PERIODE AWAL
BAGIAN PERTAMA
Badiuzzaman Said Nursi lahir pada tahun 1293 Rumi(*1), di desa Nurs, Kecamatan Isparit, Kota Hizan, Provinsi Bitlis. Nama ayahnya Mirza dan nama ibunya Nuriye.
Hidup di bawah pengasuhan kedua orang tuanya hingga mencapai usia sembilan tahun. Dalam usia itu, kondisi rohani mendorong dirinya untuk merenungkan kondisi kakaknya Mulla Abdullah yang memutuskan untuk menggunakan seluruh waktunya untuk memperoleh ilmu dan menjadikannya sebagai bekal hidupnya. Setiap kali Said Muda ini membandingkan antara kakaknya yang mulai meningkat ilmunya dan rekan-rekan sebayanya di kampung yang buta huruf, Said Muda ini pun merasakan kekaguman terhadap kakaknya.
Maka memperoleh ilmu menjadi pusat perhatiannya dan ia pun mulai mencarinya dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat. Untuk tujuan ini Said Muda pergi ke madrasah Syekh Muhammad Amin Afandi di desa Tag yang terletak di wilayah Isparit, hanya saja ia tidak dapat tinggal lama. Sesuai tabiat fitrinya, Said Muda sangat menjaga kehormatannya sehingga ia tidak dapat menerima perintah apa pun yang didiktekan kepadanya(*2).Maka ia pun meninggalkan madrasah tersebut dan tak lama setelah itu kembali ke Nurs. Karena ketika itu tidak ada satupun madrasah di desa Nurs, maka ia mendapat pelajaran secara privat dari kakaknya yang pulang ke desanya untuk bersilaturahim sekali dalam seminggu.
Tidak lama setelah itu, Said Muda pergi ke desa Pirmis lalu berkunjung ke kediaman Syekh Hizan yang terletak di dataran tinggi. Demi mempertahankan harga dirinya, pada suatu hari Said Muda berselisih dengan empat orang murid di tempat itu. Keempat murid tersebut secara berkelompok mendatanginya dan terus menerus mengganggunya hingga satu hari ia pergi ke Syekh Sayid Nur Muhammad.
Ia berkata tanpa memperlihatkan kelemahan dirinya atau mengadu, “Syekh, katakan kepada murid-murid itu jika mereka ingin berkelahi denganku agar datang kepadaku dua orang dua orang, jangan empat orang secara bersamaan”.
Syekh tersebut merasa kagum terhadap kekesatriaan Said Muda ini, dan berkata,
“Engkau adalah muridku, setelah ini tak seorang pun akan mengganggumu”.
Maka setelah itu, Said Muda ini dikenal dengan sebutan “Murid Syekh”. Mulla Said tinggal di tempat itu beberapa lama, kemudian pergi ditemani saudaranya Mulla Abdullah ke desa Nursyin. Waktu itu sedang musim panas. Bersama masyarakat dan murid-murid yang lain, Said Muda ini pergi menuju dataran tinggi Syaikhan. Di tempat ini pada suatu ketika Said Muda bertengkar dengan saudaranya Mulla Abdullah.
Muhammad Amin Afandi, guru di madrasah Tag, melerainya sambil berkata, “Mengapa engkau menentang perintah saudaramu?”.
Madrasah tempat belajar Mulla Said Muda ini adalah milik Syekh Abdurrahman. Mulla Said Muda menjawab pertanyaan gurunya, Muhammad Amin Afandi,
“Tuanku, melihat keberadaan kita di madrasah ini, maka Anda juga murid sepertiku dan dalam kondisi seperti ini Anda tidak berhak mendapat kedudukan sebagai guru”. Setelah itu, Mulla Said langsung meninggalkan madrasah tersebut menuju Nursyin.
Perjalanan dilakukan pada malam hari dengan melewati hutan lebat yang sulit dilalui oleh orang-orang kuat sekalipun pada siang hari.Peraturan yang berlaku ketika mendirikan madrasah di bagian timur Anatolia adalah Seorang ulama yang berijazah membuka madrasah di sebuah desa yang dia pilih, lalu ia mengajar di sekolah tersebut tanpa memungut biaya, semata-mata mencari keridaan Allah I. Jika ia mampu, mencukupi kebutuhan sekolah murid-muridnya, dan jika tidak mampu maka masyarakat yang menanggung pembiayaan seluruh keperluan murid dan keperluan hidup mereka. Mulla Said adalah satu-satunya murid yang tidak mengambil zakat dalam bentuk apapun dan sama sekali tidak menerima bantuan siapapun(*3).Setelah tinggal beberapa lama di Nursyin, Mulla Said kembali ke Hizan,
kemudian menyertai ayahnya, dan meninggalkan kehidupan madrasah. Mulla Said tinggal bersama ayahnya sampai musim semi tiba.
Ketika itu Mulla Said bermimpi bahwa kiamat telah terjadi, para makhluk dibangkitkan, dan pada saat itu ia berpikir, bagaimana dirinya dapat bertemu dengan Nabi Muhammad, hingga terlintas dalam benaknya untuk pergi ke jembatan “ash-shirath” dan ia berdiri di bagian depan. Ia berkata pada dirinya, “Semua orang akan lewat sana dan di sana aku akan menunggu”. Ia pun pergi dan mendapat kehormatan melihat para nabi satu per satu, sehingga berhasil bertemu dengan Nabi Muhammad , kemudian ia pun tersadar dari mimpinya.
Mimpinya ini telah membangkitkan semangat yang mengge bugebu dalam diri Mulla Said untuk memperoleh ilmu(*4), maka ia pamit kepada ayahnya dan pergi menuju desa Arwas untuk mencari ilmu, tetapi guru yang terkenal di sana, Mulla Muhammad Amin Afandi, merasa dirinya terlalu tinggi untuk mengajari Mulla Said sehingga ia menugasi salah seorang muridnya untuk mengajari Mulla Said. Mendapat perlakuan seperti itu Mulla Said tentu tidak menerimanya. Ketika guru yang terkenal ini sedang memberi pelajaran di masjid, Mulla Said menginterupsi pelajaran yang tengah disampaikan.
Ia berkata, “Masalahnya bukan seperti yang Anda sampaikan, Tuanku”.
Kemudian Mulla Said mengingatkannya bahwa Mulla Muhammad Afandi merasa terlalu tinggi untuk mengajarinya.Setelah tinggal beberapa lama di sana, Mulla Said pergi ke madrasah Mir Hasan Wali. Ia dapatkan madrasah tersebut tidak memerhatikan murid baru, lalu ia memutuskan untuk belajar mulai dari buku kedelapan yang menjadi buku pegangan di madrasah tersebut, tanpa mempelajari buku ketujuh yang harus dipelajari sebelumnya.
Beberapa hari setelah itu, Mulla Said pergi ke kecamatan Wastan untuk mencari suasana baru. Sebelum sampai sebulan tinggal di kecamatan tersebut, dengan ditemani seseorang yang bernama Mulla Muhammad, Mulla Said pergi ke kota Bayazid bagian dari wilayah Erzurum.
Di sinilah pencarian ilmu sejati bermula, karena hingga waktu itu Mulla Said sibuk mempelajari ilmu Nahwu dan Sharaf hingga sampai pada matan al-Idzhar(*5).Selama tiga bulan Mulla Said dengan serius belajar dibawah bimbingan Syekh Muhammad al-Jalali di Bayazid. Dengan cara belajarnya yang unik, Mulla Said telah berhasil menyelesaikan seluruh buku pegangan yang diajarkan di bagian timur Anatolia, dimulai dari Mulla Jami(*6)sampai akhir buku pegangan. Mulla Said mempelajari dari setiap buku satu atau dua pelajaran, dan paling banyak sepuluh pelajaran lalu meninggalkan sisanya. Ketika gurunya, Syekh Muhammad al-Jalali menanyakan tentang hal itu, Mulla Said menjawab,
“Saya tidak sanggup membaca tum pukan buku ini untuk saya kuasai isinya semuanya. Buku-buku itu seperti kotak perhiasan yang kuncinya berada di tangan Anda dan saya berharap kepada Anda untuk menjelaskan kepada saya apa yang terdapat dalam kotak tersebut, yaitu agar saya mengetahui apa yang dibahas buku-buku ini sehingga saya dapat mempelajarinya sesuai dengan karakterku”.
Tujuan dari jawabannya ini adalah memperlihatkan gagasan kreatif dan inovatif serta pembaruan yang terdapat dalam dirinya secara fitrah dan memasukkannya ke dalam metode pembelajaran sekolah-sekolah yang tersebar luas ketika itu(*7), dan tidak membuang waktu dengan menelaah syarah dan catatan kaki. Juga dengan metode belajar seperti ini, Mulla Said dapat menyelesaikan perolehan ilmu pengetahuan dan memperoleh intisarinya dalam tiga bulan yang jika
menggunakan peraturan yang berlaku diperlukan waktu dua puluh tahun.Sang guru bertanya kepada Mulla Said, “Ilmu apa yang sesuai dengan karaktermu?”
“Saya tidak mungkin memilah-milah ilmu ini, tetapi mengetahui semua atau tidak mengetahui sedikit pun darinya”, jawab Mulla Said.
Mulla Said membaca buku apa saja yang ada di hadapannya dan memahaminya. Setiap hari, Mulla Said membaca sekaligus memahami dan menguasainya secara autodidak dua ratus halaman dari sebuah buku seperti Jam`u al-Jawami(*8), Syarah al-Mawaqif(*9), dan Tuhfah al-Minhaj(*10). Mulla Said menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu sampai-sampai tidak pernah berkecimpung dengan kehidupan sosial. Hasilnya, ketika beliau ditanya, dengan serta merta menjawab semua pertanyaan dalam berbagai bidang ilmu tanpa ragu.
* * *
SEKILAS TENTANG MULLA SAID PADA PERIODE AWAL KEHIDUPAN SAID NURSI
Pertama:Mulla Said mengikuti jalan yang biasa ditempuh para penganut filsafat Isyraqiyyun. Ia mulai hidup zuhud dan riyadhah dengan harapan dapat mencapai keadaan para penganut filsafat tersebut. Mereka berpendapat bahwa riyadhah dapat menjernihkan pikiran, hanya saja mereka membiasakan tubuh mereka dalam riyadhah ini secara bertahap, sementara Mulla Said bersungguh-sungguh dalam riyadhah tanpa pemanasan terlebih dahulu atau tanpa mengindahkan tahapan-tahapan yang harus dilalui. Ia makan sepotong roti untuk tiga hari sehingga tubuhnya tidak tahan yang akhirnya lemah dan kurus.
Kedua:Mulla Said berpedoman pada kaidah, دَع۟ مَا يُرٖيبُكَ اِلٰى مَالَا يُرٖيبُكَ ‘Tinggalkan yang meragukanmu dan kerjakan yang tidak meragukanmu’(*11) , yang dijadikan pedoman oleh pengikut tasawuf seperti yang dijelaskan oleh Imam Ghazali dalam karyanya al-Ihya, sehingga Mulla berpantang dari semua makanan sekalipun itu roti dan ia hanya makan tumbuhan selama beberapa lama.
Ketiga: Mulla Said selalu membisu, berbicara hanya sekali-kali. Ia menyendiri di kuburan Mulla Ahmad al-Khani, salah seorang sastrawan Kurdi terkemuka(*12).Ia memasuki tempat itu pada malam hari, padahal pada siang hari pun suasananya cukup angker. Orangorang lalu menyimpulkan bahwa hal itu merupakan karamah Syekh, dan mereka mengatakan bahwa hal itu merupakan limpahan berkah Mulla Ahmad al-Khani.
Ini terjadi ketika usia Mulla Said antara ketiga belas dan empat belas tahun. Kemudian ia bertekad untuk menemui para ulama senior. Ia pun meminta izin kepada gurunya untuk pergi ke Bagdad. Dengan mengenakan pakaian darwis, ia menuju kota Bagdad, pada malam hari. Ia tidak meniti jalan pada umumnya, namun berkeliling di pegunungan dan hutan yang lebat sehingga sampai ke Bitlis, padahal niatnya menuju Bagdad. Di Bitlis ia mengunjungi Syekh Muhammad Amin Afandi dan menghadiri pelajarannya selama dua hari. Syekh Muhammad Amin Afandi meminta dirinya agar menanggalkan pakaian darwis dan mengenakan pakaian ulama.
Mulla Said tidak memenuhi permintaan gurunya itu dan berkata kepada sang guru, “Saya belum mencapai usia akil balig sehingga tidak pantas untuk mengenakan pakaian ulama yang terhormat itu. Bagaimana saya menjadi seorang ulama padahal saya masih kecil?”.
Kemudian Mulla Said menuju Syirwan, tempat di mana kakaknya Mulla Abdullah berdomisili. Di antara dialog yang berlangsung antara kedua bersaudara ini pada awal pertemuannya,
sang kakak berkata, “Setelah pertemuan terakhir, saya telah menyelesaikan buku Syarah al-Syamsiyyah(*13), lalu apa yang kamu pelajari?”.
“Saya telah mempelajari delapan puluh buku”, ujar Badiuzzaman.
“Maksudmu?”, tanya Mulla Abdullah.
“Saya telah selesai mempelajari semua buku wajib dan telah mempelajari banyak buku yang tidak engkau pelajari”.
Kalau begitu saya akan mengujimu”, ujar Mulla Abdullah.
Saya siap. Ajukan pertanyaan sesukamu”, tantang Mulla Said, Badiuzzaman.
Lalu Mulla Abdullah itu pun menguji sang adik. Mulla Abdullah mendapatkan bahwa adiknya telah memperoleh kompetensi ilmiah yang mendorong dirinya untuk menjadikan sang adik ini sebagai gurunya, padahal delapan bulan yang lalu sang adik ini adalah muridnya. Mulla Abdullah pun mulai belajar kepada adiknya di tempat yang jauh dari pandangan murid-muridnya. Dia merahasiakan dirinya berguru pada Mulla Said yang sebelumnya sebagai muridnya. Pada suatu hari para murid mengintip Mulla Abdullah sedang duduk belajar kepada adiknya. Para murid menanyakan hal itu dengan rasa kagum. Khawatir sang adik menjadi sakit akibat pandangan dengki para murid, Mulla Abdullah berkilah dan mengatakan, “Saya kok yang mengajarinya”.
Setelah tinggal bersama kakaknya, Mulla Said pergi ke Siirt(*14), tempat di mana madrasah Mulla Fathullah Afandi berada. Mulla Fathullah Afandi bertanya kepada Mulla Said,
“Tahun lalu kamu mempelajari buku as-Suyuthi(*15), apakah tahun ini kamu sedang mempelajari buku Mulla Jami?”.
Mulla Said menjawab, “tidak, tetapi saya telah selesai mempelajarinya”.
Setiap kali Mulla Fathullah bertanya tentang sebuah buku, Mulla Said selalu mengatakan, “Saya telah selesai mempelajarinya”. Mulla Fathullah pun merasa kagum terhadap Mulla Said yang telah menyelesaikan banyak buku dalam waktu singkat dan iapun tidak dapat menahan kekagumannya itu dan berkata,
“Tahun lalu kamu seorang yang “gila”, Apakah sekarang kamu masih “gila”?”.
“Terkadang seseorang menyembunyikan sebuah hakikat dari orang lain sebagai rahasia untuk dirinya, tetapi di hadapan gurunya yang kedudukannya lebih tinggi dari ayahnya, ia tidak dapat berbuat selain mengatakan kebenaran yang murni. Maka jika Anda ingin, silakan uji saya tentang buku-buku tersebut”, Jawab Mulla Said.
Setiap kali Mulla Fathullah mengajukan pertanyaan, Mulla Said selalu menjawabnya dengan baik.
Oleh karena itu, Syekh yang dikenal dengan nama Mulla Ali Shuran yang tahun lalu adalah salah seorang guru Mulla Said, langsung belajar kepada mantan muridnya setelah dialog ini.
“Kecerdasanmu itu luar biasa, bagaimana dengan hafalanmu?”, tanya Mulla Fathullah. Lalu ia memberikan buku Maqamat al-Hariri sambil berkata, “Apakah kamu dapat menghafal beberapa baris dengan sekadar membacanya dua kali saja?”.
Mulla Said mengambil buku tersebut dan membaca satu halaman sekali dan langsung menghafalnya di luar kepala, kemudian ia menuturkannya dengan lancar.
Dengan terkagum-kagum, Mulla Fathullah mengatakan, “Jarang sekali terkumpulnya tingkat kecerdasan dan daya hafal yang luar biasa pada diri seseorang.”
Ketika Mulla Said tinggal di sana, beliau menghafal buku jam`a al-Jawami` dalam kurun waktu seminggu dengan cara membaca satu atau dua jam dalam sehari. Oleh sebab itu, Mulla Fathullah mengatakan sebuah ungkapan sebagai berikut
‘Ia telah menghimpun seluruh buku Jam`u al-Jawâmi` dalam hafalannya dalam satu Jumat (pekan)’. Ucapannya itu ia tulis pada halaman depan buku.
Kehebatan Mulla Said tersebar di seantero Siirt. Mulla Fathullah menyanjung-nyanjung Mulla Said di hadapan para ulama. Ia berkata, “Madrasah kita telah kedatangan seorang remaja yang sangat mengagumkan karena kecerdasan, ilmu dan keutamaannya dalam usianya yang masih muda. Setiap kali saya melontarkan pertanyaan, ia langsung menjawabnya tanpa ditunda-tunda”. Para ulama itu pun mengundang Mulla Said pada pertemuan yang dihadiri oleh seluruh ulama. Mereka melontarkan pertanyaan yang dijawab oleh Mulla Said tanpa ragu. Ketika Mulla Said menjawab setiap pertanyaan, ia memandang wajah Mulla Fathullah dan menuturkan jawaban seakan-akan ia sedang membaca buku. Para ulama itu pun mengakui keutamaan Mulla Said. Mereka memujinya dan menyebutnya sebagai remaja luar biasa. Kehebatan Mulla Said tersebar ke berbagai daerah. Orang-orang pun menghormati dan memandangnya sebagai salah seorang wali Allah.
Hal ini memicu rasa iri dengki di kalangan ulama dan murid yang tingkat kecerdasannya di bawah Mulla Said, sehingga beberapa pemuda yang iri ini, ketika mereka tidak mampu mengalahkan Mulla Said dengan ilmu, mereka berupaya mengalahkannya dengan kekuatan. Mereka berencana untuk mencederai Mulla Said. Setelah penduduk Siirt mengetahui niat busuk para pemuda tersebut, mereka bersiaga untuk menyelamatkan Mulla Said, mengingat kedudukannya yang mulia bagi mereka. Penduduk Siirt melindungi Mulla Said dari orang-orang yang memusuhinya dan menempatkannya dalam sebuah rumah. Namun, kecintaan Mulla Said terhadap ilmu dan para ulama, serta agar mereka tidak menjadi sasaran orang-orang awam, Mulla Said pun akhirnya keluar rumah, menemui para murid remaja yang ingin mencederainya tanpa memedulikan bahwa tindakannya itu sangat membahayakan dirinya.
Mulla Said berkata, “Kalian boleh membunuh saya, tetapi jagalah kehormatan dan kedudukan ilmu”.Mulla Said memalingkan muka dari para pemuda yang hendak mencederainya itu sehingga mereka dapat dengan mudah menyerangnya, namun tak seorang pun yang maju. Perselisihan pun berakhir. Penguasa wilayah setempat mengirim polisi untuk mengamankan Mulla Said dan mengasingkan para pemuda pengganggu tersebut.
Polisi meminta Mulla Said untuk pergi bersama mereka menuju kediaman penguasa wilayah agar berada dalam perlindungannya. Mulla Said berkata kepada polisi, “Kami ini para pencari ilmu. Kami biasa saling bertikai tapi kemudian kami saling memaafkan. Orang yang berada di luar profesi kami tidak boleh ikut campur. Dalam hal ini memang sayalah yang salah”.
Peristiwa ini terjadi ketika Mulla Said berusia antara lima belas dan enam belas tahun, namun ia sigap dengan tubuhnya yang kuat. Ketika itu ia dikenal dengan nama “Said masyhur”. Di Siirt telah diumumkan bahwa Mulla Said bersedia menghadapi siapapun yang ingin berdebat dengannya dan menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan kepadanya tanpa bertanya kepada siapapun.
Mulla Said pergi ke Bitlis untuk kedua kalinya. Ia mendengar adanya perselisihan antara dua Syekh yang masing-masing memiliki Madrasah dan murid. Mulla Said berupaya melerai. Ia mengingatkan kepada mereka bahwa perkataan yang berakibat buruk, khususnya gibah tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Orang-orang mengadukan Mulla Said kepada Syekh Amin Afandi yang kemudian ia berkata, “Ia masih kecil, tidak perlu dihiraukan”.
Ketika ucapan ini sampai kepada Mulla Said yang secara fitrah tidak dapat menahan diri dari perkataan seperti itu, kemudian Ia mendatangi Syekh Amin Afandi, mencium tangannya dan berkata,
“Ujilah saya, Tuanku. Saya ingin membuktikan bahwa saya layak untuk didengar”.
Syekh Amin Afandi menyiapkan enam belas pertanyaan tentang masalah-masalah yang paling rumit dalam berbagai ilmu. Semua pertanyaan dapat dijawab. Setelah itu Mulla Said pergi ke masjid Quraisy. Ia berceramah di masjid itu, memberi nasihat kepada jamaahnya. Setelah itu penduduk Bitlis terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok mendukung Mulla Said dan kelompok lain mendukung Syekh Amin Afandi.
Penguasa Bitlis khawatir akan timbul kekacauan di kotanya sehingga ia memerintahkan untuk mengasingkan Mulla Said dan ia pun akhirnya pergi menuju Syirwan. Orang yang mempunyai kedudukan dan kelebihan seperti ini tidak heran jika banyak orang yang menantangnya. Khususnya, sebagian ustadz yang terkalahkan oleh Mulla Said dalam debat ilmiah berusaha keras menjatuhkan nama baik Mulla Said di hadapan masyarakat luas. Mereka memata-matai gerak-gerik Mulla Said. Pada suatu hari, karena suatu sebab, Mulla Said ketinggalan salat Subuh. Begitu musuh-musuhnya mengetahui, langsung menyebarluaskan ke seluruh penduduk bahwa Mulla Said telah meninggalkan salat.Mulla Said ditanya,
“Mengapa semua orang membicarakan hal ini?”.
Mulla Said:
“Memang, suatu masalah tidak akan tersebar luas di kalangan orang-orang secepat ini kalau tidak ada sebabnya. Saya telah melakukan kesalahan, maka dua hukuman datang, salah satunya teguran Allah , dan yang kedua, pergunjingan orang-orang tentang diriku. Sebab utama dari ini semua adalah karena saya meninggalkan wirid mulia yang selalu saya baca setiap malam. Ruh masyarakat luas telah merasakan kenyataan ini, hanya saja mereka tidak mengetahui secara sempurna dan tidak mengetahui permasalahannya, makanya mereka menamakan kesalahan tersebut dari aspek ini”. Demikian penjelasan Mulla Said.
Selama berdomisili di Syirwan,
seorang lelaki dari desa yang berdekatan dengan Siirt datang kepada Mulla Said dan berkata, “Seorang remaja yang usianya belum genap lima belas tahun datang ke Siirt dan remaja tersebut mampu mematahkan semua argumentasi semua ulama kota tersebut.
Saya datang ke sini untuk mengundang Anda guna berdebat dengan pemuda tersebut dan mematahkan argumentasinya”. Mulla Said memenuhi undangan lelaki tersebut dan langsung bersiap-siap untuk pergi bersama lelaki tersebut. Kemudian mereka berdua berangkat menuju Siirt. Setelah dua jam perjalanan, Mulla Said bertanya kepada lelaki tersebut tentang ciri-ciri dan pakaian ulama yang masih remaja tersebut.
“Saya tidak tahu namanya, Tuan, hanya saja ketika datang untuk pertama kalinya, ia mengenakan pakaian darwis. Di atas kedua pundaknya ia letakkan kantung yang terbuat dari kulit domba. Beberapa saat kemudian ia mengenakan pakaian santri. Dalam perdebatan, pemuda alim tersebut dapat mematahkan argumentasi semua ulama”, ujar lelaki dari Siirt itu.
Setelah mendengar penjelasan tersebut, Mulla Said sadar bahwa yang dimaksud adalah dirinya sendiri. Mulla Said sadar bahwa berita kedatangannya ke Siirt setahun yang lalu telah menyebar ke desa-desa tetangga. Mulla Said akhirnya mengurungkan undangan lelaki tersebut dan kembali ke tempat semula.
Beberapa lama kemudian, Mulla Said pergi ke desa Tillo, bagian dari wilayah Siirt. Di desa tersebut, Mulla Said menyepi di sebuah makam kuburan yang terkenal. Yang mengherankan adalah bahwa selama menyepi itu, Mulla Said dapat menghafalkan kamus al-Muhith, dari lembar pertama hingga Bab Siin.
Ketika ada yang bertanya tentang hal itu, Mulla Said menjawab, “Kamus ditulis untuk menjelaskan makna kata dan saya ingin menulis kamus yang menjelaskan sebuah makna dengan beragam kata” Selama menyepi di tempat tersebut, Muhammad, adik kandung Mulla Said datang membawa makanan untuknya. Biji-bijian yang ada dalam makanannya itu, Mulla Said tebarkan ke semut. Untuk dirinya, ia cukup dengan mencelupkan roti ke dalam kuah.
Ketika ditanya “Mengapa Anda memberikan biji-bijian kepada semut?”,
Mulla Said menjawab, “Saya telah menyaksikan semut itu berkomitmen terhadap disiplin kehidupan sosial. Mereka bersungguh-sungguh dalam bekerja dan selalu dalam keadaan seperti itu yang sangat mengagumkan. Saya ingin membantu mereka sebagai penghargaan atas kecintaan mereka terhadap sistem republik”(*16).
Pada suatu malam, Mulla Said bermimpi bertemu dengan Syekh Abdul Qadir al-Jailani(*17)yang berbicara kepadanya,
“Pergilah ke Mustafa Pasha, kepala suku Miran. Ajaklah ia ke jalan yang benar. Perintahkan agar berhenti dari kezalimannya. Nasihatilah agar rajin salat dan beramar makruf. Jika ia tidak mendengar perkataanmu, bunuhlah ia”(*18)
Begitu bangun, Mulla Said langsung bersiap-siap berangkat dari Tillo menuju ke pemukiman suku Miran sehingga sampai ke tenda Mustafa Pasha. Ketika Mulla Said memasukinya, Mustafa Pasha tidak ada di tempat. Mulla Said duduk beristirahat dalam tenda tersebut sehingga seorang lelaki datang dan memasuki tenda. Semua yang ada dalam tenda berdiri kecuali Mulla Said, ia tetap duduk. Sikapnya ini menarik perhatian Mustafa Pasha dan ia menoleh kepada Fattah Bey, salah seorang pembesar suku dan menanyakan tentang diri Mulla Said. Fattah Bey mengatakan bahwa orang yang ditanyakan itu adalah Mulla Said yang sangat terkenal. Mendengar penjelasan itu Mustafa Pasha merasa kesal karena memang dirinya tidak senang dengan ulama. Mustafa Pasha menyembunyikan kekesalannya dan berkata kepada Mulla Said, “Apa keperluanmu datang ke sini?”.
“Saya datang untuk mengajakmu ke jalan yang benar. Pilihannya adalah, Anda berhenti berbuat zalim, mendirikan salat atau saya bunuh Anda”, ucap Mulla Said.Mustafa Pasha keluar dari tenda dengan amarah yang membara. Beberapa saat berjalan mengelilingi tenda, kemudian untuk kedua kalinya bertanya kepada Mulla Said:“Untuk apa Anda datang ke sini?”.
“Bukankah sudah saya katakan, saya datang untuk apa yang telah saya katakan tadi”, ujar Mulla Said. Mustafa Pasha menunjuk pedang Mulla Said yang digantung pada tiang tenda sambil berkata,
“Apakah dengan pedang yang tumpul ini?”.
Mulla Said:
“Yang akan memotong adalah tangan, bukannya pedang”, sahut
Untuk kedua kalinya Mustafa Pasha keluar dari tendanya, berkeliling sebentar, kemudian kembali dan berkata,
“Di Jazirah(*19)saya memiliki banyak ulama. Jika Anda dapat berdebat dengan mereka dan mematahkan argumentasi mereka, saya akan memenuhi ajakanmu dan jika tidak, saya akan melemparkanmu ke sungai Efrat”.
Molla Said:
“Sebagaimana mematahkan argumentasi semua ulama bukan pekerjaanku, maka Anda tidak berhak melemparkanku ke sungai. Jika saya berhasil menjawab pertanyaan mereka, saya minta kepada Anda untuk memberiku senapan. Jika Anda tidak menepati janji, saya akan membunuh Anda dengan senapan tersebut”, ucap Mulla Said.
Setelah perdebatan ini, dengan menunggang kuda keduanya pergi menuju Jazirah. Sepanjang perjalanan Mustafa Pasha tidak mengeluarkan sepatah kata pun sehingga mampir di tempat istira�hat yang disebut Bani Khani. Mulla Said berbaring karena kelelahan dan tertidur. Ketika bangun, ia dapatkan di sekelilingnya para ulama Jazirah tengah duduk sambil memegang buku, menanti Mulla Said dengan penuh perhatian. Setelah dilakukan penyambutan dan perkenalan, cangkir cangkir teh diedarkan kepada hadirin. Karena Para ulama jazirah telah mendengar popularitas Mulla Said, mereka menantikan pertanyaan-pertanyaan Mulla Said dalam keadaan heran dan bingung sampai-sampai lupa minum teh. Sementara itu Mulla Said meminum teh yang ada di cangkirnya sendiri dan beberapa cangkir para ulama yang tidak disadari oleh mereka. Ketika itu Mustafa Pasha berkata kepada para ulama,
“Saya bukanlah orang yang terpelajar, tetapi sejak sekarang saya mengetahui bahwa kalian semua terkalahkan dalam berdebat dengannya. Saya lihat kalian sibuk berpikir hingga kalian lupa minum teh, sementara Mulla Said telah minum tehnya sendiri dan teh sebagian dari kalian”.
Setelah berdialog dan bercanda dengan para ulama tersebut, Mulla Said berkata,
Tuan-tuan sekalian, saya telah berjanji pada diri sendiri untuk tidak bertanya kepada siapapun. Sekarang saya menunggu pertanyaan tuan-tuan.
Kemudian para ulama tersebut melontarkan empat puluh pertanyaan yang semua dijawab dengan benar selain satu pertanyaan yang tidak mereka ketahui kesalahannya dan mereka menganggapnya benar, tetapi Mulla Said baru menyadarinya setelah pertemuan bubar, maka segera ia berkata kepada mereka,
Maaf, saya tadi salah menjawab salah satu pertanyaan tuan-tuan dan kalian tidak menyadarinya”. Kemudian Mulla Said menuturkan jawaban yang benar.
Para ulama berkata kepadanya,
“Anda benar-benar telah mematahkan argumentasi kami”
Setelah perdebatan ini, sebagian dari ulama tersebut mulai belajar kepada Mulla Said.
Mustafa Pasha memenuhi janjinya. Ia segera melakukan salat dan memberinya senapan mouser.
Mulla Said, selain memiliki kesiapan ilmu yang tiada tandingannya, ia memiliki badan yang sehat dan kuat, menyukai olah raga gulat. Ia pernah bergulat dengan murid-murid di berbagai Madrasah dan tak seorangpun dapat mengalahkannya.
Pada suatu hari Mulla Said bersama Mustafa Pasha pergi ke lomba pacuan kuda. Mustafa Pasha telah memerintahkan agar disiapkan untuk Mulla Said seekor kuda liar yang sulit dikendalikan, tidak pernah dilatih dan belum pernah ditunggangi. Mungkin maksudnya—wallahu a`lam—agar Mulla Said jatuh dari punggung kuda tersebut dan mati. Mustafa Pasha memberikan kuda tersebut kepada Mulla Said yang pada saat itu berusia enam belas tahun. Dia langsung menuggangi kuda tersebut dan berjalan sebentar. Begitu hendak dipacu lari, kuda tersebut menjadi liar. Setiap kali dibawa lari ke satu arah, kuda tersebut malah lari ke arah lain. Mulla Said tidak berhasil menguasai kuda tersebut sehingga lari ke tempat anak-anak yang sedang bermain. Kuda tersebut menendang kedua bahu seorang anak kecil yang langsung tersungkur. Anak kecil tersebut putra seorang pembesar Jazirah. Orang-orang pun segera memberikan pertolongan. Ketika mereka dapatkan anak tersebut tidak bergerak seakan-akan mati, mereka bergerak hendak membunuh Mulla Said.
Ketika para pembantu pembesar tersebut menghunuskan pisau belati mereka, Mulla Said langsung memegang senapannya dengan sigap sambil berkata, “Pada hakikatnya, Allah-lah yang telah mematikan anak itu. Namun secara lahiriah kudalah yang telah membunuh anak itu, tetapi bila melihat sebabnya, maka Mustafa Si Botak(*20)itulah pembunuhnya, karena dialah yang memberiku kuda ini. Tahanlah tangan kalian dan mari kita lihat anak itu. Jika benar-benar sudah meninggal, baru nanti kita bertarung”. Kemudian Mulla Said turun dari kuda, menggendong anak tersebut yang didapatkannya tidak bergerak. Lalu ia rendam di dalam air dingin dan beberapa saat kemudian ia mengeluarkannya. Anak itupun membuka kedua matanya sambil tersenyum. Orang-orang di sekitarnya terheran-heran melihat apa yang baru saja mereka saksikan.
Mulla Said tinggal di Jazirah beberapa lama setelah peristiwa yang mengagumkan itu. Kemudian bersama muridnya yang bernama Mulla Saleh, Mulla Said meninggalkan Jazirah menuju daerah Biro di mana pemukiman orang Arab badui berada. Di tempat itu Mulla Said tinggal beberapa lama. Ketika berada di tempat itu Mulla Said mendengar bahwa Mustafa Pasha kembali berlaku zalim. Maka Mulla Said pun pergi menemuinya dan menasihatinya. Pada suatu hari antara Mulla Said dan Mustafa Pasha terjadi diskusi yang sengit dan Mulla Said melontarkan kata-kata yang cukup keras dan mengancamnya, “Anda telah kembali berbuat zalim.
Demi menjaga kebenaran, saya akan membunuhmu”. Sekretaris Mustafa Pasha berusaha untuk menenangkan suasana,
tetapi Mulla Said terus mengecamnya atas kezalimannya.
Merasa dihinakan, Mustafa Pasha tidak tahan dengan situasi seperti itu maka ia pun menyerang Mulla Said dengan tujuan hendak membunuhnya. Para pembesar suku Miran menghalangi perbuatan pemimpin mereka. Akhirnya, anak Mustafa Pasha yang bernama Abdul Karim menarik Mulla Said ke samping dan berkata kepadanya,
“Ayahku memang sudah rusak akidahnya. Saya memohon dengan segala hormat agar Anda segera meninggalkan tempat ini”.
Mulla Said tidak ingin menolak permintaan Abdul Karim, maka ia pun segera pergi menuju desa Biro sendirian. Di tengah jalan, segerombolan begal dari pedalaman dengan bersenjatakan tombak menghadang Mulla Said. Ia pun melepaskan beberapa tembakan dari senapannya yang membuat gerombolan begal tersebut lari tunggang langgang. Mulla Said melanjutkan perjalannya. Tidak lama kemudian, gerombolan begal yang jumlahnya lebih banyak dari yang pertama menghadangnya dan berhasil mengepungnya.
Mereka hendak membunuh Mulla Said, hanya saja salah seorang dari gerombolan itu berkata kepada rekan-rekannya, “Saya mengenal orang ini. Ia orang terkenal. Saya pernah melihatnya di suku Mirwan”. Gerombolan begal itu pun mundur dan meminta maaf kepada Mulla Said. Mereka menawarkan untuk menemani perjalanannya dan melindunginya dari bahaya, tetapi Mulla Said menolaknya dan melanjutkan perjalanan hingga beberapa hari kemudian sampai ke Mardin.
Di tempat itu, para ulama mengajaknya untuk berdebat. Mereka dapatkan kemampuan ilmiah Mulla Said yang membuat mereka akhirnya bersedia berguru kepadanya padahal ia seusia anak para ulama tersebut.
Pada masa itu Mulla Said bertemu dengan dua orang murid yang datang ke Mardin. Salah seorang dari keduanya adalah pengikut Jamaluddin al-Afghani dan yang satunya lagi murid tarekat as-Sanusiyyah. Dari kedua murid tersebut Mulla Said mengenal manhaj Jamaluddin al-Afghani dan tarekat as-Sanusiyyah.
Sejak awal masa remajanya, Mulla Said sudah terlibat dalam kehidupan politik dan ia mulai mengabdi kepada bangsa dan negara. Kehidupan politiknya yang pertama adalah di Mardin. Akibatnya, ia diasingkan oleh penguasa kota yang terkenal dengan kekerasannya ke Bitlis dalam keadaan diborgol dan dibawah pengawasan sejumlah tentara. Ketika mereka berada dalam perjalanan, waktu salat tiba. Mulla Said meminta kepada tentara agar melepaskan borgolnya untuk melaksanakan salat. Mereka menolak permintaannya. Lalu Mulla Said melepaskan borgolnya sendiri seakan-akan ia melepaskan ikatan sapu tangan. Borgol itu ia campakkan ke hadapan para tentara. Mereka tercengang melihat apa yang mereka lihat dan menganggapnya sebagai karamah. Dalam keadaan tunduk dan memohon dikasihani mereka berkata,
Sejak awal hingga sekarang kami adalah pengawasmu, tetapi mulai sekarang kami menjadi pelayanmu”(*21).
Ketika berada di Bitlis, pada suatu hari Mulla Said mendengar bahwa sang gubernur meminum khamar bersama para stafnya. Dengan nada marah, Mulla Said berkata,
“Saya tidak dapat menerima kenyataan ini bahwa seorang yang merepresentasikan pemerintah melakukan perbuatan ini di kota religius seperti Bitlis”. Mulla Said segera menuju ke tempat mereka meminum khamar. Ia memulai pembicaraannya dengan mengutip sebuah hadis tentang khamar, kemudian berbicara dengan nada keras sambil memegang senapannya, berjaga-jaga siapa tahu gubernur tersebut memberi isyarat kepa da orang-orang yang ada di sekitarnya untuk menyerangnya, hanya saja gubernur tersebut ternyata sangat sabar dan ksatria sehingga ia tidak mengeluarkan sepatah katapun. Setelah Mulla Said meninggalkan tempat tersebut, ajudan gubernur menghampirinya dan berkata,
“Apa yang telah engkau lakukan?. Perkataan yang engkau ucapkan tadi itu layak membuat dirimu dihukum mati”
Mulla Said yang masih remaja itu menjawab,
“Tidak terlintas dalam benakku tentang hukuman mati, tetapi saya hanya menduga akan dipenjara atau diasingkan. Namun bagaimanapun juga, saya bersedia mati demi mencegah kemungkaran”.
Dua jam setelah meninggalkan tempat itu, gubernur mengutus dua orang polisi untuk mencari Mulla Said, dan ia pun pergi bersama kedua polisi itu menghadap gubernur. Begitu sampai ke kediamannya, gubernur menyambutnya dengan hormat dan hendak mencium tangannya kemudian berkata dengan ramah,
“Setiap orang mempunyai guru dan engkau adalah guruku”
* * *
Naluri Said muda menolak peraturan apapun yang diberlakukan secara paksa terhadap dirinya atau gerakannya dibatasi. Ia suka dirinya bebas dalam gerakan dan kondisinya. Ia pernah berkata, “Saya menolak peraturan yang dibuat secara sepihak untuk membatasi kebebasan dan kemerdekaanku”.Oleh karena itu, kita dapatkan Mulla Said pada pertama kedatangannya ke Istanbul bersikeras untuk menjauhkan diri dari halhal yang mengikat kebebasannya, dan ini yang kita saksikan dalam periode-periode hidupnya.
Pada periode kedua dari kehidupannya, cinta terhadap kebebasan dan kemerdekaan yang tersimpan dalam jiwanya membuahkan sikap penentangan terhadap serangan kesesatan dan ateisme yang datang dari Eropa, juga membuahkan penolakannya untuk tidak tunduk pada despotisme mutlak yang tumbuh dari filsafat materialisme yang bertentangan dengan al-Qur’an al-Karim, serta membuahkan usaha dan perjuangannya untuk peradaban dan kebebasan Islami yang merupakan kebebasan sejati.
Ketika berada di Bitlis, Mulla Said memasuki usia balig menjelang usianya lima belas atau enam belas tahun. Sebelum akil balig Mulla Said tidak membutuhkan waktu lama untuk belajar, karena pengetahuannya datang dengan sendirinya ke benaknya yang berupa ilham. Hanya saja kondisi tersebut mulai melemah sedikit demi sedikit tanpa diketahui penyebabnya, apakah itu tanda-tanda balig? Ataukah karena dirinya terlibat dengan urusan politik? Maka setelah itu Mulla Said memfokuskan diri mempelajari buku-buku yang terkait setiap bidang ilmu. Dalam dua tahun Mulla Said dapat menghafal empat puluh buku ilmu alat (seperti nahwu, sharaf, mantiq, dsb), dan ilmu-ilmu tinggi (seperti tafsir dan ilmu kalam), di samping dua buku yaitu al-Mathâli` dan al-Mawâqif(*22)dengan tujuan untuk menangkis berbagai keraguan yang terkait dengan agama Islam. Mulla Said mengulang semua hafalannya secara berkala setiap tiga bulan sekali dengan membacanya setiap hari.
Mulla Said memiliki dua kondisi yang kontradiktif. Pertama, ketika pikirannya bening dan lapang. Dalam kondisi ini Mulla Said dapat memahami buku apapun yang ada di tangannya tanpa sedikitpun kesulitan.
Kedua, ketika pikirannya suram, maka selera berbicaranya hilang, apalagi membaca.
Mulla Said mulai menghafal al-Qur’an al-Karim. Setiap hari menghafal satu atau dua juz sehingga hafal sebagian besar dari kitab suci tersebut. Tetapi tidak mudah baginya untuk menghafalkan seluruhnya karena ada dua ilham yang tersirat dalam kalbunya.
Pertama, membaca al-Qur’an dengan kecepatan yang berlebihan merupakan sikap kurang hormat terhadap al-Qur’an. Kedua, mengetahui hakikat-hakikatnya lebih penting daripada menghafalkannya. Oleh karena itu, dalam tempo dua tahun Mulla Said dapat menghafal empat puluh risalah dari sejumlah risalah yang berkisar seputar hikmah dan ilmu-ilmu Islam yang kelak menjadi kunci bagi hakikat-hakikat al-Qur’an dan membendung segala keraguan yang terkait dengannya.
Mulla Said mulai menghafal buku al-Mirqat(*23)tetapi tanpa syarah dan catatan kaki. Kemudian ia membandingkan antara pemahamannya dan syarah serta catatan kaki buku tersebut dan ternyata hasilnya sama dalam semua masalah kecuali tiga kata dan itupun dinilai lebih baik oleh para ulama.
Pada suatu hari Mulla Said dibohongi seseorang yang mengatakan bahwa Syekh Muhammad al-Kufrawi, salah seorang ulama di Bitlis mendoakan keburukan untuk dirinya. Mulla Said pergi mengunjungi ulama tersebut yang menyambutnya dengan ramah.
Mulla Said menghadiri pelajarannya untuk mendapatkan berkah dan ini adalah pelajaran terakhir yang diperoleh Mulla Said dari Syekh dalam hidupnya.Pada suatu malam Mulla Said bermimpi bertemu Syekh Muhammad al-Kufrawi yang berkata kepadanya,
“Mulla Said, mari kunjungilah aku karena aku akan pergi”. Mulla Said langsung memenuhi permintaan Syekh tersebut dalam mimpinya. Mulla Said datang mengunjunginya dan didapatinya Syekh tersebut terbang”. Kemudian Mulla Said terbangun dari tidurnya. Ketika melihat jam, waktu menunjukkan jam tujuh malam. Mulla Said kembali tidur. Di pagi harinya, Mulla Said mendengar suara berkabung yang berasal dari rumah Syekh Muhammad al-Kufrawi. Mulla Said pergi ke sana dan diberitahu bahwa Syekh telah meninggal dunia jam tujuh malam.
Mulla Said kembali dalam keadaan sedih sambil mengucap اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّٓا اِلَي۟هِ رَاجِعُونَ رَح۟مَةُ اللّٰهِ عَلَي۟هِ اٰمٖينَ semoga Allah merahmatinya, amin..!
Mulla Said sangat mencintai para ulama dan Syekh di bagian timur Anatolia seperti Syekh Sayyid Nur Muhammad,
Syekh Abdurrahman at-Taghi, Syekh Fahîm, dan Syekh Muhammad al-Kufrawi karena dari merekalah Mulla Said memperoleh ilmu dan irfan. Mulla Said juga sangat mencintai Syekh Amin Afandi, Mulla Fathullah, dan Syekh Fathullah Afandi.
Mulla Said pergi ke Van untuk memenuhi undangan Hasan Pasha(*24)karena di kota tersebut tidak ada ulama yang terkenal. Mulla Said tinggal di Van selama lima belas tahun yang dihabiskan untuk mengajar, belajar, dan berpindah dari satu suku ke suku lainnya untuk mengajar. Selama tinggal di Van, Mulla Said mempunyai hubungan yang sangat erat dengan gubernur dan para stafnya. Di Van, Mulla Said merasa yakin bahwa Ilmu Kalam dengan model lamanya tidak cukup di era modern untuk membantah keraguan dan ketidakjelasan yang terkait dengan Islam.
Menurutnya, ilmu-ilmu modern(*25)harus diperoleh sehingga akhirnya Mulla Said mulai mempelajari dasar-dasar berbagai ilmu dalam waktu singkat seperti sejarah, geografi, matematika, geologi, fisika, kimia, astronomi, filsafat dan ilmu lainnya. Dasar-dasar ilmu tersebut dipelajarinya dan dikuasainya secara autodidak. Sejak itu Mulla Said mulai aktif dalam acara diskusi tentang geografi dengan salah seorang guru geografi.
Lalu ia memperoleh buku geografi yang dikuasainya dalam masa dua puluh empat jam. Kemudian pada hari berikutnya, Mulla Said berdiskusi dengan guru geografi tersebut di kediaman gubernur Tahir Pasha dan ia mampu mematahkan semua argumentasi sang guru. Dengan metode yang sama, Mulla Said mempelajari kimia anorganik selama lima hari, kemudian ikut berdiskusi dengan salah seorang guru kimia dan lagi-lagi Mulla Said mampu mematahkan semua argumentasinya.
Atas kehebatannya itu, para cendekiawan menjulukinya dengan nama Badiuzzaman setelah mereka menyaksikan sendiri kehebatannya dan ilmunya yang sangat luas padahal usianya baru memasuki awal remaja. Selama tinggal di Van, Badiuzzaman mengikuti kurikulum khusus dalam mengajar. Ia menggabungkan antara pelajaran agama dan ilmu pengetahuan yang sudah ia kuasai, antara pemikiran dan riset yang sudah ia pelajari hingga saat itu di samping memperhatikan kebutuhan masa itu yang sangat penting. Kurikulum ini mendi dik murid dengan pendidikan yang tinggi karena menyajikan hakikat-hakikat agama yang dijelaskan dengan metode terbaru yang sesuai dengan pemahaman masa itu.
Selama keberadaannya di Van, Mulla Said memiliki sifat yang berbeda dengan para ulama setempat(*26).Diantaranya adalah sebagai berikut:
Mulla Said tidak pernah menerima uang yang diberikan sebagai hadiah, bahkan tidak mau menerima gaji. Ya, kendati Mulla Said hidup tidak memiliki materi, hidup sendirian dalam kondisi fakir, sarat dengan penderitaan dalam penjara dan pengasingan yang terus menerus, namun ia tidak pernah menerima uang atau hadiah tanpa imbalan. Kebiasaan ini terbukti dengan banyaknya kesaksian dari orang-orang.
