Oleh
Badīuzzaman Said an-Nursi
Tahqiq:
Ihsan Qasim ash-Shalihi
* * *
Bismillahirrahmanirrahim
Pengantar Penahqiq
Segala puji milik Allah. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada rasul kita Muhammad dan para pengikutnya. Amma ba'du:
Yang mendorongku untuk menyunting buku ini dalam bentuk tahqiq sederhana semacam ini adalah:
Pertama, karena aku sangat membutuhkan orang yang bisa membimbing dalam memahami berbagai bentuk nafsu ammarah bissū'; yang bisa menerangkan berbagai jalan masuknya yang halus dan sejumlah intriknya yang samar; yang bisa memberikan obat bagi penyakitnya; serta selanjutnya bisa menuntun menuju sumber-sumber iman dalam taman alam yang luas ini sehingga aku bisa mereguk sesuatu yang dapat menyegarkan kalbu, memuaskan akal, dan melapangkan jiwa. Dengan kata lain, sengaja aku melakukan penelitian terhadapnya untuk diriku sendiri; sebelum untuk yang lain.
Kedua, karena banyak peneliti dan pemikir yang ingin memahami pokok-pokok pemikiran Ustadz Nursi. Mereka ingin ikut larut dalam relung-relung pengalaman jiwanya, menyertai perjalanan rohaninya ke dalam sejumlah entitas, serta mempergunakan akal pikir mereka dalam berbagai neraca ilmiah, standar logika, dan pendekatan alamiah yang ia berikan. Oleh sebab itu, aku ingin mengetengahkan untuk mereka tulisan berharga ini dari sekian karya Ustadz Nursi di mana ia dianggap sebagai ikhtisar dari Risalah Nur karena memuat rangkuman pemikirannya. Bahkan, sebagian besar benih pemikiran yang terdapat dalam Risalah Nur terdapat dalam buku ini.
Mengarungi ombak yang penuh dengan ide, pemikiran, dan persoalan sekaligus mengeluarkan permata berharganya berada di luar kemampuanku. Karena itu, cukuplah bagiku melakukan tahqiq terhadap buku ini agar para pembaca budiman bisa membaca naskahnya secara lengkap sehingga mereka dapat mencurahkan potensi di dalamnya. Semoga Allah Yang Mahakuasa menghadirkan di antara mereka orang yang bisa melaksanakan tugas tersebut guna mengisi kekosongan rohani dan pemikiran yang dialami banyak orang. Dengan kata lain, tahqiq ini kukerjakan untuk mereka.
Ketiga, karena setiap muslim, bahkan setiap manusia, dalam lubuk sanubarinya merasa membutuhkan pembinaan rohani, penyucian jiwa, pengembangan akal, dan perluasan cakrawala imajinasi. Oleh sebab itu, ia mencari semua itu dari sejumlah buku. Dalam hal ini aku mempersembahkan buku berharga ini kepada setiap muslim, bahkan kepada setiap manusia, agar bisa menemukan corak baru dan istimewa dalam melakukan penyucian jiwa yang jarang ditemukan di buku lain. Pasalnya, Said Nursi memasukkan pendekatan rasional dan logika lewat sentuhan kalbu dan letupan rohani yang cemerlang dalam bentuk contoh-contoh konkret yang bisa dijangkau setiap orang. Ia menuntun pembaca secara halus menuju celah-celah jiwa seraya menjelaskan sesuatu yang mengantarkan kepada sejumlah kesimpulan yang tidak mengandung keraguan setelah melewati berbagai pengalaman hakiki di bawah petunjuk Alquran. Jadi, lewat tahqiq ini aku ingin menjelaskan sebuah pendekatan Alquran yang istimewa kepada setiap muslim, bahkan kepada setiap manusia.
