(Risalah Takdir)
“Tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya. Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.” (QS. Al-Hijr [15]: 21)“Segala sesuatu kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh mahfuzh).” (QS. Yasin [36]: 12)
Takdir Ilahi dan ikhtiar manusia adalah dua persoalan penting. Kita mencoba untuk menganalisa sebagian dari rahasia keduanya dalam empat bahasan yang berkaitan dengan takdir.
BAHASAN PERTAMA
Takdir dan ikhtiar adalah bagian dari iman yang bersifat keadaan dan perasaan di mana ia menjelaskan akhir batasan iman dan Islam. Keduanya bukan kajian ilmiah dan teoritis. Artinya, seorang mukmin menyerahkan segala sesuatu hanya kepada Allah, dan menyandarkan semua perkara hanya kepada-Nya. Ia senantiasa dalam kondisi seperti ini hingga mengembalikan aktivitas dan dirinya kepada Allah. Agar pada akhirnya ia tidak terlepas dari beban dan tanggungjawab, maka di hadapannya nampak ikhtiar (usaha) dengan berkata: “Engkau ber-tanggungjawab, engkau mempunyai kewajiban!” Kemudian agar tidak sombong dengan kebaikan-kebaikan dan amal saleh yang ia lakukan, takdir menghampirinya seraya berkata, “Lihatlah batas kemampuanmu, bukan engkau yang melakukannya!”
Ya, takdir dan ikhtiar berada pada tingkatan iman dan Islam yang paling tinggi. Keduanya masuk dalam pembahasan keimanan. Sebab, takdir menyelamatkan manusia dari sifat sombong, sedangkan ikhtiar menyelamatkannya dari perasaan bahwa ia tidak mempunyai tanggungjawab. Keduanya bukan termasuk kajian ilmiah dan teoritis yang mengantarkan pada hal-hal yang secara total bertentangan dengan rahasia takdir dan hikmah ikhtiar; dengan bergantung pada takdir agar terbebas dari tanggungjawab perilaku buruk yang telah dilakukan oleh nafsu ammârah, dan bangga terhadap amal-amal kebaikan yang telah dianugerahkan kepadanya serta terbuai dengannya seraya menisbatkannya pada ikhtiar dan upayanya.
Ya, kalangan awam, yang belum mencapai tingkat pemahaman terhadap rahasia takdir, memiliki sejumlah posisi atau porsi dalam mempergunakannya.
Hanya saja, porsi tersebut terbatas pada perkara-perkara masa lalu, khususnya musibah dan malapetaka di mana takdir menjadi pelipur lara dari keputusasaan dan kesedihan; bukan untuk urusan kemaksiatan atau masa yang akan datang di mana keberadaannya tidak untuk membantu melakukan dosa atau bermalas-malas dalam melaksanakan kewajiban (taklif).
Dengan kata lain, takdir bukan bertujuan untuk menghindar dari kewajiban dan tanggungjawab, akan tetapi untuk menyelamatkan manusia dari sikap bangga dan sombong. Oleh karena itu, ia termasuk dalam pembahasan iman. Adapun ikhtiar, ia termasuk dalam pembahasan akidah, guna menjadi sumber perbuatan maksiat; bukan sumber perbuatan baik dan terpuji yang bisa menggiring manusia pada sifat sombong dan melampaui batas.Ya, al-Qur’an menjelaskan bahwa manusia bertanggungjawab secara penuh atas segala dosa yang dilakukannya. Sebab, manusia itulah yang menghendaki perbuatan dosa. Karena dosa termasuk hal yang bersifat merusak, manusia bisa membuat kerusakan yang besar dengan satu dosa saja. Misalnya, membakar sebuah rumah dengan sebatang korek api. Karena itu, ia berhak mendapatkan hukuman yang berat.
Adapun dalam hal kebaikan, manusia tidak berhak untuk sombong dan bangga. Pasalnya, bagiannya dalam kebaikan sangatlah kecil karena rahmat Allah-lah yang menghendaki dan menuntut kebaikan tersebut. Qudrah Allah-lah yang telah menghadirkannya. Permintaan dan pemberian, sebab dan faktor pemicu, semuanya berasal dari Allah. Manusia bisa menjadi pemilik dari kebaikan tersebut dengan berdoa, beriman, sadar dan rida terhadapnya.
Adapun yang menghendaki dosa dan keburukan adalah nafsu manusia, baik dengan potensi maupun upayanya secara sengaja. Sama seperti sejumlah benda yang menjadi busuk dan hitam setelah terkena cahaya matahari yang indah berkilau. Warna hitam tersebut kembali kepada potensi materi tersebut. Hanya saja, Dzat yang telah menghadirkan keburukan tersebut lewat aturan ilahi yang mengandung banyak kemaslahatan adalah Allah. Artinya, sebabnya berasal dari nafsu atau diri manusia di mana ia bertanggungjawab atasnya, sementara proses penciptaan dan penghadirannya yang terkait dengan Allah indah dan baik, sebab memiliki sejumlah buah dan hasil yang indah pula.
Dari rahasia inilah dapat disimpulkan bahwa menciptakan keburukan bukanlah keburukan, akan tetapi melakukan keburukan adalah keburukan. Tidak pantas orang malas yang merasa dirugikan oleh hujan yang sebetulnya mengandung manfaat besar berkata, “Hujan bukanlah rahmat.” Sungguh dalam penciptaan terdapat banyak kebaikan walaupun di dalamnya ada sedikit keburukan. Meninggalkan kebaikan yang banyak untuk menghindari keburukan yang sedikit, tentu akan melahirkan keburukan yang besar. Oleh karena itu, keburukan parsial tadi dianggap sebagai kebaikan. Tidak ada bahaya dan keburukan dalam penciptaan yang Allah lakukan. Namun, keburukan itu kembali kepada perilaku dan potensi hamba.
Sebagaimana takdir Ilahi bersih dari keburukan dan kezaliman dilihat dari sisi hasil dan buah, iapun bersih dari keburukan dan kezaliman dilihat dari sisi illat dan sebab. Pasalnya, takdir Ilahi selalu melihat sebab hakiki sehingga adil. Sementara manusia membangun hukum mereka dari sebab-sebab lahiri yang mereka lihat. Karenanya, mereka dapat melakukan kezaliman dalam keadilan takdir itu sendiri.Misalnya, seorang hakim memvonismu penjara dengan tuduhan pencurian, padahal dirimu tidak melakukannya. Akan tetapi, engkau mempunyai kasus pembunuhan yang tersembunyi yang hanya diketahui oleh Allah. Takdir Ilahi menetapkanmu masuk penjara. Dia telah berlaku adil lantaran pembunuhan tersebut yang tak diketahui oleh orang lain. Sementara sang hakim telah berbuat zalim, sebab menghukummu masuk penjara dengan tuduhan pencurian sedangkan engkau tidak melakukannya.Begitulah, dalam satu perkara terdapat dua sisi: sisi keadilan takdir (penciptaan ilahi) dan sisi kezaliman manusia (perbuatan manusia). Demikian pula dengan perkara lainnya. Dengan kata lain, dilihat dari awal dan akhir, pokok dan cabang, serta sebab dan akibat, maka takdir dan penciptaan Ilahi bersih dari keburukan, kejelekan, dan kezaliman.