Ia tidak pernah bertanya kepada seorang ulama walaupun satu pertanyaan, tetapi ia selalu menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan kepadanya dan hal itu berlangsung selama dua puluh tahun. Tentang kebiasaan uniknya ini, Mulla Said berkata, “Saya tidak meragukan ilmu para ulama sehingga saya tidak perlu bertanya kepada meraka, tetapi jika ada orang yang meragukan ilmuku, silakan bertanya dan saya akan menjawabnya”.
Mulla Said melarang semua muridnya untuk menerima zakat dan hadiah sebagaimana hal itu diterapkan untuk dirinya sendiri. Mulla Said selalu mendorong para muridnya untuk bekerja semata-mata untuk memperoleh keridaan Allah I, sehingga sering kali Mulla Said memikirkan perihal kehidupan para muridnya itu sendirian.
Selama hidupnya, Mulla Said meninggalkan ketergantungannya terhadap kehidupan dunia. Dalam hal ini, Mulla Said berkata, “Saking sedikitnya, semua hartaku bisa kubawa dengan tanganku sendiri”. Tentang hal itu, Mulla Said pernah ditanya dan ia menjawab, “Akan datang suatu masa di mana orang-orang merasa iri dengan keadaanku. Selain itu, uang dan kekayaan tidak dapat memberiku kesenangan sedikit pun. Saya melihat dunia ini tidak lebih dari penginapan”.
Selama Mulla Said berada di Van, gubernur Tahir Pasya memiliki banyak buku ilmiah terjemahan dari berbagai bahasa Eropa. Tahir Pasya membaca buku-buku tersebut dan menyiapkan beberapa pertanyaan untuk diajukan kepada Mulla Said yang kemudian dijawabnya tanpa ragu, kendati ia belum pernah membaca buku-buku tersebut, dan dirinya belum lama menggunakan bahasa Turki dalam percakapan. Pada suatu hari Mulla Said melihat buku-buku tersebut dan ia tahu bahwa gubernur menyiapkan pertanyaan-pertanyaanya itu yang diambil dari buku-buku tersebut. Mulla Said membuka bukubuku tersebut dan menguasai kandungannya dalam waktu singkat.
Tujuan dan cita-citanya yang paling besar pada masa itu adalah mendirikan sebuah universitas di Van dan Bitlis dengan nama Madrasatuz-zahra, mengikuti Universitas al-Azhar di Mesir. Mulla Said telah berusaha untuk merealisasikan proyek tersebut.
Selama musim panas di Van, Mulla Said biasa berada di tempat berlibur musim panas yang disebut Basyid dan Bait as-Syabab. Pada suatu hari Mulla Said bercerita kepada Tahir Pasya tentang adanya salju di puncak gunung di tempat itu. Tahir Pasya membantahnya, “Sama sekali tidak ada salju pada bulan Juli”. Beberapa lama setelah itu, ketika Mulla Said berada di tempat berlibur musim panas itu, ia ingat masalahnya dengan Tahir Pasya, maka ia menulis surat untuknya untuk pertama kali dalam bahasa Turki,
“Pasya, salju menutup puncak Basyid, maka janganlah Anda mengingkari sesuatu yang belum Anda lihat. Segala sesuatu tidak terbatas pada pengetahuan Anda.Wassalam”.
Ketika Mulla Said mendengar ada pertikaian antar suku, ia segera turun tangan dengan memberikan nasihat dan petunjuk sehingga pihak-pihak yang bertikai itu damai, seperti keberhasilannya mendamaikan Syakar Agha dan Mustafa Pasya, kepala suku Miran di mana pemerintah tidak mampu mendamaikan keduanya. Mulla Said berkata kepada Mustafa,
“Apakah Anda masih belum bertaubat juga?”. Mustafa Pasya berkata,
“Saydaa... saya akan menjalankan perintahmu dan tidak akan membantah”.
Mustafa Pasya hendak memberi Mulla Said seekor kuda dan sejumlah uang yang ditolaknya sambil berkata,
“Bukankah saya sudah pernah mengatakan bahwa saya tidak mengambil uang dari seseorang, bagaimana pula saya akan mengambil uang dari seorang yang berlaku zalim seperti Anda? Yang saya lihat adalah Anda telah merusak taubatmu sehingga Anda tidak akan sampai ke Jazirah”.
Dan terbukti, Mustafa Pasya meninggal dunia di perjalanan sebelum sampai ke Jazirah.
Kemampuan Badiuzzaman dalam matematika sangat mengagumkan. Ia dapat memecahkan masalah yang sangat rumit dengan kecepatan yang luar biasa, sehingga ia menyusun risalah tentang Ilmu Aljabar. Ia juga suka menghadiri diskusi tentang matematika yang diadakan di kediaman gubernur Tahir Pasya. Ia mampu memecahkan masalah cukup dengan di otaknya saja, sementara peserta diskusi lainnya masih mengutak-atiknya di atas kertas. Badiuzzaman sering ikut serta dalam perlombaan seperti ini dan selalu menjadi juara pertama. Dalam salah satu perlombaan, sebuah masalah dilontarkan sebagai berikut:
“Andaikata terdapat lima belas orang muslim dan lima belas orang non muslim, mereka semua berbaris dalam satu barisan. Di belakang setiap orang muslim berdiri orang non muslim, kemudian diminta untuk diadakan undian yang setiap kali diundi jatuh kepada orang yang non muslim, maka bagaimana pembagiannya dilaksanakan?”.
berkata:
“Untuk masalah ini terdapat seratus dua puluh empat kemungkinan”, ujar Badiuzzaman.
Lalu ia menjelaskan cara pemecahan masalahnya, kemudian berkata,
“Saya buat satu masalah yang lebih rumit dari ini. Kemungkinannya terdapat dua ribu lima ratus”.
Lalu selama dua jam ia membuat satu masalah yang terdiri dari seratus orang. Lima puluh dari mereka muslim dan lima puluh lainnya non muslim dengan syarat setiap kali undian jatuh kepada yang non muslim. Kemudian ia membuat masalah yang terdiri dari lima ratus muslim dan lima ratus non muslim dan masalah ini mengandung dua ratus lima puluh ribu kemungkinan. Masalah ini ia susun dalam sebuah risalah yang kemudian diberikan kepada gubernur Tahir Pasya.(*27)
Selama berada di Van, Badiuzzaman bersama gubernur membaca berita dari beberapa surat kabar. Badiuzzaman memberikan per hatian lebih terhadap masalah-masalah keislaman. Dari bacaannya tersebut, ia mempunyai pengetahuan umum tentang kondisi dunia Islam.
Pada suatu hari Tahir Pasya memperlihatkan sebuah berita surat kabar yang mengejutkan kepada Badiuzzaman yang isinya adalah bahwa menteri kolonial Inggris menyatakan di parlemen Inggris sambil memegang sebuah al-Quran,
“Selama al-Qur’an ini berada di tangan umat Islam, kita tidak akan mampu menguasai mereka. Kita harus menjauhkannya dari mereka atau mengalihkan perhatian mereka daripadanya”.
Berita yang mengejutkan ini memberikan dampak yang tak bisa digambarkan pada diri Badiuzzaman. Ketika membaca berita itu, Badiuzzaman yang memiliki perasaan menggelora, indra batin yang senantiasa waspada, pertolongan Rabbani dan sifat-sifat yang luhur seperti ilmu, irfan, keikhlasan dan keberanian berkomentar, “Aku benar-benar akan membuktikan dan memperlihatkan kepada dunia bahwa al-Qur’an adalah matahari spiritual yang tidak akan redup apalagi dipadamkan cahayanya”. Dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia bertekad untuk melaksanakan panggilan jiwanya itu(*28).
Badiuzzaman berangkat menuju Istanbul dalam upaya mendirikan sebuah universitas di bagian timur Anatolia yang akan dibuka baik di Van atau di Diyarbakir dan yang akan diberi nama “Madrasah az-Zahra”. Salah seorang penulis menggambarkan kehadiran Badiuzzaman ke Istanbul sebagai berikut, “Dari pegunungan Timur yang menjulang tinggi... obor kecerdasan yang terang benderang terbit di langit Istanbul”.
Sehari sebelum keberangkatannya ke Istanbul, gubernur Tahir Pasya berkata kepadanya,
“Anda telah berdiskusi dengan para ulama Timur dan berhasil membungkam mereka, tetapi apakah mungkin Anda pergi ke Istanbul dan mengalahkan ‘ikan-ikan besar’ di laut tersebut?”.
Hal pertama yang dilakukan Badiuzzaman pada awal kedatangannya di Istanbul(*29)adalah mengundang para ulamanya untuk berdiskusi. Maka para ulama terkemuka dan kelompok demi kelompok datang mengunjungi Badiuzzaman. Mereka melontarkan berbagai pertanyaan yang dijawabnya dengan jawaban yang tepat. Tujuan dari ini semua adalah untuk menarik perhatian mereka bahwa di bagian timur Anatolia terdapat kegiatan pembelajaran ilmu pengetahuan dan irfan. Badiuzzaman tidak menyukai sikap menonjolkan diri. Ia bertindak tanpa sifat riya dan berbangga diri. Ia termasuk orang luar biasa dalam hal kecerdasan, kekuatan hafalan, ilmu dan keberanian nya, lebih dari itu ia adalah orang yang tulus dan ikhlas. Ia benar-benar tidak menyukai sifat berpura-pura atau mengada-ada.Di atas pintu kamarnya ia gantung sebuah papan yang bertuliskan, “Di sini semua persoalan dipecahkan, semua pertanyaan dijawab tanpa bertanya kepada siapapun”.
Mereka mendapatkan dirinya sebagai seorang yang memiliki pengetahuan yang luas, kekuatan ungkapan yang retoris, serta keadaan dan perilakunya yang mengagumkan meskipun usianya baru beranjak remaja. Semua hal tersebut menjadikan para ulama mengaguminya sehingga mereka mengatakan bahwa Mulla Said adalah manusia langka, patut diberi julukan “Badiuzzaman” (Orang yang tak ada bandingan di zamannya). Kehadirannya di Istanbul bertepatan dengan kehadiran salah
seorang ulama al-Azhar dalam sebuah lawatan ke kota tersebut, yaitu Syekh Bakhit al-Muthî`i, Mufti Mesir. Para ulama Istanbul yang kalah berdebat dengan Badiuzzaman meminta sang Syekh untuk berdebat dengan pemuda yang datang dari ujung pegunungan Kurdistan itu. Syekh tersebut memenuhi permintaan para ulama. Syekh Bakhit alMuthî`i menunggu kesempatan untuk berdebat sehingga pada suatu hari ketika semua orang selesai salat di Masjid Hagia Sofia dan mereka duduk di salah satu kedai teh, Syekh Bakhit al-Muthî`i datang menghampiri Badiuzzaman di hadapan para ulama dan langsung bertanya,
“Apa pendapat Anda tentang Eropa dan Turki Utsmani?”.
Dengan pertanyaan ini Syekh Bakhit al-Muthi`i tidak bermaksud menguji ilmu Ustadz Said Nursi yang sangat luas itu dan tidak pula menguji kecerdasannya yang luar biasa itu, tetapi syekh tersebut sekadar untuk mengetahui kadar pengetahuannya tentang dunia politik dan pandangannya terhadap masa yang akan datang. Jawaban Ustadz Said Nursi seperti ini:
“Eropa sedang mengandung Islam dan pada suatu hari akan melahirkannya, sementara Turki Utsmani sedang mengandung Eropa dan pada suatu hari akan melahirkannya”.
Syekh Bakhit lalu berkata,
“Pemuda ini tidak terbantahkan. Saya setuju dengan pendapatnya. Ungkapan dengan retorika dan padat berisi seperti ini tidak akan keluar selain dari Badiuzzaman”(*30).
Kehidupan Badiuzzaman di Istanbul sedikit banyak bernuansa politik. Dia berpendapat bahwa perlunya pengabdian kepada Islam melalui jalur politik. Kiprahnya dalam kehidupan politik tidak lain dari hasil perjuangannya dalam mengabdikan diri kepada Islam. Ia juga secara terus menerus mendukung kebebasan. Karena melihat terjadi ketidakadilan, maka ia selalu melawan kelompok Turki muda(*31)dengan berkata kepada mereka,
“Kalian telah menghina agama, telah melanggar batasan-batasan yang ditentukan Allah, telah menganggap enteng hukum syariat, maka akibat dari ini semua akan sangat buruk bagi kalian”.
Setelah deklarasi “Kebebasan” atau “Sistem Parlementer”(*32), Badiuzzaman bersama rekan-rekan pejuang lainnya mendirikan or ganisasi Ittihadi Muhammadi (persatuan pengikut nabi Muhammad ) yang dalam masa singkat tersebar dan memperoleh sambutan sehingga sekitar lima puluh ribu orang dari kota Izmit, Adapazarı(*33)dan sekitarnya bergabung dengan organisasi tersebut tidak lama setelah Badiuzzaman mempublikasikan makalah tentang organisasi ini.
Badiuzzaman telah menyampaikan sejumlah orasi dan menulis artikel di surat kabar religius. Dalam orasi dan tulisannya itu ia secara terus menerus memperingatkan masyarakat dari penyalahtafsiran kebebasan dan menegaskan perlunya memahami “sistem parlementer” sebagai sistem pemerintahan yang legal, bukan yang lainnya. Orasi dan artikel Badiuzzaman ini tiada duanya dari segi retorika dan kekuatan pengaruhnya yang membuat pendengar dan pembacanya sangat puas sehingga banyak cendekiawan dan politikus mendapat pencerahan dari orasi dan tulisannya itu. Pada saat itu Badiuzzaman menyebarkan berita gembira bahwa kebangkitan umat adalah fajar sadik bagi kebahagiaan Asia dan Anatolia, hanya saja umat tersebut harus segera menaati perintahperintah syariat, jika tidak maka kebahagiaan tersebut tidak akan datang. Ia juga mengingatkan bahwa jika sistem parlementer dan kebebasan tidak dipahami sesuai dengan ketentuan yang ada dan tidak diterapkan sesuai dengan syariat, maka keduanya tidak akan mendatangkan manfaat dan rezim tiranilah yang akan menguasai segalanya.
Berikut kami sajikan beberapa contoh orasi dan makalah
Badiuzzaman, di antaranya orasi yang disampaikan tanpa teks pada hari ketiga setelah dideklarasikannya “sistem parlementer”, kemudian orasi ini juga disampaikan sekali lagi di Lapangan kebebasan di Salonika yang kemudian dimuat di sejumlah surat kabar.
ORASI UNTUK KEBEBASAN
Wahai kebebasan syar’i…! Engkau menyeru dengan suara yang hingar-bingar tetap sedap didengar dan menggembirakan sehingga engkau membangunkan orang dusun yang tenggelam dalam kelalaian seperti diriku. Jika bukan dirimu, aku dan mayoritas bangsa akan tetap terbelenggu dalam penjara. Aku sampaikan berita gembira untukmu. Jika engkau menjadikan syariat yang merupakan mata kehidupan, sumber kehidupan dan tumbuh berkembang di tamannya, maka aku sampaikan kabar gembira bahwa bangsa yang teraniaya ini akan naik seribu derajat dari kondisinya yang lalu dengan syarat mereka menjadikanmu sebagai petunjuk dan tidak mengotorimu dengan tujuan-tujuan pribadi dan niat balas dendam.
Ya Rabb, sungguh membahagiakan hari kiamat! Sungguh indah hari dibangkitkannya manusia. Keduanya menggambarkan miniatur hakikat kebangkitan setelah kematian pada masa sekarang ini.
Peradaban kuno yang terkubur di sudut-sudut Asia dan Rumelia(*34) mulai hidup, kini mereka yang mencari kebaikan dalam kerugian umat dan mendambakan despotisme mengulang-ulang bacaan ‘Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah’.(QS. an-Naba’ [78]: 40). Selama pemerintahan kita yang baru—yaitu sistem parlementer—telah dilahirkan seperti mukjizat, maka insya Allah dalam masa setahun kita akan menjadi penampakan rahasia ayat al-Qur’an ‘Kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan’. (QS. Maryam [19]: 29).Surga peradaban dan kemajuan telah membukakan pintunya untuk kita sebagai pahala tanpa siksa atas puasa berbicara selama tiga puluh tahun dengan sabar dan tawakal(*35). Undang-undang syar’i yang merupakan permulaan yang baik untuk mengendalikan bangsa memanggil kita seperti juru kunci surga untuk memasukinya.
Maka dari itu, wahai saudara-saudaraku sebangsa yang teraniaya..! Mari kita sama-sama memasukinya.
Pintu pertamanya adalah persatuan hati dalam lingkaran syariat.
Yang kedua adalah saling mencintai di antara anak-anak bangsa.
Yang ketiga adalah ilmu.
Yang keempat adalah usaha manusia.
Serta yang kelima adalah meninggalkan kebejatan.
Pintu-pintu lainnya saya serahkan kepada pemikiran kalian semua”.
…
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air..! Awas jangan sampai kalian mematikannya(*36) lagi dengan kebejatan dan penghinaan agama. Undang-undang dasar yang berlandaskan syariat yang sangat memperhatikan kepentingan umat manusia telah muncul seperti malaikat Izrail dalam menghadapi pemikiran-pemikiran destruktif, moral bejat, tipu daya setan, dan sikap menjilat yang menghinakan. Semuanya itu dibungkam oleh undang-undang dasar yang berlandaskan syariat. Wahai sadauraku setanah air, jangan sampai kalian menghidupkannya kembali dengan hidup berlebihan, melanggar syariat dan kesenangan yang tidak dibenarkan.
Sampai saat ini kita berada dalam kuburan dan hampir lapuk. Dengan “sistem parlementer” dan persatuan anak-anak bangsa, sekarang kita memasuki rahim kehidupan. Kita akan tumbuh berkembang dan mencapai usia dewasa. Pada posisi seratus tahun dari keterbelakangan dalam kemajuan, kita akan menaiki kereta undang-undang yang pengamalannya berdasarkan syariat dan Buraq musyawarah yang konsepnya berdasarkan syariat dengan mukjizat kenabian. Kita akan mengarungi padang pasir yang luas dan sunyi dalam tempo yang singkat. Kita akan bersaing dengan bangsa-bangsa maju. Karena mereka telah menaiki dokar, sementara kita akan menaiki sarana seperti kereta dan balon sehingga kita akan mendahului mereka bahkan akan meninggalkan mereka jauh di belakang seperti yang pernah kita lakukan pada masa lalu. Hal itu tercapai berkat hakikat Islam yang tidak lain dari akumulasi moral yang baik, dan berkat kesiapan naluri, karunia iman dan mudahnya proses mengunyah yang diwariskan oleh rasa lapar yang berkepanjangan.
Dari tempat yang menugaskanku sebagai penuntut ilmu dan mendapatkan ijazah kebebasan, aku memperingatkan:
Wahai anak-anak Bangsa..!Jangan sampai kalian salah menafsirkan kebebasan, jika tidak, kita akan kehilangan kebebasan dan kita akan meneguk kepahitan masa lalu dengan cangkir baru(*37). Kebebasan hanya dapat tumbuh berkembang dengan budi pekerti yang baik, memelihara adab dan menaati hukum syariat”
...
Bediüzzaman
* * *
HIDUPLAH SYARIAT MUHAMMAD
Koran Diniyah:77 5 Maret 1325 Rumi/18 Maret 1909 M
Syariat yang mulia bersifat kekal abadi. Sebab, ia berasal dari kalam azali. Keselamatan dan keterbebasan kita dari kungkungan nafsu ammârah terwujud dengan berpegang pada Islam dan tali Allah yang kokoh. Memetik manfaat kebebasan sejati secara sempurna bergan tung pada kondisi iman. Hal itu karena siapa yang ingin menjadi hamba sejati bagi Sang Pencipta alam, tidak boleh menistakan diri dengan menjadi hamba makhluk. Karena manusia sebagai pemimpin dalam dunianya, maka ia berkewajiban melakukan jihad akbar di dunianya yang kecil serta dituntut untuk meneladani akhlak Nabi dan menghidupkan sunnahnya yang mulia.
Wahai para penguasa! Jika kalian mendambakan kesuksesan, carilah ia dengan cara menyelaraskan amal kalian dengan sunnah ilahi yang terdapat di alam (sunnatullah). Jika tidak, yang akan kalian panen hanyalah kegagalan. Sebab, kemunculan para nabi secara umum di berbagai kerajaan Islam dan kekhalifahan Utsmaniyah merupakan simbol dan perlambang takdir ilahi bahwa yang mendorong umat di negeri tersebut kepada kemajuan adalah agama. Bunga-bunga ladang Asia, Afrika, dan taman separuh belahan Eropa akan mekar dan berkembang dengan cahaya Islam. Ketahuilah bahwa agama tidak boleh dikorbankan demi kepentingan duniawi. Pada masa lalu berbagai masalah syariat dikorbankan dan digadaikan demi mempertahankan kekuasaan tiran. Ketika persoalan agama dan upaya pengorbanan untuknya sudah ditinggalkan, maka hal itu hanya akan menghasilkan bahaya dan kegagalan.Penyakit yang menyerang jantung umat disebabkan oleh kelemahan beragama. Ia tidak akan sembuh kecuali dengan menguatkan agama.
Manhaj kita adalah mencintai kasih sayang dan membenci permusuhan. Yakni, menebarkan cinta kasih ke tengah-tengah umat Islam dan menyingkirkan permusuhan di antara mereka. Jalan kita adalah meneladani akhlak Rasul dan menghidupkan sunnahnya. Pedoman hidup kita adalah syariat yang mulia. Pedang kita berupa argumen yang kuat dan meyakinkan. Tujuan kita adalah meninggikan kalimat Allah.
Bediüzzaman
* * *
HAKIKAT
Koran Diniyah: 70 26 Februari 1324 Rumi / Maret 1909 M
Sejak azali kita telah masuk ke dalam perhimpunan umat Muhammad.
Tauhid merupakan aspek kesatuan dan persatuan di a kita. Sumpah dan janji kita berupa iman.Selama kita bertauhid dan bersatu, maka setiap mukmin harus menegakkan kalimat Allah. Sarana terbesar untuk menegakkan kalimat Allah di masa sekarang adalah kemajuan material. Pasalnya, bangsa asing menindas kita di bawah dominasi maknawi dengan senjata sains dan industri. Dengan senjata ilmu pengetahuan dan teknologi, kita akan berjuang melawan kebodohan, kemiskinan dan perpecahan yang merupakan musuh utama dalam menegakkan kalimat Allah. Adapun untuk jihad eksternal, kami serahkan kepada sejumlah “pedang berlian” berupa sejumlah argumen kuat dari syariat yang mulia. Sebab, untuk mengalahkan kalangan berperadaban harus dengan cara persuasi; bukan dengan paksaan sebagaimana watak orangorang bodoh yang tidak mengerti apa-apa. Kami adalah orang-orang yang rela berkorban demi cinta. Kami tidak ada waktu untuk bermusuhan.
Sistem parlementer adalah representasi dari keadilan, musyawarah, dan supremasi hukum. Bukankah tindakan mengimpor hukum dari Eropa merupakan sebuah kejahatan? padahal kita memiliki syariat yang mulia yang sudah ada sejak 13 abad lalu. Tindakan tersebut sama seperti menghadap ke arah selain Kiblat di saat salat.
Kekuasaan dan kekuatan harus terletak pada undang-undang. Jika tidak, penindasan dan kezaliman akan menyebar luas.
Lalu yang harus dominan dan harus selalu ada dalam hati nurani adalah firman Allah yang berbunyi:“Allah Mahakuat dan Maha Perkasa.” (QS. al-Hajj [22]: 74). Hal ini hanya bisa terwujud atas nama pengetahuan yang utuh dan peradaban yang kompherensif atau agama Islam. Jika tidak, tiranilah yang akan berkuasa.Kesepakatan terdapat pada petunjuk; bukan pada hawa nafsu. Ya, Allah menciptakan manusia dalam kondisi merdeka, tetapi mereka tetap menjadi hamba Allah. Dan segala sesuatu pun merdeka.
Kekurangan seseorang tidak patut dijadikan sandaran atau alasan untuk orang lain.Ketahuilah bahwa sikap putus asa adalah penghalang semua kesempurnaan. Warisan yang diberikan oleh tirani adalah, “Apa urusannya denganku. Biarkan yang lain saja yang memikirkan!”
Bediüzzaman
* * *
PERCAKAPAN DENGAN KARASSO Pada suatu hari di Selonika, Badiuzzaman terlibat percakapan dengan Karasso, rahib senior Istanbul. Percakapan tidak sampai selesai karena Karasso memotong pembicaraan dan segera meninggalkan tempat. Kepada rekan-rekannya ia berkata dengan gugup dan gelisah, “Jika saya bersamanya lebih lama lagi, ia pasti memasukkanku ke dalam Islam”.Demikian pertemuan Badiuzzaman dengan Karasso yang ketika itu menjadi anggota terkemuka dalam organisasi rahasia yang bekerja untuk memecah belah Turki Utsmani. Tujuan pertemuannya dengan Badiuzzaman tadinya adalah untuk membujuk dirinya bergabung dalam barisannya untuk dijadikan alat guna mencapai tujuan busuknya, tetapi ternyata jauh panggang dari api.
* * *
PERISTIWA 31 MARET Akhirnya Peristiwa 31 Maret yang nahas itu(*38)meletus. Salah satu akibatnya adalah dieksekusi matinya lima belas ulama yang nama-namanya tercantum dalam daftar orang-orang yang menuntut ditegakkannya syariat dalam peristiwa tersebut. Selain itu, pada waktu yang sama Badiuzzaman menjalani persidangan.Pada saat menjalani persidangan Ia menyaksikan sendiri kelima belas ulama tersebut yang digantung di tiang gantungan di taman gedung pengadilan ketika ketua pengadilan, Khursyid Pasha bertanya kepadanya,
“Anda juga menuntut penerapan syariat?”.
Badiuzzaman menjawab,
“Seandainya saya memiliki seribu nyawa, saya siap mengorbankannya demi satu hakikat dari sekian banyak hakikat syariat. Karena syariat merupakan sumber kebahagiaan, keadilan murni dan keutamaan. Hanya saja saya tidak menuntutnya sebagaimana yang dilakukan oleh para pembangkang”.
Di Pengadilan Militer yang menakutkan itu, Badiuzzaman telah membela diri dengan pembelaan heroik yang diterbitkan dua kali pada masa itu. Ketika menunggu pengadilan mengeluarkan keputusan hukuman mati untuk dirinya, tiba-tiba keputusan yang keluar adalah yang menyatakan bahwa dirinya bebas. Ia meninggalkan pengadilan tanpa mengucapkan terima kasih. Ia berjalan kaki dari daerah Bayazid—tempat pengadilan itu berada—menuju daerah Sultan Ahmad memimpin kerumunan orang sambil mengucapkan, “Hiduplah Neraka Jahanam untuk para tiran... Hiduplah Neraka Jahanam untuk para tiran”.
Dalam buku biografi ini, kami cantumkan sebagian pembelaan agar sisi kebenaran dari Peristiwa 31 Maret dan pembelaan heroik Badiuzzaman itu menjadi jelas.
* * *
SAID NURSI DAN MAHKAMAH MILITER KUTIPAN DARI BUKU (Ijazah Dua Sekolah Musibah)
Mukadimah
Ketika kebebasan disandingkan dengan kegilaan, tirani yang lemah menjadikan rumah sakit jiwa sebagai sekolah bagiku.
Ketika keadilan dan istikamah disarukan dengan konservatif dan berpikiran sempit, tirani kuat “sistem parlementer” menjadikan penjara sebagai sekolah bagiku.
Tuan-tuan yang menyimak “kedua ijazahku”, mohon tuan-tuan mentransfer ruh dan imajinasi tuan-tuan sebagai tamu di tubuh dan otak milik seorang pelajar kampung yang sensitif dan primitif, agar tuan-tuan tidak salah langkah. Saya telah mengatakan di pengadilan militer tentang Peristiwa 31 Maret,
“Saya pelajar yang sedang mencari ilmu, karenanya saya menimbang segala sesuatu dengan timbangan syariat dan menganggap Islam satu-satunya sebagai nasionalisme kita. Oleh karena itu, saya menentukan segala sesuatu dari sudut pandangan Islam.
Pada saat saya berdiri di depan pintu alam barzakh yang disebut penjara, menunggu kereta menuju akhirat, di stasiun yang disebut tiang gantungan, saya sampaikan tulisan ini bukan hanya kepada tuan-tuan saja, tetapi untuk umat manusia semuanya, tulisan yang mengkritisi kondisi umat manusia yang tidak mengenal kasih sayang. Oleh karena itu, dengan rahasia ayat ‘Pada hari segala rahasia dinampakkan’.QS. ath-Thariq [86]: 9, hakikat keluar dari kuburan kalbu tanpa penutup yang hanya dapat dilihat oleh orang yang memiliki hubungan kekerabatan sebagai muhrim. Saya siap pergi menuju akhirat dengan kerinduan yang sempurna, siap pergi bersama orang-orang yang dihukum gantung tersebut. Apa pendapat tuan-tuan jika seorang primitif yang kampungan mendengar keajaiban dan keindahan Istanbul tanpa pernah melihatnya, bagaimana kerinduannya dan keinginannya yang membara untuk melihat kota tersebut? Saya sekarang seperti orang kampungan itu, ingin melihat alam akhirat tempat diperlihatkannya hal-hal yang aneh dan menakjubkan seperti keinginan orang kampungan tersebut. Diasingkannya diriku ke alam akhirat bukanlah hukuman, maka siksalah diriku jika tuan-tuan dapat menyiksa dengan siksaan perasaan, jika tidak, maka selain dari siksaan perasaan itu bukanlah siksaan bagi diriku, tetapi itu merupakan suatu kehormatan.
Pemerintahan ini telah memusuhi akal selama pemerintahan tirani, dan sekarang memusuhi kehidupan. Jika pemerintahan seperti itu, maka hiduplah kegilaan, hiduplah kematian dan hiduplah neraka Jahanam untuk para tiran. Selama saya mencari kesempatan untuk menjelaskan pemikiranku, maka pengadilan militer menjadi tempat yang sesuai untuk kepentingan ini.
Saya telah diinterogasi sebagaimana semuanya diinterogasi pada pertama kalinya dan pertanyaan yang dilontarkan kepadaku sama, “Dan kamu juga menuntut diterapkannya syariat?”.
Saya menjawab, “Seandainya saya memiliki seribu nyawa, saya siap mengorbankannya demi satu hakikat dari sekian banyak hakikat syariat. Karena syariat merupakan sumber kebahagiaan, keadilan murni dan keutamaan. Hanya saja saya tidak menuntutnya sebagaimana yang dilakukan oleh para pembangkang”.
Mereka juga bertanya, “Apakah kamu bergabung dalam organisasi Ittihadi Muhammadi (Persatuan Umat Muhammad)”?
Maka saya jawab, “Dengan penuh kebanggaan! Saya adalah anggotanya yang paling muda, tetapi dengan cara seperti yang telah saya jelaskan... perlihatkanlah kepadaku siapa yang bukan anggota persatuan ini selain orang-orang ateis?
Inilah saya sekarang mempublikasikan pidato tersebut untuk menyelamatkan sistem “parlementer” dari tuduhan, menyelamatkan orang-orang yang pro-syariat dari keputusasaan, menyelamatkan orang-orang yang hidup pada masa sekarang ini dari tuduhan gila dan bodoh dalam pandangan sejarah dan untuk menyelamatkan hakikat dari kecurigaan dan ketidakjelasan. Sekarang saya memulai:
Saya katakan, wahai para perwira dan pasya, berikut ini daftar kejahatan yang menyebabkan saya dipenjara:
Jika kebaikan-kebaikan yang aku jelaskan ini ternyata dosa-dosaku Maka katakanlah bagaimana aku meminta maaf(*39)
Pertama saya katakan bahwa orang yang jantan pantang untuk melakukan kejahatan. Jika ia dituduh melakukannya, ia tidak takut terhadap hukuman. Ketahuilah bahwa jika saya dieksekusi mati secara aniaya, maka saya akan mendapatkan pahala dua orang mati syahid, dan jika saya tetap hidup di penjara, maka penjara itu adalah tempat yang paling baik untuk beristirahat di dalamnya, terjauhkan dari pemerintahan represif yang katanya memiliki kebebasan. Kematian seseorang secara teraniaya lebih baik dari kehidupannya sebagai penganiaya.
Saya katakan juga bahwa sebagian orang yang menjadikan politik sebagai alat untuk ateisme, membungkus kejahatan mereka dengan menuduh orang lain sebagai orang konservatif dan menjadikan agama sebagai alat politik.Elemen badan intelijen sekarang lebih buruk dari yang sebelumnya, maka bagaimana mungkin kesetiaan mereka dapat diandalkan dan bagaimana mungkin keadilan bisa ditegakkan berdasarkan ucapan mereka? Kemudian ketika seseorang menegakkan keadilan dengan tipu muslihat, ia pasti akan terjerumus ke jurang kezaliman. Hal itu karena seseorang tidak lepas dari cacat atau kekurangan, hanya saja mencari-cari cacat dan kekurangan dengan tipu muslihat dan mengum pulkannya meskipun berasal dari sana-sini dalam rentang waktu yang sangat berjauhan dan terdapat di banyak individu, terdapat sejumlah kebaikan untuk menutupi kekurangan tersebut, hal itu hanya akan menimbulkan dugaan adanya cacat dan kekurangan tersebut dalam diri seorang individu dalam satu masa dan dianggapnya berhak untuk mendapatkan hukuman yang berat, padahal cara yang dilakukannya itu sendiri merupakan perbuatan aniaya yang sangat berat.
Sekarang tibalah saatnya untuk mengetengahkan kejahatan-kejahatan saya yang jumlahnya mencapai sebelas setengah kejahatan(*40)
Kejahatan Pertama:
Tahun lalu, bersamaan dengan permulaan dideklarasikannya sistem “parlementer”, saya mengirim sekitar enam puluh telegram kepada sejumlah suku di wilayah timur melalui kantor perdana menteri yang isinya sebagai berikut:
Sistem “parlementer” dan undang-undang dasar yang kalian dengar adalah keadilan yang sebenarnya dan musyawarah yang syar’i, maka terimalah dengan baik dan berusahakeraslah dalam memeliharanya karena kebahagiaan kita di dunia bergantung pada sistem ini dan kita adalah orang yang paling menderita dengan pemerintahan tirani”.
Telegram ini mendapat jawaban positif dari berbagai tempat.
Karena saya telah mengingatkan wilayah timur dan tidak membiarkan mereka lalai agar kelalaiannya itu dieksploitasi oleh tirani baru, maka saya telah melakukan sebuah kejahatan karena saya tidak mengatakan, “Apa urusanku?”. Oleh karena itu saya diadili.
Kejahatan Kedua:
Saya jelaskan kepada mayoritas ulama dan pelajar tentang hubungan yang sebenarnya antara syariat dan apa yang disebut al-Masyrûthiyyah (sistem parlementer). Saya jelaskan secara rinci melalui banyak pidato di Masjid Hagia Sophia, Masjid Bayazid, Masjid Fatih dan Masjid Sulaimaniyah. Saya jelaskan bahwa tidak ada hubungan antara syariat dan tirani. Secara khusus saya katakan kepada mereka, “Syariat diturunkan untuk menghapus tirani dan despotisme sebagai pembenaran hadis Rasulullah yang berbunyi:“Tuan sebuah bangsa adalah pelayan mereka”.(*41)
Jika ada sanggahan dari seseorang terhadap perkataanku dalam pidato yang saya sampaikan, maka saya siap membuktikan kebenaran apa yang telah saya sampaikan dengan bukti-bukti yang nyata.
Saya katakan bahwa jalan yang benar yang ditempuh syariat adalah hakikat “sistem parlementer” yang syar’i. Maksudnya, saya menerima sistem parlementer dengan dalil-dalil syariat dan tidak mengambilnya secara ikut-ikutan atau bertentangan dengan syariat sebagaimana yang dilakukan oleh para propagandis peradaban dan saya tidak memberikan syariat sebagai suapan bagi sesuatu. Maka, itu adalah sebuah kejahatan karena saya telah berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyelamatkan ulama dan syariat dari praduga Eropa yang tidak berdasar sehingga saya mendapat perlakuan seperti ini dari tuan-tuan
Kejahatan Ketiga:
Saya khawatir sebagian propagandis partai menipu putra-putri daerahku yang jumlahnya mencapai sekitar dua puluh ribu di Istanbul mengingat kondisi mereka adalah para kuli pikul, orang-orang sederhana yang lalai sehingga para propagandis itu akan mengeksploitasi mereka dan memanfaatkan mereka untuk hal-hal yang mencemarkan wilayah timur. Maka tahun lalu saya berkeliling ke berbagai tempat hingga kedai-kedai kopi tempat mereka berkumpul. Saya jelaskan kepada mereka makna “parlementer” dengan bahasa yang mereka pahami dan saya katakan kepada mereka yang maknanya sebagai berikut:
Pemerintahan tirani adalah kezaliman dan bersifat represif, sementara “sistem parlementer” mencerminkan keadilan dan sesuai dengan syariat. Jika sultan menaati perintah Nabi kita Muhammad dan menjadikannya suri teladannya, maka sultan itu adalah seorang khalifah yang harus kita taati, tetapi jika tidak, orang-orang yang berbuat zalim dan menyimpang dari jalan Nabi kita Muhammad , maka mereka adalah para penyamun meskipun orang menyebutnya sultan. Saya juga katakan kepada mereka bahwa musuh kita adalah kebodohan, kemiskinan dan perpecahan. Kita akan berjihad menumpasnya dengan senjata pendidikan, industri dan persatuan. Kita akan menjalin persahabatan dan kerjasama dengan tetangga kita dan bangsa Turki—saudara hakiki kita—yang membuat kita siap siaga dan membawa kita menuju kemajuan pada aspek tertentu. Karena dalam permusuhan itu terdapat kejahatan, maka kita tidak memiliki waktu untuk bermusuhan. Kita tidak akan ikut campur dalam masalah pemerintahan karena kita tidak mengetahui kebijakannya.
Demikianlah nasihat itu membekas dalam jiwa para kuli pikul tersebut dan hal itu terbukti pada hari ketika mereka memboikot barang-barang Austria—sebagaimana saya memboikot semua yang berbau Eropa(*42)—maka mereka telah berperilaku logis sementara mereka tengah berada dalam puncak emosi dan kekacauan.
Oleh karena itu, saya telah melakukan sebuah kejahatan ketika meluruskan hubungan mereka dengan sultan dan saya telah menyebabkan diumumkannya perang ekonomi terhadap Eropa bersama orang-orang yang memboikotnya. Maka, musibah ini menimpaku.
Kejahatan Keempat:
Eropa telah mengira bahwa syariat berpotensi tiran. Sama sekali tidak. Sangkaan ini didukung oleh kondisi kita yang bodoh dan fanatik. Saya telah menyambut sistem parlementer atas nama syariat dengan sambutan yang melebihi sambutan yang diberikan orang selainku guna mendustakan sangkaan tersebut, hanya saja saya khawatir tirani lain yang baru akan membenarkannya. Oleh karena itu, dengan kekuatan yang kumiliki saya berpidato di Masjid Hagia Sophia yang isinya ditujukan kepada para anggota DPR:
“Terimalah sistem parlementer dan ajarkanlah sebagai hal yang sah agar tirani baru yang tersembunyi tidak datang, tirani yang tidak mengenal agama sehingga kesuciannya itu terkontaminasi oleh tangan-tangan kotor dan dijadikannya tunggangan untuk mencapai tujuannya. Ikatlah kebebasan dengan etika syariat karena jika orangorang bodoh dan masyarakat awam dibiarkan bebas tanpa ikatan, bebas tanpa syarat, maka mereka akan mengumbar hawa nafsunya, melakukan kekejian dan maksiat. Hendaknya empat mazhab itu dijadikan kiblat kalian dalam menunaikan “shalat keadilan” agar salat itu sah.
Karena saya telah mendakwa adanya kemungkinan untuk mengambil hakikat “sistem parlementer” secara langsung, mengambil kandungannya dan memintakan izinnya dari empat mazhab, maka saya yang masih berstatus sebagai pencari ilmu yang sangat sederhana ini telah memikul sebuah tanggung jawab yang sangat berat yang sepatutnya dipikul oleh para ulama yang berarti bahwa saya telah melakukan kejahatan sehingga saya menerima hukuman ini.
Kejahatan Kelima:
Banyak surat kabar telah melanggar etika Islam dan mengacaukan pendapat umum dengan tulisan yang berdasarkan dua ukuran yang rusak dan mengandung pencemaran kehormatan. Maka saya menulis sejumlah makalah dan dimuat dalam beberapa surat kabar sebagai bantahan. Di antaranya saya tulis:
Para wartawan, para sastrawan diharuskan beretika dengan etika Islam. Tulisan mereka harus keluar dari hati orang banyak yang mewakili seluruh bangsa tanpa pemihakan. Perasaan keberagamaan serta niat tulus yang terdapat dalam hati nurani kalian seharusnya mengatur peraturan publikasi. Tetapi ternyata kalian menggunakan dua perbandingan yang cacat: perbandingan antara tempat-tempat di daerah dan ibu kota Istanbul serta Istanbul dengan Eropa. Maka kalian telah mengacaukan opini publik dan telah mencampakkannya ke dalam rawa. Kalian telah memicu perasaan balas dendam dan kepentingan individual. Tidak boleh diberikan pelajaran filsafat alam kepada seorang anak kecil yang tidak bisa membaca abjad. Tidak patut seorang lelaki mengenakan pakaian seorang artis wanita, maka demikian pula cara berpikir Eropa tidak patut diterapkan di Istanbul. Perbedaan bangsa dan tempat adalah seperti perbedaan waktu dan masa. Pakaian seseorang tidak cocok untuk orang lain. Revolusi besar Perancis tidak mungkin menjadi undang-undang dasar gerakan kita dalam situasi bagaimanapun juga. Kesalahan terjadi ketika teori diterapkan tanpa mengindahkan tuntutan situasi.
Saya adalah orang desa yang buta huruf tetapi saya lancang menasihati para redaktur surat kabar yang terpedaya, yang telah melakukan kekeliruan dan didorong oleh sifat iri dengki. Oleh karena itu, saya telah melakukan sebuah kejahatan.
Kejahatan Keenam:
Ketika berada dalam pertemuan besar, saya sering kali merasakan ketegangan dan kekacauan yang dialami orang-orang dan saya khawatir masyarakat luas akan kehilangan rasa amannya karena mereka terlibat dalam urusan politik. Maka saya redakan ketegangan mereka dengan perkataan-perkataan yang sesuai dengan penuntut ilmu yang berasal dari kampung dan baru belajar bahasa Turki. Misalnya saya berhasil meredakan emosi dalam perkumpulan para mahasiswa di Masjid Bayazid, dalam acara peringatan Maulid Nabi di Masjid Hagia Sophia dan di Teater Farah. Jika tidak, kerusu�han akan terjadi.
Saya adalah orang kampung yang telah mencampuri urusan warga sipil padahal saya mengetahui intrik mereka. Oleh karena itu, saya telah melakukan sebuah kejahatan.
Kejahatan Ketujuh:
Saya mendengar bahwa sebuah organisasi telah dibentuk dengan nama “Ittihadi Muhammadi”. Saya sangat khawatir sebagian anggotanya melakukan sesuatu yang tidak benar di bawah nama yang penuh berkah ini. Kemudian setelah itu saya mengetahui bahwa sebagian tokoh seperti Suhail Pasha dan Syekh Shadiq(*43)telah mengubah haluan organisasi ini menjadi wadah untuk beribadah dan mengikuti sunnah Nabi Muhammad. Dengan demikian mereka telah memutus hubungannya dengan organisasi politik dan para anggotanya tidak lagi turut campur dalam urusan politik, hanya saja kekhawatiran itu masih menghantui diriku sehingga saya berkata,“Nama ini milik umum, bukan milik golongan tertentu. Saya dapat dikatakan berafiliasi ke beberapa organisasi keagamaan yang berbeda-beda dan saya telah melihat bahwa tujuannya satu. Maka demikian halnya ketika saya berafiliasi ke nama yang penuh berkah itu, hanya saja definisi “Ittihadi Muhammadi” yang saya ketahui dan bergabung di dalamnya adalah:
Lingkaran yang berkaitan dengan rangkaian cahaya kemilau yang terbentang dari Timur ke Barat dan dari Utara ke Selatan.Anggota yang tergabung di dalamnya sekarang ini lebih dari tiga ratus juta. Orientasi kesatuan dan ikatan dalam persatuan ini adalah tauhid Ilahi. Janjinya adalah iman. Anggotanya adalah semua orang-orang beriman yang memasukinya sejak mereka mengatakan ژ ژ’ Ya’. Daftar nama mereka adalah Lauhil Mahfudz. Penyebaran pemikiran mereka adalah semua buku-buku Islam. Surat kabar harian mereka adalah seluruh surat kabar agama yang bertujuan untuk meninggikan kalimat Allah. Markas dan sekretariatnya adalah masjid, madrasah dan tempat-tempat berzikir.Pusatnya adalah Dua Tanah Suci, Mekkah dan Madinah. Ketua perkumpulan ini adalah kebanggaan alam semesta yaitu Nabi Muhammad . Manhajnya adalah setiap orang berusaha keras mengendalikan dirinya. Artinya, setiap orang berakhlak dengan akhlak junjungan Nabi Muhammad, menghidupkan sunnah beliau, saling mengasihi dan memberi nasihat selama tidak berdampak buruk. Anggaran Dasar oranisasi ini adalah Sunnah Nabi. Undang-undangnya adalah perintah dan larangan yang diajarkan syariat. Pedangnya adalah bukti-bukti yang kuat dan jelas, sebab untuk mengalahkan orang-orang yang berperadaban memerlukan cara persuasif, bukan pemaksaan. Untuk memperoleh kebenaran hanya dapat dilakukan dengan cinta, sedangkan permusuhan hanya akan menimbulkan fanatisme dan kekacauan.Tujuan organisasi ini adalah meninggikan kalimat Allah. Sembilan puluh sembilan persen syariat kembali pada akhlak, ibadah, keutamaan dan akhirat. Satu persennya berkaitan dengan politik. Maka hendaknya para pemangku kekuasaan memikirkan hal ini.
Tujuan kita sekarang adalah menggiring semua orang ke arah “Ka`bah kesempurnaan” dalam rangka meniti jalan kemajuan dengan penuh semangat melalui penggerakan rangkaian cahaya kemilau tersebut. Karena salah satu faktor untuk meninggikan kalimat Allah pada masa sekarang ini adalah kemajuan materi.
Saya adalah salah seorang anggota organisasi ini dan salah seorang yang sangat antusias terhadap kemunculannya. Saya bukan anggota kelompok atau partai yang menyebabkan perpecahan.
Alhasil: saya telah membaiat Sultan Salim(*44)dan menerima pemikirannya tentang persatuan Islam. Ia adalah orang yang membangunkan wilayah Timur makanya mereka membaiatnya. Penduduk wilayah Timur sekarang adalah penduduk wilayah Timur waktu itu. Pendahuluku dalam masalah ini adalah Syekh Jamaluddin al-Afghani, dan dari ulama terkemuka, mufti Mesir Syekh Muhammad Abduh, dan seorang ulama terkemuka lainnya Ali Su`awi(*45), Syekh Tahsin(*46) , Namik Kemal(*47)yang menjadikan persatuan Islam sebagai tujuannya, dan Sultan Salim yang mengatakan:
Perselisihan adalah penderitaan yang selalu menggelisahkanku
Hingga ke sudut kuburanku
Hanya dengan persatuan kita, permusuhan dapat dienyahkan Jika umatku terpecah-belah, oh,
betapa malangnya.
Yavuz Sultan Selim
Untuk persatuan ini saya telah bekerja guna memperlihatkan dua tujuan yang besar:
Pertama:untuk menyelamatkan nama organisasi tersebut dari pembatasan dan pengkhususan serta mendeklarasikan keuniversalannya untuk seluruh orang-orang yang beriman, agar tidak timbul perpecahan dan kekhawatiran di antara mereka.
Kedua:dengan tauhid, kami berupaya mencegah perpecahan kelompok-kelompok yang menyebabkan datangnya musibah besar ini yang telah berlalu. Akan tetapi sangat disayangkan, kesempatan belum berpihak kepadaku. Musibah itupun terjadi dan akhirnya menghantamku.Kemudian saya berkata, “Jika terjadi kebakaran di mana pun, saya pasti ikut memadamkannya, tetapi kebakaran itu terjadi hingga membakar pakaian keulamaan yang saya kenakan sehingga menghilangkan popularitas dusta yang tidak dapat saya pikul. Untuk itu saya merasa sangat bersyukur.
