Risale-i Nur Külliyatı [email protected]

Risalah Kesepuluh

1 dilihat
375

Bagian Ketiga

Semerbak hembusan Petunjuk Alquran

{(Catatan-252): Maksudnya, niat untuk rendah hati dengan cara dibuat-buat dan dengan perasaan sekunder merusak rendah hati alamiah. Demikian pula dengan niat untuk takabbur dengan perasaan sekunder menghilangkan kemuliaan dan harga diri yang bersifat fitri.}

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang

Semoga Allah mencurahkan taufik-Nya menuju jalan yang benar

Mahasuci Engkau wahai Zat yang membuat langit bertahmid dan bertasbih kepada-Nya lewat untaian kata bintang dan sejumlah planet.

Wahai Zat yang membuat bumi bertahmid dan bertasbih dengan untaian kata pepohonan dan tumbuhan.

Wahai Zat yang membuat tumbuhan dan pepohonan bertutur dengan untaian kata bunga dan buah.

Wahai Zat yang membuat bunga dan buah bertutur dengan untaian kata benih.

Wahai Zat yang bertutur dengan lisan bulir dan untaian kata biji.

376

Mahasuci Engkau Zat yang cahaya bertasbih memuji-Mu dengan sinarnya, udara dengan hembusannya, air dengan sungainya, bumi dengan bebatuannya, tumbuhan dengan bunganya, pepohonan dengan buahnya, angkasa dengan burungnya, awan dengan hujannya, serta langit dengan bulannya.

Salawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Muhammad saw, lentera para nabi, bulan bagi orang-orang mulia, cahaya para wali, mentari bagi jin dan manusia, serta sinar bagi Timur dan Barat. Demikian pula kepada keluarganya yang merupakan bintang petunjuk, dan para sahabat sebagai lampu dalam kegelapan.

Ketahuilah wahai yang akalnya tidak mampu memahami rahasia, "Kami jadikan ia (bintang) sebagai alat pelempar setan."

{(Catatan-253): Q.S. al-Mulk: 5.}

Untuk menaiki langit ayat di atas terdapat sejumlah tangga yang memiliki tujuh tingkat:

Pertama, di langit terdapat penghuni yang sesuai dengannya yang bernama malaikat. Pasalnya dipenuhinya bumi yang demikian rendahan jika dibandingkan dengan langit oleh makhluk hidup yang memiliki pengetahuan hal itu menunjukkan bahwa langit yang memiliki sejumlah gugusan juga dipenuhi oleh makhluk yang memiliki pengetahuan.

Di samping itu, alam yang dihiasi dengan semua hiasan, dekorasi, dan ukiran menunjukkan keberadaan penglihatan makhluk yang berpikir, yang bisa mengapresiasi, dan memberikan penghargaan. Sebab, keindahan hanya bisa diketahui oleh orang yang mencintainya sebagaimana makanan hanya diberikan kepada orang yang lapar. Hanya saja, jin dan manusia tidak cukup untuk melakukan sepersekian dari tugas dan fungsi tersebut. Namun ia hanya bisa dilakukan oleh malaikat dan makhluk lain yang jumlahnya tak terhingga.

Kedua, bumi memiliki kaitan, korelasi, dan hubungan dengan langit seperti terkait dengan pencahayaan, suhu panas, dan yang lainnya. Karena itu, dari sini kita mengetahui bahwa penduduk bumi memiliki jalan untuk naik ke langit jika mereka

377

ringan dengan meletakkan segala beban mereka dan melepas jasad mereka sebagaimana dilakukan oleh para nabi, wali, dan jiwa yang lainnya.

Ketiga, diam dan teraturnya langit menunjukkan bahwa penghuninya bukan penghuni bumi yang di dalamnya terjadi kegoncangan, kebimbangan, perselisihan, dan ujian konflik lantaran kaum jahat bercampur dengan kaum yang baik serta semua yang berlawanan berkumpul. Sebaliknya, seluruh penduduk langit taat dan mengerjakan apa yang diperintahkan.

Keempat, Penguasa hari kemudian dan Tuhan Pemelihara semesta alam memiliki sejumlah nama yang hukum-hukumnya berbeda. Nama yang menuntut pengutusan malaikat untuk ikut berperang dalam barisan sahabat ketika melawan kaum kafir mengharuskan terjadinya perang antara malaikat dan setan. Yakni, penghuni langit yang baik melawan penduduk bumi yang jahat. Tidakkah engkau melihat bagaimana Sang Penguasa berbuat?! Kekuasaan dan kemurahan-Nya menuntut untuk memperlihatkan kelayakan mendapat upah dan ganjaran di hadapan sejumlah saksi atau memuliakan sejumlah pelayan-Nya. Yaitu dengan cara di mana Dia tidak memperlakukan mereka hanya berdasarkan ilmu-Nya tentang mereka. Namun, Dia memerintahkan sang menteri untuk mengumpulkan manusia menuju medan pertunjukan, ujian tingkat tinggi, dan sambutan politis.

Kelima, makhluk halus yang jahat pasti mengikuti yang baik dalam pergi menuju kerajaan langit karena halusnya kondisi mereka, sementara penghuni langit pasti tidak menerimanya. Sebagai hikmah rububiyah Tuhan, hubungan penting ini sudah pasti menjadi petunjuk dan isyarat di alam nyata guna memperlihatkan kepada manusia yang tugas utamanya menyaksikan dan bersaksi. Meskipun, ia tidak melihat pelemparan meteor yang laksana meriam yang dilemparkan dari pucak benteng yang tinggi di langit. Juga, meskipun ia tidak melihat hikmah yang sesuai terkait dengannya selain hikmah yang terkenal dan disaksikan oleh semua ahli hakikat tersebut; berbeda dengan kejadian yang lain.

Keenam, Alquran al-Hakim yang merupakan mukjizat

378

membimbing manusia dan mengancam mereka untuk tidak membangkang dengan cara istimewa dan dengan perumpamaan yang mulia. Lihatlah peringatan-Nya yang berbunyi,

Wahai kalangan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah! Kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.

{(Catatan-254): Q.S. ar-Rahman: 33.}

Ayat di atas dimaksudkan untuk menunjukkan dan memperlihatkan jin dan manusia di hadapan luasnya kekuasaan Tuhan. Seolah-olah Dia berkata, "Wahai manusia yang hina, kecil, dan lemah! Bagaimana engkau menentang kekuasaan yang dipatuhi oleh semua mentari, bulan, bintang, dan malaikat yang melempar setan dengan peluru seolah-olah mereka adalah gunung atau lebih besar darinya. Mengapa engkau berani membangkang dalam kerajaan-Nya. Di antara pasukannya ada yang mampu melempar wajah musuh dengan bintang di bumi kalian yang besar sebagaimana engkau melempar peluru."

Ketujuh, bintang laksana malaikat dan ikan. Ia memiliki anggota yang sangat kecil dan sangat besar. Semua yang bersinar di langit adalah bintang. Darinya ada yang berfungsi untuk memperindah langit seperti permata, buah, dan ikan.

{(Catatan-255): Maksudnya, jumlah bintang yang demikian banyak menghias langit dan bersinar seperti permata. Hal itu seperti buah menghiasi kebun yang rimbun dan ikan yang menghiasi lautan.}

Adapula yang ditujukan untuk melempar setan laksana meriam yang dilempar untuk mengusir musuh. Atau, ada yang ditujukan untuk menunjukkan perjalanan hukum kompetisi dan pertarungan di wilayah yang paling luas. Allahlah Pemilih argumen yang kuat dan hikmah yang jelas.

Ketahuilah! Ayat-ayat yang menegaskan penulisan sesuatu entah sebelum dan sesudah keberadaannya sangat banyak. Misalnya yang berbunyi,

"Tidak ada yang basah dan tidak ada yang kering kecuali semua tercatat dalam kitab lauhil mahfudz."

{(Catatan-256): Q.S. al-An'ām: 59.}

379

Hal tersebut diperkuat oleh tatanan tulisan kitab alam dan timbangan ayat-ayatnya. Terutama, ayat yang menunjukkan keteraturan, keseimbangan, pembentukan, dekorasi, dan keistimewaan.

Dalil adanya penulisan sebelum keberadaannya adalah semua landasan dan benih, serta semua ketentuan dan bentuknya. Pasalnya, benih merupakan kotak halus tempat menyimpan indeks ketentuan Tuhan. Qudrat-Nya membangun dan mempergunakan partikel sebagai landasan aristekturnya. Lalu takdir Tuhan merupakan tulisan qadar yang tertata rapi serta cetakan ilmiyah yang terukur. Partikel yang tuli dan buta itu bergerak dalam perkembangan segala sesuatu kemudian berhenti dalam batas-batas tertentu di mana ia berhenti ibarat makhluk yang mendengar dan melihat di habitat hasil dan buah.

Adapun dalil tentang penulisan sesudah keberadaannya sebagai berikut. Di antara bagian alam adalah semua buah yang merupakan lipatan lembaran kerja pohon dan buah. Ia memperlihatkan kepada semua mengenai apa yang terjadi di pongkol asalnya ketika ditanam di tanah dan dibangkitkan di musim semi. Di antara bagian manusia adalah kekuatan ingatannya yang berada di satu tempat yang sangat kecil. Ia laksana landasan yang disalin oleh tangan Tuhan lewat pena ketentuan dari lembaran amal. Kemudian ia diberikan kepada manusia untuk diingat-ingat saat melakukan muhasabah serta agar ia menjadi yakin bahwa di balik kehancuran, kelenyapan, dan kefanaan ini terdapat cermin untuk hidup abadi yang di dalamnya Tuhan menuliskan identitas makhluk serta lembar catatan yang di dalamnya Zat Yang Maha Mengetahui menuliskan substansi semua yang fana.

Ketahuilah! Sebagaimana jam tidak tetap; tetapi bergerak dan seluruh perangkatnya bergetar, demikian pula dengan dunia yang merupakan jam besar. Ia juga bergetar dan bergerak. Dengan memasukkan zaman ke dalamnya, dunia menjadi malam dan siang laksana dua mil yang menunjuk kepada detiknya. Sementara, tahun merupakan jarum yang menunjuk kepada hitungan menit. Lalu, masa adalah jarum yang menunjuk kepada hitungan jam. Selanjutnya dengan memasukkan tempat ke dalam

380

dunia, udara dan angkasa dengan berbagai perubahannya yang demikian cepat laksana detik. Bumi dengan pergantian wajahnya dalam bentuk tumbuhan dan hewan, kematian dan kehidupan laksana menit. Sementara getaran perutnya dan letusan gunungnya ibarat jam. Kemudian langit dengan berbagai perubahannya dengan gerakan benda-bendanya, kemunculan meteornya, gerhananya, dan awannya laksana hitungan hari.

Dunia yang dibangun di atas tujuh pilar ini-meski menggambarkan sifat-sifat nama-Nya dan penulisan pena qudrat dan qadar-ia bersifat fana, akan hancur, goyah, dan pergi seperti air yang mengalir. Hanya saja, ia tampak tetap akibat sikap lalai dan keruh akibat alam materi sehingga menjadi hijab yang melupakan dari akhirat.

Filsafat yang sakit dan peradaban yang bodoh membuatnya semakin statis dan keruh lewat berbagai telaah filsafat dan kajian sekuler. Adapun Alquran meniup dunia bagaikan kapas yang tertiup lewat ayat-ayatnya. Ia membuatnya menjadi halus lewat berbagai penjelasannya. Ia juga membuatnya cair lewat sinarnya. Ia juga menghancurkan asumsi keabadiannya lewat kabar tentang kematiannya. Ia melenyapkan kelalaian yang muncul dengan hentakannya. Hakikat dunia yang goyah dan berguncang menuturkan ayat berikut lewat kondisinya,

Apabila Alquran dibacakan, perhatikanlah ia dan dengarkanlah baik-baik semoga kalian mendapat rahmat.

{(Catatan-257): Q.S. al-A'rāf: 204.}

Ketahuilah! Di antara yang membedakan manusia dari binatang adalah integralitas hubungannya dengan masa lalu dan masa depan, totalitas pengetahuannya terhadap jiwa dan cakrawala, serta penyingkapannya terhadap proses sebab-akibat lahiriah dalam menciptakan sesuatu yang bersifat lahiri. Tugas manusia yang paling besar dan paling penting, serta perangkatnya yang paling sempurna dan paling melekat adalah bertasbih dan bertahmid dengan perangkat yang tercipta untuk keduanya. Manusia bertasbih menyucikan Penciptanya dengan lisan masa

381

lalu, sekarang, dan mendatang, serta dengan lisan jiwa dan cakrawala.

{(Catatan-258): Maksudnya, manusia memuji Tuhan dan bertasbih menyucikan-Nya lewat karunia yang diberikan kepadanya pada masa lalu dan sekarang serta dengan karunia yang akan diberikan pada masa mendatang, lewat apa yang ia dapati dalam jiwanya dan dalam cakrawala. }

Dengan penyaksiannya terhadap tasbih para makhluk dan kesaksiannya atasnya ia memuji Pencipta segala sesuatu dengan membaca nama-nama-Nya yang tertulis secara berurutan dan sistematis dalam hikmah penciptaan segala sesuatu.

Kata Subhanallāh mengandung makna kagum dan penghormatan, makna takjub dan penghargaan, makna membersihkan dan menyucikan, makna perasaan hormat disertai cinta, serta makna ketidaktahuan terhadap hakikat kebesaran-Nya.

Ketahuilah! Allah pemilik semua pemberian (atha), qadha, dan qadar. Dia melaksanakan pemberian dalam qadha-Nya dan qadha dalam qadar-Nya. Dengan kata lain, pemberian tersebut menembus hukum qadha sebagaimana kerasnya batu dan tanah tembus oleh akar yang lembut dan ketahanan besi rusak saat berada dalam genangan air yang halus. Hukum qadar juga rusak oleh panah qadha sebagaimana hukum keseluruhan yang merupakan qadar-Nya oleh hal-hal luar biasa yang bersifat khusus untuk menunjukkan bahwa Allah Zat Yang Maha Berbuat dan Memilih. Dia berbuat sesuatu dan menetapkan apa yang Dia kehendaki tanpa ada yang bisa menghalangi apa yang Dia beri dan menolak apa yang Dia tentukan.

Relasi pemberian dengan qadha-Nya sama seperti relasi qadha dengan qadar. Pemberian merupakan bentuk penyimpangan dari hukum qadha sebagaimana yang dikatakan oleh orang yang mengetahui hakikat satu persoalan, "Wahai Tuhan, kebaikanku berasal dari pemberian-Mu, sementara dosaku berasal dari qadha-Mu. Andaikan bukan karena pemberian-Mu, tentu aku termasuk orang yang binasa." Dengan kata lain, kecenderungan nafsu ammarah merupakan hukum keburukan dan kehancuran.

382

Ketahuilah! Rahasia mengapa sejumlah ayat ditutup dengan ikhtisar yang berisi nama-nama-Nya seperti ayat dalam surat al-Mulk, atau dengan kandungan nama-Nya sebagaimana terdapat banyak ayat adalah:

Alquran dengan cara penjelasannya yang merupakan mukjizat menghamparkan jejak-jeka kekuasaan-Nya untuk menjadi objek pandangan. Lalu dari sana, ia memunculkan nama-nama-Nya. Misalnya ayat yang berbunyi,

Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian menghidupkannya kembali. Proses menghidupkan kembali adalah lebih mudah bagi-Nya. Bagi-Nyalah perumpamaan yang Mahatinggi di langit dan di bumi. Dia Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.

{(Catatan-259): Q.S. ar-Rum: 27.}

Ia juga memperlihatkan kepada manusia untaian ciptaan-Nya lalu melipatnya dalam nama-nama-Nya.

Ia menerangkan sejumlah perbuatan-Nya kemudian merangkumnya lewat nama-nama-Nya.

Ia menyusun dan menghaluskan makhluk dengan memperlihatkan tatanan, neraca, dan sejumlah manfaat. Setelah itu, Ia memperlihatkan nama-nama-Nya yang terdapat dalam makhluk seolah-olah makhluk merupakan untaian kata. Makna, air, dan benih dari nama tersebut merupakan penghadiran, sementara rangkumannya merupakan pengetahuan.

Ia menyebutkan seluruh bagian materi yang beradaptasi dan berubah-ubah lalu merangkumnya lewat sejumlah nama yang menyeluruh, bercahaya, dan permanen.

Ia menghamparkan makhluk yang banyak, luas, dan tersebar. Setelah itu, ia meletakkan berbagai wujud kesatuan di atasnya sebagai sisi keesaan.

Dengan memperlihatkan tujuan dari berbagai akibat, ia memperlihatkan jauhnya jarak antara sebab dan akibat yang secara lahiriah bersambung. Hal ini sebagaimana hubungan antara cakrawala dan langit dalam pandangan lahiriah. Padahal

383

jarak antara keduanya sangat mencengangkan. Pasalnya, sebab yang paling besar sekalipun tidak memiliki kemampuan sendiri untuk memikul akibat yang paling ringan. Nah, dengan memperlihatkan jarak tersebut Alquran menerangkan tempat kemunculan nama-nama itu dan tempat terbitnya.

Ia kadang juga menyebutkan aktivitas makhluk lalu memberikan ancaman. Setelah itu, ia menghibur dengan nama-nama yang menunjukkan rahmat-Nya. Di sisi lain ia menyebutkan sejumlah maksud tertentu lalu menetapkan dengan nama-Nya sebagai prinsip umum dan petunjuk atasnya.

{(Catatan-260): Risalah "Mukjizat al-Qur'aniyyah" menjelaskan persoalan ini dengan banyak contoh.}

Ketahuilah!

{(Catatan-261): Uraiannya terdapat dalam lanjutan kalimat kedua puluh enam.}

Kelemahan ibarat cinta. Ia jalan yang mengantarkan kepada Allah; bahkan merupakan jalan yang paling dekat dan paling selamat. Kemudian para ahli suluk meniti jalan ketersembunyian di atas sepuluh kelembutan serta jalan keterlihatan di atas tujuh jiwa. Kelemahan ini diraih dari Alquran sebagai jalan yang singkat dan lurus. Ia berupa empat langkah:

Langkah pertama seperti yang ditunjukkan oleh ayat, "Jangan merasa diri kalian bersih."

{(Catatan-262): Q.S. an-Najm: 32.}

Langkah kedua, seperti yang ditunjukkan oleh ayat, "Jangan seperti orang-orang yang lupa kepada Allah sehingga mereka dibuat lupa kepada diri mereka sendiri."

{(Catatan-263): Q.S. al-Hasyr: 19.}

Langkah ketiga seperti yang ditunjukkan oleh ayat, "Kebaikan yang menimpamu berasal dari Allah, sementara keburukan yang menimpamu berasal dari dirimu."

{(Catatan-264): Q.S. an-Nisa: 79.}

Langkah keempat seperti yang ditunjukkan oleh ayat, "Segala sesuatu binasa kecuali wajah-Nya."

{(Catatan-265): Q.S. al-Qashash: 88.}

Penjelasan dari ayat-ayat di atas adalah sebagai berikut:

Sesuai dengan karakternya manusia mencintai dirinya sendiri. Bahkan, tidak ada yang ia cintai kecuali dirinya. Karena itu, manusia memuji diri dengan pujian yang hanya layak dimiliki

384

sesembahan. Ia membela diri dengan hebat dan membersihkannya dari segala aib tanpa mau menerima segala kekurangan semampu mungkin. Sehingga seakan-akan ia mengalihkan perangkat yang tercipta untuk memuji Tuhan dan untuk menyucikan-Nya kepada dirinya sendiri. Kondisinya sama seperti orang yang mempertuhankan hawa nafsunya. Karena itu, di sini ia harus dibersihkan dengan cara tidak mengaku bersih.

Kedua, lupanya diri dalam melakukan tugas dan pengabdian serta kecenderunganya yang demikian kuat dalam mendapat upah dan bagian, hanya bisa dibersihkan dengan kebalikannya. Yaitu tidak lupa pada sesuatu yang dilupa.

