Setetes Lautan Tauhid
Kunci solusi risalah yang terambil dari curahan Alquran ini baru bisa diraih setelah mempelajari keseluruhannya secara cermat
{(Catatan-43): Risalah ini dicetak pertama kali di penerbit Najm Istiqbāl, Istambul, pada tahun 1340 H (1922 M)}
Penjelasan Tujuan
Bacalah dengan cermat, insya Allah hatimu tenang
Ketahuilah!
Wahai yang melihat, takdir ilahi telah mengantarku kepada jalan yang aneh. Dalam perjalanan banyak kesulitan, musibah, dan musuh yang kutemui. Kegelisahan menghantui diri. Maka, dengan segala kelemahan aku bersimpuh di hadapan Tuhan. Seketika pertolongan-Nya meraih tanganku. Alquran mengajariku jalan yang benar. Kasih sayang Tuhan menolong dan menyelamatkanku dari kesulitan. Dengan mengucap syukur alhamdulillah, aku berhasil menang dalam perang melawan hawa nafsu dan setan; dua utusan yang mengantar kepada berbagai kesesatan.
Pertama-tama, aku memulai perlawanan lewat kalimat penuh berkah yang berbunyi: subhanallah, wal hamdulillah, wa lā ilāha illallāh, wallāhu akbar, walā hawla walā quwwata illā billāh
(Mahasuci Allah. Segala puji bagi-Nya. Tiada Tuhan selain Allah. Dan Dia Mahabesar. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Maka, tiga puluh perang tak berkutik di bawah setiap benteng kokoh tersebut. Setiap kalimat; bahkan setiap bagian dari risalah ini adalah hasil kemenangan dari perang yang sama sekali tak diinginkan oleh musuh. Yang kutulis hanyalah yang kusaksikan. Kuterangkan sebuah hakikat panjang berikut dalilnya dengan satu gambaran disertai petunjuk hukumnya yang bisa diketahui dengan perhatian cermat. Yang kujelaskan adalah yang memang dirasa perlu; selebihnya tidak.
{(Catatan-44): Artinya, ia sejalan dengan spirit syariat yang dijelaskan pada halaman 172 di buku Isyārāt al-I'jāz. "Syariat menguraikan hal-hal yang memang diperlukan dan dibutuhkan. Sementara, dalam hal yang tidak penting atau akal pikiran tidak siap, atau waktu yang ada tidak mendukung, maka ia hanya menyebutkan secara global seraya meletakkan landasan untuk pengambilan kesimpulan hukum darinya serta mengembangkannya dengan pandangan akal.}
Kukira perjalanan waktu akan menempatkan akal dan kalbu manusia dalam kesulitan yang pernah kulalui. Karena itu, tulisan ini mudah-mudahan bermanfaat bagi mereka yang menghadapinya. Semoga Allah memberikan taufik.
Said Nursi.
Bismillāhirrahmānirrahīm
Segala puji milik Allah. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi-Nya.
Tulisan ini terdiri dari empat bab, penutup, dan pendahuluan.
Pendahuluan
Ketahuilah, selama empat puluh tahun perjalanan usia dan tiga puluh tahun perjalanan menuntut ilmu, aku mendapatkan empat kata dan empat kalimat yang nanti akan dijelaskan. Di sini aku akan menerangkannya secara global.
Adapun kata yang dimaksud adalah makna harfiy, makna ismiy,
{(Catatan-45): Penjelasan tentang kedua istilah tersebut akan ditemukan di dalam kandungan isi buku ini. Secara gramatika, harf (huruf) adalah sesuatu yang menunjuk kepada makna yang terdapat pada selain dirinya, sementara ism (nomina) adalah sesuatu yang menunjuk kepada makna yang terdapat ada dirinya tanpa terikat dengan waktu. Jadi, maksudnya bahwa pandangan Qurani terhadap alam wujud menjadikanya seperti huruf-huruf yang mengungkap esensi manifestasi nama-nama Tuhan dan sifat-Nya yang agung.}
niat, dan cara pandang.
Maksudnya bahwa memandang kepada sesuatu selain Allah harus dengan makna harfiy (simbolik), sementara memandang kepada entitas harus dengan makna ismiy (hakiki). Pada setiap sesuatu terdapat dua sisi: sisi yang mengarah kepada Zat Yang Mahabenar dan sisi yang mengarah kepada alam. Ketika mengarah ke sisi alam ia harus diposisikan sebagai kiasan atau simbol bagi makna ismiy yang merupakan sisi penisbatannya kepada Allah Swt. Misalnya, nikmat harus dilihat sebagai cermin
bagi pemberian nikmat oleh Tuhan, sementara sarana dan sebab merupakan cermin bagi perbuatan Tuhan.
Demikian pula dengan cara pandang dan niat. Keduanya merubah esensi segala sesuatu dengan membalikkan keburukan menjadi kebaikan sebagaimana tanah dirubah menjadi emas. Dalam hal ini niat juga bisa merubah gerakan biasa menjadi ibadah, serta cara pandang merubah ilmu-ilmu alam menjadi pengetahuan ilahiyah. Jika dilihat dengan ukuran sebab maka merupakan kebodohan. Namun jika dilihat dengan ukuran Allah, ia merupakan pengetahuan ilahiyah.
Selanjutnya, terkait dengan kalimat atau ucapan.
Yang pertama adalah "Aku bukan Pemilik diriku." Pemilik diriku adalah Sang Pemilik kerajaan, Zat Yang Mahaagung dan Mulia. Kubayangkan diriku sebagai pemilik untuk memahami sifat-sifat Pemilikku lewat analogi. Maka dengan sesuatu yang terbatas dan imajinatif aku memahami Zat yang tak terbatas. Akhirnya, pagi datang dan lentera hayalan itupun padam.
Kedua adalah "Kematian adalah sesuatu yang haq (nyata)". Kehidupan dan tubuh ini tidak bisa menjadi pilar kehidupan yang agung. Pasalnya, keduanya tidak abadi; juga tidak berasal dari besi dan batu. Namun ia berasal dari daging, darah, dan tulang, serta berbagai unsur yang saling berlawanan yang untuk beberapa saat bisa sejalan namun kemudian siap berpisah. Bagaimana mungkin istana seluas dunia dibangun di atas pondasi yang rapuh dan pilar yang cepat membusuk.
Ketiga adalah "Tuhanku Mahaesa". Puncak kebahagiaan setiap orang adalah ketika berserah kepada Tuhan Yang Mahaesa. Jika tidak, tentu ia membutuhkan banyak tuhan yang saling berseberangan. Pasalnya, totalitas manusia memiliki berbagai kebutuhan terhadap banyak hal, sejumlah hubungan dengannya, derita, kesan, kesadaran dan ketidaksadaran terhadapnya. Ini semua merupakan kondisi yang sangat menyiksa. Maka dari itu, mengetahui Tuhan Yang Mahaesa di mana sejumlah tuhan imajiner ini hanyalah hijab halus yang membungkus kekuasaan-Nya merupakan sorga duniawi.
Keempat adalah "ego" yang merupakan titik hitam yang
kepalanya dibungkus dengan goresan kreasi Tuhan. Padanya tampak bahwa Sang Pencipta lebih dekat daripada dirinya sendiri.
Penjelasan tentang sejumlah kalimat ini akan diuraiakan di penutup bab pertama.
Bab Pertama
Lā ilāha illallāh
(Tiada Tuhan Selain Allah)
Bismillāhirrahmānirrahīm
Segala puji milik Allah Tuhan Pencipta semesta alam. Salawat dan salam semoga tercurah kepada penghulu para rasul. Serta kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau.
Kupersaksikan kepada seluruh saksi dan yang disaksikan bahwa aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah yang wujud dan seluruh sifat sempurna-Nya, serta keberadaan-Nya yang esa dan tunggal ditunjukkan dan diakui oleh:
Saksi yang jujur dan dipercaya, hujjah yang bertutur dan diimani, pemimpin para nabi dan rasul, penggenggam rahasia kesepakatan dan pembenaran mereka, imam para wali dan ulama bertakwa, penyimpan rahasia kesepahaman dan pencapaian hakikat mereka, pemilik bukti yang terang, mukjizat yang kokoh, benar, dan dipercaya, pemilik sifat-sifat mulia serta akhlak yang luhur dan sempurna, penerima wahyu ilahi, pengembara alam gaib dan malakut, penyaksi ruh dan penyerta malaikat, pembimbing jin dan manusia, model kesempurnaan alam lewat kepribadiannya yang menunjukkan bahwa beliau merupakan pusat tatapan Pencipta alam, pemilik syariat yang menjadi model
rambu kebahagiaan sekaligus simbol sistem Pencipta alam. Itulah junjungan dan pembimbing kita menuju iman, Muhammad ibn Abdullah ibn Abdul Muththolib. Semoga salawat dan salam tercurah kepada beliau. Beliau menjadi saksi di alam nyata ini di hadapan seluruh saksi sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan serta penyeru seluruh generasi manusia di sepanjang masa dan wilayah lewat seluruh kekuatannya, kesungguhannya yang sempurna, puncak keyakinannya, ketenangannya, dan keimanannya bahwa:
Tiada Tuhan selain Allah yang wujud-Nya, sifat agung, indah, dan sempurna-Nya, serta keesaan-Nya ditunjukkan dan disaksikan oleh pembeda yang penuh hikmah yang berisi rahasia kesepakatan seluruh kitab para nabi di berbagai zaman, seluruh kitab para wali dari berbagai aliran, seluruh kitab ahli tauhid dari berbagai pendekatan. Semuanya-yakni akal dan hati mereka-sepakat membenarkan hukum Alquran yang menerangi enam arahnya. Ia adalah kalam Allah yang menjaga nama-Nya sepanjang masa; sumber wahyu sebagaimana keterangan penerima wahyu dan ahli kasyaf; sumber hidayah yang sangat jelas; sumber iman; kumpulan hakikat; pengantar kebahagiaan; pemilik buah sempurna; yang diterima oleh malaikat, manusia, dan jin; yang lahir dari sejumlah petunjuk; yang didukung oleh dalil-dalil rasional menurut kesepakatan para ilmuwan; yang dipercaya lewat kesaksian fitrah yang bersih dari segala penyakit; serta merupakan mukjizat yang abadi. Itulah lisan gaib yang bersaksi di alam nyata lewat kesaksian yang berulang-ulang dengan mengucap, "ketahuilah bahwa tiada Tuhan selain Allah."
{(Catatan-46): Q.S. Muhammad: 19.}
Wujud-Nya serta sifat agung, indah dan sempurna-Nya, juga keesan-Nya ditunjukkan dan dibuktikan oleh alam. Yaitu dibuktikan oleh kitab besar ini dengan seluruh bab, pasal, lembaran, baris, kalimat, dan hurufnya serta oleh manusia dengan seluruh anggota badan, sel, partikel, sifat, dan keadaannya. Dengan kata lain, semua entitas lewat seluruh bagian alamnya mengucap "tiada Tuhan selain Allah", lewat pilar-pilar alam
tersebut ia mengucap, "tiada Yang Mencipta selain Dia", lewat anggota dari pilar tersebut ia mengucap, "Tiada yang membuat selain Dia," lewat bagian dari anggota tersebut ia mengucap, "tidak ada yang mengatur selain Dia," lewat partikel darinya ia mengucap, "tiada Yang Memelihara selain Dia," lewat sel-selnya ia mengucap, "Tiada yang bertindak selain Dia," lewat atom-atom sel tersebut ia mengucap, "tiada Yang Mencipta selain Dia," serta lewat eter atom tadi ia mengucap, "tiada Tuhan selain Dia."
Jadi, seluruh entitas bersaksi bahwa Dia Zat Yang Wajib ada dan Yang Mahaesa lewat semua spesies, pilar, anggota, bagian, partikel, sel, atom, dan eternya, baik secara terpisah maupun secara tersusun melalui penyusunan yang rapi seraya mengangkat panji kesaksian akan keberadaan Sang Pencipta yang azali, serta mempersembahkan sejumlah lukisan unik yang menunjukkan eksistensi Sang Pelukis azali. Lewat lima puluh lima lisan setiap bagian dari struktur alam bersaksi bahwa Dia adalah Zat Yang Wajib ada dan Mahaesa.
Penjelasan mengenai lisan yang dimaksud akan dikemukakan pada waktunya. Hanya saja secara global ia adalah sebagai berikut:
Yaitu lewat lisan setiap bagian dan susunannya yang teratur, kepapahan dan kebutuhannya yang terpenuhi, kondisinya yang tertata rapi, bentuknya yang sempurna dan menakjubkan, lukisannya yang indah luar biasa, hikmahnya yang demikian tinggi, keragamannya yang istimewa, dan kemiripannya yang sangat rapi; lalu lewat lisan keteraturan dan keseimbangannya, keindahan kreasi dan kesempurnaanya, respon antar bagian di mana yang satu memenuhi kebutuhan lainnya, serta kondisi saling menopang antar unsur yang berbeda; kemudian lewat lisan hikmah yang bersifat menyeluruh, perhatian yang sempurna, rahmat yang luas, dan rezeki yang tersebar; selanjutnya lewat lisan kebaikan dan perbaikan, keindahan yang terpantul, cinta yang jujur, ketertarikan dan gravitasi, dan bayangan alam; juga lewat lisan kemungkinan dan kejadiannya, kebutuhan dan kepapahannya, kelemahannya, kematiannya, kebodohannya, kefanaannya, perubahannya, ibadahnya, rekamannya, seruannya,
dan munajatnya, struktur dan setiap bagian alam dengan seluruh lisan tersebut menjadi saksi atas eksistensi Sang Pencipta Yang tak bermula dan Mahakuasa. Ia menjadi bukti yang menunjukkan sifat-sifat sempurna-Nya, bersaksi atas keesaan-Nya, menyebutkan nama-nama-Nya yang mulia, bertasbih memuji-Nya, menjelaskan ayat-ayat Alquran yang bijaksana, membenarkan informasi pemimpin para rasul, merealisasikan ramalan yang benar yang bersambung kepada cahaya Islam yang bersambung kepada tangga kenabian, yang bersambung kepada cahaya iman terhadap Zat Yang Mahaesa. Lewat semua lisannya di bawah perintah kalam Allah serta kepemimpinan penghulu seluruh rasul dan manusia, alam sepakat mengucap "Allah. Tiada Tuhan selain Dia Yang Maha Berdiri sendiri."
{(Catatan-47): Q.S. al-Baqarah: 255.}
Perhatikan penjelasan dari persoalan tersebut:
1 dan 2. Di alam terlihat kumpulan dan bagian-bagian dari penataan yang nampak jelas serta keseimbangan yang saling menopang yang menjadi dalil wajibnya keberadaan Zat yang seluruh entitas berada dalam genggaman sistem dan neraca-Nya. Lewat penataan yang tampak jelas dan saling menopang itu ia juga menjadi bukti bahwa Pengatur dan Penatanya adalah satu. Ia membuka celah menuju tujuan; yaitu Zat Yang wajib ada dan Mahaesa. Di dalamnya seluruh entitas alam bersaksi dengan mengucap, "Allah. Tiada Tuhan selain Dia."
3 dan 4. Keteraturan dan kerapian yang terdapat di rumah alam yang menunjukkan ketiadaan intervensi pihak lain serta kreasi, lukisan, dan kerajaan milik Yang Mahaesa membuka celah dalam bentuk lain. Di dalamnya alam bersaksi dengan mengucap, "Allah. Tiada Tuhan selain Dia."
5 dan 6. Kreasi yang demikian rapi dan sempurna dalam segala sesuatu berikut kapasitasnya yang sesuai yang diberikan lewat pena takdir Zat Yang Maha Mencurahkan, hal itu menunjukkan keberadaan pena yang satu. Penulis lembaran langit dengan bintang dan mataharinya juga
merupakan Penulis lembaran lebah dan semut berikut sel dan partikelnya. Ia membuka celah dalam bentuk yang berbeda yang di dalamnya alam bersaksi lewat lisan seluruh ciptaan, "Allah. Tiada Tuhan selain Dia."
7 dan 8. Respon dan harmoni antar berbagai unsur yang berbeda yang terdapat di jalan yang panjang dan berliku di mana sebagiannya memenuhi kebutuhan yang lain seperti bahan nutrisi sel dan buah, serta kerja sama antar berbagai bagian yang berbeda seperti sejumlah planet yang merupakan buah matahari, semua itu menunjukkan bahwa seluruhnya merupakan pelayan dari Majikan yang sama, berada di bawah komando Pengatur yang sama, serta rujukan mereka pun adalah Pemelihara yang satu. Hal itu membuka celah dalam tingkatan berbeda yang di dalamnya alam bersaksi dengan mengucap, "Allah. Tiada Tuhan selain Dia."
9 dan 10. Kemiripan makhluk yang teratur sebagaimana bintang gemintang di langit serta keselarasan di antara mereka sebagaimana berbagai bunga yang terdapat di bumi, keduanya menunjukkan bahwa segala sesuatu merupakan aset Pemilik yang satu, berada di bawah pengaturan Zat yang satu, serta sumber mereka adakah kekuasaan yang satu. Hal ini membuka celah yang di dalamnya alam bersaksi dengan mengucap, "Allah. Tiada Tuhan selain Dia."
11. Bentuk setiap makhluk hidup yang merupakan manifestasi dari nama-nama yang begitu banyak dengan jejak dan keindahan yang beragam di mana mereka saling memberikan pengaruh, mirip meski dalam satu sel, saling memberikan pantulan, saling berbaur seperti tujuh warna matahari, semua itu menunjukkan bahwa Sang Pencipta Yang Mahahidup merupakan Zat yang mewujudkannya, yang melukisnya, yang memberikan nikmat kepadanya, dan yang memberinya rezeki. Zat yang memberikan rezeki tersebut adalah Pencipta sumber-sumber rezeki. Penciptanya adalah Zat Yang Berkuasa atas segala sesuatu. Hakikat ini membuka celah menuju derajat wajibnya Tuhan dan keesaan-Nya yang di dalamnya alam bersaksi dengan
mengucap, "Allah. Tiada Tuhan selain Dia."
12 dan 13. Relasi seperti antara mata lebah dan semut serta keselarasan dalam hal cara kerjanya menunjukkan bahwa keduanya merupakan hasil lukisan pelukis yang sama. Hal ini membuka celah yang di dalamnya entitas alam bersaksi dengan mengucap, "Allah. Tiada Tuhan selain Dia."
14. Daya gravitasi yang tertulis dan terlukis di antara atom serta substansi unik dari gravitasi umum yang tertulis dan terbentang antara bintang dan mentari menunjukkan bahwa keduanya merupakan tulisan pena yang sama, disusun oleh penyusun yang sama, dan bersumber dari kilau mentari yang sama. Hal ini membuka celah menuju keberadaan dan keesaan-Nya yang di dalamnya alam bersaksi dengan mengucap, "Allah. Tiada Tuhan selain Dia."
15. Hubungan antar setiap partikel dalam berbagai konstruksi yang saling bercampur dan teratur di mana partikel tersebut memiliki tugas tertentu, seperti partikel mata yang terdapat dalam konstruksi syaraf yang menggerakkan, merasa, dan melihat, semua itu menunjukkan bahwa Pencipta mata penglihatan dan mata alam (mentari), serta Zat yang meletakkannya di tempat yang sesuai merupakan Pencipta semua konstruksi. Hakikat ini juga menjadi celah yang di dalamnya alam bersaksi lewat lisan setiap partikelnya bahwa "Hanya Allah. Tiada Tuhan selain Dia."
16. Luasnya wilayah kekuasaan dalam satu spesies yang pasti berasal dari Zat Yang Mahaesa disertai dengan kondisi sejumlah spesies yang mencakup sebagian besar entitas alam-seperti ular dan ikan-maka bisa dikatakan bahwa Sang Pencipta makhluk juga merupakan Pencipta spesies. Sebagai contoh, pena yang menggambar guratan wajah Zayd sudah barang tentu mengetahui guratan wajah seluruh manusia karena bentuknya yang berbeda-beda. Jika tidak, tentu bisa sama. Nah, Pencipta rahasia ini juga merupakan Pencipta seluruh spesies. Hakikat tersebut membuka satu celah yang di dalamnya alam bersaksi bahwa "Hanya Allah. Tiada Tuhan selain Dia."