Saya hanyalah orang biasa, namun saya menanggung beban untuk melaksanakan sesuatu yang merupakan tugas paling penting DPR, senat dan para menteri. Dengan demikian saya telah melakukan kejahatan.
Kejahatan Kedelapan:
Saya mendengar sebagian tentara berafiliasi ke beberapa organisasi. Maka terlintas dalam benakku peristiwa mengerikan yang menimpa Yeniçeri(*48). Didorong oleh kegelisahan yang sangat kuat saya pun menulis artikel di salah satu surat kabar:
“Organisasi yang paling suci pada masa sekarang ini adalah organisasi balatentara orang-orang yang beriman, yaitu organisasi yang menghimpun semua yang bergabung di dalamnya dalam jalan balatentara orang-orang yang beriman yang siap berkorban, di mulai dari tentara yang paling rendah pangkatnya hingga komandan pasukan karena tujuan organisasi paling suci di dunia adalah persatuan, persaudaraan, ketaatan, kecintaan dan meninggikan kalimat Allah. Balatentara orang-orang yang beriman adalah yang mencerminkan tujuan ini. Mereka adalah pusatnya dan kepada merekalah sepatutnya berbagai bangsa dan organisasi berafiliasi dan organisasi-organisasi lainnya hendaknya menjadikan bangsa sebagai balatentara yang mencerminkan persaudaraan dan kecintaan.Organisasi Ittihadi Muhammadi mencakup seluruh orang-orang yang beriman dan bukan organisasi atau kelompok tertentu. Pusat dan barisan pertamanya terdiri dari para veteran, orang-orang yang mati syahid, ulama dan mursyid. Maka tidak ada seorangpun tentara yang beriman yang siap berkorban—baik itu prajurit maupun perwira—di luar persatuan ini sehingga harus berafiliasi dengannya. Hanya saja mungkin sebagian organisasi ada yang memakai nama Ittihadi Muhammadi, dan saya tidak akan ikut campur dalam masalah ini
Saya hanya sekadar murid biasa yang telah merampas tugas para ulama senior sehingga dengan demikian saya telah melakukan kejahatan.
Kejahatan Kesembilan:
Saya menyaksikan peristiwa yang mengerikan yang terjadi pada tanggal 31 Maret. Saya menyaksikannya selama dua atau tiga menit dari kejauhan. Saya mendengar banyak tuntutan. Sebagaimana spektrum tujuh warna jika diputar secara cepat yang terlihat hanyalah warna putih, maka demikian pula dari berbagai tuntutan itu tidak terdengar dengan jelas kecuali satu tuntutan yaitu kata “syariat” yang mengurangi kerusakan dari seribu hingga satu, menyelamatkan orang banyak dari kekacauan, dan dengan mengagumkan memelihara politik umum sehingga tidak menjadi barang mainan di tangan segelintir individu.
Maka saya sadar bahwa kondisinya sangat buruk, ketaatan diabaikan dan nasihat tidak berguna. Jika tidak, saya sudah berkeinginan untuk berusaha memadamkan api tersebut sebagaimana yang biasa saya lakukan. Namun kali ini jumlah masyarakat awam sangat banyak, putra-putri daerahku lalai dan bodoh, serta saya tampil dengan penampilan popularitas palsu, maka saya pun tiga menit kemudian menjauhi tempat itu dan pergi ke daerah Bakırköy(*49). Saya berpesan kepada setiap orang yang saya jumpai untuk tidak terlibat dalam peristiwa tersebut. Seandainya saya terlibat walau sesaat, maka saya akan tampil sebagai seorang yang sangat penting dalam peristiwa tersebut karena pakaianku waktu itu menujukkan hal itu dan popularitas yang tidak saya inginkan akan memunculkanku di hadapan semua orang. Mungkin waktu itu saya akan menghadapi pasukan tentara—meskipun saya sendirian—sampai Ayastefanos(*50), dan saya akan mati sebagai kesatria. Jika demikian, keterlibatanku merupakan hal yang sangat jelas dan tidak perlu penyelidikan.
Kemudian pada hari berikutnya saya bertanya-tanya tentang kepatuhan militer yang merupakan ikatan hidup kita. Mereka berkata, “Para perwira turut serta dalam peristiwa tersebut dengan mengenakan pakaian prajurit sehingga kepatuhan itu tidak banyak tercemar”.
“Berapa orang perwira yang tewas?”, tanyaku. Mereka menipuku dan berkata, “Hanya empat orang perwira, dan mereka adalah para diktator. Hukuman syariat dan etikanya akan diterapkan”.
Kemudian saya membaca surat kabar. Saya dapatkan beritanya menggambarkan bahwa peristiwa yang terjadi itu adalah legal. Dari satu sisi saya merasa senang karena tujuanku yang paling suci adalah penerapan hukum-hukum syariat secara sempurna, tetapi saya sedikit frustasi dan putus asa karena adanya kepatuhan militer yang ternodai, maka saya publikasikan surat untuk prajurit yang dimuat di semua surat kabar. Saya katakan kepada mereka:
“Para prajurit, jika para perwira kalian telah menganiaya diri sendiri dengan melakukan satu dosa, maka jika kalian melakukan pembangkangan, kalian berarti telah berbuat aniaya terhadap sebagian hak tiga puluh juta rakyat Utsmani dan tiga ratus juta muslim. Karena panji tauhid, kebahagiaan dan kejayaan mayoritas warga Utsmani dan kaum muslimin pada masa sekarang ini salah satu dasarnya adalah kepatuhan kalian. Kemudian kalian dari satu sisi menuntut penerapan syariat, tetapi di sisi lain melanggar syariat tersebut dengan melakukan pembangkangan”.
Kemudian saya mempengaruhi gerakan dan keberanian mereka. Hal itu karena surat-surat kabar—yang merupakan penyampai berita dusta untuk opini publik—telah menggambarkan bahwa gerakan mereka adalah sesuatu yang legal. Nasihat saya telah mendapat penghargaan dan dampaknya positif sehingga sedikit banyak dapat meredakan pembangkangan militer. Jika tidak, maka menertibkan peristiwa tersebut tidak semudah ini.
Saya seseorang yang benar-benar telah memasuki rumah sakit jiwa, tetapi saya tidak mengatakan, “Apa urusanku dengan masalah ini?. Biarlah orang-orang yang berakal memikirkan hal ini.” Karenanya saya telah melakukan kejahatan.
Kejahatan Kesepuluh:
Pada hari Jumat ditemani sejumlah ulama, saya pergi untuk menemui para prajurit yang berada di Kementerian Perang. Di sana saya menyampaikan pidato yang pengaruhnya sangat mendalam. Setelah beberapa lama nasihatku membuahkan hasil sehingga delapan batalion dari mereka keluar dari pembangkangannya dan kembali patuh. Di antara isi pidato saya adalah:
“Wahai balatentara yang bertauhid! Kehormatan, martabat, kebahagiaan dan panji tauhid tiga puluh juta rakyat Usmani dan tiga ratus juta muslim—dari satu sisi—bergantung pada kepatuhan kalian. Jika para perwira kalian telah menganiaya diri sendiri dengan melakukan satu dosa, maka dengan pembangkangan ini kalian menganiaya tiga ratus juta muslim, karena mencampakkan persaudaraan Islam ke dalam kehancuran.
Ketahuilah bahwa barak prajurit menyerupai sebuah pabrik besar yang teratur. Jika terjadi pembangkangan dari salah satu bagiannya, maka pabrik ini akan berubah menjadi tempat kekacuan yang sangat dahsyat. Ketahuilah, tentara tidak sepatutnya mencampuri urusan politik. Apa yang menimpa tentara Yeniçeri pada masa lalu adalah bukti yang paling baik untuk membenarkan apa yang saya katakan. Kalian menuntut penerapan syariat tetapi pada kenyataannya kalian melanggarnya dan mencemari nama baiknya. Telah terbukti, dengan syariat, al-Quran, hadis, hikmah dan pengalaman bahwa kalian wajib mematuhi para pemimpin yang teguh, religius dan menegakkan kebenaran. Pemimpin dan guru kalian adalah perwira kalian.
Sebagaimana jika seorang insinyur piawai atau seorang dokter cerdas melakukan sebuah dosa, perbuatannya itu tidak akan membahayakan ilmu kedokteran dan tekniknya, maka demikian pula dengan kalian. Janganlah kalian berbuat aniaya kepada warga Usmani dan kaum muslimin dengan pembangkangan kalian terhadap perwira kalian yang beriman, berpendidikan, memiliki semangat, pemikiran yang cemerlang dan keahlian dalam masalah perang, sekadar karena mereka melakukan tindakan parsial yang tidak syar’i. Pembangkangan bukan sekadar perbuatan aniaya, tetapi hal itu merupakan pelanggaran hak jutaan manusia.Kalian tahu bahwa panji tauhid Ilahi pada masa sekarang ini berada dalam genggaman tangan keberanian kalian, dan kekuatan genggaman tangan ini bergantung pada kepatuhan dan disiplin. Seribu prajurit yang berdisiplin dan patuh sebanding dengan seratus ribu prajurit yang tidak disiplin. Maka apa perlunya revolusi ini yang menumpahkan darah banyak orang yang tidak dapat dilakukan oleh tiga puluh juta orang selama seratus tahun, sementara kalian sendiri dapat merealisasikannya dengan kepatuhan kalian tanpa pertumpahan darah?
Saya tambahkan lagi bahwa menyia-nyiakan seorang perwira yang penuh semangat dan mempunyai pemikiran yang cemerlang adalah kehilangan bagi kekuatan spiritual kalian. Hal itu karena kekuasaan sekarang bergantung pada keberanian iman, mental dan ilmiah. Kadang kala seseorang yang memiliki pemikiran yang cemerlang sebanding dengan seratus orang. Pihak-pihak asing selalu berusaha mengalahkan kalian dengan kekuatan ini karena keberanian bawaan saja tidak cukup.
Alhasil, saya sampaikan kepada kalian sabda kebanggaan alam semesta, Nabi Muhammad bahwa taat itu wajib, maka jangan membangkang kepada perwira kalian.Hidup prajurit....hidup sistem parlementer yang syar’i.
Karena saya telah memikul beban tugas agung seperti ini di hadapan banyak ulama, maka saya telah melakukan kejahatan.
Kejahatan Kesebelas:
Saya telah menyaksikan situasi yang memperihatinkan yang dialami sejumlah suku di wilayah Timur. Saya sudah menyadari bahwa kebahagian dunia kita dari satu sisi akan terwujud dengan ilmu-ilmu modern. Oleh karena itu, sekolah harus menjadi sumber ilmu-ilmu tersebut dan para ulama menjadi sungainya yang mengalir, agar para ulama akrab dengan ilmu-ilmu modern tersebut. Karena mereka adalah yang memegang kendali urusan manusia seperti orang-orang badui di wilayah tersebut.
Atas dasar itu, saya datang ke Istanbul yang disebut “Pintu Kebahagiaan”.Saya menolak gaji sebagai pemberian sultan lewat Kementerian Dalam Negeri meskipun pemerintahan tirani yang dituduhkan pada waktu itu kepada almarhum sultan yang digulingkan—sekarang diganti oleh pemerintahan tirani yang lebih luas dan lebih kejam—dengan tujuan dan harapan mendapatkan kebahagiaan. Saya salah dengan apa yang telah saya lakukan, tetapi kesalahanku itu lebih baik karena saya menampakkan kesalahan orang-orang yang menuntut kesenangan dunia dengan menggadaikan ilmu agama. Maka, saya telah mengorbankan akalku dan tidak melepaskan kebebasanku.
Saya tidak menundukkan kepala di hadapan sultan yang penyayang itu dan saya telah meninggalkan kepentingan pribadiku.Orang-orang yang seperti nyamuk itu bisa saja menjadikanku sebagai mitra mereka dengan cinta bukan dengan paksaan. Saya di sini bekerja sejak satu tahun setengah yang lalu untuk menyebarluaskan pendidikan di daerahku. Masalah ini diketahui mayoritas orang di Istanbul.
Saya adalah anak seorang kuli pikul. Saya mempertahankan diriku dalam kondisi sebagai anak kuli pikul dan kondisi miskin ini padahal dunia telah membuka pintunya lebar-lebar. Saya telah meninggalkan pegunungan wilayah Timur yang paling saya cintai, dan demi kepentingan rakyat saya mengurusi berbagai masalah yang memasukanku ke dalam rumah sakit jiwa kemudian menjebloskanku ke penjara pada masa pemerintahan parlementer. Hal ini merupakan sebuah kejahatan besar yang telah saya lakukan sehingga saya diseret ke pengadilan yang menakutkan.
Setengah Kejahatan:
Saya berbicara kepada mantan sultan, almarhum Abdul Hamid melalui surat kabar, dalam rangka mencegah lepasnya kekhalifahan—yang merupakan pusat lingkaran dan ikatan Islam—dari tangannya, berdasarkan dugaan saya bahwa ia telah menyadari kesalahannya yang terkait dengan persoalan sosial dan ia menyesalinya serta dirinya siap untuk menerima nasihat, sebagai penerapan kaidah yang berbunyi “jalan terbaik adalah perdamaian” dan berdasarkan dugaan bahwa peristiwa yang terjadi dan menjadikan bibit sejumlah emosi dan prinsip banyak tujuan akan terjadi dengan cara yang paling baik, maka saya katakan kepadanya:
“Jadikan bintang(*51)yang redup itu sebagai universitas sehingga kedudukannya membumbung tinggi di atas bintang-bintang. Tempatkan di dalamnya orang-orang yang mengerti hakikat yang bertindak sebagai malaikat rahmat sebagai ganti dari para pelancong dan malaikat Zabaniyah agar tempat itu menjadi seperti surga. Harta yang telah dihadiahkan rakyat kepadamu di Istana Yıldız, kembalikan kepada mereka dengan menggunakannya untuk mendirikan beberapa perguruan tinggi Islam yang besar guna mengangkat mereka dari kebodohan yang merupakan penyakit bangsa. Percayalah atas kemurahan hati dan kecintaan rakyat! Karena merekalah yang mendapat beban untuk mengelola urusan kesultananmu. Di sisa umurmu ini, hendaknya Anda hanya memperhatikan akhirat. Tinggalkanlah dunia sebelum ia meninggalkanmu. Keluarkanlah zakat usiamu untuk usia keduamu”.
Sekarang mari kita bandingkan, manakah yang lebih pantas, Istana Yıldız menjadi tempat hiburan atau universitas? Apakah menjadi tujuan para pelancong berkeliling atau menjadi tempat para ulama mengajar? Apakah tempat itu dirampas dari rakyat atau dihadiahkan olehnya? Mana yang lebih baik? Silakan orang-orang yang memiliki rasa keadilan menentukan pilihannya.
Saya adalah salah seorang rakyat jelata yang memberi nasihat kepada seorang sultan yang agung; karenanya saya telah melakukan setengah kejahatan.
Belum waktunya untuk menjelaskan setengah kejahatan lainnya(*52).
Sungguh kasihan. Ketika bangsa sangat mendambakan sistem parlementer yang syar’i yang merupakan kebahagiaan kita, merindukan ilmu pengetahuan modern yang serasi dengan Islam yang merupakan sumber kehidupan sosial kita, tiba-tiba dalam peristiwa ini para ekstrimis datang, mencampuradukkan sistem parlementer dengan kedengkian dan tujuan busuk mereka. Kemudian orang-orang yang pikirannya tercerahkan berulah yang bertentangan dengan agama. Kedua kelompok ini menghalangi keinginan bangsa. Yang harus dilakukan para perintang ini adalah menghancurkan rintangannya. Ini yang diharapkan dari mereka atas nama negara.
Wahai para pasya dan perwira! Saksi sebelas setengah kejahatan ini jumlahnya mencapai ribuan, bahkan mungkin saksi sebagian kejahatan tersebut adalah setengah penduduk Istanbul. Dengan kerelaan saya menerima hukuman akibat kejahatan itu, saya akan mengajukan sebelas setengah pertanyaan yang saya inginkan jawabannya.
Saya akan menjelaskan satu kebaikan saja yang saya miliki sebagai imbalan kejahatan-kejahatan tersebut, yaitu bahwa saya menentang kelompok tirani yang ada di sini, yang telah menghancurkan harapan orang banyak, merampas kebahagiaan mereka, menimbulkan kedengkian, memicu rasa keberpihakan dan itu yang menjadi penyebab terbentuknya berbagai organisasi yang berdasarkan nasionalisme dan etnis yang melahirkan perpecahan, yang menjadikan sistem parlementer sekadar namanya saja tetapi isinya adalah tirani, dan mencemarkan nama baik “persatuan dan kemajuan”.
Setiap orang memiliki pemikiran masing-masing. Oleh karena itu, perdamaian dan pengampunan umum harus direalisasikan, hakhak istimewa harus disingkirkan agar seseorang tidak memandang yang lainnya dengan pandangan superioritas seakan-akan orang lain adalah serangga sehingga memunculkan perselisihan.
Bukannya sombong, saya katakan bahwa kita adalah umat Islam yang hakiki. Kita bisa saja ditipu tetapi tidak menipu. Kita tidak akan merendahkan diri dengan berdusta untuk sekadar mendapatkan kehidupan. Karena kita mengetahui bahwa
‘taktik yang sebenarnya adalah dengan meninggalkan banyak tipudaya’,
tetapi saya telah berjanji atas nama sistem parlementer yang syar’i untuk menampar tirani yang mengenakan pakaian parlementer, menggunakan namanya atau dalam bentuk lain di mana saja saya temui.
Saya yakin bahwa musuh sistem parlementer adalah mereka yang memperbanyak musuh musyawarah dengan menampilkan sistem parlementer sebagai hal yang buruk, tidak adil dan bertentangan dengan syariat, sedangkan kaidah mengatakan “kebenaran tidak akan berubah dengan perubahan nama”.
Kesalahan terbesar adalah seseorang mengira dirinya bebas dari kesalahan. Maka saya mengakui kesalahan saya dan saya katakan, “Saya ingin menjadikan orang-orang menerima nasihat saya tanpa saya menerima nasihat mereka. Saya berusaha membimbing orang lain tanpa saya membimbing diri sendiri. Oleh karena itu, saya merendahkan nilai amar makruf ini sehingga tidak berbekas.
Kemudian, berdasarkan pengalaman dapat dibuktikan bahwa hukuman datang sebagai hasil kesalahan, hanya saja terkadang kesalahan terlihat dalam bentuk hukuman atas kesalahan yang tidak pernah dilakukan. Seseorang mendapatkan hukuman sedangkan dirinya sebetulnya tidak bersalah. Maka Allah menurunkan musibah yang menyeretnya ke dalam penjara dan itu merupakan keadilan. Tetapi hakim menghukumnya dan itu merupakan kezaliman.
Wahai para penguasa! Saya memiliki kedudukan yang ingin saya gunakan untuk berkhidmat kepada umat Islam, tetapi tuan-tuan telah menghancurkannya. Saya memiliki popularitas palsu tanpa saya pinta. Ketika itu saya menasihati masyarakat awam dan nasihatku membekas pada diri mereka tetapi tuan-tuan menghapus bekasnya itu dan saya ucapkan terima kasih. Sekarang saya memiliki kehidupan lemah yang menjemukan, Allah akan membinasakanku jika mempertahankannya karena takut hukuman mati. Bukanlah seorang kesatria jika saya pergi menuju kematian tanpa tersenyum.
Hukuman terhadap diriku secara lahiriah menghasilkan hukuman bagi kalian secara batiniyah. Hal itu tidak akan membahayakan diriku bahkan merupakan suatu kehormatan bagiku! Tetapi tuan-tuan akan membahayakan bangsa karena telah menghancurkan pengaruh yang terdapat dalam nasihatku, kemudian bahaya akan menimpa kalian untuk kedua kalinya karena saya akan menjadi argumentasi telak di tangan musuh kalian.
Tuan-tuan telah menempatkanku dalam kriteria yang jika kalian tempatkan orang-orang yang disebut sebagai kelompok khusus(*53) ,maka berapa orang dari mereka yang akan tersisa dalam keadaan selamat? Ketahuilah bahwa jika sistem parlementer itu adalah tirani kelompok dan bertentangan dengan syariat, maka hendaknya bangsa jin dan manusia bersaksi bahwa saya adalah seorang konservatif karena persatuan yang dibangun di atas kebohongan adalah dusta, dan sistem parlementer yang berlandaskan pada kerusakan adalah rusak, sedangkan pemilik nama itu sendiri akan tetap berada dalam landasan yang benar, jujur dan terjauhkan dari hak-hak istimewa.
...
Petir dahsyat dan badai menakutkan yang disebut “Peristiwa 31 Maret” itu telah menyediakan kesiapan alami untuk timbulnya despotisme dengan banyak faktor, hanya saja para pelakunya selalu mengucapkan nama syariat yang memperlihatkan mukjizat selamanya di sisi Allah I. Padahal peristiwa tersebut telah menyebab�kan kekacauan. Meskipun nama syariat ini telah menjadikan badai tersebut berlalu dengan selamat, tetapi pada pertengahan April ia dituding oleh surat-surat kabar sebagai penyebabnya. Jika tujuh masalah yang menyebabkan terjadinya peristiwa tersebut diperhatikan dengan seksama bersamaan dengan tujuh kondisi ketika itu, kebe�naran akan tampak dengan jelas. Ketujuh masalah dan kondisi terse�but adalah
1-Peristiwa tersebut merupakan gerakan yang sembilan puluh persennya berorientasi menentang Partai Persatuan dan Kemajuan, menentang dominasi dan tirani mereka
2. Peristiwa tersebut bertujuan untuk mengganti para menteri yang kontroversial di antara partai-partai.
3. Menyelamatkan sultan yang teraniaya dari penggulingan terencana.
4. Membendung ajaran-ajaran yang bertentangan dengan tradisi militer dan etika agama.
5. Mencari pelaku pembunuhan terhadap Hasan Fahmi yang beritanya dibesar-besarkan.
6. Menuntut keadilan untuk para prajurit dan perwira yang diberhentikan dari tugasnya.
7. Mencegah konsep kebebasan dari pengertiannya yang mencakup perbuatan yang tidak bermoral dan bejat dan membatasinya dengan etika syariat, serta menerapkan hukum kisas dan potong tangan di mana masyarakat awam tidak mengetahui kebijakan syariat tanpa kedua hukuman tersebut.
Akan tetapi kondisi di lapangan sudah seperti rawa, rencana telah disusun, perangkap telah dipasang, dan kepatuhan militer yang suci itu telah dikorbankan. Sebab-sebab mendasar atas peristiwa tersebut adalah pertikaian antara kelompok dengan keberpihakan dan kedengkian, kecenderungan surat kabar untuk menyebarkan dusta, berlebih-lebihan dalam pemutarbalikkan fakta, lebih mengandalkan Mubâlagah (gaya berlebihan) ketimbang Balâgah (gaya retorika)(*54). Sebagaimana jika spektrum tujuh warna jika diputar tidak terlihat kecuali warna putihnya saja, maka demikian pula dengan ketujuh tuntutan tersebut, yang terlihat dengan jelas hanya sinar syariat yang putih sehingga ia menjadi penghalang kerusakan.
...
Dengan segenap kekuatan yang saya miliki saya katakan, “Kemajuan kita akan terwujud hanya dengan kemajuan Islam yang merupakan kebangsaan kita dan manifestasi hakikat-hakikat syariat. Jika tidak, kebenaran peribahasa ini terbukti, “Kehilangan dua langkahnya”(*55).
Ya, kita harus merasakan kehormatan dan kemuliaan nasionalisme Islam, merasakan pahala akhirat, juga merasakan semangat nasionalisme dan semangat Islam, dan merasakan mencintai tanah air sekaligus mencintai agama.
Wahai Para pasya dan perwira!Saya menuntut hukuman terhadap semua kejahatanku dan menuntut jawaban terhadap semua pertanyaanku. Islam adalah kemanusiaan yang agung. Syariat adalah peradaban yang memiliki banyak keutamaan. Dunia Islam sangat sesuai untuk menjadi “Kota Plato yang ideal”:
Pertanyaan pertama(*56): Apa hukuman orang-orang sederhana yang menjadi korban penyesatan surat kabar sehingga mereka tersapu arus orang banyak dengan motivasi mempertahankan tradisi dan mereka mengira perbuatannya itu legal?
Pertanyaan kedua:Apa pendapat tuan-tuan jika seorang manusia menjelma menjadi seekor ular, atau seorang wali berpakaian dengan pakaian seorang begal, atau sistem parlementer berbentuk seperti tirani; apa hukuman orang yang menyerang mereka? Bisa jadi mereka sebenarnya memang ular, begal dan para tiran.
Pertanyaan ketiga:Apakah tiran itu hanya berupa seorang individu saja? Tidakkah mungkin merupakan banyak orang? Menurut saya, kekuatan harus terletak pada undang-undang. Jika tidak, tirani merajalela melalui berbagai organisasi.
Pertanyaan keempat:Mana yang lebih berbahaya, menghukum mati seorang yang tidak bersalah atau mengampuni sepuluh penjahat?
Pertanyaan kelima:Tidakkah menekan para pemikir dan para ahli akan menyebabkan tersebarnya kemunafikan dan perpecahan, di samping tidak ada gunanya memberantas mereka?
Pertanyaan keenam:Selain dengan membatalkan hak-hak istimewa, dengan apa persatuan dan kesatuan bangsa yang merupakan modal dasar kehidupan sosial kita dapat terwujud?
Pertanyaan ketujuh:Tidakkah tuan-tuan lihat pelanggaran kesetaraan dan penerapannya yang tidak sepenuhnya pada sebagian orang, kemudian pelaksanaan undang-undang seluruhnya terhadap mereka? Bukankah ini diskriminasi dan ketidakadilan yang mengabaikan kesetaraan meskipun tampaknya adalah sebuah keadilan? Tidakkah tuan-tuan lihat mayoritas orang yang ditahan yang terbukti tidak bersalah dengan dibebaskannya mereka—jumlahnya mungkin mencapai delapan puluh persen dari tahanan—jika yang menimpa mereka itu adalah keputusan undang-undang, tidakkah mayoritas orang melihat kedengkian dan perasaan balas dendam dalam keputusan ini? Saya tidak memiliki apa-apa untuk disampaikan kepada pengadilan militer, tetapi para agen rahasia dan informan hendaknya memikirkan hal ini.
Pertanyaan kedelapan: Bagaimana pendapat tuan-tuan jika suatu kelompok memperoleh hak-hak istimewa sementara kelompok lainnya tidak mendapatkannya dengan dalih bahwa hal itu mengatasnamakan sistem parlementer, kemudian mereka mulai berulah dengan perilaku yang melukai perasaan orang-orang secara berulang-ulang dengan memaksa mereka tampil dalam bentuk yang bertentangan dengan sistem parlementer. Lalu siapakah yang bersalah?
Pertanyaan kesembilan:Jika tukang taman membuka pintu taman dan membolehkan semua orang masuk, siapakah yang bersalah jika taman itu rusak?
Pertanyaan kesepuluh: Apa pendapat tuan-tuan jika kebebasan berpikir dan menyatakan pendapat dibuka pintunya lebar-lebar, kemudian orang-orang dipermasalahkan karena pemikiran dan perkataannya? Bukankah ini rencana untuk mencampakkan bangsa yang perlu dikasihani ini ke neraka Jahim? Kalaupun bukan sebuah rencana, tidakkah terlintas dalam benak adanya dalih lain sebagai pangganti pelaksanaan realisasi tujuan yang sama itu?
Pertanyaan kesebelas:semua orang berjanji atas nama sistem parlementer, padahal mereka itu menentang apa yang dinamakannya itu atau diam terhadap para penentangnya. Tidakkah mereka harus membayar kafarat sumpah? Bukankah mereka menjadi pendusta? Tidakkah ketika itu pendapat umum yang tidak bersalah dianggap dusta, kurang akal dan kehilangan kemampuan untuk memisahkan mana yang baik dan mana yang buruk?
Alhasil, situasi yang berlaku sekarang adalah despotisme dan tirani, disebabkan kebodohan yang merajalela. Tirani dan spionase terhadap rakyat bereinkarnasi. Pada kenyataannya, tujuannya adalah bukan mengembalikan kebebasan dari Sultan Abdul Hamid, tetapi mengubah tirani ringan dan sedikit menjadi tirani berat dan banyak.
Setengah pertanyaan: Apa pendapat tuan-tuan jika seseorang yang berbadan kurus dan berperasaan halus, tidak tahan terhadap gigitan nyamuk dan lebah lalu ia membela dirinya dengan segala kesulitan dan kegelisahannnya, lalu salah seorang berkata, “Tujuan orang ini bukan mencegah nyamuk atau lebah dari dirinya, tetapi tujuannya adalah membangunkan singa ganas untuk menyerang dirinya, maka orang dungu mana yang akan terpedaya dengan ucapan ini?
Tampaknya tidak ada izin bagiku untuk menjelaskan setengah pertanyaan yang lainnya.
Wahai para pasya dan perwira! Dengan segala kekuatan saya katakan,
“Saya sangat bersikeras terhadap hakikat dalam semua artikelku yang dimuat surat kabar. Jika saya dipanggil pengadilan “Era Kebahagiaan”(*57)pada masa lalu atas nama keadilan syariat, saya pasti kemukakan hakikat yang telah saya publikasikan dan perbuatan maksimal yang akan saya lakukan waktu itu adalah mengenakan padanya pakaian yang sesuai dengan kebutuhan masa itu.
Jika saya mendapat panggilan di masa mendatang, tiga ratus tahun kemudian, dengan surat panggilan sejarah untuk menghadap pengadilan orang-orang berakal yang juga kritikus, saya juga pasti akan kemukakan hakikat ini dalam kondisinya yang tetap segar dengan sedikit perbaikan pada bagiannya yang rusak.
Maksudnya, kebenaran itu tidak berubah.
‘Hakikat adalah kebenaran dan kebenaran itu tetap unggul dan tidak dapat diungguli apapun’.Bangsa telah bangun. Jika selama beberapa lama terlalaikan oleh ketidakjujuran dan tipuan, maka hal itu tidak selamanya. Khayalan yang digambarkan sebagai kenyataan, usianya pendek. Ketidakjujuran dan penyesatan akan sirna oleh pendapat umum yang sadar dan penuh semangat dan insya Allah kebenaran akan unggul.
Kondisi penjara kalian yang menganiaya sebagai berikut: masa yang sulit, tempat yang sepi, para narapidana yang ketakutan, surat kabar yang penghasut, pemikiran yang kacau, hati yang sedih, nurani yang menderita dan putus asa, pada mulanya para sipir yang menyebalkan dan para pegawai yang pencela. Tetapi walaupun demikian, hal itu bagi diriku seperti hiburan, karena nuraniku tidak menyiksaku, bahkan musibah yang bermacam-macam itu bagiku seperti nada musik yang bervariasi.
Kemudian hari ini dan di sekolah ini saya telah menyelesaikan pelajaran yang diperoleh dari rumah sakit jiwa pada tahun lalu. Saya telah memperoleh pelajaran yang lama selama masa musibah dan mendapat pelajaran kasih sayang terhadap orang lemah dan benci terhadap orang zalim dari duka orang yang teraniaya yang tidak bersalah di mana hal tersebut merupakan kenikmatan rohani di dunia.
Saya sangat berharap, erangan dan rintihan yang menguap karena panasnya kesedihan dari hati banyak orang-orang yang tidak bersalah akan membentuk awan kasih sayang dan awan ini benarbenar mulai terbentuk dengan terbentuknya negara-negara Islam sedikit demi sedikit di dunia Islam.
Jika peradaban itu adalah landasan yang memudahkan jalan bagi pelanggaran untuk menghancurkan kehormatan, rekayasa berubah menjadi kemunafikan, perilaku meremehkan agama, ketidakjujuran menjadi kekurangajaran, pemikiran balas dendam menjadi dominan, maka silakan semua orang menjadi saksi bahwa saya lebih mengutamakan tenda badui di dataran tinggi pegunungan wilayah Timur di mana terdapat kebebasan mutlak dan saya pilih sebagai ganti dari peradaban tempat bersarangnya kedengkian dan niat busuk yang disebut istana kebahagiaan. Hal itu karena kebebasan berpikir, kebebasan mengemukakan pendapat, niat yang baik dan hati yang bersih yang semuanya itu sedikitpun tidak saya lihat berada dalam peradaban hina ini, justru hukumnya berlaku dengan segala perhatiannya di pegunungan Timur Anatolia.
Para sastrawan adalah orang-orang yang beradab. Itu yang saya tahu, akan tetapi sebagian surat kabar yang tidak beradab mempublikasikan kedengkian. Maka jika adab sedemikian rupa adanya, dan jika opini publik kacau sedemikian rupa, maka bersaksilah bahwa saya membebaskan diri dari adab ini, tidak ada hubungannya denganku dan saya akan membaca lembaran alam dan planetnya dari puncak “Basyid” di dataran tinggi pegunungan negeriku sebagai ganti membaca surat-surat kabar tersebut.
Karunia Allah meninggikan derajat kami Untuk tidak menerima pepesan kosong yang merangsang
Sejak dulu kami telah tercukupi karunia Ilahi Sehingga terbebaskan dari segala tragedi
Maka tak sehari pun harapan beralih ke yang lain Kami adalah para Majnun dan bukannya Laila
Yang kami inginkan adalah menghubungkan gadis itu Bukannya mengingatnya di mana dulu kami harapkan
Perhatian: pengunduran diriku dari peradaban membuat tuan-tuan berpikir.Ya, saya lebih mengutamakan kehidupan badui daripada peradaban yang bercampurbaur dengan kehinaan, kebejatan dan tirani. Peradaban ini membuat manusia menjadi fakir, berakhlak bejat dan tenggelam dalam kebejatan. Sedangkan peradaban hakiki dapat meninggikan dan menyempurnakan spesies manusia, mengeluarkan esensi kualitasnya dari ruang kekuatan ke ruang tindakan. Dari perspektif ini, menginginkan peradaban sama dengan mewujudkan kemanusiaan.
Ketertarikan dan kecintaanku kepada makna parlementer
dikarenakan pintu pertama untuk kemajuan Asia dan Dunia Islam di masa mendatang adalah sistem parlementer yang syar’i dan kebebasan yang berada dalam lingkaran syariat. Kunci kebahagiaan dan kejayaan Islam serta nasib baiknya hanya ada dalam musyawarah yang terdapat dalam sistem parlementer. Hal itu karena hingga saat ini tiga ratus tujuh puluh juta orang Islam berada di bawah tirani asing secara maknawi. Jika kekuasaan Islam memegang komando di dunia sekarang, khususnya di Asia, maka setiap individu muslim akan memiliki bagian yang hakiki dari kekuasaan tersebut. Kebebasan adalah satu-satunya solusi untuk menyelamatkan tiga ratus tujuh puluh juta muslim dari tahanan. Seandainya—dan ini mustahil—dua puluh juta orang di sini menderita dalam rangka mendirikan kebebasan, maka hal itu merupakan tebusan. Kita memberi dua puluh dan mengambil tiga ratus.
Sungguh kasihan. Unsur dan etnis kita bercampur seperti udara bukannya seperti air, akan tetapi dengan aliran listrik hakikat Islam akan bercampur dan melahirkan energi dengan panasnya sinar ilmu pengetahuan Islam, dan keadilan yang seimbang insya Allah akan lahir.
Hiduplah sistem parlementer yang syar’i. Hiduplah kebebasan cemerlang yang memperoleh pelajarannya yang sempurna dari pendidikan hakikat syariat.
Gharibuzzaman masa tirani Badiuzzaman masa parlementer Bid’atuzzaman masa kini
Said Nursî
* * *
Setelah itu Ustadz Said Nursi tidak tinggal lama di Istanbul. Ia segera meninggalkan kota itu menuju Van. Dalam perjalannya melalui Batum(*58)dan Tiflis(*59)ia naik ke bukit Syekh Shan’an, ketika ia merenungkan keadaan sekitar, tiba-tiba seorang polisi Rusia mendatanginya dan bertanya: Polisi: “Mengapa Anda berpikir seserius ini?”.
Badiuzzaman: “Saya sedang membuat perencanaan untuk madrasahku”.
Polisi: “Dari mana Anda?”.
Badiuzzaman: “Dari Bitlis”
Polisi: “Tapi ini kan Tiflis”
Badiuzzaman: “Bitlis dan Tiflis adalah saudara kandung”
Polisi: “Maksud Anda?”
Badiuzzaman: “Ada tiga cahaya yang terbit satu per satu di Asia dan Dunia Islam, sementara tiga kegelapan akan menumpuk satu sama lain di tempat Anda, tabir tirani akan terkoyak-koyak dan hancur. Ketika itu saya akan datang ke sini untuk mendirikan madrasahku”.
Polisi: “Jauh sekali dari kemungkinan. Saya sungguh heran dengan cita-cita Anda ini”
Badiuzzaman: “Saya lebih heran dengan akal Anda. Apakah Anda kira musim dingin ini akan berlangsung selamanya? Setiap setelah musim dingin ada musim semi dan setiap setelah malam ada siang”.
Polisi: “Islam telah terpecah belah menjadi bagian-bagian kecil”.
Badiuzzaman: “Anak-anaknya telah pergi mencari ilmu pengetahuan. Lihatlah India, anak Islam yang berbakat tengah giat menuntut ilmu di fakultas Inggris. Lihatlah Mesir, anak Islam yang cerdas yang tengah mendapat pelajaran di fakultas manajemen Inggris. Lihatlah Kaukasus dan Turkistan, kedua anak Dunia Islam yang pemberani, tengah mendapatkan ilmu di fakultas perang Rusia... dan lain sebagainya.
Anak-anak keturunan terhormat akan menguasai satu benua, setelah mereka memperoleh ijazah masing-masing. Mereka akan mengibarkan bendera ayah mereka yang adil, bendera Islam yang berwibawa berkibar-kibar di cakrawala kesempurnaan, dan dengan perlindungan takdir azali—terlepas dari waktunya—mereka akan mendeklarasikan hikmah azali dalam ras umat manusia.
* * *
Begitu sampai di Van, Badiuzzaman mulai berkeliling ke sukusuku dalam rangka membimbing, memberi pelajaran ilmiah, kewarganegaraan dan masalah sosial. Terkait dengan pekerjaannya ini, Badiuzzaman telah menerbitkan sebuah buku yang disusun dengan cara tanya-jawab dan dinamakan “al-Munâdzarât”.
Pembicaraannya dengan para politikus di satu sisi, dengan suku dan berbagai lapisan masyarakat di sisi lain, tidak diragukan lagi bahwa kondisi tersebut menarik perhatian banyak orang. Dari semua yang telah dipaparkan tampak bahwa tujuan utama dan satu-satunya adalah menyebarluaskan cahaya Islam dan hakikat al-Qur’an dan ia telah menunaikan tugasnya secara sempurna di seluruh hidupnya, sebagai penyeru al Qur’an al-Karim.
CONTOH DIALOG DAN PERDEBATAN USTADZ BADIUZZAMAN DENGAN PARA SUKU TIMUR ANATOLIA(*60)
Pertanyaan:Apapun terjadi kami tidak peduli, yang penting tidak ada bahaya yang menimpa agama. Bukankah begitu?
Jawaban:Islam itu seperti matahari, sinarnya tidak akan padam dengan tiupan mulut, dan seperti siang, tidak akan menjadi malam dengan memejamkan mata kecuali bagi orang yang memejamkan kedua matanya. Sungguh mengherankan. Mana yang lebih utama: Apakah kita mengandalkan seorang pemimpin yang terkalahkan dan tidak memiliki kecerdasan, para pegawai yang penjilat, para perwira yang tidak memiliki logika, pemeliharaan agama diserahkan kepada mereka atau diserahkan kepada pedang berlian yang dihasilkan dari campuran percikan semangat Islam yang cemerlang, dan kepada pilar kemilau yang dihasilkan dari kumpulan cahaya sinar Ilahi yaitu kelembutan iman yang dirasakan setiap kalbu dan perasaan Islam yang menjadi dasar pendapat umum bangsa? Silakan kalian tentukan mana yang lebih utama.
Ya, pilar kemilau ini akan membebankan penjagaan agama di atas pundak semangatnya dan akan dijadikannya dalam pengawasannya sepenuhnya. Kalian sekarang melihat cahaya yang terpisah-pisah mulai berkilau dan sedikit demi sedikit menyatu dengan saling menarik. Telah ditetapkan dalam Ilmu Hikmah bahwa perasaan keagamaan—apalagi agama fitri yang benar—merupakan perkataan yang paling membekas, ketentuan yang paling tinggi dan memberikan pengaruh yang paling dalam.
Ya, janganlah kalian patah semangat dan bersedih, jika dengung nyamuk berhenti atau gemuruh lebah melemah, karena musik Ilahi yang membuat alam semesta menari dengan nadanya, serta menggerakkan rahasia hakikat dengan suara merdunya tidak berhenti, bahkan menderu selamanya.
Sultan Azali dan Raja Segala Raja selamanya memenuhi persada dengan musik Ilahi: “al-Qur’an”. Suaranya membumbung ke kubah langit, mengalir ke kepala para ulama, ke hati para wali, ke mulut para khatib. Dari lisan mereka kembali keluar gemanya mengalir ke segala arah dan dicetak menjadi buku-buku Islam. Setiap buku seperti senar yang mengeluarkan melodi samawi rohani. Orang yang mendengarnya atau menyimaknya dengan kedua relung kalbunya, apakah ia akan dapat mendengar ocehan pemimpin atau aparat pemerintahan yang laksana dengungan nyamuk atau lalat jika dibandingkan dengan gema di atas?
...
Pertanyaan:Orang-orang menafsirkan kebebasan dengan penafsiran yang sangat buruk sehingga mereka berkata bahwa termasuk kebebasan jika seseorang melakukan kebodohan(*61)dan kebejatan, dan ia tidak akan dipersalahkan selama tidak mengganggu orang lain, apakah betul demikian?
Jawaban:Dengan ucapan tersebut berarti mereka menyatakan kebodohan dan kebejatannya, bukan kebebasan. Mereka mengigau seperti sangkaan anak-anak kecil. Hal itu karena kebebasan yang baik harus disertai dengan etika syariat. Kebebasan dalam kebodohan dan kebejatan bukanlah sebuah kebebasan, tetapi ia adalah kebinatangan, tirani setan dan jerat nafsu amarah.
Kebebasan umum akan menghasilkan benih kebebasan individu, yang prinsipnya adalah seseorang tidak membahayakan dirinya dan orang lain,
hanya saja yang kalian miliki sebagai orang-orang badui yang nomaden adalah setengah kebebasan dan setengah lainnya adalah tidak merusak kebebasan orang lain.Sementara itu, kebebasan yang bercampur dengan kehidupan primitif dan hidup seadanya juga terdapat pada binatang tetangga kalian di pegunungan. Kenyataannya binatang liar tersebut tidak memiliki cara untuk merasakan kenikmatan dan hiburan—kalaupun hal itu ada—selain kebebasannya.
Tetapi kebebasan yang bersinar seperti matahari, yang dirindukan setiap ruh, yang senilai dengan esensi kemanusiaan adalah kebebasan yang duduk di istana kebahagiaan peradaban dan berhiaskan ilmu pengetahuan, keutamaan dan pendidikan Islam.
...
Pertanyaan:Bagaimana kebebasan menjadi karakteristik iman?
Jawaban:Kemuliaan dan kehebatan iman—dengan ikatannya—mencegah orang yang menjadi pelayan Penguasa Alam Semesta untuk tidak merendahkan diri bagi selain-Nya, jatuh ke tirani dan kendali orang lain, maka demikian pula kasih sayang iman menghalanginya untuk tidak melanggar hak dan kebebasan orang lain.
Ya, orang yang menjadi pelayan jujur bagi penguasa, ia tidak akan menjadi korban tirani rakyat dan tidak pula menzalimi orang yang tidak memiliki daya dan upaya. Oleh karena itu, semakin sempurna iman seseorang, semakin hebat pula kilauan kebebasannya. Pelajarilah Era Kebahagiaan dan Abad yang Terbaik.
Pertanyaan:Bagaimana kita menjadi orang-orang yang bebas di hadapan seorang pembesar, wali, syekh atau ulama besar? Mereka—karena kelebihan yang mereka miliki—dapat saja berbuat sewenang-wenang terhadap kita dan kita menjadi tawanan keutamaan mereka.
Jawaban:Ciri khas para wali, syekh dan orang-orang besar adalah tawaduk dan tidak mementingkan dirinya sendiri, bukannya sombong dan berlaku sewenang-wenang. Oleh karena itu, orang yang sombong sebetulnya bayi yang berlagak seperti orang tua dan jangan kalian menganggapnya sebagai orang besar.
...
Pertanyaan:Apa yang harus dikatakan sementara ular-ular yang menakutkan telah membuka mulutnya untuk mencabik-cabik negara kita, menyemburkan racun ke setiap sisi kehidupan kita dan mengubah harapan luhur yang menghibur kita menjadi keputusasaan?
Jawaban:Jangan takut! Peradaban, keutamaan dan kebebasan telah mulai unggul di dunia kemanusiaan secara umum yang piring timbangannya semakin berat, niscaya piring timbangan yang lainnya sedikit demi sedikit pasti akan menjadi ringan. Seandainya—mudah-mudahan tidak terjadi—kita dikoyak-koyak dan dibunuh, maka yakinlah bahwa jumlah kita yang dibunuh adalah dua puluh orang dan akan bangkit sebanyak tiga ratus orang. Kita bersihkan debu kebejatan dan perselisihan. Kita akan berada di barisan depan kafilah umat manusia. Kita pandu mereka dalam keadaan bersatu dan tercerahkan oleh sinar yang hakiki, maka janganlah kalian takut mati yang akan menghasilkan kehidupan yang lebih hebat, lebih kuat dan lebih kekal. Jika kita mati, Islam akan tetap selamat. Selamatlah bangsa yang suci.
Pertanyaan:Bagaimana kita bisa setara dengan non muslim?
Jawaban:Kesetaraan bukanlah dalam keutamaan dan kemuliaan, tetapi dalam hukum. Sultan dan rakyat jelata di hadapan hukum adalah sama. Tidakkah kalian perhatikan syariat mengatakan, “Janganlah kamu menginjak seekor semut dengan sengaja”. Syariat melarang untuk menyiksa semut. Maka mana mungkin hak manusia akan diabaikan? Sama sekali tidak. Kitalah yang belum menaatinya. Ya, saya kira kasus hukum Imam Ali dengan seorang Yahudi awam, dan perselisihan Shalahuddin al-Ayyubi dengan seorang Nasrani miskin, keduanya membetulkan kesalahan kalian ini(*62).Hal itu karena sistem “parlementer” adalah kekuasaan bangsa sedangkan pemerintah adalah pelayannya. Jika sistem “parlementer” diterapkan dengan benar, maka para pejabat bukanlah penguasa, tetapi mereka adalah para pelayan yang digaji, maka orang non muslim tidak mungkin akan menjadi penguasa, tetapi ia adalah pelayan.
Anggaplah tugas adalah sejenis kepemimpinan dan kekuasaan, maka ketika kita melibatkan tiga ribu orang non muslim dalam kepemimpinan kita, itu berarti kita telah membuka jalan bagi kepemimpinan tiga ratus ribu individu dari umat Islam di seluruh dunia. Orang yang kehilangan satu orang dan memenangkan seribu orang, hal itu tidak merugikan dirinya.
JAWABAN SAID NURSI TENTANG PERISTIWA 31 MARET
Saya telah menyaksikan dalam “Peristiwa 31 Maret” keadaan yang mirip seperti ini. Hal itu karena para pelindung sistem “parlementer” yang fanatik dan berani mengorbankan nyawa mereka demi Islam, mereka yang mengetahui nikmatnya dan mendapatkan substansi kehidupan di dalamnya, ketika mereka bersungguh-sungguh menerapkan sebagian peraturannya sesuai dengan syariat Islam, mengarahkan orang-orang pemerintahan ke kiblat yang benar ketika melakukan “salat keadilan”, mereka ingin meninggikan nama syariat yang suci dengan kekuatan “parlementer”, melanggengkan “parlementer” dengan kekuatan syariat, memikulkan semua kesalahan yang lalu kepada pelanggaran syariat, tiba-tiba sebagian orang yang tidak dapat membedakan antara kanan dan kiri mulai meniru-niru seperti burung beo sambil berseru, “Kami menginginkan syariat”. Mereka mengira bahwa syariat itu membolehkan tirani—suatu yang mustahil—dan tujuan yang sebenarnya dari mereka itu tidak pernah diketahui.Rencana telah dibuat sebelumnya. Sebagian penjahat yang mengenakan topeng fanatisme berusaha mencemarkan nama syariat yang suci itu. Ini adalah titik hitam yang menjadi pelajaran berharga(*63).