Ketiga, manusia melihat dirinya cacat, kurang, lemah, dan miskin. Ia melihat semua kebaikan sebagai nikmat yang berasal dari Penciptanya yang harus disyukuri bukan disombongkan. Karena itu, cara membersihkannya adalah dengan mengetahui bahwa kesempurnaan diri terwujud dalam ketidaksempurnaannya, kekuatannyanya terwujud dalam kelemahannya, serta kecukupannya terwujud dalam kekurangannya.

Keempat, pemahaman bahwa dirinya dalam pengertian formal bersifat fana, lenyap, baharu, dan tiada. Sementara, dalam pengertian harfiyah dan sebagai cermin nama Penciptanya ia menjadi saksi yang disaksikan, dan entitas yang dihadirkan. Cara penyuciannya adalah dengan kesadaran bahwa ketidaannya terdapat dalam keberadaannya, keberadaannya terdapat dalam ketiadaannya, serta wiridnya adalah "milik-Nya segala kekuasaan dan pujian."

Dalam hal ini, penganut paham wihdatul wujud berpendapat bahwa peniadaan entitas adalah dengan menafikan wujudnya, sementara penganut wihdatusy syuhud memandang terhalangnya entitas dalam penjara kelalain mutlak.

Adapun yang kupahami dari konsep Alquran adalah: ia bersih dari peniadaan dan keterhalangan. Namun, entitas dipergunakan untuk memperlihatkan nama-nama-Nya yang mulia sebagai manifestasi dan cermin-Nya dalam pengertian harfiyah, serta ia dibebaskan dari pengabdian dalam pengertian formal dan untuk dirinya.

385

Kemudian manusia dalam wujudnya merupakan gabungan sejumlah wilayah yang saling bercampur dan ciptaan yang saling bertumpuk. Pasalnya, ia adalah tumbuhan, hewan, manusia, dan mukmin. Hubungan untuk proses penyucian bisa terjadi pertama-tama pada tataran iman yang keempat. Lalu, ia turun kepada sisi tumbuhan yang mempunyai sifat perlawanan cukup kuat. Hubungan pada semuanya bisa terjadi pada sehari semalam. Di antara yang dipahami secara salah oleh manusia adalah tidak adanya perbedaan antara seluruh tataran tersebut dengan berkata, "Dia menciptakan semua yang terdapat di bumi untuk kita." Pertama-tama ia keliru dengan mengira bahwa manusia hanya terbatas pada perutnya yang berisi tumbuhan dan hewan. Lalu keliru ketika melihat bahwa tujuan segala sesuatu terbatas pada sesuatu yang kembali kepada dirinya. Ia juga keliru ketika menakar nilai sesuatu dengan ukuran sejauh mana manfaat yang bisa diambil darinya.

Ketahuilah!

{(Catatan-266): Penjelasannya terdapat dalam buah kedua dari ranting kelima, kalimat kedua puluh empat.}

Ubudiyah (penghambaan) merupakan hasil dan harga dari nikmat sebelumnya; bukan pendahuluan atau sarana dari ganjaran berikutnya.

Wahai manusia, engkau telah mengambil upahmu. Pasalnya, Dia menciptamu demikian dalam bentuk yang terbaik. Kemudian Dia memperkenalkan diri kepadamu dengan mempersembahkan iman.

Ya, sebagaimana dengan memberikan perut Dia menganugerahimu semua jenis makanan, maka dengan memberikan kehidupan Dia menjadikan dunia nyata ini sebagai hidangan yang dipenuhi nikmat. Lihatlah perbedaan antara dua hidangan tersebut. Sebagaimana dengan memberikan jiwa insani Dia jadikan perut memiliki sejumlah alam dunia dan malakut yang merupakan hidangan berisi berbagai nikmat, demikian pula dengan memberikan iman. Dengan iman Dia hamparkan untukmu berbagai hidangan tempat menyimpan seluruh perbendaharaan nama-Nya. Dengan memberikan cinta-Nya, Dia berikan

386

untukmu sesuatu yang tak terkira. Jika engkau mengambil upah semacam itu, engkau harus melakukan pengabdian. Apabila sesudah beramal engkau diberi nikmat lain, itu betul-betul berasal dari karunia-Nya.

Ketahuilah! Kedermawanan yang terlihat secara tak terbatas dalam memperbanyak jenis spesies, terutama makhluk-makhluk kecil, secara sangat rapi dan teratur, hal itu menunjukkan secara jelas ketidakterhinggaan manifestasi Sang Pencipta, dengan substansi-Nya yang berbeda, di mana seluruhnya sama bagi qudrat-Nya.

Ya. Kedermawanan dan penciptaan hanya bersumber dari Zat Wajibul wujud dan berasal dari petunjuk-Nya. Kedermawanan dalam hal jenis merupakan bentuk keagungan, sementara kerapian pada sesuatu merupakan bentuk keindahan.

{(Catatan-267): Keagungan Allah Swt. tamppak jelas ketika melihat kepada spesies dengan jumlah anggotanya yang banyak. Adapun jika melihat kepada tiap-tiap makhluk, yang terlihat adalah kerapian yang demikian indah dalam proses penciptaan. Jadi, pada setiap makhluk keindahan-Nya terlihat, sementara dalam spesies yang terlihat adalah keagungan-Nya.}

Ketahuilah! Penciptaan manusia sangat mudah bagi Tuhan Pencipta sesuai dengan kadar pengetahuan-Nya terhadapnya dan sulit sesuai dengan kadar ketidaktahuan-Nya. Terutama, pada ciptaan-ciptaan yang halus dan memiliki perangkat rumit. Semakin mengetahui, semakin mudah dan gampang bagi-Nya. Kemudahan tak terhingga dalam kecepatan yang mutlak dan keluasan mutlak dalam penciptaan segala sesuatu secara teratur seperti yang terlihat menunjukkan secara tegas bahwa Penciptanya memiliki pengetahuan yang tak terhingga. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh ayat yang berbunyi,

Dan perintah Kami hanyalah satu Perkataan seperti kejapan mata.

{(Catatan-268): Q.S. al-Qamar: 50.}

Ketahuilah sebagaimana Zat yang membalut ciptaan dengan sejumlah balutan, lalu membungkus sesuatu yang tersembunyi dengan baju yang ditenun dari materi yang sama

387

seperti kulit, serta memasukkan janin dan ukiran lewat perut yang bertumpuk di dalam tubuhnya, sudah pasti esa di mana ia merupakan ciptaan, aset, dan milik-Nya demikian pula dengan Zat yang membalutkan balutan kesatuan hubungan dan jenis kepada sesuatu yang banyak. Semua laksana satu totalitas dan kondisi. Di samping Dia juga memakaikan kepada sejumlah kelompok ciptaan yang tersebar berbagai baju elemen yang ibarat induknya. Dia memasukkan makhluk, terutama hewan yang merupakan miniatur alam yang besar ini, ke dalam tubuh alam yang merupakan bangunan yang saling menyatu dan diletakkan di atas entitas yang merupakan buah dan benihnya. Dia tidak lain adalah Zat yang esa dan tunggal yang terwujud pada sesuatu yang meliputi lewat ketunggalan-Nya dan pada yang diliputi lewat keesaan-Nya.

Ketahuilah! Sebagaimana raja memiliki sejumlah tanda kekuasaan yang beragam di berbagai wilayah, lapisan rakyat, tingkatan kekuasaan, dan tugas-tugas kepemimpinannya laksana entitas yang hadir, disaksikan, dan menatap pada semua wilayah dan di balik seluruh hijab lewat wakil dan hukum pemerintahannya. Demikian pula dengan Allah. Dia memiliki perumpamaan yang paling mulia. Zat Pemilik nama-nama mulia tersebut memiliki manifestasi pada setiap alam dengan tanda salah satu nama-Nya yang mulia yang nama tersebut disertai oleh seluruh nama lainnya. Demikian pula, Dia mengatur pada setiap tingkatan baik secara keseluruhan maupun bagian dengan manifestasi khusus dalam rububiyah yang khusus-Nya lewat berbagai wujud nama tertentu. Dengan kata lain, Dia tampak padanya dengan karakteristik yang seolah-olah khusus untuknya meski bersifat umum dan meliputi semua.

Dalam sejumlah tingkatan rububiyah-Nya Allah memiliki berbagai sifat yang berhadapan, pada setiap taman uluhiyah-Nya Dia memiliki nama-nama yang yang saling berpantulan, pada cermin kemurahan-Nya Dia memiliki tampilan yang berbeda, pada aktivitas qudrat-Nya Dia memiliki tanda yang beraneka ragam, pada diversifikasi ciptaan-Nya Dia memiliki rububiyah yang saling mengitari wujud keesaan di atas bagian-bagian

388

wilayah ketuggalan-Nya sebagaimana hakikat agung dan luas ini ditunjukkan dalam al-Jawsyan al-Kabir.

{(Catatan-269): Secara bahasa al-Jawsyan berarti bagian depan atau tameng. Maksudnya di sini adalah munajat Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Zaynal Abidin r.a.}

Munajat ini meliputi sembilan puluh sembilan untaian dan sebuah kerangka. Masing-masing berisi dua belas permata tauhid baik secara eksplisit maupun implisit. Pasalnya, jika satu nama diseru dengan satu gambaran mutlak dalam kedudukan tertentu, hal itu menunjukkan sifat tersebut hanya terbatas padanya. Misalnya, "Wahai Yang Mahakekal". Artinya, wahai yang tidak ada yang abadi di alam ini kecuali Dia. Allah Swt. memiliki sejumlah hijab cahaya hingga berjumlah tujuh puluh ribu seperti disebutkan dalam riwayat. Karena adanya sejumlah celah dalam hijab tersebut, kemiripan dalam hal sifat, bayangan dalam hal nama, ketercampuran dalam wujud tampilan, keterpaduan dalam tanda, kesamaan dalam penampakan, kerjasama dalam pengenalan, kolaborasi dalam hal rububiyah, manifestasi keesaan dalam cakupan ketunggalan-Nya, maka bagi yang mengenal-Nya dalam satu nama yang disebutkan sudah pasti tidak akan mengingkari-Nya dalam keseluruhan. Sebaliknya, dapat dipahami secara otomatis bahwa Dia adalah Dia.

Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk terbaik.

{(Catatan-270): Q.S. at-Tin: 4.}

Ketahuilah di antara keajaiban integralitas fitrah manusia adalah Tuhan Yang Maha Bijaksana memasukkan ke dalam lautan kecil tersebut neraca yang tak terhingga banyaknya untuk mengukur simpanan rahmat-Nya yang tak terbatas. Dia juga memasukkan ke dalamnya perkakas dengan perangkat maknawinya yang tak terhitung guna memahami perbendaharaan nama-Nya yang tak terkira.

Lihatlah kesepuluh inderamu bagaimana ia mencakup beragam alam audio ,visual, rasa, dan lainnya. Dia juga memberikan padanya bagian-bagian sifat dan kondisi yang berupa kehendak, pengetahuan, pendengaran, dan yang lain guna memahami sifat-sifat-Nya yang komprehensif dan demikian luas. Dia

389

membalut egonya dengan sejumlah balutan sebanyak alam dan ragamnya agar ia bisa mengenal kondisinya dengan perangkat halus tersebut. Dia membungkus substansinya dengan baju sebanyak hijab pemeliharaan Tuhan agar bisa naik dengan cara menitinya. Dia menanamkan dalam dirinya perangkat pengetahuan dalam bentuk menakjubkan di mana ingatan yang berada dalam benih kecil bagaikan alam yang luas. Perangkat tersebut terus berjalan di dalam benih tadi tanpa pernah sampai ke tepinya. Namun demikian alam besar ini seringkali terasa sempit bagi benih tersebut. Alam ini berada dalam jangkauannya. Benih ini mencakup keseluruhan alam berikut semua medan putarannya dan kantor-kantor investigasinya. Mahasuci Zat yang mengecilkan ukurannya dalam bentuk tak terhingga dalam esensinya yang besar tak terkira.

Dari rahasia ini engkau dapat memahami perbedaan tingkatan manusia. Di antara manusia ada yang tenggelam dalam partikel kecil. Di antara manusia ada yang digenangi oleh dunia. Lalu, kadangkala manusia dengan salah satu kunci yang diberikan kepadanya dapat membuka alam luas lewat makhluk yang demikian banyak yang terhampar padanya. Iapun tersesat di dalamnya tanpa pernah sampai kepada keesaan dan tauhid kecuali dengan sangat susah. Terkait dengan substansi dan perjalanan spritualnya manusia memiliki sejumlah tingkatan. Dalam satu tingkatan ia bisa dengan mudah mengarah kepada tauhid. Dalam tingkatan lain, ia diliputi oleh kelalaian dan ilusi di mana ia berada dalam kesulitan sehingga tenggelam secara total dalam pluralitas sehingga lupa kepada keesaan.

Kaum berperadaban yang menganggap kejatuhan sebagai sebuah kemajuan, kebodohan rangkap sebagai sebuah keyakinan, ketenggelaman dalam tidur panjang sebagai kesadaran, berada dalam tingkatan yang rendah tersebut. Mereka jauh lebih rendah dari kalangan badui dalam menangkap hakikat iman.

Ketahuilah bahwa wāhidiyyah menunjukkan bahwa nama-Nya meliputi segala sesuatu, sementara ahadiyyah menunjukkan bahwa segala sesuatu hidup di mana ia mengarah kepada setiap nama yang memiliki kaitan dengan alam. Penampakan lewat sifat

390

wahidiyyah adalah dengan peliputan-Nya terhadap segala sesuatu, sementara lewat sifat ahadiyyah adalah dengan memperlihatkan segala sesuatu kepada seluruh nama.

Ketahuilah bahwa sebagian besar wujud keagungan-Nya memperlihatkan nama-nama kepada semua alam, fakultas, spesies, dan kelompok. Kedermawanan mutlak dalam spesies termasuk wujud keagungan tersebut. Cermin keindahan yang paling tampak adalah ukiran bagian-bagian alam. Keindahan setiap individunya serta kebeningan cerminnya tampak dengan kemunculan makhluk serupa secara terus-menerus dalam memperbanyak anggota. Kerapian dan keteraturan yang paling indah dalam setiap individu termasuk wujud keindahan-Nya, Demikianlah, keagungan-Nya tampak dari manifestasi wahidiyah Tuhan. Sementara, keindahan-Nya tampak dari manifestasi ahadiyah Tuhan. Kadangkala keindahan-Nya tampak dari keagungan-Nya sebagaimana keagungan-Nya tampak dari keindahan-Nya. Betapa indah keagungan Tuhan dalam bingkai keindahan-Nya dan betapa indah keindahan Tuhan dalam bingkai keagungan-Nya.

Ketahuilah! Penyaksian mata fisik terhadap ciptaan yang demikian rapi tanpa disertai penyaksian mata hati terhadap Penciptanya bisa karena mata hatinya tidak ada atau sudah buta, atau karena tidak mampu menggambarkannya. Jika tidak, berarti ia lebih ingkar daripada pengingkaran penyaksian mata.

Ketahuilah! Sebagaimana orang yang memanam benih di ladangnya dengan mengisi semua dengan benih yang ada meskipun kecil, berarti telah membuat ladang tersebut terjaga dan terlindung sehingga tidak bisa lagi ditanami oleh yang lain sehingga benih tadi ibarat pagar yang tak terlihat, demikian pula dengan semua spesies tumbuhan dan hewan yang ditanam dan terhampar di ladang bumi di mana ia bertebaran di sebagian besar permukaannya. Semua itu merupakan pagar yang mencegah adanya sekutu, penjaga yang mengusir pihak lain, serta pelindung yang menolak segala ilusi. Apalagi semuanya saling menguatkan dan mengokohkan dengan kemunculan berbagai bukti secara berantai.

391

Ketahuilah! Kadangkala Allah ingin agar dalam taman dan kebun-Nya yang tertata terlihat pula gambaran padang pasir yang tak tertata, bebatuan dan kelokakannya yang berantakan di mana hal itu justru untuk memperlihatkan kehalusan tatanan-Nya. Kadangkala Dia mencipta di antara tatanan kebun-Nya batu-batu goa dengan pahatan yang tidak rapi. Dalam hal ini, kesempurnaan tatanannya justru terletak pada ketidakteraturannya. Orang yang cermat memahami bahwa penataan dalam bentuk yang tidak teratur tersebut memang disengaja oleh Sang Panata Yang Mahabijak.

Demikian pula berbagai bentuk padang pasir yang tak beraturan, gunung, dan bukit yang bebatuannya sangat berantakan sebagaimana terlihat di antara makhluk-makhluknya yang teratur rapi. Semua itu membuat pikiran yang bodoh berpandangan kalau ia tercipta secara kebetulan. Padahal, ia tertata lewat bentuknya yang tidak teratur dan tampak berantakan karena sengaja dibuat demikian oleh Sang Pencipta Yang Mahabijak dan Maha Mengetahui dengan bukti bahwa ia dikelilingi oleh semua hal yang teratur rapi sama seperti untaian mutiara yang tertata di sekitar permata yang bertebaran untuk memperlihatkan keteraturan ciptaan.

Juga, sebagaimana untuk memperlihatkan kegelapan yang pekat kepada makhluk-Nya yang bersinar. Lihatlah pepohonan berduri, tumbuhan yang disiapkan dengan sejumlah durinya untuk mengusik pihak yang memakannya. Dari sana engkau bisa melihat keteraturan menakjubkan dalam ketidakteraturannya, serta kelembutan yang luar biasa dalam kekasarannya. Di antara tanda bahwa sesuatu yang tidak teratur itu sengaja diatur oleh Sang Pencipta Yang Mahabijak adalah ketidaksamaan antara bentuk yang satu dengan lainnya sehingga seolah-olah masing-masing merupakan spesies sendiri yang khusus terdapat pada individu tersebut padahal jenisnya sama dan melewati sebab-sebab keselarasan. Ketidakselarasan dan ketidaksamaan tersebut menjadi bukti bahwa ia tidak terwujud secara kebetulan.

Ketahuilah! Di antara karakteristik integralitas fitrah manusia dan di antara keistimewaannya dibandingkan hewan

392

yang lain adalah pemahamannya terhadap penghormatan makhluk kepada Sang Pemberi kehidupan. Dengan kata lain, sebagaimana ia memahami ucapan diri sendiri, dengan pendengaran iman ia juga memahami semua ucapan makhluk hidup, bahkan benda mati yang bertasbih. Masing-masing mereka secara lahiri hanya memahami ucapannya sendiri layaknya pembicara tuli. Adapun manusia, ia bisa berbicara dan mendengar. Ia mendengar dalam luasnya penglihatan. Yakni, pada saat bersamaan ia bisa mendengar berbagai dalil nama-Nya yang mulia yang diucapkan oleh sejumlah entitas. Nilai dari masing-masingnya seukuran dirinya. Sementara, nilai manusia mukmin seukuran keseluruhan. Ia entitas yang menyerupai spesies bahkan menyerupai sejumlah spesies. Wallahu a'lam.

Ketahuilah! Hakikat menyerupai bentuk lahiriah meskipun jarak antara keduanya sangat jauh. Misalnya, tauhid orang awam yang bersifat lahiriah cukup kuat tanpa harus diperkuat dan tanpa ada sesuatupun yang dinisbatkan kepada selain Allah. Penafian sesuatu selain Allah bersifat mudah dan sederhana. Adapun tauhid ahli hakikat menjadi kuat dengan cara menetapkan dan menisbatkan segala sesuatu yang terlihat. Ia melihat di dalamnya terdapat tanda Allah serta ia membaca padanya stempel Allah. Penetapan ini menetapkan kehadiran dan meniadakan kelalaian.

Ketahuilah! Di antara hikmah mengapa orang kafir yang dengan makna formal dan sengaja menghadapkan diri kepada kehidupan dunia diberi penangguhan adalah pengabdiannya untuk memperlihatkan beragam nikmat Allah Swt yang terwujud lewat konstruksi penciptaan meski ia sendiri tidak merasa. Selain itu, pengaturannya terhadap berbagai keindahan ciptaan Allah meski ia sendiri tidak memahami; lalu penampakan kreasi Allah yang menakjubkan lewat bentuk yang menarik perhatian meski ia sendiri tidak menyadari. Kondisinya sama seperti jam yang memberitahukan hitungan jam kepadamu sementara ia sendiri tidak menyadari apa yang sedang dikerjakannya.