Barangkali ada yang bertanya, “Kalau ikhtiar manusia tidak mempunyai peran dalam penciptaan, serta yang berada di tangan manusia hanyalah perbuatan yang bersifat relatif, lalu mengapa al-Qur’an sangat mengeluhkan kemaksiatan yang dilakukan manusia kepada Pencipta langit dan bumi, sehingga seakan-akan al-Qur’an memosisikannya sebagai musuh yang durhaka. Bahkan, Allah mengirimkan pasukannya dari golongan malaikat untuk membantu hamba beriman dalam melawan orang yang durhaka. Lebih dari itu, Allah Sang Pencipta langit dan bumi yang secara langsung membantunya. Mengapa sampai demikian?”
Jawaban: Sebab, kekufuran, kedurhakaan, dan perbuatan dosa, semuanya merupakan bentuk perusakan dan ketiadaan (kenihilan). Satu hal yang bersifat relatif dan tiada bisa melahirkan berbagai kerusakan besar dan ketiadaan yang tak terbatas. Sebagaimana ketika seorang awak kapal besar tidak menunaikan tugasnya, hal itu akan membuat kapal tenggelam serta menghancurkan hasil karya seluruh pekerja yang lain. Demikian pula, dengan kekufuran dan kemaksiatan. Keduanya merupakan bentuk ketiadaan dan perusakan. Keduanya bisa digerakkan oleh ikhtiar manusia yang bersifat relatif sehingga menyebabkan akibat yang fatal. Pasalnya, meskipun hanya sebuah dosa, kekufuran adalah bentuk penghinaan terhadap seluruh alam karena menganggapnya percuma dan sia-sia, bentuk pengingkaran atas seluruh entitas yang menunjukkan keesaan-Nya, serta pendustaan terhadap semua manifestasi Asmaul Husna.
Karena itu, ancaman dan keluhan keras Allah atas nama seluruh alam, entitas, dan Asmaul Husna terhadap orang kafir merupakan bentuk hikmah yang tepat, serta penyiksaan-Nya dengan memberikan siksa abadi merupakan bentuk keadilan.Saat manusia berpihak kepada sisi penghancuran lewat kekufuran dan pembangkangannya, hal itu akan melahirkan kerusakan besar hanya lantaran sebuah perbuatan parsial. Karena itu, dalam menghadapi para perusak itu kalangan beriman membutuhkan pertolongan ilahi yang besar. Sebab, ketika sepuluh orang kuat berusaha menjaga dan membangun sebuah rumah, maka manakala ada seorang anak nakal yang berupaya membakar rumah tadi, hal itu sudah cukup membuat sepuluh orang di atas untuk pergi mengadu kepada orang tua anak tersebut. Bahkan, meminta tolong kepada penguasa. Karenanya, kaum beriman sangat membutuhkan pertolongan Tuhan agar tetap bisa bertahan melawan kaum pembangkang yang tidak beradab.
Kesimpulan: Dari penjelasan di atas, kita mengetahui bahwa jika orang yang berbicara tentang takdir dan ikhtiar memiliki iman yang sempurna dan hati yang tenang serta merasakan kehadiran Allah, pasti akan menyerahkan semua urusan alam dan juga dirinya kepada Allah. Ia percaya bahwa seluruh urusan berjalan di bawah kendali dan pengaturan Allah. Orang seperti itulah yang layak berbicara tentang takdir dan ikhtiar. Karena, ia mengetahui bahwa dirinya dan segala sesuatu berasal dari Allah. Maka, ia memikul tanggungjawab dengan merujuk kepada ikhtiar yang dipandang sebagai sumber perbuatan dosa. Dengan demikian, ia tetap menyucikan Tuhan, berada di bawah wilayah ubudiyah, serta tunduk dan menjalankan taklif ilahi. Ia melihat berbagai kebaikan dan kemuliaan yang bersumber darinya sebagai takdir agar tidak sombong sehingga bersyukur kepada Tuhan. Ia juga melihat sejumlah musibah yang menimpanya sebagai takdir sehingga bersabar.
Akan tetapi, jika yang berbicara tentang takdir dan ikhtiar adalah orang lalai, maka ia tidak layak membincangkan keduanya. Sebab, nafsu ammârah-nya—dengan dorongan kelalaian dan kesesatan—akan mengembalikan alam kepada sebab, sehingga menjadikan apa yang menjadi milik Allah untuk sebab. Ia melihat dirinya berkuasa penuh, mengembalikan seluruh perbuatan kepada diri sendiri dan menyandarkannya kepada sebab. Di sisi lain, ia membebani tanggungjawab dan segala kekurangan kepada takdir. Dalam kondisi demikian, pembahasan tentang takdir dan ikhtiar menjadi sia-sia; tidak memiliki landasan. Ia hanyalah tipu daya nafsu yang berusaha melepaskan diri dari tanggungjawab yang mana hal tersebut menafikan hikmah takdir dan ikhtiar.
BAHASAN KEDUA
Bahasan ini merupakan kajian ilmiah yang mendalam dan khusus untuk para ulama.(*1)
Jika engkau bertanya, “Bagaimana cara memadukan antara takdir dan ikhtiar?”
maka jawabannya adalah dengan tujuh cara:
Pertama:Dzat Yang Mahaadil dan Bijaksana yang hikmah dan keadilan-Nya disaksikan oleh seluruh alam lewat lisan keteraturan dan keseimbangan telah memberikan kepada manusia ikhtiar yang esensinya tidak diketahui guna menjadi sumber pahala dan hukuman. Sebagaimana Dzat Yang Mahabijak dan Adil memiliki banyak hikmah yang tidak kita ketahui, demikian pula kita tidak mengetahui cara memadukan takdir dan ikhtiar. Namun, ketidaktahuan kita terhadap cara memadukannya bukan berarti ia tidak ada.
Kedua:Setiap manusia menyadari bahwa dirinya memiliki kehendak dan ikhtiar. Ia mengetahui keberadaan ikhtiar tersebut secara naluriah. Pengetahuan tentang esensi sesuatu berbeda dengan pengetahuan tentang keberadaannya. Banyak hal yang wujudnya jelas bagi kita, namun esensinya tidak diketahui. Nah, ikhtiar parsial ini bisa masuk ke dalam kategori tersebut. Segala sesuatu tidak terbatas pada ruang lingkup wawasan kita. Ketidaktahuan kita tentangnya bukan berarti ia tidak ada.
Ketiga:Ikhtiar tidak berseberangan dengan takdir. Sebaliknya, takdir justru mendukung ikhtiar manusia. Sebab, takdir adalah bagian dari pengetahuan ilahi. Pengetahuan ilahi tersebut terpaut dengan ikhtiar kita. Karena itu, ia mendukung ikhtiar dan tidak membatalkannya.
Keempat:Takdir adalah bagian dari pengetahuan. Sementara pengetahuan mengikuti objeknya. Artinya, dalam kondisi apapun, objek pengetahuan tercakup dalam pengetahuan dan terpaut dengannya. Jadi, bukan objek pengetahuan yang mengikuti pengetahuan. Maksudnya, dilihat dari wujud eksternal, kaidah pengetahuan bukan landasan untuk menata objek pengetahuan, sebab objek pengetahuan dan wujud eksternal bersandar kepada iradah dan qudrah Tuhan.
Selanjutnya, zaman azali bukan pangkal dari rangkaian masa lalu sehingga dapat dijadikan sebagai landasan bagi keberadaan segala sesuatu. Namun zaman azali meliputi masa lalu, masa sekarang, dan masa mendatang sebagaimana langit meliputi bumi. Ia laksana cermin yang menatap dari arah atas. Karena itu, mengkhayalkan pangkal dan awal masa lalu bagi zaman yang membentang di wilayah makhluk lalu menyebutnya dengan nama azali, serta masuknya sejumlah hal secara berangsur ke dalam ilmu azali tersebut, dan membayangkan diri berada di luarnya, lalu atas dasar itu kita melakukan penilaian rasional sama sekali tidak benar.
