Risale-i Nur Külliyatı [email protected]

Kehidupan Said Nursi di Kastamonu

4 dilihat

BAGIAN KEEMPAT

KEHIDUPAN SAID NURSI DI KASTAMONU

Setelah Badiuzzaman Said Nursi keluar dari penjara Eskişehir, ia diasingkan ke kota Kastamonu di mana ia ditahan dalam masa yang lama di kantor polisi, kemudian ditetapkan sebagai tahanan rumah permanen dalam sebuah rumah persis di depan kantor polisi itu.

Kendati Ustadz Said Nursi dipaksa untuk menghabiskan waktu selama delapan tahun sebagai orang buangan di bawah pengawasan ketat dan perilaku yang sangat kejam, ia tidak tinggal berpangku tangan, melainkan ia terus menyebarkan cahaya al-Qur’an secara sembunyi-sembunyi. Para muridnya pun aktif penuh semangat berani berkorban terutama yang berada di Inebolu(*1), mereka seperti murid-muridnya di Isparta, dengan semangat mulai menulis Risalah Nur dan menyebarkannya ke berbagai pelosok secara sembunyi-sembunyi sehingga mendapat sambutan yang luar biasa di daerah Laut Hitam.

Kendati pengasingan Ustadz Said Nursi di Kastamonu ini berlangsung cukup lama, hubungannya dengan murid-muridnya yang berada di Isparta tidak terputus. Berkat ilham Rabbani, ia mengetahui bahwa kota ini akan mengeluarkan sejumlah banyak orang yang berani berkorban dalam menyebarkan Risalah Nur ke berbagai pelosok dunia, atau tugas mulia ini akan dilaksanakan selama pengabdian mulia di markas Isparta.

Para Tullabunnur sangat perhatian terhadap keadaan guru mereka tercinta yang penuh kasih sayang, sangat antusias terhadap kenyamanannya, selalu mencari tahu berita tentang dirinya dan tentang pengabdian Risalah Nur yang dilakukan oleh saudara-saudara mereka sesama Tullabunnur.

Ustadz Badiuzzaman Said Nursi melakukan korespondensi dengan Tullabunnur berkenaan dengan pengabdian terhadap iman dan membahas tema-tema ilmiah, keimanan dan keislaman secara intensif selama dua puluh tujuh tahun. Para Tullabunnur menerimanya dengan penuh kerinduan dan mereka mempublikasikannya dengan tulisan tangan mereka sendiri.Ketika para Tullabunnur mengetahui intimidasi yang dilakukan para musuh agama sehingga melarang mengirimkan Risalah Nur dan surat di antara melalui kantor pos, mereka melaksanakan tugas mengantarkan Risalah Nur dan korespondensi antara desa, kota dan wilayah sehingga di antara mereka terbentuk “Tukang Pos Nur” yang secara sukarela melakukan tugas mulia ini didorong oleh panggilan hati nurani mereka yang paling dalam dan mereka percaya bahwa pengabdian ini merupakan tugas yang paling suci bagi mereka.

Korespondensi yang luar biasa ini memiliki hakikat dan kepentingan yang sangat tinggi yang disebut “Malâhiq Risalah Nur” dan telah memenuhi kebutuhan rohani banyak Tullabunnur. Ia merupakan panduan bagi mereka dalam berkhidmat pada iman dan al-Quran, juga memberi dampak yang sangat besar dalam membentuk kesadaran mereka sehingga tidak terkecoh oleh progapanda palsu dan dusta yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam. Pada masa hitam kelam itu, pemerintah penipu begitu berkuasa, memusuhi dan memerangi agama sehingga banyak yang berputus asa. Ketika Risalah Nur dan korespondensi ini tiba, kebahagiaan muncul dan mereka pun berlapang dada di samping mempekokoh kecintaannya untuk bersungguh-sungguh berkhidmat pada iman dan menyelamatkan orang-orang yang beriman dari rasa putus asa, memberi kabar gembira kepada mereka dengan kemenangan dan kejayaan Islam pada masa mendatang melalui Risalah Nur.

Ya, risalah-risalah yang terkandung dalam Malâhiq ini penuh dengan hakikat yang menarik ruh, melapangkan hati dan mengarahkan akal. Berikut kami akan menyampaikan sebagian isinya dan akan kami ketengahkan informasi berkenaan dengan kehidupan Ustadz Said Nursi di Kastamonu melalui kutipan dari sebagian suratnya yang beliau tulis, sebagaimana juga akan kami ketengahkan sebagian surat para Tullabunnur yang setia dan tulus.

Surat-surat berikut terdiri dari tiga puluh surat lebih yang dikirim Ustadz Said Nursi dari Kastamonu kepada para muridnya di Isparta. Kami telah mengutipnya dari Malâhiq Kastamonu yang terdiri dari lima ratus halaman lebih. Dalam kumpulan surat itu Ustadz Said Nursi menjelaskan pentingnya menulis Risalah Nur dengan tangan sendiri dan menyebarluaskannya, memperkokoh pondasi untuk berkhidmat pada Risalah Nur dan menyampaikannya kepada orang lain. Juga dijelaskan bahwa pengabdian para Tullabunnur yang tampak sekarang merupakan pengabdian parsial yang sebenarnya merupakan masalah terbesar di dunia. Ustadz Said Nursi memberi kabar gembira kepada mereka bahwa negeri ini akan menyaksikan kemenangan spiritual yang luas berkat cahaya Risalah Nur.

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia...

sebagaimana karamah dan ikram Ilahi yang dirasakan oleh sebagian besar murid yang mengabdi pada Risalah Nur, saudara kalian yang lemah ini juga merasakan banyak macamnya karena ia sangat membutuhkannya. Para Tullabunnur yang ada di sekitar kita sekarang ini, dengan bersumpah kepada Allah Ta`ala, mereka mengaku sambil mengatakan, “Setiap kali kami bekerja untuk mengabdi pada Risalah Nur, kami dapatkan kelapangan dalam hidup, rasa lega dalam hati dan kegembiraan yang nyata”.Saya juga mendapatkan hal serupa sehingga nafsu dan setan saya, keduanya terdiam, bingung menghadapi kenyataan ini.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

PERINGATAN PENTING UNTUK SAUDARA-SAUDARA AKHIRATKU

Kemudian dari penulisannya itu ia dapat memperoleh banyak manfaat karena menulis Risalah Nur ini mencakupi empat macam ibadah yang dapat diterima dilihat dari empat sisi, di antaranya: memperkuat imannya, turut serta dalam menyelamatkan iman orang lain dari bahaya, menjadikan dirinya dan orang lain melakukan tafakur iman yang sebanding dengan ibadah satu tahun sebagaimana disebutkan dalam al-atsar(*2), di samping ia membantu gurunya yang menderita berbagai kondisi sulit dan tidak pandai menulis sehingga ia berbagi dengannya dalam kebaikannya, dan manfaat lainnya.Saya menegaskan dengan bersumpah bahwa orang yang menyalin sebuah risalah kecil dan isinya ditujukan untuk dirinya sendiri, maka ia seperti orang yang memberi saya hadiah yang besar, bahkan setiap halaman dari risalah itu membuat saya bahagia sama seperti ia memberi saya satu kilo gram gula(*3).

Poin kedua:Jin dan manusia yang memusuhi Risalah Nur—yaitu musuh-musuh yang tidak memiliki iman dan rasa aman—setelah mereka tidak mampu menghadapi bentengnya yang kokoh seperti baja, atau argumentasi-argumentasinya yang tajam seperti pedang berlian, mereka melancarkan serangan ala setan kepada para penulisnya, menyerang mereka dengan berbagai sarana dan tipu daya secara sembunyi-sembunyi tanpa mereka rasakan, untuk melemahkan tekad para penulis Risalah Nur itu dan mereka berpaling dari tugas mulia ini. Karena di sini kebutuhan terasa sangat mendesak, para penulis jumlahnya sedikit, musuh-musuh waspada dan sebagian murid tidak dapat bertahan, maka para musuh berusaha menghalangi negeri ini untuk memperoleh cahaya Risalah Nur dalam bentuk apa pun.

Orang yang ingin menemui saya dan duduk bersama saya dalam jalan hakikat, silahkan membuka risalah mana pun juga. Ketika itu, ia tidak akan bertemu dengan saya secara pribadi, tetapi bertemu dengan gurunya sebagai pengabdi al-Qur’an dan ia akan mendapatkan pelajaran hakikat iman yang dapat dirasakan.

...

Ketika surat Shabri dalam perjalanan menuju saya, dan ketika itu dengan pengaruh spiritualnya saya merenungkan ayat-ayat al-Quran(*4)dan ayat: “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan...” (QS. al-An`âm [6]: 122), dan tiba-tiba terlintas dalam hati saya bahwa rahasia dan hikmah isyarat al-Qur’an yang kuat yang ada di dalamnya terhadap Risalah Nur, kabar gembira al-Qur’an yang penting yang berkaitan dengan para muridnya, dan mendapatkan pujian dari wali kutub adalah semata-mata kedahsyatan dan kehebatan musibah yang menimpa, sehingga tidak ada karya selain Risalah Nur mendapatkan apresiasi suci seperti ini.

Ya, pentingnya Risalah Nur tidak terletak pada keagungannya yang luar biasa, tetapi terletak pada perjuangannya dalam menghadapi musibah yang dahsyat dan menghancurkan. Risalah Nur mendapat perhatian besar kendati upaya perjuangannya sedikit, di mana ayatayat ini mengandung isyarat dan kabar gembira bagi orang-orang yang memasuki lingkaran Risalah Nur bahwa mereka akan menyelamatkan imannya yang tengah terancam bahaya. Dengan iman yang sudah terselamatkan ini mereka akan memasuki alam kubur untuk selanjutnya menuju surga. Ya, prajurit biasa bisa saja melampaui pangkat marsekal berkat pengabdian yang dilakukannya, sehingga ia menerima nilai ribuan kali lipat.

* * *

Sebagian besar hikmah pengulangan yang terdapat di dalam al-Qur’an yang dijelaskan dalam akhir risalah “Kalimat Kesembilan Belas” juga berlaku dalam Risalah Nur, terutama hikmah yang kedua, dan ia secara lengkap terdapat dalam Risalah Nur.

Isinya adalah bahwa setiap manusia memerlukan al-Qur’an pada setiap saat, akan tetapi tidak semua manusia mampu membaca seluruh al-Qur’an dalam satu waktu, pada umumnya ia dapat membaca satu surah. Oleh karena itu, maksud-maksud al-Qur’an terpenting disebutkan dalam sebagian besar surah yang panjang sehingga setiap surah bagaikan miniatur al-Qur’an.Berdasarkan hal itu, beberapa maksud al-Qur’an diulang, seperti tentang kebangkitan di akhirat, masalah tauhid, dan kisah Musa sehingga tidak seorang pun luput dari mengetahuinya. Demi hikmah ini juga, hakikat iman yang rinci dan argumentasinya yang kuat juga diulang-ulang dalam Risalah Nur, kadang-kadang tanpa sepengetahuan saya, tanpa kehendak saya dan bukan pilihan saya. Seringkali saya bingung tentang suatu masalah dan bertanya-tanya, “Mengapa saya melupakannya?”.

Kemudian setelah itu saya mengetahui secara pasti bahwa setiap orang pada masa sekarang ini memerlukan Risalah Nur, hanya saja mereka tidak mampu mendapatkan semuanya, dan kalau pun dapat mendapatkannya, mereka tidak mampu untuk membaca semuanya. Yang mungkin dapat mereka lakukan adalah mendapatkan risalah kecil yang menyeluruh sehingga menyerupai kumpulan miniatur Risalah Nur. Mereka dapat membaca masalahmasalah yang diperlukannya secara berulang kali, seperti halnya mereka berulang kali memerlukan makanan, demikian juga keperluan mereka terhadap membaca.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Karena kasih sayang yang dimiliki umat manusia merupakan manifestasi dari kasih sayang Rabbani, maka tidak boleh melampaui kasih sayang-Nya dan tidak boleh melebihi kasih sayang Nabi Muhammad yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam. Jika melampauinya, maka sama sekali bukan kasih sayang, tetapi penyakit rohani dan penyakit hati yang akan berakibat kesesatan dan kekafiran.

Misalnya, jika perasaan kasih sayang seseorang merasa terganggu ketika mendengar bahwa orang-orang kafir dan munafiq akan dibakar di neraka Jahanam, lalu orang itu berusaha untuk mentakwilkannya, ini bukan kasih sayang tetapi pengingkaran dan pendustaan terhadap sebagian besar dari al-Qur’an dan agama Samawi, di samping merupakan kezaliman besar dan kekerasan hati yang luar biasa. Hal itu karena kasih sayang dan merasa kasihan terhadap binatang buas yang mencabik-cabik hewan tidak berdosa adalah pertanda kerasnya hati terhadap hewan-hewan malang, sikap brutal dan kehilangan hati nurani. Demikian juga bersimpati dengan merasa kasihan terhadap orang-orang yang menghancurkan kehidupan abadi ribuan umat Islam, menjerumuskan ratusan orang-orang yang beriman ke dalam dosa yang mengerikan dan akibat yang buruk, dan mendoakan mereka agar selamat dari hukuman adalah kebrutalan keji dan kekerasan hati terhadap orang-orang beriman yang teraniaya itu.

Risalah Nur secara pasti telah membuktikan bahwa kekafiran dan kesesatan merupakan penghinaan terbesar terhadap segenap makhluk serta kezaliman yang besar terhadap mereka, menjadi sebab diangkatnya rahmat dan diturunkannya malapetaka, sehingga disebutkan dalam banyak riwayat sahih bahwa ikan di kedalaman laut mengadukan perbuatan orang-orang zalim karena ulah mereka, hidup mereka menjadi tidak nyaman. Oleh karena itu, orang yang menderita mendengar orang-orang kafir dan munafiq disiksa di akhirat, merasa kasihan terhadap mereka. Hal itu berarti mereka tidak mengasihani orang-orang yang tidak berdosa dan membutuhkan kasih sayang, padahal jumlah mereka sangat banyak.

* * *

Risalah Nur memenuhi kebutuhan yang berkaitan dengan hakikat Islam sehingga tidak perlu membaca karangan lain. Melalui pengalaman yang nyata telah terbukti bahwa jalan yang paling mudah dan paling pendek untuk menyelamatkan dan memperkuat iman serta menjadikannya iman tahkiki, terdapat dalam Risalah Nur. Ya, Risalah Nur membuat seseorang melewati jalan itu dan mencapai iman tahkiki dalam waktu lima belas minggu, bukan lima belas tahun.

Saudara kalian yang fakir ini, dua puluh tahun yang lalu telah banyak membaca, sampai-sampai dalam sehari membaca satu jilid buku dengan memahami isinya. Sejak dua puluh tahun ini saya merasa cukup dengan al-Qur’an dan Risalah Nur yang bersumber pada kitab suci tersebut. Saya tidak berpedoman dengan selainnya dan tidak merasa memerlukan selainnya.Kendati Risalah Nur membahas banyak hakikat yang bermacam-macam, hanya saja sejak mulai menulisnya dua puluh tahun yang lalu, belum pernah merasa perlu merujuk pada sebuah buku, sehingga kalian pasti dua puluh derajat lebih tidak memerlukannya daripada saya.

Saya merasa puas dengan kalian hingga sekarang sehingga saya tidak menoleh kepada selain kalian dan tidak berurusan dengan selain kalian. Selama masalahnya seperti ini, maka hendaknya kalian juga merasa cukup dengan Risalah Nur, bahkan hal ini sangat dibutuhkan pada masa sekarang ini.

* * *

Asas pertama(*5)

“Said Lama” memberi kabar gembira dengan munculnya sebuah cahaya pada masa mendatang dan itu merupakan respon terhadap rasa putus asa yang menyelimuti orang-orang yang beriman. Sebelum terjadi, ia telah merasakannya bahwa Risalah Nur akan menyelamatkan iman dengan cara menguatkan iman banyak orang di waktu yang sulit pada masa mendatang. Dengan pandangan ini, ia memandang kancah politik yang dicuatkan oleh era kebebasan dan menerapkan apa yang dirasakannya tanpa ia ungkapkan atau ia takwilkan dan menduga bahwa masalahnya terdapat dalam bidang politik, kekuatan dan kuantitas. Apa yang ia rasakan, terbukti benar tetapi ia tidak pandai mengungkapkannya.

Asas kedua: “Said Lama” merasakan seperti yang dirasakan sebagian politikus dan tokoh sastrawan bahwa sebuah tirani terlihat di cakrawala, maka mereka melakukan persiapan guna menghadapinya. Kendati “firasat” ini perlu diungkapkan dan ditakwilkan, hanya saja mereka di hadapannya mendapatkan sebuah tirani secara formal dan lemah sehingga mereka mulai menyerangnya, padahal tirani yang mereka takutkan dan menimbulkan kekhawatiran mereka baru akan datang kelak. Yang mereka dapatkan sekarang itu baru bayangan dari tirani resmi sehingga mereka menyerangnya karena menduga bahwa itu adalah tirani asli. Tujuannya benar tetapi targetnya salah.

Begitulah, “Said Lama” telah merasakan tirani sekarang yang menakutkan sebelumnya. Dalam beberapa karangannya ia menjelaskan serangannya terhadap tirani itu. Ia melihat, dalam sistem “parlementer” yang sah, sarana untuk menyelamatkan diri dari tirani yang menakutkan ini. Ia berusaha keras dengan harapan kebebasan yang sah ini dalam menolak musibah yang menakutkan melalui musyawarah dalam lingkaran hukum al-Qur’an

Kemudian, hakikat Madrasah az-Zahra yang disebutkan dalam bagian akhir “Risalah Munâdzarât” yang dianggap sebagai landasan dan taman risalah ini, adalah pondasi Madrasah Risalah Nur yang akan muncul di kemudian hari di mana di arahkan kepadanya tanpa sepengetahuan dan bukan pilihannya.Dengan firasatnya, ia mencari hakikat nurani dengan bentuk materinya dan mulai muncul kemudian ketika Sultan Rasyad rahimahullah memberi sembilan belas ribu lira emas untuk mendirikan Madrasah az-Zahra di Wan dan batu pertama telah diletakkan, hanya saja Perang Dunia Pertama meletus sehingga proyek pembangunannya terbengkalai.