Ketahuilah! Orang yang mendapat taufik dapat pergi dari alam lahir menuju hakikat tanpa harus melewati dinding tarekat.

393

Aku melihat di dalam Alquran sebuah jalan menuju hakikat tanpa tarekat yang dikenal. Begitulah aku menyaksikan sebuah jalan yang mengantarkan kepada berbagai pengetahuan yang dituju tanpa harus melewati dinding pengetahuan yang bersifat otomatis.

Ya, di antara sifat rahmat adalah engkau berbuat baik kepada generasi masa kini-yang berjalan dengan cepat-dengan memberikan sebuah jalan yang singkat dan selamat.

Ketahuilah! Sebagaimana wujud dan kehidupan sesuatu merupakan petunjuk yang sangat jelas tentang keberadaan Zat Yang Menghadirkannya berikut sifat-sifat-Nya, serta merupakan tanda cemerlang bahwa Dia adalah esa, dan merupakan bukti kuat yang memutus semua tangan sebab, demikian pula dengan fana dan kematian sesuatu dalam kemunculan kembali makhluk yang serupa dengannya. Ia merupakan petunjuk yang jelas mengenai keabadian Zat Yang Memulai dan Mengembalikan, Yang Mewarisi dan Membangkitkan. Ia juga menjadi dalil yang terang bahwa Dia tidak memiliki sekutu. Dengan kata lain, tidak ada sesuatupun yang mempunyai bagian dalam mencipta dan menghadirkan. Serta hal itu menjadi bukti yang memutus adanya pengaruh sesuatu pada dirinya.

Kesimpulannya, kehidupan ini bertutur bahwa tiada Tuhan selain Dia semata di mana ia menolak sebab. Sementara, kematian bertutur bahwa tiada Tuhan selain Dia tanpa ada sekutu bagi-Nya di mana ia menolak diri.

Ketahuilah! Di antara tugas kehidupan manusia adalah menyaksikan penghormatan makhluk kepada Pemberi kehidupan sekaligus bersaksi atasnya. Yakni menyaksikan ibadah yang dilakukan semua makhluk serta bersaksi atasnya sekaligus memproklamirkannya seolah-olah ia mewakili keseluruhan. Lisan mereka memberitahukan kepada semua lewat amal semua dalam memproklamirkan di hadapan Tuhan mereka.

Ketahuilah! Alquran berikut yang menjadi tempat turunnya membahas berbagai persoalan agung, menetapkan sejumlah hakikat besar, serta membangun landasan yang luas. Misalnya penetapan keesaan Zat yang melipat langit seperti melipat lembaran

394

kitab.

{(Catatan-271): Q.S. al-Anbiya: 104.}

Pada hari kiamat seluruh bumi berada dalam genggaman-Nya dan langit terlipat dengan tangan kanan-Nya.

{(Catatan-272): Q.S. az-Zumar: 67.}

Terjadinya kiamat hanya sekejap mata

{(Catatan-273): Q.S. an-Nahl: 77.}

bagi-Nya.

Langit yang tujuh serta bumi berikut semua isinya bertabih menyucikan-Nya.

{(Catatan-274): Q.S. al-Isrā:" 44.}

Dia menciptakan langit dan bumi dalam enam masa.

{(Catatan-275): Q.S. al-A'rāf: 54.}

Dia menghidupkan bumi setelah tadinya mati.

{(Catatan-276): Q.S. ar-Rūm: 19.}

Pada makhluk hidup terdapat lebih dari tiga ratus ribu pengumpulan, kebangkitan, dan kiamat dengan menghidupkan spesies tumbuhan dan hewan. Penulisannya di atas permukaan bumi dalam bentuk yang demikian berbaur dan bercampur tetapi dengan karakter masing-masing. Satu pengumpulan dari kiamat yang tampak tersebut tidak lebih mudah daripada pengumpulan kelompok manusia. Pasalnya, jumlah satu kelompok lalat saja yang hidup selama setahun lebih banyak daripada jumlah manusia sepanjang usia dunia. Karena itu, keduanya berkata,

Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Kepunyaan-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi.

{(Catatan-277): Q.S. az-Zumar: 62-63.}

Dia menciptakan kalian berikut amal perbuatan kalian.

{(Catatan-278): Q.S. ash-Shāffāt: 96.}

Dia mempersiapkan siksa yang pedih untuk orang-orang kafir.

{(Catatan-279): Q.S. al-Ahzab: 8.}

Siapa yang melakukan keburukan meski seberat biji atom ia akan melihat balasannya.

{(Catatan-280): Q.S. az-Zalzalah: 8.}

Hal itu juga berlaku pada berbagai persoalan besar yang penting. Pandangan keduanya terhadap entitas tidak seperti

395

pandangan disiplin ilmu filsafat dan olah akal manusia. Namun, ia seperti orang yang memperkenalkan kepadamu sebuah kreasi agar mengenal Penciptanya. Ciptaan berada dalam genggaman-Nya. Ia perlihatkan padamu bagian dalamnya, lembarannya, balutannya, serta tujuan perangkatnya menurut Penciptanya. Ia juga mengajarimu sebuah kitab berikut makna dan petunjuknya. Sementara, perumpamaan manusia dan filsafatnya sama seperti orang yang memperkenalkan kepadamu sebuah ciptaan yang jauh jangkauan dan pemahamanmu. Pandanganmu hanya bisa sampai ke kulit luarnya tanpa pernah tembus ke dalamnya. Ia diktekan kepadamu berbagai persoalan superfisial laksana bisikan yang sama sekali tidak mengenyangkan dan memuaskan. Ia seperti orang asing yang gagap yang sama sekali tidak bisa berbahasa Arab namun memiliki pengetahuan tentang korelasi lukisan dan gambar. Ia mengajarimu buku batu-batuan yang disepuh emas lewat penjelasan mengenai kesesuaian lukisan huruf, cara menggambarkannya, serta posisi satu dengan yang lain. Demikianlah di antara bentuk keburukan yang lemah dan formalistik.

Jika demikian adanya, jangan jadikan standar ilmu manusia sebagai ukuran bagi hakikat keduanya.

{(Catatan-281): Yakni bagi hakikat Alquran dan penerimanya, Muhammad saw. Penjelasan tentang persoalan ini terdapat dalam kalimat kedua belas. }

Jangan mengukur keduanya dengan ukurannya. Sebab, gunung yang kokoh tidak bisa ditimbang dengan timbangan permata yang langka. Jangan berusaha memberikan legitimasi terhadap keduanya dengannya lewat cara menjadikan hukum buminya sebagai pembenar bagi rambu-rambu langit. Urgensi sesuatu sesuai dengan kadar nilainya.

Ketahuilah!

{(Catatan-282): Penjelasan tentang persoalan ini terdapat dalam kalimat kedua puluh satu.}

Wahai yang mendapat ujian terus-menerus, jangan kau cerai beraikan pasukan dan kekuatan kesabaranmu dalam menghadapi apa yang telah lalu hingga hari ini, bahkan hingga saat ini. Pasalnya, hari-hari yang pedih dan telah pergi itu menyusul barisan pasukanmu di mana ia berubah menjadi kenikmatan maknawi dan pahala ukhrawi. Demikian pula jangan

396

kau cerai beraikan kesabaranmu dalam menghadapi masa mendatang, bahkan kondisimu sekarang. Pasalnya, ia masih tidak ada dan berada dalam genggaman kehendak-Nya. Kumpulkan semua kekuatan kesabaranmu dan pasukannya pada hari ini dan pada saat sekarang ini dengan memperkuat kekuatan maknawiyahmu sehingga bisa menyusul pasukan bencana dan musuh menuju pasukanmu dengan cara merubahnya menjadi sesuatu yang dicinta. Hal ini tentu harus disertai dengan sikap tawakkal kepada Sang Pemilik Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang, dan Maha Bijaksana dalam menghadapi apa yang akan datang. Jika hal itu kau lakukan kesabaranmu yang paling lemah sekalipun mampu menghadapi musibah yang paling besar.

Ketahuilah! Karena keterbatasan pemahaman, apa yang berasal dari sumber hikmah dan kebenaran seringkali dianggap berasal dari imajinasi berlebihan dan dugaan semata.

Misalnya, disebutkan dalam riwayat, "Andaikan dunia di sisi Allah setara dengan sayap nyamuk, tentu orang kafir tidak akan bisa meminumnya meski hanya seteguk."

{(Catatan-283): H.R. at-Tirmidzi 2422. Tuhfatul Ahwadzi. Menurut Tirmidzi, hadits tersebut dari sisi ini shahih gharib. }

Maksud dari hadits adalah bahwa dunia lahiri yang terbayang dalam cermin kehidupanmu yang fana dan panjangnya usiamu yang bersifat sementara tidak sampai seukuran sayap nyamuk dari alam keabadaian. Sebagaimana benih yang kekal lewat proses tumbuh kembang mengalahkan tumpukan jerami yang cepat hilang karena berserakan. Setiap orang dari dunia yang merupakan wujud manifestasi nama-nama-Nya yang mulia dan ladang akhirat ini memiliki dunianya sendiri. Jika melihat kepada dunianya secara harfiyah lalu dipergunakan untuk sesuatu yang abadi, maka dunia tadi memiliki nilai yang besar. Namun jika tidak, karena ia fana ia tidak bisa menyamai nilai satu atom yang kekal. Hal ini bisa diqiyaskan kepada sejumlah riwayat yang berisi ganjaran beberapa zikir yang tidak bisa diukur dengan akal.

Ketahuilah di antara bukti bahwa hukum kehidupan adalah tolong-menolong bukan perseteruan seperti dugaan para filosof sesat dan menyesatkan adalah tidak adanya perlawanan dari

397

tanah yang keras dan batu yang padat bagi kemunculan urat batang tumbuhan yang halus dan lembut. Bahkan kalbu batu yang keras menjadi lembut oleh sentuhan telunjuk tunas-tunas tumbuhan dan tanah membuka dadanya bagi kemunculan batang tumbuhan.

Ya, kerjasama antar entitas berikut mentari dan bulannya untuk kepentingan hewan, cepatnya tumbuhan dalam memberikan rezeki hewan, serta perlombaan antara bahan-bahan nutrisi untuk memberikan rezeki kepada buah, terhiasinya buah untuk menarik perhatian makhluk, kerja sama antar partikel dalam rangka memberikan nutrisi sel tubuh, semua itu merupakan bukti kuat bahwa hukum dasarnya adalah kerja sama. Sementara, perseteruan hanyalah hukum parsial di antara satu kelompok hewan yang zalim.

Ketahuilah! Di antara petunjuk tauhid yang paling jelas adalah kemudahan yang mutlak dan terlihat jelas. Sementara, dalam persekutuan, segala sesuatu, terutama makhluk hidup menuntut seluruh yang dibutuhkan untuk semua. Maka, beban yang terdapat pada setiap individu adalah beban bagi semua yang terdapat di alam karena setiap individu menuntut semua beban keseluruhan secara kuantitatif.

Ketahuilah wahai nafsu ammarah! Engkau tetap dicurigai terkait dengan keinginanmu yang paling baik. Pasalnya, kadangkala engkau merindukan urusan akhirat, namun dalam pengertian harfiyah. Yakni, agar dunia tidak mencekikmu lewat kefanaannya, kerinduan terhadap akhirat muncul guna menghibur pedihnya fana. Maka, sungguh celaka perhatianmu yang demikian rendah itu. Bagaimana engkau merubah penguasa abadi sebagai pelayan bagi sesuatu yang hina dina dan sementara?! Engkau membuat pondokan untuk tempat tinggal sejumlah hewan dalam satu malam dengan pilar-pilar yang dilapisi permata yang kau ambil dari balik istana raja yang abadi.

{(Catatan-284): Artinya, bagaimana engkau meremehkan akhirat, dengan menjadikannya sebagai pelayan dunia?! Engkau membangun bangunan sementara bagi tempat singgah sejumlah binatang -syahwat-dengan sejumlah pilar berlapis emas milik raja di akhirat yang kau curi. }

398

Engkau menghancurkan istana tersebut dan memakan buah sorga abadi sebelum matang di kebun palsu ini.

Ketahuilah wahai jiwa yang mencintai diri sendiri yang bersandar pada lahiriah eksistensi. Engkau merasa cukup dengan satu tetes fatamorgana dari laut air kehidupan. Engkau merasa cukup dengan kilau yang lemah dalam satu malam yang gelap dari mentari di pertengahan siang. Kemunculan wujudmu dibandingkan dengan wujud Penciptamu sama seperti jumlah jiwamu yang satu dibandingkan dengan seluruh entitas dalam partikel-partikelnya. Pasalnya, dirimu menunjukkan wujud dirimu hanya dari satu sisi dan seukuran tubuhmu, sementara ia menunjukkan wujud Penciptanya dari berbagai sisi yang tak terhingga disertai petunjuk masing-masing entitas terhadap keberadaan wujud Penciptanya dari berbagai sisi tak terhingga pula. Karena itu, keberadaan wujud-Nya pada dirimu jauh lebih jelas daripada wujudmu sebanding dengan besarnya alam dan kecilnya dirimu.

Adapun cintamu pada dirimu karena ia merupakan tempat simpanan kenikmatanmu, pusat wujudmu, ladang kepentinganmu dan yang lebih dekat denganmu, maka engkau telah tertipu dengan bayangan yang sementara sehingga lupa kepada pokok yang asli dan sempurna. Jika engkau mencintai dirimu lantaran sebuah kenikmatan yang bersifat sementara, engkau harus mencintai Zat yang memberimu kenikmatan abadi tak terkira, yang melimpahkan kepada semua pihak yang engkau senang jika mereka bahagia berbagai kenikmatan yang membahagiakan mereka.

Jika dirimu merupakan pusat wujud dan eksistensimu, Tuhanmulah yang menghadirkanmu bersama dengan wujud segala sesuatu yang memiliki kaitan dengan wujudmu. Jika dirimu merupakan sumber kepentinganmu, Pemberi rezeki padamu adalah Zat yang menggenggam segala kebaikan. Dia pemberi manfaat yang abadi. Di sisi-Nya ada kemaslahatanmu dan kemaslahatan semua orang yang kemaslahatan mereka berimbas padamu.

Jika dirimu yang paling dekat denganmu, Penciptamu lebih dekat kepadanya. Pasalnya, tangan-Nya sampai darinya menuju

399

sesuatu di mana dirimu, perasaanmu, serta cintamu tak bisa mencapainya yang berada di kedalamannya. Karena itu, semua cinta yang terbagi atas seluruh wujud berikut cintamu kepada dirimu harus menyatu untuk dipersembahkan Kekasih hakiki.

Ketahuilah! Di antara yang menghijabmu dari Allah dan membuatmu terus dalam keadaan lalai adalah terbatasnya pandanganmu yang parsial pada sisi tertentu sehingga membenarkan bahwa kemunculannya berasal dari sebab-sebab yang lemah. Adapun apabila ia mengangkat kepala lalu mengarahkan pandangannya kepada keseluruhan secara total, ia tidak akan membenarkan kalau sesuatu yang paling remeh bersumber dari sebab yang paling besar sekalipun.

Sebagai contoh, bisa jadi engkau menisbatkan rezekimu kepada sejumlah sebab. Kemudian jika engkau melihat bumi kosong dan miskin di musim dingin, lalu ia menjadi penuh berhias rezeki yang dimatangkan oleh qudrat-Nya dalam rimbunan pohon dan taman, dari sana engkau yakin bahwa Pemberi rezeki kepadamu pastilah Zat yang memberikan rezeki kepada seluruh makhluk dengan cara menghidupkan bumi setelah sebelumnya mati.

Contoh lain: Bisa jadi engkau menisbatkan cahayamu yang bersifat parsial dan fisik, serta cahayamu yang bersifat khusus dan maknawi kepada sejumlah sebab lahiri. Lalu engkau berkata, "Ini kudapat dengan ilmu."

{(Catatan-285): Q.S. al-Qashash: 78.}

Kemudian ketika engkau melihat bersambungnya cahayamu dengan cahaya siang, serta bersambungnya cahaya kalbumu dengan cahaya sumber cahaya, dari engkau meyakini bahwa tidak ada yang bisa menerangi dirimu dan menyinari kalbumu kecuali Zat yang mebolak-balikkan siang dan malam dengan menggerakkan planet dan bulan. Dia menyesatkan orang fasik yang Dia kehendaki, dan memberikan petunjuk kepada orang baik yang Dia kehendaki dengan cara menurunkan Alquran sebagai pelajaran dan ujian.

Ketahuilah wahai manusia, di hadapanmu terdapat berbagai persoalan besar yang memaksa setiap yang memiliki

400

perasaan untuk memberikan perhatian terhadapnya.

Di antaranya adalah kematian yang merupakan saat perpisahanmu dengan semua yang dicinta, dunia berikut semua isinya.

Lalu "perjalanan" menuju keabadian dalam berbagai kengeriannya yang mencekam.

"Kelemahanmu" yang tak terkira dalam kepapahanmu yang tak terbatas dalam perjalanan yang tak berujung pada usia yang singkat dan terbatas.

Lalu, mengapa engkau pura-pura lupa dan buta dengannya seperti burung unta yang menyembunyikan kepalanya di dalam pasir lalu memejamkan mata agar tidak dilihat oleh pemburu. Sampai kapan engkau memperhatikan tetesan yang sementara dan tak peduli dengan lautan yang mencekam?!

Ketahuilah! Aku bersyukur kepada Allah yang telah membukakan untukku berbagai persoalan alam yang besar lewat bahasa yaitu perbedaan antara makna simbolik atau harfiyah dan makna hakiki. Yakni, seluruh entitas alam merupakan kata-kata yang menunjukkan kepada sejumlah makna di luarnya. Dengan kata lain, ia merupakan tulisan rabbaniyah yang menuturkan nama-nama-Nya.

Yang bersumber dari sisi pertama merupakan pengetahuan, iman, dan hikmah. Sementara yang bersumber dari sisi kedua merupakan kebodohan rangkap, kekufuran, dan filsafat yang dipoles emas.

Aku juga bersyukur kepada-Nya karena telah membukakan salah satu persoalan rububiyah yang besar untukku lewat logika. Yaitu perbedaan antara totalitas yang memiliki sisi parsial, dan keseluruhan yang memiliki bagian. Manifestasi keindahan dan ahadiyyah seperti yang pertama, sementara manifestasi keagungan dan wāhidiyyah seperti yang kedua. Lalu manifestasi kesempurnaan dan kebesaran-Nya mencakup semua. Yakni, keindahan dalam titik keagungan seperti totalitas dalam keseluruhan, serta sisi parsial dalam bagian.

Ketahuilah! Dunia merupakan indeks akhirat. Di dalamnya terdapat isyarat dan petunjuk tentang berbagai persoalan penting.

401

Di antaranya cita rasa dalam rezeki yang bersifat fisik. Yang memasukkan ke dalam wujudmu indera dan daya rasa, organ dan perangkat, serta berbagai sarana untuk bisa merasakan semua jenis nikmat fisik-Nya dan mengetahui berbagai manifestasi nama-Nya yang terwujud secara fisik di dunia yang fana dan hina ini di mana ia tidak nikmat dan bukan untuk kenikmatan, semua itu lewat kreasi yang penuh hikmah ini menunjukkan Pemilik perasaan dan cita rasa yang menyiapkan untuk tamu hamba-Nya satu hidangan jasmani yang sesuai dengan kondisi abadi di istana yang dari bawahnya mengalir sejumlah sungai dengan kekal di dalamnya.

{(Catatan-286): Q.S. al-Maidah: 119.}

Ketahuilah

{(Catatan-287): Ranting kelima dari kalimat kedua puluh empat menjelaskan lintasan pikiran ini.}

wahai Said yang lemah dan cemas. Rasa cemas dan cinta jika menghadap kepada makhluk, ia menjadi bencana yang menyakitkan. Cinta tadi menjadi derita yang menyesakkan. Pasalnya, engkau takut kepada orang yang tidak mengasihimu atau tidak mendengar pintamu. Engkau juga mencintai orang yang tidak mengenalmu atau merendahkanmu karena cinta tadi, atau tidak menyertaimu. Bahkan meninggalkanmu betapapun kondisimu. Karena itu, alihkan keduanya dari dunia berikut isinya menuju Penciptamu Yang maha Pemurah dan Maha Penyayang agar rasa cemasmu berubah menjadi ketundukan yang nikmat dengan bersimpuh kepada sumber rahmat laksana senangnya anak kecil akibat rasa takut yang membuatnya memeluk ibunya yang penuh kasih sayang. Cintamu juga berubah menjadi kebahagiaan abadi yang tidak akan sirna, hina, berdosa, dan mendatangkan derita.