Engkau bisa melihat contoh berikut untuk menyingkap rahasia di atas:Jika di tanganmu ada sebuah cermin, lalu jarak sebelah kanan cermin diumpamakan masa lalu dan sebelah kiri adalah masa depan, maka cermin itu hanya bisa memantulkan apa yang berada di hadapannya serta mencakup kedua sisi dengan tatanan tertentu di mana ia tidak bisa menyerap sebagian besarnya. Sebab, semakin rendah cermin itu semakin sedikit yang bisa dipantulkan. Sebaliknya, ketika diangkat maka wilayah yang berada di hadapannya meluas. Demikianlah, dengan naik secara perlahan-lahan, cermin bisa menyerap jarak antara kedua sisi secara bersamaan dalam satu waktu. Selain itu, tergambar pula dalam cermin tersebut semua kondisi yang terjadi di antara kedua jarak itu. Tentu saja, berbagai kondisi yang terjadi pada salah satunya tidak bisa disebut lebih dulu, lebih belakangan, sesuai, atau berlawanan dengan yang lain.
Begitulah, karena takdir ilahi termasuk pengetahuan azali, sementara pengetahuan azali berada pada kedudukan tinggi yang meliputi seluruh yang telah dan akan terjadi seperti ungkapan hadis Nabi, maka kita dan penilaian rasional kita tidak berada di luar pengetahuan tersebut sehingga kita tidak bisa membayangkan ia sebagai cermin yang berada di jarak masa lalu.
Kelima:Takdir berkaitan dengan sebab dan akibat secara bersamaan. Karena itu, kehendak Tuhan tidak terpaut dengan akibat dan sebab dalam dua waktu yang berbeda. Artinya, akibat ini akan terjadi dengan sebab tersebut. Karena itu, tidak bisa dikatakan bahwa selama kematian seseorang ditakdirkan pada waktu tertentu, maka apa dosa orang yang menembaknya dengan senapan lewat kehendak parsialnya?! Sebab, andaikan ia tidak menembak tentu orang tadi juga mati.
Pertanyaan: “Mengapa tidak bisa dikatakan demikian?”
Jawaban:Sebab, takdir telah menetapkan kematiannya dengan senapan tersebut. Jika engkau mengasumsikan kematiannya bukan karena ditembak, berarti engkau menganggap ketidakterkaitan takdir. Lalu, dari mana engkau bisa memastikan kematiannya?! Terkecuali engkau meninggalkan pendekatan Ahlu Sunnah lalu masuk ke dalam berbagai kelompok sesat yang menganggap adanya takdir bagi sebab dan takdir bagi akibat seperti kalangan Jabariyah. Atau, engkau mengingkari adanya takdir seperti kalangan Muktazilah. Adapun kita sebagai ahlul haq berpendapat bahwa andaikan ia tidak ditembak, maka kematian orang tersebut tidak kita ketahui. Sementara kalangan Jabariyah berpendapat bahwa andaikan ia tidak ditembak, ia tetap mati. Sedangkan kalangan Muktazilah berpendapat bahwa andaikan ia tidak ditembak, ia tidak mati.
Keenam:(*2)“Kecenderungan” yang merupakan inti landasan ikhtiar adalah persoalan yang bersifat maknawi menurut kalangan al-Mâturidiyah. Ia bisa berada di tangan hamba. Akan tetapi, bagi kalangan al-Asy’ariyah, kecenderungan tersebut benar-benar ada. Ia tidak berada di tangan hamba. Namun mereka berpendapat bahwa penggunaan kecenderungan tersebut merupakan persoalan yang bersifat maknawi di tangan hamba. Karena itu, kecenderungan dan penggunaannya merupakan dua hal yang bersifat maknawi. Keduanya tidak memiliki wujud lahiriah yang nyata. Sesuatu yang bersifat maknawi, keberadaannya tidak membutuhkan sebab sempurna yang menuntut adanya kebutuhan yang bisa meniadakan ikhtiar. Namun, ketika sebab dari sesuatu yang bersifat maknawi itu menempati sebuah posisi yang cukup kuat, keberadaannya bisa menjadi jelas dan bisa ditinggalkan. Ketika itulah al-Qur’an berkata kepadanya, “Ini buruk, jangan kau lakukan!”
Ya, andaikan manusia yang mencipta semua perbuatannya serta ia yang memiliki kemampuan untuk mencipta, tentu ikhtiar menjadi tiada. Sebab, seperti kaidah baku dalam ilmu ushul dan hikmah, “Sesuatu yang tidak wajib, tidak akan ada.” Artinya, sesuatu tidak berwujud selama wujudnya tidak wajib. Dengan kata lain, harus ada sebab sempurna terlebih dahulu, baru kemudian ia ada. Adapun sebab yang sempurna mengharuskan keberadaan akibat. Ketika itulah tidak ada ikhtiar.
Barangkali engkau berkata:“Memilih” tanpa sebab adalah mustahil. Sementara perbuatan manusia yang disebut sesuatu yang bersifat maknawi di mana kadang disertai usaha dan kadang tidak, menuntut adanya pilihan tanpa sebab jika sebab tersebut memang tidak ada. Ini menghancurkan salah satu prinsip ilmu kalam yang paling utama.”
Jawaban:“Mengutamakan” tanpa ada sebab adalah mustahil. Berbeda dengan “memilih” tanpa sebab adalah boleh dan nyata. Kehendak ilahi adalah salah satu sifat Allah. Ia melakukan perbuatan semacam itu (yakni pilihan Allah adalah sebab).
Barangkali engkau bertanya:“Selama yang menciptakan pembunuhan adalah Allah, lalu mengapa manusia disebut sebagai pembunuh?”
Jawaban:Sesuai kaidah ilmu sharaf (sintaksis), partisipel aktif (isim fâ`il) adalah kata bentukan dari nomina verbal (masdar = kata dasar) yang bersifat relatif. Ia tidak terbentuk dari (akibat) yang di- hasilkan lewat masdar yang jelas ada. Dalam hal ini, masdar adalah perbuatan kita. Dengan itu, kita menyandang gelar sebagai pelaku (pembunuh). Sementara yang dihasilkan lewat masdar (akibat) adalah ciptaan Allah. Tanggungjawab yang dipikul pelaku tidak diambil dari akibat.
Ketujuh:Kehendak dan ikhtiar parsial manusia sangat lemah dan bersifat relatif. Namun Allah sebagai Dzat Yang Mahabijak telah menjadikan kehendak yang parsial dan lemah tadi sebagai syarat bagi kehendak-Nya yang bersifat universal. Seolah-olah secara implisit Dia berkata, “Wahai hamba-Ku, jalan mana saja yang kau pilih untuk dilalui, Aku akan menggiringmu kepadanya. Karena itu, tanggungjawab ada padamu.” Sebagai contoh: suatu saat engkau menggendong seorang anak kecil yang lemah seraya memberikan pilihan kepadanya, “Ke mana saja engkau ingin pergi, aku akan membawamu kepadanya.” Lalu si anak kecil itu ingin naik ke atas gunung yang tinggi, dan engkau pun membawanya ke sana.