17. Perasaan aneh dan bingung akibat keterbatasan pikiran telah mengantarkan manusia untuk tidak mau menisbatkan segala sesuatu kepada Zat Yang Mahaesa. Padahal ketika menisbatkan makhluk ke pada berbagai kemungkinan, sebab, dan dirinya sendiri sebanyak jumlah entitas, justru keanehan dan kebingungan tersebut semakin bertambah. Artinya, yang pertama lebih mudah dan sederhana. Pasalnya, manakala sesuatu yang banyak bersumber dari yang satu, hal itu lebih ringan daripada jika sesuatu bersumber dari jumlah yang banyak dan buta yang ketika mereka berkumpul membuatnya semakin buta. Andaikan seekor lebah tidak bersumber dari kekuasaan Tuhan, tentu seluruh yang terdapat di langit dan di bumi ikut serta dalam keberadaannya. Bebannya akan semakin meningkat di mana benda sebesar atom jika dinisbatkan kepada Allah, akan bisa menjadi sebesar gunung andaikan dinisbatkan kepada sebab dan sehelai rambut bisa menjadi seperti tali. Pasalnya, satu perbuatan yang bersumber dari Zat Yang Mahaesa memberikan maslahat bagi banyak makhluk, di mana hal itu tidak bisa dilakukan oleh sesuatu yang banyak kecuali dengan banyak perbuatan. Sama seperti kedudukan pemimpin terhadap pasukannya; sumber air terhadap tetesannya; dan pusat kekuasaan terhadap titik-titik wilayahnya. Dengan satu perbuatan saja, ketiga hal tersebut bisa menghadirkan banyak hal. Ini tidak mungkin terjadi jika dinisbatkan kepada diri mereka sendiri kecuali dengan perbuatan yang sangat banyak dan dengan beban yang sangat besar. Bahkan ia bisa dikatakan tidak mungkin terjadi dan berbalik menjadi rangkaian kemustahilan.
Di antara bentuk kemustahilannya adalah keharusan adanya sifat Tuhan pada setiap atom lantaran adanya lukisan sempurna dan kreasi yang sangat rapi. Demikian pula asumsi keberadaan sekutu yang jumlahnya tak terhingga serta asumsi keberadaan ilmu yang sempurna pada setiap atom lantaran kerja sama dan keseimbangan yang terjadi. Dengan demikian, menisbatkan segala sesuatu
kepada sebab yang demikian banyak melahirkan sejumlah kemustahilan, kondisi yang tidak rasional, serta kebatilan yang dihembuskan oleh ilusi dan asumsi.
Adapun apabila ia dinisbatkan kepada Pemiliknya yang hakiki, Zat Yang Wajib ada dan esa, tentu partikel dan konstruksinya-seperti tetesan hujan yang bersinar seperti mentari-merupakan manifestasi dari kilau manifestasi qudrat azali yang tak terhingga disertai ilmu dan kehendak yang azali dan tak terbatas pula. Sinar yang melekat pada dirinya lebih berpengaruh daripada mentari sebab. Jadi, keberadaan qudrat Tuhan pada benda yang lebih kecil dari atom jauh lebih berpengaruh daripada benda sebesar gunung yang bersandar pada banyak sebab. Di samping itu, tidak ada beban dan kesulitan jika disandarkan pada kekuasaan Tuhan. Sebab ia memang milik Allah yang tak mungkin kebalikannya ikut serta. Bagi kilau kekuasaan Allah, sama saja antara atom dan mentari, antara yang parsial dan keseluruhan, antara individu dan spesies, lewat rahasia kejelasan, komparasi, keseimbangan, kepatuhan, dan keteraturan. Bahkan, lewat intuisi dan penyaksian. Pasalnya, kekuasaan Tuhan sebagaimana bekerja pada semisal benang-benang halus juga bekerja pada berbagai kuntum bunga atau buah. Ia merupakan sesuatu yang luar biasa yang andaikan dinisbatkan kepada sebab tentu satu kuntum saja membutuhkan biaya dan beban yang jumlahnya jutaan kali lipat. Kekuasaan Tuhan terlihat lewat menifestasi wujud yang terpantul dari bayangan Tuhan pada lubang jarum di atas lembaran kepingan halus melalui contoh kehidupan alam barzah. Andaikan semua itu dinisbatkan kepada sebab tentu mustahil atau tentu membutuhkan proses yang tak terhingga banyaknya.
Ketahuilah bahwa beningnya wajah kerajaan alam dan malakut membuat kekuasaan Tuhan dalam menciptakannya kehidupan, wujud, dan cahaya tidak tertutup oleh sejumlah perantara yang tebal. Sehingga sebab lahiriah
menjadi sangat tipis di mana qudrat Tuhan menjadi tampak jelas di bawahnya. Siapa yang mencermati perkembangan kehidupan dan cahaya akan melihat kekuasaan Allah di balik berbagai sebab. Pasalnya, kekuasaan tersebut tidak membuat sejumlah kuntum anggur kecuali berupa tangkai yang halus, tidak melukis mentari kecil di serpihan kaca kecuali sebagaimana dengan menjalankan cahaya di lubang jarum, tidak menerangi rumah kecuali lewat benang tipis di dalam kaca.
Jiwa dan akal juga terguncang hebat akibat berbagai penyakit kesesatan yang muncul dari sikap ingkar yang berasal dari rasa aneh dan bingung saat menyandarkan sesuatu kepada diri sendiri dan kepada sebab. Hal itu memaksa jiwa untuk menyelamatkan diri dan berobat dengan cara berlari menuju Zat Yang wajib ada dan esa di mana dengan kekuasaan-Nya semua persoalan menjadi terpecahkan; kehendak-Nya menjadi kunci bagi semua pintu yang tertutup; dan dengan berzikir hati menjadi tenang. Tidak ada tempat untuk selamat kecuali dengan bersimpuh dan berlari menuju Allah seraya berserah diri kepada-Nya. Allah befirman, "Berlarilah menuju Allah!"
{(Catatan-48): Q.S. adz-Dzariyāt: 50.}
"Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang."
{(Catatan-49): Q.S. ar-Ra'ad: 28.}
Hakikat ini membuka celah menuju intuisi yang benar yang bersambung kepada cahaya Islam, yang bersambung kepada penyerahan diri pada jenjang kenabian, serta bersambung kepada cahaya iman kepada Zat yang wajib ada dan esa. Lewat lisan setiap bagiannya, seluruh entitas alam bersaksi, "Hanya Allah. Tiada Tuhan selain Allah."
18. Sebab-sebab lahiriyah yang demikian sederhana ibarat roti dan susu. Sementara, keterbatasannya, keterkaitannya, kepapahannya, kelemahannya, kematiannya, dan kebekuannya, ketiadaan perasaannya, ketidakmauannya untuk
menyaksikan, ilusinya, ketiadaan wujud ilusinya kecuali setelah dilihat, kondisinya yang baru melihat setelah keberadaan akibat bersama lukisannya yang luar biasa berikut kehebatan kreasinya, semua itu ibarat pembentukan untaian sel-sel tubuh sesudah memakan roti. Selanjutnya, goresan lukisan yang tak terhingga yang teratur dan tertulis di memori seolah-olah merupakan berkas yang ditulis oleh Allah dari lembaran amal. Kemudian ia diberikan ke tangan manusia agar ingat saat hisab tiba, serta agar merasa tenang lantaran di balik kehidupan ini terdapat cermin untuk kehidupan yang kekal. Di dalamnya Zat Yang Maha mengetahui menggambar segala sesuatu dengan rapi tanpa ada yang keliru-meski jumlahnya banyak dan bercampur. Tempat gambarnya adalah yang paling sempit karena ada pergerakan, pembentukan huruf dan gambar hayalan ketika berbicara dan berpikir, serta karena ketukan anak lidah dan gerakan otak yang menghasilkan berbagai akibat berkat kekuasaan, pengetahuan, dan kehendak yang tak terhingga.
Hakikat ini mengimplikasikan bahwa tidak ada Zat yang benar-benar mengatur alam kecuali Pencipta Yang Mahakuasa yang kekuasaan-Nya tak terbatas sama sekali. Adapun sebab ia hanyalah argumen yang lemah. Perantara merupakan hijab lahiriyah semata. Karakter dan tabiat yang melekat hanyalah nama dan perlambang bagi kilau manifestasi kekuasaan azali yang bercahaya dan tak terhingga yang mencakup pengetahuan dan kehendak azali tak terbatas. Jadi, keberadaan hubungan dengan kekuasaan tersebut pada hal terkecil sekalipun lebih agung dan lebih besar daripada pegunungan sebab. Pasalnya, kilau kekuasaan Allah bekerja pada semacam benang halus yang mati dan kering sebagaimana ia bekerja pada sejumlah kuntum. Itulah kekuatan yang luar biasa yang andaikan dinisbatkan kepada sebab lalu seluruh sebab berkumpul untuk mendatangkan hal serupa, tentu tidak akan mampu meski mereka saling membantu. Hakikat tersebut juga berarti
bahwa apa yang disebut dengan hukum dan rambu hanyalah nama bagi manifestasi sekumpulan pengetahuan, perintah, dan kehendak atas sesuatu. Hukum hanyalah perintah yang terbentang. Rambu dan sunnah hanyalah kehendak panjang. Hakikat ini membuka celah menuju derajat wajib yang seluruh entitas bersaksi lewat lisan setiap akibat dengan berkata, "Hanya Allah. Tiada Tuhan selain Allah."
19. Ketidakterbatasan goresan kreasi alam yang luar biasa dan perhatian terhadapnya mengimplikasikan adanya kekuatan tak terhingga. Bahkan, setiap bagian darinya juga mengimplikasikan kekuatan tersebut. Jadi, ia menunjukkan bahwa alam ini memiliki Pencipta Yang Mahakuasa. Dia memiliki kekuasaan sempurna yang tak terhingga bagi manifestasi kekuasaan tersebut. Dengan demikian ia sama sekali tidak membutuhkan sekutu. Tidak mungkin ada satu sekutupun bagi kekuasaan-Nya. Jika tidak, maka kekuasaan tak terhingga tadi menjadi terhingga. Hal ini sungguh sangat mustahil. Dari sini bisa dikatakan bahwa kemandirian dan keesaan adalah dua sifat yang melekat secara khusus kepada Tuhan. Tidak ada tempat bagi adanya sekutu kecuali hanya dalam hayalan dan imajinasi.
Pasalnya, ia sama sekali tidak memiliki alasan, dalil, kemungkinan. Tidak ada tanda yang menunjukkan keberadaan sekutu di alam ini. Dari sisi manapun keberadaan sekutu ditanya, jawabannya sangat jelas lewat penampakan stempel tauhid. Penguasa alam hakiki hanya Zat Yang Mahaesa. Rahasianya bahwa entitas termulia dan sebab yang memiliki pilihan terluas, manusia, tidak memiliki kemampuan menampakkan perbuatannya entah itu makan atau berbicara kecuali hanya satu bagian yang masih diragukan dari seratus bagian yang ada. Kalau demikian, apalagi dengan makhluk atau benda mati lainnya? Bagaimana mungkin sapu tangan yang dipakai oleh raja untuk membungkus hadiah menjadi sekutu atau pembantu raja?! Jadi dari sini dapat dikatakan bahwa sebab atau materi me
rupakan hijab bagi kekuasaan Tuhan dan pijakan hikmah-Nya. Hakikat ini membuka celah tembus pandang menuju Zat Yang wajib ada dan esa. Di dalamnya entitas alam bersaksi dengan mengucap, "Hanya Allah. Tiada Tuhan selain Dia."
20. Kerja sama antar nama yang tampak di alam di samping bahwa sebagian nama tersebut mencakup segala sesuatu lewat jejaknya seperti nama al-Alīm (Yang Maha Mengetahui), lalu keikutsertaan dan ketersebarannya pada satu sel sekalipun, keterpantulannya secara total pada segala sesuatu, percampurannya sebagaimana tujuh jenis warna pada sinar mentari, semua itu menunjukkan bahwa substansi nama tersebut adalah Mahaesa, Tunggal, dan Tempat Bersandar. Ia membuka celah menuju Zat yang wajib ada dan esa yang di dalamnya seluruh entitas alam bersaksi lewat lisan yang bercahaya, "Hanya Allah. Tiada Tuhan selain Dia."
21. Hikmah yang bersifat umum yang tampak di alam, baik secara keseluruhan maupun terpisah, yang mengandung tujuan, kesadaran, kehendak, dan pilihan menjadi dalil keberadaan Zat Yang Maha Bijaksana. Pasalnya tidak mungkin perbuatan terjadi tanpa ada pelakunya; serta tidak mungkin pula sebagian dari yang diperbuat menjadi pelaku dari perbuatan tersebut.
22. Perhatian yang sempurna yang tampak terang pada entitas yang berisi hikmah, kelembutan, dan perbaikan menjadi dalil keberadaan Zat Pencipta Yang Maha Pemurah sebab kebaikan tak mungkin terwujud tanpa ada pelakunya.
23. Kasih sayang yang luas yang terhampar pada setiap entitas yang berisi hikmah, perhatian, kebaikan, karunia, kemurahan, cinta dan pengenalan menjadi bukti akan keberadaan Zat Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Pasalnya, tidak mungkin ada sifat tanpa ada pemiliknya. Juga tidak mungkin sifat dan pakaian yang menjangkau seluruh langit dan bumi ini dilekatkan kepada selain-Nya. Mana mungkin makhluk yang mati, singkat, dan hina ini diukur dengan
nilai pakaian dan sifat yang tak terhingga tersebut.
24. Rezeki yang bersifat menyeluruh yang didistribusikan kepada seluruh makhluk dengan beragam kebutuhan mereka yang berisi hikmah, perhatian, kasih sayang, perlindungan, penjagaan, cinta kasih, menjadi bukti keberadaan Zat Pemberi rezeki Yang Maha Penyayang. Pasalnya, tak mungkin ada perbuatan tanpa keberadaan pelakunya, serta tidak mungkin sebagian dari objek perbuatan menjadi pelaku bagi perbuatan tersebut.
25. Makhluk dan kehidupan yang tersebar di alam yang berisi hikmah, pertolongan, kasih sayang, rezeki, kreasi yang cermat, goresan yang halus, kerapian, serta perhatian yang menyerap manifestasi tujuan, pengetahuan, dan kehendak sempurna atasnya, hal itu menjadi bukti keberadaan Zat Yang Mahakuasa, Yang Berdiri sendiri, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan, dan Esa. Pasalnya, segala sesuatu satu dan Penciptanya juga satu. Yang satu tidak bersumber kecuali dari Zat Yang Satu. Pencipta semuanya adalah satu; berbeda dengan kaidah filsafat palsu dan sekuler yang berbunyi, "Yang satu hanya membuahkan satu."
Lima hakikat yang bercampur ini seperti tujuh warna sinar serta lingkaran-lingkaran yang saling berbaur dengan pusat yang sama. Ia dengan jelas menunjukkan bahwa alam ini memiliki Tuhan Yang Mahakuasa, Maha Mengetahui, Bijaksana, Pemurah, Penyayang, Pemberi rezeki, Mahahidup, Berdiri sendiri, serta memiliki sifat-sifat sempurna. Lima hakikat yang bercampur dengan satu cahaya ini membuka celah yang tembus menuju intuisi yang benar yang bersambung kepada Islam, bersambung kepada penyerahan diri pada kenabian, serta bersambung kepada cahaya iman bahwa Dia Allah zat Yang wajib ada dan Mahaesa. Dalam celah tersebut seluruh entitas bersaksi lewat lisan yang memiliki lima irama ini dengan mengucap, "Hanya Allah. Tiada Tuhan selain Dia."
26. Demikian pula dengan bagusnya tampilan yang menunjukkan keberadaan Zat Yang Wajib ada; Zat Pemilik
kebaikan pribadi.
27. Keindahan tersimpan yang tampak pada entitas alam yang terpantul dan menunjukkan keberadaan Zat Yang Mahaindah.
28. Cinta yang tulus yang tampak di hatinya yang menyeru kekasih hakiki.
29. Ketertarikan dan daya tarik yang terasa di dadanya yang memperlihatkan hakikat yang menarik semua rahasia.
30. kesaksian yang terdengar dari "kalangan sempurna" lewat penyaksian mereka bahwa seluruh alam di bawah naungan cahaya Zat Yang Esa merupakan tanda yang terang benderang. Lima hakikat ini menjadi bukti bahwa alam ini memiliki Tuhan Yang Wajib ada yang memiliki sifat agung, indah, dan sempurna. Ia membuka celah yang di dalamnya seluruh entitas bersaksi dengan mengucap, "Hanya Allah. Tiada Tuhan selain Dia."
31. "Aksi-aksi selaras" dan sejalan dengan kemaslahatan yang tampak di seluruh bagian entitas alam yang menunjukkan secara jelas keberadaan Aktor Yang Maha Bijak dan Esa. Pasalnya, tidak mungkin perbuatan terwujud tanpa ada pelaku serta tidak mungkin bagian dari objek perbuatan menjadi pelaku dari perbuatan tersebut.
32 dan 33. "Pergantian yang mengandung tujuan" serta "pengalihan yang memuat hikmah" yang tampak pada berbagai jenis tumbuhan dan hewan, semua itu menunjukkan keberadaan Tuhan Pemelihara Yang Maha Bijaksana.
34. "Perubahan untuk berbagai tujuan" yang tampak di bagian-bagian alam seperti perputaran bumi dengan malam dan siangnya, hal itu menunjukkan keberadaan Pelaku Yang Maha Berbuat terhadap apa yang Dia kehendaki. Pasalnya, tidak mungkin perbuatan tersebut terwujud tanpa ada pelakunya dan tidak mungkin sumber dari perbuatan itu selain Zat yang berkuasa.
35. "Penataan untuk kesempurnaan" yang terlihat di alam menunjukkan secara jelas keberadaan Zat Yang Mahakuasa dan Berdiri sendiri. Pasalnya, tidak mungkin ada penataan
tanpa ada yang menata serta tidak mungkin bagian yang banyak yang merupakan objek menjadi pelaku darinya. Mana mungkin kekuatan laba-laba dapat menjahit pakian yang koyak sebagaimana entitas alam? Mana mungkin makhluk yang buta dan lumpuh bisa merajut pakaian seperti alam ini?
Selain itu, perbuatan, pergantian, pengalihan, perubahan, dan penataan tersebut juga merupakan petunjuk keberadaan Zat yang wajib ada dan esa. Lima hakikat tersebut seperti tujuh sinar mentari, seperti lingkaran yang saling berbaur dan mempunyai pusat yang sama, di mana ia menjadi bukti bahwa alam ini memiliki Tuhan Pengatur Yang Maha Bijaksana Yang Maha melakukan apa yang Dia kehendaki serta Mahakuasa, Maha Berdiri sendiri, dan memiliki sifat-sifat sempurna. Lima hakikat itu membuka celah menuju kedudukan Zat Yang Wajib ada dan Esa lewat cahaya yang sama. Lewat lisan yang memiliki lima suara itu seluruh entitas bersaksi dengan mengucap, "Hanya Allah. Tiada Tuhan selain Dia."
36. Selanjutnya kemunculan entitas baik secara berkelompok maupun sendiri menuntut keberadaan Zat Yang Memunculkan dan Tak bermula. Silih bergantinya entitas secara berkelompok ataupun sendiri-sendiri di antara berbagai kemungkinan yang tak terhingga yang memiliki sifat dan cara kerja masing-masing sesuai dengan kapasitasnya menambah berbagai kemungkinan yang ada. Kemudian ketika ia mengambil bentuk yang teratur dan rapi semacam itu di antara berbagai jalan yang ada menunjukkan keberadaan Tuhan Pemelihara Yang Maha Bijaksana dan Mahakuasa.
37. Berbagai kebutuhan entitas baik secara kelompok maupun pribadi, baik untuk menunjukkan eksistensi maupun untuk mempertahankan diri, baik materil maupun moril, baik dari sisi kehidupan maupun pemikiran, di samping kelemahan yang terdapat pada dirinya dan keterbatasannya dalam memenuhi kebutuhan yang paling minimal, serta peme-
nuhan kebutuhannya di waktu-waktu yang tepat, semua itu mengimplikasikan sekaligus menunjukkan keberadaan Tuhan Pemberi rezeki Yang Maha Pemurah, Pengasih dan Penyayang.
38. Ketidakberdayaan entitas baik secara kelompok maupun pribadi, baik untuk menunjukkan eksistensi maupun untuk mempertahankan diri, baik materil maupun moril, di samping kelemahan diri dan keterbatasannya dalam memenuhi kebutuhan minimalnya, lalu pemenuhannya dari tempat yang tak terduga di saat yang tepat, hal itu mengimplikasikan sekaligus menunjukkan keberadaan Zat Yang Maha Penyayang, Pemurah, Penganugerah, Lembut, dan Kasih.
39. Kepapahan entitas ibarat pohon dan tanah yang kering di musim dingin, sementara penampakan kekuatan di titik lemahnya ibarat kehidupan pohon dan tanah tadi di musim semi. Hal ini menunjukkan keberadaan Zat Yang Mahakuasa yang sama saja bagi-Nya antara atom dan mentari.
40. Kepapahan alam di tengah-tengah terlihatnya jejak dari kekayaan mutlak seperti kemunculan rezeki dari tanah yang kering, hal itu menunjukkan keberadaan Zat Yang Mahakaya. Di antara sel kekayaan rahmat-Nya adalah matahari dan pohon, serta di antara limpahan telaga rahmat-Nya berupa air dan cahaya.