...
Sebetulnya, menurutku, seseorang yang berasal dari keturunan muslim, naluri dan perasaannya tidak mungkin terlepas dari Islam dalam keadaan bagaimanapun, meskipun akal dan pemikirannya terlepas, bahkan orang yang paling dungu sekalipun—di samping orang-orang yang mulai mendekati politik—mereka pasti berpihak pada Islam dengan segala eksistensinya karena agama ini adalah benteng pertahanan kita.
Kemudian sejarah memberitahu kita bahwa sejak “Masa Kebahagiaan” hingga sekarang belum ada seorang muslim pun yang menganggap agama lain lebih unggul dari Islam secara logika atau masuk agama lain dengan dalil. Memang betul ada orang yang keluar dari agama, tetapi ini masalah lain, sedangkan sikap taklid, hal itu tidak penting.Kenyataannya adalah bahwa para pemeluk agama lain, mereka masuk Islam secara berbondong-bondong berdasarkan logika dan bukti-bukti konklusif. Mereka akan masuk Islam secara berbondong-bondong jika kita memperlihatkan Islam kepada mereka dengan ajaran yang sebenarnya.
Sejarah juga memberitahu kita bahwa orang Islam menjadi berperadaban berkat mengikuti hakikat Islam, sedangkan orang non muslim menjadi berperadaban dengan cara sebaliknya, yaitu meninggalkan ajaran agama mereka.
Hakikat juga memberitahu kita bahwa manusia yang sadar tidak mungkin hidup tanpa agama, terutama jika ia merasakan nikmatnya kemanusiaan dan mengetahui bahwa dirinya dipersiapkan untuk masa depan dan untuk keabadian, sehingga tidak mungkin dirinya hidup tanpa agama. Hal itu karena ia tidak dapat hidup selama tidak memiliki titik sandaran. Oleh karena itu, dalam menghadapi serangan makhluk, pada titik tersebut ia menyandarkan diri. Dalam titik tersebut harapannya yang tidak terbatas tumbuh berkembang. Yang dimaksud dengan titik ini adalah benih hakikat yang tidak lain dari agama yang benar, Islam. Karena rahasia ini, setiap individu ingin mempelajari agama yang benar ini dan hal ini menunjukkan bahwa Islam akan menjadi agama fitri bagi umat manusia pada masa mendatang.
Wahai orang-orang yang tidak objektif! Bagaimana hakikat Islam menjadi sempit dalam pandangan kalian padahal ia mampu menguasai, memelihara, menyatukan dan membangkitkan alam semesta sehingga kalian menganggap agama Islam hanya sesuai untuk kaum fakir miskin dan sebagian orang tua yang fanatik dengan tujuan kalian ingin mengeluarkan separuh pemeluknya dari agama tersebut. Bagaimana bisa kalian berbuat lancang terhadap “istana” Islam yang penuh cahaya yang mencakup seluruh kesempurnaan, mencakup seluruh materi yang memelihara semua perasaan luhur umat manusia seluruhnya sehingga kalian mengkhayalkannya sebagai “tenda belasungkawa yang hitam” yang didirikan khusus untuk sekelompok fakir miskin, orang-orang badui dan orang-orang terbelakang.Memang, setiap orang adalah pengikut bagi yang dilihatnya di cermin. Cermin kalian yang hitam dan dusta telah memperlihatkan hal serupa itu.
Pertanyaan:Anda berlebihan, melihat khayalan sebagai kenyataan, menghina kami dengan menganggap kami orang bodoh. Ini akhir zaman dan zaman akan lebih buruk lagi di kemudian hari.
Jawaban:Mengapa dunia ini harus menjadi dunia kemajuan untuk semua orang, dan menjadi dunia kehinaan hanya untuk diri kita saja? Apakah memang demikian? Kalau begitu saya tidak akan berbicara dengan kalian. Saya berpaling ke arah lain, berbicara dengan orang yang berada di masa depan.
Orang-orang yang bersembunyi di balik masa yang menjulang tinggi setelah tiga ratus tahun, kalian mendengar ungkapan-ungkapan Risalah Nur dengan membisu, menyaksikan kami secara diamdiam; wahai yang bernama Said, Hamzah, Umar, Usman, Tahir, Yusuf dan Ahmad, serta yang lainnya, saya berkata kepada kalian semua....Angkatlah kepala kalian dan katakanlah, “Engkau benar”, agar pembenaran ini menjadi utang yang harus kalian bayar. Saya tidak peduli jika orang-orang yang hidup semasa denganku tidak mendengar perkataanku. Saya berbicara kepada kalian melalui telegraf yang terbentang dari lembah masa lalu yang bernama “sejarah” ke puncak masa depan kalian yang tinggi.Apa boleh buat, Saya terburu-buru datang pada musim dingin dan kalian akan datang pada musim semi seperti surga. Benih-benih Nur yang disemaikan sekarang akan merekah menjadi bunga di tanah kalian.
Yang kami tunggu dari kalian sebagai upah pengabdian kami adalah jika kalian datang untuk melewati masa lalu, singgahlah di kuburan kami, kalungkan hadiah musim semi itu pada bagian atas benteng yang menjadi saksi kuburan madrasahku, yang menjadi tuan rumah tulang belulangku dan gerbang tanah “Khur-khur”(*64). Kami akan memberitahu penjaga. Panggillah kami... kalian akan mendengarkan dari kuburan kami suara menggema, “Berbahagialah kalian”.
Anak-anak kecil yang menyusu bersama kami pada payudara zaman ini, sementara mata mereka berada di belakang memandang masa lalu, persepsi mereka serupa dengan mereka, yang tidak sesuai dengan kenyataan, mereka melihat hakikat buku ini sebagai khayalan, hanya saja saya yakin bahwa masalah-masalah yang ada dalam buku ini akan menjadi kenyataan pada kalian(*65).
Wahai orang-orang yang mendengar perkataanku! Maafkan saya jika berteriak dengan suara lantang. Saya berdiri di atas menara abad ketiga belas. Saya mengajak mereka yang secara lahir tampak sebagai orang-orang berperadaban, tidak memiliki kepedulian secara agama, yang tenggelam dalam kedalaman lembah masa lalu secara pemikiran.
Wahai orang-orang yang meninggalkan Islam yang merupakan ruh dua kehidupan, para mayat yang berjalan dan orang-orang yang bernasib buruk, janganlah kalian menjadi batu sandungan bagi generasi mendatang, karena kuburan menanti kedatangan kalian. Minggirlah kalian karena generasi baru akan datang, generasi yang akan mengibarkan bendera hakikat Islam, yang berkibar di atas alam semesta.
Pertanyaan:Orang-orang terdahulu lebih unggul dari kita atau seperti kita, dan orang-orang yang datang kemudian adalah lebih buruk.
Jawaban:Wahai Bangsa Turki dan Kurdi! Ya, jika sekarang saya mengadakan pertemuan, saya undang pada pertemuan yang diadakan pada masa yang riuh ini nenek moyang kalian yang telah meninggal seribu tahun lalu, dan anak-cucu kalian yang akan datang dua abad kemudian, tidakkah nenek moyang kalian yang hidup pada masa lalu itu yang berbaris di sebelah kanan akan mengatakan,
“Wahai anak-anak kecil yang durhaka yang menyia-nyiakan warisan! Apakah kalian adalah hasil kehidupan kami? Sungguh disayangkan!
Kalian telah keliru membandingkan masa kami dan masa kalian yang tanpa hasil dan membiarkan kami semua pada mandul.Demikian juga, tidakkah anak-anak kalian yang bediri di sebelah kiri, yang datang dari kota masa depan akan membenarkan,
“Wahai orang tua kami yang malas! Apakah kalian telah menjadi pendahulu besar dan kecil untuk kehidupan kami? Apakah kalian penghubung kami pada batas pertengahan yang mengikat kami dengan leluhur kami yang sudah menjadi tulang belulang? Ini adalah perbandingan yang sangat rancu tanpa kenyataan.
Wahai orang-orang pengembara badui dan para propagandis revolusi(*66), kalian telah melihat pada pemandangan khayali(*67)di atas bahwa pada pertemuan besar tersebut kedua belah pihak telah memprotes kalian.
BAGIAN DARI JAWABAN
Jika masalahnya demikian, maka saya katakan bahwa kalian benar-benar memiliki kesiapan untuk keberanian yang luar biasa dengan bukti bahwa salah seorang dari kalian menganggap remeh hidupnya sekadar untuk mempertahankan masalah kecil seperti untuk memperoleh keuntungan sepele, kemuliaan parsial, kehormatan simbolis atau agar dikatakan bahwa dirinya seorang pahlawan, ia berani mengorbankan nyawanya demi memuliakan kedudukan pemimpinnya, lalu bagaimana jika mereka itu sadar? Tidakkah mereka akan mengorbankan hidupnya—bahkan walau mereka memiliki ribuan nyawa—demi mempertahankan nasionalisme Islam yang tidak ternilai harganya(*68) karena ia memberi mereka persaudaraan tiga ratus juta muslim dan bantuan maknawi mereka. Orang yang menjual hidupnya guna memperoleh puluhan para, ia pasti akan menjualnya dengan penuh semangat untuk memperoleh puluhan lira(*69).
Sungguh kasihan, sebagaimana kebaikan kita berpindah tangan kepada orang-orang non muslim, begitupula mereka mencuri budi pekerti kita yang luhur. Seolah-olah sebagian budi pekerti sosial kita yang luhur itu tidak laku di antara kita dan lari dari kita kemudian pindah ke tengah-tengah mereka. Sementara budi pekerti tercela mereka tidak laku di kalangan mereka dan dipasarkan di tengah-tengah pasar kebodohan kita.
Tidakkah kalian merasa heran ketika melihat “perkataan putih” dan “perilaku sosial merah” seperti, “Jika saya mati, negeri, bangsa dan orang-orang kesayanganku akan selamat”, yang merupakan fondasi kemajuan masa kini bahkan tuntutan agama yang benar dan ini telah dicuri oleh orang-orang non muslim. Orang yang rela berkorban di antara mereka berkata, “Jika aku mati, bangsaku akan selamat karena kehidupan maknawiku ada padanya”, sementara kita diseret dan semangat kita menjadi redup oleh perkataan dungu dan karakter buta yang merupakan dasar semua kebejatan dan egoisme, seperti “Jika aku mati karena kehausan, maka semoga hujan tidak turun”(*70), atau “Setelah kematianku, dunia ini terserah mau menjadi apa, semoga setelah kepergianku terjadi banjir besar”.
Berdasarkan hal ini, sifat yang paling terpuji dan tuntutan agama Islam adalah berkata dengan ruh, anggota badan, perasaan, pemikiran dan seluruh kekuatan bahwa jika kita mati, maka Islam—bangsa kita—akan tetap hidup hingga akhir zaman; bangsaku akan selamat. Cukup bagiku pahala akhirat karena kehidupan maknawiku yang berada dalam kehidupan bangsa akan mengekalkanku dan menjadikanku bahagia di alam luhur, dan hendaknya kita mengatakan—sementara cahaya fanatisme nurani menjadi pembimbing kita—,”kematian adalah hari Nauruz kita”(*71)
...
Pertanyaan:Apa kewajiban pertama kita?
Jawaban:Kejujuran.
Pertanyaan:Kemudian apa?
Jawaban:Menjauhi dusta.
Pertanyaan:Kemudian apa lagi?
Jawaban:setia, menepati janji, ikhlas, tabah dan menjaga kekompakan.
Pertanyaan:Untuk apa?
Jawaban:Karena esensi kekafiran adalah dusta, sementara esensi iman adalah kejujuran. Tidakkah cukup menjadi bukti bagi kita bahwa kelangsungan hidup kita adalah bergantung pada kelanggengan iman, kejujuran dan kekompakan.
Pertanyaan:Tidakkah semestinya kita memperbaiki para pemimpin kita terlebih dahulu?
Jawaban:Tentu. Sebagaimana para pemimpin kalian telah merampas harta kalian dan menahannya di kantong baju mereka, mereka juga telah mengambil akal pikiran kalian atau menahannya dalam otak kalian. Berdasarkan hal ini, saya berbicara kepada akal pikiran kalian yang ada pada mereka.
Wahai Para pemimpin sekalian! Jauhilah sikap tawâkul yang lahir dari sikap malas. Janganlah saling melemparkan pekerjaan di antara kalian. Berkhidmatlah kalian kepada kami dengan harta kami yang ada di tangan kalian dan akal kami yang ada pada kalian. Kalian telah menerima upah dengan tindakan kalian memanfaatkan orangorang miskin.
Hendaklah kalian melakukan perbaikan terhadap apa yang kalian sia-siakan di musim panas(*72)
dan inilah saatnya untuk melakukan pengabdian.
...
Walhasil, kaum muslimin telah mulai bangkit(*73). Mereka telah melihat kebaikan sebagai kebaikan dan keburukan sebagai keburukan. Ya, inilah rahasia yang membuat banyak suku di lembah ini bertaubat, bahkan kondisi ini sedikit demi sedikit mulai menyebar ke seluruh kaum muslimin. Mereka juga siap untuk memanfaatkannya, hanya saja kalian lebih dekat pada nasionalisme Islam yang suci karena kalian adalah bangsa badui di mana naluri asli kalian masih belum rusak.
...
Orang-orang yang tidak mengenal saya dalam perjalanan, mereka melihat pakaianku dan mengira saya seorang saudagar. Mereka bertanya:
Pertanyaan:“Apakah Anda saudagar?”
Jawaban:Ya, saya saudagar dan juga pakar kimia.
Pertanyaan: “Maksudnya?”
Jawaban:“Saya gabungkan antara dua bahan. Dari salah satunya, dihasilkan penawar racun dan dari yang satunya lagi dihasilkan listrik yang menyinari”
Pertanyaan:“Di mana kedua bahan tersebut?”
Jawaban:“Dalam sebuah kotak yang berwarna hitam atau berkilau seperti intan yang bertuliskan “hati”, yang terdapat dalam sebuah kotak yang berjalan dengan dua kaki, pada dahinya tertulis “manusia”, terdapat di pasar peradaban dan keutamaan”.
Pertanyaan:“Apa nama-namanya?”
Jawaban:“Iman, kasih sayang, kesetiaan, dan semangat”
Koran berjalan, Bapak bukan siapa-siapa, Anak zaman, Saudara keajaiban dan Sepupu keanehan.
Said Nursî
* * *
ORASI KEUMATAN Kemudian Said Nursi meninggalkan kota Van menuju Damaskus. Di kota tersebut para ulamanya mendesak agar beliau menyampaikan orasi di hadapan sekitar sepuluh ribu jama’ah dan seratus di antaranya adalah para ulama, di Masjid Umawi. Beliau menyampaikan orasi dan mendapat sambutan dan pujian yang luar biasa. Kelak, orasinya dicetak dengan nama “al-Khutbah asy Syâmiyah”(*74)
Orasi Said Nursi ini menjelaskan sebab-sebab penyakit materi dan maknawi yang menimpa dunia Islam yang menjadikan umat Islam dilanda malapetaka dan menawarkan jalan keluar dari kondisi tersebut. Kemudian beliau membuktikan dengan dalil-dalil rasional bahwa Islam akan memberikan kemajuan materi sekaligus maknawi yang paling tinggi di muka bumi dan peradabannya membawa kemegahan yang sempurna untuk membersihkan muka bumi dari segala yang mengotorinya.Orasi Said Nursi ini unik dan memberi angin segar, sebuah pelajaran yang menyeluruh dan bernilai luhur yang tidak terbatas bagi kaum muslimin semata tetapi juga berguna untuk seluruh umat manusia.
Pada awal orasinya itu, Said Nursi mengatakan:
“Saya telah belajar di sekolah kehidupan sosial manusia di bumi ini dan pada masa kini. Saya mengetahui bahwa yang telah membuat kita berhenti secara materi pada abad pertengahan, pada saat bangsa asing dan orang-orang Eropa mengalami kemajuan pesat dan terbang menuju masa depan adalah enam penyakit:
1. Hidupnya rasa putus asa yang menimpa kita.
2. Matinya kejujuran dalam kehidupan sosial dan politik.
3. Mencintai permusuhan.
4. Tidak mengetahui ikatan nurani yang mengikat orang-orang beriman satu dengan yang lainnya.
5. Tirani yang menyebar seperti penyakit menular yang bermacam-macam.
6. Ambisi kuat terpusat pada kepentingan pribadi.
Obat untuk mengobati keenam penyakit yang mendatangkan bencana ini saya ambil dari apotik al-Qur’an yang merupakan Fakultas Kedokteran bagi kehidupan sosial kita. Saya jelaskan dalam pelajaran yang terdiri dari enam kata yang saya ketahui bahwa ia merupakan dasar pengobatan.
Kata Pertama:
Harapan, yaitu memiliki harapan yang kuat ter�hadap kasih sayang Allah.
Ya, berdasarkan pada pelajaran yang saya pelajari, saya sampaikan berita gembira kepada kalian wahai umat Islam bahwa tanda-tanda fajar sidik telah tampak, dan waktu terbitnya matahari kebahagiaan dunia bagi dunia Islam sekarang hampir tiba, khususnya kebahagiaan orang-orang Usmani, khususnya kebahagiaan bangsa yang dengan kebangkitannya Islam menjadi maju, yaitu bangsa Arab. Saya katakan dengan keyakinan yang kuat yang menjadikan dunia mendengar terlepas dari rasa putus asa(*75):
“Masa depan akan menjadi milik Islam, hanya milik Islam saja. Kekuasaan akan berpihak pada hakikat-hakikat al-Qur’an dan iman. Saya memiliki banyak bukti terhadap prediksi ini yang saya jadikan pelajaran. Berikut saya sampaikan satu setengah bukti dan dimulai dengan mukadimahnya:
Ciri khas hakikat Islam adalah kemampuannya dan kesiapannya yang sempurna untuk menuju kemajuan spiritual dan material.
Sisi pertama, yaitu sisi kemajuan spiritual, ketahuilah bahwa sejarah yang mencatat peristiwa-peristiwa yang sebenarnya, dan merupakan saksi yang paling jujur terhadap kebenaran, memberikan kesaksian tentang keadilan Islam yang dinyatakan oleh Panglima Tertinggi Jepang yang mengalahkan Rusia. Ia mengatakan,
“Sejarah menjelaskan bahwa kemajuan dan peradaban umat Islam adalah bergantung pada kekuatan hakikat Islam dan gerakan mereka dengan kekuatan ini. Ketika hakikat Islam melemah, maka mereka terpuruk dalam keterbelakangan, primitif, kemerosotan, malapetaka, kekalahan dan kekacauan.” Sementara agama lainnya adalah kebalikannya.
...
Seandainya kita perlihatkan akhlak Islam yang mulia dan kesempurnaan hakikat iman dengan perbuatan kita, maka para pengikut agama lain akan masuk Islam secara berbondong-bondong, bahkan negara-negara di dunia ini berikut benuanya akan memeluk agama Islam.
...
Wahai saudara-saudaraku yang berkumpul di Masjid Umawi ini dan saudara-saudaraku di Masjid Agung Dunia Islam, ambillah pelajaran dari peristiwa-peristiwa besar ini yang terjadi empat puluh lima tahun lalu. Wahai para pemikir dan orang-orang yang meng�anggap dirinya berpendidikan, bersikaplah bijaksana dan cerdaslah kalian semua.
Kesimpulannya, kita umat Islam yang merupakan murid-murid al-Qur’an, mengikuti bukti yang kuat, memasuki hakikat iman dengan akal, pikiran dan hati kita. Kita tidak meninggalkan bukti yang kuat guna bertaklid buta kepada para pendeta sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian pemeluk agama lain.Berdasarkan hal ini, penguasa pada masa yang akan datang, yang dikendalikan oleh kekuasaan akal dan ilmu pengetahuan adalah al-Qur’an, karena kitab suci inilah yang dibenarkan oleh bukti rasional dan akal memperkuat semua hukumnya.
Tirai yang dulu menghalangi munculnya matahari Islam mulai sirna. Penghalang yang merintangi sinar dari umat manusia juga mulai hilang. Tanda-tanda fajar tersebut terlihat sejak empat puluh lima tahun lalu. Fajar sidik muncul tahun seribu tiga ratus tujuh puluh satu atau sekitar itu. Jika ternyata fajar tersebut adalah fajar kizib, maka fajar sidik akan terbit tiga puluh atau empat puluh tahun yang akan datang, insya Allah.
Ya, ada delapan penghalang besar yang merintangi hakikat Islam berkuasa pada masa lalu:
Yang pertama, kedua dan ketiga: kebodohan bangsa asing, kebiadaban mereka pada masa itu, dan kefanatikan mereka terhadap agamanya. Ketiga penghalang ini telah mulai hancur berkat kebaikan peradaban dan ilmu pengetahuan.
Yang keempat dan kelima: kekuasaan dan tirani para pendeta dan pemimpin rohani serta sikap bangsa asing yang mengikuti mereka dengan taklid buta. Kedua penghalang ini juga mulai hilang berkat munculnya pemikiran kebebasan dan kecenderungan umat manusia untuk mencari hakikat.
Yang keenam dan ketujuh: tirani yang tersebar di antara kita dan akhlak tercela sebagai akibat melanggar ajaran syariat. Hilangnya kekuatan tirani individu sekarang menunjukkan hilangnya tirani besar kelompok dan organisasi setelah empat puluh tahun. Dengan munculnya semangat Islam dan dengan munculnya hasil buruk dari akhlak tercela, kedua penghalang ini juga mulai sirna dan insya Allah akan lenyap secara total.
Yang kedelapan: dugaan bahwa sebagian masalah yang dibuktikan oleh ilmu modern bertentangan dengan makna lahir hakikat Islam. Hal ini—sedikit banyak—telah menjadi penghalang keunggulan hakikat Islam pada masa lalu.
Misalnya, ahli filsafat dan ilmu modern menduga bahwa kedua malaikat rohani yang bertugas di bumi dengan perintah Allah—namanya al-Hût (ikan paus) dan al-Tsaûr (banteng)—adalah berupa ikan dan banteng besar. Sikap mereka terhadap Islam adalah sikap penentang karena ketidaktahuan mereka terhadap hakikat.
Ada ratusan contoh semisal yang memaksa para ahli filsafat bertekuk lutut setelah mereka mengetahui hakikatnya.Risalah Nur dalam Risalah Mukjizat al-Qur’an telah membahas setiap ayat yang ditentang ilmu pengetahuan. Risalah tersebut menyingkap kemukjizatan al-Qur’an di balik ayat tersebut. Setiap kalimat dan kata al-Qur’an al-Karim yang oleh ahli ilmu pengetahuan modern diduga sebagai objek kritikan dijelaskan dalam risalah tersebut. Juga dijelaskan secara gamblang hakikat-hakikat luhur ayat ayat tersebut yang selama ini belum tersentuh ilmu pengetahuan. Hal itu membuat para ahli filsafat lagi-lagi bertekuk lutut. Risalah tersebut dapat diperoleh setiap orang dan dibaca oleh siapa saja. Silakan telaah dan perhatikan bagaimana penghalang ini menjadi hancur setelah ucapannya empat puluh tahun lalu.
Ya, ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa penghalang kedelapan yang besar ini akan hancur sehingga tidak lagi bernilai. Sebagian peneliti Islam menulis sejumlah buku tentang masalah ini.
Ya, jika hal itu tidak terjadi sekarang, maka akan terjadi tiga puluh atau empat puluh tahun lagi. Itulah tiga kekuatan—ilmu, pengetahuan yang sebenarnya dan kebaikan-kebaikan peradaban—telah menyiapkan kecenderungan mencari hakikat, keadilan dan mencintai kemanusiaan dengan selengkapnya dan menyiapkan baginya peralatannya yang diperlukan guna menghancurkan dan memporak-porandakan kedelapan penghalang tersebut serta mengirimnya ke garis depan medan pertempuran melawan kedelapan musuh tersebut. Segera kekalahan menimpa mereka. Mereka akan porak-poranda setengah abad lagi, insya Allah.
Ya, ungkapan terkenal mengatakan: Keutamaan yang sesungguhnya adalah keutamaan yang diakui oleh musuh.
...
Setelah Badiuzzaman mengutip perkataan-perkataan yang berimbang tentang hakikat Islam dari Pangeran Bismarck(*76)dan Mr. Carlyle, ia mengatakan:
“Berdasarkan hasil yang diperoleh dari pemikiran para peneliti genius di Amerika dan Eropa seperti Mr. Carlyle(*77)dan Bismarck, dengan tegas saya katakan, “Eropa dan Amerika tengah mengandung Islam, pada suatu saat mereka akan melahirkan negara Islam, sebagaimana dulu Daulah Usmaniyah mengandung Eropa dan melahirkan negara-negara Eropa”.
Wahai saudara-saudaraku di Masjid Umawi, saudara-saudaraku di Masjid Dunia Islam setengah abad kemudian!, bukankah dari mukadimah di atas dapat disimpulkan bahwa penguasa yang sebenarnya dan bersifat spiritual di atas benua masa mendatang, yang akan membawa umat manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat tidak lain adalah agama Islam dan agama Nabi Isa yang akan berubah menjadi Islam setelah bersih dari khurafat dan penyimpangan, serta mengikuti al-Qur’an dan ajarannya sesuai dengan kitab suci ini.
Sisi kedua, yaitu sisi kemajuan material. Faktor kuat yang menyebabkan kemajuan Islam secara materi memperlihatkan bahwa Islam pada masa mendatang akan berkuasa secara materi juga. Sebagaimana dibuktikan pada sisi pertama, yaitu kemajuan spiritual, sisi kedua ini memperlihatkan dengan jelas kekuatan kemajuan dan kekuasaan Islam secara materi pada masa mendatang. Hal itu karena ada lima kekuatan dahsyat yang tidak terkalahkan bersatu dan bercampur dalam hati “sosok maknawi” dunia Islam, yaitu sebagai berikut
Kekuatan pertama: guru semua kesempurnaan yang mampu mengubah tiga ratus tujuh puluh juta menjadi satu jiwa yang dipersenjatai peradaban yang sebenarnya dan ilmu pengetahuan yang benar juga. Itulah “Hakikat Islam” yang tidak mungkin dikalahkan oleh kekuatan apapun.
Kekuatan kedua: guru peradaban dan industri yang sebenarnya yang dipersenjatai dengan prinsip dan sarana yang sempurna. Itulah “Kebutuhan Mendesak” dan kemiskinan yang membinasakan kita. Kekuatan ini tidak pernah diam dan tidak dapat dipatahkan.
Kekuatan ketiga: “Kebebasan Syar’i” yang mengajarkan umat manusia tujuan-tujuan luhur dan mendorong mereka mencapai tujuan tersebut melalui perlombaan menuju keluhuran. Kekuatan ini adalah yang mengoyak kekuatan tirani, yang menimbulkan perasaan luhur, yang dilengkapi dengan kebahagiaan, antusiasme, iri dan semangat berlomba, juga dilengkapi dengan kesiapsiagaan yang sempurna, keinginan untuk berlomba, minat untuk selalu memperbarui diri, dan kecenderungan untuk berperadaban, yaitu kebebasan yang dipersenjatai keinginan dan kecenderungan terhadap kesempurnaan luhur yang sesuai dengan kemanusiaan.
Kekuatan keempat: “Keagungan Iman” yang dilengkapi dengan rasa kasih sayang, yaitu tidak merendahkan diri di hadapan orangorang zalim dan tidak merendahkan orang-orang yang dizalimi. Maksudnya, di antara dasar kebebasan yang sesuai ajaran syariat adalah tidak menjilat para tiran dan tidak berbuat sewenang-wenang terhadap orang miskin dan berlaku sombong terhadap mereka.
Kekuatan kelima: “Kemuliaan Islam” yang menyatakan meninggikan kalimat Allah. Meninggikan kalimat Allah sekarang ini bergantung pada kemajuan material dan memasuki peradaban yang sebenarnya. Tidak diragukan lagi bahwa perintah yang diberikan oleh kemuliaan Islam ini akan dilaksanakan oleh sosok maknawi dunia Islam secara sempurna pada masa mendatang sesuai dengan tuntutan iman.
Ya, Islam pada masa lalu maju dengan menghancurkan fanatisme musuh, menghancurkan kekeraskepalaannya dan memukul mundur serangannya dengan pedang dan senjata, maka pada masa mendatang, Islam akan mengalahkan musuhnya dan menceraiberaikan kekuatannya dengan pedang spiritual, bukan pedang material, yaitu pedang peradaban yang sebenarnya, kemajuan material, kebenaran dan keadilan.
Ketahuilah
bahwa yang kita inginkan dari peradaban ini adalah kebaikan dan sisi positifnya yang bermanfaat bagi umat manusia, bukan keburukan dan dosa-dosanya. Orang-orang dungu telah mengira bahwa keburukan peradaban itu adalah kebaikannya sehingga mereka mengikutinya secara buta, sebagai akibatnya mereka merusak apa yang kita miliki. Mereka menjadikan agama sebagai sarana menyuap untuk mendapatkan keuntungan duniawi, namun tidak mendapatkannya. Ketika keburukan peradaban mengalahkan kebaikannya, kejahatannya mengungguli kebajikannya, umat manusia mendapatkan dua tamparan hebat dalam dua perang dunia yang menjungkirbalikkan peradaban tersebut. Peradaban tersungkur dengan darah yang mengotori permukaan bumi.
Kebaikan peradaban akan menang berkat kekuatan Islam yang akan memegang kendali kekuasaan pada masa mendatang, insya Allah. Muka bumi ini akan dibersihkan dari segala yang mengotorinya. Perdamaian dunia akan terwujud.
Ya, karena peradaban Eropa tidak berlandaskan pada keutamaan dan petunjuk, tetapi berlandaskan pada keinginan dan hawa nafsu, kompetisi dan kesewenang-wenangan, sampai sekarang, keburukan peradaban lebih unggul dari kebaikannya. Peradaban menjadi seperti sebuah pohon yang memayungi organisasi-organisasi revolusi anarkis. Ini merupakan petunjuk dan indikator kuat terhadap keunggulan peradaban Asia yang akan terwujud tidak lama lagi.
Sungguh aneh, jika orang-orang yang beriman dan orang-orang Islam dalam menghadapi masa depan telah membekali dirinya dengan sarana dan prasarana kuat guna menggapai kemajuan material dan maknawi. Jalan menuju kebahagiaan masa depan itu lurus dan dapat dilalui dengan mudah seperti rel kereta api, maka bagaimana kalian bisa terjerumus dalam keputusasaan? Sungguh besar kesalahan yang kalian lakukan ketika mengira—dengan penuh keputusasaan—bahwa dunia telah menjadi tempat kemajuan bagi orang asing dan manusia lain, sementara bagi
orang-orang Islam hanya sebagai tempat keterpurukan. Selama kecenderungan untuk menggapai kesempurnaan telah melekat dalam naluri umat manusia dan seluruh makhluk, maka kebenaran dan hakikat pada masa mendatang akan memperlihatkan kebahagiaan dunia di seantero dunia Islam, akan menjadi penghapus kesalahan umat manusia masa lalu, insya Allah, selama hari Kiamat tidak dipercepat karena kezaliman dan dosa yang dilakukan umat manusia.
Ya, lihatlah, masa tidak bergerak di atas garis yang lurus di mana titik permulaan berjarak jauh dari titik akhir, bahkan masa itu berputar mengikuti putaran bola bumi. Maka terkadang memperlihatkan musim semi dan musim panas dalam kondisi kemajuan, dan terkadang memperlihatkan musim dingin dan badai dalam kondisi keterpurukan.
Maka sebagaimana musim dingin meninggalkan musim semi, malam meninggalkan siang, demikian pula umat manusia akan memasuki waktu siang, akan tiba saatnya memasuki musim semi, insya Allah. Kalian hanya tinggal menunggu untuk melihat peradaban yang sebenarnya di bawah naungan kedamaian universal yang menyeluruh yang berasal dari kasih sayang Ilahi dengan terbitnya matahari hakikat Islam.
...
Kata Kedua:
Putus asa adalah penyakit yang paling berbahaya.
Di antara yang dihasilkan pemikiranku sebagai hasil dari pengalamanku dalam hidup adalah bahwa rasa putus asa merupakan penyakit yang paling berbahaya yang menyusup ke dunia Islam.
Ya, rasa putus asa yang seakan-akan telah mematikan kita, sehingga negara Barat yang kecil yang hanya memiliki dua juta penduduk berhasil menguasai negara Timur yang berpenduduk dua puluh juta orang,
sehingga negara Barat tersebut menjajah negara bangsa Timur dan dijadikanya sebagai pelayan mereka(*78). Itulah rasa putus asa yang telah mematikan budi pekerti kita yang luhur, telah mengalihkan pandangan kita dari kepentingan orang banyak dan membelenggunya dalam kepentingan pribadi.Itulah rasa putus asa yang telah menghancurkan kekuatan spiritual kita. Dengan kekuatan sedikit, kekuatan spiritual yang bersumber dari iman telah menguasai bagian Timur dan bagian Barat bumi. Karena kekuatan spiritual yang luar biasa itu dihancurkan oleh rasa putus asa, maka bangsa asing yang zalim telah berhasil menjadikan tiga ratus juta umat Islam sebagai tawanan mereka sejak empat abad yang lalu.
Karena rasa putus asa ini, sampai-sampai seseorang mencari-cari alasan untuk membenarkan kemalasannya demi melihat sikap apatis dan ketidakpedulian orang lain. Ia mengatakan, “Apa salahku, semua orang juga bermalas-malasan sepertiku”. Orang itupun enggan ikut serta berkhidmat pada Islam dan meninggalkan kemuliaan iman.
Selama penyakit ini telah menzalimi kita separah ini dan membunuh kita, maka insya Allah kita akan membunuhnya dengan qishas.
Kita akan penggal kepala rasa putus asa itu dengan pedang لَا تَق۟نَطُوا مِن۟ رَح۟مَةِ اللّٰهِ ‘Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah’ (QS. az-Zumar [39]: 53,
dan kita akan membinasakannya dengan hakikat مَا لَا يُد۟رَكُ كُلُّهُ لَا يُت۟رَكُ كُلُّهُ ‘Apa yang tidak dapat diperoleh semuanya, tidak ditinggalkan semuanya’.
Ya, rasa putus asa adalah penyakit bangsa yang paling berbahaya, dapat dikatakan sebagai “kanker bangsa”. Penyakit ini menjadi faktor penghalang kesempurnaan dan bertentangan dengan hakikat hadis اَنَا عِن۟دَ حُس۟نِ ظَنِّ عَب۟دٖى بٖى ‘Aku sesuai dengan baik sangka hamba-Ku terhadap-Ku’(*79). Inilah masalah dan dalih yang menimpa para pengecut, orang-orang lemah, orang-orang hina dan bukan ciri khas kemuliaan Islam khususnya bangsa Arab yang memiliki karakteristik sifat-sifat yang luhur yang dibanggakan umat manusia.Bangsa-bangsa dunia Islam telah memperoleh pelajaran dari keteguhan dan ketegaran bangsa Arab dan insya Allah bangsa Arab akan mencampakkan rasa putus asanya agar mereka dapat bergandeng-tangan dengan bangsa Turki, balatentara Islam yang gagah perkasa sehingga mereka secara bersama-sama mengibarkan panji-panji al-Qur’an di seluruh pelosok dunia.
Kata Ketiga:
Kejujuran adalah prinsip dasar ajaran Islam. Intisari pengamatanku selama hidup dan saripati yang diperoleh dari kehidupan sosial adalah bahwa kejujuran merupakan prinsip dasar ajaran Islam, pengikat sifat-sifat luhur dan paduan perasaan-perasaan luhur. Jika masalahnya seperti itu, maka hendaknya kita hidupkan dalam diri kita kejujuran ini yang merupakan dasar kehidupan sosial dan dengannya kita akan mengobati penyakit spiritual kita.
Ya, kejujuran memang merupakan ikatan kuat bagi kehidupan sosial Islam, sementara riya tidak lebih dari dusta praktis, sanjungan dan berpura-pura tidak lebih dari dusta tercela, kemunafikan tidak lebih dari dusta yang berbahaya, dusta merupakan pelecehan terhadap kekuasaan Sang Pencipta Yang Maha Agung lagi Maha Suci.
Kekufuran dengan semua bentuknya adalah dusta, sementara iman adalah kejujuran. Berdasarkan rahasia ini, terdapat jurang tak terbatas antara dusta dan jujur. Keduanya memang harus berjauhan sejauh Timur dan Barat. Keduanya seharusnya tidak saling memasuki wilayahnya seperti halnya api dan cahaya, hanya saja politik yang busuk dan kampanye propaganda yang tendensius terkadang mencampuradukka antara satu sama lain, seperti yang telah berhasil merusak kesempurnaan umat manusia(*80).
...
Wahai saudara-saudaraku jamaah Masjid Umawi dan orang orang beriman yang berjumlah empat ratus juta kelak di Masjid Agung Dunia Islam! Tidak ada keselamatan tanpa kejujuran. Ia adalah tali yang sangat kuat, sementara dusta untuk mencapai suatu kepentingan, telah usang dimakan zaman.
...
Kata Keempat:
Cinta Pelajaran yang dapat saya ambil dari kehidupan sosial manusia sepanjang hidupku dan hasil dari berbagai penelitianku adalah bahwa hal yang paling layak untuk dicintai adalah rasa cinta itu sendiri, dan yang paling layak untuk dimusuhi adalah permusuhan itu sendiri.
Maksudnya, sifat cinta yang memberikan rasa aman dalam kehidupan sosial manusia dan membawanya kepada kebahagiaan adalah yang paling layak untuk dicintai, dan permusuhan yang menjungkirbalikkan kehidupan sosial adalah sifat buruk yang berbahaya dan yang paling berhak untuk dimusuhi dan dijauhi.
...
Kata Kelima:
Kebaikan dan Keburukan yang Berlipatganda. Pelajaran yang saya ambil dari musyawarah syar’i adalah bahwa dosa orang pada masa ini tidak terbatas pada seorang diri, tetapi menjadi besar dan tumbuh berkembang sehingga terkadang mencapai seratus dosa.
Demikian juga dengan kebajikan, tidak terbatas pada satu orang, tetapi berlipat ganda bahkan ribuan kali lipat. Rahasia di balik hikmah ini adalah bahwa kebebasan syar’i dan musyawarah telah memperlihatkan kekuasaan nasionalisme kita yang sebenarnya. Hal itu karena dasar nasionalisme kita yang hakiki dan ruhnya adalah Islam, Khilafah Usmaniyah dan tentara Turki—yang dianggap sebagai pembawa panji nasionalisme Islam—keduanya merupakan benteng pertahanan nasionalisme Islam, serta bangsa Arab dan bangsa Turki adalah dua saudara yang sebenarnya dan keduanya merupakan penjaga benteng suci ini.
Maka berkat ikatan suci yang dimiliki nasionalisme ini, umat Islam merupakan satu keluarga. Ikatan suci ini mengikat berbagai bangsa Islam, dikukuhkan oleh persaudaraan Islam sebagaimana halnya yang terjadi dengan anggota keluarga. Masing-masing saling menolong secara spiritual bahkan material jika memang diperlukan, seakan-akan bangsa-bangsa Islam itu terikat antara satu sama lain oleh rantai cahaya.
Jika salah seorang anggota keluarga melakukan sebuah kejahatan, maka seluruh anggota keluarga manjadi tertuduh dan menjadi musuh dalam pandangan keluarga lain yang memusuhinya, seakan-akan seluruh anggota keluarga telah melakukan kejahatan, sehingga satu kejahatan tersebut menjadi setara dengan ribuan kejahatan. Demikian pula jika salah seorang anggota keluarga melakukan sebuah kebajikan yang dibanggakan oleh keluarga, maka akan menjadi kebanggan segenap anggota keluarga seakan semuanya telah melakukan kebaikan. Setiap orang dari anggota keluarga tersebut berbangga seolah-olah dia yang melakukan kebaikan tersebut. Berdasarkan hakikat tersebut pada masa sekarang ini, khususnya empat puluh atau lima puluh tahun kemudian, keburukan dan kefasikan tidak terbatas pada pelakunya, bahkan hal itu melanggar hak jutaan jiwa umat Islam.
Banyak contohnya akan terlihat pada empat puluh atau lima puluh tahun mendatang.
Wahai saudara-saudaraku yang mendengar ucapanku di Masjid Umawi dan saudara-saudaraku kaum muslimin di Masjid Dunia Islam empat puluh atau lima puluh tahun kemudian! Janganlah kalian berdalih, “Kami tidak membahayakan dan tidak mampu memberikan manfaat”. Dalih kalian ini tidak dapat diterima. Sikap malas dan ketidakpedulian kalian adalah ketika kalian mengatakan, “Apa urusan kita?”. Tidak berusaha untuk persatuan umat Islam dan nasionalisme Islam yang hakiki adalah bahaya besar dan kezaliman yang tak terhingga.
Sebagaimana perbuatan dosa dapat berlipat ganda ribuan kali, maka demikian pula dengan kebajikan pada masa ini, yaitu kebajikan yang berkaitan dengan kesucian Islam. Kebajikan tersebut tidak terbatas pada pelakunya saja, tetapi mendatangkan manfaat secara material kepada jutaan kaum beriman dan memperkokoh kehidupan material dan spiritual mereka. Berdasarkan hal ini, bukan masanya lagi untuk berleha-leha di atas kasur kemalasan sambil mengatakan,
“Apa urusanku?”.Wahai saudara-saudaraku di masjid ini dan saudara-saudaraku di Masjid Agung Dunia Islam empat puluh atau lima puluh tahun kemudian! Janganlah kalian mengira bahwa saya menaiki mimbar ini untuk memberi nasihat kepada kalian. Saya menaiki mimbar ini tidak lain adalah untuk menuntut hak kami dari kalian. Kebaikan bangsa kecil—seperti Kurdi—dan kebahagian dunai akhiratnya bergantung pada bangsa besar seperti kalian, bangsa yang berkuasa dan dapat memberi arahan seperti bangsa Arab dan bangsa Turki. Sikap malas dan ketidakpedulian kalian sangat membahayakan kami, saudara-saudara kalian dari bangsa-bangsa Islam yang berjumlah kecil.
Wahai bangsa Arab yang agung, orang-orang yang telah mengalami atau akan mengalami kebangkitan yang besar, kalian adalah bangsa pertama yang saya ajak berbicara, karena kalian adalah guru serta pemimpin bagi kami dan semua bangsa Islam sekaligus kalian adalah para mujahid Islam. Kemudian bangsa Turki yang besar membantu dalam menjalankan tugas suci kalian. Oleh karena itu, dosa kalian sangat besar dengan sikap tidak peduli ini. Sementara jika kalian berbuat kebajikan, maka pahalanya juga sangat besar. Harapan kami terhadap rahmat Allah sungguh sangat besar, terutama setelah empat puluh atau lima puluh tahun yang akan datang agar bangsa-bangsa Arab bersatu sebagaimana halnya rakyat Amerika Serikat. Jika seluruh bangsa Arab bersatu, mereka akan menempati kedudukan yang paling tinggi dan berhak mendirikan kekuasaan Islam—yang sekarang menjadi tawanan—di separuh bumi atau disebagian besar bumi dan insya Allah akan disaksikan oleh generasi mendatang, selama hari kiamat tidak segera terjadi.
Wahai saudara-saudaraku! Janganlah kalian menanggapi dan memersepsikan bahwa dengan ucapanku ini saya membangkitkan semangat kalian untuk berkecimpung dalam dunia politik. Tidak. Bukan itu tujuanku. Hakikat Islam lebih luhur dari semua politik, bahkan politik dapat dijadikan pelayan bagi hakikat tersebut. Tidak satupun politik boleh menjadikan Islam sebagai alatnya.
Dengan pemahamanku yang terbatas, saya menggambarkan badan sosial Islam pada masa kini dalam bentuk sebuah pabrik yang memiliki banyak roda gigi. Jika salah satu geriginya lambat atau melampaui gerigi lainnya, maka mesin tersebut akan rusak. Oleh karena itu, telah tiba saatnya bagi kesatuan Islam tanpa memedulikan kekurangan individual kalian.
Dengan perasaan sakit dan sedih yang sangat mendalam, saya jelaskan kepada kalian bahwa sebagaimana sebagian bangsa asing telah merampas tanah air dan harta kekayaan kita yang paling berharga, lalu menggantinya dengan barang yang buruk.
Begitu pula mereka mengambil budi pekerti baik kita dan sebagian sifat yang dilahirkan oleh budi pekerti baik itu yang sebetulnya menjadi ciri khas kehidupan sosial kita. Budi pekerti baik dan sifat terpuji yang mereka “curi” dari kita, mereka jadikan landasan kemajuan mereka dan sebagai penggantinya, mereka memberi kita akhlak buruk dan sifat-sifat tercela.
Misalnya, salah seorang dari mereka mengatakan, merepresen tasikan salah satu sifat terpuji bangsa kita yang mereka ambil dari kita, “Jika aku mati, bangsaku harus selamat, karena dalam bangsaku itu terdapat kehidupan abadi bagiku”. Ucapan ini adalah benar-benar mereka ambil dari kita yang merupakan fondasi yang paling kuat untuk kemajuan mereka yang mereka curi dari kita. Ucapan itu bersumber dari agama yang benar dan dari hakikat iman.
Ia adalah milik kita, kaum beriman, hanya saja kenyataannya, egoisme kita mengatakan, merepresentasikan sifat buruk bangsa asing yang telah merasuki tubuh kita, “Jika aku mati karena kehausan, maka janganlah setetes pun hujan turun, dan jika aku belum sempat melihat kebahagiaan, maka biarlah dunia segera punah”. Ucapan dungu seperti ini hanya terlontar dari mulut orang yang tidak beragama, keluar dari orang yang tidak mengenal akhirat. Ucapan dungu seperti ini dihasilkan dari sifat yang merasuki diri kita dari luar dan terus mengembuskan racun.
Kemudian—dengan pemikiran nasionalisme yang telah diambil bangsa asing—setiap orang dari bangsa itu telah menerima satu nilai seakan-akan untuk satu bangsa karena nilai seseorang sesuai dengan kesungguhannya sehingga jika kesungguhannya itu adalah demi bangsanya, maka ia akan menjadi satu bangsa.
Karena pandangan sebagian kita terbatas, karena sifat-sifat yang kita ambil dari bangsa asing itu adalah sifat-sifat buruk, karena ucapan setiap orang dari kita, “diriku, diriku”, karena masing-masing berpikir untuk kepentingan dirinya sendiri tanpa mempertimbangkan kepentingan orang banyak, nilai seseorang dari kita menjadi jatuh sehingga nilai seribu orang hanya senilai satu orang, meskipun kita memiliki kekuatan dan kesucian nasionalisme Islam.
Orang yang semangat hidupnya hanya untuk dirinya sendiri, maka sebetulnya ia bukan manusia karena yang namanya manusia secara naluri adalah makhluk sosial, yang secara naluri hatinya tergerak untuk memperhatikan makhluk sesama sehingga kehidupan individualnya tidak akan berlangsung abadi kecuali dengan adanya kehidupan sosial.Ukurlah kebutuhan manusia dengan sepotong roti yang biasa ia makan, berapa banyak tangan yang diperlukan agar sepotong roti itu sampai ke tangannya? Ia, sebaliknya, secara spiritual mencium tangan-tangan tersebut. Demikian pula pakaian yang ia kenakan, berapa banyak tangan yang terlibat dalam pembuatannya? Maka selama manusia itu tidak dapat hidup hanya dengan berselimutkan bulu seperti hewan, selama ia secara naluri memiliki hubungan dengan makhluk sesama, selama ia harus memberi mereka harga maknawi, maka secara naluri ia adalah benar-benar makhluk sosial. Orang yang membatasi pandangannya sekadar untuk kepentingan dirinya sendiri, ia telah kehilangan sifat kemanusiaannya dan telah menjadi hewan buas yang berbahaya, kecuali jika sangat terpaksa dan memiliki alasan yang benar serta tidak memiliki upaya, maka ia dikecualikan dari sifat ini.
