Risale-i Nur Külliyatı [email protected]

Risalah Kedua

1 dilihat

Percikan Lautan Makrifat Nabi Saw

{(Catattan-8): Ustadz Nursi menerjemahkan "percikan" ini ke dalam bahasa Turki serta menjadikannya sebagai Kata Sembilan Belas. Karena itu, kami menyeleraskan dengannya.}

Bismillahirrahmanirrahim

Catatan:

Yang diperkenalkan oleh Tuhan kepada kita tidaklah terhitung dan terhingga. Hanya saja, argumen dan dalil besarnya ada tiga:

Pertama, alam ini. Engkau telah mengetahui sejumlah bukti dari kitab besar ini.

Kedua, bukti terbesar dari kitab ini yang berupa stempel kenabian dan kunci perbendaharaan tersembunyi, Nabi saw.

Ketiga, penjelas kitab alam dan argumen Allah atas manusia. Yaitu Alquran yang penuh hikmah.

Kita harus mengetahui bukti kedua yang berbicara lalu kita perhatikan. Dari lautan makrifat beliau terdapat sejumlah percikan:

28

Percikan Pertama

Ketahuilah bahwa argumen kedua ini memiliki kepribadian yang agung. Barangkali engkau bertanya, "Apa itu? Dan apa substansinya?"

Jawabannya bahwa beliau lewat keagungan moralnya menjadikan atap bumi sebagai masjidnya, Mekkah menjadi mihrabnya, dan Madinah menjadi mimbarnya. Beliau adalah imam bagi seluruh kaum beriman yang bermakmum dengan berbaris di belakangnya. Beliau khatib bagi seluruh manusia yang menjelaskan tentang rambu-rambu kebahagiaan mereka. Beliau pemimpin seluruh nabi yang menyucikan dan membenarkan mereka lewat integralitas agamanya yang mencakup semua agama mereka. Beliau penghulu para wali yang membimbing dan mendidik mereka dengan mentari risalahnya. Beliau adalah poros dalam pusat halaqah zikir yang terdiri dari para nabi, orang-orang pilihan, kaum shiddiqin, kelompok yang taat, yang sepakat di atas kalimat-Nya. Beliau adalah pohon bersinar yang memiliki akar kokoh berupa para nabi dengan landasan samawi yang mereka miliki, memiliki ranting hijau dan segar berikut buah yang halus bercahaya; yaitu para nabi dengan makrifat mereka. Setiap pernyataan beliau dibuktikan oleh para nabi dengan bersandar kepada mukjizat mereka serta oleh para wali dengan bersandar kepada karomah mereka. Seolah-olah pada setiap pernyataan yang beliau buat terdapat stempel seluruh orang suci di atas. Misalnya beliau mengucap kalimat lā ilāha illallāh (tiada Tuhan selain Allah) serta menyatakan tauhid. Ternyata kita mengetahui lewat dua kelompok mulia tersebut-mentari dan bintang manusia yang menempati wilayah zikir- dari masa lalu dan mendatang kalimat serupa yang terus mereka ulang dan mereka sepakati meski berbeda cara dan jalan. Seolah-olah mereka sepakat berkata, "Engkau benar. Engkau menyatakan sesuatu yang benar."

Tidak ada yang bisa menyanggah pernyataan yang didukung oleh kesaksian pihak-pihak yang tak terhitung banyaknya di mana mukjizat dan karomah mereka menjadi legitimasi.

29

Percikan Kedua

Ketahuilah bahwa argumen cemerlang ini yang menunjukkan kepada tauhid dan membimbing manusia kepadanya, di samping dua sisinya diperkuat oleh kenabian dan kewalian secara ijma dan mutawatir, ia juga dibenarkan oleh penjelasan kitab samawi seperti kabar gembira yang terdapat dalam Taurat, Injil, Zabur, dan kitab-kitab suci terdahulu. Selain itu, ia diperkuat oleh sejumlah bukti yang tampak jelas, diperkuat oleh kabar gembira yang demikian banyak, diperkuat oleh kesaksian para peramal yang diriwayatkan secara mutawatir, serta diperkuat oleh keberadaan ribuan mukjizat. Sebagai contoh: terbelahnya bulan, keluarnya air dari jari-jemari beliau, turunnya hujan di saat beliau berdoa, makanan sedikit yang bisa mengenyangkan banyak orang, serta bagaimana biawak, serigala, unta, dan batu berbicara di samping ribuan lainnya sebagaimana yang dijelaskan oleh para perawi terpercaya. Argumen tersebut juga diperkuat oleh syariat beliau yang mencakup kebahagiaan dunia dan akhirat.

Engkau telah mendengar dan menyaksikan pada sejumlah pelajaran sebelumnya berbagai kilau mentari syariahnya yang mengantarkan kepada kebahagiaan. Karena itu, selama matamu bersih dan kalbumu jernih, hal tersebut telah cukup bagimu.

Percikan Ketiga

Ketahuilah! Sebagaimana dalil-dalil langit membenarkannya, beliau juga seperti mentari yang menunjukkan keberadaannya lewat diri sendiri. Dengan kata lain, beliau dibenarkan oleh sejumlah petunjuk yang terdapat pada pribadi beliau. Yaitu seluruh akhlak mulia dan terpuji terkumpul dalam diri beliau. Demikian pula dengan karakter beliau yang memancarkan semua sifat-sifat luhur dan suci.

Di samping itu adalah kekuatan iman beliau lewat sikap zuhud, takwa, dan ibadah yang ditampakkan. Lalu kesempurnaan keyakinan beliau yang terlihat dari perjalanan hidup, kesungguhan, dan keteguhannya. Juga ketenangan beliau dalam bergerak yang dibuktikan oleh ketentraman jiwanya. Semua itu membuktikan pengakuan dan sikap beliau yang berpegang pada

30

kebenaran. Ia tak ubahnya seperti daun-daun hijau, bunga-bunga bersinar, serta buah yang segar yang menjadi saksi atas kehidupan pohonnya.

Percikan Keempat

Ketahuilah bahwa ruang lingkup waktu dan tempat memberikan pengaruh besar terhadap cara berpikir manusia. Misalnya mari kita lepaskan imajinasi waktu saat ini. Kita lepaskan pakaian yang kotor ini. Lalu, kita masuk ke lautan waktu yang mengalir. Kemudian kita berenang di dalamnya menuju era kebahagiaan yang berupa pulau subur dan indah di antara kumpulan waktu dan masa. Marilah kita melihat jazirah Arab yang merupakan kota cemerlang di pulau tersebut. Mari kita kenakan pakaian di era itu hingga sampai ke pusat risalah Islam; tempat beliau menunaikan tugas utama.

Bukalah matamu, lalu lihatlah! Kerajaan pertama yang terlihat oleh kita adalah sosok manusia luar biasa yang memiliki tampilan istimewa dalam sejarah perjalanannya yang mulia. Beliau menggenggam kitab suci yang mulia. Lewat lisannya beliau mengungkapkan perkataan yang ringkas, penuh hikmah, dan berlaku sepanjang masa untuk seluruh umat; bahkan untuk seluruh jin dan manusia; dan seluruh entitas yang ada.

Sungguh menakjubkan. Apa yang beliau katakan? Beliau mengatakan persoalan besar dan membahas berita agung. Beliau menjelaskan misteri tentang rahasia penciptaan alam; membuka dan menyingkap teka-teki tersembunyi mengenai rahasia hikmah alam; menerangkan tiga pertanyaan sulit yang membingungkan banyak orang karena merupakan pertanyaan setiap orang; yaitu siapa engkau? Dari mana? Dan hendak ke mana?

Percikan Kelima

Lihatlah sosok bersinar tersebut, bagaimana beliau memancarkan cahaya dan sinar kebenaran yang demikian terang. Beliau membuat malam manusia menjadi siang dan musim dinginnya menjadi musim semi. Seolah-olah semua entitas berganti bentuk sehingga alam ini tampak tertawa gembira setelah sebelumnya

31

cemberut dan masam.

Jika kita tidak mengambil cahaya beliau, kita akan melihat alam ini menjadi tempat berkabung. Seluruh entitas akan tampak menjadi seperti orang asing dan musuh. Yang satu tidak mengenali yang lain; bahkan memusuhinya. Benda-benda tak ubahnya jenazah besar. Hewan-hewan dan manusianya seperti anak yatim yang meratapi kepergian dan perpisahan. Dengan seluruh gerak, ragam, perubahan, dan ukirannya, alam ibarat tempat bermain yang sia-sia; tak mempunyai arti. Lewat kelemahan dan pikirannya yang meratapi duka masa lalu dan kecemasan terhadap masa mendatang, manusia menjadi lebih hina dan rendah dari semua makhluk lainnya. Itulah esensi alam bagi orang yang tidak memasuki wilayah cahayanya.

Sekarang lihatlah alam ini dengan cahayanya, lewat teropong agamanya, dan dalam wilayah syariatnya. Lihatlah bagaimana bentuk alam berubah. Rumah duka itu berubah menjadi masjid tempat zikir dan pikir serta majlis tempat memuji dan mengungkap rasa syukur. Musuh yang asing berubah menjadi kekasih dan saudara. Seluruh benda mati yang diam juga berubah menjadi hidup dan damai yang terhampar dan menjadi tanda kekuasaan Penciptanya. Makhluk hidup yang sebelumnya yatim, menangis, dan sedih berubah menjadi orang-orang yang berzikir dengan tasbih mereka; seraya menyukuri berbagai kemudahan dalam tugas mereka. Gerakan alam yang beragam dan berubah-ubah berganti dari yang tadinya sia-sia menjadi tulisan rabbani, lembaran bukti penciptaan, serta cermin langit ilahi sehingga alam demikian mulia dan menjadi kitab hikmah-Nya.