Namun, sebelum itu semua perlu disadari bahwa amal sekecil apapun yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah jauh lebih mulia daripada amal yang tidak ikhlas meski seluas lautan. Karena itu, aku berharap upaya sederhana ini diterima oleh Allah sebagai sebuah amal yang tulus karena-Nya. Aku juga berharap kepada-Nya bahwa di masa mendatang ada yang dapat menerangkan dan menjelaskan buku ini sehingga manfaatnya bertambah luas dan pahalanya bertambah banyak.
Barangkali ada pertanyaan yang terlintas dalam benak pembaca. Yaitu mengapa Ustadz Nursi menulis risalah ini dengan bahasa Arab padahal mitra bicara beliau tidak pandai berbahasa Arab, apalagi buku-buku Risalah Nur yang lain ditulis dalam bahasa Turki?
Jawabannya, barangkali karena bahasa Arab pada waktu itu (pertengahan tahun 1920-an) dan sebelum alfabet Arab diganti, merupakan bahasa ilmu pengetahuan, meski percakapan yang berlangsung antar anggota masyarakat mempergunakan bahasa Turki.
Di samping itu, risalah yang berbahasa Arab ini pada dasarnya merupakan pokok, kaidah, pedoman, dan neraca yang terambil dari cahaya Alquran. Dengannya, Ustadz Nursi pertama-tama berbicara kepada diri sendiri. Beliau selalu mempergunakan dalil dan argumen sehingga bisa diterima. Beliau lebih mengetahui bahasa dan tutur katanya. Hal inilah yang menguatkan pandangan kami bahwa Ustadz Nursi telah menuang kandungan maknanya serta memperluas dan menyingkap berbagai persoalan tersembunyi di dalamnya pada sejumlah Risalah Nur yang ditulis dalam bahasa Turki sesudah tahun 1927 M. Ia merupakan risalah yang bermanfaat baik bagi alim ulama, pelajar, orang tua maupun anak muda. Karena itu, ia telah melaksanakan peran yang diharapkan dalam memelihara iman menghadapi gelombang kekufuran dan tiran.
Adapun pertanyaan di seputar pemberian judul buku; yakni mengapa Ustadz Nursi, penulis buku ini memberinya judul "al-Matsnawi" yang dalam syair berupa bait-bait rangkap dua, sementara di sisi lain buku ini bukan kumpulan syair?
Sebagai jawaban bahwa sebenarnya Ustadz Nursi telah memberi judul risalah ini dengan ar-Risalah al-Arabiyyah atau al-Majmu'ah Arabiyyah. Cetakan edisi pertama diberi nama Qatharāt min Fuyūdhāt al-Furqān al-Hakīm (tetesan dari curahan Alquran yang penuh hikmah). Namun, karena pengaruh dari risalah ini terhadap kalbu, akal, ruh, dan jiwa sama seperti pengaruh yang diberikan oleh al-Matsnawi karya Jalaluddin ar-Rumi yang terkenal dan tersebar luas di tengah-tengah manusia; terutama di Turki, serta karena pengaruh risalah ini dalam memperbaharui iman, mengokohkan kalbu, dan membangkitkan ruh dalam jiwa menyerupai al-Matsnawi karya ar-Rumi, maka Ustadz Nursi memberinya judul al-Matsnawi. Lalu, untuk membedakannya dengan al-Matsnawi karya ar-Rumi yang ditulis dengan bahasa Persia, Ustadz menamakannya dengan al-Matsnawi al-Arabiyy. Selanjutnya, karena risalah ini adalah landasan bagi berbagai Risalah Nur dan menjadi benih pemikirannya, judulnya ditambah dengan kata an-Nuri. Itulah sebabnya mengapa buku ini berjudul al-Matsnawi al-Arabiy an-Nuri.
