Semerbak Hembusan Petunjuk Alquran
{(Catatan-236): Risalah ini diterbitkan pertama kali di penerbit Awqaf Istambul tahun 1340 H (1922 M).}
Pendahuluan
Ketahuilah wahai yang melihat! Aku mendengar keluhan dari orang-orang terkait dengan kesulitan dalam memahami karya-karyaku. Perhatikan delapan hal berikut ini baik-baik:
Pertama, jangan engkau terburu-buru mencelaku ketika menemukan sejumlah kesulitan yang ada. Pasalnya, yang berbicara kepadaku adalah jiwaku yang menipu. Dengan cepat ia bisa memahami jawaban dari berbagai pertanyaan yang keliru itu meski dengan isyarat.
Kedua, setiap persoalan yang dibuka dengan kata "ketahuilah!" merupakan senjata mematikan dan obat ampuh yang diberikan kepadaku tanpa diduga sebelumnya pada saat yang sangat dibutuhkan dan pada saat lukaku demikian banyak. Dalam buku ini aku tidak memiliki hak kecuali sakit, luka, dan obat yang tersembunyi di dalam jiwa. Adapun obat, senjata, dan cita rasa kebenaran yang disebutkan di dalam buku bukan berasal dariku dan bukan hasil olah pikirku. Namun, ia berasal dari limpahan petunjuk Alquran al-Karim.
Ketiga, aku tidak peduli dengan kritikan orang-orang. Pasalnya, alhamdulillah saat ini aku menyadari bahwa yang kumiliki hanya kekurangan, ketidakberdayaan, serta celaan yang layak. Apabila aku ingin memuji diri dan bersikap sombong, maka hal itu hanya akan membuat diriku malu. Hanya saja, Allah Maha Menutup aib dan cela. Di samping diri ini tidak berharga sehingga tidak perlu pura-pura gembira dengan kebaikan yang banyak disangkakan orang karena sebenarnya merupakan keburukan, aku juga tidak ingin memberikan penilaian kepada orang lain yang penuh dengan sifat ego sehingga tidak mau membungkus ucapan dengan sikap riya. Yang jelas hakikat kebenaran layak untuk disampaikan sesuai dengan keadaannya. Hanya saja, aku lemah dan gagu, tak mampu menyusun kata-kata selain dari gaya bahasa yang kalian lihat. Karena itu, dengan tegas kunyatakan bahwa diriku lemah dan tak mampu memberikan pemahaman. Akan tetapi sebagai bentuk ungkapan nikmat dan untuk menyampaikan amanah, aku tidak menipu kalian. Yang kutulis hanyalah apa yang kusaksikan dan kuyakini berdasarkan aynul yaqin dan ilmul yaqin.
Keempat, jangan mengira bahwa tulisanku hasil dari olah pikir dan akal. Tidak demikian. Namun, ia adalah limpahan karunia yang tercurah ke dalam jiwa dan kalbu yang sedang terluka dengan berasal dari Alquran al-Karim. Jangan dikira ia adalah sesuatu yang mengalir begitu saja ke dalam kalbu lalu menghilang. Tidak. Namun, ia merupakan cahaya hakikat yang menetap dan memantul kepada akal yang cacat, kalbu yang sakit, dan jiwa yang buta.
Kelima, aku tidak mengetahui bagaimana akalku menyatu dengan kalbu sehingga keluar dari jalan kalangan salaf yang rasional dan kaum saleh yang memperhatikan aspek kalbu. Jika aku sejalan dengan keduanya maka itu merupakan karunia dan anugerah. Namun jika bertentangan dengan salah satu dari keduanya maka ia tertolak.
Keenam, jangan mengharapkan adanya keteraturan, keselarasan, dan kejelasan dalam karyaku karena ia hanya rangkuman penyaksianku dalam berbagai kondisi serta pengalaman jiwa
yang berbeda-beda terkait dengan banyak persoalan yang andaikan kau ketahui tentu akan mengecamku.
Ketujuh, jangan mengaku bahwa dirimu tidak memahami semuanya dan tidak menginginkan semuanya. Jika engkau berada dalam sebuah kebun, mungkinkah engkau meninggalkan semua buah meski tidak memakan semuanya?!
Kedelapan, argumen dan petunjuk yang kau dapat dalam berbagai persoalan bukan merupakan hujjah sebelum ditelaah lebih lanjut. Namun, ia merupakan intuisi yang dibatasi dan dijaga dengan cahaya keyakinan yang berasal dari Alquran.
Bismillāhirrahmānirrahīm
Segala puji milik Allah Tuhan Pemelihara semesta alam atas rahmat-Nya kepada semua lewat risalah yang dibawa oleh junjungan seluruh rasul, Muhammad saw.
Ketahuilah! Seluruh alam berikut semua spesiesnya, dari tingkatan alam gaib hingga alam nyata bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Pasalnya, kerjasama di antara mereka menunjukkan hal tersebut.
Lewat pilar seluruh jenisnya mulai dari tata surya hingga yang lain ia juga menjadi saksi bahwa tiada Yang Mencipta dan Memelihara selain Dia. Pasalnya, kemiripan serta kesamaan menunjukkan hal tersebut.
Lewat organ semua pilarnya mulai dari bumi hingga yang lain ia menjadi saksi bahwa tiada Yang Memiliki selain Dia. Pasalnya, keserupaan dan kesamaan cara menunjukkan hal tersebut.
Lewat bagian semua organnya mulai dari kelompok tumbuhan hingga golongan hewan ia menjadi saksi bahwa tiada Yang Mengatur selain Dia. Pasalnya, kerjasama berikut kompleksitas yang ada menunjukkan hal tersebut.