Kira-kira enam tahun setelahnya saya pergi ke Ankara dan berusaha untuk kembali membangun. Seratus enam puluh tiga anggota parlemen dari total dua ratus orang menyetujui pengalokasian dana sebesar seratus lima puluh ribu lira untuk membangun sekolah kami ini dan mereka menandatanganinya, hanya saja sayang sekali seluruh madrasah ditutup dan kembali proyek itu terbengkalai, tetapi alhamdulillah identitas spiritual sekolah ini berdiri di daerah Isparta dan menjadi tempat munculnya Risalah Nur. Segenap Tullabunnur akan mampu mendirikan madrasah dalam bentuk fisik pada masa mendatang insya Allah.

Said Nursî

* * *

Dengan Menyebut Nama-Nya Yang Maha Suci (*6)

...

Pengabdian terhadap iman yang bernilai tinggi yang dilakukan oleh para Tullabunnur di Isparta memberikan rasa puas pada diri mereka. Mata batin mereka yang tajam telah menemukan sebuah hakikat yang substansinya adalah bahwa pengabdian melalui Risalah Nur menyelamatkan iman, sedangkan tarekat dan ajaran para syekh menjadikan seseorang memperoleh berbagai kedudukan wali. Menyelamatkan keimanan seseorang lebih penting dan pahalanya lebih besar daripada menaikkan sepuluh orang yang beriman ke derajat wali. Karena iman merealisasikan kekuasaan yang abadi bagi orang yang beriman yang lebih besar daripada dunia dan seisinya, sehingga dengan kekuasaan tersebut ia dapat memperoleh kebahagiaan abadi, sementara kewalian hanya memperluas surga orang yang beriman dan menjadikannya lebih mulia. Tentu saja menjadikan seseorang sebagai penguasa merupakan pengabdian yang pahalanya lebih besar daripada menjadikan sepuluh orang sebagai pejabat.

Inilah rahasia mendalam yang dapat dilihat oleh hati saudara-saudaramu di Isparta meskipun akal sebagian mereka tidak dapat melihatnya. Oleh karena itu, mereka lebih mengutamakan menjadi sahabat seorang papa yang banyak dosa seperti saya daripada menjadi teman para wali, bahkan menjadi sahabat para mujtahid, jika mereka ada.

Berdasarkan hakikat ini, jika seorang tokoh wali kutub datang ke kota ini dan berkata kepada Anda, “Dalam sepuluh hari saya akan mengangkat Anda ke derajat wali, lalu Anda meninggalkan Risalah Nur dan mengikuti orang tersebut, Anda tidak akan mampu menjadi sahabat bagi para pahlawan Isparta”.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Sebuah percakapan diberitahukan guna memperbaiki sikap berlebihan sebagian saudaraku, para Tullabunnur dalam berbaik sangka terhadap saya yang di luar batasan saya.

Saya sampaikan sebuah percakapan yang terjadi antara saya dan kakak saya Mulla Abdullah rahimahullah, empat puluh tahun lalu:

Kakak saya rahimahullah adalah salah satu murid khusus wali besar Syekh Dhiyauddin quddisa sirruhu dan para pengikut tarekat secara umum tidak menganggap sebagai masalah jika terjadi sikap berlebihan dalam mencintai guru dan berbaik sangka kepadanya. Berdasarkan prinsip ini, pada suatu ketika kakak saya berkata kepada saya bahwa Syekh Dhiyauddin mengetahui seluruh ilmu, dan mengetahui segala sesuatu yang berada di alam semesta seperti wali kutub.

Kemudian ia menjelaskan maqam-maqamnya yang luar biasa dengan tujuan untuk mengajak saya menjadi muridnya, maka saya katakan kepadanya, “Anda terlalu berlebihan. Jika saya bertemu dengannya, saya mampu mengalahkannya dalam banyak masalah. Kemudian Anda tidak mencintainya dengan sebenarnya sebagaimana saya mencintainya. Anda mencintai Dhiyauddin yang Anda bayangkan dalam bentuk tokoh wali kutub yang ada di dunia. Artinya, keterkaitan Anda dengannya dan kecintaan Anda terhadapnya berdasarkan bayangan tersebut. Jika tabir gaib dibuka dan hakikat sebenarnya terlihat, kecintaan Anda akan hilang atau menjadi lemah hingga menjadi seperempatnya.Sementara saya, mencintai orang yang pernuh berkah ini dengan kecintaan yang sangat besar sebagaimana Anda mencintainya. Saya menghargainya karena dia adalah seorang guru yang tulus, petunjuk yang berpengaruh untuk orang-orang yang beriman dalam lingkaran as-Sunnah yang lurus dan jalan hidup yang sebenarnya.

Jika maqam pribadinya terkuak, saya tetap dalam sikap saya terhadapnya dan tidak akan melepaskan keterikatan saya dengannya. Kecintaan saya juga tidak akan berkurang, bahkan akan lebih menghormati dan menghargainya.

Maka, saya mencintai Dhiyauddin yang sebenarnya, sementara Anda mencintai Dhiyauddin yang khayali. Kakak saya itu menerima sudut pandang saya dan menghargainya karena ia seorang ulama yang adil dan cermat. Wahai Tullabunnur yang terhormat, saudara-saudaraku yang lebih bahagia dan lebih banyak pengorbanannya daripada saya! Berbaik sangka yang berlebihan terhadap saya mungkin tidak membahayakan kalian, hanya saja orang-orang yang mencari kebenaran seperti kalian, seharusnya melihat tugas dan pengabdian, maka lihatlah dari sudut ini. Jika tabir diangkat, keadaan saya yang sebenarnya yang penuh dengan kekurangan terungkap, kalian pasti akan merasa kasihan. Maka saya tutup aib dan kekurangan saya dari kalian agar kalian tidak meninggalkan saya sebagai saudara.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Hikmah jawaban yang saya berikan terhadap surat kalian yang dikirim seminggu yang lalu, yang setidaknya melukai sikap berbaik sangka kalian terhadap saya.

Pada masa sekarang ini terdapat arus yang berkuasa dengan kekuasaan yang di luar bayangan, sampai-sampai kekuasaan tersebut mempengaruhi dan mengarahkan segala sesuatu sesuai dengan kepentingan kekuasaan itu. Berdasarkan hal ini, jika pada masa sekarang ini seseorang yang kedatangannya telah ditunggu-tunggu sejak satu abad yang lalu, maka saya prediksikan bahwa ia akan mengesampingkan urusan dunia politik dan mengubah tujuannya agar gerakannya tidak dimanfaatkan untuk kepentingan arus tersebut.

Kemudian, terdapat tiga masalah, yaitu kehidupan202, syariat dan iman. Dalam pandangan hakikat, dari ketiga masalah tersebut yang terpenting dan terbesar adalah masalah iman, hanya saja kare na masalah kehidupan dan syariat menurut pandangan masyarakat umum, tuntutan kondisi dunia yang dianggap sebagai masalah terpenting, perubahan kondisi ketiga masalah itu sekaligus di seluruh permukaan bumi merupakan masalah yang bertentangan dengan sunnatullah yang berlaku pada umat manusia, maka jika seseorang itu benar-benar ada pada masa sekarang ini, ia pasti akan menjadikan masalah terbesar itu sebagai landasan bagi kedua masalah lainnya, agar pengabdian terhadap iman tidak kehilangan kemurnian dan kejernihannya dalam pandangan orang banyak dan agar dalam benak orang banyak yang mudah untuk ditipu terpatri bahwa pengabdian tersebut bukanlah alat untuk mencapai tujuan lain. Kemudian di bawah kezaliman yang merusak yang berlangsung sejak dua puluh tahun yang lalu, akhlak telah mengalami kehancuran yang tiada tara.

Kesetiaan dan keteguhan hilang, sehingga dalam sepuluh atau dua puluh orang tidak ada lagi satu orang pun yang dapat diandalkan. Kondisi yang luar biasa ini mengharuskan seseorang memiliki tingkat ketabahan, ketegaran, kesetiaan yang paling tinggi, juga memiliki semangat keislaman. Jika tidak, maka pengabdian terhadap iman akan menjadi mandul dan berbahaya.

Maka, pengabdian yang paling tulus, paling selamat, paling penting dan paling tepat tidak lain dari pengabdian suci ini yang dalam lingkarannya para Tullabunnur bekerja.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Bulan suci Ramadan tahun ini sangat penting dan bernilai tinggi, baik bagi dunia Islam maupun bagi para Tullabunnur.

Dengan rahasia prinsip dasar Tullabunnur, yaitu prinsip partisipasi dalam amal ukhrawi (kerja kolektif), maka segala sesuatu yang didapatkan oleh setiap orang dari mereka, hal yang serupa juga dicatat dalam buku catatan amal saudaranya. Juga berdasarkan prinsip ini dan berdasarkan rahmat Ilahi, keuntungan orang-orang yang masuk dalam lingkaran Risalah Nur dengan jujur dan tulus adalah sangat besar dan menyeluruh karena setiap orang dari mereka memperoleh ribuan keuntungan dan keuntungan ini dicatat dalam buku catatan amal setiap orang dari mereka dengan izin Allah tanpa dibagi-bagi, tidak seperti partisipasi dalam pekerjaan duniawi. Dalam amal ukhrawi, mereka seperti orang yang menyalakan sebuah lampu. Cahayanya memantul dalam ribuan cermin tanpa dibagi-bagi.

Dengan pengertian ini, kami sangat mengharapkan rahmat kasih sayang Allah, bahwa jika salah seorang tullabnnur yang jujur berhasil mendapatkan hakikat laitul qadar dan kedudukan tinggi dalam bulan Ramadan, maka seluruh murid yang sebenarnya yang sama-sama jujur, juga mendapatkan keberuntungan yang serupa.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Persoalan pertama:Saya telah menegaskan, kepada salah seorang saudara yang terlihat malas dan kurang semangat dalam membaca zikir selepas salat, bahwa membaca zikir dan tasbih selepas salat tersebut merupakan sunnah nabi yang suci dan wirid kewalian Muhammad. Oleh karena itu, dilihat dari sisi ini, membaca zikir selepas salat sangat penting.

Kemudian saya menjelaskan hakikat di atas sebagai berikut:Sebagaimana “kewalian Muhammad” yang berubah menjadi “Kerasulan” merupakan tingkatan kewalian yang paling tinggi, demikian pula tarekat dan zikir kewalian yang paling agung tersebut mengungguli semua jenis tarekat dan wirid. Setelah itu, tiba-tiba rahasia berikut tersingkap kepada saya:

Sebagaimana setiap pezikir dalam sebuah majelis zikir, atau khataman zikir dalam sebuah masjid, merasakan ikatan spiritual yang mengikatnya dengan orang-orang yang berada di sekitarnya sehingga semuanya dapat merasakan kondisi spiritual tersebut, demikian pula pemilik hati yang terjaga ketika membaca Subhânallâh, Subhânallâh, Subhânallâh selepas salat dapat merasakan dalam jiwa bahwa mereka berada dalam majelis zikir bersama seratus juta orang yang bertasbih dan berzikir. Mereka merasakan seolah-olah berada di dekat Rasulullah yang memimpin majelis zikir yang sangat luas tersebut. Dengan perasaan yang mulia dan luhur itu, orang mukmin membaca secara berulang-ulang, “Subhânallâh, Subhânallâh”.

Kemudian saat mengulang-ulang, “alhamdulillâh, alhamdulillâh” lewat perintah maknawi yang bersumber dari Sang pemimpin yang mulia tersebut, seorang pezikir merenungkan keagungan kalimat alhamdulillâh yang bergema dari hati seratus juta para pezikir dalam majelis yang luas itu. Ia pun ikut-serta bersama mereka dengan mengucap alhamdulillâh... alhamdulillâh... alhamdulillâh.Demikian halnya dengan kalimat Allâhu Akbar...Allâhu Akbar... dan Lâ Ilâha Illallâh... Lâ Ilâha Illallâh...yang diulang-ulang sebanyak 33 kali sekaligus menjadi penutup zikir.Setelah selesai membaca zikir yang mulia dengan makna dan perenungan di atas, seorang pezikir datang menghadap pemimpin majelis zikir, Rasul mulia, dengan membawa sejumlah makna di atas bersama saudara-saudaranya yang berada dalam majelis tersebut seraya mengucap:“Beribu-ribu salawat dan salam semoga tercurah kepadamu, wahai Rasulullah.” Ya, seperti itulah yang saya rasakan, seperti itu pula yang saya pahami. Bahkan, seperti itu yang saya lihat dalam khayalan.

Karena itu, saya menegaskan bahwa, “Membaca tasbih dan zikir selepas salat memiliki nilai yang sangat penting.”

Persoalan kedua:dalam pembahasan tentang ayat

“Orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia…” (QS. Ibrahim ayat [14]: 3), ketika menjelaskan isyarat ayat ketiga puluh satu(*7), disebutkan bahwa salah satu ciri khas zaman sekarang ini adalah bahwa seseorang lebih mengutamakan kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat yang kekal dan ia mengetahuinya. Artinya, telah menjadi prinsip yang berlaku bahwa seseorang lebih memilih serpihan kaca ketimbang berlian yang kekal dan ia mengetahui hal itu.

Saya sering merasa bingung tentang masalah ini, sehingga belakangan ini terdetik dalam hati bahwa sebagaimana terjadi ketika salah satu anggota tubuh manusia merasakan sakit atau terluka, seluruh anggota tubuhnya akan meninggalkan fungsinya masing-masing dan segera menyelamatkan anggota tubuh yang menderita itu, maka demikian pula halnya dengan perangkat manusia yang terletak dalam naluri manusia yang bertugas memperhatikan kehidupan dengan baik, memeliharanya dan memanfaatkannya dengan benar. Ia telah terluka oleh banyak alasan dan mulai menyibukkan diri dengan seluruh perasaan yang menjatuhkannya dan ia berusaha keras untuk melupakan tugas yang sebenarnya.

Sebagaimana ketika suatu pesta yang mewah dan menarik termasuk di dalamnya perbuatan keji dan mabuk-mabukan, orang orang yang berpangkat tinggi dan wanita yang memakai hijab seperti anak-anak kecil dan gelandangan akan tertarik mendatanginya dengan mengabaikan tugas mereka yang sebenarnya.Demikian juga dengan kehidupan manusia pada masa sekarang ini, terutama kehidupan sosial yang telah berubah menjadi kondisi yang menakutkan tetapi menarik, menyakitkan tetapi merangsang, di mana menyebabkan tugas luhur manusia, hati dan akalnya mengikuti nafsu ammârah dan menjadikannya terperosok seperti kupu-kupu dalam api malapetaka tersebut.

Ya, jika orang-orang yang menjaga kehidupan dunia mencapai tingkat darurat, ada keringanan menurut syariat untuk mengutamakan urusan dunia daripada urusan akhirat untuk sementara waktu, tetapi tidak ada keringanan dan tidak ada pengunggulan hanya karena sekadar kebutuhan atau bahaya yang tidak berakibat pada kematian, padahal masa sekarang ini dengan karakteristiknya telah menyuntik urat saraf manusia sehingga mereka meninggalkan urusan agama yang sebetulnya seperti berlian untuk sekadar memenuhi kebutuhan kecil atau urusan dunia yang tidak seberapa.

Ya, pembuluh darah kehidupan manusia pada masa sekarang ini telah terluka parah dan perangkat penjagaan kehidupan juga terluka parah akibat sikap berlebihan dan diangkatnya berkah yang diakibatkan oleh sikap rakus, tidak puas, tidak hemat, akibat bertambahnya kefakiran, banyaknya keperluan hidup, sebagaimana kaum sesat senantiasa mengarahkan perhatian pada kehidupan fana ini sehingga pembuluh darah itu mengarahkan pandangannya sendiri dan mendorong seseorang untuk mengunggulkan kebutuhan hidup yang paling rendah daripada masalah-masalah agama yang mulia.

Yang dapat menghadapi penyakit masa kini yang luar biasa dan menakutkan ini adalah Risalah Nur yang tersebar luas yang mengandung obat-obat al-Qur’an yang sulit untuk dijelaskan seakan-akan ia adalah penangkal. Yang mampu melawan penyakit ini adalah para Tullabunnur yang kuat, tabah, tegar, tulus, jujur dan berani berkorban.Jika masalahnya seperti itu, maka pertama-tama yang harus dilakukan adalah masuk ke dalam lingkaran Risalah Nur, berpegang teguh dengannya secara setia, tabah yang sempurna, tulus yang sung�guh-sungguh dan bersandar sepenuhnya sehingga dapat selamat dari pengaruh penyakit yang luar biasa ini.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Keistimewaan dan kesucian yang dikaitkan oleh al-Hafiz Ali pada gurunya yang berlebihan dari apa yang sebenarnya, semata-mata dianggap sebagai doa yang disampaikan dengan jujur melalui lisannya yang tak berdosa, bukannya pujian terhadap pribadi saya.

Demikian juga perubahan Isparta dan tempat-tempat sekitarnya seperti Sav, seperti yang saya dengar, menjadi madrasah Nur, menyinari para muridnya dan meningkatkannya sedemikian rupa dari hari ke hari, semuanya itu kami anggap sebagai berita yang benar yang menggembirakan bukan untuk kami saja, tetapi untuk Anatolia dan dunia Islam seluruhnya.

Dengan segala kerendahan hati, dari hati yang paling dalam, kami berdoa dan memohon kasih sayang Allah agar paragraf terakhir dari risalahnya itu terwujud, bahwa masa penaklukan maknawi telah dekat, dan kegelapan akan segera sirna sebagaimana yang diberitakan oleh Nabi Muhammad.

Hanya saja tugas kami para Tullabunnur hanyalah melakukan pengabdian dan tidak turut campur dalam urusan Allah serta tidak melakukan pengujian dengan menyandarkan pengabdian kami pada keputusan Ilahi. Selain itu, yang perlu kita perhatikan adalah kualitas, bukan kuantitas.Kemudian Risalah Nur sungguh telah membenarkan berita Nabi Muhammad dan membuktikannya dengan berbagai peristiwa dan hal itu masih terus berlangsung yaitu berbagai penaklukan yang telah berhasil dicapai hingga sekarang kendati kondisi buruk yang terus berlangsung sejak lama, yaitu kondisi yang menyebabkan dekadensi moral, diunggulkannya kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, kendati kekuatan kaum zindiq dan sesat sudah dihancurkan, iman ribuan orang-orang malang telah diselamatkan, kendati telah mengeluarkan ratusan bahkan ribuan murid yang benar-benar yang satu orang dari mereka sebanding dengan ratusan bahkan ribuan orang.

Kekuatan apapun tidak akan mampu mengeluarkan Risalah Nur dari Anatolia, Insya Allah, sehingga pada akhir zaman datang para pemilik sejati wilayah kehidupan yang luas, yaitu al-Mahdi dan murid-muridnya dengan izin Allah. Mereka memperluas wilayah tersebut dan benih-benih pun tersemaikan. Kami akan menyaksikannya ketika kami sudah berada di alam kubur. Kami bersyukur kepada Allah Ta`ala.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia...

