Risale-i Nur Külliyatı [email protected]

Badiuzzaman dan Risalah Nur

2 dilihat

Apa itu Risalah Nur? Tafsir Seperti Apa Risalah Nur itu?

Risalah Nur adalah ensiklopedia yang menjelaskan hakikat-hakikat al-Qur’an al-Karim dengan gaya bahasa yang sesuai dengan pemahaman ilmu pengetahuan modern. Risalah Nur menjawab pertanyaan-pertanyaan penting yang selalu dilontarkan setiap orang seperti, “Siapakah saya?”, “Dari mana saya berasal?”, “Kemana akan pergi?”, “Apa tugas saya?”, “Makhluk-makhluk ini dari mana asalnya?”, “Bagaimana kesudahannya?”, “Apa esensi dan hakikatnya?” dan pertanyaan-pertanyaan semisal. Risalah Nur menjawab pertanyaan-pernyataan ini dengan jawaban yang jelas dan memuaskan, menjelaskannya dengan gaya bahasa yang menarik dan ungkapan yang baik sehingga memberi pencerahan terhadap akal dan ketenteraman pada jiwa.Risalah Nur merepresentasikan filsafat al-Qur’an pada abad kedua puluh.

Kumpulan risalah ini membuktikan dan menyatakan bahwa peradaban yang akan dibangun oleh bangsa Turki ini akan menjadi pemersatu antara sisi materi yang terdiri dari ilmu pengetahuan, kesenian dan teknologi di satu sisi, dan sisi spiritual yang terdiri dari iman, akhlak di sisi yang lain. Dengan demikian, peradaban ini akan lebih unggul dari peradaban lainnya yang berdiri hanya di atas sisi materi.

Para leluhur kita telah memiliki sifat mulia yang menjadi kebanggaan kita semua, terutama kepahlawanan yang bersumber dari iman yang memenuhi hatinya yang dengannya mereka menghadapi berbagai negara dan bangsa yang seratus kali lipat lebih unggul. Mereka meninggikan panji Islam dan kesempurnaan spiritual hingga berkibar di berbagai pelosok Asia, Afrika dan sebagian Eropa. Mereka tegar di hadapan peristiwa-peristiwa yang menakutkan. Mereka menghadapi kematian dengan hati yang tenang dan wajah yang berseri. Dengan mengatakan, “Jika saya terbunuh, saya mati syahid. Jika saya dapat mengalahkan musuh, saya adalah seorang mujahid”. Para pemuda kita pada masa sekarang ini sangat perlu untuk memiliki sifat-sifat seperti ini demi keselamatan masa depan kita dan kepentingan negara dan bangsa.Jika mencari imbalan materi dan kepentingan pribadi merupakan hal yang biasa dalam gerakan atau aktivitas apapun, hal itu merupakan masalah yang tidak sesuai dengan kedudukan bangsa muslim ini sepanjang sejarahnya. Kami bekerja hanya untuk mencari keridaan Allah Ta`ala. Kalaupun kami mempunyai upah yang kami ambil sebagai imbalan dari apa yang kami lakukan, maka hal itu tidak lebih dari kebahagiaan dan kegembiraan dalam kehidupan abadi kami karena kami berhasil memberikan pengabdian kepada saudara-saudara kami, penduduk negeri kami, penduduk dunia Islam dan umat manusia pada umumnya.

* * *

Tafsir Seperti Apa Risalah Nur itu?

Tafsir al-Qur’an al-Karim ada dua macam:

Pertama adalah tafsir yang menjelasan dan membuktikan makna ayat, perkataan dan kalimat dalam al-Qur’an. Ini adalah jenis yang diketahui secara umum (tafsir lafzhi).

Kedua adalah tafsir yang menjelasan dan membuktikan hakikat-hakikat iman dalam al-Qur’an dengan menggunakan argumentasi yang kuat (tafsir ma’nawi). Tafsir jenis ini sangat penting. Terkadang jenis tafsir seperti ini termuat dalam buku-buku tafsir secara singkat, sementara Risalah Nur adalah tafsir jenis yang kedua secara langsung. Penafsiran jenis kedua ini merupakan fokus perhatian Risalah Nur dan menjadi dasar penulisannya sehingga Risalah Nur merupakan sebuah tafsir maknawi yang mampu membungkam para filsuf yang paling kuat dengan cara yang tidak ada bandingannya.Risalah Nur adalah koleksi buku yang memperhatikan Kitab Suci yang dijadikan pedoman oleh jutaan orang di setiap zaman, yaitu Kitab Suci al-Qur’an al-Karim.

Risalah Nur menjelaskan hakikat-hakikatnya secara objektif dan logis, jauh dari pendapat pribadi, dipersembahkan untuk memberi manfaat kepada seluruh manusia. Risalah Nur adalah tafsir cemerlang yang menafsirkan ayat-ayat alQur’an. Dari pertama hingga akhir, berdalilkan hakikat iman dan tauhid, disusun dengan bentuk yang berguna untuk seluruh lapisan masyarakat, diperkaya dengan ilmu pengetahuan modern guna menghilangkan keraguan dari setiap orang yang ragu.

Risalah Nur mengajak berbicara pembacanya mulai dari orang awam hingga kalangan khawas dengan senantiasa memberikan argumentasi sampai kepada para filsuf yang sangat membangkang.Risalah Nur adalah koleksi risalah yang bersinar, terdiri dari seratus tiga puluh risalah mulai risalah kecil hingga risalah besar, memenuhi kebutuhan masyarakat masa kini, menenteramkan akal dan hati,

menafsirkan al-Qur’an al-Karim pada masa sekarang ini dengan menafsirkan maknanya bukan menafsirkan lafalnya.

Ia menjawab masalah yang terlintas dalam pikiran, menjelaskan tingkatan iman mulai dari atom hingga mentari,

hakikat keesaan dan kenabian, menjelaskan masalah-malasah mendalam seperti masalah gaib dan alam nyata, masalah ruh dan malaikat, hakikat zaman, masalah akhirat dan dikumpulkannya seluruh makhluk, keberadaan surga dan neraka, substansi kematian, pokok-pokok kebahagiaan dan kesengsaraan abadi, dibuktikan dengan dalil akal dan bukti-bukti logis yang kuat.

* * *

Perlu diketahui bahwa keuntungan yang diperoleh dari mencetak Risalah Nur dalam jumlah yang terbatas dialokasikan untuk mencetak buku-buku berikutnya karena kumpulan risalah ini dicetak bukan untuk tujuan komersial, bahkan tidak dipasarkan untuk diperjual belikan.

Hal lain yang harus diketahui dalam kesempatan ini adalah Risalah Nur perlu sampai ke tangan orang-orang yang menghargainya dan harga yang sebenarnya adalah menjadikan satu risalah dapat memberi manfaat kepada minimal dua puluh lima orang.

Tafsir maknawi ini terdiri dari empat bagian utama: “al-Kalimât”, “al-Maktûbât”, “al-Lama`ât”, dan “asy-Syua`ât”, yang semua dihimpun dalam seratus tiga puluh risalah.

Orang-orang yang terlibat dalam mempublikasikan Risalah Nur

* * *

HAKIKAT ITULAH YANG BERBICARA

Telah dibuktikan dalam Risalah Nur bahwa kadang-kadang keadilan terwujud dalam sebuah kezaliman. Hal itu karena manusia mungkin mendapatkan perlakuan zalim karena sesuatu hal dan bukan karena alasan yang benar, misalnya karena ia ditimpa musibah atau dituduh dan dijebloskan ke dalam penjara sehingga ini terlihat sebagai suatu kezaliman, hanya saja peristiwa ini pada kenyataannya bisa jadi merupakan wujud dari keadilan karena takdir Ilahi memberi balasan kepada orang yang berhak mendapatkan hukuman karena suatu hal, lalu hukuman itu dikenakan kepadanya melalui tangan seorang tiran atau musibah menimpanya melalui pelaku kezaliman itu.

Sekarang saya memikirkan masalah saya, yaitu saya diasingkan dari satu wilayah ke wilayah lainnya, diusir dari satu desa ke desa lainnya, digiring dari satu pengadilan ke pengadilan lainnya sejak dua puluh delapan tahun. Kejahatan apa yang dituduhkan kepada saya oleh mereka yang memperlakukan saya dengan kezaliman dan kejahatan ini? Bukankah itu tuduhan menjadikan agama sebagai alat politik? Kalau begitu, mengapa mereka tidak mampu untuk membuktikannya? Tentu saja mereka tidak akan bisa karena dalam kenyataannya apa yang mereka tuduhkan itu memang tidak ada.Pengadilan ini menghabiskan waktu selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun mencari kejahatan yang dituduhkan kepada saya dan mereka tidak menemukannya. Lalu membiarkan saya untuk diadili oleh pengadilan lain dan pengadilan barupun diadakan tentang perkara yang sama dan orang-orang pengadilanpun selama beberapa waktu menjadi sibuk dengan perkara saya. Saya diintimidasi dan berbagai kejahatan ditimpakan kepada saya, kemudian upaya yang mereka lakukan itu ternyata tidak membuahkan hasil. Lalu mereka membiarkan saya agar saya diadili oleh pengadilan ketiga. Begitulah saya berpindah dari satu musibah ke musibah yang lain, dari satu ujian ke ujian yang lain.

