dan upaya. Bisa-bisanya mereka mengkriminalisasi seseorang yang kondisinya seperti ini hanya semata-mata karena sebagian saudaranya yang tulus mengaitkan beberapa keutamaan Risalah Nur dengan dirinya ketika mereka memperoleh kekuatan iman yang luar biasa sementara dirinya tidak lebih dari penerjemah yang tidak memiliki apa-apa dari masalah itu. Mereka terlampau berbaik sangka terhadap dirinya sehingga memberinya kedudukan tinggi tanpa terlintas sedikit pun dalam benak mereka tujuan politik. Mereka memuji dan menyanjungnya sedemikian rupa dalam rangka berterima kasih yang biasa dilakukan oleh murid terhadap guru sejak dulu tanpa ada yang merasa keberatan dan membantah.Kendati pujian dan sanjungan mereka terhadap dirinya itu bertentangan dengan kenyataan karena dari satu sisi dianggap keterlaluan, hanya saja karena ia hidup sendiri dan terasing, memiliki banyak musuh, banyak alasan yang menjadikan orang-orang tidak dapat membantunya,
ia ingin memperkokoh kekuatan maknawi yang ada pada saudara-saudaranya yang membantunya dalam menghadapi para penentangnya yang sangat keras dan berjumlah banyak agar mereka tidak meninggalkannya, agar tekad orang yang keterlaluan memujinya tidak melemah sehingga ia sejak awal tidak pernah menolak pujian dan sanjungan mereka, tetapi ia mengalihkannya kepada Risalah Nur, bukan kepada yang lain.Kendati demikian, sebagian petugas resmi tetap saja mengusik pengabdian iman yang dilakukan oleh orang yang sudah berada di ambang kematian ini, mereka mengalihkannya ke arah dunia. Apa yang mereka lakukan itu sungguh jauh dari undang-undang dan rasa keadilan!
Said Nursî
* * *
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!
Pertama:Janganlah kalian resah dan risau! Dengan pengalaman yang pasti yang berulang telah terbukti bahwa setiap musibah yang menimpa kita mengandung pujian dan senyuman dari rahmat dan pertolongan; pendidikan takdir, nasib, keadilan dan kasih sayang Allah I di balik tirai dan hasilnya. Oleh karena itu, dalam menghadapi kesulitan dan kondisi pahit ini kita diperintahkan untuk bersabar sambil bersyukur. Para Tullabunnur merupakan salah satu model pengabdian terhadap hakikat iman, sebuah pengabdian suci yang mampu membangkitkan ribuan bahkan jutaan para mujahid kebenaran yang kulit mereka tercabik-cabik dalam rangka pengabdiannya seperti Jarjis(*18). Kesulitan yang diderita para Tullabunnur tidak mencapai satu per seribu dari apa yang dirasakan orang-orang mulia itu, hanya saja dalam masalah pahala dan keuntungan, dengan izin Allah, sama.
Kedua: perencanaan yang dibuat musuh-musuh kita untuk menyerang Risalah Nur telah gagal. Ya, perencanaan musuh-musuh kita yang bekerja secara sembunyi-sembunyi yang berusaha melenyapkan saya sebanyak sebelas kali itu gagal, kendati kita diseret ke pengadilan sebanyak empat kali, masuk penjara tiga kali. Karenanya mereka dengan segala kelicikannya mengalihkan perhatiannya kepada diri pribadi saya yang tidak ada apa-apanya. Mereka mengintimidasi, memprovokasi, dan menempatkan saya dalam sel soliter, serta melarang saya berkomunikasi dengan siapa saja, hanya saja dalam penderitaan ini saya memerhatikan adanya pertolongan Allah, sehingga saya bersyukur kepada-Nya dan bersabar.Saya telah bersabar dan tabah menghadapi penderitaan yang sepuluh kali lipat lebih keras dari penderitaan kalian, sementara diri saya sepuluh kali lipat lebih lemah dari kalian. Saya anggap bahwa halinilah yang menjadikan penderitaan yang terbatas dan parsial yang selintas dihadapi orang-orang kuat dan mulia seperti kalian dapat di�anggap tidak ada. Oleh karena itu, saya berpendapat, tidak perlu lagi memberikan pelipur lara bagi kalian.
Ketiga:jangan risaukan intimidasi dan fitnah yang dilancarkan terhadap diri pribadi saya karena hal itu pertanda bahwa Risalah Nur dan para muridnya tidak diusik. Juga pertanda bahwa orang-orang itu telah tertipu. Mereka mengira bahwa nilai dan kehebatan ada dalam diri pribadi saya sehingga mereka mengintimidasi saya dan berusaha menjatuhkan nama baik saya. Dalam hal ini terkandung manfaat yang besar bagi Risalah Nur. Mereka juga mengira bahwa dengan memenjarakan saya, kewajiban pribadi dan pengabdian terhadap Risalah Nur yang tidak dapat saya lakukan karena saya berada dalam penjara dianggap dapat dilakukan secara baik. Mudah-mudahan hal ini menjadi tebusan yang dapat menghapus semua kekurangan saya selama ini, insya Allah.
Keempat: Orang-orang munafik yang bekerja secara sembunyi-sembunyi telah menyesatkan sebagian pegawai dengan satu cara atau dengan cara lain dan menakut-nakuti mereka dengan mengatakan, “Orang yang bertemu dengan Said, ia pasti akan menjadi pengikut Risalah Nur, maka janganlah tuan-tuan membolehkan seorangpun berkomunikasi dengannya”, sampaisampai para petugas dan pengawas penjara menjauhi saya. Dengan adanya hal ini, saya sendiri merasa mendapat anugerah dan bersyukur kepada Allah.Tidak mengapa kita tidak saling bertemu secara fisik karena kita berada dalam satu tempat dan kita bersama selamanya secara maknawi, dalam jiwa, hati, tugas, pemikiran dan kerja sama. Cukuplah kita bertemu secara maknawi.
Said Nursî
* * *
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia, rekan-rekanku yang tabah dan berkorban dalam pengabdian al-Qur’an dan iman!
Janganlah kalian merasa kesal karena saya tidak dapat berbicara melalui tulisan kepada kalian pada hari-hari terakhir ini. Sekarang ada dua masalah yang terlintas dalam hati yang ingin saya jelaskan:
Pertama: Setelah berserah diri dan bertawakkal sesuai dengan kaidah “Yang terbaik adalah pilihan Allah”, saya merasa terhibur.
Tidak dibebaskannya kita, khususnya keluarga Çalışkan dan ditangguhkannya dakwaan tanpa dipisahkan akan mendatangkan seratus manfaat dan keuntungan sebagai ganti satu kerugian materi Insya Allah. Di antaranya, dikirimnya pembelaan ilmiah yang berkenaan dengan iman yang kuat dan kokoh kepada enam lembaga tinggi di Ankara. Pembelaan ini sekarang sedang dikaji sejak dua pulu hari yang lalu. Tentunya, hakikat-hakikat berharga yang terdapat dalam pembelaan dan tahapan yang dilalui yang menarik perhatian mereka, tanpa akan berlalu begitu saja.Jika mereka tidak dikalahkan oleh hakikat-hakikat ini, dalam tahapan ini pasti kita akan lihat gangguan yang semakin menyakitkan terhadap kita. Jika dalam pembelaan ini mereka mendapatkan peluang atau kesalahan, benih-benih itu pasti akan muncul di tangan orang-orang yang suka membesar-besarkan masalah yang menjadikan sesuatu yang kecil menjadi sesuatu yang sangat besar. Kebenaran telah menang. Kalaupun kita akan mendapatkan suatu perlakuan tidak menyenangkan dari mereka, tidak akan lebih dari sekadar gangguan ringan terhadap pembelaan diri saja.Keuntungan maknawi yang saya peroleh sendiri dari masalah ini seratus kali lipat melebihi kerugian dan kesulitan material. Saya yakin bahwa setiap orang dari saudara-saudaraku memperoleh bagian keuntungan yang lebih besar dari bagian yang saya peroleh. Oleh karena itu, penangguhan pembebasan kita ini adalah baik adanya.