Lihatlah bagaimana manusia naik dari lembah hewani yang lemah dan tak berdaya menuju puncak kepemimpinan lewat kadar kelemahannya, iringan kepapahannya, duri penghambaannya, obor kalbunya, dan kesederhanaan iman akalnya. Lalu, perhatikan bagaimana sebab-sebab kejatuhannya yang berupa kelemahan, kemiskinan, dan akalnya berubah menjadi sebab yang membuatnya naik karena mendapat cahaya sosok bersinar itu.

Setelah itu lihatlah masa lalu, kuburan besar yang demikian gelap, bagaimana ia menjadi terang dengan mentari para nabi

32

dan bintang para wali. Lihatlah masa depan yang merupakan malam yang sangat pekat. Ia menjadi terang oleh cahaya Alquran dan memperlihatkan taman-taman sorga.

Karena itu, kalau seandainya sosok tersebut (Nabi saw) tidak ada tentu seluruh alam dan manusia serta segala sesuatu akan jatuh pada tingkat kehampaan; tak bernilai dan tak bermakna. Maka, alam yang indah ini membutuhkan keberadaan sosok luar biasa dan mulia tersebut. Jika beliau tidak ada, alam pun tiada sebab tidak lagi bermakna bagi kita. Mahabenar Allah yang befirman, "Kalau bukan karenamu, Aku takkan menciptakan alam."

{(Catatan-9): Ini adalah hadits qudsi. Sejumlah peneliti telah mengkaji hadits tersebut. Ada yang mengakuinya tetapi, ada yang menganggapnya lemah, serta ada pula yang mengingkarinya. Barangkali pandangan yang terdapat dalam Syarh al-Syifā (1/6) merupakan kesimpulan yang tepat. Disebutkan bahwa maknanya benar, meski riwayatnya lemah. Hal ini didukung oleh Ibnu Taymiyyah dilihat dari kebenaran maknanya seperti terdapat dalam Majmu Fatāwā (11/ 96-98).

Percikan Keenam

Barangkali engkau bertanya, "Apa yang dikatakan oleh sosok yang kita lihat telah menjadi mentari bagi alam sekaligus lewat agamanya menyingkap berbagai kesempurnaan entitas?"

Sebagai jawabannya, lihat dan perhatikan apa yang beliau katakan! Beliau menjelaskan dan memberi kabar gembira tentang kebahagiaan abadi. Beliau menerangkan rahmat yang tak terhingga seraya mengungkapkannya dan mengajak manusia kepadanya. Beliau menjadi penunjuk jalan kepada kekuasaan rububiyah Tuhan; serta penyingkap hal-hal tersembunyi yang terdapat di langit ilahi.

Perhatikan sisi tugas yang beliau emban. Engkau akan mendapatkan petunjuk kebenaran, lentera hakikat, mentari hidayah, dan sarana menuju bahagia. Kemudian, perhatikan sisi pribadinya yang merupakan perumpamaan cinta Tuhan, contoh rahmat-Nya, kehormatan hakikat manusia, serta buah pohon makhluk yang paling bersinar.

33

Lalu perhatikan bagaimana cahaya agamanya secepat kilat menyebar ke Timur dan Barat. Dengan penuh ketundukan terdapat sekitar separuh penduduk bumi dan seperlima manusia menerima petunjuk beliau di mana mereka siap mengorbankan nyawa untuknya.

Mungkinkah nafsu dan setan bisa menyanggah berbagai pernyataan yang dibawa oleh sosok semacam beliau; apalagi terkait dengan prinsip utama dakwah beliau; "tiada Tuhan selain Allah", dalam seluruh tingkatannya?

Percikan Ketujuh

Jika engkau ingin mengetahui faktor yang menggerakkan beliau, maka ia tidak lain adalah kekuatan yang suci dan mulia. Lihatlah aksi-aksi beliau di wilayah yang luas tersebut! Tidakkah engkau melihat bagaimana bangsa yang buas yang menempati padang pasir, yang demikian fanatik terhadap tradisi mereka, keras kepala, dan berhati keras sehingga tega membunuh anak perempuannya hidup-hidup, berhasil dirubah oleh sosok tersebut. Beliau telah melenyapkan dan mencabut semua akhlak buruk yang ada hanya dalam waktu singkat. Lalu mereka dipoles dengan akhlak yang luhur dan mulia. Mereka berhasil dibentuk oleh sang guru dunia. Lihatlah bagaimana kekuasaan beliau tidak hanya dalam bentuk lahiriah yang membuat mereka takut sebagaimana penguasa lain. Namun, beliau justru membuka hati dan akal serta menundukkan banyak jiwa manusia sehingga menjadi sosok yang dicinta, pendidik akal, pembina dan penguasa jiwa.

Percikan Kedelapan

Seperi diketahui bersama, merubah kebiasaan sederhana yang dimiliki sejumlah orang, merokok misalnya, sangatlah sulit dilakukan oleh penguasa besar sekalipun. Namun, kita melihat bagaimana beliau berhasil menghilangkan sejumlah kebiasaan utama dari satu bangsa yang fanatik terhadap tradisi dan keras kepala dengan kekuatan sederhana, tekad kecil, dan dalam waktu singkat. Kemudian beliau menggantikannya dengan sejumlah

34

kebiasaan dan karakter yang melekat kuat pada diri mereka. Lihatlah pribadi Umar ra. sebelum dan sesudah mendapat petunjuk. Benih yang ada berubah menjadi pohon yang kekar. Demikianlah, terdapat ribuan aksi luar biasa beliau yang kita ketahui. Siapa yang masih belum mengetahui era tersebut, perlu masuk ke jazirah Arab. Dirinya perlu mencoba pergi ke dalamnya. Ajaklah seratus orang filosof untuk pergi bersama ke tempat tersebut dan bekerja selama seratus tahun. Dapatkah kiranya mereka melakukan satu hal saja dari seratus hal yang telah dilakukan oleh Nabi saw dalam setahun menurut ukuran masa itu?!

Percikan Kesembilan

Perlu diketahui, jika engkau mengetahui tabiat manusia, orang berakal tidak akan mudah membuat sebuah pengakuan dusta yang diucapkan tanpa malu-malu, acuh, dan tanpa dibuat-buat yang diucapkan di hadapan musuh yang akan mengkritik, meski ia hanya orang kecil, memiliki jabatan rendah, pada lingkungan kecil, dan dalam persoalan sepele. Jika demikian, bagaimana mungkin hal itu akan dilakukan oleh sosok seperti beliau yang merupakan orang besar, memiliki tugas besar, dalam lingkungan besar, di hadapan musuh-musuh besar, dan dalam persoalan besar. Beliau menyampaikan perkataan beliau tanpa peduli dengan keberatan orang, tanpa ragu-ragu, dan tanpa rasa takut. Beliau sampaikan semuanya dengan jujur, menarik, dan cara yang membuat musuh emosi; yaitu dengan menghinakan akan mereka, merendahkan jiwa mereka, menghancurkan kehormatan mereka, serta dengan gaya yang sangat kuat. Mungkinkan manipulasi dan dusta terselip ke dalam pengakuan orang semacam beliau dalam kondisi seperti disebutkan di atas? Tentu saja tidak mungkin. "Ia tidak lain merupakan wahyu yang diberikan padanya."

{(Catatan-10): Q.S. al-Najm: 4}

Ya. Kebenaran tidak membutuhkan manipulasi dan pandangan terhadap hakikat kebenaran tidak bisa dimanipulasi.

35

Jalan beliau yang benar tidak membutuhkan manipulasi. Serta pandangan beliau yang menembus tidak akan membuat hakikat kebenaran bercampur dengan fantasi.

Percikan Kesepuluh

Lihat dan perhatikan apa yang beliau katakan! Beliau membahas berbagai hakikat besar yang menakjubkan, mengingatkan manusia, menerangkan persoalan yang menarik perhatian kalbu dan akal, serta memberikan kabar gembira. Seperti diketahui, keingintahuan terhadap hakikat segala sesuatu telah menggiring banyak manusia untuk rela mengorbankan nyawa. Karena itu, ada yang berkata, "Jika engkau habiskan setengah usiamu atau setengah dari hartamu, lalu turun seseorang dari bulan atau planet yang memberimu informasi tentang keadaan kedua benda langit itu sekaligus memberitahu tentang hakikat masa depanmu, apakah engkau rela dengan pengorbanan di atas? Sungguh aneh. Engkau rela memenuhi keingintahuanmu dengan mengorbankan setengah dari usia dan hartamu; sementara engkau tidak peduli dengan sabda Nabi saw yang dibenarkan oleh semua nabi, kaum shiddiqin, wali, dan para ahli hakikat yang telah menyaksikan. Beliau menerangkan kondisi kerajaan-Nya di mana bulan hanyalah seperti lalat yang terbang di sekitar kupu-kupu. Kupu-kupu itu terbang di sekitar lentera yang dinyalakan di sebuah lampu yang disiapkan untuk para tamu yang telah melakukan perjalanan dari ribuan rumahnya. Beliau memberitahukan tentang alam yang menjadi tempat kejadian berbagai hal luar biasa, di mana kalaupun bumi terbelah dan gunung-gunungnya beterbangan seperti awan, hal itu masih belum seberapa.