Ini adalah pelengkap tulisan dalam dua paragraf terdahulu tentang mengunggulkan kehidupan dunia terhadap kehidupan akhirat.Masa yang luar biasa ini telah menyulitkan kehidupan dunia.

Syarat hidup menjadi banyak dan berat. Kebutuhan yang tidak perlu menjadi perlu disebabkan kebiasaan dan disebabkan mengikuti dan meniru orang lain sehingga tujuan setiap orang selamanya berubah menjadi: kehidupan dan penghidupannya. Dengan begitu, ia mendirikan penghalang di hadapan kehidupan agama, kehidupan abadi dan kehidupan akhirat serta meletakkannya di belakang hingga posisi kedua atau ketiga. Manusia telah mendapatkan tamparan keras akibat kesalahannya ini karena dunianya berubah menjadi neraka.

Padahal, sebagian kaum agamawan melakukan kesalahan besar ini akibat musibah yang menakutkan ini dan mereka tidak menyadarinya dengan sebenarnya.

Misalnya saya melihat sebagian kaum agamawan dan orang-orang yang bertakwa yang mulia telah menjalin hubungan yang erat dengan kami. Salah seorang dari mereka mencintai agama dan suka mengamalkannya dengan harapan berhasil dalam kehidupan dunianya dan dimudahkan dalam semua urusannya, bahkan menyukai tarekat sufi untuk mendapatkan kasyaf dan karamah.

Artinya, kecintaannya terhadap akhirat dengan semua buah tugas agamanya ia jadikan sebagai pendukung kehidupan dunia dan tangga untuk mencapainya, dan ia tidak mengetahui bahwa kebaikan duniawi yang secara otomatis akan diperoleh dengan tercapainya hakikat-hakikat agama, adalah hakikat yang menjadi pusat kebahagiaan dunia dan akhirat. Kedudukannya sekadar sebagai pengunggul dan stimulan saja. Jika hal itu mencapai tingkat alasan dan tujuan dari berbuat kebaikan, ia tidak akan mendapatkan pahalanya, atau paling tidak keihklasannya menjadi rusak dan pahala pun urung diperoleh.

Ada empat puluh ribu saksi yang menyaksikan bahwa cahaya yang disebarkan Risalah Nur dengan neraca dan perbandingannya menyelamatkan orang dari wabah zaman yang menderita penyakit ganas yang sulit disembuhkan dan merupakan penyelamat terbaik dari kezaliman dan kegelapannya. Jika orang yang dekat dengan lingkaran Risalah Nur tidak memasukinya, maka ada kemungkinan besar akan terjerumus dalam kebinasaan.

Ya, berdasarkan isyarat ayat “...lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat ...” (QS. Ibrahim [14]: 3), zaman ini membuat umat Islam dengan sengaja lebih memilih kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat.

Orang-orang yang beriman dipaksa mengikuti sistem pemerintahan yang mulai diberlakukan pada tahun 1334 Rumi.(*8)Ya, frasa ‘daripada kehidupan akhirat’ menurut hitungan al-jifr(*9)dan abjad sama dengan 1333 atau 1334, dan ini sesuai dengan permulaan sistem politik yang mengunggulkan dunia daripada agama. Sistem ini merupakan salah satu syarat perjanjian yang didiktekan musuh-musuh Islam setelah mereka kalah dalam Perang Dunia Pertama. Beberapa tahun kemudian, hasilnya mulai tampak.

Said Nursî

* * *

SURAT PENTING YANG DITULIS USTADZ BADIUZZAMAN KETIKA TERJADI PERANG DUNIA KEDUA

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saya merasakan penderitaan akibat sifat kasih sayang dan rasa kasihan yang berlebihan saat menyaksikan derita, musibah dan kelaparan yang menimpa orang-orang malang akibat musibah kemanusiaan ini, di samping cuaca dingin yang sangat ekstrem dan suasana spiritual yang sangat dingin juga.

Tiba-tiba saya diberitahu bahwa dalam musibah seperti ini dan yang semisalnya terdapat rahmat kasih sayang dan balasan spiritual—bahkan untuk orang-orang kafir sekali pun—yang dapat meringankan beban deritanya. Musibah yang datang dari langit seperti ini dianggap sebagai mati syahid bagi orang-orang yang tidak berdosa.

Kendati hubungan saya terputus dengan keadaan dunia dan peperangan yang terjadi sejak tiga atau empat bulan yang lalu, saya ingat derita anak-anak dan orang-orang lemah di Eropa dan Rusia. Informasi maknawi ini menjelaskan klasifikasi yang menjadi obat penawar bagi simpati yang mendalam ini. Klasifikasi yang dimaksud adalah sebagai berikut:

Orang-orang yang tewas atau terusir akibat musibah yang berasal dari langit itu, atau akibat musibah yang menimpa mereka karena ulah kejahatan orang-orang yang berbuat aniaya terhadap mereka, jika usia mereka di bawah lima belas tahun, maka mereka termasuk mati syahid, apa pun agama mereka. Balasan spiritual yang menanti mereka sebagaimana yang berlaku pada kondisi umat Islam yang menjadikan musibah itu seakan-akan tidak ada.

Sementara orang-orang yang usianya di atas lima belas tahun dan tidak bersalah tetapi menjadi korban perbuatan aniaya, balasan mereka besar juga. Bisa jadi mereka diselamatkan dari siksa neraka Jahanam. Hal itu karena selama agama di akhir zaman setingkat dengan agama di masa fatrah (masa transisi) dan agama nabi Muhammad terhijab tabir ketidakpedulian atau kelalaian, dan selama agama yang benar Nabi Isa n akan berkuasa di akhir zaman dan bahu membahu dengan Islam, maka jelas dapat dikatakan bahwa musibah yang menimpa orang-orang yang ada keterkaitannya dengan Nabi Isa n yang teraniaya itu,

yang tetap dalam kegelapan seperti kegelapannya masa transisi, bagi mereka adalah setara dengan mati syahid, terutama orang-orang tua, orang-orang yang selalu mendapat musibah, orang-orang fakir, orang-orang lemah dan orang-orang yang berada di bawah pemerintahan tirani yang sangat kejam.Sebuah kebenaran juga memberitahu saya bahwa musibah itu merupakan keuntungan berlipat ganda bagi mereka, di samping merupakan penebus dosa yang diakibatkan oleh kebusukan peradaban, kesesatan dan kekafiran filsafat. Maka saya bersyukur kepada Allah Yang Maha Pengasih, rasa syukur yang tidak berbatas, dan saya menemukan pelipur lara atas kepedihan yang menyakitkan itu.

Adapun jika orang-orang yang mengalami musibah ini adalah orang-orang zalim yang membuat malapetaka umat manusia dan setan-setan manusia yang egois yang membuat umat manusia terjerumus dalam api demi memperoleh kepentingan pribadinya, maka mereka berhak mendapatkan keadilan Tuhan yang sempurna.

Jika yang menderita itu orang-orang yang bergegas memberikan pertolongan kepada orang-orang yang teraniaya, berjuang memelihara kedamaian umat manusia, dasar-dasar agama, hal-hal yang suci yang berasal dari langit, dan hak-hak manusia, maka tentunya hasil spiritual dan ukhrawi yang disediakan sebagai balasan dari pengorbanannya itu sangat besar sampai-sampai musibah tersebut menjadi sumber kemuliaan mereka dan menjadikan mereka menyukainya.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saudara-saudaraku yang mulia, setia dan penuh berkah...

Ketika hadiah bercahaya kalian sedang dalam perjalanan menuju Kastamonu tiga hari yang lalu, dalam mimpi saya melihat bahwa sebuah keputusan agung datang kepada kita dari sisi spiritual untuk mengangkat pangkat dan kedudukan kita. Keputusan tersebut diberikan kepada kita dengan segala penghormatan. Setelah saya melihat keputusan luhur ini ternyata ia adalah al-Qur’an yang mulia dan ketika itu makna berikut terlintas dalam hati:Kita para Tullabunnur dan sosok maknawinya akan menerima berita pengangkatan dari alam gaib sebagai bentuk penghormatan terhadap al-Qur’an yang mulia. Penjelasannya adalah penafsiran spirtual al-Qur’an seperti yang kita terima melalui tulisan orangorang yang tidak berdosa(*10)yang merepresentasikan berita tersebut.

Seperti ungkapan yang dijelaskan oleh Feyzi dan Amin satu atau dua jam yang lalu tentang munculnya ungkapan ini sekarang ia juga merupakan ungkapan yang benar dan penting.

Ruh saya telah merasakan terlebih dahulu adanya hadiah cahaya ini yang merupakan sumber kegembiraan dan kebahagiaan, hanya saja tidak memberitahukannya kepada akal, di mana dua hari sebelum hadiah itu sampai, pada pagi hari mimpi itu terjadi yang dijelaskan oleh Feyzi dan Amin, saya merasa gembira dan bahagia yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Keadaan itu berlangsung hingga petang, bahkan hingga setengah hari berikutnya. Saya tersenyum tiga puluh atau empat puluh kali karena gembira dengan alasan yang paling sederhana.

Saya dan Feyzi sangat terkejut dengan hal ini, kami bingung karena bagaimana mungkin orang yang belum pernah tertawa sekali saja dalam tiga puluh hari dapat tertawa dalam sehari tiga puluh kali? Sekarang sudah jelas bahwa kegembiraan dan kebahagiaan itu ternyata bersumber dari hadiah yang belum sampai yaitu tulisan orang-orang yang buta huruf dan anak-anak kecil yang tidak berdosa yang merepresentasikan keputusan spiritual tersebut, yang memberitahukan bahwa Risalah Nur akan menyebarkan cahaya di lembaran generasi mendatang, dalam lembaran nasib dunia Islam, dan dalam lembaran orang-orang beriman pada masa mendatang. Juga memberitahukan bahwa kebaikan orangorang yang tidak berdosa itu yang berupa perbuatan mereka yang tulus dan pengabdian yang murni akan ditulis dan dicatat dalam lembaran amal kita dan memberitahukan pelestarian nasib para Tullabunnur, kelestarian yang berakhir dengan kebahagiaan. Saya telah merasakan ruh dengan sebagian dari seribu bagian dalam kelompok yang besar itu dan hal itu menimbulkan kebahagiaan dalam diri saya.

Ya, perbuatan yang diterima dan doa yang dikabulkan yang diucapkan oleh ratusan orang seperti mereka yang tidak berdosa itu, ketika memasuki lembaran amal orang yang banyak dosa seperti saya, dan lembaran amal seluruh saudara-saudara saya, melahirkan ribuan kegembiraan.

Kami memberi ucapan selamat kepada orang-orang yang tidak berdosa dan orang-orang buta huruf itu serta kepada para gurunya atas kerja keras mereka dan keberanian mereka yang luar biasa dalam kondisi sulit dan masa yang hitam pekat seperti ini. Juga kami memberi ucapan selamat kepada ayah dan ibu mereka, kepada desa, kota dan bangsa mereka. Kami memberi ucapan selamat kepada Anatolia juga. Seandainya saya mampu menulis untuk setiap orang dari orang-orang yang berhak mendapatkan ucapan selamat satu kartu ucapan dan terima kasih khusus buat mereka, niscaya akan saya lakukan. Semoga mereka menerima ucapan selamat saya ini seakan-akan benar-benar tertulis dalam kartu ucapan. Saya akan menulis nama-nama mereka dalam bentuk lingkaran dan memandangnya ketika berdoa. Saya juga akan memasukkan mereka dalam lingkaran Tullabunnur yang istimewa. Mereka akan mendapatkan keuntungan spiritual bersama-sama saya.

Sampaikan salam saya kepada ayah ibu mereka, kepada kaum kerabat dan para guru mereka. Semoga Allah I membuat mereka berbahagia dan membuat anak keturuan mereka berbahagia di dunia dan akhirat. Amin. Amin. Amin.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saudara-saudaraku yang mulia!

Ketika hakikat iman yang seharusnya menjadi tujuan utama dan harus didahulukan dari yang lainnya pada masa sekarang ini, sementara yang lainnya diletakkan dalam tingkat kedua, ketiga atau keempat, ketika pengabdian terhadap hakikat-hakikat ini dengan Risalah Nur yang seharusnya menjadi tugas utama dan harus mendapat perhatian penuh dan tujuan sebenarnya, namun kita perhatikan kondisi dunia sekarang, kehidupan dunia, terutama kehidupan sosial, lebih utamanya lagi kehidupan politik, dan lebih khusus lagi Perang Dunia yang merupakan penampakan kemurkaan Allah sebagai akibat kesesatan dan kebusukan peradaban, telah menggoyahkan pembuluh darah ketidakadilan dan membangkitkan kecenderungannya sehingga sampai ke dalam hati dan membangkitkan keinginan-keinginan fana yang berbahaya di atas kedudukan hakikat-hakikat iman yang berharga semahal berlian.Era pesimis ini telah menyuntikkan hal-hal ini pada pembuluh darah dan hal itu terus berlangsung sampai-sampai orang awam, bahkan sebagian syekh yang lemah, yang berada di luar lingkaran Risalah Nur menjadikan ketentuan hakikat iman dalam posisi kedua atau ketiga karena hubungan mereka dalam kehidupan sosial dan politik ini. Mereka mulai menjalin persahabatan dengan orang-orang yang semisal dalam pemikirannya yang terdiri dari orang-orang munafik, sesuai dengan arus mereka, dan memusuhi orang-orang yang mempertahankan kebenaran dan penduduk daerah yang bertentangan dengan mereka sampai-sampai mereka menjadikan simbol-simbol keagamaan tunduk pada arus yang mereka ikuti.

Menghadapi bahaya yang mengancam pada masa ini, pengabdian Risalah Nur dan kesibukan dengannya telah menjauhkan politik sekarang dari perhatian saya, sehingga saya sejak empat bulan yang lalu tidak memperdulikan Perang Dunia ini.

Para Tullabunnur yang sangat istimewa, orang-orang yang sibuk dengan tugas hakikat iman yang merupakan berlian yang kekal, mereka tidak layak merasa lelah dalam menjalankan tugas sucinya, tidak patut mereka mencemari pikirannya dengan menyaksikan permainan catur orang-orang zalim.

Kebenaran telah memberi kita cahaya dan tugas nurani, dan memberi mereka permainan zalim dan gelap. Adalah salah jika kita menyaksikan permainan gelap dengan mengorbankan tugas kita pada saat mereka tidak memerlukan kita sehingga mereka tidak membantu kita dan tidak menginginkan cahaya suci yang ada di tangan kita. Rasa spiritual dan cahaya iman yang ada dalam lingkaran kita, cukup bagi kita dan dapat memenuhi keperluan kita.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saya merasa kesal terhadap orang-orang yang mengintimidasi kalian dan merencanakan niat busuk terhadap Risalah Nur pada masa sekarang ini, maka saya ingin mendoakan agar mereka dibinasakan, hanya saja saya merasa kasihan terhadap Isparta sehingga saya berdoa dan terus berdoa, “Ya Allah, Isparta adalah salah satu madrasah al-Zahra Risalah Nur. Perbaikilah orang-orang yang ada di dalamnya hingga para pejabatnya yang jahat sekali pun. Jadikanlah mereka mengakhiri hidupnya dengan husnul khatimah”.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saudara-saudaraku yang mulia, setia dan berani berkorban!

Cahaya sudah dibolehkan muncul di sini sebagai ganti dari kondisi statis di Isparta.

Alhamdulillah, ini adalah karunia dari Tuhanku.

Seseorang yang bertugas mengawasi kami datang kepada saya. Ia memiliki kedudukan tinggi dan mempunyai hubungan yang erat dengan urusan kami dan urusan politik. Saya berkata kepadanya:

“Saya tidak memohon sesuatu kepada Anda dan tidak pernah membaca surat kabar sejak delapan belas tahun. Sejak delapan bulan yang lalu sekali pun saya tidak pernah bertanya apa yang terjadi di dunia. Sejak tiga tahun yang lalu saya tidak pernah mendengar radio.

Semua itu saya lakukan untuk menghindari bahaya maknawi terhadap pengabdian suci kami. Hal itu karena berkhidmat pada iman dan hakikat-hakikatnya lebih mulia dari segala sesuatu yang ada di dunia ini, tidak mungkin menjadi pengikut atau alat bagi sesuatu. Pengabdian terhadap al-Qur’an al-Hakim telah melarang kami dengan tegas dari politik pada masa sekarang ini, untuk menghindari orang-orang lalai dan orang-orang sesat, menghindari orang-orang lalai yang menjual agama untuk memperoleh dunia, mengganti berlian yang kekal dengan serpihan kaca, agar mereka tidak menganggap pengabdian terhadap iman ini sebagai alat atau pengikut arus kuat di luar dan agar nilainya tidak jatuh dalam pandangan masyarakat umum.

Wahai para politikus dan orang-orang pemerintahan! Jangan khawatirkan kami. Semestinya yang kalian lakukan adalah memberi kami kemudahan karena pengabdian kami menciptakan rasa aman, penghormatan dan kasih sayang, bekerja untuk merealisasikan rasa aman, disiplin dan menyelamatkan kehidupan sosial dari kekacauan. Oleh karena itu, batu pertama telah diletakkan dan diperkuat untuk tugas kalian yang sebenarnya.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saudara-saudaraku yang mulia, setia dan berani berkorban!

Sepuluh menit yang lalu, dua orang secara berturut-turut datang untuk bergabung dengan lingkaran Risalah Nur.

Keduanya tampak masih muda dan suka membantu, akan tetapi mereka buta huruf, tidak tahu membaca dan menulis. Saya katakan kepada mereka:“Karena lingkaran ini akan memberi balasan besar, ia menuntut kesetiaan yang tidak goyah dan keteguhan yang tidak melemah. Pondasi hal-hal luar biasa dan pengabdian yang diberikan para pahlawan Isparta sehingga mencengangkan dunia tidak lain dari kesetiannya yang kuat dan ketegarannya yang luar biasa. Sumber pertama ketegaran ini adalah kekuatan iman dan keikhlasan yang murni. Sumber keduanya adalah keberanian fitri.”

