Benih Biji Buah Taman Alquran
Benih tersebut berkata:
Aku adalah tangkai pohon yang membawa buah tauhid
Serta tetes embun dari laut yang penuh dengan permata keagungan
{(Catatan-113): Risalah ini dicetak pertama kali di percetakan Awqaf Islamiyyah di Istambul tahun 1340 H (1922 M)}
Penjelasan Tujuan
Ada yang memberitahu kalau orang-orang berkata, "Banyak dari kandungannya yang tidak kami pahami sehingga menjadi sia-sia."
Menurutku, insya Allah ia tidak sia-sia. Dengan kehendak Zat pemegang kunci perbendaharaan segala sesuatu akan tiba waktunya sebagian besar pemikir yang taat untuk memahaminya. Pasalnya, sebagian besar persoalan ini merupakan obat dari Alquran yang pernah kucoba pada diriku. Hanya saja, banyak manusia yang tidak memahami seperti yang kupahami. Karena keliru jalan, diriku mulai dari kepala hingga kaki, penuh dengan beragam luka. Orang yang sehat di mana kalbunya hidup tidak
memahami tingkat pengaruh sebuah balsem untuk yang sedang sakit akibat gigitan ular hawa nafsu sebagaimana yang ia pahami.
Selain itu, dalam kesempatan ini aku tidak berada dalam posisi menjelaskan lantaran tak mampu atau khawatir melakukan perubahan. Karenanya, aku menuliskan apa adanya.
Juga, aku berbicara sesuai posisiku, bukan dalam posisi pendengar yang berhadapan denganku; tidak seperti pembicara lain yang menempatkan diri dalam posisi sebagai pendengar. Oleh sebab itu, kendali kitabku yang wajahnya tertuju kepadaku dan pantulannya tertuju kepada pendengar seolah-olah dibaca lewat cermin sehingga nampak sulit. Lantaran aku tidak pergi kepada posisinya, hendaknya ia mengutus hayalannya kepadaku untuk kujamu di hadapanku; tepatnya di kepalaku agar bisa melihat sebagaimana yang kulihat.
Kumasukkan dalam "titik, tetes berikut lanjutannya, partikel, aroma, dan benih" sejumlah intuisi dan potongan cermin ketika dengan ijin Allah datang orang yang menyusunnya dengan mengeditnya. Cermin tersebut memperlihatkan wajah aynul yaqin dan intuisi yang mencerahkan cahaya haqqul yaqin. Betapa tidak, sementara ia bersumber dari limpahan karunia Alquran yang terang.
Ya Allah, perlihatkan kebenaran kepada kami sebagai sebuah kebenaran serta anugerahi kami kemampuan untuk mengikutinya. Perlihatkan kebatilan kepada kami sebagai sebuah kebatilan serta anugerahi kami kemampuan untuk menghindarinya!
Amin.
Bismillāhirrahmānirrahīm
Segala puji bagi Allah atas karunia agama Islam dan kesempurnaan iman. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Muhammad saw. yang merupakan sentral wilayah Islam dan sumber cahaya iman. Juga, kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau sepanjang siang dan malam berputar dan sepanjang mentari dan bulan bersinar.
Ketahuilah bahwa ketika engkau melihat alam ini sebagai kitab besar engkau melihat cahaya Muhammad saw sebagai tinta dari pena Penulisnya. Ketika engkau melihat alam ini memakai gambaran pohon, engkau melihat cahaya beliau sebagai benih darinya, kemudian sebagai buahnya. Ketika engkau melihat alam ini seolah-olah dalam bentuk seperti makhluk hidup, engkau melihat cahaya Rasul saw sebagai ruhnya. Ketika engkau melihat alam ini berubah bentuk seperti manusia besar, engkau melihat cahaya Rasul saw sebagai akalnya. Ketika engkau melihat alam ini ibarat taman bunga, engkau akan melihat cahaya Rasul saw sebagai burungnya.
Ketika engkau melihat alam laksana istana indah yang tinggi dan memiliki sejumlah paviliun, akan tampak padanya kilau kekuasaan Tuhan azali, tanda-Nya yang luar biasa, manifesatsi keindahan-Nya yang indah, serta ukiran kreasi-Nya yang menawan. Jadi, engkau melihat cahaya Rasul saw sebagai kacamata yang pertama-tama melihat untuk dirinya sendiri; kemudian menyeru dengan "Wahai manusia, marilah melihat berbagai pemandangan yang suci dan mulia. Marilah menuju sesuatu yang kalian sukai, kagumi, hormati, dan renungi. Serta kepada berbagai tujuan mulia yang diperlihatkan kepada manu
sia di mana Pemiliknya menyaksikan dan bersaksi untuk mereka, mencintai dan membuatnya dicintai oleh mereka, menerangi dan memberikan penerangan untuk mereka, serta menebarkan dan memberikan limpahan karunia atas mereka.
Ketahuilah bahwa manusia merupakan buah pohon penciptaan. Buah tersebut merupakan bagian yang paling sempurna, paling jauh dari bakteri, serta paling memiliki karakter komprehensif. Itulah yang membuatnya tetap terpelihara.
Di antara manusia ada yang berupa benih di mana darinya Zat Mahakuasa menumbuhkan pohon tersebut. Lalu, Zat Pencipta merubah manusia sebagai buah dari pohon tadi. Setelah itu, Zat Yang Maha Pengasih menjadikan buah tersebut sebagai benih bagi pohon Islam, lentera bagi alamnya, dan mentari bagi tata suryanya. Dalam buah harus terdapat benih yang menghimpun seluruh kebutuhan pohon sebagaimana asalnya. Bentuk benih yang kecil tidak menafikan ukuran pohon yang besar sama seperti benih pohon tin.
Dalam diri manusia terdapat biji yang seandainya ia merupakan buahnya, niscaya biji tadi merupakan benihnya. Ia adalah kalbu. Lewat sarana rasa butuh, di dalamnya terdapat begitu banyak relasi dengan berbagai spesies alam, bahkan dengan berbagai bagian dan partikelnya. Di dalamnya terdapat banyak keterpautan dengan seluruh cahaya nama-nama Allah yang indah lewat kebutuhannya yang mendesak pada manifestasi masing-masing darinya. Bahkan, seolah-olah diri manusia memiliki kebutuhan sebanyak bagian alam. Selain itu, ia juga memiliki musuh sepenuh dunia. Manusia baru merasa tenang dengan bersandar pada Zat yang kuasa mencukupi dan memeliharanya dari segala sesuatu.
Di dalamnya juga terdapat potensi yang mencerminkan keseluruhan alam laksana peta, indeks, dan contoh. Pusatnya hanya bisa menerima Zat Yang Mahaesa dan tunggal. Ia hanya ridha dengan keabadian. Benih ini yang merupakan biji kalbu, di mana airnya berupa Islam dan cahayanya berupa iman, jika sudah nyaman berada di bawah tanah penghambaan dan keikhlasan, lalu disiram dengan Islam, dan disadarkan dengan
iman, maka ia akan menumbuhkan pohon bercahaya yang ideal yang bersumber dari alam perintah di mana ia merupakan ruh dari alam fisiknya. Jika tidak disiram, ia akan menjadi benih yang kering yang layak untuk dibakar dengan api sehingga berubah menjadi cahaya.
Betapa dalam benih terdapat banyak elemen-elemen halus dan kecil yang kurang dipedulikan. Namun, ternyata jika benihnya tersingkap, masing-masing memiliki tugas penting dan besar. Begitu pula dengan benih kalbu yang merupakan para pelayan yang tersembunyi dan tidur. Apabila terbangun dan merasa nyaman dengan kehidupan kalbu, mereka akan berjalan-jalan di taman alam laksana burung angkasa. Ia juga sangat senang hingga mengucap, "Segala puji bagi Allah atas seluruh ciptaan-Nya karena semua merupakan nikmat bagiku." Bahkan, asumsi atau hayalan yang merupakan pelayan kalbu paling lemah memiliki tugas menakjubkan. Dengannya si pemilik yang terikat dalam penjara bisa masuk ke dalam taman indah sekaligus saat melakukan salat di Timur atau di Barat ia bisa meletakkan kepalanya di bawah hajar aswad, lalu meninggalkan dua syahadat di sana.
Ketahuilah bahwa segala sesuatu memiliki alam khusus dari alam yang bersifat umum ini. Ia merupakan sumber dari alam umum, namun pusatnya adalah individu; sebagai ganti dari mentari. Kunci dari alam tersebut terdapat dalam diri manusia dan bergantung pada perangkat halusnya. Warna, kejernihan, keindahan dan keburukannya, cahaya dan gelapnya tergantung kepada pusat tadi. Sebagaimana taman yang berada dalam bayangan cermin mengikuti kondisi aslinya, begitu pula dengan alam pribadi. Ia mengikuti pusatnya. Satu noda dalam kalbumu bisa mengotori bintang alammu.
Ketahuilah bahwa sudah tiga puluh tahun aku berdebat dengan dua toghut: "aku" dan "materi" di alam ini. Terkait dengan "aku (ego)" ia merupakan cermin bayangan. Hanya saja, manusia melihatnya sebagai tujuan hakiki sehingga membangkang.
Adapun "materi" ia merupakan kreasi ilahi dan celupan
Yang Mahakasih. Namun, manusia melihatnya dengan pandangan lalai sehingga materi berubah menjadi tuhan. Akhirnya, ia melahirkan sikap kufur nikmat yang mengantarkan kepada kekufuran.
Segala puji dan syukur bagi Allah. Berkat taufik-Nya dan berkat curahan Alquran, perdebatan tersebut berakhir dengan terbunuhnya kedua toghut tadi dan kehancuran dua berhala tersebut. Yakni lewat "titik, tetes, partikel, aroma, biji, dan benih." Kreasi ilahi dan syariah yang bersifat fitri dan rabbani tersingkap dari hijab alam ilusi. Ia terlepas darinya; yakni siangnya dari malamnya. "Aku" tersingkap dari bayangan "Dia". Ia terbelah menuju Dia yang mengarah kepada Zat Yang tiada yang serupa dengan-Nya.
Ketahuilah wahai "aku" engkau memiliki sembilan hal dalam duniamu yang esensi dan akibatnya tidak kau ketahui:
1. Jasadmu ibarat buah yang segar dan indah di musim panas serta menjadi susut dan pecah di musim dingin.
2. Terkait dengan kehidupan materimu lihatlah spesies hewan, bagaimana mereka cepat mati dan lenyap.
3. Adapun kemanusiaanmu berpindah-pindah di antara kondisi padam dan terang, lenyap dan abadi. Karena itu, jagalah agar tetap abadi dengan terus berzikir mengingat Zat Yang Maha Abadi.
4. Usia hidupmu dan posturmu. Ia demikian singkat dengan batasan yang jelas; tak bisa dimajukan atau dimundurkan. Karena itu, jangan bersedih dan pilu. Jangan pula mengkhawatirkannya. Jangan bebani ia dengan sesuatu yang di luar kemampuannya berupa angan-angan panjang.
5. Wujudmu bukan milikmu. Ada Zat yang memilikinya. Semua ini adalah milik-Nya di mana Dia lebih sayang kepadanya daripada dirimu. Sikapmu yang ikut campur melakukan sesuatu di luar perintah-Nya merupakan perbuatan sia-sia dan seringkali malah berbahaya. Sikap tamak hanya membuahkan kecewa dan tidak tidur saja.
6. Musibahmu sebenarnya tidak pahit karena berlalu dengan sangat cepat. Sebaliknya, ia manis karena ia merubah
kondisimu dari fana pada sesuatu yang fana menuju keabadian dengan Zat Yang Mahakekal.
7. Engkau di sini sekarang adalah musafir. Kalbunya tidak terpaut dengan sesuatu yang akan segera ditinggalkan. Sebagaimana engkau akan pergi dari rumah menuju masjid, engkau juga akan meninggalkan negeri ini; entah ke dalam perutnya atau ke luarnya. Sebagaimana engkau pasti berpisah dengannya, engkau akan pergi; bahkan dikeluarkan dan diusir-suka atau tidak suka-dari dunia yang fana ini. Karena itu, keluarlah dalam kondisi terhormat sebelum diusir dalam kondisi hina.
8. Lalu terkait dengan eksistensimu, serahkan ia untuk Zat yang menciptakannya yang telah membelinya dengan harga mahal. Segera jual secepatnya; atau bahkan relakan! (1) karena ia akan hilang dengan sendirinya; (2) karena Dia adalah milik-Nya dan kembali kepada-Nya; (3) karena jika engkau bersandar padanya engkau akan jatuh pada ketiadaan. Pasalnya, ia merupakan pintu menuju kepada-Nya. Jika engkau membuka dengan cara meninggalkannya, engkau akan sampai kepada wujud hakiki; (4) karena jika engkau berpegang padanya berarti di tanganmu hanya terdapat satu titik saja di mana engkau dikelilingi oleh berbagai ketiadaan. Jika engkau membuangnya, berarti engkau menggantinya dengan kilau mentari sehingga dirimu dikelilingi oleh berbagai cahaya wujud yang tak terhingga.
9. Adapun kenikmatan dunia, maka bagianmu akan sampai kepadamu. Karena itu, jangan berlebihan dalam mencarinya. Kondisinya yang cepat lenyap tak layak bagi orang berakal untuk menjadi pautan hati. Kesudahan dunia menjadikan sikap meninggalkan kesenangannya lebih utama. Pasalnya, kesudahan dunia ini bisa mengarah kepada kebahagiaan di mana ia harus dengan meninggalkan dunia, atau mengarah kepada derita. Siapa yang sedang menantikan penyaliban, bagaimana mungkin bersenang-senang dengan menghias salib di mana hal itu hanya menambah
derita?! Jika kekufuran merupakan ketiadaan, maka ia harus ditinggalkan. Pasalnya, dengan lenyapnya kenikmatan hal itu menambah rasa sakit. Sakit ini jauh lebih berati dibandingkan dengan nikmatnya hubungan jika engkau bisa merasakan.