Engkau bisa memperhatikan firman-firman Allah yang berbunyi, "Apabila matahari digulung."

{(Catatan-11): Q.S. al-Takwir: 1}

"Apabila langit terbelah."

{(Catatan-12): Q.S. al-Infithār: 1}

Apabila bumi digoncang dengan segoncang-goncangnya."

{(Catatan-13): Q.S. al-Zilzalah: 1}

"Hari kiamat."

{(Catatan-14): Q.S. al-Qari'ah: 1.}

36

Beliau menceritakan tentang realitas masa depan. Masa depan dunia baginya hanyalah satu tetes fatamorgana yang tidak ada artinya jika diukur dengan lautan tak bertepi. Beliau memberitahukan tentang alam kebahagiaan. Baginya, kebahagiaan duniawi hanya seberkas kilat yang cepat menghilang jika diukur dengan mentari abadi.

Ya, di balik hijab alam terdapat berbagai hal menakjubkan yang menantikan dan menatap kita. Untuk memberitahukan semua itu harus ada sosok luar biasa yang dapat menyaksikan untuk kemudian bersaksi, melihat untuk kemudian memberitakan. Dalam hal ini kita menyaksikan kondisi beliau bagaimana beliau menyaksikan dan kemudian bersaksi, lalu memberikan peringatan dan kabar gembira. Beliau juga memberitahukan tentang apa saja yang disukai dan dituntut oleh Tuhan Pemelihara alam semesta dari kita. Serta masih banyak lagi persoalan besar lainnya yang mesti diketahui, dan hakikat yang mesti dipahami di mana hanya itu kebahagiaan dapat terwujud.

Sungguh rugi orang yang lalai. Sungguh rugi orang yang tersesat. Sungguh aneh mengapa sebagian besar manusia demikian dungu. Bagaimana mereka buta terhadap kebenaran dan tuli dengan hakikat yang ada. Mereka tidak peduli dengan berbagai hal menakjubkan yang terdapat pada sosok semacam beliau. Padahal, mestinya orang sepertinya layak dibela dengan nyawa dan segera dihampiri dengan meninggalkan dunia berikut segala isinya.

Percikan Kesebelas

Perlu diketahui, pribadi beliau yang tampak dengan moralitasnya, yang dikenal di dunia dengan ketinggian sifatnya, di samping merupakan petunjuk yang benar akan keesaan Tuhan dan dalil kebenaran tauhid, beliau juga merupakan petunjuk terang dan dalil cemerlang yang menjelaskan tentang kebahagiaan abadi. Lebih dari itu, sebagaimana lewat dakwah dan petunjuknya beliau menjadi sebab yang mengantarkan pada kebahagiaan abadi, lewat doa dan pengabdiannya beliau juga menjadi sebab terwujudnya kebahagiaan tersebut.

37

Engkau bisa melihatnya ketika berada dalam "salat terbesar" yang dengan keluasaannya ia merubah jazirah Arab; bahkan seluruh dunia menjadi sosok yang melakukan salat semacam itu. Kemudian perhatikan bagaimana beliau melaksanakan salat tersebut dengan jamaah yang sangat banyak. Seolah-olah beliau menjadi imam dalam mihrab masanya diikuti oleh semua manusia yang mulia, dari sejak Adam hingga masa kini, dan bahkan hingga akhir zaman nanti. Mereka berbaris dalam barisan semua generasi dengan bermakmum dan mengamini doanya. Lalu, perhatikan apa yang beliau lakukan dalam salat tersebut dengan jamaah yang ada. Beliau berdoa untuk satu kebutuhan yang sangat penting, besar, dan integral yang semua ikut berdoa bersamanya; termasuk langit dan seluruh entitas. Mereka sama-sama berujar, "Ya, wahai Tuhan. Terimalah doanya. Kami--bersama seluruh manifestasi nama-Mu-juga memohon agar bisa menggapai apa yang ia minta." Lalu perhatikan bagaimana beliau bermunajat dengan segala kepapahan dalam kerinduan yang sangat kuat dan kesedihan yang sangat mendalam di mana hal itu membuat seluruh alam ikut menangis dan ikut berdoa bersamanya. Kemudian perhatikan untuk tujuan apa beliau bermunajat. Beliau bermunajat dan berdoa untuk sebuah tujuan yang kalau tidak tercapai tentu manusia, bahkan seluruh alam dan seluruh entitas, akan terjatuh kepada derajat yang paling rendah; tidak memiliki nilai. Namun, dengan permintaan beliau, semua entitas naik menuju derajat kesempurnaannya. Selain itu, perhatikan bagaimana beliau bermunajat secara terus-menerus dengan segala kesungguhan dan mengharap belas kasih. Doa beliau terdengar oleh arasy dan semua langit dan mengundang simpati mereka. Sehingga seolah-olah arasy dan langit berkata, "Ya Allah kabulkan doanya!" Perhatikan pula kepada siapa beliau meminta? Ya beliau meminta kepada Zat Yang Mahakuasa, Maha Mendengar, Mahamulia, Maha Mengetahui, Maha melihat, dan Maha Mengasihi yang mendengar seluruh doa yang paling tersembunyi dari makhluk yang paling kecil terkait dengan kebutuhan yang paling samar. Dia mengabulkan dengan memenuhi hajat kebutuhannya secara langsung.

38

Dia mengetahui harapan paling kecil pada makhluk yang paling rendah dalam tujuan yang paling dekat. Dia mengantarkan kepadanya lewat cara yang tidak disangka-sangka. Dia mengasihi dan mencintai dalam bentuk yang bijaksana dan sangat rapi. Tidak ada keraguan bahwa pemeliharaan dan pengaturan tersebut berasal dari Zat Yang Maha Mendengar, Mengetahui, Melihat, dan Bijaksana.

Percikan Kedua Belas

Sungguh menakjubkan apa yang diminta oleh sosok yang tegak di atas bumi yang membuat seluruh nabi beserta seluruh manusia mulia berbaris di belakangnya. Beliau mengangkat tangan mengarah kepada arasy yang agung lalu berdoa dengan diamini oleh jin dan manusia. Dari kondisinya dapat diketahui bahwa beliau adalah manusia yang paling mulia, makhluk yang paling istimewa serta kebanggaan seluruh alam di sepanjang zaman. Beliau meminta syafaat lewat seluruh nama Tuhan yang tampak pada cermin entitas. Bahkan seluruh mereka juga meminta hal yang sama lewat nama-Nya. Perhatikan bagaimana beliau meminta keabadian, pertemuan, sorga, dan rida-Nya. Andaikan rahmat, pertolongan, hikmah, dan keadilan yang merupakan sebab pengantar kepada kebahagiaan abadi tidak ada, maka doa beliau sudah cukup lantaran Tuhan membangun sorga untuknya dan untuk anak-anaknya. Hal itu sebagaimana Dia mendatangkan sejumlah taman yang indah di setiap musim semi dengan berbagai ciptaan-Nya yang luar biasa. Jika risalah beliau menjadi sebab dunia ini dijadikan sebagai tempat ujian dan penghambaan, doa beliau menjadi sebab akhirat dijadikan sebagai tempat pemberian balasan dan ganjaran.

Keteraturan yang luar biasa, rahmat-Nya yang demikian luas, ciptaan-Nya yang sangat sempurna tanpa cacat, serta keindahan yang tanpa cela sehingga orang semacam al-Ghazali berkata, "Tidak ada yang lebih indah darinya," mungkinkah itu semua dihiasi dan digantikan oleh keburukan, kezaliman, dan kerancuan?! Pasalnya, mendengar dan memperhatikan suara yang paling hina pada makhluk yang paling rendah, terkait

39

dengan kebutuhan yang paling sederhana, sementara di sisi lain tidak mau mendengar dan mengabulkan suara, doa, dan kebutuhan yang paling mulia, hal itu merupakan sesuatu yang paling buruk dan cacat. Hal itu tidak mungkin terjadi. Keindahan yang tanpa aib tersebut tidak mungkin menerima keburukan tadi. Jika tidak, tentu berbagai hakikat di atas akan berbalik dari baik menjadi buruk.

Percikan Ketiga Belas

Wahai sahabatku dalam petualangan yang menakjubkan ini, tidakkah apa yang kau saksikan sudah cukup?! Jika engkau ingin menjangkau seluruhnya tidak akan mampu. Namun, kalau engkau tetap berada di jazirah ini selama seratus tahun kita tidak akan bosan memandang satu bagian dari seratus bagian keajaiban tugas dan aksinya. Marilah kita kembali dan melihat generasi demi generasi, bagaimana semuanya demikian hijau dan mendapat curahan karunia dari era pertama tadi.