Saya juga berkata kepada mereka, “Saya telah mengetahui keberanian dan kegagahan kalian. Jika kalian dulu pernah melakukan pengorbanan dalam rangka memperjuangan masalah dunia yang tidak penting, tentu kalian akan memperlihatkan keperkasaan, keberanian dan pengorbanan dalam melakukan pengabdian suci terhadap Risalah Nur dan menjaga kesetiaan kalian karena akan ada balasan di akhirat yang lebih baik dari dunia seisinya. Kedua lelaki itu menerima sepenuhnya.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Karena hakikat iman merupakan masalah yang paling besar di antara tiga masalah besar lainnya dalam dunia manusia dan dunia Islam, yaitu iman, syariat dan kehidupan, para Tullabunnur yang khas dan setia menjauhkan diri dari politik sejauh-jauhnya. Hal itu mereka lakukan untuk menjaga hakikat iman dan hakikat al-Qur’an sehingga tidak dijadikan alat arus dan kekuatan lain atau menjadi pengikutnya. Juga demi menjaga hakikat al-Qur’an yang berharga seperti berlian agar tidak jatuh ke kedudukan serpihan kaca dalam pandangan orang-orang yang menjual agama demi mendapatkan dunia atau menjadikan alat untuknya. Juga sebagai pemeliharaan terhadap pengabdian menyelamatkan iman yang merupakan pengabdian yang sangat suci dan sangat mulia, agar pengabdian ini dapat dijalankan dengan sempurna.

Bahkan kalian mengetahui bahwa saudaramu ini belum pernah berurusan dengan pemerintah sama sekali selama delapan belas tahun kendati sangat memerlukannya. Hal itu agar tidak ada hubungan dengan politik dan kehidupan sosial. Ia juga selama delapan atau sembilan bulan belum pernah sekali pun bertanya tentang hiruk pikuk yang sedang terjadi di planet bumi dan tidak berkeinginan untuk mengetahuinya.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Wahai sasudara-saudaraku!

Kalian mengetahui bahwa dalam cara hidup kami, kami menjauhi sifat egoisme, mencintai diri sendiri secara berlebihan dan mencari kedudukan di balik tabir popularitas dan nama baik sebagaimana kami menjauhi racun yang mematikan dan sama sekali menghindari segala kondisi yang mengindikasikan terhadap hal itu. Kalian pasti sudah pernah melihat dengan mata kepala sendiri sepanjang tujuh tahun, dan dengan penyelidikan yang mendalam selama dua puluh tahun terbukti bahwa saya tidak mengharap penghormatan dan kedudukan kepada diriku. Saya telah memperingatkan kalian tentang masalah ini dengan keras. Saya marah kepada kalian jika kalian memberikan kedudukan di luar batas diri saya, hanya saja saya menerima jika kalian memandang saya sebagai salah seorang murid Risalah Nur yang merupakan salah satu mukjizat spiritual alQur’an al-Hakim pada masa sekarang. Saya berhubungan dengannya dengan hubungan yang tulus dan jujur, alhamdulillah.

Lalu alasan apa sehingga orang-orang pemerintahan, keamanan dan administrasi begitu khawatirnya terhadap orang-orang yang menghindari sifat egoisme, mencintai diri sendiri secara berlebihan, riya yang disembunyikan di balik popularitas dan nama baik, bahkan sikap menghindarinya ini mereka jadikan sebagai prinsip perbuatan mereka? Ini adalah masalah yang dapat dimengerti oleh orang gila sekali pun.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Akhir-akhir ini saya merenungkan pilar-pilar takwa dan amal saleh yang menjadi dua landasan utama dalam pandangan al-Qur’an al-Karim setelah iman. Takwa adalah meninggalkan larangan dan kemaksiatan, sementara amal saleh adalah melaksanakan perintah untuk meraih ragam kebaikan. Pada zaman yang dihiasi kerusakan moral dan spiritual ini serta luapan nafsu ammârah dan terlepasnya syahwat tanpa kendali, maka posisi takwa menjadi pilar yang sangat penting, bahkan ia menjadi inti dari pilar-pilar yang ada. Ia memiliki kedudukan yang sangat mulia, karena bisa menangkal kerusakan dan berbagai dosa besar.

Pasalnya, ada kaidah fikih yang berlaku pada setiap waktu berbunyi:“Mencegah mafsadat lebih utama dibanding memperoleh maslahat.”Karena arus pemikiran yang merusak jiwa dan moral semakin menguat pada masa sekarang ini, maka takwa menjadi pilar paling utama untuk menangkal kerusakan yang menakutkan tersebut. Orang yang melaksanakan kewajiban dan meninggalkan dosa besar, akan selamat dengan izin Allah. Pasalnya, mendapatkan taufik untuk bisa beramal saleh yang tulus di tengah samudera dosa besar adalah sesuatu yang sangat langka. Sementara sebuah amal saleh meski sedikit, namun terhitung banyak dalam kondisi yang sangat berat dan sulit seperti sekarang ini.

Selain itu, terdapat satu bentuk amal saleh yang tersirat dalam takwa itu sendiri. Sebab, meninggalkan yang haram adalah wajib. Sementara menunaikan yang wajib pahalanya lebih besar dibanding melakukan banyak amalan sunnah. Pada masa seperti sekarang di mana dosa dan maksiat menyerang dari berbagai sisi, maka menghindari satu dosa disertai dengan amal yang sedikit sama seperti meninggalkan ratusan dosa dan melaksanakan ratusan kewajiban. Bertitik tolak dari poin penting ini, kita melihat bahwa amal saleh yang mulia dapat diperoleh dari ibadah yang pondasinya adalah menahan diri dan meninggalkan, bukannya mengerjakan. Hal itu dengan sekadar memasang niat dan bermaksud meninggalkan dosa atas nama takwa.

Tugas terpenting yang berada di pundak setiap murid Nur, sebagai khadim al-Qur’an, pada masa sekarang ini adalah menjadikan takwa sebagai landasan seluruh amal, lalu bergerak sesuai dengan landasan ini dalam menghadapi serangan gelombang kerusakan dan dosa yang mengepung. Pasalnya, dalam berbagai aspek kehidupan sosial saat ini manusia menghadapi ratusan dosa pada setiap menit, maka hidup dengan takwa dan dengan niat meninggalkan dosa adalah seperti mengerjakan ratusan amal saleh.Seperti diketahui, dua puluh orang tidak mampu membangun sebuah bangunan dalam dua puluh hari, sementara satu orang saja bisa menghancurkannya dalam satu hari. Oleh karena itu, orang yang melakukan penghancuran seharusnya dihadapi oleh dua puluh orang yang membangun aspek tersebut, namun yang terjadi justru sebaliknya. Ribuan orang yang menghancurkan hanya dihadapi oleh satu pembangun; yaitu Risalah Nur. Maka dari itu, upaya para pelayan al-Qur’an melawan perusakan hebat tersebut merupakan pekerjaan yang luar biasa. Andaikan dua kekuatan kontradiktif itu seimbang, engkau akan melihat pada pembangunan jiwa dan moral berbagai hal yang luar biasa.

Kami akan memberikan satu contoh saja sebagai berikut: Prinsip utama dalam kehidupan sosial adalah yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda.(*11)Namun kita melihat prinsip tersebut telah banyak berubah. Bahkan kita mendengar sejumlah informasi yang sangat memilukan dan berbagai peristiwa yang menyayat hati tentang perlakuan buruk terhadap orang tua. Semua itu terjadi akibat dari rusaknya prinsip yang kokoh ini. Akan tetapi, berkat karunia Allah, Risalah Nur dapat melawan kerusakan yang ada di manapun ia berada. Ia menangkal rusaknya prinsip sosial yang kokoh itu, bahkan berusaha membangunnya.

Sebagaimana Ya‘juj dan Ma‘juj melakukan kerusakan dan kekacauan yang hebat dengan hancurnya tembok Zulqarnain, maka kerusakan yang lebih hebat telah terjadi di dunia ini dengan berbagai kezaliman dan kekufuran menghiasi kehidupan dan akhlak masyarakat sebagai akibat dari goyahnya benteng Qurani yang agung, yaitu syariat Muhammad yang mulia.

Oleh sebab itu, jihad maknawi yang dilakukan oleh para murid Nur dalam menghadapi arus yang menghanyutkan ini, insya Allah, terhitung sebagai jihad yang mendatangkan pahala yang besar. Pasalnya, ia bagian dari jihad para sahabat f yang dengan sedikit amal, tetapi pahalanya sangat besar.

Saudaraku-saudaraku yang mulia! Pada saat–saat sulit seperti sekarang dan dalam menghadapi berbagai peristiwa besar ini, kekuatan terbesar yang kita miliki, sesudah ikhlas, adalah kekuatan “kerja kolektif dalam melakukan amal ukhrawi”. Masing-masing kalian menuliskan dalam lembaran amal saudaranya banyak pahala kebajikan, sebagaimana lewat lisannya ia mengirim bantuan kepada benteng dan parit takwa.

Dan saudara kalian yang fakir ini, Said, yang mendapat serangan hebat dari berbagai penjuru, sangat membutuhkan bantuan kalian pada tiga bulan yang penuh berkah ini dan pada beberapa hari ini. Saya sama sekali tidak meragukan kalian. Kalian layak untuk melakukan upaya ini. Kalian adalah orang-orang tulus yang perhatian dengan kondisi saudara kalian. Saya mengharapkan bantuan maknawi dari kalian dengan sepenuh jiwa dan raga.

Sementara tugasku adalah menyertakan murid–murid Nur dalam doa dan pahala kebajikanku.

Bahkan, mungkin saya berdoa untuk kalian dalam sehari lebih dari seratus kali atas nama murid-murid Nur dengan syarat harus berkomitmen dalam menjaga iman dan kesetiaan. Itulah prinsip kerja kolektif dalam amal-amal ukhrawi.

Said Nursî

* * *

Segala puji bagi Allah, Risalah Nur tersebar dengan sendirinya. Penaklukannya melebar ke seluruh arah. Tipu daya kaum sesat tidak mampu membendungnya, bahkan banyak orang kafir dan ateis membuang senjatanya di hadapan Risalah Nur dan menyerah. Sebagaimana dikatakan oleh al-Hafidz Ali, ketakutan mereka terhadap Risalah Nur sangat besar dan sekarang mereka memeranginya karena merasa takut kepadanya bukannya karena fanatik terhadap kekafiran mereka. Rasa takut ini akan berubah menjadi keuntungan bagi Risalah Nur, dengan izin Allah.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

...

Saya menjelaskan kepada sahabat lama yang mulia ini, kepada

kaum cerdik cendekia dan kepada kalian semua bahwa “Said Baru” berkat karunia al-Qur’an yang penuh mukjizat menyebutkan bukti-bukti hakikat iman dalam tingkatan kebenaran dan logika yang paling tinggi sehingga telah dan selalu akan membungkam para filsuf Eropa dan menjadikan mereka berserah diri kepadanya di samping kepada para ulama kaum Muslimin.

Al-Qur’an yang penuh mukjizat ini mengarahkan pandangan terhadap salah satu mukjizat maknawinya pada masa sekarang ini, yaitu Risalah Nur, pengisyaratan kitab suci tersebut kepadanya sebagai makna isyâri seperti yang diisyaratkan oleh Sayyidina Ali ddan syekh Abdul Qadir al-Jailani r tentang nilai dan pentingnya yang merupakan masalah mukjizat dan tuntutan balagah yang merupakan mukjizat bagi al-Qur’an ini yang merupakan perkataan yang gaib.

Ya, ketika kita sangat memerlukan pelipur lara suci pada masa sulit di penjara Eskişehir, dengan pemberitahuan maknawi ada yang mengatakan “Anda menunjukkan para wali terdahulu sebagai saksi untuk pengabulan Risalah Nur. Padahal al-Qur’an adalah lebih utama dalam masalah ini sesuai dengan ayat yang berbunyi:‘tidak ada sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)’(QS. al-An`am [6]: 59). Apakah al-Qur’an al-Karim menerima Risalah Nur? Dengan pandangan apa ia melihatnya?Saya temukan diri saya menghadapi pertanyaan luar biasa ini,

kemudian saya memohon bantuan dari al-Qur’an, saya merasakan dalam beberapa saat bahwa Risalah Nur adalah satu individu yang berada pada tingkatan makna isyâri dari tingkatan rinci makna tersurat dari tiga puluh tiga ayat dan termasuk cakupan makna isyari itu. Hal ini merupakan sebuah tanda kuat akan keistimewaannya. Saya melihat sebagiannya cukup jelas dan sebagian lain tampak secara menyeluruh sehingga pendapat saya tidak lagi terganggu oleh keraguan dan dugaan.

Saya tulis pendapat yang pasti ini dengan niat memelihara iman orang-orang yang beriman dengan Risalah Nur dan saya memberinya kepada saudara-saudara istimewa saya dengan syarat mereka memelihara rahasianya. Dalam risalah itu kami tidak mengatakan bahwa ini adalah makna ayat al-Qur’an yang eksplisit sehingga para syekh berkata,

“Perlu dipertimbangkan”. Juga kami tidak mengatakan bahwa ini adalah kesempurnaan makna isyâri. Tetapi kami mengatakan bahwa di bawah makna eksplisit terdapat banyak lapisan makna, salah satunya lapisan makna isyâri dan simbolik. Kemudian makna isyâri ini bersifat menyeluruh, memiliki beberapa bagian di setiap zaman dan Risalah Nur merupakan salah satu bagiannya pada zaman sekarang ini. Ketika sebuah tanda bahkan argumentasi diperlihatkan dengan prinsip al-jifri dan matematika yang berlaku di antara ulama sejak dulu dan individu tersebut menjadi sebab perhatian dan menjalankan tugas yang penting, hal itu tidak menodai ayat al-Qur’an atau penjelasannya melainkan mengabdi untuk kemukjizatan dan balagahnya.

Oleh sebab itu, tidak ada hal-hal yang berlawanan dari sisi isyarat gaib.Orang-orang yang tidak bisa mengingkari kesimpulan para pencari hakikat yang bersumber dari isyarat al-Qur’an yang tidak terhitung jumlahnya, tidak mungkin dan tidak mampu mengingkari hal ini.

Adapun orang yang menentang dan merasa heran serta menganggap mustahil munculnya karangan penting dari seorang yang tidak penting seperti saya ini, jika ia merenungkan bahwa salah satu petunjuk keagungan dan kemahakuasaan Allah adalah Dia menciptakan sebatang pohon pinus yang besar seperti gunung dari sebutir benih yang besarnya sebesar sebutir gandum, maka ia akan terpaksa

mengatakan bahwa di antara petunjuk luasnya rahmat kasih sayang Allah adalah munculnya karangan seperti ini pada masa yang sangat memerlukan dari tangan seseorang yang benar-benar lemah dan miskin seperti saya.Dari kehormatan dan posisi Risalah Nur, saya meyakinkan kalian dan meyakinkan orang-orang yang menentang bahwa isyarat, berita dan kode iman dari para wali ini selamanya mendorong saya untuk memanjatkan puji dan syukur, mendorong saya untuk beristigfar memohon ampunan dari segala kekurangan dan aib saya. Risalah Nur tidak memberi nafsu ammârah saya egoisme dan mencintai diri secara berlebihan yang menjadi pembangkit rasa bangga dan sombong walaupun hanya sekejap. Hal ini saya buktikan kepada kalian dengan apa yang dapat kalian saksikan sendiri dari kondisi saya sepanjang dua puluh tahun yang lalu.

Ya, di samping hakikat ini, tidak seorang pun terlepas dari aib, lalai dan lupa. Saya memiliki banyak kekurangan dan cacat yang tidak saya ketahui. Barangkali terkadang pemikiran saya kacau sehingga terjadi banyak kesalahan dalam menyusun risalah.

Jika berbagai metode dan kecenderungan pada masa sekarang ini yang dilakukan oleh jutaan orang yang berani berkorban, yang kuat dan jujur, secara lahir mereka terkalahkan di hadapan kesesatan yang liar, maka orang seperti saya yang tidak memiliki taktik dan semi buta huruf, hidup sendiri di bawah pengawasan yang terus menerus, tinggal di depan kantor polisi, berbagai propaganda yang menggoda dan luar biasa selalu dilancarkan kepadanya dari berbagai sisi, orang-orang dilarang untuk mendekatinya, maka tidak mungkin orang ini adalah pemilik Risalah Nur yang ada sebelum berbagai metode dan kecenderungan itu serta tegar menghadapinya. Ya, karangan ini tidak mungkin berasal dari buah pikirannya dan ia tidak berhak untuk membanggakannya.

Ia semata-mata adalah salah satu mukjizat maknawi al-Qur’an al-Hakim pada masa sekarang ini yang turun sebagai bukti kebaikan kasih sayang Allah, maka orang itu bersama ribuan sahabatnya mengulurkan tangan untuk menerima hadiah al-Qur’an dan hadiah itu berada di tangannya yang tugasnya seperti penerjemah pertama. Bukti bahwa Risalah Nur dengan bagian-bagiannya yang indah bukan merupakan hasil pemikiran, ilmu dan kecerdasannya adalah sebagian isinya ada yang ditulis hanya dalam masa enam jam, ada yang ditulis selama dua jam, ada juga yang ditulis dalam masa satu jam, bahkan ada yang ditulis dalam masa sepuluh menit. Dengan bersumpah, saya tegaskan bahwa jika saya mempunyai daya hafal seperti yang dimiliki “Said Lama”, pekerjaan yang diselesaikan dalam masa sepuluh menit tidak mampu saya selesaikan dengan pemikiran saya dalam masa sepuluh jam. Risalah yang ditulis dalam satu jam, tidak mampu saya selesaikan dalam masa dua hari dengan pemikiran dan persiapan saya. Saya dan filsuf religius yang paling banyak mencari dan meneliti, dalam enam hari tidak dapat menyelesaikan penelitian yang terkandung dalam sebuah risalah yang ditulis dalam masa enam jam, yaitu risalah “kalimat Ketiga Puluh”. Demikian seterusnya.

Dengan demikian, meskipun saya tidak memiliki harta, saya telah menjadi seorang dalal dan pelayan di toko perhiasan yang sangat kaya.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Pada akhir-akhir ini saat berzikir setelah salat subuh, nafsu ammârah saya bergelora mengikuti perasaan “Said Lama”, terpengaruh oleh gibah busuk penuh dengki yang dilancarkan oleh orang tua yang bermukim di Istanbul, nafsu ammârah itu berkata, “Saya dizalimi dan kezaliman ini tidak tertahankan”.

