(Kemukjizatan al-Qur’an)
Tampaknya berlebihan kalau kita mencari dalil,
sementara di tangan ini terdapat sebuah mukjizat abadi seperti al-Quran.
Sulitkah kiranya bagiku membuat para pengingkar itu terdiam,
sementara di tangan ini terdapat argumen hakikat berupa al-Qur’an?
Perhatian:
Di awal penulisan Risalah ini kami bertekad menulis “lima obor”, akan tetapi di akhir obor pertama—dua bulan sebelum pengesahan huruf baru (aksara latin)—kami terpaksa mempercepat penulisannya untuk dicetak dengan huruf lama (aksara arab) sehingga dalam beberapa hari, kami menulis sebanyak dua puluh atau tiga puluh halaman hanya dalam hitungan dua atau tiga jam. Oleh karenanya, kami mencukupkan dengan tiga obor. Semuanya ditulis secara global dan ringkas. Sementara dua obor yang tersisa, kami tinggalkan untuk waktu sekarang. Aku berharap para pembaca budiman bisa memaklumi serta memaafkan berbagai kekurangan, cacat, dan kesalahan yang berasal dari diriku.
Sebagian besar ayat yang dibahas dalam risalah mukjizat al- Qur’an ini adalah ayat-ayat yang menjadi bahan kritikan kaum ateis, yang sulit diterima ilmuwan modern, atau yang diragukan oleh setan dari kalangan jin dan manusia.
Risalah ini membahas ayat-ayat tersebut serta menjelaskan berbagai hakikat dan poin-poin penting darinya dalam bentuk terbaik dimana apa yang dianggap oleh kaum ateis dan ilmuwan sebagai titik kelemahan dan cacat dapat dibantah oleh risalah ini dengan sejumlah kaidah ilmiah bahwa semua itu justru merupakan kilau kemukjizatan dan sumber kesempurnaan balagah (retorika) al-Qur’an.Adapun keragu-raguan yang ada telah dijawab dengan jawaban yang memadai tanpa menyebutkan keraguan itu sendiri agar tidak mengotori pikiran.
Misalnya yang terdapat dalam ayat al-Qur’an berikut:“Matahari beredar...” (QS. Yâsîn [36]: 38).“Dan gunung-gunung yang menjadi pasak.” (QS. an-Naba’ [78]: 7). Kecuali syubhat di seputar beberapa ayat yang kami sebutkan pada kedudukan pertama dari “Kalimat Kedua Puluh”.
Kemudian, meskipun risalah Mukjizat al-Qur’an ini ditulis dengan sangat singkat dan cepat, namun ia menguraikan sisi balagah dan ilmu bahasa Arab secara apik serta dengan gaya bahasa yang ilmiah, kuat dan mendalam sehingga membuat takjub para ulama. Lalu, walaupun tidak setiap orang mampu menguasai semua bahasannya dan bisa menyerap maknanya secara utuh, namun masing-masing memiliki bagian yang penting dalam ‘taman yang rimbun’ itu. Selanjutnya, sekalipun risalah ini ditulis dalam kondisi yang tidak stabil dan dengan terburu-buru serta tidak bisa memberikan pemahaman secara utuh, namun ia menjelaskan hakikat banyak persoalan penting dari sudut pandang ilmu pengetahuan.
Said Nursî
“Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (QS. al-Isrâ [17]: 88).
Kami telah menunjukkan sekitar 40 aspek dari berbagai aspek kemukjizatan al-Qur’an yang tak terhingga di mana ia merupakan sumber kemukjizatan dan menjadi mukjizat Rasul x yang terbesar. Semua itu tertuang dalam risalah berbahasa Arab, dalam Risalah Nur yang berbahasa Arab, dalam tafsirku yang berjudul Isyârât al-I’Jâz Fî Mazhân al- Îjâz, serta dalam “Kalimat Kedua Puluh Empat” sebelumnya.Dalam risalah ini, kami akan menunjukkan lima dari sekian banyak aspek tersebut lalu kami beri penjelasan yang agak rinci. Sementara aspek lainnya yang masih tersisa, kami masukkan di dalamnya secara global.Pada bagian pendahuluan, kami akan menjelaskan definisi dan substansi al-Qur’an al-Karim.
PENDAHULUAN
(Tiga Bagian)
Bagian Pertama
Apa itu al-Qur’an? Apa definisi al-Qur’an?
Pada “Kalimat Kesembilan Belas” dan pada sejumlah risalah lain telah dijelaskan bahwa
al-Qur’an
merupakan Terjemahan azali bagi kitab alam semesta;
Tafsiran abadi bagi ayat-ayat kauniyah;
Penafsir kitab alam gaib dan alam indrawi;
Penyingkap perbendaharaan nama-nama ilahi yang tersembunyi dalam lembaran langit dan bumi;
Kunci bagi hakikat yang terselubung dalam rangkaian peristiwa;
Lisan alam gaib di alam indrawi;
serta Khazanah kalam azali dan perhatian abadi Tuhan yang bersumber dari alam gaib yang tersembunyi di balik tirai alam indrawi ini.
Selain itu, al-Qur’an merupakan mentari dan pilar alam maknawi Islam.
Ia juga merupakan peta suci bagi alam ukhrawi, ucapan dan penafsiran yang jelas,
serta argumen dan penerjemah yang tegas bagi Dzat, sifat, nama, dan kondisi Allah.
Ia merupakan pendidik alam manusia,
serta laksana air dan cahaya bagi Islam yang merupakan kemanusiaan yang paling agung.
Al-Qur’an merupakan hikmah hakiki bagi manusia.
Al-Qur’an adalah pembimbing yang mengantar umat manusia menuju kebahagiaan.
Lalu bagi manusia, selain sebagai kitab syariah, al-Qur’an juga kitab hikmah. Selain sebagai kitab doa dan ubudiyah, al-Qur’an juga kitab perintah dan dakwah. Selain sebagai kitab zikir, al-Qur’an juga kitab pikir. Ia adalah kitab suci satu-satunya yang menghimpun seluruh kitab yang mewujudkan semua kebutuhan maknawi manusia.
Sehingga ia memperlihatkan kepada setiap aliran dari kelompok yang berbeda-beda yang terdiri dari para wali, kalangan shiddiqin, kaum arif, serta para ulama ahli peneliti sebuah risalah yang sesuai dengan kebutuhan setiap aliran tersebut. Kitab samawi ini menyerupai sebuah perpustakaan suci yang memuat banyak kitab.
Bagian Kedua
Pada ‘Kalimat Kedua Belas’ telah dijelaskan bahwa al-Qur’an diturunkan dari arasy yang paling agung, dari Ismul a’zham dan dari tingkatan nama-Nya yang paling mulia.
al-Qur’an
Ia merupakan kalam Allah dengan kedudukan-Nya sebagai Tuhan semesta alam.
Al-Qur’an adalah perintah Allah dengan kedudukan-Nya sebagai Sembahan seluruh entitas. Al-Qur’an adalah pesan Allah dengan kedudukan-Nya sebagai Pencipta langit dan bumi.
Al-Qur’an adalah bentuk pembicaraan yang mulia dengan sifat rububiyah mutlak.
Ia adalah pesan azali atas nama kekuasaan ilahi yang komprehensif dan agung.
Ia adalah catatan perhatian dan penghormatan ar-Rahman yang bersumber dari rahmat-Nya yang luas yang mencakup segala sesuatu.
Al-Qur’an merupakan kumpulan risalah komunikasi Rabbani yang menjelaskan keagungan uluhiyah di mana di permulaan sebagiannya ia berupa simbol-simbol dan tanda.
Ia adalah kitab suci yang menebarkan hikmah, yang turun dari lingkup nama-Nya yang paling agung.
Ia menatap kepada apa yang diliputi oleh arasy yang paling agung.
Dari rahasia ini, al-Qur’an selalu disebut dengan nama yang layak atasnya, yaitu “Kalâmullah”. Setelah al-Qur’an, terdapat sejumlah kitab suci dan suhuf para nabi. Adapun seluruh kalimat ilahi lainnya yang tak pernah habis, ada yang berupa komunikasi dalam bentuk ilham yang bersifat khusus, atas nama yang parsial, dan dengan manifestasi khusus milik nama yang spesifik, lewat rububiyah khusus, kekuasaan khusus, dan rahmat yang khusus pula. Ilham malaikat, manusia, dan hewan sangat berbeda dilihat dari sifatnya yang komprehensif dan khusus.
Bagian Ketiga
Al-Qur’an merupakan kitab samawi yang secara global berisi kitab-kitab seluruh nabi yang masanya berbeda-beda, risalah seluruh wali yang jalannya berbeda-beda, serta karya semua kalangan ashfiyâ (orang-orang saleh) yang pendekatan mereka beragam. Enam arahnya bersinar terang dan bersih dari gelap ilusi serta suci dari noda syubhat. Sebab, titik sandarannya adalah wahyu samawi dan kalam azali. Tujuannya adalah kebahagiaan abadi lewat adanya penyaksian.Kandungannya jelas berupa petunjuk. Atasnya berupa cahaya iman, bawahnya berupa dalil dan argumen lewat ilmul yaqin. Sisi kanannya berupa kepasrahan kalbu dan nurani lewat pengalaman. Sisi kirinya berupa ketundukan akal lewat ainul yaqin. Buahnya berupa rahmat Tuhan dan negeri surga lewat haqqul yaqin. Kedudukannya diterima oleh malaikat, manusia, dan jin lewat intuisi yang benar.
Seluruh sifat yang disebutkan di atas terkait dengan definisi al- Qur’an berikut ketiga bagiannya telah dijelaskan secara meyakinkan di sejumlah tempat lain. Maka, pernyataan kami tidak sekadar memberikan pengakuan tanpa bukti. Namun setiap darinya diterangkan dengan argumen yang kuat.
OBOR PERTAMA
(Tiga Kilau)
KILAU PERTAMA
Balagah Al-Qur’an Berada pada Tingkat Kemukjizatan
Balagah (retorika) yang menakjubkan ini bersumber dari keindahan susunan al-Qur’an dan kerapian konstruksinya, keapikan dan keistimewaan gaya bahasanya, kecemerlangan dan keunggulan penjelasannya, kekuatan dan kebenaran maknanya, serta dari kefasihan lafalnya. Dengan balagah yang luar biasa tersebut, al-Qur’an al-Karim— sejak 1300(*1) tahun yang lalu—menantang kaum yang paling fasih, kalangan yang paling pandai beretorika, serta cendekiawan yang paling terkemuka. Namun mereka tak mampu menghadapi tantangan al- Qur’an. Meski telah ditantang, tak ada sepatah katapun yang terucap. Mereka tertunduk hina seraya menundukkan kepala. Padahal ada di antara mereka yang berdiri dengan congkak.
Kami akan menunjukkan aspek kemukjizatan balagahnya dalam dua bentuk:
Bentuk Pertama
Sebagian besar penduduk jazirah Arab ketika itu adalah buta huruf. Oleh karena itu, mereka mengabadikan kebanggaan, berbagai kejadian historis, serta peribahasa, ungkapan bijak, dan kebaikan akhlak mereka dalam bentuk syair dan perkataan retoris lainnya yang ditransfer lewat lisan sebagai ganti dari tulisan. Ungkapan bijak tertanam dalam benak dan diriwayatkan secara turun-temurun.
Kebutuhan alamiah ini telah mendorong mereka untuk menjadikan kefasihan dan retorika sebagai barang yang paling laku di pasar. Sampai-sampai orang yang paling fasih di tengah kabilahnya menjadi pahlawan dan simbol kebanggaan.
Kaum yang akhirnya memimpin dunia dengan kecerdasannya setelah masuk Islam tersebut sebelumnya merupakan orang-orang yang paling unggul dalam bidang balagah di seantero dunia. Maka, balagah menjadi sesuatu yang sangat berkembang dan sangat mereka butuhkan sehingga menjadi hal yang paling membanggakan. Bahkan perang dan damai bisa terjadi antar dua kabilah hanya dengan sebuah perkataan yang terucap dari orang paling fasih di antara mereka. Lebih dari itu, mereka menulis tujuh kasidah (kumpulan syair) dengan tinta emas karya para penyair mereka yang paling fasih lalu menggantungkannya di dinding Ka’bah. Ketujuh kumpulan syair (al-mu’allaqât alsab’ah) itu yang kemudian menjadi simbol kebanggan mereka.
Nah, dalam kondisi seperti itulah di mana balagah mencapai puncaknya dan menjadi sesuatu yang sangat digemari, al-Qur’an diturunkan. Sama seperti mukjizat nabi Musa عَلَيْهِ السَّلَامُ (tentang sihir), dan mukjizat masa Isa عَلَيْهِ السَّلَامُ (tentang pengobatan), karena yang berkembang pada saat itu adalah ilmu sihir (di masa Musa عَلَيْهِ السَّلَامُ) dan ilmu kedokteran (di masa Isa عَلَيْهِ السَّلَامُ). Dengan balagahnya, al-Qur’an turun untuk menantang balagah yang terdapat pada masa itu dan masa-masa selanjutnya. Al-Qur’an mengajak orang-orang fasih di kalangan Arab untuk menghadapinya dan membuat meski surah terpendek yang sama dengannya. Al-Qur’an menantang mereka dengan berkata: “Jika kalian ragu dengan apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami, buatlah satu surah semisalnya...” (QS. al-Baqarah [2]: 23).Al-Qur’an bahkan mengeraskan tantangannya dengan berkata:“Jika kalian tidak mampu dan kalian memang tidak akan mampu, maka takutlah kepada nereka...” (QS. al-Baqarah [2]: 24). Artinya, kalian akan digiring ke neraka Jahanam dan itu adalah tempat kembali yang paling buruk. Hal ini tentu menghancurkan kesombongan mereka, menghinakan akal mereka, melenyapkan mimpi mereka, serta membinasakan mereka di dunia sebagaimana hal itu juga akan terjadi di akhirat. Dengan kata lain, kalian bisa membuat semisalnya, atau jiwa dan harta kalian berada dalam kondisi bahaya selama kalian tetap mempertahankan kekufuran.
Demikianlah, jika sikap menghadapi tantangan itu bisa dilakukan, mana mungkin yang dipilih jalan perang; yang lebih berbahaya dan sulit, sementara di hadapan mereka ada jalan yang mudah dan lapang. Yaitu menghadapi tantangan tadi dengan sejumlah ayat semisal al-Qur’an untuk membatalkan klaim dan tantangan yang ada.Ya, mungkinkah kalangan cerdik pandai yang memimpin dunia dengan politik dan kecerdasan mereka itu meninggalkan jalan termudah dan paling selamat, serta memilih jalan berat yang mencampakkan jiwa dan harta mereka pada kebinasaan?! Sebab, seandainya orang-orang fasih dari mereka bisa menghadapi al-Qur’an dengan sejumlah huruf, tentu klaim al-Qur’an menjadi batal. Mereka pun akan selamat dari kehancuran moril dan materiil. Kenyataannya, mereka malah memilih jalan perang yang panjang.
Artinya, menghadapi tantangan al-Qur’an tadi sama sekali tak bisa mereka lakukan. Akhirnya mereka menyerang dengan pedang.
Kemudian terdapat dua faktor pendorong yang sangat kuat untuk menghadapi tantangan al-Qur’an dan mendatangkan yang serupa dengannya, yaitu sebagai berikut: Pertama: Keinginan lawan untuk menghadapinya. Kedua: Keinginan kawan untuk menirunya. Di bawah pengaruh dua faktor di atas telah ditulis jutaan buku berbahasa Arab, namun tak ada satu kitab pun yang bisa menyerupai al-Qur’an. Setiap orang yang melihatnya—entah berilmu ataupun bodoh—pasti akan berkata, “Al-Qur’an berbeda dengan kitab lain.” Tidak ada seorang pun yang bisa membuat seperti al-Qur’an. Bisa jadi hal itu lantaran retorika al-Qur’an lebih rendah dari semuanya. Ini tentu saja mustahil sebagaimana yang dinyatakan oleh baik kawan maupun lawan. Atau, hal itu karena al-Qur’an berada di atas semuanya di mana ia lebih mulia dan lebih tinggi.
Barangkali engkau berkata, “Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa tidak ada yang berusaha menghadapinya? Tidakkah ada yang mengandalkan bakat dan potensinya untuk tampil menyambut tantangan yang ada? Apakah kerjasama dan upaya saling bahu-membahu di antara mereka tidak berguna?”
Jawabannya:Andaikan mereka bisa menghadapi al-Qur’an, tentu hal itu sudah mereka lakukan. Sebab, di sini ada persoalan kehormatan dan harga diri di samping kebinasaan jiwa dan harta. Andaikata upaya untuk menghadapi tantangan al-Qur’an benar-benar dilakukan, tentu banyak yang cenderung kepadanya. Pasalnya, para penentang kebenaran selalu banyak jumlahnya. Andaikan ada yang mendukung upaya penentangan tadi, tentu ia akan dikenal. Sebab, untuk menghadapi tantangan yang sepele saja, mereka membuat kasidah yang kemudian dijadikan sebagai kebanggaan atau karya besar yang diabadikan. Apalagi menghadapi tantangan al-Qur’an yang lebih hebat lagi, tentu tidak mungkin diabaikan oleh sejarah.Terdapat sejumlah propaganda dan serangan paling buruk terhadap Islam yang disebutkan dalam riwayat. Namun terkait dengan upaya meniru al-Qur’an, yang ada hanya sejumlah kalimat yang diucapkan oleh Musailimah al-Kazzâb. Sebenarnya Musailimah itu ahli retorika. Namun saat dibandingkan dengan retorika al-Qur’an yang mengungguli semua keindahan dan estetika, retorika yang ia miliki menjadi semacam igauan. Seperti itulah ucapannya diriwayatkan dalam lembaran sejarah. Begitulah, kemukjizatan retorika al-Qur’an adalah sebuah kepastian, sama seperti kepastian hasil (perkalian) dua kali dua sama dengan empat. Demikianlah keadaan yang sebenarnya.
Bentuk Kedua
Kami akan menjelaskan hikmah kemukjizatan retorika atau balagah al-Qur’an dalam lima poin:
Poin Pertama:Kefasihan yang luar biasa dalam konstruksi al- Qur’an.
Kitab Isyârât al-I’jâz fî Mazhân al-Îjâz telah menjelaskan dari awal hingga akhir tentang kefasihan dan keapikan konstruksi al- Qur’an. Sebagaimana jarum jam yang menunjukkan hitungan detik, menit, dan jam masing-masing saling menyempurnakan, demikian pula dengan struktur pada setiap kata dan kalimat al-Qur’an, serta konstruksi pada kesesuaian setiap kalimat terhadap yang lain. Semua itu telah dipaparkan secara sangat jelas dalam ‘kitab tafsir’ di atas. Siapapun bisa merujuk kepadanya agar dapat melihat kefasihan luar biasa itu dalam berbagai bentuknya yang paling indah.
Di sini kami hanya akan menyebutkan dua contoh darinya untuk menerangkan konstruksi kata yang saling terpaut di mana kesesuaian dan kesempurnaanya tidak bisa digantikan oleh yang lain.
Contoh pertama: “Sesungguhnya jika mereka disentuh sedikit saja dari azab Tuhanmu...” (QS. al-Anbiyâ [21]: 46).
Kalimat di atas diungkapkan untuk memperlihatkan hebatnya siksa, namun dengan menampakkan dampak yang hebat dari siksa yang paling kecil. Oleh karena itu, semua bentuk redaksi tersebut yang mengandung makna sedikit dan kecil menatap kepada makna tersebut disertai adanya kekuatan agar menampakkan kondisi yang menakutkan.
Kata (لَئِن۟) untuk menunjukkan ketidakpastian.
Hal ini menyiratkan sesuatu yang sedikit. Kata (مَسَّ)bermakna sentuhan yang juga bermakna sedikit.
Kata (نَف۟حَةٌ) adalah materi berupa aroma atau hembusan kecil yang bermakna sedikit.
Di samping itu, bentuknya juga memiliki arti satu, yakni satu yang kecil. Dalam gramatika, ia disebut mashdar al-marrah yang bermakna sedikit.
Bentuk indefinit (nakirah) dari kata juga untuk menunjukkan sedikit.
Artinya, ia adalah sesuatu yang kecil dalam batas yang tidak diketahui sehingga disebutkan secara indefinit.
Selanjutnya kata untuk menunjukkan arti ‘sebagian’ sehingga bermakna sedikit. Kata juga semacam balasan kecil jika dibandingkan dengan kata atau . Kata (رَبِّكَ) sebagai ganti dari (Yang Mahagagah), (Yang Maha Perkasa), (Yang Maha Membalas) menunjukkan sesuatu yang sedikit.
Yaitu dengan adanya sifat kasih sayang dan rahmat padanya.Jadi, redaksi ayat di atas menunjukkan bahwa jika siksa yang ada sudah luar biasa padahal baru sedikit, apalagi jika berupa hukuman ilahi yang dahsyat.
Perhatikan redaksi di atas dengan cermat agar engkau bisa melihat bagaimana contoh yang kami berikan itu memperhatikan redaksi dan makna yang dituju.
Contoh kedua:
“Dan menginfakkan (sebagian) dari apa yang telah Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. al-Baqarah [2]: 3).
Redaksi ayat di atas menunjukkan lima syarat diterimanya sedekah, yaitu sebagai berikut:
Pertama, dari kata مِن۟ yang menunjukkan arti ‘sebagian’ pada kata (وَمِمَّا) ‘sebagian dari apa atau sesuatu’. Artinya, orang yang bersedekah tidak boleh memberikan semua yang ada di tangannya sehingga membutuhkan sedekah pula.
Kedua, dari kata (رَزَق۟نَاهُم۟) ‘yang Kami anugerahkan kepada mereka’. Artinya, tidak mengambil dari Zaid lalu menyedekahkannya kepada Amar. Namun sedekah tersebut harus berasal dari hartanya. Yakni, sedekahkan sebagian dari rezeki milik kalian.
Ketiga, dari kata نَا‘Kami’ dalam kata رَزَق۟نَا ‘yang telah Kami anugerahkan’. Artinya, tidak mengungkit dan tidak merasa berjasa. Sebab, tidak ada jasa kalian dalam sedekah itu. Aku yang memberikan rezeki kepada kalian. Lalu kalian menginfakkan sebagian dari harta-Ku kepada hamba yang lain.
Keempat, dari kata (يُن۟فِقُونَ) ‘menginfakkan’. Artinya, sedekah itu diinfakkan kepada orang yang mempergunakan untuk kebutuhan yang penting. Sebab, sedekah tidak diterima jika diberikan kepada orang yang mempergunakannya dalam keburukan.
Kelima, dari kata (رَزَق۟نَاهُم۟) ‘yang telah Kami anugerahkan kepada mereka’. Artinya, sedekah itu atas nama Allah. Yakni, harta tersebut adalah harta-Ku. Kalian harus memberikannya atas nama-Ku.
Di samping syarat dan kriteria di atas, terdapat pemaknaan sedekah secara umum. Yakni, sebagaimana sedekah bisa dilakukan dengan harta, ia juga bisa dengan ilmu, ucapan, perbuatan, dan nasihat. Hal ini diisyaratkan oleh kata ‘sesuatu’ dalam kata ‘dari sesuatu’ yang bermakna umum.
Demikianlah, kalimat singkat yang berbicara tentang sedekah ini mempersembahkan kepada akal manusia lima syarat dan kriteria sedekah disertai penjelasan mengenai wilayahnya yang luas.Begitulah redaksi kalimat al-Qur’an memiliki konstruksi yang sangat banyak seperti contoh di atas.
Kosakata al-Qur’an juga memiliki wilayah konstruksi yang luas semacam itu. Demikian pula dengan klausa dan kalimat al-Qur’an.
firman Allah yang berbunyi:
Contoh,
“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Tidak ada satupun yang setara dengan Dia.” (QS. al-Ikhlâs [112]: 1-4).Ayat-ayat mulia di atas berisi enam kalimat. Tiga darinya bersifat menetapkan (afirmasi) dan tiga lagi bersifat menafikan (negasi). Ia menetapkan enam tingkatan tauhid sekaligus menafikan enam bentuk kemusyrikan. Setiap kalimatnya merupakan dalil bagi kalimat-kalimat yang lain di samping sebagai konklusi darinya. Sebab, setiap kalimat memiliki dua makna di mana salah satunya merupakan konklusi dan yang satunya lagi adalah dalil atau petunjuk.Dengan kata lain, surah al-Ikhlas berisi tiga puluh surah dari surah al-Ikhlâs. Yaitu surah-surah yang tersusun dan terbentuk dari berbagai dalil yang saling menguatkan.
Misalnya sebagai berikut:
‘Katakan bahwa Dialah Allah’. Sebab, Dia Mahaesa, Dzat tempat bergantung, tiada beranak, tiada diperanakkan, dan tiada yang setara dengan-Nya. ‘Tiada yang setara dengan-Nya’. Sebab, Dia tidak diperanakkan, tidak beranak, Dzat tempat bergantung, Esa, dan Dia adalah Allah.
‘Dialah Allah’. Dia Mahaesa, Dia tempat bergantung. Oleh karena itu, Dia tidak beranak, tidak diperanakkan, serta tiada yang setara dengan-Nya. Demikian seterusnya.
Contoh lain adalah firman Allah yang berbunyi:
“Alif lâm mîm. Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah [2]: 1-2).
Masing-masing dari keempat kalimat di atas memiliki dua makna. Dengan melihat salah satunya, ia menjadi petunjuk atau dalil bagi kalimat lain dan dengan melihat yang lain, ia menjadi hasil darinya. Dari situ dapat dihasilkan sebuah konstruksi menakjubkan yang terdiri dari enam belas garis korelasi dan kesesuaian.Hal itu telah dijelaskan dalam kitab Isyârât al-I’jâz sehingga seolah-olah setiap ayat memiliki mata yang menatap kepada sebagian besar ayat serta wajah yang menghadap kepadanya sehingga terdapat garis korelasi dan keterkaitan antara masing-masingnya yang merangkai sebuah goresan kemukjizatan. Hal itu seperti yang dijelaskan pada “Kalimat Ketiga Belas”. Buku tafsir, Isyârât al-I’jâz, telah menjelaskan bentuk kefasihan dan keapikan konstruksinya.
Poin Kedua: Balagah yang luar biasa dari sisi maknanya.
Engkau bisa mencicipinya pada ayat berikut: “Semua yang terdapat di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dia Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.” (QS. al-Hadîd [57]: 1).Perhatikan contoh di atas yang dijelaskan dalam “Kalimat Ketiga Belas”. Bayangkan dirimu berada dalam kondisi sebelum cahaya al- Qur’an turun, yaitu pada era jahiliyah, pada masa primitif dan bodoh. Segala sesuatu dibungkus dengan tirai kelalaian dan gelapnya kebodohan. Ia diselimuti oleh sikap jumud dan kebendaan. Tiba-tiba engkau menyaksikan gema firman-Nya:“Semua yang terdapat di langit dan bumi bertasbih kepada Allah...” (QS. al-Hadîd [57]: 1). Atau:“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah...” (QS. Al-Isrâ [17]: 44).Kehidupan mengalir pada entitas yang mati lewat gema (سَبَّحَ ) dan (تُسَبِّحُ) ‘bertasbih’ di seluruh telinga pendengar sehingga mereka bangkit seraya bertasbih menyebut Allah.Wajah langit yang gelap di mana bintang-gemintang tak bernyawa bersinar terang padanya serta bumi yang dihuni oleh makhluk yang lemah, lewat gema dan cahaya (تُسَبِّحُ) “tasbih”, berubah dalam benak pendengar menjadi mulut yang berzikir kepada Allah. Setiap bintang memancarkan cahaya hakikat dan menebarkan hikmah yang sangat bijak. Lewat gema dan cahaya samawi itu, wajah bumi berubah menjadi kepala yang besar, serta darat dan laut menjadi dua lisan yang mengucap tasbih. Juga, seluruh tumbuhan dan hewan berubah menjadi untaian kalimat yang berzikir dan bertasbih sehingga seluruh bumi seolah-olah berdenyut hidup.
Contoh: Lihatlah contoh berikut, yang disebutkan pada “Kalimat Kelima Belas”. Yaitu firman Allah yang berbunyi:
“Wahai golongan jin dan manusia! Jika kalian sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kalian tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah). Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Kepada kamu (jin dan manusia) akan dikirim nyala api dan cairan tembaga (panas) sehingga kamu tidak dapat menyelamatkan diri (darinya). Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. ar-Rahmân [55]: 33-36). “Dan sungguh telah Kami hiasi langit yang dekat, dengan bintang-bintang dan Kami jadikan ia (bintang-bintang itu) sebagai alatalat pelempar setan...” (QS. al-Mulk [67]: 5).Perhatikan ayat-ayat di atas dan renungkan apa yang dikatakannya. Ia berkata, “Wahai manusia dan jin yang sombong dalam ketidakberdayaan dan kehinaannya. Wahai yang keras kepala dan pembangkang dengan kondisinya yang miskin dan papa. Jika kalian tidak mematuhi perintah-Ku, silahkan keluar dari batas-batas kerajaan dan kekuasaan-Ku jika mampu. Bagaimana mungkin kalian berani menentang perintah Sang Raja yang agung. Bintang, bulan, dan matahari berada dalam genggaman-Nya. Mereka melaksanakan perintah-Nya bagaikan pasukan yang selalu siap siaga. Dengan sikap pembangkangan tersebut, kalian sebenarnya sedang menentang Sang Penguasa Yang Mahaagung dan Mulia di mana Dia memiliki pasukan yang taat dan selalu siap siaga.
Mereka dapat melemparkan benda sebesar gunung kepada setan kalian sekalipun.
Dengan sikap ingkar kalian, sebenarnya kalian sedang membangkang dalam kerajaan Sang Raja Agung dan Mulia di mana Dia memiliki pasukan besar yang dapat melempari para musuh yang ingkar meski sebesar bumi dan gunung dengan peluru yang menyala dan kepingan kobaran api seukuran bumi dan gunung sehingga bisa menghancurkan kalian.
Jika demikian, apalagi makhluk lemah seperti kalian. Kalian menentang hukum permanen yang terkait dengan Tuhan yang mampu melempari kalian dengan peluru seperti bintang-gemintang.Lewat contoh di atas engkau bisa mengukur kekuatan makna, kefasihan retorika, dan ketinggian pelajaran yang terdapat pada seluruh ayat al-Qur’an.
Poin Ketiga:Keindahan luar biasa dalam gaya bahasanya.
Ya, gaya bahasa al-Qur’an al-Karim unik dan istimewa serta menakjubkan dan meyakinkan. Al-Quran tidak meniru sesuatu atau seseorang, dan tak seorangpun yang bisa menirunya. Al-Qur’an telah dan senantiasa menjaga kelembutan dan kesegaran gaya bahasanya seperti ketika pertama kali diturunkan.
Ya, gaya bahasa al-Qur’an al-Karim unik dan istimewa serta menakjubkan dan meyakinkan. Al-Quran tidak meniru sesuatu atau seseorang, dan tak seorangpun yang bisa menirunya. Al-Qur’an telah dan senantiasa menjaga kelembutan dan kesegaran gaya bahasanya seperti ketika pertama kali diturunkan.Sebagai contoh, huruf-huruf muqatta’ah (terputus) yang disebutkan di permulaan sejumlah surah menyerupai kode rahasia. Misalnya:Kami telah menuliskan sekitar enam cahaya kemukjizatannya dalam buku Isyârât al-I’jâz. Di antaranya adalah sebagai berikut:Huruf-huruf yang disebutkan di permulaan surah itu membagi dua setiap pasangan karakter huruf hijaiyah. Yaitu huruf yang beraspirasi dan jelas (mahmûsah dan majhûrah), serta yang keras dan lunak(*2)(syadîdah dan rakhwah) dan berbagai pembagian lainnya. Adapun bunyi yang tidak bisa terbagi, maka yang berat kurang dari setengah seperti qalqalah dan yang ringan lebih sedikit seperti dzalâqah (hurufhuruf yang bermakhraj ujung lidah). Cara al-Qur’an yang samar dan tak terjangkau oleh akal tersebut di antara sekian banyak cara yang berisi ratusan kemungkinan, kemudian cara penyajiannya dalam medan luas yang rambu-rambunya serupa, tentu saja bukan sebuah kebetulan dan bukan berasal dari manusia.
Huruf-huruf muqatta’ah (terputus) yang terdapat di permulaan surah di mana ia merupakan kode dan rumus-rumus ilahi menjelaskan lima atau enam rahasia cahaya kemukjizatan yang lain. Bahkan para ulama ahli rahasia huruf serta para wali ahli peneliti telah mengungkap banyak rahasia dari huruf-huruf tersebut. Mereka menemukan sejumlah hakikat mulia yang menegaskan bahwa huruf-huruf terputus itu merupakan mukjizat cemerlang. Adapun kita tidak mampu membuka pintu itu karena tidak mampu menggapai rahasia yang ada. Selain itu, kita tidak mampu menetapkan secara meyakinkan dalam bentuk yang diakui oleh semua kalangan. Oleh karena itu, cukup bagi kita merujuk kepada lima atau enam kilau kemukjizatan terkait dengan huruf-huruf terputus itu yang terdapat dalam buku Isyârât al- I’jâz.
Sekarang kita akan menyebutkan sejumlah petunjuk tentang gaya bahasa al-Qur’an dengan melihat surah, ayat, klausa, dan kalimatnya.
Misalnya surah an-Naba’ (عَمَّ) dan seterusnya. Jika diperhatikan secara seksama, surah tersebut menggambarkan dan menetapkan berbagai kondisi akhirat, kebangkitan, surga dan neraka dengan gaya bahasa yang indah yang menenangkan hati. Pasalnya, ia menerangkan bahwa berbagai perbuatan ilahi dan jejak Rabbani yang terdapat di dunia mengarah kepada setiap kondisi ukhrawi di atas. Karena penjelasan tentang gaya bahasa surah tersebut sangat panjang, kita akan menjelaskan satu atau dua hal saja darinya.
Di permulaan surah tersebut, ia menegaskan keberadaan hari kiamat dengan berkata, “Kami menjadikan bumi untuk kalian sebagai hamparan yang telah dibentangkan dengan sangat indah. Lalu Kami jadikan gunung sebagai pilar dan pasak yang penuh dengan kekayaan untuk tempat tinggal dan kehidupan kalian. Kami pun menciptakan kalian berpasangan-pasangan di mana kalian saling mencintai dan menyayangi. Kami jadikan malam sebagai tirai agar kalian bisa beristirahat, siang sebagai medan untuk mencari penghidupan, serta matahari sebagai lentera yang terang dan penghangat untuk kalian. Dari awan, Kami turunkan air yang membangkitkan kehidupan di mana ia mengalir laksana mata air. Selain itu, dengan mudah Kami tumbuhkan dari air tersebut berbagai tanaman yang berbunga dan berbuah di mana ia membawa rezeki untuk kalian. Kalau demikian, hari keputusan, yaitu hari kiamat, sedang menantikan kalian. Proses mendatangkannya bukan hal yang sulit.
Selanjutnya, secara implisit ia menerangkan apa yang akan terjadi pada hari kiamat, seperti gunung yang berjalan dan berhamburan, langit terbelah, neraka yang siap siaga, serta bagaimana surga memberikan taman yang indah bagi para penghuninya. Seakan-akan ia berkata, “Dzat yang melakukan semua perbuatan itu terhadap gunung dan bumi seperti yang kalian lihat akan melakukan hal serupa di akhirat.” Artinya, gunung yang terdapat di awal surah menunjukkan sejumlah kondisi gunung di hari kiamat. Taman yang terdapat di permulaan surah mengisyaratkan keberadaan taman surga di akhirat. Engkau bisa membandingkan yang lainnya pula guna menyaksikan ketinggian dan kehalusan gaya bahasa al-Qur’an.
Sebagai contoh:“Katakanlah: Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).” (QS. Âli `Imrân [3]: 26-27).
Dengan gaya bahasa yang tinggi, ayat di atas menerangkan berbagai perbuatan ilahi yang terdapat dalam diri manusia, manifestasi ilahi yang terdapat dalam pergantian siang dan malam, tindakan ilahi dalam peralihan musim, serta ketentuan ilahi yang terdapat dalam kehidupan, kematian, pengumpulan, dan kebangkitan duniawi di muka bumi. Gaya bahasa yang tinggi dan indah itu sampai ke tingkat yang menundukkan akal para pakar. Karena ketinggian bahasanya demikian terang di mana ia bisa terlihat meski hanya dengan penglihatan yang paling sederhana, maka kami tidak membuka ‘khazanah’ tersebut untuk saat ini.
Contoh lain:
“Apabila langit terbelah, patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh, serta apabila bumi diratakan, dan apa yang ada di dalamnya dilemparkan dan menjadi kosong, patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya bumi itu patuh.” (QS. al-Insyiqâq [84]: 1-5).
Ayat al-Qur’an di atas menerangkan sejauh mana ketundukan langit dan bumi serta ketaatan mereka dalam menunaikan perintah Allah. Ia menerangkan semuanya dengan gaya bahasa yang tinggi dan mulia.
Sebab, sebagaimana seorang panglima besar membentuk dua divisi militer untuk melaksanakan tuntutan jihad, seperti manuver (latihan perang) dan mobilisasi (perekrutan tentara). Nah, ketika waktu jihad selesai, ia mengarah kepada kedua divisi tersebut guna dipergunakan untuk tugas lain lantaran tugas mereka telah usai. Seakan-akan masing-masing berkata dengan lisan para petugas dan pelayannya:“Wahai panglima, beri kami waktu luang sejenak agar kami bisa mempersiapkan diri dan membersihkan tempat ini dari berbagai sisa aktivitas kami sebelumnya. Setelah itu, kami siap menjalankan tugas kembali.” Tidak lama kemudian ia berkata, “Kami telah membuang sisa-sisa tadi keluar. Kami taat kepada perintahmu. Lakukan apa yang engkau inginkan. Kami mematuhi perintahmu. Semua yang engkau perbuat adalah benar, indah, dan baik.”
Demikian pula langit dan bumi merupakan dua divisi atau wilayah yang dibuka untuk menjadi tempat tugas (taklif) dan medan ujian. Ketika waktunya selesai, langit dan bumi itu pun meninggalkan tugasnya dengan izin Allah. Keduanya berkata, “Wahai Tuhan, tugaskan kami pada sesuatu yang Kau kehendaki. Sikap patuh wajib kami perlihatkan. Semua yang Kau perbuat adalah benar.” Lihat dan perhatikan dengan cermat ketinggian gaya bahasa dalam kalimat di atas.
Contoh lain:“Dan difirmankan, ‘Wahai bumi, telanlah airmu! Dan wahai langit (hujan), berhentilah! Air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan, dan bahtera itu pun berlabuh di atas bukit Judi’. Lalu dikatakan, ‘Binasalah orang-orang yang zalim’.” (QS. Hûd [11]: 44).
Untuk menunjukkan setetes dari lautan balagah ayat di atas, kami hanya akan menjelaskan satu gaya bahasa darinya dalam bentuk perumpamaan.
Yaitu, seorang panglima besar dalam perang dunia setelah memperoleh kemenangan memerintahkan pasukannya, “Berhentilah melepaskan tembakan!” Lalu ia menyuruh pasukan yang lain, “Berhenti menyerang!” Seketika itu pula tembakan dan serangan langsung berhenti. Kemudian ia menemui mereka seraya berkata, “Semua sudah usai. Kita sudah mengalahkan musuh. Panji kita telah tegak berkibar. Kaum yang zalim itu telah menerima balasan mereka dan jatuh ke dalam lembah kehinaan, asfalu sâfilîn.”
Demikian pula Sang Raja yang tiada tandingan-Nya telah memerintahkan langit dan bumi untuk membinasakan kaum nabi Nuh. Setelah mereka mengerjakan perintah tersebut, Dia berkata kepada keduanya, “Wahai bumi, telanlah airmu! Wahai langit, diamlah! Tugas kalian telah selesai.” Seketika air surut dan kapal “produk ilahi” itu pun berlabuh laksana kemah yang tegak di atas puncak gunung. Sementara kaum yang zalim menerima balasan mereka.Perhatikanlah ketinggian gaya bahasa di atas. Bumi dan langit laksana dua prajurit yang taat dan siap untuk menerima perintah. Dengan gaya bahasa tersebut, ayat di atas menunjukkan bahwa seluruh entitas bisa murka ketika manusia membangkang. Langit dan bumi bisa marah karenanya. Dengan petunjuk di atas, ia menegaskan bahwa Dzat yang dipatuhi oleh langit dan bumi tidak boleh ditentang dan tidak sepatutnya ditentang. Hal itu memberikan satu peringatan keras bagi manusia.
Engkau melihat betapa ayat tersebut dengan sangat singkat hanya dalam beberapa kalimat menggabungkan antara peristiwa angin topan yang bersifat komprehensif dengan dampak dan hakikatnya. Anda bisa menganalogikan satu tetes (ayat) ini dengan tetesan lautan (ayat-ayat) lainnya.
Sekarang perhatikan gaya bahasa yang diperlihatkan oleh al- Qur’an dari jendela kosa katanya. Misalnya kata ‘tandan tua’ dalam ayat yang berbunyi:
“Telah Kami tetapkan sejumlah kedudukan bagi bulan sehingga (setelah ia sampai kepada kedudukan yang terakhir) kembalilah ia seperti tandan yang tua.” (QS. Yâsîn [36]: 39).Kata tersebut memperlihatkan satu gaya bahasa yang sangat indah. Hal itu karena bulan memiliki tempat berupa garis edar. Ketika bulan di tempat itu berbentuk seperti sabit, ia menyerupai tandan tua yang berwarna putih. Dengan perumpamaan tersebut, ayat di atas mengetengahkan ke hadapan imajinasi pendengar bahwa seakan-akan di balik tirai langit ini terdapat sebuah pohon yang salah satu dahannya yang berwarna putih membelah tirai itu lalu mengeluarkan ujungnya. Nah, bintang kejora seperti satu ranting yang bergantung padanya. Sementara bintang-bintang yang lain laksana buah bercahaya dari pohon penciptaan yang tersembunyi. Jadi, tidak salah jika bulan sabit digambarkan dengan perumpamaan di atas kepada mereka yang sumber penghidupan dan sebagian besar kekuatannya berasal dari pohon kurma. Ia merupakan gaya bahasa yang sangat tepat dan indah serta sangat relevan. Jika memiliki daya rasa, engkau pasti dapat memahaminya.
Contoh lain adalah kata (تَج۟رٖى) ‘berjalan’ pada ayat berikut:“Matahari berjalan di tempat peredarannya...” (QS. Yâsîn [36]: 38). Kata di atas membuka jendela bagi sebuah gaya bahasa yang sangat tinggi seperti yang ditegaskan dalam penutup “Kalimat Kesembilan Belas”. Yaitu bahwa kata (تَج۟رٖى) ‘berjalan’ yang mengarah kepada berputarnya matahari menerangkan keagungan Sang Pencipta Yang Mahaagung di mana Dia mengingatkan pada perbuatan qudrah ilahi yang tertata rapi dalam pergantian musim panas dan dingin serta pergantian siang dan malam. Ia mengarahkan perhatian pada seluruh risalah Tuhan yang ditulis dengan pena qudrah ilahi dalam lembaran antar musim. Dengan begitu, ia mengajarkan hikmah Sang Pencipta Yang Maha Agung.