Selama dua puluh delapan tahun saya menghabiskan hidup dalam kondisi seperti ini, dan pada akhirnya terbukti bahwa semua tuduhan yang dialamatkan kepada saya tidak terbukti dan tidak ada dasarnya sama sekali.Saya berpikir dan bertanya-tanya, “Apakah tuduhan ini merupakan fitnah atau bertujuan meneror saya?”. Apapun alasannya, saya mengetahui seyakin-yakinnya dengan hati nurani bahwa tidak ada hubungan antara saya dengan tuduhan itu. Semua orang yang memiliki rasa keadilan di dunia mengetahui bahwa saya bukanlah jenis orang yang menjadikan agama sebagai alat politik. Bahkan orang orang yang menuduh tuduhan ini kepada saya, mereka mengetahui bahwa saya bebas dari tuduhan itu, tetapi mengapa mereka tetap memperlakukan saya dengan tidak adil? Mengapa saya terus menjadi target kezaliman dan kejahatan yang tiada henti, kendati saya tidak bersalah? Mengapa saya tidak mampu keluar dari semua musibah dan ujian ini? Bukankah kondisi ini bertentangan dengan keadilan Ilahi?

Pertanyaan-pertanyaan ini terus menjadi bahan pemikiran saya selama seperempat abad dan ketika itu saya belum memperoleh jawabannya sehingga menjadi sumber kesedihan dan penderitaan saya. Namun sekarang saya telah mengetahui sebab yang sebenarnya di balik perlakuan zalim mereka terhadap saya. Dengan segala penyesalan saya katakan,

Dosa saya adalah saya berkeinginan menjadikan pengabdian saya terhadap al-Qur’an sebagai alat untuk peningkatan dan kesempurnaan yang bersifat materi dan maknawi saya.

Ini adalah masalah yang benar-benar saya sadari dan rasakan sekarang,

tetapi saya panjatkan ribuan puji dan syukur kepada Allah bahwa penghalang maknawi yang kuat yang tidak ada campur tangan saya di dalamnya telah menghalangi saya, selama bertahun-tahun, untuk menjadikan pengabdian iman saya sebagai alat atau sarana peningkatan dan kesempurnaan yang bersifat materi dan maknawi saya atau sebagai alat untuk menyelamatkan diri dari siksa neraka Jahanam atau bahkan sebagai alat untuk memperoleh kebahagiaan abadi atau tujuan lainnya.

Pikiran dan perasaan ini menimbulkan keheranan dan kebingungan saya. Meskipun setiap orang berharap mendapatkan kedudukan spiritual, dengan amal salehnya berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat, meskipun berorientasikan pada tujuan ini dibenarkan dan sah bagi setiap orang dan tidak membaha yakan siapapun, hanya saja saya terlarang untuk memasuki kondisi di atas, baik secara hati maupun secara jiwa. Saya diperlihatkan bahwa pengabdian iman yang didorong oleh tugas ilmiah secara naluri ditunaikan demi mencari keridaan Allah Ta`ala. Hal itu karena hakikat iman—yang sepatutnya tidak dijadikan alat untuk sesuatu atau menjadi bagian dari sesuatu, bahkan ia lebih unggul dari semua maksud dan tujuan—harus diajarkan pada masa sekarang ini kepada orang yang memerlukannya dan kepada orang yang tidak mengetahuinya melalui ibadah yang bersifat fitri dengan pengajaran yang memberikan pengaruh yang sangat dalam. Hakikat al-Qur’an harus diajarkan dengan cara tidak menjadikannya alat bagi sesuatu, tetapi diajarkan karena ia akan menyelamatkan iman seseorang di dunia yang penuh dengan perubahan ini dan memberikan keyakinan yang kuat kepada orang yang membangkang. Cara di atas mampu menghancurkan kekafiran mutlak, kesesatan yang memberontak dan memberi keyakinan yang pasti kepada setiap orang.Pada masa sekarang dan kondisi seperti ini, keyakinan ini hanya dapat direalisasikan dengan tidak menjadikan agama sebagai alat untuk tujuan pribadi apapun, baik di dunia maupun di akhirat, baik material maupun spiritual. Jika tidak, orang yang berdiri menghadapi sosok maknawi kekufuran yang tumbuh dari berbagai organisasi tidak akan mampu menghilangkan semua keraguan orang meskipun berhasil mendapatkan kedudukan spiritual yang paling tinggi. Karena nafsu dan ego orang yang membangkang yang ingin beriman dapat berkata kepadanya, “Orang ini dengan kecerdasan dan kedudukan spiritualnya yang luar biasa telah menipu kita”, lalu dirinya tetap digoda oleh keraguan.

Ribuan puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah bahwa sejak dua puluh delapan tahun takdir Ilahi senantiasa mengingatkan saya melalui orang-orang yang menuduh bahwa saya menjadikan agama sebagai alat politik. Ini semata-mata keadilan dari-Nya. Dengan ini, tanpa sepengetahuan saya, Dia menjauhkan saya dari sikap dan tindakan menjadikan agama sebagai alat untuk mencapai tujuan pribadi. Dia berkata, “Awas, hati-hati, jangan jadikan hakikat iman sebagai alat untuk tujuan pribadimu, bahkan orang-orang yang memerlukan iman memahami bahwa hakikat itulah yang berbicara, sampai impian hawa nafsu menguap dan bisikan setan lenyap”.

Inilah rahasia yang tersembunyi di balik pengaruh Risalah Nur yang tertanam dalam hati dan jiwa laksana ombak lautan yang bergelora. Ya, inilah rahasia dan tidak ada apa-apa selain itu. Meskipun hakikat yang disampaikan oleh Risalah Nur sama dengan hakikat yang dijelaskan oleh ribuan ulama dan dipublikasikan dengan gaya bahasa yang lebih hebat dalam ratusan ribu buku, hanya saja bukubuku ini tidak mampu menghentikan kekufuran mutlak. Jika Risalah Nur dalam tahap tertentu berhasil memerangi kekufuran mutlak dalam situasi sulit ini, maka inilah rahasianya, eksistensi, keahlian dan kemampuan Said tidak ada, yang berbicara adalah hakikat dan hakikat iman.

Selama cahaya hakikat mempengaruhi hati orang-orang yang memerlukan iman, maka yang siap berkorban bukan hanya satu Said, tetapi seribu Said. Saya relakan semua penderitaan, kesulitan dan ujian yang pernah saya alami selama dua puluh delapan tahun. Saya maafkan semua orang yang telah berbuat zalim kepada saya, yang telah mengusir saya dari satu kota ke kota lainnya, telah berbuat jahat kepada saya atau berusaha menuntut saya dengan berbagai tuduhan, atau menjebloskan saya ke dalam penjara.

Saya katakan kepada takdir yang adil, “Dulu saya memang berhak mendapat tamparanmu yang penuh kasih sayang ini. Jika tidak, seandainya saya dulu menempuh jalan lain seperti yang ditempuh orang pada umumnya—yaitu jalan yang benar dan tidak berbahaya—perhatian terhadap diri saya pasti berkurang, perasaan saya tidak akan terlepas dari limpahan materi dan maknawi. Kekuatan maknawi yang besar ini pasti sia-sia karena tidak digunakan untuk pengabdian iman.

Saya telah mengorbankan segala sesuatu yang saya miliki, baik yang bersifat materi maupun maknawi, menanggung semua musibah dan bersabar menghadapi semua penderitaan. Dengan ini, hakikat iman tersebar ke setiap tempat. Dengan ini juga Madrasah Nur mencetak ribuan, bahkan jutaan murid. Mereka adalah orang-orang yang akan meneruskan pengabdian iman di atas jalan ini. Mereka selamanya tidak akan berbelok dari jalan yang saya tempuh dalam rangka mencukupkan diri dari segala sesuatu, baik yang bersifat materi maupun maknawi. Mereka akan bekerja semata-mata untuk mencari keridaan Allah.

Orang-orang yang berbuat jahat kepada kita, sebetulnya mereka telah melakukan pengabdian agung dalam menyebarluaskan hakikat iman tanpa mereka sadari bahwa itu adalah rahasia takdir Ilahi.

Tugas kita dalam menghadapi mereka adalah berharap agar mereka diberi hidayah.Saya benar-benar sakit. Saya tidak kuat untuk menulis dan berbicara. Mungkin inilah akhir ucapan saya. Para Tullabunnur di Madrasah al-Zahra jangan sampai melupakan wasiat saya ini.

Said Nursî

* * *

PENJELASAN PARA MAHASISWA TULLABUNNUR SEBAGAI JAWABAN TERHADAP SERANGAN DAN KAMPANYE HITAM YANG DILANCARKAN OLEH MUSUH-MUSUH AGAMA

Saudara-saudara kami yang mulia dan setia!