41. Kematian alam di tengah-tengah kemunculan cahaya kehidupan menunjukkan keberadaan Zat Yang Mahahidup, Yang Berdiri sendiri, Yang Menghidupkan, dan Mematikan.
42. Kebekuan dan kebodohan alam di tengah-tengah keberadaan jejak perasaan yang menyeluruh di mana Pemiliknya Maha Mendengar dan Melihat, hal itu menunjukkan eksistensi Zat Yang Maha Mengetahui dan Mengenal.
43. Kefanaan dan perubahan alam secara permanen dan teratur menunjukkan secara pasti keberadaan Zat Yang Merubah dan tak pernah berubah, Yang Permanen dan Kekal.
44. Ibadah bersinar yang dilakukan oleh makhluk yang diterima dan membuahkan hasil serta berisi penyaksian, percakapan, limpahan karunia, dan munajat, semua itu
menunjukkan keberadaan Zat Yang Disembah secara hakiki.
45. Tasbih alam baik yang terucap maupun tak terucap menunjukkan keberadaan Zat yang "seluruh yang terdapat di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya."
{(Catatan-50): Q.S. al-Hasyr: 24.}
Pasalnya, petunjuk fitrah yang benar serta kesaksiannya tak bisa ditolak. Apalagi dengan petunjuk dan kesaksian yang tak terhingga yang dilakukan oleh seluruh pihak yang saling bercampur menjadi satu. Semua itu menunjukkan keberadaan Zat yang, "seluruh yang terdapat di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya" lewat bahasa terucap dan tak terucap serta lewat guratan dahinya.
46. Doa-doa pihak yang membutuhkan yang diterima dan dikabulkan serta yang berpengaruh dan membuahkan, secara tegas menunjukkan keberadaan Zat yang mengabulkan doa pihak yang berada dalam kesulitan.
47. Bersimpuhnya pihak yang mendapat musibah secara langsung ataupun tidak langsung ketika menghadap kepada Pelindungnya dan bahkan kepada Penciptanya, itu menunjukkan keberadaan Zat tempat mengadu pihak-pihak yang berada dalam ketakutan dan pihak yang meminta pertolongan.
48. Penyaksian kalangan mulia yang menembus alam lahir menuju alam batin serta kesepakatan mereka lewat kasyaf (penyingkapan), syuhud (kesaksian), dzauq (perasaan), dan musyahadah (penyaksian) bahwa seluruh alam berada dalam bayangan cahaya zat-Nya, hal itu menunjukkan keberadaan Mentari azali yang seluruh alam merupakan bayangan cahaya-Nya.
49. Berbagai perbuatan yang terlihat jelas berikut manifestasi nama-Nya yang diketahui dan dirasakan seperti tampak memenuhi alam dan angkasa yang mengalir turun dari kedudukan Zat Yang Mahaesa menunjukkan bahwa asal dari perbuatan itu tidak lain berasal dari cahaya-Nya
sekaligus menunjukkan keberadaan Zat Yang Suci yang Melakukan semua perbuatan tadi.
50. Kegoncangan makhluk akibat merasa aneh, asing, dan bingung yang mengantarnya kepada sikap ingkar lalu kepada rangkaian kemustahilan dalam menisbatkan alam kepada dirinya dan sebab, hal ini mendorong akal dan jiwa untuk menyelamatkan diri dari penyakit tadi dengan merealisasikan perintah, "Berlarilah menuju Allah!"
{(Catatan-51): Q.S. adz-Dzāriyāt: 50.}
"Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram."
{(Catatan-52): Q.S. ar-Ra'ad: 28.}
"Kepada Allah semua urusan dikembalikan."
{(Catatan-53): Q.S. Fāthir: 4.}
Itulah Zat yang dengan kekuasaan-Nya muncul penjelasan terhadap segala persoalan dan dengan berzikir mengingat-Nya hati menjadi tenteram. Ya, Zat yang Memberikan pengaruh hakiki terhadap alam hanya Allah.
51. Ketentuan Tuhan yang terlihat secara langsung pada alam inderawi serta dengan penalaran pada alam yang lain menunjukkan keberadaan Zat Yang Menciptakan segala sesuatu sekaligus menentukan ukurannya secara tepat. Pasalnya, alam yang tampak ini baik secara kelompok maupun terpisah memiliki tujuan yang rapi, akhir yang berbuah, serta batas-batas seolah-olah ia merupakan ajal yang telah tertata yang disebut dengan takdir yang terwujud menurut cetakannya. Sebagai contoh engkau bisa melihat tubuhmu dengan segala lekukannya dan tanganmu dengan semua jarinya. Dari ketentuan yang tampak secara langsung ini, ia berpindah kepada ketentuan yang tak terlihat pada segala sesuatu yang bersifat immateri dan abstrak. Ia juga memiliki akhir, batas, dan ajal yang tertata yang merupakan takdirnya. Ia ditulis dengan tangan qadha dan qadar. Qudrat Tuhan menulis kitab tersebut di atas ukuran takdir. Qudrat-Nya merupakan sumber yang
menatap ukuran takdir.
{(Catatan-54): Maksudnya, manifestasi qudrat Allah sesuai dengan ukuran takdir yang terdapat dalam pengetahuan Allah.}
Ini menunjukkan secara tegas keberadaan Zat yang seluruh alam merupakan goresan pena qadha dan qadar-Nya.
52. Seluruh potensi manusia menginformasikan kepada kita bahwa manusia merupakan buah pohon penciptaan. Ia lebih sempurna dan lebih jauh. Wajahnya yang bening mengarah kepada kegelapan dan angkasa ketiadaan yang merupakan bagian dalam dunia. Di dalam potensi tersebut terdapat kecenderungan ibadah yang menginformasikan kepada kita bahwa manusia tidak diciptakan seperti itu untuk kekal di alam fana. Namun, kecenderungan ibadah tadi adalah untuk mengarahkan wajahnya dari kegelapan menuju cahaya, dari ketiadaan menuju ada, dari akhir menuju awal mula, dari fana menuju abadi, dari makhluk menuju khalik. Seolah-olah ibadah merupakan rangkaian hubungan antara akhir dan awal dalam wilayah penciptaan. Lewat lisan ini fitrah bersaksi atas keberadaan Zat Yang Menciptakan makhluk untuk dikenal serta Menciptakan jin dan manusia untuk disembah. Kami beriman.
53. Kondisi mungkin, banyak, serta keterpengaruhan yang terlihat di alam secara otomatis menuntut keberadaan Zat Yang wajib ada dan esa serta berbuat. Hal itu menjadi bukti eksistensi Zat yang wajib ada dan esa Yang Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki. Kami beriman.
54. Tampak di alam ini segala sesuatu bergerak sebelum sampai ke titik kesempurnaannya. Kemudian setelah sampai ia menetap dan stabil. Dari sini dapat dikatakan bahwa wujud menuntut kesempurnaan. Sementara kesempurnaan menuntut adanya kondisi tetap. Maka, keberadaan wujud terlahir lewat kesempurnaan, dan kesempurnaan baru sempurna dengan kondisi permanen. Oleh sebab itu, Zat Yang Wajib ada dan kekal merupakan Yang Maha Sempurna. Segala kesempurnaan makhluk merupakan
bayang-bayang dari manifestasi cahaya kesempurnaan-Nya. Hakikat ini menunjukkan bahwa Allah adalah Zat Yang Maha Sempurna dalam diri-Nya, sifat-Nya, dan perbuatan-Nya. Kami beriman.
55. Apabila lembutnya batin sesuatu yang tampak dari sisi lahirnya menunjukkan bahwa Penciptanya tidak jauh darinya, maka penjagaan-Nya terhadap keteraturan dan keseimbangan segala sesuatu menunjukkan bahwa Dia juga tidak terdapat di dalamnya. Apabila melihat ciptaan menunjukkan bahwa Penciptanya Maha Mengetahui dan Bijaksana, maka melihat kepada-Nya bersama yang lain menunjukkan bahwa Penciptanya Maha Mendengar dan Melihat. Hakikat ini menunjukkan wajibnya keberadaan Sang Pencipta yang tidak terdapat di dalam alam dan tidak berada di luar. Di samping itu Dia juga terdapat di bagian paling dalam sebagaimana juga berada di bagian yang paling luar. Di samping melihat sesuatu; maka terlihat bersama-Nya segala sesuatu. Kami beriman.
Dua puluh hakikat yang menyatu ini seperti warna pelangi dan seperti lingkaran yang saling berbaur dalam satu titik. Ia merupakan tanda terang yang menunjukkan bahwa alam ini memiliki Pemelihara Yang Tak bermula dan wajib ada. Dia Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, Maha Berkehendak, Mahakuasa, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemberi rezeki, Mahakaya, Mahahidup, Maha Berdiri sendiri, Maha Mengetahui, Mahakekal, dan Zat yang disembah. "Seluruh yang terdapat di langit dan di bumi bertasbih memuji-Nya."
{(Catatan-55): Q.S. al-Hasyr: 24.}
"Dia mengabulkan doa orang yang dalam kesulitan."
{(Catatan-56): Q.S. an-Naml: 62.}
Dia juga tempat berlindung bagi orang yang takut dan tempat meminta pertolongan. Seluruh entitas alam merupakan bayang-bayang cahaya-Nya, manifestasi nama-Nya, dan jejak perbuatan-Nya. Dengan berzikir mengingat-Nya hati menjadi tenang. Kepada-Nya seluruh urusan dikembali-
kan. Dia menciptakan jin dan manusia agar mereka beribadah kepada-Nya. Dia mengatur alam dengan hukum qadha dan qadar-Nya. Dia Zat Yang Wajib ada dan Mahaesa. Dia Maha Sempurna dalam zat, sifat, dan perbuatan-Nya. Dia Mahahalus, Maha Mengetahui, Maha Mendengar, dan Maha Melihat. Kedua puluh hakikat ini lewat cahaya yang tertata membuka celah yang melihat melalui sejumlah wajah, sisi, dan posisi kepada kesimpulan yang benar, yang bersambung kepada cahaya Islam, bersambung kepada kepatuhan terhadap kenabian, serta bersambung kepada keyakinan bahwa Dia Allah adalah Zat Yang Wajib ada dan Mahaesa. Lewat lisan yang memiliki dua puluh suara ini alam bersaksi dengan mengucap, "Allah. Tiada Tuhan selain Dia."
Ketahuilah bahwa tiada Tuhan selain Allah dengan segala dalilnya yang tertulis menegaskan konsep "tiada daya dan kekuatan selain dengan pertolongan Allah."
Juga perlu diketahui bahwa kesaksian tiada Tuhan selain Allah dengan segala petunjuk yang telah disebutkan mengharuskan keberadaan Muhammad sebagai utusan Allah. Sebagaimana berisi lima pilar iman, Muhammad utusan Allah juga menjadi manifestasi dan cermin sifat rububiyah. Karena itulah ia selalu menyertai dan mengimbangi kalimat "tiada Tuhan selain Allah" dalam neraca iman. Perhatikan baik-baik! Lalu karena kenabian merupakan manifestasi sifat rububiyah ia menjadi komprehensif dan integral. Sementara, kewalian bersifat khusus dan parsial. Jika dibandingkan dengan kenabian, ia seperti sifat "Tuhan Pemelihara semesta alam" dan "Tuhanku", seperti arasy dan kalbu, seperti "tangga yang membentang dari bumi menuju atas arasy yang melewati sejumlah kerajaan dan alam malakut" dan tangga mukmin dalam sujudnya.
Catatan:
Perlu diketahui bahwa sejumlah dalil yang menunjukkan tujuan tinggi ini seperti wilayah yang mengelilingi sentral. Setiap titik dari area tersebut ibarat celah yang dengan warna khususnya menatap kepada sentral. Di antara titik-titik itu terdapat kerja
sama yang melenyapkan kelemahan setiap individu. Dari sejumlah petunjuk lahir sebuah intuisi yang benar yang bersambung kepada cahaya Islam, kemudian bersambung kepada kepatuhan pada kenabian, dan bersambung kepada cahaya iman kepada-Nya. Berbagai petunjuk yang ada merupakan sumber yang menghasilkan intuisi tadi. Kelemahan individu bisa hilang lewat rahasia kerja sama. Kelemahan individu tidak membuatnya hilang atau tak terlihat. Ia hanya membuatnya tidak merdeka dan tak menjadi pegangan. Penghapusan individu tidak melenyapkan wilayah yang ada; namun membuatnya menjadi kecil. Pasalnya, cahaya Islam tetap tegak. Ia diikuti dengan sikap patuh terhadap kenabian. Setelah itu, terdapat cahaya iman yang terus abadi. Maka, mencari kejelasan Tujuan yang demikian kuat yang berlandaskan sejumlah petunjuk dari setiap individu adalah dengan membersihkan akal dari penyakit jiwa yang bisa semakin sakit akibat sikap menolak dan ingkar. Ya Allah, jagalah kami! Pertama-pertama satu petunjuk menjadi sarana untuk menatap Tujuan. Kemudian model dari keseluruhan makhluk terserap sehingga berbagai ilusi berjatuhan. Perlu diketahui bahwa di antara petunjuk ada yang seperti air, ada pula yang seperti udara, dan ada yang seperti cahaya. Posisi menghadap harus dilakukan dengan halus dan lembut. Namun, jika dengan sikap rakus, mendalam, dan menyentuhkan jari ia akan mengalir, lenyap, dan hilang.
{(Catatan-57): Penjelasan tentang petunjuk-petunjuk tersebut dalam bunga taman Alquran dan dalam memoar kesepuluh dari cahaya ketujuh belas.}
Selanjutnya perlu diketahui bahwa melihat pohon yang memiliki banyak cabang, ranting, dan buah guna mengetahui kehidupan, rasa, dan tingkat kekuatannya terbagi dua:
Pertama, melihat dari sisi pangkal. Ini merupakan cara melihat yang mudah, sederhana, lurus, dan kokoh.
Kedua, melihat dari sisi buah dan cabang. Cara melihat semacam ini tanpa melihat kepada pangkalnya adalah cara yang keliru yang mengantarkan kepada kesesatan.
Demikian pula ketika melihat pohon Islam. Pangkalnya berada di langit dan rantingnya tersebar di cakrawala. Untuk mengetahuinya terdapat dua cara. Serta untuk masuk ke dalam wilayahnya terdapat dua jalan:
Cara Pertama
Melihat dari pangkal. Apabila orang yang mendapat taufik melihat kepada pangkal, ia akan melihat telaga besar yang memiliki sumber suci yaitu wahyu ilahi. Telaga tersebut semakin bertambah lewat curahan ayat-ayat yang terdapat di cakrawala dan jiwa. Dari telaga itu muncul materi dan nutrisi bagi kehidupan buahnya. Membuktikan kehidupan satu buah sudah cukup untuk membuktikan keberadaan saudara-saudaranya. Bahkan ia juga cukup untuk membuktikan kehidupan pohon tersebut. Membuktikan kehidupan buah sangat mudah dan cepat bisa dilakukan dengan hanya melihat. Sementara, melenyapkan dan menghapuskan kehidupannya sangat sulit dan sukar selama masih bersambung dan selama akarnya tidak tercabut. Andaikan di saat itu kebetulan melihat ada sejumlah buah yang mati, maka kematiannya dinisbatkan kepada sebab-sebab eksternal. Ini merupakan pandangan imani dan islami yang lurus, mudah, dan mengarah kepada kenabian. Ya Allah, anugerahi kami jalan tersebut dan teguhkan kami di dalamnya.
Cara Kedua
Sakit yang menjadi sumber kesesatan dan keragu-raguan adalah melihat dari sisi buah secara kritis. Cara melihat semacam ini membutuhkan pembuktian pada setiap buahnya karena tidak ada keterpautan. Menetapkan keberadaan satu buah serta menyambungkan dengan nutrisinya adalah sulit. Ia membutuhkan sesuatu yang dibutuhkan oleh pangkal. Sebaliknya, ia cepat lenyap di mana hal itu bisa terwujud hanya dengan sesuatu yang paling sederhana. Andaikan secara kebetulan terdapat buah yang mati dan kering, hal tersebut langsung dinisbatkan kepada pangkal yang dianggap telah mati. Semoga Allah melindungi kita dari cara melihat semacam ini. Hanya saja, andaikata cara melihat seperti ini merupakan lanjutan dari cara melihat
yang pertama tentu sangat baik dan membuat hati tenang.
Said Nursi
PENUTUP BAHASAN INI TENTANG EMPAT PENYAKIT
{(Catatan-58): Pada (C1) terdapat empat penyakit menyesatkan.}
1. Putus Asa
Perlu diketahui bahwa apabila engkau takut terhadap siksa, lalu tidak mendapat taufik untuk beramal, sehingga engkau berangan-angan siksa tidak ada dengan mencari sesuatu yang bisa menafikannya di mana tanda-tanda yang menafikannya kau anggap sebagai dalil dan setan pun menyeretmu, dalam kondisi demikian hadirkan hati untuk memperhatikan firman Allah berikut,
Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Allah mengampuni dosa-dosa semua. Dia-lah yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang."
{(Catatan-59): Q.S. az-Zumar: 53.}
2. Ujub (Bangga diri)
Ya, wahai manusia! Engkau putus asa dan mencari sandaran dalam menghadapi siksa. Kemudian, engkau melihat
kebaikan yang terdapat pada diri. Dalam kondisi demikian, engkau terjatuh pada kesesatan lewat pintu ujub. Padahal, sama sekali engkau tidak memiliki kesempurnaan. Renungkanlah!
Wahai manusia, wujud yang kau tempati sekarang ini bukanlah ciptaan-Mu yang layak kau miliki. Ia juga bukan barang temuan yang boleh diambil. Ia pun bukan hasil dari sebuah proses kebetulan atau berasal dari sebab-sebab yang mati yang boleh diambil begitu saja. Ia bukan barang murah yang tidak penting dan tidak berguna yang diabaikan oleh pemiliknya sehingga engkau dapat mengambil alih kepemilikannya. Namun, wujud ini dengan segala keajaiban kreasinya dan keindahan lukisannya menunjukkan bahwa ia muncul dari tangan Pencipta Yang Maha Bijaksana, Yang Berkuasa atasnya.
Tidakkah engkau melihat bahwa jutaan aksi dan perubahan yang terdapat di alam ini tidak berada dalam kendalimu kecuali hanya satu bagian saja yang masih diragukan di mana ia bisa menjadi dalil yang akan memberatkanmu.
Tidakkah engkau melihat bahwa dirimu merupakan sebab yang paling mulia dan paling bisa memilih. Di antara perbuatan disengaja yang paling tampak darimu adalah makan dan berbicara, sementara di dalam keduanya yang berada dalam kendalimu hanya satu bagian dari seratus bagian yang ada.
Karakter tersempit yang kau miliki adalah kebebasan memilih, sementara indera terluasmu adalah imajinasi. Padahal imajinasi tersebut tidak mampu menjangkau akal dan hasil-hasilnya. Kalau demikian, bagaimana mungkin engkau memasukkannya ke dalam wilayah pilihanmu sekaligus bangga dengannya?!
Masih banyak lagi perbuatan yang terjadi pada dirimu dan atasmu yang berada di luar kesadaranmu padahal ia bisa dirasakan. Penciptanya tentu saja Zat Pemilik kesadaran Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat; bukan engkau dan bukan pula sebab-sebab yang buta dan tuli. Engkau tidak boleh merasa memiliki dan tidak boleh mengaku dan menganggap diri ini sebagai sumber kebaikan. Sebaliknya, engkau harus mengakui kalau dirimu lemah dan penuh kekurangan. Pasalnya, dengan
dengan pilihanmu yang keliru, gambaran curahan kesempurnaan yang terlimpah kepadamu menjadi berubah. Engkau harus mengakui kalau fisik yang kau tempati adalah telanjang dan amanah. Sementara engkau hanyalah musafir kelana. Kebaikan yang ada padamu merupakan pemberian, sementara keburukanmu adalah hasil milikmu. Karena itu, engkau harus berujar, "Milik-Nya segala kerajaan dan pujian. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah."
3. Lupa Diri
Di antara bentuk penyakitmu adalah lupa diri. Dengan itu, ketika melihat tokoh-tokoh generasi terdahulu, mereka demikian kecil dalam pandanganmu. Kebaikan petunjuk mereka tidak tampak bagimu. Engkau diuji dengan berbagai ilusi yang terus berubah-ubah terkait dengan perilaku mereka. Lihatlah mereka dari dekat, pasti engkau akan melihat mereka sebagai orang-orang besar yang dapat menyingkap dalam empat puluh hari sesuatu yang tidak dapat kau singkap dalam empat puluh tahun.
4. Buruk Sangka
Di antara penyakitmu yang lain adalah buruk sangka. Biasanya orang lapar mengira orang lain juga lapar. Karena penyakit dan sifat riya yang kau miliki, engkau berburuk sangka kepada tokoh-tokoh generasi terdahulu. Dengan sikap meremehkan, engkau telah membalik siang menjadi malam atas dirimu semata.