Kemudian, dengan penahanan ketiga orang dari keluarga Çalışkan itu sebenarnya telah membuat banyak Tullabunnur terhindar dari penjara dan mereka menjadi wasilah untuk mengalihkan perhatian pengadilan dari Risalah Nur kepada mereka disebabkan fitnah yang melekat pada mereka. Jika mereka bebas, kedua keuntungan yang berharga ini niscaya tidak akan kita dapatkan dan hubungan mereka dengan Risalah Nur yang erat itu akan menjadi lemah dalam pandangan masyarakat luas.
Kedua: masalah kita adalah tugas pengabdian al-Qur’an dan iman yang sangat besar berkaitan dengan dunia Islam. Sementara kaum munafik yang bekerja secara sembunyi-sembunyi yang mera�sa takut terhadapnya, berusaha merendahkan dan menjatuhkannya. Karena mereka begitu besar perhatiannya terhadap Risalah Nur, mereka berpura-pura tidak memerdulikannya dan dengan demikian mereka telah menyesatkan pemerintah dan lembaga pengadilan.
Misalnya, mereka mengalihkan perhatian para pejabat tinggi dari para Tullabunnur dan mengalihkan perhatiannya kepada seorang tentara berpangkat rendah yang menjadi Tullabunnur di Ankara yang memiliki beberapa risalah yang tidak merugikannya. Hal ini mereka jadikan dalih untuk menunda-nunda perkara kita di pengadilan ini. Mereka juga mengusik diri saya yang tidak ada apa-apanya, lalu mereka memfokuskan perhatian padanya, mengintimidasi, memfitnah dan memenjarakannya, sementara itu mereka mengabaikan Risalah Nur dengan pelajaran-pelajarannya yang kuat, mengabaikan murid-muridnya dengan sosok maknawi mereka yang kokoh dan memiliki kebebasan berbicara. Kedua hal ini sangat penting dan ribuan kali lebih penting dari diri saya. Kenyataannya adalah bahwa orang-orang itu merinding ketakutan dari kepentingan ini sehingga mereka ingin menggambarkan sesuatu yang kecil menjadi sesuatu yang sangat besar.
Mereka telah tertipu sangat jauh sekali. Jika sebagian saudara kita, pekerjaan dan perniagaan keluarganya telah merugi akibat penangguhan pembebasan mereka, maka keuntungan maknawi akan meringankan kerugian material ini sehingga menjadikannya seakan-akan tidak ada, dengan izin Allah. Kita berada dalam naungan pertolongan Allah, maka kalian tidak perlu khawatir. Tugas kita adalah bersabar, bersyukur, menyibukkan diri dengan Risalah Nur semampu mungkin, dan memberikan pelipur lara kepada para tahanan yang menghadapi penderitaan lebih pahit dari kita.
Said Nursî
* * *
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!
Saya jelaskan kepada kalian sebuah masalah seperti yang terlintas dalam hati melalui peringatan maknawi secara umum, yaitu bahwa pembelaan yang dikirim ke enam lembaga tinggi dan memperoleh kemenangan telah mendapat tanggapan dalam bentuk pengkajian terhadapnya dan mereka tidak menemukan celah untuk menyalahkan wewenang terhadap kita. Hanya saja, salah satu dari keenam lembaga itu mempunyai perencanaan yang dilaksanakan dengan instruksi secara sembunyi-sembunyi dan bertujuan untuk menjauhkan saudara-saudaraku yang berkorban untuk saya dan melemahkan hubungan erat mereka dengan diri saya, padahal mereka sejak lama telah berupaya merusak hubungan suci yang berkaitan dengan akhirat dan masalah iman ini, melalui pencemaran nama baik saya, memfitnah saya dan menempatkan saya dalam sel soliter, hanya saja mereka tidak berhasil dalam upaya busuknya ini.Sekarang mereka mendapatkan beberapa dalih untuk menjauhkan para Tullabunnur. Mereka mendapatkan titik lemah untuk memalingkan pandangan mereka ke arah lain, hanya saja ketabahan yang luar biasa yang diperlihatkan Tullabunnur itu dan pengorbanan yang mengagumkan seperti yang dipersembahkan oleh mujahid besar yang membawa hakikat-hakikat Risalah Nur sambil membawa pedang berlian di tangannya—yaitu sosok maknawi Tullabunnur—juga akan menghancurkan perencanaan orang-orang itu dan menjadikannya gagal dengan izin Allah. Ya, surga itu tidak murah dan neraka pun bukan tempat yang sia-sia.
Saya pernah berulang kali menjelaskan bahwa para Tullabunnur yang tulus, dengan izin Allah, mereka akan mendapatkan pahala yang paling besar dengan kesulitan yang paling sedikit dalam kondisi sulit ini. Hal ini jika dibandingkan dengan kondisi para mujahid pada masa lalu dan jika dilihat dari besarnya kebutuhan pada masa sekarang ini.Juga saya telah menjelaskan bahwa para Tullabunnur menghabiskan usianya yang terbatas yang biasanya lewat begitu saja tanpa arti,bahkan bisa-bisa lewat membawa dosa dan kerugian, mereka menghabiskan usianya dalam pengabdian suci dan mulia terhadap iman dan al-Qur’an ini, sehingga mereka memperoleh usia yang abadi.Saya telah tetapkan untuk menanggung bagian saya dari segala serangan kendati kondisi saya sangat lemah, dan saudara-saudaraku para pemuda yang gagah berani dan kuat yang berani mengorbankan diri, mereka tidaklah lebih ringan penderitaannya daripada saya sehingga mereka sama sekali tidak akan mengundurkan diri dari pengabdian suci ini. Mereka akan berusaha keras sebagaimana yang mereka lakukan kemarin guna mengembalikan orang-orang yang sempat mengundurkan diri dari perjuangan suci ini.
Said Nursî
* * *
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!
Pertama:Saya sampaikan ucapan selamat dari lubuk hati yang paling dalam dengan tibanya bulan Rajab yang mulia dan malam Raghâib.(*19)
Kedua:Janganlah kalian berputus asa dan risau karena pertolongan Allah akan segera turun untuk menyelamatkan kita, insya Allah.Peristiwa yang telah disiapkan tiga bulan yang lalu itu telah terjadi, masalah yang diisyaratkan oleh meledaknya tungku pemanas ruanganku dan hancurnya cangkir Khusrev dan Feyzi benar-benar terjadi, hanya saja tidak menakutkan, peristiwanya ringan. Api itu akan padam dengan sempurna atas izin Allah.Serangan-serangan yang dilancarkan orang-orang terhadap kita semata-mata menjadikan diri saya pribadi sebagai sasarannya, untuk menganggu penaklukan Risalah Nur.
Ada dua orang yang berusaha dengan seluruh tenaganya untuk mengarahkan serangan kepada kita. Salah seorang dari mereka adalah orang yang berpendidikan dan hebat, sedangkan yang lainnya adalah seseorang yang bekerja sebagai alat di tangan kaum zindik dan ia lebih berbahaya daripada orang munafik yang dikenal dan berdomisili di Emirdağ, hanya saja serangan kedua orang ini terasa ringan sehingga hanya mengenai satu orang dari dua puluh orang. Dengan izin Allah serangan tersebut tidak akan mengenai kita. Perencanaan yang dibuat orang-orang di mana mereka berusaha untuk merealisasikannya untuk memecah belah barisan kita dan menjauhkan kita dari Risalah Nur, dengan izin Allah akan gagal juga.
Yang harus kita lakukan demi menjaga kesucian tiga bulan yang penuh berkah ini dan pahala besar yang tersedia di dalamnya adalah bersabar disertai rasa syukur, bertawakal dan berserah diri dengan prinsip, “Barangsiapa beriman kepada takdir Tuhan, akan aman dari kesedihan”.