Ya, kita melihat semua generasi yang kita lalui bunganya mekar oleh mentari era kebahagiaan tersebut. Generasi seperti Abu Hanifah,

{(Catatan-15): Abu Hanifah (80-150 H) bernama Nu'man ibn Tsabit. Pendiri madzhab Hanafi, seorang fakih dan mujtahid. Ia salah seorang imam yang empat menurut ahlu sunnah. Lahir dan besar di Kufah, serta meninggal di Bagdad. Ia memiliki sejumlah tulisan. Di antaranya, Musnad dalam bidang hadits yang dikumpulkan oleh para muridnya, lalu al-Fiqh al-Akbar dan al-Makhārij dalam bidang fikih. (al-A'lam karya az-Zarkaly, 8/36).}

asy-Syafii,

{(Catatan.16): Asy-Syafii (150-204 H) salah seorang imam ahlu sunnah yang empat. Lahir di Gaza, Palestina dan dibawa ke Mekkah pada saat berusia dua tahun. Ia mengunjungi Bagdad dua kali, lalu pergi menuju Mesir pada tahun 199 H dan meninggal di sana. Kuburannya dikenal di Kairo. Ia termasuk keturunan Quraisy yang pandai memanah. Selain itu, ia mahir dalam bidang syair, bahasa dan sejarah Arab. Kemudian ia menekuni fikih dan hadits, serta mengeluarkan fatwa pada saat usianya baru menginjak dua puluh tahun. Ia memiliki banyak tulisan. Di antaranya yang terkenal adalah al-Umm dalam bidang fikih dan Ahkam al-Qur'ān (al-A'lam 6/26).}

Abu Yazid al-Bustami,

{(Catatan-17): Abu Yazid al-Bustami (188-261 H) bernama Thoyfur ibn Isa al-Bustami. Abu Yazid adalah seorang zuhud yang terkenal. Berasal dari daerah Bustam dan meninggal di sana (antara Khurasan dan Irak).}

al-Junayd al-

40

Baghdadi,

{(Catatan-18) Ia adalah Junayd ibn Muammad (Abul Qasim al-zajja al-Qawariry) wafat tahun 297 H/ 1910 M. Seorang sufi yang zuhud sekaligus pemimpinnya. Lahir dan meninggal di Baghdad. Belajar ilmu fikih dari Sofyan al-Tsauri dan ilmu tasawwuf dari pamannya, al-Saiy al-Saqathy.}

Syeikh Abdul Qadir al-Jilani,

{(Catatan-19): Abdul Qadir al-Jilani adalah putra dari Abu Salih Abu Muhammad al-Jaily. Lahir di Jaylan tahun 470 H. lalu masuk Baghdad dan mendengar dan mempelajari hadits dari Abu Said al-Makhrami al-Hambali. Ia salah seorang qutub yang terkenal di kalangan ahlu sunnah wal jamaah, serta seorang pembaharu besar. Banyak di antara kaum muslimin yang menjadi muridnya serta banyak pula kalangan yahudi dan Nasrani yang masuk Islam lewat tangannya. Di antara tulisannya adalah buku al-Ghuniyah, Futūh al-Ghayb, dan al-Fath al-Rabbany. Ia wafat di Baghdad pada tahun 561 H.}

Imam al-Ghazali, Muhyiddin ibn Arabi,

{(Catatan-20): Muhyiddin Ibn Arabi adalah Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn Arabi, Abu Abdullah ath-Tha'I al-Andalusi yang dikenal dengan Ibnu Arabi dan dijuluki sebagai Syeikh al-Akbar. Lahir di Andalusia tahun 560 H dan meninggal di Damaskus pada tahun 638 H. Di antara tulisannya Fushūs al-Hikam dan al-Futūhāt al-Makkiyyah.}

Abul Hasan al-Syādzily,

{(Catatan-21): Al-Syadzily (591 -656 H) adalah Ali ibn Abdullah ibn Abdul Jabbar al-Syadzily. Syadzilah adalah sebuah desa di Afrika. Ia seorang zuhud yang singgah dan menetap di Iskandariyah. Pemimpin tarekat asy-Syadziliyyah dan penulis sejumlah wirid yang disebut dengan Hizb asy-Syadziliy.}

Syah al-Naqsyaband,

{(Catatan-22) Al-Naqsyaband adalah Muhammad Bahā'uddin, pendiri Tarekat an-Naqsyabandiyyah. Lahir di daerah Qasr al-Arifan, dekat Bukhara. Menuntut ilmu di Samarkand, menikah pada usia delapan belas tahun, serta menisbatkan diri kepada banyak guru. Terakhir ia kembali ke Bukhara hingga meninggal di sana. Di Bukhara ia mendirikan dan}

al-Imam al-Rabbani, dan yang lain adalah ribuan buah bersinar yang bersumber dari limpahan petunjuk beliau.

Penjelasan rinci tentang apa yang kita saksikan kita tunda pada waktu yang lain. Sekarang kita haturkan salawat dan salam kepada sosok bersinar yang memiliki sejumlah mukjizat, yakni Nabi Muhammad saw. Ya Allah limpahkan salawat dan salam kepada sosok bersinar yang padanya diturunkan Alquran oleh Zat Yang Maha Pengasih dan Penyayang dari arasy yang agung. Maksudnya junjungan kami Muhammad, beribu-ribu salawat dan salam sebanyak kebaikan umatnya semoga tercurah kepada sosok yang kedatangan risalahnya telah diinformasikan oleh kitab Taurat, Injil, Zabur dan kitab suci lainnya; yang kenabiannya telah

41

ditunjukkan oleh sejumlah keterangan yang berasal dari jin, wali, dan orang-orang suci; yang dengan isyaratnya bulan terbelah. Itulah junjungan kita, Nabi Muhammad saw. Beribu-ribu salawat dan salam sebanyak tarikan nafas umatnya semoga tercurah kepada sosok yang pepohonan datang menghampiri seruannya, yang hujan datang dengan cepat berkat doanya, yang awan melindunginya dari panas, yang ratusan manusia kenyang oleh makanan di nampannya, yang air memancar dari sela-sela jarinya seperti telaga al-kautsar, yang kadal, rusa, serigala, batang pohon, unta, gunung, batu, pepohonan dibuat bisa berbicara oleh Allah untuknya. Beliau adalah pribadi yang telah dimikrajkan. Junjungan dan pemberi syafaat bagi kita, Muhammad saw. Beribu-ribu salawat dan salam sebanyak huruf yang terbentuk dalam kata-kata yang terwujud dengan ijin Tuhan di cermin gelombang udara saat pembaca membaca setiap kata dari Alquran dari sejak awal turunnya hingga akhir zaman. Ampuni dan kasihi kami wahai Tuhan lewat setiap salawat darinya. Amin.

Ketahuilah

{(Catatan-23): Bahasan penting terkait dengan petunjuk sejumlah entitas ini terpisah dari "Percikan". Ustadz Nursi menerjemahkannya ke dalam bahasa Turki dan menjadikannya sebagai bagian ketiga dari kata kedelapan belas.}

bahwa berbagai bukti kenabian Muhammad tidak terhingga banyaknya. Kami telah menyebutkan sebagiannya dalam kata kesembilan belas dan surat kesembilan belas. Di samping kesaksian berbagai mukjizatnya yang sampai berjumlah seribu dan kesaksian Alquran yang sisi kemukjizatannya mencapai empat puluh yang telah dijelaskan dalam kata kedua puluh lima pada risalah Muhammad saw., entitas alam dengan berbagai tandanya juga bersaksi atas kenabian beliau. Pasalnya, apabila dalam berbagai ciptaan yang tersebar di alam ini terdapat tanda dan petunjuk tentang entitas itu sendiri, pada waktu yang sama ia juga bersaksi atas keesaan zat-Nya, serta bukti yang ada padanya juga bersaksi atas risalah yang dibawa oleh Muhammad saw.

Di antaranya adalah kesempurnaan ciptaan-Nya. Kesempurnaan ciptaan Tuhan yang terdapat pada makhluk dengan tegas menunjukkan risalah Muhammad saw. Karena keindahan

42

makhluk memperlihatkan kepada yang melihatnya secara langsung kreasi dan hiasan-Nya yang bagus. Sementara kreasi dan hiasan tersebut secara otomatis menunjukkan bahwa dalam diri Penciptanya terdapat kehendak kuat untuk memperbagus dan memperindah. Kedua hal itu menunjukkan bahwa dalam diri Penciptanya terdapat rasa cinta mendalam terhadap ciptaan-Nya serta keinginan untuk memperlihatkan kesempurnaan ciptaan-Nya. Rasa cinta dan keinginan itu menunjukkan bahwa manusia yang merupakan makhluk paling sempurna dan paling indah merupakan manifestasi yang utuh dari rasa cinta dan keinginan-Nya. Selanjutnya, manusia sebagai makhluk yang paling komprehensif dan berperasaan memiliki pandangan dan sentuhan perasaan yang menyeluruh. Dengan pandangannya yang bersifat umum, ia mampu menatap seluruh pohon penciptaan. Dan dengan perasaannya yang menyeluruh ia mampu mengenali tujuan penciptaan.

Manusia merupakan objek yang diajak bicara oleh Sang Pencipta. Karena pandangannya yang bersifat umum dan perasaannya yang menyeluruh menjadi sebab manusia dipilih sebagai objek yang diajak bicara, maka orang yang mencurahkan seluruh pandangan dan perasaannya untuk beribadah dan mencintai-Nya, lalu mengarahkan keduanya untuk menghormati ciptaan-Nya, serta mempergunakan semua pandangan, perasaannya, dan seluruh kekuatannya untuk menyukuri nikmat Tuhan dan mengajak umat manusia agar beribadah dan bersyukur pula, tentu orang istimewa semacam ini layak untuk menjadi mitra bicara yang didekatkan dan dicintai oleh-Nya.