Ketahuilah! Wahai manusia, engkau adalah buah atau benih pohon penciptaan. Dengan fisikmu engkau adalah bagian kecil dan lemah, tak berdaya dan hina, terikat dan terbatas. Hanya saja Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana menaikkanmu lewat kelembutan kreasinya dari bagian parsial menuju keseluruhan yang bersifat komprehensif.

402

Dengan memasukkan kehidupan ke dalam fisikmu, Dia membebaskanmu dari rantai parsialitas secara umum lewat perjalanan mata-mata inderamu yang terhampar di alam nyata untuk mendapat nutrisi maknawi mereka. Lalu, dengan memberikan sisi kemanusiaan, Dia menjadikanmu laksana keseluruhan dengan kekuatan laksana benih. Kemudian dengan anugerah Islam dan iman, Dia menjadikanmu bagaikan totalitas yang kuat. Setelah itu, dengan karunia makrifat dan cinta-Nya Dia merubahmu menjadi seperti cahaya yang komprehensif. Maka, pilihlah apa yang kau inginkan. Jika engkau memilik kekal dengan bumi dan berbagai kenikmatan jasmani, engkau menjadi bagian yang parsial, lemah, dan hina. Namun, jika engkau mempergunakan perangkat hidupmu untuk sisi kemanusiaan yang paling agung yang berupa Islam, maka engkau menjadi seperti keseluruhan yang komprehensif dan lentera pusat.

Ketahuilah! Wahai yang mencintai entitas duniawi yang hanya bisa dicapai dengan kapasitas fisikmu dan bantuan ikatanmu, engkau merasa sakit dengan seluruh perpisahan yang mendatangkan kepedihan sebagai balasan atas perbuatanmu yang mengalihkan cinta tadi tidak pada tempatnya. Jika engkau mencintai Zat Yang Mahaesa, lalu menghadapkan wajah untuk-Nya dengan ijin, pandangan, dan dengan kekuatan-Nya, engkau bersenang-senang dengan yang lainnya dalam waktu yang bersamaan tanpa pernah berpisah dan merasa gelisah. Kondisi tersebut sama dengan orang yang bernisbat kepada raja di mana setiap bagian dari kerajaannya memiliki keterkaitan dengannya. Ia mendengar dan melihat apa yang terjadi pada semua tempat dari setiap perangkat seolah-olah ia berada pada semuanya. Maka, pelayan tadi mendengar dengan pendengaran majikannya dan melihat dengan penglihatannya lewat perangkat komunikasi dan audio visual dengan suara dan gambar yang bagus yang terdapat pada tempat kekuasaannya yang jauh.

Ketahuilah! Wahai yang ingin mengetahui berita seperti bulan di mana andaikan engkau diberitahu bahwa jika mau mengorbankan setengah usiamu tentu ada yang turun dari bulan untuk memberitahumu bahwa di bulan terdapat ini dan itu. Ia

403

juga memberitahukan kepadamu hakikat masa depanmu. Tentu dalam kondisi demikian engkau mau berkorban tanpa pernah menyesal.

{(Catatan-288): Pasalnya, manusia siap untuk memberikan setengah usianya dalam rangka mengetahui hakikat masa depannya.}

Seseorang datang kepadamu memberitahukan tentang zat-Nya di mana bulan hanyalah seperti lalat yang terbang di sekitar penggilingan. Ia terbang di sekitar lentera atap rumah-Nya yang dipersiapkan untuk para hambanya yang sedang musafir. Ia juga memberikan informasi tentang alam keabadian, kehidupan abadi, hakikat fundamental, dan berbagai persoalan besar di mana yang paling kecil darinya lebih besar daripada terbelahnya bumi bersama bulan. Engkau bisa memperhatikan surat at-Takwir atau surat al-infithar, serta yang lainnya. Ia juga memperlihatkan kepadamu jalan yang lurus menuju keesaan di mana jalan tersebut menyelamatkanmu sehingga tidak tercerai berai dalam kesesatan pluralitas. Ia ulurkan padamu tali buhul yang kuat dan rantai arasy di mana semua orang yang berpegang padanya tidak akan tenggelam dalam gelapnya alam sebab. Ia memberimu air kehidupan yang berasal dari sumber mata air iman terhadap kehidupan abadi sehingga engkau tidak terbakar oleh api perpisahan dengan semua yang kau cintai. Ia memberitahukan kepadamu tentang hal-hal yang diridhai oleh Tuhan; Zat yang mentari, bulan, dan bintang terhampar dengan perintah-Nya dan bumi menjadi stabil dengan ijin-Nya. Ia juga menjadi penerjemah dari komunikasi Raja azali dan abadi yang kekuasaan dan kekayaan-Nya tak terhingga. Ia juga menjadi penerjemah dari pembicaraan-Nya denganmu wahai makhluk yang sangat lemah dan papa.

Meski demikian, mengapa engkau tidak membiarkan dirimu untuk bisa memahami petunjuk Alquran? Tidak melupakan kecenderunganmu untuk memperhatikan utusan Tuhan? Mengapa engkau tidak menyambut utusan-Nya dengan penuh ketundukan dan iman? Mengapa engkau tidak ingin mengucap salawat dan salam kepadanya? Mengapa engkau tidak mau meminta informasi darinya seperti yang diminta oleh Tuhan Yang

404

Mahakasih dan Pemilik kita Yang Maha Memberi?!

Ketahuilah! Kita melihat Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana dengan hikmah-Nya yang sempurna tanpa ada kesia-siaan dalam ciptaan-Nya menenun dari sesuatu yang hina, kecil, dan berusia singkat berbagai tenunan yang besar, berharga, mulia, dan abadi; terutama dalam menenun tumbuhan. Demikian pula dengan rahasia tidak adanya kesia-siaan, Zat Yang Mahaesa menugaskan sejumlah perangkat dan alat dengan beragam tugas; terutama yang terdapat di kepala manusia. Andaikan apa yang terdapat di kepalamu hanya mengerjakan satu tugas yang dibebankan kepadanya tentu kepalamu harus sebesar gunung Tur Sina agar bisa menampung semua pihak yang bertugas. Tidakkah engkau melihat lisan, di samping memiliki tugas-tugas lain yang besar ia menjadi alat pemeriksa berbagai simpanan kekayaan Tuhan dan semua makanan yang dimakan di dapur qudrat-Nya. Ia memiliki banyak tugas sebanyak rasa makanan.

Bukankah perbuatan Tuhan Yang penuh hikmah ini menunjukkan bahwa Sang Pencipta boleh bahkan wajib menenun dari semua yang cepat pudar dalam perjalanan masa serta dari hari-hari yang mati, tahun-tahun yang berlalu, dan masa yang telah pergi berbagai tenunan gaib yang tak terlihat oleh mata serta tenunan ukhrawi lewat cawan malam dan siang, mentari dan bulan dalam silih bergantinya mereka dan pergantian musim?! Dia juga menenun dalam diri manusia yang merupakan indeks alam sesuatu yang mendukungnya. Dia mengabadikan setiap menit dari kehidupannya di masa lalu dan fana di antara rangkaian dan tulisan ingatannya. Sehingga fana dan mati di alam yang nyata dan sempit ini merupakan perpindahan abadi dan kekekalan murni dalam wilayah alam gaib. Kita bisa mendengar dari sumber wahyu bagaimana detik-detik usia manusia kembali kepada-Nya. Ia bisa gelap akibat kelalaian dan dosa, dan bisa pula terang oleh lentera kebaikan yang bergantung di rangkaian waktu tadi.

Ketahuilah! Di antara hikmah kreasi Sang Pencipta Yang Mahaindah dan Bijaksana dalam membentuk makhluk dalam ukuran kecil dan besar seperti yang terlihat pada hewan; terutama

405

pada makhluk yang terbang dengan kedua sayapnya, ikan, malaikat, dan berbagai alam lainnya, mulai dari atom hingga mentari, Dia menjadikan yang kecil sebagai contoh miniatur dari yang besar. Hal itu untuk menjadi petunjuk, memudahkan berpikir, memudahkan untuk membaca tulisan qudrat, memperlihatkan kesempurnaan kekuasaan-Nya, serta memperlihatkan dua bentuk kreasi keindahan dan keagungan-Nya. Pasalnya, sebab-sebab yang tidak diketahui, yang kecil dan samar, bisa dilenyapkan oleh jelasnya huruf yang besar. Namun, sebab yang tidak diketahui yang sangat luas dan besar hanya bisa dijangkau dan dipahami oleh kedekatan huruf yang kecil. Nafsu ammarah yang belajar kepada setan melihat kecilnya sesuatu sebagai sebab meremehkan ciptaan sehingga menganggapnya bersumber dari sebab-sebab yang tuli dan buta. Sementara, pada yang besar dan terbentang ia menganggap tidak ada penulisan yang berdasarkan hikmah serta adanya kesia-siaan dan proses kebetulan.

Ketahuilah!

{(Catatan-289): Persoalan yang halus ini, yaitu hikmah beragamnya tujuan, dijelaskan oleh catatan hakikat keenam dari risalah al-Hasyr (kebangkitan makhluk di hari akhir).}

Barangkali ada yang berkata, "Kedermawanan mutlak dan rezeki yang tak terbatas sesuai dengan prinsip kesia-siaan serta meniadakan keberadaan hikmah dari satu sisi?"

Sebagai jawabannya: ya, meski dibatasi pada satu tujuan, namun segala sesuatu terutama makhluk hidup memiliki tujuan yang beragam, buah yang bermacam-macam, dan berbagai tugas yang berbeda. Bukankah lisanmu memiliki tugas sebanyak rambut di kepalamu? Kedermawanan sebagai tujuan dan sebagai tugas tidaklah menafikan sisi hikmah dan keadilan jika melihat keberadaannya yang mengarah kepada sejumlah tujuan dan tugas. Ia sama seperti pasukan yang dipergunakan untuk menghukum penjahat atau melindungi rombongan tertentu misalnya. Dalam pasukan terdapat banyak eksistensi diukur dengan pengabdian kecil tadi di mana ada kewajiban untuk menjaga perbatasan dan tujuan-tujuan lainnya.

Ketahuilah! Manusia dapat diilustrasikan di balik jejak dan penciptaannya. Namun, dalam ciptaan Pencipta azali hal itu

406

hanya bisa dilakukan dari balik tujuh puluh ribu hijab di balik ciptaan tadi. Andaikan engkau bisa melihat kepada keseluruhan ciptaan-Nya sekaligus tentu hijab-hijab gelap itu tersingkap, dan hanya hijab cahaya yang tersisa. Jalan terdekat terdapat dalam dirimu; bukan di cakrawala kecuali dengan kecintaan yang benar.

Ketahuilah! Sebagian besar hewan dan tumbuhan yang memiliki keturunan masing-masingnya berusaha untuk menguasai bumi guna menjadikannya sebagai masjid untuk dirinya. Ia beribadah dengan memperlihatkan nama Pencipta-nya di setiap bagian darinya dalam bentuk ibadah yang tak terhingga bagi Penciptanya yang sangat layak untuk menjadi tujuan ibadah. Engkau bisa melihat semangka dan benihnya, pohon dan benih yang terdapat dalam buahnya, ikan dan telurnya, serta burung dan telurnya. Hanya saja, sempitnya alam, serta jangkauan pengetahuan Zat Yang Mengetahui hal gaib dan nyata terhadap apa yang terjadi, yang sedang terjadi, yang belum terjadi, serta kalaupun terjadi bagaimana terjadi, semua itu mengharuskan penerimaan ibadahnya berikut niatnya yang menyatu dalam benihnya.

Ketahuilah! Penyebutan Alquran terhadap sebagian tujuan yang mengacu kepada manusia adalah untuk mengingatkan; bukan untuk pembatasan. Yakni, untuk mengarahkan pandangannya pada adanya kecermatan dalam manfaat sistem sesuatu yang memiliki tujuan, serta dalam keteraturannya yang menunjukkan nama-nama Penciptanya. Pasalnya, mempunyai perhatian dengan sesuatu yang terkait dengannya. Ia mengutamakan partikel yang kembali kepadanya daripada mentari yang tidak kembali kepadanya. Misalnya,

Dan telah Kami tetapkan sejumlah manzilah (kedudukan) bagi bulan.

{(Catatan-290): Q.S. Yasin: 39.}

Agar dengan itu kalian mengetahui jumlah tahun dan perhitungannya.

{(Catatan-291): Q.S. Yunus: 5.}

407

Ini adalah salah satu tujuan dari ribuan tujuan penetapan bulan. Jadi bukan untuk pembatasan. Dengan kata lain, ia diciptakan untuk ini semata. Namun, apa yang terlihat oleh kalian adalah bagian dari buahnya.

Ketahuilah bahwa di antara cetakan-Nya yang tak bisa ditiru, stempel-Nya yang hanya dimiliki oleh-Nya, serta di antara petunjuk tauhid yang paling cemerlang dalam qudrat yang tak terbatas, serta pengetahuan yang tak terhingga dalam tindakan-Nya yang bersifat mutlak, kerapian yang bersifat mutlak, dan kemudahan mutlak, adalah penciptaan beragam hal yang tak terhingga dari satu hal yang sederhana. MIsalnya tumbuhan yang beragam yang berasal dari tanah serta beragam organ hewan yang berupa darah, daging, tulang, dan yang lainnya yang berasal dari satu nutrisi sederhana. Begitu pula penciptaan sesuatu dari berbagai spesies yang tak terhingga. Contohnya tubuh manusia yang berasal dari ragam makanan yang tak terbatas.

Mahasuci Zat Yang Mahakuasa menjadikan sesuatu sebagai segala sesuatu, serta menjadikan segala sesuatu menjadi sesuatu.

Ketahuilah! Dalam ayat yang berbunyi, "Apakah Kami yang menanam," terdapat rahasia dan perumpamaan yang agung. Sebagaimana engkau menjaga sejumlah benih agar tidak rusak, lalu kau simpan dan kau tanam di ladangmu, demikian pula Sang Pewaris yang membangkitkan yang menjaga yang menghidupkan bumi setelah sebelumnya mati menulis buah dari amal seluruh tumbuhan dan menjaganya. Setelah itu Dia menanamnya dengan distribusi yang penuh hikmah dan pembagian yang teratur. Dia membagi sejumlah benih tersebut ke berbagai penjuru tidak hanya berkumpul di pangkalnya. Setelah itu, Dia menebarkan daun dan bunganya sehingga menjadi seperti bunyi ayat, "Apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dihamparkan."

{(Catatan-292): Q.S. at-Takwir: 10.}

Maka, perhatikan dengan maksimal agar engkau mampu menjaga sejumlah benih hingga menuju penjagaan Sang Penjaga mutlak yang sempurna dalam menjaga kotak-kotak yang tak

408

terhingga yang berisi daftar isi induknya yang ditetapkan berdasarkan garis takdir.

Penjagaan tersebut tentu saja tidak bekerja sesukanya lalu mati dan istirahat. "Apakah manusia mengira dibiarkan begitu saja."

{(Catatan-293): Q.S. al-Qiyamah: 36.}

Tidak. Tetapi semua perbuatannya baik yang kecil maupun besar akan dihisab.

Ketahuilah! Di antara tugas kehidupan manusia adalah memahami sifat-sifatnya, urusannya, serta kondisi sesama jenisnya sebagai manusia untuk mengetahui sifat-sifat Penciptanya. Adapun memahami hal-hal besar yang terkait dengan persoalan kebangkitan dan akhirat, perbuatan-Nya di hari kiamat, serta bagaimana membangkitkan orang mati, maka untuk memahaminya dibutuhkan sikap tunduk dengan menjadikan kebangkitan musim semi dan kiamat musim gugur sebagai analogi bagi urusan-Nya di kiamat besar nanti. Perhatikanlah musim semi agar di dalamnya engkau bisa melihat penjelasan dari ayat-ayat seperti, "Apabila matahari digulung."

{(Catatan-294): Q.S. at-Takwir: 1.}

Ketahuilah! Di antara keagungan jangkauan Islam adalah pilar dinding-dindingnya yang membentang dari sifat-sifat Pemilik Arasy yang paling tinggi berikut berbagai persoalan penciptaan Arasy, langit, bumi, dan malaikatnya hingga lintasan-lintasan pikiran kalbu berikut dipenuhinya ruang antara keduanya dengan rambu-rambu yang kokoh dan kuat.

409

Bismillāhirrahmānirrahīm

Janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah.

{(Catatan-295): Q.S. Luqman: 33.}

Ketahuilah!

{(Catatan-296): Pelajaran ketiga dari risalah "Pengantar Menuju Cahaya."}

Wahai yang mengajak kaum muslimin kepada kehidupan duniawi yang merupakan permainan dalam tidur dan senda gurau, serta mendorong mereka untuk keluar dari wilayah kebaikan yang memadai

{(Catatan-297): Untuk kesenangan mereka yang bersih dan mubah secara syariat.}

yang Allah halalkan menuju wilayah dosa yang Allah haramkan di mana engkau memaksa mereka meninggalkan sebagian syiar agama atau bahkan meninggalkan agama. Perbuatanmu terhadap mereka

{(Catatan-298): Contoh ini secara sangat jelas diuraikan pada "kalimat ketujuh".}

sama seperti orang mabuk yang tidak bisa membedakan antara singa yang buas dan kuda yang jinak, tidak bisa membedakan antara tiang eksekusi dan perangkat bermain anak-anak yang terbuat dari tali yang bergerak di udara. Serta tidak bisa membedakan antara luka yang mengaga dan bunga mawar yang merekah. Namun, ia menduga singa sebagai kuda, tiang eksekusi sebagai tali mainan, dan luka sebagai bunga mawar. Pada waktu yang sama, ia menganggap dirinya sebagai pemberi petunjuk dan pengusung perbaikan. Ia datang kepada seseorang yang berada dalam kondisi mencekam. Pasalnya, di belakang orang tersebut terdapat seekor singa yang setiap waktu siap untuk menyerang. Di depan orang itu terdapat tiang eksekusi yang telah ditegakkan. Sementara, di sekitarnya ada luka dalam yang menganga serta

410

bisul yang meletus. Lalu, di tangannya terdapat dua obat yang apabila dipergunakan dengan ijin Allah dua luka tadi berubah menjadi mawar merekah.

Pada lisan dan kalbunya terdapat balsem yang apabila dipergunakan, maka dengan perintah Allah singa tadi berubah menjadi kuda yang bisa ia tunggangi menuju kehadapan Tuannya yang Pemurah yang mengundangnya ke negeri kedamaian untuk menjamunya. Serta tali perpisahan dan salib yang terurai dari pohon kelenyapan dan kefanaan dengan kelembutan Allah berubah menjadi perangkat untuk jalan-jalan dan rekreasi serta untuk melihat berbagai pemandangan baru dan cermin yang terus berjalan dan berganti-ganti karena semakin bertambahnya kenikmatan hadirnya manifestasi keindahan Tuhan yang abadi sepanjang musim dan masa. Kenikmatan tersebut juga terus bertambah seiring dengan hadirnya berbagai anugerah dan nikmat sepanjang waktu. Kemudian orang mabuk tadi yang berada dalam kondisi sama berkata kepada orang tersebut, "Tinggalkan balsem ini, dan buanglah kedua obat itu! Mari kita bermain, bermain, menari, dan bernyanyi!" Orang itupun menjawab, "Aku sudah cukup senang dengan perlindungan dua balsem dan obat ini. Kenikmatan dan kebahagiaan hanya ada padanya. Jika mampu engkau bisa membunuh singa kematian yang hanya mati di sorga

{(Catatan-299): Abu Said al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, "Kematian dihadirkan dalam bentuk seperti kibas putih. Lalu ada yang menyeru, 'Wahai penduduk sorga!'Maka mereka mengangkat kepala dan melihat. Si penyeru tadi bertanya, 'Apakah kalian mengenal ini?' 'Ya, ini adalah kematian' jawab mereka. Semua mereka melihatnya. Kemudian ada yang menyeru, 'Wahai penduduk neraka!' Mereka mengangkat kepala dan melihat. 'Kalian mengenali ini?' tanya si penyeru tadi. Mereka menjawab, 'Ya, ini adalah kematian.' Setelah itu ia membaca, 'Berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus sementara mereka dalam kelalaian dan tidak beriman.' (QS Maryam: 39). Lalu, ia menunjuk dengan tangannya ke dunia." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam tafsir ayat tersebut serta oleh Muslim nomor 2849).}

lalu mengangkat alat yang sudah dipancang ke tanah menuju langit dengan hukum milik Penguasa bumi. Atau, kau singkirkan perangkat kelenyapan lewat cara mengubah bumi dengan bumi yang lain.