Kata Keenam:
Musyawarah. Kunci kebahagiaan kaum muslimin dalam kehidupan sosial Islam adalah musyawarah yang sesuai ajaran syariat. Ayat al-Qur’an yang berbunyi وَاَم۟رُهُم۟ شُورٰى بَي۟نَهُم۟ ...sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka...’ (QS. asy-Syûra [42]: 38), memerintahkan untuk menjadikan musyawarah sebagai landasan.Ya, sebagaimana dasar semua ilmu pengetahuan dan kemajuan umat manusia itu adalah musyawarah sepanjang masa yang ditransferkan oleh sejarah dengan nama “keberlanjutan pemikiran” bagi umat manusia, maka salah satu sebab benua besar Asia tetap berada di barisan belakang adalah karena mengabaikan musyawarah yang sebenarnya.
Kunci keberhasilan dan masa depan Asia tidak lain adalah musyawarah. Maksudnya, sebagaimana setiap individu bermusyawarah satu sama lain, demikian halnya berbagai bangsa dan berbagai benua harus bermusyawarah satu sama lain juga. Untuk melepas berbagai ikatan yang membelenggu kaki tiga ratus bahkan empat ratus juta muslim, untuk menghancurkan belenggu tirani, hanya dapat dilakukan dengan musyawarah yang sesuai dengan ajaran syariat, dengan kebebasan yang sesuai syariat yang bersumber dari kasih sayang iman, yaitu kebebasan yang berhiaskan etika-etika yang diajarkan syariat dan bebas dari segala macam keburukan seperti yang terdapat dalam peradaban Barat yang telah mengalami degradasi moral. Kebebasan yang sesuai ajaran syariat yang bersumberkan iman memerintahkan dua hal:
Tidak menghinakan dan tidak dihinakan...barangsiapa menjadi hamba bagi Allah, ia tidak boleh menjadi hamba bagi hamba lainnya. “Dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. (QS. Ali `Imran [3]: 64). Ya, kebebasan yang diajarkan syariat adalah karunia Allah Yang Maha Pengasih.
Yakni, iman mengharuskan tidak merendahkan orang lain dengan melakukan perbuatan sewenang-wenang, dan tidak pula direndahkan orang lain dan merendahkan diri bagi orang orang zalim. Barangsiapa menjadi hamba yang sebenarnya bagi Allah, ia tidak akan menjadi hamba bagi selain-Nya; “...dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah...”.Orang yang belum mengenal Allah, menduga bahwa segala sesuatu dan setiap orang memiliki sifat ketuhanan. Masing-masing sesuai dengan dugaannya lalu diterapkan pada dirinya. Ya, kebebasan yang diajarkan syariat adalah karunia Allah I yang tampak jelas dalam nama-Nya ' Maha Pengasih lagi Maha Penyayang’ dan ini merupakan karakteristik iman.
Hiduplah kejujuran, dan matilah keputusasaan. Abadikan kasih sayang, dan Kuatkan musyawarah. Celaan bagi orang yang mengikuti hawa nafsu, kedamaian bagi orang yang mengikuti petunjuk.
* * *
Ustadz Said Nursi tidak lama tinggal di Damaskus. Setelah itu ia pergi ke Istanbul guna berusaha mendirikan universitas di Timur Anatolia dengan nama “Madrasah az-Zahra” dan dalam perjalanannya ke Rumelia, Ustadz Said Nursi mendampingi Sultan Rasyad sebagai perwakilan dari Wilayah Timur(*81). Dalam perjalanan, di atas kereta terjadi dialog antara Ustadz Said Nursi dan dua orang guru dari sekolah modern. Ringkasannya telah ditulis di bagian akhir “Khutbah Syamiyah” yang sebagiannya kita kutip berikut ini.
“Pada permulaan era kebebasan, saya menemani Sultan Rasyad dalam perjalannya ke Rumelia sebagai perwakilan dari Wilayah Timur. Dalam perjalanan di atas kereta terjadi dialog dengan dua orang rekan alumni sekolah modern.
Kedua orang itu bertanya kepadaku, mana yang lebih kuat dan lebih harus dilakukan, semangat keagamaan atau semangat nasionalisme?
Saya katakan, “Bagi kami umat Islam, agama dan nasionalisme dua hal yang memiliki kesamaan dan memiliki perbedaan. Antara keduanya terdapat perbedaan dari segi nama, hal lahir dan penampilan, tetapi agama merupakan ruh dan kehidupan bangsa. Jika keduanya dipandang sebagai dua hal yang berbeda, semangat keagamaan mencakupi masyarakat awam dan masyarakat elit, sementara semangat nasionalisme hanya terbatas pada satu persen dari masyarakat, yaitu terbatas pada orang-orang yang lebih mengutamakan kepentingan pribadinya daripada bangsanya. Jika masalahnya demikian, maka semangat keagamaan harus menjadi dasar hak orang banyak, dan semangat nasionalisme harus melayani hak ini dan melindungi kekuatannya.
Kita orang Timur tidak seperti orang Barat. Penguasa dalam hati kita adalah kesadaran agama. Takdir azali telah menunjukkan dengan diutusnya mayoritas nabi di Timur bahwa kesadaran agama adalah satu-satunya yang membangkitkan Timur dan membawanya kepada kemajuan. Cukuplah masa kebahagiaan dan masa para tabi`in sebagai bukti yang nyata terhadap hal itu.
Wahai rekan-rekan di sekolah bergerak yang bernama kereta ini, yang bertanya; semangat apa yang harus lebih diperhatikan, apakah semangat keagamaan atau semangat nasionalisme? Segenap pelajar sekolah-sekolah modern(*82)yang tengah melakukan perjalana bersama kami menuju masa depan dalam kereta masa sekarang, saya katakan kepada kalian,
“Semangat keagamaan dan semangat nasionalisme Islam telah berakar kuat dalam jiwa bangsa Turki dan bangsa Arab. Keduanya telah bersatu padu dalam jiwa mereka sehingga tidak dapat dipisahkan. Semangat keislaman adalah rantai pengikat yang lebih kuat yang datang dari langit. Ia adalah pengikat kuat yang tidak akan putus dan benteng suci yang tidak akan hancur. Setelah saya sampaikan hal ini, kedua guru yang berpendidikan itu bertanya, “Apa alasan Anda? Klaim besar seperti ini harus didukung argumentasi yang kuat. Apa argumentasinya?”. Ketika itu kereta baru saja keluar dari terowongan. Kami alihkan pandangan melalui jendela untuk melihat keluar.
Kami lihat seorang anak kecil yang usianya belum genap enam tahun berdiri dekat rel kereta. Saya katakan kepada kedua guru itu bahwa anak kecil yang tidak berdosa itu menjawab pertanyaan kita dengan lisan halnya,
maka sebaiknya anak kecil itulah yang menjadi guru kita, bukannya saya dalam sekolah yang bergerak ini. Kenyataan diri anak kecil itu mengatakan hakikat berikut:
“Lihatlah kereta yang seperti binatang melata itu telah keluar dari terowongan dengan suara gemuruh mengagetkan, sementara seorang anak kecil berdiri sejauh satu meter dari rel. Kendati kereta itu dengan gemuruh suaranya mengancam akan menyerangnya seolah-olah berkata, “Celakalah orang yang merintangiku”, anak kecil itu dengan sepenuh kebebasannya berdiri dengan gagah berani dan sikap tenang yang mengagumkan, sama sekali tidak terpengaruh oleh ancaman kereta itu dan tidak memedulikan kedatangannya,
seakan-akan meremehkan serangannya dan dengan kenyataan sifat berani dan ketegarannya ia mengatakan, “Wahai Kereta! suaramu yang menderu-deru seperti petir sama sekali tidak akan membuatku takut. Kamu adalah tawanan sistemmu. Tali kekangmu ada di tangan pemimpinmu dan kamu tidak akan dapat menyerangku. Kamu tidak mampu menjadikanku tawanan kesewenang-wenanganmu. Ayo pergi di atas jalanmu, teruskan perjalananmu dengan seizin pemimpinmu”.
Wahai teman perjalananku dalam kereta dan saudara-saudaraku yang sibuk dengan ilmu pengetahuan lima puluh tahun kemudian! Hadirkan waktu yang telah lalu, hadirkan kembali Rustum Iran atau Heraklius Yunani(*83)dengan kepahlawanannya yang luar biasa pada diri anak kecil yang tidak berdosa ini, kendati yang namanya kereta belum ada pada masa kedua pahlawan itu, mereka tidak memiliki keyakinan bahwa kendaraan itu bergerak sesuai dengan sistem yang telah ditentukan, maka bayangkanlah ketika kereta itu keluar dari terowongan, di atas kepalanya api dengan kayu bakar, nafasnya bergemuruh seperti petir, dalam kedua matanya yang terbuat dari aliran listrik ada kilatan cahaya, mengancam akan menyerang sehingga menimbulkan ketakutan, bergerak menuju kedua pahlawan tersebut, Rustum dan Heraklius, bayangkan bagaimana kedua pahlawan tersebut akan merasakan sangat ketakutan, bagaimana mereka akan melarikan diri ribuan meter kendati keberanian mereka yang luar biasa! Lihat bagaimana kebebasan kedua pahlawan itu menjadi lemah dan keberaniannya menjadi menciut di hadapan ancaman “binatang melata” ini sehingga mereka hanya bisa melarikan diri.
Hal itu—karena mereka tidak memiliki keyakinan tentang adanya pemimpin atau sistem pada kereta ini—mereka tidak menduga bahwa kereta tersebut adalah kendaraan yang patuh, bahkan mungkin mereka menduganya seekor singa buas yang sangat menakutkan yang di belakangnya diikuti oleh dua puluh singa lain sebesar gerbong kereta.Wahai kedua rekan perjalananku dan segenap sahabat yang mendengarkan tuturan ini lima puluh tahun kemudian, yang memberi anak kecil yang usianya belum genap enam tahun ini kebebasan dan keberanian yang melebihi kebebasan dan keberanian kedua pahlawan itu, dan mengangkatnya lebih tinggi dari mereka dalam rasa aman dan ketegarannya, tidak lain dari inti hakikat yang terdapat dalam kalbunya yaitu iman, keyakinan dan ketenangannya bahwa kereta itu memiliki sistem yang berjalan sesuai dengan peraturan yang ada, bahwa kendali ada di tangan masinis yang menjalankannya dengan penuh perhitungan, sementara yang membuat kedua pahlawan legendaris itu sangat ketakutan dan perasaan mereka menjadi tawanan rasa takutnya tidak lain dari tidak adanya keyakinan yang diselimuti kebodohan, yaitu ketidaktahuan mereka bahwa kereta dikendalikan oleh masinis dan ketidakyakinan mereka bahwa kereta berjalan menurut sistem.
...
Sebagaimana keadaan kedua tokoh yang dicontohkan di atas di mana kebodohan, ketiadaan keyakinan dan kesesatannya telah menyebabkan kedua pahlawan legendaris tersebut ketakutan, maka demikian pula keadaan kekufuran dan kesesatan, keduanya merasuki seluruh makhluk—dimulai dari tata surya hingga bakteri
sehingga kekufuran dan kesesatan itu menjelma di hadapan orang-orang sesat sebagai tali dan sekelompok ribuan musuh yang menakutkan yang berada di tangan kekuatan yang buta, kebetulan yang sporadis dan alam yang tuli menyerang manusia tanpa dapat mengelak. Selain itu, kekufuran dan kesesatan ini mencampakkan orang-orang yang menjadi korbannya di neraka Jahanam kendati mereka masih berada di dunia dan membuat mereka mencicipi azabnya karena keduanya menuju manusia dengan membawa esensi yang menyeluruh, perlengkapan yang lengkap, kebutuhan yang tidak terbatas, dan keinginan yang tidak ada akhirnya sehingga keduanya selamanya menghembuskan pada dirinya rasa takut, rasa sakit dan rasa gelisah. Kekufuran dan kesesatan memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan dan kemajuan yang kosong dari agama dan iman yang mereka ketahui selama ini adalah seperti kepahlawanan Heraklius dan Rustum yang tidak menyamai setitik debu, hanya saja kedua sifat tersebut membius manusia dengan kelalaian, kehinaan dan ketidaksadaran seperti suntikan bius yang dampaknya sementara agar manusia tidak merasakan ketakutan yang menyiksa. Tentang hakikat ini telah dijelaskan dalam mukadimah risalah ini(*84)dengan beberapa contoh dan dibuktikan oleh Risalah Nur dengan ratusan argumentasi.
Demikianlah perbandingan antara keimanan dan kekufuran. Sebagaimana keimanan dan kekufuran membuahkan surga dan neraka di akhirat, demikian pula di dunia. Iman merealisasikan surga maknawi di dunia dan menjadikan kematian sebagai pelepasan dan pembebasan, sementara kekufuran merupakan neraka maknawi hingga di dunia sekalipun, menghancurkan kebahagiaan manusia yang sebenarnya, menjadikan kematian sebagai kebinasaan abadi (dalam pandangan kelalaian—Peny). Dalam kesempatan ini kami hanya menyajikan ringkasan ratusan argumentasi yang terdapat dalam Risalah Nur berdasarkan perasaan dan saksi.
Jika kalian ingin menyaksikan hakikat perumpamaan ini, tengadahkan kepala kalian, lihatlah alam semesta, betapa banyaknya rentetan peristiwa yang kalian lihat, benda-benda alam semesta dan bintang-bintang yang berjalan, semuanya diciptakan oleh kekuasaan azali dengan hikmah dan aturan. Kekuasaan azali inilah yang mengatur balon, mobil, pesawat terbang, dan kapal laut, semuanya seperti terkendalinya kereta dalam contoh di atas.
Sebagaimana hal ini terdapat dalam alam nyata dan alam materi, ia juga dalam alam rohani dan alam maknawi terdapat yang semisal yang tidak kalah mengagumkan yang hanya dapat dipercayai oleh orang yang berakal dan dapat dilihat oleh orang yang memiliki mata hati.
Semua rantai material dan spiritual dalam alam semesta ini menyerang orang-orang sesat yang tidak memiliki iman, mengancam mereka dan menjadikan mereka ketakutan sehingga menjungkir balikkan kekuatan spiritual mereka, berbeda dengan orang-orang yang beriman, semua rantai material dan spiritual tersebut bukan ancaman bagi mereka sehingga mereka tidak merasa ketakutan, bahkan menjadikan mereka bergembira, berbahagia penuh harapan dan kekuatan. Hal itu karena dengan keimanan yang dimilikinya, mereka melihat rantai yang tidak ada batasnya itu, kereta material dan spiritual, makhluk yang berjalan, semuanya digiring menuju fungsinya masing-masing secara teratur dalam lingkaran hikmah yang dikendalikan oleh Allah Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana. Semuanya tidak keluar dari fungsinya sedikitpun. Masing-masing tidak merugikan yang lainnya, sebagaimana mereka melihat semua yang terdapat dalam ciptaan-Nya sebagai cerminan dari kesempurnaan ciptaan dan keindahan, sehingga keimanan ini memberi mereka kekuatan spiritual dan dengan demikian memperlihatkan contoh kebahagiaan abadi kepada mereka.
Demikianlah rasa takut yang luar biasa dan penderitaan yang menyakitkan yang dialami orang-orang sesat sebagai akibat tidak memiliki iman. Ilmu pengetahuan modern berdiri di hadapan kesesatan dengan hanya berpangku tangan. Ia bersama kemajuan umat manusia dan tak satu pun dari selain keduanya memberikan hiburan bagi umat manusia dan mewujudkan kekuatan spiritual bagi mereka sehingga mereka tidak memiliki keberanian sedikitpun, hanya saja kelengahan sementara telah menutup dan menipu mereka.
Berbeda dengan orang-orang beriman, berkat imannya, rasa takut tidak dapat tempat dalam jiwa mereka, kekuatan spiritualnya pun tetap utuh. Mereka melihat peristiwa-peristiwa tersebut dengan mata hakikat yang terdapat dalam iman, dengan ketegaran dan kekuatan spiritual yang luar biasa sebagaimana halnya anak kecil yang tidak berdosa dalam contoh di atas. Orang-orang yang beriman menyaksikan peristiwa-peristiwa tersebut sebagai sebuah pengaturan dan pengelolaan dalam lingkaran hikmah yang dilakukan oleh Allah Pencipta Yang Maha Bijaksana. Mereka terbebaskan dari ilusi dan rasa takut. Mereka memahami bahwa makhluk-makhluk ciptaan Allah yang bergerak itu tidak akan mampu bergerak atau memberikan pengaruh kepada seseorang tanpa perintah dan izin Allah Pencipta Yang Maha Bijaksana. Maka masing-masing—sesuai dengan tingkatannya—merupakan cerminan kebahagiaan dan ketenangan yang sempurna dalam kehidupan dunia.
Orang yang dalam hatinya tidak terdapat benih hakikat dan titik sandaran yang keluar dari iman dan agama yang benar, maka keberanian dan kepahlawanannya akan melemah, kekuatan spiritualnya hilang, dan hati nuraninya tidak peka—seperti melemahnya kekuatan Rustum dan Heraklius serta kepahlawanannya menjadi tidak berarti dalam permisalan di atas—eksistensinya tidak diperhitungkan dan menjadi tawanan peristiwa makhluk ciptaan Allah bahkan derajatnya seperti pengemis yang dikuasi rasa takut di hapadan segala sesuatu.
Kita ringkas hakikat yang sangat panjang ini di mana Risalah Nur telah membuktikan dengan ratusan argumentasi yang kuat rahasia kekuatan iman dan menjelaskan kesengsaraan duniawi yang terdapat dalam kesesatan.
Bagaimana mungkin manusia pada masa sekarang ini, ketika mereka telah merasakan kebutuhannya yang mendesak terhadap kekuatan spiritual, kepada kenyamanan dan ketegaran, mereka meninggalkan Islam dan hakikat iman yang sebetulnya merupakan titik sandaran yang menjamin terwujudnya kekuatan, kenyamanan dan kebahagiaan pada masa sekarang ini, malah mereka mengandalkan kesesatan, kelalaian, kelancangan dan politik dusta yang menghancurkan semua kekuatan spiritual, menyirnakan kenyamanan dan mengguncang keteguhannya. Atas nama westernisasi, mereka jadikan kesesatan sebagai sandaran alih-alih menggunakan nasionalisme Islam. Apa yang mereka lakukan ini sungguh jauh dari kemaslahatan umat manusia. Tidak lama lagi manusia akan sadar terutama umat Islam. Mereka akan berpegang teguh pada hakikat al-Qur’an, jika dunia ini masih tersisa umurnya.”
* * *
Ketika itu diajukan proposal pendirian sebuah universitas Islam yang besar di Kosovo. Kepada anggota komite persatuan dan Sultan Rasyad, Ustadz Said Nursi berkata, “Bagian Timur Anatolia lebih memerlukan universitas seperti ini, karena merupakan pusat dunia Islam”. Anggota komite dan sultan berjanji akan mendirikan universitas di sana, hanya saja dengan meletusnya Perang Balkan, Kosovo menjadi berada dalam wilayah pendudukan. Maka Ustadz Badiuzzaman Said Nursi mengajukan permohonan pemberian dana pembangunan universitasnya—sebesar sembilan belas ribu lira emas—untuk mendirikan universitas di wilayah Timur. Permintaan beliau dikabulkan.
Ustadz Badiuzzaman Said Nursi sekali lagi pergi menuju Van. Ia melakukan peletakan batu pertama universitas di Edremit, di tepi Danau Van, namun apa daya?! Proyek pembangunan universitas ini terhenti dengan meletusnya Perang Dunia Pertama. Mulla Said telah memberitahu segenap muridnya pada musim dingin tahun itu dengan mengatakan, “Bersiap-siaplah kalian, akan ada malapetaka besar yang tampak di cakrawala”
* * *
PENGORBANAN BADIUZZAMAN SAID NURSI BAGI BANGSA DAN NEGARA SEBAGAI KOMANDAN BATALION SUKARELAWAN
Badiuzzaman telah melaksanakan kewajiban jihadnya di medan pertempuran Kaukasia yang dikagumi dan diapresisasi oleh komandan divisi dan komandan utama Anwar Pasya, kemudian ia kembali ke Van karena pasukan Rusia mulai memasuki kota tersebut. Bersamaan dengan upaya mengevakuasi warga, Badiuzzaman bersama sekelompok muridnya berlindung di benteng dengan kebulatan tekad untuk mempertahankan kota Van sampai titik darah penghabisan sebagai syahid, hanya saja wali kotanya, Cevdet Bey mendesak mereka agar bergerak menuju kecamatan untuk menjamin terlaksananya proses evakuasi warga, maka merekapun bergerak ke tempat itu. Ketika walikota, bupati, penduduk dan tentara tengah dalam perjalanan meninggalkan Van menuju daerah sekitar Bitlis dengan melewati Wastan, tiba-tiba satu batalion kavaleri Kazak(*85) Rusia melancarkan serangan terhadap Wastan. Maka Mulla Said bersama sekelompok muridnya dan sekitar empat puluh tentara yang gagah berani melakukan perlawanan sehingga dengan tindakan tersebut tak seorangpun warga yang tengah dievakuasi itu jatuh ke tangan musuh dan berhasil mengamankan jalan evakuasi. Di antara perlawanannya terhadap musuh, Mulla Said bersama beberapa muridnya pada malam hari melakukan penyerangan terhadap sebuah bukit tinggi yang menjorok ke arah Kazak guna membangkitkan rasa takut mereka dan menjadikan mereka mengira bahwa bantuan yang sangat besar tiba sehingga mereka menjadi sibuk dan urung untuk melanjutkan serangan dan hasilnya Wastan selamat dari pendudukan Rusia.
Di tengah-tengah perang itu Ustadz Said Nursi mulai menyusun buku tafsirnya yang berjudul “Isyârât al-I`jâz” didampingi muridnya yang pandai, Mulla Habib. Ustadz Said Nursi mendiktekan kandungan buku tafsir tersebut ketika berada di medan perang di antara desingan peluru atau terkadang ketika berada di atas punggung kuda, atau ketika berada di parit, sehingga sebagian besar dari buku tersebut selesai disusun dalam kondisi seperti itu.Berikut kami kutip Bab “Kata Pengantar” yang dimuat pada awal tafsir yang tiada duanya ini karena tulisan dalam bab ini menjelaskan sebagian informasi terkait dengan proses penulisan tafsir Ustadz Said Nursi itu(*86)
KATA PENGANTAR
(*87)
Mengingat al-Qur’an itu menghimpun berbagai ilmu pengetahuan, isinya ditujukan untuk berbagai lapisan masyarakat di segala zaman, maka tak satupun buku tafsir yang layak dapat disusun dari pemahaman individu yang tidak jarang bebas dari sikap fanatiknya terhadap cara penulisan dan sumber rujukannya karena pemahamannya itu memang sangat subjektif. Ia tidak mempunyai hak untuk mengajak orang lain terhadap pemahamannya itu, kecuali jika diterima secara ijmak oleh mayoritas ulama terhadap tulisannya itu.
Penarikan kesimpulan yang dilakukan itu—bukan karena motif ambisius—dapat digunakan untuk dirinya sendiri dan bukannya sebagai argumentasi untuk mengalahkan pendapat orang lain kecuali jika dibenarkan oleh sebuah konsensus.
Guna mengatur hukum dan memberlakukannya secara kokoh, menghilangkan kekacauan yang diakibatkan oleh kebebasan berpikir dengan mengabaikan konsensus, itu semua memerlukan sebuah tim khusus yang terdiri dari para cendekiawan yang mumpuni yang dengan kinerjanya masyarakat umum merasa aman dan keselamatan bangsa terjamin sehingga mereka menjadi cerminan dari rahasia argumentasi konsensus di mana hasil ijtihad tidak akan menjadi undang-undang tanpa pengesahannya.
Demikian halnya guna mengungkap makna al-Qur’an, mengumpulkan keindahan-keindahannya yang tersebar dalam berbagai tafsir,
membuktikan hakikat-hakikatnya yang dapat diperlihatkan dengan pengungkapan seni(*88)dan mengguncang waktu, harus ada tim khusus yang terdiri dari para ulama yang menekuni berbagai bidang keahlian, yang mempunyai ketelitian pandangan, dan luasnya pemikiran terhadap tafsir”.
Kesimpulan: Orang yang menafsirkan al-Qur’an harus memiliki kecerdasan yang tinggi, ijtihad yang kuat, dan wewenang yang sempurna, dan orang yang seperti itu sekarang hanya berupa sosok maknawi yang dilahirkan dari perpaduan ruh yang saling mendukung, perpaduan pemikiran yang saling membantu, kemajemukan hati, ketulusannya di antara tim khusus tersebut. Maka dengan rahasia ‘Bagi semua terdapat hukum yang tidak berlaku untuk setiap orang’ seringkali bekas ijtihad tidak terlihat, wewenangnya juga tidak tampak bagi setiap anggota kelompoknya.
Kemudian ketika saya menunggu dan mengarah kepada tujuan ini dengan berpura-pura sebagai bagian dari lembaga itu—dan ini sudah lama menjadi khayalan saya—tiba-tiba saya merasakan firasat gempa yang sangat besar(*89)akan segera terjadi, maka dengan segala keterbatasanku saya segera menyusun buku tentang tanda-tanda kemukjizatan al-Qur’an dan menjelaskan sebagian hakikatnya.
Ketika itu saya tidak sempat merujuk ke buku-buku tafsir. Jika tulisan saya itu sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam buku-buku tafsir itu, ya alhamdulillah, dan jika tidak, maka selanjutnya menjadi tanggung jawabku. Bencana besar itupun benar-benar terjadi. Ketika melaksanakan kewajiban berjihad, setiap kali ada kesempatan di tengah-tengah peperangan, saya tulis apa yang terlintas di benakku, baik itu ketika berada di lembah maupun di pegunungan, saya tulis dengan ungkapan yang berbeda-beda mengikuti kondisi.
Kendati tulisan saya itu perlu dikoreksi dan diperbaiki, hati saya tidak menerima untuk mengubah dan menggantinya, karena tulisan tersebut muncul dalam kondisi niat yang tulus yang tidak terdapat sekarang ini.
Maka saya serahkan kepada pandangan para cerdik pandai, bukan karena tulisan saya itu sebagai tafsir al-Qur’an, tetapi, jika memang diterima, agar tulisan saya itu menjadi sebagai ungkapan ketidakpuasan terhadap sebagian tafsir yang ada.
* * *
Ketika pertempuran itu terjadi, penulis tafsir “Isyârât al-I`jâz”, “Mulla Habib” yang sebanding dengan dua puluh murid yang pandai, tewas sebagai syahid. Ia tewas di Wastan setelah melakukan tugas intelijen yang penting bersama panglima Khalil Pasya di medan pertempuran Iran.
Ketika itu gerilyawan Armenia membunuh anak-anak kaum muslimin di berbagai daerah, maka sebagai balasannya, kadang kadang anak-anak Armenia juga dibunuh. Pada suatu ketika ribuan anak-anak Armenia dikumpulkan di suatu tempat yang berada di bawah kekuasaan Mulla Said. Beliau mengeluarkan perintah untuk tentara yang berbunyi, “Janganlah kalian menyentuh mereka sedikitpun”. Kemudian anak-anak Armenia itupun dibebaskan dan kembali kepada keluarganya yang berada di bawah kekuasaan pasukan Rusia. Tindakan Mulla Said ini sangat berkesan di hati bangsa Armenia dan menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi mereka. Mereka sangat mengagumi akhlak kaum muslimin. Maka ketika Rusia menduduki tempat tersebut, pimpinan gerilyawan tidak lagi membunuh anak anak kaum muslimin dan mereka berjanji, “Selama Mulla Said telah menyerahkan anak-anak kami dan ia tidak membunuhnya, maka kita juga demikian, tidak akan membunuh anak-anak kaum muslimin sejak hari ini”. Dengan demikian Mulla Said telah menyelamatkan ribuan anak-anak yang tidak berdosa di tempat itu.
Beberapa saat setelah itu, ketika Rusia menguasai pinggiran kota Van dan Mus serta mulai menyerang Bitlis dengan kekuatan tiga peleton, wali kotanya, Mamduh Bey dan panglima Kel Ali berkata kepada Badiuzzaman,
“Kami terpaksa mundur karena kami hanya memiliki satu pasukan tentara ditambah sekitar dua ribu sukarelawan dari Anda”.
Kepada mereka Badiuzzaman berkata,
“Perbuatan kita ini akan menyebabkan Bitlis beserta penduduk dan para pengungsinya jatuh ke tangan musuh. Tidak ada jalan lain di depan kita selain melakukan perlawanan sampai titik darah penghabisan”. Kedua wali kota itu mengatakan,
“Tentara yang tersisa di Mus setelah kota itu jatuh ke tangan musuh, mereka berusaha menyelundupkan tiga puluh meriam untuk kita. Jika Anda beserta para sukarelawan dapat menyelamatkan meriam-meriam itu, maka kami akan melakukan perlawanan selama beberapa hari dan penduduk kota pun akan selamat”.
Mendengar itu Badiuzzaman berkata,
“Jika masalahnya seperti itu, pilihan saya hanya dua, yaitu mendatangkan meriam-meriam itu atau mati demi usaha itu”. Maka Badiuzzaman Said Nursi mengomandani tiga ratus sukarelawan pergi menuju Nursyin pada malam hari, yaitu tempat yang hendak dijadikan penyimpanan meriam-meriam itu. Sementara itu pasukan Kazak Rusia yang diberi tugas untuk mengawasi meriam-meriam itu telah mendengar berita dari mata-matanya bahwapanglima sukarelawan yang mempertahankan Bitlis akan datang membawa tiga ribu personil guna merebut meriam. Kedatangan mereka didukung sepenuhnya oleh komandan yang terkenal yang berpusat di pegunungan Musa Bey yang disertai seribu personil. Berita tersebut tentunya berlebih-lebihan sehingga tak ayal membuat hati komandan Kazak menjadi kecut dan tidak berani untuk bergerak. Badiuzzaman membagi pasukan yang dikomandaninya guna merebut meriam-meriam. Ia bagi menjadi beberapa kelompok kecil yang masing-masing bertugas untuk membebaskan meriam sehingga Badiuzzaman sendiri bersama kelompoknya berhasil membebaskan meriam. Dengan demikian mereka berhasil memindahkan semua meriam ke Bitlis. Dengan berbekal sejumlah meriam tersebut para sukarelawan beserta pasukan tentara menghadapi musuh selama beberapa hari sehingga penduduk kampung selamat dengan membawa harta bendanya.
Dalam peperangan itu Badiuzzaman tidak berlindung di parit. Ia selalu bergerak di garis depan dengan tujuan membakar semangat para sukarelawan, hanya saja pada suatu hari ketika ia berada di atas kuda yang berlari ke kanan dan ke kiri di garis depan, terlintas dalam hati sanubarinya, “Jika saya mati syahid sekarang, yaitu ketika berada di garis depan dan terlihat jelas oleh semua orang, jangan-jangan perbuatan saya ini didorong oleh rasa ingin pamer yang akan merusak keikhlasan yang merupakan syarat utama untuk mendapatkan peringkat mati syahid”. Maka ketika itu ia langsung mengendalikan kudanya untuk kembali ke parit dan bergabung bersama rekan-rekannya(*90)
Ketika Badiuzzaman pada suatu hari bergerak ke arah garis terdepan, ia terkena empat kali tembakan, namun ia tidak mundur dan tidak berlindung di parit agar tidak melemahkan semangat para sukarelawan, sehingga wali kota Mamduh Bey dan panglima Kal Ali mengirim utusan kepadanya setelah mereka terkejut menerima berita terlukanya Badiuzzaman itu. Utusan itu diperintahkan agar menyampaikan pesan kepada Badiuzzaman agar dirinya mundur dari medan pertempuran setelah terkena empat kali tembakan itu, namun ketika diminta mundur, Badiuzzaman berkata kepada utusan tersebut,
“Peluru orang-orang kafir itu tidak akan dapat membunuhku”.
Sebetulnya tiga tembakan peluru mengenai bagian tubuh yang dapat menjadikan Badiuzzaman tewas, hanya saja salah satu peluru hanya mengenai pisau belatinya dan yang lainnya menembus kotak tembakau sehingga tidak melukai tubuhnya.
Setelah penduduk, wali kota dan komandan Kal Ali meninggalkan Bitlis pada malam hari, balatentara dan pasukan sukarelawan juga menarik diri dari kota itu, Mulla Said tetap tinggal bersama sekelompok muridnya yang tergabung dalam pasukan gerilya, tetap menjaga kota. Mereka bertekad untuk mengorbankan nyawa demi membela kaum lemah yang masih tersisa di kota itu. Pada pagi hari, mereka menghadapi serangan musuh. Sebagian besar sahabat Badiuzzaman tewas, termasuk salah satu muridnya yang merupakan kemenakan dari saudara perempuannya yang bernama Ubaid, tewas sebagai pengganti dirinya. Kemudian Badiuzzaman bersama beberapa muridnya yang masih tersisa menembus tiga barisan musuh sehingga semuanya tewas kecuali Badiuzzaman dan tiga orang muridnya. Mereka dengan cara yang sangat luar biasa dapat bersembunyi di bawah jembatan yang berdiri di atas sungai kecil sambil memegang senapan. Badiuzzaman bersembunyi di dalam air dan lumpur selama tiga puluh tiga jam setelah mereka terluka dan sebagian mengalami patah tulang. Ketika mereka berada dalam kondisi sulit seperti itu, sementara di atas mereka adalah markas musuh yang lengkap dengan komandan dan prajuritnya, Badiuzzaman menghibur murid-muridnya dengan hati yang tenang karena berbahagia telah menyelamatkan penduduk. Ia berkata,
“Jika musuh menyerang kita dengan jumlah personil yang banyak, kita akan gunakan senjata. Kita tidak akan menjual nyawa kita dengan murah. Kita tidak akan menembakkan peluru hanya kepada satu atau dua personil saja”.
Berkat pertolongan Allah, mereka melihat tentara Rusia sementara musuh ini mencari mereka selama tiga puluh tiga jam dan tidak berhasil menemukannya. Kemudian Badiuzzaman berkata kepada para muridnya,
“Saudara-saudaraku, pergilah!. Kalian telah menunaikan kewajiban terhadapku. Sekarang tinggalkanlah saya sendirian di sini. Selamatkan diri kalian”. Para murid yang gerilyawan itu menjawab,
“Kami tidak akan meninggalkan engkau sementara engkau dalam kondisi seperti ini. Jika kami harus mati syahid, maka kami ingin mati syahid dengan tetap bersama engkau”.
Setelah itu mereka menjadi tawanan Rusia dan dibawa ke Van,
kemudian ke Jolfa(*91) , ke Tiblis(*92), kemudian ke Kologriv(*93) dan akhirnya sampai ke Kostroma(*94). Gerilyawan Armenia terkenal dengan ketangguhan dan keteguhannya sehingga pernah diceritakan bahwa jika muka mereka diseret di atas bara api sehingga matanya nyaris meledak, mereka tidak akan membocorkan rahasia. Meskipun demikian tentara Rusia mengatakan bahwa sukarelawan Badiuzzaman lebih unggul dari gerilyawan Armenia dalam hal ketangguhan dan keteguhannya dan hal itulah yang membuat mereka mampu mengalahkan pasukan Kazak.
Badiuzzaman dipindahkan ke kamp militer. Di tempat itu terjadi suatu peristiwa yang perlu diapresiasi,
yaitu bahwa komandan umum Rusia pada suatu hari datang melakukan inspeksi ke kamp untuk mengetahui kondisi para tawanan. Badiuzzaman tidak melakukan penghormatan terhadap komandan tersebut dan tidak pula berdiri dari tempatnya. Hal ini membuat sang komandan tersinggung. Lalu ia kembali dan berjalan tepat di hadapan Badiuzzaman dengan dugaan mungkin tawanannya itu tadi tidak mengenalnya. Badiuzzaman tetap tidak berdiri dari tempatnya untuk kedua kalinya. Melalui penerjemah, komandan Rusia itu bertanya,
“Apakah kamu tidak mengetahui siapa saya ini?”.
Badiuzzaman :
“Tentu, saya mengenalnya. Ia adalah Nikolay Nikolayevich”.
Komandan :
Sikapnya seperti itu berarti penghinaan terhadap tentara Rusia dan dengan sendirinya berarti penghinaannya itu dialamatkan kepada Kaisar Rusia”.
Badiuzzaman :
“Saya tidak melakukan penghinaan. Saya seorang ulama. Orang yang beriman kepada Allah, kedudukannya lebih tinggi daripada orang yang tidak mengenal-Nya, oleh karena itu saya tidak berdiri untuk sekadar menghormati Anda.”
Karena sikapnya ini, Badiuzzaman dibawa ke pengadilan militer. Sebagian perwira rekannya memohon Badiuzzaman untuk segera meminta maaf untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan kelak.
Badiuzzaman :
Dengan segala kegagahan dan keberaniannya, Badiuzzaman tanpa memedulikan apa pun, berkata, “Keputusan hukum mati dari mereka adalah paspor untuk perjalanan ke alam kehidupan yang abadi”.
Pengadilan Militer memutuskan hukuman mati untuk Badiuzzaman. Menjelang eksekusi, Badiuzzaman meminta izin untuk salat. Kepada para eksekutor ia berkata, “Jika saya sudah menunaikan kewajiban agamaku, saya akan perlihatkan dadaku agar kalian dapat dengan mudah menembakkan peluru ke dadaku”. Ketika Badiuzzaman salat, komandan Rusia datang menghampirinya dan meminta maaf sambil berkata,
“Sekarang sudah jelas bagiku bahwa sikap Anda ini semata-mata bersumber pada keteguhan Anda berpegang pada ajaran suci agama Anda. Saya mohon Anda memaafkan saya”. Akhirnya putusan hukuman mati pun dibatalkan.
* * *
Badiuzzaman menjadi tawanan Rusia selama dua tahun setengah. Sebagai pejuang Islam, seluruh hidupnya ia gunakan untuk mengharap rida Allah, dengan mengajak umat manusia terhadap al-Qur’an dan Islam, untuk menghidupkan sunnah Rasulullah , sehingga kendati status dirinya sebagai tawanan, ia tidak berpangku tangan. Ia tetap berusaha memberikan pencerahan bagi orang-orang yang berada di sekelilingnya. Ia kerap menyampaikan pengajian kepada para perwira yang sama-sama menjadi tahanan.
Pada suatu hari ketika ia menyampaikan pengajian kepada sembilan puluh perwira rekannya, tiba-tiba salah seorang komandan Rusia datang dan melarang kegiatan itu dengan dalih ia menyampaikan pelajaran tentang politik. Namun, setelah komandan itu mengetahui isi pengajian Badiuzzaman dan ternyata isinya adalah tentang agama, tentang kajian
ilmiah dan masalah sosial, komandan Rusia itu pun membiarkannya.Akhirnya Badiuzzaman selamat dari penawanan, dengan melarikan diri menuju Peterburg, kemudian ke Warsawa, hingga sampai dan selamat di Wina untuk kemudian memasuki Istanbul pada tahun 1334 Rumi(*95).
Berikut penjelasan Badiuzzaman tentang kehidupan tahanan dalam salah satu karangannya, ketika ia menjadi komandan pasukan sukarelawan dalam Perang Dunia Pertama(*96)
BAGIAN DARI HARAPAN KESEMBILAN PADA CAHAYA KEDUA PULUH ENAM
Saya pernah menjadi tawanan pada masa Perang Dunia Pertama di daerah terpencil yang terletak di Timur Laut Rusia yang disebut Kostroma(*97). Di situ terletak sebuah masjid kecil milik bangsa Tatar yang terletak di tepi sungai Volga yang terkenal itu. Saya merasa bosan berada di antara rekan-rekan perwira yang sama-sama menjadi tawanan. Saya ingin sendirian, tetapi hal itu tidak mungkin dilakukan untuk keluar tanpa izin. Kemudian penduduk setempat dari bangsa Tatar membawa saya keluar dengan jaminan mereka dan membawa saya ke masjid tersebut. Saya menginap di masjid itu sendirian.Malam di belahan bumi bagian utara berlangsung lama seiring dengan mendekatnya musim semi. Saya sering mengalami susah tidur.
Pada malam yang gelap gulita dan dalam keadaan sendirian, tiba-tiba percikan sungai Volga yang terdengar bernada sedih, suara tetesan air hujan yang terdengar lembut, dan hembusan angin yang terdengar seperti orang yang sedang bersedih akibat perpisahan, membuatku terbangun dari tidur kelalaian untuk sementara waktu. Meskipun saya belum menganggap diri sebagai seorang orang tua, tetapi orang yang mengalami perang dunia, dirinya sudah dianggap tua. Hal itu karena hari-harinya yang sulit membuat anakanak menjadi tua seakan-akan sebagai pembuktian salah satu rahasia firman Allah ’ Hari yang menjadikan anak-anak beruban’ (QS. al-Muzammil [73]: 17). Ketika itu usia saya baru empat puluh tahun, tetapi saya merasa seakan-akan sudah berusia delapan puluh tahun.
Di tengah-tengah malam panjang yang gelap gulita itu, dalam kesendirian yang menyedihkan, terlintas rasa putus asa dari kehidupan. Saya renungkan ketidakmampuan dan kesendirian saya sehingga tidak lagi ada harapan tersisa. Ketika saya dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba bantuan dari al-Qur’an al-Karim tiba. Lidah saya berulang-ulang mengucap ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’ (QS. Ali `Imran [3] 173). Sambil menangis hati saya berkata,
Saya terasing, tak seorangpun menemani saya. Saya lemah. Tidak ada daya, tidak ada tempat bersandar. Saya mengharapkan rasa aman. Saya memohon ampunan. Saya memohon bantuan. Saya bersimpuh di depan pintu-Mu, wahai Tuhanku.
Sementara ruh saya yang mengingat rekan-rekan lama tercinta di tanah air, mengkhayalkan kematian saya dalam kesendirian, sehingga ia pergi mencari teman, seperti yang tertuang dalam baitbaik puisi Niyazi al-Misri(*98)
Kulalui berbagai kesedihan dunia
Kukepak sayapku menuju ketiadaan
Terbang dalam kerinduan
Berteriak di setiap waktu “teman…teman”
Demikianlah, pada malam panjang yang sepi, berselimutkan kesedihan dan pedihnya keterpisahan, kelemahan dan ketidakberdayaan saya menjadi penolong yang sangat besar di hadapan Pintu Ilahi, di mana saya masih terheran-heran bagaimana saya dapat melarikan diri beberapa hari setelah itu dengan cara yang tidak disangka-sangka, padahal jika ditempuh dengan berjalan kaki membutuhkan waktu selama setahun penuh dalam keadaan tidak mengetahui bahasa Rusia. Saya selamat dengan cara yang luar biasa, dan tentunya berkat bantuan Allah terhadap kelemahan dan ketidakber dayaan saya. Perjalanan melarikan diri yang panjang itu saya lakukan penuh dengan berbagai kemudahan, dengan melalui Warsawa, kemudian Austria hingga sampai di Istanbul.
Saya melarikan diri dengan selamat dan dengan penuh kemudahan ini tidak mudah dilakukan oleh orang yang paling gagah berani dan mengetahui bahasa Rusia.Keadaan saya pada malam itu yang saya lalui di masjid yang terletak di tepi sungai Volga telah membuat saya mengambil keputusan berikut, “Saya akan menghabiskan sisa umurku dalam gua. Sudah cukup saya berinteraksi dengan kehidupan sosial. Selama saya nanti akan masuk kuburan sendirian di akhir hayat saya, maka saya akan memilih hidup sendirian sejak sekarang agar terbiasa dengan kondisi seperti itu”. Namun dengan rekan-rekan tercinta yang tulus di dalamnya, dengan kehidupan dunianya yang memukau, terutama hal-hal yang tiada duanya seperti popularitas dan reputasi yang sinarnya terpancar mengenai diri saya dan membuat saya tidak berdaya, sayangnya kondisi Istanbul telah menyebabkan saya lupa terhadap keputusan saya untuk sementara waktu. Seakan-akan malam keterasinganku waktu itu, bagi mata kehidupanku sebagai bagiannya yang hitam yang bersinar, sementara siang hari Istanbul yang ramai, bagi mata kehidupan saya seperti bagian putihnya yang gelap sehingga tidak dapat melihat apa yang akan datang segera, sehingga saya kembali tertidur sampai Syekh Abdul Qadir al-Jailani kembali membuka mata saya dengan bukunya “Futûh al-Ghaib” dua tahun kemudian.
* * *
Masyarakat dan pecinta ilmu menyambut kedatangan Ustadz Said Nursi dengan suka cita. Tanpa diberitahukan sebelumnya, Ustadz Said Nursi diangkat menjadi anggota Dâr al-Hikmah al-Islâmiyah, bagian dari kantor Syaikul Islam. Dâr al-Hikmah ketika itu setara dengan Akademi Islam yang terdiri dari para tokoh ulama terkemuka seperti Muhammad `Akif(*99), Ismail Haqqi al-Izmiri(*100), dan Hamdi al-Mâlîli(*101).
Abdurrahman, kemenakan Ustadz Said Nursi, yang merupakan anak spiritualnya, muridnya yang sangat cerdas, penuh semangat dan pemberani(*102), berkata tentang gurunya,
“Setelah pamanku kembali dari penawanan pada tahun 1334 Rumi111, beliau diangkat menjadi anggota Dâr al-Hikmah al-Islâmiyah, tanpa pemberitahuan, hanya saja beliau tidak dapat menjalani tugas tersebut karena fisiknya belum pulih dari penderitaan selama menjadi tawanan. Beliau selama beberapa waktu dibolehkan untuk tidak pergi ke tempat kerjanya, meskipun berulangkali beliau berusaha untuk mengundurkan diri dari jabatannya itu, hanya saja rekan-rekannya tidak mengizinkannya untuk mengundurkan diri. Setelah itu beliau mulai pergi ke tempat kerjanya. Saya selalu memantau keadaannya. Beliau tidak pernah mengeluarkan uang belanja lebih dari jumlah untuk sekadar memenuhi keperluannya. Beliau pernah ditanya, “Mengapa Anda hidup sampai sehemat seperti ini?”. Beliau menjawab,
“Saya ingin hidup seperti halnya mayoritas bangsa ini. Mereka mengatur urusan hidupnya dengan ukuran seperti ini dan saya tidak ingin termasuk golongan minoritas yang berlebih-lebihan”.
Kebiasaan Ustadz Said Nursi, ketika menerima gaji dari Dâr al-Hikmah, beliau mengambil sejumlah uang untuk memenuhi keperluannya saja, kemudian sisanya diserahkan kepada saya sambil berkata, “Simpanlah”. Kemudian, setelah setahun, saya membelanjakan uang yang diberikan Ustadz Said Nursi itu tanpa saya memberitahukan beliau, dengan keyakinan saya bahwa beliau sayang kepada saya dan beliau dapat dengan mudah memperoleh uang itu, namun begitu beliau mengetahui, beliau berkata,
“Uang itu adalah uang rakyat, bukan uang kita. Mengapa kamu membelanjakannya? Karena engkau telah berbuat seperti itu, maka saya pecat engkau dari jabatan wakil bendahara dan saya mengangkat diriku sendiri”.
Setelah beberapa waktu Ustadz Said Nursi ingin mencetak dua belas buah karya tulisnya yang membahas sejumlah hakikat. Beliau menggunakan uang yang diperoleh dari gajinya untuk mencetak risalah-risalahnya yang kemudian dibagikan cuma-cuma kecuali satu atau dua risalah. Saya bertanya, “Paman, mengapa engkau membagi-bagikannya secara cuma-cuma dan bukannya dijual?” Beliau menjawab,
“Yang boleh saya ambil dari gajiku hanya sekadar untuk memenuhi keperluanku, selebihnya adalah milik rakyat. Dengan cara seperti ini saya mengembalikan uang mereka.