Ketahuilah bahwa berbagai musibah yang telah ditetapkan oleh ketentuan-Nya bisa mengena dirimu. Sama seperti sejumlah kambing yang dilepas dalam tanah gembala. Ketika si pengembala melihat kambingnya melewati batas ia dilempar dengan batu agar kembali. Maka, yang kepalanya terkena lemparan secara tidak langsung berkata, "Kami berada di bawah kendali si pengembala. Ia lebih mengetahui kondisi kami. Karena itu, kami kembali." Iapun kembali diikuti yang lain. Karena itu, wahai diri, jangan menjadi makhluk yang lebih sesat daripada kambing itu. Ketika mendapat musibah, ucapkanlah, "Innā lillāhi wa innā ilayhi rāji'ūn."
Ketahuilah bahwa di antara bukti bahwa kalbu tidak dicipta untuk sibuk dengan urusan dunia adalah bahwa ketika terpaut dengan sesuatu ia akan terpaut dengan sangat kuat, akan sangat perhatian dengannya, serta berusaha agar ia abadi atau fana di dalamnya secara total. Jika sudah mengulurkan tangan, tangan tadi bisa memegang dan mengangkat batu karang yang besar, padahal dunia yang ia raih dengan tangan itu tidak seberapa atau bahkan hilang percuma.
Ketahuilah bahwa Alquran diturunkan diiringi dengan hidangan Tuhan. Hidangan itu berisi beragam jenis yang dibutuhkan oleh berbagai lapisan masyarakat yang memiliki selera berbeda-beda. Di dalam hidangan itu terdapat sejumlah makanan yang tersusun. Yang pertama-tama dihidangkan di atas taplak ilahi adalah rezeki untuk sebagian besar makhluk; atau masyarakat umum. Misalnya, "Langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya."
{(Catatan-114): Q.S. al-Anbiyā':30.}
Sebelumnya langit dan bumi menyatu. Yang satu bersih dan
bening, sementara yang lain mati, berdebu, dan kering. Keduanya berpasangan dengan ijin Allah Swt. Yang satu menghasilkan hujan, sementara yang satunya lagi menghasilkan buah. Dalilnya, "Dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup." Di balik keduanya terdapat sejumlah planet berikut mataharinya yang berasal dari racikan materi yang diciptakan dari cahaya Nabi saw. Dalilnya adalah hadits yang berbunyi, "Yang pertama kali Allah ciptakan adalah cahayaku..."
{(Catatan-115): "Yang pertama kali Allah cipta adalah cahaya nabimu wahai Jabir." Hadist ini diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dengan sanadnya dari Jābir ibn Abdullah dalam sebuah hadits panjang (Kasyful Khafā'1/205). Di dalamnya juga disebutkan (2/129): "Aku nabi pertama dalam yang dicipta dan yang terakhir diutus). Dalam al-Maqāshid disebutkan bahwa ia diriwayatkan oleh Abu Naim dalam ad-Dalā'il dan Ibn Abī Hātim dalam tafsirnya dari jalurnya bersumber dari Abu Hurayrah r.a. secara marfu. Ia diperkuat oleh hadist Maysarah al-Fakhr yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dan al-Bukhārī serta al-Baghawi, Ibn as-Sakan, dan Abu Naim dalam al-Hilyah. Al-Hakim menyebutnya sebagai hadits sahih.}
Misalnya, "Apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama? Sebenarnya mereka dalam Keadaan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru."
{(Catatan-116): Q.S Qaf: 15.}
Yaitu, lembaran pertama yang terlihat oleh mata. Meski mereka mengakui adanya penciptaan pertama yang menakjubkan dan terlihat jelas, namun mereka mengingkari penciptaan baru yang lebih mudah. Pasalnya, sebab sudah ada contoh sebelumnya. Di balik lembaran ini terdapat petunjuk terang tentang kebangkitan sempurna yang terwujud dengan mudah. Wahai yang mengingkari mahsyar, kalian dikumpulkan dan dibangkitkan sepanjang hidup kalian selama berkali-kali. Sepanjang tahun kalian, atau sepanjang hari, kalian memakai dan melepaskan jasad ini seperti makanan pada pagi dan sore hari. Dengan begitu jasad kalian selalu tampil dalam kondisi baru sama seperti pakaian.
{(Catatan-117): Penjelasannya dalam isyārāt al-I'jaz dalam tafsir firman Allah, "Terhadap akhirat mereka yakin." Penulis.}
Ketahuilah! Sungguh aneh diri yang bodoh ini. Ia melihat kalau dalam dirinya terdapat jejak penciptaan dan pemeliharaan oleh Tuhan Yang Maha Memilih dan Bijaksana. Lalu, ia melihat kepada seluruh makhluk dan spesies lain yang semisal dengan-
nya. Dari sana tampak rahasia sunnah tersebut yang bersifat komprehensif mencakup semua. Mestinya ia percaya dengan prinsip yang bersifat komprehensif itu. Namun kenyataannya apa yang menguatkan manifestasi nama-Nya yang terdapat di cakrawala ia bayangkan sebagai sebab kelemahan, sarana penutup, tanda pengabaian, serta alamat bahwa tidak ada yang mengawasinya. Inilah kerancuan berpikir yang setan sendiri malu dengannya.
Ketahuilah wahai jiwa yang resah dan gelisah, semua kondisimu yang demikian jelas, serta tulisan pada dahimu sesuai dengan pena takdir sejelas terbit dan terbenamnya mentari. Jika engkau ingin membenturkan takdir dengan kepalamu yang lemah tentu engkau akan tersungkur. Yakinlah bahwa siapa yang tidak mampu menembus langit dan bumi, harus menerima dengan suka cita pemeliharaan Zat yang, "telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan rapi."
{(Catatan-118): Q.S. al-Furqān: 2.}
Ketahuilah di antara hal yang aneh bahwa akal yang berusaha menjangkau alam dan menembus apa yang berada di luar batas kemampuannya tenggelam dalam satu tetes, fana dalam satu partikel, lenyap dalam satu helai, serta wujud ini baginya terbatas pada sesuatu yang di dalamnya ia fana. Ia ingin agar semua yang ia ketahui masuk bersamanya ke dalam satu titik yang telah menelannya.
{(Catatan-119): Ya. filosof terbesar di muka bumi tenggelam dalam setetes rasa sakit, fana dalam benih cinta, lenyap dalam untaian kesenangan. Wujud ini baginya segera fana dengan sejumlah perhatiannya. Ia berusaha memasukkan semua pengetahuannya tentang wujud ke kedalaman titik yang telah menelannya.}
Ketahuilah, andaikan kerajaan ini milikmu tentu kenikmatan yang kau rasakan akan rusak oleh keharusan untuk menjaga dan memelihara, serta oleh rasa was-was. Zat Pemberi nikmat yang Maha Pemurah senantiasa memberikan segala tuntutan nikmat. Yang diserahkan kepadamu hanya ijin untuk menikmati dan mengonsumsi hidangan kebaikan-Nya, berikut rasa syukur yang akan menambah nikmat. Pasalnya, syukur adalah melihat pemberian nikmat dalam nikmat yang tersedia.
Hal itu menghilangkan kepedihan akibat hilangnya nikmat. Sebab, ketika nikmat lenyap ia tidak digantikan oleh ketiadaan, namun sengaja tempatnya dikosongkan untuk kedatangan nikmat sejenis seperti buah sehingga kedatangannya kembali mendatangkan kenikmatan. "Penutup doa mereka ialah, 'Segala puji bagi Allah Tuhan Pemelihara semesta alam.'"
{(Catatan-120): Q.S. Yūnus: 10.}
Ayat ini menunjukkan bahwa memuji Allah merupakan sumber kenikmatan. Rahasia hamdalah adalah melihat pohon karunia dalam buah nikmat sehingga bayangan akan lenyapnya nikmat hilang.
Ketahuilah, peradaban bodoh yang menjadikan bumi laksana satu negeri ini di mana penduduknya saling mengenal serta membisikkan dosa dan informasi tak berguna lewat harian pagi dan sore, dipenuhi oleh hijab kelalaian. Ia hanya bisa ditembus dengan tekad yang kuat. Demikian pula terdapat celah yang tak terhingga bagi jiwa manusia yang mengarah kepada dunia di mana ia tak mungkin dibendung kecuali bagi orang yang Allah beri anugerah.
Ketahuilah bahwa partikel bisa memuat mentari lewat manifestasinya padanya dalam bentuk penyaksian, namun ia tak bisa memuat dua partikel dalam bentuk zatnya. Partikel alam dan susunannya seperti tetesan dan percikan hujan yang bersinar lantaran bayangan mentari. Ia bisa menjadi wujud lahiriah dari kilau manifestasi qudrat Tuhan yang azali dan komprehensif yang berisi pengetahuan dan kehendak azali tak terhingga. Partikel sel matamu tidak mungkin menjadi sumber kekuasaan dan kehendak di mana para pembantunya memikul sepuluh tugasnya di sejumlah syaraf yang menggerakkan, merasa, melihat, menggambarkan dan lainnya.
Kreasi yang rapi dan menakjubkan, lukisan yang indah dan teratur, hikmah yang mendalam dan halus ini melahirkan konsekwensi sebagai berikut:
Setiap partikel dan susunan alam bisa menjadi sumber bagi sejumlah sifat yang mencakup, mutlak, dan sempurna.
Atau, ia bisa menjadi wujud, pantulan, dan bayangan kilau
manifestasi mentari azali di mana semua sifat di atas merupakan milik-Nya.
Kemungkinan pertama mengandung berbagai kemustahilan sebanyak partikel dan susunan alam. Siapa yang berpikir bahwa kedua sayap lebah menahan beban gunung Subhan dan Ararat lalu kedua mata lalat bisa mengalirkan sungai Nil dan Eufrat, maka ia boleh memilih kemungkinan pertama. Dalam hal ini setiap partikel bersaksi akan kelemahannya dalam memikul sesuatu yang tak mampu ia lakukan. Tidak ada yang menghadirkan, yang mencipta, yang memelihara, yang memiliki, yang berdiri sendiri, dan tidak ada tuhan selain Allah.
Partikel dan komposisi alam lewat lisannya yang beragam serta petunjuknya yang bermacam-macam menyatakan:
Ekspresi kami beragam sementara kebaikan-Mu satu
Segala sesuatu menunjuk kepada keindahan itu
Ya. setiap huruf dari buku alam menunjukkan keberadaan dirinya dengan satu aspek dan satu ukuran, sementara ia menunjukkan keberadaan Penulis dan Penciptanya dengan banyak aspek. Dari nama-nama-Nya yang terwujud di alam didendangkan sebuah kumpulan syair yang cukup panjang:
Perhatikanlah goresan-goresan alam
Sebab ia adalah risalah untukmu dari Tuhan
{(Catatan-121): Karya ahli nahwu (gramatika) ternama yang dikenal dengan nama Ruknuddin ibn al-Qawba (wafat tahun 738 H).}
Ketahuilah
{(Catatan-122): Cabang keempat dari kalimat kedua puluh empat menjelaskan persoalan ini.}
bahwa cermin penampakan dan manifestasi beraneka ragam: kaca, air, udara-terutama bagi kata-kata-idealita, ruh, akal, fantasi, dan zaman, serta hal-hal lain yang tak kita ketahui. Potret materi padat yang terdapat dalam cermin pada hakikatnya terpisah dan mati. Ia bukan merupakan karakter aslinya dan berbeda dengannya. Buktinya ia bisa berpindah ke pas photo di mana yang berpindah hanya identitas bentuk materinya semata.
Adapun potret cahaya benar-benar bersambung dan
terpaut. Ia juga merupakan pemilik karakter aslinya. Andaikan Tuhan Pencipta menjadikan panas matahari sebagai kehidupannya, cahayanya sebagai perasaannya, serta warna cahayanya sebagai inderanya, tentu matahari tadi akan berbicara padamu dalam kalbu cermin yang terdapat di tanganmu, ibarat telepon yang berada di cermin kalbu. Perumpamaannya yang terdapat di tanganmu juga merupakan miliknya sesuai dengan kadar kesiapannya dalam memberikan panas kehidupan, cahaya perasaan, dan warna indera. Dari rahasia ini Nabi saw. yang merupakan cahaya mengetahui semua salawat orang yang bersalawat kepada beliau dalam satu waktu. Dari sini pula semua rahasia tersembunyi menjadi terbuka.
{(Catatan-123): Penjelasannya terdapat dalam al-lawami hal. 847 dari buku al-kalimāt.}
Ketahuilah bahwa kalimat subhanallāh wal hamdulillāh berisi gambaran tentang sifat-sifat Allah. Pertama mengindikasikan keagungan, kedua mengindikasikan keindahan. Kalimat subhānallāh melihat kepada jauhnya hamba dari Allah Yang Mahatinggi dan Mahaagung. Sementara, kalimat alhamdulillāh melihat kepada dekatnya Allah lewat kasih sayang dan kelembutannya pada hamba dan makhluk. Mentari demikian dekat darimu lewat hantaran panas dan cahayanya. Mentari memberikan pengaruh padamu lewat ijin Penciptanya yang telah menjadikannya sebagai cermin manifestasi nama-Nya, an-Nur, sekaligus menjadi pengantar karunia-Nya berupa panas dan cahaya padahal ia jauh darimu tak terjangkau oleh tanganmu. Dalam hal ini dirimu hanya menerima tanpa bisa memberikan pengaruh. Nah, demikian pula dengan Allah. Allah memiliki perumpamaan yang paling mulia. Dia dekat dengan kita sehingga kita puji. Namun, kita jauh dari-Nya sehingga kita sucikan. Karena itu, pujilah Allah ketika engkau melihat Dia begitu dekat lewat kasih sayang-Nya. Lalu, sucikan Dia ketika engkau melihat dirimu jauh dari-Nya. Jangan engkau mencampur antar dua kedudukan tersebut dan jangan menyatukan antara kedua pandangan itu agar kebenaran dan istikamah tetap bersamamu. Hanya saja, dengan syarat tidak mencampur, engkau boleh
melihat kedekatan-Nya lewat sisi jauh serta melihat sisi jauh lewat sisi dekat. Terkait dengan kedua sisi itulah kita mengucap, "Subhānallāh wa bihamdih."