Ya Allah lindungi kami dari sikap putus asa, buruk sangka, ujub, dan lupa diri. Amin.
Kemudian saat melakukan perjalanan di bagian dalam bumi engkau bisa menyaksikan sejumlah hakikat berikut:
Hakikat Pertama
Bahwa kelalaian terhadap Sang Pemilik hakiki merupakan sebab munculnya jiwa firaun dalam diri manusia. Ia menganggap diri sebagai pemilik sehingga dalam anggapannya ia mempunyai
kekuasaan. Lalu ia mengukur manusia bahkan semua sebab kepada diri sendiri. Ia menentang hukum-hukum ilahi dan melawan ketentuan Tuhan. Padahal, ia sengaja diberi sifat ego dengan hikmah agar menjadi neraca dalam memahami sifat-sifat ilahi. Namun, ia telah keliru dengan mempergunakan bukan pada tempatnya.
Wahai yang melihat!
Hakikat yang detil dan halus ini terlihat lewat keberadaannya yang demikian jelas. Engkau melihat bahwa "ego" dalam diri manusia yang tumbuh lewat air kelalaian merupakan "titik hitam" yang menjadi standar untuk memahami Penciptanya yang tidak memiliki sekutu; baik dalam kerajaan, pemeliharaan, maupun uluhiyah-Nya.
Pasalnya, pengetahuan manusia tentang sesuatu bersifat relatif dan analogis. Pemahaman tentang sifat-sifat Allah yang mencakup dan tak terbatas terwujud lewat asumsi keberadaan batasan. Dalam hal ini "ego" telah mengabaikan batasannya. Ia menghayalkan batasan yang ada lalu membuat analogi dan memahami. Setelah itu ia kembali kepada batasannya. Maka, anggapan tentang keberadaan batasan tadi itupun hilang.
Seperti telah disebutkan bahwa diri ini bukan merupakan milik sendiri dan bukan pula milik tubuhnya. Ia juga bukan barang temuan atau hasil dari sebuah proses kebetulan. Ia tidak terbentuk dengan sendirinya. Namun, ia sebuah mesin ilahi yang halus dan menakjubkan. Setiap waktu pena ilahi lewat qada dan qadar bekerja di dalamnya.
Karena itu, wahai jiwa!
Buanglah segala pengakuan dusta! Serahkan kepemilikannya kepada Pemilik hakiki. Hendaknya engkau jujur dalam menjaga amanah tersebut.
Wahai jiwa, engkau bukan pemilik dirimu. Jika mengaku sebagai pemilik, tentu Engkau yang mencipta dan menghadirkan tubuh ini. Atau, ia diciptakan oleh sebab yang kemudian kau rampas. Bagaimana mungkin engkau mencipta, sementara engkau sendiri adalah saudara kambing (sebagai makhluk)?
Bagaimana mungkin kambing mengaku telah menciptakan
tubuhnya, sementara ia merupakan saudaranya delima?!
Lalu, bagaimana mungkin delima menciptakan benihnya sendiri?!
Kemudian bagaimana mungkin buah yang terdapat di pohon menciptakan pohonnya?!
Jika memang demikian adanya, engkau boleh mengaku sebagai pemilik dirimu
Pada sisi lain, ciptaan menyeru dengan suara yang paling nyaring bahwa ia merupakan ciptaan Zat Yang Maha Mengetahui, Bijaksana, Mendengar, dan Melihat lewat sebuah sistem dan neraca. Sementara, sebab adalah sesuatu yang buta, tuli, dan mati. Semakin terkumpul dan menyatu, ia semakin buta dan tuli. Pasalnya, menyatunya penyakit buta dan tuli hanya menambah buta dan tuli. Keberadaan sebab jika dinisbatkan ke tubuh sama seperti cawan obat di apotek yang dinisbatkan kepada racikan obat yang memiliki khasiat istimewa di mana ia diambil dari masing-masing bahan dengan ukuran yang jelas tanpa ditambah dan dikurangi. Jika bertambah atau berkurang sedikit saja, khasiatnya berkurang. Apabila bahan-bahan kimiawi tadi bisa keluar dengan sendirinya dari setiap botol tanpa ada yang mengontrol padahal ukurannya berbeda-beda lalu racikan itu terwujud sendiri, maka engkau boleh menyatakan bahwa tubuh ini telah kau ambil dan kau miliki dari "tangan sebab".
Hakikat kedua
Ketahuilah wahai jiwa yang memerintahkan kepada keburukan! Engkau memiliki dunia yang berupa istana luas yang dibangun sesuai harapan, ketergantungan, dan kebutuhanmu kepada alam. Batu pertama dari istana tersebut serta pilar pertama darinya adalah eksistensi dan kehidupanmu. Hanya saja, pilar tersebut sangat lemah dan setiap waktu bisa rusak. Tubuh ini tidak kekal, tidak berasal dari besi, atau batu. Ia berasal dari daging dan darah yang setiap waktu bisa berpisah. Ketika itulah engkau meninggalkan dunia. Duniamu akan hancur. Karena itu, lihatlah masa lalu. Ternyata ia kuburan luas yang telah hancur berisi orang-orang mati yang sebelumnya seperti dirimu. Masa
depan juga merupakan kuburan luas yang akan sama sepertinya. Saat ini engkau berada dalam tekanan dua kubur. Kalau kemarin merupakan kuburan ayah, maka esok adalah kuburanku. Aku juga berada di antara dua kubur. Meski hanya satu, di dalam dunia ini terkumpul dan berbaur dunia milik setiap orang. Ia merupakan sosok yang utuh. Siapa yang mati, berarti kiamatnya telah tiba.
Hakikat ketiga
Aku telah menyaksikan bahwa dunia dengan seluruh kenikmatannya merupakan beban yang berat dan ikatan yang hanya disenangi oleh orang sakit yang jiwanya rusak. Ia bergantung kepada alam, membutuhkan sebab, mendekati sejumlah perantara, dan berdiri di antara berbagai tuhan yang buta dan tuli. Padahal seharusnya ia mengarah kepada Tuhan Yang Mahaesa, Mendengar, dan Melihat yang jika engkau bergantung pada-Nya, Dia akan mencukupimu.
Hakikat Keempat
Ketahuilah wahai diri bahwa rangkaian kreasi ilmiah yang terdapat dalam kepalamu, berbagai perbuatan penuh sadar yang bersambung dengan egomu, serta sarana bantuan dan keperluan yang kau raih dengan perasaan butuh, semua itu menunjukkan bahwa Pencipta dan Pelindungmu mendengar rintihan kepapahanmu sehingga Dia merasa kasihan dengannya. Maka, lewat anugerah dan karunia-Nya manusia mengenal-Nya. Pasalnya, Sang Pencipta menolong dan menyambut seruan kebutuhan semua sel yang terdapat dalam dirimu. Bagaimana tidak, sementara Dia mendengar dan melihat doamu.
Wahai sel besar yang bernama "aku" yang terdiri dari sejumlah sel. Ucapkan, "Wahai ilahi, wahai Tuhan, wahai Penciptaku, wahai Pelukisku, wahai Pemilikku, wahai Tuanku, wahai Majikanku, Engkau yang memiliki kerajaan dan segala pujian. Aku musafir dalam simpanan, amanah, dan milik-Mu yang berupa tubuh ini."
Wahai "aku", mengapa engkau merasa memiliki sesuatu
yang bukan milikmu? Buang segala pengakuan batil itu. Pasalnya, ketika engkau merasa memiliki, engkau akan merasa sangat sakit. Perhatikan bagaimana kasih sayang menjadi hiasan jiwa. Andaikan ia dibangun di atas prasangkamu tersebut, tentu ia akan menjadi derita.
Contohnya apabila engkau melihat anak yatim seorang diri yang lemah dan miskin yang mempunyai sebuah rumah kecil di mana begitu banyak derita yang ia alami, tentu engkau merasa sakit dengan penderitaannya. Andaikan kondisinya bertambah parah, tentu engkau juga bertambah sedih dan lara. Namun, kalau engkau melihat salah seorang pasukan raja, rumahnya terbakar atau kendaraannya dirampas orang, engkau tidak akan sedih dengannya. Pasalnya, aset tersebut milik raja yang tidak akan terpengaruh sama sekali dengan kejadian tersebut serta pasukan itupun tidak akan merasa sangat terpukul dengan lenyapnya rumah tadi. Pasalnya, ia bukan miliknya; namun milik orang kaya yang hartanya lenyap oleh satu sebab. Jadi, rasa kasihan terhadap makhluk Allah adalah dilihat dari posisinya sebagai makhluk Allah. Ketika rasa kasihan itu bertambah, jiwa ini semakin tenang. Sebaliknya, rasa kasihan yang bersumber dari kelalaian dan dibangun di atas landasan rasa memiliki, ketika bertambah sedih, jiwa inipun semakin sakit dan kalbu semakin terpukul karena rasa duka.
Demikianlah pandangan yang dilandasi oleh iman dan tauhid. Ia melihat semua makhluk berbuat sebagaimana orang yang disewa di atas kapal milik raja yang bisa berbuat apa saja sesuai kehendaknya. Pandangan semacam ini tidak melihat semut dan lebah yang kecil dan lemah melawan berbagai sebab yang menyerangnya. Namun, ia melihat semut dan lebah tadi berbuat di kapal darat dan udara dengan kendali yang bersambung kepada kekuasaan Zat Yang Mahakuasa. Seluruh sebab yang menyerang menjadi kecil dalam pandangan orang yang menaiki keduanya. Semut dan lebah melawan berbagai sebab-betapapun besarnya-dengan bersandar pada kekuatan Pemiliknya yang hakiki.
Ucapan yang diucapkan ketika musibah datang, "Innā
lillāh wa innā ilayhi rā'ji'ūn" bermakna, "Harta ini adalah miliknya, aku berada dalam kendali-Nya, dan kepada-Nya aku kembali. Selama tidak berbuat salah tidak ada beban bagiku." Perumpamaannya seperti seorang pasukan yang diserang oleh sejumlah orang untuk mengambil harta raja yang berada di tangannya. Orang itu berkata, "Aku dan harta ini ini milik raja dan akan menuju kepadanya. Jika memang dengan ijin-Nya tidak ada beban bagiku." Namun, apabila ia melihat dengan pandangan merasa memiliki, belas kasihan yang ada berubah menjadi api yang membakar. Pasalnya, seluruh makhluk seperti yatim yang disebutkan di atas. Yang tampak di alam adalah upacara duka.
Bab Kedua
Subhānallāh (Mahasuci Allah)
{(Catatan-60): Penjelasan tentang bab kedua ini yang terkait dengan subhānallāh terdapat dalam Cahaya Kedua puluh sembilan dan dalam sejumlah Risalah Nur. Karena itu, penjelasan di sini bersifat singkat (Penulis).}
Bismillāhirrahmānirrahīm
Mahasuci Allah Zat Yang Mahakuasa secara mutlak dengan kekuasaan-Nya sendiri, Yang Mahakaya, Yang Mahabersih dari segala kelemahan dan kebutuhan.
Mahasuci Allah Yang Maha Sempurna baik dalam zat, sifat, maupun perbuatan-Nya; Yang Mahabersih dari segala kekurangan dan cacat. Sebab, kesempurnaan makhluk menunjukkan kesempurnaan perbuatan-Nya. Dia memiliki nama-nama sempurna, sifat-sifat sempurna, dan zat yang sempurna. Bahkan seluruh kesempurnaan dan keindahan yang terdapat dalam entitas dan ciptaan adalah bayangan dari kesempurnaan dan keindahan-Nya berdasarkan intuisi yang benar, argumen yang kuat, dan kesepakatan rombongan mulia yang bersifat mutawatir melalui kasyaf, perasaan, dan penyaksian. Semua sepakat bahwa kesempurnaan entitas; bahkan seluruh alam, merupakan bayangan dan cahaya dari Zat Yang Wajib ada.
Mahasuci Allah Yang Mahaesa Yang Mahabersih dari segala sekutu. Tiada sekutu bagi-Nya; entah dalam kerajaan-Nya melalui keesaan makhluk yang menunjukkan keesaan Penciptanya; atau dalam uluhiyah-Nya yang mengharuskan kondisi tunggal, esa, dan berdiri sendiri.
Mahasuci Allah Yang Mahakuasa dan azali yang bersih dari keberadaan pembantu dan menteri. Pasalnya, kekuasaan-Nya yang sempurna tidak terbatas dan tidak terhingga.
Mahasuci Allah Yang tak bermula dan azali, yang tidak serupa dengan makhluk.
Mahasuci Allah Zat Yang Wajib ada yang tidak membutuhkan esensi makhluk yang bersifat mungkin.
Mahasuci Allah yang memiliki perumpamaan terbaik di langit dan di bumi. Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana, jauh dari sejumlah gambaran yang diberikan oleh berbagai keyakinan batil, oleh berbagai ilusi dusta, serta bersih dari segala kekurangan. Pasalnya, ia berasal dari tiada atau menuju tiada. Bagaimana mungkin ia bersambung dengan Zat Yang Wajib ada?!
Mahasuci Allah Zat Yang Mahakekal yang tidak berubah dan tidak pernah berganti; dua keadaan makhluk yang tak mungkin melekat pada-Nya.
Mahasuci Allah Pencipta alam dan seluruh tempat yang tidak memihak dan terbagi; dua kondisi yang tidak mungkin dimiliki Zat Yang Mahakaya.
Mahasuci Allah yang tak bermula dan kekal, yang bersih dari sifat baru dan lenyap.
Mahasuci Allah Zat Yang Wajib ada yang tidak bertempat atau menyatu dengan makhluk, tidak terbatas dan terhingga, tidak beranak dan diberanakkan. Mahasuci Allah dari semua perkataan orang-orang zalim itu.
Mahasuci Allah yang seluruh malaikat bertasbih kepada-Nya. Demikian pula dengan semua yang terdapat di langit dan di bumi sesuai dengan goresan pena ketentuan yang terdapat padanya.
Bab Ketiga
Segala Puji Milik Allah (al-Hamdulillāh)
{(Catatan-61): Bab penting tentang alhamdulillah telah ditulis secara panjang lebar dalam bahasa Arab, "Tafakkur imani yang mulia" (Cahaya Kedua puluh sembilan). Karena itu di sini ia hanya dijelaskan secara singkat (penulis).}
Bismillāhirrahmānirrahīm
Segala puji milik Allah, Zat yang seluruh alam dengan semua lisannya baik yang terucap maupun yang tak terucap memuji dan menyanjung-Nya dengan menampakkan sifat-sifat-Nya yang sempurna. Seluruh alam dengan semua spesies, pilar, anggota, bagian, atom, dan eternya, lewat lisan kemunculannya, kebutuhannya, kepapahannya, hikmahnya, ciptaannya, keteraturannya, keseimbangannya, kesempurnaannya, ibadah dan tasbihnya merupakan lisan yang bertasbih mengucap seluruh sifat keagungan-Nya bahwa Dia Allah Zat Yang Wajib ada yang tak bermula, kekal, abadi, esa, tunggal, Maha Perkasa, Mahagagah, Mahabesar, dan Maha Memaksa. Seluruh alam juga memuji dengan menuturkan sifat-sifat indah-Nya seraya berkata bahwa Tuhan kami Maha Pengasih, Penyayang, Pemberi rezeki, Pemurah, Dermawan, Kasih, Halus, Baik, dan Indah. Di samping
itu, ia mengingat dan menyebut sifat-sifat sempurna-Nya dengan mengakui secara terucap maupun tak terucap bahwa, "Pencipta dan Pemilik kami adalah Zat Yang Mahahidup, Berdiri sendiri, Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, Mahakuasa, Maha Berkehendak, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Berbicara, dan Maha Menyaksikan. Iapun menjadi lisan yang menyebut nama-nama-Nya yang mulia yang termanifestasikan di seluruh entitas alam.
Selanjutnya, segala puji milik Allah yang seluruh entitas berikut semua yang terdapat di dalamnya memuji-Nya, bertasbih kepada-Nya, dan menyanjung-Nya dengan memperlihatkan sifat-sifat-Nya yang sempurna. Sebab, kitab besar dengan seluruh bab, pasal, lembaran, baris, kalimat, dan hurufnya, lewat hikmah dan penciptaannya dengan sifat dan lukisannya, masing-masing sesuai dengan kadar yang telah ditentukan merupakan manifestasi dan cermin beragam dari penampakan sifat-sifat agung-Nya, cahaya sifat indah-Nya, kilau sifat sempurna-Nya, dan sinar nama-nama-Nya yang mulia.
Segala puji milik Allah atas nikmat wujud yang merupakan kebaikan murni, atas nikmat hidup yang merupakan bentuk kesempurnaan wujud, serta atas nikmat iman yang merupakan bentuk kesempurnaan hidup; bahkan sumber kehidupan.
Segala puji milik Allah atas cahaya iman yang melenyapkan enam sisi kegelapan dari diri kami, yang menerangi sisi atas dan diri kami, yang bersinar dengan berisi enam cahaya, serta menjadi sumber tiga kilau yang memantul dari mentari makrifatullah.
Segala puji milik Allah atas nikmat iman kepada Allah. Pasalnya, dengan nikmat tersebut jiwa terbebas dari gelapnya ketiadaan dan kesendirian serta dari duka yang mendalam. Juga dari berbagai derita dan nestapa yang tak terhitung banyaknya.
Segala puji milik Allah atas cahaya iman yang memperlihatkan diri kepada kami sebagai Zat tempat berlindung, Zat Yang berbuat baik, Yang Maha Pemurah, Yang Mahakasih, Yang Maha Penyayang. Pasalnya, iman adalah penerang kehidupan abadi kami dan pemberi kabar gembira yang menyinari kebahagiaan abadi kami. Ia mencakup titik kebergantungan dan
kesinambungan. Ia juga menghijab tempat duka yang tampak di alam. Ia menghapus rasa sakit akibat berpisah dengan berbagai kenikmatan dengan memperlihatkan rotasi makhluk semisal. Ia mengekalkan nikmat dengan penampakan pohon ternak.
Di samping itu, cahaya iman merubah sesuatu yang dianggap sebagai musuh yang asing, mati, dan buas menjadi teman dan saudara yang hidup dan jinak.
Selanjutnya cahaya iman menggambarkan seluruh alam, serta dunia dan akhirat sebagai tempat yang dipenuhi rahmat yang menjadi hadiah bagi setiap mukmin yang benar. Mukmin bisa mengambil manfaat dari semua hadiah tadi lewat sarana dan inderanya yang demikian berlimpah. Ia juga berhak dan wajib mengucap, "Segala puji bagi Allah atas seluruh ciptaan-Nya." Ia wajib untuk tidak rida jika makhluk yang tidak memiliki apa-apa menjadi tuhan yang disembah, yang dicinta, dan dituju.
Segala puji milik Allah, Tuhan Pemelihara semesta alam atas rahmat-Nya bagi semesta alam yang tidak lain adalah Muhammad saw. Pasalnya, dengan kehadiran beliau dan risalahnya cahaya seluruh agama yang sebelumnya padam oleh filsafat menjadi tegak kembali.
Demikian pula, dengan risalah beliau berbagai hal yang Allah diridai menjadi terlihat, serta umat manusia mendapat petunjuk kepada iman yang merupakan cahaya alam.
Segala puji milik Allah atas nikmat Islam; agama yang Allah ridhai. Pasalnya, Islam yang memperlihatkan kepada kami sesuatu yang diridhai, dikehendaki, dan dicintai oleh Tuhan kami, Tuhan semesta alam, serta Tuhan pemelihara langit dan bumi.
Segala puji milik Allah atas cahaya iman yang demikian terang dengan cahaya bismillāhirrahmānirrahīm. Orang yang memuji Allah harus melihat dari nikmat kepada Zat Pemberi nikmat sehingga tampak bahwa Dia lebih melihat kepadanya dan lebih dekat darinya. Dia berkenalan dengan nikmat tadi, mengasihi dengan cara berbuat baik, mendekat dengan sifat murah-Nya pada manusia. Manusia baru dikatakan bersyukur apabila bisa merasakan hal tersebut.
Bab Keempat
Allah Mahabesar (Allāhu Akbar)
Bab ini terbagi dua: bagian pertama sangat singkat, sementara bagian kedua berisi penjelasan yang cukup luas.
Bagian Pertama
Bismillāhirrahmānirrahīm
Allah Mahabesar daripada segala sesuatu. Pasalnya, Dia Mahakuasa atas segala sesuatu dengan kekuasaan yang tak terhingga dari berbagai aspeknya. Bagi-Nya sama saja antara atom dan bintang, antara sebagian dan keseluruhan, antara individu dan spesies sesuai dengan firman-Nya,
Allah tidak menciptakan dan membangkitkan kalian (dari dalam kubur) melainkan hanya seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja.