Selanjutnya firman Allah :“Dan kami jadikan matahari sebagai lentera.” (QS. Nûh [71]: 16). Kata (سِرَاجًا)‘lentera’ membuka sebuah jendela bagi gaya bahasa seperti di atas. Yaitu ia menerangkan keagungan Sang Pencipta dan kebaikan Sang Khalik di mana Dia mengingatkan bahwa alam ini laksana istana. Berbagai kebutuhan, makanan, dan perhiasan yang terdapat di dalamnya sengaja disediakan untuk manusia dan makhluk hidup. Sementara matahari hanyalah lentera yang ditundukkan untuk manusia. Dengan begitu, ia menerangkan sebuah dalil tauhid. Pasalnya, matahari yang oleh kaum musyrik dianggap sebagai sesembahan mereka yang paling besar dan paling terang, tidak lain adalah lentera yang ditundukkan dan makhluk tak bernyawa.Jadi, pengungkapan kata (سِرَاجًا) ‘lentera’ mengingatkan kepada rahmat Khalik dalam keagungan rububiyah-Nya serta menjelaskan kemurahan-Nya dalam keluasan rahmat-Nya. Dengan cara itu, Dia menyadarkan akan kemurahan-Nya dalam keagungan kekuasaan-Nya sekaligus menerangkan keesaan-Nya. Seolah-olah Dia berkata, “Lentera yang ditundukkan dan lampu tak bernyawa itu sama sekali tak layak disembah.”
Kemudian peredaran matahari lewat penggunaan kata (تَج۟رٖى) ‘berjalan’ mengingatkan pada sejumlah perbuatan yang tertata rapi dan menakjubkan dalam peralihan musim semi dan panas serta siang dan malam. Ia juga menjelaskan keagungan qudrah Sang Pencipta yang Esa dalam rububiyah-Nya. Artinya, ungkapan tersebut mengarahkan benak manusia dari matahari dan bulan menuju lembaran siang dan malam serta musim panas dan dingin. Selain itu, ia mengalihkan perhatiannya pada goresan berbagai peristiwa yang tertulis dalam lembaran tersebut.Ya, al-Qur’an tidak membahas matahari hanya semata-mata untuk substansi matahari. Namun untuk Dzat yang membuatnya bersinar dan menjadikannya sebagai lentera. Ia tidak membahas esensinya yang tidak dibutuhkan oleh manusia. Namun membahas tugas dan fungsinya di mana ia menunaikan fungsi pegas bagi tatanan kreasi ilahi, pusat keteraturan penciptaan rabbani, serta kumparan bagi keselarasan ciptaan-Nya dalam segala sesuatu yang dirangkai oleh Pencipta azali lewat benang-benang siang dan malam.
Engkau bisa menganalogikan hal ini dengan keseluruhan kosakata al-Qur’an. Meskipun tampak seperti kata yang sudah dikenal dan sederhana, namun ia menunaikan tugas sebagai kunci bagi berbagai gudang makna yang halus.
Demikianlah. Karena ketinggian gaya bahasa al-Qur’an, seperti disebutkan dalam berbagai aspek di atas, maka seorang Arab badui terpukau oleh kadangkala hanya sebuah ungkapan darinya sehingga bersujud sebelum beriman. Misalnya, salah seorang dari mereka mendengar ayat yang berbunyi:“Maka sampaikanlah secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu)...” (QS. al-Hijr [15]: 94).Seketika ia tersungkur bersujud. Saat ditanya, “Apakah engkau masuk Islam?” Ia menjawab, “Tidak, aku bersujud karena balagah yang terdapat pada ungkapan tersebut.”
Poin Keempat: Kefasihan luar biasa dalam redaksinya.
Ya, di samping mengandung aspek balagah yang sangat tinggi dilihat dari sisi gaya bahasa dan penjelasan maknanya, redaksinya juga sangat fasih. Dalil paling kuat yang menunjukkan kefasihannya adalah bahwa ia tidak melahirkan rasa bosan dan jenuh. Selain itu, kesaksian para ahli ilmu bayan dan semantik juga menjadi bukti yang sangat jelas atas kefasihannya. Ya, andaikan al-Qur’an diulang ribuan kali, hal itu tidak akan membuat bosan. Bahkan ia akan bertambah nikmat. Selanjutnya, al- Qur’an juga tidak berat bagi akal anak kecil sehingga mudah mereka hafal. Telinga orang yang terkena penyakit kronis, di mana ia sangat terganggu dengan ucapan pelan, juga tidak akan jenuh dengan al- Qur’an. Sebaliknya ia akan merasa nikmat. Ia laksana minuman segar yang berada di mulut orang sakarat. Ia terasa nyaman di telinga dan otaknya seperti air zam-zam yang terasa segar saat berada di mulut.
Hikmah mengapa al-Qur’an tidak membuat bosan dan jenuh adalah karena al-Qur’an merupakan makanan dan nutrisi bagi kalbu, sumber kekuatan dan kekayaan bagi akal, air dan cahaya bagi ruh, serta obat bagi jiwa manusia. Oleh karena itu, ia tidak akan melahirkan rasa bosan. Ia seperti nasi yang kita makan setiap hari di mana kita tidak merasa bosan dengannya. Sementara, jika kita makan buah yang paling nikmat setiap hari pasti akan merasa bosan. Jadi, karena al-Qur’an merupakan sebuah kebenaran, hakikat, kejujuran, petunjuk, dan terus tampak segar dan manis sehingga salah seorang tokoh Quraisy dan ahli retorika mereka saat mendatangi Nabi x untuk mendengar al-Qur’an berkomentar setelah mendengarkannya, “Demi Allah, ia demikian manis dan indah. Ia bukan ucapan manusia.” Setelah itu ia berujar kepada kaumnya, “Demi Allah, tidak ada seorangpun dari kalian yang lebih paham tentang syair daripada diriku. Demi Allah, ucapannya itu tidak sama dengan ucapanku.” Akhirnya mereka hanya bisa berkata bahwa beliau adalah tukang sihir guna memperdaya pengikut mereka sehingga tidak mengikuti Nabi x. Demikianlah musuh al-Qur’an yang paling keras sekalipun tercengang di hadapan kefasihannya.
memiliki kefasihan luar biasa, ia tidak melahirkan rasa bosan. Ia akanMenjelaskan sebab-sebab kefasihan yang terdapat dalam ayatayat al-Qur’an, pada klausa dan kalimatnya sangat panjang. Maka untuk membatasi pembicaraan, kita hanya akan memperlihatkan kilau kemukjizatan yang bersinar dari kondisi dan susunan huruf-huruf hijaiyah dalam sebuah ayat sebagai contoh, yaitu firman Allah yang berbunyi:
Ayat di atas menggabungkan semua huruf hijaiyah dan berbagai bentuk huruf yang berat. Namun demikian, semua itu tidak membuatnya kehilangan kefasihan. Bahkan ia semakin memperindah dan menambahkan satu bentuk kefasihan yang bersumber dari bunyi yang selaras dan beragam.
Perhatikan dengan cermat kilau yang memiliki sisi kemukjizatan ini. Karena huruf alif (ا) dan yâ (ي) merupakan huruf hijaiyah yang paling ringan di mana yang satu bisa berbalik menjadi yang lain seperti dua orang saudara, maka masing-masing terulang sebanyak dua puluh satu kali. Sementara karena huruf mîm (م) dan nûn (ن) bersaudara,(*3)serta dapat saling menggantikan, masing-masing disebutkan sebanyak tiga puluh tiga kali.
Kemudian huruf shâd (ص), sîn (س), dan syîn (ش) saling bersaudara dilihat dari titik artikulasi (makhraj), sifat, dan bunyinya sehingga masing-masing darinya disebutkan tiga kali. Setelah itu, huruf `aîn (ع) dan ghaîn (غ) juga bersaudara sehingga `aîn disebutkan sebanyak enam kali karena ringan,
sementara ghaîn yang agak berat disebutkan tiga kali atau setengahnya. Huruf thâ (ط), zhâ (ظ), dzâl (ذ), dan zây (ز) bersaudara dilihat dari titik artikulasi, sifat, dan bunyinya, masing-masing disebutkan sebanyak dua kali. Huruf lâm (ل) dan alif (ا) menyatu dalam pola Lâ (لا). Bagian alif setengah dari pola لا. Dalam hal ini, lâm disebutkan sebanyak 42 kali dan alif disebutkan setengahnya, yaitu sebanyak 21 kali. Huruf hamzah (ء) dan hâ (هـ) bersaudara dilihat dari titik artikulasinya. Dalam hal ini, hamzah disebutkan 13 kali,149 sementara hâ sebanyak 14 kali karena ia satu derajat lebih ringan daripada hamzah. Huruf qâf (ق), fâ (ف), dan kâf (ك) bersaudara. Huruf qâf disebutkan sebanyak sepuluh kali karena tambahan titik padanya, lalu huruf fâ disebutkan sembilan kali, dan kâf juga sembilan kali. Kemudian huruf bâ (ب) disebutkan sembilan kali, sementara tâ (ت) disebutkan dua belas kali karena derajatnya tiga. Huruf râ (ر) saudara dari lâm. Hanya saja râ berjumlah dua ratus, dan lâm tiga puluh sesuai dengan nilai “gematria abjad arab”. Yakni bahwa râ enam derajat di atas lâm sehingga ia enam derajat lebih rendah darinya. Begitu pula râ sering terucap sehingga terasa berat. Karenanya, ia hanya disebutkan sebanyak enam kali.
Selanjutnya, karena khâ (خ), hâ (ح), tsâ (ث), dan dhâd (ض) berat, sementara di antara mereka terdapat keselarasan, masing-masing disebutkan satu kali. Karena huruf wâw (و) lebih ringan dari huruf hâ dan hamzah, serta lebih berat daripada huruf yâ dan alif, maka ia disebutkan sebanyak tujuh belas kali. Yaitu 4 derajat di atas hamzah yang berat dan 4 derajat di bawah alif yang ringan.
Demikianlah huruf-huruf yang diletakkan dengan sangat rapi itu, disertai keselarasannya, keteraturannya yang indah, dan tatanannya yang cermat menetapkan dengan sangat pasti seperti pastinya hasil perkalian (2 x 2 = 4) bahwa ia bukan merupakan kreasi manusia dan tak mungkin dilakukan olehnya. Proses kebetulan juga mustahil ikut campur di dalamnya.Jadi, keteraturan menakjubkan dan tatanan istimewa yang terdapat pada kondisi huruf-huruf tersebut di samping menjadi sumber kefasihan redaksinya, bisa jadi ia memiliki banyak hikmah yang lain. Selama huruf-huruf tersebut mengandung keteraturan semacam itu, tentu keteraturan penuh rahasia dan keselarasan bercahaya yang terdapat pada kosakata, kalimat, dan maknanya juga diperhatikan. Andaikan mata melihat, sudah pasti ia kagum seraya mengucap mâsyâ Allâh. Apabila akal memahaminya, sudah pasti ia menjadi takjub dengan mengucap bârakallâh.
Poin Kelima:Keapikan bayân (penjelasan).
Yaitu keunggulan, kekuatan, dan keistimewaan dari sisi penjelasannya. Sebagaimana sebagian besar konstruksi dan redaksi al-Qur’an mengandung kefasihan, maknanya berisi balagah, gaya bahasanya menampilkan keindahan, maka sisi bayannya juga berisi keunggulan yang luar biasa.Ya, bayan atau cara penjelasan al-Qur’an berada pada tingkat tuturan yang paling tinggi. Misalnya dalam hal memberikan motivasi dan ancaman, pujian dan celaan, penetapan dan petunjuk, serta dalam memberikan pemahaman dan argumen.
Di antara ribuan contoh tentang “pemberian motivasi dan anjuran” adalah surah al-Insân. Sebab, penjelasan al-Qur’an pada surah tersebut demikian indah seperti telaga kautsar; apik mengalir seperti mata air salsabil; nikmat seperti buah surga; dan indah seperti perhiasan bidadari.(*4)
Di antara contoh yang tak terhingga terkait dengan “pemberian ancaman dan peringatan” adalah pendahuluan surah al-Ghâsyiyah. Sebab, penjelasan al-Qur’an pada surah tersebut memberikan pengaruh mendalam seperti tembakan peluru di telinga kaum yang sesat, laksana kobaran api di akal mereka, serta ibarat pohon zaqqum di tenggorokan, nyala neraka di wajah, serta makanan berduri di perut mereka. Ya, jika “yang diberi perintah untuk menyiksa” saja, yaitu neraka “nyaris pecah karena murka” (QS. Al-Mulk [67]: 8), apalagi dengan ancaman Dzat “yang memberi perintah untuk menyiksa”, Allah .
Di antara ribuan contoh tentang “pujian” adalah lima surah yang diawali dengan kalimat Z [. Sebab, penjelasan al-Qur’an pada surah-surah tersebut demikian terang laksana matahari,(*5)indah laksana bintang, menakjubkan laksana langit dan bumi, dicinta dan disenangi laksana malaikat, lembut laksana kasih sayang terhadap anak-anak di dunia, serta menyenangkan laksana surga di akhirat.
Di antara ribuan contoh tentang “kecaman dan celaan” adalah ayat yang berbunyi:“Adakah seorang di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?...” (QS. al-Hujurât [49]: 12).Ayat ini melarang dan mengecam dengan sangat keras perbuatan gibah (menggunjing) dalam enam tingkatan. Karena pesan ayat di atas ditujukan kepada mereka yang suka menggunjing, maka ayat tersebut bermakna sebagai berikut: Huruf hamzah (ﺃ) yang terdapat di awal digunakan untuk memberikan sebuah pertanyaan retoris (istifhâm inkârî). Makna pertanyaan tersebut menembus dan mengalir seperti air ke semua kata dalam ayat di atas sehingga setiap kata mengandung makna.(*6)
Kata pertama dalam ayat tersebut adalah huruf hamzah (ﺃ). Dengan hamzah (pertanyaan), ayat tersebut bermaksud menegur pembacanya: “Apakah kalian tidak memiliki akal—yang bisa berpikir—sehingga dapat memahami betapa buruknya perilaku gibah ini?”.
Dalam kata kedua, yaitu Z ‘suka’, ayat tersebut bermaksud menegur dengan pertanyaan: “Apakah hati kalian—yang merupakan tempat rasa cinta dan benci—telah rusak sehingga mencintai sesuatu yang paling buruk dan menjijikkan?”.
Dalam kata ketiga, yakni (اَحَدُكُم۟) ‘salah seorang di antara kalian’, ayat tersebut bermaksud menegur dengan pertanyaan: “Apa yang telah terjadi dengan kehidupan sosial dan peradaban kalian—yang vitalitasnya bersumber dari vitalitas jamaah—sehingga ia rela dengan suatu perbuatan yang bisa meracuni kehidupan kalian?”.
Dalam kata keempat, yakni (اَن۟ يَا۟كُلَ لَح۟مَ) ‘memakan daging’, ayat tersebut bermaksud menegur dengan pertanyaan: “Ada apa dengan rasa kemanusiaan kalian sehingga kalian tega memangsa teman akrab kalian sendiri?”.
Dalam kata kelima, yaitu (اَخٖيهِ) ‘saudaranya’, ayat tersebut bermaksud menegur dengan pertanyaan: “Tidakkah kalian mempunyai belas kasihan terhadap sesama manusia?! Apakah kalian tidak memiliki hubungan kekerabatan yang mengikat kalian dengan mereka sehingga kalian tega menerkam saudara kalian—dilihat dari beberapa sisi—secara biadab?! Apakah orang yang tega menggigit anggota badannya sendiri bisa dikatakan memiliki akal?! Bukankah orang seperti itu adalah orang gila?”.
Dalam kata keenam, yaitu (مَي۟تًا) ‘yang sudah mati’, ayat tersebut bermaksud menegur dengan pertanyaan: “Di mana nurani kalian? Apakah fitrah kalian telah rusak sehingga melakukan tindakan yang paling buruk dan menjijikkan, yaitu memakan daging saudara kalian, padahal mereka adalah orang yang layak kalian hormati?!”.
Dari ayat yang mulia ini—dan lewat berbagai dalil dalam ungkapannya yang telah kami sebutkan—dapat dipahami bahwa gibah adalah perbuatan yang tercela dilihat dari sudut pandang akal, kalbu, rasa kemanusiaan, perasaan, fitrah, dan hubungan sosial.Renungkan makna ayat mulia di atas dan lihatlah bagaimana ayat tersebut mengutuk perbuatan gibah dalam enam tingkatan dengan bahasa yang penuh mukjizat dan sangat ringkas.
Selanjutnya, di antara ribuan contoh tentang “penetapan” adalah ayat yang berbunyi:“Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Tuhan yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. ar-Rûm [30]: 50).Ayat di atas menetapkan kebangkitan dan menghapus keraguan tentangnya dengan penjelasan yang sangat memadai. Hal ini sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam ‘hakikat kesembilan’ dari “Kalimat Kesepuluh” serta pada ‘kilau kelima’ dari “Kalimat Kedua Puluh Dua”. Yaitu bahwa setiap kali musim semi tiba, seakan-akan bumi dibangkitkan kembali dengan kemunculan 300 ribu bentuk kebangkitan secara sangat rapi dan istimewa, padahal ia demikian bercampur dan berbaur, sehingga proses menghidupkan dan membangkitkan tersebut demikian jelas bagi semua yang melihat. Seakan-akan ia berkata, “Dzat yang menghidupkan bumi semacam ini tidak sulit untuk membangkitkan manusia di hari akhir”. Kemudian penulisan ratusan ribu jenis makhluk hidup di atas lembaran bumi lewat pena qudrah tanpa ada yang keliru dan cacat merupakan stempel Dzat Yang Maha Esa. Di samping membuktikan tauhid, ayat itu juga membuktikan kiamat dan kebangkitan seraya menjelaskan bahwa pengumpulan dan kebangkitan makhluk sangat mudah bagi kekuasaan-Nya. Ia adalah sesuatu yang pasti sebagaimana kepastian terbit dan terbenamnya matahari.Selain itu, ayat di atas ketika menjelaskan hakikat yang ada dengan redaksi (كَي۟فَ ) ‘bagaimana’, yakni dari sisi cara, maka surahsurah yang lain merinci cara yang dimaksud.
Misalnya surah Qâf. Ia menegaskan keberadaan kebangkitan dengan penjelasan indah dan cemerlang yang memberikan pelajaran bahwa kedatangan kebangkitan tidak diragukan seperti kedatangan musim semi. Perhatikan bagaimana al-Qur’an menjawab kaum kafir yang ingkar dan sikap heran mereka terhadap proses menghidupkan tulang-belulang berikut perubahannya menjadi makhluk yang baru.Al-Qur’an berkata:“Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikan dan menghiasinya serta bagaimana langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun? Kami hamparkan bumi dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah). Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya. Lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, juga pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun. Hal itu untuk menjadi rezeki bagi hamba. Kami hidupkan dengan air tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.” (QS. Qâf [50]: 6-11).Penjelasan di atas mengalir seperti air yang deras. Ia bersinar laksana bintang yang terang. Ia memberi makan dan nutrisi kepada kalbu dengan makanan yang manis dan nikmat laksana kurma. Maka, ia menjadi nutrisi sekaligus makanan yang nikmat.
Di antara contoh paling tepat tentang ‘penetapan’ adalah ayat berikut:“Yâ sîn. Demi al-Qur’an yang penuh hikmah. Engkau termasuk rasul yang diutus.” (QS. Yâsîn [36]: 1-3).Sumpah di atas menunjukkan bukti dan dalil kerasulan dengan sangat kuat dan jelas sehingga dalam hal kebenaran dan kejujuran ia mencapai tingkat penghormatan. Karenanya, ia menjadi alat sumpah. Dengan petunjuk tersebut, al-Qur’an al-Karim ingin berkata, “Engkau adalah rasul karena di tanganmu terdapat al-Qur’an yang penuh hikmah. Al-Qur’an itu sendiri adalah sesuatu yang haq dan perkataan yang benar. Pasalnya, ia berisi hikmah hakiki dan terdapat stempel kemukjizatan.
“Ia berkata: Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh?” Katakanlah: Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali pertama. Dia Maha mengetahui tentang segala makhluk.” (QS. Yâsîn [36]: 78-79).
Pada contoh ketiga dari ‘hakikat kesembilan’ dalam “Kalimat Kesepuluh” terdapat deskripsi indah tentang persoalan ini, kurang lebih seperti ilustrasi berikut: Seorang pembesar dapat membentuk pasukan besar hanya dalam satu hari. Lalu ada seseorang yang berkata, “Orang ini mampu mengumpulkan prajurit yang bertebaran untuk istirahat hanya dengan satu tiupan. Seketika satu batalion berbaris rapi di hadapannya.” Nah wahai manusia jika engkau berkata, “Aku tidak percaya,” maka engkau dapat memahami betapa sikap ingkarmu tersebut sangat mengada-ada.
Demikian pula dengan Dzat yang menciptakan jasad seluruh makhluk hidup dari tiada laksana pasukan besar dengan sangat rapi dan penuh hikmah, lalu mengumpulkan semua partikel jasad lewat perintah kun fayakûn pada setiap masa, bahkan pada setiap musim semi, di seluruh permukaan bumi, kemudian Dia menghadirkan ratusan ribu contoh makhluk hidup sejenis, sudah pasti Dzat Mahakuasa dan Maha Mengetahui yang melakukan semua itu tidak sulit untuk mengumpulkan partikel-partikel dasar dan bagian utama dalam satu sistem tubuh laksana pasukan besar yang rapi hanya dengan tiupan malaikat Israfil. Sikap tidak percaya kepada kemampuan Dzat Yang Mahakuasa dan Maha Mengetahui itu tentu merupakan sikap tidak waras.
Dalam hal ‘petunjuk dan bimbingan’, maka penjelasan al-Qur’an sangat efektif, mulia, dan halus sehingga membuat jiwa dipenuhi oleh rasa rindu, akal dipenuhi oleh keingintahuan, serta membuat mata berlinang.
Dari sekian ribu contoh yang ada, kita ambil ayat berikut:“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang menjadi sumber aliran sungai, di antaranya ada yang terbelah lalu keluarlah mata air darinya, serta di antaranya ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Allah sekali-sekali tidak lengah terhadap apa yang kalian kerjakan.” (QS. al-Baqarah [2]: 74).
Seperti telah kami jelaskan dalam pembahasan ayat ketiga dari ‘kedudukan pertama’ dalam “Kalimat Kedua Puluh”, ayat di atas berbicara kepada Bani Israil: “Apa yang terjadi pada kalian wahai Bani Israil sehingga tidak peduli dengan semua mukjizat Musa . Mata kalian kering; tak bisa menangis. Kalbu kalian kesat dan keras; tak ada rasa rindu. Padahal, batu yang keras saja bisa mengeluarkan air dari dua belas mata air dengan satu kali pukulan tongkat Musa . Ini merupakan salah satu dari sekian banyak mukjizat yang ia miliki”. Kita cukupkan sampai di sini dan untuk mendapatkan penjelasan yang lebih rinci, silakan merujuk kepada “kalimat” tersebut. Di dalamnya terdapat penjelasan yang cukup memadai.
Terkait dengan ‘pemberian argumen mematikan’ perhatikan dua contoh berikut di antara ribuan contoh yang ada.
“Jika kalian (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), datangkan satu surah (saja) yang semisal al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. al-Baqarah [2]: 23). Di sini kami hanya akan memberikan sebuah petunjuk global, sebab hal itu telah kami jelaskan dalam buku Isyârât al-I’jâz. Yaitu bahwa al-Qur’an al-Mu’jizul Bayân berkata,
“Wahai seluruh jin dan manusia, jika kalian masih ragu bahwa al-Qur’an merupakan kalam Allah serta kalian menyangka bahwa ia adalah ucapan manusia, maka marilah menuju medan tantangan. Datangkan al-Qur’an seperti ini yang bersumber dari sosok buta huruf yang tidak tahu baca tulis seperti Muhammad yang kalian sebut ummi.
Jika kalian tak mampu melakukannya, datangkan dari orang yang tidak buta huruf, ahli retorika atau berilmu.
Jika kalian tidak mampu juga, datangkan ia dari sekelompok ahli retorika; bukan hanya dari satu orang. Bahkan kumpulkan semua orang fasih, ahli pidato, serta karya terbaik generasi terdahulu dan bantuan generasi mendatang berikut sekutu kalian selain Allah. Curahkan semua yang kalian miliki sehingga kalian dapat mendatangkan yang sejenis al-Qur’an.
Jika kalian tidak mampu, datangkan satu kitab yang seperti balagah dan susunan al-Qur’an tanpa melihat berbagai hakikatnya yang agung dan mukjizat maknawiyahnya.”Bahkan al-Qur’an menantang yang lebih rendah daripada itu dengan berkata:
“Datangkan sepuluh surah semisalnya yang dibuat-buat...” (QS. Hûd [11]: 13).Maksudnya, kebenaran maknanya tidak penting. Ia boleh berisi kebohongan yang dibuat-buat.
Jika kalian masih tidak mampu, hendaknya sepuluh surah saja; tidak perlu seluruh al-Qur’an.
Jika kalian masih tidak mampu, datangkan satu surah saja.
Jika kalian melihat ini tetap sulit, ia bisa berupa surah yang pendek. Akhirnya, jika kalian lemah tak mampu dan tidak akan mampu meski sangat butuh mendatangkan semisalnya karena kehormatan, kemuliaan, agama, fanatisme kesukuan, harta, jiwa, dunia, dan akhirat kalian hanya bisa terlindungi dengan mendatangkan semisalnya, Sebab jika tidak, di dunia kehormatan dan agama kalian berada dalam bahaya di samping kehinaan akan menyelimuti kalian dan harta kalian akan musnah, belum lagi di akhirat kalian akan menjadi kayu bakar neraka bersama patung kalian
di mana kalian diputuskan untuk berada di penjara abadi, maka:“Maka jagalah diri dari neraka yang bahan bakarnya berupa manusia dan bebatuan...” (QS. Al-Baqarah [2]: 24).Jika kalian mengakui ketidakmampuan kalian lewat delapan tingkatan yang ada, maka kalian harus mengetahui bahwa al-Qur’an merupakan mukjizat lewat delapan tingkatan. Kalian bisa beriman kepadanya atau tetap tidak bergeming sehingga neraka menjadi tempat kalian.
Setelah mengetahui penjelasan al-Qur’an di atas dan penetapannya dalam memberikan argumen mematikan, ucapkanlah, لَي۟سَ بَع۟دَ بَيَانِ ال۟قُر۟اٰنِ بَيَانٌ
“Benar bahwa tidak ada penjelasan yang mengungguli penjelasan al-Qur’an.”
Contoh kedua:
Di antara ribuan hakikat yang dikandung oleh ayat-ayat di atas, kami hanya akan menjelaskan sebuah hakikat sebagai contoh dari pemberian argumen yang bisa mematahkan musuh, yaitu sebagai berikut:Ayat-ayat di atas membungkam semua kaum sesat sekaligus menutup dan melenyapkan celah-celah keraguan. Hal itu dengan redaksi اَم۟ - اَم۟ ‘Ataukah...Ataukah’ sebanyak lima belas tingkatan pertanyaan retoris (istifhâm inkâri). Tidak ada satupun celah yang menjadi sandaran kaum sesat kecuali segera ditutup. Tidak satupun tirai yang mereka jadikan tempat bersembunyi kecuali disingkap.
Tidak satupun kebohongan mereka kecuali dibantah. Setiap bagian darinya membatalkan rangkuman konsep kekufuran yang dibawa oleh kaum kafir. Baik dengan penjelasan singkat atau dengan mendiamkannya, atau mengembalikannya kepada intuisi karena jelas menyimpang, atau dengan memberikan petunjuk umum. Sebab, semua konsep kekufuran itu telah terjawab dan disanggah di bagian lain secara rinci.Misalnya:Bagian pertama mengarah kepada ayat yang berbunyi:“Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah pantas baginya...” (QS. Yâsîn [36]: 69). Sementara bagian kelima belas mengarah kepada ayat yang berbunyi:“Andaikan di dalamnya terdapat tuhan-tuhan selain Allah, tentu ia akan rusak...” (QS. al-Anbiyâ [21]: 22). Semua bagian atau paragraf juga demikian adanya.Pada pendahuluan ayat di atas berbunyi:
“Maka peringatkanlah, karena dengan nikmat Tuhanmu engkau (Muhammad) bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula orang gila.” Yakni, sampaikan semua hukum ilahi. Engkau bukan dukun. Sebab, ucapan dukun dibuat-buat, rancu dan hanya bersifat dugaan. Sementara ucapanmu adalah benar dan meyakinkan. Sampaikan hukum ilahi itu. Engkau tidak gila sama sekali. Para musuh sekalipun mengakui kesempurnaan akalmu.”
“Ataukah mereka mengatakan: Dia adalah seorang penyair yang kami nantikan kecelakaan menimpanya”.
Luar biasa! Apakah mereka menganggapmu penyair seperti kaum kafir yang awam yang tidak merujuk kepada akal? Ataukah mereka sebenarnya sedang menantikan kebinasaan dan kematianmu?! Jawablah mereka, “Tunggulah, aku juga sedang menunggu bersama kalian.” Berbagai hakikatmu yang agung dan cemerlang bersih dari segala khayalan dan hiasan syair.
“Ataukah mereka diperintah oleh pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini”.
Atau, mereka enggan mengikutimu seperti para filsuf yang bersandar pada akalnya yang kosong? Di mana mereka berkata, “Cukuplah bagi kami akal pikiran kami.” Padahal justru akal tersebut menyuruh untuk mengikutimu. Apa saja yang kau ucapkan adalah rasional. Namun ia tidak bisa dicapai hanya dengan akal.
“Ataukah mereka kaum yang melampaui batas?”.
Atau, sebab dari sikap ingkar mereka karena mereka tidak mau tunduk pada kebenaran seperti kaum tiran yang zalim? Padahal kesudahan dari para tiran yang sombong seperti Fir’aun dan Namrud telah diketahui.
“Ataukah mereka berkata, ‘Ia (Muhammad) membuat-buatnya’. Sebenarnya mereka tidak beriman”.
Atau, mereka menuduhmu dengan menganggap al-Qur’an sebagai hasil karyamu seperti yang dikatakan oleh orang-orang munafik pendusta yang tidak memiliki hati nurani? Padahal, mereka itulah yang telah memanggilmu dengan sebutan “Muhammad al-Amîn” (yang amanah) karena kejujuranmu. Jadi, mereka sama sekali tidak ada niat untuk beriman. Jika tidak, hendaklah mereka menemukan hal yang sepadan dengan al-Qur’an dalam karya manusia.
“Ataukah mereka diciptakan tanpa sesuatupun”.
Atau, mereka menganggap diri mereka lepas begitu saja, tercipta secara sia-sia tanpa tujuan dan tugas, serta tidak ada yang mencipta mereka? Apakah mereka mengira alam ini seluruhnya sia-sia seperti yang diyakini oleh para filsuf?! Atau, apakah mata mereka buta? Apakah mereka tidak melihat seluruh alam ini dari ujung ke ujung bagaimana ia terhias dengan berbagai hikmah dan sejumlah tujuan, lalu seluruh entitas mulai dari partikel hingga galaksi memiliki tugas-tugas agung dan tunduk kepada perintah ilahi.
“Ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?”.
Atau, mereka menganggap bahwa segala sesuatu terbentuk dengan sendirinya, tumbuh besar dengan sendirinya, serta seluruh kebutuhannya tercipta dengan sendirinya seperti yang dikatakan oleh kalangan materialis yang congkak sehingga mereka enggan beriman dan menyembah Allah. Kalau begitu, berarti mereka menganggap diri mereka sendiri sebagai pencipta. Padahal, pencipta sesuatu pada saat yang sama juga harus menciptakan segala sesuatu. Jadi, sikap sombong dan lupa diri membuat mereka demikian bodoh hingga menganggap bahwa sosok yang lemah di hadapan makhluk yang paling lemah—seperti lalat dan mikroba—memiliki kekuasaan mutlak. Selama mereka berpikiran semacam itu dan melupakan sisi kemanusiaannya, berarti mereka lebih sesat daripada binatang. Bahkan lebih rendah daripada benda mati sekalipun. Jangan pedulikan sikap ingkar mereka. Namun posisikan mereka sebagai bagian dari hewan berbahaya dan materi yang rusak. Jangan hiraukan mereka dan jangan pernah memberikan perhatian kepada mereka.
“Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)”.
Atau, mereka mengingkari wujud Allah ﷻ seperti kaum pengingkar yang bodoh yang menyangkal keberadaan Sang Pencipta sehingga mereka tidak mau mendengarkan al-Qur’an. Kalau begitu, mereka harus mengingkari pula keberadaan langit dan bumi. Ataukah mereka harus mengaku sebagai penciptanya sehingga menanggalkan akal secara total dan jatuh dalam ketidakwarasan. Sebab, bukti-bukti tauhid demikian jelas. Ia dapat dilihat di seluruh penjuru alam sebanyak bintang di langit dan sebanyak bunga di bumi. Semuanya menunjukkan wujud Allah ﷻ. Dengan demikian, mereka tidak ada niat untuk tunduk kepada kebenaran dan keyakinan. Jika tidak, bagaimana mungkin mereka menganggap kitab alam yang besar ini yang setiap hurufnya mengeluarkan ribuan kitab tidak memiliki penulis. Padahal, mereka mengetahui dengan baik bahwa setiap huruf pasti ada yang menulisnya.
“Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu?”.
Atau, mereka menafikan kehendak ilahi sebagaimana sikap sebagian filsuf yang sesat. Atau, mereka mengingkari prinsip kenabian sebagaimana sikap penganut Hinduisme sehingga tidak percaya kepadamu. Kalau begitu, mereka harus mengingkari semua jejak hikmah, berbagai tujuan mulia, keteraturan menakjubkan, berbagai manfaat yang memberikan buah, tanda-tanda rahmat yang luas, serta perhatian luar biasa yang terlihat pada semua entitas yang hal itu menunjukkan adanya kehendak ilahi. Mereka juga harus mengingkari semua mukjizat para nabi. Atau, mereka harus berkata, “Perbendaharaan yang mencurahkan kebaikan atas seluruh makhluk berada di tangan kami”. Mereka memperlihatkan bahwa mereka tidak layak untuk mendapat pesan Tuhan. Jika demikian, jangan meratapi pengingkaran mereka. Allah memang memiliki banyak hewan yang tidak punya akal.
“Ataukah mereka yang berkuasa?”.
Atau, mereka menyangka diri mereka sebagai pengawas atas perbuatan Allah? Apa mereka ingin menjadikan Allah ﷻ sebagai penanggungjawab seperti kelompok Muktazilah yang memosisikan akal sebagai penguasa. Acuhkan dan abaikan mereka. Sebab, sikap ingkar kaum yang tertipu itu sama sekali tidak berguna.
“Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang gaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata”.
Atau, mereka mengira diri mereka telah menemukan jalan lain menuju alam gaib seperti yang diklaim oleh para dukun yang mengikuti setan dan jin serta seperti para pesulap yang menghadirkan arwah? Atau, mereka mengira diri mereka memiliki tangga menuju langit yang tertutup bagi setan sehingga mereka tidak mau mempercayai informasi langit yang kau terima. Sikap pengingkaran kaum penipu yang ingkar itu sama dengan tidak ada.
“Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki?”.
Atau, mereka menisbatkan sekutu kepada Dzat Yang Mahaesa dengan nama akal sepuluh (al`uqûl al-`asyarah) dan pemelihara spesies seperti yang dipahami para filsuf penyembah berhala? Atau, mereka menisbatkan sekutu dengan sejenis sifat uluhiyah yang dilekatkan kepada bintang dan malaikat seperti kaum Shabîiyyûn. Atau, dengan menisbatkan anak kepada Allah ﷻ seperti perkataan kaum ateis dan kelompok sesat? Atau, mereka menisbatkan kepada-Nya anak yang menafikan kemutlakan wujud Dzat Yang Mahaesa berikut keesaan dan sifat shamadaniyah-Nya, padahal Dia Maha tidak membutuhkan dan Maha Mulia? Atau, mereka menisbatkan sifat feminin kepada malaikat yang menafikan tabiat mereka sebagai makhluk yang taat beribadah dan terbebas dari dosa (ishmah)? Atau, mereka mengira bahwa dengan cara seperti itu mereka menghadirkan para pemberi syafaat untuk diri mereka sehingga tak perlu mengikutimu? Manusia fana yang mengharapkan penolong, yang tercipta dalam kondisi mencintai dunia hingga mabuk padanya, yang lemah dan membutuhkan keabadian spesiesnya, yang dipersiapkan untuk berketurunan sebagai landasan kelangsungan hidup seluruh makhluk, maka menisbatkan sifat berketurunan kepada Dzat yang wujud-Nya bersifat wajib— di mana Dia abadi, azali, tidak berwujud fisik, yang qudrah-Nya tidak bercampur dengan kelemahan, Mahaesa, Mahaagung, dan Maha Mulia—serta menisbatkan anak kepada-Nya, apalagi anak itu berupa sosok yang lemah seperti wanita yang tidak disenangi oleh sikap congkak mereka adalah puncak dari omong kosong, igauan dan ketidakwarasan. Oleh karena itu, kebohongan mereka itu tak perlu disanggah. Engkau tidak perlu mendengarkan mereka dan tidak perlu memedulikan mereka. Sebab, omong kosong orang mabuk dan igauan orang gila tidak perlu didengar.
“Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang?”.
Atau, mereka melihat berbagai tugas ubudiyah yang engkau minta dari mereka merupakan beban yang berat seperti anggapan para pembangkang yang cinta dunia dan terbiasa dengan kehinaan sehingga lari dari tugas tersebut. Tidakkah mereka mengetahui bahwa engkau hanya mengharapkan upah dari Allah. Beratkah mereka bersedekah dari harta yang Allah berikan pada mereka agar harta itu semakin berkah, agar kaum fakir tidak dengki padanya, serta agar pemiliknya tidak didoakan buruk oleh mereka? Apakah berzakat—yang hanya sepuluh persen (10%)(*7)atau dua koma lima persen (2,5%)(*8)dari harta yang ada—dianggap berat sehingga mereka lari dari Islam? Penyangkalan mereka tidak penting sehingga tidak perlu dijawab. Mereka hanya perlu diberi pelajaran, bukan jawaban.
“Ataukah di sisi mereka terdapat pengetahuan tentang hal gaib, lalu mereka menuliskannya?”.
Atau, informasi gaib yang engkau terima tidak menarik bagi mereka sehingga mereka mengaku mengetahui hal gaib seperti kaum Buddhis dan rasionalis yang menganggap prasangka sebagai sebuah keyakinan. Apakah mereka memiliki kitab dari alam gaib sehingga berani menolak kitab sucimu yang (isinya) bersumber dari alam gaib? Alam tersebut tidak mungkin tersingkap tabirnya kecuali kepada para rasul yang mendapat wahyu dan tak seorangpun yang bisa masuk ke dalamnya sendiri. Sikap ingkar kaum congkak yang melampaui batas itu tidak layak mematahkan semangatmu. Sebentar lagi berbagai hakikat yang engkau miliki akan menghancurkan ilusi mereka.
“Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Sesungguhnya orang-orang yang kafir itulah yang terkena tipu daya”.
Atau, mereka ingin menjadi seperti kaum munafik yang fitrah dan nurani mereka telah rusak, serta seperti kaum zindik pembuat makar yang menghalangi manusia dari jalan hidayah lewat tipu daya sehingga mereka mengalihkan manusia dari jalan yang benar. Bahkan mereka menyebutmu sebagai dukun, orang gila, dan tukang sihir. Padahal mereka sendiri tidak mempercayai klaim tersebut, apalagi orang lain. Karena itu, jangan Kau hiraukan para pendusta yang menipu itu serta jangan menganggap mereka sebagai manusia. Namun teruslah berdakwah di jalan Allah tanpa pernah surut. Mereka hanya menipu diri sendiri serta menimpakan bahaya kepada diri mereka sendiri. Kesuksesan mereka dalam melakukan kerusakan dan tipu daya hanya sementara waktu. Itu hanya istidraj dan makar ilahi.
“Ataukah mereka mempunyai Tuhan selain Allah. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”.
Atau, mereka menentangmu dan merasa tidak membutuhkanmu karena merasa ada tuhan selain Allah yang menjadi sandaran mereka seperti kaum Majusi yang mengangkat dua tuhan sebagai pencipta kebaikan dan pencipta keburukan. Atau, seperti para penyembah sebab dan berhala di mana mereka memberikan sejenis sifat uluhiyah kepada sebab-sebab tersebut dan menggambarkannya sebagai tempat sandaran. Mata mereka telah buta sehingga tidak melihat keteraturan yang paling sempurna dan jelas sejelas siang di jagat raya ini serta keharmonisan yang paling indah di dalamnya?!Dengan konsekuensi firman Allah:“Andaikan di dalamnya (langit dan bumi) terdapat tuhan-tuhan selain Allah, tentu tatanan keduanya rusak...” (QS. al-Anbiyâ [21]: 22), jika terdapat dua lurah di satu kelurahan, atau dua gubernur di sebuah provinsi, atau dua presiden di sebuah negara, maka kondisinya tidak akan teratur dan tidak harmonis. Sementara keteraturan dan kerapian yang cermat terlihat jelas mulai dari sayap nyamuk hingga bintang di langit. Jadi, tidak ada tempat bagi sekutu meski hanya seukuran sayap nyamuk. Selama mereka masih tidak mau menggunakan akal dan menjauhi logika sehat serta melakukan berbagai hal yang berseberangan dengan nalar dan aksioma, maka sikap ingkar mereka tidak usah mengalihkan perhatianmu dalam memberi peringatan dan petunjuk.
Demikianlah, ayat-ayat di atas yang merupakan rangkaian berbagai hakikat telah kami jelaskan secara umum salah satu saja dari ratusan permata darinya. Yaitu permata yang terkait dengan ‘pemberian argumen mematikan’. Andaikan aku memiliki kemampuan untuk menjelaskan sejumlah permata lain darinya, tentu Engkau juga akan berkata, “Ayat-ayat ini merupakan mukjizat itu sendiri.”
Selanjutnya, penjelasan al-Qur’an terkait dengan ‘pemberian pemahaman dan pengajaran’ sungguh luar biasa dan sangat istimewa. Sehingga dengan penjelasan tersebut, orang yang paling awam sekalipun dapat memahami hakikat paling agung dan paling dalam dengan mudah.
Ya, al-Qur’an yang terang menunjukkan banyak hakikat tersembunyi lalu mengajarkannya kepada masyarakat dengan bahasa yang mudah dan jelas serta dengan penjelasan yang memadai di mana sesuai dengan nalar masyarakat umum, tidak melukai perasaan mereka dan tidak terasa berat bagi mereka. Sebagaimana ketika berbicara dengan anak kecil, seseorang akan memergunakan ungkapan yang tepat untuknya. Demikian pula dengan gaya bahasa al-Qur’an yang disebut: “Penyesuaian firman ilahi dengan akal manusia” merupakan pesan yang turun ke tingkat pemahaman si penerima pesan sehingga orang yang paling awam dapat diberi pemahaman mengenai berbagai hakikat tersembunyi dan rahasia rabbani, di mana hal ini sulit untuk dilakukan oleh para ahli hikmah. Hal itu dilakukan lewat berbagai perumpamaan dan tamsil dalam bentuk yang bermiripan.
Misalnya firman Allah yang berbunyi:“Tuhan Yang Maha Penyayang bersemayam di atas Arasy.” (QS. Thâhâ [20]: 5).Ayat ini menjelaskan sifat rububiyah ilahi dan tata cara penataan sifat tersebut terhadap sejumlah urusan alam dalam bentuk perumpamaan atas kedudukan rububiyah dengan penguasa yang bersemayam di tahtanya dan mengatur urusannya.