Hanya saja, ia kemudian sakit atau terjatuh. Ketika itu engkau pasti berkata kepadanya, “Engkau sendiri yang meminta!” Engkau pun memberi teguran dan peringatan keras kepadanya. Begitu pula Allah Dzat Yang Mahabijak. Dia menjadikan kehendak hamba-Nya yang lemah sebagai syarat lazim bagi kehendak-Nya yang bersifat universal.
Kesimpulan: Wahai manusia, engkau memiliki kehendak yang sangat lemah. Namun, ia sangat mampu berbuat buruk dan merusak, tapi lemah dalam berbuat baik. Kehendak inilah yang disebut dengan ikhtiar. Maka, persembahkan doa untuk salah satu dari kedua tangan kehendak itu, agar bisa menggapai surga yang merupakan buah dari rangkaian kebaikan dan bisa meraih kebahagiaan abadi yang merupakan salah satu bunganya. Lalu, persembahkan istigfar untuk tangan yang lain agar tangannya tak mampu melakukan keburukan dan tak dapat meraih buah pohon terlaknat; zaqqum neraka.
Dengan kata lain, doa dan tawakkal menopang kecenderungan yang positif dengan kekuatan besar, sebagaimana istigfar dan taubat memutus dan membatasi kecenderungan yang negatif.
BAHASAN KETIGA
Beriman kepada takdir termasuk salah satu rukun iman. Artinya, segala sesuatu terwujud dengan takdir Allah. Berbagai bukti yang menunjukkan takdir Allah sangat banyak; tak terhitung. Di sini, kami akan menjelaskan sejauh mana kekuatan dan keluasan rukun iman ini dalam bentuk sederhana dan jelas pada pendahuluan berikut.
Pendahuluan Segala sesuatu, sebelum dan sesudah keberadaannya, tertulis dalam satu kitab. Hal ini ditegaskan oleh al-Qur’an dalam banyak ayat. Di antaranya adalah: “Tidak ada yang basah dan yang kering kecuali terdapat dalam kitab yang nyata (lauhil mahfudz).” (QS. al-An’am [6]: 59).Ketentuan al-Qur’an tersebut dibenarkan oleh seluruh alam yang merupakan qur’an qudrah ilahi yang besar lewat ayat-ayat tatanan, keseimbangan, keteraturan, keistimewaan, pembentukan, penghiasan, dan berbagai ayat penciptaan lainnya.
Ya, tulisan kitab alam yang tertata dan keteraturan ayat-ayatnya menjadi saksi bahwa segala sesuatu tertulis.
Adapun dalil yang menunjukkan bahwa segala sesuatu tertulis dan ditentukan sebelum berwujud adalah seluruh permulaan, benih, ukuran, dan bentuknya. Semua itu menjadi saksi yang jujur atasnya. Pasalnya, benih tidak lain merupakan kotak kecil yang dibuat oleh pabrik kâf nûn (kun). Di dalamnya, takdir (qadar) merancang konsep atau desainnya, lalu berdasarkan konsep qadar itu qudrah ilahi membangun berbagai mukjizatnya yang agung pada benih-benih tadi dengan perantaraan partikel. Artinya, segala sesuatu yang akan terjadi pada pohon berikut berbagai fase yang dilaluinya telah tertulis dalam benihnya. Sebab, benih secara materi sangat sederhana dan serupa.
Kemudian ukuran yang tertata rapi untuk segala sesuatu menerangkan takdir secara jelas. Jika kita mencermati makhluk hidup, tentu akan diketahui bahwa ia memiliki sebuah bentuk dan ukuran, seakan-akan ia keluar dari satu cetakan yang penuh hikmah dan rapi di mana pemberian ukuran, bentuk, dan rupa tersebut bisa bersumber dari sebuah cetakan materi yang luar biasa atau qudrah ilahi mengurai bentuk dan rupa tadi, lalu memakaikannya dengan cetakan maknawi yang tersusun rapi yang berasal dari takdir.
Sekarang, perhatikanlah pohon dan binatang. Partikel yang tuli, buta, dan tak bernyawa di mana ia tidak memiliki perasaan dan saling serupa, bergerak dalam perkembangan segala sesuatu. Setelah itu, ia berhenti pada batas-batas tertentu layaknya orang yang mengetahui betul tentang manfaat dan buahnya. Lalu ia mengubah sejumlah posisinya seakan-akan ia mengarah kepada tujuan besar. Dengan kata lain, partikel tadi bergerak sesuai dengan ukuran maknawi yang datang dari takdir serta sesuai dengan urusan maknawi darinya.
Nah, selama manifestasi takdir terdapat pada sejumlah materi sampai pada tingkatan semacam itu, tentu berbagai kondisi yang terjadi, bentuk yang diberikan padanya, serta gerakan yang dilakukan sepanjang waktu, semuanya juga mengikuti tatanan takdir.Ya, dalam benih terdapat dua manifestasi takdir:
Pertama, manifestasi “aksiomatis” di mana ia menginformasikan dan mengarah kepada al-kitâb al-mubîn yang merupakan perlambang kehendak dan perintah penciptaan Ilahi.
Kedua, manifestasi “teoritis” dan rasional di mana ia menginformasikan dan mengarah kepada al-imâm al-mubîn yang merupakan perlambang perintah dan ilmu ilahi. Jadi, “takdir aksiomatis” berisi kondisi, cara, dan bentuk materi pohon yang dikandung oleh benih serta yang akan disaksikan nantinya.Sementara “takdir teoritis” adalah sejumlah kondisi, bentuk, dan gerakan sepanjang kehidupan pohon yang akan tercipta dari benih tadi di mana ia disebut dengan sejarah kehidupan pohon. Kondisi, bentuk, dan berbagai aktivitas tersebut selalu berubah-ubah. Namun ia memiliki ukuran yang sudah ditentukan dengan rapi seperti yang tampak pada ranting pohon dan daun-daunnya.
Jika takdir memiliki manifestasi semacam itu pada berbagai hal yang sederhana, ini berarti bahwa segala sesuatu sebelum penciptaan dan keberadaannya tertulis dalam sebuah kitab. Hal itu dapat dipahami dengan sedikit melakukan perenungan.
Adapun dalil bahwa sejarah kehidupan segala sesuatu—setelah berwujud dan tertulis—adalah semua buah yang menginformasikan keberadaan kitab mubîn dan imam mubîn, serta memori manusia yang menjelaskan keberadaan lauhil mahfûdz. Semuanya menjadi saksi yang jujur dan menjadi petunjuk atasnya. Ya, setiap buah telah dituliskan dalam benihnya—yang berposisi sebagai jantungnya—sejumlah ketentuan hidup pohon berikut masa depannya. Memori manusia—yang ukurannya sekecil benih—berisi sejarah kehidupannya dan berbagai peristiwa alam di masa lalu yang ditulis oleh tangan qudrah lewat pena qadar (takdir) secara sangat cermat. Ia laksana dokumen dan catatan kecil dari lembaran amal yang diberikan oleh qudrah ilahi kepada manusia serta diletakkan di satu sisi dari otaknya agar dengannya ia bisa mengingat saat hisab dilakukan serta agar ia yakin bahwa penciptaan kekacauan, kefanaan, dan kelenyapan merupakan cermin keabadian yang padanya Dzat Yang Mahakuasa dan Mahabijak menggoreskan esensi dari berbagai hal yang lenyap, serta merupakan lembaran-lembaran keabadian yang padanya Dzat Yang Maha Memelihara dan Mengetahui mencatat substansi dari segala hal yang fana.