{(Catatan-62): Q.S. Luqman: 28.}
Ya, atom, bagian, dan individu sama mudahnya dengan bintang, spesies, dan keseluruhan.
Allah Mahabesar. Pasalnya, Dia Maha mengetahui segala sesuatu dengan pengetahuan yang tak terhingga dilihat dari berbagai aspeknya yang melekat pada diri-Nya.
{(Catatan-63): Sama seperti melekatnya cahaya yang mengitari mentari. Allah memiliki perumpamaan yang paling mulia}
Karena itu, tidak ada satupun yang terlepas dari-Nya. Hikmah komprehensif, perhatian yang menyeluruh, perasaan yang mencakup, ketentuan yang rapi, takdir yang berlaku, ajal yang telah ditentukan, rezeki yang ditetapkan, kasih sayang yang beragam, dan perhatian yang indah, semuanya menjadi saksi atas pengetahuan-Nya yang meliputi segala sesuatu sesuai dengan bunyi firman-Nya,
Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu tampakkan atau rahasiakan)?! Dia Mahahalus dan Maha Mengetahui.
{(Catatan-64): Q.S. al-Mulk: 14.}
Allah Mahabesar. Pasalnya, Dia Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Seluruh entitas berkutat di antara berbagai kemungkinan yang tak terhingga. Kemudian pengaturannya dengan bentuk semacam ini, keseimbangannya, serta penciptaan beragam hal yang tertata indah-seperti pohon, daun, bunga, dan buah-dari asal yang sedehana, semua itu menunjukkan kehendak-Nya yang bersifat menyeluruh. Hal itu sesuai dengan kaidah, "Apa yang Dia kehendaki terwujud, sementara yang tidak Dia kehendaki tak terwujud."
Allah Mahabesar. Apabila engkau bertanya, "Mengapa dan siapa Dia?" Jawabannya, Dia adalah mentari azali yang seluruh entitas merupakan bayangan cahaya-Nya, manifestasi dari nama-Nya, serta jejak dari perbuatan-Nya seperti pernyataan seluruh kalangan yang telah menyaksikan.
Allah Mahabesar daripada segala sesuatu. Apabila engkau bertanya, "Mengapa dan siapa Dia?" jawabannya, Dia adalah Penguasa azali yang menata seluruh entitas dengan ketetapan sunnah-Nya, konstitusi qadha dan qadar-Nya, rambu-rambu
kehendak dan hikmah-Nya, penampakan perhatian dan kasih sayang-Nya, serta manifestasi nama dan sifat-sifat-Nya. Ketetapan dan rambu tersebut tidak lain merupakan nama bagi manifestasi keseluruhan pengetahuan, perintah, dan kehendak-Nya atas berbagai hal.
Allah Mahabesar. Apabila engkau bertanya, "Mengapa dan siapa Dia?" Jawabannya, Dia adalah Pencipta azali yang alam besar ini merupakan hasil kreasi dan penciptaan-Nya. Sementara, alam kecil ini merupakan bangunan dan celupan-Nya. Di celah-celah antara kedua penciptaan tersebut; bahkan di keseluruhan bagiannya terdapat petunjuk atas-Nya.
Allah Mahabesar. Apabila engkau bertanya, "Mengapa dan siapa Dia?" jawabannya, Dia adalah Pelukis azali yang seluruh entitas merupakan goresan pena qadha dan qadhar-Nya, serta goresan busur hikmah-Nya, buah dari limpahan rahmat-Nya, hiasan tangan perhatian-Nya, bunga kelembutan kemurahan-Nya, serta cahaya manifestasi keindahan-Nya.
Catatan:
Kaidah dari ketiga bab di atas, petunjuknya dapat diketahui secara cermat yang pada kondisinya terdapat sejumlah ketentuan.
Allah Mahabesar. Apabila engkau bertanya, "Mengapa dan siapa Dia?" Jawabannya, Dia adalah Zat Yang Mahakuasa azali yang seluruh entitas merupakan mukjizat kekuasaan-Nya. Mukjizat tersebut menjadi saksi bahwa Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak keluar dan tidak akan keluar sesuatupun dari ketentuan qudrat-Nya. Bagi-Nya sama saja antara atom dan mentari.
Allah Mahabesar. Apabila engkau bertanya, "Siapa Dia?" Jawabannya, Dia adalah Pencipta segala sesuatu. Dia Pemberi rezeki seluruh makhluk. Dia Pemberi nikmat bagi semua karunia. Dia Maha Penyayang baik di dunia maupun di akhirat. Di antara bentuk kasih sayang-Nya yang besar adalah kehadiran Muhammad saw dan sorga. Dia pemelihara segala sesuatu, Pengatur segala sesuatu, dan Pendidik segala sesuatu.
Allah Mahabesar. Apabila engkau bertanya, "Siapa Dia?"
Jawabannya, Dia adalah Pelukis segala sesuatu, Yang Maha Berbuat terhadap segala sesuatu, serta Pengatur alam ini.
Allah Mahabesar. Dia tidak bisa dijangkau oleh akal pikiran, serta bersih dan jauh dari kekurangan dan kelemahan.
Allah Mahabesar daripada segala sesuatu. Sesuatu yang diperuntukkan bagi-Nya lebih besar, lebih tinggi, lebih baik, dan lebih utama. Serta sesuatu yang dengan-Nya lebih agung dan lebih mulia.
Catatan:
Kalimat penuh berkah ini yang diucapkan berulang-ulang setelah salat menjadi saksi bahwa ia bukan merupakan pengulangan, namun merupakan penetapan atau pengokohan maknanya di mana ia saling menopang; tidak satu.
Misalnya, engkau melempar sebuah batu ke tengah-tengah telaga besar. Ketika melihat lingkaran yang terbentuk dari hasil lemparan itu engkau berkata, "Luas, luas, dan luas." Setiap kali engkau mengutarakan kata luas, lingkaran itu tampak semakin luas. Di samping itu, ia menguatkan maknanya, serta menetapkan buah dan hasilnya.
Barangkali engkau bertanya, "Apa makna Allah Mahabesar dari segala sesuatu? Apa nilai dari makhluk sehingga Tuhan lebih besar darinya? Di mana para pencipta dan penyayang selain Allah sehingga dikatakan bahwa Dia Pencipta terbaik di antara seluruh pencipta dan Paling penyayang di antara mereka yang penyayang?"
Jawabannya: yang berasal dari-Nya tentu lebih besar dan lebih tinggi. Milik-Nya tentu lebih bagus dan lebih utama. Yang bersama-Nya tentu lebih agung dan lebih mulia. Secara Zat Dia lebih besar dari semua yang dibayangkan oleh akal manusia. Demikian pula Dia harus lebih besar dan lebih penting di hati kalian daripada segala tujuan dan keinginan kalian. Dia lebih besar, tidak mungkin tertutupi dan terhijab oleh hijab alam.
Adapun maksud dari keberadaan-Nya sebagai Pencipta terbaik dari seluruh pencipta yang ada adalah bahwa dalam zat-
Nya Dia lebih baik dari seluruh pencipta yang terdapat dalam cermin akal lewat manifestasi sifat Pencipta padanya sama seperti mentari yang terdapat di cermin. Mentari adalah cahaya yang contoh-contoh sinarnya terdapat dalam cermin. Dia juga lebih baik dilihat dari kedudukan-Nya yang wajib ada ketimbang pencipta lain yang hanya terdapat dalam imajinasi. Selanjutnya Dia adalah Pencipta terbaik yang tidak terhijab oleh sebab. Karena itu Dia harus menjadi tempat menghadap; tanpa peduli kepada berbagai sebab lahiri.
Allah Mahabesar dan Mahagung; tak terjangkau oleh akal pikiran. Dia Mahatinggi; jauh dari kekurangan dan kelemahan. Dia juga Mahasempurna mutlak baik pada zat, sifat, dan perbuatan-Nya.
Penjelasan Bab Keempat
Sejumlah Kedudukan Allah Akbar
Bagian kedua
Kami akan menyebutkan tujuh dari tiga puluh tiga kedudukan Allahu akbar. Bagian penting darinya telah disebutkan dalam bagian dua dari surat kedua puluh (al-Maktūb al-Isyrun), di bagian akhir kondisi kedua dari kalimat ketiga puluh dua (al-kalimat ats-Tsāniyah wats-Tsalātsūn), serta di permulaan kondisi ketiga darinya. Siapa yang ingin melihat hakikat dari kedudukan ini bisa merujuk kepada sejumlah risalah tersebut.
Kedudukan Pertama
Bismillāhirrahmānirrahīm
Katakanlah, "Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya. Dia
bukan pula hina yang memerlukan penolong. Agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya."
{(Catatan-65): Q.S. al-Isrā: 111.}
Kami sambut panggilan-Mu ya Allah. Allah Mahabesar dari segala sesuatu baik dalam hal kekuasaan maupun pengetahuan. Pasalnya, Dia Pencipta, Pembuat, dan Pelukis yang telah mencetak manusia dengan kekuasaan-Nya sebagaimana semua entitas. Dia menulis entitas dengan pena kekuasaan sebagaimana menulis manusia dengan pena tersebut. Sebab, alam yang besar itu sama seperti alam yang kecil ini. Ia merupakan ciptaan kekuasaan-Nya. Dia menciptakan alam dan kemudian menjadikannya sebagai masjid, sementara Dia menciptakan manusia dan menjadikannya sebagai makhluk yang bersujud. Setelah mencipta alam, Dia menjadikannya sebagai kerajaan. Sementara, setelah membuat manusia Dia menjadikannya sebagai pelayan. Setelah menciptakan alam Dia menjadikannya sebagai sebuah kitab. Sementara, setelah mencelup manusia jadilah ia sebagai mitra bicara. Kekuasaan-Nya terhadap alam memperlihatkan kemuliaan-Nya, sementara kasih sayang-Nya terhadap manusia merupakan bagian dari nikmat-Nya. Kebaikannya yang terdapat di alam memperlihatkan bahwa Dia esa, sementara nikmat-Nya dalam diri manusia memperlihatkan bahwa Dia tunggal. Tanda-Nya di alam terdapat baik pada setiap bagian maupun pada keseluruhannya baik dalam diam maupun saat bergerak. Sementara, stempel-Nya terdapat pada manusia baik pada tubuh maupun seluruh anggota badan, baik dalam bentuk sel maupun atom.
Karena itu, perhatikanlah tanda-tanda kekuasaan-Nya yang demikian rapi. Engkau akan melihat kedermawanan-Nya disertai keteraturan mutlak, dalam waktu yang sangat cepat yang disertai keseimbangan mutlak, dalam bentuk yang sangat mudah disertai kerapian mutlak, dalam kelapangan disertai bagusnya penciptaan, dalam jarak yang sangat jauh disertai kecermatan mutlak, dalam percampuran disertai keistimewaan mutlak, dan dalam kemudahan yang disertai kemahalan mutlak. Semua yang tampak ini menjadi bukti bagi orang berakal yang mau menelaah,
sekaligus meluruskan pandangan orang dungu yang munafik untuk menerima kreasi dan keesaan Tuhan Yang Maha Berkuasa dan Maha Mengetahui.
Pada keesaan terdapat kemudahan, sementara dalam banyak tuhan dan sekutu terdapat kesulitan luar biasa. Apabila segala sesuatu dinisbatkan kepada Tuhan Yang Mahaesa, maka seluruh entitas seperti pohon kurma, sementara kurma sendiri seperti buah yang penciptaannya sangat mudah. Sebaliknya, apabila ia dinisbatkan kepada banyak tuhan, pohon kurma seperti alam, sementara buahnya seperti pohon dilihat dari tingkat kesulitannya. Pasalnya, dengan satu perbuatan, Zat Yang Mahaesa bisa mewujudkan hasil dan buah bagi banyak hal tanpa ada kesulitan sama sekali. Andaikan buah dan hasil tersebut dinisbatkan kepada banyak tuhan ia baru bisa terwujud dengan begitu banyak kesulitan dan pertentangan seperti pemimpin bersama pasukannya, bumi bersama sejumlah planet, air mancur bersama tetesannya, titik pusat dan sejumlah titik di sekitarnya.
Hal itu sesuai dengan kenyataan bahwa dalam keesaan, penisbatan tegak di atas kekuasaan yang tak terbatas. Sebab atau makhluk tidak perlu memikul sumber-sumber kekuatannya sehingga entitas menjadi besar akibat bernisbat kepada-Nya. Sebaliknya, dalam keberadaan sekutu masing-masing sebab atau makhluk dipaksa untuk memikul sumber-sumber kekuataannya sehingga menjadi kecil dan hina. Dari sini kita memahami mengapa semut dan lalat bisa mengalahkan para tiran serta benih kecil bisa memikul pohon yang besar.
Ia juga sesuai dengan kenyataan bahwa dalam menisbatkan segala sesuatu kepada Zat Yang Mahaesa proses penciptaannya tidak terjadi dari tiada. Namun, penciptaan tersebut adalah bentuk peralihan entitas dari batini menuju wujud lahiri. Sama seperti peralihan bentuk yang tampak di cermin pada lembaran pas photo guna menegaskan wujud lahiriahnya dengan sangat mudah. Sebaliknya, menisbatkan segala sesuatu kepada sebab dan banyak tuhan mengharuskan penciptaan dari tiada. Jika tidak mustahil, minimal ia merupakan sesuatu yang jauh lebih sulit. Kemudahan dalam keesaan sampai pada tingkat wajib, sementara
kesulitan dalam banyak tuhan sampai pada tingkat mustahil. Dalam keesaan kreasi dan penciptaan bisa berasal dari tiada. Artinya, penciptaan entitas dari tiada tanpa membutuhkan waktu dan materi, sementara dalam keberadaan sekutu dan banyak tuhan penciptaan tidak mungkin berasal dari tiada seperti pandangan seluruh kaum yang berakal. Kehadiran makhluk hidup harus dengan cara mengumpulkan atom yang bertebaran di bumi dan sejumlah unsur. Tanpa cetakan batini maka untuk melindungi atom-atom tersebut di tubuh makhluk harus terdapat pengetahuan yang bersifat menyeluruh dan kehendak pada setiap atom.
Di samping itu, keberadaan sekutu sama sekali tidak dibutuhkan dan mustahil dilihat dari lima sisi yang saling menyatu. Keberadaan sekutu tersebut tidak bisa dibenarkan. Tidak ada petunjuk atau tanda pada entitas yang menunjukkan keberadaannya. Pasalnya penciptaan langit dan bumi mengharuskan kekuasaan sempurna yang tak terbatas sehingga sekutu tak dibutuhkan. Jika tidak berarti kekuasaan tadi menjadi terbatas. Hal ini sangat mustahil dilihat dari lima aspek. Tidak ada petunjuk atau tanda yang menunjukkan keberadaan sekutu yang mustahil tersebut pada satupun entitas.
Persoalan ini telah kami jelaskan dalam kondisi pertama dari kalimat ketiga puluh dua, "Dari partikel sampai ke Planet" serta pada kondisi kedua, "Dari langit menuju manifestasi lahiriah." Semua itu memberikan jawaban dan sanggahan terhadap keberadaan sekutu dengan memperlihatkan tanda tauhid.
Di samping tidak memiliki sekutu, Dia juga tidak memiliki pembantu dan menteri. Sebab-sebab duniawi tidak lain merupakan hijab halus yang membungkus aksi kekuasaan azali. Sebab sama sekali tidak memiliki pengaruh dalam penciptaan. Pasalnya, sebab yang paling mulia dan paling berkehendak, manusia, pada saat melakukan sejumlah perbuatan yang disengaja seperti makan berbicara, dan berpikir, ia tidak memiliki kekuasaan apa-apa kecuali satu bagian yang masih diragukan dari seratus bagian yang ada. Jika manusia saja demikian lemah untuk melakukan
perbuatan di atas seperti yang kau ketahui, apalagi dengan binatang dan benda-benda mati. Bagaimana mungkin mereka akan menjadi sekutu Tuhan Pencipta langit dan bumi dalam proses penciptaan dan pemeliharaan?! Sebagaimana kotak tempat raja menyimpan hadiah, sapu tangan untuk membungkus pemberian, atau pasukan yang diutus untuk mengirimkan nikmat tidak mungkin menjadi sekutu raja dalam kekuasaan-Nya, demikian pula tidak mungkin sebab yang diutus untuk mengirimkan nikmat kepada kita, kotak yang merupakan tempat menyimpan berbagai karunia, serta barang tempat membungkus hadiah menjadi pembantu atau perantara yang ikut memberikan pengaruh.
Kedudukan Kedua
Allah Mahabesar dari segala sesuatu dari sisi kekuasaan dan pengetahuan-Nya. Pasalnya, Dia Maha Mencipta, Maha Mengetahui, Maha Membuat, Maha Bijaksana, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang yang seluruh entitas bumi dan benda-benda langit yang terdapat di alam merupakan mukjizat kekuasaan-Nya. Tumbuhan yang berwarna-warni, indah, dan tersebar di mana-mana serta binatang yang beragam dan bertebaran di muka bumi merupakan ciptaan luar biasa Zat Yang Maha Bijaksana. Bunga yang merekah dan buah yang indah yang terdapat di kebun merupakan anugerah rahmat Zat Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Semua bersaksi, menyeru, dan berkata bahwa Pencipta ini, Pelukis itu, serta Pemberi bagi semua berkuasa atas segala sesuatu dan mengetahui segala sesuatu. Kasih sayang dan pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu. Bagi kekuasaan-Nya sama saja antara atom dan bintang, antara yang sedikit dan yang banyak, antara yang kecil dan yang besar, antara yang terhingga dan tak terhingga. Semua yang terjadi di masa lalu dan berbagai hal luar biasa merupakan mukjizat kreasi Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana. Mereka bersaksi bahwa Sang Pencipta tersebut Mahakuasa atas segala kemungkinan dan hal luar biasa yang terjadi di masa mendatang. Sebab, Dia Maha Pencipta, Maha Mengetahui, Maha Perkasa, dan Maha Bijaksana.
Maka, Mahasuci Zat yang telah menjadikan taman buminya sebagai galeri ciptaan-Nya, tempat berkumpul fitrah-Nya, orbit hikmah-Nya, tempat tumbuh rahmat-Nya, ladang kebun-Nya, jalan bagi para makhluk-Nya, saluran entitas, serta ukuran ciptaan.
Binatang yang indah, burung yang terukir, pohon yang berbuah, tumbuhan yang berbunga merupakan mukjizat pengetahuan-Nya, kreasi-Nya yang luar biasa, hadiah kedermawanan-Nya, serta bukti karunia-Nya.
Senyum bunga dari balik hiasan buah, kicau burung di waktu pagi, rintik hujan di atas bunga, serta kasih sayang ibu terhadap anaknya yang kecil merupakan bentuk perkenalan Zat Yang Mahakasih, cinta Zat Yang Maha Penyayang, kasih Zat Yang Maha Memberi terhadap jin dan manusia, terhadap ruh dan binatang, terhadap malaikat dan jin. Lalu, benih dan buah, biji dan bunga merupakan mukjizat hikmah, anugerah kasih sayang, bukti keesaan, dalil kelembutan-Nya di negeri akhirat, serta petunjuk yang jujur bahwa Penciptanya Mahakuasa dan Maha Mengetahui segala sesuatu. Dia memenuhi segala sesuatu dengan kasih sayang, pengetahuan, penciptaan, pengaturan, kreasi, dan gambaran. Mentari seperti benih, bintang seperti bunga, bumi seperti benih. Proses penciptaan dan pengaturan, kreasi dan pembentukan tidaklah berat bagi-Nya. Benih dan buah merupakan cermin keesaan, petunjuk ketentuan, lambang kekuasaan bahwa entitas yang demikian banyak itu bersumber dari satu. Mereka muncul sebagai saksi bagi keesaan Tuhan dalam berkreasi dan membentuk. Selanjutnya mereka juga mengingatkan hikmah Tuhan dalam mencipta dan menata. Mereka menjelaskan bahwa Pencipta semua makhluk, lewat tatapan-Nya yang menyeluruh, juga melihat kepada setiap bagian. Pasalnya, jika berupa buah itulah tujuan yang paling jelas dari penciptaan pohon ini. Manusia adalah buah dari entitas alam. Ia merupakan tujuan utama Sang Pencipta. Kalbu seperti atom. Ia merupakan cermin cahaya milik Pencipta makhluk. Dari sini, manusia yang paling kecil di alam ini merupakan orbit utama dari kemunculan, pengumpulan, pengrusakan, pergantian, peralihan, dan perbaikan seluruh
entitas alam. Allah Mahabesar. Wahai Yang Mahabesar, Engkau Zat yang akal tak mampu menjangkau hakikat keagungan-Nya. Zat yang "tiada Tuhan selain Dia" menghampiri segala sesuatu. Mereka selalu meminta dan menyeru, "Wahai Yang Mahahidup."