Ketahuilah wahai pemburu dunia, engkau harus meninggalkan dunia karena empat alasan:
{(Catatan-124): Maksud dari meninggalkannya adalah karena ia merupakan milik Allah. Ia hanya boleh dilihat dengan ijin dan nama-Nya (al-Kalimāt hal. 227).}
Pertama, karena ia cepat lenyap, sementara sakit akibat lenyapnya dunia akan menghinakan sekaligus menghilangkan nikmat berhubungan dengan Tuhan.
Kedua, berbagai kenikmatannya menyusut dengan begitu banyak kepedihan yang menyertai dan keruh yang berkelanjutan.
Ketiga, sesuatu yang menantiku di mana engkau akan segera menemuinya setelah dari kubur tidak menerima perhiasan dunia sebagai hadiah. Pasalnya, di sana ia berubah menjadi keburukan.
Keempat, ukurlah antara ketika engkau berada di satu tempat di tengah-tengah musuh, makhluk yang mengganggu, dan serangga berbahaya dengan ketika engkau berada di satu tempat selama bertahun-tahun di tempat lain di mana di dalamnya engkau bersama para kekasih dan kerabat dekatmu. Karena itu, responlah seruan Allah sebelum engkau diseret kepada-Nya dengan rantai.
Mahasuci Allah. Betapa besar karunia Allah atas manusia. Dia membeli dengan harga mahal dari manusia harta yang sebetulnya merupakan titipan-Nya yang dipercayakan untuk dibawa dan dijaga oleh manusia. Jika manusia tidak mau menjual kepada-Nya ia akan berada dalam bencana besar. Andaikan ia memikulnya sendiri tentu akan mematahkan punggungnya. Andaikan ia pegang sendiri, tentu akan segera lenyap dan hilang sia-sia, sementara ia mewarisi dosa dan beban berat.
Ketahuilah bahwa ucapan berikut ini benar-benar terwujud dalam diriku,
Mataku telah terlelap di malam masa muda
Ia baru sadar di waktu subuh yang telah beruban
Waktu sadar yang paling berat adalah di saat muda. Saat ini aku merasa ia merupakan masa tidur yang paling lelap. Orang-orang yang tercerahkan dan terbangun dalam pandangan materialisme, sama seperti kondisi sadarku di masa lalu. Mereka seperti orang yang bermimpi bahwa dirinya sadar lalu menceritakan mimpinya kepada sejumlah orang. Padahal, ia justru sedang melewati tingkatan tidur yang ringan kepada tidur yang lelap. Siapa yang tidur semacam itu maka ia seperti orang mati. Bagaimana mungkin membangunkan orang yang mengantuk berat dan memberitahukan sesuatu kepada orang yang sedang tertidur lelap?
Wahai yang berada di antara kondisi terjaga dan tertidur, jangan mendekati kaum materialis dengan toleransi agama dan sikap menyerupai mereka lantaran mengira bahwa diri kalian adalah jembatan untuk mendekati mereka sekaligus mengisi lembah antar kita. Tidak, jarak antara kaum beriman dan kaum kafir tidak terhingga. Lembah antar kita juga sangat dalam tak mungkin diisi. Sebaliknya, justru engkau yang akan mengikuti mereka atau tersesat jauh.
Ketahuilah bahwa dalam esensi maksiat-terutama jika berkepanjangan dan banyak-terdapat benih-benih kekufuran. Pasalnya, maksiat membuat seseorang menjadi terbiasa dengannya, melahirkan ujian, dan bahkan menjadi penyakit yang hanya bisa diobati dengan terus melakukannya sehingga ada alasan untuk tidak meninggalkan. Dalam kondisi demikian, si pelaku mengimpikan ketiadaan hukuman atasnya serta secara tidak sadar berupaya mencari dalil yang menunjukkan tidak adanya siksa. Keadaan ini terus berlangsung sehingga mengantarkannya kepada sikap mengingkari siksa dan menolak keberadaan negeri hukuman. Begitulah, maksiat yang dilakukan tanpa rasa menyesal dan gundah membuat pelakunya mengingkari maksiat sebagai maksiat, sekaligus mengingkari malaikat pengawas yang melihatnya. Lebih dari itu, ia berharap hisab tidak ada. Kalau kebetulan bertemu dengan ilusi yang menafikan keberadaannya, ia anggap hal itu sebagai petunjuk yang terang. Demikianlah hingga akhirnya hal tersebut menghitamkan kalbu. Na'udzu billah.
Ketahuilah bahwa di antara kilau mukjizat Alquran seperti yang terdapat dalam al-lawāmi'
{(Catatan-125): Penjelasan singkat tentang Kemukjizatan Alquran, hal. 880 dari al-Kalimāt.}
yang berisi penjelasan tentang empat puluh macam kemukjizatannya dan kesempurnaan retorikanya adalah sebagai berikut:
Ia menggabungkan antara kehalusan yang tinggi, keselamatan yang unggul, keterpaduan yang kokoh, keselarasan yang mantap, kerjasama antar kalimat dan bentuknya, serta kesesuaian antar ayat dan tujuannya dengan kesaksian ilmu bayan dan semantik. Padahal, ia turun dalam kurun waktu dua puluh tahun secara bertahap sesuai dengan kebutuhan dengan sedikit demi sedikit namun selaras seolah-olah turun dalam waktu sekaligus. Selain itu, ia turun dengan sebab yang berbeda-beda namun tetap saling menguatkan seolah-olah sebabnya hanya satu. Ia datang sebagai jawaban atas berbagai persoalan yang berulang dan beragam namun tetap padu dan menyatu seolah-olah pertanyaannya satu. Ia menjadi penjelasan bagi berbagai peristiwa hukum yang bermacam-macam, namun demikian teratur seolah-olah peristiwanya satu. Ia turun berisi berbagai karunia ilahi dalam sejumlah gaya bahasa yang sesuai dengan pemahaman mitra bicara. Terutama, ia turun kepada Nabi saw dengan beragam kondisi namun tetap sangat mirip dan indah seolah-olah kondisinya sama. Ia datang dengan berbicara kepada berbagai lapisan manusia, namun penjelasannya tetap mudah, fasih, dan jelas seolah-olah mitra bicaranya satu sehingga setiap lapisan mengira dirinyalah yang sebenarnya dituju. Ia datang untuk memberikan hidayah dan untuk mengantarkan kepada berbagai tujuan petunjuk secara bertahap, namun tetap sangat lurus, rapi, dan seimbang seolah-olah tujuannya satu. Tujuan yang ada berkutat pada empat hal berikut:
Yaitu tauhid, kenabian, pengumpulan di mahsyar, dan keadilan. Dengan dipenuhi oleh kandungan tauhid, ia menjadi selaras, padu, teratur, dan menyatu. Siapa yang memiliki mata hati ia akan menemukan di dalam Alquran sebuah mata untuk
melihat semua alam laksana lembaran yang terlihat jelas. Ia datang secara berulang-ulang untuk menegaskan dan mengaktualisasikan sejumlah kisah dan hukum. Namun demikian, pengulangannya tidak membuat bosan serta tidak menghilangkan cita rasanya. Setiap kali diulang, ia semakin tegas dan nyata. Bahkan, apa yang diulang membuat indah dan menyenangkan. Kesturi yang disebarkan berulang-ulang menjadikan harumnya menyebar ke mana-mana. Setiap kali dihadirkan ia semakin nikmat selama engkau memiliki cita rasa yang sehat, dengan kalbu yang tidak sakit. Rahasianya adalah karena ia merupakan makanan dan nutrisi kalbu, serta kekuatan dan obat bagi ruh. Makanan tersebut tidak membosankan meski berulang-ulang. Orang yang sudah terbiasa akan merasa nyaman dan nikmat. Hal ini berbeda dengan canda yang menyenangkan ketika baru muncul, namun akan membosankan kalau diulang berkali-kali.
Sebagaimana manusia dalam kehidupan materinya selalu membutuhkan udara, setiap waktu selalu membutuhkan air, setiap hari selalu membutuhkan makanan, serta setiap minggu membutuhkan cahaya, maka berulangnya semua persoalan ini lantaran berulangnya kebutuhan sehingga tidak disebut sebagai pengulangan. Hal yang sama terjadi pada manusia dilihat dari sisi kehidupan ruhaniahnya. Ia membutuhkan kepada berbagai kandungan Alquran. Pada setiap menit bahkan setiap waktu ia membutuhkan sebagiannya seperti, "Dia.. Allah." Dengannya, ruh bisa bernafas. Pada setiap saat ia membutuhkan sebagiannya semacam, "Bismillah". Pada setiap masa ia membutuhkan sebagian lagi dan pada setiap waktu ia membutuhkan sebagian lagi sesuai dengan tingkat kebutuhannya. Alquran mengulang apa yang perlu diulang untuk kehidupan kalbu.
Misalnya, "Bismillah" seperti udara sepoi-sepoi yang membersihkan bagian dalam dan serta menghasilkan buah di luar pada dirimu sebagaimana nafas yang terdapat dalam tubuh. Selain itu, pengulangan Alquran terhadap sejumlah peristiwa parsial menunjukkan bahwa peristiwa tersebut berisi rambu-rambu yang bersifat komprehensif. Sebagaimana yang telah kujelaskan sebagiannya dalam kisah Musa as yang lebih ber-
makna daripada pecahnya tongkat.
{(Catatan-126): Perumpamaan untuk orang yang memberikan manfaat lebih banyak daripada yang lain.}
Sebagai kesimpulan, Alquran yang penuh hikmah merupakan kitab peringatan, kitab pemikiran, kitab hukum, kitab pengetahuan, kitab hakikat, kitab syariat, obat bagi apa yang terdapat dalam dada, serta petunjuk dan rahmat bagi kaum beriman.
Ketahuilah bahwa di antara fitrah manusia yang paling menakjubkan di saat lalai adalah bercampurnya antara hukum perangkat halusnya dan indera. Sama seperti orang gila yang pandangannya sampai kepada sesuatu. Iapun mengulurkan tangan kepadanya karena mengira-lantaran dekatnya mata dengan tangan-bahwa apa yang bisa diraih dengan pandangan juga bisa diraih dengan tangan. Manusia lalai yang tangan kekuasaannya tak mampu menata hal terkecil dari dirinya, karena lupa diri dan hayalannya ia berusaha mengontrol dan mengendalikan perbuatan Allah di alam. Demikian pula dengan fitrah manusia. Meski bentuk fisiknya hampir sama, namun secara substansi masing-masing berbeda laksana atom dengan mentari, dan dengan raja mentari; berbeda dengan binatang yang lain. Pasalnya, meski berbeda bentuk fisik seperti ikan dan burung, namun nilai ruhnya berdekatan. Seakan-akan manusia yang tegak dari contoh alam dalam bentuk sempurna menuju kepada raja mentari. Lantaran kekuatannya tidak dibatasi dan tidak terikat, ia bisa turun kepada derajat "egoisme" sehingga kedudukannya sama dengan atom. Dengan penghambaan dan ubudiyah ia juga bisa meninggalkan "egonya" untuk naik dengan ijin Allah hingga berkat karunia-Nya menjadi seperti " mentari" sebagaimana Muhammad saw.
Ketahuilah bahwa asal segala sesuatu adalah kekal. Bahkan sejumlah hal yang cepat berlalu dan lenyap seperti kata-kata dan gambaran memiliki tempat lain sehingga terjaga dari kelenyapan. Ia hanya berpindah bentuk sehingga seolah-olah semuanya ditugaskan untuk menjaga sesuatu entah secara total atau salah
satu aspeknya. Dengan penuh perhatian mereka segera mengambilnya dan meletakkannya dalam hati mereka yang bening.
Hikmah yang baru memahami rahasia ini namun dalam bentuk yang tidak jelas. Karenanya, ia keliru dengan pendangannya yang melampaui batas. Menurutnya tidak ada ketiadaan mutlak. Yang ada hanyalah pembentukan dan perpecahan.
{(Catatan-127): Lihat penutup dari "alam materi" kilau kedua puluh tiga. Di dalamnya terdapat penjelasan memadai tentang masalah ini.}
Sebenarnya tidak demikian. Akan tetapi, penyusunan sesuai kreasi Allah, dan penguraian dengan ijin-Nya, serta penciptaan dan pelenyapan sesuai perintah-Nya. Dia berbuat apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia inginkan.
Wahai Said yang malang! Kubur adalah pintu yang bagian dalamnya berupa rahmat dan bagian luarnya berisi siksa. Para kekasih dan orang-orang yang kau cintai sebagian besarnya-bahkan seluruhnya-berada di balik pintu tersebut. Tidakkah engkau rindu kepada mereka dan pergi menuju alam mereka. Karena itu, bersihkan dirimu. Jika tidak, mereka akan merendahkanmu.
Andaikan ada yang memberitahumu bahwa Imam ar-Rabbani Ahmad al-Faruqi sekarang ini berada di India, tentu engkau akan menembus berbagai kesulitan dan meninggalkan tanah air untuk mengunjunginya. Padahal di bawah nama Ahmad saja ribuan bintang mengitari mentari yang dalam injil bernama Ahmad, di dalam Taurat bernama Ahyad, sementara dalam Alquran bernama Muhammad. Di bawah nama Muhammad terdapat jutaan. Demikianlah semuanya berada di balik pintu kubur mendapatkan rahmat Allah. Karena itu, yang harus menjadi fokus perhatianmu adalah hal-hal sebagai berikut:
Jika engkau mengabdi untuk Allah, maka segala sesuatu menjadi baik untukmu. Namun, jika tidak, segala sesuatu akan membahayakanmu.
Segala sesuatu sesuai dengan ketentuan. Maka, hendaknya engkau ridha dengan jatahmu pasti engkau mendapat tambahan kemudahan. Namun, jika tidak, engkau akan semakin sakit.