Dari penjelasan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa ketika kehidupan tumbuhan tunduk pada aturan takdir meski ia merupakan kehidupan yang paling sederhana, maka kehidupan manusia yang berada pada tingkatan kehidupan yang paling tinggi, sudah pasti telah digariskan berikut semua cabang-cabangnya lewat ukuran takdir dan telah ditulis lewat pena takdir. Ya, sebagaimana tetesan air hujan menginformasikan keberadaan awan, percikan air menunjukkan adanya pancuran, dan dokumen menunjukkan adanya catatan besar. Demikian pula dengan buah, benih, dan beragam bentuk yang tampak jelas di hadapan kita. Ia berposisi sebagai percikan takdir aksiomatis (yaitu tatanan materi pada makhluk hidup), tetesan takdir teoritis (tatanan maknawi padanya), dan dokumennya di mana dengan sangat jelas menunjukkan keberadaan al-kitâb al-mubîn sebagai catatan kehendak dan perintah penciptaan, serta menunjukkan keberadaan lauhil mahfudz sebagai kitab ilmu ilahi yang disebut sebagai al-imâm al-mubîn.
Kesimpulan: selama kita melihat bahwa partikel setiap makhluk hidup, saat tumbuh berkembang, pergi menuju batas dan akhir yang ditetapkan lalu berhenti padanya di mana kemudian ia mengubah jalannya di akhir perkembangan tadi untuk menghasilkan sejumlah hikmah, manfaat, dan maslahat, maka jelas bahwa ukuran dan ketetapan lahiriah pada sesuatu tersebut telah digariskan dengan pena takdir.Demikianlah, takdir aksiomatis yang tampak juga menunjukkan batas-batas yang rapi dan membuahkan serta penghujung yang memberikan makna yang terdapat pada kondisi maknawiyah makhluk tersebut di mana ia digariskan lewat pena takdir. Jadi, qudrah Tuhan menjadi masdar (sosok yang menggaris), sementara qadar (takdir) adalah mistar (penggaris). Qudrah menggaris pada kitab tersebut sesuai dengan pola qadar untuk menunjukkan sejumlah makna.
Selama kita bisa memahami dengan benar bahwa batas, buah, dan akhir penuh hikmah yang digariskan hanya terwujud dengan pena takdir materi dan maknawi, maka berbagai kondisi dan fase yang dijalani oleh makhluk sepanjang hidup terwujud karena pena takdir tersebut.
Sebab, sejarah hidupnya berjalan sesuai dengan sebuah sistem dan tatanan yang rapi disertai perubahan bentuk yang dialaminya. Selama pena takdir mengendalikan seluruh makhluk, tentu sejarah kehidupan manusia—yang merupakan buah alam yang paling sempurna, khalifah di muka bumi, dan pengemban amanat besar—lebih tunduk pada rambu takdir daripada yang lain.
Barangkali ada yang bertanya, “Takdir telah membelenggu dan merampas kebebasan kita. Tidakkah engkau bisa melihat bahwa iman kepada takdir mendatangkan beban terhadap kalbu dan melahirkan kesempitan dalam jiwa, padahal keduanya menginginkan kelapangan?”
Jawaban:sama sekali tidak benar. Di samping tidak melahirkan kesempitan, ia justru memberikan keringanan tak bertepi, kelapangan tak terhingga, serta kesenangan dan cahaya yang dapat mewujudkan rasa aman, damai, dan tenteram. Sebab, jika manusia tidak beriman kepada takdir, tentu ia harus memikul beban seberat dunia pada jiwanya yang lemah dalam sebuah wilayah yang sempit dan kebebasan parsial yang terbatas. Pasalnya, manusia memiliki relasi dengan seluruh alam. Ia juga memiliki tujuan dan impian tak terhingga. Namun kekuatan, kehendak, dan kebebasannya tidak memadai untuk memenuhi satu saja dari impian dan tujuan tersebut. Dari sini, dapat dipahami beban maknawi yang dirasakan manusia saat tidak beriman kepada takdir. Betapa ia melahirkan ketakutan dan kecemasan.
Sementara iman kepada takdir mengantar manusia untuk meletakkan seluruh beban tadi ke perahu takdir sehingga membuatnya merasa lapang. Sebab, medan yang luas terbuka di hadapan ruh dan kalbu sehingga keduanya bisa berjalan di jalan kesempurnaannya secara sangat bebas. Hanya saja, iman ini memang akan membuat nafsu ammârah kehilangan kebebasan parsialnya. Ia juga menghancurkan egoisme dan kekuasaannya serta menghambat gerakannya yang bebas.
Ingatlah bahwa iman kepada takdir merupakan puncak kenikmatan dan kebahagiaan. Karena tidak mampu menjelaskan kenikmatan dan kebahagiaan tersebut, kami akan menunjukkannya dengan contoh berikut:
Ada dua orang yang sama-sama melakukan perjalanan menuju markas seorang penguasa besar. Mereka masuk ke dalam istana sang penguasa yang memiliki banyak keajaiban. Salah satu di antara mereka tidak mengenal sang penguasa dan ingin tinggal sejenak di istana seraya menjalani hidupnya dengan mencuri harta. Akan tetapi, proses penataan dan pengaturan taman dan istana tersebut, cara menjalankan sejumlah mesinnya, serta pemberian makanan kepada hewan-hewannya yang unik membuatnya selalu berada dalam kondisi gelisah dan risau sehingga taman indah yang menyerupai surga itu menjadi seperti neraka. Sebab, ia sedih dengan segala hal yang tak mampu ia lakukan. Maka ia menghabiskan waktunya dengan keluhan dan penyesalan. Akhirnya, iapun dilemparkan ke penjara sebagai hukuman atas sikap dan perilakunya yang buruk.Adapun orang yang kedua mengenal sang penguasa. Ia memosisikan dirinya sebagai tamu. Ia percaya bahwa semua pekerjaan di istana dan taman itu bisa dikendalikan dengan mudah lewat aturan yang rapi serta sesuai dengan program dan perencanaan yang ada. Ia pun menyerahkan seluruh kesulitan dan beban kepada hukum dan ketentuan penguasa. Dengan nyaman ia menikmati semua hal yang terdapat di taman hijau laksana surga itu. Ia melihat semuanya benar-benar indah seraya bersandar kepada kasih sayang penguasa dan bergantung kepada ketentuan tatanannya yang indah. Ia menghabiskan hidupnya dalam kenikmatan dan kebahagiaan yang sempurna. Dari sini engkau bisa memahami rahasia:“Siapa yang beriman kepada takdir, ia selamat dari kesedihan.”
BAHASAN KEEMPAT
Barangkali engkau bertanya,“Dalam bahasan pertama engkau telah menegaskan bahwa semua yang ada pada takdir adalah indah dan baik. Bahkan, keburukan yang datang darinya juga baik dan indah. Namun, musibah dan bencana yang turun ke dunia membantah pernyataan tersebut?”
Jawaban:Wahai diri dan wahai sahabatku yang tersiksa akibat besarnya kasih sayang yang kalian pikul. Ketahuilah bahwa wujud atau eksistensi merupakan kebaikan mutlak, sementara ketiadaan merupakan keburukan mutlak. Dalilnya adalah kembalinya seluruh kebaikan, kesempurnaan, dan keutamaan kepada alam wujud serta kondisi ketiadaan yang menjadi landasan dari semua kemaksiatan, musibah, dan cacat.Ketika ketiadaan merupakan keburukan mutlak, maka berbagai kondisi yang mengalir menuju ketiadaan atau beraroma tiada, juga mengandung keburukan. Karena itu, kehidupan yang merupakan cahaya wujud paling terang menjadi kuat lewat keadaannya yang berubah-ubah dalam kondisi yang beragam; menjadi bersih lewat keadaannya yang masuk ke dalam beragam kondisi; melahirkan berbagai buah yang diharapkan lewat kondisinya yang mengalami perubahan banyak bentuk; serta menerangkan secara jelas dan indah ukiran nama-nama Pemberi kehidupan lewat kondisinya yang bertransformasi dalam beragam fase.