Lewat sisi seluruh bagiannya ia menjadi saksi bahwa tiada Yang Mengembangkan selain Dia. Pasalnya, keselarasan antar individu dalam organ-organ utama memperlihatkan kesamaan
pena dan menegaskan bahwa Yang Mengembangkan adalah esa. Selain itu, perbedaan dalam bentuk rupa menunjukkan bahwa Si Penulis Maha Memilih dan Bijaksana.
Lewat sel seluruh sisinya ia menjadi saksi bahwa tiada Yang Mengatur secara hakiki selain Dia. Semua pengaturan berada di bawah perintah penciptaan-Nya. Andaikan ia tidak satu tentu akan muncul pengatur dalam jumlah tak terhingga. Di samping serupa mereka juga berlawanan. Di samping bebas mereka juga terikat. Meski merdeka mereka juga terbatas. Serta masih banyak lagi kemustahilan yang lainnya.
Lewat semua partikel selnya ia menjadi saksi bahwa tiada Yang Menata selain Dia. Pasalnya, kesamaan benang antar permata istimewa menunjukkan hal tersebut.
Lalu lewat eter atomnya ia menjadi saksi bahwa tiada Tuhan selain Dia. Pasalnya, kesederhanaan eter berikut diam, penantian, dan kecepatannya dalam melaksanakan perintah Tuhan menunjukkan hal tersebut.
Ketahuilah bahwa siapapun tidak berhak mengeluh dan menentang Pencipta alam. Sebab, sikap membuat ridha satu individu yang mengeluh membuat marah ribuan hukum yang ditata secara sistematis lantaran sikap buruk individu tadi. "Andaikan kebenaran mengikuti hawa nafsu mereka tentu langit dan bumi menjadi rusak."
{(Catatan-237): Q.S. al-Mukminūn: 71.}
Wahai yang mengeluh! Siapakah dirimu hingga merasa keberatan dan menjadikan kegilaanmu sebagai arsitek alam, lalu menjadikan cita rasamu yang rusak sebagai standar dalam mengukur tingkatan nikmat? Tahukah engkau bahwa apa yang dianggap sebagai musibah justru bisa jadi merupakan nikmat?! Siapakah engkau hingga merubah gerakan roda alam guna menenangkan keinginanmu yang tidak sampai seukuran sayap nyamuk dan tidak sebesar biji Tin?! Engkau memang boleh mengeluh kepada-Nya; bukan mengeluhkan-Nya. Pasalnya, engkau hanya memiliki satu bagian kecil dari dirimu. Orang yang memiliki tidaklah memiliki. Kenali batas dirimu; jangan
melampauinya. Ketahuilah bahwa Zat yang berbuat dalam sel anggota tubuh tentu mempunyai gambaran tentang tubuh tersebut lalu Dia berbuat dengan melihat korelasi bagian tersebut dengan lukisan keseluruhan. Karena itu, pengaturan dalam sel berada di bawah perintah Pencipta keseluruhan entitas.
Ketahuilah! Zat yang memelihara telur kutu dan ikan, serta benih serangga dan tumbuhan dengan penuh kasih sayang, teratur dan penuh hikmah tidak mungkin mengabaikan dan tidak mencatat amalmu yang merupakan benih bagi pohon yang berbuah di akhirat nanti; sementara engkau adalah pemikul amanah dan khalifah di muka bumi. Kuatnya keinginan untuk tetap hidup dalam diri setiap makhluk menunjukkan bahwa wujud mengarah kepada keabadian lewat manifestasi nama Zat Yang Mahahidup, Menjaga, dan Abadi. Ia juga merupakan simbol dari ketentuan ilahi bahwa dalam entitas yang fana terdapat sesuatu yang kekal abadi.
Ketahuilah bahwa Zat yang menjaga benih tin dalam perkembangannya serta memelihara dan melindunginya agar tidak rusak lalu menjaga sejumlah kelengkapan pohon tin di dalam benih tadi dengan penuh perhatian, dan demikian pula dengan semua tumbuhan dan hewan, tidak mungkin membiarkan amal perbuatan manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Ketahuilah bahwa esensi bersifat tetap dan istilahnya bisa berubah-ubah. Intinya bertahan sementara kulitnya bisa rusak. Tubuh terpelihara sementara pakaiannya akan koyak. Ruh senantiasa tetap dan tubuh terurai. "Aku" tetap muda sementara tubuh akan menua. Yang Esa tetap sementara yang banyak akan musnah. Cahaya tetap, sementara materi akan lenyap. Esensi yang tetap dari awal hingga akhir meski berganti jasad dan berpindah fase menunjukkan bahwa ia sedang melangkah menuju kematian pula. Tubuhnya akan terurai, ruhnya telanjang, dan ia pergi menuju negeri keabadian. Rambu pemeliharaan yang demikian kuat dalam materi yang pada dasarnya fana menunjukkan secara jelas dan terang bahwa hukum abadi tersebut berlaku pada esensi, cahaya, dan ruh yang satu dan sederhana yang pada dasarnya abadi.
Ketahuilah bahwa keagungan, kemuliaan, dan kemerdekaan uluhiyah menuntut masuknya segala sesuatu secara mutlak entah besar atau kecil, entah sesuatu yang paling agung atau yang paling remeh dalam wilayah kekuasaan dan pengaturan-Nya. Kehinaan dan kerendahan kondisimu tidak membuatmu keluar dari wilayah kekuasaan-Nya. Jauhmu dari-Nya tidak serta merta mengakibatkan Dia jauh darimu. Kehinaan sifatmu tidak serta merta mengakibatkan wujudmu hina. Ternodainya wajah kekuasaan Allah dalam dirimu tidak serta merta mengakibatkan alam malakutmu juga ternoda. Demikian pula keagungan Sang Pencipta tidak mengakibatkan sesuatu yang hina berada di luar kekuasaan-Nya. Sebab, keagungan yang hakiki mengharuskan peliputan dan keesaan dalam mencipta.