Said Nursî
* * *
Saudara-saudaraku yang mulia lagi setia, sumber pelipur laraku di dunia ini, para pendampingku dalam pengabdian hakikat tanpa lelah dan jemu!
Jika waktu kalian yang membosankan digunakan dengan menyibukkan diri bersama al-Qur’an dan Risalah Nur semampu mungkin pada bulan-bulan yang penuh berkah di penjara ini yang menyediakan banyak pahala, maka akan mendatangkan banyak manfaat. Pasalnya, di samping akan meringankan kegundahan dan kebosanan, apa yang kalian lakukan itu adalah ibadah yang pahalanya banyak, sebagai sumber kelapangan hati dan jiwa, dianggap sebagai ibadah tafakur karena kegiatan tersebut merupakan kesibukan dengan masalah iman melalui Risalah Nur, juga dianggap sebagai ibadah dengan lima sisi sebagaimana disebutkan dalam bagian akhir “Risalah Ikhlas”.
Ketika saya merasa sedih karena harus mengalokasikan sebagian waktu untuk mengurus pembelaan dalam beberapa hari ini, tiba-tiba terlintas dalam hati bahwa kesibukan ini juga merupakan perbuatan yang bersifat ilmiah karena mempersembahkan pengabdian dalam rangka menyebarkan hakikat-hakikat iman dan menghilangkan tali yang membelenggunya.
Maka dengan pengertian ini, apa yang saya lakukan itu juga merupakan ibadah.Setiap kali saya merasakan kejenuhan, saya buka pembahasan Risalah Nur yang telah saya baca seratus kali. Saya kembali membacanya dengan sangat antusias sehingga saya anggap pembelaan itu sama kedudukannya dengan Risalah Nur yang ilmiah.
Salah seorang saudara kita pernah berkata kepada saya, “Saya telah membaca “Kalimat kesepuluh” sebanyak tiga puluh kali dan saya masih merasa ingin dan perlu membacanya kembali”.Dari sini saya mengetahui bahwa salah satu karakteristik unik al-Qur’an—yaitu orang tidak pernah jemu membacanya—telah tereflesikan dalam Risalah Nur yang merupakan cermin dan tafsir hakikat-hakikat kitab suci itu.
Said Nursî
* * *
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!
Solusi terbaik untuk menghadapi kegundahan dan rasa putus asa di dunia ini, terutama pada masa sekarang ini, khususnya bagi orang-orang yang terkena musibah, dan lebih khusus lagi bagi para Tullabunnur, adalah saling memberi pelipur lara dan menenangkan satu dengan yang lainnya, memperkokoh kekuatan maknawinya, mengobati gundah gulananya, merawat hatinya yang berduka dengan penuh kasih sayang sebagaimana yang dilakukan saudara sejati yang berkorban.
Hubungan yang terjalin di antara kita adalah persaudaraan sejati dan bersifat ukhrawi, yaitu hubungan yang tidak menerima sifat mudah tersinggung dan fanatisme. Kalian mengetahui dan menyaksikan sendiri bahwa saya percaya dan bersandar pada kalian dengan segala kekuatan saya, saya memutuskan untuk mengorbankan kenyamanan, kedudukan, kehormatan, dan bahkan ruh saya dengan senang hati. Saya tegaskan dengan bersumpah bahwa saya sejak delapan hari yang lalu bersedih hati karena satu peristiwa kecil yang terjadi antara dua orang murid utama Risalah Nur yang secara lahir bermusuhan, satu sama lain saling membuat dirinya bersedih hati, bukannya saling menghibur diri. Jiwa, hati dan akal saya menangis dan sambil berdoa, “Aduh...aduh... Ya Allah, berikan ketenangan dan keselamatan... Ya Allah Yang Maha Pengasih bantulah kami, jagalah dan lindungilah kami dari kejahatan setan manusia dan jin. Penuhilah hati saudara-saudaraku dengan kesetiaan, kecintaan, persaudaraan dan kasih sayang di antara mereka”.Saudara-saudaraku yang kokoh seperti gunung, bantulah saya...
Masalah kita ini sangat sensitif. Karena sangat percaya kepada kalian, saya serahkan seluruh tugas kepada sosok maknawi kalian, maka sepatutnya kalian segera membantu saya dengan segala kekuatan yang ada.Benar bahwa peristiwa kalian ini adalah peristiwa parsial, bersifat sementara dan sangat kecil, hanya saja debu yang masuk ke dalam mesin jam dapat merusaknya dan sehelai rambut yang mengenai bola mata dapat membuatnya sakit. Poin ini begitu penting karena diberitahukan oleh tiga peristiwa peledakan dan tiga kesaksian maknawi.
Said Nursî
* * *
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!
Malam peristiwa mi’raj sama dengan malam lailatul qadar kedua, maka berusahalah (ibadah) dengan sungguh-sungguh pada malam itu karena keuntungan dari satu menjadi seribu. Setiap orang beribadah dan berdoa dengan empat puluh ribu lidah pada malam yang mulia ini dan dalam penjara ini yang mendatangkan pahala yang besar seperti sebagian malaikat yang bertasbih dengan empat puluh ribu lidah. Hal itu bisa terjadi dengan rahasia partisipasi maknawi di antara kita. Dengan ibadah ini, kalian bersyukur kepada Allah Ta`ala karena Dia telah meringankan bahaya musibah yang menimpa kita dari seribu menjadi satu. Saya mengucapkan selamat karena kalian telah berhati-hati dan berwaspada dengan baik dan saya sampaikan kabar gembira bahwa pertolongan Rabbani telah tampak dengan sangat jelas bagi kita.
Said Nursî
* * *
Saudara-saudaraku yang mulia, setia dan tulus!
Mengamalkan prinsip-prinsip yang terdapat di risalah ikhlas dan rahasia keikhlasan yang hakiki di antara kita semampu mungkin telah mencapai tingkatan wajib. Saya telah mendengar sebuah berita yang pasti bahwa sejak tiga bulan yang lalu ada tiga orang telah ditunjuk untuk mengacaukan hubungan antara saudara-saudara inti di sini dengan memanfaatkan perbedaan cara berpikir mereka.
Kemudian persidangan kami ditunda-tunda tanpa sebab guna menimbulkan kegelisahan dalam hati para Tullabunnur yang selama ini tabah dengan tujuan agar mereka goyah, guna menakut-nakuti orang-orang lemah dan gelisah di antara mereka dan agar mereka meninggalkan pengabdiannya dengan Risalah Nur. Oleh karena itu, waspadalah dan waspadalah jangan sampai persaudaraan yang penuh dengan pengorbanan dan cinta yang tulus di antara kalian menjadi goyah. Jika ikatan ini goyah walau sekecil apapun, akibatnya sangat berbahaya bagi kita semua.Ketika pengabdian kita terhadap al-Qur’an dan iman mengharuskan adanya pengorbanan di antara kita, bahkan mengorbankan nyawa sekalipun jika memang diperlukan, janganlah merajuk sesama kalian akibat kesulitan atau sesuatu yang sensitif, melainkan mengalah dengan penuh rendah hati dan pasrah serta menambah cinta dan ketulusan di antara kalian. Jika tidak demikian, masalahnya akan menjadi lebih buruk dan meninggalkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki lagi. Saya cukupkan sampai di sini dan saya serahkan kepada kecerdasan kalian.
Said Nursî
* * *
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!
Pertama: Berpedoman dengan kaidah: ‘Yang terbaik adalah pilihan Allah’, maka dalam penangguhan pengadilan kita, dalam menghadirkan saudara-saudara kita yang dibebaskan dan kehadiran mereka dalam pengadilan di sini, terdapat banyak kebaikan.
Ya, karena perkara Risalah Nur ini memiliki kepentingan yang luar biasa di dunia Islam pada umumnya dan di negeri ini khusus�nya, maka perlu menarik perhatian masyarakat luas itu pada hakikat-hakikat Risalah Nur melalui penangkapan dan pengumpulan orang untuk diperiksa agar Risalah Nur memberikan pelajarannya sendiri kepada khalayak ramai, musuh dan sahabat dengan gegap gempita melampaui prediksi, kehati-hatian, kerahasiaan dan ejekan musuh-musuh kita serta di luar kehendak kita. Risalah Nur menyingkap rahasianya yang paling khusus kepada orang-orang yang sangat asing.