Atas dasar itulah, berbagai kondisi dihamparkan kepada makhuk dalam bentuk kepedihan, musibah, kesulitan, dan bencana agar dengan berbagai kondisi itu cahaya wujud dalam kehidupan mereka menjadi terbaharui, dan sebaliknya gelap ketiadaan semakin jauh. Seketika hidup mereka bersih dan bening. Hal itu karena keterhentian, diam, kevakuman, kemalasan dan keadaan monoton, semuanya adalah ketiadaan dalam beragam bentuk dan kondisi. Bahkan, kenikmatan terbesar sekalipun menjadi berkurang dan lenyap dalam keadaan yang monoton.
Dari sana dapat disimpulkan bahwa selama kehidupan menjelaskan ukiran Asmaul Husna, maka semua yang menimpa kehidupan adalah indah dan baik.
Sebagai contoh: seorang desainer kaya dan mahir menugaskan seorang miskin untuk menjadi modelnya dalam satu jam dengan imbalan tertentu. Tujuannya untuk memperlihatkan kreasinya yang indah dan menampakkan aset-asetnya yang bernilai. Ia memakaikan kepadanya busana yang ia buat dari kain baru dalam bentuk yang sangat indah. Ia menyuruhnya melakukan sejumlah gerakan dan memperlihatkan berbagai kondisi guna menampilkan berbagai kreasi dan keahliannya yang luar biasa. Ia memotong, mengganti, memanjangkan, memendekkan dan seterusnya.Menurutmu, layakkah orang miskin upahan itu berkata kepada sang desainer, “Engkau membuatku penat dan lelah dengan menyuruhku untuk membungkuk di satu waktu dan berdiri tegak di lain kesempatan. Engkau merusak baju yang menghiasiku ini dengan tindakanmu memotong dan menggunting.” Kira-kira layakkah ia berkata padanya, “Engkau telah berbuat aniaya dan tidak adil”
Demikian pula dengan Sang Pencipta Yang Mahaagung dan Mahaindah. Dia mengganti busana wujud berupa sejumlah perangkat halus dan indra seperti mata, telinga, akal, kalbu yang Dia pakaikan kepada makhluk hidup serta mengubahnya dalam berbagai kondisi. Dia mengganti dan membolak-balikkannya untuk memperlihatkan goresan Asmaul Husna.
PENUTUP
Lima bagian berikut ini membungkam nafsu ammârah milik “Said Lama”. Ia adalah nafsu yang bodoh, membanggakan diri, sombong, riya, dan ujub.
Bagian Pertama Selama segala sesuatu ada dan tercipta dengan rapi, tentu ada Penciptanya. Kami telah menegaskan dalam “Kalimat Kedua Puluh Dua” secara sangat jelas bahwa jika segala sesuatu tidak dinisbatkan kepada Dzat Yang Mahaesa, maka segala sesuatu menjadi sulit sesulit seluruhnya. Namun jika segala sesuatu dinisbatkan kepada Dzat Yang Mahaesa, ia akan menjadi mudah semudah sesuatu.Nah, karena yang menciptakan langit dan bumi adalah Dzat Yang Mahaesa, sudah pasti Sang Pencipta Yang Mahabijak itu tidak memberikan buah bumi dan langit berikut hasil dan tujuannya—yaitu makhluk hidup—kepada selain-Nya sehingga merusak segalanya. Tidak mungkin Dia menyerahkannya pada tangan-tangan lain sehingga seluruh karya-Nya yang penuh hikmah menjadi sia-sia. Serta tidak mungkin Dia menghancurkannya. Dia juga tidak akan menyerahkan syukur dan ibadahnya kepada yang lain.
Bagian Kedua Wahai diriku yang sombong! Engkau seperti tangkai anggur. Janganlah merasa bangga. Tangkai itu tidak menggantungkan rantingnya sendiri. Namun yang menggantungkannya adalah pihak lain.
Bagian Ketiga Wahai diriku yang riya! Jangan terpedaya dengan berkata, “Aku telah mengabdi pada agama.” Sebab, hadis Nabi dengan jelas mengatakan bahwa اِنَّ اللّٰهَ لَيُؤَيِّدُ هٰذَا الدّٖينَ بِالرَّجُلِ ال۟فَاجِرِ ‘Allah bisa saja menolong agama ini dengan seorang pendosa’.(*3)Maka, engkau harus menganggap dirimu sebagai orang tersebut, sebab dirimu tidak suci. Ketahuilah bahwa pengabdianmu terhadap agama dan ibadahmu hanyalah wujud syukur atas nikmat yang telah Allah berikan padamu. Ia adalah bentuk penunaian tugas fitrah, kewajiban penciptaan, serta hasil kreasi ilahi. Ketahuilah hal ini dengan baik serta selamatkan dirimu dari rasa ujub dan riya.
Bagian Keempat Jika engkau ingin mendapat ilmu hakikat dan hikmah yang benar, maka gapailah makrifatullah. Sebab, seluruh hakikat entitas hanyalah kilau nama Allah al-Haq, wujud nama-nama-Nya yang mulia, serta manifestasi sifat-sifat-Nya yang agung. Ketahuilah bahwa hakikat segala sesuatu, baik yang bersifat materi atau maknawi, esensial ataupun non-esensial, serta hakikat manusia sendiri tidak lain bersandar kepada salah satu cahaya-Nya dan berpusat pada hakikat-Nya. Jika tidak, pasti ia merupakan bentuk yang tidak signifikan dan tidak memiliki hakikat. Dalam penutup “Kalimat Kedua Puluh”, kami telah menyebutkan sebagian dari masalah ini.
Wahai diriku! Jika engkau merindukan dunia serta lari dari kematian, maka ketahuilah dengan yakin bahwa apa yang kau anggap sebagai kehidupan hanyalah satu menit yang kau lewati. Adapun zaman dan segala hal duniawi yang sebelum itu sudah mati, serta zaman dan segala hal di dalamnya sesudah itu bersifat tiada. Artinya, kehidupan fana yang kau banggakan hanyalah satu menit. Bahkan sebagian ahli peneliti berkata, “Kehidupan hanya sepersekian menit saja, dan bahkan ia waktu yang cepat berlalu. Dari sini, sebagian wali dan orang saleh menganggap dunia dilihat dari kedudukannya sebagai dunia adalah tidak ada.
Jika demikian, tinggalkan kehidupan materi yang berhias nafsu ini. Naiklah menuju tingkatan kehidupan kalbu, ruh, dan jiwa. Lihatlah betapa wilayah kehidupannya lebih luas. Masa lalu dan masa depan yang mati bagimu, hidup dan ada baginya.Wahai diri! Jika demikian keadaannya, menangislah sebagaimana kalbuku menangis. Minta tolonglah dengan berkata:
Aku fana. Aku tidak menginginkan yang fana. Aku lemah. Aku tidak menginginkan yang lemah.Kuserahkan ruhku kepada ar-Rahman. Aku tidak ingin selain-Nya. Yang kuinginkan Kekasih abadi.Aku hanyalah partikel. Namun aku menginginkan matahari yang kekal. Aku bukan apa-apa. Namun aku menginginkan seluruh entitas.