Kami sampaikan selamat atas berakhirnya ujian ini(*1)Serangan-serangan yang dihadapi para Tullabunnur yang mencapai derajat keimanan yang tinggi seraya mendapatkan iman yang kokoh berkat pelajaran iman yang hakiki yang diperoleh dari Risalah Nur, dari satu sisi hanya merupakan ujian, dan di sisi lain sebagai pembeda antara berlian yang sangat mahal dengan arang. Bagi Tullabunnur penjara tempat mereka dijebloskan merupakan Madrasah Yusufiyah, karena keimanan mereka kepada Allah, sikap mereka mengikuti Rasul-Nya, dan pengamalan Kitab Suci-Nya. Kezaliman dan kejahatan yang mereka dapatkan hanyalah merupakan motivasi yang mendorong mereka untuk terus maju ke depan menempuh jalan ini.

Takdir Ilahi seakan-akan mengisyaratkan kepada kita melalui serangan-serangan ini dengan mengatakan, “Ayo terus bekerja dan jangan berhenti”.Para Tullabunnur sudah terlatih dalam menghadapi kesulitan. Pembelaan yang dibacakan di sejumlah pengadilan demi pengabdian terhadap al-Qur’an dan Iman seperti obrolan dengan seorang sahabat. Demikian juga digiringnya mereka ke kantor polisi, bagi mereka tidak ada bedanya dengan pergi ke pasar. Borgol yang ada di tangan mereka laksana gelang jihad akbar yang menghiasi lengan mereka. Penjeblosan mereka ke penjara secara dzalim oleh manusia pada hakikatnya merupakan bukti ketidakbersalahan mereka di hadapan Allah Ta`ala. Kesulitan dan ketidakadilan yang mereka rasakan adalah lencana kehormatan bagi mereka. Betapa bahagianya generasi pertama Tullabunnur selama tiga puluh tahun mendapat nikmat seperti ini, sementara kami tidak meraih bahkan tidak akan meraih kehormatan itu karena masanya yang nyaris selesai!

Risalah Nur adalah kompilasi keimanan yang berharga yang telah merealisasikan keamanan dan stabilitas bagi negara dan bangsa ini serta memasangkan alarm kesadaran dalam hati. Risalah Nur telah dinyatakan bebas tidak bersalah di banyak pengadilan tempat dakwaan diajukan oleh musuh-musuh Islam. Dua puluh lima pengadilan menyatakan bahwa di dalam Risalah Nur tidak ditemukan kejahatan. Pengadilan Kasasi membenarkan keputusan bebas tidak bersalah ini secara sepakat. Dakwaan terhadap Risalah Nur dinyatakan selesai.Tiga puluh tahun berlalu di negeri ini tidak satupun terdapat pelanggaran yang dilakukan oleh Tullabunnur, padahal jumlah mereka mencapai ratusan ribu. Maka orang-orang yang melarang penyebarluasan Risalah Nur itu sebetulnya—disadari atau tidak—mereka bekerja untuk kepentingan musuh-musuh keamanan dan stabilitas, untuk kepentingan anarkisme destruktif yang mengkhianati negara dan bangsa. Kenyataannya, yang mempermasalahkan Risalah Nur itu bukanlah pemerintah. Telah terbukti bagi aparat keamanan dan kepolisian bahwa Badiuzzaman dan segenap muridnya tidak memiliki tujuan politik sedikitpun. Apa yang mereka lakukan itu hanyalah pengabdian pada iman dan Islam. Yang menghalang-halangi Risalah Nur itu tidak lain dari musuh-musuh agama yang bekerja secara sembunyi-sembunyi. Para Tullabunnur yang mendapatkan pelajaran iman hakiki adalah pasukan al-Qur’an yang kuat yang tak terkalahkan dan benteng kokoh yang tak bisa ditembus. Ketika serangan musuh-musuh agama itu semakin kuat, para Tullabunnur semakin tabah, semakin aktif dan semakin setia terhadap Risalah Nur dan gurunya sampai-sampai di antara mereka ada yang menulis kepada Ustadz Said Nursi,

“Guruku yang mulia dan gagah berani, ketika jumlah penentang kita semakin banyak, kita menjadi semakin kuat. Segala puji tanpa henti hanyalah bagi Allah Yang Maha Penyayang.”

Ya, masa hitam kelam diselimuti kezaliman dan kegelapan. Kesewenang-wenangan dan kediktatoran membungkam mulut semua orang kecuali satu orang yang tidak pernah diam dan tidak seorangpun yang dapat membuat dirinya diam sekalipun oleh muridnya sendiri. Itulah Badiuzzaman, tokoh berpengaruh yang sangat mengagumkan.

Para Tullabunnur membaca Risalah Nur untuk diri sendiri dan membuat orang lain membacanya. Mereka membaca Risalah Nur yang merupakan tafsir al-Qur’an yang luhur dan cemerlang demi menyelamatkan iman mereka terlebih dahulu, kemudian iman saudara-saudara mereka seagama. Mereka bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas ini. Mereka melakukan pengabdian pada al-Qur’an dan iman melalui Risalah Nur tanpa mengharapkan sesuatu selain keridaan Allah semata. Mereka tidak memedulikan tantangan dan rintangan dalam menjalankan tugas suci ini. Mereka juga tidak memedulikan serangan dan fitnah yang dilancarkan oleh musuh-musuh agama yang bekerja secara sembunyi-sembunyi. Semua itu mereka anggap sebagai motivasi yang mendorong mereka untuk terus maju dalam berkhidmat pada iman dan al-Qur’an. Buah perjuangan mereka yang penuh dengan kesulitan dan ujian selama tiga puluh tahun sudah tampak di hadapan bangsa Islam ini.

Wahai saudara-saudara kami Tullabunnur baru yang sangat merindukan Risalah Nur! Kami ucapkan selamat dari lubuk hati yang paling dalam karena kalian telah mendapat kesempatan membaca Risalah Nur dengan sabar dan setia dalam kondisi semangat. Kalian akan semakin tegar dalam membacanya dan menyebarluaskan cahayanya. Sekali lagi kami ucapkan selamat untuk kalian. Doa kami menyertai kalian dan jangan lupa doakan kami juga.

* * *

Jika serangan-serangan telah menimbulkan satu kerugian terhadap Risalah Nur, maka sebaliknya Risalah Nur telah mendapatkan dua puluh manfaat yang menjadikan kerugian tersebut dianggap tidak ada. Ya, serangan-serangan itu malah menjadikan Risalah Nur semakin berkembang pesat dan daerah penyebarannya semakin luas, menjadi sebab kumpulan risalah ini diterima dan dipercaya di dunia Islam.

Para musuh Islam telah menyaksikan tersebar luasnya Risalah Nur, perkembangan dan pengaruhnya, baik secara materi maupun maknawi, di Turki dan dunia Islam, bahkan di Eropa dan Amerika, maka mereka kembali menghalanginya di sana sini dan hasilnya adalah kebalikan dari apa yang mereka inginkan. Berdasarkan informasi yang sampai kepada kami, perkembangan Risalah Nur telah berlipat ganda di daerah Timur sepuluh kali lipat dibanding sebelumnya. Tindakan para musuh agama ini malah menarik perhatian orang terhadap Risalah Nur dan pengarangnya, membangkitkan orang orang yang lengah, menggerakkan orang-orang yang malas, dan mendorong orang-orang yang ceroboh untuk berhati-hati.

Meskipun serangan pedih ini akan hilang dan tidak kekal, hanya saja perbuatan ini adalah manuver busuk yang bertujuan menebarkan ketakutan di dalam jiwa orang-orang.Musuh-musuh agama yang dungu sudah biasa menyesatkan dan memprovokasi instansi resmi untuk memusuhi kami dan menjadikannya sarana untuk meneror kami. Apakah mereka tidak tahu bahwa kami adalah Tullabunnur?

Sebetulnya para musuh yang terdiri dari kaum ateis, Freemasonry dan komunis itu sangat lemah. Secara lahiriah mereka terlihat kuat karena perbuatan destruktif mereka, sebagaimana seorang anak kecil nakal yang membakar rumah dengan sebatang korek api. Ya, mereka memang sangat lemah karena mereka mengandalkan eksistensi diri mereka yang kemampuannya tidak sampai ke tingkat kemampuan burung pipit. Mereka berada dalam tingkat kehinaan dan kesengsaraan karena mereka adalah hamba dari hamba seperti menjilat dan berpura-pura. Sedangkan orang-orang beriman—terutama yang beruntung mendapatkan iman yang hakiki—mereka adalah orang-orang kuat dan terhormat, masing-masing adalah hamba terhormat dan universal. Mereka hanya tunduk kepada Allah Yang Maha Agung, Penguasa Pemilik Kesempurnaan, Pencipta seluruh makhluk, Pemelihara langit dan bumi yang di tangan-Nya terdapat kerajaan segala sesuatu dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Hanya kepada-Nya, orang-orang beriman beribadah. Hanya kepada-Nya orang-orang beriman berafiliasi dan hanya kepada-Nya juga mereka bersandar.

Kaum munafik dan musuh-musuh agama yang bekerja secara sembunyi-sembunyi telah mengetahui bahwa para Tullabunnur adalah orang-orang yang siap mati. Tidak mungkin mereka memisahkan Tullabunnur dari Risalah Nur dan gurunya. Menyadari hal ini, mereka mengubah perencanaan dan tipu daya setannya. Mereka melakukan cara penipuan dan makar dengan harapan berhasil mengetaui titik lemah untuk mereka masuki atau memanfaatkan kesederhanaan dan kebaikan hati para Tullabunnur.