Selama hakikatnya demikian, maka hendaknya kita melihat tekanan-tekanan ringan yang kita hadapi sebagai obat pahit seperti buah peria serta bersabar dan bersyukur sambil mengucap, “Setiap keadaan akan berlalu”.
Kedua: saya menulis Kepada direktur Madrasah Yusufiyah ini sebagai berikut:“Badai Bolshevisme pertama kali mengamuk dari penjara. Ketika itu, saya sebagai tawanan di Rusia. Revolusi Perancis juga terjadi dari penjara di tangan para tahanan yang dalam sejarah dikenal sebagai kaum perusak dan teroris, sedangkan kami adalah para Tullabunnur, dengan segala kemampuan yang ada, kami telah melakukan perbaikan moral para narapidana secara nyata di Eskişehir, Denizli dan di sini. Hasil perbaikan itu terlihat secara nyata di Eskişehir dan Denizli. Di sini manfaatnya lebih banyak, sehingga badai kecil(*20)yang terjadi telah melemah dari seratus menjadi satu dalam konsisi sensitif ini dilihat dari sisi tempat dan waktu. Jika tidak, arus luar yang menghancurkan yang siap-siap menyerang kita dan memanfaatkan perselisihan dan kejadian seperti ini, akan berubah seperti minyak tanah yang ditumpahkan ke kobaran api dan menyebabkan kebakaran.
Said Nursî
* * *
Saudara-saudaraku yang mulia, setia dan yang tidak menarik diri dari barisan kita di bawah tekanan apapun!
Ketika saya bersedih hati pada akhir-akhir ini karena merasakan himpitan materil dan moril demi kalian semua, tiba-tiba terlintas dalam hati, “Jika Anda atau salah seorang sahabatmu mengalami kesulitan sepuluh kali lipat dari apa yang kalian alami sekarang, maka hal itu merupakan sesuatu yang sama sekali tidak berarti dalam rangka bertemu secara dekat dengan salah seorang saudara yang berada di sini.” Kemudian berdasarkan manhaj Risalah Nur yang berpedoman pada takwa dan riyâdhah ruhiyah, berdasarkan manhaj Risalah Nur yang berpedoman pada pengajaran hakikat-hakikat kepada masyarakat umum, kepada orang yang paling memerlukan bahkan kepada musuh sekalipun, dan pertemuan minimal sekali atau dua kali dalam setahun untuk membuat sosok maknawi berbicara seperti yang dilakukan para ahli hakikat pada masa lalu, maka para Tullabunnur harus berkumpul sekali dalam beberapa tahun di salah satu Madrasah Yusufiyah yang memungkinkan. Ribuan kesulitan dan tekanan yang ada tak bernilai demi mencapai tujuan tersebut.
Semangat sebagian saudara kita yang bersama kita di penjara penjara terdahulu melemah sehingga mereka mundur dari lingkaran Risalah Nur. Dengan demikian, mereka mengalami kerugian yang besar dan Risalah Nur tidak kena dampaknya sedikitpun bahkan murid-murid yang lebih tabah dan lebih tulus bermunculan.
Selama ujian dunia ini berlalu dengan cepat, selama kita memperoleh pahala dan buahnya, maka hendaknya kita bersandar pada pertolongan Allah I seraya bersabar dan bersyukur.
Said Nursî
* * *
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia, rekan-rekan belajar dalam Madrasah Yusufiyah ini!
Malam yang akan datang adalah Malam Nisfu Sya’ban. Karena malam itu merupakan benih suci untuk seluruh tahun dan program untuk takdir manusia, maka kesuciannya sama dengan lailatul qadar. Sebagaimana kebaikan pada lailatul qadar pahalanya berlipat ganda sampai tiga puluh ribu kali lipat, maka setiap amal saleh yang dilakukan pada Malam Nisfu Sya’ban ini dan setiap huruf al-Qur’an yang dibaca pahalanya berlipat ganda sampai dua puluh ribu kali lipat. Jika kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat pada seluruh waktu, pada ketiga bulan ini kebaikan dibalas dengan seratus, bahkan hingga seribu kali lipat, dan pada malam-malam suci yang populer ini dilipat gandakan hingga sepuluh ribu kali lipat, bahkan hingga dua atau tiga puluh ribu kali lipat. Dalam masalah pahala, malam�malam ini terkadang mencapai pahala ibadah selama lima puluh tahun. Sungguh keuntungan yang sangat besar jika seseorang dala malam-malam ini sedapat mungkin membaca al-Qur’an, beristigfar dan membaca shalawat.
Said Nursî
* * *
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!
Dari hati yang paling dalam, saya haturkan ucapan selamat dengan tibanya bulan suci Ramadan yang penuh berkah. Saya memohon kepada Allah Ta`ala agar menjadikan lailatul qadarnya lebih baik bagi kalian dari seribu bulan. Semoga Allah menerimanya sebagai usia yang makbul yang panjangnya delapan puluh tahun. Amin.
Said Nursî
* * *
Saudara-saudaraku yang mulia, setia, tegar, tidak risau dan tidak berpaling ke dunia dengan meninggalkan akhirat!
Janganlah kalian bersedih hati dengan bertambah lama berada di sini dan dengan meluasnya cakupan perkara kita, sebaliknya, berbahagialah kalian seperti saya. Selama usia itu berlalu tanpa henti menuju kesirnaan, selama usia menjadi kekal dengan buah akhiratnya yang benihnya ditanam dalam penjara ini, selama lingkaran pelajaran Rasalah Nur meluas, selama para guru dalam komite pakar terpaksa membaca kumpulan risalah “Siraj an-Nur” dengan sangat teliti, selama pembebasan kita pada masa seperti sekarang ini dapat mengurangi pengabdian iman kita dari satu atau dua sisi,
selama saya pribadi tidak ingin meninggalkan tempat ini meskipun saya lebih banyak menderita dibandingkan kalian, maka sebisa mungkin,tetaplah bersabar dan tabah, beradaptasi dengan gaya hidup ini, dan mencari kebahagiaan dan pelipur lara dengan menulis dan membaca Risalah Nur.
Said Nursî
* * *
...
Kedua: Dalam pembicaraan kita sering dikatakan bahwa Risalah Nur adalah tafsir al-Qur’an yang hakiki dan kuat. Saya dapat peringatan agar menjelaskan hakikat ucapan ini, karena bagi mereka yang belum mampu memahami maknanya, ucapan ini tidak jelas.
Penjelasannya adalah bahwa tafsir itu ada dua macam:
Pertama, sebagaimana diketahui bersama, tafsir yang membahas ungkapan, kata dan kalimat al-Qur’an (tafsir lafdzi), menjelaskan dan meneguhkan maknanya.
kedua, tafsir yang membahas hakikat al-Qur’an dari sisi iman (tafsir ma’nawi), menjelaskan dan meneguhkan maknanya dengan argumentasi-argumentasi yang kuat. Jenis tafsir ini sangat penting. Tafsir-tafsir yang tersebar yang dikenal kadangkadang memuat jenis tafsir ini secara singkat. Sedangkan Risalah Nur menjadikan jenis tafsir kedua ini sebagai landasannya sehingga ia menjadi tafsir maknawi satu-satunya yang mampu membungkam para filsuf yang paling kuat.
Said Nursî
* * *
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!
Sebuah instansi penting mengajukan pertanyaan penting yang berarti, “Meskipun Tuan menjelaskan bahwa Tuan bukanlah sebuah organisasi karena tiga pengadilan telah menyatakan Tuan tidak bersalah, pemerintah enam wilayah yang mengawasi dan memata-matai Tuan sejak dua puluh tahun tidak mengusik Tuan, hanya saja antara para pengikut Risalah Nur ini terdapat hubungan erat yang sangat kuat yang tidak ada bandingannya di antara anggota organisasi manapun, apa rahasianya?”.