Ustadz Said Nursi menjalankan tugasnya di Dâr al-Hikmah al-Islâmiyah dengan usaha pribadinya seperti yang telah dijelaskan, hal itu karena beliau menghadapi rintangan yang menghalanginya untuk menyelesaikan pekerjaannya secara berkelompok. Orang yang mengenal Badiuzzaman mengetahui bahwa beliau seorang yang tidak takut mati dan menjadikan kematian sebagai tujuan hidupnya. Oleh karena itu, keberadaan beliau di Dâr al-Hikmah menjadi jangkar baja yang menahan terombang-ambingnya lembaga keagamaan tersebut sehingga pengaruh asing tidak dapat memperalatnya dan dengan penuh keberanian beliau melawan fatwa-fatwa yang menyesatkan. Setiap kali terdapat pemikiran yang akan menghantam Islam,ia mengeluarkan buku yang membantah pemikiran tersebut dan mematahkan argumentasinya.
* * *
KUTIPAN TULISAN TENTANG KEHIDUPANNYA DI ISTANBUL SETELAH KEMBALI DARI PENAWANAN
(Harapan Kesepuluh dari Cahaya Kedua Puluh Enam)
Sepulangnya dari tawanan, saya kembali terlena dalam kelalaian selama setahun atau dua tahun. Suasana politik mengubah pandanganku sehingga jiwaku tercerai-berai di angkasa. Dalam kondisi seperti itu, pada suatu hari saya duduk dekat pemakaman Abu Ayub Al-Anshari, di sebuah tempat tinggi yang menjulang ke arah lembah yang dalam. Saya mengarahkan pandangan ke cakrawala Istanbul. Tiba-tiba terbayang seakan-akan dunia pribadiku telah mati, sehingga seakan-akan ruh telah dicabut dari sebagian anggota badanku. Saya berkata, “Apakah karena saya melihat tulisan yang ada dalam kuburan itu sehingga saya berkhayal seperti itu?”. Saya palingkan pandanganku dari cakrawala yang jauh, kemudian saya tatap kuburan. Hatiku berbisik, “Kuburan yang mengelilingimu ini bisa mencakup seratus kali penduduk Istanbul. Ya, Istanbul telah dikosongkan di sini ratusan kali. Karena itu engkau pun tidak akan dikecualikan sehingga selamat dari hukum Tuhan Yang Maha Kuasa untuk menempatkan semua penduduknya di tempat ini. Engkau juga akan pergi seperti mereka”.
Saya keluar dari area pemakaman dengan membawa khayalan yang menakutkan. Saya masuk sebuah ruang kecil di Masjid Sultan Ayub di mana sebelumnya saya sudah sering memasukinya. Saya mulai merenung dan berkata kepada diri sendiri, “Saya hanya sekadar tamu, tamu dari tiga sisi. Sebagaimana saya ini tamu dalam ruang kecil ini, saya juga tamu di Istanbul, dan juga tamu di dunia ini. Seorang tamu hendaknya memperhatikan urusan untuk meninggalkan tempat bertamunya. Sebagaimana saya akan meninggalkan ruangan ini, saya juga akan meninggalkan Istanbul pada suatu hari, dan juga saya akan meninggalkan dunia ini pada hari lain.”
Dalam kondisi seperti itu, kepala dan hati saya dipenuhi perasaan duka yang bercampur dengan derita yang mendalam, hal itu karena saya tidak akan kehilangan seorang atau dua orang teman saja, tetapi saya akan berpisah dengan ribuan rekan-rekan tersayang di Istanbul, juga akan berpisah dengan Istanbul itu sendiri, kota yang saya cintai, juga akan berpisah dengan ratusan ribu rekan di dunia. Saya akan meninggalkan dunia yang indah dan yang kucintai ini. Ketika saya tenggelam merenungkan hal ini, tiba-tiba saya kembali ke kuburan yang terletak di atas bukit itu. Tiba-tiba saya melihat orang orang seakan-akan seperti jenazah yang bergerak, persis seperti tampak dalam layar bioskop yang mendatangkan gambaran masa lalu ke masa sekarang, yang layarnya memperlihatkan orang-orang hidup bergerak padahal mereka sekarang sebetulnya telah meninggal dunia. Saya terkadang mendatangi bioskop untuk mengambil pelajaran. Khayalanku berkata kepadaku, “Selama beberapa orang yang berada di dalam kuburan ini akan ditayangkan di bioskop sebagai orang hidup yang bergerak, maka saksikanlah orang-orang yang akan memasuki kuburan kelak, benar-benar seakan-akan mereka telah memasukinya karena mereka juga adalah jenazah-jenazah yang bergerak.
Tiba-tiba kondisi sedih itu mencair, berkat cahaya al-Qur’an al-Karim dan petunjuk al-Ghauts al-A`dzam Syekh Abdul Qadir alJailani Quddisa Sirruh, dan berubah menjadi perasaan suka cita.
Cahaya yang datang dari al-Qur’an mengingatkanku terhadap gagasan berikut:“Dulu dalam keterasinganmu di Timur Laut, di kota Kostroma engkau mempunyai seorang atau dua orang teman perwira yang sama-sama menjadi tawanan, dan engkau mengetahui bahwa mereka berdua mau tidak mau harus pergi ke Istanbul. Jika seseorang bertanya kepadamu, “Apakah engkau akan pergi ke Istanbul atau tetap di sini?”. Tentu jika engkau memiliki akal sebesar zarah sekalipun, engkau pasti akan menerima tawaran untuk pergi ke Istanbul dengan suka cita karena di kota itu engkau memiliki sahabat karib sebanyak sembilan ratus sembilan puluh sembilan dari seribu satu sahabat, dan di sini engkau hanya memiliki seorang sahabat atau dua dan keduanya juga akan pergi ke sana. Maka kepergian ke Istanbul bagimu bu kanlah perpisahan yang menyedihkan dan menyakitkan, kemudian engkau telah datang ke kota itu, bukankah engkau telah bersuka cita? Engkau telah selamat dari negeri musuh, dari malam-malamnya yang panjang dan gelap, dari musim dinginnya yang ekstrim dan dari badainya yang dahsyat dan engkau tiba di Istanbul yang indah seakan-akan ia adalah surga dunia.
Demikian pula sembilan puluh sembilan persen dari orang orang yang engkau cintai sejak kecil hingga sekarang telah pergi meninggalkanmu, pergi ke kuburan yang menimbulkan rasa takut di hatimu. Yang tersisa di dunia ini hanya seorang atau dua orang sahabat dan mereka berdua juga akan menjadi penghuni kuburan. Maka kematianmu di dunia ini bukanlah perpisahan, tetapi merupakan perjumpaan. Kematianmu itu merupakan reuni bersama dengan para sahabat karib. Mereka—yaitu ruh-ruh yang kekal—telah meninggalkan tempatnya di dalam kubur. Di antara mereka ada yang melayang-layang di antara bintang, sementara yang lainnya berkeliling di antara lapisan alam barzakh.
Ya, al-Qur’an dan iman telah membuktikan hakikat ini dengan sangat jelas yang menjadikan orang yang masih memiliki hati dan ruh menyerah, membuat orang yang hatinya belum ditenggelamkan kesesatan bertekuk lutut sehingga mereka membenarkannya seakan-akan mereka melihatnya dengan mata kepalanya. Hal itu karena Sang Pencipta Yang Maha Mulia lagi Maha Penyayang yang telah menghiasi dunia disertai berbagai kelembutan dan kebaikan serta memperlihatkan rububiyah-nya dengan kasih sayang dan menjaga benda-benda yang nilainya paling rendah seperti benih, tentu tidak akan membinasakan dan menyia-nyiakan—sebagaimana tampak pada lahirnya—manusia yang merupakan ciptaan paling sempurna, paling komprehensif, paling dicintai-Nya dan paling penting bagi-Nya. Allah Sang Pencipta yang Maha Penyayang meletakkan ciptaan-Nya yang Dia cintai di bawah tanah yang merupakan pintu rahmat sampai waktu yang telah ditentukan sebagaimana petani menyemai benih agar di kehidupan lain benih tersebut mengeluarkan bulir-bulir(*103)
Setelah saya mendapatkan peringatan al-Qur’an ini, kuburan itu menjadi tempat yang lebih memberi ketenangan dibanding kota Istanbul. Saya jadi lebih senang menyendiri yang melebihi kesena�nganku berada di tengah-tengah orang banyak, dan saya temukan sebuah tempat untuk menyendiri di tepi selat di daerah Sariyer(*104). Sebagaimana al-Ghauts al-A`dzam, Syekh Abdul Qadir al-Jailani Quddisa Sirruh, menjadi guru, tabib dan pembimbingku dengan bukunya yang berjudul Futûh al-Ghaib, demikian pula halnya dengan Imam Rabbani(*105)telah menjadi guru, orang yang menaruh belas kasih dan lemah lembut bagiku dengan bukunya yang berjudul Maktûbât. Saya menerima sepenuhnya memasuki masa tua dan meninggalkan kesenangan peradaban serta kehidupan sosial. Saya berterima kasih kepada Allah atas semua itu.
* * *
HARAPAN KESEBELAS
Setelah kembali dari tawanan, saya tinggal di salah satu rumah yang terletak di bukit Çamlıca di Istanbul. Saya ditemani oleh kemenakanku, Abdurrahman, rahimahullah. Kehidupanku dari sisi duniawi dapat dianggap sebagai kehidupan yang paling berbahagia untuk orang seperti kami. Saya telah bebas dari tawanan. Dengan mudah saya mendapatkan jabatan di Dâr al-Hikmah untuk menyebarluaskan ilmu dengan cara yang sesuai dengan metode ilmiahku. Saya memperoleh popularitas dan kedudukan yang tinggi yang melampaui batasku, di samping lokasi tempat tinggalku itu dianggap sebagai tempat yang paling indah di Istanbul, yaitu Çamlıca. Semuanya berjalan sesuai dengan yang diharapkan dan saya ditemani orang yang sangat cerdas dan berani berkorban, yaitu kemenakanku, Abdurrahman, rahimahullah. Ia selain muridku juga asistenku, penulis dan anak spiritualku.Ketika saya menganggap diri sebagai manusia yang paling berbahagia di dunia, pada suatu hari saya berdiri di depan cermin. Saya lihat uban memenuhi rambut kepala dan janggutku. Tiba-tiba kebangkitan rohani yang saya peroleh di masjid Kostroma, ketika saya masih sebagai tawanan, kembali terjadi. Maka saya cermati keadaan dan sebab-sebab yang secara nurani saya sangat bergantung padanya dan yang saya anggap sebagai sumber kebahagiaan dunia. Setelah saya cermati dengan teliti ternyata itu semua lemah dan menipu yang tidak patut untuk dijadikan sandaran. Pada saat itu saya temukan pengkhianatan yang tidak pernah terlintas dalam hati yang dilakukan oleh seseorang yang saya anggap sebagai teman yang paling baik. Maka saya rasakan keterasingan dari kehidupan dunia.
Saya berkata kepada diriku, “Apakah saya benar-benar tertipu? Saya lihat banyak orang melihat keadaan kami dengan pandangan suka cita, sementara kondisi yang saya rasakan dari sisi hakikat adalah kondisi yang patut dikasihani. Apakah orang-orang itu telah gila? Atau malah saya yang telah gila sehingga melihat orang-orang yang tertipu oleh kehidupan dunia ini sebagai orang-orang gila?”.
Bagaimanapun juga, dengan kebangkitan yang besar ini yang menjadikan diri saya berada dalam masa tua, pertama kali yang saya lihat adalah segala sesuatu yang menjadi sandaranku yang bersifat fana, semuanya lenyap. Saya cermati diri saya sendiri, saya dapatkan sebagai makhluk yang sangat lemah. Ruhku yang mendambakan keabadian, yang terpedaya oleh semua yang fana yang disangkanya abadi, berteriak dengan sangat keras, “Selama saya akan fana secara fisik, maka kebaikan apa yang diharapkan dari semua yang fana ini? Selama saya tidak kuasa, mengapa saya mengharapkan mereka yang juga sama-sama tidak kuasa?”. Saya mulai mencari sambil berkata, “Yang dapat menemukan obat yang mujarab hanyalah Dia Yang Maha Kuasa secara azali, Yang Kekal”. Maka saya segera mencari harapan dan hiburan.
Pertama kali yang saya rujuk adalah ilmu yang pernah saya peroleh dahulu, hanya saja sangat disayangkan, ketika itu benakku telah dipenuhi ilmu filsafat—di samping ilmu-ilmu Islam—yang saya salah duga sebagai pokok kesempurnaan dan sumber peradaban dan pencerahan. Ternyata masalah-masalah filsafat ini telah mencemari ruh saya dan menghalangi kemajuanku secara spiritual.
Ketika saya berada dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba hikmah suci yang dibawa oleh al-Qur’an datang menyelamatkanku, berkat rahmat dan kemurahan Allah. Hikmah suci itu membersihkan ruh saya dari kotoran-kotoran masalah filsafat tersebut dan mensucikannya sebagaimana kami jelaskan dalam banyak risalah.
Dari situ diketahui bahwa kegelapan rohani yang muncul dari ilmu-ilmu hikmah(*106)telah mencekik ruhku dan menyeretnya ke alam makhluk. Maka ketika saya arahkan pandangan dan berusaha mencari cahaya dalam masalah-masalah filsafat itu, saya tidak pernah mendapatkan cahaya di sana. Yang saya temukan malah kesesakan dada sehingga saya didatangi tauhid yang bersumber dari al-Qur’an al-Hakim yang mengajarkan kalimat ‘Tidak ada Tuhan selain Allah’. Kalimat tersebut memancarkan cahaya terang yang langsung mengusir kegelapan dan melapangkan dada, hanya saja hawa nafsu dan setan menyerang akal dan hati dengan bersandarkan pada pelajaran-pelajaran yang diperoleh dari orang-orang sesat dan para ahli filsafat, namun perdebatan jiwa tentang serangan itu diakhiri dengan kemenangan hati, alhamdulillah.
Sebagian perdebatan tersebut dimasukkan dalam banyak risalah dan itu sudah dianggap cukup, hanya saja untuk memperlihatkan kemenangan hati dari ribuan kemenangan itu, di sini kami akan menjelaskan satu bukti saja dari sekian banyak bukti dengan harapan agar dapat mensucikan arwah para orang tua yang sudah dimakan usia yang ketika masa mudanya arwah mereka terkontaminasi, sehingga hatinya menjadi sakit sehingga mereka dihadapkan pada dua pilihan: menghadapi kesesatan atau menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak berguna dengan mereka, yaitu ketika mereka bergumul dengan apa yang disebut hikmah asing atau ilmu dunia, dan semoga membebaskan mereka dari kejahatan hawa nafsu dan setan dalam segala yang berkaitan dengan tauhid. Bukti ini kami jelaskan sebagai berikut:
“Diriku mengatakan, atas nama ilmu filsafat bahwa segala sesuatu di alam semesta ini secara alami memiliki keterkaitan dengan benda-benda yang ada. Segala sesuatu mengarah kepada sebab, sehingga yang namanya buah ya harus dicari di pohon, mencari hasil biji-bijian ya dari tanah, sehingga apa sebetulnya makna kita merendahkan diri kepada Allah dan memohon dari-Nya hingga hal-hal yang paling kecil sekalipun?
Ketika itu rahasia tauhid tersingkap dan menjadi jelas berkat cahaya al-Qur’an sebagai berikut:
“Hati saya berkata kepada jiwaku yang berfilsafat bahwa benda yang paling kecil dan paling tidak berharga, sama seperti benda yang paling besar dan paling berharga, karena benda tersebut berasal langsung dari kemahakuasaan Sang Pencipta alam semesta, berasal dari perbendaharaan-Nya dan tidak ada cara kecuali dengan penggambaran ini, sementara faktor-faktor penyebabnya adalah seperti tirai. Hal itu karena yang kita kira sebagai makhluk terkecil dan terhina bisa jadi—dilihat dari sisi penciptaannya—adalah makhluk yang paling mulia. Seekor lalat meskipun tidak dapat mengungguli ayam, hal itu tidak menjadikan dirinya lebih hina. Oleh karena itu, tidak ada perbedaan antara yang besar dan yang kecil. Jadi, pilihan ada dua: semuanya dibagi kepada sebab-sebab materi, atau semuanya diserahkan secara total kepada satu-satunya Dzat. Pilihan yang pertama mustahil, sehingga mau tidak mau harus mengambil pilihan kedua yang menjadi pilihan mutlak.
Hal itu adalah karena jika sesuatu diserahkan pada satu-satunya Dzat, yaitu pada kemahakuasaan yang azali, selama ilmunya meliputi segala sesuatu—yaitu ilmu yang keberadaanya pasti dengan petunjuk keteraturan semua makhluk yang ada dan hikmahnya yang sangat besar—, selama ukuran segala sesuatu pasti dalam ilmunya, selama semua ciptaan berasal dari ketiadaan kepada keberadaan pada setiap saat dalam keadaan sempurna, tanpa batas waktu dan dengan mudah sebagaimana terbukti dengan penglihatan mata, selama Yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui itu memiliki kekuasaan yang tidak ada batasnya—sebagaimana kami jelaskan dalam banyak risalah dengan dalil-dalil yang kuat, utamanya yang disebutkan dalam “Surat Kedua Puluh” dan di bagian akhir “Cahaya Kedua Puluh Tiga”—di mana Maha Kuasa untuk mengadakan apapun dengan sekadar berfirman ‘Jadilah, maka ia pun jadi’, seakan-akan ia adalah anak panah yang langsung menembus sasaran. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi bahwa kemudahan yang luar biasa yang dapat dilihat dengan pandangan mata itu semata-mata datang dari ilmu yang meliputi dan kekuasaan yang agung.
Sebagaimana sebuah materi yang khusus dioles pada sebuah buku yang ditulis dengan tinta kimia rahasia, tiba-tiba dengan serta merta buku tersebut tampak dalam pandangan mata, semua yang tertulis di dalamnya dapat dibaca oleh siapa pun yang melihatnya, maka demikian pula halnya dengan segala sesuatu. Gambarannya yang khusus telah ditentukan dengan ukuran tertentu dalam pengetahuan Sang Mahakuasa, Allah I yang bersifat meliputi. Dia Yang Maha Kuasa mengoles kekuatan-Nya yang merupakan salah satu manifestasi qudrah-Nya terhadap esensi ilmiah tersebut dengan sangat mudah semudah mengoleskan materi tersebut dalam tulisan dan hal itu berkat kemahakuasaan-Nya yang tiada batasnya, berkat kehendak-Nya yang kuat dan dengan perintah-Nya ‘Jadilah, maka ia pun jadi’, maka Dia memberi sesuatu itu wujud eksternalnya dan menampakannya pada pandangan mata sehingga ukiran hikmah-Nya dapat dibaca.
Jika keseluruhan segala sesuatu itu tidak disandarkan pada Allah Yang Maha Kuasa, Azali lagi Maha Mengetahui segala sesuatu, maka tubuh sesuatu yang paling kecil—misalnya lalat—yang berasal dari banyak unsur yang terdapat di alam ini harus disatukan dengan ukuran khusus, dan selain itu partikel yang bekerja dalam tubuh lalat yang lemah itu mengetahui semua rincian rahasia dan kesempurnaan penciptaannya.Hal itu karena secara intuitif telah diketahui dan berdasarkan kesepakatan orang berakal bahwa sebab-sebab alami dan material tidak dapat diwujudkan dari ketiadaaan, bahkan walaupun ia diwujudkan, tetap harus disatukan terlebih dahulu. Selama akan disatukan, maka setiap yang memiliki kehidupan—apapun bentuknya—merupakan contoh dari mayoritas unsur dan jenis sehingga seakan-akan merupakan intisari segenap makhluk. Maka, dalam hal ini, tidak diragukan lagi bahwa benih dari seluruh pohon harus disatukan, dan segala sesuatu yang memiliki kehidupan dari seluruh yang terdapat di atas permukaan bumi ini juga harus disatukan, setelah melalui penyaringan yang sangat ketat dan neraca yang sangat akurat.
Selama sebab-sebab alami itu bodoh, benda mati, dan tidak berpengetahuan, maka ia tidak bisa membuat sebuah rencana,indeks, contoh atau program sehingga ia tidak bisa menuangkan partikel-partikel dalam cetakan maknawi agar tidak berserakan atau aturannya tidak rusak. Karena itu, pemberian bentuk tertentu dari beragam bentuk yang tak terhingga serta penyusunan sesuatu dengan ukuran tertentu dari berbagai ukuran yang tak terbatas tanpa merusak atom dari setiap unsur yang mengalir dengan sangat teratur, lalu proses pembentukkan secara seimbang dan pemberian wujud yang sangat rapi, semua itu jelas merupakan sesuatu yang mustahil bahkan berada di luar jangkauan akal. Tentu, hal itu akan terlihat oleh setiap orang yang hatinya tidak buta.
Ya, berdasarkan kenyataan ini, dan dengan rahasia ayat mulia yang berbunyi “Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya” (QS. al-Haj [22]: 73), menjadi jelas bahwa jika seluruh sebab-sebab material bersatu dan mempunyai kehendak, tidak akan dapat mengumpulkan satu tubuh seekor lalat, tidak juga mengumpulkan bagian-bagian tubuh ini dengan timbangan khusus. Walaupun dapat mengumpulkanya, tetapi tidak bisa menetapkan wujudnya dengan ukuran tertentu. Andaikan sebab-sebab tersebut dapat menetapkannya, tetapi tak bisa mempekerjakan partikel-partikel yang selalu diperbarui dan bekerja pada tubuh. Oleh karena itu, secara jelas, sebab-sebab itu tidak berkuasa terhadap segala sesuatu tersebut. Penguasa yang sebenarnya bukanlah sebab-sebab itu.
Ya, dengan rahasia ayat “Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja” (QS. Luqmân [31]: 28), ia mempunyai Penguasa yang sebenarnya yang menciptakan semua makhluk hidup di atas permukaan bumi dengan semudah menghidupkan seekor lalat, dan mengadakan musim semi semudah mengadakan sekuntum bunga. Hal itu tanpa memerlukan upaya mengumpulkan. Karena Dia Pemilik perintah ‘Jadilah, maka ia pun jadi’, Dialah yang mewujudkan di alam semesta ini sifat-sifat musim semi yang tidak terbatas pada musim semi, yang mewujudkan keadaan dan bentuknya yang tidak berbilang, di samping unsur-unsur pertamanya, diwujudkan dari ketiadaan, kendati contoh, rencana, indeks dan program segala sesuatu telah ditentukan dalam pengetahuan-Nya. Dia-lah yang mewujudkan segala sesuatu dengan sangat mudah, semudah anak panah melesat dari busur, sehingga tak satupun melenceng meski sekecil apapun. Sebagaimana bintang dan planet adalah balatentara-Nya yang taat, demikian juga partikel-partikel tersebut adalah balatentaranya yang berdisiplin.
Selama mereka itu bergerak bersandarkan pada kekuasaan yang azali dan bekerja dengan kaidah ilmu azali tersebut, maka tidak diragukan lagi ciptaan ini terwujud sesuai dengan kekuasaan tersebut. Karena itu, ciptaan tersebut tidak menjadi kecil karena fisiknya yang kecil dan seakan tidak berharga. Karena dengan kekuatan hubungannya dengan kekuasaan tersebut, seekor lalat dapat mengalahkan Raja Namrud, seekor semut dapat menghancurkan istana Firaun, benih kecil pinus dapat menumbuhkan pohon pinus besar seperti gunung.
Hakikat ini telah kami buktikan dalam banyak risalah. Jika seorang tentara—karena hubungannya dengan sultan melalui sertifikat ketentaraannya—menjadi cerminan pengaruh yang lebih unggul ratusan ribu kali, misalnya menjadikan seorang raja menjadi tawanan, maka demikian pula hubungan segala sesuatu dengan kekuasaan azali, di mana dapat menjadi cerminan mukjizat ciptaan yang lebih unggul dari sebab-sebab alami, seratus ribu kali.
Walhasil, kehadiran segala sesuatu ke alam wujud dengan sangat sempurna dan sangat mudah dalam satu waktu, hal itu menunjukkan salah satu jejak Sang Maha Kuasa Yang Azali Yang Memiliki ilmu yang meliputi segala sesuatu. Jika tidak, kehadiran ke alam wujud tidak hanya mustahil seratus ribu kali, tetapi di luar lingkaran kemungkinan dan tidak akan ada. Maksudnya, apapun tidak mungkin hadir ke alam wujud, kehadirannya di sana adalah mustahil.
Demikianlah, dengan bukti yang sangat jelas, kuat dan mendalam ini, diriku yang pernah menjadi murid setan sementara, sebagai wakil kaum sesat dan filsafat kini menjadi diam. Diriku menjadi beriman secara sempurna, alhamdulillah.
ia berkata, “Ya, sebagaimana aku membutuhkan Pencipta dan Rabb yang mengetahui bisikan hati yang paling lembut, keinginanku yang tersembunyi, dan memenuhi kebutuhan ruhku yang paling tersembunyi, demikian pula Dia akan mengganti dunia yang fana ini dengan akhirat untuk memberiku kebahagiaan yang abadi. Sebagaimana Dia mampu menciptakan lalat, begitu pula Ia mampu mewujudkan langit. Sebagaimana Dia mampu memasang mentari sebagai mata di wajah langit, begitu pula Ia memiliki kekuasaan untuk memasang partikel dalam biji mataku. Jika tidak, yang tidak mampu menciptakan lalat, ia tidak akan mampu menembus bisikan hati dan mendengar rintihan ruhku. Yang tidak mampu menciptakan langit, tidak akan mampu memberiku kebahagiaan abadi.” Jika demikian, Tuhanku hanyalah Dia yang memperbaiki bisikan hatiku. Tuhanku hanyalah Dia yang seperti memenuhi angkasa dengan awan kemudian mengosongkannya dalam sesaat, mengganti dunia dengan akhirat, mendirikan surga dan membukakan pintu-pintunya seraya berkata, “Mari masuk”.
Wahai saudara-saudaraku yang telah lanjut usia, yang telah menghabiskan sebagian besar usianya dalam filsafat yang gelap dan ilmu-ilmu asing sepertiku! Pahamilah pesan suci yang selalu disampaikan al-Qur’an betapa kuat dan betapa benarnya, sebagai rukun iman yang tidak akan goyah dan tidak akan berubah. Pesan itulah yang mampu menyirnakan kegelapan spiritual dan mengobati luka maknawi.
* * *
Peristiwa spiritual yang sangat mengagumkan, dicatat dalam Risalah “as-Sunûhat” ketika Said Nursi menjadi anggota Dâr al-Hikmah di Istanbul
PENUTURAN DALAM MIMPI
Pada bulan September tahun 1335 Rumi(*107) , saya berada dalam kondisi gelisah yang sangat hebat akibat dari rasa putus asa atas berbagai peristiwa. Ketika itu saya mencari cahaya dalam kegelapan yang sangat pekat. Saya tidak dapat menemukannya dalam keadaan terjaga yang merupakan mimpi spiritual, tetapi saya menemukannya dalam mimpi yang benar dalam keadaan terjaga. Saya akan sampaikan bagian-bagian penting yang terjadi dalam tuturan saya dengan menge sampingkan perinciannya, sebagai berikut:
Pada salah satu malam Jumat, ketika tidur saya masuk ke Alam Mitsal. Seseorang mendatangiku dan berkata, “Sebuah majelis yang sangat terhormat mengundang Anda untuk membahas keadaan dan nasib dunia Islam”.
Saya pun pergi. Saya lihat sebuah majelis bercahaya yang belum pernah saya lihat di dunia. Pertemuan tersebut dihadiri oleh perwakilan kaum salaf saleh dan perwakilan dari setiap zaman. Dengan rasa takut saya berdiri di depan pintu.
Salah seorang peserta memanggil saya, “Wahai orang yang hidup di masa penuh musibah dan malapetaka, Anda juga pasti punya pendapat. Jelaskanlah apa pendapatmu”
Masih dalam keadaan berdiri saya berkata, “Silakan tanyailah saya, nanti saya jawab.
“Kekalahan(*108)ini akan menimbulkan apa? Dan apa yang akan terjadi jika yang diperoleh itu kemenangan?”, tanya salah seorang dari mereka.
Saya menjawab, “Tidak selamanya musibah itu keburukan. Sebagaimana kebahagiaan terkadang terdapat dalam sebuah musibah, maka demikian pula kebahagiaan dapat muncul dari musibah. Musibah yang dialami daulah Islam—yang berdiri sejak lama berkat diwajibkannya Jihad Kifayah, demi meninggikan agama Allah, memelihara kemerdekaan dunia Islam, membawa panji khilafah, dan melakukan pengorbanan untuk dunia Islam yang mempunyai satu tubuh—akan diganti dengan kebahagiaan dunia Islam pada masa mendatang. Hal itu mempercepat rasa persaudaraan Islam yang merupakan ruh dan obat mujarab kehidupan kita. Hal itu karena ketika kita menderita, dunia Islam menangis. Jika Eropa semakin membuat kita menderita, dunia Islam pasti akan bergejolak. Maka jika kita mati, maka kita akan mati dua puluh, tetapi kita akan dibangkitkan tiga ratus(*109). Kita sekarang ini hidup di zaman yang luar biasa. Pada masa seperti ini, ada orang yang setelah mati dua atau tiga tahun lalu akan dibangkitkan kembali.Dengan kekalahan kita, kita telah kehilangan kebahagiaan sementara di dunia ini, tetapi kebahagian akhirat yang abadi tengah menanti kita. Orang yang mengorbankan keadaan parsial yang berubah-ubah dan terbatas dengan keadaan masa depan yang luas dan lapang adalah orang yang beruntung.”
Tiba-tiba salah satu peserta majelis berkata, “Jelaskanlah!”.
Saya pun berkata, “Peperangan telah berubah dari peperangan antara negara dan bangsa menjadi peperangan antara lapisan umat manusia. Sebagaimana manusia menolak untuk menjadi tawanan, demikian pula ia menolak dirinya untuk menjadi buruh. Jika kita memperoleh kemenangan, kita pasti akan ditelan arus tirani yang dikendalikan oleh musuh kita. Padahal arus tersebut adalah arus zalim yang bertentangan dengan karakter dunia Islam dan kepentingan kaum beriman yang merupakan mayoritas, di samping itu usianya pendek dan akan terkoyak-koyak. Jika kita mengikuti arus tersebut, kita akan menggiring dunia Islam ke jalan yang bertentangan dengan karakter dan nalurinya. Kita telah mengalami kerugian besar dari peradaban busuk ini. Karena peradaban tersebut ditolak oleh pandangan syari’ah dan keburukannya mengalahkan kebaikannya, maka kita akan mendapatkan perlindungan peradaban yang dihapus dengan fatwa maslahat manusia, dilenyapkan dengan kebangkitan manusia, liar, zalim dan penuh dengan kehinaan di Asia”.
Salah seorang yang berada dalam pertemuan itu berkata, “Mengapa syariah menolak peradaban ini?”(*110)
“Karena peradaban ini berdasarkan lima hal yang rusak: Titik sandarannya adalah kekuatan dan ciri khasnya adalah sikap melampaui batas. Maksud dan tujuannya adalah kepentingan, sementara ciri khasnya adalah saling mengganggu.Undang-undang dalam hidupnya adalah konflik, sementara ciri khasnya adalah pertikaian.Sedangkan ikatan kelompok umat manusia yang ada padanya adalah rasisme dan nasionalisme yang negatif. Keduanya membesar dengan menelan bangsa lain. Ciri khasnya adalah benturan-benturan yang menakutkan. Pelayanannya yang menarik adalah mendukung hawa nafsu, memenuhi tuntutan keinginannya, dan mempermudah kemauan. Yang menjadi ciri khas hawa nafsu adalah keterpurukan kemanusiaan dari tingkat kemalaikatan ke derajat keanjingan yang paling rendah yang menyebabkan umat manusia secara spiritual terhapus. Seandainya mayoritas penganut peradaban ini batinnya berubah menjadi lahirnya, maka akan terlihat dalam khayalan menjadi serigala, beruang, ular, babi, atau kera.
Demikianlah, peradaban kontemporer ini telah menyebabkan delapan puluh persen umat manusia terperosok dalam kesengsaraan, dan memberi kebahagiaan palsu kepada sepuluh persennya, sementara sepuluh persen sisanya dibiarkan terombang-ambing antara kedua kelompok tersebut. Kebahagiaan akan menjadi sebuah kebahagiaan jika berlaku untuk seluruh manusia atau untuk mayoritasnya, sedangkan dengan peradaban ini, kebahagiaan hanya diperoleh oleh sebagian kecil saja.
Kitab Suci al-Qur’an yang merupakan rahmat bagi umat manusia tidak menerima peradaban yang tidak menjamin kebahagian mayoritas umat manusia. Kemudian, dengan dominasi hawa nafsu yang lepas dari ikatannya, kebutuhan yang tidak pokok mendapatkan posisi sebagai kebutuhan pokok. Dulu, manusia pada masa primitif memerlukan empat hal, tiba-tiba dengan peradaban ini menjadikan manusia memerlukan seratus keperluan, sehingga ia berubah menjadi orang fakir yang sangat memerlukan,sementara pekerjaan seseorang selalu tidak akan cukup untuk memenuhi keperluannya sehari-hari sehingga akhirnya terkadang ia menghalalkan segala cara dan tidak lagi memedulikan norma-norma yang selama ini menjadi landasan hidupnya.Peradaban itu juga memberi kekayaan pada sekolompok orang, menjadikan sekelompok lain hidup mewah, tetapi sebaliknya peradaban itu menjadikan individu-individu fakir miskin tanpa akhlak.
Peradaban ini telah memuntahkan semua keprimitifan, kebiadaban dan kebuasaan yang terdapat pada abad pertama sekaligus.
Sikap dunia Islam yang menjauhi peradaban ini atau ragu-ragu untuk menerimanya merupakan hal yang patut diperhatikan. Hal itu karena petunjuk Allah yang terdapat dalam syariah, yang mempunyai ciri khas kemerdekaan dan kemandirian, tidak mungkin dicekoki dengan kelihaian filsafat Romawi atau digabung dengannya, apalagi mengikutinya atau filsafat itu mampu menelannya. Masing-masing dari Romawi dan Yunani kuno dengan kelihaiannya telah memelihara kemerdekaannya selama beberapa abad, kendati keduanya tumbuh secara bersamaan dari satu asal, kendati peradaban dan ajaran nasrani berusaha untuk menggabungkan keduanya, keduanya tetap terpisah seperti air dan minyak, dan hingga kini masih seperti itu seakan-akan dua nyawa yang melakukan reinkarnasi untuk hidup dalam dua bentuk yang berbeda.Jika kedua filsafat ini tidak pernah bergabung kendati keduanya kembar, kendati faktor-faktor yang bergabung itu ada, maka cahaya petunjuk yang merupakan ruh syariah bagaimanapun juga tidak mungkin dapat bergabung apalagi ditelan dengan kelihaian filsafat Romawi yang merupakan dasar peradaban yang terkontaminasi dan gelap.”
Mereka berkata, “Maka bagaimana dengan peradaban yang ada dalam syariah yang suci ini?”.
Saya katakan, “Peradaban yang dijamin dan diperintahkan syariah Nabi Muhammad akan muncul dengan sirnanya peradaban sekarang. Peradaban itu akan meletakkan dasar-dasar yang lurus sebagai pengganti dari dasar-dasar yang rusak itu.Titik sandarannya adalah kebenaran, bukan kekuatan. ciri khasnya adalah keadilan dan keseimbangan.Tujuannya adalah keutamaan, bukan kepentingan. ciri khasnya adalah kasih sayang dan saling ketertarikan.Sisi kesatuan di dalamnya adalah ikatan agama, negara dan kelas sosial, bukan nasionalisme negatif dan rasisme. Ciri khasnya adalah persaudaraan murni, perdamaian dan melakukan pertahanan dari serangan luar. Undang-undangnya dalam hidup adalah bekerja sama, bukan pertikaian. Ciri khasnya adalah kesatuan dan kekompakan. Kemudian prinsip lainnya adalah mengikuti petunjuk, bukan hawa nafsu. Ciri khasnya adalah memajukan kemanusiaan dan kesempurnaan ruh, karena ia membatasi keserakahan hawa nafsu dan memenuhi perasaan ruh yang luhur alih-alih memberi kemudahan bagi pemenuhan keinginan hawa nafsu yang hina.
Dengan demikian, kita telah mengaitkan hasil kekalahan ini dengan arus kedua yang merupakan arus orang-orang yang teraniaya dan kelompok mayoritas(*111). Maka jika persentase orang orang teraniaya dan orang-orang fakir bagi orang lain adalah delapan puluh persen, maka persentase mereka bagi kita umat Islam adalah sembilan puluh persen, bahkan sembilan puluh lima persen.Jika sikap dunia Islam terhadap arus kedua ini tetap menentang atau tidak ambil peduli alih-alih berperilaku rasionalis untuk mengubahnya menjadi metode Islam yang akan menguntungkannya, maka masalahnya akan berakibat(*112)
pada keadaan tanpa dukungan, usaha yang sia-sia dan rentan menimbulkan disintegrasi karena dominasi arus tersebut. Hal itu karena musuhnya musuhku adalah temanku selama ia memusuhinya, sebagaimana temannya musuhku adalah musuhku selama ia bersikap loyal terhadapnya.Kepentingan dan tujuan kedua arus ini berlawanan. Jika salah satunya berkata, “Matilah”, maka yang lainnya akan berkata, “Bangkitlah”. Kepentingan salah satu dari keduanya mengharuskan kita berada dalam bahaya, perpecahan, kelemahan dan kelengahan, maka kepentingan yang kedua mau tidak mau menjadikan kita harus kuat dan bersatu.
Permusuhan di Timur(*113)telah menjadi penghalang kebangkitan Islam dan sekarang telah sirna, dan memang sepatutnya harus sirna. Permusuhan dunia Barat merupakan faktor yang sangat kuat pengaruhnya dalam penguatan persaudaraan dan kesatuan antara umat Islam, sehingga sepatutnya hal itu kekal.
Tiba-tiba ucapan saya dalam pertemuan itu telah mendapat pembenaran. Mereka berkata, “Tetaplah kalian semua berharap. Gema Islam akan menggelegar pada perubahan yang akan terjadi pada masa mendatang.
Kemudian sekali lagi salah seorang yang hadir bertanya, “Musibah datang sebagai akibat dari suatu kejahatan dan pendahuluan dari balasan, lalu apa yang telah kalian lakukan sehingga kalian menyebabkan takdir untuk menguasai kalian dengan musibah ini. Karena musibah yang menimpa orang banyak adalah sebagai akibat kesalahan golongan mayoritas, kemudian apa balasan kalian yang segera diperoleh?”.
Saya katakan, “Pendahuluan musibah ini adalah karena kita mengabaikan tiga rukun Islam: salat, puasa dan zakat. Allah I telah meminta kita satu jam dari dua puluh empat jam yang ada untuk melaksanakan salat lima waktu, tetapi kita malas melakukannya, sehingga kita dipaksa menunuaikan sejenis “salat” berupa kesulitan yang kita alami, latihan dan bekerja tanpa henti dua puluh empat jam selama lima tahun(*114).Allah meminta kita berpuasa satu bulan dalam setahun, tetapi kita merasa kasihan terhadap tubuh kita untuk melakukan itu sehingga kita dipaksa berpuasa selama lima tahun sebagai kafarat-nya.Allah juga meminta kita mengeluarkan zakat harta yang Dia karuniakan kepada kita, dengan mengeluarkan sepersepuluh atau seperempat puluhnya, tetapi kita kikir dan kita berbuat zalim, sehingga Dia mengambil dari kita zakat yang terakumulasi.
Sebab, balasan setimpal dengan perbuatan.
Balasan kita yang segera diperoleh adalah bahwa Allah I mengangkat seperlima dari umat ini yang terperosok dalam maksiat dan perbuatan fasik—jumlah yang setara dengan empat juta orang—dan mengangkat mereka ke derajat wali, memberi mereka kedudukan jihad dan mati syahid, di samping musibah umum yang muncul akibat dosa orang banyak telah menghapus dosa-dosa yang lalu.
Salah seorang yang hadir juga berkata, “Bagaimana jika seorang pemimpin telah melakukan dosa sehingga mengakibatkan bangsa ditimpa malapetaka?”
Saya jawab, “Orang yang tertimpa musibah mengharapkan balasan. Balasan tersebut baik diambil dari kebaikan pemimpin tersebut yang telah melakukan dosa, meskipun dianggap tidak ada, maupun diambil dari simpanan gaib. Balasan seperti perbuatan ini dari simpanan gaib setara dengan derajat jihad dan mati syahid.Saya lihat, peserta pertemuan menerima apa yang saya sampaikan.
Karena keadaannya begitu tegang, saya menjadi terbangun. Saya dapatkan diri saya duduk di atas tempat tidur dalam keadaan bercucuran keringat. Demikian malam itu berlalu seperti itu.
* * *
Badiuzzaman tidak pernah disertai buku.
Ia pernah ditanya, “Mengapa Anda tidak menelaah buku-buku yang lain?”. Ia menjawab,
“Saya memperoleh pemahaman dari al-Qur’an dengan mengosongkan pikiranku dari segala sesuatu selain al-Qur’an”.
Jika ia mengutip sesuatu dari buku—seperti beberapa masalah yang dianggapnya penting—ia mengutipnya sepenuhnya tanpa diubah.
Ia pernah ditanya, mengapa mengulang suatu masalah yang sudah ada?
Ia menjawab, kebenaran tidak membosankan sehingga saya tidak ingin mengubah kostumnya.Seperti yang sudah disebutkan,
Badiuzzaman telah memerintahkan agar dua belas karangannya yang membahas hakikat alQur’an(*115)dicetak, tiga atau empat dari sejumlah itu ditulis dalam bahasa Turki, dan sisanya ditulis dalam bahasa Arab. Kesemua risalah itu membuktikan hakikat dengan ungkapan dan gaya bahasa yang jelas yang tidak ada bandingannya dalam buku apapun hingga saat ini.
Ketika menjadi anggota Dâr al-Hikmah al-Islâmiyah Ustadz Said Nursi mengalami transformasi spiritual yang kelak ia bicarakan dalam salah satu karangannya dengan mengatakan:
“Tamparan yang sangat keras menimpa kepala Said Lama yang lalai. Ia berpikir tentang masalah bahwa kematian itu adalah sesuatu yang benar. Ia dapatkan dirinya berada dalam rawa penuh lumpur. Ia meminta pertolongan. Mencari jalan keluar. Mencari sesuatu yang dapat menyelamatkan dirinya. Ia dapatkan banyak jalan yang berbeda-beda. Iapun kebingungan. Dengan rasa optimis, ia mengambil buku yang berjudul Futûh al-Ghaib karangan al-Ghauth al-A`dzam Syekh al-Jilani d dan membukanya secara acak, maka kalimat yang ditemukan adalah sebagai berikut:
Engkau berada di Dâr al-Hikmah, carilah tabib yang dapat mengobati hatimu
Anehnya, ketika itu saya adalah anggota Dâr al-Hikmah al-Islâmiyah. Seakan-akan waktu itu saya adalah seorang tabib yang berusaha keras mengobati luka umat Islam, sementara saya sendiri sedang menderita penyakit yang paling parah. Padahal seorang pasien seharusnya memperhatikan dirinya terlebih dahulu sebelum memperhatikan keadaan pasien lainnya.
Maka syekh itu berkata kepada saya, “Kamu sakit. Carilah tabib untuk mengobatimu”. Saya jawab, “Jadilah engkau tabibku”. Saya memegang buku karangan syekh itu. Saya membacanya dengan beranggapan bahwa buku itu ditujukan kepada saya. Tetapi bukunya itu sangat keras, menghancurkan keangkuhan diriku dengan kuat dan melakukan operasi dalam diriku dengan keras sehingga saya tidak mampu menahannya. Saya membacanya sampai separuhnya dan tidak dapat menyelesaikannya. Lalu saya letakkan di perpustakaan. Kelak, rasa sakit yang ditimbulkan oleh operasi itu mulai menghilang dan yang dirasakan kemudian adalah rasa nyaman, kemudian saya selesaikan buku guru pertamaku itu. Saya ambil banyak pelajaran darinya. Saya dengarkan wirid dan munajatnya sehingga saya memperoleh pertolongan yang luar biasa.
Kemudian setelah itu saya membaca “Maktubat” karangan Imam Rabbani. Dengan tulus saya membuka bukunya secara acak. Anehnya dalam seluruh tulisannya itu tidak terdapat kata “Badiuzzaman” kecuali hanya dalam dua tempat. Kedua tempat yang menyantumkan nama itu saya temukan secara tidak sengaja. Saya lihat tertulis pada awal masing-masing “Risalah kepada Mirza Badiuzzaman”. Saya berucap, “Subhanallah. Tulisan itu ditujukan kepadaku. Nama ayah saya adalah Mirza dan salah satu julukan Said Lama waktu itu adalah “Badiuzzaman”. Padahal saya belum mengenal pribadi-pribadi yang populer dengan julukan ini selain “Badiuzzaman al-Hamadzani” pada abad keempat hijriyah. Maka hal itu pasti pada zaman Imam Rabbani itu ada seseorang yang disebut Badiuzzaman juga sehingga kedua risalah itu ditujukan kepadanya, dan keadaannya pasti mirip dengan keadaan saya karena dalam kedua risalah tersebut saya dapatkan penawar penyakit saya,
hanya saja Imam Rabbani berpesan secara terus menerus dalam banyak risalahnya seperti yang disampaikan dalam kedua risalahnya ini agar menyatukan kiblat. Maksudnya, berguru hanya kepada seorang guru saja. Ikuti jalannya dan jangan sibuk dengan lainnya.Hanya saja pesan yang sangat penting ini belum sesuai dengan kesiapan dan keadaan spiritual saya. Lama saya merenungkan hal ini, apakah saya mengikuti guru yang ini atau yang itu? Saya lama merasa bingung, karena masing-masing memiliki karakteristik yang menarik dan saya tidak mungkin merasa cukup dengan salah satu dari mereka. Ketika saya masih dalam kebingungan, berkat rahmat Allah Iterlintas dalam hati bahwa prinsip jalan yang bermacam-macam ini, sumbernya dan matahari semua planet ini adalah al-Qur’an al-Karim dan bahwa penyatuan kiblat yang sebenarnya hanyalah dapat dilaku kan dengan berpedoman pada kitab suci ini. Selama masalahnya seperti itu, maka al-Qur’an al-Karim itu adalah guru yang paling luhur dan paling suci. Maka saya pun berpegang teguh padanya(*116)
* * *
Ustadz Said Nursi pernah ditanya, “Kami melihat Anda sangat terpengaruh oleh kekalahan kita pada Perang Dunia”. Ia menjawab,
“Saya telah mampu menahan penderitaan saya, tetapi saya tertekan dengan kesedihan yang berasal dari penderitaan umat Islam. Deraan yang menimpa dunia Islam, pertamanya melukai hati saya. Karena alasan inilah saya tertekan begitu hebat.” Kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Tetapi saya melihat cahaya yang akan membuat saya lupa terhadap penderitaan itu, insya Allah”.
Ketika berada di Istanbul, Ustadz Said Nursi melakukan sebuah pengabdian yang luar biasa terhadap tanah air dan bangsa, pengabdian yang paling penting dan paling membekas, yaitu menjaga kejayaan agama dan kemulian Islam serta menghinakan para pelaku kezaliman dan tirani. Hal itu dengan disebarkannya risalah “al-Khutuwât as-Sitt” (Enam Langkah). Yang membuktikan keberanian dan kesempurnaannya secara praktis adalah enam jawabannya yang sangat tepat dan tegas yang dianggap sebagai enam tamparan maknawi yang menjawab enam pertanyaan yang diajukan gereja Anglikan Inggris kepada kantor syekhul Islam pada masa pendudukan Istanbul.