Lalu kaum munafik atau orang-orang yang tertipu oleh mereka menyusup ke lingkungan Tullabunnur dalam bentuk sahabat, orang yang setia kepada mereka atau bahkan pura-pura menjadi Tullabunnur itu sendiri. Mereka mulai mengulang-ulang ucapan, “Ada pengabdian terhadap Islam selain dari ini”, “Ada jihad melawan musuh agama selain dari ini”, “Ada buku lain selain Risalah Nur yang bermutu dan bermanfaat”, “Ada ilmu lain yang jika Anda dapatkan berarti Anda melakukan pengabdian yang lebih utama daripada Risalah Nur”, dan tipu daya lainnya yang mereka lakukan guna mengalihkan para Tullabunnur dari Risalah Nur yang memberi mereka pencerahan selama ini dan diharapkan secara bertahap mereka meninggalkan pengabdiannya dengan Risalah Nur, mengalihkan pandangan mereka ke masalah lain sampai tenggelam dalam banyak kesibukan sehingga tidak lagi ada waktu untuk bekerja dan berusaha demi Risalah Nur.

Dalam melakukan tipu dayanya, para musuh agama itu mungkin juga menggunakan cara lain seperti mengiming-iming jabatan, popularitas, harta kepada para Tullabunnur atau meneror mereka agar berpaling dari pengabdian Risalah Nur. Risalah Nur memberikan kesadaran intelektual, ruhani dan hati bagi setiap orang yang membacanya dengan teliti dan seksama, sehingga tipu daya seperti ini tidak memberikan dampak kepada mereka, bahkan memberikan kebalikan dari apa yang diinginkan para musuh agama itu. Kami para Tullabunnur malah semakin tertarik terhadap kumpulan risalah ini.

اَل۟حَم۟دُ لِلّٰهِ هٰذَا مِن۟ فَض۟لِ رَبّٖى

Maha Suci Allah yang telah membalas tipu daya para musuh agama dengan balasan seperti ini. Bahkan di antara para Tullabunnur ada yang meninggalkan dunia dan mewakafkan hidupnya untuk mengabdikan diri kepada Risalah Nur dengan niat tulus dan tujuan luhur sekaligus berkeinginan untuk melumpuhkan perencanaan dan tipu daya busuk ini. Mereka mengulang-ulang apa yang disampaikan gurunya bahwa, “Masa sekarang adalah masa pengorbanan untuk Islam”. Segala puji hanyalah bagi Allah atas karunia dan kebaikan-Nya.Kami tidak mempunyai keterkaitan dengan politik yang bagaikan serpihan kaca dalam pandangan pengabdian iman kami. Keputusan komite para pakar di Direktorat Urusan Agama telah menyatakan bahwa dalam Risalah Nur tidak terdapat materi yang berkaitan dengan politik. Jaksa Agung di Afyon pernah menyatakan dalam daftar dakwaannya bahwa kegiatan Badiuzzaman dan segenap muridnya bukanlah kegiatan politik.

Ya, tugas yang dijalankan oleh Tullabunnur lebih penting daripada masalah duniawi, sehingga kami tidak mempunyai waktu untuk menyibukkan diri dengan politik. Seandainya kami memiliki seratus tangan, itu hanya cukup untuk mengabdi pada Risalah Nur. Seandainya kami memiliki kekayaan negara seperti Amerika dan Inggris, niscaya kami akan wakafkan untuk dakwah penyelamatan iman.

Kami tidak punya waktu untuk menyibukkan diri dengan urusan politik, aliran dan pemikiran yang batil. Usia kami pendek dan waktu kami sempit. Sebagaimana yang disampaikan guru kami bahwa, “Menyibukkan diri dengan urusan yang buruk akan memberikan dampak buruk,” terutama pada masa seperti sekarang ini di mana “menggambarkan kebatilan sedemikian rupa membuat pikiran yang bersih menjadi sesat.” Ya, mungkin saja salah seorang dari mereka mengambil ide dan hal-hal yang buruk dengan niat yang jernih sambil berkata, “Saya akan mempelajarinya dan mengenalnya agar saya dapat membantah dan melawannya”, hanya saja sedikit demi sedikit hubungannya dengan agama, keteguhan berpegang padanya dan ketabahan dalam mempertahankannya menjadi lemah.

Keistimewaan Risalah Nur adalah mampu mengusir kegelapan dengan menyebarluaskan cahaya, mendorong seseorang untuk meninggalkan keburukan dan menjauhkan diri dari kejahatan dengan mengajarinya kebaikan, mengajari pembacanya hakikat yang dapat menyelamatkannya dan melindungi dirinya dari kebatilan.

Intinya, kami hanya sibuk dengan Risalah Nur, sibuk dengan permata al-Qur’an, dan sibuk bekerja untuk hakikat permata alQur’an yang seluas alam. Kami mengabdi untuk yang kekal dan tidak rela mengabdi untuk yang fana. Kami telah merasa cukup dengan pengabdian iman dalam Risalah Nur sehingga kami tidak lagi perlu menyibukkan diri dengan selainnya setelah kami merasa puas dengan kumpulan risalah ini.

Para musuh agama yang bekerja secara sembunyi-sembunyi dan tidak henti-hentinya memerangi Risalah Nur dan pengarangnya selalu mengalami kekalahan dalam kondisi tak berdaya. Kemenangan dan keberhasilan, dengan izin Allah, akan diperoleh Badiuzzaman dan Risalah Nur. Fitnah yang ditujukan kepada seseorang sama sekali tidak akan merugikan Risalah Nur. Karena kumpulan Risalah Nur adalah argumentasi dan bukti yang nyata, bahkan orang-orang yang menebarkan fitnah itu membusuk dan hilang dengan sendirinya, sejarah adalah saksinya. Hakikat luhur yang terkandung di dalam Risalah Nur akan kekal sepanjang zaman, dengan izin Allah.

Pada satu hari, para Tullabunnur di pengadilan pidana menyatakan, “Tidak ada kekuatan manusia yang mampu mencerai-beraikan barisan kami, memisahkan kami dari guru kami dan Risalah Nur”. Kaum munafik sama sekali tidak akan berhasil merealisasikan impiannya sekalipun mereka menggunakan senjata yang paling hebat. Seandainya mereka membunuh kami, ruh kami selamat dan pergi menuju alam abadi dalam kondisi bahagia. Kami sampaikan seperti yang pernah dikatakan guru kami dalam buku al-Maktûbât, “Sampai ketika kami berpisah tempat, salah seorang dari kami di dunia dan yang lainnya di akhirat, atau salah seorang dari kami di Timur dan yang lainnya di Barat, atau salah seorang dari kami di Utara dan yang lainnya di Selatan, meskipun seperti itu, kami tetap bersama-sama”.

Guru kami tidak mengaku bahwa dirinya memiliki sebuah kedudukan spiritual, justru beliau menolaknya, bahkan kedudukan tinggi dan predikat istimewa yang dikaitkan dengan dirinya. Hanya saja, kondisi, sikap dan sejarah hidupnya sudah cukup untuk mengenalkan dirinya dan membuktikan siapa dirinya. Untuk menghalangi pengabdian Said Nursi dan Risalah Nur terhadap al-Qur’an, iman dan islam diperlukan sebuah kekuatan yang mampu mengendalikan dunia.

Dalam kesempatan ini kami kutip beberapa kalimat dari buku ad-Difa’ al-Kabîr(*2), yaitu perkataan yang disampaikan Ustadz Said Nursi dalam pembelaannya di pengadilan yang dilakukan sesuai dengan perencanaan yang bertujuan untuk menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Ustadz Said Nursi mengatakan,

“Para Tullabunnur bukan seperti yang lain, tidak mudah dilumpuhkan dengan tipu daya atau bertekuk lutut terhadap kekalahan. Risalah Nur adalah milik alQur’an dan tersarikan dari al-Qur’an Al-Hakim. Al-Qur’an adalah rangkaian cahaya yang menghubungkan bumi dan Arasy sehingga siapa juga yang mampu menandinginya? Risalah Nur telah menghunjam kokoh di bumi Anatolia dan kekuatan apapun tidak akan ada yang mampu mencabutnya”.

Dalam bukunya yang luar biasa “al-Ayat al-Kubra”, Ustadz Said Nursi berkata,

“Risalah Nur tidak memperbaiki kerusakan parsial dan rumah sederhana, tetapi memperbaiki kerusakan secara menyeluruh dan benteng luas yang meliputi Islam dimana batu-batunya sebesar gunung.Risalah Nur tidak hanya memperbaiki hati dan perasaan pribadi tetapi juga mengobati hati orang banyak yang menderita luka akibat alat-alat perusak yang menumpuk sejak seribu tahun yang lalu dan mengobati perasaan orang banyak yang cenderung pada kerusakan setelah dasar, arus dan simbol Islam dihancurkan padahal ia merupakan sandaran semua orang, khususnya orang-orang beriman yang awam. Inilah yang dilakukan oleh Risalah Nur dengan berbekalkan obat-obat al-Qur’an dan iman dan bersandarkan pada mukjizat alQur’an. Tentunya luka menyeluruh yang menyakitkan ini memerlukan adanya obat yang manjur, argumentasi yang kuat, obat-obatan yang tidak terbatas, antibiotik ampuh yang memiliki kehebatan seribu kali dari penangkal. Itulah tugas yang diemban Risalah Nur pada masa sekarang ini. Risalah Nur yang berasal dari kemukjizatan maknawi al-Qur’an al-Mu’jizul Bayan melaksanakan tugas yang luhur ini. Di samping itu, Risalah Nur menjadi wasilah untuk meningkatkan diri dalam berbagai kedudukan iman yang tidak terbatas.