Ya, karena al-Qur’an merupakan kalam Tuhan semesta alam, ia turun dari kedudukan rububiyah-Nya yang paling agung di mana mendominasi semua kedudukan lainnya. Ia membimbing orangorang yang sampai kepada berbagai kedudukan tersebut, menembus 70 ribu tabir, mengarah kepadanya sekaligus menyinarinya. Ia menebarkan cahayanya kepada ribuan tingkatan orang-orang yang menjadi objek pesannya yang berbeda-beda tingkat pemahaman. Ia mencurahkan limpahan karunianya sepanjang masa yang memiliki potensi yang beraneka ragam. Meskipun berbagai maknanya disebarkan dengan sangat mudah ke berbagai penjuru dan zaman, namun vitalitas dan kesegarannya tetap terpelihara dan tidak kehilangan sedikitpun. Bahkan, ia tetap indah, halus, dan lembut. Sebagaimana ia menyampaikan sejumlah pelajaran kepada orang awam dengan mudah, hal yang sama juga terjadi pada semua kalangan yang memiliki tingkat pemahaman dan kecerdasan yang berbeda-beda. Ia membimbing mereka semua menuju jalan kebenaran dan membuat mereka bisa menerima.Dalam al-Qur’an, ke manapun engkau arahkan pandanganmu, di situ engkau akan menyaksikan kilau kemukjizatan.
Kesimpulannya, sebagaimana lafal al-Qur’an seperti kata alhamdulillah ketika dibaca dapat memenuhi goa yang laksana telinga gunung, pada saat yang sama ia juga memenuhi dua telinga kecil milik nyamuk. Lafal yang sama terdengar pada keduanya. Demikian pula dengan berbagai makna al-Qur’an. Sebagaimana ia memuaskan akal para pembesar, ia juga bisa memberikan pemahaman kepada akal yang kecil dan sederhana. Dengan kata yang sama, ia membuat akal mereka merasa puas. Hal itu karena al-Qur’an mengajak seluruh lapisan jin dan manusia untuk beriman. Ia mengajarkan ilmu keimanan kepada seluruh jin dan manusia sekaligus membuktikannya. Oleh karena itu, orang yang paling dungu dari kalangan awam bisa mendengar pelajaran dan bimbingan al-Qur’an bersama-sama dengan kalangan yang paling khawas.
Dengan kata lain, al-Qur’an al-Karim merupakan hidangan langit yang di dalamnya ribuan tingkat pemikiran, akal, kalbu, dan jiwa bisa menemukan makanan mereka. Masing-masing sesuai dengan selera dan kebutuhan. Bahkan banyak dari pintu al-Qur’an yang tetap tertutup agar bisa dibuka pada waktu mendatang.Jika engkau ingin melihat buktinya, seluruh isi al-Qur’an dari awal hingga akhir berisi berbagai contoh tentang hal tersebut.
Ya, para mujtahid, kalangan shiddîqîn, ahli hikmah, ulama muhaqqiqîn dan mudaqqiqîn, ulama ushul fikih, ahli kalam, para wali, serta seluruh kaum muslimin secara umum yang memperhatikan petunjuk al-Qur’an, mereka semua sepakat, “Kami menerima pelajaran dalam bentuk terbaik dari al-Qur’an.”
Kesimpulannya, kilau kemukjizatan al-Qur’an dalam tingkatan ini (pengajaran) bersinar terang sebagaimana dalam seluruh tingkatan lainnya.
KILAU KEDUA
Universalitas al-Qur’an yang Luar Biasa
(Lima Cahaya)
Cahaya Pertama
Universalitas yang luar biasa dalam lafalnya.
Hal ini sangat jelas dalam sejumlah ayat yang disebutkan dalam kalimat-kalimat sebelumnya. Ya, lafal-lafal al-Qur’an ditempatkan secara tepat di mana setiap klausa, bahkan setiap kata, setiap huruf, dan bahkan diamnya kadangkala memiliki aspek yang sangat banyak. Masing-masing memberikan bagian kepada sang penerima pesan dari beragam pintu yang ada seperti yang disebutkan oleh hadis Nabi x. Setiap ayat memiliki sisi lahir dan batin, awal dan akhir,(*9)ranting, dahan, dan tujuan.(*10)
Misalnya, ayat yang berbunyi:“Gunung-gunung sebagai pasak.” (QS. an-Naba’ [78]: 7).
Dari ayat tersebut, orang awam mengambil bagiannya dengan cara melihat gunung laksana pasak yang tertanam di bumi seperti yang terlihat oleh mata. Ia dapat merenungkan berbagai nikmat dan manfaat yang terdapat padanya serta bersyukur kepada Penciptanya.
Dari ayat di atas, seorang penyair mengambil bagiannya dengan cara mengkhayalkan bumi sebagai daratan yang datar, sementara kubah langit digambarkan sebagai kemah besar berwarna biru yang dipasang di atasnya. Lalu kemah tersebut dihias dengan sejumlah lentera. Sejumlah gunung tampak memenuhi kaki langit (ufuk). Puncaknya menyentuh ujung langit. Ia tampak seolah-olah pasak dari kemah besar tadi. Mereka pun merasa kagum dan takjub serta menyucikan Sang Pencipta Yang Mahaagung.
Dari ayat di atas, seorang sastrawan badui mengambil bagiannya dengan cara menggambarkan permukaan bumi sebagai padang pasir yang luas, sementara pegunungan laksana rangkaian beragam tenda (kemah) yang terbentang untuk berbagai jenis makhluk. Lapisan tanah ibarat penutup pasak-pasak tinggi itu, lalu gunung-gunung tersebut menembusnya dengan ujungnya yang runcing seraya menjadikannya sebagai habitat yang beragam bagi berbagai jenis makhluk. Demikianlah yang mereka pahami sehingga bersujud kepada Sang Pencipta Yang Mahaagung dengan penuh kekaguman seraya memosisikan makhluk besar (pegunungan) itu sebagai kemah yang dipasang di atas bumi.
Selanjutnya dari ayat di atas, seorang ahli geografi mengambil bagiannya dengan cara melihat bola bumi laksana kapal yang berlayar mengarungi gelombang lautan udara (angkasa), sementara gunung laksana pilar yang ditancapkan pada kapal tersebut guna menjaga stabilitas dan keseimbangannya. Demikianlah yang berada di benak seorang ahli geografi. Di hadapan keagungan Penguasa Yang Maha Sempurna yang telah menjadikan bola bumi yang besar sebagai kapal yang tertata di mana kita dinaikkan di dalamnya untuk berjalan menyusuri cakrawala, ia berkata, “Mahasuci Engkau. Betapa agung kekuasaan-Mu”.
Selanjutnya dari ayat di atas, seorang sosiolog dan pemerhati peradaban modern mengambil bagiannya dengan cara memahami bumi laksana tempat tinggal di mana pilar kehidupan tempat tinggal itu berupa keberadaan makhluk hidup. Sementara pilar kehidupan makhluk hidup tersebut berupa air, udara, dan tanah. Kemudian pilar kehidupan ketiganya adalah gunung. Sebab, gunung merupakan tempat penampungan air, penyaring udara dengan menyerap gas-gas berbahaya, pelindung tanah dengan menahan luapan air laut, sekaligus merupakan tempat penyimpanan berbagai hal yang dibutuhkan manusia. Begitulah ia memahami sehingga ia bersyukur dan menyucikan Sang Pencipta Yang Mahaagung dan Pemurah yang telah menjadikan gunung-gunung besar sebagai pasak dan gudang tempat menyimpan kebutuhan hidup di atas bumi yang menjadi habitat kita.
Lalu dari ayat di atas, seorang filsuf-naturalis mengambil bagiannya dengan cara memahami bahwa berbagai perpaduan, gejolak, dan gempa yang terjadi di perut bumi menjadi tenang dan stabil dengan keberadaan gunung. Jadi, gunung menjadi sebab stabilitas bumi di seputar sumbu dan porosnya serta membuatnya tidak keluar dari orbitnya. Seolah-olah bumi bernafas lewat celah-celah gunung sehingga murkanya menjadi reda. Demikianlah ia memahami dan beriman seraya berkata, “Hikmah hanya milik Allah.”
Contoh lain:“Langit dan bumi tadinya menyatu kemudian kami membelah keduanya...” (QS. al-Anbiyâ [21: 30). Kata (رَت۟قًا) ‘menyatu’ pada ayat di atas memberitahukan kepada kalangan yang belum terkontaminasi dengan pemikiran filsafat bahwa langit tadinya bening; tidak berawan, dan bumi tandus; tidak ada kehidupan di dalamnya. Nah, yang membuka pintu-pintu langit dengan hujan dan menghampar bumi dengan tanaman hijau adalah Dzat yang menciptakan semua makhluk dari air tadi. Seolah-olah terdapat semacam pengawinan atau penyerbukan di antara keduanya. Ini semua diatur oleh Dzat Yang Mahakuasa dan Mahaagung yang permukaan bumi baginya laksana kebun kecil dan awan yang menutupi wajah langit merupakan mesin penyiram untuk kebun tadi. Demikianlah yang bisa dipahami olehnya sehingga ia bersujud di hadapan keagungan qudrah-Nya.
Kata (رَت۟قًا) ‘menyatu’ juga memberitahukan kepada seorang fisikawan bahwa pada awal penciptaan, bumi dan langit adalah dua benda yang tidak berbentuk dan dua adonan segar yang tidak memberikan manfaat. Ketika hanya berupa materi yang tidak dihuni oleh makhluk, Sang Pencipta Yang Mahabijak menjadikan keduanya sebagai hamparan yang indah serta memberi bentuk yang bermanfaat, hiasan yang istiwewa, dan berbagai makhluk yang jumlahnya sangat banyak. Demikianlah yang dipahami olehnya sehingga membuatnya takjub di hadapan luasnya hikmah Allah.
Kata (رَت۟قًا) menjelaskan kepada para filsuf modern bahwa bola bumi serta seluruh planet yang membentuk tata surya, pada awalnya bercampur dengan matahari dalam bentuk adonan mentah yang belum terhampar. Maka Sang Mahakuasa Yang Mahahidup membelah adonan itu serta meletakkan berbagai planet pada tempatnya masingmasing. Matahari di sana, bumi di sini dan seterusnya. Dia hamparkan bumi dengan tanah, menyiramnya dengan air dari langit (hujan), menyinarinya dengan cahaya dari matahari serta menjadikannya sebagai tempat tinggal bagi manusia. Begitulah yang dipahami olehnya sehingga ia mengangkat kepala dari kubangan alam seraya berujar, “Aku beriman kepada Allah Yang Satu dan Esa.”
Contoh lain:“Matahari beredar di tempat peredarannya...” (QS. Yâsîn [36]: 38). Huruf lâm pada kata (لِمُس۟تَقَرٍّ) ‘tempat peredaran’ menunjukkan makna lâm itu sendiri (untuk), makna fî (di), dan makna ilâ (ke atau menuju). Huruf tersebut dipahami oleh kalangan awam dengan makna ilâ. Mereka memahami ayat di atas sebagai berikut: Matahari yang memberimu cahaya dan kehangatan berjalan menuju tempat peredarannya dan pada suatu saat ia akan sampai kepadanya. Pada saat itu, ia tidak akan memberikan manfaat kepada kalian. Dengan ini, mereka menyadari nikmat agung yang Allah hadirkan lewat keberadaan matahari. Maka mereka memuji dan menyucikan Tuhan seraya mengucap, “Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya.”
Ayat yang sama juga memperlihatkan huruf lâm dengan makna ilâ (menuju) kepada seorang yang berilmu. Hanya saja di sini, matahari tidak diartikan sebagai sumber cahaya semata. Namun sebagai kumparan yang melahirkan sejumlah kreasi ilahi yang dirangkai pada pabrik musim semi dan panas. Juga, sebagai tinta cahaya bagi pesan Ilahi yang ditulis di atas lembaran malam dan siang. Inilah yang terdapat di benaknya. Ia mencermati tatanan alam yang menakjubkan yang ditunjukkan oleh peredaran matahari secara lahiriah. Maka ia pun tunduk bersujud di hadapan Sang Pencipta Yang Mahabijak seraya mengucap, “Masyâ Allah” untuk kreasi-Nya dan “Bârakallah” untuk hikmah-Nya.
Sementara bagi astronom, huruf lâm dipahami dengan makna fî (di). Artinya, matahari mengatur gerakan sistem tata surya—laksana pegas jam—dengan cara berotasi (berputar pada porosnya). Di hadapan Sang Pencipta Yang Mahaagung yang telah menciptakan benda laksana jam besar ini ia tercengang dan kagum seraya berkata, “Keagungan dan kekuasaan ini hanya milik Allah.” Ia meninggalkan filsafat dan masuk ke wilayah hikmah al-Qur’an.
Huruf lâm di atas dipahami oleh seorang alim yang bijak dengan makna ‘sebab’ atau huruf yang menunjukkan situasi dan kondisi. Artinya, Sang Pencipta Yang Mahabijak menjadikan berbagai sebab lahiriah sebagai tirai bagi berbagai urusan-Nya. Dia mengaitkan berbagai planet dengan matahari lewat hukum-Nya yang disebut gravitasi. Dengan hukum tersebut, Dia menjalankan berbagai planet lewat berbagai gerakan namun tetap tertata rapi. Dia membuat matahari berotasi sebagai sebab lahiriah untuk melahirkan gaya gravitasi tersebut. Dengan kata lain, makna (لِمُس۟تَقَرٍّ) adalah bahwa matahari berputar di tempatnya (berotasi) agar sistem tata surya berjalan dengan stabil.
Sebab, rotasi matahari melahirkan panas, sementara panas melahirkan energi, lalu energi tadi melahirkan gravitasi. Itulah hukum dan sunnah ilahi.Demikianlah, seorang bijak memahami hikmah dari huruf al- Qur’an seperti di atas seraya berkata, “Segala puji milik Allah. Hikmah yang benar terdapat dalam al-Qur’an. Karena itu, menurutku filsafat tidak lagi berarti apa-apa.”
Huruf lâm dan kata “al-Istiqrâr” dalam ayat memberikan gambaran kepada orang yang memiliki akal sehat dan kalbu yang sensitif bahwa matahari merupakan pohon bercahaya dan planet yang berada di sekitarnya adalah buahnya yang sedang beredar. Berbeda dengan pohon lain, matahari ikut bergerak agar buahnya tidak berjatuhan atau berserakan. Matahari juga dapat digambarkan sebagai pimpinan dalam sebuah majelis zikir. Ia berzikir kepada Allah dalam pusat majelis tersebut dalam kondisi penuh cinta dan rindu hingga memberikan daya tarik kepada yang lain.Dalam risalah yang lain aku pernah memberikan penjelasan yang maknanya sebagai berikut:
Ya, matahari berbuah. Ia bergerak agar buahnya yang baik tidak berjatuhan.
Andaikata ia diam; tak bergerak, tentu akan kehilangan daya tarik sehingga para pecinta yang terdapat di angkasa yang luas itu bisa berjatuhan.
“Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. al-A’râf [7]:157).Dalam ayat di atas terdapat “simplifikasi kata” dan makna mutlak. Sebab, tidak ditentukan dengan apa mereka beruntung. Sehingga masing-masing bisa mendapatkan keinginannya di dalam “kata” tersebut. Redaksi ayat di atas sengaja dipersingkat agar maknanya luas. Pasalnya, sebagian menginginkan selamat dari api neraka. Sebagian lagi hanya memikirkan surga. Sebagian lainnya mendambakan kebahagiaan abadi. Sebagian mengharap rida ilahi semata. Lalu sebagian ingin melihat Allah ﷻ. Begitulah seterusnya. Al-Qur’an membiarkan redaksinya bersifat mutlak agar memberikan makna yang bersifat umum. Ia menyingkat agar mengandung banyak makna. Ia juga meringkas agar setiap orang bisa mendapatkan bagian darinya.
Jadi, kata (اَل۟مُف۟لِحُونَ) ‘orang-orang yang beruntung’ tidak menentukan dengan apa mereka akan beruntung. Dengan adanya simplifikasi kata, seakan-akan ayat tersebut berkata, “Wahai umat Islam, bergembiralah! Wahai yang bertakwa, engkau akan selamat dari neraka. Wahai hamba yang saleh, keberuntunganmu terdapat di surga. Wahai orang yang arif, engkau akan mendapat rida-Nya. Wahai pecinta keindahan Allah, engkau akan bisa melihat-Nya”. Demikian seterusnya.
Contoh lain:Kami telah mengemukakan satu contoh dari sisi universalitas lafal, klausa, kata, huruf, dan simplifikasi yang terdapat dalam al-Qur’an di antara ribuan contoh yang ada. Anda bisa menganalogikan penjelasan yang telah kami kemukakan dengan ayat dan kisah lainnya.
Contoh:“Ketahuilah tiada Tuhan selain Allah dan mohon ampunlah atas dosamu...” (QS. Muhammad [47]: 19). Ayat di atas memiliki banyak aspek dan kedudukan sehingga semua tingkatan wali dalam sarana suluk dan derajat mereka yang berbeda-beda membutuhkan ayat ini. Masing-masing mereka dapat mengambil nutrisi spiritual yang sesuai dengan tingkatannya karena lafal jalâlah (اللّٰهُ) merupakan nama yang mencakup seluruh Asmaul Husna. Di dalamnya terdapat berbagai jenis tauhid sesuai dengan jumlah nama itu sendiri.
Artinya, tidak ada Dzat Pemberi rezeki kecuali Dia. Tidak ada Pencipta kecuali Dia. Tidak ada Yang Maha Pengasih kecuali Dia. Demikian seterusnya.
Sebagai contoh: Kisah Musa yang termasuk salah satu dari kisah-kisah al-Qur’an. Di dalamnya terdapat sejumlah pelajaran sebanyak manfaat yang terdapat pada tongkat Musa. Pasalnya, ia menenangkan dan menghibur Rasul x, memberikan ancaman kepada kaum kafir, menghinakan kaum munafik, mencela bangsa Yahudi, serta berbagai tujuan serupa lainnya. Jadi, ia memiliki banyak aspek. Oleh karena itu, ia terulang dalam sejumlah surah. Meskipun ia mengetengahkan semua tujuan tersebut pada setiap tempat, namun salah satunya merupakan maksud utama sementara yang lain bersifat sekunder.
Barangkali engkau bertanya, “Bagaimana kita dapat memahami bahwa al-Qur’an menghendaki semua makna seperti yang disebutkan dalam berbagai contoh di atas?”
Jawabannya: Selama al-Qur’an al-Karîm merupakan pesan azali yang Allah jadikan sebagai sarana komunikasi dengan ragam tingkatan manusia sepanjang masa serta membimbing mereka semua, sudah pasti Dia memasukkan banyak makna agar sejalan dengan tingkat pemahaman yang beragam sekaligus memberikan sejumlah tanda atas kehendak-Nya itu.Ya, dalam buku Isyârât al-I’jâz, kami telah menjelaskan sejumlah makna yang terdapat di sini berikut berbagai makna kosakata al- Qur’an yang sejenis. Kami membuktikannya sesuai dengan kaidah ilmu gramatika serta sesuai dengan ketentuan ilmu bayan, semantik dan retorika.
Di samping itu, semua aspek dan makna yang sah menurut ilmu Bahasa Arab, benar menurut ilmu ushuluddin, sejalan dengan kaidah semantik, sesuai dengan ilmu bayan, dan dianggap baik dalam ilmu retorika (balagah), semuanya termasuk makna al-Qur’an. Hal itu didukung oleh kesepakatan para mujtahid, mufassir, ulama ushuluddin dan ushul fikih serta lewat kesaksian sudut pandang mereka yang berbeda-beda.Al-Qur’an al-Karîm telah memberikan sejumlah petunjuk atas setiap makna tersebut sesuai dengan tingkatannya. Ia bisa bersifat verbal dan non-verbal (maknawi). Petunjuk yang bersifat non-verbal bisa dilihat dari sisi konteks atau lewat petunjuk dari ayat lain yang menjelaskannya. Ratusan ribu buku tafsir di mana ada di antaranya yang mencapai delapan puluh jilid(*11)menjadi petunjuk yang kuat dan cemerlang atas universalitas dan keluarbiasaan redaksi al-Qur’an.Bagaimanapun, andaikan dalam kalimat ini setiap isyarat yang menunjukkan kepada setiap maknanya dijelaskan dengan kaidah yang ada, tentu pembahasannya akan panjang. Karena itu, kita cukupkan sampai di sini dan anda bisa merujuk kepada buku Isyârat al-I’jâz fî Mazhân al-Îjâz.
Cahaya Kedua
Universalitas yang luar biasa dalam maknanya.
Ya, lewat berbagai maknanya yang agung, al-Qur’an telah menyediakan limpahan sumber rujukan bagi semua mujtahid, rasa bagi seluruh kaum arif, jalan bagi seluruh kaum yang mencapai tingkat makrifat, sarana bagi seluruh kalangan yang sempurna, serta mazhab bagi semua ahli hakikat. Di samping itu, al-Qur’an menjadi pemandu dan pembimbing bagi mereka pada setiap waktu dalam menapaki tangga spiritual, sekaligus menjadi penebar cahaya terang di atas jalan mereka dari khazanahnya yang tidak pernah habis, sebagaimana hal itu telah diakui dan disepakati oleh mereka.
Cahaya Ketiga
Universalitas yang luar biasa dalam ilmunya.
Ya, di samping mengalirkan ilmu syariat yang sangat beragam, ilmu hakikat yang beraneka macam, dan ilmu tarekat yang tak terbatas dari lautan ilmunya, al-Qur’an al-Karîm juga mengalirkan secara melimpah dari lautan tersebut hikmah hakiki dari wilayah yang bersifat mungkin, ilmu hakiki dari wilayah wâjibul-wujûd, serta berbagai pengetahuan tentang negeri akhirat yang penuh rahasia. Jika kita ingin mengetengahkan contoh dari cahaya ini, maka dibutuhkan tulisan satu jilid penuh. Karena itu, kami hanya menjelaskan dua puluh lima kalimat yang telah dibahas sebelumnya.Ya, berbagai hakikat yang benar dari kedua puluh kalimat itu tidak lain merupakan dua puluh lima tetes dari lautan ilmu al-Qur’an. Jika terdapat kekurangan pada ‘kalimat-kalimat’ tersebut, maka hal itu kembali kepada pemahamanku yang terbatas.
Cahaya Keempat
Universalitas yang luar biasa dalam pembahasannya.
Ya, al- Qur’an telah mengumpulkan berbagai bahasan universal yang terkait dengan manusia dan tugasnya, alam dan Penciptanya, bumi dan langit, dunia dan akhirat, masa lalu dan masa depan, serta azali dan abadi. Di samping itu, ia juga memuat bahasan penting dan fundamental mulai dari penciptaan manusia dari nutfah hingga masuk ke dalam kubur; dari adab makan dan tidur hingga bahasan tentang qadha dan qadar; dari penciptaan alam dalam enam hari hingga berbagai tugas hembusan angin seperti yang ditunjukkan oleh sumpah dalam surah al-Mursalât [77] ayat 1:
“Demi angin yang dikirim (untuk membawa kebaikan)” dan dalam surah al-Dzâriyât [51] ayat 1:“Demi angin yang menebarkan debu.”Lalu, dari keikutsertaan Allah dalam kalbu dan kehendak manusia lewat petunjuk ayat-ayat berikut:“Kalian tidak berkehendak kecuali apa yang Allah kehendaki...”(QS. at-Takwîr [81]: 29),“Dia membatasi antara seseorang dan kalbunya...” (QS. al-Anfâl [8]: 24), hingga ayat yang berbunyi:“Langit terlipat di tangan kanan-Nya…” (QS. az-Zumar [39]: 67). Kemudian, dari ayat:“Kami jadikan di dalamnya sejumlah kebun dari kurma dan anggur...” (QS. Yâsîn [36]: 34), hingga hakikat menakjubkan yang dijelaskan oleh ayat berikut:“Ketika bumi digoncangkan dengan segoncang-goncangnya.” (QS. az-Zalzalah [99]: 1).Selanjutnya, dari kondisi langit dalam ayat:“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit yang masih merupakan asap...” (QS. Fushshilat [41]: 11) hingga terbelahnya langit, pudarnya bintang serta bagaimana ia tersebar di angkasa yang tak terbatas; dari terbukanya dunia untuk ujian hingga akhir ujian itu sendiri; dari kubur yang merupakan tingkatan akhirat pertama serta barzakh, kebangkitan, dan shirat hingga surga dan kebahagiaan abadi; dari berbagai kejadian masa lalu mulai penciptaan Adam عَلَيْهِ السَّلَامُ dan perseteruan kedua anaknya hingga badai, kebinasaan Fir’aun serta berbagai peristiwa besar yang terjadi pada sebagian besar nabi; dari peristiwa azali dalam ayat:“Bukankah Aku Tuhan kalian...” (QS. al-A’râf [7]: 172), hingga ayat yang berbunyi:“Sejumlah wajah pada hari itu ceria di mana ia melihat kepada Tuhannya” (QS. al-Qiyâmah [75]: 22-23) yang mengisyaratkan makna keabadian.Semua bahasan mendasar dan penting di atas dijelaskan dalam al-Qur’an secara gamblang sesuai dengan Dzat Allah Yang Mahamulia Yang menata seluruh alam laksana sebuah istana; Yang dengan mudah membuka dunia dan akhirat laksana dua kamar yang salah satunya dibuka sementara yang lain ditutup; Yang mengurus bumi sebagaimana mengurus sebuah kebun kecil dan mengatur langit seperti mengatur atap yang berhias lampu; Yang memantau masa lalu dan masa mendatang laksana dua halaman yang hadir di hadapan penyaksian-Nya seperti malam dan siang; Yang menyaksikan zaman azali dan abadi laksana hari ini dan kemarin; serta Yang menyaksikan keduanya seperti masa kini dimana kedua sisi rangkaian sifat ilahi bersambung di dalamnya.
Sebagaimana seorang arsitek berbicara tentang kedua bangunan dan pengelolaannya yang ia bangun serta membuat lembaran kerja dan daftar sistem untuk berbagai pekerjaan yang terkait dengannya. Al-Qur’an juga merupakan kalam penjelasan yang sesuai dengan Dzat yang mencipta dan menata alam di mana Dia menuliskan sekaligus memperlihatkan—kalau boleh dikatakan—lembaran kerja dan daftar program-Nya. Di dalamnya (al-Qur’an) tidak ada jejak yang menunjukkan adanya tindakan dibuat-buat atau kepura-puraan, juga tidak ada indikasi yang mengisyaratkan adanya perbuatan meniru ucapan siapapun, serta tidak ada petunjuk yang mengindikasikan adanya inversi (keterbalikan posisi), dan bentuk penipuan sejenisnya. Namun dengan segala keseriusannya, dengan segala ketulusannya, dan dengan segala kesungguhannya, ia demikian murni, berkilau, terang, dan bercahaya. Sebagaimana sinar matahari berucap, “Aku berasal dari matahari,” al-Qur’an juga berkata, “Aku adalah kalam dan penjelasan Sang Pencipta semesta alam.”
Ya, Dzat yang telah memperindah dunia, yang menghiasnya dengan sejumlah kreasi bernilai, yang memenuhinya dengan berbagai nikmat yang baik dan mengundang selera, serta yang menebarkan di permukaan bumi beragam makhluk menakjubkan dan anugerah berharga dengan sangat rapi, sesuai dan teratur adalah Sang Pencipta Yang Mahaagung dan Pemberi nikmat yang dermawan. Adakah selain-Nya yang layak menjadi pemilik bayan al-Qur’an di mana ia telah memenuhi dunia dengan penghormatan, apresiasi, kekaguman, pujian dan rasa syukur sehingga menjadikan bumi sebagai pusat zikir dan tahlil, masjid tempat menyebut nama Allah, serta galeri berbagai kreasi ilahi?! Adakah selain-Nya yang menjadi pemilik kalam ini? Siapa yang dapat mengaku sebagai pemiliknya?
Layakkah sinar yang memenuhi dunia dengan cahaya terang disandarkan kepada selain matahari?! Bayan atau penjelasan al-Qur’an yang menyingkap misteri alam sekaligus meneranginya, mungkinkah merupakan cahaya selain Dzat yang merupakan Mentari azali? Siapa yang berani meniru dan membuat yang semisalnya? Ya, Sang Pencipta yang menghias dunia dengan kreasi-Nya yang menakjubkan mustahil tidak berbicara dengan manusia yang tercengang melihat kreasi dan ciptaan-Nya. Selama Dia berbuat dan mengetahui, tentu Dia berbicara. Selama Dia berbicara, tentu saja pembicaraan-Nya berupa al-Qur’an. Pemilik kekuasaan yang memiliki perhatian terhadap penataan bunga kecil, bagaimana mungkin tidak peduli dengan kalam yang mengubah kerajaannya menjadi tempat zikir dan tahlil yang penuh daya tarik. Mungkinkah Dia menurunkan derajat kalam tersebut dengan menisbatkan kepada selain-Nya?!
Cahaya Kelima
Universalitas luar biasa dalam gaya bahasa dan bentuknya yang ringkas.
Dalam cahaya ini terdapat lima sinar:
Sinar Pertama: Gaya bahasa al-Qur’an memiliki universalitas yang menakjubkan, sehingga satu surah saja mencakup lautan al- Qur’an yang agung yang meliputi seluruh alam. Serta sebuah ayat berisi khazanah surah tersebut. Sebagian besar ayat masing-masingnya seperti sebuah surah kecil. Sebagian besar surah masing-masingnya seperti al-Qur’an kecil.(*12)Dari simplifikasi yang penuh kemukjizatan itulah muncul kelembutan petunjuk dan kemudahan yang indah.
Sebab, meskipun setiap manusia butuh membacanya setiap waktu kadangkala ia tidak berkesempatan untuk membacanya. Entah karena bodoh, kurang paham, atau karena sebab lainnya. Nah, agar orangorang yang tidak bisa membaca al-Qur’an secara keseluruhan tidak terhalang dari al-Qur’an, maka setiap surah laksana satu al-Qur’an kecil. Bahkan setiap ayat yang panjang berposisi seperti sebuah surah pendek. Bahkan kalangan ahli kasyaf sepakat bahwa al-Qur’an terletak pada surah al-Fatihah dan al-Fatihah terletak pada basmalah. Dalilnya adalah kesepakatan para ulama ahli tahkik.
Sinar Kedua:ayat-ayat al-Qur’an dengan sejumah petunjuk dan isyaratnya mencakup berbagai jenis ucapan, pengetahuan hakiki, dan kebutuhan manusia seperti perintah dan larangan, janji dan ancaman, motivasi dan peringatan, bentakan dan bimbingan, kisah dan perumpamaan, hukum dan makrifat ilahi, ilmu alam, hukum dan rambu kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kehidupan kalbu, kehidupan spiritual, dan kehidupan ukhrawi sehingga tepatlah apa yang dikatakan oleh ahli hakikat: “Ambillah yang kau mau sesuai dengan keinginanmu.” Artinya, ayat-ayat al-Qur’an berisi sisi universal dan komprehensif yang bisa menjadi obat bagi setiap penyakit dan gizi bagi setiap kebutuhan badan.
Ya, sepantasnya memang demikian. Sebab, pemandu paling sempurna yang bersifat mutlak bagi seluruh lapisan ahli kamâl (kalangan sempurna) yang menapaki sejumlah tingkatan menuju ketinggian spiritual, yaitu al-Qur’an, tentu harus menjadi pemilik karakteristik tersebut.
Sinar Ketiga:Simplifikasi al-Qur’an yang luar biasa.Al-Qur’an kadangkala menyebutkan awal dan akhir dari sebuah rangkaian panjang dengan sangat apik yang memperlihatkan rangkaian tersebut secara utuh. Kadang ia memasukkan banyak petunjuk dalam satu kata sebagai pernyataan; baik secara eksplisit, implisit, atau simbolik.
Contoh:“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya penciptaan langit dan bumi serta perbedaan bahasa dan warna kulit kalian...” (QS. ar-Rûm [30]: 22).Ayat di atas menyebutkan awal dan akhir rangkaian penciptaan alam. Yaitu rangkaian tanda dan petunjuk tauhid. Kemudian ia menjelaskan rangkaian kedua dengan menjadikan pembaca membaca rangkaian pertama. Yaitu bahwa lembaran alam yang pertama yang menjadi saksi atas keberadaan Sang Pencipta Yang Mahabijak adalah penciptaan langit dan bumi. Selanjutnya penghiasan langit dengan bintang-gemintang dan pemakmuran bumi dengan makhluk hidup, lalu pergantian musim dengan penundukan matahari dan bulan, serta rangkaian sifat dan perbuatan ilahi dalam pergantian siang dan malam. Demikianlah seterusnya secara berangsur-angsur sampai kepada pembahasan ciri khusus serta penentuan roman muka dan suara yang merupakan titik penyebaran entitas yang paling banyak.
Ketika tatanan indah, penuh hikmah, dan mencengangkan akal terlihat, serta ketika karya pena Sang Pencipta Yang Mahabijak tampak pada sesuatu yang kelihatannya paling tidak beraturan dan secara lahiriah terlihat seperti hasil dari sebuah proses kebetulan, yaitu roman muka dan warna kulit manusia, sudah barang tentu lembaran lain yang aturannya terlihat memberikan pemahaman dan petunjuk atas eksistensi Sang Pembentuk yang menakjubkan.
Kemudian ketika jejak kreasi dan hikmah terlihat di awal mula penciptaan langit dan bumi di mana Sang Pencipta Yang Mahabijak menjadikannya sebagai batu pertama alam, sudah tentu goresan hikmah dan jejak kreasi itu terlihat jelas pada seluruh bagian alam. Ayat di atas berisi simplifikasi indah dan menakjubkan dalam memperlihatkan sesuatu yang samar dan menyamarkan sesuatu yang terlihat di mana hal itu diungkapkan dengan ringkas.
Ya, rangkaian dalil yang dimulai dari:hingga ayat yang berbunyi:di mana di dalamnya kata (وَمِن۟ اٰيَاتِهٖ) ‘Di antara tanda kekuasaan-Nya’terulang sebanyak enam kali merupakan rangkaian permata, rangkaian cahaya, rangkaian kemukjizatan, dan rangkaian simplifikasi yang luar biasa. Hati ini ingin menjelaskan sejumlah permata yang tersembunyi di dalam perbendaharaan (gudang) tersebut. Akan tetapi apa daya, kondisinya tidak memungkinkan. Karena itu, aku tidak membuka pintu itu.
Kutangguhkan persoalan tersebut ke waktu yang lain.Contoh lain:“Utuslah! Yusuf wahai yang jujur” (QS. Yûsuf [12]: 45-46). Antara kata (فَاَر۟سِلُونِ) ‘utuslah!’ dan kata (يُوسُفُ) “Yusuf ” mengandung makna berikut: “Datangilah Yusuf untuk meminta penjelasan tentang mimpi tersebut darinya. Maka mereka mengutusnya.
Ia pun pergi ke penjara dan berkata...” Artinya, ia meringkas lima kalimat dalam satu kalimat saja tanpa merusak kejelasan ayatnya dan tidak mendatangkan kesulitan dalam memahaminya.
Contoh lain:“Yang menjadikan untuk kalian api dari pohon hijau...” (QS. Yâsîn [36]: 80).Dalam rangka menjawab manusia pembangkang yang menentang Sang Pencipta dengan ucapannya:“Siapa yang akan menghidupkan tulang-belulang yang sudah hancur ini?” (QS. Yâsîn [36]: 78), al-Qur’an berkata:“Katakanlah, ‘Dzat Yang menghidupkannya adalah Yang menciptakannya pertama kali. Dia Maha Mengetahui semua ciptaan.” (QS. Yâsîn [36]: 79). Ia juga berkata:“Yang menjadikan api dari pohon hijau...” Mahakuasa untuk menghidupkan tulang-belulang yang sudah hancur.Kalimat di atas mengarah kepada adanya klaim atau pernyataan tentang proses menghidupkan dari sejumlah sisi sekaligus membuktikannya.
Sebab, ia memulai dari rangkaian karunia yang Allah berikan kepada manusia. Dengan itu, Ia mengingatkan dan menggugah kesadarannya. Namun ia meringkasnya seraya mengarahkannya kepada akal karena ia telah merincinya dalam sejumlah ayat lain. Dengan kata lain, Dzat yang memberikan buah dan api dari pohon, rezeki dan biji dari rumput, benih dan tumbuhan dari tanah telah menjadikan bumi sebagai hamparan untuk kalian. Di dalamnya terdapat seluruh rezeki kalian. Dia telah menjadikan alam sebagai istana. Di dalamnya terdapat semua kebutuhan hidup kalian. Karena itu, mungkinkah Dia membiarkan kalian sia-sia sehingga kalian bisa lari dari-Nya dan hilang dalam ketiadaan?! Tidak mungkin kalian sia-sia, masuk ke dalam kubur, dan tidur dengan tenang tanpa ditanya tentang amal kalian dan tanpa dihidupkan kembali?!
Kemudian ia menjelaskan sebuah dalil atas pernyataan tersebut. Dengan kata (اَلشَّجَرِ ال۟اَخ۟ضَرِ ) ‘pohon yang hijau’, ia berujar secara simbolis, “Wahai yang mengingkari kebangkitan! Lihatlah pepohonan! Dzat yang menghidupkan pepohonan yang jumlahnya tak terhingga di musim semi setelah sebelumnya mati dan menjadi seperti tulang-belulang di musim dingin, serta menjadikannya menghijau, bahkan memperlihatkan pada setiap pohon tiga bentuk kebangkitan; pada daun, bunga, dan buah, kekuasaan-Nya tidak dapat diingkari dan kebangkitan sangat mungkin bagi-Nya.
Selanjutnya ia menunjukkan dalil lain dengan berkata, “Dzat yang mengeluarkan api—yang merupakan materi ringan yang bersifat cahaya—untuk kalian dari pepohonan yang padat, berat, dan gelap, bagaimana mungkin tidak bisa memberikan kehidupan yang halus seperti api serta perasaan seperti cahaya untuk tulang seperti kayu.”
Setelah itu, ia mengetengahkan dalil lain yang jelas dengan berkata, “Dzat yang menghidupkan api dari pepohonan yang dikenal oleh orang badui dengan menggosokkan dua ranting secara bersamaan, lalu mengumpulkan dua sifat yang kontradiktif (basah dan panas) seraya menjadikan salah satunya sebagai tempat tumbuh bagi yang lain, hal itu menunjukkan bahwa segala sesuatu bahkan unsur asli dan penyerta hanya bisa bergerak dengan kekuatan-Nya dan melaksanakan perintah-Nya. Tidak ada yang bergerak sendiri atau sia-sia. Pencipta Yang Mahaagung seperti Dia sangat mungkin menghidupkan manusia dari tanah—di mana sebelumnya Dia telah menciptakannya dari tanah dan mengembalikan padanya. Karena itu, tidak mungkin Dia ditentang hanya dengan membangkang.
Selanjutnya dengan kata ‘pohon yang hijau’, ia mengingatkan pada pohon Musa عَلَيْهِ السَّلَامُ yang sudah dikenal bersama. Secara implisit, ia menyiratkan adanya kesepakatan para nabi bahwa dakwah Muhammad juga sama dengan dakwah Musa عَلَيْهِ السَّلَامُ sehingga membuat simplifikasi kata tersebut semakin lembut dan indah.
Sinar Keempat:Simplifikasi al-Qur’an komprehensif dan menakjubkan.Kalau diperhatikan secara seksama, akan terlihat dengan jelas bahwa al-Qur’an telah menjelaskan dalam sebuah contoh yang bersifat parsial dan dalam kejadian yang bersifat khusus sejumlah hukum yang bersifat universal, serta berbagai prinsip yang bersifat umum dan panjang. Seakan-akan ia menjelaskan lautan yang luas dalam seciduk air.Kami akan memberikan dua contoh dari ribuan contoh yang ada.
Contoh pertama: Tiga ayat yang kami jelaskan pada kedudukan pertama dari “Kalimat Kedua Puluh”. Yaitu bahwa dengan mengajarkan seluruh nama kepada Adam , ayat tersebut mengisyaratkan tentang adanya pengajaran seluruh disiplin ilmu yang diberikan kepada manusia. Dengan peristiwa sujudnya malaikat kepada Adam عَلَيْهِ السَّلَامُ dan keengganan setan untuk sujud, ayat itu menjelaskan bahwa sebagian besar entitas—mulai dari ikan hingga malaikat—ditundukkan untuk manusia, sebagaimana makhluk yang jahat—mulai dari ular hingga setan—tidak mau tunduk bahkan memusuhi manusia.
Lalu dengan peristiwa penyembelihan sapi betina oleh kaum Musa, ayat tersebut menjelaskan bahwa konsep menyembah sapi telah disembelih dengan pisau Musa.
Itulah konsep yang sempat berkembang di Mesir, bahkan ia memiliki pengaruh langsung dalam peristiwa al-`Ijl (anak sapi). Selanjutnya, dengan keluarnya air dari celah bebatuan, ayat tersebut menerangkan bahwa lapisan batu karang yang berada di bawah tanah merupakan tempat simpanan air yang membekali tanah dengan kehidupan yang dihadirkan padanya.
Contoh kedua: kisah Musa diceritakan berulang kali dalam al-Qur’an al-Karîm. Pasalnya, pada setiap kalimatnya dan pada setiap bagiannya terdapat aspek yang memperlihatkan sisi prinsip yang bersifat universal.
Di antaranya, ayat yang berbunyi:“Wahai Haman, buatkanlah untukku sebuah bangunan yang tinggi...” (QS. Ghâfir [40]: 36).
Dengan ayat di atas, Fir’aun menyuruh menterinya, “Buatkan untukku tugu yang tinggi agar aku bisa melihat kondisi langit dan mengetahui apakah di sana terdapat Tuhan yang berkuasa seperti yang dikatakan oleh Musa عَلَيْهِ السَّلَامُ?!” Dengan kata (صَر۟حًا) ‘bangunan yang tinggi’, ayat tersebut menjelaskan sebuah prinsip dan tradisi aneh yang berlaku pada keturunan Fir’aun Mesir yang mengaku sebagai Tuhan karena mereka mengingkari Sang Pencipta dan percaya kepada kekuatan alam materi. Dengan angkuh dan sombong, mereka mengabadikan nama-nama mereka. Mereka pun membuat piramida yang terkenal itu laksana gunung di tengah padang pasir yang tak bergunung agar dengannya mereka bisa dikenal. Mereka juga merawat jenazah mereka dengan cara memumikan seraya meletakkannya di kubur besar itu karena mereka meyakini adanya reinkarnasi dan sihir.
Ayat lainnya berbunyi: “Hari ini Kami selamatkan tubuhmu...” (QS. Yûnus [10]: 92).
Ucapan di atas ditujukan kepada Fir’aun yang tenggelam. Pada waktu yang sama, ayat tersebut menjelaskan prinsip hidup bagi para Fir’aun seraya mengingatkan pada kematian yang penuh pelajaran. Yaitu adanya pemindahan tubuh jenazah mereka dengan cara memumikan dari masa lalu hingga generasi mendatang guna dihamparkan di hadapan mereka sesuai dengan konsep reinkarnasi yang mereka anut. Dengan cara yang menakjubkan, ayat itu juga berisi isyarat gaib bahwa tubuh yang ditemukan pada masa belakangan ini adalah tubuh Fir’aun yang tenggelam. Sebagaimana ia dilemparkan ke pantai di tempat ia tenggelam, ia juga akan dilemparkan dari lautan zaman di atas gelombang perjalanan masa menuju pantai masa kini.