411

Lalu, kau obati luka yang menggerogori keseluruhan hidupku dengan mengubah kehidupanku yang lemah dan fana dengan kehidupan abadi. Serta, kau lepaskan diriku dari bisul yang mengelilingi diriku dengan mengubah diriku yang fakir ini menjadi kekal dan kaya. Jika keempat hal di atas tidak kau miliki, wahai setan mabuk engkau tidak akan bisa menipu kecuali orang yang mabuk seperti dirimu di mana ia tidak bisa membedakan antara tangis dan tawa, antara lenyap dan abadi, antawa hawa nafsu dan petunjuk. Adapun diriku, cukuplah Allah bagiku. Dia Sebaik-baik pelindung dan penolong." Demikian jika engkau memahami rahasia perumpamaan ini atau ingin melihat gambaran sebenarnya.

Ketahuilah! Murid-murid peradaban yang bodoh dan sesat, serta murid filsafat yang sakit dan menyesatkan, telah mabuk. Mereka datang menyeru kaum muslimin untuk mengikuti tradisi asing dan meninggalkan syiar-syiar yang berisi perasaan yang disinari oleh cahaya Islam. Maka, mara murid Alquran menghadapi mereka dengan berkata,

"Wahai kaum yang sesat dan lalai. Jika kalian mampu mengangkat kefanaan dan kematian dari dunia, serta kelemahan dan kemiskinan dari manusia kalian boleh merasa tidak butuh kepada agama dan syiar-syiarnya. Namun jika tidak, maka menyingkirlah dan tinggalkan semua bisikan dan seruan kalian. Ayat-ayat penciptaan menyeru dengan suaranya yang paling nyaring untuk berpegang kepada agama berikut semua syiarnya,

Apabila Alquran dibacakan, perhatikan dan dengarkanlah ia semoga kalian mendapat rahmat.

{(Catatan-300): Q.S. al-A'raf: 204.}

Ya. Jika di belakangku terdapat singa ajal yang senantiasa mengancamku, maka apabila aku mendengar gema Alquran dengan landasan iman, singa tadi berubah menjadi kuda, perpisahan berubah menjadi kilat yang mengantarku kepada rahmat Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang serta kepada Tuhan Yang Mahakasih dan Pemurah. Jika tidak, kematian

412

menjadi singa buas yang bisa mengoyakku serta memisahkan diriku dari semua orang yang kucintai selama-lamanya. Selain itu, di hadapanku terdapat perangkat fana yang dipancang sepanjang siang dan malam, berikut perangkat kebinasaan dan perpisahan yang tegak sepanjang masa. Semua perangkat tadi ditegakkan untuk menyalibku dan semua orang yang kucinta. Maka, apabila engkau memperhatikan petunjuk Alquran dengan penuh keyakinan, semua alat dan perangkat tadi berubah menjadi perahu tamasya dan rekreasi di sungai zaman dan lautan dunia guna menyaksikan kemunculan manifestasi qudrat-Nya sepanjang masa dengan mesin mentari, perjalanan bulan, dan perputaran bumi untuk berbalut dengan balutan malam dan siang serta untuk memakai baju perhiasan musim panas dan dingin. Rekreasi tadi juga dilakukan untuk menyaksikan kehadiran manifestasi nama-Nya dalam berbagai bentuk dan cermin yang terus berubah sepanjang siang dan malam.

Demikianlah! Di kedua sisi kananku yang berupa kemiskinan tak terbatas terdapat bisul yang menggerogoti. Di samping aku lebih lemah dari hewan yang paling lemah, aku juga lebih miskin dari semua hewan. Dengan kata lain, kebutuhan maknawiyah dan materiku sama dengan kebutuhan semuanya, sementara kemampuanku kalah dari burung pipit sekalipun. Jika aku berobat dengan obat Alquran, maka kemiskinan yang pedih tadi berubah menjadi rasa rindu yang nikmat lantaran mendapatkan jamuan Tuhan, serta munculnya selera untuk memakan buah rahmat Zat Yang Pengasih dan Penyayang. Lezatnya kemiskinan dan ketidakberdayaan jauh lebih terasa ketimbang lezatnya kekayaan dan kekuatan. Jika tidak, pasti aku terus berada dalam derita akibat berbagai kebutuhan serta dalam hinanya meminta-minta dan menyembah kepada pihak yang bisa memenuhi kebutuhanku.

Lalu di sisi kiriku terdapat luka dalam dan lemah tak terkira dalam menghadapi sejumlah musuh dan faktor yang membinasakan. Derita rasa takut melenyapkan nikmatnya kehidupan dunia. Namun, ketika aku mau mendengarkan seruan Alquran dengan penuh ketundukan, kelemahanku berubah menjadi sebab

413

untuk bersandar kepada Zat Yang Mahakuasa mutlak serta bersambung dengan rahasia tawakkal yang berisi rasa aman dan selamat dari musuh. Akan tetapi, jika hal itu tidak dilakukan, aku tetap dalam kondisi gelisah di antara sejumlah musuh yang tak terhitung dan tak terhingga.

Di samping itu aku berada dalam perjalanan panjang dengan melewati kubur dan kebangkitan menuju keabadian. Pengetahuan dan akal tidak memperlihatkan cahaya yang menerangi gelapnya jalan, serta bekal perjalanan tersebut tidak memberikan rezeki kecuali yang terambil dari mentari Alquran dan simpanan Zat Yang Maha Penyayang. Jika ada sesuatu yang merintangi perjalanan, namun tidak sampai memotong jalan dengan kesesatan yang berupa jatuh dari mulut kubur dalam dahsyatnya gelap ketiadaan di mana ia lebih mengerikan dan mencekam, maka berucaplah!

Namun, jika tidak, diamlah hingga Alquran mengatakan apa yang hendak ia katakan. Ketika kelima tanda dari kitab alam yang terdapat di kepala manusia membacakan ayat yang berbunyi, "Janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah."

{(Catatan-301): Q.S. Luqman: 33.}

Bagaimana mungkin engkau mengikuti sang penipu? Yang memilih jalanmu hanyalah orang yang mabuk oleh politik, keinginan populer, syahwat nama baik, fanatisme ras, kebusukan filsafat, kedunguan peradaban, serta berbagai hal memabukkan lainnya. Nah, berbagai pukulan yang mengenai kepala manusia, serta berbagai kondisi yang menghantam wajahnya akan melenyapkan mabuk tersebut. Bersamaan dengan itu, manusia tidak seperti hewan yang hanya diuji dengan derita masa kini. Tetapi, kepalanya juga dihantam dengan rasa takut terhadap masa depan dan kesedihan masa lalu.

Jika engkau tidak ingin lebih malang, lebih hina, dan lebih sesat dari seluruh binatang, dengarkan dan perhatikan kabar gembira Alquran berikut ini dengan penuh keimanan,

414

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak merasa khawatir dan bersedih; (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Itulah kemenangan yang besar.

{(Catatan-302): Q.S. Yunus: 62-64.}

415

Bismillāhirrahmānirrahīm

Demi buah tin dan buah Zaitun. Demi bukit Sinai dan dan demi kota (Mekah) ini yang aman. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan ia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.

{(Catatan-303): Q.S at-Tin.}

Ketahuilah!

{(Catatan-304): Pelajaran kesembilan dari "Pengantar Menuju Cahaya". Penjelasannya terdapat pada kata kedua puluh tiga.}

Kerapian penciptaan dan kesempurnaanya dalam segala hal menunjukkan bahwa Pencipta seluruhnya di samping berada pada semua di setiap tempat; namun Dia tidak berada di sebuah tempat dan tidak berada pada sesuatu.

Lantaran butuh kepada segala sesuatu, mulai dari bagian yang paling kecil hingga yang paling besar, manusia hanya layak menyembah Zat yang di tangan-Nya tergenggam kerajaan segala sesuatu dan Zat yang pada-Nya terdapat perbendaharaan segala sesuatu.

Jiwa manusia dilihat dari sisi eksistensi, penghadiran, kebaikan, dan perbuatan sangatlah kecil, kurang, dan cacat. Ia lebih kecil dari semut dan lebah dan lebih lemah daripada laba-laba dan nyamuk. Sementara, dari sisi ketiadaan, kerusakan, kejahatan, dan emosi, ia lebih besar dari langit, bumi, dan gunung. Misalnya jika berbuat baik, ia berbuat baik lewat apa yang bisa ditampung oleh tangannya dan dicapai oleh kekuatan pribadinya.

416

Namun, jika berbuat buruk, ia berbuat buruk lewat sesuatu yang melampaui batas.

Dengan dosa kekufuran, ia merendahkan semua entitas dengan menurunkan nilainya dari puncak keberadaannya yang merupakan tulisan Rabbaniyah dan cermin ilahiyah menuju tanah kerendahan di mana ia diposisikan sebagai materi yang cepat lenyap dan pergi serta dipermainkan oleh proses kebetulan dan kesia-siaan. Hal itu menjatuhkan manusia yang merupakan untaian rapi dan seimbang dari manifestasi nama-nama-Nya, benih pohon keabadian, dan khalifah yang mengungguli semua entitas besar dengan pemikulan amanah, menuju tingkatan yang menjadikannya lebih rendah dari hewan yang lenyap dan fana, sekaligus lebih lemah, lebih papa, dan lebih miskin.

Selain itu, dari sisi ego, manusia memiliki pilihan laksana sehelai rambut, kemampuan laksana partikel, kehidupan laksana percikan api, serta eksistensi yang berupa bagian kecil dari spesies yang tak terhingga. Namun, dari sisi kelemahan dan kemiskinannya, ia memiliki kapasitas besar. Pasalnya, kelemahan besarnya yang tak terhingga, kemiskinannya yang tak terkira membuatnya dapat menjadi cermin luas dari manifestasi Zat Yang Mahakuasa dan Mahakaya.

Selanjutnya, dari sisi kehidupan dunia yang materi dan hewani, manusia seperti benih. Berbagai perangkat yang diberikan kepadanya untuk menjadi bulir dan pohon dialihkan untuk mendapatkan materi yang cepat punah di sempitnya tanah hingga akhirnya hancur tanpa guna. Dari sisi kehidupan maknawi, ia seperti pohon abadi yang ranting-ranting harapannya membentang menuju keabadian.

Lalu, dari sisi perbuatan dan usaha materi, manusia adalah hewan yang lemah dan tak berdaya. Ia memiliki wilayah yang sempit yang setengah teritorialnya berupa bentangan tangannya. Dari sisi doa dan permintaan, ia adalah tamu Tuhan yang mulia yang perbendaharaan rahmat-Nya dibukakan untuknya serta kreasi indah-Nya dihamparkan untuknya. Ia memiliki wilayah agung yang setengah teritorialnya berupa bentangan pandangannya; bahkan hayalannya, bahkan lebih luas daripada itu.

417

Manusia dari sisi kesenangan hidup hewani berikut kesempurnaannya, keselamatannya, dan kekokohannya seratus tingkat lebih rendah dari burung pipit karena kenikmatannya dinodai oleh berbagai kesedihan masa lalu dan rasa cemas terhadap masa depan. Dari sisi organ, bagian-bagian indera, keragaman perasaan, keterhamparaan perangkat, banyaknya potensi, semua ini menunjukkan bahwa tugas asli manusia adalah menyaksikan tasbih entitas, bersaksi atasnya, serta meneliti dengan bertafakkur, merenungkannya, meminta kebutuhannya, serta mengabdi lewat tingkat kelemahan, kemiskinan dan keterbatas. Dari sisi integralitas potensinya yang disiapkan untuk berbagai ibadah seratus tingkat lebih mulia daripada burung pipit. Maka, secara aksioma, orang berakal bisa mengetahui bahwa semua perangkat ini tidak diberikan untuk kehidupan ini; namun untuk kehidupan abadi. Misalnya, jika kita melihat seseorang memberikan kepada salah seorang pelayannya sebanyak sepuluh dinar untuk membeli pakaian dari bahan khusus yang harganya paling tinggi sepuluh dinar. Kemudian ketika orang tadi memberikan kepada pelayan lain seribu dinar untuk membeli pakaian. Sudah pasti hal itu bukan untuk membeli pakaian dari bahan yang harga maksimalnya sepuluh dinar. Tetapi, ia diberikan untuk membeli yang harganya seratus kali lebih mahal. Namun, kalau karena kebodohannya uang seribu dinar tadi dibelikan pakaian dari bahan yang sama padahal ia seratus kali lebih murah, maka pastilah mendapat hukuman yang keras.

Manusia, dengan kekuatan kelemahannya dan qudrat ketidakberdayaannya, jauh lebih kuat dan lebih kuasa. Pasalnya, dengan doa dan permintaannya, dihamparkan untuknya sesuatu yang tidak bisa digapai dengan kekuatannya. Ia seperti anak kecil yang dengan tangisnya bisa mendapatkan sesuatu yang tak bisa dicapai dengan ribuan kali kekuatannya. Jadi ia bisa menguasai lewat penundukan Tuhan; bukan dengan cara mengalahkan, merampas, dan sebagainya. Maka itu, ia harus memperlihatkan kelemahan, ketidakberdayaan, kemiskinan, dan kepapahannya dengan cara meminta tolong, bersimpuh, dan menampakkan penghambaan.

418

Manusia, dari sisi teropongnya terhadap keindahan kesempurnaan kekuasaan rububiyah, dalilnya tentang manifestasi nama-nama-Nya, pemahamannya lewat mengecap simpanan kekayaan rahmat-Nya, pengetahuannya lewat cara menimbang permata perbendaharaan nama yang terlihat, perenungannya dengan cara mencermati tulisan pena ketentuan-Nya, rasa rindunya lewat cara melihat kehalusan ciptaan-Nya, dari sisi ini manusia merupakan makhluk termulia dan khalifah di muka bumi.

419

Bismillāhirrahmānirrahīm

Wahai manusia, kalian fakir kepada Allah.

{(Catatan-305): Q.S. Fāthir: 5.}

Berlarilah menuju Allah.

{(Catatan-306): Q.S. adz-Dzāriyāt: 50.}

Ketahuilah wahai Said yang terbatas, lemah, dan miskin. Dalam dirimu terdapat kekurangan tak terkira, kelemahan tak terhingga, kemiskinan tak berujung, kebutuhan tak terbatas, dan harapan tak terhitung. Sebagaimana dalam dirimu ditanamkan rasa lapar dan haus untuk mengetahui lezat nikmat-Nya, demikian pula kekurangan, kefakiran, kelemahan, dan raswa butuh dipasang agar dengan teropong kekuranganmu engkau bisa melihat paviliun kesempurnaan-Nya, dengan ukuran kefakiranmu engkau bisa melihat tingkat kekayaan dan rahmat-Nya, dengan neraca kelemahanmu engkau bisa melihat kekuasaan dan kebesaran-Nya, serta dari beragam kebutuhanmu engkau bisa melihat aneka nikmat dan kebaikan-Nya.

Tujuan fitrahmu adalah ubudiyah. Sementara, ubudiyah adalah kau tampakkan di hadapan pintu rahmat-Nya:

- Kekuranganmu dengan astaghfirullah dan subhanallāh

- Kefakiranmu dengan hasbunallāh, alhamdulilāh, dan berdoa

- Kelemahanmu dengan lā hawlā walā quwata billāh, Allahu Akbar, dan meminta pertolongan-Nya.

- Maka, dengan cermin ubudiyah-Mu engkau memperlihatkan keindahan rububiyah-Nya.

420

Bismillāhirrahmānirrahīm

Orang-orang yang banyak berbakti berada dalam sorga yang penuh kenikmatan, sementara orang-orang yang durhaka berada dalam neraka.

{(Catatan-307): Q.S. al-Infithār: 13-14.}

Ketahuilah wahai Said yang lalai, segala sesuatu dalam perjalanan hidupnya memiliki dua jalan menuju kubur. Dua jalan tersebut sama dilihat dari sisi pendek dan panjangnya.

Hanya saja, salah satu darinya di samping tidak berbahaya, juga memberikan manfaat besar dengan kesaksian para saksi yang mutawatir dan kesepakatan mereka. Dari sepuluh orang yang melewatinya sembilan yang bisa meraih manfaat besar tersebut.

Sementara, jalan yang satunya di samping tidak memberikan manfaat, ia mengandung bahaya besar menurut kesepakatan para ahli dan kalangan yang telah menyaksikan. Kemungkinan bahayanya sembilan dari sepuluh. Hanya saja, orang yang melewati jalan ini tidak membawa senjata dan bekal. Secara lahir ia tampak ringan dan bebas dari beban. Namun di atas punggung kalbunya ia memikul seratus hutang budi dan jiwanya memikul rasa takut dan cemas. Nah, karena perumpamaan akan membuat sesuatu yang rasional lebih bisa ditangkap, kami akan memberikan perumpamaan terhadap hakikat ini:

Engkau ingin pergi ke Istambul atau diutus ke sana. Dari tempatmu menuju ke sana terdapat dua jalan: kanan dan kiri yang panjang dan pendeknya sama. Hanya saja keduanya berbeda dari segi manfaat dan bahaya, ringan dan beratnya. Di sisi kanan

421

terdapat manfaat besar tanpa ada bahaya, juga perlu membawa senjata dan bekal sebanyak karunia yang ada disertai keterlepasan jiwa dan kalbu dari beban memikul rasa takut. Di sisi kiri terdapat bahaya menurut kesaksian jutaan ahli dan saksi tanpa ada manfaat disertai tidak adanya beban lahiriah dengan melepas senjata yang tajam dan tidak membawa bekal yang paling nikmat. Namun, sebagai ganti dari senjata jiwanya membawa timbunan rasa takut dan sebagai ganti dari bekal, kalbunya memikul seratus beban. Para saksi yang jujur memberitahukan bahwa mereka yang dengan iman pergi melewati sisi kanan berada dalam keamanan dan keselamatan sepanjang perjalanan mereka. Ketika sampai di negeri yang dituju sembilan dari sepuluh orang yang ada mendapatkan manfaat dan keuntungan besar.

Sementara, orang-orang yang dengan noda kesesatan, kemalasan, dan kebodohan melewati sisi kiri. Sepanjang perjalanan mereka berada dalam kondisi risau dan cemas. Karena cemas dengan kelemahannya, orang yang melewati jalan tersebut singgah di setiap tempat dan memelas kepada segala sesuatu akibat rasa butuh. Ketika sampai di negeri tujuan, mereka ditahan dan dibunuh. Yang selamat hanya satu atau dua. Orang yang memiliki sedikit akal saja pasti tidak akan memilih sesuatu yang mengandung kemungkinan bahaya daripada yang tidak mengandung bahaya lantaran ringan yang sedikit. Bagaimana ia mengutamakan sesuatu yang kemungkinan besar mengandung bahaya daripada sesuatu yang sembilan puluh sembilan persen berpeluang memberikan manfaat hanya karena secara lahiriah tidak ada beban padahal sebenarnya mengandung beban berat?!