Kerajaan ini adalah milik-Nya. Dia membelinya darimu untuk membuatnya kekal bersamamu. Namun, ia akan hilang begitu saja kalau dibiarkan berada padamu. Dari berbagai aspek, engkau sangat membutuhkan-Nya.
Engkau terikat lewat empat arah yang tertutup. Engkau digiring menuju pintu kubur yang terbuka bagimu.
Tidak ada kenikmatan hakiki pada sesuatu yang tidak kekal. Engkau akan lenyap demikian pula dengan duniamu. Dunia manusia juga begitu.
Gambaran ini akan dicabut dari alam serta akan digantikan dengan yang lain. Ia ibarat detik, menit, jam, dan hari. Seolah-olah alam merupakan jam besar sebagaimana disebutkan dalam bagian keempat dari "kalimat kesembilan". Maka, engkau tidak boleh fokus kepada sesuatu yang hanya menyisakan jejak dalam hal yang fana.
Jangan melihat kepada perbuatan-Nya serta rahmat dan karunia-Nya dari kondisimu yang jauh dan buruk serta dari keagungan dan kemuliaan-Nya. Sebab, dalam kondisi demikian yang layak adalah bertasbih menyucikan-Nya.
Jangan engkau melihat sifat-sifat agung-Nya dari bagaimana kedekatan dan peliputan-Nya lewat pengetahuan dan rahmat-Nya serta dari statusmu sebagai makhluk yang berada dalam perhatian dan kemurahan-Nya. Hal itu agar engkau tidak terjerumus ke dalam ilusi.
Mahasuci Zat yang tidak bisa dijangkau oleh akal pikiran. Segala puji bagi Allah yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Tiada Tuhan selain Allah semata tanpa ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia yang menghidupkan dan mematikan. Dia yang menggenggam kebaikan dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Ketahuilah bahwa orang yang dalam kalbunya terdapat kehidupan apabila menghadap ke alam, pasti ia menyaksikan hal-hal besar yang tak bisa dijangkau dan membuatnya bingung. Maka, agar terbebas dari kepedihan akibat kebingungan tadi ia rindu kepada subhānallāh laksana orang haus yang sangat membutuhkan curahan air. Dari berbagai nikmat dan anugerah
yang diberikan ia melihat sesuatu yang memaksanya untuk memperlihatkan kenikmatan yang ia rasakan berikut keinginan untuk mendapatkan tambahan kenikmatan tersebut secara terus-menerus dengan cara melihat pemberian nikmat tadi. Si Pemberi dalam pemberian nikmat tadi bertanda al-hamdu. Maka, ia bernafas dengan alhamdulillāh ibarat orang yang menang, selamat, dan meraih sukses.
Dari keajaiban makhluk ia melihat sesuatu yang tak mampu digapai oleh standar akalnya dan tak mampu diukur oleh otaknya di mana rasa keingintahuan untuk menelusuri hakikat menyibukkkannya dari hal tersebut. Akhirnya ia mengucap "Allahu akbar" sehingga terasa lapang. Dengan kata lain, Penciptanya Mahaagung dan Mahabesar sehingga penciptaan dan pengaturan makhluk tidaklah berat baginya. Ini sama seperti orang yang melihat bulan yang berputar di sekitarnya sehingga merasa takjub, atau melihat keluarnya gunung akibat gempa sehingga tercengang dan bertakbir. Ia lemparkan seluruh beban rasa takjub dan ketercengangan tadi dari pundaknya ke kapal milik Zat Yang Mahakuasa, Mahakuat, dan Mahakokoh.
Ketahuilah, dengan seluruh dosamu, engkau tidak bisa menimpakan bahaya kepada Allah. Dosa tersebut hanya akan membahayakanmu sendiri. Dalam kenyataan tidak ada sekutu yang perlu dikuatkan dengan keyakinanmu sehingga memberikan pengaruh pada kesempurnaan kerajaan-Nya. Namun, ia hanya terdapat dalam otak dan duniamu.
Ketahuilah bahwa siapa yang bertawakkal Allah, Dia akan mencukupinya. Karena itu, ucapkan, "Hasbiyyallāh wa ni'mal wakīl":
Pertama-tama, karena Dia Yang Maha Sempurna. Sementara, kesempurnaan merupakan sesuatu yang disukai sehingga jiwapun rela dikorbankan untuknya.
Kedua, karena Dia Zat yang dicinta dan Kekasih hakiki. Sementara, rasa cinta menuntut pengorbanan.
Ketiga, karena Dia Zat yang wajib ada. Dengan mendekat pada-Nya terdapat cahaya wujud, sementara dengan jauh dari-Nya terdapat gelapnya ketiadaan.
Keempat, karena Dia merupakan tempat berlabuh bagi jiwa yang dibuat sempit oleh alam, dibuat pedih oleh dekorasi dunia, dan dibebani oleh entitas di bawah panji kasih sayang yang lara.
Kelima, karena Dia Mahakekal yang dengan-Nya keabadian terwujud dan tanpanya kelenyapan datang, sementara puncak derita terdapat dalam kelenyapan. Tanpa Dia sejumlah derita bertumpuk dalam jiwa sebanyak alam maujud. Adapun dengan-Nya cahaya tampak pada orang yang bertawakkal sebanyak itu pula.
Keenam, karena Dia adalah Pemilik hakiki. Dia memikulkan untukmu kerajaan-Nya yang ada padamu. Pasalnya, engkau tidak bisa memikulnya. Karena itu, jika merasa memilikinya engkau berada dalam penderitaan yang pedih. Namun, dengan pemberian karunia-Nya yang terus berlangsung engkau tidak bersedih dengan kepergian sesuatu yang berada di tanganmu. Sebagaimana butir-butir mentari tidak bersedih ketika berubah dan terurai. Untuk memperlihatkan manifestasi mentari yang baru butir-butir itu rela mengorbankan bentuknya dengan penuh semangat. Bahkan ia mati dalam kondisi tertawa. Sejumlah buah juga tidak menangis lantaran berpisah dengan pohon, demikian pula dengan biji ketika terbelah menjadi buah, serta engkau ketika kehilangan buah tadi. Engkau, benih, dan buah sama-sama berkata, "Hiduplah wahai pohon!" Kematian kita adalah kehidupan.
Wahai saudara, engkau adalah buah dari pemberian nikmat-Nya; bahkan wujud karunia-Nya.
Ketujuh, karena Dia Mahakaya dan Mencukupi. Di tangan-Nya tergenggam perbendaharaan segala sesuatu. Apabila engkau menjadi hamba yang tulus kemudian engkau melihat alam, tentu engkau akan menemukan kerajaan Tuhan Pemilikmu berikut sejumlah rambu dan penjaganya sehingga engkau bisa bersenang-senang dengannya. Seakan-akan ini semua adalah milikmu yang didapat dengan mudah tanpa rasa sedih akibat kehilangan olehnya. Pasalnya, pelayan yang setia dan fana dalam cinta-Nya akan bangga dengan semua milik tuan-Nya.
Kedelapan, karena Dia Tuhan para nabi, rasul, wali, dan
orang-orang bertakwa. Semua mereka berbahagia dalam rahmat-Nya. Pengetahuanmu tentang kebahagiaan mereka membuat deritamu menjadi bahagia dan nikmat selama engkau memang memiliki kalbu.
Ketahuilah! Jika berakal, engkau tidak pantas merasa risau, sedih, marah, dan kesal dengan urusan dunia yang datang dan hilang darimu. Sebab, dunia memang akan pergi, apalagi duniamu, terutama dirimu sendiri. Engkau tidak abadi di sini. Engkau juga bukan berasal dari besi atau pohon sehingga berusia panjang. Akan tetapi, engkau berasal dari daging yang terus diperbaharui, darah, yang terus mengalir, serta organ-organ pengikat yang sangat halus dan sensitif dengan sesuatu yang paling kecil sekalipun. Semua itu bisa terputus dan beku. Ia bisa rusak hanya oleh dua partikel. Lebih dari itu, fajar masa tua dan kafan setengah badanmu telah bernafas dalam dirimu. Bahkan, sejumlah penyakit yang merupakan awal dan tanda kematian bertamu dan bertempat dalam dirimu. Sementara, di hadapan dirimu terdapat usia abadi yang kau acuhkan. Padahal, kelapanganmu di sana bergantung pada usahamu di dunia. Namun, engkau tamak dan rakus ibarat orang yang akan kekal di dunia. Karena itu, sadarlah sebelum sakaratul maut mengingatkanmu.
Ketahuilah bahwa apabila engkau menghadap kepada-Nya dengan alamat yang dikenal ia menjadi sesuatu yang tak diketahui dan mungkar. Pasalnya, pengetahuan dan pengenalan tadi buah dari kebiasaan, tradisi, dan diskusi terminologis semata; yang tak sampai kepada hakikat sama sekali. Bahkan, sesuatu yang tampak di dalamnya olehmu tidak berisi sifat-sifat yang bersifat mutlak. Akan tetapi, hanya satu bentuk persepsi tentang Zat yang suci. Namun, jika engkau menghadap kepada-Nya lewat wujud yang tak diketahui, kilau-kilau pengetahuan akan tersingkap. Demikian pula dengan kilat dan sinar Tuhan. Sifat-sifat yang bersifat mutlak, komprehensif, dan tampak di alam bukan sesuatu berat dan besar bagi-Nya sebagaimana mengenakan baju dan sapu tangan dari sutera yang halus tidak berat bagimu.
Ketahuilah bahwa engkau sudah cukup untuk benar-benar
bangga karena memiliki Tuhan Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Di antara kekuasaan-Nya adalah langit yang terlipat di tangan kanan-Nya dan bumi yang berada dalam genggaman-Nya pada hari kiamat nanti. Dia memelihara dirimu dengan kasih sayang yang lebih sempurna daripada kasih sayang orang tuamu. Engkau seperti satu tetes di lautan. Sementara, lautan seperti satu titik di padang pasir. Padang pasir seperti atom di antara jagad raya ciptaan-Nya. Pasalnya, Dia merupakan cahaya dari semua cahaya dan Maha Mengetahui seluruh rahasia. Bukan termasuk keagungan raja dari kalangan manusia ketika ia tidak sibuk dengan detil-detil persoalan. Namun itu termasuk kelemahan dan ketiadaan kekuasaan-Nya. Sementara, di antara keagungan Raja azali adalah di samping menulis tanda-tanda uluhiyah-Nya dengan pena kreasi-Nya di atas lembaran langit dengan tinta bintang yang berkilau, Dia juga menulis tanda-tanda rububiyah-Nya dengan pena yang sama di atas lembaran hitam mata dengan tinta permata istimewa.
Mahasuci Zat yang benda-benda angkasa dan planet yang bersinar menjadi petunjuk akan uluhiyah dan keagungan-Nya, serta lentera indah dan bintang yang tersenyum itu menjadi kilau bukti rububiyah dan kemuliaan-Nya.
Ketahuilah bahwa setiap nama-Nya yang mulia berisi semuanya secara global sebagaimana sinar mengandung tujuh warna. Demikian pula, masing-masing darinya menjadi dalil atas masing-masingnya sekaligus buah darinya. Di celah-celahnya terdapat pantulan laksana cermin. Karena itu, nama-nama-Nya dapat diingat sebagai analogi yang buahnya bersambung secara berantai atau sebagai hasil yang dalil-dalilnya berurutan secara sistematis. Hanya saja, nama yang paling agung dan esa berisi keseluruhan melebihi semua kandungan yang bersifat umum. Maka, sebagian orang bisa sampai kepada cahaya nama-Nya yang paling agung lewat nama-nama-Nya yang lain. Nama yang paling agung itu berbeda-beda dengan melihat kepada mereka yang telah sampai. Wallahu a'lam bish-shawab.
Munajat
Ilahi, sudah seharusnya aku tidak peduli walaupun kehidupan dunia dan akhirat hilang dariku dan seluruh alam mendatangiku. Engkau adalah Pemelihara diriku, Penciptaku, dan Tuhanku. Sementara aku adalah makhluk dan ciptaan-Mu. Aku memiliki sisi keterkaitan dan penisbatan meski sangat durhaka dan sangat jauh dari berbagai kemuliaan. Sekarang aku bermunajat dengan lisan kedudukanku sebagai makhluk:
Wahai Penciptaku, wahai Pemelihara diriku, wahai Pemilik diriku, wahai Pembentuk rupaku, wahai Tuhanku!
Aku memohon dengan nama-nama-Mu yang mulia dan nama-Mu yang paling agung, dengan Alquran-Mu yang bijak dan kekasih-Mu termulia, dengan kalam-Mu yang tak bermula, dengan arasy-Mu yang agung, dan dengan beribu-ribu qul huwallāhu ahad. Kasihi diriku ya Allah, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Memberi, Yang Maha Membalas. Ampuni diriku wahai Yang Maha Mengampuni, Maha Menutupi, Maha Menerima tobat, dan Yang Maha Memberi. Maafkankan aku wahai Yang Mahakasih, Yang Mahabaik, Yang Maha Pemaaf, dan Yang Maha Pengampun. Sayangi diriku wahai Yang Mahalembut, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Mendengar, dan Yang Maha melihat. Hapuskan kesalahanku wahai Yang Mahasantun, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Pemurah, Yang Maha Penyayang. Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus wahai Tuhan, wahai Yang Mahakekal, wahai Yang Maha Menunjuki. Tunjukkan kemurahan-Mu padaku lewat karunia-Mu wahai Yang Maha Mencipta, Maha Abadi, Mahaadil. Wahai Dia, hidupkan kalbu dan kuburku dengan cahaya iman dan Alquran wahai Yang Maha Memberi cahaya, Yang Mahabenar, Yang Mahahidup, Yang Maha Berdiri sendiri, Raja diraja, Yang Mahaagung dan Pemurah, Yang Maha Pertama, Yang Maha Terakhir, Yang Mahatampak, Yang Maha Tersembunyi, Yang Mahakuat, Yang Mahakuasa, Yang Maha Mengampuni, Yang Maha Penyayang. Aku memohon kepada-Mu dengan nama-Mu yang paling agung di dalam Alquran, serta dengan Muhammad saw yang merupakan rahasia terbesarmu dalam kitab alam agar engkau bukakan dari nama-nama yang
mulia itu celah yang mencurahkan cahaya nama yang paling agung itu ke dalam kalbuku yang terdapat dalam tubuh ini serta kepada ruhku yang terdapat dalam kuburku nanti. Ketika itu muka bumi akan menjadi atap kuburku, serta nama-nama tersebut akan menjadi celah yang mengeluarkan kilau mentari hakikat kepada ruhku.
