بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ
اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَٓاءِ وَالْمُنْكَرِ
Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. (QS. Al-Ankabut: 45)
Tentang Amanah Ilahi
Allah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi mereka menolak menanggungnya. Kemudian manusia menerimanya. Apakah amanah itu?
Amanah itu adalah aku (ego/nafs) manusia. Melalui akunya, manusia bisa mengenal sifat-sifat Allah secara komparatif. Misalnya:
Dengan merasakan kelemahannya sendiri, manusia memahami Kekuatan Allah. Dengan merasakan kefakirannya, ia memahami Kekayaan Allah. Dengan merasakan keterbatasannya, ia memahami Ketidakterbatasan Allah.
Inilah fungsi sejati dari aku manusia — bukan untuk menjadi sombong dan angkuh, melainkan menjadi cermin yang memantulkan keagungan sifat-sifat Ilahi.
Namun jika manusia menyalahgunakan akunya untuk kesombongan dan keangkuhan, maka ia telah mengkhianati amanah terbesar. Ia ibarat cermin yang membelakangi matahari — gelap dan tanpa cahaya.