Ketahuilah, semakin besar materi padat semakin jauh pula ia dari sesuatu yang kecil dan semakin sulit untuk meraihnya. Adapun cahaya, semakin besar dan mulia maka ia semakin menembus berbagai tempat yang tersembunyi dan hal-hal yang halus. Semakin halus cahaya yang ada, ia semakin dapat menyingkap bagian dalam sesuatu sama seperti sinar rontgen. Jika demikian kondisi yang ada pada makhluk, apalagi cahaya segala cahaya yang berasal dari Allah Yang Wajib ada dan esa, Yang Mengetahui semua rahasia, serta Yang Menata malam dan siang. Keagungannya melahirkan sifat meliputi, menembus, dan menyeluruh.
Ketahuilah! Lihatlah kesempurnaan perhatian Alquran serta kesesuaiannya dan kedekatannya dengan pemahaman sebagian besar kalangan awam yang jumlahnya mayoritas. Dalam persoalan yang memiliki banyak tingkatan, ia menyebutkan tingkatan yang dekat dengan mereka dan lembaran yang sangat jelas dalam pandangan mereka. Jika tidak, tentu petunjuknya tersembunyi dan sulit dipahami.
Alquran menyebut berbagai sesuatu yang terdapat di alam untuk dijadikan dalil atas sifat-sifat Sang Pencipta. Semakin jelas ia dalam pemahaman sebagian besar manusia, maka semakin dapat dijadikan sebagai petunjuk. Misalnya,
Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Penciptaan langit dan bumi serta keragaman bahasa dan warna kulit kalian.
{(Catatan-238): Q.S. ar-Rūm: 22.}
Di samping bahwa di balik perbedaan warna tersebut terdapat perbedaan bentuk rupa sebagaimana disebutkan dalam "benih". Allah juga befirman,
Di dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda kekuasaan.
{(Catatan-239): Q.S. Ali Imran: 190.}
Di samping bahwa di balik permukaan malam dan siang yang terlihat langsung oleh mata terdapat keajaiban lukisan pergerakan bumi pada dirinya sendiri dan bagaimana ia berputar mengelilingi matahari. Lalu Allah befirman,
Kami jadikan gunung sebagai pasak.
{(Catatan-240): Q.S. an-Naba: 7.}
Di samping bahwa di balik apa yang terlihat dari gambaran perahu bumi dan kemahnya yang terurai dan terikat oleh pasak terdapat proses stabilisasi kemarahan bumi yang, "nyaris murka lantaran marah,"
{(Catatan-241): Q.S. al-Mulk: 8.}
karena berbagai pelanggaran yang terjadi. Di baliknya juga terdapat proses penenangan murkanya dengan menciptakan gunung sehingga bumi bisa bernafas lewat celah-celahnya dan hanya terguncang oleh gempa. Kalau saja tidak ada gunung pasti ia sudah hancur. Di balik permukaan ini Dia juga menjadikan gunung sebagai tempat perbendaharaan air dan, penyaring udara, pelindung tanah dari luapan laut. Semua faktor ini merupakan pasak kehidupan makhluk.
Dari rahasia ini engkau bisa melihat bagaimana syariat menjadikan rukyat terbit dan terbenamnya bulan sebagai
patokan; bukan hisab. Dari sini juga dapat dipahami terwujudnya banyak pengulangan untuk penetapan. Pengulangan yang ada adalah untuk penegasan.
Ketahuilah! Hakikat sejumlah ayat jauh lebih luas daripada imajinasi syair sehingga ia jauh dari bentuk puisi. Penutur di balik ayat mencari sifat dan perbuatannya. Sementara, dalam syair yang dibahas adalah orang lain. Alquran secara umum membahas sesuatu yang biasa dengan pembahasan yang luar biasa. Sementara, syarir membahas tentang sesuatu yang luar biasa dengan cara yang biasa.
Ketahuilah bahwa cermin keesaan Sang Pencipta dan lembaran buktinya sangat banyak, beragam, saling menguatkan, dan tak terhingga. Cahaya yang diperoleh seseorang dalam melihat sesuatu pertanda bahwa cahaya tersebut juga diterima oleh semua. Terbukanya sesuatu yang memungkinkan untuk masuk merupakan pertanda bahwa ia bisa terbuka untuk semua. Namun, tidak sebaliknya. Tertutupnya sesuatu; terutama hal yang paling rendah, tidak berarti tertutup bagi semua. Hanya saja, karena bisikan setan, nafsu ammarah mengingkari prinsip dasar yang benar dan sebaliknya membenarkan yang dusta.
Ketahuilah! Sebagaimana penulis kata pasti merupakan penulis hurufnya, penulis baris kalimat pasti merupakan penulis halaman, serta penulis halaman pasti penulis buku, demikian pula Pencipta semut sudah pasti Pencipta jenis hewan, Pencipta hewan pasti Pencipta bumi, dan Pencipta bumi sudah pasti merupakan Pencipta semesta alam.
Di antara petunjuk rububiyah yang bersifat mutlak dan umum adalah penulisan kata, kalimat, dan buku dalam sebuah huruf besar untuk menunjukkan totalitas perasaan dan jangkauan sebagaimana penciptaan ikan dalam huruf lautan, penciptaan binatang bumi dalam baris pohon, serta penciptaan hewan dalam titik bumi. Dalam setiap tempat semut disangka diam, terabaikan, dan tersia-siakan sehingga sebagian ciptaan seperti gambaran huruf Yasin yang di dalamnya ditulis surat Yasin.
Ketahuilah bahwa bintang-gemintang serta pantulan cahaya mentari secara umum sama. Tuhannya tentu bukan
berasal dari mereka. Namun, Tuhan Pemelihara salah satunya adalah Tuhan Pemelihara keseluruhannya sekaligus Tuhan Pemelihara segala sesuatu.