Ketika risalah tersebut diterbitkan, terjadi peperangan di Canakkale. Setelah Inggris menduduki Istanbul, panglima Inggris diberitahu tentang isi risalah tersebut, juga diberitahu bahwa Badiuzzaman selalu mengadakan perlawanan terhadap Inggris. Maka panglima Inggris ini memutuskan untuk menghukum mati Badiuzzaman, hanya saja dia diingatkan bahwa jika hal itu dilakukan, maka Timur Anatolia akan menyimpan permusuhan abadi terhadap Inggris dan semua warganya akan menyatakan perang, apapun resikonya. Maka panglima itu menarik kembali keputusannya dan ia tidak dapat berbuat apa-apa.Sebagai balasan atas usaha Inggris di Istanbul untuk membujuk Syekh Islam dan sebagian ulama agar bergabung dengan barisan penjajah itu dengan cara-cara licik, Badiuzzaman dengan risalahnya “al-Khutuwât as-Sitt” dan aktivitasnya yang cepat di Istanbul, menyingkap hakikat permusuhan historis Inggris terhadap bangsa Turki dan seluruh dunia Islam dan menyingkap konspirasi dan politik imperialis mereka. Hal itu menjadi salah satu sisi yang mendukung gerakan kemerdekaan nasional di Anatolia.
Berikut kutipan perkataannya tentang masalah ini:
“Ketika Inggris menduduki Istanbul dan menghancurkan meriam-meriam di teluknya, Kepala Uskup Gereja Anglikan—yaitu lembaga keagamaan terbesar di Inggris—menyampaikan enam pertanyaan kepada kantor syekhul Islam. Waktu itu saya merupakan anggota “Dâr al-Hikmah al-Islâmiyah”. Ada yang berkata kepada saya, “Jawablah. Mereka menginginkan jawaban terhadap enam pertanyaannya dengan enam ratus kata”. Saya katakan, “Saya tidak akan menjawabnya dengan enam ratus kata, tidak juga dengan enam kata, bahkan tidak juga dengan satu kata. Saya akan menjawabnya dengan meludahi wajah mereka. Kalian saksikan bahwa negara ini begitu lancangnya menginjakkan kakinya di teluk kita dan mencekik leher kita, sehingga ketua uskupnya mengajukan pertanyaan kepada kita dengan pongahnya, maka yang patut dilakukan adalah meludahi mukanya. Ludahilah muka orang-orang zalim yang sombong itu!”.
* * *
Pemerintah Ankara(*117)menyampaikan undangan kepada Badiuzzaman untuk datang ke Ankara sebagai apresiasi atas kedudukannya dan pengabdiannya yang mulia di Istanbul serta mendatangkan manfaat yang besar bagi bangsa Turki. Undangan tersebut disampaikan oleh Mustafa Kamal Pasya(*118)melalui telegram, hanya saja Badiuzzaman menjawab,
“Saya ingin berjihad di daerah-daerah yang berbahaya. Saya tidak suka berjuang dari balik parit. Saya lihat bahaya yang mengintai di sini lebih besar daripada yang terdapat di Anatolia”.
Undangan melalui telegram itu disampaikan kepada Badiuzzaman sebanyak tiga kali. Pada akhirnya, ia putuskan untuk datang ke Ankara, untuk memenuhi undangan yang disampaikan kepadanya oleh temannya, Tahsin Bey, anggota parlemen dan mantan gubernur Van. Kendati kedatangan Badiuzzaman di Ankara disambut dengan sangat meriah, ia tidak menemukan lingkungan yang diharapkan. Maka ia bermukim di sekitar Masjid Haji Bayram.Di antara yang membuat Badiuzzaman kecewa ketika datang ke Ankara adalah ia menyaksikan anggota parlemen melalaikan agama dan mengabaikan syiar Islam yang menjadi kebanggaan historis bangsa Turki dengan alasan meniru Barat. Maka Badiuzzaman menyampaikan pernyataan kepada mereka yang isinya penjelasan tentang pentingnya berkomitmen terhadap ibadah, terutama salat dan ditegaskannya tentang kewajiban mereka untuk melaksanakannya. Kadzim Karabekir Pasya membacakan pernyataan tersebut kepada Mustafa Kamal yang isinya sebagai berikut:
“Wahai para utusan,(*119)kalian akan dibangkitkan pada Hari yang Agung”.
Wahai para pejuang Islam, para pembuat keputusan! Mohon kiranya tuan-tuan mendengarkan sepuluh perkataan dan beberapa nasihat yang ditujukan kepada kalian dari al-fakir ini berkenaan dengan perkara tertentu:
1. Nikmat Allah yang agung yang tampak dalam kemenangan ini(*120)menuntut kita untuk selalu bersyukur agar nikmat tersebut kekal dan bertambah. Jika nikmat itu tidak disyukuri akan hilang. Selama kalian telah memelihara al-Qur’an dari serangan musuh berkat taufik Allah, agar karunia-Nya tetap terlimpah dengan bentuk yang mengagumkan ini, kalian harus menaati semua perintah-Nya, di antaranya salat yang merupakan kewajiban yang nyata dan pasti.
2. Kalian telah membuat dunia Islam berbahagia. Kalian telah mendapatkan perhatian dan kasih sayang, tetapi perbuatan terpuji kalian ini tidak akan langgeng jika kalian tidak berkomitmen terhadap syiar-syiar Islam. Umat Islam mencintai kalian semata-mata karena keislaman kalian.
3. Di dunia ini kalian telah menjadi pemimpin para mujahidin dan mereka yang mati syahid yang merupakan para wali Allah. Orang-orang yang memiliki kemauan keras semestinya berusaha untuk menjadi pendamping kelompok pilihan tersebut di alam akhirat, yaitu dengan menaati perintah-perintah al-Qur’an al-Karim yang pasti. Jika tidak, sementara kalian di sini adalah para pemimpin, kalian akan terpaksa minta bantuan cahaya dari balatentara yang berada di sana. Ketahuilah dunia yang hina ini dengan segala kemegahan dan kemasyhurannya bukanlah kesenangan yang memuaskan orang yang berakal, tidak pula menenteramkannya atau menjadi tujuan utamanya.
4. Masyarakat muslim ini, termasuk mereka yang suka meninggalkan salat, bahkan orang-orang fasiknya, semuanya ingin melihat orang yang menjadi pemimpin mereka itu sebagai orang yang taat beragama, sampai-sampai pertanyaan pertama yang diajukan kepada setiap pegawai di wilayah Timur pada umumnya adalah tentang salat. Jika pegawai tersebut rajin salat, maka mereka akan percaya, jika tidak ia akan tetap dicurigai walaupun memiliki kemampuan.
Pada suatu hari terjadi kerusuhan di antara suku “Bait asy-Syabâb”(*121). Setelah saya pergi dan menanyakan sebabnya,
salah seorang dari mereka berkata bahwa kepala daerah mereka tidak salat. Maka bagaimana mungkin mereka akan patuh terhadap pemimpin yang tidak pernah salat? Padahal orang-orang yang mengucapkan perkataan ini mereka sendiri adalah orang-orang yang tidak pernah salat, bahkan lebih dari itu, mereka adalah para begal.
5. Kehadiran mayoritas nabi di Timur, dan kehadiran mayoritas filsuf di Barat, adalah sebagai simbol takdir Ilahi bahwa yang membangkitkan wilayah Timur adalah agama dan hati, bukannya filsafat dan akal. Maka selama kalian telah membangkitkan kesadaran di Timur, teruskanlah langkah kalian meniti jalan yang sesuai dengan fitrah. Jika tidak, usaha kalian akan sia-sia atau bekasnya hanya tampak di permukaan saja.
6. Musuh kalian dan musuh Islam—yaitu Inggris—telah dan masih memanfaatkan kelengahan kalian terhadap masalah agama, bahkan saya dapat mengatakan bahwa mereka menyusupkan bahaya dalam Islam yang tidak kalah bahayanya dari yang dilakukan orang-orang Yunani(*122).
Oleh karena itu, hendaknya kalian segera meninggalkan kelengahan ini dan mulai bekerja atas nama kepentingan Islam dan keselamatan bangsa.Kalian telah menyaksikan dengan jelas bagaimana anak-anak bangsa ini menghadapi anggota organisasi Ittihadi wa taraqidengan sikap penuh kebencian dan penghinaan karena sikap sebagian mereka yang menyepelekan agama, meskipun mereka dikenal sebagai orang-orang yang tangguh dan berani berkorban, dan meskipun mereka merupakan faktor penyebab kebangkitan Islam ini. Kaum muslimin di luar masih menghormati dan menghargai mereka karena tidak melihat sikap pengabaian mereka terhadap agama.
7. Kendati serangan dunia kafir dengan segala media, peradaban, filsafat, ilmu pengetahuan dan para misionarisnya terhadap dunia Islam, kendati mereka secara materi unggul dari dunia Islam, hanya saja mereka tidak akan mampu mengalahkan dunia Islam dari sisi agama.Kekuatan dan keteguhan Islam telah dijaga oleh kaum ahlussunnah waljamaah, sementara semua sekte Islam yang sesat tetap sebagai minoritas yang berbahaya dan dapat dikendalikan. Berdasarkan hal ini, arus bid’ah yang meremehkan agama yang bersumber dari peradaban Eropa yang busuk tidak akan mampu mendapatkan tempat di dada dunia Islam. Maksudnya, perubahan yang berarti tidak mungkin akan terwujud di dunia Islam tanpa berpedoman pada prinsip-prinsip Islam. Jika tidak, maka tidak akan terjadi, bahkan hal itu belum pernah terjadi, bahkan walaupun terjadi, maka akan segera lenyap dan padam.
8. Tindakan positif-konstruktif tidak mungkin dapat dilakukan dengan pengabaian dan kelalaian ketika peradaban Eropa yang sarat dengan kerusakan yang menyebabkan lemahnya agama mulai porak-poranda dan saat peradaban al-Qur’an hampir muncul. Sementara tindakan negatif destruktif tidak diperlukan oleh Islam yang telah mengalami luka hebat seperti ini.
9. Orang-orang yang mencintai kalian, menghargai usaha dan kemenangan kalian, mereka adalah mayoritas orang yang beriman, utamanya lapisan awam. Mereka adalah umat Islam yang memiliki sikap istikamah dan layak dipercaya. Mereka loyal kepada kalian dengan cinta yang tulus. Mereka mendukung kalian, merasa berhutang budi kepada kalian, mengapresiasi pengorbanan kalian, dan memberi kalian kekuatan serta kesadaran yang luar biasa. Oleh karena itu, atas nama kepentingan Islam, kalian perlu tetap menjaga hubungan dengan mereka dan mengandalkan mereka yaitu dengan menaati semua perintah al-Qur’an. Jika tidak, maka para pengekor bangsa asing, mereka yang terpedaya oleh bangsa Eropa yang sengsara yang tidak memiliki nilai-nilai Islam dan hubungannya dengan bangsa terputus akan menggantikan posisi saudara-saudara kalian seagama. Mereka akan lebih mengutamakan orang-orang Islam yang awam dan tentunya tidak akan mengindahkan kepentingan Islam, sehingga dunia Islam akan dipimpin oleh orang orang selain kalian yang akan diminta bantuan dan dukung
10. Jika dalam sebuah jalan terdapat sembilan kemungkinan untuk binasa dan satu kemungkinan untuk selamat, maka jalan itu hanya akan dilalui oleh orang gila yang tidak memedulikan hidupnya. Jika kita perhatikan perbuatan menaati salah satu kewajiban agama seperti salat yang cukup dikerjakan satu jam saja dari waktu yang berjumlah dua puluh empat jam, maka kita pasti akan dapatkan kemungkinan selamat sebesar sembilan puluh sembilan persen dan kemungkinan binasanya hanya satu persen saja, yaitu binasa duniawi yang disebabkan oleh kelengahan dan kemalasan, sedangkan meninggalkan kewajiban, kemungkinan binasanya adalah sembilan puluh sembilan persen, sementara satu kemungkinan saja untuk selamat yang sandarannya adalah kelengahan dan kesesatan.
Oleh karena itu, alasan apa lagi yang dapat membenarkan sikap menganggap enteng dan meninggalkan kewajiban, sikap yang membahayakan kehidupan beragama dan dunia? Bagaimana mungkin semangat patriotisme membolehkan hal itu, terutama mereka adalah para pemimpin, para pejuang dan anggota lembaga terhormat yang semestinya menjadi panutan. Cela dan kekurangan yang dilihat orang, konsekuensinya adalah ditiru atau dikritik dan dalam kedua kondisi itu, mereka dirugikan. Oleh karena itu, jika mereka menunaikan kewajibannya terhadap Allah, maka pasti mereka akan dapat menunaikan kewajibannya terhadap sesama manusia.Tidak mungkin dapat melakukan pekerjaan serius dengan orang yang menulikan telinganya dari berbagai dalil dan informasi yang disampaikan secara mutawatir dan melalui ijmak lalu berpedoman dengan dugaan yang datang dari penalaran hawa nafsu yang rusak serta bisikan setan. Oleh karena itu, batu pertama transformasi yang besar ini harus kuat dan kokoh.
Lembaga ini—dengan kepribadian maknawinya—telah mewakili “kesultanan” melihat kekuatan yang dimilikinya. Jika majelis tidak mewakili makna “khilafah” dengan menaati syiar-syiar Islam, melaksanakannya dan mendirikannya, tidak memenuhi kebutuhan agama bangsa ini yang fitrahnya masih sehat dan tidak melupakan kebutuhan rohaninya yang memerlukan agamanya sedikitnya lima kali sehari tanpa memedulikan godaan peradaban, bangsa yang meskipun memerlukan empat hal guna mempertahankan hidupnya, maka mereka terpaksa akan menyerahkan makna “khilafah” kepada nama, gambar dan perkataan yang kalian terima(*123)dan makna tersebut memberikan kekuatan agar dapat bertahan lama, padahal kekuatan seperti ini yang tidak dimiliki majelis atau tidak berjalan lancar pada jalannya akan menyebabkan tongkat menjadi patah dan ini bertentangan dengan ayat al-Qur’an ‘Da berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah’ (QS. Ali `Imran [3] 103).
Zaman sekarang adalah zamannya berjama’ah dan sosok maknawi yang merupakan ruh jama’ah ini adalah lebih kuat dan lebih mampu untuk menerapkan hukum-hukum syariah, bahkan khalifah itu sendiri tidak mungkin dapat menunaikan tugasnya tanpa bersandar padanya. Jika sosok maknawi ini lurus, ia bersinar dan sempurna. Jika buruk, maka keburukannya itu menjadi besar. Kebaikan dan keburukan individu itu terbatas, sedangkan kebaikan dan keburukan jama’ah itu tidak terbatas. Oleh karena itu, janganlah kalian rusak kebaikan kalian yang kalian peroleh di luar dengan keburukan di dalam.
Kalian tahu bahwa musuh abadi kalian bekerja untuk menghancurkan syiar-syiar Islam. Jika masalahnya demikian, maka tugas penting kalian adalah menghidupkan dan memelihara syiar-syiar ini. Jika tidak, musuh kalian yang senantiasa mengintai akan menyerang kalian tanpa kalian sadari. Oleh karena itu, sikap meremehkan syiar-syiar Islam merefleksikan kelemahan bangsa dan kelemahan ini tidak akan dapat menghalangi musuh, tetapi justru akan menggoda mereka untuk menghancurkan kalian.
“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”
* * *
Di antara buah orasi ini adalah sebanyak enam puluh anggota parlemen secara konsisten mengerjakan salat, di samping anggota lainnya yang memang sudah rajin melaksanakannya sebelumnya.
Setelah mereka mendapatkan bahwa jumlah anggota parlemen yang melakukan salat semakin bertambah, mereka membangun musalla besar sebagai pengganti ruang kecil yang dulu mereka pakai. Penyampaian orasi di hadapan para anggota parlemen, pemimpin dan ulama ini menimbulkan perdebatan sengit dengan ketua parlemen “Mustafa Kamal Pasha”.Pada suatu hari ketika berada di kantor pimpinan parlemen, ia bertukar pikiran bersama sekitar enam puluh anggota parlemen yang dihadiri Ustadz Badiuzzaman. Ia berkat kepada Ustadz Badiuzzaman,
“Kami memerlukan ulama pahlawan seperti Anda. Kami telah mengundang Anda ke sini guna mengambil manfaat dari pemikiran Anda yang cemerlang. Tetapi Anda datang dan pertama kali yang Anda tulis adalah masalah yang berkenaan dengan salat sehingga Anda menanamkan perbedaan pendapat di antara kami”.
Ustadz Badiuzzaman menjawab dengan jawaban yang tepat. Sambil menunjuk Mustafa Kamal Pasya dengan dua jari dan dengan suara lantang, Ustadz Badiuzzaman berkata,
“Pasya... Pasya! Hakikat terbesar dalam Islam setelah iman adalah salat. Orang yang tidak salat adalah pengkhianat, dan keputusan pengkhianat harus ditolak”. Diperlakukan seperti itu, Mustafa Kamal Pasya hanya bisa meminta maaf dan tidak dapat berbuat apapun yang merugikan Ustadz Badiuzzaman.
Selama berada di Ankara, Ustadz Badiuzzaman tidak pernah berhenti berjuang mewujudkan tujuan utamanya yaitu mendirikan unversitas di Timur Anatolia. Ia telah mengajukan proyeknya ini ke parlemen. Kepada para anggota parlemen ia sampaikan,
“Saya tetap melakukan upaya mendirikan universitas ini sepanjang hidup saya. Sultan Rasyad dan anggota Ittihad telah mengalokasikan dana sebesar dua puluh ribu lira emas, maka silakan tuan-tuan menambahkan dana sebesar yang sudah ada”.
Anggota parlemen mengalokasikan dana seratus lima puluh ribu lira, berupa mata uang baru yang berupa kertas. Ustadz Badiuzzaman berkata, “Anggota parlemen harus menandatangani keputusan ini”.
Salah seorang anggota menyela, “Tetapi Anda berjalan sesuai dengan pokok-pokok madrasah tradisional, maka tidak boleh mengajarkan selain ilmu-ilmu Islam, padahal kita pada masa seperti ini harus mencontoh Barat”.
Ustadz Badiuzzaman menjawab, “Daerah Timur itu merupakan salah satu pusat dunia Islam. Pengajaran ilmu-ilmu agama di samping ilmu-ilmu modern merupakan sebuah keharusan karena kehadiran mayoritas nabi di Timur, sementara kehadiran mayoritas filsuf di Barat memperlihatkan bahwa kemajuan bangsa Timur tidak akan terwujud tanpa agama. Jika tuan-tuan di daerah lain hanya akan mengajarkan ilmuilmu modern saja, maka di daerah Timur, bagaimanapun juga, atas nama kepentingan negara dan bangsa, ilmu-ilmu agama harus dijadikan sebagai landasannya. Jika tidak, kaum muslimin selain bangsa Turki di sana tidak akan merasakan persaudaraan yang sebenarnya terhadap bangsa Turki, sedangkan kita sekarang sangat memerlukan kerja sama di hadapan musuh-musuh itu. Tentang hal ini saya berikan contoh:
“Dulu saya mempunyai seorang murid yang bukan orang Turki yang sangat aktif dan cerdas. Dengan merujuk pelajaran semangat patriotisme yang diambilnya dari ilmu-ilmu agama di madrasah saya dulu, ia berkata bahwa orang Turki yang saleh lebih dekat kepada dirinya daripada saudara dan ayahnya yang fasik.Waktu berlalu sementara murid itu—sayangnya—mulai mempelajari ilmu-ilmu modern yang sangat materialis. Empat tahun kemudian, ketika saya kembali dari tawanan, saya berjumpa dengan murid saya itu. Kami terlibat diskusi tentang semangat patriotisme. Ia berkata, “Saya sekarang lebih mengutamakan seorang berkebangsaan Kurdi pengikut Syiah Rafidah daripada seorang ulama Turki yang saleh”.
Saya katakan kepadanya, “Kasihan, sampai seperti inikah engkau telah rusak?”. Selama seminggu saya berusaha keras menyelamatkannya hingga ia kembali pada semangat patriotisme yang sebenarnya seperti yang sebelumnya.
Wahai para anggota parlemen! Bangsa Turki ini sangat memerlukan keadaan murid pertama saya itu. Sedangkan keadaannya yang terakhir itu betapa jauh dari kepentingan negara. Silakan tuan-tuan pertimbangkan hal ini. Bahkan, misalnya jika tuan-tuan lebih mengutamakan dunia daripada agama di banyak tempat lain, dan agama dipandang tidak penting karena alasan politik, maka bagaimana pun tuan-tuan harus menganggap pengajaran agama di daerah Timur sebagai kepentingan yang sangat besar.
Setelah Ustadz Badiuzzaman menyampaikan permohonannya itu, orang-orang yang tidak setuju meninggalkan ruangan, sementara seratus enam puluh tiga anggota parlemen menandatangani keputusan tersebut.
* * *
Ustadz Badiuzzaman datang ke Ankara membawa harapan untuk mewujudkan impiannya sejak muda dan ia anggap sebagai tujuan dan buah hidupnya. Ia mewakafkan hidupnya untuk keperluan itu, yaitu kebangkitan dunia Islam. Diskusi yang pernah dilakukan dengan seratus cendekiawan dan para ulama di Timur Anatolia, kemudian kemunculannya yang secara tiba-tiba di Istanbul membuat para ulama kagum dan para politikus khawatir terhadapnya. Hal ini memperlihatkan keberadaannya sebagai perintis perubahan besar Islam. Ia sejak awal sudah merasakan tanggung jawabnya terhadap tugas ini, seperti ia merasakan semangat dan kebahagiaan terhadapnya.
Pidato yang disampaikan di berbagai pertemuan, makalah yang dimuat beberapa surat kabar setelah diproklamirkannya kemerdekaan merupakan harapan kemerdekaan tersebut menjadi sarana kebahagiaan mayoritas dunia Islam dan Anatolia dengan menjadikan “sistem parlementer” sebagai pelayan syariah. Ia menulis pernyataan yang isinya bahwa gaung al-Qur’an akan lebih tinggi dan lebih berpengaruh dalam menghadapi gelap gulita dan perubahan masa depan, seperti yang tampak dengan jelas dalam karangannya; “Lama’ât”(*124), “Sanûhât”, dan “al-Khutbah asy-Syâmiyah”.
Turki menerima tampuk kepemimpinan dunia Islam setelah Bani Abbasiyah. Khilafah Usmaniyyah dan pengelolaan negara yang bijaksana berlangsung hampir seribu tahun, kemudian Perang Dunia yang memporak-porandakan seluruh dunia itu meletus, dan setelah itu Daulah Usmaniyyah pun berakhir. Musuh Islam mengambil alih pemerintahannya dan mereka merasa telah menghancurkan Islam.
Pada masa yang sulit ini, Ustadz Badiuzzaman datang ke Ankara didorong oleh kemahakuasaan dan kebaikan Allah I, dengan harapan dapat bekerja bersama pasukan yang baru terbentuk dan yang diharapkan dapat membangkitkan kegiatan dakwah, dan bekerja di parlemen bersama pemerintahan republik yang menerima tampuk pimpinan dan berkat pertolongan Allah dan mukjizat Nabi, mampu menghalangi musuh. Niat dan tujuannya adalah mengarahkan pemerintahan agar menjadikan al-Qur’an al-Karim sebagai pedoman, menjadikan kesatuan dunia Islam sebagai titik sandaran, membangun peradaban material dan spiritual melalui kekuatan besar yang terdapat dalam hakikat Islam, dan berusaha menanamkan pemikiran ini pada pemerintahan, tetapi berbagai kendala besar muncul di hadapannya.
Pada waktu itu, Ustadz Badiuzzaman sudah melihat dengan jelas era malapetaka di mana umat Islam berlindung kepada Allah daripadanya dan dari kejahatannya yang luar biasa terus berlangsung sejak seribu tiga ratus tahun lalu. Ia juga mengetahui siapa saja orang orang yang akan menyalakan api malapetaka ini di dunia Islam.
Pada suatu hari Ustadz Badiuzzaman berbicara kepada ketua parlemen, Mustafa Kamal Pasya sekitar dua jam di kantornya. Di antara yang disampaikan kepadanya, ia mengingatkan bahwa menghancurkan syiar-syiar Islam dengan harapan memperoleh popularitas dan keuntungan dari musuh-musuh Islam dan musuh-musuh bangsa Turki, akan mengundang bahaya yang sangat besar bagi bangsa, negara dan dunia Islam. Ustadz Badiuzzaman juga mengingatkan bahwa jika kelak ada sesuatu yang mengharuskan untuk melakukan revolusi menentang kondisi yang berlaku atau akibat transformasi yang mengakar, maka hal itu harus bertitik tolak dari undang-undang suci al-Qur’an al-Karim, harus langsung berorientasi pada kepentingan Islam. Kemudian Ustadz Badiuzzaman memberikan contoh berikut:
“Misalnya, Masjid Hagia Sophia penuh dengan tokoh-tokoh terhormat, penuh berkah seperti orang-orang yang memiliki keutamaan dan kesempurnaan, di bagian lorongnya beberapa anak yang nakal, di pintu beberapa orang bodoh yang hina, di jendela orang-orang asing yang suka berhura-hura. Katakanlah, seorang lelaki memasuki masjid lalu bergabung dengan kelompok yang penuh berkah itu, mulai membaca ayat-ayat al-Qur’an dengan bacaan yang merdu. Ketika itu pandangan ribuan orang yang memiliki hakikat akan tertuju kepadanya dan ia akan mendapatkan pahala berkat doa spiritual mereka dan penghargaan mereka, dan hal itu sama sekali tidak menarik bagi anak-anak kecil yang nakal, orang-orang bodoh yang ingkar, dan orang-orang asing yang jumlahnya sedikit.
Namun, jika lelaki itu—ketika memasuki masjid dan menemui kelompok yang penuh berkah itu—bernyanyi dengan suara lantang dengan lirik-lirik yang berbau mesum, lalu ia menari dan meloncat-loncat, maka anak anak kecil yang nakal itu akan tertawa, orang-orang bodoh yang hina akan menyukainya karena merasa lelaki itu memberi dukungan untuk terus melakukan keburukan, dan akan terlukis di wajah orang orang asing itu tanda cemoohan karena mereka bergembira melihat cacat dalam Islam, tetapi kelompok terhormat yang penuh berkah akan melihatnya dengan pandangan benci dan hina. Lelaki itu dalam pandangan mereka menjadi orang yang derajatnya berada di tingkat yang paling bawah.
Seperti halnya dalam perumpamaan ini, dunia Islam dan Asia adalah sebuah masjid yang besar. Orang-orang beriman dan memiliki hakikat di kedua tempat itu adalah kelompok terhormat di masjid itu. Anak-anak kecil yang nakal adalah para penjilat yang memiliki akal kekanak-kanakan, sedangkan orang-orang bodoh yang hina adalah orang-orang yang kebarat-baratan yang tidak memiliki agama dan tidak pula memiliki pendirian. Sementara orang-orang asing yang menonton adalah para wartawan yang menyebarluaskan pemikiran orang-orang asing. Setiap orang Islam tempatnya adalah masjid, apalagi jika ia berasal dari kelompok pemilik keutamaan dan kesempurnaan. Ia mengambil tempatnya, dan pandangan akan tertuju kepadanya sesuai dengan tingkatan orang itu. Jika orang itu melakukan perbuatan bersandarkan pada hakikat suci dan hukum yang berasal dari ajaran alQur’an, perbuatannya itu semata-mata untuk menggapai rida Allah , dengan ketulusan penuh yang merupakan rahasia Islam, membaca makna ayat-ayat al-Qur’an dengan perbuatan nyata, maka ia masuk dalam doa اَللّٰهُمَّ اغ۟فِر۟ لِل۟مُؤ۟مِنٖينَ وَ ال۟مُؤ۟مِنَاتِ yang merupakan wirid setiap individu di dunia Islam, dan ia memiliki saham dalam wirid itu, ia memiliki hubungan persaudaraan dengan semua orang, tetapi nilai orang ini tidak akan diketahui oleh orang-orang yang bergelimang dalam kesesatan yang merupakan salah satu jenis hewan yang berbahaya, tidak juga oleh orang-orang dungu yang seperti anak-anak kecil yang berjanggut.
Jika lelaki ini tidak berperilaku seperti nenek moyangnya yang dikenal sebagai simbol kehormatan, berpaling dari para pendahulunya yang dikenal sebagai sumber kebanggaan, menjauh dari jalan lurus yang pernah ditempuh kaum salaf saleh yang dianggap sebagai titik sandaran rohani, lalu ia berperilaku menurut hawa nafsu dan angan-angannya dengan tujuan mencari popularitas, maka secara spiritual ia jatuh ke dasar jurang dalam pandangan umum ahli hakikat dan iman,
karena orang yang beriman meskipun ia orang awam atau tidak berilmu, tetap ia dalam rahasia Hadis: “Hati-hatilah dengan firasat orang yang beriman, karena ia melihat dengan cahaya Allah”.(*125)Hatinya melihat orang-orang riya dan yang semisalnya dengan pandangan benci kendati akalnya tidak menyadarinya dan merasa jijik terhadap mereka secara spiritual.
Demikian pula keadaan lelaki kedua yang terpedaya oleh cinta kedudukan dan gemar popularitas. Ia jatuh ke tingkat yang paling bawah dalam pandangan kelompok terhormat, mendapat kedudukan sementara yang hina dalam pandangan orang-orang hina yang tidak berharga.
Ia mendapatkan sebagian teman palsu yang membahayakannya di dunia, menyebabkannya siksa di alam barzakh dan berubah menjadi musuh kelak di akhirat sesuai dengan rahasia ayat:“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa”. (QS. azZukhruf [43]: 67).
Lelaki dalam gambaran pertama, kendati ia tidak melepaskan rasa cinta kedudukan dari hatinya, ia memperoleh maqam spiritual yang sah, menduduki tempat yang berwibawa dan memenuhi keinginannya untuk memperoleh kehormatan dengan syarat harus berdasarkan ikhlas dan rida Ilahi serta tidak menjadikan cinta kedudukan itu sebagai tujuan. Lelaki ini kehilangan sesuatu yang ringan bahkan tidak berharga, tetapi sebaliknya ia mendapatkan banyak hal yang berharga, bahkan banyak sekali dan tidak berbahaya. Ia seperti orang yang mengusir beberapa ekor ular dan sebagai penggantinya ia dapatkan makhluk-makhluk penuh berkah yang akrab dengannya seakan-akan teman-temannya, atau mengusir serangga penyengat yang sengatannya sangat menyakitkan, dan sebagai penggantinya ia mendapatkan lebah yang madunya merupakan minuman rahmat penuh berkah. Selain ia sendiri dapat meminum madunya, ia juga memperoleh banyak teman yang loyal dan memberinya bantuan dari berbagai pelosok dunia Islam dengan doa mereka terus menerus seakan-akan mereka memberi ruhnya minuman segar seperti segarnya sungai di surga dan doa-doa mereka itu tersimpan dalam lembaran amal perbuatannya”.
Sayangnya, Mustafa Kamal Pasya tidak setuju dengan apa yang disampaikan Ustadz Badiuzzaman, bahkan ia tidak menyembunyikan ambisinya. Ia berupaya membujuk Ustadz Badiuzzaman agar bergabung dalam barisannya dan memanfaatkan wibawa Ustadz tersebut untuk kepentingannya. Ia ditawari berbagai imbalan yang menggiurkan, diantaranya akan diangkat menjadi anggota parlemen, mengembalikan jabatannya yang lalu di Dâr al-Hikmah dan memberinya jabatan Penasihat Umum di wilayah Timur sebagai pengganti Syekh as-Sanusi(*126), dan ia akan diberi rumah mewah, serta tawaran menggiurkan lainnya.
Hanya saja Ustadz Badiuzzaman menyaksikan terwujudnya sebagian sifat yang disebutkan dalam hadis tentang sosok yang akan muncul di akhir zaman. Ia pernah mentakwilkan hadis ini ketika berada di Istanbul sebelum kemerdekaan dan ia menyaksikan sendiri kemunculannya di dunia Islam dan di seluruh dunia pada umumnya. Di antara pesan yang tercantum dalam hadis itu yang ditujukan kepada ahli al-Qur’an yang akan mendapatkan dan berhadapan dengan orang-orang itu bahwa ketika mereka muncul tidak akan terkalahkan di medan politik dan tidak mungkin dihadapi kecuali dengan pedang spiritual yaitu cahaya mukjizat al-Qur’an. Maka Ustadz Badiuzzaman menyadari bahwa ia tidak bisa bekerjasama dengan pemerintah di Ankara dan ia menolak seluruh jabatan menggiurkan yang ditawarkan kepadanya. Dalam perjalanannya menuju stasiun kereta, ia ditemani beberapa anggota parlemen dengan harapan Ustadz Badiuzzaman mengubah keputusannya untuk pergi dan tetap di Ankara. Ustadz Badiuzzaman meminta maaf kepada mereka karena tidak dapat memenuhi permintaan mereka dan ia pun pergi menuju Van untuk memulai hidupnya di gua di atas mata air “Zarnabad” yang terletak di lembah gunung Arak, jauh dari kehidupan sosial.
* * *
==KUTIPAN DARI RISALAH NUR YANG BERKAITAN DENGAN KEHIDUPAN SAID NURSI DI ANKARA==
(*127)
Saya pergi ke Ankara pada tahun 1338 Rumi137. Saya lihat bagaimana pemikiran orang-orang zindik berusaha keras dalam kerumunan orang-orang beriman yang bergembira atas kemenangannya melawan tentara Yunani, berusaha dengan cara licik untuk menyusup ke dalam keyakinan mereka yang kuat untuk dirusak dan diracuninya secara mengerikan. Saya berkata, “Kasihan, ular ini akan mengancam tiang-tiang iman”. Maka ketika itu saya menulis sebuah risalah dalam bahasa Arab dengan berpedoman pada ayat al-Qur’an yang menjelaskan keberadaan dan keesaan Allah serta menjelaskannya secara gamblang. Saya kemukakan petunjuk alQur’an yang ditujukan kepada pemikiran kaum zindik dengan harapan akan menjadikan mereka paham. Risalah itu saya cetak di Ankara di percetakan “Yeni Gün”, hanya saja petunjuk kuat itu dampaknya tidak begitu besar karena ditulis ringkas dan secara global, di samping sedikitnya orang yang dapat membaca tulisan berbahasa Arab dan jarangnya orang yang mengapresiasi sebuah risalah. Sangat disesalkan, pemikiran ateis itu muncul dan semakin kuat pengaruhnya.