Kedudukan Ketiga
{(Catatan-66): Kedudukan ketiga ini mengambil bunga yang indah sebagai pelajaran. Musim semi ibarat bunga dan kebun besar. Keduanya merupakan manifestasi kedudukan ini. Sebagaimana alam seperti manusia yang indah dan agung, demikian pula dengan bidadari, makhluk metafisik, dan spesies binatang. Semuanya seperti manusia yang indah yang setiap lembarannya memantulkan nama-nama yang dipantulkan oleh kedudukan ini.}
Penjelasannya terdapat di pangkal kondisi ketiga dari kalimat ketiga puluh dua.
Allah Mahabesar daripada segala sesuatu dilihat dari kekuasaan dan pengetahuan-Nya. Pasalnya, Dia Mahakuasa, Maha menentukan, Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, Maha Membentuk, Mahamulia, Mahalembut, Maha Menghias, Maha Memberi nikmat, Mahakasih, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Mahaindah, Maha Sempurna, dan Pelukis azali yang hakikat seluruh entitas, baik secara keseluruhan maupun setiap bagiannya, merupakan goresan pena qada dan qadar-Nya lewat pengaturan, penetapan, pengetahuan, dan hikmah-Nya. Ia merupakan goresan pena pengetahuan dan hikmah-Nya lewat kreasi dan gambaran-Nya. Ia merupakan dekorasi hasil kreasi, gambaran, hiasan, dan penerangan-Nya lewat kelembutan dan kemurahan-Nya. Ia merupakan bunga kelembutan sifat halus, baik, dan kasih-Nya lewat rahmat dan nikmat-Nya. Ia merupakan hasil curahan rahmat, nikmat, kasih sayangnya lewat keindahan dan kesempurnaan-Nya. Ia merupakan kilau keindahan dan kesempurnaan abadi lewat kesaksian cermin fana di mana keindahan tersebut terus eksis sepanjang musim dan waktu serta nikmat-Nya terus tercurah sepanjang perjalanan manusia, hari, dan tahun.
Ya, lenyapnya cermin dan entitas dengan manifestasi dan nikmat Tuhan yang terus mengalir merupakan petunjuk yang paling jelas dan bukti yang paling terang bahwa keindahan lahiri
dan kesempurnaan yang ada bukan milik mereka. Ia merupakan penjelasan yang fasih dan argumen paling nyata yang menunjukkan keindahan murni milik Zat Yang wajib ada, Yang Mahakekal, dan Mahakasih.
Ya, jejak yang sempurna menunjukkan adanya perbuatan yang sempurna. Perbuatan yang sempurna menunjukkan adanya Nama dan Pelaku yang sempurna. Kemudian Nama yang sempurna sudah pasti menunjukkan sifat yang sempurna. Sifat yang sempurna menunjukkan kondisi yang sempurna. Lalu kondisi yang sempurna menunjukkan kesempurnaan Zat sesuai dengan keberadaan-Nya. Itulah keyakinan yang benar.
Kedudukan Keempat
Dia Mahabesar. Pasalnya, Dia Mahaadil, Maha Menetapkan, dan Mahabijak yang bangunan pohon alam ini Dia bangun dalam masa enam hari dengan pilar-pilar kehendak dan hikmah-Nya. Dia mengurainya lewat ketentuan qada dan qadar-Nya, menata dengan hukum kebiasaan dan sunnah-Nya, menghias dengan rambu-rambu perhatian dan rahmat-Nya, menyinari dengan manifestasi nama dan sifat-Nya lewat bukti keteraturan ciptaan-Nya, hiasan entitas-Nya, kemiripannya, keselarasannya, keharmonisannya, kerjasamanya, serta kerapian kreasi dalam segala sesuatu sesuai dengan kapasitas potensinya yang telah ditentukan lewat penetapan qadar.
Hikmah menyeluruh dalam menata alam, perhatian komprehensif dalam menghiasnya, rahmat yang luas dalam melembutkannya, rezeki yang mencakup dalam memeliharanya, kehidupan yang menakjubkan lewat manifestasinya terhadap sifat-sifat Tuhan, indahnya tujuan dalam memperbagus penampilannya, kesinambungan manifestasi keindahan yang terpantul bersamaan dengan ketiadaannya, cinta yang jujur yang terdapat dalam kalbu terhadap Tuhan yang disembahnya, kesepakatan seluruh kalangan mulia atas keesaan Penciptanya, tindakan yang mengandung kemaslahatan terhadap setiap bagiannya, penataan yang bijak bagi tumbuhannya, pemeliharaan yang mulia terhadap hewannya, keteraturan yang sempurna dalam berbagai per-
ubahan pilarnya, tujuan besar dalam keteraturan keseluruhannya, kemunculan seketika bersamaan dengan kesempurnaan kreasinya tanpa membutuhkan jangka waktu dan materi, diagnosa yang bijak disertai ketakterbatasan frekuensi kemungkinannya, pemenuhan kebutuhannya yang demikian banyak dan beragam pada waktu yang tepat dari tempat yang tak disangka dan tidak dirasa padahal ia tidak mampu meski untuk memenuhi kebutuhan terkecilnya, kekuatan mutlak dalam sumber kelemahannya, kekuasaan mutlak dalam mata air ketidakberdayaannya, kehidupan lahiriah dalam kematiannya, perasaan yang menyeluruh dalam ketidaktahuannya, keteraturan yang sempurna dalam berbagai perubahannya yang mengharuskan keberadaan Perubah yang tidak berubah, kesepakatan tasbihnya yang diterima melalui tiga seruanya: lewat lisan potensinya, lisan kebutuhan alamiahnya, dan lisan keterpaksaannya, munajat, kesaksian, dan limpahan karunia dalam ibadahnya, keteraturan terkait dengan ketentuannya, rasa tenteram dengan berzikir mengingat Penciptanya, posisi ibadah yang merupakan benang penyambung antara akhir dan awalnya, serta yang menjadi sebab wujud kesempurnaanya, semua itu menjadi saksi bahwa seluruhnya mengikuti pengaturan Sang Pengatur yang bijaksana dan esa. Semua berada dalam pemeliharaan Pemelihara yang pemurah dan esa. Semua merupakan pelayan dari satu majikan dan berada dalam kendali satu zat. Sumber mereka adalah kekuasaan yang satu yang stempel keesaan-Nya tampak dan menyebar pada semua tulisan-Nya dalam setiap lembaran entitas.
Ya, setiap bunga dan buah, setiap tumbuhan dan pohon, bahkan setiap hewan dan batu, setiap debu dan awan, pada semua lembah dan gunung, serta pada setiap lembah dan padang pasir terdapat stempel yang memiliki ukiran dan jejak yang jelas yang memperlihatkan kepada pandangan yang cermat bahwa Pemilik jejak tersebut adalah penulis tempat itu disertai sejumlah pelajaran. Dia Penulis di permukaan daratan dan di dalam lautan. Dia Pelukis mentari dan bulan dalam lembarang langit yang mengandung pelajaran. Sungguh Allah Mahabesar.
"Tiada Tuhan selain Allah" lebih agung dari seluruh alam.
Kedudukan Kelima
Allah Mahabesar. Pasalnya, Dia Pencipta Yang Mahakuasa, Yang Maha Membentuk, dan Maha Melihat di mana benda-benda langit dan bintang merupakan cahaya petunjuk uluhiyah dan keagungan-Nya, kemilau bukti rububiyah dan kemuliaan-Nya. Mereka bersaksi dan mengakui kekuasaan Tuhan, mengakui keluasan hukum dan hikmah-Nya, serta atas keagungan qudrat-Nya.
Perhatikan ayat yang berbunyi,
Apakah mereka tidak melihat langit yang berada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikan dan menghiasinya?!
{(Catatan-67): Q.S. Qāf: 6.}
Kemudian tataplah langit bagaimana engkau akan melihat kondisi diam dalam ketenangannya, gerak yang penuh hikmah, cahaya yang indah, senyum yang ceria, disertai keteraturan dan keseimbangan ciptaan. Cahaya lenteranya yang untuk mengganti musim, sinar lampunya yang untuk menerangi alam, gemerlap bintangnya yang untuk menghias dunia, memperlihatkan kepada orang berakal sebuah kekuasaan yang tak terhingga dalam menata alam ini.
Itulah Sang Pencipta Yang Mahakuasa atas segala sesuatu dan berkehendak dengan kehendak yang komprehensif. "Apa yang Dia kehendaki pasti berlaku, sementara yang tidak Dia kehendaki takkan berlaku." Dia Mahakuasa atas segala sesuatu dengan kekuasaan yang mutlak dan mencakup. Sebagaimana wujud mentari di hari ini tidak mungkin tanpa cahaya dan hawa panas, demikian pula wujud Tuhan Pencipta langit dan bumi tak mungkin tanpa pengetahuan yang mencakup dan kekuasaan yang bersifat mutlak. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu dengan pengetahuan yang mencakup. Pengetahuan tersebut sudah pasti terpaut dengan segala sesuatu. Tidak mungkin ada satupun yang terlepas sesuai dengan kehadiran, penyaksian, dan kekuasaan-Nya.
Keteraturan yang seimbang, keseimbangan yang teratur, hikmah yang bersifat menyeluruh, perhatian yang sempurna, ketentuan yang telah tertata, qada yang membuahkan, ajal yang telah ditentukan, rezeki yang telah dikodifikasi, perhatian yang telah dihiaskan, puncak keistimewaan, keteraturan kerapian, dan kemudahan mutlak menjadi saksi atas komprehensifnya pengetahuan Tuhan Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Ayat yang berbunyi, "Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu tampakkan atau rahasiakan)?! Dia Mahahalus dan Maha Mengetahui"
{(Catatan-68): Q.S. al-Mulk: 14.}
menunjukkan bahwa wujud yang terdapat pada sesuatu mengharuskan pengetahuan terhadapnya, cahaya wujud yang terdapat pada sesuatu mengharuskan adanya cahaya pengetahuan terhadapnya. Indahnya ciptaan manusia menunjukkan perasaannya, sementara penciptaan manusia sendiri menunjukkan pengetahuan Penciptanya. Perbandingan antara keduanya sama seperti cahaya bintang di malam hari dan sinar mentari pada siang hari di muka bumi. Di samping Maha mengetahui segala sesuatu, Dia juga Maha berkehendak atas segala sesuatu. Sesuatu tidak mungkin terwujud tanpa kehendak-Nya.
Sebagaimana kekuasaan Tuhan memberikan pengaruh dan pengetahuan-Nya memberikan ciri, demikian pula dengan kehendak-Nya. Ia memberikan karakter sehingga kemudian keberadaan sesuatu terwujud. Bukti keberadaan kehendak dan pilihan-Nya sebanyak kondisi dan keadaan sesuatu.
Ya, pengaturan entitas serta pemberian tanda lewat sifat-sifatnya di antara berbagai kemungkinan tak terhingga dan jalan-jalan yang tak berbuah di bawah kendali pengaturan yang rumit dan halus; pengukurannya dengan neraca yang sensitif dan cermat; penciptaan makhluk yang beragam dan memiliki kehidupan lewat benda mati seperti manusia berikut organnya yang berasal dari sperma, burung berikut anggota badannya yang berasal dari telur, pohon berikut bagian-bagiannya yang berasal dari benih, semua itu menunjukkan kekhususan dan penentuan sesuatu lewat keinginan, pilihan, dan kehendak-Nya.
Kesamaan antara setiap sesuatu dengan jenisnya dan setiap anggota dengan spesiesnya dalam organ-organ utama menunjukkan bahwa Penciptanya adalah satu. Demikian pula perbedaannya dalam bentuk penuh hikmah yang mencakup tanda-tanda pembeda yang demikian teratur menunjukkan bahwa Sang Pencipta yang esa itulah yang berbuat, memilih, dan sekaligus berkehendak. Dia melakukan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia inginkan.
Sebagaimana Sang Pencipta Yang Maha Mengetahui dan Berkehendak mengetahui dan berkehendak atas segala sesuatu di mana Dia memiliki pengetahuan yang menyeluruh, kehendak yang komprehensif, dan pilihan sempurna, Dia juga memiliki kekuasaan sempurna yang bersumber dari diri-Nya sendiri. Mustahil ada sifat berlawanan masuk ke dalamnya. Jika tidak, tentu hal-hal yang berlawanan tersebut bersatu. Ini tentu mustahil. Selanjutnya kekuasaan Tuhan tidak bertingkat-tingkat. Sama saja bagi-Nya antara atom dan bintang, antara yang sedikit dan yang banyak, antara yang kecil dan yang besar, antara yang sebagian dan keseluruhan, antara manusia dan alam, antara benih dan pohon. Hal ini sesuai dengan rahasia cahaya, kesepadanan, keseimbangan, keteraturan, dan keserupaan lewat bukti keteraturan mutlak, keseimbangan mutlak, keistimewaan mutlak, yang terjadi dengan sangat cepat, mudah, dan banyak. Hal ini berkat kemudahan dan manifestasi keesaan serta karena hikmah keberadan-Nya yang wajib, tunggal, dan berbeda dengan entitas. Juga berkat rahasia eksistensi-Nya yang tidak terikat, tidak berpihak, dan tidak terbagi karena hikmah berbaliknya rintangan dan hambatan menjadi sarana yang memberikan kemudahan manakala diperlukan. Dia sama sekali tidak membutuhkan sesuatu seperti syaraf manusia atau rel kereta untuk memindahkan curahan karunia-Nya yang halus. Pasalnya, atom, partikel, sesuatu yang sedikit, kecil, manusia, dan benih sama saja bagi Allah dengan bintang, spesies, benda yang banyak, besar, alam, dan pohon. Zat yang menciptakan hal pertama tidak sulit untuk menciptakan hal yang kedua. Menyalin quran hikmah yang tertulis pada inti sesuatu lewat atom eter hampir sama
dengan menyalin quran agung yang tertulis pada lembaran langit lewat tinta bintang dan mentari. Demikian pula penciptaan lebah dan semut hampir sama dengan penciptaan kurma dan gajah. Penciptaan bunga mawar hampir sama dengan penciptaan kilau bintang. Demikian seterusnya. Apabila proses penciptaan sesuatu yang sangat mudah itu membuat kaum yang sesat menganggap sesuatu terbentuk dengan sendirinya di mana hal ini melahirkan berbagai kemustahilan yang tidak diterima akal bahkan sulit diterima oleh ilusi manusia, tidak demikian dengan ahlul haq dan penggenggam kebenaran. Terbukti bagi mereka bahwa planet dan atom memiliki kedudukan yang sama jika dikembalikan kepada Sang Pencipta, Allah Swt. Tiada Tuhan selain Dia.
Kedudukan Keenam
{(Catatan-69): Andaikan kedudukan keenam ini ditulis sebagaimana kedudukan lainnya, tentu akan sangat panjang. Pasalnya, kitab induk yang nyata (lauhil mahfudz) tidak mungkin dijelaskan dengan singkat. Rangkuman darinya telah kami sebutkan dalam kalimat ketiga puluh. Karena itu, di sini kami hanya menjelaskan secara global. Hanya saja, di tengah-tengah pelajaran kami berikan sedikit penjelasan (penulis).}
Allah Mahabesar dari segala sesuatu dilihat dari sisi kekuasaan dan pengetahuan-Nya. Pasalnya, Dia Mahadil, Mahabijak, Mahakuasa, Maha Mengetahui, Mahaesa, dan Penguasa azali. Seluruh alam berada dalam genggaman penataan dan neraca-Nya, pengaturan, keseimbangan, keadilan, hikmah, pengetahuan, dan qudrat-Nya. Manifestasi rahasia keesaan-Nya terlihat lewat intuisi nyata; bahkan dengan penyaksian. Tidak ada sesuatupun di alam ini yang keluar dari wilayah tatanan dan neraca-Nya serta pengaturan dan penyeimbangan-Nya. Keduanya merupakan pintu bagi "lauhil mahfudz". Keduanya merupakan tanda pengetahuan Zat Yang Maha Mengetahui dan Bijaksana, serta tanda kekuasaan dan kehendak Zat Yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang. Tatanan dan neraca tersebut terdapat dalam lauhil mahfudz sebagai dua dalil yang bersinar bagi mereka yang mau memperhatikan dan melihat bahwa tidak ada sesuatu di alam
maupun dalam perputaran zaman yang keluar dari genggaman kekuasaan, pengaturan, dan neraca Tuhan.
Kesimpulannya, manifestasi nama al-Awwal (Yang Maha Pertama) dan al-ʿkhir (Yang Maha Terakhir) dalam proses penciptaan yang mengarah kepada awal dan akhir, pangkal dan keturunan, masa lalu dan masa depan, serta perintah dan pengetahuan menunjuk kepada lauhil mahfudz. Manifestasi nama azh-Zhāhir (Yang Mahatampak) dan al-Bāthin (Yang Maha Tersembunyi) pada sesuatu juga menunjuk kepada lauhil mahfudz tadi.
Entitas ibarat pohon besar. Setiap alam darinya seperti pohon. Kita bisa mengumpakan penciptaan entitas berikut beragam jenis dan alamnya dengan sebuah pohon kecil. Pohon kecil ini memiliki akar berupa benih yang kemudian tumbuh. Demikian pula dengan keturunan yang melanjutkan tugas setelah kematiannya merupakan benih buah. Pangkal dan akhir merupakan dua bentuk manifestasi nama al-Awwal dan al-ʿkhir. Seolah-olah pangkal dan benih itu merupakan daftar isi atau indeks keseluruhan rambu pembentukan pohon. Sementara, benih-benih yang terdapat dalam buahnya di akhir perjalanan adalah manifestasi nama al-ʿkhir.
Benih yang terdapat dalam buah tersebut yang terwujud dengan hikmah sempurna ibarat kotak kecil tempat menyimpan daftar isi dan indeks bagi terbentuknya sesuatu yang menyerupai pohon itu. Seakan-akan ia ditulis dengan pena ketentuan Tuhan yang berisi rambu-rambu terbentuknya pohon berikut. Bentuk lahiriah pohon merupakan manifestasi nama azh-Zhāhir (Yang Mahatampak). Bentuk lahiriahnya yang terlihat sangat rapi, indah, dan penuh hikmah ibarat pakaian rapi dan indah yang dipotong sesuai dengan bentuk fisiknya dengan penuh hikmah dan perhatian. Sementara bentuk batiniah pohon itu merupakan manifestasi nama al-Bāthin (Yang Maha Tersembunyi). Dengan keteraturan yang sempurna, penataan yang mencengangkan akal, dan pendistribusian bahan-bahan kehidupan kepada berbagai organ secara sangat rapi seolah-olah bagian dalam dari pohon
tersebut merupakan mesin luar biasa yang sangat teratur dan seimbang. Kalau bagian pangkalnya berupa petunjuk pelaksanaan yang sangat menakjubkan dan bagian akhirnya berupa daftar isi yang keduanya menunjuk kepada lauhil mahfudz, maka bagian lahiriahnya ibarat pakaian yang menakjubkan dan bagian batinnya ibarat mesin yang sangat rapi yang juga menunjuk kepada lauhil mahfudz. Apabila kekuatan penjaga yang terdapat dalam tubuh manusia menunjuk kepada lauhil mahfudz, maka benih-benih pangkal dan buahnya yang terdapat pada setiap pohon juga mengarah kepada "kitab induk yang nyata" itu. Demikian pula dengan bagian lahiri dan batininya. Anda bisa menganalogikan pohon bumi berikut masa lalu dan masa depannya, pohon alam berikut awal dan akhirnya, pohon manusia berikut nenek moyang dan keturunannya dengan pohon kecil tadi. Begitulah kondisi Sang Pencipta. Tiada Tuhan selain Dia. Wahai Yang Mahabesar, Engkau adalah zat yang akal tak mampu menjangkau keagungan-Nya dan pikiran manusia tak mampu mencapai hakikat kebesaran-Nya.
Kedudukan Ketujuh
Allah Mahabesar daripada segala sesuatu baik dalam hal kekuasaan maupun pengetahuan-Nya. Pasalnya, Dia Maha Mencipta, Maha Membuka, Maha Berbuat, Maha Mengetahui, Maha Memberi, dan Mentari azali di mana seluruh alam dengan berbagai spesies dan entitasnya merupakan bayang-bayang cahaya-Nya, jejak perbuatan-Nya, warna lukisan beragam manifestasi nama-Nya, goresan pena qada dan qadar-Nya, cermin wujud sifat, keindahan, keagungan, dan kesempurnaan-Nya. Hal itu sesuai dengan kesepakatan saksi azali dengan seluruh kitab, lembaran, dan ayatnya baik ayat penciptaan maupun ayat Alquran. Ia juga sesuai dengan kesepakatan bumi dan alam berikut kepapahan dan kebutuhannya baik dalam dirinya sendiri maupun bagian-bagiannya seiring dengan keberadaan kekayaan mutlak di atasnya. Iapun sesuai dengan kesepakatan seluruh kalangan yang
menyaksikan, pemilik jiwa yang terang, kalbu bersinar, dan akal cemerlang yang terdiri dari pada nabi, wali, dan orang-orang mulia berikut seluruh hakikat, penyingkapan, curahan anugerah, dan munajat yang mereka lakukan. Seluruh mereka, juga bumi dan benda-benda langit, disertai kesaksian mereka yang tak terhingga jumlahnya yang sejalan dengan kesaksian ayat-ayat kauniyyah dan ayat-ayat Alquran, kesaksian lembaran kitab-kitab suci yang merupakan kesaksian Allah, semua sepakat bahwa alam merupakan jejak kekuasaan-Nya, tulisan qadar-Nya, cermin nama-nama-Nya, serta penampakan cahaya-Nya. Allah, tiada Tuhan selain Dia.