Wahai manusia, mungkinkah orang istimewa tersebut menurutmu bukan Muhammad saw.? Dapatkah sejarah memperlihatkan sosok lain yang lebih pantas mendapatkan kedudukan tersebut daripada Muhammad saw? Wahai yang memiliki penglihatan sehat dan mata hati, perhatikan dunia manusia di alam ini agar engkau dapat menyaksikan dengan jelas dua wilayah yang saling berhadapan dan dua sisi yang saling berlawanan:

Yang satu adalah wilayah rububiyah yang sangat teratur dan rapi serta sisi penciptaan yang tertata dengan sangat

43

sempurna dan seimbang. Sementara satunya lagi adalah wilayah penghambaan yang bersinar dengan penuh ketundukan dan konsisten serta sisi yang berpikir, menghargai, bersyukur dan beriman.

Jika engkau menyaksikan dua wilayah dan dua sisi tersebut, perhatikan keselarasan antara keduanya sehingga engkau dapat melihat secara jelas bahwa wilayah penghambaan seluruh sisinya bergerak dengan nama "wilayah yang pertama" sekaligus bekerja dengan seluruh kekuatannya untuk-Nya. Juga engkau dapat melihat dengan cermat bahwa sisi yang berpikir, bersyukur, menghargai, dan beriman menatap dengan seluruh makna dan isyaratnya kepada sisi penciptaan dan karunia-Nya.

Apabila matamu menyaksikan hakikat tersebut, mungkinkah akalmu mengingkari keselarasan yang paling agung antara pimpinan wilayah ubudiyah dan Pemilik wilayah rububiyah? Akankah kalbumu tidak percaya bahwa pemimpin yang dengan ikhlas melayani tujuan Sang Pencipta untuk menghargai ciptaan-Nya memiliki keselarasan yang sangat agung dengan Sang Pencipta, memiliki hubungan yang kuat dengan-Nya, serta berbicara dan menerima risalah-Nya? Tak diragukan beliau adalah kekasih yang diterima di sisi Sang Pemilik kerajaan. Bahkan, beliau merupakan makhluk yang paling dicinta dan paling dekat dengan-Nya.

Wahai manusia, mungkinkah engkau berpikir bahwa Sang Pencipta makhluk yang berhias dengan segala macam keindahan, Pemberi berbagai macam nikmat, Pemelihara berbagai sentuhan rasa yang terdapat di mulut makhluk tidak peduli dan tidak memperhatikan makhluk yang paling indah dan paling sempurna semacam beliau, yang menghadap kepada-Nya dengan rasa rindu, penghambaan, dan cinta yang sempurna; makhluk yang seluruh alam mendendangkan nyanyian kekaguman dan penghormatan lantaran indahnya kreasi Sang Pencipta, serta daratan dan lautan bergoncang karena tertarik oleh suara syukurnya atas kebaikan Tuhan dan gema takbirnya melihat keagungan Sang Pencipta?

Mungkinkah Pencipta yang Maha Berbuat baik dan Maha

44

Berkuasa tidak peduli terhadap makhluk-Nya yang selalu bersyukur ini? Mungkinkah Dia membiarkannya? Mungkinkah Dia tidak mengajaknya berbicara? Mungkinkah Dia tidak mencintainya? Mungkinkah beliau tidak didekati oleh-Nya? Mungkinkah Dia tidak ingin memperlihatkan watak dan sifat baik beliau kepada makhluk? Mungkinkah Dia tidak menjadikan beliau sebagai teladan bagi manusia agar mereka meniru akhlak dan perilakunya? Mungkinkah Dia tidak menjadikannya sebagai rasul bagi seluruh manusia? Atau, mungkinkah Pencipta makhluk yang tertata rapi yang lukisan kreasinya mengindikasikan adanya pengetahuan dan hikmah tak terbatas tidak memiliki sensitivitas dan pengetahuan terhadap makhluk-Nya yang paling sempurna dan paling indah?

Atau, mungkinkah Dia mengetahui dan melihat, namun tidak berbicara dengannya? Atau, mungkinkah Dia mencintai dan berkenalan lewat ciptaan-Nya yang indah namun tidak mencintai dan mengenali sosok yang mencintai dan mengenal-Nya sebagaimana mestinya serta mendekat dan menunjukkan penghambaan pada-Nya dengan tulus?

Percikan Keempat Belas

Bagian ini mencakup sejumlah tetesan dari laut mukjizat terbesar.

Tetesan Pertama

Perlu diketahui bahwa dalil-dalil kenabian Muhammad tidak terhitung dan tak terhingga. Hal itu telah dijelaskan oleh banyak peneliti. Dengan segala keterbatasan dan kekuranganku, aku telah menjelaskan beberapa kilau dari mentari tersebut dalam risalah berjudul Syu'ā'āt (Kilau-kilau). Aku juga telah menjelaskan secara global sejumlah aspek mukjizat terbesarnya, yakni Alquran. Dengan pemahamanku yang terbatas aku

45

telah menerangkan sekitar empat puluh aspek kemukjizatan Alquran dalam al-Lawāmi' (Cahaya-cahaya).

{(Catatan-24): Diterbitkan sebagai lampiran tambahan dalam al-Kalimat.}

Di antara aspek tersebut aku telah menjelaskan salah satunya, yaitu retorikanya yang luar biasa, sebanyak empat puluh halaman dari tafsir berbahasa Arab yang kutulis yang berjudul Isyārāt al-I'jāz. Engkau bisa merujuk ke tiga buku di atas.

Tetesan Kedua

Ketahuilah! Dari pelajaran yang lalu engkau memahami jika Alquran yang bersumber dari Pencipta langit dan bumi dan diperkenalkan oleh Tuhan Pemelihara semesta alam kepada kita memiliki banyak kedudukan dan fungsi. Barangkali engkau bertanya, "Apa itu Alquran?"

Jawabannya, ia adalah terjemah abadi bagi seluruh entitas dan bagi lisannya yang membaca ayat-ayat kauniyah, serta penafsir bagi buku alam. Ia juga penjelas bagi berbagai perbendaharaan langit yang tersembunyi dalam lembaran langit dan bumi. Ia kunci bagi berbagai hakikat yang tertutup dalam baris-baris kejadian. Ia lisan tak tampak dalam dunia nyata. Ia perbendaharaan kalam Tuhan yang abadi. Ia pilar dan mentari bagi dunia Islam. Ia peta bagi alam ukhrawi. Ia ucapan yang jelas, penafsir yang terang, bukti yang kuat, dan penerjemah cemerlang terkait dengan zat, sifat, nama, dan keadaan Allah. Ia pendidik bagi dunia manusia. Ia seperti air dan cahaya bagi umat manusia yang bernafaskan Islam. Ia hikmah hakiki bagi manusia sekaligus pengantar menuju tujuan penciptaan.

Selain itu, bagi manusia di samping merupakan kitab syariat, Alquran juga merupakan kitab hikmah. Di samping merupakan kitab doa dan ibadah, ia juga kitab perintah dan dakwah. Di samping merupakan kitab zikir, ia juga merupakan kitab pemikiran. Di samping merupakan sebuah kitab yang mencakup begitu banyak kitab sejalan dengan semua kebutuhan manusia, ia juga seperti rumah suci yang terdiri dari sejumlah kitab dan risalah sehingga ia memperlihatkan untuk setiap jalan dari berbagai kelompok yang berbeda yang terdiri dari para wali, kaum shiddiqin, ahli makrifat, dan ahli hakikat sebuah risalah yang sesuai untuk menerangi dan menggambarkan jalan tersebut sehingga ia menjadi seperti kumpulan risalah.

46

Tetesan Ketiga

Penjelasan tentang cahaya mukjizat di balik pengulangan ayat-ayat Alquran.

{(Catatan-25): Persoalan kesepuluh dari kilau kesebelas. Ia menjelaskan hikmah pengulangan tersebut secara komprehensif.}

Ia memuat enam hal:

Pertama

Perlu diketahui bahwa karena Alquran merupakan kitab zikir, kitab doa, dan kitab dakwah, maka pengulangan menjadi sesuatu yang tepat bahkan wajib. Pasalnya, zikir perlu diulang-ulang, doa perlu terus dipanjatkan, dan dakwah harus terus ditekankan. Dalam pengulangan zikir terdapat pencerahan, dalam pengulangan doa terdapat penetapan, dan dalam pengulangan dakwah terdapat penegasan.

Kedua

Perlu diketahui bahwa Alquran merupakan kalam dan obat bagi seluruh tingkatan manusia, mulai dari yang paling pandai hingga kepada yang paling bodoh, dari yang paling bertakwa hingga kepada yang paling celaka, dari yang mendapat taufik, bersungguh-sungguh, dan tidak tertarik pada dunia hingga kepada orang yang tertipu dan sibuk dengan dunia. Dengan demikian, setiap orang tidak akan selalu bisa membaca Alquran secara utuh yang merupakan obat bagi setiap orang di setiap waktu. Karena itu, Zat Yang Maha Bijaksana dan Penyayang memasukkan sebagian besar maksud Alquran dalam sebagian besar surat. Terutama, surat-surat yang panjang sehingga setiap surat menjadi semacam Alquran kecil. Jadi, Allah memudahkan jalan bagi setiap orang. Ia befirman,

Telah Kami mudahkan Alquran untuk menjadi peringatan, adakah yang mau mengambil pelajaran.