Musafir tersebut adalah dirimu. Adapun Istambulnya adalah alam barzakh dan akhirat. Adapun jalan kanan adalah jalan Alquran yang memerintahkan salat sesudah iman. Sementara, jalan kiri adalah jalan orang-orang fasik dan tiran. Selanjutnya para ahli dan saksi adalah wali yang menyaksikan. Pasalnya, mereka pemilik kewalian dan memiliki cita rasa penyaksian terhadap hakikat Islam. Senjata dan bekalnya berupa tugas yang berisi ibadah seperti salat yang mengandung kalimat tauhid yang mencakup titik kebersandaraan yang berisi tawakkal kepada Zat

422

Yang Mahakuasa, Maha Menjaga, Maha Mengetahui, Mahakaya, Maha Pemurah, dan Maha Penyayang. Maka, ia selamat dari sikap tunduk dan merendah kepada segala sesuatu yang mengandung bahaya dan manfaat. Pasalnya, lā ilāha illallāh bermakna tidak ada yang bisa memberikan manfaat dan bahaya kecuali Dia. Manfaat dan bahaya hanya terwujud dengan ijin-Nya.

423

Bismillāhirrahmānirrahīm

Kehidupan dunia tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sementara negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya.

{(Catatan-308): Q.S. al-Ankabut: 64.}

Ketahuilah wahai Said yang sedang berjalan menuju masa tua, menuju kubur, menuju mahsyar, dan menuju keabadian. Usia yang diberikan Tuhan kepadamu adalah untuk meraih kebutuhan dalam dua kehidupan sesuai dengan panjang dan pendeknya. Namun, engkau telah menghabiskan semuanya di kehidupan yang fana ini yang laksana setetes fatamorgana jika diukur dengan lautan. Jika engkau memiliki akal, alokasikan setengah atau sepertiganya, tidak kurang, untuk kehidupan abadi. Anehnya, orang yang bodoh sepertimu justru disebut berakal dan cerdas.

Misalnya, adakah orang yang lebih bodoh daripada hamba yang diberi oleh majikannya dua puluh empat dinar. Lalu dari Burdur ia dikirim ke Antalya,

{(Catatan-309): Nama kota yang terletak di Selatan Turki.}

Syam, Madinah, dan Yaman. Ia diperintahkan untuk mempergunakan dinar tersebut untuk keperluan perjalanannya. Hanya saja, ke Antalya bisa dilakukan dengan berjalan kaki. Andaikan ia tidak mengeluarkan apa-apa niscaya bisa sampai. Lalu, dari sana ia harus menuju ke tempat-tempat lain bisa dengan menaiki kapal laut, kereta, atau pesawat udara. Ia bisa menempuh perjalanan sejarak satu bulan dalam satu hari. Kalau tidak, ia pergi berjalan kaki dengan tersesat dan seorang diri. Namun, si pelancong yang bodoh itu telah membe-

424

lanjakan dua puluh tiga dinar untuk perjalanan dua hari.

Karena itu ada yang menegur, "Jangan dikurangi lagi! Pergunakan yang satu dinar untuk bekal perjalanan panjang. Semoga Tuhan mengasihimu."

Ia menjawab, "Aku tidak mau mempergunakan untuk satu hal yang mungkin tidak bermanfaat."

"Engkau benar-benar bodoh. Di mana akalmu? Kau buang setengah hartamu untuk undian yang diikuti seribu orang dengan harapan memperoleh seribu dinar di mana kemungkinannya satu berbanding seribu. Mengapa engkau tidak berpikir untuk memberikan satu bagian dari dua puluh empat dinar ini untuk memenangkan abadi yang kemungkinannya sembilan puluh sembilan persen sesuai dengan kesaksian jutaan kalangan khawas. Keuntungan besar ini sebetulnya sudah cukup mendapat perhatian ketika diberitakan oleh satu orang awam. Apalagi kalau diberitakan oleh mentari manusia, bintang-gemintangnya yang mutawatir, serta kalangan yang menyaksikan di mana dua orang yang menetapkan dari mereka sudah bisa mengalahkan ribuan orang yang mengingkari sebagaimana dua orang yang menyaksikan hilal Ramadhan mengalahkan ribuan orang yang mengaku tidak melihatnya.

Hamba yang melakukan perjalanan tadi adalah dirimu. Sementara Burdur adalah duniamu. Antalya merupakan kubur, Syam adalah Barzakh, dan Yaman merupakan kehidupan sesudah mashyar. Selanjutnya uang senilai dua puluh dinar adalah dua puluh empat jam dalam sehari. Kau pergunakan dua puluh tiga jam untuk kepentingan dunia yang fana, lalu mengabaikan satu jam sisanya untuk melaksanakan salat lima waktu yang merupakan bekal wajib dalam perjalanan panjang.

Ini adalah perumpamaan untuk menjelaskan salah satu rahasia ayat Alquran:

Dan (di hari itu) sorga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa. Sementara neraka Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada orang- orang yang sesat.

{(Catatan-310): Q.S. asy-Syu'arā: 90-91.}

425

Ketahuilah wahai yang lalai dan meninggalkan agama dalam rangka mencari dunia. Aku akan mengetengahkan satu perumpamaan untukmu. Di dalamnya terdapat contoh bagian dari hakikat dunia dan agama.

Di masa lalu ada dua orang bersaudara. Keduanya pergi berjalan hingga akhirnya jalan terbagi dua: pada salah salah satunya terdapat beban karena harus mengikuti sejumlah rambu, sementara yang lain secara lahir tampak ringan. Yang memiliki akhlak terpuji memilih sisi kanan meski ada sedikit beban yang harus ditunaikan. Sebaliknya, yang memiliki akhlak buruk memilih sisi kiri karena bebas dari beban. Yang berada di sisi kiri melewati sejumlah padang hingga akhirnya masuk ke padang pasir yang kosong. Ia mendengar suara yang mengagetkan. Ternyata ada sebuah singa yang siap untuk menyerangnya. Iapun berlari sampai bertemu dengan sebuah sumur sedalam enam puluh hasta. Ia melompat ke dalamnya dan jatuh sedalam tiga puluh hasta. Tangannya memegang sebuah pohon yang berada di dindingnya. Pohon tersebut memiliki dua cabang. Namun, ada dua tikus putih dan hitam yang bertengger di pohon itu di mana keduanya sedang memakan kedua batang tadi. Lalu ketika melihat ke bawah terdapat sebuah ular besar. Ular tersebut mengangkat kepalanya mendekati kaki orang tadi. Luas mulutnya sebesar lubang sumur. Orang itupun melihat sejumlah sisi di sekitarnya. Terdapat sejumlah serangga berbahaya dan mengganggu. Pohon tempat ia bergantung adalah pohon tin. Namun, menghasilkan buah yang beragam. Ketika cemas melihat kondisi yang ada, ia bersikap masa bodoh dan membiarkan suara jiwanya. Ia anggap dirinya sedang berada di sebuah kebun. Maka sesuai dengan bunyi hadits, "Aku menurut prasangka hamba-Ku terhadap diri-Ku" ia diperlakukan sesuai anggapannya tadi. Ia terus berada dalam kondisi menakutkan tadi tidak mati dan tidak pula hidup. Dengan pemahamannya yang keliru, orang malang tersebut tidak mengerti kalau semua teka-teki yang ada tidak terjadi secara kebetulan.

Sekarang kita meninggalkan orang sial tadi yang sedang tersiksa. Kita pergi menuju saudaranya yang berada di sisi kanan.

426

Ia pergi secara tenang dan santai dengan perasangka baiknya yang muncul dari perilaku terpujinya. Lihat bagaimana dengan pandangannya yang bagus ia mendapatkan keuntungan yang tidak didapat saudaranya tadi. Di jalan ia bertemu dengan sebuah kebun berisi buah dan bunga, di samping kotoran dan bangkai. Ia membersihkan diri dengan sesuatu yang baik tanpa melihat hal-hal kotor dan buruk seperti saudaranya. Kemudian ia pergi sampai akhirnya masuk ke sebuah padang pasir yang kosong. Ia mendengar suara singa yang menyerang. Namun tidak sampai seperti yang terjadi pada saudaranya. Kelihatannya singa tersebut mendapat perintah dari penguasa padang pasir. Ia berlari dan menemukan sebuah sumur sedalam enam puluh hasta. Ia melemparkan diri ke dalam sumur dan tersangkut di tengah sumur pada sebuah pohon yang memiliki dua batang. Terdapat dua tikus yang sedang memotong kedua batang tadi. Di atas ia melihat singa, sementara di bawah ia melihat ular besar yang mulutnya sebesar lubang sumur. Ular tersebut mendekati kakinya. Ia ketakutan, namun ketakutannya jauh lebih ringan dibandingkan dengan yang dirasakan saudaranya.

Pasalnya dengan prasangka baiknya dan dengan pemahamannya terhadap semua persoalan menakjubkan tersebut ia mengerti kalau ada misteri di dalamnya yang diatur oleh Penguasa Yang Maha Melihatnya di mana Dia sedang mengujinya. Maka dari rasa takut tadi muncul (pengetahuan tentang Zat yang sedang memperkenalkan diri kepadaku dan membimbingku kepada satu hal yang berasal dari sisi-Nya). Lahirlah rasa cinta kepada Pemilik misteri tadi. Ia melihat ke atas pohon. Ternyata ia merupakan pohon tin yang menghasilkan berbagai macam buah. Maka, rasa takutnya menjadi hilang. Ia yakin semuanya berada dalam satu kendali. Sebab, tidak mungkin pohon tin tersebut menghasilkan buah pohon yang lain. Itu merupakan isyarat dan petunjuk tentang aneka makanan yang disediakan oleh sang penguasa yang pemurah untuk tamunya. Dari rasa cintanya kepada Sang Penguasa, ada keinginan untuk mengetahui kunci misteri tadi seraya menerima semuanya. Maka, kunci itupun diberikan. Maka ia menyeru, "Kuserahkan semuanya

427

untuk-Mu. Aku bersandar kepada-Mu." Seketika dinding yang ada terbelah. Lalu sebuah pintu menuju taman yang indah terbuka. Singa dan ular tadi tiba-tiba berubah menjadi dua pelayan yang mengajaknya untuk masuk.

Perhatikan perbedaan kondisi dua saudara di atas. Yang pertama menunggu saat masuk ke dalam mulut ular, sementara yang kedua diajak masuk ke dalam pintu taman yang bercahaya, indah, dan berbuah. Yang pertama berada dalam ketakutan dan kecemasan yang mengguncang kalbunya, sementara yang kedua berada dalam rasa cemas yang membuahkan cinta, kemuliaan, dan pengetahuan. Yang pertama berada dalam kesendirian, keputusasaan, dan kesepian, sementara yang kedua berada dalam kegembiraan, harapan, dan kerinduan. Yang pertama menjadi objek sasaran musuh liar, sementara yang kedua merasa senang dengan para pelayan yang memberikan jamuan. Yang pertama siksanya berupa memakan buah lezat yang diijinkan untuk dicicipi guna ditukar dengan tiruannya bukan untuk dimakan. Pasalnya sebagiannya berisi racun. Sementara yang kedua menunda memakannya dan merasa nikmat dengan penantian tersebut.

Apabila engkau telah memahami detil-detil dari perumpamaan di atas, ketahuilah sisi penerapannya sebagai berikut: kedua saudara itu adalah jiwa orang mukmin dan kafir, kalbu orang saleh dan orang fasik. Adapun kedua jalan tersebut adalah jalan Alquran dan iman serta jalan kemaksiatan dan kelaliman. Padangnya adalah dunia. Sementara singanya adalah kematian. Sumur merujuk kepada tubuh dan kehidupan. Usia yang paling pertengahan adalah enam puluh. Pohon yang dimaksud adalah usia. Kemudian tikus putih dan hitam tadi adalah siang dan malam. Ular merupakan alam barzakh yang mulutnya berupa kuburan. Serangga berbahaya adalah musibah dan bencana. Buahnya berupa nikmat duniawi yang menyerupai buah sorga. Sementara yang beracun darinya adalah yang terlarang. Misterinya adalah rahasia hikmah penciptaan dan kuncinya adalah, "Allah. Tiada Tuhan selain Dia Yang Mahahidup dan Maha Berdiri sendiri."

{(Catatan-311): Q.S. al-Baqarah: 255.}

428

Yakni, "Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku dan ridha-Mu adalah tujuanku." Tiada Tuhan selain Allah. Selanjutnya, berubahnya mulut ular menjadi pintu taman karena kuburan bagi Ahlul Quran dan orang beriman adalah pintu menuju rahmat Tuhan di dalam terowongan sorga. Sementara, bagi kaum yang sesat dan lalim terdapat pintu menuju gelapnya kesendirian dalam barzakh penjara laksana perut ular. Berubahnya singa buas menjadi kuda yang jinak adalah karena kematian bagi orang sesat merupakan perpisahan abadi dengan semua kekasih serta pengusiran dari sorga palsu duniawi menuju penjara kubur dalam kesendirian. Adapun bagi orang yang mendapat petunjuk, ia adalah jembatan menuju kekasih, kembali ke kampung halaman, dan keluar dari penjara dunia menuju taman sorga untuk mendapatkan upah pengabdian dari kemurahan Zat Yang Mahakasih, Maha Memberi, Maha Membalas, dan Maha Penyayang. Tiada Tuhan selain Dia.

Ketahuilah

{(Catatan-312): Pelajaran keenam dari "Pengantar Menuju Cahaya".}

wahai Said yang tertipu dan bangga dengan sesuatu yang tidak kau perbuat. Engkau tidak berhak berbangga dan lupa diri. Pasalnya, yang berasal darimu adalah kekurangan dan keburukan. Kalaupun ada kebaikan maka sifatnya parsial sama seperti bagian kehendakmu. Namun dengan bagian kehendakmu itupun engkau melakukan keburukan secara total. Pasalnya, dengan kekuranganmu engkau menjatuhkan buah dari semua sebab yang mengarah kepada tujuanmu. Karena itu, semestinya engkau merasa rugi dan malu. Namun sebaliknya, englau malah bersikap seperti Firaun.

Perumpamaanmu dalam hal ini seperti orang tertipu yang bodoh yang menjadi sekutu bagi rombongan dagang di kapal. Setiap orang melaksanakan tugasnya. Akan tetapi, ia meninggalkan tugasnya menggerakkan kapal sehingga tenggelam. Akhirnya mereka mengalami kerugian sebanyak seribu dinar. Orang itupun disalahkan, "Engkau harus membayar kerugian yang ada." "Tidak. Tetapi kita harus berbagi. Aku hanya akan membayar sesuai bagianku," jawabnya. Lalu pada perjalanan

429

lain, ia melakukan seperti yang mereka lakukan sehingga mendapatkan keuntungan sebanyak seribu dinar. Lalu ada yang berkata kepadanya, "Laba ini harus dibagi sesuai modal." "Tidak, semua laba adalah untukku. Jika pada kali pertama kalian menyuruhku membayar semua kerugian, maka semua keuntungan juga untukku," jawabnya. Maka, iapun dicela, "Wahai orang bodoh!" "Wujud bergantung kepada keberadaan semua elemen. Buah wujud atau eksitensi memberikan kepada semua. Keuntungan tersebut aalah wujud. Sementara, kerugian adalah buah ketiadaan padahal semua tiada dengan ketiadaan satu bagian dan dengan tidak adanya satu syarat.

Karena itu, wahai Said yang namanya berarti gembira, namun tubuhnya celaka, kau kembalikan buah ketiadaan kepada pihak yang menjadi sebab ketiadaan. Engkau tidak berhak bangga dan lupa diri.

Pertama, karena keburukan berasal darimu, sementara kebaikan berasal dari Tuhanmu.

Kedua, karena keburukanmu bersifat total, sementara kebaikanmu bersifat parsial.

Ketiga, karena engkau mengambil upah amal kebaikanmu sebelum beramal. Bahkan, semua kebaikanmu tidak sebanding dengan karunia Zat yang menjadikanmu sebagai sosok muslim. Dari sini, sorga benar-benar merupakan anugerah-Nya semata, sementara jahannam adalah sebuah bentuk keadilan. Pasalnya, dengan kejahatannya yang parsial dan sementara, manusia melakukan kejahatan yang bersifat total dan abadi.

Keempat, karena kebaikan baru menjadi kebaikan jika dilakukan karena Allah. Jika dilakukan karena-Nya, itu adalah berkat taufik dan anugerah-Nya. Karena itu, yang seharusnya dilakukan adalah bersyukur; bukan malah berbangga dengan pamer dan riya yang membuat kebaikan menjadi keburukan. Di antara bentuk kebodohanmu terkait dengan hakikat ini adalah dirimu tertipu dan lupa diri kepada orang. Kau nisbatkan kebaikan jamaah kepada diri sehingga menjadi seperti Firaun. Bahkan, engkau membagi milik Allah dan perbuatannya kepada para toghut.

430

Demikian pula, di antara bentuk kebodohan tersebut adalah engkau menisbatkan keburukanmu yang benar-benar berasal darimu kepada takdir untuk lari dari tanggung jawab. Sementara, engkau merasa memiliki kebaikan yang sebenarnya merupakan limpahan karunia Tuhan kepada dirimu agar dipuji dengan sesuatu yang tidak kau perbuat. Semestinya engkau memperlihatkan adab yang diajarkan oleh Alquran,

Kebaikan yang kau terima berasal dari Allah, sementara keburukan yang kau terima berasal dari dirimu.

{(Catatan-313): Q.S. an-Nisa; 79.}

Jagalah milikmu, tapi jangan merampas yang bukan milikmu. Selain itu, bersikaplah dengan adab yang diajarkan Alquran dengan menjadikan balasan bagi keburukan setara dengannya, sementara balasan kebaikan adalah sepuluh kali lipat darinya. Jangan sampai melampaui batas dalam memusuhi seseorang sehingga sampai melebar kepada kerabat-kerabatnya dan semua sifatnya. Dengan cintamu kepada orang yang berbuat baik maafkan kesalahannya.

Ketahuilah! Wahai Said yang lalai dan sibuk dengan sesuatu tak berguna. Engkau meninggalkan tugasmu dan sibuk dengan tugas Tuhanmu. Di antara bentuk kezaliman dan kebodohanmu adalah engkau meninggalkan tugas ibadah yang ringan yang mampu kau lakukan lalu memikulkan ke pungung, kepala, dan kalbumu yang lemah tugas rububiyah yang merupakan milik Zat, "Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang. Dalam bentuk yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu."

{(Catatan-314): Q.S. al-Infithār: 7-8.}

Karena itu, kerjakan tugasmu dan serahkan tugas Tuhan kepada-Nya agar engkau bahagia dan merasa lapang. Jika tidak, berarti engkau membangkang, celaka, berkhianat, dan tersesat. Engkau seperti pasukan yang memiliki tugas asli berupa pengajaran khusus, perang, dan jihad. Raja dalam hal ini membantunya dengan cara menghadirkan segala kebutuhannya. Di sisi lain Sang Raja mempunyai tugas khusus yaitu memberikan rezeki kepada pasukan tadi berikut pakaian bahkan obatnya. Kadang-

431

kala pasukan tadi dipergunakan sebagai sarana menjalankan tugas tadi, namun atas nama negara.

Dari sini, apabila engkau berkata kepada pasukan yang memasak makanannya, "Apa yang kau lakukan?" Ia akan menjawab, "Saya bekerja dengan sukarela untuk negara." Ia tidak berkata, "Aku bekerja untuk diriku." Hal itu lantaran ia sadar bahwa pekerjaan tadi bukan merupakan tugasnya. Namun, negaralah yang bertugas bahkan dalam memasukkan makanan ke mulutnya jika tidak mampu lantaran sakit misalnya. Pasukan yang sibuk berdagang untuk mendapat rezeki adalah bodoh, malang, hina, dan perlu dididik. Pasukan yang meninggalkan pengajaran dan jihad telah berkhaiant, membangkang, perlu dipukul dan dihukum keras.