Ia memuntut untuk melakukan balas dendam. Tiba-tiba terlintas dalam hati sanubari saya, “Mudah-mudahan ini merupakan sarana untuk menyebarluaskan Risalah Nur di Istanbul. Selama Anda mengorbankan kehidupan dunia dan akhiratmu untuk Risalah Nur, maka kehormatan dirimu juga hendaknya berkorban demi Risalah Nur”. Kemudian, jika manusia kebanggaan dunia dan sebab diciptakannya semua makhluk, yaitu Nabi Muhammad dituduh oleh sebagian orang sebagai orang gila, maka jangan abaikan kehormatan dirimu hancur karena ia tidak lain dari benda kecil dibandingkan dengan matahari itu. Maka hati saya pun menjadi tenang mendapatkan bisikan ini.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Syekh Ali Ridha, salah seorang ulama besar dan peneliti Istanbul, yang cukup lama menduduki jabatan Mufti yang dikenal dengan Mufti al-Anam, setelah membaca risalah “alAyat al-Kubra”, isyarat-isyarat al-Qur’an yang tercantum dalam risalah “Sinar Pertama”, dan risalah lainnya, ia berkata kepada al-Hafidz Amin, salah seorang Tullabunnur yang istimewa, yang isinya sebagai berikut:

“Saya sangat yakin bahwa Badiuzzaman telah melakukan pengorbanan terbesar kepada Islam pada masa sekarang ini. Ia khususkan dirinya untuk tugas ini pada masa sulit yang luar biasa ini. Karangannya bernilai tinggi dan sangat benar. Risalah Nur merupakan pembaharu agama. Saya memohon kepada Allah Ta`ala agar beliau mendapat taufik. Amin”.

Syekh Ali Ridha juga membela Ustadz Said Nursi atas kritikan sebagian orang terhadap dirinya yang tidak memelihara janggut. Syekh Ali Ridha berpedoman pada kisah “sulthanul ulama”, orang tua Jalaluddin al-Rumi. Ia menambahkan,

“Badiuzzaman pasti memiliki ijtihad tersendiri dalam masalah ini. Orang-orang yang memprotes adalah tidak benar”. Syekh Ali Ridha mendiktekan kepada Syekh Mustafa r sebagai berikut:

“Segala hormat Saya sampaikan salam kepada Badiuzzaman dan saya berdoa kepada Allah agar Anda dapat menyelesaikan karanganmu. Teruslah dalam jihad Anda dan jangan terpengaruh oleh sebagian ulama su’ yang mengkritisi Anda. Karena pepatah mengatakan “Hanya pohon berbuah yang dilempari batu”. Saya memohon kepada Allah Yang Maha Luas Karunia-Nya agar memberi Anda taufik untuk mendapatkan kebaikan dan mengantar Anda mencapai tujuan yang diinginkan segera. Semoga Anda selalu berada dalam pertolongan Allah Yang Maha Benar lagi Maha Kekal.

Mantan Mufti Istanbul

Ali Rıza

* * *

Saudara-saudaraku yang mulia, setia, teliti dan konsisten...

Ada sebuah hakikat yang harus dijelaskan dengan sebuah peringatan yang serius,

yaitu bahwa seorang wali sedikit pun tidak mengetahui persoalan gaib jika mereka tidak diberitahu sebagaimana dijelaskan oleh ayat al-Qur’an yang berbunyi: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah” (QS. al-Naml [27]: 65).Perang yang terjadi antara sebagian para sahabat yang dijamin masuk surga memperlihatkan bahwa seorang wali besar tidak mengetahui kondisi musuhnya yang sebenarnya. Artinya, jika dua orang wali atau dua ahli hakikat saling mengingkari, maka kedudukan mereka tidak jatuh, kecuali jika berupa pelanggaran sempurna terhadap syariat secara lahir atau ijtihad yang benar-benar salah.

Berdasarkan rahasia ini, untuk mengikuti kaidah mulia yang berbunyi “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang” (QS. Ali `Imrân [3]: 134, memelihara iman orang-orang mukmin secara umum agar tidak goyah dengan tidak merusak prasangka baik mereka terhadap para syekh, dan kewajiban melepaskan diri dari emosi yang berbahaya—meskipun benar—ketika merespon protes yang tidak benar terhadap para pembesar Risalah Nur guna menghindari pemanfaatan orangorang kafir dari permusuhan antara dua pihak yang kesemuanya adalah orang-orang yang mencintai kebenaran, di mana salah satu pihak terluka oleh senjata dan protes yang lain, argumentasinya terkalahkan oleh argumentasi pihak lainnya, kemudian orang-orang kafir tersebut bersama-sama menyerang mereka dan mengalahkannya.Berdasarkan keempat dasar ini saya katakan, “Para Tullabunnur hendaknya tidak menghadapi para pemrotes dengan kasar, sembrono dan tidak juga dengan yang sejenis, tetapi hendaknya mereka tetap berpedoman pada masalah dan memberikan jawaban dan penjelasan tentang poin-poin protes, sebagai upaya membela diri dengan damai, tidak lebih.

Pada masa ini, egoisme telah merajalela sehingga setiap orang menolak dengan angkuh untuk melebur egoismenya yang menyerupai sepotong es sepanjang tubuhnya, bahkan melihat dirinya seakan-akan mendapatkan alasan untuk bersikap seperti itu.

Dari sini, pertikaian terjadi sehingga membahayakan ahlul haq dan ini dimanfaatkan oleh kaum sesat. Peristiwa protes yang telah diketahui bersama mengisyaratkan bahwa Risalah Nur dan para muridnya pada masa mendatang akan mendapatkan protes dari sebagian orang yang memiliki kedudukan di masyarakat yang bangga dengan cara hidup dan berpikirnya. Juga protes sebagian pengikuti sufi yang fanatik, sebagian ahli kebenaran dan para da’i yang tidak mampu mematikan nafsu ammârah-nya dengan sempurna dan tidak selamat dari cinta kedudukan sebagai tindakan memelihara larisnya cara berpikir dan cara hidup mereka dan kesetiaan para pengikutnya, bahkan barangkali mereka menentang Risalah Nur dan para muridnya dengan dahsyat. Maka yang harus kita lakukan dalam menghadapi peristiwa-peristiwa seperti ini adalah kita harus tetap tegar, menahan emosi dan tidak terseret pada permusuhan atau mengarahkan bantahan dan sanggahan kepada para pimpinan kelompok pemrotes tersebut.

Saya terpaksa menyebarkan sebuah rahasia yang belum pernah

terdetik sebelumnya untuk disebarkan, yaitu bahwa sosok maknawi Risalah Nur dan sosok maknawi murid-murid istimewanya yang semuanya merupakan representasi sosok maknawi Risalah Nur, mereka memiliki maqam “al-Farid”. Berdasarkan hal itu, maka kedua sosok maknawi tersebut berada di luar lingkaran tindakan wali qutub yang seringkali berada di Hijaz, di samping keduanya di luar tindakan wali qutub negeri mana pun. Keduanya juga tidak harus mengakui keberadaan seorang wali qutub sebagimana halnya dalam masalah keberadaan dua imam pada setiap masa.Sejak dulu saya telah menduga bahwa sosok maknawi Risalah Nur adalah salah satu imam. Kemudian ternyata jelas bagi saya bahwa karena “al-Fardiyyah” telah bergabung dengan “al-Quthbiyyah” dan “al-Ghautsiyyah” dalam ghautsul a’dzam Syekh Abdul Qadir alJailani, maka Risalah Nur yang ada kaitannya dengan para murid ghautsul a’dzam di akhir zaman merupakan penampakan “maqam al-Fardiyyah” itu.

Berdasarkan rahasia besar ini yang sepatutnya disembunyikan, jika seandainya ada protes terhadap Risalah Nur dari wali qutub di Mekkah al-Mukarramah, maka para Tullabunnur tidak boleh merisaukannya, tetapi mereka hendaknya menganggap protes dari wali qutub yang penuh berkah itu sebagai ucapan selamat dan pujian. Mereka juga hendaknya menjelaskan kepada gurunya yang mulia poin-poin protesnya itu dan mencium kedua tangannya agar mereka diterima dengan baik.

Wahai saudara-saudaraku! Zaman yang penuh dengan arus luar biasa ini, dengan berbagai peristiwa besar yang menggoncangkan dunia dan kehidupan manusia memerlukan ketegaran yang tidak terbatas, menahan emosi dan membekali diri dengan jiwa pengorbanan. Ya, sikap orang-orang yang lebih mengutamakan kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat kendati mereka mengetahui dan mengimaninya, sikap mereka yang dilandasi pengetahuan dan kecintaan mengunggulkan serpihan kaca yang mudah pecah daripada berlian yang kekal, sikap mereka yang lebih memilih kesenangan sesaat yang beracun dan meninggalkan kesenangan mendatang yang murni, adalah penyakit yang sangat membahayakan dan musibah yang menghancurkan untuk zaman ini sebagaimana diisyaratkan dari makna isyâri ayat al-Qur’an: “(yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat” (QS. Ibrahim [14]: 3). Akibat musibah ini, terkadang sebagian orang yang benar-benar beriman terjerumus dalam kesalahan nyata seperti setia kepada kaum sesat.

Kita memohon kepada Allah Ta`ala agar Dia menjaga orang-orang yang beriman dan para Tullabunnur dari kejahatan musibah ini. Amin.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Wahai Saudara-saudaraku!

Para Tullabunnur pada masa sekarang, terutama pada detikdetik ini, harus berada dalam tingkat ketabahan, bahu membahu dan kewaspadaan yang tinggi. Para pahlawan Isparta dan sekitarnya telah menjadi contoh dalam ketegarannya yang seperti gunung sehingga mereka patut dijadikan teladan.

Wahai Khusrev! Saya telah menerima surat Anda yang indah dan menyentuh. Kami merasakan kebahagiaan yang sulit untuk dilukiskan begitu mengetahui Anda kembali ke tugasmu. Selamat datang.Jangan pedulikan menganggurnya pena fisikmu selama satu tahun setengah, sebab dengan disebutkannya penamu yang mempunyai karamah itu—yaitu salah satu naskah “al-Mu`jizât al-Ahmadiyah”—telah berkelana sebagai pengganti dirimu di Wilayah Timur secara efektif. Naskah yang Anda tulis akhir-akhir ini telah bekerja di Istanbul sebagai pengganti dirimu dan akan melakukan berbagai penaklukan, dengan izin Allah.Maka pikirkanlah pahala yang besar, pujian dan berkah yang akan diterima buah karyamu itu yang berupa dua naskah mukjizat al-Qur’an yang mulia di tempat-tempat ini khususnya pada bulan suci Ramadan. Juga pikirkanlah doa-doa kasih sayang yang akan memenuhi ruhmu dari seluruh penjuru dunia Islam dengan masuknya kedua naskah ini ke percetakan dalam waktu dekat, insya Allah.Bersyukurlah kepada Allah.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Wahai saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Sebagai hasil dari pengalaman saya yang mendekati angka seribu, saya meyakini dan merasakan sebagian hari bahwa ketika saya mengabdi pada Risalah Nur, saya mendapatkan kelapangan, ketenangan, keberkahan dalam hati, raga, pikiran, dan nafkah saya sesuai dengan tingkat pengabdian. Banyak yang mengakui dengan mengatakan, “Kami juga merasakan hal ini”, sampai-sampai hidup saya betul-betul tercukupi dengan makanan dalam jumlah yang sangat sedikit seperti yang pernah saya tulis tahun lalu. Itu semua adalah keberkahan.

Kemudian diriwayatkan dari al-Imam al-Syafi`i bahwa, “Saya penjamin rezeki orang yang menuntut ilmu dengan tulus”, karena dalam rezeki mereka terdapat kelapangan dan keberkahan.

Selama hakikatnya seperti ini, selama para Tullabunnur pada masa sekarang ini telah memperlihatkan kompetensinya untuk mendapatkan predikat penuntut ilmu yang tulus, maka jelas bahwa solusi yang paling tepat dalam menghadapi paceklik dan kelaparan pada masa akhir-akhir ini adalah bersyukur, qana’ah dan berpegang teguh dengan posisinya sebagai para Tullabunnur, bukan mening�galkan pengabdian terhadapnya dan mengejar urusan dunia dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

...

Risalah Nur dan para muridnya yang mendapatkan pelajaran penuh darinya tidak memperalat Risalah Nur untuk dunia politik, bahkan untuk dunia dan seisinya. Mereka masih membuktikan hal tersebut hingga sekarang. Kami tidak turut campur dalam urusan dunia para ahli dunia dan merupakan kedunguan jika ada yang menduga keberadaan kami merupakan ancaman bagi mereka.

Pertama:Al-Qur’an telah melarang kami untuk berpolitik sebagai upaya untuk memelihara hakikat-hakikat yang berharga seperti berlian agar tidak jatuh ke kedudukan serpihan kaca dalam pandangan para ahli dunia.

Kedua:Rasa kasih sayang, hati nurani dan kebenaran juga melarang kami untuk berpolitik, karena jika kaum munafik dan kaum kafir yang berhak untuk mendapat tamparan adalah dua dari sepuluh, maka anak-anak kecil, orang-orang lemah, orang-orang sakit, orang-orang lanjut usia yang tidak berdosa dan bernasib malang yang memiliki hubungan dengan mereka adalah tujuh atau delapan. Jika bencana terjadi dan musibah menimpa, orang-orang yang tidak berdosa ini akan menjadi korban dan kaum munafik dan kaum kafir tidak terkena musibah tersebut dan kalau pun mereka mengalaminya, maka hanya ringan. Oleh karena itu, kasih sayang, kebenaran dan hakikat yang terkandung dalam Risalah Nur mencegah para muridnya untuk memasuki dunia politik dengan cara merusak keamanan dan peraturan, apalagi merealisasikan hasilnya merupakan masalah yang diragukan.

Ketiga:Negeri, bangsa dan pemerintah ini, bagaimana pun bentuknya, sangat memerlukan Risalah Nur. Orang kafir dan ateis yang paling sesat pun harus mendukung prinsip-prinsipnya yang berpegang pada agama dan kebenaran, bukan memusuhinya atau merasa khawatir dengannya. Jika tidak, mereka akan menjadi para pengkhianat bangsa, negara dan kekuasaan Islam. Hal itu karena harus ada lima dasar penting untuk memelihara kehidupan sosial bagi negara dan bangsa ini dari kekacauan yang merusak.

Pertama: Kasih sayang, Kedua: Sikap menghormati, Ketiga: Rasa aman, Keempat: Mengetahui mana yang halal dan mana yang haram serta menjauhi yang haram, Kelima: Taat pada peraturan dengan menjauhi kecerobohan.

Ketika Risalah Nur membahas urusan kehidupan sosial, ia menjamin lima dasar ini dan meletakkan batu pertama rasa aman dan merealisasikannya. Orang-orang yang merintanginya hendaknya mengetahui bahwa tindakan mereka itu akan menimbulkan kekacauan dan membahayakan bangsa, negara dan keamanan.

Ringkasan pernyataanku di atas, saya sampaikan kepada mata-mata itu(*12)

“Sampaikan kepada orang yang mengutusmu dan katakan kepada mereka bahwa orang ini belum pernah sekali pun berurusan dengan pemerintah selama delapan belas tahun untuk memperoleh kenyamanannya dan sejak dua puluh satu bulan belum pernah menerima berita tentang perang yang menjadikan dunia ini kacau-balau, dan menolak untuk menjalin persahabatan dengan orang-orang penting yang menduduki jabatan-jabatan tinggi dan ia merasa tidak memerlukan mereka, maka mengapa kalian merasa khawatir terhadap orang itu kemudian mengintimidasinya dengan melakukan pengawasan sedemikian rupa karena diduga orang itu akan turut campur dalam urusan dunia kalian? Kepentingan apa yang akan diperoleh dari tindakan seperti itu? Peraturan mana yang membolehkan hal itu? Ketahuilah, orang dungu sekali pun mengetahui bahwa berurusan dengan orang ini adalah perbuatan dungu Ucapan ini saya sampaikan kepada mata-mata,

kemudian ia berdiri dan pergi.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Wahai saudara-saudaraku yang mulia!

Karena saya telah melihat naskah “risalah ikhlas” di antara yang kalian tulis pada kali ini, maka saya merujuk pada risalah-risalah seperti itu dan merasa tidak perlu menambah pelajaran. Hanya saja, saya ingin mengingatkan beberapa hal berikut:

Karena manhaj kita adalah manhaj hakikat iman yang bersandar pada rahasia ikhlas, maka kita harus meninggalkan upaya turut campur dalam kehidupan dunia dan kehidupan sosial jika kita tidak terpaksa melakukannya dan kita dituntut untuk membersihkan diri dari setiap kondisi yang mengajak untuk melakukan persaingan, pertikaian dan keberpihakan.Sangat disayangkan orang-orang yang berilmu dan kaum agamawan yang sekarang diserang ular-ular yang menakutkan, sementara mereka asyik mengkritisi satu sama lain dengan berlindung di balik kesalahan-kesalahan kecil yang menyerupai gigitan nyamuk. Dengan itu mereka lebih mendahulukan pengabdian terhadap ularular itu, kaum kafir dan munafik dalam menyebarkan kerusakan, bahkan membantu mereka hingga membunuh sesama mereka oleh tangan mereka sendiri.

Dalam surat salah seorang saudara kita yang ikhlas disebutkan bahwa seorang ulama sekaligus penceramah yang telah lanjut usia ingin merusak Risalah Nur dengan cara menjelek-jelekkan pribadi saya dengan tuduhan bahwa orang lemah seperti saya memiliki ribuan cacat telah meninggalkan sunah Nabi, padahal saya meninggalkannya karena alasan yang penting.

Pertama: Ketahuilah kalian dan penceramah tua itu hendaknya juga mengetahui bahwa saya tidak lain merupakan pelayan Risalah Nur dan penyeru di tokonya. Risalah Nur adalah tafsir hakiki yang berkaitan dengan al-Qur’an yang mulia yang berhubungan dengan ‘Arsy yang agung, sementara kekurangan dan aib yang ada dalam diri saya tidak mempengaruhi Risalah Nur.

Kedua: Sampaikan salam saya kepada ulama sekaligus penceramah yang terhormat itu bahwa, dengan senang hati, saya menerima protes dan kritikan yang diarahkan pada pribadi saya. Kalian tidak usah mendorong orang itu dan yang semisalnya untuk berdiskusi dan berdebat, bahkan kalau pun sampai ia melakukan sesuatu yang menyakitkan, janganlah kalian membalasnya, walau pun hanya dengan sekadar mendoakan keburukan baginya. Selama orang itu masih memiliki iman, ia tetap saudara kita, bagaimana pun keadaannya, bahkan jika dia memusuhi kita, sesuai dengan manhaj kita, kita tidak mungkin menghadapinya dengan tindakan serupa karena masih ada musuh-musuh yang lebih kuat dan ular-ular yang lebih ganas,

sementara di tangan kita hanya ada cahaya bukan pentungan. Cahaya tidak menyakiti, tetapi memberi perlakuan baik dengan sinarnya. Maka janganlah kalian memicu egoisme, apalagi jika orang itu termasuk orang yang berilmu tetapi egoisme menghinggapinya. Semampu kalian, berpedomanlah dengan prinsip ayat al-Qur’an: “Dan apabila mereka bertemu dengan (orangorang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya” (QS. al-Furqân [25]: 72).