Lalu saya jawab, “Benar, para pengikut Risalah Nur itu bukan organisasi seperti organisasi yang dibentuk untuk kepentingan perorangan atau kelompok, terutama untuk kepentingan politik, agama atau tujuan-tujuan destruktif. Mereka tidak termasuk jenis ini dan tidak mungkin untuk menjadi seperti itu. Mereka adalah cucu pahlawan terdahulu negeri ini, putera-puteri jutaan orang yang mengorbankan diri untuk Islam guna memperoleh derajat mati syahid dengan senang hati. Mereka mewarisi sifat-sifat pengorbanan dari leluhur mereka sehingga hubungan unik di antara mereka muncul yang mendorong saudara mereka yang lemah dan malang ini untuk mengumumkan atas nama mereka di pengadilan Denizli dengan berseru,
“Kami siap mengorbankan kepala kami demi hakikat yang sebelumnya ditebus oleh kepala jutaan pahlawan”. Pengadilan hanya dapat tunduk dengan kekaguman dan apresiasi.
Jadi, antara para pengikut Risalah Nur yang berkorban, yang sejati, yang tulus, yang orientasinya akhirat dan dengan perbuatannya yang konstruktif itu yang mereka cari hanyalah keridaan Allah di mana organisasi-organisasi besar seperti Freemasonry, Komunisme, dan Federasi Revolusionaris Armenia(*21)dan organisasi perusak, kafir dan zindik lainnya, sehingga mereka tidak mampu membubarkan para pengikut Risalah Nur ini. Yang dapat mereka lakukan hanyalah menyesatkan instansi pemerintahan dan pengadilan dan ingin mem bubarkan Tullabunnur dengan undang-undang multi tafsir yang ada. Tetapi mereka sama sekali tidak akan berhasil dengan izin Allah, bahkan akan menjadi sebab bertambahnya orang-orang yang mengorbankan diri demi Risalah Nur dan iman.
Said Nursî
* * *
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!
Saya akan sampaikan masalah yang terjadi empat puluh tahun lalu yang mirip masalah kemarin, yaitu bahwa hubungan murid-murid Said Lama dengan gurunya kekuatannya mencapai tingkatan pengorbanan dan ketika itu komite Armenia—yaitu pasukan sukarelawan berani mati—melakukan aktifitas bersenjata di pinggiran Van dan Biltis, Said Lama berhadapan dengan mereka dan berhasil membungkam sampai tingkat tertentu. Ia telah menyiapkan senapan untuk para muridnya. Madrasahnya ketika itu serupa dengan barak militer, di dalamnya buku-buku berdampingan dengan senjata.Pada suatu hari seorang perwira tinggi berpangkat jenderal datang dan menyaksikan seraya berkata, “Ini adalah barak, bukannya madrasah”. Peristiwa ini terjadi setelah meletusnya Peristiwa Bitlis(*22)sehingga menimbulkan ketakutan pada dirinya dan seketika itu juga langsung mengeluarkan perintah, “Ambil semua senjatanya”.
Mereka mengambil semua senjata yang ada pada tangan mereka sebanyak lima belas senapan Mauser. Kemudian begitu Perang Dunia Pertama meletus, saya minta semua senapan dikembalikan.Sebagian mereka bertanya kepada saya pada masa-masa itu, “Mengapa komite Armenia takut kepada kalian sedangkan mereka memiliki pasukan berani mati yang gagah berani, sampai-sampai setiap kali kalian bertebaran di atas gunung Arak di Van, mereka mun dur dan berpencar ke tempat lain. Kekuatan apa yang kalian miliki sehingga mereka bertindak seperti itu?”.
Ketika itu saya katakan, “Selama pasukan Armenia memperlihatkan pengorbanan yang luar biasa ini demi kehidupan dunia yang fana, demi keselamatan dan kepentingan sementara yang mengandung unsur nasionalisme sempit yang destruktif, para Tullabunnur berkeyakinan bahwa ajal itu hanya satu dan mereka bekerja demi kehidupan abadi, berusaha keras guna merealisasikan manfaat konstruktif yang mengandung nasionalisme suci yang paling besar yaitu Islam, sehingga tentunya mereka lebih pantas untuk melakukan pengorbanan ini(*23). Jika diperlukan, mereka tidak akan ragu-ragu untuk menghadapi ajalnya yang terhormat dan sama sekali tidak akan ragu-ragu untuk mengorbankan usianya yang beberapa tahun dalam rangka menggapai usia yang akan berlangsung selama jutaan tahun dan dalam rangka keselamatan dan kepentingan milyaran saudara seagama, bahkan mereka akan berkorban dengan penuh kebanggaan.
Said Nursî
* * *
Saudara-saudaraku yang mulia, setia dan penuh kasih sayang!
Bersamaan dengan kondisi fisik yang terserang flu yang bekasnya masih saya rasakan di kepala dan saraf sejak dua hari yang lalu, bersamaan dengan perasaan kesal dan bosan yang diakibatkan kesepian sebagai akibat dari hidup terpencil sendirian dalam sel soliter di saat saya memerlukan hiburan dengan bertemu dengan temanteman, keluhan terlintas dalam hati, “Mengapa semua kejahatan ini terjadi?
Apa gunanya bagi pengabdian kita?”, tiba-tiba pagi ini sebuah peringatan terlintas dalam hati yang berbunyi:“Adalah suatu keharusan yang tidak bisa dielakkan untuk pengabdian yang dilakukan dengan tulus dan atas nama kebenaran dan hakikat kalian memasuki ujian yang berat ini, untuk diuji setiap saat agar logam ini dapat dibedakan apakah emas atau tembaga? Kalian diuji dengan keras dari setiap sisi, disaring setiap saat agar diketahui apakah dalam jiwa kalian terdapat keberuntungan dan intrik atau tidak? Ya, ini memang sangat diperlukan untuk pengabdian kalian di mana takdir, perhatian dan perlindungan Allah memperkenankannya.Hal itu setelah fitnah yang dilontarkan musuh yang keras kepala terhadap kalian yang hanya memiliki argumentasi lemah dan sewenang-wenang, terbukti bagi semua orang bahwa pengabdian kalian bersumber dari kebenaran dan hakikat, tidak sedikitpun terkontaminasi oleh tipu muslihat, egoisme, tujuan atau kepentingan pribadi, duniawi atau ukhrawi.
Seandainya pengabdian ini tetap dilakukan di belakang tirai, ia rentan diinterpretasikan dengan banyak makna bahkan orang awam yang beriman tidak percaya pada kami dan mereka mengira bahwa kami menipu mereka serta sebagian elit pun meragukan kami. Sebagian orang yang memiliki kedudukan spiritual tidak meyakini kami dengan sempurna bahwa kami adalah orang orang yang mencari perhatian dan kepercayaan orang banyak.”Sekarang kita telah melewati ujian itu. Para pembangkang, pengganggu yang paling keras terpaksa berserah diri di hadapan hakikat ini. Kesulitan kalian hanya satu sedangkan keuntungan kalian ribuan, dengan izin Allah.
Said Nursî
* * *
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!
Pertama: Tersirat dalam hati penjelasan perlakuan yang saya alami ketika saya menjadi tawanan, yaitu perlakuan yang mengandung pelajaran dan keheranan.
Yaitu ketika saya berada satu asram dengan sembilan puluh tawanan dari para perwira kita di Kosturma, Rusia, saya mengajari mereka masalah agama dari satu waktu ke waktu yang lain. Pada suatu hari, seorang komandan Rusia datang dan melihat pelajaran, lalu ia berkata, “Orang Kurdi ini dulunya pemimpin kelompok sukarelawan. Ia telah banyak membunuh tentara kami, kemudian sekarang ia di sini memberi pelajaran politik! Saya sangat melarang orang ini untuk melakukan hal ini”. Setelah dua hari, komandan itu datang lagi dan membolehkan untuk menyampaikan pelajaran seraya berkata, “Karena pelajaran yang kamu sampaikan itu tentang agama dan akhlak dan bukannya tentang politik, maka lanjutkanlah”.