{(Catatan-242): Dalam edisi pertama disebutkan, "Wahai manusia jika jujur, tentu engkau tidak akan merasa kesal dengan kutu, nyamuk dan sejenisnya. Pasalnya, dengan pasrah semua buah dan hewan bersabar dimakan olehmu. Nah, adalah adil jika engkau juga bersabar mendapatkan pembalasan yang paling ringan yang dilakukan oleh sejumlah hewan pengganggu. Sebab, luka dibalas dengan luka."}
Ketahuilah! Individu manusia adalah satu kelompok yang mendapat tugas. Setiap indera dari individu baik yang lahir maupun yang batin memiliki ibadah khusus, atau kesesatan yang khusus pula. Sebagaimana sujudnya kepala kepada selain Allah merupakan kesesatan, demikian pula sujudnya imajinasi penyair dengan keraguan yang melampaui batas dan cinta yang keterlaluan dalam memuji selain Allah merupakan kesesatan yang membuat imajinasi tadi fasik. Ini juga berlaku kepada yang lain.
Ketahuilah! Di antara sebab kesesatan yang paling umum adalah pikiran manusia di mana sesuatu yang biasa dianggap sebagai pengetahuan. Padahal, sesuatu yang biasa dihadapi mengandung kebodohan rangkap. Lantaran telah biasa, manusia tidak lagi memperhatikan berbagai kebiasaan yang terus berlangsung padahal ia merupakan mukjizat kekuasaan Allah yang luar biasa. Manusia tidak memfokuskan perhatian kecuali kepada berbagai bentuk manifestasi yang langka. Hal ini sama seperti orang yang tidak memperhatikan keseluruhan lautan berikut hewan yang berada di dalamnya kecuali ombak akibat terpaan angin dan kilau akibat sinar mentari. Kedua kondisi tersebut sudah cukup menjadi bukti keagungan Pemilik dan Pencipta lautan.
Ketahuilah! Sebagian besar pengetahuan, postulat, dan aksioma manusia dibangun di atas sesuatu yang telah dikenal dan dekat dengannya. Ia terhampar di atas kebodohan rangkap. Landasannya berisi kerusakan yang hebat. Karena itu, ayat-ayat Alquran mengarahkan pandangan manusia kepada berbagai kebiasaan yang mereka kenal. Cahaya bintang Alquran menembus
hijab kebiasaan tersebut serta menarik perhatian manusia, mencondongkan kepalanya, dan memperlihatkan kepadanya berbagai hal luar biasa di balik sesuatu yang telah mereka kenal sebelumnya.
Ketahuilah! Keselarasan bahkan adanya komunikasi sekalipun tidak serta merta menunjukkan kesamaan, kedekatan, dan kemiripan. Tetesan air hujan dan bunga dari buah memiliki keselarasan dan hubungan dengan mentari.
{(Catatan-243): Meski kecil, keduanya memiliki hubungan dan interaksi dengan mentari.}
Karena itu, wahai manusia, jangan mengira bahwa kerendahanmu membuatmu terhijab dari perhatian Pencipta alam.
Ketahuilah! Hamparan zaman dan keterlipatannya untuk sebagian wali seperti yang dikenal sebagaimana yang terjadi pada asy-Sya'rani
{(Catatan-244): (898 - 973 H) Abdul Wahhab bin Ahmad bin Ali al-Hanafi asy-Sya'rani. Ia termasuk ulama sufi. Lahir di Kalkasyindah, Mesir, dan wafat di Kairo. Di antara tulisannya: al-Anwar al-Qudsiyyah fi Ma'rifati Adab al-Ubudiyyah, Lathā'if al-Minan, al-Mizan al-Kubra (al-A'lam 180/4 az-Zarkali).}
yang membaca al-Futuhāt al-Makiyyah dalam sehari dua setengah kali sebagaimana buku yang lain al-Yawaqit wal Jawahir. Hal ini tidak boleh dipandang aneh dan diingkari. Pasalnya, ia memiliki sejumlah padanan yang bisa mendekatkan kepada pemahaman. Bukankah dalam tidur engkau kadang bermimpi seolah-olah setahun berlalu hanya dalam satu malam; atau bahkan dalam sekejap. Andaikan engkau membaca Alquran sebagai ganti dari apa yang terjadi padamu berikut berbagai ucapan dan perbuatan yang kau saksikan tentu engkau akan mengkhatamkan berkali-kali pada saat itu. Dalam ketersingkapan kondisi tersebut oleh ahli kasyaf di saat terjaga, waktu menjadi terbentang, usia demikian panjang, dan ia mendekati wilayah jiwa yang tidak dibatasi oleh masa. Satu saat atau satu jam kalau dibayangkan memiliki sejumlah ukuran mil yang saling menyatu guna menjadi standar yang menunjukkan tingkat kecepatan gerakan yang terdapat dalam ciptaan Allah.
Terutama, untuk menjelaskan tingkatan kecepatan suara, cahaya, elektrik, imajinasi, cahaya akal, kekuasaan, dan ruh. Satu mil bisa terbilang berjam-jam, bisa beberapa menit, bisa beberapa
detik, dan bakan bisa lebih singkat daripada itu. Hal tersebut dengan tetap memelihara hubungan antar setiap waktu dari hitungan mil pertama hingga yang terakhir. Pada satu jam terdapat putaran satu mil yang mengacu kepada sejumlah waktu yang menunjukkan gerakan terlambat. Andaikan ia seperti putaran jam yang kau miliki, tentu ia merupakan putaran mil yang mengacu kepada seperenampuluh detik yang menunjukkan gerakan tercepat seperti putaran saturnus, bahkan lebih luas. Andaikata seseorang menjalani mil yang berjumlah sekian jam, sementara yang lain menaiki mil yang berjumlah seperenampuluh detik, lihatlah berapa perbedaan antara apa yang mereka lihat dan mereka tempuh. Terlipat bagi yang satunya sesuatu yang terhampar bagi yang lain di mana satu detik bagi yang pertama sama dengan satu tahun bagi yang kedua. Karena gerakan sama seperti fisik zaman atau zaman ibarat warnanya, maka apa yang terjadi di dalam gerakan tersebut juga terjadi dalam zaman. Karena itu sah-sah saja seorang wali yang aspek spiritualnya mengalahkan aspek fisiknya melahirkan sejumlah perbuatan secepat ruh dan hayalan.