Kemudian, selama orang itu sebelumnya telah masuk jamaah Risalah Nur dan turut serta menulisnya, maka berarti ia berada dalam lingkarannya. Oleh karena itu, maafkanlah orang itu kendati ia memiliki kesalahan berpikir.Zaman yang luar biasa ini menuntut kita—sebagaimana menuntut manhaj kita dan pengabdian suci kita—agar tidak disibukkan dengan orang-orang Islam yang taat beragama seperti mereka yang berafiliasi kepada tarekat, bahkan kita tidak patut disibukkan oleh orang yang masih memiliki iman kendati berasal dari kelompok sesat, bahkan oleh orang Nasrani sekali pun yang mengenal Allah dan beriman kepada akhirat. Hendaknya kita tidak menjadikan titik perbedaan dengan mereka sebagai dasar perdebatan dan pertikaian.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Manhaj Risalah Nur adalah menunaikan tugasnya dengan tidak turut campur dalam urusan Allah `Azza wa Jalla. Tugasnya adalah menyampaikan, sedangkan diterima atau tidaknya itu adalah urusan Allah Ta`ala.

Kemudian, kuantitas itu tidak penting, karena jika Anda di daerah menemukan seorang Atif(*13), maka seakan-akan Anda mendapatkan seratus orang. Jangan pedulikan hal-hal yang bersifat eksternal, tetapi tetaplah waspada.

Zaman ini adalah zaman kelalaian, pengangguran dan kesibukan dengan urusan hidup. Pekerjaan sedikit pada zaman ini merupakan masalah yang sangat penting, maka janganlah berhenti, jangan gagal dan jangan terkalahkan. Raihlah berbagai kemenangan untuk Risalah Nur di semua sisi.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Risalah Nur tidak mungkin dijadikan alat dan tameng untuk urusan dunia. Karena ia adalah ibadah tafakkur yang sangat agung, bukan bertujuan untuk memenuhi tuntutan dunia. Kalau pun dijadikan sarana untuk itu, maka keikhlasan akan menjadi rusak dan bentuk ibadah tafakkur yang agung ini akan berubah.Risalah Nur tidak patut untuk dijadikan tameng dalam menghadapi musuh seperti yang dilakukan anak-anak ketika mereka bertengkar di mana mereka jadikan mushaf al-Qur’an sebagai tameng sehingga pukulan mengenai kitab suci itu, bukan mengenai kepalanya.

Ya betul, tamparan akan mengenai orang-orang yang mengganggu Risalah Nur dan hal ini terbukti dalam ratusan kejadian. Hanya saja, Risalah Nur itu tidak boleh dijadikan perantara untuk tamparan itu dan tidak akan terjadi dengan niat atau dengan sengaja. Sebab, hal itu bertentangan dengan rahasia keikhlasan dan rahasia ibadah. Sementara kami menyerahkan orang yang berbuat anaiaya terhadap kami kepada Allah I karena Dia-lah yang melindungi kami dan Dia-lah yang mempekerjakan kami dalam pengabdian terhadap Risalah Nur.

Ya, banyak hasil yang besar yang ada hubungannya dengan dunia muncul dari Risalah Nur sebagaimana halnya dalam beberapa wirid yang agung, tetapi itu adalah hasil yang diberikan, bukan diminta dan tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan perbuatan. Hasil itu merupakan salah satu manfaat karena jika diminta, maka akan menjadi alasan dan itu akan merusak keikhlasan dan membatalkan salah satu bagian ibadah.

Ya, perlawanan yang berhasil direalisasikan Risalah Nur dalam menghadapi orang-orang yang memusuhinya tidak lain dari rahasia keikhlasan dan karena ia tidak dijadikan alat untuk sesuatu, tidak dijadikan sarana mencapai tujuan selain pengabdian iman, karena ia mengarah langsung ke kebahagiaan abadi, tidak tergiur dengan kasyaf dan karamah yang dianggap penting oleh sebagian pengikut tarekat, di samping karena ia hanya difungsikan untuk menyebarkan cahaya iman, menyelamatkan iman kaum beriman dengan rahasia kenabian yang diwariskan padanya sebagaimana diwariskan kepada para sahabat yang memiliki kewalian agung, semoga Allah meridai mereka semua.

Ya, kedua hasil yang diberikan Risalah Nur pada zaman yang luar biasa ini merupakan hal yang sangat luhur sehingga tidak memerlukan kedudukan lain. Kedua hasil tersebut adalah:

Pertama: ada tanda-tanda kuat bahwa orang-orang yang masuk dalam lingkaran Risalah Nur dengan ikhlas dan qana’ah akan masuk ke dalam kubur dengan iman.

Kedua: Setiap murid yang benar-benar jujur mendapatkan doa, istigfar dan ibadah denga ribuan lidah dan hati, dan baginya—seperti sebagian malaikat—tasbih yang diucapkan empat puluh ribu lisan, dan seratus ribu tangan yang mencari hakikat suci dan luhur seperti hakikat lailatul qadar pada bulan suci Ramadan. Ini tidak lain berkat partisipasi maknawi-ukhrawi yang terdapat dalam lingkaran Risalah Nur tanpa kita memilihnya.

Karena adanya hasil seperti ini, para Tullabunnur lebih mengutamakan pengabdian Risalah Nur daripada mendapatkan maqam kewalian. Mereka tidak mencari kasyaf dan karamah, tidak berusaha memetik buah akhirat di dunia dan tidak turut campur dalam hal yang hanya menjadi urusan Allah dan berada di luar tugas mereka seperti masalah taufik, diterima di kalangan masyarakat, laris, mendapatkan kemenangan, nama baik, popularitas, berbagai perasaan dan perhatian, kendati mereka berhak untuk mendapatkannya. Mereka tidak melakukan pengabdian dengan mengharapkan hal-hal ini. Mereka bekerja dengan ikhlas seraya mengatakan, “Tugas kami adalah meng�abdi. Itu sudah cukup

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Berdasarkan partisipasi maknawi dalam urusan ukhrawi yang terjadi di antara para Tullabunnur, masing-masing dari mereka ketika mengatakan “Selamatkanlah kami”, “Kasihilah kami”, “Ampunilah kami”, dan ungkapan-ungkapan lainnya yang menggunakan pronomina jamak, hendaklah diniatkan untuk seluruh Tullabunnur yang sungguh-sungguh sehingga setiap orang bekerja dan bermunajat atas nama semua orang agar kita semua beruntung mendapatkan lailatul qadar yang dirahasiakan pada bulan suci Ramadan dan nilainya lebih dari delapan puluh tahun.Saudara kalian yang malang ini hanya dapat berbuat sedikit, sementara diharapkan ia dapat melakukan pengabdian di luar kemampuannya sehingga ia mengharapkan bantuan kalian seperti yang kalian lakukan pada bulan Ramadan yang lalu agar tidak mengecewakan prasangka baiknya.

Said Nursî

* * *

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Sekitar tiga hari yang lalu saya mendengar “Kalimat Kedua Puluh Dua” ketika risalah itu sedang dalam proses pengeditan, saya melihat di dalamnya terdapat zikir yang menyeluruh, pemikiran yang luas, tahlil yang banyak, pelajaran iman yang kuat, kehadiran hati yang jauh dari lalai, hikmah suci, ibadah tafakkur yang luhur, dan cahaya yang semisal sehingga saya mengetahui hikmah dari tulisan, pembacaan, atau penyimakan sebagian Tullabunnur dengan niat untuk ibadah. Saya katakan, “Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepada mereka dan saya mendukung mereka dalam upayanya itu”

Said Nursî

* * *

SALAH SATU BUAH KARADAĞ

(*14)

بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Kami kirimkan kepada kalian buah ini sebagai pengganti surat untuk kali ini. Periode antara masa kebebasan hingga sekarang adalah salah satu keuniversalan makna isyâri salah satu ayat al-Qur’an al-Karim. Pada suatu hari, Ketika saya naik ke puncak Karadağ pada tanggal 30 November 1358(*15), tiba-tiba pertanyaan berikut terlintas dalam hati saya: Sejak kapan malapetaka dan kerugian yang menimpa umat manusia, terutama kaum Muslimin? Dan hingga kapan? Tiba tiba al-Qur’an yang merupakan mukjizat yang biasa memecahkan semua masalahku memperlihatkan surah al-`Ashr di hadapanku seraya berkata, “Lihatlah!”.

Saya lihat, dan ayat itu berbunyi ‘Sesung guhnya manusia benar-benar dalam kerugian’, (QS. al-`Ashr [103]: 2), yang ditujukan setiap masa dan arahnya itu lebih ditujukan lagi ke masa kita sekarang ini, menyingkap salah satu kemilau kemukjizatannya karena kedudukannya menurut kode al-Jifri sama dengan seribu tiga ratus dua puluh empat(*16) , bertepatan dengan tanggal kerugian yang dialami umat manusia, musibah langit dan bumi seperti bergantinya sistem kesultanan yang dimulai dengan revolusi kemerdekaan, Perang Balkan dan Italia, kerugian dan perjanjian Perang Dunia Pertama, kekacauan syi’ar Islam, gempa dan kebakaran yang menimpa negeri ini, badai Perang Dunia Kedua di muka bumi, dan dengan itu salah satu kenyataannya digambarkan dalam ayat,

“Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian” pada masa sekarang ini.Huruf ‘ta’ yang terletak di akhir ayat dihitung sebagai huruf ‘ha’, dan jika tanda tasydid dihitung, kedudukan kode al-Jifr-nya memperlihatkan bilangan tahun yang sama dengan tahun ini dan tahun setelahnya, yaitu 1358 dan 1359. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa iman dan amal saleh merupakan solusi satu-satunya untuk memperoleh keselamatan dari kerugiaan ini, terutama kerugian spiritual. Ayat ini dengan pengertian kebalikannya, menjelaskan bahwa satu-satunya sebab kerugian ini adalah kekufuran dan tidak mensyukuri nikmat, yaitu ketiadaan iman, fasik dan durhaka.

Maka kami bersyukur kepada Allah Ta`ala dengan penuh keyakinan tentang keagungan dan kesucian surah al-`Ashr. Kendati surah ini pendek, ia merupakan perbendaharaan hakikat yang sangat luas.

Ya, sebagaimana iman dan amal saleh yang datang dari al-Qur’an merupakan sebab keselamatan dunia Islam dari Perang Dunia Pertama dan Kedua yang mengerikan itu yang merupakan kerugian masa ini, maka sebab terjadinya kelaparan dan paceklik yang dialami kaum fakir miskin adalah karena mereka tidak merasakan rasa lapar yang lezat pada bulan Ramadan, dan sebab kerugian dan kehilangan harta yang menimpa orang-orang kaya adalah karena mereka menimbun harta, bukannya membayar zakat.Keyakinan ribuan ahli hakikat dan cermat dari para Tullabunnur membuktikan dengan banyak indikasi bahwa Risalah Nur telah mengajarkan hakikat kalimat suci ‘Kecuali orang-orang yang beriman’, sebagai pelajaran sebenarnya dalam hati ratusan ribu umat manusia dengan cara yang luar biasa dan itulah yang menjadi sebab mengapa Anatolia tidak berubah menjadi medan perang.

* * *

PARA TULLABUNNUR YANG MASIH ANAK-ANAK DAN TIDAK BERDOSA

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Beberapa naskah yang ditulis sekitar enam puluh Tullabunnur yang masih anak-anak dan tidak berdosa juga dikirimkan kepada kami. Bagian-bagian tersebut kami gabungkan dalam tiga jilid dan kami catat sebagian nama murid-murid yang tidak berdosa itu. Sebagai contoh, saya sebutkan beberapa di antaranya:

Umar 15 tahun, Bakir 9 tahun, Husain 11 tahun, Hafidz Nebi 14 tahun, Mustafa 14 tahun, Mustafa 13 tahun, Ahmad Zaki 13 tahun, Ali 12 tahun, al-Hafidz Ahmad 12 tahun, dan masih banyak lagi anak-anak seusia mereka yang tidak dapat disebutkan di sini khawatir kepanjangan.

Anak-anak kecil yang tidak berdosa ini telah mengirimkan kepada kami sebagian pelajaran yang mereka peroleh dan mereka tulis dari Risalah Nur. Nama mereka kami cantumkan dalam daftar.

Upaya mereka yang sungguh-sungguh pada masa sekarang ini menjelaskan bahwa di dalam Risalah Nur terdapat kebahagiaan spiritual dan cahaya yang menarik yang memberi kelezatan, kebahagiaan dan semangat yang melebihi semua bentuk hiburan dan motivasi yang biasa digunakan untuk mendorong minat baca pada anak-anak agar mereka bersemangat di sekolah. Kondisi ini juga memperkuat bahwa Risalah Nur memiliki akar yang sangat dalam dan dengan izin Allah tidak ada sesuatu pun yang mampu mencabutnya, bahkan ia akan terus berada di tengah-tengah generasi mendatang, insya Allah.

Sebagaimana halnya dengan anak-anak kecil yang tidak berdosa ini, demikian pula dengan para orang tua yang sudah lanjut usia dan buta huruf yang masuk dalam lingkaran Risalah Nur yang menarik perhatian. Mereka mulai menulis setelah usia mereka lebih dari empat atau lima puluh tahun demi Risalah Nur. Sekitar lima puluh bagian karya mereka, kami cantumkan dalam satu atau dua jilid. Karya yang dihasilkan para orang tua yang buta huruf itu—sebagiannya berprofesi sebagai penggembala—juga yang dihasilkan oleh para pemuda yang kekar dan pengutamaan mereka terhadap Risalah Nur dari segala sesuatu dalam kondisi sulit ini, semata-mata memperlihatkan bahwa kebutuhan terhadap Risalah Nur pada masa ini lebih besar daripada kebutuhan terhadap roti, di mana demi Risalah Nur, para petani, para penggembala dan para pemuda suku berjuang lebih keras daripada perjuangan yang mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari dan inilah yang memperkuat kebenaran Risalah Nur.

Saya telah merasakan kesulitan yang sangat besar dalam mengedit tulisan orang-orang tersebut dalam enam jilid terakhir dan sedikit dalam jilid ini. Waktu tidak cukup untuk melakukan pekerjaan ini. Terlintas dalam hati sebuah bisikan,

“Jangan merasa kesal. Lambat dalam membaca tulisan mereka itu memaksa orang-orang yang tergesa-gesa dalam membaca untuk membaca pelan-pelan sehingga akal, hati, ruh, jiwa dan perasaan masing-masing memperoleh bagian dari Risalah Nur yang merupakan nutrisi dan makanan. Jika tidak seperti itu, maka hanya akallah yang memperoleh bagiannya secara parsial, sementara yang lainnya tidak mendapatkan nutrisi.

Risalah Nur tidak patut untuk dibaca seperti halnya membaca buku dan ilmu yang lain karena di dalamnya terdapat ilmu iman yang hakiki yang tidak serupa dengan ilmu pengetahuan lain. Ia adalah makanan pokok dan cahaya bagi perangkat halus manusia, selain akal.

Walhasil, kekurangan yang terdapat dalam tulisan anak-anak yang tidak berdosa dan para orang tua lanjut usia itu mendatangkan dua manfaat:

Pertama: Memaksa untuk membaca dengan cermat dan pelan.

Kedua: Memperhatikan masalah-masalah Risalah Nur yang indah dan mendalam dengan penuh ketakjuban yang menyenangkan dan mempelajari masalah-masalah yang berasal dari lisan yang tak berdosa, tulus, dan lugas.

Said Nursî

* * *

SEBUAH SURAT YANG DIKIRIM KE ISPARTA

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Sebagaimana seseorang, dengan bacaan tasbih, zikir dan tahlil seusai salat, memasuki lingkaran khataman dan halakah pujian “Muhammadiyah”, yang bertasbih dan berzikir, agung dan luas seluas permukaan bumi, memasukinya dengan niat dan khayalan sehingga memasukinya itu menjadi pusat limpahan karunia dengan rahasia tasbih salat, maka kita berbahagia dengan kebahagiaan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, kebahagiaan karena kita berpartisipasi dalam doa dan amal saleh yang keluar dari ribuan lisan anak-anak kecil yang tidak berdosa dan para orang tua yang sudah lanjut usia yang penuh berkah yang memperoleh pelajaran Risalah Nur dalam lingkarannya yang luas dan bekerja dalam lingkaran cahayanya. Kita juga berbahagia karena kita berada di dekat mereka secara gaib, dengan khayalan dan niat. Kita mengamini doa mereka. Merupakan kehidupan surga di dunia, terutama di akhir usia, saya mendapatkan anak-anak spiritual yang hebat-hebat seperti mereka dan ratusan seperti Abdurrahman(*17).

Setelah saya menyaksikan dengan ainul yaqin dan haqqul yaqin salah satu hasil besar pekerjaan satu jam yang dilakukan oleh setiap saudaraku karena saya sakit pada bulan suci Ramadan yang lalu, doa-doa yang khusus ditujukan kepada saya oleh anak-anak kecil yang tidak berdosa, para orang tua yang sudah lanjut usia dan para guru, di mana doa mereka tidak akan ditolak, di dunia ini salah satu hasil pengabdian saya terhadap Risalah Nur telah diperlihatkan, yaitu hasil ukhrawi yang kekal.

اَل۟بَاقٖى هُوَ ال۟بَاقٖى

Saudaramu

Said Nursî

* * *

SEBUAH CATATAN YANG DIKIRIM KE ISPARTA

Yang diminta oleh Risalah Nur dari segenap muridnya yang sungguh-sungguh dan tabah adalah sebuah harga sebagai imbalan keuntungan besar yang diberikan Risalah Nur kepada mereka, dan hasil-hasil penting yaitu kesetiaan yang sempurna dan tulus, serta ketabahan yang kekal dan kokoh. Ya, dua puluh ribu orang terhormat, berdasarkan pada pengalaman mereka, menyaksikan bahwa iman tahkiki yang kuat yang diperoleh di madrasah-madrasah(*18)selama lima belas tahun, dapat diperoleh dari Risalah Nur hanya dalam masa lima belas minggu, bahkan bagi sebagian orang hanya diperlukan waktu selama lima belas hari saja.