Penutup
Mengenai Beragam Persoalan yang Tampak
Persoalan Pertama
Perlu diketahui bahwa sepanjang hidupku aku berkata sebagaimana yang dikatakan oleh Jalaluddin ar-Rumi,
Sepanjang hidup, aku merupakan pelayan Alquran dan menjadi tanah tempat jalan Muhammad pilihan (saw).
Pasalnya, aku melihat Alquran merupakan sumber segala curahan karunia. Berbagai hakikat yang kudapatkan tidak lain bersumber dari curahan karunia Alquran. Karena itu, hatiku tidak rela jika salah satu peninggalanku kosong dari potongan cermin kemukjizatan Alquran. Dalam al-Lawāmi' (Kilau-kilau Cahaya)
{(Catatan-70): Yang diterbitkan sebagai bagian dari al-Kalimat.}
aku telah menyebutkan beragam bentuk kemukjizatan Alquran yang mencapai empat puluh sekian macam. Agar keberkahan turun, di sini aku hanya akan menjelaskan satu saja persoalan saja, yaitu:
Lihatlah siapa yang berkata? Untuk siapa Dia berkata? Untuk apa Dia berkata? Dan dalam hal apa Dia berkata?
Ya, sumber ketinggian ucapan, berikut kekuatan dan
keindahannya ada empat: (1) pembicara atau pengucap; (2) mitra bicara; (3) tujuan; (4) kondisi dan kedudukannya. Jadi, tidak hanya kedudukan sebagaimana anggapan sejumlah sastrawan. Selain itu, redaksi sebuah ucapan bukan merupakan jasad; tetapi pakaiannya. Makna ucapan bukanlah ruh, tetapi tubuhnya. Kehidupannya berupa niat dan perasaan pembicara. Serta, ruhnya berupa makna yang berhembus dari mulut pembicara. Apabila sebuah ucapan berbentuk perintah atau larangan, ia bisa mengandung adanya kehendak dan kekuasaan sesuai dengan tingkat kedudukan si pembicara. Dalam kondisi demikian, ketinggian dan kekuatan ucapan juga semakin bertambah.
Ya. gambaran perintah yang bersumber dari angan-angan yang tidak didengar sangat berbeda dengan perintah hakiki yang pasti berlaku yang mengandung adanya kehendak dan kekuasaan. Lihatlah firman Allah yang berbunyi,
Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah!
{(Catatan-71): Q.S. Hūd: 44.}
Bandingkanlah firman di atas dengan ucapan manusia kepada benda-benda mati yang seperti igauan, "Diamlah wahai bumi! Terbelahlah wahai langit! Bangkitlah wahai kiamat!" Lalu perhatikan perintah Sang Pemimpin yang ditaati oleh pasukan besar yang taat, "Majulah! Seranglah musuh Allah!" Maka mereka segera menyerang dan menang. Lalu bandingkan jika perintah tersebut berasal dari sosok hina yang perintahnya tidak dipedulikan. Demikian pula dengan gambaran yang diberikan oleh Pemilik hakiki, Pemimpin yang perintah-Nya dipatuhi, Pencipta yang mencipta, Pemberi anugerah ketika Dia mulai menjelaskan semua perbuatan-Nya. "Aku telah melakukan ini dan itu. Lakukan ini dan itu! Kujadikan bumi terhampar untukmu dan langit sebagai atapnya." Bandingkan gambaran tersebut dengan yang diberikan oleh manusia terkait dengan perbuatannya yang tidak seberapa. Bagaimana mungkin mata bintang-gemintang bisa dibandingkan dengan contoh miniaturnya yang antara ada dan tiada yang terlihat di kepingan kaca. Bagaimana mungkin malai-
kat pembawa kalimat ucapan Pencipta mentari dan bulan akan dibandingkan dengan alunan suling manusia? Redaksi Alquran yang berupa gema petunjuk, hakikat iman, dan pilar-pilar yang memancar dari Arasy Tuhan di mana ia mengandung ucapan abadi, pengetahuan, qudrat, dan kehendak ilahi, bagaimana mungkin akan dibandingkan dengan ucapan manusia yang demikian lemah. Bagaimana mungkin pohon yang memiliki banyak cabang, daun, bunga, dan buah dibandingkan dengan racikan yang diambil oleh seseorang dari sebagian buahnya dengan merubah bentuknya, melepaskan ikatan kehidupannya, lalu mencampurnya dengan bahan lain.
Ya, Alquran menumbuhkan pohon dengan cara semacam itu. Setiap benih menjadi rambu-rambu kerja dan pohon-pohon lain yang berbuah. Darinya terbentuk dunia Islam dengan substansi dan segala aktivitasnya. Semua pemikiran mengambil darinya dan bekerja di dalamnya hingga saat ini sehingga menjadi hakikat luhur dan tinggi yang saling dikenal dan diterima. Lalu ada yang mengambil hakikat tersebut serta merubah bentuknya hingga menghilangkan ikatan kehidupan darinya. Kemudian, ia merasa telah memperindahnya. Perasaannya yang rusak membandingkan antara kreasinya dengan tanda-tanda kekuasaan Tuhan. Bagaimana mungkin bisa dibandingkan antara bentuk sementara buatan manusia yang diukir dalam bentuk permata dan mutiara yang rapi dengan permata dan mutiara aslinya?
Aku memahami bahwa penyaksian keindahan Alquran berbanding lurus dengan tingkat keselamatan dan kesehatan kalbu. Orang yang kalbunya sakit tidak akan bisa menyaksikan kecuali sesuatu yang dikaburkan oleh sakitnya. Gaya bahasa Alquran dan kalbu merupakan dua cermin yang saling memantulkan.
Rehat
{(Catatan-72): Dalam edisi pertama disebutkan, "Ketahuilah bahwa pengaruh perasaan, pengetahuan, dan penglihatan yang terlihat pada sesuatu menunjukkan sesuatu yang tak terhingga. Maka perasaan, pengetahuan, dan penglihatan yang terikat dan terbatas tak bisa memberikan pengaruh serupa. Benih kemutlakan dan ketakterbatasan jauh lebih agung dan lebih besar daripada sesuatu yang terbatas.}
Karena iman membangun persaudaraan antar segala sesuatu, maka ketamakan, permusuhan, dan kedengkian tidak
dominan pada jiwa mukmin. Pasalnya, dengan cermat ia melihat musuh utamanya sebagai orang yang masih merupakan saudaranya. Sebaliknya, karena kekufuran membangun keterasingan dan perpecahan antar segala sesuatu, maka ketamakan, permusuhan, dan sikap mengandalkan diri demikian dominan pada orang kafir. Dari sini kita memahami mengapa jumlah mereka lebih banyak dalam kehidupan dunia ini. Lalu, karena orang kafir melihat dunia sebagai balasan bagi segala kebaikannya, sementara mukmin melihat balasan dari sebagian keburukannya terwujud di dunia, maka jadilah dunia sebagai penjara bagi mukmin dan sorga bagi orang kafir.
{(Catatan-73): Dunia adalah penjara bagi mukmin, dan sorga bagi orang kafir. Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim (2959) bab zuhud, Ibnu Majah (4113) bab zuhud, at-Tirmidzi (2324) bab zuhud pula, serta Ahmad dalam musnadnya (2/458). Semua berasal dari Abu Hurayrah r.a.}
Ketahuilah bahwa obat iman apabila telah masuk ke dalam kalbu ia membuat manusia sebagai permata yang layak kekal dan mendapat sorga. Sebaliknya, dengan kekufuran ia layak menjadi tembikar yang fana. Kekufuran melihat kulit sebagai inti sehingga merasa puas dengannya. Maka, derajatnya turun dari berlian menjadi kaca; bahkan menjadi benda mati dan biji. Demikianlah yang kusaksikan.
Catatan
Aku melihat bahwa ketika ilmu filsafat semakin meningkat penyakit juga meningkat. Akupun melihat peningkatan penyakit ketika ilmu rasional meningkat. Berbagai penyakit non-fisik telah mengantarkan kepada sejumlah ilmu rasional sebagaimana ilmu-ilmu rasional itu melahirkan sejumlah penyakit kalbu.
Selain itu, aku melihat dunia memiliki dua sisi:
Satu sisi yang secara lahiriah untuk sementara waktu tampak indah namun secara batiniah melahirkan derita tak bertepi.
Sisi lain yang secara lahiriah mendatangkan derita namun secara batiniah melahirkan kenikmatan tak terhingga.
Alquran mengarahkan pandangan manusia kepada sisi yang kedua yang bersambung kepada akhirat. Sisi pertama yang bersambung pada ketiadaan adalah lawan dari akhirat. Kebaikan dunia merupakan keburukan akhirat, sementara keburukan dunia merupakan kebaikan akhirat.
Demikianlah aku menyaksikan bahwa wujud yang terdapat pada makhluk lewat perasaan ego mengantarkan kepada ketiadaan. Sebaliknya, ketiadaan yang terdapat padanya dengan meninggalkan perasaan ego mengarah kepada Zat Yang Wajib ada. Jika engkau mencintai wujud, hendaknya engkau merasa tiada agar bisa menemukan wujud sejati.
Rehat
Ketahuilah bahwa niat merupakan salah satu dari empat kata yang telah disebutkan di pendahuluan. Ia baru didapat setelah usiaku mencapai empat puluh tahun. Ya, niat merupakan obat mujarab yang ajaib yang dengannya berbagai kebiasaan dan aktivitas di muka bumi berubah menjadi inti ibadah. Ia juga menjadi ruh yang tembus yang dengannya kondisi mati menjadi hidup. Maka, ia menjadi aktivitas ibadah yang hidup. Dalam niat juga terdapat karakter yang membuat keburukan menjadi kebaikan.
Niat adalah ruh. Ruh niat berupa ikhlas. Tidak ada keselamatan kecuali dengan ikhlas. Dengan niat amal yang banyak bisa dilakukan dalam waktu singkat dan sorga bisa dibeli lewat apa yang diperbuat dalam waktu singkat tersebut sesuai dengan tekad tadi. Dengan niat, seseorang menjadi selalu bersyukur karena berbagai kenikmatan yang terdapat di dunia dipetik dengan dua cara:
Pertama, dengan niat seseorang menganggap nikmat bersambung kepada tangan Zat Yang Maha Penyayang dan Berbuat baik. Pandangannya beralih dari nikmat menuju pemberian nikmat. Dengan itu, ia lebih merasakan nikmat yang ada.
Kedua, ia hanya mencari nikmat semata sehingga pemberian
nikmat tak pernah terpikirkan. Pandangannya terbatas pada nikmat dan kelezatan sehingga dianggap sebagai harta rampasan tanpa harus memberikan balas jasa.
Pada kondisi pertama, kenikmatan lenyap seiring dengan ketiadaannya, namun ruhnya tetap ada. Dengan kata lain, rahmat Zat Pemberi nikmat tertanam dalam diri.
Adapun pada kondisi kedua kenikmatan sementara itu tidak lenyap agar ruhnya tetap ada. Namun, ia padam dengan asap yang masih ada. Di sini, musibah bisa menghapus asapnya dan mengekalkan cahayanya. Asap dari nikmat tadi berupa ketiadaannya dan dosa akibatnya.
Apabila berbagai nikmat yang terdapat di dunia dan di akhirat dilihat dengan cahaya iman, di dalamnya tampak gerakan berputar secara berkala di mana berbagai benda semisal terus datang secara bergantian dengan substansi yang tak pernah padam. Perpisahan hanya terjadi dengan bagian-bagiannya. Karena itu, sakitnya ketiadaan dan perpisahan tidak membuat berbagai kenikmatan iman surut; berbeda dengan kondisi kedua. Setiap kenikmatan pasti akan berakhir dan kondisi berakhir tadi mendatangkan derita. Bahkan membayangkannya saja juga melahirkan derita. Pasalnya, pada kondisi kedua, gerakannya tidak berputar;' tetapi lurus . Di dalamnya kenikmatan dipastikan akan mengalami kematian abadi.
Catatan
Perlu diketahui bahwa bergantung kepada sebab duniawi merupakan penyebab kehinaan dan kerendahan. Tidakkah engkau melihat bahwa anjing dikenal memiliki sepuluh sifat yang baik sehingga persahabatan dan kesetiaannya dijadikan pepatah?! Maka wajar jika semestinya mendapat tempat di hati manusia. Namun, alih-alih dimuliakan ia justru dihinakan dengan dikatakan sebagai binatang najis. Sebaliknya, ayam, sapi, kucing yang tak pandai berterima kasih dan bersahabat ketika diberi sesuatu oleh manusia justru dimuliakan dan mendapat tempat di hati mereka. Aku ingin menegaskan-semoga hati anjing tidak terpukul dan tidak menjadi gibah-bahwa karena tamak, anjing
demikian perhatian dengan sebab lahiri. Sampai-sampai di satu sisi ia lupa kepada Pemberi nikmat hakiki. Ia merasa perantara yang ada sangat berperan. Karena itulah ia mendapatkan akibatnya sehingga dinajiskan. Ia dihinakan sebagai tebusan dari kelalaiannya. Karena itu, sadarlah! Adapun binatang lain yang mendapat tempat tidak mengenal adanya perantara dan tidak memberikan perhatian terhadapnya. Atau, kalaupun ada sangat minim. Misalnya, kucing menunduk-nunduk untuk mendapatkan sesuatu. Kalau sudah didapat, ia seolah tidak mengenalmu dan engkaupun tidak mengenalnya. Ia tidak merasa harus berterima kasih kepadamu. Namun, ia berterima kasih kepada Pemberi nikmat hakiki dengan berkata, "Wahai Yang Maha Penyayang, wahai Yang Maha Penyayang, wahai Yang Maha Penyayang!" Pasalnya, fitrah makhluk mengetahui Penciptanya dan beribadah kepada-Nya baik disadari maupun tidak.
Rehat
Aku melihat andaikan segala sesuatu tidak dinisbatkan kepada-Nya, berarti ada banyak tuhan yang masing-masing saling berlawanan serta ada sekutu dalam satu waktu yang jumlahnya tak terhingga. Jumlahnya bertambah seiring dengan jumlah atom dan konstruksi alam di mana setiap tuhan mengulurkan tangan ke seluruh alam dan beraksi di dalamnya.
Sebagai contoh, kekuasaan Pencipta seekor lebah atau biji anggur hukumnya harus berlaku pada seluruh entitas alam. Sebab, keduanya merupakan dua contoh makhluk yang bagian-bagiannya terambil dari seluruh alam yang eksistensinya pasti milik Tuhan. Adapun kalau segala sesuatu dinisbatkan kepada dirinya, berarti kekuasaan uluhiyah dimiliki setiap atom. Bebatuan yang terdapat di kubah Ayasophia
{(Catatan-74): Gereja tua yang oleh Sultan Muhammad al-Fatih dirubah menjadi masjid Jami. Selama berabad-abad ia tetap sebagai masjid sebelum akhirnya dirubah oleh Mustafa Kamal menjadi museum pada tahun 1934.}
jika keberadaan pembangunnya diingkari berarti setiap batunya menjadi seperti
arsitek Sinan.
{(Catatan-75): Arsitek bangunan terbesar pada masa Utsmani (1489-1578). Ia mengawasi pembangunan berbagai masjid jami dan banyak bangunan. Bangunan terpenting adalah Masjid Jami Selimiye, Sulaymaniyah, dan Syahzadah.}
Keberadaan entitas yang menjadi dalil bagi keberadaan Penciptanya yang esa jauh lebih bercahaya, agung, utama, dan jelas daripada jika ia dianggap sebagai dalil bagi keberadaannya sendiri. Mengingkari alam masih mungkin. Namun, mengingkari Zat Yang Mahaesa dan Yang Mahakuasa atas segala sesuatu sangat mustahil.
Catatan
Betapa aneh kesesatan yang disebabkan oleh kelalaian. Bagaimana mungkin hukum kausalitas dihasilkan dari komparasi bodoh antara berbagai ciptaan! Ia sungguh tidak masuk akal. Di samping itu belum ada tanda pada sesuatupun yang menunjukkan keberadaan sekutu Tuhan yang mengurus sesuatu tersebut. Sebaliknya, lewat penciptaan segala sesuatu tersingkaplah kekuasaan tak terhingga milik Yang Mahakuasa dan Wajibul wujud. Sungguh manusia sangat rugi dan bodoh. Mengapa konsep syirik itu mendapat tempat dalam diri dan akalnya?!
Rehat
Kata ganti "kami" dalam kalimat na'budu (kami menyembah) menyiratkan keberadaan jamaah atau kelompok. Tergambar pada orang yang sedang salat pandangan bahwa seluruh bumi merupakan masjid. Bersamanya berbaris seluruh kaum beriman. Ia melihat dirinya berada dalam kelompok jamaah yang besar itu. Kesepakatan para nabi dan wali dalam menyebut lā ilāha illallāh secara bersamaan membuat para pezikir mudah melihat lingkaran zikir di bawah pimpinan imam para nabi. Di samping kanan masa lalu terdapat para nabi yang sedang duduk. Sementara, di samping kiri masa depan terdapat para wali yang sedang duduk. Mereka berzikir mengingat Allah dengan suara yang bisa didengar oleh orang yang mau memperhatikan dan menyaksikan. Jika ia memiliki pendengaran dan penglihatan
yang tajam, pasti ia bisa mendengarkan zikir seluruh makhluk serta melihat dirinya berada dalam lingkaran zikir tersebut.
Catatan
Ketahuilah bahwa mencintai sesuatu selain Allah mempunyai dua bentuk:
Bentuk pertama, turun dari ketinggian. Yakni mencintai Allah yang dengan itu seseorang mencintai orang yang Allah cintai. Cinta semacam ini tidak akan berkurang, justru semakin bertambah. Kedua, naik dari bawah. Yakni mencintai sarana duniawi lalu di dalamnya ia naik sebagai perantara menuju cinta-Nya. Cinta semacam ini dapat menyimpang dan dapat bertemu dengan sarana yang kuat yang bisa memutus dan menghancurkannya. Kalaupun sampai, maka cinta tadi akan cacat.
Rehat
Perlu diketahui bahwa Zat Pemberi rezeki telah berjanji, "Tidak ada binatang melata di muka bumi kecuali Allah menjamin rezekinya."
{(Catatan-76): Q.S. Hūd: 6.}
Hanya saja, rezeki tersebut terbagi dua:
Hakiki dan kiasan (majazi). Yang dijamin pada ayat di atas adalah hakiki. Adapun yang bersifat kiasan dan artifisial yang wajib dengan berpegang pada sesuatu yang tidak wajib serta dengan pilihan yang buruk dan kebiasaan berbahaya sehingga kebutuhan yang tidak mendesak menjadi mendesak. Lalu kebutuhan palsu itu mengenakan gambaran rezeki. Rezeki semacam itu tidak merupakan rezeki yang dijamin oleh ayat di atas. Siapa yang mencermati terong yang merupakan ikan darat serta ikan yang merupakan terong laut, bagaimana ia dibesarkan oleh kekuasaan Pencipta di mana keduanya sama-sama besar serta mendapatkan rezeki secara mudah dari arah yang tak disangka-sangka, maka ia akan mengetahui keraguan dalam persoalan rezeki termasuk sikap bodoh.
Rehat
Ketahuilah bahwa berbagai musibah yang menimpa binatang dan manusia yang terjaga bisa karena sejumlah sebab yang sulit dipahami oleh manusia. Misalnya syariah fitri yang merupakan rambu kehendak-Nya tidak mengarah kepada akal sebelum beban taklif jatuh padanya saat tiada akal. Akan tetapi, ia mengarah ke kalbu dan perasaan, serta kepada kesiapan. Karenanya, kita kadangkala menyaksikan binatang sangat sempurna perasaannya. Demikian pula anak kecil. Bahkan perasaan anak kecil lebih sempurna daripada akalmu dan lebih terjaga. Pasalnya, ketika engkau menganiaya anak yatim dengan memukulnya akalmu membiarkan. Sementara, anakmu yang kebetulan melihat tak kuasa menahan tangis lantaran rasa kasihannya.