Ilahi, aku berharap memiliki lisan abadi yang dengannya bisa menyebut nama-nama tersebut hingga kiamat tiba. Terimalah tulisan abadi ini sesudah kepergianku sebagai pengganti dari lisan yang sudah pergi.
Ya Allah limpahkan salawat dan salam kepada junjungan kami, Muhammad saw; yaitu salawat yang dengannya Engkau selamatkan kami dari marabahaya dan kesulitan, Kau penuhi semua kebutuhan, Kau bersihkan kami dari semua keburukan, serta Kau ampuni kami dari semua dosa dan kesalahan.
Ya Allah yang mengabulkan doa, berikan untukku sepanjang hayatku dan sepeninggalku pada setiap waktu berkali-kali lipat darinya, ribuan salawat dan salam yang serupa dengannya atas junjungan kami Muhammad saw serta keluarga, para sahabat, pembela, dan pengikut beliau. Buatlah setiap salawat tersebut melebihi nafasku yang durhaka di sepanjang usiaku. Ampuni dan kasihi diriku dengan setiap salawat darinya berkat rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih. Amin.
Lanjutan Benih
Wahai yang melihat!
Kukira lewat jejak peninggalanku yang tercerai-berai diriku sedang menggali satu persoalan besar dengan sebuah bentuk kebutuhanku.
Andai saja aku mengetahui apakah itu telah kutemukan, akan tersingkap, atau aku menjadi sarana untuk memudahkan jalan bagi penemuannya di masa mendatang.
Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
Cukuplah Allah bagi kami. Dia sebaik-baik Pelindung.
Ya Allah, jangan kau keluarkan kami dari dunia kecuali dengan syahadat dan iman.
Bismillāhirrahmānirrahīm
Segala puji bagi Allah atas nikmat iman dan Islam sebanyak tetesan air hujan, gelombang lautan, buah yang ada di pohon, lukisan kembang , kicau burung, dan kilau cahaya. Segala syukur adalah milik-Nya atas setiap nikmat dalam semua tahapan sejumlah nikmat-Nya sepanjang zaman.
Salawat dan salam semoga tercurah kepada pimpinan orang taat dan pilihan, Muhammad saw juga kepada keluarganya yang suci dan para sahabatnya yang laksana bintang pembawa petunjuk dan pemilik cahaya sepanjang siang dan malam.
Ketahuilah bahwa sebagaimana seorang musafir dalam perjalanannya menemui sejumlah tempat singgah sementara di setiap tempat tersebut terdapat tanda khusus baginya, demikian pula orang yang menyusuri jalan menuju Allah, ia memiliki sejumlah kedudukan, tingkatan, keadaan, hijab, dan tahapan. Masing-masing memiliki tahapan perkembangan yang khusus. Siapa yang mencampur berarti keliru. Sama seperti orang ketika berada di sebuah desa singgah di tempat peternakan kuda lalu mendengar ringkik kuda. Kemudian ketika berada di sebuah negeri ia singgah di sebuah istana lalu mendengar kicau burung bulbul. Namun, ia sangka kicau tadi sebagai suara ringkik kuda.
Ketahuilah bahwa di antara yang membuat kehidupan ini tampak indah adalah kilau potret bintang petunjuk seperti generasi salaf yang terdapat dalam cermin dunia.
{(Catatan-128): Gambaran indah dan sosok para imam besar itu membuat dunia ini menarik bagimu.}
Rahasianya karena masa depan adalah cermin masa lalu, sementara masa lalu akan diikuti dengan alam barzakh dengan meninggalkan gambaran dan dunianya dalam cermin masa depan, sejarah, dan benak manusia. Perumpamaanmu dalam mencintai kehidupan lantaran mereka seperti orang yang dalam perjalananya menemukan cermin besar yang di dalamnya ia melihat gambaran teman-teman dan orang-orang yang ia cintai yang pergi ke wilayah timur (yang di kaca tampak ke barat). Karena itu, ia bergegas dari timur menuju ke barat. Andaikan hijab kelalaian dibuka dari wajahmu tentu engkau akan melihat bagaimana dirimu tergesa-gesa dalam padang yang kosong dan kering menuju fatamorgana dan derita; bukan untuk mendapatkan air yang segar dan minuman.
Ketahuilah bahwa di antara agungnya ketinggian Alquran dan dalil kebenarannya yang tepat adalah:
Penjagaannya terhadap semua tuntutan tauhid berikut seluruh tahapannya, serta perhatiannya terhadap keseimbangan hakikat ilahi yang tinggi, isinya yang mencakup semua konsekwensi nama-nama-Nya, keserasian di antara mereka, serta kan
dungannya yang mencakup persoalan rububiyah dan uluhiyah dengan sangat seimbang. Ini merupakan karakteristik yang tidak terdapat dalam jejak manusia, dalam hasil pemikiran para tokoh mereka seperti para wali yang menyusuri alam malakut, kalangan yang mendalami substansi persoalan, serta orang-orang saleh yang menembus alam gaib. Mereka tidak mampu menjangkau kebenaran mutlak lewat pandangan mereka yang terbatas. Mereka hanya bisa menyaksikan satu sisi darinya lalu berhenti padanya. Di situ mereka melakukan sesuatu yang berlebihan dan melampaui batas sehingga keseimbangan menjadi rusak dan keharmonisan yang ada menjadi lenyap.
Mereka seperti orang yang menyelam di lautan untuk menyingkap kekayaan yang berlimpah berupa berbagai jenis permata. Secara kebetulan sebagian tangan penyelam menyentuh berlian berbentuk persegi panjang. Lalu, dengan serta merta muncul penilaian bahwa kekayaan tersebut seluruhnya berupa berlian persegi panjang. Ketika mendengar keberadaan seluruh permata dari koleganya yang tergambar adalah bayangan tentang batu berlian. Lalu, yang lain kebetulan mendapatkan corundum bulat, dan yang lain mendapat batu mulia berbentuk persegi empat. Demikian seterusnya. Masing-masing menganggap apa yang dilihatnya sebagai miniatur dari kekayaan yang ada. Dengan demikian keseimbangan menjadi rusak dan keselarasan menjadi lenyap. Mereka melakukan penafsiran dengan cara memaksakan diri sehingga terjerumus ke dalam pengingkaran dan pengabaian. Orang yang memperhatikan jejak kalangan sufi yang bersandar pada apa yang mereka saksikan tanpa menimbang dengan timbangan sunnah pasti akan membenarkan ucapanku di atas.
Kemudian lihatlah Alquran. Ia juga menyelam. Namun, ia memiliki mata terbuka yang mampu menangkap seluruh khazanah kekayaan berikut isinya. Maka, ia dapat menggambarkan khazanah kekayaan tersebut sebagaimana adanya dengan harmonis, teratur, dan rapi. Misalnya ia mencakup seluruh konsekwensi keagungan Zat yang, "seluruh bumi pada hari kiamat berada dalam genggaman-Nya dan langit digulung dengan tangan
kanan-Nya."
{(Catatan-129): Q.S. az-Zumar: 67.}
Sebagaimana, "Pada hari Kami gulung langit laksana menggulung lembaran - lembaran kertas."
{(Catatan-130): Q.S. al-Anbiya: 104.}
Sementara Dia, "membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya."
{(Catatan-131): Q.S. Ali Imran: 6.}
"Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia yang memegang ubun-ubunnya."
{(Catatan-132): Q.S. Hud: 56.}
"Menciptakan langit dan bumi."
{(Catatan-133): Q.S. al-An'am: 73.}
Padahal Dia, "menciptakan kalian berikut apa yang kalian lakukan."
{(Catatan-134): Q.S. ash-Shāffāt: 96.}
"menciptakan bumi."
{(Catatan-135): Q.S. ar-Rūm: 50.}
"Tuhan memberikan ilham kepada lebah."
{(Catatan-136): Q.S. an-Nahl: 68.}
"Matahari, bulan, dan bintang tunduk dengan perintah-Nya."
{(Catatan-137): Q.S. al-A'raf: 54.}
"Apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha melihat segala sesuatu."
{(Catatan-138): Q.S. al-Mulk: 19.}
Dia menulis permukaan langit dengan bintang-gemintang dan mentarinya sebagaimana menulis lembaran sayap lebah dengan sel dan partikel-partikelnya. "Singgasana-Nya seluas langit dan bumi."
{(Catatan-139): Q.S. al-Baqarah: 255.}
Padahal, Dia, "bersama kalian di mana saja kalian berada."
{(Catatan-140): Q.S. al-Hadid: 4.}
"Dia Maha Pertama, Maha terakhir, Maha Tampak, dan Maha tersembunyi. Dia Mengetahui segala sesuatu."
{(Catatan-141): Q.S. Fushshilat: 12.}
Demikian seterusnya. Kelompok manusia yang sesat muncul lantaran keterbatasan para imam mereka dalam menyusuri alam batini dengan bersandar pada apa yang mereka saksikan di tengah jalan. Hal ini seperti ungkapan yang berbunyi, "Engkau hafal satu hal, namun kehilangan banyak hal."
Ketahuilah bahwa penggambaran langit dengan dunia dalam firman Allah yang berbunyi, "Kami hiasi langit dunia," serta penempatan dunia yang berhadapan dengan akhirat menun-
jukkan bahwa enam lapis langit yang lain menatap kepada alam yang lain, mulai dari barzakh hingga sorga, yang bintang-gemintangnya terlihat dan di antara tingkatanya adalah langit dunia. Wallahu a'lam.
Ketahuilah bahwa engkau didatangkan ke alam wujud ini dari tiada. Kemudian Tuhan menaikkanmu dari tingkatan yang paling rendah menuju sosok manusia muslim dengan anugerah-Nya. Banyaknya tingkatan yang kau lalui dari awal masing-masing merupakan nikmat yang dikaruniakan kepadamu. Dalam dirimu terdapat buah dan celupan dari masing-masingnya sehingga engkau menjadi untaian kalung yang tersusun indah serta satu bulir konstruksi dari kepala hingga kaki. Engkau laksana indeks bagi seluruh tingkatan karunia-Nya. Karena wujud menuntut adanya sebab, sementara ketiadaan tidak demikian sebagaimana tertanam dalam benak manusia, maka engkau akan ditanya pada setiap tingkatan wujud dari pertikel hingga tiada; bagaimana engkau sampai kepada nikmat tersebut? Dan dengan cara apa engkau mendapatkannya? Serta apakah engkau bersyukur? Orang berakal tentu tidak akan bertanya mengapa batu tidak menjadi pohon atau mengapa pohon tidak menjadi manusia?
Wahai Said yang malang, dan tertipu! Engkau adalah satu titik di tengah-tengah rangkaian alam. Padamu terdapat nikmat sebanyak apa yang berada di bawahmu hingga tiada. Engkau bertanggung jawab untuk bersyukur atasnya. Adapun yang berada di atas, engkau dan tiada seorangpun yang berhak bertanya mengapa engkau tidak mencapai yang lebih dari tinggi dari keberadaanmu. Sama halnya dengan partikel yang tidak layak bertanya, "Mengapa aku tidak menjadi matahari?" Juga, lebah tidak layak bertanya kepada Penciptanya, "Mengapa aku tidak dijadikan pohon kurma yang berbuah?" Pasalnya, apa yang berada di bawahmu berlaku, sementara yang berada di atasmu hampa, bersifat mungkin, dan nyaris mustahil.
Ketahuilah wahai "ego", di antara yang membuatmu binasa, jatuh, hina, rendah, dan tersesat, adalah karena engkau tidak memberikan kepada si pemilik hak sesuatu yang menjadi
haknya, serta kepada si pemilik beban sesuatu yang sesuai dengan kemampuannya. Namun, engkau melewati batas dan berlebihan sehingga membebani sejumlah orang yang tergabung satu pasukan dengan sejumlah tuntutan yang layak untuk pasukan besar. Engkau mencari dalam pantulan mentari yang terdapat dalam tetesan air atau permukaan bunga perangkat pohon mentari yang besar yang membuahkan sejumlah planet. Ya, satu tetes air dan bunga itu hanya memantulkan; tidak memiliki sifat mentari itu sendiri.
Ketahuilah bahwa kerajaan ini adalah milik-Nya, amanah-Nya, lalu Dia beli. Tidak ada kebaikan pada sesuatu yang tidak kekal. Karena itu jangan engkau melanggar janji kepada-Nya. Engkau pasti mati. Kematian yang berujung kepada kehidupan lebih utama daripada kehidupan yang berbalik menuju kematian.
Ketahuilah bahwa beragam jenis alam yang terdapat di alam wujud ini tidak mendatangkan kesulitan dan kerepotan. Cobalah di waktu malam yang gelap engkau masuk ke dalam sebuah rumah yang terang oleh sejumlah lampu di mana keempat sisi ruangannya terbuat dari kaca sebagai bentuk lentera alam.
Pertama-tama di dalamnya engkau akan melihat sejumlah rumah terang yang bertebaran di seluruh negeri seolah-olah sepanjang mata memandang tidak ada kegelapan.
Kedua, engkau bisa melakukan perubahan dan pergantian dengan sangat mudah terhadap sejumlah rumah tersebut.
Ketiga, engkau bisa melihat bagaimana lampu yang sebenarnya lebih dekat kepada lampu imajiner yang terjauh daripada yang berada di depannya; bahkan daripada dirinya sendiri sebab ia merupakan Zat yang menegakkannya.
Keempat, benih dari alam wujud ini mampu memikul alam lain darinya.