Ketahuilah! Kadangkala seseorang sulit menerima hasil yang ada; yaitu tauhid yang murni. Benaknya yang keruh dan hayalannya yang rusak tak bisa menerima. Dengan cepat ia menolak berbagai petunjuknya yang valid dan meyakinkan. Iapun berdalih bahwa hal tersebut tidak mungkin diterima dan dinilai oleh petunjuk yang ada meski sangat kuat. Orang malang itu tidak mengetahui kalau nilai dan ukuran hasilnya berupa iman. Sementara petunjuk dan bukti hanyalah celah dan sarana untuk melihat atau sapu yang membersihkan segala ilusi darinya. Di samping itu, petunjuknya bukan hanya satu. Namun ia sebanyak pasir di padang yang luas, sebanyak kerikil di aliran yang luas, sebanyak tetesan air hujan, dan sebanyak gelombang di lautan.
Ketahuilah! Zat yang menyiapkan semangka dan apel untuk makananmu tentu Lebih mengetahui dengan proses makanmu daripada dirimu. Dia Maha Mengetahui cita rasamu di mana hal itu tidak diketahui oleh orang lain. Bagaimana
mungkin urat dan ranting yang mati mengetahuinya? Sebab dan ranting tidak lain merupakan saluran rahmat dan nikmat Tuhan.
Bagian Kedua
Semerbak Hembusan Petunjuk Alquran
Bismillāhirrahmānirrahīm
Mahasuci Allah! Betapa tipis hijab antara kerajaan dan alam malakut-Nya dan betapa besar jarak antara keduanya! Betapa singkat perjalanan antara dunia dan akhirat serta betapa panjang antara keduanya! Betapa halus hijab antara ilmu dan kebodohan dan betapa tebal! Betapa tipis dinding pemisah antara iman dan kufur serta betapa tebal! Betapa pendek perjalanan antara ibadah dan maksiat padahal antara keduanya sama seperti antara sorga dan neraka. Betapa singkat kehidupan dunia dan betapa panjang angan-angan yang ada!
Sebagaimana antara kemarin dan hari ini terdapat hijab yang halus yang tidak menghalangi ruh untuk melewati dan menembus kemarin dan masa lalu di mana hijab tersebut bagi tubuh sejarak satu tahun atau abadi, demikian pula antara kerajaan dan alam malakut-Nya serta antara dunia dan akhirat. Antara keduanya terdapat hijab tipis dan halus bagi kaum suci dan kalangan spiritual, namun hijab tersebut demikian tebal bagi kaum yang memperturutkan hawa nafsu.
Antara siang dan malammu terdapat dinding pemisah yang halus yang berupa tertutupnya matamu di mana ketika engkau membuka mata dirimu, malammu menjadi sirna berganti menjadi siang. Jika engkau lupa diri lalu terus berada dalam kebutaan, engkau akan terus berada di waktu malam. Nah, demikian pula dengan orang yang melihat karena Allah kepada semua entitas. Semua yang dilihatnya menjadi ilmu pengetahuan. Namun, apabila ia melihat dengan kelalaian dan karena sebab, apa yang dianggap sebagai ilmu berubah menjadi kebodohan semata.
Sebagaimana antara pencahayaan Masjid Aya Sophia dan gelap gulitanya di waktu malam terdapat rentang waktu seukuran gerakan tangan terhadap tombol listrik, lalu jarak antara kemunculan kilat di angkasa dan kondisi padamnya hanya seketika, jarak antara terang dan gelapnya dunia oleh awan hitam serta kepergiannya dari langit akibat hebusan rahmat berlangsung seketika, demikian pula dengan orang yang melihat dengan cahaya iman dan tauhid. Ia melihat alam ini bercahaya, menyenangkan, dan memperlihatkan cinta, sementara seluruh bagian alam merupakan kerabat dan saudara yang hidup dan bersahabat. Namun, apabila ia dilihat dengan kacamata kekufuran seluruh bagian alam menjadi musuh dan orang asing yang mati dan liar. Alam tampak berupa tumpukan kegelapan, sementara ia sendiri berada dalam lautan yang gelap yang diliputi oleh kegelapan di mana di atasnya terdapat ombak yang apabila tangan dikeluarkan nyaris tak terlihat.
Sebagaimana jarak antara dua permukaan cermin lebih halus daripada kertas padahal perbedaan antara keduanya antara Timur dan Barat, lalu bagaimana kondisi kedua permukaan tadi berubah menjadi tersenyum atau bermuka masam kepadamu hanya dengan menggerakkan kedua sisinya, demikian pula dengan perbuatan manusia. Perbuatan manusia memiliki dua sisi. Dengan adanya niat untuk mencari rida Allah, amal tadi berubah dan memperlihatkan wajah ceria yang memantulkan berbagai manifestasi yang jumlahnya tak terhingga. Sebaliknya, dengan ketiadaan niat atau dengan niat untuk selain Allah, yang tampak adalah wajah hitam yang sama sekali tak berguna. Sisi
hitam dan berwarna dari cermin tidak bisa menerima apa-apa. Ia hanya bisa menerima bentuknya yang kecil. Adapun sisi yang bening, karena bersambung dengan barzakh bisa menampung benda yang paling besar sekalipun. Begitulah kehidupan ini. Ia mempunyai dua sisi. Satu sisi mengarah kepada dunia di mana ia berwarna hitam, sempit, dan fana. Satu sisi lagi mengarah kepada kebanaran di mana ia bening, luas, dan kekal. Jiwa yang lalai lantaran menerima bisikan setan memakai sisi yang hitam dan membelakangi sisi yang bening dengan panjang angan-angan.