Saudara-saudara kami yang mulia! Badiuzzaman Said Nursi muncul sendirian ke medan jihad agama membela al-Qur’an, iman dan Islam dengan mengorbankan diri dan gagah berani pada masa ratusan ulama dibungkam, dakwah keagamaan dilarang, para da’i yang bertugas menyampaikan hakikat-hakikat al-Qur’an dihalang secara paksa, rencana penghapusan Islam, iman dan al-Qur’an dijalankan dan saat kekufuran mutlak sangat dominan.

Pada masa seperti ini, ia seorang diri menentang bukan hanya para Fir’aun lokal, tetapi semua orang kafir Eropa. Ia mulai menyebarkan hakikat al-Qur’an dalam situasi sulit akibat kezaliman dan kediktatoran mutlak. Dalam menunaikan tugas mulia ini, ia menerima perlakuan jahat, intimidasi, pengawasan, pengejaran, dilarang pergi salat jumat dengan cara menugaskan seorang polisi berjaga di depan pintu rumah dan pelarangan dari hak yang paling sederhana. Semboyannya yang abadi adalah, “Tugas kita adalah berusaha dan bekerja, sedangkan kemenangan dan kekalahan, keberhasilan dan penerimaan Risalah Nur, semuanya berada di tangan Allah semata. Kita tidak turut campur dalam urusan Allah”. Guru kita telah mengarang Risalah Nur berkat bantuan Allah dalam kondisi sulit seperti itu. Mayoritas risalahnya disebarkan secara tertulis dengan tulisan tangan dan dengan menggunakan aksara Arab. Dengan demikian, Ustadz Said Nursi menjaga tulisan al-Qur’an. Ratusan ribu pemuda Turki mendapatkan nikmat dan kehormatan dengan belajar tulisan kitab suci al-Qur’an secara bacaan dan tulisan.

Dengan kekuatan iman dan keikhlasan yang sempurna, guru kami mengungkapkan tentang hakikat al-Qur’an dan iman, menjelaskannya dengan gaya bahasa yang benar-benar baru yang sesuai dengan pemahaman zaman, memberi peluang kepada seluruh muridnya untuk mengambil manfaat dari kumpulan risalahnya itu, baik mereka orang awam maupun khawas. Dengan ini, berkat karunia Allah, Ustadz Said Nursi berhasil mengarang tafsir al-Qur’an yang berkedudukan tinggi, segar dan cemerlang yang kemudian dikenal dengan Risalah Nur.

Di antara pengaruhnya yang abadi dari karangan luar biasa ini adalah terpeliharanya negara dan bangsa dari kekufuran dan komunisme.Ketika syiar-syiar Islam dihilangkan secara paksa, banyak orang mengorbankan sakralitas agama demi kepentingan dunia dengan merasa terpaksa, banyak orang yang bertindak merugikan agama dan banyak orang yang terpaksa melakukan bid’ah dan mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan Islam. Pada masa seperti inilah Badiuzzaman berdiri kokoh dengan perbuatan dan perkataannya.

Ia tidak pernah berubah haluan kendati perlakuan jahat yang diterimanya hingga ancaman hukuman mati. Beliau terus berjuang dengan segala keberanian sambil berkata, “Ajal itu satu dan tidak berubah. Kematian hanyalah tiket perjalanan dari dunia fana ini menuju dunia abadi dan dunia cahaya”. Selama tiga puluh tahun ia menyebarluaskan tulisannya yang memberi peringatan dan memerangi bid`ah, menjaga syiar-syiar Islam, menghidupkan sunah yang suci, sehingga orang-orang di sekitarnya merasakan pantulan cahaya kebahagiaan seperti pada masa kenabian Muhammad. Ustadz Said Nursi memilih hidup sendiri yang penuh dengan penindasan dan tindakan jahat agar tidak terjerumus ke dalam pelanggaran terhadap satu sunnah Nabi. Tirani mutlak yang ateis dan tidak ada bandingannya yang berkuasa atas jutaan warga selama tiga puluh tahun, tidak mampu menguasai Badiuzzaman Said Nursi dengan bentuk apapun, bahkan kaum zalim tiran itu selalu kalah dalam menghadapi beliau.

Risalah Nur memperkuat keimanan seseorang. Ia mengubah iman taklidi (rapuh) menjadi iman tahkiki (teguh). Ia membuat seseorang mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat serta memperoleh husnul khatimah. Dalam waktu yang sama, Risalah Nur juga mampu membungkam para filsuf ateis,

bahkan salah satu karakteristik Risalah Nur—berbeda dengan gaya bahasa para ahli ilmu kalam—kepada para pembacanya memberikan pelajaran keimanan secara jernih tanpa membahas keraguan orang-orang sesat sehingga Risalah Nur ini mampu mengobati penyakit spiritualnya tanpa meninggalkan dalam jiwanya sedikitpun luka keraguan. Dengan cara ini, Risalah Nur mampu menghilangkan obsesi dan ilusi, menjawab pertanyaan dan masalah dengan gaya bahasa yang menenangkan hati.

Risalah Nur mencerahkan akal dan hati sekaligus dan menjadikan seseorang mampu mengendalikan nafsunya.

Oleh karena itu, ada dua kelompok berpegang teguh pada Risalah Nur: pertama, kalangan cendikiawan dan ahli filsafat yang hanya berpedoman dengan akal, dan yang kedua adalah kalangan ahli tasawuf yang meniti jalan hati. Kalangan pertama menyadari bahwa pencerahan yang sebenarnya hanya dapat diraih dengan memadukan cahaya akal dan hati. Hanya berpedoman pada akal, membuat akal seseorang turun ke mata. Kondisinya seperti seekor burung yang sayapnya patah sehingga tidak bisa terbang.

Kalaupun dipaksakan terbang, tidak lama akan jatuh. Kalangan kedua, ahli tasawuf yang sangat tulus menyadari bahwa masa sekarang ini bukan seperti masa lalu. Pada masa sekarang ini kita harus mengikuti jalan al-Qur’an yang akan membawa kepada hakikat dan sampai kepada tujuan itu dengan menggunakan akal dan hati sekaligus sehingga kita memiliki dua sayap(*3)

Para ahli Madrasah telah benar-benar menyadari masalahnya bahwa perolehan iman dan Islam yang dapat terealisasi selama lima belas tahun sesuai dengan metode yang ada di Madrasah tradisional, pada masa sekarang ini dapat diperoleh hanya dalam tempo lima belas minggu saja melalui Risalah Nur. Dalam kaitan dengan masalah ini, Ustadz Said Nursi berkata, “Orang yang membaca Risalah Nur dengan memahami isi dan menerimanya selama satu tahun, ia dapat menjadi seorang ulama ahli hakikat yang terkemuka pada masa sekarang ini”.

Risalah Nur adalah perbendaharaan karunia dan cahaya yang menjelaskan manhaj bercahaya Nabi Muhammad dan sifat-sifat terpuji para sahabatnya yang mulia. Keistimewaan ini memberikan kehidupan cahaya yang terang kepada dunia sekarang ini dan menyingkap wajah baru yang bercahaya sehingga Risalah Nur mampu menyatukan antara cendekiawan modern, cendekiawan tradisional dan para pengikut tasawuf, dalam satu barisan setelah beberapa lama orang-orang menduga bahwa mereka adalah kelompok-kelompok yang kontradiktif. Banyak para ahli sepakat bahwa Risalah Nur adalah sosok yang paling menonjol dalam mewujudkan persatuan dunia Islam.

Bahkan Risalah Nur dapat mewujudkan perdamaian antara Timur dan Barat, yaitu dua belahan dunia yang selalu berselisih dan bermusuhan. Sekarang kita dapatkan berbagai arus di Eropa dan Amerika berusaha dengan sungguh-sungguh mencari temuan ilmiah baru yang dapat memberi solusi terhadap banyak masalah dunia, menjelaskan kebenaran dan hakikat kepada manusia zaman ini yang telah mencapai kemajuan ilmiah dan pemikiran sedemikian rupa. Jika mereka dapat merenungkan dan menyadari, niscaya mereka mendapatkan apa yang mereka cari itu dalam Risalah Nur. Terdapat banyak petunjuk bahwa hakikat ini telah disadari di tengah-tengah bangsa Jerman(*4)

Risalah Nur telah berhasil mengurai simpul rumit yang tidak mampu dilakukan oleh para filsuf Barat pada masa lalu dan yang dikatakan oleh para filsuf sekarang bahwa masalah itu tidak mungkin terpecahkan. Risalah Nur memecahkan masalah itu secara rasional dan logis berkat karunia cahaya al-Qur’an al-Karim. Demikian juga dalam masalah rumit di mana para filsuf Timur berusaha keras untuk menjelaskan dan memberikan pemahaman dalam empat puluh halaman. Sementara Risalah Nur menjelaskannya dengan gaya bahasa yang singkat dalam satu lembar saja.