Perlu dijelaskan pula bahwa meski buku ini menghimpun berbagai bentuk gaya bahasa, kiasan, perumpamaan, dan ragam retorika lainnya, setiap pembaca-sehebat apapun rasa bahasa yang dimiliki-akan tertarik dengan kedalaman makna dan keindahan substansinya, melebihi ketertarikannya dengan keindahan struktur dan redaksi yang ada. Pasalnya, kedalaman makna, luasnya pemikiran, serta ketelitian pembahasan yang beliau ungkap membuat pembaca berucap, "Benar." Perkataan yang fasih dan mendalam akan berpengaruh kepada akal dan jiwa secara bersamaan.
Demikianlah, sebenarnya kita tidak lagi memerlukan pengantar terkait dengan sebab dan masa penulisan buku ini. Pasalnya, Ustadz Nursi telah menuliskan semuanya dalam pendahuluannya yang indah serta di awal setiap risalah.
Semoga Allah memberikan taufik kepada kita menuju tujuan yang baik, pemahaman yang tepat, ucapan yang benar, serta amal yang lurus. Salawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw, beserta keluarga dan para sahabat beliau.
Ihsan Kasim as-Salihi
PENDAHULUAN PENULIS UNTUK TULISAN BERBAHASA ARAB DAN AL-MATSNAWI
Pendahuluan ini berisi lima perihal
Perihal Pertama
Sekitar lima puluh tahun lalu, karena semakin sibuk dengan pemikiran rasional dan filsafat, "Said lama" mencoba meretas jalan menuju hakikat seperti ahli tarekat dan hakikat. Ia tidak hanya puas dengan gerakan kalbu semata sebagaimana kebanyakan ahli tarekat. Karena akal dan pikirannya terluka oleh hikmah filsafat pada tahap tertentu, maka peru pengobatan.
Kemudian ia ingin mengikuti jalan beberapa tokoh ahli hakikat yang menuju hakikat lewat akal dan kalbu. Dalam pandangannya, masing-masing tokoh memiliki keistimewaan menarik dan unik. Ia bimbang dalam memilih di antara mereka. Maka, yang terlintas dalam benak "Said lama" yang berbalut luka adalah perintah al-Imam ar-Rabbani kepadanya secara gaib yang terdapat dalam tulisannya, "Satukan kiblat!".
{(Catatan-1): Imam ar-Rabbani adalah Ahmad ibn Abdul Ahad as-Sirhindi al-Faruqi (971-1034 H) yang diberi gelar "Pembaharu milenium kedua". Ia dikenal menguasai ilmu pada masanya, perhatian terhadap pembinaan ruhani, penyucian jiwa, keikhlasan kepada Allah, kehadiran hati, serta menolah jabatan yang ditawarkan kepadanya. Ia melawan fitnah yang dilakukan oleh Raja Akbar yang nyaris hendak menghancurkan Islam. Ia diberi taufik untuk mengalihkan negara Mongolia yang demikian kuat dari atheis dan agama budha kepada pangkuan Islam. Ia hembuskan ke dalamnya sistem baiat, ukhuwah, dan dakwah kepada manusia. Ia bersihkan paham tasawwuf dari noda. Dakwahnya berkembang di benua India hingga dari buahnya muncul Raja yang saleh, Aurangzeb. Pada masanya, kaum muslimin mendapatkan kemenangan. Tarekat Naqsyabandinya berkembang ke seluruh dunia Islam lewat Allamah Khalid asy-Syahrazuri yang dikenal dengan nama Maulana Khalid (1192 -1243 H). Ia menulis sejumlah tulisan. Yang paling terkenal adalah Maktūbāt yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Muhammad Murad dalam dua jilid dan diberi judul ad-Durar al-Maknūnāt. Ungkapan yang disebutkan dalam tulisan ke-75 dari jilid pertama berbunyi, "Namun, engkau harus memperhatikan satu syarat. Yaitu menyatukan kiblat arah pandang."}
Jadi, maksud dari menyatukan kiblat adalah menjadikan seorang ustadz sebagai satu-satunya guru.