Ayat lain berbunyi:“Mereka menyembelih (membunuh) anak laki-laki kalian dan membiarkan hidup anak perempuan...” (QS. al-Baqarah [2]: 49).
Dengan peristiwa pembunuhan terhadap anak laki-laki Bani Israil, sementara anak perempuannya dibiarkan hidup pada masa Fir’aun, ayat tersebut menjelaskan pembantaian massal yang dialami bangsa Yahudi di sebagian besar negara pada setiap masa, berikut peran penting yang dimainkan oleh para wanita dan anak-anak perempuan mereka dalam kebobrokan dan kehancuran moral umat manusia.
Ayat lain berbunyi:“Engkau akan mendapati orang-orang yang paling rakus terhadap kehidupan...” (QS. al-Baqarah [2]: 96).“Kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan, dan memakan yang haram. Sungguh amat buruk apa yang mereka kerjakan itu.” (QS. al-Mâ’idah [5]: 62).“Mereka melakukan kerusakan di muka bumi. Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. al-Mâ’idah [5]: 64).“Telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu, ‘Sesungguhnya kalian akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali’...’’ (QS. al-Isrâ [17]: 4).“Janganlah kalian berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.” (QS. al-Baqarah [2]: 60).
Tamak dan perusak adalah dua sifat yang menjadi karekter bangsa Yahudi. Keduanya menjadi dua prinsip umum dan penting yang oleh mereka dijadikan sebagai rujukan tindakan makar dan tipu daya dalam kehidupan sosial manusia. Ayat tersebut menerangkan bahwa mereka adalah orang-orang yang merusak tatanan kehidupan sosial manusia dan menyalakan api peperangan antara kaum marjinal dan kaum berada. Yaitu dengan memprovokasi para buruh untuk melawan para pemilik modal. Mereka menjadi sebab pendirian sejumlah bank dengan menjadikan riba dalam bentuk yang berlipat ganda. Mereka mengumpulkan banyak aset dengan segala macam cara rendahan lewat makar dan tipu daya. Mereka adalah kaum yang juga masuk ke dalam berbagai organisasi dan perkumpulan yang merusak seraya membantu sejumlah revolusi dan pergolakan. Hal itu sebagai bentuk balas dendam terhadap berbagai bangsa dan pemerintah yang dulu pernah menyiksa dan menganiaya mereka.
Ayat lain berbunyi: “Maka mintalah kematian, jika kalian memang benar. Sekali-kali mereka tidak akan menginginkan kematian itu selamanya...” (QS. al-Baqarah [2]: 94-95).
Dengan sebuah peristiwa parsial yang terjadi di majelis kecil di hadapan Nabi x, ayat di atas menjelaskan bahwa bangsa Yahudi yang sangat rakus terhadap kehidupan dan paling takut mati tidak akan pernah menginginkan kematian dan tidak akan pernah melepaskan rasa tamaknya hingga hari kiamat.
Ayat lain berbunyi: “Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan...” (QS. al-Baqarah [2]: 61).
Dengan topik di atas (nista dan kehinaan), ayat tersebut menerangkan ketentuan yang akan menimpa bangsa Yahudi di masa mendatang secara umum. Karena rasa tamak dan upaya berbuat kerusakan tertanam dalam jiwa mereka dan telah menjadi tabiat mereka, maka al-Qur’an membentak dan menghardik mereka sebagai bentuk pelajaran.
Dengan sejumlah contoh di atas, Anda bisa menganalogikan sendiri kisah Musa عَلَيْهِ السَّلَامُ dan berbagai kisah lain yang terjadi pada Bani Israil. Selanjutnya, di balik untaian kata al-Qur’an yang sederhana dan bahasannya yang parsial, terdapat banyak contoh kilau mukjizat simplifikasi al-Qur’an seperti yang terdapat pada kilau keempat ini. Orang cerdas cukup dengan isyarat.
Sinar Kelima:Universalitas yang luar biasa dari berbagai tujuan, persoalan, makna, gaya bahasa, kelembutan, dan keindahan al-Qur’an.Ya, jika diperhatikan secara seksama, maka surah dan ayat-ayat al-Qur’an, terutama pembuka surah dan permulaan ayat menjelaskan bahwa al-Qur’an al-Mu’jizul Bayân telah menghimpun berbagai jenis balagah,
semua bentuk kemuliaan kalam, seluruh gaya bahasa yang tinggi, seluruh estetika akhlak, seluruh intisari ilmu alam, semua indeks pengetahuan ilahiyah, seluruh prinsip yang bermanfaat bagi kehidupan pribadi dan sosial manusia, serta semua hukum yang bersinar dan mulia dari hikmah alam. Meskipun mencakup semua hal tersebut, namun tidak terlihat adanya percampuran dan ketimpangan dalam struktur atau maknanya.Ya, mengumpulkan semua jenis perbedaan dalam satu wadah tanpa menimbulkan ketimpangan, tidak lain merupakan sifat dari tatanan kemukjizatan yang tak terkalahkan.
Sebagaimana telah dijelaskan dan ditegaskan pada dua puluh empat kalimat sebelumnya bahwa menyingkap tirai “kelumrahan” yang merupakan sumber kebodohan ganda lewat sejumlah penjelasan yang tajam, menampakkan berbagai hal luar biasa yang tersembunyi di balik tabir dengan sangat terang, menghancurkan thagut alam yang menjadi sumber kesesatan lewat “pedang argumen” yang berkilau, menyibak tirai kelalaian yang tebal lewat sejumlah seruan menggema laksana kilat, memecahkan misteri dan teka-teki alam yang tertutup di mana ia telah membuat filsafat dan hikmah manusia tidak berdaya, semua itu tidak lain adalah hasil kreasi al-Qur’an al-Mu’jizul Bayân, yang melihat hakikat, yang mengetahui hal gaib, yang memberikan petunjuk, serta yang menampilkan kebenaran.
Ya, jika ayat-ayat al-Qur’an dicermati secara objektif, tampak bahwa ia tidak serupa dengan pemikiran yang lahir secara gradual dan berantai yang mengikuti satu atau dua tujuan sebagaimana kitab-kitab yang lain. Namun ia tertuang secara sekaligus dan langsung. Padanya terdapat tanda bahwa setiap aspek darinya turun secara mandiri dari tempat yang jauh dalam sebuah komunikasi yang sangat penting dan serius.
Ya, adakah selain Pencipta semesta alam yang dapat mengalirkan kalam ini di mana ia memiliki ikatan kuat dengan alam dan Penciptanya dalam bentuk yang sungguh-sungguh semacam itu? Adakah selain Dia yang berani melampaui batas tanpa batas lalu berbicara sesuai dengan keinginannya atas nama Sang Pencipta Yang Mahaagung dan atas nama alam dalam bentuk yang tepat semacam itu?
Ya, sangat jelas dalam al-Qur’an bahwa ia merupakan kalam Tuhan semesta alam. Kalam yang sungguh-sungguh, benar, hakiki, dan murni ini sama sekali tidak ada indikasi yang mengesankan adanya bentuk plagiat di dalamnya. Andai saja ada orang seperti Musailimah al-Kazzâb yang melampaui batas tanpa batas lalu meniru kalam Penciptanya Yang Maha Perkasa dan Agung di mana dari pikirannya ia berbicara atas nama alam, tentu akan terdapat ribuan tanda plagiat dan penipuan. Sebab, orang yang berusaha menampilkan keadaan yang jauh lebih tinggi dan lebih mulia dari keadaan sebenarnya yang rendah, pasti semua kondisinya menunjukkan upaya peniruan dan kepura-puraan.Lihat dan perhatikanlah hakikat yang diumumkan oleh sumpah berikut ini:“Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. an-Najm [53]: 1-4).
KILAU KETIGA
Kemukjizatan al-Qur’an yang Bersumber dari Informasi Gaibnya serta Keadaannya yang Tetap Segar dan Sesuai dengan semua Tingkatan Manusia
(Tiga Pancaran Cahaya)
Pancaran Pertama:
Informasi tentang Hal Gaib dalam tiga percikan cahaya:
(Tiga Pancaran Cahaya)
Percikan Pertama:Informasi Gaib tentang Masa Lalu.
Lewat lisan seorang buta huruf yang amanah, al-Qur’an al-Hakîm menyebutkan sejumlah informasi dari sejak masa Adam hingga masa kebahagiaan disertai keterangan tentang berbagai kondisi terpenting para nabi dan sejumlah peristiwa yang terjadi pada mereka. Al-Qur’an menyebutkannya dengan sangat kuat dan sungguh-sungguh serta dibenarkan oleh kitab-kitab suci terdahulu seperti Taurat dan Injil. Ia sesuai dengan isi kitab suci terdahulu (yang disepakati) serta meluruskan hakikat kejadiannya dan menjelaskan dengan rinci permasalahan yang diperselisihkan di dalamnya.
Dengan kata lain, pandangan al-Qur’an yang mengetahui hal gaib tersebut melihat berbagai kondisi masa lalu dalam bentuk yang lebih baik daripada kitab-kitab suci yang ada. Sebab, ia melegitimasi dan membenarkannya dalam sejumlah hal yang disepakati. Lalu meluruskannya dan menjelaskan dengan rinci pembahasan yang diperselisihkan di dalamnya. Perlu diketahui bahwa informasi al-Qur’an yang terkait dengan kondisi dan peristiwa masa lalu tidak bersifat rasional yang diinformasikan lewat akal. Namun ia bersifat naqli yang bersandar pada pendengaran. Naqli (nash) bersifat khusus bagi kalangan yang pandai membaca dan menulis. Sementara, baik kawan maupun lawan, sepakat kalau al-Qur’an diturunkan kepada sosok buta huruf yang tidak tahu membaca dan menulis. Beliau dikenal sebagai sosok yang amanah dan ummi.
Nah, ketika menjelaskan berbagai kondisi masa lalu, al-Qur’an menjelaskannya seolah-olah melihat keseluruhannya. Sebab, ia mengetahui spirit sebuah peristiwa yang panjang lalu menginformasikannya serta menjadikannya sebagai pendahuluan bagi maksud yang dituju. Artinya, berbagai rangkuman dan intisari yang disebutkan dalam al- Qur’an menunjukkan bahwa yang memperlihatkannya adalah Dzat yang melihat seluruh kejadian masa lalu. Pasalnya, ketika seseorang yang membidangi disiplin ilmu atau profesi tertentu bisa menuangkan rangkuman dari disiplin ilmu tersebut atau sampel dari kreasinya, hal itu menunjukkan skill dan kapasitasnya. Demikian pula rangkuman dan spirit berbagai peristiwa yang disebutkan dalam al-Qur’an, ia menjelaskan bahwa Dzat yang mengatakannya mengetahui dan melihatnya. Kemudian dengan kemampuan luar biasa—jika boleh dikatakan demikian—Dia menginformasikannya.
Percikan Kedua:informasi gaib tentang masa depan.
Bagian ini terdiri dari banyak jenis:Jenis pertama: Hanya khusus bagi sebagian ahli kasyaf dan wali.
Contoh: Muhyiddin Ibnu Arabi menemukan banyak informasi gaib dalam surah ar-Rûm:الٓمٓ غُلِبَتِ الرُّومُ Imam Rabbâni Ahmad al-Fârûqî al-Sirhindî telah menyaksikan dalam al-Muqatta`ât (huruf-huruf terputus) yang terletak di awal surah begitu banyak petunjuk interaksi yang bersifat gaib. Bagi ulama yang mendalami masalah batin (metafisika), al-Qur’an al-Hakîm dari awal hingga akhir merupakan bentuk informasi tentang hal gaib. Adapun kami, hanya akan menunjukkan sebagiannya; yaitu yang berlaku umum dan mengarah kepada semuanya. Bagian ini juga memiliki banyak tingkatan. Kita hanya akan berbicara tentang satu tingkatan saja.
Al-Qur’an al-Karîm berbicara kepada Rasul x:(*13)
“Bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar...”(QS. ar-Rûm [30]: 60). “Sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut...” (QS. al-Fath [48]: 27). “Dia yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar guna memenangkannya atas seluruh agama...” (QS. al-Fath [48]: 28). “Mereka sesudah dikalahkan akan menang dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allahlah urusan (itu)...” (QS ar-Rûm [30]: 3-4). “Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila.” (QS. al-Qalam [68]: 5-6). “Ataukah mereka mengatakan, ‘Ia adalah seorang penyair yang kami nantikan kecelakaannya’. Katakanlah: Nantikanlah, sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersamamu” (QS. at-Thûr [52]: 30-31). “Allah melindungi kamu dari (gangguan) manusia...” (QS. al-Mâ- ’idah [5]: 67). “Jika kalian tidak bisa melakukannya dan kalian memang tidak akan bisa melakukannya...” (QS. al-Baqarah [2]: 24). “Kalian tidak akan mengharapkannya (kematian) selamanya...” (QS. al-Baqarah [2]: 95). “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa al-Qur’an itu adalah benar...” (QS. Fushshilat [41]: 53). “Katakanlah: Jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’an, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (QS. al-Isrâ [17]: 88). “Kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela...” (QS. al-Mâidah [5]: 54). “Katakanlah: Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Tuhanmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. al- Naml [27]: 93). “Katakanlah: Dialah Allah yang Maha Penyayang. Kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya-lah Kami bertawakkal. Kelak kamu akan mengetahui siapakah yang berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. al-Mulk [67]: 29). “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dia juga akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa...” (QS. an-Nûr [24]: 55). Ayat-ayat seperti di atas sangat banyak. Ia berisi sejumlah informasi tentang masalah gaib dan kemudian terwujud sebagaimana yang diinformasikan. Pemberian informasi tentang masalah gaib tanpa ada keraguan sedikitpun dalam bentuk yang sangat sempurna dan meyakinkan lewat lisan yang siap menghadapi berbagai penentangan dan kritikan menunjukkan secara tegas bahwa beliau menerima pelajaran dari Sang Mahaguru azali. Lalu beliau menyampaikannya kepada manusia.
Percikan Ketiga:Informasi Gaib tentang Berbagai Hakikat Ilahiyah dan Kauniyah, serta Persoalan Akhirat.
Ya, berbagai penjelasan al-Qur’an yang terkait dengan berbagai hakikat ilahiyah, serta sejumlah penjelasannya yang menyingkap misteri alam merupakan informasi tentang hal gaib yang paling agung. Pasalnya, ia sama sekali di luar dimensi akal. Tidak mungkin akal bisa meniti jalan lurus tak terhingga di antara jalan-jalan yang sesat hingga mencapai hakikat gaib tersebut. Seperti diketahui, orang yang paling cerdas sekalipun tidak bisa memahami hakikat tersebut yang paling sederhana dan paling kecil dengan akal mereka.
Selain itu, di hadapan sejumlah hakikat ilahiyah dan hakikat alam yang diperlihatkan oleh al-Qur’an tersebut, akal manusia pasti akan berkata, “Engkau benar”. Ia akan menerima berbagai hakikat itu setelah mendengar penjelasan al-Qur’an dengan hati yang jernih dan jiwa yang bersih, serta setelah ruh dan akalnya sempurna. Karena “Kalimat Kesebelas” telah menjelaskan hal ini, maka tidak perlu diulang kembali.
Adapun informasi gaib tentang akhirat dan alam barzakh yang diberitakan oleh al-Qur’an, akal manusia tidak bisa menjangkau berbagai kondisi akhirat dan barzakh itu namun al-Qur’an menjelaskan dan membuktikannya dengan gamblang sampai seperti terlihat nyata. Anda bisa merujuk kepada “Kalimat Kesepuluh” untuk mengetahui sejauh mana kebenaran dari informasi gaib tentang akhirat yang diberitakan oleh al-Qur’an. Risalah tersebut telah memberikan penjelasan tentangnya.
Pancaran Kedua:
Kesegaran dan Kelenturan al-Qur’an.Al-Qur’an tetap menjaga kesegaran dan kelenturannya sehingga seolah-olah ia turun pada setiap masa dalam kondisi baru.
Ya, karena al-Qur’an merupakan pesan azali yang berbicara langsung kepada seluruh tingkatan manusia di seluruh masa, maka ia harus selalu segar dan lentur. Ia tampak baru dan muda sebagaimana sebelumnya. Bahkan ia melihat kepada setiap masa yang berbeda cara pandang dan tabiatnya seolah-olah ia tertuju secara khusus untuk masa tersebut dan sesuai tuntutannya seraya mendiktekan pelajarannya dan mengarahkan perhatian padanya.Jejak peninggalan dan hukum buatan manusia telah menua dan lanjut usia. Ia berganti dan mengalami perubahan. Namun hukum-hukum dan aturan al-Qur’an tetap kukuh di mana ia terlihat lebih mapan seiring dengan waktu yang terus berjalan.
Ya, generasi saat ini yang sombong dan tuli tak mau mendengar al-Qur’an, khususnya ahlul kitab di antara mereka, lebih membutuhkan petunjuk al-Qur’an di mana ia berbicara kepada mereka dengan berkata:“Wahai ahli kitab… Wahai Ahli kitab”.Bahkan, seakan-akan pesan tersebut ditujukan kepada generasi masa sekarang. Pasalnya, kata (اَه۟لَ ال۟كِتَابِ) ‘ahli kitab’ juga mengandung makna ‘kalangan yang memiliki pengetahuan modern. Al-Qur’an menyeru dan menggemakan suaranya ke seluruh penjuru langit dan bumi dengan sangat kuat dan segar. Ia berkata:“Wahai ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian...” (QS. Âli `Imrân [3]: 64).
Sebagai contoh: meskipun individu dan masyarakat tidak mampu menentang al-Qur’an, namun peradaban modern yang merupakan produk umat manusia dan barangkali juga jin, telah mengambil peran menentangnya. Ia melakukannya dengan berbagai cara yang menyihir. Maka, guna menetapkan kemukjizatan al-Qur’an di hadapan para penentang baru itu lewat gema ayat yang berbunyi: “Katakanlah: Jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’an, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (QS. al-Isrâ [17]: 88). Maka, kita bandingkan sejumlah landasan dan prinsip yang dibawa oleh peradaban modern dengan landasan al-Qur’an al-Karîm.
Pada tahap pertama, kita membuat komparasi yang telah disebutkan dan sejumlah standar yang telah ditetapkan pada beberapa kalimat sebelumnya, mulai dari ‘Kalimat Pertama’ hingga ‘Kalimat Kedua Puluh Lima’. Demikian pula berbagai ayat al-Qur’an yang mengawali kalimat tersebut dan yang menjelaskan hakikatnya, semuanya menetapkan kemukjizatan dan keunggulan al-Qur’an atas peradaban modern dengan sangat jelas; tanpa menyisakan sedikitpun keraguan.
Pada tahap kedua, kita menyebutkan secara umum sebagian prinsip peradaban modern dan al-Qur’an di mana hal itu dijelaskan dalam “Kalimat Kedua Belas”.
Peradaban modern, dengan filsafatnya, meyakini bahwa landasan kehidupan sosial manusia adalah “kekuatan”. Menetapkan “kepentingan” sebagai target. Menjadikan “konflik” sebagai hukum kehidupan. Menjadikan “rasisme” dan “nasionalisme negatif ” sebagai ikatan sosial, serta tujuannya hanya berupa “permainan yang sia-sia” guna memuaskan keinginan hawa nafsu yang pada gilirannya hanya membuat hawa nafsu semakin bergejolak.
Seperti diketahui bahwa “kekuatan” bersifat melampaui batas, dan “kepentingan” melahirkan persaingan. Sebab, ia tidak akan bisa memenuhi kebutuhan semua orang dan tidak mungkin merespon seluruh keinginan yang ada. Lalu “konflik” melahirkan perseteruan, dan “rasisme” melahirkan penganiayaan, di mana ia membesar dengan cara memakan yang lain.
Prinsip dan landasan yang menjadi sandaran peradaban modern itulah menjadikannya hanya mampu memberikan kebahagiaan lahiriah kepada dua puluh persen umat manusia. Sementara sisanya berada dalam penderitaan dan kerisauan.
Adapun hikmah al-Qur’an adalah menerima “kebenaran” sebagai titik sandaran kehidupan sosial, bukan “kekuatan”. Ia menjadikan “rida Allah” dan “upaya meraih kemuliaan” sebagai tujuan dan cita-cita, bukan “kepentingan”. Ia juga menjadikan prinsip “kerjasama” sebagai landasan dalam kehidupan, bukan “konflik”. Ia menjadikan ikatan “agama, golongan, dan tanah air” sebagai pengikat yang menyatukan berbagai kelompok masyarakat, bukan “rasisme” dan “nasionalisme negatif ”. Tujuannya berupa “pengendalian nafsu ammârah dan mendorong ruh menuju keluhuran, serta menenangkan perasaannya yang mulia guna menggiring manusia menuju kesempurnaan agar manusia betul-betul menjadi insan sejati.”
“Kebenaran” melahirkan persatuan. “Kemuliaan” melahirkan kekompakan. “Kerjasama” melahirkan sikap tolong-menolong. “Agama” melahirkan persaudaraan dan solidaritas. “Mengekang nafsu dan menggiring ruh menuju kesempurnaan” melahirkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Demikianlah, peradaban modern takluk di hadapan al-Qur’an al-Hakîm meskipun ia telah mengambil berbagai kebaikan dari agama-agama sebelumnya terutama dari al-Qur’an.
Pada tahap ketiga, kami akan menjelaskan—sekadar contoh— empat persoalan saja dari ribuan persoalan yang ada. Persoalan Pertama, karena hukum al-Qur’an berasal dari zaman azali maka ia bersifat kekal sampai masa keabadian. Ia tidak akan pernah menua dan lapuk serta tidak akan pernah mengalami kematian sebagaimana keadaan hukum buatan manusia di mana ia menua dan mati. Namun hukum al-Qur’an senantiasa muda dan kuat sepanjang masa.
Misalnya, peradaban manusia dengan segala organisasi sosialnya, sistemnya yang tiran, lembaga pendidikan moralnya, tidak mampu menandingi dua hal yang terdapat dalam al-Qur’an. Bahkan ia luluh di hadapan keduanya. Yaitu dalam firman Allah yang berbunyi:“Tunaikanlah zakat..!” (QS. al-Baqarah [2]: 43).“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba...” (QS. al-Baqarah [2]: 275).Kami akan menjelaskan keunggulan al-Qur’an yang luar biasa ini dengan pendahuluan sebagai berikut:
Sesungguhnya faktor utama dari seluruh kegoncangan dan pergolakan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat adalah satu kalimat sebagaimana sumber dari seluruh akhlak yang tercela juga satu kalimat. Hal ini telah kami tegaskan dalam buku Isyârat al-I’jâz.
Kalimat pertama: “Yang penting aku kenyang, tidak peduli yang lain mati kelaparan.”
Kalimat kedua: Anda yang bekerja, saya yang menikmati hasilnya.
Ya, hidup damai dan harmonis dalam masyarakat hanya akan tercipta dengan menjaga keseimbangan antara kalangan khawas dan awam, yakni antara yang kaya dan yang miskin.Landasan keseimbangan tersebut adalah kasih sayang kalangan khawas kepada kalangan awam, disertai ketaatan dan penghormatan kalangan awam kepada kalangan khawas.Sekarang ini, kalimat pertama telah menggiring kalangan khawas untuk berbuat zalim dan merusak. Sementara kalimat kedua menggiring kalangan awam untuk bersikap dengki dan benci. Dengan demikian, umat manusia tidak bisa hidup dengan tenang dan lapang sejak beberapa abad. Hal yang sama terjadi pada abad ini, yaitu munculnya peristiwa Eropa yang besar akibat konflik antara buruh dan pemilik modal seperti yang diketahui semua orang.
Peradaban saat ini dengan seluruh organisasi sosial, lembaga pendidikannya, serta berbagai media dan sarananya tidak mampu memperbaiki hubungan antara kedua kelompok tersebut. Ia juga tidak mampu membalut luka kehidupan umat manusia yang menganga.
Adapun al-Qur’an al-Karim, ia mencabut kalimat pertama dari akarnya seraya mengobatinya dengan kewajiban zakat. Lalu ia mencabut kalimat kedua dari dasarnya seraya mengobatinya dengan pelarangan riba. Ya, ayat-ayat al-Qur’an berdiri di hadapan pintu alam seraya berkata kepada riba, “Dilarang masuk!” Ia menyuruh manusia, “Tutuplah pintu-pintu riba agar kalian tidak saling berperang.” Ia juga mengingatkan para muridnya yang beriman untuk tidak masuk ke dalamnya.
Kedua, peradaban modern ini tidak menerima poligami. Ia menilai ketetapan al-Qur’an tersebut bertentangan dengan hikmah dan maslahat manusia.Ya, seandainya hikmah dari pernikahan hanya terbatas pada pelampiasan syahwat, tentu yang terjadi adalah sebaliknya. Namun telah diakui, bahkan lewat kesaksian semua hewan dan pembenaran tumbuhan yang berpasangan bahwa hikmah dan tujuan pernikahan adalah untuk memperbanyak keturunan. Adapun kenikmatan yang didapat dari pelampiasan syahwat adalah upah parsial yang diberikan oleh rahmat ilahi dalam menunaikan tugas tersebut.
Nah, selama pernikahan bertujuan untuk keberlanjutan keturunan dan untuk memelihara spesies, sudah barang tentu wanita yang tidak mungkin melahirkan kecuali sekali dalam setahun, memiliki masa subur hanya separuh dalam sebulan, dan memasuki masa menopouse saat beru- sia lima puluh tahun tidak memadai bagi seorang lelaki yang mampu membuahi sampai usia seratus tahun. Karena itu, peradaban modern terpaksa membuka tempat-tempat maksiat.
Ketiga, peradaban modern yang tidak berdasar kepada logika akal mengkritisi ayat al-Qur’an berikut, yang memberikan kepada wanita sepertiga bagian dari warisan (atau setengah bagian yang didapat laki-laki): “Laki-laki mendapatkan seperti bagian dua wanita...” (QS. an- Nisâ [4]: 11).Padahal secara aksiomatis, jelas bahwa sebagian besar hukum dalam kehidupan sosial melihat pada kondisi mayoritas. Mayoritas wanita memiliki suami yang menanggung hidup dan melindungi mereka. Sementara laki-laki harus menanggung kebutuhan istri dan nafkah mereka. Nah, jika wanita mendapatkan sepertiga dari ayahnya (atau setengah bagian yang didapat suami dari ayahnya) maka suaminya itulah yang akan memenuhi kekurangannya. Sementara jika laki-laki mendapat dua bagian dari ayahnya, ia akan menafkahkan sebagiannya untuk istrinya. Dengan begitu, bagian keduanya sama. Seorang laki-laki sama dengan saudara perempuannya. Demikianlah tuntutan keadilan al-Qur’an.(*14)
Keempat, sebagaimana al-Qur’an al-Karîm dengan sangat tegas melarang penyembahan terhadap berhala, ia juga melarang lukisan atau gambar yang menyerupai penyembahan terhadap berhala. Adapun peradaban modern justru menganggap lukisan dan gambar sebagai bagian dari keistimewaan dan kehebatannya serta berusaha menentang al-Qur’an. Padahal, segala bentuk gambar, entah yang berbentuk tiga dimensi ataupun yang lain, merupakan wujud dari kezaliman, sikap riya, dan hawa nafsu yang diformalkan dalam bentuk fisik. Sebab, ia mendorong hawa nafsu dan menggiring manusia untuk berbuat zalim, riya, dan menuruti keinginan.
Kemudian al-Qur’an juga menyuruh para wanita untuk berhijab dengan busana ‘rasa malu’ sebagai bentuk kasih sayang terhadap mereka serta untuk menjaga kehormatan dan kemuliaan mereka. Juga agar sumber-sumber yang berharga, sumber cinta kasih serta sumber kelembutan dan rahmat tidak direndahkan dan diinjak-injak. Dan agar mereka tidak menjadi sarana pemuas selera rendah dan kenikmatan sesaat.(*15)Adapun peradaban modern, ia telah mengeluarkan wanita dari habitat dan rumah mereka serta merobek hijab mereka dan membuat umat manusia terpesona. Padahal seperti diketahui, kehidupan rumah tangga hanya bisa langgeng dengan adanya jalinan cinta dan kasih sayang antara suami-istri. Sementara menyingkap aurat dan bertabarruj (pamer kecantikan) bisa melenyapkan cinta dan kasih sayang yang tulus tersebut serta meracuni kehidupan rumah tangga.
Khususnya cinta berlebihan terhadap lukisan dan gambar (foto) dapat merusak akhlak dan menyebabkan ruh manusia jatuh pada tingkatan rendah. Hal ini bisa dipahami dengan keterangan berikut:Sebagaimana memandang mayat seorang wanita cantik yang— sebetulnya membutuhkan kasih sayang—dengan pandangan yang disertai syahwat dapat merusak akhlak, demikian pula memandang dengan syahwat sejumlah gambar wanita, baik yang sudah mati maupun yang masih hidup—yang laksana miniatur jenazah mereka—membuat jiwa, perasaan, dan nafsu manusia bergejolak.
Demikianlah, sama seperti keempat persoalan di atas, setiap persoalan dari ribuan persoalan al-Qur’an menjamin kebahagiaan umat manusia di dunia, sebagaimana ia juga mewujudkan kebahagiaannya yang abadi kelak di akhirat. Engkau bisa menganalogikan semua persoalan lain dengan keempat contoh di atas.
Selain itu, sebagaimana peradaban modern mengalami kerugian dan kekalahan di hadapan ketetapan dan undang-undang al-Qur’an yang terkait dengan kehidupan sosial manusia, di mana ia memperlihatkan kebangkrutannya—dilihat dari sudut pandang hakikat—dalam menghadapi kemukjizatan maknawi al-Qur’an. Demikian pula filsafat Eropa dan peradaban manusia ketika dibandingkan dengan hikmah al-Qur’an lewat sejumlah perbandingan pada kedua puluh lima kalimat sebelumnya tampak lemah tak berdaya. Sementara hikmah al-Qur’an tampil hebat dan berjaya. Engkau bisa merujuk kepada “Kalimat Kedua Belas” dan “Ketiga Belas” guna memahami ketidakberdayaan dan kebangkrutan hikmah filsafat, serta kemukjizatan dan kekayaan hikmah al-Qur’an.
Selanjutnya, sebagaimana peradaban modern kalah oleh kemukjizatan hikmah al-Qur’an yang ilmiah, demikian pula sastra dan retorikanya dikalahkan oleh sastra dan retorika al-Qur’an. Perbandingan antara keduanya sama seperti tangisan pilu dan putus asa dari anak yatim yang kehilangan orang tua dibandingkan dengan senandung rindu dan harapan dari orang yang sedang jatuh cinta lantaran perpisahan sementara. Atau, seperti teriakan orang mabuk yang jatuh di tempat rendah dibandingkan dengan lagu pembangkit semangat yang mengajak untuk mengorbankan jiwa dan harta yang demikian berharga.
Hal itu karena dilihat dari pengaruhnya, sebuah sastra dan retorika bisa melahirkan rasa sedih atau gembira. Rasa sedih itu sendiri terbagi dua:Pertama, rasa sedih karena kehilangan orang yang dicinta atau karena ketiadaan orang yang dicinta. Ini merupakan rasa sedih yang pahit yang diwariskan oleh peradaban yang terkontaminasi dengan kesesatan dan kelalaian, serta berkutat dengan alam materi. Yang kedua, rasa sedih yang bersumber dari perpisahan orang yang dicinta. Artinya, orang yang dicinta ada, akan tetapi perpisahan dengan mereka melahirkan kesedihan lantaran rindu yang amat sangat. Ini adalah rasa rindu yang diwariskan oleh al-Qur’an sebagai pemberi petunjuk yang terang.
Selanjutnya, rasa gembira dan suka cita juga terbagi dua:Pertama, rasa gembira yang mendorong jiwa manusia untuk menuruti hawa nafsu. Ini adalah sifat peradaban modern yang berasal dari karya seniman dan novelis. Kedua, rasa gembira yang halus dan bersih. Ia meredam gejolak nafsu dan mengendalikannya serta mendorong jiwa, kalbu, akal, dan perasaan kepada hal-hal mulia, kepada habitatnya yang asli dan abadi, serta kepada kekasih ukhrawi. Rasa gembira semacam inilah yang dipersembahkan oleh al-Qur’an yang memotivasi manusia dan membuatnya merindukan surga dan kebahagiaan abadi serta merindukan keindahan Allah .
Orang yang kurang paham dan yang kurang cermat mengira bahwa makna agung dan hakikat besar yang dijelaskan oleh ayat al- Qur’an yang berbunyi: Katakanlah, “Jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’an, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain” (QS. al-Isrâ [17]: 88) adalah sesuatu yang mustahil dan berlebihan. Hal itu sama sekali tidak benar. Namun ia merupakan retorika yang bersifat hakiki dan gambaran yang sangat mungkin terjadi; tidak mustahil.
Salah satu perspektif dari gambaran tersebut adalah bahwa andaikan seluruh ucapan terindah dari kalangan jin dan manusia yang tidak bersumber dari al-Qur’an berkumpul, tentu ia tidak akan bisa menyamai al-Qur’an. Karena itu, yang serupa dengannya tidak pernah muncul.
Perspektif lainnya adalah bahwa peradaban, hikmah filsafat, dan sastra asing yang merupakan karya pemikiran jin dan manusia, bahkan setan sekalipun sangat tidak berdaya menghadapi ketetapan, hikmah, dan balagah al-Qur’an seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya.
Pancaran Ketiga:
Berbicara kepada Setiap Tingkatan Manusia. Al-Qur’an al-Hakîm berbicara kepada setiap tingkatan manusia sepanjang masa. Seolah-olah secara khusus ia tertuju pada tingkatan tersebut.
Pasalnya, ketika al-Qur’an mengajak seluruh manusia dengan seluruh kelompoknya kepada iman yang merupakan pengetahuan paling mendalam dan paling tinggi, kepada makrifatullah sebagai pengetahuan yang paling luas dan paling bersinar, dan kepada hukum-hukum Islam sebagai pengetahuan yang paling penting dan beragam, maka sudah pasti pelajaran yang diberikan kepada berbagai kelompok manusia itu berupa pelajaran yang bisa dipahami oleh masing-masing mereka. Sebenarnya pelajarannya hanya satu, tidak berbeda-beda. Jadi, harus ada sejumlah tingkatan pemahaman dalam pelajaran yang sama. Dengan demikian, setiap kelompok manusia— sesuai derajatnya—bisa mengambil bagian dari setiap pentas yang terdapat dalam al-Qur’an.Kami telah menyuguhkan banyak contoh tentang hakikat ini. Engkau dapat merujuk kepadanya. Di sini kami hanya ingin menunjukkan sebagian darinya serta hanya mengarah kapada satu atau dua tingkatan pemahaman.
Contoh, ayat yang berbunyi:“Dia tidak beranak dan diperanakkan. Tidak ada satupun sekutu bagi-Nya.” (QS. al-Ikhlâs [112]: 3-4).
Kalangan awam yang merupakan kelompok mayoritas memahami bahwa Allah tidak memiliki ayah, anak, istri, atau kolega.”
Sementara kalangan menengah memahaminya sebagai bentuk penafian terhadap sifat ketuhanan Isa dan malaikat, serta semua makhluk yang bereproduksi. Sebab, secara lahiriah, menafikan sesuatu yang mustahil tidak berguna. Karena itu, menurut mereka pasti maksudnya adalah implikasi dari pernyataan tersebut seperti yang terdapat dalam ilmu retorika. Jadi, maksud dari menafikan keberadaan anak dan ayah yang merupakan ciri makhluk ragawi (jasmani) adalah menafikan sifat uluhiyah dari semua yang memiliki anak, ayah, dan sekutu berikut penjelasan tentang ketidaklayakan mereka sebagai Tuhan. Dari sini jelas bahwa surah al-Ikhlas dapat memberi penjelasan kepada setiap manusia pada setiap masa.
Lalu yang bisa dipahami oleh orang yang memiliki tingkat pemahaman yang lebih tinggi adalah bahwa Allah bersih dari semua ikatan yang terkait dengan entitas di mana darinya terdapat proses reproduksi. Dia suci dari semua sekutu dan pembantu. Hubungan-Nya dengan entitas adalah hubungan penciptaan. Dia menciptakan entitas dengan perintah kun fayakûn lewat kehendak dan keinginan-Nya yang bersifat azali. Dia juga bersih dari semua ikatan yang bertentangan dengan kesempurnaan seperti pemberian kewajiban pada-Nya, keterpaksaan, serta kemunculan yang tak disengaja.
Kemudian yang dapat dipahami oleh kalangan yang lebih tinggi darinya adalah bahwa Allah Maha Azali, Abadi, Maha Pertama, Maha Terakhir, tanpa ada sekutu dan padanan bagi-Nya, serta tanpa ada yang serupa dengan-Nya dilihat dari sisi apapun; baik dalam hal Dzat, sifat ataupun perbuatan-Nya. Yang ada hanya perumpamaan yang berfungsi sebagai antromorfis (tasybih) dalam menggambarkan perbuatan dan sifat-Nya.
Engkau bisa menganalogikan semua tingkatan pemahaman di atas dengan sejumlah kalangan yang memiliki daya tangkap yang beragam. Misalnya kalangan arif, kalangan pecinta, kalangan shiddîqîn dan seterusnya.
Contoh kedua, ayat yang berbunyi:“Muhammad bukan ayah dari salah seorang lelaki di antara kalian...” (QS. al-Ahzâb [33]: 40).
Yang dipahami oleh kalangan atau tingkatan pertama dari ayat di atas adalah bahwa Zaid, pembantu sekaligus anak angkat Rasulullah x, telah menceraikan istrinya yang mulia setelah ia merasa tidak cocok dengannya. Maka Rasulullah x menikahi mantan istrinya itu atas perintah Allah ﷻ. Jadi, ayat yang turun terkait dengan peristiwa tersebut berkata, “Jika Nabi x memanggil kalian dengan ungkapan anakku, maka hal itu hanya dari sisi kerasulan. Sebab dilihat dari sisi pribadi, beliau bukanlah ayah dari salah seorang di antara kalian sehingga istrinya tidak layak beliau nikahi.
Sementara yang dipahami oleh kalangan kedua adalah bahwa sang pemimpin agung melihat rakyatnya laksana ayah yang penuh kasih sayang. Jika ia sosok pemimpin spiritual dalam hal lahir dan batin, maka kasih sayangnya jauh melebihi kasih sayang seorang ayah. Sehingga seluruh rakyatnya melihatnya sebagai ayah, sementara mereka laksana anaknya. Nah, karena pandangan kepada ayah tidak mungkin berubah menjadi pandangan kepada suami, serta pandangan kepada anak perempuan tidak mungkin dengan mudah berubah menjadi pandangan kepada istri, maka—dalam opini publik—Rasul x tidak cocok menikah dengan anak wanita kaum mukmin. Karena itu, al-Qur’an berbicara kepada mereka dengan berkata, “Dari sisi rahmat ilahi, Rasul x melihat kalian dengan pandangan kasih sayang. Sementara dari sisi kenabian, beliau memperlakukan kalian seperti perlakuan seorang ayah yang penyayang. Akan tetapi dilihat dari sosoknya sebagai manusia, beliau bukan ayah kalian sehingga beliau layak menikahi anak-anak wanita kalian.”
Kalangan ketiga memahami ayat itu sebagai berikut: “kalian tidak boleh melakukan kesalahan dan dosa karena bersandar pada belas kasih beliau serta afiliasi kalian padanya. Sebab, banyak orang yang bersandar pada pimpinan dan mursyid mereka lalu menjadi malas-malasan dalam melakukan ibadah dan dalam beramal. Bahkan kadangkala mereka berkata, “Salat kami telah dikerjakan.” (seperti kondisi sebagian kalangan syiah).
Lalu kalangan lain memahami isyarat gaib yang terdapat pada ayat tersebut. Yaitu bahwa anak laki-laki Rasul x tidak akan sampai dewasa. Allah mewafatkan mereka sebelum mereka mencapai usia tersebut. Keturunan beliau tidak berlanjut sebagai orang dewasa karena hikmah yang Allah ketahui. Namun lafal rijâl (lelaki dewasa) mengisyaratkan bahwa keturunannya yang akan terus berlanjut hanya dari wanita. Alhamdulillah ternyata keturunan yang baik dan mulia dari Fatimah az-Zahra g seperti Hasan dan Husein sebagai dua purnama bersinar dari dua silsilah bercahaya meneruskan keturunan mentari kenabian yang penuh berkah terus berlanjut; baik secara fisik maupun maknawi.
Ya Allah, limpahkan salawat kepada beliau dan keluarganya.
(Obor pertama selesai dengan tiga kilaunya).
OBOR KEDUA
(Tiga Cahaya)
CAHAYA PERTAMA
Al-Qur’an al-Karim menggabungkan antara kefasihan yang istimewa, ketepatan yang luar biasa, kepaduan yang kukuh, keselarasan yang indah, kerjasama yang kuat antar kalimat dan susunannya, serta keharmonisan yang sempurna antar ayat dan tujuannya. Hal ini sebagaimana kesaksian ilmu bayan dan semantik, serta kesaksian ribuan pakar bidang ilmu tersebut seperti az-Zamakhsyari, as-Sakkâki, dan Abdul Qâhir al-Jurjani. Padahal terdapat sekitar sembilan faktor penting yang bisa merusak keharmonisan, keterpaduan, kefasihan, dan ketepatannya. Namun ternyata semua faktor tersebut tidak bisa merusak dan mempengaruhinya. Sebaliknya, ia tetap segar, fasih, sehat, dan padu. Pengaruhnya hanya terbatas pada bagaimana ia menampakkan diri dari balik tirai tatanan dan kefasihan yang ada. Hal itu untuk menunjukkan sejumlah makna kefasihan konstruksi al-Qur’an sama seperti kuncup yang mengeluarkan sejumlah benjolan di batang pohon. Tentu saja ia tidak merusak keharmonisan pohon. Akan tetapi, ia memberikan buah yang membuat pohon tadi semakin indah dan cantik.
Pasalnya, al-Qur’an yang menjadi penerang itu turun dalam jangka waktu 23 tahun secara berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan. Namun demikian, ia tetap memperlihatkan kesesuaian yang sempurna seolah-olah turun secara sekaligus.
Selain itu, al-Qur’an turun dalam jangka waktu 23 tahun dengan sebab turun yang berbeda-beda. Namun demikian, ia tetap memperlihatkan keterpaduan sempurna seolah-olah ia turun hanya karena satu sebab.
Kemudian, al-Qur’an juga datang sebagai jawaban atas berbagai pertanyaan yang berulang, namun ia tetap memperlihatkan kesatuan yang sempurna seolah-olah ia merupakan jawaban dari sebuah pertanyaan.
Lalu, al-Qur’an datang sebagai penjelasan hukum dari berbagai peristiwa yang terjadi, namun ia tetap memperlihatkan keteraturan yang sempurna seolah-olah ia merupakan penjelasan dari sebuah peristiwa.
Selanjutnya, al-Qur’an turun dengan berisi kalam ilahi dalam beragam uslub yang sesuai dengan pemahaman mitra bicara yang jumlahnya tak terhingga serta berbagai kondisi penerimaan yang berbeda-beda. Namun demikian, ia tetap memperlihatkan kefasihan dan keselarasan yang indah seolah-olah keadaan dan pemahamannya hanya satu sehingga ia mengalir seperti air salsabil.
Kemudian, al-Qur’an turun mengarah pada berbagai kelompok yang berbeda-beda, namun ia tetap memperlihatkan kemudahan bayan, keindahan tatanan, dan kejelasan pemahaman seolah-olah yang menjadi objeknya hanya satu kelompok di mana masing-masing mengira dirinyalah yang sebenarnya dituju.