Dalam kesempatan ini, kita kutip beberapa ucapan Ustadz Badiuzzaman pada tahun 1935 M dalam pembelaannya di hadapan pengadilan pidana Eskişehir, yaitu pengadilan yang dirancang untuk menjatuhkan hukuman mati kepada beliau. Ustadz Badiuzzaman Said Nursi berkata, “Risalah Nur tidak dapat dipadamkan dan tidak akan padam. Ia adalah cahaya. Setiap kali ada upaya untuk memadamkannya, ia akan semakin terang.

Ia adalah penyingkap tirai misteri alam semesta”.Demikian juga masalah dibangkitkannya manusia pada hari kiamat. Salah seorang filsuf terkemuka seperti Ibnu Sina berkata, “Masalah itu ditetapkan oleh dalil naqli. Kita mempercayainya, tetapi kita tidak dapat mencernanya dengan akal”. Adapun Risalah Nur telah membuktikannya secara logis berkat karunia cahaya al-Qur’an al-Karim. Ia menjelaskannya dengan gaya bahasa yang tidak ada bandingannya serta mudah dipahami oleh masyarakat awam.

Selain masalah di atas, dengan sengaja para filsuf Eropa dan murid-muridnya yang tenggelam dalam kesesatan mengajukan keberatan tentang sebagian ayat dan hadis yang mutasyâbihat karena mereka tidak memahami makna lahiriahnya. Risalah Nur telah memberikan jawaban terhadap keberatan mereka dengan jawaban yang logis dan menjelaskan sisi kemukjizatan dalam setiap teks ayat dan hadis. Dengan demikian, Risalah Nur telah mencabut keraguan dan kesesatan yang bersumber dari ilmu pengetahuan dan filsafat dengan metode ilmiah yang kokoh.

Jika kita ingin membicarakan Risalah Nur dari sudut pandang sastra, kita katakan bahwa kumpulan risalah ini memiliki citra rasa susastra yang tinggi tersendiri. Gaya bahasanya yang tersendiri memiliki karakteristik retorika, kefasihan, kesegaran dan singkat yang tidak kita temukan dalam karangan populer sekalipun. Dalam kesempatan ini, patut kita sampaikan bahwa ketika sebagian ulama terkemuka meminta buku “Tongkat Musa” dengan sangat mendesak untuk mereka terjemahkan ke dalam bahasa Arab, buku itu diberikan kepada mereka. Setelah mereka membacanya, mereka memberikan testimoni untuk Ustadz Said Nursi dan Risalah Nur bahwa beliau dan karangannya itu memiliki keutamaan dan keistimewaan.

Mereka berkata, “Yang dapat menerjemahkan buku-buku Badiuzzaman hanyalah Badiuzzaman itu sendiri. Kami tidak mampu menerjemahkan Risalah Nur dengan terjemahan yang mencakupi seluruh ilmu yang ada di dalamnya dan mempertahankan retorika, kefasihan dan penuturan singkat yang ada di dalamnya”.

Metode Badiuzzaman dalam karangannya—berbeda dengan mayoritas penulis dan sastrawan—lebih menekankan makna daripada lafal sehingga tidak mengorbankan makna demi mempertahankan lafal, bahkan ia menjadikan lafal sebagai pengabdi dan pengikut makna. Dalam gaya bahasanya, Ustadz Said Nursi tidak memperhatikan keinginan pembaca, tetapi ia menjadikan hakikat dan makna sebagai tonggak penyangga dan dasar. Ia seakan-akan memotong kain dengan ukuran yang pas untuk badan, dan bukan sebaliknya. Itulah daya tarik Rabbani yang terkandung dalam Risalah Nur yang menggiring akal, hati, jiwa dan perasaan menuju hakikat dan semuanya mengikutinya dengan patuh sehingga kita dapatkan anak kecil dan orang dewasa, pemuda dan orang tua, orang awam dan orang khawas, semuanya tertarik menghampiri Risalah Nur seperti halnya laron yang tertarik mengitari cahaya. Contoh terbaik untuk ini adalah antusiasme yang luar biasa yang diberikan masyarakat luas terhadap Risalah Nur yang mengagetkan musuh-musuh agama dan menimbulkan ketakutan dalam diri mereka.

Demikian juga dengan banyak sisi Risalah Nur. Sangat sulit untuk mendeskripsikan sisi susastra dan menjelaskan nilai dan urgensinya dengan penjelasan yang sesuai, terutama oleh kita yang tidak memiliki cita rasa para sastrawan. Kalaupun kita berusaha untuk mengungkapkannya, apa yang kita sampaikan tidak akan memenuhi apa yang diinginkan sebagaimana halnya upaya orang yang tidak pernah melakukan sesuatu. Walaupun demikian apa yang kami sampaikan itu adalah ungkapan jujur yang menyatakan rasa terima kasih karena kami telah mendapatkan manfaat besar dari Risalah Nur. Adapun orang yang ahli dan paling layak dalam membahas masalah ini hanyalah pengarang Risalah Nur itu sendiri.

Para ulama terkemuka yang adil telah memberikan testimoni terhadap Risalah Nur bahwa kumpulan risalah ini merupakan tafsir al-Qur’an yang tidak ada bandingannya yang memenuhi kebutuhan masa kini. Mereka sangat menghargai dan memujinya. Setengah abad yang lalu keistimewaan karangan Said Nursi, kegeniusan ilmunya yang bagaikan samudra membuat para ulama di Mesir memberikan penilaian bahwa “Badiuzzaman adalah manusia paling genius pada abad ini.”

Dalam kesempatan ini tidak lupa untuk disampaikan tentang ketentuan dan aturan yang secara konsisten dipatuhi Badiuzzaman selama hidupnya, yaitu tidak menerima pemberian dan tidak menerima hadiah kecuali dengan syarat adanya imbalan untuk itu. Hal itu disaksikan bahkan oleh musuhnya sekalipun dan mereka mengakui. Dengan sikap praktisnya ini, beliau menantang tuduhan yang secara terus menerus dilontarkan para musuh Islam tentang para ulama. Beliau menjadi contoh yang diikuti dalam memelihara ilmu untuk tidak mencari penghidupan dari ilmu tersebut dan contoh dalam memelihara kemuliaan Islam dan iman di depan para tiran zalim yang paling jahat. Sikap tidak memerlukan bantuan orang lain sampai pada kondisi yang paling sulit sekalipun ini tidak pernah beliau tinggalkan sehingga beliau merasa tidak memerlukan harta orang lain dengan berkata, “Hemat dan qana’ah merupakan perbendaharaan agung yang keberkahannya memberi kecukupan kepada saya”.

Apa yang dihadapi Badiuzzaman selama bertahun-tahun, mulai dari dijebloskan ke penjara, diasingkan ke tempat terpencil, perbuatan zalim, intimidasi dan kejahatan, upaya meracuni dirinya yang mencapai tujuh belas kali, semuanya itu merupakan petunjuk yang sangat nyata dan bukti hidup tentang kejujuran dan kebenaran dakwahnya.

Salah satu bukti tentang hal itu adalah apa yang terjadi pada salah seorang yang terhormat di India ketika ditanya di hadapan banyak orang, “Siapa itu Badiuzzaman?”. Orang itu menjawab, “Beliau seorang pendakwah, mulia, menjaga kehormatan diri sehingga tidak menerima sedekah dan hadiah. Beliau menjadi lemah karena penyakit, usianya sudah sangat lanjut, menjalani kehidupannya dalam pengasingan, hidup sangat miskin, menderita perbuatan zalim, namun walau demikian, sejak enam puluh tahun masih terus tabah menjalankan dakwanya dan tidak pernah surut semangatnya”. Orang-orang yang mendengar penjelasan ini berkata, “Orang yang kondisinya seperti ini, pasti orang yang tidak pernah gentar berdakwah secara terang-terangan, berkhidmat pada al-Qur’an dan Islam dengan pengabdian total, bersungguh-sungguh dan berpengaruh, tidak tunduk pada kekufuran dan kemunafikan, tidak berpura-pura dan berlaku riya. Jika ia tidak bersikap seperti itu, niscaya ia tidak akan menerima perlakuan zalim dan jahat seperti itu”.