Empat kaidah di atas berlaku pada banyak hal, bahkan antara Zat Yang Wajib ada dan makhluk yang mungkin ada di mana eksistensinya berada dalam bayangan cahaya-Nya. Eksistensinya masih dalam ilusi. Hanya saja, dengan perintah Allah, ia memiliki wujud lahiri. Wujudnya ada karena dihadirkan oleh Allah. Perhatikanlah baik-baik!
Ketahuilah bahwa sebagaimana tidak mungkin kerajaan yang benar-benar mendapatkan perhatian ini tidak memiliki penguasa, mustahil pula kalau Penguasa tersebut tidak berkenalan dengan manusia yang mengetahui tingkatan kebaikan Sang Penguasa di mana hal itu menunjukkan kesempurnaan-Nya. Di samping itu, manusia adalah khalifah di muka bumi yang memang Dia hamparkan untuknya di mana ia boleh berbuat di dalamnya sesuka hati; bahkan di atap langit dengan akalnya. Demikian pula, manusia merupakan makhluk termulia yang hal itu ditunjukkan dengan berbagai aktivitasnya yang menakjubkan meski kecil dan lemah. Manusia merupakan sebab yang paling memiliki kehendak bebas. Karena itu, Tuhan mengutus seorang nabi yang bertugas memperkenalkan diri-Nya kepada para hamba yang lalai sekaligus memberitahukan tentang sesuatu yang dituntut oleh-Nya dan membuat-Nya ridha .
Ketahuilah bahwa semua indera, termasuk ilusi, asumsi, dan khayalan pada akhirnya sepakat berlindung kepada Allah dan berpegang kepada kebenaran tanpa ada tempat bagi kebatilan. Semua mengakui bahwa alam hanya mungkin terwujud seperti yang diberitakan oleh Alquran. Demikian yang disaksikan oleh diriku dan akalku.
Ketahuilah sebagaimana alam cahaya, panas, udara, listrik, gravitasi, serta alam eter, dan barzakh tidak berbenturan, demikian pula semuanya berkumpul tanpa ada salah seorangpun darimu yang bercampur dan berdesak-desakan denganmu di tempatmu. Jadi, bisa saja sejumlah alam gaib yang luas berkumpul di alam bumi yang sempit ini. Lalu, sebagaimana udara tidak menghalangi kita untuk berjalan, air tidak menghalangi kita untuk bepergian, kaca tidak menghalangi tembusnya cahaya, benda padat tidak menghalangi masuknya sinar rontgen, cahaya akal, dan ruh malaikat, juga besi tidak bisa menghalangi aliran hawa panas dan listrik, sesuatu tidak bisa menghalangi daya gravitasi, perjalanan ruh, dan cahaya akal berikut perangkatnya, maka demikian pula dengan alam kasat mata ini. Ia tidak menghalangi ruh, jin, setan, dan malaikat untuk berjalan.
Ketahuilah bahwa bagi cahaya serta semua yang bersifat
cahaya seperti mata, lentera, dan mentari, sama saja antara satu bagian dan satu spesies, antara yang bersifat parsial dan keseluruhan, antara satu dan ribuan. Lihatlah mentari bagaimana planet, lautan, telaga, benih, butiran, tetesan, percikan, dan partikel kaca tercelup oleh gambarannya secara langsung dengan sangat mudah di mana dalam hal ini sama saja antara planet dan partikel.
Demikian pula dengan perbuatan mentari azali dan cahaya dari segala cahaya dalam kitab alam ini. Seluruh bab, pasal, halaman, baris, kalimat, dan hurufnya ditulis secara sekaligus tanpa ada kesulitan sama sekali. Allah memiliki perumpaman yang paling mulia. Allah befirman, "Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja."
{(Catatan-142): Q.S. Luqman: 28.}
Kami beriman.
Ketahuilah bahwa siapa yang memperhatikan elemen sesuatu berikut perjalanannya sampai ke batas tertentu di mana di sana ia berhenti karena sejumlah manfaat, tentu ia yakin bahwa pada batas tersebut ada Zat yang memerintahkan elemen tadi dengan berkata, "Berhentilah!" Ini sama seperti cetakan yang memberikan perintah kepada emas yang cair lewat lisan besi sekaligus memberikan larangan dengan berkata, "Jangan mencair lagi dan berhentilah!"
Yang memberikan perintah kepada elemen dan partikel di atas tidak lain adalah pengetahuan yang komprehensif yang terwujud sesuai dengan ketentuan sehingga ia menghasilkan kadarnya sebagai cetakan.
{(Catatan-143): Dalam edisi pertama terdapat teks berbunyi, "ketahuilah bahwa nama-nama-Nya yang mulia ibarat beragam pintu dan sisi yang mengarah kepada partikel. Sejumlah nama yang saling berhadapan bisa jadi terwujud dalam sesuatu. Misalnya Maha Memberi, Maha Menahan, Maha Memberikan bahaya, serta Maha Memberikan manfaat. Hal itu menunjukkan bahwa di samping memberi untuk satu tujuan, Dia juga menahan dari sesuatu dengan kehendak-Nya, menimpakan bahaya kepada yang satu dan memberikan manfaat kepada yang lain. Semuanya kembali kepada Allah Swt. Dari sini dapat disimpulkan bahwa Zat yang memiliki sifat dari hakikat salah satu nama-Nya memiliki sifat dari seluruh nama-Nya.}
Ketahuilah bahwa sebagaimana bagian Alquran yang satu dengan yang lain saling menjelaskan, demikian pula dengan kitab
alam. Sebagian ayatnya menjelaskan sebagian yang lain. Selanjutnya, sebagaimana alam materi membutuhkan mentari lewat curahan cahaya nikmatnya, demikian pula dengan alam maknawi. Ia juga membutuhkan mentari kenabian agar cahaya rahmat Allah tercurah padanya. Kenabian Muhammad saw yang sangat jelas, tegas, dan pasti layaknya mentari di tengah siang. Apakah siang membutuhkan dalil akan keberadaannya?!
Ketahuilah bahwa buah dari keberadaan makhluk hidup tidak hanya mengarah kepada makhluk hidup tersebut berikut keabadian, manfaat, dan kesempurnaannya. Namun, satu bagian dan satu tingkatan mengarah kepadanya, namun dalam tingkatan yang tak terhingga ia mengarah kepada Zat Yang Menghidupkan; Allah Swt. Bagian makhluk bisa jadi baru terwujud dalam waktu yang panjang. Akan tetapi, bagian yang mengarah kepada Zat Yang Menghidupkan bisa terwujud seketika sebagaimana ketika makhluk yang lewat pantulannya terhadap manifestasi dari nama-Nya yang mulia memperlihatkan pujian terhadap Penciptanya dengan melekatkan sejumlah sifat sempurna, indah, dan agung pada-Nya lewat kondisinya.
Ketahuilah bahwa diri manusia seperti satu spesies dari seluruh spesies yang ada. Rahasianya karena seorang manusia memiliki masa lalu dan masa depan. Secara maknawi pada pribadinya terkumpul setiap bagian dari dirinya yang mati. Pada setiap tahun secara abstrak meninggal dua sosok darinya yang mewariskan derita, dosa, harapan, dan sebagainya. Seolah-olah ia merupakan pribadi seutuhnya. Akal pikirannya yang komprehensif, kalbunya yang lapang, serta yang lain memberinya satu bentuk totalitas. Keberadaan dirinya sebagai pribadi seperti spesiesnya dalam menjadi khilafah dan kedudukannya sebagai pusat bagi alamnya sendiri sebagaimana bagi alam secara umum. Relasi dengan seluruh bagian alam berikut tindakannya merubah dan mengganti jenis tumbuhan, hewan, dan tambang juga memberikan kepadanya bentuk totalitas. Seolah-olah setiap orang adalah satu jenis atau spesies yang terbatas pada diri manusia. Doa seorang mukmin untuk seluruh penduduk langit dan bumi menunjukkan bahwa seorang diri dengan keimanannya bias
menjadi seperti satu alam atau pusatnya.
Kiamat yang berulang kali terjadi pada satu jenis atau spesies hewan yang tampak setiap tahun juga terjadi pada setiap diri manusia. Engkau bisa melihat tanda-tanda rahmat Allah pada buah yang terus bermunculan kembali setiap tahunnya persis seperti aslinya. Juga kepada kebangkitan dan kiamatnya segala jenis kutu dan serangga dengan sangat mudah. Jadi, kitab alam pada ayat-ayat penciptaan ini menjadi dalil bagi akan terwujudnya kiamat besar sebagaimana hal tersebut ditunjukkan oleh ayat-ayat Alquran. Dalil-dalil rasional mengenai kiamat telah kusebutkan dalam isyārāt al-I'jaz
{(Catatan-144): Ketika menafsirkan firman Allah yang berbunyi, "Dan mereka yakin terhadap akhirat." (QS al-Baqarah: 4) "Berikan kabar gembira kepada orang-orang beriman dan beramal saleh." (QS al-Baqarah: 25).}
serta pada bab ketiga dalam "Nuqthah (Setitik)". Engkau bisa merujuk kepada keduanya. Di dalamnya terdapat uraian yang menghilangkan rasa ragu dan bimbang.
Ketahuilah bahwa apabila engkau memperhatikan Alquran bungkuslah setiap suaranya yang beragam dalam memberikan petunjuk serta yang tercelup oleh perantara dari mulai Jibril hingga kepada orang yang kau dengar dengan sesuatu yang sesuai.
Lewat mendengar dari seorang qari (pembaca) yang berada dalam majlismu, engkau bisa meneruskan untuk mendengar dari Nabi saw yang membacakannya saat berada dalam puncak kenabian di majlis bumi kepada penduduknya; manusia dan makhluk yang lain.
Engkau juga bisa mendengar dari Jibril ketika sedang berbicara dengan Nabi di ufuk yang paling tinggi.
Engkau bisa mendengar dari balik tujuh puluh ribu hijab dari Sang Pembicara azali, ketika Dia berbicara dengan Nabi saw sejarak dua busur atau lebih dekat lagi. Jika mampu, pakai dan bungkuslah sesuatu lewat yang sesuai dengannya.
Ketahuilah bahwa perasaan dan pengetahuan yang terkait denganmu dan berasal darimu, sesuai dengan kadar yang kembali kepadamu. Rahasianya adalah tidak boros, kesesuaian antara sebab akibat, serta kekuatan untuk beramal. Apa yang
kembali kepadamu jika diukur dengan apa yang kembali kepada Zat yang menciptakanmu seperti antara sehelai rambut dan tali atau antara tali benang dan pakaian. Pengetahuan dan perasaanmu yang bergantung pada dirimu jika diukur dengan pengetahuan dan penglihatan-Nya yang bergantung padamu seperti kunang-kunang yang mengeluarkan cahaya seperti bintang gemerlap yang berada di waktu siang di bawah sinar mentari. Ketika berada dalam gelap kelalaian dan malam alam materi, engkau melihat cahayamu seperti bintang.
Ketahuilah bahwa di antara perbuatan-perbuatan Allah terdapat keselarasan, di antara jejak-jejaknya terdapat kemiripan, di antara nama-nama-Nya saling memantulkan, di antara sifat-sifat-Nya saling berkaitan, di antara urusan-Nya terdapat keterpaduan. Hanya saja, masing-masing memiliki tingkatan khusus yang dalam perkembangannya diikuti oleh yang lain. Hukumnya tidak mengarah kepada yang lain serta perangkat yang melekat pada yang lain tidak dituntut darinya. Pasalnya sesuatu yang melekat pada yang wajib tidak otomatis menjadi wajib kecuali dengan maksud baru. Sebab, pihak yang mengikuti tidak diikuti sebagaimana huruf tambahan tidak menjadi objek penilaian.
Apabila dari jejak-Nya engkau melihat kepada benda mati, ia mengarah kepada kekuasaan dan keagungan-Nya. Engkau bisa melihat manifestasi seluruh nama-Nya sebagai bentuk digresi dan asesori.
Apabila engkau melihat kepada hewan yang tak bisa bertutur, berikan kedudukan yang tepat untuknya. "Segala sesuatu ditetapkan di sisi-Nya dengan ukuran tertentu."
{(Catatan-145): Q.S. ar-Ra'ad: 8.}
"Dia menciptakan segala sesuatu serta menetapkan ukurannya secara cermat."
{(Catatan-146): Q.S. al-Furqān: 2.}
Ketahuilah bahwa kalimat "lā hawlā walā quwwata illā billāh (tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)," mengarah kepada sejumlah tingkatan perkembangan manusia dan fase keberadaannya dari partikel menuju wujud yang hidup, mulai dari materi mati, tumbuhan yang berkembang, hewan yang
memiliki daya rasa, hingga menjadi manusia beriman. Pada setiap tingkatan darinya terdapat sejumlah derita dan harapan:
Tiada daya untuk bisa lepas dari ketiadaan dan tiada kekuatan untuk eksis kecuali dengan pertolongan Allah.
Tiada daya untuk tidak lenyap dan tiada kekuatan untuk kekal kecuali dengan pertolongan Allah.
Tiada daya untuk menjauhi bahaya dan tiada kekuatan untuk meraih manfaat kecuali dengan pertolongan Allah.
Tiada daya untuk lepas dari musibah dan tiada kekuatan untuk mencapai tujuan kecuali dengan pertolongan Allah.
Tiada daya untuk jauh dari maksiat dan tiada kekuatan untuk mendapat nikmat kecuali dengan pertolongan Allah.
Tiada daya untuk lepas dari malapetaka dan tiada kekuatan untuk meraih anugerah kecuali dengan pertolongan Allah.
Tiada daya untuk bisa lepas dari keburukan dan tiada kekuatan untuk menggapai kebaikan kecuali dengan pertolongan Allah.
Tiada daya untuk lepas dari derita dan tiada kekuatan untuk meraih harapan kecuali dengan pertolongan Allah.
Tiada daya untuk lepas dari kegelapan yang pekat dan tiada kekuatan untuk mendapatkan cahaya terang kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi dan Mahaagung.
Ketahuilah
{(Catatan-147): Penjelasan tentang bagian ini yang khusus berbicara tentang hasbunallāh wa ni'mal wakil, terdapat dalam cahaya keduapuluh sembilan. Juga pada kilau keempat, harapan, keempat belas, dan kelima belas dari risalah untuk para lansia.}
bahwa siapa yang bertawakkal kepada Allah, Dia akan mencukupinya.