Kemudian, Risalah Nur memberi setiap murid yang sungguh-sungguh dan teguh doa-doa makbul yang kemudian diucapkan oleh ribuan murid yang tulus setiap hari dan menjadikan mereka memperoleh seperti pahala amal saleh yang dilakukan oleh ribuan orang saleh, sesuai dengan prinsip “partisipasi dalam amal ukhrawi”. Dengan demikian, setiap murid yang sungguh-sungguh dan tangguh sebanding dengan ribuan orang dilihat dari segi amal perbuatannya. Buktinya adalah tiga berita yang memiliki karamah dari Imam Ali , berita gembira yang memiliki karamah yang memberi motivasi dari al-Ghauth al-A`dzam, dan isyarat kuat dari al-Qur’an al-Mu’jizul Bayân. Semuanya membuktikan secara kuat bahwa murid-murid yang tulus itu akan menjadi orang-orang berbahagia dan penduduk surga, dengan seizin Allah. Kemenangan seperti ini tentunya menuntut adanya pengorbanan yang sebanding.

Selama hakikatnya demikian, maka ahli ilmu, ahli tarekat dan ahli sufi yang dekat dengan lingkaran Risalah Nur hendaknya mereka memasuki arusnya, memperkuatnya dengan ilmu dan tarekat yang mereka miliki, mereka masuk guna memperluasnya, memotivasi para muridnya dan membuang egoisme mereka yang menyerupai potongan es dalam kolam air kehidupan yang berada dalam Risalah Nur, lalu mereka mencairkannya di dalam kolam itu agar mereka memperoleh kemenangan dengan kolam itu secara sempurna. Jika tidak, dengan mengambil jalan lain, mereka akan membahayakan dirinya sendiri sebagaimana yang mereka dapatkan tanpa mereka sadari dengan jalan al-Qur’an yang lurus dan kuat ini, bahkan boleh jadi dengan itu mereka memberikan bantuan kepada kaum zindik tanpa mereka sadari.

Said Nursî

* * *

اَلسَّلَامُ عَلَي۟كُم۟ وَ رَح۟مَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ اَبَدًا دَائِمًا

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Hati-hatilah terhadap arus dunia terutama arus politik, terlebih lagi arus yang ada hubungannya dengan luar, jangan sampai menyebabkan kalian terjerumus dalam jurang perpecahan, kekuatan kalian hilang,

kesatuan kalian tercerai-berai di hadapan kelompok-kelompok sesat yang bersatu menghadapi kalian, atau menyebabkan kalian berpartisipasi dalam kejahatannya secara maknawi dengan jalan memperlihatkan penerimaan kalian terhadap kezalimannya sebagai akibat dari keberpihakan sehingga kalian mengambil prinsip setan “Cinta karena politik dan benci karena politik”, bukan mengambil prinsip ilahi“Cinta karena Allah dan benci karena Allah”,

sehingga kalian memusuhi seorang saudara hakiki yang menyerupai seorang malaikat dan menjadi pengikut setia rekan politik yang menyerupai setan yang terkutuk. Ya, politik pada masa sekarang merusak hati dan mencampakkan ruh yang gelisah ke dalam siksaan. Maka siapa saja yang ingin hatinya selamat dan ruhnya nyaman, hendaklah ia meninggalkan politik.

Ya, setiap orang di permukaan bumi ini sekarang resah, merasakan bagian dari siksa musibah yang turun, merasakannya baik dari sisi hati, ruh, akal atau jasmani, terutama orang-orang sesat dan lalai. Karena kebodohannya tentang rahmat Allah yang bersifat umum, hikmah Allah Yang Maha Suci, dan karena hubungannya dengan manusia sebagai akibat kelembutan yang terdapat dalam jenis manusia seperti mereka, maka mereka merasakan penderitaan yang sangat menakutkan untuk umat manusia pada masa sekarang ini di samping penderitaan mereka sendiri.

Hal itu karena mereka meninggalkan tugas mereka yang sebenarnya dan mengharuskan mereka mengerjakan sesuatu yang tidak ada dasarnya. Mereka mengarahkan pendengarannya(*19)pada seruan politik dan peristiwa yang terjadi di dunia. Mereka turut campur dalam masalah itu yang sebenarnya tidak perlu mereka lakukan sampai-sampai mereka sendiri bingung dan akal mereka terkuras untuk membicarakan hal-hal yang tidak berguna. Maka mereka tidak mendapatkan kasih sayang yang sebenarnya sesuai dengan kaidah utama yang mengatakan“Orang yang rela menerima kemudaratan, tidak perlu dipedulikan”.

Maksudnya, orang-orang yang tidak mengasihani dirinya dengan merelakan musibah atas dirinya, tidak perlu dikasihani. Sebab, mereka sendiri yang mengundang bahaya tanpa alasan.

Mereka melihat dengan kaca mata Risalah Nur sehingga mereka melihat wajah rahmat Allah dalam permukaan segala sesuatu. Dalam segala sesuatu mereka menyaksikan kesempurnaan hikmah dan keindahan keadilan. Mereka menerima semua musibah yang datang dari proses Rububiyah-Ilahiyyah dengan lapang dada. Mereka tidak mendahulukan belas kasihan mereka terhadap rahmat Allah sehingga mereka tidak merasakan siksaan dan penderitaan.

Berdasarkan hakikat ini, orang yang menginginkan kebahagiaan dan kenyamanan dalam kehidupan bukan di akhirat saja, tetapi juga dalam kehidupan dunia, ia dapat memperolehnya dalam pelajaran Risalah Nur tentang iman dan al-Qur’an sebagaimana telah dibuktikan dalam pengalaman yang tidak terhitung jumlahnya.

Said Nursî

* * *

SURAT DARI MUHAMMAD FEYZI DAN AMIN AFANDI yang mengabdi pada Ustadz Badiuzzaman selama delapan Tahun di Kastamonu terkait kehidupan Badiuzzaman di Kastamonu

Assalamu`alaikum wa rahmatullah wa barakatuh,

sebanyak jumlah Risalah Nur yang dibaca dan ditulis.

Yang terhormat guru kami tercinta yang penuh kasih sayang!

Pertama-tama kami ucapkan selamat malam Mi’raj. Kami cium kedua tanganmu, dan mohon maaf atas segala kekurangan kami.

Kami katakan kepada orang yang bertanya tentang keadaan guru kami:

“Al-Qur’an al-Hakim telah menjelaskan hakikat keadaan guru kami dan keadaan Risalah Nur, yaitu dengan isyarat mukjizat dalam tiga puluh tiga ayat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ali d dalam karyanya Jaljalutiyyah dan Arjuzah dan al-Ghauth al-A`adzam Syekh al-Jilani r yang merupakan penjelasan yang menggembirakan.

Maka orang yang ingin mengetahui sosok maknawi guru kami, hendaklah ia dengan cermat mengikuti risalah isyarat al-Qur’an, karamah Imam Ali d, dan karamah Syekh al-Jilani di Risalah Nur dan seluruh bagiannya yang lain.Yang kami ketahui secara pasti tentang guru kami,

Badiuzzaman, beliau adalah seorang ilmuwan yang menjelaskan kepada umat manusia makrifat dan hakikat yang diperolehnya dari perbendaharaan al-Qur’an al-Hakim dengan manifestasi nama “al-Nur” dan “al-Hakim” yang beliau nyatakan sebagai ungkapan rasa syukur terhadap nikmat Allah. Beliau berakhlak dengan akhlak Nabi Muhammad, dan berhasil mengalahkan hawa nafsu sehingga untuk masa ini beliau menjadi satu-satunya model untuk akhlak mulia. Beliau hidup dengan semangat dan penuh pengorbanan. Hidup dengan menjauhkan diri dari dosa sehingga hidupnya nyaman dan mengagumkan. Beliau merupakan contoh dalam masalah tawakal, rasa puas diri dan kaya hati. Pakaian dan hidupnya sangat sederhana. Kemuliaan akhlaknya sulit dicarikan bandingannya. Sedikit pun tidak memiliki keinginan terhadap dunia.

Selama hidupnya, beliau telah menjaga kehormatan ilmiahnya secara sungguh-sungguh sehingga beliau membuat prinsip dalam hidupnya untuk tidak memperlihatkan kemiskinan dirinya kepada siapa pun juga. Guru kami yang memalingkan wajahnya dari dunia kendati dunia berpihak kepadanya, selamanya menjaga kehormatan diri dan kesuciannya dengan menyandarkan urusan hidupnya kepada perhatian Allah Ta`ala sehingga beliau tidak menerima sedekah, zakat atau pun hadiah.

Kami yakin betul bahwa ketika beliau berada di Kastamonu belum pernah menerima hadiah dalam bentuk apa pun, bahkan beliau menjual selimutnya untuk membayar sewa rumahnya.Beliau tidak suka sikap berpura-pura bahkan memerintahkan para muridnya untuk menjauhi sikap itu dan beliau menjelaskan, “Sikap berpura-pura itu buruk dari segi syariah dan hikmah karena suka berpura-pura itu mendorong seseorang untuk melampaui batas kebaikan. Orang yang berpura-pura tidak akan selamat dari sikap suka pamer dan menyombongkan diri dan kedua sikap ini bertentangan dengan keikhlasan”.

Guru kami ini juga sangat tawaduk, menjauhi popularitas dan faktor-faktor yang menyebabkan ia menonjolkan diri dan keistimewaan. Jalan hidup yang ditempuhnya adalah benar-benar murni dan bebas dari hal-hal yang menyempitkan ruh. Beliau bergaul dengan semua lapisan masyarakat, terutama dengan para lansia, anak-anak dan orang-orang miskin dengan kelembutan dan persaudaraan yang tulus. Cahaya ketenangan terpancar dari wajahnya yang penuh berkah yang dihiasi keramahan yang dipadukan dengan kewibawaan. Beliau tampak ramah penuh wibawa.Kendati beliau selalu tersenyum, beliau tetap berwibawa dan agung sesuai dengan situasi dan kondisi. Orang yang hendak berbicara dengan beliau terkadang lidahnya menjadi kaku sehingga ucapannya tidak dapat dimengerti. Kami sering menyaksikan hal seperti ini.

Biasanya beliau sedikit berbicara. Pembicaraannya ringkas, menyeluruh dan tepat mengenai sasaran sesuai dengan prinsip hikmah.

Beliau tidak pernah mencaci seseorang, tidak membolehkan seseorang menggunjing dalam majelisnya, bahkan beliau memang tidak menyukai hal itu. Beliau selalu menutupi aib, kekeliruan dan kesalahan orang lain. Saking berbaik sangkanya terhadap seseorang, ketika beliau mendengar gunjingan tentang seseorang, beliau mengatakan, “Tidak mungkin. Ini pasti dusta. Orang yang terhormat itu tidak akan mengatakan ucapan ini”.

Guru kami ini sangat kuat dan pandai dalam menghadapi nafsu ammârah. Beliau tidak pernah mengikuti tuntutan hawa nafsu. Beliau sedikit makan dan tidur yang nyaris tidak cukup untuk satu orang. Pada malam hari hingga pagi bangun untuk beribadah dengan khusyuk. Beliau tidak pernah meninggalkan kebiasaannya ini, baik pada musim panas maupun pada musim dingin. Beliau tidak pernah meninggalkan salat tahajud, bermunajat dan membaca wirid, sampai-sampai ketika beliau menderita sakit keras pada bulan Ramadan, beliau tetap beribadah dengan sungguh-sungguh, bahkan berpuasa penuh beberapa hari dan hanya makan sedikit. Para tetangga berkata tentang beliau, “Selama delapan tahun kami selalu mendengar munajat guru kalian dengan suaranya yang lirih, berulang setiap kali dari malam hingga pagi. Kami sangat kagum terhadap kesungguhan beliau dalam beribadah yang tidak pernah melemah, baik pada musim panas maupun musim dingin”.

Beliau sangat menjaga kebersihan dan kesucian diri secara syariah. Selalu dalam keadaan berwudhu pada setiap saat. Beliau tidak pernah membiarkan waktu berlalu dengan sia-sia. Beliau selalu sibuk, baik dengan mengarang Risalah Nur, mengoreksi penyalinannya, bersimpuh untuk berdoa dan bermunajat dengan Jausyan, maupun bertafakkur tentang nikmat Allah yang tidak terhingga.Kami pernah pergi bersama beliau ke sebuah gunung yang jauh dari kota, gunung yang diselimuti hutan lebat tempat beliau menghabiskan waktu pada musim panas. Selama dalam perjalanan, beliau tetap mengerjakan tugasnya: mengoreksi Risalah Nur, menyimak pembacaan Risalah Nur yang dilakukan oleh para muridnya yang tak berdaya. Beliau memperbaiki bacaannya yang salah dan terkadang memberikan pelajaran dari salah satu karangan lamanya. Ya, kami tahu bahwa ucapan dan sikapnya yang santun itulah yang membuat orang betah belajar kepada beliau dari pagi hingga petang atau menemaninya dalam perjalanan tanpa dihinggapi rasa bosan. Beliau lebih mengutamakan pengabdian terhadap Risalah Nur daripada yang lainnya.

Beliau berkata, “Sejak dua puluh tahun, saya belum pernah membaca satu buku pun. Yang ada dalam ruangan saya hanya al-Qur’an al-Hakim dan Risalah Nur. Bagiku Risalah Nur sudah cukup”.Ya, orang yang mendapatkan hakikat al-Qur’an secara ilham dengan hatinya yang bercahaya, mendapat karunia yang melimpah dari Allah I, apakah ia masih memerlukan selain al-Qur’an al-Mu’jizul bayân? Tentu tidak. Orang yang masih menyangsikan hal ini hendaknya mencermati kandungan Risalah Nur.

Allah Ta`ala telah melimpahkan nikmat kepada guru kami yang berupa kemampuan yang luar biasa dalam mengarang Risalah Nur. Kemampuan seperti ini tidak diberikan kepada setiap orang. Setiap risalah dari Risalah Nur ini muncul dalam kondisi sulit dan pahit yang tidak terperikan, baik ketika beliau dalam pengasingan, ketika sakit atau ketika tidak terdapat juru tulis. Kandungan risalah ada yang didiktekan di gunung dan ada yang di kebun. Kendati banyak rintangan, Risalah Nur dapat terbit untuk menyelamatkan orang-orang yang beriman.

Segala puji dan rasa syukur hanyalah bagi Allah semata, karena berkat perhatian dan bantuan-Nyalah guru kami ini mendapatkan taufik yang tidak ada taranya, mendapatkan kebaikan-Nya yang tidak terhingga sehingga beliau mampu membaca alam semesta sebagai temuan dan kesaksian yang benar-benar meyakinkan seakan-akan kitab samawi. Beliau membaca bumi seakan-akan surat kabar. Berkat inayah Allah Ta`ala, beliau mampu menghasilkan karya-karya sucinya yang seperti itu.

Ya, sepatutnya masyarakat merasa bangga dengan keberadaan Ustadz Said Nursi ini yang telah menyebarluaskan hakikat melalui Risalah Nur, buah pikiran beliau yang sangat mengagumkan dan mendapat penerimaan serta tersebar di banyak tempat. Risalah Nur dengan bersumberkan pada al-Qur’an yang mengandung ayat-ayat syariah menjelaskan hakikat dan makrifatnya. Dari buku alam semesta yang besar dan menyeluruh yang mencakupi ayat-ayat kauniyah, Risalah Nur menjelaskan fungsi dan makna alam tersebut, yang memotivasi umat manusia untuk naik ke derajat makrifat kepada Allah yang paling tinggi, bahkan berkat karunia Allah, Risalah Nur telah menyegarkan hati yang sudah putus asa dan mati. Yang benar-benar aneh adalah kami dapatkan para penyebar kesengsaraan begitu lancangnya meracuni guru kami ini bahkan melemparnya dengan batu.

Ya, selama “manusia yang paling merasakan penderitaan adalah para nabi, kemudian orang-orang yang semisal”, maka sebagai konsekwensi hikmah ilahiyah, para pewaris nabi pun tidak lepas dari berbagai macam penderitaan, dan guru kami telah merasakan banyak penderitaan, sebagaimana halnya para nabi. Di antaranya, pada suatu hari beliau pergi ke mata air untuk berwudhu dan ini pada awal kedatangannya di Kastamonu. Anak-anak kecil melemparinya dengan batu karena hasutan orang-orang durhaka. Perlakuan buruk tersebut beliau terima dengan sabar, mengikuti petunjuk para nabi yang berpredikat ulul-azmi. Beliau tidak marah atas perbuatan anak-anak itu. Beliau tetap berlapang dada, bahkan beliau mendoakan mereka seraya berkata, “Anak-anak itu telah menjadi sebab dalam mengungkap catatan penting dari surah Yasin”. Berkat doa guru kami itu, keadaan anak-anak itu menjadi berubah.

Setiap kali mereka melihat guru kami dari jauh, mereka segera mendekatinya dan mencium tangannya dan mereka pun kembali didoakan.Banyak sekali hal-hal luar biasa yang terjadi pada guru kami dan yang paling utama adalah Risalah Nur. Ya, kami mengakui bahwa Ustadz Said Nursi lebih sering membaca bisikan hati kami daripada kami sendiri. Beliau sering memperingatkan kami tentang sesuatu yang kami sendiri tidak memperdulikannya sehingga kami merasa bingung dan beberapa saat kemudian kami menghadapi apa yang telah beliau peringatkan itu dengan mata kepala kami sendiri dan kami pun waspada. Ketika kami menemani beliau ke gunung, kadang-kadang beliau tiba-tiba bangun dari tempat duduknya dan meminta kami bersiap kembali ke kota sebelum waktunya. Ketika kami menanyakan alasannya, beliau berkata, “Mereka menunggu kita karena masalah yang ada kaitannya dengan pengabdian Risalah Nur. Ayo, kita cepat pergi”. Kenyataannya, ketika kami kembali ke kota, yang kami dapatkan adalah seorang Tullabunnur telah menunggu kami, atau tetangga memberitahu kami bahwa salah seorang Tullabunnur beberapa kali datang ke rumah, kemudian pergi.