"Said Lama" yang terluka berkata kepada kalbunya bahwa "Ustadz hakiki adalah Alquran dan menyatukan kiblat bisa tercapai dengan ustadz itu". Maka, ia segera mengambil petunjuk "guru suci" tersebut untuk membina ruhani dan kalbunya dengan cara yang asing. Iapun harus berjuang secara maknawi dan ilmiah untuk melawan nafsu ammarah berikut keraguan dan syubhat yang melekat padanya. Di saat menyusuri jalan tersebut dan di saat berjuang menyingkirkan segala keraguan, ia melewati berbagai kedudukan serta mempelajari isinya; tidak seperti kaum yang tenggelam dalam suluk dengan menutup mata. Namun, suluk atau perjalanan ruhani yang dilakukan seperti yang dilakukan oleh Imam Ghazali,
{(Catatan-2): Imam Ghazali (450-505 H) adalah Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmad al-Ghazali. Ia seorang fakih, ahli ilmu kalam, filosof, sufi, serta reformis agama dan masyarakat. Ia penulis risalah spiritual. Pengaruhnya demikian tampak dalam kehidupan Islam. Ia dilahirkan di Thus, wilayah Khurasan. Belajar ilmu fikh dan kalam dari imam al-Haramayn. Lalu belajar ilmu filsafat, khususnya pandangan al-Farabi, Ibnu Sina, dan ilmu kejiwaan. Dalam ilmu-ilmu tersebut Ia tidak menemukan sesuatu yang memuaskan kebutuhan akalnya terhadap keyakinan serta keinginan kalbunya untuk bahagia. Ia sibuk mengajar di madrasah Nizhamiyyah serta bepergian ke banyak negeri. Di antaranya Damaskus, Baytul Maqdis, Kairo, Iskandariyah, mekkah, dan Madinah. Di antara tulisannya adalah Ihya Ulumuddin, Tahafut al-Falasifah, dan al-Munqidz min adh-Dhalāl .}
Imam ar-Rabbani, dan Jalaluddin ar-Rumi
{(Catatan-3): Maulana ar-Rumi (604-672 H) adalah seorang ulama yang bermadzhab Hanafi, serta menguasai berbagai ilmu. Kemudian ia menjadi sufi. Ia penulis al-Matsnawi yang terkenal dengan bahasa Persia dalam 26 ribu bait. Ia pendiri tarekat Maulawiyyah. Lahir di Balkh (Persia), lalu menetap di Konya pada tahun 623 H. Ia dikenal menguasai fikih dan ilmu-ilmu keislaman lainnya. Pernah mengajar di Konya pada empat sekolah setelah ayahnya meninggal pada tahun 628 H. Di antara karyanya adalah Dīwān Kabīr, Fīhi ma Fīhi, dan Maktūbāt.}
dengan membuka mata hati, jiwa, dan akal. Ia berjalan pada berbagai kedudukan tersebut serta melihat isinya lewat semua penglihatan tadi secara jelas tanpa ada yang samar.
Segala puji bagi Allah bahwa ia menemukan dan memasuki sebuah jalan yang menuju hakikat dengan pelajaran dan bimbingan Alquran. Bahkan dalam sejumlah Risalah Nur yang ditulis oleh "Said Baru" tertampak sebuah hakikat:
Pada segala sesuatu terdapat tanda yang menunjukkan bahwa Dia esa
{(Catatan-4): Oleh Abul Atahiyyah dalam kumpulan syairnya. Bait tersebut dinisbatkan kepada Ali ra. Sementara, Ibn Katsir dalam Tafsirnya menisbatkan kepada Ibn al-Mu'taz.}
Perihal Kedua
Karena "Said Lama" berjalan dengan persatuan akal dan kalbu seperti seperti Imam Ghazali, Imam Rabbani, dan Jalaluddin ar-Rumi, maka Ia segera membalut berbagai luka kalbu dan ruhani, serta membebaskan jiwanya dari berbagai bisikan dan ilusi. Setelah bebas darinya, "Said Lama" berubah menjadi "Said Baru". Iapun membuat sejumlah tulisan sejenis al-Matsnawi-yang aslinya berbahasa Persia--dengan bahasa Arab dalam ungkapan-ungkapan yang singkat.