Hasbunallāh wa ni'mal Wakīl (Cukuplah Allah bagi kami. Dia Sebaik-baik Pelindung). Sebab, Dia adalah Pemilik diri kami dan Pemilik seluruhnya. Keseluruhan alam seperti kerajaan kita ini. Kita adalah milik Allah Swt.
Hasbunallāh wa ni'mal Wakīl. Sebab, Dia Yang Maha Sempurna. Sementara itu, kesempurnaan adalah sesuatu yang Dia cintai sehingga wajar kalau mau berkorban untuknya.
Hasbunallāh wa ni'mal Wakīl. Sebab, Dia Mahaagung, Indah, Pemilik kesempurnaan, keagungan, dan keindahan yang Dia cintai. Karena ingin memperbaharui manifestasi keindahan-Nya kita mati tertawa dan hidup bahagia.
Hasbunallāh wa ni'mal Wakīl. Sebab, Dia Zat Yang Wajib ada serta Yang Menghadirkan semua wujud sehingga dengannya kita mengetahui bagaimana Dia memberi semuanya kepada kita. Sebaliknya, tanpa pengetahuan, apa yang berada di tangan kita menjadi titik eksistensi yang saling dipikul oleh sesuatu yang tiada sepenuh dunia.
Hasbunallāh wa ni'mal Wakīl. Sebab, Dia Maha tak bermula, abadi, dan kekal. "Segala sesuatu pasti binasa kecuali wajah-Nya."
{(Catatan-148): Q.S. al-Qashash: 88.}
Hasbunallāh wa ni'mal Wakīl. Sebab, dunia bersifat fana dan kehidupan pasti sirna.
Hasbunallāh wa ni'mal Wakīl. Sebab, tanpa keberadaan-Nya semua kenikmatan dunia membuahkan penderitaan berkepanjangan, sebaliknya dengan menghadapkan wajah kepada-Nya dan dengan adanya keterpautan dengan rahmat-Nya semua kenikmatan yang fana tadi menambah nikmat kemunculan baru yang bersih dari derita kematian.
Hasbunallāh wa ni'mal Wakīl. Sebab, dengan-Nya cahaya kehidupan terwujud dan tanpa-Nya terdapat gelapnya ketiadaan.
Hasbunallāh wa ni'mal Wakīl. Sebab, jika kita mengenal-Nya lalu mengadu kepada-Nya lalu membuatnya ridha, Dia akan mencukupi semua kebutuhan kita terhadap dunia ini. Adapun jika kita berpaling kepada alam sebab-yang secara lahir kebutuhan kita terdapat padanya-lalu kita mengadu kepadanya, di samping buta dan tuli di mana ia tidak mendengar dan melihat kita, sejumlah urusan akan menjadi sulit dan jalannya menjadi tercerai berai. Sama seperti orang yang mengadu kepada raja di mana ia bisa menyelesaikan seketika. Namun, siapa yang
mengadu kepada seluruh penduduk negeri seorang demi seorang untuk bersepakat membantunya, maka kalaupun mereka sepakat hal itu bisa terwujud dalam waktu lama dan membutuhkan kesulitan yang luar biasa.
Ketahuilah bahwa di antara rahasia kemukjizatan Alquran dan di antara dalil bahwa ia merupakan rahmat yang mencakup semua adalah:
Sebagaimana setiap orang di dunia ini memiliki alam sendiri, demikian pula masing-masing sesuai dengan pemahamannya terhadap Alquran memiliki Alquran yang khusus untuknya yang bisa mendidik dan memberikan pengobatan untuknya.
Di antara rahasia petunjuknya yang lembut adalah bahwa di samping ayat-ayatnya selaras, sangat terkait, dan saling berhubungan, setiap orang dapat dengan mudah mengambil dari sekian surat sejumlah ayat untuk menjadi hidayah dan obat untuknya. Berbagai aliran secara umum dan para ulama bisa meraih manfaat darinya. Beragam kondisi yang kau lihat sesuai dengan kedudukan dan posisinya membentuk satu untaian rapi yang bersambung dengan saudara-saudara barunya. Adanya keterpisahan tidak menjadikannya cacat serta ketersambungan dengan ayat-ayat lain tidak membuatnya asing. Rahasia ini menunjukkan bahwa sebagian besar ayat-ayat Alquran memiliki hubungan dan korelasi dengan ayat-ayat yang lain yang bisa disebutkan dan dihubungkan dengannya.
Sebagaimana surat al-Ikhlas berisi tiga puluh surat dengan menggabungkan sebagian kalimatnya dengan yang lain sebagai dalil dan kesimpulan seperti yang disebutkan dalam al-lawā'mi'
{(Catatan-149): Yang diterbitkan sebagai apendiks dalam buku al-Kalimāt}
demikian pula dengan Alquran yang berada dalam diri seseorang di mana dengan ayat-ayatnya yang mengandung banyak makna berisi ribuan Alquran dalam Alquran itu sendiri. Masing-masing memiliki hakikat kebenaran. Di dalamnya terdapat kitab yang khusus untuknya dan untuk yang mengikutinya.
Ya Allah, Zat yang menurunkan Alquran
dengan kebenaran Alquran, jadikan Alquran ini sebagai pelipur lara bagiku dalam hidup dan sesudah mati serta sebagai cahaya dalam kalbu dan kuburku
tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.
Perpisahan
{(Catatan-150): Karena sakitku yang cukup parah, aku merasa ketika itu kalau ajal sudah dekat. Karena itu aku mengatakan sebagai perpisahan. Aku berjalan dari pintu kubur menuju kumpulan para kekasih, guru, dan teman-temanku; para murid madrasah Nur (penulis).}
Lanjutan dari Lanjutan
Bismillāhirrahmānirrahīm
Segala puji milik Allah Yang Maha Pengasih yang di antara halusnya keagungan buah pohon rahmat-Nya adalah junjungan kita Muhammad saw. berikut sorga yang terwujud dalam dua alam. Dia juga Mahakuasa yang seluruh entitas baru dan mulia, berikut benda-benda angkasa yang terdapat di taman alam menjadi bukti rububiyah-Nya. Lalu tumbuhan berwarna-warni dan binatang yang beragam jenis yang terdapat dalam taman bumi menjadi ciptaan-Nya yang luar biasa dan bukti uluhiyah-Nya. Bunga yang segar bersinar dan pepohonan berbuah yang terdapat di taman ini menjadi mukjizat kekuasaan-Nya serta dalil kasih sayang-Nya. Pohon berikut daun, bunga, dan buahnya yang terdapat di kebun ini menjadi mukjizat kekuasaan-Nya. Semua itu menjadi saksi bahwa Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Peristiwa-peristiwa masa lalu merupakan mukjizat kekuasaan-Nya. Ia menunjukkan bahwa Dia Mahakuasa atas segala kemungkinan yang akan terjadi si masa mendatang. Semua yang telah berlalu dan yang akan datang tidak keluar sedikitpun dari hukum kekuasaan-Nya. Bagi-Nya sama saja antara partikel dan mentari. Dia Mahabenar dan Esa yang seluruh partikel alam berikut susunananya diikat dengan berbagai petunjuk dan lisanya yang beragam di mana semua menunjukkan kepada keindahan-Nya yang mutlak.
Ungkapan kita beragam sementara kebaikan-Mu satu
Semua menunjukkan kepada keindahan tersebut
Kitab alam dengan seluruh bab, pasal, lembaran, baris, kalimat, dan hurufnya merupakan tanda keberadaan-Nya yang wajib dan esa. Baris-barisnya mengatakan kepada akal:
Perhatikan baris-baris alam karena ia Merupakan risalah langit untukmu
Salawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Muhammad saw, serta kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.
Ketahuilah wahai Said yang malang! Janganlah engkau melihat sesuatu yang bukan milikmu. Tetapi lihatlah dirimu! Siapa engkau sebenarnya? Apa engkau ini? Dengan apa engkau bersandar? Engkau lemah, berwujud, butuh, wujud pemberian nikmat, dan tidur yang dibungkus dengan keterjagaan.
Kelemahan adalah jasadmu, rasa butuh adalah ruh yang bergerak di dalamnya, anugerah adalah fisikmu, dan hidupmu adalah tidur. Sungguh malang! Aku tenggelam dalam satu tetes yang menjadi lautan atasku. Aku lenyap dalam satu waktu yang menjadi seperti abadi. Aku mengira lintasan hidup ini ibarat mentari bersinar.
Wahai Said yang malang! Modalmu kira-kira hanya enam puluh dinar. Engkau telah mengambil empat puluh lima yang dipergunakan untuk kebutuhan satu hari di kedai dunia. Engkau lupa kepada rumahmu dan kebutuhan untuknya. Sehingga hartamu berbalik menjadi hutang dan api neraka. Lima belas
dinar yang tersisa masih belum diketahui apakah bisa diambil semua atau sebagiannya; atau bahkan tidak bisa diambil sama sekali. Setiap kali engkau mengambil sebagian darinya pergunakanlah untuk rumah abadimu. Jangan ia kau kurangi lagi. Peliharalah yang sepertiga itu agar menjadi cahaya. Betapa sangat bodoh dan merugi dirimu! Engkau pergunakan semua yang telah diambil untuk hari yang lenyap. Yang tersisa di tanganmu untuk kedudukanmu yang abadi sangatlah sedikit. Engkau adalah pengembara yang lalai. Tadinya engkau memiliki tiga tingkatan. Engkau telah menempuh dua tingkatan dengan keluar dari rumah dan negeri ini. Kau angkat kakimu untuk melangkah kepada tingkatan ketiga dengan keluar dari dunia yang fana.
Ketahuilah!
{(Catatan-151): Cahaya kedua puluh tiga, Risalah alam materi, merupakan penjelasan tentang sejumlah alinea di atas.}
Sungguh besar dosa akibat ucapan yang keluar dari mulut manusia. Pasalnya mereka berkata, "Ia terbentuk dengan sendirinya" "Alam sudah menentukan demikian" "Ia tercipta oleh sebab". Ketiga kalimat ini sama sekali tidak benar. Di antara bentuk kemustahilannya adalah: engkau ada. Engkau bisa menciptaanmu sendiri jika melihat kepada kalimat pertama, atau ciptaan sebab alam sebagaimana makna kalimat kedua, atau ciptaan alam ilusi dan kekuatan buta sebagaimana makna kalimat ketiga, atau ciptaan Allah sebagaimana hal itu merupakan tuntutan hakikat kebenaran.
Pertama
Adapun pernyataan pertama adalah sangat mustahil dilihat dari berbagai sisi yang tak terhingga:
Di antaranya karena engkau harus memberikan kepada setiap partikel yang terdapat dalam dirimu sebuah mata untuk melihat keseluruhanmu, bahkan untuk melihat alam. Demikianlah seharusnya jika melihat penciptaan dirimu yang sangat sempurna.
Hal lainnya, engkau harus menghadirkan dalam dirimu sejumlah konstruksi yang saling menyatu, naik, dan turun dalam
partikel dirimu sebagai cetakan seperti cetakan bentuk huruf besi yang juga buatan. Demikianlah kalau ia memang tidak ditulis oleh pena Zat Yang Mahakuasa, azali dan esa.
Hal lainnya, dengan rahasia kesatuan jejak dan pengaruh, setiap partikel harus mengontrol keseluruhan sekaligus tunduk pada keseluruhan. Sama seperti bebatuan yang terdapat dalam bangunan yang rumit jika dianggap tidak ada yang membangunnya. Ia juga bebas dan terikat, serta menjadi sumber dari sejumlah sifat yang mengingkari keberadaannya; bahkan pada Zat yang melipat langit sebagaimana melipat lembaran kertas.
Kedua
Kemustahilan pernyataan kedua juga tak terhingga:
Di antaranya materi yang menjadi bahan penciptaanmu seperti botol obat yang terdapat di apotek. Jika menurutmu ia bisa keluar dengan cara tertuang dan mengalir sendiri tanpa keterlibatan siapapun dari setiap gelasnya dengan ukuran tertentu lewat neraca yang tepat, lalu berbagai kadar berbeda tadi bisa berkumpul membentuk obat kehidupan atau komposisi racikan yang hidup, maka di situlah engkau bisa berhayal bahwa dirimu memang berasal dari sejumlah sebab yang mati.
Hal lain bahwa kemunculan sesuatu dengan sangat sempurna dari sejumlah sebab tak terhingga yang tak bernyawa, buta, dan tuli, yang berada di antara berbagai kemungkinan hanya menambah kebutaan dan ketulian. Di samping relasinya dengan lahiriah sesuatu, proses penciptaan aspek batiniahnya lebih halus dan lebih sempurna. Karena itu, kemunculan dirimu darinya sungguh sangat mustahil.
Hal lainnya bahwa berkumpulnya berbagai sebab yang tak terhingga dengan sangat rapi dan teratur lewat neraca rasa butuh yang terdapat dalam sel-sel matamu tidak lebih mudah daripada berkumpulnya pilar-pilar alam dalam wujud lahiriahnya berikut benda-bendanya yang besar pada telapak tanganmu; bahkan dalam kukumu atau dalam selnya. Sebab, siapa yang bekerja di sebuah rumah, maka rumah tersebut bisa melingkupinya jika si pekerja tadi bersifat materi. Selama alam ini berikut bagian-
bagiannya bekerja dalam bagian dirimu berarti ia bisa masuk ke dalam partikelmu. Ini sungguh bualan yang memalukan. Begitulah rangkaian kemustahilan dan ketidakmungkinan serta kebatilan yang dimunculkan oleh ilusi dan hayalan.
Ketiga
Adanya pengaruh alam. Hal ini lebih batil dan rusak.
Pasalnya, alam materi memiliki aspek lahiri yang bersifat ilusi yang disangka oleh pihak lalai dan sesat sebagai hakikat kebenaran. Ia juga memiliki aspek batini yang berupa kreasi ilahi dan celupan rahmat-Nya.