Al-Qur’an juga turun sebagai pembimbing dan pengantar kepada beragam tujuan, namun ia tetap memperlihatkan istikamah yang sempurna, keseimbangan yang cermat, dan keteraturan yang indah seolah-olah tujuannya hanya satu.
Sejumlah faktor di atas meski merupakan faktor yang bisa merusak makna dan susunannya, namun ia justru dipergunakan untuk memperlihatkan kemukjizatan bayan, kefasihan, dan keselarasan al- Qur’an.Ya, orang yang memiliki hati yang bersih, pikiran yang jernih, nurani yang murni, dan daya rasa yang sempurna, pasti melihat kelancaran yang indah, kesesuaian yang lembut, alunan yang nikmat, dan kefasihan yang istimewa dalam bayan al-Qur’an. Siapa yang memiliki penglihatan sempurna dalam basirahnya, tentu akan melihat mata dalam al-Qur’an yang bisa melihat semua entitas, baik yang lahir maupun yang batin secara jelas, seperti satu lembaran yang bisa dibolak-balik sehingga ia menyampaikan maknanya sesuai dengan uslub (gaya bahasa) yang dikehendaki.
Jika kita menginginkan penjelasan tentang hakikat cahaya pertama lewat sejumlah contoh, maka dibutuhkan berjilid-jilid buku. Karena itu, kita cukupkan dengan beberapa penjelasan yang terkait dengan hakikat ini pada al-Rasâil al-Arabiyyah (risalah berbahasa Arab),(*16)Isyârat al-I’jaz, serta kedua puluh lima kalimat sebelumnya. Bahkan keseluruhan al-Qur’an merupakan contoh bagi hakikat tersebut. Kujelaskan semuanya secara sekaligus.
CAHAYA KEDUA
Cahaya ini membahas tentang keistimewaan mukjizat gaya bahasa al-Qur’an yang menakjubkan dalam sejumlah intisari berikut Asmaul Husna yang menjadi penutup dari ayat al-Qur’an.
Catatan: Dalam cahaya yang kedua ini ada banyak ayat yang disebutkan. Ayat-ayat itu tidak hanya khusus bagi cahaya kedua, tetapi juga merupakan contoh bagi berbagai persoalan dan sejumlah kilau yang telah disebutkan sebelumnya. Kalau kita ingin memberikan penjelasan yang memadai tentang sejumlah contoh tersebut, tentu pembahasannya akan sangat panjang. Namun saat ini, menurutku, harus dijelaskan secara singkat dan global. Karena itu, aku memberikan penjelasan secara singkat dan global tentang sejumlah ayat yang kami jadikan sebagai contoh untuk menjelaskan rahasia agung ini; rahasia kemukjizatan. Penjelasan detailnya ditunda ke waktu yang lain.
Seringkali al-Qur’an al-Karim menyebutkan rangkuman dan intisari pada penutup ayat. Rangkuman tersebut bisa berisi Asmaul Husna atau maknanya, bisa pula mengembalikan persoalannya kepada akal dengan mendorong untuk merenungkannya, atau bisa pula berisi kaidah umum dari tujuan al-Qur’an di mana ayat tersebut menguatkan dan menegaskannya.
Dalam ringkasan itu terdapat sejumlah petunjuk tentang hikmah al-Qur’an yang mulia, resapan air kehidupan dari petunjuk ilahi, serta sejumlah percikan kilau kemukjizatan al-Qur’an.Sekarang kami hanya akan menyebutkan ‘sepuluh petunjuk’ atau isyarat dari banyak petunjuk yang ada secara global seraya memberikan satu contoh saja dari banyak contoh yang ada, serta menunjukkan makna umum dari satu hakikat saja dari sekian banyak hakikatnya.Sebagian besar dari kesepuluh isyarat itu terkumpul dalam sebagian besar ayat secara bersamaan di mana ia membentuk untaian kemukjizatan hakiki. Sebagian besar ayat yang kami jadikan sebagai contoh merupakan contoh dari sebagian besar isyarat. Maka dari setiap ayat, kami akan menjelaskan sebuah isyarat seraya secara implisit menunjukkan berbagai makna dari ayat yang telah kami sebutkan dalam beberapa “kalimat” sebelumnya.
Keistimewaan Kefasihan yang Pertama
Dengan penjelasannya yang menakjubkan, al-Qur’an menghamparkan berbagai perbuatan Sang Pencipta Yang Mahaagung berikut jejak-Nya di hadapan penglihatan makhluk. Kemudian dari perbuatan dan jejak tersebut, ia menyebutkan nama-nama ilahi atau ia menetapkan salah satu tujuan fundamental al-Qur’an seperti kebangkitan dan tauhid.
Di antara contoh makna yang pertama adalah firman Allah :“Dialah Allah yang menjadikan segala yang terdapat di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu Dia menjadikannya tujuh langit. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Baqarah [2]: 29).
Sementara contoh untuk makna yang kedua adalah firman-Nya:“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? dan gunung-gunung sebagai pasak? Kami jadikan kamu berpasang-pasangan. Kami jadikan tidurmu untuk istirahat. Kami jadikan malam sebagai pakaian. Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan. Kami bangun di atasmu tujuh lapis (langit) yang kukuh. Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari). Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, serta kebun-kebun yang lebat? Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan.” (QS. an-Naba’ [78]: 6-17).
Pada ayat pertama, al-Qur’an menerangkan berbagai jejak ilahi yang agung yang—lewat tujuan dan susunannya—menunjukkan pengetahuan dan qudrah Allah. Dia menyebutkannya sebagai pendahuluan dari satu hasil dan maksud penting. Lalu muncullah nama Allah “ ” (Yang Maha Mengetahui). Selanjutnya, pada ayat kedua disebutkan sejumlah perbuatan Allah yang besar berikut jejaknya yang agung. Dari sana dihasilkan kebangkitan yang merupakan hari keputusan sebagaimana dijelaskan dalam poin ketiga, kilau pertama dari obor pertama.
Aspek Balagah yang Kedua
Al-Qur’an al-Karîm menebarkan berbagai tenunan kreasi ilahi dan menghamparkannya di hadapan mata manusia. Lalu ia membungkusnya dalam sebuah kesimpulan dalam bingkai nama-nama-Nya atau mengembalikannya kepada akal.
Contoh pertama: “Katakanlah: Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan? Siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab, “Allah”. Katakanlah: Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya? (Dzat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu Yang Mahabenar...” (QS. Yûnus [10]: 31-32).
Pertama-tama ia menegaskan, “Siapa yang menyiapkan langit dan bumi dan menjadikan keduanya sebagai tempat menyimpan rezeki kalian. Lalu dari sana (langit) Dia menurunkan hujan, dan dari sini (bumi) Dia mengeluarkan benih. Adakah selain Allah yang bisa menjadikan langit dan bumi yang besar ini layaknya penjaga gudang yang taat kepada hukum-Nya?! Dengan demikian, rasa syukur dan pujian hanya layak untuk Allah.”
Pada bagian kedua ia berkata, “Siapa pemilik pendengaran dan penglihatan yang merupakan sesuatu paling berharga yang terdapat di tubuh kalian? Dari pabrik atau toko mana kalian membelinya? Dzat yang memberikan indra penglihatan dan pendengaran yang halus itu adalah Rabb kalian! Dia yang menciptakan dan membesarkan kalian serta memberikannya kepada kalian. Jadi, hanya Rabb (Tuhan Pemelihara) yang layak disembah”.
Pada bagian ketiga ia berkata, “Siapa yang menghidupkan ratusan ribu spesies tak bernyawa sebagaimana menghidupkan bumi? Siapa selain Allah (al-Haq) dan Pencipta alam yang mampu melakukan itu semua? Tentu Dialah yang telah berbuat hal tersebut dan Dia pula yang menghidupkan bumi yang mati. Selama Dia adalah al-Haq (Mahabenar), tentu tidak akan ada hak yang terabaikan di sisi-Nya. Dia akan membangkitkan kalian menuju pengadilan terbesar serta akan menghidupkan kalian sebagaimana Dia menghidupkan bumi.”
Pada bagian keempat ia berkata, “Siapa selain Allah yang dapat menata urusan alam yang besar itu serta mengatur persoalannya dengan sangat rapi dan mudah seperti menata sebuah istana atau kota? Selama tidak ada Dzat selain Allah, maka tidak ada cacat pada qudrah- Nya dalam mengatur alam ini berikut semua benda di dalamnya dengan sangat mudah tanpa butuh sekutu atau pembantu. Qudrah-Nya bersifat mutlak tak terbatas. Dzat yang mengatur urusan alam yang besar ini tidak menyerahkan pengaturan makhluk yang kecil kepada selain-Nya. Dengan demikian, kalian harus berkata, “Allah”.
Engkau dapat melihat bahwa bagian pertama dan keempat mengucap “Allah”, bagian kedua mengucap “Rabb (Tuhan Pemelihara)”, serta yang ketiga mengucap, “al-Haq (Tuhan Yang Mahabenar).” Maka pahamilah tingkat kemukjizatan yang terdapat pada kalimat:“(Dzat yang demikian) itulah Allah, Tuhan (Rabb) kamu, Yang Mahabenar (al-Haq)”.Begitulah al-Qur’an menyebutkan berbagai perbuatan Allah dan kreasi-Nya yang agung. Kemudian al-Qur’an menyebutkan tangan yang menata seluruh jejak-Nya yang mulia. Itulah Allah, Tuhan kamu, Yang Mahabenar. Artinya, ia memperlihatkan sumber dari semua perbuatan dan kreasi tadi dengan menyebutkan nama-nama ilahi: Allah, Rabb,dan al-Haq.
Di antara contoh yang kedua (yang mengarah kepada akal) adalah:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh pada semua itu (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir”. (QS. al-Baqarah [2]: 164).
Dalam ayat-ayat di atas, al-Qur’an menyebutkan manifestasi kekuasaan ilahi yang terdapat dalam penciptaan langit dan bumi yang memperlihatkan wujud kesempurnaan qudrah-Nya dan keagungan rububiyah-Nya. Al-Qur’an menyebutkan manifestasi rububiyah dalam silih bergantinya malam dan siang; manifestasi rahmat lewat penundukan dan perjalanan bahtera di laut sebagai salah satu sarana paling utama dalam kehidupan sosial manusia; manifestasi keagungan qudrah dalam menurunkan air yang membangkitkan kehidupan dari langit ke bumi yang mati dan bagaimana ia menghidupkannya bersama seluruh spesiesnya yang berjumlah ratusan ribu lebih, serta bagaimana ia ditampilkan dalam bentuk galeri kreasi yang menakjubkan.Selain itu, al-Qur’an menyebutkan manifestasi rahmat dan qudrah dalam penciptaan beragam hewan yang jumlahnya tak terhingga dari tanah yang sederhana. Ia menyebutkan manifestasi rahmat dan hikmah dari pemberian berbagai tugas mulia kepada angin seperti penyerbukan dan pernapasan bagi tumbuhan serta sebagai media untuk bernapas bagi makhluk hidup lewat gerakannya. Kemudian al-Qur’an menyebutkan manifestasi rububiyah dalam penundukan, pengumpulan, dan penebaran awan yang tergantung di antara langit dan bumi laksana pasukan yang taat. Mereka bertebaran untuk istirahat lalu berkumpul untuk menerima perintah dalam sebuah parade besar. Demikianlah, setelah al-Qur’an menyajikan kreasi ilahi, ia mengajak akal untuk merenungi hakikatnya secara rinci dengan redaksinya:“Sungguh pada semua itu (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir”.
Keistimewaan Kefasihan yang Ketiga
Al-Qur’an al-Karîm kadang menyebutkan sejumlah perbuatan Allah secara rinci. Setelah itu, ia meringkas dan merangkumnya dalam sebuah kesimpulan. Dengan rincian tadi, al-Qur’an melahirkan sikap qana’ah dan tenang. Serta dengan ungkapan yang ringkas memudahkan untuk dihafal.
Contoh:“Demikianlah Tuhanmu memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan mengajarimu sebagian dari ta’bir mimpi. Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Tuhanmu Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.” (QS. Yûsuf [12]: 6).
Dengan ayat di atas, al-Qur’an menunjukkan sejumlah nikmat yang Allah karuniakan kepada Nabi Yusuf عَلَيْهِ السَّلَامُ dan kepada ayah dan kakeknya. Al-Qur’an menegaskan, “Allah yang memilihmu di antara manusia untuk menjadi nabi serta menjadikan silsilah seluruh nabi terkait dengan silsilahmu dengan menjadikannya sebagai pemimpin atas seluruh silsilah manusia. Dia juga menjadikan kalian sebagai pusat pengajaran dan hidayah. Engkau mendiktekan berbagai ilmu ilahiyah dan hikmah rabbaniyah. Dia kumpulkan pada dirimu kekuasaan dunia yang bahagia dan kebahagiaan akhirat yang kekal. Lewat ilmu dan hikmah, Dia menjadikanmu sebagai pembesar Mesir sekaligus sebagai nabi yang agung dan pembimbing yang bijak”. Setelah menyebutkan berbagai nikmat di atas dan bagaimana Allah menjadikannya berikut ayah dan kakeknya sebagai orang-orang yang mendapat ilmu dan hikmah, al-Qur’an mengatakan:“Tuhanmu Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana”. Artinya, rububiyah dan hikmah menuntut untuk menjadikanmu serta ayah dan kakekmu mendapatkan manifestasi nama “ ” (Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana). Demikianlah al-Qur’an merangkum berbagai nikmat di atas dengan kesimpulan tersebut.
Contoh lain: “Katakanlah: Wahai Tuhan yang mempunyai kekuasaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Eng kaulah segala kebajikan. Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).” (QS. Âli `Imrân [3]: 26-27).
Ayat di atas menjelaskan berbagai perbuatan Allah dalam kehidupan sosial manusia. Ia menginformasikan bahwa kemuliaan dan kehinaan serta kemiskinan dan kekayaan terpaut secara langsung dengan kehendak dan keinginan Allah ﷻ. Artinya, perbuatan Allah pada spesies yang paling tersebar terwujud karena kehendak dan ketentuan Allah; bukan karena kebetulan”.Setelah ayat di atas memberikan pernyataan tersebut, ia berkata, “Hal terpenting dalam kehidupan manusia adalah urusan rezekinya”. Maka dengan sejumlah pendahuluan, ia menetapkan bahwa rezeki dikirimkan secara langsung dari simpanan kekayaan Tuhan Pemberi rezeki hakiki. Pasalnya, rezeki kalian terkait dengan kehidupan bumi. Sementara kehidupan bumi tergantung pada musim semi. Lalu musim semi berada di tangan Dzat yang menundukkan matahari dan bulan serta menjalankan siang dan malam. Jadi, pemberian sebuah apel untuk manusia sebagai rezeki hakiki berasal dari perbuatan Dzat yang memenuhi bumi dengan berbagai buah. Dialah Pemberi rezeki hakiki. Setelah itu, al-Qur’an menyimpulkan dan menetapkan berbagai perbuatan rinci tadi dengan sebuah kesimpulan:“Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)”.
Aspek Balagah yang Keempat
Al-Qur’an kadang menyebutkan berbagai makhluk ilahi dengan urutan tertentu. Kemudian ia menjelaskan bahwa dalam kehidupan makhluk terdapat sebuah sistem dan neraca yang memperlihatkan buah makhluk. Seolah-olah ia memberikan semacam kebeningan dan kecemerlangan pada makhluk di mana ia memperlihatkan nama-nama ilahi yang terwujud di dalamnya. Seolah-olah makhluk tersebut merupakan lafalnya, sementara nama-nama tadi merupakan maknanya. Atau makhluk tersebut merupakan buahnya, sementara nama-nama tadi merupakan bijinya.
Contoh:
“Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah. Lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging. Segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang. Lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha suci Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS. al-Mu’minûn [23]: 12-14).
Al-Qur’an menyebutkan penciptaan dan fase-fase manusia yang menakjubkan, indah, rapi, dan seimbang secara berurutan seraya menjelaskan ayat: فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَح۟سَنُ ال۟خَالِقٖينَ “Maka Maha suci Allah, Pencipta yang paling baik” laksana cermin di mana setiap fase seperti menunjukkan tentang dirinya. Bahkan sebelum kedatangannya, salah seorang penulis wahyu ketika menuliskan ayat ini berprasangka dengan berkata, “Apakah ia juga diwahyukan kepadaku?”(*17)Kenyataannya, kesempurnaan susunan kalam pertama, kebeningannya yang istimewa, serta keselarasannya yang sempurna memperlihatkan dirinya sebelum kalimat tersebut datang.
Demikian pula dengan bunyi firman Allah:“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Lalu Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, (Dia juga menciptakan) matahari, bulan, dan bintang-gemintang (di mana masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, mencipta dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. al-A’râf [7]: 54).
Dalam ayat di atas, al-Qur’an menjelaskan keagungan qudrah ilahi dan kekuasaan rububiyah-Nya dalam bentuk yang menunjukkan wujud Sang Mahakuasa Yang Mahaagung di mana Dia bersemayam di atas arasy rububiyah-Nya, menuliskan tanda-tanda rububiyah tadi di atas lembaran alam, memutar siang dan malam laksana dua pita yang saling menggantikan. Sementara matahari, bulan, dan bintang siap untuk menerima perintah laksana prajurit yang taat. Karena itu, begitu mendengar ayat di atas setiap jiwa mengucap, “Tabârakallâhu Rabbul `âlamîn, bârakallâh, mâsyâ Allâh”. Artinya, kalimat: “Maha suci Allah, Tuhan semesta alam” menjadi sebuah kesimpulan dari kalimat sebelumnya. Ia laksana benih, buah, dan air kehidupannya.
Keistimewaan Kefasihan yang Kelima
Al-Qur’an kadang menyebutkan sejumlah unsur materi yang bisa berubah sesuai dengan ragam kondisinya. Kemudian untuk mengubahnya menjadi berbagai hakikat yang tetap, ia mengikat dan merangkumnya dengan nama-nama ilahi yang bersifat cahaya, menyeluruh, dan permanen. Atau, ia memberikan kesimpulan yang mendorong akal untuk berpikir dan mengambil pelajaran.
Contoh dari makna pertama adalah:“Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang golongan yang benar!” Mereka menjawab, “Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan pada kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui dan Maha Bijaksana.” (QS. al-Baqarah [2]: 31-32).
Ayat ini pertama-tama menyebutkan tentang satu peristiwa parsial, yaitu bahwa faktor yang menyebabkan Adam unggul daripada malaikat sehingga terpilih menjadi khalifah adalah ‘ilmu’. Sesudah itu, ayat tersebut menjelaskan peristiwa kalahnya malaikat di hadapan Adam dalam hal ilmu. Lalu hal itu dilanjutkan dengan merangkum dua kejadian di atas melalui penyebutan dua nama dari Asmaul Husna:“Engkau al-`Alîm (Maha Mengetahui), dan al-Hakîm (Maha Bijaksana)”. Artinya, malaikat berkata, “Wahai Tuhan, Engkau Maha mengetahui. Karena itu, Engkau ajarkan Adam sehingga mengalahkan kami. Engkau juga Maha bijaksana, sehingga Engkau memberikan kepada masing-masing kami sesuatu yang sesuai dengan potensi yang kami miliki. Engkau melebihkan Adam atas kami melalui potensi yang dia miliki”.
Contoh dari makna kedua adalah:“Sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah diteguk bagi orang-orang yang meminumnya. Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)”. Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya. Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orangorang yang berpikir.” (QS. an-Nahl [16]: 66-69).
Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa Allah ﷻ menjadikan kambing, domba, sapi, unta, dan binatang sejenisnya sebagai sumber yang bersih dan murni dalam mengalirkan susu bagi manusia. Lalu Allah menjadikan anggur, kurma, dan sejenisnya sebagai hidangan yang lezat dan nikmat. Kemudian Allah mengeluarkan dari binatang sejenis lebah—yang merupakan salah satu mukjizat kekuasaan-Nya—madu di mana ia berisi obat bagi manusia di samping nikmat dan manis. Di akhir penjelasan, ayat-ayat tersebut mendorong untuk berpikir, mengambil pelajaran, dan menganalogikan yang lain dengannya lewat ayat: “Sesungguhnya dalam hal tersebut terdapat tanda kekuasaan bagi kaum yang berpikir”.
Aspek Balagah yang Keenam
Al-Qur’an al-Karîm kadang menyebarkan hukum-hukum rububiyah pada entitas yang banyak dan tersebar luas, kemudian ia menetapkan fenomena kesatuan atasnya serta mengumpulkannya dalam sebuah titik yang menyatukannya laksana titik pusat atau menetapkannya dalam satu kaidah universal.
Contoh, firman Allah yang berbunyi:“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. Dia Mahatinggi dan Mahaagung.” (QS. al-Baqarah [2]: 255).
Ayat di atas (ayat kursi) menghadirkan sepuluh kalimat yang menggambarkan sepuluh tingkatan tauhid dalam bentuk beragam. Setelah itu, dengan sangat tegas ia memutuskan seluruh ikatan kemusyrikan dan pengikutsertaan selain Allah dengan firman-Nya:“Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya...”Karena ayat ini berisi nama Allah yang paling agung, maka berbagai maknanya dilihat dari sisi hakikat ilahiyah berada pada kedudukan yang paling tinggi. Pasalnya, ia menerangkan berbagai perbuatan rububiyah dalam tingkatan yang paling agung. Setelah menyebutkan pengaturan uluhiyah yang mengarah ke langit dan bumi secara keseluruhan dalam kedudukan yang paling tinggi, ia menyebutkan pemeliharaan Allah yang paripurna dan mutlak dengan seluruh maknanya. Kemudian ayat tersebut merangkum berbagai sumber manifestasi agung di atas dalam sebuah ikatan kesatuan lewat firman-Nya:“Dia Mahatinggi dan Mahaagung”.
Contoh lain adalah firman-Nya:“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya. Dia juga telah menundukkan bagimu sungai-sungai.Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); Dan Dia telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohon. Jika kamu menghitung nikmat Allah tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrâhîm [14]: 32-34).
Ayat-ayat di atas menerangkan bagaimana Allah menciptakan alam ini untuk manusia sebagai sebuah istana. Dia mengirimkan air kehidupan dari langit ke bumi. Lalu Dia menjadikan langit dan bumi tunduk laksana dua pelayan yang bertugas mengantarkan rezeki kepada seluruh manusia. Dia juga menundukkan kapal untuk memberikan kesempatan kepada setiap orang agar ia bisa mengambil manfaat dari semua buah yang ada di bumi sehingga bisa hidup dan saling bertukar hasil usaha dan pekerjaan mereka. Dengan kata lain, Dia menjadikan laut, pohon, dan angin dalam kondisi khusus di mana angin laksana cambuk, kapal laksana kuda, dan laut laksana padang pasir yang luas.Di samping itu, Dia menjadikan manusia berserta semua yang terdapat di penjuru alam terpaut dengan perahu dan berbagai sarana transportasi alami di sejumlah sungai dan anak sungai. Dia memperjalankan matahari dan bulan serta menjadikan keduanya sebagai awak kapal yang bertugas memutar roda alam yang besar, untuk menghadirkan berbagai musim, serta menyiapkan berbagai nikmat ilahi. Dia juga menundukkan siang dan malam dengan memosisikan malam sebagai pakaian dan penutup agar manusia bisa istirahat, serta menjadikan siang untuk mencari penghidupan.
Setelah menyebutkan sejumlah nikmat ilahi di atas, ayat tersebut memberikan sebuah kesimpulan dan rangkuman: “Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohon. Jika kamu menghitung nikmat Allah tidaklah dapat kamu menghinggakannya”. Hal itu untuk menjelaskan sejauh mana luasnya wilayah karunia Allah kepada manusia dan bagaimana ia penuh dengan beragam nikmat. Artinya, semua yang diminta manusia lewat kebutuhan alamiahnya dan lewat lisan potensinya telah diberikan oleh Allah. Nikmat tersebut tidak terhingga, tidak habis, dan tidak pernah bisa dihitung. Ya, jika langit dan bumi merupakan salah satu hidangan karunia- Nya yang besar, sementara matahari dan bulan, serta siang dan malam merupakan bagian dari karunia yang dikandung oleh hidangan tadi, tentu saja nikmat yang mengarah pada manusia itu tidak terhitung dan tidak terhingga.
Rahasia Balagah yang Ketujuh
Ayat al-Qur’an kadang menjelaskan berbagai tujuan dari sebuah akibat berikut buahnya untuk menjauhkan sebab lahiriah dan menghadirkan qudrah penciptaan. Juga, agar diketahui bahwa sebab hanyalah tabir lahiriah. Hal itu karena, kehendak terhadap berbagai tujuan penuh hikmah dan buah yang mulia harus dimiliki oleh Dzat yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.
Sementara sebab yang ada bersifat mati; tak bernyawa dan tak berperasaan. Dengan menyebutkan sejumlah buah dan tujuan, ayat al-Qur’an hendak menegaskan bahwa meskipun secara lahiriah terlihat dan berkaitan dengan akibat, namun antara sebab dan akibat pada hakikatnya memiliki jarak yang sangat jauh.Ya, jarak antara sebab dan penciptaan akibat sangat jauh di mana sebab yang paling hebat sekalipun tidak mampu menciptakan akibat yang paling kecil.
Jarak yang demikian jauh antara sebab dan akibat membuat nama-nama ilahi terbit laksana bintang-gemintang yang terang. Tempat terbit nama-nama itu terdapat pada jarak maknawiyah tersebut. Pasalnya, sebagaimana ujung langit tampak bersentuhan dan bersambung dengan gunung yang mengitari ufuk (kaki langit), namun antara wilayah ufuk dan langit terdapat jarak yang sangat jauh. Demikian pula antara sebab dan akibat terdapat jarak maknawi yang jauh di mana ia hanya bisa dilihat dengan teropong iman dan cahaya al-Qur’an.
Sebagai contoh:“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit). Kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya. Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu. Anggur dan sayur-sayuran. Zaitun dan kurma. Kebun-kebun (yang) lebat. Dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (QS. `Abasa [80]: 24-32).
Ayat-ayat di atas menyebutkan berbagai mukjizat qudrah ilahi secara berurutan dan penuh hikmah. Ia mengaitkan sebab dan akibat. Kemudian di penghujungnya ia menjelaskan tujuan yang ada dengan berkata:“Untuk kesenanganmu dan untuk binatang ternakmu”. Dalam tujuan tersebut, ayat itu menegaskan bahwa Dzat yang berbuat dan tersembunyi di balik seluruh sebab dan akibat yang berantai itu melihat dan mengawasi semua tujuan tadi. Ia menegaskan bahwa sebab yang ada hanyalah tirai bagi-Nya.
Ya, ungkapan “untuk kesenanganmu dan untuk binatang ternakmu” menghapus adanya kemampuan dari sebab untuk mencipta dan menghadirkan. Pasalnya, secara implisit ia berkata bahwa air yang turun dari langit untuk menyiapkan rezekimu dan rezeki binatang ternakmu tidak turun dengan sendirinya.
Sebab, ia tidak memiliki kemampuan untuk mencurahkan kasih sayang kepadamu dan kepada binatang ternakmu guna mengasihi kondisimu. Jadi, ia dikirimkan. Tanah yang tidak memiliki perasaan, karena ia tidak mampu untuk mengasihi kondisimu guna menyiapkan rezekimu, tentu tidak bisa terbelah dengan sendirinya. Namun ada Dzat yang membelahnya, membuka pintunya, lalu darinya Dia limpahkan nikmatnya kepada kalian.
Demikian pula dengan pepohonan dan tumbuhan. Ia tidak mampu menyiapkan buah dan benih sebagai bentuk kasih sayang dan perhatian terhadap kalian. Semuanya merupakan tali dan pita yang terbentang dari balik tirai gaib yang diulurkan oleh Dzat Yang Mahabijak dan Maha Penyayang. Dia mengaitkan karunia tersebut dengannya, lalu mengirimkannya kepada makhluk hidup.
Demikianlah. Dari penjelasan di atas, wujud nama-nama Allah seperti ar-Rahîm (Maha Penyayang), ar-Razzâq (Maha pemberi rezeki), al-Mun`im (Maha Pemberi karunia), dan al-Karîm (Maha Pemurah) tampak dengan jelas.
Contoh lain:
“Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih. Maka terlihatlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya. Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit; (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung. Maka Dia menimpakan (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang Dia kehendaki dan Dia memalingkan dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilat awan itu hampir menghilangkan penglihatan. Allah menggilirkan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan. Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air. Maka, sebagian dari hewan itu ada yang berjalan dengan perutnya, sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. an-Nûr [24]: 43-45).
Ayat di atas, ketika menjelaskan berbagai perbuatan menakjubkan dalam proses penurunan hujan serta terbentuknya awan yang berposisi sebagai tirai perbendaharaan rahmat ilahi dan salah satu mukjizat-Nya yang paling penting, ia menjelaskannya seakan-akan bagian-bagian awan tersebar dan tersembunyi di angkasa—laksana pasukan yang tersebar untuk beristirahat. Kemudian awan itu berkumpul dengan perintah Allah dan bagian-bagian kecil itu pun menyatu seraya membentuk awan sebagaimana pasukan berkumpul setelah mendengar terompet militer. Air yang membangkitkan kehidupan itu pun dikirim kepada semua makhluk hidup dari gumpalan awan yang besar, dan berjalan laksana gunung, serta putih dan lembap bagaikan salju. Dalam proses pengiriman tersebut tampak adanya kehendak dan maksud tertentu. Sebab, ia datang sesuai dengan kebutuhan. Artinya, hujan tersebut dikirim. Tidak mungkin bagian-bagian awan yang laksana gunung tadi berkumpul dengan sendirinya, sementara kita melihat langit begitu cerah dan bersih. Namun ia dikirim oleh Dzat yang mengetahui kondisi makhluk hidup.
Dalam jarak maknawi ini, wujud nama-nama ilahi seperti al-Qadîr (Yang Mahakuasa), al-`Alîm (Yang Maha Mengetahui), al-Mutasharrif (Yang Maha Berbuat), al-Mudabbir (Yang Maha Mengatur), al-Murabbî (Yang Maha Memelihara), al-Mughîts (Yang Maha Menolong), dan al-Muhyî (Yang Maha Menghidupkan) terlihat dengan jelas.
Keistimewaan Kefasihan yang Kedelapan
Al-Qur’an al-Karîm kadang menyebutkan berbagai perbuatan ilahi di dunia yang indah dan menakjubkan agar akal siap untuk membenarkan dan kalbu mau mempercayai berbagai perbuatan-Nya di akhirat. Dengan kata lain, al-Qur’an menggambarkan berbagai perbuatan ilahi yang menakjubkan yang akan terjadi di masa mendatang dan di akhirat dalam bentuk yang membuat kita percaya lewat beragam padanannya.
Sebagai contoh:“Apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), lalu tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata! Ia membuat perumpamaan bagi kami; dan lupa kepada kejadiannya. Ia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh?” Katakanlah, “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dia Maha mengetahui tentang segala makhluk. Yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka seketika kamu nyalakan (api) dari kayu itu.” Tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dialah Maha Pencipta dan Maha Mengetahui. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu cukup berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka terjadilah ia. Maha suci (Allah) yang di tangan-Nya terdapat kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Yâsîn [36] 77-83).
Dalam masalah kebangkitan ini, al-Qur’an menetapkan dan mengemukakan sejumlah petunjuk atasnya lewat tujuh atau delapan macam gambaran:
Pertama-tama, ia mempersembahkan penciptaan yang pertama lalu menampilkannya ke hadapan mata seraya berkata, “Kalian melihat perkembangan penciptaan kalian dari nutfah kepada ‘alaqah (segumpal darah). Dari ‘alaqah menjadi mudgah (segumpal daging). Dari mudgah menuju penciptaan manusia. Jadi, bagaimana kalian mengingkari Penciptaan kedua (kebangkitan) di akhirat nanti yang serupa dengannya, bahkan ia lebih mudah darinya.
Setelah itu, dengan redaksi:“Dzat yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau”, al- Qur’an menunjukkan berbagai nikmat, karunia, dan anugerah yang telah Allah berikan kepada manusia.
Dzat yang memberikan karunia semacam itu kepada kalian tidak akan membiarkan kalian masuk kubur begitu saja dan tidur tanpa ada kebangkitan. Lalu secara simbolik ia mengatakan, “Kalian telah melihat proses hidup dan menghijaunya pohon yang mati. Jika demikian, bagaimana kalian tidak percaya bahwa tulang yang seperti kayu itu bisa hidup dan mengapa kalian tidak menganalogikan dengannya?
Kemudian mungkinkah Dzat yang menciptakan langit dan bumi ini tidak mampu menghidupkan dan mematikan manusia sebagai buah dari langit dan bumi? Mungkinkah Dzat yang mengatur dan memelihara urusan pohon mengabaikan buahnya dan membiarkannya kepada yang lain? Apakah kalian mengira pohon penciptaan yang semua bagiannya dibuat dengan hikmah akan dicampakkan begitu saja lalu buah dan hasilnya diabaikan?Demikianlah, Dzat yang akan menghidupkan kalian di akhirat nanti adalah Dzat yang di tangan-Nya tergenggam kunci perbendaharaan langit dan bumi di mana semua entitas tunduk pada-Nya seperti tunduknya pasukan yang patuh kepada perintah-Nya. Dia menundukkan mereka dengan perintah kun fayakûn secara sempurna. Dzat yang dengan sangat mudah mampu menciptakan musim semi seperti menciptakan setangkai bunga serta Dzat yang dengan sangat gampang menciptakan seluruh hewan sebagaimana menciptakan seekor lalat, tidak dan takkan pernah diragukan kemampuan-Nya dengan bertanya: Zonmlk “Siapa yang menghidupkan tulang-belulang ini?”
“Maha suci (Allah) yang di tangan-Nya terdapat kekuasaaan atas segala sesuatu”, al-Qur’an menjelaskan bahwa kunci perbendaharaan segala sesuatu berada di tangan-Nya. Padanya terdapat kunci segala sesuatu. Dia membalik malam dan siang, musim dingin dan musim panas dengan sangat mudah laksana lembaran kitab. Dunia dan akhirat bagi-Nya seperti dua rumah di mana yang satu ditutup dan yang satu lagi dibuka.
Kemudian dengan ungkapan:Jika demikian kondisinya, kesimpulan dari semua petunjuk di atas adalah:“Kepada-Nyalah kamu dikembalikan”. Yakni, Dia menghidupkan kalian dari kubur, menggiring kalian menuju mahsyar, dan memberikan perhitungan di pengadilan-Nya yang suci.
Begitulah, engkau melihat ayat-ayat di atas menyiapkan akal pikiran dan menghadirkan kalbu untuk bisa menerima masalah kebangkitan lewat berbagai padanan yang diperlihatkan dengan sejumlah perbuatan di dunia.
Al-Qur’an kadang juga menyebutkan berbagai perbuatan ukhrawi dengan cara menunjukkan contohnya di dunia agar tidak ada yang mengingkari.
Misalnya surah at-Takwîr, surah al-Infithâr, dan al-Insyiqâq. Semua surah tersebut menyebutkan berbagai perubahan besar dan sejumlah perbuatan rububiyah ilahi yang luar biasa dengan gaya bahasa yang mencengangkan dan sulit dicerna akal. Namun tatkala manusia melihat sejumlah padanannya di musim gugur dan musim semi, maka ia dapat menerimanya dengan sangat mudah. Karena penafsiran dan penjelasan dari ketiga surah itu cukup panjang, maka kami hanya akan mengambil satu kalimat sebagai contoh.
Misalnya:“Apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka.” (QS. at-Takwîr [81]: 10). Ayat tersebut bermakna, “Di akhirat nanti seluruh amal perbuatan manusia yang tertulis di lembaran catatan amal akan diungkap”. Karena masalah ini menakjubkan, ia sulit dipahami oleh akal. Hanya saja sebagaimana surah tersebut menunjukkan kebangkitan pada musim semi serta sebagaimana sejumlah hal lain memiliki padanan dan contohnya, demikian pula penyebaran lembaran catatan amal sangat jelas.
Setiap buah, setiap rumput, dan setiap pohon memiliki sejumlah aktivitas dan tugas. Ia memiliki ubudiyah dan tasbih dalam bentuk tertentu yang dengannya ia menampilkan Asmaul Husna. Semua aktivitas tersebut bersama sejarah hidupnya terangkum dalam benihnya. Ia akan terlihat pada musim semi dan tempat yang lain. Artinya, sebagaimana dengan sangat fasih ia menjelaskan sejumlah perbuatan induknya secara lahiriah, lembaran amalnya juga terlihat dan terungkap dengan tersebarnya ranting, serta mekarnya dedaunan dan buah. Ya, Dzat yang melakukan hal tersebut di hadapan mata kita dengan penuh hikmah, disertai dengan pemeliharaan, penataan, dan kelembutan adalah Dzat yang berfirman:
“Apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka.”Demikianlah, Anda bisa menganalogikan yang lain dengan cara yang sama. Jika Anda memiliki kemampuan untuk menarik kesimpulan, lakukanlah! Untuk membantumu, kami juga akan menjelaskan ayat berikut ini:“Apabila matahari digulung.” (QS. at-Takwîr [81]: 1).
Lafal ‘digulung’ yang terdapat pada ayat tersebut bermakna dilipat dan dikumpulkan. Ia merupakan sebuah perumpamaan yang indah dan cemerlang. Namun ia menunjuknya padanannya di dunia:
Pertama, Allah mengangkat tirai ketiadaan, angkasa, dan langit dari esensi matahari yang menerangi dunia laksana lentera. Dia mengeluarkannya dari perbendaharaan rahmat-Nya dan memperlihatkannya ke dunia. Lalu Dia akan melipat matahari tersebut dengan bungkusnya ketika dunia berakhir dan pintu-pintunya tertutup.
Kedua, matahari ditugaskan untuk menebarkan busana cahaya di waktu pagi dan melipatnya di waktu petang. Demikianlah siang dan malam saling bergantian. Matahari mengumpulkan perlengkapannya atau sampai batas tertentu bulan menjadi hijab bagi perbuatannya dalam mengambil dan memberi. Artinya, sebagaimana petugas ini (matahari) mengumpulkan perlengkapannya dan melipat buku kerjanya dengan sejumlah sebab, maka suatu hari nanti pasti akan dibebaskan dari tugasnya. Bahkan meskipun tidak ada sebab untuk dibebaskan atau dihentikan. Saat ini ada dua noda atau bintik kecil yang disaksikan oleh para astronom di atas permukaannya di mana ia meluas dan bertambah besar sedikit demi sedikit. Nah, bisa jadi dengan perluasan tersebut dan dengan perintah Tuhan, matahari menarik kembali cahaya yang ia tebarkan di muka bumi (padam) dengan izin ilahi. Maka dengan begitu, ia melipat dirinya. Tuhan pemilik kemuliaan berkata, “Sampai di sini tugasmu bersama bumi berakhir. Mari menuju Jahanam untuk membakar mereka yang menyembahmu dan menghinakan petugas yang patuh sepertimu. Mereka menghinakannya dengan menuduhnya berkhianat dan tidak setia.” Dengan itu, matahari membaca perintah ilahi: “Apabila matahari digulung” di atas wajahnya yang bernoda hi- tam.
Aspek Balagah yang Kesembilan
Al-Qur’an al-Karim kadang menyebutkan sebagian dari sejumlah tujuan parsial. Kemudian untuk mengalihkan tujuan parsial itu kepada kaidah umum dan agar akal mau merenungkannya, al-Qur’an menetapkan tujuan parsial tadi dan menegaskannya dengan Asmaul Husna yang merupakan kaidah umum.
Contoh:“Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Allah Maha mendengar lagi Maha melihat.” (QS. al-Mujâdalah [58]: 1).
Al-Qur’an berkata, “Allah mendengar segala sesuatu. Bahkan dengan nama-Nya al-Haq (Yang Mahabenar), Dia mendengar sebuah peristiwa parsial dan kejadian kecil yang terjadi pada seorang wanita. Yaitu wanita yang mendapat manifestasi halus dari wujud rahmat ilahi yang mencerminkan kekayaan terbesar dari hakikat kasih sayang. Gugatan dan keluhan sang wanita atas suaminya yang diajukan kepada Allah didengar dengan penuh kasih sayang laksana persoalan besar lain lewat nama ar-Rahîm (Yang Maha Penyayang). Allah melihatnya dengan penuh kasih serta menyaksikannya lewat nama al-Haq.
Agar tujuan dan persoalan parsial itu menjadi umum dan universal, ayat tersebut menegaskan bahwa Dzat yang mendengar dan melihat peristiwa paling kecil dari makhluk-Nya, sudah pasti Dzat yang bisa mendengar dan melihat segala sesuatu serta tidak terikat oleh segala yang bersifat makhluk. Dzat yang menjadi Tuhan pemelihara alam, sudah tentu Dzat yang melihat seluruh kezaliman yang terdapat di alam dan mendengar keluhan kalangan yang terzalimi. Sementara Dzat yang tidak melihat musibah dan tidak mendengar permintaan tolong mereka tidak mungkin menjadi Tuhan mereka. Karena itu, kalimat yang berbunyi:“Allah Maha mendengar lagi Maha melihat” menjelaskan dua hakikat tujuan yang parsial menjadi sesuatu yang umum dan universal.
Contoh kedua:“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. al-Isrâ [17]: 1).
Al-Qur’an al-Karim menutup ayat di atas dengan kalimat: “Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.” Hal itu setelah ia menceritakan peristiwa Isrâ yang dilakukan Rasul x sebagai awal dari mi’rajyaitu dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqshaserta akhir perjalanan beliau seperti yang disebutkan dalam surah an-Najm.Kata ganti pada kata ‘sesungguhnya Dia’ bisa mengacu kepada Allah atau mengacu kepada Rasul x.
Jika ia mengacu kepada Rasul x, maka kaidah balagah dan korelasi konteks kalimat menegaskan bahwa perjalanan parsial tersebut berisi bagian dari perjalanan umum dan mi’raj universal di mana beliau mendengar dan menyaksikan semua tanda kebesaran Tuhan serta berbagai keindahan kreasi ilahi yang dijumpai oleh penglihatan dan pendengarannya saat naik menuju sejumlah tingkatan universal dari Asmaul Husna sampai ke Sidratul Muntahâ hingga mencapai jarak dua ujung busur atau lebih dekat lagi. Semua itu menunjukkan bahwa perjalanan parsial di atas merupakan kunci dari perjalanan universal yang komprehensif dari berbagai keajaiban kreasi ilahi.(*18)
Namun jika kata gantinya mengacu kepada Allah , maka maknanya adalah, “Dia mengajak hamba-Nya untuk datang dan menghadap kepada-Nya untuk menerima sebuah tugas. Maka Dia memperjalankannya dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha yang merupakan tempat berkumpul para nabi. Setelah dipertemukan dengan mereka dan diperlihatkan kepada mereka bahwa beliau adalah pewaris mutlak dari pilar agama seluruh nabi, Dia memperjalankannya dalam sebuah perjalanan di wilayah kerajaan dan alam malakutNya sampai ke Sidratul Muntahâ hingga mencapai jarak dua ujung busur atau lebih dekat lagi. Begitulah perjalanan tersebut berlangsung. Meskipun ia merupakan mi’raj yang bersifat parsial dan sosok yang dimi’rajkan adalah seorang hamba, namun hamba tersebut mengemban amanat besar yang terkait dengan seluruh entitas. Beliau membawa cahaya yang menerangi seluruh entitas dan mengubah corak alam. Di samping itu, beliua juga memegang kunci yang bisa membuka pintu surga yang merupakan tempat kebahagiaan abadi.