Karena itu, wahai Said yang malang, engkau adalah pasukan di atas. Shalatmu adalah pengajaran tersebut. Sikap takwamu dengan meninggalkan dosa besar serta perjuanganmu mengendalikan nafsu dan setan merupakan perangmu. Ini merupakan tujuan fitrahmu. Namun, Allahlah yang memberikan taufik dan bantuan. Adapun rezekimu, kelangsungan hidupmu, serta harta dan anak yang terkait denganmu merupakan tugas Tuhan. Hanya saja, Dia mempergunakan dirimu sebagai sarana mengetuk pintu perbendaharaan rahmat-Nya dengan cara meminta dalam bentuk perbuatan, keadaan, dan ucapan. Kadangkala Ia mempergunakanmu untuk pergi meniti jalan yang bisa mengantarmu menuju dapur karunia-Nya. Maka dengan lisan rasa butuh, perbuatan, keadaan, atau ucapan engkau meminta apa yang telah ditentukan dan ditetapkan untukmu. Betapa bodoh jika terkait dengan rezekimu engkau tidak mempercayai Zat yang memberikan rezeki terbaik untukmu. Engkau anak kecil yang tak memiliki pilihan dan kekuatan. Dia yang memberikan rezeki kepada setiap binatang melata. Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui, Mahakuasa, dan Mahakaya yang telah menjadikan bumi di musim panas sebagai dapur yang karunia-Nya. Dia curahkan karunia-Nya di berbagai taman, dan Dia penuhi cawan pepohonan dengan berbagai makanan yang nikmat. Karena itu, bekerjalah untuk-Nya dan dengan ijin-Nya

432

pada sesuatu yang Dia mempekerjakanmu di dalamnya setelah engkau memenuhi tugas aslimu. Jika kedua tugas tersebut berbenturan, engkau harus mengerjakan tugasmu dan bertawakkallah kepada Allah. Ucapkan, "Cukuplah Allah bagiku dan Dia Sebaik-baik tempat bersandar. Dia Sebaik-baik Pelindung dan Penolong."

433

Bismillāhirrahmānirrahim

Apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang diri-Ku, maka Aku ini dekat. Aku menjawab doa orang yang berdoa ketika ia berdoa kepada-Ku.

{(Catatan-315): Q.S. al-Baqarah: 186.}

Berdoalah kepada-Ku nicaya Kukabulkan.

{(Catatan-316): Q.S. Ghāfir: 60.}

Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), "Tuhanku tidak mengindahkan kamu, andai saja bukan karena doamu (ibadah darimu)."

{(Catatan-317): Q.S. al-Furqān: 77.}

Ketahuilah

{(Catatan-318): Pelajaran kedelapan dari "Pengantar Menuju Cahaya". Ia dijelaskan dalam kalimat kedua puluh delapan.}

wahai yang mengaku bahwa telah berdoa namun tidak dikabulkan. Doa adalah ibadah. Buah ibadah adalah di akhirat. Adapun tujuan duniawinya berupa waktu-waktu doa tersebut yang merupakan ibadah khusus.

Saat terbenam mentari adalah waktu shalat maghrib. Saat gerhana bulan dan matahari merupakan waktu salat gerhana; bukan tujuan dari keduanya. Lalu saat terputusnya hujan merupakan waktu salat istisqa; bukan shalat itu dididirikan agar hujan turun. Namun ia merupakan ibadah yang dilakukan karena Allah yang terus dilakukan selama belum turun. Jika hujan sudah turun waktu pelaksanaannya selesai.

Nah, demikian pula saat kaum zalim berkuasa dan berbagai bencana turun. Itu adalah saat untuk doa-doa tertentu yang terus berlangsung selama kezaliman tadi ada. Jika telah diangkat maka

434

ia merupakan cahaya di atas cahaya. Jika belum diangkat tidak boleh ada anggapan bahwa doa tidak dikabulkan. Namun waktu doa belum selesai.

Adapun janji pengabulan dalam ayat yang berbunyi, "Berdoalah kepada-Ku niscaya Kukabulkan," pengabulan di sini bukan pengabulan doa itu sendiri. Namun, jawabannya bersifat abadi. Pemenuhan kebutuhan bergantung kepada hikmah Zat yang mengabulkan.

Misalnya engkau berkata berkata doktermu, "Wahai tuan!" "Ya," jawabnya. "Berikan padaku makanan dan obat ini." Maka, bisa jadi ia memberikan apa yang kau minta atau lebih baik darinya. Namun, bisa jadi pula ia menolaknya lantaran satu hal penting terkait dengan sakitmu. Di antara sebab tidak terkabulnya doa adalah anggapan bahwa doa dimaksudkan untuk tujuan-tujuan duniawi. Misalnya salat istisqa disangka dihadirkan untuk menurunkan hujan sehingga dikerjakan dengan tidak ikhlas dan akhirnya tidak diterima.

Ketahuilah! Dengan proses peralihan dan pergantian, lembah maknawi antara dua sisi menjadi terlihat. Karenanya harus ada satu jembatan yang membentang yang menghubungankan antara dua alam agar bisa dilewati baik tanpa alas maupun dengan alas dari alam ini menuju alam itu. Hanya saja, jembatan tersebut memiliki bentuk yang berbeda, substansi yang beragam, nama yang beraneka macam, dengan melihat kepada jenis peralihan dan jauhnya tujuan. Tidur adalah jembatan antara alam sadar dan bawah sadar. Barzakh adalah jembatan antara dunia dan akhirat. Alam bawah sadar adalah jembatan antara alam fisik dan alam spiritual. Musim semi jembatan antara musim dingin dan panas. Adapun ketika manusia dibangkitkan dikumpulkan, ia tidak hanya satu. Tetapi terjadi begitu banyak peralihan. Jembatannya lebih menakjubkan dan lebih aneh.

Ketahuilah! Alquran sering menyebutkan tentang tempat kembali. Misalnya:

Kepada-Nya tempat kembali kalian.

{(Catatan-319): Q.S. al-An'ām: 60.}

435

Kepada-Nya kalian dikembalikan.

{(Catatan-320): Q.S. al-Maidah: 18}

Kepada-Nya kalian kembali.

{(Catatan-321): Q.S. al-Maidah: 18.}

Kepada-Nya tempat kembali.

{(Catatan-322): Q.S. ar-Ra'ad: 36.}

Semua itu berisi kabar gembira dan pelipur lara meski bagi pelaku maksiat merupakan ancaman. Pasalnya, ayat-ayat di atas menegaskan bahwa kematian, kepergian, kefanaan, dan perpisahan dari dunia bukan merupakan pintu bagi ketiadaan dan jatuh ke dalam gelapnya fana. Namun, ia merupakan pintu untuk mendatangi Penguasa azali dan abadi. Petunjuk ini menyelamatkan kalbu dari kepedihan akibat persepsi bahwa ia akan tercerai berai dengan semua orang yang dicinta di hadapan ketiadaan tak terhingga. Maka, perhatikanlah dahsyatnya jahannam maknawi yang menyatu dalam kekufuran. Dengan rahasia bahwa "Aku menurut prasangka hamba-Ku pada-Ku," orang kafir mengira demikian. Maka, Tuhan membuat sangkaan tadi sebagai siksa abadi baginya. Kemudian perhatikan tingkatan nikmatnya yakin berjumpa dengan Allah hingga menuju sorga. Lalu disertai dengan kedudukan ridha, tingkatan melihat-Nya, sehingga neraka fisik bagi mukmin yang bermaksiat laksana sorga, jika diukur dengan neraka maknawi milik orang kafir yang tak mengenal Penciptanya. Andaikan tidak ada dalil tentang keabadian dan sarananya yang jumlahnya tak terhingga kecuali hanya munajat kekasih Tuhan azali di mana dalam salat agung tersebut para nabi dan wali berbaris di belakangnya untuk mengamini doa dan munajatnya, tentu hal itu sudah cukup untuk menjadi sarana dan dalil.

Mungkinkah dalam kebaikan yang paling menarik dan indah, serta keindahan yang paling mencengangkan dan sempurna terdapat keburukan yang paling menakjubkan dan kekurangan yang paling aneh?! Yaitu Zat yang mendengar bisikan kebutuhan yang paling samar yang diucapkan oleh makhluk

436

yang paling tersembunyi tidak mendengar suara paling nyaring, munajat terindah, doa teragung terkait dengan kebutuhan yang paling utama yang naik dari bumi menuju Arasy. Tentu saja tidak benar. Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. Ya, muamalah ini termasuk tingkatan syafaat beliau yang paling luas dan bagian dari keberadaan beliau sebagai rahmat bagi semesta alam.

Ketahuilah! Aku sering bertemu dengan orang-orang lalai yang beralasan dengan takdir. Ia bergulat dengan bagian upaya manusiawi dan penciptaan perbuatan. Di samping dengan lisan kelalaian mereka mengingkari takdir dan memberikan kendali kepada proses kebetulan, mereka menganggap diri mereka sebagai pelaku mutlak. Mereka membagi milik dan kreasi Allah kepada manusia seperti mereka dan kepada sebab. Jiwa yang kafir dan lalai secara batini merampas semuanya meski secara lahiri menetapkan. Sementara jiwa mukmin yang mengenal Allah, menetapkan bahwa segala sesuatu merupakan milik-Nya dengan penuh iman dan ketundukan. Kedua persoalan ini dalam ilmu kalam merupakan tujuan dari batas tawakkal dan iman serta tauhid dan Islam bagi kalangan arif, sekaligus merupakan garis pemisah bagi orang-orang yang lalai. Di mana kalian wahai orang-orang yang alpa yang menjadi seperti Firaun dalam ego kalian?! Bagaimana kalian bisa merealisasikan kedua hal ini. Jika engkau naik dalam hal penghambaan menuju tingkatan menafikan bagian usaha manusia dan tingkatan mengembalikan segala sesuatu kepada takdir, hal itu baik bagimu. Pasalnya dalam dirimu terdapat sedikit kondisi mabuk. Keduanya merupakan persoalan iman; bukan ilmiah semata.

Ketahuilah!

{(Catatan-323): Persoalan ketujuh dari tulisan kedua puluh delapan menjelaskan bahasan di atas.}

Sikap tawadhu' kadangkala menafikan pengungkapan nikmat. Sebab, pengungkapan nikmat bisa mengarah kepada sikap sombong dan lupa diri. Karena itu perlu kecermatan, perhatian, serta menjauhi sikap berlebihan dan mengabaikan.

Istiqomah memiliki neraca. Yaitu setiap nikmat memiliki dua sisi:

437

Sisi yang mengarah kepada orang yang diberi nikmat sehingga hal itu membuatnya indah, istimewa, senang, dan bangga. Akhirnya ia terjatuh dalam kondisi mabuk sehingga lupa kepada Pemiliknya. Ia merasa memiliki dan mengira bahwa kesempuranaan terletak pada kepemilikan pribadi. Iapun menjadi sombong dengan sesuatu yang tak layak.

Sisi yang lain mengarah kepada Pemberi nikmat. Dia menampakkan kemurahannya, memperlihatkan rahmat-Nya, menyeru kepada nikmat-Nya, serta bersaksi atas nama-Nya. Demikianlah yang tampak dari tanda-tanda manifestasi-Nya dalam pemberian nikmat-Nya. Sikap tawadhu' baru terwujud jika melihat kepada sisi pertama. Jika tidak, ia berisi kekufuran. Sementara, mengungkap nikmat merupakan bentuk syukur maknawi yang terpuji jika mengarah kepada sisi kedua. Jika tidak, ia akan berisi sikap sombong dan lupa diri.

Wahai Yusuf

{(Catatan-324): Dialog dengan salah seorang murid Ustadz Nursi generasi awal.}

jika engkau memakai baju mewah yang mahal untuk saudaramu, Yusuf lalu Said berkata kepadamu, "Indah sekali!" maka, ucapkan, "Keindahan tersebut ada pada pakaian ini; bukan pada diriku." Dengan demikian, engkau telah menunjukkan sikap tawadhu' dalam berbicara.

Ketahuilah! Mengawasi, dengki, dan iri muncul ketika pengambilan upah, pembagi-bagian hadiah, serta perhatian terhadapnya. Adapun di saat mengabdi dan di saat beramal, hal itu tidak muncul. Namun, yang lemah mencintai yang kuat, yang lebih rendah condong kepada yang lebih tinggi. Ia memandang keunggulannya sebagai sebuah kebaikan. Dan ia senang manakala ibadahnya lebih banyak. Pasalnya, beban ibadah dan amal terasa ringan baginya. Apabila dunia merupakan negeri pengabdian dan amal untuk urusan agama dan akhirat semata, maka pengawasan dan kedengkian akan masuk di dalamnya. Apabila ia sudah masuk ke dalamnya, maka yang muncul adalah tidak adanya keikhlasan. Orang yang melakukan amal tersebut melihat kepada upah dunia pula yang berupa penghargaan orang. Orang malang ini tidak sadar bahwa keinginannya diperhatikan orang

438

telah membuat amalnya terhapus karena tidak adanya keikhlasan dengan mengikutsertakan manusia sebagai sekutu Tuhan dalam memberikan pahala. Dengan itu, ia juga telah memperlemah kekuatannya dengan menjauhkan orang lain tidak mau menolongnya.

Ketahuilah! Karomah berbeda dengan istidraj. Karomah laksana mukjizat. Ia merupakan perbuatan Allah. Pemiliknya memahami bahwa ia berasal dari Allah; bukan berasal dari dirinya. Ia yakin bahwa Tuhan yang melindungi, mengawasi, dan memilihkan yang terbaik untuknya. Iapun bertambah yakin dan tawakkal. Kadangkala ia juga merasakan detil-detil karomah itu dengan ijin Allah. Namun kadangkala ia tidak merasakannya dan ini yang lebih utama serta lebih selamat. Misalnya Allah membuatnya bisa mengutarakan sesuatu yang terdapat di kalbu seseorang, atau ia dihadirkan untuknya di saat sadar untuk memberikan petunjuk, sementara ia tidak mengetahui apa yang Allah perbuat untuk para hamba-Nya.

Sebaliknya, istidraj, tersingkap baginya gambaran berbagai hal gaib sementara ia dalam kondisi lalai atau sedang melakukan aktivitas yang aneh. Ia bersandar kepada diri dan kemampuannya sehingga semakin ego dan lupa diri. Ia berkata, "Aku diberi ini karena pengetahuanku.

{(Catatan-325): Q.S. al-Qashash: 78.}

Ia tersingkap untukku karena jiwaku bersih dan kalbuku bersinar."

Karena itu tidak ada kerancuan antara orang yang mendapat istidraj dan orang yang mendapat derajat kewalian pada tingkatan pertengahan.

Adapun wujud fana yang sempurna dari kalangan yang berada di tingkatan tinggi di mana berbagai hal gaib dengan ijin Allah tersingkap oleh mereka, mereka melihatnya dengan indera mereka yang merupakan milik Allah. Perbedaannya menjadi lebih jelas. Pasalnya, cahaya batin mereka yang terpancar keluar lebih jelas dalam melihat gelapnya orang yang riya yang mengajak kepada egonya.

439

Segala sesuatu bertasbih memuji-Nya.

{(Catatan-326): Q.S. al-Isra: 44.}

Ketahuilah! Tasbih dan ibadah memiliki bentuk yang tak terbatas dalam segala hal. Masing-masing tidak mesti selalu bisa merasakan semua bentuk tasbih dan ibadahnya. Pasalnya, tasbih tidak mesti disertai kehadiran hati secara sempurna. Hal itu seperti pegawai bodoh yang bekerja di sebuah kapal Pemiliknya yang telah menugaskannya untuk menekan tombol listrik pada waktu-waktu tertentu. Pegawai tersebut tidak mengetahui berbagai tujuan berharga dari pekerjaannya. Ia hanya mengetahui upah dan nikmatnya menerima ganjaran. Sehingga kadang ia mengira bahwa mengadaan pekerjaan tersebut untuk kenikmatan di atas. Ia laksana hewan yang tidak mengetahui tujuan berpasangan kecuali kenikmatan memenuhi syahwat. Ketidaktahuannya ini sama sekali tidak membahayakan bagi pemerolehan keturunan yang merupakan salah satu tujuan yang diinginkan oleh Pemiliknya.

Ia juga seperti semua yang membersihkan permukaan bumi dari berbagai jenazah binatang kecil meskipun ia tidak mengetahui kecuali untuk memenuhi keinginannya. Atau seperti laba-laba yang menghias wajah angkasa, kepala tumbuhan dan bebatuan dengan untaian suteranya yang berkilau untuk berpacu dengan kutu, sementara yang ia ketahui bagaimana membuat perangkap dan memantau sesuatu yang terbang padanya untuk kemudian dikejar. Ia juga seperti jam yang memberitahukan hitungan berlalunya usiamu setiap hari. Yang ia ketahui hanya gerak tutup buka yang berlangsung secara terus-menerus. Ia juga seperti lebah yang telah membuat apa yang ia buat berdasarkan manisnya wahyu yang bercampur dengan kenikmatan miliknya. Ia juga seperti induk tumbuhan, hewan, dan manusia yang bekerja untuk nikmatnya kasih sayang. Ketidaktahuannya terhadap tujuan hakiki tidak membuat mereka meninggalkan tujuan yang menghias rumah alam ini. Bahkan seolah-olah kasih sayang tersebut merupakan benih dan mistar untuk mengukur tujuan tersebut.

440

Cukuplah bagi yang bertasbih dan beribadah pengetahuan mereka tentang bagaimana cara beramal dan bekerja. Hal ini sebagaimana yang Allah tegaskan, "Masing-masing mengetahui cara salat dan tasbihnya."

{(Catatan-327): Q.S. an-Nur: 41.}

Mereka tidak harus mengetahui keberadaan amal mereka sebagai tasbih yang khusus atau kesadaran mereka tentang sifat ibadah tertentu. Cukup bagi mereka perasaan semua saudara mereka yang merenungkan berbagai bentuk ibadah dan tasbih yang terdapat dalam aktivitas mereka. Bahkan cukup mereka kalau hal itu diketahui oleh Tuhan. Karena tidak ada ujian dalam pemberian beban, maka niat tidak menjadi sebuah keharusan. Mereka tidak harus menyadari apa yang sedang mereka perbuat. Yang jelas semua ciptaan pada dasarnya merupakan untaian tasbih yang memberikan begitu banyak makna. Lalu untaian kata itu bertasbih dengan lisannya sebagaimana zatnya. Pada untaian kata tersebut terdapat makhluk lain yang bertasbih. Di dalam makhluk ini juga terdapat makhluk kecil yang bertasbih. Lalu ada makhluk yang lebih kecil lagi yang bertasbih. Demikian seterusnya seperti yang diinginkan oleh Zat Yang Mahasuci dan Mulia, tiada Tuhan selain Dia.

Ketahuilah! Berbagai nikmat, keindahan, dan perangkat halus yang diutus kepadamu dan menghiasimu dari kepala hingga kaki, semuanya melewati "timbangan" yang berasal dari hijab yang berbeda-beda. Ia muncul lewat tatanan yang berasal dari sejumlah balutan. Ia mengarah kepadamu lewat keteraturan yang berasal dari balik kelompok yang berbeda-beda.

Ketahuilah! Dalam jiwa terdapat hal halus laksana dirham dari kepingan tipis. Kukira ia adalah teropong keabadian. Pasalnya, ketika disentuh oleh sesuatu pasti ia diberi hukum keabadian. Apabila ia dipergunakan oleh hawa nafsu dan selera rendahan, ia menjadi perangkat untuk mengambil bebatuan dan pilar-pilar akhirat ke dunia. Maka, ia membangun istana di atasnya sehingga lalu memakan buah akhirat yang tidak matang di dunia yang fana ini.

441

Ketahuilah! Nafsu atau jiwa manusia adalah sesuatu yang menakjubkan. Ia merupakan perbendaharaan yang tidak terhitung dan timbangan yang tak terhingga untuk menjangkau manifestasi kekayaan nama-nama-Nya manakala ia dalam kondisi bersih. Namun, ia menjadi goa sarang ular dan kalajengking serta berbagai serangga ketika berada dalam kondisi kotor dan melampaui batas. Yang paling utama adalah tetap ada; bukan lenyap. Keberadaannya bersama proses penyucian sebagaimana dijalani oleh para sahabat adalah lebih sesuai daripada kematiannya seperti yang dijalani oleh sebagian besar wali.

Ya, dalam bakteri jiwa terdapat rasa lapar yang sangat, kebutuhan yang besar, dan cita rasa yang menakjubkan. Apabila karakteristiknya berubah rasa tamaknya yang tercela berbalik menjadi kerinduan yang tak pernah kenyang. Lupa dirinya yang buruk berubah menjadi sarana selamat dari berbagai bentuk kemusyrikan. Cinta yang amat sangat terhadap diri berubah menjadi cinta kepada Tuhan. Demikian seterusnya sehingga semua keburukannya berubah menjadi kebaikan.