Bagian Kelima Bagian ini terlintas dalam bahasa Arab dan kutulis sebagaimana adanya. Ia merupakan petunjuk tentang salah satu dari tiga puluh tiga tingkatan dalam zikir “Allâhu Akbar.”
Allâhu Akbar. Sebab, Dialah Mahakuasa Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, Maha Pemurah, Maha Penyayang, Mahaindah, Maha Mengukir, dan azali di mana hakikat alam, baik semuanya maupun sebagiannya, lembaran maupun sejumlah tingkatannya, serta hakikat entitas yang bersifat universal, parsial, eksis dan abadi tidak lain merupakan goresan “pena” ketentuan, takdir, dan ketetapan-Nya dengan berlandaskan ilmu dan hikmah; ukiran “jangka” ilmu, hikmah, lukisan, dan penataan-Nya lewat kreasi dan perhatian; hiasan “tangan putih” kreasi, perhatian, dekorasi, dan penerangan-Nya dengan lembut dan pemurah; bunga halus kelembutan, kemurahan, cinta, dan perkenalan-Nya lewat kasih sayang dan nikmat-Nya; buah rahmat, karunia, kasih sayang, dan cinta-Nya yang berlimpah lewat keindahan dan kesempurnaan-Nya; kilau dan manifestasi keindahan dan kesempurnaan-Nya lewat bukti kefanaan cermin dan lenyapnya wujud lahiri di mana keindahan-Nya yang kekal, yang terus tampak sepanjang musim, masa, dan zaman, serta yang terus memberi sepanjang generasi, hari, dan tahun tetap abadi.
Ya, jejak yang sempurna memberikan petunjuk kepada orang berakal akan adanya perbuatan yang sempurna. Lalu perbuatan yang sempurna memberi petunjuk kepada orang yang paham akan nama yang sempurna. Lalu nama yang sempurna memberi petunjuk secara jelas tentang sifat yang sempurna. Kemudian sifat yang sempurna memberi petunjuk tentang potensi yang sempurna. Lalu potensi yang sempurna memberi petunjuk secara pasti tentang kesempurnaan Dzat-Nya yang layak untuk-Nya di mana ia bersifat haqqul yaqin.Ya, kefanaan cermin, kepergian entitas, disertai manifestasi yang permanen dan limpahan karunia yang terus tercurah menjadi salah satu kenyataan yang paling jelas yang menunjukkan bahwa keindahan lahiriah bukan milik makhluk. Ia menjadi penjelasan paling fasih serta bukti yang paling jelas bagi keindahan mutlak dan kebaikan Sang Wâjibul wujûd; Dzat yang Mahakekal dan Mahakasih.Ya Allah, limpahkan salawat dan salam untuk junjungan kami, Muhammad x, dari azali hingga abadi, sebanyak apa yang terdapat dalam pengetahuan Allah, serta untuk keluarga dan sahabat beliau.
LAMPIRAN
Lampiran yang sangat singkat ini sangat penting dan bermanfaat untuk semua
Untuk sampai kepada Allah ada banyak jalan. Sumber seluruh jalan yang benar adalah al-Qur’an al-Karim. Hanya saja, dari semua jalan tersebut ada jalan-jalan yang lebih singkat, lebih selamat, dan lebih luas. Meski pemahamanku terbatas, aku telah mengambil dari limpahan karunia al-Qur’an sebuah jalan. Yaitu: jalan ketidakberdayaan, kefakiran, kasih sayang, dan tafakkur.
Ya, sama seperti kerinduan, ketidakberdayaan merupakan jalan yang bisa mengantar menuju Allah. Bahkan ia lebih selamat. Pasalnya, ia mengantarkan kepada cinta-Nya lewat jalan ubudiyah.
Begitupun kefakiran bisa mengantar menuju nama Allah, ar-Rahman.
Sama seperti kerinduan, kasih sayang bisa mengantar menuju Allah. Hanya saja, perjalanannya lebih cepat dan cakupannya lebih luas. Kasih sayang bisa mengantar pada nama Allah, ar-Rahîm.
Tafakkur juga sama seperti kerinduan. Hanya saja, ia lebih kaya dan lebih bersinar. Pasalnya, ia mengantar kepada nama Allah, al- Hakîm.
Jalan ini berbeda dari jalan yang dilalui oleh ahli suluk pada jalan khafâ’ yang memiliki sepuluh langkah (seperti sepuluh latîfah) dan jalan jahr yang memiliki tujuh langkah sesuai dengan tujuh jenis nafsu. Sementara jalan ini hanya berupa empat langkah saja. Ia lebih kepada hakikat syar’i daripada tarekat sufi . Jangan sampai kalian salah paham. Yang dimaksud dengan ketidakberdayaan, kefakiran, dan ketidaksempurnaan di sini adalah menampilkan itu semua di hadapan Allah ﷻ; bukan di hadapan manusia.
Adapun wirid dan zikir jalan yang singkat ini adalah (1) mengikuti sunnah Nabi x (2) menunaikan kewajiban, terutama mendirikan salat dengan rukun-rukunnya, (3) membaca zikir sesudah salat, dan (4) meninggalkan dosa besar. Sumber dari semua langkah ini adalah al-Qur’an. Yaitu:
1.Firman Allah:“Jangan menganggap diri kalian suci…” (QS. an-Najm [53]: 32).Ayat ini mengarah kepada langkah pertama.
2.Firman Allah:“Jangan kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah sehingga Allah membuat mereka lupa kepada diri mereka sendiri...” (QS. al-Hasyr [59]: 19). Ayat ini mengarah kepada langkah kedua.
3.Firman Allah:“Kebaikan yang kau terima berasal dari Allah, sementara keburukan yang kau terima berasal dari dirimu...” (QS. an-Nisa [4]: 79). Ayat ini mengarah kepada langkah ketiga.
4.Firman Allah:“Segala sesuatu binasa kecuali Dzat-Nya.” (QS. al-Qashash [28]: 88). Ayat ini mengarah kepada langkah keempat.
Penjelasan ringkas mengenai keempat langkah tersebut sebagai berikut:
Langkah Pertama Ia seperti yang disebutkan oleh ayat:“Jangan menganggap diri kalian suci.”Yaitu tidak merasa diri sudah bersih dan suci. Hal itu karena sesuai watak dan fitrahnya, manusia mencintai dirinya sendiri. Bahkan itulah yang pertama kali ia cintai. Ia rela mengorbankan segala sesuatu untuk dirinya. Ia berikan pada dirinya pujian yang hanya layak untuk Tuhan. Ia kultuskan dirinya dan ia bebaskan dari segala aib. Bahkan ia tidak menerima adanya kekurangan untuk dirinya. Ia sangat membela dirinya dengan sangat kuat lewat kecintaan yang berlebihan. Sehingga sejumlah perangkat yang Allah berikan untuk bertahmid dan menyucikan Dzat yang layak disembah, ia alihkan kepada dirinya. Akhirnya ia seperti yang digambarkan oleh al-Qur’an, “Orang yang menuhankan hawa nafsunya.” (QS. al-Furqan [25]: 43).
Ia kagum pada dirinya. Karenanya, hal tersebut perlu dibersihkan dan disucikan. Cara menyucikannya adalah dengan tidak menganggapnya suci.