Hakikat dari kekuatan yang ada memperlihatkan kekuasaan Zat Yang Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, dan Maha Menghendaki. Adapun proses kebetulan yang digambarkan oleh pemikiran lalai merupakan hasil kreasi setan yang bersumber dari kesesatan.
Kami telah membuktikan dalam "titik, tetesan berikut lanjutannya, aroma, partikel, dan benih berikut lanjutannya" tanpa ada keraguan sedikitpun bahwa penciptaan yang luar biasa ini tidak lain bersumber dari kekuasaan Zat Yang Maha Mengetahui dan Melihat, di mana Dia memiliki seluruh sifat sempurna.
Bagaimana mungkin tangan makhluk yang lemah, terikat, dan terbatas bisa menjahit pakaian alam?! Bagaimana mungkin tangan nyamuk bisa menyusun baju-baju berukir yang dikenakan oleh alam?!
Jika demikian kemungkinan terakhir adalah engkau dan segala sesuatu merupakan ciptaan Sang Pencipta azali di mana bukti penciptaan-Nya sebanyak entitas yang ada:
Di antaranya alam berikut partikel dan susunannya. Semua menjadi saksi atasnya lewat lima puluh lima lisan seperti yang terdapat dalam "tetesan".
Di antaranya Alquran berikut semua kitab suci para nabi, wali dan ahli tauhid disertai ayat-ayat penciptaan yang terdapat di alam.
Di antaranya pimpinan manusia berikut seluruh nabi, wali, dan malaikat.
Di antaranya fitrah yang terdapat dalam jin dan manusia dengan segala kebutuhannya.
Di antaranya, "Allah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Dia."
{(Catatan-152): Q.S. Ali Imran: 18.}
Ketahuilah bahwa menisbatkan penciptaan kepada makhluk dengan tiga bentuknya di atas serta kepada Zat Yang Wajib ada sebagai sebuah kebenaran, sama seperti pohon berikut segala buahnya ketika kau nisbatkan kepada sesuatu yang tunggal. Yaitu dengan kau nisbatkan ia sesuai dengan hukum pertumbuhannya kepada akarnya yang bersumber dari benih yang melaksanakan perintah penciptaan lewat kata kun yang berasal dari Zat Yang Wajib ada. Pohon dengan seluruh bagiannya, daunnya, bunganya, dan buahnya, tidak berbeda antara pohon kecil yang memiliki dua buah dan pohon sebesar gunung yang memiliki buah tak terhingga. Hal itu karena rahasia yang tak diketahui yang terdapat dalam proses yang demikian mudah ketika dilaksanakan oleh pihak yang tunggal. Termasuk dalam menyatukan berbagai upaya dan pendistribusian kerja. Sebaliknya, hal itu menjadi sulit dan sukar ketika dilakukan oleh pihak yang banyak dan berserak.
Ketika engkau menisbatkan kepada banyak kemungkinan selain yang ditentukan oleh Sang Pencipta, maka setiap buah, setiap bunga, setiap daun, dan setiap ranting membutuhkan semua yang dibutuhkan oleh keseluruhan pohon. Hal itu lantaran semuanya berkumpul dan menyatu pada bagian demi bagiannya. Lihatlah bahwa apa yang kau perhatikan di antara dua bentuk di atas laksana antara sesuatu yang wajib dan mustahil. Pasalnya, kemudahan pada bentuk pertama sampai pada tingkat di mana bisa dikatakan bahwa seharusnya memang demikian. Sebaliknya, kesulitan pada bentuk kedua memaksa kita untuk berkata bahwa hal itu mustahil terjadi.
Kesimpulannya, jika penciptaan dan pengelolaan diserahkan kepada selain Allah, maka: (1) jika dinisbatkan kepada diri sendiri berarti engkau memposisikan setiap sel yang terdapat dalam bagian dirimu mampu meliputi seluruh alam dengan sifat-
sifatnya. (2) jika dinisbatkan kepada sejumlah sebab berarti sejumlah sebab alam yang bekerja berkumpul pada setiap sel. Sebab, kesatuan sel hingga kesatuan alam menunjukkan bahwa penciptanya satu. Yang satu tidak bersumber kecuali dari yang satu. Apalagi sel yang tak mampu membuat dua jari nyamuk. Lalu bagaimana mungkin ia bisa melakukan sesuatu yang seluruh alam pun tidak bisa melakukan sesuatu yang sederhana sekalipun? Dalil keesaan adalah kesatuan. Benda bening yang kecil bisa menampung mentari berikut cahaya, warna, dan hawa panasnya lewat wujud bayangan mentari itu dengan sangat mudah.
Sebagaimana wujud lahiri lebih tegas, lebih berat, lebih kokoh daripada wujud imajiner, sehingga partikel yang satu bisa menampung gunung, serta mentari bisa masuk ke dalam kilau cahaya, maka demikian pula dengan wujud yang wajib ada. Ia lebih kuat, lebih kokoh, lebih teguh bahkan ia merupakan wujud hakiki dan lahiri sekaligus. Ia jauh lebih benar dan nyata daripada wujud yang bersifat mungkin. Entitas yang bersifat mungkin dengan seluruh bagiannya yang terwujud dalam cermin alam azali menjadi laksana cermin manifestasi cahaya wujud yang wajib ada. Pengetahuan merupakan cerminnya. Ia merupakan cermin wujud yang wajib ada. Wujudnya keluar dari tingkat pengetahuan menuju wujud lahiri; tidak sampai kepada tingkat wujud hakiki.
Ketahuilah bahwa siapa yang mencermati alam akan mendapatkan kesimpulan bahwa pelaku dan pemberi pengaruh padanya adalah Zat Yang Mahahalus, Sumber cahaya, dan Zat yang tunggal. Sementara, reaksi dan pengaruh adalah sifat dari materi dan fisik.
Jika mau engkau bisa melihat cahaya dan gunung. Yang pertama berada di langit, sementara tangan halusnya bekerja dan berkeliling di bumi. Adapun yang kedua, ukurannya yang besar dan tangannya yang banyak tak mampu memberikan pengaruh, meski kepada benda yang dekat dan menempel dengannya.
Begitulah kita melihat interaksi antar sesuatu secara lahiriah. Tingkatan sebab pada sesuatu sesuai dengan tingkat
kehalusan dan cahayanya, sementara tingkatan akibat sesuai dengan wujud fisiknya. Dari sini kita mengetahui bahwa Pencipta sebab lahiri dan Zat yang menghadirkan akibat adalah cahaya dari segala cahaya. "Tidak ada yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat."
{(Catatan-153): Q.S. asy-Syurā: 11.}
"Penglihatan tidak bisa menjangkau-Nya, sementara Dia bisa menjangkau penglihatan. Dia Mahahalus dan Maha Mengetahui."
{(Catatan-154): Q.S. al-An'ām: 103.}
Tiada Tuhan selain Dia.
Ketahuilah bahwa tafakkur adalah cahaya yang dapat melebur kelalaian yang dingin dan mati. Kecermatan adalah api yang dapat membakar ilusi kegelapan yang kering. Apabila engkau bertafakkur tentang dirimu, lakukanlah secara cermat, sabar, dan satu persatu sesuai dengan nama al-Bāthin (Yang Maha Tersembunyi) yang dalam. Pasalnya, kreasi yang sempurna membuat analisa dan penelaahannya secara detil menjadi lebih baik.
Apabila engkau merenungkan cakrawala lakukanlah secara global dan cepat. Jangan sampai menyelam terlalu dalam kecuali jika untuk menjelaskan kaidah yang ada. Janganlah engkau melihatnya secara teliti sesuai dengan nama azh-Zhāhir (Yang Maha Terlihat) yang luas. Pasalnya, kilau penciptaan lebih jelas, lebih cemerlang, dan lebih indah jika secara global dan keseluruhan. Juga agar engkau tidak larut dalam sesuatu yang tak bertepi. Jika engkau mentafakkuri dirimu secara detil lalu menelaah cakrawala secara global, berarti engkau mendekat kepada keesaan-Nya. Namun, jika sebaliknya, di mana engkau mentafakkuri dirimu secara global, lalu melihat cakrawala secara detil, maka engkau diceraiberaikan oleh sesuatu yang banyak, akan dijerumuskan oleh ilusi, lalu egomu akan menguat, kelalaianmu bertambah pekat, sehingga menjadi tabiat yang melekat. Inilah jalan yang mengarah pada kesesatan. Ya Allah, jangan kau masukkan kami ke dalam golongan orang yang sesat. Amin.
Ketahuilah bahwa seperti kata pepatah, manusia, jika bergerak rezekinya menjadi diam, namun jika diam, rezekinya yang bergerak. Ia termasuk kilau hakikat yang memiliki spectrum
luas. Lihatlah pepohonan yang diam karena bertawakkal. Rezekinya bergerak menuju kepadanya. Sebaliknya, hewan yang bergerak lantaran rakus, rezekinya menjadi diam dan tak bergeming di tempatnya dalam kondisi terhubungan dengan akarnya. Warna dan aromanya mengundang hewan yang lapar dan membutuhkan untuk mendatanginya.
Ketahuilah! Betapa bodohnya manusia yang lalai dan betapa hal itu sangat menyesatkan dan berbahaya bagi dirinya! Ia meninggalkan kebaikan yang besar lantaran kemungkinan adanya satu hambatan di antara sembilan kemungkinan yang malah memberikan dorongan. Ia mengambil jalan kesesatan dengan meninggalkan petunjuk lantaran satu keraguan di antara ribuan dalil petunjuk yang ada. Faktanya manusia adalah sosok yang banyak berhayal dan sangat berhati-hati. Ia menghindari bahaya yang segera datang lantaran satu kemungkinan di antara sepuluh kemungkinan yang ada. Mengapa ia tidak menghindari sesuatu yang paling berbahaya dengan sembilan kemungkinan; atau bahkan dengan sembilan puluh sembilan kemungkinan yang ada?!
Ketahuilah bahwa dalam jiwa manusia terdapat kebutuhan yang tak terhingga, kemampuan mengamati yang tak terkira, kecenderungan untuk bersenang-senang yang tak berujung, serta siap untuk mengarungi harapan dan derita yang tak terbatas. Sehingga kasih sayang yang disertai kesesatan kalbu hanya menghasilkan derita yang berkepanjangan. Sebagaimana disebutkan dalam qatharah (tetesan), engkau tidak layak berkata, "Apalah artinya diriku? Siapa aku? dan makhluk seperti apakah diriku sehingga kiamat tegak untukku, timbangan disiapkan untukku, serta hisab diberlakukan padaku?" Wahai yang sesat dan ragu. Jangan engkau tertipu dengan kehidupan ini. Sebab, kenikmatan hidup ini bergantung pada sesuatu yang bercampur dengan keraguan kaum yang sesat. Kaum yang sesat dan ragu tidak mempercayai adanya sakit akibat kepergian dan ketiadaan sehingga berusaha mengarah kepada kemungkinan adanya kebahagiaan abadi. Ia juga berlari dari beban dan kewajiban agama menuju kemungkinan ketiadaan
akhirat. Dari kerancuan berpikir semacam ini untuk sementara waktu ia tampak selamat. Namun tidak lama kemudian, waktunya tiba dan kebenaran tersingkap. Kemungkinan pertama tidak bisa meringankan deritanya, bahkan ia merasakannya sekaligus. Kemungkinan kedua juga demikian, tidak bisa meringankan bebannya. Justru derita yang dialami menjadi berlipat-lipat ganda. Untuk sementara waktu ia juga berkata, "Musibah menimpa semua. Karena itu, aku tidak peduli." Namun, tidak lama kemudian musibah yang menimpanya justru berlipat-lipat sesuai dengan jangkauan musibah tadi yang mencakup semua. Hal ini sama seperti orang yang ditimpa musibah berikut para kerabat dan kekasihnya. Pasalnya, dalam jiwa seseorang terdapat kaitan dengan sesama jenisnya sehingga ketika musibah menimpa mereka, bencana dan deritanya juga ikut bertambah.
Wahai yang ragu dan lalai, jangan mengira dengan sikap lalai dan ragu engkau bisa mencicipi kenikmatan. Namun, ia justru menyimpan derita yang memilukan. Ia akan menyerangmu secara sekaligus dan akan berbalik menjadi sakit yang tak terperikan. Jika engkau ingin semua derita itu berubah menjadi kenikmatan dan ingin agar api neraka tadi berubah menjadi cahaya, buanglah kelalaianmu dengan cara ruku (shalat) lima waktu, serta persiapkan diri menerima turunnya tamu Alquran yang disertai dengan limpahan iman. Karena itu, engkau harus berobat dengan cara merenungkan ayat-ayat Allah dan terus bersabar menghadapi pahitnya berbagai kesesatan sehingga kenikmatan munajat menjadi terlihat.
Ketahuilah
{(Catatan-155): Lihat memoar ketiga belas dari cahaya ketujuh belas. }
bahwa pengabdian menuntut ketundukan untuk menerima cobaan dan ujian. Pasalnya, Sang majikan berhak untuk menguji hamba-Nya; bukan hamba yang menguji Tuhannya.
Ketahuilah bahwa wilayah nama al-bāthin (Yang maha Tersembunyi) dan wilayah azh-Zhāhir (Yang Maha Tampak) saling terpaut dan bertemu. Kalangan batini berpendapat
bahwa kekuasaan-Nya seperti lautan, sementara kalangan lahiri berpendapat bahwa ia seperti mentari. Laut bagaikan totalitas yang meliputi seluruh bagiannya. Sebaliknya, mentari seperti induk yang memiliki sejumlah cabang berupa pantulan dan bayangan. Nah, kalangan batini yang ekstrem larut dalam paham keterbagian dan kebersatuan dengan Tuhan. Adapun kalangan lahiri yang bertentangan dengan sunnah larut dalam noda syirik terhadap sebab. Dalam hal ini jalan yang lurus berupa Alquran.
Wahai Zat Yang telah menurunkan Alquran,
dengan kebenaran Alquran tunjukkan kami ke jalan yang lurus!
Amin, amin, amin.