Ketahuilah! Kunci dunia berada di tangan manusia dan berada dalam dirinya. Meski pintu seluruh entitas terbuka namun keadaannya tertutup.
{(Catatan-245): Yakni, meski pintu-pintunya secara lahiriah terbuka, namun sebenarnya ia tertutup.}
Allah Swt. menitipkan amanat kepada manusia sebagai kunci yang dengannya ia bisa membuka seluruh pintu alam dan sandi untuk membuka perbendaharaan milik Sang Pencipta alam. Kunci tersebut adalah ego yang terdapat dalam dirimu. Hanya saja, ego tersebut juga buta, tertutup, dan terkunci, Apabila engkau membuka ego dengan mengenali esensinya maka seluruh alam menjadi terbuka.
Ya. Allah Swt telah memberikan kepada tangan manusia "ego" untuk menjadikannya sebagai satu standar perkiraan dan asumsi, bukan pengetahuan dan kenyataan, untuk memahami sifat-sifat rububiyah.
Apabila manusia mengetahui ego dirinya dengan melihatnya sebagai satu helai sensitif dalam tali wujud manusia, satu benang halus dalam pakaian esensi manusia, serta huruf alif dalam kitab seseorang, ia memiliki dua sisi: Satu sisi mengarah kepada kebaikan yang dengannya manusia sebagai penerima limpahan karunia ilahi; bukan pelaku. Sisi yang lain mengarah kepada keburukan dan ketiadaan dan dengannya ia sebagai pelaku. Esensinya bersifat ilusi, pemeliharaannya bersifat imajiner, dan eksistensinya sangat lemah tak mampu memikul apapun. Ia seperti termometer atau sejenisnya sebagai alat untuk mengetahui ukuran segala sesuatu. Ego juga merupakan ukuran
untuk mengetahui sifat-sifat yang komperehensif dan mutlak milik Wajibul wujud. Manusia mengetahui esensinya seperti yang telah disebutkan. Iapun tunduk pada naungan ayat, "Sungguh beruntung orang yang telah membersihkannya,"
{(Catatan-246): Q.S. asy-Syams: 9}
serta menunaikan amanat dengan benar.
Apabila engkau memperhatikan ego diri dalam pengertian harfiah, ia menjadi satu wujud yang dengannya engkau bisa memahami dan melihat semua yang terdapat di alam. Pasalnya, apabila berbagai informasi langit datang, ia sampai kepadanya sebagai sesuatu yang membenarkan. Apabila dipahami, maka selesailah tugas ego berikut kekuasaan dan kepemilikannya yang diasumsikan sebelumnya. Maka, ego itupun kembali dari wujud hakiki menuju wujud ilusi. Adapun jika engkau melihat ego diri dalam pengertian sebenarnya lalu engkau meyakininya sebagai pemilik dan menghianati amanah yang ada, berarti engkau masuk ke dalam bagian firman-Nya, "Sungguh merugi orang yang mengotorinya."
{(Catatan-247): Q.S. asy-Syams: 10.}
Pasalnya, amanah yang takut untuk dipikul oleh langit, bumi, dan gunung adalah ego diri dilihat dari sisi ini.
Darinya lahir kemusyrikan, keburukan, dan kesesatan. Apabila ego tersembunyi dari dirimu ia akan menjadi beban berat sehingga menjadi tali yang bisa menelan wujudmu sehingga keseluruhan dirimu menjadi ego. Kemudian ia bertambah besar dengan ego kelompok dan sikap bersandar kepadanya sehingga laksana setan yang menentang perintah Tuhan. Setelah itu, ia mengukur manusia dan sebab kepada dirinya sendiri sehingga terjatuh pada syirik yang besar. Dari sisi ini, andaikan engkau membuka mata dan dan menatap seluruh cakrawala, ia tertutup bagimu lantaran matamu hanya tertuju kepada diri sendiri. Engkau melihat segala sesuatu lewat ego yang terdapat dalam dirimu. Dalam hal ini ia merupakan bentuk kemusyrikan dan pengingkaran. Andaikan cakrawala dipenuhi oleh berbagai tanda kekuasaan yang demikian terang, sementara dalam ego masih terdapat titik hitam, ia akan menutupi semua tanda kekuasaan tadi.
Terdapat sebuah persoalan penting. Yaitu bahwa ego memiliki dua sisi: satu sisi yang dituntun oleh kenabian dan satu sisi lagi dituntun oleh filsafat.
Sisi pertama bersumber dari pengabdian. Esensinya bersifat harfiyah. Wujudnya bersifat asesoris. Kepemilikannya bersifat ilusi. Hakikatnya bersifat asumsi. Sementara tugasnya adalah merubah diri menjadi standar dan ukuran untuk memahami sifat-sifat Sang Pencipta. Demikianlah para nabi melihat ego diri. Mereka menyerahkan seluruh kekuasaan yang ada kepada Allah. Mereka menetapkan tiada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya, dalam pemeliharaan-Nya, dan dalam uluhiyah-Nya. Di tangan-Nya tergenggam kunci perbendaharaan segala sesuatu. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dari sisi yang bening dan hidup ini, Tuhan Yang Maha Penyayang menumbuhkan pohon pengabdian. Ranting-rantingnya yang penuh berkah berbuah di taman alam dalam kondisi mudah untuk dipetik. Buah para nabi, rasul, wali, dan kaum shiddiqin yang cemerlang itu ibarat bintang dalam kegelapan.