Untuk itu, Allah menyifati diri-Nya dengan kalimat: “Sesungguhnya Dia Maha mendengar dan Maha Melihat” guna memperlihatkan bahwa pada amanat di atas, pada cahaya, dan pada kunci tersebut terdapat banyak hikmah istimewa yang mencakup seluruh entitas dan meliputi semua makhluk.
Contoh lain: “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fâthir [35]: 1).Dalam surah ini Allah berkata, “Pencipta langit dan bumi Yang Mahaagung telah menghias langit dan bumi, menjelaskan tandatanda kesempurnaan-Nya kepada para pemerhati yang jumlahnya tak terhingga sekaligus membuat mereka mengirimkan pujian untukNya dalam bilangan yang tak terkira. Dia menghias langit dan bumi dengan berbagai karunia yang tak terbatas. Karena itu, langit dan bumi memberi pujian lewat lisan nikmatnya dan lisan mereka yang diberi nikmat. Mereka menyanjung Tuhan Penciptanya yang Maha Pengasih”. Setelah itu, Dia berfirman, “Allah yang memberikan kepada manusia, hewan, dan burung yang merupakan penduduk bumi sejumlah perangkat dan sayap yang memungkinkan mereka untuk terbang dan berjalan di antara berbagai kota di bumi. Dzat yang telah memberi kepada penghuni bintang dan istana langit, yaitu malaikat, agar bisa berkeliling dan terbang di seputar kerajaan-Nya yang tinggi tentu mampu atas segala sesuatu. Dzat yang memberi sayap kepada lalat untuk bisa terbang dari satu buah ke buah yang lain serta yang memberi sayap kepada burung agar bisa terbang dari satu pohon ke pohon yang lain adalah Dzat yang menjadikan malaikat memiliki sejumlah sayap agar terbang dari planet Venus ke jupiter dan dari jupiter ke Saturnus.Kemudian ungkapan ‘masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat’ menjelaskan bahwa malaikat tidak terbatas dengan sebuah parsialitas dan tidak terikat oleh tempat tertentu sebagaimana kondisi penduduk bumi. Namun dalam waktu yang bersamaan ia bisa berada di empat bintang atau lebih.
Peristiwa parsial ini, yakni pemberian sayap kepada malaikat, menunjukkan keagungan qudrah ilahi yang bersifat mutlak dan umum di mana ia dikuatkan dengan sebuah kesimpulan:“Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Aspek Balagah yang Kesepuluh
Al-Qur’an kadang menyebutkan perbuatan dosa yang dilakukan manusia, lalu hal itu ditegur dan dikecam dengan sangat keras. Setelah itu, al-Qur’an menutupnya dengan sebagian Asmaul Husna yang menunjukkan kasih sayang ilahi agar kecaman tersebut tidak melahirkan sikap putus asa.
“Katakanlah: Jikalau ada tuhantuhan di sampingNya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai ‘Arasy. Maha suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya. Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. al-Isrâ [17]: 42- 44).
Ayat di atas berkata, “Katakan kepada mereka, andaikan dalam kerajaan Allah terdapat sekutu seperti yang kalian katakan, tentu tangan mereka membentang ke arasy rububiyahNya dan tentu tanda intervensi mereka terlihat pada ketimpangan tatanan yang ada. Akan tetapi semua makhluk, mulai dari langit yang tujuh hingga makhluk hidup terkecil (mikroba), baik yang parsial maupun yang universal, yang kecil maupun yang besar, semuanya bertasbih dengan lisan yang memperlihatkan manifestasi Asmaul Husna, menyucikan Pemilik namanama tersebut, Allah Yang Mahaagung dan Pemurah, serta membersihkannya dari segala sekutu dan padanan.
Ya, langit menyucikan-Nya sekaligus bersaksi atas keesaan-Nya lewat kalimatnya yang bersinar yang berupa matahari dan bintang serta lewat hikmah dan keteraturannya. Angkasa juga bertasbih, menyucikan, dan bersaksi atas keesaanNya lewat suara awan, petir,kilat, dan tetesan hujan. Bumi memuji dan mengesakan Penciptanya Yang Mahaagung lewat kalimatnya yang hidup berupa hewan, tumbuhan, dan entitas. Setiap pohon bertasbih dan bersaksi atas keesaanNya lewat kalimat dedaunan, bunga, dan buahnya. Setiap makhluk kecil dan entitas meskipun kecil tetap bertasbih lewat sejumlah petunjuk ukiran yang dibawanya dan Asmaul Husna yang ia perlihatkan, sekaligus menyucikan serta bersaksi atas keesaan Pemilik asma tersebut, Allah, Dzat Yang Mahaagung.
Demikianlah, seluruh alam secara bersama sama lewat lisan yang satu bertasbih menyucikan Penciptanya Yang Mahaagung, bersaksi atas keesaan-Nya, serta menunaikan berbagai tugas ubudiyah yang diembankan dengan penuh ketaatan. Terkecuali manusia yang merupakan ikhtisar alam, hasilnya, khalifahnya yang mulia, serta buahnya yang matang. Sikapnya berbeda dengan semua entitas alam. Ia kufur dan menyekutukan Allah. Karena itu, betapa sikapnya sangat buruk! Betapa ia sangat layak mendapat hukuman dari perbuatannya! Hanya saja agar manusia tidak jatuh pada lembah keputusasaan, ayat di atas menegaskan kepadanya hikmah mengapa Allah tidak menimpakan alam ke atas kepalanya akibat dosa yang dilakukan seperti perbuatan di atas. Ia berkata:“Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”. Ia menjelaskan hikmah penangguhan dan dibukanya pintu harapan lewat penutup tersebut.
Dari kesepuluh petunjuk kemukjizatan di atas, dapat dipahami bahwa kesimpulan dan ikhtisar yang terdapat di akhir ayat terdapat banyak kilau kemukjizatan. Di samping itu, terdapat begitu banyak percikan petunjuk. Sehingga para ahli retorika tak mampu menahan rasa takjub mereka melihat gaya bahasa al-Qur’an yang begitu indah. Mereka berkata, “Ini bukan ucapan manusia.” Dengan haqqul yaqin mereka percaya kepada firman-Nya:“Ia adalah wahyu yang diberikan kepadanya.” (QS. an-Najm [53]:4).Demikianlah. Di samping semua petunjuk yang disebutkan, sejumlah ayat berisi berbagai keistimewaan lain yang belum dibahas,semuanya memperlihatkan ukiran kemukjizatan indah yang bisa dilihat bahkan oleh orang buta.
CAHAYA KETIGA
Al-Qur’an al-Karim tidak mungkin disamakan dengan ucapan apapun. Sebab, sumber ketinggian kualitas, kekuatan, kebaikan, dan keindahan sebuah ucapan (kalam) ada empat:Pertama: pembicara, kedua: mitra bicara, ketiga: maksudnya, keempat: kedudukan dan konteksnya. Jadi, bukan hanya konteksnya sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian sastrawan. Namun yang harus dilihat dalam sebuah ucapan adalah: siapa yang mengucapkan? kepada siapa diucapkan? Mengapa diucapkan? Dan dalam hal apa? Sehingga tidak berhenti pada ucapan itu semata. Karena kekuatan dan keindahan sebuah ucapan bersumber dari keempat hal tersebut, maka dengan memperhatikan sumbersumber al-Qur’an dapat diketahui tingkat balagah berikut keindahan, keistimewaan, dan ketinggiannya.
Ya, kekuatan sebuah ucapan bergantung pada siapa yang mengucapkannya. Jika ucapan tersebut berupa perintah dan larangan yang berisi kehendak dan qudrah penuturnya sesuai dengan tingkatannya, sudah pasti ucapan tadi memberikan pengaruh kuat yang mengalir laksana aliran listrik tanpa ada halangan dan perlawanan. Kekuatan dan ketinggiannya semakin bertambah sesuai dengan tingkatan yang ada.
Contoh, firman Allah:“Wahai bumi telanlah airmu, dan wahai langit (hujan) berhentilah!” (QS. Hûd [11]: 44).
“Dia berkata kepadanya (langit) dan kepada bumi: Datanglah kamu berdua dengan suka hati atau terpaksa. Keduanya menjawab: Kami datang dengan suka hati.” (QS. Fushilat [41]: 11).Perhatikan kekuatan dan ketinggian perintah di atas yang berisi kekuatan dan kehendak-Nya.
Kemudian perhatikan ucapan dan perintah manusia yang menyerupai igauan orang sakit, “Wahai bumi, diamlah! Wahai langit, terbelahlah! Dan wahai kiamat, datanglah!”Mungkinkah ucapan tersebut diserupakan dengan dua perintah sebelumnya yang demikian kuat?! Kemudian mana mungkin perintah yang bersumber dari keinginan manusia yang lahir dari anganangannya akan dibandingkan dengan perintah yang bersumber dari Dzat yang memiliki perintah hakiki di mana Dia memerintah dalam kondisi mengendalikan sendiri pekerjaan-Nya?! Ya, mana mungkin perintah sang pemimpin agung yang dipatuhi di mana ia memerintah pasukannya dengan kata, “Majulah!” dibandingkan dengan perintah yang bersumber dari prajurit biasa yang tidak diacuhkan?! Jadi, kedua perintah tersebut meskipun memiliki bentuk yang sama namun maknanya sangat berbeda seperti antara panglima dan prajurit.
Contoh lain:“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu cukup berkata kepadanya, “Jadilah!” maka terjadilah ia.” (QS. Yâsîn [36]: 82).“Ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam..!” (QS. al-Baqarah [2]: 34). Lihatlah kekuatan dan ketinggian dari kedua perintah pada ayat di atas, kemudian bandingkan dengan ucapan manusia! Bukankah perbandingan antara keduanya sama seperti cahaya kunang-kunang dan cahaya matahari yang terang?!Ya, deskripsi orang yang melakukan pekerjaannya tidak mungkin dibandingkan dengan penjelasan Dzat yang membuat sesuatu,perkataan Dzat yang berlaku ihsan di mana masing-masing menggambarkan aktivitas-Nya serta perbuatannya sesuai perkataannya dengan berkata, “Lihatlah, aku telah melakukan ini untuk ini dan itu untuk itu. Ini akan jadi itu dan itu akan jadi ini.” Masing-masing menjelaskan perbuatannya kepada mata dan telinga secara bersamaan.
Contoh:“Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun? Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gununggunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiaptiap hamba yang kembali (mengingat Allah). Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan bijibiji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggitinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.” (QS. Qâf [50]: 6-11).
Gambaran yang bersinar laksana bintang di konstelasi surah pada langit al-Qur’an ini yang laksana buah surgadi mana ia mengemukakan berbagai dalil terkait sejumlah perbuatan-Nya disertai balagah yang rapi sekaligus menetapkan kebangkitan yang merupakan hasilnya lewat ungkapan ‘seperti itulah terjadinya kebangkitan’ guna membungkam kalangan yang mengingkari kebangkitan di awal surahtidak mungkin akan dibandingkan dengan ucapan manusia yang berlebihan di mana hanya sedikit yang mereka kerjakan?! Tentu saja perbandingannya sama seperti antara gambar bunga dan bunga sebenarnya yang hidup.Penjelasan dari makna ayat-ayat di atas dari awal hingga akhir dalam bentuk yang lebih baik membutuhkan waktu yang cukup panjang. Karena itu, kami hanya akan memberikan sedikit penjelasan sebagai berikut:Al-Qur’an memberikan sejumlah pendahuluan guna memaksa orang kafir untuk menerima adanya kebangkitan.
Sebab, di awal surah mereka mengingkarinya. Al-Qur’an berkata,
“Tidakkah kalian melihat langit yang berada di atas kalian bagaimana Kami membangunnya dalam bentuk yang megah dan rapi?!
Tidakkah kalian melihat bagaimana Kami menghiasnya dengan bintang-gemintang, matahari dan bulan tanpa ada yang cacat sedikit pun?!
Tidakkah kalian melihat bagaimana Kami hamparkan bumi untuk kalian dengan penuh hikmah serta Kami kokohkan di dalamnya sejumlah gunung guna menjaganya dari perluasan laut?
Tidakkah kalian melihat bahwa Kami telah menciptakan di dalamnya pasangan-pasangan yang indah dan beragam dari setiap jenis sayuran dan tumbuhan serta Kami hiasi seluruh bumi dengannya?!
Tidakkah kalian melihat bagaimana Aku mengirimkan air yang penuh berkah dari langit hingga menumbuhkan kebun-kebun, tanaman, dan buah yang lezat, entah itu kurma dan sejenisnya, lalu Kujadikan ia sebagai rezeki bagi hambaku?!
Tidakkah kalian melihat bahwa Aku menghidupkan bumi yang mati (tandus) dengan air tersebut. Aku juga menghadirkan ribuan bentuk kebangkitan duniawi. Maka, sebagaimana dengan qudrahKu Aku mengeluarkan berbagai tumbuhan ini dari bumi yang mati, demikian pula dengan kebangkitan kalian pada hari kiamat. Pasalnya, pada hari kiamat bumi menjadi mati dan kalian dibangkitkan dalam kondisi hidup.
Jadi, mana mungkin kefasihan penjelasan yang diperlihatkan oleh ayat di atas dalam menetapkan kebangkitandi mana yang kami tunjukkan baru satu dari ribuan contoh yang adaakan dibandingkan dengan ucapan yang dilontarkan manusia untuk menetapkan sebuah pernyataan?!
Dari awal risalah sampai di sini kami menggunakan pendekatan orang yang netral dalam membahas masalah kemukjizatan al-Qur’an. Masih banyak lagi permasalahan al-Qur’an yang dibiarkan tersembunyi. Kami melakukan perbandingan yang menurunkan derajat “matahari” tersebut kepada tingkatan lilin. Hal itu untuk menundukkan para musuh keras kepala yang tidak mau menerima kemukjizatan al- Qur’an.Sekarang penelitian ilmiah telah menunaikan tugasnya serta telah menetapkan kemukjizatan al-Qur’an dengan sangat jelas. Karena itu, atas nama hakikat, bukan atas nama penelitian ilmiah, kami akan menjelaskan kedudukan al-Qur’an; sebuah kedudukan agung yang tidak bisa diukur dan dibandingkan dengan yang lain.
Ya, semua ucapan jika dibandingkan dengan ayatayat al-Qur’an, akan seperti gambar atau bayangan bintang yang sangat kecil yang tampak di cermin dibandingkan dengan bintang itu sendiri.Mana mungkin kalimat al-Qur’an yang masing-masingnya menggambarkan dan menjelaskan hakikat permanen dibandingkan dengan makna yang dilukiskan oleh manusia lewat kalimatnya dalam pikiran dan perasaannya?!
Mana mungkin kalimat yang hidup sebagaimana hidupnya malaikat serta kalimat al-Qur’an yang melimpahkan cahaya petunjuk di mana ia merupakan kalam Pencipta matahari dan bulan dibandingkan dengan ucapan manusia yang menipu lewat kedalamannya dan memperdaya dengan hembusannya yang membangkitkan gelora jiwa. Sungguh sangat jauh perbedaan antara serangga beracun dan malaikat suci serta makhluk spiritual (ruhaniyyûn) yang bersinar. Seperti itulah perbandingan antara ucapan manusia dan kalimat al- Qur’an. Disamping oleh “Kalimat Kedua Puluh Lima”, hakikat ini telah ditetapkan oleh kedua puluh empat kalimat sebelumnya. Pernyataan kami ini bukan sekadar pernyataan. Namun merupakan hasil dari dalil dan argumen sebelumnya.
Ya, mana mungkin lafal al-Qur’an yang masingmasingnya merupakan kerang mutiara petunjuk, sumber hakikat iman, landasan ajaran Islam, di mana ia turun dari arasy Tuhan dan dari luar alam mengarah kepada manusia, mana mungkin pesan azali yang mengandung pengetahuan, qudrah dan kehendak ilahi ini dibandingkan dengan ucapan manusia yang lemah dan penuh hawa nafsu?!
Ya, al-Qur’an berposisi sebagai pohon Tuba yang baik yang rantingrantingnya tersebar ke seluruh penjuru alam. Ia mengeluarkan seluruh daun maknawi, perasaan, kesempurnaan, konstitusi dan hukumnya. Ia juga menampilkan para wali dan orangorang pilihannya laksana bunga segar dan indah di mana keindahan dan kesegarannya bersumber dari air kehidupan pohon tersebut. Kemudian ia membuahkan semua kesempurnaan serta hakikat alam dan ilahi sehingga setiap biji buahnya menjadi rambu amal dan pedoman kehidupan. Jadi, mana mungkin hakikat berantai ini yang al-Qur’an perlihatkan laksana pohon berbuah dan rindang dibandingkan dengan ucapan manusia?! Perbedaannya sangat jauh sejauh jarak antara bumi dan langit?!
Al-Qur’an al-Hakîm menebarkan seluruh hakikatnya di pasar alam serta memamerkannya di hadapan seluruh makhluk sejak lebih dari 1350 tahun. Setiap individu, setiap umat, dan setiap negeri telah dan senantiasa mengambil bagian dari permata dan hakikatnya. Meskipun demikian, kedekatan, jumlah yang banyak, perjalanan masa, dan berbagai perubahan yang ada tidak merusak hakikat bernilai darinya, tidak merusak gaya bahasanya yang indah, tidak menua, tidak kehilangan kesegaran, dan keindahannya tidak meredup. Kondisi tersebut merupakan bagian dari kemukjizatan al-Qur’an yang luar biasa.
Sekarang, ketika ada seseorang yang bangkit menyusun sebagian hakikat yang dibawa oleh al-Qur’an sesuai dengan hawa nafsu dan tindakan kekanak-kanakannya, lalu ia hendak membandingkan antara ucapannya dengan kalam al-Qur’an guna menentang sejumlah ayat-ayatnya di mana ia berkata, “Aku telah mengucapkan sebuah ungkapan yang menyerupai al-Qur’an,” tentu ucapannya itu adalah ucapan yang pandir dan bodoh seperti contoh berikut: Seorang ahli bangunan membuat istana besar. Bebatuannya berasal dari aneka permata. Lalu ia meletakkan bebatuan tersebut di sejumlah titik dan menghiasnya dengan sebuah perhiasan dan ukiran yang tersusun rapi terpaut dengan seluruh ukiran istana yang indah. Setelah itu, seseorang yang tidak memahami ukiran indah, masuk kedalam istana tadi. Ia tidak mengetahui nilai dari permata dan perhiasannya. Ia pun mulai mengganti ukiran tersebut berikut letaknya. Ia meletakkannya sesuai dengan keinginannya sehingga menjadi seperti rumah biasa. Lalu ia memperindahnya dengan manikmanik yang disenangi oleh anak-anak. Kemudian ia berkata, “Lihatlah, aku memiliki keahlian seni bangunan melebihi keahlian yang dimiliki oleh pembangun istana tersebut. Aku juga lebih kaya daripada ahli bangunan di atas. Lihatlah permataku yang indah!” Tentu saja ucapannya itu merupakan igauan belaka, bahkan merupakan igauan gila.
OBOR KETIGA
(Tiga Sinar)
SINAR PERTAMA
Telah dijelaskan dalam “Kalimat Ketiga Belas” salah satu aspek kemukjizatan al-Qur’an yang agung. Di sini ia diambil dan dimasukkan bersama sejumlah aspek kemukjizatan al-Qur’an lainnya. Jika engkau ingin menyaksikan dan mencicipi bagaimana setiap ayat al- Qur’an menebarkan cahaya kemukjizatan dan petunjuknya sekaligus menghapus gelapnya kekufuran dan kelalaian laksana bintang yang bersinar terang, maka bayangkan dirimu berada pada masa jahiliyah dan di padang kedunguan sebelum al-Qur’an diturunkan. Ternyata segala sesuatu telah ditutupi oleh tirai kelalaian dan gelapnya kebodohan serta ia dibungkus dengan tabir kejumudan dan sebab-sebab materi. Tiba-tiba engkau menyaksikan denyut kehidupan masuk ke dalam seluruh entitas tak bernyawa di telinga pendengar di mana ia bertasbih menyebut Allah lewat gema firman-Nya: “Semua yang terdapat di langit dan bumi bertasbih kepada Allah.Dia Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.” (QS. al-Hadîd [57]: 1).“Seluruh yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah, Sang Penguasa Yang Mahasuci, Maha Perkasa, dan Maha Bijaksana.” (QS. al-Jumu`ah [62]: 1), serta ayat-ayat lainnya yang sejenis.
Kemudian permukaan langit yang gelap yang berhias bintang tak bernyawa, dalam pandangan pendengar berubah menjadi mulut yang berzikir kepada Allah lewat gema firmanNya:“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah...” (QS. Al-Isrâ [17]: 44). Setiap bintang mengirimkan kilau hakikat dan menghembuskan hikmah yang sangat dalam.Begitu pula permukaan bumi yang berisi beragam makhluk yang lemah, lewat gema samawi tadi berubah menjadi kepala yang besar. Daratan dan lautan berubah menjadi lisan yang bertasbih dan menyucikan-Nya. Semua tumbuhan dan hewan berubah menjadi kalimat yang berzikir dan bertasbih sehingga seluruh bumi seolah-olah menjadi hidup. Demikianlah, dengan transformasi perasaan menuju masa tersebut, engkau bisa merasakan detail-detail kemukjizatan pada ayat al-Qur’an di atas. Adapun sikap sebaliknya membuatmu tidak dapat merasakan detail-detail yang halus tersebut di dalamnya.
Ya, jika engkau melihat ayat-ayat al-Qur’an lewat kondisimu saat ini yang telah diterangi oleh cahaya al-Qur’an sejak masa itu hingga ia dikenal luas dan menerangi seluruh disiplin ilmu Islam sehingga demikian terang oleh mataharinya. Dengan kata lain, jika engkau melihat ayatayatnya lewat tirai kelumrahan, tentu engkau tidak akan melihat dengan sebenarnya tingkat keindahan mukjizatnya pada setiap ayat serta bagaimana ia menghapus kegelapan yang pekat lewat cahayanya yang terang.Selain itu, engkau tidak akan bisa merasakan aspek kemukjizatan al-Qur’an dari sekian banyak aspek yang ada.
Jika engkau ingin menyaksikan tingkat kemukjizatan al-Qur’an yang paling agung, perhatikan dan renungkan contoh berikut:
Bayangkan terdapat sebuah pohon menakjubkan yang sangat tinggi dan rindang. Ia ditutupi oleh tirai gaib sehingga tidak terlihat. Seperti diketahui bersama harus ada keseimbangan, kesesuaian, dan korelasi antara ranting-ranting pohon, buah, daun, dan bunganya sebagaimana pada tubuh manusia. Setiap bagiannya mengambil bentuk tertentu sesuai dengan esensi pohon tersebut.Jika kemudian ada seseorang yang melukis bentuk masingmasing bagian pohon tersebut di sebuah kanvas lalu membuat garis-garis yang menghubungkan antar ranting, buah, dan dedaunannya, serta mengisi pangkal dan ujungnyayang sangat berjauhandengan sejumlah gambar dan garis yang mencerminkan bentuk bagiannya secara sempurna lalu memperlihatkannya, dapat dipastikan bahwa pelukis itu mengetahui dan menyaksikan pohon gaib itu lewat pandangannya yang menembus alam gaib. Setelah itu barulah ia melukisnya.
Nah, sebagaimana contoh di atas, berbagai penjelasan al-Qur’an yang menakjubkan yang terkait dengan hakikat entitas (hakikat yang mengarah pada pohon penciptaan yang terbentang dari awal kehidupan dunia hingga akhir perjalanan akhirat, serta yang tersebar dari bumi hingga arasy dan dari atom hingga ke matahari) memelihara keseimbangan dan kesesuaiannya. Ia memberikan, kepada masing-masing bagian dan masing-masing buah, bentuk yang sesuai dengannya di mana setelah melakukan kajian dan penelaahan para ulama tercengang seraya berkata, “Mâsyâ Allah, Bârakallâh! Sungguh yang dapat menyibak misteri alam dan menyingkap rahasia penciptaan hanya engkau semata wahai al-Qur’an al-Hakîm.”
Kita umpamakantanpa ada maksud menyerupakan Allah dengan siapa dan apapunnama-nama Allah berikut sifat, kondisi dan perbuatanNya yang penuh hikmah sebagai pohon Tuba dari cahaya yang keagungannya membentang dari azali hingga abadi. Ukuran keagungannya seluas jagat raya tanpa ada batas. Aktivitasnya mulai dari ayat:“Dzat Yang Membelah biji dan benih...” (QS. al-An`âm [6]: 95),“Membatasi antara seseorang dan kalbunya...” (QS. al-Anfâl [8]:24),“Dialah yang membentuk rupa kalian di alam rahim seperti yang Dia kehendaki...” (QS. Âli `Imrân [3]: 6), hingga: “Mencipta langit dan bumi dalam enam masa...” (QS. Hûd [11]:7),“Bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya...” (QS. az-Zumar [39]: 67),“Dia menundukkan matahari dan bulan...” (QS. ar-Ra`d [13]: 2).Kita melihat bagaimana al-Qur’an menjelaskan hakikat yang terang itu lewat semua cabang dan rantingnya dan lewat semua tujuan dan buahnya dengan penjelasan yang sangat sejalan di mana sebuah hakikat tidak menghalangi hakikat lain serta setiap hukum tidak merusak hukum lainnya. Dalam kondisi yang selaras semacam itu, al-Qur’an menjelaskan berbagai hakikat nama ilahi, sifat, kondisi dan perbuatan-Nya dengan penjelasan menakjubkan yang membuat semua ahli kasyaf, ahli hakikat, serta semua ahli makrifat dan ahli hikmah yang menjelajahi alam malakut membenarkannya seraya berkata dengan penuh kekaguman, “Subhânallah! Betapa ia sangat benar! Betapa ia sangat sejalan dengan hakikat yang ada serta sangat indah!”
Andaikan kita mengambil keenam rukun iman yang mengarah kepada wilayah entitas yang beragam dan wilayah wujub ilahidi mana ia terhitung sebagai dahan dari kedua pohon agung itusebagai contoh, maka al-Qur’an menggambarkannya dengan seluruh cabang, ranting, buah, dan bunganya seraya memperhatikan keselarasannya yang menakjubkan antara buah dan bunganya. Ia memperkenalkan pola kesesuaian yang sangat rapi di mana membuat akal manusia takmampu memahami dimensinya dan tercengang melihat keindahannya.Kemudian Islam yang merupakan salah satu cabang iman, dihadirkan oleh al-Qur’an dalam gambaran kelima cabang rukunnya yang halus. Al-Qur’an memperhatikan estetika kesesuaian dan kesempurnaan keseimbangan antara keduanya. Bahkan ia menjaga adabnya yang paling sederhana, tujuannya yang paling akhir, hikmahnya yang paling dalam, serta buahnya yang paling kecil. Bukti paling jelas atas hal tersebut adalah kesempurnaan tatanan syariat yang agung yang bersumber dari nash, isyarat, dan rambu-rambu al-Qur’an yang komprehensif. Kesempurnaan tatanan syariat yang indah ini dan keindahan keseimbangannya yang halus, serta keapikan kesesuaian hukumnya, masing-masing menjadi saksi yang adil dan dalil yang kuat tanpa ada keraguan sedikit pun akan kebenaran al-Qur’an.
Artinya, seluruh penjelasan al-Qur’an tidak mungkin dinisbatkan kepada ilmu pengetahuan manusia yang bersifat parsial, terutama manusia yang buta huruf. Namun ia harus dinisbatkan kepada pengetahuan yang luas dan mencakup segala sesuatu serta melihat segala sesuatu secara bersamaan.Al-Qur’an adalah kalam Dzat Allah Yang Mahaagung, Maha Melihat alam azali dan abadi secara bersamaan, serta Maha Menyaksikan semua hakikat dalam satu waktu. Kami percaya wahai Tuhan.
SINAR KEDUA
Filsafat manusia yang berusaha menghadapi dan melawan hikmah al-Qur’an kalah dan takluk. Hal tersebut telah kami jelaskan dalam “Kalimat Kedua Belas” dalam bentuk cerita imajiner, sebagaimana telah kami tegaskan dalam berbagai kalimat lainnya. Karena itu, pembaca bisa merujuk kepadanya. Di sini kami hanya ingin membuat sebuah perbandingan sederhana dari sisi lain. Yaitu sisi pandangan keduanya (filsafat manusia dan hikmah al-Qur’an) terhadap dunia sebagai berikut:
Filsafat manusia melihat dunia sebagai sesuatu yang permanen dan tetap. Ia menjelaskan esensi entitas dan sifat-sifatnya secara rinci. Sementara ketika membahas berbagai tugas entitas terhadap Penciptanya ia sebutkan secara global dan umum. Dengan kata lain, filsafat menjelaskan goresan dan huruf-huruf kitab alam, namun tidak memperhatikan makna dan maksudnya.
Sementara itu, al-Qur’an melihat dunia sebagai sesuatu yang bersifat sementara, menipu, bergerak, mengalir dan tidak tetap. Karena itu, ia menyebutkan berbagai sifat dan esensi entitas yang bersifat materi dan lahiri secara umum dan global, sementara ketika menjelaskan berbagai tugas ubudiah entitas yang diperintah oleh Sang Pencipta, ketika menjelaskan tingkat kepatuhan entitas terhadap perintah penciptaan ilahi (sunnatullah), serta bagaimana ia menunjukkan kepada nama-namaNya, semua itu dijelaskan secara rinci.
Dalam bahasan ini, kita akan melihat secara sekilas perbedaan antara pandangan filsafat dan pandangan al-Qur’an terhadap dunia dan entitas dilihat dari penjelasannya yang global dan rinci tadi guna melihat posisi kebenaran dan hakikat yang sebenarnya.
Arloji yang tampak diam dan tetap sebenarnya berisi sejumlah perubahan dan pergantian, baik dalam gerakan piringannya yang permanen, getaran roda, serta sejumlah perangkatnya yang halus. Sebagaimana kondisi arloji seperti itu, dunia juga demikian. Ia laksana arloji besar yang dibuat oleh qudrah ilahi. Meskipun kelihatannya tetap dan diam, namun sebetulnya ia bergerak dengan terus mengalami perubahan dalam arus kefanaan.
Sebab, ketika ‘putaran waktu’ menempati dunia, ‘siang dan malam’ laksana jarum detik yang memiliki kepala ganda di mana ia berubah dengan cepat,
‘tahun’ seperti jarum menit, dan ‘abad’ seperti jarum penunjuk jam darinya.
Begitulah perjalanan waktu melemparkan dunia ke dalam gelombang kefanaan dengan tetap memelihara masa sekarang serta menyerahkan masa lalu dan masa depan kepada ketiadaan.
Lebih dari itu, dunia juga laksana jam yang berubah dan tidak permanen dilihat dari segi “tempat”. Pasalnya, ‘angkasa’ sebagai sebuah tempat sangat cepat berubah secara terus-menerus. Bahkan dalam sehari kadang awan datang berkalikali dengan membawa hujan lalu cerah lagi. Artinya, dengan perubahannya yang cepat angkasa berposisi seperti jarum detik dari arloji besar tersebut.
Bumi yang merupakan pusat negeri dunia, ‘permukaannya’ seperti sebuah tempat yang selalu berubah dilihat dari sisi kematian dan kehidupan serta dilihat dari sisi tumbuhan dan hewan yang terdapat di atasnya. Karena itu, ia laksana jarum menit yang menjelaskan bahwa dunia dari sisi tersebut bersifat sementara.
Sebagaimana dilihat dari permukaannya bumi selalu berubah, maka berbagai pergolakan, getaran, dan perubahan yang terdapat di dalam perutnya di mana ia berujung pada munculnya pegunungan dan terbentuknya cekungan menjadikannya seperti jarum jam yang bergerak dengan pelan, namun ia menjelaskan bahwa dari sisi ini dunia akan berakhir.
Adapun ‘langit’ yang merupakan atap dunia, berbagai perubahan yang terjadi padanya sebagai sebuah tempat, baik lewat gerakan planet, kemunculan komet, terjadinya gerhana bulan dan matahari, jatuhnya bintang dan meteor serta berbagai perubahan sejenis menjelaskan bahwa langit tidak tetap. Akan tetapi, ia berjalan menuju masa tua dan kehancuran.Berbagai perubahannya laksana jarum jam penghitung pekan yang menunjukkan perjalanannya menuju kehancuran meski gerakannya sangat lambat.
Demikianlah, duniadilihat dari posisinya sebagai duniadibangun di atas ketujuh pilar tersebut. Ketujuh pilar itu sendiri setiap waktu menggoncang dunia. Hanya saja ketika dunia yang selalu mengalami perubahan dan pergantian mengarah kepada Penciptanya Yang Mahaagung, maka perubahan dan gerakannya menjadi gerakan pena qudrah ilahi saat menuliskan risalah shamadâniyah di atas lembaran wujud. Berbagai perubahan kondisi menjadi cermin yang terus terbaharui di mana ia memantulkan cahaya manifestasi Asmaul Husna dan menerangkan sejumlah kondisinya yang penuh hikmah serta menggambarkannya lewat berbagai gambaran beragam yang sesuai dengannya.
Begitulah, duniadilihat dari kondisinya sebagai duniamengarah kepada keadaan fana. Ia terus bergerak menuju kematian dan kehancuran serta senantiasa mengalami perubahan. Ia berjalan dan pergi seperti air yang mengalir. Hanya saja sikap lalai membuat air tadi terlihat diam dan tetap. Serta dengan paham naturalisme, kebeningannya menjadi keruh dan tercemari sehingga dunia menjadi hijab tebal yang menutupi alam akhirat.
Maka filsafat yang sakit, lewat sejumlah studi dan eksplorasinya, lewat paham naturalisme, serta lewat rayuan peradaban bodoh yang menggiurkan telah membuat dunia menebal dan bertambah keras, membuat manusia semakin lalai, serta menjadikan dunia semakin keruh sehingga menjadikan manusia lupa kepada Sang Pencipta dan kepada akhirat.
Sementara itu, al-Qur’an menghentak dan mengguncang dunia dengan sangat kerasdilihat dari kondisinya sebagai duniasehingga al-Qur’an menjadikannya seperti kapas yang beterbangan.
Hal itu seperti bunyi firmanNya dalam surah al-Qâri`ah, al-Wâqi`ah, ath-Thûr dan sejenisnya.Kemudian ia mempersembahkan kepada dunia sebuah kebeningan dan kesucian yang bisa melenyapkan berbagai noda dan kotoran. Hal itu lewat berbagai penjelasannya yang indah dalam sejumlah ayatnya sebagai berikut: “Apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi...”(QS. al-A’râf [7]: 185),“Apakah mereka tidak melihat langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya...” (QS. Qâf [50[: 6),“Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu...” (QS. al-Anbiyâ [21]: 30), serta ayat-ayat penuh hikmah lainnya.Kemudian al-Qur’an melebur dunia, yang tak bernyawa ini, lewat pandangan lalai, dengan ungkapan-ungkapannya yang berkilau dalam ayat-ayatnya sebagai berikut:
“Allah (sumber) cahaya langit dan bumi...” (QS. an-Nûr [24]: 35), “Kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau...” (QS. al-An`âm [6]: 32), serta ayat-ayat sejenis lainnya. Lalu al-Qur’an melenyapkan prasangka keabadian di dunia lewat berbagai ungkapannya yang menyiratkan kehancuran dan kematian dunia dalam ayat-ayat berikut: “Apabila langit terbelah.” (QS. al-Infithâr [82]: 1), “Apabila matahari digulung.” (QS. at-Takwîr [81]: 1), “Apabila langit terbelah.” (QS. al-Insyiqâq [84]: 1), “Ditiuplah sangkakala. Maka, matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali yang dikehendaki Allah...” (QS. az-Zumar [39]: 68), serta ayat-ayat sejenis lainnya.Al-Qur’an juga menghapus sikap lalai yang melahirkan paham naturalisme sekaligus mencerai-beraikannya lewat seruannya yang menggema laksana petir dalam ayat berikut:
“Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya serta apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadaNya. Dia bersama kalian di mana saja kalian berada. Allah Maha melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS. al-Hadîd [57]: 4), “Katakanlah: Segala puji bagi Allah. Dia akan memperlihatkan kepada kalian tanda-tanda kebesaran-Nya. Maka kalian akan mengetahuinya. Tuhan tiada lalai dari apa yang kalian kerjakan.” (QS. an-Naml [27]: 93), serta sejumlah ayat sejenis lainnya.
Begitulah, al-Qur’an dengan seluruh ayatnya yang mengarah ke alam (ayat-ayat kauniyah) tegak di atas landasan tersebut.
Ia menyingkap hakikat dunia apa adanya serta menjelaskannya kepada seluruh mata. Dengan penjelasannya, ia mengalihkan perhatian manusia kepada tingkat kehinaan wajah dunia yang buruk lewat ayat-ayat di atas agar manusia menghadap ke wajah dunia yang indah. Yaitu wajah yang mengarah kepada Sang Pencipta. Al-Qur’an mengarahkan pandangan manusia kepada wajah ini seraya mendiktekan hikmah dan filsafat yang benar lewat sejumlah makna kitab jagat raya yang ia ajarkan disertai pengalihan perhatian pada huruf dan tulisannya tanpa perlu menghabiskan upaya dalam sejumlah tulisan fana yang tidak berguna sebagaimana yang dilakukan oleh filsafat yang mabuk dan menyenangi keburukan di mana ia membuat manusia lupa kepada makna dan tujuan sebenarnya.
SINAR KETIGA
Pada ‘sinar kedua’, kami telah menunjukkan kekalahan filsafat manusia dalam menghadapi hikmah al-Qur’an. Di dalamnya, kami juga telah menunjukkan kemukjizatan hikmah al-Qur’an. Nah pada ‘sinar ketiga’ ini, kami akan menerangkan tingkatan hikmah para murid al-Qur’an. Yaitu para ulama pilihan, wali yang saleh, serta para ahli hikmah isyrâqiyyun yang bersinar(*19)di hadapan hikmah al-Qur’an seraya menunjukkan kemukjizatannya secara ringkas.Bukti paling jujur yang menunjukkan ketinggian al-Qur’an yang penuh hikmah, argumen paling jelas yang menunjukkan kebenaran dan keadilannya, serta tanda dan dalil paling kuat yang menunjukkan
kemukjizatannya adalah bahwa al-Qur’an al-Karim telah menjaga keseimbangan dalam menjelaskan tentang tauhid dengan seluruh bagiannya berikut semua tingkatan dan perangkat bagian tersebut.
Sedikit pun tidak menunjukkan adanya ketimpangan. Kemudian ia juga menjaga keseimbangan yang terdapat di antara seluruh hakikat ilahiyah yang mulia. Ia menyatukan seluruh hukum yang menjadi konsekuensi dari Asmaul Husna serta memelihara kesesuaian dan keselarasan antara hukum-hukum tersebut. Selanjutnya, secara sangat seimbang, ia menyatukan berbagai atribut rubûbiyah dan ulûhiyah.
“Pemeliharaan, penyeimbangan, dan penyatuan” ini merupakan karakteristik yang tidak bisa ditemukan dalam karya manusia dan dalam hasil pemikiran seluruh pemikir besar sekalipun. Ia juga tidak terdapat dalam karya para wali saleh yang menembus alam malakut, dalam kitab kalangan isyrâqiyyûn yang menggeluti masalah batin, dan dalam makrifat kalangan spiritual yang berjalan menuju alam gaib. Namun setiap bagian dari mereka hanya bergantung pada satu atau dua ranting pohon hakikat yang besar. Mereka sibuk dengan buah dan daun yang berada pada ranting tersebut tanpa menoleh kepada ranting yang lain; entah karena ketidaktahuannya atau karena memang tidak mau menoleh kepadanya.
Seolaholah terdapat semacam pembagian tugas di antara mereka.Ya, hakikat mutlak tidak bisa dijangkau secara keseluruhan oleh pandangan yang terbatas dan terikat. Sebab, ia menuntut pandangan komprehensif seperti al-Qur’an untuk mencakupnya. Segala sesuatu selain al-Qur’an meski telah menerima pelajaran darinyalewat akalnya yang parsial dan terbatas hanya bisa melihat satu atau dua sisi dari hakikat yang komprehensif. Akhirnya ia tenggelam dalam sisi tersebut dan sibuk dengannya. Hal ini tentu saja merusak keseimbangan antar hakikat dan melenyapkan keselarasannya; entah karena sikap yang berlebihan atau sebaliknya.
Hakikat ini telah kami jelaskan lewat sebuah perumpamaan indah pada ‘ranting kedua’ dari “Kalimat Kedua Puluh Empat”. Di sini kami akan memberikan contoh lain yang menjelaskan masalah tersebut sebagai berikut:Misalnya ada sebuah harta kekayaan yang terdiri dari permata berharga dalam jumlah tak terhingga di dasar lautan yang luas. Para penyelam ahli menyelam di kedalaman laut itu untuk mencari permata berharga tadi. Akan tetapi karena mata mereka tertutup, maka mereka tak bisa mengenali berbagai jenis permata itu kecuali dengan tangan. Sebagian tangan menyentuh berlian yang relatif panjang sehingga ia berkesimpulan bahwa harta kekayaan itu berupa potongan berlian. Ketika mendengar sejumlah sifat lain dari permata itu dari para sahabatnya, ia mengira bahwa permata yang mereka sebutkan hanya pelengkap dari potongan berlian yang ia temukan. Ia hanyalah ukiran darinya. Misalkan yang lain menemukan mutiara berbentuk bulat, lalu yang lain menemukan permata segi empat, dan seterusnya. Maka masing-masing mereka yang melihat permata dan batu mulia itu dengan tangan merekabukan dengan matamenganggap bahwa permata berharga yang ia temukan adalah yang utama. Sementara yang didengar dari para temannya hanyalah tambahan dan kepingan darinya; bukan yang utama. Begitulah, keseimbangan dan keselarasan antar hakikatnya menjadi timpang. Sejumlah corak hakikatnya berubah. Sebab, orang yang ingin melihat warna hakikat yang sebenarnya harus melakukan sejumlah penafsiran dan upaya yang dipaksakan sehingga sebagiannya akhirnya jatuh pada sikap pengingkaran dan pengabaian. Siapa yang menelaah kitab kalangan isyraqiyyûn dan kitab kalangan tasawuf yang bersandar pada penyaksian dan kasyaf mereka tanpa menimbangnya dengan neraca sunnah yang suci, pasti akan membenarkan pernyataan kami di atas. Jadi, meskipun mereka mengambil petunjuk dari al- Qur’an dan menulis sejenis hakikat al-Qur’an, namun terdapat cacat dan kekurangan pada karya mereka karena memang bukan merupakan al-Qur’an.
