بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ
فَانْظُرْ اِلٰٓى اٰثَارِ رَحْمَتِ اللّٰهِ كَيْفَ يُحْيِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا
Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Dia menghidupkan bumi setelah matinya. (QS. Ar-Rum: 50)
Hakikat Kebangkitan (Haşir)
Söz Kesepuluh ini membahas salah satu rukun iman terpenting: iman kepada Hari Akhir dan kebangkitan setelah kematian.
Pintu Pertama: Kemungkinan Kebangkitan
Setiap musim semi, Allah menghidupkan jutaan tumbuhan yang telah mati di musim dingin. Bumi yang kering dan tandus tiba-tiba menjadi hijau dan penuh kehidupan. Bukankah Dzat yang mampu melakukan ini juga mampu menghidupkan manusia setelah kematian?
Pintu Kedua: Keharusan Kebangkitan
Seluruh alam semesta diciptakan dengan hikmah dan tujuan. Tidak ada yang sia-sia. Jika tidak ada kehidupan setelah kematian, maka semua cinta, rindu, doa, dan penderitaan manusia akan menjadi sia-sia. Dan itu bertentangan dengan Hikmah Ilahi.
Pintu Ketiga: Keadilan Ilahi
Di dunia ini, orang zalim sering hidup senang sementara orang saleh sering menderita. Keadilan menuntut adanya pengadilan tertinggi di mana setiap orang menerima balasan yang setimpal. Dan itulah Hari Kiamat.
Maka bersiaplah untuk hari itu dengan iman dan amal saleh. Karena kebangkitan itu pasti, sebagaimana pastinya terbitnya matahari setelah tenggelamnya.