Adapun filsafat, ia melihat ego diri dalam pengertian formal; bukan harfiyah, dan dalam wujud asli; bukan asesoris. Mereka menganggapnya sebagai pemilik hakiki. Mereka menganggapnya sebagai hakikat yang permanen. Mereka mengira tugasnya adalah kesempurnaan diri dengan mencintai dirinya sendiri. Dari sini, berbagai bentuk syirik bermunculan. Di atas ego diri pohon zaqqum kesesatan tumbuh. Dari ranting kekuatan hewani, dengan menganggap baik kekuatan zalim di satu sisi ia membuahkan sejumlah berhala yang menyembah dan di sisi lain membuahkan sesuatu yang disembah. Dari ranting kekuatan amarah, ia membuahkan sejumlah Namrud dan Firaun. Dari kekuatan rasional ia membuahkan kalangan materialis dan atheis, serta para filosof yang memberikan satu bagian kepada Tuhan, lalu membagi seluruh kekuasaan-Nya kepada yang lain. Ego diri ibarat hembusan udara dan uap. Namun, lantaran pandangan mereka yang buruk ia menjadi cair, lalu dengan kebiasaan yang ada ia menjadi keras, dengan kelalaian ia menjadi beku, dengan pengingkaran, ia menjadi keruh, dan selanjutnya membesar
hingga menelan pemiliknya. Lalu ia mengukur manusia dan sebab kepada dirinya sehingga menjadi sosok yang menentang perintah Tuhannya. Dari sini sejumlah filosof meyakini pengaruh sebab-akibat, penciptaan oleh alam materi, proses kebetulan, pengingkaran kiamat. Mereka dilaknat oleh Allah. Bagaimana mereka bisa berpaling?!
{(Catatan-248): Q.S. at-Taubah: 30.}
Setan menyambar mereka dengan paruh ego dan cakarnya.
Ego di alam kecil seperti materi di alam besar. Keduanya termasuk toghut.
Siapa yang kufur kepada toghut dan beriman kepada Allah berarti telah berpegang dengan tali buhul yang kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
{(Catatan-249): Q.S. al-Baqarah: 256.}
Ketahuilah! Kehidupan amal saleh adalah dengan niat, sementara kerusakannya adalah dengan penglihatan, sikap riya, dan pamer. Urat kepekaan bisa terputus oleh niat dan perasaan sekunder.
{(Catatan-250): Dasar kepekaan yang merasakan keberadaan diri adalah naluri fitri yang bisa putus oleh perasaan kedua dan niat.}
Apabila niat merupakan kehidupan amal, maka niat di sisi lain juga merupakan kematian kondisi fitri.
Misalnya, niat untuk rendah hati akan merusaknya,
{(Catatan-251): Maksudnya, niat untuk rendah hati dengan cara dibuat-buat dan dengan perasaan sekunder merusak rendah hati alamiah. Demikian pula dengan niat untuk takabbur dengan perasaan sekunder menghilangkan kemuliaan dan harga diri yang bersifat fitri.}
niat takabbur melenyapkannya, niat gembira menerbangkannya, dan niat duka merendahkannya.
Ketahuilah! Semua yang terdapat dalam pohon merupakan hukum kesempurnaan. Ia harus tumbuh di atas benih yang berada di perut buah pohon tersebut. Jika tidak didahului oleh yang lain sebagai pohon alam, ia harus memiliki benih telanjang yang tidak terwujud lewat buah. Lalu, haknya untuk mendapat perhatian azali adalah dengan mengenakan salah satu buah pohon yang menjadi dasar ia tumbuh berkembang. Karena itu,
buah yang berisi benih sudah pasti lebih agung, lebih mulia, lebih halus, dan lebih tinggi. Nah, alam ini merupakan pohon, elemen-elemennya merupakan ranting, tumbuhan merupakan daunnya, hewan adalah bunganya, sementara manusia itulah buahnya.
Buahnya yang paling bercahaya, yang paling bersinar, yang paling utama, yang paling baik, yang paling indah, yang paling agung, yang paling mulia, yang paling halus, yang paling mencakup, dan yang paling bermanfaat adalah Muhammad saw, junjungan seluruh rasul, imam orang bertakwa, dan kekasih Pemelihara alam semesta. Beliau adalah sosok yang dimikrajkan di mana penglihatannya tidak menyimpang. Beliau adalah orang yang bulan terbelah untuknya. Biawak, kadal, serigala, batang pohon, unta, gunung, batu, tanah dan pohon, berbicara dengannya. Air memancar dari jari-jemari beliau seperti telaga al-Kautsar. Beliau adalah manusia terbaik, kumpulan hakikat keimanan, wujud manifestasi kebaikan, tempat turunnya rahasia Tuhan, pemimpin rombongan nabi dan shiddiqin, makhluk terbaik, pembawa panji kemuliaan tertinggi dengan tauhid, pemilik keagungan termulia dengan Islam, saksi rahasia azali, sosok yang menyaksikan cahaya pendahulu, sumber ilmu dan hikmah, pewujud tingkat pengabdian tertinggi, pengusung akhlak kedudukan mulia, serta kekasih agung dan mulia. Semoga salawat dan salam, penghormatan paling suci, dan keberkahan paling mulia tercurah kepada beliau sepanjang keberadaan langit dan bumi.
Raihlah tanganku wahai junjungan para rasul.
Engkaulah harapan wahai cahaya kemurahan Allah yang terang
Aku hanya bernisbah kepadamu wahai junjunganku.
Dalilku adalah tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.