Ketika saya menjadi tawanan yang kedua kalinya, ketika saya berada dalam salah satu penjara, orang-orang pengadilan melarang salah seorang saudara khususku untuk menjenguk saya, meskipun ia selalu menghadiri pelajaran saya selama dua puluh tahun, dan meskipun ia menguasai pengajaran yang lebih baik dari saya. Mereka juga melarang saudara-saudara yang membantu saya dalam urusan-urusan penting untuk menjenguk saya dengan alasan agar mereka tidak mendapatkan pelajaran dari saya, padahal Risalah Nur membuat seseorang tidak memerlukan pelajaran lain, kendanti saya tidak lagi memiliki pelajaran yang akan saya ajarkan dan tidak ada lagi rahasia yang tersimpan. Terdapat satu hal yang mengharuskan meringkas cerita panjang ini.
* * *
PELIPUR LARA HAKIKAT YANG MENGHILANGKAN DUKA MUSIBAH SAYA
Pertama:Kesulitan yang menimpa kami berubah menjadi karunia.
Kedua:Kelapangan yang muncul dari sikap menerima keadilan takdir.
'Ketiga: Kegembiraan akibat perhatian khusus tentang pengikut Risalah Nur.
Keempat:Karena musibah itu hanya sementara, maka ketika ia sirna, terasa nikmat.
Kelima:Pahala yang banyak.
Keenam:Tidak pernah turut campur dalam urusan Tuhan.
Ketujuh:Serangan mereka yang paling keras hanya meninggalkan kesulitan dan kerugian yang sangat minim.
Kedelapan:Serangan itu terasa sangat ringan dibandingkan dengan yang menimpa orang lain.
Kesembilan:Kebahagiaan dengan adanya propaganda kuat dan efektif sebagai buah dari ujian berat ini untuk melakukan pengabdian terhadap Risalah Nur dan iman.
Kesembilan kebahagiaan maknawi ini merupakan pereda dan obat manis yang tidak dapat dijelaskan nikmatnya dan meredakan rasa sakit kami yang luar biasa.
Said Nursî
* * *
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!
Pertama:Jika pemerintahan otoriter ini melarang haji dan menumpahkan air zamzam(*24) , menutup mata terhadap kezaliman yang paling kejam yang dilakukan terhadap kita, tidak menganggap penting penyitaan kumpulan risalah “Sirâj an-Nur” dan “Dzû al-Fiqâr”, menaikkan pangkat para pegawai yang menyakiti kita secara zalim dan melampui batas dengan tidak pernah mendengarkan seruan kami yang mengadukan kezaliman dengan perbuatan, maka tempat yang paling baik untuk kami adalah penjara, hanya saja kalau memungkinkan kami ingin dipindahkan ke penjara lain, kami pasti akan lebih selamat.
Kedua:Sebagaimana mereka membuat orang yang paling jauh dari Risalah Nur dapat membaca bagian yang paling khusus(*25), mereka juga memaksa kami dengan kuat dan terus menerus agar kami mengakui sebagai sebuah organisasi.Padahal kami tidak pernah merasa perlu untuk menjadi sebuah organisasi atau perkumpulan karena persaudaraan Islam yang berlandaskan kesatuan kelompok orang-orang yang beriman telah tampak secara nyata dalam jiwa para pengikut Risalah Nur yang dihiasi dengan keikhlasan dan pengorbanan. Karena para Tullabunnur telah mewarisi pengorbanan dari nenek moyang mereka yang gagah berani. Mereka mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan hakikat yang ditebus jutaan leluhur mereka dengan nyawa mereka dengan gembira. Sampai sekarang membuat mereka tidak memerlukan adanya organisasi resmi atau politik, baik secara rahasia maupun secara terang-terangan. Ini berarti bahwa ada keperluan terhadap pekerjaan organisasi sekarang di mana takdir Allah telah menjadikan mereka berkuasa atas kita padahal mereka berbuat zalim kepada kita karena mereka menuduh kita dan mengaitkan sebuah organisasi yang tidak ada wujudnya itu dengan kita. Takdir itu memang adil. Ia telah menampar kita dengan tangan mereka seraya berkata, “Mengapa kalian tidak menjadi hizbullah dengan penuh solidaritas dan keikhlasan?
Said Nursî
* * *
...
Serangan terhadap kita pada kali ini cukup masif. Kepala pemerintah dan para menterinya melancarkan serangan sengit dan kuat. Menurut berita yang saya dengar dan berdasarkan banyak pertanda, kaum munafik yang bekerja secara sembunyi-sembunyi telah menggambarkan tentang kita dalam laporan palsu dan intrik makarnya bahwa kita adalah organisasi yang berusaha mendirikan khilafah dan kita berhubungan erat dengan sebuah organisasi rahasia dengan tarekat Naqsyabandiyah dan bahwa kita adalah pelopor proyek ini. Kemudian untuk dugaan ini, mereka berargumentasi bahwa Risalah Nur dicetak dan dijilid di Istanbul(*26)dan disebarluaskan di dunia Islam dan mendapat perhatian dan penerimaan. Hal ini telah menimbulkan kegelisan dan kekhawatiran pemerintah, serta memprovokasi para tokoh agama resmi yang memiliki kecemburaan dan kedengkian, juga para pejabat yang memiliki keraguan dan firasat untuk mencurigai kita.Kaum munafik itu menduga bahwa akan banyak dokumen dan petunjuk yang akan membuktikan dugaannya itu. Mereka merasa puas bahwa kecenderungan “Said Lama” tidak akan lama timbul dan kesabarannya habis dan menimbulkan masalah, tetapi segala puji bagi Allah tanpa batas bahwa musibah itu menjadi ringan, dari seribu menjadi satu. Mereka dalam pencariannya itu tidak dapat menemukan hubungan apapun antara kita dengan satu organisasi atau perkumpulan, bahkan sejak awal hubungan ini memang tidak ada sampai mereka menemukannya. Oleh karena itu, Jaksa Agung terpaksa memfitnah kita dengan tuduhan sepele yang tidak menimbulkan pertanggungjawaban.
Selama hakikatnya demikian, maka kita—kita dan Risalah Nur—telah selamat dari sembilan puluh sembilan musibah. Selama masalahnya seperti ini, maka tidak sepatutnya kita mengeluh. Kita mengharapkan perhatian dan pertolongan Allah I agar menghilangkan kesedihan ini seluruhnya sambil memohon rahmat, bersabar dan tidak henti-hentinya bersyukur. Kita juga harus menjadi penolong bagi orang-orang yang datang dan pergi dari madrasah ini, menghibur mereka dengan pelajaran Risalah Nur yang mereka perlukan dan mereka rindukan.
Said Nursî
* * *
Ustadz Said Nursi mengarang risalah “al-Hujjah az-Zahra’” di dalam penjara Afyon, Madrasah Yusufiyah Ketiga, yaitu sebuah risalah berharga yang membahas tentang tauhid, misi Nabi Muhammad, dan tafsir surah al-Fatihah. Risalah ini mencakup pelajaran tentang ilmu pengetahuan dan iman bagi para tahanan, baik para Tullabunnur maupun yang lainnya, yang merupakan salah satu perhatian yang paling mereka sukai karena mendatangkan kebaikan dan pencerahan bagi mereka. Berikut pujian yang ditulis para Tullabunnur yang tetap bersama Ustadz Said Nursi dalam penjara setelah dikeluarkannya keputusan pengadilan.
APA ITU RISALAH NUR DAN SIAPA ITU BADIUZZAMAN?