Jika demikian, anak kecil yang mencincang lebah malang lantaran tidak sadar dan tidak mendengar larangan rasa kasihannya sehingga kepalanya terluka memang sangat layak atasnya.
Singa memiliki rasa kasihan yang sangat kuat terhadap kawanannya serta selalu memiliki rasa ingin melindungi temannya. Namun, perasaan tersebut tak mencegahnya dari melumat seekor biawak malang. Setelah memakannya, ia terkena peluru pemburu misalnya. Jika demikian, bukankah ia memang layak atasnya. Pasalnya, rezekinya yang halal adalah binatang yang telah mati; bukan yang masih hidup. Ini terjadi akibat perasaan berhak memiliki binatang tersebut. Padahal ini tidak benar seperti telah dijelaskan sebelumnya. Pemilik hakiki adalah Pemilik segala kerajaan, Mahaagung dan Mahamulia. Dia bertindak dalam kerajaan-Nya seperti yang Dia kehendaki. Dialah Yang Maha Berbuat dan Maha Mengerjakan apa yang Dia kehendaki.
Dia tidak ditanya mengenai apa yang Dia perbuat. Namun merekalah yang akan ditanya.
{(Catatan-77): Q.S. al-Anbiyā': 23.}
Lanjutan Setetes Lautan Tauhid
Bismillāhirrahmānirrahīm
Segala puji milik Allah Tuhan Pemelihara semesta alam.
Salawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Muhammad, berikut keluarga dan seluruh sahabatnya.
Petunjuk
Ketahuilah bahwa salat di awal waktu dan merasa melihat Ka'bah merupakan dua hal yang dianjurkan. Maksudnya agar orang yang salat melihat di sekitar Ka'bah barisan-barisan seperti lingkaran yang saling menyatu dalam satu titik. Apabila barisan pertama mengelilingi Ka'bah, barisan yang paling jauh mengelilingi dunia Islam. Kondisi ini membuatnya ingin berada bersama mereka. Setelah itu, keberasamaan jamaah yang besar itu menjadi bukti dan petunjuk tak terbantahkan mengenai setiap ketentuan dan pernyataan yang terdapat di dalam shalat.
Misalnya, ketika orang yang melaksanakan shalat mengucap, "Alhamdulillāh (segala puji milik Allah)" seluruh kaum mukmin yang bermakmum di seluruh masjid dunia ini mengucap, "Ya, benar."
{(Catatan-78): Pasalnya, seluruh mereka juga mengucap, "Alhamdulillāh" sama sepertinya.}
Maka, pengingkaran ilusi dan bisikan setan
menjadi gagal. Sebaliknya, semua indera dan hati manusia dipenuhi oleh perasaan iman. Tidak ada lagi pertanyaan mengapa dan bagaimana. Pada saat pertama jamaah besar itu terwujud bagi orang-orang bertakwa. Saat berada di tempatnya, orang yang melaksanakan shalat hendaknya melihat Ka'bah. Ka'bah tersebut tetap berada di tempatnya tanpa ia tarik kepadanya atau tanpa ia pergi ke tempat Ka'bah agar semua barisan tadi tampak. Ia tidak sibuk dan berusaha pergi kepadanya; namun cukup dalam perasaan saja. Siapa tahu ketentuan Tuhan yang tidak lalai terhadap sesuatupun menuliskan sejumlah baris dalam lembaran catatan yang selalu Dia jaga lewat bentuk shaf penuh berkah dan teratur itu.
Petunjuk
Ketahuilah bahwa dalam perjalanan yang gelap gulita aku menyaksikan sejumlah ketentuan mulia sebagai bintang dan lentera. Setiap rambu dan ketentuan syariat berkilau di antara jalan-jalan gelap yang jumlahnya tak terhingga. Ketika seseorang menyimpang dari rambu tersebut ia akan menjadi mainan setan, tunggangan ilusi, galeri berbagai kecemasan, dan tempat penyimpanan beban seperti gunung yang sebenarnya telah dipikulkan oleh rambu-rambu Tuhan jika ia sadar.
Aku menyaksikan rambu-rambu yang ada ibarat gunung dari langit yang turun merendah. Siapa yang berpegang pada bagiannya ia akan naik dan bahagia. Sebaliknya, siapa yang berpaling darinya dan berpegang pada akal sama seperti orang yang ingin mencapai langit dengan sarana bumi. Kebodohannya sama seperti Firaun.
"Wahai Haman, buatkan bagiku sebuah bangunan yang tinggi..."
{(Catatan-79): Q.S. Ghāfir: 36.}
Petunjuk
Ketahuilah bahwa dalam jiwa terdapat kerumitan yang membingungkan di mana ia membuat sesuatu melahirkan
kebalikannya. Ia melihat sesuatu yang berbahaya sebagai sesuatu baik baginya.
Misalnya, sinar mentari sampai kepadamu. Ia menghapus dan menerpa wajahmu. Namun, tanganmu tidak bisa meraihnya serta suka citamu juga tak mampu mempengaruhinya. Ia demikian dekat denganmu, namun sekaligus jauh darimu. Menjadikan jaraknya yang jauh sebagai dalil bahwa ia tak mempengaruhimu serta jaraknya yang dekat sebagai dalil keterpengaruhannya olehmu adalah sebuah kebodohan. Demikian pula kondisi manusia yang dengan hawa nafsu dan sifat egonya melihat Sang Pencipta yang amat dekat dengannya dan sekaligus jauh darinya merupakan penyebab kesesatannya.
Diri manusia melihat ganjaran Tuhan yang besar. Karena tamak dan menginginkannya, ia berkata, "Andai saja, kalau saja!" dan sebagainya. Ia juga mendengar balasan Tuhan yang dahsyat. Maka, karena sangat takut, ia menghibur diri dengan cara mengabaikan dan mengingkarinya.
Wahai diri yang bodoh, segala perbuatan Allah Swt. sesuai dengan-Nya dan mengarah kepada-Nya; tidak sesuai denganmu dan tidak mengarah pada keinginanmu yang sempit. Dia tidak membangun bangunan alam sesuai seleramu. Serta tidak mempersaksikan penciptaanya padamu. Sangat tepat perkataan al-Imam ar-Rabbānī, "Tidak bisa memikul anugerah Raja kecuali tunggangan-Nya."
Petunjuk
Ketahuilah bahwa Zat yang menghias dan memperbagus kepalamu serta meletakkan penglihatan padanya lebih melihatmu daripada dirimu sendiri. Pencipta yang telah menghias kepalamu dengan dua mata dan dua kelopak telinga, serta meletakkan lisan di gua wajahmu lebih melihatmu daripada dirimu sendiri sekaligus lebih dekat kepadamu, lebih kasihan padamu, dan lebih mendengarmu.
Petunjuk
Ketahuilah bahwa doa terutama yang bersumber dari
orang-orang yang membutuhkan mempunyai pengaruh yang kuat. Dengan doa tersebut sesuatu yang paling kuat dan paling besar ditundukkan untuk makhluk yang paling lemah dan paling kecil. Misalnya bagaimana murka laut menjadi reda untuk orang yang terjaga yang sedang berada di atas kayu patah ketika ia berdoa dengan hati yang pilu. Ini menunjukkan bahwa Zat Yang Maha Mengabulkan mengendalikan segala sesuatu. Dia adalah Tuhan Pemelihara semua.
Petunjuk
Ketahuilah bahwa penyakit kesesatan jiwa yang paling utama adalah meminta kekuatan totalitas dari yang mempunyai kekuatan terbatas, serta meminta kekuasaan dari pasukan bawahan. Apabila tidak didapat, maka iapun ditolak. Misalnya engkau mengharap kesempurnaan manifestasi mentari pada bayangannya yang terdapat di biji-bijian. Jika tidak didapat dengan sempurna engkau mengingkari kalau ia berasal darinya.
Wahai jiwa, kesatuan mentari tidak mengharuskan kesatuan manifestasi. Petunjuk tidak mengharuskan adanya implikasi. Sesuatu yang menggambarkan tidak harus digambarkan. Atom yang bening menggambarkan mentari serta lebah menggambarkan keberadaan Pencipta Yang Maha Bijaksana.
Petunjuk
Ketahuilah bahwa meniti jalan kekufuran seperti memasuki benda mati, bawah tanah, atau bahkan besi. Hal itu tentu saja sangat sulit.
Sebaliknya meniti jalan iman seperti masuk ke dalam air, bahkan udara atau cahaya. Ia demikian mudah bagi orang mendapat taufik. Misalnya, engkau ingin matahari menghadap ke enam sisimu. Maka caranya engkau bisa berpindah dengan mudah sehingga tujuan tercapai atau engkau memaksa mentari untuk menempuh perjalanan mencengangkan untuk tujuan kecilmu itu. Cara pertama adalah perumpamaan tauhid yang sangat mudah. Sementara, cara kedua perumpamaan syirik yang demikian rumit dan sulit. Argumen tentang petunjuk ini terdapat
dalam qatharah (tetesan).
Barangkali engkau bertanya, "Mengapa kekufuran masih diterima padahal demikian sulit, sementara keimanan ditinggalkan padahal demikian mudah?"
Jawabannya bahwa kekufuran diterima secara tidak disengaja. Namun, ia diminyaki dengan hawa nafsu sehingga terjatuh dan terkotori olehnya. Adapun iman, ia memang dituju secara sengaja, lalu diterima dan diletakkan dalam kalbu.
Petunjuk
Ketahuilah bahwa satu kata bisa didengar oleh ribuan pendengar layaknya satu orang sehingga tidak ada perbedaan antara satu orang dan jutaan. Demikian pula dengan menisbatkan segala sesuatu kepada kekuasaan azali Tuhan. Tidak ada perbedaan antara satu makhluk dan satu kelompok spesies.
Petunjuk
Ketahuilah bahwa Alquran yang bersifat komprehensif, luas, dan memperhatikan seluruh tingkatan manusia, terutama cara turunnya, dimaksudkan agar bisa diterima oleh kalangan awam-yang merupakan kelompok mayoritas dan pertama kali dituju. Di samping itu, ia menjadi sebab yang membuatnya sempurna. Nah, jiwa yang sakit tidak bisa memahami hal tersebut. Ia mencari bentuk pemberian pemahaman yang paling rendah untuk sebuah tingkat kedudukan yang paling tinggi dan bentuk pemaknaan yang paling indah. Ia menjadikan gaya bahasa yang merupakan neraca perasaan dan pemahaman mitra bicara sebagai timbangan dan teropong untuk melihat Pembicara sehingga ia menjadi tersesat jauh.
Petunjuk
Bagaimana bentuk merasa nyaman dengan dunia lewat wajahnya yang ketiga serta bergembira dengannya? Dunia memiliki tiga wajah:
Pertama, wajah yang melihat kepada nama-nama Allah.
Kedua, wajah yang menjadi ladang akhirat. Dua wajah di
atas adalah baik.
Ketiga, wajah di mana dunia menjadi fokus utama manusia dan keinginannya yang fana.
Diriku disusun sebagai satu titik yang mati. Aku ditunggangi oleh bangkai yang mati. Hariku merupakan peti mati. Antara kemarin dan esok terdapat kuburan ayah dan anakku. Aku dihimpit oleh dua mayat dan ditekan oleh dua kuburan. Namun, melihat dunia sebagai ladang akhirat serta melihat kepadanya dengan cahaya iman merubahnya menjadi sorga maknawi.
Petunjuk
Ketahuilah bahwa eksistensimu seperti peluru atau kuda milik negara yang berada di tangan tentara. Sebagaimana tentara tersebut diberi tugas untuk menjaga peluru dan kuda tadi, engkau juga diberi tugas untuk menjaga amanat yang ada.
Ketahuilah bahwa konteks dari pembicaraan di atas adalah lantaran aku melihat diri ini tertipu oleh berbagai kebaikannya. Maka, akupun berkata pada diri ini, "Engkau tidak memiliki apa-apa." Ia menjawab, "Kalau begitu aku tidak perlu memperhatikan tubuh yang bukan milikku." "Ia harus kau perhatikan agar tidak lebih hina daripada lalat." Jika mau, engkau bisa melihat lalat ini. Bagaimana ia membersihkan sayap dengan kedua kakinya lalu membersihkan kedua mata dan kepalanya dengan tangan. Mahasuci Allah Zat yang telah memberikan ilham pada lalat tersebut sekaligus menjadikannya sebagai guru bagiku sehingga aku bisa memahami diriku.
Petunjuk
Ketahuilah bahwa sesuatu yang bisa menggelincirkan adalah tindakan mencampur rambu-rambu nama al-Bāthin (Maha Tersembunyi) dengan rambu-rambu nama azh-Zhāhir (Maha Terlihat), sesuatu yang terkait kekuasaan-Nya dengan sesuatu yang terkait hikmah-Nya, tuntutan wilayah sebab dengan tuntutan wilayah keyakinan dan tauhid, berbagai relasi kekuasaan-Nya dengan penampakan wujud atau manifestasi seluruh sifat-
Nya. Misalnya, keberadaanmu di dunia ini muncul secara bertahap, sementara keberadaanmu dalam cermin barzakh bersifat sekaligus karena perbedaan sifat-sifat ilahi dalam berbagai relasi tersebut serta karena perbedaan antara proses penciptaan dan penampakan.
Petunjuk
Ketahuilah bahwa agama Islam merupakan rahmat yang bersifat umum. Bahkan, kebahagiaan hidup orang kafir di dunia serta tidak berubahnya kenikmatan yang mereka rasakan kepada derita disebabkan oleh Islam. Pasalnya Islam membalik sikap ingkar dan kufur yang mengandung rasa putus asa dan derita yang hebat menuju keraguan dan kebimbangan. Karena adanya kehidupan abadi seperti keterangan Alquran dalam benaknya masih bersifat mungkin, orang kafir berusaha istirahat dari siksa tersebut. Serta karena tidak yakin, ia beristirahat dari beban agama. Kondisinya sama seperti burung unta. Kalau disuruh terbang, ia menjawab, "Saya unta." Sebaliknya, kalau disuruh memikul beban, ia berkata, "Saya burung." Inilah bisikan setan yang membuat orang kafir dan fasik secara lahir bahagia dalam kehidupan dunia.
Petunjuk
Ketahuilah bahwa jiwa manusia tidak mau mengakui dan membayangkan kalau sesuatu yang lebih kecil atau kurang bernilai daripada dirinya berasal dari kekuasaan Tuhan. Hal ini agar ia bisa menjaga wilayah pemeliharaan dirinya, serta memberikan apa yang di atasnya kepada Pencipta dan meremehkan yang di bawahnya. Sepanjang ia tidak melihat dirinya sebagai sesuatu paling kecil atau tidak bernilai, maka kecenderungan untuk menafikan sifat-sifat Sang Pencipta atau syirik halus akan tetap ada.
Petunjuk
Ketahuilah bahwa karena malas dalam mengerjakan tugas, jiwa ini ingin kalau saja tidak ada yang mengawasinya. Maka, ia
mulai senang bersembunyi. Lalu, berulang kali menyatakan ketiadaan Tuhan, dan terakhir meyakini kebebasannya. Jadi, pertama-tama, berangan-angan. Kemudian berharap, memperhatikan, membayangkan, dan meyakini ketiadaan-Nya. Terakhir ia lari meninggalkan agama. Andaikan ia mau merasakan keresahan, nestapa, dan kesedihan yang menyakitkan di balik kebebasan, kesenangan, dan ketiadaan tanggung jawab, tentu ia tidak akan memiliki kecenderungan sedikitpun padanya. Namun, ia justru lari, berlepas diri, dan kemudian bertobat atau meninggal dunia.
Petunjuk
Ketahuilah bahwa segala sesuatu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan pusat sandarannya. Misalnya, pasukan yang menisbatkan diri kepada raja agung tidak bisa dikuasai oleh seorang syah.
{(Catatan-80): Kedudukan yang dekat dengan raja.}
Nyamuk yang diperintah oleh Tuhan bisa mengalahkan pimpinan para Namrud yang keras kepala. Benih yang mendapat ijin dari Pembelah biji mencakup dan menguasai seluruh kebutuhan pohon kurma yang besar, padahal ia tidak bisa dipenuhi oleh pabrik seluas satu negeri.
Ketahuilah bahwa perbedaan antara jalanku dalam "satu tetes" yang bersumber dari Alquran dan jalan kalangan filosof adalah bahwa aku terus menggali di mana saja berada hingga air keluar. Sementara, mereka hanya terus menunggu dengan meletakkan pipa dan selang guna menunggu datangnya air dari penjuru alam serta membuat saluran dan tangga menuju atas arasy agar air kehidupan tercurah. Karena meyakini adanya sebab, mereka harus mendatangkan jutaan penjaga petunjuk di jalan panjang tersebut agar terlindung dari pengrusakan yang dilakukan oleh setan ilusi. Adapun yang Alquran ajarkan kepada kita adalah bahwa kita diberi seperti tongkat Musa. Di mana saja berada, meski di atas padang pasir, aku pukulkan tongkatku sehingga air kehidupan memancar. Tidak perlu berjalan jauh menuju alam lain serta menyambung pipa penderitaan yang demikian panjang.
Petunjuk
Sungguh malang! Keberadaan diri membutakan matanya; bahkan merupakan sumber kebutaannya. Andaikan tetap ada meski hanya sebesar sayap lalat ia akan menjadi hijab yang menghalanginya untuk melihat mentari tauhid. Lantaran keberadaannya, diri melihat berbagai petunjuk terang yang terdapat di atas batu karang kecil yang terdapat dalam benteng besar yang tersusun rapi sebagai sesuatu yang lemah. Akhirnya, ia mengingkari keberadaan benteng tadi. Dari sini kita bisa mengukur tingkat kebodohannya yang bersumber dari penglihatannya terhadap keberadaannya.
Petunjuk
Ketahuilah wahai "aku", engkau mengetahui ribuan hal yang terdapat dalam genggamanmu adalah bagian yang masih diragukan. Karena itu, bangunlah di atas bagian yang kecil dan lemah itu sesuatu yang bisa dipikul. Jangan memikul karang besar di atas sehelai rambut yang halus. Jangan memikul pada sesuatu yang bukan milikmu kecuali dengan ijin Pemiliknya.
Apabila berbicara atas nama dirimu yang lalai, jangan melampaui batas. Wilayah perjalananmu hanya sebatas sehelai rambut.
Namun, apabila berbicara atas nama Pemilik kerajaan ini, bawalah apa yang kau lihat sesuai perintah dan kehendak-Nya, bukan sesuai keinginan-Mu. Ijin dan kehendak-Nya bisa diketahui lewat syariat.
Petunjuk
Wahai yang mencari popularitas, perhatikan baik-baik! Menurutku, popularitas adalah sumber penyakit riya dan kematian kalbu. Karena itu, janganlah engkau mencarinya agar tidak menjadi budak manusia. Kalaupun engkau menjadi populer ucapkan, "Innā lillāhi wa innā ilayhi rāji'ūn" (kami milik Allah dan akan kembali kepada-Nya).
PUJIAN
SYEIKH SHAFWAT AFFANDI
KETUA MAJELIS PEMERIKSAAN MUSHAF ALQURAN DAN BUKU-BUKU AGAMA
{(Catatan-81): Ia adalah Musthafa Shafwat. Lahir tahun 1282 H di Urfa. Lulusan al-Azhar. Menguasai Bahasa Arab, Bahasa Turki, dan Persia. Ia menerbitkan majalah mingguan di Istambul pada tahun 1327 dengan nama Tasawwuf. Ia menempati sejumlah posisi ilmiah hingga menjadi salah satu anggota Darul Hikmah al-Islamiyyah. Ia juga ditunjuk sebagai ketua lembaga pemeriksaan mushaf dan tulisan-tulisan agama pada tahun 1335 H. Untuk kali kedua ia dipilih sebagai wakil dari Urfa sampai tahun 1927 M.}
Bismillāhirrahmānirrahīm
Kepada-Nya saya bersandar
Segala puji bagi Allah Swt. Salawat dan salam semoga tercurah kepada nabi-Nya yang menerima Alquran, juga kepada keluarga dan para sahabatnya yang telah menegakkan rambu-rambu agama serta mengokohkan bangunannya. Amma ba'du:
Saya telah melihat "setetes lautan tauhid" ini. Tidak ada perbedaan antara keduanya. Pasalnya, tulisan tersebut memperlihatkan dan mencurahkan sumber ajaran Islam. Sebenarnya tulisan itu juga bersumber darinya dan kembali kepadanya. Semoga Allah Swt. membalas upaya saudara kita ini dalam
memelihara ajaran Islam yang terambil dari lautan tauhid, Bediuzzaman Said Nursi; sosok yang langka di era sekarang. Namun, beruntunglah orang-orang yang asing (garib)! Sebagaimana sabda Nabi saw. Segala puji milik Allah Tuhan Pemelihara semesta alam.
Hamba yang fakir
Shafwat