Tuhanku, aku ingin dan berharap memiliki ribuan lisan yang beristigfar sebagai ganti dariku hingga hari kiamat. Wujudkanlah wahai Tuhan! Salinlah risalahku pada tahun ini untukku seraya meminta ampunan dan mengirimkan salawat kepada Nabi saw sebagai ganti dariku sepanjang pena dan tulisannya
masih ada.
Wahai Tuhanku, dosa telah membuatku bisu. Banyaknya maksiat telah membuatku malu. Hebatnya kelalaian telah melemahkan suaraku. Karena itu, kuketuk pintu rahmat-Mu sambil menyeru di depan pintu ampunan-Mu dengan suara junjunganku dan peganganku, Syeikh Abdul Qadir al-Jilani. Semoga Allah menyucikan jiwa dan seruannya yang mustajab dan disenangi oleh penjaga pintu.
Wahai Zat yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu, wahai Zat yang di tangan-Nya tergenggam kerajaan segala sesuatu, wahai Zat yang tidak bisa ditimpa bahaya dan diberi manfaat oleh siapapun, yang tidak bisa dikalahkan, yang tiada yang tersembunyi dari-Nya, Zat yang tidak membutuhkan pertolongan siapapun, tidak disibukkan oleh sesuatu dari yang lain, yang tidak diserupai oleh apapun, serta tidak dilemahkan oleh siapapun, ampunilah diriku dalam segala hal sehingga Engkau tidak menuntutku dari sesuatu. Wahai Zat yang menggenggam ubun-ubun segala sesuatu, yang di tangan-Nya tergenggam kunci segala sesuatu. Wahai Zat yang Pertama sebelum segala sesuatu ada, Yang terakhir sesudah segala sesuatu berakhir, Yang Maha Terlihat di atas segala sesuatu, Yang Maha Tersembunyi di balik segala sesuatu, Yang Maha Memaksa atas segala sesuatu, ampunilah diriku! Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, Meliputi segala sesuatu, Melihat segala sesuatu, Menyaksikan segala sesuatu, mengamati segala sesuatu, Mahahalus terhadap segala sesuatu, Maha Mengetahui segala sesuatu, ampunilah segala dosa dan kesalahanku sehingga Engkau tidak menuntutku dari sesuatu. Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
Ya Allah, aku memohon dengan kemuliaan kebesaran-Mu dan kebesaran kemuliaan-Mu, dengan qudrat kekuasaan-Mu dan kekuasaan qudrat-Mu, dari hubungan yang terputus dan dari hawa nafsu yang tercela. Wahai Pelindung orang-orang yang meminta perlindungan, lindungi aku dari syahwat setan, sucikan aku dari kekotoran jiwa manusia, muliakan aku dengan mencintai Nabi-Mu Muhammad saw dengan cinta yang jujur, jauh dari noda
kelalaian dan ilusi kebodohan sehingga seluruh ego lenyap dan semuanya hanya untuk Allah, dengan Allah, kepada Allah, dan dari Allah, tenggelam dalam nikmat Allah, dalam lautan karunia Allah, ditolong oleh pedang Allah, mendapatkan perhatian Allah, terlindungi dengan perlindungan Allah, dari segala yang melalaikan dari Allah. Wahai Cahaya segala cahaya, wahai Yang Mengetahui segala rahasia, wahai Yang Mengatur malam dan siang, Wahai Yang Maha Perkasa, wahai Yang Mahagagah, wahai Yang Maha Penyayang, Wahai Yang Mahakasih, wahai Yang Maha Pemaaf, wahai Yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi, wahai Yang Membolak-balik hati dan mata, wahai Yang Maha Menutup aib, wahai Yang Maha Mengampuni dosa, ampunilah dosaku. Kasihilah orang yang terhimpit oleh berbagai sebab, tertutup dari semua pintu, dan kesulitan meniti jalan yang benar. Sementara hari-hari dan jiwanya jatuh ke dalam kubangan kelalaian, maksiat, dan perbuatan tercela. Wahai Zat yang jika diseru menjawab, wahai Zat yang cepat memberikan hisab, wahai Yang Maha Pemurah, wahai Yang Maha Memberi, kasihi orang yang sakitnya demikian parah, sulit sembuh, tak bisa berbuat apa-apa, banyak mendapat cobaan, sementara hanya Engkau yang menjadi tumpuan harapannya.
Wahai Tuhan, kepada-Mu kuadukan kerisauanku, kesedihanku, dan segala keluhanku. Wahai Tuhan, hujjahku adalah kebutuhanku, bekalku adalah kelemahanku dan akhir upayaku. Wahai Tuhan, satu tetes dari lautan kedermawan-Mu sudah cukup bagi-Ku. Satu butir dari limpahan maafmu sangat memadai untukku. Wahai Yang Mahakasih, wahai Yang Mahakasih, wahai Yang Mahakasih, wahai Pemilik Arasy yang agung. Wahai Yang Maha Memulai dan Mengembalikan. Wahai Yang Maha Berbuat terhadap apa yang Dia kehendaki. Aku meminta kepada-Mu lewat cahaya wajah-Mu yang memenuhi pilar-pilar Arasymu, dengan qudrat-Mu yang dengannya Engkau menetapkan ketentuan semua makhluk, serta dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu. Tiada Tuhan selain Engkau. Wahai Yang Maha Menolong, tolonglah aku dan ampuni semua dosa dan ketergelinciran lidahku sepanjang hayat dengan rahmat-Mu wahai
Yang Maha Penyayang.
Amin, Amin, Amin.
Wahai yang membaca istigfar pertama-tama untuk dirimu, bacakanlah ia pula untukku di jalan Allah. Aku tinggal di alam kubur dan lisanku diam. Aku hanya bisa bertutur lewat bukuku dengan meminjam lisanmu. Karena itu, bertuturlah untukku pula kepada Allah.
Said Nursi