Catatan Kaki
- *Bertepatan dengan tahun 1294 H dan tahun 1877 M. Penanggalan Rumi tersebut di atas berdasarkan penanggalan matahari yang khusus digunakan pada akhir masa pemerintahan Daulah Usmaniyah paralel dengan penanggalan Hijriyah yang berdasarkan peredaran bulan—Tim Penerjemah. ↑
- * Kehormatan ini dapat disaksikan pada diri Mulla Said ketika ia masih kecil yang tidak bersumber dari kecintaan terhadap diri, tetapi merupakan ketentuan Ilahi yang dengan perhatian-Nya memberikan sifat ini kepada salah seorang hamba-Nya untuk menunaikan tugas yang besar di kemudian hari, yaitu meninggikan kalimat Allah. Kehormatan ilmiah merupakan salah satu sifat yang harus ada untuk menunaikan tugas ini dengan sebaik mungkin. Ketika itu, mungkin Mulla Said belum menyadari esensi dan hikmah masalah itu, hanya saja seiring dengan berjalannya waktu, terbukti bahwa kehormatan ilmiah yang selalu melekat pada dirinya ketika melakukan pengabdian agung dan luas melalui karyanya Risalah Nur, bibitnya telah ditanamkan Allah I dalam ruh Mulla Said hingga sekarang menjadi pohon yang besar—Tim Penyusun. ↑
- *Dalam “Surat Kedua” dan dalam risalah lainnya disebutkan alasan dan hikmah Mulla Said tidak mengambil sedikitpun dari zakat, sedekah atau pemberian apapun tanpa imbalan. Ya, kasih sayang Ilahi telah tertanam dalam jiwa Mulla Said sejak kecil sebagai indeks global prinsip-prinsip suci, “Tidak meminta apa pun sebagai imbalan pengabdian yang bersifat ukhrawi”, agar beliau menjalankan pengabdian iman melalui Risalah Nur di kemudian hari dengan keikhlasan yang sempurna sehingga tujuan mulianya juga dapat tercapai secara sempurna—Tim Penyusun. ↑
- * Kelak kami ketahui hakikat yang terdapat dalam diri Mulla Said ketika bermimpi dan tidak dicatat dalam sejarah hidupnya, yaitu bahwa dirinya memohon ilmu kepada Nabi Muhammad dan beliau memberinya kabar gembira bahwa dirinya akan diajari ilmu al-Qur’an dengan syarat tidak bertanya apapun kepada umatnya. Hakikat ini telah terbukti kebenarannya secara nyata, di mana sejak muda ia dikenal dengan sebutan Badiuzzaman “Orang yang tak ada bandingan di zamannya”. Ia menjawab semua hal yang ditanyakan kepadanya tanpa bertanya kepada orang lain atau minta bantuan dari siapapun—Tim Penyusun. ↑
- * Yaitu matan Idzhar al-Asrar, matan dalam Ilmu Nahwu karangan Taqiyuddin Muhammad bin Bir Ali al-Birkawi, wafat tahun 981 H—Tim Penerjemah. ↑
- * Yang dimaksud adalah buku Al-Fawa`id al-Dhiya’iyyah bi Syarh al-Kafiyah, yaitu buku yang pengarangnya, Mulla Abdurrahman al-Jami, mensyarah buku Kafiyah karangan Ibnu Hajib, tentang ilmu nahwu dan dikenal dengan nama Syarh Mulla Jami, wafat tahun 898 H—Tim Penerjemah. ↑
- *Pembaruannya dalam Ilmu Kalam tampak dari karangannya yang bernama Risalah Nur yang terdiri dari seratus tiga puluh buku yang disusun selama dua puluh tiga tahun. Ya, Mulla Said memperoleh ilmu dalam tempo tiga bulan saja yang biasanya diperoleh orang lain selama lima belas tahun. Hal itu semata-mata pertanda gaib bahwa suatu ketika tidak ada sekolah yang mengajarkan ilmu tentang iman walaupun hanya satu tahun, apalagi selama lima belas tahun, dan bahwasanya pada waktu itu akan muncul tafsir al-Qur’an yang dapat diajarkan kepada orang-orang yang berminat mempelajarinya dalam masa selama lima belas minggu saja setara dengan pelajaran yang diberikan selama lima belas tahun, dan Mulla Said-lah yang akan mengabdi pada tafsir al-Qur’an tersebut. Hal di atas telah menjadi nyata dan terlihat. Kendati adanya berbagai serangan organisasi ateis secara sembunyi-sembunyi selama tiga puluh tahun, Risalah Nur telah menyebarkan pelajaran tentang hakikat iman sebanyak ribuan naskah di berbagai tempat . Risalah Nur ini telah menjadi sarana penguatan iman jutaan orang. Pelajaran al-Qur’an dengan metode yang baru ini telah tersebar luas melalui tulisan ribuan penulis tanpa diperlukan adanya percetakan. Aktivitas Risalah Nur di Anatolia, pengabdiannya terhadap iman, dan pelajaran-pelajarannya yang rasional dan luhur telah menarik perhatian banyak orang, sehingga Allah I membuka mata para politikus dan orang�orang pemerintahan sehingga mereka membaca Risalah Nur melalui peradilan dan penyidikan yang dilakukan terhadap pengarangnya. Risalah Nur tersebar luas di antara generasi muda terpelajar, sehingga jumlah orang yang bersedia berkorban untuk mempertahankan iman dan Islam pun bertambah banyak, serangan kesesatan dan kekafiran pun terbendung. Di setiap arah dari negeri ini muncul aliran-aliran yang setia mempertahankan agama. Fajar sidik kebahagian Islam yang akan terbit di dunia Islam dan dunia kemanusiaan mulai terlihat dengan izin Allah I. Al-hamdulillahirabbil ‘alamiin—Tim Penyusun. ↑
- *4 Matan yang terkenal tentang Ushul Fiqih, disusun oleh Tajuddin Abdul Wahhab al-Subki, yang terdiri dari sekitar seratus karangan. Wafat tahun 771 H—Tim Penerjemah. ↑
- *Al-Mawaqif fi `Ilm al-Kalam, karangan `Adhiduddin Abdurrahman bin Ahmad al-Iji, wafat tahun 756 H, yaitu buku yang merepresentasikan puncak karangan para penulis belakangan dalam bidang Ilmu Kalam dan buku ini diikuti buku-buku syarh yang jumlahnya cukup banyak—Tim Penerjemah. ↑
- *Tuhfatu al-Muhtaj fi Syarh al-Minhaj, karya Ibnu Hajar al-Haitami, wafat tahun 973 H, yaitu buku tentang fiqh Imam Syafi`i, pengarangnya memberikan syarah terhadap buku Minhaj al-Thalibin karangan Imam al-Nawawi, wafat tahun 676 H—Tim Penerjemah. ↑
- *Kaidah ini merupakan teks hadis yang dikeluarkan oleh at-Tirmidzi, nomor 2518, dan al-Nasa`i, nomor 5711—Tim Penerjemah. ↑
- *Sastrawan dan penyair Kurdi yang terkenal, dilahirkan pada tahun 1650 M, belajar ilmu agama dan menyukai tasawuf dan irfan. Ia sering bepergian ke berbagai negara. Ia meninggalkan banyak karya dan yang paling terkenal adalah epos yang dikenal dengan “Mamuzain”. Wafat pada tahun 1707 M—Tim Penerjemah. ↑
- * As-Syamsiyyah, matan yang terkenal tentang Ilmu Mantiq karangan Najmuddin Umar bin Ali al-Qazwini, wafat pada tahun 675 H. Buku ini memiliki banyak syarh dan yang paling terkenal adalah Syarh al-Sa`d al-Taftazani, wafat pada tahun 792 H—Tim Penerjemah. ↑
- * Kota yang terletak di bagian Timur Turki yang dikenal dalam literatur Arab klasik dengan nama As`ird—Tim Penerjemah. ↑
- *Yang dimaksud adalah buku karyanya Al-Bahjah al-Mardhiyyah fi Syarhi alAlfiyyah, yaitu syarh buku nahwu Alfiyah ibnu Malik yang paling baik—Tim Penerjemah ↑
- *Di Pengadilan Pidana Eskişehir pada tahun 1935 M, Ustaz Said Nursi ditanya, “Apa pendapat Anda tentang sistem republik?”. Beliau menjawab, “Sejarah hidupku yang ada di tangan kalian membuktikan bahwa saya adalah seorang republikan yang religius sebelum kalian semua dilahirkan kecuali ketua pengadilan”. Kemudian Ustadz Said Nursi menuturkan kisahnya bersama semut tersebut dan berkata kepada mereka, “Setiap orang dari Khulafa Rasyidin adalah khalifah dan presiden dalam waktu yang sama. Abu Bakar al-Shiddiq d tidak diragukan lagi bahwa beliau bertindak sebagai presiden yang mengetuai sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk surga di samping para sahabat yang lainnya, hanya saja Khulafa Rasyidin tidak menjadi kepala negara yang simbolis tanpa makna, tetapi mereka adalah para presiden religius yang sesungguhnya. Mereka menjalankan hakikat keadilan dan kebebasan yang sesuai dengan syariah yang sebenarnya—Tim Penyusun. ↑
- *Yaitu Abu Muhammad, Abdul Qadir bin Musa bin Abdillah, salah seorang imam syariat dan hakikat yang alim dan zuhud. Dilahirkan di Jilan pada tahun 470 H, menuntut ilmu di Bagdad, belajar kepada para ulama seniornya. Dalam menjalankan fiqih, ia mengambil mazhab Hambali. Ia memimpin kegiatan ceramah dan pendidikan. Di tangannya banyak orang fasik dan orang sesat yang bertaubat. Di tangannya ribuan kaum Nasrani dan Yahudi masuk Islam. Ia pada zamannya termasuk syekh yang paling mengagungkan syariat, paling berpegang teguh dengan al-Sunnah dan paling menjauhi bid`ah. Banyak diceritakan tentang kekeramatannya. Meninggal pada tahun 561 H. Di antara karyanya yang terkenal: Al-Ghuniyyah li Thalib Thariq al-Haqq, Futuh al-Ghaib, dan al-Fath al-Rabbani—Tim Penerjemah. ↑
- *Sultan Abdul Hamid Kedua telah mendirikan Angkatan Bersenjata yang disebut Al-Afwaaj Al-Hamîdiyyah. Tugas yang diembannya adalah menjaga perbatasan Daulah Usmaniyah di sebelah timur dari gerilyawan Armenia yang mulai melakukan pembunuhan terhadap warga sebagai pembuka jalan untuk mendirikan Negara Armenia tersendiri. Mustafa Pasha yang disebut di atas adalah pemimpin salah satu klan Kurdi di bagian timur Anatolia. Ia mendapatkan pangkat Pasha karena diberi kepercayaan untuk memimpin tiga pasukan al-Hamîdiyyah, hanya saja ia menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Ia membuat kerusakan, berbuat zalim dan tindakannya melampaui batas sehingga perbuatan buruknya ini dikenal banyak orang—Tim Penerjemah. ↑
- *Daerah Jazirah pada asalnya meliputi mayoritas daerah yang terletak antara Dajlah dan Efrat, tetapi yang dimaksud di sini adalah Jazirah Atas, yaitu yang sekarang merupakan daerah antara bagian tenggara Turki dan utara Iraq, dan timur laut Suriah—Tim Penerjemah. ↑
- *Yang dimaksud adalah Mustafa Pasha—Tim Penerjemah. ↑
- *Pada suatu hari Badiuzzaman ditanya, “Bagaimana Anda melepas ikatan itu?”. Ia menjawab, “Saya juga tidak tahu. Itu pasti berkat karamah salat”—Tim Penyusun. ↑
- * Mathâli` al-Anwar fi al-Manthiq wa al-Hikmah, karya al-Qadhi Sirajuddin Mahmud bin Abi Bakar al-Armawi. Wafat tahun 682 H, dan al-Mawâqif fi `Ilmi alKalam, karangan `Adhiduddin Abdurrahman bin Ahmad al-Iji. Wafat tahun 752 H—Tim Penerjemah. ↑
- *Mirqat al-Wushul ila `Ilmi al-Ushul, karangan Muhammad bin Faramuz bin Ali al-Hanafi, yang dikenal dengan Mulla Khasru. Wafat tahun 885 H—Tim Penerjemah. ↑
- *Yaitu Hasan Haqqi Pasha, gubernur Van periode 1877 M dan 1884 M. Ia tinggal di Van dengan kedudukan tingginya hingga wafat pada tahun 1896 M—Tim Penerjemah. ↑
- * Ilmu-ilmu yang dipelajari Badiuzzaman pada periode awal masa remajanya telah memberinya landasan yang diperlukan untuk memberikan pengabdian kepada al-Qur’an dan Islam di kemudian hari. Sekitar empat puluh tahun setelah timbulnya keyakinan ini, Allah I memberinya taufik sehingga mampu menyusun koleksi Risalah Nur yang berhasil memberikan warna baru dalam Ilmu Kalam—Tim Penyusun. ↑
- *Kebiasaan ini dijalaninya selama delapan puluh tahun dari kehidupannya—Tim Penyusun. ↑
- *Sangat disayangkan risalah ini terbakar dalam sebuah kebakaran di Van—Tim Penyusun. ↑
- *Enam puluh lima tahun yang lalu ketika Ustadz Said Nursi menerima berita tentang pernyataan menteri kolonial di parlemen Inggris, tekad yang sangat kuat muncul dalam jiwanya untuk membuktikan mukjizat al-Qur’an dalam berbagai aspek dan menyebarkannya serta menjadikan orang-orang yang ingkar terhadapnya tidak berkutik. Di tengah-tengah keberadaannya di Van selama lima belas tahun, Ustadz Said Nursi secara terus menerus mengulang kembali sekitar delapan puluh buku yang telah dihafalnya, dan dalam waktu yang sama ia mempelajari kondisi dunia Islam terkini sehingga ia mengetahui apa yang sepatutnya untuk diketahui. Sebagaimana dipahami dari kecerdasan dan ilmu yang tidak ada bandingannya yang terlihat pada usia muda Badiuzzaman yang merupakan seorang ulama yang tak tertandingi bahwa ia diilhami hikmah quraniyah yang melebihi orang lain. Lebih dari itu, ia dikaruniai ketegaran, cita-cita, pengorbanan dan kesiapan untuk membuktikan kepada dunia bahwa al-Qur’an adalah mukjizat yang tidak dapat ditandingi oleh ilmu-ilmu dan kesusastraan modern. Jika sebuah pohon besar sebesar gunung tumbuh dari sebutir biji kecil sekecil biji gandum, memperlihatkan kekuasaan Ilahi dengan sejelas-jelasnya, maka demikian pula kemunculan penaklukan yang bersifat maknawi, komprehensif dan universal mengubah pemikiran dan meninggalkan bekas yang sangat nyata bukan hanya di Turki, tetapi di dunia Islam dan berbagai belahan bumi lainnya dalam waktu beberapa lama yang pengaruhnya itu terukir dalam sejarah kita. Berkat pengabdian Badiuzzaman dan kehidupannya yang menyerupai biji benih tersebut sedangkan dirinya tidak memiliki kekuatan material sedikitpun, bahkan sebaliknya dirinya tertekan dan terbelenggu. Maka kemunculan penaklukan maknawi ini memperlihatkan kekuasaan mutlak, penugasan Ilahi dan pengarahan Rabbani terhadap hati dan akal. Sebetulnya Badiuzzaman mengungkapkan nikmat Allah dalam salah satu bukunya ketika membahas tentang perhatian Rabbani yang diperolehnya dalam pengabdian iman. Ia berkata:“Pada Perang Dunia Pertama atau sebelum terjadinya, aku bermimpi seakan�akan berada dalam dunia nyata. Aku melihat diriku berada di bawah gunung Ağrı yang dikenal dengan gunung Ararat. Tiba-tiba gunung tersebut meletus dengan letusan yang sangat menakutkan. Bagian-bagiannya yang besar seperti pegunungan menghambur ke seluruh pelosok dunia. Dalam keadaan ketakutan, aku melihat peristiwa itu dan tiba-tiba al-marhumah ibuku berada di sampingku. Aku berkata kepadanya, “Jangan takut, Bu. Semuanya itu perintah Allah. Dia Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Penyayang”. Ketika aku berada dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba seseorang yang sangat mulia dan berwibawa berbicara kepadaku dengan nada perintah, “Jelaskanlah kemukjizatan alQur’an!”.Lalu aku terbangun dan aku mengerti bahwa akan terjadi letusan dan perubahan yang sangat besar, dan akibatnya pagar-pagar di sekitar al-Qur’an akan hancur. Al-Qur’an akan membela diri secara langsung. Berbagai serangan akan dilancarkan kepadanya. Kemukjizatannyalah yang akan menjadi tameng pertahanannya yang sangat kuat. Dan aku mengerti bahwa seorang sepertiku akan menjadi calon yang kemampuannya di atas batas guna memperlihatkan kemukjizatan al-Qur’an pada masa kini, akulah ternyata calon tersebut”—Tim Penyusun. ↑
- *Kehadirannya di Istanbul adalah pada akhir tahun 1907 M—Tim Penerjemah. ↑
- * Apa yang diprediksikan Badiuzzaman ini benar-benar terbukti. Setahun atau dua tahun setelah diumumkannya “al-Masyrûthiyyah” (sistem parlementer), banyak adat istiadat asing yang bertentangan dengan syariat Islam menjadi mode bangsa Turki dan sedikit demi sedikit menjadi gaya hidup mereka, sementara pada masa sekarang ini kita lihat al-Qur’an dan Islam mendapat sambutan yang sangat baik di Eropa seperti banyaknya orang-orang Jerman yang masuk Islam—Tim Penyusun. ↑
- *Sebuah gerakan yang didirikan di Istanbul pada tahun 1865 M. Gerakan ini menghimpun para pemuda dari masyarakat kelas atas yang berpendidikan Eropa, kemudian berubah menjadi gerakan politik oposisi. Mayoritas anggotanya pindah ke Eropa. Mereka menuntut Sultan Abdul Hamid II melakukan reformasi ala Eropa yang termasuk di dalamnya membuka pintu kebebasan, mendeklarasikan undang-undang, mendirikan kehidupan parlemen, dan menjauhkan agama dari kehidupan politik dan sosial. Anggota gerakan ini kelak membentuk Partai Persatuan dan Kemajuan yang menguasai kendali pemerintahan setelah dideklarasikannya al-Masyruthiyyah dan menggulingkan Sultan Abdul Hamid II serta menjadi penyebab kehancuran Turki Utsmani—Tim Penerjemah. ↑
- *Sistem Parlementer ini dikenal sebagai bentuk pengelolaan negara yang membatasi kekuasaan sultan guna menjunjung undang-undang dan DPR yang anggotanya dipilih dari rakyat. Bentuk pemerintahan ini dideklarasikan pada masa Daulah Usmaniyah pada tanggal 24 Juli/Tamuz 1908 M. Konsekuensi legalnya adalah memberlakukan semua pasal undang-undang dasar yang mengakhiri masa kekuasaan sultan dan membentuk kembali DPR yang berakibat pada berlakunya badan legislatif. Kementerian bertanggung jawab terhadap DPR di samping terhadap sultan—Tim Penerjemah. ↑
- *Dua kota dekat Istanbul—Tim Penerjemah. ↑
- *Sebuah kota yang dulu termasuk wilayah Daulah Usmaniyah, kemudian dikuasai Yunani pada tahun 1912 M dan sekarang merupakan kota terpenting kedua di Yunani—Tim Penerjemah. ↑
- *Isyarat terhadap penerapan sistem “parlementer” pada tahun 1878 M, di mana Sultan Abdul Hamid telah menangguhkan penerapan sebagian pasal undangundang dan membubarkan DPR padahal ia sendiri yang telahmemberlakukannya.Penyebabnya adalah karena DPR waktu itu masih tetap sebagai alat kekuatan Barat untuk memasukkan anggota-anggota DPR yang pro Barat dan melalui lembaga tersebut mereka dapat meloloskan sejumlah proyek untuk menghancurkan Daulah Usmaniyah— Tim Penerjemah. ↑
- * Maksudnya mematikan kebebasan—Tim Penerjemah. ↑
- *Ya, kami telah merasakan pahitnya pil tawanan di bawah pemerintahan diktator—Said Nursi. ↑
- *Peristiwa ini terjadi pada tanggal tiga puluh satu Maret tahun 1325 dalam kalender Rumi, bertepatan dengan tiga belas April 1909 Masehi, yaitu peristiwa pembangkangan militer yang diumumkan oleh delapan pasukan militer yang setia kepada Sultan Abdul Hamid II. Akibatnya, terjadi kekacauan yang memakan korban terbunuhnya sejumlah perwira dan aparat pemerintahan. Sekelompok orang menyatakan perlawanannya terhadap pemerintahan Partai Persatuan dan Kemajuan yang belum lama memegang kekuasaan. Mereka menolak politiknya yang melukai perasaan keagamaan dan menindas orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka. Partai Persatuan dan Kemajuan telah mendatangkan “Tentara Gerakan” yang setia terhadap partai tersebut dari Selonika untuk meredam peristiwa tersebut dan usahanya itu berhasil—Tim Penerjemah. ↑
- *Bait syair al-Buhturi dari kumpulan syairnya yang dimulai dengan:“fî asy-syaybi zajrun lahû law kâna yanzajiru”—Tim Penerjemah. ↑
- *Di sini disebutkan paragraf khusus tentang jalan dan sumber penulis. Bagi yang ingin mengetahuinya secara rinci silakan merujuk risalahnya yang berjudul “Syahadah Madrasatay al-Mushiibah”—Tim Penyusun. ↑
- * Secara marfu` dilansir oleh al-Baihaqi dalam “al-Syu`ab”, Abu Nu`aim dalam “al-Hilyah”, al-Dailami dalam musnadnya, al-Khatib dan Ibnu `Asâkir dalam tarikh keduanya, Abu Abdurrahman al-Sulamiy dalam “Âdâb al-Shuhbah”, dan lainnya. Sanad-sanadnya tidak lepas dari kelemahan, tetapi al-`Ajluni dalam Kasyf al-Khafa’menyatakan hadis ini sebagai hasan li ghairihi karena banyaknya jalan periwayatannya—Tim Penerjemah. ↑
- *Salah seorang yang perhatian terhadap penampilan, pada suatu hari pernah berdiskusi dengan Ustadz Badiuzzaman yang meminta beliau agar mengenakan pakaian yang sesuai dengan kedudukan ilmunya. Ustadz Badiuzzaman berkata, “Kalian menduga telah memboikot Austria sementara kalian masih memakai topi mereka. Saya memboikot Eropa seluruhnya sehingga saya tidak mengenakan pakaian kecuali pakaian negeriku, baik pakaian material maupun pakaian spiritual”—Tim Penyusun. ↑
- *Dua tokoh terkemuka anggota pendiri organisasi “Persatuan Umat Muhammad”—Tim Penerjemah. ↑
- *Ia adalah sultan Turki Usmani, Salim Pertama, putera Sultan Bayazid Kedua, putera Sultan Muhammad al-Fatih, dikenal dengan nama Yavuz Salim artinya pemberani. Dilahirkan pada tahun 872 H / 1470 M, menduduki jabatan sultan tahun 918 H – 1512 M. Prestasi terpenting yang pernah dicapainya adalah membendung ancaman bahaya Syiah Shafawiyyah dari Iran, mengusir orang-orang Portugis dari pantai utara Afrika dan Laut Merah, mempersatukan negara-negara Syam, Iraq, Mesir, Hijaz kemudian Aljazair di bawah panji satu kekhalifahan dengan ibu kotanya Konstantinopel. Dengan demikian secara resmi kekhalifahan berpindah kepadanya sejak akhir keturunan para khalifah Bani al-Abbas. Dialah orang pertama yang mendapat julukan Amirul Mukminin dan Khalifah al-Muslimin dari keluarga Usman dan dia pula yang menjuluki dirinya sebagai Khadim al-Haramain al-Syarifain (Pelayan Dua Tanah Suci). Dia adalah seorang negarawan yang memiliki visi jauh ke depan, tegas dalam menentukan keputusan, mencintai ilmu dan kesusastraan. Wafat tahun 926 H – 1520 M—Tim Penerjemah. ↑
- *Pemikir Daulah Usmani, salah seorang anggota terkemuka gerakan Turki Muda, menduduki jabatan tinggi dalam bidang pendidikan, terlibat dalam banyak kegiatan politik yang mendukung didirikannya sistem parlementer dan mengakhiri pemerintahan despotik. Ia terbunuh pada tahun 1878 M ketika mengikuti upaya kudeta terhadap Sultan Abdul Hamid dan melantik Murad Kelima sebagai penggantinya—Tim Penerjemah. ↑
- * Syaikh Tahsin atau Syaikh Hasan Tahsin, dilahirkan tahun 1811 M. Ia diutus ke Perancis untuk mempelajari ilmu modern dan mempelajari pengalaman negara tersebut dalam mendirikan universitas keilmuan pertama di Turki Utsmani. Dengan demikian ia seperti Rifa`at al-Thahthawi di Mesir dalam mengemban tugas seperti ini. Universitas didirikan pada tahun 1870 M dan ia meninggal pada tahun 1881 M—Tim Penerjemah. ↑
- *Penulis, jurnalis, penyair dan politikus Turki Utsmani, lahir pada tahun 1840 M, mendapat julukan Penyair kebebasan. Meninggal pada tahun 1888 M—Tim Penerjemah. ↑
- *Yeniçeri adalah organisasi khusus tentara Usmani yang dianggap sebagai organisasi terbaik, memiliki kemampuan yang sangat tinggi dan paling berwibawa. Pada awalnya, tugas yang diembannya adalah murni tugas kemiliteran dan merupakan andalan penaklukan Usmani di Eropa, namun seiring dengan berjalannya waktu anggota-anggotanya beralih dari tugas utamanya. Mereka mulai mengejar kesenangan dunia, mengumpulkan harta, ikut campur dalam urusan politik dan pengelolaan negara hingga sampai pada pencopotan dan pembunuhan sultan. Pada tahun 1826 M mereka mendeklarasikan pembangkangannya terhadap Sultan Mahmud Kedua setelah mereka menolak proyek sultan yang bertujuan untuk mereformasi sistem tentara. Mereka melakukan perusakan dan kekacauan di Istanbul. Sultan mengirim angkatan artileri untuk mengepung barak mereka dan mereka akhirnya ditumpas tuntas yang kemudian dikenal sebagai “Peristiwa yang Menguntungkan”—Tim Penerjemah. ↑
- * Salah satu wilayah Istanbul, berjarak sekitar 12 km dari tempat Peristiwa 31 Maret yang terjadi di Lapangan Sultan Ahmad—Tim Penerjemah. ↑
- *Salah satu distrik Istanbul terletak di daerah Bakırköy dan sekarang dikenal dengan nama Yeşilköy—Tim Penerjemah. ↑
- *Yang dimaksud adalah istana Sultan Abdul Hamid yang dikenal dengan Istana Yıldız. Kata “Yıldız” artinya bintang—Tim Penerjemah. ↑
- *Lima belas tahun berikutnya tibalah saatnya untuk menjelaskan setengah kejahatan ini. Silakan lihat bab terakhir dari Siraj al-Nur yang menyebabkan penulisnya dipenjara dan diasingkan selama dua puluh delapan tahun, agar sidang pembaca mengetahui secara pasti setengah kejahatan yang lainnya itu—Said Nursi. ↑
- * Yaitu sekolompok orang yang membentuk kelompok elit dan kelas satu dan Partai Persatuan dan Pembangunan—Tim Penerjemah. ↑
- * Balâgah (retorika): singkat, padat, dan perkataan selalu sesuai dengan situasi dan kondisi—Tim Penerjemah. ↑
- *Peribahasa bahasa Arab yang secara harfiah berarti ‘kehilangan kedua langkahnya’. Peribahasa ini berasal dari kisah burung gagak yang ingin meniru burung lainnya dan tidak bisa ia lakukan kemudian ia sendiri lupa tentang langkahnya—Tim Penerjemah. ↑
- *Pertanyaan-pertanyaan ini telah menyebabkan empat puluh orang lebih tahanan dibebaskan—Said Nursi. ↑
- *Yaitu Era Kenabian lalu Era Khulafa Rasyidin—Tim Penerjemah. ↑
- *Sebuah kota yang menjorok ke Laut Hitam, terletak di Barat Daya Georgia dekat perbatasan Turki—Tim Penerjemah. ↑
- *Sebuah kota yang ditaklukkan kaum muslimin pada masa Utsman dan sekarang merupakan ibu kota Georgia dan dikenal dengan nama Tbilisi—Tim Penerjemah. ↑
- *Ustaz Said Nursi menulis risalah “Munâdzarât” dalam bahasa Kurdi sekitar tahun 1910 M, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Turki, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, kemudian setelah kira-kira lima puluh tahun kemudian beliau membaca risalahnya yang berbahasa Turki yang hasilnya beliau lakukan penyuntingan. Kutipan dalam buku ini berasal dari bukunya yang berbahasa Arab dan berbahasa Turki yang sudah disunting—Tim Penerjemah. ↑
- *Dalam bahasa Arab, kata maknanya adalah kebodohan, tetapi di sini digunakan dengan makna mengikuti hawa nafsu dan mengumbar syahwat, melakukan perbuatan bejat dan buruk. Pemaknaan ini merupakan pengertian sebab-akibat—Tim Penerjemah. ↑
- *Ketika “Said Lama” berjuang untuk “kebebasan” dengan semangat yang membara dan harapan yang tinggi, ia datang dari karakteristik “al-Nur” yang cemerlang. Ia menjadikan politik sebagai alat untuk memperjuangkan Islam. Ia merasakan kedatangan tirani absolut yang mengerikan, sebelum hal itu terjadi, memusuhi agama berdasarkan pemahaman makna hadis Nabi. Maka ia lima puluh tahun sebelum hal itu terjadi telah memberitahukannya. Ia telah merasakan bahwa harapan dan penghiburan yang diberitahukannya itu akan didustakan oleh tirani absolut tersebut secara nyata selama dua puluh lima tahun, maka ia menjauhi politik sejak tiga puluh tahun lalu sambil berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari setan dan politik”, dan ia pun kini menjadi “Said baru”—Said Nursi. ↑
- *Hati-hati, jangan teruskan langkahmu. Orang-orang yang mempunyai semangat tinggi telah diam. Demikian pula surat-surat kabar yang menebarkan permusuhan membungkam suara kebebasan yang sebenarnya. Sistem parlementer terbatas pada segelintir orang. Para pelindung parlementer telah bubar—Said Nursi. ↑
- *Yang dimaksud adalah benteng kota Van yang merupakan saksi kuburan sekolah Khur-khur yang telah tiada yang pada masa jayanya merupakan contoh Sekolah azZahra di Van—Said Nursi. ↑
- *Mereka memberitahukan akan ditulisnya koleksi Risalah Nur di masa depan sebelum terjadi—Said Nursi. ↑
- * Ditambahkan kemudian—Said Nursi. ↑
- *Pemandangan khayali laksana bioskop—Said Nursi. ↑
- *Nasionalisme kita adalah tubuh, ruhnya Islam, akalnya al-Quran dan iman—Said Nursi. ↑
- *Lira Usmani terdiri dari seratus kuruş (sen) dan satu kuruş terdiri dari empat puluh para—Tim Penerjemah. ↑
- * Berasal dari bagian akhir dari bait syair Abu Farras al-Hamadani:Kekasihku berjanji untuk bertemu Sementara kematian berada di dekatnya Jika aku mati karena kehauasan, hujanpun tidak akan turun—Tim Penerjemah. ↑
- *Hari Nauruz atau Nairuz adalah hari permulaan tahun dalam penanggalan Persia, bertepatan dengan permulaan musim semi—Tim Penerjemah. ↑
- *Merujuk ke peribahasa Arab yang populer “al-shaif dhayya`at al-laban” yang secara harfiah berarti ‘musim panas telah menyia-nyiakan susu’, ditujukan pada orang yang mencari sesuatu yang telah berlalu dan tidak akan kembali—TimPenerjemah. ↑
- *Ya, perkataan ini diucapkan empat puluh lima tahun yang lalu (1955), dan membenarkan “Said Lama” dalam pelajarannya yang disampaikan setelah Pakistan dan sejumlah negara Arab memperoleh pemerintahan dan kemerdekaannya, dan kelak mereka akan membenarkannya—Said Nursi. ↑
- *Catatan: “al-Khutbah asy-Syamiyah” ini dicetak dua atau tiga kali pada awal abad yang lalu dan habis. Kemudian Ustaz Said Nursi pada akhir hayatnya menelaah orasinya yang telah dibukukan itu. Beliau menganjurkan murid-muridnya untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Turki. Beliau mendiktekan terjemahannya ke sebagian muridnya dengan terjemahan yang memberikan perluasan sesuai dengan keperluan. Beliau memberikan mukadimah yang cukup. Kutipan orasi dalam buku ini berasal dari terjemahan Turki yang diperluas tersebut, sedangkan naskah aslinya yang berbahasa Arab baru-baru ini dicetak untuk pertama kalinya oleh Yayasan Waqaf alKhidmah di Istanbul. Alhamdulillah—Tim Penerjemah ↑
- *Empat puluh lima tahun lalu “Said Lama” memberitahukan perasaannya sebelum terjadi bahwa dunia Islam—terutama negara-negara Arab—akan terlepas dari tirani dan dari kekangan bangsa asing dan negara Islam akan terbentuk. Ketika itu, belum terlintas Perang Dunia Pertama dan Kedua serta tirani absolut yang berlangsung sekitar empat puluh tahun. Kemudian “Said Lama” menyampaikan berita gembira dengan apa yang terjadi pada tahun 1371 H dan seakan-akan peristiwa itu akan terjadi pada tahun 1327 H tanpa memperhitungkan alasan ketertundaannya—Said Nursi. ↑
- *Yaitu Otto von Bismarck, pemimpin Eropa terkemuka pada abad kesembilan belas. Dilahirkan di Jerman tahun 1815 M, meninggal tahun 1898 M. Ia menyatakan bahwa al-Quran adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan ia terpelihara dari perubahan—Tim Penerjemah. ↑
- *Yaitu Thomas Carlyle, seorang penulis dan pakar sejarah terkenal. Dilahirkan di Skotlandia pada tahun 1795 M. Meninggal pada tahun 1881 M di London. Ia menulis banyak buku tentang sejarah dan kesusastraan. Di antaranya “Muhammad Rasulullah Tokoh Ideal” yang mempengaruhi filsuf Amerika Ralph Waldo Emersondan menerbitkan buku-bukunya di Amerika—Tim Penerjemah. ↑
- *Maksudnya adalah negara Indonesia sebagai negara Muslim terbesar berhasil dijajah Belanda—Tim Penerjemah. ↑
- * Bagian dari hadis qudsi sahih yang dikeluarkan oleh al-Bukhari nomor 7405 dan Mulim nomor 6981 dengan redaksi, “Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku terhadapKu—Tim Penerjemah. ↑
- *Saudaraku, dari pelajaran yang disampaikan “Said Lama” empat puluh lima tahun yang lalu dapat dipahami bahwa Said tersebut mempunyai hubungan yang erat dengan politik dan masalah sosial Islam, namun jangan sampai menduga bahwa hal itu ia jadikan sarana untuk menjadikan agama sebagai alat atau media untuk politik. Hal itu tidak mungkin, bahkan yang ia lakukan dengan sepenuh kekuatannya adalah menjadikan politik sebagai alat untuk kepentingan agama. Ia pernah berkata, “Saya lebih mengutamakan satu hakikat dari sekian banyak hakikat agama daripada seribu politik”.Ya, ketika itu—hampir lima puluh tahun yang lalu—sebagian orang munafik berupaya menjadikan politik sebagai alat di tangan kaum ateis, sehingga sebaliknya Said berupaya keras menjadikan politik sebagai alat dan pelayan untuk kepentingan hakikat hakikat Islam. Hanya saja dua puluh tahun kemudian Said mendapatkan sekelompok politikus yang religius berusaha keras menjadikan agama sebagai alat untuk politik Islam, sebagai reaksi terhadap upaya kaum munafik yang menjadikan politik sebagai alat kaum ateis dengan dalih westernisasi. Tentunya, matahari Islam tidak sepatutnya beredar di orbit cahaya bumi atau sebagai alat baginya. Membuatnya sebagai alat hanyalah menjatuhkan nilai Islam dan merupakan kejahatan besar terhadap kebenarannya.Sampai-sampai, “Said Lama” pernah melihat—karena model keberpihakannya terhadap politik—seorang alim yang saleh menyanjung-nyanjung seorang munafik yang menyetujui ide politiknya dan mengkritisi seorang alim yang saleh lainnya yang berbeda pandangan politiknya, bahkan menganggapnya sebagai orang fasik. “Said Lama” berkata kepadanya, “Jika setan mendukung pemikiranmu, Anda pasti memohonnya agar ia melimpahkan rahmat kepadamu, sementara jika seorang malaikat berbeda pendapat dengan pemikiran politikmu, Anda mengutuknya”.Oleh karena itu, tiga puluh lima tahun lalu, “Said Lama” mengatakan‘Aku berlindung kepada Allah dari setan dan dari politik’, dan sekarang telah menjadi empat puluh tahun, dan ia meninggalkan dunia politik—Said Nursi.Buku-buku Ustadz kami dan risalahnya yang mencapai seratus tiga puluh bab telah diperiksa kembali secara menyeluruh dan diverifikasi oleh pengadilan dan instansi pemerintah dalam kurun waktu yang berbeda. Dari hasil penelitian tersebut tidak ditemukan indikasi sekecil apapun yang mengisyaratkan bahwa Said Nursi telah menjadikan agama sebagai alat politik kendati ia terpaksa harus berhadapan dengan orang-orang zalim, orang-orang murtad dan orang-orang munafik, bahkan kendati adanya perintah rahasia agar Said Nursi dihukum mati; Ini sudah cukup sebagai bukti yang sangat nyata bahwa Said Nursi tidak pernah menjadikan agama sebagai alat politik. Kami, para murid yang mengkaji Risalah Nur yang mengetahui kehidupan Ustadz kami dari dekat justru merasa kagum melihat kondisi yang unik ini dan kami menganggapnya sebagai bukti keikhlasan yang hakiki dalam lingkaran Risalah Nur—Para murid Nur ↑
- *Perjalanan ini terjadi pada hari Kamis, Juni 1911 M, berlangsung selama tiga minggu—Tim Penerjemah. ↑
- *ang dimaksud dengan sekolah-sekolah modern adalah sekolah-sekolah yang didirikan pada akhir Daulah Usmaniyyah di mana diajarkan ilmu-ilmu modern, kebalikannya adalah madrasah-madrasah yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu alat—Tim Penerjemah. ↑
- *Dua karakter yang populer dalam tradisi Persia dan Yunani sebagai simbol kekuatan, keberanian dan kepahlawanan—Tim Penerjemah. ↑
- *Maksudnya Khutbah Syamiyah yang diterjemahkan bebas ke dalam bahasa Turki—Tim Penerjemah. ↑
- * Kazak adalah pasukan militer Rusia yang sangat terlatih yang merupakan andalan pasukan militer Emperium Rusia—Tim Penerjemah. ↑
- *Catatan: Tafsir “Isyârât al-I`jâz” disusun pada tahun pertama Perang Dunia Pertama, ketika berada di medan pertempuran tanpa membawa satu pun buku rujukan. Kondisi perang yang sulit menyebabkan penulisan buku tafsir ini dilakukan secara sangat ringkas karena beberapa hal. Surah al-Fatihah dan paruh pertamanya ditulis dengan sangat menyeluruh dan ringkas.Pertama: penulisan pada saat itu tidak mungkin dilakukan dengan rinci dan “Said Lama” mengungkapkan keinginannya dengan ungkapan-ungkapan pendek dan ringkas.Kedua: karena “Said Lama” memperhatikan tingkat pemahaman para muridnya yang unggul tanpa yang lainnya.Ketiga: Ketika menjelaskan ungkapan ringkas al-Qur’an yang menjadikannya sebagai mukjizat yang diungkapkan dengan sangat teliti dan bahasa yang tinggi, Ustadz Said Nursi pun mengungkapkannya secara mendalam dan ringkas.Hanya saja sekarang saya membacanya dengan pandangan “Said Baru”, saya dapatkan—termasuk pengecekan ilmiah yang sangat teliti—buku tersebut dianggap sebagai salah satu karya besar “Said Lama” dengan tidak memperhatikan kesalahan�kesalahan yang ada di dalamnya.Mengingat “Said Lama” ketika menulis buku tafsirnya itu selalu berada dalam siap mati syahid, dan ia menulisnya dengan niat yang tulus, menerapkan kaidah Balagah dan aturan ilmu-ilmu bahasa Arab, maka saya tidak dapat mengkritisi bagian manapun juga. Semoga Allah menjadikan karangannya ini sebagai penghapus dosa-dosanya dan menakdirkan sejumlah orang yang mampu memahami buku ini dengan pemahaman yang benar, insya Allah.Seandainya tidak ada kendala seperti Perang Dunia Pertama, niat telah bulat untuk menjadikan bagian dari tafsir ini khusus untuk menjelaskan kemukjizatan struktur bahasa al-Qur’an, dan bagian-bagian lainnya untuk menjelaskan segi kemukjizatan lainnya, dan seandainya bagian-bagian yang lainnya itu mencakup hakikat-hakikat tafsir yang bertebaran dalam Risalah Nur, maka tafsir ini akan menjadi tafsir al-Qur’an al�Karim yang menyeluruh dan mengagumkan.Semoga kelak ada sebuah tim menjadikan salah satu bagian dari tafsir ini beserta risalah-risalah dari buku “al-Kalimat”, “al-Lama`ât”, dan “al-Maktubat” yang berjumlah seratus tiga puluh, sebagai referensi sehingga dengan bersumberkan pada sejumlah karya tersebut, tim itu kelak dapat menyusun sebuah tafsir al-Qur’an, insya Allah—Said Nursi. Ali Rida Afandi, sekretaris fatwa di Istanbul sering membaca buku tafsir ini. Ia berkata kepada rekan-rekannya yang sering datang kepadanya bahwa tafsir Ustadz Said Nursi ini mempunyai kekuatan dan nilai yang setara dengan seribu buku tafsir. Tafsir Ustadz Said Nursi ini juga mendapat pujian dari ulama Timur, para ulama senior Syam dan Irak. Sebagian mereka mengatakan bahwa tafsir Ustadz Said Nursi ini tafsir yang luar biasa tiada tandingannya—Tim Penyusun. ↑
- *Badiuzzaman menyusun tafsir ini menggunakan bahasa Arab. Kami kutip bab “Kata Pengantar” ini secara utuh yang ditulis dalam bahasa aslinya, bahasa Arab, tanpa perubahan sedikitpun—Tim Penerjemah. ↑
- *Yang dimaksud dengan seni di sini adalah ilmu pengetahuan modern—Tim Penerjemah. ↑
- *Betul, ketika kami sedang mengikuti pelajaran di madrasah Khurkhur di Van, kami diberitahu bahwa gempa yang sangat besar akan terjadi dan hal itu benar-benar terjadi, yaitu dengan meletusnya Perang Dunia tidak lama setelah itu—Hamzah, Muhammad Syafiq, dan Muhammad Mihri. ↑
- *Dapat dikatakan di sini bahwa pemikirannya berubah untuk merealisasikan keikhlasan pada saat ia berada dalam kondisi antara hidup dan mati, dalam medan pertempuran yang sangat sengit, hal itu merupakan salah satu contoh kesempurnaan manusia. Hal itu karena kepeduliannya yang sangat tinggi terhadap keikhlasan yang merupakan tingkatan kesempurnaan yang paling tinggi dan paling murni ketika berada di medan pertempuran, ketika menghadapi musuh, di tengah-tengah tembakan meriam, ketika ia menunaikan tugas sebagai komandan yang dilakukannya dengan penuh keberanian yang berlandaskan iman dan semangat memperjuangkan Islam, hal itu tidak lain menunjukkan keluhuran jihadnya, pengorbanannya dan pengabdiannya terhadap agama yang patut diapresiasi, di samping hal itu juga menunjukkan kesempurnaan jiwanya.Oleh karena itu, pujian dan sanjungan yang diberikan kepada Mulla Said sehingga ia dikenal luas di kalangan kaum muslimin yang menjalani hidupnya dengan dikenal sebagai Badiuzzaman (Orang yang mengagumkan sepanjang zaman), atau sebagai Fathîn al-`Ashr (Orang cerdik sepanjang masa), atau sifat-sifat terpuji lainnya, semuanya itu bukan isapan jempol. Pengabdian Badiuzzaman Said Nursi terhadap iman dan al�Qur’an sebagaimana yang tertuang dalam Risalah Nur dan kepribadian spiritual yang suci yang dibentuk oleh jutaan muridnya yang berkorban dan membanggakan semangat keagamaan adalah bukti yang sangat nyata tentang hal itu—Tim Penyusun. ↑
- *Kota yang terletak di selatan Armenia berbatasan dengan Iran—Tim Penerjemah. ↑
- * Kota yang ditaklukkan oleh kaum muslimin pada zaman Usman bin Affan dan sekarang merupakan ibu kota Georgia dan dikenal dengan nama Tbilisi—Tim Penerjemah. ↑
- *Kota yang terletak di tengah Rusia, di Timur Laut Moskow, berjarak sekitar 700 km—Tim Penerjemah. ↑
- *Kota yang terletak di tengah Rusia, di Timur Laut Moskow, berjarak sekitar 350 km—Tim Penerjemah. ↑
- * Bertepatan dengan tahun 1336 H dan 1918 M—Tim Penerjemah. ↑
- * Setelah beberapa lama menjadi tawanan, Ustadz Said Nursi dipindahkan ke Barla sebagai tawanan. Sebagian pengalaman hidupnya beliau tulis dalam “Harapan Ketiga Belas” dari “Sinar Kedua Puluh Enam”. Silakan merujuk risalah tersebut, bagi yang ingin mengetahuinya lebih lanjut—Tim Penyusun. ↑
- *Kota Kostroma berjarak sekitar 350 km, arah Timur Laut ibukota Rusia, Moskow, dekat dengan provinsi Siberia yang mempunyai sejarah Islam lama. Berdasarkan hal ini, Rusia yang disebutkan dalam pembicaraan Ustadz Said Nursi tidak mencakupi provinsi Siberia—Tim Penerjemah. ↑
- * Ia adalah Muhammad bin Ali Jalabi, penyair sufi yang lahir tahun 1618 M di sebuah desa dekat Malatya, di tengah Anatolia. Menyelesaikan pendidikannya di alAzhar. Berdomisili di Mesir dalam kurun waktu yang cukup lama sehingga dikenal dengan sebutan “al-Misri” (Orang Mesir). Ia menulis kumpulan syair dan sejumlah karangan dalam bahasa Arab dan bahasa Turki, di antaranya Tafsir Fâtihat al-Kitâb, Mawâ’id al-`Irfân, dan al-Majâlis. Meninggal tahun 1694 M—Tim Penerjemah. ↑
- *Muhammad `Akif Arshuwi, penulis dan penyair Turki yang terkemuka. Dilahirkan pada tahun 1873 M, keturunan Albania. Hafal al-Qur’an, belajar prinsip prinsip ilmu agama sejak kecil, kemudian belajar ilmu kedokteran hewan. Ia menerbitkan majalan “ash-Shirâth al-Mustaqîm” yang kelak dinamakan “Sabîl ar-Rasyâd”. Dalam majalah tersebut ia menulis banyak artikel dan puisi yang mendukung afiliasi dan identitas Islam bagi bangsa Turki. Ia juga telah mulai menulis tafsir al-Qur’an al-Karim, tetapi tidak sampai tuntas. Ia pindah ke Mesir dan tinggal di sana selama sebelas tahun, kemudian kembali ke Istanbul dan meninggal pada tahun 1936 M. Ia dikenal dengan Penyair Kemerdekaan karena jasanya menulis lagu kebangsaan Turki ↑
- *Cendekiawan Turki yang banyak terlibat dalam pemikiran dan filsafat. Dilahirkan di Izmir pada tahun 1869 M, hafal al-Qur’an sejak kecil, belajar ilmu-ilmu agama, susastra dan filsafat. Ia meninggalkan banyak karya penting, di antaranya “Ma`âni al-Qur’an”, “Târikh al-Falsafah al-Islâmiyyah”, “`Ilm al-Kalâm al-Jadîd”, “al�Manthiq al-Tathbîqi”, dan “Hikmah al-Tasyrî`”. Meninggal di Ankara pada tahun 1946 M—Tim Penerjemah. ↑
- *Dikenal dengan nama Muhammad Hamdi Bazar, seorang ulama pakar fiqih dan tafsir. Dilahirkan pada tahun 1878 M di Antolia, Barat Daya Turki. Tumbuh di keluarga yang memperhatikan ilmu pengetahuan dan kesustraan. Hafal al-Qur’an sejak kecil. Belajar ilmu agama kepada para ulama pada zamannya. Menguasai bahasa Arab, bahasa Persia, bahasa Perancis di samping bahasa Turki sebagai bahasa ibu. Meninggalkan banyak karya, yang terkenal buku tafsir al-Qur’an al-Karim dalam bahasa Turki yang terdiri dari sembilan jilid. Meninggal di Istanbul pada tahun 1943—Tim Penerjemah. ↑
- *Ia adalah anak saudara sulungnya, Abdullah. Dilahirkan di Nurs pada tahun 1903 M, selalu menyertai Ustadz Said Nursi dan belajar kepadanya. Ia juga menjadi asistennya di samping sebagai anak spiritualnya. Meninggal dalam usia muda di Ankara pada tahun 1928 M, dikebumikan dekat dengan kuburan pamannya. Ia sempat menulis buku kecil tentang kehidupan Ustadz Said Nursi yang ia sertakan sejarah hidupnya sampai waktu itu—Tim Penerjemah. ↑
- *Hakikat ini dibuktikan dalam semua risalah, terutama dalam dua bagian, yaitu yang kesepuluh dan kedua puluh sembilan, dengan pembuktian yang tidak akan terbantahkan oleh orang yang berakal—Said Nursi. ↑
- *Daerah yang terletak di bagian Eropa dari Istanbul, di arah Barat Lautnya—Tim Penerjemah. ↑
- *Yaitu Imam Ahmad al-Faruqi al-Sarahindi, masih keturunan Sayyiduna Umar. Dilahirkan di India pada tahun 971 H, seorang imam, pembaharu dan sangat berjasa dalam menyelamatkan India dari kemusyrikan dan bid`ah yang tersebar luas di sana, dan berjasa juga dalam menghidupkan aktivitas dakwah di tengah-tengah para penguasa dan orang awam. Ia menulis banyak buku tentang akidah. Karyanya yang paling populer adalah Maktûbât, yaitu kumpulan risalah bimbingan dan pengajaran yang jumlahnya lebih dari lima ratus risalah. Meninggal pada tahun 1034—Tim Penerjemah. ↑
- *Maksudnya filsafat—Tim Penerjemah. ↑
- *Bertepatan dengan tahun 1337 H 1919 M—Tim Penerjemah. ↑
- *Yang dimaksud adalah kekalahan Daulah Usmaniyyah dalam Perang Dunia Pertama—Tim Penerjemah. ↑
- *Maksudnya jumlah kaum muslimin yang berada dalam Daulah Usmaniyyah beserta jumlah kaum muslimin di seantero dunia Islam—Tim Penerjemah. ↑
- *Maksud kami adalah kebaikan dan keutamaan peradaban yang bermanfaat bagi umat manusia, bukannya keburukan dan dosa-dosanya yang diduga orang�orang dungu sebagai kebaikan sehingga mereka menirunya seraya mereka membuat kami ditimpa malapetaka. Dengan lebih dominan keburukan peradaban ini daripada kebaikannya, umat manusia mengalami kekalahan dalam dua kali perang dunia sehingga menjungkirbalikkan peradaban tersebut dan muntahan darah umat manusia mengotori permukaan bumi ini, tetapi insya Allah kebaikan peradaban pada masa mendatang akan unggul berkat kekuatan Islam, permukaan bumi akan dibersihkan dari semua kotorannya, perdamaian dunia akan terwujud, insya Allah—Said Nursi. ↑
- *Maksudnya mayoritas bangsa di dunia setelah Perang Dunia Pertama—Tim Penerjemah. ↑
- *Maksudnya dunia Islam—Tim Penerjemah ↑
- *Maksudnya dunia Islam—Tim Penerjemah. ↑
- *Merujuk jumlah tahun di mana Daulah Usmaniyyah turut serta dalam Perang Dunia Pertama, yaitu antara tahun 1914 M dan tahun 1919 M—Tim Penerjemah. ↑
- *Karangan yang diterbitkan Badiuzzaman Said Nursi setelah sebagiannya dicetak di Istanbul dan sebagian lainnya dicetak di Ankara, telah diterbitkan kembali setelah empat puluh tahun berada dalam kumpulan terpisah yang disebut “Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuri”. Dalam pendahuluannya beliau berbicara tentang karangannya sebagai berikut:“Said Lama—sekitar lima puluh tahun yang lalu—karena kesibukannya yang luar biasa dengan ilmu akal dan filsafat sangat berhati-hati dalam menapaki jalan dan pintu masuk untuk sampai ke hakikat kebenaran, masuk dalam bilangan yang menggabungkan antara tarekat dan hakikat. Ia tidak puas dengan gerakan hati saja sebagaimana mayoritas pengikut tarekat. Ia berusaha keras untuk menyembuhkan pemikiran dan akalnya dari penyakit yang diwariskan oleh penelaahannya terhadap buku-buku filsafat. Setelah sembuh dari penyakit ini, ia ingin mengikuti jejak ahli hakikat terkemuka yang mengarah ke hakikat dengan akal dan hati. Maka ia berpendapat bahwa masing-masing dari mereka memiliki karakteristik tersendiri. Hal ini membuat dirinya bingung mengunggulkan yang satu dari yang lainnya. Lalu secara gaib Imam Rabbani mengarahkannya dengan ucapannya, “Satukan kiblat”. Maksudnya, berjalanlah mengikuti satu guru saja. Maka terdetik dalam hati Said Lama yang terbebani banyak luka bahwa guru yang sebenarnya tiada lain dari al-Quran dan bahwa menyatukan kiblat hanya dapat dilakukan dengan menjadikan kitab suci itu sebagai guru, dan bukan yang lainnya. Maka dengan petunjuk dan bimbingan “guru suci” tersebut ia mulai meniti jalan dengan ruh dan hatinya dengan cara yang aneh. Nafsu amarahnya yang merintanginya dengan keraguan memaksa dirinya melakukan mujahadah spiritual dan ilmiah. Selama menempuh jalan ini dan berusaha keras menolak keraguan, ia menempuh berbagai maqam dan melihat apa yang terdapat di dalamnya yang dilakukannya tidak seperti yang dilakukan oleh para penganut tarekat sufi dengan menutup pandangan mata, tetapi sebagaimana dilakukan Imam Ghazali, Imam Rabbani dan Jalaluddin Rumi dengan membuka pandangan mata hati, ruh dan akal. Maka ia berjalan dalam berbagai maqam itu dan melihat apa yang ada di dalamnya dengan pandangan tersebut tanpa memejamkan pandangan.Maka alhamdulillah Said Nursi mendapatkan jalan menuju hakikat dengan mengkaji al-Qur’an dan bimbingannya sehingga dengan Risalah Nur yang dikarang oleh Said Baru dapat menjelaskan hakikat:Dalam segala sesuatu terdapat petunjukYang menunjukkan bahwasanya Ia adalah Esa. Dalam pengembaraan dan perjalanannya di berbagai maqam itu, ia berusaha mencari dengan hati di bawah pandangan akal, dan dengan akal dalam perlindungan hati, seperti Imam Ghazali, Imam Rabbani, dan Jalaluddin Rumi. Ia pun segera membungkus luka hati dan ruhnya, membebaskan dirinya dari keraguan dan ketidakpastian. Dengan kebebasannya dari itu semua, Said Lama berubah menjadi Said Baru, alhamdulillah.Maka ia menulis sejumlah risalah dalam ungkapan-ungkapan ringkas yang seperti al-Matsnawi ar-Rumi yang ditulis dalam bahasa Persia. Setiap kali ada kesempatan, ia segera mencetaknya, seperti risalah “Qathrah”, “Hubâb”, “Habbah”, “Zahrah”, “Dzarrah”, “Syammah”, “Syu`lah”, “Lama`at”, “Rasyahat”, Lâ Siyyamât”, dan pelajaran lainnya di samping dua risalah yang ditulis dalam bahasa Turki, yaitu “Lama`at” dan “Nuqthah”. Perjalanan hidup yang dilaluinya selama lebih dari setengah abad ini ia jelaskan dalam Risalah Nur, hanya saja tidak terbatas pada perjuangan melawan hawa nafsu dan setan dari dalam, tetapi juga menyelamatkan orang-orang yang kebingungan yang memerlukan pertolongan, menyelamatkan orang-orang yang bergumul dengan filsafat yang nyaris terseret ke jurang kesesatan. Maka terbukti bahwa “al-Matsnawi” yang ditulis dalam bahasa Arab merupakan tempat penyemaian Risalah Nur. Ia berusaha mensucikan jiwa dan bagian dalam manusia seperti thariq khafi dan berhasil membuka jalan melalui ruh dan hati. Sedangkan Risalah Nur yang merupakan tamannya yang segar, telah membuka jalan yang luas menuju gerbang makrifatullah dengan arahnya yang menuju cakrawala alam semesta—seperti thariq Jahriyah—di samping jihadnya dalam diri sehingga ia seperti tongkat Nabi Musa , di mana saja dipukulkan, air akan keluar memancar.Demikian juga, metode yang ditempuh Risalah Nur ini bukanlah metode para ulama dan ahli hikmah, tetapi metode yang diambil dari kemukjizatan maknawi al�Qur’an, karena ia membuka jalan menuju makrifatullah dari segala sesuatu. Maka orang yang menempuh metode ini akan mengambil manfaat dari Risalah Nur dalam satu jam di mana orang lain tidak mendapatkan apa-apa dari perjalanannya selama satu tahun dengan meniti jalan yang berbeda. Hal itu adalah merupakan salah satu rahasia al-Qur’an yang Allah berikan kepada hamba yang Dia kehendaki. Maka dengannya ia dapat menolak serangan orang-orang yang keras kepala yang dihadapinya pada zaman yang sangat menakutkan ini. Ia pun selamanya akan memperoleh kemenangan”—Tim penyusun.Sampai di sini tulisan Ustadz Said Nursi dalam mukadimah “Al-Matsnawi” yang diterjemahkan oleh saudara kandungnya, Abdul Majid dengan sedikit perubahan—Tim Penerjemah. ↑
- *Tim Penyusun: Pada bagian akhir tulisan itu ia berkata, “Di luar kesiapan saya yang kurang, tentu tidak menyerap limpahan guru yang sebenarnya itu yang seperti air kehidupan dengan penyerapan yang sepatutnya, tetapi kami dengan bantuannya itu dapat memperlihatkan limpahannya sesuai dengan kadar limpahan para pemilik hati dan keadaan. Artinya, cahaya dan al-Kalimat yang berasal dari al-Quran bukan sekadar masalah ilmiah rasional, tetapi ia adalah masalah keimanan, hati, rohani dan keadaan. Ia merupakan makrifat ilahiyah yang sangat berharga dan sangat luhur”. Dikutip dari “al-Maktûbât”, Surat Kedua Puluh Delapan, Persoalan Ketiga, Poin Ketiga—Tim Penerjemah. ↑
- *Pemerintah Ankara dibentuk oleh sekelompok perwira dan prajurit setelah jatuhnya Istanbul sebagai pusat khilafah di bawah penjajahan Inggris—Tim Penerjemah. ↑
- *Maksudnya Ataturk. Ia mengetuai parlemen yang dibentuk pada masa itu—Tim Penerjemah. ↑
- *Yang dimaksud adalah anggota parlemen. Waktu itu, anggota parlemen disebut utusan—Tim Penerjemah. ↑
- *Yang dimaksud adalah kemenangan bangsa Turki pada Perang Kemerdekaan melawan pasukan penjajah asing yang menyerang Turki setelah kalahnya Daulah Usmaniyyah pada Perang Dunia Pertama—Tim Penerjemah. ↑
- *Sebuah daerah yang terletak di ujung bagian tenggara Turki, dekat perbatasan Turki dengan Suriah dan Irak—Tim Penerjemah. ↑
- *Setelah Perang Dunia Pertama bangsa Yunani menduduki sebagian tanah Turki. Ustadz Said Nursi menyampaikan pernyataan ini setelah mereka diusir—Tim Penerjemah. ↑
- *Ustadz Badiuzzaman membagikan pernyataannya ini pada tanggal 19 Kanun al-Tsâni/Januari 1923 M, yaitu pada masa transisi antara penghapusan “kesultanan” dan penghapusan “khilafah”, di mana parlemen pada tanggal 1 November/Tisyrin al-Tsani 1922 M menyetujui penghapusan “kesultanan” dan tetap mengakui “khilafah” dengan syarat pemilihan khalifah tetap dilakukan oleh parlemen, kemudian penghapusan “khilafah” akhirnya diumumkan pada 3 Adzar/ Maret 1924 M—Tim Penerjemah. ↑
- *Yang dimaksud dengan “Lama’ât” di sini adalah Diwan Lama’ât yaitu kumpulan prosa dalam bahasa Turki, karya tulis terakhir Said Lama. Ia tulis pada bulan Ramadan tahun 1337 H, bertepatan dengan tahun 1919 M. Kemudian setelah Risalah Nur muncul, dilakukan beberapa perbaikan dalam tulisannya itu dan beberapa catatan kaki ditambahkan. Ia meminta tulisannya itu dilampirkan pada koleksi “al-Kalimât”—Tim Penerjemah. ↑
- *Dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dalam Sunannya, nomor 3127, secara marfû’ dari Abu Said al-Khudriy. Ia mengatakan sebagai hadis gharib—Tim Penerjemah. ↑
- *Yaitu Syaikh Ahmad asy-Syarif bin Muhammad as-Sanusi, seorang mujahid dan tokoh nasional Libya. Ia melakukan aktivitas dakwah dan jihad di Libya, Mesir, Sudan dan Chad. Pada tahun 1918 M, secara terpaksa ia harus meninggalkan Libya dan pergi ke Istanbul. Ia tinggal di Turki sampai tahun 1924 M yang kemudian menuju Hijaz dan tinggal di sana sampai meninggal dunia di Madinah pada tahun 1933 M—Tim Penerjemah. ↑
- *Dikutip dari “Risalah al-Thabi`ah”, “Cahaya Kedua Puluh Tiga” —Tim penyusun ↑