Ketika ada kesempatan, iapun berani menerbitkannya. Tulisan tersebut berupa "tetesan, untaian benih, biji, bunga, partikel, semerbak, nyala, dan berbagai pelajaran lainnya." Ia kemudian ditambah dengan risalah berbahasa Turki: "cahaya" dan "perihal". Ia menjelaskan persoalan tersebut selama sekitar setengah abad dalam Risalah Nur yang tidak hanya membahas jihad melawan hawa nafsu dan setan; tetapi seperti kompilasi keseluruhan dari al-Matsnawi. Buku ini menyelamatkan orang-orang yang sedang bingung dan membutuhkan, serta menarik para filosof yang tergiring kepada kesesatan.
Perihal Ketiga
Perbincangan yang berlangsung antara "Said Lama" dan "Said Baru" telah mengusir setan dan menundukkan nafsu
sehingga Risalah Nur menjadi dokter luar biasa bagi pencari hakikat yang sedang terluka. Ia membuat kaum atheis dan sesat terdiam.
Jadi, jelas bahwa al-Matsnawi yang berbahasa Arab ini merupakan benih dan tunas bagi Risalah Nur. Ia membebaskan manusia dari berbagai syubhat yang dihembuskan oleh setan, baik dari golongan jin maupun manusia. Sejumlah informasi tersebut ibarat sesuatu yang terlihat jelas, jika pengetahuannya dengan ilm al yaqin mendatangkan kepuasaan dan ketenangan pada tingkat ain al yaqin.
Perihal Keempat
"Said Lama" lebih banyak menggeluti ilmu hikmah dan hakikat, berdialog dan berdiskusi dengan tokoh ulama dalam berbagai persoalan yang mendalam, memperhatikan tingkat pemahaman muridnya terdahulu yang perhatian terhadap ilmu-ilmu syariat, serta menunjukkan peningkatan jenjang pemikiran dan limpahan pengetahuan kalbunya lewat ungkapan yang sangat dalam dan ringkas yang hanya dipahami olehnya. Karena itu, tidak aneh kalau sebagiannya bisa jadi hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang memiliki pengetahuan luas setelah mencurahkan upaya optimal. Jika dijelaskan dengan lengkap, ia melaksanakan tugas Risalah Nur.
Jadi, Buku al-Matsnawi yang merupakan tunas dari Risalah Nur bekerja dalam aspek anfusi dan internal seperti jalan khafi (tersembunyi), sehingga berhasil membuka jalan dalam kalbu dan ruh. Sementara, Risalah Nur yang merupakan kebunnya telah membuka jalan yang luas menuju makrifatullah dengan menghadap ke cakrawala-sebagai jalan yang terbentang jelas--di samping berjuang melawan nafsu. Ia seperti tongkat Musa as. yang ketika dipukulkan memancarkan air yang berlimpahdiman saja.
Demikianlah, jalan yang ditempuh Risalah Nur tidak seperti jalan yang ditempuh oleh para ulamadan filosof . Akan tetapi, ia membuka jendela makrifatullah dari segala sesuatu dengan kemukjizatan maknawi dari Alquran. Ia telah memahami sebuah
rahasia yang khusus dari Alquran seperti mengerjakan suatu pekerjaan yang dibutuhkan satu tahun dalam satu jam bahwa mampu mengalahkan serangan kaum zindiq yang tak terhingga pada masa yang dahsyat ini.
Perihal Kelima
Pada saat perubahan dari "Said Lama" ke "Said Lama", ribuan hakikat -masing-masing bernilai menjadi satu pembahasan dalam sebuah risalah- yang terkait dengan ratusan ilmu ditulis oleh Said dalam bentuk I'lam (ketahuilah) pada setiap pembahasan dan diungkapkan dalam beberapa baris, satu paragraph atau satu halaman. Seolah-olah masing-masing "ketahuilah" merupakan inti dari sebuah risalah.