{(Catatan-26): Q.S. al-Qamar: 17.}

47

Ketiga

Perlu diketahui bahwa kebutuhan jasmani pada setiap waktu berbeda. Maka itu, untuk sebagian orang di setiap waktu ia seperti udara, untuk sejumlah orang di waktu panas ia seperti air, untuk sekelompok orang pada setiap hari seperti makanan, untuk beberapa orang di setiap minggu seperti cahaya, serta untuk sekian orang pada setiap bulan dan tahun ia seperti obat. Selain itu, kebutuhan spiritual manusia juga beragam. Bagi sejumlah orang di setiap waktu ia seperti "Dia adalah Allah," untuk sebagian orang pada setiap masa ia seperti "dengan nama Allah," serta bagi sekian orang pada setiap saat seperti "tiada Tuhan selain Allah.". Demikian seterusnya.

Jadi, pengulangan ayat dan kata adalah untuk menunjukkan berulangnya kebutuhan sekaligus mengisyaratkan adanya kebutuhan mendesak manusia terhadapnya, untuk mengingatkan dan membangunkannya, serta untuk mendorong munculnya rasa membutuhkan terhadap nutrisi spiritual tersebut.

Keempat

Perlu diketahui bahwa Alquran merupakan peletak dasar agama yang agung dan kokoh. Ia pengubah tatanan sosial manusia. Karena merupakan peletak dasar, ia membutuhkan pengulangan untuk menegaskan, menguatkan, dan memantapkan.

Alquran juga memuat jawaban terhadap persoalan berbagai tingkatan manusia yang senantiasa berulang lewat bahasa ucapan dan realita.

Kelima

Perlu diketahui bahwa Alquran membahas berbagai persoalan besar seraya mengajak kalbu untuk mengimaninya. Ia juga memuat sejumlah hakikat secara detil seraya mengajak akal untuk mengetahuinya. Karena itu, untuk menanamkan di dalam kalbu dan untuk menguatkannya dalam opini umum diperlukan pengulangan dalam bentuk yang berbeda-beda dan gaya yang beragam.

48

Keenam

Perlu diketahui bahwa setiap ayat Alquran memiliki aspek lahir dan batin, awal dan batas akhir. Serta setiap tujuannya memiliki sejumlah aspek, hukum, pelajaran, dan maksud. Di satu tempat engkau bisa menemukan sebuah aspek, sementara di sisi lain engkau menemukan aspek berbeda. Di satu surat engkau mendapatkan sebuah tujuan, sementara di surat berbeda engkau mendapatkan tujuan lain. Demikian seterusnya. Jadi, sebenarnya tidak terdapat pengulangan di dalam Alquran.

Tetesan Keempat

Penjelasan cahaya mukjizat pengabaian Alquran terhadap persoalan filsafat alam, serta keterangannya yang kurang jelas dan umum di bagian lain. Hal ini mencakup enam hal:

Hal Pertama

Barangkali engkau bertanya, "Mengapa Alquran tidak membahas tentang alam sebagaimana pembahasan dalam ilmu hikmah dan filsafat?"

Jawabannya adalah karena filsafat keluar dari jalur hakikat yang sebenarnya. Ia mempergunakan alam untuk kepentingan dirinya dengan makna simbolis. Sementara, Alquran diturunkan dengan membawa kebenaran serta turun pada tataran hakikat. Ia mempergunakan alam dengan pengertian harfiah; bukan untuk dirinya; tetapi untuk Penciptanya.

Lalu mengapa Alquran hanya menjelaskan secara umum dan global esensi benda-benda langit dan bumi berikut bentuk dan gerakannya; tidak sebagaimana penjelasan sain di masa kini?

Jawabannya adalah karena hal itu lebih penting dan lebih indah.

Pertama, karena Alquran membahas tentang alam guna menjadi dalil atas zat dan sifat Allah. Sementara, syarat sebuah dalil harus jelas dan lebih jelas daripada konklusinya yang berupa mengenali zat, sifat, dan nama Allah. Seandainya bentuknya seperti yang diinginkan para ilmuwan dengan berbunyi, "Wahai manusia, lihatlah kondisi matahari yang diam dan bumi yang

49

bergerak agar engkau mengetahui agungnya kekuasaan Penciptanya," tentu dalilnya lebih samar dan lebih tersembunyi daripada konklusinya serta lebih sulit dipahami sebagian besar manusia di sepanjang masa. Padahal, hak sebagian besar manusia untuk mendapatkan petunjuk dan hidayah lebih penting. Memperhatikan pemahaman mereka tidak berarti menafikan manfaat yang bisa didapat oleh para filosof yang jumlahnya sedikit. Hanya saja, memperhatikan jumlah yang minoritas seringkali mengalahkan yang mayoritas.

Kedua, retorika dalam memberikan petunjuk harus sejalan dengan nalar masyarakat secara umum, harus memperhatikan sensitivitas mereka, dan harus melihat cara berpikir sebagian besar mereka. Hal itu agar tidak dianggap aneh oleh nalar dan pemikiran mereka. Nah, perkataan dan petunjuk yang paling bisa diterima oleh mereka adalah ketika jelas, sederhana, mudah tak rumit, singkat tak membosankan, dan global tanpa perlu dijelaskan lagi.

Ketiga, Alquran tidak menjelaskan berbagai keadaan alam untuk dirinya; tetapi untuk Penciptanya. Karena itu, yang terpenting adalah keadaannya yang mengarah kepada Penciptanya. Adapun ilmu hikmah membahas alam untuk dirinya sehingga yang terpenting adalah keadaan yang mengarah kepada dirinya. Jadi, perbedaan antara keduanya seperti langit dan bumi.

Selain itu, Alquran berbicara kepada semua manusia dan memperhatikan pemahaman sebagian besar mereka agar benar-benar mengenal; tidak hanya bersikap taklid. Sementara, sain pada dasarnya berbicara kepada ilmuwan. Adapun masyarakat umum hanya bersikap taklid. Maka itu, apa yang dirinci oleh sain hanya dijelaskan secara global oleh Alquran atau bahkan diabaikan sesuai dengan sejauh mana manfaatnya bagi masyarakat secara umum.

Keempat, karena Alquran petunjuk bagi semua strata manusia, maka secara retoris ia tidak boleh membuat sebagian besar manusia menyimpang dan mengingkari sejumlah aksioma yang terdapat dalam pandangan lahiriah mereka. Ia juga tidak boleh merubah tradisi mereka tanpa ada keperluan mendesak.

50

Namun, ia harus membiarkan dan memperindah sesuatu yang memang mereka butuhkan dalam mengerjakan tugas.

Misalnya Alquran membahas tentang matahari; bukan untuk matahari dan bukan dari sisi substansinya. Akan tetapi, ia dibahas untuk Zat yang telah membuatnya bersinar dan menjadikannya sebagai lentera serta dilihat dari fungsinya sebagai sumber keteraturan penciptaan, pusat tatanan makhluk, kumparan keserasian celupan dalam untaian lukisan azali bagi semua makhluk lewat tali malam dan siang di sepanjang musim. Hal itu dimaksudkan agar dengan tatanan keserasian makhluk Alquran dapat memperlihatkan kesempurnaan Penciptanya Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui kepada kita. Gerakan matahari, entah secara lahiri ataupun hakiki tidaklah mempengaruhi tujuan Alquran. Sebab, tujuan Alquran adalah memperlihatkan untaian keteraturan yang penuh hikmah itu dalam bentuk memperlihatkan peredaran mentari yang tampak oleh mata.

Hal Kedua

Alquran berkata,

Dia menjadikan matahari sebagai lentera:

{(Catatan-27) Q.S. Nūh: 16.}

:

Matahari beredar dalam orbit yang telah ditetapkan untuknya.

{(Catatan-28): Q.S. Yāsin: 38.}

Barangkali engkau bertanya, "Mengapa Alquran menyebut matahari sebagai lentera, padahal menurut sain ia tidak mengikuti bumi; justru ia yang menjadi pusat bumi dan tata surya?"

Jawabannya, penyebutan mentari sebagai lentera merupakan gambaran tentang alam sebagai sebuah istana berikut gambaran tentang segala sesuatu yang terdapat di dalamnya sebagai perlengkapan, hiasan, dan makanannya yang diperuntukkan bagi penduduk dan pelancong di istana tersebut. Ia mengingatkan bahwa semua itu disediakan untuk para tamu dan

51

pelayannya oleh Tangan Yang Mahamulia dan Maha Penyayang. Matahari hanyalah makhluk yang diperintah, ditundukkan, serta lentera yang bersinar. Dengan menyebutnya sebagai lentera Alquran mengingatkan rahmat Sang Pencipta dalam keagungan rububiyah-Nya, memperkenalkan karunia-Nya dalam keluasan rahmat-Nya, mengingatkan kemurahan-Nya dalam tatanan kekuasaan-Nya, memberitahukan keesaan-Nya dengan memperlihatkan sesuatu yang dianggap oleh orang musyrik sebagai sesembahan. Matahari tidak lain hanyalah lentera yang dihamparkan oleh Tuhan. Karena itu, di manakah letak kepantasannya untuk disembah?!

Dengan istilah beredar atau berjalan Allah ingin mengingatkan manusia kepada gerakan teratur yang menakjubkan di antara pergantian siang dan malam serta perputaran musim dingin dan panas. Di dalamnya tersirat keagungan qudrat Sang Pencipta dalam keesaan-Nya dan pemeliharaan-Nya.