Al-Qur’an yang merupakan lautan hakikat, ayat-ayatnya yang mulia juga merupakan penyelam di lautan tersebut yang menyingkap kekayaan yang ada. Hanya saja, matanya terbuka dan melihat keseluruhan kekayaan yang ada. Ia bisa melihat segala sesuatu yang ada di dalamnya. Karena itu, al-Qur’an al-Karim lewat ayat-ayatnya menggambarkan kekayaan tersebut dengan gambaran yang seimbang, sesuai dan selaras dengannya sehingga bisa memperlihatkan keindahannya yang hakiki dan istimewa.Misalnya, al-Qur’an al-Karim melihat keagungan rubûbiyah serta menggambarkannya lewat penjelasan ayat berikut: “Bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya...” (QS. az-Zumar [39]: 67),“(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagaimana menggulung lembaran-lembaran kertas...” (QS. al-Anbiyâ [21]: 104). Pada saat yang sama, al-Qur’an melihat dan menunjukkan komprehensivitas rahmat-Nya lewat keterangan ayat-ayat berikut: “Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya...” (QS. Âli `Imrân [3] : 5-6), “Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya...” (QS. Hûd [11]: 56), “Berapa banyak binatang yang tidak membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu...” (QS. al-Ankabût [29]: 60). Kemudian sebagaimana ia melihat dan menunjukkan luasnya penciptaan ilahi lewat deskripsi ayat berikut: “Dia menciptakan langit dan bumi serta menghadirkan gelap dan cahaya...” (QS. al-An`âm [6]: 1). Ia juga melihat dan menunjukkan komprehensivitas perbuatan Allah di alam dan rubûbiyahNya yang meliputi segala sesuatu lewat ayat berikut: “Dia menciptakan kalian berikut apa yang kalian lakukan.” (QS. ash-Shâffât [37]: 96). Lalu sebagaimana melihat hakikat agung seperti yang ditunjukkan oleh ayat berikut: “Dia menghidupkan bumi setelah sebelumnya mati...” (QS. ar- Rûm [30]: 50). Ia juga melihat dan menunjukkan hakikat kemurahan yang luas yang digambarkan oleh ayatnya: “Tuhanmu memberikan ilham kepada lebah...” (QS. an-Nahl [16]:68). Pada saat yang sama, ia melihat dan menunjukkan hakikat kekuasaan-Nya yang mengendalikan lewat firman-Nya: “Matahari, bulan, dan bintang tunduk lewat perintah-Nya...” (QS. al-A’râf [7]: 54). Sebagaimana ia melihat hakikat kasih yang menata seperti yang disebutkan ayat berikut: “Apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha melihat segala sesuatu.” (QS. al-Mulk [67]: 19). Ia juga melihat hakikat agung yang disebutkan ayat berikut: “Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Allah tidak merasa berat memelihara keduanya...” (QS. al-Baqarah [2]: 255). Lalu ia melihat hakikat pengawasan ilahi dalam ungkapan ayat: “Dia bersama kalian di mana saja kalian berada...” (QS. al-Hadîd [57]: 4) sebagai hakikat yang komprehensif seperti yang disebutkan oleh ayat: “Dialah yang Awal dan yang Akhir, yang Zhahir dan yang Bathin.Dia Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Hadîd [57]: 3). Ia melihat kedekatanNya seperti yang disebutkan oleh ayat: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS. Qâf [50]: 16) bersama ayat lain yang menunjukkan sebuah hakikat mulia: “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun” (QS. al-Ma`ârij [70]: 4) sebagai sebuah hakikat universal seperti yang ditunjukkan oleh ayat: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan…” (QS. an-Nahl [16]: 90), berikut sejumlah ayat lain yang berisi rambu-rambu duniawi dan ukhrawi, serta rambu ilmiah dan amaliah.
Al-Qur’an melihat dan menerangkan semua rambu yang mewujudkan kebahagiaan dunia-akhirat disertai penjelasan keselarasan rinci tentang setiap rukun iman yang enam dan setiap rukun Islam yang lima dengan serius seraya memelihara keseimbangan antar semuanya. Maka dari sumber keindahan yang berasal dari kesesuaian, keselarasan dan keseimbangan seluruh hakikat tersebut lahirlah salah satu kemukjizatan maknawi al-Qur’an yang luar biasa.Dari rahasia ini jelas bahwa meskipun ulama kalam belajar dari al-Qur’an dan telah menulis ribuan kitab tentang rukun-rukun keimanandi mana sebagiannya berupa puluhan jilid—namun karena lebih mengedepankan akal daripada naql atau nash sebagaimana kaum Muktazilah, mereka tidak mampu memberikan penjelasan dan membuktikan seperti yang dijelaskan oleh sepuluh ayat al-Qur’an secara sangat tegas. Hal itu karena mereka menggali mata air di kaki gunung yang jauh untuk kemudian airnya dibawa ke ujung dunia lewat sejumlah pipa atau rangkaian sebab. Kemudian mereka memutus rangkaian tadi di sana. Lalu mereka menetapkan wujud Wajibul wujud dan makrifat ilahi di mana ia laksana air yang memancarkan kehidupan.
Adapun ayat-ayat al-Qur’an, masing-masingnya laksana tongkat Musa yang dapat memancarkan air di mana saja dipukulkan. Dari segala sesuatu ia dapat membuka jendela yang menunjukkan Sang Pencipta Yang Mahaagung. Hakikat ini telah ditetapkan dengan sangat jelas dalam seluruh ‘kalimat’ dan dalam risalah berbahasa Arab, Qatrah (tetesan) yang tepercik dari lautan al-Qur’an.
Dari rahasia ini pula kita memahami bahwa seluruh pemimpin kelompok sesat yang tenggelam dalam persoalan batin dan bersandar pada penyaksian mereka tanpa mengikuti sunnah nabi, lalu kembali dari perjalanan dengan memimpin sebuah jamaah dan membentuk kelompok sesat, mereka semua telah tergelincir ke dalam berbagai bid’ah dan kesesatan serta menggiring umat manusia kepada jalan sesat seperti ini karena mereka tidak mampu menjaga keselarasan dan keseimbangan antar berbagai hakikat. Ketidakberdayaan mereka menegaskan kemukjizatan ayat-ayat al-Qur’an.
PENUTUP
Dua kilau kemukjizatan al-Qur’an telah dibahas dalam ‘percikan keempat belas’ dari “Kalimat Kesembilan Belas”. Keduanya berupa hikmah pengulangan yang terdapat dalam al-Qur’an serta hikmah pengungkapan wilayah ilmu alam secara global. Di situ sangat jelas bahwa masing-masing merupakan salah satu sumber kemukjizatan; tidak seperti sangkaan sebagian orang bahwa keduanya merupakan sebab adanya cacat dan kekurangan. Selain itu, dijelaskan pula dengan sangat terang kilau kemukjizatan al-Qur’an yang menerangi mukjizat para nabi. Hal itu seperti yang terdapat dalam ‘kedudukan kedua’ dari “Kalimat Kedua Puluh”. Demikian pula hal serupa disebutkan dalam semua pembahasan ‘al-Kalimât’ dan dalam risalahku yang berbahasa Arab. Karena itu, kami anggap sudah cukup.
Hanya saja kami ingin mengatakan bahwa salah satu mukjizat al-Qur’an lainnya adalah bahwa sebagaimana mukjizat para nabi memperlihatkan salah satu goresan kemukjizatan al-Qur’an, demikian pula al-Qur’an dengan seluruh mukjizatnya merupakan mukjizat milik Rasul x.Keseluruhan mukjizat beliau juga merupakan mukjizat al-Qur’an. Sebab, ia menunjukkan penisbatan al-Qur’an kepada Allah. Dengan kata lain, ia merupakan kalam Allah. Ketika penisbatan tersebut terlihat, maka setiap kalimat al-Qur’an merupakan mukjizat karena satu kata dengan maknanya bisa mengandung pohon hakikat. Ia laksana benih (yang mengandung substansi pohonnya). Ia juga bisa memiliki hubungan dengan seluruh bagian hakikat agung yang laksana pusat kalbu. Selain itu dengan huruf, bentuk, cara, dan konteksnya ia bisa melihat berbagai persoalan yang tak terhingga. Hal itu karena ia merujuk kepada pengetahuan yang komprehensif dan kehendak yang tak terhingga.Atas dasar itu, para ulama yang membidangi ilmu huruf menyatakan bahwa dari satu huruf al-Qur’an, mereka bisa mengungkap banyak rahasia yang dapat memuat satu halaman penuh. Mereka menetapkan pernyataan mereka kepada para ahli yang membidangi ilmu tersebut.
Sekarang ingatlah kandungan yang terdapat pada risalah ini mulai dari awal sampai di sini. Lewat teropong keseluruhan sejumlah obor, kilau, cahaya, dan sinar yang terdapat di dalamnya, perhatikan kesimpulan dari pernyataan yang disebutkan pada awal risalah. Engkau akan menemukannya (risalah tersebut) membacakan sekaligus mengumumkannya dengan suara yang paling nyaring. Pernyataan tersebut adalah:“Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (QS. al-Isrâ [17]: 88).
Ya Allah, limpahkan salawat dan salam paling baik, paling indah, paling mulia, paling tampak, paling suci, paling bagus, paling luhur, paling utama, paling agung, paling terhormat, paling tinggi, paling bersih, paling diberkahi, paling halus, paling sempurna, paling banyak, paling istimewa, dan paling langgeng; sebagai salawat dan salam, rahmat dan rida, serta maaf dan ampunan yang membentang dan bertambah lewat limpahan karunia kedermawanan dan kemurahan-Mu, yang tumbuh dan berkembang lewat kemuliaan dan kelembutan kedermawanan dan anugerah-Mu, yang azali dengan keazalian-Mu yang tak pernah lenyap, abadi dengan keabadian-Mu yang tak pernah berubah; kepada hamba, kekasih, dan rasul-Mu, Muhammad, sebaik-baik makhluk-Mu, cahaya yang bersinar terang, argumen yang tampak kuat, lautan yang penuh, cahaya yang berlimpah, keindahan yang cemerlang, keagungan yang tak terkalahkan, kesempurnaan yang mulia; Salawat yang Engkau sampaikan lewat keagungan Dzat-Mu atasnya, atas keluarga dan atas seluruh sahabatnya; Salawat yang dengannya Engkau menghapus dosa kami, melapangkan dada kami, menyucikan kalbu kami, menyenangkan jiwa kami, membersihkan rahasia hati kami, menjernihkan pikiran kami, serta mencuci semua noda yang terdapat dalam jiwa kami, menyembuhkan penyakit kami, dan membuka kunci kalbu kami.
LAMPIRAN PERTAMA
Tingkatan Ketujuh Belas dari ‘Sinar Ketujuh’(Risalah al-Âyat al-Kubrâ)
Pengembara yang tidak mengenal lelah dan tidak merasa puas, serta yang menyadari bahwa tujuan hidupnya di dunia, bahkan inti dari kehidupannya adalah iman, berkata kepada kalbunya, “Kalam (ucapan) yang sedang kita bincangkan adalah kalam yang paling terkenal, paling jujur, dan paling bijak di alam wujud ini. Pada setiap masa ia menantang orang yang membangkang. Itulah al-Qur’an yang memiliki penjelasan mengagumkan. Karena itu, marilah kita menelaah kitab yang mulia ini dan memahami kandungannya. Namun sebelum masuk ke dunia yang indah ini, mari sejenak kita berhenti untuk membahas sesuatu yang membuat kita meyakini bahwa ia benar-benar kitab Sang Pencipta kita.” Begitulah, ia pun segera melakukan kajian dan penelitian.
Karena sang pengembara ini termasuk generasi masa kini, maka pertama-tama ia menelaah “Risalah Nur” yang merupakan kilau kemukjizatan maknawi al-Qur’an. Ia melihat bahwa risalah yang mencapai seratus tiga puluh ini pada dasarnya merupakan penafsiran berharga tentang ayatayat al-Qur’an. Pasalnya, ia menyingkap persoalan pentingnya yang mendalam dan cahayanya yang cemerlang.Meskipun Risalah Nur menyebarkan berbagai hakikat al-Qur’an dengan perjuangan yang terus-menerus hingga ke seluruh pelosok di era yang keras kepala dan ingkar ini, tak seorangpun yang dapat menentang atau mengkritiknya. Hal ini membuktikan bahwa al-Qur’an al-Karim yang merupakan sumber, rujukan, dan mentarinya bersifat samawi dan berasal dari kalam Allah Tuhan semesta alam, bukan ucapan manusia.
Bahkan “Kalimat Kedua Puluh Lima” serta penutup “Surat Kesembilan Belas” merupakan salah satu dari ratusan argumen yang dihadirkan Risalah Nur untuk menjelaskan kemukjizatan al- Qur’an. Ia menetapkannya dengan empat puluh aspek yang membuat setiap orang yang menyimaknya menjadi tercengang, kagum, dan takjub. Alih-alih mengkritik dan menentangnya, mereka justru memujinya. Demikianlah, sang pengembara mengalihkan kepada Risalah Nur penetapan aspek kemukjizatan al-Qur’an al-Karim dan pembuktian bahwa ia merupakan kalam Allah. Hanya saja, ia mencermati sejumlah hal yang diterangkan secara ringkas sebagai berikut:
Keagungan al-Qur’an al-Karim Poin Pertama: Sebagaimana al-Qur’an al-Karim dengan seluruh mukjizat dan hakikatnya yang menunjukkan kebenarannya merupakan mukjizat Muhammad x, maka Muhammad x dengan seluruh mukjizat, bukti kenabian, serta kesempurnaan ilmiahnya juga merupakan mukjizat al-Qur’an dan argumen kuat yang menunjukkan bahwa al-Qur’an adalah kalam Allah.
Poin Kedua: Al-Qur’an al-Karim telah mengubah kehidupan sosial dalam bentuk yang menerangi seluruh cakrawala sekaligus memenuhinya dengan kebahagiaan dan berbagai hakikat, serta menghadirkan perubahan besar, baik dalam jiwa dan kalbu manusia, dalam ruh dan akal mereka, ataupun dalam kehidupan individu, sosial dan politik mereka. Ia juga menata dan memelihara perubahan tersebut di mana ayat-ayatnya yang mencapai 6666 ayat(*20)dibaca sejak 14 abad pada setiap saat lewat lisan lebih dari 100 juta orang dengan penuh penghormatan. Ia membina manusia, menyucikan jiwa mereka, membersihkan kalbu mereka, meninggikan ruh, menerangi akal, serta menjadikan hidup bahagia. Tentu saja, tidak ada yang serupa dan sepadan dengan kitab ini. Ia luar biasa dan merupakan mukjizat.
Poin Ketiga: Sejak zaman tersebut hingga saat ini al-Qur’an al- Karim telah memperlihatkan balagah sehingga menjatuhkan kedudukan al-mu`allaqât al-sab`ah yang terkenal di mana ia merupakan kumpulan syair para penyair ternama yang ditulis dengan emas dan digantung di dinding Ka’bah. Bahkan anak perempuan Lubaid menurunkan kumpulan syair ayahnya dari dinding Ka’bah seraya berkata, “Karena ayat-ayat al-Qur’an telah datang, maka syair sepertimu tidak layak berada di sini”.
Begitu pula ketika seorang Arab badui mendengar ayat yang berbunyi:“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu)...” (QS. al-Hijr [15]: 94).Begitu mendengar ayat tersebut, Arab badui itu tersungkur bersujud. Saat ditanya, “Apakah engkau masuk Islam?” Ia menjawab, “Tidak, aku bersujud karena balagah yang dikandung ayat tersebut”.
Demikian pula, ribuan tokoh balagah dan sastrawan semacam Abdul Qâhir al-Jurjâni, as-Sakkâki, dan az-Zamakhsyari sepakat mengakui bahwa balagah al-Qur’an berada di atas kemampuan manusia dan tidak mungkin dijangkau.
Begitu pula, sejak diturunkannya, al-Qur’an al-Karim terus menantang para ahli balagah dan sastrawan yang sombong. Al-Qur’an menantang mereka untuk menghadirkan surah semisalnya atau rela dibinasakan di dunia dan akhirat.Ketika al-Qur’an mengumumkan tantangannya ini, para ahli balagah yang keras kepala masa itu meninggalkan jalan singkat ini, yaitu menyambut tantangan tersebut dan menghadirkan surah semisalnya. Mereka malah meniti jalan panjang, jalan perang yang dapat membahayakan jiwa dan harta mereka. Pilihan mereka ini menjadi bukti bahwa menempuh jalan yang singkat tadi adalah suatu hal yang mustahil.
Terdapat jutaan kitab bahasa Arab yang ditulis oleh para pembela al-Qur’an dengan semangat meniru gaya bahasanya atau yang ditulis oleh para musuhnya guna menantang dan mengkritiknya. Semua yang telah dan sedang ditulis seiring dengan perkembangan dan kemajuan gaya bahasa yang berasal dari kontinyuitas pemikiransejak saat itu hingga kinitidak mungkin menandingi atau mendekati gaya bahasa al-Qur’an. Bahkan andaikan seorang awam menyimak bacaan al-Qur’an, tentu ia akan berkata, “Al-Qur’an ini tidak sama dengan kitab manapun juga. Demikian pula dengan kedudukannya”. Hal itu bisa jadi karena balagahnya di bawah yang lain, atau di atas yang lain. Namun tak seorangpun, baik orang kafir maupun orang bodoh yang mengatakan bahwa al-Qur’an berada di bawah yang lain. Dengan demikian, tingkatan balagah al-Qur’an berada di atas semuanya.
Bahkan, salah seorang dari mereka membaca:“Semua yang terdapat di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah…” (QS. al-Hadîd [57]: 1), kemudian sesudah itu ia berkata, “Aku tidak melihat sisi kemukjizatan seperti yang kalian lihat pada balagah ayat di atas”. Maka dikatakan kepadanya, “Bawalah khayalanmu ke masa itu— seperti sang pengembara di ataslalu simaklah ayat tersebut di sana!”Ketika sedang menghayalkan dirinya berada di masa itu, masa sebelum turunnya al-Qur’an, ia melihat bahwa entitas alam terlempar di angkasa yang kosong, luas dan tanpa batas, di dunia yang fana dalam kondisi putus asa, bimbang, dan tersesat di jalan yang gelap gulita. Semuanya mati, tak bernyawa dan tak memiliki perasaan; serta menganggur, tak memiliki tugas dan pekerjaan. Akan tetapi, ketika ia mendengar dan merenungkan ayat di atas, ia melihat bahwa ayat tersebut menyingkap tabir yang menutupi wajah entitas alam semesta sehingga wajah tersebut tampak bersinar terang.
Kalam azali dan firman abadi ini memberikan sebuah pelajaran kepada semua makhluk yang berperasaan di sepanjang masa seraya menampakkan kepada mereka bahwa alam ini bagaikan masjid besar. Sementara semua makhluterutama langit dan bumilarut dalam zikir, tahlil, dan tasbih yang penuh vitalitas. Semua menunaikan tugas dengan penuh semangat dan gembira.Begitulah, sang pengembara menyaksikan reaksi ayat al-Qur’an di alam. Ia bisa merasakan sejauh mana ketinggian balagahnya. Ia juga menganalogikannya dengan ayat-ayat yang lain. Dari situ, ia memahami rahasia dominasi balagah al-Qur’an atas separuh bumi atau seperlima umat manusia. Ia juga mengetahui salah satu dari ribuan hikmah keabadian kekuasaan al-Qur’an dengan penuh takjub dan penghormatan sepanjang empat belas abad tanpa pernah terputus.
Poin Keempat: Al-Qur’an al-Karim telah memperlihatkan kesegaran asli dan hakiki di mana banyaknya pengulanganyang bisa melahirkan rasa bosan bahkan terhadap sesuatu yang paling nikmat sekalipunternyata tidak membuat bosan bagi orang yang kalbunya masih sehat dan perasaannya masih bagus. Bahkan semakin diulang semakin bertambah nikmat dan segar. Ini diakui oleh semua orang sejak dahulu.
Demikian pula kesegaran, kecemerlangan, dan keremajaan al- Qur’an tetap terpelihara seakanakan ia baru turun sekarang meskipun telah berlalu empat belas abad dari masa turunnya dan meskipun mudah dijangkau oleh semua kalangan. Setiap masa telah menerimanya dalam kondisi muda dan segar seakanakan al-Qur’an berbicara padanya. Setiap kelompok ilmiahmeskipun mereka memegang al-Qur’an dan menelaahnya setiap saat untuk mengambil manfaat dan mengikuti gaya penjelasannyanamun al-Qur’an memelihara keunikan gaya bahasa dan penjelasannya.
Poin Kelima: Al-Qur’an al-Karim membentangkan salah satu sayapnya ke masa lalu dan yang lain ke masa depan. Hakikat yang disepakati oleh para nabi terdahulu adalah akar al-Qur’an dan salah satu sayapnya. Ia membenarkan dan mendukung mereka. Dan mereka pun dengan posisi yang ada mendukung dan membenarkan al-Qur’an lewat lisan tawâfuq (kesesuaian). Begitu pula para wali saleh dan ulama yang mulia merupakan buah yang berasal dari pohon al-Qur’an. Kesempurnaan mereka menunjukkan bahwa pohon penuh berkah itu hidup dan memberikan sesuatu. Ia senantiasa memberikan limpahan karunia, bersifat hakiki dan asli. Seluruh penganut tarekat kewalian yang benar dan penuntut ilmu-ilmu keislaman yang haq yang tergabung di bawah perlindungan sayapnya yang kedua dan hidup dalam naungannya bersaksi bahwa al-Qur’an merupakan sebuah kebenaran, tempat kumpulan hakikat serta tidak ada yang sama dengannya dilihat dari sisi universalitas dan integralitas. Al-Qur’an merupakan mukjizat yang cemerlang.
Poin Keenam: Enam sisi al-Qur’an bersinar terang di mana hal itu menunjukkan kebenaran dan keadilannya. Ya, di bawahnya terdapat sejumlah pilar bukti dan argumen. Di atasnya stempel kemukjizatan berkilau. Di depannya (tujuannya)berupa hadiah kebahagiaan dunia dan akhirat. Di belakangnya (titik sandarannya) berupa sejumlah hakikat wahyu ilahi. Sisi kanannya terdapat pembenaran dalil rasional yang tak terhingga. Sisi kirinya terdapat ketenangan, ketertarikan, dan ketundukan bagi kalbu yang sehat dan hati nurani yang suci. Pada saat keenam sisi tersebut menetapkan bahwa al-Qur’an al- Karim merupakan benteng samawi yang kokoh dan luar biasa di bumi di mana ia tidak bisa ditembus, juga terdapat enam kedudukan yang menegaskan bahwa ia merupakan sebuah kejujuran dan kebenaran. Ia sama sekali bukan ucapan manusia. Ia tidak dihampiri oleh kebatilan dari sisi manapun. Yang pertama dari kedudukan tersebut adalah dukungan Sang Penata alam yang menjadikan proses penampakan keindahan, perlindungan terhadap kebenaran dan kejujuran, serta pembinasaan para penipu sebagai hukum kekuasaan-Nya. Allah mendukung dan membenarkan al-Qur’an lewat kedudukan penghormatan yang Dia berikan padanya serta lewat tingkatan taufik dan keberuntungan yang Dia anugerahkan di mana ia lebih diterima, lebih tinggi, dan lebih berkuasa di alam.Yang kedua, keyakinan yang kuat dan penghormatan yang layak dari pribadi mulia Rasulullah x terhadap al-Qur’an mengungguli yang lainnya di mana beliau merupakan sumber Islam dan penafsir al- Qur’an; kondisi beliau saat menerima wahyu berada antara sadar dan tidur di mana ia turun di luar kehendaknya; ketidakmampuan beliau untuk menyamai gaya bahasa al-Qur’an padahal beliau merupakan orang yang paling fasih; penjelasan beliau yang bersifat gaiblewat al-Qur’an—tentang berbagai peristiwa alam yang telah dan yang akan terjadi padahal beliau buta huruf di mana beliau menginformasikannya tanpa ragu-ragu dan dengan sangat tenang; tidak ditemukannya unsur penipuan dan kesalahan atau kondisi serupa sekecil apapun padahal beliau berada di tengah-tengah orang yang sangat memperhatikan tingkah laku beliau. Nah, keimanan sosok penafsir al-Qur’an dan penyampai agung serta pembenarannya atas segala ketentuan al- Qur’an menegaskan bahwa al-Qur’an bersifat samawi. Semua isinya benar dan adil serta merupakan kalam Tuhan Maha Penyayang yang penuh berkah.
Yang ketiga, keterpautan seperlima umat manusia bahkan bagian terbesar dari mereka dengan al-Qur’an al-Karim yang berlandaskan ketertarikan dan keberagamaan; perhatian mereka kepadanya dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat; kedatangan jin, malaikat, dan makhluk spiritual lainnya kepada al-Qur’an, serta kondisi mereka yang berhimpun di seputar al-Qur’an saat dibacakan—laksana kupu-kupu yang merindukan cahayalewat kesaksian sejumlah petunjuk dan kasyaf yang benar; semuanya menjadi bukti yang membenarkan bahwa al-Qur’an merupakan sesuatu yang diridai dan dikagumi oleh alam. Dan bahwa ia memiliki kedudukan yang paling mulia dan paling tinggi di alam ini.
Yang keempat, ketika masing-masing kelompok manusiamulai dari orang yang sangat bodoh dan awam hingga orang cerdas dan alimmengambil bagiannya dari pelajaran yang diberikan al-Qur’an, ketika mereka memahami berbagai hakikat yang paling dalam darinya, serta ketika seluruh ulama dari ratusan disiplin ilmu keislaman terutama para mujtahid serta ahli ushuluddin dan ilmu kalam mengambil kesimpulan hukum dan memberikan berbagai jawaban atas berbagai masalah yang terkait dengan ilmu mereka dari al-Qur’an al- Karim, semua itu membenarkan bahwa al-Qur’an merupakan sumber kebenaran dan gudang hakikat.
Yang kelima, tidak adanya penentangan para sastrawan Arab yang merupakan kalangan terkemuka di bidangnya, terutama mereka yang belum masuk Islam meskipun mereka sangat ingin melakukan penentangan; ketidakberdayaan mereka di hadapan satu aspek saja darinyayaitu aspek balagahdari tujuh aspek kemukjizatan al-Qur’an yang utama; ketidakmampuan mereka mendatangkan satu surah saja dari sekian banyak surah al-Qur’an; serta tidak adanya penentangan terhadap aspek kemukjizatan al-Qur’an dari para ahli retorika dan tokoh jenius sampai saat ini meski mereka sangat menginginkannya demi publisitas ketenaran, dan sikap diam mereka atasnya; semua itu merupakan bukti kuat bahwa al-Qur’an al-Karim merupakan mukjizat yang berada di atas kemampuan manusia.
Ya. Nilai, ketinggian, dan balagah sebuah ucapan menjadi jelas lewat keterangan, “Siapa yang mengucapkannya? Kepada siapa diucapkan? Dan mengapa ia diucapkan?” Atas dasar itu, tidak bisa dan tidak akan pernah ada yang bisa menghadirkan sejenis al-Qur’an al- Karim. Hal itu karena, al-Qur’an al-Karim merupakan pesan Tuhan dan Pencipta seluruh alam. Ia juga merupakan pembicaraan yang tidak mungkin ditiru lewat sisi manapun. Di dalamnya tidak ada tanda yang menunjukkan keberadaan sesuatu yang dibuat-buat. Kemudian yang menjadi mitra bicaranya adalah sosok yang diutus atas nama seluruh umat manusia. Bahkan atas nama seluruh makhluk. Beliau adalah mitra bicara yang paling mulia dan paling istimewa. Beliau sosok di mana Islam yang agung memancar lewat kekuatan imannya hingga membawanya menuju sejarak dua ujung busur atau lebih dekat lagi. Beliau kemudian turun dengan membawa pesan ilahi yang abadi.Selanjutnya, al-Qur’an al-Mu’jizul Bayân telah menerangkan jalan kebahagiaan dunia dan akhirat. Ia menjelaskan berbagai tujuan penciptaan alam berikut sejumlah maksud ilahi di dalamnya. Ia menerangkan keimanan istimewa yang dibawa oleh sosok penerima al- Qur’an di mana ia meliputi seluruh hakikat Islam seraya memaparkan setiap sisi alam yang besar dan membolak-baliknya seperti membolak-balik peta atau jam yang berada di hadapannya. Ia mengajarkan kepada manusia tentang Sang Pencipta lewat berbagai tahapan dan perubahan alam. Karena itu, tidak mungkin ada yang bisa mendatangkan semisal al-Qur’an. Tingkat kemukjizatannya tidak mungkin bisa ditandingi.
Yang keenam, ribuan ulama istimewa yang menulis penafsiran tentang al-Qur’an dalam sejumlah jilid buku di mana sebagiannya mencapai 30 atau 40 jilid, bahkan ada yang sampai 70 jilid, penjelasan mereka bahwa di dalam al-Qur’an terdapat keistimewaan, persoalan balagah, rahasia halus, makna mulia, informasi gaib dengan beragam bentuknya yang tak terhingga, lalu upaya mereka memperlihatkan semua keistimewaan tersebut, semua itu menjadi bukti yang kuat bahwa al-Qur’an adalah mukjizat ilahi yang luar biasa. Terutama pembuktian setiap risalah dari Risalah Nur yang jumlahnya mencapai seratus tiga puluh risalah terhadap keistimewaan al- Qur’an berikut sejumlah bagiannya yang menakjubkan lewat berbagai argumen yang mematikan. Khususnya risalah “Mukjizat Al-Qur’an” dan kedudukan kedua dari “Kalimat Kedua Puluh” yang mengungkap sejumlah kehebatan peradaban dalam al-Qur’an seperti kereta api dan pesawat. Juga ‘Sinar Pertama’ yang berjudul al-Isyârât al-Qur’âniyah yang menjelaskan adanya sejumlah petunjuk ayat tentang Risalah Nur dan listrik. Selain itu, delapan risalah kecil berjudul ar-Rumûz atsTsamâniyah yang menerangkan sejauh mana tingkat keteraturan huruf-huruf al-Qur’an yang demikian cermat di mana ia memiliki sejumlah rahasia dan makna berlimpah. Kemudian risalah kecil yang menerangkan penutup surah al-Fath dan menetapkan kemukjizatannya lewat lima aspek dilihat dari informasi gaib yang disampaikan, serta berbagai risalah lainnya yang sejenis.Pengungkapan setiap bagian dari Risalah Nur tentang satu dari sekian hakikat al-Qur’an, serta tentang salah satu cahayanya, semua itu menjadi bukti yang menguatkan bahwa al-Qur’an tidak ada bandingannya, mukjizat yang luar biasa, lisan gaib di alam indrawi, dan kalam Tuhan Yang Mengetahui hal gaib.
Demikianlah, karena berbagai keistimewaan dan karakteristik al- Qur’an al-karim seperti yang telah dijelaskan dalam enam poin, enam sisi, dan enam kedudukan membuat kekuasaan nuraninya yang mulia dan kepemimpinan sucinya yang agung dengan penuh kewibawaan yang sempurna tetap bersinar menerangi seluruh sisi waktu dan menyinari seluruh bumi selama seribu tiga ratus tahun.Selain itu, karena sejumlah karakteristik tersebut al-Qur’an al- Karim mendapatkan keistimewaan di mana setiap hurufnya minimal mendatangkan sepuluh pahala dan sepuluh buah yang kekal. Bahkan setiap huruf dari huruf-huruf yang terdapat pada sebagian ayat dan surah membuahkan seratus, seribu, bahkan lebih banyak lagi dari buah akhirat. Cahaya setiap huruf berikut pahala dan nilainya meningkat di waktu-waktu yang penuh berkah menjadi sepuluh hingga ratusan. Dan masih banyak lagi keistimewaan suci sejenis lainnya yang telah dipahami oleh sang pengembara alam di atas. Ia berbisik kepada kalbunya,
“Benar, al-Qur’an al-Karim yang merupakan mukjizat pada setiap sisinya lewat kesepakatan seluruh surahnya, keselarasan seluruh ayatnya, keharmonisan seluruh rahasia dan cahayanya, kesesuaian buah dan jejaknya, telah bersaksi dengan kesaksian yang diperkuat oleh berbagai dalil yang menunjukkan wujud Wâjibul wujûd, keesaan-Nya, sifat-sifat-Nya, dan nama-nama-Nya, sehingga kesaksian tanpa batas milik seluruh orang beriman menyerap dari kesaksian tersebut.
Begitulah, dalam tingkat ‘ketujuh belas’ dari kedudukan pertama telah disebutkan sebuah isyarat singkat tentang pelajaran tauhid dan iman yang diterima oleh sang pengembara di atas dari al-Qur’an, yaitu sebagai berikut:
Tiada Tuhan selain Allah yang wujud-Nya bersifat mutlak, Maha esa dan Tunggal; yang kemutlakan wujud-Nya dalam keesaan-Nya ditunjukkan oleh al-Qur’an al-Mu’jizul Bayân; yang diterima dan disenangi oleh malaikat, manusia dan jin; yang setiap ayatnya dibaca pada setiap menit dengan penuh penghormatan lewat lisan ratusan juta manusia; yang kekuasaan sucinya atas seluruh penjuru bumi dan alam serta atas seluruh generasi dan masa bersifat permanen; yang kepemimpinan maknawiyahnya atas separuh bumi dan seperlima umat manusia selama empat belas abad tetap eksis. Selain itu, ia juga menjadi saksi dan bukti lewat kesepakatan seluruh surahnya yang suci, keselarasan ayat-ayatnya yang bercahaya, keharmonisan rahasia dan cahayanya, serta kesesuaian hakikat dan buahnya dengan penyaksian secara nyata.
LAMPIRAN KEDUA Rahasia di Balik Pengulangan Ayat dalam Al-Qur’an
Bunga Emirdag
(*21)
(Jawaban yang Memuaskan atas sejumlah kritikan seputar Pengulangan dalam al-Qur’an)
Saudaraku yang mulia dan setia!
Saat menulis persoalan ini, aku dalam kondisi yang sulit dan buruk. Oleh karena itu, ia tampak agak samar dan kurang jelas karena masih seperti saat terlintas dalam pikiran. Hanya saja, aku merasa ungkapan-ungkapan yang samar tersebut mengandung kemukjizatan yang luar biasa. Sayangnya, aku tidak mampu menjelaskan kemukjizatannya secara sempurna. Meskipun ungkapan-ungkapan Risalah ini tidak begitu bersinar, namun dilihat dari keterkaitannya dengan al-Qur’an al- Karim, ia merupakan “ibadah fikriyah” dan “kerang” yang berisi mutiara berharga. Maka dari itu, kuharap kalian mengabaikan kulitnya dan memperhatikan mutiara cemerlang yang ada di dalamnya.
Aku terpaksa menuliskannya secara sangat ringkas dikarenakan gizi buruk dan derita sakit yang kualami. Sampai-sampai aku memasukkan begitu banyak hakikat dan argumen dalam satu kalimat. Berkat karunia Allah, ia bisa diselesaikan dalam dua hari di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Mohon maaf atas segala kekurangan yang ada.(*22)
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!
Saat membaca al-Qur’an al-Mu’jizul-Bayân di bulan Ramadan yang penuh berkah ini, aku merenungkan makna tiga puluh tiga ayat yang petunjuknya tentang kehadiran Risalah Nur terdapat pada “Sinar Pertama”. Kulihat setiap ayatnya—bahkan ayat-ayat yang terdapat di halaman tersebut dan temanya—seolah-olah mengarah kepada Risalah Nur berikut murid-muridnya dilihat dari sisi makna yang mengacu pada mereka. Terutama, ayat tentang cahaya dalam surah an-Nur ayat 35. Dengan sepuluh jari, ia menunjuk Risalah Nur. Selain itu, ayat-ayat sesudahnya—ayat tentang kegelapan—mengarah kepada para musuh dan penentang Risalah Nur. Bahkan memberikan ruang yang lebih besar untuk mereka. Pasalnya, seperti diketahui bahwa kedudukan, dimensi, dan tujuan dari ayat-ayat tersebut tidak hanya terbatas pada ruang dan waktu tertentu, tetapi mencakup seluruh ruang dan waktu. Dengan kata lain, ia keluar dari parsialitas ruang dan waktu menuju sisi universalitas dari keduanya. Oleh karena itu, aku merasa bahwa Risalah Nur dan murid-muridnya di masa sekarang ini merupakan salah satu bagian parsial dari hal yang bersifat universal tersebut.
Pesan al-Qur’an al-Karim mendapatkan sifat universal, keluasan mutlak, ketinggian yang mulia, dan komprehensivitas yang menyeluruh karena ia langsung bersumber dari kedudukan rububiyah umum yang sangat luas dan menyeluruh milik Sang Penutur azali, Allah. Ia mendapatkan seluruh sifat tersebut dari kedudukan yang luas dan agung milik sosok yang menerima kitab tersebut, Nabi mulia x, yang mewakili umat manusia dan mitra bicara atas nama seluruh manusia, bahkan atas nama seluruh alam. Al-Qur’an mendapatkan sifat tersebut dari posisinya sebagai kalam yang mengarah kepada kedudukan lapang dan luas dari seluruh tingkatan manusia dan semua masa. Ia juga mendapatkannya dari kedudukan tinggi dan komprehensif yang bersumber dari penjelasannya yang sempurna tentang hukum Allah yang terkait dengan dunia dan akhirat, bumi dan langit, serta azali dan abadi, yaitu hukum yang terkait dengan rububiyah-Nya dan mencakup urusan seluruh makhluk.
Kalam mulia yang mendapatkan sifat luas, tinggi, serta komprehensif itu memperlihatkan kemukjizatan yang mencengangkan dan komprehensivitas yang integral di mana sejumlah tingkatan alamiah dan lahiriahnya yang menyentuh pemahaman kalangan awam—sebagai mayoritas penerima—pada waktu yang sama memberikan ruang yang luas bagi kalangan yang memiliki tingkat pemikiran paling tinggi. Jadi, ia tidak hanya memberikan petunjuk kepada para penerimanya semata dan juga tidak mengkhususkan pelajaran dari cerita historis untuk mereka saja. Namun ia juga berbicara kepada semua tingkatan pada setiap masa, sebagai bagian dari hukum yang bersifat universal, dengan sebuah pesan yang segar dan baru, seakan-akan belum lama diturunkan. Terutama banyaknya pengulangan kata ‘kaum yang zalim’ berikut kecamannya yang keras untuk mereka dan peringatan yang menakutkan berupa datangnya sejumlah musibah dari langit dan bumi akibat dosa dan kezaliman mereka. Dengan pengulangan tersebut, al-Qur’an mengarahkan perhatian kepada berbagai bentuk kezaliman yang tiada bandingnya di masa sekarang dengan memaparkan aneka macam siksa dan musibah yang menimpa kaum ‘Âd, Tsamûd, dan Fira’un. Pada waktu yang sama, ia menghadirkan pelipur lara dan ketenangan di hati orang beriman yang terzalimi dengan menyebutkan selamatnya para rasul yang mulia seperti Ibrahim dan Musa .
Kemudian al-Qur’an yang agung memberikan kepada setiap tingkatan dari setiap masa sebuah bimbingan yang jelas dan sangat menakjubkan seraya menjelaskan bahwa berbagai “masa yang telah berlalu” di mana dalam pandangan kaum lalai dan sesat ia laksana lembah ketiadaan yang menakutkan serta kuburan yang sangat menyedihkan. Al-Qur’an menghamparkannya laksana lembaran hidup yang menghembuskan banyak pelajaran, alam menakjubkan yang menyiratkan adanya kehidupan mulai dari ujung ke ujung, serta kerajaan rabbani yang secara maknawi terpaut dengan sejumlah ikatan. Dengan kemukjizatannya yang mengagumkan, al-Qur’an menjelaskannya secara gamblang seolah-olah terpampang di hadapan kita di sebuah layar. Terkadang ia menghadirkan berbagai era tersebut dengan jelas di hadapan kita. Terkadang pula ia yang membawa kita kepada era itu.Dengan kemukjizatan yang sama, ia menjelaskan “alam” yang oleh kaum lalai dianggap sebagai angkasa sepi tak bertepi dan benda mati yang bergulir di pusaran perpisahan dan derita. Al-Qur’an menjelaskannya sebagai kitab fasih yang ditulis oleh Sang Maha Esa yang kekal, kota rapi yang dibangun oleh Sang Maha pengasih dan penyayang, dan galeri indah yang diselenggarakan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah untuk memperlihatkan berbagai ciptaan-Nya. Dengan penjelasan tersebut, ia menghadirkan kehidupan pada seluruh benda mati tadi, menjadikan sebagiannya berusaha memberi kepada yang lain, serta setiap bagian menolong yang lain. Seolah-olah ia berbi-cara kepadanya dengan penuh cinta. Segala sesuatu ditundukkan dan semuanya diberi tugas tertentu. Begitulah al-Qur’an menyampaikan pelajaran hikmah hakiki dan ilmu yang bersinar kepada seluruh jin, manusia, dan malaikat. Maka, sudah pasti al-Qur’an yang agung ini layak memiliki karakteristik yang agung dan mulia serta keistimewaan yang luhur dan suci.Misalnya, pada setiap huruf al-Qur’an terdapat sepuluh kebaikan, bahkan kadang kala seribu kebaikan, bahkan pada kesempatan yang lain ribuan kebaikan; ketidakmampuan jin dan manusia untuk mendatangkan semisalnya meski mereka bersatu untuknya; pesannya kepada seluruh manusia, bahkan kepada seluruh alam dengan sebuah pesan yang fasih dan penuh hikmah; keinginan jutaan manusia pada setiap masa untuk menghafalnya dengan penuh antusias; ketiadaan rasa bosan dalam membacanya meski sering diulang; tertanamnya secara sempurna di benak anak kecil yang masih lugu meski berisi banyak kalimat dan posisi yang membingungkan; kenikmatan dan kenyamanan yang dirasakan oleh orang sakit dan sedang sakarat—yang tidak nyaman dengan ucapan paling sederhana sekalipun—dengan mendengarkannya; serta berbagai keistimewaan mulia dan suci lainnya yang dimiliki al-Qur’an. Dengan demikian, ia memberikan kepada para pembaca dan muridnya berbagai jenis kebahagiaan dunia dan akhirat.
Selain itu, al-Qur’an memperlihatkan kemukjizatannya yang indah dalam “memberikan petunjuk yang istimewa” di mana ia sangat memperhatikan ke-ummi-an sang penerimanya yang mulia, Nabi x, dengan tetap menjaga kefasihan alamiahnya. Ia sama sekali tidak dibuat-buat dan jauh dari sikap kepura-puraan apapun bentuknya. Gaya bahasanya dapat diterima oleh kalangan awam sebagai mayoritas penerimanya seraya memperhatikan kesederhanaan cara berpikir mereka dengan cara menyesuaikan bahasanya dengan pemahaman mereka. Ia menghamparkan kepada mereka sejumlah lembaran yang tampak jelas laksana langit dan bumi. Ia mengarahkan perhatian kepada mukjizat qudrah ilahi dan goresan hikmah-Nya yang tersimpan di dalam sejumlah peristiwa dan urusan yang biasa mereka alami.Kemudian al-Qur’an juga memperlihatkan satu bentuk kemukjizatannya yang indah dalam “pengulangannya yang retoris” dari sebuah kalimat atau sebuah kisah. Hal itu terjadi saat membimbing objek yang berbeda kepada sejumah makna dan pelajaran yang terdapat pada ayat atau kisah tersebut.
Ketika itu, dibutuhkan pengulangan di mana ia merupakan kitab doa dan dakwah di samping sebagai kitab zikir dan tauhid. Setiap darinya membutuhkan pengulangan. Jadi, setiap ayat atau kisah yang diulang dalam al-Qur’an mencakup makna atau pelajaran baru.Al-Qur’an juga memperlihatkan kemukjizatannya saat membahas berbagai “peristiwa parsial” atau khusus yang terjadi dalam kehidupan sahabat pada saat ia turun serta di saat ia mengukuhkan bangunan Islam dan kaidah syariat. Oleh karena itu, al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat serius terhadap sejumlah peristiwa dengan menerangkan bahwa urusan yang paling kecil dari sebuah peristiwa khusus tidak lain berada di bawah tatapan rahmat-Nya serta dalam wilayah pengaturan dan kehendak-Nya. Di samping itu, al-Qur’an memperlihatkan sejumlah sunnah ilahi (sunnatullah) yang berlaku di alam serta sejumlah hukum yang bersifat universal dan komprehensif. Lebih dari itu, berbagai peristiwa tersebut—yang laksana benih di awal pembangunan Islam dan syariat—nantinya akan menghasilkan buah yang matang berupa sejumlah hukum dan pelajaran.