Dari sini kita dapat katakan bahwa ungkapan pujian dan penghargaan yang disampaikan kepada Ustadz Said Nursi dan yang disampaikan oleh orang-orang terhormat bukan sekadar ungkapan pujian, tetapi deskripsi tentang kenyataan yang dapat disaksikan, ungkapan yang tidak sepadan dengan bagian kecil dari perbuatan besar yang dilakukan oleh Badiuzzaman. Demikian juga dengan makalah dan risalah yang ditulis oleh para Tullabunnur. Tulisan mereka bukanlah pujian yang dibuat-buat, tetapi merupakan pembelaan yang kuat terhadap para musuh agama yang tidak memiliki hati nurani dan rasa keadilan serta memerangi mereka dalam upayanya menghentikan pengabdian Ustadz Said Nursi terhadap iman dan menyerang pribadinya(*5)

Meskipun ungkapan penghargaan dan pujian ini jauh dari kenyataan, hanya saja Ustadz Said Nursi tidak pernah ragu dalam mengemukakan kegelisahannya terhadap hal itu kendati dengan sikapnya itu melukai perasaan orang yang menyampaikannya, bahkan beliau sering menegaskan bahwa,

“Masa sekarang bukanlah masa individual, tetapi masa komunal. Dalam Risalah Nur tidak ada pribadi secara individual, tetapi yang ada adalah pribadi secara kolektif. Saya bukan apa-apa. Risalah Nur adalah milik al-Qur’an. Dari kitab suci itu Risalah Nur bersumber dan kepadanyalah kebaikan dan kehormatan kembali. Memang saya dengan Risalah Nur telah bercampur baur, tetapi keistimewaan adalah milik Risalah Nur dan bukannya milik saya. Keberhasilan luar biasa dalam penyebarluasannya adalah milik Tullabunnur. Masalahnya adalah bahwa Allah I telah melimpahkan karunia kepada saya karena kebutuhan saya yang sangat mendesak dan memberi saya nikmat dengan obat-obatan dari al-Qur’an al-Hakim lalu saya menulisnya dan dengan satu bentuk atau bentuk yang lain, saya mempunyai tanggung jawab untuk menerjemahkan dan mengungkapkannya. Saya adalah salah seorang Tullabunnur. Saya telah membaca Risalah Nur sebanyak seratus kali dan saya masih merasa memerlukannya kembali.

Saya adalah teman belajar kalian.”Rahasia keberhasilan pengabdian universal yang dilakukan Badiuzzaman terhadap al-Qur’an, iman dan Islam serta pengaruh Risalah Nur yang kuat adalah keikhlasan sempurna yang dimiliki Badiuzzaman. Beliau hanya menjadikan rida Ilahi sebagai dasar tujuannya. Dalam hal itu, beliau pernah mengatakan, “Asas manhaj kita adalah keikhlasan paripurna dan meninggalkan egoisme. Satu ons amal yang dilakukan dengan ikhlas lebih baik daripada satu kuintal amal yang dilakukan dengan tidak ikhlas. Saya sangat menjauhi popularitas, hadiah material dan maknawi yang diberikan orang, penerimaan orang banyak dan penghormatan mereka”. Tentunya ini adalah salah satu sebab mengapa beliau menolak untuk menerima pengunjung. Tentang kedudukan ikhlasnya tidak ada bukti yang lebih kuat daripada “Risalah al-Ikhlas” yang secara khusus beliau tulis di antara seratus tiga puluh risalah yang dalam kata pengantarnya beliau mengatakan, “Risalah ini minimal dibaca satu kali dalam lima belas hari”. Dalam bukunya “ad-Difa’ al-Kabir”, beliau mengatakan, “Tujuan kami adalah keridaan Allah I. Risalah Nur tidak dijadikan alat untuk sesuatupun dari kepentingan dunia, bahkan bukan pula untuk alam semesta dan seisinya”.

Itulah rahasia keikhlasan yang dirasakan oleh salah seorang ulama yang mulia yang mencurahkan perhatian dengan membaca karangan filsuf terkemuka seperti Imam al-Ghazali dan lainnya yang membuat dirinya mengatakan,

“Manfaat yang saya dapat dari membaca satu lembar Risalah Nur melebihi apa yang saya dapatkan dari sepuluh halaman karangan lainnya”.

Salah seorang pengajar filsafat mengatakan,

“Saya telah memperhatikan karangan ilmiah dan karya filsafat selama bertahun-tahun. Saya belum mendapatkan satu karanganpun yang memuaskan saya dan mengobati luka yang disebabkan oleh filsafat dan tulisan-tulisan orang Barat seperti yang diberikan oleh Risalah Nur yang dapat memenuhi kebutuhan saya pada masa sekarang ini”.

Salah seorang sastrawan berkata,

“Dulu hati saya beriman, tetapi akal saya gelap, lalu Risalah Nur datang dan menerangi hati dan akal sekaligus, memberikan argumentasi pada jiwa dan menyelamatkan saya dari siksa seperti yang ada di Neraka Jahanam.

Salah seorang dokter berkata,

“Hari kelahiran saya yang sebenarnya adalah Hari di mana saya mulai mengambil manfaat dari Risalah Nur”.

Salah seorang mahasiswa yang bahagia berkata,

“Menunaikan pengabdian seperti menyampaikan satu risalah dari kumpulan Risalah Nur, membawanya dari satu tempat ke tempat yang lain di Istanbul lebih saya sukai daripada menjadi seorang wakil rakyat di parlemen”.

Tiga puluh tahun yang lalu, seorang ahli tasawuf yang telah lanjut usia, tulus, dan mulia berkata tentang seorang pemuda yang bernama Lutfi, “Tullabunnur ini lebih tinggi kedudukannya daripada saya”. Ini adalah sedikit contoh dari pengakuan banyak orang yang menunjukkan rahasia keikhlasan yang telah kami sampaikan.

Berdasarkan rahasia keihklasan agung ini, para Tullabunnur berhasil dalam pengabdiannya terhadap iman dan Islam di bawah banyak tekanan, ancaman dan kondisi yang sangat sulit. Mereka mewakafkan hidupnya untuk berkhidmat pada Risalah Nur dan gurunya. Mereka telah menjadikan Risalah Nur sebagai modal usia dan tujuan hidupnya. Karena tujuan dakwah Risalah Nur itu adalah keridaan Allah Ta`ala, para pengacara yang memiliki semangat keimanan telah memperoleh nikmat yang besar dan kehormatan yang tinggi dengan bekerja untuk Risalah Nur karena para pengacara itu tetap merasa bangga dengan Risalah Nur sebagai bukti kesetiaan mereka terhadap Islam. Demikian juga dengan para penulis dan editor yang dengan tulisannya mereka berjuang membela kebenaran dan membela agama. Tersebarluasnya Risalah Nur, kemenangan yang diperolehnya dan pengaruh yang ditinggalkannya, laksana benda-benda yang tersebar luas pada musim semi, bersemi dengan indah dan agung tanpa ada kebisingan.

Wahai saudara-saudara Tullabunnur yang mendapatkan kenikmatan yang sangat besar yang layak untuk dipuji seperti Risalah Nur! Kalian telah berguru kepada salah seorang pahlawan Islam seperti Badiuzzaman, pemikir genius, ilmuwan yang sangat luas ilmunya, seorang mujahid yang berpengaruh, seorang hamba yang menyeluruh yang pada dirinya hakikat iman menjelma, makna zuhud dan takwa tampak jelas padanya, yang mewakafkan hidupnya sebagai murid al-Qur’an dan pelayan Islam dengan tulus, yang diharapkannya hanyalah keridaan Allah I. Beliau adalah penyelamat iman yang berkata, “Saya rela masuk neraka Jahanam untuk menyelamatkan iman satu orang”. Beliau adalah yang diseret ke pengadilan militer agar dijatuhi hukuman mati. Ketika tuduhan konservatif dialamatkan kepadanya, beliau menjawab, “Jika sistem ‘Parlementer’ merupakan kesewenang-wenangan sekelompok orang, maka manusia dan jin hendaknya bersaksi bahwa saya memang orang konservatif. Jika saya memiliki seribu nyawa, saya siap mengorbankan semuanya demi membela salah satu persoalan al-Qur’an”. Kemudian ketika pengadilan mengeluarkan keputusan bebas, Ustadz Said Nursi meninggalkan pengadilan tanpa mengucapkan terima kasih menuju lapangan Bayazid yang dekat dengan gedung pengadilan seraya berteriak dengan suara lantang di tengah kerumunan, “Hiduplah neraka Jahanam untuk orang-orang zalim”. Beliaulah yang menyatakan dengan suara lantang di berbagai pengadilan yang berusaha untuk melenyapkannya dua puluh tahun yang lalu dengan mengatakan, “Wahai orang-orang kafir dan zindik! Kalian telah mengatakan bahwa Said memiliki kekuatan lima puluh ribu orang. Ketahuilah bahwa kalian telah keliru. Dengan berkhidmat pada al-Qur’an dan iman, saya memiliki kekuatan lima puluh juta orang bukan lima puluh ribu orang. Gentarlah kalian! Ganggulah saya jika kalian mampu! Kematianku akan membuat bom meledak di atas kepala kalian sehingga tidak satupun akan tersisa. Kematianku bagaikan mengubur sebiji benih di bawah tanah yang tidak lama lagi akan menumbuhkan ratusan bulir dan ketika itu kalian akan mendapatkan ratusan Said yang dengan lantang menyuarakan hakikat yang luhur di hadapan kalian sebagai pengganti dari diri saya. Lima belas tahun yang lalu beliau mengatakan, “Seandainya saya memiliki kepala sebanyak rambut kepala saya, setiap hari dipenggal satu persatu, saya tidak akan mundur dari pengabdian iman. Seandainya kalian jadikan dunia seluruhnya api yang diletakkan di atas kepala saya, kepala ini tidak akan saya tundukkan karena saya telah nazarkan untuk hakikat al-Qur’an dan tidak akan saya anggukkan di hadapan kaum zindik. Dialah yang lima puluh tahun yang lalu menentang sebuah negara yang sangat zalim yang menjajah dunia Islam dengan pernyataannya dalam sebuah tulisan “Ludahilah muka orang-orang zalim itu”. Dialah yang berbicara kepada presiden di hadapan DPR, “Hakikat yang paling luhur di dunia ini setelah iman adalah salat. Orang yang tidak salat berarti pengkhianat, sedangkan ketetapan seorang penghianat adalah tertolak. Jika ada hakikat setelah iman yang lebih besar dari salat yang diperintahkan Allah dalam seratus tempat pada al-Qur’an, tentu Allah akan perintahkan”. Dialah yang membuat tradisi salat berjamaah di DPR setelah penjelasan tentang hal itu dikeluarkan. Dialah yang tidak gentar menghadapi kematian dan menyambut hukuman mati dengan ditembak ketika dirinya menjadi tawanan Rusia setelah memimpin pasukan sukarelawan dalam Perang Dunia Pertama seraya berkata, “Saya membutuhkan paspor untuk menuju akhirat”. Kami telah mendapatkan suatu nikmat yang sangat besar berupa kesempatan membaca Risalah Nur yang jika kami korbankan nyawa, mewakafkan umur, mengalami berbagai perlakuan zalim demi nikmat tersebut, maka kami tetap melakukan sujud syukur sepanjang hidup.