Dari titik matahari dan bulan akal pikiran diarahkan kepada lembaran malam dan siang, serta musim dingin dan panas. Dari sana, ia diarahkan kepada rangkaian peristiwa yang tertulis di rongganya. Maka, penyebutan kata "beredar" menunjukkan makna tersebut. Redaksi lahiriahnya sudah cukup tanpa perlu mengaitkan tujuan tersebut dengan hakikatnya.

Perhatikan kosakata Alquran yang demikian mudah, sederhana, dan sudah dikenal, bagaimana ia menjadi pintu dan kunci bagi kekayaan makna yang tersembunyi. Lalu, perhatikan redaksi bahasa hikmah dan filsafat, di samping lemah, ia tidak mendatangkan kesempurnaan ilmiah, rasa spiritual, tujuan kemanusiaan, dan manfaat keagamaan. Tetapi, justru mendatangkan kebingungan yang luar biasa. Ia membuatmu terjatuh dari langit tauhid yang terang ke dalam lembah yang gelap gulita. Perhatikan sebagian ucapan filosof terkait dengan matahari, Ia adalah benda besar yang berasal dari cairan api. Bentuknya tiga ratus ribu kali lebih besar daripada bumi. Ia berotasi pada orbitnya. Percikan api, yaitu bumi dan sejumlah planet lain beterbangan darinya. Benda-benda angkasa yang berbeda-beda ukuran dan kedekatannya dengan matahari itu berputar lewat

52

gravitasi umum di seputar matahari di angkasa raya. Jika salah satunya secara kebetulan keluar dari orbit akibat benturan di langit, misalnya karena terkena meteor, tentu hal itu akan mendatangkan kehancuran pada sistem tata surya, dan demikian pula di dunia di mana langit dan bumi akan bergoncang hebat.

Perhatikanlah! Apa yang kau dapatkan dari pembahasan di atas? Subhanallah, bagaimana mungkin kesesatan membalikkan hakikat kebenaran? Matahari berikut planet-planetnya tidak lain merupakan ciptaan yang ditugaskan, dicipta, dan dihamparkan dengan perintah Penciptanya Yang Maha Bijaksana dan dengan kekuatan Tuhan Yang Mahakuasa. Meski ukurannya sangat besar, ia hanyalah satu tetes kilau di lautan langit. Padanya tampak manifestasi dari nama an-Nur (Maha Bersinar).

Andaikan para filosof memasukkan cahaya Alquran ke dalam pembahasan mereka, dengan berkata, "Allah membuat benda-benda angkasa itu memiliki tugas yang sangat rapi dan penuh hikmah. Ia sangat tunduk kepada perintah-Nya." Tentu dengan begitu pengetahuan mereka akan berguna. Namun, jika hanya menisbatkan kepada dirinya dan kepada sebab, ia seperti bunyi firman Allah,

Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (QS al-Hajj: 31)

Hal yang sama berlaku pada berbagai pembahasan lainnya.

Hal Ketiga

Perlu diketahui bahwa tujuan utama dan unsur fundamental Alquran adalah empat: tauhid, pengumpulan makhluk (di hari kiamat), keadilan, dan pengabdian. Karena itu, semua pembahasannya menjadi sarana bagi tercapainya tujuan tersebut.

53

Terdapat sebuah kaidah yang berbunyi, "Tidak dibahasnya sarana secara mendalam adalah agar kajian utamanya tidak terfokus kepada sesuatu yang tidak penting sehingga tujuannya tidak tercapai. Dari sini, Alquran mengabaikan atau menerangkan secara global berbagai persoalan alam. Selain itu, sebagian besar pembicaraan Alquran ditujukan kepada kalangan umum yang tidak mampu memahami sejumlah hakikat ilahi yang tersembunyi kecuali dengan perumpamaan dan penjelasan secara umum. Mereka tidak selalu siap untuk mengetahui sejumlah persoalan yang hanya dapat dijangkau oleh sebagian kecil filosof. Karena itulah, Alquran banyak memberikan perumpamaan. Di antara bentuk perumpamaannya adalah penyerupaan. Yaitu melukiskan berbagai hakikat ilahi yang tersembunyi. Selain itu, Alquran menerangkan secara umum sesuatu yang baru tersingkap pada beberapa masa kemudian setelah adanya sejumlah pendahuluan.

Hal Keempat

Perlu diketahui bahwa sebagaimana jam tidak tetap; tetapi sejumlah perangkatnya bergerak, demikian pula dunia yang merupakan "jam besar". Dengan memasukkan zaman ke dalamnya, "siang dan malam" menjadi penunjuk detiknya, sementara "tahun" menjadi penunjuk menitnya, serta "masa" menjadi jarum yang menunjukkan jamnya. Lalu, dengan memasukkan tempat ke dalamnya, "udara"dengan kecepatan perubahannya menjadi tanda penghitung detik, "bumi" dengan permukaannya yang berisi tumbuhan dan hewan baik yang hidup maupun yang mati menjadi seperti jarum penunjuk menit, sementara dengan goncangan di dalam perutnya dan kemunculan gunung-gunungnya ia seperti jarum penunjuk jam, serta "langit" dengan segala perubahannya berikut gerakan benda-benda angkasa, meteor, dan gerhananya seperti tanda penghitung hari.

Jadi, dunia yang dibangun di atas ketujuh pilar di atas bersifat fana, binasa, dan terus bergerak seperti air yang mengalir. Hanya saja, ia tampak diam akibat alpa sehingga menghijab akhirat. Filsafat yang sakit dan peradaban yang nista membuat-

54

nya bertambah beku dan kotor lantaran uraian filosofis tersebut. Adapun Alquran menghembus dunia lewat ayat-ayatnya seperti kapas, membeningkan dengan keterangan-keterangannya, serta mencairkan dengan sinarnya, melenyapkan keabadiannya lewat kabar kematiannya, memisahkan kealpaan yang lahir untuk alam dengan sentuhannya. Maka, lewat kondisinya yang telah disebutkan hakikat dunia yang bergoncang membaca ayat yang berbunyi, "Apabila Alquran dibacakan, perhatikan dan dengarkan baik-baik semoga kalian mendapat rahmat."(QS al-Arāf: 204).

Karena itu, Alquran menyebutkan secara global esensi sesuatu yang dirinci oleh filsafat. Sebaliknya, ia menyebutkan secara rinci tugas-tugasnya dalam mematuhi perintah penciptaan serta keadaannya yang menjadi dalil atas nama, perbuatan, dan kondisi Penciptanya.

Sebagai kesimpulan, Alquran membahas makna dan petunjuk kitab alam, sementara filsafat hanya mengkaji tulisan dan keselarasan huruf-hurufnya. Ia tidak memperkenalkan entitas sebagai kata yang menunjukkan makna tertentu. Jika engkau ingin mengetahui perbedaan antara hikmah filsafat dan hikmah Alquran, maka dapat merujuk kepada penjelasan ayat yang berbunyi,

Siapa yang diberi hikmah tersebut, berarti ia telah diberi kebaikan yang sangat banyak.

{(Catatan-29): Q.S. al-Baqarah: 269. Penjelasan mengenai ayat tersebut terdapat dalam kata kedelapan belas.}

Hal Kelima

Bagian ini dimasukkan ke dalam tiga cahaya dari obor kedua pada kata kedua puluh lima, "Mukjizat Alquran." Bagian ini memuat banyak sekali ayat Alquran. Jadi, di sini bukan dalam konteks menerangkannya.

{(Catatan-30): Hal kelima ini secara utuh terdapat dalam risalah terakhir, "Cahaya bintang Alquran."}

55

Hal Keenam

Ketahuilah! Dari penjelasan sebelumnya dipahami bahwa Alquran hanya mengarah kepada aspek pembuktian alam sebagai dalil perbuatan Allah, kepada bagaimana perbuatan-Nya itu memperlihatkan nama-nama-Nya, kepada bentuk penuangan perbuatan tersebut kepada nama tadi, serta kepada kondisi nama-nama-Nya--yang merupakan pantulan cahaya sifat--yang meliputi segala sesuatu.

Kesimpulannya, yang dilihat oleh Alquran dari entitas alam hanyalah sejumlah aspek yang mengarah kepada Penciptanya. Sebaliknya, yang dilihat oleh filsafat dari entitas alam hanyalah aspek yang mengarah kepada diri dan sebabnya, serta kepentingan filsafat semata. Betapa bodoh orang yang terlena dengan ilmu-ilmu filsafat lalu menjadikannya sebagai standar dalam mengkaji Alquran yang suci. Sungguh tepat ucapan yang berbunyi, "Beragam disiplin ilmu adalah kegilaan sebagaimana kegilaan juga beragam."