Langkah Kedua Ia seperti pelajaran yang diberikan oleh ayat:“Jangan kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah sehingga Allah membuat mereka lupa kepada diri mereka sendiri.”Hal itu karena manusia kerap lupa dan lalai kepada dirinya. Ketika ingat mati, ia mengalihkannya kepada yang lain. Ketika melihat kondisi fana, ia mengembalikannya kepada orang lain. Seolah-olah itu tidak terkait dengannya sama sekali. Pasalnya, sesuai tuntutannya, nafsu ammârah mengingat dirinya saat pengambilan upah dan bagian, namun di sisi lain melupakan dirinya saat penunaian tugas dan beramal.
Maka, cara membersihkan dan mentarbiyah nafsu pada langkah ini adalah dengan mengamalkan kondisi sebaliknya. Yaitu tidak lupa di saat lupa diri. Dengan kata lain, lupa meraih kesenangan dan upah untuk diri, serta memikirkan diri saat pengabdian dan kematian.
Langkah Ketiga Ia seperti yang dijelaskan oleh ayat: “Kebaikan yang kau terima berasal dari Allah, sementara keburukan yang kau terima berasal dari dirimu.” Hal itu karena nafsu manusia selalu ingin menisbatkan kebaikan kepada dirinya sehingga mengantarkan kepada sikap ujub dan sombong. Maka, pada langkah ini seseorang hendaknya hanya melihat kekurangan, ketidakberdayaan, dan kefakiran dirinya, serta melihat semua kebaikan dan kesempurnaannya sebagai karunia Penciptanya Yang Mahaagung. Ia terima hal itu sebagai karunia dari-Nya seraya bersyukur sebagai ganti dari sikap bangga diri, dan memuji Allah ﷻ sebagai ganti dari memuji diri.
Cara menyucikan diri di tingkatan ini terdapat pada rahasia ayat, “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya.” (QS. asy-Syams [91]: 9). Yaitu mengetahui bahwa kesempurnaannya terletak pada ketidaksempurnaannya, kemampuannya terletak pada ketidakberdayaannya, dan kekayaannya terletak pada kefakirannya.
Langkah KeempatIa adalah apa yang diajarkan oleh ayat:“Segala sesuatu binasa kecuali Dzat-Nya.” Hal itu karena diri manusia merasa merdeka dan mandiri. Karenanya, ia menganggap memiliki semacam kekuasaan rububiyah dan menyimpan sifat pembangkangan terhadap Dzat yang layak disembah. Dengan mengenal hakikat berikut ini, manusia akan selamat darinya.
Yaitu dari sisi makna ismi segala sesuatu bersifat fana, baru, dan tiada. Namun dilihat dari makna harfi dan kedudukannya sebagai cermin yang memantulkan nama-nama Sang Pencipta serta dilihat dari tugas dan fungsinya, ia menjadi saksi dan yang disaksikan, serta menjadi pengada dan yang diadakan.
Nah dalam hal ini, cara menyucikannya adalah dengan mengetahui bahwa ketiadaannya terletak pada keberadaannya, dan keberadaannya terletak pada ketiadaannya. Maksudnya, bila melihat dirinya dan memberikan sifat ada pada wujudnya, berarti ia tenggelam dalam gelap ketiadaan seluas jagat raya. Yaitu ketika ia lalai terhadap Dzat yang menghadirkannya, Allah, dan bersandar pada wujudnya sendiri, maka ia melihat dirinya sendirian tenggelam dalam gelapnya perpisahan dan ketiadaan yang tak bertepi laksana kunang-kunang dalam cahayanya yang redup di gelap malam yang pekat. Akan tetapi, ketika ia meninggalkan sikap ego, ia akan melihat dirinya sebagai sesuatu yang tiada. Ia hanya cermin yang memantulkan manifestasi Penciptanya yang hakiki. Dengan begitu, ia mendapatkan wujud tak bertepi dan meraih wujud seluruh makhluk.Ya, siapa yang menemukan Allah, maka ia menemukan segala sesuatu. Sebab, seluruh entitas hanyalah manifestasi dari nama-nama-Nya yang mulia.
Penutup
Jalan yang terdiri dari empat langkah ini: ketidakberdayaan, kefakiran, kasih sayang, dan tafakkur telah dijelaskan pada dua puluh enam kalimat dari kitab al-Kalimât yang membahas tentang ilmu hakikat, hakikat syariat, dan hikmah al-Qur’an al-Karim. Di sini kami hanya ingin memberikan penjelasan singkat tentang beberapa poin sebagai berikut:
Jalan ini merupakan jalan yang paling singkat. Pasalnya, ia hanya terdiri dari empat langkah. Bila ketidakberdayaan tertanam dalam diri, ia akan segera diserahkan kepada al-Qadîr Yang Mahaagung. Namun bila kerinduan yang menguasai diri—sebagai jalan yang paling pintas menuju Allah—ia akan bergantung pada kekasih majasi. Ketika ia melihatnya pergi, barulah sampai pada kekasih hakiki.
Kemudian jalan ini juga paling selamat. Karena, padanya diri tidak memiliki syatahât atau klaim di luar kemampuan. Sebab, yang dilihat seseorang pada dirinya hanya ketidakberdayaan, kefakiran, dan ketidaksempurnaan, sehingga tidak melampaui batas.
Lalu jalan ini juga bersifat luas dan besar. Pasalnya, ia tidak perlu menafikan entitas dan tidak perlu memenjarakannya di mana penganut wahdatul wujud menganggap entitas tiada. Mereka berkata, “Yang ada hanyalah Dia,” untuk mencapai ketenangan dan kehadiran hati. Begitu pula dengan penganut wahdatusy syuhûd. Mereka memenjarakan entitas dalam penjara kealpaan. Mereka berkata, “Yang terlihat hanyalah Dia,” untuk sampai kepada ketenangan kalbu.Adapun al-Qur’an, dengan sangat jelas, menjauhkan entitas dan makhluk dari penafian serta melepaskan ikatannya dari penjara. Jalan yang sesuai dengan pendekatan al-Qur’an ini melihat alam sebagai sesuatu yang tunduk pada Penciptanya Yang Mahaagung sekaligus berkhidmah untuk-Nya. Ia merupakan wujud manifestasi Asmaul Husna laksana cermin yang memantulkan manifestasi tadi. Artinya, ia dipergunakan dengan makna harfi sehingga tidak berkhidmah dan tunduk dengan sendirinya. Dengan demikian, manusia akan selamat dari kelalaian dan kalbunya selalu hadir sesuai dengan pendekatan al- Qur’an al-Karim. Ia pun menemukan jalan menuju Allah dari segala arah.
Kesimpulan Jalan ini tidak melihat entitas dengan makna ismi. Yakni, tidak melihatnya sebagai pesuruh yang tunduk dengan sendirinya untuk dirinya. Namun, ia membebaskan entitas dari semua itu, dan mempersandangkan untuknya sebuah tugas, serta melihatnya sebagai pesuruh yang tunduk kepada Allah.
Catatan Kaki
- *Bahasan kedua ini berisi persoalan takdir yang lebih dalam dan lebih rumit. Ia merupakan persoalan akidah dalam ilmu kalam di mana sangat penting dan diperdebatkan oleh para ulama. Risalah Nur telah menjelaskannya secara sempurna—Penulis. ↑
- *Sebuah hakikat yang khusus untuk pakar ulama—Penulis. ↑
- *HR. al-Bukhari, al-Jihâd 182. ↑