Secara terus menerus guru kami menegaskan bahwa manhaj kita adalah tindakan atau gerakan positif-konstruktif dan al-Qur’an telah melarang kita dari perbuatan negatif-destruktif.

Wahai tuan guru kami tercinta, mahkota dan belahan jiwa kami, orang yang lebih mulia dari hati, nyawa dan hidup kami! Selama Anda tidak mengizinkan kami untuk melakukan perbuatan negatif-destruktif, kami berjanji seraya mengharapkan inayah dan taufik dari Allah bahwa kami akan melakukan balas dendam kepada orang-orang zalim, musuh-musuh agama yang telah memperlakukan Anda secara sangat zalim dengan cara selalu membaca Risalah Nur, berkhidmat padanya dengan tabah dan setia dalam menyebarluaskannya sampai ajal menjemput. Kami akan menulisnya dengan tinta emas, Insyaallah.

Tullabunnur kampus

* * *

SURAT DARI USTADZ SAID NURSI TERKAIT DENGAN PARA PENGUNJUNGNYA

Saya terpaksa menyampaikan permohonan maaf kepada

seluruh sahabat pada umumnya dan kepada orang-orang yang telah berkunjung kepada saya khususnya, bahwa sebagaimana saya telah menjalani sebagian besar hidup saya dalam keterasingan, selama hampir empat puluh tahun saya hidup di bawah pengawasan dan pengejaran hingga saya menjauhkan diri dan berusaha untuk tidak menemui orang kecuali dengan sangat terpaksa. Kemudian sejak dahulu hingga sekarang saya masih berkeberatan untuk menerima hadiah, baik yang bersifat material maupun maknawi. Pada akhir-akhir ini jumlah pengunjung dan sahabat cukup banyak dan saya harus memberi imbalan maknawi kepada mereka. Sebagaimana hadiah sesuap makanan dapat membuat saya sakit, demikian pula kunjungan mereka yang merupakan hadiah maknawi kepada saya, terutama susah payah mereka dalam melakukan perjalanan dari tempat yang jauh untuk sekadar mengucapkan salam dan berjabat tangan dengan saya. Ini adalah hadiah maknawi. Saya tidak mampu membalasnya, harganya tidak murah, bahkan mahal secara maknawi. Saya tidak layak untuk mendapat penghormatan dan penghargaan seperti ini.Oleh karena itu, sebagaimana ihsan ilahi telah melarang saya untuk menerima hadiah material, juga melarang saya untuk menerima hadiah maknawi, yaitu pertemuan dan kunjungan kecuali untuk keperluan yang sangat mendesak. Sebagian pertemuan dan kunjungan itu membuat saya sakit seperti halnya hadiah material ketika saya tidak mampu membalas pemberinya. Semoga hal ini tidak akan menyakiti kalian dan membuat kalian bersedih hati.

Membaca Risalah Nur lebih bermanfaat sepuluh kali lipat daripada mengunjungi saya. Tentunya mengunjungi saya memang semata-mata demi akhirat, iman dan al-Qur’an. Karena saya telah memutuskan hubungan dengan dunia, maka mengunjungi saya demi dunia tidak ada maknanya. Sedangkan mengunjungi saya demi akhirat, iman dan al-Qur’an, Risalah Nur sudah cukup sebagai penggantiku. Bahkan saya tidak mampu bertemu dengan saudara-saudara dekat saya yang melayani urusan saya kecuali untuk keperluan yang sangat mendesak, hanya saja saya ingin bertemu dengan beberapa saudara terhormat guna pengabdian yang berkaitan dengan penyebarluasan dan perkembangan Risalah Nur. Pertemuan atau kunjungan untuk urusan itu diperbolehkan dan tidak membebani saya.

Saya beritahu orang-orang yang datang untuk mengunjungi saya yang tidak mengetahui masalah ini bahwa saya pernah menyatakan dalam beberapa surat kabar, yaitu saya mengkhususkan doa untuk setiap orang yang ingin mengunjungi saya, terutama yang datang dari tempat jauh kemudian kembali ke tempat asalnya tanpa berkesempatan bertemu dengan saya. Saya mendoakan mereka secara khusus setiap pagi. Semoga mereka tidak merasa kecewa terhadap saya.

Said Nursî

Catatan Kaki

  1. *Yang dimaksud dengan ujian di sini adalah perkara pencetakan buku ‘Tuntunan Generasi Muda’ dan penuntutan setelahnya—Tim Penerjemah. ↑
  2. *Pembelaan yang disampaikan Ustadz Said Nursi dan sebagian Tullabunnur di pengadilan dikompilasi dan disusun dalam sebuah buku yang diberi judul ad-Difa’ al�Kabir—Tim Penerjemah. ↑
  3. *Para cendekiawan dan peneliti yang telah mempelajari buku al-Matsnawi alArabi an-Nuri menegaskan bahwa kedudukan yang dicapai oleh orang-orang yang mendapatkan al-Qutbiyyah dan al-Ghautsiyyah yang jumlahnya sangat sedikit, mereka mendapatkannya dengan menempuh perjalanan selama tujuh atau delapan puluh tahun, mereka sampai pada titik yang menurut mereka adalah akhir yang tidak ada lagi jalan setelahnya, yaitu kedudukan yang telah dicapai oleh Badiuzzaman melalui ilmu dan jalan yang didapatkannya dalam al-Qur’an al-Karim dan diperkuat dengan hakikat hakikat luhur dan luas yang terkandung dalam kumpulan risalah itu—Tim Penyusun. ↑
  4. *Sebagai contoh, adanya enam puluh lima Tullabunnur muda yang bersorban di sebuah kecamatan di tengah-tengah orang Kristen Eropa—Tim penyusun. ↑
  5. *Di antara intrik yang selalu dilakukan kaum kafir dan setan manusia serta jin dan disebarkan oleh orang-orang yang tertipu oleh mereka adalah ucapannya, “Guru kalian itu tidak mengagungkan dirinya, tetapi kalian bertentangan dengan cara hidupnya dengan menulis surat penghargaan dan pengagungan tentangnya”.Sebenarnya ini adalah salah satu cara para musuh agama dalam menipu dan mengganggu para Tullabunnur di mana mereka mendorong para murid Risalah Nur untuk terjerumus ke dalam kesalahan dengan pemikiran seperti ini yang mendapat sambutan yang luar biasa di kalangan masyarakat awam dengan tujuan mereka tidak membela Ustadz Said Nursi dan Risalah Nur dengan pembelaan yang adil dan bersih. Kami katakan, “Memang, salah satu sifat terpuji Ustadz Said Nursi yang bersumber dari keikhlasannya adalah tidak mengagungkan diri sendiri, tetapi ini tidak patut mendorong kami untuk melupakan nilai dan kedudukannya yang tinggi. Memunculkan dan mengakui nilai kedudukannya yang tinggi merupakan tuntutan hati nurani dan rasa kemanusiaan. Hal itu karena di antara kelembutan Allah terhadap kami adalah Dia mengirim tokoh berpengaruh yang mempersembahkan tafsir al-Qur’an yang luar biasa seperti Risalah Nur yang memperhatikan masalah-masalah substansial yang menyangkut kelangsungan hidup, yaitu masalah yang tidak hanya berkaitan dengan pendudukan dunia Islam, juga masyarakat manusia pada masa sekarang ini, tetapi pengaruh dan peranannya sampai kepada generasi mendatang—Tim Penyusun. ↑
⬇ Gulir Otomatis
📝 Catatan Saya 0 catatan

Pilih teks lalu tekan tombol "Catatan" untuk menambahkan catatan.

Pengaturan
Tema
Ukuran Font
Ketebalan Font
Ukuran Font Arab
Spasi Baris

Mode Fokus
Sembunyikan sidebar
Gulir Otomatis
Halaman bergulir sendiri
Kecepatan