Ketahuilah! Sebagaimana nilai manusia beriman senilai dengan kreasi mulia, celupan berharga, dan ukiran manifestasi nama-Nya yang terdapat di dalam dirinya, sementara nilai orang kafir atau lalai senilai dengan materinya yang fana, demikian pula dengan nilai alam. Ia terus bertambah jika dilihat dengan makna literal dan jika dinisbatkan kepada Allah sebagaimana yang diajarkan Alquran. Namun, nilainya turun hingga ke tingkatan materi yang bersifat sementara jika dilihat dengan makna simbolis dan dinisbatkan kepada sebab seperti yang diajarkan oleh hikmah filsafat. Pengetahuan yang terambil dari Alquran yang terkait dengan alam jauh lebih tinggi dan berharga daripada pengetahuan yang terambil dari ilmu filsafat. Misalnya Alquran berkata, "Dia menjadikan mentari sebagai lentera."

{(Catatan-328): Q.S. Nuh: 16.}

Perhatikan bagaimana dengan penetapan tersebut ia membukan satu celah ke dalam pemahamanmu menuju rangkaian manifestasi nama-Nya. Yakni, wahai manusia, mentari ini dengan bentuknya besar dihampar-

442

kan untukmu. Ia adalah cahaya bagi rumahmu, sekaligus api untuk memasak makanan sesuai dengan perintah Zat yang memberikan rezeki padamu. Engkau memiliki Pemilik yang Maha Penyayang sekaligus Mahakuasa di mana mentari ini menjadi lentera yang menerangi rumah yang dipersiapkan untuk para musafir menuju rumah abadi mereka. Adapun yang dikatakan oleh hikmah filsafat bahwa mentari merupakan api besar yang bergerak di porosnya di mana ia digitari oleh bumi dan planet yang merupakan tata suryanya. Ia terikat oleh daya gravitasi dengan beredar pada porosnya." Hal ini hanya membuatmu bertambah bingung.

Ketahuilah! Engkau tidak layak meminta hak kepada Allah Swt. Namun, yang harus kau lakukan adalah selalu bersyukur kepada-Nya. Pasalnya, Dialah Pemilik segala kekuasaan dan pujian.

Wahai Allah, wahai Yang Maha Pengasih, wahai Yang Maha Penyayang, wahai Yang Maha Pemurah, jadikan buku ini sebagai ganti dariku dalam mengulang-ulang kesaksian setelah kematianku hingga hari pembalasan.

Ya Allah, wahai Tuhan Muhammad yang terpilih, wahai Tuhan Pemelihara sorga dan neraka, wahai Tuhan para nabi dan orang-orang pilihan, wahai Tuhan kaum shiddiqin dan orang-orang bajik, wahai Tuhan orang kecil dan besar, wahai Tuhan Pemelihara benih dan buah, wahai Tuhan Pemelihara cahaya dan bunga, wahai Tuhan sungai dan pepohonan, wahai Tuhan bagi yang tampak dan rahasia, wahai Tuhan Penata siang dan malam, kami bersaksi kepada-Mu dan kami bersaksi kepada pembawa arasy-Mu, kami mempersaksikan kepada semua malaikat-Mu, kami mempersaksikan kepada seluruh makhluk-Mu dengan kesaksian semua nabi-Mu serta dengan kesaksian semua wali-Mu, dengan kesaksian semua ayat penciptaan dan kalam-Mu, dengan kesaksian semua ciptaan-Mu, dengan kesaksian partikel alam dan susunannya, dengan kesaksian kekasih-Mu saw yang mencakup kesaksian seluruh kesaksian, dengan kesaksian Alquran-Mu, bahwa kami seluruhnya bersaksi Engkau adalah Allah Yang Wajib adanya, yang tunggal dan esa, Yang Mahabenar

443

dan Mahaterang, Yang Mahahidup dan Maha Berdiri sendiri, Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, Yang Mahakuasa dan Maha Berkehendak, Yang Maha Mendengar dan Melihat, serta Yang Maha Berbicara. Milikmu seluruh nama-nama yang mulia. Kami bersaksi tiada Tuhan selain Engkau semata, tiada sekutu bagi-Mu. Milik-Mu segala kekuasaan dan pujian. Kami meminta ampun dan bertobat kepada-Mu. Kami juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Mu, nabi-Mu, kekasih-Mu, dan rasul-Mu yang Kau utus sebagai rahmat bagi semesta alam. Limpahkan salat dan salam kepada beliau, keluarga, dan sahabatnya selama-lamanya. Amin.

Penjelasan esensi ayat yang berbunyi,

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.

{(Catatan-329): Q.S. adz-Dzāriyāt: 56.}

Ketahuilah

{(Catatan-330): Pelajaran kesepuluh dari "Pengantar Menuju Cahaya". Ia adalah rangkuman kata kesebelas berikut benihnya. }

wahai Said yang lupa kepada dirimu dan tugas hidupmu, yang lalai terhadap hikmah penciptaan manusia, yang tidak mengetahui apa yang diletakkan oleh Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana dalam ciptaan yang indah ini. Membangun alam ini dan memasukkan manusia ke dalamnya seperti seorang raja yang memiliki perbendaharaan berisi beragam permata. Ia memiliki kekayaan yang tersimpan, kemampuan dalam mencipta berbagai keajaiban, pengetahuan tentang ilmu-ilmu menakjubkan yang jumlahnya tak terhingga. Lalu, raja tersebut ingin memperlihatkan kekuasaan-Nya, kekayaan-Nya, ciptaan-Nya yang luar biasa, serta pengetahuan-Nya yang mencengangkan ke hadapan seluruh makhluk. Dengan kata lain, Dia ingin mempersaksikan kesempurnaan-Nya, keindahan-Nya, dan keagungan maknawiyah-Nya lewat dua sisi: pandangan-Nya dan pandangan selain-Nya.

Maka, Dia membangun istana yang besar berikut rumah dan paviliunnya. Dia hiasi bangunan tersebut dengan permata kekayaan-Nya, Dia ukir dengan hiasan kreasi-Nya yang lembut,

444

Dia tata dengan detil-detil hikmah-Nya, Dia tandai dengan mukjizat jejak pengetahuan-Nya, Dia hamparkan padanya hidangan nikmat-Nya yang lezat, serta berbagai kesempurnaan tersembunyi lainnya. Dia mengundang rakyat-Nya untuk berjalan dan bersenang-senang. Dia menjamu mereka dengan hidangan yang tidak pernah ada seakan-akan sesuap darinya adalah contoh dari ratusan kreasi indah. Kemudian Dia tetapkan seorang guru untuk memperkenalkan simbol-simbol tulisan, isyarat ciptaan, serta berbagai petunjuk dari hiasan yang rapi dan permata yang tertata yang menunjukkan kesempurnaan Pemiliknya yang terdapat di istana. Guru tersebut juga diangkat untuk mengajarkan manusia tentang adab-adab masuk dan berinteraksi dengan Pencipta Istana. Maka ia berkata kepada mereka,

"Wahai manusia, Rajaku memperkenalkan diri kepada kalian dengan memperlihatkan semua yang terdapat di sini. Karena itu, kenalilah ia! Dia menunjukkan cinta-Nya kepada kalian dengan semua hiasan indah ini. Karena itu, tunjukkan cinta kalian kepada-Nya dengan berbuat baik. Dia memperlihatkan kasih-Nya kepada kalian dengan semua kebaikan ini, karena itu cintailah Dia. Dia memberikan rahmat-Nya kepada kalian, maka bersyukurlah kepada-Nya. Dia memperlihatkan diri kepada kalian, mara rindukanlah Dia!" Begitulah yang layak dikatakan kepada mereka yang masuk.

Manusiapun masuk dan terbagi menjadi dua kelompok: satu kelompok melihat kepada apa yang terdapat pada istana seraya berkata, "Sungguh menakjubkan." Mereka melihat sang guru seraya berujar, "Assalamu alaik! Istana semacam ini memang membutuhkan orang sepertimu. Ajarkan kepada kami apa yang diajarkan oleh Majikanmu. Maka, ia berbicara dan mereka memperhatikan serta mengambil pelajaran darinya. Mereka juga melakukan apa yang disenangi oleh raja. Kemudian raja mengajak mereka untuk menuju istana khusus yang sulit untuk digambarkan. Dia memuliakan mereka dengan sesuatu yang layak bagi orang seperti mereka di istana tersebut. Sementara kelompok lain hanya memperhatikan berbagai

445

makanan yang ada. Mereka seperti orang yang buta dan tuli. Mereka makan layaknya binatang lalu tidur, dan minum dari minuman yang tidak layak diminum. Akhirnya mereka mabuk dan mengganggu yang lain. Melihat hal tersebut pasukan raja menangkap mereka dan melemparkan mereka ke dalam penjara yang layak atas mereka.

Engkau mengetahui bahwa ketika raja membangun istana tersebut untuk tujuan tadi, sementara untuk mencapai tujuan itu terkait dengan keberadaan guru dan bagaimana manusia memperhatikannya, maka layak kalau dikatakan bahwa andaikan guru tersebut tidak ada tentu sang raja tidak akan membangun istana. Jika manusia tidak memperhatikan pengajaran guru istana itu akan rusak dan berganti.

Apabila engkau memahami rahasia perumpanaan di atas, perhatikan gambaran sebenarnya. Istana yang dimaksud adalah alam yang atapnya disinari dengan sejumlah lentera cemerlang, lalu lantainya dihiasi dengan bunga-bunga yang indah. Adapun raja adalah Penguasa azali dan abadi yang, "Langit yang tujuh serta bumi, berikut semua isinya bertasbih kepada-Nya. Segala sesuatu bertasbih memujin-Nya."

{(Catatan-331): Q.S. al-Isra: 44.}

"Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. Serta, (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang di mana masing-masing tunduk kepada perintah-Nya."

{(Catatan-332): Q.S. al-A'rāf: 54.}

Selanjutnya rumah-rumah yang dimaksud adalah sejumlah alam yang indah di mana masing-masing sesuai dengan kondisinya. Ciptaan yang menakjubkan mengacu kepada mukjizat qudrat-Nya. Lalu maksud dari makanan adalah buah rahmat-Nya yang luar biasa. Dapur dan perapiannya berupa bumi dan permukaannya. Sementara, kekayaan yang tersembunyi dan permatanya berupa nama-nama Allah berikut manifestasinya. Ukiran dan simbolnya berupa tatanannya yang berupa simbol berikut petunjuk yang mengarah kepada nama Pembuatnya.

446

Kemudian guru, kolega, dan muridnya, adalah junjungan kita, Nabi Muhammad saw berikut para nabi, dan wali. Orang-orang dekat raja adalah para malaikat. Sementara, para musafir yang diundang untuk berjalan-jalan dan mendapat jamuan adalah manusia berikut hewannya. Kedua kelompok tadi adalah kaum beriman dan penggenggam Alquran yang menjelaskan kepada pengikutnya pengertian dari ayat-ayat kitab alam. Adapun kelompok lainnya berupa kaum kafir dan tiran yang mengikuti hawa nafsu dan setan. Mereka tuli, bisu, dan buta. Mereka seperti binatang, bahkan lebih sesat. Yang mereka kenal hanyalah kehidupan dunia.

Kelompok yang bahagia dan taat memperhatikan hamba yang mendeskripsikan Tuhannya lewat al-Jawsyān al-Kabir dan sosok yang menyampaikan petunjuk Alquran al-Karim. Mereka mendengarkan Alquran sehingga melihat berbagai keindahan rububiyah-Nya. Mereka bertakbir dan bertasbih. Kemudian mereka menjadi penunjuk bagi manifestasi nama-nama-Nya yang indah. Mereka bertasbih seraya bertahmid. Dengan indera yang dimiliki, mereka memahami simpanan kekayaan rahmat Tuhan sehingga memuji-Nya sebagai bentuk syukur. Mereka memahami permata kekayaan nama-nama-Nya yang terwujud secara seimbang sehingga mereka menyucikan-Nya seraya memuji-Nya. Mereka menelaah tulisan pena qudrat maka, mereka mengapresiasi dengan merenungkannya. Mereka bersenang-senang dengan melihat kelembutan fitrah yang ada sehingga mencintai Tuhan dengan penuh rasa rindu.

Lalu, mereka merespon perkenalan Tuhan yang dilakukan lewat sejumlah mukjizat ciptaan-Nya dengan makrifat. Mereka berkata, "Mahasuci Engkau. Kami tidak bisa mengenali diri-Mu dengan pengenalan yang sesungguhnya wahai Yang Maha Dikenal, lewat mukjizat ciptaan-Mu." Mereka merespon ungkapan cinta-Nya kepada mereka lewat indahnya buah rahmat dengan perasaan cinta. Lalu, mereka merespon kebaikan-Nya yang memberikan berbagai nikmat dengan pujian dan syukur untuk-Nya. Mereka berujar, "Mahasuci Engkau. Kami tidak bersyukur dengan syukur yang semestinya wahai Tuhan lewat

447

pujian atas seluruh kebaikan-Mu di hadapan makhluk serta lewat pengungkapan semua anugerah dan kenikmatan-Mu di pasar alam dengan kesaksian alunan tatanan semua buah rahmat dan nikmat-Mu di hadapan makhluk. Kemudian mereka merspon penampakan kebesaran, kesempurnaan, keindahan, dan keagungan-Nya dalam wujud alam dan cermin entitas dengan bersujud disertai rasa cinta dan takjub.

Mereka juga membalas penampakan luasnya rahmat-Nya serta banyaknya kekayaan-Nya dengan rasa papa dan permohonan. Mereka membalas berbagai kelembutan kreasi-Nya yang tampak dengan penghargaan, apresiasi, penyaksian, dan kesaksian. Mereka membalas penampakan kekuasaan rububiyah-Nya pada seluruh entitas dengan tauhid, ketaatan, dan ibadah lewat pengungkapan ketidakberdayaan mereka dalam kelemahan dan kepapahan mereka. Maka, mereka melaksanakan berbagai tugas hidup di dunia sehingga berada dalam kondisi terbaik; lebih mulia dari semua makhluk dengan menjadi khalifah yang amanah, berkah, dan beriman. Selanjutnya Tuhan mengajak mereka menuju negeri kedamaian (sorga) untuk menggapai kebahagiaan abadi. Dia memuliakan mereka dengan sesuatu yang tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga, dan tak pernah terlintas oleh kalbu manusia.

Adapun kelompok lain yang fasik dan jahat, dengan sikap kufur mereka mengingkari dan meremehkan semua entitas dengan merendahkan nilainya sebagaimana telah disebutkan. Mereka menolak semua manifestasi nama-Nya sehingga melakukan berbagai kejahatan yang tak terhitung banyaknya. Karena itu, mereka layak mendapatkan hukuman yang juga tak terhingga.

Wahai Said yang malang! Apakah engkau mengira bahwa tugas hidupmu adalah memelihara nafsu, membangun peradaban, melayani perut dan selera rendahan? Atau, engkau mengira bahwa tujuan engkau diberi indera dan perasaan, organ dan perangkat, serta berbagai unsur maknawi dalam mesin kehidupanmu adalah untuk dipergunakan memenuhi selera nafsumu yang rendah dalam kehidupan yang fana ini? Tentu saja tidak.

Tetapi, hal itu diberikan ke dalam fitrahmu agar engkau

448

bisa merasakan semua jenis nikmat Allah Swt, serta mengecap beragam manifestasi nama-Nya. Tujuannya tidak lain supaya dengan neraca tersebut engkau bisa menimbang simpanan kekayaan rahmat-Nya serta membuka perbendaharaan manifestasi nama-Nya yang tersembunyi. Bahkan tujuan hidupmu tidak lain adalah untuk menampilkan dan memperlihatkan ke tengah-tengah makhluk berbagai manifestasi nama-Nya dalam hidupmu; untuk memperlihatkan ubudiyah lewat kondisi dan ucapanmu di hadapan pintu rububiyah-Nya; untuk berhias dengan permata manifestasi nama-Nya agar terlihat oleh Tuhan azali; untuk memahami penghormatan makhluk hidup lewat tasbih yang dipersembahkan kepada Sang Pemberi kehidupan di mana engkau menyaksikannya, bersaksi atasnya, dan mempersaksikannya; untuk memahami dengan bagian-bagian kondisimu sejumlah sifat Penciptamu yang bersifat mutlak dan suci; untuk memahami kata-kata yang ada sekaligus menuturkan tauhid dan rububiyah-Nya; serta untuk menyadari lewat ketidakberdayaan dan kepapahanmu sejumlah tingkatan manifestasi qudrat dan kekayaan-Nya.

Esensi hidupmu tidak lain adalah sebagai simpanan, peta, model, ikhtisar, standar, neraca, dan indeks dari berbagai jejak manifestasi nama-nama Pencipta kematian dan kehidupan. Gambaran hidupmu tidak lain merupakan kata tertulis dan terdengar yang mengarah kepada nama-nama-Nya. Hakikatnya tidak lain sebagai cermin manifestasi keesaan-Nya. Kebahagiaannya yang sempurna ketika menyadari apa yang terwujud padanya disertai rasa cinta dan rindu di mana ia menjadi cermin baginya. Adapun seluruh makhluk, terkait dengan sebagian tujuan yang disebutkan memiliki kesamaan denganmu. Hanya saja, tidak sama persis. Pasalnya, engkau adalah cermin komprehensif seperti disebutkan dalam riwayat, "Bumi dan langit tidak bisa menampung-Ku. Yang bisa menampung-Ku adalah hamba-Ku yang beriman."

{(Catatan-333): Hadits tersebut berbunyi, "Langit dan bumi tidak bisa menampung-Ku. Sementara kalbu hamba-Ku yang beriman bisa menampungnya."}

449

Bismillāhirrahmānirrahīm

Wahai Allah, wahai Yang Maha Pengasih, wahai Yang Maha Penyayang, wahai Yang Mahaesa, wahai Yang Mahahidup, wahai Yang Maha Berdiri sendiri, wahai Yang Maha Bijaksana, wahai Yang Mahadil, wahai Yang Mahasuci. Dengan kebenaran nama-Mu yang Mahagung dan dengan kebenaran ayat-ayat kitab suci-Mu yang Mahabijak limpahkan salawat dan salam kepada junjungan kami, Muhammad, utusan-Mu yang paling mulia sebanyak partikel wujud kami dan sebanyak detik-detik usia dan hidup kami. Turunkan kepada kami, kepada murid-murid Nur yang telah menerbitkan kumpulan karya ini, serta kepada mereka yang mempelajari Risalah Nur, ketenangan, kekokohan, dan ketenteraman sebagaimana yang Kau turunkan kepada para sahabat dan keluarga nabi-Mu saw. Turunkan kepada kami dan kepada murid-murid Nur ketenangan, keimanan yang murni, keyakinan yang sempurna, niat yang benar, dan kekokohan yang paripurna dalam melayani Alquran dan iman. Lenyapkan kerisauan kami dengan menolak semua bidah dari syiar-syiar Islam. Lapangkan kalbu kami dengan memperlihatkan syiar Islam di dunia di waktu dekat serta dengan menyebarkan Risalah Nur secara merata kepada dunia Islam, Selamatkan agama kami dan selamatkan murid-murid Nur dari kelaliman kaum atheis. Anugerahi kami dan murid-murid Nur cahaya keselamatan dan kesehatan dalam hal agama, dunia, dan akhirat. Sembuhkan penyakit kami. Jadikan Alquran sebagai obat bagi kami dan mereka dari semua penyakit. Jadikan kami dan mereka semua termasuk orang-orang yang selalu memuji dan bersyukur. Amin. Segala puji bagi Allah Tuhan Pemelihara

450

semesta alam. Semoga salawat dan salam tercurah kepada junjungan kami, Muhammad saw. Juga kepada keluarga dan semua sahabat beliau. Amin.

⬇ Gulir Otomatis
📝 Catatan Saya 0 catatan

Pilih teks lalu tekan tombol "Catatan" untuk menambahkan catatan.

Pengaturan
Tema
Ukuran Font
Ketebalan Font
Ukuran Font Arab
Spasi Baris

Mode Fokus
Sembunyikan sidebar
Gulir Otomatis
Halaman bergulir sendiri
Kecepatan