Ada sebuah kaidah baku yang berbunyi: “Kebutuhan yang terus berulang menuntut adanya pengulangan”. Oleh karena itu, al-Qur’an al- Karim menjawab sejumlah pertanyaan yang banyak berulang selama dua puluh tahun. Lewat jawabannya yang berulang-ulang, al-Qur’an membimbing berbagai kalangan yang berbeda. Ia mengulang-ulang sejumlah kalimat yang memiliki ribuan hasil. Ia juga mengulang sejumlah petunjuk yang merupakan hasil dari berbagai dalil yang tak terhingga. Hal itu untuk menanamkan di dalam jiwa dan mengukuhkan di dalam hati berbagai perubahan besar yang akan terjadi di alam berikut kehancuran yang akan dialaminya, serta bangunan akhirat— yang kekal dan menakjubkan sebagai ganti dari alam fana ini—yang akan menggantikannya.Selanjutnya, al-Qur’an mengulang kalimat dan ayat-ayat tersebut ketika menegaskan bahwa seluruh hal yang bersifat parsial dan universal mulai dari atom hingga bintang-gemintang berada di dalam genggaman dan kekuasaan Dzat Yang Mahaesa. Selain itu, al-Qur’an mengulang-ulang saat menjelaskan tentang murka Tuhan terhadap manusia yang berbuat zalim lantaran mengabaikan tujuan dari penciptaan. Perbuatan zalim itulah yang membuat alam, bumi, langit, dan seluruh unsur murka kepada pelakunya. Oleh karena itu, pengulangan sejumlah kalimat dan ayat pada saat menjelaskan berbagai persoalan besar sama sekali tidak bisa dianggap sebagai sebuah cacat dalam hal balagah. Tetapi ia justru merupakan bentuk mukjizat yang sangat menakjubkan, bentuk balagah yang sangat tinggi, dan kefasihan yang sangat sesuai dengan kondisi.
Sebagai contoh: Kalimat بِس۟مِ اللّٰهِ الرَّح۟مٰنِ الرَّحٖيمِ yang merupakan salah satu ayat al-Qur’an. Ia berulang sebanyak seratus empat belas kali dalam al-Qur’an karena ia merupakan persoalan besar yang menerangi alam serta menghubungkan bumi dan arasy dengan ikatan yang sangat kuat seperti yang disebutkan dalam “Cahaya Keempat Belas”. Setiap orang pasti sangat membutuhkan hakikat ini setiap saat. Andaikan hakikat agung ini diulang jutaan kali, kebutuhan terhadapnya akan tetap ada. Sebab, ia bukan merupakan kebutuhan harian seperti nasi, tetapi ia seperti udara dan cahaya yang sangat dibutuhkan dan selalu dirindukan setiap saat.
Ayat lainnya yang berbunyi:“Dan Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang”. Ayat tersebut berulang sebanyak delapan kali dalam surah asy-Syu`arâ. Pengulangan ayat yang berisi ribuan hakikat tersebut dalam sebuah surah yang menyebutkan keselamatan para nabi dan siksa yang menimpa kaum mereka adalah untuk menjelaskan bahwa kezaliman yang dilakukan oleh kaum mereka mencederai tujuan penciptaan serta menentang keagungan rububiyah Allah yang bersifat mutlak. Maka, keperkasaan ilahi menghendaki adanya siksa bagi kaum yang zalim itu. Sebaliknya, rahmat ilahi menuntut keselamatan bagi para nabi-Nya. Andaikan ayat itu diulang ribuan kali, kebutuhan terhadapnya tidak akan pernah pudar. Jadi, pengulangan di sini merupakan balagah tinggi yang mengandung kemukjizatan dan simplifikasi.
Begitu pula ayat yang berbunyi:“Maka, nikmat Tuhan manakah yang kalian dustakan?!”Ayat di atas disebutkan berulang-ulang dalam surah ar-Rahmân.Lalu ayat berikut: “Celakalah pada hari itu kaum yang mendustakan”. Ia diulang-ulang dalam surah al-Mursalât. Kedua ayat di atas menegaskan pada semua masa serta menjelaskan ke seluruh penjuru langit dan bumi bahwa sikap kufur jin dan manusia terhadap nikmat ilahi serta kezaliman mereka membangkitkan murka alam, menjadikan langit dan bumi marah, menodai hikmah dan tujuan penciptaan alam, melanggar hak seluruh makhluk, serta meremehkan dan mengingkari keagungan kekuasaan ilahi. Oleh karena itu, kedua ayat di atas terkait dengan ribuan hakikat serupa. Keduanya sangat penting, setara dengan ribuan persoalan. Andaikan ia diulang ribuan kali dalam pesan umum yang mengarah kepada jin dan manusia, tentu kebutuhan terhadapnya tetap ada. Jadi, pengulangan di sini merupakan bentuk simplifikasi yang agung serta bentuk mukjizat balagah yang indah.
Contoh lain, kami berikan di seputar hikmah pengulangan dalam munajat Nabi x yang disebutkan dalam hadis. Munajat nabi yang disebut al-Jausyan al-Kabîr merupakan munajat indah yang sesuai dengan hakikat al-Qur’an dan intisari darinya. Di dalamnya kita menemukan kalimat:Mahasuci Engkau wahai yang tiada Tuhan selain Engkau.Kami memohon keselamatan... keselamatan. Jauhkan kami dari neraka… Lindungi kami dari neraka… Selamatkan kami dari neraka.Kalimat tersebut berulang sebanyak seratus kali. Andaikan diulang sebanyak ribuan kali, ia tidak akan melahirkan rasa bosan. Sebab, ia berisi hakikat paling agung di alam ini yang berupa tauhid; berisi tugas makhluk yang paling mulia terhadap rububiyah Tuhan, yaitu bertasbih, bertahmid, dan menyucikan-Nya; berisi persoalan yang amat menentukan bagi umat manusia; yaitu selamat dari neraka dan terbebas dari derita abadi; serta berisi tujuan ubudiyah dan ketidakberdayaan manusia, yaitu doa.
Begitulah, kita melihat pengulangan dalam al-Qur’an tertuju pada pilar-pilar semacam itu. Bahkan al-Qur’an mengungkap hakikat tauhid, baik secara implisit maupun eksplisit, lebih dari dua puluh kali dalam satu halaman mushaf. Hal itu sesuai dengan tuntutan konteks, kebutuhan untuk memberikan pemahaman, dan retorika penjelasan. Maka, dengan pengulangan tersebut, al-Qur’an membangkitkan kerinduan untuk membaca secara berulang-ulang serta membuat balagahnya lebih kuat tanpa melahirkan rasa jenuh dan bosan. Sejumlah bagian dari Risalah Nur telah menjelaskan hikmah pengulangan dalam al-Qur’an. Ia menerangkan berbagai argumennya, menegaskan tingkat kesesuaian pengulangan yang ada dengan balagah, serta menetapkan tingkat keindahannya yang menakjubkan.
Adapun hikmah perbedaan antara surah Makkiyah dan Madaniyah dilihat dari sisi balagah, dari sisi kemukjizatan, dan dari sisi penjelasan secara rinci dan globalnya, maka ia adalah sebagai berikut:
Barisan pertama dari para penerima dan penentang al-Qur’an di Mekkah adalah kalangan musyrik Quraisy. Mereka buta huruf, tidak memiliki sebuah kitab. Maka, balagah menuntut sebuah gaya bahasa yang tinggi, kuat, global, dan meyakinkan, serta berisi pengulangan agar tertanam kuat dalam pemahaman. Oleh karena itu, sebagian besar surah Makkiyah membahas tentang rukun iman berikut sejumlah tingkatan tauhid dengan gaya bahasa yang sangat kuat dan tinggi serta sangat ringkas. Ia banyak mengulang masalah keimanan kepada Allah, awal penciptaan, tempat kembali, dan akhirat. Bahkan ia mengungkapkan rukun iman tersebut dalam setiap halaman, ayat, kalimat, atau kata. Atau bahkan dalam sebuah huruf.Selain itu, al-Qur’an mengungkapkannya dengan cara menukar posisi kata atau kalimat (taqdîm dan ta’khîr), dalam bentuk ma’rifah (definit) dan nakirah (indefinit), serta dengan cara melesapkan dan menyebutkan (huruf, kata, atau kalimat). Ia menetapkan rukun iman dalam sejumlah kondisi dan bentuk balagah semacam itu yang membuat para ahli balagah terbelalak menyaksikan gaya bahasanya yang menakjubkan.
Risalah Nur, terutama “Kalimat Kedua Puluh Lima” (al-Mu’jizât al-Qur’âniyyah) berikut sejumlah lampirannya telah menjelaskan kemukjizatan al-Qur’an dalam empat puluh aspek. Begitu pula penjelasan dalam buku Isyârât al-I’jâz fî Mazhân al-Îjâz yang berbahasa Arab di mana ia memberikan penjelasan indah tentang kemukjizatan al-Qur’an dilihat dari sisi sistematika antar ayatnya. Kedua risalah tersebut benar-benar menetapkan ketinggian gaya bahasanya yang istimewa dan simplifikasinya yang menakjubkan.
Adapun ayat-ayat dan surah Madaniyah, barisan pertama dari para penerima dan penentangnya adalah kalangan Yahudi dan Nasrani yang merupakan ahli kitab yang beriman kepada Allah. Sesuai dengan kaidah balagah, cara pemberian petunjuk, dan prinsip dakwah, hal ini menuntut agar pesan yang ditujukan kepada mereka harus sesuai dengan kondisi mereka. Oleh karena itu, ia datang dengan gaya bahasa yang mudah dan jelas disertai penjelasan tentang sejumlah hal khusus di luar pokok-pokok keimanan. Sebab, hal-hal yang bersifat parsial dan khusus tersebut merupakan sumber hukum syariat, kaidah universal, serta hukum cabang yang merupakan objek perselisihan dalam bidang syariat dan hukum. Oleh karenanya, kita sering menemukan ayat-ayat Madaniyah sangat jelas dan mudah dengan gaya bahasa yang menakjubkan khas al-Qur’an. Namun penyebutan sebuah ikhtisar yang kuat, kesimpulan yang kukuh, dan argumen mematikan setelah sebuah peristiwa parsial menjadikan peristiwa tersebut sebagai kaidah universal yang bersifat umum. Lalu pengamalannya menjamin penguatan iman kepada Allah yang diwujudkan oleh penyebutan bagian penutup yang merangkum tauhid, iman, dan akhirat. Konteks yang jelas dan lugas itu bersinar oleh bagian penutup tadi.
Risalah Nur telah menjelaskan dan menetapkan kepada para pembangkang sejauh mana ketinggian balagah, keistimewaan luar biasa, serta berbagai bentuk kefasihan yang cermat yang terdapat pada kesimpulan dan bagian penutup tadi, yaitu dalam sepuluh keistimewaan pada cahaya kedua dari obor kedua dari “Kalimat Kedua Puluh Lima” yang secara khusus berbicara tentang kemukjizatan al-Qur’an.Engkau bisa melihat ayat yang berbunyi: “Sungguh Allah Mahakuasa atas segala sesuatu” “Sungguh Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” “Dia Maha Perkasa dan Maha Bijaksana” “Dia Maha Perkasa dan Maha Penyayang”
Ayat-ayat di atas dan ayat sejenis lainnya yang menerangkan tauhid dan mengingatkan pada akhirat di mana ia merupakan penutup sebagian besar ayat al-Qur’an, engkau bisa melihat bahwa saat menjelaskan hukum syariat, masalah furû`iyah (cabang) dan hukum sosial, al-Qur’an mengangkat pandangan mitra bicara kepada cakrawala yang bersifat universal dan mulia. Dengan bagian penutup tersebut, al-Qur’an mengganti gaya bahasa yang mudah dan jelas dengan gaya bahasa yang tinggi dan mulia. Seolah-olah ia memindahkan pembaca dari pelajaran syariat kepada pelajaran tauhid. Jadi, jelas bahwa al-Qur’an merupakan kitab syariat, hukum, dan hikmah di samping sebagai kitab akidah dan iman, kitab zikir dan pikir, serta kitab doa dan dakwah.Demikianlah, engkau melihat bahwa terdapat bentuk kefasihan yang menakjubkan dan cemerlang dalam ayat-ayat Madaniyah yang berbeda dengan retorika ayat-ayat Makkiyah sesuai dengan kondisi dan maksud petunjuknya.
Contoh semacam ini bisa dilihat dalam dua kata berikut: رَبُّكَ dan رَبُّ ال۟عَالَمٖينَ. Al-Qur’an mengajarkan ahadiyah lewat ungkapan pertama رَبُّكَ dan wâhidiyah lewat ungkapan kedua رَبُّ ال۟عَالَمٖينَ. Wâhidiyah sendiri mencakup ahadiyah. Balagah semacam itu kadang juga bisa dilihat dalam sebuah kalimat. Dalam satu ayat misalnya, al-Qur’an memperlihatkan pengetahuan-Nya yang menembus letak partikel di pupil mata serta letak matahari di jantung langit. Ia memperlihatkan qudrah-Nya yang komprehensif yang meletakkan sebuah perangkat persis di tempatnya dengan menjadikan matahari laksana mata bagi langit.
Ia pun menyatakan:“(Dia) menciptakan langit dan bumi...” (QS. al-Hadîd [57]: 4), kemudian: “(Dia) memasukkan malam ke siang dan memasukkan siang ke malam...” (QS. al-Hadîd [57]: 6). Lalu: “Dia Maha Mengetahui apa yang tersembunyi dalam dada.” (QS. al-Hadîd [57]: 6).Dia menyudahi dengan pengetahuan-Nya yang menembus apa yang tersembunyi di dalam dada setelah menyebutkan keagungan penciptaan di langit dan bumi dan setelah menghamparkannya di hadapan makhluk. Dia menanamkan dalam benak bahwa Dia mengetahui bisikan hati lewat penyebutan keagungan-Nya dalam menciptakan langit dan bumi. Hal ini adalah satu bentuk penjelasan yang membawa gaya bahasa yang mudah dipahami oleh orang awam menuju petunjuk yang mulia, umum, dan menarik.
Pertanyaan:Pandangan yang dangkal dan hanya selintas tidak dapat melihat berbagai hakikat penting yang dihadirkan al-Qur’an. Ia tidak mengetahui jenis kesesuaian dan korelasi antara kesimpulan yang mengungkapkan tauhid yang mulia atau menghadirkan hukum yang universal dengan sebuah peristiwa parsial yang bersifat biasa. Oleh karena itu, sebagian orang menilai ada cacat dalam balagah al- Qur’an. Misalnya, tidak jelasnya korelasi balagah dalam penyebutan prinsip agung:“Dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada Yang Maha mengetahui.” (QS. Yûsuf [12]: 76). Ayat di atas disebutkan setelah peristiwa parsial yaitu upaya Yusuf membuat saudaranya tinggal bersamanya lewat sebuah rekayasa cerdas. Apa rahasia di dalamnya dan apa hikmahnya?
Jawaban:Sebagian besar surah yang panjang dan sedang—di mana masing-masing laksana sebuah al-Qur’an—tidak hanya berisi dua atau tiga tema utama al-Qur’an (ketauhidan, kenabian, kebangkitan, dan keadilan beserta ibadah). Namun masing-masing berisi seluruh esensi al-Qur’an dan keempat tema utama sekaligus. Dengan kata lain, al-Qur’an merupakan kitab zikir, iman, dan pemikiran di samping sebagai kitab syariat, hikmah, dan petunjuk. Jadi, setiap surah darinya berisi sejumlah kitab dan menunjukkan sejumlah pelajaran yang berbeda. Setiap kondisi dan konteksnya—bahkan setiap halaman—membuka ke hadapan manusia sejumlah pintu iman yang dapat merealisasikan sejumlah tema lain di mana al-Qur’an menyebutkan apa yang tertulis dalam kitab alam yang besar ini dan menerangkannya secara jelas. Sehingga ia tanamkan dalam jiwa seorang mukmin rububiyah Allah yang meliputi segala sesuatu sekaligus memperlihatkan manifestasi-Nya yang terdapat di cakrawala dan jiwa. Oleh karena itu, korelasi yang tampak lemah menjadi landasan dari berbagai tema universal. Lalu sejumlah korelasi yang kuat menyusul korelasi yang tampak lemah tadi sehingga gaya bahasanya sesuai dengan konteks dan kondisi yang ada. Dengan begitu, tingkatan balagahnya menjadi tinggi.
Pertanyaan lain:Apa hikmah al-Qur’an mengetengahkan ribuan dalil untuk menetapkan urusan akhirat, dalam mengajarkan tauhid serta ketika membahas tentang pemberian ganjaran dan hukuman bagi manusia? Apa rahasia di balik upaya al-Qur’an mengarahkan perhatian kepada urusan tersebut secara eksplisit dan implisit pada setiap surah, bahkan pada setiap halaman mushaf dan pada setiap kondisi?
Jawabannya: Karena al-Qur’an mengingatkan manusia tentang perubahan terbesar yang terjadi dalam wilayah makhluk sepanjang sejarah alam, yaitu akhirat. Al-Qur’an menunjukkan persoalan terbesar yang terkait dengannya sebagai pengemban amanat utama dan khalifah di muka bumi, yaitu persoalan tauhid yang menjadi penentu nasib; meraih kebahagiaan abadi atau menuai kesengsaraan yang kekal. Pada waktu yang sama, al-Qur’an melenyapkan gelombang syubhat yangdatang secara terus-menerus serta menghantam bentuk pembangkangan dan pengingkaran yang paling hebat.Oleh karena itu, kalau al-Qur’an mengarahkan perhatian manusia untuk percaya kepada berbagai perubahan dahsyat tersebut dan membawa mereka untuk membenarkan urusan agung yang sangat penting itu... Ya, kalau al-Qur’an melakukan itu semua ribuan kali dan mengulangnya sebanyak jutaan kali, hal itu bukan merupakan pemborosan dalam hal balagah dan tidak membuat bosan. Bahkan kebutuhan untuk terus-menerus membacanya dalam al-Qur’an tidak pernah selesai. Sebab, tidak ada yang lebih penting di alam ini daripada urusan tauhid dan akhirat.
Contoh, ayat yang berbunyi:“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, kelak kami akan masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selamanya...” (QS. an-Nisâ [4]: 57).Hakikat ayat di atas merupakan kabar gembira akan kebahagiaan abadi yang diumumkan kepada manusia malang yang menghadapi kematian setiap saat. Sehingga kabar gembira ini menyelamatkannya dari gambaran kematian sebagai sebuah kemusnahan abadi. Ia menyelamatkannya berikut alam dan seluruh kekasihnya dari cengkeraman kefanaan. Bahkan, ia memberinya kekuasaan yang kekal dan kebahagiaan abadi. Andaikan ayat ini diulang miliaran kali, tidaklah termasuk pemborosan dan sama sekali tidak mencederai balagahnya.
Begitulah, engkau melihat al-Qur’an, yang membahas berbagai urusan penting semacam itu dan berusaha meyakinkan manusia dengannya lewat pemberian sejumlah argumen kuat, menanamkan dalam benak dan kalbu berbagai perubahan besar yang terjadi di alam. Ia menjadikannya lugas dan jelas bagi mereka seperti perubahan rumah dan bentuknya. Maka sudah tentu pengarahan perhatian, baik secara eksplisit, implisit, maupun simbolik kepada berbagai persoalan semacam itu sebanyak ribuan kali merupakan suatu hal yang sangat mendesak.
Bahkan, ia sama mendesaknya dengan kebutuhan manusia kepada nasi, udara, dan cahaya yang terus-menerus dibutuhkan.Contoh lain adalah ayat yang berbunyi:“Orang-orang yang kafir bagi mereka neraka jahanam...” (QS. Fâthir [35]: 36),“Orang-orang yang zalim bagi mereka siksa yang pedih...” (QS. Ibrâhîm [14]: 22).Hikmah pengulangan ayat di atas—juga ayat-ayat peringatan dan ancaman sejenisnya—serta bentuk redaksinya yang tegas dan keras adalah seperti yang telah kami tegaskan dalam Risalah Nur, yaitu bahwa kekufuran manusia merupakan sikap yang sangat melanggar hak-hak alam dan sebagian besar makhluk. Hal inilah yang membangkitkan kemarahan langit dan bumi serta membuat seluruh elemen alam murka kepada orang kafir sehingga menampar kaum yang zalim itu dengan badai dan sebagainya. Bahkan, neraka jahim pun sangat marah hingga nyaris pecah seperti yang disebutkan al-Qur’an: “Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak. Nyaris (neraka) itu pecah lantaran marah...” (QS. al-Mulk [67]: 7-8).
Andaikan Penguasa alam mengulang kejahatan besar (kekufuran) tersebut dalam berbagai urusan-Nya berikut segala akibatnya dengan gaya bahasa yang sangat keras sebanyak ribuan kali, jutaan kali, atau miliaran kali, ia sama sekali tidak berlebihan dan tidak mencederai balagah al-Qur’an. Hal itu karena dosa tersebut sangat besar dan sangat melampaui batas. Di samping itu, ia ditujukan untuk memperlihatkan hak-hak rakyat-Nya dan untuk menampakkan keburukan tak terhingga yang terdapat dalam sikap mereka yang kufur dan zalim. Jadi, ia tidak diulang lantaran hina dan kerdilnya manusia, namun karena besarnya pelanggaran dan kezaliman yang dilakukan oleh orang kafir. Selanjutnya, kita melihat bagaimana ratusan juta manusia, sejak lebih dari seribu tahun, membaca al-Qur’an dengan penuh antusias dan dengan perasaan amat butuh padanya tanpa pernah merasa bosan.
Ya, setiap waktu dan setiap hari merupakan saat sebuah alam berlalu dan sebuah pintu terbuka bagi alam yang baru. Oleh karena itu, pengulangan لَٓا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ dengan rasa butuh padanya sebanyak ribuan kali adalah untuk menerangi seluruh alam yang berlalu dan menyinarinya dengan cahaya iman. Ia membuat kalimat tauhid tersebut laksana lentera terang yang terdapat di langit putaran alam dan hari. Jika demikian keadaannya terkait dengan lâ ilâha illallâh, hal yang sama berlaku pada pembacaan al-Qur’an al-Karim. Ia menghapus kegelapan pekat yang menutupi banyaknya pentas yang berlalu dan alam yang terus terbaharui. Ia melenyapkan buruknya gambaran yang terpantul dalam cermin kehidupan. Ia menjadikan berbagai kondisi yang datang sebagai saksi yang menolongnya di hari kiamat, bukan saksi yang memberatkannya. Ia juga menaikkan derajatnya ke tingkatan pengetahuan akan besarnya balasan bagi perbuatan dosa. Ia membuatnya memahami nilai peringatan Sang Penguasa azali yang menghancurkan sikap keras kepala kaum yang zalim. Ia juga mendorongnya untuk berlepas dari kungkungan nafsu ammârah. Karena sejumlah hikmah inilah, al- Qur’an mengulang-ulang apa yang perlu diulang dalam bentuk yang penuh hikmah. Ia memperlihatkan bahwa ancaman al-Qur’an yang sangat banyak, dengan gaya bahasa yang tegas dan keras serta secara berulang-ulang merupakan sebuah hakikat yang agung. Setan yang sebelumnya menganggap hal itu tidak berguna menjadi takluk. Ia lari dari khayalannya yang menganggap hal itu sia-sia. Ya, siksa jahanam adalah balasan adil bagi kaum kafir yang tidak mau memperhatikan berbagai ancaman yang ada.
Di antara yang sering diulang dalam al-Qur’an adalah kisah para nabi. Hikmah pengulangan kisah Musa , misalnya, di mana ia memiliki sejumlah hikmah dan pelajaran seperti yang dimiliki oleh tongkat Musa. Demikian pula dengan pengulangan kisah nabi yang lain adalah untuk menetapkan kerasulan Muhammad x. Hal itu dengan memperlihatkan kenabian seluruh nabi sebagai hujjah atas kebenaran risalah Muhammad x di mana ia tidak mungkin diingkari kecuali oleh orang yang mengingkari kenabian seluruh nabi. Jadi, penyebutan kenabian mereka menjadi dalil atas kerasulan beliau x. Kemudian, banyak di antara manusia yang tidak setiap waktu mampu dan berkesempatan untuk membaca keseluruhan al-Qur’an. Namun mereka mencukupkan diri sesuai kemampuan. Dari sini, hikmah menjadikan setiap surah yang panjang dan sedang ibarat miniatur al-Qur’an sangat jelas. Jadi, pengulangan kisah di dalamnya seperti pengulangan rukun iman yang sangat penting. Artinya, pengulangan kisah merupakan tuntutan balagah, bukan sebuah pemborosan. Apalagi ia berisi pengajaran bahwa peristiwa kemunculan Muhammad x merupakan peristiwa yang paling besar bagi umat manusia dan persoalan yang paling agung di alam semesta.
Ya, pemberian kedudukan tertinggi dan termulia kepada Rasul x dalam al-Qur’an dan penyambungan kalimat مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللّٰهِ—yang mengandung empat rukun iman—dengan kalimat لَٓا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ, yakni مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللّٰهِلَٓا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ menjadi bukti bahwa risalah Muhammad merupakan hakikat terbesar di alam ini, pribadi Muhammad x merupakan makhluk paling mulia, hakikat Muhammad yang mencerminkan sosok maknawi yang universal dari pribadi Muhammad x adalah lentera yang menerangi dunia dan akhirat, serta bahwa beliau layak mendapatkan kedudukan luar biasa tersebut, sebagaimana hal itu telah ditegaskan dalam sejumlah bagian Risalah Nur lewat berbagai argumen yang kuat. Di sini kami hanya akan menyebutkan satu dari seribu argumen yang ada, yaitu sebagai berikut:
Semua amal kebaikan yang dilakukan oleh umat Muhammad x pada seluruh masa dituliskan pula pada lembaran kebaikan beliau. Hal ini sesuai dengan kaidah: “Perantara sama seperti pelakunya”. Pencerahan yang beliau berikan kepada semua hakikat alam dengan cahaya yang beliau bawa tidak hanya membuat jin, manusia, malaikat dan makhluk hidup rida dan senang. Namun juga membuat seluruh alam, langit dan bumi rida seraya membicarakan berbagai kebaikan beliau. Jutaan doa yang dipanjatkan oleh orang-orang saleh dari umat beliau bersama miliaran doa fitri dan mustajab yang dipanjatkan oleh makhluk spiritual di mana ia tidak tertolak—dibuktikan oleh pengabulan secara nyata terhadap doa tanaman lewat lisan potensi dan doa hewan lewat lisan kebutuhan alamiahnya—serta doa rahmat lewat salawat dan salam untuk beliau, berbagai pahala dan hadiah kebaikan yang mereka berikan, semua itu pertama-tama dipersembahkan untuk beliau. Belum lagi berbagai pahala tak terhingga yang masuk ke dalam daftar amal kebaikannya lewat bacaan al-Quran umatnya di mana setiap huruf darinya—yang lebih dari 300 ribu huruf— mendatangkan sepuluh kebaikan dan sepuluh buah ukhrawi, bahkan seratus atau seribu kebaikan.Ya, Dzat Allâmul Ghuyûb telah mengetahui dan menyaksikan bahwa hakikat Muhammad yang merupakan sosok maknawi dari pribadi penuh berkah itu akan menjadi seperti pohon Tuba surga. Oleh karena itu, Allah memberinya, dalam al-Qur’an, kedudukan tinggi yang layak beliau sandang. Allah menjelaskan dalam firman-Nya bahwa cara untuk mendapatkan syafa`atnya adalah dengan mengikuti sunnahnya yang mulia dan mendapatkan syafa`atnya merupakan persoalan terbesar bagi manusia. Bahkan seringkali Allah melihat sejumlah kondisi kemanusiaannya sebagai benih pohon Tuba surga.
Demikianlah, karena sejumlah hakikat al-Qur’an yang terulang memiliki kedudukan tinggi dan berisi banyak hikmah, fitrah yang sehat menjadi saksi bahwa pengulangannya merupakan mukjizat maknawi yang sangat kuat dan luas. Kecuali bagi mereka yang kalbunya sakit dan nuraninya tidak sehat akibat wabah materialisme sehingga terkena kaidah yang terkenal:
Kadang seseorang mengingkari cahaya matahari karena sakit mata Dan kadang mulut mengingkari segarnya air karena sakit yang diderita.(*23)
PENUTUP LAMPIRAN KEDUA (Dua Catatan)
Catatan Pertama:
Dua belas tahun yang lalu(*24)aku mendengar bahwa seorang zindik yang berhati busuk dan bermaksud buruk berani menerjemahkan al-Qur’an. Maka ia membuat tulisan berbahaya yang merendahkan kedudukannya dengan berusaha menerjemahkannya. Ia berkata, “Hendaknya al-Qur’an ini diterjemahkan agar kedudukannya terlihat?” yakni, agar orang-orang bisa melihat pengulangan al-Qur’an yang tidak penting, agar terjemahannya yang dibaca sebagai ganti darinya, dan berbagai pemikiran beracun lainnya.
Namun berkat karunia Allah, Risalah Nur berhasil melumpuhkan pemikiran tersebut dengan berbagai argumennya yang mematikan dan dengan penyebarannya yang luas di setiap tempat. Risalah Nur menegaskan bahwa al-Qur’an tidak mungkin diterjemahkan secara hakiki. Bahasa manapun di luar bahasa Arab tak mampu menjaga keistimewaan al-Qur’an al-Karim dan balagahnya yang halus. Sejumlah terjemahan biasa dan parsial yang dibuat oleh manusia tidak akan pernah bisa menggantikan ungkapan kalimat al-Qur’an yang bersifat universal dan menakjubkan di mana setiap hurufnya berisi banyak kebaikan, dari sepuluh hingga seribu. Oleh karena itu, tidak mungkin terjemahannya yang dibaca sebagai ganti darinya.Hanya saja, kaum munafik yang belajar pada orang zindik itu berusaha sekuat tenaga di jalan setan untuk memadamkan cahaya al- Qur’an dengan mulut mereka seperti anak-anak yang bodoh. Namun karena aku tidak bertemu dengan siapa pun, aku tidak mengetahui kondisi yang ada. Aku hanya menduga bahwa apa yang kuutarakan tadi merupakan sebab yang membuat persoalan kesepuluh ini didiktekan kepadaku, meskipun aku sedang dalam kondisi sulit.
Catatan Kedua:
Suatu hari aku duduk di lantai atas Hotel Şehir setelah dibebaskan dari penjara Denizli. Aku merenungkan pepohonan di sekitarku yang berada di taman rindang dan kebun yang indah. Ia tampak gembira lewat gerakannya yang menari-nari dan sangat memikat. Ia bergoyang dengan ranting dan dahannya. Lalu daunnya bergerak dengan sentuhan angin yang lembut. Ia tampak di hadapanku dalam kondisi paling indah dan bersinar seolah-olah sedang bertasbih kepada Allah dalam halakah zikir.Gerakan lembut tersebut menyentuh relung kalbuku yang sedang lara akibat berpisah dengan sejumlah kolega. Aku merasa pilu karena hidup sendiri. Tiba-tiba aku teringat musim gugur dan musim dingin di mana ketika itu dedaunannya akan berguguran dan keindahannya lenyap. Aku pun bersedih melihat pohon yang indah tadi. Demikian pula ketika melihat seluruh makhluk hidup yang tampak gembira. Kesedihan tersebut membuatku meneteskan air mata. Duka menerpa diriku akibat perpisahan di mana ia menutupi tirai alam yang tampak indah.
Saat dirundung kesedihan semacam itu, tiba-tiba cahaya yang dibawa oleh hakikat Muhammad x menolongku, sebagaimana ia juga menolong setiap mukmin lainnya. Cahaya tersebut mengganti kesedihan dan kepiluan yang tak terhingga tadi dengan suka cita dan kegembiraan tiada tara. Akupun merasa sangat senang dan sangat puas dengan hakikat Muhammad di mana salah satu limpahan cahayanya yang tak terbatas telah menolongku. Limpahan cahaya itu menyebarkan pelipur lara ke seluruh jiwa dan ragaku.Gambarannya sebagai berikut:
Pandangan lalai di atas memperlihatkan dedaunan halus dan pepohonan rindang tersebut tidak memiliki tugas dan misi. Ia tidak berguna dan tidak bermanfaat. Gerakan lembutnya tampak bukan sebagai bentuk rasa rindu dan senang. Akan tetapi karena takut adanya perpisahan. Terkutuklah pandangan lalai tersebut di mana ia telah melukai kerinduan untuk kekal, kecintaan pada kehidupan, ketertarikan pada keindahan, dan kasih sayang terhadap sesama yang tertanam dalam diri ini. Ia mengubah dunia menjadi neraka maknawi serta mengubah akal menjadi organ yang menyiksa dan menyengsarakan. Ketika sedang menanggung penderitaan semacam itu, seketika cahaya yang dibawa oleh Muhammad x untuk menerangi umat manusia menyingkap tirai yang ada sekaligus memperlihatkan berbagai hikmah, makna, tugas, dan peran yang sangat banyak yang jumlahnya sebanyak dedaunan pohon tadi.Risalah Nur menegaskan bahwa sejumlah tugas dan hikmah tersebut terbagi tiga:
Pertama, yang mengarah kepada nama-nama indah Sang Pencipta Yang Mahaagung. Sebagaimana ketika seorang ahli mesin yang mahir membuat mesin menakjubkan, maka ia dipuji oleh semua orang dan karyanya diapresiasi sedemikian rupa dengan ucapan “Mâsya Allah, Bârakallah”. Mesin tersebut juga demikian. Ia menyanjung penciptanya dengan lisân hâl (keadaannya). Yaitu dengan memperlihatkan berbagai hasil yang dituju secara sempurna. Begitu pula semua makhluk hidup dan segala sesuatu merupakan mesin dan menyanjung Penciptanya dengan ucapan selamat.
Kedua, yang mengarah pada pandangan makhluk hidup dan makhluk berkesadaran di mana ia menjadi objek perhatian dan renungan. Maka segala sesuatu laksana kitab makrifat dan pengetahuan. Ia tidak meninggalkan alam ini—alam indrawi—kecuali setelah menanamkan sejumlah maknanya di benak makhluk berkesadaran, melekatkan gambarannya dalam ingatan mereka, serta kesan bentuknya dalam lembaran khayal yang ada pada catatan ilmu gaib. Artinya, ia tidak keluar dari alam indrawi menuju alam gaib, kecuali setelah masuk ke dalam banyak wilayah wujud dan mendapatkan bentuk wujud yang bersifat maknawi, gaib, dan ilmiah.
Ya, selama Allah ada dan selama ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, maka dalam dunia mukmin pada hakikatnya tidak ada istilah tiada, ketiadaan, kesia-siaan, lenyap, dan fana. Sebaliknya, dunia orang kafir penuh dengan ketiadaan, perpisahan, kesia-siaan, dan kefanaan. Hakikat ini diperjelas oleh ungkapan terkenal berikut ini:“Siapa yang memiliki Allah, ia memiliki segala sesuatu, sementara yang tidak memiliki Allah, ia tidak memiliki apa-apa”.
Kesimpulan: Sebagaimana iman menyelamatkan manusia dari kemusnahan abadi saat mati, ia juga menyelamatkan dunia pribadinya dari gelapnya ketiadaan dan kesia-siaan. Sebaliknya, kekufuran—terutama kekufuran mutlak—akan memusnahkan manusia, serta memusnahkan dunianya dengan kematian. Ia akan melemparkannya ke dalam kegelapan neraka maknawi dengan mengubah berbagai kenikmatan hidupnya menjadi derita dan petaka.Hendaknya telinga orang-orang yang lebih mencintai dunia ketimbang akhirat menyimak dan mencari obat untuknya jika mereka benar. Atau, hendaknya mereka masuk ke dalam wilayah iman dan membebaskan diri dari kerugian yang nyata.
Dari saudaramu yang mengharap doamu sekaligus merindukanmu:
Said Nursî
Catatan Kaki
- *Katika risalah ini ditulis. Sekarang sudah lebih dari 1400 tahun. ↑
- *Huruf mahmûsah (beraspirasi) maksudnya huruf yang titik artikulasinya sukar untuk menjadi sandaran. Ia terkumpul dalam kalimat , setengahnya berupa huruf. Dari huruf majhûrah (yang bersuara jelas) juga setengahnya di mana ia terkumpul pada kalimat. Lalu dari delapan huruf syadîdah (yang keras) yang terkumpul dalam kalimat disebutkan empat di antaranya dan seterusnya… (Tafsir al-Baidhâwi). ↑
- *Tanwin juga termasuk nûn (ن)—Penulis. ↑
- *Gaya bahasa ini telah memakai perhiasan makna surah tersebut—Penulis. ↑
- *Dalam ungkapan di atas terdapat isyarat tentang topik pembahasan kelima surah tersebut—Penulis. ↑
- *Maksudnya, setiap kata dari ayat al-Qur’an tersebut menyiratkan teguran dalam bentuk pertanyaan—Peny. ↑
- *Untuk zakat tanaman yang tidak mengeluarkan biaya—Peny. ↑
- *Untuk zakat emas atau uang kertas—Peny. ↑
- *“Al-Qur’an diturunkan dalam tujuh huruf” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi). Dalam riwayat lain disebutkan, “Setiap huruf darinya memiliki sisi lahir dan batin, serta setiap huruf memiliki batas dan setiap batas memiliki tangga”. ↑
- *Ada pepatah yang berbunyi, “Pembicaraan memiliki sejumlah dahan.” Maksudnya, sejumlah maksud dan tujuan. Ada pula yang mengatakan bahwa maksudnya adalah sebagian masuk kepada sebagian yang lain. Yakni, cabangnya saling terkait. ↑
- *Bahkan konsultasi di seputar ilmu al-Qur’an (Tafsir al-Adnawi) mencapai seratus dua puluh jilid. Ia ditulis selama dua belas tahun oleh Muhammad ibn Ali ibn Ahmad yang wafat tahun 388 H (Kasyf az-Zhunûn 1/441). ↑
- *Penyifatan surah dalam al-Qur’an dengan istilah “surah kecil” telah disebutkan oleh generasi salaf. Diriwayatkan dari Amr ibn Syu`aib, dari ayahnya, dari kakeknya, “Tak satupun surah kecil maupun besar dari al-Qur’an, kecuali aku pernah mendengar Rasulullah x membacanya saat mengimami jama’ah dalam salat fardhu”. (HR. Abu Daud dalam bab Salat 814, at-Thabrâni dalam al-Mu’jam al-Kabîr 12/365). ↑
- *Ayat-ayat itu memberitakan hal gaib. Ia telah dijelaskan dalam banyak buku tafsir. Ia tidak dijelaskan di sini karena penulis ingin mencetaknya dengan huruf lama (aksara Arab) sehingga terburu-buru dalam penulisannya. Untuk itu, khazanah yang berharga tersebut masih tertutup—Penulis. ↑
- *Paragraf ini merupakan bagian dari dakwaan yang pernah diadukan ke Pengadilan Tingkat Kasasi dan membuat mereka terdiam ketika dikemukakan. Di sini ia menjadi catatan kaki. Aku berkata kepada pihak Pengadilan Tingkat Banding (Pengadilan Tinggi) bahwa, “Menghukum orang yang menafsirkan undang-undang ilahi secara benar di mana undang-undang tersebut menjadi pegangan 350 juta umat Islam pada setiap masa di dalam kehidupan sosial mereka selama kurang lebih 1350 tahun. Selain itu, mufassir tersebut dalam menafsirkannya telah bersandar pada apa yang telah disepakati oleh 350 ribu mufassir serta berpegang pada akidah para pendahulu kita selama 1350 tahun. Kutegaskan bahwa menghukum mufassir tadi merupakan sebuah keputusan yang zalim dan harus ditolak oleh keadilan, jika keadilan itu memang masih ada di muka bumi.” (Penulis). ↑
- *Dengan sangat tegas, “Cahaya Kedua Puluh Empat” menjelaskan bahwa hijab merupakan fitrah wanita. Sebaliknya, melepas hijab bertentangan dengan fitrah tersebut—Penulis. ↑
- *Yaitu dua belas risalah yang terdapat dalam buku al-Matsnawi an-Nûri. ↑
- *Lihat: al-Alûsî, Rûh al-Ma`ânî 18/16. ↑
- *Dalam Tafsir Rûh al-Ma’ânî karya al-Alusi (14/15) disebutkan, “Kalau kata gantinya kembali kepada Nabi x seperti yang disebutkan oleh Abu al-Baqa dari sebagian mereka, maka ia berarti ‘beliau mendengar kalam kami dan melihat Dzat Kami’. Al-Jalbi berkata, “Maknanya bahwa hamba yang Kuberi penghormatan semacam itu memang layak atasnya. Sebab, beliau mendengar semua perintah dan larangan-Ku sekaligus mengamalkannya. Beliau juga melihat dengan pandangan ibrah terhadap makhluk-Ku sehingga dapat mengambil pelajaran. Atau, beliau melihat tanda-tanda kekuasaan yang Kuperlihatkan padanya”. Lihat juga Hâsyiyah al-Qanawi `alâ Tafsir al-Baidhâwi (4/224). ↑
- *Isyrâqiyyah adalah aliran yang memandang bahwa makrifat terwujud lewat kemunculan cahaya, sinar, dan limpahan kilau rasionalitas dengan penerangannya terhadap jiwa dalam kondisi suci. ↑
- *Seribu ayat tentang perintah seperti firman-Nya Z ‘Dirikanlah salat!’, seribu ayat tentang larangan seperti firman-Nya ‘Jangan dekati zina!’, seribu ayat tentang janji seperti firman-Nya ‘Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya berarti ia memperoleh kesuksesan besar’, seribu ayat tentang ancaman seperti firman-Nya ‘Siapa yang membunuh mukmin dengan sengaja balasannya adalah neraka jahannam’, seribu ayat tentang berita seperti firman-Nya ‘Ingatlah ketika Ibrahim berdoa, ‘Wahai Tuhan jadikan negeri ini aman’, seribu ayat tentang kisah, seperti kisah Yusuf berikut para saudaranya. Enam ratus ayat tentang hukum halal dan haram. Serta enam puluh enam ayat tentang nâsikh dan mansûkh. (Dikutip dari Tafsir Abda` al-Bayân li Jamî’i Ây al-Qur’ân karya Syekh Muhammad Badruddin al-Tillowi hal 3, Cet. Dâr an-Nil 1992. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Huzaimah dalam kitabnya, an-Nâsikh wa al-Mansûkh). ↑
- *Persoalan Kesepuluh dari “Sinar Kesebelas” (Risalah Buah Keimanan). ↑
- *Persoalan ini adalah “bunga” yang lembut dan cemerlang milik bulan mulia ini dan kota Emirdag. Ia dimasukkan sebagai bagian dari “buah” penjara Denizli dengan menempatkan sebagai persoalan kesepuluh. Dengan izin Allah, ia bisa melenyapkan racun ilusi dan keraguan yang disemburkan oleh kaum sesat atas fenomena pengulangan dalam al-Qur’an. Yaitu penjelasan tentang salah satu dari sekian banyak hikmahnya—Penulis. ↑
- *Syair tersebut karya Syarafuddin al-Bushairi dalam kasidah al Burdah:Terkadang mata mengingkari cahaya matahari karena sakit mata Lalu mulut mengingkari segarnya air karena sakit yang di derita. ↑
- *Maksudnya 12 tahun sebelum penulisan risalah ini—Peny. ↑