Tetesan Kelima

Ketahuilah bahwa di antara cahaya kemukjizatan Alquran sebagaimana yang telah kusebutkan dalam "benih" adalah bahwa ia menggabungkan antara kefasihan yang istimewa, keserasian yang kokoh, keterpaduan antar kalimat, serta harmoni antar ayat dan tujuannya lewat kesaksian ilmu bayan dan semantik. Meski turun selama kurun waktu dua puluh tahun secara berangsur-angsur sesuai kebutuhan dalam bentuk yang terpisah-pisah, namun ia sangat padu sehingga seolah-olah turun secara sekaligus dalam satu waktu. Meski turun dengan sebab-sebab yang berbeda, namun ia saling menguatkan sehingga seolah-olah sebabnya satu. Meski datang sebagai jawaban atas banyak pertanyaan yang beragam, ia demikian menyatu sehingga seolah-olah pertanyaannya satu. Meski merupakan penjelasan bagi banyak peristiwa hukum, namun ia demikian teratur sehingga seolah-olah peristiwanya satu. Meski turun dalam berbagai gaya bahasa yang sesuai dengan tingkat pemahaman mitra bicara yang sangat berbeda-beda, namun ia sangat harmoni seolah-olah

56

kondisinya sama. Meski datang berbicara kepada berbagai jenis manusia, namun ia sangat sederhana, rapi, dan jelas seolah-olah mitra bicaranya satu sehingga masing-masing merasa dirinya yang diajak bicara. Meski turun untuk mengantarkan kepada berbagai tujuan dakwah, namun ia sangat lurus dan seimbang seolah-olah tujuannya satu. Orang yang mata hatinya sehat, tentu akan mengetahui bahwa di dalam Alquran terdapat mata yang bisa melihat semua entitas alam yang tampak ataupun yang tersembunyi. Ia ibarat lembaran yang terang dan jelas yang bisa dibolak-balik sesuka hati serta maknanya bisa dikenali sesuai dengan kehendaknya.

Tetesan Keenam

Penjelasan bahwa Alquran tidak bisa dibandingkan dengan seluruh ucapan dan perkataan sebagaimana telah kusebutkan dalam risalah "tetesan".

Perlu diketahui bahwa sumber ketinggian, kekuatan, ketepatan, dan keindahan ucapan ada empat: pembicara, mitra bicara, tujuan, dan kedudukannya. Jadi, ia tidak hanya sekedar kedudukan sebagaimana anggapan sebagian sastrawan. Lihatlah kepada siapa yang berbicara, kepada siapa pembicaraan ditujukan, apa yang dibicarakan, serta apa isi pembicaraannya. Jika pembicaraannya berupa perintah dan larangan, bisa jadi ia mencakup kehendak dan kemampuan sesuai dengan tingkatan pembicaranya.

Ya, bandingkanlah antara perintah yang tidak bernilai yang muncul dari angan-angan dimana ia tidak didengar dan perintah hakiki yang mengisyaratkan adanya kekuatan dan kehendak. Perhatikan bunyi firman Allah, "Wahai bumi telanlah airmu, dan wahai langit (hujan) berhentilah!"

{(Catatan-31): Q.S. Hūd: 44.}

"Lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, 'Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.' Keduanya menjawab, 'Kami datang dengan suka hati."

{(Catatan-32): Q.S. Fushshilat: 11}

Bandingkan dengan ucapan manusia yang sedang

57

mengigau, "Wahai bumi, diamlah! Wahai langit terbelahlah! Wahai kiamat datanglah!" Bandingkan antara perintah pemimpin yang ditaati oleh pasukan besar di mana ia berkata, "Hei, serang musuh Allah!" dan perintah yang berasal dari orang rendah yang perintahnya tidak dihiraukan! Bandingkan antara, "Jika menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata, 'Jadi!, maka jadilah ia,"

{(Catatan-33): Q.S. Yāsin: 82.}

dan ucapan manusia biasa. Juga, perhatikan gambaran yang diberikan oleh Penguasa hakiki; yang perintah-Nya sangat berpengaruh dan hukum-Nya pasti berlaku. Perhatikan penjelasan dari Pencipta yang mencipta dan Pemberi karunia yang di saat mencipta dan memberi Dia menggambarkan segala perbuatan-Nya dengan berkata, "Aku telah melakukan ini dan itu serta berbuat ini dan itu." Perhatikanlah ayat yang berbunyi, "Maka, apakah mereka tidak melihat langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya di mana langit itu tidak mempunyai retak sedikitpun? Kami hamparkan bumi dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh. Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mat untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi setiap hamba yang kembali (mengingat Allah). Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya. Lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, serta pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang bersusun- susun sebagai rezeki bagi hamba. Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Nah seperti itulah terjadinya kebangkitan."

{(Catatan-34): Q.S. Qāf: 6-11}

Kemudian bandingkan ia dengan gambaran tak berarti dalam membahas aktivitas yang tidak ada nilainya. Ya, bandingkan mata bintang dengan berhala-berhala kecilnya yang tampak di keramaian. Perhatikanlah redaksi Alquran yang merupakan gema esensi petunjuk, sumber hakikat iman, dan pilar dasar Islam yang muncul dari arasy Zat Yang Maha Penyayang di mana redaksi tersebut berisi kalam azali berikut pengetahuan, qudrat, dan kehendak-Nya. Kemudian bandingkan ia dengan redaksi

58

manusia yang keluar, lemah, tanpa makna? Bandingkanlah Alquran yang ibarat pohon yang memberikan cabang, daun, bunga, dan buahnya untuk dunia Islam dengan segala makna, syiar, kesempurnaan, hukum, sifat, dan walinya sehingga banyak dari tunas pohon tuba tersebut yang berubah menjadi pohon berbuah. Dalam hal ini Allah befirman,

Katakan, "Andaikan manusia dan jin berkumpul untuk membuat semacam Alquran, mereka tidak akan bisa melakukannya meski satu dengan yang lain saling membantu."

{(Catatan-35): Q.S. al-Isrā': 88.}

Alquran menghentak lewat kefasihan bahasanya, kedalaman maknanya, keindahan penjelasannya, keapikan redaksinya yang mencakup banyak aspek, ketepatan petunjuknya yang mencakup lautan syariat dan berisi hakikat serta jalan-jalan yang dilalui oleh para mujtahid, kaum arif, kalangan yang sampai pada-Nya, serta ahli hakikat. Alquran juga menghentak lewat kelenturannya di setiap masa, kesesuaiannya pada setiap era untuk setiap tingkatan. Ia menaklukkan para orator dan ulama jenius. Bahkan, ia membuat semua manusia tak berdaya untuk membuat satu surat semisalnya. Lalu, bandingkan dengan ucapan manusia. Perbedaannya antara langit dan bumi.

اللَّهُمَّ بِحَقِّ اْلقُرآنِ وَبِحَقِّ مَنْ اُنْزِلَ عَلَيْهِ اْلقُرْآن نَوِّرْ قُلُوبَنَا بِنُورِ الْقُرْآنِ وَاجْعَلِ الْقُرْآنَ شِفَاءً لَنَا مِنْ كُلِّ دَاء، وَمُونِساً لَنَا فِي حَيَاتِنَا َوبَعْدَ مَمَاتِنَا، وَاجْعَلْهُ لَنَا فِي الدُّنْيَا قَرِيْناً وَفِي الْقَبْرِ مُوْنِساً وَفِي الْقِيَامَةِ شَفِيْعاً وَعَلَى الصِّرَاطِ نُوْراً وَمِنَ النَّارِ سِتْراً وَحِجَاباً، وَاِلَى الْجَنَّةِ رَفِيْقاً وَاِلَى
59
الْخَيْرَاتِ دَلِيْلاً وَاِمَاماً بِفَضْلِكَ وَحَمْدِكَ وَكَرَمِكَ وَاِحْسَانِكَ وَرَحْمَتِكَ يَا اَكْرَمَ الْاَكْرَمِيْنَ وَيَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن.
وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مَنْ اَنْزَلْتَ عَلَيْهِ الْقُرْآنَ وَاَرْسَلْتَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ صَلَاةً تُرْضِيْكَ وَتُرْضِيْهِ وَتَرْضَى بِهَا يَارَبَّ اْلعَالَمِين
فَيَا مُنْزِلَ الْقُرآنِ بِحَقِّ الْقُرْآنِ اِجْعَلْ هَذَا الْكِتَابَ نَائِباً عَنِّي نَاطِقاً بِهَذا الدُّعَاءِ بَدَلاً عَنِّي، اِذَا أَسْكَتَ الْمَوْتُ لِسَانِي آمِين. اَلْفَ آمِين

Ya Allah, dengan kebenaran Alquran dan kebenaran sosok yang padanya Alquran diturunkan, terangi hati kami dengan cahaya Alquran. Jadikan Alquran sebagai obat segala penyakit bagi kami dan pemberi ketentraman di saat hidup dan mati. Jadikan ia sebagai teman pendamping kami di dunia, pemberi kedamaian di kubur, pemberi syafaat di hari kiamat, cahaya saat berada di atas jembatan shirath, tameng dan hijab dari neraka, sahabat menuju sorga, petunjuk kepada berbagai kebaikan, serta sebagai pemimpin dengan karunia, pujian, kemurahan, kebaikan, dan rahmat-Mu wahai Zat Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.

Sampaikan salawat dan salam kepada sosok yang kepadanya Engkau turunkan Alquran serta Kau utus ia sebagai rahmat bagi semesta alam. Juga kepada keluarga dan sahabatnya. Salawat yang membuatmu rida, yang membuatnya rida, serta Engkau rida dengannya wahai Tuhan Pemelihara semesta alam.

Wahai Zat yang menurunkan Alquran dengan kebenaran

60

Alquran, jadikan kitab suci ini sebagai wakil yang menggantikanku mengucapkan doa ini saat kematian membuat lisan terdiam. Amin.

***

61#

⬇ Gulir Otomatis
📝 Catatan Saya 0 catatan

Pilih teks lalu tekan tombol "Catatan" untuk menambahkan catatan.

Pengaturan
Tema
Ukuran Font
Ketebalan Font
Ukuran Font Arab
Spasi Baris

Mode Fokus
Sembunyikan sidebar
Gulir Otomatis
Halaman bergulir sendiri
Kecepatan