Karena setiap "ketahuilah" ditulis sebagai indeks dari berbagai ilmu dan hakikat, maka para pembaca buku ini memperhatikan perihal-perihal di atas, sehingga jangan mengkritik.
Said Nursi
Peringatan
Pemberitahuan
Permintaan Maaf
Ketahuilah!
Risalah ini merupakan satu bentuk tafsir nyata terhadap sejumlah ayat Alquran berikut persoalan-persoalan yang terdapat di dalamnya. Ia ibarat sekuntum bunga yang kupetik dari kebun Alquran yang penuh hikmah. Janganlah engkau merasa aneh dengan bentuk redaksinya yang sulit dipahami, ringkas, dan singkat. Cobalah telaah kembali sehingga terbuka bagimu rahasia pengulangan Alquran, seperti ayat yang berbunyi, "Milik-Nya kerajaan langit dan bumi".
"Jangan takut dengan jiwa yang sulit dikendalikan. Sebab, jiwaku yang selalu memerintahkan pada keburukan dan melampaui batas telah tunduk. Ia berhasil dijinakkan lewat berbagai hakikat yang terdapat dalam risalah ini. Bahkan, setan terkutuk yang terdapat di tubuhku telah terdiam dan bersembunyi... Siapapun dirimu, jiwa atau nafsumu tetaplah tidak lebih melampaui batas daripada nafsuku. Setan yang ada pada dirimu juga tidak lebih memperdaya daripada setan yang ada pada diriku."
Wahai pembaca!
Janganlah mengira berbagai dalil dan petunjuk tauhid yang terdapat pada (bab pertama)
{(Catatan-5): Peringatan ini terdapat edisi pertama di pendahuluan risalah "Setetes lautan Tauhid". Hanya saja, karena penting ia diletakkan di awal tulisan.}
sebagiannya telah mencukupi yang lain. Sebab, aku melihat masing-masing membutuhkan dalil sendiri yang khusus. Bisa jadi gerakan jihad membutuhkan sebuah lokasi di mana ia harus menyelamatkan diri dengan cara membuka satu pintu di lokasi tersebut sebab tidak mudah baginya saat ini menuju ke pintu-pintu lain yang telah terbuka.
Selain itu, jangan dikira saya sengaja menjadikan redaksi risalah ini sulit dipahami. Pasalnya, risalah ini merupakan bentuk dialog seketika dengan diri sendiri pada waktu yang menakjubkan. Kalimat-kalimatnya keluar di saat terjadi perdebatan sengit seperti angin topan yang di dalamnya cahaya beradu dengan api.
Dalam satu waktu kepalaku berputar dari bawah ke atas dan dari atas ke bawah; dari bumi ke langit. Aku meniti jalan yang tidak biasa dilewati dalam sebuah pembatas antara akal dan kalbu. Akalku bingung dengan kondisi jatuh dan bangun. Setiap kali melihat cahaya kuberi ia sebuah tanda untuk mengingatnya. Aku sering menulis kata atas sesuatu yang tak bisa diungkap untuk menjadi pengingat; bukan sebagai dalil. Aku sering menulis satu kata di atas cahaya yang agung. Selanjutnya aku menyaksikan bahwa cahaya yang membentang kepadaku di bumi kegelapan ini tidak lain merupakan kilau cahaya mentari Alquran yang tampak sebagai lentera bagiku.
Ya Allah, jadikanlah Alquran sebagai cahaya bagi akal, kalbu, dan jiwa kami, serta sebagai pembimbing bagi diri kami. Amin.
Wahai yang membaca buku ini, jika ada sesuatu yang bermanfaat darinya
Jangan lupa mengirimkan untukku fatiha atau doa yang tulus di jalan Allah.