Pada suatu hari, seorang ibu-ibu yang bernama Ibu Asiah, keturunan al-`Asyiq al-Shaghir, murid Maulana Khalid(*20) menyimpan jubah Maulana Khalid selama beberapa tahun. Wanita itu mengirimnya kepada Ustadz Said Nursi melalui Feyzi agar tetap berada padanya selama bulan suci Ramadan, untuk mendapatkan berkahnya. Begitu jubah tersebut sampai ke guru kami, beliau menerimanya sambil memanjatkan puji syukur kepada Allah dan meminta saudara kami, Amin untuk mencucinya. Melihat itu, Feyzi heran dan berkata dalam hati:“Ibu itu mengirim jubah ini melalui saya agar berada bersama Ustadz Said Nursi selama dua puluh hari, lalu mengapa beliau memperlakukannya seperti itu seakan-akan miliknya?”.Kemudian Feyzi menemui wanita pengirim jubah itu setelah beberapa lama dan ia memberi penjelasan yang membuat kebingungan Feyzi menjadi hilang. Wanita itu berkata, “Saya akan berkata kepada Anda tentang jubah itu berdasarkan pengetahuan saya bahwa Ustadz Said Nursi tidak menerima hadiah, maka saya berharap beliau menerima hadiah tersebut dengan cara seperti ini dan jubah itu menjadi amanah baginya. Kami siap berkorban untuk beliau”.

Ya, ada yang mengatakan bahwa Ustadz Said Nursi menerima jubah itu karena beliau menganggapnya sebagai tanda perpindahan tugas pembaru baginya setelah Maulana Khalid dan masalahnya memang sepatutnya seperti itu. Disebutkan dalam hadis sahih yang berbunyi:

“Allah mengutus kepada umat ini pada awal setiap seratus tahun orang yang membarui agamanya”(*21). Kelahiran Maulana Khalid adalah pada tahun seribu seratus sembilan puluh tiga (1193 H), sementara kelahiran guru kami adalah tahun seribu dua ratus sembilan puluh tiga (1293 H) dan dalam al-Risalah al-Ghautsiyyah terdapat penjelasan lengkap tentang hadis ini.

Terkadang guru kami memberitahukan secara halus, “Kalian akan dihukum.... musibah akan menimpa kalian.... kalian akan masuk penjara”. Dengan itu beliau menyingkapkan suatu peristiwa penting sebelum terjadi, mengingatkan kami dan memberitahu kami simbol tentang penjara kami di Denizli, dan benar tidak lama setelah itu, apa yang beliau ucapkan itu menjadi kenyataan.

Sebelum peristiwa penjara Denizli terjadi, beliau juga berkata, “Saudara-saudaraku... saya sejak lama tidak pernah tinggal di tempat mana pun lebih dari delapan tahun dan delapan tahun sudah berlalu sejak kedatangan saya ke tempat ini. Maka, pada tahun ini mungkin saya akan meninggal atau pindah ke tempat lain”. Dengan itu, beliau memberitahukan tentang kepergiaannya dari Kastamonu.

Beliau juga pernah berkata, “Saudara-saudaraku... saya merasakan adanya serangan terhadap Risalah Nur dari berbagai arah, maka waspadalah kalian”. Tidak lama setelah itu, benarlah, seorang syekh di Istanbul tanpa pengetahuan yang memadai memprotes sebuah masalah dalam Risalah Nur. Almarhum Syekh Ali Ridha, mantan ketua majelis fatwa memberikan jawaban dan menjelaskan kebenaran yang terdapat dalam Risalah Nur.

...

Pernah terjadi, seekor binatang terkaget dan melukai betis Ustadz Said Nursi. Selama beberapa bulan beliau menderita, tetapi tidak menjadi penghalang untuk tetap menjalankan tugas ubudiyahnya dan melakukan pengabdian suci terhadap Risalah Nur. Kemudian peristiwa penjara Denizli terjadi. Ketika itu beliau tengah sakit keras akibat diracun, hanya saja individu yang terbilang satu-satunya seperti ini, kendati kondisinya sedemikian rupa, beliau tetap tabah, sabar, tidak berputus asa dan semangatnya tetap kuat dalam menjalankan tugas ubudiyahnya dan melakukan pengabdian terhadap iman dan al-Qur’an dengan semangat yang tidak pernah padam.

Sebelum kami ditahan, beliau sering mengatakan, “Waspadalah terhadap para ahli dunia, jangan sampai mereka bersentuhan dengan Risalah Nur, dan jika hal itu terjadi maka akan menyebabkan terjadinya malapetaka”. Kenyataannya adalah seperti yang diketahui semua orang bahwa begitu para Tullabunnur ditangkap, secara berturut-turut berbagai malapetaka seperti gempa dan penyakit timbul di setiap pelosok. Gempa di Kastamonu berlangsung hingga kebenaran dan manfaat Risalah Nur diakui, sampai-sampai benteng Kastamonu yang menjulang tinggi yang dijadikan sebagai madrasah Risalah Nur seakan berkabung terhadap Risalah Nur dan pengarangnya, batu-batunya yang besar bergelimpangan ke tanah, membenarkan apa yang diberitahukan guru kami.

Ustadz Said Nursi pernah berkata kepada kami, sebelum kami ditangkap, “Ada rencana untuk melakukan penyerangan besar terhadap Risalah Nur, akan tetapi kalian tidak perlu cemas karena Allah akan melindungi kita. Hari ini saya membuka hizb al-Qur’an dan tiba-tiba muncul di hadapan saya ayat yang berbunyi: ژ” Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami...” (QS. al-Thûr [52]: 48), dan seakan-akan ayat itu berkata kepada saya, “Lihatlah saya”. Ketika saya memandangnya, saya lihat ayat itu memberi berita gembira dan menunjukkan musibah penjara kita, kemudian keselamatan kita, isyarat yang berasal dari antara lapisan maknanya yang banyak, terutama makna isyâri dan makna al-Jifri”.Dengan demikian, tanpa ragu Ustadz Said Nursi telah memperlihatkan permata yang beliau ambil dari perbendaharaan ayat ini sebelum pengadilan Denizli mengeluarkan keputusan bebas selama sembilan bulan, dan mengungkapkan catatan mukjizat penting ayat tersebut, juga membuat kami, segenap muridnya yang lemah dan memerlukan kekuatan spiritual menjadi senang. Dalam pembelaan Denizli dan lampirannya terdapat penjelasan lengkap tentang ayat ini.

Di samping itu, guru kami ini termasuk manusia yang tidak ada duanya pada zamannya, berani menyampaikan kebenaran dengan penuh keberanian dan kekuatan, keberaniannya berpedoman pada petunjuk ulul-azmi sehingga tidak gentar menyampaikan kebenaran dan tidak khawatir cercaan orang. Pada suatu ketika, beliau melihat bekas kuburan yang terdapat tulisan basmalah yang hendak dipakai untuk aliran pembuangan kotoran. Beliau berbicara dengan sangat keras dan pedas yang tidak akan dilakukan oleh siapa pun, dan tanpa memperdulikan kehadiran para pejabat yang dianggap penting oleh para pemuja dunia. Beliau pasang badan, menghalangi pekerjaan tersebut.

Di negara kami, setiap kali ada yang lancang mengganggu dan menghalang-halangi Risalah Nur, selalu berakibat buruk. Di antara mereka ada yang kembali ke jalan yang benar dan meminta maaf dan di antara mereka ada yang mendapatkan balasannya. Sebagian peristiwa ini disebutkan dalam buku al-Malâhiq.

Walhasil, orang-orang lemah seperti kami tidak akan mampu mendefinisikan atau mendeskripsikan sifat-sifat kesempurnaan guru kami yang penuh berkah ini. Allah Yang Maha Kuasa telah menciptakan manusia seperti guru kami satu-satunya. Beliau menjadi cerminan taufik Ilahi. Berbahagialah orang-orang yang belajar dari Risalah Nur. Berbahagialah orang yang bersedia menjadikan dirinya tempat pengabdian al-Qur’an dan iman dengan Risalah Nur, pengabdian yang dilakukan guru kami, yang beliau anjurkan dan beliau wasiatkan sebagai sesuatu yang sangat penting.Selama keberadaan beliau di kota kami, tanpa henti beliau telah menyebarluaskan hakikat.

Hidupnya yang penuh berkah, beliau jalani demi kebahagiaan kami. Kami memohon kepada Allah, Tuhan Yang Maha Pemurah, kami bersimpuh di hahadapan-Nya, memohon dari lubuk hati kami yang paling dalam, agar Dia mengumpulkan kami pada hari dikumpulkannya manusia bersama guru kami, Badiuzzaman, yang menyingkap kebenaran hadis

“Orang yang berbahagia adalah orang yang dibahagiakan dalam perut ibunya”(*22), sehingga beliau pada hari penuh ketakutan itu, dengan tangannya yang penuh berkah membawa kami menghadap Rasulullah, insya Allah.

Tullabunnur

Feyzi dan Amin

* * *

PERNYATAAN TENTANG RISALAH AL-AYAT AL-KUBRA

Ketika Ustadz Said Nursi berada di Kastamonu, beliau menulis risalah agung yang diberi nama “al-Ayat al-Kubra”, yaitu risalah yang membuktikan keberadaan dan keesaan Allah, dijelaskan melalui keberadaan alam semesta.

Beliau mendeskripsikan risalah ini sebagai hakikat al-Qur’an dan benteng besar untuk menghalangi upaya penghancuran yang luar biasa pada masa ini.

Risalah tersebut ditulis secara tergesa-gesa seperti yang terlintas dalam hatinya. Beliau menulis drafnya tanpa perbaikan. Tentang itu, beliau mengatakan, “Ketika penulisan risalah ini, saya merasa seakan-akan risalah itu ditulis bukan karena kehendak dan pilihan saya. Saya tidak melihat adanya yang perlu diperbaiki atau disusun dengan pemikiran saya”.

Pertama kali risalah ini dicetak secara rahasia dan ini mengakibatkan Ustadz Said Nursi dan para muridnya masuk penjara. Pengadilan pidana di Denizli dan Ankara melakukan pemeriksaan dan penyelidikan menyeluruh terhadap seluruh karangan Ustadz Said Nursi selama dua tahun yang setelah itu secara sepakat dikeluarkan keputusan tentang tidak bersalahnya Risalah Nur dan semua risalah yang disita dikembalikan.

Imam Ali d telah melihat risalah ini dengan pandangannyayang menembus gaib. Beliau mengisyaratkan urgensi risalah ini di Qasidah Jaljalutiyyah dan berdoa dengan ungkapan: وَ بِال۟اٰيَتِ ال۟كُب۟رٰى اَمِنّٖى مِنَ ال۟فَجَت۟

Keselamatan Ustadz Said Nursi dan muridnya dari penjara setelah risalah ini diselidiki membuktikan diterimanya doa Imam Ali tersebut.

Ustadz Said Nursi menganggap pencantuman hakikat alQur’an di sini sangat sesuai dengan anggapan sebagai benteng kuat untuk menghalangi arus kesesatan dan menghadapi berbagai proyek destruktifnya untuk menghancurkan dan merusak kaum muslimin.

* * *

AL-AYAT AL-KUBRA

* * *

RISALAH MUNAJAT Ustadz Said Nursi mengarang Risalah Munajat ini—yaitu Sinar Ketiga—bersama risalah “al-Ayat al-Kubra”, dan beberapa risalah lain ketika beliau sedang berada di Kastamonu. Risalah tersebut merupakan contoh nyata yang menjelaskan bagaimana kehidupan beliau berlangsung di sana, masalah-masalah apa saja yang menjadi pusat perhatiannya, dan masalah-masalah apa yang menjadi pusat pengabdiannya. Ya, Ustadz Said Nursi—sebagaimana disaksikan hakikat yang terkandung dalam risalah ini—telah berusaha keras guna memperkuat iman yang merupakan pengabdian yang paling harus dilakukan bagi bangsa dan agama.

* * *

MUKADIMAH

Sebagaimana argumentasi iman yang kedelapan ini menunjukkan keniscayaan wujud-Nya dan keesaan-Nya Yang Maha Suci, ia juga menunjukkan pengetahuan Rububiyyah-Nya dan keagungan kekuasaan-Nya dengan dalil-dalil yang kuat. Juga menunjukkan pengetahuan kekuasaan-Nya, universalitas rahmat-Nya dan penetapan keduanya. Juga membuktikan hikmah-Nya dan universalitas ilmuNya bagi seluruh bagian alam.

Walhasil, argumentasi iman yang kedelapan ini memiliki delapan mukadimah. Dalam setiap mukadimah terdapat delapan hasil yang membuktikan hasil-hasil ini dengan dalil-dalilnya pada tempatnya. Oleh karena itu, ia memiliki keistimewaan yang tinggi.

Said Nursî

* * *

MUNAJAT

Catatan Kaki

  1. *Kota kecil yang menjorok ke arah Laut Hitam, secara administrasi berada di wilayah Kastamonu—Tim Penerjemah. ↑
  2. *Al-Imam al-`Ajluni dalam Kasyf al-Khafa (2/369), mengatakan, “Bertafakur satu jam lebih baik daripada ibadah satu tahun”. Dalam redaksi lain, “enam puluh tahun”. Al Fakihani mengatakannya dengan redaksi, “Berpikir satu jam...”, dan ia mengatakan, “Ia perkataan al-Sarri al-Saqathi rahimahullaah. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Abu alDarda dengan redaksi, “Berpikir satu jam lebih baik daripada ibadah enam puluh tahun” —Tim Penerjemah. ↑
  3. *Dalam tahun tiga puluhan abad kedua puluh, Turki dilanda paceklik yang luar biasa sehingga harga sembako membumbung tinggi, termasuk gula yang nyaris hilang dari pasar—Tim Penerjemah. ↑
  4. *Yaitu ayat-ayat al-Qur’an mulai dari firman-Nya: “Demi langit yang mempunyai gugusan bintang... sampai firman-Nya “...dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar”. Surah al-Buruj ayat 1-10, dan telah dijelaskan dalam kandungan risalah-risalah yang panjang, tetapi ketika dikutip, dihapus—Tim Penerjemah. ↑
  5. *Di sini Ustadz Said Nursi berbicara tentang dua asas penting yang dijadikan sandaran oleh “Said Lama” dalam karangannya—Tim Penerjemah. ↑
  6. *Teks ini dikutip dari sebuah risalah yang ditujukan Ustadz Said Nursi kepada muridnya yang bernama Muhammad Feyzi yang dikenalnya di Kastamonu—Tim Penerjemah. ↑
  7. *Maksudnya yang disebutkan dalam “Sinar Pertama” dari isyarat ayat-ayat alQuran terhadap Risalah Nur dan jumlah ayat tersebut adalah tiga puluh tiga—Tim Penerjemah. ↑
  8. *Kalender Rumi adalah sistem penanggalan hijriyah yang dihitung berdasarkan perederan matahari. Penanggalan ini mulai diberlakukan di Turki Usmani pada tahun 1840 M. ↑
  9. *Masalah hitungan al-Jifr mengacu pada sistem pengkodean lama yang mengkodekan angka dengan huruf. Setiap huruf mempunyai banyak nilai tertentu, di mana melalui nomor apa pun dapat diungkapkan sebuah kalimat sempurna yang benar. Tindakan ini disebut “at-Tajfir” atau “at-Tasyfir”: pengkodean dalam bahasa sekarang. Pada masa Islam merupakan cara yang populer dan diterapkan terutama pada masa terakhir. Dengan cara ini banyak peristiwa penting, seperti tanggal wafatnya para ulama, peristiwa-peristiwa pemisah, tanggal didirikannya tempat-tempat penting dikodekan. Pembaca menemukan simpulan Ustadz Said Nursi dari sebagian ayat al-Qur’an tentang masalah tertentu sesuai dengan cara ini dan ia bukan orang yang pertama melakukan hal ini, hanya saja ia menggunakannya untuk lebih mengakrabkan dan sebagai penerapan sebagian kedudukan “Dalâlat al-Isyârah” yang tidak terbatas pada kedudukan satu makna—Tim Penerjemah. ↑
  10. *Yang dimaksud adalah anak-anak kecil yang belum memasuki usia akil balig. Mereka turut serta dalam menulis dan menyalin Rasalah Nur—Tim Penerjemah. ↑
  11. *Isyarat kepada hadis yang diriwayatkan al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufraddan at-Tirmidzi dalam Sunannya nomor 1920, secara marfu’: “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak mengasihi orang muda umat kami dan tidak mengetahui hak orang tua umat kami”. At-Tirmizi berkata, “Hasan, sahih”—Tim Penerjemah. ↑
  12. *Yang dimaksud adalah salah seorang informan yang menyampaikan berita dan kondisi Ustadz Said Nursi kepada instansi keamanan—Tim Penerjemah. ↑
  13. *Yang dimaksud adalah Atif Ural, salah seorang murid Risalah Nur yang dijadikan contoh dalam berkemauan keras dan ketulusan—Tim Penerjemah. ↑
  14. *Dalam bahasa Turki, Karadağ berarti gunung hitam dan yang dimaksud di sini adalah sebuah gunung yang terletak dekat Kastamonu—Tim Penerjemah ↑
  15. *Tanggal yang disebutkan di sini mengikuti penanggalan Rumi dan bertepatan dengan akhir tahun 1942 M—Tim Penerjemah. ↑
  16. *Tahun 1324 Rumi bertepatan dengan tahun 1908 M—Tim Penerjemah. ↑
  17. *Yang dimaksud adalah keponakannya. Dulu ia menjadi murid Ustadz Said Nursi sekaligus sebagai pembantu dan anak spiritualnya. Meninggal dalam usia muda di Ankara pada tahun 1928 M dan dikebumikan di dekat kota Ankara—Tim Penerjemah. ↑
  18. *Yang dimaksud adalah sekolah agama. ↑
  19. *Isyarat pada radio yang ketika itu memang satu-satunya media untuk mengikuti berita dunia—Tim Penerjemah. ↑
  20. *Yaitu Abu al-Baha’ Dhiya al-Din Khalid bin Ahmad bin al-Husain al-Syahrazuri, yang dikenal dengan Maulana Khalid al-Baghdadi. Dilahirkan di al-Sulaimaniyyah, Iraq tahun 1193 H, seorang pembaru yang mengungguli ulama zamannya dalam bidang ilmu dan takwa. Menganut tarekat Naqsyabandiyah dari Syekh Abdullah al-Dahlawi dan merupakan salah seorang pembesar imamnya. Meninggal di Damaskus tahun 1242 H dan dikebumikan di kota tersebut—Tim Penerjemah. ↑
  21. *Dilansir oleh Abu Dawud dalam Sunannya nomor 4293—Tim Penerjemah. ↑
  22. *Dikeluarkan oleh al-Thabrani dalam al-Mu`jam al-Awsath, nomor 8465, sanadnya sahih—Tim Penerjemah. ↑
⬇ Gulir Otomatis
📝 Catatan Saya 0 catatan

Pilih teks lalu tekan tombol "Catatan" untuk menambahkan catatan.

Pengaturan
Tema
Ukuran Font
Ketebalan Font
Ukuran Font Arab
Spasi Baris

Mode Fokus
Sembunyikan sidebar
Gulir Otomatis
Halaman bergulir sendiri
Kecepatan