Para ulama pembaru di mana banyak hadis memberitahukan kedatangannya pada setiap seratus tahun, mereka adalah para pengikut, bukannya para pembuat hal baru dalam urusan agama. Mereka tidak mengadakan sesuatu yang baru dari diri mereka sendiri dan tidak pula membawa hukum-hukum baru. Mereka berpegang teguh dengan Sunnah Nabi, dengan kaidah-kaidah dan hukum-hukum agama. Mereka menjadikan agama sebagai penentu keputusan dan meluruskan sesuatu yang bengkok yang dilakukan orang, menjelaskan pokok dan hakikatnya, menghilangkan penyimpangan yang dilakukan orang-orang yang melampaui batas, menghadang dan melenyapkan serangan terhadap agama, menegakkan perintah Allah, serta memperlihatkan kehormatan dan kedudukan hukum-hukum Allah. Mereka menunaikan tugas ini dengan mengikuti cara penjelasan dan penyampaian baru yang sesuai dengan pemahaman modern tanpa mengurangi keaslian dan menyimpang dari substansi.
Mereka adalah petugas Rabbani yang membenarkan tugasnya dengan perilaku mereka. Mereka menjalankan tugas mereka sebagai cerminan kekuatan iman dan keikhlasan mereka. Mereka memperlihatkan tingkat keimanan mereka dengan tindakan mereka. Mereka menampakkan akhlak Nabi Muhammad dalam diri mereka, memperlihatkan diri mereka sebagai manifestasi sunnah Nabi dan cerminan bentuk lahiriah Rasulullah. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa mereka adalah suritauladan bagi umat Nabi Muhammaddalam hal mengikuti amal, akhlak, dan sunnah Nabi.
Buku yang mereka karang dalam rangka menafsirkan kitab suci al-Qur’an, menjelaskan hukum-hukum agama dengan gaya bahasa yang sesuai pemahaman masa kini, bukanlah berasal dari hasil pemikiran dan kegeniusan mereka, tetapi merupakan ilham dan pengajaran maknawi langsung dari Nabi Muhammad yang merupakan referensi wahyu secara langsung. Wirid-wirid yang penuh berkah dalam Al-Jaljalutiyah, Al-Matsnawi an-Nûri, Futûh al-Ghaib dan yang semisal hanyalah contoh dari peninggalan suci yang mengagumkan ini. Para imam mulia itu tidak lebih dari para penerjemahnya. Yang mereka lakukan hanyalah menyusun dan menentukan gaya bahasa penjelasan. Kedudukan mereka adalah seperti cermin bagi makna-makna luhur tersebut.
Sedangkan Risalah Nur dan pengarangnya:
karena karya agung ini mengandung karunia dan kesempurnaan luhur yang tidak pernah terlihat sebelumnya dan pewaris kelimpahan al-Qur’an yang merupakan penerang Ilahi, matahari petunjuk dan cahaya kebahagiaan yang tidak pernah dimiliki buku apapun sebelumnya, maka cahaya al-Qur’an menjadi landasan bagi Risalah Nur, ia lebih banyak mengandung kelimpahan cahaya nabi Muhammad dibanding karya wali Allah yang lain. Ia lebih banyak mempunyai hubungan dan berada di bawah naungan pribadi Nabi Muhammad dibanding karya para wali yang lain. Kesempurnaan dan pantulan Ustadz Said Nursi sebagai penerjemah dan cerminan sangat tinggi dan tidak ada bandingannya.
Ustadz Said Nursi telah mewarisi ilmu awal dan akhir, ilmu ladunni, substansi sesuatu, rahasia alam semesta, dan hikmah Ilahi dalam waktu tiga bulan belajar demi memenuhi formalitas ketika usia beliau masih muda yang tidak pernah ada prestasi seperti ini sebelumnya. Pengarang Risalah Nur ini bukan saja menjadi keajaiban ilmiah, tetapi juga contoh nyata dalam menjaga diri, keberanian yang luar biasa, merasa cukup dengan yang ada, perhatian dan perlindungan serta bakat yang luar biasa yang dapat dilihat dengan mata kepala.
Para ulama sezamannya telah berdebat dengan Ustadz Said Nursi yang waktu itu belum memasuki usia balig. Ia memiliki kemampuan dalam berargumentasi. Banyak pertanyaan tentang berbagai masalah dilontarkan kepadanya. Semua pertanyaan dijawab dengan jawaban yang memadai tanpa ragu. Ia menyandang gelar “Ustadz” setelah berusia empat belas tahun. Ia menyebarkan limpahan ilmu dan cahaya hikmah kepada masyarakat di sekitarnya. Kedalaman dan kehalusan penjelasan Ustadz Said Nursi, keluhuran dan kekuatan penyampaiannya, kedalaman firasat dan pandangan mata batin serta cahaya hikmah dalam pengarahannya membuat para cendikiawan kagum dan memberi julukan kepadanya “Badiuzzaman” (keajaiban zaman).
Tentunya orang yang muncul ke gelanggang dengan sifat-sifat luhur dan keutamaan ilmiah ini, menunaikan pengabdian ini dalam menyebarkan agama dan memperkokoh sendi-sendinya, pasti ia mendapatkan perhatian paling tinggi dari Nabi Muhammad dan berhasil mendapatkan bagian yang paling banyak dari penjagaan dan bantuannya. Dengan menjadikan Nabi Muhammad sebagai suri teladannya dalam gerakan dan diamnya yang mematuhi perintahnya, mewarisi cahaya dan hakikatnya, pasti ia mempunyai sifat-sifat yang mulia.
Ya, cahaya dan pengetahun Nabi Muhammad serta karunia Allah telah tampak secara terang benderang, kemudian dalam medan pengabdian iman terdapat cermin yang memantulkan risalah Nabi Muhammad, salah satu buah pohonnya yang bersinar, lisan hakikat yang menggemakan dakwahnya, dan membawa obor kebahagiaan yang diambil dari sinarnya.
Atas nama Tullabunnur yang memperoleh pelajaran “al-Hujjah az-Zahra’”, dan “Zuhrah an-Nur” yaitu satu-satunya pelajaran dalam Madrsah Yusufiyah Ketiga
Ahmad Feyzi, Ahmad Nazif, Zübeyr, Salahuddin, Ceylan, dan Sungur
Kendati orang-orang yang bertanda tangan di atas itu memberikan pujian yang melampaui batas saya seratus kali lipat, tetapi saya tidak merasa enak menghancurkan perasaan mereka sehingga saya berdiam diri terhadap pujian ini dan menerimanya atas nama sosok maknawi murid Risalah Nur.
Said Nursî
Catatan Kaki
- *Afyon, nama sebuah kota yang terletak di sebelah barat Anatolia, tepat berada di tengah-tengah antara Eskişehir dan Isparta. Sekarang merupakan pusat wilayah—Tim Penerjemah. ↑
- *Konya terletak di tengah Anatolia. Ke sebelah baratnya, terletak Isparta dan Aydin, sementara Kastamonu, Inebolo dan Safranbolu terletak di sebelah utara ke arah Laut Hitam, sedangkan Emirdag adalah bagian dari wilayah Afyon—Tim Penerjemah. ↑
- *Kenyataan ini tampak dengan jelas dalam pemilu tahun 1950 M di mana pemerintahan yang lalu kalah telak di hadapan mayoritas penduduk negeri ini yaitu pemerintahan yang mengembalikan agama. Badiuzzaman hidup di bawah naungan kediktatoran mutlak, kezaliman yang keterlaluan, dan penistaan yang menjijikan selama dua puluh lima tahun. Partai Demokrat setelahnya mengambil-alih kendali pemerintahan dan menghilangkan kezaliman dan kediktatoran yang selama itu menimpa agama dan pemeluknya—Tim penyusun. ↑
- *Yang dimaksud bahwa kedua anggapan ini telah menjadikan semua yang tertuduh seperti yang ditipu yang menyebabkan mereka harus dibebaskan—Lembaga Penerjemah. ↑
- *Setelah itu, pengadilan Afyon mengeluarkan keputusan tidak bersalah dua kali dan pada akhirnya semua Risalah Nur dan seluruh korespondensi tanpa kecuali dikembalikan kepada Badiuzzaman. Ini terjadi pada tahun 1956 M—Tim Penyusun. ↑
- *Yang dimaksud dengan sahabat di sini adalah yang disebutkan dalam paragraf yang lalu, yaitu segenap makhluk yang ada. Dengan iman, mereka berubah menjadi sahabat. Untuk memperdalam masalah ini, silakan lihat Bab Pertama dari “Kalimat Kedua Puluh Tiga—Tim Penerjemah. ↑
- *Terjadinya empat kali gempa bumi yang menakutkan seiring dengan sikap memusuhi Risalah Nur membuktikan kebenaran ungkapan, “Kasihan betul...”—Said Nursi. ↑
- *Kaum naturalis adalah mereka yang mengingkari adanya Allah Sang Pencipta dan Pengatur, mereka menduga bahwa alam semesta ini ada dengan sendirinya tanpa adanya keperluan kepada sebab eksternal. Mereka juga disebut ad-Dahriyyûn (kaum ateis) —Tim Penerjemah. ↑
- *Bahkan risalah ini disusun semata-mata untuk membersihkan keimanan orang awam dari syubhat dan membersihkan hadis-hadis yang serupa dari penolakan sebagaimana dijelaskan oleh Ustadz Said Nursi sendiri dalam “Sinar Keempat Belas” Tim Penerjemah. ↑
- *Maksudnya suhu yang sangat dingin, badai yang tidak biasanya dan hal-hal yang dianggap peringatan bahaya yang terjadi pada musim dingin—Tim Penerjemah. ↑
- *Yaitu tuduhan bahwa Ustadz Said Nursi mencari popularitas, prestise dan reputasi—Tim Penerjemah. ↑
- *Wahai guruku yang mulia! Anda tidak sekadar membela hak dua puluh juta penduduk negeri ini saja, tetapi Anda membela hak-hak material dan spiritual tiga ratus lima puluh juta penduduk negara Islam dengan pembelaan tulus melalui cahaya alQur’an. Bukti bahwa hal ini semata-mata untuk mengharap keridaan Allah adalah Allah memberi Anda taufik dalam pengabdian terhadap al-Qur’an. Sebagaimana Nabi Musa n selamat dari kekejaman Firaun yang Allah tenggelamkan di laut, dan sebagaimana Rasul Nabi Muhammad telah melihat bangkai orang-orang munafik khususnya membunuh pemipin mereka dengan tangannya sendiri yang penuh berkah dan membuat mereka dijerumuskan ke dalam neraka Jahanam, maka Risalah Nur melalui “Risalah al-Munâjât” di Eskişehir , “Risalah buah keimanan” dan argumentasinya di Denizli, serta petisi ini di Afyon, telah mencampakkan kekufuran mutlak dan nyawa-nyawa malang dari kaum zindiq ke dalam neraka Jahim. Ia tersebar di seluruh penjuru dunia dengan menyobek prinsip-prinsip kezindikan dan sistemnya, alhamdulillah. Ali (muda) ↑
- * Kelompok Ittihad adalah anggota Organisasi Persatuan dan Kemajuan yang terkenal dan orang-orang yang loyal kepada mereka, sementara kelompok I’tilaf adalah anggota Organisasi Koalisi dan Kebebasan dan orang-orang yang loyal kepada mereka, yaitu organisasi yang terdiri dari berbagai etnis di Daulah Usmaniyyah dan menyerukan kebebasan dan desentralisasi. Organisasi ini merupakan organisasi terkuat yang menjadi oposan Organisasi Persatuan dan Kemajuan—Tim Penerjemah. ↑
- *Asyraf Adib, penulis dan wartawan Turki, menerbitkan surat kabar “Sabil alRasyad” yang dikenal dengan orientasi Islamnya; Meninggal pada tahun 1971 M—Tim Penerjemah. ↑
- *Untuk mengatahui secara rinci masalah ini, silahkan baca Pembahasan Kedua dari “Surat Kedua Puluh Enam” dalam buku “al-Maktûbât”—Tim Penerjemah. ↑
- *Sebagaimana Nabi Muhammad x memperlihatkan kenabiannya kepada manusia, jin dan malaikat melalui makjizatnya yang agung: peristiwa mi’raj, dalam mukjizat ini beliau menyaksikan surga dan neraka, memberitahu jin manusia tentang peristiwa dikumpulkannya segenap makhluk dan “Mahkamah Agung” Akhirat seraya membatalkan klaim kaum musyrik dan munafik, begitu pula Risalah Nur pada masa sekarang ini di mana tonggak keimanan dan keyakinan goyah, dengan petisi ini ia memperlihatkan wujud Allah dan keadilannya, Hari Kebangkitan makhluk dan Mahkamah Agung” Akhirat serta menjelaskan hal itu kepada orang-orang beriman yang memiliki keraguan, kepada komite para pakar dan para hakim, menghadirkan alam gaib ke alam nyata, memerlihatkan surga di hadapan orang-orang beriman, memerlihatkan neraka di hadapan orang-orang yang tergelincir dalam jurang kesesatan dan kekufuran mutlak, membuktikan keimanan hakiki kepada umat manusia dengan tingkatan haqqul yaqin. Semoga Allah memberikan balasan kepada penulisnya dengan balasan yang terbaik dan senantiasa meridhainya. Ali (muda) ↑
- *Ustaz Said Nursi menulis risalah ini untuk murid-muridnya yang sama-sama berada dalam penjara karena beliau tidak diberi kesempatan untuk bertemu dengan mereka. Beliau berada dalam sel soliter sementara para muridnya berada di sel lain—Tim Penerjemah. ↑
- *Jarjis adalah seorang nabi yang hidup di sekitar Syam dan Palestina. Ia datang sesudah nabi Isa n dan meneruskan syari’atnya. Ia mendapatkan siksaan dari beberapa Raja dan dibunuh oleh Raja Mosul yang bernama Dadian. Al-Thabari secara khusus membahasnya dalam buku sejarahnya dengan judul, “Berita tentang Jarjis”—Tim Penerjemah. ↑
- *Malam Raghâib adalah malam jum’at pertama pada bulan Rajab. ↑
- *Yang dimaksud dengan badai kecil adalah terjadinya pembangkangan dalam penjara Afyon di mana tak seorangpun dari murid-murid Risalah Nur yang terlibat—Said Nursi. ↑
- *Yaitu organisasi revolusionaris Armenia yang didirikan pada akhir abad kesembilan belas. Mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang menakutkan di daerah Timur Daulah Usmaniyyah dengan tujuan untuk memisahkan diri—Tim Penerjemah. ↑
- *Peristiwa Bitlis adalah peristiwa pembangkangan bersenjata yang terjadi di bagian Timur Anatolia pada tahun 1913 M yang diserukan sebagian ilmuwan sebagai jawaban terhadap perilaku sebagian petinggi Partai Persatuan dan Pembangunan yang bertentangan dengan agama, akhlak dan moral—Tim Penerjemah. ↑
- *Saya katakan dengan kerendahan hati atas nama saudara-saudaraku, “Kita akan berada dalam barisan pertama, dengan izin Allah, jika situasi memerlukan dan akan kita buktikan bahwa kita adalah pewaris leluhur kita dalam kepahlawanan, juga dalam masalah agama—Said Nursi. ↑
- *Penguasa Turki sampai tahun 1948 M melarang ibadah haji secara tidak langsung. Orang-orang yang ingin melaksanakannya dihalang-halangi sehingga hanya sebagian kecil saja yang dapat melakukannya dan itupun setelah menempuh berbagai cara. Di antara yang dilakukan oleh penguasa Turki waktu itu adalah menumpahkan air zamzam yang dibawa oleh jamaah haji dari Mekkah begitu mereka sampai ke tanah airnya—Tim Penerjemah. ↑
- * Yaitu instansi pengadilan yang diberi tugas mempelajari dan meneliti Risalah Nur—Tim Penerjemah. ↑
- *Ibukota terakhir Khilafah Usmaniyyah—Tim Penerjemah. ↑